View Full Version : Kepulauan Banda
@b1 November 27th, 2010, 04:11 AM Kepulauan Banda
Kepulauan Banda terdiri dari sepuluh pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda, ±140 km sebelah selatan Pulau Seram dan 2.000 km sebelah timur Pulau Jawa. Kepulauan seluas 180 km² ini termasuk dalam wilayah Provinsi Maluku. Kota terbesarnya, Bandanaira, terletak di pulau dengan nama yang sama. Sekitar 15.000 jiwa tinggal di kepulauan ini. Hingga pertengahan abad ke-19, Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah pala. Kepulauan ini populer bagi penggemar selam scuba dan snorkeling.
Bagi yang punya foto atau berita mengenai kepulauan banda silahkan dipost di sini.
Adpenturz January 30th, 2012, 05:55 PM Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kepulauan Banda
Letak geografis Kepulauan Banda pada 130 derajat Bujur Timur dan 4 derajat 30’ Lintang Selatan, terdiri atas Pulau Lontor, Pulau Gunung Api, Pulau Neira, Pulau Ay, Pulau Rhun, Pulau Hatta, Pulau Syahrir, Pulau Manukang, Pulau Kurukan, Pulau Nailoka dan Pulau Kapal. Termasuk Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Ibukota Kecamatan ini adalah Kota Banda Neira di Pulau Neira.
Kepulauan Banda dikenal sejak lama, disebut dalam Buku Nagarakertagama dengan nama Wanda sebagai penghasil rempah-rempah pala dan fuli (lapisan antara kulit dan biji pala). Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang menyinggahi Banda untuk membeli rempah-rempah tersebut pada awal tahun 1512. Mereka datang ke Banda dipandu oleh para mualim Melayu yang berlayar menyusuri Jawa, Sunda Kecil (NTB dan NTT sekarang) terus menuju Maluku. Mereka rupanya lebih tertarik pada cengkeh daripada pala dan fuli, sehingga mereka kemudian lebih memfokuskan perhatiannya di Maluku Utara. Maka tak mengherankan bahwa di Maluku Utara, khususnya di Ternate dan Tidore peninggalan mereka berupa benteng dan lain-lain masih dapat disaksikan.
Warisan Budaya
Lepas dari masa eksploitasi Belanda VOC dan NHM (Nederlandsch Handel Maatschappy) di Kepulauan Banda, kini kita mempunyai warisan budaya dari mereka. Bentuknya berupa bangunan benteng, rumah-rumah bekas para tuan lokal, maupun rumah yang pernah ditempati oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional selama enam tahun dalam pengasingannya. Beberapa peninggalan tersebut telah dipugar oleh pemerintah, yang telah siap dipasarkan sebagai objek pariwisata di kawasan Indonesia Bagian Timur (IBT).
Benteng Nassau
Didirikan di atas pondasi yang urung dibangun oleh Portugis tahun 1609. Oleh Belanda kemudian didirikan benteng pada 1617 yang diberi nama Benteng Nassau. Kini tinggal sisa-sisanya. Benteng dikelilingi parit sebagai pengaman. Dalam sejarahnya dalam benteng ini pernah dilakukan masakre 44 orang kaya (tuan-lokal) pada 8 Mei 1621 oleh Gubernur Jan Pieter Zoon Coen. Lukisan peristiwanya ini tersimpan pada Rumah Budaya Banda milik Des Alwi.
Benteng Belgica
Terletak di suatu bukit, mulai dibangun pada 1611 oleh Pieter Both, diperbesar tahun 1622 oleh J.P. Coen. Tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 oleh Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum diperintahkan agar benteng ini dipugar. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis dan untuk memasukinya harus dipergunakan tangga yang aslinya berupa tangga yang dapat diangkat (semacam tangga hidrolik). Tahun 1991 benteng ini dipugar secara keseluruhan dengan bantuan Dephankam yang menghabiskan dana hampir setengah miliar rupiah. Benteng Belgica kini siap untuk dikunjungi wisatawan. Menurut beberapa turis mancanegara, Benteng Belgica merupakan benteng yang paling indah di antara benteng-benteng lainnya yang dibuat oleh Belanda.
Istana Mini
Masyarakat Banda menyebut bangunan ini sebagai istana mini (mirip Istana Merdeka di Jakarta) walaupun yang terakhir ini dibangun belakangan. Dahulu kompleks bangunan ini merupakan tempat tinggal para pejabat VOC, NHM dan Kontrolir yang sekaligus sebagai gudang tempat penyimpanan rempah-rempah sebelum dikapalkan menuju Eropa dan didirikan tahun 1622. Para kontrolir yang pernah menempati bangunan tersebut antara lain Van Kotte, Kaufman, Wenterwert.
Gereja Kuno
Gereja ini tidak mempunyai nama khusus sebagai pelindungnya, merupakan tempat beribadat umat Kristen Protestan. Dibangun dari tanggal 20 April 1873 hingga 23 Meri 1875 oleh Mauritz Vantzius dan Johan Wilhelm Hoeke, pendeta di sana, dibangun di atas bekas pemakaman orang Belanda dan Inggris. Jirat-jirat mereka dari batu granit yang berukuran 1,5 x 2,5 m kini berfungsi sebagai lantai gereja. Nama-nama mereka masih dapat dibaca pada setiap jirat. Dalam gereja ini masih disimpan dua gelas perak yang dibuat tahun 1635 yang masih dipergunakan sebagai tempat anggur pada waktu kebaktian dan satu piring perak juga dibuat tahun 1635 yang berfungsi sebagai tempat roti perjamuan.
Rumah Pengasingan Bung Hatta
Rumah ini pada 11 Februari 1936 hingga 31 Januari 1942 ditempati Bung Hatta sewaktu pengasingan di Banda. Bekas rumah yang ditempati oleh Sutan Syahrir dan Dr. Cipto Mangunkusumo kini telah hancur. Tokoh lain yang pernah diasingkan ke Banda adalah Syarifudin Prawiranegara.
Peninggalan-peninggalan lain Benteng Hollandia di Pulau Lontor dan Benteng Revenge di Pulau Ay kini tinggal sisa-sisanya. Beberapa bangunan rumah yang sangat indah telah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk diambil kerangka besinya. Pohon-pohon kenari yang besar yang ditanam di sisi kiri-kanan jalan juga telah habis ditebang, sehingga terkesan Kota Banda Neira semakin gersang.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
http://www.lintas.me/go/wisata-kami.blogspot.com/Peninggalan_Sejarah_dan_Purbakala_di_Kepulauan_Banda/1/
Adpenturz January 30th, 2012, 05:57 PM Kepulauan Banda
Wisata Alam – Kepulauan Banda – Provinsi Maluku
Kepulauan Banda terdiri dari sepuluh pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda, ±140 km sebelah selatan Pulau Seram dan 2.000 km sebelah timur Pulau Jawa. Kepulauan seluas 180 km² ini termasuk dalam wilayah Provinsi Maluku. Kota terbesarnya, Bandanaira, terletak di pulau dengan nama yang sama. . Hingga pertengahan abad ke-19, Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah pala. Kepulauan ini populer bagi penggemar selam scuba dan snorkeling.
Tepi dermaga laguna terlihat air laut sebening kaca memantulkan refleksi violet, biru dan magenta dari langit pagi ,Sementara di bibir puncak gunung , masih tampak terlihat bongkahan batu dan tanah tanah hitam sisa sisa erupsi . Benar benar sebuah pemandangan yang indah dan fantastis Sesekali melintas nelayan dengan perahu kecilnya sambil berdendang .
Berpetualang di kepulauan eksotik yang pernah didatangi para selebritis dunia seperti Princess of York, Sarah Ferguson sampai Mick Jagger. tidak begitu mudah Penerbangan dari Ambon dilanjutkan dengan kapal Pelni tidak menentu atau boat carteran
Dari Bandara menuju pelabuhan Tuluhatu di teluk Ambon, Bulan baik mengunjungi pulau Banda adalah bulan April – May atau September sampai November, dimana cuaca bersahabat dan laut sangat tenang. Di luar bulan bulan tersebut, musim barat membuat laut Banda menjadi sangat berbahaya untuk diarungi dengan kapal kapal kecil.
Setelah 7 jam mengarungi laut lepas, terlihat mulai ada burung burung berterbangan, dan itu artinya sudah dekat dengan daratan. Ternyata tak berapa lama terlihat dikejauhan sebuah sosok samar daratan. bersamaan dengan mulai terbenamnya matahari di ufuk barat. Tepatnya 9 jam perjalanan, kapal boat merapat di dermaga Maulana Hotel, Banda Neira
Pukul 6 pagi diringi, dengan suara suara burung tampak bangunan hotel lama bertingkat sederhana model spanyol, dengan sebuah pohon kenari raksasa di depan serambi hotel, tepat menghadap laguna teluk Banda dan diseberangnya berdiri kokoh sebuah gunung berapi setinggi 1000 meter, yang disebut Gunung Api.
Jarak dari teras hotel menuju tepi dermaga laguna hanya sekitar 6 meter, tampak air laut sebening kaca memantulkan refleksi violet, biru dan magenta dari langit pagi ini Sementara di bibir puncak gunung , masih tampak terlihat bongkahan batu dan tanah tanah hitam sisa sisa erupsi
Hotel Maulana terletak di Naira, di pulau Banda kecil yang pernah menjadi incaran pedagang seluruh dunia abad pertengahan. Kilas balik sejarah menjelaskan ketika armada, conquistador Alfonso de Alburqueque dari Portugis menaklukan Malaka tahun 1511 yang menjadi pusat perdagangan rempah rempah dunia. Ia sudah mempersiapkan ekspedisi besar ke Maluku dan Banda Neira, sebagai pusat produsen rempah rempah dunia. Dengan bantuan penunjuk jalan dari Malaka, armada Portugis bisa mencapai Banda Neira pada tahun 1512 – 1514, sampai akhirnya terusir oleh armada VOC. Berjalan jalan di Banda Neira membangkitkan kenangan akan situasi kehidupan kolonial jaman dahulu. Hampir seluruh rumah rumah atau gedung gedung berarsitektur kolonial terawat dengan baik, dan masih dipakai sampai sekarang
Sudut sudut kota, jalanan serta bangunan yang ada tetap merefleksikan kehidupan yang sama ratusan tahun yang lalu. Masjid yang dipakai oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di masa pembuangan mereka di pulau ini, masih terus dipakai oleh masyarakat sana. Demikian pula gedung atau rumah peninggalan kolonial yang kini dipakai menjadi kantor, sekolahan serta hotel hotel kecil disekitar Banda Neira.
Petualangan penyelaman di salah satu dive spot terbaik di dunia. Kepulauan Banda memang terkenal dengan keindahan hayati alam bawah lautnya serta terumbu karang yang mempesona. Memang, akibat letusan gunung Api telah merusak sebagian sisi terumbu karang Pulau Banda Besar. Namun menurut penilitian dari UNESCO, akibat fenomena ini justru pertumbuhan terumbu karang di tempat ini paling cepat didunia. Jika di tempat lain, terumbu karang bisa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh dewasa. Di Pulau Banda Besar hanya membutuhkan waktu tidak sampai sepuluh tahun. Menyelam di kepulauan Banda memang menakjubkan, clear visibility bisa sampai mencapai 40 meter saat itu membuat pemandangan alam bawah laut bisa terlihat dengan jelas
Hampir seluruh area penyelaman di Pulau Banda Besar,Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Hatta dan Pulau Sjarir sampai di dermaga Banda Neira memiliki pesona dan keanekaragaman alam bawah laut yang tak mungkin dilihat di tempat lain di dunia. Mata kami benar benar dimanjakan dengan warna warni terumbu karang dan soft coral yang sehat. Belum lagi dengan ikan ikan yang dengan eloknya berkeliling berdekatan tanpa menghiraukan kehadiran kami. Sesekali sekelompok lumba lumba menemani sambil melompat di sisi kapal boat yang membawa kami menuju titik titik penyelaman di kepulauan Banda.
Perjalanan antara titik penyelaman yang satu sama lain, tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh antara 30 menit sampai 1,5 jam dengan kapal boat. Istirahat makan siang biasanya kami mencari pantai pantai kosong yang tersebar diseluruh kepulauan, untuk menyantap hidangan rantangan yang kami bawa dari Hotel. Sungguh terasa nikmat duduk menikmati makan siang diatas pasir putih yang lembut sambil menghadap air laut yang jernih. Sesekali memtik buah kelapa dari atas kapal . Dalam penyelaman di sekitar Pulau Hatta, dapat ditemukan hutan sea fans ( seperti kipas cemara ) raksasa yang terhampar di kedalaman 20 meter. Jelly fish atau ubur ubur raksasa. dan iring iringan ratusan school of jack fish yang biasa disebut ikan kuwe, yang bergerak elok dalam satu rombongan menuju kedalaman
Berkunjung ke museum budaya . Disini kita bisa melihat catatan sejarah yang ada. Barang barang peninggalan VOC, serta yang menarik adalah lukisan lukisan mengenai situasi jaman tersebut. Tepat di tengah ruang utama museum, tergantung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian 44 orang terpandang dari Banda. Mereka biasa disebut dengan orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke benteng Fort Nassau. Kemudian di depan anak istri serta keluarganya, semua orang terkemuka di Banda tersebut dibantai secara kejam oleh algojo algojo Samurai yang disewa dari Jepang !.
Setelah VOC menancapkan kuku monopoli perdagangan, mereka membangun sebuah peradaban baru di Banda Neira yang nantinya akan merupakan blue print pembangunan kota Batavia kelak. Istana Merdeka di Jakarta yang menjadi tempat tinggal Gubernur Jendral Hindia Belanda,mencontoh replika gedung Istana mini yang masih berdiri di Banda Neira. Demikian pula gereja Immanuel di depan stasiun gambir memiliki arsitektur yang sama dengan gereja di sini yang sayangnya telah dirusak oleh massa pengungsi kerusuhan Ambon beberapa waktu yang lalu. Kalau kita memperhatikan sudut sudut kota tua di Jakarta, akan sama juga dengan komposisi sudut bangunan dan jalanan di sana. Saya membayangkan bahwa tempat ini sangat cocok untuk pembuatan syuting syuting film mengenai era kolonial, karena struktur bangunan dan kotanya yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang
Benteng VOC, Fort Belgica yang dibangun diatas sebuah bukit, dan bisa ditempuh hanya setengah jam berjalan kaki dari hotel Maulana. Mengagumkan sekali pemilihan letak posisi benteng tersebut, karena dari puncak benteng kita bisa melihat ke arah laut dari segala sisi pulau. Ini memudahkan VOC untuk mengawasi kapal kapal yang keluar masuk Banda pada masa itu. Rumah rumah yang dahulu ditempati Bung Hatta dan Sutan Sjahrir masih terawat dengan baik, berikut dengan barang barang peninggalan mereka. Dari mesin tik yang mereka pakai saat itu, sampai ruangan kelas di belakang rumah, tempat Bung Hatta mengajar terhadap anak anak Banda.
Menjelajah alam bawah airnya yang mempesona, serta menikmati sisa sisa kehidupan masa silamnya yang eksotis. Perkebunan pala dan kenari. Perjalanan masuk menembus hutan pala sangat mengasyikan, udara segar dan suara burung kakak tua terdengar di kejauhan. tampak pohon berusia ratusan tahun, yang menjadi saksi sejarah perdagangan rempah rempah.
Menyelam di dermaga pada sore hari yang dipenuhi oleh ikan ikan Mandarin berwarna corak kemerahan. diserta anak anak penduduk yang bermain dan berenang di tepian yang rutin sejak ratusan tahun lalu.
http://wisatamaluku.wordpress.com/wisata-provinsi-maluku/kepulauan-banda/
Adpenturz January 30th, 2012, 05:59 PM The Banda Islands : Eastern Indonesia's Best Kept Secret
http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/poi/bandaisland%20%281%29.jpg http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/poi/bandaisland%20%282%29.jpg
http://www.indonesia.travel/en/destination/403/the-banda-islands
Adpenturz January 30th, 2012, 06:04 PM Banda Island
http://touristspot.ruvenga.com/wp-content/uploads/2011/07/banda-island.jpg
The Banda group, about 160 kilometers southeast of Ambon, consists of three larger islands and seven smaller ones, perched on the rim of Indonesia’s deepest sea, the Banda Sea. Near Manuk Island, the water reaches more than 6,500 meters depth. Of the three biggest islands Banda, Banda-Neira and Mount Api, the first two are covered with nutmeg trees and other vegetation. The third however, is entirely bare and highly volcanic. The last eruption of Mt. Api occurred only a few years ago. The seas around Banda are the sites of the famous Maluku sea gardens with their bright corals and colorful fish darting through the crystal-clear waters. Facilities for sightseeing, snorkeling and skin-diving are available, as well as clean, comfortable cottages.
Banda saw some of the bloodiest episodes of Maluku’s past history during the 17th century. In 1609, the Dutch East Indies Company (VOC) dispatched Verhoeff to the islands to obtain the contested spice trade monopoly at any cost. Confronted by a superior power, people Banda were forced to allow the company to establish a fort, but in that same year Verhoeff was killed together with 45 of his men. The Company retaliated, but peace was not restored. In 1619, V.O.C. Governor-General Jan Pieterszoon Coen arrived at the head of a penal expedition and exterminated the entire population of Banda. The land was divided into lots, called “perken”, and given to former company employees, the “perkiniers”, who were obliged to grow nutmeg and sell them at predetermined prices to the company. Slaves did the actual work in the fields. The old “perkenier houses”, or what is left of them, and old churches still retain a peculiar colonial character to the port town of Bandaneira today. Two old forts Belgica and Nassau are inside the town limits. Others are found elsewhere on the islands. See also the former Dutch Governor’s mansion, the History Museum in Neira, and the huge nutmeg plantation nearby.
Sumber : http://touristspot.ruvenga.com/banda-island.html/#more-1444
Adpenturz January 30th, 2012, 06:14 PM Banda Islands, the beauty of Eastern Indonesia
Posted by Eksi Romiasih on 12/01/2011 07:24:00 PM
Posted under : Excotic Island, Maluku
There have been many who know the beauty of the islands of Banda and I became ever 2 times creating a post on the island of Banda is about Sail Banda 2010. Banda Islands is one of the islands in Indonesia that is still natural but save a lot of the charm of an unspoiled natural beauty and culture so as if the world is like a hidden paradise.
Previously, in the Dutch colonial period in Indonesia, the island is also an island that was colonized by the Dutch and until the mid-19th century had become the only source of nutmeg spice in the world. As an island that once colonized by the Dutch, it would not be surprised if the houses are still found relics of the Dutch colonial era and because of the Banda Islands is one of the remote areas in Indonesia, then the houses are still preserved.
http://3.bp.blogspot.com/-Ab3nmPhKcx8/TteC8zMwRQI/AAAAAAAABCM/Kmqhwbf1ICg/s1600/map-banda-islands.gif
http://1.bp.blogspot.com/-cUc_AgYPXkM/TteCrK56pEI/AAAAAAAABBE/Smiwg-PGwuE/s1600/9216_138172543025_138096473025_2579008_2006307_n.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-wvLmvI6bKS4/TteCnLEUvyI/AAAAAAAABA8/MXVgmbw76P0/s1600/9216_138172443025_138096473025_2578990_4422618_n.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-Db6QMae3gFo/TteCvWzyC1I/AAAAAAAABBU/FNZmIpju9U8/s1600/banda+neira+fortress.jpg
Sumber : http://www.anjieya.com/2011/12/banda-islands-beauty-of-eastern.html
Adpenturz January 30th, 2012, 06:27 PM The Banda Islands - Maluku - Indonesia
http://img38.imageshack.us/img38/250/0858bandaislands6033020.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/38/0858bandaislands6033020.jpg/)
The Banda Islands (Indonesian: Kepulauan Banda) are a volcanic group of ten small volcanic islands in the Banda Sea, about 140 km south of Seram island and about 2000 km east of Java, and are part of the Indonesian province of Maluku. The main town and administrative centre is Bandanaira, located on the island of the same name. They rise out of 4–6 km deep ocean and have a total land area of approximately 180 km². They have a population of about 15,000. Until the mid 19th century the Banda Islands were the world's only source of the spices nutmeg and mace, produced from the nutmeg tree. The islands are also popular destinations for scuba diving and snorkeling.
Banda Ecoworld :
The Old Naira Town
Naira town is very different from it was in the old 17th, 18th and 19th centuries. The offices of the controleur and the houses of the perkeniers are mostly in ruins today. These buildings have no longer the original huge paving slabs, polished marble, brightly glazed floor tiles, heavy beams, and large shuttered doors and windows. These marble tiles and other home and office furniture are brought from Holland and functioned as ballast on the ship sailing to Banda. These ships returned to Holland laden with spices (cloves, nutmeg, and mace) as trade commodities which also functioned as ballast. Once there was a proper gravel roadway shaded by trees which enriched the beauty of the town of Naira. The trees were cut down in the 1960s, leaving only the trees grew in the residential yards
The Perken
The Banda Archipelago was the original product center of the world-renowned spices, the nutmeg and mace. When the Dutch took it over by force from the Portuguese, they established their perken, the so-called nutmeg-plntations all over these islands. There are about 68 perkens on these islands: 3 are found on Naira Island, 34 on Lonthoir or Banda Besar, and 31 on Ay islet. Before, during and after the Banda massacre in 1621, the original inhabitants of the Banda Islands fled to Seram, Kei and other islands. The Dutch then brought in people from Java, South Sulawesi (Buton) and Central Maluku to work as farmers, picking and collecting, peeling and sorting, drying and loading the nutmeg and mace, under the supervisions of Dutch Perkeniers. Photo courtesy of Kai Muiier So the present day inhabitants of the Banda Islands are a mixture of Dutch, Javanese, Butonese and Central Malukan ancestry. There are still nutmeg trees of over two centuries old which are still producing. These nutmeg plantations on the Banda Islands are still to be seen, some are planted among the tall canary trees to shade and protect the nutmeg trees from the sunrays. Most of these nutmeg plantations are still productive and managed by P.T. Perkebunan Pala Banda. lonthoir Island or also known as Banda Besar, is the largest island in the Banda Islands (appr. 2.800 ha.). It looks like a great wall hiding and protecting the Naira and Gunung Api Islands from the south*eastern winds and waves. This island also has many attractions to offer to the visitor, among others:
Banda Island's Volcanoe
One can reach this islet only in 5 minutes by canoe, from Naira. The top of Banda's active volcano is appr. 600 meters above the sea level. Best for those, who like hiking. From the top, you'll have a very nice view of Naira and the surrounding islands. The last volcano eruption was on May 9, 1988. It forced the inhabitatnts of Naira and Lonthoir islands to evacuate. The ash covered the sky for about one week, and even the Ay Island was invisible.
Recreational & Leisure :
Ay Island
This is a tiny islet between the volcano and Run islets. You'll pass this islet if you travel to Run. Certain parts of the shoreline have beautiful white sandy beaches. Cup-shaped sponges, coral trees, ferns, etc are located off the drop*off. A nice spot for snorkeling and scuba diving.
Run Island
The underwater world of Run Islet is an ideal spot for snorkellers, professional as well as amateur divers or just hobbyists. A very exciting array of marine life on the ledge between the lagoon and the drop-off invites the divers to experience the natural underwater world of this spot. A lush carpet of living organisms not found anywhere else awaits the divers.
One may take a public boat from Ay. There is no public boat from Naira to Run, so one must hire a boat from Naira.
Nailaka Island
Nailaka is situated at the northern most tip of Run Islet. To get to this spot, you have to rent a boat from Naira. This Islet has a beautiful white sandy beach. This is the place in the Banda Islands for recreation, fin swimming, snorkeling and diving. The reef organisms cling to the steep wall and one can see the huge colourful gorgonia fans. An ideal spot for scenic divers and underwater photo*graphers.
Hatta Island
Hatta is situated just on the other side of Lonthoir Island. Lonthoir, Naira, and the Volcano islet are located between Ay and
Hatta islets. Around this islet there are living corals, and white sandy beaches.
Saaru (Hatta Islet)
Saaru is the Ambonese term for reef. This Saaru referred to the reef of Hatta Islet as one is heading south east from Banda Besar. There are various corals with exotic views of a steep underwater wall for scuba divers and snorkellers.
Source: disbudparmaluku.org
http://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?361-The-Banda-Islands-Maluku-Indonesia
Adpenturz January 30th, 2012, 06:30 PM http://lh3.ggpht.com/-rJrhDIxiTFA/S0BZRijAPCI/AAAAAAAACF4/Q8eF5BpZIPg/3791.jpg
http://picasaweb.google.com/lh/photo/MqCF4g1dfP3OmBuakEoziw
Adpenturz January 30th, 2012, 06:32 PM http://4.bp.blogspot.com/-JPWSd6oEtdQ/Ta3CTIxcrUI/AAAAAAAAAEI/Ppqdwkhute0/s1600/2.jpg
Sumber : http://www.indonesia-tourism.com/for...luku-Indonesia
Adpenturz January 30th, 2012, 06:40 PM http://24.media.tumblr.com/tumblr_lp4smkukih1qc1qyjo1_500.jpg
http://givemeka.tumblr.com/post/8425443563/beingindonesian-mount-api-banda-besar-island
boxcity January 31st, 2012, 12:44 AM Wow keren bgt. Congrat untuk thread barunya...
Adpenturz January 31st, 2012, 01:02 AM Wow keren bgt. Congrat untuk thread barunya...
Ini Thread lama Bro...dari 27 November 2010, dibuat Bro @b1, cuma baru diupdate...btw Banda memang indah...:cheers:
boxcity January 31st, 2012, 01:29 AM Wah bgtu ya, sorry soalnya ol nya lewat hape. Kirain thread baru. Bener Banda memang indah. Pernah lihat ditv, keren bgt ya. Ayo posting lg pic2 Bandanya :)
@b1 January 31st, 2012, 02:13 AM Ane sengaja buat thread ini agar kepulauan banda makin terkenal. Dahulu kepulauan Banda sangat terkenal di dunia, bahkan artis macam Mick Jagger pun pernah ke Banda. Sekarang kepulauan Banda terkubur begitu saja. Berbeda halnya dengan Bali yang sangat tersohor di seluruh dunia. Semoga kepulauan Banda kembali menjadi primadona dunia bahkan pulau Bali generasi kedua.
Adpenturz January 31st, 2012, 06:51 AM Ane sengaja buat thread ini agar kepulauan banda makin terkenal. Dahulu kepulauan Banda sangat terkenal di dunia, bahkan artis macam Mick Jagger pun pernah ke Banda. Sekarang kepulauan Banda terkubur begitu saja. Berbeda halnya dengan Bali yang sangat tersohor di seluruh dunia. Semoga kepulauan Banda kembali menjadi primadona dunia bahkan pulau Bali generasi kedua.
:okay: Bro
Pulau Banda salah satu surga tropis...:)
kang rey January 31st, 2012, 02:13 PM nice pic
Adpenturz January 31st, 2012, 05:48 PM http://4.bp.blogspot.com/_JZILJEVgf2o/TFo54Mp79yI/AAAAAAAAABI/HnfpEgADrF8/s1600/Resize+of+lautbanda.png
Sumber :http://fairzwaalbana.blogspot.com/2011/02/laut-banda.html
http://www.indocruises.com/images/banda-sea-dive-photos-04.jpg
Sumber :http://www.indocruises.com/scuba-dive-charters-banda-sea-indonesia.htm
http://www.visualphotos.com/photo/1x6754289/Indonesia_Banda_Sea_Misool_Islands_view_from_above_10779-90011-31.jpg
Indonesia, Banda Sea, Misool Islands, view from above of woman snorkeling over shallow reef, island in background
Sumber :http://www.visualphotos.com/image/1x6754289/indonesia_banda_sea_misool_islands_view_from_above
Adpenturz January 31st, 2012, 06:13 PM Surga di Banda Neira
Cantiknya pulau-pulau di Indonesia timur memang sangat terkenal hingga mancanegara. Sebuah pulau yang terletak di bagian tenggara pulau Ambon, yaitu pulau Neira adalah salah satunya. Kekayaan alamnya berupa buah pala membuat para penjajah mendatanginya.
Pulau ini termasuk dalam Kepulauan Banda dan hanya terdapat satu kota di kepulauan tersebut, yaitu Banda Neira. Untuk dapat mencapainya memang membutuhkan waktu cukup lama, tetapi itu semua akan terbayar saat melihat keindahan pulaunya.
Kota Banda Neira ini tidak terlalu luas. Anda bisa mengitari pulau dengan naik becak, perahu atau ojek. Sambil menikmati keindahan pulau, ada beberapa tempat sejarah yang wajib didatangi salah satunya adalah Istana Mini Banda Neira.
http://mudahmenikah.files.wordpress.com/2010/07/mm_extra_05.jpg
Istana tersebut merupakan tempat tinggal Gubernur Jendral VOC JP. Coen. Bentuk istana tersebut ternyata merupakan cikal bakal bentuk Istana Negara yang ada di Jakarta. Dilihat dari depan, memang sama dengan bentuk Istana Negara tetapi versi mini.
Berlanjut ke tempat bersejarah lainnya, yaitu rumah pengasingan Bung Hatta. Rumah ini masih dilengkapi meja, tempat tidur, mesin ketik dan barang-barang asli lainnya. Dari luar tampak kecil, tetapi di dalamnya cukup luas. Bahkan terdapat sekolah kecil di mana bung Hatta pernah mengajar anak-anak setempat. Salah satu muridnya adalah anak angkatnya yang merupakan sejarawan dan mantan diplomat Indonesia, Des Alwi.
http://mudahmenikah.files.wordpress.com/2010/07/mm_extra_11.jpg
Tidak jauh dari rumah tersebut, terdapat benteng Belgica. Hanya membutuhkan waktu 10 menit dengan berjalan kaki ke benteng tersebut. Benteng pertahanan peninggalan Belanda ini hanya memiliki satu pintu masuk yang menghadap selatan. Bagian dari benteng ini yang harus dikunjungi adalah bagian paling atas yang merupakan steling atau tempat peletakan meriam dan masih terdapat meriam tua di dalamnya.
Dari atas benteng, mata dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa. Sekeliling pulau bisa terlihat, termasuk gunung vulkanik di seberang pulau. Udara sejuk juga membuat betah berlama-lama di atas benteng.
http://mudahmenikah.files.wordpress.com/2010/07/mm_extra_06.jpg
Lalu, tempat selanjutnya yang wajib dikunjungi adalah Hotel Maulana yang pemandangannya paling indah sepulau Banda. Letaknya sangat pas, Anda bisa melihat gunung vulkanik dari dekat yang dibatasi laut sambil melihat kapal berlalu-lalang. Di pinggiran hotel yang langsung menghadap ke laut, dengan air laut sangat jernih, juga membuat mata bisa menikmati lincahnya gerakan ikan-ikan yang bersembunyi di balik karang-karang berwarna-warni.
Surga bawah laut itulah sebutan yang banyak dikatakan oleh para penyelam. Tidak heran jika spot penyelaman di laut sekitar pulau Banda menjadi impian dan incaran banyak penyelam dari seluruh dunia. Tanpa menyelam saja mata sudah bisa menikmati keindahan karang-karangnya. Airnya seperti kaca terang yang berfungsi ‘memamerkan’ keindahan di dalamnya.
http://mudahmenikah.files.wordpress.com/2010/07/mm_extra_12.jpg
Meskipun memiliki pemandangan yang luar biasa hotel milik Des Alwi ini jauh dari kesan mewah. Bangunannya sangat tua dan sederhana. Di sinilah Des Alwi tinggal menghabiskan masa tuanya. Tidak heran ia tampak sehat di usianya yang sudah 83 tahun karena tinggal di daerah ‘surga dunia’. Bahkan ia menyebutkan Banda adalah kepanjangan namanya.
“Banda itu adalah singkatan. Bantuan Des Alwi,” katanya sambil tertawa. “Tokoh-tokoh pendiri negara pernah dibuang ke sini. Seperti Hatta, Syahrir, Iwa Kusumasumantri dan masih banyak lagi. Bisa dikatakan Indonesia berawal dari Banda,” ujar beliau menceritakan.
http://mudahmenikah.files.wordpress.com/2010/07/mm_extra_14.jpg
Warga setempat juga sangat ramah terhadap wisatawan. Mereka sangat ingin pulau tempat mereka tinggal lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan bukan hanya asing tetapi juga dari Indonesia sendiri. Menurut mereka selama ini lebih banyak wisatawan asing yang datang daripada wisatawan lokal.
“Tolong ceritakan bagaimana keindahan pulau ini. Ajak teman-temannya kemari agar bisa melihat keindahan pulau Banda,” kata salah satu warga.
Transportasi memang masih menjadi kendala untuk dapat mengunjungi pulau Banda. Untuk mencapainya ada dua jalur yang dapat dipilih yaitu jalan laut atau udara. Membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari bandara Pattimura, Ambon, jika menggunakan pesawat perintis.
Lalu, jika menggunakan kapal laut menghabiskan waktu sekitar enam jam. Untuk menggunakannya pun harus mengecek dulu jadwal keberangkatan. Karena jadwal kapal laut dua minggu sekali dan pesawat perintis satu minggu sekali.
Meski cukup terpencil, tetapi pertimbangkanlah pulau Banda untuk menjadi tempat liburan Anda. Dijamin Anda pasti akan jatuh cinta dibuatnya. Surga di Banda Neira – VIVAnews
Sumber :http://mudahmenikah.wordpress.com/2010/07/29/surga-di-banda-neira/
Adpenturz January 31st, 2012, 06:16 PM http://3.bp.blogspot.com/-iTO1hCt2rmc/TiiymE8rnZI/AAAAAAAACBM/BhWlRVcG0jI/s1600/bandaneira.jpg
Sumber : http://versesofuniverse.blogspot.com/2011_07_22_archive.html
Adpenturz January 31st, 2012, 06:18 PM Deperately seeking Mermaid
http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/iman84/content/content-459-20080928-6-31-72/large/deperately-seeking-mermaid_459_l.jpg
Descriptions:
Liveaboard dive expedition from Banda Neira
Sumber : http://www.pasarkreasi.com/content/detail/photography/459/deperately-seeking-mermaid
Adpenturz January 31st, 2012, 06:28 PM http://touristspot.ruvenga.com/wp-content/uploads/2011/07/banda-island.jpg
http://touristspot.ruvenga.com/tag/banda-neira/
Adpenturz January 31st, 2012, 06:36 PM Travelling to Banda Naira Island I
http://2.bp.blogspot.com/-iE-9xUp82W8/TcKZ6N2R4eI/AAAAAAAAAbI/6Rh1-UHEjF4/s1600/Fort%2BBelgica%2Bon%2BBanda%2Bneira%2Bislands.jpg
Banda Naira A Spice Island Teeming With History
by Sari Widiati (around-indonesia-asia.blogspot.com)
The island's beauty has attracted notables such as Mick Jagger, Francis Ford Coppola and Sarah Fergusson.
When the Portuguese landed at Banda in 1611, they thought they were the first to discover the Spice Islands. Actually, the Moros had been trading there for over a hundred years. And like the Portuguese, when the Moros first set foot on Banda, they thought they were the first ones there. But from talking with Chinese residents of Banda, they learned the Chinese had been trading at Banda for 600 years before that. This means that since the early tenth century AD, Banda Naira has attracted the world's nations to compete for nutmeg (Myristica Fragrans), the island's main commodity, which has been known since the days of the Roman Empire.
This brief excerpt is from the book "History of Banda Naira" by Des Alwi – a native son and witness to history, and the best reference to the history of these islands lying southeast of Ambon. But it's even better if you come and see for yourself, because Banda Naira is certainly worth visiting. Much of the nation's history was carved out here, and its natural beauty is breathtaking.
Other nations knew these islands in Maluku as the "Spice Islands" because they were the world's main source of nutmeg, mace and cloves (Syzygium Aromaticum). Starting in the 15th century, for four centuries the Portuguese, the British and the Dutch fought for control of the trade.
The Banda Naira island chain in the province of Maluku stretches through the Banda Sea and comprises Naira, Banda Besar, Gunung Api, Ai, Run, Hatta (Rosengain), Sjahrir (Pulau Pisang), Nailaka, Manukang (Pulau Suanggi), and Pulau Karaka. (The last three are uninhabited.) In his book, Des Alwi tells an important historic tale about Pulau Run.
On 31 December 1601, Queen Elizabeth I granted a charter to the Honourable East India Company (Gentlemen Adventurers Company Limited) for their first journey to the Moluccas. In her instructions, she declared that the United Kingdom consisted of England, Wales, Scotland, Ireland, and Run Island – Britain's first colony anywhere in the world, long before India, America or any other places in Asia.
In 1621, the Dutch defeated the British in nearly all the Banda islands, except for Run.
The Dutch wanted to completely control all the islands and expel the British. They only succeeded after persuading the British to exchange Run for a Dutch colony on the east coast of North America'– New Amsterdam, whose original Indian name was Manahatta, now better known as Manhattan, or New York City. This was finally agreed in the Breda Treaty of 1667.
You can imagine how important Run must have been in those days, though things have certainly changed. Manhattan is a world-famous metropolis with billions of dollars of transactions every hour, while Run is isolated and mostly unheard of.
http://dafidf.blogspot.com/2011/05/travelling-to-banda-naira-island-ii.html
Adpenturz January 31st, 2012, 06:37 PM Travelling to Banda Naira Island II
http://2.bp.blogspot.com/-zrNOt8N6Ohc/TcKbTA1RU0I/AAAAAAAAAbQ/mZBjL7pis0w/s1600/Banda%2BIslands%2B-%2BBanda%2BNaira%2B-%2BBanda%2BSea.jpg
Banda Naira A Spice Island Teeming With History
by Sari Widiati (around-indonesia-asia.blogspot.com)
Historic Tourist Destinations Enrich the Meaning of Life
Banda Naira, specifically Pulau Naira, was also the place of internal exile for several nationalist leaders during the Dutch colonial period. In February 1936, (later one of the co-proclaimers of Indonesia's independence) and Mohammad HattaSutan Sjahrir were transferred here from the political prison camp in Boven Digul, Papua, following Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo and Iwa Koesoema Soemantri, who had previously been exiled there.
The historical evidence of their presence is still preserved. The Banda Naira Heritage and Culture Foundation has converted their houses into museums where subsequent generations can see and feel how they lived in exile.
One tragic event in the island's history was the slaughter of 44 local notables'– referred to as Orang Kaya Banda – and hundreds of other Bandanese, led by the Netherlands East Indies Company (Verenigde Oostindische Compagnie, VOC) Governor General Jan Pieterzoon Coen on 8 May 1621. He brought in ronin, Japanese freelance samurai, to sadistically execute anyone who resisted. The Rante Monument now stands here to remind us of this brutality and their sacrifice in trying to defend the nation from colonial domination.
Near the Rante Monument, a large five-sided building stands firmly atop a hill. The Dutch used Fort Belgica, built in 1611 by Banda Governor General Pieter Bothdam, as their place of defense against attacks. This huge fortress, with towers on all sides and a wide space in the middle, contains a well that connects to Fort Nassau, on the coast not far from Belgica and built in 1609 by Admiral Verhoeven on the foundations of a Portuguese fort.
In those days, Benteng Belgica enabled the Dutch to control the entire Banda chain. Now, it's the best place on land to enjoy the impressive view of the Banda Naira islands and watch the sun set behind Gunung Api Banda.
Another obligatory part of your visit to Naira is a stop at the Istana Mini, or Miniature Palace, built between 1820 and 1824 by Dutch Controller Van Der Capallen. It served as the residence and office of the VOC Governor.
As a mark of appreciation for the services of the national leaders who were exiled here, Des Alwi has not only built museums to commemorate them; in 2002, he also founded the Hatta-Syahrir Fisheries Academy, an important step because this island region really needs people with strong knowledge of maritime affairs. Next to the school is a mosque to remember these national heroes. Des Alwi was originally planning to erect a statue of Mohammad Hatta to commemorate his services, but Hatta refused, saying, "Build a mosque to remember me."
Overwhelming Natural Beauty and Culture
The largest island in Banda Naira is the crescent-shaped Banda Besar, where there is a large nutmeg plantation and agrotourism destination.
You really must explore the islands of Banda Naira, and if you dive into their waters, you will find amazing underwater gardens of coral reefs and colorful tropical fish. This is why snorkeling and diving are so popular with tourists who visit here. Among the famous people who have explored the waters here are the legendary French diver Jacques Cousteau, Princess of York Sarah Fergusson, the rocker Mick Jagger, and film director (Apocalypse Now) Francis Ford Coppola.
It's best to stay on Naira. There's a modest hotel, the Maulana, right opposite Gunung Api Banda, where guests can enjoy the view of the mountain's greenery from their rooms. Many tourists choose to climb the volcano, which has an elevation of 670 meters. If you'd like to try, set out early in the morning. If you're in good shape, it should only take one and a half or two hours to reach the top. The volcano erupts roughly every 80 to 100 years, most recently on 8 May 1988. Gunung Api Banda contributes to Banda Naira's beauty and fertility, as well as bringing occasional disaster.
Banda Naira's culture is equally impressive. The Cakalele and Kora-Kora are phenomenal performances. The Cakalele war dance is usually performed to honor important visitors. In the past, dozens of men would take part in the dance; now it is performed by five men, each carrying a traditional weapon, as well as shields and helmets. The number five has special symbolism: Captain 1 as the master of the land, captain 2 as master of the sea, the hulubalang (commander) representing the orang kaya from the traditional villages who were murdered or exiled by the VOC, and two soldiers, called malesi. Each traditional village in Banda Naira has a different Cakalele.
The most exciting event in Banda Naira is the Kora-Kora (traditional boat) race, held twice a year. The local people are very enthusiastic about the race, and it's almost a cultural obligation to place bets on their favorites to win. Each village's Kora-Kora has a different shape and decorations, with symbols of different animals on the bow. Each Kora-Kora is around ten meters long and is rowed by a large crew with dozens of men. The Banda Naira Sea, normally so calm, becomes a tumult when the Kora-Kora race begins.
This year Banda Naira is commemorating two important events: the 400th anniversary of the VOC's arrival in the islands, and the twentieth anniversary of the last eruption of Gunung Api Banda. But it will be even more important if you include Banda Naira in your travel plans.
Things to remember
A visit to Banda Naira takes quite a long time, at least a week. First, because you need plenty of time to enjoy all aspects of its beauty, and second, because transportation is limited; there's only one flight a week, and ships come only twice a week. So plan your time well and prepare yourself for a truly memorable trip full of nature and history.
http://dafidf.blogspot.com/2011/05/travelling-to-banda-naira-island-ii_05.html
kanazef January 31st, 2012, 10:04 PM udah gak asing lagi sih..Banda..Banda Aceh..wkwkwkwkw..gak deng..becanda..serius serius. Kepulauan Banda..Bandaneira..udah gak asing lagi laut banda..sejak SD udah tau. pernah nonton di tv juga liputan tentang kepulauan banda..banda neira..! nama BandaNaira..bagus..komersil namanya.
nanti coba dibikin BANDANAIRA INTERNATIONAL AIRPORT. terus buka penerbangan Dari NARITA INTERNATIONAL AIRPORT MENUJU BANDANAIRA INTERNATIONAL AIRPORT. cocok tuh namanya NARITA DAN NAIRA.
ya udah kawinin. :lol:
Adpenturz February 1st, 2012, 06:42 AM Banda Sea 2011
by kasama9281262
http://vimeo.com/31943957
Banda Sea 2011
by kasama9281262
31943957
Adpenturz February 2nd, 2012, 03:38 PM Banda Garden Sea, Manado, Indonesia.
Banda Islands located in the Maluku (an archipelago in east Indonesia). A group of islands that became a beautiful vacation spot in the eastern islands of Indonesia. Around Banda Sea is the location of the famous Maluku sea gardens with coral reefs and colorful fishes swimming in transparent sea. For guests who will come to Banda Island, many options available for snorkeling and diving. Karaka Island, Pisang Island and Ai Island is very famous and wonderful for you who want to see the natural beauty of the sea. Facilities for diving, snorkelling and cottages are available in this place.
http://2.bp.blogspot.com/-VnoDgNKoQ80/TaWrdsQHs5I/AAAAAAAAAls/D9WlKQiEuZg/s1600/Banda-Island-coral-reef-View.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-R6Av6XluqDQ/TaWrfX5NIXI/AAAAAAAAAlw/HTuxz9l51yk/s1600/Banda-Island-Forest-View.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-O4IWRECYTPU/TaWrglQRY-I/AAAAAAAAAl0/uujKYWKaapY/s1600/Banda-Island-Fort-View.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-MyERXLDKXWU/TaWrif3nHlI/AAAAAAAAAl4/bp6Cs-mBsG8/s1600/Banda-Island-Sea-Garden.jpg
Sumber :http://suhendri-indonesiacantik.blogspot.com/2011/04/banda-garden-sea-manado-indonesia.html
Adpenturz February 2nd, 2012, 03:44 PM http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/photoessay/17_diving_banda-Island.jpg
Sumber : http://www.indonesia.travel/en/photoessay/details/post/16/various-of-indonesia-part-ii
Adpenturz February 3rd, 2012, 07:42 AM Consider nutmeg
It's the headiest and most blood-soaked of spices. How do you use nutmeg and mace?
http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2010/9/9/1284033061124/Nutmeg-006.jpg
Nutmeg and mace. Photograph: Bob Krist/Corbis
The 10 tiny Banda islands bask in the scattered, dazzled confusion of western Melanesia. There isn't much nearby. Java is 2,000km west, and other Indonesian islands are a protracted, bobbing boat trip away. An almost entirely Muslim population of around 15,000 clings to these beautiful volcanic rocks, the oceans plunging 6km beneath them. Waves lap the white beaches and sea winds buffet the palms.
If it wasn't for nutmeg, nobody would have heard of the Bandas. Nutmeg was these islands' making, breaking and remaking. The spice very likely evolved here, and for centuries this was the only place it grew on the planet. The luckless archipelago has therefore suffered an importance in wild disproportion to its size, tossed and tussled over by European powers since its "discovery" in the 16th century. Run, the smallest island, had the hardest time of it, flicking between English and Dutch control like a metronome.
Nutmeg is the rarest of spices. Its woody balls are the stones or pips of fruits that plump from the nutmeg tree, the beautifully named Myristica fragrans. You can eat the fruit, too, if you're lucky enough to get it: in Sulawesi they sugar it, then dry it in the sun so it partially ferments. It's said to taste a bit like crystallised ginger. Mace is the vividly red, lacy covering that creeps like ivy round the nutmeg stone. The trees can live to 100 and will yield up to 20,000 nutmegs a season, but that fecundity has never lowered the cost of the spice.
The history of nutmeg is remarkable and illuminating. By the sixth century, the spice had reached Byzantium, 12,000km away. Around 1,000AD, the Persian physician Ibn Sina described the "jansi ban" or Banda nut. The Arabs traded nutmeg through the dark and middle ages, latterly funnelling it through Venice to season the tables of the European aristocracy. It was always fantastically expensive: a 14th-century German price table reveals that a pound of it cost as much as "seven fat oxen".
It's no exaggeration to say that the hunt for nutmeg helped build the modern commercial world. In 1453, the Ottoman Turks conquered Constantinople (modern Istanbul), embargoing trade across the sole sliver of land through which a few merchants had evaded the Arab-Venetian spice monopoly and forcing Europeans to find new eastern trade routes. Columbus sailed the blue Atlantic looking for a passage to India; and Vasco da Gama rounded the Cape of Good Hope in 1497, his men charging on to the shores of Kerala crying, "For Christ and spices!" The Portuguese military genius Afonso de Albuquerque annexed the Indonesian Molucca islands, of which the Bandas form part, in 1511. The fortresses he built there established and then consolidated a Portuguese monopoly over the world's nutmeg that lasted almost a whole cushy century.
But nutmeg was always worth fighting for. The Dutch East India Company (VOC), that most scrupulous and fair-minded of organisations, seized all but one of the Bandas in the early 1600s, swiftly enslaving the native occupants. In 1603, the English gained a toehold in the trade by arranging to export Run's nutmeg, seemingly without force or guile. The Dutch and English then fought skirmishes, punctuated by faltering truces, over tiny Run for the next 60 years. Eventually, they settled on a compromise. The English agreed to "swap" Run for a Dutch holding in the far west, a fur trading post named Manhattan ...
The Netherlanders enforced their nutmeg monopoly with paranoid brutality, banning the export of the trees, drenching every nutmeg in lime before shipping to render it infertile, and imposing the death penalty on anyone suspected of stealing, growing or selling nutmegs elsewhere. When some Bandanese failed to appreciate the VOC's God-given right to control the nutmeg trade – it's possible the islanders hadn't understood the "contract" to which they'd "agreed" – the then head of the Company, Jan Pieterszoon Coen, ordered the systematic quartering and beheading of every Bandanese male over the age of 15. The population of the Banda islands was around 15,000 when the VOC arrived. 15 years later, it was 600.
With this militarised vision of ruthless capitalism, the VOC became the richest corporation in the world. By 1669 it was paying its shareholders an annual dividend of 40% while sustaining 50,000 employees, 10,000 soldiers and around 200 ships, many armed. The Dutch perpetuated their nutmeg monopoly by obdurate force and pathological secrecy, never revealing to traders the islands' location. Then, in 1769, the impeccably named Pierre Poivre, a kind of roving French horticulturalist somewhere between the Scarlet Pimpernel and Alan Titchmarsh, swooped on to the archipelago under the noses of the Dutch and smuggled out nutmegs and nutmeg trees. The French planted the seeds on their colony Mauritius, and the Dutch monopoly was broken.
Finally, the British occupied the islands from 1796 to 1802, and were then able to grow nutmeg in Penang and Singapore and thereafter in their other possessions. The Caribbean island of Grenada, a longstanding British colony, eventually became the world's second leading nutmeg exporter.
What made nutmeg so captivating, so costly, for so long? One factor was its sheer rarity: you can see a similar effect today in £10,000-a-kilo beluga caviar and in a few red wines glugged mainly by boorish oligarchs. But nutmeg was always more than a flavouring. In its early history, like most spices, the Arabs traded it as scent, aphrodisiac and medicine. During the Black Death, nutmeg commanded hysterical prices because desperate people believed it might ward off plague. Perhaps it did: fleas seem to dislike (pdf) the smell of nutmeg, so it's just possible that someone carrying the spice might have avoided that fatal, final bite.
But the old apothecaries were more cautious with nutmeg than with other spices. The Salerno School, the leading European medical establishment during the early Middle Ages, decreed: "One nut is good for you, the second will do you harm, the third will kill you." That isn't strictly true, but in large doses nutmeg can be intoxicating. Its oil contains myristicin: in large doses this acts as a deliriant, while causing palpitations, convulsions, nausea, dehydration and pain. It's fatal to a number of animals, including dogs.
In the appendix to Naked Lunch, William Burroughs's hilarious, spasmodic and harrowing novel of excess and ecstasy, he writes that South American "medicine men" snorted powdered nutmeg to "go into convulsive states. Their twitchings and mutterings are thought to have prophetic significance." Malcolm X described US prisoners taking nutmeg in his autobiography; the authorities soon discovered and banned the practice.
Nutmeg's hallucinogenic reputation survives, and thanks to the wonders of modern technology we can all join the most boring party in the world by watching videos of gangly teenagers trying to get high on it. Most of the time it doesn't work, but some thrillseekers report positive effects, while this gothy emo type declares woozily after his dose, "I can't really feel my heart and my back hurts a little bit." Heroin, move over.
Historically, mace was more common in cooking: it tended to be cheaper than nutmeg because it's rather more pungent, as well as easier to sell in small quantities. 16th and 17th century French flâneurs would commission engraved portable nutmeg graters: they'd bring these to dinner parties and get down to some fashionable sprinkling. But the French taste for nutmeg fell away in later centuries, and now, in that cuisine, the spice is largely restricted to white sauces such as béchamel. Thanks to Venice, the Italians still have a taste for nutmeg, particularly in Tuscany.
The Dutch, who had time to get to know nutmeg, add it to most of their vegetable dishes. It's also popular in Québec, that gastronomically forsaken province which retains a number of eating habits from 17th century France. The spice is popular in historical spheres of Moorish influence but not, oddly, in India. In England, nutmegs are essential to the spiced foods of Christmas, to custard tarts and to the mealy, stodgy brood of national puddings. It has an affinity with cinnamon and can often take its place, and I like it with – but not instead of – chocolate on a cappuccino. It's lovely in mashed potato.
Of course, the spice is almost universally available today, and not particularly expensive. Dinky, rattling jars on supermarket shelves don't begin to hint at its past, and most people grate it without a thought. But the story of food can sometimes be the story of humanity, and nowhere does that seem more true than in the case of nutmeg, the headiest, most alluring, most blood-soaked of the spices.
http://www.guardian.co.uk/lifeandstyle/wordofmouth/2010/sep/14/consider-nutmeg
Adpenturz February 3rd, 2012, 07:44 AM “Run Island” Run is one of the smallest islands of the Banda Islands which are a part of Indonesia. It is about 3 km long and less than 1 km wide. Banda Neira | Maluku - Indonesia
By: Hans J.
http://30.media.tumblr.com/tumblr_likogomZne1qb6ahco1_500.jpg
Sumber : http://wonderfulindonesia.tumblr.com/page/3
kanazef February 4th, 2012, 12:46 PM serius..Itu RUN island benar2 gokiiiiiiiiiiil....kapan yah bisa kesana. T_T
Adpenturz February 4th, 2012, 04:39 PM Ia Bro...dan masih banyak lagi pulau-pulau di laut Banda yang tidak kalah indahnya...masalahnya saya juga belum kesana ...:lol::lol: cuma lewat Google...
irankhomeini February 7th, 2012, 11:03 AM sdh 2x aq ke pulau banda...
masih original bangunan2nya...dan masih banyak meriam2 dipinggir jalan
cyberprince February 7th, 2012, 03:14 PM dulu pernah ke Banda... suasananya memang serasa kembali ke zaman Belanda.. terus sempat naek perahu ke gunung api.. keren banget :okay:
voxario February 8th, 2012, 05:52 AM dulu pernah ke Banda... suasananya memang serasa kembali ke zaman Belanda.. terus sempat naek perahu ke gunung api.. keren banget :okay:
udah pernah ke puncaknya atau blm bro? :)
Adpenturz February 8th, 2012, 06:57 AM sdh 2x aq ke pulau banda...
masih original bangunan2nya...dan masih banyak meriam2 dipinggir jalan
dulu pernah ke Banda... suasananya memang serasa kembali ke zaman Belanda.. terus sempat naek perahu ke gunung api.. keren banget :okay:
Wahh Bro...beruntung ya sudah pernah pergi ke Banda :)
Adpenturz February 8th, 2012, 07:15 AM Ikan Kuah Pala Banda yang Membisukan
Written By Dafi DF on Rabu, 04 Mei 2011 | 02:02
http://4.bp.blogspot.com/-09C1AfCHVSo/TcGUvxJ5iaI/AAAAAAAAAa4/uO3sr4_Ou4A/s1600/084028p.jpg
Agung Setyahadi (kompas.com)
Kata-kata sebenarnya tak cukup untuk menggambarkan kenikmatan sop ikan kuah pala, kuliner asli masyarakat Kepulauan Banda di Maluku.Saat menyeruput kuah yang gurih, sedikit pedas bercampur asam pala, kata-kata menguap meninggalkan lidah mengecap sensasi kelezatan.
Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, yang terkenal karena keindahan taman lautnya juga memiliki koleksi warisan kuliner yang lezat. Kami mencoba masakan ulang-ulang, sambal bekasang, dan sop ikan kuah pala. Buah pala rempah-rempah itulah yang menarik bangsa Eropa datang ke Banda pada awal abad ke-17.
Di meja makan disajikan pula urap daun pepaya dan ikan bakar. Minuman bisa variatif tergantung selera. Santapan khas Banda itu bisa dipesan di rumah makan Namasawar milik Fauziah Baadila di dekat Pelabuhan Naira. Masakan khas itu tidak disajikan setiap hari dan harus dipesan terlebih dahulu, misal untuk makan malam harus dipesan sejak siang hari.
Santap malam kami buka dengan ulang-ulang yang menyegarkan. Ini adalah campuran sayuran segar kangkung, kacang panjang, terong, tauge, wortel, dan mentimun. Sayuran tersebut dicampur dengan bumbu terasi, cabai ulek, kenari tumbuk, serta sedikit cuka dan garam. Bumbu dicampur dengan sayur saat akan disajikan supaya kesegaran sayuran lebih terasa.
http://1.bp.blogspot.com/-bvXcbozqfl4/TcGVLgJLtmI/AAAAAAAAAbA/9iVHoyZmidc/s1600/092005p.jpg
Ulang-ulang menggugah selera makan karena segar bercampur gurih kenari tumbuk dan sedikit rasa asam. Kesegaran sayur-sayuran mengobati lelah setelah seharian snorkeling di Laut Banda.
Ulang-ulang juga cocok disantap dengan nasi, daun pepaya, dan ikan bakar yang dicelup sambal bekasang yang dibuat dari daging ikan cakalang tumbuk. Kombinasi menu itu menghadirkan sensasi khas Banda: kesegaran sayur, gurih ikan laut dan rasa asam pedas rempah-rempah.
Sambal ”bekasang”
Sambal bekasang melengkapi sensasi pedas menggigit lidah. Lidah juga digelitik rasa asam jeruk limau dalam sambal bekasang. Asam limau selain untuk menghilangkan aroma amis ikan juga merangsang air liur agar santap tambah nikmat. Daging lembut ikan kerapu bakar dicelup dalam sambal bekasang cukup untuk menghabiskan satu bakul nasi.
Sambal bekasang istimewa karena pembuatannya membutuhkan waktu satu minggu. Untuk membuat bekasang dibutuhkan ikan cakalang yang digiling halus. Daging giling dicampur dengan garam dan diungkep selama satu minggu dan jadilah bekasang. Untuk membaut sambal bagi dua orang, cukup satu sendok adonan bekasang diulek bersama cabai sesuai selera dan perasan jeruk limau. Sambal biasanya ditambahi irisan bawang merah, tomat, dan sedikit minyak goreng supaya sedap dan gurih.
Jika lidah mulai bosan dengan sensasi bekasang, satu sendok ulang-ulang cukup mengembalikan selera makan.
Sup ikan
Sup ikan bisa disantap sebagai pembuka, tetapi kami menyantapnya sebagai penutup. Kuah pala yang menjadi kuah sop terasa sangat segar. Ada sedikit rasa asam bercampur pedas. Rasa pedasnya beda dari cabai karena ini pedas pala yang halus dan hangatnya menjalar hingga ke lambung. Sensasi rasa itu berasal dari irisan daging pembungkus biji pala dalam kuah sup.
Perut yang semula mulai kenyang menjadi nyaman oleh kehangatan pala dan rasa lapar pun kembali menjalar. Sensasi ini di luar dugaan hingga satu ekor ikan kakap merah yang berdaging lembut tersisa tulangnya saja.
”Wow... ini enak sekali sampai kita terdiam. Aku akan merekomendasikan masakan ini ke teman-temanku yang akan ke Banda,” ujar Paul Symon, kawan dari Inggris, memecah kebisuan diiringi tawa kami berdua.
Kenikmatan sup ikan kuah pala ini, menurut Fauziah, sudah dikenal sejak zaman nenek moyang. Bahkan saking lezatnya, sup ikan kuah pala selalu disajikan untuk para petinggi tentara Belanda yang datang ke Banda. Tradisi santap itu berlangsung hingga bangsa Eropa angkat kaki dari Banda.
”Kami sebenarnya punya banyak masakan khas, tetapi yang paling terkenal sup kuah pala,” ujar Fauziah.
Aneka menu kuliner Banda masih dipertahankan oleh masyarakatnya, tetapi jarang ditemui di rumah makan. Masakan khas Banda masih disajikan di rumah-rumah untuk konsumsi pribadi. Rumah makan di Naira juga tidak semuanya menyajikan masakan ini. Di buku menu makanan pun tidak terdaftar.
Kami bisa menikmati makanan khas Banda itu karena terlebih dahulu bertanya tentang makanan khas Banda ke pemilik rumah makan Namasawar.
Kuliner di Banda perlu lebih dikenalkan untuk melengkapi daya tarik pariwisata. Masakan khas Banda dengan kekuatan pada kesegaran ikan, sayuran, dan rempah-rempah bisa memikat para penikmat wisata kuliner.
Sensasi kelezatanya tidak akan terlupakan karena hanya bisa ditemui di pulau kecil di tengah Laut Banda yang berpalung dalam. Jika tertarik merasakan sensasi kuah pala, berkunjunglah ke Banda.
Resep Sup Ikan Kuah Pala
Sup ikan kuah pala pengolahannya sebenarnya mudah dan bumbunya sederhana. Kendala utama mungkin buah pala yang jarang dijumpai di pasar di luar Maluku.
Langkah pertama adalah memilih ikan segar yang akan dibuat sup. Paling mantap ikan laut seperti kerapu dan kakap merah yang dagingnya lembut dan menyerap bumbu. Setelah ikan dibersihkan dan siap diolah, siapkan bumbu, yaitu bawang merah, laos, cabai merah, dan terasi. Bumbu- bumbu diulek hingga halus.
Langkah selanjutnya merebus air, setelah mendidih masukkan bumbu-bumbu. Kemudian ikan dimasukkan bersama irisan tipis-tipis daging pembungkus biji pala. Tambahkan sedikit garam dan serai tumbuk untuk rasa dan aroma segar. Angkat setelah ikan dan buah pala matang.
Untuk variasi hidangan bisa disajikan daun pepaya yang dihilangkan rasa pahitnya. Caranya, daun pepaya direbus menggunakan air tanah liat. Setelah direbus, daun pepaya dibersihkan dan diiris-iris halus. Siapkan bumbu bawang putih, bawang merah, cabai, dan terasi kemudian digiling halus.
Daun pepaya dan bumbu ditumis di atas api kecil, tambahkan garam, kenari giling, dan setengah gelas air. Daun pepaya dibolak-balik hingga matang dan sajikan bersama sup ikan kuah pala, sambal bekasang, ulang-ulang, dan ikan bakar.
Sumber : http://dafidf.blogspot.com/2011/05/ikan-kuah-pala-banda-yang-membisukan.html
Adpenturz February 8th, 2012, 07:16 AM Edited
Adpenturz February 8th, 2012, 07:21 AM Ane sengaja buat thread ini agar kepulauan banda makin terkenal. Dahulu kepulauan Banda sangat terkenal di dunia, bahkan artis macam Mick Jagger pun pernah ke Banda. Sekarang kepulauan Banda terkubur begitu saja. Berbeda halnya dengan Bali yang sangat tersohor di seluruh dunia. Semoga kepulauan Banda kembali menjadi primadona dunia bahkan pulau Bali generasi kedua.
Halo Bro @b1, maaf kalau agak terlambat....mohon izin untuk post mengenai Banda di Thread ini ya... :) biar semakin ramai yang mengunjungi Thread ini...moga-moga berimbas terhadap kunjungan wisatawan Domestik dan Mancanegara ke Kepulauan Banda... :okay: :cheers:
cyberprince February 8th, 2012, 03:23 PM udah pernah ke puncaknya atau blm bro? :)
engga bro.. waktu itu ama keluarga cuma bermain2 air di pinggir pantainya aja. paling cuma berjalan2 disekitar pesisir. mama gw ikut rombongan jadi ga mungkin kita mendaki ampe puncak :D
btw, kalau memang kita mau ke puncak gpp ya? berbahaya ga sih? bro voxario pernah naik ke puncaknya?
Wahh Bro...beruntung ya sudah pernah pergi ke Banda :)
iya bro, pengalaman tak terlupakan. tapi agak mabok laut juga dulu ke Banda dari Ambon naek kapal laut :D gw ke Banda cuma sekali dan sampai sekarang belum pernah lagi.... pengennnnn lagiiiiii nihhh:)
voxario February 9th, 2012, 01:51 AM engga bro.. waktu itu ama keluarga cuma bermain2 air di pinggir pantainya aja. paling cuma berjalan2 disekitar pesisir. mama gw ikut rombongan jadi ga mungkin kita mendaki ampe puncak :D
btw, kalau memang kita mau ke puncak gpp ya? berbahaya ga sih? bro voxario pernah naik ke puncaknya?
Ga berbahaya koq bro, saya pernah ke sana, hujan2 sampe di puncak rebahan di batu2 sisa letusan yang masih hangat serasa sedang dipijat gimana gitu... :) bikin seger hehehehe... :nuts: di puncaknya angin sangat kencang, jadi lebih aman kita turun ke kawahnya.
ini beberapa foto hasil jepretan saya, sory hanya pake N73 :)
View dari KM Ciremai
http://img36.imageshack.us/img36/1098/300520101114.jpg
Berkabut saat mendekati Puncak :)
http://img828.imageshack.us/img828/7454/dsc04981h.jpg
At The Top
http://img220.imageshack.us/img220/424/020620101129.jpg
Dari Penginapan Bintang Laut Neira
http://img841.imageshack.us/img841/4043/300520101115.jpg
Ale Jong February 9th, 2012, 01:49 PM http://img220.imageshack.us/img220/424/020620101129.jpg
NGERI CUY !!! LANDASAN PACU-NYA DEPAN-BELAKANG GUNUNG
cyberprince February 9th, 2012, 02:48 PM OMG.... keren banget!! itu Banda Naira dilihat dari puncak gunung api ya?
thanks bro voxario :okay: :okay:
rahul medan February 9th, 2012, 07:04 PM kereenn..kereennnn.... :okay:
rahul medan February 9th, 2012, 07:06 PM btw klo dr atas gunung ini ngeliat pesawat landing dan take off pasti keren banget :master:
zippe February 10th, 2012, 01:28 AM btw klo dr atas gunung ini ngeliat pesawat landing dan take off pasti keren banget :master:
Lebih keren lagi kalo naik pesawatnya bro. Sebelum mendarat masih sempat melihat kawah gunung api... :okay:
Erran February 10th, 2012, 02:44 AM Beberapa daya tarik wisata sejarah di Banda Neira
Fort Belgica
http://farm6.staticflickr.com/5059/5561382892_01ebfe00b0_b.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5025/5560800633_5ccdbd0f77_b.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5184/5561378614_fcdd09785f_b.jpg
Fort Concordia
http://farm6.staticflickr.com/5070/5561278658_1eab3f7160_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5228/5560700301_2e4bdb348f_z.jpg
Beberapa bangunan kuno
http://farm6.staticflickr.com/5225/5561083094_8a1e4090fb_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5254/5560528695_818bff535b_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5092/5561251984_2fece14894_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5070/5561093682_0f8940f650_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5310/5560669185_e661d4192f_z.jpg
link (http://www.flickr.com/photos/21814177@N03/5561382892/)
voxario February 10th, 2012, 03:03 AM http://img220.imageshack.us/img220/424/020620101129.jpg
OMG.... keren banget!! itu Banda Naira dilihat dari puncak gunung api ya?
thanks bro voxario :okay: :okay:
betul bro, btw untuk mengambil gambar seperti ini pada saat cuaca hujan perlu kesabaran yang sangat...sangat....dan sangat...., masalahnya waktunya hanya beberapa detik saja, lama dikit sudah kabut lagi, ga akan keliatan lagi daerah di bawah itu :sad2: sekitar 20 sampe 30 menit lagi baru clear viewnya :nuts: dan waktunya juga dalam hitungan detik :shocked:
irankhomeini February 10th, 2012, 05:12 AM dsnilah asal muasal jam ayam yg ada dbuku skolah waktu sd...
Ada yg ingat ga bukux apa?
Adpenturz February 10th, 2012, 08:29 AM Wah...kerren semuanya Bro Erran... :banana::banana: Thread ini semakin hidup .....
irankhomeini February 10th, 2012, 02:16 PM dulu foto2 banda naira di laptopku banyak tp laptopku hilang...
Adpenturz February 12th, 2012, 03:27 PM Ya udah Bro...nanti kalau sempat ke Banda lagi jangan lupa dishare disini ya hasil dokumentasinya...:D
Adpenturz February 12th, 2012, 03:37 PM DSKu6X0-fl8
http://m.youtube.com/index?desktop_uri=%2F&gl=US#/watch?v=DSKu6X0-fl8
Adpenturz February 12th, 2012, 03:42 PM MLub5KxBGgk
http://m.youtube.com/index?desktop_uri=%2F&gl=US#/watch?v=MLub5KxBGgk
zippe February 12th, 2012, 05:37 PM Keren2 foto dan videonya bro adpenturz...:banana:
Ini saya tambahin foto2. ngambil dari blog orang...
Icon of Banda Naira - Fort Belgica:
http://img29.imageshack.us/img29/5189/40578818228400665801707.jpg
Pulau Karaka:
http://img215.imageshack.us/img215/5247/92311029863562663170758.jpg
Pulau Pisang:
http://img835.imageshack.us/img835/6089/39666318228449067011707.jpg
Pulau hatta - Surga Snorkling:
http://img689.imageshack.us/img689/1895/6128982676357.jpg
Sisa Letusan Gunung api:
http://img846.imageshack.us/img846/3337/61321375580volcano.jpg
http://img141.imageshack.us/img141/2223/61321375580volcanoislan.jpg
Sumber (http://blog.travelpod.com/travel-blog-entries/sonjamargarethe/6/1321375580/tpod.html#_)
Sumber (http://www.banda-naira.blogspot.com/)
cyberprince February 12th, 2012, 05:57 PM keren.... :okay:
Adpenturz February 12th, 2012, 07:24 PM :okay: banget...btw Fort Belgica mengingatkan pada Gedung Pentagon...:D
zippe February 12th, 2012, 07:35 PM ^^ Kan julukannya memang Pentagon of Indonesia bro...:cheers:
Adpenturz February 13th, 2012, 01:38 AM Oh begitu ya...baru tau...:D :D jangan-jangan Pentagon yang meniru Benteng Belgica :lol:
Adpenturz February 23rd, 2012, 04:39 PM http://3.bp.blogspot.com/-zZCpdktRlT8/TqzMyKkJauI/AAAAAAAABtI/GClsa-gRL6c/s1600/Bandaneira.jpg
http://javabackpacker.blogspot.com/2011/10/10-best-indonesia-mostly-dive-spots-you.html#axzz1nDg37fRM
Adpenturz February 23rd, 2012, 05:04 PM http://blogs.panda.org/coral_triangle/files/2009/12/D3X3895.jpg
http://blogs.panda.org/coral_triangle/files/2009/12/D3X4124.jpg
http://blogs.panda.org/coral_triangle/files/2009/12/D3X3817.jpg
http://blogs.panda.org/coral_triangle/2009/12/31/diving-banda-neira-and-seram-moluccas/
irankhomeini February 25th, 2012, 12:19 PM dopos
irankhomeini February 25th, 2012, 12:20 PM Beberapa daya tarik wisata sejarah di Banda Neira
Fort Belgica
http://farm6.staticflickr.com/5059/5561382892_01ebfe00b0_b.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5025/5560800633_5ccdbd0f77_b.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5184/5561378614_fcdd09785f_b.jpg
Fort Concordia
http://farm6.staticflickr.com/5070/5561278658_1eab3f7160_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5228/5560700301_2e4bdb348f_z.jpg
Beberapa bangunan kuno
http://farm6.staticflickr.com/5225/5561083094_8a1e4090fb_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5254/5560528695_818bff535b_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5092/5561251984_2fece14894_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5070/5561093682_0f8940f650_z.jpg
http://farm6.staticflickr.com/5310/5560669185_e661d4192f_z.jpg
link (http://www.flickr.com/photos/21814177@N03/5561382892/)
sayang kurang terawat...:bash:
Adpenturz February 25th, 2012, 03:12 PM :okay: Bro...Banda memang seharusnya lebih diperhatikan lagi oleh Pemda setempat...bahkan seharusnya diajukan untuk jadi salah satu Warisan Dunia ke PBB...:cheers:
cyberprince February 26th, 2012, 01:36 PM ^^ agree :okay:
zippe February 28th, 2012, 01:49 AM :okay: Bro...Banda memang seharusnya lebih diperhatikan lagi oleh Pemda setempat...bahkan seharusnya diajukan untuk jadi salah satu Warisan Dunia ke PBB...:cheers:
Sudah didaftar koq bro... :lol:
Kepulauan Banda terdiri dari sepuluh pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda, ±140 km sebelah selatan Pulau Seram dan 2.000 km sebelah timur Pulau Jawa. Kepulauan seluas 180 km² ini termasuk dalam wilayah Provinsi Maluku. Kota terbesarnya, Bandanaira, terletak di pulau dengan nama yang sama. Sekitar 15.000 jiwa tinggal di kepulauan ini. Hingga pertengahan abad ke-19, Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah pala. Kepulauan ini populer bagi penggemar selam scuba dan snorkeling.
Kepulauan Banda pun di daftarkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2005.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Banda
Adpenturz February 28th, 2012, 06:42 AM ok Sorry Terlambat :D Cuma sepertinya belum terpilih ya Bro...
zippe February 28th, 2012, 08:41 AM ^^ Iya bro. Sepertinya memang tidak mudah.
amatariw April 1st, 2013, 09:29 AM Ini ane tambahin beberapa foto waktu tugas ke Banda Neira
http://farm9.staticflickr.com/8380/8608264927_81883e7ee6.jpg (http://www.flickr.com/photos/94571167@N06/8608264927/)
Benteng Belgica 1 (http://www.flickr.com/photos/94571167@N06/8608264927/) by @matariw (http://www.flickr.com/people/94571167@N06/), on Flickr
http://farm9.staticflickr.com/8105/8609370516_d6d7d27659.jpg (http://www.flickr.com/photos/94571167@N06/8609370516/)
Benteng Belgica 2 (http://www.flickr.com/photos/94571167@N06/8609370516/) by @matariw (http://www.flickr.com/people/94571167@N06/), on Flickr
http://farm9.staticflickr.com/8250/8609367254_3c3208d585.jpg (http://www.flickr.com/photos/94571167@N06/8609367254/)
Istana Mini 1 (http://www.flickr.com/photos/94571167@N06/8609367254/) by @matariw (http://www.flickr.com/people/94571167@N06/), on Flickr
irankhomeini April 1st, 2013, 03:18 PM menurut saya bangunan2 msh terawat msh sama seperti 5 thun yg lalu saya kesini tdk ada yg berubah dan masih bersih tp alangkah bagusnya kalau bangunan2 yg sdh tua ini di rehabilitasi oleh pemerintah jangan sampai termakan oleh usia....
amatariw April 2nd, 2013, 04:38 AM waktu saya ke sana ada beberapa bangunan2 tua yang sedang dipugar mungkin itu efek dari Sail Banda tahun 2010 Jadi waktu ke sana bangunan2 ada beberapa yang sedang dipugar dan bangunan2 yang bernilai historis semuanya diberi plang yang baru.
|
|