View Full Version : DIRGANTARA INDONESIA -- INDONESIAN AEROSPACE COMPANY
agasi93 February 4th, 2010, 09:29 AM PT. Dirgantara Indonesia (DI) (nama bahasa Inggris: Indonesian Aerospace Inc.) adalah industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. DI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur. Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Seteleah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.
Dirgantara Indonesia tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat. Dirgantara Indonesia juga menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya. Dirgantara Indonesia pernah mempunyai karyawan sampai 16 ribu orang. Karena krisis ekonomi banyak karyawan yang dikeluarkan dan karyawannya kemudian menjadi berjumlah sekitar 4000 orang.
Pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an Dirgantara Indonesia mulai menunjukkan kebangkitannya kembali, banyak pesanan dari luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Brunei, Korea, Filipina dan lain-lain. Meskipun begitu, karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2007. Namun pada tanggal 24 Oktober 2007 keputusan pailit tersebut dibatalkan.
Vision:
To be the world class aerospace company based on high technology mastery and cost competitiveness in the global market
Mission:
Conduct business activities with the orientation on producing competitive cost products and services.
As the Center of Competency in Aerospace Industry especially in engineering, design, manufacturing, production, and maintenance for both commercial and military mission aircrafts.
As a major player in the global industries which has strategic alliance with other world class Aerospace Industries
agasi93 February 4th, 2010, 09:32 AM Official Website: http://www.indonesian-aerospace.com/
Facebook Page: http://www.facebook.com/#!/pages/Dirgantara-Indonesia/93397887921?ref=ts
Please do Join
agasi93 February 4th, 2010, 09:33 AM PT Dirgantara Indonesia (PTDI) and Eurocopter Directors celebrated today in Bandung the beginning of Airframe assembly for EC725/EC225 Helicopters, the latest version of the “Super Puma” family. This milestone highlights the excellent project coordination and relationship between the two teams. The first fuselage is expected to be delivered at the end of 2011.
Through this cooperation PTDI will produce Tail Boom and Fuselage for EC725/EC225 Helicopters until 2020. The production phase will start with the production of tail boom, in January 2010 and will be continued with the production of fuselage in May 2010. The first Tail Boom is expected to be delivered in October 2010, while the first Fuselage is intended to be delivered in November 2011. 6 Tail Boom units will be delivered in 2011, followed by 10 units in 2012 and then 12 units per year (one unit per month) during the remaining years until 2020.
Eurocopter chose PTDI as the main Supplier in the world for the airframe component on this family of helicopters. The work package will absorb no less than 50% of domestic share value from the manufacturing of elementary parts in more than 4000 parts and assembly of major component, in more than 500 sub-assemblies.
Eurocopter is assisting PTDI during the early stage of the cooperation (non recurring-phase) in the following areas: product planning and tooling; qualification of special processes, jigs and production facilities; certification of key production staff ; procurement planning and supply-chain management. The assistance will enhance DI capabilities to produce airframe for the most advanced transport helicopters.
PTDI signed a cooperation agreement on Airframe production with Eurocopter in the end of 2008. The cooperation is a continuation of long history of cooperation between PTDI & Eurocopter which began in 1978, when PTDI (former IPTN) began assemble SA-330 “Puma” Helicopter, then continued in 1981 with the production of airframe for AS-332 “Super Puma” MK I.
agasi93 February 4th, 2010, 09:35 AM Bagi yang mendukung industri kedirgantaraan di negeri tercinta kita ini, yang punya berita tentang PTDI dan yang punya foto-foto PTDI silahkan ikut thread ini :)
agasi93 February 4th, 2010, 09:37 AM PTDI Serahkan Pesawat Korea Akhir 2010
Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menargetkan penyerahan satu dari empat unit pesawat CN-235/MPA (Maritime Patrol Aircraft) pesanan Korea Selatan pada akhir 2010.
"Saat ini ada empat unit CN-235/MPA yang tengah dikerjakan PTDI untuk Korea Selatan. Satu pesawat ditargetkan bisa diserahkan akhir 2010," kata Manajer Humas PT Dirgantara Indonesia, Rokhendi kepada ANTARA News di Bandung, Jumat.
Juru bicara PTDI itu menyebutkan, keempat pesawat versi patroli maritim tersebut sedang dalam tahap pengerjaan di hanggar produksi perusahaan dirgantara nasional itu.
Keempat pesawat CN-235/MPA dipesan Korea Selatan melalui kontrak yang ditandatangani pada 2008 dengan nilai total Rp94,5 juta dolar AS. Pengerjaan produksi pesawat tersebut ditargetkan tuntas dan diserahkan seluruhnya pada 2012.
"Penyerahan dilakukan secara bertahap, begitu selesai langsung diserahkan ke pihak pemesan," kata Rokhendi.
Menurut Rokhendi, pesawat MPA tersebut dipesan pemerintah Korea Selatan untuk melengkapi polisi maritim negara itu.
Korea selama merupakan salah satu negara pengguna pesawat-pesawat buatan PTDI termasuk jenis CN-235, dua diantaranya CN-235 versi VVIP.
Sementara itu CN-235/ MPA merupakan versi terbaru dari produksi PTDI dengan spesialisasi patroli maritim. Pesawat tersebut dilengkapi dengan radar untuk mendeteksi kapal-kapal di perairan.
Selain itu, pesawat CN-235 versi militer tersebut juga bisa dilengkapi dengan persenjataan seperti torpedo anti kapal selam serta persenjataan lainnya.
"Versi MVA saat ini menjadi unggulan dan trend, terutama bagi negara-negara yang memiliki wilayah perairan," kata Rokhendi.
Selain itu, PTDI juga mendapat pesanan tiga unit CN-235/MPA dari TNI-AL yang ditandai dengan penandatanganan kontrak pada Desember 2009 lalu.
"Penyerahan pesawat pertamanya ditargetkan pada 2011 mendatang. Pengerjaannya dilakukan pada 2010 ini," kata Rokhendi.
Sementara itu produksi pertama CN-235/MPA telah dimiliki oleh TNI-AU yang diserahkan pada 2008 lalu. Pesawat yang merupakan modifikasi dari CN-235 itu, cocok untuk melakukan patroli perairan di samping bisa difungsikan untuk angkutan personil.
PTDI juga masih mengerjakan tiga unit helikopter Super Puma pesanan TNI AU. Heli Super Puma merupakan salah satu helikopter yang diproduksi PTDI.
"Produksi heli PTDI saat ini Super Puma dan N-Bell, sedangkan helikopter NBO-105 tidak diproduksi lagi karena lisensinya dengan Messoshmit Bolkow Blohm (MBB) sudah habis," kata juru bicara PTDI itu menambahkan.
agasi93 February 4th, 2010, 09:39 AM Dari Thread Indones'a Industries thread :
Indones'a Industries thread
PT DI Dapat Order 125 Helikopter Mutakhir
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
Bandung - Di awal tahun ini PT DI kembali menerima order pembuatan helikopter dari luar negeri. Kali ini PT DI mendapat order pembuatan 125 helikopter dari Eurocopter Perancis.
Hal ini dituturkan oleh Ka Humas PT DI Rahendi Triyatna ketika berbincang dengan detikbandung disela-sela Peresmian Awal Pembuatan Airframe Helikopter Mutakhir EC 725/EC 225 di hanggar KP 4 PT DI Rabu (27/1/2010).
"Dulu tahun 78 pernah kerjasama dengan Eurocopter Perancis untuk merakit NAS 330 Puma dan Super Puma NAS 332 tahun 85," terang Rahendi.
Ditambahkan Rahendi, proyek dengan Eurocopter ini bukan yang pertama. "Ini jadi proyek ketiga antara PT DI dan Eurocopter Perancis. Mereka meminta kami untuk membuat helikopter dengan tipe EC 725 (militer) EC 225 (sipil)," jelasnya.
Pengerjaan proyek ini ditargetkan memakan waktu sepuluh tahun. "Kontrak 125 unit sampai tahun 2020. Pendanaan murni dari pihak Eurocopter," ujar Rahendi.
Ditambahkannya, hari ini akan menjadi awal pengerjaan proyek ini. PT DI sendiri akan mengerjakan bagian ekor dan bodi utama.
"Hari ini langsung dikerjakan. Untuk di PT DI akan dilakukan pembuatan komponen seperti tailboom (ekor) dan fuselage (body utama). Kokpit dan perakitan dilakukan di Perancis," papar Rahendi.
Pihaknya berharap, proyek ini bisa membukakan mata dunia kepada PT DI sebagai industri bangsa yang mampu menciptakan kendaaran udara mutakhir.
"Dengan adanya proyek ini, kami berharap PT DI lebih dikenal dimata dunia sebagai produsen pesawat dengan teknologi mutakhir," tandas Rahendi.(dip/lom)
-------------------------------------------------------------------------
Rabu, 27/01/2010 11:39 WIB
Helikopter EC 275 Siap Gantikan Superpuma NAS 332
Pradipta Nugrahanto - detikBandung
Bandung - Helikopter baru yang kini mulai digarap PT Dirgantara Indonesia (DI) yaitu EC 275/225 diklaim mampu menggantikan peran helikopter fenomenal lama Superpuma NAS 332.
Hal ini dituturkan oleh Dirut PT DI Budi Santoso usai Peresmian Awal Pembuatan Airframe Helikopter Mutakhir EC 725/EC 225 di hanggar KP 4 PT DI Rabu (27/1/2010).
"Heli baru ini akan jadi pengganti Superpuma NAS 332. Proyek Superpuma terakhir dikerjakan tahun 2010 sebanyak 3 unit untuk memenuhi pesanan Departemen Pertahanan," papar Budi.
"Heli lama Superpuma, umurnya sudah terlalu lama. Karena dibuat tahun 80-an. Tentu perlu ada peremajaan," imbuh Budi.
Namun, untuk pengerjaan helikopter baru ini PT DI masih menggunakan bahan baku dari luar. "Material digunakan dari luar karena di Indonesia belum ada," terang Budi.
Ketika ditanya nominal kontrak dari proyek Eurocopter dan PT DI, Budi enggan mempublikasikannya.
"Penandatanganan kerjasama sudah dilakukan sejak 2008 lalu. Tapi nilai kerjasama tidak bisa kami sebutkan karena ini merupakan hal rahasia antara PT DI dan Eurocopter," tutup Budi.(dip/tya)
Ocean One February 8th, 2010, 02:46 PM Dirgantara Indonesia Catat Laba Rp117,08 Miliar
Senin, 8 Pebruari 2010
http://img.antara.co.id/stockphotos/ilustrasi/cn-235x.jpg
Jakarta (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mulai tahun 2009 mencatat keuntungan sebesar Rp117,08 miliar, melonjak dari rugi 2008 sekitar Rp84,34 miliar.
"Mulai tahun lalu kita perkirakan kembali mencetak laba," kata Direktur Utama PTDI Budi Santoso, di sela Rapat Dengar Pendapar dengan Komisi VI, di Gedung MPR/DPR-RI, Jakarta, Senin.
Menurut Budi, laba bersih didorong melonjaknya pos penjualan yang mencapai Rp771,63 miliar pada 2009.
"Penjualan tahun ini kami perkirakan bisa menembus Rp Rp1,293 triliun," kata Budi.
Pada tahun 2010 perseroan mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp225,11 miliar, melonjak tajam dari Rp7,3 miliar tahun 2009.
Sedangkan belanja operasional ditargetkan mencapai Rp1,63 triliun, dari sebelumnya Rp889,7 miliar.
Perusahaan yang sebelumnya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ini pada 2010 mencatat kontrak baru pembuatan pesawat dan komponen pesawat Rp1,97 triliun.
Ia menambahkan, sebesar Rp1,5 triliun diantaranya merupakan kontrak peralihan dari tahun.
"Pada tahun lalu (2009) PTDI memperoleh kontrak penyediaan tiga unit CN 235-220 konfigurasi kapal patroli pesanan TNI-AL," katanya.
Secara keseluruhan ujar Budi, total nilai penjualan pada 2010 diproyeksikan mencapai Rp1,29 triliun, dari sebelumnya diperkirakan Rp771 miliar.
Meski begitu, perseroan pada tahun 2010 masih mencatat utang jangka panjang Rp2,5 triliun, naik dari perkiraan sebelumnya Rp1,79 triliun.
Ia melanjutkan, PTDI saat ini memasuki masa tahap restrukturisasi, setelah pada tahun 2007 sempat dinyatakan pailit.
Rock Star February 18th, 2010, 03:25 PM sumbang foto aja aaahh.. biar rame.. yuuukk mari yg lainnya ikut berpartisipasi
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/0/3/2/0067230.jpg
N-250 "Gatotkaca"
Rock Star February 18th, 2010, 03:38 PM http://i303.photobucket.com/albums/nn151/team5_photo/c212_new01.jpg
NC212 TNI AL
Rock Star February 18th, 2010, 03:44 PM http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/8/7/2/1333278.jpg
CN-235-50 MPA TNI AL
Rock Star February 18th, 2010, 03:57 PM http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/7/1/1/1458117.jpg
CN-235-10 Civil Version
Ocean One February 18th, 2010, 03:59 PM ^^
Lumayan keren juga sih.:)
Rock Star February 18th, 2010, 04:16 PM http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/2/9/1/0861192.jpg
NBO-105CB-4 TNI AD
Rock Star February 18th, 2010, 04:19 PM http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/0/4/7/0647740.jpg
NBO-105CB TNI AL
Rock Star February 18th, 2010, 04:22 PM http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/0/4/7/1130740.jpg
http://img381.imageshack.us/img381/1238/nbo105zr7.jpg
NBO-105CB POLISI
Rock Star February 18th, 2010, 04:28 PM http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/6/8/3/1447386.jpg
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/6/2/5/0678526.jpg
NAS-332C Super Puma Pelita Air
Rock Star February 18th, 2010, 04:43 PM http://img212.imageshack.us/img212/5095/img4052nx7.jpg
NBELL-412 TNI AU
Rock Star February 18th, 2010, 04:46 PM http://www.indonesian-aerospace.com/gallery/images/nbell-412_01.jpg
NBELL-412 TNI AL
Rock Star February 18th, 2010, 04:48 PM http://www.indonesian-aerospace.com/gallery/images/nbell-412_02.jpg
NBELL-412 Civil Version
Rock Star February 18th, 2010, 05:05 PM http://img373.imageshack.us/img373/6904/bell4122ay7.jpg
NBELL-412 POLISI
agasi93 February 18th, 2010, 06:06 PM ^^^^^^ wah makasih banyak Rock Star
mudah2 tahun 2010 adalah tahun sukses buat PTDI:cheers:
Rock Star February 19th, 2010, 12:54 AM ^^ ^^ ^^ amin....3x
Buatan PT.DI juga nih......
http://i26.tinypic.com/15hdiy9.jpg
http://1.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/SkdnQMr7KzI/AAAAAAAACWM/ur2dSiKQ23w/s400/DMV-30A.jpg
DMV30A BRAVO II
credit to angkasa
Rock Star February 19th, 2010, 12:58 AM http://i29.tinypic.com/xc874k.jpg
http://2.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/Skdn7D1MXEI/AAAAAAAACWc/s-cZJaWXhUA/s400/DMV-30T+2.jpg
DMV30T BRAVO I
credit to angkasa dan defense-studies
Rock Star February 19th, 2010, 01:16 AM http://1.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/ShOBkgER_FI/AAAAAAAABSI/8kzmG860mWs/s400/FFAR+Karbol.jpg
Roket FFAR buatan PT DI
credit to karbol
Rock Star February 19th, 2010, 01:20 AM another pic DMV30T
http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs196.snc3/20362_1181596015627_1099997681_30471208_6659347_n.jpg
http://i414.photobucket.com/albums/pp227/venomkuda/BUMNis/DMTV02.jpg
http://i414.photobucket.com/albums/pp227/venomkuda/BUMNis/DMTV06.jpg
credit to kaskus militer
v-sun February 20th, 2010, 05:58 PM ^^ panser, roket, bukannya buatan PT. PINDAD ??
Ocean One February 20th, 2010, 07:15 PM ^^
DI bukannya khusus produksi pesawat Rock Star???:ohno::ohno::ohno:
Bener tuh kata v-sun, roket dan panser itu kan buatan Pindad. Salah trhead bro, masukkan ke thread militer aja di The Biz, Warteg, kayaknya itu tempat yang lebih pas deh.:lol::lol::lol:
Rock Star February 21st, 2010, 12:06 PM ^^ ^^
hehehe...jangan salah bro.. PT DI juga pernah buat kendaraan lapis baja lho..
DMV30A adalah kendaraan tempur lapis baja kerjasama antara PT DI dan PT SSE... for pic :
http://1.bp.blogspot.com/_olpZ0xsTy8A/SgkFh8uqc0I/AAAAAAAAACg/HiPwYmSUk8s/s1600/dmv30a.jpg
DMV30A keliatan kan logo PT DI nya...
yg versi PT DI di kasih nama DMV30A yg versi PT SSE di beri nama P2 Cougar
for pic :
http://i136.photobucket.com/albums/q189/darkpole/P2APC6.jpg
SSE P2 Cougar APC Operator : TNI AD dan TNI AL
http://i136.photobucket.com/albums/q189/darkpole/P2Commando2.jpg
SSE P2 Cougar Commando operator : TNI AD dan TNI AL (Kopaska)
http://img230.imageshack.us/img230/4170/scan0002el9.jpg
DMV30T... keliatan kan logo PT DI nya..
credit to kaskus militer
ada yg bisa bantu menjelaskan mengenai produk2 PT DI selain pesawat dan hello..
Rock Star February 21st, 2010, 12:13 PM Untuk urusan roket coba tanya sama yg ambil gambar tuh... @karbol tentunya.. :cheers:
Ocean One February 21st, 2010, 05:18 PM Untuk urusan roket coba tanya sama yg ambil gambar tuh... @karbol tentunya.. :cheers:
^^
Iya ya, ada logo DI nya. Baru tau neh saya kalau DI bikin panser juga selain pesawat dan Helly.:banana::banana::banana:
karbol February 22nd, 2010, 04:45 AM roket FFAR dibuat oleh PT.DI, bukan Pindad. malahan Pindad ga pernah buat roket dalam skala produksi. di PT.DI, selain peluncur pesawat, FFAR juga dibuat dalam versi peluncur darat dengan nama NDL-40...
agasi93 February 22nd, 2010, 10:05 AM iya PTDI emang buat semua itu, kalau liat website nya pasti lebih jelas deh
makasih foto nya Rock Star
banyak banget fotonya
apa rock star kerja di PTDI?
Rock Star February 22nd, 2010, 11:32 AM ^^
:lol: @agasi93 : hahaha...nggak kok, saya warga sipil biasa, cuma hobi mengamati perkembangan Alutsista dalam negri aja... kalau kita mau browsing pasti ketemu kok informasi dan gambar yg kita butuhkan... :bash:
Ocean One February 22nd, 2010, 07:06 PM ^^
Good job Rock Star, ditunggu pic 2 yang lain dan yang terbaru ya bro.:)
wonkcerbon February 22nd, 2010, 10:34 PM we are one of the few country in asia who can made beautiful plane in asia ( I think malaysian agree with me, here the proof..)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/76/RMAF-CN295-M44-03-01.jpg/800px-RMAF-CN295-M44-03-01.jpg
bama84 February 23rd, 2010, 12:39 AM ^^
I agree with you dawg. that plane specifically designed for military purpose, especially troops transport. however, the engine still foreign made
( GE).Unfortunately, PT DI didn't have the capability to make the engine.
fcaesarn February 23rd, 2010, 05:52 AM According To SIPRI datebase
PTDI has delivered their planes (excl. parts) to these following countries to be used for military uses:
- Brunei
1 CN-235-110 in '97 ($13.5 m deal)
- Malaysia
6 CN-235-220 in '99 ($101 m deal (RM500 m barter/offsets incl 20 MD-3-160 trainer aircraft and 500 cars to Indonesia); delivery delayed from 1997 to1999)
2 CN-235-VIP/VVIP in '05-'06 ($34 m deal)
-Pakistan
3 CN-235-220 in '04(Part of $49-54 m deal (incl $24 m for 1 more for VIP transport)
- South Korea
8 CN-235-220 in '01-02 ($120-143 m deal (offsets incl Indonesian order for KT-1 trainer aircraft and other military equipment from South Korea); incl 2 for VIP transport)
- Thailand
4 C-212-200 Aviocar in '80-'86
-UEA
7 CN-235-100 in '93-'95 ($108 m deal)
source:
SIPRI
http://armstrade.sipri.org
rilham2new February 23rd, 2010, 06:05 AM sumbang foto aja aaahh.. biar rame.. yuuukk mari yg lainnya ikut berpartisipasi
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/0/3/2/0067230.jpg
N-250 "Gatotkaca"
Ini proyek apa kabarnya ya ???
Dulu kita sempat mau bikin N2130 juga ... Tapi bener2 udah scrapped ...
Apalagi semenjak kejadian perumahan karyawan PT. DI besar2an bertahun-tahun yang lalu.... PT. DI kayak lenyap gitu berita besarnya, terutama untuk riset ...
nowan February 23rd, 2010, 06:40 AM ^^
dari artikel Kompas (http://sains.kompas.com/read/2010/02/17/07243163/Sayang.Tak.Ada.CN.235.di.Singapura)
"Menghidupkan kembali N-250 hingga menjadi pesawat turboprop yang kembali state-of-the-art? Sempat terpikir. Menurut Prof BJ Habibie yang dulu memimpin proyek ini, N-250 bisa didesain ulang, yaitu dengan mengganti mesinnya dengan jenis lebih mutakhir yang lebih irit bahan bakar dan lebih bertenaga, dengan kokpit dan roda pendarat utama yang dipindah ke bawah sayap. Namun, proyek yang bisa dikerjakan dalam tempo 3-5 tahun ini membutuhkan dana tak kurang dari 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 5 triliun.
Soal dana mungkin pelik, tetapi bila ada kemauan dan visi jelas, besar kemungkinan ini masih bisa diatasi. Tentu saja proyek semacam ini juga harus dikawal dengan manajemen yang lebih ketat dan kemudian pemasaran yang lebih piawai. Tanpa unsur terakhir ini, meski peluang pesawat regional berkapasitas 50-70 penumpang besar, sulit kita untuk merebutnya. Lebih-lebih ketika pesaing seperti ATR-72 sudah lalu-lalang menerbangi langit Nusantara."
agasi93 February 23rd, 2010, 08:33 AM ^^
dari artikel Kompas (http://sains.kompas.com/read/2010/02/17/07243163/Sayang.Tak.Ada.CN.235.di.Singapura)
"Menghidupkan kembali N-250 hingga menjadi pesawat turboprop yang kembali state-of-the-art? Sempat terpikir. Menurut Prof BJ Habibie yang dulu memimpin proyek ini, N-250 bisa didesain ulang, yaitu dengan mengganti mesinnya dengan jenis lebih mutakhir yang lebih irit bahan bakar dan lebih bertenaga, dengan kokpit dan roda pendarat utama yang dipindah ke bawah sayap. Namun, proyek yang bisa dikerjakan dalam tempo 3-5 tahun ini membutuhkan dana tak kurang dari 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 5 triliun.
Soal dana mungkin pelik, tetapi bila ada kemauan dan visi jelas, besar kemungkinan ini masih bisa diatasi. Tentu saja proyek semacam ini juga harus dikawal dengan manajemen yang lebih ketat dan kemudian pemasaran yang lebih piawai. Tanpa unsur terakhir ini, meski peluang pesawat regional berkapasitas 50-70 penumpang besar, sulit kita untuk merebutnya. Lebih-lebih ketika pesaing seperti ATR-72 sudah lalu-lalang menerbangi langit Nusantara."
sulit sekali untuk kembali mnghidup kan proyek n-250. belum biaya nya mahal, insinyur dirgantara kita dah pada kerja diluar negeri karna lebih jelas kerjanya disana
kalo mau maju proyeknya harusnya dukungan nya dari semua pihak, mulai pemerintah, maskapai lokal kita, tni dan kita nya sendiri kan kalo negeri sendiri dah percaya, pasti negara lain pada ikut ngedukung.
mudah2 an sukses lah di tahun 2 mendatang :cheers:
karbol February 23rd, 2010, 12:32 PM terakhir gw liat (2 taun-an) lalu, N-250 masih disimpan di sebuah Hangar. ada 2 jenis N-250 gatotkoco dan N-250-100 Krincingwesi. IMHO, kayaknya ga susah kalo sekedar menghidupkan lagi...
http://img199.imageshack.us/img199/8108/250ao.jpg (http://img199.imageshack.us/i/250ao.jpg/)
http://img641.imageshack.us/img641/5273/n2502.jpg (http://img641.imageshack.us/i/n2502.jpg/)
karbol February 23rd, 2010, 12:36 PM ini adalah pesawat prototipe pertama CN-235 (flying test bed). IMHO, ini adalah artefak bersejarah bagi bangsa kita. seharusnya barang ini masuk museum kedirgantaraan. tapi dia malah dibiarkan kehujanan dan kepanasan. malah sempat ada kabar mau dijual...:bash::bash:
foto ini diambil sekitar 2 tahun lalu. semoga keadaannya lebih baik sekarang...
http://img709.imageshack.us/img709/1303/pict0619t.jpg (http://img709.imageshack.us/i/pict0619t.jpg/)
http://img704.imageshack.us/img704/1004/pict0621.jpg (http://img704.imageshack.us/i/pict0621.jpg/)
http://img138.imageshack.us/img138/3995/pict0623.jpg (http://img138.imageshack.us/i/pict0623.jpg/)
karbol February 23rd, 2010, 12:36 PM proses produksi CN-235
http://img710.imageshack.us/img710/7987/cn2351.jpg (http://img710.imageshack.us/i/cn2351.jpg/)
v-sun February 23rd, 2010, 01:37 PM Saya ada teman yg kerja di PT. DI, saya juga sempat diajak berkeliling masuk ke dalam kawasan produksi PT. DI, sewaktu ada pameran pada ulang tahun PT. DI setahun yg lalu.
Ada pruduk lain buatan PT. DI sejenis mobil menyerupai 'kancil' (pengganti bajaj di Jakarta), tapi lebih kecil, bisa masuk gang, dan fungsinya emg supaya bisa digunakan di gang, saya lupa lagi apa namanya, dan yahh.. seperti produk2 lainnya, ga ada kelanjutan produksi, terbengkalai..
sempet naikin dan ambil gambar juga:D, tapi semuanya udah pd kehapus :bash: ntar deh saya mintain lagi kalo tmn saya berkenan buat ngambilin lagi fotonya saya upload, dia juga ada foto aktifitas para karyawan yg sdng bekerja.
Semoga bisa.
Rock Star February 23rd, 2010, 03:38 PM @karbol : akhirnya koleksi foto2nya muncul.. di tunggu foto2 yg lainnya
@v-sun : di tunggu foto mobilnya sm foto2 aktifitas karayawan PT DI
:banana: :banana:
agasi93 February 23rd, 2010, 05:53 PM @ karbol: nah itu dia foto yang saya tunggu2, paling bangga kalo dah liat foto n-250 teh
@ v-sun: ditunggu juga foto2 lainnya. oh ya kalo mau masuk ptdi buat liat2 dan foto2 gtu gampang gak sih? atau harus ada sana sini nya dulu? saya pengen banget kesana soalnya
AceN February 23rd, 2010, 06:16 PM N-2130
copyright jrlucariny
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/006n2130s.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/007n2130s.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/011n2130s.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/L009n2130.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/L015n2130.jpg
History ( from Wikipedia )
Pada 10 November 1995, bertepatan dengan terbang perdana N-250, Presiden Soeharto mengumumkan proyek N-2130. Soeharto mengajak rakyat Indonesia untuk menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. N-2130 yang diperkirakan akan menelan dana dua milyar dollar AS itu, tandasnya, akan dibuat secara gotong-royong melalui penjualan dua juta lembar saham dengan harga pecahan 1.000 dollar AS. Untuk itu dibentuklah perusahaan PT Dua Satu Tiga Puluh (PT DSTP) untuk melaksanakan proyek besar ini.
Saat badai krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, PT DSTP limbung. Setahun kemudian akibat adanya ketidakstabilan politik dan penyimpangan pendanaan, mayoritas pemegang saham melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) 15 Desember 1998 meminta PT DSTP untuk melikuidasi diri.
Untuk preliminary design pesawat ini, IPTN telah mengeluarkan tenaga, pikiran, dan uang yang tak kecil. Dana yang telah dikeluarkan lebih dari 70 juta dollar AS yang sesuai keputusan RUPSLB, dana bagi ini selanjutnya dianggap sunk-cost.
Seluruh kekayaan perseroan selanjutnya diaudit dimana hasil disampaikan kepada Bapepam tanggal 22 April 1999 dan diumumkan lewat media massa. Pembayaran hasil likuidasi kepada para pemegang sahamnya sendiri kemudian dilakukan bertahap mulai 9 Agustus hingga 15 Oktober 1999.
---------------------------------------------------------------
last news of N-2130
PT IAe TO OFFER N-2130 BLUEPRINT TO CHINA
Wednesday, October 04, 2000/7:22:29 PM
Bandung, W. Java, Oct 4 (ANTARA) - State-run aircraft maker PT Indonesian Aerospace (PT IAe) will offer the blueprint of a jet plane it has designed, the N-2130, to China, a company spokesman said here Wednesday.
The company is also studying the possibility of selling some of its shares to China to raise funds needed to obtain certification for its newest product, a turboprop aircraft dubbed the N-250, said Jusman SD, PT IEe president director.
Speaking to the press on the sidelines of a visit to the PT IAe plant here by Namibian Prime Minister Hage G Geingob, Jusman said a prototype of the N-250 was currently undergoing international certification tests.
"As for the N-2130 which we have designed, we will offer the blueprint to China. If China accepts our offer, PT IAe`s human resources will be involved in the aircraft`s production," Jusman said.
Meanwhile, PT IAe Commercial Director Heru Santoso said a PT IAe team would leave for Beijing in November 2000 to discuss cooperation with China`s aircraft industry.
Heru, however, did not explain in what way the aircraft industries of the two countries would cooperate.
PT IAe which was previously known as IPTN has so far produced a total of 112 NBO-105 helicopters, 22 Superpumas, 25 NBell-412 helicopters, 94 NC-212s and 35 CN-235s.
agasi93 February 23rd, 2010, 06:16 PM Satu lagi proyek PTDI yang begitu ambisius, namun sayang kini sudah hilang dan tidak pernah terdengar kembali
http://i272.photobucket.com/albums/jj190/ramdisa/N2130.jpg
http://i272.photobucket.com/albums/jj190/ramdisa/N-2130.gif
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/1/1d/2130-3v.gif
sorry pada kecil2 gambarnya, susah nyari nya emang
agasi93 February 23rd, 2010, 06:22 PM ^^^^ wah bung Acen ngepost n-2130 juga dan waktu nya barengan lagi haha :cheers:
tapi iya nih kecewa bgt :bash: manajemen ptdi yg dulu :ohno:
agasi93 February 23rd, 2010, 06:28 PM nemu video nya juga
http://www.youtube.com/watch?v=2RSdGYmnEcY
tapi gak tau caranya kalo mau dipost di forum :nuts:
agasi93 February 23rd, 2010, 06:32 PM http://3.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/SiMrnitfzhI/AAAAAAAABoQ/VijzZDdW4vg/s400/N-219.jpg
PT Dirgantara Indonesia Kembangkan N 219
PT Dirgantara Indonesia (DI) saat ini sedang mengembangkan pesawat tipe N 219 yang dirancang untuk dapat digunakan dalam berbagai misi. Pesawat ini sekelas dengan Twin Otter dan C 212 dengan kapasitas penumpang 19-20 orang.
"Produksinya akan kami lakukan tiga tahun lagi," kata
Direktur Teknik PT DI, Mochajan kepada Tempo kemarin siang.
Menurut dia, N 219 dapat memenuhi kebutuhan militer untuk digunakan sebagai pesawat angkut pasien, kargo atau pesawat pengintai. Keunggulan lainnya, "Biaya pengoprasian rendah," ujar Mochajan.
Rencananya pesawat N 219 akan dijual dengan harga US$ 3 juta atau Rp sekitar 30 Miliar. Harga ini jauh lebih murah dari pesawat CN 235 yang dijual dengan harga di atas Rp 100 miliar.
Sebagai salah satu BUMN strategis, PT DI siap membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan perlengkapan pertahanan khususnya helikopter dan pesawat ringan untuk mencapai kemandirian pertahanan. "Selain N 219, PT DI juga akan membuat pesawat latih nasional," katanya
-----------------------------------------------
mudah2an proyek yang ini masih jalan yaa
agasi93 February 23rd, 2010, 06:42 PM ada yang punya info N-219 gak?
novian February 24th, 2010, 01:51 PM sekedar ngerangkum dan Membangkitkan kembali akan capaian teknologi dan impian masa depan kejayaan kedirgantaraan Nusantara.
Berikut beberapa produk pesawat yg telah bisa di produksi:
1.CN-235
http://2.bp.blogspot.com/_m14F5gfTcKY/S39K28cBUjI/AAAAAAAAAc8/BHhe2lHk4xE/s400/img4044vt7.jpg
CN-235 adalah sebuah pesawat angkut turboprop kelas menengah bermesin dua. Pesawat ini dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol. Pesawat ini saat ini menjadi pesawat paling sukses pemasarannya dikelasnya.
varian :
- CN-235-100
- CN-235-110
- CN-235-220
- CN-235 MPA
- CN235-330 Phoenix
2.CASA C-212 Aviocar (N-212)
Pesawat berukuran sedang bermesin turboprop yang dirancang dan diproduksi di Spanyol untuk kegunaan sipil dan militer. Pesawat jenis ini juga telah diproduksi di Indonesia di bawah lisensi oleh PT. Dirgantara Indonesia. Bahkan pada bulan Januari 2008, EADS CASA memutuskan untuk memindahkan seluruh fasilitas produksi C-212 ke PT. Dirgantara Indonesia di Bandung. PT. Dirgantara Indonesia adalah satu-satunya perusahaan pesawat yang mempunyai lisensi untuk membuat pesawat jenis ini di luar pabrik pembuat utamanya.
versi terakhir (N212-400)
http://i46.tinypic.com/ojqt7k.jpg
3. N250
http://www.safran-group.com/IMG/232.jpg
Pesawat ini merupakan primadona IPTN(PT.DI) dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Harusnya sebagai langkah awal untuk membangkitkan kembali industri dalam negeri presiden SBY setidaknya mengambil langkah untuk membeli pesawat ini dan menggunakan sebagai pesawat kepresidenan.
http://foto.detik.com/images/content/2006/01/03/157/pindad3.jpg
http://indomil.files.wordpress.com/2009/07/n250_09.jpg?w=450&h=299
4.N-2130
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/006n2130s.jpg
Pesawat N-2130 adalah pesawat jet komuter berkapasitas 80-130 penumpang rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia.
2RSdGYmnEcY
5.N-219
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/a/a9/N219model.jpg
pesawat generasi baru, yang dirancang oleh Dirgantara Indonesia dengan multi sejati multi misi dan tujuan di daerah-daerah terpencil. N-219 menggabungkan teknologi sistem pesawat yang paling modern dan canggih dengan mencoba dan terbukti semua logam konstruksi pesawat terbang. N-219 memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel efisiensi sistem yang akan digunakan dalam misi multi transportasi penumpang dan kargo.
--------------------------------------
beberapa pesawat jet tempur impian bangsa Indonesia
1.N30 Pasopati
http://i47.tinypic.com/2h6h7cy.jpg
2.Dirgantara LS-X
http://i46.tinypic.com/2n9b1ie.jpg
3.Dirgantara Srikandi Combat Trainer
http://i45.tinypic.com/104f1gm.jpg
untuk ketiga pesawat jet diatas blom ada sumber resmi yg memastikannya.....yg pasti bravo buat kejayaan Indonesia !!!
karbol February 24th, 2010, 02:27 PM ada yang punya info N-219 gak?
kayaknya dah ga jalan bro.... PT.DI tampaknya sibuk dengan NC-212-400. IMHO PT.DI juga harus realistis. membangun kembali pesawat baru butuh banyak effort. dana pengembangan dan sertifikasi luar biasa mahal. untuk bertahan, PT.DI sebaiknya bikin dan jual pesawat lisensi serta mengembangkan CN-235.
kabar baiknya, hampir semua produk eurocopter bakal diproduksi PT.DI. mulai dari Colibri, Dauphin hingga Cougar...
info aja, beberapa minggu lalu, gw jalan bareng dengan Pemred Majalah Angkasa. dia cerita mau ke PT.DI mau liputan soal NC-212-400. nah di Angkasa bulan maret nanti laporannya pasti turun tuh...
karbol February 24th, 2010, 02:28 PM --------------------------------------
beberapa pesawat jet tempur impian bangsa Indonesia
1.N30 Pasopati
http://i47.tinypic.com/2h6h7cy.jpg
2.Dirgantara LS-X
http://i46.tinypic.com/2n9b1ie.jpg
3.Dirgantara Srikandi Combat Trainer
http://i45.tinypic.com/104f1gm.jpg
untuk ketiga pesawat jet diatas blom ada sumber resmi yg memastikannya.....yg pasti bravo buat kejayaan Indonesia !!!
yang ini HOAX bro... tak lebih dan tak bukan merupakan kreasi anak2 formil...
novian February 24th, 2010, 02:58 PM ^^ oo gitu yah...thnks inpony bro...tp cb seandainya pemerintah kita dari dulu jalan sesuai koridor yg benar...aduh...ga' tau lah gimana maju nya negara ini....ckckcckkc.....
akhir kata.....ya tuhan sadarkan lh para elit politik kami yg saling bertikai...hujat menghujat..salah menyalahkan...dan berilah pemimpin kami yg amanah,adil,jujur,serta TEGAS!!!
Bravo INDONESIA!!!..JAYA NUSANTARA ku!!!
rilham2new February 24th, 2010, 03:39 PM N-2130
copyright jrlucariny
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/006n2130s.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/007n2130s.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/011n2130s.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/L009n2130.jpg
http://www.jrlucariny.com/Site2008/n2130/n2130imagens/L015n2130.jpg
History ( from Wikipedia )
Pada 10 November 1995, bertepatan dengan terbang perdana N-250, Presiden Soeharto mengumumkan proyek N-2130. Soeharto mengajak rakyat Indonesia untuk menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. N-2130 yang diperkirakan akan menelan dana dua milyar dollar AS itu, tandasnya, akan dibuat secara gotong-royong melalui penjualan dua juta lembar saham dengan harga pecahan 1.000 dollar AS. Untuk itu dibentuklah perusahaan PT Dua Satu Tiga Puluh (PT DSTP) untuk melaksanakan proyek besar ini.
Saat badai krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, PT DSTP limbung. Setahun kemudian akibat adanya ketidakstabilan politik dan penyimpangan pendanaan, mayoritas pemegang saham melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) 15 Desember 1998 meminta PT DSTP untuk melikuidasi diri.
Untuk preliminary design pesawat ini, IPTN telah mengeluarkan tenaga, pikiran, dan uang yang tak kecil. Dana yang telah dikeluarkan lebih dari 70 juta dollar AS yang sesuai keputusan RUPSLB, dana bagi ini selanjutnya dianggap sunk-cost.
Seluruh kekayaan perseroan selanjutnya diaudit dimana hasil disampaikan kepada Bapepam tanggal 22 April 1999 dan diumumkan lewat media massa. Pembayaran hasil likuidasi kepada para pemegang sahamnya sendiri kemudian dilakukan bertahap mulai 9 Agustus hingga 15 Oktober 1999.
---------------------------------------------------------------
last news of N-2130
PT IAe TO OFFER N-2130 BLUEPRINT TO CHINA
Wednesday, October 04, 2000/7:22:29 PM
Bandung, W. Java, Oct 4 (ANTARA) - State-run aircraft maker PT Indonesian Aerospace (PT IAe) will offer the blueprint of a jet plane it has designed, the N-2130, to China, a company spokesman said here Wednesday.
The company is also studying the possibility of selling some of its shares to China to raise funds needed to obtain certification for its newest product, a turboprop aircraft dubbed the N-250, said Jusman SD, PT IEe president director.
Speaking to the press on the sidelines of a visit to the PT IAe plant here by Namibian Prime Minister Hage G Geingob, Jusman said a prototype of the N-250 was currently undergoing international certification tests.
"As for the N-2130 which we have designed, we will offer the blueprint to China. If China accepts our offer, PT IAe`s human resources will be involved in the aircraft`s production," Jusman said.
Meanwhile, PT IAe Commercial Director Heru Santoso said a PT IAe team would leave for Beijing in November 2000 to discuss cooperation with China`s aircraft industry.
Heru, however, did not explain in what way the aircraft industries of the two countries would cooperate.
PT IAe which was previously known as IPTN has so far produced a total of 112 NBO-105 helicopters, 22 Superpumas, 25 NBell-412 helicopters, 94 NC-212s and 35 CN-235s.
Yang ini perkembangannya belum terlalu jauh, masih tahapan wacana..
N250 itu sudah sangat jauh perkembangannya, udah sampai uji terbang segala ... Kalau ini distop sayang banget. :( ...
Tapi memang bener2, pesawat propeller gak lama lagi bakal gak laku di Indonesia. Di Indonesia Timur saja sudah banyak rute antar kota yang dilayani dengan B737 atau A320 yang teknologinya terus updated .
Daripada mengembangkan pesawat yang kapasitasnya cuman setara Fokker 28 (yang bener2 udah ketinggalan zaman), mending buat yang minimal setara Fokker 100. Kalau B737 atau A320, mungkin masih sangat jauh ,.. Bangsa ini PR nya masih banyak .... Jangan hanya gara2 status nya BUMN, mau enaknya aja diBAILOUT terus2an ... Century aja yang "cuman" Rp 6 T udah cukup bikin bising negara ini berbulan-bulan ...
arif doank February 24th, 2010, 04:31 PM ^^ oo gitu yah...thnks inpony bro...tp cb seandainya pemerintah kita dari dulu jalan sesuai koridor yg benar...aduh...ga' tau lah gimana maju nya negara ini....ckckcckkc.....
akhir kata.....ya tuhan sadarkan lh para elit politik kami yg saling bertikai...hujat menghujat..salah menyalahkan...dan berilah pemimpin kami yg amanah,adil,jujur,serta TEGAS!!!
Bravo INDONESIA!!!..JAYA NUSANTARA ku!!!
apa artinya kalau cuma rakyatnya saja yang berfikiran kritis sementara pemerintah cuma memikirkan diri dan kaumnya saja!!!!
berdasarkan data2 yang temukan PT DI memiliki peluang yang cukup besar menjadi salah satu pemain besar asia.. tapi tentunya harus ada sokongan yang besar dari pemerintah.
tapi pemerintah seolah-olah pejam mata akan hal ini:bash:
agasi93 February 24th, 2010, 06:56 PM kayaknya dah ga jalan bro.... PT.DI tampaknya sibuk dengan NC-212-400. IMHO PT.DI juga harus realistis. membangun kembali pesawat baru butuh banyak effort. dana pengembangan dan sertifikasi luar biasa mahal. untuk bertahan, PT.DI sebaiknya bikin dan jual pesawat lisensi serta mengembangkan CN-235.
kabar baiknya, hampir semua produk eurocopter bakal diproduksi PT.DI. mulai dari Colibri, Dauphin hingga Cougar...
info aja, beberapa minggu lalu, gw jalan bareng dengan Pemred Majalah Angkasa. dia cerita mau ke PT.DI mau liputan soal NC-212-400. nah di Angkasa bulan maret nanti laporannya pasti turun tuh...
oh begitu ya karbol. Apa website majalah angkasa masih jalan, terakhir saya coba akses dah gak ada. Berhubung saya gak bisa dapet versi cetaknya, kalo nanti dah terbit, mohon sharingdi thread ya karbol, trims :cheers:
nowan February 24th, 2010, 08:58 PM Kalau si Aeronimbus NMX ini apa sekarang ceritanya bro?
http://www.aeronimbus.com/images/products/nmx/exterior/feature01.jpg
karbol February 25th, 2010, 07:35 AM Kalau si Aeronimbus NMX ini apa sekarang ceritanya bro?
terakhir sebatas desain wind tunnel....
http://img46.imageshack.us/img46/3200/nmx1.jpg (http://img46.imageshack.us/i/nmx1.jpg/)
soale, Malaysia pengennya NMX nantinya diproduksi disono.... :bash:
kata orang PT.DI:"ooooogggaaaaaaahhhhhh lah yaw....."
akhirnya gagal deh...
karbol February 25th, 2010, 07:39 AM oh begitu ya karbol. Apa website majalah angkasa masih jalan, terakhir saya coba akses dah gak ada. Berhubung saya gak bisa dapet versi cetaknya, kalo nanti dah terbit, mohon sharingdi thread ya karbol, trims :cheers:
web-nya Angkasa dibeli perusahaan lain... :(
Yang ini perkembangannya belum terlalu jauh, masih tahapan wacana..
N250 itu sudah sangat jauh perkembangannya, udah sampai uji terbang segala ... Kalau ini distop sayang banget. :( ...
Tapi memang bener2, pesawat propeller gak lama lagi bakal gak laku di Indonesia. Di Indonesia Timur saja sudah banyak rute antar kota yang dilayani dengan B737 atau A320 yang teknologinya terus updated .
Daripada mengembangkan pesawat yang kapasitasnya cuman setara Fokker 28 (yang bener2 udah ketinggalan zaman), mending buat yang minimal setara Fokker 100. Kalau B737 atau A320, mungkin masih sangat jauh ,.. Bangsa ini PR nya masih banyak .... Jangan hanya gara2 status nya BUMN, mau enaknya aja diBAILOUT terus2an ... Century aja yang "cuman" Rp 6 T udah cukup bikin bising negara ini berbulan-bulan ...
soal propeler ato jet, itu balik lagi ke strategi bisnis masing2 airlines. pesawat baling2 bukan berarti lebih kuno. sebaliknya dengan memakai pesawat baling2 untuk rute2 pendek akan lebih hemat dibanding jet. buktinya Merpati beli MA-60 dan Lion (wings Air) beli ATR-72. sementara perbedaan waktu tempuh ga terlalu signifikan. untuk negara kepulauan kayak indonesia, gw pikir N-250 punya prospek bagus...
ceudah February 27th, 2010, 04:03 AM ^^ setuju, fokus aja ke N250, N219 and CN 235....biar kelas gede orang yg garap dulu...kita kecil2 aja dulu...ntar kalo udah punya banyak uang baru bikin yg gede...
Ayo PT DI...buktikan kamu bisa...:D
fcaesarn February 27th, 2010, 03:21 PM N219 still ongoingtapi memang belo launching prototype... coba cek aja di Annual Reportnya BPPT 2008
agasi93 February 27th, 2010, 06:48 PM N219 still ongoingtapi memang belo launching prototype... coba cek aja di Annual Reportnya BPPT 2008
wah bisa di copas ke sini gak sama fcaesarn?
Kopassus February 28th, 2010, 08:46 AM Sy setuju dengan Novian!
RI 1 harus menggunakan pesawat buatan negara sendiri, at least CN235 utk penerbangan dalam negri. Semua kepala negara dari negara2 yg punya industri pesawat terbang sendiri menggunakan produk sendiri. Selain Amrik (B747) juga Inggris (BAe 146), Belanda (Fokker 70), Jerman dan Prancis (Pswt2 Airbus) dan Rusia (Il-96).
Tapi maaf Novian, CN235-330 Phoenix tidak jadi. Sampai skrg hanya sampai -220 (MPA).
Thanks for the unique pics Karbol!
Bad news Karbol, PK-XNC sampai skrg diluar.....Foto diambil tgl 24.
Itu salah satu buktinya bangsa kita tidak menghargai kemampuan, kinerja dan produk2 sendiri.
http://94.100.118.226/887850001-887900000/887876701-887876800/887876705_5_bDS-.jpeg
Kopassus February 28th, 2010, 08:50 AM http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/7/1/1/1458117.jpg
CN-235-10 Civil Version
Sampai skrg dipakai sama Merpati di Polonia, bersama PK-MNC.
novian February 28th, 2010, 11:57 AM Tapi maaf Novian, CN235-330 Phoenix tidak jadi. Sampai skrg hanya sampai -220 (MPA).
oo gitu yah..thanks inpony !!
ceudah March 1st, 2010, 08:40 AM @ kopassus..NIce pic...kalo liat gini gk nyangka yah kita jg bisa bikin peswat ndiri...
setuju jg dgn novian...kalo emang pak SBY cinta negerinya? dia harus pake pesawat dlm negeri....
apa hrs nuggu pak JK yg pake produk dlm negeri? hmmmm
ceudah March 1st, 2010, 08:40 AM @ kopassus..NIce pic...kalo liat gini gk nyangka yah kita jg bisa bikin peswat ndiri...
setuju jg dgn novian...kalo emang pak SBY cinta negerinya? dia harus pake pesawat dlm negeri....
apa hrs nuggu pak JK yg pake produk dlm negeri? hmmmm
peseg5 March 1st, 2010, 06:04 PM http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/307567/38/
Menghidupkan Kembali N-2130
Monday, 01 March 2010
N-2130 adalah tipe pesawat jet yang hendak dikembangkan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada masa jaya perusahaan tersebut di pertengahan 1990-an.
Pengembangan pesawat jet komuter dengan jumlah penumpang antara 80–130 orang itu mungkin terinspirasi pesawat yang dikembangkan perusahaan pesawat terbang Brasil,Embraer.Bedanya,Embraer sekarang ini menghasilkan pesawat Embraer Regional Jet (ERJ) yang banyak digunakan perusahaan penerbangan Amerika Serikat (AS), terutama untuk shuttle flight pada jalur-jalur padat Boston,New York,Washington DC,dan Miami.
Adapun N-2130 ternyata hanya menjadi mimpi karena terkubur krisis moneter 1998. Sebagai rentetan krisis tersebut, pemerintah harus menghentikan bantuan kepada IPTN sebagai bagian kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Hari ini, lebih dari 10 tahun sejak krisis moneter, kita berada pada posisi yang jauh lebih baik dan siap untuk menghidupkan kembali proyek tersebut.
Ada beberapa alasan kuat untuk itu. Pertama, Indonesia sudah berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan. Dalam krisis global baru-baru ini, Indonesia berhasil untuk tetap menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang moderat bersama China dan India. Perkembangan tersebut membuat Indonesia masuk dalam radar perekonomian global.
Ini berarti apa yang diproduksi Indonesia mulai diperhitungkan perusahaan penerbangan di luar negeri. Kedua, perkembangan tersebut juga memperkuat daya beli rakyat dan dunia usaha Indonesia. Jika 12 tahun lalu hanya Garuda dan Merpati yang menjadi perusahaan penerbangan nasional, sekarang banyak perusahaan penerbangan yang mampu membeli pesawat dalam jumlah besar.
Perkembangan traffic dan jumlah penumpang pesawat terbang melonjak sehingga sangat layak jika industri pembuat pesawat terbang akan kecipratan berkah di tahuntahun mendatang. Ketiga,dalam keadaan terjepit pun PT IPTN, yang kini bermetamorfosis menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI), mampu memasarkan produk ke pelanggan di luar negeri.Korea Selatan sudah membeli beberapa pesawat CN 235,termasuk empat di antaranya yang merupakan pesanan Departemen Pertahanan Korea Selatan untuk patroli maritim.
Demikian juga dengan Malaysia, Thailand,Pakistan,dan Turki. Korea Selatan, Malaysia, dan Pakistan bahkan telah membeli pesawat jenis CN 235 untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan. Keempat, PT DI pada 2009 mulai berhasil mencetak laba. Perolehan pendapatan tersebut diperkirakan semakin besar pada 2010 dengan adanya pesanan 10 helikopter untuk Angkatan Udara dan Basarnas serta pesanan tiga pesawat CN 235–200 MPA untuk menggantikan pesawat Nomad Angkatan Laut Indonesia.
Ini membuktikan restrukturisasi perusahaan tersebut mulai berhasil dalam meningkatkan efisiensi. Kelima, Indonesia sudah lulus dari program IMF. Ini berarti Indonesia memiliki kebebasan penuh untuk mengembangkan kembali cita-cita.Saya yang pernah bekerja di IMF selama lima tahun sangat memahami bahwa tidak ada dari lembaga internasional tersebut yang dapat mencegah kita melakukan hal tersebut.
Keenam, kemampuan keuangan pemerintah.Keuangan pemerintah sekarang sangat kuat. Kecilnya defisit APBN maupun rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) merupakan ukuran internasional yang menunjukkan kekuatan kita.(Tulisan saya pekan lalu,“Utang Pemerintah dalam Perekonomian Global”, menjelaskan hal tersebut). Sekarang ini pemerintah memiliki uang tunai yang jumlahnya sekitar Rp200 triliun. Uang tersebut setiap kali justru semakin bertambah dan bukannya berkurang.
Untuk pengembangan N–2130, pemerintah perlu memastikan keekonomiannya dan sangat mungkin memberikan bantuan. Terlebih lagi jika PT DI mampu menunjukkan laba kembali dalam dua tahun ke depan, bukan hanya perbankan yang akan berebut untuk memberikan pembiayaan, pasar modal pun akan terbuka lebar untuk menerima penawaran saham perdana (IPO) PT DI. Ketujuh, alasan idealisme.
Begitu banyak tenaga ahli penerbangan Indonesia eks IPTN yang sekarang ini berdiaspora di luar negeri. Mereka mampu mengembangkan keahliannya dan diakui oleh raksasa industri penerbangan di Amerika, Eropa maupun negara-negara lain,sedangkan kesempatan untuk mengembangkan industri di Tanah Air sebetulnya juga terbuka lebar. Berdasarkan hal-hal tersebut, yang daftarnya juga bisa diperpanjang, merupakan suatu kesia-siaan membiarkan PT DI berjuang sendiri.
Sebagai perusahaan, dengan keuntungan yang dihasilkan saat ini,mereka jelas akan mampu berkembang. Namun kecepatan pertumbuhan mereka akan sangat rendah tanpa ada keberpihakan pemerintah. Pemerintah dapat mulai membantu PT DI dengan menghidupkan kembali pesawat N250 yang sudah menghasilkan prototipe, bahkan sudah pula hadir dalamAir Show di Eropa sebelum krisis moneter 1998.
Pesawat yang sekelas dengan ATR 42 dan salah satu varian dari Embraer tersebut memiliki potensi yang sangat besar bagi penggunaannya di Indonesia yang memiliki banyak bandara berlandasan pendek. Seiring pengembangan N250, riset dan pengembangan produk pesawat N-2130 mulai dapat diintensifkan.
Dengan kerangka waktu lebih tertata, kita bisa mengharapkan bahwa dalam tiga-empat tahun ke depan, kita sudah memiliki gambaran untuk melihat prospek yang lebih jelas bagi pesawat tersebut. Visi 2025 pemerintah jelas, yaitu menginginkan Indonesia menjadi negara maju di tahun tersebut. Let’s just do it. Marilah kita mengisi visi tersebut dengan segenap kemampuan kita. Jika Brasil bisa,kenapa kita tidak? (*)
CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
novian March 1st, 2010, 08:37 PM ^^ wow....mudah2an semua rencana terlaksana dgn baik...amiinnn...!!!
karbol March 2nd, 2010, 11:48 AM http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/307567/38/
Menghidupkan Kembali N-2130
Monday, 01 March 2010
ide menghidupkan kembali N-2130 bagus. tapi IMHO, tidak realistis. menurut gw lebih baik PT.DI fokus ke N-250 aja dulu. toh N-250 sebenarnya sudah terbang dan tinggal mengumpulkan jam terbang untuk mengambil sertifikasi kelaikan udara dari DSKU. artinya dana dan effort yang dikeluarkan lebih sedikit.
selain itu liat juga pangsa pasarnya. untuk sekelas N-2130 banyak yang bermain disitu. mulai dari keluarga B-737, Airbus, Sukhoi Regional jet sampe Embraer. apalagi bisa dibilang keluarga Boeing sangat mendominasi. airlines-pun kelihatannya lebih memilih B-737 yang sudah sangat familiar.
sementara kelas 70 kursi yang eksis praktis hanya ATR-72 dan SAAB 2000. sementara Casa 295 tampaknya lebih banyak bermain di militer...
cuma pendapat gw... tapi yang nulis artikel ahli ekonomi. mungkin dia punya pertimbangan lain... :)
Kopassus March 2nd, 2010, 04:36 PM ide menghidupkan kembali N-2130 bagus. tapi IMHO, tidak realistis. menurut gw lebih baik PT.DI fokus ke N-250 aja dulu. toh N-250 sebenarnya sudah terbang dan tinggal mengumpulkan jam terbang untuk mengambil sertifikasi kelaikan udara dari DSKU. artinya dana dan effort yang dikeluarkan lebih sedikit.
selain itu liat juga pangsa pasarnya. untuk sekelas N-2130 banyak yang bermain disitu. mulai dari keluarga B-737, Airbus, Sukhoi Regional jet sampe Embraer. apalagi bisa dibilang keluarga Boeing sangat mendominasi. airlines-pun kelihatannya lebih memilih B-737 yang sudah sangat familiar.
sementara kelas 70 kursi yang eksis praktis hanya ATR-72 dan SAAB 2000. sementara Casa 295 tampaknya lebih banyak bermain di militer...
cuma pendapat gw... tapi yang nulis artikel ahli ekonomi. mungkin dia punya pertimbangan lain... :)
setuju 100%!
N250 mungikn masih bisa, tapi N2130 sama skl tdk realistis.
Beberapa tahun lalu katanya ongkos sertifikasi N250 kira2 $90 jt.....
Proses sertifikasi paling ribet/sulit, kata org IPTN, FAA kurang kooperatif.
Utk org asing sebenarnya lebih baik kalau RI tertinggal dan tergantung dari negara2 bule...
Tapi sy takut program N250 tidak perna akan hidup lagi...:ohno: :'(
Oya, Saab 2000 tidak diproduksi lagi utk pasar sipil.
ceudah March 2nd, 2010, 05:23 PM s
Proses sertifikasi paling ribet/sulit, kata org IPTN, FAA kurang kooperatif.
Uil.
yah...yang namanya orang bule kapan nyaman si kita kaya...namanya dependency theory kan tetap mereka pake...tapi kalo kita kekeuh...saya yakin takluk juga mereka...
kalo biaya sertifikasi $90 jt, apa PT DI punya uang yah? smoga Negara bisa membantu...amin...
v-sun March 9th, 2010, 12:10 PM PTDI garap proyek pesawat tempur US$8 miliar
Jumat, 05/03/2010 13:46:19 WIBOleh: Yanto Rahmat W.
BANDUNG (Bisnis.com): PT Dirgantara Indonesia (PTDI) siap berkerja sama dengan Korea Selatan mengerjakan proyek pengembangan model pesawat tempur senilai US$8 miliar yang ditawarkan pemerintah negara tersebut kepada Indonesia.
Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengemukakan sejumlah sarana dan prasarana yang dimiliki badan usaha milik negara (BUMN) tersebut mampu mengerjakan pesawat tempur sejenis T-50 Golden Eagle yang merupakan pengembangan pesawat oleh Korea Selatan-Amerika Serikat.
“Kalau memroduksi sendiri [pesawat tempur] belum bisa, tetapi kalau bergabung dengan Korea Selatan bisa terlaksana,” katanya kemarin.
PT DI memiliki pengalaman dalam bidang kualifikasi dan sertifikasi dalam memproduksi pesawat-pesawat yang berkecepatan rendah seperti CN-235.
Sementara itu, Korea Selatan berpengalaman dalam memroduksi pesawat berkecepatan tinggi atau melebihi kecepatan suara (1 mach) T-50 Golden Eagle.
“PT DI memiliki lahan, laboratorium, ruang perakitan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Jadi sebetulnya tinggal penggabungan teknologi saja,” katanya.
Budi mengatakan pengembangan dan pembangunan model pesawat yang ditawarkan Korea Selatan baru untuk jenis tempur (fighter), sementara pengembangan model pesawat jenis lainnya seperti jenis stealth (siluman), belum masuk program.
Dia menilai kerja sama pengembangan pesawat tempur kemungkinan bisa diwujudkan pada tahun ini setelah pemerintah Korea Selatan memberikan lampu hijau atas program kerja sama. “Pemerintah Korea Selatan tinggal menunggu persetujuan parlemennya dalam program pengembangan pesawat ini,” katanya (mrp)
v-sun March 9th, 2010, 12:11 PM Dirgantara incar kontrak Rp1,5 triliun
Minggu, 07/03/2010 20:25:35 WIB Oleh: Yanto Rahmat Iskandar
BANDUNG (Bisnis.com): PT Dirgantara Indonesia (PT DI) membidik kontrak karya senilai Rp1,5 triliun pada 2010 atau naik 36% dari tahun 2009 sebesar Rp1,1 triliun.
Pada 2009, realisasi kontrak karya perusahaan mencapai Rp1,4 triliun, atau mencapai 27% dari target sebesar Rp1,1 trilin.
Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengemukakan pemegang saham sebetulnya mendorong raihan kontrak karya hingga Rp1,7 triliun karena peluang bisnis dirgantara yang cukup baik pada tahun ini.
“Pada rapat umum pemegang saham lalu pemegang saham sebetulnya mendorong lebih, sehingga target perusahaan untuk kontrak karya antara Rp1,5 triliun--Rp1,7 triliun,” katanya akhir pekan lalu.
Untuk mengejar target kontrak karya pada 2010 perusahaan menginvetarisir sejumlah potensi bisnis.
Pada bulan ini, Badan SAR Nasional (Basarnas) akan melelang pengadaan helikopter untuk badan tersebut. Nilai kontrak pengadaan helikopter tersebut mencapai total US$50 juta.
Budi menyatakan PT DI tidak akan melepaskan peluang proyek tersebut dengan menyodorkan model heli jenis Bell 412.
Akan tetapi, perusahaan harus bersaing dengan beberapa penyedia pesawat lainnya, seperti Eurocopter (Eropa) dan Kamov (Rusia) untuk memenangkan tender.
“Kami optimistis bisa meraih kontrak tersebut,” tuturnya.
Pada pertengahan tahun ini, PT DI juga berpeluang besar meraih kontrak pengadaan enam helikopter untuk TNI Angkatan Darat senilai US$65 juta. Heli yang akan dijual kepada Dephan tersebut adalah jenis yang sama, Bell 412. (ln)
v-sun March 9th, 2010, 12:15 PM 04 Maret 2010 | 21:49 wib | Nasional
Seriusi Dua Jenis Pesawat
PT DI Fokus Garap Pasar Dalam Negeri
Bandung, CyberNews. PT Dirgantara Indonesia tengah menyeriusi dua proyek pengembangan pesawat yang dianggap cocok dengan kondisi alam Indonesia. BUMN Strategis itu menilai kebutuhan pesawat dengan spesifikasi khusus itu masih cukup menjanjikan.
Proyek tersebut salah satunya yakni pembuatan pesawat penumpang N-219. Saat ini, pesawat baling-baling yang direncanakan memiliki kapasitas penumpang hingga 19 penumpang itu masih dalam tahap desain. Program tersebut melibatkan pula Kemenristek yang menyediakan anggaran pembuatannya.
Menurut Jubir PT DI, Rakhendi Triyatna, Proyek N-219 kemungkinan memakan waktu hingga lima tahun sebelum bisa mengudara. Hal ini mengacu kepada pengalaman produksi pesawat kebanggaan perusahaan pesawat terbang plat merah itu, CN- 235. Dimulai 1979 dengan pembuatan desain awal, prototype "Tetuko" nama lain pesawat hasil kerjasama dengan CASA Spanyol itu mengudara kali pertama pada 1983.
"Bedanya ini merupakan produksi kami sendiri. Pesawat ini jelas lebih unggul dibanding pesawat sekelasnya terutama dari sisi teknologi dengan kemampuan manuver yang lebih baik," tandasnya saat dihubungi Kamis (4/3).
Rakhendi tak menampik kehadiran N-219 ditujukan untuk menggantikan NC-212. Pesawat yang juga diproduksi PT DI selama ini menjadi andalan guna melayani rute-rute jarak pendek dan angkutan perintis terutama di kawasan timur Indonesia. Pesawat itu mampu mendarat dan terbang dari landasan terbatas.
Tak hanya itu, proyek lainnya yang tengah berusaha digolkan manajemen PT DI adalah memproduksi pesawat amfibi. Perusahaan yang berbasis di Bandung itu tidak sendirian tapi menggandeng pabrikan pesawat amfibi Dornier, Jerman yang mempunyai desainnya. Pembicaraan serius tengah dilakukan kedua belah pihak.
Keistimewaan pesawat itu karena kemampuannya mendarat dan terbang berlandaskan air seperti laut di samping landasan konvesional. "Berdasarkan riset kami, Indonesia membutuhkan pesawat jenis ini. Pesawat ini cocok untuk menghubungkan kepulauan dengan waktu yang relatif singkat seperti di Riau Kepulauan misalnya. Itulah yang membuat kami berani mengembangkan pesawat amfibi," katanya.
Rakhendi menyatakan kebutuhan pesawat amfibi di tanah air bisa mencapai 500 unit. Jika lisensi dari Dornier sudah didapatkan, PT DI siap memproduksinya secara massal. Sebelumnya, mereka mempersiapkan seluruh alat produksi pada tahun pertama. Tahun berikutnya, pabrik pesawat terbang nasional itu siap berjibaku memenuhi pesanan yang datang.
( Setiady Dwi / CN13 )
MARINHO March 9th, 2010, 12:42 PM So much has been spent to develop the IPTN N-250.
Now it's time to revive that project. Or is there some European pressure to prevent any continuation on this project because the Europeans are possibly fearful that it will directly compete with their ATR series.
The United States doesn't have such a turboprop aircraft and they might be interested in such an aircraft.
Now that Obama is president of the United States Indonesia should use Obama's sympathy towards Indonesia to help overcome the problems that the IPTN N-250 project encountered back in 1998 when it was under scrutiny for certification by the FAA.
IPTN could possibly increase the cooperation with US based aircraft manufacturers to make the aircraft more attractive for US based carriers.
Kopassus March 9th, 2010, 01:38 PM Thanks for the news V-sun!
I thought N219 was cancelled because of they will start soon with the production of the C212-400.
Hopefully the N219 will become a reality...
Kopassus March 9th, 2010, 01:42 PM So much has been spent to develop the IPTN N-250.
Now it's time to revive that project. Or is there some European pressure to prevent any continuation on this project because the Europeans are possibly fearful that it will directly compete with their ATR series.
The United States doesn't have such a turboprop aircraft and they might be interested in such an aircraft.
Now that Obama is president of the United States Indonesia should use Obama's sympathy towards Indonesia to help overcome the problems that the IPTN N-250 project encountered back in 1998 when it was under scrutiny for certification by the FAA.
IPTN could possibly increase the cooperation with US based aircraft manufacturers to make the aircraft more attractive for US based carriers.
In the nineties IPTN want to cooperate with an American company for the production of the N250-200 (formally N270) in the US....
It should be great if we get the chance to built the T-50 or develop a derivative of it together with South-Korea.
For millitary aircraft we dont need certification also...
MARINHO March 9th, 2010, 11:33 PM In the nineties IPTN want to cooperate with an American company for the production of the N250-200 (formally N270) in the US....
It should be great if we get the chance to built the T-50 or develop a derivative of it together with South-Korea.
For millitary aircraft we dont need certification also...
I guess that the IPTN N250/N270 is commercially more interesting. And about the certification. That was a problem twelve years ago. Now it should be a lot easier to solve the problems related to the certification. As knowledge Indonesia on aerospace technology has been advancing the past ten years or otherwise can be hired from overseas.
A challenge for Indonesian Aerospace should be how to get those talented engineers back that have been working overseas for ten years now.
It is now a government task to provide funding for a project that will inspire future Indonesian engineers. It would be a great loss if the IPTN N250 project remained stalled.
MARINHO March 10th, 2010, 08:48 AM http://farm4.static.flickr.com/3336/3523356636_d4c85b99f8_b.jpg
Source: Flickr.com by Jojoon
fcaesarn March 10th, 2010, 11:01 AM I guess that the IPTN N250/N270 is commercially more interesting. And about the certification. That was a problem twelve years ago. Now it should be a lot easier to solve the problems related to the certification. As knowledge Indonesia on aerospace technology has been advancing the past ten years or otherwise can be hired from overseas.
A challenge for Indonesian Aerospace should be how to get those talented engineers back that have been working overseas for ten years now.
It is now a government task to provide funding for a project that will inspire future Indonesian engineers. It would be a great loss if the IPTN N250 project remained stalled.
Sebenernya ga usah di sertifikasiin diluar juga bisa kok digunakan... cukup dengan pemerintah memerintahkan merpati/wings air/trigana untuk beli ni pesawat dan dephub cukup melakukan sertifikasi nasional... pesawat sudah bisa terbang dan digunakan untuk penerbangan di teritori indonesia..
nah nanti seiring berjalannya waktu, hal ini bisa menjadi penguat pemberi sertifikasi internasional untuk memberikan sertifikasinya, dan akhirnya ptdi bisa menjual untuk pasar luar negeri..
David-80 March 10th, 2010, 08:57 PM I thought the problem twelve years ago was because the price for N250 is too expensive for a propeller airplane with fly-by-wire technology?
cheers
Ocean One March 11th, 2010, 05:54 PM Dirgantara Indonesia terganjal neraca finansial
Kamis, 11/03/2010
BANDUNG (Antara): Kondisi neraca finansial perusahaan yang minus menjadi ganjalan serius bagi PT Dirgantara Indonesia untuk melakukan ekspansi yang lebih progresif memproduksi pesawat terbang dan pengerjakan proyek strategis lain di sektor kedirgantaraan.
"Dari sisi teknologi cukup membanggakan dan sangat bagus. Dengan potensi itu PTDI sebenarnya bisa melangkah lebih maju lagi, namun sayang neraca finansial yang minus menjadi beban industri strategis itu untuk melakukan ekspansi yang lebih besar," kata Anggota Komisi I DPR Enggartiasto Lukito pada kunjungan Komisi I DPR di PTDI di Bandung hari ini.
Kunjungan kerja Komisi I DPR itu diterima oleh Direktur Utama PTDI Budi Santoso serta jajaran direksi perusahaan dirgantara nasional itu. Dalam kesempatan itu, direksi PTDI memaparkan kondisi terkini perusahaan yang didirikan pada 1970-an itu, termasuk kendala yang dihadapi selama ini.
Menurut Enggar, PTDI merupakan perusahaan yang progresif namun perlu keberpihakan pemerintah yang lebih besar lagi untuk membesarkan kembali PT Dirgantara Indonesia.
Salah satunya dengan mengupayakan penyehatan neraca keuangan BUMN strategis itu. Karena menurut Enggartiasto selama neraca perusahaan itu belum bisa diatasi, selanjutnya sulit bagi PTDI untuk jauh melangkah menjadi industri yang dapat diandalkan.
Sementara itu Ketua Tim Komisi I DPR Kemal Azis Stamboel menyatakan bahwa dari hasil kunjungan kerja Komisi I ke beberapa BUMN strategis di Bandung mendapatkan gambaran dan kondisi perusahaan yang hampir sama yakni perlunya adanya restrukturisasi finansial dan keberfihakan pemerintah yang lebih besar lagi untuk memanfaatkan produk lokal.
Menurut dia, komitmen pemerintah untuk membeli produk BUMNIS cukup besar, namun terkendala pada anggaran yang terbatas. "Dewan berharap pemerintah meningkatkan kembali penyerapan produk lokal, bila ada produk dalam negeri yang kualitasnya sesuai standard kenapa harus membeli dari luar negeri," kata Stamboel, politisi dari Fraksi PKS itu menambahkan.
Kopassus March 12th, 2010, 03:47 AM I thought the problem twelve years ago was because the price for N250 is too expensive for a propeller airplane with fly-by-wire technology?
cheers
In the nineties the price of a N250-100 was around $17 jt, the price of an ATR-72-500 was 16,5-20 jt in 2008, and the DHC-8-Q300 is 17jt and DHC-8-Q400 27jt, so the difference wasn't too big.
This is the status of the N250, some (unknown) years ago....
N250 Flight Test Status
- PA1 (first prototype) :
Flight test hours log : 665 hrs
Flight test achievement :
* flight envelope fully opened
* performance as prediction
* stability control meet requirements
* initial system characteristics were found and to be improved
- PA2 (second):
Flight test hours log : 200 hrs
Flight test remaining : 800 hrs
Kopassus March 12th, 2010, 03:51 AM I guess that the IPTN N250/N270 is commercially more interesting. And about the certification. That was a problem twelve years ago. Now it should be a lot easier to solve the problems related to the certification. As knowledge Indonesia on aerospace technology has been advancing the past ten years or otherwise can be hired from overseas.
A challenge for Indonesian Aerospace should be how to get those talented engineers back that have been working overseas for ten years now.
It is now a government task to provide funding for a project that will inspire future Indonesian engineers. It would be a great loss if the IPTN N250 project remained stalled.
100% agree, thanks for the picture!
v-sun March 13th, 2010, 10:15 AM PT Dirgantara Indonesia Mampu Buat Pesawat Amphibi
Kamis, 11 Maret 2010 23:04 WIB
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR Al Muzammil Yusuf menilai PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mampu membuat pesawat amphibi. "Pesawat amphibi mampu dibuat PT DI," kata Al Muzzamil melalui pesan elektronik kepada ANTARA usai kunjungan kerja Komisi I DPR ke PT DI, di Bandung, Kamis.
Dia mengatakan pesawat amphibi bisa menjadi solusi bagi negara kepulauan Indonesia karena bisa mendarat di berbagai tempat tanpa hambatan infrastruktur darat.
"Pesawat amphibi harusnya menjadi solusi Indonesia, baik karena pertimbangan alam kita, maupun dalam konteks pariwisata, keamanan terbang dan hankam wilayah Indonesia yang terpencil," katanya.
Melihat keunggulan pesawat amphibi tersebut, anggota DPR dari Fraksi PKS tersebut menyarankan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengembangkan industri PT DI melalui pesawat amphibi tersebut.
"Harusnya Presiden melalui Menhan, Menristek, Menteri Negara BUMN dan Mendagri bisa menjembatani para kepala daerah untuk bisa memesan dan membuka jalur transportasi melalui sarana pesawat amphibi tersebut," katanya.
Akan tetapi kondisi neraca finansial perusahaan yang minus menjadi ganjalan serius bagi PT Dirgantara Indonesia untuk melakukan ekspansi yang lebih progresif memproduksi pesawat terbang dan pengerjakan proyek strategis lain di sektor kedirgantaraan.
"Dari sisi teknologi cukup membanggakan dan sangat bagus. Dengan potensi itu PTDI sebenarnya bisa melangkah lebih maju lagi. Namun sayang neraca finansial yang minus menjadi beban industri strategis itu untuk melakukan ekspansi yang lebih besar," kata anggota Komisi I DPR Enggartiasto Lukito disela-sela kunjungan Komisi I DPR di PTDI.
Enggartiasto mengatakan PTDI merupakan perusahaan yang progresif namun perlu keberpihakan pemerintah yang lebih besar lagi untuk membesarkan kembali PT Dirgantara Indonesia.
Salah satunya dengan mengupayakan penyehatan neraca keuangan BUMN strategis itu, karena menurut Enggartiasto selama neraca perusahaan itu belum bisa diatasi, selanjutnya sulit bagi PTDI untuk jauh melangkah menjadi industri yang dapat diandalkan.(N006/R009)
agasi93 March 13th, 2010, 07:03 PM http://farm4.static.flickr.com/3336/3523356636_d4c85b99f8_b.jpg
Source: Flickr.com by Jojoon
^^wah ternyata banyak bule bule juga toh keren euy jadi kayak perusahaan internasional karyawannya dari banyak negara :banana::cheers:
Kopassus March 14th, 2010, 06:50 AM Mungkin mereka cuman tamu....
The fly-by-wire system is from Lucas-Liebherr Aerotechnik, the engines are from Allison.
Sayang, banyak orang Indonesia masih pikir orang buleh mahluk istimewa, keren dan hebat....
Jangan lupa, walaupun kulit kita coklat, orang Indonesia yg kerja dalam dunia kedirgantaraan tidak kalah sama orang bule dalam ilmu atau kecerdasan....
Jadi, IPTN tidak baru hebat kalau ada beberapa org bule kerja disana....
agasi93 March 14th, 2010, 08:32 PM ^^^^ eeh bukan gitu maksud saya
cuma bilang aja kalo ada bule ptdi kayak perusahaan internasional
kayak boeing atau airbus gtu yg karyawannya gak cuma bule aja kan
saya juga bangga kok kalo ptdi di dominasi sama orang indonesia
apalagi kalo semua bagian pesawatnya made in indonesia semua
sorry deeh kalo ketangkep ya salah :cheers:
peseg5 March 15th, 2010, 01:08 PM Kalau biaya revival N-250 mahal dan tidak feasible, apakah PT DI punya rencana untuk terjun dan fokus sebagai salah satu inti bisnisnya ke bisnis pengembangan pesawat aerial tanpa awak (UAV) untuk kebutuhan militer dan non mil?
Karena saya pernah dengar dari insinyur aviation (orang Indonesia) yg bilang pengembangan UAV lebih feasible ktimbang melanjutkan proyek N-250 ataupun mewujudkan N-2130.
Ya masuk logika juga sih, UAV ibarat mini RC cuman skalanya aja dibesarin, tentunya cost to makenya lebih murah daripada bikin pesawat propeller utuh.
wonkcerbon March 15th, 2010, 11:46 PM Kalau biaya revival N-250 mahal dan tidak feasible, apakah PT DI punya rencana untuk terjun dan fokus sebagai salah satu inti bisnisnya ke bisnis pengembangan pesawat aerial tanpa awak (UAV) untuk kebutuhan militer dan non mil?
Karena saya pernah dengar dari insinyur aviation (orang Indonesia) yg bilang pengembangan UAV lebih feasible ktimbang melanjutkan proyek N-250 ataupun mewujudkan N-2130.
Ya masuk logika juga sih, UAV ibarat mini RC cuman skalanya aja dibesarin, tentunya cost to makenya lebih murah daripada bikin pesawat propeller utuh.
harusnya mahal tapi buat tapi buat ningkatin "pride of nation" gak masalah kalo menurutku ( aku juga bayar pajak jd boleh dong omong begini )
lagipula trilyunan rupiah but century ada dan gampang sekali penyalurannya. begitu untuk yg bermanfaat kayak gini tidak ada, aneh
Kopassus March 16th, 2010, 04:53 AM Kalau biaya revival N-250 mahal dan tidak feasible, apakah PT DI punya rencana untuk terjun dan fokus sebagai salah satu inti bisnisnya ke bisnis pengembangan pesawat aerial tanpa awak (UAV) untuk kebutuhan militer dan non mil?
Karena saya pernah dengar dari insinyur aviation (orang Indonesia) yg bilang pengembangan UAV lebih feasible ktimbang melanjutkan proyek N-250 ataupun mewujudkan N-2130.
Ya masuk logika juga sih, UAV ibarat mini RC cuman skalanya aja dibesarin, tentunya cost to makenya lebih murah daripada bikin pesawat propeller utuh.
Mungkin karena sudah ada beberapah perusahaan lain yg mengembangkan UAVs...
http://www.roboaeroindonesia.com/
http://www.uavindo.co.id/
Kopassus March 16th, 2010, 04:53 AM ^^^^ eeh bukan gitu maksud saya
cuma bilang aja kalo ada bule ptdi kayak perusahaan internasional
kayak boeing atau airbus gtu yg karyawannya gak cuma bule aja kan
saya juga bangga kok kalo ptdi di dominasi sama orang indonesia
apalagi kalo semua bagian pesawatnya made in indonesia semua
sorry deeh kalo ketangkep ya salah :cheers:
Teu sawios-wios cep...
Kopassus March 16th, 2010, 04:57 AM harusnya mahal tapi buat tapi buat ningkatin "pride of nation" gak masalah kalo menurutku ( aku juga bayar pajak jd boleh dong omong begini )
lagipula trilyunan rupiah but century ada dan gampang sekali penyalurannya. begitu untuk yg bermanfaat kayak gini tidak ada, aneh
Setuju...6,7 trilyun = $720jt....
Wah, dgn dana ini kita bisa mengembangkan IPTN dan memperbaiki semua jalan2 berlobang di Bandung...
Kopassus March 18th, 2010, 09:13 AM kayaknya dah ga jalan bro.... PT.DI tampaknya sibuk dengan NC-212-400. IMHO PT.DI juga harus realistis. membangun kembali pesawat baru butuh banyak effort. dana pengembangan dan sertifikasi luar biasa mahal. untuk bertahan, PT.DI sebaiknya bikin dan jual pesawat lisensi serta mengembangkan CN-235.
kabar baiknya, hampir semua produk eurocopter bakal diproduksi PT.DI. mulai dari Colibri, Dauphin hingga Cougar...
info aja, beberapa minggu lalu, gw jalan bareng dengan Pemred Majalah Angkasa. dia cerita mau ke PT.DI mau liputan soal NC-212-400. nah di Angkasa bulan maret nanti laporannya pasti turun tuh...
I've bought it, thanks!
Berani juga ya, CASA pasang iklan di Angkasa dari C295....pesaing langsung dari CN235...well, at least some parts of the C295 are build by IPTN...
MARINHO March 21st, 2010, 01:07 PM I thought the problem twelve years ago was because the price for N250 is too expensive for a propeller airplane with fly-by-wire technology?
cheers
That fly-by-wire system could be axed from the IPTN N-250 or could be offered as an option on a so called 'high performance' or 'extra performance' IPTN N-250
MARINHO March 21st, 2010, 01:13 PM Sebenernya ga usah di sertifikasiin diluar juga bisa kok digunakan... cukup dengan pemerintah memerintahkan merpati/wings air/trigana untuk beli ni pesawat dan dephub cukup melakukan sertifikasi nasional... pesawat sudah bisa terbang dan digunakan untuk penerbangan di teritori indonesia..
nah nanti seiring berjalannya waktu, hal ini bisa menjadi penguat pemberi sertifikasi internasional untuk memberikan sertifikasinya, dan akhirnya ptdi bisa menjual untuk pasar luar negeri..
This indeed could be an option.
100% agree, thanks for the picture!
You're very much welcome!
MARINHO March 21st, 2010, 01:20 PM Kalau biaya revival N-250 mahal dan tidak feasible, apakah PT DI punya rencana untuk terjun dan fokus sebagai salah satu inti bisnisnya ke bisnis pengembangan pesawat aerial tanpa awak (UAV) untuk kebutuhan militer dan non mil?
Karena saya pernah dengar dari insinyur aviation (orang Indonesia) yg bilang pengembangan UAV lebih feasible ktimbang melanjutkan proyek N-250 ataupun mewujudkan N-2130.
Ya masuk logika juga sih, UAV ibarat mini RC cuman skalanya aja dibesarin, tentunya cost to makenya lebih murah daripada bikin pesawat propeller utuh.
The IPTN N-250 is very much interesting because as a development platform many variants could be developed from the IPTN N-250.
The UAV business is fairly limited this moment and I guess that the sales will be succesfull but on a much more limited scale.
After the IPTN N-250 has proven itself with commercial as well as government operators. PT DI together with the TNI-AU/TNI-AD could be developing a larger turboprop for defense purposes
Rock Star March 22nd, 2010, 01:48 AM PTDI garap proyek pesawat tempur US$8 miliar
BANDUNG (Bisnis.com): PT Dirgantara Indonesia (PTDI) siap berkerja sama dengan Korea Selatan mengerjakan proyek pengembangan model pesawat tempur senilai US$8 miliar yang ditawarkan pemerintah negara tersebut kepada Indonesia.
Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengemukakan sejumlah sarana dan prasarana yang dimiliki badan usaha milik negara (BUMN) tersebut mampu mengerjakan pesawat tempur sejenis T-50 Golden Eagle yang merupakan pengembangan pesawat oleh Korea Selatan-Amerika Serikat.
“Kalau memroduksi sendiri [pesawat tempur] belum bisa, tetapi kalau bergabung dengan Korea Selatan bisa terlaksana,” katanya kemarin.
PT DI memiliki pengalaman dalam bidang kualifikasi dan sertifikasi dalam memproduksi pesawat-pesawat yang berkecepatan rendah seperti CN-235.
Sementara itu, Korea Selatan berpengalaman dalam memroduksi pesawat berkecepatan tinggi atau melebihi kecepatan suara (1 mach) T-50 Golden Eagle.
“PT DI memiliki lahan, laboratorium, ruang perakitan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Jadi sebetulnya tinggal penggabungan teknologi saja,” katanya.
Budi mengatakan pengembangan dan pembangunan model pesawat yang ditawarkan Korea Selatan baru untuk jenis tempur (fighter), sementara pengembangan model pesawat jenis lainnya seperti jenis stealth (siluman), belum masuk program.
Dia menilai kerja sama pengembangan pesawat tempur kemungkinan bisa diwujudkan pada tahun ini setelah pemerintah Korea Selatan memberikan lampu hijau atas program kerja sama. “Pemerintah Korea Selatan tinggal menunggu persetujuan parlemennya dalam program pengembangan pesawat ini,” katanya (mrp)
Sumber : Bisnis.com
______________________________________________________________________________________________________
:banana:
mmmmmmhh....kira2 pesawat apa yg akan di kembangkan ya..??
ada yang tau...!!
:cheers: :cheers: :cheers:
karbol March 22nd, 2010, 06:39 AM PTDI garap proyek pesawat tempur US$8 miliar
BANDUNG (Bisnis.com): PT Dirgantara Indonesia (PTDI) siap berkerja sama dengan Korea Selatan mengerjakan proyek pengembangan model pesawat tempur senilai US$8 miliar yang ditawarkan pemerintah negara tersebut kepada Indonesia.
Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengemukakan sejumlah sarana dan prasarana yang dimiliki badan usaha milik negara (BUMN) tersebut mampu mengerjakan pesawat tempur sejenis T-50 Golden Eagle yang merupakan pengembangan pesawat oleh Korea Selatan-Amerika Serikat.
“Kalau memroduksi sendiri [pesawat tempur] belum bisa, tetapi kalau bergabung dengan Korea Selatan bisa terlaksana,” katanya kemarin.
PT DI memiliki pengalaman dalam bidang kualifikasi dan sertifikasi dalam memproduksi pesawat-pesawat yang berkecepatan rendah seperti CN-235.
Sementara itu, Korea Selatan berpengalaman dalam memroduksi pesawat berkecepatan tinggi atau melebihi kecepatan suara (1 mach) T-50 Golden Eagle.
“PT DI memiliki lahan, laboratorium, ruang perakitan, sumber daya manusia, dan lain-lain. Jadi sebetulnya tinggal penggabungan teknologi saja,” katanya.
Budi mengatakan pengembangan dan pembangunan model pesawat yang ditawarkan Korea Selatan baru untuk jenis tempur (fighter), sementara pengembangan model pesawat jenis lainnya seperti jenis stealth (siluman), belum masuk program.
Dia menilai kerja sama pengembangan pesawat tempur kemungkinan bisa diwujudkan pada tahun ini setelah pemerintah Korea Selatan memberikan lampu hijau atas program kerja sama. “Pemerintah Korea Selatan tinggal menunggu persetujuan parlemennya dalam program pengembangan pesawat ini,” katanya (mrp)
Sumber : Bisnis.com
______________________________________________________________________________________________________
:banana:
mmmmmmhh....kira2 pesawat apa yg akan di kembangkan ya..??
ada yang tau...!!
:cheers: :cheers: :cheers:
T/A-50.... US$ 8 miliar?? wow.... bisa dapet berapa pesawat tuh...
anywey, kayaknya ini masih jauh. soalnya lisensi untuk T/A-50 musti dapet ijin juga dari AS, banyak teknologi AS disitu...
Rock Star March 23rd, 2010, 01:32 AM :nuts: ya tunggu Om Bama dateng aja, kasih nasi goreng, ajak jalan2 ke borobudur... Urusan lancar daaaaahh..wkwkwk :lol: :lol:
MARINHO March 23rd, 2010, 11:53 AM Setuju...6,7 trilyun = $720jt....
Wah, dgn dana ini kita bisa mengembangkan IPTN dan memperbaiki semua jalan2 berlobang di Bandung...
It is a lot of money. But on the long term this investment (IPTN N-250) will earn itself back. Many young Indonesians full of potention will be attracted to this project. Indonesia's technological capability will increase and this will open the gate to much more impressive developments. Developments that in turn will bring back dollars to the country.
Kopassus March 23rd, 2010, 05:10 PM It is a lot of money. But on the long term this investment (IPTN N-250) will earn itself back. Many young Indonesians full of potention will be attracted to this project. Indonesia's technological capability will increase and this will open the gate to much more impressive developments. Developments that in turn will bring back dollars to the country.
Sorry, but the 6,7 trilyun is the money spent to the Century Bank.
I mean with this sentence that instead give it away to a useless bank, it could be better spent to our aerospace industry, creating thousends of jobs and developing our country....
MARINHO March 23rd, 2010, 07:20 PM :nuts:I'm very sorry it is my mistake. I must have missed a part of your post.
Kopassus March 26th, 2010, 05:34 AM :nuts:I'm very sorry it is my mistake. I must have missed a part of your post.
Noo..dont feel guilty, it was my mistake, i shouldn't have expected that everybody abroad knows that our government have given 6,7 triliun to the Century Bank.
Rock Star March 29th, 2010, 03:35 PM PT. IPTN dan KAI Produksi Bersama Jet Tempur
Jet tempur T-50B Golden Eagle melepaskan tanki bahan bakar tambahan, dimungkinkan PT. IPTN akan produksi bersama dengan KAI 200 jet tempur jenis ini. (Foto: DID)
29 Maret 2010, Bandung -- " Kita pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu (12/3).
Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 hektare.
Yang paling laris adalah pesawat CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, NAS-332 Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu membanggakan bangsa saat itu.
Namun, persoalan muncul saat krisis ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari luar negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari N-250.
PT DI menerima pesanan 120 pesawat. Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. Ribuan karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. ''Kami berupaya keras menyelesaikan proyek itu sesuai target,'' tutur Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito saat ditemui Jawa Pos di Bandung pekan lalu.
Namun, PT DI harus menelan pil pahit. Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund alias IMF mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, Indonesia tak boleh lagi berdagang pesawat. ''Itu benar-benar memukul kami,'' kata Budiwuraskito, pria Semarang ini.
Padahal, kata Budi, PT DI telanjur merekrut banyak karyawan. Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan. Semua siap produksi. Pesawat contoh bahkan sudah jadi, sudah bisa terbang, dan siap dijual. Tinggal menunggu proses sertifikasi penerbangan. ''Nggak tahu, mungkin ada negara yang takut tersaingi kalau Indonesia bikin pesawat,'' ujarnya mengingat sejarah kelam PT DI itu.
Bayangan menerima duit gede USD 1,2 milliar menguap. Malah, PT DI harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang telanjur direkrut. Proyek memang batal, tapi orang-orang yang hidup dari PT DI juga tetap harus dikasih makan. ''Akhirnya, mau tidak mau, kami mem-PHK karyawan secara baik-baik,'' katanya.
Pada 2003, PT DI memutus kerja sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu pekerja, PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan.
Namun, PT DI berupaya mempertahankan diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan komponen pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci.
''Pabrik-pabrik pembuat panci itu kan perlu alat pencetak. Biasanya mereka impor dari luar negeri. Mengapa harus impor kalau bisa kita bikinin. Dan, itu lumayan untuk membuat roda perusahaan berjalan,'' kata Budi. Tapi, urusan panci itu tak banyak membantu. Pada 2007, BUMN yang didirikan pada 26 April 1976 itu dinyatakan pailit alias bangkrut.
PT DI tak lantas almarhum. Pemerintah masih punya keinginan mengembangkannya meski modal yang diberikan tak terlalu deras. Dan, kendati sudah dinyatakan pailit, masih ada rekanan dari mancanegara yang percaya akan kualitas produk PT DI.
Salah satunya British Aerospace (BAE). PT DI mendapat order sebagai subkontrak sayap pesawat Airbus A380 dari pabrik burung besi asal Inggris itu. Juga ada order dari dua negara Timur Tengah enam pesawat jenis N-2130. Apalagi, Indonesia sudah menceraikan IMF. Artinya, PT DI sudah leluasa berdagang pesawat.
Budi menuturkan, order enam pesawat itulah yang bisa dibilang ''menyelamatkan'' PT DI saat itu. Laba dari pesanan itu digunakan sebagai modal pengembangan. Selain itu, PT DI semakin fokus menggarap pasar komponen dan bagian-bagian pesawat dengan menjadi subkontrak atau offset program. Antara lain bagian inboard outer fixed leading edge (IOFLE) dan drive rib alias ''ketiak'' sayap milik Airbus A380.
Airbus A380 adalah pesawat bikinan Airbus SAS (Prancis) yang sudah kondang di jagat dirgantara. Pesawat ini biasanya digunakan untuk penerbangan internasional lintas benua dengan muatan 500 hingga 800 penumpang. ''Kita mencoba meraih untung dengan menjadi subkontrak dari pemain besar,'' kata Budi.
Kondisi PT DI terus membaik. Dalam waktu dekat mereka akan memproduksi pesawat tempur dengan dana urunan bersama pemerintah Korea Selatan (Korsel) sebesar USD 8 milliar. Indonesia menyumbang USD 2 milliar, sedangkan pemerintah Korsel USD 6 milliar. ''Tapi, untuk Indonesia itu akan kita konversikan dalam bentuk tenaga, teknologi, dan pengembangan pesawat tersebut,'' katanya.
Kemampuannya tak jauh berbeda dengan F-16 Fightning Falcon, pesawat tempur kondang buatan Amerika Serikat yang digunakan 24 negara di dunia. Rinciannya, 200 unit untuk Korsel dan 50 untuk Indonesia. ''Proyek ini memakan waktu sampai tujuh tahun,'' kata Budi.
Selain itu, order dari Timur Tengah terus berdatangan. Sejumlah negara memesan CN-235untuk pesawat pengawas pantai, pengangkut personel militer, dan pemantau perbatasan. Dari dalam negeri, Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga memesan enam unit helikopter dan Badan SAR Nasional (Basarnas) empat unit.
Budi mengakui, tren industri dirgantara di Indonesia terus naik kendati perlahan. Paling tidak, tujuh tahun ke depan, PT DI bisa meraup laba yang lumayan dari membuat pesawat. Sebenarnya, kata Budi, keuntungan itu bisa didongkrak bila ada keberanian mencari pinjaman. Tapi, itu bakal sulit. ''Tidak banyak bank yang mau. Sebab, risikonya terlalu tinggi. Padahal, semakin tinggi risiko, janji revenue juga besar,'' kata Budi yang lulusan Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan menyelesaikan gelar MBA di Belanda itu.
Strategi pengembangan PT DI saat ini, kata Budi, tak bisa terlalu ekspansif. PT DI memilih berjalan perlahan dengan memanfaatkan margin keuntungan sebagai modal pengembangan. ''Begini saja, lebih aman,'' kata Budi lantas tersenyum.
Menanti Gelombang Pensiun Besar PT DI pada 2014
Saat ini PT DI memiliki 4.200 karyawan. Tapi, jumlah itu akan turun tiap tahun. Pada 2014, badan usaha milik negara (BUMN) produsen burung besi itu hanya akan dioperasikan 300 orang. ''Yang senior banyak yang harus pensiun,'' kata Manager Corporate Communication Rakhendi Triyatna saat ditemui di kompleks PT DI di Bandung pekan lalu.
Kondisi itu tak bisa dibiarkan. Apabila, jika tidak ada penanganan, grafik perkembangan PT DI yang terus menanjak bisa terjun bebas. Mereka akan mengalami persoalan krisis tenaga kerja. ''Karena itu, secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan akan ada rekrutmen besar-besaran,'' kata Rakhendi yang juga akan pensiun dua tahun lagi.
Tahun ini 25 orang akan ditarik menjadi karyawan. Pada 2011, sebanyak 700 lebih tenaga kerja akan direkrut. Mereka yang direkrut tidak hanya dari bagian produksi, tapi juga bagian manajemen perusahaan. ''Setiap 300 orang yang direkrut terdapat 30 orang lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung, Red),'' kata lelaki 53 tahun itu.
Hingga sekarang, kata Rakhendi, PT DI masih cukup bisa mengandalkan tenaga dari dalam negeri. Pekerja di bagian produksi umumnya adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan atau umum. Selain SMK, tenaga sarjana yang diambil kebanyakan dari Teknik Penerbangan ITB.
Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengatakan, karyawan yang bekerja di PT DI tak perlu susah beradaptasi. Sebab, budaya kerja PT DI sudah sangat kuat terbentuk. Mereka yang bertugas mengebor dan mengecor aluminium alloy (bahan ringan kuat pembuat bodi pesawat) dan komposit cukup mengikuti para senior. ''Dua bulan di sini kami training pasti sudah bisa,'' katanya.
Soal tenaga kerja, PT DI memang tak punya banyak masalah. Yang menjadi masalah hanyalah peralatan dan mesin untuk membuat pesawat. Peralatan yang dipakai kini masih terbatas. Bahkan, untuk meng-handle order yang terus berdatangan, peralatan tersebut sampai overload.
Menurut Budi, pesawat dibuat dalam beberapa bagian yang terpisah untuk kemudian disatukan. Biasanya, panjang setiap bagian sekitar 5 meter. Nah, mesin yang berkapasitas 5 meter itulah yang cukup terbatas. Proses produksi menjadi lama karena mesinnya terbatas. ''Harus antre,'' kata Budi, lantas tersenyum.
sumber : http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=125194
:cheers:
Rock Star March 29th, 2010, 04:30 PM PTDI Rebut Bisnis Perawatan Pesawat dari Singapura
Rebut Bisnis Perawatan Pesawat dari Singapura
SALAH satu bisnis yang dibidik PT Dirgantara Indonesia (DI) saat ini adalah maintenance pesawat terbang. Pasar perawatan pesawat terbang di Indonesia kini didominasi Singapura. Karena itu, PT DI berharap agar maskapai yang banyak beroperasi di Indonesia mengalihkan perawatan burung besinya ke PT DI.
"Singapura memang lebih besar dan kuat. Kalau soal kualitas dan fasilitas, tidak banyak perbedaannya," kata Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito. Budi -sapaan Budiwuraskito- mengatakan bahwa potensi perawatan itu sangat besar. Sebab, maskapai yang beroperasi di Indonesia sangat banyak. Tiap tahun jumlah pesawat yang harus dirawat terus bertambah. ''Ini peluang strategis,'' ujarnya.
PT DI, menurut Budi, sudah memiliki sejumlah jasa layanan maintenance pesawat untuk perawatan bodi pesawat dan aircraft service di bawah PT Nusantara Turbin Propulsi (NTP). Namun, kondisi itu tidak sejalan dengan maskapai penerbangan milik Indonesia sendiri, yakni Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah tersebut mempunyai pusat perawatan pesawat sendiri yang juga dikomersilkan bernama Garuda Maintenance Facilities (GMF).
Saat ini, ucap Budi, ada keinginan dari Kementerian BUMN untuk menggabung semua pusat perawatan pesawat dan helikopter milik negara di satu atap. Tidak hanya pesawat komersial, tapi juga militer. Alasannya, itu bisa menghemat ongkos sekaligus membesarkan bisnis perawatan pesawat. Peluang untuk menggusur dominasi Singapura pun terbuka lebar.
Budi mengatakan, kalau itu bisa terwujud, perawatan pesawat di tanah air bisa diintegrasikan dalam satu atap. Mulai struktur pesawat, avionic system (sistem atau software pesawat), hingga mesin.
Namun, kata Budi, proses merger tersebut tak bakal bisa singkat. Sebab, yang disatukan tidak hanya tempat. Tapi juga sumber daya manusia (SDM). Kalau sekadar menggabung, struktur dan tenaga kerjanya bisa sangat gemuk dan malah tidak efektif. "Mungkin masih perlu dua tahun lebih untuk mewujudkannya," jelas dia. (aga/c10/iro)
sumber : http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=125192
:cheers:
typhoonbringer March 31st, 2010, 06:50 PM komisi I lagi mo kasih pinjeman gede2an ke BUMNS termasuk DI, tapi katanya manajemen harus dibenahi dulu
rilham2new April 1st, 2010, 04:09 AM ^^ Komisi I apa ya??? DPR ??? Mereka punya duit???? Atau semacam pake Bail-Out :nuts: ...
Bail-Out sih ladang panas bagi pihak oposisi untuk menjatuhkan image pemerintah ;) .... Mereka sudah berkali-kali berhasil :)
masdwi April 6th, 2010, 08:06 AM komisi I lagi mo kasih pinjeman gede2an ke BUMNS termasuk DI, tapi katanya manajemen harus dibenahi dulu
sesuai penjelasan di ruang 1304 itu ya bro?
btw, saya sependapat dengan pak anggota dewan .......
Ocean One April 6th, 2010, 06:06 PM PT Dirgantara Indonesia dan GMF Perbarui Kerja Sama
Selasa, 6 April 2010
BANDUNG, KOMPAS.com - Guna memperkuat bisnis kedirgantaraan nasional, PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia dan PT Dirgantara Indonesia (Persero) menyepakati pembaharuan kerja sama yang terjalin sejak tahun 2003. Pembaharuan itu ditandatangani President Director dan Chief Executive Officer PT GMF Aeroasia, Richard Budihadianto dan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso.
Menurut Richard di Bandung, Selasa (6/4/2010), seiring itu, perjanjian kerja sama induk nomor GMF/PERJ./DT-3011/2003 dan PTD/1029/UT0000/2/03 tanggal 11 Februari 2003 dinyatakan tak berlaku. Kerja sama kedua perusahaan milik negara di bidang kedirgantaraan itu mengacu pada perjanjian terbaru yang ditandatangani pada 1 April 2010.
"Perjanjian berdurasi selama tiga tahun sejak kontrak kerja sama ditandatangani dan merupakan payung yang dapat memperlancar kerja sama kedua perusahaan," ujarnya.
Lingkup kesepakatan tersebut, lebih luas mencakup general aircraft manufacture, suku cadang dan komponen, peralatan dan perlengkapan, jasa pengujian dan laboratorium, layanan teknis, pemasaran, perbaikan, modifikasi, overhaul pesawat terbang serta komponen dan sistemnya. Cakupan lain yakni pengadaan suku cadang, jasa manufaktur, informasi teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemanfaatan fasilitas.
"Kerja sama GMF Aeroasia dan PT DI merupakan kesepakatan yang sinergis dan saling menguntungkan karena bidang kedua perusahaan hampir sama," ujarnya.
Kelebihan yang dimiliki GMF Aeroasia dan PT DI diharapkan menjadi kekuatan baru dalam mendorong perkembangan bisnis dirgantara di Indonesia khususnya bidang perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan ( maintenance, repair , and overhaul/MRO).
Sekalipun GMF adalah anak perusahaan PT Garuda Indonesia, namun kerja sama itu bisa dikategorikan ke dalam sinergi badan usaha milik negara (BUMN). Selain itu, kerja sama tersebut merupakan wujud konkret dari instruksi Kementerian Negara BUMN agar sesama perusahaan milik negara bisa meningkatkan sinergi.
Menurut Budi Santoso , PT DI memiliki berbagai fasilitas yang dapat digunakan GMF seperti fasilitas surface treatment yang telah mendapatkan sertifikat National Aerospace and Defense Contractors Accreditation Program (NADCAP) sehingga GMF dapat mengurangi ketergantungan kepada pihak asing. Kegiatan yang pernah dilakukan misalnya, saat GMF menangani perawatan atas section 41 dari pesawat Boeing B-737. Banyak suku cadang dan personil PT DI yang digunakan GMF Aeroasia dalam kegiatan tersebut.
Rock Star April 14th, 2010, 02:34 PM Pic..
CN-235 Civil version
http://images3.jetphotos.net/img/1/4/6/8/73837_1120237864.jpg
CN-235 Merpati Nusantara Airlines
:cheers:
Kopassus April 14th, 2010, 06:35 PM Nice picture....
PK-MNI.... ? Pesawat CN235-10 terakhir yg masih dipakai Merpati, ditempatkan di Polonia: PK-MNC dan PK-MNE afaik....
Foto ini diambil kapan?
Rock Star April 16th, 2010, 05:56 PM ^^
menurut info dari image properties tu foto diambil : File change date and time: 2005:06:12 14:26:22
Rock Star April 16th, 2010, 06:06 PM ini yg PK-MNM, pada badan pesawat terlihat tulisan " visit asean year 1992 "
http://www.fesa.be/1%20PK-MNM.jpg-for-web.jpg
sumber : fesa.be
Rock Star April 16th, 2010, 06:29 PM PK-MZ/MNA
http://www.ka7.koalanet.ne.jp/~ad3-apal/airlines/CN-235_01.jpg
sumber : ka7.koalanet.ne.jp
Rock Star April 16th, 2010, 06:35 PM PK-MNE
http://i373.photobucket.com/albums/oo178/suwardi_album/MerpatiCN235.jpg
Sumber : suwardi@photobucket
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/2/0/5/1065502.jpg
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/0/5/2/1057250.jpg
Rock Star April 16th, 2010, 06:37 PM PK-MNC
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/4/9/5/0960594.jpg
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/7/1/6/1027617.jpg
Rock Star April 16th, 2010, 06:48 PM PK-MND
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/9/1/4/1066419.jpg
Rock Star April 16th, 2010, 06:59 PM PK-MNP
http://topaircraft.com/albarka/images/casa-235-merpatiS.jpg
sumber : topaircraft.com
Kopassus April 19th, 2010, 07:03 AM Nice pics, thanks!
Sayang CN-235 tidak begitu laku sebagai pswt sipil. Sepertinya hanya Merpati yg masih pakai CN235, Asian Spirit tidak megunakan pswt ini lagi.
Kopassus April 28th, 2010, 05:46 PM Taken from another forum:
MANADO, KOMPAS.com - PT Dirgantara Indonesia (PT.DI) offers a national aircraft type N219 to the government of North Sulawesi province to facilitate communications in remote areas. Technology and Development Director Andi Alisjabana PT.DI in Manado, Monday (04/26/2010), said the aircraft type is suitable for the North Sulawesi because specially designed for short-haul flights and can land on unpaved runway in mountainous regions.
"N219 can replace the Twin Otter which is old and no longer manufactured," he told reporters on the socialization of investment facilitation and promotion of the development of Far 23 (Program N219). The price of this aircraft is only 3.8 million U.S. dollars (about USD 35 billion), can carry 19 passengers and still allows financed from local government funds.
Analysis of N219 plane operation in North Sulawesi-Manado route to Naha is 256 kilometers (km) distance traveled for an hour, with an estimated 80 percent of passengers (15 people), it can be operated with a ticket price of Rp 650,000 per passenger.
Characteristics such as aircraft N219, twin-engine 850 SHP each, certified on ketegori CASR 23 (commuter category), operation and maintenance costs are low, high and hot-enabled capability Airfield, simple and easy maintenance. "This aircraft has not been produced, there must be demand for approximately 30 new aircraft could be made, and an opportunity for local governments," he told reporters and added, aircraft ownership by local governments is possible because there are rules for that.
Indonesia's army plans to add 24 utility helicopters, with Indonesian Aerospace and Bell Helicopter teaming for the pitch.
The army wants to have two squadrons of utility helicopters, totalling 24 aircraft, plus 18 attack helicopters, say industry sources.
For the utility helicopter requirement, state-owned aircraft-maker IAe is putting forward the Bell 412EP.
Indonesia's army has 31 412HP/SPs already in use, as listed in Flightglobal's HeliCAS database. IAe manufactured the airframes, which the army took delivery of between the late 1980s and the mid-1990s.
IAe plans to import the first batch of 412EPs in kit form, perform final assembly and be responsible for the installation of client equipment, industry sources say. However, it wants to also manufacture the fuselages for subsequent aircraft, they add.
Bell and IAe have already signed a memorandum of understanding, but have yet to sign a final contract, as some details need to be worked through. The army also has yet to sign a firm contract for the aircraft.
An enhanced performance version of the 412 with a dual digital automatic flight-control system, the EP uses a relatively old platform. However, one source notes that its advantage over rival AgustaWestland and Eurocopter product offerings is that some of the army's key decision-makers are familiar with the 412, having flown it in the past.
Rock Star May 5th, 2010, 01:10 AM PTDI Siapkan Investasi Rp 248 Miliar di 2010
Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memperkirakan investasi di tahun 2010 sebesar Rp 248 miliar. Ini terbagi menjadi dua, existing business sebesar Rp 87 miliar dan New Product Development, Rp 161 miliar.
Demikian disampaikan Direktur Utama PTDI Budisantoso dalam RDP dengan Komisi VI DPR-RI di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (4/5/2010).
Ia menambahkan, investasi yang telah ada dalam pipeline tersebut terdiri dari penggantian dan revitalisasi fasilitas jangka pendek, pengembangan bisnis perawatan pesawat. Selain itu dana sebesar ini juga diperuntukan sebagai biaya pengembangan pesawat CN 235 NG (Next Generation) dan N219 dan Amphibi Sea Star.
Sementara, realisasi penjualan di luar negeri untuk tahun 2009 mencapai Rp 443 miliar. Sedangkan domestik mencapai Rp 68 miliar, hingga total penjualan mencapai Rp 511 miliar. Penjualan perseroan tercatat menurun dibanding periode tahun 2008, yaitu Rp 557 miliar. Ini terdiri dari luar negeri Rp 352 miliar dan domestik Rp 206 miliar.
"Kita kan dapat kontrak life time dari Air Bus berupa suku cadang dan sayap, kita pasang disana," kata Direktur Keuangan PTDI Herwana Hadimulya.
Untuk kontrak carry over 2009 tercatat mencapai Rp 1,658 triliun. Terjadi penambahan sekitar Rp 798 miliar di tahun yang sama. Posisi hutang PTDI tahun lalu sendiri tercatat Rp 2,590 triliun dengan ekuitas yang tercatat di neraca mencapai negatif Rp 295 miliar, hingga posisi aktiva perseroan mencapai Rp 2,295 triliun.
Sumber : http://www.detikfinance.com/read/2010/05/04/194350/1351165/4/ptdi-siapkan-investasi-rp-248-miliar-di-2010?f9911023
_________________________________________________________________________
Semoga terealisasi :cheers:
masdwi May 5th, 2010, 08:54 AM PK-MNC
http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/photos/4/9/5/0960594.jpg
PK-MNC yg gagah ini, sekarang nasibnya mengenaskan. teronggok di Bandara Polonia Medan dengan mesin yg sudah dicopot.
Rock Star May 6th, 2010, 01:02 AM PK-MNC yg gagah ini, sekarang nasibnya mengenaskan. teronggok di Bandara Polonia Medan dengan mesin yg sudah dicopot.
^^
mmmmmhh.. kurangnya suku cadang atau memang sudah tidak di gunakan lagi nih sama maskapai penerbangnya.. padahal seharusnya masih bisa di gunakan kalau perawatannya di lakukan secara rutin berkala.. btw, ada pic..??
:ohno: :ohno:
Don KingKong May 11th, 2010, 11:37 AM Indonesia's new 19-seater entering crowded market
http://i42.tinypic.com/34q1tmg.jpg
http://i42.tinypic.com/70knxc.jpg
Indonesian Aerospace (IAe) is developing a new 19-seat aircraft, the N219. I spoke with the aircraft-maker's director of aero-structure Andi Alisjahbana, who sent me these pictures of the aircraft.
IAe already makes the CASA 212-200 under licence from Spain but the Indonesians are developing the N219 independently of CASA and argue that the Indonesian aircraft will not compete against the 212 because it is a slightly smaller aircraft and is a Part 23 rather than a Part 25 aircraft.
The Indonesians claim that the N219 will have a technologically-advanced tapered wing. Another selling point is that the cabin has three-abreast seating.
The product specs show the aircraft will have a maximum take-off weight of around 7t and its maximum payload will be 2.5t.
IAe will design the aircraft to take off from runways shorter than 600m-long.
It looks like the N219 will be competing for sales in the developing world against the Chinese-built Harbin Y12, which is also a 19-seat Part 23 aircraft. Although IAe is saying initially it will focus its sales efforts in Indonesia.
I've never really understood why China failed to pay more attention to developing its Y12 to capture the global market for 19-seat aircraft.
The competition in this segment had been pretty minimal and the Y12 is a good product. But now with IAe, Ruag (Dornier 228NG) and Viking Air (Twin Otter Series 400) coming into the market, things are going to get pretty crowded.
http://www.flightglobal.com/blogs/asian-skies/2010/05/indonesias-new-19-seater-enter.html
drie May 11th, 2010, 01:48 PM http://img443.imageshack.us/img443/9690/dscn6509.jpg (http://img443.imageshack.us/i/dscn6509.jpg/)
http://img38.imageshack.us/img38/7501/dscn6521n.jpg (http://img38.imageshack.us/i/dscn6521n.jpg/)[/CENTER]
MARINHO May 11th, 2010, 04:51 PM Indonesia's new 19-seater entering crowded market
Is there a concrete time line on the development, testing, marketing and manufacturing of the aircraft
fcaesarn June 5th, 2010, 04:37 AM http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/35/Dornier_Seastar_Wolfgangsee.jpg
BANDUNG - Pesawat amfibi berkapasitas 12 penumpang yang akan menjadi lini produksi baru PT Dirgantara Indonesia (DI) di luar produksi yang sudah digarap mulai mendapat sambutan hangat dari pasar dalam negeri.
Saat ini, BUMN strategis itu tengah getol melakukan roadshow guna menawarkan pesawat hasil produksi di bawah lisensi pabrikan Dornier Seawings, Jerman ke pemerintah-pemerintah daerah. Dalam dua bulan terakhir, pabrikan pesawat yang berbasis di Bandung itu menyasar kawasan Indonesia timur.
Kawasan itu dinilai cocok dengan karakteristik pesawat yang dapat menghubungkan antar-kepulauan dan daerah terpencil. "Di Manado, pesawat itu mendapat respon positif, tapi mereka mempertimbangkan dulu segi pendanaannya. Bulan ini kami melakukannya di Mataram," kata Jubir PT DI, Rakhendi Triyatna saat dihubungi di Bandung, Selasa (1/6).
Menurut dia, roadshow itu akan dilakukan selama dua tahun. Sebagai tahap awal, proses pemasaran itu akan digulirkan selama empat bulan ke depan sejak April lalu. Estimasi PT DI, Indonesia membutuhkan sedikitnya 500 pesawat jenis tersebut dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang.
Pesawat itu dapat mendarat dan terbang dengan landasan air seperti laut di samping landasan konvesional. Keberadaannya yang bersifat multifungsi seperti untuk kelancaran fungsi pemerintahan, bisnis, hingga pariwisata dianggap bakal mampu menggerakan roda ekonomi kawasan.
"Desainnya milik Dornier. Begitu ada pesanan, kami tinggal memproduksinya. Satu unit bisa diselesaikan antara 1 sampai 1,5 tahun. Hampir keseluruhan pemda kami garap dalam pemasaran ini. Tak menutup kemungkinan kementerian tertentu menjadi sasaran," jelasnya dalam satu kesempatan.
Dengan keyakinan itu, pabrik pesawat nasional tersebut yakin pesawat multiguna tersebut yang dapat pula difungsikan sebagai angkutan kargo bakal mendapatkan pasar di Tanah Air. Meski demikian, Rakhendi enggan menyebutkan berapa harga yang dilepas bagi satu unit pesawat amfibi yang dikendalikan dua kru itu ke konsumen.
Source:http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/01/55898
ceudah June 14th, 2010, 08:54 AM Tanya dikit....kira2 ada kemungkinan gk untuk membangunkan dan menerbangkan kembali N250?...
smoga masih ada harapan itu :D
arif doank June 14th, 2010, 09:46 AM Tanya dikit....kira2 ada kemungkinan gk untuk membangunkan dan menerbangkan kembali N250?...
smoga masih ada harapan itu :D
sangat mungkin gan.. karena habibie kembali akan mengelola PT DI! :banana:
MARINHO June 14th, 2010, 10:33 AM What?!@#$ Are you sure?
sangat mungkin gan.. karena habibie kembali akan mengelola PT DI! :banana:
ceudah June 14th, 2010, 01:20 PM ^^ serius ni? info dr mana? syukur lah kalo pak Habibie mau balik kesana....:D
Ocean One June 24th, 2010, 09:46 AM Korsel Pesan Empat Pesawat, PT DI Raih Order US$ 174,5 Juta
23/06/2010
JAKARTA, INVESTOR DAILY
BUMN produsen alat pertahanan, PT Dirgantara Indonesia (DI), memperoleh pesanan sejumlah pesawat dengan nilai kontrak sebesar US$ 174,5 juta untuk tahun ini. Beberapa kontrak tersebut merupakan perpanjangan dari kontrak yang dilakukan 2009.
Kepala Humas PT DI Rahendi mengatakan, tahun ini PT DI mulai mengirimkan beberapa pesawat pada dua pihak pemesan. Salah satu pemesan yaitu pemerintah Korea Selatan yang tahun lalu memesan empat unit pesawat jenis CN 235MPA dengan nilai kontrak US$94,5 juta.
“Korea Selatan sudah meneken kontrak sejak akhir 2008. Pesawat itu akan mulai kami kirimkan pada akhir tahun ini,” ujar Rahendi kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (22/6).
Selain pemerintah Korea Selatan, PT DI menerima pesanan tiga unit pesawat jenis CN235MPA dari TNI AL dengan nilai kontrak US$80 juta. Rencananya tahun depan pesawat tersebut akan mulai dikirim.
Menurut dia, PT DI juga mulai mengirimkan badan pesawat C212-400 pesanan EADS-Construcciones Aeronauticas SA (CASA), perusahaan manufaktur pesawat asal Spanyol. Dari 35 pesanan pesawat, saat ini baru empat pesawat yang dikirimkan ke Spanyol. Namun, Rahendi enggan menyebutkan nilai kontraknya.
Direktur Keuangan dan Administrasi PTDI Hermawan Hadimulya sebelumnya menyatakan, perseroan meraup order pembuatan enam buah helikopter Bell dengan nilai US$ 50-100 juta. “Kami baru memperoleh order itu dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Diperkirakan tahun depan baru dapat kami kirim,” katanya.
Hadi mengatakan, selain order helikopter pada tahun ini, PTDI memiliki carry over kontrak 2009 yang tercatat mencapai Rp 1,658 triliun. Kontrak itu antara lain pembuatan tiga unit pesawat CN 235 untuk patroli maritim TNI AL.
Dia menerangkan, realisasi penjualan PTDI untuk 2009 mencapai Rp 511 miliar yang terdiri atas penjualan luar negeri mencapai Rp 443 miliar dan domestik Rp 68 miliar. “Untuk perolehan kontrak, 56% berasal dari luar negeri, sedangkan 44% dari dalam negeri,” tuturnya.
Tahun ini, lanjut dia, PTDI menganggarkan dana investasi sebesar Rp 248 miliar yang akan digunakan untuk pembelian komponen pesawat dan pengembangan produk-produk terbaru. “Dana tersebut terbagi menjadi dua, existing business sebesar Rp 87 miliar dan new product development Rp 161 miliar,” katanya.
Direktur Utama PTDI Budisantoso mengatakan, untuk menunjang perkembangan industri dirgantara nasional, pihaknya saat ini terus berusaha untuk merestrukturisasi utang masa lalu berupa rekening dana investasi (RDI) dan subsidiary loan agreement (SLA) senilai Rp 1,6 triliun.
Dia menjelaskan, RDI akan dilunasi langsung oleh perseroan, sedangkan SLA saat ini masih dibahas dengan Departemen Keuangan untuk dijadikan penyertaan modal negara (PMN). “Kalau pemerintah bersedia untuk mengubah utang menjadi modal, kami akan memiliki sedikit kekuatan untuk mengajukan pinjaman langsung kepada institusi keuangan,” ujarnya.
Saat ini, menurut Hermawan, modal PTDI minus Rp 300 miliar, sehingga pihaknya sedikit kesulitan untuk mencari pinjaman dari institusi keuangan. Namun begitu sebenarnya saat ini PTDI telah mendapat kepercayaan dari dua institusi perbankan, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia dan PT Bank Nasional Indonesia yang memberikan bank non-cash loan. “Kami mendapat letter of credit dari BNI sebesar US$ 130 juta dan BRI sebanyak US$ 30 juta,” paparnya.
Kopassus June 26th, 2010, 05:44 AM Indonesia's new 19-seater entering crowded market
http://i42.tinypic.com/34q1tmg.jpg
http://i42.tinypic.com/70knxc.jpg
Indonesian Aerospace (IAe) is developing a new 19-seat aircraft, the N219. I spoke with the aircraft-maker's director of aero-structure Andi Alisjahbana, who sent me these pictures of the aircraft.
IAe already makes the CASA 212-200 under licence from Spain but the Indonesians are developing the N219 independently of CASA and argue that the Indonesian aircraft will not compete against the 212 because it is a slightly smaller aircraft and is a Part 23 rather than a Part 25 aircraft.
The Indonesians claim that the N219 will have a technologically-advanced tapered wing. Another selling point is that the cabin has three-abreast seating.
The product specs show the aircraft will have a maximum take-off weight of around 7t and its maximum payload will be 2.5t.
IAe will design the aircraft to take off from runways shorter than 600m-long.
It looks like the N219 will be competing for sales in the developing world against the Chinese-built Harbin Y12, which is also a 19-seat Part 23 aircraft. Although IAe is saying initially it will focus its sales efforts in Indonesia.
I've never really understood why China failed to pay more attention to developing its Y12 to capture the global market for 19-seat aircraft.
The competition in this segment had been pretty minimal and the Y12 is a good product. But now with IAe, Ruag (Dornier 228NG) and Viking Air (Twin Otter Series 400) coming into the market, things are going to get pretty crowded.
http://www.flightglobal.com/blogs/asian-skies/2010/05/indonesias-new-19-seater-enter.html
Thanks for posting, baru baca skrg.
Interesting pictures...
Semoga program ini jadi.
ceudah June 26th, 2010, 09:54 AM gk ada yg jawab pertanyaan gw....:(
apa bener pak habibie kembali memimpin PT DI?
ceudah July 16th, 2010, 04:07 AM Bandung, CyberNews. Tak hanya pesawat amfibi, PT Dirgantara Indonesia juga mulai memperkenalkan keberadaan pesawat yang desainnya digarap penuh mereka yakni N-219.
Perkenalan kepada khalayak yang dimulai tahun ini diharapkan dapat membuka celah pasar bagi pesawat baling-baling itu.
Menurut Jubir PT DI, Rakhendi Triyatna di Bandung, Kamis (15/4), N-219 memang masih dalam tahap pengembangan. Pengenalan tersebut merupakan bagian dari strategi pemasaran. "Kita ingin menjaring calon pengguna pesawat tersebut sejak awal," jelasnya.
Pesawat itu kemungkinan resmi diluncurkan dalam dua tahun mendatang, didesain dengan mempertimbangkan karakteristik alam Indonesia. Fleksibel dalam menghubungkan antar pulau dengan kemampuan manuver yang lebih baik karena ditunjang teknologi lebih baik dibanding pesawat sekelasnya.
N-219 tampaknya diperuntukan guna menggantikan keberadaan NC-212. Pesawat yang juga keluaran BUMN Strategis itu menjadi andalan guna melayani rute-rute jarak pendek dan angkutan perintis terutama di kawasan timur Indonesia. Pesawat itu memiliki kemampuan mendarat dan terbang dari landasan terbatas.
Kopassus July 18th, 2010, 06:51 AM Bandung, CyberNews. Tak hanya pesawat amfibi, PT Dirgantara Indonesia juga mulai memperkenalkan keberadaan pesawat yang desainnya digarap penuh mereka yakni N-219.
Perkenalan kepada khalayak yang dimulai tahun ini diharapkan dapat membuka celah pasar bagi pesawat baling-baling itu.
Menurut Jubir PT DI, Rakhendi Triyatna di Bandung, Kamis (15/4), N-219 memang masih dalam tahap pengembangan. Pengenalan tersebut merupakan bagian dari strategi pemasaran. "Kita ingin menjaring calon pengguna pesawat tersebut sejak awal," jelasnya.
Pesawat itu kemungkinan resmi diluncurkan dalam dua tahun mendatang, didesain dengan mempertimbangkan karakteristik alam Indonesia. Fleksibel dalam menghubungkan antar pulau dengan kemampuan manuver yang lebih baik karena ditunjang teknologi lebih baik dibanding pesawat sekelasnya.
N-219 tampaknya diperuntukan guna menggantikan keberadaan NC-212. Pesawat yang juga keluaran BUMN Strategis itu menjadi andalan guna melayani rute-rute jarak pendek dan angkutan perintis terutama di kawasan timur Indonesia. Pesawat itu memiliki kemampuan mendarat dan terbang dari landasan terbatas.
Lets wait and see.
Here some more news about the KFX program
Confirmation on Indonesia Participation in KFX Program.
From Kompas Newspaper with Google Translation:
SEOUL - Indonesia finally agreed to join in the project development of KF-X fighter who led South Korea, the project was previously delayed for 10 years due to technical problems and funding.
"Indonesia is expected to take about 50 KF-X fighter jets by taking 20 percent of project development cost 8-12 billion U.S. dollars worth it," South Korean Defense Ministry said in a statement. The two countries also agreed to cooperate in the production and marketing of these fighter jets.
The agreement was signed in Seoul by the Korean Ministry of Defence Commissioner and the Secretary General of the Ministry of Defence of Indonesia, Eris Herryanto on Thursday (15 / 7). South Korea had previously introduced the KF-X project in 2000 to produce domestically produced fighter jet. But was suspended because of technical and economic problems, President Lee Myung-Bak on January 2010 and agreed to revive the project amid rising tensions between South Korea and North Korea.
This aircraft will replace all the F-4 fighter jets and F-5 in 2020. South Korean news agency, Yonhap, reported, about 170 F-5 fighter jets are still operating in South Korea.
"Reactivation of the project will begin early next year, and we plan to produce a new fighter jets after a feasibility study completed by the end of 2012," said a South Korean Defense Ministry spokesman.
"We need a foreign partner who will transfer technology and spare parts is the main fighter jet," he said, without mentioning the total funds required. According to the spokesman, in addition to the development of key projects that KF-X, South Korea will also continue to buy advanced fighter jets from foreign companies.
Source: KOMPAS
Indonesia-Korsel Tangdatangani Kesepakatan Bersama Kembangkan Jet KF-X
SEOUL — Indonesia akhirnya menyepakati ikut bergabung dalam proyek pengembangan pesawat tempur KF-X yang dipimpin Korea Selatan, proyek ini sebelumnya tertunda selama 10 tahun akibat masalah teknis dan pendanaan.
"Indonesia diperkirakan akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20 persen biaya pengembangan proyek bernilai 8-12 milyar dollar AS itu," kata Kementerian Pertahanan Korsel dalam sebuah pernyataan.
Kedua negara juga sepakat untuk bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur tersebut.
Kesepakatan ini ditandatangani di Seoul oleh Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia, Eris Herryanto pada Kamis (15/7).
Korsel sebelumnya pernah memperkenalkan proyek KF-X tersebut pada tahun 2000 untuk memproduksi jet tempur buatan dalam negeri. Namun ditangguhkan karena permasalahan teknis dan ekonomi, Presiden Lee Myung-Bak pada Januari 2010 lalu setuju untuk menghidupkan kembali proyek tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Korsel dan Korut.
Pesawat ini nantinya akan menggantikan semua jet tempur F-4 dan F-5 pada 2020. Kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan, sekitar 170 jet tempur F-5 kini masih beroperasi di Korsel. Pesawat-pesawat tersebut kali pertama terbang pada 1975 dan telah mengalami sejumlah kecelakaan udara.
"Pengaktifan kembali proyek itu akan dimulai awal tahun depan, dan kami berencana memproduksi jet-jet tempur baru setelah studi kelayakan rampung pada akhir 2012," kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel.
"Kami memerlukan mitra asing yang akan mentransfer teknologi dan suku cadang utama jet tempur tersebut," ujarnya, tanpa menyebutkan total dana yang diperlukan. Menurut juru bicara tersebut, di samping pengembangan proyek kunci KF-X itu, Korsel juga akan terus membeli jet-jet tempur canggih dari perusahaan asing.
Sumber : KOMPAS
ceudah August 4th, 2010, 03:40 PM iya....kita tunggu aja...
tp di web PT DI kenapa gk da kabar ttg 219 yah?....apa ecek2 aja?
Kopassus August 5th, 2010, 06:52 AM iya....kita tunggu aja...
tp di web PT DI kenapa gk da kabar ttg 219 yah?....apa ecek2 aja?
Pemeliharaan situs IPTN sangat minim... team yg memelihara situs ini dulu waktu reorganisasi dipecat.
kemasslolii August 14th, 2010, 12:22 PM apa bener pak habibie bakal balik lagi ke D.I ?
sesamee August 18th, 2010, 12:27 PM PT Dirgantara Indonesia Mulai Memproduksi Sayap Airbus 350
Rabu, 18 Agustus 2010 | 16:43 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) saat ini tengah mulai memenuhi pesanan pembuatan komponen sayap Airbus 350, setelah sebelumnya membuat komponen sayap inboard outer fixed leading edge untuk Airbus 380, 320, 330 dan 340 serta 400 militer.
"Jangka kontraknya ada yang 5 tahun sampai dengan 10 tahun, mudah mudahan akan terus berlanjut, kita tidak memprediksi kapan berakhirnya kontrak ini," ujar Rakhendi Priyatna, pejabat Humas PT, Rabu (18/8).
Ia menyatakan, walaupun perakitan komponen bukan bisnis utama PT DI, diproduksinya komponen sayap Airbus tersebut optimis bisa ikut mendongkrak bisnis PT DI. Rakhendi menegaskan, pemesanan komponen saya sendiri masih melalui British Aerospace System dengan kontrak awal sejak tahun 2004 lalu.
Ia menegaskan, dengan diberikannya kepercayaan pembuatan komponen sayap Airbus tersebut menjadi nilai tambah bagi PT DI dan Indonesia, karena sudah dipercaya perusahaan besar untuk membuat komponen perusahaan penerbangan luar negeri.
"Kami optimis PT DI akan terus mengalami pertumbuhan seiring dengan banyaknya pesanan yang masuk," ujarnya.
PT DI sendiri memiliki sejumlah produk layanan selain pembuatan pesawat terbang dan helikopter. Di antaranya, aerostructure, aircraft services, engineering services. Pada tahun ini PT DI menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar Rp 1,5 triliun. Pada tahun 2009 lalu, PT DI berhasil mengerjakan kontrak karya sekitar Rp 1,1 triliun.
ALWAN RIDHA RAMDANI
Kopassus August 19th, 2010, 06:10 AM Good news! Thanks for posting
sesamee August 19th, 2010, 02:26 PM happy to contribute..
sesamee August 25th, 2010, 04:43 PM PT DI-Xian Aircraft Kerja Sama Bangun Pesawat Sedang
Susan Silaban
Mustafa Abubakar
INILAH.COM, Jakarta - PT Dirgantara Indonesia dan Xian Aircraft menjalin kerja sama untuk mengembangkan jenis pesawat menengah dengan kapasitas 30-50 tempat duduk.
Hal ini diungkapkan Menteri BUMN Mustafa Abubakar seusai acara Lebaran Fair
2010 Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (25/8). Menurut Mustafa kerja sama ini dimulai
ketika Merpati berencana membeli 15 unit pesawat dari Xian, namun dibatalkan.
"Kita tidak hanya ingin pesawat tetapi kerja sama desain dan produksinya," ujar Mustafa.
Pembatalan itu diduga terjadi penggelembungan harga, dan ketidakjelasan spesifikasi pesawat yang akan dipesan. Kontrak kerja sama
dilakukan pada 7 Juni 2006. Dua dari 15 pesawat pesanan telah tiba di Jakarta
pada 6 September 2006, tetapi sampai sekarang Merpati belum mengambil 13 pesawat lainnya.
Mustafa menambahkan, daya serap pasar penerbangan masih besar sehingga Pemerintah Indonesia dan China akhirnya menghasilkan win-win solution. Yakni, dijalinnya kerja sama tersebut. [nic]
"Akhirnya kita win-win solution," ujarnya.
http://www.inilah.com/news/read/ekonomi/2010/08/25/771121/pt-di-xian-aircraft-kerja-sama-bangun-pesawat-sedang/
Kopassus August 26th, 2010, 06:16 PM Aduh, harus hati2 kalau kerja sama dengan Cina, negara ini punya kebiasaan utk copy-past dan memproduksi barang dari negeri lain tampa license.
Selain itu, utk apa kerja sama dgn negeri lain kalau kita sudah punya CN235? Peswat ini utk 40-44 penumpang, dan hanya harus diremajakan/update utk menjadi lebih efisien dan menarik utk pasar dalam negeri dan global.
typhoonbringer August 26th, 2010, 09:25 PM Aduh, harus hati2 kalau kerja sama dengan Cina, negara ini punya kebiasaan utk copy-past dan memproduksi barang dari negeri lain tampa license.
Selain itu, utk apa kerja sama dgn negeri lain kalau kita sudah punya CN235? Peswat ini utk 40-44 penumpang, dan hanya harus diremajakan/update utk menjadi lebih efisien dan menarik utk pasar dalam negeri dan global.
mungkin karena kita mw tot c-705 mereka, offsetnya ini
Kopassus September 11th, 2010, 11:02 AM PT.DI Membidik Pasar Perawatan Sukhoi Superjet
Indoflyer, 8/25/2010 9:25:16 AM
http://www.indoflyer.net/images/content/Superjet.jpg
Bandung - PT.Dirgantara Indonesia (PT.DI) sedang membidik pasar perawatan Sukhoi Superjet dengan kerjasama antara Sukhoi Civil Aircraft selaku produsen Sukhoi Superjet. Menurut Direktur Utama PT.DI Budi Santoso, pihak Sukhoi akan menyediakan suku cadang sehingga PT.DI dapat melakukan MRO (Maintenance Repair & Overhaul) untuk pesawat Superjet tersebut.
Pengguna Superjet di Indonesia adalah maskapai Kartika Airlines yang akan memesan 30 unit pesawat dan PT. DI sangat berharap dapat mengambil pasar perawatan pesawat itu. Diharapkan dengan rencana ini akan menaikan pangsa pasar PT.DI dari yang hanya 5%, naik menjadi 30% di bisnis MRO di Indonesia.
PT. DI sendiri memiliki fasilitas hanggar yang sanggup menampung empat unit pesawat narrow body sekelas Boeing 737 dan kedepannya akan berekspansi menambah hanggar baru dengan nilai investasi US$ 1 juta. PT. DI selaku BUMN industri strategis nasional mulai membaik dari sisi pendapatannya yang telah membukukan laba Rp.117,08 miliar padahal tahun 2008 malah merugi sebesar Rp.84.34 miliar. (SS)
v-sun September 28th, 2010, 08:21 AM hari ini PT. DI ada di laptop si unyil :D:D
Kopassus September 29th, 2010, 09:00 AM From Bandung 'Air Show'.
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/CN235-220MPA.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/NC212-200MPA01.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/NC212-200MPA02.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A38002.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A38003.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A38001.jpg
Kopassus September 29th, 2010, 09:02 AM http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A-230201.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A-230202.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A230203.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/N25001.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/SokoGalebG2.jpg
v-sun October 2nd, 2010, 04:25 PM ^^acara yg bener2 dahsyat!!
--------------------------------------------------------------------------
Tahun Depan, PT Dirgantara Selesaikan 2 Pesawat Pesanan Korea
KAMIS, 23 SEPTEMBER 2010 | 15:07 WIB
http://image.tempointeraktif.com/?id=46210&width=490
Produksi Pesawat di PT. Dirgantara Indonesia. Tempo/Arnold Simanjuntak
TEMPO Interaktif, Bandung - PT Dirgantara Indonesia segera menyelsaikan 2 pesawat patroli maritim yang dipesan Korea Selatan pada akhir tahun, dan 2 pesawat lagi pada diselesaikan pada semester satu tahun depan.
"Diharapkan segera selesai, dan PT DI mudah mudahan segera memproduksi pesawat buat TNI Angkatan Laut," ujar Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso di ajang pameran kedirgantaraan, Bandung Air Show udi Bandara Husein Sastranegara , Bandung, Kamis (23/9).
Budi menyatakan, pesanan Korea tersebut senilai sekitar US$ 90 juta sedangkan yang sudah dikontrak dengan TNI Angkatan laut senilai US$ 80 juta dolar dengan memakai pembiayaan ekspor dari salah satu Bank di Amerika Serikat. Untuk harga satu pesawat standar biasanya mencapai US$ 20 juta dolar.
"PT DI saat ini menunggu kontrak kredit pemerintah dengan perbangkan Amerika Serikat, biar hanggar yang dua tahun kosong bisa hidup kembali hidup. Kontrak dengan TNI sudah dilakukan Desember tahun lalu," ujarnya.
Budi mengatakan, PT DI sendiri sudah muai produksi komponennya komponen kapal pesanan TNI AL tersebut. Kapal yang dikerjakan PT. DI itu, kata dia, bisa terbang waktu yang cukup lama di daerah operasi di atas 10 jam, dan dilengkapapi infra red, serta kamera.
Dengan adanya kontrak baru dari TNI AL itu diharapkan bisa mendongkrak pertumbuhan PT DI. Selain itu, pesawat patroli maritim tersebut bisa menjadi salah satu pesawat yang ke depannya menjadi kebutuhan negara lain seiring dengan meningkatkanya pembajakan di sejumlah lautan lepas, seperti di perairan Somalia. "Pesawat ini juga bisa digunakan sebagai pesawat penyelamat."
Budi menambahkan, untuk menjual pesawat ke satu negara, paling tidak dibutuhkan waktu negoisasi antara 2 atau 3 tahun."Apalagi baru terjadi krisis pada negara negara tersebut," ujarnya.
Untuk itu, PT DI meminta pemerintah segera memutuskan terkait pengembangan pesawat N250 yang dihentikan karena persyaratan pemberian pinjaman dari IMF pada pemerintah Indonesia saat dilanda krisis moneter. "Masih ada dua pesawat CN 250 yang ada di hanggar, dan biaya perawatannya dibebankan pada internal perusahaan," kata Budi.
Ia menegaskan, untuk pasar CN250 sebenarnya masih berpotensi dikembangkan terutama untuk kapasitas sekitar 50 orang penumpang."Paling tidak PT DI harus mengeluarkan ongkos ngelap (merawat) untuk perawatan dua pesawat CN250," ujarnya.
v-sun October 2nd, 2010, 04:28 PM RI Jajaki Pesawat Tempur Generasi 4,5
KAMIS, 23 SEPTEMBER 2010 | 17:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, Indonesia menjajaki pengembangan pesawat tempur generasi 4,5. “Kalau F-16 itu generasi ke 4, kalau F-35 buatan Amerika itu generasi 5, ini ditengah-tengahnya, Sukhoi itu masih generasi 4,” katanya di sela perhelatan Bandung Air Show, Kamis (23/9).
Menurutnya, rencana pengembangan pesawat itu masih menunggu hasil lanjutan MoU antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan. Negara ginseng itu menawarkan Indonesia ikut nimbrung mengembangkan pesawat tempur yang berkode Korean Fighter X Programme (KFX).
Budi mengatakan, pemerintah Korea akan menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat, sejumlah industri dirgantara negara itu di antaranya Korean Aerospace Industry menanggung 20 persennya, dan pemerintah Indonesia 20 persen. Total biaya pengembangan selama 10 tahun untuk membuat prototype pesawat itu diperkirakan menghabiskan dana 6 miliar US Dollar.
Nasib rencana itu, papar Budi, bergantung dari hasil negosiasi antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan yang masih berlangsung. ”Diharapkan dalam 10 tahun, pada 2020 sudah ada suatu prototype jadi, nanti akan diproduksi bersama,” katanya.
Kerjasama itu pengembangan itu tidak sebatas share teknologi, tapi juga sampai ke tataran produksi masal. Pemeirntah Korea sebagai penanggung dana terbesar akan mendapat pembagian 80 persen dari produksi, dan Indonesia 20 persen.
Dia berharap kerjasama itu bisa terwujud. Lewat kerjasama itu, lanjutnya, Indonesia punya kesempatan untuk mengembangkan teknologi pesawat tempur dari dasarnya. ”Kalau dalam bidang industri penerbangan, Indonesia tidak kalah dengan Koera, sekarang Korea banyak beli pesawat dan industrinya menjadi subkontraktor, kaya kita bikin komponen buat Airbus,” kata Budi.
Budi menjelaskan, dalam teknologi pesawat tempur yang terpenting adalah penguasaan teknologi Avianik, seperti piranti lunak untuk kontrol pesawat. Sejumlah riset untuk pengembangan software itu sudah dikembangkan sebatas simulasi. ”Kita belu punya yang sampai proven, tapi kita teruskembangkan, ini kesempatan kita untuk melakukan yang real,” katanya.
Korea Selatan sendiri, menurutnya, jagonya untuk membuat hardware. Menurutnya, Korea Selatan terhitung negara yang serius dalam mengembangkan sesuatu. Dia mencontohkan, 15 tahun lalu negara itu mencanangkan riset pengembangan LCD dan saat ini hampir seluruh produk barang itu berasal dari Korea Selatan.
Budi mengatakan, ajakan kerjasama semacam itu bukan kali pertama. Sebelumnya negara itu sempat mengajak Indonesia untuk mengembangkah helikopter. Sayangnya, lanjutnya, tawaran itu tidak bisa diambil karean situasi PT DI yang tidak memungkinkan. Saat ini negara itu sudah mengganti semua helikopternya dengan buatan mereka sendiri.
v-sun October 2nd, 2010, 04:30 PM BRI Kucurkan Rp720 Miliar untuk PT Dirgantara Indonesia
KAMIS, 16 SEPTEMBER 2010 | 15:00 WITA
JAKARTA, tribunkaltim.co.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) siap mengucurkan dana sebesar 80 juta dolar AS atau setara Rp720 miliar kepada PT Dirgantara Indonesia untuk pembuatan tiga unit pesawat CN 235-220 pesanan TNI AL.
"BRI Cabang New York memenangkan seleksi tender pembiayaan Kredit Ekspor untuk PTDI," kata Direktur Utama PTDI Budi Santoso, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis.
Menurut Budi, penetapan BRI sebagai kreditur setelah melalui seleksi yang mengalahkan empat bank lainnya, yaitu BNI Cabang Singapura, BNP Paribas (Prancis), Credit Suisse (Swiss) dan Nord LB (Jerman).
"Kementerian Keuangan pada bulan Agustus memutuskan BRI sebagai pemenangnya. Ini satu kebanggan bagi kita bahwa bank lokal mengalahkan bank asing," ujar Budi.
Langkah selanjutnya, Bank BRI-Kementerian Keuangan dan PTDI akan menandatangani perjanjian kredit yang diharapkan sebelum akhir September 2010.
"Penyerahan pesawat akan pada 2012, atau dua tahun setelah penandatangan komersial kredit," ujar Budi.
Ia melanjutkan, jenis pesawat pesanan Dephan merupakan desain konfigurasi hasil kajian dan analisa mendalam dengan Pusat Penerbangan TNI AL.
Tiga unit pesawat tersebut merupakan pesanan tahap pertama dari enam pesawat yang dipesan TNI AL pada rencana strategis 2010-2014.
Budi menuturkan, pihaknya juga sedang mengerjakan satu unit helicopter super puma jenis cougar pesanan TNI AU.
Nilai kontrak pesanan TNI AU sebesar Rp179 miliar itu, merupakan bagian dari program fasilitas pembiayaan dalam negeri.
"Ini merupakan terobosan baru, di mana bank lokal memberikan pinjaman kepada PT DI," ujarnya.
Pada saat, PTDI memiliki kontrak pesanan pesawat dan komponen pesawat senilai Rp2,6 triliun, dengan jangka waktu penyelesaian 1 tahun hingga 10 tahun ke depan.
"Kontrak pembuatan komponen AirBus, pesanan helicopter dari sejumlah negara, kontrak perawatan pesawat," tegasnya.
Pada tahun ini, PTDI mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp225,11 miliar, dari Rp7,3 miliar tahun 2009.
Sedangkan belanja operasional ditargetkan mencapai Rp1,63 triliun, dari sebelumnya Rp889,7 miliar.(antara)
bama84 October 2nd, 2010, 09:46 PM ^^
sebetulnya disain pesawat PT DI lumayan keren, tapi gw heran maskapai sipil domestik kok kurang tertarik menggunakan CN-235 buat angkutan?
Kopassus October 3rd, 2010, 03:35 AM CN235 sebenarnya sempurna sebagai pesawat angkut militer, tapi kurang ekonomis sebg pswt sipil. Waktu pswt ini didesign, fokusnya lebih ke prestasi daripada economics. Performance oke, tapi fasilitas seperti rampdoor tidak dibutuhkan utk perusahaan penerbangan -> pswt jadi mahal dan berat.
Beda sama N250...everything is perfect for an airliner.
typhoonbringer November 1st, 2010, 02:03 AM ho oh, denger2 sih kebagusan tuh CN-235 buat civil spec, lebih ke angkut ringan, tapi testimoni temen ane, mendarat pake CN-235 sama HTR enakan CN, mungkin karena milspec ya
Kopassus November 1st, 2010, 05:51 PM ho oh, denger2 sih kebagusan tuh CN-235 buat civil spec, lebih ke angkut ringan, tapi testimoni temen ane, mendarat pake CN-235 sama HTR enakan CN, mungkin karena milspec ya
Hehe, the CN235 is also built to operate on unprepared airstrips....the ATR not...
v-sun November 12th, 2010, 12:53 AM badnews..
kata teman saya yg kerja di PT. DI, ni perusahaan lagi pailit. teman saya yg harusnya udah gajian tanggal 25 oktober, tapi sampai sekarang dia belum terima gaji. :ohno:
eh ni ada berita terkait :cripes:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163843
typhoonbringer November 12th, 2010, 05:27 AM ^^^ itu bagian dari "grand plan" kok, dah dikonfirm ke anak DI, pokonya tenang aja, there is always a sliver lining behind every clouds and storms :)
nangz November 12th, 2010, 02:07 PM ^^^ itu bagian dari "grand plan" kok, dah dikonfirm ke anak DI, pokonya tenang aja, there is always a sliver lining behind every clouds and storms :)
like this
selalu optimis Bro:banana::banana:
Kopassus November 15th, 2010, 04:35 PM Memang, IPTN sekarang justru sangat aktif, masih cukup orders....
agasi93 November 16th, 2010, 12:16 PM Memang, IPTN sekarang justru sangat aktif, masih cukup orders....
ada yang tau sekarang ptdi lagi sibuk dengan order apa saja dan juga program research and development nya yg sedang dikerjakan?
Kopassus November 17th, 2010, 04:21 AM ada yang tau sekarang ptdi lagi sibuk dengan order apa saja dan juga program research and development nya yg sedang dikerjakan?
Orders:
Korsel Pesan Empat Pesawat, PT DI Raih Order US$ 174,5 Juta
23/06/2010
JAKARTA, INVESTOR DAILY
BUMN produsen alat pertahanan, PT Dirgantara Indonesia (DI), memperoleh pesanan sejumlah pesawat dengan nilai kontrak sebesar US$ 174,5 juta untuk tahun ini. Beberapa kontrak tersebut merupakan perpanjangan dari kontrak yang dilakukan 2009.
Kepala Humas PT DI Rahendi mengatakan, tahun ini PT DI mulai mengirimkan beberapa pesawat pada dua pihak pemesan. Salah satu pemesan yaitu pemerintah Korea Selatan yang tahun lalu memesan empat unit pesawat jenis CN 235MPA dengan nilai kontrak US$94,5 juta.
%u201CKorea Selatan sudah meneken kontrak sejak akhir 2008. Pesawat itu akan mulai kami kirimkan pada akhir tahun ini,” ujar Rahendi kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (22/6).
Selain pemerintah Korea Selatan, PT DI menerima pesanan tiga unit pesawat jenis CN235MPA dari TNI AL dengan nilai kontrak US$80 juta. Rencananya tahun depan pesawat tersebut akan mulai dikirim.
Menurut dia, PT DI juga mulai mengirimkan badan pesawat C212-400 pesanan EADS-Construcciones Aeronauticas SA (CASA), perusahaan manufaktur pesawat asal Spanyol. Dari 35 pesanan pesawat, saat ini baru empat pesawat yang dikirimkan ke Spanyol. Namun, Rahendi enggan menyebutkan nilai kontraknya.
Direktur Keuangan dan Administrasi PTDI Hermawan Hadimulya sebelumnya menyatakan, perseroan meraup order pembuatan enam buah helikopter Bell dengan nilai US$ 50-100 juta. “Kami baru memperoleh order itu dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Diperkirakan tahun depan baru dapat kami kirim,” katanya.
Hadi mengatakan, selain order helikopter pada tahun ini, PTDI memiliki carry over kontrak 2009 yang tercatat mencapai Rp 1,658 triliun. Kontrak itu antara lain pembuatan tiga unit pesawat CN 235 untuk patroli maritim TNI AL.
Dia menerangkan, realisasi penjualan PTDI untuk 2009 mencapai Rp 511 miliar yang terdiri atas penjualan luar negeri mencapai Rp 443 miliar dan domestik Rp 68 miliar. “Untuk perolehan kontrak, 56% berasal dari luar negeri, sedangkan 44% dari dalam negeri,” tuturnya.
Tahun ini, lanjut dia, PTDI menganggarkan dana investasi sebesar Rp 248 miliar yang akan digunakan untuk pembelian komponen pesawat dan pengembangan produk-produk terbaru. “Dana tersebut terbagi menjadi dua, existing business sebesar Rp 87 miliar dan new product development Rp 161 miliar,” katanya.
Direktur Utama PTDI Budisantoso mengatakan, untuk menunjang perkembangan industri dirgantara nasional, pihaknya saat ini terus berusaha untuk merestrukturisasi utang masa lalu berupa rekening dana investasi (RDI) dan subsidiary loan agreement (SLA) senilai Rp 1,6 triliun.
Dia menjelaskan, RDI akan dilunasi langsung oleh perseroan, sedangkan SLA saat ini masih dibahas dengan Departemen Keuangan untuk dijadikan penyertaan modal negara (PMN). “Kalau pemerintah bersedia untuk mengubah utang menjadi modal, kami akan memiliki sedikit kekuatan untuk mengajukan pinjaman langsung kepada institusi keuangan,” ujarnya.
Saat ini, menurut Hermawan, modal PTDI minus Rp 300 miliar, sehingga pihaknya sedikit kesulitan untuk mencari pinjaman dari institusi keuangan. Namun begitu sebenarnya saat ini PTDI telah mendapat kepercayaan dari dua institusi perbankan, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia dan PT Bank Nasional Indonesia yang memberikan bank non-cash loan. “Kami mendapat letter of credit dari BNI sebesar US$ 130 juta dan BRI sebanyak US$ 30 juta,” paparnya.
Ocean One is offline Report Post Reply With Quote
Selain itu, 10 NC212-400 utk Merpati, 1 NC212-400 utk Airfast, onderdil2 utk Airbus.
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A38003.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A38002.jpg
http://i461.photobucket.com/albums/qq336/sandhiyudha/Bandung%20Air%20Show%202010/A38001.jpg
Program research and development:
hovercraft
http://3.bp.blogspot.com/_1XZMX_E0z5c/TNvDViOPJEI/AAAAAAAACHY/dBUVyzXp05g/s400/IMG_2427b.jpg
typhoonbringer November 18th, 2010, 03:52 AM bisik2 KFX katanya mo dibatalin, gara2 terms nya merugikan indo, bgt
Kopassus November 18th, 2010, 05:18 PM bisik2 KFX katanya mo dibatalin, gara2 terms nya merugikan indo, bgt
Wooh.....baca dimana?
Hehe....dari dulu sy selalu meragukan proyek ini, too beautiful and ambicious to be come true.
Mendingan kita pesan parts dari T-50/TA-50 dan merakit di IPTN....
typhoonbringer November 20th, 2010, 08:20 PM Wooh.....baca dimana?
Hehe....dari dulu sy selalu meragukan proyek ini, too beautiful and ambicious to be come true.
Mendingan kita pesan parts dari T-50/TA-50 dan merakit di IPTN....
di kaskus masbro, denger2 dari yg deket DI juga, gara2 20 taun dah menjanjikan produksi, gen 4.5 pula, trus kita setor duit dan termsnya cuma buat pesanan dalam negri dan pesanan korea, ga kaya terms cn-235 yg enak bgt buat kita :ohno:
Kopassus November 23rd, 2010, 04:49 AM Oke thanks.
BTW, inicommet dariforum sebelah:
"Kalo yg PK-MNA sedang proses maintenance, kemudian akan dijual. Sampe saat ini calon pembelinya adalah Cardig. Katanya untuk usaha charter bagi oil n gas company. Tp saya kurang tau jg detilnya. "
Wah, hebat juga ya, salah satu CN235-10 eks Merpati akan dipaki lagi sama perusahaan penerbangan...
Kopassus December 7th, 2010, 06:18 AM Sepertinya proyek N219 akan jadi!!!
Prototype N-219 Mulai Di Produksi Tahun 2013
JAKARTA - Pemerintah menargetkan memproduksi prototipe pesawat perintis berkapasitas relatif kecil untuk menghubungkan daerah-daerah yang tidak bisa diakses jalur darat mulai 2013.
"Saya sudah berkoordinasi dengan Bappenas, Kementerian Perhubungan dan BPPT terkait produksi pesawat jenis N219 yang isinya 19 penumpang yang bisa mendarat pada landasan sederhana paling tidak tahun 2013," kata Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Soerjono di Jakarta, Sabtu (4/12).
Ia mengatakan, PT Dirgantara Indonesia paling tidak akan ditugasi membangun dua unit pesawat sejenis berharga sekitar 3,8 juta dolar AS per unit tersebut tiga tahun mendatang.
Menurut dia, pemerintah sekurang-kurangnya harus mengucurkan modal awal sebesar 40 juta dolar AS untuk produksi awal pesawat yang dirancang mengangkut orang dan barang tersebut.
"Kalau menurut PT DI, untuk mencapai BEP (break even point) harus menjual 27 pesawat. Modalnya sekitar 250 juta dolar AS, tapi untuk modal dasar pembangunan butuh 40 juta dolar AS," katanya.
Pemerintah, kata dia, juga akan menyiapkan skema subsidi untuk operasi pesawat-pesawat penumpang berkapasitas kecil itu di daerah-daerah baru yang belum terakses moda transportasi darat dan laut.
"Mungkin nanti akan ada subsidi untuk tiket atau avtur," katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dan maskapai penerbangan membeli pesawat-pesawat kecil produksi PT Dirgantara Indonesia tersebut dan mengoperasikannya ke daerah-daerah yang membutuhkan.
Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan keterhubungan antarwilayah dan selanjutnya memicu pertumbuhan ekonomi daerah-daerah yang sebelumnya terasing karena keterbatasan akses transportasi.
"Pemerintah mendorong ini karena jumlah pesawat yang beroperasi ke daerah-daerah yang ada di Papua, Sulawesi, dan Sumatera cenderung makin sedikit, padahal masyarakat di daerah sangat membutuhkan," demikian Soerjono.
Sumber : ANTARA
David-80 December 7th, 2010, 11:38 AM ^^
http://3.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/SiMrnitfzhI/AAAAAAAABoQ/VijzZDdW4vg/s400/N-219.jpg
cheers
typhoonbringer December 7th, 2010, 01:25 PM itu bukan CN-235 NG yah?
ceudah December 14th, 2010, 09:39 AM Ada info terbaru lagi?
CN 235, N250 and 219?
ayo donk PT DI, kembali ke masa kejayaanmu, kita kan gk terikat lagi ama IMF, berarti dah bisa terbangin lagi N250 nya kan?
masdwi December 14th, 2010, 01:02 PM itu bukan CN-235 NG yah?
yg mana? yg di bawah ini? bukan bro, yg dibawah ini N-219. calon pengganti Twin Otter yg melegenda ...
^^
http://3.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/SiMrnitfzhI/AAAAAAAABoQ/VijzZDdW4vg/s400/N-219.jpg
cheers
Twin otter made in Indonesia
typhoonbringer December 17th, 2010, 04:30 AM yg mana? yg di bawah ini? bukan bro, yg dibawah ini N-219. calon pengganti Twin Otter yg melegenda ...
Twin otter made in Indonesia
jah nongol dimari masdwi :lol:
agasi93 December 17th, 2010, 05:25 AM Ada yang tau market segment nya N-219 gimana?
kira-kira siapa yang bakal menjadi launch customer nya?
dan apakan N-219 ini bisa di konversi menjadi pesawat militer atau VVIP?
masdwi December 17th, 2010, 07:50 AM jah nongol dimari masdwi :lol:
yah, namnya juga cari kawan dan cari ilmu bro .....
Ada yang tau market segment nya N-219 gimana?
kira-kira siapa yang bakal menjadi launch customer nya?
dan apakan N-219 ini bisa di konversi menjadi pesawat militer atau VVIP?
Market segmennya ya operator yg mempunyai jalur penerbangan perintis, juga Pemda2 yang daerahnya kebanyakan berupa kepulauan atau infrastruktur darat masih susah atau lama ditempuh.
Launch costumer belum ada.
SOal konversi ke versi militer, ada kemungkinan bro. Yang paling pas buat versi maritim patrole ( menggantikan Nomad punya TNI Al ).
Kopassus December 19th, 2010, 09:50 AM Exactly, semua Nomad blm diganti, kalau semua harus diganti, Disnerbal membutuhkan kira 30 pswt.
Yg 6-8 Twin Otter dari Merpati juga pasti sudah bisa diganti sesudah 2015.
MARINHO December 20th, 2010, 03:02 AM Nice that it will be constructed!
Any news on the development of the IPTN N250?
Or will IAE lose lucrative EADS contracts if they continue with the IPTN N250.
As the IPTN N250 could become a direct threat to the ATR 42/72
Sepertinya proyek N219 akan jadi!!!
Kopassus December 21st, 2010, 02:49 AM Nice that it will be constructed!
Any news on the development of the IPTN N250?
Or will IAE lose lucrative EADS contracts if they continue with the IPTN N250.
As the IPTN N250 could become a direct threat to the ATR 42/72
No news about N250, i'm afraid it will stay a dream.
Memang, ancaman langsung utk ATR72. Tapi juga kalau N250 akan dipasarkan, IPTN pasti sering akan kalah sama ATR, karena politik.
Dulu juga perna terjadi, Fokker hampir dapat kontrak dari Vietnam, tiba2 Vietnam pilih utk ATR, karena kalau Vietnam pilih ATR, sebagian besar dari utang mereka kepada Perancis dihapus.....
Mungkin lebih baik mereka mengupdate dan memperpanjang CN235, seperti C295 dari CASA.
Kopassus December 28th, 2010, 04:39 PM CN235 Diharapkan Jadi Pesawat Patroli Dunia
Antara
Antara - 1 jam 13 menit lalu
Jakarta (ANTARA) - Pesawat CN235 produksi kerja sama antara PT. Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol diharapkan menjadi pesawat patroli maritim yang digunakan oleh semua negara.
"Itu cita-cita kami," kata Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso pada serah terima hasil pengujian model aerodinamika pesawat udara N219 dari BPPT kepada PT DI di Jakarta, Selasa.
Ia membantah produksi pesawat CN235 tidak berlanjut, karena saat ini PT DI sedang mengerjakan empat unit CN235 pesanan Korea Selatan untuk patroli pantai (coast guard), untuk beberapa negara lain yang tertarik dan untuk kepentingan dalam negeri TNI AL.
Pada Desember 2009 TNI AL diberitakan membeli tiga unit CN-235 MPA sebagai bagian dari rencana memiliki enam pesawat MPA sampai tahun 2014.
"CN235 sampai kini banyak dibutuhkan untuk kepentingan negara yang mengkhawatirkan permasalahan bajak laut, penyelundupan, atau imigran gelap, khususnya karena pesawat setipenya seperti Buffalo tidak diproduksi lagi," katanya.
Bahkan, untuk mengawasi Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang dipersengketakan sejumlah negara, baik Tentera Diraja Malaysia maupun Brunei sama-sama mengerahkan pesawat CN235 buatan PT DI, ujarnya dengan bangga.
Saat ini masih beroperasi sekitar 50 pesawat CN235 di berbagai negara buatan PT DI dan sekitar 150 unit CN235 buatan Casa Spanyol.
CN235 versi Patroli Maritim dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi serta mengakomodasi rudal.
Saat ini PT DI baru saja menyelesaikan uji model aerodinamika pesawat perintis N219 berkapasitas 19 penumpang di BPPT yang sangat sesuai dengan kondisi kepulauan dan pegunungan Indonesia.
Direktur Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana mengatakan, pengerjaan pesawat N219 dengan mesin Pratt & Whitney ini sudah selesai 35 persen, tinggal tahap tersulit persoalan pendanaan yang diharapkan menemukan solusinya pada 2011 untuk menyelesaikan 65 persen sisanya.
Di Indonesia, disebutkannya, ada 715 airport dan airfield, namun 72 persen runawaynya hanya memiliki panjang di bawah 800 meter. Sedangkan untuk penerbangan perintis terdapat 118 rute di 14 provinsi dengan 89 bandara.
yumiho December 29th, 2010, 03:57 AM PT DI Sukses Merancang Pesawat Baru N219
Selasa, 28 Desember 2010 | 22:21 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak tahun 2006, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) telah berupaya mengembangkan pesawat model baru N219. Pesawat turboprop dengan 19 penumpang tersebut ditargetkan bisa melayani kebutuhan penerbangan perintis untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil.
Untuk mengembangkannya, PT DI bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam mengembangkan model uji aerodinamika. Sementara itu, uji aerodinamikanya sendiri dilakukan pada tahun 2008.
Hari ini, Selasa (28/12/2010), hasil uji dinamika yang dilakukan BPPT di Laboratorium Aero Gasdinamika dan Getaran, Serpong, diserahkan kepada PTDI, menandai tuntasnya uji tersebut. Hasil uji menunjukkan kemampuan pesawat untuk lepas landas dan mendarat serta stabilitasnya.
Andi Alisjahbana, Direktur Aerostruktur PT DI mengatakan, "Sejauh ini kita telah melakukan uji aerodinamika yang meliputi 139 polar." Polar berkaitan dengan kestabilan posisi pesawat dalam kondisi tertentu sesuai dengan komando yang diberikan kepadanya.
Selain itu, berdasarkan uji aerodinamika, diperoleh kesimpulan bahwa pesawat bisa lepas landas dan mendarat (take off dan landing) pada landasan yang pendek. "Landasan yang dibutuhkan untuk take off dan landing hanya 600 meter," kata Andi.
Menurut Andi, kemampuan tersebut sangat dibutuhkan untuk pesawat perintis. "Banyak daerah terpencil di Indonesia yang tak memiliki lahan luas. Seperti pulau-pulau kecil, di sana tidak mungkin membangun bandara besar," lanjut Andi.
Model yang digunakan dalam uji aerodinamika memiliki perbandingan ukuran 1:6,3. Uji aerodinamika sendiri dilakukan dalam terowongan angin sirkuit tertutup. Hasil uji juga mengungkapkan stabilitas matra longitudinal dan lateral pesawat.
Rancangan pesawat masih harus menjalani uji lainnya. Beberapa di antaranya adalah ditching test, uji statik pesawat, uji mesin produksi, dan akhirnya uji coba terbang. Ditargetkan, pesawat sudah bisa diluncurkan dua tahun mendatang.
sumber: kompas.com (http://sains.kompas.com/read/2010/12/28/22214686/PT.DI.Sukses.Merancang.Pesawat.Baru.N219-8)
Mimihitam December 29th, 2010, 01:56 PM N219 Aircraft made in Indonesia Ready to operate in 2013
http://img2.allvoices.com/thumbs/event/609/480/69507799-n-aircraft.jpg
N219 Aircraft made in Indonesia Ready to operate in 2013
currently, the aviation pioneer in several parts of the archipelago such as Papua is still using the old production aircraft, like the Twin Otter. Some existing units have improper wear necessitating a more modern aircraft.
Therefore, since 2006, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) to develop aircraft with a capacity of 19 persons N219 to replace the existing pioneer aircraft. Currently, the aircraft aerodynamic tests have been completed.
"Development of the aircraft of this type usually takes 3 years. However, we will probably finish 2 to 2.5 years," said Andi Alisjahbana, Director Aero structure PT DI, Tuesday (28/12/2010) in Jakarta, Indonesia. So, in 2013, the aircraft may already be launched.
In order to prevent failures such as CN 250, the PT DI will produce a plane based on orders. "We will create 25 units used to be. We will pursue all sold before," said Andi.
Making a number of units requiring fund about Rp 1 trillion (US$ 1 billion). This amount was minimal, according to Andi for making airplanes. He target, a number of aircraft will be purchased by local governments.
Andi also said the N219 aircraft specifications designed in accordance with the geographical condition of Indonesia. The aircraft is capable of landing on short runway so that it can be applied in remote areas with limited land.
"The aircraft is also designed to carry extra fuel. We realize that not every area has a refueling," said Andi reveals excess N219 aircraft.
Meanwhile, Budi Santoso, President Director of PT Dirgantara Indonesia said that the development of this aircraft is based on the geographical characteristics of Indonesia. "Our geographical conditions are different from other countries. We must have its own solution," he said.
For Budi, the development of small aircraft capable of reaching remote areas is very fitting. "Many parts of Indonesia that is not easily accessible by land transportation. The plane pilot could be a solution," he explained.
Aircraft N219 has great potential to be marketed to areas such as Sumatra and Papua. The aircraft is also expected to be marketed to other countries that still require, for example countries in Africa.
muhammadjusuf is based in Depok, Jawa Barat, Indonesia, and is Reporter for Allvoices
http://www.allvoices.com/contributed-news/7735613-n219-aircraft-made-in-indonesia-ready-to-operate-in-2013
Kopassus December 29th, 2010, 03:15 PM Thanks for the articles, Yumi dan Mimi!
Aneh Allvoices pasang namanya di gambaran pswt N219, foto ini milik IPTN....
typhoonbringer December 30th, 2010, 08:28 PM boeat gantiin twin otter :D
Kopassus December 31st, 2010, 03:24 AM boeat gantiin twin otter :D
Dan Britten-Norman Trislander, Shorts Skyvan SC7, Harbin Y-12, GAF N22...
v-sun January 21st, 2011, 08:32 AM Pemkab Kerinci akan Beli N219
Rabu, 19 Januari 2011 11:10 WIB
JAMBI--MICOM: Pemerintah Kabupaten Kerinci, Jambi, berencana membeli pesawat perintis N219 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia untuk melayani rute ke daerah paling barat Provinsi Jambi.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kerinci, Afrizal Rabu (19/1) mengatakan Kepala Dinas Perhubungan di sejumalah daerah terpencil di Indonesia yang sudah memiliki lapangan terbang ditawarkan untuk membeli pesawat perintis guna melayani penerbangan ke daerahnya. "Rapat di Bapenas Jakarta dihadiri Kepala Dinas Perhubungan kota dan kabupaten daerah terpencil memandang perlunya pengadaan pesawat perintis untuik melayani penumpang dari dan menuju daerah terpencil yang sudah memiliki lapangan terbang tersebut," katanya.
Pengadaan pesawat tersebut nantinya akan didanai atau dibeli oleh pemerintah kota dan kabupaten dibantu oleh pemerintah pusat, yang pengelolaannya bekerja sama dengan maskapai atau perusahaan penerbangan yang ada. Maskapai yang akan bekerjasama untuk melayani penerbangan pesawat perintis itu meliputi Merpati Nusantara, Avia Star Air, Madiri Air, Trigana Air dan Susi Air.
Pemesanan pesawat yang diproduksi PT Dirgantara Indonersia (DI) tersebut minimal 30 unit. Untuk bisa mendapatkan pesawat tersebut, kota dan kabupaten yang sudah memiliki lapangan terbang harus sepakat lebih dulu. Nilai atau harga pesawat berkapasitas 19 penumpang itu tersebut seharga Rp38 miliar per unit, sehingga perlu pembahasan serius melibatkan berbagai pihat, terutama dengan pihak legislatif, karena terkait penggunaan anggaran.
Pemerintah Kabupaten Kerinci pada tahap awal akan melakukan sosialisasi lebih dulu pada instansi atau pejabat terkait, selanjutnya baru dibahas dalam rapat penggunaan anggaran 2012. Dalam sosialisasi tersebut terungkap bahwa bila rencana ini mendapat tanggapan positif, maka pendanaannya akan dianggarkan dalam APBD 2012 untuk merealisasikan pembelian pesawat yang jumlahnya disesuaikan dengan alokasi dana yang tersedia. "Bila pembelian pesawat itu disetujui, maka Pemerintah Kabupaten Kerinci memiliki pesawat sendiri untuk melayani penumpang dari dan menuju Kerinci," kata Afrizal. (Ant/OL-04)
http://www.mediaindonesia.com/index.php/welcome/mobile/2011/01/19/196849/126/101/Pemkab-Kerinci-akan-Beli-N219
syuhada21 January 23rd, 2011, 06:21 AM dimulai dari n219, dilanjutkan dengan n250... :D
Mimihitam January 24th, 2011, 06:30 AM Kawasan Industri Penerbangan Dirancang
Editor: Erlangga Djumena
Minggu, 23 Januari 2011 | 19:53 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah tengah menyiapkan konsep pembangunan kawasan industri penerbangan atau aviation park. Kawasan industri penerbangan diharapkan mampu menjembatani kebutuhan maskapai penerbangan terutama untuk perawatan dan perbaikan pesawat.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan, selama ini industri penerbangan belum dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hal ini disebabkan masih banyak maskapai domestik yang melakukan perawatan dan perbaikan pesawat di perusahaan maintenance, repair, and overhaul (MRO) asing.
"Jadi, bersama Kementerian Perindustrian kita akan membuat suatu formulasi untuk membuat semacam kawasan industri penerbangan seperti aviation park," ujar Bambang akhir pekan kemarin.
Dengan adanya kawasan industri penerbangan itu, Bambang berharap industri penerbangan di Indonesia dapat meningkatkan daya saing di pasar global. Kawasan itu nantinya akan menampung semua pemangku kepentingan perawatan pesawat, mulai dari pengadaan suku cadang hingga bengkel perawatan. Indonesia harus menarik investor untuk berinvestasi dalam bidang ini.
Saat ini, menurut Bambang, aviation park masih berupa konsep yang ditangani oleh Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association (IAMSA). Lokasi dan waktu pembangunan aviation park belum bisa dipastikan. Mereka juga masih akan membicarakan hal ini dengan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal mengenai strategi investasi di industri perawatan pesawat. (Sofyan Nur Hidayat/Kontan)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/01/23/19533737/Kawasan.Industri.Penerbangan.Dirancang
Kopassus January 27th, 2011, 05:04 AM A new huge incredible expensive project, with new opportunities for corruptors. Its really a hobby of officials to tell the press about such new projects.
It would be better to invest in already existing facilities like GMF, ACS (DI), NTP (DI), MMF dan lain2 to improve and modernize/update them...
v-sun January 29th, 2011, 12:49 PM BJ Habibie Nilai PT Dirgantara Alami Kemunduran
Sabtu, 29 Januari 2011, 17:43 WIB
http://static.republika.co.id/images/bj_habibie_101205211903.jpg
BJ Habibie
REPUBLIKA.CO.ID, MALANG - Mantan Presiden Indonesia Baharudin Jusuf Habibie menegaskan PT Industri Penerbangan Nusantara (Dirgantara) yang tidak lagi dipimpinnya, saat ini telah banyak mengalami kemunduran. Hal tersebut ditegaskan Habibe usai meresmikan gedung Saintek di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (29/1).
Menurut dia, mundurnya kedirgantaraan Indonesia tersebut, disebabkan pemerintah yang saat ini enggan memfasilitasi produk dari PT Dirgantara. Untuk itu, pihaknya meminta agar pemerintah saat ini lebih serius untuk mengembangkan industri Dirgantara, termasuk mengalokasikan dana untuk riset.
"Contohnya saja seperti saat 15 tahun yang lalu, Indonesia sudah bisa membuat pesawat N250 yang pada tahun 2000 sudah siap masuk pasaran, Namun saat ini, membuat pesawat hanya menjadi angan-angan, karena pemerintah menghentikan proyek riset," ucapnya.
Ia menjelaskan, majunya kedirgantaraan Indonesia tidak hanya didukung dengan kebijakkan bagus dari pemerintah, namun perlu juga disertai dengan aksi nyata. Untuk itu, pemerintah diharapkan perlu terus mendukung riset yang dilakukan para cendekiawan, seperti yang ada pada bidang kedirgantaraan.
"Dukungan pemerintah dengan aksi nyata itu agar cendekiawan yang dimiliki Indonesia tidak lari ke luar negeri," ujar Habibie, menegaskan. Habibie juga menyatakan bahwa pemerintah tidak perlu menyalahkan para cendekiawan yang bekerja di luar negeri, jika di Indonesia belum bisa menyediakan wadah bagi mereka.
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/01/29/161435-bj-habibie-nilai-pt-dirgantara-alami-kemunduran
Kopassus February 1st, 2011, 04:27 AM Berita dari 1 bln lalu....
CN235 Menuju Pesawat Patroli Dunia
Selasa, 28 Desember 2010 20:56 WIB
Jakarta (ANTARA News) - Pesawat CN235 produksi kerjasama antara PT. Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol diharapkan menjadi pesawat patroli maritim yang digunakan oleh semua negara.
"Itu cita-cita kami," kata Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso pada serah terima hasil pengujian model aerodinamika pesawat udara N219 dari BPPT kepada PT DI di Jakarta, Selasa.
Ia membantah produksi pesawat CN235 tidak berlanjut, karena saat ini PT DI sedang mengerjakan empat unit CN235 pesanan Korea Selatan untuk patroli pantai (coast guard), untuk beberapa negara lain yang tertarik dan untuk kepentingan dalam negeri TNI AL.
Pada Desember 2009 TNI AL diberitakan membeli tiga unit CN-235 MPA sebagai bagian dari rencana memiliki enam pesawat MPA sampai tahun 2014.
"CN235 sampai kini banyak dibutuhkan untuk kepentingan negara yang mengkhawatirkan permasalahan bajak laut, penyelundupan, atau imigran gelap, khususnya karena pesawat setipenya seperti Buffalo tidak diproduksi lagi," katanya.
Bahkan, untuk mengawasi Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang dipersengketakan sejumlah negara, baik Tentera Diraja Malaysia maupun Brunei sama-sama mengerahkan pesawat CN235 buatan PT DI, ujarnya dengan bangga.
Saat ini masih beroperasi sekitar 50 pesawat CN235 di berbagai negara buatan PT DI dan sekitar 150 unit CN235 buatan Casa Spanyol.
CN235 versi Patroli Maritim dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi serta mengakomodasi rudal.
Saat ini PT DI baru saja menyelesaikan uji model aerodinamika pesawat perintis N219 berkapasitas 19 penumpang di BPPT yang sangat sesuai dengan kondisi kepulauan dan pegunungan Indonesia.
Direktur Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana mengatakan, pengerjaan pesawat N219 dengan mesin Pratt & Whitney ini sudah selesai 35 persen, tinggal tahap tersulit persoalan pendanaan yang diharapkan menemukan solusinya pada 2011 untuk menyelesaikan 65 persen sisanya.
Di Indonesia, disebutkannya, ada 715 airport dan airfield, namun 72 persen runawaynya hanya memiliki panjang di bawah 800 meter. Sedangkan untuk penerbangan perintis terdapat 118 rute di 14 provinsi dengan 89 bandara. (*)
D009/R010
Editor: Jafar M Sidik
CN235 Jadi Ikon Pesawat Patroli Maritim
Rabu, 29 Desember 2010 10:06:57 WIB
Direktur utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso menyatakan pesawat CN235 produksi kerjasama antara PT. Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol akan digunakan oleh semua negara untuk menjadi pesawat patroli maritim.
“Itu merupakan cita-cita kami,” ujar Budi Santoso saat serah terima hasil pengujian model aerodinamika pesawat udara N219 dari BPPT kepada PT DI di Jakarta.
Pada Desember 2009 TNI AL diberitakan membeli tiga unit CN-235 MPA sebagai bagian dari rencana memiliki enam pesawat MPA sampai tahun 2014 dan saat ini PT DI sedang mengerjakan empat unit CN235 pesanan Korea Selatan untuk patroli pantai (coast guard), untuk beberapa negara lain yang tertarik dan untuk kepentingan dalam negeri TNI AL.
"CN235 sampai kini banyak dibutuhkan untuk kepentingan negara yang mengkhawatirkan permasalahan bajak laut, penyelundupan, atau imigran gelap, khususnya karena pesawat setipenya seperti Buffalo tidak diproduksi lagi," katanya.
Budi mengungkapkan CN235 digunakan untuk mengawasi Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang dipersengketakan sejumlah negara, baik Tentera Diraja Malaysia maupun Brunei sama-sama mengerahkan pesawat CN235 buatan PT DI. (ant/jos)
v-sun February 3rd, 2011, 07:36 AM Rabu, 02/02/2011 11:59 WIB
PT DI Serahkan Heli NBELL ke TNI AD
Adi Nugroho : detikNews
detikcom - Jakarta, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) kembali menambah amunisi bagi pertahanan Indonesia melalui TNI AD. Mereka menyerahkan 1 unit helikopter jenis NBELL 412 EP.
Penyerahan helikopter tersebut dilaksanakan Rabu (2/1/11) di Pusat Penerbangan Angkatan Darat Skadron 21 TNI AD, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. "Peristiwa ini adalah bukti kesiapan PT DI dalam menyiapkan revitalisasi industri pertahanan dalam negeri," ujar Direktur Utama PT DI Budi Santoso dalam sambutannya.
Sementara itu, Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Suryo Prabowo yang menerima helikopter ini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada PT DI. Ia menyatakan, kerjasama dengan PT DI ini secara bertahap akan terus dilakukan.
"Ini merupakan bukti komitmen Angkatan Darat untuk memperdayakan produksi dalam negeri yang sejalan dengan amanah presiden," ujarnya.
Prabowo juga berharap PT DI juga mampu meningkatkan kualitas produksinya agar mampu bersaing dengan industri luar negeri dan mampu memenuhi kebutuhan alutsista dalam negeri. "Jangan berhenti dan terbatas pada rasa bangga, tetapi juga bertekad mengembangkan kualitas dari produksi," harap Prabowo.
Usai menerima helikopter tersebut, Prabowo menyempatkan diri untuk mencobanya. Ia menggunakan helikopter tersebut untuk berangkat ke Pusdikintel TNI AD di Ciomas Bogor. Duduk di belakan pilot, ia tersenyum dan melambai kepada wartawan. Setengah jam berlalu, helikopter telah kembali lagi ke lapangan udara Pondok Cabe.
Menurut Komandan Pusat Penerbangan TNI AD Brigjen N Wahyu Rianto, heli dengan daya angkut 15 ton atau dapat juga mengangkut 15 orang termasuk pilot ini akan ditempatkan di Skadron 31 Semarang. "Rencananya untuk pesawat angkut. Tapi nanti juga akan dilengkapi dengan senapan 30 mm di kiri dan kanan heli. Ini untuk pengamanan saat pendaratan," ujarnya.
Sementara itu, menurut Asisten Logistik TNI AD Mayjen Wibowo, harga heli itu Rp 99 miliar. Dia menjelaskan, dibanding heli tipe NBELL lainnya, heli NBELL 412 EP ini memiliki kapasitas mesin yang lebih besar serta semua peralatannya sudah digital. Kelebihan lain heli ini mampu melakukan auto-pilot hovering, yakni terbang stagnan di udara secara otomatis. Heli NBELL lain seperti tipe 412 HP atau 412 SP belum mampu melakukannya
http://www.detik.com/read/2011/02/02/115921/1558826/10/pt-di-serahkan-heli-nbell-ke-tni-ad?n991102605
agasi93 February 3rd, 2011, 03:55 PM ^^ Good Job PTDI :banana:
Semoga PTDI terus berkembang
dan para pelanggan nya pun juga bertambah
v-sun February 10th, 2011, 12:50 AM PT DI Akan Kembangkan Pesawat Twin Otter
Kamis, 10 Februari 2011
JAKARTA (Suara Karya): PT Dirgantara Indonesia (DI) berencana mengembangkan pesawat kecil jenis twin otter. Pesawat yang memiliki kapasitas penumpang sekitar 40 kursi ini dibutuhkan untuk mendarat di bandara yang memiliki landasan pacu jarak pendek, khususnya di sejumlah bandara kecil di pulau-pulau terpencil.
Pemerintah bahkan memberikan dukungan penuh untuk badan usaha milik negara (BUMN) ini, karena pesawat twin otter yang ada saat ini sudah tua dan perlu diremajakan. Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengatakan, pelaksanaan rencana produksi ini masih dalam penjajakan dengan pihak-pihak terkait, khususnya dengan pabrik pembuat twin otter. Ada alternatif berupa kerja sama.
Apalagi, pabrikan pembuat pesawat baling-baling ini terancam gulung tikar. Artinya, kalau di negeri asalnya tidak lagi dikembangkan, maka akan lebih baik bila pabriknya dipindahkan ke Indonesia. Selain pangsa pasar yang cukup bagus, sumber daya manusia (SDM) industri penerbangan di Indonsia juga memadai.
"Kalau kita kembangkan memang bagus, apalagi pesawat twin otter yang beroperasi saat ini rata-rata buatan 1970 alias sudah tua. Kalau pabriknya ada di Indonesia, maka bisa memenuhi kebutuhan peremajaan dan perawatan pesawat," katanya di Jakarta, kemarin.
Pembicaraan terkait kerja sama dengan mitra bisnis di luar negeri sudah dilakukan PT DI. "Kami maunya secepatnyalah bisa direalisasikan. Pabrik twin otter di Indonesia akan jauh lebih kompetitif dibanding di negara lain. Apalagi, pabrikan memamg butuh lokasi baru," tuturnya.
Dia bahkan menjamin, SDM di Indonesia cukup mampu membangun pesawat berbahan aluminium ini karena tergolong terampil dan mahir. "Kita sudah mampu membuat pesawat, jadi kalau dibangun di sini memang sangat cocok," ujarnya.
Di sisi lain, Budi mengatakan, kendati sudah mendekati kesepakatan, namun PT DI dan mitra luar negeri belum membahas lokasi pabrik yang akan diba ngun itu. Memang, hingga saat ini, Bandung masih menjadi lokasi ideal pabrikan pesawat twin otter karena ditunjang pasokan SDM dan strategis.
"Memang lahan untuk bangun pabrik pesawat baru di Bandung lebih mahal, namun strategis, karena selama ini basis produksi pesawat di Bandung. Pengguna pesawat twin otter saat ini adalah maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines," ucapnya. (Syamsuri S)
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=272171
MARINHO February 10th, 2011, 04:05 AM This Twin Otter aircraft will be an additional product next to the newly developed N-219?
Kopassus February 11th, 2011, 04:05 AM This Twin Otter aircraft will be an additional product next to the newly developed N-219?
PT Dirgantara Indonesia (DI) berencana mengembangkan pesawat kecil jenis twin otter. Pesawat yang memiliki kapasitas penumpang sekitar 40 kursi ini dibutuhkan untuk mendarat di bandara yang memiliki landasan pacu jarak pendek, khususnya di sejumlah bandara kecil di pulau-pulau terpencil.
Sayang sekali, akhirnya IPTN mau membuat pswt yg 100% buatan sendiri, ada usaha lagi dari luar untuk membunuh kemampuan membuat pswt secara mandiri.....
BTW DHC-6 Twin Otter dan N219 berpenumpang 19 org, bukan 40an seperti CN235.
Bandung - De Havilland Canada akan mempertimbangkan produski pesawat pesawat komuter DHC-6 Twin Otter di PT. DI. Rencana itu telah disampaikan Dirjen Kemenhub Herry Bhakti kepada Kemenhub. Jika ini jadi maka de Havilland akan memindahkan fasilitas produksi Twin Otter dari Kanada ke Bandung.
Presiden Direktur PT.DI, Budi Santoso telah membenarkan kabar tersebut dan bertemu pihak DHC pada Januari 2011 tapi masih sebatas melakukan penjajakan. Pertimbangan DHC untuk memindahkan ke Bandung karena pasar Twin Otter di Indonesia masih sangat besar sementara di negara asalnya produksi Twin Otter akan ditutup. Pesawat Twin Otter yang mulai dikembangkan pada 1964 beroperasi di bandara-bandara perintis khususnya di Indonesia bagian timur. Diantara maskapai nasional yang menggunakannya adalah Merpati Nusantara dan Trigana Air Service
Selain potensi pasar, upah tenaga kerja yang murah juga menjadi pertimbangan DHC. Detail kerjasama ini memang belum ditentukan secara pasti sehingga pihak DHC akan kembali melakukan negosiasi dengan PT. DI pada bulan Maret. Seandainya dicapai kesepakatan, maka kedua pihak akan merealisasikan pembangunan pabrik dan pemindahan fasilitas produksi Twin Otter yang diperkirakan akan memakan waktu dua tahun. (SS)
agasi93 February 21st, 2011, 06:45 PM Tak Putus Dirundung Krisis
Kesibukan terlihat di hanggar perakitan pesawat CN-235, kompleks PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Rabu siang pekan lalu. Enam teknisi merubung dua badan pesawat bersayap lebar. Sebagian merapikan rangka metal, lainnya mengutak-atik suku cadang. Decitan bor dan ketukan palu di ruangan berdinding besi seluas seribu meter persegi itu serasa merobek gendang telinga.
Para teknisi itu sibuk merampungkan pesawat pesanan pemerintah Korea Selatan. Dua tahun lalu, Negeri Ginseng memesan empat unit CN-235 senilai US$ 90 juta (sekitar Rp 860 miliar). Mereka kesengsem pesawat rancangan Dirgantara dan pabrikan Cassa Spanyol itu. Keempat pesawat akan dipakai untuk patroli penjaga pantai. "Satu sudah terbang, dan sisanya masih digarap," kata juru bicara Dirgantara Indonesia, Rakhendi Triyatna. Dirgantara juga sedang menyelesaikan dua proyek penting lain dari Prancis. Pembuatan ketiak sayap (drive rib) Airbus A380, pabrikan pesawat yang bermarkas di Toulouse, dan badan utama helikopter superpuma pesanan Eurocopter di Lyon.
Proyek-proyek itu sebetulnya diharapkan bisa mendongkrak kinerja Dirgantara setelah lolos dari kepailitan, empat tahun silam. Faktanya, perusahaan yang berdiri pada 1976 itu masih limbung. Arus kas kembang-kempis. Pembayaran gaji 4.800 karyawan-1.700 di antaranya pegawai kontrak-tersendat-sendat. Dua pekan lalu, Serikat Pekerja Dirgantara Indonesia (Spedi) dan dua serikat karyawan lain unjuk rasa di Bandung dan Jakarta menuntut pembayaran gaji dan pertanggungjawaban manajemen.
Menurut Ketua Spedi, Haribes, pembayaran gaji macet sejak Oktober 2010. Karyawan bergaji di atas Rp 2,5 juta hanya dibayar sebatas itu, dan sisanya diangsur. Bahkan tunjangan kesehatan karyawan dihentikan karena Dirgantara menunggak Rp 3 miliar kepada Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. "Ini sudah keterlaluan," katanya.
Bagi perusahaan yang dulu bernama PT Nurtanio ini, krisis keuangan bukan masalah baru. Sejak 2008, Dirgantara limbung lantaran pendapatan tak bisa menutupi pengeluaran. Akhir tahun lalu, Dirgantara merugi Rp 29 miliar. "Untuk menggarap proyek pun mereka kesulitan modal," kata Deputi Menteri Badan Usaha Milik Negara Achiran Pandu Djajanto kepada Tempo pekan lalu.
Sumber Tempo membisikkan, terlepas dari masalah pailit, kinerja keuangan Dirgantara tak kunjung membaik. "Tak ada order besar," ujarnya. Pada 2007, misalnya, kontrak yang diterima hanya sekitar Rp 400 miliar. Sialnya, Dirgantara mesti menanggung beban utang dan pesangon 6.600 karyawan yang diberhentikan pada 2005. Total beban mencapai Rp 400 miliar. Belum lagi beban pembayaran gaji karyawan Rp 23 miliar sebulan.
Pada 2008-2009, Dirgantara sebenarnya mendapat kontrak besar senilai Rp 1,8 triliun. Tapi inefisiensi melonjak. Modal kerja kembali cekak, sehingga penyelesaian order molor. Para pemesan memberi penalti. Haribes mencontohkan, proyek CN-235 yang dipesan Korea Selatan seharusnya rampung 14 Desember lalu. Tapi sampai sekarang belum juga kelar. Pemerintah Korea Selatan pun mendenda Dirgantara. "Lantaran penalti-penalti itu, perusahaan terus merugi," katanya.
Pandu membenarkan cerita ini. "Itulah risiko bisnis," ujarnya. Sebaliknya, Rakhendi membantah Dirgantara tak bisa memenuhi pesanan tepat waktu. "Justru gara-gara pembayaran dana dari pemesan bertahap, penyelesaian pun bertahap, bukan terbengkalai."
Pemerintah sebetulnya sudah mencoba menyelamatkan Dirgantara. Akhir Oktober lalu, Dirgantara masuk ruang rawat PT Perusahaan Pengelola Aset bersama 17 BUMN lainnya. Sekretaris Perusahaan Pengelola Renny Rorong mengatakan suntikan modal penyelesaian proyek menjadi prioritas utama. Sederet skema restrukturisasi keuangan juga disiapkan, tapi nilainya belum bisa diputuskan. "Kami masih meneliti kondisi perusahaan ini," katanya.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/02/21/EB/mbm.20110221.EB136000.id.html
agasi93 February 23rd, 2011, 01:47 PM PT Dirgantara Hitung Kebutuhan Modal Kerja
Krisis Keuangan yang melilit PT Dirgantara Indonesia (Persero) sejak setahun terakhir segera dicarikan jalan keluar. Salah satunya dengan melakukan kerja sama dengan PT Perusahaan Pengelolan Aset (Persero).
Direktur PT Dirgantara Budi Santoso usai berjumpa Menteri BUMN Mustafa Abubakar menyatakan PPA akan membantu melakukan restrukturisasi bisnis PT DI. ”Tahap awal untuk permodalan,” katanya.
Dari dana yang dikucurkan PPA, PT DI akan mengutamakan pengunaan untuk modal kerja dan penambahan kapasitas. Hanya saja, Budi belum menyebutkan angka riilnya. ” Belum selesai dihitung, kira-kira dua pekan lagi,” kata Budi.
Penambahan kapasitas sadah sangat mendesak untuk dilakukan PT DI. Pasalnya mesin yang ada sekarang banyak yang kelebihan kapasitas sehingga produktifitasnya tidak setinggi yang baru.
”Jadi perlu diganti dengan yang baru meski tidak semua mesin. Ya, ada bottle neck-nya,” ujarnya.
Saat ini PT DI sudah mendapat modal non-cash loan sebesar US$ 3 juta dari BNI dan US$ 100 juta dari BRI. ”Tapi modal itu kan tidak semua non-cash, harus ada cash,” tutur Budi. Untuk memenuhi kebutuhan modal cash inilah yang akan disusun oleh PPA.
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/02/23/brk,20110223-315473,id.html
v-sun February 23rd, 2011, 04:09 PM PPA Restrukturisasi Dirgantara Indonesia Kuartal II
23 February , 2011
Oleh Bambang P. Jatmiko
JAKARTA: PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) pada kuartal II tahun ini akan memulai program restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
Dirut Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan pihaknya masih menyusun perkiraan kebutuhan dana untuk proses restrukturisasi. Dalam dua pekan ke depan, hasil penghitungan tersebut ditargetkan rampung.
“Kami sudah menghadap Menteri BUMN untuk menyampaikan rencana restrukturisasi dan akan membawa hasil kajian mengenai kebutuhan pendanaan tersebut,” katanya, hari ini.
Restrukturisasi terpaksa dilakukan menyusul kondisi keuangan perseroan yang tidak memungkinkan untuk menjalankan ekspansi. Berdasarkan catatan Bisnis, kewajiban PT DI berupa rekening dana investasi (RDI)/sub loan agreement (SLA) senilai Rp1,6 triliun.
Kewajiban tersebut membuat pabrikan pesawat nasional yang berbasis di Bandung ini terganjal kinerjanya.
Sebagai langkah awal, PT DI akan mendapatkan talangan dana dari PPA Finance. Dana dari anak usaha PPA itu akan dikucurkan sebelum proses restrukturisasi dimulai.
“Kami akan mencari pinjaman dari PPA Finance sebelum proses restrukturisasi dilaksanakan. Jumlahnya berapa, kami juga masih menghitungnya,” jelasnya. (yus)
http://bisnis-jabar.com/berita/ppa-mulai-restrukturisasi-dirgantara-indonesia-kuartal-ii.html
v-sun February 23rd, 2011, 04:53 PM PT DI Produksi Pesawat Jenis C-295 dan C-212
Rabu, 23 Februari 2011 | 15:15 WIB
http://image.tempointeraktif.com/?id=46183&width=490
Produksi Pesawat di PT. Dirgantara Indonesia (DI) (Indonesian Aerospace Inc.) di Bandung, Jawa Barat. TEMPO/Arnold Simanjuntak
TEMPO Interaktif, Jakarta - PT Dirgantara Indonesia melanjutkan kerja sama dengan Airbus Military, produsen pesawat terbang yang berbasis di Spanyol. Dari kerja sama ini PT Dirgantara akan memproduksi pesawat C-295 dan C-212.
Berita terkait
Mesin Pesawat Rusak, Wings Air Kembali ke Landasan
Delay, Penumpang Pesawat Sriwijaya Mengamuk
Dikira Pesawat Jatuh, Bunyi F16 Hebohkan Warga
Dentuman di Candi Cetho Berasal dari Suara Pesawat
Komponen Pesawat TNI Sebagian Produksi Lokal
Direktur Utama PT Dirgantara Budi Santoso menjelaskan PT Dirgantara akan memasok komponen, sedang Airbus Millitary akan membantu dalam bidang rekayasa teknik. Pesawat inilah yang diusulkan PT Dirgantara kepada TNI untuk program pengganti pesawat jenis Fokker 27.
Jenis C-295 adalah pesawat ringan yang bisa mengangkut maksimal 70 penumpang yang merupakan turunan CN 235. Dalam produksinya, sebagian besar komponen dan sayap dibuat di Bandung.
”Kalau TNI memilih C-295, maka pesawat itu juga akan dibuat di Bandung lagi.” Namun , hingga kini belum ada pesanana resmi yang dilayangkan TNI.
Kerja sama juga dilakukan dalam produksi Casa 212. Sejak dua tahun lalu, Airbus Millitary sudah memindahkan produksinya dari Spanyol ke Bandung. Pemindahan ini atas pertimbangan besaran biaya produksi yang jauh lebih rendah dari pada di Eropa. Produksi pesawat ini akan efektif pada 2011 ini dan akan dikirim ke Thailand dan Vietnam.
Selain dalam hal enginering, Airbus Millitary juga akan bertanggung jawab terhadap pemasaran. Sebagai bagian dari European Aeronautic Defence and Space Company (kelompok besar produsen pesawat Eropa), Airbus Millitary memiliki pasar dan perwakilan di setiap negara. ”Kami ikut profit sharing dengan mereka,” kata Budi.
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/02/23/brk,20110223-315505,id.html
Kopassus February 25th, 2011, 05:11 AM Ya, baru baca disini:
http://www.bisnis.com/industri/manufaktur/13598-ptdi-eads-siap-bikin-pesawat-militer-c295
Bagus utk menggantikan F27. Tapi sayang IPTN tidak bikin sendiri varian CN235 yg lebih panjang atan lanjut sama N250...
MARINHO February 25th, 2011, 10:47 AM IAe N250 a direct competitor to the ATR
The Europeans are willing to do a lot of concessions as long as Indonesia isn't reviving the IAe N250 program. As the revival of the IAe N250 program could harm EADS own ATR series turboprop. But more seriously the IAe N250 could also open te way for the IAe to continue with its hundred seater program the IAe 2130 which could be a direct competitor to the Airbus A318/A319 series.
CASA C-295
The EADS CASA C-295 could have been jointly produced and developed by both IAe and CASA (as was the case with the CN-235 under the Airtech cooperiation) which would have been much more cost effective. But in Europe it is seen as political correct to keep production in Europe. But the Europeans came to the conclusion that it is inevitable to cooperate with Indonesian Aerospace.
It is the challenge for both Indonesian Aerospace to secure finance for the IAe N250 program. And convince Indonesian airlines to order the IAe N250.
PT DI Produksi Pesawat Jenis C-295 dan C-212
MARINHO February 25th, 2011, 11:42 PM DATE:25/02/11
SOURCE:Air Transport Intelligence news
Lion Air firms options for 15 ATR 72-500s
By Dominic Perry
Indonesia's Lion Air has firmed up its 2009 options for 15 ATR 72-500s to be operated by subsidiary Wings Air.
The order for the 72-seat aircraft takes Wings Air's ATR fleet to 30, with the company having previously ordered 15 ATR 72-500s in 2009, with 15 options.
Wings introduced the new ATR 72-500s in Indonesia in January 2010 and 10 of the aircraft are already in operation.
With the delivery of the 15 additional aircraft, Wings Air and Lion Air will become ATR's largest customer in South-East Asia, says the airframer.
The purchase will help Wings boost feeder capacity into Lion Air's Boeing 737-900ER network.
The carrier will develop new routes from and to Sumatra, Sulawesi and Java, as well as connecting big cities within one hour's flying range, like Surabaya and Denpasar.
Pak Rusdi Kirana, chairman of Wings Air and president director of Lion Air, says: "Our increasing fleet of modern ATR aircraft is making a strong contribution to the growth of our national economy."
Kopassus February 26th, 2011, 04:16 AM Im afraid the N250 will stay a dream.
Kalau krismon 1998 tdk jadi, pasti puluhan N250 sudah dibuat skrg dan sudah menggantikan pesawat tua di RI seperti Fokker F27 dan BAe 748/ATP.
Katanya, setiap kali kalau pak BJ. Habibie terbang di negeri kita dan harus naik Xian MA-60 atau ATR-42/72, dia menjadi sangat sedih, karena proyek N250 hampir jadi (design sudah 100%, test flight program lancar, hanya proses sertifikasi belum beres)
Inlander February 26th, 2011, 07:08 AM ^^ coba kalo sistem fly by wire pada N-250 dicopot pasti biaya produksi dan harga jual pesawat jadi lebih murah..
v-sun February 27th, 2011, 02:49 PM from my friends facebook
http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/164595_1616642589721_1646059666_1852428_8129747_n.jpg
http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/165592_1616639469643_1646059666_1852420_7651225_n.jpg
harus sudah diregenerasi nih:D
http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/179860_1649272645452_1646059666_1916141_7569077_n.jpg
v-sun February 27th, 2011, 02:57 PM http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/181938_1656836834552_1646059666_1929521_3042180_n.jpg
http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/183611_1662101166157_1646059666_1937522_7306354_n.jpg
v-sun March 9th, 2011, 08:58 AM Rabu, 09/03/2011 12:30 WIB
PT DI Kirim Airframe Perdana untuk Eurocopter Perancis
Tya Eka Yulianti : detikBandung
detikcom - Bandung, PT Dirgantara Indonesia (DI) menyerahkan Tailboom MK II untuk helicopter EC 225 dan EC 725 pada Eurocopter Perancis, Rabu (9/3/2011). Ini merupakan penyerahan perdana komponen airframe helicopter sejak kerjasama ditandatangani kedua perusahaan pada 2008 lalu.
Dalam proyek ini, PT DI membuat 125 komponen tailboom dan fuselage untuk helikopter EC 225 dan EC 725 yang diproduksi Eurocopter sampai tahun 2020.
"Penyerahan perdana komponen tailboom EC 225 dan EC 275 ini merupakan bukti nyata bahwa PT DI mampu memproduksi helikopter mutakhir," ujar Dirut PT DI Budi Santoso dalam acara Penyerahan Simbolis Tailboom di Assembly Aerostructure PT DI di Jalan Pajajaran.
Komponen tailboom ini akan dikirim ke pabrik Eurocopter di Perancis untuk kemudian dirakit dengan komponen lainnya. Helikopter EC 225 merupakan versi sipil, sementara EC 275 adalah versi militer.
Dengan dibuatnya komponen airframe yaitu tailboom dan fuselage oleh PT DI untuk EC 225 dan EC 275, itu berarti, 125 helicopter yang akan dibuat Eurocopter terdapat bagian yang berasal dari karya Indonesia.
"Ini juga menunjukkan kemampuan PT DI menjadi global supplier untuk komponen pesawat terbang termasuk helikopter," katanya.
Lebih lanjut Budi menjelaskan, bahwa kerjasama PT DI dan Eurocopter merupakan kelanjutan dari kerjasama yang sebelumnya pernah dilakukan pada 1978. Saat itu, PT DI merakit helikopter NSA-330 Puma. Yang kemudian diterukan dengan membuat airframe NAS-332 Super Puma pada 1981.
http://www.detik.com/read/2011/03/09/123046/1587700/486/pt-di-kirim-airframe-perdana-untuk-eurocopter-perancis
v-sun March 9th, 2011, 09:23 AM Penyerahan Tailboom Helikopter
Oleh Armin Abdul Jabbar on 9 March , 2011
http://bisnis-jabar.com/show_image_NpAdvSinglePhoto.php?filename=/2011/03/090311-AJB-BISNIS-PENYERAHAAN-TAIL-BOOM-PESAWATb.jpg&cat=17&pid=31214&cache=false
BERJABAT TANGAN: Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso (kiri) berjabat tangan dengan President Direktur Eurocopter Indonesia Jean-luc Alfonsi pada penyerahan perdana komponen Tailboom (bagian ekor pesawat) MK II Helikopter EC225/725 dari PT DI kepada Eurocopter di Bandung, Jawa Barat, Rabu (9/3). PT DI mengerjakan pembuatan komponen tailboom dan fuselage untuk helikopter EC 225 dan EC 725 hingga 2020 dengan total biaya kontrak US$ 46 juta.
http://bisnis-jabar.com/foto/foto-penyerahan-perdana-tailboom-helikopter-ec225725.html
v-sun March 9th, 2011, 09:36 AM PT DI Jajaki Pasar Helikopter TNI AU
Oleh Yanto Rachmat on 9 March , 2011
BANDUNG (bisnis-jabar.com): PT Dirgantara Indonesia (DI) membidik peluang bisnis dari proyek pengadaan pesawat helikopter untuk TNI Angkatan Udara.
Dirut PT DI Budi Santoso mengatakan TNI AU kemungkinan akan meremajakan atau menambah armada helinya dengan jenis Eurocopter (EC) 725 dari armada sebelumnya jenis Puma dan Super Puma.
Menurut dia, pengadaan heli tersebut membuka peluang bagi perusahaan dalam pengadaan suku cadang maupun perakitannya.
“Mengenai jumlah dan nominalnya saya belum tahu. Itu [kewenangan]TNI AU,” katanya hari ini.
Dia mengatakan rencana proyek tersebut berpeluang dibahas pada tahun ini.
Sementara itu, Presdir Eurocopter Indonesia Jean-luc Alfonsi mengatakan belum menerima permintaan pengadaan pesawat helikopter untuk TNI AU.
“Kami belum menerima order dari pemerintah di sini,” katanya.
Perusahaan menyatakan siap mengerjakan proyek itu jika memang TNI AU berniat belanja helikopter. (asm)
http://bisnis-jabar.com/berita/pt-di-jajaki-pasar-helikopter-tni-au.html
Sizter85 March 16th, 2011, 10:50 AM from my friends facebook
harus sudah diregenerasi nih:D
http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/179860_1649272645452_1646059666_1916141_7569077_n.jpg
^^Jangan, jangan di regenerasi dahulu, jam terbang mereka itu lebih tinggi lho, sebaiknya dijadikan adviser saja bagi generasi2 muda-nya :cheers:
________________________
Pesawat N-219 Ditargetkan Terbang Perdana 2014
Rabu, 16 Maret 2011
TEMPO Interaktif, Bandung - PT Dirgantara Indonesia mentargetkan pesawat baru jenis N219 bisa terbang pada 2014. Direktur Aerostructure PT Dirgantara Indonesia Andi Alijahbana mengatakan pengembangan pesawat itu sudah ditahap preliminary design. “Kita ingin prototype itu bisa terbang pada 2014 nanti,” kata Andi, selepas menerima Sertifikat Organisasi Rancang Bangun atau Design Organization Aproval dari Kementerian Perhubungan di Bandung, Rabu (16/3).
Perusahaan itu menargetkan pesawat N219 itu menyasar pasar pesawat kecil dengan kapasitas 19 penumpang dengan harga termurah di kelasnya. “Yang penting harga pesawat itu termurah di kelasnya, saya belum mau bilang (harganya), tapi akan lebih murah dari lawan-lawannya,” katanya.
Pengembangan pesawat itu sudah berjalan setengah tahun. Pembuatan prototype ditargetkan seluruhnya memakan waktu 1 tahun. Selepas pesawat prototype itu akan mengikuti serangkaian pengujian terbang sebelum mendapatkan kualifikasi sebelum bisa dijual.
Sekitar 300 insinyur yang diterjunkan untuk mengembangkan pesawat ini. Andi mengatakan dengan diperolehnya sertifikat DOA itu akan mempercepat proses pengembangan pesawat itu. Seluruh sertifikat yang dibutuhkan perusahaan itu mulai dari produksi hingga perawatan pesawat kini sudah lengkap dimiliki PT Dirgantara Indonesia.
Pesawat itu dirancang untuk mengangkut 19 penumpang dengan memakai 2 mesin, masing-masing berkekuatan 8.50 HP. Pesawat yang dirancang seluruhnya oleh PT Dirgantara Indonesia itu menggunakan komponen lokal hingga 70 persen. Sedangkan mesin dan sistem avioniknya dipasok dari luar negeri. ”Avionik kemungkinan besar dari Amerika atau Eropa, dan enggine itu dari Amerika atau Kanada,” kata Andi.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesai Dita Ardonni Jafri mengatakan untuk pembuatan prototype itu diperkirakan butuh dana sampai US$ 30 juta. ”Sudah ada beberapa yang menyanggupi dari dalam negeri,” kata Dita
Menurutnya, dengan adanya kepastian dana itu, proses pembuatan 2 protoype N219 bisa rampung hanya dalam 2,5 tahun. ”Kalau sekarang kita punya uang, dalam 2,5 tahun akan jadi 2 pesawat, setelah itu kita akan bangun 2 unit per bulan,” ujar Dita.
Dita mengatakan, pesawat itu dirancang agar mudah pemeliharaannya. Di antarnya, dengan tidak memakai komponen yang menggunakan sistem hidrolik sehingga untuk pemeliharannya bisa dikerjakan di mana saja.
Pesawat sejenis dengan N219 saat ini di antaranya Twin Otter dan Y12 buatan Cina. Soal harga.
Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktoray Jenderal Perhubungan Udara Yurlis Hasibuan mengatakan pesawat N219 yang tengah digarap PT Dirgantara Indonesia punya prospek cerah di dalam negeri. Pesawat jenis ini cocok untuk pesawat penerbangan perintis.
PT Dirgantara Indonesia hingga saat ini sudah membuat 3 pesawat, NC 212, CN 235, dan N250. Menurut Andi, pasca mentoknya pembuatan N250 itu, pesawat N219 yang kini tengah dikembangkan PT Dirgantara Indonesia menjadi pesawat selanjutnya yang 100 persen pengembangannay dikerjakan di dalam negeri. ”Kalau kita sudah bisa bikin N250 itu 70 penumpang, apa susahnya bikin yang 19 penumpang,” katanya.
Ahmad Fikri
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/03/16/brk,20110316-320553,id.html
Kopassus March 18th, 2011, 06:13 AM Thanks for the good news!
ceudah March 20th, 2011, 05:44 PM hidupkan kembali N250 donk.....please...
MARINHO March 21st, 2011, 01:35 PM The IPTN N250 will be revived but probably after the IAe N219 have been proven succesfull.
acoolguyfromnz March 21st, 2011, 04:11 PM Sptnya memang CEO dan directors PT DI gak mampu...it seems they do not know what to do...Kelihatan tdk ada plan, tdk ada rencana membuat wow products, tdk ada terobosan marketing, Bagian salesnya juga kurang greget, dsb
That is the biggest mistake the government made. Menyerahkan kepengurusan suatu perusahaan ke org yg belum teruji di bisnis.
Kalau pemerintah kesulitan, cari CEO org asing saja...
Inilah kalau tentara di plot jadi CEO. Bukannya saya benci, tapi professionallah sedikit. Hampir sebagian besar bisnis yg di pegang tentara gak berhasil. Wong bisnisnya sendiri saja setiap tahun assetnya selalu berkurang...
bama84 March 22nd, 2011, 12:06 AM ^^
Jangan, jangan orang asing yang jadi CEO. Orang asing banyak juga yg bego. Lebih baik orang lokal yang memang qualified, maksudnya tempatkanlah seseorang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ini baru namanya professional.
ceudah March 24th, 2011, 04:52 AM The IPTN N250 will be revived but probably after the IAe N219 have been proven succesfull.
smoga menjadi kenyataan, tp keduluan kita2 punya cucu ya...
acoolguyfromnz March 25th, 2011, 02:57 PM @Bama,
Kalau ada org Indonesia ya silakan, tapi kalau gak ada ya mau gak mau sewa tenaga asing. Yg terpenting tuh bisnis berkembang agar bisa memberikan alih teknologi dan yg terpenting bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi.
Tujuan di didirikan PT DI kan utk profit oriented.
Kita pragmatis dan result oriented sajalah...
Kalau sudah di kasih kesempatan beberapa tahun utk memimpin tapi gak ada perubahaan mungkin PT DI bukan tempat yg cocok buat CEO sekarang. He doesn't fit to the company.
v-sun March 31st, 2011, 08:15 AM Kamis, 31/03/2011 12:29 WIB
Direksi PT Dirgantara Indonesia Siap Dirombak
Akhmad Nurismarsyah : detikFinance
detikcom - Jakarta, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana merombak jajaran direksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Hal ini bagian dari penyehatan dari sisi organisasi maupun manajemen perusahaan pelat merah pembuat pesawat terbang tersebut.
Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, saat ini kondisi direksi PTDI mengalami masalah. Antara lain kondisi Dirut PTDI Budi Santoso yang sakit-sakitan dan direktur keuangan yang telah mengundurkan diri.
"Kita akan evaluasi direksi, direktur keuangan kan sudah mundur, dirut pun sekarang sedang ada gangguan kesehatan, kita lihat kalau ini jadi beban apa salahnya kalau berat kita coba cari pengganti. Tapi kita tunggu sampai sembuh dulu," kata Mustafa di gedung DPR-RI, Rabu malam (30/3/2011).
Menurut Mustafa langkah ini harus dilakukan demi menyehatkan organisasi dan manajemen dari PT DI.
"Kita sedang evaluasi, dua hal. Satu organisasai akan kita lakukan peninjauan, sudah masuk konsep dari mereka, kemudian masuk evaluasi dari mereka. Kita akan lakukan penyehatan baik organisasi maupun manajemen," katanya.
Dari sisi keuangan, pemerintah tengah mengupayakan penyelamatan terhadap BUMN sakit ini. Pihak DPR-RI melalui Komisi VI telah setuju terkait pemberian Subsidiary Loan Agreement (SLA) atau Penerusan Pinjaman kepada PT Dirgantara Indonesia (DI), dengan suntikan Rp 123 miliar (konversi dana talangan) di APBN-P 2011.
Sebelumnya PT DI berniat mengkonversi utangnya Rp 3,9 triliun menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN). Perseroan berharap konversi tersebut bisa menyehatkan kondisi perseroan yang masih 'sakit'.
Dengan adanya konversi utang tersebut, maka debt to equity ratio (rasio ekuitas) akan membaik dan perusahaan pelat merah itu bisa mencari utang guna melaksanakan berbagai proyeknya.
Sampai saat ini PTDI telah memproduksi delapan pesawat terbang per tahun. Namun, perseroan masih belum bisa meraup untung akibat kondisi utangnya yang terlalu besar.
http://www.detik.com/read/2011/03/31/122752/1605565/4/direksi-pt-dirgantara-indonesia-siap-dirombak
Widana89 March 31st, 2011, 08:53 AM ^^ Sudah seharusnya dirombak..!!
Produk" PT DI kurang inovasi, makin lama makin ketinggalan.. :ohno:
ceudah April 2nd, 2011, 04:17 AM salute dgn pak mustafa....ayo pak...rombak aja smuanya...
ceudah April 27th, 2011, 08:11 PM kenapa sepi ya trit ini?
v-sun May 5th, 2011, 11:46 AM 05/05/2011 16:43
Utang PT DI ke Pemerintah Capai Rp3 Triliun
Jaka Permana
INILAH.COM, Bandung - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso mengaku utang PT DI untuk membuat pesawat terbang kepada pemerintah sejak 1970 hingga 1990-an mencapai Rp3 triliun lebih.
Dengan kondisi perusahaan seperti saat ini, Budi mengaku, perusahaannya cukup berat jika diharuskan membayar semua utang tersebut. Karena itu, pihaknya meminta agar utang tersebut dijadikan penyertaan modal dari pemerintah.
"Yang kita harapkan utang zaman dulu itu dijadikan PMN (Penyertaan Modal Negara). Karena kalau dihitung-hitung utang peninggalan dulu itu udah 3 triliun lebih dari tahun 70 hingga 90," ujar Budi kepada wartawan di sela penyerahan pesawat CN235 kepada pemerintah Senegal di Hanggar Pesawat PT DI, Jalan Pajajaran Kota Bandung, Kamis (5/5/2011)
Menurut Budi, PT DI tidak mungkin memulai pengembangan perusahaan dengan dengan beban utang sebesar itu. "Kita harapkan utang ini dijadikan PNN, kemudian kita diberi sedikitlah modal kerja," katanya.
Sejauh ini, ucap Budi, untuk menyelesaikan pesanan pesawat CN235 yang dikirimkan ke Senegal hari ini sebetulnya tidak menggunakan modal kerja. Semua pembuatan pesawat tersebut telah menggunakan utang dari pemerintah.
"Sebetulnya, kondisi PT DI kalau secara bisnis pada 2007-2008 itu udah bangkrut. Karena ekuitas (keuangan) kita negatif akibat utang ke pemerintah. Jadi harapannya, dengan utang jadi modal, pemerintah kan tidak mengeluarkan uang cash, cuma pindah status aja bahwa PT DI itu punya ekuitas," jelas Budi.
Oleh sebab itu, untuk mengembangkan perusahaanya, PT DI meminjam uang kepada nank. Menurutnya, pihak PT DI meminjama uang kepada bank tersebut bermodal kepercayaan atau persaudaraan.
"Banknya mau minjemin uang. Ya kita buktikan misalnya dapat pinjaman BNI untuk KCG (Korea Coast Guard) ini bisa deliver," pungkasnya.[den]
http://www.inilah.com/read/detail/1484042/utang-pt-di-ke-pemerintah-capai-rp3-triliun/
v-sun May 5th, 2011, 11:51 AM Kamis, 05/05/2011 11:50 WIB
PT DI Serahkan CN235-220 ke Senegal Afrika
Tya Eka Yulianti : detikBandung
detikcom - Bandung, Satu unit pesawat CN235-220 AT versi VIP yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia akan diterbangkan untuk pertama kalinya (ferry flight) ke Senagal Afrika Selatan, Kamis (5/5/2011). Ini merupakan penyerahan pesawat yang kedua kalinya, karena pada November 2010 lalu PT DI juga telah menyerahkan pesawat jenis yang sama. Nilai kontrak untuk kedua pesawat tersebut mencapai 13 juta US dolar.
"Pesawat yang akan diterbangkan hari ini merupakan upgrade dan modifikasi dari pesawat CN235-1100," ujar Dirut PT DI Budi Santoso dalam Pres Confrence di Hanggar PT DI.
Modifikasi yang dilakukan pada pesawat eks Merpati Nusantara Airline (MNA) ini antara lain mengubah pesawat sipil menjadi pesawat angkut militer (Military Transport) dengan mengganti mesin pesawat CT7-7A 14.000 kg menjadi 16.000 kg.
"Secara keseluruhan, hingga saat ini PT DI sudah menyerahkan 3 pesawat CN235-220 versi Military Transport ke Afrika," kata Budi.
Satu unit diserahkan ke negara Burkina Faso dan 2 lainnya ke negara Senegal.
http://www.detik.com/read/2011/05/05/115041/1633009/486/pt-di-serahkan-cn235-220-ke-senegal-afrika
v-sun May 5th, 2011, 05:17 PM FOTO: PT DI terbangkan pesawat pesanan Senegal
Oleh Armin Abdul Jabbar on 5 May , 2011
http://bisnis-jabar.com/show_image_NpAdvSinglePhoto.php?filename=/2011/05/050511-AJB-BISNIS-01-PESAWAT.jpg&cat=17&pid=46548&cache=false
PESANAN SENEGAL: Sejumlah pekerja mengeluarkan pesawat CN 235-220 AT versi VIP pesanan Senegal yang rampung diproduksi PT Dirgantara Indonesia dan diterbangkan langsung ke negara itu dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/5). Sebelumnya PT DI sudah mengirimkan pesawat yang sama pada 1 November 2010 lalu dengan nilai kontrak kedua pesawat US$13 juta.
http://bisnis-jabar.com/foto/foto-pt-di-terbangkan-pesawat-pesanan-senegal.html
v-sun May 5th, 2011, 05:19 PM Kamis, 05/05/2011 18:25 WIB
Setelah ke Afrika, PT DI Akan Serahkan Dua Pesawat ke Korea
Tya Eka Yulianti : detikBandung
detikcom - Bandung, Selain mengirimkan pesawat ke Senegal Afrika, PT Dirgantara Indonesia juga akan mengirimkan dua pesawat terbang CN235 Maritime Patrol Aircraft (MPA) pada Korea Coast Guard. Satu pesawat akan diterbangkan pada Sabtu (7/5/2011) dan lainnya akan terbang pada Jumat (13/5/2011). Kedua pesawat tersebut akan diterbangkan oleh tim pilot PT DI.
"Minggu ini begitu berarti bagi PT DI karena selain hari ini akan menerbangkan pesawat ke akan berangkat Senegal, pada akhir pekan ini kami juga akan mengiirimkan pesawat ke Korea. Namun karena pilot yang kami miliki terbatas, jadi diterbangkannya tidak bisa bersamaan," ujar Dirut PT DI Budi Santoso saat ditemui dalam acara Ferry Flight CN235-220 ke Senegal Afrika, di Hanggar PTDI, Kamis (5/5/2011).
Pilot akan menerbangkan pesawat selama tiga hari untuk sampai ke Korea. Kemudian mereka pun akan kembali ke tanah air untuk kembali menerbangkan pesawat kedua. Untuk Korea Coast Guard (KCG), masih ada dua pesawat lainnya yang harus diselesaikan oleh PT DI. Nilai kontrak untuk empat pesawat tersebut mencapai 94 juta US dolar.
Budi mengaku, pengiriman pesawat untuk KCG mengalami keterlambatan, hal itu disebabkan mision system yang akan dipasangkan pada pesawat tersebut baru diapprove oleh pemesan di akhir pengiriman.
"Sebenarnya per November dan Desember 2010 lalu pesawatnya sudah jadi tapi aprove final acceptment tes untuk mision sistem baru dilakukan baru-baru ini," katanya.
Sistem yang dipasang pada pesawat KCG ini disebut Budi bisa mendeteksi adanya polusi laut, misalnya tumpahan minyak di perairan Korea.
http://www.detik.com/read/2011/05/05/182556/1633534/486/setelah-ke-afrika-pt-di-akan-serahkan-dua-pesawat-ke-korea
cyberprince May 5th, 2011, 05:40 PM ^^ dibalik segala permasalahan yang menerpa, ternyata PT DI masih tetap mampu berproduksi & bahkan diekspor ke luar negeri. salut :cheers:
Kopassus May 6th, 2011, 06:25 AM Great news!!....
More great pics from Doi at http://www.indoflyer.net/forum/tm.asp?m=542665&mpage=1&key=
ceudah May 7th, 2011, 10:46 AM heran, kenapa merpati lebih suka mesan ke cina padahal PT DI masih bisa buat pesawat yg lebih bagus? hmmmm....maaf OOT
AceN May 7th, 2011, 12:39 PM ^^ Pesanan Senegal tapi kok ada Hangeul dibawah sayapnya ??
vindoarga May 7th, 2011, 04:44 PM @acen
mungkin wartawannya yg bodrex :lol:
salah kasih keterangan :lol:
cyberprince May 9th, 2011, 06:41 PM ato mungkin yang wartawannya maksud adalah pesawat yang di backgorund itu yang pesawat punya senegal. soalnya warna sayap & ekor-nya lebih polos.
kalo pesawat yang ada hangeul-nya (yang di depan) ada aksen merah di sayapnya & aksen kuning item di ekor-nya..
tapi tetep aja ya bikin kita jadi bertanya2 hehe.. harusnya kalo berita tentang pesawat senegal, ya jangan sampe ada penampakan pesawat korsel walapun cuma sedikit :D
blablanonsense May 10th, 2011, 01:46 PM heran, kenapa merpati lebih suka mesan ke cina padahal PT DI masih bisa buat pesawat yg lebih bagus? hmmmm....maaf OOT
CN-235 katanya kurang cocok untuk penerbangan komersil karena spesifikasinya militer. Semoga N219 cepet jadi deh...lebih rela kalau merpati pake produk sendiri walaupun jatuh-jatuh. Tapi ya kalau bisa jangan jatuhlah... :lol:
Widana89 May 11th, 2011, 06:02 PM heran, kenapa merpati lebih suka mesan ke cina padahal PT DI masih bisa buat pesawat yg lebih bagus? hmmmm....maaf OOT
^^Biasa ada skandal dibalik pembelian pesawat ke Cina....:bash:
agasi93 May 13th, 2011, 08:09 PM Hari Jumat kemarin PTDI baru saja melaksanakan Ferry Flight untuk 2 Pesawat CN235 Korean Coast Guard.
Ferry Flight pertama telah dilaksanakan pada 7 Mei lalu
dan yang kedua pada 13 Mei.
Ini semua gambar-gambar saya ambil dari forum Indoflyer, credit to Doi Suroi
http://i1210.photobucket.com/albums/cc419/dennyp1/DSC_3225rz.jpg
http://i1210.photobucket.com/albums/cc419/dennyp1/DSC_8587.jpg
http://i1210.photobucket.com/albums/cc419/dennyp1/DSC_8584rz.jpg
http://i1210.photobucket.com/albums/cc419/dennyp1/DSC_8536rz.jpg
http://i1210.photobucket.com/albums/cc419/dennyp1/DSC_8513.jpg
Untuk gambar-gambar lainnya, silahkan singgahi link (http://www.indoflyer.net/forum/tm.asp?m=544587)
typhoonbringer May 15th, 2011, 12:55 AM CN-235 katanya kurang cocok untuk penerbangan komersil karena spesifikasinya militer. Semoga N219 cepet jadi deh...lebih rela kalau merpati pake produk sendiri walaupun jatuh-jatuh. Tapi ya kalau bisa jangan jatuhlah... :lol:
karena terlalu bagus buat sipil, cn-235 kan didesain buat rough landing jadi jatuhnya mahal karena spek partnya milgrade semua
Kopassus May 15th, 2011, 07:29 AM Thanks, i saw them at IF.net. Every single delivery of our aircrafts make me proud....
acoolguyfromnz May 15th, 2011, 02:01 PM @kopasus,
It can be better if If the director of PT DI know what to do. Frankly speaking, they can make a plan first with a beutiful outlook of a airplan. When public like it and the demand is high, ask for down payment first just like people buying cars or a developer building an apartment.
When the money is enough, they can get joint venture with a finance company.
David-80 May 16th, 2011, 12:33 AM @kopasus,
It can be better if If the director of PT DI know what to do. Frankly speaking, they can make a plan first with a beutiful outlook of a airplan. When public like it and the demand is high, ask for down payment first just like people buying cars or a developer building an apartment.
When the money is enough, they can get joint venture with a finance company.
:ohno: selling cars is totally different with selling airplanes and for goodness sake, what kind "beautiful outlook of airplane" you want them to create ?
I am sure PT DI know how the market works for them....
cheers
acoolguyfromnz May 18th, 2011, 10:28 AM @David 80
They are the same bud. Kalau PT DI tau what to do, their problem is solved. Business mereka sudah booming.
David-80 May 18th, 2011, 11:53 AM @David 80
They are the same bud. Kalau PT DI tau what to do, their problem is solved. Business mereka sudah booming.
No, they're not the same.
booming in what sense? like Airbus, Boeing, Embraer? and what do you suggest them to do (in aviation business perspective) ? please kindly tell us here
cheers
acoolguyfromnz May 19th, 2011, 03:05 PM @David,
1. Market pesawat itu sama dgn mobil, ada segmennya.
a PT DI mau masuk ke pasar mana dulu, commercial, private atau militer? Kalau commercial, segemen mana yg mau di bidik, kelas gajah spt Garuda, Singapura, atau kelas carter.
Pemilihan segement itu penting utk melihat seberapa besar potensi utk meraup untung dan siapa kompetitornya. Semakin besar pasar dan sedikit kompetitor, semakin banyak untung yg di raup.
b. Setelah segment di pilih, anda harus lihat dulu the nature dari market yg di pilih.
Contoh, segment kelas Garuda, Singapore airlines akan berbeda dgn kelas Air asia. Singapore airlines membidik kelas atas. Air asia menggenjot budget. Therefore the nature of these airlines are different.
Singapore airlines menawarkan benefit lebih dari kelas budget. Karena extra expenses yg di charge ke customers mereka utk estra value yg di tawarkan. Dan itu artinya better service, better fasilities, more comfortable, better design (interior, stewardess customs, logo, airplane dan gak mungkin menawarkan pesawat kelas baling2 bambu), better outlook etc.
Better design of the airplane itu juga penting. Karena design pesawat itu spt window shopping buat customernya. Kata pepatah tua, cinta datangnya dari mata jatuh ke hati.
Kalau anda jadi customer singapore airlines, tentu anda mengharapkan more benefits yg anda tdk dapat anda dptkan dari penerbangan lain melihat dari ongkos yg anda bayar. Kata lain the value of your money atau cost benefit.
Anda tdk bakal mau membayar 11,2 juta utk naik pesawat model IPTN utk terbang dari Auckland ke Singapura karena modelnya jelek, kenyamanannya biasa saja dan sering kecelakaan.
Tentu anda lebih baik membayar harga yg sama utk pesawat model baru Airbus dari singapura yg punya model lebih bagus, kenyamanan lebih baik, keramahan lebih baik dsb.
Rational people tend to choose more benefit over costs.
Kalau budget airplane tentu yg asal jalan, gak perlu tv, gak perlu pesawat yg bagus dsb. Penerbangan ini memburu jumlah penumpang.
Militer beda lagi naturenya. Buat militer, fungsi lebih utama dari pada outlook.
2. So once you have to choose the segment, see the nature of the business and then put yourself as customers.
why?
There are so many competitors out there that expect the same dollar as you do. If you cannot add value to your products, you won't survive. Those compeitors will do everthing to add value to their products. So they can get access to dominate the market.
So the question is how to make your business becomes the only solution for your customers?
The answer is,put yourself as customers. What are your customers mostly will consider in those segment when they make decition to buy an airplane? Survey market menentukan.
Seetelah dapat jawaban dari survey market, do better than others by providing extra "wow" factor there.
Contoh, PT Garuda yg menawarkan service bintang empat dunia dgn ruang tunggu yg nyaman dgn pesawat2 baru yg di lengkapi dgn fasilitas entertainment dan kenyamanan kelas bisnis tapi dgn harga terjangkau.
Atau spt Singapore airlines yg menarwarkan pesawat baru yg baru keluar kandang airbus, dgn pelayan kelas 1 dunia, very nice food, dsb.
Nah perusahaan2 spt ini juga sangat berhati2 memilih pesawat. Salah memilih pesawat itu artinya hilang reputasi mereka yg di peroleh dari kepercayaan penggunanya. Dan reputasi ini tdk di bangun satu malam.
Nah sekarang kita analisa PT DI,
1. PT DI segmennya kemana? Kelas atas, bawah atau militer?
2. Siapa kompetitornya?
3. Berapa besar segmen yg di pegang kompetitor PT DI?
4. Seberapa banyak calon customer PT DI dalam segment yg telah di pilih?
5. Apa ada pemain baru di lapak yg sama dgn PT DI?
5. Apa yg di buat oleh kompetitor PT DI utk menguasai pasar?
6. Apakah PT DI sudah menggandeng perusahaan finance utk hal pembiayaan?
Kalau direktur PT DI mengetahui kelemahan dan kekuatan diri sendiri, mengetahui kelemahan dan kekuatan kompetitor dan tau berapa besar potensi pasar yg di bidik, cuma awan penghalangnya.
Silakan anda google to find the answers for those questions.
Perusahaan penerbangan di dunia ini banyak, tapi kok cuma sedikit yg tertarik ke produk buatan PT DI?
Itu artinya produk DI terlalu biasa di banding kompetitor lainnya.
acoolguyfromnz May 19th, 2011, 03:08 PM Cont'd
Dan buat saya pribadi Dirut PT DI sekarang bukan org yg tepat utk jadi CEO.
r4d1ty4 May 19th, 2011, 05:56 PM gak sesimple itu mas, anda bicara pesawat komuter kok bawa2 Singapore Airlines ato Garuda yg jelas2 bukan pasarnya PT. DI (jika dilihat dari portfolio produk PT. DI saat ini - pesawat propeller)..
project.avatar May 19th, 2011, 06:43 PM @David,
1. Market pesawat itu sama dgn mobil, ada segmennya.
a PT DI mau masuk ke pasar mana dulu, commercial, private atau militer? Kalau commercial, segemen mana yg mau di bidik, kelas gajah spt Garuda, Singapura, atau kelas carter.
Pemilihan segement itu penting utk melihat seberapa besar potensi utk meraup untung dan siapa kompetitornya. Semakin besar pasar dan sedikit kompetitor, semakin banyak untung yg di raup.
b. Setelah segment di pilih, anda harus lihat dulu the nature dari market yg di pilih.
Contoh, segment kelas Garuda, Singapore airlines akan berbeda dgn kelas Air asia. Singapore airlines membidik kelas atas. Air asia menggenjot budget. Therefore the nature of these airlines are different.
Singapore airlines menawarkan benefit lebih dari kelas budget. Karena extra expenses yg di charge ke customers mereka utk estra value yg di tawarkan. Dan itu artinya better service, better fasilities, more comfortable, better design (interior, stewardess customs, logo, airplane dan gak mungkin menawarkan pesawat kelas baling2 bambu), better outlook etc.
Better design of the airplane itu juga penting. Karena design pesawat itu spt window shopping buat customernya. Kata pepatah tua, cinta datangnya dari mata jatuh ke hati.
Kalau anda jadi customer singapore airlines, tentu anda mengharapkan more benefits yg anda tdk dapat anda dptkan dari penerbangan lain melihat dari ongkos yg anda bayar. Kata lain the value of your money atau cost benefit.
Anda tdk bakal mau membayar 11,2 juta utk naik pesawat model IPTN utk terbang dari Auckland ke Singapura karena modelnya jelek, kenyamanannya biasa saja dan sering kecelakaan.
Tentu anda lebih baik membayar harga yg sama utk pesawat model baru Airbus dari singapura yg punya model lebih bagus, kenyamanan lebih baik, keramahan lebih baik dsb.
Rational people tend to choose more benefit over costs.
Kalau budget airplane tentu yg asal jalan, gak perlu tv, gak perlu pesawat yg bagus dsb. Penerbangan ini memburu jumlah penumpang.
Militer beda lagi naturenya. Buat militer, fungsi lebih utama dari pada outlook.
2. So once you have to choose the segment, see the nature of the business and then put yourself as customers.
why?
There are so many competitors out there that expect the same dollar as you do. If you cannot add value to your products, you won't survive. Those compeitors will do everthing to add value to their products. So they can get access to dominate the market.
So the question is how to make your business becomes the only solution for your customers?
The answer is,put yourself as customers. What are your customers mostly will consider in those segment when they make decition to buy an airplane? Survey market menentukan.
Seetelah dapat jawaban dari survey market, do better than others by providing extra "wow" factor there.
Contoh, PT Garuda yg menawarkan service bintang empat dunia dgn ruang tunggu yg nyaman dgn pesawat2 baru yg di lengkapi dgn fasilitas entertainment dan kenyamanan kelas bisnis tapi dgn harga terjangkau.
Atau spt Singapore airlines yg menarwarkan pesawat baru yg baru keluar kandang airbus, dgn pelayan kelas 1 dunia, very nice food, dsb.
Nah perusahaan2 spt ini juga sangat berhati2 memilih pesawat. Salah memilih pesawat itu artinya hilang reputasi mereka yg di peroleh dari kepercayaan penggunanya. Dan reputasi ini tdk di bangun satu malam.
Nah sekarang kita analisa PT DI,
1. PT DI segmennya kemana? Kelas atas, bawah atau militer?
2. Siapa kompetitornya?
3. Berapa besar segmen yg di pegang kompetitor PT DI?
4. Seberapa banyak calon customer PT DI dalam segment yg telah di pilih?
5. Apa ada pemain baru di lapak yg sama dgn PT DI?
5. Apa yg di buat oleh kompetitor PT DI utk menguasai pasar?
6. Apakah PT DI sudah menggandeng perusahaan finance utk hal pembiayaan?
Kalau direktur PT DI mengetahui kelemahan dan kekuatan diri sendiri, mengetahui kelemahan dan kekuatan kompetitor dan tau berapa besar potensi pasar yg di bidik, cuma awan penghalangnya.
Silakan anda google to find the answers for those questions.
Perusahaan penerbangan di dunia ini banyak, tapi kok cuma sedikit yg tertarik ke produk buatan PT DI?
Itu artinya produk DI terlalu biasa di banding kompetitor lainnya.
Interesting Point of view ... a couple of days ago we sent CN 235 to ROK
acoolguyfromnz May 19th, 2011, 09:20 PM @Avatar,
memang bisnis gak se simple itu. Tapi yg saya sebutkan di atas adalah prinsip dasar dagang.
Saya bawa singapore airlines dan garuda utk menjelaskan segment dalam ilmu marketing.
@project Avatar,
Beberapa nomer yg saya tulis di atas di kenal dgn istilah SWOT dalam ilmu management.
And I dont care how many airplanes have been sent. The challenge is can the current manager make PT DI as one of the best in its field?
project.avatar May 20th, 2011, 06:07 AM @Avatar,
memang bisnis gak se simple itu. Tapi yg saya sebutkan di atas adalah prinsip dasar dagang.
Saya bawa singapore airlines dan garuda utk menjelaskan segment dalam ilmu marketing.
@project Avatar,
Beberapa nomer yg saya tulis di atas di kenal dgn istilah SWOT dalam ilmu management.
And I dont care how many airplanes have been sent. The challenge is can the current manager make PT DI as one of the best in its field?
Yes, I agree ... that's why your opinion and analysis is interesting :)
|
|