View Full Version : [Indonesia] Property Market Updates


Pages : 1 [2]

hellothere123
August 29th, 2008, 09:37 PM
Berita ini gw dapet dari website ny Ciputra.. (Data 2007)

Target Lokasi Proyek Perumahan oleh Ciputra Group:

D Jakarta:

" Lokasi-lokasi proyek perumahan di seputar Jakarta yang saat ini prospektif dan cukup banyak diminati adalah kawasan Serpong, Bintaro, Cibubur, Bekasi Timur, Tambun, Ciledug, Bekasi Barat, Depok, Sentul, Bogor Utara, Karawaci, Cakung, Cileungsi, Cikarang, Cinere-Sawangan, Pamulang, Ciputat, Cipondoh, dan Cikupa. "


D luar Jabodetabek:

" Di luar Jabodetabek, kawasan pengembangan perumahan yang prospektif adalah Bandung, Surabaya Barat, Surabaya Selatan dan Sidoarjo, Semarang, Bandar Lampung, Pekanbaru, Medan, Batam, Makassar, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, dan Jambi.

Palembang yg ga masuk list aja taun ini uda mulai dibangun Citra Grand City.

Jambi yg masuk kok belom terdengar kabar ampe sekarang juga ya..

Padahal pasar perhotelan Kota Jambi lumayan bagus apalagi pasar perumahan nya sangat berpotensi..

gmana dengan berita d atas?? gw dapet dari website ny Ciputra sendiri..

masih valid kah?? gmna dengan Jambi?

AceN
February 25th, 2009, 06:24 AM
Asing Boleh Memiliki Properti Selama 90 Tahun

Rabu, 25 Februari 2009 | 10:55 WIB

JAKARTA, RABU — Boleh jadi, Indonesia akan menjadi surga bagi orang asing yang ingin tinggal dan menetap di sini. Pemerintah berniat memperpanjang hak pakai properti bagi orang asing sampai 90 tahun.

Saat ini, bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) sedang merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No 41/ 1996 soal Pemilikan Rumah Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing. Kini, peraturan itu menetapkan, hak pakai asing maksimal 70 tahun dengan dua kali perpanjangan (25+25+20 tahun).

Nah, dalam draf revisi PP ini, Kemenpera mengajukan hak pakai properti oleh orang asing bisa sampai 90 tahun sekaligus tanpa melalui perpanjangan. Penerapan aturan ini cukup mendesak. "Apalagi, banyak warga asing yang berminat berinvestasi dan menghabiskan masa pensiunnya di sini," ucap Deputi Perumahan Formal Kemenpera Zulfi Syarif Koto, Selasa (24/2).

Pengembang sempat terkejut dengan kabar ini. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (DPP REI) Teguh Satria mengaku, saat menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 17 Februari silam, usulan ini masih belum beranjak dari angka 70 tahun. "Kalau sekarang menjadi 90 tahun tentu kami berterima kasih sekali," kata Teguh.

Teguh yakin, jika perpanjangan kepemilikan asing berlaku, sektor properti akan menikmati manfaatnya. Pengembang tak perlu lagi sembunyi-sembunyi menjual properti ke orang asing. "Target penjualan 10.000 unit apartemen yang kami patok bisa terwujud," tandasnya.

Selama ini, lantaran tersandung pembatasan kepemilikan orang asing, penjualan properti apartemen dengan target orang asing hanya sekitar 5.000 unit per tahun. Kebanyakan proyek berada di wilayah Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya.

Karena harus mencatut nama orang lokal untuk membeli properti di sini, selama ini para ekspatriat lebih tertarik menebar duit di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tiga tetangga kita itu sudah memberi hak pakai bagi warga asing di atas 90 tahun.

Kepala Riset Jones Lang La Salle Indonesia Anton Sitorus yakin, perpanjangan kepemilikan asing membuat investasi di Indonesia semakin menarik. Orang asing semakin senang mengincar proyek properti di Indonesia. "Apalagi, harga properti di sini belum terlalu mahal dibandingkan dengan properti di negara tetangga," tandasnya.

Sebagai contoh, di Singapura, harga jual apartemen per meter sekitar Rp 170 juta sampai Rp 300 juta. Sementara, di sini harganya masih berkisar Rp 10 juta sampai Rp 25 juta.

Tapi, bisa saja, rancangan ini mentah di tengah jalan sebelum resmi berlaku. Sebab, Maret 2008, Mahkamah Konstitusi (MK) mencabut UU No 22/2007 tentang Penanaman Modal yang berisi pemberian hak pakai di muka atas tanah bagi investor asing. Artinya, MK tetap ingin penerapan peraturan lama lewat perpanjangan dua kali. (Ali Imron Hamid, Yohan Rubiyantoro/Kontan)

hildalexander
February 25th, 2009, 06:27 AM
^^ Baru draft.... blom disetujuin Cen.....

AceN
February 26th, 2009, 04:21 PM
smoga mam..... ;)

hildalexander
February 27th, 2009, 05:34 AM
^^ Harusnya sudah dari dulu disetujui.... karena alasan nasionalisme yang dangkal (takut lahannya diekspor ke luar negeri hehehehe apa coba?), makanya gak kelar-kelar. Coba kalo beleid ini jadi, Lippo Karawaci gak bakal bangun Marina Collection di S'pore....

Ocean One
December 15th, 2009, 06:37 PM
Subsidi rumah diberikan langsung mulai 2010
Badan penghimpun dana segera dibentuk

Bisnis Indonesia - JAKARTA: Pemerintah akan menghentikan pola subsidi selisih bunga pada kredit pemilikan rumah (KPR) secara bertahap mulai 2010 menjadi pola subsidi langsung untuk memudahkan baik konsumen maupun pengembang.
Menpera Suharso Monoarfa mengatakan pola subsidi yang diberikan melalui pemberian selisih bunga KPR tidak bisa lagi dipertahankan karena kurang berhasil memacu penyediaan rumah murah bagi masyarakat. Masyarakat yang memperoleh subsidi selisih bunga kesulitan melanjutkan angsuran ketika masa subsidi berakhir pada tahun keempat.

"Angka NPL [non performing loan /rasio angka kredit macet] di bank itu sebagian besar dari konsumen yang dapat subsidi. Begitu masa subsidinya berakhir, cicilannya membengkak dua kali lipat, lalu kesulitan melanjutkan pembayaran. Ini harus kita ubah, tidak bisa selamanya bergantung pada subsidi seperti ini," ujarnya saat berbicara dalam diskusi mengenai proyeksi ekonomi 2010 yang digelar DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), kemarin.

Dia mengatakan Kemenpera dalam sebulan terakhir ini terus mematangkan rencana perubahan pola subsidi tersebut bersama asosiasi pengembang, perbankan, dan pihak terkait lain. Akan terjadi perubahan drastis dalam pola pembiayaan perumahan untuk masyarakat kelompok bawah dan kurang mampu.

Target dan realisasi pembangunan RSh serta ketersediaan subsidi
Tahun Target Realisasi Subsidi (Rp miliar)
2006 78.000 77.663 300
2007 123.000 98.092 500
2008 130.000 110.000 800
2009 170.000 -- 2.567
Sumber: Kemenpera, diolah 2009

Namun, katanya, perubahan itu diperlukan agar penyediaan rumah bisa dipacu lebih banyak lagi. Dengan pola subsidi selisih bunga saat ini penyediaan rumah formal oleh pengembang hanya berkisar 150.000 unit, maka dengan subsidi langsung jumlahnya bisa ditingkatkan dua atau tiga kali lipat.

"Kalau perlu digenjot sampai 1 juta unit per tahun, agar semakin banyak warga yang dapat rumah. Saya inginnya mulai 2010 dimulai secara bertahap," ujarnya.

Menpera mengatakan alokasi dana subsidi yang ada akan dihimpun melalui sebuah badan khusus yang akan segera dibentuk.

Badan itu juga akan diusulkan untuk menghimpun dana yang dikelola pemerintah seperti dana tabungan PNS, dan dari PT Jamsostek. Badan tersebut kemudian diberikan kewenangan menyalurkan kredit konstruksi kepada perbankan dan KPR kepada masyarakat dengan bunga rendah hanya satu digit atau di bawah 10%.

"Kalau sudah mendapat banyak dukungan dan ada kemauan keras, saya yakin ide ini bisa terwujud," ujarnya.

Manoarfa menjelaskan harga rumah yang ada saat ini terlalu banyak mengandung komponen yang seharusnya bisa ditekan, seperti bunga komersial, pajak, dan biaya-biaya lain yang tidak resmi.

Mudahkan pengembang

Subsidi selisih bunga diberikan karena harga rumah terlalu mahal sehingga sulit dijangkau.

Pada tahun ini, dana subsidi perumahan sebesar Rp2,5 triliun juga dipastikan tidak terserap. Kemenpera sebelumnya menyatakan penyerapan dana subsidi maksimal Rp1,5 triliun. Pada 2010, alokasi dana subsidi lebih tinggi lagi, mencapai Rp3,1 triliun.

Pada kesempatan sama, Ketua DPP REI F. Teguh Satria mengatakan perubahan pola subsidi selisih bunga akan memudahkan pengembang. Selama ini prosedur pengajuan subsidi baik untuk rumah sederhana sehat (RSh) maupun rumah susun sederhana milik (rusunami) terlalu panjang dan berbelit-belit.

"Verifikasi pengucuran subsidi sangat lama dan berbelit-belit. Ini menyulitkan kami. Bahkan, ada konsumen yang membatalkan mengambil pola subsidi karena tidak ada jaminan pengajuannya akan disetujui," ujar Teguh.

Meskipun demikian, katanya, penerapan perubahan pola subsidi ini tidak bisa diimplementasikan secara langsung karena membutuhkan kesiapan dari pengembang, perbankan, dan kebijakan pendukung.

Dia mengatakan komponen biaya lain yang harus ditekan adalah proses pengurusan izin yang lama. Setiap daerah mempunyai prosedur berbeda dalam memberikan berbagai izin pembangunan hunian.

Kemenpera harus bisa merumuskan aturan jangka waktu maksimal pengurusan berbagai izin untuk menjadi panduan daerah. Hal ini diperlukan agar pengembang mempunyai jaminan kepastian waktu.

Ocean One
December 15th, 2009, 06:40 PM
Pasar properti Sumut lesu
Masyarakat prioritaskan pemenuhan kebutuhan lebih mendesak

MEDAN: Pasar properti di Sumatra Utara, khususnya Medan diprediksi lesu hingga 2 bulan ke depan, karena turunnya daya beli konsumen dan semakin ketatnya persaingan bisnis.
Kondisi itu bertolak belakang dengan perkiraan dari para pengembang sebelumnya. Bisnis perumahan akan membaik menjelang akhir 2009 dan awal 2010.

"Sampai Januari tahun depan pasar properti di Sumut lesu. Masyarakat Sumut mengalihkan konsumsinya untuk keperluan yang sangat mendesak dibandingkan untuk perumahan," ungkap Djafar S. Ritonga, Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Sumut, kepada Bisnis kemarin.

Sayangnya, dia tidak menjelaskan lebih terperinci besaran penurunan permintaan perumahan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, atau periode sama tahun lalu.

Dia hanya mencontohkan di beberapa media massa yang sebelumnya tidak pernah diisi oleh iklan-iklan perumahan, sekarang ini iklan tersebut sangat menjamur. Bahkan, sampai ke iklan mini. "Hal itu menandakan pasar sedang lesu, bahkan bisa dikatakan tidak sehat lagi."

Menurut dia, warga membutuhkan dana lebih besar untuk kebutuhan Natal dan tahun baru. Masyarakat lebih menunggu hingga kebutuhan untuk akhir tahun terpenuhi.

Djafar menambahkan saat ini persaingan di bisnis properti sangat kelewat batas. Perumahan sudah terlalu banyak, sedangkan minat masyarakat terhadap perumahan sedang melesu.

Pertumbuhan sektor bangunan & konstruksi di Sumut
Triwulan III/2008 4,42%
Triwulan III/2009 4,57%
Realiasi penyaluran kredit
Triwulan III/2008 Rp2,06 triliun
Triwulan III/2009 Rp2,35 triliun
Sumber: Bank Indonesia Kanwil Medan

Semula, para pengembang berasumsi masyarakat masih menunggu hingga kondisi perekonomian lebih stabil. Namun, warga kini sudah lebih jeli melihat mana pengembang yang sudah berpengalaman dan yang hanya berjanji pada fasilitas yang ditawarkan.

Kondisi pasar itu, sambungnya, juga ironis pada saat BI Rate turun tetapi tidak berpengaruh banyak terhadap turunnya kredit pemilikan rumah (KPR). Beberapa bank menawarkan suku bunga KPR masih sekitar 9%-11%.

Apalagi, ungkap Djafar, pada tahun depan kemungkinan BI Rate naik lagi, sehingga dipastikan akan menaikkan suku bunga KPR. "Ini akan membuat bisnis properti semakin lesu," tegasnya.

Dia mengimbau para pengembang lebih melihat kondisi pasar perumahan sebelum membangun perumahan baru.

Berdasarkan laporan triwulan III/2009 Bank Indonesia Kantor Wilayah Medan, sektor bangunan dan konstruksi tumbuh 4,57%, atau naik dibandingkan dengan triwulan II/2008 sebesar 4,42%.

Menurut itu, pertumbuhan tersebut masih didorong oleh meningkatnya konsumsi semen dan pertumbuhan tinggi penjualan bahan konstruksi.

Faktor pendorong lainnya yakni masih maraknya pembangunan properti komersial di Sumut, terutama di Medan. Indikator lain adalah peningkatan kegiatan pembangunan infrastruktur.

Dari sisi pembiayaan juga tumbuh 14,08%. Penyaluran kredit ke sektor bangunan dan konstruksi mencapai Rp2,35 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama 2008 sebesar Rp2,06 triliun. Sebagian besar kredit disalurkan ke subsektor konstruksi lainnya dan subsektor perumahan sederhana.

Proyek gas rumah

Dalam perkembangan lain, DPD REI Sumsel berminat pada proyek gas rumah tangga untuk dikembangkan di kompleks perumahan.

Agus Alamsyah, Sekretaris DPD REI Sumsel, menjelaskan telah melakukan penjajakan kerja sama dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam pengadaan gas rumah tangga.

"Kami telah usulkan rancangan lokasi perumahan yang memungkinkan mendapat fasilitas gas rumah tangga dan menjadi garapan PGN," ujarnya kemarin.

Dia menambahkan REI akan memberikan segmen pasar yang sudah ada karena sekitar 7.000-8.000 unit rumah siap mendapat fasilitas gas.

Menurut dia, mereka berada di lokasi perumahan yang memang sudah berkembang pesat dan dilalui pipa induk gas, seperti lokasi perumahan di Talang Kelapa, Sukarami, Kenten, dan Jakabaring.

"Sayangnya, kuota pemasangan gas rumah tangga oleh PGN sangat minim per tahun, sekitar 300 kepala keluarga," ungkapnya

Ocean One
December 15th, 2009, 06:44 PM
Selasa, 15 Desember 2009
Pertumbuhan Perumahan di Indonesia Lambat

http://www.kontan.co.id/photo/2009/12/15/890104062p.jpg

JAKARTA. Pertumbuhan pembangunan perumahan di Indonesia terbilang lambat. Menurut menteri Perumahan Suharso Monoarfa, dalam lima tahun terakhir (2004 - 2009) pertumbuhannya cuma sebesar 8,5%. Tahun lalu, sektor perumahan hanya menyumbang sekitar 2,7% terhadap Product Domestic Bruto (PDB).

"Kondisi ini kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia, yang dalamn peride waktu yang sama memberikan kontribusi sebesar 27% terhadap PDB," kata Suharso, di Jakarta, Selasa (15/12).

Menurut Suharso, pasokan dan kebutuhan rumah di Indonesia tidak seimbang. Akibatnya, tahun ini masih ada sekitar 8 juta keluarga Indonesia yang belum memiliki rumah. Sedangkan untuk pasokannya hanya 700.000 unit per tahunnya. "Padahal rumah yang harus dibangun setiap tahunnya itu berjumlah 1.674.102 unit," jelas dia.

Ada sejumlah hal yang menjadi penyebab pertumbuhan perumahan di Indonesia lambat. Pertama, soal pertanahan dan tata ruang. Kedua, adalah sinergitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Persoalan yang muncul adalah perlunya penguatan institusi termasuk peraturan, kualitas kapasitas perencanaan dan pelaksanaan urusan permukiman di tingkat daerah.

Ketiga adalah persoalan infrastruktur seperti penyediaan listrik dan sarana transportasi. Karena seringkali pengadaan perumahan tidak dibarengi dengan adanya fasilitas infrastruktur.

Permasalahan keempat adalah pembiayaan. Masyarakat membutuhkan pembiayaan jangka panjang. Selain itu juga suku bunga bank yang turun. Penurunan suku bunga bank akan menggairahkan pasar properti.

Menurut Wakil Ketua Umum DPP REI, Djoko Slamet Utomo, dari sederet persoalan tersebut, faktor pembiayaanlah yang paling penting. Karena, saat ini pengembang membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar.

Ocean One
December 16th, 2009, 05:29 AM
'Anami bakal jadi tren 2010'
Pemulihan industri properti diiringi kompetisi

Bisnis Indonesia - JAKARTA: Kalangan pengembang memprediksi apartemen sederhana milik (anami) akan menjadi tren baru dan paling bergairah pada pasar hunian vertikal di Jakarta sepanjang 2010.
Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria memperkirakan pasar anami seharga Rp150 juta hingga Rp300 juta per unit akan banyak diburu konsumen karena selama ini pasokan di segmen ini masih terbatas.

Pasokan apartemen oleh developer di Jakata dan sekitarnya untuk segmen ini juga semakin banyak, karena ada rencana pengalihan pasar oleh pengembang yang semula akan membangun rumah susun sederhana milik (rusunami) bersubsidi-dengan harga Rp144 juta per unit-menjadi apartemen sederhana.

Pengalihan ini disebabkan oleh masih banyak hambatan dalam proyek rusunami, mulai dari perubahan regulasi pembatasan ketinggian, proses pengucuran subsidi yang berbelit-belit, hingga pengenaan pajak pertambahan nilai.

"Apartemen dengan rentang harga itu akan membanjiri pasar pada 2010. Selain pasarnya bagus, banyak pengembang yang mengalihkan proyeknya ke anami karena banyak hambatan yang ditemui dilapangan dalam membangun rusunami," kata Teguh kemarin.

Dia menuturkan hingga kini status ribuan pembeli rusunami bersubsidi masih tidak jelas. Proses pengajuan subsidi rusunami masih tertahan di Kemenpera dan Departemen Keuangan yang sedang melakukan verifikasi.

Direktur Eksekutif Agung Podomoro Group (APG) Matius Jusuf mengatakan pasar dan tren industri properti nasional selalu mengalami perubahan setiap tahun. Pengembang harus mencari peluang dan tantangan baru agar bisa memanfaatkan secara maksimal pemulihan industri yang diduga akan terjadi pada 2010-2013.

"Salah satu tantangannya mencari ceruk pasar baru. Anami salah satu tren pasar yang potensial," ujarnya saat berbicara pada seminar bertajuk Prospek dan Tantangan Bisnis Properti 2010, kemarin.

Titik terendah

Dia menuturkan akan terjadi kompetisi yang baru setiap terjadi pemulihan di industri properti. Pengembang akan berlomba-lomba melanjutkan proyek-proyek yang sempat tertunda. Akibatnya pasar properti pada 2010-2011 akan dibanjiri berbagai produk, hingga masa puncak yang diprediksi terjadi pada 2013.

"Titik terendah siklus bisnis properti sudah terlewati pada kuartal II/2009, saat suku bunga kredit properti [KPR] mencapai puncaknya menyentuh level 18%. Sekarang, suku bunga sudah berada di level 10%-11%, dan merupakan awal dari pemulihan," ujarnya.

Menurut Matius, industri properti sangat erat kaitannya dengan kondisi makroekonomi. Pengembang tetap harus memperhatikan indikator-indikator makro, tetapi tetap mendalami kondisi mikro di lapangan, terutama karakteristik konsumen.

"Sebelumnya banyak pengembang baru yang tergiur masuk bisnis properti tanpa memperhatikan berbagai indikator ekonomi, sehingga saat krisis terjadi mereka kolaps. Sekarang pengembang nasional sudah lebih berpengalaman," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit menyatakan penduduk Jabodetabek akan bertambah sebanyak 8,1 juta jiwa hingga 2020, sehingga merupakan pasar potensial bagi pengembang.

Dia memperkirakan penjualan apartemen sederhana dan menengah ini akan meningkat dari Rp8 triliun pada tahun ini menjadi Rp10 triliun pada 2010.

Ocean One
December 21st, 2009, 04:02 PM
Senin, 21-12-09
REI Sulsel Siap Gelar REI Vaganza

MAKASSAR, Fajar online - DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel akan menggelar pameran perumahan dan properti di atrium Mal Ratu Indah (MaRI), 12-21Februari 2010. Even tersebut dikemas dengan nama REI Vaganza. Ketua DPD REI Sulsel Jamaluddin Jafar mengatakan pameran itu merupakan agenda rutin pengurus BPD REI yang bisa digelar setiap tahun.

"Pameran ini akan menggambarkan prediksi atau respon masyarakat terhadap penjualan perumahan di Sulsel," kata dia pada jumpa pers di RM Bahari, Minggu, 20 Desember. Setiap tahunnya, tambah Jamal, pelaksanaan pameran perumahan berskala besar biasanya digelar selama empat kali dan semuanya menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Direktur Operasional 3Pro, Icha, menambahkan, pameran REI Vaganza itu merupakan kerjasama antara BPD REI dengan 3Pro, di mana target penjualan selama 10 hari pameran mencapai Rp 90 miliar.
"Kali ini kami mendesain seluruh booth atau stand dengan desain khusus yang identik dengan hari kasih-sayang.

Bahkan kita memberikan diskon khusus bagi pasangan yang menikah, mau menikah atau berulangtahun pada bulan Februari," tambah Sekretaris Umum DPD REI Sulsel Raymond Arfandynya. Tidak hanya itu, lanjutnya, setiap harinya pameran juga akan dimeriahkan dengan live music, games by MC dan live performance dari artis ibukota untuk menghibur para pengunjung.

"Untuk total peserta kami harapkan bisa mencapai 50 peserta, itu sudah termasuk peserta dari perbankan seperti BRI, BNI, BTN, Bank Panin, Bank Mandiri, Bank Bumi Putera, dan Bank Permata," tutupnya.

Ocean One
January 2nd, 2010, 02:38 PM
Sabtu, 02 Januari 2010
Kemenpera Targetkan Pembangunan Perumahan Dua Juta Unit

JAKARTA - Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) menargetkan pembangunan perumahan sebanyak dua juta unit selama lima tahun ke depan. Dua juta rumah itu terdiri dari bangunan rumah vertikal (rumah susun) maupun rumah sederhana sehat (RSh).

"Pemerintah selama lima tahun ke depan akan memastikan untuk tersedianya rumah sebanyak dua juta unit," ujar Menteri Perumahan Rakyat, Suharso Monoarfa dalam laporan kinerja Kemenpera 2009 kemarin. Untuk memenuhi target itu, pemerintah mengajak para pengembang maupun pemerintah daerah (Pemda), untuk ikut mengupayakan pembangunan rumah yang layak huni dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Sasaran atau target pembangunan lain yang ingin dicapai Kemenpera hingga 2014 antara lain, mendorong swadaya masyarakat dalam pembangunan rumah baru sebanyak 3,6 juta unit melalui fasilitasi pemerintah sebesar 200 ribu unit, meningkatnya kualitas rumah melalui fasilitasi Pemerintah sebesar 400 ribu unit. "Selain itu juga meningkatnya kualitas lingkungan permukiman kumuh seluas 4.000 hektar yang dihuni oleh 800 ribu penduduk," lanjutnya.

Kemenpera juga berusaha meningkatkan kepastian hukum dalam bermukim untuk 100 ribu rumah tangga, serta meningkatnya kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan permukiman di tingkat pusat dan daerah. Khususnya melalui pengembangan regulasi dan kebijakan serta peningkatan peran Pemda di 33 Provinsi. "Regulasi pemerintah daerah harus bisa kondusif dalam rangka penyediaan perumahan," tegasnya.

Ke depan, kata dia, pembangunan perumahan dan permukiman akan dihadapkan pada beberapa tantangan berat. Sebagai contoh, pada 2009, proporsi penduduk perkotaan Indonesia diperkirakan telah mencapai 57 persen dari total penduduk Indonesia. Hal itu lambat laun akan memunculkan permasalahan baru. "Kelangkaan lahan perkotaan untuk perumahan mengakibatkan perkembangan permukiman yang tidak teratur, kumuh, dan tidak layak huni," terangnya.

Ocean One
January 6th, 2010, 05:16 PM
Tangani Banjir Kampung Melayu, Rumah Susun Bertonggak Akan Dibangun
Rabu, 06 Januari 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepala Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane, Pitoyo Subandrio mengatakan pemerintah DKI Jakarta telah menyiapkan rencana khusus mengatasi masalah sosial akibat seringnya kawasan Kampung Melayu dilanda banjir. Pemerintah akan membangun rumah susun yang bertonggak.

"Kemarin yang paling cantik dibangun rusun. Manusianya kita manusiakan, nanti bentuknya dalam resetlement," kata Pitoyo di Kantor Wakil Presiden, Rabu (6/1).

Pemerintah, kata dia, telah merencanakan membuat bangunan rumah susun khusus. Misalnya, rusun yang akan dibangun itu disertai tonggak. Sehingga ketika air pasang kaki tangganya terendam dan ketika air surut tidak akan mengganggu. Menurut dia, sungai Ciliwung akan dibiarkan sesuai dengan kondisinya. "Kita bisa kelola lingkungan dengan baik, bagaimana bisa hidup harmonisasi dengan air," katanya.

Menghadapi banjir itu, menurut Pitoyo, pemerintah juga merencanakan membangun situ di tanggul sungai Ciliwung sebelah Carefour jalan MT Haryono. Menurut dia, hal itu langkah baik dalam mengurangi banjir di kawasan Kampung Melayu. "Nantinya akan ada situ di dalam kota," katanya.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan masalah banjir di Kampung Melayu belum ada penyelesaian. Menurut dia, rumah-rumah warga kampung Melayu merupakan bagian dari sungai.

Ocean One
January 6th, 2010, 05:54 PM
Pengembang Apartemen Bidik Segmen Mahasiswa
Rabu, 6 Januari 2010

http://img.antara.co.id/stockphotos/ilustrasi/proyek270907.jpg

Surabaya (ANTARA News) - Kalangan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Surabaya kini mulai menjadi bidikan pengembang apartemen, karena pasarnya dinilai masih cukup potensial untuk digarap.

Salah satu pengembang PT Petra Town Square (PTS) saat ini sedang menyelesaikan pembangunan apartemen The Petra Square yang berlokasi di dekat kampus Universitas Kristen Petra Surabaya.

Direktur PT PTS Budi Setiawan kepada wartawan di Surabaya, Selasa, mengatakan bangunan apartemen setinggi 14 lantai itu akan membidik segmen mahasiswa, khususnya dari kalangan menengah ke atas.

"Kami memang membidik segmen mahasiswa dan ingin memberikan sebuah hunian yang terintegrasi dengan kampus," katanya di sela-sela pameran di salah satu pusat perbelanjaan.

Tren apartemen dekat kampus mulai dikembangkan di beberapa kota besar. Sebelumnya, sejumlah pengembang telah membangun apartemen di dekat kampus Universitas Ciputra Surabaya dan Universitas Surabaya.

Menurut Budi Setiawan, bangunan apartemen dilengkapi dengan sejumlah fasilitas penunjang yang menjadi kebutuhan mahasiswa, seperti toko buku, pusat teknologi informasi, foto kopi, ATM, pusat makanan, dan kafe internet.

"Kebetulan rancangan bangunan apartemen ini merupakan hasil karya alumni UK Petra Surabaya sehingga mereka sangat tahu dengan kebutuhan dari mahasiswa," tambahnya didampingi Principal Pemasaran PTS, Iman Sutedjo.

Ia menambahkan investasi pembangunan apartemen itu sekitar Rp90 miliar-Rp100 miliar dengan total hunian sebanyak 300 unit.

Kendati harga jual yang ditawarkan tergolong tinggi sekitar Rp270 juta hingga Rp1,5 miliar, Budi Setiawan mengaku hampir 50 persen hunian sudah terjual.

"Pengerjaan direncanakan selesai awal 2011 dan langsung dioperasikan. Kami optimistis seluruh hunian akan terjual," ujarnya.

Ocean One
January 6th, 2010, 06:51 PM
Februari, REI Gelar Pameran Rumah
JUMAT, 8 JANUARI 2010


Makassar, Tribun - Pengurus Real Estate Indonesia (REI) Sulsel bersama Debindo Mega Promo akan menggelar lagi pameran perumahan bertajuk Ekspo REI 2010 di Hotel Sahid Jaya Makassar, Rabu (6/1).

Pameran yang digelar ke-15 kalinya ini rencanananya akan diadakan di Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar, mulai 26 Februari hingga 7 Maret mendatang.
Project Manager Debindo Mega Promo, Robby menyebutkan, peserta pameran yang sudah mendaftar antara lain PT Bumi Rezkita, PT Megatama Buana Nusantara, PT Dwifa Rezki Pratama, PT BIna Raya Persada, PT Pitu Anugrah Pratama, PT Tata Harapan Persada, PT Angsama Pratama, PT Daya Prima Nusawisesa, PT Prima Karya Bentala Permai, CV Dibar Utama.

Selain itu, PT Zarindah, PT Patiarase Propetindo, PT Batara Sarana Mandiri, PT Famika, PT Bukit Baruga, PT Putra Mustafa Mandiri, PT Mega Buana Investindo, dan dari perbankan dari Bank BTN.

Koordinator Exibition Debindo Mega Promo, Uceng, menambahkan, pameran kali ini pihaknya ingin mengarahkan pada pencitraan pameran rumah yang berkualitas dan murah.

Target transaksi pameran Ekspo REI 2010 tahun ini diharapkan mampu meningkat hingga 20 persen atau sekitar Rp 120 miliar dari pencapaian tahun 2009 lalu yang mampu membukukan transaksi Rp 100 miliar. Sementara jumlah pengunjung pameran tahun 2009 lalu mencapai 40 ribu orang.

Ocean One
January 8th, 2010, 06:59 PM
PP Kepemilikan Properti Oleh WNA Akan Segera Diselesaikan
Jumat, 08 Januari 2010

Warta Ekonomi, JAKARTA - Ditengah kontroversi tentang perizinan kepemilikan properti oleh Warga Negara Asing (WNA), Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Menteri Koodinator Perekonomian, serta Sekretariat Negara tetap membahas tentang Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur kepemilikan properti oleh WNA.

Menurut Suharso Monoarfa, Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kamis (7/1), bahwa pemerintah menargetkan PP tersebut dapat segera diterbitkan pada Mei atau Juni mendatang. Ia menambahkan bahwa dalam PP tersebut akan ada peraturan yang mengharuskan WNA yang memiliki properti harus tinggal minimal 14 hari di Indonesia.

Suharso juga menegaskan bahwa kontroversi kepemilikan asing dinilai tidak beralasan mengingat properti merupakan benda tak bergerak, selain itu ia juga menambahkan bahwa dengan diterbitkannya PP kepemilikan properti oleh WNA maka akan meningkatkan pendapatan di sektor pajak sehingga pada akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Negara. Pendapatan Negara diperkirakan akan meningkat sebesar US$ 3 miliar per tahun jika PP ini diberlakukan.

Penyaluran pendapatan yang diterima dari sektor properti ini juga akan disalurkan untuk memberikan subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan masyarakat berpenghasilan menengah.

Ocean One
February 3rd, 2010, 02:16 PM
What This Malaysian Thinks about Indonesians' Fear
Rabu, 3/2/2010

http://www.kompas.com/data/photo/2010/01/30/1858003p.JPG

Dato Alan Tong Kok Mau, owner and chairman of Bukit Kiara Properties group, Malaysia

BALI, KOMPAS.com - Dato' Alan Tong Kok Mau is the president of FIABCI International (2005-2006) and president of FIABCI Malaysia (1994-2000), besides being a successful Malaysian property businessman, owner and chairman of Bukit Kiara Properties group that deals with real estate investment, construction and development. He contributes his opinion regarding the coming FIABCI World Congress in Bali, May 2010, and also about eco-property and foreign ownership of Malaysian and Indonesian properties.

Here is the exclusive interview by Robert Adhi Ksp from Kompas.com with Dato' Alan Tong Kok Mau in Jimbaran, Bali, Friday evening.

Bali will host the 61st FIABCI World Congress this coming May 2010. Dato, what is your comment about Bali?

The World Congress would be a good opportunity for FIABCI Indonesia to invite all the other FIABCI members in the world to Bali. This event is excellent for Indonesia, so the country can show how it's doing with its property industry, such as in Bali. Many people have heard of Bali, but not everyone has had a chance to visit the island.

I support Bali in hosting the 61st FIABCI World Congress. I've repeatedly visited Bali, among which to Amandari, Four Seasons. My son likes the ambience and culture here. I come to Bali every year with my children and grand children for vacation. The culture in Bali is an amazing charm for foreigners. I'm sure that foreign colleagues who will visit Bali will be impressed and will return. And for me, Bali is very interesting, it's has a class of its own.

The FIABCI World Congress in Bali next May will discuss issues regarding eco-property. How far have the green property and eco-property concepts been implemented in Malaysia?

I think FIABCI has the commitment to promote eco-property all over the world. I believe the FIABCI president, Elizabeth, will come here (Bali) and share her experience on eco-property. I'm glad the FIABCI congress will be held in Bali. Elizabeth must come to Bali and see what it has to offer to the world. In Malaysia, some developers have implemented those concepts. There's eco-city in Shah Alam and in Johor, both by the same developer, SP Setia. They've built very attractive housing estates.

Malaysia has started on eco-property since 10 years ago. Private companies have built an eco-friendly and energy-saving township in Johor, while the Malaysian local government has built Kota Baru Shah Alam with the eco-property concept.

My company, Sunrise, which then developed into Bukit Kiara, built the high-rise condominium. It's built with beautiful green nuances and landscape.

Currently Indonesia is still discussing about foreign property ownership. In Malaysia, how are the regulations on this matter?

Let's see the global situation now. Most countries in the world advance because of rapid growth in their property industry. Malaysia has applied foreign property ownership since 20 years ago. It's true that Malaysia had been worried that too many (foreign) people would purchase the properties. However, only vacant lands were barred from foreign purchases. Now, foreigners in Malaysia are allowed to purchase apartments. Many foreigners purchase the condominium (units) my company built.

I believe that Indonesians, and the Indonesian government need not worry about selling property to foreigners. Politically, if the government is concerned, then my suggestion is to do what the Malaysian government did by regulating foreigners so they can only purchase properties worth above USD 100,000 for example. It would be foolish if the Indonesian government restricted foreigners from buying property.

I think Indonesia is a decade or two behind Malaysia and Singapore regarding foreign ownership. Of course you can imagine how foreigners would bring cash to your country. This fresh funding can be allocated for other things, such as housing the homelesses.

You can take Singapore and Hongkong for example. Many buildings are built there, and the buyers are always foreigners. The state gains profit from such property purchases. Why is it so important to a state? Because it can encourage property development.

The government benefits from taxes and developers gain fresh funding, and furthermore, contructions of property projects would absorb labor. This would stimulate other industries, such as for steel, electricity, furniture, and others besides. The more property is built, the more alive the industry becomes and more job opportunities will be available. We've experienced this in Malaysia.

I'm confident that the property industry in Indonesia is very prospective. The development in Indonesia for the past few years has been rapid.

The income per capita and the buying power of Indonesians are rising. No need to worry if foreigners buy property in your country. I think Indonesia should learn from Malaysia, Singapore, Vietnam, Hongkong, the Philippines, and China.

If you buy property in Malaysia, you can use it indefinitely. Malaysia has been very generous and daring regarding foreign property ownership. In Vietnam it's limited to 70 years, the same applies in Singapore. China used to prohibit foreign property ownership but now they've allowed it.

As you can see in Dubai, in the Middle East, 30 years ago Dubai was just a desert land. No one went there. After property projects were done, the real estate in Dubai has come to life.

Guess who buys property in Dubai? Mostly foreigners. So there's no excuse for Indonesia to fear property ownership by foreigners.

Ocean One
March 5th, 2010, 05:19 PM
Jasa Marga Gandeng PP, Masuk Bisnis Properti
Jumat, 5/3/2010

JAKARTA, KOMPAS.com - Niat PT Jasa Marga Tbk membentuk sayap bisnis properti ternyata bukan isapan jempol belaka. Jika tak ada aral melintang, Jasa Marga akan membentuk anak usaha khusus properti itu tahun ini.

Jasa Marga tidak akan sendirian mendirikan perusahaan properti itu. Namun akan menggandeng dua partner lainnya. "Partner yang satu adalah BUMN di sektor properti, yakni PT Pembangunan Perumahan (PP), sedang satunya mungkin swasta, tapi belum bisa saya sebutkan sekarang," kata Direktur Operasional Jasa Marga Adityawarman, di Jakarta, Kamis (4/3).

Porsi modal masing-masing perusahaan, kata Adityawarman, akan dibagi rata sekitar 33 persen. "Jumlah modal disetor kami tidak akan lebih dari Rp 50 miliar," katanya.

Untuk tahap awal, anak usaha tersebut akan beroperasi di daerah Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Lokasinya di sekitar tol Surabaya-Mojokerto. "Kami targetkan anak usaha itu beroperasi bersamaan dengan beroperasinya Surabaya-Mojokerto," kata Adityawarman.

Jasa Marga menargetkan tol sepanjang 36,5 kilometer itu beroperasi tahun ini. Saat ini, masih tahap konstruksi. Di sekitar tol Surabaya-Mojokerto itulah, anak usaha Jasa Marga akan membangun properti komersial. "Bentuknya mungkin klaster perumahan, lengkap dengan pusat bisnis dan fasilitas perbelanjaan," kata Adityawarman.

Sebetulnya, kata Aditya, Jasa Marga telah lama tergiur menerjuni bisnis properti. Alasannya, selama ini jalan tol yang dibangun Jasa Marga selalu membuat nilai investasi tanah dan gedung di sekitarnya membumbung. Sayang, Jasa Marga tidak ikut mencicipi. Yang menikmati justru pengembang properti di daerah setempat. Itulah sebabnya, Jasa Marga berniat menjajal diversifikasi usaha ke bisnis properti.

Direktur Operasional PT Pembangunan Perumahan Kismodarmawan menyatakan, kerjasama dengan Jasa Marga membentuk perusahaan properti itu belum matang. "Saat ini masih pada tataran ide," katanya.

Tahun ini, Jasa Marga menargetkan pendapatan Rp 4,79 triliun dan laba bersih Rp 927 miliar. Jumlah ini naik masing-masing 35 persen dan 17 persen dari estimasi kinerja 2009.

Ocean One
March 5th, 2010, 05:34 PM
Adhi Realty Akan Kembangkan Lahan Tidak Terpakai
Kamis, 4 Maret 2010

Jakarta (ANTARA News) - PT Adhi Realty anak perusahaan PT Adhi Karya Tbk merencanakan mengembangkan lahan-lahan tidak terpakai milik induk usaha di tiga lokasi di Indonesia.

"Kami sudah buat rencana induknya yang rencananya akan dibuat mix used atau kombinasi apartemen dan perkantoran," kata Direktur Operasi PT Adhi Karya Tbk, Indra Djaya Manopol di Jakarta, Rabu malam.

Menurutnya, tiga lokasi yang akan dikembangkan di antaranya Surabaya, Padang, dan Pekanbaru. Ketiganya sudah ada kantor tetapi lahannya masih banyak yang kosong.

"Kantor kami di tiga lokasi tersebut rata-rata memiliki luas hanya 20 persen dari total luas yang dimiliki padahal lokasinya sangat strategis, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan," jelasnya.

Dia menjelaskan, kontribusi Adhi Realty sendiri selama ini mencapai 10 persen dari total pendapatan induk usaha. "Seperti tahun lalu menyumbang Rp139 miliar dari total Rp7,6 triliun," ujarnya.

Sedangkan dari sisi laba usaha kontribusi Adhi Relaty mencapai 15 persen dari pencapaian laba induk usaha, jelasnya.

Pendapatan induk usaha, jelasnya, hampir 90 persen dari jasa konstruksi, sedangkan sisanya disumbang dari proyek EPC dan infrastruktur.

Sementara itu Direktur Utama PT Adhi Realty, Giri Sudaryono mengatakan, keberhasilan menyelesaikan Menara MTH yang berlokasi di Jalan MT Haryono Jakarta Selatan diharapkan dapat meningkatkan kontribusi terhadap induk perusahaan.

Menurutnya, dari 4600 meter persegi ruang kantor yang dipasarkan sejak diluncurkan Kamis (3/3) sudah terjual 70 persen, 12 persen masih kosong serta 18 persen akan dikelola sendiri termasuk rencana kantor Adhi Realty pindah ke MTH.

Menara MTH sendiri dibangun dengan biaya Rp190 miliar bekerja sama dengan PT Eden Kapital selaku pemilik lahan. "Kami sengaja membangun di atas lahan yang dapat dikerjasamakan untuk mengurangi resiko," jelasnya.

PT Adhi Realty selain Menara MTH juga akan membangun gedung perkantoran di kawasan TB Simatupang, pengembangan hunian di Bekasi dan Sawangan.

Untuk Jabodetabek, Adhi Realty memiliki cadangan tanah di Bekasi Timur 41 hektare dan Sawangan Depok 19 hektare lebih, jelasnya.

Ocean One
March 11th, 2010, 07:05 AM
Emaar Harus Tetap Ikut Seleksi di Lombok
KAMIS, 11 MARET 2010

http://image.tempointeraktif.com/?id=14929&width=274

Pantai Senggigi Lombok

TEMPO Interaktif, Mataram - Perusahaan milik Kerajaan Dubai, salah satu daerah otonomi di Uni Emirat Arab, Emaar Properties harus mengikuti proses seleksi (beauty contest) terlebih dahulu bersama calon investor lain yang berasal dari beberapa negara.

Di samping Emaar, investor asal India, Tunisia, dan 2-3 calon investor asal Asia, yang belum bisa disebutkan namanya, juga sudah menyatakan minatnya dalam mengembangkan kawasan wisata Putri Mandalika Resort yang berlokasi di pantai selatan Lombok Tengah seluas 1.250 hektare.

Perlakuan yang sama itu dikemukakan Kepala Badan Penanaman Modal Nusa Tenggara Barat Yakoub Abidin kepada Tempo, menanggapi keinginan Emaar untuk kembali ke Putri Mandailika sebagaimana diberitakan Bloomberg dan Reuters, Rabu (10/3). "Proyek Mandalika terbuka untuk siapa saja," ujar Yakoub yang saat dihubungi tengah berada di Bogor, Jawa Barat, Kamis (11/3) pagi.

Perjanjian kerjasama patungan atau joint venture agreement (JVA) yang dibuat Emaar Properties pada 2007 untuk proyek Putri Mandalika senilai US$ 600 juta atau sekitar 5,7 triliun itu sudah berakhir pada Juli 2009. Tapi, tidak menutup peluang Emaar untuk melanjutkan kembali keinginan mereka. "Namun ada aturan yang harus dilalui lagi," ujarnya.

Yakoub menegaskan, prosedur yang harus diikuti itu dikarenakan perjanjian kerjasama patungan ini sudah kedaluarsa. Di samping itu, proses seleksi ulang merupakan pertanggungjawaban pemerintah provinsi dalam mengembangkan kawasan terpadu yang berbeda dari sebelumnya.

Emaar Properties sebelumnya berminat menanamkan modal hingga US$ 700 juta di kawasan wisata Putri Mandalika. Sebagai tahap awal, Emaar menyiapkan dana sekitar US$ 65 juta atau setara Rp 700 miliar. Pemerintah Indonesia menyediakan Rp 557 miliar untuk kerjasama tersebut yang diwakili Bali Tourism Development Corporation.

Putri Mandalika Resort meliputi areal seluas 1.250 hektare yang semula dimiliki oleh PT Pengembangan Pariwisata Lombok atau Lombok Tourism Development Corporation. Dari penyerahaan hak penggunaan lahan kawasan tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memperoleh kompensasi dari pemerintah.

Dari sejumlah 15 persen saham yang dimiliki pemerintah melalui Bali Tourism setara dengan harga tanah di kawasan Putri Mandalika. Sekitar lima persen dari saham total perusahaan kerja sama tersebut adalah milik pemerintah Nusa Tenggara Barat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Barat Jalal menyatakan, rugi jika Emaar tak jadi berinvestasi di kawasan yang sudah dirintisnya tersebut. Sebab, pemerintah daerah dan pemerintah pusat sudah menyiapkan infrastruktur jalan dan Bandara Internasional Lombok yang bisa didarati pesawat berbadan lebar.

Pesawat-pesawat itu bisa langsung menjangkau Lombok dari Australia, Timur Tengah, atau negara Asia lainnya seperti Hong Kong dan Jepang. "Potensinya besar dan telah didukung oleh prasarana," katanya.

Untuk transportasi jalan, sudah disiapkan jalan baru sepanjang 18 kilometer dengan dua jalur selebar 30 meter dari Lombok Barat ke Bandara Lombok. Jalan itu sudah dikerjakan sepanjang delapan kilometer dan sisanya delapan kilometer lagi akan ditambah empat jembatan baru.

Adapun jalur ke Mandalika sejauh 15 kilometer telah dikerjakan satu jalur selebar 15 meter kecuali di depan Bandara Lombok yang dikerjakan dua jalur selebar 30 meter. "Bahkan, pemerintah menyiapkan lingkar selatan dari timur dan barat kawasan," ujarnya.

Ocean One
May 8th, 2010, 04:49 PM
Jumat, 07-05-2010
2010, Perumnas Bangun 1.200 Rumah

MAKASSAR, BKM -- Perum Perumnas Regional VII menargetkan laba dan pembangunan unit rumah tahun ini, meningkat 150 persen dari tahun sebelumnya.

Kalau capaian laba yang diperoleh 2009 lalu yang hanya Rp 6 miliar dengan 1.000 unit rumah terbangun, maka tahun ini ditargetkan laba sebesar Rp19 miliar untuk pembangunan 1.200 unit rumah.

"Target tersebut optimis bisa kita capai. Saat ini, kita masih memiliki 70 persen lahan yang potensi dibanguni perumahan. Dalam waktu dekat, kita juga rencana membuka lokasi baru di Sulawesi Barat," yakin Manager Pemasaran Perum Perumnas Regional VII, Nurdin Sakka, yang ditemui disela-sela serah terima jabatan dan lepas sambut pejabat Perum Perumnas
Regional VII di Hotel Celebes, Jl Gunung Latimojong, Kamis (29/4).

Rencana pembangunan 1.200 unit rumah tersebut, lanjut Nurdin, terdiri dari 20 persen rumah tipe RSS dan 80 persen lagi rumah tipe RSH. Pembangunan perumahan itu dipersiapkan untuk semua wilayah regional VII yang mencakup hingga Papua.

Sejauh ini, katanya, perumnas dikenal dengan rumah murah sederhana oleh karena menggunakan dana subsidi pemerintah. Akan tetapi, kendati sederhana dan murah, sambung dia, rumah yang dibangun perumnas tetap berkualitas.

"Sejauh ini, rencana menaikkan harga rumah juga belum ada. Itu tergantung pemerintah. Yang jelas, kita tetap mempertahankan pasar rumah berkualitas dan terjangkau," tandas Nurdin.

Sementara itu, pejabat Perum Perumnas Regional VII yang berganti kemarin, masing-masing Drs Pertama Bangun menjabat General Manager menggantikan Ir H S Iskandar, yang semula PLH General Manager. Sedangkan Mashudulhaq Atjo menjabat Deputy General menggantikan Syahril Sariman yang juga mantan Perwakilan SPI.

Ocean One
May 23rd, 2010, 05:13 PM
Bisnis Properti Masih Sulit Berkembang di Kawasan Industri
Minggu, 23 Mei 2010

Maket apartemen di kawasan Kemang, Jakarta, Rabu (4/2). Diturunkannya kembali BI rate sebesar 50 basis point menjadi 8,25 persen diharapkan mampu menyokong pertumbuhan penjualan properti hingga 30 persen. TEMPO/Puspa Perwitasari

TEMPO Interaktif, Jakarta - Bisnis properti, khususnya di segmen gedung perkantoran, masih sulit berkembang di kawasan industri yang lokasinya berdekatan dekat dengan Ibu Kota Jakarta, seperti Cikarang, Karawang, dan Cilegon. Pasalnya, infrastruktur seperti listrik dan akses jalan dianggap kurang memadai.

"Listriknya belum sebaik di Jakarta. Selain itu jalan tol tembus ke bandara juga belum jadi. Kalau sudah terbangun (jalan tol ke bandara) baru pembangunan propertinya juga meningkat," kata Research and Analyst Manager PT Coldwell Banker Indonesia Dwi Novita kepada Tempo Sabtu (22/5).

Walau masih belum berkembang signifikan, namun ekspansi dunia properti ke wilayah itu sudah terjadi. Dia mencontohkan seperti di Cikarang dan Karawaci yang kini telah memiliki proyek pembangunan gedung perkantoran dan apartemen. "Memang belum dalam skala besar. Tapi sudah ada," kata dia.

Selain karena keterbatasan infrastruktur, minimnya pembangunan apartemen di kawasan industri juga disebabkan masih banyaknya ketersediaan lahan. Hal itu menyebabkan masyarakat lebih memilih membangun rumah daripada membeli apartemen.

Justru pembangunan properti dinilai lebih berprospek di kota lain di luar Jakarta, seperti Bali, Balikpapan, dan Bandung. Menurut Dwi, saat ini Balikpapan mulai banyak membangun apartemen dan gedung perkantoran karena banyaknya perusahaan multinasional yang bergerak di sektor pertambangan.

Sehingga banyak kaum pendatang, khususnya ekspatriat, yang membutuhkan tempat tinggal. "Makanya apartemen di sana banyak berjenis condotel, dimana pembeli bisa menyewakan kembali apartemennya. Biasanya untuk penduduk lokal, lalu dia sewakan ke orang asing. Rata-rata apartemen yang dibangun grade B," tutur Dwi.

Sama halnya dengan Balikpapan, Bali pun sudah mulai diminati investor di sektor properti. Namun Bali memiliki karakteristik berbeda. "Sebagai kota pariwisata propertinya sebagian besar untuk tempat tinggal. Pembeli banyak yang menggunakannya sebagai rumah kedua. Tapi ada juga yang disewakan kepada turis," katanya.

Berbeda lagi dengan Bandung. Mayoritas pembangunan propertinya adalah apartemen. Bandung juga punya keunikan. Sebagai kota yang banyak memiliki perguruan tinggi ternama membuat investor banya membeli apartemen untuk disewakan kepada mahasiswa. "Seperti membuat indekos," ujar Dwi.

Secara garis besar pembangunan properti di masing-masing daerah sangat bergantung karakteristik daerah tersebut. Selain Bali, Bandung, dan Balikpapan, kota besar lain semisal Medan, Surabaya, Makassar, Lombok, dan Pekanbaru pun dinilai berpotensi dalam pembangunan properti dalam beberapa tahun ke depan.

Ocean One
June 22nd, 2010, 04:38 PM
85 Persen Wilayah Jakarta Barat Jadi Perumahan
Selasa, 22 Juni 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/11/1945099p.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta Barat, terkendala minimnya lahan. Bahkan, 85 persen lahan di Jakarta Barat kini telah berubah menjadi komplek perumahan. Akibatnya, dari 20 persen target Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari total 12.615,14 hektar luas wilayah di Jakarta Barat, baru terealisasi sekitar 13 persen.

"Sebanyak 85 persen lahan Jakarta Barat menjadi kompleks perumahan. Tak sampai 5 persen pengembang perumahan yang telah menyerahkan fasos dan fasumnya ke pemerintah," ujar Djoko Ramadhan, Walikota Jakarta Barat, Selasa (22/6).

Djoko juga menyesalkan lahan yang semestinya menjadi RTH malah telah diambil alih oleh pihak-pihak tertentu. "Sudah ada sejumlah lahan yang kita iventarisir dan kini telah berubah menjadi pemukiman dan tempat usaha. Kita akan usahakan lahan-lahan itu kembali digunakan sebagaimana mestinya," tegas Djoko.

Menurutnya, pembuatan RTH tidak semudah yang direncanakan. Karena prosesnya tidak seperti model program pembangunan fisik seperti membangun jalan, sekolah, atau perumahan. Membuat RTH harus berkelanjutan dengan menekankan pada perawatan tanaman dan pepohonan yang terdapat di dalamnya. "Intinya, kami berkeinginan kuat untuk mengembangkan RTH. Seperti program refungsi 27 SPBU menjadi taman," jelasnya.

Kasudin Pertamanan Jakarta Barat, Adida Noor, menambahkan, belum memadainya RTH di Jakarta Barat berdampak langsung dengan kurangnya kualitas lingkungan dan tempat yang resprentatif untuk warga. Hal itu juga ditambah dengan menurunnya kualitas fisik sejumlah taman interaktif yang ada. "Kita tengah berupaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap taman-taman yang ada. Namun, masalahnya kembali pada anggaran yang terbatas," kata Adida.

Adida berharap peran serta masyarakat untuk menjaga dan merawat taman-taman interaktif. Sebab, bila mengandalkan anggaran daerah sangat tidak mencukupi. "Keikutsertaan masyarakat sangat diperlukan. Karena yang lebih tahu kondisi dan fungsi taman masyarakat itu sendiri," tandasnya.

Ocean One
June 24th, 2010, 08:39 AM
Bukit Darmo Property Beli Saham Apexindo?
Rabu, 23 Juni 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/06/23/2136157p.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyebab melesatnya harga saham PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) sebulan ini mulai terkuak. Kabarnya, emiten properti asal Jawa Timur ini sedang menjajaki pembelian saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) milik PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA).

Menurut sumber KONTAN, penjualan APEX ke BKDP mungkin akan selesai tahun ini. Tapi, sumber tadi belum bisa menjelaskan persentase saham yang akan BKDP beli dan nilai transaksinya. "Lebih baik tanya perusahaannya saja," ungkapnya. Saham BKDP sendiri sejak awal bulan ini sudah naik 47,48 persen dari Rp 139 per saham , 1 Juni ke Rp 205 per saham, 22 Juni.

Meski demikian, Direktur BKDP Brasada Chandra membantah kabar burung ini. "Ah, enggak benar itu beritanya," katanya singkat. Sementara, Imaculata T.M Wattimena, Sekretaris Perusahaan MIRA, tak berhasil dimintai keterangan. Panggilan seluler dan pesan singkat KONTAN tidak mendapatkan balasan.

Bisnis MIRA kini memang sedang tertekan. Perusahaan ini belum melunasi pembayaran akuisisi 48,72 persen saham APEX dari PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) senilai US$ 340 juta. Pembayaran saham itu dilakukan dengan dua skema. Pertama, MIRA membayar tunai sebesar US$ 272,7 juta saat penutupan transaksi pembelian, September 2008.

Kedua, MIRA melalui anak usahanya, Sabre Systems International Pte Ltd, menyerahkan surat utang guaranteed secured bonds senilai US$ 68,2 juta.

Ocean One
June 24th, 2010, 04:22 PM
Pengembang Apartemen Dukuh Golf Tak Jadi Pailit
Kamis, 24 Juni 2010

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Megacity Development, pengembang apartemen Dukuh Golf, tak jadi pailit. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak permohonan pailit yang diajukan oleh sejumlah pembeli apartemen tersebut. "Menyatakan menolak permohonan kepailitan pemohon (pembeli) seluruhnya," kata Hakim Ketua Nani Indrawati saat membacakan putusannya, Kamis (24/6).

Dalam pertimbangannya, majelis hakim berpendapat permohonan yang diajukan oleh 9 pembeli apartemen tidak memenuhi syarat kepailitan yang disebutkan pada pasal 2 dan 8 UU Kepailitan. Terutama soal syarat sederhana dalam pembuktiannya, terkait adanya utang yang telah jatuh tempo. Mengacu pendapat ahli Yahya Harahap, persoalan dispute (perselisihan) dalam sebuah perjanjian harus diputuskan dan diadili oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Ini terkait soal pernyataan wanprestasi dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Hak Kepemilikan Apartemen Dukuh Golf. Dimana disebutkan jika dalam waktu 120 hari sejak PPJB kewajiban pembayaran dilunasi apartemen tidak juga diserahkan, maka pembeli dapat mengakhiri perjanjian secara sepihak. "Ini harus diputus terlebih dulu oleh Pengadilan Negeri karena ada perselisihan terkait wanprestasi," jelasnya.

Sejumlah pembeli terikat perjanjian jual beli apartemen dengan Megacity pada tahun 1994. Pada bulan Oktober 1998, sejumlah pembeli kembali mendatandatangi PPJB yang isinya pelunasan kewajiban pembayaran dalam pembeli apartemen. Konsekuensinya, Megacity harus merampungkan pembangunan apartemen yang terletak di Pademangan tersebut.

Namun kenyataanya, meski pembeli sudah melunasi pembayaran, Megacity tak kunjung merampungkan pembangunan apartemen Dukuh Golf. Masalah ini lalu bergulir ke meja hijau.

Ocean One
July 13th, 2010, 04:15 PM
Selasa, 13/07/2010
Pemkot Depok ijinkan bangunan 20 lantai

DEPOK (Bisnis.com): Pemerintah Kota (Pemkot) Depok merevisi peraturan daerah (Perda) soal tinggi bangunan dengan mengeluarkan ijin bangunan 20 lantai di kawasan kota tersbut. Syaratnya, menempuh seluruh proses perijinan yang berlaku dan sesuai dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Tarkim) Kota Depok, Rendra Fristoto mengatakan hal itu menjawab kegelisahan sejumlah warga di kawasan Pondok Cina yang mempertanyakan pembangunan sejumlah apartemen yang rencananya akan dibangun di kawasan Margonda Raya. Sejumlah apartemen baru yang segera diluncurkan adalah Margonda Residence tahap III.

Rendra mengatakan berdasarkan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada akhir 2009, maka bangunan berlantai 20 diijinkan untuk dibangun di wilayah area Margonda Raya. “Setelah kami revisi perda tersebut bersama dengan DPRD. Jadi bangunan 20 lantai atau bahkan lebih diizinkan untuk berdiri. Namun, ini harus sesuai dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Semakin luas lahannya maka bangunan yang dibangun bisa lebih tinggi lantainya,” ujar Rendra.

Menurut Rendra, mengacu kepada Perda Depok No 2 tahun 2009 tentang Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Depok tahun 2010. Kini bangunan di sepanjang Jalan Margonda Raya hanya diperbolehkan dengan batas minimal tiga lantai. Jika kurang dari tiga lantai, justru tak diizinkan. Peraturan ini mengacu sejalan dengan pola Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang harus dimiliki oleh sebuah kota.

“30% dari luas wilayah harus tersedia untuk RTH. Untuk itu jika pembangunan dilakukan horizontal, ini akan semakin menghabiskan lahan dan tak efisien. Lain halnya jika dibangun ke atas, ini juga sejalan dengan konsep kota megapolitan,” kata Kepala Bidang Tata Ruang Distarkim, Bambang Supoyo.

Ocean One
July 13th, 2010, 04:33 PM
Bakrieland Bangun Hotel Bujet di Tenggarong, Kaltim
Selasa, 13 Juli 2010


JAKARTA, KOMPAS.com - Permintaan hotel berfasilitas tinggi dengan harga terjangkau alias hotel bujet (budget hotel) diperkirakan akan melonjak. Maklum, perekonomian yang membaik tahun ini membuat perusahaan banyak mengirimkan karyawannya melakukan perjalanan bisnis. Belum lagi sektor pariwisata yang kembali bergairah.

Melihat tren permintaan yang meningkat ini, beberapa pengembang gencar mengembangkan hotel bujet. Tengoklah PT Bakrieland Development Tbk lewat anak usaha PT Bakrie Nirwana Semesta yang terus mempersiapkan pengoperasian hotel bujet di Tenggarong, Kutai Kertanegara.

Di Tenggarong, Bakrie Nirwana akan mengelola hotel milik Pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara, yakni Hotel Singgasana dan Hotel Lesong. Saat ini, hotel tersebut memasuki tahap konstruksi ulang menjadi hotel bujet. Bakrie Nirwana menargetkan hotel ini bisa beroperasi sebagai hotel bujet di semester II-2010. Pembangunan hotel ini termasuk dalam rencana jangka panjang Bakrie Nirwana yang ingin membangun 50 hotel bujet.

Menurut Presiden Direktur Bakrieland, Hiramsyah S Thaib, pembangunan satu hotel bujet akan memakan investasi kurang dari Rp 50 miliar. Bakrie Nirwana belum memberikan nama baru untuk hotel tersebut. Yang jelas, hotel ini diperkirakan akan memberikan pelayanan hotel bintang tiga atau bintang empat dengan harga bintang dua. Hotel jenis ini biasanya memiliki luas kamar 3x5 meter persegi (m2) dengan sarapan, layanan internet, teve satelit, peralatan mandi, serta AC.

Hiramsyah memandang, harga komoditas yang semakin membumbung membuat pendapatan daerah luar Jawa ikut terdongkrak. Beberapa komoditas yang diyakini masih akan jadi jagoan ke depan antara lain minyak mentah, CPO, dan batubara.

"Pebisnis yang sering melakukan perjalanan biasanya tidak membutuhkan hotel mewah namun memiliki fasilitas bagus, di situlah hotel bujet berpeluang meraih pasar," tutur Hiramsyah. Melihat tren ini, Bakrieland memandang langkah masuk ke daerah penghasil komoditas menjadi strategis.

Ocean One
July 14th, 2010, 05:55 PM
Intiland Bangun Hotel Bujet Whiz di 60 Lokasi
Rabu, 14 Juli 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/16/1810147p.png

Salah satu desain Whiz Hotels


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Intiland Development Tbk tak mau ketinggalan di pasar hotel berbiaya murah. Hotel segmen ini diyakini akan berkembang seiring dengan meningkatnya ekonomi Indonesia sehingga eksekutif perusahaan pun kerap melakukan perjalanan bisnis. Belum lagi industri penerbangan yang kian ramai oleh maskapai lokal juga berdampak positif terhadap peningkatan perjalanan domestik.

Melihat potensi tersebut, Intiland melalui anak usaha PT Intiwhiz International tengah menyiapkan pembangunan 60 hotel bintang dua plus bertajuk Whiz Hotel. Pola pengembangan hotel ini bisa dilakukan melalui skema kerja sama strategis dengan pemilik lahan, build operate transfer (BOT), maupun kerjasama sebagai operator.

Dalam membangun satu Whiz Hotel, Intiwhiz menggelontorkan investasi sebesar Rp 50 miliar. Moedjianto Soesilo Tjahjono, Presiden Direktur Intiwhiz menargetkan tingkat okupansi setiap Whiz Hotel lebih dari 75 persen. Setiap unit kamar memiliki luas 16,5 m2. "Kami menyediakan apa yang dibutuhkan oleh eksekutif sehingga kami tidak menyediakan fasilitas kolam renang atau restoran besar," ujar Moedjianto.

Pada Desember 2009 silam, perusahaan telah menutup bagian atap Whiz Hotel Malioboro, Yogyakarta. Whiz Hotel berkapasitas 103 unit kamar ini diharapkan bisa beroperasi Agustus depan. Di samping itu, Intiland juga telah memiliki enam lokasi yang siap dibangun Whiz Hotel. Seperti Whiz Hotel di Pierre Tendean Semarang misal, Intiland sudah membangun pondasi. Di sini akan dibangun 150 unit kamar. Kota lain yang dibidik Whiz Hotel antara lain Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Samarinda, Lampung, dan Bali.

Di Jakarta, tahun ini Intiland berniat membangun tiga Whiz Hotel, yakni di Hayam Wuruk, Menteng, dan Kebayoran Baru. Sementara Whiz Hotel di Hayam Wuruk, Surabaya, dan Balikpapan sudah memasuki tahapan desain. Intiland melihat, hotel merupakan bisnis perusahaan untuk jangka panjang.

Sebagai hotel bintang dua plus, Whiz Hotel menyasarkan segmennya pada para pebisnis serta eksekutif yang sering dinas keluar kota. Hotel ini mengkombinasikan antara kenyamanan, kesenangan, kebersihan, dengan harga yang terjangkau. Harga sewa di Whiz Hotel mulai dari Rp 290.000 per malam.

Ocean One
July 23rd, 2010, 04:47 PM
Laris, Perumahan Rp 1 Miliar di Jakarta dan Tangerang
Jumat, 23 Juli 2010

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengembang properti lagi berleha-leha. Wajar, perbaikan ekonomi bikin permintaan properti, khususnya perumahan estat meningkat. Melihat data lembaga riset Cushman & Wakefield, sepanjang semester I-2010 ini penyerapan rata-rata rumah di Jabodetabek mencapai 175,1 unit per bulan. Jumlah ini turun 3,6 persen dibandingkan dengan semester II-2009 yang sebesar 181,8 unit per bulan.

Meski penjualan unit rumah ini menurun, namun nilainya mengalami peningkatan 10,1 persen dari Rp 96,8 miliar menjadi Rp 106,7 miliar. Arief Rahardjo, Kepala Riset Cushman & Wakefield mengatakan, peningkatan penjualan ini disebabkan beberapa pengembang sudah menaikkan harga jual karena permintaan properti melonjak sejak awal tahun.

Arief memprediksi, kenaikan harga masih berlangsung hingga semester II-2010. Di Jakarta, akan terjadi kenaikan harga jual rumah hingga 5 persen. Sementara di Tangerang terjadi kenaikan harga 7 persen, Bogor dan Depok 4 persen, serta Bekasi 5 persen. Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan biaya konstruksi di Jakarta dan Tangerang sebesar 3 persen, Bogor dan Depok 5 persen serta Bekasi 4 persen. Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga menjadi salah satu pemicu kenaikan harga.

"Permintaan perumahan kelas atas seharga sekitar Rp 1 miliar kuat terlihat di Jakarta dan Tangerang," ujar Arief di Jakarta, Rabu (21/7). Lalu, permintaan kuat atas rumah kelas menengah seharga Rp 750 juta sampai Rp 1 miliar terlihat di Bekasi.

Adapun unit yang paling diminati berada di harga sekitar Rp 1 miliar. Rumah seharga itu paling banyak diburu di Jakarta. Rumah yang paling banyak diminati kedua berada di kisaran harga Rp 600 juta hingga Rp 700 juta yang menuai banyak permintaan di Tangerang. Rumah seharga 400 juta sampai Rp 500 juta juga paling banyak diminta di Bekasi. Sementara rumah seharga Rp 250 juta banyak diminta di Bogor.

Semester II-2010 ini, Cashman & Wakefield memperkirakan ada pasokan luas lahan perumahan estate sebesar 11.514 ha di Jakarta. "Mayoritas pengembangan aktif berlokasi di Tangerang dan Bekasi," terang Arief. Menurut catatan Cushman & Wakefield, di semester dua nanti akan ada pasokan perumahan sebanyak 238.715 unit. Jumlah ini tumbuh 2,5 persen dari semester II-2009.

Ocean One
July 23rd, 2010, 06:05 PM
PP Tanah Telantar Ancam Pengusaha Properti
Jumat, 23 Juli 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Pengusaha properti yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) merasa tidak nyaman dengan hadirnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. Peraturan ini dianggap kontradiktif dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan investasi.

"Ini akan memengaruhi iklim berinvestasi. Pemerintah menetapkan harus ada investasi 200 triliun, 1.600 trilliun dari swasta, ini gimana mau investasi? Jadi kontraproduktif," ujar Ketua DPP REI Teguh Satria, Jumat (23/7/2010) di Jakarta.

Investor akan mundur karena tidak ada jaminan tanah yang dibelinya atau yang akan dikembangkannya tidak akan ditetapkan sebagai tanah telantar yang kemudian disita pemerintah.

"Bank juga bisa-bisa tidak mau kasih kredit karena bisa saja tanah yang dijaminkan tiba-tiba hangus karena dianggap tanah telantar," ungkap Teguh.

Adanya kecemasan ini disebabkan Pasal 2 dalam PP tersebut yang menyebutkan obyek penertiban tanah telantar adalah tanah yang sudah diberikan hak oleh negara berupa Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, tetapi tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan dan sifatnya.

Selain itu, di dalam Pasal 6 dijelaskan kembali identifikasi tanah dianggap telantar atau tidak dimulai setelah tiga tahun sejak diterbitkannya hak-hak tersebut oleh negara. "Ini implikasinya akan ke industri real estat karena bahan bakunya tanah. Nah ini sulit. Mau membebaskan tanah misal 3 tahun belum beres, eh udah disita, nah ini gimana?" ungkap Teguh.

Cara-cara penyitaan yang dilakukan pemerintah juga dinilai tidak memberikan penghargaan kepada pengembang. "Di PP 11 ini tanah kami kalau tidak dikembangkan, dirampok begitu saja tanpa ada ganti rugi, di PP 36 Tahun 1998 masih ada mekanisme ganti rugi meski murah," ujarnya dalam acara Property Editor Club di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Menurutnya, REI tentu mendukung upaya pemerintah dalam menertibkan dan mendayagunakan tanah telantar untuk kepentingan rakyat. Namun, ia tidak setuju dengan cara-cara yang digunakan pemerintah dalam PP tersebut.

Penerbitan peraturan yang diusulkan Kepala Badan Pertanahan Nasional ini memberikan reaksi keras dari kalangan penggiat industri properti.

Peraturan ini dikeluarkan untuk mengganti aturan pada PP No 36 Tahun 1998 yang dianggap tidak dapat lagi dijadikan acuan dalam penertiban tanah telantar. Namun, dalam proses pembuatannya, pelaku industri properti mengaku tidak pernah sama sekali diajak berdiskusi.

Ocean One
July 28th, 2010, 05:19 PM
Penyerapan Kondo Hampir Habis Kuartal II-2010
Rabu, 28 Juli 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya proyek apartemen baru yang meluncur pada kuartal II-2010 menjadi titik awal pulihnya pasar apartemen. Pun begitu, lembaga riset Cushman & Wakefield mengamati, pada periode tersebut, terjadi penurunan pre-sale sebesar 1,5 persen dibandingkan dengan kuartal I tahun 2010.

Arief Rahardjo, Kepala Riset Cushman & Wakefield, mengatakan, penurunan ini terjadi karena adanya musim libur sekolah pada bulan Juni. Belum lagi, banyak kendala pada proyek rusunami atau apartemen bersubsidi dari pemerintah yang membuat beberapa pengembang menghentikan proyek tersebut dan mengubah proyek menjadi apartemen sederhana milik. "Biasanya kendala yang dihadapi seputar biaya konstruksi dan pembiayaan" ujar Arief.

Tingkat penjualan kumulatif proyek kondominium (kondo) di Jakarta dan sekitarnya masih sama dengan kuartal I tahun 2010, yakni sebesar 94,1 persen. Adapun tingkat penjualan pre-sale mencapai 59,4 persen atau turun 1,5 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Pada periode ini, kondominium kelas menengah-atas dan atas mencatat tingkat pre-sale sebesar 63,1 persen dan 63,4 persen. Di sisi lain, tingkat pre-sale kondominium kelas menengah mencapai 57,7 persen. Tingkat pre-sale apartemen sederhana mengalami peningkatan, dari 75,4 persen pada kuartal I tahun 2010 menjadi 77,4 persen pada kuartal II-2010.

"Perubahan kualitas dan fasilitas dari proyek rusunami menjadi proyek apartemen sederhana menaikkan aktivitas penjualan," lanjut Arief. Maklum, proyek ini cukup terjangkau oleh konsumen berpenghasilan menengah ke bawah.

Pasokan hingga tahun 2014

Di sisi lain, pasokan kondominium pada kuartal II-2010 mencapai 35.176 unit. Keseluruhan proyek ini akan masuk ke pasar hingga 2014. Sementara itu, proyek kondominium yang selesai kuartal dua lalu antara lain Maple Park menara B dan proyek apartemen sederhana Gading Nias menara C dan D. "Ini menjadikan total pasokan kumulatif di Jakarta pada kuartal dua lalu mencapai 76.670 unit.

Arief mengatakan, apartemen kelas menengah pada kuartal dua mendominasi pasar dengan porsi 61,3 persen. Pada periode yang sama, kondominium dengan target kelas menengah atas pun banyak meluncur.

Proyek ini antara lain The H-Tower Mutiara Menteng Mansion, Westmark, Puri Cinere, Green Lake Sunter, Silkwood Residence, Margonda Residence III, dan apartemen sederhana Paragon Village. Beberapa proyek lawas yang kembali diluncurkan pun ikut meramaikan pasar. Proyek ini antara lain Green Central yang sebelumnya bernama Starcity dan Menteng Square yang sebelumnya bersegmen rusunami dengan nama Menara Salemba Batavia.

Proyek kelas atas tak ketinggalan meluncurkan unit baru seperti Verde di Kuningan. Proyek ini merupakan renovasi dan peremajaan bangunan lama yang sebelumnya merupakan apartemen khusus sewa yang dikenal dengan nama Menara Budi. Proyek lain yang menyasar kelas menengah atas ialah Tamansari Semanggi. Proyek ini merupakan kelanjutan proyek lama bertajuk Hollywood Residence yang sebelumnya terhenti.

Perekonomian yang baik pun mengerek harga jual apartemen. Apartemen di kawasan central business district (CBD) tumbuh 3,2 persen menjadi Rp 16,53 juta per meter persegi (m2). Kawasan CBD yang dimaksud, misal, Sudirman, Kuningan, Thamrin, Gatot Subroto, dan Satrio. Lalu, di area primer harga jual tumbuh 1,9 persen menjadi Rp 15,4 juta per m2. Yang dimaksud area primer antara lain Kebayoran Baru, Senayan, Menteng, Pondok Indah, Permata Hijau, dan Kemang.

"Sistem pembayaran tunai dan balloon payment masih menjadi sistem pembayaran yang paling banyak diminati," lanjut Arief. Alhasil, ia menyimpulkan, membaiknya ekonomi membuat pengembang yakin meluncurkan produk kondominium baru.

Ocean One
July 31st, 2010, 05:29 PM
Besar, Minat Asing Miliki Properti di Indonesia
Jumat, 30 Juli 2010

KOMPAS.com - Perekonomian yang mulai menggeliat di sejumlah negara membuat para pemilik modal mencari bentuk baru untuk menanamkan modalnya. Selama ini sudah sering diiklankan properti-properti di Singapura dan Australia dipasarkan di Indonesia. Bagaimana dengan kemungkinan properti Indonesia dipasarkan di pasar asing?

Belum banyak yang tahu, sekarang pemodal asing juga mengincar properti Indonesia, terutama di kawasan-kawasan wisata yang eksotis dan menyedot wisatawan asing setiap tahunnya. Hal ini disebabkan harga tanah di Indonesia masih jauh lebih murah dibanding negara lain, seperti Singapura, Australia, Hongkong, dan negara-negara sekitar. Sementara fasilitas dan pemandangan alam yang ditawarkan tidak kalah dengan apa yang ada di negara-negara lain.

Di Hongkong, misalnya, sebagian besar warga Hongkong hanya bisa menyewa apartemen karena harga properti di Hongkong sangat mahal. Bahkan, menurut The Straits Times, harian Singapura, edisi 12 Juni lalu, harga properti di Hongkong, China, dan Singapura paling mahal di dunia dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Pemilik properti di negara-negara itu bukan hanya warga negara mereka sendiri, melainkan juga warga negara asing yang memang diizinkan untuk memiliki properti di sana.

”Jika banyak orang asing yang memiliki properti di Indonesia, harga tanah di Indonesia juga akan meningkat. Orang Indonesia pun akan lebih tertarik berinvestasi di Indonesia daripada membeli properti di negara lain,” ujar Magda.

Kepemilikan properti oleh WNA juga berarti masuknya modal asing ke Indonesia. ”Investasi di Indonesia tidak hanya berarti membuka perusahaan di Indonesia, tetapi juga membeli properti. Jika banyak yang berinvestasi di properti, pembangunan akan terus berjalan dan tentu menyerap tenaga kerja,” kata Magda.

The W Residences Seminyak yang dimiliki oleh PT Dua Cahaya Anugrah (DCA), tetapi dikelola oleh Starwood Hotels & Resorts membuka kemungkinan WNA memiliki vila-vila yang ada di dalamnya.
Investasi di Indonesia tidak hanya berarti membuka perusahaan di Indonesia, tetapi juga membeli properti. Jika banyak yang berinvestasi di properti, pembangunan akan terus berjalan dan tentu menyerap tenaga kerja.
-- Magda Hutagalung

”Keinginan WNA memiliki properti di Indonesia, terutama di Bali, sangat besar. Mereka senang bisa berlibur ke Bali dan tinggal di rumah mereka sendiri. Pemerintah juga diuntungkan dengan adanya investasi asing di Indonesia yang bisa mendorong laju perekonomian,” kata Magda Hutagalung, Direktur Utama PT Dua Cahaya Anugrah, pemilik W Retreat & Spa dan The W Residences Seminyak.

Pemaparan soal The W Residences dan segala fasilitasnya ternyata menarik bagi calon investor yang diundang cocktail party di The W Hotels Hongkong. Mereka menyatakan diri sangat berminat, terlebih mengetahui letak properti itu di Seminyak, kawasan paling prestisius saat ini di Bali.

Antusiasme calon investor itu semakin membuncah ketika mengetahui The W Residences itu juga menjanjikan nilai investasi yang tinggi. Magda menuturkan, dengan memiliki vila berkamar satu yang harganya 1,4 juta dollar AS (setara Rp 1,26 miliar), pemilik vila akan mendapatkan dua keuntungan investasi. Pertama, nilai tanah yang terus berkembang. Kedua, hasil pengelolaan dari Starwood Hotels & Resorts dengan porsi 40 persen bagi pemilik dan 60 persen bagi pengelola.

”Pemilik properti bisa menempati vila itu selama empat minggu dalam setahun. Sisanya, 48 minggu, diserahkan ke Starwood Hotels & Resorts untuk disewakan. Perhitungan kasar saya, dalam setahun pemilik vila bisa mendapatkan sekitar Rp 700 juta,” kata Magda, yang rencananya juga akan menawarkan The W Residences ini ke China, Singapura, dan Rusia.

Ocean One
August 12th, 2010, 04:50 PM
Kamis, 12/08/2010
Gugatan sengketa gedung BRI ditunda


JAKARTA (Bisnis.com): Pengadilan Negeri Jakarta Pusat siang tadi kembali menggelar sidang perkara antara PT Bank BRI Tbk dan Dana Pensiun BRI melawan PT Mulia Persada Pasific terkait dengan sengketa perjanjian pembangunan gedung BRI II dan III.

Dalam sidang yang dipimpin oleh majelis hakim Yulman, tergugat memperoleh kesempatan untuk menyampaikan materi jawaban atas gugatan yang diajukan para penggugat. Sidang akhirnya ditunda hingga 19 Agustus dengan agenda replik dari penggugat.

Sebelumnya, dalam berkas gugatan penggugat yang diwakili oleh salah satu Jaksa Pengacara Negara Edwin P. Situmorang, tergugat disebut-sebut baru menyelesaikan beberapa kewajibannya dalam membangun gedung BRI II, a.l. menghadirkan 27 lantai berikut gedung parkir minimal 99.000 meter persegi.

Sementara, menurut gugatan penggugat, kewajiban yang belum dilaksanakan a.l. penyediaan ruang fasilitas shower sejumlah 50 di lantai 3 gedung parkir.

Selain itu tergugat dianggap tidak menyediakan ruang seluas 500 meter persegi satu blok area pada lantai 3 atau lantai 1 gedung parkir sebagai ganti ruang di Gedung Annex, lantai yang layak dipergunakan sebagai tempat upacara, senam, dan olah raga.

Karena dinilai tidak melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian, akhirnya para penggugat melayangkan gugatan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang pada intinya meminta pengadilan untuk menyatakan perjanjian tersebut berakhir karena ingkar janji sejak gugatan ini didaftarkan.

Dalam gugatannya, para penggugat a.l. menuntut tergugat mengembalikan Gedung BRI II serta mengganti kerugian sebesar Rp347,801 miliar yang berasal dari pembayaran sewa gedung BRI II yang seharusnya diterima penggugat II sejak 1998 dan ganti rugi sebesar Rp887,040 miliar akibat penggugat II telah kehilangan nilai gedung BRI III.
http://www.bisnis.com/umum/hukum/1id200238.html

Ocean One
August 12th, 2010, 05:03 PM
Kamis, 12/08/2010
Daya saing properti RI terancam turun terus


JAKARTA: Daya saing industri properti Indonesia berpotensi terus menurun jika pemerintah tidak segera mengeluarkan tiga kebijakan dasar yang dapat mendongkrak daya saing.

Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi)Soeharsojo mengatakan ketiga kebijakan itu adalah regulasi pertanahan yang berpihak pada pengembang, penyederhanaan perizinan, dan insentif fiskal berupa pengurangan pajak.

“Proses pembebasan lahan selalu bermasalah, sedangkan pajak properti yang dikenakan juga berlapis-lapis. Jika tak ada kepastian berbisnis, proyek-proyek properti baru akan terhambat,” katanya kepada Bisnis hari ini.

Dia menjelaskan dari sisi pajak, investor lokal dan asing masih dikenakan berbagai pungutan, seperti bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), pajak penjualan barang mewah (PPnBM), dan pajak pertambahan nilai (PPN) dengan besaran masing-masing 5%, 21%, dan 10% dari harga properti.

Padahal, imbal hasil kotor sewa properti Indonesia per tahun dalam jangka panjang justru sangat menjanjikan. Di Asia, imbal hasil properti Indonesia justru berada di urutan teratas, yakni 11,38%.

Namun, buruknya regulasi di bidang properti, besarnya suku bunga kredit perumahan, dan larangan status kepemilikan properti oleh asing menempatkan daya saing industri properti Indonesia di posisi moderat.
http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id200200.html

Ocean One
August 12th, 2010, 06:54 PM
Kamis, 12/08/2010
Mal tumbuh pesat di pinggiran Jakarta

http://www.bisnis.com/data/images/news/news_20100812153218_200168_0.jpg

JAKARTA: Pembangunan pusat perbelanjaan dan perdagangan diperkirakan semakin banyak di wilayah penyangga Jakarta seiring dengan menguatnya daya beli pasar di wilayah tersebut.

Hary Jap, Presdir Indoproperty, konsultan marketing properti, mengatakan pembangunan mal di wilayah penyangga, seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor akan makin banyak dalam beberapa tahun mendatang disebabkan oleh daya masyarakat yang terus tumbuh.

"Pekerja di Jakarta kan banyak yang tinggal di wilayah penyangga. Ini merupakan kekuatan ekonomi yang mendukung dikembangkannya proyek pusat perbelanjaan di wilayah tersebut [penyangga]," katanya di Jakarta, hari ini.

Menurut Hary, pembangunan pusat perbelanjaan di pinggiran Jakarta bisa mempercepat pertumbuhan kawasan ekonomi baru sehingga dapat memperlebar peluang ekonomi ke daerah tetangga.

"Bahkan, ritel besar seperti Giant, Hypermart, dan Carrefour ikut ekspansi ke pinggiran Jakarta dengan menjadi tenant di pusat perbelanjaan baru itu. Ini sudah banyak terjadi di Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor," ujarnya.

Hary menambahkan di tiap-tiap daerah penyangga itu juga akan muncul distrik-distrik ekonomi baru yang akan saling bersaing satu sama lain.

Dia mencontohkan munculnya satelit bisnis, seperti Pamulang, Cibubur, Ciledug, Ciputat, Metro Bekasi, dan Serpong memicu perkembangan pusat perbelanjaan cukup pesat.

Di sisi lain, papar Hary, pembangunan pusat perbelanjaan di pinggiran Jakarta akan mengurangi trafik lalu lintas ke pusat Jakarta karena masyarakat pinggiran tidak perlu lagi ke Jakarta untuk berbelanja.

"Supaya daya tarik pusat perbelanjaan di pinggiran makin kuat, maka perlu juga dilengkapi dengan fasilitas entertain dan gaya hidup, seperti pusat kuliner dan rekreasi keluarganya," katanya.
http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id200168.html

Ocean One
August 14th, 2010, 06:30 PM
Bakrieland Kini Miliki Bank Tanah Terluas
Sabtu, 14 Agustus 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/05/27/1403489620X310.jpg

Hiramsyah S Thaib, CEO Bakrieland


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akhirnya merealisasikan akuisisi beberapa lahan baru dengan menggunakan dana segar dari gelaran penerbitan saham baru alias rights issue.

Presiden Direktur ELTY Hiramsyah Thaib menjelaskan, pada akhir Juli 2010 lalu, Bakrieland telah merampungkan akuisisi lahan di Bukit Jonggol Asri (BJA) seluas 10.500 hektare. Artinya, kini Bakrieland menjadi pemegang saham mayoritas BJA sebesar 51 persen, dan menguasai 20 persen saham Bukit Sentul.

Saat ini total lahan yang dimiliki ELTY mencapai 15.000 ha. ''Kami bisa dikatakan sebagai pengembang yang memiliki landbank terbesar di Jakarta,'' ujar Hiramsyah, Jumat (13/8).

Hiramsyah melanjutkan, Bakrieland menganggarkan sekitar Rp 450 miliar-Rp 500 miliar untuk pembangunan infrastruktur BJA. Dengan rincian, biaya pembangunan infrastruktur awal sebesar Rp 300 miliar. Sementara sisanya yakni Rp 150 miliar-Rp 200 miliar untuk pembangunan jalan yang menghubungkan antara BJA dengan Bukit Sentul.

Bakrieland sendiri menganggarkan sekitar Rp 5 triliun untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan BJA. ''Tapi itu bertahap. Untuk infrastruktur awal, kami hanya butuh Rp 300 miliar,'' ujar Hiramsyah.

Adapun untuk pembangunan jalan, lanjut Hiramsyah, akan dimulai usai Lebaran nanti. Diperkirakan pembangunan jalan sepanjang 10 km ini akan memakan waktu hingga 9 bulan.

Bila pembangunan awal BJA berjalan sukses, ELTY berharap bisa meraup penjualan mencapai Rp 1,5 triliun dalam tiga tahun ke depan.
http://properti.kompas.com/index.php/read/2010/08/14/09112755/Bakrieland.Kini.Miliki.Bank.Tanah.Terluas.-12

Ocean One
August 16th, 2010, 11:37 AM
Minggu, 15/08/2010
250 Proyek properti ikuti WAF 2010


JAKARTA: Lebih 250 proyek properti dari seluruh dunia mengikuti Festival Arsitektur Dunia atau World Architecture Festival (WAF) 2010 di Barcelona yang akan diumumkan pada November 2010.

Festival arsitektur bergengsi merupakan kegiatan tahunan para perancang bangunan, penata kota, developer, dan para akademisi yang digelar sejak 2008. Acara ini rencananya akan dihadiri 1.000 arsitek dari 80 negara.

"Saya jarang melihat tingkat partisipasi yang begitu tinggi dari peserta, juri, dan para pembicara pada pertemuan asitektur, kecuali festival ini,” ujar Suha Ozkan Ketua Komunitas Arsitektur Dunia seperti dikutip dalam situs resmi WAF 2010, hari ini.

Pada festival tahun ini, juri akan memilih satu gedung atau bangunan yang dinilai paling unik, modern, namun tetap bisa menyatu dengan lingkungan dan budaya sekitarnya. Pada tahun lalu, pemenang WAF 2009 dikantongi oleh sebuah Mapungubwe Interpretation Centre, sebuah bangunan untuk ruang pertemuan budaya bagi warga lokal karya arsitek
asal Afrika Selatan, Peter Rich.

Sebelu memilih bangunan terbaik sejagat, panitia juga memilih sejumlah bangunan terbaik berdasarkan empat kelompok besar, yaitu kelompok bangunan yang sudah jadi, kemudian kelompok bangunan yang dalam tahap perancangan (future project), desain interior, dan desain struktural.

Setiap kelompok itu mempunyai kategori lagi, seperti bangunan khusus olah raga, perkantoran, hunian, mal, rumah sakit, lansekap, gedung pendidikan, dan transportsi.

Pada festival tahun ini, panita menambahkan satu penghargaan lagi yaitu kategori seni arsitektur. Direktur Program WAF Paul Pinch mengatakan ketegori ini dibuka untuk untuk mendorong dan merayakan hubungan antara seni dan arsitektur.

“Kolaborasi antara arsitek, seniman dan mitra kerja akan dipamerkan dan dinilai dalam bagian penghargaan baru yang disebut Seni dalam Arsitektur',” ujarnya.
http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id200770.html

Ocean One
August 24th, 2010, 04:16 PM
Lippo Karawaci Bangun 15 Mal dan 25 Rumah Sakit
Selasa, 24 Agustus 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/06/16/2110167620X310.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Lima tahun ke depan, manajemen PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berambisi menambah portofolio asetnya, yakni 15 pusat perbelanjaan modern atau mal dan sekitar 25 rumah sakit baru.

Setidaknya, rencana itulah yang mereka ungkapkan dalam roadshow 9 Agustus-12 Agustus silam. Lewat lawatan ini, mereka berharap bisa memikat investor di sejumlah kota penting Asia, seperti Hong Kong, Singapura, dan Tokyo.

Kepala Komunikasi Perusahaan LPKR Danang Kemayan Jati mengungkapkan, investor asing sangat tertarik dengan proyek investasi di Indonesia, termasuk di sektor properti. Maklum, Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang cerah.

Roadshow LPKR kali ini merupakan non-deal roadshow alias tanpa kesepakatan. "Selain membina hubungan, kami juga ingin melihat minat investor asing ke Indonesia," tutur Danang, kemarin (23/8).

Hubungan Investor LPKR Mark Wong menambahkan, saat ini pihaknya sudah memiliki landbank atau cadangan lahan seluas 1.600 hektare (ha). Aset inilah yang akan mereka pakai untuk membangun beberapa proyek properti tersebut.

Saat ini saja, LPKR mengaku telah mengelola tidak kurang dari 25 mal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tak cuma itu. LPKR juga berencana menambah dua menara apartemen baru pada tahun ini.

Sayang, manajemen LPKR masih enggan mengungkap total dana yang dianggarkan untuk mewujudkan seluruh proyek tersebut. Danang hanya mengatakan, sebagian pendanaan akan mereka tutup dari sumber eksternal. Belum jelas, apakah wujudnya kredit bank, penerbitan obligasi, atau real estate investment trust (REIT).

Pada 10 Mei lalu, LPKR menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 270,61 juta. Obligasi itu mereka terbitkan melalui anak usahanya yang benama Sigma Capital Pte Ltd. Hasilnya digunakan untuk melunasi utang obligasi anak usahanya yang lain, yakni Lippo Karawaci Finance B.V.

Hingga penutupan pasar kemarin, harga saham LPKR berakhir di level Rp 530 per saham atau naik 1,92 persen.

Ocean One
August 24th, 2010, 04:24 PM
Gapuraprima Cari Dana Untuk Akuisisi Tiga Trade Center
Selasa, 24 Agustus 2010


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) sedang mencari dana untuk mengakuisisi tiga buah pusat perdagangan atau trade center. Saat ini, perusahaan properti ini sedang mengevaluasi dua opsi pendanaannya, yakni antara penerbitan saham baru (rights issue) atau emisi obligasi. "Tapi kami lebih cenderung memilih rights issue," kata Rosihan Saad, Sekretaris Perusahaan GPRA, Senin (23/8).

Menurut Rosihan, Gapuraprima sedang dalam pembicaraan dengan beberapa pihak untuk menentukan opsi yang akan mereka ambil. "Kami masih menjajaki dengan beberapa pihak, yaitu Henan Putihrai, Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas. Hasilnya nanti tergantung mereka," katanya.

Rosihan mengakui, sebetulnya kondisi pasar saat ini tidaklah terlalu bagus untuk menggelar rights issue. Namun, Gapuraprima memastikan tetap melakukan aksi tersebut tahun ini. Pasalnya, pengembang ini membutuhkan dana untuk mengakuisisi Bekasi Trade Center, Bandung Trade Center dan Jatinangor Trade Center. Gapuraprima akan mengambil alih ketiga pusat perdagangan yang berada di Jawa Barat tersebut, tahun ini juga.

Gapuraprima menargetkan hasil rights issue sebesar Rp 700 miliar. Rosihan menyebutkan, rencananya aksi ini akan digelar Oktober mendatang.

Selain akuisisi, tahun ini Gapuraprima berencana mengembangkan sejumlah proyek baru, yakni pembangunan apartemen low rise di Kebayoran, Jakarta Selatan, serta pembangunan hotel dan apartemen di Kuta, Bali.

Rosihan menuturkan, tahun ini Gapuraprima sedang menuntaskan perizinan untuk membangun sejumlah apartemen low rise di Jakarta. "Ada beberapa titik, dan sedang dalam proses perijinan di Pemda DKI," ujarnya. Kabarnya, izin tersebut akan terbit usai Lebaran.

Rosihan juga mengklaim, masyarakat menyambut baik sejumlah proyek baru Gapuraprima. "Perumahan Bukit Cimanggu City di Bogor, setiap bulannya memberikan pemasukan lebih dari Rp 10 miliar," kata Rosihan.

Selain Cimanggu, Gapuraprima tengah mengembangkan kawasan perumahan di Metro Cilegon dan Taman Raya Cilegon di Cilegon Banten, Taman Raya Citayam di Citayam, Depok, Jawa Barat, dan Anyer Palazzo di Anyer, Banten. Di Bogor, GPRA memiliki lahan seluas 140 hektare dan Cilegon seluas 100 hektare.

Pada penutupan bursa kemarin (23/8), harga saham GPRA naik 1,85% menjadi Rp 110 per saham.

sesamee
August 26th, 2010, 09:48 AM
Menunggu Realisasi Indonesia Movieland
Wednesday, 25 August 2010

AMERIKAboleh punya Hollywood,India silakan bangga dengan Bollywood-nya.Karena sebentar lagi Indonesia pun bisa berbangga karena punya pusat Industri film ala Hollywood,bernama Indonesia Movieland.


Saat ini Indonesia memang belum bisa disebut memiliki industri film. Semua film yang diproduksi oleh insan film Indonesia masih bertumpu pada production house (PH) dan orang kaya yang memiliki banyak uang.Bahkan dengan banyaknya produk film yang dihasilkan, Indonesia masih belum memiliki pusat industri film dan televisi. Dari sinilah,PT Jababeka membuat pusat Industri Film Indonesia Movieland di Cikarang,Bekasi.Kelak, Indonesia Movieland yang saat ini masih dalam tahap pembangunan, akan menjadi pusat kreatif pembuat film.

Di tempat inilah insan film Indonesia bisa leluasa melakukan aktivitasnya dalam memproduksi film, iklan, hingga sinetron televisi. Lalu seperti apa Indonesia Movieland sebenarnya? Konsep Indonesia Movieland di lokasi Jababeka, Cikarang,Bekasi,sendiri diproyeksikan sebagai ”one stop film and TV industry in Indonesia”.Dengan luas 36 hektare khusus untuk kegiatan industri film,plus 5.600 hektare lokasi keseluruhan wilayah Kota Jababeka,insan perfilman Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan segala fasilitas yang ada di Indonesia Movieland ini.

Sejak Agustus 2008 Indonesia Movieland memang sudah digagas dan dimulai pembangunannya.Di tempat ini, Indonesia Movieland tidak hanya sebagai sebuah pusat industri kreatif yang berfokus pada industri film dan televisi, tetapi juga sebuah themepark layaknya Universal Studio di Hollywood. Tak hanya itu,Indonesia Movieland juga menyiapkan fasilitas-fasilitas yang mendukung ”one stop film and TV industry in Indonesia” yakni keberadaan stasiun TV dan berbagai fasilitas studio yang berbeda ukuran, jenis, untuk membuat iklan TV, film, dan program siaran langsung.

Lalu juga disediakan tempat bekerja yang mudah disesuaikan untuk persiapan produksi dan pekerjaan produksi,membangun pusat kebudayaan dengan unik yang akan menjadi penunjuk dari kekreatifan fasilitas industri,kerja sama dengan berbagai elemen pendidikan untuk menyiapkan tenaga kreatif, kafe, dan tempat hiburan yang nyaman dan mempunyai nilai tinggi.Tempat ini buka 24 jam untuk melayani perbedaan gaya bekerja dan gaya hidup dari kekreatifan orang-orang industri dan beberapa fasilitas penunjang lain yang akan menyokong keberadaan studio yang ada di Indonesia Movieland.

”Semua fasilitas untuk keperluan industri film kami sediakan. Saat ini kami sedang membangun Hollywood plaza di kawasan ini,” kata Promotion Manager Indonesia Movieland Clara Sinta kepada harian Seputar Indonesiakemarin. Clara Sinta menyatakan, sebagai one stop film and TV industry,kawasan Indonesia Movieland memang cocok digunakan untuk lokasi syuting.Ketersediaan lahan yang luas,dilengkapi dengan gedung,rumah sakit, hingga apartemen, sangat cocok digunakan untuk membuat film,iklan maupun sinetron.

Bahkan di luar kawasan khusus untuk film, Jababeka sendiri memiliki potensi fasilitas pendukung sangat lengkap,seperti water treatment plant, waste water treatment plan, didukung tiga pembangkit listrik (Cikarang Listrindo, Bekasi Power, dan suplai dari PLN) serta 1.500 pabrik,menjadikan lokasi ini sangat layak untuk menjadi pusat industri film di Indonesia. Apalagi, di lokasi ini masih banyak angle yang baru dan menarik yang disediakan oleh Indonesian Movieland, seperti jalan raya dengan konsep kuno hingga modern. ”Hingga saat ini sudah banyak para kreatif film yang membuat film di lokasi ini, meski untuk keseluruhan bangunan baru bisa dinikmati tiga tahun mendatang,”kata dia.

Untuk saat ini memang belum banyak production house (PH) yang akan memindahkan seluruh kegiatan syuting ke Indonesian Movieland. Hanya beberapa PH yang baru menandatangani MoU untuk memindahkan kegiatan syuting di lokasi ini. Group Parkit Films dan MVP Pictures,pimpinan Raam Punjabi, sebagai rumah produksi sinetron dan film terbesar di Indonesia merupakan salah satu PH yang telah memberikan komitmennya dan menandatangani MoU untuk memindahkan semua kegiatan syuting beserta seluruh perlengkapannya ke lokasi Indonesia Movieland. Menurut Raam Punjabi, keberadaan Indonesia Movieland di Indonesia merupakan langkah maju bagi industri perfilman di Indonesia.

Pasalnya,dengan adanya Indonesia Movieland, insan film akan dengan mudah bisa mendapatkan lokasi syuting hanya dalam satu lokasi. ”Apalagi di tempat ini juga akan dibangun apartemen untuk artis sehingga setiap artis akan tiba ke lokasi syuting tepat waktu,”kata Raam Punjabi. Menurut Raam, konsep Indonesia Movieland sendiri hampir sama dengan Ramoji Film City di India dan Universal Studios,Amerika Serikat.

Tak hanya menyediakan lokasi syuting,tempat ini juga akan menyediakan fasilitas dan sarana untuk pembuatan film plus lembaga pendidikan untuk calon artis. Keberadaan lembaga pendidikan ini tentunya akan menjadi salah satu faktor pendorong agar mutu dan kualitas artis Indonesia menjadi lebih baik.(sofian dwi)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/346938/

sesamee
August 31st, 2010, 04:08 PM
Pasar properti asing di RI capai Rp22,5 triliun
Oleh: Yusuf Waluyo Jati

JAKARTA: Potensi pasar properti asing di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan bisa menembus US$2,5 miliar atau sekitar Rp22,5 triliun apabila pemerintah memberikan kepastian regulasi tentang status kepemilikan asing yang selama ini masih menggantung.

Berdasarkan kajian Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), kalangan pengembang bisa memberikan tambahan pasokan properti kepada orang asing sebanyak 10.000 unit dalam 3-5 tahun setelah regulasi kepemilikan asing dipertegas.

Ketua Umum DPP-REI F. Teguh Satria mengatakan kepemilikan properti oleh asing akan berdampak cukup besar bagi Indonesia. Pasar properti khusus sektor ini berpotensi mencapai hingga US$2,5 miliar.

Menurut dia, perhitungan tersebut berdasarkan asumsi harga rata-rata properti kelas menengah atas sekitar US$250.000 (Rp2,25 miliar) per unit dikalikan dengan potensi penyerapan pasar properti asing sekitar 10.000 unit.

“Dana sebesar itu pasti bisa menggerakkan industri hulu dan hilir properti,” katanya petang ini.

Selain itu, papar Teguh, potensi orang asing untuk memiliki properti di dalam negeri cukup besar mengingat harga lahan di Indonesia cukup murah dibandingkan dengan harga lahan di luar negeri.

Berdasarkan informasi dari Global Property Guide, hingga awal kuartal II/2010, harga rata-rata lahan properti di Indonesia paling murah dibandingkan dengan 11 negara Asia lainnya, atau hanya sekitar US$1.381 per m2, sedangkan harga termahal ditempati Hong Kong senilai US$16.422 per m2.

Harga rata-rata lahan di Indonesia ternyata juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan Kamboja, Filipina, dan Malaysia.(jha)

http://web.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id205063.html

David-80
September 13th, 2010, 08:12 PM
Booming Demand in Indonesia for Serviced Offices

Irvan Tisnabudi | September 12, 2010

Jakarta. Jakarta’s serviced-office market is booming as more foreign companies enter Indonesia, attracting companies eager to invest in the sector.

While still only a fraction of the market, the number of serviced offices on the market in central Jakarta has risen 50 percent in the past year and could rise a further 30 percent in the second half of this year, according to Jones Lang LaSalle Indonesia.

Jones Lang LaSalle estimates there are 30,000 square meters of serviced office space, less than 1 percent of the total office market in the central business district. But property consultants expect the robust growth to continue along with Indonesia’s economy.

Globally, about 5 percent of office space is serviced.

Anton Sitorus, head of research at Jones Lang LaSalle, said 70 percent of tenants of serviced offices in Jakarta were international companies.

“With the Indonesian economy performing solidly, companies are expanding, thus the occupancy rate and total space of both the office and serviced-office sectors in Jakarta’s CBD, are increasing,” Anton said.

The economy grew 5.9 percent in the first half and it is expected to continue at a healthy clip.

Serviced offices offer flexible rental rates based on length of stay and facilities required. They provide shared reception areas and other resources, resulting in lower costs.

Anton said such offices were the perfect way for a company to make its initial move into the city or for firms that wanted to avoid the hassle and time involved in setting up a permanent office.

According to William Willems, regional vice president of Regus, which offers serviced offices at three locations in Jakarta, business is thriving.

“Currently the occupancy rate of Regus’s three branch offices in Jakarta is about 95 percent, up from 85 percent at the end of last year,” Willems said.

Among Regus’s clients in Jakarta are international IT company Symantec and international bank ICICI. It also hosts local law firms and travel agencies.

CEO Suite, another company providing serviced offices, counts among its clients the Bank of America, Ernst & Young and Merrill Lynch.

The broader market for office rentals is also seeing increased demand.

Anton said Jones Lang LaSalle recorded an increase of 93,000 square meters of office space in Jakarta’s CBD in the second half compared to the same period last year.

After the first quarter of the year, the occupancy rate in the CBD was 80 percent, compared with 78 percent in the same period in 2009.

Source http://www.thejakartaglobe.com/bisindonesia/booming-demand-in-indonesia-for-serviced-offices/395708

Cheers

Ocean One
September 21st, 2010, 12:31 PM
Kementerian PU bangun 70 rusunawa tahun depan
Selasa, 21/09/2010


JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum akan membangun 70 rumah susun sederhana sewa (rusunawa) twin block tahun depan, untuk memenuhi kebutuhan rusunawa di Indonesia.

Rencana pembangunan, akan dilaksanakan secara bertahap pada 2011-2012.

Sekjen Kementerian PU Agoes Widjanarko mengatakan rencana pembangunan 70 rusunawa itu merupakan salah satu program prioritas yang dianggarkan oleh kementerian itumelalui Ditjen Cipta Karya.

Dalam anggaran 2011, program kegiatan yang akan diandalkan di Ditjen Cipta Karya a.l pembangunan 70 rusunawa, pengembangan infrastruktur permukiman di kawan kumuh (112 kawasan).

Selain itu, ada pula peningkatan tempat pembuangan akhir (TPA) di 60 kab/kota, persampahan terpadu di 77 lokasi.

"Ini merupakan rencana program yang kami siapkan untuk 2011, dan diharapkan seluruhnya bisa terealisasi,” ujar Agoes, hari ini.

Sementara itu, Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) Cipta Karya Kementerian PU Amwazi Idrus mengatakan rencana pembangunan ke 70 rusunawa itu akan dilaksanakan dalam periode 2011-2012.

Hal tersebut sesuai dengan kesiapan masing-masing daerah tempat rusunawa dibangun. (zuf)

http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id209283.html

mangput
September 22nd, 2010, 10:59 AM
Modernland dan Premier garap hunian kelas atas di Kota Modern

Jakarta – PT Modernland Realty Tbk kembali menggandeng PT Premier Qualitas Indonesia untuk menggarap proyek hunian kelas atas di Kota Modern, Tangerang. Proyek senilai Rp100 miliar ini merupakan kerjasama keempat yang akan dibangun di areal seluas 3,8 hektare.

Di atas area seluas 3,8 hektare, dengan total 137 unit rumah, diperkirakan pembangunannya akan menelan dana sebesar Rp 100 miliar. "Klaster ini diberi nama Premier Golf Estate dan rumah yang ditawarkan berukuran mulai dari luas tanah 127 m2 dan luas bangunan 144 m2 sampai dengan luas tanah 225 m2 dan luas bangunan 209 m2," kata Presiden Direktur PT Premier Qualitas Indonesia Tommy Wong usai menandatangani perjanjian kerja sama keempat antara PT Premier Qualitas Indonesia dan Modernland Realty di Jakarta, Senin (30/8)

Tommy Wong menyebutkan, sumber pendanaan untuk proyek tersebut berasal dari dana internal perusahan masing-masing. Modernland menyediakan lahan, sedangkan pendanaan untuk konstruksi dan infrastruktur bersumber dari kocek PT Premier Qualitas Indonesia.

PT Premier Qualitas Indonesia merupakan anak usaha PREMIER/Les Nouveaux Constructeurs, perusahaan pengembang realestat terbesar di Perancis. PREMIER melanjutkan tradisi dari seni bangunan yang tinggi di setiap proyek yang dikembangkan seperti yang ada di Paris, Berlin, Los Angeles, Madrid atau Barcelona. Perusahaan ini telah menancapkan benderanya di industri properti di Indonesia sejak 1998 silam. Secara keseluruhan, saat ini Premier telah mengembangkan 14 proyek perumahan di Jabodetabek.

Presiden Direktur PT Modernland Realty Edwyn Lim menambahkan, pengembangan kawasan hunian Kota Modern dirancang secara berwawasan lingkungan. Tak heran area hijau begitu banyak dijumpai di sekitar kawasan hunian yang dikembangkan sejak tahun 1983. “Kami menerapkan konsep green property di Kota Modern,” kata Edwyn Lim.

Kenyamanan penghuni semakin bertambah dengan banyaknya fasilitas yang ada di Kota Modern. Antara lain Padang Golf Modern (18 hole & night golf), Sport Club (Badminton, Tennis Indoor, Swimming Pool, Fitness Centre, Aerobik, Squash, Table Tennis, Basket Ball, Futsal, dll), Metropolis Town Square (Mal terbesar & terlengkap di Tangerang), Rumah Sakit Mayapada, Sekolah Harapan Bangsa, dan BPK Penabur.

Menurut Manggala Wicaksono, Business Development dari PT Premier Qualitas Indonesia dengan harga per unit mulai dari Rp 900 jutaan konsumen akan dapat menikmati fasilitas Sport Club Padang Golf Modern dengan gratis. Kluster ini bernama Premier Golf Estate. Pengembangan klaster ini merupakan proyek keempat antara PT Premier Qualitas Indonesia dan PT Modernland Realty Tbk."
Hingga kini kami telah sukses mengembangkan 14 proyek perumahan dengan segment premium class di Jabodetabek.
Dengan ini kami juga memberikan kesempatan kepada para investor dan pemilik lahan untuk bekerjasama dengan kami guna mengembangkan lahannya.

eurico
March 14th, 2011, 03:45 AM
Menunggu Kepastian Aturan Kepemilikan Asing

Kamis, 3 Maret 2011 | 20:40 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Kalangan pengembang menantikan kepastian revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 yang mengatur tentang kepemilikan properti oleh warga negara asing (WNA) di Indonesia. Saat ini, rancangan undang-undang pertanahan dalam prolegnas 2011 yang dibahas Badan Pertanahan Nasional bersama DPR tahun ini.
Pembahasan baru untuk undang-undangnya, tapi peraturan pemerintahnya belum. Diperkirakan akan selesai semester II-2011.
-- Setyo Maharso

"Pembahasan baru untuk undang-undangnya, tapi peraturan pemerintahnya belum. Diperkirakan akan selesai semester II-2011," kata Setyo Maharso, Ketua Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI), saat dihubungi Kompas.com, Kamis (3/3/2011).

Menyoal kepemilikan properti untuk orang asing, REI mengharapkan ada terobosan yang signifikan. REI juga telah menyampaikan usulan yang dapat dimasukkan ke dalam peraturan pemerintahnya nanti.

Usulan tersebut mengenai jangka waktu hak tanah minimal 70 tahun, harga properti terendah yang dapat dibeli oleh asing di atas Rp 1 M, unit hunian yang akan dibeli adalah unit hunian baru, dan kepemilikan orang asing dalam satu kawasan tidak lebih dari 49 persen.

Setyo mengatakan, pengembang di Indonesia sudah menantikan kepastian peraturan ini. Kesempatan ini untuk menarik minat pembelian produk properti oleh asing. (Natalia Ririh)

source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/03/2040491/Menunggu.Kepastian.Aturan.Kepemilikan.Asing

eurico
March 14th, 2011, 03:46 AM
Indonesia Tidak Akan Alami "Bubble" seperti China

Jumat, 4 Maret 2011 | 15:34 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Kalangan pengembang menilai kekhawatiran bubble atau harga properti naik yang tidak mampu diikuti daya beli setelah orang asing diizinkan kepemilikannya tidak akan terjadi di Indonesia. Regulasi pemerintah dan peraturan ketat perbankan dinilai menjadi langkah penangkalnya.
Saya rasa bubble tidak akan terjadi di Indonesia. Karena orang asing yang boleh memiliki properti di Indonesia itu nanti hanya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bali, Medan, Palembang, Makassar. Unit kepemilikannya terbatas.
-- Setyo Maharso

"Saya rasa bubble tidak akan terjadi di Indonesia. Karena orang asing yang boleh memiliki properti di Indonesia itu nanti hanya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bali, Medan, Palembang, Makassar. Tidak di semua kawasan dan juga unit kepemilikannya terbatas," kata Setyo Maharso, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (REI), ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (3/3/2011) malam.

Senada dengan Setyo, menurut Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development, Tbk, kekhawatiran akan terjadi bubble seperti di China tidak akan terjadi. "Ada kekhawatiran bubble setelah asing bisa memiliki properti harga lalu melambung, di mana masyarakat menengah ke bawah tidak bisa menjangkau daya belinya. Di Singapura sudah mulai terjadi, tapi Indonesia ini memiliki pertumbuhan properti yang unik," papar Theresia.

Menurutnya, pertumbuhan properti di Indonesia cukup stabil, tidak terlalu menjulang tinggi atau ketika turun harganya tidak drastis. "Pertumbuhan ekonominya stabil, dan harga tanah untuk properti juga stabil," katanya.

Theresia mengatakan bahwa tak perlu khawatir setelah asing datang akan menguasai properti di Indonesia. "Jangan berlebihan, properti itu barang yang tidak bisa dibawa ke mana-mana. Untuk mengakomodasinya, bisa lewat regulasi pemerintah dan peraturan perbankan," jelasnya.

Regulasi pemerintah untuk urusan kepemilikan properti oleh asing dinilai sangat ketat. Begitu juga dengan aturan perbankan sangat steril. Theresia mengatakan, peraturan pemerintah yang ketat terbukti dengan izin untuk asing diberikan dengan harga di atas Rp 1 M, kepemilikan selama 70 tahun, dan di kawasan tertentu saja.

Sementara peraturan perbankan di Indonesia begitu ketat dalam penyaluran kredit sehingga apa yang dikhawatirkan dapat tersaring. "Jangan lupa bahwa asing mau tak mau harus bermitra dengan pengembang lokal," tutupnya. (Natalia Ririh)

source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/04/1534366/Indonesia.Tidak.Akan.Alami..quot.Bubble.quot..seperti.China

eurico
March 14th, 2011, 03:47 AM
Pengembang Indonesia Ditawari Bangun Perumahan di Kenya

Kamis, 10 Maret 2011 | 04:20 WIB

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/03/10/0416175620X310.jpg

Menteri Perumahan Kenya, Peter Shoita Shitanda menawarkan para pengembang Indonesia menanamkan investasi perumahan di Kenya. Pengembang Kenya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan rumah untuk masyarakatnya.

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia, Menteri Perumahan Kenya Peter Shoita Shitanda menawarkan para pengembang Indonesia menanamkan investasi perumahan di Kenya. Pengembang Kenya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan rumah untuk masyarakatnya.

"Saya berharap para pengembang dan Pemerintah Indonesia mau menanamkan investasi sektor perumahan di Kenya," kata Peter saat melakukan pertemuan bersama sejumlah pejabat Kementerian Perumahan Rakyat serta sejumlah pengembang dari REI dan Apersi di Jakarta, Selasa (8/3/2011).

Peter mengungkapkan bahwa penyediaan perumahan di Kenya belum mampu dipenuhi kalangan pengembang di negaranya. "Dari sekitar 140.000 kebutuhan rumah per tahun, para pengembang baru mampu membangun sekitar 35.000 rumah," ujarnya.

Kenya tengah mempelajari masalah perizinan dalam proses pembangunan perumahan. Peter berharap kedatangannya ke Indonesia dapat mempelajari pola pelayanan satu atap sehingga masalah perizinan dapat dipersingkat.

Menanggapi permintaan tersebut, Sekretaris Menteri Perumahan Rakyat (Sesmenpera) Iskandar Saleh mengatakan, peluang kerja sama Indonesia-Kenya ini terbuka lebar. Ini terjadi terutama dengan adanya kesamaan kebutuhan perumahan bagi masyarakat yang cukup besar di kedua negara. "Indonesia memiliki program FLPP yang memberikan bunga KPR murah dan terjangkau selama masa tenor. Ini salah satu yang ingin dipelajari Kenya," ungkapnya.

Menanggapi permintaan Kenya, Wakil Ketua Umum DPP REI Harry Raharta mengatakan menyambut positif ajakan tersebut. Namun, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut kebijakan Pemerintah Kenya untuk urusan perumahan. (Natalia Ririh)

source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/10/04200214/Pengembang.Indonesia.Ditawari.Bangun.Perumahan.di.Kenya

eurico
March 14th, 2011, 03:50 AM
Analisis Ciushman and Wakefield
Pertumbuhan Kawasan Industri Jakarta Tercepat di Dunia

Kamis, 10 Maret 2011 | 21:31 WIB

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/17/3693979p.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Konsultan properti Cushman and Wakefield mencatat Jakarta sebagai kota yang mengalami pertumbuhan kawasan industri tercepat. Jakarta dengan pertumbuhan kawasan industri 21,78 persen lebih pesat dibandingkan negara-negara di Eropa dan Asia.

"Kawasan industri Jakarta tumbuh 21,76 persen mengungguli kawasan lainnya seperti Beijing dengan 17,55 %, Frankfurt dengan 15,83 persen," kata Wira Agus, Associate Director Cushman and Wakefield Indonesia dalam siaran persnya yang diterima Kompas.com, Kamis (10/3/2011).

Menurut Wira, pesatnya pertumbuhan kawasan industri di Jakarta terjadi karena kombinasi dari meningkatnya permintaan investor asing, terbatasnya lahan kawasan industri berkualitas yang siap pakai, dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar. "Pertumbuhannya ekstrim di tahun 2010 dan terbaik di tiga tahun terakhir," ujarnya.

Barrie David dari Cushmand and Wakefield Research Group memaparkan pula betapa stabilnya posisi pasar Asia dengan tujuh dari lokasi pertumbuhan tercepat ada di Asia. Dimana Tokyo dan Hongkong yang konstan termasuk sebagai kawasan industri termahal di dunia. Juga kawasan industri Singapura yang melonjak dari peringkat 19 menjadi peringkat 4 dengan peningkatan harga sewa sebesar 14,9 persen.

Berikut Data Cushman and Wakefield mengenai 10 Lokasi pertumbuhan kawasan Industri tercepat di Dunia 2011: 1. Jakarta, Indonesia dengan pertumbuhan 21,78 % 2. Beijing, China dengan pertumbuhan 17,55 % 3. Frankfurt, Jerman dengan pertumbuhan 15,83 % 4. Singapura dengan pertumbuhan 14,97 % 5. Shanghai, China dengan pertumbuhan 14,54 % 6. Porto, Portugal dengan pertumbuhan 14,29 % 7. New Delhi - Gurgaon, India dengan pertumbuhan 14,29 % 8. Guayaquil, Ekuador dengan pertumbuhan 13,00 % 9. Bungalore - Bommasandra, India dengan pertumbuhan 11,11 % 10. Gothenberg, Swedia dengan pertumbuhan 10,71 %


source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/10/21311023/Pertumbuhan.Kawasan.Industri.Jakarta.Tercepat.di.Dunia

VRS
March 14th, 2011, 03:57 PM
tercepat di dunia..??

Dazon
March 15th, 2011, 11:34 PM
padahal sudah di fur macet dimana-mana.

Mehome
April 2nd, 2011, 07:27 AM
Pengembang Percepat Proyek Perumahan

JAKARTA (IFT) - Permintaan unit residensial yang tinggi sejak tahun lalu mendorong sejumlah pengembang untuk mempercepat pengembangan proyek perumahan yang dipasarkan. Ini didorong permintaan hunian yang terus meningkat, baik rumah tunggal (landed house) maupun apartemen.

Lembaga riset properti, Coldwell Banker Commercial memprediksi pada kuartal I 2011 penjualan rumah tunggal di Jakarta dan sekitarnya akan meningkat 15%-20% dibanding kuartal akhir tahun lalu.

Dwi Novita Yeni, Senior Vice President Research and Consultancy Coldwell Banker Commercial mengatakan pesatnya pertumbuhan hunian didorong stabilnya suku bunga perbankan, meski Februari lalu Bank Indonesia sempat menaikkan suku bunga acuan menajdi 6,75%. Namun kenaikan itu diyakini belum akan memicu bank menaikkan bunga kreditnya.

“Permintaan rumah dan apartemen yang meningkat sejak tahun lalu membuat developer mempercepat pemasaran proyek-proyek barunya,” kata Dwi, Kamis.

Coldwell Banker memperkirakan, penjualan kondominium di kuartal I-2011 mengalami kenaikan 5% menjadi 70.350 unit dibandingkan kuartal IV-2010 sekitar 67.000. Melihat kondisi kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan pasar properti awal tahun ini diperkirakan lebih baik.

PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) di kuartal I 2011 ini mengembangkan kluster Florencia tahap 2 di lokasi megakluster Elysium Residence, Lippo Cikarang, Jawa Barat.

Syukurman Larosa, Marketing & Sales Division Head PT Lippo Cikarang mengatakan sebanyak 80 unit rumah akan dikembangkan pada kluster Florencia tahap dua ini, dengan empat tipe yang berbeda. Dengan harga jual mulai Rp 500 juta per unit, penjualan kluster baru ini ditargetkan memberikan tambahan pendapatan kepada perseroan sebesar Rp 40 miliar.

Namun dia enggan menyebutkan total investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kluster Florencia tahap 2 ini. Namun merujuk pada kluster tahap 1 yang mulai diserahterimakan akhir tahun lalu, LPCK membutuhkan dana Rp 75 miliar untuk menyelesaikan pembangunan 471 unit rumah.

“Untuk tahap kedua kami masih menghitung berapa nilai investasi yang dibutuhkan,” katanya, Kamis.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) pertengahan Maret lalu juga telah meluncurkan kluster terbarunya di BSD City, yang berkonsep eco-green. Kluster De Frangipani akan terdiri dari 95 unit rumah bergaya resor tropis yang akan dijual seharga Rp 1 miliar sampai lebih dari Rp 2 miliar per unitnya.Total investasi proyek ini sebesar Rp 300 miliar.

Harry Budi Hartanto, Presiden Direktur BSDE menargetkan penjualan kluster terbarunya tersebut mencapai Rp 600 miliar. Dia menjelaskan, kluster ini akan menempati lahan seluas 5 hektare.
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/5505/Pengembang-Percepat-Proyek-Perumahan