View Full Version : [Indonesia] Property Market Updates


Pages : 1 [2]

hellothere123
August 29th, 2008, 09:37 PM
Berita ini gw dapet dari website ny Ciputra.. (Data 2007)

Target Lokasi Proyek Perumahan oleh Ciputra Group:

D Jakarta:

" Lokasi-lokasi proyek perumahan di seputar Jakarta yang saat ini prospektif dan cukup banyak diminati adalah kawasan Serpong, Bintaro, Cibubur, Bekasi Timur, Tambun, Ciledug, Bekasi Barat, Depok, Sentul, Bogor Utara, Karawaci, Cakung, Cileungsi, Cikarang, Cinere-Sawangan, Pamulang, Ciputat, Cipondoh, dan Cikupa. "


D luar Jabodetabek:

" Di luar Jabodetabek, kawasan pengembangan perumahan yang prospektif adalah Bandung, Surabaya Barat, Surabaya Selatan dan Sidoarjo, Semarang, Bandar Lampung, Pekanbaru, Medan, Batam, Makassar, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, dan Jambi.

Palembang yg ga masuk list aja taun ini uda mulai dibangun Citra Grand City.

Jambi yg masuk kok belom terdengar kabar ampe sekarang juga ya..

Padahal pasar perhotelan Kota Jambi lumayan bagus apalagi pasar perumahan nya sangat berpotensi..

gmana dengan berita d atas?? gw dapet dari website ny Ciputra sendiri..

masih valid kah?? gmna dengan Jambi?

AceN
February 25th, 2009, 07:24 AM
Asing Boleh Memiliki Properti Selama 90 Tahun

Rabu, 25 Februari 2009 | 10:55 WIB

JAKARTA, RABU — Boleh jadi, Indonesia akan menjadi surga bagi orang asing yang ingin tinggal dan menetap di sini. Pemerintah berniat memperpanjang hak pakai properti bagi orang asing sampai 90 tahun.

Saat ini, bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) sedang merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No 41/ 1996 soal Pemilikan Rumah Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing. Kini, peraturan itu menetapkan, hak pakai asing maksimal 70 tahun dengan dua kali perpanjangan (25+25+20 tahun).

Nah, dalam draf revisi PP ini, Kemenpera mengajukan hak pakai properti oleh orang asing bisa sampai 90 tahun sekaligus tanpa melalui perpanjangan. Penerapan aturan ini cukup mendesak. "Apalagi, banyak warga asing yang berminat berinvestasi dan menghabiskan masa pensiunnya di sini," ucap Deputi Perumahan Formal Kemenpera Zulfi Syarif Koto, Selasa (24/2).

Pengembang sempat terkejut dengan kabar ini. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (DPP REI) Teguh Satria mengaku, saat menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 17 Februari silam, usulan ini masih belum beranjak dari angka 70 tahun. "Kalau sekarang menjadi 90 tahun tentu kami berterima kasih sekali," kata Teguh.

Teguh yakin, jika perpanjangan kepemilikan asing berlaku, sektor properti akan menikmati manfaatnya. Pengembang tak perlu lagi sembunyi-sembunyi menjual properti ke orang asing. "Target penjualan 10.000 unit apartemen yang kami patok bisa terwujud," tandasnya.

Selama ini, lantaran tersandung pembatasan kepemilikan orang asing, penjualan properti apartemen dengan target orang asing hanya sekitar 5.000 unit per tahun. Kebanyakan proyek berada di wilayah Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya.

Karena harus mencatut nama orang lokal untuk membeli properti di sini, selama ini para ekspatriat lebih tertarik menebar duit di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tiga tetangga kita itu sudah memberi hak pakai bagi warga asing di atas 90 tahun.

Kepala Riset Jones Lang La Salle Indonesia Anton Sitorus yakin, perpanjangan kepemilikan asing membuat investasi di Indonesia semakin menarik. Orang asing semakin senang mengincar proyek properti di Indonesia. "Apalagi, harga properti di sini belum terlalu mahal dibandingkan dengan properti di negara tetangga," tandasnya.

Sebagai contoh, di Singapura, harga jual apartemen per meter sekitar Rp 170 juta sampai Rp 300 juta. Sementara, di sini harganya masih berkisar Rp 10 juta sampai Rp 25 juta.

Tapi, bisa saja, rancangan ini mentah di tengah jalan sebelum resmi berlaku. Sebab, Maret 2008, Mahkamah Konstitusi (MK) mencabut UU No 22/2007 tentang Penanaman Modal yang berisi pemberian hak pakai di muka atas tanah bagi investor asing. Artinya, MK tetap ingin penerapan peraturan lama lewat perpanjangan dua kali. (Ali Imron Hamid, Yohan Rubiyantoro/Kontan)

hildalexander
February 25th, 2009, 07:27 AM
^^ Baru draft.... blom disetujuin Cen.....

AceN
February 26th, 2009, 05:21 PM
smoga mam..... ;)

hildalexander
February 27th, 2009, 06:34 AM
^^ Harusnya sudah dari dulu disetujui.... karena alasan nasionalisme yang dangkal (takut lahannya diekspor ke luar negeri hehehehe apa coba?), makanya gak kelar-kelar. Coba kalo beleid ini jadi, Lippo Karawaci gak bakal bangun Marina Collection di S'pore....

Ocean One
December 15th, 2009, 07:37 PM
Subsidi rumah diberikan langsung mulai 2010
Badan penghimpun dana segera dibentuk

Bisnis Indonesia - JAKARTA: Pemerintah akan menghentikan pola subsidi selisih bunga pada kredit pemilikan rumah (KPR) secara bertahap mulai 2010 menjadi pola subsidi langsung untuk memudahkan baik konsumen maupun pengembang.
Menpera Suharso Monoarfa mengatakan pola subsidi yang diberikan melalui pemberian selisih bunga KPR tidak bisa lagi dipertahankan karena kurang berhasil memacu penyediaan rumah murah bagi masyarakat. Masyarakat yang memperoleh subsidi selisih bunga kesulitan melanjutkan angsuran ketika masa subsidi berakhir pada tahun keempat.

"Angka NPL [non performing loan /rasio angka kredit macet] di bank itu sebagian besar dari konsumen yang dapat subsidi. Begitu masa subsidinya berakhir, cicilannya membengkak dua kali lipat, lalu kesulitan melanjutkan pembayaran. Ini harus kita ubah, tidak bisa selamanya bergantung pada subsidi seperti ini," ujarnya saat berbicara dalam diskusi mengenai proyeksi ekonomi 2010 yang digelar DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), kemarin.

Dia mengatakan Kemenpera dalam sebulan terakhir ini terus mematangkan rencana perubahan pola subsidi tersebut bersama asosiasi pengembang, perbankan, dan pihak terkait lain. Akan terjadi perubahan drastis dalam pola pembiayaan perumahan untuk masyarakat kelompok bawah dan kurang mampu.

Target dan realisasi pembangunan RSh serta ketersediaan subsidi
Tahun Target Realisasi Subsidi (Rp miliar)
2006 78.000 77.663 300
2007 123.000 98.092 500
2008 130.000 110.000 800
2009 170.000 -- 2.567
Sumber: Kemenpera, diolah 2009

Namun, katanya, perubahan itu diperlukan agar penyediaan rumah bisa dipacu lebih banyak lagi. Dengan pola subsidi selisih bunga saat ini penyediaan rumah formal oleh pengembang hanya berkisar 150.000 unit, maka dengan subsidi langsung jumlahnya bisa ditingkatkan dua atau tiga kali lipat.

"Kalau perlu digenjot sampai 1 juta unit per tahun, agar semakin banyak warga yang dapat rumah. Saya inginnya mulai 2010 dimulai secara bertahap," ujarnya.

Menpera mengatakan alokasi dana subsidi yang ada akan dihimpun melalui sebuah badan khusus yang akan segera dibentuk.

Badan itu juga akan diusulkan untuk menghimpun dana yang dikelola pemerintah seperti dana tabungan PNS, dan dari PT Jamsostek. Badan tersebut kemudian diberikan kewenangan menyalurkan kredit konstruksi kepada perbankan dan KPR kepada masyarakat dengan bunga rendah hanya satu digit atau di bawah 10%.

"Kalau sudah mendapat banyak dukungan dan ada kemauan keras, saya yakin ide ini bisa terwujud," ujarnya.

Manoarfa menjelaskan harga rumah yang ada saat ini terlalu banyak mengandung komponen yang seharusnya bisa ditekan, seperti bunga komersial, pajak, dan biaya-biaya lain yang tidak resmi.

Mudahkan pengembang

Subsidi selisih bunga diberikan karena harga rumah terlalu mahal sehingga sulit dijangkau.

Pada tahun ini, dana subsidi perumahan sebesar Rp2,5 triliun juga dipastikan tidak terserap. Kemenpera sebelumnya menyatakan penyerapan dana subsidi maksimal Rp1,5 triliun. Pada 2010, alokasi dana subsidi lebih tinggi lagi, mencapai Rp3,1 triliun.

Pada kesempatan sama, Ketua DPP REI F. Teguh Satria mengatakan perubahan pola subsidi selisih bunga akan memudahkan pengembang. Selama ini prosedur pengajuan subsidi baik untuk rumah sederhana sehat (RSh) maupun rumah susun sederhana milik (rusunami) terlalu panjang dan berbelit-belit.

"Verifikasi pengucuran subsidi sangat lama dan berbelit-belit. Ini menyulitkan kami. Bahkan, ada konsumen yang membatalkan mengambil pola subsidi karena tidak ada jaminan pengajuannya akan disetujui," ujar Teguh.

Meskipun demikian, katanya, penerapan perubahan pola subsidi ini tidak bisa diimplementasikan secara langsung karena membutuhkan kesiapan dari pengembang, perbankan, dan kebijakan pendukung.

Dia mengatakan komponen biaya lain yang harus ditekan adalah proses pengurusan izin yang lama. Setiap daerah mempunyai prosedur berbeda dalam memberikan berbagai izin pembangunan hunian.

Kemenpera harus bisa merumuskan aturan jangka waktu maksimal pengurusan berbagai izin untuk menjadi panduan daerah. Hal ini diperlukan agar pengembang mempunyai jaminan kepastian waktu.

Ocean One
December 15th, 2009, 07:40 PM
Pasar properti Sumut lesu
Masyarakat prioritaskan pemenuhan kebutuhan lebih mendesak

MEDAN: Pasar properti di Sumatra Utara, khususnya Medan diprediksi lesu hingga 2 bulan ke depan, karena turunnya daya beli konsumen dan semakin ketatnya persaingan bisnis.
Kondisi itu bertolak belakang dengan perkiraan dari para pengembang sebelumnya. Bisnis perumahan akan membaik menjelang akhir 2009 dan awal 2010.

"Sampai Januari tahun depan pasar properti di Sumut lesu. Masyarakat Sumut mengalihkan konsumsinya untuk keperluan yang sangat mendesak dibandingkan untuk perumahan," ungkap Djafar S. Ritonga, Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Sumut, kepada Bisnis kemarin.

Sayangnya, dia tidak menjelaskan lebih terperinci besaran penurunan permintaan perumahan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, atau periode sama tahun lalu.

Dia hanya mencontohkan di beberapa media massa yang sebelumnya tidak pernah diisi oleh iklan-iklan perumahan, sekarang ini iklan tersebut sangat menjamur. Bahkan, sampai ke iklan mini. "Hal itu menandakan pasar sedang lesu, bahkan bisa dikatakan tidak sehat lagi."

Menurut dia, warga membutuhkan dana lebih besar untuk kebutuhan Natal dan tahun baru. Masyarakat lebih menunggu hingga kebutuhan untuk akhir tahun terpenuhi.

Djafar menambahkan saat ini persaingan di bisnis properti sangat kelewat batas. Perumahan sudah terlalu banyak, sedangkan minat masyarakat terhadap perumahan sedang melesu.

Pertumbuhan sektor bangunan & konstruksi di Sumut
Triwulan III/2008 4,42%
Triwulan III/2009 4,57%
Realiasi penyaluran kredit
Triwulan III/2008 Rp2,06 triliun
Triwulan III/2009 Rp2,35 triliun
Sumber: Bank Indonesia Kanwil Medan

Semula, para pengembang berasumsi masyarakat masih menunggu hingga kondisi perekonomian lebih stabil. Namun, warga kini sudah lebih jeli melihat mana pengembang yang sudah berpengalaman dan yang hanya berjanji pada fasilitas yang ditawarkan.

Kondisi pasar itu, sambungnya, juga ironis pada saat BI Rate turun tetapi tidak berpengaruh banyak terhadap turunnya kredit pemilikan rumah (KPR). Beberapa bank menawarkan suku bunga KPR masih sekitar 9%-11%.

Apalagi, ungkap Djafar, pada tahun depan kemungkinan BI Rate naik lagi, sehingga dipastikan akan menaikkan suku bunga KPR. "Ini akan membuat bisnis properti semakin lesu," tegasnya.

Dia mengimbau para pengembang lebih melihat kondisi pasar perumahan sebelum membangun perumahan baru.

Berdasarkan laporan triwulan III/2009 Bank Indonesia Kantor Wilayah Medan, sektor bangunan dan konstruksi tumbuh 4,57%, atau naik dibandingkan dengan triwulan II/2008 sebesar 4,42%.

Menurut itu, pertumbuhan tersebut masih didorong oleh meningkatnya konsumsi semen dan pertumbuhan tinggi penjualan bahan konstruksi.

Faktor pendorong lainnya yakni masih maraknya pembangunan properti komersial di Sumut, terutama di Medan. Indikator lain adalah peningkatan kegiatan pembangunan infrastruktur.

Dari sisi pembiayaan juga tumbuh 14,08%. Penyaluran kredit ke sektor bangunan dan konstruksi mencapai Rp2,35 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama 2008 sebesar Rp2,06 triliun. Sebagian besar kredit disalurkan ke subsektor konstruksi lainnya dan subsektor perumahan sederhana.

Proyek gas rumah

Dalam perkembangan lain, DPD REI Sumsel berminat pada proyek gas rumah tangga untuk dikembangkan di kompleks perumahan.

Agus Alamsyah, Sekretaris DPD REI Sumsel, menjelaskan telah melakukan penjajakan kerja sama dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam pengadaan gas rumah tangga.

"Kami telah usulkan rancangan lokasi perumahan yang memungkinkan mendapat fasilitas gas rumah tangga dan menjadi garapan PGN," ujarnya kemarin.

Dia menambahkan REI akan memberikan segmen pasar yang sudah ada karena sekitar 7.000-8.000 unit rumah siap mendapat fasilitas gas.

Menurut dia, mereka berada di lokasi perumahan yang memang sudah berkembang pesat dan dilalui pipa induk gas, seperti lokasi perumahan di Talang Kelapa, Sukarami, Kenten, dan Jakabaring.

"Sayangnya, kuota pemasangan gas rumah tangga oleh PGN sangat minim per tahun, sekitar 300 kepala keluarga," ungkapnya

Ocean One
December 15th, 2009, 07:44 PM
Selasa, 15 Desember 2009
Pertumbuhan Perumahan di Indonesia Lambat

http://www.kontan.co.id/photo/2009/12/15/890104062p.jpg

JAKARTA. Pertumbuhan pembangunan perumahan di Indonesia terbilang lambat. Menurut menteri Perumahan Suharso Monoarfa, dalam lima tahun terakhir (2004 - 2009) pertumbuhannya cuma sebesar 8,5%. Tahun lalu, sektor perumahan hanya menyumbang sekitar 2,7% terhadap Product Domestic Bruto (PDB).

"Kondisi ini kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia, yang dalamn peride waktu yang sama memberikan kontribusi sebesar 27% terhadap PDB," kata Suharso, di Jakarta, Selasa (15/12).

Menurut Suharso, pasokan dan kebutuhan rumah di Indonesia tidak seimbang. Akibatnya, tahun ini masih ada sekitar 8 juta keluarga Indonesia yang belum memiliki rumah. Sedangkan untuk pasokannya hanya 700.000 unit per tahunnya. "Padahal rumah yang harus dibangun setiap tahunnya itu berjumlah 1.674.102 unit," jelas dia.

Ada sejumlah hal yang menjadi penyebab pertumbuhan perumahan di Indonesia lambat. Pertama, soal pertanahan dan tata ruang. Kedua, adalah sinergitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Persoalan yang muncul adalah perlunya penguatan institusi termasuk peraturan, kualitas kapasitas perencanaan dan pelaksanaan urusan permukiman di tingkat daerah.

Ketiga adalah persoalan infrastruktur seperti penyediaan listrik dan sarana transportasi. Karena seringkali pengadaan perumahan tidak dibarengi dengan adanya fasilitas infrastruktur.

Permasalahan keempat adalah pembiayaan. Masyarakat membutuhkan pembiayaan jangka panjang. Selain itu juga suku bunga bank yang turun. Penurunan suku bunga bank akan menggairahkan pasar properti.

Menurut Wakil Ketua Umum DPP REI, Djoko Slamet Utomo, dari sederet persoalan tersebut, faktor pembiayaanlah yang paling penting. Karena, saat ini pengembang membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar.

Ocean One
December 16th, 2009, 06:29 AM
'Anami bakal jadi tren 2010'
Pemulihan industri properti diiringi kompetisi

Bisnis Indonesia - JAKARTA: Kalangan pengembang memprediksi apartemen sederhana milik (anami) akan menjadi tren baru dan paling bergairah pada pasar hunian vertikal di Jakarta sepanjang 2010.
Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria memperkirakan pasar anami seharga Rp150 juta hingga Rp300 juta per unit akan banyak diburu konsumen karena selama ini pasokan di segmen ini masih terbatas.

Pasokan apartemen oleh developer di Jakata dan sekitarnya untuk segmen ini juga semakin banyak, karena ada rencana pengalihan pasar oleh pengembang yang semula akan membangun rumah susun sederhana milik (rusunami) bersubsidi-dengan harga Rp144 juta per unit-menjadi apartemen sederhana.

Pengalihan ini disebabkan oleh masih banyak hambatan dalam proyek rusunami, mulai dari perubahan regulasi pembatasan ketinggian, proses pengucuran subsidi yang berbelit-belit, hingga pengenaan pajak pertambahan nilai.

"Apartemen dengan rentang harga itu akan membanjiri pasar pada 2010. Selain pasarnya bagus, banyak pengembang yang mengalihkan proyeknya ke anami karena banyak hambatan yang ditemui dilapangan dalam membangun rusunami," kata Teguh kemarin.

Dia menuturkan hingga kini status ribuan pembeli rusunami bersubsidi masih tidak jelas. Proses pengajuan subsidi rusunami masih tertahan di Kemenpera dan Departemen Keuangan yang sedang melakukan verifikasi.

Direktur Eksekutif Agung Podomoro Group (APG) Matius Jusuf mengatakan pasar dan tren industri properti nasional selalu mengalami perubahan setiap tahun. Pengembang harus mencari peluang dan tantangan baru agar bisa memanfaatkan secara maksimal pemulihan industri yang diduga akan terjadi pada 2010-2013.

"Salah satu tantangannya mencari ceruk pasar baru. Anami salah satu tren pasar yang potensial," ujarnya saat berbicara pada seminar bertajuk Prospek dan Tantangan Bisnis Properti 2010, kemarin.

Titik terendah

Dia menuturkan akan terjadi kompetisi yang baru setiap terjadi pemulihan di industri properti. Pengembang akan berlomba-lomba melanjutkan proyek-proyek yang sempat tertunda. Akibatnya pasar properti pada 2010-2011 akan dibanjiri berbagai produk, hingga masa puncak yang diprediksi terjadi pada 2013.

"Titik terendah siklus bisnis properti sudah terlewati pada kuartal II/2009, saat suku bunga kredit properti [KPR] mencapai puncaknya menyentuh level 18%. Sekarang, suku bunga sudah berada di level 10%-11%, dan merupakan awal dari pemulihan," ujarnya.

Menurut Matius, industri properti sangat erat kaitannya dengan kondisi makroekonomi. Pengembang tetap harus memperhatikan indikator-indikator makro, tetapi tetap mendalami kondisi mikro di lapangan, terutama karakteristik konsumen.

"Sebelumnya banyak pengembang baru yang tergiur masuk bisnis properti tanpa memperhatikan berbagai indikator ekonomi, sehingga saat krisis terjadi mereka kolaps. Sekarang pengembang nasional sudah lebih berpengalaman," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit menyatakan penduduk Jabodetabek akan bertambah sebanyak 8,1 juta jiwa hingga 2020, sehingga merupakan pasar potensial bagi pengembang.

Dia memperkirakan penjualan apartemen sederhana dan menengah ini akan meningkat dari Rp8 triliun pada tahun ini menjadi Rp10 triliun pada 2010.

Ocean One
December 21st, 2009, 05:02 PM
Senin, 21-12-09
REI Sulsel Siap Gelar REI Vaganza

MAKASSAR, Fajar online - DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel akan menggelar pameran perumahan dan properti di atrium Mal Ratu Indah (MaRI), 12-21Februari 2010. Even tersebut dikemas dengan nama REI Vaganza. Ketua DPD REI Sulsel Jamaluddin Jafar mengatakan pameran itu merupakan agenda rutin pengurus BPD REI yang bisa digelar setiap tahun.

"Pameran ini akan menggambarkan prediksi atau respon masyarakat terhadap penjualan perumahan di Sulsel," kata dia pada jumpa pers di RM Bahari, Minggu, 20 Desember. Setiap tahunnya, tambah Jamal, pelaksanaan pameran perumahan berskala besar biasanya digelar selama empat kali dan semuanya menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Direktur Operasional 3Pro, Icha, menambahkan, pameran REI Vaganza itu merupakan kerjasama antara BPD REI dengan 3Pro, di mana target penjualan selama 10 hari pameran mencapai Rp 90 miliar.
"Kali ini kami mendesain seluruh booth atau stand dengan desain khusus yang identik dengan hari kasih-sayang.

Bahkan kita memberikan diskon khusus bagi pasangan yang menikah, mau menikah atau berulangtahun pada bulan Februari," tambah Sekretaris Umum DPD REI Sulsel Raymond Arfandynya. Tidak hanya itu, lanjutnya, setiap harinya pameran juga akan dimeriahkan dengan live music, games by MC dan live performance dari artis ibukota untuk menghibur para pengunjung.

"Untuk total peserta kami harapkan bisa mencapai 50 peserta, itu sudah termasuk peserta dari perbankan seperti BRI, BNI, BTN, Bank Panin, Bank Mandiri, Bank Bumi Putera, dan Bank Permata," tutupnya.

Ocean One
January 2nd, 2010, 03:38 PM
Sabtu, 02 Januari 2010
Kemenpera Targetkan Pembangunan Perumahan Dua Juta Unit

JAKARTA - Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) menargetkan pembangunan perumahan sebanyak dua juta unit selama lima tahun ke depan. Dua juta rumah itu terdiri dari bangunan rumah vertikal (rumah susun) maupun rumah sederhana sehat (RSh).

"Pemerintah selama lima tahun ke depan akan memastikan untuk tersedianya rumah sebanyak dua juta unit," ujar Menteri Perumahan Rakyat, Suharso Monoarfa dalam laporan kinerja Kemenpera 2009 kemarin. Untuk memenuhi target itu, pemerintah mengajak para pengembang maupun pemerintah daerah (Pemda), untuk ikut mengupayakan pembangunan rumah yang layak huni dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Sasaran atau target pembangunan lain yang ingin dicapai Kemenpera hingga 2014 antara lain, mendorong swadaya masyarakat dalam pembangunan rumah baru sebanyak 3,6 juta unit melalui fasilitasi pemerintah sebesar 200 ribu unit, meningkatnya kualitas rumah melalui fasilitasi Pemerintah sebesar 400 ribu unit. "Selain itu juga meningkatnya kualitas lingkungan permukiman kumuh seluas 4.000 hektar yang dihuni oleh 800 ribu penduduk," lanjutnya.

Kemenpera juga berusaha meningkatkan kepastian hukum dalam bermukim untuk 100 ribu rumah tangga, serta meningkatnya kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan permukiman di tingkat pusat dan daerah. Khususnya melalui pengembangan regulasi dan kebijakan serta peningkatan peran Pemda di 33 Provinsi. "Regulasi pemerintah daerah harus bisa kondusif dalam rangka penyediaan perumahan," tegasnya.

Ke depan, kata dia, pembangunan perumahan dan permukiman akan dihadapkan pada beberapa tantangan berat. Sebagai contoh, pada 2009, proporsi penduduk perkotaan Indonesia diperkirakan telah mencapai 57 persen dari total penduduk Indonesia. Hal itu lambat laun akan memunculkan permasalahan baru. "Kelangkaan lahan perkotaan untuk perumahan mengakibatkan perkembangan permukiman yang tidak teratur, kumuh, dan tidak layak huni," terangnya.

Ocean One
January 6th, 2010, 06:16 PM
Tangani Banjir Kampung Melayu, Rumah Susun Bertonggak Akan Dibangun
Rabu, 06 Januari 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepala Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane, Pitoyo Subandrio mengatakan pemerintah DKI Jakarta telah menyiapkan rencana khusus mengatasi masalah sosial akibat seringnya kawasan Kampung Melayu dilanda banjir. Pemerintah akan membangun rumah susun yang bertonggak.

"Kemarin yang paling cantik dibangun rusun. Manusianya kita manusiakan, nanti bentuknya dalam resetlement," kata Pitoyo di Kantor Wakil Presiden, Rabu (6/1).

Pemerintah, kata dia, telah merencanakan membuat bangunan rumah susun khusus. Misalnya, rusun yang akan dibangun itu disertai tonggak. Sehingga ketika air pasang kaki tangganya terendam dan ketika air surut tidak akan mengganggu. Menurut dia, sungai Ciliwung akan dibiarkan sesuai dengan kondisinya. "Kita bisa kelola lingkungan dengan baik, bagaimana bisa hidup harmonisasi dengan air," katanya.

Menghadapi banjir itu, menurut Pitoyo, pemerintah juga merencanakan membangun situ di tanggul sungai Ciliwung sebelah Carefour jalan MT Haryono. Menurut dia, hal itu langkah baik dalam mengurangi banjir di kawasan Kampung Melayu. "Nantinya akan ada situ di dalam kota," katanya.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan masalah banjir di Kampung Melayu belum ada penyelesaian. Menurut dia, rumah-rumah warga kampung Melayu merupakan bagian dari sungai.

Ocean One
January 6th, 2010, 06:54 PM
Pengembang Apartemen Bidik Segmen Mahasiswa
Rabu, 6 Januari 2010

http://img.antara.co.id/stockphotos/ilustrasi/proyek270907.jpg

Surabaya (ANTARA News) - Kalangan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Surabaya kini mulai menjadi bidikan pengembang apartemen, karena pasarnya dinilai masih cukup potensial untuk digarap.

Salah satu pengembang PT Petra Town Square (PTS) saat ini sedang menyelesaikan pembangunan apartemen The Petra Square yang berlokasi di dekat kampus Universitas Kristen Petra Surabaya.

Direktur PT PTS Budi Setiawan kepada wartawan di Surabaya, Selasa, mengatakan bangunan apartemen setinggi 14 lantai itu akan membidik segmen mahasiswa, khususnya dari kalangan menengah ke atas.

"Kami memang membidik segmen mahasiswa dan ingin memberikan sebuah hunian yang terintegrasi dengan kampus," katanya di sela-sela pameran di salah satu pusat perbelanjaan.

Tren apartemen dekat kampus mulai dikembangkan di beberapa kota besar. Sebelumnya, sejumlah pengembang telah membangun apartemen di dekat kampus Universitas Ciputra Surabaya dan Universitas Surabaya.

Menurut Budi Setiawan, bangunan apartemen dilengkapi dengan sejumlah fasilitas penunjang yang menjadi kebutuhan mahasiswa, seperti toko buku, pusat teknologi informasi, foto kopi, ATM, pusat makanan, dan kafe internet.

"Kebetulan rancangan bangunan apartemen ini merupakan hasil karya alumni UK Petra Surabaya sehingga mereka sangat tahu dengan kebutuhan dari mahasiswa," tambahnya didampingi Principal Pemasaran PTS, Iman Sutedjo.

Ia menambahkan investasi pembangunan apartemen itu sekitar Rp90 miliar-Rp100 miliar dengan total hunian sebanyak 300 unit.

Kendati harga jual yang ditawarkan tergolong tinggi sekitar Rp270 juta hingga Rp1,5 miliar, Budi Setiawan mengaku hampir 50 persen hunian sudah terjual.

"Pengerjaan direncanakan selesai awal 2011 dan langsung dioperasikan. Kami optimistis seluruh hunian akan terjual," ujarnya.

Ocean One
January 6th, 2010, 07:51 PM
Februari, REI Gelar Pameran Rumah
JUMAT, 8 JANUARI 2010


Makassar, Tribun - Pengurus Real Estate Indonesia (REI) Sulsel bersama Debindo Mega Promo akan menggelar lagi pameran perumahan bertajuk Ekspo REI 2010 di Hotel Sahid Jaya Makassar, Rabu (6/1).

Pameran yang digelar ke-15 kalinya ini rencanananya akan diadakan di Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar, mulai 26 Februari hingga 7 Maret mendatang.
Project Manager Debindo Mega Promo, Robby menyebutkan, peserta pameran yang sudah mendaftar antara lain PT Bumi Rezkita, PT Megatama Buana Nusantara, PT Dwifa Rezki Pratama, PT BIna Raya Persada, PT Pitu Anugrah Pratama, PT Tata Harapan Persada, PT Angsama Pratama, PT Daya Prima Nusawisesa, PT Prima Karya Bentala Permai, CV Dibar Utama.

Selain itu, PT Zarindah, PT Patiarase Propetindo, PT Batara Sarana Mandiri, PT Famika, PT Bukit Baruga, PT Putra Mustafa Mandiri, PT Mega Buana Investindo, dan dari perbankan dari Bank BTN.

Koordinator Exibition Debindo Mega Promo, Uceng, menambahkan, pameran kali ini pihaknya ingin mengarahkan pada pencitraan pameran rumah yang berkualitas dan murah.

Target transaksi pameran Ekspo REI 2010 tahun ini diharapkan mampu meningkat hingga 20 persen atau sekitar Rp 120 miliar dari pencapaian tahun 2009 lalu yang mampu membukukan transaksi Rp 100 miliar. Sementara jumlah pengunjung pameran tahun 2009 lalu mencapai 40 ribu orang.

Ocean One
January 8th, 2010, 07:59 PM
PP Kepemilikan Properti Oleh WNA Akan Segera Diselesaikan
Jumat, 08 Januari 2010

Warta Ekonomi, JAKARTA - Ditengah kontroversi tentang perizinan kepemilikan properti oleh Warga Negara Asing (WNA), Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Menteri Koodinator Perekonomian, serta Sekretariat Negara tetap membahas tentang Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur kepemilikan properti oleh WNA.

Menurut Suharso Monoarfa, Menteri Negara Perumahan Rakyat, Kamis (7/1), bahwa pemerintah menargetkan PP tersebut dapat segera diterbitkan pada Mei atau Juni mendatang. Ia menambahkan bahwa dalam PP tersebut akan ada peraturan yang mengharuskan WNA yang memiliki properti harus tinggal minimal 14 hari di Indonesia.

Suharso juga menegaskan bahwa kontroversi kepemilikan asing dinilai tidak beralasan mengingat properti merupakan benda tak bergerak, selain itu ia juga menambahkan bahwa dengan diterbitkannya PP kepemilikan properti oleh WNA maka akan meningkatkan pendapatan di sektor pajak sehingga pada akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Negara. Pendapatan Negara diperkirakan akan meningkat sebesar US$ 3 miliar per tahun jika PP ini diberlakukan.

Penyaluran pendapatan yang diterima dari sektor properti ini juga akan disalurkan untuk memberikan subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan masyarakat berpenghasilan menengah.

Ocean One
February 3rd, 2010, 03:16 PM
What This Malaysian Thinks about Indonesians' Fear
Rabu, 3/2/2010

http://www.kompas.com/data/photo/2010/01/30/1858003p.JPG

Dato Alan Tong Kok Mau, owner and chairman of Bukit Kiara Properties group, Malaysia

BALI, KOMPAS.com - Dato' Alan Tong Kok Mau is the president of FIABCI International (2005-2006) and president of FIABCI Malaysia (1994-2000), besides being a successful Malaysian property businessman, owner and chairman of Bukit Kiara Properties group that deals with real estate investment, construction and development. He contributes his opinion regarding the coming FIABCI World Congress in Bali, May 2010, and also about eco-property and foreign ownership of Malaysian and Indonesian properties.

Here is the exclusive interview by Robert Adhi Ksp from Kompas.com with Dato' Alan Tong Kok Mau in Jimbaran, Bali, Friday evening.

Bali will host the 61st FIABCI World Congress this coming May 2010. Dato, what is your comment about Bali?

The World Congress would be a good opportunity for FIABCI Indonesia to invite all the other FIABCI members in the world to Bali. This event is excellent for Indonesia, so the country can show how it's doing with its property industry, such as in Bali. Many people have heard of Bali, but not everyone has had a chance to visit the island.

I support Bali in hosting the 61st FIABCI World Congress. I've repeatedly visited Bali, among which to Amandari, Four Seasons. My son likes the ambience and culture here. I come to Bali every year with my children and grand children for vacation. The culture in Bali is an amazing charm for foreigners. I'm sure that foreign colleagues who will visit Bali will be impressed and will return. And for me, Bali is very interesting, it's has a class of its own.

The FIABCI World Congress in Bali next May will discuss issues regarding eco-property. How far have the green property and eco-property concepts been implemented in Malaysia?

I think FIABCI has the commitment to promote eco-property all over the world. I believe the FIABCI president, Elizabeth, will come here (Bali) and share her experience on eco-property. I'm glad the FIABCI congress will be held in Bali. Elizabeth must come to Bali and see what it has to offer to the world. In Malaysia, some developers have implemented those concepts. There's eco-city in Shah Alam and in Johor, both by the same developer, SP Setia. They've built very attractive housing estates.

Malaysia has started on eco-property since 10 years ago. Private companies have built an eco-friendly and energy-saving township in Johor, while the Malaysian local government has built Kota Baru Shah Alam with the eco-property concept.

My company, Sunrise, which then developed into Bukit Kiara, built the high-rise condominium. It's built with beautiful green nuances and landscape.

Currently Indonesia is still discussing about foreign property ownership. In Malaysia, how are the regulations on this matter?

Let's see the global situation now. Most countries in the world advance because of rapid growth in their property industry. Malaysia has applied foreign property ownership since 20 years ago. It's true that Malaysia had been worried that too many (foreign) people would purchase the properties. However, only vacant lands were barred from foreign purchases. Now, foreigners in Malaysia are allowed to purchase apartments. Many foreigners purchase the condominium (units) my company built.

I believe that Indonesians, and the Indonesian government need not worry about selling property to foreigners. Politically, if the government is concerned, then my suggestion is to do what the Malaysian government did by regulating foreigners so they can only purchase properties worth above USD 100,000 for example. It would be foolish if the Indonesian government restricted foreigners from buying property.

I think Indonesia is a decade or two behind Malaysia and Singapore regarding foreign ownership. Of course you can imagine how foreigners would bring cash to your country. This fresh funding can be allocated for other things, such as housing the homelesses.

You can take Singapore and Hongkong for example. Many buildings are built there, and the buyers are always foreigners. The state gains profit from such property purchases. Why is it so important to a state? Because it can encourage property development.

The government benefits from taxes and developers gain fresh funding, and furthermore, contructions of property projects would absorb labor. This would stimulate other industries, such as for steel, electricity, furniture, and others besides. The more property is built, the more alive the industry becomes and more job opportunities will be available. We've experienced this in Malaysia.

I'm confident that the property industry in Indonesia is very prospective. The development in Indonesia for the past few years has been rapid.

The income per capita and the buying power of Indonesians are rising. No need to worry if foreigners buy property in your country. I think Indonesia should learn from Malaysia, Singapore, Vietnam, Hongkong, the Philippines, and China.

If you buy property in Malaysia, you can use it indefinitely. Malaysia has been very generous and daring regarding foreign property ownership. In Vietnam it's limited to 70 years, the same applies in Singapore. China used to prohibit foreign property ownership but now they've allowed it.

As you can see in Dubai, in the Middle East, 30 years ago Dubai was just a desert land. No one went there. After property projects were done, the real estate in Dubai has come to life.

Guess who buys property in Dubai? Mostly foreigners. So there's no excuse for Indonesia to fear property ownership by foreigners.

Ocean One
March 5th, 2010, 06:19 PM
Jasa Marga Gandeng PP, Masuk Bisnis Properti
Jumat, 5/3/2010

JAKARTA, KOMPAS.com - Niat PT Jasa Marga Tbk membentuk sayap bisnis properti ternyata bukan isapan jempol belaka. Jika tak ada aral melintang, Jasa Marga akan membentuk anak usaha khusus properti itu tahun ini.

Jasa Marga tidak akan sendirian mendirikan perusahaan properti itu. Namun akan menggandeng dua partner lainnya. "Partner yang satu adalah BUMN di sektor properti, yakni PT Pembangunan Perumahan (PP), sedang satunya mungkin swasta, tapi belum bisa saya sebutkan sekarang," kata Direktur Operasional Jasa Marga Adityawarman, di Jakarta, Kamis (4/3).

Porsi modal masing-masing perusahaan, kata Adityawarman, akan dibagi rata sekitar 33 persen. "Jumlah modal disetor kami tidak akan lebih dari Rp 50 miliar," katanya.

Untuk tahap awal, anak usaha tersebut akan beroperasi di daerah Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Lokasinya di sekitar tol Surabaya-Mojokerto. "Kami targetkan anak usaha itu beroperasi bersamaan dengan beroperasinya Surabaya-Mojokerto," kata Adityawarman.

Jasa Marga menargetkan tol sepanjang 36,5 kilometer itu beroperasi tahun ini. Saat ini, masih tahap konstruksi. Di sekitar tol Surabaya-Mojokerto itulah, anak usaha Jasa Marga akan membangun properti komersial. "Bentuknya mungkin klaster perumahan, lengkap dengan pusat bisnis dan fasilitas perbelanjaan," kata Adityawarman.

Sebetulnya, kata Aditya, Jasa Marga telah lama tergiur menerjuni bisnis properti. Alasannya, selama ini jalan tol yang dibangun Jasa Marga selalu membuat nilai investasi tanah dan gedung di sekitarnya membumbung. Sayang, Jasa Marga tidak ikut mencicipi. Yang menikmati justru pengembang properti di daerah setempat. Itulah sebabnya, Jasa Marga berniat menjajal diversifikasi usaha ke bisnis properti.

Direktur Operasional PT Pembangunan Perumahan Kismodarmawan menyatakan, kerjasama dengan Jasa Marga membentuk perusahaan properti itu belum matang. "Saat ini masih pada tataran ide," katanya.

Tahun ini, Jasa Marga menargetkan pendapatan Rp 4,79 triliun dan laba bersih Rp 927 miliar. Jumlah ini naik masing-masing 35 persen dan 17 persen dari estimasi kinerja 2009.

Ocean One
March 5th, 2010, 06:34 PM
Adhi Realty Akan Kembangkan Lahan Tidak Terpakai
Kamis, 4 Maret 2010

Jakarta (ANTARA News) - PT Adhi Realty anak perusahaan PT Adhi Karya Tbk merencanakan mengembangkan lahan-lahan tidak terpakai milik induk usaha di tiga lokasi di Indonesia.

"Kami sudah buat rencana induknya yang rencananya akan dibuat mix used atau kombinasi apartemen dan perkantoran," kata Direktur Operasi PT Adhi Karya Tbk, Indra Djaya Manopol di Jakarta, Rabu malam.

Menurutnya, tiga lokasi yang akan dikembangkan di antaranya Surabaya, Padang, dan Pekanbaru. Ketiganya sudah ada kantor tetapi lahannya masih banyak yang kosong.

"Kantor kami di tiga lokasi tersebut rata-rata memiliki luas hanya 20 persen dari total luas yang dimiliki padahal lokasinya sangat strategis, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan," jelasnya.

Dia menjelaskan, kontribusi Adhi Realty sendiri selama ini mencapai 10 persen dari total pendapatan induk usaha. "Seperti tahun lalu menyumbang Rp139 miliar dari total Rp7,6 triliun," ujarnya.

Sedangkan dari sisi laba usaha kontribusi Adhi Relaty mencapai 15 persen dari pencapaian laba induk usaha, jelasnya.

Pendapatan induk usaha, jelasnya, hampir 90 persen dari jasa konstruksi, sedangkan sisanya disumbang dari proyek EPC dan infrastruktur.

Sementara itu Direktur Utama PT Adhi Realty, Giri Sudaryono mengatakan, keberhasilan menyelesaikan Menara MTH yang berlokasi di Jalan MT Haryono Jakarta Selatan diharapkan dapat meningkatkan kontribusi terhadap induk perusahaan.

Menurutnya, dari 4600 meter persegi ruang kantor yang dipasarkan sejak diluncurkan Kamis (3/3) sudah terjual 70 persen, 12 persen masih kosong serta 18 persen akan dikelola sendiri termasuk rencana kantor Adhi Realty pindah ke MTH.

Menara MTH sendiri dibangun dengan biaya Rp190 miliar bekerja sama dengan PT Eden Kapital selaku pemilik lahan. "Kami sengaja membangun di atas lahan yang dapat dikerjasamakan untuk mengurangi resiko," jelasnya.

PT Adhi Realty selain Menara MTH juga akan membangun gedung perkantoran di kawasan TB Simatupang, pengembangan hunian di Bekasi dan Sawangan.

Untuk Jabodetabek, Adhi Realty memiliki cadangan tanah di Bekasi Timur 41 hektare dan Sawangan Depok 19 hektare lebih, jelasnya.

Ocean One
March 11th, 2010, 08:05 AM
Emaar Harus Tetap Ikut Seleksi di Lombok
KAMIS, 11 MARET 2010

http://image.tempointeraktif.com/?id=14929&width=274

Pantai Senggigi Lombok

TEMPO Interaktif, Mataram - Perusahaan milik Kerajaan Dubai, salah satu daerah otonomi di Uni Emirat Arab, Emaar Properties harus mengikuti proses seleksi (beauty contest) terlebih dahulu bersama calon investor lain yang berasal dari beberapa negara.

Di samping Emaar, investor asal India, Tunisia, dan 2-3 calon investor asal Asia, yang belum bisa disebutkan namanya, juga sudah menyatakan minatnya dalam mengembangkan kawasan wisata Putri Mandalika Resort yang berlokasi di pantai selatan Lombok Tengah seluas 1.250 hektare.

Perlakuan yang sama itu dikemukakan Kepala Badan Penanaman Modal Nusa Tenggara Barat Yakoub Abidin kepada Tempo, menanggapi keinginan Emaar untuk kembali ke Putri Mandailika sebagaimana diberitakan Bloomberg dan Reuters, Rabu (10/3). "Proyek Mandalika terbuka untuk siapa saja," ujar Yakoub yang saat dihubungi tengah berada di Bogor, Jawa Barat, Kamis (11/3) pagi.

Perjanjian kerjasama patungan atau joint venture agreement (JVA) yang dibuat Emaar Properties pada 2007 untuk proyek Putri Mandalika senilai US$ 600 juta atau sekitar 5,7 triliun itu sudah berakhir pada Juli 2009. Tapi, tidak menutup peluang Emaar untuk melanjutkan kembali keinginan mereka. "Namun ada aturan yang harus dilalui lagi," ujarnya.

Yakoub menegaskan, prosedur yang harus diikuti itu dikarenakan perjanjian kerjasama patungan ini sudah kedaluarsa. Di samping itu, proses seleksi ulang merupakan pertanggungjawaban pemerintah provinsi dalam mengembangkan kawasan terpadu yang berbeda dari sebelumnya.

Emaar Properties sebelumnya berminat menanamkan modal hingga US$ 700 juta di kawasan wisata Putri Mandalika. Sebagai tahap awal, Emaar menyiapkan dana sekitar US$ 65 juta atau setara Rp 700 miliar. Pemerintah Indonesia menyediakan Rp 557 miliar untuk kerjasama tersebut yang diwakili Bali Tourism Development Corporation.

Putri Mandalika Resort meliputi areal seluas 1.250 hektare yang semula dimiliki oleh PT Pengembangan Pariwisata Lombok atau Lombok Tourism Development Corporation. Dari penyerahaan hak penggunaan lahan kawasan tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memperoleh kompensasi dari pemerintah.

Dari sejumlah 15 persen saham yang dimiliki pemerintah melalui Bali Tourism setara dengan harga tanah di kawasan Putri Mandalika. Sekitar lima persen dari saham total perusahaan kerja sama tersebut adalah milik pemerintah Nusa Tenggara Barat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Barat Jalal menyatakan, rugi jika Emaar tak jadi berinvestasi di kawasan yang sudah dirintisnya tersebut. Sebab, pemerintah daerah dan pemerintah pusat sudah menyiapkan infrastruktur jalan dan Bandara Internasional Lombok yang bisa didarati pesawat berbadan lebar.

Pesawat-pesawat itu bisa langsung menjangkau Lombok dari Australia, Timur Tengah, atau negara Asia lainnya seperti Hong Kong dan Jepang. "Potensinya besar dan telah didukung oleh prasarana," katanya.

Untuk transportasi jalan, sudah disiapkan jalan baru sepanjang 18 kilometer dengan dua jalur selebar 30 meter dari Lombok Barat ke Bandara Lombok. Jalan itu sudah dikerjakan sepanjang delapan kilometer dan sisanya delapan kilometer lagi akan ditambah empat jembatan baru.

Adapun jalur ke Mandalika sejauh 15 kilometer telah dikerjakan satu jalur selebar 15 meter kecuali di depan Bandara Lombok yang dikerjakan dua jalur selebar 30 meter. "Bahkan, pemerintah menyiapkan lingkar selatan dari timur dan barat kawasan," ujarnya.

Ocean One
May 8th, 2010, 04:49 PM
Jumat, 07-05-2010
2010, Perumnas Bangun 1.200 Rumah

MAKASSAR, BKM -- Perum Perumnas Regional VII menargetkan laba dan pembangunan unit rumah tahun ini, meningkat 150 persen dari tahun sebelumnya.

Kalau capaian laba yang diperoleh 2009 lalu yang hanya Rp 6 miliar dengan 1.000 unit rumah terbangun, maka tahun ini ditargetkan laba sebesar Rp19 miliar untuk pembangunan 1.200 unit rumah.

"Target tersebut optimis bisa kita capai. Saat ini, kita masih memiliki 70 persen lahan yang potensi dibanguni perumahan. Dalam waktu dekat, kita juga rencana membuka lokasi baru di Sulawesi Barat," yakin Manager Pemasaran Perum Perumnas Regional VII, Nurdin Sakka, yang ditemui disela-sela serah terima jabatan dan lepas sambut pejabat Perum Perumnas
Regional VII di Hotel Celebes, Jl Gunung Latimojong, Kamis (29/4).

Rencana pembangunan 1.200 unit rumah tersebut, lanjut Nurdin, terdiri dari 20 persen rumah tipe RSS dan 80 persen lagi rumah tipe RSH. Pembangunan perumahan itu dipersiapkan untuk semua wilayah regional VII yang mencakup hingga Papua.

Sejauh ini, katanya, perumnas dikenal dengan rumah murah sederhana oleh karena menggunakan dana subsidi pemerintah. Akan tetapi, kendati sederhana dan murah, sambung dia, rumah yang dibangun perumnas tetap berkualitas.

"Sejauh ini, rencana menaikkan harga rumah juga belum ada. Itu tergantung pemerintah. Yang jelas, kita tetap mempertahankan pasar rumah berkualitas dan terjangkau," tandas Nurdin.

Sementara itu, pejabat Perum Perumnas Regional VII yang berganti kemarin, masing-masing Drs Pertama Bangun menjabat General Manager menggantikan Ir H S Iskandar, yang semula PLH General Manager. Sedangkan Mashudulhaq Atjo menjabat Deputy General menggantikan Syahril Sariman yang juga mantan Perwakilan SPI.

Ocean One
May 23rd, 2010, 05:13 PM
Bisnis Properti Masih Sulit Berkembang di Kawasan Industri
Minggu, 23 Mei 2010

Maket apartemen di kawasan Kemang, Jakarta, Rabu (4/2). Diturunkannya kembali BI rate sebesar 50 basis point menjadi 8,25 persen diharapkan mampu menyokong pertumbuhan penjualan properti hingga 30 persen. TEMPO/Puspa Perwitasari

TEMPO Interaktif, Jakarta - Bisnis properti, khususnya di segmen gedung perkantoran, masih sulit berkembang di kawasan industri yang lokasinya berdekatan dekat dengan Ibu Kota Jakarta, seperti Cikarang, Karawang, dan Cilegon. Pasalnya, infrastruktur seperti listrik dan akses jalan dianggap kurang memadai.

"Listriknya belum sebaik di Jakarta. Selain itu jalan tol tembus ke bandara juga belum jadi. Kalau sudah terbangun (jalan tol ke bandara) baru pembangunan propertinya juga meningkat," kata Research and Analyst Manager PT Coldwell Banker Indonesia Dwi Novita kepada Tempo Sabtu (22/5).

Walau masih belum berkembang signifikan, namun ekspansi dunia properti ke wilayah itu sudah terjadi. Dia mencontohkan seperti di Cikarang dan Karawaci yang kini telah memiliki proyek pembangunan gedung perkantoran dan apartemen. "Memang belum dalam skala besar. Tapi sudah ada," kata dia.

Selain karena keterbatasan infrastruktur, minimnya pembangunan apartemen di kawasan industri juga disebabkan masih banyaknya ketersediaan lahan. Hal itu menyebabkan masyarakat lebih memilih membangun rumah daripada membeli apartemen.

Justru pembangunan properti dinilai lebih berprospek di kota lain di luar Jakarta, seperti Bali, Balikpapan, dan Bandung. Menurut Dwi, saat ini Balikpapan mulai banyak membangun apartemen dan gedung perkantoran karena banyaknya perusahaan multinasional yang bergerak di sektor pertambangan.

Sehingga banyak kaum pendatang, khususnya ekspatriat, yang membutuhkan tempat tinggal. "Makanya apartemen di sana banyak berjenis condotel, dimana pembeli bisa menyewakan kembali apartemennya. Biasanya untuk penduduk lokal, lalu dia sewakan ke orang asing. Rata-rata apartemen yang dibangun grade B," tutur Dwi.

Sama halnya dengan Balikpapan, Bali pun sudah mulai diminati investor di sektor properti. Namun Bali memiliki karakteristik berbeda. "Sebagai kota pariwisata propertinya sebagian besar untuk tempat tinggal. Pembeli banyak yang menggunakannya sebagai rumah kedua. Tapi ada juga yang disewakan kepada turis," katanya.

Berbeda lagi dengan Bandung. Mayoritas pembangunan propertinya adalah apartemen. Bandung juga punya keunikan. Sebagai kota yang banyak memiliki perguruan tinggi ternama membuat investor banya membeli apartemen untuk disewakan kepada mahasiswa. "Seperti membuat indekos," ujar Dwi.

Secara garis besar pembangunan properti di masing-masing daerah sangat bergantung karakteristik daerah tersebut. Selain Bali, Bandung, dan Balikpapan, kota besar lain semisal Medan, Surabaya, Makassar, Lombok, dan Pekanbaru pun dinilai berpotensi dalam pembangunan properti dalam beberapa tahun ke depan.

Ocean One
June 22nd, 2010, 04:38 PM
85 Persen Wilayah Jakarta Barat Jadi Perumahan
Selasa, 22 Juni 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/11/1945099p.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta Barat, terkendala minimnya lahan. Bahkan, 85 persen lahan di Jakarta Barat kini telah berubah menjadi komplek perumahan. Akibatnya, dari 20 persen target Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari total 12.615,14 hektar luas wilayah di Jakarta Barat, baru terealisasi sekitar 13 persen.

"Sebanyak 85 persen lahan Jakarta Barat menjadi kompleks perumahan. Tak sampai 5 persen pengembang perumahan yang telah menyerahkan fasos dan fasumnya ke pemerintah," ujar Djoko Ramadhan, Walikota Jakarta Barat, Selasa (22/6).

Djoko juga menyesalkan lahan yang semestinya menjadi RTH malah telah diambil alih oleh pihak-pihak tertentu. "Sudah ada sejumlah lahan yang kita iventarisir dan kini telah berubah menjadi pemukiman dan tempat usaha. Kita akan usahakan lahan-lahan itu kembali digunakan sebagaimana mestinya," tegas Djoko.

Menurutnya, pembuatan RTH tidak semudah yang direncanakan. Karena prosesnya tidak seperti model program pembangunan fisik seperti membangun jalan, sekolah, atau perumahan. Membuat RTH harus berkelanjutan dengan menekankan pada perawatan tanaman dan pepohonan yang terdapat di dalamnya. "Intinya, kami berkeinginan kuat untuk mengembangkan RTH. Seperti program refungsi 27 SPBU menjadi taman," jelasnya.

Kasudin Pertamanan Jakarta Barat, Adida Noor, menambahkan, belum memadainya RTH di Jakarta Barat berdampak langsung dengan kurangnya kualitas lingkungan dan tempat yang resprentatif untuk warga. Hal itu juga ditambah dengan menurunnya kualitas fisik sejumlah taman interaktif yang ada. "Kita tengah berupaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap taman-taman yang ada. Namun, masalahnya kembali pada anggaran yang terbatas," kata Adida.

Adida berharap peran serta masyarakat untuk menjaga dan merawat taman-taman interaktif. Sebab, bila mengandalkan anggaran daerah sangat tidak mencukupi. "Keikutsertaan masyarakat sangat diperlukan. Karena yang lebih tahu kondisi dan fungsi taman masyarakat itu sendiri," tandasnya.

Ocean One
June 24th, 2010, 08:39 AM
Bukit Darmo Property Beli Saham Apexindo?
Rabu, 23 Juni 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/06/23/2136157p.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyebab melesatnya harga saham PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) sebulan ini mulai terkuak. Kabarnya, emiten properti asal Jawa Timur ini sedang menjajaki pembelian saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) milik PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA).

Menurut sumber KONTAN, penjualan APEX ke BKDP mungkin akan selesai tahun ini. Tapi, sumber tadi belum bisa menjelaskan persentase saham yang akan BKDP beli dan nilai transaksinya. "Lebih baik tanya perusahaannya saja," ungkapnya. Saham BKDP sendiri sejak awal bulan ini sudah naik 47,48 persen dari Rp 139 per saham , 1 Juni ke Rp 205 per saham, 22 Juni.

Meski demikian, Direktur BKDP Brasada Chandra membantah kabar burung ini. "Ah, enggak benar itu beritanya," katanya singkat. Sementara, Imaculata T.M Wattimena, Sekretaris Perusahaan MIRA, tak berhasil dimintai keterangan. Panggilan seluler dan pesan singkat KONTAN tidak mendapatkan balasan.

Bisnis MIRA kini memang sedang tertekan. Perusahaan ini belum melunasi pembayaran akuisisi 48,72 persen saham APEX dari PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) senilai US$ 340 juta. Pembayaran saham itu dilakukan dengan dua skema. Pertama, MIRA membayar tunai sebesar US$ 272,7 juta saat penutupan transaksi pembelian, September 2008.

Kedua, MIRA melalui anak usahanya, Sabre Systems International Pte Ltd, menyerahkan surat utang guaranteed secured bonds senilai US$ 68,2 juta.

Ocean One
June 24th, 2010, 04:22 PM
Pengembang Apartemen Dukuh Golf Tak Jadi Pailit
Kamis, 24 Juni 2010

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Megacity Development, pengembang apartemen Dukuh Golf, tak jadi pailit. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak permohonan pailit yang diajukan oleh sejumlah pembeli apartemen tersebut. "Menyatakan menolak permohonan kepailitan pemohon (pembeli) seluruhnya," kata Hakim Ketua Nani Indrawati saat membacakan putusannya, Kamis (24/6).

Dalam pertimbangannya, majelis hakim berpendapat permohonan yang diajukan oleh 9 pembeli apartemen tidak memenuhi syarat kepailitan yang disebutkan pada pasal 2 dan 8 UU Kepailitan. Terutama soal syarat sederhana dalam pembuktiannya, terkait adanya utang yang telah jatuh tempo. Mengacu pendapat ahli Yahya Harahap, persoalan dispute (perselisihan) dalam sebuah perjanjian harus diputuskan dan diadili oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Ini terkait soal pernyataan wanprestasi dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Hak Kepemilikan Apartemen Dukuh Golf. Dimana disebutkan jika dalam waktu 120 hari sejak PPJB kewajiban pembayaran dilunasi apartemen tidak juga diserahkan, maka pembeli dapat mengakhiri perjanjian secara sepihak. "Ini harus diputus terlebih dulu oleh Pengadilan Negeri karena ada perselisihan terkait wanprestasi," jelasnya.

Sejumlah pembeli terikat perjanjian jual beli apartemen dengan Megacity pada tahun 1994. Pada bulan Oktober 1998, sejumlah pembeli kembali mendatandatangi PPJB yang isinya pelunasan kewajiban pembayaran dalam pembeli apartemen. Konsekuensinya, Megacity harus merampungkan pembangunan apartemen yang terletak di Pademangan tersebut.

Namun kenyataanya, meski pembeli sudah melunasi pembayaran, Megacity tak kunjung merampungkan pembangunan apartemen Dukuh Golf. Masalah ini lalu bergulir ke meja hijau.

Ocean One
July 13th, 2010, 04:15 PM
Selasa, 13/07/2010
Pemkot Depok ijinkan bangunan 20 lantai

DEPOK (Bisnis.com): Pemerintah Kota (Pemkot) Depok merevisi peraturan daerah (Perda) soal tinggi bangunan dengan mengeluarkan ijin bangunan 20 lantai di kawasan kota tersbut. Syaratnya, menempuh seluruh proses perijinan yang berlaku dan sesuai dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Tarkim) Kota Depok, Rendra Fristoto mengatakan hal itu menjawab kegelisahan sejumlah warga di kawasan Pondok Cina yang mempertanyakan pembangunan sejumlah apartemen yang rencananya akan dibangun di kawasan Margonda Raya. Sejumlah apartemen baru yang segera diluncurkan adalah Margonda Residence tahap III.

Rendra mengatakan berdasarkan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada akhir 2009, maka bangunan berlantai 20 diijinkan untuk dibangun di wilayah area Margonda Raya. “Setelah kami revisi perda tersebut bersama dengan DPRD. Jadi bangunan 20 lantai atau bahkan lebih diizinkan untuk berdiri. Namun, ini harus sesuai dengan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Semakin luas lahannya maka bangunan yang dibangun bisa lebih tinggi lantainya,” ujar Rendra.

Menurut Rendra, mengacu kepada Perda Depok No 2 tahun 2009 tentang Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Depok tahun 2010. Kini bangunan di sepanjang Jalan Margonda Raya hanya diperbolehkan dengan batas minimal tiga lantai. Jika kurang dari tiga lantai, justru tak diizinkan. Peraturan ini mengacu sejalan dengan pola Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang harus dimiliki oleh sebuah kota.

“30% dari luas wilayah harus tersedia untuk RTH. Untuk itu jika pembangunan dilakukan horizontal, ini akan semakin menghabiskan lahan dan tak efisien. Lain halnya jika dibangun ke atas, ini juga sejalan dengan konsep kota megapolitan,” kata Kepala Bidang Tata Ruang Distarkim, Bambang Supoyo.

Ocean One
July 13th, 2010, 04:33 PM
Bakrieland Bangun Hotel Bujet di Tenggarong, Kaltim
Selasa, 13 Juli 2010


JAKARTA, KOMPAS.com - Permintaan hotel berfasilitas tinggi dengan harga terjangkau alias hotel bujet (budget hotel) diperkirakan akan melonjak. Maklum, perekonomian yang membaik tahun ini membuat perusahaan banyak mengirimkan karyawannya melakukan perjalanan bisnis. Belum lagi sektor pariwisata yang kembali bergairah.

Melihat tren permintaan yang meningkat ini, beberapa pengembang gencar mengembangkan hotel bujet. Tengoklah PT Bakrieland Development Tbk lewat anak usaha PT Bakrie Nirwana Semesta yang terus mempersiapkan pengoperasian hotel bujet di Tenggarong, Kutai Kertanegara.

Di Tenggarong, Bakrie Nirwana akan mengelola hotel milik Pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara, yakni Hotel Singgasana dan Hotel Lesong. Saat ini, hotel tersebut memasuki tahap konstruksi ulang menjadi hotel bujet. Bakrie Nirwana menargetkan hotel ini bisa beroperasi sebagai hotel bujet di semester II-2010. Pembangunan hotel ini termasuk dalam rencana jangka panjang Bakrie Nirwana yang ingin membangun 50 hotel bujet.

Menurut Presiden Direktur Bakrieland, Hiramsyah S Thaib, pembangunan satu hotel bujet akan memakan investasi kurang dari Rp 50 miliar. Bakrie Nirwana belum memberikan nama baru untuk hotel tersebut. Yang jelas, hotel ini diperkirakan akan memberikan pelayanan hotel bintang tiga atau bintang empat dengan harga bintang dua. Hotel jenis ini biasanya memiliki luas kamar 3x5 meter persegi (m2) dengan sarapan, layanan internet, teve satelit, peralatan mandi, serta AC.

Hiramsyah memandang, harga komoditas yang semakin membumbung membuat pendapatan daerah luar Jawa ikut terdongkrak. Beberapa komoditas yang diyakini masih akan jadi jagoan ke depan antara lain minyak mentah, CPO, dan batubara.

"Pebisnis yang sering melakukan perjalanan biasanya tidak membutuhkan hotel mewah namun memiliki fasilitas bagus, di situlah hotel bujet berpeluang meraih pasar," tutur Hiramsyah. Melihat tren ini, Bakrieland memandang langkah masuk ke daerah penghasil komoditas menjadi strategis.

Ocean One
July 14th, 2010, 05:55 PM
Intiland Bangun Hotel Bujet Whiz di 60 Lokasi
Rabu, 14 Juli 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/16/1810147p.png

Salah satu desain Whiz Hotels


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Intiland Development Tbk tak mau ketinggalan di pasar hotel berbiaya murah. Hotel segmen ini diyakini akan berkembang seiring dengan meningkatnya ekonomi Indonesia sehingga eksekutif perusahaan pun kerap melakukan perjalanan bisnis. Belum lagi industri penerbangan yang kian ramai oleh maskapai lokal juga berdampak positif terhadap peningkatan perjalanan domestik.

Melihat potensi tersebut, Intiland melalui anak usaha PT Intiwhiz International tengah menyiapkan pembangunan 60 hotel bintang dua plus bertajuk Whiz Hotel. Pola pengembangan hotel ini bisa dilakukan melalui skema kerja sama strategis dengan pemilik lahan, build operate transfer (BOT), maupun kerjasama sebagai operator.

Dalam membangun satu Whiz Hotel, Intiwhiz menggelontorkan investasi sebesar Rp 50 miliar. Moedjianto Soesilo Tjahjono, Presiden Direktur Intiwhiz menargetkan tingkat okupansi setiap Whiz Hotel lebih dari 75 persen. Setiap unit kamar memiliki luas 16,5 m2. "Kami menyediakan apa yang dibutuhkan oleh eksekutif sehingga kami tidak menyediakan fasilitas kolam renang atau restoran besar," ujar Moedjianto.

Pada Desember 2009 silam, perusahaan telah menutup bagian atap Whiz Hotel Malioboro, Yogyakarta. Whiz Hotel berkapasitas 103 unit kamar ini diharapkan bisa beroperasi Agustus depan. Di samping itu, Intiland juga telah memiliki enam lokasi yang siap dibangun Whiz Hotel. Seperti Whiz Hotel di Pierre Tendean Semarang misal, Intiland sudah membangun pondasi. Di sini akan dibangun 150 unit kamar. Kota lain yang dibidik Whiz Hotel antara lain Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Samarinda, Lampung, dan Bali.

Di Jakarta, tahun ini Intiland berniat membangun tiga Whiz Hotel, yakni di Hayam Wuruk, Menteng, dan Kebayoran Baru. Sementara Whiz Hotel di Hayam Wuruk, Surabaya, dan Balikpapan sudah memasuki tahapan desain. Intiland melihat, hotel merupakan bisnis perusahaan untuk jangka panjang.

Sebagai hotel bintang dua plus, Whiz Hotel menyasarkan segmennya pada para pebisnis serta eksekutif yang sering dinas keluar kota. Hotel ini mengkombinasikan antara kenyamanan, kesenangan, kebersihan, dengan harga yang terjangkau. Harga sewa di Whiz Hotel mulai dari Rp 290.000 per malam.

Ocean One
July 23rd, 2010, 04:47 PM
Laris, Perumahan Rp 1 Miliar di Jakarta dan Tangerang
Jumat, 23 Juli 2010

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengembang properti lagi berleha-leha. Wajar, perbaikan ekonomi bikin permintaan properti, khususnya perumahan estat meningkat. Melihat data lembaga riset Cushman & Wakefield, sepanjang semester I-2010 ini penyerapan rata-rata rumah di Jabodetabek mencapai 175,1 unit per bulan. Jumlah ini turun 3,6 persen dibandingkan dengan semester II-2009 yang sebesar 181,8 unit per bulan.

Meski penjualan unit rumah ini menurun, namun nilainya mengalami peningkatan 10,1 persen dari Rp 96,8 miliar menjadi Rp 106,7 miliar. Arief Rahardjo, Kepala Riset Cushman & Wakefield mengatakan, peningkatan penjualan ini disebabkan beberapa pengembang sudah menaikkan harga jual karena permintaan properti melonjak sejak awal tahun.

Arief memprediksi, kenaikan harga masih berlangsung hingga semester II-2010. Di Jakarta, akan terjadi kenaikan harga jual rumah hingga 5 persen. Sementara di Tangerang terjadi kenaikan harga 7 persen, Bogor dan Depok 4 persen, serta Bekasi 5 persen. Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan biaya konstruksi di Jakarta dan Tangerang sebesar 3 persen, Bogor dan Depok 5 persen serta Bekasi 4 persen. Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga menjadi salah satu pemicu kenaikan harga.

"Permintaan perumahan kelas atas seharga sekitar Rp 1 miliar kuat terlihat di Jakarta dan Tangerang," ujar Arief di Jakarta, Rabu (21/7). Lalu, permintaan kuat atas rumah kelas menengah seharga Rp 750 juta sampai Rp 1 miliar terlihat di Bekasi.

Adapun unit yang paling diminati berada di harga sekitar Rp 1 miliar. Rumah seharga itu paling banyak diburu di Jakarta. Rumah yang paling banyak diminati kedua berada di kisaran harga Rp 600 juta hingga Rp 700 juta yang menuai banyak permintaan di Tangerang. Rumah seharga 400 juta sampai Rp 500 juta juga paling banyak diminta di Bekasi. Sementara rumah seharga Rp 250 juta banyak diminta di Bogor.

Semester II-2010 ini, Cashman & Wakefield memperkirakan ada pasokan luas lahan perumahan estate sebesar 11.514 ha di Jakarta. "Mayoritas pengembangan aktif berlokasi di Tangerang dan Bekasi," terang Arief. Menurut catatan Cushman & Wakefield, di semester dua nanti akan ada pasokan perumahan sebanyak 238.715 unit. Jumlah ini tumbuh 2,5 persen dari semester II-2009.

Ocean One
July 23rd, 2010, 06:05 PM
PP Tanah Telantar Ancam Pengusaha Properti
Jumat, 23 Juli 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Pengusaha properti yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) merasa tidak nyaman dengan hadirnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. Peraturan ini dianggap kontradiktif dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan investasi.

"Ini akan memengaruhi iklim berinvestasi. Pemerintah menetapkan harus ada investasi 200 triliun, 1.600 trilliun dari swasta, ini gimana mau investasi? Jadi kontraproduktif," ujar Ketua DPP REI Teguh Satria, Jumat (23/7/2010) di Jakarta.

Investor akan mundur karena tidak ada jaminan tanah yang dibelinya atau yang akan dikembangkannya tidak akan ditetapkan sebagai tanah telantar yang kemudian disita pemerintah.

"Bank juga bisa-bisa tidak mau kasih kredit karena bisa saja tanah yang dijaminkan tiba-tiba hangus karena dianggap tanah telantar," ungkap Teguh.

Adanya kecemasan ini disebabkan Pasal 2 dalam PP tersebut yang menyebutkan obyek penertiban tanah telantar adalah tanah yang sudah diberikan hak oleh negara berupa Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, tetapi tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan dan sifatnya.

Selain itu, di dalam Pasal 6 dijelaskan kembali identifikasi tanah dianggap telantar atau tidak dimulai setelah tiga tahun sejak diterbitkannya hak-hak tersebut oleh negara. "Ini implikasinya akan ke industri real estat karena bahan bakunya tanah. Nah ini sulit. Mau membebaskan tanah misal 3 tahun belum beres, eh udah disita, nah ini gimana?" ungkap Teguh.

Cara-cara penyitaan yang dilakukan pemerintah juga dinilai tidak memberikan penghargaan kepada pengembang. "Di PP 11 ini tanah kami kalau tidak dikembangkan, dirampok begitu saja tanpa ada ganti rugi, di PP 36 Tahun 1998 masih ada mekanisme ganti rugi meski murah," ujarnya dalam acara Property Editor Club di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Menurutnya, REI tentu mendukung upaya pemerintah dalam menertibkan dan mendayagunakan tanah telantar untuk kepentingan rakyat. Namun, ia tidak setuju dengan cara-cara yang digunakan pemerintah dalam PP tersebut.

Penerbitan peraturan yang diusulkan Kepala Badan Pertanahan Nasional ini memberikan reaksi keras dari kalangan penggiat industri properti.

Peraturan ini dikeluarkan untuk mengganti aturan pada PP No 36 Tahun 1998 yang dianggap tidak dapat lagi dijadikan acuan dalam penertiban tanah telantar. Namun, dalam proses pembuatannya, pelaku industri properti mengaku tidak pernah sama sekali diajak berdiskusi.

Ocean One
July 28th, 2010, 05:19 PM
Penyerapan Kondo Hampir Habis Kuartal II-2010
Rabu, 28 Juli 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya proyek apartemen baru yang meluncur pada kuartal II-2010 menjadi titik awal pulihnya pasar apartemen. Pun begitu, lembaga riset Cushman & Wakefield mengamati, pada periode tersebut, terjadi penurunan pre-sale sebesar 1,5 persen dibandingkan dengan kuartal I tahun 2010.

Arief Rahardjo, Kepala Riset Cushman & Wakefield, mengatakan, penurunan ini terjadi karena adanya musim libur sekolah pada bulan Juni. Belum lagi, banyak kendala pada proyek rusunami atau apartemen bersubsidi dari pemerintah yang membuat beberapa pengembang menghentikan proyek tersebut dan mengubah proyek menjadi apartemen sederhana milik. "Biasanya kendala yang dihadapi seputar biaya konstruksi dan pembiayaan" ujar Arief.

Tingkat penjualan kumulatif proyek kondominium (kondo) di Jakarta dan sekitarnya masih sama dengan kuartal I tahun 2010, yakni sebesar 94,1 persen. Adapun tingkat penjualan pre-sale mencapai 59,4 persen atau turun 1,5 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Pada periode ini, kondominium kelas menengah-atas dan atas mencatat tingkat pre-sale sebesar 63,1 persen dan 63,4 persen. Di sisi lain, tingkat pre-sale kondominium kelas menengah mencapai 57,7 persen. Tingkat pre-sale apartemen sederhana mengalami peningkatan, dari 75,4 persen pada kuartal I tahun 2010 menjadi 77,4 persen pada kuartal II-2010.

"Perubahan kualitas dan fasilitas dari proyek rusunami menjadi proyek apartemen sederhana menaikkan aktivitas penjualan," lanjut Arief. Maklum, proyek ini cukup terjangkau oleh konsumen berpenghasilan menengah ke bawah.

Pasokan hingga tahun 2014

Di sisi lain, pasokan kondominium pada kuartal II-2010 mencapai 35.176 unit. Keseluruhan proyek ini akan masuk ke pasar hingga 2014. Sementara itu, proyek kondominium yang selesai kuartal dua lalu antara lain Maple Park menara B dan proyek apartemen sederhana Gading Nias menara C dan D. "Ini menjadikan total pasokan kumulatif di Jakarta pada kuartal dua lalu mencapai 76.670 unit.

Arief mengatakan, apartemen kelas menengah pada kuartal dua mendominasi pasar dengan porsi 61,3 persen. Pada periode yang sama, kondominium dengan target kelas menengah atas pun banyak meluncur.

Proyek ini antara lain The H-Tower Mutiara Menteng Mansion, Westmark, Puri Cinere, Green Lake Sunter, Silkwood Residence, Margonda Residence III, dan apartemen sederhana Paragon Village. Beberapa proyek lawas yang kembali diluncurkan pun ikut meramaikan pasar. Proyek ini antara lain Green Central yang sebelumnya bernama Starcity dan Menteng Square yang sebelumnya bersegmen rusunami dengan nama Menara Salemba Batavia.

Proyek kelas atas tak ketinggalan meluncurkan unit baru seperti Verde di Kuningan. Proyek ini merupakan renovasi dan peremajaan bangunan lama yang sebelumnya merupakan apartemen khusus sewa yang dikenal dengan nama Menara Budi. Proyek lain yang menyasar kelas menengah atas ialah Tamansari Semanggi. Proyek ini merupakan kelanjutan proyek lama bertajuk Hollywood Residence yang sebelumnya terhenti.

Perekonomian yang baik pun mengerek harga jual apartemen. Apartemen di kawasan central business district (CBD) tumbuh 3,2 persen menjadi Rp 16,53 juta per meter persegi (m2). Kawasan CBD yang dimaksud, misal, Sudirman, Kuningan, Thamrin, Gatot Subroto, dan Satrio. Lalu, di area primer harga jual tumbuh 1,9 persen menjadi Rp 15,4 juta per m2. Yang dimaksud area primer antara lain Kebayoran Baru, Senayan, Menteng, Pondok Indah, Permata Hijau, dan Kemang.

"Sistem pembayaran tunai dan balloon payment masih menjadi sistem pembayaran yang paling banyak diminati," lanjut Arief. Alhasil, ia menyimpulkan, membaiknya ekonomi membuat pengembang yakin meluncurkan produk kondominium baru.

Ocean One
July 31st, 2010, 05:29 PM
Besar, Minat Asing Miliki Properti di Indonesia
Jumat, 30 Juli 2010

KOMPAS.com - Perekonomian yang mulai menggeliat di sejumlah negara membuat para pemilik modal mencari bentuk baru untuk menanamkan modalnya. Selama ini sudah sering diiklankan properti-properti di Singapura dan Australia dipasarkan di Indonesia. Bagaimana dengan kemungkinan properti Indonesia dipasarkan di pasar asing?

Belum banyak yang tahu, sekarang pemodal asing juga mengincar properti Indonesia, terutama di kawasan-kawasan wisata yang eksotis dan menyedot wisatawan asing setiap tahunnya. Hal ini disebabkan harga tanah di Indonesia masih jauh lebih murah dibanding negara lain, seperti Singapura, Australia, Hongkong, dan negara-negara sekitar. Sementara fasilitas dan pemandangan alam yang ditawarkan tidak kalah dengan apa yang ada di negara-negara lain.

Di Hongkong, misalnya, sebagian besar warga Hongkong hanya bisa menyewa apartemen karena harga properti di Hongkong sangat mahal. Bahkan, menurut The Straits Times, harian Singapura, edisi 12 Juni lalu, harga properti di Hongkong, China, dan Singapura paling mahal di dunia dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Pemilik properti di negara-negara itu bukan hanya warga negara mereka sendiri, melainkan juga warga negara asing yang memang diizinkan untuk memiliki properti di sana.

”Jika banyak orang asing yang memiliki properti di Indonesia, harga tanah di Indonesia juga akan meningkat. Orang Indonesia pun akan lebih tertarik berinvestasi di Indonesia daripada membeli properti di negara lain,” ujar Magda.

Kepemilikan properti oleh WNA juga berarti masuknya modal asing ke Indonesia. ”Investasi di Indonesia tidak hanya berarti membuka perusahaan di Indonesia, tetapi juga membeli properti. Jika banyak yang berinvestasi di properti, pembangunan akan terus berjalan dan tentu menyerap tenaga kerja,” kata Magda.

The W Residences Seminyak yang dimiliki oleh PT Dua Cahaya Anugrah (DCA), tetapi dikelola oleh Starwood Hotels & Resorts membuka kemungkinan WNA memiliki vila-vila yang ada di dalamnya.
Investasi di Indonesia tidak hanya berarti membuka perusahaan di Indonesia, tetapi juga membeli properti. Jika banyak yang berinvestasi di properti, pembangunan akan terus berjalan dan tentu menyerap tenaga kerja.
-- Magda Hutagalung

”Keinginan WNA memiliki properti di Indonesia, terutama di Bali, sangat besar. Mereka senang bisa berlibur ke Bali dan tinggal di rumah mereka sendiri. Pemerintah juga diuntungkan dengan adanya investasi asing di Indonesia yang bisa mendorong laju perekonomian,” kata Magda Hutagalung, Direktur Utama PT Dua Cahaya Anugrah, pemilik W Retreat & Spa dan The W Residences Seminyak.

Pemaparan soal The W Residences dan segala fasilitasnya ternyata menarik bagi calon investor yang diundang cocktail party di The W Hotels Hongkong. Mereka menyatakan diri sangat berminat, terlebih mengetahui letak properti itu di Seminyak, kawasan paling prestisius saat ini di Bali.

Antusiasme calon investor itu semakin membuncah ketika mengetahui The W Residences itu juga menjanjikan nilai investasi yang tinggi. Magda menuturkan, dengan memiliki vila berkamar satu yang harganya 1,4 juta dollar AS (setara Rp 1,26 miliar), pemilik vila akan mendapatkan dua keuntungan investasi. Pertama, nilai tanah yang terus berkembang. Kedua, hasil pengelolaan dari Starwood Hotels & Resorts dengan porsi 40 persen bagi pemilik dan 60 persen bagi pengelola.

”Pemilik properti bisa menempati vila itu selama empat minggu dalam setahun. Sisanya, 48 minggu, diserahkan ke Starwood Hotels & Resorts untuk disewakan. Perhitungan kasar saya, dalam setahun pemilik vila bisa mendapatkan sekitar Rp 700 juta,” kata Magda, yang rencananya juga akan menawarkan The W Residences ini ke China, Singapura, dan Rusia.

Ocean One
August 12th, 2010, 04:50 PM
Kamis, 12/08/2010
Gugatan sengketa gedung BRI ditunda


JAKARTA (Bisnis.com): Pengadilan Negeri Jakarta Pusat siang tadi kembali menggelar sidang perkara antara PT Bank BRI Tbk dan Dana Pensiun BRI melawan PT Mulia Persada Pasific terkait dengan sengketa perjanjian pembangunan gedung BRI II dan III.

Dalam sidang yang dipimpin oleh majelis hakim Yulman, tergugat memperoleh kesempatan untuk menyampaikan materi jawaban atas gugatan yang diajukan para penggugat. Sidang akhirnya ditunda hingga 19 Agustus dengan agenda replik dari penggugat.

Sebelumnya, dalam berkas gugatan penggugat yang diwakili oleh salah satu Jaksa Pengacara Negara Edwin P. Situmorang, tergugat disebut-sebut baru menyelesaikan beberapa kewajibannya dalam membangun gedung BRI II, a.l. menghadirkan 27 lantai berikut gedung parkir minimal 99.000 meter persegi.

Sementara, menurut gugatan penggugat, kewajiban yang belum dilaksanakan a.l. penyediaan ruang fasilitas shower sejumlah 50 di lantai 3 gedung parkir.

Selain itu tergugat dianggap tidak menyediakan ruang seluas 500 meter persegi satu blok area pada lantai 3 atau lantai 1 gedung parkir sebagai ganti ruang di Gedung Annex, lantai yang layak dipergunakan sebagai tempat upacara, senam, dan olah raga.

Karena dinilai tidak melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian, akhirnya para penggugat melayangkan gugatan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang pada intinya meminta pengadilan untuk menyatakan perjanjian tersebut berakhir karena ingkar janji sejak gugatan ini didaftarkan.

Dalam gugatannya, para penggugat a.l. menuntut tergugat mengembalikan Gedung BRI II serta mengganti kerugian sebesar Rp347,801 miliar yang berasal dari pembayaran sewa gedung BRI II yang seharusnya diterima penggugat II sejak 1998 dan ganti rugi sebesar Rp887,040 miliar akibat penggugat II telah kehilangan nilai gedung BRI III.
http://www.bisnis.com/umum/hukum/1id200238.html

Ocean One
August 12th, 2010, 05:03 PM
Kamis, 12/08/2010
Daya saing properti RI terancam turun terus


JAKARTA: Daya saing industri properti Indonesia berpotensi terus menurun jika pemerintah tidak segera mengeluarkan tiga kebijakan dasar yang dapat mendongkrak daya saing.

Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi)Soeharsojo mengatakan ketiga kebijakan itu adalah regulasi pertanahan yang berpihak pada pengembang, penyederhanaan perizinan, dan insentif fiskal berupa pengurangan pajak.

“Proses pembebasan lahan selalu bermasalah, sedangkan pajak properti yang dikenakan juga berlapis-lapis. Jika tak ada kepastian berbisnis, proyek-proyek properti baru akan terhambat,” katanya kepada Bisnis hari ini.

Dia menjelaskan dari sisi pajak, investor lokal dan asing masih dikenakan berbagai pungutan, seperti bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), pajak penjualan barang mewah (PPnBM), dan pajak pertambahan nilai (PPN) dengan besaran masing-masing 5%, 21%, dan 10% dari harga properti.

Padahal, imbal hasil kotor sewa properti Indonesia per tahun dalam jangka panjang justru sangat menjanjikan. Di Asia, imbal hasil properti Indonesia justru berada di urutan teratas, yakni 11,38%.

Namun, buruknya regulasi di bidang properti, besarnya suku bunga kredit perumahan, dan larangan status kepemilikan properti oleh asing menempatkan daya saing industri properti Indonesia di posisi moderat.
http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id200200.html

Ocean One
August 12th, 2010, 06:54 PM
Kamis, 12/08/2010
Mal tumbuh pesat di pinggiran Jakarta

http://www.bisnis.com/data/images/news/news_20100812153218_200168_0.jpg

JAKARTA: Pembangunan pusat perbelanjaan dan perdagangan diperkirakan semakin banyak di wilayah penyangga Jakarta seiring dengan menguatnya daya beli pasar di wilayah tersebut.

Hary Jap, Presdir Indoproperty, konsultan marketing properti, mengatakan pembangunan mal di wilayah penyangga, seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor akan makin banyak dalam beberapa tahun mendatang disebabkan oleh daya masyarakat yang terus tumbuh.

"Pekerja di Jakarta kan banyak yang tinggal di wilayah penyangga. Ini merupakan kekuatan ekonomi yang mendukung dikembangkannya proyek pusat perbelanjaan di wilayah tersebut [penyangga]," katanya di Jakarta, hari ini.

Menurut Hary, pembangunan pusat perbelanjaan di pinggiran Jakarta bisa mempercepat pertumbuhan kawasan ekonomi baru sehingga dapat memperlebar peluang ekonomi ke daerah tetangga.

"Bahkan, ritel besar seperti Giant, Hypermart, dan Carrefour ikut ekspansi ke pinggiran Jakarta dengan menjadi tenant di pusat perbelanjaan baru itu. Ini sudah banyak terjadi di Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor," ujarnya.

Hary menambahkan di tiap-tiap daerah penyangga itu juga akan muncul distrik-distrik ekonomi baru yang akan saling bersaing satu sama lain.

Dia mencontohkan munculnya satelit bisnis, seperti Pamulang, Cibubur, Ciledug, Ciputat, Metro Bekasi, dan Serpong memicu perkembangan pusat perbelanjaan cukup pesat.

Di sisi lain, papar Hary, pembangunan pusat perbelanjaan di pinggiran Jakarta akan mengurangi trafik lalu lintas ke pusat Jakarta karena masyarakat pinggiran tidak perlu lagi ke Jakarta untuk berbelanja.

"Supaya daya tarik pusat perbelanjaan di pinggiran makin kuat, maka perlu juga dilengkapi dengan fasilitas entertain dan gaya hidup, seperti pusat kuliner dan rekreasi keluarganya," katanya.
http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id200168.html

Ocean One
August 14th, 2010, 06:30 PM
Bakrieland Kini Miliki Bank Tanah Terluas
Sabtu, 14 Agustus 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/05/27/1403489620X310.jpg

Hiramsyah S Thaib, CEO Bakrieland


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akhirnya merealisasikan akuisisi beberapa lahan baru dengan menggunakan dana segar dari gelaran penerbitan saham baru alias rights issue.

Presiden Direktur ELTY Hiramsyah Thaib menjelaskan, pada akhir Juli 2010 lalu, Bakrieland telah merampungkan akuisisi lahan di Bukit Jonggol Asri (BJA) seluas 10.500 hektare. Artinya, kini Bakrieland menjadi pemegang saham mayoritas BJA sebesar 51 persen, dan menguasai 20 persen saham Bukit Sentul.

Saat ini total lahan yang dimiliki ELTY mencapai 15.000 ha. ''Kami bisa dikatakan sebagai pengembang yang memiliki landbank terbesar di Jakarta,'' ujar Hiramsyah, Jumat (13/8).

Hiramsyah melanjutkan, Bakrieland menganggarkan sekitar Rp 450 miliar-Rp 500 miliar untuk pembangunan infrastruktur BJA. Dengan rincian, biaya pembangunan infrastruktur awal sebesar Rp 300 miliar. Sementara sisanya yakni Rp 150 miliar-Rp 200 miliar untuk pembangunan jalan yang menghubungkan antara BJA dengan Bukit Sentul.

Bakrieland sendiri menganggarkan sekitar Rp 5 triliun untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan BJA. ''Tapi itu bertahap. Untuk infrastruktur awal, kami hanya butuh Rp 300 miliar,'' ujar Hiramsyah.

Adapun untuk pembangunan jalan, lanjut Hiramsyah, akan dimulai usai Lebaran nanti. Diperkirakan pembangunan jalan sepanjang 10 km ini akan memakan waktu hingga 9 bulan.

Bila pembangunan awal BJA berjalan sukses, ELTY berharap bisa meraup penjualan mencapai Rp 1,5 triliun dalam tiga tahun ke depan.
http://properti.kompas.com/index.php/read/2010/08/14/09112755/Bakrieland.Kini.Miliki.Bank.Tanah.Terluas.-12

Ocean One
August 16th, 2010, 11:37 AM
Minggu, 15/08/2010
250 Proyek properti ikuti WAF 2010


JAKARTA: Lebih 250 proyek properti dari seluruh dunia mengikuti Festival Arsitektur Dunia atau World Architecture Festival (WAF) 2010 di Barcelona yang akan diumumkan pada November 2010.

Festival arsitektur bergengsi merupakan kegiatan tahunan para perancang bangunan, penata kota, developer, dan para akademisi yang digelar sejak 2008. Acara ini rencananya akan dihadiri 1.000 arsitek dari 80 negara.

"Saya jarang melihat tingkat partisipasi yang begitu tinggi dari peserta, juri, dan para pembicara pada pertemuan asitektur, kecuali festival ini,” ujar Suha Ozkan Ketua Komunitas Arsitektur Dunia seperti dikutip dalam situs resmi WAF 2010, hari ini.

Pada festival tahun ini, juri akan memilih satu gedung atau bangunan yang dinilai paling unik, modern, namun tetap bisa menyatu dengan lingkungan dan budaya sekitarnya. Pada tahun lalu, pemenang WAF 2009 dikantongi oleh sebuah Mapungubwe Interpretation Centre, sebuah bangunan untuk ruang pertemuan budaya bagi warga lokal karya arsitek
asal Afrika Selatan, Peter Rich.

Sebelu memilih bangunan terbaik sejagat, panitia juga memilih sejumlah bangunan terbaik berdasarkan empat kelompok besar, yaitu kelompok bangunan yang sudah jadi, kemudian kelompok bangunan yang dalam tahap perancangan (future project), desain interior, dan desain struktural.

Setiap kelompok itu mempunyai kategori lagi, seperti bangunan khusus olah raga, perkantoran, hunian, mal, rumah sakit, lansekap, gedung pendidikan, dan transportsi.

Pada festival tahun ini, panita menambahkan satu penghargaan lagi yaitu kategori seni arsitektur. Direktur Program WAF Paul Pinch mengatakan ketegori ini dibuka untuk untuk mendorong dan merayakan hubungan antara seni dan arsitektur.

“Kolaborasi antara arsitek, seniman dan mitra kerja akan dipamerkan dan dinilai dalam bagian penghargaan baru yang disebut Seni dalam Arsitektur',” ujarnya.
http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id200770.html

Ocean One
August 24th, 2010, 04:16 PM
Lippo Karawaci Bangun 15 Mal dan 25 Rumah Sakit
Selasa, 24 Agustus 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/06/16/2110167620X310.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Lima tahun ke depan, manajemen PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berambisi menambah portofolio asetnya, yakni 15 pusat perbelanjaan modern atau mal dan sekitar 25 rumah sakit baru.

Setidaknya, rencana itulah yang mereka ungkapkan dalam roadshow 9 Agustus-12 Agustus silam. Lewat lawatan ini, mereka berharap bisa memikat investor di sejumlah kota penting Asia, seperti Hong Kong, Singapura, dan Tokyo.

Kepala Komunikasi Perusahaan LPKR Danang Kemayan Jati mengungkapkan, investor asing sangat tertarik dengan proyek investasi di Indonesia, termasuk di sektor properti. Maklum, Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang cerah.

Roadshow LPKR kali ini merupakan non-deal roadshow alias tanpa kesepakatan. "Selain membina hubungan, kami juga ingin melihat minat investor asing ke Indonesia," tutur Danang, kemarin (23/8).

Hubungan Investor LPKR Mark Wong menambahkan, saat ini pihaknya sudah memiliki landbank atau cadangan lahan seluas 1.600 hektare (ha). Aset inilah yang akan mereka pakai untuk membangun beberapa proyek properti tersebut.

Saat ini saja, LPKR mengaku telah mengelola tidak kurang dari 25 mal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tak cuma itu. LPKR juga berencana menambah dua menara apartemen baru pada tahun ini.

Sayang, manajemen LPKR masih enggan mengungkap total dana yang dianggarkan untuk mewujudkan seluruh proyek tersebut. Danang hanya mengatakan, sebagian pendanaan akan mereka tutup dari sumber eksternal. Belum jelas, apakah wujudnya kredit bank, penerbitan obligasi, atau real estate investment trust (REIT).

Pada 10 Mei lalu, LPKR menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 270,61 juta. Obligasi itu mereka terbitkan melalui anak usahanya yang benama Sigma Capital Pte Ltd. Hasilnya digunakan untuk melunasi utang obligasi anak usahanya yang lain, yakni Lippo Karawaci Finance B.V.

Hingga penutupan pasar kemarin, harga saham LPKR berakhir di level Rp 530 per saham atau naik 1,92 persen.

Ocean One
August 24th, 2010, 04:24 PM
Gapuraprima Cari Dana Untuk Akuisisi Tiga Trade Center
Selasa, 24 Agustus 2010


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) sedang mencari dana untuk mengakuisisi tiga buah pusat perdagangan atau trade center. Saat ini, perusahaan properti ini sedang mengevaluasi dua opsi pendanaannya, yakni antara penerbitan saham baru (rights issue) atau emisi obligasi. "Tapi kami lebih cenderung memilih rights issue," kata Rosihan Saad, Sekretaris Perusahaan GPRA, Senin (23/8).

Menurut Rosihan, Gapuraprima sedang dalam pembicaraan dengan beberapa pihak untuk menentukan opsi yang akan mereka ambil. "Kami masih menjajaki dengan beberapa pihak, yaitu Henan Putihrai, Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas. Hasilnya nanti tergantung mereka," katanya.

Rosihan mengakui, sebetulnya kondisi pasar saat ini tidaklah terlalu bagus untuk menggelar rights issue. Namun, Gapuraprima memastikan tetap melakukan aksi tersebut tahun ini. Pasalnya, pengembang ini membutuhkan dana untuk mengakuisisi Bekasi Trade Center, Bandung Trade Center dan Jatinangor Trade Center. Gapuraprima akan mengambil alih ketiga pusat perdagangan yang berada di Jawa Barat tersebut, tahun ini juga.

Gapuraprima menargetkan hasil rights issue sebesar Rp 700 miliar. Rosihan menyebutkan, rencananya aksi ini akan digelar Oktober mendatang.

Selain akuisisi, tahun ini Gapuraprima berencana mengembangkan sejumlah proyek baru, yakni pembangunan apartemen low rise di Kebayoran, Jakarta Selatan, serta pembangunan hotel dan apartemen di Kuta, Bali.

Rosihan menuturkan, tahun ini Gapuraprima sedang menuntaskan perizinan untuk membangun sejumlah apartemen low rise di Jakarta. "Ada beberapa titik, dan sedang dalam proses perijinan di Pemda DKI," ujarnya. Kabarnya, izin tersebut akan terbit usai Lebaran.

Rosihan juga mengklaim, masyarakat menyambut baik sejumlah proyek baru Gapuraprima. "Perumahan Bukit Cimanggu City di Bogor, setiap bulannya memberikan pemasukan lebih dari Rp 10 miliar," kata Rosihan.

Selain Cimanggu, Gapuraprima tengah mengembangkan kawasan perumahan di Metro Cilegon dan Taman Raya Cilegon di Cilegon Banten, Taman Raya Citayam di Citayam, Depok, Jawa Barat, dan Anyer Palazzo di Anyer, Banten. Di Bogor, GPRA memiliki lahan seluas 140 hektare dan Cilegon seluas 100 hektare.

Pada penutupan bursa kemarin (23/8), harga saham GPRA naik 1,85% menjadi Rp 110 per saham.

sesamee
August 26th, 2010, 09:48 AM
Menunggu Realisasi Indonesia Movieland
Wednesday, 25 August 2010

AMERIKAboleh punya Hollywood,India silakan bangga dengan Bollywood-nya.Karena sebentar lagi Indonesia pun bisa berbangga karena punya pusat Industri film ala Hollywood,bernama Indonesia Movieland.


Saat ini Indonesia memang belum bisa disebut memiliki industri film. Semua film yang diproduksi oleh insan film Indonesia masih bertumpu pada production house (PH) dan orang kaya yang memiliki banyak uang.Bahkan dengan banyaknya produk film yang dihasilkan, Indonesia masih belum memiliki pusat industri film dan televisi. Dari sinilah,PT Jababeka membuat pusat Industri Film Indonesia Movieland di Cikarang,Bekasi.Kelak, Indonesia Movieland yang saat ini masih dalam tahap pembangunan, akan menjadi pusat kreatif pembuat film.

Di tempat inilah insan film Indonesia bisa leluasa melakukan aktivitasnya dalam memproduksi film, iklan, hingga sinetron televisi. Lalu seperti apa Indonesia Movieland sebenarnya? Konsep Indonesia Movieland di lokasi Jababeka, Cikarang,Bekasi,sendiri diproyeksikan sebagai ”one stop film and TV industry in Indonesia”.Dengan luas 36 hektare khusus untuk kegiatan industri film,plus 5.600 hektare lokasi keseluruhan wilayah Kota Jababeka,insan perfilman Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan segala fasilitas yang ada di Indonesia Movieland ini.

Sejak Agustus 2008 Indonesia Movieland memang sudah digagas dan dimulai pembangunannya.Di tempat ini, Indonesia Movieland tidak hanya sebagai sebuah pusat industri kreatif yang berfokus pada industri film dan televisi, tetapi juga sebuah themepark layaknya Universal Studio di Hollywood. Tak hanya itu,Indonesia Movieland juga menyiapkan fasilitas-fasilitas yang mendukung ”one stop film and TV industry in Indonesia” yakni keberadaan stasiun TV dan berbagai fasilitas studio yang berbeda ukuran, jenis, untuk membuat iklan TV, film, dan program siaran langsung.

Lalu juga disediakan tempat bekerja yang mudah disesuaikan untuk persiapan produksi dan pekerjaan produksi,membangun pusat kebudayaan dengan unik yang akan menjadi penunjuk dari kekreatifan fasilitas industri,kerja sama dengan berbagai elemen pendidikan untuk menyiapkan tenaga kreatif, kafe, dan tempat hiburan yang nyaman dan mempunyai nilai tinggi.Tempat ini buka 24 jam untuk melayani perbedaan gaya bekerja dan gaya hidup dari kekreatifan orang-orang industri dan beberapa fasilitas penunjang lain yang akan menyokong keberadaan studio yang ada di Indonesia Movieland.

”Semua fasilitas untuk keperluan industri film kami sediakan. Saat ini kami sedang membangun Hollywood plaza di kawasan ini,” kata Promotion Manager Indonesia Movieland Clara Sinta kepada harian Seputar Indonesiakemarin. Clara Sinta menyatakan, sebagai one stop film and TV industry,kawasan Indonesia Movieland memang cocok digunakan untuk lokasi syuting.Ketersediaan lahan yang luas,dilengkapi dengan gedung,rumah sakit, hingga apartemen, sangat cocok digunakan untuk membuat film,iklan maupun sinetron.

Bahkan di luar kawasan khusus untuk film, Jababeka sendiri memiliki potensi fasilitas pendukung sangat lengkap,seperti water treatment plant, waste water treatment plan, didukung tiga pembangkit listrik (Cikarang Listrindo, Bekasi Power, dan suplai dari PLN) serta 1.500 pabrik,menjadikan lokasi ini sangat layak untuk menjadi pusat industri film di Indonesia. Apalagi, di lokasi ini masih banyak angle yang baru dan menarik yang disediakan oleh Indonesian Movieland, seperti jalan raya dengan konsep kuno hingga modern. ”Hingga saat ini sudah banyak para kreatif film yang membuat film di lokasi ini, meski untuk keseluruhan bangunan baru bisa dinikmati tiga tahun mendatang,”kata dia.

Untuk saat ini memang belum banyak production house (PH) yang akan memindahkan seluruh kegiatan syuting ke Indonesian Movieland. Hanya beberapa PH yang baru menandatangani MoU untuk memindahkan kegiatan syuting di lokasi ini. Group Parkit Films dan MVP Pictures,pimpinan Raam Punjabi, sebagai rumah produksi sinetron dan film terbesar di Indonesia merupakan salah satu PH yang telah memberikan komitmennya dan menandatangani MoU untuk memindahkan semua kegiatan syuting beserta seluruh perlengkapannya ke lokasi Indonesia Movieland. Menurut Raam Punjabi, keberadaan Indonesia Movieland di Indonesia merupakan langkah maju bagi industri perfilman di Indonesia.

Pasalnya,dengan adanya Indonesia Movieland, insan film akan dengan mudah bisa mendapatkan lokasi syuting hanya dalam satu lokasi. ”Apalagi di tempat ini juga akan dibangun apartemen untuk artis sehingga setiap artis akan tiba ke lokasi syuting tepat waktu,”kata Raam Punjabi. Menurut Raam, konsep Indonesia Movieland sendiri hampir sama dengan Ramoji Film City di India dan Universal Studios,Amerika Serikat.

Tak hanya menyediakan lokasi syuting,tempat ini juga akan menyediakan fasilitas dan sarana untuk pembuatan film plus lembaga pendidikan untuk calon artis. Keberadaan lembaga pendidikan ini tentunya akan menjadi salah satu faktor pendorong agar mutu dan kualitas artis Indonesia menjadi lebih baik.(sofian dwi)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/346938/

sesamee
August 31st, 2010, 04:08 PM
Pasar properti asing di RI capai Rp22,5 triliun
Oleh: Yusuf Waluyo Jati

JAKARTA: Potensi pasar properti asing di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan bisa menembus US$2,5 miliar atau sekitar Rp22,5 triliun apabila pemerintah memberikan kepastian regulasi tentang status kepemilikan asing yang selama ini masih menggantung.

Berdasarkan kajian Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), kalangan pengembang bisa memberikan tambahan pasokan properti kepada orang asing sebanyak 10.000 unit dalam 3-5 tahun setelah regulasi kepemilikan asing dipertegas.

Ketua Umum DPP-REI F. Teguh Satria mengatakan kepemilikan properti oleh asing akan berdampak cukup besar bagi Indonesia. Pasar properti khusus sektor ini berpotensi mencapai hingga US$2,5 miliar.

Menurut dia, perhitungan tersebut berdasarkan asumsi harga rata-rata properti kelas menengah atas sekitar US$250.000 (Rp2,25 miliar) per unit dikalikan dengan potensi penyerapan pasar properti asing sekitar 10.000 unit.

“Dana sebesar itu pasti bisa menggerakkan industri hulu dan hilir properti,” katanya petang ini.

Selain itu, papar Teguh, potensi orang asing untuk memiliki properti di dalam negeri cukup besar mengingat harga lahan di Indonesia cukup murah dibandingkan dengan harga lahan di luar negeri.

Berdasarkan informasi dari Global Property Guide, hingga awal kuartal II/2010, harga rata-rata lahan properti di Indonesia paling murah dibandingkan dengan 11 negara Asia lainnya, atau hanya sekitar US$1.381 per m2, sedangkan harga termahal ditempati Hong Kong senilai US$16.422 per m2.

Harga rata-rata lahan di Indonesia ternyata juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan Kamboja, Filipina, dan Malaysia.(jha)

http://web.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id205063.html

David-80
September 13th, 2010, 08:12 PM
Booming Demand in Indonesia for Serviced Offices

Irvan Tisnabudi | September 12, 2010

Jakarta. Jakarta’s serviced-office market is booming as more foreign companies enter Indonesia, attracting companies eager to invest in the sector.

While still only a fraction of the market, the number of serviced offices on the market in central Jakarta has risen 50 percent in the past year and could rise a further 30 percent in the second half of this year, according to Jones Lang LaSalle Indonesia.

Jones Lang LaSalle estimates there are 30,000 square meters of serviced office space, less than 1 percent of the total office market in the central business district. But property consultants expect the robust growth to continue along with Indonesia’s economy.

Globally, about 5 percent of office space is serviced.

Anton Sitorus, head of research at Jones Lang LaSalle, said 70 percent of tenants of serviced offices in Jakarta were international companies.

“With the Indonesian economy performing solidly, companies are expanding, thus the occupancy rate and total space of both the office and serviced-office sectors in Jakarta’s CBD, are increasing,” Anton said.

The economy grew 5.9 percent in the first half and it is expected to continue at a healthy clip.

Serviced offices offer flexible rental rates based on length of stay and facilities required. They provide shared reception areas and other resources, resulting in lower costs.

Anton said such offices were the perfect way for a company to make its initial move into the city or for firms that wanted to avoid the hassle and time involved in setting up a permanent office.

According to William Willems, regional vice president of Regus, which offers serviced offices at three locations in Jakarta, business is thriving.

“Currently the occupancy rate of Regus’s three branch offices in Jakarta is about 95 percent, up from 85 percent at the end of last year,” Willems said.

Among Regus’s clients in Jakarta are international IT company Symantec and international bank ICICI. It also hosts local law firms and travel agencies.

CEO Suite, another company providing serviced offices, counts among its clients the Bank of America, Ernst & Young and Merrill Lynch.

The broader market for office rentals is also seeing increased demand.

Anton said Jones Lang LaSalle recorded an increase of 93,000 square meters of office space in Jakarta’s CBD in the second half compared to the same period last year.

After the first quarter of the year, the occupancy rate in the CBD was 80 percent, compared with 78 percent in the same period in 2009.

Source http://www.thejakartaglobe.com/bisindonesia/booming-demand-in-indonesia-for-serviced-offices/395708

Cheers

Ocean One
September 21st, 2010, 12:31 PM
Kementerian PU bangun 70 rusunawa tahun depan
Selasa, 21/09/2010


JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum akan membangun 70 rumah susun sederhana sewa (rusunawa) twin block tahun depan, untuk memenuhi kebutuhan rusunawa di Indonesia.

Rencana pembangunan, akan dilaksanakan secara bertahap pada 2011-2012.

Sekjen Kementerian PU Agoes Widjanarko mengatakan rencana pembangunan 70 rusunawa itu merupakan salah satu program prioritas yang dianggarkan oleh kementerian itumelalui Ditjen Cipta Karya.

Dalam anggaran 2011, program kegiatan yang akan diandalkan di Ditjen Cipta Karya a.l pembangunan 70 rusunawa, pengembangan infrastruktur permukiman di kawan kumuh (112 kawasan).

Selain itu, ada pula peningkatan tempat pembuangan akhir (TPA) di 60 kab/kota, persampahan terpadu di 77 lokasi.

"Ini merupakan rencana program yang kami siapkan untuk 2011, dan diharapkan seluruhnya bisa terealisasi,” ujar Agoes, hari ini.

Sementara itu, Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) Cipta Karya Kementerian PU Amwazi Idrus mengatakan rencana pembangunan ke 70 rusunawa itu akan dilaksanakan dalam periode 2011-2012.

Hal tersebut sesuai dengan kesiapan masing-masing daerah tempat rusunawa dibangun. (zuf)

http://www.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id209283.html

mangput
September 22nd, 2010, 10:59 AM
Modernland dan Premier garap hunian kelas atas di Kota Modern

Jakarta – PT Modernland Realty Tbk kembali menggandeng PT Premier Qualitas Indonesia untuk menggarap proyek hunian kelas atas di Kota Modern, Tangerang. Proyek senilai Rp100 miliar ini merupakan kerjasama keempat yang akan dibangun di areal seluas 3,8 hektare.

Di atas area seluas 3,8 hektare, dengan total 137 unit rumah, diperkirakan pembangunannya akan menelan dana sebesar Rp 100 miliar. "Klaster ini diberi nama Premier Golf Estate dan rumah yang ditawarkan berukuran mulai dari luas tanah 127 m2 dan luas bangunan 144 m2 sampai dengan luas tanah 225 m2 dan luas bangunan 209 m2," kata Presiden Direktur PT Premier Qualitas Indonesia Tommy Wong usai menandatangani perjanjian kerja sama keempat antara PT Premier Qualitas Indonesia dan Modernland Realty di Jakarta, Senin (30/8)

Tommy Wong menyebutkan, sumber pendanaan untuk proyek tersebut berasal dari dana internal perusahan masing-masing. Modernland menyediakan lahan, sedangkan pendanaan untuk konstruksi dan infrastruktur bersumber dari kocek PT Premier Qualitas Indonesia.

PT Premier Qualitas Indonesia merupakan anak usaha PREMIER/Les Nouveaux Constructeurs, perusahaan pengembang realestat terbesar di Perancis. PREMIER melanjutkan tradisi dari seni bangunan yang tinggi di setiap proyek yang dikembangkan seperti yang ada di Paris, Berlin, Los Angeles, Madrid atau Barcelona. Perusahaan ini telah menancapkan benderanya di industri properti di Indonesia sejak 1998 silam. Secara keseluruhan, saat ini Premier telah mengembangkan 14 proyek perumahan di Jabodetabek.

Presiden Direktur PT Modernland Realty Edwyn Lim menambahkan, pengembangan kawasan hunian Kota Modern dirancang secara berwawasan lingkungan. Tak heran area hijau begitu banyak dijumpai di sekitar kawasan hunian yang dikembangkan sejak tahun 1983. “Kami menerapkan konsep green property di Kota Modern,” kata Edwyn Lim.

Kenyamanan penghuni semakin bertambah dengan banyaknya fasilitas yang ada di Kota Modern. Antara lain Padang Golf Modern (18 hole & night golf), Sport Club (Badminton, Tennis Indoor, Swimming Pool, Fitness Centre, Aerobik, Squash, Table Tennis, Basket Ball, Futsal, dll), Metropolis Town Square (Mal terbesar & terlengkap di Tangerang), Rumah Sakit Mayapada, Sekolah Harapan Bangsa, dan BPK Penabur.

Menurut Manggala Wicaksono, Business Development dari PT Premier Qualitas Indonesia dengan harga per unit mulai dari Rp 900 jutaan konsumen akan dapat menikmati fasilitas Sport Club Padang Golf Modern dengan gratis. Kluster ini bernama Premier Golf Estate. Pengembangan klaster ini merupakan proyek keempat antara PT Premier Qualitas Indonesia dan PT Modernland Realty Tbk."
Hingga kini kami telah sukses mengembangkan 14 proyek perumahan dengan segment premium class di Jabodetabek.
Dengan ini kami juga memberikan kesempatan kepada para investor dan pemilik lahan untuk bekerjasama dengan kami guna mengembangkan lahannya.

eurico
March 14th, 2011, 03:45 AM
Menunggu Kepastian Aturan Kepemilikan Asing

Kamis, 3 Maret 2011 | 20:40 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Kalangan pengembang menantikan kepastian revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 yang mengatur tentang kepemilikan properti oleh warga negara asing (WNA) di Indonesia. Saat ini, rancangan undang-undang pertanahan dalam prolegnas 2011 yang dibahas Badan Pertanahan Nasional bersama DPR tahun ini.
Pembahasan baru untuk undang-undangnya, tapi peraturan pemerintahnya belum. Diperkirakan akan selesai semester II-2011.
-- Setyo Maharso

"Pembahasan baru untuk undang-undangnya, tapi peraturan pemerintahnya belum. Diperkirakan akan selesai semester II-2011," kata Setyo Maharso, Ketua Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI), saat dihubungi Kompas.com, Kamis (3/3/2011).

Menyoal kepemilikan properti untuk orang asing, REI mengharapkan ada terobosan yang signifikan. REI juga telah menyampaikan usulan yang dapat dimasukkan ke dalam peraturan pemerintahnya nanti.

Usulan tersebut mengenai jangka waktu hak tanah minimal 70 tahun, harga properti terendah yang dapat dibeli oleh asing di atas Rp 1 M, unit hunian yang akan dibeli adalah unit hunian baru, dan kepemilikan orang asing dalam satu kawasan tidak lebih dari 49 persen.

Setyo mengatakan, pengembang di Indonesia sudah menantikan kepastian peraturan ini. Kesempatan ini untuk menarik minat pembelian produk properti oleh asing. (Natalia Ririh)

source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/03/2040491/Menunggu.Kepastian.Aturan.Kepemilikan.Asing

eurico
March 14th, 2011, 03:46 AM
Indonesia Tidak Akan Alami "Bubble" seperti China

Jumat, 4 Maret 2011 | 15:34 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Kalangan pengembang menilai kekhawatiran bubble atau harga properti naik yang tidak mampu diikuti daya beli setelah orang asing diizinkan kepemilikannya tidak akan terjadi di Indonesia. Regulasi pemerintah dan peraturan ketat perbankan dinilai menjadi langkah penangkalnya.
Saya rasa bubble tidak akan terjadi di Indonesia. Karena orang asing yang boleh memiliki properti di Indonesia itu nanti hanya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bali, Medan, Palembang, Makassar. Unit kepemilikannya terbatas.
-- Setyo Maharso

"Saya rasa bubble tidak akan terjadi di Indonesia. Karena orang asing yang boleh memiliki properti di Indonesia itu nanti hanya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bali, Medan, Palembang, Makassar. Tidak di semua kawasan dan juga unit kepemilikannya terbatas," kata Setyo Maharso, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (REI), ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (3/3/2011) malam.

Senada dengan Setyo, menurut Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development, Tbk, kekhawatiran akan terjadi bubble seperti di China tidak akan terjadi. "Ada kekhawatiran bubble setelah asing bisa memiliki properti harga lalu melambung, di mana masyarakat menengah ke bawah tidak bisa menjangkau daya belinya. Di Singapura sudah mulai terjadi, tapi Indonesia ini memiliki pertumbuhan properti yang unik," papar Theresia.

Menurutnya, pertumbuhan properti di Indonesia cukup stabil, tidak terlalu menjulang tinggi atau ketika turun harganya tidak drastis. "Pertumbuhan ekonominya stabil, dan harga tanah untuk properti juga stabil," katanya.

Theresia mengatakan bahwa tak perlu khawatir setelah asing datang akan menguasai properti di Indonesia. "Jangan berlebihan, properti itu barang yang tidak bisa dibawa ke mana-mana. Untuk mengakomodasinya, bisa lewat regulasi pemerintah dan peraturan perbankan," jelasnya.

Regulasi pemerintah untuk urusan kepemilikan properti oleh asing dinilai sangat ketat. Begitu juga dengan aturan perbankan sangat steril. Theresia mengatakan, peraturan pemerintah yang ketat terbukti dengan izin untuk asing diberikan dengan harga di atas Rp 1 M, kepemilikan selama 70 tahun, dan di kawasan tertentu saja.

Sementara peraturan perbankan di Indonesia begitu ketat dalam penyaluran kredit sehingga apa yang dikhawatirkan dapat tersaring. "Jangan lupa bahwa asing mau tak mau harus bermitra dengan pengembang lokal," tutupnya. (Natalia Ririh)

source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/04/1534366/Indonesia.Tidak.Akan.Alami..quot.Bubble.quot..seperti.China

eurico
March 14th, 2011, 03:47 AM
Pengembang Indonesia Ditawari Bangun Perumahan di Kenya

Kamis, 10 Maret 2011 | 04:20 WIB

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/03/10/0416175620X310.jpg

Menteri Perumahan Kenya, Peter Shoita Shitanda menawarkan para pengembang Indonesia menanamkan investasi perumahan di Kenya. Pengembang Kenya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan rumah untuk masyarakatnya.

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia, Menteri Perumahan Kenya Peter Shoita Shitanda menawarkan para pengembang Indonesia menanamkan investasi perumahan di Kenya. Pengembang Kenya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan rumah untuk masyarakatnya.

"Saya berharap para pengembang dan Pemerintah Indonesia mau menanamkan investasi sektor perumahan di Kenya," kata Peter saat melakukan pertemuan bersama sejumlah pejabat Kementerian Perumahan Rakyat serta sejumlah pengembang dari REI dan Apersi di Jakarta, Selasa (8/3/2011).

Peter mengungkapkan bahwa penyediaan perumahan di Kenya belum mampu dipenuhi kalangan pengembang di negaranya. "Dari sekitar 140.000 kebutuhan rumah per tahun, para pengembang baru mampu membangun sekitar 35.000 rumah," ujarnya.

Kenya tengah mempelajari masalah perizinan dalam proses pembangunan perumahan. Peter berharap kedatangannya ke Indonesia dapat mempelajari pola pelayanan satu atap sehingga masalah perizinan dapat dipersingkat.

Menanggapi permintaan tersebut, Sekretaris Menteri Perumahan Rakyat (Sesmenpera) Iskandar Saleh mengatakan, peluang kerja sama Indonesia-Kenya ini terbuka lebar. Ini terjadi terutama dengan adanya kesamaan kebutuhan perumahan bagi masyarakat yang cukup besar di kedua negara. "Indonesia memiliki program FLPP yang memberikan bunga KPR murah dan terjangkau selama masa tenor. Ini salah satu yang ingin dipelajari Kenya," ungkapnya.

Menanggapi permintaan Kenya, Wakil Ketua Umum DPP REI Harry Raharta mengatakan menyambut positif ajakan tersebut. Namun, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut kebijakan Pemerintah Kenya untuk urusan perumahan. (Natalia Ririh)

source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/10/04200214/Pengembang.Indonesia.Ditawari.Bangun.Perumahan.di.Kenya

eurico
March 14th, 2011, 03:50 AM
Analisis Ciushman and Wakefield
Pertumbuhan Kawasan Industri Jakarta Tercepat di Dunia

Kamis, 10 Maret 2011 | 21:31 WIB

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/17/3693979p.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com - Konsultan properti Cushman and Wakefield mencatat Jakarta sebagai kota yang mengalami pertumbuhan kawasan industri tercepat. Jakarta dengan pertumbuhan kawasan industri 21,78 persen lebih pesat dibandingkan negara-negara di Eropa dan Asia.

"Kawasan industri Jakarta tumbuh 21,76 persen mengungguli kawasan lainnya seperti Beijing dengan 17,55 %, Frankfurt dengan 15,83 persen," kata Wira Agus, Associate Director Cushman and Wakefield Indonesia dalam siaran persnya yang diterima Kompas.com, Kamis (10/3/2011).

Menurut Wira, pesatnya pertumbuhan kawasan industri di Jakarta terjadi karena kombinasi dari meningkatnya permintaan investor asing, terbatasnya lahan kawasan industri berkualitas yang siap pakai, dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar. "Pertumbuhannya ekstrim di tahun 2010 dan terbaik di tiga tahun terakhir," ujarnya.

Barrie David dari Cushmand and Wakefield Research Group memaparkan pula betapa stabilnya posisi pasar Asia dengan tujuh dari lokasi pertumbuhan tercepat ada di Asia. Dimana Tokyo dan Hongkong yang konstan termasuk sebagai kawasan industri termahal di dunia. Juga kawasan industri Singapura yang melonjak dari peringkat 19 menjadi peringkat 4 dengan peningkatan harga sewa sebesar 14,9 persen.

Berikut Data Cushman and Wakefield mengenai 10 Lokasi pertumbuhan kawasan Industri tercepat di Dunia 2011: 1. Jakarta, Indonesia dengan pertumbuhan 21,78 % 2. Beijing, China dengan pertumbuhan 17,55 % 3. Frankfurt, Jerman dengan pertumbuhan 15,83 % 4. Singapura dengan pertumbuhan 14,97 % 5. Shanghai, China dengan pertumbuhan 14,54 % 6. Porto, Portugal dengan pertumbuhan 14,29 % 7. New Delhi - Gurgaon, India dengan pertumbuhan 14,29 % 8. Guayaquil, Ekuador dengan pertumbuhan 13,00 % 9. Bungalore - Bommasandra, India dengan pertumbuhan 11,11 % 10. Gothenberg, Swedia dengan pertumbuhan 10,71 %


source: http://properti.kompas.com/read/2011/03/10/21311023/Pertumbuhan.Kawasan.Industri.Jakarta.Tercepat.di.Dunia

VRS
March 14th, 2011, 03:57 PM
tercepat di dunia..??

Dazon
March 15th, 2011, 11:34 PM
padahal sudah di fur macet dimana-mana.

Mehome
April 2nd, 2011, 07:27 AM
Pengembang Percepat Proyek Perumahan

JAKARTA (IFT) - Permintaan unit residensial yang tinggi sejak tahun lalu mendorong sejumlah pengembang untuk mempercepat pengembangan proyek perumahan yang dipasarkan. Ini didorong permintaan hunian yang terus meningkat, baik rumah tunggal (landed house) maupun apartemen.

Lembaga riset properti, Coldwell Banker Commercial memprediksi pada kuartal I 2011 penjualan rumah tunggal di Jakarta dan sekitarnya akan meningkat 15%-20% dibanding kuartal akhir tahun lalu.

Dwi Novita Yeni, Senior Vice President Research and Consultancy Coldwell Banker Commercial mengatakan pesatnya pertumbuhan hunian didorong stabilnya suku bunga perbankan, meski Februari lalu Bank Indonesia sempat menaikkan suku bunga acuan menajdi 6,75%. Namun kenaikan itu diyakini belum akan memicu bank menaikkan bunga kreditnya.

“Permintaan rumah dan apartemen yang meningkat sejak tahun lalu membuat developer mempercepat pemasaran proyek-proyek barunya,” kata Dwi, Kamis.

Coldwell Banker memperkirakan, penjualan kondominium di kuartal I-2011 mengalami kenaikan 5% menjadi 70.350 unit dibandingkan kuartal IV-2010 sekitar 67.000. Melihat kondisi kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan pasar properti awal tahun ini diperkirakan lebih baik.

PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) di kuartal I 2011 ini mengembangkan kluster Florencia tahap 2 di lokasi megakluster Elysium Residence, Lippo Cikarang, Jawa Barat.

Syukurman Larosa, Marketing & Sales Division Head PT Lippo Cikarang mengatakan sebanyak 80 unit rumah akan dikembangkan pada kluster Florencia tahap dua ini, dengan empat tipe yang berbeda. Dengan harga jual mulai Rp 500 juta per unit, penjualan kluster baru ini ditargetkan memberikan tambahan pendapatan kepada perseroan sebesar Rp 40 miliar.

Namun dia enggan menyebutkan total investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kluster Florencia tahap 2 ini. Namun merujuk pada kluster tahap 1 yang mulai diserahterimakan akhir tahun lalu, LPCK membutuhkan dana Rp 75 miliar untuk menyelesaikan pembangunan 471 unit rumah.

“Untuk tahap kedua kami masih menghitung berapa nilai investasi yang dibutuhkan,” katanya, Kamis.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) pertengahan Maret lalu juga telah meluncurkan kluster terbarunya di BSD City, yang berkonsep eco-green. Kluster De Frangipani akan terdiri dari 95 unit rumah bergaya resor tropis yang akan dijual seharga Rp 1 miliar sampai lebih dari Rp 2 miliar per unitnya.Total investasi proyek ini sebesar Rp 300 miliar.

Harry Budi Hartanto, Presiden Direktur BSDE menargetkan penjualan kluster terbarunya tersebut mencapai Rp 600 miliar. Dia menjelaskan, kluster ini akan menempati lahan seluas 5 hektare.
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/5505/Pengembang-Percepat-Proyek-Perumahan

Ocean One
August 31st, 2012, 02:32 PM
http://www.investor.co.id/property/jababeka-gandeng-investor-asing-kembangkan-tanjung-lesung/43876



Jababeka Gandeng Investor Asing Kembangkan Tanjung Lesung


JAKARTA - PT Jababeka Tbk, pengembang kawasan pariwisata Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten, berencana menggandeng investor internasional untuk menanamkan modalnya di kawasan itu. Dengan status kawasan ekonomi khusus (KEK), Tanjung Lesung berpotensi menjadi tujuan wisata kelas dunia.

Tanjung Lesung yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten, ini mencakup 1.500 hektare wilayah pengembangan sebagai daerah tujuan pariwisata. Pengelolaannya dilakukan oleh PT Banten West Java Tourism Development yang kini telah diakuisisi oleh PT Jababeka Tbk.

Tjahjadi Rahardja, Direktur Utama Banten West Java Tourism Development menjelaskan, dengan terpilihnya Tanjung Lesung sebagai KEK, investor dibidang marina, golf, hotel berbintang, theme park, mal, hingga wisata alam, diharapkan akan berbondong-bondong untuk berinvestasi.

"Kami harap mereka dapat menanamkan modal di daerah yang potensinya menjanjikan untuk tujuan wisata kelas dunia," ujar Tjahjadi dalam siaran persnya, kemarin (30/8).

Tjahjadi menuturkan, untuk mendukung tujuan tersebut, saat ini pemerintah provinsi (Pemprov) Banten tengah memprioritaskan pembangunan infrastruktur menuju kawasan terutama melalui akses tol Serang-Labuan.

"Ini menjadi langkah nyata dari Pemprov Banten. Begitu juga dengan percepatan pembangunan bandara Banten Selatan," ungkap dia.

Status KEK Tanjung Lesung diberikan dalam acara tahunan Indonesia International Infrastructure and Exhibition (II- ICE) yang kembali diselenggarakan dan dibuka secara langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada pidato pembukaan IIICE 2012, Presiden mengungkapkan, Indonesia senantiasa terbuka bagi peran serta pemerintah negara-negara lain dan kalangan swasta untuk berinvestasi.

Salah satu daerah yang menjadi awal implementasi program KEK ini adalah Tanjung Lesung yang terletak di barat pulau Jawa.

KEK Tanjung Lesung ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2012 yang disahkan pada 23 Februari 2012. Ini merupakan penjabaran UU No. 39 Tahun 2009 tentang KEK dan UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Kawasan ini ditargetkan untuk menjadi kawasan mandiri yang terintegrasi dengan fasilitas lengkap seperti Bandar udara internasional, hotel berbintang, pusat perbelanjaan dan fasilitas modern lainnya.

"Pengembangan ini akan melengkapi keindahan pantai yang selama ini menjadi andalan dalam menarik wisatawan baik lokal maupun asing," kata dia. (ID/ely/feriawan hidayat)

Ocean One
September 3rd, 2012, 05:09 PM
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/03/18091390/Indonesia.Masih.Jadi.Andalan.Pasar.Properti.Singapura



Indonesia Masih Jadi Andalan Pasar Properti Singapura


JAKARTA, KOMPAS.com - Singapura masih menjadikan Indonesia sebagai target pasar yang potensial. Konsumen asal Indonesia tercatat menjadi pembeli terbesar dari luar negeri untuk proyek Marina Bay Suites di kawasan pusat bisnis Marina Bay, Singapura.

Thomas Tan, Direktur Pemasaran untuk Hunian Raffles Quay Asset Management (RQAM), perusahaan pengelola aset pembangunan Marina Bay Financial Centre di Singapura, menyebutkan, 15 pembeli terakhir pembeli Marina Bay Suites berasal dari Indonesia.

Marina Bay Suites terdiri atas 221 unit, sejumlah 218 unit apartemen seluas 146 meter persegi (m2)-250 m2. Harga jual apartemen itu di kisaran 4,6 juta dollar Singapura-9,5 juta dollar Singapura. Pemasaran apartemen eksklusif Marina Bay Suites di kawasan itu telah mencapai 78 persen dari total 221 unit. Sekitar 50 persen pembeli dari luar Singapura.

Dari total konsumen luar negeri, pembeli asal Indonesia melebihi 30 persen, Malaysia sekitar 20-30 persen, dan China dibawah 20 persen. Kawasan Marina Bay diarahkan untuk menunjang pertumbuhan kawasan bisnis di Singapura.

Lahan berasal dari reklamasi pantai yang dilakukan pemerintah Singapura sekitar tahun 1970-an. Sebanyak 360 ha areal ditujukan bagi perluasan pusat bisnis Singapura, ditunjang dengan pembangunan gedung-gedung pencakar langit dengan pemandangan laut dan kota.

Ocean One
September 3rd, 2012, 05:18 PM
http://www.antaranews.com/berita/330829/pasar-properti-diprediksi-kian-meningkat-2014


Pasar properti diprediksi kian meningkat 2014


Jakarta (ANTARA News) - Pada 2014 sektor properti di Indonesia diperkirakan akan menjadi bintang di Asia Pasifik meskipun siklusnya mulai melambat.

"Pada 2014, sejumlah proyek infrastruktur telah berjalan bahkan sebagian sudah membuahkan hasil. Walaupun pada 2014 siklusnya mulai melambat, ada momen pemilihan presiden, dan mungkin pasar di negara Asia Pasifik lainnya mulai rebound, properti Indonesia akan menjadi bintang di regional tersebut," kata Sekretaris Jenderal Federasi Real Estate Internasional (FIABCI), Rusmin Lawin, di Jakarta, Senin.

Perkembangan proyek-proyek infrastruktur, menurut Rusmin, akan membawa dampak positif bagi sektor properti atau real estate di Indonesia. Sebab, pengembangan suatu kawasan maupun permukiman akan turut terpacu.

"Investor yang berminat dengan pasar Indonesia sampai saat ini masih cukup banyak, apalagi jika pemerintah mempermudah regulasi kepemilikan properti bagi warga asing," ujarnya.

Mulai pulihnya pasar properti di negara Asia Pasifik yang sempat melambat, lanjut Rusmin, tidak akan menggerus pasar properti Indonesia.

"Selain permintaan domestik yang besar, jika regulasi kepemilikan untuk warga asing dipermudah, dalam jangka waktu hingga 10 tahun mendatang, sebanyak 10.000 unit properti dapat terjual kepada warga asing," paparnya.

Berdasarkan data pemerintah, realisasi proyek masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI) sampai pertengahan tahun 2012 baru 36 proyek atau 65 persen dari total rencana yang mencapai 59 proyek.

Pemerintah juga berencana memulai proses peletakan batu pertama 19 proyek MP3EI senilai Rp229,9 triliun pada pada semester II tahun ini.

Ocean One
September 9th, 2012, 10:45 PM
http://www.beritasatu.com/properti/70744-apartemen-menengah-atas-banjiri-kawasan-jakarta-barat.html


Apartemen Menengah-Atas Banjiri Kawasan Jakarta Barat


Sepanjang kuartal II-2012 terdapat sembilan proyek apartemen hak milik (strata title) dengan jumlah 6.168 unit.

Keterbatasan lahan di pusat kota ataupun di kawasan pusat bisnis membuat pembangunan apartemen bergeser ke daerah pinggiran Jakarta. Apartemen yang dibangun pun tidak hanya menyasar kalangan masyarakat menengah, tetapi juga golongan atas.

Salah satu wilayah pinggiran Jakarta yang gencar mengembangkan hunian vertikal adalah di bagian barat Jakarta. Selain faktor lahan yang masih tersedia dengan harga terjangkau, wilayah ini juga dekat dengan bandara internasional Soekarno-Hatta.

Di samping itu, infrastruktur yang kuat dan besarnya animo masyarakat menunjang perkembangan apartemen di Jakarta Barat.

"Infrastruktur yang baik, apalagi adanya akses Jakarta Utara dan Barat membuat dua wilayah ini menempel dan berkembang. Apalagi di wilayah tersebut banyak aktivitas bisnis," papar Alvin Andronicus, General Manager Marketing Podomoro City seperti dikutip dari Investor Daily.

Berdasarkan data yang dirilis lembaga riset dan konsultan properti Colliers International, terlihat bahwa sepanjang kuartal II-2012 terdapat sembilan proyek apartemen hak milik (strata title) dengan jumlah 6.168 unit.

Dengan demikian, pasokan apartemen strata title sampai paruh pertama 2012 mencapai 107.944 unit, bertambah 44% dari kuartal sebelumnya.

Menurut Ferry Salanto, Associate Director Research Colliers International Indonesia, wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara tetap akan menjadi lokasi favorit apartemen di tahun-tahun mendatang.

Pasokan apartemen ini banyak berasal dari Belmont Residence (tower Everest) sebanyak 883 unit, St Moritz Penthouses & Residence (The Royal Suite Tower) sebanyak 220 unit, Season City (tower C) sekitar 714 unit, dan Green Palace Apartment (tower R dan T) mencapai 1.260 unit.

Selain itu, pasokan juga hadir dari Senopati Suites sebanyak 103 unit, Residence 8 at Senopati (tower 2 dan 3) sekitar 650 unit, Cervinno Village mencapai 518 unit, Menteng Square (Three Tower) ada 1.600 unit, dan Denpasar Residence (tower Kintamani) sebanyak 550 unit.

Uniknya, pasokan apartemen yang masuk pasar pada kuar tal II-2012 tersebut terbanyak di Jakarta Barat dengan proporsi 25,5%, disusul oleh Jakarta Utara 18,9%, central business district (CBD) 18,7%, Jakarta Selatan 18,2%, Jakarta Pusat 13,1%, dan yang paling sedikit adalah Jakarta Timur 5,5%.

Colliers mencatat, sejumlah proyek apartemen baru di Jakarta Barat antara lain Madison Park, Metro Park, Pluit Seaview, Green Central, Royal Olive Residence, ST Moritz, dan Gianetti.

Jumlah unitnya secara keseluruhan mencapai 3.671 unit atau lebih dari separuh pasokan yang masuk pada kuartal II-2012 yang mencapai 6.168 unit.

Ocean One
September 10th, 2012, 01:55 PM
http://investasi.kontan.co.id/news/intiland-bidik-akuisisi-lahan-hingga-150-hektare


Intiland bidik akuisisi lahan hingga 150 hektare


JAKARTA. PT Intiland Tbk (DILD) mulai membidik akuisisi lahan untuk kawasan industri seluas 100-150 hektare dalam dua tahun ke depan. Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengungkapkan ada dua daerah yang diincar perseroan.

"Satu di kawasan yang masih dekat dengan Ngoro dan satu lagi, masih di sekitar Jawa Timur," ujar Archied, Senin (10/9).

Intiland saat ini memiliki kawasan industri di Ngoro, Mojokerto (Jawa Timur) yang diberi nama Ngoro Industrial Park. Ada tiga tahap pengembangan yang dilakukan perseroan. Tahap pertama, seluas 220 hektare sudah dilakukan perseroan sejak 1995. Proyek ini bekerja sama dengan RSEA Enggineering Corporation dengan penyertaan masing-masing sebesar 50%. Untuk tahap pertama ini masih tersisa lahan seluas 3 hektare.

Penjualan tahap kedua dengan total luas 225 hektare mulai dilakukan sejak 2011. Proyek tahap kedua ini digarap Intiland tanpa mitra dengan sisa lahan yang belum terjual sebesar 150 hektare. Archied mengungkapkan, rata-rata tiap tahun perseroan menjual sekitar 25-30 hektare di kawasan industri.

"Tahun ini kami targetkan kawasan industri berkontribusi sebesar 15% terhadap total pendapatan," ungkap Archied.

Kontribusi tersebut lebih rendah daripada tahun lalu yang bisa mencapai 20% dari total pendapatan. Pasalnya, target jual lahan tahun ini pun lebih rendah daripada tahun lalu, yakni 23-25 hektare. Namun, Archied mengatakan, dari segi harga jual terjadi kenaikan. Sebagai gambaran, tahun lalu penjualan di kawasan industri Ngoro adalah Rp 380.000 per m2. Awal tahun ini, perseroan bisa menjual Rp 500.000 per m2.

"Sekarang kami rencana membuka harga Rp 700.000 m2. Harga cukup bagus karena dari segi permintaan ada kenaikan," kata Archied.

Ocean One
September 10th, 2012, 07:07 PM
http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/09/10/105434/-InterContinental-Perkuat-Jaringan-Hotel-di-Indonesia-/2



InterContinental Perkuat Jaringan Hotel di Indonesia


Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam kurun dua hingga tiga tahun ke depan, InterContinental Hotel Group (IHG) berencana menanamkan investasi Indonesia bernilai jutaan dollar AS. Khususnya untuk memperkuat jaringan hotel IHG di kelas menengah, seperti Holiday Inn dan Holiday Inn Express.

IHG juga akan memperkuat posisinya di pasar dengan peluncuran Hotel Indigo, yang bekerjasama dengan Crowne Plaza.

"Tujuan IHG adalah untuk memiliki portofolio merek pilihan di pasar terbaik maju dan berkembang dan dengan industri pariwisata yang berkembang pesat, kelas menengah booming dan kekayaan meningkat, Indonesia menawarkan potensi besar bagi pertumbuhan yang cepat," ujar Alan Watts, Vice Presiden Operasional Asia Tenggara.

Alasan IHG memperkuat jaringannya di Asia Tenggara, ungkap Alan, karena pertumbuhan di Indonesia mencapai tertinggi sepanjang 15 tahun terakhir, sebesar 6,5 persen pada 2011 dan diproyeksikan untuk tahun ini di antara 6,3 dan 6,7 persen. Pada 2011, PDB Indonesia melewati USD 1 triliun, masuk dalam barisan dengan Cina dan India.

Pada Juni, dari survei Keluarga Pacific Asia Travel perdana 2012 oleh Turner Solusi Media - yang bermitra dengan Holiday Inn - menemukan bahwa keluarga yang berwisata di Indonesia dengan

perjalanan domestik sebesar 48% dari perjalanan keluarga di negeri ini: rata-rata 1,50 perjalanan per orang, USD 381 per orang per perjalanan, nilai total Rp723 juta.

Hal ini telah dipicu oleh peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia mencapai lebih dari 50 juta orang, stabilitas politik dan kebutuhan untuk menghubungkan pulau-pulau yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menanggapi booming ini, IHG masuk melalui merek Holiday Inn dan Holiday Inn Express baik -diposisikan untuk memenuhi kebutuhan akomodasi di pasar terutama kelas menengah baik perjalanan domestik dan asing di Indonesia.

"Dijadwalkan IHG yakni Holiday Inn Jakarta Kemayoran akan beroperasi pada 2013, Holiday Inn Resort Bali Benoa di 2014, dan Holiday Inn Solo pada tahun 2016," ungkap Alan.

Selama 11 tahun terakhir, Holiday Inn dinobatkan sebagai Merek Mid-Market Hotel Terbaik di Dunia dan Asia Pasifik oleh pembaca majalah Business Traveller. (MI/ICH)

Ocean One
September 25th, 2012, 07:33 PM
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/25/12580146/Pembangunan.Perumahan.Terlambat


Pembangunan Perumahan Terlambat


JAKARTA, KOMPAS.com — Pembangunan perumahan rakyat di Indonesia dinilai sudah terlambat. Terjadi ketimpangan rasio kebutuhan dengan penyediaan rumah. Rata-rata kemampuan penyediaan rumah hanya 25 persen dari kebutuhan.

Demikian terungkap dalam sarasehan nasional bidang perumahan dan kawasan permukiman bertema "Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Berkelanjutan dan Pro Rakyat", di Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Anggota Komisi V DPR, Yoseph Umar Hadi, mengemukakan, kebutuhan rumah baru sekitar 800.000 per tahun, sedangkan kemampuan pasokan rumah hanya 250.000 unit. "Peran negara masih lemah dalam kemauan politik untuk menyediakan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2010, kekurangan rumah di Indonesia secara kumulatif sudah mencapai 13,6 juta unit. Sejumlah kalangan menaksir kekurangan rumah saat ini sudah mencapai 15 juta unit.

Guru Besar Planologi Institut Teknologi Bandung Tommy Firman mengemukakan, masih banyak daerah yang belum siap dan tidak memiliki kesadaran berkontribusi merumahkan rakyat. Kondisi itu diperparah dengan dampak otonomi daerah yang mendorong egoisme kedaerahan.

Ocean One
September 25th, 2012, 08:54 PM
http://property.tempo.co/2012/09/24/uang-muka-30-persen-tak-pengaruhi-penjualan-rumah/


Uang Muka 30 Persen Tak Pengaruhi Penjualan Rumah


JAKARTA–Penetapan batas minimum Loan To Value (LTV) KPR sebesar 30 persen tidak mempengaruhi target penjualan tahun ini. Marketing Executive PT Ciputra Indah, Abud Budiman, mengakui hingga kini realisasi target tidak terganggu dengan penetapan itu.

“Buktinya sampai kuartal ke empat, target kami 85 persen sudah tercapai,” ujarnya dalam BTN Property Expo 2012 di Jakarta Convention Centre, Sabtu, 22 September 2012.

Penetapan batas minimal bagi KPR dinilai positif untuk menjaga stabilitas kondisi keuangan perbankan. Sehingga aturan itu sudah dipahami semua pengembang. Abud mengakui hingga kini minat konsumen perumahan tetap tinggi.

Bahkan dari seluruh tipe yang ditawarkannya, sekitar 30 persen konsumen menggunakan fasilitas FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) dari pemerintah. “Masyarakat tiap tahun terus membutuhkan hunian yang berkualitas,” ucapnya.

Hal senada diakui Linda, staf pemasaran PT Ristia Bintang Mahkota. Pegawai dari perusahaan pengembang tipe menengah ini menilai permintaan masyarakat cukup tinggi. “Kami di sini (Pameran) hanya menghabiskan stock yang masih tersisa. Sebagian besar sudah habis terserap pasar.”

Abud mengatakan, untuk menyiasati aturan uang muka 30 persen, perusahaannya gencar melakukan promosi serta penawaran kemudahan melalui skema cicilan uang muka mulai 10-30 persen. “Maksimal 30 persen, karena kita paham dengan aturan itu.”

Tahun ini anak usaha grup Ciputra Property ini menargetkan penjualan hingga Rp 240 miliar, sedangkan selama pameran berlangsung, ia menargetkan pemasukan di kisaran Rp 20-30 miliar. “Target realistis mengingat tinggi kebutuhan masyarakat,” ucapnya.

Harga yang ditawarkan di kisaran harga Rp 95-700 juta per tipe yang sebagian besar berada di kawasan Jonggol kabupaten Bogor.

Direktur Utama Bank Bank Tabungan Negara (BTN) Iqbal Latanro, menambahkan, BTN Property Expo 2012 ini merupakan kelanjutan dari event yang sama yang telah dilakukan Bank BTN pada tahun 2011. Perseroan menargetkan transaksi hingga Rp 1,9 Triliun selama penyelenggaraan, angka ini sama dengan capaian tahun lalu.

“Ini menandakan begitu besar minat masyarakat untuk memiliki rumah. Entah itu untuk kebutuhan tempat tinggal ataupun sarana investasi bagi mereka,” ujarnya.

Dalam hajatan itu, BTN merupakan sponsor tunggal yang menyajikan banyak proyek perumahan dengan produk yang dipamerkan meliputi rumah dan apartemen premium, ruko, rumah dan apartemen menengah serta rumah tapak dan rumah susun.

Ocean One
September 25th, 2012, 08:55 PM
http://property.tempo.co/2012/09/21/perumnas-tawarkan-rumah-murah-kepada-gubernur-terpilih/


Perumnas Tawarkan Rumah Murah Kepada Gubernur Terpilih


JAKARTA–Perum Perumahan Nasional (Perumnas) yang berencana menghadirkan rumah murah bagi warga Jakarta. Direktur Utama Perumnas, Himawan Arif Sugoto mengatakan, Perumnas akan bekerja sama dengan Gubernur terpilih nanti.

“Bagaimanapun juga, Jakarta adalah kota besar yang memiliki masalah kepadatan. Jadi dibutuhkan penataan,” ujar Himawan Jumat 21 September 2012.

Ia mengatakan dalam mengatasi kepadatan, perlu usaha sangat keras dari Perumnas. Himawan mengatakan, sudah merevisi bentuk badan hukum dari Perum ke Perseroan. Diharapkan dalam satu hingga dua bulan ke depan, perusahaan pelat merah ini sudah berbentuk Persero.

“Perumnas memungkinkan bekerja sama dengan pemerintah daerah menata pemukiman dengan adanya bentuk perseroan,” ujar Himawan.

Himawan mengatakan, untuk kawasan kumuh, tidak akan dilakukan penggusuran, melainkan warganya direhabilitasi. “Kami juga hendak menata kawasan dan memperbaiki rumah susun yang sudah tua,” katanya.

Menurut Himawan usulan akan diajukan setelah Gubernur baru resmi dilantik. Hasil hitung cepat atau qucik count mengantarkan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama unggul dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. “Ini mengacu dari pengalaman kita membangun pemukiman di Solo dan juga berinteraksi dengan pemerintahnya,” Himawan mengatakan.

Sejumlah perusahaan BUMN lain yang hendak melaksanakan proyek bagi pemerintahan DKI yang baru adalah PT Adhi Karya, PT Jasa Marga, PT Hutama Karya, dan PT KAI. Menteri BUMN, Dahlan Iskan menyatakan, segera setelah dilantiknya Gubernur terpilih, pihaknya segera mengajukan proposal.

Ocean One
September 26th, 2012, 12:06 PM
http://finance.detik.com/read/2012/09/26/115901/2037261/1016/ciputra-jokowi-harus-wujudkan-jakarta-jadi-kota-properti

Ciputra: Jokowi Harus Wujudkan Jakarta Jadi Kota Properti


Jakarta - Pendiri Real Estate Indonesia (REI), Ciputra menitipkan pesan kepada gubernur DKI Jakarta terpilih Joko Widodo (Jokowi). Menurut Ciputra, sang gubernur baru harus bisa mewujudkan Jakarta sebagai kota properti.

"Jakarta harus jadi kota properti, kalau Jakarta mau jadi kota internasional," kata Ciputra dalam acara ground breaking office tower yang menjadi bagian dari Ciputra World Jakarta (CWJ) II, di Jalan Satrio, Jakarta Rabu (26/9/2012).

Menurutnya, dengan Jakarta menjadi kota properti ekonomi akan berkembang. Banyak aktivitas pembangunan oleh swasta atau pemerintah, termasuk peningkatan infrastruktur yang memadai.

"Dengan menjadi kota properti akan meningkatkan ekonomi. Income DKI tumbuh seiring pembangunan infrastruktur. Termasuk perumahan rakyat," ucapnya.

"Kota properti juga termasuk properti kaki lima, bagaimana mewujudkannya dengan apa? Pendapatan daerah. Itu sumbernya dari mana, PAD (pendapatan asli daerah). Hingga Jokowi juga harus bangun kota untuk seluruh masyarakat," tegas Ciputra.

Ocean One
September 26th, 2012, 12:49 PM
http://www.antaranews.com/berita/335329/jaringan-accor-buka-10-hotel-di-indonesia

Jaringan Accor buka 10 hotel di Indonesia


Jakarta (ANTARA News) - Jaringan operator hotel internasional terkemuka, Accor, yang mengelola sejumlah hotel seperti Novotel, Ibis, Mercure, dan Pullman berencana membuka hingga 10 hotel pada sepanjang 2012, termasuk di daerah wisata pulau Bali.

Siaran pers Accor yang diterima di Jakarta, Rabu, menyebutkan, Grup Accor telah mengumumkan debut merk Ibis pertama di Bali dengan pembukaan hotel Ibis Bali Kuta.

Ibis Bali Kuta yang menawarkan sebanyak 156 kamar itu terletak strategis di daerah Kuta dan berjarak kurang dari satu kilometer perjalanan dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

"Kami sangat antusias menjadi Hotel Ibis pertama di Bali," kata General Manager Ibis Bali Kuta, Engkun Kurnia.

Menurut Engkun Kurnia, Ibis Bali Kuta menawarkan penawaran baru dan inovatif untuk pasar hotel di Balio serta menawarkan akomodasi berkualitas tinggi dengan harga terjangkau.

Selain itu, Accor juga mulai mengoperasikan Mercure Bali Nusa Dua pada 23 September 2012 dan dibangun dekat dengan kawasan terkemuka yang terdapat di Nusa Dua yaitu kawasan Bali Tourism Development Complex (BTDC).

Selain Ibis Bali Kuta dan Mercure Bali Nusa Dua, hotel lainnya yang dioperasikan Accor di berbagai daerah di Indonesia pada 2012 adalah Pullman Jakarta, Mercure Banjarmasin, Ibis Styles Bali Benoa, Ibis Bandung Trans Studio, dan Ibis Balikpapan.

Di Indonesia sendiri, Accor telah beroperasi selama 19 tahun dan hingga September 2012 telah mengembangkan jaringan hotelnya di 52 hotel di 20 kota.

Dari jumlah 52 hotel tersebut, sebanyak 13 hotel berada di Bali dan Lombok, 12 hotel di DKI Jakarta, 14 hotel di Jawa, 7 hotel di Sumatera, 4 hotel di Kalimantan, serta 2 hotel di Sulawesi.

Berdasarkan jenis hotelnya di Indonesia terbagi menjadi 16 Novotel, 13 Ibis, 12 Mercure, 4 Ibis Styles, 3 Pullman, 2 MGallery, dan 2 Formule1.

Accor sendiri berencana untuk mengoperasikan hingga sebanyak 100 hotel di Indonesia pada tahun 2015. Hal tersebut membuat Accor sebagai operator hotel terbesar di Indonesia dan juga telah mempekerjakan lebih dari 7.000 pegawai di dalam industri turisme di Indonesia.

Accor merupakan operator hotel yang berada di 92 negara dengan lebih dari 4.400 hotel (seperti Pullman, Novotel, Mercure, dan Ibis) dan lebih dari 530 ribu kamar.

Ocean One
September 26th, 2012, 02:57 PM
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/26/19005289/Proyek.Perkantoran.Milik.Tumbuh

Proyek Perkantoran Milik Tumbuh


JAKARTA, KOMPAS.com — Pembangunan perkantoran milik terus berkembang dalam dua tahun terakhir. Perkantoran milik umumnya dimiliki oleh perusahaan domestik.

Senior Associate Director Research & Advisory Departement Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo di Jakarta, Rabu (26/9/2012), mengemukakan, tren perkantoran milik (strata title) terus meningkat. Pertumbuhan ruang kantor milik saat ini mencapai 50 persen dari pasokan ruang kantor baru.

Namun, secara keseluruhan, jumlah ruang kantor milik hingga tahun 2015 diprediksi masih 28 persen dari total pasokan ruang kantor.

Harga jual kantor juga terus meningkat karena tingginya permintaan yang melebihi pasokan. Sebagai ilustrasi, pertumbuhan sebelum tahun 2007 harga jual unit kantor tumbuh 7 persen-10 persen.

Tahun 2012, pertumbuhan harga jual 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Harga jual perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta di kisaran Rp 30 juta-Rp 35 juta per meter persegi. Saat ini kawasan CBD di Jakarta meliputi Jalan MH Thamrin, Jalan Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan HR Rasuna Said, Jalan Prof Dr Satrio, dan KH Mas Mansyur.

Konsultan properti itu memperkirakan, pasokan ruang perkantoran terus meningkat hingga tahun 2015 dengan tingkat hunian 85 persen-90 persen. Tingkat hunian perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta didominasi oleh jasa keuangan, perbankan, pertambangan, asuransi, dan agrobisnis.

Ocean One
September 30th, 2012, 06:41 PM
http://www.beritasatu.com/properti/74841-metland-tambun-hadirkan-klaster-the-platinum.html

Metland Tambun Hadirkan Klaster The Platinum


http://www.beritasatu.com/media/images/medium/03082012170014.jpg



Sesuai dengan tipe rumahnya, The Platinum menyasar kalangan menengah ke atas.

Pengembang perumahan PT Metropolitan Land Tbk (Metland) meluncurkan klaster premium perdana The Platinum di kawasan Metland Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

"The Platinum merupakan hunian premium yang ditawarkan oleh Metland Tambun dengan segala kemewahan tempat tinggal dan fasilitas yang terbaik untuk mendukung kenyamanan penghuninya," jelas Tono Supartono, Vice Director PT Metropolitan Land Tbk.

Menurut dia, hunian mewah tersebut menempati area strategis seluas 2,7 hektare dengan total hunian mencapai 107 unit rumah.

Pihaknya menawarkan dua tipe The Platinum. Pertama, tipe Gold yang dibangun dengan luas tanah 153 meter persegi dan bangunan seluas 165 meter persegi.

Kedua, tipe Silver yang dibangun di atas tanah seluas 120 meter persegi dan bangunan seluas 140 meterpersegi.

"Sesuai dengan tipe rumahnya, The Platinum menyasar kalangan menengah ke atas. Dengan konsep rumah dua lantai siap huni dan desain yang eksklusif, kawasan ini menawarkan kenyamanan hunian bagi mereka yang memiliki gaya hidup modern," ujar Tono.

Tono mengatakan, harga The Platinum ini dilansir mulai Rp950 juta hingga Rp1,2 miliar untuk penawaran perdananya.

"The Platinum adalah klaster premium pertama dipasarkan di Metland Tambun. Berada di antara Jakarta dan Karawang dimana kedua kota tersebut sedang berkembang pesat, menjadi salah satu kelebihan daerah Tambun," katanya.

Menurut dia, rencana pembangunan jalan tol Cilincing-Cibitung yang akan menjadi akses jalan yang strategis dari lokasi Metland Tambun akan menambah nilai investasi properti yang menjanjikan bagi konsumennya.

Lokasi yang strategis itu, kata dia, membuat Tambun menjadi daerah yang potensial untuk menjadi tempat hunian. Terlebih lagi lokasi Metland Tambun yang dikelilingi oleh berbagai sarana dan prasarana umum seperti kantor polisi, plaza, hotel, sekolah, dan rumah sakit.

"Konsumen selalu menjadi yang utama bagi kami. Dengan diluncurkannya The Platinum, komitmen kami untuk mengutamakan kepuasan konsumen menjadi semakin tinggi," katanya.

Ocean One
September 30th, 2012, 06:43 PM
http://www.beritasatu.com/properti/74815-indonusa-group-mulai-rambah-bidang-properti.html

Indonusa Group Mulai Rambah Bidang Properti


Populasi masyarakat di wilayah Mangunjaya, Tambun, yang sekitar 700.000 orang, membutuhkan area komersial yang dikembangkan secara terpadu

Indonusa Group, perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit dan tambang, melalui anak usahanya PT Suryasakti Bumi Persada, merambah industri properti dengan mengembangkan area komersial De Green Square di Tambun, Bekasi. Selain itu, grup usaha ini juga berencana membangun dua menara untuk hotel dan perkantoran di Slipi, Jakarta Barat.

Direktur Eksekutif PT Suryasakti Bumi Persada, Ikang Fawzi mengungkapkan, populasi masyarakat di wilayah Mangunjaya, Tambun, yang sekitar 700.000 orang, membutuhkan area komersial yang dikembangkan secara terpadu.

Selama ini, menurut Ikang, area komersial di wilayah tersebut lebih banyak dipenuhi oleh rumah toko (ruko) yang berdiri sendiri, tidak di dalam lokasi yang sama. "Jadi, kami bangun De Green Square untuk mengisi kekosongan pasar tersebut," ucap dia di Tambun, Bekasi, kemarin.

Disebutkan, area komersial ini akan dibangun di area 2 dari 20 hektare lahan yang telah dimiliki perusahaan itu sejak 20 tahun lalu. Sebanyak 180 unit ruko dua lantai ditawarkan dengan harga mulai dari Rp300 juta per unit. Di tengah kawasan komersial ini direncanakan ada supermarket besar yang tengah dijajaki perusahaan.

Dikatakan Ikang, perusahaannya menargetkan penjualan proyek ini sebesar Rp70 miliar. "Proyek ini direncanakan mulai diserahterimakan dan beroperasi pada akhir tahun 2013," tambahnya.

Sementara, Managing Director PT Suryasakti Bumi Persada, Bambang Ekajaya menambahkan, harga sewa ruko di wilayah tersebut diperkirakan sebesar Rp15-20 juta per tahun atau sekitar 5 persen dari investasi pembelian ruko. Harga sewa ini dapat bertumbuh menjadi Rp20-30 juta per tahun apabila berada di lokasi strategis dan terpadu. Sedangkan harga tanah di wilayah Tambun ditaksir sebesar Rp500.000 hingga Rp1 juta per meter persegi.

"Dengan pertumbuhan wilayah yang baik, harga tanah bisa naik dua sampai tiga kali lipat dalam beberapa tahun," ungkap dia.

Dijelaskan, proyek ini akan dikembangkan dalam beberapa tahap. Tahap pertama akan ditawarkan sebanyak 90 unit ruko. Sedangkan peluncuran tahap kedua akan disesuaikan dengan kecepatan penjualan dan pembangunan area komersial ini. Selain itu, Suryasakti Bumi Persada juga akan meluncurkan dua hingga tiga klaster perumahan di dekat De Green Square sekitar 240 unit mulai harga Rp300-500 juta pada tahun 2013.

"Ini untuk melengkapi perumahan yang sudah eksisting sebanyak 350 unit untuk kelas menengah," papar Bambang.

Hotel dan Kantor

Sementara itu, Komisaris PT Suryasakti Bumi Persada, Ardian Widjaja mengatakan, Indonusa Group juga akan mengembangkan dua menara untuk hotel bintang empat dan perkantoran di lahan seluas 8.000 meter persegi di wilayah Slipi, Jakarta Barat. Dua proyek tersebut diharapkan bisa memulai konstruksi tahun depan, setelah proses perizinan diperoleh.

"Kami harap gubernur baru DKI Jakarta dapat memberikan izin pembangunan kedua proyek tersebut," papar dia.

Ardian menerangkan, gedung untuk hotel direncanakan berketinggian 16 lantai yang merangkum sebanyak 250 kamar. Brand hotel yang akan diusung adalah Holiday Inn, dengan pasar yang dibidik adalah pebisnis.

Menurut Ardian, pihaknya memilih hotel bintang empat lantaran imbal hasil yang diperoleh lebih cepat dibandingkan hotel bintang lima. Dengan rata-rata investasi sebesar US$70-80 juta untuk hotel bintang empat, bisa kembali dalam tujuh hingga delapan tahun. "Sedangkan bintang lima tidak menentu, tergantung pelayanan yang diberikan," jelasnya.

Sementara itu, masih menurut Ardian, menara perkantoran yang akan dibangun berbarengan dengan menara hotel akan ditawarkan strata title dan sebagian disewakan. Namun begitu, proyek ini tengah dimatangkan dulu oleh perusahaannya, baik dari segi konsep maupun desain bangunan.

"Berapa ketinggian bangunan dan luas lantai secara keseluruhan, masih didesain. Kami harap bisa secepatnya diselesaikan," papar dia.

Ocean One
October 1st, 2012, 09:17 AM
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/10/01/12470630/Harga.Properti.Makin.Liar

Harga Properti Makin Liar


KOMPAS.com — Jumat (28/9), usahawan properti, Eiffel Tedja, tampak kikuk ketika seorang teman dekatnya bertanya tentang harga apartemen di Gandaria City, Jakarta. Setelah menghela napas sejenak, ia menyatakan tidak hafal harga rumah dan apartemen. Akan tetapi, ia akan meminta seorang direkturnya mengontak teman tersebut.

Kepada Kompas, Eiffel menyatakan acap kikuk kalau ditanya soal harga apartemen. Ini semata karena harga produk tersebut tengah meluncur ke langit. Tiga tahun silam, harga apartemen yang ditanyakan temannya masih pada angka Rp 2,6 miliar per unit. Kini, harga apartemen dengan luas 210 meter persegi itu sudah menembus angka Rp 6,2 miliar. Apartemen dengan luas 70 meter persegi, yang dua atau tiga tahun silam ”hanya” Rp 1,3 miliar, kini sudah meluncur ke angka Rp 3 miliar. Ini sebabnya Eiffel menghindar menjawab soal harga. Ia agak rikuh kepada temannya. Harga apartemen sudah terlampau mahal, menurut ukuran umum.

Harga rumah (landed house) dan apartemen memang luar biasa mahalnya kini. Di Surabaya, harga rumah ”makin gila dan liar”. Satu unit rumah berukuran 150 meter persegi di Surabaya barat lima tahun silam ”hanya” Rp 1,9 miliar, tetapi kini mencapai Rp 4,6 miliar. Di Serpong, Tangerang, lima tahun lalu harga tanah ”hanya” Rp 5 juta per meter persegi, tetapi kini Rp 40 juta per meter persegi. Artinya, kalau kita hendak membeli kapling saja, sebutlah seluas 300 meter persegi, kita sudah mesti mengeluarkan dana sebesar Rp 12 miliar. Ini baru tanah, belum bangunannya. Bukan main.

Di DKI Jakarta, terutama yang berada di lokasi strategis, harga lebih liar lagi. Harga satu meter persegi tanah bisa mencapai Rp 75 juta. Kalau hendak membeli tanah seluas 1.000 meter persegi, ya, bayangkanlah sendiri.

Hal yang menakjubkan. Bagaimanapun mahalnya harga, rumah dan apartemen tersebut selalu laku terjual. Di sisi lain, tabiat warga DKI Jakarta dan sekitarnya memang aneh. Semakin mahal sebuah produk properti, semakin larislah ia. Bayangkan, rumah dengan harga Rp 6 miliar, bahkan Rp 10 miliar, bisa disambar pembeli tanpa berkedip.

Fakta yang menarik adalah uang yang dipegang warga kelas menengah ke atas masih tebal. Produk demi produk diluncurkan, mereka tetap mempunyai energi cukup untuk membeli produk baru. Mereka, kaum menengah dan menengah ke atas, memang tidak semuanya membeli rumah atau apartemen untuk dihuni. Sebagian di antara mereka membeli untuk investasi. Investasi itu dilepas satu sampai lima tahun kemudian ketika harga sudah melambung jauh.

Sebagai contoh, modal hanya Rp 3 miliar, ketika rumah hendak dilepas lima tahun kemudian, harganya sudah mencapai Rp 6 miliar. Peningkatan harga dengan margin Rp 3 miliar memang ”biasa saja” kalau yang dijual hanya satu unit. Namun, kalau mencapai 30 rumah, investornya pesta besar. Dalam tempo tiga tahun, ia meraup hampir Rp 100 miliar. Padahal, bisnis ini tidak memerlukan kecerdasan yang menonjol. Hal yang hendak digarisbawahi di sini adalah semakin liarnya harga rumah dan apartemen membuat warga dengan penghasilan pas-pasan makin tertinggal. Mereka hanya bisa membeli rumah atau apartemen dengan label ”pinggiran”, ”marjinal”, atau ”rumah sederhana”. Hendak masuk ke wilayah strategis makin sulit karena harga makin liar dan merengkuh langit.

Ini sebuah sinyal pasar yang perlu diamati pemerintah. Langkah yang perlu adalah bagaimana agar kawasan strategis bukan hanya milik kaum berduit, melainkan juga warga bersahaja, warga dengan kemampuan ekonomi di bawah kelas menengah. (Abun Sanda)

Ocean One
October 2nd, 2012, 08:21 AM
http://finance.detik.com/read/2012/10/02/121521/2052460/1016/tambah-kamar-hotel-sahid-dapat-utang-rp-210-miliar-dari-bank-artha-graha

Tambah Kamar, Hotel Sahid Dapat Utang Rp 210 Miliar dari Bank Artha Graha


Jakarta - PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) mendapat fasilitas pinjaman Rp 210 miliar dari PT Bank Artha Graha Tbk (INPC). Dananya akan digunakan untuk renovasi kamar dan bayar utang.

Direktur Utama SHID Hariyadi Sukamdani mengatakan, sebanyak Rp 180 miliar akan digunakan untuk melunasi pinjaman dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan Rp 30 miliar sisanya untuk merenovasi kamar tahap 2 dan fasilitas lain.

Salah satu dari renovasi itu adalah meningkatkan dan menambah jumlah kamar di Hotel Grand Sahid Jaya menjadi 721 kamar.

"Perseroan sedang dalam menjalankan proses perbaikan secara menyeluruh, selain dari renovasi fasilitas dan pelayanan hotel yang terus ditingkatkan," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/10/2012).

Emiten berkode SHID itu merupakan anak usaha dari Sahid Group, salah satu pelopor industri perhotelan nasional.

Ocean One
October 2nd, 2012, 10:40 AM
http://www.beritasatu.com/properti/75171-kemenpera-perbaiki-1430-rumah-kumuh-di-wilayah-lebak.html

Kemenpera Perbaiki 1.430 Rumah Kumuh di Wilayah Lebak


Untuk tahap pertama sudah dicairkan sebanyak 382 unit dengan dana sebesar Rp3 juta per rumah.

Kementerian Perumahaan Rakyat membangun sebanyak 1.430 unit rumah kumuh atau rumah tidak layak huni di Kabupaten Lebak, Banten, melalui program bantuan stimulan perumahan swadaya bagi masyarakat miskin.

"Kami merasa terbantu dengan adanya bantuan stimulan perumahaan swadaya (BSPS) yang dikucurkan oleh Kemenpera itu," kata Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya di Rangkasbitung, Selasa.

Ia mengatakan, saat ini jumlah rumah kumuh di Kabupaten Lebak mencapai 7.000 unit dan ditargetkan 2014 sudah selesai.

Perbaikan rumah kumuh tahun 2012 tercatat 1.430 unit tersebar di 26 kecamatan.

Mereka masyarakat yang mendapatkan program BSPS itu adalah warga miskin dengan kondisi rumah yang tidak layak huni.

Dari 1.430 unit itu, kata dia, untuk tahap pertama sudah dicairkan sebanyak 382 unit sebesar Rp3 juta per rumah. Pencairan dana tersebut melalui rekening masing-masing dengan total Rp6 juta per keluarga.

"Kami berharap masyarakat melakukan partisipasi untuk membantu mereka karena dana perbaikan rumah kumuh tentu tidak mencukupinya," ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Penataan Lingkungan Perumahaan Kota dan Desa Dinas Cipta Karya Kabupaten Lebak Ahmad Hidayat mengatakan, pihaknya terus memantau dan mengawasi program BSPD tersebut agar benar-benar bisa dimanfaatkan bagi masyarakat miskin.

Sebab program BSPS itu untuk memperbaiki rumah-rumah kumuh agar mereka bisa tinggal di tempat yang layak huni.

Menurut dia, program BSPS tahun 2009-2011 memperbaiki rumah kumuh sebanyak 1.250 unit dan 2012 mencapai 1.430 unit.

"Kami menargetkan tahun ini memperbaiki rumah kumuh sebanyak 1.430 unit," katanya.

Sementara itu, Ahmad, warga Kebon Kopi Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengaku merasa lega setelah rumahnya diperbaiki melalui bantuan BSPS sebesar Rp6 juta.

"Kami saat ini tinggal di rumah cukup tenang dan tidak takut ambruk karena kondisi rumah sudah bagus," katanya.

Ocean One
October 2nd, 2012, 10:41 AM
http://www.beritasatu.com/properti/75167-kembali-mencuat-soal-aturan-kepemilikan-properti-oleh-asing.html

Kembali Mencuat, Soal Aturan Kepemilikan Properti oleh Asing


Kepemilikan properti asing bisa mengatasi masalah pembiayaan perumahan nasional

Aturan properti bagi konsumen berkewarganegaraan asing dinilai perlu segera dikeluarkan oleh pemerintah. Aturan tersebut dianggap bisa berdampak positif bagi pertumbuhan industri properti di Indonesia.

"Jika aturan asing dibuka akan mendorong pertumbuhan properti sekitar 30%," ujar Ian Duffell, chief executive officer (CEO) Sentosa Worldwide Resorts, beberapa waktu lalu.

Melihat dampaknya yang cukup positif itu, kata dia, semestinya pemerintah perlu segera memberlakukan aturan bagi orang asing.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) Setyo Maharso mengatakan, aturan kepemilikan asing perlu segera dikeluarkan oleh pemerintah.

Alasannya, agar tidak terjadi penyelundupan hukum properti oleh orang asing yang membeli properti di Indonesia atas nama orang lain. Lagi pula, kepemilikan properti asing bisa atasi masalah pembiayaan perumahan nasional.

"Misal di Bali, properti banyak milik orang asing, apa yang didapat pemerintah?," tegas Setyo, Minggu (30/9).

Sekalipun demikian, saat ditanya apakah pascakeluarnya aturan kepemilikan asing industri properti bertumbuh 30%, Setyo mengaku hal itu belum dihitung.

Menurut dia, pihaknya sudah menunggu aturan kepemilikan properti asing selama 12 tahun. Sebelumnya, dia juga pernah mengatakan, kepemilikan properti asing bisa atasi masalah pembiayaan perumahan nasional.

"Jadi, ada subsidi silang pembiayaan perumahan yang digunakan untuk bangun rumah rakyat," ungkap dia.

Setyo mengaku, aturan mengenai kepemilikan asing di sektor properti baru bakal dikeluarkan setelah undang undang pertanahan rampung.

Sedangkan Sekretaris Jenderal FIABCI Asia Pacific Rusmin Lawin juga pernah mengungkapkan, kepemilikan properti asing tidak secara langsung menaikkan harga jual properti nasional.

Bahkan, pangsa pasar properti asing di Malaysia dan Singapura masih kecil, meski hal itu sudah dibuka cukup lama.

"Singapura yang sudah buka propertinya untuk asing sejak 1965 baru 15% yang dikuasai asing. Sedangkan pangsa pasar properti asing di Malaysia yang sudah memperbolehkan sejak 10 tahun lalu, hanya 2%," terang dia.

Sebelumnya, Deputi Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Pangihutan Marpaung membantah akan terjadinya liberalisasi properti bila kepemilikan asing dibuka. Meski sebenarnya sekarang sudah terjadi liberalisasi melalui penjualan saham pengembang- pengembang besar.

"Tapi kami upayakan agar rumah rakyat terbangun, karena di Amerika saja backlog rumah juga masih besar," kata dia.

tjokro_ragazzo
October 2nd, 2012, 10:47 AM
http://www.antaranews.com/berita/335329/jaringan-accor-buka-10-hotel-di-indonesia

Jaringan Accor buka 10 hotel di Indonesia

denger-denger di Accor ada 'perampingan brand' ya?

hildalexander
October 2nd, 2012, 04:13 PM
^^ Udah lama ciin....

Ocean One
October 3rd, 2012, 09:17 AM
http://www.investor.co.id/property/transaksi-properti-sentuh-rp-475-triliun/46091

Transaksi Properti Sentuh Rp 475 Triliun


JAKARTA – Transaksi industri properti sepanjang 2012 bakal menyentuh Rp 475 triliun atau bertumbuh sekitar 12% dibandingkan 2011. Faktor ekonomi makro dan iklim sosial politik yang kondusif merupakan dua faktor penting penunjang pertumbuhan tersebut.

Demikian rangkuman pendapat Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit, dan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta dan Yogyakarta, Selasa (2/10).

“Transaksi di pasar properti primer sekitar Rp 125 triliun dan di pasar sekunder sekitar Rp 350 triliun sehingga total menjadi Rp 475 triliun,” jelas Panangian Simanungkalit.

Menurut dia, pertumbuhan property yang sebesar 12% pada 2012 tersebut ditopang oleh faktor makro ekonomi yang cukup bagus. Dia menyebutkan, faktor-faktor itu di antaranya BI Rate sebesar 5,75%, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) 8%, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2%

tjokro_ragazzo
October 3rd, 2012, 06:27 PM
^^ Udah lama ciin....

:bash::bash:

pertama buka website Accor emang langsung amaze...

brand manager nya ribet kali ya..... mungkin satu BM megang 2-3 brand.... :lol:

Ocean One
October 4th, 2012, 08:41 PM
http://www.tribunnews.com/2012/10/04/hore-rumah-di-bawah-tipe-36-boleh-dibangun-lagi

Hore! Rumah di Bawah Tipe 36 Boleh Dibangun Lagi


TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kalbar menyambut gembira terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP), pasal 22 ayat 3 yang berbunyi luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 meter persegi.

Ketua DPD Apersi Kalbar, Junaedi Abdillah, mengatakan, dalam UU tersebut mengatur batas minimal luas lantai rumah tunggal dan rumah deret, paling sedikit 36 meter persegi. Ketentuan itu yang mendorong pengembang yang tergabung dalam Apersi mengajukan judicial review ke MK. Alasanya, tidak semua masyarakat mampu membeli rumah tipe 36 dan tipe di atasnya sehingga membatasi kemampuan masyarakat membeli rumah yang layak huni.

Dengan adanya keputusan MK yang telah mengabulkan penghapusan aturan pembatasan luas lantai rumah tinggal dan rumah deret minimal 36 meter persegi yang ada pada Pasal 22 ayat 3 UU Nomor 1 Tahun 2011. Apersi yakin permintan rumah tipe di bawah 36 yang sebelumnya tertahan tak bisa dibangun bakal laris diburu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Karena sebelum ada UU ini rakyat bisa membeli rumah di bawah tipe 36. Jadi sekarang ada selisih 15 meter jika rumah yang dibangun adalah tipe 21. Katakanlah harga pokok per meter Rp 1 juta, itu belum level jual. Padahal data BPS tercatat 13,6 juta rakyat tidak mampu membeli rumah. Selain itu, adanya UU ini Pemda tidak berani mengeluarkan IMB sehingga masyarakat semakin sulit mendapatkan rumah," ujarnya kepada Tribun di Sekretariat Apersi Kalbar, Kamis (4/10/2012).

Menurut Junaedi, satu di antara dasar pertimbangan Hakim Agung MK dalam putusan tersebut, karena pembatasan justru menutup peluang masyarakat memiliki rumah. UU PKP juga bertentangan dengan UUD 1945 karena melanggar hak konstitusional, yaitu pemenuhan kebutuhan dasar manusia termasuk penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang terdapat didalamnya.

Oleh karena itu, terkait dengan syarat keterjangkauan daya beli masyarakat, terutama masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR). Menurut MK, Pasal 22 ayat (3), UU Nomor 1/2011, yang mengandung norma pembatasan luas lantai rumah tunggal dan rumah deret berukuran paling sedikit 36 meter persegi, merupakan pengaturan yang tidak sesuai dengan pertimbangan keterjangkauan oleh daya beli sebagian masyarakat, khususnya masyarakat yang berpenghasilan rendah tadi, jelasnya.

Kendati Apersi menang judicial review, Junaedi mengemukakan masih diperlukan Peraturan Menteri (Permen) Perumahan Rakyat sebagai dasar hukum pelaksanaan pembangunan perumahan dibawah tipe 36, sebagai dasar mengurus IMB ke Pemda maupun permohonan kredit di perbankan.

"Apersi akan kembali mendorong anggotanya untuk membangun rumah tipe kecil seperti tipe 18, 21, dan 27 untuk memenuhi kebutuhan MBR. Sebab tipe kecil dibawah 36, masih banyak sekali masyarakat yang berminat, dan sejalan dengan program pemerintah agar masyarakat memiliki rumah layak huni," katanya.

acoolguyfromnz
October 4th, 2012, 08:45 PM
yah tambah kumuh dan makin padat aja Indonesia kalau type 36 di bolehkan lagi di bgn. Kok solusi perumahan Indo gak spt china yah?

Ocean One
October 5th, 2012, 05:51 AM
http://www.tribunnews.com/2012/10/05/aston-akan-bangun-23-hotel-neo

Aston Akan Bangun 23 Hotel Neo

http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Hotel-Neo.jpg


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Aston International baru saja memperkenalkan bran hotel budget terbarunya, Hotel Neo. Tak tanggung-tanggung Aston International akan segera membangun puluhan Hotel Neo di Indonesia.

"Rencananya kami akan membangun 23 Hotel Neo di Indonesia, saat ini sedang tahap pembangunan," kata Norbert Vas, Wakil Presiden Penjualan dan Pemasaran Aston International di Jakarta, Kamis (4/10/2012).

Ke-23 Hotel Neo akan tersebar di sejumlah kota-kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Bali, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, Balikpapan, Makassar dan Medan. Sementara Bali dan Jakarta menjadi kota yang paling banyak akan didirikannya hotel budget tersebut. Akan ada sembilan di Bali dan lima di Jakarta.

Mengenai pilihan dua kota tersebut yang paling banyak akan didirikan Hotel Neo. Menurut Febry M Anindita, Corporate Marcomm Manager Aston International, permintaan akan penginapan di Bali masih sangat tinggi. Jadi itu salah satu alasan Bali paling banyak akan berdirinya Hotel Neo.

"Kalau Jakarta meski hotel budget sudah banyak, tapi orang Jakarta butuh hotel murah dan nyaman yang berstandar internasional seperti yang Hotel Neo tawarkan," ujar Febry.

Untuk pembukaan pertama, rencananya November 2012 Hotel Neo akan dibuka di Legian, Bali.

Ocean One
October 5th, 2012, 05:54 AM
http://www.tribunnews.com/2012/10/05/hotel-neo-investasikan-rp-350-juta-per-kamar

Hotel Neo Investasikan Rp 350 Juta Per Kamar


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Aston International investasikan Rp 350 juta per kamar untuk hotel budget terbarunya, Hotel Neo. Hal tersebut diungkapkan oleh Norbert Vas, Wakil Presiden Penjualan dan Pemasaran Aston International.

"Untuk investasi satu kamar Hotel Neo sekitar Rp 250 juta - Rp 350 juta. Itu tergantung lokasi dimana hotel dibangun. Rencananya satu Hotel Neo akan berisi 70 - 120 kamar," kata Norbert Vas, Kamis (4/10/2012).

Adapun fasilitas yang diberikan di Hotel Neo adalah tempat tidur yang nyaman, LCD TV, koneksi internet, serta DVD player. "Fasilitas di kamar Hotel Neo akan lebih banyak dibandingkan hotel budget lainnya," ujar Norbert Vas.

Untuk pembukaan pertama, Hotel Neo akan hadir di Legian, Bali pada November 2012. Direncanakan akan ada 23 Hotel Neo di Indonesia di sejumlah kota-kota besar di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabay, Samarinda, Balikpapan, Makassar dan Medan.

retwycha
October 6th, 2012, 05:11 AM
yah tambah kumuh dan makin padat aja Indonesia kalau type 36 di bolehkan lagi di bgn. Kok solusi perumahan Indo gak spt china yah?

semacam rusunawa begitu ?
era Orba memang marak dan jika tidak salah program nasional..

Ocean One
October 11th, 2012, 01:03 PM
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/10/11/16222493/Ingin.Jadi.Ikon.Jakarta.Sarinah.Gandeng.Jokowi

Ingin Jadi Ikon Jakarta, Sarinah Gandeng Jokowi


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Sarinah Persero Mira Amahorseya menjelaskan ingin menyulap kawasan Sarinah Jakarta menjadi kawasan premium sebagai ikon Jakarta. Untuk mewujudkan hal tersebut, Sarinah akan menggandeng Gubernur DKI Joko Widodo.

"Pak Jokowi dan saya nantinya akan menjadikan kawasan Sarinah menjadi kawasan premium. Itu akan menjadi ikon Jakarta," kata Mira saat ditemui di Rapat Koordinasi BUMN di Hotel Sahid The Rich Jogja, Yogyakarta, Kamis (11/10/2012).

Hingga saat ini, Mira baru ke perusahaan konsultan untuk membuat kajian strategis tentang konsep Sarinah ke depan. Selain konsep, konsultan tersebut juga diharapkan mampu membuat kajian tentang keuangannya.

Sementara ini, perseroan sudah menganggarkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk menyiapkan perubahan Sarinah tersebut."Mungkin akan lebih dari itu, karena ini baru kajian awal. Tapi targetnya kami belum bisa bicarakan," jelasnya.

Menurut Mira, perubahan konsep Sarinah ini dilakukan karena kawasan tersebut sudah terkenal sejak masa lalu. Apalagi, kawasan ini juga masuk kawasan elit yaitu Menteng.Bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga pernah tinggal di kawasan tersebut dan sangat akrab dengan kawasan Sarinah.

"Sarinah akan dioptimalkan karena belakangnya itu Menteng, bukan Tanah Abang," tambahnya.

Sekadar catatan, nama Sarinah sudah terkenal di mata wisatawan mancanegara karena bangunan tersebut didirikan pada masa Presiden Soekarno pada tahun 1962.

Ocean One
October 11th, 2012, 01:20 PM
http://properti.kompas.com/read/2012/10/11/1557427/Sinarmas.Land.Tawarkan.Foresta.Business.Loft

Sinarmas Land Tawarkan "Foresta Business Loft"


AKARTA, KOMPAS.com - PT Sinar Mas Land Tbk melalui BSD City meluncurkan bangunan komersial terbarunya, Foresta Business Loft. BSD City menawarkan residensial ini sebagai produk premium yang mengandalkan daya tarik lokasi sangat strategis di jalur utama BSD, Tangerang.

Managing Director Corporate Strategy and Services Sinar Mas Land, Ishak Chandra, dalam keterangan persnya Kamis (10/10/2012) mengatakan, lokasi Foresta Business Loft berdekatan dengan beberapa institusi pendidikan tinggi, seperti Prasetiya Mulya, Swiss-German University, serta kawasan central business district (CBD) di tahap 2 BSD City.

"Juga berada dekat kawasan residensial Foresta dan selangkah menuju kawasan hunian De Park, yang merupakan dua kawasan hunian premium BSD City," kata Ishak.

Selain terletak di kawasan strategis, bangunan Foresta Business Loft juga diciptakan dengan desain yang iconic dan dilengkapi area hijau. Menurut dia, desain ini untuk menjawab keinginan para pebisnis yang mendambakan kawasan komersial mewah dan hijau.

"Kami sediakan area bagi pejalan kaki yang luas dan hijau, ini agar pengunjung dapat menikamati kenyamanan berjalan kaki. Inilah pembeda dengan bangunan komersial yang sudah ada," katanya.

Desain bangunan modern dan iconic tersebut bisa dilihat dari fasad bangunan dilengkapi dengan kisi-kisi aluminium. Pemakaian kisi-kisi ini juga berguna untuk mengurangi paparan panas matahari ke dalam hunian yang terdiri dari 4 lantai dan 1 semi-basement ini.

Foresta Business Loft terdiri dari 28 unit dengan lima tipe bangunan, yang masing masing luas bangunannya berkisar antara 637 m2 - 715 m2 dengan luas tanah 190 m2. Sementara harga yang ditawarkan mulai dari Rp 7,8 miliar.

"Tentunya sebanding dengan fasilitas premium yang tersedia dan juga akses strategis. Ini semua akan menjawab kebutuhan ruang bisnis bagi para pengusaha di kawasan BSD City," ujar Ishak.

Ocean One
October 11th, 2012, 04:10 PM
http://www.beritasatu.com/properti/77042-investasi-rp-500-miliar-cbs-hadirkan-point-8-group-daan-mogot.html

Investasi Rp 500 Miliar, CBS Hadirkan Point 8 Group Daan Mogot


Dikembangkan pada lahan seluas 3 Ha, proyek ini terbagi atas tower apartemen Terrace Mansion dan Aicrew Tower, fasilitas Hotel bintang tiga dan Business Park.

Pesatnya pembangunan di kawasan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, menjadikan wilayah ini semakin berkembang sebagai salah satu pusat bisnis dan niaga yang terus berkembang.

Mencermati hal tersebut, PT Cakrawala Bumi Sejahtera (PT CBS) menghadirkan proyek perdana Point 8 Group Daan Mogot, yang merupakan sebuah kawasan terpadu (mix use project) terdiri atas Apartemen, Hotel dan Business Park yang eksklusif dengan konsep green living bernuansa Bali dengan nilai investasi lebih kurang sebesar Rp500 miliar.

Dikembangkan pada lahan seluas 3 Ha, proyek ini terbagi atas tower apartemen Terrace Mansion dan Aicrew Tower setinggi 21 lantai dengan total hunian 1088 unit dengan kisaran harga jual Rp260 juta untuk tipe studio dan Rp442 juta untuk tipe 2 bedroom.

Selain itu ada pula fasilitas Hotel bintang tiga dengan 214 kamar dan Business Park yang berupa ruko dengan konsep Terrace Walk serta Food Plaza sebanyak 64 unit dengan kisaran harga Rp1,9 miliar sampai Rp4,5 miliar per unit.

"Lokasi Point 8 Group Daan Mogot berlokasi dekat dengan tol Lingkar Luar Barat Cengkareng yang berarti memiliki kedekatan akses bagi penghuni untuk menuju ke Bandara Soekarno Hatta dan menuju pusat kota," kata Reinhard T Rusli, Direktur PT CBD di Marketing Galeri Point 8 Group Daan Mogot, Jakarta Barat, Kamis, (11/10).

Lebih lanjut Reinhard menyatakan, target utama konsumen dari proyek ini adalah kalangan awak airlines yang beraktifitas di Bandara Soekarno Hatta.

"Kami melihat adanya kebutuhan hunin yang nyaman, tenang dan eksklusif serta kemudahan beraktifitas bagi mereka. Karenanya kami juga menyediakan fasilitas shuttle bus untuk penghuni," tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ir. Widiyanto (Aseng) Prinsipal Ray White Puri Indah menyatakan, potensi dan prospek yang dimiliki Point 8 Group Daan Mogot sangat baik mengingat dukungan infrastruktur yang ada di kawasan Daan Mogot.

"Proyek ini dijamin bakal menguntungkan investor yang ingin menanamkan dananya di sektor properti. Apalagi nilai kenaikannya bisa mencapai 15-20% setiap tahunnya. Boleh dikata, beli saja sudah untung," tambah dia.

Ocean One
October 11th, 2012, 04:14 PM
http://www.beritasatu.com/properti/77044-peritel-asing-incar-pusat-perbelanjaan-di-jabodetabek.html

Peritel Asing Incar Pusat Perbelanjaan di Jabodetabek


Kalangan peritel global gencar berekspansi di sejumlah pusat perbelanjaan di kawasan Jabodetabek sejak dua tahun terakhir.

Melemahnya kondisi perekonomian di sejumlah negara Eropa telah membuat kalangan peritel global mengincar negara berkembang seperti Indonesia untuk menggelar ekspansi bisnis dan perluasan pasar.

Hasil survei Colliers Internasional mengungkapkan, secara umum okupansi mal yang baru beroperasi pada kuartal III-2012 memiliki tingkat pre komitmen tinggi hingga 95%. Mal baru tersebut antara lain Central Park, Gandaria Mall, Kuningan City, Kota Kasablanka, dan Lippo Mall Kemang.

Penyewa utama mal-mal tersebut adalah peritel asing seperti Debenham, Carrefour, Ace Hardware, dan Best Denki.

Managing Director Colliers International Michael Broomell menyatakan, distribusi department store di Jakarta didominasi oleh Matahari yang dimiliki oleh PT Lippo Karawaci Tbk sebesar 45%, dikuti oleh SOGO (Jepang) sebesar 20%, Metro (Eropa) 14%, Debensham (Inggris) 14%, dan Centro (Malaysia) 7%.

"Sedangkan persebaran hypermarket di pusat belanja Jakarta dikuasai oleh Carrefour dari Prancis sebesar 47%, hypermart 28%, Giant 16%, dan Lotte Mart asal Korea 9%. Tidak lama lagi, Central Group of Companies asal Thailand akan membuka cabang Central Department Store pertama di Grand Indonesia," ungkap Michael.

Kenaikan Harga Sewa
Berdasarkan riset Colliers International, tren harga sewa di Jabodetabek stabil pada kuartal III-2012 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Tidak ada kenaikan harga sewa di setiap mal eksisting kecuali mal mal baru yang tercatat naik 6,3% menjadi Rp437.085/M2/bulan.

Perubahan harga sewa dari rupiah menjadi dolar pada mal kelas atas juga menyebabkan ada sedikit kenaikan rental dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Jika kami membuat grafik harga sewa, maka akan terlihat harga sewa September 2012 lebih tnggi 15,3% dibandingkan akhir 2011," jelas Ferry Salanto, Associate Research Manager Colliers International .

Colliers mencatat, ada tiga faktor pendorong kenaikan harga sewa, yaitu pertama terjadi pada proyek yang baru diluncurkan. Disini, harga sewa berubah karena potensi mal dan nilai tambah.

Kedua, renovasi dan komposisi tenant baru pada pusat perbelanjaan lama. Ketiga, adanya perubahan kurs dari mata uang rupiah ke dolar.

Melemahnya rupiah terhadap dolar membuat mal yang disewa dengan dolar menjadi naik nilainya.

Ocean One
October 11th, 2012, 04:16 PM
http://www.beritasatu.com/properti/76999-pasokan-pusat-belanja-di-jabodetabek-melonjak.html

Pasokan Pusat Belanja di Jabodetabek Melonjak


Pembangunan pusat belanja akan kembali marak ketika moratorium mal secara efektif akan berakhir pada akhir 2012.

Pasokan baru pusat belanja di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) diprediksi mencapai 870.505 m2 hingga 2015.

Pertumbuhan tersebut ditopang tingginya permintaan dari kalangan peritel global yang gencar berekspansi di Jabodetabek sejak dua tahun terakhir.

Hasil survei Colliers Internasional mengungkapkan, ekonomi negara-negara di Eropa telah melemah sehingga kalangan peritel global mengincar negara berkembang seperti Indonesia untuk berekspansi.

Beberapa tahun terakhir, peritel luar negeri seperti Carrefour, Lotte, Sogo, 7- Eleven, dan Circle K agresif di pasar ritel Indonesia.

"Pembangunan pusat belanja akan kembali marak ketika moratorium mal secara efektif akan berakhir pada akhir 2012. Kawasan padat seperti koridor Satrio, Jakarta Selatan dan wilayah minimmal seperti Jakarta T imur akan menjadi incaran," ujar Ferry Salanto, Associate Research Manager Colliers International di Jakarta, baru-baru ini.

Ferry menuturkan, pasokan ritel diprediksikan tetap tumbuh dengan tambahan sekitar 220 ribu m2 pada 2013. Sedangkan di wilayah penyangga Jakarta akan ada tambahan ruang ritel sebanyak 190 ribu m2. Sepanjang kuar tal III- 2012, total pasokan baru sudah mencapai 164.981 m2.

Dari total 4,19 juta m2 ruang ritel di kawasan Jakarta, sekitar 69% merupakan ruang sewa dan kencenderungan ini terus berlanjut pada periode 2012-2014.

"Ada tambahan pusat komersial skala besar yaitu Ciputra World Jakarta dengan Lotte Shopping Avenue dan Pondok Indah Street Gallery pada akhir 2012," ungkap dia.

Sedangkan di Bodetabek, setelah kuartal lalu tidak ada pasokan, di kuartal III-2012 Mall Bale Kota yang berlokasi di kawasan terpadu Tangerang City berkontribusi menambah sekitar 25 ribu ruang ritel baru. Dengan demikian, pada kuartal ini total kumulatif supply ritel Bodetabek sebesar 1,96 juta m2.

"Ke depan, ada pertumbuhan pasokan di periode 2013-2014 dengan sedikitnya 11 pusat ritel baru. Beberapa diantaranya adalah Plaza Cibubur, Lippo Cikarang Citywalk, Bintaro Xchange, dan Summarecon Mall Bekasi," kata dia.

Tingkat okupansi pusat belanja sepanjang kuartal III-2012 terlihat sedikit menurun dari sebelumnya 89,5% menjadi 88%.

Sebab, pada kuartal ini sejumlah pusat perbelanjaan melakukan konsolidasi untuk meningkatkan kinerja, dengan upaya menggabungkan komposisi tenant.

Mal-mal di Pluit misalnya, untuk mengantispasi tumbuhnya budget hotel, mereka lebih condong kepada tenant makanan dan minuman waralaba seperti Crown Palace, I-Ta Suki, dan Shanghai Sky.

"Hampir seluruh segmen pusat belanja mengalami penurunan okupansi. Tingkat hunian mal kelas atas turun menjadi 92,5% akibat maraknya mal sejenis. Sementara itu, okupansi pusat ritel kelas menengah tercatat 86% dan mal menengah ke bawah memiliki kinerja stabil dengan hunian 83%," ujar Ferry.

utomo
October 22nd, 2012, 04:57 PM
http://www.investor.co.id/property/jababeka-gandeng-investor-asing-kembangkan-tanjung-lesung/43876

http://finance.detik.com/read/2012/10/22/192654/2069773/1016/jepang-uni-emirat-arab-garap-proyek-tanjung-lesung-miami-indonesia?f9911023


Jepang & Uni Emirat Arab Garap Proyek Tanjung Lesung 'Miami' Indonesia

PT Banten West Java menggandeng investor asing dari Jepang yaitu Longlife Holding Co. Ltd dan Damac Holding, sebuah perusahaan properti asal Uni Emirat Arab untuk mengembangkan kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata Tanjung Lesung, Banten.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di acara Indonesia Tourism Investment Day di Hotel JW Marriot, Jakarta, Senin (22/10/12).

"Hari ini tadi sudah ditandatangani MoU antara Banten West Java dan 2 perusahaan," ungkap Mari.

Mari menyebutkan, progres pengembangan kawasan ekonomi khusus pariwisata ini sedang dalam persiapan pembangunan jalan baru. Pasalnya akses dari Jakarta menuju daerah ini dinilai sulit.

"Ini lebih kepada masalah jalan yah. Untuk menuju kesana itu 4 jam, mereka sedang ada proyek jalan yang saya tidak tahu sudah diumumkan atau masih dipersiapkan," katanya.

Untuk pembangunan jalan tersebut, Mari melanjutkan, akan ada perusahaan swasta yang ditawari proyek ini. "Nanti swasta itu yang akan di-offer nanti bisa mempercepat waktu dari Jakarta ke Banten itu sendiri," imbuhnya.

Dalam acara ini juga, ditandatangani perjanjian kerjasama antara PT Bali Tourism Development Corporation (Mandalika Project) dengan PDAM Lombok Tengah dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) serta perjanjian sewa antara Mandalika Project dengan Novotel Lombok.

"Semua perjanjian ini totalnya bernilai Rp 2 triliun," tutup Mari.

Seperti diketahui, PT Jababeka Tbk akan mengembangkan terus kawasan Tanjung Lesung menjadi pusat wisata terpadu di Indonesia. Kawasan ini juga sudah disiapkan oleh pemerintah menjadi kawasan ekonomi khusus sektor pariwisata.

Jababeka telah mengakuisisi PT. Banten West Java Tourism Development dan PT. Tanjung Lesung Leisure Industry yang mengelola kawasan wisata pantai terpadu Tanjung Lesung Resort. Jababeka segera membangunnya menjadi Kota Baru salah satu tujuan wisatawan asing.

Tanjung Lesung yang merupakan sebuah kawasan wisata yang terletak di Pandeglang-Banten ini menyajikan keindahan panorama alam yang sungguh menakjubkan. Pantai Tanjung Lesung merupakan bagian dari kawasan barat Selat Sunda.

Kawasan ini merupakan salah satu jalur yang terlewati untuk kapal-kapal pesiar asing di pelintasan Samudra Hindia menuju Australia, sehingga kawasan Tanjung Lesung dapat dikembangkan menjadi kawasan marina. Tanjung Lesung sudah menjadi destinasi favorit wisata kapal layar yang digemari para ekspatriat.

Bahkan Jababeka akan menjadikan kawasan ini sebagai calon Kota Baru yang tidak kalah dengan Nusa Dua Bali atau Miami di Florida, AS.


Kayaknya daerah yang digarap daerah yang dekat Kalicaa, dan tanjung lesung hotel dan resort ya ?
Bukan yang dekat pemukiman penduduk

Ocean One
November 27th, 2012, 04:16 PM
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/11/27/17490434/Lippo.Karawaci.Raih.Penghargaan.The.Best.Developer.in.Indonesia

Lippo Karawaci Raih Penghargaan "The Best Developer in Indonesia"


JAKARTA, KOMPAS.com — Pengembang terkemuka di Indonesia, PT Lippo Karawaci Tbk, meraih penghargaan sebagai The Best Developer in Indonesia dalam ajang prestisius South East Asia Property Award 2012 yang digelar pada 21 November 2012 di Shangri-La Hotel, Singapura.

"Kami sangat senang memperoleh penghargaan sebagai The Best Developer in Indonesia. Sebab, ajang prestisius ini adalah event the creme de la creme of the region’s residential real estate industry. Penghargaan ini juga semakin menegaskan eksistensi PT Lippo Karawaci Tbk sebagai pengembang terkemuka di Indonesia ataupun di kawasan Asia Tenggara,” kata Jopy Rusli, Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, yang menerima langsung penghargaan The Best Developer in Indonesia.

PT Lippo Karawaci Tbk adalah perusahaan properti terbuka terbesar di Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar, total aset, dan pendapatan yang diperkuat dengan landbank yang luas dan basis recurring income yang kuat.

Divisi usaha PT Lippo Karawaci Tbk meliputi residential/township, retail malls, hospitals, hotels, dan asset management.

PT Lippo Karawaci Tbk tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 21,5 triliun atau 2,2 miliar dollar AS.

Namewee
December 17th, 2012, 04:19 PM
Bangun Proyek Apartemen, Adhi Karya Gandeng Pertamina (http://www.beritasatu.com/hunian/88315-bangun-proyek-apartemen-adhi-karya-gandeng-pertamina.html)
Senin, 17 Desember 2012 | 16:32

http://img.beritasatu.com/images/medium/14112011160713.png
PT Adhi Persada Realti (APR), anak usaha dari PT Adhi Karya Tbk, menggandeng PT Pertamina (persero) untuk membangun apartemen di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, diatas lahan seluas sembilan hektar.

Adapun investasi yang ditanamkan untuk proyek tersebut sebesar Rp 2 triliun yang akan digunakan dalam jangka waktu 5-7 tahun ke depan.

Seperti dikutip dari lama Investor Daily, Direktur PT APP Giri Sudaryono mengatakan, sinergi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan lahan milik Pertamina.

Rencananya, sebesar tiga hektar dari total luas lahan akan digunakan oleh Pertamina untuk keperluan perusahaan.

Giri menuturkan, pihaknya tengah dalam proses administrasi dan perizinan untuk pembangunan apartemen tersebut.

Rencananya, apartemen yang membidik segmen menengah ini akan memiliki sejumlah menara yang dibangun di atas lahan seluas 94 ribu m2.

Dia menambahkan, karena tanah tersebut milik Pertamina, pembayaran tanah dilakukan dengan dua cara. Pertama, pembayaran tunai, dan kedua adalah pembayaran dengan menggunakan bangunan.

"Jadi, nantinya sekitar 20% unit apartemen itu, diperuntukan bagi karyawan Pertamina," kata dia.

Selain bekerja sama dengan Pertamina, Adhi Persada Realti (APR) juga akan membangun apartemen di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, dengan investasi mencapai Rp 800 miliar. Proyek ini diharapkan bisa memulai konstruksi pada tahun depan.

Rencananya, apartemen yang berlokasi di pejaten tersebut terletak di jalan Siaga Raya dengan total luas lahan sebesar 1,4 hektar. Apartemen ini disebut-sebut bakal menjadi salah satu apar temen yang cukup eksklusif di wilayah Jakarta Selatan.

"Nantinya akan ada sekitar 1.000 unit apartemen. Untuk pengembangan ini, kami akan bekerja sama dengan pihak swasta,” tandas dia.
http://www.beritasatu.com/hunian/88315-bangun-proyek-apartemen-adhi-karya-gandeng-pertamina.html

Ocean One
January 24th, 2013, 06:01 PM
http://m.bisnis.com/articles/bisnis-perhotelan-persaingan-bakal-makin-ketat

BISNIS PERHOTELAN: PERSAINGAN BAKAL MAKIN KETAT


JAKARTA: Persaingan hotel di Jakarta dan sekitarnya dalam 2 tahun mendatang diprediksi semakin ketat seiring banyaknya pasokan baru yang muncul.

Meyriana Kesuma, Manajer Riset dan Konsultasi Coldwell Banker Indonesia, mengatakan pertumbuhan pasokan baru paling tinggi hingga 2014 berasal dari kelas hotel budget, yang secara tidak langsung bersaing dengan hotel bintang 3 di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi.

“Dari ketiga kelas hotel tersebut, yang bakal mendapat persaingan paling ketat adalah bintang 3 karena mendapatkan ancaman dari hotel budget yang setara bintang dua, dan dilengkapi fasilitas mirip bintang 3,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (23/1/2013).

Menurut Meyriana, kompetisi bahkan lebih intens dengan pertumbuhan hotel yang dioperasikan oleh beberapa pengembang properti yang baru saja memulai bisnis hotel mereka.

Coldwell Banker Indonesia mencatat, hingga 2014, pasokan baru hotel budget di Jabodebek akan mencapai 2.000 kamar, separuh dari total suplai baru.

Hotel- hotel ini pada umumnya menargetkan para pebisnis, terutama di level menengah, dan pelajar yang sedang studi ekskursi.

Hingga akhir 2012, total pasokan kumulatif hotel di Jabodebek mencapai 26.440 kamar, dimana 39,77% merupakan bintang 4, 36,11% bintang 5, dan 24,13% bintang 3.

Rerata tingkat okupansi hotel-hotel tersebut berkisar 67,11%.

Sementara itu, Perusahaan riset properti Jones Lang Lasalle Indonesia mencatat pasokan hotel berbintang di Jakarta diperkirakan bertambah 2.337 kamar hingga 2014.

Potensi penambahan pasokan hotel baru ini sebagian besar berlokasi di Jakarta Pusat dan Selatan yang menjadi pusat bisnis.

"Di daerah sentra bisnis, dimana terdapat banyak gedung komersial dan perkantoran, di situ banyak terdapat proyek hotel baru,"ujar Anton Sitorus, Kepala Riset Jones Lang Lasalle Indonesia.

Pasokan hotel berbintang di Jakarta sampai akhir tahun lalu mencapai 27.637 kamar, dengan tingkat okupansi 67,4%.