View Full Version : [Indonesia] Property Market Updates


Pages : [1] 2

Alvin
September 30th, 2004, 03:57 AM
Hey guys

Since we don't have a special thread for news from the property sector...I usually post news like this in the U/C section, but I don't think its 100% appropriate now that the forums have been nicely sub-divided =)


Properti Kelas Atas Perlu Direm


Jakarta, Kompas - Untuk mencegah terjadinya kejatuhan sektor properti, seperti yang terjadi pada tahun 1998, maka pengembangan properti kelas menengah ke atas untuk sementara perlu direm hingga tercapai keseimbangan antara properti kelas atas dan kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu, tahun 2005 merupakan momentum yang tepat bagi pemerintah untuk mendorong pembangunan 50.000 unit apartemen murah dan melanjutkan proyek sejuta rumah sederhana sehat.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi terbatas bertajuk "Rekomendasi Sektor Perumahan dan Bisnis Properti Era Pemerintahan Baru 2004-2009" serta peluncuran buku Bisnis Properti Menuju Crash? yang ditulis oleh Direktur Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit di Jakarta, Rabu (29/9).

Panangian menegaskan bahwa sektor properti Indonesia dapat menghindar dari potensi kejatuhan (crash), seperti yang terjadi pada tahun 1998, dengan memulai kebijakan untuk menghentikan sementara ekspansi pada properti kelas menengah atas. Peringatan tersebut diperlukan karena saat ini kredit perbankan yang dikucurkan kepada para pengembang sudah memasuki kondisi yang merisaukan, yakni 34 persen dari total kredit yang dikucurkan pada seluruh sektor.

"Dengan kondisi itu, maka sudah sewajarnya apabila Bank Indonesia memberikan peringatan kepada perbankan yang membiayai sektor properti untuk berhati-hati dalam memberikan kredit properti kepada para pengembang, sehingga krisis yang terjadi akibat kredit macet tahun 1998 tidak terulang lagi," kata Panangian.

Pengembangan properti kelas atas tersebut, menurut Panangian, perlu direm untuk sementara waktu karena pembangunan bisnis properti yang terjadi pada lima tahun terakhir ini tidak ditujukan untuk kalangan masyarakat kelas bawah (berpenghasilan Rp 350.000-Rp 1,5 juta per bulan) dan kelas menengah (berpenghasilan Rp 1,5 juta-Rp 3 juta per bulan).

"Pemerintah harus mengarahkan energi permodalan dan akumulasi keuntungan yang diperoleh dari bisnis properti kelas atas tadi ke arah pembangunan perumahan dan apartemen yang lebih murah, yakni apartemen yang bernilai jual Rp 100 juta per unit atau perumahan sederhana dan sehat senilai Rp 50 juta ke bawah. Saat ini, yang berkembang adalah apartemen seharga Rp 350 juta ke atas, sementara perumahan mencapai Rp 200 juta ke atas per unitnya," kata Panangian.

Turunkan suku bunga

Menurut Panangian, untuk mendukung pengembangan perumahan dan apartemen murah tersebut, diperlukan terobosan pemerintah di sektor properti. Terobosan tersebut dapat dilakukan dengan menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dari 12 hingga 13 persen per tahun menjadi 6 persen hingga 8 persen per tahun.

Menurut dia, dengan penurunan suku bunga KPR itu, maka kelompok masyarakat menengah ke bawah tersebut diharapkan akan mampu membeli rumah tipe 21 dengan luas tanah 60 meter persegi seharga Rp 25 jutaan, atau membeli rumah tipe 36 dengan luas tanah 90 meter persegi seharga Rp 36 jutaan.

"Sudah saatnya, pada tahun 2005, kita mulai membangun 50.000 apartemen murah untuk para profesional kelas menengah dan 500.000 RSH (rumah sederhana sehat) untuk lima tahun ke depan," kata Panangian.

Minta stimulus

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estate Indonesia (REI) Lukman Purnomosidi mengatakan, para pengembang memerlukan stimulus yang dapat mendorong mereka untuk membangun RSH. Stimulus tersebut diberikan dalam bentuk penambahan plafon kredit konstruksi hingga Rp 5 miliar untuk setiap pengembang yang ada dalam satu provinsi.

"Stimulus tersebut perlu diberikan karena kondisi yang ada saat ini menunjukkan bahwa pasar properti kelas menengah ke atas merupakan satu- satunya pangsa pasar yang menjanjikan dibandingkan dengan pasar menengah ke bawah," kata Lukman.

Bergeser

Lebih lanjut, Panangian mengatakan, pada tahun 2005 diperkirakan terjadi pergeseran fokus pengembangan properti di daerah perkotaan. Pergeseran tersebut terjadi akibat kelebihan pasokan (oversupply) pada pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen.

"Akibat oversupply itu, maka pada tahun 2005 ekspansi bisnis perumahan sederhana, menengah, dan kelas atas masih akan tumbuh 10-15 persen. Pada saat yang sama, kredit perbankan ke sektor properti pun akan tumbuh 20-30 persen, sementara harga tanah di kawasan perumahan dan harga rumah menengah mulai naik 15-20 persen," kata Panangian.

Secara terpisah, Asisten Wakil Presiden Bank BNI Ryan Kiryanto mengatakan, jangan sampai peringatan agar mulai mengurangi kredit pembangunan properti kelas atas tersebut menjadi kontraproduktif terhadap upaya bank mempercepat pemberian kredit ke sektor riil.

Menurut dia, kredit properti belum sampai pada taraf yang membahayakan karena bank juga menerapkan prinsip kehati-hatian secara ketat agar tidak terjerumus kedua kalinya ke dalam lubang krisis.

Salah satu kiat perbankan menurunkan risiko kredit properti adalah dengan memprioritaskan pembiayaan untuk pembangunan properti terpadu. "Artinya, perbankan lebih senang membiayai proyek properti di suatu lokasi yang terdiri atas perumahan, gedung perkantoran, dan pusat perbelanjaan," katanya. (OIN/FAJ)

Alvin
September 30th, 2004, 04:09 AM
New govt urged to build cheap houses
Zakki P. Hakim, The Jakarta Post, Jakarta

The new government should make the property sector an engine for economic growth, especially by encouraging developers to build low-cost houses and apartments for low to middle-income people, a leading property consultant said on Wednesday.

Director of the Center for Indonesian Property Studies (CIPS), Panangian Simanungkalit, said that economic growth can be accelerated by developing 500,000 units of low-cost houses and 50,000 middle-class apartments in big cities across the country within the next five years.

"The projects could become an instrument to absorb unemployment," he said during the launching of his book entitled, "Is property business moving toward another crash?"

According to CIPS research, the property sector contributed up to 51 percent to economic growth last year.

Panangian also said that developing low-cost housing would make political sense for the new government.

Without sufficient supply of affordable housing facilities, the government could potentially face social unrest, as currently there was a growing trend that only "the haves" could purchase houses, he said.

During the past five years, the government could only provide around 200,000 units of low-cost houses, or an average of 40,000 units each year. In comparison, previous authoritarian president Soeharto, built an average of 138,000 units each year from 1993 to 1998.

Panangian suggested the government provide fiscal incentives, such as housing subsidy for the lower income people, and also relax banking regulation to encourage banks to lend more money to the property sector.

Elsewhere, Panangian said that building middle-class apartments for young professionals in big cities, such as Jakarta, could actually bring in a handsome profit as in developing premium apartments.

According to CIPS research, the annual demand for apartments in Jakarta alone is around 10,000 units priced between Rp 100 million (US$11,000) and Rp 200 million ($22,000) each.

"The figure excludes potential markets from other areas near Jakarta, such as Bekasi, Depok and Tangerang," he said.

He said the return on investment (ROI) for the development of middle-class apartments could reach as high as 35 percent, but on the conditions that the government provides tax incentives for developers, speed up licensing procedures, and a low interest rate environment. But even without these conditions, developers can still enjoy a healthy ROI of around 18 percent.

Alvin
September 30th, 2004, 05:13 PM
Panangian: Puncak Kebangkitan Sektor Properti Tahun 2007

Laporan -

JAKARTA, investorindonesia.com

Pengamat properti, Panangian Simanungkalit memprediksi puncak kebangkitan sektor properti setelah terpuruk akibat krisis ekonomi tahun 1997 akan tercapai pada tahun 2007.

"Prediksi itu didasarkan pada pembangunan pusat perbelanjaan, apartemen, perkantoran, dan hotel baru yang tumbuh begitu pesat sejak tahun 2001, akan mulai menurun tahun 2005," kata Panangian pada acara peluncuran buku hasil karyanya yang berjudul "Bisnis Properti Menuju Crash Lagi?", di Jakarta, Rabu.

Pada tahun 2005, Panangian memperkirakan, pertumbuhan sektor properti diambil alih oleh pembangunan perumahan yang akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya, dipacu berlanjutnya pemulihan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurutnya, sebenarnya pertumbuhan bisnis properti dapat berlanjut pada tahun 2009, namun pemerintah mendatang perlu melakukan terobosan lewat sebuah kebijakan insentif dan disinsentif untuk mengalihkan modal dan akumulasi keuntungan dari pengembang untuk membangun apartemen dan rumah dengan harga terjangkau.

Hal ini karena dalam lima tahun terakhir, pembangunan properti bukan ditujukan untuk kalangan menengah yang berpendapatan per bulan Rp1,5-3 juta dan bawah Rp350 ribu-Rp1,5 juta. Selama ini kemampuan membeli rumah kelompok masyarakat ini terpangkas akibat krisis ekonomi.

Laju inflasi tahun 1998 mencapai 77,6 persen, sehingga daya beli masyarakat terkikis habis, meskipun saat ini tingkat bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sangat rendah 12-13 persen per tahun namun kemampuan untuk membeli rumah masih terbatas.

Hal ini menurut Panangian, disebabkan harga rumah yang mengalami kenaikan sehingga melampaui rata-rata tingkat kenaikan daya beli. Dicontohkan harga Rumah Sederhana tipe 36 yang sebelum krisis harganya Rp24 juta, maka kini harganya melonjak 50 persen menjadi Rp36 juta.

Pemerintah baru diharap mampu menciptakan stimulus fiskal dan moneter melalui kebijakan khusus dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari 4,8 persen tahun 2004 menjadi 5,3 persen tahun 2005 serta tahun 2007 menjadi 7,6 persen.

Dengan demikian banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memperpanjang masa "booming" bisnis properti, setidaknya sampai tahun 2009 sehingga tidak berhenti pada tahun 2007.

Berkaitan hal itu, Panangian menyarankan kepada pemerintah baru mendatang untuk membangun 500 ribu unit RSH pada periode 2005-2009 terutama di daerah-daerah melalui sebuah komitmen politik, kebijakan insentif fiskal, deregulasi perijinan, debirokratisasi, dan kebijakan moneter.

Disamping itu, dalam periode tersebut juga perlu dibangun 50.000 unit apartemen murah di kota-kota besar, melalui kebijakan insentif dan disinsentif fiskal dan moneter yang tidak membebani anggaran.

Panangian juga sangat berharap rencana pemerintah untuk memiliki lembaga pendanaan jangka panjang di bidang perumahan melalui pola "Secondary Mortgage Facilities (SMF)" dapat segera diwujudkan melalui kebijakan moneter.

Selain itu, sudah saatnya bagi pemerintah untuk membuka akses kepemilikan properti bagi orang asing khususnya properti komersial seperti apartemen, pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel melalui perangkat kebijakan khusus. Diperkirakan potensi pasar komersial di Jabotabek yang layak ditawarkan kepada asing sekitar 100 miliar dolar AS. (ant)

David-80
September 30th, 2004, 06:29 PM
Good thread alvin !

Anyway if some of you have property showroom/news or pictures. you can post it here :D

cheers

Alvin
October 6th, 2004, 05:22 AM
Porsi Properti Hanya 5 Persen dari Total NPL


Jakarta, Kompas - Bank Indonesia mencatat kredit bermasalah di sektor properti hanya sekitar lima persen dari seluruh kredit bermasalah perbankan yang disalurkan ke seluruh sektor usaha yang ada di Indonesia saat ini. Porsi itu hampir sama dengan kredit konsumsi.

Tingkat kredit bermasalah tersebut dinilai belum mencapai tingkat mengkhawatirkan sehingga BI menegaskan untuk tidak mengeluarkan kebijakan yang menghambat pengucuran kredit ke sektor properti dari perbankan nasional.

Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Nelson Tampubolon mengungkapkan itu dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (5/10).

Nelson menyebutkan, kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan nasional yang disalurkan ke sektor properti saat ini sudah mendekati angka lima persen dari seluruh kredit macet perbankan yang disalurkan pada seluruh sektor usaha di Indonesia. Kredit bermasalah tersebut dinilai belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, terutama jika dihubungkan dengan kejatuhan sektor properti tahun 1997.

"Dengan tingkat NPL tersebut, maka Bank Indonesia tidak mengategorikannya ke dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Sehingga, kekhawatiran akan terjadinya kejatuhan sektor properti seperti tahun 1997 dulu itu tidak beralasan," katanya.

Menurut Nelson, kemungkinan terjadinya kembali krisis di bidang properti dinilai sangat kecil. Itu karena saat ini perbankan nasional yang mengucurkan kredit properti sudah memiliki manajemen risiko yang lengkap dibandingkan dengan kondisi perbankan nasional sebelum krisis tahun 1997.

"Kondisinya berbeda dibandingkan dengan perbankan nasional sebelum 1997. Sekarang mereka jauh lebih berhati-hati. Setiap bank sudah memiliki komite manajemen risiko sendiri. Lebih dari itu, mereka terikat aturan batas maksimum pemberian kredit (BMPK), yakni hanya boleh mengucurkan dana maksimal sepuluh persen pada kelompok usaha mereka sendiri," kata Nelson.

Dalam sebuah laporannya tentang Indikator Perbankan Nasional, BI mencatat bahwa nilai kredit macet hingga Juli 2004 mencapai Rp 38,4 triliun atau 7,7 persen dari total kredit perbankan nasional. Total kredit perbankan sendiri mencapai Rp 496,10 triliun.

Tidak dihambat

Sementara itu, Deputi Bank Indonesia Maman H Somantri menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengeluarkan kebijakan yang menghambat pengucuran kredit di sektor properti. Hal itu ditegaskan karena hingga saat ini seluruh kredit macet properti belum termasuk ke dalam kategori kredit yang harus diwaspadai.

"Batas kredit dan kredit macet di sektor properti hingga saat ini masih bisa ditoleransi. Bank Indonesia sendiri belum memiliki batasan yang jelas tentang tingkat kekhawatiran terhadap kredit-kredit macet perbankan nasional. Jadi kami tidak akan mengeluarkan kebijakan yang dapat menghambat pengucuran kredit ke properti," kata Maman. (OIN/FAJ)

Alvin
October 25th, 2004, 06:54 PM
INTERVIEW:Indonesia Lippo Karawaci Aims Growth Over 5 Yrs
JAKARTA (Dow Jones)--Indonesian property company PT Lippo Karawaci (LPKR.JK) expects to grow further over the next five years after recently restructuring its business.

"Over the next five years, we will be able to generate sustainable revenue from our businesses," said Lippo Karawaci President Director Viven Sitiabudi in an interview with Dow Jones Newswires.

ADVERTISEMENT


Lippo Karawaci, a unit of conglomerate Lippo Group, has merged seven smaller property companies into the main body of the company. It has also merged three previously separate business lines - property, hospitality and healthcare - into one in an effort to streamline businesses and improve efficiency.

After the business restructuring, Lippo Karawaci has a combined market capitalization of 3.5 trillion rupiah ($385 million) from around IDR750 billion previously. This represents 24% of the total capitalization of the property sector on the Jakarta bourse, or around 0.7% of total market capitalization.

By increasing its market value, Viven expects Lippo Karawaci will return to investors' radar screens.

"Higher market capitalization is one factor that could attract investors," she said.

Lippo Karawaci's share price has more than doubled since it announced the business restructuring in June, and currently trades around IDR1,725.

The restructuring has also resulted in expectations that the company's revenue will grow steadily over the next five years, she added.

This year, the company expects revenue to rise 21% to about IDR1.7 trillion, but that will be offset by the cost of business restructuring, which will likely keep its net profit steady at IDR290 billion for 2004.

The company targets its revenue to rise between 20% and 30% annually over the next five years, with revenue from hospitality and healthcare services likely to continue growing.

Lippo Karawaci runs four hospitals in greater Jakarta and Surabaya in East Java, as well as three hotels in Jakarta and on Sumatra. It hopes to have another hospital in Jakarta next year.

The company has four mall projects under construction, and is eyeing the smaller cities in Indonesia on expectations that consumer purchasing power outside the main urban centers will continue to grow in coming years.

As part of the restructuring, Lippo Karawaci also plans to issue up to 1 billion new shares by the end of the year to raise around IDR1 trillion to help finance its business expansion, which includes plans to build hypermarkets and townships in some of the smaller cities in Java and Sumatra.

Analysts expect Indonesia's property sector to grow by more than 15% annually over the next five years, as the economy looks set to improve following the peaceful outcome to the presidential elections this year.

Alvin
October 27th, 2004, 11:56 AM
Penyerapan diduga menurun
'Mal & kondominium dominasi pasar properti'

JAKARTA (Bisnis): Tren pengembangan pusat perbelanjaan strata title (jual putus) dan proyek pre sales (bayar di depan) di sektor kondominium akan terus mendominasi pasar properti nasional dalam beberapa waktu ke depan, walau penyerapan pasarnya diperkirakan cenderung menurun, kata satu konsultan properti.
Menurut Lini Djafar, Direktur Risat PT Procon Indah, kondisi itu diikuti dengan tingkat persaingan yang kian ketat karena banyaknya pasokan yang masuk ke pasar.

Dengan peta suplai seperti itu, katanya, maka pasar sangat sensitif sekali dengan pergerakan harga yang ditawarkan oleh pengembang.

"Setiap kenaikan harga akan direspons oleh pasar dengan cara menghindar membeli dan beralih pada produk lain. Pasar kan dipenuhi oleh suplai yang cukup besar, sehingga pasar menjadi kuat bargaining-nya terhadap pemasok," katanya dalam ulasan pasar properti yang dilakukan oleh perusahaan itu di Jakarta kemarin.

Karena tingginya tingkat sensitivitas pasar terhadap kenaikan harga produk properti, lanjutnya, maka akan memberikan pengaruhi terhadap harga properti menjadi lebih stabil.

Dia menegaskan soal harga juga akan menjadi kunci dari pemasaraan properti karena pertimbangan pasar sangat dipengaruhi oleh masalah itu.

Sementara kegiatan investor di sektor pasar kondominium pre sales, menurut Lini, cenderung pula memilih melihat dan menunggu (wait and see) yang disebabkan oleh dua hal yaitu pilihan produk properti yang begitu banyak di pasar, sehingga selektif memilih dan adanya opsi peluang investasi baru, di antaranya terjun ke reksadana.

Keadaan ini, dia menambahkan sangat penting dipahami karena sebagian besar pembeli produk properti saat ini adalah para investor yang berharap keuntungan dari investasi yang mereka lakukan.

Untuk proyek pusat perbelanjaan strata title sendiri, tuturnya, terlihat kalah bersaing dengan produk sejenis yang bersifat sewa.

Hal itu, ditunjukkan oleh tingkat pengisian pusat perbelanjaan yang sistem sewa yang lebih tinggi ketimbang strata title, di mana untuk sistem sewa 91,33%, sementara untuk strata title 71,65%.

Sentimen positif

Lini menambahkan hal positif yang tengah terjadi di sekitar properti, adalah antisipasi sentimen investor asing yang positif atas Presiden dan pemerintahan baru sehinga diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap sektor terkait dengan investasi asing, seperti perkantoran, apartemen sewa, dan industri

Tingkat permintaan dari sektor ini, katanya, akan membaik dalam jangka waktu pendek sebagai akibat dari sentimen positif tersebut.

Data perkembangan pasar properti kuartal III 2004, kata Lini, menunjukan penyerapan yang signifikan terjadi di sektor ritel, apartemen sewa, dan industri.

Dia memberi contoh pada sektor pasar kawasan industrial yang berhasil meraih meraih toal transaksi sewa dan penjualan di kuartal III lalu 59,26 ha atau jadi rekor penjualan terbesar sejak 2000.

Hal itu, katanya, dipicu oleh fenomena mulai masuknya penyewa lahan industri ukuran besar dengan luas mencapai 15 hektare.

"Penyewa untuk ukuran lahan 15 hektare ini sudah lama tidak terjadi karena pada umumnya selama ini berkisar satu sampai lima hektar saja," katanya. (irs)

Alvin
November 8th, 2004, 05:23 PM
Market Capitalisation of apartment projects in Indonesia predicted to reach Rp 10 trillion next year (US$1.1 billion)


Kapitalisasi Apartemen Tahun 2004 Sekitar Rp 7,9 triliun
JAKARTA-Hingga tahun 2007, ribuan unit apartemen akan menambah pasok jumlah unit yang telah ada. Ini mencerminkan pola dan gaya hidup masyarakat Indonesia sudah mulai berubah.

Dalam rentang waktu antara 1981 hingga 1999 lalu, pasokan apartemen belum begitu banyak. Dibandingkan saat ini, pasokan apartemen meningkat hampir mencapai 50 % dari periode tersebut. Kapitalisasinya pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan bisnis properti secara umum terlihat dari pertumbuhan pembangunan apartemen dan juga pusat belanja.

Dari data Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), pada periode tahun 1981-1999, pasokan apartemen hanyan mencapai 25.000 unit. Namun, selama 10 tahun terakhir, pasokan apartemen meningkat dengan tajam. Diperkirakan pada tahun 2007, pasokan apartemen khususnya Jabotabek terus bertambah mencapai 40.000 unit.

Pasokan ini memang cukup besar. Pengembang atau developer seakan ingin memberikan pilihan kepada masyarakat yang kembali tumbuh keinginannya untuk berdomisili di kota. Dengan demikian, jarak antara tempat tinggal menuju kantor atau tempat kerja dapat ditempuh dengan waktu yang tidak begitu lama.

Sedangkan kapitalisasi yang tercatat dari maraknya pembangunan apartemen terus meningkat. Pada tahun 2003, kapitalisasi yang pada pertumbuhan apartemen adalah sebesar Rp 4,38 triliun. Tahun 2004 dan 2005 diperkirakan meningkat menjadi Rp 7,9 triliun dan Rp 9,95 triliun merupakan puncaknya.

Alvin
November 30th, 2004, 03:43 AM
'Prospek bisnis realestat di RI dan Malaysia cerah'

JAKARTA (Bisnis): Chairperson Goldhill Properties PTE LTD William Goei menilai prospek bisnis properti atau realestat di Indonesia dan Malaysia paling baik saat ini untuk Asean, sehingga banyak yang berminat berinvestasi di bidang itu.
"Di sini [Indonesia] pasarnya besar dan harga tanahnya masih murah. Ini menarik untuk bisnis properti. Hal yang relatif sama terjadi di Malaysia," katanya di Jakarta pekan lalu.

Menurut dia, Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang relatif masih belum jenuh bisnis propertinya, sehingga bisa menjadi daerah berbisnis properti yang menjanjikan.

Dia memberikan contoh di Jakarta masih bisa di dapatkan landbank (cadangan tanah) dengan harga Rp1 juta per m2, sementara hal itu tidak akan pernah lagi didapatkan oleh pengembang di Singapura.

Dengan perbandingan semacam itu, lanjutnya, maka pengembang kalau mau mengembangkan proyek properti di Indonesia tidak perlu mengeluarkan investasi dalam jumlah yang besar.

Menurut dia lagi, dengan input yang sedemikian murah, maka akan memberikan pengaruh positif bagi produk realestat untuk menjadi properti yang murah dan terjangkau oleh konsumen.

Goldhill Properties adalah perusahaan pengembang properti terkemuka yang berbasis di Singapura dengan proyek propertinya sudah tersebar di Singapura, Australia, dan Malaysia.

Beberapa proyek yang telah dikembangkan perusahaan itu a.l. Goldhill Plaza di Singapura, Wisam Goldhill, Wisma Technip di Malaysia, dan Marriot Brisbane di Australia.

William mengatakan perusahaannya melihat peluang bisnis realestat di Malaysia dan Indonesia sangat baik, sehingga berminat untuk masuk ke Indonesia dan memperluas usaha di Malaysia.

Di Malaysia, lanjutnya, ada dua landbank yang dimiliki, dimana salah satunya tengah dikembangkan untuk proyek Menara Bintang Goldhill yang berada di dekat menara kembar Petronas.

Dia menuturkan pihaknya kemungkinan akan mencari mitra untuk masuk ke Indonesia dalam penggarap proyek properti.

Saat ini, katanya, proyek di Singapura dan Australia sudah mulai agak jenuh, sehingga Malaysia menjadi wilayah bisnis alternatifnya.

Dia mengakui dalam pengembangan bisnisnya selama ini banyak mendapatkan dukungan dari pihak perbankan terkemuka di Singapura, sehingga memberikan andil kesuksesan bagi setiap proyek yang digarap.

Dia mengungkapkan di Singapura bisa mendapatkan pinjaman perbankan hingga 90% dari nilai proyek, sementara di Malaysia hingga 80%.

Menurut dia, salah satu kunci sukses berbisnis adalah menjalin hubungan yang baik dengan lembaga pembiayaan atau perbankan karena lembaga itu sangat berperan untuk mendukung suatu proyek. (irs)

Alvin
December 3rd, 2004, 09:06 AM
http://www.pwcglobal.com/extweb/pwcpublications.nsf/4bd5f76b48e282738525662b00739e22/7e69661d2348e18b852569ff00190538/$FILE/JPT3Q2004.pdf

Alvin
December 7th, 2004, 05:14 PM
Prospek Perkantoran dan Kawasan Industri Bakal Menggeliat
06 Desember 2004

JAKARTA - Dua subsektor properti, yakni kawasan industri dan perkantoran, bakal menggeliat, bahkan di tahun 2005 akan kembali menguat. Itulah prediksi dari dua perusahaan konsultan properti terkemuka di Tanah Air, yaitu PT Procon Indah dan PT Colliers International Indonesia. Fakta yang terjadi di salah satu kawasan industri, yakni Jababeka, geliat pemulihan sangat terlihat jelas.

Procon menyebutkan bahwa permintaan terhadap kawasan industri pada akhir tahun mengalami peningkatan yang signifikan, terutama bersumber dari industri skala kecil dan menengah. Namun, tidak demikian halnya dengan industri skala besar.

Lini Djafar, Local Director Strategic Advisory Group PT Procon Indah, beberapa waktu lalu menyatakan permintaan tersebut mulai terlihat meningkat di wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi). “Tingkat permintaan mulai meningkat tidak hanya untuk industri kecil hingga sedang, tetapi untuk industri berskala besar juga mengalami hal yang sama. Dan kita perkirakan, harga tanah akan meningkat dalam waktu dekat ini,” ujar Lini.

PT Procon Indah mencatat harga rata-rata tanah di kawasan industri, dalam denominasi rupiah, mengalami penurunan. Besarnya penurunan kurang lebih 1,16 persen menjadi Rp 310,918 per meter persegi. Namun, harga dalam mata uang US$ justru menunjukkan kenaikan sebesar 1,5 persen menjadi US$ 33,9 per meter persegi.

Lini berpendapat, penurunan harga itu disebabkan permintaan yang rendah di beberapa lokasi. Oleh karenanya pemilik (owner) terpaksa menurunkan harga, namun di beberapa lokasi yang permintaan tinggi harga tanah justru dinaikkan. Survei dari PT Procon Indah juga menyebut, pada kuartal keempat tahun ini bakal masuk pasokan baru seluas kurang lebih 205 hektare, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang bertambah sebanyak 105 hektare.

Jababeka

Kondisi membaik ini juga dirasakan langsung oleh kawasan industri Jababeka. Presiden Direktur PT Jababeka Tbk Setyono Djuandi Darmono menyatakan tahun depan pihaknya bahkan mematok pertumbuhan sebesar 30 persen. Pertumbuhan sebesar itu, katanya, bersumber dari penjualan tanah, baik dari perumahan, industri, maupun komersial.

“Pertumbuhan 30 persen itu dari penjualan di Cikarang. Tetapi kita kan juga mengembangkan Cilegon dan Jakarta (Menara Batavia), sehingga bukan tidak mungkin tahun depan penjualan besarnya dua kali lipat dari saat ini,” katanya ketika menerima delegasi investasi Jepang di kawasan industri Cikarang Jababeka, Jakarta, beberapa waktu lalu. Tahun ini, Jababeka menargetkan laba bersih Rp 175-200 miliar, lebih tinggi daripada tahun lalu yang sebesar Rp 125 miliar.

Sementara itu, Hyanto Wihadhi, General Manager Industrial Division PT Jababeka Tbk, kepada SH menambahkan seiring dengan perkembangan industri ke arah Timur Jakarta, pihaknya akan mengefektifkan stok lahan yang ada. Jababeka memiliki lahan yang cukup luas.

Total keseluruhan lahan yang dimiliki mencapai 1.740 hektare, sementara yang sudah digarap adalah 790 hektare untuk Tahap I dan 230 hektare lagi pada Tahap II. Sekarang pihaknya tengah mengembangkan Tahap III seluas 350 hektare.

Dirinya berharap kedatangan delegasi investasi Jepang akan diikuti dengan kerjasama dan investasi riil dari pihak asing baik dari Jepang, Korea atau negara-negara lain.

“Kelihatannya ada angin segar. Cuma memang investor asing masih menunggu kepastian. Kira-kira pertengahan tahun depan bisa dilihat apakah mereka benar-benar akan berinvestasi,” paparnya.

Hyanto mengaku optimistis kawasan industri Jababeka akan kembali menggeliat seperti kondisi sebelum krisis. Pasalnya, investor Honda asal Jepang sebelumnya sudah menanamkan investasi yang besar di kawasan industri Cibitung. Ia yakin kawasan industri Jababeka dengan fasilitas yang dimiliki, juga akan turut bergerak.

Ekspansi

Bagaimana dengan perkantoran? Karakteristik subsektor perkantoran hampir sama dengan kawasan industri karena sangat dipengaruhi oleh investasi yang masuk ke Indonesia. PT Colliers International Indonesia dalam survei terbarunya bulan November 2004 memperkirakan, tahun 2005 pasar properti perkantoran bakal menguat.

“Pasar diharapkan menguat yang dipicu oleh tingkat hunian yang meningkat seiring dengan sentimen investor yang terus membaik,” demikian hasil survei tersebut.

Colliers mencatat, untuk tahun 2004 nyaris tidak ada penambahan atau ekspansi gedung perkantoran yang berarti bahwa pasokan tetap di angka 3,16 juta meter persegi. Untuk kawasan di luar CBD (Central Business District) Sudirman, areal di sekitar Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan, dinilai paling atraktif.

Take Up

Untuk tahun 2005 hingga 2007, sejumlah gedung perkantoran siap memasuki pasaran. Tercatat, Sudirman Plaza 1 dan 2 dengan total space 47.150 meter persegi akan masuk ke pasar di tahun 2006. Di tahun 2005, tiga gedung akan menambah pasokan, yakni Plaza Asia Sudirman, Menara Nusa Rasuna Said, dan Menara Kuningan Rasuna Said. Demikian pula dengan Grand Indonesia Hotel Indonesia seluas 80.000 meter persegi juga akan menambah pasokan di tahun 2006 seiring dengan Senayan City Forum. Dan di tahun 2007 tercatat Jakarta City Center (30.000 meter persegi) dan Westin Boutique Office di kawasan Sudirman juga akan masuk ke pasar di tahun 2007.

“Sekitar 46 persen dari proyek perkantoran di atas dijual dengan skema strata-title. Dan tren strata-title untuk perkantoran ini kita perkirakan akan terus meningkat sekalipun penjualan (take-up) untuk stok yang ada masih tergolong rendah,” jelas Colliers dalam laporannya.

Sejumlah gedung perkantoran yang diserap pasar secara signifikan di antaranya Graha Surya Internusa yang dipakai oleh Bank Danamon, Wisma Metropolitan I (HSBC), Plaza BII 2 oleh sebuah perusahaan telekomunikasi, Atrium Setiabudi Kuningan, Menara BCD dan JSEX II (oleh Microsoft Indonesia). Permintaan yang besar itu mayoritas datang dari perusahaan periklanan, perbankan dan asuransi.

“Industri perbankan masih menjadi penyewa utama di kawasan CBD (Central Business District). Ke depan kita perkirakan bank asing dan non-BUMN akan berekspansi kesana. Tren ini masih akan terus berlanjut di tahun 2005 dan tahun-tahun mendatang,” jelas laporan Colliers. (SH/rudy victor sinaga)

Sumber : sinarharapan.co.id

view the Office Market report here: http://www.colliers.com/Content/Repositories/Base/Markets/Indonesia/English/Market_Report/PDFs/JKTOff_3Q04.PDF

Alvin
January 19th, 2005, 06:51 PM
http://www.cbre.com.sg/marketwatch/APOMR_3Q04.pdf

http://www.cbre.com.sg/marketwatch/arpr_3Q04.pdf

Alvin
February 2nd, 2005, 05:18 AM
Apartemen di pinggiran mulai melingkari Jakarta

Menggeser bisnis apartemen ke ring luar Jakarta, kini, sudah menjadi ajang mainan baru bagi sejumlah pengembang untuk menggerakkan bisnis propertinya.
Sehingga tidak mengherankan jika beberapa proyek apartemen kelihatan mulai dikerjakan di beberapa wilayah di pinggiran Jakarta. Sebut saja, proyek Serpong Town Square di Serpong, Tangerang, Holiday Inn Apartemen di Bekasi, The Times Square Residence di Cibubur, Margonda Residence dan Sahid Srigading di Depok.

Kalau jalan tol punya istilah Jakarta Outer Ring Road (JORR) atau jalan lingkar luar Jakarta, maka bisnis properti apartemen mulai pula memperkenalkan Jakarta Outer Ring Residences.

Tidak lama lagi, sekitar dua tahun ke depan, kita akan menyaksikan te-gaknya gedung tinggi hingga 28 lan-tai di pinggiran Kota Jakarta.

Saat ini, beberapa di antaranya tengah dalam pengerjaan konstruksi sehingga diperkirakan pada akhir 2007 sudah banyak yang selesai dibangun.

Yang jelas, dengan adanya proses pembangunan proyek properti ini telah pula ikut andil menciptakan peluang kerja bagi ribuan tenaga kerja.

Mulai dari tenaga kuli kasar sam-pai kepada tenaga ahli. Inilah salah satu dampak positif dari maraknya pekerjaan konstruksi properti.

Beragam alasan

Balik ke masalah fenomena apartemen di pinggir Jakarta, membangun hotel di pinggir kota Jakarta mungkin sudah cukup lama dirintis pengembang. Tapi, kalau apartemen bisa dikatakan baru sekaranglah proyek itu mulai dirintis.

Pengecualian terhadap Lippo Karawaci yang memang sudah punya beberapa gedung tinggi hunian dan perkantoran terlebih dahulu di kawasannya di Karawaci.

Mulai dari gedung megah Amartapura, Kondominium Golf, dan Menara Matahari.

Mulai bermainnya pengembang untuk proyek apartemen di ring luar Jakarta dilatarbelakangi oleh beragam motivasi.

PT Cipta Properti Indonesia, sang pengembang The Times Square Residence, misalnya, beralasan bahwa eksekutif Jakarta membutuhkan hunian alternatif sebagai pelengkap rumah berdiam mereka.

Berdasarkan hasil survai yang mereka dapatkan, apartemen adalah produk papan yang baru menjadi sebatas tempat berdiam alternatif bagi masyarakat Indonesia.

Dengan alasan itu maka tidak sepenuh apartemen perlu ditawarkan di area Jakarta inti, tapi bisa saja di daerah penyangga seperti Cibubur yang relatif dekat aksesnya ke Jakarta.

Lain lagi, PT Dinamika Karya Utama, pengembang Serpong Town Square. Manajemen perusahaan ini justru ingin membentuk sentra aktivitas ekonomi baru di wilayah yang mereka anggap sudah mulai berkembang seperti Serpong. Tapi lagi-lagi dengan embel-embel ada kedekatan akses dengan Jakarta.

Serpong Town Square dianggap sebagai produk yang bisa menarik terbentuknya sebuah komunitas bisnis baru karena adanya perpaduan pusat perdagangan (trade center) dengan kondominium.

Perpaduan itu setidaknya punya maksud saling memancing, yaitu apartemen memancing pelanggan pusat perdagangan (untuk membeli unit apartemen) dan pusat perdagangan memancing penghuni apartemen untuk berbelanja di situ.

Pengembang lainnya juga punya alasan kuat dengan pilihan mengembangkan apartemen di Bekasi dan Depok.

Dari semua alasan yang dikemukakan para pengembang kreatif itu mencerminkan adanya dua alasan utama.

Pertama, sudah adanya pasar di wilayah yang menjadi daerah pengembangan apartemen mereka. Seperti Depok dianggap sudah punya pasar kalangan kampus yang dianggap punya potensi terhadap pasar properti.

Dalam hal ini mereka akan memilah pasar terhadap kalangan kampus yang punya kemampuan ekonomi tinggi yang jumlahnya cukup memadai untuk me-launching satu atau dua proyek apartemen.

Atau juga Bekasi yang menjadi kawasan industri. Potensi pasar dari kalangan ekspatriat yang bekerja di industri sepanjang Bekasi dan sekitarnya menjadi harapan besar bagi pasar properti.

Kedua, menarik pasar di Jakarta ke daerah pinggiran. Apartemen di pinggiran diharapkan bisa menarik orang berduit yang bekerja di Jakarta untuk membeli apartemen di pinggiran itu. Hal ini untuk properti perumahan sudah terbukti berhasil.

Sehingga sekarang banyak proyek rumah yang berkembang di daerah pinggiran, mulai dari kelas standar hingga mewah.

Dari berbagai proyek yang telah dirilis terdapat gambaran harga yang lumayan miring. Hal ini tentu saja kalau dibandingkan dengan proyek serupa di wilayah inti Jakarta.

Apartemen di pinggiran berkisar pada harga Rp60 juta hingga Rp500 juta, sementara kalau di Jakarta berkisar Rp170 juta hingga Rp3 miliar. Kalau yang untuk disewakan sudah pasti harga sewa juga akan berbeda jauh antara ke-duanya.

Jakarta pusat kekuatan

Tidak dapat dipungkiri bahwa Jakarta adalah magnet utama dari segala gerak bisnis. Kalau ada investor yang tidak punya kantor atau aktivitas di Jakarta maka belumlah yang bersangkutan disebut pengusaha besar.

Ilustrasi itu menggambarkan betapa kekuatan ekonomi nasional bertumpu di Jakarta. Sebagian besar dari kaum kaya raya di republik ini adalah orang-orang yang berada di Jakarta.

Di kantong dan brankas merekalah tersimpannya hampir 85% dari dana yang beredar di Indonesia. Fakta ini secara bisnis menjadi mutiara pasar bertahta berlian bagi kegiatan bisnis dan produk apapun.

Pengembang tentu menyadari betul dengan kondisi ini, sehingga apapun yang dibuat untuk berdagang properti maka pasar di Jakarta tetap harus diperhitungkan menjadi variabelnya.

Namun, karena kini ada kekhawatiran munculnya kejenuhan pasar Jakarta, maka gerakan memilih beralih ke pinggiran menjadi salah satu kreativitas untuk tetap memperkuat pasar di Jakarta. Jadi, ada kiat untuk melebarkan area tanggapan pasar dan unsur memperkuat pasar Jakarta yang diramal turun.

Berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya pengembangan suatu proyek apartemen di pinggiran Jakarta menjadi suatu bukti bahwa kreativitas dan inovasi tidak pernah padam dalam bisnis properti.

Berlaku prinsip, dimana ada peluang di sana akan ditancapkan tiang bendera bisnis. Walau mungkin harus membiasakan yang tidak biasa.

Bukankah pula dalam sejarah panjang hidup anak Adam terbukti bahwa yang tidak biasa itu justru biasanya yang menjadi pemenang.

Oleh Irsad
Wartawan Bisnis Indonesia

Alvin
April 5th, 2005, 09:49 AM
I've also posted this in the Pacific Place thread, Projects section :)

In Jakarta, real estate gets a new lease of life

Donald Greenlees International Herald Tribune
Monday, April 4, 2005

JAKARTA Lately the Indonesian property magnate Tan Kian has been selling, on average, almost one apartment a day. That is good business, considering that each of his luxury apartments in central Jakarta sells for $1 million to $2 million. ‘‘We have no ads,’’ Tan said of the 80 units in his Pacific Place development, due to open in 2006. ‘‘We are selling by invitation only. In the past two months, I think we have sold about 58 percent.’’ The rapid sales and high prices of Tan’s apartments in a string of developments altering the Jakarta skyline are evidence of a new business confidence after years of economic stagnation and political uncertainty.

In the midst of an economic upswing, developers are rushing to complete shopping malls, hotels, office towers and apartment buildings. In Jakarta alone, 72 apartment buildings are due to be completed by the end of 2007, according to Colliers International, a property analyst. Developers are also currently planning or building 19 major retail centers. The cranes dotting the city feed the ebullient mood in business, in contrast to the deserted construction sites that were the most visible signs of economic wreckage after the 1997 financial crisis. More than $2 billion is estimated to have been invested in construction projects in central Jakarta. The scale of construction investment is reminiscent of the pre-crisis days of former President Suharto, as are the projected economic growth rates. In this year’s budget, the Indonesian government forecast growth of 5.5 percent, while the International Monetary Fund says that with continued economic changes, ‘‘over the medium term, Indonesia’s economy could grow in the 6 percent to 7 percent range.’’ The growth is coming mainly from consumer demand and some increase in private investment. The banks appear to share the enthusiasm for the construction sector. From the start of 2004, lending for construction has risen 60 percent, to 19.6 trillion rupiah, or $2.1 billion, according to figures from Bank Indonesia, the central bank.

Still, there are a few voices of caution, including Bank Indonesia, which has warned against excessive growth in real estate lending. Michael Broomell, managing director of Colliers International Indonesia, says that some property developers overstate the extent and speed of sales. With the apartment supply expected to double over the next three years, he said, the risk of an oversupply is great. ‘‘How is it going to get absorbed?’’ Broomell asked. ‘‘Even if the developers can sell it, who is going to live in it?’’ As for the rapid growth of retail space, he adds: ‘‘I wonder whether there will be lights on.’’ Still, developers say that buyers are plentiful. Large numbers of people purchase apartments even before they are built in anticipation of a quick capital gain. Developers say some projects are sold out by the time of completion, including those with million-dollar price tags. Tan’s 60-unit luxury Airlangga Apartment, attached to a Ritz Carlton Hotel that he is also building, is sold out ahead of its planned opening on May 1. Tan says his privately held Dua Mutiara Group will own 21 completed buildings by the end of 2006. He has $1 billion in projects under construction. Tan, who inherited from his father a company with interests in chemical dyes and seafood supply, said he survived the economic crisis by being cautious. ‘‘We kept our debt very low,’’ he said. ‘‘We are a conservative family; we grow our business conservatively.’’

Funding for his projects, including the sprawling Pacific Plaza with its 1.6-kilometer, or one-mile, pedestrian walk, retail arcade, hotel and apartments, comes ‘‘mostly from advance sales of the apartments and current income,’’ he says. But Tan is familiar with both business and political risks in Indonesia. His JW Marriott Hotel was the target of a terrorist bomb in 2003 that killed 12 people, closed the hotel for several weeks and cost $8 million in repairs and lost sales. The Marriott, directly opposite Tan’s Airlangga Apartment and Ritz Carlton, is now heavily fortified. Even so, another bombing outside the Australian Embassy last year cut hotel occupancy rates in half, although they recovered to almost 70 percent in March. The dangers posed by the security situation are underscored by the origins of the money feeding the property boom. Analysts and business people say that Indonesians, particularly those of Chinese origin, who deposited money in offshore safe havens during the economic crisis and political instability after 1997 are bringing it back. ‘‘If you talk to business people they say that the money that has come into Indonesia is mostly money that was parked by Indonesians in Singapore and Hong Kong,’’ says Muhammad Chatib Basrie, research director of the Institute of Economic and Social Research at the University of Indonesia. He says that this capital inflow, which rose strongly in the final months of 2004, has fueled the growth in property prices and the stock market. Investors have been looking for, and getting, quick returns. The Jakarta Stock Exchange composite index was up 45 percent last year and is up 7 percent so far this year. Tan says apartments that sold off-the-plan for $1.6 million last year fetched $2 million by the time construction was finished. But he knows the good times can go as quickly as they come. ‘‘You have to show it is safe to invest,’’ he says. International Herald Tribune

Alvin
April 27th, 2005, 12:54 PM
Condo, apartment supply stagnant, prices slightly rise
Abdul Khalik, The Jakarta Post, Jakarta

Delays in completion of several condominium and apartment projects have caused the supply for both sectors to stagnate in this year's first quarter, according to recent data.

Coldwell Banker Commercial Indonesia said in its quarterly overview on the Greater Jakarta property market that the total stock of condominiums at the end of the first quarter of 2005 stood at 35,001 units, with 7,977 units in prime locations and the remaining 27,024 units in secondary areas.

The property brokerage company also reported that total stock of apartments remained at 10,549 units, similar to last year.

Positive market sentiment and speculative influence due to the March 1 fuel price hike have driven up the average selling price of condos to Rp 8.31 million (US$852) per square meter, a 5.19 percent increase from December 2004.

Meanwhile, ongoing condominium construction projects -- including the Sudirman Mansion, SCBD Suites, Senayan Residence, Mediterania Lagoon Residence and Mediterania Boulevard Residence -- have achieved between 90 percent and 100 percent absorption rates.

Coldwell has forecast that the condominium market would remain buoyant in the short term as developers continue to flood the market with plenty of supply.

It added that there were 68 condominium blocks under construction, and that would bring it to a total of 45,000 units over the next three years and would also create tougher competition, falling occupancy levels and declining sales prices.

While rental fees for apartments remain relatively stable, according to Coldwell, ranging between US$2.84 and $27.06 per square meter per month, an increase of 0.72 percent from December.

About 85 apartment units were leased in this year's first quarter, totaling 7,776 units that have been leased since 1999.

Coldwell said two apartment projects were expected to finish by mid 2005, namely the Aston Rasuna with 96 units and the Marriott Executive Apartment with 72 units, both of which are in South Jakarta.

For leasable retail properties, Coldwell said overall occupancy in this year's first quarter increased by 0.59 percent, compared to the first quarter in 2004 although no new retail center was completed during the quarter.

The vibrant condition forced rental prices to increase by 6.88 percent to Rp 260,373 per square meter monthly for secondary locations and to Rp 570,938 per square meter for primary locations.

For strata-titled properties, the stock remains at 1.03 million square meters as no new supply was added due to delayed construction.

The selling price for strata-titled retail property remains stable in the range of Rp 50 million to Rp 283 million per square meter, while projects under construction are offered at Rp 30 million to Rp 98.5 million per square meter, an increase of 6.63 percent over the fourth quarter 2004.

For office buildings, a 96,000-square-meter leasable property is ready to come onto the market as well as a 26,000 mý strata-titled property.

Rents have remained stable since the end of 2004, with slight adjustment of less than 1 percent in both U.S. dollar and rupiah currencies. Rental prices for prime office space, on average is at US$6.99 per sqm monthly or Rp 66,105 per sqm a month.

The selling price of strata-titled space in prime markets range between Rp 6.8 million and Rp 19.4 million. On average, prices have gone up by 7.88 percent compared to the same period last year.

Alvin
May 10th, 2005, 05:30 PM
2 May 2005:

Bisnis Properti 2005: Booming Atau Over-Supply?

Para pengembang papan atas seakan-akan tak pernah kehabisan energi untuk melakukan ekspansi. Meski gerak ekspansi sudah dilakukan sejak tahun 2000 silam, tahun 2005 ini pun para pengembang itu tetap saja berusaha mengembangkan sayap bisnis propertinya. Mereka sepertinya belum berniat untuk berhenti membangun berbagai proyek properti, seperti perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan (mal dan trade center), dan yang lainnya. Walaupun mulai muncul suara-suara yang mulai mengkhawatirkan akan terjadinya over-supply di pasar properti, namun tak sedikitpun mengurangi gairah optimisme para pengembang di tahun ayam ini.

Para pengembang besar yang tetap sibuk melakukan ekspansi di bisnis properti pada tahun 2005 ini, antara lain, Grup Agung Podomoro, Grup Agung Sedayu, Grup Djarum, Grup Lippo, Grup Gapura Prima, Grup Summarecon Agung, Grup Mutiara (yang dipimpin taipan Tan Kian), Grup Duta Pertiwi, Grup Jakarta Setiabudi Internasional (Yan Darmadi), Grup Djayakarta (Pudjiadi), Grup Ciputra, Grup Artha Graha, Grup Wings, Grup Salim, Grup Bakrie, Grup Duta Putera, Grup Jababeka, Grup Modern, PT Fajar Surya Perkasa (dengan proyeknya Daan Mogot Baru), Grup Berca, PT Rekapastika Asri (megaproyek The Blue Oasis City), PT Jakarta Kemayoran (proyek Mega Glodok), Grup Brasali, Grup Wisma Mas, Grup Melati Mas, Grup Suryamas Duta Makmur, Grup Jaringan Selera Asia, Grup Pelita, dan Grup Pakuwon (Surabaya).

Bahkan pemain properti yang sudah lama tidur panjang sejak diterpa krisis moneter pada tahun 1998, seperti Grup Duta Anggada dan Grup Dharmala, mulai bersiap-siap kembali mengayunkan langkah ekspansinya. Para pengembang papan atas itulah yang akan meluncurkan proyek baru pada tahun 2005 ini, atau melanjutkan proyek lama yang sudah digarap sebelumnya.

Memang, pertumbuhan bisnis properti pada tahun 2005 (khususnya sub-sektor komersial) lebih diwarnai oleh kesibukan pembangunan berbagai proyek properti -- dan memasarkan sisa-sisa unit yang belum terjual, sebagaimana telah dimulai sejak lima tahun belakangan ketimbang meluncurkan proyek-proyek baru. Itu pula sebabnya banyak kalangan yang memperkirakan, bahwa booming bisnis properti akan terjadi pada tahun 2005 ini. Selanjutnya, bisnis properti akan mulai berbalik arah pada tahun berikutnya. Dengan perkataan lain, pertumbuhan bisnis properti semakin menurun, atau negatif, bahkan di tahun berikutnya kemungkinan pasar properti bisa mengalami crash (jatuhnya harga-harga properti) akibat oversupply sebagaimana pernah terjadi pada tahun 1998 silam. Pandangan seperti itu dapat dimaklumi mengingat pertumbuhan bisnis properti selama 5 tahun terakhir pasca krisis yang cukup tinggi, rata-rata antara 10 - 50 persen per tahun. Pertumbuhan bisnis properti bahkan bergerak secara konsisten, dan itupun diluar perkiraan banyak kalangan bisnis.


Nilai Kapitalisasi Bisnis Properti 2005

Berdasarkan riset dan analisis pasar yang dilakukan oleh Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), pertumbuhan nilai kapitalisasi bisnis properti, yang mencakup perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan (mal dan trade center), hotel, perkantoran, dan rumah toko (ruko) pada tahun 2005 ini mencapai 11%, dari Rp 63 triliun pada tahun 2004 menjadi sekitar Rp 70 triliun.

Dilihat dari nilai kapitalisasinya, pusat perbelanjaan (mal dan trade center) di kawasan Jabotabek dan di luar Jabotabek memberikan kontribusi yang paling besar terhadap seluruh nilai kapitalisasi bisnis properti tahun 2005, sekitar 47 persen atau Rp 33 triliun. Angka ini memang menurun sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu, yakni sebesar Rp 37 triliun. Penurunan angka nilai kapitalisasi ini, sepintas menunjukkan penurunan aktivitas pembangunan proyek-proyek pusat perbelanjaan mal dan trade center yang baru. Sebaliknya, nilai kapitalisasi pasar perumahan justru meningkat cukup pesat, yakni tumbuh sekitar 20 persen dari Rp 12,5 triliun menjadi Rp 15 triliun. Meskipun demikian, kontribusinya terhadap total nilai kapitalisasi bisnis properti th 2005, kurang dari separuh nilai kapitalisasi pusat perbelanjaan yaitu sekitar 21 persen.

Selanjutnya, proyek apartemen, baik di Jabotabek maupun di luar Jabotabek, meskipun nilai kapitalisasi bisnisnya Rp 12 triliun atau hanya memberikan kontribusi sekitar 17 persen terhadap total kapitalisasi bisnis properti tahun 2005. Namun nilai kapitalisasi bisnis apartemen ini justru meningkat sekitar 50 persen yakni dari Rp 8 triliun pada tahun 2004. Kenaikan angka nilai kapitalisasi bisnis Apartemen sekaligus menggambarkan bahwa gairah ekspansi bisnis Apartemen di Jabotabek dan di luar Jabotabek masih berlanjut di tahun-tahun mendatang. Sedangkan bisnis ruko walaupun pasarnya mulai "digerogoti" oleh penjualan kios-kios di trade center, nilai kapitalisasinya masih tetap tumbuh 17 persen, dari Rp 6,8 triliun menjadi Rp 8 triliun, atau memberikan konstribusi 11 persen terhadap total kapitalisasi bisnis properti th 2005. Sedangkan sisanya, sekitar 4 persen lagi, atau Rp 2 triliun lebih, merupakan kontribusi dari proyek hotel dan perkantoran di luar Jabotabek. Nilai kapitalisasi proyek perhotelan dan perkantoran diperkirakan hampir stagnan pada tahun 2005 ini.

Mengapa pasar hotel dan bisnis perkantoran relatif stagnan, tidak tumbuh secara signifikan? Penyebabnya, belum pulihnya sektor pariwisata, dan masih tersendatnya arus investasi asing yang masuk ke Indonesia. Bahkan pada tahun 2004, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), angka persetujuan penanaman modal asing (PMA) turun 27 persen, dari US$ 13,05 miliar pada tahun 2003 menjadi US$ 10,28 miliar. Dengan kata lain, perkembangan pasar perkantoran dan perhotelan tergantung dari kemampuan pemerintah menarik arus modal masuk dari investor asing ke Indonesia.

Dari nilai kapitalisasi bisnis properti tahun 2005 itu, tampak bahwa hanya dua sub-sektor properti yang masih mencetak pertumbuhan cukup pesat, yaitu perumahan, ruko dan apartemen yang masing-masing tumbuh 17, 20, dan 50 persen. Sedangkan pusat perbelanjaan (mal dan trade center), meski tingkat pertumbuhannya tidak lagi sepesat tahun 2004, namun nilai kapitalisasinya hampir separo dari total nilai kapitalisasi bisnis properti tahun 2005.

Kenapa demikian? Sebab, jumlah pusat perbelanjaan (mal dan trade center) yang dibangun oleh para pengembang sejak tahun 2000 hingga saat ini tetap tumbuh. Hal ini selain dipicu oleh kegairahan sektor konsumsi yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir, juga disebabkan masih tingginya kepercayaan para pengembang terhadap prospek bisnis retail di Indonesia.

Namun demikian, kekhawatiran berbagai kalangan mengenai kemungkinan terjadinya oversupply di pusat-pusat perbelanjaan (terutama trade center), di lokasi tertentu yang kemungkinan tidak terlalu sesuai dengan kebutuhan pasar setempat, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Apalagi belakangan ini, pasokan unit-unit kios di trade center jumlahnya bisa mencapai 7.000 hingga 10.000 unit di setiap proyek.

Berbeda dengan pasar properti lainnya, bisnis apartemen yang juga tumbuh begitu pesat dalam lima tahun terakhir, diperkirakan masih tetap bergairah pada tahun 2005 ini, khususnya pasar apartemen yang harganya di bawah Rp 500 juta per unit. Peluang pasar pada segmen ini diperkirakan masih cukup besar, asalkan pengembang membangun proyek apartemennya di lokasi yang tepat, seperti dekat dengan pusat perkantoran, kawasan industri, dan pusat perdagangan. Begitu pula halnya dengan bisnis perumahan. Sepanjang perekonomian nasional menunjukkan pertumbuhan yang positif, inflasi dan suku bunga relatif rendah dan stabil, maka pemulihan tingkat daya beli masyarakat untuk membeli rumah akan terus berlangsung. Ini akan memicu kegairahan sektor perumahan ditahun-tahun mendatang.

Prospek Pendanaan tahun 2005

Bergairahnya bisnis properti pada tahun 2005, tidak lepas dari dukungan pihak perbankan dalam mendanai sektor properti. Beberapa bank besar diperkirakan tetap konsisten menyalurkan kreditnya ke sektor properti, terutama kepada konsumen lewat kredit pemilikan rumah (KPR) yang suku bunganya cukup rendah, berkisar 11 - 13 persen per tahun. Pada tahun 2005 ini pula sektor perbankan lewat kredit konstruksi dan kredit real estat mulai bersiap untuk mendanai proyek-proyek yang dibangun oleh para pengembang yang dinilai prospektif.

Bila pada tahun-tahun sebelumnya untuk membangun proyek-proyek propertinya para pengembang lebih mengandalkan modal sendiri ditambah dengan uang muka yang diterima dari para konsumen, maka pada tahun ini pengembang akan lebih berani meminjam dana dari bank. Terutama bagi pengembang yang telah berhasil menjual sebagian besar unit-unit propertinya. Di sisi lain, pihak perbankan menyadari pula bahwa risiko pembiayaan proyek properti saat ini telah menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Dengan demikian, berdasarkan riset PSPI, pertumbuhan kredit properti pada tahun 2005 diperkirakan akan meningkat signifikan, yakni rata-rata mencapai 23 persen, dari Rp 64 triliun pada tahun 2004 menjadi sekitar Rp 78,5 triliun.

Laju pertumbuhan kredit yang terbesar akan terjadi pada subsektor KPR, yaitu tumbuh sebesar 26%, dari Rp 38 triliun menjadi Rp 48 triliun. Peringkat kedua laju pertumbuhan kredit properti ditempati oleh subsektor konstruksi, yang meningkat sebesar 19 persen, dari Rp 16 triliun menjadi Rp 19 triliun. Kemudian diikuti oleh subsektor kredit real estat yang tumbuh 15 persen, dari Rp 10 triliun menjadi Rp 11,5 triliun.

Dengan dukungan pendanaan dari perbankan itu, maka bisnis properti pun diperkirakan akan tetap melaju dengan cepat pada tahun 2005 ini. Meski demikian, banyak pula kalangan yang khawatir (terutama para pengembang), atas dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (yang akan dilakukan pemerintah pada tahun ini) terhadap pergerakan bisnis properti. Jika harga BBM naik, maka otomatis harga bahan-bahan bangunan pun akan ikut terkerek. Selain itu, kenaikan harga BBM juga kemungkinan akan mendorong naiknya laju inflasi yang selanjutnya akan memicu kenaikan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan kredit KPR/konstruksi. Perkiraan, antisipasi dan spekulasi semacam itu memang sah-sah saja, apalagi jika dikaitkan dengan kejadian-kejadian yang sama (gejolak perekonomian) di masa sebelum krisis, sebelum terjadinya decoupling (pemisahan fenomena politik dan ekonomi).

Namun, berdasarkan riset PSPI, bila Bank Indonesia (BI) tetap konsisten menjaga laju inflasi lewat kebijakan moneter yang "lebih ketat", sepanjang depresiasi nilai rupiah terhadap US$ tetap terjaga, dan jumlah uang yang beredar tak melampaui batas yang ditargetkan oleh BI, maka kemungkinan lonjakan tingkat inflasi dan suku bunga SBI diperkirakan tidak akan mengganggu perputaran roda bisnis properti tahun 2005. Dengan kata lain, pergerakan variabel ekonomi makro pada tahun 2005 gambarannya tidaklah sekelam yang diduga banyak kalangan. PSPI berkeyakinan, SBI akan bergerak antara 7,5 - 8,0 persen, sedangkan laju inflasi tidak akan lari jauh dari level 7 persen, sementara kurs rupiah akan stabil pada kisaran Rp 9.000 - 9.200/US$.

Jika kondisi ini yang terjadi, maka bisnis properti akan bergerak cukup pesat pada tahun 2005 ini, sebagaimana yang diuraikan sebelumnya.. Sementara itu berdasarkan riset PSPI, kenaikan harga properti akibat naiknya harga bahan-bahan bangunan tidak akan lebih dari 10 - 15 persen. Kenaikan harga properti pada kisaran itu bukan merupakan hal yang luar biasa. Kenaikan harga sebesar itu boleh dikatakan "normal" apalagi bila terjadi pada saat permintaan properti dalam kondisi pasar yang relatif stabil alias tidak bergejolak.


Penjualan Rumah Baru dan Rumah Seken

Penjualan rumah yang pada tahun 2004 mencapai 159.000 unit diperkirakan akan tumbuh 30 persen hingga mencapai 193.000 unit. Peningkatan angka penjualan rumah itu terjadi karena dipicu naiknya penjualan rumah kategori rumah sederhana sehat (RSH) seharga di bawah Rp 50 juta/unit dari 55.000 unit pada tahun 2004 menjadi sekitar 83.000 unit pada tahun 2005. Sedangkan kenaikan penjualan rumah segmen lainnya, baik rumah sederhana (RS), rumah menengah, maupun rumah mewah, tidak menunjukkan kenaikan yang drastis. RS Non-Subsidi dari Bank BTN dengan harga rata-rata antara Rp 50 - Rp 100 juta/unit cuma beringsut dari 41.500 unit ke 43.900 unit. RS Non-Subsidi dari bank swasta dengan harga rata-rata Rp 100 - 150 juta/unit meningkat dari 46.790 ke 48.450 unit. Rumah menengah seharga rata-rata Rp 150 - Rp 500 juta/unit naik dari 12.4540 menjadi 14.800 unit, dan rumah tipe mewah seharga Rp 500 juta/unit hanya meningkat sedikit, dari 3.200 ke 3.500 unit.

Pertumbuhan penjualan rumah segmen menengah seharga Rp 200 - 500 juta/unit dan rumah mewah dengan harga di atas Rp 500 juta/unit pada tahun 2005 yang tidak begitu signifikan, disebabkan oleh ekspansi bisnis apartemen menengah beberapa tahun belakangan ini, yang sedikit banyak telah "menggerogoti" pasar perumahan segmen menengah. Sebaliknya, melonjaknya penjualan RSH tak lepas dari pembentukan institusi baru, yakni Kantor Menteri Negara Perumahan Rakyat pada Kabinet Indonesia Bersatu, sehingga kebijakan pembangunan rumah akan jauh lebih fokus ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan peningkatan angka penjualan rumah sederhana non subsidi dan menengah hanya bergerak antara 5 - 10 persen dibandingkan tahun 2004.

Hal ini sekaligus menggambarkan pemulihan tingkat daya beli kelompok konsumen menengah-bawah pasca krisis, lebih lambat dari kelompok konsumen menengah-atas. Disinilah perlunya peranan pemerintah untuk mengintervensi pasar lewat kebijakan penyediaan subsidi KPR bagi kalangan berpenghasilan rendah.

Pertumbuhan pasar perumahan akan tersebar di kota-kota besar di berbagai daerah, seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Riau (khususnya Batam), Kalimantan Timur, dan Bali. Khusus di Jabotabek, pasar perumahan yang akan tetap semarak adalah di kawasan Bekasi, Tangerang (terutama Serpong), Depok dan Cibubur.

Nilai transaksi penjualan rumah primer secara nasional diperkirakan akan mencapai lebih dari Rp 15 triliun. Angka penjualan itu naik 30 persen dibandingkan penjualan tahun 2004 yang mencapai Rp 11,5 triliun. Sementara di pasar sekunder, angka penjualan rumah di kota-kota besar terutama di Jabotabek, diperkirakan akan meningkat 20 persen. Peningkatan penjualan rumah seken ini tampak dari transaksi pasar sekunder yang dilakukan oleh para broker profesional yang sebagian besar dikuasi oleh franchise asing, seperti Ray White, Era Indonesia, Century 21, Raine & Horne, LJ Hooker, Roy Weston Indonesia, dan Coldwell Banker. Total nilai transaksi rumah seken itu pada tahun 2005 diperkirakan akan mencapai Rp 14 triliun, atau meningkat 18 persen jika dibandingkan dengan angka penjualan pada tahun 2004 yang mencapai Rp 12 triliun.

Khusus di Jabotabek, pusat-pusat transaksi pasar sekunder akan terkonsentrasi di kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, Kelapa Gading, Pondok Indah, Pluit, Pantai Indah Kapuk, Pantai Mutiara, Tangerang, Serpong, dan Cibubur.

Pasar Pusat Perbelanjaan

Perkiraan berbagai kalangan mengenai kemungkinan oversupply pusat perbelanjaan khususnya unit-unit kios baru di trade center, sedikit banyak akan mempengaruhi perilaku para end-user (pedagang) dan investor dalam menetapkan pilihannya membeli unit kios di trade center. Dengan kata lain persaingan diantara para pengembang untuk menjual sisa unit-unit trade centre-nya akan lebih sengit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, perkembangan pasar trade center akan lebih ditentukan oleh perilaku para para pedagang yang memiliki rencana ekspansi usaha di kawasan-kawasan tempat lokasi proyek trade center yang baru dibangun oleh para pengembang.

Jika para pedagang tetap berkeyakinan bahwa prospek kawasan pembangunan trade center baru itu masih menjanjikan, mereka tetap akan membelinya meskipun mereka sadar bahwa untuk menciptakan keramaian di trade center itu biasanya memerlukan waktu paling tidak 2 - 3 tahun, sebagaimana terjadi di ITC Roxy Mas dan ITC Cempaka Mas. Sedangkan para investor yang membeli unit-unit trade centre dengan motif untuk disewakan kembali kepada para pedagang, tidak punya pilihan lain kecuali melepas unit-unit trade centre-nya atau menunggu hingga dua atau tiga tahun sampai trade center itu ramai. Hal ini sangat tergantung dari holding power dan ekspektasi dari para investor tersebut terhadap perekonomian. Dan selama suku bunga deposito masih rendah, inflasi terkendali maka prospek properti sebagai alat investasi bagi mereka, tetap dipandang menjanjikan.

Di sisi lain, pergerakan pasar trade center juga akan ditentukan oleh perilaku pengembangnya. Apakah mereka lebih berorientasi pada upaya mengerek harga unit-unit kiosnya untuk memancing para spekulan lebih banyak lagi yang masuk ke pasar, atau berusaha menciptakan keramaian di trade center-nya?

Para pengembang trade center perlu mengembangkan kiat dan strategi promosi agar kawasan trade center yang telah selesai dibangun segera menjadi pusat keramaian. Caranya dengan merangkul para retailer raksasa, seperti Giant dan Carrefour sebagai anchor tenant. Selain itu, para pedagang ritel yang telah sukses berdagang di kawasan Mangga Dua dan Tanah Abang perlu ditarik untuk masuk ke trade center-nya..


Pasar Apartemen

Proyek-proyek apartemen yang sebagian besar telah diluncurkan pada periode 2002 - 2004 di Jabotabek, terkonsentrasi di Segi Tiga Emas Jakarta, Pluit, Pantai Indah Kapuk, Kemayoran, Kembangan, Cilandak, Lebak Bulus, Permata Hijau, Pondok Indah dan belakangan mulai merasuk ke Bekasi, Depok dan Serpong.

Di sisi lain, munculnya anggapan dari berbagai kalangan mengenai kemungkinan terjadinya oversupply di pasar apartemen, bukan sesuatu yang berlebihan, terutama bila dilihat dari sisi pasokan yang terus bertambah sejak masa pasca krisis hingga tahun 2005. Pada periode itu, pasar apartemen dibanjiri oleh pasokan sekitar 45.000 unit apartemen. Pasokan apartemen itu sangat luar biasa, karena selama selama tujuh tahun terakhir (1999 - 2005) setiap tahun dibangun sekitar 6.500 unit apartemen baru. Bandingkan dengan pasokan apartemen pada periode 1980 - 1998, yang "hanya" 25.000 unit, atau hanya sekitar 1.300 unit apartemen per tahun.

Meski demikian, kekhawatiran mengenai kemungkinan oversupply di pasar apartemen itu tidak akan mempengaruhi gairah pasar apartemen pada tahun 2005 ini, mengingat suku bunga deposito berjangka masih tetap rendah dan suku bunga SBI cukup stabil. Di samping itu, ekspansi sektor perbankan dalam menyalurkan KPR dengan suku bunga yang relatif rendah, diperkirakan akan membuat pasar apartemen tetap bergairah, terutama untuk unit-unit apartemen yang harganya berkisar antara Rp 200 - Rp 400 juta/unit..

Berbeda dengan pasar Apartemen premium (harga di atas Rp 1 Miliar). Dengan pasokan yang makin besar, maka para pengembang akan menemukan kondisi pasar apartemen yang semakin ketat. Peta persaingan yang kian sengit untuk memperebutkan pembeli, akan mewarnai pasar apartemen sepanjang tahun 2005, terutama di suatu kawasan yang pasar apartemennya kebanjiran supply. Karena itu, para pengembang akan berupaya untuk menciptakan gimmick marketing agar unit-unit apartemennya tetap terjual. Sedangkan para konsumen akan semakin jeli memilih dan lebih hati-hati dalam membeli atau berinvestasi di apartemen.

Dalam kaitan ini, para pengembang hendaknya tidak semata-mata berperan sebagai pembangun dan penjual apartemennya saja, melainkan juga perlu mensosialisasikan kepada publik untuk terbiasa hidup di apartemen. Hal ini dimaksudkan untuk mendongkrak tingkat hunian apartemen yang ada saat ini. Maklum, meski unit-unit apartemen banyak yang laris manis, bahkan terjual ludes, toh masih banyak apartemen yang kosong melompong.

Strategi Pengembang Menghadapi Tahun 2005
Bagi para pengembang yang optimistis memandang perekonomian Indonesia tahun 2005, perlu memperhatikan empat hal dalam menjalankan bisnisnya. Pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 2004 mencapai sekitar 4,8%, tahun 2005 diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 5,5%. Sektor perbankan akan tetap konsisten melakukan ekspansi dalam penyaluran fasilitas KPR seperti tahun-tahun sebelumnya. Kredit konstruksi dan kredit real estat yang tumbuh rata-rata 18% hingga 25% pada tahun 2004 akan terus bergerak dengan pertumbuhan yang konsisten pada tahun 2005. Dengan begitu, ancang-ancang ekspansi terutama untuk bisnis perumahan dan apartemen untuk kelas menengah, harus dipersiapkan secara matang untuk menangkap peluang bisnis properti tahun 2005.

Pertama, pengembang harus memanfaatkan momentum booming bisnis properti tahun 2005. Mumpung tingkat inflasi dan suku bunga perbankan lagi rendah. Kurs rupiah pun diperkirakan akan stabil di bawah Rp 9.500/US$.

Kedua, para pengembang perumahan dan apartemen harus "memoles diri" dengan cara mempercantik cash flow-nya. Artinya, pengembang harus membuktikan kepada pihak perbankan, bahwa proyek-proyek yang dikembangkan itu memiliki sasaran pasar yang jelas. Singkatnya, para pengembang pada tahun 2005 sebaiknya hanya membangun proyek-proyek yang marketable, agar bank-bank tertarik membiayai proyeknya.

Ketiga, pengembang hendaknya tidak tergoda untuk menaikkan harga jual unit-unit proyeknya pada setiap periode 3 bulan seperti di masa sebelum krisis yang lalu. Apalagi dengan alasan akibat kenaikan harga BBM pada tahun 2005. Karena hal ini akan berdampak negatif terhadap tingkat penjualan unit-unit propertinya. Sebaliknya, para pengembang mesti pintar mengemas produknya dengan diskon-diskon yang menarik, menetapkan uang muka dan cicilan yang terjangkau, agar perhatian konsumen tetap terjaga dan semakin banyak lagi pembeli potensial yang masuk ke pasar.

Keempat, pengembang harus tetap gencar dan konsisten melakukan aktivitas promosi dan komunikasi kepada potential buyers untuk menonjolkan "keunggulan" produknya. Karena dalam kondisi persaingan yang kian ketat, perhatian konsumen akan lebih terfokus pada proyek-proyek yang memiliki keunggulan. Khusus bagi pengembang apartemen, mereka harus serius mengedukasi agar pembeli dan para investor melihat apartemen bukan sekedar alternatif investasi, namun juga sebagai tempat hunian warga kota Jakarta dengan gaya hidup kosmopolitan yang aman, nyaman, dan tenteram.

Bila hal ini berhasil dilakukan lewat edukasi, para pengembang apartemen itu akan dapat mempertahankan tingkat penjualannya dan meningkatkan citra produknya dalam menghadapi persaingan di pasar apartemen yang akan makin ketat pada tahun ini 2005.

Alvin
May 26th, 2005, 10:53 AM
Economic growth triggers demand for office space


Primastuti Handayani, The Jakarta Post, Jakarta

Expansion by existing multinational and local firms and a growing list of new ones have boosted demand for office space in Jakarta, particularly in the central business district (CBD), according to a quarterly report by property consultant Jones Lang LaSalle.

The company pointed to the country's improving economy, which expanded by 6.35 percent in the first quarter due in part to increasing foreign investment, as the main trigger for the higher demand.

"Currently, there are 3.11 million square meters (sqm) of office space in the CBD with some 707,000 sqm vacant in different office buildings," Jones Lang LaSalle Indonesia national director Lucy Rumantir said.

"By 2008, office space supply will increase by some 350,000 sqm to make a total of 3.4 million sqm," she added.

Overall, demand between January and March totaled approximately 16,200 sqm, which represented a 14 percent decline compared to the previous quarter. However, it represented a 58 percent increase compared to the same quarter of last year.

The company said that vacant space slightly increased from 22.6 percent in 2004's last quarter to 22.8 percent in this year's first quarter, due to the completion of Plaza ABDA on Jl. Jendral Sudirman.

With regard to rents, Lucy estimated these would increase from the current range of between US$11 and $15 per sqm per month to about $19 to $20 per sqm per month by 2007.

"Rents are nearing their pre-1997 financial crisis levels in new office buildings with improved security facilities, such as separate entrances and exits, as well as security check points."

Jones Lang LaSalle said in its report that by location, 61 percent of total CBD supply was located along Jl. Jendral Sudirman and Jl. MH Thamrin, with Jl. HR Rasuna Said and Jl. Gatot Subroto accounting for 23 percent and 16 percent respectively.

At present, there are 10 office building projects in those areas slated for completion over the next three years.

Although the CBD remains attractive for many companies, many others have sought to relocate -- with Jl. TB Simatupang in South Jakarta being the most popular choice -- due to continuing traffic jams in the CBD and the extending of the three-in-one traffic restriction policy by the Jakarta administration.

This policy obliges private cars to have at least three passengers when passing through the restricted zones from Jl. Sisingamangaraja to downtown Kota and from the Senayan overpass to the Kuningan intersection between 7 a.m. and 10 a.m. and from 4:30 p.m. to 7 p.m.

An earlier study revealed that Jakarta's economic losses from traffic congestion reach Rp 41.05 billion (US$4.33 million) every day.

All in all, Jakarta is among the major cities in Asia Pacific, such as Tokyo, Hong Kong, Singapore, Shanghai and Sydney, that are experiencing growing office space demand.

"The demand for office space (in Asia Pacific) is the highest since 2000," Jane Murray, Jones Lang LaSalle Asia Pacific head of research, said in a statement.

Economic growth, however, has yet to successfully trigger apartment demand as this year's first quarter demand figures showed.

By the end of March, total condominium supply stood at approximately 33,300 units with some 82 percent having been sold. This figure represented an increase over 2004's last quarter supply of 31,376 units, of which some 81.36 percent had been sold.

With a supply of 15,095 units available in the first quarter and some 32.2 percent remaining vacant, landlords were forced to lower rents by 1 percent to $11.2 per sqm per month.

"Therefore, we would urge (condominium) developers to be careful in aiming for the right market segment. Otherwise, (if the condominium buyers are investors), we'll see more units with lights off during the night," Lucy said.

joko
May 27th, 2005, 06:09 PM
Mahaka Group Bangun Apartemen Mewah

JAKARTA – Tren tinggal di apartemen di Jakarta semakin tinggi, terutama karena lokasinya sangat sangat strategis. Proyek apartemen The Capital Residence yang dibangun Mahaka Group di kawasan Sudirman Central Business Dictrick (SCBD), misalnya, sangat diminati konsumen.
Direktur dari The Capital Residence Djoni Suyanto saat peluncuran apartemen tersebut di Jakarta, pekan lalu, mengatakan sangat optimistis bahwa proyek apartemen mewah yang mereka bangun tersebut bakal terjual habis dalam tempo singkat.
Keyakinan itu tercermin dari cepatnya pasar menyerap pasokan hunian sejenis. “Hingga saat ini, sekitar 30 persen dari 258 unit apartemen The Capital Residence yang ditawarkan telah terjual, termasuk keenam penthouse yang tersedia,” katanya.
Permintaan akan apartemen, kata Djoni, sangat tinggi seiring dengan kian dinamisnya ritme kehidupan metropolitan. Di samping itu, juga sangat menarik untuk investasi, karena harga tidak pernah turun. Dengan demikian, nilai investasi akan terus meningkat secara signifikan.
Menurut Djoni, sesuai target pembangunan apartemen The Capital Residence tersebut selesai dan sudah serah terima pada tahun 2006. Dengan kenaikan permintaan pasar, didukung oleh iklim investasi yang kondusif, kami yakin bahwa The Capital Residence akan dengan cepat diserap oleh pasar,” katanya. (kbn)

MegaGlodok Kemayoran Gandeng Tiga Perusahaan Telekomunikasi

JAKARTA – MegaGlodok Kemayoran, pusat belanja produk elektronik, listrik, yang kini tengah dibangun di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, menggandeng tiga perusahaan telekomunikasi. Ketiga perusahaan itu adalah PT Telkom, Lucent Technologies, dan PT Delta Comindo untuk menyiapkan teknologi telekomunikasi tercanggih dan pertama di Indonesia.
Menurut Sasmita Winata, Presdir PT Jakarta Kemayoran Properti, pengembang dari MegaGlodok Kemayoran, keunggulan teknologi telekomunikasi ini adalah dapat mengoperasikan sistem telekomunikasi dan komunikasi suara, data dan gambar dala satu jaringan yang sama.
“Ini memungkinkan para tenant atau pemilik kios, kanto (kantor toko), office maupun apartemen di MegaGlodok yang membutuhkan saluran telepon atau telekomunikasi dalam jumlah besar, tidak perlu khawatir kehabisan jaringan atau menunggu lama,” katanya.
Ditambahkannya, keunggulan lainnya adalah dimungkinkannya menggunakan kamera CCTV dan untuk sistem keamanan lain yang tidak kalah canggih. Kawasan Kota Baru Bandar Kemayoran yang sudah memiliki jaringan serat optic akan semakin berkualitas dengan hadirnya teknologi komunikasi yang digunakan di MegaGlodok ini.
Suhandi, Marketing Division Head MegaGlodok Kemayoran menyatakan, hingga kini penjualan kios di MegaGlodok Kemayoran mencapai 65 persen. Bahkan untuk kanto telah terjual habis sejak September 2004. Sementara Apartemen The View Executive Residences yang baru diluncurkan, telah terjual sebanyak 30 persen.
Dikatakannya, MegaGlodok Kemayoran adalah proyek pusat perdagangan terbesar dan terlengkap di Indonesia yang khusus menjual alat-alat teknik industri, listrik, elektronik, komputer dan handphone, serta onderdil dan aksesoris mobil. Pusat belanja ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 6 hektare.
“Dengan harga jual kios per meter persegi mulai dari Rp 20 jutaan hingga Rp 60 juta, kami yakin sebelum mal ini beroperasi pertengahan 2005, semua kios akan terjual habis,“ ungkap Suhandi optimistis. Dan katanya lagi, saat ini tengah dilakukan penyelesaian, dan mulai Februari 2005 akan dilakukan penyerahan secara bertahap kepada para pembeli hingga di pertengahan tahun ini MegaGlodok Kemayoran bisa beroperasi secara penuh. (rvs)
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/properti/2005/0204/prop2.html

-------------------------------------------------------------

Jakarta Telah Menjadi “Supermarket” Apartemen


JAKARTA – Untuk soal validitas data, hasil riset yang dilakukan perusahaan konsultan properti PT Procon Indah dan Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) bisa dijadikan pegangan.

Procon memprediksi, akumulasi pasokan apartemen (termasuk apartemen sewa) di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) berjumlah lebih dari 49.500 unit. Sementara itu, PSPI mencatat, selama kurun waktu 1999-2005, tidak kurang dari 45.000 unit apartemen membanjiri Jabotabek.
Bila ditambah dengan periode 1980-1998, jumlahnya mencapai 70.000 unit. Luar biasa! Bila angka itu mendekati kebenaran, tepatlah pula bila disebut-sebut Jakarta kini telah menjadi supermarket apartemen.
Simak pula laporan Jakarta Quarterly Properti Market Review untuk kuartal ke-4 tahun 2004 yang dirilis oleh PT Procon Indah, baru-baru ini di Jakarta. Sejumlah developer secara gencar menjual proyek apartemen dijual secara pre-sales di antaranya Puri Jimbaran, Lotus Palace, keduanya di Jakarta Utara dengan total pasokan 125 unit dengan jadwal penyelesaian pembangunan tahun 2005.
Untuk tahun 2006, beberapa proyek apartemen siap mengisi pasar, antara lain Mediterania Garden Residence 2 di Jakarta Barat (dibangun oleh Agung Podomoro Group) sebanyak 3.000 unit, lalu ada lagi Hollywood Residence Tower 2 di Jakarta Selatan sebanyak 311 unit dan The Thamrin Nine Residence di Jakarta Pusat dengan 133 unit.
Itu belum termasuk The Times Square Residence di wilayah yang kian padat, yakni Cibubur, dengan pasokan 600 unit bakal masuk ke pasar di tahun 2007. Tercatat proyek-proyek apartemen lainnya gencar dipasarkan seperti Graha Cempaka Mas, Kondominium Rajawali, Apartemen Laguna dan Apartemen Riverside. Jadi, singkat kata, Jakarta kini semakin diramaikan oleh apartemen.

“Service Charge”
Rumah jangkung, demikian orang biasa menyebut apartemen, bagi sebagian masyarakat Jakarta masih menjadi polemik. Ada yang setuju tinggal di apartemen, namun tidak sedikit pula yang masih enggan. Seperti yang dikemukakan oleh Maria, 32 tahun, seorang konsultan manajemen.
“Kalau harganya masih seperti sekarang mahalnya, lebih baik beli satu unit rumah. Bukan apa-apa sih, tinggal di apartemen kan perlu menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk service charge, transportasi mobil dan biaya-biaya lain. Berat banget,” katanya.
Meski ada keinginan tinggal di apartemen, namun faktor mahalnya unit yang dipasarkan menjadi kendala serius. Hal yang sama juga dialami oleh anggota masyarakat lainnya.
Masih berdasarkan laporan PT Procon Indah, untuk waktu dekat ini diperkirakan harga apartemen tidak akan berubah. Hal itu disebabkan pengembang mungkin akan menaikkan biaya service charge bulanan tetapi tidak untuk harga unit apartemen, sebagai antisipasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Banyak pula proyek apartemen yang menawarkan potongan harga, tetapi bukan menaikkan harga agar lebih kompetitif dengan pasar sekunder atau secondary market,” kata Lini Djafar dari PT Procon Indah.
Bagaimana dengan prospek penjualan apartemen untuk tahun 2005? Lini Djafar memprediksi, untuk apartemen di lokasi strategis seperti sentra bisnis distrik atau CBD (Central Business District), bila harganya juga bersaing, pastinya akan menikmati tingkat penjualan yang tinggi. Dan pasar yang responsnya kuat saat ini, menurutnya adalah kelas menengah atau menengah-bawah.

”Privasi”
Panangian Simanungkalit, Direktur Eksekutif PSPI, mengungkapkan yang termasuk dalam kelas menengah atau menengah-bawah adalah mereka yang memiliki daya beli apartemen seharga Rp 200-300 juta. Dan ia mengakui, selama 2-3 tahun terakhir, pasar apartemen yang paling hot adalah apartemen yang harganya berkisar antara Rp 200 juta hingga Rp 400 juta.
Ia mencontohkan apartemen Gading Mediterania Residence, Mediterania Garden Residence 1, dan kini Mediterania Garden Residence 2 yang jumlahnya ribuan unit, namun laris terjual, sebagai ilustrasi besarnya minat konsumen untuk apartemen kelas menengah.
“Minat tinggal di apartemen mulai muncul di kalangan warga masyarakat perkotaan karena apartemen menawarkan solusi untuk terhindar dari kemacetan serta menjanjikan kehidupan yang aman, nyaman dan dengan privasi yang terjaga,” paparnya.
Yang penting sekarang, tambahnya, para pengembang perlu mendidik masyarakat untuk tinggal di apartemen. Jadi, tidak semata-mata asal jual putus unit apartemen. Jika itu dilakukan, ia percaya bisnis apartemen di tahun 2005 akan tetap menjanjikan.
“Memang ada isu over supply atau kelebihan pasokan. Tetapi tidak seperti trade center yang memang sudah berlebih, apartemen kondisinya masih lebih baik. Pada dasarnya, orang itu butuh tempat tinggal. Tinggal sekarang pintar-pintarnya menjaring pembeli,” papar Panangian.

Potensial
Segmen konsumen kelas menengah itu pula yang kini dilirik oleh Apartemen Salemba Residence (ASR). Adalah PT Adhi Realty bersama-sama dengan Eden Capital Sdn Bhd, pengembang asal Malaysia, yang membangun apartemen dengan 715 unit itu di bilangan Salemba yang sangat strategis.
Dengan investasi senilai Rp 250 miliar, Adhi Realty membidik pasangan muda, kalangan profesional, dosen, mahasiswa paska sarjana, dengan menawarkan harga unit apartemen mulai dari Rp 165 juta (diluar PPN dan biaya surat-surat) hingga Rp 500 juta.
Bambang Budi Raharjo, Direktur Utama PT Adhi Realty, menyatakan ASR ditargetkan untuk pasar menengah mengingat segmen inilah yang merupakan segmen terbesar dan paling potensial.
“Lokasi kita memang di Salemba yang strategis karena dekat dengan pusat kota. Tetapi daerah ini juga kita tahu belum terlalu berkembang pesat. Karena itu yang paling tepat adalah apartemen untuk kelas menengah,” katanya.
Dengan lokasi yang dekat dengan rumah sakit, universitas, fasilitas belanja berupa mal, Apartemen Salemba Residence, kata Bambang, merupakan alternatif solusi atas kebutuhan tempat tinggal yang representatif dan dekat dengan tempat bekerja.
Hebatnya, tidak seperti apartemen lain yang dijual dengan pola pre-sales, artinya apartemen baru akan dibangun dari uang hasil penjualan dari konsumen, tidak demikian dengan ASR.
Pihak Adhi Realty dan Eden Capital, jelas Bambang, sudah menyiapkan dana untuk pembangunan sehingga apartemen pasti dibangun dan diserahterimakan kepada pembeli pada pertengahan 2006.
“Kalau ada pemasukan dari penjualan apartemen, kita berterima kasih. Tetapi tanpa itu pun, kita sudah punya uang untuk membangun. Jadi konsumen tidak perlu ragu,” katanya.
Kalau sudah begini tentunya konsumen semakin diuntungkan. Lokasi yang strategis, harga yang kompetitif, ditambah keuangan dari developer yang solid. Itu yang dibutuhkan oleh bisnis apartemen di Jakarta.
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/properti/2005/0204/prop1.html

-------------------------------------------------------------------

SOUTH ASIA / SOUTH EAST ASIA
Indonesia
Apartment and shopping centre development
Middle and upper class apartment units have been selling like hot cakes in the last three months. The Capital Residence which opened in February has sold 40% of its 258 exclusive apartments including its six penthouses. The Peak which is currently under construction has sold 75% of its 351 luxury apartment units. The selling price for the Capital Residence of a 150 square meter apartment to a 320 square mater apartment are ranging from IDR 2 billion (US$210,000) to IDR 3 billion (US$315,000) per unit.

The Jakarta City government plans to build 40,000 unit flats (apartments) for middle and low income groups of the Jakarta population. The City Housing Authority will handle the development which is scheduled to be completed by the year 2010. According to Hari Susongko, the Head of the City Housing Authority, priority will be given to those who are living in the slump areas in the city and those who have no place to stay.

The Jakarta City Authority plans to issue permits to 39 additional shopping areas in Jakarta. According to PT Procon Indah, a property research company, in 2004 around 1.8 million square meters of additional retail space was available for sale in Jakarta and the occupancy rate was 85.56 %. Around 256 thousand square meters of space was un-occupied.
http://www.marketnewzealand.com/mnz/News/Story/13572/12333.aspx

---------------------------------------------------------------------

Alvin
July 19th, 2005, 06:58 AM
Jakarta apartment outlook bright despite threat of oversupply
Rudijanto, Contributor, Jakarta

The Indonesian apartment market is expected to remain strong as apartments are still seen as more profitable investments given the currently low deposit interest rates. But the threat of oversupply persists.

Data from property consultants and analysts show a jump in the annual supply of apartments on the market. Not only is the number of units due to be completed this year on the rise, but also that of those scheduled to be finished in the coming years.

Collier International Indonesia (CII) predicts Jakarta apartment supply will experience significant growth of 56.3 percent in 2006. This will bring an additional 21,385 units onto the market and result in a massive increase in cumulative supply to more than 59,300 units.

Property analyst Panangian Simanungkalit was quoted by Kompas as saying that around 6,500 new apartments have been constructed each year between 1998 and 2005, compared to 1,300 each year between 1980 and 1998.

With 2006's annual supply going to be the highest annual supply ever in the market's history, the threat of oversupply has started to cause concern among some market players. However, others remain optimistic about market prospects.

"Yes, there is already oversupply in certain areas but not in prime areas such as the Mega Kuningan area, which is a very good area because of such factors as good access to important roads like Rasuna Said, Casablanca and Sudirman," said Bellagio's executive director Sebastian Gunadi.

CII's latest report mentions the CBD and South Jakarta as the major development areas for apartments. According to the report, this trend will likely continue until 2007. The question is, can the apartments that are going to be built in these areas still find buyers?

This year alone, South Jakarta has witnessed the construction of the Bellezza de Case Tower 1 in Permata Hijau, the Pakubuwono Residence in Kebayoran Baru and Pondok Indah Square in Lebak Bulus.

Some other apartment complexes in South Jakarta include the Somerset Berlian Residence in Permata Hijau and the Bellezza de Case Tower 2, also in Permata Hijau. Meanwhile, the Kemang City Tower A-B-C in Kemang will commence construction in 2006.

The Somerset Berlian Residence itself consist of two towers -- the north tower with 210 units and the south tower with 186 units. Each tower has 8 penthouses. This apartment complex is being developed by the Pakuwon Group, known for pioneering the development and operation of commercial centers and large-scale cluster housing projects.

While these apartments are aimed upper income bracket Indonesians and expatriates, other apartments are aiming for the lower to middle income segment, with such units being priced at between Rp 60 million to Rp 300 million. But most of these apartment complexes are located outside the CBD area, for instance, the Salemba Residence.

Developed by Adhi Realty in partnership with Malaysia-based Eden Capital Sdn. Bhd., this apartment complex in the Salemba area offers small single and double units priced at between Rp 165 million and Rp 190 million. It also has larger units priced at around Rp 700 million.

While some of these mid-range apartments have an obvious market due to their proximity to universities, other such apartment developments simply rely on their affordability. Given their low prices, they can only be constructed in the suburbs of Jakarta or in city's satellite towns.

The Taman Semanan Indah complex on West Jakarta's Outer Ring Road near Tangerang is one such affordable development. Taman Semanan Indah offers small one or two room units for between Rp 60 million and around Rp 200 million.

Commenting on apartment complexes outside Jakarta's city center, Sebastian questioned the rationale behind such apartments. For him, the basic reason why people want to live in apartments is so as to be near their offices.

"Commuting more than an hour just to go to the office does not make sense to an increasing number of overseas educated graduates. They want to live near their workplaces. If that requirement is not fulfilled, then what is the use of living in an apartment?" said Sebastian.

Jakarta's traffic congestion has persuaded many people to move to apartments that are near their offices. For these sort of people, apartment living is more than just a lifestyle, it is a necessity.

Aside from targeting people like these, CBD apartments in Jakarta are also aimed at investors. Rather than putting their money in low-return bank deposits, wealthy Indonesians hope to gain more by purchasing apartments in and around the CBD and prestigious areas in South Jakarta, such as Kemang and Pondok Indah.

The Bellagio's developer, PT Centra Lingga Perkasa, is clearly aiming at such moneyed people with its Bellagio Mansion and Bellagio Residence projects. Both complexes are located in the Mega Kuningan area.

"The demand is strong here due to our location. We will hand over 600 units soon out of a total of 800 units in the Bellagio Residence, while in the Bellagio Mansion, we will hand over 135 units in October," Sebastian said.

The Somerset Berlian complex in South Jakarta's prestigious Permata Hijau area has also recorded strong demand with 70 percent of its units in the south tower sold. The Pakuwon Group expects that by the end of this year, 90 percent of the units in the south tower and 60 percent in the north tower will have been sold.

"The demand is still good as we are offering a new kind of smart investment in the form of serviced apartments. These are in high demand. We are optimistic about market prospects as investment is growing and more expatriates are coming here," said Yayuk Rahayu of the Pakuwon Group.

She also said that she was optimistic because of Somerset Berlian's prime location. The complex is near the well-established Pondok Indah neighborhood with its shopping mall, international schools and other public amenities. It also has well-developed access to Kebon Jeruk and the CBD's main thoroughfare, Jl. Sudirman.

"Our security system is supported by a CCTV system and panic buttons. These are conveniently located within every unit for urgent assistance. We also have water features, a reflexology pool, children's fun pool, outdoor jacuzzi, jogging track and pedestrian walkway," said Yayuk.

With a large number of new developments due to come on the market this year and in coming years, Jakarta will remain a hot market for apartments. But outside Jakarta, particularly in Singapore and Australia, developers are also boosting their efforts to persuade wealthy Indonesians to invest in the apartment markets in those countries.

The effort to attract Indonesian buyers has paid off, with Kompas daily reporting that Indonesians constitute the biggest overseas buyers of Singapore property, followed by people from Malaysia, Brunei Darussalam, Hong Kong and Shanghai.

However, optimism is still high among Indonesian developers that they will not lack buyers. They says that investors have suffered losses in the Singapore apartment market due to a drop in property prices of between 35 percent and 45 percent, and low rental income.

"Singapore apartments are oversupplied. The yield return is less than on an apartment here. Beside, it is hard to maintain an apartment abroad as it is far away from home," said Yayuk.

Whether for living in or simply as an investment, Jakarta offers a wide range of apartments to suit all comers. In spite of this, however, many Indonesians still prefer to invest in overseas apartments. This is something that will needed to be pondered by domestic apartment developers, operators and policy makers.

Alvin
July 19th, 2005, 07:10 AM
Selasa, 19 Juli 2005 02:20 WIB
Hunian Vertikal di Debotabek Belum Tergarap

JAKARTA, Investor Daily Online

Pembangunan kondominium maupun apartemen di kawasan Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Debotabek) hingga kini masih belum mendapat perhatian para pengembang. Mereka lebih tertarik untuk mengembangkan bangunan hunian vertikal di Jakarta.


Data yang dikeluarkan PT BCI Asia Juli 2005 menunjukkan, di Jakarta kini terdapat 61 proyek apartemen baru yang terdiri atas 35.000 unit apartemen dalam tahap desain, launching, konstruksi, maupun penyelesaian finishing.


Beberapa proyek apartemen Jakarta baru yang segera memasuki tahap konstruksi adalah Patria Park, Cityloft, Essence Dharmawangsa, Salemba Residance, Kemang City, Taman Rasuna Blok 18 dan 19, Pacifik Pallace, Grand Champa Residance, Hollywood Residance, dan The Icon.


Di Ibukota, pembangunan hunian vertikal masih didominasi beberapa kawasan terkemuka seperti Mega Kuningan, Sudirman, Kelapa Gading, Casablanca, Kemayoran, Gatot Subroto, Pluit, maupun Mas Mansyur (Tanah Abang). Sedangkan untuk Debotabek, hingga kini masih didominasi hunian horisontal (landed houses).


Konsultan Riset PT BCI Asia Cahyono Siswanto kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini, mengatakan, maraknya pengembangan apartemen/kondominium di Jakarta bertolakbelakang dengan kawasan Debotabek. Ia menyebutkan, jumlah hunian vertikal di kawasan penyangga Jakarta itu bisa dihitung dengan jari.


Saat ini, di Debotabek baru ada enam proyek pembangunan apartemen didaerah tersebut. Proyek yang ada di daerah kawasan tersebut adalah Serpong Town Square di Tangerang, Holiday Inn Serviced Apartment dan Apartemen Metropolitan di Bekasi, The Times Square Residance di Cibubur, Margonda Residence dan Puri Sahid Srigading Apartment di Depok.


Lippo Karawaci


Cahyono menyebutkan, Lippo Karawaci, yang dikembangkan Grup Lippo, merupakan pelopor bangunan tinggi (high-rise building) di luar Jakarta, khususnya Tangerang. Menurut dia, berbagai bangunan seperti Amartapura, Kondominium Golf dan Menara Matahari berdiri megah di kota Tangerang, merupakan buah karya pengembang Grup Lippo. (c82)

Alvin
August 6th, 2005, 05:20 PM
Property market shows positive outlook in second half
The Jakarta Post, Jakarta

The positive performance of this year's economy has largely contributed to an optimistic property market outlook in Jakarta, with a large number of new units becoming available by the end of the year.

Based on the Jakarta Quarterly Property Market Review issued on Thursday by property market consultant PT Procon Indah, all property sectors recorded significant increases during the first six months.

The increasing number of units in all sectors -- office, retail, rental apartments and condominiums -- contributed to a 10.1 percent rise in the property index recorded at the Jakarta Stock Exchange from 71.4 as of the end of January.

Procon chief executive officer David Cheadle said the positive performance of the country's economy was responsible for keeping the property business attractive for investors.

"With investment coming in, several sectors, especially the office sector, will grow, while the increasing number of foreign workers has made the apartment and condominium market boom. In short, strong demand will fuel improvements in all sectors," he said.

Aside from the good signs of growth in the first semester, the company's report also highlighted possible significant increases in units that would open up during the second half of the year.

The report said that the extra units that will be available in the office sector were projected to reach more than one million square meters (sqm), indicating a 20 percent rise. The current supply is estimated at 5.15 million sqm of office space, with an 83.6 percent occupancy rate.

Meanwhile, the retail market was projected to have an additional 1.58 million sqm of space, on top of the existing 2.62 million sqm throughout Greater Jakarta. As of June, 81.8 percent of the total retail space had been occupied.

The apartment sector, which currently has 16,304 units with an occupancy rate of 71 percent, would have more than 1,600 additional units by the end of 2005, the report said.

While 4,561 condominium units would open up by the end of the year, adding to the existing number of 36,694 with a 90.5 percent sales rate.

Procon director, Lini Djafar, said that in addition to the increase of property units, prices in various sectors would also increase due to higher construction costs.

However, she said, based on the company's research, the price increases would not stop customers from purchasing property units.

"It shows that property remains an attractive option for some people to invest in," Lini surmised. (006)

Alvin
August 6th, 2005, 05:21 PM
H1 retail growth slower
The Jakarta Post, Jakarta

Despite a sharp increase in the amount of square meters now available, the retail property market in Greater Jakarta showed slow growth during the first semester of 2005.

Property consultant company PT Procon Indah director Lini Djafar said there were over 50,000 square meters (sqm) of additional retail spaces in Greater Jakarta from January to June.

She said most of the spaces were located in Jakarta and the rest in the capital's outskirts of Depok, Bogor, Tangerang and Bekasi.

The company's Jakarta Quarterly Property Market Review, issued on Thursday, showed that new retail properties in the capital came from Plaza Senayan Arcadia, an extension of Plaza Senayan in Central Jakarta, which provided 5,500 sqm.

Tangerang, which has the most rapidly growing retail outlets, has two new strata-titled retail centers -- Plaza Sinar Merdeka and International Trade Center (ITC) in Bumi Serpong Damai (BSD) -- adding some 45,000 sqm of retail space in the area.

Lini said that leasing transactions during the first six months were relatively low with a limited number of retailers opening new outlets.

"Transactions during the period came mainly from major retailers with large space requirements such as Index (furniture shop) at Mal Artha Gading in North Jakarta, Carrefour in ITC BSD, and The Sands Executive Club at Mangga Dua Square in West Jakarta, which respectively had taken up more than 5,000 sqm of retail space," she said.

The overall occupancy rate of retail property in Greater Jakarta as of the end of June stood at 81.8 percent of the 2.62 million sqm available, leaving 477,900 sqm physically vacant.

Those figures resulted from a 1.05 percent increase in Jakarta and a 2 percent decrease on the outskirts.

"The occupancy level of retail market in Jakarta's outskirts decreased mainly because the completion of several new strata-titled centers which now have a low physical occupancy level," Lini explained.

The company's report also showed that average rental fees and service charges were relatively stable at US$26.4 per sqm per month as landlords postponed their plans to hike the fees due to tougher competition in the market.

Lini said the slow growth, however, should not necessarily mean negative growth in the future.

"Future availability of retail space in Greater Jakarta will continue to be dominated by strata-titled trade centers and the completion of these projects is likely to increase vacancy during the course of the year," she said.

The company projected an addition of 1.58 million sqm between the second semester of 2005 and early 2007. (006)

Alvin
August 28th, 2005, 12:39 PM
Wednesday, 24 August 2005


Ribuan Unit Apartemen di Jakarta Pasti Terserap Pasar
Meski Jakarta sedang digelontor oleh ribuan unit apartemen dan kondominium. Ternyata aktifitas penjualan masih dalam fase yang wajar, belum ada tanda - tanda adanya penurunan permintaan. Hal ini terkait dengan adanya market yang terus mengalir dari dalam maupun dari luar negeri.
Seiring dengan permintaan pasar yang ada, PT Procon Indah mencatat, bahwa penyerapan pasar apartemen sewa dalam kuartal II 2005 sebanyak 394 unit, angka ini meningkat 83 % dari sebelumnya pada kuartal I 2005 sebanyak 215 unit. Terjadinya penyerapan pasar yang terlihat meningkat tersebut, terjadi pada segmen apartemen servis yang diikuti oleh segmen kondominium (town house).
Larisnya permintaan dari pasar akan unit apartemen ini, terjadi pada segmen apartemen menengah dengan harga Rp 4 juta - Rp 7 juta/ m2. Dimana penjualan apartemen tersebut kebanyakan dilakukan secara pre-sale dengan peningkatan sebesar 5 %. “Angka ini merupakan market yang bagus,” kata Lini Dja’far, Direktur Riset PT Procon Indah di Jakarta beberapa waktu lalu. Dari permintaan pasar yang ada, sebanyak 50 % untuk dihuni sendiri dan 50 % untuk dijual kembali (investasi), tambahnya.
Karena para pengembang di Jakarta teleh menggelontor ribuan unit apartemn yang angkanya bisa mencapai 20.000 - 25.000 unit, menurut Alwi Bagir Mulachela, Ketua DPD REI DKI mengatakan, para pengembang harus lebih jeli lagi dalam melihat pangsa pasar apartemen yang ada. Kalau dilihat dari supplainya masih kata Alwi Bagir, belum mencapai over, karena saat ini REI DKI terus menggalakkan pertumbuhan ‘rumah jangkung’. Pertumbuhan - pertumbuhan apartemen yang banyak digalakkan di Jakarta itu, karena lahan yang bisa dikembangkan sangat terbatas. Kalau landed haouse kebanyakan berada didaerah Debotabek, jelasnya.
Dari supplai apartemen yang angkanya mencapai ribuan unit tersebut, kata Alwi Bagir nantinya akan terserap juga, namun jalanya agak sedkit lambat. “Kan deliver timenya sekitar tahun 2007. Nantinya demand apartemen ini mau tidak mau pasti naik, karena perumahan di Jakarta harus keatas. Kalau sekarang terlihat demandnya agak turun, karena supplainya datang begitu cepat dengan jumlah yang begitu banyak saja,” urainya. Penyerapan pasar itu bisa saja berasal dari end-user atau spekulan properti. Tapi para sepkeluan ini pada ujung - ujungnya juga akan memakainya, karena mereka membutuhkan rumah di Jakarta.
Kalau mereka diamkan saja tidak bakalan jalan. Hal ini seperti apartemen di Taman Rasuna Said, dulu orang berpikir disitu hanya para spekulan saja, tapi sekarang enduser yang menempatinya, tambahnya.(SZ)

tata
August 28th, 2005, 12:48 PM
It looks like developers and market are NOT worried the propoerties are going to be hit hard even rupiah already below 10,000.
What's your opinion on this Alvin?

Alvin
August 28th, 2005, 01:10 PM
It looks like developers and market are NOT worried the propoerties are going to be hit hard even rupiah already below 10,000.
What's your opinion on this Alvin?
I think its too early to tell whether the fluctuation in the currency + inflation would have any significant impact on developers' decisions on launching their projects, but I see no signs of it...I think the market potential is still huge , particularly for cheap & middle-class apartments between Rp200 - 600 million. It really depends on what happens in the next couple of months though...if the macroeconomic situation continue to deteriorate, this will undermine consumer + developer confidence and so some projects may well be postponed..but again, its too early to tell..

Alvin
August 28th, 2005, 02:01 PM
Good news: There is still room for more malls
Sally Piri, The Jakarta Post, Jakarta

Good news for developers and mallgoers. Despite the aggressive construction of new malls in Jakarta, the City Administration says that there is still an abundance of space in the capital available for new shopping malls to be built.

"We need to continue building because the demand is likely to increase. If we stop the construction, then we will experience a setback because it will mean lower productivity," claimed City Spatial Agency head Nurfakih Wirawan.

Nurfakih told The Jakarta Post that the aggressive construction was actually part of a design to turn Jakarta from an agrarian city into a service city that would stand equal to cities like Singapore or Hong Kong.

"One of the visions in the development of Jakarta is to make this city become a service city," he said in a telephone interview recently.
Jakarta is not endowed with abundant natural resources as other provinces in the country and will therefore rely on potential that it has from seaports, the airport and shopping areas, he argued.

The intensified construction of shopping malls is hoped to eventually benefit the people who will have their needs fulfilled and who will also enjoy a healthy economic growth propelled by increased consumption.

Nurfakih explained that the total population of Jakarta was the basis for the decision to give the go-ahead for the construction of new malls. "There are about 10 million people registered as residents of Jakarta. And this is twice the figure of Singapore and these people need more shopping spaces," he said.

Those 10 million people are crammed into a 634-square kilometers of area here, which also serves as center of the country's commerce, industry and administration.

The government official said that the city spatial plan would be made and revised in the best interests of business in the city.

The city administration apparently has turned a blind eye to the fact that the construction of new malls continually encroaches on the green areas and other public spaces.

A construction of new mall is now underway at the entrance of Senayan Sports Complex, which will swallow up a green field that is already diminishing due to the existence of a four-star hotel nearby.

Residents in Cibubur, in East Jakarta are now complaining about the massive traffic congestion in their neighborhood ever since the construction of a new mall kicked off in the location, while a trade center in Central Jakarta stands accussed of occupying a public road connecting a nearby neighborhood.

Nurfakih claimed that compared to other cities in Europe, America and Asia, Jakarta has cleaner air.

"If you fly above Jakarta, it still looks green. It's even greener than Paris, New York and Tokyo," he asserted.

[goodness, can't believe he said that... :bash: ]

cOcO_cHaneL
August 28th, 2005, 02:14 PM
yeah! there's obviously room for malls,, but im hopin they dont built all those typical malls it's so boring,, i wish there's more malls like plaza indonesia and senayan city.. high-end malls.. and hopefully outdoor shopping center,, *sobs*

tata
August 28th, 2005, 02:27 PM
Good news: There is still room for more malls


Yea right, mall, mall and mall again... idiot! Build park, Pedestrian, promenade, green belt!

David-80
August 28th, 2005, 02:40 PM
If you fly above Jakarta, it still looks green. It's even greener than Paris, New York and Tokyo," he asserted

Because you're flying above swamps and villages near tangerang. Thats not Jakarta downtown for sure. (oh did i forget about the golf course near the airport)

cheers

tata
August 28th, 2005, 04:24 PM
Because you're flying above swamps and villages near tangerang. Thats not Jakarta downtown for sure. (oh did i forget about the golf course near the airport)

cheers

:rofl:

cOcO_cHaneL
August 28th, 2005, 05:03 PM
yeaHhh!! we need more pedestrians and all not mall!!! friggin idiottttt huhh.. yea agree wit u david,, it is swamps. DIRTY SWAMPS. DISGUSTING SWAMPS. not greenery! huhhh.. sometimes i just hate jakarta so much.... but i still love it! ehehehehehe

JAG2
August 28th, 2005, 11:42 PM
yeaHhh!! we need more pedestrians and all not mall!!! friggin idiottttt huhh.. yea agree wit u david,, it is swamps. DIRTY SWAMPS. DISGUSTING SWAMPS. not greenery! huhhh.. sometimes i just hate jakarta so much.... but i still love it! ehehehehehe

You re absolutely right : more sidewalks . more crossings ( safely )

Alvin
August 29th, 2005, 02:07 AM
Yeah, the jakarta govt should really allocate some funds to build more better quality sidewalks and crossings (including crossing lights)...



Anyway, is this a sign that the property market (at the bottom end) is slowing down?
-----------------------------------------------------------------------


Pameran Properti Sepi
Minggu, 28 Agustus 2005 | 20:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Meningkatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah membuat pameran perumahan di Balai Sidang Jakarta Convention Centre sepi peminat. Hingga beberapa jam menjelang penutupan, suasana antar stand tampak lengang. Pramuniaga dan tenaga promosi yang rata-rata berasal dari pengembang kelas menengah ke atas pun lebih banyak mematung daripada melayani pengunjung.

Kenyataan sepinya pameran ini diakui staf pemasaran di stand-stand pameran yang berlangsung 20-28 Agustus ini. "Jumlah penjualan jauh di bawah target,"kata Marketing Executive Damai Putra Group, Yosia Mulyoto Subroto.

Menurut Yosia, dalam pameran kali ini, pengembangnya hanya mampu melakukan transaksi sebanyak 15 unit rumah di kawasan Pulogebang dan Bekasi. "Pada pameran di tempat yang sama awal tahun ini, kami bisa menjual 20 rumah,"katanya.

Mulai bulan depan harga rumah akan melonjak sekitar 5 persen. "Penyebabnya macam-macam. Mulai meningkatnya nilai tukar, sampai naiknya harga material,"kata Yosia.

Wieke Widyatmoko dari bidang pemasaran Ambassador Gading Serpong mengakui penurunan itu. "Animo masyarakat untuk membeli, masih ada, meski memang mengalami penurunan berarti,"ujarnya.

Wieke menyatakan, wajar-wajar saja bila naiknya kurs dolar, yang kemudian diikuti kenaikan suku bunga bank, kemudian diikuti turunnya investasi di bidang properti. "Kami memang tak memiliki ekspektasi tinggi pada pameran kali ini,"katanya.

Pada pameran yang diikuti 28 pengembang ini hanya ramai pada Sabtu-Minggu pertama dan saat penutupan. "Senin sampai Jum’at sepi pengunjung,"katanya. Helmi, panitia pelaksana dari Rumah Promosi Indonesia tak memungkiri kenyataan ini. "Pameran Januari lalu lebih ramai," katanya. Helmi pun memasang alasan bahwa para konsumen masih banyak berpikir sebelum menentukan.

Jojo Raharjo

Alvin
August 29th, 2005, 02:08 AM
well, here's another article countering the above....
=================================================


Senin, 29 Agustus 2005 06:28 WIB
Industri Properti Belum Terkena Gejolak Dollar

JAKARTA, Investor Daily Online

Bisnis properti di Tanah Air masih tetap menjanjikan. Nilai rupiah yang terdepresiasi terhadap dollar Amerika, rencana kenaikan suku bunga deposito dan rancangan pemerintah untuk menyesuaikan harga bahan bakar minyak pada awal tahun, tidak akan berpengaruh besar terhadap perkembangan industri properti.


Bahkan, merosotnya harga saham di bursa efek akan memaksa para investor untuk mengalihkan investasinya ke sektor properti. Bila ditambah dengan masuknya reksadana, kondisi ini akan menambah kuat bisnis properti di Indonesia.


Demikian rangkuman wawancara Investor Daily secara terpisah Sabtu (27/8) dan Minggu (28/9) dengan Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit, Wakil Ketua Umum Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia Bidang Pembiayaan, Pajak dan Pasar Modal Heinrych W Napitupulu, dan Direktur Hubungan Investor PT Lippo Karawaci Tbk Lucyanna Pandjaitan.


Panangian mengungkapkan, para pemilik modal yang selama ini investasi di pasar uang dan pasar saham maupun reksadana akan mengalihkan investasinya pada sektor properti. Menurut dia, para investor juga akan meninggalkan instrumen investasi pada deposito karena tingkat suku bunga deposito relatif belum menjanjikan.


"Suku bunga deposito saat ini rata-rata 6-6,5% sementara laju inflasi 7,8-8,5%. Dengan demikian, para pemilik dana lebih (dana untuk sehari-hari), akan rugi jika ditanamkan di deposito," ujarnya.


Ia menyebutkan, tingkat sukubunga deposito 6% bila dikurangi pajak 20%, net return-ya sangat kecil. Sementara itu, dengan inflasi 7,8%, investor akan turun 3% bila investasi di deposito. "Karena itu saya melihat properti, khususnya di level menengah ke atas, seperti ruko/rukan, ritel atau kondominium/apartemen tetap menjadi pilihan pada situasi seperti ini," imbuhnya.


Menurut dia, sektor properti komersial akan menghasilkan tingkat sewa dari investasi dan juga capital gain yang rata-rata 10-15%. Artinya, bisnis properti selama ini selalu menghasilkan 15-20% per tahun. "Bandingkan dengan dollar, jangka pendek naik segitu. Ini bersifat jangka panjang, lho," ujarnya.


Lucyanna Pandjaitan mengungkapkan, pengalihan investasi pasar modal dan reksadana ke sektor properti bisa positif bila itu tidak diikuti oleh kenaikan tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) secara signifikan. Di Lippo Karawaci, lanjut Lucyanna, semua mal yang telah selesai tahun ini sudah kontrak dan kemajuannya sangat pesat, sehingga tidak ada pengaruh.


"Untuk proyek-proyek yang akan dikembangkan, mesti hitung-hitungan lagi. Kalau produksi dalam negeri terlalu mahal, mungkin dikombinasi dengan impor dari Cina yang harganya kompetitif," ujar Lucyanna.


Menurut Heinrych Naiptipulu menyebutkan, dalam pasar uang, instrumen keuangan yang dicari investor adalah aliran dana (cashflow) yang cepat, yield atau return yang akan diperoleh, dan instrumen investasi yang dipilih. "Pilihannya saat ini memang ada dua, selain SUN (surat utang negara), ya, investasi di properti. Keduanya memang memiliki yield yang tak jauh beda," katanya.


Soal kemungkinan masuknya reksadana properti, Heinrcyh mengatakan, instrumen ini belum ada. Kecuali saham perusahaan properti yang go public. "Paling juga SMF (sarana multigriya finansial). Dan itu pun jelas nasibnya seperti apa, karena perusahaannya pun belum beroperasi," ujar dia.


KPR Jangan Naik


Panangian mengungkapkan, meski kurs dollar terhadap rupiah terus berada pada level di atas Rp 10 ribu, sepanjang tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) maupun suku bunga deposito sampai kenaikannya maksimal 3% dan tingkat inflasi terjaga, diperkirakan penjualan rumah tidak akan menurun signifikan.


Ia menyebutkan, pengalaman 30 tahun terakhir menunjukkan, ketika suku bunga KPR mencapai 20% namun di atas 15%, properti masih tetap jalan meski melamban (slow). Namun saat suku bunga KPR di atas 20 hingga 30% di sinilah penjualan bunga akan krisis.


"Dari 1992-1996 itu booming, suku bunga KPR bisa sampai 20%. Saat suku bunga berkisar 21 hingga 30% seperti pada 1997-1999, penjualan rumah mandeg dan pada saat yang sama dollar itu sampai ke Rp 18 ribu. Akibatnya, bisnis properti pun ambruk," kata dia.


Panangian juga meminta agar perbankan tidak menaikkan suku bunga KPR sepanjang kenaikan tingkat suku bunga deposito belum mencapai 3%. "KPR itu kan bisnisnya mereka. Di situlah lahan usahanya, kalau itu dinaikkan, konsumen akan lari. Yang rugi, ya, bank-bank juga," jelas dia.


Dihubungi terpisah, Direktur Kredit Bank Tabungan Negara Siswanto berpendapat, kalangan perbankan akan bersikap wait and see melihat gejolak dollar dan rencana pemerintah menaikkan suku bunga deposito. Bila kenaikan suku bunga deposito kurang dari 2%, BTN, menurut Siswanto, tidak akan menaikkan suku bunga KPR. Meski kenaikan kurang dari 2% itu akan mengganggu cashflow BTN, Siswanto menyebutkan, pihaknya bisa menjaga agar suku bunga KPR tetap pada kisaran 14%." Yang bisa kita lakukan memang cuma dengan efisiensi, cara lain nggak bisa," ujar dia. (dr)


--------------------------------------------------------------------------------

Alvin
August 29th, 2005, 08:09 AM
Interview with Paul Iacovino, Four Seasons vice president of marketing for Asia Pacific, on the outlook on the hotel business in Indonesia - from today's Jakarta Post.


In the past few years, many international chains have opened hotels here. How do you see the competition between five-star hotels?

In a market like Jakarta, I think the hotel business here is overbuilt compared to the demand in the market. When you look at the hotel business now, hotels are not extremely busy. Besides two or three very well established hotels, of which two are Indonesian brands, the other hotels are really fighting for market share.

Hotels are not seeing big enough growth, although this year's growth has been quite good.

So, to me, I'm not so sure that I would be keen to see additional hotels in Jakarta.

What is the impact of the Jakarta market being overbuilt? Will we see hotels being closed down?

No, I don't think so. I think the operating costs here are low enough that people seem to be able to run hotels at less than the optimum level but still keep their businesses running.

I think the major impact is on the profitability of the existing hotels. The question will be, can you charge a price that is really more competitive.

For us, our strategy is that we build urban hotels in financial centers. So you will find our hotels in the major capitals in the world, but you won't find us in remote cities.

We look at Jakarta as a significant world business capital, a regional business capital. Therefore, we need to be here because we know our customers will come here.

But the prices that we charge our customers here are far lower than what we charge in most other Four Seasons hotels in the world.

If you compare Jakarta and other capitals of Southeast Asian countries, like Singapore, are we lagging behind in the development of the hotel business?

I don't feel that way. Every major brand is here in Jakarta. Most of the international players are here. I don't think Jakarta is lagging behind. But I do think that we need more business travelers to come. The good news is, that it is happening.

What I see from the oneness of your new government with business, I would be optimistic that the city will match other Southeast Asian business centers.

Fir3blaze
August 29th, 2005, 01:07 PM
Besides two or three very well established hotels, of which two are Indonesian brands, the other hotels are really fighting for market share.

Which two Indonesian brand are these? Can anyone help?

tata
August 29th, 2005, 01:08 PM
I don't believe what TEMPO said in news below that is blaming on weakness of Rupiah against USD as the reason of lower transaction in properties. Rupiah passed 10,000 per dollar last week and, as supported by Alvin, it is too early to see the impact on property market.

The reason is, IMO, market getting saturated.

my 1 cent
(another 1 cent I keep to buy a candy :D )

tata

Yeah, the jakarta govt should really allocate some funds to build more better quality sidewalks and crossings (including crossing lights)...



Anyway, is this a sign that the property market (at the bottom end) is slowing down?
-----------------------------------------------------------------------


Pameran Properti Sepi
Minggu, 28 Agustus 2005 | 20:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Meningkatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah membuat pameran perumahan di Balai Sidang Jakarta Convention Centre sepi peminat. Hingga beberapa jam menjelang penutupan, suasana antar stand tampak lengang. Pramuniaga dan tenaga promosi yang rata-rata berasal dari pengembang kelas menengah ke atas pun lebih banyak mematung daripada melayani pengunjung.

Kenyataan sepinya pameran ini diakui staf pemasaran di stand-stand pameran yang berlangsung 20-28 Agustus ini. "Jumlah penjualan jauh di bawah target,"kata Marketing Executive Damai Putra Group, Yosia Mulyoto Subroto.

Menurut Yosia, dalam pameran kali ini, pengembangnya hanya mampu melakukan transaksi sebanyak 15 unit rumah di kawasan Pulogebang dan Bekasi. "Pada pameran di tempat yang sama awal tahun ini, kami bisa menjual 20 rumah,"katanya.

Mulai bulan depan harga rumah akan melonjak sekitar 5 persen. "Penyebabnya macam-macam. Mulai meningkatnya nilai tukar, sampai naiknya harga material,"kata Yosia.

Wieke Widyatmoko dari bidang pemasaran Ambassador Gading Serpong mengakui penurunan itu. "Animo masyarakat untuk membeli, masih ada, meski memang mengalami penurunan berarti,"ujarnya.

Wieke menyatakan, wajar-wajar saja bila naiknya kurs dolar, yang kemudian diikuti kenaikan suku bunga bank, kemudian diikuti turunnya investasi di bidang properti. "Kami memang tak memiliki ekspektasi tinggi pada pameran kali ini,"katanya.

Pada pameran yang diikuti 28 pengembang ini hanya ramai pada Sabtu-Minggu pertama dan saat penutupan. "Senin sampai Jum’at sepi pengunjung,"katanya. Helmi, panitia pelaksana dari Rumah Promosi Indonesia tak memungkiri kenyataan ini. "Pameran Januari lalu lebih ramai," katanya. Helmi pun memasang alasan bahwa para konsumen masih banyak berpikir sebelum menentukan.

Jojo Raharjo

Alvin
August 29th, 2005, 01:36 PM
Which two Indonesian brand are these? Can anyone help?

let me guess...

The notable Indonesian hotel brands are: Sahid, Sari Pan Pacific, Hotel Mulia,...

As for the foreign leading brand, its gotta be Grand Hyatt.

Fir3blaze
August 29th, 2005, 06:28 PM
Thanks man, now i have a better idea. I often heard that Hotel Mulia is good, what about Sahid? They have a hotel in Surabaya, but I don't think it's that good.

firmanhadi
August 30th, 2005, 08:16 AM
Thanks man, now i have a better idea. I often heard that Hotel Mulia is good, what about Sahid? They have a hotel in Surabaya, but I don't think it's that good. Sahid is horrible. They label themselves as 4 or 5 stars hotel, even though their quality is lower than Santika! (The 4-stars are probably granted because the head of Indonesian hotel association is Sahid's daughter).

firmanhadi
August 30th, 2005, 08:32 AM
... Nurfakih claimed that compared to other cities in Europe, America and Asia, Jakarta has cleaner air.

"If you fly above Jakarta, it still looks green. It's even greener than Paris, New York and Tokyo," he asserted. I laughed myself silly when I read this article. Did this yahoo even finish high school? Now I understand why Jakarta is incoherent and randomly developed, the head of its city planning agency is obviously a blind man :cool: . What a waste of all that RpRp$$ spent on "studi banding" to Paris & Tokyo!

firmanhadi
September 2nd, 2005, 08:48 AM
Copyright 2005 The Jakarta Post
The Jakarta Post

August 31, 2005

DEMAND FOR OFFICE SPACE DOUBLES IN CBD

Accelerated economic growth nearly doubled the demand for office space
in the Central Business District (CBD) in the first half of the year,
making it the highest demand recorded in seven years.

Chicago-based property consultant Jones Lang LaSalle said in a report
that property owners in the CBD -- locally known as the Golden Triangle,
which stretches along Jl. Jend. Sudirman, Jl. MH Thamrin and Jl. Rasuna
Said -- rented out a total of 60,000 square meters (sqm) of office space
in the first semester, almost double the 30,700 sqm leased in the
corresponding period last year.

Total take-up of office space citywide reached 2,440,000 sqm in the
first six months, or 79 percent of the total stock of 3,105,000 sqm.

"The high demand has been generated by banking and telecommunications
companies, which have been very busy expanding their businesses in the
first semester," Jones Lang LaSalle's country head, Robin Holdsworth,
told reporters on Monday.

He said that the banking sector, especially the consumer banking and
credit card divisions, had been growing fast while the
telecommunications sector, particularly cell phone operators, continued
to expand.

Jones Lang LaSalle also noted in its report that the high demand was
driven by a favorable economic performance, indicated by encouraging
gross domestic product (GDP) growth in the first half, which reached 5.5
percent compared to only 4.4 during the same period last year.

"Investment also grew by 13 percent, while exports grew by 7.3 percent.
Optimism over the economy is also shown by the fact that investment
approvals rose by 71 percent to US$ 5.93 billion this year," said Anton
Sitorus, the company's research manager.

Demand for office space outside the CBD has also increased as some
companies moved part of their operations to other parts of Jakarta.

Holdsworth said that many banks had decided to move their back-office
operations to other areas in Greater Jakarta to reduce costs.

"The office space market in South Jakarta has been experiencing similar
growth in demand to that in the CBD. Other areas have seen less growth,"
he said.

However, Holdsworth was unable to precisely predict the impact of the
recent slump in the rupiah -- which on Tuesday was trading at Rp 10,525
per dollar -- as it was still too early to say.

"If the trend continues for more than six months, then it will have a
bad impact on the property business. Right now, however, none of our
clients have pulled out of deals," he said.

Jones Lang LaSalle also noted that stable socio-political conditions and
continued economic growth had resulted in higher hotel occupancy rates.

The firm's vice president, Djodi Trisusanto, said the occupancy rate for
five-star hotels increased to 46 percent in the first six months of this
year compared to the same period last year.

Abdul Khalik, The Jakarta Post, Jakarta

Alvin
September 6th, 2005, 12:54 PM
New landmarks in growing Jakarta
Burhanuddin Abe, Contributor, Jakarta

If you drive around Jakarta's Golden Triangle area, which covers Jl. Thamrin, Jl. Sudirman, Jl. Gatot Subroto and Kuningan, you will surely catch sight of a number of property projects still underway: high-rise buildings that will later become apartments, shopping centers and office compounds.

The Peak, for example, will certainly attract attention as it will be Indonesia's tallest building. Having four towers, made up of two buildings with 35 floors each and two others with 55 floors each, The Peak is scheduled to be completed in July 2006.

Outside this Golden Triangle area, in all other areas in the expanding Jakarta, such as in Kelapa Gading, Kemayoran, Pondok Indah and Permata Hijau, construction is under way of shopping centers, town houses, apartments, office compounds and also integrated real estates.

Once these projects are completed, Jakarta will have a very different outlook. The city will be full of tall buildings. You can imagine yourself what Jakarta will look like with so many new landmarks.

Indeed, the construction of property projects in Indonesia, which has gone through its critical period, is now enjoying its revival. Several property players like Ciputra, Trihatma Haliman, Alexander Tedja, Sucipto Nagaria and Djan Faridz have predicted that the property business will remain bright for the next three to five years, slow down for a period and then rise again.

A study conducted by Jones Lang Lassale Indonesia has shown that in the past two years, the property business has been stable with a slight market increase in several sectors and a small drop in some market segments.

Although the construction of apartments and office compounds does not involve areas as vast as that of shopping or trade centers, this business shows its growing dynamism.

Unfortunately, these new supplies are not coupled with a similarly big demand so, as a result, there is a fall in the rate of occupancy in the apartment and office compound sectors.

Research head of Jones Lang Lassale Indonesia, Anton Sitorus, said that supplies in the office sector in Jakarta had continued to increase. Location-wise, up to mid 2005, close to 61 percent of these supplies were found in the Central Business District (CDB) area of Sudirman-Thamrin, while the remaining 23 percent and 16 percent were found respectively in the Rasuna Said area (including Mega Kuningan) and Gatot Subroto.

"At present, there are at least 10 construction projects that will be completed in the next three years, including Sudirman Plaza, One Pacific Place, an office tower in Senayan City, Pearl Garden, Grand Indonesia Complex, Menara Kuningan, Sudirman Plaza (one tower) and Menara Marya. These projects together will supply a total of 350,000 square meters of space," he said.

From the demand side, Anton said, there has been a positive impact on the demand for office space thanks to the favorable sentiment that the business community shows toward the socio-economic development program that the government is implementing.

This year, several deals have been concluded, including involving the movement of CSFB to Sentra Mulia (1,800 sq. meters), Schroeders Investment to the Bursa Effek Jakarta (JSX) Building (700 sq. meters), the Directorate General of Higher Learning of the National Education Ministry to Wisma Aldiron (2,700 sq. meters) and Pyramid International Media to Setiabudi 2 Building (400 sq. meters).

Indeed, a commercial property survey conducted by Bank Indonesia over areas in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi (Jabodetabek) shows that the selling prices of office and apartment space went down in February 2005 compared with the same period the year before.

The selling price of office space dropped by 0.71 percent while that of apartment space by 6.3 percent.

This survey, involving 242 property companies, also shows that the average selling price of office space in February 2005 was recorded at Rp 10.85 million per square meter while that of apartment space stood at Rp 6.80 million per square meters.

The rent, on the contrary, has increased. For office space, the rent was recorded at Rp 119,011 per square meter, or a jump of 7.35 percent over the same period in the previous year, while for apartment space, the rent stood at Rp 118,476 per square meter, or a rise by 29.16 percent over the same period in the previous year.

The conclusion that Bank Indonesia has made is that the public's limited cash liquidity and economic considerations have been instrumental in the drop in the selling prices of office and apartment space and the rise in the rent of these two types of property. The developers have set their selling prices lower than the rent.

Executive director of the Indonesian Center for the Studies of Property (PSPI), Panangian Simanungkalit has a different opinion, though. He said that the survey by Bank Indonesia had been conducted for commercial property constructed prior to 2000.

Meanwhile, the construction of commercial property after 2000 had shown a rapid growth. "The selling prices of these two types of commercial property may as well drop if the office compounds or the apartments were constructed prior to 2000. In view of its own physical condition, old property cannot compete with new property," he said.

Given the increase in the prices of fuel, Panangian added, the selling prices of property would not drop because construction materials, like iron, for example, had risen in price. As for houses, the prices would rise by between 15 percent and 20 percent over the level recorded prior to the fuel price increase. Meanwhile, the prices of apartment and office space would undergo a price increase of between 5 to 10 percent.

The data compiled by the PSPI shows that office compounds built since January 2005 add up to a total of 50,000 square meters in space while in the same period as many as 4,000 apartment units have been put up.

Obviously, the revival of Indonesia's economy has prompted the springing up of exclusive office buildings. When all these projects are completed, there will be an additional 86,000 square meters of office space. Totally, by the end of 2006, Jakarta will have had a supply of 321,600 square meters of new office space.

Geoff Baldwin, CEO of Australia's Roy Weston, a property brokering company, said when inaugurating Roy Weston's branch office in Mangga Dua Raya, Jakarta in late July that property transactions in Jakarta were very brisk.

The country's economic revival has prompted major retailers, like Debenhams, for example, to open its branch office in Indonesia. Meanwhile, several other foreign companies have also begun to open their Jakarta offices. Office leasing transactions have come mostly from small-to-medium-scale lessees seeking space measuring between 50 and 500 square meters. Generally, these transactions come from the expansion or relocation of existing lessees but some new faces, ranging from IT firms and oil companies, have also made these transactions.

Large and multi-national companies have become the main engine promoting the rise in the demand for office space in Jakarta's main business centers. Meanwhile, medium-class companies, including workshops, prefer office compounds located not in downtown Jakarta, for example in Tebet, Kebayoran and Kelapa Gading.


printer friendly

Alvin
September 16th, 2005, 12:54 AM
Kamis, 15 September 2005 03:21 WIB
Pengembang Percepat Pembangunan Proyek

JAKARTA, Investor Daily Online

Rencana pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Oktober 2005 nanti akan berdampak pada kenaikan harga bahan bangunan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah pengembang menyiasatinya dengan jalan mempercepat konstruksi pembangunan dan mengubah material bahan bangunan.


Demikian rangkuman wawancara Investor Daily secara terpisah di Jakarta, Rabu (14/9), dengan Sekjen Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) F Teguh Satria, Konsultan Properti PT CB Richard Ellis Indonesia Azwardy Azhar, Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Hendra A Sugandhi dan Manajer Pemasaran PT Pramatra Sukirman.


Teguh meminta para pengembang yang kini memasuki tahap pembangunan, segera mempercepat proyeknya apalagi harga bahan bangunan telah naik hingga 10%. "Agar tetap stabil, pemerintah sebaiknya mempunyai political will untuk menekan high cost ekonomy seminimal mungkin," katanya.


Sementara itu Azwardy menilai, jika pemerintah menaikan harga BBM sekitar 25%, kenaikan harga bahan bangunan bisa naik 10-15%, terutama untuk besi. Bila itu terjadi, Azwardy menyarankan pengembang untuk mengurangi material finishing sebagai cara efektifk untuk menyiasati kenaikan harga tersebut. "Saya tidak melihat cara lain selain mengurangi kualitas material," ujarnya.


Langkah strategis juga dilakukan oleh pengembang Lippo Karawaci. Menurut Hendra Sugandi, pihaknya tengah ancang-ancang mengubah penggunaan produk impor dengan produk lokal. Ia mencontohkan, jika pengembang biasanya menggunakan keramik asal Italia, sekarang menggunakan keramik lokal atau dari Cina.


Sukirman menyebutkan, para pengembang harus cepat membuka pemesanan (delivery order/DO) untuk sejumlah bahan bangunan seperti semen, besi, kayu, dan sebagainya. Pasalnya, harga barang-barang tersebut kenaikannya mengikuti kenaikan harga BBM. "Harga BBM belum naik saja, komponen material tersebut telah mengalami kenaikan," katanya.


Sukirman juga menyebutkan, para pengembang rumah sederhana sehat (RSH) belum terkena dampak kenaikan suku bunga bank. Sebab, para pengembang umumnya menggunakan kredit konstruksi dari BTN yang hingga kini belum menaikkan suku bunga. Di lain pihak, Sukirman juga khawtir terhadap sikap pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu yang tidak berpihak kepada para pengusaha di sektor riil.


"Ini aneh, sektor yang menyerap banyak tenaga kerja, kok, kurang mendapat perhatian pemerintah. Harusnya ada political will dari mereka untuk membantu mengatasi kelambanan implementasi program gerakan pengembangan sejuta rumah (GNPSR)," ujar dia. (c82)

Alvin
September 17th, 2005, 04:22 PM
Construction market outlook for China & Southeast Asia (15 September 2005)

Abstract: The construction sector of China and Southeast Asia is expected to grow 9% to U$170 billion in 2005 in terms of value-added contribution to Gross Domestic Product (GDP), moderating from a 15% growth rate recorded last year.


China Outlook

Mainland China’s construction sector will continue to grow at the fastest rate in the region although at a more modest tempo than the incredible 17% growth rate recorded last year (see table below). The sector is expected to grow 11% this year to US$128.8 billion and at a similar rate in 2006 to almost US$144 billion. There has been a particular surge in the construction of power stations and commercial buildings recorded by BCI Asia this year. The construction sector has grown rapidly from just US$18 billion in 1990 and long-term growth seems assured. The biggest risk for construction in the year ahead is from bottlenecks in energy supplies as world oil prices rise.

Hong Kong Outlook

Hong Kong’s construction sector is set to grow 6% in US dollar terms this year to US$6.6 billion, consistently clear of the slump experienced at the start of this decade. Last year the sector grew 5%, which was a major improvement on the 13% contraction in 2003. In the first half of 2005, construction starts worth almost US$2.5 billion for commercial and institutional buildings were recorded by BCI Asia in Hong Kong. Construction starts in the first half of 2005 included Hong Kong’s US$260 million Skyplaza, a transport and commercial interchange connecting the Airport Express railway station with the airport passenger terminal; and the US$230 million expansion of Asia Airfreight Terminal with a designed annual capacity of 910,000 tonnes. The construction sector is expected to grow by 4% in 2006.

Indonesia Outlook

After booming in 2004, Indonesia’s construction sector is likely to contract 6% this year in US dollar terms to US$14.1 billion. The contraction is caused by a rapid depreciation in the Rupiah, the impact of rising oil prices and the harm these factors are doing to the state budget. In 2004, the construction sector expanded at a robust 15% to a peak of US$15 billion. In the second half of 2005 Indonesia’s petrol subsidies are expected to be reduced, which will increase construction costs but enable some government spending on construction projects. The Indonesian government is courting foreign investors and aid agencies to fund infrastructure projects and the progress of these projects will have a major impact on the construction sector. However, if the rupiah’s slide continues unabated the construction sector could contract to about US$13.2 billion in US$ terms in 2006. However, in the short term in Rupiah the construction outlook is bright with positive indicators such as fixed investment rising 15% and bank lending to the private sector increasing 30%.

Malaysia Outlook

The construction sector is expected to grow 6% a year to reach US$4.4 billion in 2006. Many large projects are under design or out to tender, but construction starts for commercial and institutional buildings were slower than expected in the first half of 2005 according to BCI Asia research. Growth in the construction sector was negligible in 2004, and 2% growth was recorded in 2003. A glut is emerging in Malaysia’s housing market which may suppress construction spending beyond 2006. In the meantime, the outlook is good with several mega projects scheduled to start construction under the Ninth Malaysia Plan.

Philippines Outlook

The Philippines construction sector is expected to grow 5% to US$4.1 billion in 2005 and then to US$4.3 billion in 2006. However, there are risks that political disruption and high oil prices could dampen growth in the sector. The Philippines imports 96% of its oil and uses 2.4 times as much oil per unit of GDP than the average OECD country. Rising oil prices could have a major impact on its consumer-driven economy. In 2004, the construction sector grew a heady 12%, which was a major rebound after the 28% contraction in this sector in 2001. Confidence in the construction sector was bolstered in mid 2005 with the government planning to invest more than US$500 million on the upgrade of provincial airports and raise another US$4 billion for planned rail projects.

Singapore Outlook

In US$ terms the construction sector grew 1% in 2004, the first time growth had been recorded in this sector since the financial crisis of 1997. Continued strengthening of the Singapore dollar and a belated recovery in local construction spending will see the sector grow by about 4% to US$4.7 billion in 2005. The sector is expected to grow 5% in 2006 to US$5 billion with a surge of private investment in property development.

Thailand Outlook

Annual construction growth in Thailand is expected to moderate, with a slight softening of the Baht, to about 2% in 2005 and to 3% in 2006 after an incredible growth rate of 20% in 2004. At these rates the construction sector will grow to US$5.2 billion in 2005 then to US$5.4 billion in 2006. The sector has grown steadily since a trough of US$3.5 billion in 2001 down from a peak of US$13.5 billion in 1996 on the eve of the country’s financial crisis. The construction sector is expected to experience moderate growth for the next two years and an acceleration of growth in 2007 when spending feeds through into this sector from the government’s new investment program. Under this program for public projects, major investment will be directed towards mass-transit systems, water resources and housing.

Vietnam Outlook

After rapid growth rates of 19% in 2004 and 16% in 2003, construction growth in US$ terms is expected to moderate this year partly because of depreciation in the Dong. The construction sector is expected to grow 6% in 2005 to US$3.0 billion then 6% to US$3.2 billion in 2006. Vietnam’s construction sector has come a long way from approximately US$200 million in 1990. BCI Asia reported construction starts for commercial and institutional buildings alone worth US$800 million in the first half of 2005 and increasing values for projects under design and planning.

Alvin
October 10th, 2005, 09:14 AM
Property players to slow down expansion
Anissa S. Febrina, The Jakarta Post, Jakarta

Setbacks in the domestic economy recently -- triggered by higher key interest rates set by the central bank and higher fuel prices -- have prompted property developers to slow down expansion, focusing on this year's ongoing projects and reviewing next year's plans.

"We are calming down after a massive expansion these past couple of years. We will review our planned projects in accordance with the economic situation," said Agung Podomoro Group marketing director Indra W. Antono last week.

Concentrating on middle-upper class property developments in the capital, Agung Podomoro Group is currently working on nine projects, mostly commercial centers and apartments such as the Jakarta City Center, Senayan City, The Pakubuwono Residence and CBD Pluit.

Although the company had four more projects on its 2006 list, Indra said, it was likely to be delayed as their current projects are nearing completion and would add to next year's supply.

Established developer Ciputra, which choose to concentrate on real estate, would continue expansion less aggressively than it did this year, said Ciputra Surya director Harun Hajadi.

"We make fewer developments although the demand for housing is still high," he said, adding that the company plans to invest next year a slightly lower amount as compared to its Rp 400 billion investment in 2005. The company invested Rp 800 billion in 2004.

This year, it is still completing its high-class resort development of Taman Dayu in East Java and several middle-lower compounds in Greater Jakarta.

The domestic property market has been experiencing a boom since 2002 with market capitalization more than doubling from Rp 26.6 trillion (US$2.65 billion) to Rp 56.1 trillion as of September 2005.

Property analyst Panangian Simanungkalit from the Center of Indonesian Property Studies (CIPS) suggested that developers be more careful and responsive in reading market demand.

With exchange rates fluctuating and the inflation rate predicted to soar to 12 percent until the year-end, buying property might be the safest way to invest nowadays, he added.

The value of upper class apartment units in prime locations such as Jl. HR Rasuna Said, South Jakarta, and Jl. Jend. Sudirman, Central Jakarta, for example, will grow by an average of 20 percent annually. By comparison, the yearly interest of savings and deposits sits at between 12 percent and 15 percent.

Panangian said 65 percent of upper class property ended up in the hands of investors.

However, the highest demand would still be for housing in the middle to lower market. Since the latter are experiencing financing difficulties, Panangian suggested that developers cooperate with the banking sector in providing longer lending periods.

"It has been done in Thailand and Malaysia, it should be feasible here," he said.

Sielo
October 17th, 2005, 05:56 AM
Greater Jakarta property sees increase in foreign investment

Anissa S. Febrina, The Jakarta Post/Jakarta

With a number of Asian property developers constructing new office buildings in the capital, foreign investment in the Greater Jakarta property sector more than doubled in the first semester of 2005, a property research company reported.

According to Coldwell Banker Commercial (CBC) Indonesia, the value of foreign investment realized from January through July this year increased to US$5.92 billion from $2.49 billion in the corresponding period last year.

"The largest investors are from Japan and China, as well as other Asian countries," said CBC Indonesia senior technical adviser on research and consultancy Benjamin M. Lamberte.

One of the largest projects, according to the company, was the strata-titled office building Menara Sahid in South Jakarta. Half of the investment in the project -- or about Rp 250 billion ($24.75 million) -- came from China's Ruier International Group.

"Foreign investors have developed confidence in our market," Lamberte said, adding that the growth in office space would trigger a growth in luxury apartments as well.

This same trend, he added, has already occurred in Singapore, Hong Kong and the Philippines.

However, currently there is no additional supply of leasable office space in Greater Jakarta because several construction projects failed to meet their deadlines. The total leased office space in the capital was recorded at 2.37 million square meters (sqm) as of September.

Meanwhile, the supply of strata-titled office space remained stagnant at 302,676 sqm.

"As long as the economic situation remains promising for investors, there will still be demand for office space next year," said Lamberte.

In the residential subsector, CBC reported that from July through August most of the 6,070 new units supplied by developers were located in Bekasi.

More than 50 percent of the units are in the lower market segment, 37.74 percent are middle-class housing and 6.28 percent are in the upper segment.

However, the take-up level was spread quite equally, with 1,119 units of upper segment housing sold during the period, 1,738 units of middle class and 1,679 of lower segment.

"With the trend of slower expansion next year, it would be a good time for developers to review the market and build new marketing strategies," Lamberte said.

The demand for residential units, especially for real estate and town houses, will remain high despite increasing prices and higher interest rates, he said.

In the apartment market, with a cumulative stock of 10,645 units -- in both primary and secondary areas -- as of September 2005, the demand for upmarket units will continue to grow with the coming of foreign investment.

CBC reported that there would be 1,585 new units coming to completion during the next couple of years, as the cost of construction and lending interest rates rose.

jaystar
October 26th, 2005, 06:17 PM
can anyone tell me bout this??

XxRyoChanxX
October 27th, 2005, 02:15 AM
didn't they have a thread for this topis already?

Alvin
October 28th, 2005, 05:28 AM
Aside from CENTRAL (in Grand Indonesia), TESCO, WALMART, TAKASHIMAYA and ISETAN also have plans to enter Indonesia. Good prospects for the retail sector.
------------------------------------------------------------------------


4 Peritel raksasa akan masuk RI

JAKARTA: Persaingan bisnis ritel bakal marak menyusul akan masuknya empat peritel raksasa dunia. Dari keempat peritel itu, Tesco dan Central Department Store diperkirakan mulai beroperasi tahun depan.
Kalangan industri ritel mengungkapkan dua peritel raksasa dunia yang mulai beroperasi di Indonesia tahun depan adalah Tesco dan Central Department Store. Sedangkan peritel lainnya adalah dua dari tiga peritel raksasa berskala dunia-yaitu Wal-Mart (peritel asal AS), Takashimaya, dan Isetan (department store asal Jepang)-yang disebut-sebut juga berminat masuk Indonesia.

Tesco adalah peritel asal Inggris yang menempati peringkat ketiga dari 30 top peritel di Eropa pada 2004. Dengan format hypermarket-nya, Tesco bahkan disebut-sebut sudah menentukan lokasi gerainya di Jakarta dan sekitarnya.

Peritel yang juga dipastikan masuk Indonesia pada 2006, menurut kalangan industri ritel, adalah Central Department Store, milik Central Retail Corporation (CRC). Ini merupakan peritel nomor satu (Central Group) di Thailand.

Tidak tanggung-tanggung, kata mereka, Central bakal menempati areal belanja seluas 41.000 m2 di Grand Indonesia, yang dijadwalkan mulai beroperasi pertengahan 2006.

Central bahkan menjadi anchor tenant di pusat perbelanjaan papan atas yang berlokasi di lahan Hotel Indonesia dan bekas Hotel Inna Wisata, Jakarta, itu. Peritel ini menempati separuh dari luas salah satu mal yang berada di Grand Indonesia, yaitu terdiri dari mal A seluas 80.000 m2 dan mal B seluas 70.000 m2.

Sementara itu, sumber Bisnis menyebutkan dua dari tiga peritel raksasa-yaitu Wal-Mart (peritel asal AS), Takashimaya, dan Isetan (department store Jepang)-disebut-sebut juga berminat masuk Indonesia.

"Memang ada empat peritel asing skala besar yang mau masuk Indonesia, formatnya bisa department store, supermarket, atau hypermarket," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Handaka Santosa kepada Bisnis.

Dengan masuknya keempat peritel raksasa dunia itu, persaingan bisnis ritel nasional bakal makin marak.

Pasar potensial

Handaka menjelaskan kesempatan peritel asing masuk Indonesia terbuka luas, baik karena pasar yang potensial maupun adanya ketentuan perundang-undangan yang memungkinkan. Jumlah penduduk Indonesia yang banyak, sekitar 215 juta jiwa, merupakan peluang bisnis sangat besar bagi pebisnis ritel.

Dari segi perundang-undangan, ada Keppres No. 118 Tahun 2000 yang mendukungnya. Keppres ini mengatur tentang Perubahan atas keputusan Presiden No. 96 Tahun 2000 tentang bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan tertentu bagi penanaman modal.

Dalam pasal 1 Keppres itu disebutkan pengecualian di sektor perdagangan untuk jenis usaha yang tertutup untuk penanaman modal yang dalam modal perusahaan ada pemilikan warga negara asing dan atau badan hukum asing.

Keppres itu juga menyebutkan yang tidak termasuk (kecuali) sebagai jenis usaha yang tertutup untuk asing di sektor perdagangan, antara lain perdagangan eceran skala besar (mal, supermarket, department store, pusat pertokoan/perbelanjaan).

Namun Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag, Ardiansyah Parman, mengatakan belum ada kepastian tentang masuknya empat peritel berskala dunia itu ke Indonesia. Karena itu, lanjutnya, belum ada izinnya.

Dia mengatakan yang pasti pemerintah tidak akan menerapkan perlakuan hukum yang berbeda kepada peritel asing. Sebab pengaturan yang diterapkan kepada sektor ritel bukan berdasarkan pada status kepemilikannya tetapi atas dasar kategori pola penjualan dan pengaturan zona.

"Pola penjualannya tetap diatur, yang grosir tidak boleh me-ritel. Dan pengaturan zona-nya juga jelas."

Ardiansyah mengatakan kehadiran peritel asing dapat meningkatkan kapasitas pemasaran para distributor dan pelaku terkait lain, sekaligus menyediakan lapangan kerja.

Handaka mengatakan peritel lokal tidak perlu khawatir dengan kehadiran peritel asing berskala besar.

"Matahari [peritel lokal] saja sudah buka di China. Maka tidak perlu takut. Peritel sebetulnya memperoleh barang dari supplier dan menjualnya ke konsumen. Jadi, yang sangat diperlukan adalah bagaimana membuat perusahaan kita efisien."

Peritel asing skala besar, menurut Handaka, juga tidak gegabah menanamkan modal mereka di suatu negara. Karena peritel skala besar tidak selalu menjadi jaminan sukses untuk membuka gerai di negara mana pun.

Secara terpisah, M. Iqbal, anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha, mengungkapkan dia telah mendengar niat sejumlah peritel asing untuk berbisnis di Indonesia.

Menghadapi kemungkinan semakin banyaknya peritel asing masuk ke Indonesia, melalui bendera perusahaan sendiri atau bekerja sama dengan perusahaan lokal, kata Iqbal, pemerintah perlu membuat regulasi untuk industri ritel.

Dia mengatakan yang penting dilakukan adalah masalah zonasi. Pemerintah atau pemda diharapkan membuat lahan yang terpisah untuk bisnis ritel yang disesuaikan dengan besar skala usahanya. (linda. silitonga@bisnis.co.id & bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga & Bastanul Siregar
Bisnis Indonesia

cOcO_cHaneL
October 29th, 2005, 01:56 PM
^^ yeahhhhhhhh~~~~

tata
October 29th, 2005, 06:59 PM
Aside from CENTRAL (in Grand Indonesia), TESCO, WALMART, TAKASHIMAYA and ISETAN also have plans to enter Indonesia. Good prospects for the retail sector.
------------------------------------------------------------------------


walmart used to be here right?

Alvin
October 29th, 2005, 07:01 PM
walmart used to be here right?

really?? I don't think so...

tata
October 29th, 2005, 07:31 PM
really?? I don't think so...

yes. it was in Karawaci.

Blue_Sky
October 29th, 2005, 07:41 PM
"Matahari [peritel lokal] saja sudah buka di China.
This news is a the best point in that article

Blue_Sky
October 29th, 2005, 07:42 PM
yes. it was in Karawaci.
Soo what happen then??

Alvin
November 1st, 2005, 08:04 AM
Indonesians top Singapore's foreign property purchase

SINGAPORE (DPA): Indian nationals are buying more apartments and condominiums in Singapore, but the majority of foreign buyers still come from Indonesia and Malaysia, a property consultancy said Tuesday.

Purchasers from Indonesia emerged atop the Jones Lang LaSalle list, comprising 24 per cent of the total foreign purchases in the first nine months of this year. Those from Malaysia accounted for 22 percent.

The third-largest group of foreign buyers came from China with 9 per cent of the foreign purchases from January to September. Combined with buyers from Hong Kong, they made up 12 percent of the overseas purchases.

Indian buyers' purchases rose to 8 percent in the first nine months of the year, up from 5 percent in 2004.

"This could be attributed to their familiarity with the Singapore market and their increasing purchasing power due to high economic growth in India, supported by the outsourcing and offshoring activities from U.S. and European companies," saidFeng Zhi Wei, Jones Lang LaSalle's associate director for South Asia and Singapore.

Foreign buyers as a whole bought more in the first nine months of this year than in all of 2004. They made up about 25 percent of 8,604 caveats lodged for non-landed homes, up from 21 percent of 9,234 caveats for all of last year.

The number of foreign buyers purchasing high-end homes has risen at a faster pace than local buyers doing the same, Feng noted. (***)

sanhen
November 1st, 2005, 02:23 PM
Hah? Matahari buka di China?

cOcO_cHaneL
November 4th, 2005, 07:33 AM
woww.. mataHari in china?? that's a gr8 opps!

XxRyoChanxX
November 4th, 2005, 08:15 AM
matahari di china? fo real?

Alvin
November 29th, 2005, 08:06 AM
Tuesday November 29, 12:43 PM
Indonesia's Bakrieland Has High Hopes in New Property Projects

JAKARTA, Nov 29 Asia Pulse - Listed property company PT Bakrieland Development (JSX:ELTY) is set to triple its sales next year with contributions from two new property projects.
Bakrieland plans to build apartment houses in Jakarta called Rasuna Epicentrum and Taman Rasuna Tower 18.

Rasuna Epicentrum will be built over a 12.5 hectare plot of land recently bought from life insurance company Asuransi Jiwa Bumiputra 1912.

The project will be built next year but sales are already in progress, the company Finance Director Hamid Mundzir said.

Apartment suits of Taman Rasuna Tower 18 have been already 60 per cent sold, Hamid said yesterday.

In the first 10 months of this year the company reporded Rp229 billion (US$22.6 million) in sales. ADVERTISEMENT



Bakrieland has no intention of seeking bank loans; instead it plans a right issue to raise Rp630 billion to finance its expansion until 2008, Hamid said.

(ANTARA)

macgyver
November 29th, 2005, 09:38 AM
Soo what happen then??

They got out during the crisis.
Yeah .. It is in Lippo SUperMall

627
December 1st, 2005, 08:03 AM
my dad says that property is doing really bad b/c of inflation and so he profits are very low. maybe tahts why we dont have any new projects?

macgyver
December 1st, 2005, 08:31 AM
my dad says that property is doing really bad b/c of inflation and so he profits are very low. maybe tahts why we dont have any new projects?

Hmm .. It is time to be a property speculator then ?

627
December 1st, 2005, 09:13 AM
whats that.. haha

macgyver
December 1st, 2005, 09:45 AM
whats that.. haha

Buy now , sell later.
Just like what happen in UAE ... in every apartment ... 60% is bought by speculator ... later sell it to the western with 30-40% mark up :D

Alvin
December 1st, 2005, 11:43 AM
Accor expands in Indonesia
Fiona Cameron
December 01, 2005

ACCOR Hotels and Resorts has signed a string of "opportunistic" deals in Indonesia and will open five new hotels there next year.

The move confirmed Accor's position as Indonesia's fastest-growing hotel chain, said Accor's Asia-Pacific managing director Michael Issenberg.

"Most of our international competitors aren't really that interested in Indonesia, outside Jakarta and Bali, and we have a very extensive network and believe this is a good opportunity," he said.

Accor's timeshare arm also has announced its first property deal outside Australia and New Zealand. It will spend $5.3 million developing 23 apartments in Bali.

The Queensland-based timeshare company, Accor Premiere Vacation Club, is jointly owned by Melbourne-based listed developer Becton Property Group. APVC has been aggressively buying luxury and boutique-style apartments and villas around Australia in the past year.

Developing the property in Bali was "very much about satisfying the requirements of the Australian members" of APVC, Mr Issenberg said.

The apartments would be part of the new Novotel Residence at Nusa Dua in Bali, which is scheduled for completion mid next year.

Under Accor's new hotel management agreements - mostly for 10 years - Accor will add two Novotels and three Mercure hotels to its stable, bringing the number of hotels the company runs in Indonesia to 38. It aims to have 50 there by the end of 2007. As well as the Bali Novotel, the other properties are Novotel Tarakan (175 rooms), Novotel Bandung (150 rooms), Mercure Batam (160 rooms) and Mercure Surabaya (110 rooms).

All are new developments, except the two that will become Mercures, which are being taken over from local operators.

Accor had pioneered the establishment of international hotels in the regions of Indonesia, Mr Issenberg said. "These provincial destinations are popular with domestic and intra-Asia travellers visiting on business or for leisure and have proven strong performers in recent years," he said.

Negotiations on the latest deals had begun before the Bali bombings in October, but Accor did not hesitate to proceed with the agreements, he said.

Blue_Sky
December 1st, 2005, 08:17 PM
Wow...
Tarakan will have Novotel :eek2:

Alvin
December 7th, 2005, 02:43 PM
Malaysia Metro Ikram Launches Housing Proj In Indonesia

Wednesday December 7, 2005, 10:29 pm

DJ Malaysia Metro Ikram Launches Housing Proj In Indonesia



KUALA LUMPUR (Dow Jones)--Malaysia's Metro Ikram Sdn. Bhd., a company controlled by businessman Halim Saad, Wednesday said it has launched the first phase of its affordable-housing project in Indonesia.


The project in Jati-Bekasi, about 15 kilometers from the Jakarta city center, is a joint effort with Indonesia's national urban development corporation Perumnas, property developer Metro said in a statement.


The Indonesian agency was set up to provide housing to low and middle income earners employed in both the public and private sectors.


The first phase of the project involves the construction and development of 242 houses priced at an average of US$18,000 a unit. The project will be developed on 5.3 hectare of land owned by Perum Bulog, an Indonesian government agency involved in the distribution of rice and consumer goods.


Halim, a one-time protege of Malaysia's former finance minister Daim Zainuddin, also controls listed construction firm Seloga Holdings Bhd. (7641.KU).


He had previously controlled two of Malaysia's biggest infrastructure firms Renong Bhd. and United Engineers (Malaysia) Bhd., or UEM.


During the Asian financial crisis, both Renong and UEM became heavily debt-ridden and Halim gave up control of them. The government took over both firms in late 2001.


On Aug. 18, Metro Ikram and Perumnas signed a deal to build about 100,000 affordable homes throughout Indonesia.


The homes are targeted to be completed within a 10 year period.



-By Joseph Edwin, Dow Jones Newswires; 603 2692 5254; joe.edwin@dowjones.com


-Edited by Leslie Shaffer

cOcO_cHaneL
December 11th, 2005, 03:06 PM
Wow...
Tarakan will have Novotel :eek2:

where is tarakan??

Alvin
December 19th, 2005, 06:35 PM
PROSPECTS STILL BRIGHT FOR INDONESIAN PROPERTY MARKET: EXEC

Monday December 19, 2005, 6:15 pm



JAKARTA, Dec 16 Asia Pulse - The prospects of property business in Indonesia such as housing and malls is still bright as demand by consumers in this sector remains high, a developer said here on Friday.

"Market demand for houses and malls remains high. Therefore, developers must adjust their business plans to this sector in order to stay on," marketing director of PT Mega Glodok Kemayoran (MGK) Suhandi said. ADVERTISEMENT



He said the property business this year in the country was less profitable due to an increase in the cost of construction materials by about 10 to 15 per cent as a result of fuel oil price hikes by 126 per cent.

But this does not mean that the property sector would no longer provide gains for developers. They still had a chance to earn gains as long as they seriously focus their business plan on the right track, he said.

On the market growth, Suhandi said that it was not as good as that of last year, but there were still spaces in this sector where developers could do their best.

"We are optimistic with the property market as it still opens opportunities regardless of slowing economic growth. This is because it affects only those of the low income groups, whereas on the those of the middle and upper income brackets, its effect is relatively small," he added.

He said MKG would therefore stay ready to welcome foreign investors who intended to make new investments in Indonesia so that fresh funds would flow and boost trade activities in the country.

Economic growth which was estimated to be slowing next year would gradually change into growing vastly as a result of the government`s plan to raise its expenditures and the entry into the country of long-term foreign investors, he added.

"Therefore, property business still has bright prospect though it would be lackluster at the beginning of 2006," he added.

(ANTARA)

Alvin
January 24th, 2006, 01:43 AM
Properti di 7 kota berpotensi jaring asing

JAKARTA: REI mengungkapkan tujuh kota di Indonesia dinilai paling potensial menjadi tujuan investasi asing di sektor properti.
Potensi investasi pada tujuh kota ini diperkirakan senilai US$5 miliar-US$10 miliar selama lima tahun ke depan.

Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Lukman Purnomosidi mengemukakan dari hasil inventarisasi asosiasi itu, pihaknya memastikan tujuh kota di Indonesia menjadi tempat yang paling diinginkan warga asing memiliki rumah.

Inventarisasi ini terkait adanya komitmen pemerintah merevisi kebijakan hak milik asing di sektor properti.

"Sambil menunggu keputusan pemerintah, kami telah melakukan inventarisasi kawasan-kawasan di Indonesia yang sangat berpotensial menjadi tujuan warga negara asing. Potensi terbesar di Jakarta, disusul Batam, Medan, Pekanbaru, Bali, Lombok, Makassar, dan Manado," ujar Lukman di sela-sela Sosialisasi Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 05/2005, kemarin.

Meskipun belum ditetapkan, komitmen pemerintah memperpanjang hak milik asing tersebut cukup direspons sejumlah pelaku bisnis properti.

Anggota REI sendiri, ujarnya, ada yang telah merencanakan membangun apartemen yang pangsa pasarnya orang asing pada beberapa lokasi di Jakarta.

Dia memperkirakan tujuh kota tersebut mampu menarik investasi asing sebesar US$1 miliar-US$2 miliar untuk tahun pertama, setelah hak milik asing di sektor properti diperpanjang.

Mengenai revisi jangka waktu hak milik asing, dia mengemukakan REI mengusulkan pemerintah menaikkan hak milik properti orang asing sampai 99 tahun, dari 25 tahun.

Masa ini, urainya, cukup relevan jika dilihat dari sisi jangka waktu kepemilikan rumah ideal bagi orang asing dan kebijakan pada sejumlah negara, khususnya di Asia Tenggara yang menjadi saingan Indonesia di bisnis properti.

"Kami mengusulkan 99 tahun, karena kalau memang ada niat membuka peluang investasi asing, tetapkanlah masa waktu yang dipastikan bisa menarik investor asing," jelasnya. (06)

Bisnis Indonesia

Zorobabel
February 22nd, 2006, 04:33 AM
http://www.thejakartapost.com/detailbusiness.asp?fileid=20060221.L02&irec=3

Quote:

The average occupancy rate during the last three months of 2005 stood at 80.4 percent, up from the 77.4 percent recorded for the same period in 2004.

Alvin
February 28th, 2006, 11:59 AM
Analysts say it's time to open up property sector
Anissa S. Febrina , The Jakarta Post, Jakarta
527 words
28 February 2006
The Jakarta Post
1
English
(c) 2006 The Jakarta Post
Giving foreign nationals greater property rights in Indonesia could absorb up to US$10 billion in potential investment and make the sector more resilient in times of crisis, a property analyst says.

"The time is just right to give more access to foreigners. We can expect a significant amount of investment that will absorb more capital into the real sector," Indonesian Property Studies (CIPS) chief analyst Panangian Simanungkalit said Monday.

A CIPS study found that opening only 30 percent of property units -- ranging from apartments, office space to malls -- to foreign ownership could contribute $10 billion of investment in the next five years.

Property analysts and developers have called for the government to revise the existing regulation barring outright foreign ownership of property and to extend the leasehold period to up to 99 years to attract more investment. The government is currently in the process of revising a 1960 law on the use of land, water and space.

Currently, foreign nationals are only entitled to leasehold titles for a maximum period of 25 years.

The CIPS study showed that, in Jakarta alone, the sector could gather at least $2 billion investment if 30 percent of the available 65,000 high-end apartment units were sold to foreign investors.

According to property research firm Jones Lang LaSalle, about 70 percent of serviced apartments in Jakarta were rented to foreigners.

"That does not include those who rent houses in Kemang, Pondok Indah, Kebayoran and Menteng," LaSalle national director Lucy Rumantir said.

The study also showed that if a similar percentage was provided for the office and commercial subsector, there would be potential investment of $2.1 billion and $4.2 billion respectively.

The Indonesian Real Estate Association also identified Batam, Medan, Pekanbaru, Bali, Lombok, Makassar and Manado as areas with potential for foreign investment in property.

Panangian said Singapore, Thailand and Malaysia, which have opened their property sectors to foreigners, have benefited from the policy.

"When the (economic) crisis happened, foreign investors also shared the bursting of the bubble, so they also put in an effort to make the situation better instead of running away when the property sector collapsed," he said.

The local property sector was hard-hit by the economic crisis that struck in 1997, with numerous developers crippled by soaring debt when the rupiah sunk to an all-time low against the greenback.

The sector did not start to rebound until 2003 when its market capitalization reached almost Rp 50 trillion, a tenfold improvement on its value in 1999.

Development of the sector continued to improve until soaring interest rates curtailed developers' aggressive expansion plans.

Panangian said foreigners currently had to rely on informal gentlemen's agreements with locals to buy property because they could not own the units themselves.

"It is not legally binding and if the locals aren't trustworthy, it could give Indonesia a bad name," he added.

Land reform expert Gunawan Wiradi said the government still needed to apply restrictions in opening up the sector to foreigners.

"It should be opened but controlled," he added.

Alvin
March 1st, 2006, 10:36 AM
Sinar Mas Group is investing US$744m in commercial property development in Shanghai. If only this amount of money was invested in Jakarta's property sector...you could build 5 Grand Indonesias with that amount of money.

----------------------------------------------------------------------


CHINA: Joint venture construction plans for proposed $744,000,000 commercial property project, HONG KONG CONSTRUCTION (HOLDINGS) LTD. [Hong Kong] & SINAR MAS GROUP [Indonesia] Project #: 032306.
777 words
1 March 2006
WWP-Business Opportunities in Asia & the Pacific
0
Volume 14; Issue 03
English
Copyright 2006 Gale Group Inc. All rights reserved.
PROJECT OVERVIEW:

An Indonesian/Hong Kong joint venture was recently awarded a construction contract to for a new commercial property project in Shanghai, China. The partners in the planned undertaking include the Indonesia-based SINAR MAS GROUP (90%) and its Hong Kong subsidiary HONG KONG CONSTRUCTION (HOLDINGS) LTD. (10%).

According to the terms of the award, the partnership will be responsible for developing a commercial site that will comprise a hotel and associated office space. However, according to a HONG KONG CONSTRUCTION Company Spokesman, the amount of the capital contribution and the contribution schedule are not yet finalized.

In any case, the cost to complete the real estate development project has been estimated to amount to $744,000,000.

SINAR MAS operates as a holding company that is involved in agribusiness, pulp and paper as well as real estate and property.

HONG KONG CONSTRUCTION, formerly known as KUMAGAI GUMI (HONG KONG) LTD., is primarily involved in construction but it is also engaged in real estate development, infrastructure construction and hotel investments.

tata
March 1st, 2006, 01:10 PM
Sinar Mas Group is investing US$744m in commercial property development in Shanghai. If only this amount of money was invested in Jakarta's property sector...you could build 5 Grand Indonesias with that amount of money.


Or we can build our monorail. If only MRT projects are as attractive as tollroad...

Alvin
March 28th, 2006, 03:24 AM
15 Gedung perkantoran segera masuk CBD

JAKARTA: Bisnis properti perkantoran agaknya memang tengah menuju booming tahun depan, sebagaimana diperkirakan sejumlah pengamat dan praktisi bisnis.
Berdasarkan riset Colliers International, sedikitnya 15 gedung perkantoran tengah dibangun dan bakal memasuki pasar di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) dalam dua tahun ke depan (tabel).

Di luar itu, Colliers melihat 10 gedung kemungkinan juga bakal ditawarkan sebagai perkantoran.

Untuk kawasan non-CBD sedikitnya delapan gedung perkantoran sedang dibangun, sementara 11 lainnya kemungkinan juga akan ditawarkan sebagai perkantoran.

Kontribusi terbesar bagi menanjaknya properti perkantoran datang dari sektor perbankan dan perusahaan perminyakan.

Di antara sejumlah subsektor properti, menurut hasil penelitian Colliers International, kinerja pasar perkantoran merupakan yang paling baik. Tren bagus tersebut bahkan diyakini berlanjut sepanjang tahun ini hingga memasuki 2007.

"Baik tingkat sewa maupun tingkat hunian menunjukkan tren yang meningkat sepanjang 2005. Terkait dengan itu, untuk tahun ini, bank dan perusahaan-perusahaan perminyakan memberi kontribusi terbesar bagi bangkitnya bisnis perkantoran," demikian Colliers.

Bank Mandiri, BNI, HSBC, dan Bank Danamon disebtukan sebagai empat bank yang bakal memerlukan ruang perkantoran cukup banyak sepanjang tahun ini.

Dari sisi sewa, sepanjang tahun lalu terdapat peningkatan sebesar rata-rata 10% menjadi Rp75.484 per m2 per bulan.

Untuk tahun ini, relokasi dan ekspansi diprediksi masih mendominasi transaksi perkantoran.

CBD tetap bertahan sebagai pilihan utama bagi pebisnis untuk berkantor. Namun, Jakarta Selatan dipandang sebagai daerah yang bakal terus berkembang karena merupakan areal favorit bagi industri nonjasa.

Colliers International menyebutkan sedikitnya 15 gedung di CBD sedang dalam tahap pembangunan dan diperuntukkan bagi ruang perkantoran.

Dua proyek yang pelaksanaan konstruksinya nyangkut pada tahun lalu dilanjutkan pembangunannya dan dijadwalkan masuk pasar dalam waktu dekat.

Kedua gedung tersebut ialah Wisma Bakrie 2-sebelumnya dikenal sebagai Menara Nusa-dan Menara Anugrah yang akan menambah pasok perkantoran seluas 44.000 m2. Oil Centre yang sedang diremajakan juga segera memasuki pasar perkantoran.

Gedung lain yang diperkirakan menyemarakkan bisnis perkantoran pada tahun ini adalah Menara Kuningan dan dua proyek Tan Kian yakni Sudirman Plaza dan Plaza Marein. Satu proyek lagi, Menara Orienta akan menjelma menjadi sosok baru dengan nama The East.

Dengan masuknya sejumlah perkantoran baru di atas, terdapat tambahan pasok ruang kantor seluas 187.000 m2, di mana 51% di antaranya ditawarkan ke pasar dengan pola penjualan (strata title).

Beberapa proyek yang diperkirakan memasuki pasar perkantoran pada tahun depan ialah Menara Karya, Satrio Tower, Senayan City Office, Jakarta City Centre, Grand Indonesia (BCA Tower), dan Menara Plan.

Tren berlanjut

Colliers menyebutkan tren bagus yang terjadi sepanjang tahun lalu akan berlanjut pada tahun ini.

Sebuah bank nasional berskala besar diungkapkan telah siap memanfaatkan areal Grand Indonesia.

Sedangkan tiga perusahaan perminyakan sudah memesan space di Grand Soho dan Menara Kuningan yang termasuk wilayah CBD serta di Ratu Prabu 2 di Jl. T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, yang non-CBD.

Di luar perbankan dan perusahaan perminyakan, pemain bisnis teknologi informasi dan restoran juga memberi kontribusi lumayan signifikan dalam pemesanan ruang perkantoran untuk tahun ini. (syahran.lubis@bisnis.co.id)

Oleh M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia

15 Office Buildings Developed in CBD

28 March 2006
Bisnis Indonesia

(c) 2006 Bisnis Indonesia
JAKARTA: Indonesia property business will be booming next year, as predicted by observers and business players.

The research of Colliers International concluded that at least 15 office buildings are being built in the central business district (CBD) in the next two years.

Apart from that, Colliers also sees 10 more office buildings will be offered to the market.

For the area outside CBD, there will be 11 new office buildings.

The largest contributors of the office building supply are the banking sector and oil companies.

Colliers International reported, among all property business, the sub sector of office buildings have been the best one so far. Colliers believe the trend will remain the same until 2007.

"Along 2005 the rental price as well as the occupation rate is on the increasing trend. Banking and oil sectors have been the major supplier of the office buildings this year," Colliers reported.

Bank Mandiri, BNI, HSBC, and Bank Danamon have reportedly needed lots of office space this year.

The renting price has increased by 10% to IDR75,484 per square meter per month last year.

CBD will still become the main choice for business sector to open their office buildings. But South Jakarta is believed to become the favorite place for non-service sector to open their offices.

Colliers International reported that at least 15 office buildings are built on the area.

Two projects that have been started last year will be ready soon.

The two buildings are Wisma Bakrie-2, initially known ad Menara Nusa and Menara Anugerah, with the supply of 44,000 square meters of space. Oil Center is also being rejuvenated.

Other projects that will enter the market are Menara Kuningan and two projects of Tan Kian, Sudirman Plaza and Plaza Marein. Menara Orienta, meanwhile, will become The East.

The total new supply will be 187,000 square meters, 51% of which have been offered in strata title scheme.

Some office building projects for next year are Menara Karya, Satrio Tower, Senayan City Office, Jakarta City Centre, Grand Indonesia (BCA Tower), and Menara Plan.

Colliers reported that last year's trend will remain the same this year.

A national bank reportedly will use the area of Grand Indonesia.

In the meantime three oil companies have ordered the space of Grand Soho and Menara Kuningan at CBD, as well as the space at Ratu Prabu 2 in Jl. T.B. Simatupang, South Jakarta, outside the CBD.

Apart from banking and oil sector, information technology and restaurant sectors also have become the significant contributors for the office building supply. (syahran.lubis@bisnis.co.id)

By M. Syahran W. Lubis

XxRyoChanxX
March 28th, 2006, 04:00 AM
thx for the article

Alvin
April 7th, 2006, 02:16 AM
164 new apartments to be launched in Jakarta to 2008 :runaway:

------------------------------------------------------------------

CBD & Jakarta Barat lokasi utama hunian vertikal
164 Apartemen baru bakal jejali Jakarta

JAKARTA: Dalam waktu dua tahun ke depan hingga 2008 pasar apartemen di Jakarta bakal dijejali dengan tambahan 164 proyek strata title, demikian hasil riset Colliers International, perusahaan agen pemasaran dan konsultan properti.
Dari jumlah tersebut, 24 di antaranya diperkirakan di-launching pada tahun ini. Kehadiran 24 apartemen itu menghadirkan sekitar 10.400 unit dan mencerminkan pertumbuhan pasok hunian vertikal itu sedikitnya 29% dibandingkan dengan tahun lalu.

Penambahan unit sebanyak itu pun memberi kontribusi yang signifikan bagi pasok di pasar Ibu Kota, sehingga jumlah total hunian apartemen yang ditawarkan ke pasar saat ini nyaris mencapai 47.000 unit.

Pertumbuhan pasok apartemen, menurut perkiraan Colliers, bakal berlanjut hingga 71.940 unit hingga 28 atau mengalami pertumbuhan 24% setahun.

Uniknya, konsultan properti tersebut mencatat tren permintaan apartemen yang menurun sepanjang tahun lalu.

Pada 2005 hanya 2.921 unit apartemen strata title (dijual) yang terserap di pasar, lebih rendah daripada tahun sebelumnya yang masih terjual 4.878 unit. Sepanjang tahun lalu Colliers mencatat 9.506 unit apartemen tak memperoleh pembeli, angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang 7.874 unit.

Melihat pasok yang diyakini bakal besar-besaran pada 2006 dan 2007, Colliers memperkirakan jumlah unit apartemen strata title yang tak laku bakal meningkat signifikan.

"Daya beli konsumen yang menurun dan tingkat bunga yang masih tinggi berpotensi menghadang transaksi jual-beli unit apartemen," demikian Colliers.

Apartemen sewa

Pertumbuhan pasok apartemen sewa (leased apartment) dan apartemen servis (serviced apartment) tidak setinggi strata title.

Pertumbuhan sepanjang triwulan ketiga 2005 hanya 0,2%. Bahkan apabila dilihat sepanjang 2005, hanya ada dua proyek yang rampung dengan tambahan pasok tidak lebih dari 55 unit.

Dibandingkan dengan total pasok tahun sebelumnya, pertumbuhan pasok apartemen sewa dan apartemen servis hanya sekitar 0,5%.

Sekadar informasi, rate apartemen sewa lebih rendah ketimbang apartemen servis. Pada apartemen sewa, si penyewa mengurus segala sesuatunya sendiri sebagaimana layaknya menyewa landed house.

Sedangkan pada apartemen servis, si penyewa tinggal masuk dan di dalamnya telah tersedia segala kelengkapannya, termasuk petugas servis harian yang bertugas memelihara hunian tersebut.

Pada saat ini Colliers memperkirakan terdapat 1.310 unit sedang dalam tahap konstruksi dan rampung paling lambat tahun depan.

Secara umum, konsultan properti tersebut memperkirakan selama tahun ini investasi di bidang apartemen bukanlah pilihan yang menarik terutama jika dibandingkan dengan masih terhitung tinggi.

Kendati begitu, sebenarnya investasi apartemen masih menawarkan apresiasi modal. Pasar apartemen, demikian hasil riset Colliers, masih cukup menjanjikan terutama untuk yang lokasinya strategis.

Mengenai lokasi, perusahaan agen dan konsultan properti tersebut menyatakan kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) dan Jakarta Barat memimpin dibandingkan dengan wilayah Ibu Kota lainnya sepanjang tahun lalu.

Kontribusi pasok apartemen di CBD, dilihat dari jumlah unitnya, mencapai 26%, sedangkan di Jakarta Barat sekitar 24%.

Namun, dari sisi jumlah proyek, apartemen di Jakarta Barat hanya menyumbang 14% dari total proyek apartemen.

Untuk wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, apartemen cenderung mengarah ke proyek dengan luas unit yang lebih kecil namun terkesan eksklusif. (syahran.lubis@bisnis.co.id)

Oleh M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia

tata
April 7th, 2006, 01:14 PM
164 new apartments to be launched in Jakarta to 2008 :runaway:

------------------------------------------------------------------

CBD & Jakarta Barat lokasi utama hunian vertikal
164 Apartemen baru bakal jejali Jakarta

JAKARTA: Dalam waktu dua tahun ke depan hingga 2008 pasar apartemen di Jakarta bakal dijejali dengan tambahan 164 proyek strata title, demikian hasil riset Colliers International, perusahaan agen pemasaran dan konsultan properti.


aduhhh asik nih, tapi jgn mahal2 dong harganya... gue mau tuh tinggal di SCBD. gimana yg laen?

XxRyoChanxX
April 7th, 2006, 11:07 PM
dang...!! it's nice 2 see more buildings being build..I just hope the city won't be even more crowded that it already is...

Alvin
April 12th, 2006, 04:45 AM
investorindonesia.com

Kapitalisasi Proyek Properti di Jadebotabek Capai Rp 3 T


Wednesday, 12 April 2006
JAKARTA – Nilai kapitalisasi proyek properti di DKI Jakarta selama kuartal I 2006 diperkirakan mencapai Rp 3 triliun. Pasokan terbesar berasal dari sektor ritel, residensial, dan perkantoran.

Pertumbuhan signifikan juga diperkirakan terjadi pada kuartal II 2006. Peningkatan proyek dan pasokan properti akan disumbang oleh sektor perkantoran dan residensial.

“Melihat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang mencapai 4% dan stabilnya suku bunga perbankan, kami optimistis pada kuartal II ini bisnis properti mulai menggeliat,” ujar Research and Consulting Manager Coldwell Banker Indonesia (CBI) Hadi Samsudin usai memaparkan kajian CBI mengenai pasar properti di Jakarta pada kuartal I 2006 kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (11/4).

Secara terpisah, Direktur PT CB Richard Ellis Indonesia Azwardy Azhar berpendapat, nilai kapitalisasi proyek properti di DKI bisa lebih dari Rp 5 triliun bila memasukkan proyek carry over tahun sebelumnya. “Kalau proyek Grand Indonesia dimasukkan dengan nilai investasi Rp 2 triliun, jumlahnya akan lebih dari Rp 5 triliun,” ujar Azwardy.

Azwardy mengungkapkan, pasokan terbesar pertumbuhan properti pada kuartal pertama tahun ini disumbangkan proyek ritel, khususnya shopping center, yaitu 60%. “Setelah itu menyusul proyek apartemen sekitar 30%, dan sisanya yang 10% dipasok proyek properti lainnya,” ujar dia.

Menurut Hadi Samsudin, selama kuartal I sektor perkantoran mendapat pasokan 5.000 m2 sehingga menambah total stok menjadi 5,09 juta m2 untuk perkantoran sewa. “Angka ini terdiri atas 3,07 juta di lokasi primer dan 2,02 juta m2 di lokasi sekunder,” ujar Hadi.

Sementara itu, subsektor perkantoran hak milik (strata title) pada kuartal lalu mendapat pasokan 1.000 m2. Dihitung secara kumulatif, total pasokan perkantoran hak milik mencapai 315.793 m2.

“Harga jual ruang perkantoran berkisar antara Rp 6,1 juta – Rp 20 juta per m2. Di lokasi primer, harga jual ruang kantor sekitar Rp 11,55 juta- Rp 20 juta,” ujar Hadi.

Wakil Presiden CBI Budhi S Gozali menambahkan, sektor properti ritel sewa pada kuartal I 2006 mendapat pasokan 98.653 m2. Pasokan itu berasal dari Sudirman Place dan Belaggio Boutique Mall di Kawasan Niaga Terpadu Jakarta, Serpong Town Square di Serpong, Tangerang, Bogor Trade Mall di Bogor, dan Margo City di Depok. “Dua tahun ke depan, pasokan properti ritel sewa akan mendapat tambahan 878.500 m2,” ujar Budi.

Sedangkan subsektor untuk properti ritel strata tile, Budi menyebutkan, kuartal pertama mendapat pasokan 380.348 m2. Jumlah properti ritel hak milik yang terjual di kuartal ini sebanyak 37.152 m2. “Harga jual per meter perseginya sekitar Rp 10 juta – Rp 250 juta,” jelas dia.

Kajian CBI yang dirilis kemarin juga menyatakan, subsektor kondominium hanya memasok 639 unit pada kuartal pertama. Tingkat serapan untuk proyek yang sedang berjalan (existing) tercatat 88,27%, sedangkan proyek presales rata-rata 53,95%.

“Harga jual kondominium berkisar Rp 6,5 juta – Rp 20,5 juta per m2 di daerah primer, dan Rp 4 juta – Rp 17 juta per m2 di lokasi sekunder,” kata Hadi.

Di subsektor apartemen, Hadi menegaskan, pada kuartal lalu tidak ada tambahan pasokan. Karena itu, total stok apartemen masih 10.704 unit. Pasokan ini terdiri atas 3.954 unit di lokasi primer, dan 6.750 unit di lokasi sekunder. “Pada dua tahun ke depan, diperkirakan masuk sebanyak 1.542 unit,” ujarnya. (c94/c82)

tata
April 13th, 2006, 05:40 PM
'Pemprov Jakarta perlu perbanyak superblok'

JAKARTA: Wilayah Jakarta dinilai perlu memperbanyak pengembangan kawasan properti berkonsep superblok karena bisa mengendalikan pola pertumbuhan properti di Ibu Kota agar lebih sesuai dengan desain tata ruang.
Konsep superblok itu sebenarnya sudah mulai dikembangkan di Jakarta sejak awal 1990-an dengan muncul sekitar 10 proyek superblok, tapi dalam perjalanannya proyek ini tidak lancar, sehingga hanya menyisakan beberapa proyek saja.

Pakar tata perkotaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Moh. Denisworo mengatakan konsep superblok menjadi langkah awal untuk menata pembangunan properti di Jakarta dalam ruang yang terkecil, sehingga bisa menciptakan keserasian dengan konsep rencana induk Ibu kota.

Dalam hal ini, tambahnya, dengan memperbanyak pengembangan kawasan superblok maka pola pengembangan properti di Jakarta bisa lebih terkendali dan tertata untuk tujuan tertib tata ruang.

"Superblok itu kan biasanya untuk pengembangan lahan antara lima hektare hingga 20 hektare. Kalau ini banyak dikembangkan maka arah pengembangannya akan menjadi lebih terpadu untuk wajah Jakarta ke depan," katanya, pekan lalu.

Saat ini, tambahnya, salah satu kawasan yang tengah diarahkan menjadi superblok adalah kawasan komersial Senayan di Gelora Bung Karno agar pemanfaatan lahan untuk pengembangan properti di kawasan itu bisa lebih terpadu dan tertata.

Di sisi lain, Denisworo mengungkapkan kawasan Jalan Sudirman dan Jl. Thamrin menjadi satu contoh daerah yang gagal dikendalikan pemerintah karena sejak mulai dibangun pada masa Presiden Soekarno tidak dikelola dengan pola pengaturan ruang.

Tidak terpadu

Akibatnya, pola pengembangan kawasan itu tidak terpadu dengan kawasan sekelilingnya yang kemudian berjalan sendiri-sendiri.

"Kawasan Thamrin dan Sudirman sekarang itu kan tidak terpadu dengan kawasan pendukung karena sejak awal memang tidak ada panduan ke arah itu," tuturnya.

Denisworo mengatakan kalau kawasan Sudirman dan Thamrin dikembangkan dengan konsep superblok untuk masing-masing areanya maka akan menjadikan kawasan itu menjadi dinamis dan hidup secara ekonomi seperti halnya kawasan Orchard Road di Singapura.

Dia menambahkan satu-satunya kemajuan yang terjadi di kedua kawasan itu saat ini adalah berhasilnya pelebaran pedestrian yang sudah menjadi enam meter.

Hal itu, tuturnya, dicapai juga tidak dengan gampang karena Pemprov DKI harus membuat kebijakan insentif kepada pemilik lahan di sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin agar mereka mau menyumbang lahannya untuk pelebaran jalan pedestrian tersebut.

"Pemprov DKI minjam lahan pemilik gedung di sepanjang jalan untuk pelebaran itu dan memberikan hak bebas bayar pajak PBB untuk lahan yang dipinjamkan itu," katanya.

Oleh Irsad
Bisnis Indonesia

OPTX
April 18th, 2006, 01:21 AM
Ramai-ramai Memburu Proyek di Daerah

Kamis, 13 April 2006

Menarik memerhatikan kiat para pemain properti besar nasional melebarkan sayap usahanya. Mereka beramai-ramai meloncat ke gelanggang properti di berbagai provinsi, lalu bertarung dalam kompetisi yang amat keras dan ketat.

Datanglah ke kota-kota seperti Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Manado, atau Batam, Anda akan menemukan pentas pertarungan para pemain berkapital besar.

Berkunjunglah misalnya ke Balikpapan, kota berkategori sedang di Kalimantan Timur; atau ke Manado, Sulawesi Utara. Di Balikpapan, Anda akan melihat pemain-pemain besar seperti Grup Sinar Mas dan Grup Ciputra serta sejumlah pemain lokal bersaing merebut ceruk pasar yang sempit. Di Makassar, kompetisi malah lebih keras. Grup Sinar Mas, Ciputra, Lippo, Grup Hadji Kalla, dan sejumlah pemain lokal bersaing dalam lalu lintas bisnis yang padat. Iklim kompetisi yang lebih kurang sama tampak di Batam, Palembang, Medan, dan Bandung.

Para pemain besar tersebut bermain di semua lini. Agung Podomoro membangun superblok properti di Jalan Braga Bandung, bersaing dengan pemain senior di Bandung dan sekitarnya, Kota Baru Parahyangan.

Di Makassar, Grup Lippo membangun kawasan terpadu di Tanjung Bunga seluas 2.000 hektar. Ada sentra hunian, apartemen, hotel, perkantoran, pusat perdagangan, serta sentra belanja dan wisata di sana. Grup Sinar Mas dan Ciputra juga tidak mau ketinggalan, hendak berbagi pangsa pasar di kelas menengah ke atas. Lalu Grup Hadji Kalla yang sudah sukses dengan bisnis hotel, mal, dan perumahan akan merambah ke perkantoran dan sentra belanja lainnya. Mereka bersaing pula dengan beberapa pemain regional yang sukses membangun sentra Panakkukang dan kawasan Andi Pangerang Petta Rani.

Akan tetapi, di antara banyak pertarungan pemain besar dan kecil tersebut, "perlombaan" paling ketat terjadi di Surabaya. Di kota yang sampai abad ke-19 merupakan kota terbanyak penduduknya di Indonesia itu para pemain besar saling unjuk kebolehan merebut pasar Surabaya, dan bahkan pangsa Indonesia. Siapa yang menang di sini, ia boleh disebut sebagai salah satu pemain terpandang di Indonesia dalam hal kinerja.

Awalnya, Grup Pakuwon menjadi raja properti di kota itu. Pakuwon pada mulanya mengibarkan bendera usahanya dengan membangun superblok di Tunjungan. Ia membangun Plaza Tunjungan empat tahap sehingga mewujud menjadi salah satu plaza terbesar di Asia Tenggara. Pakuwon juga membangun apartemen servis, kondominium, hotel berbintang lima, gedung perkantoran, dan sebagainya.

Grup ini juga berkontribusi membuat Surabaya Barat menjadi salah satu kawasan amat mahal di Indonesia. Pakuwon membangun superblok pula di sana dengan menghadirkan trade center, supermal, perumahan dalam radius seribuan hektare, apartemen, city walk, club house, convention hall, dan sebagainya.

Di beberapa kawasan lain Surabaya, Pakuwon membangun pusat perbelanjaan, apartemen, perumahan, dan kawasan pusat jajan yang gaya.

Bagaimana dengan para pemain lain? Grup-grup usaha besar tidak mau ketinggalan. Grup Ciputra, misalnya, berkiprah habis-habisan pula di Surabaya Barat, dengan membenamkan kapital triliunan rupiah di proyek perumahan CitraRaya. Proyek ini memperoleh sambutan hangat dari pasar. Kendati harga termurah rumah yang dipasarkan ke publik sudah mencapai Rp 1,15 miliar, tetapi tetap laku seperti pisang goreng. Ciputra cukup gesit menyediakan fasilitas yang membuat warga suka membeli rumahnya. Ia misalnya membangun water park, lapangan golf, telaga, dan taman-taman yang mirip beberapa lokasi strategis di Singapura.

Grup Dharmala juga meraih penjualan yang menggetarkan lawan-lawannya. Dharmala membangun apartemen dan perumahan Graha Famili yang mendapat sambutan baik dari publik. Perumahan dari grup ini mempunyai penggemar yang kuat karena bangun fisik rumahnya cukup menawan. Fasilitasnya pun memenuhi kriteria papan atas.

Di forum lain, Grup Lippo juga tidak mau kalah. Grup yang dikomandani James Riady ini masuk pula ke kompetisi yang amat keras di Surabaya. Lippo di antaranya membangun beberapa proyek properti di Waru, Surabaya. Lippo membangun apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, dan sebagainya.

Untuk mengokohkan posisinya, Lippo membangun beberapa proyek di sekitar ibu kota Jawa Timur, seperti Gresik dan Sidoarjo. Lippo bahkan membangun proyek baru di Malang, 94 kilometer selatan Surabaya.

Bagaimana dengan Grup Sinar Mas? Grup usaha yang dibangun oleh usahawan Eka Tjipta Widjaja ini juga mempunyai sejumlah proyek properti di Surabaya. Sinar Mas di antaranya membangun dua proyek properti, yakni Wisata Bukit Mas di Wiyung dan sebelumnya proyek Vila Bukit Mas. Bukit Mas menggunakan gerbang tipikal Big Ben.

Bendera usaha

Ada kesan, para pemain besar properti Indonesia bertarung di Surabaya tidak sekadar merebut ceruk pasar yang masih tersedia, tetapi juga mengokohkan diri sebagai salah satu pemain besar properti di Indonesia. Pemain yang hanya mengibarkan bendera usaha di Jakarta seolah- olah merasa belum lengkap kalau belum melabuhkan usahanya di Surabaya.

Satu-satunya pemain berkaliber amat besar di Jakarta yang belum menjejakkan kakinya di Surabaya hanyalah Trihatma Kusuma Haliman, komandan Grup Agung Podomoro. Trihatma agaknya masih lebih asyik berkonsentrasi dengan puluhan proyeknya di Jakarta dan sekitarnya. Proyek Agung Podomoro yang "paling jauh" dari Jakarta terletak di Bandung, yakni proyek Braga Citywalk.

Pada masa-masa mendatang, pertarungan antarpemain besar di berbagai provinsi akan makin keras dan ketat. Ketatnya persaingan akan diramaikan oleh para pemain lokal yang mulai tumbuh menjadi pemain menengah dan besar. Kue proyek properti yang mesti dibagi bisa jadi makin kecil.

Pada akhirnya, pemain properti yang akan memenangi persaingan bisnis properti di Jakarta maupun di berbagai daerah adalah pemain-pemain yang lengkap. Mereka mempunyai gabungan antara equity besar, sumber daya manusia yang sangat memadai, kreativitas, mampu melihat peluang dan tren pasar, serta memahami tuntutan kualitas tinggi.

Para pemain properti menambahkan beberapa kriteria kunci, yakni selalu mampu mengerjakan pekerjaan rumah yang baik, misalnya membekali diri dengan riset dan persiapan matang sebelum melakukan sesuatu.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/13/Properti/2573853.htm
_____________________________________________________________



Era Superblok dan Kapital

Jumat, 07 April 2006

Ada hal menarik yang mengemuka kalau mengamati beberapa proyek properti di Surabaya. Para pemain properti besar di kota itu mempunyai warna sendiri dalam menunjukkan eksistensinya sebagai pemain berkelas.

Grup Dharmala membangun perumahan elite di Surabaya barat. Grup Ciputra yang mempunyai areal ribuan hektar membangun kota baru seluas ribuan hektar, juga di Surabaya barat. Grup Pakuwon lebih kencang lagi, membangun superblok di beberapa lokasi di Surabaya barat. Grup yang dimotori Alex dan Melinda Tedja ini, misalnya, membangun supermal Pakuwon, Pakuwon Trade Center, perumahan Pakuwon, gedung pertemuan, club house, lapangan golf, apartemen, perkantoran, serta pusat pelayanan kesehatan dan kebugaran. Investasi mencapai beberapa triliun rupiah.

Sebelumnya Pakuwon sukses membangun superblok di kawasan elite Surabaya, Tunjungan. Ada Mal Tunjungan yang terbesar di Surabaya. Ada apartemen, apartemen sewa, hotel, gedung perkantoran, dan sebagainya. Nilai investasi di kawasan Tunjungan sama dengan nilai investasi di Surabaya barat, yakni beberapa triliun rupiah. Tidak heran kalau kemudian muncul sebutan Pakuwon salah satu pemain besar di Indonesia.

Belajar dari sukses di Surabaya, Pakuwon membangun dua superblok baru di Jakarta, yakni di Gandaria dan Casablanca. Nilai investasi lebih kurang Rp 4,3 triliun.

Pemain besar properti lainnya, Grup Lippo, kini juga masuk Surabaya dengan membawa konsep superblok di kawasan Surabaya selatan. Lippo, seperti Pakuwon, menanam investasi triliunan rupiah di Surabaya selatan. ”Kami melihat Surabaya masih merupakan pasar potensial properti,” ujar Yopy Rusli, salah seorang Direksi Grup Lippo, di Jakarta, Rabu (5/4) malam. Yopy Rusli yakin mampu merebut pasar di Surabaya, dan hasrat membangun superblok di sana benar-benar dapat terwujud.

Dari pemaparan ini, tampak kecenderungan para pemain properti untuk membangun superblok-superblok baru. Tantangannya hanya pada equity serta areal luas dalam satu hamparan yang makin sulit ditemukan di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta dan Surabaya. Grup Lippo di Surabaya, misalnya, hanya memperoleh areal dua hektar lebih untuk membangun superblok yang terdiri atas pusat belanja, hotel, apartemen, dan sebagainya.

Terobosan Lippo di Surabaya akan membuat peta kekuatan properti di kota kedua terbesar di Indonesia itu makin terkuak lebar. Hal yang bakal membuat ramai, para pemain besar yang bertarung di gelanggang Surabaya mempunyai kapital yang amat besar. Artinya, pemenang kompetisi bisnis di sana bukanlah siapa yang mampu menyediakan kapital besar, tetapi siapa yang mampu menyodorkan visi dan produk paling pas untuk warga Surabaya dan Jawa Timur.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/07/Properti/2563626.htm

Alvin
April 20th, 2006, 05:07 AM
Indon property rally takes a breather
Shoeb Kagda
908 words
20 April 2006
Business Times Singapore
English
(c) 2006 Singapore Press Holdings Limited
Higher interest rates and inflation make investors cautious
AFTER experiencing an unprecedented boom for the past three years, Indonesia's property market is expected to take a breather this year as higher interest rates and living costs cut into consumers' purchasing power.
With buyers now turning cautious, most developers are holding back on large scale developments. The slowdown, which began in the fourth quarter of last year, is likely to continue into the third quarter of 2006 with most property analysts only predicting a slight pick-up towards the year-end.
A major rise in fuel prices in October was the main reason for a sharp rise in the cost of basic products, pushing inflation to 10.8 per cent in the fourth quarter and 17.1 per cent for the year. In an effort to support the rupiah and keep inflation in check, the central bank raised its three-month SBI (central bank certificate) rate to 12.91 per cent towards the end of the year.
While interest rates are not expected to rise further this year, the softer economic conditions have dampened consumer confidence. According to a survey by MasterCard, the MasterIndex of Consumer Confidence dropped from 70.8 per cent in June 2005 to 39 per cent at end-December, signifying that consumers will remain pessimistic over the next few months.
Falling consumer confidence has had the biggest impact on the retail property sector, noted a recent Jakarta Market Review by Jones Lang LaSalle.
It added that the government's decision to raise fuel prices in October had affected retail sales in 2005 with growth slowing to between 10 per cent and 20 per cent as compared with expectations of 30 per cent. Retailers selective'The condition is likely to affect retail demand over the short term,' the report said. 'We expect retailers to be more selective or take a wait and see approach.' It added, however, that it expects the impact to be short-lived along with the easing in inflationary pressure.
With sales falling and retailers turning cautious, developers are also delaying mega projects for the time being, said Jeffrey Hong, chief operating officer at Procon Indah. Most developers, he noted, face difficulties funding such large projects especially since the take-up has slowed.
'Developers are now phasing out their projects because holding costs have become very high,' he said. 'Lending rates are now at 21 per cent, which is four to five times that of Singapore and Hongkong and this is making it very difficult for developers to undertake large scale projects.'
Currently there are about 18 retail property projects in Jakarta slated to be completed over the next three years, the majority of them being rental shopping centres. Mr Hong noted that some of these could be delayed.
Higher interest rates have also affected the condominium market with both potential buyers and developers suffering from the downturn, according to Jones Lang LaSalle. On the supply side, higher construction costs have forced developers to recalculate their projects, especially those in the preliminary planning stages, thus delaying their launch dates.
Buyers are also holding back since banks are now offering higher deposit rates. Many property investors are thus opting to place their excess funds in banks rather than investing in apartments as was the case at the beginning of last year.
'Demand for strata title condominiums has slowed down quite a bit,' said Lucy Rumantir, national director at Jones Lang LaSalle. 'Sales have been very slow for the past three months and supply is now exceeding demand.'
There are some 10,000 unsold condo units in the greater Jakarta area and that will rise over the next two years with 53 projects scheduled for completion by 2007. The supply from these projects could exceed 30,000 units, which will create a potential glut.
Of the new condo projects, 55 per cent will be targeted at middle income groups, the fastest growing segment of the market. The upper income grade projects will make up 11 per cent with lower income grade projects making up the remaining 34 per cent.


Ms Rumantir, however, is hopeful that moves to allow foreigners to buy longer term lease condominiums could help absorb the oversupply and keep prices from falling too steeply.

Currently foreigners are only allowed to buy condos with 24-year lease but the government could raise it to 60 years.
'Because of the restrictions on foreign ownership of condominiums, most foreigners choose to rent long term and currently 70 per cent of rented apartments are occupied by foreigners,' she said. 'I would say that it would be very good if foreigners are allowed to buy freehold or longer term lease condominiums because the market is already there.'

Office sector

Growing foreign interest in Indonesia will also bode well for the office sector once the economy picks up at the end of the year. But for the moment the sector is dominated by businesses relocating from older buildings to newer, better equipped buildings.
With most businesses putting off expansion plans for the time being, competition among landlords has intensified and many are holding back increasing rentals.
'The office market has remained strong primarily because there is a shortage of high quality buildings,' noted Ms Rumantir. 'Security is also now a major concern for businesses and buildings which do not have multiple entry and exit points are losing out,' she added.
Document STBT000020060419e24k00006

Alvin
April 26th, 2006, 07:51 AM
Mixed-use development more efficient
Anissa S. Febrina, The Jakarta Post, Jakarta

Imagine having to spend only 10 minutes walking to your workplace, 15 minutes meeting with your visiting foreign client and 20 minutes shopping for daily groceries.

It might not sound like Jakarta, yet urban planners say a thoroughly realized mixed-use development project could make the efficient living depicted above possible.

Developed by the ancient Greek civilization, the concept aimed to make optimum use of space and if possible create a 24-hour functioning area, urban designer Ridwan Kamil said.

The rising cost of housing, traffic congestion and the need to ensure the long-term economic viability of city centers and downtown also helped to contribute to increased multi-use development.

The concept is not new to Jakarta. Areas like Mal Taman Anggrek and Citraland, both in West Jakarta, have tried to layer shopping malls with hotels and apartments.

Business-wise the complexes are a success, but instead of creating urban efficiency, they have only generated more traffic from other areas of the city.

Mega Kuningan and the Sudirman Central Business District (SCBD) in South Jakarta are similar failures, failing to create a humane, fully integrated mixed-use area. People are forced to circle around to get from one building to another and pedestrian facilities remain neglected.

In some apartment and retail projects, the word mixed-use development has become a mere marketing label, without actually providing efficient living.

"The key to having a fully-functioning mixed-use area is creating an integrated complex," Ridwan said. "A simple example, people must be able to move about freely between buildings in the complex without their cars."

The above factor is one that is lacking in most existing mixed-use areas in Jakarta.

Bandung Institute of Technology urban expert Achmad D. Tardiyana added that a successful mixed-use area must be able to contribute to enhancing the urban qualities of the city.

"Jakarta city center (Central Jakarta) is a poor example. The complex is very inward looking and fails to provide good quality surroundings," Tardiyana said.

The provision of open public space should also be a priority in developing large scale mixed-use areas. Jakartans have seen very little public space alternatives aside from shopping malls and retail centers in the past decade.

Center for Metropolitan Studies researcher Jo Santoso explained that most of the existing mixed-use areas failed because the designs were not humane.

In terms of learning to develop a well-functioning mixed-use area, Jakarta can learn from superblocks in other Asian cities.

Kuala Lumpur City Center in Malaysia, for example, succeeded in developing an integrated area where people can easily walk from their office to a subway station beneath, or stroll to a nearby mall.

Roppongi Hill in Tokyo, Japan, also serves as a good example, successfully layering commercial uses, apartments, a museum, gardens and conference halls as well as an integrated transportation system.

Both projects succeeded in creating a better working and living spaces for their inhabitants.

Will Jakarta follow suit?


More space no guarantee of better work environment
Anissa S. Febrina, The Jakarta Post, Jakarta

If there is one property subsector in Greater Jakarta that will see its peak this year, it will be the office space market, property analysts say.

Coldwell Banker Commercial Indonesia revealed in its latest survey that the city would see more than 150,000 square meters of new office space delivered this year.

Some 75 percent of it will occupy the primary central business districts of Sudirman and Kuningan, South Jakarta.

Property consultant Procon Indah revealed a much higher estimation of almost 300,000 sq m of new offices, of which 70 percent would be located in the two CBDs.

The average (medium-scale) tenant occupies a 750 sq m space.

Market absorption is expected to remain stable -- around 193,000 sq m for the CBD area and more than 50,000 for secondary areas -- although the occupancy rate may slightly decrease due to the large supply and time-lag for full physical occupancy.

High take-up and occupancy rates are surely good news for business. They may also be signs of a sound economy if office expansion is seen as an indication of possible job creation.

But this apparently does not make Jakarta a better place to work.

According to urban planner Marco Kusumawijaya, the superblock concept -- seen developing in the CBD since the 1980s -- was a product of entrepreneurialist urban governance.

Citing urbanist David Harvey, he explained the concept aimed at creating a better model for the entire city, giving out the image that Jakarta could meet the discipline of advanced capitalism and serve its investors.

Supposedly, a CBD is meticulously designed down to the last detail, so it represents a perfect image of a modern city.

However, the calculated efficiency created within Jakarta's superblock has resulted in higher trip-generation than other areas in the city creating congestion outside, leading to time and energy inefficiencies.

Marco said none of the city's superblocks were fully complete and most had experienced technical failures. South Jakarta's Sudirman Central Business District project, for example, has poorly designed pedestrian facilities.

BNI City, located at the transitional border between Jl. Sudirman and Jl. Thamrin, is another "deficient" superblock, failing to provide interconnectivity between its buildings.

Yet with such inconveniences, primary areas in the golden triangle area of Jl. Sudirman, Jl. Thamrin and Jl. Rasuna Said remain a favorite among businesses, especially those in the services sector.

"Companies still value their address. It is part of the prestige," Coldwell Banker research unit head Benjamin Lamberte said.

Separately, Procon executive director Handa Sulaiman explained that despite the massive development of office buildings in the CBD area, the occupancy rates in the area were slightly lower than those of secondary areas.

As of last year, only 82.8 percent of office space in the CBD area was occupied, while some occupancy rates reached 88.2 percent in areas outside the CBD.

"Companies seeking efficiency prefer premises outside the CBD as they offer lower prices," Handa said.

Office buildings along Jl. TB Simatupang were among the most fully occupied, showing an occupancy rate of more than 90 percent.

Lamberte from Coldwell Banker noted there were specific requirements for the development of new business districts outside the existing CBD. "Good physical infrastructure as well as access to main roads is a must," he said.

Prospective supply of office accommodation in 2006
Building Location Available Scheduled


space completion


(in sq m)
CBD area


NISP building Casablanca 30,000 2Q
Senayan City Senayan 27,231 2Q
Menara Karya Kuningan 33,200 4Q
Pacific Place SCBD 38,553 4Q
Merdeka Tower Medan Merdeka 64,000 4Q
Menara Kuningan Kuningan 28,000 2Q
Sahid Office KH Mas Mansyur 6,005 2Q
The East Mega Kuningan 44,000 3Q
Sudirman Plaza I Sudirman 28,730 4Q
Rasuna Office Park Kuningan 3,000 4Q


Outside CBD


Menara Prabu 2 TB Simatupang 37,800 2006
Menara Asia S. Parman, Slipi 25,000 2006
Wisma Kalindra S. Parman, Slipi 30,000 2006
Kota Casablanca Casablanca 21,450 2006
Gapuraprima Office Permata Hijau 21,000 3Q
Grand Soho S. Parman, Slipi 67,000 3Q
Menteng Office Menteng 8,910 3Q
Pallazzo Office Kemayoran 15,700 2006
Source: Coldwell Banker Commercial Indonesia

627
April 26th, 2006, 07:58 AM
what's the merdeka toweR?

Alvin
May 3rd, 2006, 04:24 PM
Developers told creativity is the path to new pockets
Ask Jakartans at random about where they spend most weekends and you will most likely get one-word answers: malls.

Like it or not, planned or -- most likely -- not, the city has become a haven for shoppers with malls popping up in strategic spots.

And to add to the attraction, not a month goes by without a department store "sale", while three times a year, during holiday seasons, shoppers can enjoy discounted prices at almost every outlet in the city.

"Jakarta's culture is a mall culture. People prefer malls to parks or any other form of public space," property consultant Procon Indah senior associate director Rosaline Lie said.

Looking at the facts and figures, supply might have actually shaped market demand, leaving city inhabitants with no alternative forms of recreation.

According to a report by Coldwell Banker Commercial (CBC), there will be more than 300,000 square meters of new leasable retail space this year after the construction of five new malls is finished.

The five new areas are Senayan Park Center and Sudirman Place in South Jakarta, Kelapa Gading Square and Taman Palem Mall in North Jakarta and Grand Indonesia in Central Jakarta.

The Grand Indonesia mall is being built at the former site of the Inna Wisata Hotel, while the historic Hotel Indonesia is under renovation and will become a boutique hotel owned by PT Cipta Karya Bumi Indah, a subsidiary of the country's third-largest cigarette maker, PT Djarum.

CBC estimated that during the next three years, there would be 1.4 million sq m of stock for leasable retail space.

Meanwhile, Procon reported there were a cumulative supply of 1.3 million sq m of leasable retail space as of March, while cumulative demand stood at around 1.2 million.

"The occupancy rate for leased space is still high at around 88.7 percent," Procon senior manager Arief N. Rahardjo said.

The figures might also justify the fact that the country's economy is largely driven by consumption.

Malls, according to urban expert Marco Kusumawijaya, were concrete proof of extreme rationalization and the calculated transformation of streets and traditional markets.

The buildings' selective and isolated characteristics make them comfortable safe havens for the middle- to upper-class. No beggars, no sweltering heat or seemingly never-ending rain.

Sometime, in the near future, it will not be enough for developers to build air-conditioned blocks with an array of outlets and two anchor tenants, Lie stressed.

"Shopping center planners must be more creative in order to survive the increasingly tight competition," she added. "Malls must offer a distinct experience of more than just shopping."

Lie pointed out several examples where shopping centers offered recreational facilities as their added-value.

An existing mall in Las Vegas offers a thematic experience by inserting small-scale imitation Venetian canals into their building, while a planned gigantic mall in Dubai will feature a giant aquarium.

Jakarta has yet to see such developments. And, in any case, it is not clear whether the city will emerge as a shopping destination like Kuala Lumpur or Singapore. -- JP/Anissa S. Febrina

XxRyoChanxX
May 4th, 2006, 05:02 AM
more malls?

Alvin
May 5th, 2006, 02:13 AM
Jakarta Property Projects Continued to Grow on the Back of Better Investment Prospects and Growing Demand

Gradual improvement in the economy and business climate had supported the growth in office demand as reflected in the rising take-up and launches of new projects. In the retail market, weak purchasing power had made retailers work hard to increase sales, which affected demand for retail space. Meanwhile, the condominium market continued to grow, along with the increase in new developments. On the demand side, sales in the first three months of 2006 showed some increases, however, it still could not balance with the number of incoming stocks. Overall, the property market, during the first three months of 2006, improved slightly from the previous quarter when the impact of fuel price increase was still imminent. Property consultant Jones Lang LaSalle summarized the market conditions on a report entitled “Jakarta Property Market Review – 1Q 2006.”


The latest survey by Jones Lang LaSalle found that the office market in the CBD (Sudirman-Thamrin, Kuningan dan Gatot Subroto) had continued to rise following the increase in demand. The current trend had encouraged investors to watch this market. Lucy Rumantir, Director at Jones Lang LaSalle, says that the number of on-hold projects would soon be revived along with other new projects. Between January and March 2006, another four new projects were officially launched, making a total of 17 office projects earmarked for completion over the next three years. On the demand side, business expansions from companies in the banking, financial services, trading, oil and mining, telecommunications, and real estate sectors contributed large portions to this quarter’s demand. Angela Wibawa, Senior Manager for Office Leasing at Jones Lang LaSalle, mentioned that net take-up in the CBD in the first quarter of 2006 totaled at approximately 49,000 sq m. High absorption was attributed to the expansions of Bakrie and Sampoerna groups in their own new building and the occupation of HSBC in Menara Mulia. By end-March 2006, occupancy rate in the CBD rose from 80.4% to 81.5%.

Jones Lang LaSalle research also showed that weak purchasing power and changes in spending pattern due to the impact of price inflations had caused the growth in the retail market to slow. Anton Sitorus, Research Manager at Jones Lang LaSalle, said that demand for retail space in the past three months was contributed mainly by large scale retailers with strong cash flow. The opening of new outlets to reach more consumers helped generate retail absorption in Jakarta. Three retail projects were completed also in this quarter, Sudirman Place, which added the stock of rental retail space to around 1.35 million sq m, as well as Lindeteves Trade Center and the lower levels of the Jakarta City Center, adding approximately 978,000 sq m to the stock of strata-title retail space. In terms of demand level, the occupancy of rental shopping centers fell marginally from 92.4% to 91.2% quarter-on-quarter. A sharp drop was experienced in the strata market where occupancy plunged from 69% to 63% in March.


Meanwhile, the residential market continued to reap the result of current development trends. During this quarter, four condominium projects—Bellagio Residence, Sudirman Residence (low-rise), Pakubuwono Residence and Paladian Park Apartment—were completed. In addition, one lease apartment project, Kemang Icon, was also concluded and had started to receive guests. In the rental apartment market, leasing activity softened compared to the previous quarter as an impact of slow expatriate growth in Jakarta. The expatriate community is the main target of Jakarta’s luxury residential market. Quite similarly, sales of strata-title condominiums also slowed due to the impact of a higher interest rate. The current high interest rate had attracted potential buyers to alter their investments in the bank or stock market, rather than on property. But overall, the number of transactions grew, helped by sales in the newly launched projects. Jones Lang LaSalle Research showed that overall, around 63% of the total proposed condominiums was absorbed by the market as of March 2006.

In general, Lucy Rumantir said that the growth in the property market over the quarter was slightly higher compared to a quarter ago. Looking forward, she believed that inflationary pressure and the high interest rate environment may still affect the market growth in the short term. Yet, for interest rate growth, it would be better if the government could create a policy supportive to the market. The correction in interest rates is essential to accelerate the pace of business activity. Current market expectation is that the interest rate for property ownership should be lowered to less than 15% per annum to make it more affordable, thus the balance between supply production and sales can be maintained. Furthermore, Ms. Rumantir also indicated that along with the improvement in investment climate, the property sector would continue to expand positively this year with focus on certain sectors, such as the office and lease retail market, the growth of which, she concluded, could potentially outperform the other sectors.

Contact: Anton Sitorus
Tel: +62 21 515 5665
Email: anton.sitorus@ap.jll.com


Contact: Chilia Djaya
Tel: +62 21 515 5665
Email: chilia.djaya@ap.jll.com

F-ian
May 5th, 2006, 09:13 AM
Wow Great News There :cheers: thanks Alvin!

us_lukman
May 6th, 2006, 04:22 PM
Karta, Cong Sian Moy, dan ratusan pedagang onderdil lainnya di pertokoan Wisma Sawah Besar (WSB), Jakarta Pusat, bingung tujuh keliling. Sudah lima bulan ini sambungan listrik dan telepon mereka diputus sepihak oleh pihak PT Muzatek Jaya, pengelola pertokoan WSB.



Akibat pemutusan kedua fasilitas vital tersebut, para pedagang harus kehilangan 70 persen pendapatannya.

Pemutusan tersebut merupakan buntut penolakan pemilik kios atas upaya "pemerasan" yang dilakukan pengelola. Menurut Karta, secara tidak masuk akal, PT Muzatek memaksa para pedagang membayar perpanjangan sertifikat hak guna bangunan (HGB) sebesar Rp 1,5 miliar. Padahal, ketika dicek ke kantor Pertanahan Jakarta Pusat melalui keterangan kepala kantornya, biaya resminya hanya Rp 97,3 juta.

Selain meminta biaya sertifikat HGB yang sangat besar, pengelola juga selama ini meminta biaya operasional gedung (service charge) yang sangat memberatkan dan tidak wajar. Sejumlah toko ditutup paksa akibat menolak keinginan pengelola, bahkan secara diam-diam toko yang ditutup itu disewakan ke pihak lain.

Menurut Cong Sian Moy, upaya pemerasan dan intimidasi yang dilakukan pengelola itu, sebetulnya bagian dari muslihat pengelola untuk mengusir pedagang yang sudah mendiami pertokoan WSB sejak 1977 itu. Para pedagang membeli toko dengan perjanjian jual-beli yang saling menguntungkan.

Kondisi berubah setelah pada awal 1990-an, sebagian besar saham PT Muzatek dibeli oleh kelompok usaha Humpuss. Dengan berbagai cara, pengelola berusaha mengambil alih kepemilikan toko.


Dilaporkan ke Polisi

Konflik antara pedagang dan pengelola pusat perdagangan juga terjadi di Pusat Perdagangan (ITC) Roxy Mas, Jakarta Pusat. Pertengahan Januari 2006 lalu, ketua Perhimpunan Penghuni Rusun Campuran ITC Roxy Mas, Kent Wijaya melaporkan sejumlah penghuni ke Polda Metro Jaya karena dianggap telah memfitnah pihaknya.

Sejumlah pemilik kios di ITC Roxy Mas, dianggap telah memfitnah dengan mengatakan Kent Wijaya dan kawan-kawan sesama pengurus telah memanipulasi dana yang disetorkan para penghuni/pemilik kios.

Menurut pengacara Kent Wijaya, Zulfahmi, para penghuni ITC Roxy Mas, yang dimotori Aguswandi Tanjung, telah menulis surat kepada ketua DPRD DKI, Gubernur DKI Jakarta, dan YLKI berisi fitnah yang tidak berdasar. Tudingan kecurangan Ketua PPRS ITC Roxy Mas yang dilayangkan Agus dan kawan-kawan telah mencoreng nama baik kliennya. "Kasus ini harus dituntaskan melalui jalur hukum," ujar Zulfahmi.

Tiga orang pemilik kios pun diperiksa Polda Metro Jaya sebagai saksi.

Pada saat bersamaan pihak penghuni, yang dimotori Aguswandi Tanjung, tengah meminta peninjauan kembali surat penghentian penyidikan perkara (SP3) kasus penggelapan laporan administrasi keuangan oleh PPRS ITC Roxy Mas. Penggelapan tersebut, meliputi dana sinking fund, penghasilan area publik, dan laporan biaya perpanjangan sertifikat induk.

Pihak Polda merespons laporan tersebut, dengan melakukan gelar perkara pada 20 April 2006 lalu.

Kasus aksi saling lapor, sepertinya masih akan menempuh perjalanan panjang, mengingat kedua pihak mengklaim memiliki bukti-bukti yang kuat. Aksi saling lapor ini merupakan babak baru pertikaian hukum di antara kedua belah pihak.

Sebelumnya, para penghuni/pemilik kios pernah menggugat PPRS ITC Roxy Mas dengan tuduhan memanipulasi sertifikat kepemilikan kios yang berpotensi menghilangkan hak penghuni/pemilik atau kepemilikan kios mereka.

Gugatan yang berujung di pengadilan itu, akhirnya dimenangkan oleh pihak PPRS melalui ketukan palu majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhir 2005 lalu. Pihak Kent Wijaya saat itu meminta penghuni menaati putusan pengadilan.

Sementara pihak Aguswandi Tanjung menuding banyak kejanggalan dalam putusan itu dan melakukan perlawanan hukum hingga saat ini. Perseteruan itu sendiri sudah dimulai sejak pertengahan 2001 silam, saat penghuni/pemilik kios menggugat biaya service charge yang mencekik leher.

Berbeda dengan rekan-rekannya di ITC Roxy Mas, meski resah, para pedagang di ITC Mangga Dua belum berani menempuh jalur hukum untuk melawan kesewenang-wenangan pengelola. Menurut Winny Kwee, salah seorang pemilik kios di ITC Mangga Dua (MD), pihak pengelola berhasil menakut-nakuti penghuni dan memecah-belah mereka.

Jika ada penghuni yang melawan kebijakan pengelola, intimidasi, mulai dari pemutusan sambungan listrik dan telepon hingga tekanan psikologis, pun dilakukan. Sementara sebagian penghuni yang kritis dibungkam dengan konsesi pembagian keuntungan penyewaan koridor, area lobby, maupun ruang pamer kepada para pedagang kaki lima.

Setiap pedagang kaki lima menyewa tempat Rp 6 juta/m2/ bulan. Dari harga sewa itu, penghuni kritis yang berhasil dibungkam memperoleh bagian Rp 2 juta/m2/bulan.

Menurut Kwee, penderitaan pedagang di ITC MD bukan hanya karena biaya servis yang kelewat mahal semata, namun juga karena akses pembeli ke kios tertutup oleh keberadaan pedagang kaki lima.

Ironisnya lagi, para pemilik kios harus menanggung seluruh biaya operasional gedung (service charge), termasuk yang digunakan pedagang penyewa bagian bersama di ITC MD itu.

Belum lagi lahan parkir yang habis digunakan oleh bukan pengunjung sehingga pengunjung yang datang ke kios makin sepi. Akibat berbagai kebijakan itu, pemilik kios pun harus menderita kerugian yang sangat besar.

Keluhan yang kurang lebih sama juga dikemukakan oleh para pedagang di ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan. Menurut Inge, salah seorang pemilik kios di ITC Permata Hijau, pihak pengelola juga menerapkan kebijakan yang memberatkan pemilik kios. Parahnya lagi, saat ini belum ada perhimpunan pengurus sebagaimana diamanatkan undang-undang.


Preseden Buruk

Berbagai kasus yang mencuat di sejumlah pusat perdagangan menurut anggota Komisi B DKI Jakarta Nurmansyah Lubis merupakan preseden buruk yang harus diselesaikan. Keberadaan para pedagang sebagai salah satu pilar perekonomian bangsa, harus dijamin hak-haknya sesuai peraturan yang berlaku.

Anca, panggilan mantan auditor BPKP itu, mendesak Pemprov DKI segera menuntaskan kasus-kasus ini dengan seadil-adilnya.

Melihat rentetan kasus per kasus, Anca melihat ada kesamaan modus dan juga pelaku yang mengarah ke segelintir pengembang yang sepertinya sengaja melakukan praktik-praktik haram. Para pedagang diiming-imingi berbagai macam fasilitas sehingga tergiur membeli kios di pusat perdagangan yang mereka dirikan, setelah itu mereka dijebak dengan berbagai macam aturan yang menyulitkan posisi pedagang.

Anca melihat, modus ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan dijadikan ajang menumpuk kekayaan bagi pengembang tersebut. Hebatnya lagi, praktik ini tak pernah tersentuh hukum sehingga kuat dugaan melibatkan oknum pejabat Pemprov DKI.

Oleh karena itu, ia meminta gubernur menertibkan anak buahnya jika terbukti terlibat praktek pemerasan terselubung semacam itu. "Jika dibiarkan, preseden ini akan menjadi ancaman bagi pembangunan perekonomian di DKI Jakarta," ujarnya

Alvin
May 8th, 2006, 07:03 AM
Pengembang terus pasok properti ritel

JAKARTA: Seolah tidak peduli dengan menukiknya tingkat hunian sepanjang tahun lalu, kalangan pengembang terus saja menambah pasokan ruang ritel.
Untuk tahun ini, menurut hasil penelitian agen dan konsultan properti Colliers International, sedikitnya 12 proyek properti yang diperuntukkan bagi transaksi ritel bakal memasuki pasar.

Padahal, sepanjang tahun lalu terjadi penurunan tingkat hunian hingga ruang terisi hanya 88,51%.

Untuk 2006 ini Colliers mencatat 12 proyek properti untuk ritel bakal rampung di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). Rinciannya, tiga di Jakarta Selatan, masing-masing dua di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Tangerang, dan Bekasi, serta satu proyek di Bogor.

Dengan kehadiran 12 proyek baru tersebut, terdapat tambahan areal untuk ritel sedikitnya 471.739 m2. Dari luas itu, sekitar 59% di antaranya terdapat di Jakarta.

Hingga akhir tahun ini, Colliers International memperkirakan pasok ruang ritel di Jabotabek mencapai 2,85 juta m2, sementara di Botabek ditambah dengan Depok mencapai 1,35 juta m2.

Ketidakpedulian kalangan pengembang dengan terus menambah pasok ruang ritel membuat tertekannya tingkat hunian berlanjut.

Dalam kondisi demikian, pengembang membidik peritel asing untuk mengisi properti mereka.

Dampak BBM

Senada dengan Colliers, Jones Lang LaSalle, konsultan properti lainnya, menyebutkan selama beberapa bulan ke depan sektor ritel memang terhadang oleh tingginya tingkat suku bunga deposito perbankan serta masih terasanya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Kami perkirakan permintaan ritel akan goyah sementara selama beberapa bulan tahun ini sebelum membuat kemajuan signifikan pada semester kedua 2006," demikian pernyataan Jones LangSalle pekan lalu.

Peritel dengan branding yang kuat dan posisi pasar yang bagus diperkirakan bakal terus mencari ruang di wilayah utama di Jakarta.

Begitu pula dengan hasil kajian Procon Indah. Menurut konsultan properti satu ini, dibukanya beberapa pusat perbelanjaan, terutama strata title, kemungkinan akan menyebabkan kenaikan tingkat kekosongan pada seluruh pasar ritel untuk sementara.

Selain department store seperti Matahari, Debenhams, dan Seibu, beberapa hipermarket seperti Carrefour, Giant, dan Hypermart akan mendominasi aktivitas sewa-menyewa.

Di samping tingkat kekosongan yang tinggi pada pasar ritel, beberapa pusat perbelanjaan utama telah menarik peritel-peritel asing yang terus mencari ruang untuk membuka toko baru maupun ekspansi.

Mengenai harga sewa dan service charge, Procon Indah memperkirakan stabil atau mengalami hanya sedikit kenaikan dalam waktu dekat, karena sebagian besar pemilik pusat perbelanjaan telah menaikkan nilai tukar pada akhir 2005. (syahran.lubis@bisnis.co.id)

Oleh M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia

Fir3blaze
May 10th, 2006, 07:15 PM
Both articles taken frm www.bisnis.com

Rabu, 10/05/2006 13:21 WIB
Adhi Karya kerjakan proyek di Qatar
oleh : M. Munir Haikal

JAKARTA (Bisnis): PT Adhi Karya diproyeksikan sampai dengan tiga tahun mendatang mengerjakan proyek senilai US$1 miliar di Qatar, Timur Tengah.

Sementara itu, sampai dengan Triwulan I 2006 BUMN konstruksi tersebut mencatatkan pendapatan Rp620 miliar dengan laba bersih Rp2 miliar.

Menneg BUMN Sugiharto menuturkan masuknya BUMN ini ke Timteng memungkinkan tenaga kerja Indonesia yang mempunyai keahlian di bidang itu dapat masuk ke wilayah tersebut.

"Sekarang Adhi sudah ke sana dan dalam tiga tahun akan mendapatkan proyek sebesar US$1 miliar sehingga tenaga kerja kita bisa ke sana," ujarnya siang ini.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Adhi M. Kholik menuturkan pihaknya sedang mengerjakan proyek mechanical electric di Shangri-La Hotel di Doha, Qatar.

"Nilainya US$46 juta untuk kontrak selama dua tahun. Total proyek yang kami incar US$1 miliar di wilayah Doha," katanya.

Dia menambahkan pihaknya akan mengerjakan infrastruktur untuk kilang minyak maupun membangun sebuah hotel di Doha. Saat ini pihaknya sedang membicarakan proyek itu.


Rabu, 10/05/2006 13:30 WIB
Adhi Karya prediksi laba tahun depan Rp150 miliar
oleh : M. Munir Haikal

JAKARTA (Bisnis): PT Adhi Karya memperkirakan laba bersih pada 2007 akan meningkat drastis menjadi Rp150 miliar, sedangkan pendapatan Rp6 triliun.

Direktur Keuangan PT Adhi Karya M. Kholik menuturkan tahun ini pihaknya mentargetkan pendapatan Rp4 triliun dengan perolehan laba bersih Rp90 milar.

"Kami mengharapkan tahun 2007 sudah pulih sehingga terjadi lonjakan pendapatan yang mencapai Rp6 triliun", ujarnya siang ini.

Dia menambahkan perseroan menganggarkan belana modal sekitar Rp20 miliar tahun ini yang akan digunakan untuk perawatan mesin.

Alvin
May 11th, 2006, 10:55 AM
Jababeka Kucurkan Rp 500 M
Thursday, 11 May 2006 01:41:10 WIB
JAKARTA, investorindonesia.com



PT Kawasan Industri Jababeka Tbk mengalokasikan dana sedikitnya Rp 500 miliar untuk mengembangkan proyek properti selama 2006. Landbank yang mencapai 1.874,2 hektare, memungkinkan Jababeka membangun proyek residensial, kawasan niaga terpadu, dan pusat perbelanjaan.



Lahan yang belum dibangun oleh Jababeka terdiri atas kawasan industri sebanyak 442 hektare, residensial 600 hektare dan kawasan niaga terpadu (central business district/CBD) di Kawasan Industri Jababeka Cikarang, Bekasi seluas 2,2 hektare. Selain itu, Jababeka memiliki landbank seluas 830 hektare di Cilegon, Banten.



“Land bank yang cukup besar ini rencananya kami siapkan untuk pembangunan beberapa proyek properti,” ujar Corporate Secretary Jababeka Mulyadi Suganda kepada Investor Daily usai rapat umum pemegang saham (RUPS) perseroan di Jakarta, Rabu (10/5).



Mulyadi mengungkapkan, selama 2006, Jababeka akan fokus pada peningkatan properti komersial dan residensial dengan target pembeli dari kalangan menengah ke atas dan para pekerja di kawasan Jababeka. Dia optimistis, penurunan level BI rate 25 basis poins akan memberi sentimen positif bagi perusahaan. “Lebih dari 90% penjualan perusahaan dibayar dengan sistem kredit,” jelas dia.



Di sektor residensial, Jababeka tengah menggarap proyek perumahan di Cikarang. Sedikitnya 150 unit rumah dengan konsep cluster dibangun untuk kalangan menengah-atas.



Selain itu, Jababeka menyiapkan pembangunan proyek apartemen empat lantai Metro Park di kawasan Industri Jababeka. Total investasi proyek yang pembangunannya selesai dalam tempo 12 bulan itu mencapai Rp75 miliar. “Proses konstruksinya akan dilakukan Juli mendatang,” ujar Mulyadi.



Ia mengungkapkan, luas unit Metro Park mulai dari 33 m² hingga 45 m². Harga jual apartemen mulai dari Rp 400 juta hingga Rp 600 juta.



Pasokan baru



Hasil riset PT Procon Indah yang dilansir belum lama ini menyatakan, pada kuartal I 2006, kawasan industri di kawasan Jadebotabek mendapat pasokan sebanyak 50 hektare dari perluasan proyek yang sudah ada, yaitu di Kawasan Industri Bekasi Fajar.



Sementara itu, penambahan pasokan 100 hektare dari Jababeka, yang direncanakan masuk ke pasr pada kuartal I akhirnya ditunda ke kuartal ketiga 2006.



“Total pasokan kumulatif tanah industri pada akhir Maret 2006 meningkat jadi 7.216 hektare,” ujar Senior Manager Strategic Advisory Group Procon Indah Arief N Rahardjo di Jakarta, baru-baru ini.



Arief menyebutkan, tambahan dan pembukaan areal baru di dalam kawasan industri yang sudah ada, akan terus mendominasi pasokan baru di masa depan. Hal itu ditandai dengan dimulainya perluasan lahan di beberapa kawasan industri yang sudah ada. “Sebanyak 80 hektare perluasan di Modern Cikande yang sebelumnya dijadwal ulang ke kuartal II 2006, ditunda kembali ke kuartal IV 2006,” jelas Arief. (c86)

Alvin
May 19th, 2006, 08:20 AM
Money
Lippo to launch first residential project here
Joyce Teo , Property Correspondent
435 words
19 May 2006
Straits Times
English
(c) 2006 Singapore Press Holdings Limited
INDONESIA'S Lippo group is making its maiden foray into residential property development here at a site in Newton - and is hoping for an auspicious start by setting a new pricing benchmark for the area.

And this is no one-off foray: The conglomerate has made it clear that this project will not be its last in Singapore.

It will start selling the 91-unit luxury Newton One on Saturday at a soft launch for invited guests only.

Priced at $1,200 to $1,250 per sq ft (psf) on average, the apartments will cost a bit more than other developments in the area, which cost about $1,000 psf.

Lippo is confident it can pull off this premium in pricing, as the 29-storey project offers quality fittings and unique features that sets it apart from the rest.

'This is our first property. It will set the standard for Lippo developments,' said Lippo Realty executive director Thio Gim Hock.

All units, which range from 1,216 to 2,411 sq ft, come with their own private lift lobbies.

The biggest of the eight units boasts five bedrooms - one is actually a granny flat with its own kitchenette and private entrance from the lift lobby.

These 2,411 sq ft units also have large master bedrooms featuring a separate private lounge area that is Mr Thio's idea.

And except for the smallest two-bedroom units, the rest come with two balconies - in the living and dining area.

Mr Thio said the project has already attracted buying interest ahead of the official launch slated for the following weekend, with Knight Frank as the marketing agent.

He brings extensive experience to his position, having masterminded the 1991 launch of Four Seasons Park when he was executive director of Hotel Properties.

'Four Seasons Park was the benchmark for luxury condos in the early 90s,' said an industry source.

Lippo clinched the former Newton Heights freehold site for Newton One in a collective sale in February last year for $43.6 million.

The firm is also busy planning another project on a site that it bought last month in Kim Seng Road - with a launch set for early next year.

It expects to build slightly more than 300 units there.

Besides residential developments, Lippo has in its local portfolio commercial properties such as 78 Shenton Way and 79 Anson Road that could eventually be injected into a real estate investment trust.

Lippo has also unsuccessfully made bids in tenders for major projects such as Orchard Turn.

Alvin
June 15th, 2006, 08:40 AM
High-end Jakarta: Butlers, pools and a Mona Lisa
By Vaudine England International Herald Tribune

WEDNESDAY, MAY 31, 2006


JAKARTA The Steinway piano in the foyer has gold curlicues all over it; the "library" has no real books, only cardboard covers; the open hearth fires are fake flames; and, in the lobby, a Mona Lisa oversees chandeliers and ferocious air conditioning.

This heady mix of over-the-top furnishings, ceilings that are 3 meters, or 10 feet, high and lavish decor has made the Da Vinci a stand-out property in central Jakarta. Its features include finger-scan security access, 24-hour concierge and butler service, chefs on call, floors of Italian marble, kitchens by Scavolini, an indoor swimming pool replete with statues of nude nymphets and cupids, topiary and doors, again from Italy, made of stained glass, wood inlay and bronze fittings.

Erwin Hawawinata, the designer, acknowledges that his minimalist, modernist urges impeded him when he started work on Da Vinci. In one of the penthouses (every apartment is called a penthouse and given a name like Verdi or Raphael), he was allowed to let it rip, using a blend of austere simplicity and 1960s playboy-type couches.

Then, trips to Rome, Venice and Paris helped convert him to the idea of "recreating the Louvre" in Jakarta, he said.

But molded angels, chiffon drapes, pastel rosettes, ruched frills and pastoral scenes on the ceiling are not what everyone wants to come home to at night. The 34-story building is only 30 percent sold, at $4 million per unit of 350 to 380 square meters, or 3,800 to 4,000 square feet. The price does not include all the furnishings, although packages are available.

More appealing to the practical rich is the Capital Residence, a two-tower complex being built in the central business district. Hirsch Bedner Associates, the international hospitality design company, has created a luxurious, yet functional interior in apartments of 145 to 323 square meters.

"Foreigners have expressed interest in the Capital, for example, because the price is what we call 'upper-upper' and the size is smaller so it's good for leasing, making it work well in this market," said Nonny Subeno, a director at Procon Indah, Jakarta's leading property firm.

Over all, Indonesia has "been off the radar screen for so long, but we're now clearly coming out of an 8- to 10-year recession. There's a lot more interest, a lot more blue suits coming through Jakarta now," said David Cheadle, chief executive at Procon Indah.

Retail property is where most growth is occurring, but the condominium market is picking up, he said. There are few restrictions to buying off plan during preconstruction marketing, and almost all such projects have been completed, so there are few failures to deter such buying.

Apartments have gained favor over sprawling house and garden compounds, largely for security reasons, and apartments that do not feature back entrances have not been selling well for the same reason.

Analysts say the fastest-growing segment of the Jakarta properties market is in middle-class apartments for the city's almost nine million residents. Finding a home at the high end of the market remains a minority pursuit, for those with about $1 million to spend, for example, on a 480-square- meter unit in the Pacific Place development, also under construction in the central business district.

Adjacent to the Jakarta Stock Exchange complex, Pacific Place takes its inspiration from the Hong Kong complex of the same name and, with its luxury hotel, mall, office tower, service apartments and residential units, will comprise more than a million square meters. It is owned by Tan Kian, a Chinese tycoon who owns Marriott and Ritz-Carlton hotels, among a number of other properties.

Lucy Romantir of the Jones Lang LaSalle real estate office in Jakarta, which is representing the project, said the Pacific Place apartments were selling, although not as quickly as they did at the outset. "This is a very small target market. We know who they all are and most of that target market has bought already," she said. "But we will be sold out by completion."

Owners who want to rent out their apartments can expect as much as $2,500 a month from new apartments, she added, noting that the number of such units has doubled in the city since 2001.

Cheadle, of the property firm Procon Indah, says that values will not rise significantly until foreign investment in Indonesia's economy increases.

Before the financial crisis of 1997, which helped bring down President Suharto in 1998, the only top-end apartments were the Dharmawangsa homes, with private elevators and deep balconies, which sold for about $1.5 million for 305 square meters to 456 square meters. Since then, the market has grown, with the Ritz- Carlton apartments, where 800 square meter units were sold out at about $1.6 million, and the Sailendra Apartments, also sold out, with 330 square meter units that were $800,000 each.

The complexities that face foreigners who want to buy properties in Indonesia make the government-owned Sudirman Place, which is almost complete, an appealing prospect. Its 30- year leases on units of 80 square meters to 150 square meters are selling well at $110,000 to $200,000. As with most Jakarta developments today, the building includes a shopping mall, gym, pool, parking and other amenities.

A similar development, offering 35- year leases with a possible 15-year extension, is the Senayan City Mall, a large mixed-use development that is expected to have a soft opening on June 23 and to open fully in January 2007. Its apartments are around 130 square meters and most have been sold, at around $200,000 each. Sofitel, a division of the French hotel chain Accor, is managing the development and intends to use the remaining units as serviced apartments.

"Jakarta is quite an unusual market," Cheadle said. "There is almost no turnover and everything is still at half-value compared to its pre-economic crisis values. It's still relatively cheap. And people are not borrowing, there's almost no mortgage business here, so they are either brave and in the market, in cash, or they are not players at all."

JAKARTA The Steinway piano in the foyer has gold curlicues all over it; the "library" has no real books, only cardboard covers; the open hearth fires are fake flames; and, in the lobby, a Mona Lisa oversees chandeliers and ferocious air conditioning.

This heady mix of over-the-top furnishings, ceilings that are 3 meters, or 10 feet, high and lavish decor has made the Da Vinci a stand-out property in central Jakarta. Its features include finger-scan security access, 24-hour concierge and butler service, chefs on call, floors of Italian marble, kitchens by Scavolini, an indoor swimming pool replete with statues of nude nymphets and cupids, topiary and doors, again from Italy, made of stained glass, wood inlay and bronze fittings.

Erwin Hawawinata, the designer, acknowledges that his minimalist, modernist urges impeded him when he started work on Da Vinci. In one of the penthouses (every apartment is called a penthouse and given a name like Verdi or Raphael), he was allowed to let it rip, using a blend of austere simplicity and 1960s playboy-type couches.

Then, trips to Rome, Venice and Paris helped convert him to the idea of "recreating the Louvre" in Jakarta, he said.

But molded angels, chiffon drapes, pastel rosettes, ruched frills and pastoral scenes on the ceiling are not what everyone wants to come home to at night. The 34-story building is only 30 percent sold, at $4 million per unit of 350 to 380 square meters, or 3,800 to 4,000 square feet. The price does not include all the furnishings, although packages are available.

More appealing to the practical rich is the Capital Residence, a two-tower complex being built in the central business district. Hirsch Bedner Associates, the international hospitality design company, has created a luxurious, yet functional interior in apartments of 145 to 323 square meters.

"Foreigners have expressed interest in the Capital, for example, because the price is what we call 'upper-upper' and the size is smaller so it's good for leasing, making it work well in this market," said Nonny Subeno, a director at Procon Indah, Jakarta's leading property firm.

Over all, Indonesia has "been off the radar screen for so long, but we're now clearly coming out of an 8- to 10-year recession. There's a lot more interest, a lot more blue suits coming through Jakarta now," said David Cheadle, chief executive at Procon Indah.

Retail property is where most growth is occurring, but the condominium market is picking up, he said. There are few restrictions to buying off plan during preconstruction marketing, and almost all such projects have been completed, so there are few failures to deter such buying.

Apartments have gained favor over sprawling house and garden compounds, largely for security reasons, and apartments that do not feature back entrances have not been selling well for the same reason.

Analysts say the fastest-growing segment of the Jakarta properties market is in middle-class apartments for the city's almost nine million residents. Finding a home at the high end of the market remains a minority pursuit, for those with about $1 million to spend, for example, on a 480-square- meter unit in the Pacific Place development, also under construction in the central business district.

Adjacent to the Jakarta Stock Exchange complex, Pacific Place takes its inspiration from the Hong Kong complex of the same name and, with its luxury hotel, mall, office tower, service apartments and residential units, will comprise more than a million square meters. It is owned by Tan Kian, a Chinese tycoon who owns Marriott and Ritz-Carlton hotels, among a number of other properties.

Lucy Romantir of the Jones Lang LaSalle real estate office in Jakarta, which is representing the project, said the Pacific Place apartments were selling, although not as quickly as they did at the outset. "This is a very small target market. We know who they all are and most of that target market has bought already," she said. "But we will be sold out by completion."

Owners who want to rent out their apartments can expect as much as $2,500 a month from new apartments, she added, noting that the number of such units has doubled in the city since 2001.

Cheadle, of the property firm Procon Indah, says that values will not rise significantly until foreign investment in Indonesia's economy increases.

Before the financial crisis of 1997, which helped bring down President Suharto in 1998, the only top-end apartments were the Dharmawangsa homes, with private elevators and deep balconies, which sold for about $1.5 million for 305 square meters to 456 square meters. Since then, the market has grown, with the Ritz- Carlton apartments, where 800 square meter units were sold out at about $1.6 million, and the Sailendra Apartments, also sold out, with 330 square meter units that were $800,000 each.

The complexities that face foreigners who want to buy properties in Indonesia make the government-owned Sudirman Place, which is almost complete, an appealing prospect. Its 30- year leases on units of 80 square meters to 150 square meters are selling well at $110,000 to $200,000. As with most Jakarta developments today, the building includes a shopping mall, gym, pool, parking and other amenities.

A similar development, offering 35- year leases with a possible 15-year extension, is the Senayan City Mall, a large mixed-use development that is expected to have a soft opening on June 23 and to open fully in January 2007. Its apartments are around 130 square meters and most have been sold, at around $200,000 each. Sofitel, a division of the French hotel chain Accor, is managing the development and intends to use the remaining units as serviced apartments.

"Jakarta is quite an unusual market," Cheadle said. "There is almost no turnover and everything is still at half-value compared to its pre-economic crisis values. It's still relatively cheap. And people are not borrowing, there's almost no mortgage business here, so they are either brave and in the market, in cash, or they are not players at all."

Alvin
June 22nd, 2006, 04:15 PM
expect more and more projects to come second half of this year. :cheers:
----------------------------------------------------------------------------
Proyek properti semester I/2006 US$1,73 miliar

JAKARTA: Satu hasil riset menyebutkan kapitalisasi proyek konstruksi gedung secara nasional pada semester I tahun ini diperkirakan mencapai US$1,73 miliar atau sekitar Rp15,9 triliun dengan dominasi wilayah di Jabodetabek.
Wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) menguasai 47% dari total kapitalisasi pasar konstruksi gedung itu dengan kontribusi terbesar datang dari proyek hunian atau residensial yang mencapai porsi 52% (dari 47%) dari total proyek konstruksi.

Hal itu terungkap dalam hasil riset BCI Asia, perusahaan jasa informasi konstruksi untuk kawasan Asia Tenggara dan China.

Menurut lembaga ini, hampir di seluruh kota utama Indonesia, proyek pembangunan residensial merupakan kategori yang dominan menyerap barang dan jasa konstruksi, yaitu mencapai 52%.

Hal itu, tambahnya disusul kategori komersial ritel dengan persentase 20,6%, perkantoran 9%, hotel 5%, pendidikan 3%, dan kesehatan 2%.

Secara berurutan serapan dari total kapitalisasi sebesar Rp15,9 triliun proyek konstruksi gedung di Indonesia adalah Jabodetabek 47%, Surabaya dan Jawa Timur 13,46%, Sumatra 11,8%, kawasan timur Indonesia 11,6%, Jawa Barat 9%, Jateng-Yogyakarta, dan Kalimantan masing-masing 3%.

BCI mengatakan nilai proyek di Jabodetabek dan Banten selama semestar I tahun ini mencapai Rp7,5 triliun dengan persentase terbesar didominasi oleh kategori hunian sebesar 62% atau mencapai Rp4,6 triliun.

Selanjutnya disusul kategori ritel sebesar 16% atau Rp1,3 triliun, perkantoran 14% atau Rp1,1 triliun, pendidikan 2,5%, hotel 2,2%, serta sisanya dari gedung parkir, fasilitas kesehatan, rekreasi dan kategori transportasi.

Kategori

Untuk perincian proyek residensial di Jabodetabek dan Banten yaitu 52% dari subkategori perumahan menengah atas, 42% dari proyek apartemen, 4% dari proyek rumah pribadi dan 2% dari proyek rumah bandar (townhouse).

Sementara untuk Surabaya dan Jawa Timur memiliki proyek konstruksi senilai Rp2,2 triliun dengan persentase terbesar didominasi oleh kategori hunian sebesar 51% atau Rp1,1 triliun.

Selanjutnya disusul kategori komersial ritel 28% atau Rp607,5 miliar, proyek fasilitas kesehatan 6,8%, proyek dengan kategori pendidikan 4%, perkantoran 3,8%, sisanya termasuk proyek degan kategori rekreasi, hotel, bangunan fasilitas umum, dan fasilitas transportasi.

Menurut BCI, perincian kapitalisasi proyek gedung ini berdasarkan analisis dari sedikitnya 4.000 proyek bangunan gedung yang dilapor-kan oleh staf riset BCI Asia.

Riset dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara dengan para arsitek, enjiner, pengembang, dan pelaku konstruksi lainnya yang terlibat dengan proyek-proyek tersebut.

BCI menambahkan riset itu juga didukung oleh kunjungan ke lokasi proyek, pelaksanaan tender, dan data-data pemerintah.

Hasil kajian untuk prospek semester II tahun ini, kata lembaga riset dan publiksasi itu, menunjukkan masih ada potensi proyek sebesar US$5,9 miliar atau sekitar Rp54,6 triliun.

Potensi proyek ini, lanjutnya, diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun ini dengan sebaran dan kategori proyek yang tidak jauh berbeda dengan semester I.

BCI menghitung potensi proyek selama semester II itu berdasarkan analisis terhadap data rencana proyek yang sudah masuk dalam tahapan desain, dokumentasi, tender, dan setelah tender dengan perkiraan mulai konstruksi hingga akhir tahun ini. (irsad.sati@bisnis.co.id)

Alvin
June 24th, 2006, 01:33 AM
Peringkat Pengembang Perkantoran, Grup Mulia dan Artha Graha Teratas
Saturday, 24 June 2006 01:44:35 WIB
JAKARTA, Investor Daily
Grup Mulia, perusahaan yang dipimpin taipan Djoko S Tjandra berada di peringkat pertama pengembang yang paling banyak memasok ruang perkantoran di kawasan niaga terpadu (central business district/CBD) Jakarta. Tempat kedua dan ketiga, masing-masing ditempati Grup Artha Graha dan Ratu Sayang (PT Ratu Plaza International).

Kajian yang dilakukan perusahaan konsultan properti Jones Lang LaSalle menyebutkan, Grup Mulia hingga 2006 telah memasok ruang kantor di kawasan CBD sebanyak 487.740 m². Sedangkan Grup Artha Graha memberi kontribusi 183 ribu m² dan Ratu Sayang 143.200 m².

Sementara PT Duta Anggada Realty Tbk memasok sebanyak 127 ribu m², Grup Sampoerna 92.964 m², Grup Dua Mutiara yang dipimpin Tan Kian memberi kontribusi 88.296 m², Grup Sinar Mas sebanyak 81.290 m², Jakarta Land sekitar 72.000 m² dan Midplaza Prima menyuplai 50.300 m² ruang perkantoran. (lihat tabel!)

National Director Jones LangLaSalle Lucy Rumantir mengungkapkan, selain para pengembang tersebut, sebenarnya ada pengembang lain yang ikut memasok ruang perkantoran di wilayah CBD. Mereka di antaranya Lippo, Dharmala, Metropolitan, Bakrieland, Mayapada, dan Jakarta International Setiabudi. “Kalau dihitung, total ruang kantor yang mereka pasok mencapai 1.412.993,” ujar Lucy kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (22/6).

Lucy menegaskan, Grup Mulia adalah sebagai pengembang yang paling aktif membangun perkantoran. “Grup Mulia memang masih di atas Duta Anggada. Perbedaannya adalah, kalau Mulia membangun gedung di atas lahan pemerintah, sedangkan Duta Anggada membangun di atas lahan milik sendiri,” kata Lucy.

Grup Mulia sejak lama dikenal sebagai salah satu pengembang perkantoran. Beberapa proyek telah mereka kembangkan, mulai dari Wisma Mulia, Wisma GKBI, Gedung BRI II hingga Menara Mulia. Kecuali itu, perusahaan ini juga membangun gedung perkantoran Sentra Mulia, Plaza 89, Plaza Kuningan, Atrium Mulia, Wisma Atrium, dan Siemens Business Park.

Sementara itu, proyek perkantoran yang telah dibangun Grup Artha Graha adalah gedung Artha Graha dan gedung Bursa Efek Jakarta I dan II. Sedangkan di kawasan CBD, Duta Anggada membangun gedung perkantoran Chase Plaza, Darya Varya, Plaza Bapindo, dan Great River. Di luar CBD, Duta Anggada membangun Plaza Hayam Wuruk, Tendean Office 89, dan Mampang Park.

Lucy mengakui, selain pengembang yang masuk 13 besar pemasok ruang perkantoran di CBD Jakarta, sebenarnya banyak pengembang lain yang membangun proyek perkantoran. Sayangnya, lanjut dia, banyak proyek yang dikembangkan tersebut belum dipublikasikan. “Karena itu, data yang ada saat ini tidak bisa dijadikan sebagai patokan baku,” jelas dia.

Nilai kapitalisasi

Sementara itu, dari sisi nilai kapitalisasi gedung perkantoran, kajian Indonesia Property Watch (IPW) memperlihatkan, Duta Anggada justru berada di peringkat pertama dengan nilai Rp 2,2 triliun (33%) atau di atas lima pengembang perkantoran terbesar lain di Jakarta, yaitu Grup Artha Graha dengan nilai kapitalisasi Rp 1,7 triliun (26%), dan Grup Dharmala Rp 870 miliar (13%).

Sedangkan PT Mulialand Tbk hanya membukukan nilai kapitalisasi Rp 800 miliar (12%), PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk sekitar Rp 600 miliar (9%), dan PT Bakrieland Development TBk tercatat Rp 500 miliar (7%). “Saya perkirakan, bisnis properti perkantoran di Ibu kota tambah menggeliat,” ujarnya.

Kajian Jones Lang LaSalle memperlihatkan, pada 2006 akan masuk sejumlah proyek perkantoran baru, di antaranya Sudirman Plaze, Sahid Boutique Office, Gedung Bank NISP, Rasuna Office Park, Gedung Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, dan Menara Kuningan.

Pada 2007, pasok perkantoran di kawasan CBD akan datang dari Grup Gapura Prima yang membangun Gapura Prima Tower, Sudirman Plaza-Marein Tower (hak milik) dan Sudirman Plaza (sewa) yang dibangun oleh Grup Dua Mutiara. Selain itu, pasokan juga datang dari Senayan City yang dibangun Agung Podomoro Group, The East yang dibangun PT Genta Mulia Infra, Menara Sahid, Patria Park oleh PT Pembangunan Perumahan, Pacific Place oleh Grup Dua Mutiara-Artha Graha-Grup Salim, dan Grand Indonesia yang dikerjakan Grup Djarum.

Ali menyebutkan, pasokan baru ruang perkantoran di CBD dalam kurun 2004-2007 diperkirakan mencapai 576.629 m². Sementara di luar CBD, jumlah pasok ruang perkantoran sekitar 102.368 m².

Berdasarkan komposisi sebaran pasokan baru perkantoran hingga setahun ke depan, kawasan Jalan Rasuna Said menduduki peringkat pertama, dengan nilai 21%. Lalu diikuti secara berturut-turut, Jalan Jenderal Sudirman (18%), Jalan MH Thamrin (16%), kawasan Mega Kuningan (13%), Jalan Prof Dr Satrio (7%), Jalan Jenderal Gatot Subroto (6%), dan daerah lainnya yang tersebar di beberapa lokasi (19%).

Sudirman dan Thamrin

General ManagerPT Sahid Inti Dinamika, pengembang Sahid Boutique Office, mengatakan, proyek perkantoran tersebut akan berdiri kokoh bersebelahan dengan Apartemen Sahid. Di atas lahan seluas 1.500 m², Sahid Boutique Office akan terdiri dari delapan unit bangunan yang masing-masing terdiri dari tujuh lantai. Adapun luas tiap unitnya mulai dari 633 m² sampai 718 m².

Secara terpisah, General Manager PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk Adi Mawardi mengungkapkan, saat ini perseroan menyiapkan beberapa proyek properti, termasuk perkantoran. Nilai investasi seluruh proyek tersebut mencapai Rp 1 triliun.

“Tahun depan kami berencana membangun Mega Kuningan Land dengan konsep mix used di atas alahan seluas 38,025 m2 yang berlokasi di Jalan Satrio. Di sini nanti ada proyek gedung perkantoran,” jelas Adi kepada Investor Daily, tadi malam.

Sementara itu, antara 2008-2009, PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PIR) berencana mengoperasikan gedung perkantoran 41 lantai di area seluas 74.737 m². Dari jumlah segitu, PIR akan menawarkan area sewa 56.238 m². Menariknya, meski sekarang banyak perkantoran yang menawarkan konsep hak milik (strata title), Plaza Indonesia justru tetap bertahan dengan konsep sewa. Rencananya, harga sewa yang ditawarkan di sini sekitar US$18-US$ 20 per m².

Menurut Ali Tranghanda, kawasan Thamrin memang terbilang sebagai salah kawasan gurih untuk perkantoran dan pusat bisnis. "Pangsanya masih terbuka lebar, puncaknya diperkirakan tahun 2007," ucapnya. Bahkan, pemilu yang akan berlangsung tiga tahun lagi tak bakal punya pengaruh dalam proyek Plaza Indonesia. "Meskipun selesai tahun 2009, justru dia meraih pasarnya dalam 1-2 tahun ini, bukan di 2009," ujar Ali.

Meski begitu, lanjut Ali, persaingan proyek perkantoran baru kini memang terbilang ketat dengan ditandai munculnya saingan baru di kawasan Kuningan dan CBD. Hanya, itu bukan berarti bisnis ini kiamat. "Asalkan dapat anchor tenant, akan lebih cepat menarik calon penyewa yang lain,” ujarnya. (c82/c86/c94)

Alvin
June 24th, 2006, 01:37 AM
PLAZA INDONESIA VS GRAND INDONESIA, Saling Unjuk Gigi di Bunderan HI
Saturday, 24 June 2006 01:39:42 WIB
JAKARTA, Investor Daily
Pesona kawasan Bunderan Hotel Indonesia (HI) di Jakarta Pusat sepertinya tak pernah pudar. Tidak hanya bagi mereka yang ingin menyuarakan aspirasinya melalui forum demonstrasi, kawasan ini juga tetap menarik bagi para investor ‘berkantong tebal’ untuk membiakkan uangnya. Dan, di lokasi nomor satu Ibu Kota ini, kita akan segera menyaksikan dua pemain properti besar beradu proyek. Mereka adalah Grup Djarum dan PT Plaza Indonesia Realty Tbk.

Dengan modal yang lumayan besar, sekitar Rp 2,3 triliun, Grup Djarum akan menyulap kawasan eks-Hotel Indonesia dan Hotel Inna Wisata menjadi kawasan modern berfasilitas lengkap dan mewah. Di lahan seluas tujuh hektare ini akan dikembangkan proyek terpadu (mixed-use) yang terdiri atas hotel, apartemen, perkantoran, dan mal. Grup Djarum, melalui anak perusahaannya, PT Grand Indonesia, memulai membangun proyek ini pertengahan 2004.

“Agar bisa tumbuh, hotel butuh fasilitas penunjang. Makanya kami kembangkan yang namanya mixed-use development. Empat komponen yang ada akan saling mendukung dan merupakan suatu sinergi,” ujar Managing Director PT Grand Indonesia Frans H Lazaro, belum lama ini. Sementara itu, ia menambahkan, sebagai cagar budaya, keberadaan Hotel Indonesia tetap akan menjadi sentral dari keseluruhan desain bangunan.

Bahkan, lanjut Lazaro, pengembangan proyek Grand Indonesia salah satunya bertujuan untuk mengembalikan kemegahan dan nama besar Hotel Indonesia. Memang, seiring berjalannya waktu, hotel yang diresmikan 5 Agustus 1962 ini terus memudar dan tak mampu bersaing dengan bangunan megah lain di kawasan tersebut yang datang kemudian. “Kemegahan Hotel Indonesia akan kami hadirkan kembali dalam desain yang modern, unik, dan dinamis melalui proyek Grand Indonesia,” kata dia.

Hotel Indonesia sebagai sentral kawasan Grand Indonesia akan dikembangkan menjadi hotel bintang lima dengan sentuhan khas Indonesia yang menyediakan sekitar 260 kamar suite. The Bali Room dan The Ramayana Pavilion, dua bagian penting dari Hotel Indoensia akan tetap dipertahankan. The Ramayana Pavilion akan menjadi execuitive lounge, sedangkan The Bali Room akan menjadi ballroom hotel yang baru.

Hotel tersebut akan dikelola oleh operator hotel internasional Kempinski dengan nama Hotel Indonesia Kempinski. Pengelolaan apartemen di proyek ini juga diserahkan kepada operator yang sama. Apartemen yang akan diberi nama Kempinski Residence tersebut direncanakan memiliki 189 unit typical apartment, delapan unit junior penthouse, dan tiga unit penthouse mewah.

Bangunan apartemen yang akan menempati lahan di sisi utara kawasan tersebut direncanakan memiliki ketinggian 55 lantai. Apartemen ini, kata Lazaro, akan memiliki akses langsung ke pusat perbelanjaan dan dilengkapi dengan teknologi terbaru untuk kalangan atas.

Gedung Tertinggi

Sedangkan di sisi selatan kawasan Grand Indonesia akan dibangun gedung perkantoran 57 lantai yang dilengkapi teknologi paling cainggih. Gedung perkantoran ini disebut-sebut akan menjadi gedung paling tinggi di Jakarta, mengalahkan pemegang rekor saat ini, gedung Menara BNI 46.

Sejumlah perusahaan besar telah berkomitmen untuk berkantor di gedung ini. Satu di antaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang akan menempati areal seluas 28 ribu. Untuk masa sewa selama 28 tahun, BCA harus merogoh kocek dalam-dalam, yaitu mencapai US$ 30 juta, Namun, dengan itu pula BCA berhak atas naming right gedung tersebut.

Untuk pusat perbelanjaan akan dibangun Grand Indonesia Shopping Town yang terbagi menjadi dual mal dengan total luas mencapai 150 ribu m² dan areal parkir yang mampu menanpung sekitar 6.000 kendaraan. Ruang pusat perbelanjaan berlantai delapan ini terbagi menjadi tiga zona, yaitu classic, modern, dan entertainment.

Pembangunan konstruksi untuk pusat perbelanjaan, menurut Lazaro, hingga kini sudah mencapai 90% lebih. Sementara itu, untuk perkantoran, hotel, dan apartemen berada pada persentase yang lebih rendah. Sebagian unit pusat perbelanjaan ditargetkan sudah bisa beroperasi akhir tahun ini dan grand opening April 2007, mundur dari rencana semula September 2006.

“Kami mundur dari rencana semula, karena proyek ini begitu besar sehingga pemilihan anchor tenant harus dilakukan dengan hati-hati,” ujar dia. Sementara itu, untuk gedung perkatoran ditargetkan beroperasi mulai Juli 2007, apartemen Oktober 2007, dan hotel akhir 2007.

Hanya berjarak beberapa meter dengan pemisah Jalan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, PT Plaza Indonesia Tbk juga tengah berancang-ancang mengembangkan proyek serupa yang tak kalah wah. Plaza Indonesia yang kini telah memiliki pusat perbelanjaan dan hotel, juga akan melengkapi diri dengan gedung perkantoran prestisius 41 lantai (The Plaza Tower) dan apartemen mewah 48 lantai dengan fasilitas bintang lima (Keraton-The Grand Hyatt Residence). Ini sebenarnya proyek lama yang terhenti akibat krisis 1998.

Tercanggih di Asia

Bahkan, pusat prbelanjaan yang ada sekarang juga akan diperluas 38.468 m². Seperti halnya gedung perkantoran milik Grand Indonesia, salah satu gedung baru Plaza Indonesia tersebut juga diklaim akan menjadi gedung tertinggi di Jakarta. Manajemen menyebut, jika proyek tersebut tuntas, Plaza Indonesia yang menempati areal seluas 220 ribu m² ini akan menjadi salah satu kompleks properti terpadu (mixed-use developments) paling canggih di Asia.

Menurut Direktur Keuangan Plaza Indonesia Hendra Hartono, apartemen Keraton-The Grand Hyatt Residence akan menjadi apartemen termewah dan termahal di Indonesia. Pasalnya, lanjut Hendra, apartemen ini dijual mulai dari US$ 3.500 hingga US$ 4.000 per m², dengan luas per unitnya berkisar 400-500 m².

Hendra mengungkapkan, proyek pengembangan tersebut akan menelan total investasi sekitar US$ 225 juta atau sekitar Rp 2,7 triliun. Lebih besar dibanding investasi Grand Indonesia. Dana tersebut berasal dari pinjaman sindikasi perbankan yang dikomandani Sumitomo Mitsui Banking Corporation Singapura sebesar US$ 150 juta dan sisanya dana internal perseroan.

Direktur Operasional Plaza Indonesia M Sjohirin menambahkan, proyek pengembangan itu akan mulai digarap semester II 2006. “Kami sekarang sedang melakukan tender untuk penunjukan kontraktor. Kira-kira dua minggu lagi akan diketahui pemenangnya,” ujar Sjohirin ketika dihubungi Investor Daily, Kamis (22/6).

Untuk proyek perluasan pusat perbelanjaan, Sjohirin mengatakan, diharapkan selesai pada semester II 2008 dan semester II 2009 untuk proyek perkantoran dan apartemen. Kita tunggu saja wajah baru kawasan Bunderan HI tiga tahun mendatang. (nasori)

Baca juga link terkait berikut ini :

Alvin
July 7th, 2006, 02:54 AM
Expect a lot more construction activities nationally , this semester.

----------------------------------------------------------------


Realisasi Konstruksi Properti Diprediksi Capai Rp 58,85 T

Friday, 07 July 2006 01:06:03 WIB
JAKARTA, investordaily
Nilai realisasi konstruksi properti hingga akhir 2006 diperkirakan menembus Rp 58,85 triliun. Nilai realisasi tersebut berasal dari proyek properti perumahan, ritel, perkantoran, dan hotel.

Realisasi konstruksi properti semester II diprediksi memberi kontribusi cukup besar, yaitu Rp 44,78 triliun. Sedangkan pada semester I, realisasi konstruksi ‘hanya’ Rp 14,07 triliun. Itu berarti, pada semester ini kemungkinan terjadi kenaikan sebesar 318,26% dibanding realisasi semester lalu.

Laporan yang dirilis PT Building & Construction Interchange (BCI) Asia, perusahaan jasa informasi konstruksi untuk kawasan Asia Tenggara dan Cina, baru-baru ini, menyebutkan, pada semester II subsektor residensial memberi kontribusi cukup besar, yaitu Rp 20,58 triliun. Setelah itu, berturut-turut realisasi konstruksi proyek ritel Rp 12,34 triliun, perkantoran Rp 6,1 triliun, dan hotel Rp 5,62 triliun.

Senior Research and Consultant BCI Asia Dian Putra Purnomo mengatakan, sebaran lokasi proyek masih didominasi wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jadebotabek) serta Banten yang mencapai Rp 23,89 triliun. Nilai tersebut naik sekitar 335,61% dibanding semester I yang tercatat Rp 7,12 triliun.

“Wilayah Sumatera menduduki peringkat kedua. Nilai konstruksinya diprediksi Rp 7,22 triliun. Ini melonjak drastis dibandingkan semester sebelumnya yang hanya Rp 945,1 miliar,” kata Dian kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (6/7).

Dian mengungkapkan, seluruh subsektor properti pada semester II diproyeksikan naik signifikan. Kenaikan ini dipicu oleh upaya pengembang yang ingin mempercepat pembangunan proyek selesai sebelum 2007. “Mereka (pengembang, red) akan ngejar target 2007, karena sektor properti akan tumbuh cukup bagus dibanding tahun ini,” ujar dia.

Research Cosultant BCI Asia Cahyono Siswanto menjelaskan, untuk wilayah Jadebotabek dan Banten, proyek residensial yang akan dibangun pada semester ini diprediksi senilai Rp 10 triliun.

“Proyek residensial yang akan dibangun kebanyakan berupa kompleks perumahan yang mengedepankan pengembangan jenis cluster dan rumah bandar (town house),” kata Cahyono.

Semester I

Sebelumnya, dalam laporannya BCI Asia menyebutkan, sepanjang semester I 2006 mencapai Rp 15,98 triliun. Angka ini merupakan gabungan realisasi nilai konstruksi berbagai proyek properti mulai dari tempat parkir, komunitas, pendidikan dan penelitian, tempat konvensi, kesehatan dan perkantoran. Selain itu, besaran angka tersebut mencakup proyek rekreasi, perumahan, dan properti ritel.

Menurut BCI Asia, nilai konstruksi properti selama semester tersebut berdasarkan realisasi pelaksanaan pembangunan proyek, baik gedung pemerintah maupun swasta, dalam kurun tersebut. Berdasarkan sebaran lokasi proyek, Jadebotabek mendominasi wilayah sebaran, yaitu sebanyak 47%.

Sementara itu, berdasarkan kategori proyek, semester pertama didominasi proyek hunian (residensial) yang mencapai 52,5% dari total seluruh proyek, atau senilai dengan Rp 8,39 triliun. (c82)

XxRyoChanxX
July 7th, 2006, 02:59 AM
wow...thanks for sharing

OPTX
August 2nd, 2006, 07:24 PM
'Investasi properti ritel Surabaya capai US$491 juta'

JAKARTA: Proyek properti ritel di Surabaya selama dua tahun terakhir mencapai 109 unit dengan nilai hingga US$491,45 juta.
Perkembangan properti ritel nasional yang selama ini terkonsentrasi di sekitar Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) mulai melebar ke Surabaya dengan munculnya sejumlah proyek ritel skala besar di daerah tersebut.

Research Coordinator PT BCI Asia Cabang Surabaya Aslakhul Umam mengatakan perkembangan pesat properti ritel di Surabaya berwujud pusat perbelanjaan maupun rumah toko (ruko) dengan skala yang tidak kalah dengan proyek di Jakarta.

"Surabaya bisa dikatakan sebagai daerah terbesar kedua pengembangan properti ritelnya dengan nilai dalam dua tahun ini US$491,45 juta," katanya kepada Bisnis kemarin.

Dia menuturkan beberapa proyek pusat perbelanjaan di Surabaya yang tahun ini sudah dalam proses konstruksi a.l. ITC Mega Grosir, Pusat Grosir Pasar Turi, Kapas Krampung Center, Pasar Atom Expansion, Jembatan Merah Plaza III, Royal Plaza, Bubutan Plaza, Bubutan Junction Mall dan Galaxi Mal II.

Aslakhul menambahkan sebagian besar pusat perbelanjaan itu terkonsentrasi di kawasan Surabaya utara dan pusat.

Kawasan timur dan barat pertumbuhannya relatif kalah pesat, meskipun sebenarnya menyimpan potensi besar di masa mendatang.

Menurut dia, Surabaya barat memiliki keunggulan dalam penataan tata ruang dan merupakan kawasan permukiman menengah atas yang memiliki prospek dan perkembangan ekonomi pesat.

Dia memperkirakan ke depan wilayah itu bisa menjelma menjadi kota mandiri.

Dalam hal ini setidaknya ada tiga pusat perbelanjaan baru di Surabaya barat, yaitu Pakuwon Supermal, Golden City, dan Sungkono Trade Center.

Dia menilai pembangunan kawasan Surabaya barat sebagai kota baru nampak mirip dengan apa yang terjadi di Indianapolis, AS tahun 1930.

Saat itu, jalan-jalan diperlebar, bangunan lama diganti baru, daerah parkir mobil dibangun, gedung-gedung, terminal bus dan hotel serta dibangun pula tempat hiburan.

Dia menjelaskan Indianapolis adalah kota yang ditata dengan konsep Charles Colby, yakni daerah yang semula memiliki corak tradisional kemudian diubah menjadi kawasan modern.

Oleh Irsad
Bisnis Indonesia

http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A32&cdate=02-AUG-2006&inw_id=459461

Alvin
August 4th, 2006, 02:28 AM
Padang akan bangun Bay City

PADANG: Pemerintah Kota Padang akan membangun kawasan Padang Bay City dengan investasi Rp400 miliar untuk menggairahkan industri pariwisata daerah itu.
Wali Kota Padang Fauzi Bahar mengatakan kawasan Padang Bay City yang siap dibangun oleh investor dalam negeri itu termasuk proyek reklamasi pantai Padang sepanjang 250 meter.

"Pembangunan Padang Bay City tinggal menunggu selesainya kajian analisa mengenai dampak lingkungan [Amdal] oleh tim serta persetujuan dari DPRD Kota Padang," katanya kepada pers, kemarin.

Menurut dia, Pemkot Padang akan mengembangkan kawasan pantai yang selama ini terabaikan dan kurang tersentuh pembangunan menjadi kawasan wisata yang nyaman, bernilai ekonomi tinggi dan dapat memicu pertumbuhan ekonomi daerah.

"Padang Bay City akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus menghindari ancaman abrasi dan tsunami, karena nantinya akan dibangun pemecah gelombang."

Dia menjelaskan di kawasan baru itu juga akan dibangun beberapa hotel berbintang, bangunan bertingkat dengan konstruksi tahan gempa sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi tsunami.

Menurut Fauzi, selain untuk menggairahkan industri pariwisata di Kota Padang, pembangunan Padang Bay City juga dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya bencana tsunami.

"Kawasan Padang Bay City akan menjadi salah satu tempat evakuasi bagi masyarakat Kota Padang, khususnya pada wilayah Pantai Purus di mana sedikitnya 25.000 jiwa tinggal di sana," ujarnya.

Investor lokal, lanjutnya, sudah siap memulai pembangunan kawasan tersebut, bahkan jika semester kedua tahun ini studi Amdal sudah selesai, maka awal tahun depan pembangunannya segera dimulai.

Sementara itu, dalam kerangka menghadari ancaman bencara gempa dan tsunami, Pemkot Padang sedang menyusun peraturan daerah (perda) mengenai penanganan bencana tersebut. (k13/ Dwi Wahyuni)

Bisnis Indonesia

Alvin
August 4th, 2006, 02:30 AM
Ciputra bidik proyek di 3 kota

JAKARTA: Pengembang papan atas nasional, Grup Ciputra, menjajaki proyek properti kawasan baru di tiga kota setelah berhasil mengembangkan proyek serupa di Banjarmasin.
Palembang, Samarinda, dan Balikpapan adalah tiga kota yang dibidik pengembang itu dengan menyiapkan kerja sama operasi bersama pengembang lokal setempat.

Direktur Grup Ciputra Tulus Santoso mengatakan pengembangan properti kawasan dengan bendera Citra Garden akan terus dilakukan ke sejumlah daerah dengan menggandeng pengembang lokal.

Dengan cara itu, menurut dia, potensi pasar yang terus berkembang di sejumlah daerah bisa di raih tanpa mengabaikan kepentingan pengusaha daerah.

"Ya kita masih menjajaki pengembangan proyek properti di kawasan Palembang, Samarinda, dan Balikpapan. Paling tidak kami akan kaji sejumlah peluang itu dengan prinsip dari sepuluh shortlist paling tidak satu proyek terbaik bisa diambil di daerah tersebut," katanya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.

Saat ditanyakan siapa saja mitra lokal yang digaet di tiga daerah itu, Tulus menolak menyebutkan nama. Namun, menurut dia, siapa saja bisa diajak bekerja sama asalkan memiliki misi dan visi yang sama dengan pihaknya dalam pengembangan sebuah produk properti kawasan.

Tulus mengatakan pengembangan properti kawasan itu akan dirancang untuk kawasan minimal 50 haktare dengan level produk perumahan menengah dan mewah.

Dalam hal ini, tuturnya, sasaran proyek Ciputra di daerah adalah membidik pasar orang kaya atau kelompok berpenghasilan besar di daerah.

Hal ini, lanjutnya, sangat relevan karena dalam perkembangan pascaotonomi daerah memang banyak daerah yang tumbuh menjadi kawasan yang sejahtera secara ekonomi.

Rencana di Kamboja

Selain itu, Tulus mengatakan paling lambat akhir tahun ini rencana ekspansi ke Kamboja sudah selesai nota kesepahamannya (memorandum of understanding) sehingga awal tahun depan sudah mulai digarap.

Saat ini, tambahnya, persiapan administrasi untuk MoU itu tengah dirampungkan bersama dengan pe-ngembang domestik Kamboja yang menjadi mitra dalam pengembangan Kota Mandiri di negara tetangga tersebut.

Sebelumnya, PT Ciputra Development Tbk mengatakan akan berekspansi ke luar negeri dengan kebutuhan pendanaan diperkirakan lebih dari Rp3 triliun.

Setelah menyelesaikan restrukturisasi tahun lalu, perusahaan properti ini merasa kinerjanya lebih sehat, sehingga sudah saatnya ekspansi dengan mencari proyek baru.

Tulus mengatakan dengan sisa utang hanya Rp400 miliar, perseroan memiliki peluang untuk mencari pendanaan baru.

"Aset Ciputra Rp2 triliun dengan pinjaman yang under leverage. Kami melihat kesempatan untuk memulai ekspansi lagi," jelasnya. (irsad.sati@bis nis.co.id)

Oleh Irsad
Bisnis Indonesia

tata
August 7th, 2006, 12:19 PM
This is why the mid-range apartment is such a good business in Jakarta.

Middle-class commuters want to stay in the city
Anissa S. Febrina, The Jakarta Post, Jakarta

Spending at least four hours a day commuting was not exactly the kind of lifestyle 28-year-old Herjuna Pradhono was looking for when he purchased a two-bedroom house in Sawangan, Depok.

"I wanted to breathe fresh air so I went looking for a house in the suburbs. But, it is now getting increasingly stressful to commute every day," the financial analyst known to his friends as Donny complained.

"I am thinking of moving back in to the city sometime soon. I do not want to grow old commuting," he said.

It seems he is not the only one.

A recent study by Tarumanagara University's urban development program showed that 88.6 percent of surveyed Jakartan commuters wanted to move in to the city as the burden of commuting increased.

The study, conducted by Erwin H. Subrata, covered 237 Jakartan commuters living in the suburban housing complexes of Tangerang's Bumi Serpong Damai, as well as Bekasi's Kemang Pratama and Harapan Indah.

Some 80.5 percent of those who wanted to move into the city said they were interested in living in apartments. The finding suggested a need for affordable inner-city housing.

The concept of the suburban commute is largely a 20th century phenomenon. Historically, because of affordable and privately owned housing in suburbs, middle-income workers would commute from the suburbs to a city for work.

Apart from commuters, Erwin also surveyed 151 apartment owners from the middle-income group in Central Jakarta, West Jakarta and East Jakarta.

Because they want to move into the city, 17.1 percent of them are interested in purchasing apartments.

Erwin said it was high time developers responded to the demand for mid-range apartments located in secondary areas, not too far from the city center and located nearby a transportation linkage.

The study also revealed that people from the middle-income bracket hoped to find units priced under Rp 6 million per square meter in order for them to be able to purchase through housing loans.

Meanwhile, the Greater Jakarta property market itself has seen such a trend since the start of 2006, with the occupancy rate of low- to mid-range apartments increasing to 75.2 percent from around 70 percent the previous quarter.

Property consultant Procon Indah revealed that apartment blocks located in West Jakarta's Tanjung Duren, as well as North Jakarta's Kemayoran and Kelapa Gading, would see higher demand as they were close to colleges and working areas, she said.

According to apartment marketing executives, more than 50 percent of sold units usually end up in the hands of property investors who rent them to third parties.

Center of Indonesian Property Studies director Panangian Simanungkalit said the market with the most potential was actually people from the lower- to middle-income bracket who were in need of housing priced between Rp 150 and Rp 200 million.

Furthermore, developers of new towns like Bumi Serpong Damai, Lippo Karawaci and Lippo Cikarang should start to accommodate the opening of more job opportunities inside or nearby the complexes to avoid more commuting.

"People are bombarded with advertisement of houses in the suburbs without ever being informed of the consequences of commuting," Jo Santoso, the head of the university's urban development program, said.

This is where the city administration should step in and support the development of affordable inner-city apartments.

Bandung Institute of Technology urban planner Achmad D. Tardiyana highlighted that as long as inner-city housing development was left in the hands of the market, people from the middle-income bracket could never afford to live near their workplaces.

David-80
August 11th, 2006, 10:08 PM
OMG, we have no more Hilton in Jakarta! only in Surabaya and Bali right now....

Jakarta Hilton Jadi The Sultan Jakarta
Travel News: Friday, 4 Aug 2006 8:53:50 WIB

Jakarta - Jakarta Hilton International Hotel (JHIH) mengumumkan perubahan nama menjadi The Sultan Jakarta mulai 31 Agustus 2006.

Menurut General Manager JHIH Jim Boyles, manajemen memutuskan untuk mengoptimalkan keahlian dan pengalaman untuk melanjutkan bisnis perhotelan dengan menggunakan merek The Sultan Jakarta.

"Kami percaya diri untuk melanjutkan bisnis perhotelan ini dengan mengakhiri penggunaan merek Jakarta Hilton International mulai 31 Agustus 2006 dan mengganti namanya menjadi The Sultan Jakarta," ujarnya dalam surat kepada Bisnis, kemarin.

Sementara itu, Public Relations Manager JHIH Shakira Damayanti mengatakan rumor yang menyebutkan adanya perubahan kepemilikan hotel tersebut dari Pontjo Sutowo ke keluarga Megawati Soekarnoputri tidak benar.

"Pemiliknya sejak 1976 sampai saat ini tetap Pontjo Sutowo. Tidak ada perpindahan, pembelian, atau penjualan kepemilikan," tandasnya.

Dia menambahkan sejak 1976, Pontjo membeli waralaba merek beserta pengelolaan dari Hilton International. Kontrak waralaba itu berakhir pada 1998. Kemudian, pada 1998 kontrak diperpanjang hingga 31 Agustus 2006.

"Jadi perubahan nama itu karena habisnya masa kontrak merek per 31 Agustus dan bukan karena adanya perubahan kepemilikan," jelasnya. (Bisnis/spr)

Sumber: Bisnis Indonesia

Alvin
August 12th, 2006, 02:52 AM
yep, I heard about that....pity...

Alvin
August 12th, 2006, 03:36 AM
Apartemen
Investor Malaysia Tanam Modal 14 Juta Dollar AS

Jakarta, Kompas - Eden Capital dari Malaysia menanamkan modal sebesar 14 juta dollar AS untuk mengembangkan Apartemen Salemba Residence. Itu dilakukan melalui kerja sama dengan investor lokal PT Adhi Realty, anak perusahaan PT Adhi Karya Tbk.

Menurut Hero EA Putra, Presiden Direktur Eden Capital Indonesia di Jakarta, Jumat (11/8), permintaan masyarakat untuk membeli apartemen tinggi, baik sebagai sarana tempat tinggal maupun untuk investasi.

Apartemen Salemba Residence dibangun dua tower. Tower A yang diluncurkan tahun 2005 telah habis terjual. Sedangkan Tower B yang diluncurkan pada Maret 2006, mempunyai tingkat permintaan yang cukup tinggi dari masyarakat.

Antusiasme masyarakat kelas menengah ke atas untuk membeli apartemen di Jakarta dan sekitarnya, juga dibenarkan pengamat properti Panangian Simanungkalit.

Dalam pameran properti dan rumah murah yang digelar Panangian Proexco selama 26 Juli-6 Agustus 2006, nilai pembelian apartemen Rp 46 miliar dari total transaksi sebesar Rp 72 miliar.

Panangian mengatakan, tingginya nilai transaksi pembelian apartemen dipicu beberapa hal. Pertama, adanya potongan harga yang besar serta hadiah yang menarik. Misalnya, Apartemen Agung Podomoro memberikan potongan harga 30 persen.

Kedua, ada kabar yang menyebutkan jika suku bunga kredit turun, maka harga apartemen juga naik sekitar 10 persen.

"Karena itu, bagi pebisnis konservatif beranggapan inilah saat yang paling tepat untuk membeli apartemen, sebab lebih murah," kata Panangian.

Pameran properti dan rumah murah yang digelar Panangian Proexco kali ini merupakan yang kedua selama tahun 2006. Pemeran pertama dilakukan selama 1-9 April 2006.

Saat itu, pengunjung sekitar 50.000 orang dengan total nilai transaksi Rp 42 miliar. Dalam pameran kedua, jumlah pengunjung turun 20 persen, tetapi total transaksi naik 41,6 persen, yakni Rp 72 miliar.

Menghemat biaya

Penjualan terbanyak diperoleh pengembang Apartemen Agung Podomoro Rp 30 miliar. Disusul pengembang perumahan Cibubur Grup Persada Rp 11 miliar, apartemen Rasuna Epicentrum Rp 10 miliar, lalu pengembang Marbela Kemang Rp 6 miliar.

Berdasarkan data Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI), jumlah apartemen yang dibangun selama tahun 2002-2007 sebanyak 45.000 unit.

Sekitar 25.000 unit di antaranya telah selesai dibangun. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen sudah laku terjual, sisanya 30 persen sedang dipasarkan.

Untuk 20.000 unit lainnya masih dibangun. Namun, 30 persen dari apartemen itu telah dipesan pembeli. Harga apartemen berkisar Rp 250 juta sampai Rp 500 juta per unit.

Bisnis apartemen di Indonesia berkembang sejak tahun 1976. Selama tahun 1976-2000, jumlah apartemen yang telah dibangun sebanyak 22.000 unit. Itu berarti, sampai dengan tahun 2007, apartemen yang dibangun di Indonesia mencapai 67.000 unit.

Menurut Panangian, kemacetan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya yang semakin parah, membuat kalangan kelas menengah ke atas cenderung memilih tinggal di apartemen. Selain bisa mengurangi stres dan memperpendek jarak tempuh, tinggal di apartemen juga lebih menghemat biaya transportasi. (gun/JAN)

F-ian
August 12th, 2006, 06:19 AM
hoho so the traffic is good then ;) it creates new buildings ;)

tata
August 12th, 2006, 09:57 AM
OMG, we have no more Hilton in Jakarta! only in Surabaya and Bali right now....

Jakarta Hilton Jadi The Sultan Jakarta

Is it an int'l chain hotel or local brand?

David-80
August 12th, 2006, 07:11 PM
I dont know ta, but is there any international brand called The Sultan Hotel?

cheers

ncon
August 12th, 2006, 07:44 PM
maybe belong to THE SULTAN BRUNEI??

somehow i doubt it it is local brand

tata
August 13th, 2006, 10:54 AM
I dont know ta, but is there any international brand called The Sultan Hotel?

cheers

i never heard of it. I tried Google too, didn't find any thing.

paradyto
August 13th, 2006, 12:16 PM
If I'm not mistake, it's Singaporean, couse The Sultan Hotel Palembang will built near Musi River and Ampera Bridge by Singapore investor. But I wonder, couse the name is Sulthon or Sultan Hotel;)

OPTX
September 13th, 2006, 08:19 AM
Investasi Mal di Surabaya Raya Rp 60 Triliun
Selama 2006 hingga Agustus

Surabaya, Surya
Rabu, 13 September

Di tengah kondisi perekonomian yang sering disebut masih lesu, pembangunan mal dan pusat-pusat perbelanjaan baru ternyata terus terjadi di wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Pasuruan) plus Malang serta Jember.

Sepanjang tahun ini hingga Agustus, nilai proyek pusat perbelanjaan (ritel) yang baru selesai dan masih sedang dibangun mencapai 5,66 miliar dolar AS (sekitar Rp 60 triliun) di wilayah tersebut.

Demikian diungkapkan Aslakhul Umam, Research Coordinator PT Building & Construction Interchange (BCI) Asia cabang Surabaya, Selasa (12/9).
"Ekspansi pusat perbelanjaan masih akan terjadi hingga akhir tahun. Bahkan terus menyebar di sejumlah kota lain di luar Surabaya," ungkap Umam kepada Surya.

Tahun lalu, ungkap Umam, mayoritas investasi pembangunan pusat perbelanjaan masih terkosentrasi di kota Surabaya. Pengembang masih melihat potensi pasar seiring pertumbuhan jumlah penduduk Surabaya yang diperkirakan mencapai 5 juta jiwa pada tiga tahun ke depan.

Namun mulai 2006 ini, pengembangan pusat perbelanjaan makin menyebar ke kota-kota lain seperti Malang, Jember dan Pasuruan. Para pengembang, kata Umam, melihat jumlah total penduduk Jatim yang mencapai 30 juta jiwa lebih merupakan potensi pasar yang tak kalah potensial.

Porsi investasi untuk ekspansi pusat perbelanjaan, jelas dia, merupakan yang terbesar dari seluruh investasi pembangunan gedung di Jatim.
Hingga Agustus tahun 2006 ini, total investasi pembangunan gedung yang ada di Jatim mencapai 11,613 miliar dolar AS (sekitar Rp 105 triliun) dengan jumlah 534 proyek.

Selain pusat perbelanjaan dengan investasi sebesar 5,66 miliar dolar AS yang disebut tadi, investasi besar lain ada di sektor properti residensial yang mencapai 2,131 miliar dolar AS.

Komposisi ini, jelas Umam, tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun 2005. Saat itu sepanjang tahun 2005, terdapat 593 proyek properti di Jatim yang menelan investasi 18,9 juta dolar AS.

Pembangunan gedung pusat perbelanjaan saat itu juga mendominasi dengan nilai sebesar 8,9 juta dollar AS. Kemudian properti permukiman (residensial) dengan investasi sebesar 2,9 juta dolar AS.

Don Rozano, konsultan dari Enciety Business Consult (yang turut membantu proyek pusat perbelanjaan BG Junction di Surabaya), mengungkapkan bahwa ekspansi pasar modern di Jatim dan Surabaya khususnya akan terus berlangsung beberapa tahun ke depan.
"Cuma harus diatur agar tidak saling bersaing dengan pasar tradisional," ujar Don.

Menurut Don, satu pusat perbelanjaan hanya melayani sekitar 30.000 hingga 50.000 konsumen. Artinya, kendati pusat perbelanjaan (besar) di Surabaya bertambah 12 buah saat ini, potensi pengembangan pasar masih tetap ada. "Persaingan belum mencapai titik jenuh," tandas Don.ytz

Proyek Investasi Ritel 2005
-----------------------------------------------------------
No NAMA PROYEK PENGEMBANG
-----------------------------------------------------------
1 Royal Plaza Pakuwon Jati Tbk, PT
2 Galaxy Mall II Sinar Galaxy, PT
3 ITC Mega Grosir Citra Agung Tirta Jatim
4 Pusat Grosir Wonokromo Duta Pertiwi Tbk, PT
5 Bukit Darmo Square Adhibaladika Agung PT
6 Hitech Center Lamicitra Nusantara, Tbk PT
7 Pasar Atum Mall Prosam Plano PT
8 Surabaya Town Square Graha Megaria Raya PT
9 The City of Tomorrow Lippo Karawaci Tbk, PT
10 Buthan Trade Mall Bubutan Indah Megah PT
11 Pusat Grosir Pasar Turi Lamicitra Nusantara Tbk, PT
-------------------------------------------------------------

Proyek Investasi Ritel 2006
-------------------------------------------------------------
No NAMA PROYEK PENGEMBANG
-------------------------------------------------------------
1 Araya Plaza 2 Araya Bumi Megah PT
2 Metropolis Commercial Area Aktivitas Putra Mandiri PT
3 Mall Olympic Garden Mustika Taman Olympic PT
4 Tunjungan Plaza I & II Renov Pakuwon Jati Tbk, PT
5 Jember Mall Mandiri Land
6 Ciputra CBD Ciputra Surya PT
7 Agropark Commercial Park Agrijaya Indotirta PT
8 Centro Avenue Bumi Sidoarjo Permai (Podo Joyo Group)
9 Gubeng Mixed Used Hardaya Widya Graha PT
10 Panorama Square Panorama Argotirta PT
11 Aston Surabaya Jawa Pos & Podo Joyo Mashur
----------------------------------------------------------------------

http://www.surya.co.id/naskah.php?id=15810&rid=15

David-80
September 14th, 2006, 11:25 AM
I read somewhere, the sultan is a local brand actually...they will also rename hilton bali as the sultan bali.

cheers

OPTX
October 1st, 2006, 01:40 PM
Daksa Bangun Proyek Apartemen di Samarinda

JAKARTA, Investor Daily
11/09/2006 23:37:10 WIB

PT Daksa Kalimantan Putra, salah satu pengembang di Kalimantan Timur, awal 2007 akan mengembangkan proyek apartemen di Samarinda. Total investasi proyek yang akan dibangun pada lahan seluas dua hektare tersebut mencapai Rp 150 miliar.

Direktur Utama Daksa Kalimantan Putra Sudiyanto mengungkapkan, proyek apartemen yang dibangun Daksa maksimal 15 lantai. Pasalnya, letak geografis Kalimantan Timur yang berada di dataran tinggi, tidak memungkinkan mengembangkan bangunan lebih dari 15 lantai.

Sudiyanto menjelaskan, apartemen tersebut rencananya memiliki 300 unit. Desain proyek apartemen, lanjut dia, rencananya rampung pada akhir September ini. “Setelah itu, kami masih dalam proses pembahasan dengan beberapa pihak yang bekerja sama dalam pengembangan proyek ini,” ujar Sudiyanto kepada Investor Daily saat dihubungi melalui telepon genggamnya di Samarinda, akhir pekan lalu.

Menurut Sudiyanto, apartemen yang akan dibangun Daksa Kalimantan Putra rencananya terdiria tas dua tower (menara). Masing-masing menara terdiri atas 150 unit apartemen. Tiap unit apartemen rencananya dijual Rp 550 juta hingga Rp 1,2 miliar.

Sudiyanto menyebutkan, apartemen yang hingga kini masih dirahasiakan namanya tersebut akan menyatu dengan lokasi perumahan Pesona Mahakam, proyek yang juga dikembangkan PT Daksa Mahakam Putra.

Perumahan Pesona Mahakam dibangun di atas lahan seluas 60 hektare. Rumah yang membidik kalangan menengah-atas ini dibangun dengan sistem cluster. Jumlah rumah yang dikembangkan saat ini mencapai 1.000 unit dengan harga jual mulai Rp 400 juta hingga Rp 2,4 miliar.

Bisnis properti di Kalimantan Timur saat ini berkembang pesat. Penunjukan provinsi ini sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional 2008, menjadi salah satu pemicu maraknya pengembangan properti di berbagai sektor.

Di sisi lain, menurut Sudiyanto, pengembangan bisnis properti di provinsi yang dihuni tiga juta jiwa ini hingga kini terpusat di dua kota, yaitu Balikpapan dan Samarinda. Dua kota penghasil minyak ini merupakan pangsa pasar paling potensial bagi bisnis properti di Kaltim.

“Karena itu, saya optimistis, pengembangan apartemen nanti dapat mendapat respons positif pasar. Hal ini juga menunjukkan bahwa gaya hidup warga Kaltim mulai berubah seiring dengan keinginan tinggal di apartemen,” ujarnya. (c86)

tata
October 3rd, 2006, 11:01 AM
I read somewhere, the sultan is a local brand actually...they will also rename hilton bali as the sultan bali.

cheers


yeap I read it too, was in Kompas. It's a local brand.

David-80
October 3rd, 2006, 06:25 PM
Plaza Indonesia gets financial loan approved!

Indonesia property firm gets $150 mln loan for mall

JAKARTA, Oct 3 (Reuters) - Indonesian property management firm PT Plaza Indonesia Realty Tbk(PLIN.JK: Quote, Profile, Research) said on Tuesday it has signed a $150 million loan agreement with Sumitomo Mitsui Banking Corporation to expand a shopping complex in the capital.

Plaza Indonesia, which operates a premier shopping complex in downtown Jakarta, kicked off a $225 million expansion of the property last month.

Sumitomo Mitsui Banking Corporation is part of Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (8316.T: Quote, NEWS, Research).

The project, first planned in the 1990s but put on hold because of the Asian financial crisis, will add 201,500 sq metres (2.169 million sq ft) to the glitzy Plaza Indonesia complex where top brands such as Ferragamo to Versace have outlets.



The company has appointed Korea's Ssangyong Engineering & Construction Co. (012650.KQ: Quote, Profile, Research) to build the extension, which includes a luxury apartment block and office buildings. The project is expected to be completed in 2009.

Plaza Indonesia's founding shareholders, comprising four companies including diversified firm PT Bimantara Citra Tbk (BMTR.JK: Quote, Profile, Research), control a 40.75 percent stake in the company. Singapore's UOB Kay Hian Holdings Pte Ltd holds 11.33 percent and UBS AG (UBSN.VX: Quote, Profile, Research) controls 10.76 percent.


© Reuters 2006. All Rights Reserved.

Alvin
October 30th, 2006, 01:23 AM
Latest Tempo.

Jakarta, Kota Mal Jaya Raya

Mal baru terus bermunculan. Di Jakarta mendekati 100 unit. Dikhawatirkan mendorong anak muda Indonesia menjadi generasi konsumtif dan memble.


RABU 02.20, lima hari menuju Lebaran. Mestinya jalanan sunyi. Namun, di satu sudut proyek properti prestisius di kawasan Hotel Indonesia, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, ada heboh orang sibuk. Diterangi ratusan lampu neon, para pekerja hibuk menyelesaikan pembangunan Grand Indonesia, pusat belanja terbesar di Ibu Kota dengan total luas 15 hektare.


Tepat di ubun-ubun kota, kehadiran Grand Indonesia—plus hotel, perkantoran, apartemen—pada medio 2007 tentu akan menambah semarak Jakarta, yang bermimpi menjadi kota wisata belanja. Di situ sudah ada Plaza Indonesia—usianya 16 tahun. Ada pula ”lampiran”-nya: Plaza Indonesia Entertainment X’nter, yang menawarkan hiburan dan gaya hidup kelas atas. Sekitar 200 meter dari kawasan Bundaran HI itu terhampar Jakarta City Center.


Itu baru di sekitar Tugu Selamat Datang. Bila ditarik garis sepanjang jalan yang menghubungkan HI dari arah selatan hingga utara, yakni dari Jalan Sisingamangaraja, Jalan Sudirman, Jalan M.H. Thamrin, hingga Jalan Gajah Mada, sudah terpacak 17 pusat belanja. Saat ini di sekitar jalan protokol itu sedang dibangun tiga pusat belanja: Gajah Mada Square, Pacific Place, dan Citywalk Sudirman.


”Pembangunan pusat belanja baru memang semakin pesat,” ujar Lucy Rumantir, Chairman PT Jones Lang LaSalle, dalam diskusi dengan Tempo beberapa waktu lalu. Pusat-pusat belanja baru itu terdiri atas dua kategori besar. Tinggal pilih: mal atau plaza yang gerainya disewakan, dan strata title yang toko-tokonya biasa dijual.


Mari menengok ke belakang, ke situasi sebelum krisis ekonomi 1998. Waktu itu dibutuhkan belasan tahun untuk membangun pusat belanja di Jakarta dengan total luas 1 juta meter persegi. Mal pertama yang dibangun adalah Ratu Plaza di Jakarta Selatan, yang beroperasi mulai 1986. Pascakrisis 1998 sampai 2000, pusat belanja baru tidak bertambah karena kondisi ekonomi masih sempoyongan.


Pada 2001-2005, pembangunan pusat belanja mulai marak kembali. Hanya dalam lima tahun, luasnya melonjak 1,4 juta meter persegi, menjadi 2,4 juta meter persegi, meliputi 78 pusat belanja. Satu contoh fenomenal yang mulai beroperasi masa itu adalah Cilandak Town Square (Citos) di Jakarta Selatan. Dengan konsep menyediakan ruang bagi pedestrian yang lega, Citos sukses menyedot pengunjung.


Sekarang, hanya dalam tempo tiga tahun hingga 2008, 16 pusat belanja baru seluas hampir 1 juta meter persegi sedang dibangun. Selain Pacific Place, Citywalk Sudirman dan Gajah Mada Square yang disebutkan semula, silakan catat Kalibata Mall di Jakarta Selatan, Mall of Indonesia di Kelapa Gading, dan Pluit Junction di Jakarta Utara. Nama baru ini menambah jumlah pusat belanja yang mengepung Jakarta mendekati 100 unit.


Melihat pertumbuhan mal yang pesat plus liberalisasi sektor retail pada 1998, Indonesia pun menjadi incaran pemain retail asing. Setelah krisis, banyak nama peretail besar dunia, yang semula tak dikenal di sini, menjamur di sudut-sudut Jakarta. Sekarang penjual eceran dunia seperti Carrefour, Starbuck, Debenhams, Prada, Gucci, Cartier, dan lainnya tak asing lagi di telinga publik Jakarta.


Masih banyak yang terus menyusul, tak mau ketinggalan menjala rezeki dari negeri berpenduduk terbesar keempat di dunia ini. Sebutlah Best Denki Electronic Center dari Jepang, yang mulai mejeng di Senayan City. Atau Central Dept. Store dari Thailand, dan Blitz Cinema, jaringan bioskop dari Singapura yang bakal hadir di Grand Indonesia.


Pada Maret tahun depan, Gap and Banana Republic, penjual eceran pakaian dan perawatan tubuh yang memiliki 3.000 toko di seluruh dunia, akan membuka 15 gerai di sini. Mereka bekerja sama dengan F.J. Benyamin Holding Ltd., peretail dari Singapura. ”Pasar Indonesia cocok untuk produk Gap yang bermutu tinggi,” ujar Nash Benyamin, Chief Executive Officer F.J. Benyamin Holding Ltd., dalam rilisnya Oktober ini.


Bagi Gap and Banana Republic, juga bagi peretail besar lainnya, penduduk Indonesia dengan pendapatan US$ 1.300 per tahun memang pasar empuk. ”Ketika kami membawa pengelola mal dan pengusaha retail asing bulan lalu ke Jakarta, mereka terkejut melihat ramainya pengunjung mal di sini,” ujar Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, M. Sjohirin.


Bukan cuma mal atau trade center yang dibangun, melainkan juga hipermarket dan supermarket yang makin membludak. Carrefour, Giant, Hypermart, semakin mudah ditemui di tengah kota. Para praktisi pasar modern beralasan, bila dibandingkan dengan kota-kota di negara lain, jumlah pusat belanja di sini masih kurang. Contohnya, pada 2005, setiap meter persegi pusat belanja di Jakarta menampung 3,1 orang. Di Singapura hanya menampung 1,7 orang, dan di Bangkok 2,2 orang.


Padahal, pertumbuhan retail di Indonesia tergolong tinggi, terutama di Jakarta, yang berpenduduk 7,5 juta jiwa. Hasil survei AC Nielsen yang dirilis pada akhir Agustus lalu menyebutkan, pertumbuhan penjualan retail Indonesia paling tinggi jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Pertumbuhan penjualan barang retail (51 jenis barang kebutuhan sehari-hari yang cepat laku) di Indonesia mencapai 18 persen pada 2005, menjadi Rp 57,2 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya.


”Bahkan, bila dihitung hanya Januari-Oktober 2005, sebelum ada kenaikan harga bahan bakar minyak, pertumbuhannya lebih besar, yakni 20,3 persen,” ujar Direktur Retail dan Pengembangan Bisnis AC Nielsen, Yongky Surya Susilo. Itu berarti, bisnis retail di Indonesia masih sangat prospektif.


Belakangan, banyak pula orang kaya Indonesia tak lagi berbelanja ke Singapura. Satu survei menyebutkan, sebelum krisis gampang sekali menemui orang Indonesia belanja di Orchad Road, Singapura. Namun, dengan semakin banyaknya mal mewah yang menjual barang high class di Jakarta, mereka tak lagi ke sana. Cukup datang ke Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall I dan II, Plaza Senayan, Taman Anggrek Mall, dan Senayan City. Tak lama lagi, mereka akan dimanjakan dengan kehadiran Grand Indonesia dan Pacific Place.


Meski bertambah banyak, mal mewah itu tetap ramai pengunjung. Pemilik gerai juga lancar membayar sewa yang mahal. ”Bukankah itu tanda banyak orang kaya Indonesia tak lagi belanja di Singapura?” kata Sjohirin. Padahal, menurut Lucy Rumantir, ”Untuk minum kopi saja, dulu orang Jakarta ke Singapura. ”


Kelompok menengah atas ini memang tak sedikit. Menurut sensus Badan Pusat Statistik 2003, jumlahnya sekitar 7 juta rumah tangga sejahtera. Di Jakarta saja ada 500 ribu rumah tangga kaya. Di antara mereka, ada ribuan mahasiswa yang semula kuliah di luar negeri sudah pulang ke Tanah Air dengan membawa tren mode dan gaya hidup baru. ”Jadi, kehadiran mal-mal kelas atas ini juga untuk menjawab kebutuhan mereka,” kata Lucy.


Persoalannya, gaya hidup berbelanja bukan cuma monopoli alumni mahasiswa luar negeri. Ternyata, sebagian besar warga Indonesia suka jalan-jalan ke mal. Lagi-lagi, survei AC Nielsen 2005 menunjukkan 93 persen konsumen Indonesia menganggap belanja ke mal sebagai hiburan atau rekreasi. ”Di Asia, Indonesia nomor dua setelah Hong Kong,” kata Yongky Susilo.


Bagi bakal calon Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Faisal Basri, gaya hidup seperti ini sungguh memprihatinkan. Kebijakan pemimpin daerah Jakarta soal penataan kota tidak jelas. Kebijakan mengizinkan pembangunan mal di banyak tempat telah mendorong gaya hidup anak muda Jakarta menjadi konsumtif. ”Mereka jadi generasi memble, suka ngopi, hiburan, pacaran, dan mejeng di mal. Ini dosa besar,” ujar Faisal kepada Tempo.


Seharusnya, anak muda Indonesia dididik cinta taman, lingkungan, dan budaya. Bukan mal yang diperbanyak, melainkan hutan kota dan taman kota. Pasar tradisional juga ditingkatkan agar bersih dan nyaman. Karena itu, bila terpilih jadi Gubernur Jakarta, Faisal berjanji tak akan mengeluarkan izin baru pembangunan mal. ”Izin lama yang habis juga tak akan diperpanjang.” Tapi, Jakarta sudah telanjur menjadi kota raya mal.


Heri Susanto


Proporsi Pusat Belanja di Jakarta dengan Kota di Negara Lain (2005)




Kota Populasi (juta jiwa) Pasokan* Retail Proporsi** Pasokan Retail



Jakarta 7,5 2,4 3,1



Singapura 4,4 2,5 1,7



Bangkok 9,7 4,5 2,2



Manila 11,3 3,0 3,7



Hong Kong 7,0 9,5 0,7

F-ian
October 30th, 2006, 03:38 AM
Don't pic that Faisal Guy to be Jakarta's Governor :D J/K
Nice Article there Alvin I wish that was in English

sanhen
October 30th, 2006, 04:19 AM
Silly election promise. What he going to do with those mall and plaza employees?

Before he make such comment and promise - lets us find out how his family spend the weekends. I am pretty sure his children go to malls everyday for fun.

The reason there are no cultural improvement in Jakarta is because the government does not serious supports by providing FACILITIES. Even a mall or plaza can become a cultural center if managed properly.

So we know a lot of people coming to malls - why dont he make it a requirement for malls / plaza to provide a cultural activities or centers that can attract youngers?

Alvin
November 30th, 2006, 02:17 PM
Indonesia not yet shopper's paradise, says developer


Ika Krismantari, The Jakarta Post, Jakarta

There is still a long road to travel before Indonesia can even think of becoming a major Southeast Asian shopping destination, a mall developer has admitted.

"The government needs to fix the chaotic transportation system, develop infrastructure and provide tax incentives for tourists," A. Stevanus Ridwan, a director of publicly listed property developer PT Pakuwon Jati, said Wednesday during a seminar on mall and shopping-center development in Jakarta.

"No one can compete with Singapore in offering services to tourists as it provides tax refunds, while we, on the contrary, oblige visitors to pay more and more," he said.

No wonder therefore, he added, that so many Indonesians went to Singapore to shop.

The Indonesian Shopping Center Developers Association (APPBI) estimates that Indonesian shoppers will spend up to Rp 8 trillion (US$888 million) this year in Singapore, as compared to about Rp 6 trillion in 2003.

To make Indonesia as interesting as Singapore for shoppers, Stevanus said the government needed to do its homework by reviewing such things as the taxes and local government charges on retail sales and services that only served to make Indonesia more expensive for tourists.

He also urged the government to jazz up its campaign promoting Indonesian tourism, which uses the slogan, "Indonesia, Ultimate in Diversity."

"The government doesn't seem to have a focus. It is different with Singapore or even Malaysia, which are very serious about promoting their countries," Stevanus said.

With regard to retail outlet growth, Indonesia currently has one of the highest growth rates in Asia and the Pacific. In the first semester of this year, retail outlet growth in Indonesia reached 17.5 percent, compared to 11.8 percent in China, 12 percent in the Philippines, 8.6 percent in Singapore, and 7 percent in Malaysia.

"This is a sign that Indonesia has the potential to become a shopping destination that provides a wide variety of outlets," Stevanus said.

The Jakarta administration, which has been promoting the city as a shopping destination since 2005, says it is going to review its local government charges so as to make the capital more attractive to visiting overseas shoppers.

"We are aware that there are still problems that dissuade tourists from coming here. However, we will do our best to make the necessary changes," Jakarta deputy governor Fauzi Bowo said.

He added that Jakarta needed up to Rp 110 trillion in investment this year, of which the administration could only provide Rp 9 trillion.

"We hope we can look to the retail industry in Jakarta for help," he told reporters on the sidelines of the seminar.

Of the 90 modern shopping centers in Indonesia, 50 are located in Jakarta. Compared with Bangkok, Thailand, which has a ratio of 1 mall for every 171,000 inhabitants, Jakarta, with a ratio of 1 per 372,000 inhabitants, still had the opportunity to further increase retail space.

However, to lure more investors in the retail sector to Indonesia, Stevanus said the government needed to provide legal certainty, reduce electricity, gas and water costs, and eliminate unnecessary charges.

According to APPBI, at present there are 13 different local government charges that must be paid by developers wishing to build a mall.

Despite all the obstacles, Indonesian Retailers Association (Aprindo) chairman Handaka Santosa said that he was upbeat about growth in the retail industry next year as a lot of foreign retailers were poised to enter the market.

He forecast that by the end of this year there would be a 20 percent increase in retail sales to Rp 50 trillion, as compared to the last year's Rp 42 trillion.

Alvin
November 30th, 2006, 02:35 PM
SEA construction starts to top US$100 bn in 2007 (23 November 2006)

Abstract: US$106 billion in construction starts are being planned for Southeast Asia in 2007, according to the latest research from BCI Asia.


More than US$100 billion worth of construction starts are planned for Southeast Asia in 2007, according to statistics drawn from BCI Asia?s databases yesterday.

From data collected in interviews with more than 100,000 architects and other construction professionals across the region, US$106 billion worth of building and construction projects are planned to get underway next year.

For the first time in BCI Asia research history, the value of planned projects for a subsequent year in Vietnam (US$32 billion in 2007) has topped Indonesia (US$25 billion). In Malaysia US$19 billion worth of projects are scheduled to start construction next year, followed by the Philippines and Singapore both with US$11 billion and followed by Thailand with US$8 billion.

Across the region there has been a surge in planning activity for utilities and infrastructure as well as industrial facilities. In the building sector, there has been an increase in design activity for transport-related buildings as well as hotels, resorts and serviced apartments; as governments and developers across the region gear up for rising trade and tourism.

arirangboy
December 1st, 2006, 09:04 PM
I'll support Faisal Basri then as I want Jakarta to be a city of gardens like Melbourne (my fave city). That has been my long-standing dream too. Skyscrapers but with gardens here and there, botanical park, Opera House (opera, theatre, concert hall, ballet, gallery and other cultural activities), combined with MRT, monorail, water transportation. WOW what a wonderful Jakarta.

Alvin
December 8th, 2006, 02:25 AM
Ciputra to commence development of its mixed-use project on Jl Satrio (Mega KUningan) next year...(delayed project since crisis).

--------------------------------------------------------------


2007, Ciputra Cari Pembiayaan Rp 1 T
08/12/2006 02:29:54 WIB
JAKARTA, Investor Daily
PT Ciputra Development Tbk berencana mencari pembiayaan antara Rp 700 miliar hingga Rp 1 triliun tahun depan untuk melanjutkan proyek mixed used di Jalan Satrio, Jakarta. Total investasi proyek itu mencapai Rp 2 triliun dan sekitar Rp 1,2 triliun sudah diperoleh melalui penawaran umum terbatas (rights issue).

Direktur Ciputra Development Tulus Santoso mengemukakan hal tersebut kepada Investor Daily, di Jakarta, Kamis (7/12). Menurut dia, pada pertengahan tahun depan perusahaan properti itu melanjutkan proyek mixed used (mal, apartemen, hotel) itu yang sempat tertunda karena krisis. Proyek tersebut diperkirakan rampung dalam tiga tahun dan untuk tahun depan diperkirakan membutuhkan dana Rp 1,2 triliun.

Dia mengungkapkan, seluruh kebutuhan dana proyek itu akan dibiayai dari sebagian dana hasil rights issue ditambah pembiayaan lain baik dari penerbitan obligasi atau bank. “Kalau dari dana rights issue saja tentu tidak cukup. Jadi, kami akan mencari pembiayaan lagi Rp 700 miliar hingga Rp 1 triliun tahun depan,” ujarnya.

Tulus menilai, peluang Ciputra Development mendapatkan pembiayaan proyek dari bank sangat besar karena prospek sektor properti yang positif di tengah iklim penurunan suku bunga.


Kendati demikian, pihaknya masih menelaah langkah pembiayaan yang terbaik mengingat potensi keuntungan dari penerbitan obligasi juga sangat besar.

Ciputra Development tengah dalam proses rights issue sebesar Rp 1,2 triliun. Masa perdagangan dan penukarannya dijadwalkan rampung kemarin. Sekitar 58% dana hasil rights issue bakal digunakan untuk akuisisi perusahaan properti dalam negeri dan sisanya untuk modal kerja.


“Modal kerja sekitar Rp 500 miliar akan kami gunakan untuk ekspansi agar perusahaan bisa terus memberi nilai tambah bagi investor,” ujar Tulus. Menurut dia, perusahaan menargetkan mendapat 2-3 proyek pada 2007.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Erwan Teguh dalam kajian tentang sektor properti mengatakan, setelah rights issue, saham perusahaan berkode CTRA tersebut akan menjadi saham properti berkapitalisasi pasar terbesar kedua dan paling layak diinvestasi.


“Indikator utamanya adalah kontrol di area CBD (central business district) Mega Kuningan,” ujar dia.


Menurut dia, right issue memungkinkan perusahaan mengkonsolidasikan keuangan pada 5,5 hektare land bank yang seharusnya digunakan untuk pengembangan blok komersial terintegrasi. Bila harga CBD yang tertinggal bisa diterapkan, keuntungan perusahaan akan sangat besar.

peseg5
December 8th, 2006, 05:39 PM
Actually it's next to Mega Kuningan (left side) not inside Mega Kuningan. This old project halted after 98 economic crisis.

arirangboy
December 8th, 2006, 07:58 PM
If I'am not mistaken, before the crisis, the hotel under this Ciputra project would be The Peninsula. It is a luxury hotel chain based in Hong Kong. I hope it is still the same. http://www.peninsula.com/index.html :banana:

F-ian
December 9th, 2006, 02:46 AM
Taken from jakarta on-hold proposed thread

This one?

KOTA CIPUTRA, Mixed-Use Dev, Jl. Kasablanka, Jakarta's CBD

(5-Star Diamond Peninsula Hotel & 4-Star Ciputra Hotel)
28 story, Ciputra Hotel - 30 story, Podium (Retail) - 9 story, Basement - 3 level
http://img54.exs.cx/img54/7104/CiputraCityKasablanka_Jakarta.jpg

will it be bigger than Mal Ciputra/citraland?

Alvin
December 9th, 2006, 01:07 PM
Taken from jakarta on-hold proposed thread

This one?

KOTA CIPUTRA, Mixed-Use Dev, Jl. Kasablanka, Jakarta's CBD

(5-Star Diamond Peninsula Hotel & 4-Star Ciputra Hotel)
28 story, Ciputra Hotel - 30 story, Podium (Retail) - 9 story, Basement - 3 level
http://img54.exs.cx/img54/7104/CiputraCityKasablanka_Jakarta.jpg

will it be bigger than Mal Ciputra/citraland?

Yes that's right. They were going to make that street Jakarta's outdoor shopping belt ala Orchard Road... But I'm pretty sure it'll be a new design...

joko
December 9th, 2006, 05:15 PM
Bukan di Jl Kasablanka, tapi di Jl.Satrio, tepatnya hampir bersebelahan dengan Menara Satrio dan Mega Kuningan, melanjutkan proyek macet itu...., basement sudah rampung...

Alvin
December 9th, 2006, 05:18 PM
oops, i thoguht that project was on Jl Satrio...

welcome back, joko. :cheers:

F-ian
December 9th, 2006, 06:02 PM
so its this International Finacial Center or kota Ciputra?

http://img99.imageshack.us/img99/8066/ciorifnh1.jpg (http://imageshack.us)

tata
December 9th, 2006, 08:10 PM
the design is so.... late 80's. hopefully they redesign it. Glassy building please

Taken from jakarta on-hold proposed thread

This one?

KOTA CIPUTRA, Mixed-Use Dev, Jl. Kasablanka, Jakarta's CBD

(5-Star Diamond Peninsula Hotel & 4-Star Ciputra Hotel)
28 story, Ciputra Hotel - 30 story, Podium (Retail) - 9 story, Basement - 3 level
http://img54.exs.cx/img54/7104/CiputraCityKasablanka_Jakarta.jpg

will it be bigger than Mal Ciputra/citraland?

XxRyoChanxX
December 9th, 2006, 08:16 PM
the better redesign it haha

Alvin
December 10th, 2006, 03:20 AM
so its this International Finacial Center or kota Ciputra?

http://img99.imageshack.us/img99/8066/ciorifnh1.jpg (http://imageshack.us)

i think that should be Kota CIputra..

indistad
December 10th, 2006, 11:32 AM
I think jalan dr. Satrio should be widened.. its too narrow

F-ian
December 11th, 2006, 09:50 AM
Indonesia's APG to build 5 property projects in Jakarta

Jakarta (ANTARA News/Asia Pulse) - Growing property giant Agung Podomoro Group (APG) has said it will build five property projects with a total investment of Rp2 trillion (US$222 million) in 2007.

APG marketing director Indra Widjaya Antono said the five projects are all residential houses including apartments located in Jakarta.

APG concentrates on building residential houses, based on its prediction that demand for luxury homes will grow by 10-15 per cent in 2007.

F-ian
December 17th, 2006, 06:52 AM
MULAI MARET 2007, Asing Boleh Miliki Properti


16/12/2006 03:53:48 WIB
JAKARTA, Investor Daily

Pemerintah akan memberlakukan aturan kepemilikan properti bagi warga negara asing (WNA) mulai Maret 2007. Dalam tiga bulan ke depan, tim perumus akan menuntaskan regulasi untuk memudahkan warga asing berinvestasi di sektor properti.

Tim perumus itu terdiri atas wakil dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera), dan Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI), Direktorat Jenderal Pajak, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dan Direktorat Jenderal Imigrasi.

“Mudah-mudahan, Maret 2007 semua regulasi yang mengatur kepemilikan properti bagi WNA secara operasional sudah dapat berjalan,” kata Bambang Eko HN, deputi bidang hak tanah dan pendaftaran tanah BPN, saat berbicara pada rapat kerja nasional (Rakernas) REI di Hotel Sultan Jakarta, Jumat (15/12).

Sebelumnya, Ketua Umum DPP REI Lukman Purnomosidi mengusulkan kepada pemerintah agar membuat paket kebijakan property ownership, investment, and tourism untuk mendorong investor asing masuk ke sektor properti. Selain menyangkut kemudahan bagi orang asing berinvestasi di sektor properti, pemerintah perlu menyinergikan dengan administrasi keimigrasian dan perbankan. (Investor Daily, 14/12).

Mantan Ketua REI Enggartiasto Lukita sangat mendukung pemberlakuan regulasi kepemilikan properti oleh WNA di Indonesia. “Masuknya pihak asing secara otomatis akan mendukung pertumbuhan ekonomi,” jelas anggota Komisi V DPR itu.

Dengan demikian, jelas Enggar, jumlah dana atau modal yang masuk ke kantong pemerintah otomatis akan signifikan jumlahnya. “Karena akan ada capital inflow, itu yang penting. Jumlahnya justru signifikan,” kata dia kepada Investor Daily.

Hal senada dikungkapkan Ketua DPD REI Kalimantan Barat Aries Sanjaya dan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda. Keduanya mengakui kepemilikan properti oleh WNA di Tanah Air sangat positif sepanjang tidak menimbulkan masalah keamanan dan tidak merugikan negara.
Bila regulasi ini pro-WNA, menurut Ali, banyak investor asing yang akan masuk ke Indonesia. Namun, bila diukur dari stabilitas politik, angka yang dihasilkan dari pengoperasian kebijakan itu tidak terlalu signifikan.

Aries Sanjaya berharap, pemerintah perlu mengatur soal jenis properti yang boleh dimiliki WNA. “Kami para pengembang di daerah mengusulkan agar WNA hanya membeli hunian vertikal dari lantai lima ke atas. Mereka tidak boleh masuk ke landed house,” kata Aries kepada Investor Daily, kemarin.

Namun, Ali mengkhawatirkan pengembang nakal akan memanfaatkan celah regulasi dengan sengaja menargetkan penjualan mereka ke pada asing. “Ini kan sektor ritel,” jelas dia.

Dia menyarankan tim perumus harus membahas bagaimana cara dana (asing) masuk, bagaimana modal ditanamkan, dan kemudian investor asing itu membangun di Indonesia. “Itu yang penting,” tegas dia.

Enggar sependapat sudah waktunya Indonesia memberikan kesempatan bagi WNA untuk memiliki properti tapi dengan batasan tertentu. Batasan itu, misalnya, apakah mereka boleh memiliki properti baru, berapa lantai apartemen yang boleh dimiliki, atau berapa batasan harga yang ditetapkan.

“Satu hal yang penting, mereka tidak boleh memiliki landed house atau rumah murah, rumah susun, atau properti yang ada unsur subdisi karena subsidi tidak mungkin diberikan kepada orang asing,” tegasnya.


Aturan Saat Ini

Selama ini, menurut Bambang Eko, aturan kepemilikan rumah tempat tinggal atau hunian bagi WNA berpatokan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang berkedudukan di Indonesia, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 7 Tahun 1996 tentang Persyaratan Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing.

Selain itu, kepemilikan properti oleh WNA diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 8 Tahun 1996 tentang Perubahan Peraturan Menteri Negara/Kepala BPN Nomor 7 Tahun 1996 tentang Persyaratan Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing. Ketentuan itu mengatur kriteria orang asing yang dapat memiliki rumah dan kriteria rumah yang dapat dimiliki oleh orang asing.

Mengutip pasal 1 PP No 41/1996, Bambang mengatakan, orang yang yang berkedudukan di Indoensia dapat memiliki sebuah rumah untuk tempat tinggal atau hunian dengan hak atas tanah tertentu sepanjang orang asing tersebut kehadirannya di Indonesia dapat memberikan manfaat bagi pembangunan nasional.

Pasal 2 PP itu juga menyatakan, orang asing dapat membangun hunian di atas tanah hak pakai atau tanah negara, atau di atas tanah hak lain yang dikuasai berdasarkan perjanjian dengan pemegang hak atas tanah. Selain itu, dapat juga dalam bentuk satuan rumah susun yang dibangun di atas bidang tanah hak pakai atas tanah negara.

WNA yang akan membeli tanah harus membuat perjanjian dengan pejabat pembuat akta tanah. Perjanjian itu dibuat dalam jangka tidak lebih dari 25 tahun. “Perjanjian itu dapat diperbarui dengan jangka waktu tidak lebih dari 25 tahun sepanjang WNA itu masih berkedudukan di Indonesia,” jelas Bambang.

Selama 10 tahun PP itu berlaku, menurut Bambang, implementasinya belum efektif karena hampir seluruh perumahan dibangun di atas tanah dengan status hak guna bangunan (HGB). Sementara itu, WNA, sesuai Undang-undang Pokok Agraria No 5/1960 hanya dapat memiliki tanah dengan hak pakai.

“Karena itu, masalah kepemilikan WNA atas properti ini sebenarnya dapat diatur dengan 30 tahun sama dengan HGB atau 60 tahun seperti diatur dalam UUPA, sehingga PP-nya dapat mengatur kembali,” ujar Bambang.

Batasan Kepemilikan

Enggartiasto sependapat sudah waktunya Indonesia memberikan kesempatan bagi WNA untuk memiliki properti tapi dengan batasan tertentu. Batasan itu, misalnya, apakah mereka boleh memiliki properti baru, berapa lantai apartemen yang boleh dimiliki, atau berapa batasan harga yang ditetapkan.

“Satu hal yang penting, mereka tidak boleh memiliki landed house atau rumah murah, rumah susun, atau properti yang ada unsur subdisi karena subsidi tidak mungkin diberikan kepada orang asing,” tegas dia.

Ali Tranghanda mengkhawatirkan pengembang nakal akan memanfaatkan celah regulasi dengan sengaja menargetkan penjualan mereka ke pada asing. “Ini kan sektor ritel,” jelas dia.

Dia menyarankan tim perumus harus membahas bagaimana cara dana (asing) masuk, bagaimana modal ditanamkan, dan kemudian investor asing itu membangun di Indonesia. “Itu yang penting,” tegas dia. (apr/dna)

Blue_Sky
March 21st, 2007, 02:26 PM
JAKARTA, KOMPAS -

Sebanyak 33,3 persen properti permukiman di Singapura, berupa apartemen dan rumah bandar atau town house, dibeli orang Indonesia pada tahun 2006.

Berarti, tahun lalu, sekitar 3.000 apartemen di Singapura dibeli orang Indonesia. Data Colliers International Singapore Research Januari 2007 menyebutkan, tahun lalu dibangun 11.520 apartemen dan pengembang menjual sekitar 9.000 apartemen. "Saya menghitung pembelian properti Singapura oleh orang Indonesia, tahun 2006 minimal Rp 10 triliun," ujar pengamat properti, Panangian Simanungkalit, Selasa (20/3).

Panangian bahkan memprediksi, hingga kini tidak kurang 100.000 apartemen di Singapura dimiliki orang Indonesia. Apartemen itu ditempati saat berbisnis atau ketika melanjutkan pendidikan.

"Tetapi, saya berpendapat, untuk investasi properti lebih baik di Indonesia sebab return-nya hingga 15 persen per tahun karena permintaan tinggi," kata Panangian, seraya mengatakan, pembelian properti di Singapura oleh warga Indonesia lebih karena alasan prestise.

"Indonesia juga dapat mengembangkan properti seperti Singapura, misalnya menciptakan kawasan eksklusif di Bali atau permukiman eksklusif di pulau-pulau kecil. Namun, harus terlebih dahulu mengubah regulasi pertanahan sehingga orang asing boleh memiliki properti di sini," kata Panangian.

Eksekutif Senior Chyau Fwu Group Eddie Chow, pengembang dari Singapura, yang ditemui di Jakarta, mengatakan, pengembang Singapura dalam dua tahun terakhir ini berupaya mendekatkan diri dengan orang kaya Indonesia, yang dikenal royal dalam membeli properti.

"Bahkan, penjualan pertama apartemen kami dilakukan di Jakarta karena pasar di Indonesia sangat potensial. Dari 35 unit apartemen yang ditawarkan, kami prediksi 15 unit dibeli orang Indonesia," kata Eddie Chow.

Dirinya yakin konsumen Indonesia akan membeli properti supermewah Parkview Eclat di Grange Road. Harga apartemen itu berkisar Rp 50 miliar (300 meter persegi) per unit hingga Rp 162 miliar (1.000 meter persegi).

"Orang Indonesia sangat memerhatikan lokasi dan kemewahan bangunan. Menjadi rahasia umum pula jika orang kaya Indonesia membidik Distrik 9-11 Singapura, terutama yang dekat Orchad Road," ujar Eddie.

Menurut Eddie, UU di Singapura memang memungkinkan orang asing membeli apartemen dan rumah bandar, dengan catatan rumah tingkat atau non-landed house. Masa pakai dan sewa 99 tahun, bahkan boleh mendapatkan hak milik atau free-hold tanpa batas waktu kepemilikan. Konsumen Indonesia lebih senang membeli properti di Singapura karena ada jaminan keamanan dan hukum agraria.

"Kita harus tiru Singapura. Mereka mampu meyakinkan sahnya kepemilikan atas tanah maupun kejelasan peruntukan tanah berdasarkan tata ruang. Investor percaya dan datang untuk membeli," kata Panangian. (RYO)

tata
March 21st, 2007, 10:20 PM
MULAI MARET 2007, Asing Boleh Miliki Properti


udah mulain dong nih

Blue_Sky
March 22nd, 2007, 06:51 AM
^^

propert di Jkt, Bali n batam bisa booming tuh

kaki_langit
March 22nd, 2007, 01:29 PM
Indonesia Ditargetkan Masuk Lima Besar Dunia
Kamis, 22 Maret 2007 | 15:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Yayasan Indonesia Forum memproyeksikan Indonesia akan menjadi bagian dari lima besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita sebesar US$ 18 ribu pada 2030. Yayasan juga memproyeksikan, 30 perusahaan Indonesia akan masuk daftar Fortune 500 companies.

“Itu cita-cita maha besar," tutur Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara pemaparan Visi Indonesia 2030 oleh Yayasan Indonesia Forum yang diketuai pengusaha Chairul Tanjung dengan para pembina Yayasan beberapa menteri ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, Kamis (22/3) di Istana Negara.

Presiden mengakui, kebangkitan bangsa Indonesia agak terlambat meski di abad 19, ekonomi Indonesia sudah berintegrasi dengan ekonomi kawasan dan dunia. Namun, ia yakin di abad 21 Indonesia dapat mencapai cita-citanya karena Indonesia selalu dapat mengatasi persoalan bangsa dan telah teruji dalam sejarah. “Bangsa besar adalah bangsa yang bisa mewujudkan mimpinya.”

Meski tidak bermaksud membandingkan, Presiden mengatakan, pemerintah juga telah memiliki rencana pembangunan nasional yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2007.

UU itu menetapkan delapan langkah pembangunan di antaranya masyarakat yang bermoral, berbudaya dan beradab, masyarakat demokratis berbasis hukum, Indoensia yang aman,damai dan bersatu, pemerataan pembangunan yang berkeadilan, Indonesia asri dan lestari.

“Kuncinya adalah komitmen pemimpin nasional dan konsistensi kesinambungan dalam pembangunan 5 tahunan serta keberfihakan yang kuat terhadap rakyat,” tutur Presiden.

Dalam presentasinya, Yayasan Indonesia Forum mengatakan bahwa Indonesia yang saat ini masuk negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income) akan mempertahankan posisinya hingga 2015.

Namun selanjutnya Indonesia akan masuk sebagai negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income) dengan asumsi pertumbuhan ekonomi riil 7,62 persen per tahun, laju inflasi rata-rata 4,95 persen per tahun, pertumbuhan penduduk rata-rata 1,12 persen per tahun. Kemudian pada 2030 memiliki pendapatan per kapita US$ 18 ribu. Dengan jumlah penduduk 285 jiwa, pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai US$ 5,1 triliun dan Indonesia masuk dalam 5 besar perekonomian dunia.

Perekonomian nasional akan dimotori sektor jasa yang akan mencapai momentumnya pada 2020 dan tumbuh lebih cepat dari sektor industri. Pada 2025, kontribusi sektor jasa dalam GDP akan mengungguli sektor industri.

“Proyeksi itu bukan tanpa perhitungan. Saya melihat Presiden justru sangat yakin meski kondisi masyarakat kita kurang mendukung. Kalau bercita-cita saja
tidak berani, bagaimana mau maju,” tegas Chairul Tanjung dalam konferensi pers di samping Istana Negara

materialistus
March 22nd, 2007, 01:45 PM
geez.... sounds very ambitious considering the government current policies does not favour 'kesejahteraan rakyat'. in favour of 'kesejahteraan foreign & local corporations beserta cronies-nya and related government officials' more like... ha.. ha...

US$ 18,000 sounds reasonable. probably by then after all the inflations, etc, most 'middle income' countries will be at US$ 50,000 bracket. 2030 sounds a bit too soon. 2060 sounds more realistic. plus, the president said something like great nation, proven in the past blah... blah... well, if you look at the past, you know what happened with govt policies and goals. ha... ha...

i won't believe anything until there's concrete actions....

Alvin
March 22nd, 2007, 02:52 PM
Namun selanjutnya Indonesia akan masuk sebagai negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income) dengan asumsi pertumbuhan ekonomi riil 7,62 persen per tahun, laju inflasi rata-rata 4,95 persen per tahun, pertumbuhan penduduk rata-rata 1,12 persen per tahun. Kemudian pada 2030 memiliki pendapatan per kapita US$ 18 ribu. Dengan jumlah penduduk 285 jiwa, pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai US$ 5,1 triliun dan Indonesia masuk dalam 5 besar perekonomian dunia.



7.62% real GDP growth/annum to 2030???? Sounds too good to be true. somwhere around 6% is more realistic. But then again, we need dreamers and visionaries...

F-ian
March 22nd, 2007, 08:20 PM
AMAZING! :eek: ^60% of 184 Units w/ a price of Rp. 2,6-7 Bilion of 2 REGATTA's Towers are Sold out! :eek: we should make more Luxurious Apartments

======================================

HARGA RP 2,6-7 MILIAR PER UNIT, Dua Menara Apartemen Regatta Terjual 60%

22/03/2007 21:48:15 WIB
JAKARTA, Investor Daily

Dua menara apartemen Regatta, Dubai dan Monte Carlo, yang dipasarkan sejak Mei 2006, terjual 60% dari 184 unit apartemen di kedua menara tersebut.

Untuk tahap awal, apartemen Regatta yang dikembangkan oleh Badan Kerjasama Mutiara Buana (BKMB) akan membangun empat menara apartemen luxury, di atas lahan seluas 25.229 m². Selain menara Dubai dan Monte Carlo, BKMB membangun menara Miami dan Rio de Janeiro.

Direktur BKMB Suhendro Prabowo mengatakan, harga jual apartemen di Regatta berkisar Rp 2,6-7 miliar per unit. Dia menjelaskan, masing-masing menara apartemen terdiri atas 24 lantai yang memiliki 92 unit apartemen.

“Luas per unit apartemen berkisar 137-450 m². Serah terima kunci awal proyek ini akan dilakukan November 2008. Saat ini, untuk menara Dubai pekerjaan konstruksinya telah memasuki proses pengerjaan lantai dua, yang terletak di atas ground floor dan dua lantai car park,” kata Suhendro di lokasi proyek, Jakarta, Rabu (21/3).

Suhendro menambahkan, melihat respons pasar yang cukup bagus, saat ini BKMB mulai memasarkan menara Miami.

Di tempat yang sama, Manajer Proyek BKMB Aryadi Limansagita menjelaskan, pekerjaan konstruksi tahap pertama telah dimulai sejak September 2006, diawali dengan pemancangan, pembuatan pile cap dari pondasi tiang pancang yang kemudian dilanjutkan dengan pengecoran matt fondation keempat menara apartemen.

“Untuk periode tiga bulan ke depan, kami menargetkan tahap konstruksi menara Dubai akan mencapai pembangunan lantai tujuh, Monte Carlo lantai lima, Miami lantai dua, dan Rio de Janeiro mencapai ground floor,” ujar Aryadi.

Perusahaan Patungan

BKMB merupakan perusahaan patungan yang dibentuk oleh PT Dharmala Intiland Tbk dengan PT Global Ekabuana yang didirikan pada Mei 2003. Kedua perusahaan berbagi kepemilikan saham di BKMB masing-masing sebesar 50%. Untuk tahap awal pengembangan apartemen Regatta, BKMB mengucurkan dana sedikitnya Rp 700 miliar.

Apartemen Regatta dibangun di atas reklamasi Pantai Mutiara seluas 11 hektare yang terdiri atas 10 menara apartemen, hotel bintang lima, aqua park, dan apartemen servis.

Pembangunan proyek Regatta sebenarnya terbagi menjadi tiga tahap. Tahap awal adalah pembangunan empat menara apartemen, yaitu menara Dubai, Monte Carlo, Miami, dan Rio de Janeiro.

Untuk tahap kedua, akan dibangun tiga menara apartemen superluxury, masing-masing 24 lantai di atas lahan 16.900 m² dan aqua park di lahan seluas 24.404 m².

Tahap ketiga, BKMB membangun tiga menara ultraluxury masing-masing 24 lantai di lahan seluas 20.759 m², hotel bintang lima, dan apartemen servis. Diperkirakan nilai investasi keseluruhan proyek mencapai Rp 3 triliun. Regatta didesain oleh Tom Wright, arsitek dari WS Atkins yang juga menciptakan Burj Al Arab, ikon Kota Dubai, Uni Emirat Arab. (her)

rilham2new
March 23rd, 2007, 04:24 PM
^^ WTH??????

I'm also surprised

Alvin
May 1st, 2007, 02:24 AM
Condo market heading for another boom
The Jakarta Post, Jakarta

The residential property market, particularly condominiums and apartments, has displayed remarkable growth both in supply and demand as upbeat developers have started to take advantage of the downward trend in lending rates.

The lending rate, which reached just above 18 percent at the beginning of 2006, dropped significantly to between 9 percent and 13 percent by the end of this year's first quarter amid signs of improvement in the country's economic indicators, especially interest rates.

"The cheaper lending rates have enhanced affordability and encouraged further property development," property consultancy Procon Indah's strategic advisory group senior manager, Arief N.Rahardjo, told reporters last week.

He said that with such an encouraging increase in both supply and demand, the country's condominium and apartment market was well on track for another boom.

The property market, including the condominium and apartment sectors, had been the main driving force behind the country's economic growth prior to the outbreak of the financial crisis in the late 1990s. The property sector had been at a standstill for years before showing promising signs of recovery last year.

Based on Procon's latest report, the supply of new condominiums increased 300 percent to 5,024 units in the first quarter of the year, up from 1,253 units in the corresponding period last year. From 656 units in the fourth quarter of 2006, growth in this year's first quarter has been more than sevenfold.

Arief said the sharp increase in condominium supply was due to the completion of new six condominium blocks.

Among the new buildings are the Sudirman Park and Mediterania Boulevard complexes in Central Jakarta, each with a total of 2,000 and 884 units; the Bellezza and the Setiabudi Residence, located in South Jakarta, which contributed 304 units and 300 units respectively, and The Summit in North Jakarta, which added 376 units.

Another block located in Depok, the Margonda Residence, supplied 840 new units. The remaining new supply comes from several newly-renovated condominium sites.

Arief said the new supply will also be boosted by four upcoming projects, all of which have already launched pre-construction unit auctions.

These include the Sahid Metropolitan Residence and the Galeria Glodok in Central Jakarta, which account for 668 units, and the Kuningan Place and The Lavande in South Jakarta with 1,074 units. The four blocks are currently under construction and are targeted for completion by 2009.

As of the end of March, the total supply of condominiums amounted to 50,649 units, up 11 percent from the same period last year. This figure was projected to rise by 30 percent during the next three quarters, Arief said.

According to Procon's figures, the net take-up of condominiums increased by 285 percent to 4,865 units during the first three months of this year, up from 1,265 units during the same period in 2006.

The biggest contributors to the take-up rate were the Sudirman Park, the Mediterania Boulevard and the Margonda Residence, from which more than 96 percent of units were snapped up during the pre-sales.

The Procon report showed that the average occupancy rate of condominiums decreased by 5.5 percent to 65.7 percent, due to the newly-launched blocks, during the first quarter, increasing the overall number of unoccupied units.

The occupancy rate is projected to continue to decrease in line with the completion of several projects throughout the upcoming quarters.

Procon classifies a condominium as a dwelling unit in a multi-level building sold under strata title, whereas an apartment is a dwelling unit that is built for lease.

Similar to that of condominiums, the supply of apartments also rose sharply, by about 340 percent, to 2,696 units during the first three months of 2007, up from 611 units during the same period in 2006.

The rise was attributed to the completion of the Marriott Executive Apartments, which delivered 96 new units, and several other newly-renovated apartments.

As of the end of March, the total supply of apartments reached 26,280 units. It is estimated that this figure will rise by 28 percent by the end of this year.

Procon recorded that the net take-up rate also increased to 2,004 units during the first quarter, up from 1,528 units during the corresponding period last year.

The rise in take-ups has been helped along by increases in the number of domestic lessees, in addition to the high number of foreigners. It is predicted that the number of domestic lessees will continue to rise, particularly in the middle-class apartment market.

The average occupancy rate, the report said, remained unchanged at 74.6 percent, with the total number of unoccupied units hanging at 6,675. (04)

Alvin
May 21st, 2007, 12:35 PM
Senin, 21/05/2007
Robby Sumampouw ekspansi properti Rp1,1 triliun

* Cetak

JAKARTA: Pengusaha nasional Robby Sumampouw melakukan ekspansi properti di Surabaya Barat senilai Rp1,1 triliun berupa boutique mall dan dua tower apartemen untuk kelas menengah ke atas.

Informasi yang diperoleh Bisnis, Robby menggarap proyek tersebut melalui PT Bukit Darmo Property bersama adiknya, Hendro Sumampouw, serta pengusaha Heru Hidayat. Keluarga Sumampouw menguasai 80% saham perusahaan tersebut, sedangkan Heru memiliki 20% lainnya.

PT Bukit Darmo Property merupakan perusahaan hasil restrukturisasi dari sebelumnya yang bernama PT Adhi Baladika, yang berbisnis properti sejak 20 tahun silam.

Hasil restrukturisasi dari Adhi Baladika juga menghasilkan sister company PT Bukit Darmo yang bernama PT Golf Bukit Darmo, yang khusus mengelola lapangan golf 18 holes milik kelompok usaha keluarga Sumampouw.

Dua apartemen, yang masing-masing direncanakan bertingkat 30 dan 40 itu, berikut boutique mall-lebih mengarah pada life style daripada sekadar lokasi belanja-tepat berada di sisi lapangan golf tersebut, sehingga praktis para pengunjung dan penghuninya bisa mendapatkan pemandangan sarana olah raga kelas atas tersebut.

Areal yang ditempati apartemen dan mal itu sekitar 5,5 hektare. Serah terima kedua proyek itu direncanakan berlangsung paling lambat Agustus 2008.

Untuk merealisasi dua apartemen serta boutique mall tersebut diperlukan investasi sekitar Rp1,1 triliun, sebagian besar berupa ekuitas, kecuali sekitar 20% saja yang diharapkan memperoleh dana publik.

Khusus pengembangan properti di Surabaya Barat dapat dikatakan sangat prospektif. Di sana, keluarga Sumampouw sebelumnya telah mengembangkan residensial kelas atas bernama Perumahan Bukit Darmo, yang di Jakarta bisa disebut setingkat dengan Pondok Indah.

Lokasi Bukit Darmo strategis karena setiap orang yang hendak menuju Surabaya dari arah barat hampir dapat dipastikan akan melalui wilayah tersebut. Maka itu, sejumlah pengembang kondang semacam Ciputra maupun Pakuwon Group juga menggarap bisnis mereka di daerah tersebut.

Di sisi lain, wilayah bagian barat inilah yang paling memungkinkan untuk terus dikembangkan sebagai kota satelit Surabaya. Berbeda dengan wilayah timur ibu kota Jawa Timur itu yang relatif dihuni permukiman kelas menengah maupun bawah serta Bandara Djuanda. Sementara, di sebelah utara pengembangannya dibatasi laut, serta di pusat kota praktis tak memunyai ruang yang cukup untuk pengembangan properti baru.

Siapkan CBD

Di luar rencana pengembangan mal dan apartemen di atas, keluarga Sumampouw juga diketahui bakal mengembangkan sejumlah properti lainnya di masa mendatang. Memang, luas untuk pengembangan mal dan apartemen tadi hanya sekitar 5,5 hektare, tetapi kelompok usaha milik keluarga tersebut memunyai bank tanah tak kurang dari 86 hektare lagi.

Sekitar 11 hektare di antaranya, menurut informasi yang diperoleh Bisnis, bakal dikembangkan menjadi kawasan pusat bisnis (central business district/CBD), sedangkan 75 hektare lainnya belum diketahui jenis properti yang akan dikembangkan.

Di bidang bisnis properti, keluarga Sumampouw diketahui memiliki Hotel Acacia di Jakarta Pusat dan sebagian saham Mega Kuningan di Jakarta Selatan.� (syahran.lubis@ bisnis.co.id)

Oleh M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia

Alvin
June 2nd, 2007, 07:10 PM
TREN HARGA LAHAN DI CBD, Rasuna Epicentrum Membayangi Mega Kuningan
02/06/2007 22:27:48 WIB
JAKARTA, Investor Daily
Fantastis. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan harga tanah di tiga kawasan central business distric (CBD), yaitu Sudirman Central Business Distric (SCBD), Mega Kuningan, dan Rasuna Epicentrum. Harga tanah di tiga kawasan CBD tersebut saat ini berkisar Rp 15-25 juta per m².

Mahalnya harga tanah di kawasan CBD disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain lokasi, infrastruktur, fasilitas, serta gengsi. Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit mengatakan, Rasuna Epicentrum yang dikembangkan setelah SCBD dan Mega Kuningan, akan lebih cepat berkembang dibanding kedua CBD lainnya.


“Lima tahun lalu, harga tanah di Rasuna Epicentrum paling tinggi hanya Rp 6 juta, kini melonjak drastis hingga Rp 15 juta per m². Di Mega Kuningan, tren kenaikan harga tanah relatif sedikit, sedangkan di SCBD harga tanah cenderung stagnan,” kata Panangian kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (31/5).


Untuk saat ini, menurut Panangian, harga tanah di Rasuna Epicentrum memang masih yang paling murah dibandingkan dua CBD lainnya, yakni berkisar Rp 10-15 juta per m². Sebagai perbandingan, harga tanah di SCBD sudah mencapai Rp 20-25 juta m², dan Mega Kuningan Rp 15-20 juta m².


Namun, tingkat kenaikan harga tanah di Rasuna Epicentrum adalah yang paling tinggi, yakni sekitar 15% per tahun. Harga tanah di Mega Kuningan hanya bertumbuh 12% per tahun dan SCBD 7-8% per tahun.

Kuda Hitam


Harga tanah di Mega Kuningan yang berkisar Rp 15-20 juta per m², dalam penilaian Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, juga fenomenal. “Kawasan Mega Kuningan ibarat kuda hitam yang langsung melesat. Harga tanah di sana berkisar Rp 15 juta per m², bahkan harga tertinggi mencapai Rp 20 juta per m² yang dihasilkan dari pembelian lot lahan oleh Multivision,” kata Ali.


Berbeda dengan kalkulasi Panangian, Ali mencatat peningkatan nilai tanah di Mega Kuningan mencapai rata-rata 17,5% per tahun.


Namun, Ali Tranghanda mengkhawatirkan nilai tanah yang terlalu tinggi di Mega Kuningan akan menyebabkan terjadinya penurunan daya saing kawasan ini terhadap CBD lain.


Ali mensiyalir, tingginya nilai tanah di kawasan Mega Kuningan karena memperhitungkan success fee yang sangat tinggi, berkisar 10-15% per m². Success fee tersebut didapat dari pembelian tanah-tanah di kawasan ini yang dilakukan oleh beberapa perantara tertentu, sehingga pengembang akan mempunyai nilai perolehan tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasaran.


“Hal ini akan membuat pengembang menetapkan harga tinggi bila akan menjual tanahnya. Indikasi ke arah over value seharusnya mulai terasa ketika nanti para pemilik atau pengembang mau mengembangkan properti di Mega Kuningan. Sebab, penetapan harga pokok penjualan nantinya akan lebih tinggi karena faktor nilai tanah tersebut,” ungkap Ali.


Ali juga mengkritisi faktor kapasitas di Mega Kuningan. Menurut dia, jika jalan yang ada saat ini tidak diperbaiki kapasitasnya, maka pada saatnya nanti akan menimbulkan kemacetan yang sangat parah di sekitar Jalan Satrio sebagai salah satu akses ke Mega Kuningan, sehingga secara negatif akan mempengaruhi peningkatan nilai tanah.


Meskipun demikian, Ali memperkirakan harga tanah di Mega Kuningan dalam dua tahun mendatang masih terus membayangi wilayah-wilayah CBD lainnya, sambil menunggu terbatasnya tanah-tanah di sana.
Kawasan Mega Kuningan yang seluas 50 hektare (ha), menurut Panangian, kini hanya menyisakan lahan seluas 10-11 ha, hampir sama dengan sisa lahan di SCBD. “Beda halnya dengan Rasuna Epicentrum yang masih ada sekitar 30 ha,” ujarnya.


Panangian mengungkapkan, Rasuna Epicentrum akan terus menggeliat jika di kawasan tersebut bisa menyediakan fasilitas financial center. Selama ini, lanjut dia, hanya SCBD yang menyediakan fasilitas tersebut.


Memang, ada tiga hal yang membedakan SCBD, Mega Kuningan, dan Rasuna Epicentrum. SCBD terkenal sebagai kawasan yang menyediakan gedung perkantoran dan apartemen, sedangkan Mega Kuningan sebagai kawasan hotel dan perkantoran. Beda lagi dengan Rasuna Epicentrum yang saat ini dicitrakan sebagai kawasan apartemen dan gedung perkantoran.


“Jika Rasuna Epicentrum terus berbenah dengan mengembangkan berbagai proyek seperti mal dan pusat-pusat bisnis, bukan hal mustahil ke depan menjadi primadona baru CBD,” ungkap Panangian.


Panangian mencermati, kelebihan lain yang dimiliki Rasuna Epicentrum adalah desain arsitektur yang lebih bersahabat. Maksudnya, kawasan cenderung memberikan ruang publik lebih besar dibanding dua kawasan CBD lainnya.


“Saya dengar konsep Rasuna Epicentrum ke depan akan lebih mengedepankan pedestrian yang terintegrasi, di mana orang-orang akan dapat dengan mudah berjalan kaki dari satu gedung ke gedung yang lain,” ujarnya.

Peluang Investasi


Meski harga lahan di kawasan CBD terus menanjak, tidak menyurutkan langkah para investor menanamkan modalnya di kawasan CBD. Hanya saja, Panangian Simanungkalit menyarankan, investor yang ingin berinvestasi di CBD sebaiknya memilih subsektor perkantoran, apartemen/kondominiun, dan hotel. Alasannya, kawasan CBD identik dengan kegiatan bisnis.


“Jika berbisnis, biasanya orang perlu kantor, setelah kantor, mereka memerlukan hunian, di sini bisa apartemen/kondominiun dan hotel. Untuk mal, para pebisnis yang ingin berbelanja cenderung keluar dari area CBD,” kata Panangian. Anda ingin berinvestasi di kawasan CBD? (heriyono)

g4brielle
September 3rd, 2007, 08:56 AM
**bump***
=========

paw25694
September 3rd, 2007, 10:15 AM
ada yang ke Jak Pameran Properti ga?

g4brielle
October 25th, 2007, 08:27 AM
Kamis, 25/10/2007 11:11 WIB
'Minyak naik, kurangi volume kontruksi'

oleh : Lahyanto Nadie

JAKARTA (Antara): Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) mengingatkan kepada pemerintah mengenai kenaikan harga BBM yang sudah di atas asumsi APBN 2008.

"Pemerintah harus mengantisipasi terhadap pelaksanaan tender pekerjaan konstruksi tahun anggaran 2008," kata Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Gapensi, Agus G Kartasasmita dalam acara Halal-bihalal di Jakarta, tadi malam.

Dia memperkirakan kenaikan harga BBM saat ini yang mencapai US$90per barel atau sudah di atas 50% dari asumsi APBN 2008 sebesar US$60 per barel akan mempengaruhi target makro ekonomi.

Kenaikan yang diperkirakan masih terus terjadi akan membuat defisit anggaran semakin membengkak dari asumsi Rp73,3 triliun menjadi Rp100 triliun. Keadaan demikian memaksa pemerintah memutuskan dua pilihan.

"Kembali menaikan harga BBM di dalam negeri dengan konsekuensi pemerintah menjadi tidak populer ataukah mengkoreksi asumsi pertumbuhan ekonomi dari semula 6,8%," kata Agus.

Agus meminta kepada pemerintah untuk melakukan sejumlah penyesuaian dalam paket pekerjaan yang ditawarkan dalam tender konstruksi karena terjadinya perubahan asumsi APBN akan mempengaruhi harga bahan bangunan.

"Jadi keinginan kita bukan nilainya yang dikurangi karena saat ini pemerintah justru tengah mendongkrak sektor konstruksi, namun kita berkeinginan volume pekerjaan dapat dikurangi," kata Agus.

Agus mengatakan dengan adanya penyesuaian ini maka distribusi pekerjaan yang ditawarkan semakin banyak, sehingga kemungkinan terjadinya banting-bantingan harga saat tender tidak terjadi.

Sementara Kepala Badan Pengembang Konstruksi dan SDM Departemen PU Budi Yuwono mengatakan pihaknya akan membenahi pengguna jasa dalam hal ini para Kepala Satuan Kerja agar lebih tegas dalam melaksanakan tender.

Menurutnya, sesuai peraturan untuk lolos dalam tender Satker harus melakukan seleksi berdasarkan kelengkapan administrasi dan teknis, setelah itu barulah ditetapkan pemenang bagi yang dilihat dari penawaran terendah.

"Sehingga kekhawatiran terjadi banting-bantingan harga tidak terjadi. Kontraktor akan menawarkan harga yang lebih realistis karena sebelunya sudah ada kepastian mengenai spesifikasi dan metodologinya," ujarnya.

Seandainya dari kontraktor dalam pelaksanaan tender menawarkan harga terendah maka Kepala Satker harus mengambil inisiatif untuk meningkatkan uang jaminan kontraktor di bank sampai dua kali lipat. (ln)

bisnis.com

kamski
October 26th, 2007, 10:59 AM
I can't believe some of us are surprised with ultra-expensive properties getting snapped in a second. Remember, the richest people in Indonesia are VERY, VERY rich. We definitely don't need anymore luxury houses/apartments. The people of Indonesia is not going to benefit from that, it only widens the gap between the rich and the poor.

Speaking of target, in mid 1970s, Readers Digest (or some other publication, I forgot) predicted that we'll be one of 10 decision makers in the world by year 2000.

Look what happened.

I hate to be a pessimist, but unless we change our direction, shit nothing is gonna change for US. For YOU AND I, the poor people, the middle class, not the richest 2%.

materialistus
October 26th, 2007, 12:52 PM
You should post this in Indonesa 2030 thread in war teg.

I'm wondering how to bring the awareness to the masses (that current policies by the government are only benefiting ultra wealthy minority). So the people of Indonesia can demand change. Sometimes I'm wondering the competence & motives of most people in the government. Well, not sometimes, all the time !

But the property market is just caters the market. Meaning, they just doing what they think most profitable. Which is creating products for the ultra wealthy & market speculant who have the capital in the first place.

This is what I said about Indonesian government using market economy system, which basically leaving pretty much everything at the mercy of the volatile market. This is like the wild west in 18hundreds.

rilham2new
October 26th, 2007, 03:57 PM
^^ Well then u need to see Pekanbaru via GOOGLE EARTH which is so many Housing complex being constructed for MID-to-LOW class society ,,,,

Indonesia is not only Jakarta and those iTsy-GlitZy big cities :p

rilham2new
October 26th, 2007, 03:59 PM
I also saw the same indication when I saw some small unknown city like Palangkaraya .... Yeah, mr. Google Earth is the most powerful tools to directly knows what is currently happened on our land :cheers:

Batam also build so many mid-to-low class housing complex ... get ur fact straight mister ..

Well, as far as I know,,, the mid-to-low housing complex developer were predominantly local player ... not those a big playa with jakarta/surabaya-based ... Then, still gotta admit this local player will (sometimes) play a hand to build the more and more luxurious project to enter national market and expand their business to compete with national player... Some example of the city which got luxurious housing / apartment with local player in charge are Batam and Medan...

kamski
October 26th, 2007, 04:21 PM
@materialistatus

Lol yea, I think I was kinda blurred when I posted that entry. Didn't remember if I was in property or 2030 thread.

@Ilham_Jr

Well the idea of business is to get profit, so while the existence of very affordable housings is beautiful, in the long run, people are in business to make profit. And sooner or later, once they find their break, the same people will move on and thrive on the luxury market; and once again leaving the poor unattended.

We're off topic btw :) Let's get back to how developers price their shiny buildings to make Jakarta more attractive!

g4brielle
October 30th, 2007, 09:29 AM
continue to property market update

Selasa, 30/10/2007 11:05 WIB

IAP usul bentuk badan khusus tata ruang
oleh : Irsad Sati

JAKARTA (Bisnis): Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) mengusulkan dibentuk pejabat khusus untuk instrumen pengaturan zoning tata ruang.

Hal itu bertujuan untuk memberikan kewenangan yang bersifat adimistratif dalam melakukan pengawasan terhadap pemanfaatan tata ruang wilayah dan kota.

"Kenyataan tingkat pelanggaran tata ruang dan fungsi ruang begitu tinggi. inilah yang perlu ditangani oleh suaut badan khusus," kata Tatag Wiranto, Ketua Umum IAP dalam Kongres nasional organisasi itu di Jakarta pagi ini.

Menurut dia, pelanggaran tata ruang itu berdampak buruk dalam berbagai segi kehidupan masyarakat a.l. bencana banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, polusi, kemacetan, hingga rendahnya daya saing produk nasional.

Untuk itu, ungkapnya, IAP lebih jauh mendesak kosistensi pemerintah dalam penegakan fungsi dan pengaturan tata ruang. Selain itu, IAP menilai perlunya standardisasi keahlian berupa sertifikasi yang diakui secara formal terukur bagi ahli perencana nasional.

Dalam kongres organisasi itu sendiri ditekankan perlunya penguatan kompetisi perencanaan di Indonesia dalam rangka membantu mengawal pembangunan nasional agar lebih sehat dan transparan. (tw)

bisnis.com

g4brielle
October 30th, 2007, 03:10 PM
http://www.thejakartapost.com/caption/M13.jpg

GO PUBLIC: Wijaya Karya president director A. Sutjipto (center), accompanied by Jakarta Stock Exchange president director Erry Firmansyah (left), talks with State Minister for State-Owned Enterprises Sofyan Djalil on Monday, as the company begins life as a JSX-listed public company. The company's shares closed the day 40 percent higher at Rp 560. (JP/P.J. Leo)

raygava
November 5th, 2007, 09:40 AM
continue to property market update

"Kenyataan tingkat pelanggaran tata ruang dan fungsi ruang begitu tinggi. inilah yang perlu ditangani oleh suaut badan khusus," kata Tatag Wiranto, Ketua Umum IAP dalam Kongres nasional organisasi itu di Jakarta pagi ini.

(tw)

bisnis.com

this guy is funny.
He forgot the fact that the developments in Jakarta are all-legit!..
why?.. coz they pay. money goes to the pocket of some legislators and everyone leaves the room happy. that's how everything's done.

The only thing this guy suggest is to pool the money to his pocket instead.
Hahahaa.. sometimes corrupt acts lead to corrupt mind.. and leads to stupid statements like this... (nurdin halid is another fine example.. sorry OOT :) )..
pls carry on.

materialistus
November 5th, 2007, 01:00 PM
this guy is funny.
He forgot the fact that the developments in Jakarta are all-legit!..
why?.. coz they pay. money goes to the pocket of some legislators and everyone leaves the room happy. that's how everything's done.

The only thing this guy suggest is to pool the money to his pocket instead.
Hahahaa.. sometimes corrupt acts lead to corrupt mind.. and leads to stupid statements like this... (nurdin halid is another fine example.. sorry OOT :) )..
pls carry on.

Ha.. Ha... Ha..

g4brielle
November 12th, 2007, 04:46 AM
ASIA PACIFIC OFFICE MARKET OVERVIEW
Released by Colliers International - Regional Research
October 2007.

JAKARTA - INDONESIA

http://farm3.static.flickr.com/2174/1975382097_c1cf67a55a_o.gif

http://farm3.static.flickr.com/2264/1976204386_fc15351521_o.gif

Office market conditions remained positive in 3Q 2007 and individual quality developments achieved new benchmark for rental rates.
The buoyant telecommunication sector was one of the key market drivers for office demand since the industry continued to expand and saw increasing number of new set up.
Amid the general positive market sentiment, construction of new developments particularly those with pre-commitment agreements with their tenants remained active.
In anticipation of rising new supply by the end of 2007, the overall take-up rate is predicted to ebb but the level of occupancy is going to stay high.
http://farm3.static.flickr.com/2084/1975381035_1ac4eac4ba_o.gif

AceN
November 12th, 2007, 07:26 AM
Thx for sharing kk :)

Kailyas
November 28th, 2007, 12:28 PM
PT. Jakarta Realty (perusahaan konsorsium APG dan Jakarta Propertindo), Minggu (4/10), menggelar acara Peluncuran Daisy Garden Tower sebagai menara terakhir dari lima menara apartemen Thamrin Residence.
Dalam kesempatan ini, Indra W. Antono, Direktur Pemasaran PT Jakarta Realty, mengungkapkan nada optimis akan prospek pemasaran Daisy Garden, dengan mengulang sukses dari pemasaran empat menara sebelumnya. Hal ini dikarenakan, sampai dengan saat ini permintaan masyarakat akan unit hunian di jantung Kota Jakarta masih besar.

''Pengembangan Daisy Garden merupakan kelanjutan atas keberhasilan pemasaran empat tower Thamrin Residence sebelumnya. Apalagi, Daisy Garden dirancang memiliki pemandangan (view) yang menarik dan bergaya arsitektur moderen minimalis dengan sertifikat strata title,'' tambah Indra Widjaya Antono, Direktur Pemasaran PT Jakarta Realty.

Mengenai Daisy Garden Tower sendiri, Indra memberikan penjelasan, tower ini dibangun setinggi 28 lantai dengan total 330 unit hunian. Adapun untuk tipenya, Daisy Garden memiliki beberapa pilihan yakni, 1 kamar tidur dengan luas 38.24 meter persegi, 2 kamar tidur (59.34 dan 70.86 meter persegi) serta 3 kamar tidur (86,59 dan 91.69 meter persegi).

Dengan lokasi yang prima di kawasan central business district/CBD dan berjarak hanya 150 meter dari Bundaran Hotel Indonesia, Daisy Garden Residences dipasarkan dengan kisaran harga mulai dari Rp 450 jutaan hingga Rp 1 milyar per unit. Untuk konsumen yang berniat menggunakan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen), PT Jakarta Realty juga telah menjalin kerjasama pembiayaan konsumen dengan Lippo Bank.

Perkenalkan Executive City Home

Sejalan dengan peluncuran Daisy Garden, Apartemen Thamrin Residences juga memperkenalkan Executive City Home. Hunian yang sangat menawan ini berada di lantai dasar dan dengan jumlah hunian yang terbatas yakni hanya 72 unit.

Posisi hunian eksklusif ini sangat dekat dengan Thamrin Citywalk, dekat dengan restoran dan cafe serta memiliki lahan parkir tersendiri untuk setiap unitnya. ''Unit Executive ini memang sangat terbatas. Semua unitnya menghadap ke arah Timur. Dikenalkan dengan harga perdana dan sangat cocok untuk kalangan eksekutif yang memerlukan mobilitas tinggi. Kelebihan lain yang dimiliki hunian ini adalah unit ini menyatu dengan lobi Grand Thamrin yang bisa digunakan sebagai tempat pertemuan,'' tambah Indra lagi.

Kailyas
November 28th, 2007, 12:29 PM
REI Minta
Anggaran Perumahan
Dinaikkan


BOGOR - Real Estat Indonesia meminta kepada pemerintah agar menaikkan porsi anggaran perumahan sebesar 1% di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Hal tersebut bisa dilakukan jika dilakukan terobosan politik melalui posisi atau peran sektor perumahan sebagai salah satu sektor yang sejajar dengan sektor vital lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pangan," kata Lukman Purnomosidi, ketua umum REI, di sela acara peresmian 100 ribu unit rumah sederhana sehat (RSH) kedua yang dibangun anggota Real Estat Indonesia (REI) di kompleks perumahan Citra Indah, Jonggol, Bogor, Jawa Barat.
Lukman mengatakan, mengambil asumsi APBN tahun ini, jika anggaran perumahan sebesar 1%, maka perumahan akan mendapatkan dana hingga Rp 8 triliun.

Menurut dia, jika sektor pendidikan yang sangat berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa telah mendapat dukungan anggaran 20% dari APBN, maka dalam pelaksanaannya memiliki keterkaitan dengan sektor lain, termasuk sektor perumahan. "Anak-anak dari keluarga yang telah memiliki rumah punya kesempatan lebih besar menikmati pendidikan. Karena, anak-anak tersebut bisa berkonsentrasi belajar lebih baik. Sedangkan anak-anak dari keluarga yang belum memiliki rumah kondisinya berbeda. Jika belum memiliki rumah, bagaimana anak-anak tersebut bisa belajar dengan baik," ujar Lukman.

Lukman menambahkan, selain kenaikan porsi anggaran 1% di APBN, pihak pemerintah daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota juga seharusnya menaikkan porsinya anggaran yang sama seperti di APBN.

Di tempat yang sama, Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) M Yusuf Asy'ari mengatakan, pada prinsipnya pihak Kemenpera mendukung ide yang dilontarkan oleh REI. "Jika benar hal tersebut bisa terlaksana, maka akan semakin banyak masyarakat yang tadinya belum memiliki rumah akan memiliki rumah. Kami akan mengajukan usulan tersebut kepada Komisi V dan Komisi XI DPR RI," kata Yusuf.

Selain itu, jelas Yusuf, dana tersebut nantinya juga akan digunakan untuk memperkuat eksistensi pendanaan di Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas). Kemudian, juga akan dialokasikan untuk pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) dimana salah satu fungsinya untuk menyediakan bank tanah bagi pembangunan perumahan RSH.

Akan Dibahas

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berjanji akan membahas kemungkinan memperbesar porsi anggaran bagi penyediaan perumahan rakyat tersebut. "Saya akan meminta para Menteri untuk mencari perhitungan yang sinkron untuk menambah anggaran bagi pembangunan rumah rakyat," kata SBY.

Menurut SBY, perumahan merupakan kebutuhan dasar setelah pangan dan sandang. Oleh sebab itu, Pemerintah wajib membantu masyarakat yang kurang mampu memiliki rumah yang layak huni. Di satu sisi, SBY juga menginstruksikan kepada Kemenpera, Pemerintah Daerah (Pemda), dan perbankan agar memberikan kemudahan dalam bentuk peraturan yang realistis bagi kegiatan pembangunan rumah rakyat.

SBY meminta kementerian agar terus mengeluarkan dan memantau kebijakan yang memotivasi pembangunan RSH, salah satunya Peraturan Pemerintah (PP) No.31/2007 tentang Pembebasan PPn bagi RSH, Keputusan Presiden (Keppres) tentang Percepatan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Milik dan kemungkinan insentif lainnya.

Lainnya, SBY berharap pihak Pemda menjalankan program RSH secara aktif dengan cara menyediakan lokasi pembangunan rumah baru. Bahkan, SBY meminta agar Pemda dapat memberikan keringanan atau menghapuskan biaya izin bangunan bagi RSH.

Kailyas
November 28th, 2007, 12:40 PM
Info Proyek Real Estate atau Properti
28-09-2007 13:36:28
Central Park Resmi Dibangun

Central Park


APG KUCURKAN RP 2,5 TRILIUN


JAKARTA - Agung Podomoro Group (APG) melalui anak usahanya, PT Tiara Metropolitan Jaya, resmi meluncurkan proyek multiguna (mixused) Central Park. Peluncuran tersebut ditandai dengan acara pemancangan tiang pertama (ground breaking), Rabu (19/9).

Berlokasi di Jalan S. Parman, Jakarta Barat, Central Park dibangun di atas lahan seluas sembilan hektare, yang merupakan bagian dari superblok Podomoro City di lahan seluas 22 hektare. Total investasi proyek tersebut ditaksir mencapai Rp 2,5 triliun. "Proyek ini akan menjadi flagship project dari APG. Central Park juga akan dilengkapi dengan kawasan hijau dan taman kota seluas 1,5 hektare," kata Ferdinand Boedi Poerwoko, chief executive officer Tiara Metropolitan Jaya, disela acara ground breaking proyek tersebut.

Ferdinand mengatakan, Central Park akan memiliki total luas bangunan 65.000 m² yang terdiri atas satu menara gedung perkantoran 36 lantai dengan luas nett saleable area 68.500 m², hotel bintang empat 12 lantai dengan luas area gross 31.000 m² dan jumlah kamar 420 unit, tiga menara apartemen dengan jumlah unit mencapai 1.100 unit dan luas nett saleable area 85.000 m², serta mal dengan luas nett leaseable area mencapai 110.000 m². "Untuk mal akan dibangun 4,5 lantai plus satu lantai basement dengan jumlah gerai mencapai 348 unit, sedangkan tiga menara apartemen masing-masing akan dibangun 50 lantai," jelas Ferdinand. Dia menambahkan, untuk apartemen, luas per unit sekitar 50 m² - 120 m² dengan kisaran harga Rp 600 juta - Rp 1,5 miliar. Untuk perkantoran, per m² dijual seharga Rp 13 juta - Rp 15 juta per m².

Direktur Komersial Ritel dan Shopping Center Centra Park Veri Y. Setiady mengatakan, mal tersebut akan menggunakan sistem sewa. Harga sewa per m² per bulan yang akan ditetapkan berkisar Rp 300 ribu - Rp 450 ribu. "Proyek ini dikembangkan dalam dua tahap. Tahap awal, kami membangun mal dan diharapkan bisa beroperasi pada September 2009. Central Park juga akan diposisikan sebagai mal yang berbeda dibanding mal yang telah ada," jelas Veri.

Menurut Veri, arsitek pembangunan Central Park dipercayakan kepada DP Architect, konsultan arsitek asal Singapura. Sedangkan arsitek rekanan dipercayakan kepada PT Arkipuri Internasional. Kemudian, PT Gistama Intisemesta, PT Skemanusa Konsultama Teknik, PT Wide and Woollard Indonesia, dan PT Total Bangun Persada dipercaya sebagai konsultan struktur, konsultan mekanik dan elektrik, quantity surveyor, dan kontraktor utama di proyek tersebut.

Podomoro City
Central Park merupakan bagian dari superblok Podomoro City yang luasnya mencapai 22 hektare. Saat ini bangunan yang telah berdiri dan sedang dibangun di Podomoro City antara lain apartemen Mediterania Garden Residences (MGR) I dan II, serta apartemen Royal Mediterania Garden Residences. Total unit apartemen yang dibangun di MGR I sebanyak 2.734 unit, sedang di MGR II sebanyak 3.087 unit. Sementara di Royal Mediterania Garden Residences dibangun 3.096 unit apartemen. Total penghuni yang telah mendiami unit hunian di Podomoro City ditaksir mencapai 10.000 orang.

Data yang dihimpun menunjukkan, hingga saat ini selain sejumlah proyek yang ada di Podomoro City, APG telah membangun 38 proyek yang terdiri atas landed house (13 proyek), apartemen (13), shopping center (2), dan mixused (9). Beberapa proyek yang dikembangkan APG adalah Gading Mediterania Residences, The Jakarta Residences, Mediterania Boulevard Residences, Thamrin Residences, Mediterania Gajah Mada Residences, Sudirman Park, dan Mediterania Lagoon Residences.

Selain itu, APG menggarap sejumlah proyek lain seperti Permata Hijau Residences, Mediterania Marina Residences, The Pakubuwono Residences, Mediterania Palace Residences, apartemen The Peak, dan Apartemen Menteng Eksekutif. Kemudian, Jakarta City Center, Senayan City, CBD Pluit, Seasons City, Braga City Walk, The Plaza Semanggi, Mangga Dua Square, Kelapa Gading Square, Lindeteves Trade Center, Blok M Square, Perumahan Sunter Podomoro, Bukit Golf Mediterania, Bukit Mediterania Samarinda, Telaga Gading Serpong, dan Sunter Mediterania.

V-ni@star
November 29th, 2007, 03:01 PM
pembangunan mall dan apartement yg semakin marak bertolak belakang sekali dengan nasib golongan menengah kebawah!!!!
mereka terus digusur karena kepentingan pengembang yang lebih "berduit" dan celakanya pemerintah lebih memihak kepada mereka daripada mensejahterakan kehidupan yang layak yang katanya "setiap warga negara memiliki hak atas tempat tinggal."
beitu banyak modal yang dikucurkan untuk pembangunan mall dan apartemen.
bagaimana nasib warga berpenghasilan rendah yang juga punya hal didalam ruang kota???????
apakah tidak ada kerelaan dari pihak pengembang untuk memperhatikan nasib "teman-teman" mereka yang lebih membutuhkan uang tersbeut daripada dipakai untuk para konsumtif???
konflik sosial terus berlanjut, mau jadi apa jakarta kalau masih seperti ini???

materialistus
November 29th, 2007, 05:09 PM
It's not the developer's fault. The people in the government are primitive and corrupt. The developer just use those qualities of our government for their advantage.

Omluki
November 29th, 2007, 07:34 PM
pembangunan mall dan apartement yg semakin marak bertolak belakang sekali dengan nasib golongan menengah kebawah!!!!


Tapi pembangunan mall juga membuka lapangan kerja untuk kelas menengah bawah lo... (selain mendorong sikap enterpreuner).. Satu mall setidaknya membuka 2000 - 3000 lapangan kerja.

Don't get me wrong, I share your concerns.... but you know, there's no magic wand for every problems...

abijafar
November 30th, 2007, 08:40 AM
kalau pembangunan mall biasanya khan pakai ganti rugi yang wajar.. lagian itu bukan fasilitas publik jadi tidak ada unsur paksaan... seharusnya.. jadi kalau memang penduduknya mau digusur yah nggak papa toh.. itu khan B to B (bussiness to bussiness)

laba-laba
November 30th, 2007, 09:15 AM
kan banyak yang tergusur bisa naek haji ato beli rumah bagus...

Kailyas
November 30th, 2007, 09:56 AM
Engga ada masalah tergusur agar ganti ruginya pantas dan engga ada unsur paksaan.

materialistus
November 30th, 2007, 11:41 AM
Tapi pembangunan mall juga membuka lapangan kerja untuk kelas menengah bawah lo... (selain mendorong sikap enterpreuner).. Satu mall setidaknya membuka 2000 - 3000 lapangan kerja.

Don't get me wrong, I share your concerns.... but you know, there's no magic wand for every problems...

Well, apparantly there is a magic wand for this one : get leaders with a bit of brain and heart, not some greedy cavemen. change the mindset.

V-ni@star
December 1st, 2007, 01:54 PM
Tapi pembangunan mall juga membuka lapangan kerja untuk kelas menengah bawah lo... (selain mendorong sikap enterpreuner).. Satu mall setidaknya membuka 2000 - 3000 lapangan kerja.

Don't get me wrong, I share your concerns.... but you know, there's no magic wand for every problems...

it is ok..^^ i really appreciate ur reply here^^
i know there is no magic here..
memang membuka tenaga kerja
ttp hanya satu juta tenaga kerja yg terserap menurut data. masih ada 95% lainnya yg pengangguran...
nah apakah pembangunan masih mengubah segalanya scr signifikan...?
memang pembangunan itu perlu. yg namanya urbanisasi pasti ada pertumbuhan ekonomi. ttp pemerintah terlalu berpihak kepada pihak pengembang. pdhal mereka trs mengusur. apa gak aksian mrk yg digusur. memang ilegal, ttp menurut uu stiap warga negara berhak mendapatkan tempat tinggal.
jd uu itu dihilangkan saja sudah.
jika qta ingin membenarkan pihak pengembang pun gak bisa, krn sering kali mereka melakukan tindakan ilegal juga untuk mengusir mrk.
coba deh cari inf soal pembangunan season city di jakarta barat...
i got a book here about it...n i living close to them, not really close
but i saw wat happened there

coba qta tiru bangkok..
pemda bangkok menjadi penengah antara pemilik tanah dan masyarakat
mrk td memihak kpd siapapun.
bygkan kalau pemda qta seperti itu.
senang kan..
korupsi di pemerintah qta memang sudah parah. gak heran yg tahun 1980 jak setara dgn seoul, kl dkk.
skrg malah tertinggal jauh.

Kailyas
December 4th, 2007, 11:31 AM
Grand Ballroom Terluas di Asia ada di Ritz-Carlton


Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra




JAKARTA, KOMPAS- The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place yang berlokasi di Sudirman Central Business District (SCBD) Sudirman Jakarta menjadi hotel yang memiliki grand ballroom terluas di kawasan Asia.:banana::banana:

Grand Manager The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, Karim Tayach kepada Kompas dalam acara perkenalan ballroom kepada para tamu Senin (3/12) malam mengatakan, dengan luas 7.400 m2 dan tinggi 10,8 meter, ballroom ini mampu menampung sekitar 10.000 orang. "Ini menjadikan hotel ini hotel grandballroom terluas dan terbesar di Asia. Ini sangat bagus untuk promosi Jakarta," kata Karim, yang memiliki dua kewarganegaraan, Tunisia dan Jerman.

Menurut Karim, fungsi ballroom ini bisa untuk tempat konser musik, selain untuk pertemuan, konferensi, peluncuran produk, sampai pada pesta pernikahan. Hotel bintang lima dan hotel butik paling mewah di Jakarta ini memiliki 62 kamar hotel dan 139 kamar apartemen dengan tipe satu, dua dan tiga kamar.Kamar hotel ini mulai dari lantai 21 sampai 25. Sedangkan kamar apartemen dari lantai 26 sampai 39.

Public Relations Manager The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Dewi Damayanti, menambahkan, hotel ini memiliki restoran serving premium grill yang dinamakan Pacific Restaurant and Lounge di lantai enam. Club Floor berada di lantai 21, sedangkan fasilitas spa dan rekreasi termasuk kolam renang di lantai 8.

Kailyas
December 4th, 2007, 11:36 AM
Liputan Khusus
29-11-2007 13:31:23
Bank Perumahan
Sangat Diperlukan
Masyarakat
Berpendapatan Rendah

Kabag Penelitian BTN Sasmaya Tuhulele, Deputi bidang Pembiayaan Kementerian Negara Perumahan Rakyat Iskandar Saleh, Direktur Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit


Pemerintah diminta untuk mempertahankan bank perumahan yang sanggup menyalurkan kredit bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR).
Rangkuman opini tersebut disampaikan beberapa pembicara yang hadir dalam business talk bertajuk "Mencari Format Kebijakan Pemerintah dalam Pembiayaan Perumahan Rakyat" yang diselenggarakan Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera), di Hotel Yasmin, Cipanas, pertengahan November 2007 lalu.

Pengamat properti Panangian Simanungkalit menyatakan, belum tertariknya perbankan besar masuk ke sektor menengah-bawah karena belum adanya kebijakan yang terkoordinasi di tingkat pengendali (pemerintah).

"Akibatnya muncul isu merger atau akuisisi. Padahal keberadaan bank fokus seperti BTN, harus tetap dipertahankan jika pemerintah ingin kebutuhan masyarakat akan perumahan yang terjangkau tetap terpenuhi," ujarnya lagi.

BTN Kelola Dana Bank Dunia

Sementara itu, Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara Perumahan Rakyat Iskandar Saleh menyatakan, saat ini tengah dibuat kajian oleh Bapenas dan Kementerian Negara Perumahan Rakyat, agar BTN dapat mengelola dana Bank Dunia sebesar Rp 5 Trilyun untuk membiayai pembangunan rumah susun sederhana (rusuna).

"Kebijakan ini diambil oleh Kementerian Negara Perumahan Rakyat untuk mengoptimalkan kinerja dan performa BTN sebagai bank yang fokus dalam pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah," imbuh Iskandar lagi.

Dilain pihak, anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, Hasto Kristiyanto menyatakan, apabila pemerintah ingin mengoptimalkan peran bank BUMN dalam menjalankan misinya maka diperlukan sebuah kebijakan politik yang tegas.

"Pemerintah itu memiliki power yang besar. Dalam rangka mendukung program perumahan ini, cukup mengeluarkan kebijakan dalam bentuk PP maupun Perpres. Misalnya saja dengan penempatan sebagian keuntungan BUMN ke dalam BTN untuk mewujudkan program perumahan tersebut," tambah Hasto lagi.

lombok
December 4th, 2007, 12:39 PM
Harus dicek lagi ? gimana dengan China mungkin punya hotel ballroom yang paling besar ? or India ?

rilham2new
December 4th, 2007, 03:07 PM
kan banyak yang tergusur bisa naek haji ato beli rumah bagus...

Betul sekali ;) ... .. Tapi kalau untuk kasus Jakarta ,,, rumah mereka yang semula di pusat kota bisa langsung tercampak ke pinggiran kota :D ...

Dan mereka (yang tergusur) harus mencari pos-pengeluaran lagi untuk transportasi ke tempat kerja ... Karena jarak dari rumah ke tempat kerja sangat jauh .. Lagipula sembari menunggu rumah baru mereka dibangun,, mereka terpaksa tinggal di rumah sanak saudara mereka ;) ..

rilham2new
December 4th, 2007, 03:20 PM
beitu banyak modal yang dikucurkan untuk pembangunan mall dan apartemen.
bagaimana nasib warga berpenghasilan rendah yang juga punya hal didalam ruang kota???????
apakah tidak ada kerelaan dari pihak pengembang untuk memperhatikan nasib "teman-teman" mereka yang lebih membutuhkan uang tersbeut daripada dipakai untuk para konsumtif???
konflik sosial terus berlanjut, mau jadi apa jakarta kalau masih seperti ini???

Sayang nya judul thread ini ada kata "INDONESIA" di depannya ;) ... Jadi keadaan seperti itu (menurut aq) tidak terlalu mewakili Indonesia..

Di banyak kota di luar Jakarta,, Pemerintah daerah memberikan ruang besar bagi developer untuk membangun perumahan menengah ke bawah ;) ... Dan banyak menguntungkan kontraktor2 kecil yang tidak terkenal :) ....

Di Samarinda,, (menurut rivadh, salah satu forumer kita) ,, bahkan pemukiman tepian sungai telah berhasil dibersihkan dan dipindahkan ke perumahan baru yang layak ;) ..

Di Pekanbaru,, pemerintah setempat sedang menggesa perumahan sederhana untuk para PNS-PNS nya yang luas arealnya sangat besar ;) ..

Di beberapa Kabupaten di Jawa, pun beberapa bupati juga mendapat penghargaan dari presiden, karena berhasil menyediakan perumahan kelas rakyat,, dengan skema (scheme) pembayaran yang tidak membebani rakyat ;) .....

Contoh Jakarta seharusnya tidak perlu jauh2 ke luar negeri,, karena di dalam negeri ini sendiri banyak contoh yang bagus .... Cuman bedanya di Jakarta seharusnya dibangun Rumah susun yang memadai, ketimbang perumahan yang luas dengan alasan keterbatasan lahan ;) ... Relokasi rakyat kecil "menengah ke bawah" seharusnya dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya ;) ....

Well, jadi ketika pengusaha mau membangun suatu lahan (yang sudah dikosongkan),, mereka tinggal membeli tanah dari pemerintah yang sudah diberi Kavling-kavling ;) ... Rakyat tidak sengsara (karena relokasi jauh dari tempat tinggal sebelumnya),, pengusaha mendapat kejelasan soal pembelian tanah,, dan pemerintah dapat sumber pemasukan baru dengan jual beli tanah ini ;) ...

kamski
December 4th, 2007, 04:18 PM
Sedihnya gw, kok bisa2nya ada yg bilang bahwa penggusuran itu hanya sekedar bisnis, malah bisa "menguntungkan"... Bener2 deh harus liat langsung ke lapangan.

Mereka yg tergusur NGGAK PERNAH sekali pun mendapatkan ganti rugi yg layak, yg dapat membuat mereka menjalani hidupnya dengan lebih baik. It's BULLSHIT kalo pendirian mall sekarang ini lebih banyak faedahnya daripada mudaratnya.

I doubt it that a mall could employ 2000-3000 people, I need your source.

Malls are some of our biggest mistakes. Di Indonesia yg social disparity nya makin lebar dan jauh... pembuatan mall diatas tanah gusuran orang2 yg berusaha hidup with marginal income is like a spit on their face.

Kailyas
December 6th, 2007, 07:44 AM
Liputan Khusus
19-11-2007 14:21:46
Green Building,
Dicari Pasar!


Isu global warming terus menguak. Di Asia-Pasifik, green building dicari pasar. Tak terkecuali Jakarta.
Isu global warming terus mengalir ke seluruh penjuru dunia. Sadar akan dampaknya yang besar berbagai pihak yang bersentuhan dengan masalah ini gencar mengampanyekannya. Penyebab global warming ini bermacam-macam, mulai dari pembuangan gas emisi atau CO2 hingga pemborosan energi. Dan saat ini di kalangan dunia properti bahasan aktual terkait global warming adalah green building. Konsep pembangunan gedung ramah lingkungan menurut Chairman Jones Lang LaSalle (Indonesia), Lucy Rumantir, saat ini merupakan tuntutan.

Survey yang dilakukan pihak Jones Lang LaSalle beberapa waktu lalu, bisa dijadikan fundamental bahwa pengguna gedung perkantoran di kawasan Asia-Pasifik akan berpaling ke gedung-gedung berkonsep green building. Dimana tahun 2005 hanya 11% responden yang bersedia memilih gedung berkonsep ramah lingkungan. "Tetapi di tahun 2007 ini jumlahnya meningkat sampai 64%," tegas Lucy. Padahal jika mendasar harga beli maupun sewa ruang harga yang ditawarkan pada green building lebih tinggi.

Nah, dengan kecenderungan ini bisa diperkirakan bahwa preferensi pasar di kawasan ini akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Sehingga permintaan ini akan mendorong developer yang membangun gedung perkantoran untuk segera mengadopsi konsep green building dan menerapkan dalam sistim operasional gedungnya. Diperkirakan hal ini akan terjadi di kawasan Asia-Pasifik, tak terkecuali di Jakarta. Menurut Lucy, perusahaan asing akan menjadi pelopor yang menghembuskan tren ini di pasar domestik.

Bahkan data JLL baru-baru ini mengungkapkan bahwa sudah banyak perusahaan asing yang menanyakan fitur-fitur terkait dengan efesiensi dan konservasi energi sebuah gedung. Ini terjadi saat akan memilih, maupun menyewa sebuah ruang perkantoran di seputar Jakarta. Sehingga tren ini akan menjadi sesuatu yang penting untuk dipraktekan di Jakarta, walaupun investasi yang dibutuhkan dalam pembangunan green building terbilang besar. Namun potensi keuntungannya di masa depan secara financial maupun non-financial sangat signifikan.

Zero Energi Building (ZEB)

Tren gedung ramah lingkungan sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Salah satu contoh yang ada di Jakarta saat ini adalah gedung Dharmala di kawasan CBD. Namun saat itu, konsep tersebut lebih banyak diterapkan pada unsur arsitektur bangunan saja. Dalam perjalanannnya saat ini pembangunan gedung ramah lingkungan ini berkembang, mulai dari desain, material, pemanfaatan mesin dan alat berteknologi canggih hingga sistim pengendalian dan perawatan bangunan.

Pengembangan dari hal tersebut akhirnya melahirkan konsep Zero Energy Building (ZEB), yaitu gedung yang keperluan energi untuk operasionalnnya sudah bisa sepenuhnya dipenuhi oleh gedung itu sendiri setelah periode tertentu. Menurut Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle (Indonesia), cara melakukan pasokan energi ini dengan memanfaatkan sumber energi matahari maupun angin semaksimal mungkin dan menekan penggunaan energi seminim mungkin. Saat ini menurut Anton, di kawasan Asia tercatat dua negara telah mngembangkan pembangunan ZEB ini, yaitu Pearl River Tower, China dan BCA Academy Building, Singapura.

materialistus
December 6th, 2007, 12:18 PM
FINALLY !!! Somebody somewhere within the chaoss of Indonesia got a cop on.

Just a note, most of the traditional ways of life in rural indonesia were 'green', up until the 80s when dictator Suharto decided that its time for liberalisation in many sectors which affects the way people in rural area consumes energy.

Kailyas
December 11th, 2007, 01:00 PM
Liputan Khusus
11-12-2007 11:59:34
2008,
Pasok Lahan Industri
Bertambah 769 Ha


JAKARTA - Pasok kumulatif lahan industri di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jadebotabek) dan wilayah sekitarnya hingga akhir kuartal III 2007 tetap berjumlah 7.306 hektare (ha). Tidak ada penambahan pasok baru lahan industri pada kuartal kali ini. Namun, pada 2008 diperkirakan akan ada psok baru yang ditawarkan ke pasar seluas 769 ha.
Riset PT Procon Indah menyebutkan, pasok lahan industri saat ini terbesar berasal dari wilayah Bekasi (78%), kemudian diikuti Serang (14,98%), Tangerang (6,5%), dan Bogor (0,52%). Sementara itu, pada kuartal III 2007, tingkat penjualan mengalami sedikit kenaikan sebesar 0,39% menjadi 74,6%.

"Penyerapan bersih lahan industri terus menerus mengalami penurunan dalam empat kuartal terakhir, dari 44,65 ha di kuartal IV 2006 menjadi 30,05 di kuartal I 2007, dan mencapai 29 ha di kuartal II 2007. Penyerapan bersih turun sebesar 2,48% dibanding kuartal sebelumnya, sehingga total penyerapan tahunan mencapai 131,88 ha," kata Senior Manager Strategic Advisory Group PT Procon Indah Utami Prastiana di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Utami, penyerapan terbesar datang dari kawasan industri di wilayah Serang dengan total area seluas 10,2 ha, yang mencerminkan sekitar 36% dari total penyerapan. Kawasan Bekasi berada di posisi berikutnya, menyerap sekitar 34%, yang berasal dari 32 transaksi yang datang dari Jababeka Industrial Estate, Lippo Cikarang (Delta Silicon), dan Greenland (Kota Deltamas). Transaksi lain yang terjadi pada periode yang ditinjau terserap oleh kawasan industri di Tangerang, Karawang atau Purwakarta, dan Bogor.

Dia menambahkan, tingkat permintaan akan lahan industri pada kuartal III 2007 tetap, bervariasi antara satu hektare hingga di atas dua hektare. Permintaan akan lahan industri juga datang dari investor asal Eropa, Australia, Taiwan, dan Singapura.

"Dari 7.306 ha total pasok lahan industri yang ada, sekitar 1.855 ha lahan industri belum terjual. Di satu sisi, sebagian besar kawasan industri tidak menaikkan harga jual lahan industrinya," ujar Utami.

Utami menjelaskan, harga rata-rata lahan industri dalam rupiah mengalami sedikit kenaikan sebesar 1,22% menjadi Rp 400.164 per m. Dalam dolar AS, terjadi penurunan sebesar 0,09% dari US$ 43,84 per m menjadi US$ 43,80 per m.

Jika dibanding dengan kuartal yang sama tahun lalu, imbuh Utami, harga rata-rata lahan industri naik 4,82% dalam rupiah dan 6% dalam dolar AS.

Prospek Pasar
Utami mengungkapkan, pasar kawasan industri belum menunjukkan perubahan yang berarti, walaupun terus menunjukkan adanya tanda peningkatan dengan adanya permintaan aktif.

"Adanya kampanye pemilihan presiden dan pemilihan umum pada 2008 akan mengakibatkan lambatnya proses keputusan investasi dari investor. Hingga secara keseluruhan tingkat penyerapan di tahun berikutnya diproyeksikan tidak ada peningkatan secara signifikan," jelas Utami.

Di sisi lain, tingginya angka pasok yang akan datang menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan pengembang. Dengan masih berfluktuasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, adanya musim kampanye, dan tingginya tingkat pasok yang akan datang, tingkat harga diproyeksikan akan tetap.

V-ni@star
December 13th, 2007, 03:35 PM
^^^ do u got any solid data about it???
hanya sedikit yang bisa beli rumah bgs.
klo naik haji kyknya uda jadi hal mutlak utk naik haji ya... maslah religi biarin aja deh...
tp menurut data mrk yg tergusur sampai saat ini ada yg masih tinggal di lapangan omnas HAM...
how about that?

Kailyas
December 19th, 2007, 04:01 AM
Liputan Khusus
18-12-2007 10:25:17
2008
Bisnis Properti Masih
Menjanjikan


JAKARTA - Sejumlah kalangan menyatakan, bisnis properti pada tahun depan masih memberikan harapan ditengah ancaman kenaikan harga minyak dunia dan dampak krisis subprime mortgage di luar negeri.
Secara makro, bisnis properti di tanah air jika dilihat dari nilai pertumbuhan kredit properti akan naik 25% dengan ekspansi kredit properti mencapai Rp 36,5 triliun. Kemudian, harga-harga tanah dan rumah akan meningkat rata-rata 10%-20%, serta subsektor perumahan, rumah toko (ruko), dan apartemen menengah, serta rumah susun (rusun) murah yang akan bergairah.

Demikian benang merah seminar bertajuk Prospek Ekonomi, Perbankan dan Properti Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh PT Bank Tabungan Negara (BTN) di Jakarta, Selasa (4/12). Dalam sesi properti, hadir sebagai pembicara antara lain Asisten Deputi Pola Pembiayaan Kemenpera Tito Murbaintoro, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, dan Chief Executive Officer PT Kiran Resources Indonesia Soebowo Musa.

Panangian mengatakan, ada sejumlah prediksi di bisnis properti yang mungkin bisa menjadi gambaran bagi para pelaku di bisnis tersebut. Seperti, pembangunan perkantoran, mal, trade center, dan kondominium mewah akan mengalami slow down. Kemudian, pembangunan apartemen menengah akan terus marak meskipun unoccupied units akan bertambah, dan nilai kapitalisasi proyek properti yang akan mengalami penurunan.

"BI rate saya prediksikan akan menjadi 8% untuk tahun depan. Properti akan tetap menjadi instrumen investasi yang paling solid. Masyarakat masih menganggap properti adalah investasi jangka panjang. Oversupply no problem, harga akan tetap naik," kata Panangian.

Ali Tranghanda menilai, subsektor perumahan menengah bawah dan apartemen menengah akan menjadi primadona untuk tahun depan. Akan terjadi perluasan wilayah pengembangan properti di beberapa titik pertumbuhan di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jadebotabek) seperti di Cibubur, Serpong, Kemang, Bintaro, Sawangan, dan Bekasi Timur.

"Lokasi dan konsep proyek akan menjadi kunci sukses pengembangan bisnis properti. Bagi konsumen, nama besar pengembang tidak akan selalu menjadi jaminan suksesnya proyek yang dibangun,serta akan terjadi limitasi pasar di sejumlah proyek properti," ujar Ali.

Menurut Tito, sumber utama bagi para konsumen produk properti di Indonesia masih bersumber dari dana perbankan, hingga 58,5%. Sedangkan sumber utama pembiayaan bagi pengembang adalah dana sendiri, sekitar 62,3%.

"Bisnis properti terbesar sebenarnya berasal dari subsektor perumahan. Alasannya, kebutuhan rumah di Indonesia masih cukup besar, sekitar 5,8 juta unit dan kebutuhan per tahun rata-rata 800 ribu unit. Di satu sisi, pasar primer perumahan, baik pasokan maupun permintaan, masih belum efisien," ujar Tito.

Soebowo Musa menerangkan, pasar pembiayaan perumahan sekunder sangat diperlukan untuk bisa menggerakkan bisnis properti lebih cepat. "Selama ini, pasar perumahan hanya bisa melibatkan pihak lokal, namun tidak dengan pembiayaannya. Pembiayaaan properyi seharusnya dapat diperoleh dari luar negeri, seperti penerbitan instrumen investasi real estate investment trust (REIT's) dan secondary mortgage facilities (SMF)," jelas Soebowo.

Namun, ditengah masih menjanjikannya bisnis properti, ada sejumlah kendala yang dihadapi di bisnis ini, seperti kebijakan pemerintah (goverment policy) yang dinilai belum cukup bersahabat. Hal lainnya, kebijakan pemilikan properti untuk orang asing yang belum kompetitif, tax policy di bidang penjualan properti yang masih terlalu ketat, proses perizinan properti yang terlalu panjang dan under the table transaction (high cost economy).

Kemudian, peraturan daerah yang tidak market friendly, hukum perlindungan bagi konsumen yang masih lemah, serta pemerintah tidak memiliki property information center.

madeokas
December 22nd, 2007, 05:19 AM
Tahun 2006 saya mendapatkan info akan dibangun Malang Olympic Garden ( MOG ) di Malang. Project ini dibangun di pusat kota Malang ( daerah Dieng )Kerjasama antara pemkot Malang dengan investor PT. Mustika Taman Olympic. Sesuai schedule project Grand Opening end December 2007.
Bagaimana apakah project in on Schedule???

Investasi Mal di Surabaya Raya Rp 60 Triliun
Selama 2006 hingga Agustus

Surabaya, Surya
Rabu, 13 September

Di tengah kondisi perekonomian yang sering disebut masih lesu, pembangunan mal dan pusat-pusat perbelanjaan baru ternyata terus terjadi di wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Pasuruan) plus Malang serta Jember.

Sepanjang tahun ini hingga Agustus, nilai proyek pusat perbelanjaan (ritel) yang baru selesai dan masih sedang dibangun mencapai 5,66 miliar dolar AS (sekitar Rp 60 triliun) di wilayah tersebut.

Demikian diungkapkan Aslakhul Umam, Research Coordinator PT Building & Construction Interchange (BCI) Asia cabang Surabaya, Selasa (12/9).
"Ekspansi pusat perbelanjaan masih akan terjadi hingga akhir tahun. Bahkan terus menyebar di sejumlah kota lain di luar Surabaya," ungkap Umam kepada Surya.

Tahun lalu, ungkap Umam, mayoritas investasi pembangunan pusat perbelanjaan masih terkosentrasi di kota Surabaya. Pengembang masih melihat potensi pasar seiring pertumbuhan jumlah penduduk Surabaya yang diperkirakan mencapai 5 juta jiwa pada tiga tahun ke depan.

Namun mulai 2006 ini, pengembangan pusat perbelanjaan makin menyebar ke kota-kota lain seperti Malang, Jember dan Pasuruan. Para pengembang, kata Umam, melihat jumlah total penduduk Jatim yang mencapai 30 juta jiwa lebih merupakan potensi pasar yang tak kalah potensial.

Porsi investasi untuk ekspansi pusat perbelanjaan, jelas dia, merupakan yang terbesar dari seluruh investasi pembangunan gedung di Jatim.
Hingga Agustus tahun 2006 ini, total investasi pembangunan gedung yang ada di Jatim mencapai 11,613 miliar dolar AS (sekitar Rp 105 triliun) dengan jumlah 534 proyek.

Selain pusat perbelanjaan dengan investasi sebesar 5,66 miliar dolar AS yang disebut tadi, investasi besar lain ada di sektor properti residensial yang mencapai 2,131 miliar dolar AS.

Komposisi ini, jelas Umam, tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun 2005. Saat itu sepanjang tahun 2005, terdapat 593 proyek properti di Jatim yang menelan investasi 18,9 juta dolar AS.

Pembangunan gedung pusat perbelanjaan saat itu juga mendominasi dengan nilai sebesar 8,9 juta dollar AS. Kemudian properti permukiman (residensial) dengan investasi sebesar 2,9 juta dolar AS.

Don Rozano, konsultan dari Enciety Business Consult (yang turut membantu proyek pusat perbelanjaan BG Junction di Surabaya), mengungkapkan bahwa ekspansi pasar modern di Jatim dan Surabaya khususnya akan terus berlangsung beberapa tahun ke depan.
"Cuma harus diatur agar tidak saling bersaing dengan pasar tradisional," ujar Don.

Menurut Don, satu pusat perbelanjaan hanya melayani sekitar 30.000 hingga 50.000 konsumen. Artinya, kendati pusat perbelanjaan (besar) di Surabaya bertambah 12 buah saat ini, potensi pengembangan pasar masih tetap ada. "Persaingan belum mencapai titik jenuh," tandas Don.ytz

Proyek Investasi Ritel 2005
-----------------------------------------------------------
No NAMA PROYEK PENGEMBANG
-----------------------------------------------------------
1 Royal Plaza Pakuwon Jati Tbk, PT
2 Galaxy Mall II Sinar Galaxy, PT
3 ITC Mega Grosir Citra Agung Tirta Jatim
4 Pusat Grosir Wonokromo Duta Pertiwi Tbk, PT
5 Bukit Darmo Square Adhibaladika Agung PT
6 Hitech Center Lamicitra Nusantara, Tbk PT
7 Pasar Atum Mall Prosam Plano PT
8 Surabaya Town Square Graha Megaria Raya PT
9 The City of Tomorrow Lippo Karawaci Tbk, PT
10 Buthan Trade Mall Bubutan Indah Megah PT
11 Pusat Grosir Pasar Turi Lamicitra Nusantara Tbk, PT
-------------------------------------------------------------

Proyek Investasi Ritel 2006
-------------------------------------------------------------
No NAMA PROYEK PENGEMBANG
-------------------------------------------------------------
1 Araya Plaza 2 Araya Bumi Megah PT
2 Metropolis Commercial Area Aktivitas Putra Mandiri PT
3 Mall Olympic Garden Mustika Taman Olympic PT
4 Tunjungan Plaza I & II Renov Pakuwon Jati Tbk, PT
5 Jember Mall Mandiri Land
6 Ciputra CBD Ciputra Surya PT
7 Agropark Commercial Park Agrijaya Indotirta PT
8 Centro Avenue Bumi Sidoarjo Permai (Podo Joyo Group)
9 Gubeng Mixed Used Hardaya Widya Graha PT
10 Panorama Square Panorama Argotirta PT
11 Aston Surabaya Jawa Pos & Podo Joyo Mashur
----------------------------------------------------------------------

http://www.surya.co.id/naskah.php?id=15810&rid=15

pray_or_go
December 26th, 2007, 09:09 AM
saya adalah mahasiswa jurusan planologi real estate tarumanagara, saat ini saya sedang studi ttg perkantoran di kawasan NON-CBD khususnya di Jakarta Timur.....saya kesulitan mencari data analisis pasar perkantoran di NON CBD....kebanyakan konsultan(collier, Jone lang, DLL) kurang membahas kawasan NON CBD....mungkin temen bisa membantu saya yg sedang studi.....

g4brielle
December 26th, 2007, 09:42 AM
^^ a million bucks question ..
keep praying..

Kailyas
December 28th, 2007, 10:44 AM
Rekor MURI
Untuk Maket
Rasuna Epicentrum

Direksi PT Bakrieland Development Tengah Menunjukan Maket Rasuna Epicentrum Kepada Jaya Suprana


Rasuna Epicentrum menerima penghargaan dari Musem Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori "Maket Kawasan Terbesar" di Indonesia
Penyerahan penghargaan MURI bagi Rasuna Epicentrum tersebut, diberikan langsung oleh Chairman/pendiri MURI, Jaya Suprana dan diterima oleh Hiramsyah S. Thaib, Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk dan Sri Hascaryo, Chief Executive Officer PT. Bakrie Swasakti Utama, di Marketing Galeri Rasuna Epicentrum, Jakarta, (12/12).

Menurut Sri Hascaryo, Chief Executive Officer PT. Bakrie Swasakti Utama, untuk maket yang berada di salah satu bagian dari Marketing Galeri Rasuna Epicentrum ini, merupakan gambaran ‘miniatur' dari keseluruhan kawasan superblok terbesar di Indonesia ini. Maket ini sendiri memiliki ukuran panjang 14 m, lebar 7,8 m dan tinggi 2,15m.

"Melalui maket ini, kita dapat melihat secara langsung keseluruhan kawasan Rasuna Epicentrum seluas 53,5 hektar, yang meliputi Apartemen Taman Rasuna, Aston Rasuna Residence, Klub Rasuna, Pasar Festival, The 18th Residence Taman Rasuna dan beberapa proyek lain yang sedang dalam tahap pembangunan seperti Bakrie Tower, The Grove Condominium, The Grove Suites dan Epicentrum Walk & Lifestyle Center. Maket ini sendiri memiliki skala 1:100 dari luasan aslinya," tambah Sri Hascaryo lagi.

Ekspansi Usaha di Tahun Depan

Dalam kesempatan yang sama, Hiramsyah S. Thaib, Direktur Utama PT Bakrieland Development Tbk menyatakan, di tahun 2008 mendatang pihaknya akan menargetkan pertumbuhan bisnis yang cukup signifikan dengan mengembangkan proyek di wilayah Lampung dan Batam.

Menurut Hiramsyah, langkah ekspansi ini meliputi pengembangan hotel dan resor di wilayah Lampung dengan lahan seluas + 75 ha (dengan kemungkinan pengembangan lahan menjadi + 750 ha). Sedangkan untuk pembangunan proyek di wilayah Batam, PT Bakrieland Development Tbk, saat ini tengah menyiapkan pengembangan proyek residensial, hotel dan resor di atas lahan seluas 40 ha.

"Langkah ekspansi ini kita ambil dengan melihat kondisi perekonomian nasional yang semakin membaik. Apalagi, dengan tetap stabilnya tingkatan suku bunga yang diberikan oleh pihak perbankan, tentu membuat masyarakat akan tertarik untuk membeli dan menginvestasikan dananya di sektor properti untuk tahun 2008 yang akan datang," ucap Hiramsyah lagi.

Kailyas
January 11th, 2008, 06:29 AM
The City Tower
Capai Tahap
Penutupan Atap

Walikota Jakarta Pusat, Muhayat, Menggunting Pita Sebagai Tanda Topping Off The City Tower


The City Tower (TCT), menara perkantoran eksklusif setinggi 33 lantai yang berlokasi di kawasan jalan MH Thamrin - Jakarta, belum lama ini (19/12) mengadakan acara seremonial penutupan atap (topping-off) untuk melengkapi penyelesaian struktur pembangunan proyek ini.
Rangkaian acara penutupan atap ini ditandai dengan prosesi penuangan adukan semen ke lantai terakhir menara perkantoran ini dilakukan oleh Harry Gunawan, CEO PT Kencana Graha Mandiri bersama dengan Muhayat, Walikotamadya Jakarta Pusat dan selanjutnya diikuti pula oleh jajaran Komisaris dan Direksi PT Kencana Graha Mandiri lainnya.

Pengecoran lantai terakhir The City Tower ini dilakukan lebih awal 43 hari dari jadwal yang telah ditargetkan oleh pihak PT Kencana Graha Mandiri. Hal ini tentunya merupakan prestasi tersendiri yang dihasilkan oleh pihak pengembang The City Tower bagi kalangan tenant dan klien menara perkantoran ini.

"Kami sangat bersyukur, bahwa pembangunan menara perkantoran ini dapat dilakukan lebih cepat dari jadwal yang kami tetapkan. Hal ini tentunya, tak lepas dari kerja keras pihak kontraktor yang mengerjakan pembangunan menara perkantoran ini, untuk memenuhi target yang kami berikan," kata Harry Gunawan, CEO PT Kencana Graha Mandiri dalam kata sambutannya.

Mulai Beroperasi di Bulan Agustus 2008

Menurut rencana yang dimiliki oleh pihak pengembang, mulai Agustus 2008 yang akan datang, menara perkantoran terbaru yang ada di kawasan Segi Tiga Emas ini akan mulai beroperasi secara penuh.

"Kami memang merencanakan untuk segera mengoperasikan menara ini mulai pertengahan tahun 2008 yang akan datang. Hal ini merupakan komitmen kami untuk para tenant dan klien yang telah membeli atau menyewa di tempat ini," tambah Harry Gunawan lagi.

The City Tower sendiri dibangun pada lahan seluas 6000 m2 yang terdiri dari 33 lantai dengan luas gedungnya mencapai 72.400 m2 yang terdiri dari bangunan basement seluas 22.600 m2 dan bangunan menara seluas 49.800 m2.

Setiap unit yang ada di TCT dirancang dengan system columnless dengan luasan 1.780 m2 yang dapat memberikan ruang kerja yang dinamis dan effisien untuk setiap perusahaan yang berkantor di tempat ini.

Adapun fasilitas yang disediakan oleh pihak pengembang untuk menara perkantoran ini antara lain : Zoning Air Conditioning System terbaru dengan seri VRV III dari Daikin, Serat Optik dan teknologi WiFi dengan akses internet kecepatan tinggi, Kapasitas parkir tersedia di lima lantai basement yang dapat menampung 630 kendaraan dan executive club yang dilengkapi dengan video conference di roof top gedung perkantoran ini.

g4brielle
January 11th, 2008, 01:29 PM
^^
Great news...
Thanks a lot Kailyas.

Kailyas
January 17th, 2008, 02:18 PM
^^
Great news...
Thanks a lot Kailyas.

Your's welcome.

Kailyas
January 17th, 2008, 02:20 PM
The Ritz-Carlton
Pacific Place
Telah Beroperasi


JAKARTA - Hotel The Ritz-Carlton Pacific Place yang berlokasi di Sudirman Central Business Distric (SCBD), Jakarta, sudah seminggu ini dibuka untuk publik.
"Hotel ini resmi beroperasi pada Kamis (22/11). Hotel ini terdiri atas butik hotel dan apartemen servis. Total unit kamar di hotel ini mencapai 201 kamar," kata Karim Tayach, general manager The Ritz-Carlton Pacific Place.

Karim mengatakan, dari 201 kamar, terbagi menjadi 62 unit kamar butik hotel dan 139 unit kamar apartemen servis. Dari 62 unit kamar butik hotel, terbagi menjadi 51 unit tipe Grand Rooms, tujuh unit tipe Senator Suites, dua unit tipe Spa Suites, satu unit tipe Ritz-Carlton Suite, dan satu unit tipe Presidential Suite.

Menurut Karim, pihaknya memberlakukan tarif kamar dalam mata uang dolar Amerika. Alasannya, hotel ini didesain sebagai hotel dengan taraf internasional. "Tarif menginap per malam di hotel ini mulai dari US$ 250," ujar dia.

Dia menambahkan, pihaknya membidik pangsa pasar menengah atas, terutama kalangan pebisnis. Selain pebisnis, target pasar juga ditujukan bagi pasar keluarga dan pasangan muda.

Hotel The Ritz-Carlton Pacific Place juga memiliki akses langsung dengan pusat belanja mewah, Pasific Place, gedung perkantoran, dan pusat hiburan. Hotel ini juga memiliki ballroom seluas 73 ribu m dan cocok digunakan sebagai berbagai event dengan kapasitas hingga 10 ribu orang (standing party).

Fasilitas lain yang tersedia di hotel ini adalah, televisi 46 inch flat screen LCD TV di setiap kamar, pusat kebugaran, spa, kolam renang, lift privasi, dan lainnya.

Kompleks Pacific Place dikembangkan Grup Dua Mutiara milik taipan properti Tan Kian. Proyek senilai Rp 2,5 triliun ini terdiri atas mal, hotel mewah, apartemen servis, dan gedung perkantoran. Khusus mal, mal ini menjadi sebuah mal oval yang panjangnya mencapai 1,6 kilometer. Proyek ini bak menjadi Orchard Road versi Jakarta.

Tan Kian merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan ditaksir mencapai US$300 juta. Bisnis inti Tan Kian adalah di bidang properti.

AceN
January 17th, 2008, 04:51 PM
^^ Ya Allah...udah dari bulan November kali..... :doh:

Kailyas
January 24th, 2008, 07:05 AM
Aksesibilitas,
Pertimbangan Utama
Konsumen
Memilih Hunian

Berkembangnya Kawasan Simatupang Sebagai Lokasi Bisnis dan Perkantoran Mendorong Munculnya Hunian Dekat Kawasan ini.


PERUMAHAN DEKAT AKSES TOL
Fakta menunjukkan, dengan adanya akses jalan tol mampu mendongkrak pertumbuhan hunian suatu kawasan. Selain itu, pusat bisnis dan komersial ikut tumbuh di wilayah yang dilalui akses tol tersebut.

Jika ingin membeli atau sekedar berinvestasi di sektor perumahan, setiap calon konsumen disarankan untuk membeli rumah atau tanah di lokasi yang berdekatan dengan akses tol. Maklum, perkembangan harga rumah/tanah di sekitar ruas jalan tol berkembang cukup signifikan.

"Aksesibilitas menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli rumah. Selama problem kemacetan masih menghantui warga Jabodetabek, selama itu pula permintaan hunian di sekitar jalan tol akan tetap meningkat," ujar Mosalina Dewi, Strategic Advisory Group PT Procon Indah.

Kawasan Simatupang

Dewi kemudian memberi contoh salah satu contoh kawasan yang telah berkembang dengan pesat menjadi kawasan bisnis dan pemukiman adalah wilayah di sepanjang jalur tol TB Simatupang sampai dengan Bintaro dan BSD. Menurut Dewi, dengan semakin banyaknya gedung perkantoran dan perumahan yang sedang dibangun atau dipasarkan yang lokasinya ada di sekitar kawasan ini, menjadi bukti akan potensi besar yang dimiliki kawasan ini.

Beberapa perumahan yang telah atau akan dibangun di sekitar kawasan Simatupang antara lain, Bonavisata Residence, Villa Kebagusan, Admiralty Residence, town house Pines Residence, Bintaro Jaya dan Bumi Serpong Damai (BSD). Sedangkan gedung baru atau perkantoran di kawasan Simatupang yang akan beroperasi adalah adalah Talavera, Graha 165, dan Arcadia office tower.

Menurut Yon Hilman, Marketing Manager PT Harmas Jalesveva, pengembang perumahan Admiralty Residence yang berlokasi di jalan Fatmawati - Jakarta Selatan menyatakan, pihaknya membangun proyek perumahan yang dekat dengan akses tol karena melihat kondisi kawasan Simatupang yang telah berkembang dengan pesat sebagai kawasan perkantoran dan juga hunian. Terlebih, jalan-jalan protokol yang ada di Ibukota juga selalu dilingkupi kemacetan tiap harinya.

"Lokasi perumahan yang kami bangun sangat strategis. Jadi, kalau misalkan penghuni yang tinggal di Admiralty Residence ingin pergi ke mana saja sangat mudah dilakukan, mengingat adanya akses tol Simatupang yang terhubung dengan beberapa ruas tol lainnya," tambah Yon Hilman.

Kawasan Bintaro - Serpong

Sementara untuk kawasan Bintaro - Serpong, hal senada disampaikan Basudewo, Manajer Promosi Perumahan Bintaro Jaya. Menurutnya, kebanyakan pembeli unit hunian di perumahan ini adalah kalangan masyarakat yang mengutamakan aksesibilitas dalam menunjang aktivitasnya.

"Mobilitas warga Bintaro Jaya setiap harinya sangat tinggi. Selain menggunakan kendaraan pribadi dan kereta express Bintaro, bagi penghuni tersedia fasilitas Trans Bintaro sebagai moda transportasi yang nyaman, aman, dan tepat waktu menuju pusat kota Jakarta," ujar Basudewo. Untuk kawasan Serpong, menurut Ir. Dhony Rahajoe, General Manager Corporate Communications BSD City, dengan terbangunnya akses tol Serpong-Bintaro dan terhubung langsung dengan JORR (Jakarta Outer Ring Road), membuat aksesibilitas penghuni BSD City ke pusat kota Jakarta menjadi lebih gampang dengan waktu tempuh yang makin singkat.

Meski begitu, menurut Dhony, pengembang BSD City sendiri saat ini terus melakukan edukasi kepada kalangan konsumennya untuk beraktivitas atau berbisnis di lingkungan kota mandiri ini saja. Sebab, berbagai sarana dan fasilitas di BSD City tersedia sangat lengkap.

"Dengan beraktivitas, berbisnis atau berkantor di kawasan mandiri BSD banyak penghematan yang dapat diraih oleh penghuni, mulai dari hemat biaya BBM, tenaga dan pikiran lebih fresh, serta kualitas hidup bersama keluarga akan lebih terjaga karena semua serba dekat dan lengkap," tambah Dhony.

Faktor Utama

Untuk kalangan konsumen sendiri, dengan tersedianya akses tol di sekitar tempat tinggalnya jelas sangat membantu. Hardiansyah, pegawai Departemen Perhubungan misalnya, mengaku membeli rumah di Bintaro dengan alasan perumahannya dekat akses tol Simatupang.

"Lewat tol, aksesibilitas saya makin mudah dan cepat. Dengan begitu, pencapaian menuju kantor juga bisa tepat waktu dan tak perlu bercapai-capai kena macet," katanya lagi.

Maka, jelas bahwa akses tol merupakan kelebihan sekaligus selling point bagi pengembang. Hal yang sama juga berlaku untuk konsumen, akses tol merupakan salah satu poin penting yang sangat diperhatikan ketika ingin membeli rumah, selain faktor reputasi developer, konsep serta lokasi strategis perumahan tersebut.

Kailyas
January 28th, 2008, 01:27 PM
Info Proyek Real Estate atau Properti
28-01-2008 15:28:10
BSU Luncurkan
Apartemen Baru
di Kawasan
Rasuna Epicentrum

Direksi PT BSU tengah menjelaskan Maket The Wave kepada Artika Sari Devi, Mantan Putri Indonesia 2004


Apartemen baru yang diberi nama The Wave tersebut, akan terdiri dari sembilan tower (menara) dengan total 1900 unit hunian. Mengincar segmen kalangan menengah keatas, kisaran harga yang ditawarkan The Wave berkisar antara Rp 300 jutaan sampai Rp1 miliaran per unit.

PT Bakrie Swasakti Utama (salah satu anak usaha PT Bakrieland Development Tbk) kembali menghadirkan produk apartemen paling anyar dalam kawasan superblok Rasuna Epicentrum yang diberi nama The Wave.


Dalam kesempatan peluncuran apartemen The Wave yang mengambil tempat di Restoran Eat for Health, Direktur PT Bakrie Swasakti Utama, Wawan Dwi Guratno menyatakan, untuk pembangunan apartemen diatas lahan seluas 3,5 hektar tersebut rencananya akan dilakukan dalam dua tahap.

Untuk tahap pertama, akan dibangun terlebih dahulu sekitar 950 unit dengan menara setinggi 14 lantai. Adapun nilai investasi tahap ini, diperkirakan menelan investasi sebesar Rp 600 miliar. Sedangkan untuk pembangunan tahap kedua, Wawan menyatakan akan dilakukan secara paralel setelah melihat progress dari tahap pertama dan ditargetkan akan selesai dalam waktu empat tahun.

"Untuk tahap pertama pembangunan, kita rencanakan dapat dilaksanakan mulai bulan April 2008 mendatang. Sedangkan untuk penjualan, bulan Januari ini juga sudah mulai dilakukan pre-sales kepada calon pembeli," ucap Wawan saat peluncuran The Wave di Restoran Eat For Health, Jakarta, (17/1).

Repeat Buyers
Sementara itu, Ferry S. Supandji, Chief Marketing Officer BSU mengatakan, apartemen The Wave memang dikembangkan untuk membidik pasar kalangan menengah atas dengan kisaran harga yang terjangkau mulai dari Rp 300 jutaan hingga Rp 1 miliaran per unit.

Terkait dengan angka penjualan yang telah diraih, Ferry menyatakan telah ada segmented market yang dimiliki oleh BSU yang notabene kalangan ini adalah pelanggan tetap atau repeat buyers dari beberapa proyek hunian yang ada di superblok Rasuna Epicentrum.

"Jika dilihat dari data yang ada, kebanyakan pembeli dari proyek baru yang kita luncurkan ini merupakan repeat buyers, yang sebelumnya sudah memiliki unit apartemen lain dalam kawasan ini," ungkapnya lagi.

Menurut Ferry, kebanyakan pembeli tersebut tertarik dengan tampilan desain The Wave yang menerapkan konsep green architecture dengan banyaknya ruang-ruang terbuka hijau untuk penghuni.

"Dengan 70% dari luas total lahan apartemen ditujukan untuk ruang terbuka hijau, tentunya akan memberi suasana lingkungan yang menyegarkan dan alur sirkulasi cahaya dan udara yang baik bagi setiap penghuni apartemen ini. Selain itu, kami juga telah menyiapkan beberapa sumur resapan penampung limpahan air hujan, sebagai wujud kepedulian kami terhadap lingkungan," katanya lagi.

g4brielle
February 6th, 2008, 05:29 AM
ASIA PACIFIC OFFICE MARKET OVERVIEW | JANUARY | 2008
http://www.colliers.com/Content/Repositories/Base/Markets/HongKong/English/Market_Report/PDFs/Reg-Off-Q1-08.pdf
Jakarta

http://farm3.static.flickr.com/2172/2245075507_cfd12af0ab.jpg?v=0

http://farm3.static.flickr.com/2179/2245075605_5bb500f5b7.jpg?v=0


Prime office rents were largely firm during 4Q 2007 despite the availability of new supply in the marketplace.
The prevailing pattern of office absorption continued to be dominated by corporate expansions and tenants upgrading themselves to better quality buildings.
Despite a batch of new supply in the order of 329,426 sq m coming on line in 2008, prime office rentals are expected to remain firm due to the sustained demand from both local and multi-national companies.
Given the prevailing demand and supply fundamentals, the average prime office rentals are expected to edge up steadily by 2% during 2008.

http://farm3.static.flickr.com/2035/2245075667_aa0cd33aa1.jpg?v=0

Kailyas
February 11th, 2008, 09:45 AM
Info Proyek Real Estate atau Properti
04-02-2008 14:35:39
Ciputra World
Mulai Dibangun


JAKARTA - Megaproyek Ciputra World Jakarta tahap I milik Grup Ciputra mulai dibangun. Hal tersebut ditandai dengan dilakukannya pekerjaan modifikasi bagian substructure oleh PT Acset Indonusa sebagai kontraktor proyek tersebut. Ciputra World Jakarta tahap I dibangun di atas lahan seluas 5,5 hektare (ha) dengan investasi sekitar Rp 3 triliun.

Berlokasi di Jalan Prof Dr Satrio Kaveling 3 dan 5, Grup Ciputra menggunakan bendera PT Ciputra Property Tbk untuk membangun Ciputra World Jakarta. "Pada tahap I, kami akan membangun sejumlah bangunan properti dengan total luas bangunan mencapai 273 ribu m². Diharapkan, proyek tahap I ini akan selesai secara keseluruhan pada 2010," kata Candra Ciputra, direktur utama Ciputra Property di sela acara peresmian pembangunan proyek tersebut di Jakarta, kemarin.

Candra mengatakan, pada tahap I pihaknya akan membangun enam lantai pusat perbelanjaan, satu gedung apartemen dan apartemen servus 35 lantai, satu gedung hotel dan apartemen mewah 32 lantai, satu gedung perkantoran, dan lima lantai untuk areal parkir.

Menurut Candra, megaproyek ini akan menjadi flagship bagi Grup Ciputra di Kota Jakarta. Selain Acset sebagai kontraktor bangunannya, Grup Ciputra memercayakan sejumlah nama besar dibidang pembangunan properti komersial seperti RTKL Architects dari Amerika Serikat sebagai konsultan arsitek, Beca Caeter dari Selandia Baru sebagai konsultan mekanikal, Wiratman & Associates sebagai konsultan struktur, dan Reynolds & Partnership sebagai quantity surveyor.

Di tempat yang sama, Direktur Ciputra Property Artadinata Djangkar menambahkan, untuk pusat belanja, pihaknya akan menggunakan sistem sewa (leasing). Luas lahan komersial yang akan disewakan sebesar 80 ribu m² dengan harga sewa per m² per bulan sekitar Rp 400 ribu.

"Sedangkan untuk satu gedung yang terdiri atas apartemen hak milik (strata title) dan apartemen servis, akan dibangun 290 unit apartemen, dimana 140 unit apartemen yang akan dijual ke publik. Luas per m² berkisar 105 m² - 150 m² dengan harga jual mulai dari Rp 2 miliar per unit," ujar Artadinata.

Artadinata menjelaskan, apartemen servis akan dikelola sendiri oleh Grup Ciputra. Sementara untuk satu gedung yang menyatu antara hotel dan apartemen mewah, untuk hotel, akan terdiri atas 200 unit kamar. Dan, apartemen mewah yang akan dibangun sangat terbatas, hanya 80 unit. Luas per unit sekitar 400 m² dengan harga minimal per unit Rp 5 miliar.

"Kemudian, tahap II akan dibangun di atas lahan 1,4 ha dan berada di Jalan Prof Dr Satrio Kaveling 6. Untuk tahap III, berlokasi di Jalan Prof Dr Satrio Kaveling 11 di lahan seluas tiga hektare. Secara keseluruhan, total investasi tahap I, II, dan III mencapai Rp 7 triliun. Proyek ini akan rampung secara keseluruhan pada 2012," jelas Artadinata.

Kirim Ke Teman Print

AceN
February 11th, 2008, 02:22 PM
^ Udah pernah di post.... :doh::doh:

AceN
February 13th, 2008, 05:17 AM
Pemerintah Tetapkan Lahan Tidur BUMN Jadi Rusuna


Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah menetapkan lahan `tidur` milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) difungsikan sebagai lokasi pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dan rumah susun sederhana milik (rusunami).

"Jadi kita sepakat untuk memanfaatkan lahan-lahan milik BUMN yang tidak digunakan untuk kegiatan `core bussines`-nya, untuk lokasi rusunawa dan rusunami," kata Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) M Yusuf Asy`ari di Jakarta, Selasa.

Berbicara usai menghadiri rapat tentang rusuna yang dipimpin Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di Kantor Wapres, ia mengatakan, pemerintah akan mendesak Kementerian Negera BUMN mengkoordinir seluruh BUMN guna `merelakan` lahan `tidurnya` sebagai lokasi pembangunan rusuna.

"Misalnya, lahan milik PT Angkasa Pura seluas 12 hektare dan lahan milik Perum Bulog di Rawasari, Jakarta Pusat," katanya.

Pada 2008, pemerintah menargetkan pembangunan 88 unit rusun di seluruh Indonesia.

Target ini adalah bagian dari rencana pemerintah yang sebelumnya telah mencanangkan pembangunan rusun 1000 tower secara nasional.

Dari jumlah itu, 500 unit akan dibangun di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Sedangkan 30 persen dari 500 tower itu akan dibangun di luar Jabodetabek, tapi masih di Pulau Jawa seperti Bandung dan Surabaya.

Sisanya tersebar di luar Jawa, seperti Batam, tambah Yusuf. Hingga saat ini, pemerintah telah mengindetifikasi 169 tower rusun akan dibangun pengembang swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) secara bertahap.

Pada tahap awal, ada 14 tower rusun di kawasan Kelapa Gading dibangun oleh PT Tiara Metropolitan Jaya yang bekerja sama dengan PT Pembangunan Perumahan.

Tiga tower lainnya dibangun oleh PT Bakrieland Development Tbk di Pulogebang.

Hanya saja, tambah Menpera, pemerintah dan pengembang masih terbentur masalah lahan dan tidak semua daerah memberikan kemudahan atau insentif bagi program tersebut.

"Misalnya, DKI Jakarta memberikan kemudahan untuk koefisien lantai bangunan (KLB). Tidak semua daerah bisa begitu aspiratif mendukung program rusuna," katanya.(*)

Kailyas
February 20th, 2008, 02:34 PM
Info Proyek Real Estate atau Properti
20-02-2008 13:56:09
Oakwood Premier
Resmi Beroperasi


BIDIK EKSPATRIAT
JAKARTA - Proyek apartemen senilai Rp 600 miliar, Oakwood Premier Cozmo Jakarta, resmi beroperasi. Berlokasi di Jalan Lingkar Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Oakwood Premier dibangun di atas lahan seluas 5.458 m² dengan total luas bangunan sekitar 51.000 m². Oakwood Premier dikembangkan oleh PT Cozmo International.

"Apartemen ini terbagi menjadi dua klasifikasi, yakni investasi penuh atau apartemen servis dan owner occupied (dapat dihuni sendiri, red). Total unit apartemennya 250 unit apartemen, dimana 205 unit merupakan apartemen servis dan 45 unit owner occupied," kata Lily Phang, finance and administration manager Cozmo International.

Lily mengatakan, Oakwood Premier dibangun 43 lantai dan mulai dilakukan pemancangan tiang (ground breaking) pada Juni 2005. Saat ini, 99% unit apartemennya telah terjual habis (sold out). Pada awal dilepas kepasaran, harga jual per m² apartemen ini hanya Rp 16 juta, kini naik menjadi Rp 24 juta per m². Luas per unit apartemen berkisar 70 m²-416 m².

Menurut Lily, bagi konsumen yang memilih pola apartemen servis, pihaknya memberikan rental guaranteed sebesar 7% per tahun dalam dua tahun pertama. Namun, imbuh dia, konsumen hanya memiliki hak menghuni selama 14 hari dalam dua tahun.

Di tempat yang sama, Direktur Penjualan dan Pemasaran Oakwood Premier Cozmo Jakarta Lina Sugiarto menambahkan, Oakwood Premier Cozmo adalah salah satu brand apartemen servis mewah yang ditawarkan oleh Oakwood Asia Pasifik. "Ini merupakan brand Oakwood pertama di Indonesia," ujar Lina.

Lina menjelaskan, khusus apartemen servis yang ada di Oakwood Premier Cozmo Jakarta, pihaknya 99% membidik pasar ekspatriat. Alasannya, lokasi apartemen ini berada di kawasan Mega Kuningan yang merupakan kawasan antar bangsa atau para diplomat asing berkantor. Kemudian, tarif harga menginap di apartemen ini ditetapkan dalam mata uang dolar AS.

"Per malam, apartemen servis ini menetapkan tarif menginap sebesar US$ 220-US$ 460. Sedangkan bagi konsumen yang ingin menginap dalam kurun satu bulan langsung, tarifnya berkisar US$ 2.800-US$ 4.600 per bulan," jelas Lina.

Oakwood Premier Cozmo Jakarta merupakan apartemen full furnished. Apartemen ini memiliki satu hingga tiga kamar tidur yang elegan serta unit griya tawang (penthouse) yang memiliki empat kamar tidur. Kemudian, semua unit apartemen dilengkapi dengan dapur modern, dua set LCD TV, DVD home theater, washer, stove, microwave, toaster, rice cooker, coffe maker, lemari es, dan peralatan masak dan makan.

materialistus
February 27th, 2008, 01:48 AM
Too much of a good thing will be disastrous for the retail sector
Business News - Tuesday, February 26, 2008

Debnath Guharoy, Consultant

The runaway development of shopping malls in Jakarta is living proof of reckless greed, a monumental disaster in the offing. It is a good example of how poor information, bad planning and a lack of common sense is already hurting, and will continue to hurt, investors and workers alike.

As always, it is the people at large who will eventually pay the price for the folly of a few.

Anybody who has wandered into one of the shiny new malls in Jakarta will have been surprised by the eerie quiet at midday.

Where is the midday crowd, you wonder? How do the owners pay the staff for waiting patiently for that elusive customer? How will these shiny new shops get returns on their investments? How will the banks recover their loans?

Of all Jakartans 14 years of age and older, 43 percent have been to a shopping mall in the last month. Thirty-four percent have actually spent some money at the mall.

These numbers reflect the collective weight of Jakarta's affluent, its middle class and some of the less privileged. Significantly big, both in terms of footfall and spending. But there is a limit to how many malls they can visit or how much money they can spend.

Not surprisingly, there is no dramatic surge in mall visitation in recent years, with inflationary pressures and rising prices keeping many in the middle class at home. The kind of surge in mall development that Jakarta is going to witness in the next 24 months will overwhelm many, but will "underwhelm" the shopper.

Fourteen new malls, with an estimated floor space of some 600,000 square meters, are mushrooming right now. For whom? Like most of Indonesia's top 20 cities, the middle class in Jakarta isn't really growing and any assumptions of expansion based on population growth are simplistic and inaccurate.

The reality is quite the contrary, in fact.

Developers, bankers and builders are putting up shopping malls as if the country is in the middle of an economic boom. "Build and they will come." That mantra may work in Dubai, an oasis among the rather bland cities in its neighborhood.

But it cannot work here. It is unlikely that Jakarta is going to become a shopper's paradise for the region, in competition with Singapore, anytime soon. Depending on Jakartans to fill the empty spaces or aiming to attract shoppers from the other cities of Indonesia is wishful thinking.

These conclusions are based on Roy Morgan Single Source, the country's largest syndicated survey with over 27,000 Indonesian respondents annually, projected to reflect almost 90 percent of the population over the age of 14. That is a universe of 140 million people. The results are updated every 90 days but the opinions expressed here are my own.

The prognosis isn't difficult to construct. The developers are going to be hit hard. Distress sales will bring down revenues from existing malls. Banks who have financed some of these mammoth new projects will find themselves unwilling owners of real estate.

As always, they will aim to recover those losses from their other customers, big and small. Big retailers and franchise-owners will see smaller returns from each outlet they currently own and feel pressured to open in the new malls to protect their overall market share.

Small retailers hoping to win from their mere presence in a glitzy new mall will suffer from sparse traffic. Many of the new retail jobs created will wither away in time, creating anguish among families. The shopping mall "pie" simply isn't growing and slicing the same one up in even smaller pieces is going to leave a lot of red on the balance sheet. It won't be ketchup.

Why does this kind of self-inflicted malaise occur in Indonesia? Whether it is developers, retailers or bankers, there is an amazing lack of maturity among decision-makers.

While some industries have their own associations, very few of them are effective. This appears to be true of industries across the spectrum.

The utter lack of appropriate data, the misplaced over-confidence and the scant regard for basic marketing discipline are the primary culprits.

There is no advantage in jumping off a cliff ill-equipped, either individually or one after the other.

If industry association meetings are forums to protect vested interests and spread disinformation to confuse the competition instead of being the industry platform to collate and share hard data, experiences and concerns, the immaturity of individuals at the helm will inflict pain not only upon themselves but also upon their associates and society at large.

Without intellectual maturity, without commercial discipline, every type of business is vulnerable -- not just the retail sector. If an essential resource for a successful business is reliable information, not misinformation or disinformation, what does your association offer? Then ask yourself what you have done for it lately.

rilham2new
February 27th, 2008, 06:28 AM
Move this to trash bin please .... Thanx ..

It is nothing about the development.... GEEEEZZZZ,,, WE ALREADY HAVE PROPERTY SECTOR-RELATED THREAD..

So, please (in million times) not to open even such annoying thread :ohno:

teddybear
February 27th, 2008, 07:11 AM
^It's an interesting article. Probably needs to be moved to Warteg section. I am interested to hear what is the reality on the conditions of many malls that have been constructed recently. Both in Jakarta and Surabaya. Last time when I went back visiting I heard that many malls in Jakarta suffer from lack of visitors. Is that true? I believe the condition is not far different in Surabaya.

paw25694
February 27th, 2008, 07:11 AM
stop making one-thread-one-news please!

fievelski
February 27th, 2008, 08:01 AM
Too much of a good thing will be disastrous for the retail sector
Business News - Tuesday, February 26, 2008

Debnath Guharoy, Consultant

The runaway development of shopping malls in Jakarta is living proof of reckless greed, a monumental disaster in the offing. It is a good example of how poor information, bad planning and a lack of common sense is already hurting, and will continue to hurt, investors and workers alike.

As always, it is the people at large who will eventually pay the price for the folly of a few.

Anybody who has wandered into one of the shiny new malls in Jakarta will have been surprised by the eerie quiet at midday.

Where is the midday crowd, you wonder? How do the owners pay the staff for waiting patiently for that elusive customer? How will these shiny new shops get returns on their investments? How will the banks recover their loans?

Of all Jakartans 14 years of age and older, 43 percent have been to a shopping mall in the last month. Thirty-four percent have actually spent some money at the mall.

These numbers reflect the collective weight of Jakarta's affluent, its middle class and some of the less privileged. Significantly big, both in terms of footfall and spending. But there is a limit to how many malls they can visit or how much money they can spend.

Not surprisingly, there is no dramatic surge in mall visitation in recent years, with inflationary pressures and rising prices keeping many in the middle class at home. The kind of surge in mall development that Jakarta is going to witness in the next 24 months will overwhelm many, but will "underwhelm" the shopper.

Fourteen new malls, with an estimated floor space of some 600,000 square meters, are mushrooming right now. For whom? Like most of Indonesia's top 20 cities, the middle class in Jakarta isn't really growing and any assumptions of expansion based on population growth are simplistic and inaccurate.

The reality is quite the contrary, in fact.

Developers, bankers and builders are putting up shopping malls as if the country is in the middle of an economic boom. "Build and they will come." That mantra may work in Dubai, an oasis among the rather bland cities in its neighborhood.

But it cannot work here. It is unlikely that Jakarta is going to become a shopper's paradise for the region, in competition with Singapore, anytime soon. Depending on Jakartans to fill the empty spaces or aiming to attract shoppers from the other cities of Indonesia is wishful thinking.

These conclusions are based on Roy Morgan Single Source, the country's largest syndicated survey with over 27,000 Indonesian respondents annually, projected to reflect almost 90 percent of the population over the age of 14. That is a universe of 140 million people. The results are updated every 90 days but the opinions expressed here are my own.

The prognosis isn't difficult to construct. The developers are going to be hit hard. Distress sales will bring down revenues from existing malls. Banks who have financed some of these mammoth new projects will find themselves unwilling owners of real estate.

As always, they will aim to recover those losses from their other customers, big and small. Big retailers and franchise-owners will see smaller returns from each outlet they currently own and feel pressured to open in the new malls to protect their overall market share.

Small retailers hoping to win from their mere presence in a glitzy new mall will suffer from sparse traffic. Many of the new retail jobs created will wither away in time, creating anguish among families. The shopping mall "pie" simply isn't growing and slicing the same one up in even smaller pieces is going to leave a lot of red on the balance sheet. It won't be ketchup.

Why does this kind of self-inflicted malaise occur in Indonesia? Whether it is developers, retailers or bankers, there is an amazing lack of maturity among decision-makers.

While some industries have their own associations, very few of them are effective. This appears to be true of industries across the spectrum.

The utter lack of appropriate data, the misplaced over-confidence and the scant regard for basic marketing discipline are the primary culprits.

There is no advantage in jumping off a cliff ill-equipped, either individually or one after the other.

If industry association meetings are forums to protect vested interests and spread disinformation to confuse the competition instead of being the industry platform to collate and share hard data, experiences and concerns, the immaturity of individuals at the helm will inflict pain not only upon themselves but also upon their associates and society at large.

Without intellectual maturity, without commercial discipline, every type of business is vulnerable -- not just the retail sector. If an essential resource for a successful business is reliable information, not misinformation or disinformation, what does your association offer? Then ask yourself what you have done for it lately.

The article is quite true. We Asians have this tendency to add up additional retail spaces where existing retail spaces are sufficient enough for us and our population could not really sustain the industry and at the end all we got is excessive retail spaces to cater to small fraction of us only.

Kailyas
February 27th, 2008, 10:16 AM
Ciputra Gandeng Ascott Kelola Apartemen Mewah
Rabu, 27 Pebruari 2008 | 14:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Ciputra Adigraha menggandeng pengelola serviced residence terbesar, Ascott Group, untuk mengelola apartemen mewah Somerset Kuningan. Dalam kontrak yang diteken kemarin, Ascott baru mengelola 153 unit dari rencana 706 unit ketika Somerset mulai beroperasi.

Direktur Ciputra Property Tbk. Artadinata Djangkar mengatakan, kerja sama ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya Ciputra bekerja sama di Somerset Grand Citra Serviced Residence.

"Reputasi Ascott tak diragukan lagi, sebagai salah satu pengelola serviced residence kelas dunia yang terbaik," ujarnya seperti dalam rilis yang diterima Tempo, Rabu (27/2).

Deputy CEO Ascott Group Gerald Lee menuturkan kerja sama dapat memperkuat posisi Ascott sebagai pemimpin pasar di Indonesia. "Menimbulkan sinergi dalalm operasional dan mendapat manfaat ekonomi dari kegiatan pemasaran dan cross-selling," kata dia. Lee menambahkan, sejak beroperasi satu dekade lalu, Ascott telah berhasil membangun eksistensi yang kuat di Indonesia.

Somerset merupakan bagian dari pengembangan Ciputra World Jakarta dengan konsep hunian campur di lahan seluas 10 hektare. Properti komersial ini akan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan mewah, apartemen strata title dan serviced residences, gedung perkantoran, dan hotel bintang lima diamond dan luxury residence. Pembangunannya dilakukan dalam beberapa tahap dan didanai initial public offering (IPO) yang dilaksanakan 7 November lalu.

l RIEKA RAHADIANA

materialistus
February 27th, 2008, 02:11 PM
Move this to trash bin please .... Thanx ..

It is nothing about the development.... GEEEEZZZZ,,, WE ALREADY HAVE PROPERTY SECTOR-RELATED THREAD..

So, please (in million times) not to open even such annoying thread :ohno:

hmmhhh.... in what term is this news 'annoying' ? for many business people and students of economy/development, this is one of those essential analysis.

despite the technical glitches aside, which most of the time from my part, but always been rectified by moderators (that's what they're there for), i think we need reality checks, not some made up double digit wishful thinking growth figure.

Look, china has the same problems, just read some international publications. Some shiny new malls lies empty in the heart of Beijing & Shanghai despite the mercedes & bmws tails bumper to bumper for miles outside.

But the chinese problem is that the market is not ready as in the people prefer to keep/reinvest their newly acquired wealth than spending it. Ie, their consumerist pattern not yet sophisticated. In Indonesia, the problem is that there's not enough money to go around to be spent recklessly in those gleaming supermalls.

comprendez vous? or do i give you 'annoying' headache & nightmare ?

Oh, and you guys are not 12 anymore. Grow up!

Kailyas
March 10th, 2008, 07:50 AM
APG Garap The View


INVESTASI RP 800 MILIAR
JAKARTA - Agung Podomoro Group (APG) akan menggarap proyek The Pakubuwono View di dalam kompleks apartemen The Pakubuwono Development yang berlokasi di Jalan Pakubuwono 6, Jakarta Selatan. The View merupakan proyek lanjutan setelah The Pakubuwono Residences. APG mengucurkan dana hingga Rp 800 miliar untuk proyek tersebut.

Setelah The View selesai, rencananya APG juga akan menggarap The Pakubuwono Signature. "The View dibangun di atas lahan seluas 14.309 m² dengan total luas bangunan sekitar 96.029 m². Pekerjaan konstruksinya akan mulai dilaksanakan April 2008. Namun, pekerjaan pemancangan tiang pertama telah dilakukan pada 10 Desember 2007," kata Gatot Setiadi, general manager marketing communication The Pakubuwono Development.

The View akan dibangun dua menara apartemen masing-masing 35 lantai dan 32 lantai, dengan jumlah unit apartemen mencapai 382 unit. Luas per unit apartemen berkisar 140 m² - 180 m² (nett) dengan harga jual per unit Rp 2,5 miliar - Rp 3,5 miliar

Gatot mengatakan, secara resmi proyek ini akan diperkenalkan kepada publik (launching) pada awal Februari 2008. Proyek ini akan selesai dibangun secara keseluruhan pada Juni 2010, sementara serah terima kunci awal akan dilakukan September 2010.

Menurut Gatot, pembangunan The View akan menggunakan bendera Bona Widjaya Gemilang. Dia menjelaskan, walaupun belum dipasarkan secara resmi, namun hingga kini telah terjual sekitar 120 unit.

Sebelumnya, imbuh Gatot, APG sukses membangun dan memasarkan The Pakubuwono Residences. The Pakubuwono Residences dibangun di atas lahan seluas 4,2 hektare sebanyak lima menara masing-masing 24 lantai. Total unit apartemen yang dibangun sebanyak 639 unit dengan luas per unit 151 m² - 270 m² (nett). Harga jual per unit The Pakubuwono Residences saat itu Rp 2,5 miliar - Rp 5 miliar. "Kini telah terjual 95%," ujar Gatot.

PT Airmas Asri, PT Davy Sukamta & Partner, PT Hantaran Prima Mandiri, PT EC Harris, PT Jaya Construction Management, dan PT Trocon Indah Perkasa dipercaya APG sebagai arsitek bangunan, konsultan struktur, konsultan mekanik dan elektrik, quantity surveyor, manager konstruksi, dan kontraktor tiang pancang di proyek tersebut.

Gatot menambahkan, setelah The View dibangun, APG akan membangun The Pakubuwono Signature. "Proyek ini akan menjadi mahakarya (masterpiece) dari APG. Luas lahan yang disiapkan mencapai 1,2 hektare. Namun maaf, saya belum bisa bicara banyak mengenai proyek ini, pasalnya masih dalam tahap pematangan desain," jelas Gatot.

Kirim Ke Teman Print

AceN
March 10th, 2008, 08:22 AM
^^ Itu berita jaman kapannnnnnnnnnnnn............... :nuts:

g4brielle
March 10th, 2008, 03:48 PM
^^ gw jgn dimarahin ya..
===================

http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=156836
Jum'at, 25 Januari 2008 20:06 WIB
Gapuraprima Jajaki Gandeng ILIC Kuwait
Reporter : Dwi Tupani

JAKARTA--MEDIA: Perusahaan properti, PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) akan melakukan kerjasama dengan International Leasing & Invesment Company (ILIC) asal Kuwait senilai US$100 juta.

Kerjasama dalam bentuk pendanaan tersebut dilakukan untuk pengembangan proyek properti perseroan pada 2008.

"Kerjasama itu masih dalam tahap pembahasan dengan jajaran direksi perseroan, dan itu masih perlu waktu. Jika sudah ditandatangani rencananya dana tersebut akan disalurkan ke Gapuraprima Group atau ke PT Perdana Gapuraprima Tbk," ujar Corporate Secretary PT Perdana Gapuraprima Rosihan Saad dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (25/1).

Menurut Rosihan, selain ILIC, perseroan juga tengah menjajaki kerjasama dengan Dubai Investment Group dan Amanah Raya Berhard. Perusahaan-perusahaan asing tersebut memiliki 70% saham di GPRA melalui anak perusahaannya.

Keputusan kerjasama tersebut, kata Rosihan, masih dibahas di jajaran direksi perseroan. Jika sudah final, maka hasilnya akan dilaporkan ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). "Setelah itu kita akan adakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)," jelas dia.

Sebelumnya, Direktur PT Perdana Gapuraprima Arief Aryanto menyatakan, perseroan tengah mengkaji sumber pendanaan dari ILIC untuk pengembangan proyek perseroan seperti pembangunan perkantoran pada 2008. Ia optimis perusahaan asal Kuwait tersebut juga berminat mendanai sejumlah proyek lainnya.

Selain dari ILIC, sumber pendanaan sejumlah proyek perseroan juga akan menggunakan kas internal perseroan dan pinjaman bank. Selain itu, perseroan berencana menerbitkan obligasi senilai Rp500 miliar pada Maret 2008.

Seperti diketahui, GPRA adalah perusahaan properti pengembang The Belleza Permata Hijau, The Bellagio Residence, Bellagio Mansion, dan Depok Maharaja. Dalam waktu dekat, perseroan berencana membangun proyek terbaru yang akan The Crowne City di Semanggi senilai Rp1,5 triliun. Proyek tersebut akan dilakukan secara bertahap pada 2008 hingga 2011. (DW/OL-2)


===============================================
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/bursa/1id39705.html
Senin, 21/01/2008
3 Investor asing siap danai proyek Gapuraprima

* Cetak

JAKARTA: Tiga investor asing yaitu International Leasing & Investment Company (ILIC)-Kuwait, Dubai Investment Group, dan Amanah Raya Berhard siap membiayai proyek PT Perdana Gapuraprima Tbk, seiring dengan masuknya ketiga investor itu sebagai pemegang saham perseroan.

Ketiga investor itu menguasai 70% dari total saham yang dilepas ke publik pada penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) perseroan beberapa waktu lalu.

Menurut rencana, proyek terbesar yang akan dikerjakan Perdana Gapuraprima tahun ini adalah pembangunan The Crowne City senilai Rp1 triliun-Rp1,5 triliun.�

Direktur Perdana Gapuraprima Arief Aryanto mengatakan perseroan masih mengkaji sumber pendanaan untuk pembangunan gedung perkantoran itu. Namun, lanjut Arief, ketiga investor itu kemungkinan besar siap mendanai proyek perseroan.

"Kami akan mengalokasikan sebagian dana dari investor dan kas internal. Jika dipandang perlu, kami juga akan meminjam ke bank," ujarnya ketika dihubungi kemarin.

ILIC, perusahaan yang dimiliki Islamic Development Bank itu, kemungkinan besar menginvestasikan dana terbesar melalui Gapuraprima. Biasanya, ILIC mengucurkan dana US$100 juta melalui perusahaan yang masuk portofolio investasinya.

Corporate Secretary Perdana Gapuraprima Rosihan Saad menambahkan sebagai mitra strategis, investor itu juga berkomitmen sebagai penasihat, terutama dalam hal pembiayaan langsung.��

"Jika perseroan membutuhkan dana, ketiga investor tersebut siap mencari pemodal di Timur Tengah," ujarnya setelah rapat umum pemegang saham (RUPS), kemarin.

RUPS menyetujui beberapa hal a.l. penempatan Asisten Presiden Direktur ILIC Ahmed Fouad Abdel Rahman sebagai Komisaris Gapuraprima.

Selain itu, pemegang saham juga menyetujui rencana perseroan menerbitkan obligasi senilai Rp250 miliar. Menurut rencana, 47% atau sekitar Rp118 miliar dari dana itu digunakan untuk membiayai kembali kredit Bank dan selebihnya digunakan untuk membiayai proyek baru.

Arief menambahkan saat ini perseroan dalam tahap pembangunan tower keempat apartemen Belezza dan persiapan pembangunan tower dua Kebagusan City.

Menurut Rosihan, animo masyarakat sangat besar terhadap proyek itu sebab selain harga yang terjangkau karena mengikuti program pemerintah Rp4 juta per m2, masyarakat juga mendapat kemudahan uang muka dan subsidi bunga. (06)���

Bisnis Indonesia

Kailyas
March 12th, 2008, 10:09 AM
Info Proyek Real Estate atau Properti
06-03-2008 14:50:07
Gapura Sukses Pasarkan
Kebagusan City


JAKARTA - PT Perdana Gapuraprima Tbk sukses memasarkan apartemen murah, Kebagusan City. Ini terlihat dari banyaknya minat masyarakat untuk memiliki unit apartemen tersebut.

"Dari 500 unit apartemen yang kami pasarkan pada tahap awal untuk satu menara, hingga kini telah terjual sekitar 70%. Bagi kami, ini sebuah langkah yang cukup menggembirakan. Apartemen ini ternyata direspon masyarakat," kata Assosiate Director, Corporate Finance Gapuraprima Arvin Iskandar.

Arvin mengatakan, serah terima kunci awal apartemen ini akan dilakukan akhir 2008. Ada beberapa tipe dengan ukuran luas per unit yang ditawarkan. Sebut saja tipe Studio dengan luas per unit 19,17 m - 22,52 m, tipe satu kamar tidur luas 22,6 m - 26,67 m, dan tipe dua kamar tidur ukuran 35,25 m - 53,34 m. Harga jual per unit paling murah dibanderol seharga Rp 96 juta.

Apartemen tahap awal ini berlokasi di Jalan Baung, Kebagusan, Jakarta Selatan, dan dibangun di atas lahan seluas 1,5 hektare (ha) dari total lahan keseluruhan 10 ha yang disiapkan. Total menara yang akan dibangun di Kebagusan City mencapai 17 menara dengan jumlah unit apartemen yang dibangun sekitar 15 ribu.

Sebenarnya, pada tahap awal, akan dibangun dua menara apartemen masing-masing 20 lantai dengan investasi Rp 200 miliar. Namun, saat ini baru satu menara yang dipasarkan.

"Dana Rp 200 miliar untuk membangun apartemen ini berasal dari dana pelepasan saham perseroan belum lama ini. Saat ini, proses pekerjaan struktur hampir selesai dikerjakan dan memasuki tahap konstruksi bangunan," ujar Arvin.

Guna terus meningkatkan kinerja penjualan, ujar Arvin, pihaknya menggandeng pihak perbankan sebagai fasilitator penyedia kredit pemilikan apartemen (KPA) bagi konsumen. Perbankan yang digandeng Gapuraprima adalah Bank Mandiri, BTN, Bank Niaga, BII, Bank NISP, Bank Mega, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin.

Sebelumnya, Rosihan Saad, corporate secretary Gapuraprima kepada Investor Daily mengungkapkan, Gapuraprima akan mencari pinjaman untuk pengembangan Kebagusan City secara keseluruhan. Pembangunan keseluruhan Kebagusan City ditaksir membutuhkan dana sedikitnya Rp 1 triliun.

"Pinjaman tersebut merupakan salah satu bentuk alternatif pendanaan. Selain pinjaman, dana pembangunan tersebut juga berasal dari dana-dana presale Kebagusan City dan pelepasan saham Gapuraprima. Biasanya untuk mengembangkan proyek, pengembang sekitar 30% menggunakan dana dari bank," kata Rosihan.

Namun, Rosihan belum bisa menyebutkan berapa nominal pinjamannya. Sekedar asumsi, pengembang biasanya menggunakan dana pinjaman dari perbankan atau pihak lain sekitar 30% dari nilai proyek. Jika nilai proyek Kebagusan City Rp 1 triliun, diperkirakan Gapuraprima akan meminjam dana sebesar Rp 300 miliar untuk proyek tersebut.

"Kami juga belum bisa memberitahukan kepada siapa kami akan meminjam dana tersebut. Selain itu, dalam waktu dekat ini juga akan masuk lagi investor asing, selain investor asal Timur Tengah, yang akan membeli saham Gapuraprima. Mereka membeli saham kami bukan berdasarkan saham yang sudah ada di pasar sekunder saat ini, tapi mereka membeli dari pemegang saham strategis yang lain. Ibarat kata langsung secara corporate by corporate," ujar Rosihan.

Dengan dana investasi Rp 1 triliun (sebanding dengan market cap perseroan yang sebesar Rp 1 triliun, red) , perseroan berharap total penjualan dari Kebagusan City bisa mencapai Rp 1,7 triliun dan membukukan keuntungan kotor yang sangat tinggi 70,0%. Kebagusan City diprediksi akan memicu pertumbuhan perseroan untuk 10 tahun ke depan.

ace4
March 15th, 2008, 12:12 PM
Sabtu, 15 Maret 2008 14:29 WIB
Agung Podomoro Targetkan Apartemen Tebet Raup Rp400 M
JAKARTA--MI: PT Intersatria Budi Karya Pratama (IBKP), salah satu anak perusahaan Agung Podomoro Group, menargetkan penjualan apartemennya yang berlokasi di Tebet, Jakarta, The Lavande Residences, mencapai Rp400 miliar.

"Hingga saat ini penjualannya sudah mencapai 50% dan nilai total penjualan ditargetkan mencapai Rp400 miliar," kata CEO IBKP Budi Yanto Lusli, seusai penandatangan MoU (Memorandum of Understanding) dengan PT Pulau Intan Baja Perkasa Kontruksi (PIBPK) di Jakarta, Sabtu (15/3).

Menurut Budi, pembangunan proyek apartemen, The Lavande Residences, di areal seluas 1,5 hektare yang berlokasi di Tebet Jakarta Selatan ini total investasi mencapai Rp300 miliar.

"Dana investasi ini sebagian besar dari internal yang mencapai sebesar 85% dan sisanya dari utang," katanya.

Dia juga mengungkapkan bahwa target penyelesaian bangunan ini pada Oktober 2009. "Target pembangunan fisik selama 550 hari (18 bulan) atau hingga akhir Agustus 2009, tetapi kita beri spare (kelonggaran) waktu satu bulan dan siap dihuni pada Oktober," tambahnya.

Budi mengatakan, The Lavande Residences ini merupakan apertemen pertama di sepanjang Jalan Supomo, Tebet, Jakarta Selatan, dengan dua menara setinggi 23 lantai dan 30 lantai.

"Letaknya strategis yang merupakan kawasan terus berkembang sebagai pusat bisnis dan dekat ke pusat bisnis lainnya telah membuat orang di pinggiran Jakarta kembali ke tengah kota, dan ini yang membuat daya tarik

apartemen ini," ungkapnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, The Lavande dikembangkan untuk membidik pasar menengah atas antara Rp300 juta hingga Rp1 miliar.

The Lavande sendiri ditetapkan dengan harga berkisar Rp9,5 juta hingga Rp10,5 juta per meter persegi untuk tipe kecil atau Rp300 jutaan. Sementara itu, untuk yang tiga kamar berharga berkisar Rp10 juta hingga Rp11,5 juta per meter persegi.

Dalam MoU yang ditandatangani Sabtu ini, IBKP telah menyerahkan kontruksi bangunan The Lavande kepada PIBPK. "Dengan PIBPK, kami optimistis The Lavande akan menjadi hunian yang nyaman bagi keluarga dengan kontruksi bangunan yang berkualitas tinggi sesuai standar internasional," jelasnya.

Sedangkan Direktur PIBPK Augustinus Setijanto, dalam pengerjaan proyek ini akan menggunakan teknologi dan manajemen yang baik, sehingga bangunannya layak huni secara aman, nyaman dan kukuh.

PIBPK sebelumnya telah menangani proyek gedung tingkat, seperti Mediterania Garden Residance 2 Jakarta, Modern Golf Apartement, Star City, Kelapagading Square, French Walk Residances - Jakarta, Hampton Park - Jakarta, The Boulevard - Jakarta, Novotel Hotel - Balikpapan, Mercure Hotel - Surabaya, Aston Hotel - Samarinda, Drand Pasundan Hotel - Bandung, Balikpapan Superblok, dan E-walk Balikpapan. (Ant/OL-03)

http://www.mediaindonesia.com/

ace4
March 15th, 2008, 12:32 PM
Sabtu, 15 Maret 2008 16:23 WIB
Penjualan Lippo Cikarang Naik 40%
JAKARTA--MI: Penjualan properti PT Lippo Cikarang Tbk selama Januari dan Februari 2008 naik hingga 40% atau mencapai Rp70 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu dan prestasi ini dianggap sesuai target penjualan.

"Angka Rp70 miliar tersebut disumbangkan sebanyak 50% dari sektor residensial (perumahan), 15% dari sektor komersial (ruko), sedangkan 35% dari sektor lahan industri," kata General Manager Lippo Cikarang Endang Sutrisna di Cikarang, Jawa Barat, Sabtu (15/3).

"Kendati terjadi kenaikan harga produk properti Lippo Cikarang antara 5%-8%, namun animo masyarakat untuk membeli tetap tinggi karena mereka yang bekerja di sekitar kawasan industri Cikarang lebih suka membeli rumah di sini," kata dia.

Hal tersebut dikemukakan Endang Sutrisna di sela-sela acara 'Easter Egg Celebration' yang diselenggarakan di Kantor Pemasaran Gallery Lippo Cikarang.

"Faktor kemacetan jalan, biaya tol, dan biaya bensin membuat para karyawan yang bekerja di industri kawasan Cikarang memilih membeli rumah di Lippo Cikarang," kata Endang.

Dia mengatakan bahwa beberapa faktor nampaknya turut mendukung penjualan produk properti Lippo Cikarang, antara lain fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap di kawasan perumahan tersebut.

"Kami menargetkan dapat menjual antara 800-1.000 unit rumah dan ruko hingga akhir 2008," kata dia.

Menurut Endang Sutrisna, untuk menyambut animo para pembeli perumahan tersebut maka pada hari Sabtu (15/3) pihak Lippo Cikarang menawarkan paket promosi berupa penawaran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 6,99% fixed dua tahun dari Bank Mandiri dan Bank BNI. Sementara untuk pembelian Ruko Robson Square, pembeli mendapat hadiah

langsung sepeda motor. (Ant/OL-03)

http://www.mediaindonesia.com/

AceN
March 16th, 2008, 07:39 PM
^^ gw jgn dimarahin ya..


ga donk.masa kaka ade marahan ? :tongue2: :D

Kailyas
March 17th, 2008, 11:43 AM
Info Proyek Real Estate atau Properti
14-03-2008 17:11:21
Aryaduta Bangun Hotel Resor
di Kemang Village


SENILAI US$ 100 JUTA

JAKARTA - Aryaduta Hotels & Resorts, operator hotel dan resor Indonesia, menandatangani kesepakatan kerja sama dengan PT Lippo Karawaci Tbk untuk membangun hotel resor bintang lima senilai US$ 100 juta di Kemang Village, Jakarta.

"Proyek ini merupakan proyek nasional Aryaduta ke-12 dan akan menjadi flagship property. Pekerjaan konstruksinya diharapkan rampung pada akhir 2009," kata Direktur Group The Aryaduta Hotels and Resorts Juergen Fischer, usai acara penandatanganan tersebut di Jakarta, baru-baru ini.

Penandatanganan dilakukan Fischer bersama Senior Executive Lippo Group Gordon Benton, dan disaksikan pula oleh Direktur Kemang Village Jopy Rusli dan Marketing Director Kemang Village Jessica Quantero.

Jopi Rusli menambahkan, bentuk kerjasama tersebut murni berupa investasi US$ 100 juta dari Aryaduta Hotels untuk pembangunan hotelnya, sehingga kepemilikan hotel seluruhnya akan berada di pihak Aryaduta.

"Jadi, dengan kerja sama ini, bukan berarti Aryaduta akan punya saham di Kemang Village. Tapi, mereka nanti akan memiliki dan mengoperasikan sendiri hotel Aryaduta di Kemang Village. Hal ini dimungkinkan karena baik Aryaduta Hotels dan Kemang Village sama-sama bagian dari kelompok bisnis Lippo," kata Jopi Rusli.

Menurut Fischer, hotel resor seluas 85 ribu m² tersebut nantinya akan dibangun 18 lantai dengan total 350 kamar suites. Dia menjelaskan, kelompok The Aryaduta Hotels & Resorts telah membuat rencana ekspansi kedepan dengan membangun lagi 15 properti di Jakarta, Surabaya, Bogor, Semarang, dan Bali.

"Properti tersebut akan mengubah portofolio kelompok Aryaduta dari US$ 250 juta menjadi US$ 650 juta dalam lima tahun kedepan, sekaligus menambah jumlah kamar dari 2.355 kamar hingga menjadi hampir 6.000 kamar pada 2013," jelas Fischer.

Kailyas
March 19th, 2008, 12:15 PM
Info Proyek Real Estate atau Properti
19-03-2008 11:15:42
Open house Casa Goya Residence


Bisnis properti seakan tak ada lelahnya, perkembangan ekonomi Indonesia yang membaik membuat bisnis ini makin bergairah.
Jakarta sebagai kota metropolitan yang menawarkan berbagai daya tarik kehidupan laksana magnet yang menyedot pendatang untuk tinggal dalamnya.
Tuntutan akan penyediaan hunian pun meroket dengan permintaan yang seakan tidak ada habisnya. Bagi pelaku bisnis (properti) hal ini jelas menjadi peluang sekaligus tantangan bagi usaha yang dijalankannya.
Masih di seputar Jakarta, tepatnya di ruas Raya Kebon Jeruk, Jakarta Barat berdiri sebuah proyek hunian : Casa Goya Residence. Kami menyempatkan diri meninjau lokasi proyeknya pada 26-27 januari yang lalu, bertepatan dengan program open house yang mereka selenggarakan.

Proyek yang terletak di atas lahan seluas 10ha ini, dalam masterplan-nya merencanakan peruntukan 5ha dari total luas lahan untuk pengembangan landed house. Pengembangan landed house ini rencananya akan dikombinasikan dengan apartemen sebagai kelanjutannya.
Proyek pengembangan Casa Goya sendiri sebenarnya telah dimulai 2 tahun yang lalu, sebanyak 33 unit (dari total 200 unit yang direncanakan) telah berdiri dan 75% diantaranya telah dihuni.
Selain akan dilengkapi clubhouse untuk kebutuhan rekreatif penghuninya, lingkungan hunian di Casa Goya juga menyediakan sistem instalasi kabel bawah tanah, sistem drainase lingkungan, serta dilengkapi dengan jaringan fiber optik yang sudah siap tersedia di depan setiap unit rumah.
Kelebihan lain Casa Goya adalah dokumen kepemilikan yang diterima oleh pemilik rumah sudah berupa status hak milik (SHM).
Landed house di Casa Goya residence dikembangkan dalam unit-unit cluster. Saat ini 2 cluster yang telah siap dipasarkan yaitu Casablanca dan Casa Valencia. Unit-unitnya dirancang dengan konsep "keleluasaan ruang di dalam lahan yang sempit". Sebuah konsep desain untuk mencapai kenyamanan penghuni melalui pengelolaan desain ruang memanfaatkan lahan yang tebatas.

Mengusung tagline green, smart, limited; Casa Goya Residence merupakan hunian yang dirancang untuk ramah lingkungan, menghasilkan zero waste melalui proses pengolahan limbahnya. Sementara smart merujuk pada dukungan teknologi multimedia yang ada pada lingkungan eksklusif (limited) ini.

Berada dibalik proyek pengembangan Casa Goya adalah PT. Bangun Investa Graha, sebuah perusahaan yang dinahkodai Achmad Setianto, Joko Sardjono, Sucahyo, dan Goyantara sebagai CEO-nya.
Selain Casa Goya residence, Bangun Investa Graha juga pengembang dari vila Gunung Cirendeu.
Dijelaskan oleh Dicky Gunanto, Sales Coordinator Casa Goya Residence yang kami temui disela acara open house, "proyek perumahan ini adalah langkah awal kedepan. Melalui Casa Goya kami berharap bisa meng-handle proyek yang lebih besar. Ini akan menjadi bukti bahwa perusahaan kami mampu membuat perumahaan berkelas".
"Animo di wilayah ini cukup besar. Casa Goya merupakan perumahan kelas menengah atas dengan harga yang kompetitif. Lokasi Casa Goya ini sangat strategis, berada di ruas jalan Raya Kebun Jeruk, kawasan Rawa Belong, dekat dengan jalan S. Parman. Belum lagi ditambah letaknyanya yang dekat dengan kampus Binus membuat Casa Goya memiliki lokasi sangat strategis" jelas Dicky lagi.

Kailyas
March 19th, 2008, 12:17 PM
BTN Biayai
Konstruksi 15 Menara
Rusunami


DI EMPAT LOKASI

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (BTN) memberikan dukungan kredit konstruksi 15 menara