View Full Version : SEMARANG: story n history
damarsinyo October 2nd, 2011, 01:07 PM kepala kakap pak oeban jl menteri supeno dah masuk list belum om??hee..
oh iya bagi yg punya hobi sama dg saya, yg suka wisata kuliner disemarang dan seluruh indonesia..silahkan kunjungi alamat ini http://www.ayojajan.com/ ...(sampe weleri pun juga ada disitu..ckck:D)
titus15 October 2nd, 2011, 02:58 PM batik semarang
http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/67724_448926626108_153048296108_5750861_2637517_n.jpg
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.448926506108.241961.153048296108&type=1
Kampung ini di sekitar jalan Ronggowarsito ya?? Ada warung soda gembira klasik dengan susu sapi segar dan sirop home made dengan gelas yang super lebar dideketnya... (hahaha... tetep balik neng kuliner maning...)
detwis October 2nd, 2011, 04:53 PM kepala kakap pak oeban jl menteri supeno dah masuk list belum om??hee..
oh iya bagi yg punya hobi sama dg saya, yg suka wisata kuliner disemarang dan seluruh indonesia..silahkan kunjungi alamat ini http://www.ayojajan.com/ ...(sampe weleri pun juga ada disitu..ckck:D)
itu gulai kepala kakap sama yg di pamularsih ga mas?
ak ada tempat kuliner recommended di pleburan.. namanya adis culinary
masakan barat tapi... tmptnya jelek tp masakannya top :cheers: :cheers:
yang dateng unyu2 alias cakep2... m))m))m))
tp siap2 nunggu lama.. biasa dtg jam 8... uda antre 10 antrean jd baru makan jam 10... hahahahhahahahaha :lol::lol:
chicken cordon bleu maknyuss..ama yogurt..
:cheers: :cheers:
titus15 October 2nd, 2011, 05:16 PM Es Krim Pelangi di Singosari belum ada ya?? Pernah kopdar sama NpF disana...
damarsinyo October 3rd, 2011, 05:41 AM itu gulai kepala kakap sama yg di pamularsih ga mas?
ak ada tempat kuliner recommended di pleburan.. namanya adis culinary
masakan barat tapi... tmptnya jelek tp masakannya top :cheers: :cheers:
yang dateng unyu2 alias cakep2... m))m))m))
tp siap2 nunggu lama.. biasa dtg jam 8... uda antre 10 antrean jd baru makan jam 10... hahahahhahahahaha :lol::lol:
chicken cordon bleu maknyuss..ama yogurt..
:cheers: :cheers:
^^iya mas...yg di menteri supeno itu satu group ama yg di pamularsih...cuma menurut saya lebih cozy yg di menteri supeno karena tempatnya nyaman dan luas apa lagi yg bagian belakang lesehan...kalo yg di pamularsih kan seperti PKL, duduknya aja berimpit impitan...:poke:
titus15 October 5th, 2011, 11:25 PM Semarang Metro
06 Oktober 2011
Share :Facebook Twitter
Studio Seni Foto Gerak Cepat di Kampung Melayu
Abadikan Perjalanan Cinta Sesaat Para ABK
AZAN Magrib berkumandang dari menara Masjid Layur di Kampung Melayu. Warga keturunan Arab Yaman maupun umat muslim keturunan Banjar pun berduyun-duyun menata saf di belakang imam. Tak hanya orang tua, belasan anak-anak berjajar di serambi belakang.
Sementara di sudut jalan Kampung Melayu, belasan laki-laki berotot besar keturunan Papua dan Bugis berjalan menyusuri gang kecil. Bersama mereka, beberapa perempuan bergaun pendek dengan make up yang sedikit mencolok dan rambut panjang terurai, tersibak karena angin berhembus cukup kencang.
Langkah kaki mereka terhenti di depan bangunan lantai dua bercat putih. Papan putih berukuran 1 x 4 meter bertuliskan Seni Foto Gerak Cepat berwarna hitam menempel di antara lantai satu dan lantai dua.
”Silakan, mau foto? Hitam putih atau berwarna? Satu-satu atau berpasangan?” tanya pemilik studio foto bernama Ali Mahroos itu.
”Berapa tarifnya Pak?" tanya salah seorang dari belasan lelaki itu.
”Kalau ukuran 3 x 4, empat lembar Rp 50, kalau 3R Rp 500,” kata Ali.
”Kami mau foto 3R saja,” pinta lelaki keturunan Bugis itu.
Beberapa saat kemudian, beberapa gaya dan adegan yang diinginkan itupun diabadikan dengan beberapa kali jepretan dari Yashica, kamera manual produksi Jepang pada 1970.
Itulah kesibukan sehari-hari Studio Foto Seni Gerak Cepat di Jalan Layur 121 pada 1980-an yang runtut diceritakan oleh perempuan bernama Nurul Hidayah, putri kandung kedua dari almarhum Ali Mahroos bin Abdullah Mahroos, saat ditemui, Rabu (5/10).
Sejak berdiri pada 1970, ayahnya juga melayani foto panggilan. Beberapa peralatan pendukung seperti tripod dan enam kap lampu yang kini masih terawat itu, tidak dibeli dari toko, namun dibuat sendiri oleh ayahnya.
”Konsumennya dulu kebanyakan dari anak buah kapal (ABK) yang mengabadikan kisah percintaan sesaatnya dengan perempuan penjaja seks komersil atau PSK. Bagi mereka, dapat berfoto dengan perempuan-perempuan itu merupakan kebahagiaan tersendiri,” tutur perempuan yang lahir pada 6 Juni 1967.
Selain ABK, kata ibu tiga anak itu, warga yang baru saja melangsungkan pernikahan secara sederhana, sering meminta difoto dengan background menyusuri anak tangga dan kamar pengantin.
”Kamar saya sering menjadi tempat foto pengantin. Sebelum digunakan, saya menghiasinya dengan ornamen kamar pengantin. Beberapa sudut rumah ini, termasuk tangga ke lantai dua, semua juga bisa menjadi background foto,” ujar istri Agus Santoso (45), kemarin.
Nama studio Seni Foto Gerak Cepat dibuat karena pada saat itu di beberapa studio lain yang ada, ketika menginginkan cetakan foto untuk kepentingan pembuatan KTP, harus menunggu selama satu minggu.
”Namun di tempat kami, hanya butuh butuh waktu satu jam saja. Ketepatan waktu, kualitas hasil cetakan menjadi prinsip kami membuka usaha ini. Gerak cepat pokoknya dalam melayani konsumen, dan itu alasan ayah memberi nama studionya,” katanya.
Penggunaan bahan, mulai dari kertas foto, larutan Superbroom, Trawas hingga Hypo Clearing Agent dipilih yang memiliki kualitas terbaik, sehingga hasil cetakan foto dapat bertahan lama. Meski sekarang ini peralatan lebih canggih, cetak foto bisa dilakukan dalam hitungan detik dengan printer.
”Meski warnanya lebih cerah, tajam, namun tidak tahan lama, ini yang membedakan dengan sistem cetak foto non digital yang hingga saat ini masih kami terapkan, dengan komposisi warna yang lebih alami,” katanya.
Namun, karena genangan rob yang merendam bangunan itu, studio foto yang terletak di sudut Kampung Melayu, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang utara itu seakan kehilangan daya pikatnya. Pemandangan indah, meja penerima order foto serta ruang tamu yang dulu dipakai sebagai latar studio semakin rapat tergulung dan tampak lusuh. Beberapa tembok di sudut ruangan bangunan Belanda bergaya arsitektur China itu juga mulai runtuh. Kayu dan papan jati yang ada di lantai dua juga mulai rapuh. Di sudut bangunan, beberapa tumbuhan juga dibiarkan tumbuh merayap di sela-sela tembok yang batu batanya mulai nampak tergerus.
”Untuk membangun rumah ini juga kami tidak berwenang, karena ini sudah tercatat sebagai bangunan cagar budaya dan untuk menjualnya, jelas tidak diperbolehkan. Ayah saya statusnya menyewa, karena bangunan dan lahan ini merupakan wakaf Yayasan Al Irsyad,” katanya.
Ditengah persaingan kecanggihan teknologi studio foto modern, Nurul pun mengaku tak ingin kehilangan gerak cepatnya. Ia tetap mengandalkan kamera manual peninggalan ayahnya untuk memuaskan konsumennya.
”Saya hanya khawatir, olahan foto yang diwariskan turun temurun ini akan terhenti setelah saya dan suami meninggal dunia. Karena, ketiga anak saya lebih memilih kamera dan sistem cetak yang lebih modern,” katanya. (Muhammad Syukron-39)
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/06/161680/Abadikan-Perjalanan-Cinta-Sesaat-Para-ABK
=============================
Ada yang bisa ambilkan foto studio foto ini??
lokasinya disini: 6°57'51.88"S 110°25'17.45"E keren abis pokoke...
edytoah October 6th, 2011, 07:30 AM ^^
Sy pernah lht Studio photo ini Mas Titus .. Pas tusuk sate dr jalan Layur
Msh dihuni cuma rmhnya agak memprihatinkan kena rob .posisi dibawah jalan.
Coba bsk tak photone Mas nek lwt situ ..
BTW blm lama lwt jl Layur ini,Masjid Menoro Layur itu skrg catnya hijau,diphoto halaman sebelumnya warna merah muda.
titus15 October 6th, 2011, 09:11 AM omong2 tentang studio foto saya masih selalu terlkenang dengan Studio Foto Photax di sebelah Buletin Graha jalan Pandanaran. Awal tahun 200an studio itu masih buka melayani foto pas foto dengan kamera segede gaban alias kuno dengan lampu yang masih bulat2.
Tahun 2008 pernah pengen foto kesana lagi, tapi ternyata sudah tutup disewa biro trafel dan paket...
detwis October 6th, 2011, 09:43 AM ^^
Sy pernah lht Studio photo ini Mas Titus .. Pas tusuk sate dr jalan Layur
Msh dihuni cuma rmhnya agak memprihatinkan kena rob .posisi dibawah jalan.
Coba bsk tak photone Mas nek lwt situ ..
BTW blm lama lwt jl Layur ini,Masjid Menoro Layur itu skrg catnya hijau,diphoto halaman berikutnya warna merah muda.
di belokan itu tepatnya studio foto , dulu sempet utk persewaan komik jg..
dulu sering bgt ke 2nd hand shop di daerah situ aka awul2..
cari jaket ma kaos bekas bermerk...:lol: :lol:
jaman saya sma dulu cuma di layur yg ada awul2..
kalo skrg di banyumanik uda menjamur...
ssphila October 6th, 2011, 09:52 AM Semarang Metro
06 Oktober 2011
Studio Seni Foto Gerak Cepat di Kampung Melayu
Abadikan Perjalanan Cinta Sesaat Para ABK
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/06/161680/Abadikan-Perjalanan-Cinta-Sesaat-Para-ABK
=============================
Ada yang bisa ambilkan foto studio foto ini??
lokasinya disini: 6°57'51.88"S 110°25'17.45"E keren abis pokoke...
^^ Di versi cetak (mcetak.suaramerdeka.com) ada fotonya.
Ini mas fotonya :
http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2011/10/06/photographs/101/06_10_2011_101_030_006.jpg
Source : http://mcetak.suaramerdeka.com (http://mcetak.suaramerdeka.com/GalleryView.shtml?GId=06102011101030006)
edytoah October 7th, 2011, 04:35 AM Nemu di Wikipedia versi English dan Indonesia cuma segelintir,ngak lengkap sejarah ttg Warak Ngendog,Maskot imajiner simbol Kota Semarang.
Warak ngendog
From Wikipedia, the free encyclopedia
Warak ngendog (egg laying bird) is a mythical creature resembling a rhinoceros carrying eggs on its back. This creature, celebrated during the Dugderan Festival held annually on September 23rd a few days before the holiday of Ramadan, is believed to represent three different ethnic groups in Semarang: Javanese, Chinese and Arabian. Its head is like a dragon (Chinese), its body is the combination of buraq (a special animal resembling the winged horse with a human head believed to take Prophet Muhammad to Sidratil Muntaha -> Arabian) and goat (Javanese).
The creature is described to be part giraffe, part lion, part Chinese dragon, part horse, and part bird and is made into popular toys for the children to play with during the festival.
Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Warak_ngendog
http://img403.imageshack.us/img403/7795/tuguwarakngendoksemaran.jpg
Warak ngendok
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Warak ngendok (bahasa Jawa: warak ngendhog) merupakan mainan yang selalu dikaitkan dengan perayaan dugderan, suatu festival di Semarang yang diadakan di awal bulan Ramadan untuk memeriahkannya, sekaligus sebagai upaya dakwah.
Warak ngendok berwujud makhluk berkaki empat, menyerupai macan/singa tetapi langsing. Tubuhnya diberi kertas berwarna-warni dan pada kakinya diberi roda supaya dapat ditarik.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Warak_ngendok
damarsinyo October 10th, 2011, 04:46 PM ^^ kalo diliat dari bentuk nya sih perpaduan antara naga, kambing...ama jerapah kali ya?? tapi kalo jaman dulu kan orang semarang belum kenal jerapah....:lol:
edytoah October 10th, 2011, 07:19 PM ^^
Kuwalik tho Mas damarsinyo .. justru Semarang jaman dulu ada jerapah khali .. sekarang aja yang ngak ada ...:lol:
Mungkin karena ada itu pendiri Semarang dulu Kanjeng Bupati siapa itu ter-imajinasi ... jadilah Warag Ngendog tsb .. gabungan dari Naga,Singa,Kambing,jerapah dan Bouraq .. mungkin lho :) ..
damarsinyo October 11th, 2011, 10:35 AM ^^:lol:
nih saya tampilkan salah satu restoran disemarang yg paling di tenar dikalangan turis holand...:)
toko oen...
http://img812.imageshack.us/img812/2049/dscn3693l.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/812/dscn3693l.jpg/)
kalo bangunan Ace Hardware Pemuda ini termasuk BCB gk om edy??
http://img535.imageshack.us/img535/3904/dscn3698o.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/535/dscn3698o.jpg/)
detwis October 11th, 2011, 01:40 PM ^^:lol:
nih saya tampilkan salah satu restoran disemarang yg paling di tenar dikalangan turis holand...:)
toko oen...
http://img812.imageshack.us/img812/2049/dscn3693l.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/812/dscn3693l.jpg/)
[/URL]
dulu pernah ikut presentasi salah satu perusahaan properti disini..
:cheers:
damarsinyo October 11th, 2011, 03:49 PM ^^mungkin next time forumer semarang bisa gathering dsini:D, pasti mantebbb...terutama saya paling suka ice cream nya...:eat:
edytoah October 11th, 2011, 08:39 PM ^^:lol:
nih saya tampilkan salah satu restoran disemarang yg paling di tenar dikalangan turis holand...:)
toko oen...
http://img812.imageshack.us/img812/2049/dscn3693l.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/812/dscn3693l.jpg/)
kalo bangunan Ace Hardware Pemuda ini termasuk BCB gk om edy??
http://img535.imageshack.us/img535/3904/dscn3698o.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/535/dscn3698o.jpg/)
Ya mas damarsinyo .. Restauran Oen termasuk BCB (Bangunan Cagar Budaya) dan restoran terkenal untuk turis Holand Sprechen ... :) ..
Kebetulan keluarga pemilik Toko Oen ini juga pemilik kantor franchise Property Agen Asing dari Australia.
Ace Hardware Pemuda .. atau terkenalnya dulu dengan sebutan Sasana Suka ... sy rasa termasuk BCB juga.
Pemiliknya adalah papi dari tokoh salah satu partai politik,dulu th 70an pemilik Super Market Micky Mouse di Jl. Depok.
titus15 October 12th, 2011, 07:35 AM ^^mungkin next time forumer semarang bisa gathering dsini:D, pasti mantebbb...terutama saya paling suka ice cream nya...:eat:
Udah pernah Gath kecil disini, yang datang saya, pak YB Murty, om SSphila dsama bidadari kecilnya yang asyik main game hehe, om NpF sama om Momod. Castle mau gabung eh malah nyasar... ayo kapan Gath lagi??
titus15 October 12th, 2011, 07:37 AM ^^:lol:
nih saya tampilkan salah satu restoran disemarang yg paling di tenar dikalangan turis holand...:)
toko oen...
http://img812.imageshack.us/img812/2049/dscn3693l.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/812/dscn3693l.jpg/)
Sayang restoran ini sekarang lanskapnya jelek sekali. Itu tiang listrik dan kabel2nya nyebelin banget, apalagi reklamenya. Padahal dulu terasnya biasa dipake nongkrong juga jadi terace cafe...
damarsinyo October 12th, 2011, 08:31 AM ^^iya mas, itu kalo dibuat terace cafe pasti muntap banget...,apa lagi kalo malem bisa buat lahan tukang pijat..:lol:
Udah pernah Gath kecil disini, yang datang saya, pak YB Murty, om SSphila dsama bidadari kecilnya yang asyik main game hehe, om NpF sama om Momod. Castle mau gabung eh malah nyasar... ayo kapan Gath lagi??
^^->mas castle:lol:
wah sayang nya waktu itu belom gabung di SSC...:D
kalo masalah gath saya serahkan kepada senior2 disini...ntar bisa berbagi pengalaman & info.....:D
detwis October 12th, 2011, 08:39 AM Udah pernah Gath kecil disini, yang datang saya, pak YB Murty, om SSphila dsama bidadari kecilnya yang asyik main game hehe, om NpF sama om Momod. Castle mau gabung eh malah nyasar... ayo kapan Gath lagi??
ikut dong kalo ada gath lg.. :banana: :banana:
titus15 October 12th, 2011, 08:51 AM ^^ monggo mas ssphila dipandegani....!!
detwis October 12th, 2011, 09:27 AM ^^ monggo mas ssphila dipandegani....!!
gath nya di oen lg aja mas.. heuheuheuheue
Ya mas damarsinyo .. Restauran Oen termasuk BCB (Bangunan Cagar Budaya) dan restoran terkenal untuk turis Holand Sprechen ... :) ..
Kebetulan keluarga pemilik Toko Oen ini juga pemilik kantor franchise Property Agen Asing dari Australia.
Ace Hardware Pemuda .. atau terkenalnya dulu dengan sebutan Sasana Suka ... sy rasa termasuk BCB juga.
Pemiliknya adalah papi dari tokoh salah satu partai politik,dulu th 70an pemilik Super Market Micky Mouse di Jl. Depok.
pantes dulu presentasi propertynya dulu jg disini..
ternyata oh ternyataa sing duweee
damarsinyo October 12th, 2011, 09:28 AM mari kita gath seluruh forumer semarang....mas sembilanbelas & mas NPF dapet undangan special...:lol:
om bozhart jg spertinya sedang gak disemarang...:nuts:
Venantio October 12th, 2011, 09:29 AM Kalau gathering-nya akhir Desember dan kalau saya jadi pulkam, saya boleh kutan nggak?
damarsinyo October 12th, 2011, 09:44 AM Kalau gathering-nya akhir Desember dan kalau saya jadi pulkam, saya boleh kutan nggak?
^^oh iya hampir lupa...:master:om venantio...:D
kalo mas 19 & mas NPF VIP, om venantio VVIP......:D
monggo om....:)
ssphila October 12th, 2011, 12:55 PM ^^ saya ikut ah :D ... silakan yg diluar kota/daerah diatur jadwalnya, akhir Desember ? kl semua bisa dateng bakal gayeng tenan.... ada yg di Yogya, Jkt, Sumatra, Canada, mana lagi ?? :D
edytoah October 12th, 2011, 03:26 PM ^^
Melu pyok ah .. kalau ada Gathering SSC .. penasaran pengen copy darat ..forumer-2 SSC yg banyak menambah pengetahuan sy selama ini ... apalagi mas ssphila,mas titus,mas murthy,mas venantio,mas 19,mas castle,mas detwis,mas damarsinyo,mas bhozhart,mas david80,mas labalaba,mas hb085 dll .. mbake jarang yo ... :)
Mau gathering di Semawis ya bisa ... ada yg halal juga kok disana ... cuma es krime es puter Conglik .. duduk es krim Restoran Oen ... :lol:
damarsinyo October 12th, 2011, 03:50 PM ^^ saya ikut ah :D ... silakan yg diluar kota/daerah diatur jadwalnya, akhir Desember ? kl semua bisa dateng bakal gayeng tenan.... ada yg di Yogya, Jkt, Sumatra, Canada, mana lagi ?? :D
^^kalo akhir desember, pasti makin banyak proyek yg terdeteksi, dan yg sekarang masih buat basement pasti ntr dah pasang crane..jadi bisa makin banyak topik yg dibahas...:okay:
^^
Melu pyok ah .. kalau ada Gathering SSC .. penasaran pengen copy darat ..forumer-2 SSC yg banyak menambah pengetahuan sy selama ini ... apalagi mas ssphila,mas titus,mas murthy,mas venantio,mas 19,mas castle,mas detwis,mas damarsinyo,mas bhozhart,mas david80,mas labalaba,mas hb085 dll .. mbake jarang yo ... :)
Mau gathering di Semawis ya bisa ... ada yg halal juga kok disana ... cuma es krime es puter Conglik .. duduk es krim Restoran Oen ... :lol:
^^:lol:hahaha...
forumer semarang gak ada mbake om...:D
es puter conglik jg gak terlalu buruk rasanya...hanya saja kalo mau diskusi disana sebaiknya bawa kursi sendiri2, kan tempatnya buat 6orang aja dah sesak....:lol:
detwis October 12th, 2011, 04:02 PM ^^
Melu pyok ah .. kalau ada Gathering SSC .. penasaran pengen copy darat ..forumer-2 SSC yg banyak menambah pengetahuan sy selama ini ... apalagi mas ssphila,mas titus,mas murthy,mas venantio,mas 19,mas castle,mas detwis,mas damarsinyo,mas bhozhart,mas david80,mas labalaba,mas hb085 dll .. mbake jarang yo ... :)
Mau gathering di Semawis ya bisa ... ada yg halal juga kok disana ... cuma es krime es puter Conglik .. duduk es krim Restoran Oen ... :lol:
nunggu mbak2 e ono rak yo? heuheuheuheue :lol:
ssphila October 12th, 2011, 04:45 PM ^^ Dulu ada, malah sempet upload foto Simpang Lima/Pahlawan segala.... entah koq ambles lagi, nickname-nya pake polarbear87. Moga aktif lagi. :)
damarsinyo October 12th, 2011, 04:53 PM ^^ Dulu ada, malah sempet upload foto Simpang Lima/Pahlawan segala.... entah koq ambles lagi, nickname-nya pake polarbear87. Moga aktif lagi. :)
^^:lol:
wah ada 87 nya, kemungkinan tahun lahirnya 87.....diatas saya:nuts:, tapi gak ap2 dr pada gk ada sama sekali, ayo mbak polarbear muncul lagi donk....:D
mari kita rencanakan gath dg matang.....:cheers:
Venantio October 12th, 2011, 04:58 PM ^^:lol:
wah ada 87 nya, kemungkinan tahun lahirnya 87.....diatas saya:nuts:, tapi gak ap2 dr pada gk ada sama sekali, ayo mbak polarbear muncul lagi donk....:D
mari kita rencanakan gath dg matang.....:cheers:
Siipp... Kalau semua lancar, aku pasti teko... Ben ono mbak-mbak-e, dik Damar ngajak kancane/calone wae piye?
ssphila October 12th, 2011, 05:00 PM :D sudah oot-nya jangan diterusin... entar disemprit Om Momod, back to topic aja dulu, entar soal gath dibahas lewat PM saja. :Cheers2:
Bahas lumpia, maksudnya sejarahnya :P ato Ki Ageng Pandanaran, etc.
titus15 October 12th, 2011, 05:53 PM ^^ Jangan lupa kita punya forumer kehormatan disini. Mr Bustamar... kali aja malah bisa Gath sambil kemping di Crowne Plasa... sekalian nganyari wkwkwk.... akhir tahun, abis soft lounching yang Peak season pula... di hotel bintang 5+++ yang baru...wahhhhh....
edytoah October 14th, 2011, 07:59 AM Teman sy pernah bikin skripsi di jurusan Perdata Barat tentang sengketa merk Wingko Babat cap Kereta Api ini (yang asli ada tulisan D.Mulyono),entah yang bersengketa siapa tapi wingko Babat cap Kereta Api ini mampu menarik perhatian dari kalangan bawah sampai atas,dari yang buta huruf sampai akademisi.Hampir orang2 diluar kota Semarang selalu minta oleh-2 wingko babat ini kalau ada kerabat yg pulang kampung ke Semarang.
Sekarang mungkin mereka tidak fanatik merk Kereta api,pokoknya wingko,apalagi sekarang ada rasa macam-2,spi melon,coklat,jeruk,rasa duren pun ada. :).
Budaya Kemasan Wingko Babat
Pada hari Sabtu, 8 November 2008, di DKV ISI Yogyakarta telah dilangsungkan kuliah terbuka dengan narasi sejarah, yaitu Iklan Enamel (oleh Karina Rima Melati, alumni DKV ISI, mahasiswi S2 Ilmu Religi dan Budaya Sanata Dharma Yogyakarta), Etiket Teh oleh Johanes Budi Gunawan (alumni DKV ISI Yogyakarta), dan Kemasan Wingko Babat Semarang oleh Natalia Afnita (mahasiswa DKV ISI semester 7). Berikut adalah makalah yang disampaikan oleh Natalia Afnita. (Redaksi)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Budaya Kemasan Wingko Babat
Natalia Afnita
“The product is the package”, sebuah produk adalah sebuah kemasan itu sendiri.. Berangkat dari sinilah keingintahuan mengenai produk makanan lokal wingko babat dimulai, dan dari wingko babat Cap Kereta Api-lah pembahasan lebih lanjut mengenai sebuah kemasan meluas.
Pada umumnya orang mengenal wingko babat sebagai makanan khas dari Semarang. Ini dikarenakan sebuah merek terkenal lahir di ibukota Jawa Tengah ini, sehingga dari satu merek tersebut, lahirlah banyak pesaing yang memperkaya jumlah produsen wingko di Semarang. Meskipun demikian, dari namanya akan dapat diketahui bahwa sebenarnya wingko babat berasal dari Kota Babat, yang merupakan daerah kecil di Lamongan, Jawa Timur.
Bagaimana satu merek bisa berpengaruh terhadap perkembangan produksi wingko babat di sebuah daerah yang notabene bukan merupakan daerah asal produk tersebut, dengan kemasan yang identik, serupa tapi tak sama, sehingga memunculkan banyak alternatif kemungkinan dari sudut pandang yang berbeda?
Mengutip Seno Gumira Ajidarma dalam tulisannya mengenai Riwajat Persaingan Wingko Babat dari majalah Blank! Edisi 6 tahun 2003, memperkuat keingintahuan akan pembahasan mengenai wingko babat itu sendiri :
“..merk-merk wingko babat ini hanya bisa berbicara lebih baik dengan memperhatikan kembali hubungan-hubungan di bawah permukaan melalui sudut pandang baru, yang tidak lagi peduli kepada ‘indah tak indah’, bukan bagaimana kebudayaan terpajang sebagai benda-benda, melainkan kepada bagaimana kebudayaan itu berlangsung.”
Sekilas Sejarah Wingko Babat di Semarang
Masyarakat Semarang hampir dipastikan akan menunjuk wingko babat Cap Kereta Api sebagai rujukan wingko terenak di kota ini. Tak heran kalau kita tahu bahwa ternyata produsen dari merk inilah memang, yang pertama mempopulerkan makanan khas Babat di Semarang. Dalam kemasannya tercantum bahwa wingko tersebut dibuat oleh D.Mulyono.
Awalnya seorang wanita Tionghoa kelahiran Tuban bernama Loe Lan Hwa bersama suaminya The Ek Tjong alias D.Mulyono beserta kedua anaknya mengungsi dari Kota Babat ke Semarang sekitar tahun 1944 karena suasana panas Perang Dunia II membuat kota Babat terimbas huruhara. Sang suami lalu mendapat pekerjaan di K.A. jurusan Tawang-Surabaya Pasar Turi, sedang sang istri lalu mencari usaha tambahan membuat dan menjual kue wingko, dan ternyata memang merupakan keahlian yang diturunkan dari ayahnya, Loe Soe Siang. Kue itu kemudian dijajakan di sekitar stasiun K.A Tawang Semarang, tempat suaminya bekerja.
Kue wingko buatan Loe Lan Hwa itu ternyata banyak disenangi warga Semarang. Banyak yang menanyakan nama kue tersebut. Di Babat sendiri kue tersebut hanya disebut kue wingko. Maka, untuk memenuhi keingintahuan pembelinya dan sekaligus sebagai kenang-kenangan terhadap Kota Babat tempat dia dibesarkan, Loe Lan Hwa menyebut kue buatannya itu sebagai wingko babat.
Dengan dijual di stasiun, tersebarlah kue itu ke mana-mana sebagai oleh-oleh. Sampai saat ini pun kue wingko babat masih tetap dicari oleh orang-orang yang berkunjung ke Semarang, untuk dibawa pulang sebagai salah satu makanan oleh-oleh.
Ilustrasi kereta api yang dibuat dalam kemasan wingkonya merupakan pilihan dari D.Mulyono, karena ketertarikannya dengan gambar kereta api pada sampul muka buku formulir isian saran di gerbong restorasi. Pada awalnya dia menggunakan gambar kereta api dengan sebutan Cap Spoor. Tapi kemudian, sesuai perkembangan bahasa Indonesia, kata-kata Cap Spoor diganti dengan Cap Kereta Api.
Kue wingko babad cap Kereta Api buatan Loe Lan Hwa itu semakin terkenal dan dicari banyak orang untuk oleh-oleh dari Semarang. Hal ini pun lalu menarik orang lain untuk mencoba membuat kue yang sama dengan menggunakan gambar kereta api juga sebagai mereknya, walau gambarnya tidak sama seratus persen. Keadaan ini cukup membingungkan konsumen.
Maka, untuk membedakan kue wingko babad buatannya dari buatan orang lain, Loe Lan Hwa kemudian mencantumkan nama suaminya “D. Mulyono”, dengan di belakangnya ditambah kata-kata “d/h Loe Soe Siang” (nama ayahnya) pada pembungkus wingko babad buatannya. Tambahan “d/h Loe Soe Siang” tersebut dimaksudkan sebagai penegasan bahwa wingko babad merek D Mulyono itu merupakan kelanjutan dari wingko babad yang dibuat Loe Soe Siang di Babad. (sumber:Kompas, 26 Mei 2003 & brosur wingko babat Cap Kereta Api)
Analisis Kemasan Etiket Wingko Babat
Kemunculan dan kesuksesan merk Cap Kereta Api sebagai perintis wingko babat di Semarang, seperti magnet yang menarik pengusaha lain untuk turut memproduksi wingko babat dengan kemasan yang identik, serupa tapi tak sama, sehingga menimbulkan kebingungan konsumen ketika memilih. Dalam analisis semiotik Seno Gumira pada tulisannya mengenai ‘Riwajat Persaingan Wingko Babat’, disebutkan bahwa bagaimana pemilihan gambar kereta api dengan lokomotif batu bara sebagai ilustrasi kemasan makanan empuk nan gurih ini bisa diterima dan terhubungkan dengan citarasa enak?
Kemungkinan pertama ialah konsep modernitas, yang pada saat kemunculan pertamanya, kereta api dengan lokomotif itu merupakan representasi kemajuan , perubahan kearah yang lebih baik, penghubung dari kota ke kota, kecepatan dalam menempuh jarak, ruang dan waktu. Singkatnya, kecepatan itulah ciri modernisasi, dan modernisasi itulah kesempurnaan mengenai gagasan rasionalitas. Sehingga apabila suatu merk berwujud gambar kereta api yang terpampang dalam kemasan wingko tersebut, bisalah diandaikan bahwa maksudnya adalah menunjukkan betapa cita rasa wingko didalamnya adalah juga yang sempurna, yaitu yang paling enak.
Kemungkinan kedua jauh lebih sederhana: wingko ini dijual di stasiun Tawang, dan kereta api-lah gambar yang paling tepat untuk mengingatkan dimana wingko ini dijual. Dan menurutnya, logika para ‘bakul’ yang cenderung konkret karena alasan tersebut mungkin masih bisa diterima, namun konsep modernitas lebih dianggap memungkinkan perbincangan lanjutan.
Konsep modernitas mengantar kita kepada produsen lain yang tak kalah seru-nya memilih gambar kereta api sebagai ilustrasi kemasannya. Bermunculanlah merk-merk wingko babat seperti Cap Kereta Api Expres, Cap Kereta Api Senja Utama, Cap Kereta Api Argo, dll. Merk-merk inilah yang memperkuat konsep modernitas, karena seiring berjalannya waktu, kereta api-pun juga mengalami perkembangan, bahkan juga alat transportasi selain itu. Dan rupa-rupanya gagasan lebih cepat berarti lebih modern sangat disadari oleh D.Mulyono terhadap para pesaingnya yang setidaknya secara simbolik telah melebihinya, sehingga dalam satu masa perkembangan perusahaannya, ia sempat mengganti merknya menjadi ‘Cap Kereta Api Diesel & Jet’ (Dengan gambar kereta api berlokomotif diesel dan jet di atasnya).
Lain lagi dengan kompetitornya bernama N.N.Meniko yang tampil dengan merk Cap Setoom Mini, menampilkan alat transportasi yang sangat lambat, jauh dari representasi modern. Namun jika diteliti lebih lanjut, imbuhan kata ‘asli’ di dalam kemasannya akan menjelaskan konsep N.N.Meniko dilihat dari makna ‘yang tertua’, yang pertama, yang asli… Seolah imbuhan ini menjadi keunggulan kemasan karena sekaligus mempromosikan dirinya sebagai yang ‘asli’, meskipun kenyataannya tidak demikian.
Selain berkompetisi dalam keunggulan kecepatan kereta api karena konsep modernitas tersebut, kompetitor lain bermunculan dengan varian transportasi yang berbeda. Contohnya Wingko Babat Cap Bus Bisnis, Cap Mobil Antik, Cap Kapal Laut, Cap Kapal terbang, Cap Kapal Laut, Cap KM. Mutiara, dll. Merk-merk ini dianggap masih saja terbayang kesuksesan Cap Kereta Api, karena dilihat dari macamnya, merk yang digunakan masih menginduk pada alat transportasi. Representasi yang timbul dari konsep pemilihan alat transportasi seperti kereta api, bus, kapal laut / kapal terbang ialah sebuah sarana yang menunjukkan prasarana dimana logikanya menjelaskan keberadaan tempat transit dari segala penjuru, dari berbagai macam orang datang dan pergi, sehingga merupakan tempat yang strategis dalam menjajakan berbagai varian oleh-oleh, termasuk juga wingko. Selain itu, konsep mengenai kenyataan yang ada, realitasnya, symbol kereta api sebagai modernitas tak lagi cukup menjelaskan bahwa kereta api mewakili citra modernitas saat ini. Banyak alat transportasi lain yang berkembang dan menjadi alternatif selain kereta api yang sama halnya menjadi alat yang menghubungkan ruang, jarak dan waktu yang singkat. Dan meski masih terkesan mengekor sebagai pengikut Cap Kereta Api, pemilihan alat transportasi lain sebagai merk mungkin mengindikasikan beragamnya tempat penjualan wingko saat ini, tak hanya di sekitar stasiun seperti awal mula kesuksesan Cap Kereta Api, namun juga di terminal bus, pelabuhan, bandara, dll. Hal ini mungkin yang menjadi pertimbangan para produsen baru dalam membaca peluang selain masih berpatok pada alasan D.Mulyono memilih kereta api.
Ada pula kompetitor merk Cap Stasiun Lokomotif yang lebih kreatif dengan memunculkan gambar stasiun, dimungkinkan karena pesaing lain masih berkutat seputar alat transportasi sebagai gambaran yang hampir serupa dengan merk Kereta Api agar konsumen seolah terkecoh dan kebingungan saat memilih. Namun wingko dengan merk ini seperti berjalan di jalurnya sendiri, karena realitas stasiun sebagai ‘rumahnya’ kereta api, bisa membuka 2 kemungkinan. Pertama, secara halus mengungkapkan bahwa merk ini juga berlomba memberi kesan ‘asli’ atau paling tidak tak jauh dari aslinya , karena merk Kereta Api yang menggunakan gambar kereta api pastilah membutuhkan stasiun sebagai tempat berhentinya penumpang. Jadi kaitan antara stasiun dan Kereta api ialah suatu hubungan yang tak terpisahkan. Kemungkinan kedua, stasiun sebagai pemberhentian kereta merupakan tempat dijualnya oleh-oleh berupa wingko babat seperti halnya wingko merk Kereta Api yang pada mulanya dijual di stasiun oleh D.Mulyono (meskipun dalam kemasan tidak tercantum tempat penjualan di stasiun).
Terakhir, kompetitor wingko babad Cap Cakra dengan konsep merk dan gambar etiket yang tak ingin mengekor pada fenomena kesuksesan gambar kereta api menjadikan produknya lain dari yang lain . Gambar yang digunakan adalah cakra dan produsennya adalah Sri Kresna. Dari keduanya dapat diketahui bahwa cakra adalah senjata dari Kresna. Ia menggunakan symbol yang tak ada hubungannya dengan kereta api maupun alat transportasi lainnya. Tapi dari ukuran kemasan, penataan merk dan gambar, masih bisa dikategorikan terbius dengan pakem kemasan wingko babat a la Cap Kereta Api.
Kesimpulan
Dari sebuah kemasan, memunculkan kemasan lain yang identik, baik merk, warna, tipografi, layout, ukuran dan bentuk kemasan. Faktor kesuksesan dan perintisan pertama dimungkinkan yang membuat hal ini banyak terjadi di sekitar kita. Dalam hal ini wingko babat Cap Kereta Api merupakan perintis sebuah ‘pergerakan’ persaingan wingko babat di Semarang.
Konsep Modernitas yang membawa pesaing dengan nama kereta api yang lebih modern belum mampu menggeser kepercayaan akan simbol kereta api yang masih berlokomotif batu bara. Konsep realitas mengenai varian alat transportasi sebagai tempat dijualnya oleh-oleh termasuk wingko, juga belum cukup bersaing meski banyak imbuhan ‘asli’ menyertainya. Bahkan konsep kreativitas dan keunikan merk yang muncul-pun seolah menghiasi jajaran pesaing di level amatir, meski keberanian untuk tampil beda merupakan hal yang patut dihargai. Terkadang merk-merk yang mengikutinya terdengar semakin aneh bahkan nyleneh ditelinga, karena cabang dari merk pertama, kedua dan seterusnya menghasilkan berpuluh-puluh merk untuk sekedar mengecoh konsumen dari produk aslinya. Fenomena ini menarik untuk diamati, karena sejauh apapun para kompetitor berusaha menampilkan produknya berbeda, tetap saja masih ada sisa-sisa ‘penghormatan’ pada produk aslinya.
“The product is the package”, adalah awal mula dan berakhirnya ulasan ini. Wingko babat dan kereta api-nya adalah contoh hubungan simbiosis mutualisme, meskipun pada mulanya kereta api dipilih karena faktor kesukaan dan bukan dari hasil pemikiran konsep yang panjang. Mungkin D.Mulyono sendiri tak mengira persaingan wingko babat ini justru bermula dari kereta api yang dipilihnya. Namun cabang yang ditumbuhkan dari benih itulah yang membuat kebudayaan berlangsung sehingga memunculkan banyak alternative pertanyaan baru yang direspon otak jika kita mengamatinya.
•••
Sumber : http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2009/07/02/budaya-kemasan-wingko-babat/
edytoah October 14th, 2011, 08:19 AM Lumpia semarang adalah makanan semacam rollade yang berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang.
Cita rasa lumpia semarang adalah perpaduan rasa antara Tionghoa dan Indonesia karena pertama kali dibuat oleh seorang keturunan Tionghoa yang menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Semarang, Jawa Tengah.Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang ketika pesta olahraga GANEFO diselenggarakan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Variasi
Dewasa ini, terdapat enam jenis lumpia semarang dengan cita rasa yang berbeda. Pertama aliran Gang Lombok (Siem Swie Kiem), kedua aliran Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie Hie), dan ketiga aliran Jalan Mataram (almarhumah Siem Hwa Nio). Ketiga aliran ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih dan yang terakhir adalah lumpia Jalan TanggaMus (Ny. Mechtildis Tyastresna Halim) lumpia nya bulat-bulat dan gurih
Aliran keempat adalah sejumlah bekas pegawai lumpia Jalan Pemuda, dan aliran kelima adalah orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia dengan resep hasil pembelajaran dari lumpia yang sudah beredar.
Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie Kiem (68), tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini menurut sejumlah penggemarnya yang sempat ditemui di kios tersebut adalah racikan rebungnya tidak berbau, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.
Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (43) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran.
Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung. Ketika awal mula meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang, lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam.
Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang.
Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lumpia semarang. Mereka umumnya mantan karyawan mereka. Mereka yang mempunyai hobi kuliner juga turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang.
Harga
Harga lumpia yang dijual para pedagang tersebut berbeda-beda. Kios lumpia Gang Lombok milik Siem Swie Kiem, misalnya, menjual dengan harga Rp 6.000 per biji (goreng/basah). Kios di Jalan Pemuda milik Mbak Lien menjual dengan harga Rp 5.500 per biji. Sedangkan pedagang-pedagang lumpia lain menjual dengan harga sekitar Rp 2.500 per biji.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Lumpia_semarang
Monggo disambi ...
http://img855.imageshack.us/img855/3807/lumpiasemarang.jpg
ssphila October 14th, 2011, 10:40 AM ^^ NAH ini dia... sejarah yg 'layak' dimengerti... dipelajari & dinikmati.... :D
damarsinyo October 14th, 2011, 01:47 PM ^^:lol:
Monggo disambi ...
http://img855.imageshack.us/img855/3807/lumpiasemarang.jpg
^^wah, om edy tau aja saya suka banget ama lumpia..:D
bahkan ni jauh2 dijakarta jg tadi makan lumpia mataram semarang disini. ke jakarta gak nyari soto betawi malah nyar lumpia...:lol:
titus15 October 15th, 2011, 03:13 AM KISAH PERTEMPURAN 5 HARI di SEMARANG
diperingati hari ini
===============================================
Semarang Metro
14 Oktober 2011
Share :Facebook Twitter
Upacara Pertempuran Lima Hari di Semarang
Ketokohan dr Kariadi Difragmenkan Lagi
SEMARANG - Ketokohan dokter Kariadi yang menghambat upaya Jepang untuk meracuni reservoir atau tangki air kembali dipentaskan dalam upacara pertempuran, Jumat (14/10).
Dalam gladi resik semalam, dr Kariadi, Gubernur Wongsonegoro dan masyarakat Semarang diperankan oleh mahasiswa Untag. Koordinator fragmen, FX Sukirno menjelaskan, nantinya penampilan itu akan berlangsung selama lebih kurang 10 menit. "Waktu yang kami alokasikan cukup singkat, namun bisa mencakup keseluruhan cerita," katanya, Kamis (13/10).
Untuk kostum, lanjutnya, semua peraga mengikuti aslinya dahulu. Untuk itu, selain menyewa pihaknya juga memperoleh pinjaman dari beberapa komunitas yang biasa mengenakan kostum pejuang.
Tokoh dr Kariadi merupakan tokoh sentral dalam fragmen tersebut, yang nantinya akan tewas dalam perjalanan menuju reservoir karena dibunuh tentara Jepang. Mengetahui dr Kariadi tewas, rakyat berontak dan menyerang tentara hanya saja kalah kekuatan.
”Tokoh Gubernur Wongsonegoro akan tampil memberikan senjata kepada masyarakat untuk melawan tentara Jepang,” ungkapnya.
Fragmen ini nantinya juga akan didukung musik orkresta, di dalamnya akan disisipi lagu-lagu perjuangan.
Rencananya, upacara yang akan dilaksanakan di Tugumuda itu akan dihadiri berbagai semua unsur meliputi sekolah, mahasiswa, organisasi pemuda, para veteran. Puncak dari upacara akan dilakukan penyulutan meriam sebanyak lima kali sebagai tanda penghormatan para pahlawan. (rni-39)
edytoah October 15th, 2011, 03:47 AM ^^
Enak ra Mas damarsinyo,Mas ssphila lumpiane hehehehe opo wingkone :lol:
Kalau sy enak dua2nya wkkwkkwkk
Mas Titus dan yg lain nyobain bandeng Presto aja untuk oleh2 di rumah,dimakan ama nasi hangat dan sambel puedes ..uenak tenan.
Kt orang2 wingko cap Kereta api D Mulyono kira2 20th lalu dibeli resepnya spi 75jt (lumayan besar ya .sekarang berapa ya .) Lha ngak tau gimana sekarang Pak Mulyono .. Pake cap kereta api yg lain khali ..
Sebetulnya mau nambahi Bandeng Presto tp googling belum nemu cerita Bandeng Presto Juana yg pertama ditemukan seorang Dokter.
Katanya panci/dandang presto besar rancangan dia sendiri sebelum di pasaran banyak dijual panci presto kecil.
Pencetus Bandeng Presto pertama ini skrg punya industri bandeng presto besar di Kawasan Industri Candi Blok 23,tp tetap banyak memperkerjakan tenaga kerja wanita yg secara manual mencabut sebagian duri besar /semua duri Bandeng (ada varian bandeng duri lunak dan otak bandeng yg hrs diambil semua durinya).
Khusus untuk pendiri Bandeng Presto duri lunak ini,yang tokonya di pojok sendiri Presto Juana,skrg ada logo Bandeng besar di atas,si Om Dokter msh nungguin di kasir tp beliau krg ramah (semanak/grapyak) tp herannya yg beli berjubel karena memang disitu yg enak dan pertama.
edytoah October 15th, 2011, 04:01 AM KISAH PERTEMPURAN 5 HARI di SEMARANG
diperingati hari ini
===============================================
Semarang Metro
14 Oktober 2011
Share :Facebook Twitter
Upacara Pertempuran Lima Hari di Semarang
Ketokohan dr Kariadi Difragmenkan Lagi
SEMARANG - Ketokohan dokter Kariadi yang menghambat upaya Jepang untuk meracuni reservoir atau tangki air kembali dipentaskan dalam upacara pertempuran, Jumat (14/10).
Dalam gladi resik semalam, dr Kariadi, Gubernur Wongsonegoro dan masyarakat Semarang diperankan oleh mahasiswa Untag. Koordinator fragmen, FX Sukirno menjelaskan, nantinya penampilan itu akan berlangsung selama lebih kurang 10 menit. "Waktu yang kami alokasikan cukup singkat, namun bisa mencakup keseluruhan cerita," katanya, Kamis (13/10).
Untuk kostum, lanjutnya, semua peraga mengikuti aslinya dahulu. Untuk itu, selain menyewa pihaknya juga memperoleh pinjaman dari beberapa komunitas yang biasa mengenakan kostum pejuang.
Tokoh dr Kariadi merupakan tokoh sentral dalam fragmen tersebut, yang nantinya akan tewas dalam perjalanan menuju reservoir karena dibunuh tentara Jepang. Mengetahui dr Kariadi tewas, rakyat berontak dan menyerang tentara hanya saja kalah kekuatan.
”Tokoh Gubernur Wongsonegoro akan tampil memberikan senjata kepada masyarakat untuk melawan tentara Jepang,” ungkapnya.
Fragmen ini nantinya juga akan didukung musik orkresta, di dalamnya akan disisipi lagu-lagu perjuangan.
Rencananya, upacara yang akan dilaksanakan di Tugumuda itu akan dihadiri berbagai semua unsur meliputi sekolah, mahasiswa, organisasi pemuda, para veteran. Puncak dari upacara akan dilakukan penyulutan meriam sebanyak lima kali sebagai tanda penghormatan para pahlawan. (rni-39)
Apa dibuat sinetron 20 episode wae Mas Titus,tp dgn low budget trs dijual ke stasion tv piye Mas Titus.Kalau perlu stasion2 TV Semarang,PNKA atau RS Dr. Kariadi kon nalangi sik dana low budgetnya .. :)
Pernah baca tweter-nya Mbah Sudjiwo Tedjo ..Artis ngikuti selera pasar Seniman ngak ... Jd khudu golek sponsor . :)
edytoah October 16th, 2011, 09:52 AM Tim Sepakbola Semarang PSIS dijuluki juga Tim Mahesa Jenar.
Siapakah Mahesa Jenar itu ? Bahkan di Purbalingga ada Gelanggang Olahraga dan Seni, dengan nama Mahesa Jenar,terletak di Jalan Wirasaba No. 4 Purbalingga.Nama Wirasaba adalah tokoh wanita yang mencintai Mahesa Jenar dalam cerita Nogo Sosro Sabuk Inten juga.
Mahesa Jenar adalah sosok khayal yang namanya pernah begitu populer, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mahesa Jenar adalah pendekar dalam cerita Nagasasra-Sabuk Inten karya SH Mintarja tahun 60an. Dahulu dibaca oleh segala kalangan. Ceriteranya bernuansa Jawa namun ia menyentuh imajinasi rakyat tak kenal batas. Siapa saja disentuhnya. Dulu setiap truk akan menuliskan salah satu tokoh cerita pada baknya. Karya ceritera Nagasasra-Sabuk Inten kadang dinilai sebagai karya sastra yang tidak “mutu” namun pencapaiannya ternyata sulit untuk ditandingi oleh novel lain.
Karya S.H. Mintardja ini awalnya dimuat setiap hari di harian Kedaulatan Rakyat (KR) pada tahun 1966. Pertama dalam bentuk buku, seluruhnya ada 64 jilid, tiap jilid 80 halaman. Namun pada tahun tahun 1982, rupanya dipadatkan menjadi 32 jilid dengan tebal 160 halaman. Buku yang tiap jilidnya 80 halaman, dulu amat mudah ditemukan, bisa di warung koran, kios buku, bahkan warung rokok pun kadang dijual. Tahun 2005 ada cetakan edisi luks, dengan hard cover, berjumlah tiga jilid dengan tebal masing-masing sekitar 800 halaman waktu itu per jilid harganya seratus ribu rupiah
Sebuah cerita di th 60an karangan SH Mintarja Nogo Sosro Sabuk Inten.
Mahesa Jenar
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Mahesa Jenar merupakan tokoh utama dalam cerita Nagasasra dan Sabukinten karya S.H. Mintardja. Cerita yang populer tahun 1960 ini mengisahkan tentang sosok mantan prajurit Kasultanan Demak dalam upaya mencari pusaka kerajaan, yakni keris Nagasasra dan Sabukinten.
Penggambaran tokoh
Mahesa Jenar dikenal pula sebagai Senapati Rangga Tohjaya. Gelar itu didapatnya saat masih menjabat sebagai salah satu prajurit pilihan di Kerajaan Demak. Mahesa Jenar berasal dari Kadipaten Pandan Arang (Semarang). Dia adalah murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh alias Pangeran Handayaningrat, putra dari Prabu Brawijaya kelima. Saudara seperguruannya adalah Ki Ageng Pengging alias Ki Kebo Kenanga adalah putra dari Ki Ageng Pengging Sepuh. Di dalam perantauannya, Mahesa Jenar juga dikenal sebagai Manahan. Nama itu dipakainya saat melarikan diri dari kejaran laskar banyubiru demi menyelamatkan Arya Salaka, putra sahabatnya, Ki Ageng Gajah Sora.
Masa kecilnya dilalui sebagai teman bermain "Nis" yang dikenal juga sebagai Ki Ageng Sela Enom. Nis Sela atau yang dikenal juga dengan sebutan Ki Ageng Ngenis adalah putra dari Ki Ageng Sela Sepuh.
Legenda mengatakan bahwa Ki Ageng Sela Sepuh (yang tinggal di daerah Sela, Boyolali, Jawa Tengah) memunyai kelincahan yang luar biasa sehingga mampu menangkap petir. Dan kemampuan ini menurun pada anaknya (Nis Sela)
Dalam cerita rekaan ini, tokoh fiktif ini digambarkan dekat dengan beberapa tokoh yang masuk dalam sejarah Jawa, di antaranya: Sultan Trenggana, Jaka Tingkir, Panjawi, dan sosok-sosok lainnya.
Hubungan dengan beberapa tokoh nyata ini karena jalan ceritanya mengambil latar ketika masih berkuasanya Kasultanan Demak. Mahesa Jenar merupakan salah satu prajurit yang sangat dihormati di lingkungan kerajaan, termasuk oleh Sultan Trenggana sendiri. Sayang saat terjadi peristiwa terbunuhnya Ki Kebo Kenanga ditambah pencurian pusaka kerajaan, Kyai Nagasasra dan Kyai Sabukinten, Mahesa Jenar dianggap sebagai seteru kerajaan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan mulai merantau untuk melacak keberadaan kedua keris pusaka itu.
Mahesa Jenar dikenal dengan sikapnya yang jantan dan ksatria. Dia adalah tipikal prajurit yang berjuang tanpa berharap imbalan. Begitu gigihnya dalam perjuangan, Mahesa Jenar sampai kadang melupakan kepentingan pribadinya. Mahesa Jenar juga tipe pria yang keras hati dan kadangkala dianggap kaku oleh kaum perempuan. Kekakuannya itu sebenarnya adalah cerminan dari ketulusan jiwanya dan kerelaannya berkorban untuk sesuatu yang dianggapnya benar. Termasuk jika dia harus mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Sikapnya yang demikian juga karena kecanggungannya jika berhadapan dengan wanita sehingga membuatnya bisa bersikap tidak wajar. Peristiwa yang melibatkan dirinya dengan Nyai Wirasaba menunjukkan betapa Mahesa jenar kurang peka dalam menyelami perasaan seorang wanita.
Dalam perjalanannya, suatu hari di Hutan Tambak Baya, dirinya menolong seorang gadis cantik bernama Dewi Rara Wilis dari cengkeraman penjahat yang menamakan dirinya Jaka Soka dan Lawa Ijo setelah melalui pertempuran sengit dan nyaris tewas oleh kekuatan pusaka Lawa Ijo. Dari situlah Mahesa Jenar kemudian menaruh bibit cinta pada Rara Wilis. Rara Wilispun ternyata membalas cintanya, meskipun kemudian Mahesa Jenar berusaha meninggalkannya karena tahu dirinya tidak bisa memberikan apa-apa pada gadis yang sangat dicintainya itu. Hal itu dilakukannya setelah mengetahui saudara perguruan Rara Wilis, Demang Sarayuda yang kaya raya juga mencintai Rara Wilis. Tidak diketahui apakah sikap Mahesa Jenar yang demikian itu benar-benar keluar dari dasar hatinya ataukah sekedar akibat kecemburuan sesaat. Beruntung kemudian Mahesa Jenar mendapat nasihat dari Ki Ageng Pandan Alas, kakek sekaligus guru dari Rara Wilis.
Dalam perantauannya, Mahesa Jenar bersahabat dengan Ki Ageng Gajah Sora dari Banyubiru. Ki Ageng Gajah Sora adalah putra sekaligus murid dari Ki Ageng Sora Dipayana yang juga adalah sahabat gurunya. Uniknya, sebelum saling menyadari, keduanya terlibat pertarungan dahsyat yang nyaris merenggut nyawa mereka berdua. Persahabatan mereka berdua pula yang membawa Mahesa Jenar terlibat perang saudara di Banyubiru dan akhirnya harus melarikan diri setelah Ki Ageng Gajah Sora difitnah telah mencuri keris Nagasasra dan Sabukinten. Dalam pelariannya itu, dia membawa putra Ki Ageng Gajah Sora, Arya Salaka yang belakangan diangkatnya sebagai anak dan murid. Secara tidak diduga, dalam pelariannya selama hampir lima tahun itu, dia bertemu dengan paman gurunya Ki Kebo Kanigara saudara seperguruan sekaligus anak tertua Ki Ageng Pengging Sepuh , yang memiliki kesaktian jauh lebih dahsyat dari gurunya sendiri. Dan lewat bimbingan dari Kebo Kanigara pulalah Mahesa Jenar akhirnya bisa melewati batas kemampuan ilmunya sendiri yang membuat ilmunya meningkat berlipat-lipat hingga diapun juga berhasil melampaui kesaktian gurunya.
Kesaktian
Mahesa Jenar menguasai Ilmu Sasra Birawa dari perguruan Pengging dengan baik. Sebelum mendapat bimbingan dari Ki Kebo Kanigara, ilmunya masih belum seberapa, hanya setingkat lebih tinggi dari kesaktian para pendekar level menengah seperti Mantingan, Wirasaba, Jaka Soka atau Lawa Ijo. tapi setelah menggembleng diri di bawah bimbingan Ki Kebo Kanigara, ilmunya meningkat tajam, bahkan jika harus melawan para sesepuh dunia persilatan sekalipun Mahesa Jenar tidak akan kalah Sehingga Mahesa Jenar kemudian disebut sebagai titisan dari Almarhum Pangeran Handayaningrat sendiri. Bahkan oleh sebagian kalangan tua, Mahesa Jenar dipandang lebih hebat dari gurunya tersebut.
Tata Gerak yang diperagakan oleh Mahesa Jenar selain murni dari tata gerak perguruan Pengging, juga dikembangkan dengan kemampuannya menirukan gerak binatang di alam liar, sehingga perkembangan gerakan Perguruan Pengging menjadi semakin bervariasi. Mahesa Jenar kerap disebut memiliki kelincahan seekor kijang dengan tenaga seekor banteng. Dia juga bisa menggunakan berbagai macam senjata dengan baik berkat latihannya sebagai prajurit, segala benda yang ada di tangannya bisa digunakan sebagai senjata yang mematikan.
Mahesa Jenar juga gemar mengamati setiap tata gerak dari setiap lawannya membuatnya mampu membaca setiap gerakan lawannya. Ki Kebo Kanigara menyebutnya bertarung dengan kecerdasan. Tidak salah jika disebut demikian karena Mahesa Jenar selain jeli juga memiliki otak yang cemerlang. Kecerdasannya dibuktikan saat mengungkap teka-teki keberadaan tokoh misterius bernama Pasingsingan, bahkan dia berhasil pula menghubungkan keberadan Pasingsingan dengan Panembahan Ismaya, sesepuh Padepokan Karang Tumaritis, yang sejatinya adalah guru dari seluruh Pasingsingan yang ada. Berkat kecerdasannya pula dia berhasil menyempurnakan ilmu Sasrabirawa tidak hanya sebagai ilmu untuk menyerang, tapi juga bisa berfungsi sebagai pertahanan. Pasingsingan yang bernama Umbaran pernah merasakan bagaimana ilmunya berhasil dipatahkan dengan perlindungan Sasrabirawa yang disempurnakan oleh Mahesa jenar.
Mahesa Jenar juga kebal racun karena di dalam darahnya mengalir bisa ular Gundala Seta yang terkenal mampu menetralisir segala macam racun. Bisa ular Gundala Seta tersebut diperolehnya dari Ki Ageng Sela. Kemampuannya dibuktikan saat mengobati kaki Wirasaba, salah satu sahabatnya yang disebut juga sebagai Seruling Gading. Dan sekali lagi saat memunahkan racun dari pusaka Lawa Ijo yang dikenal dengan sebutan Akik Kelabang Sayuta.
Sumber :
http://totoendargo.com/2010/05/mahesa-jenar/
http://id.wikipedia.org/wiki/Mahesa_Jenar
Mau donwload Novel Nogo Sosro Sabuk Inten :
http://www.mahesajenar.com/2005/12/perjalanan_hidup_mahesa_jenar.html
edytoah October 17th, 2011, 08:59 AM Sunan Kuning Tak Berkait dengan Lokalisasi
Oleh Rukardi
Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0712/04/kot10.htm
KETIKA nama Sunan Kuning disebut, orang segera berasosiasi pada sebuah kompleks lokalisasi di kawasan Kalibanteng, Semarang. Siapa Sunan Kuning, hingga dijadikan tengara kompleks itu? Adakah relasi antara sang tokoh dengan ihwal pelacuran?
Kalau dirunut, pertautan itu sesuatu yang rancu. Di Kalibanteng Kulon memang ada petilasan yang dipercaya sebagai makam Sunan Kuning, namun situs itu sama sekali tak berhubungan dengan keberadaan lokalisasi.
Sunan Kuning di tempat itu juga tak merujuk langsung pada sosok Mas Garendi Sunan Kuning sebenarnya atau Sunan Amangkurat III, pemimpin pemberontakan orang-orang China terhadap Kartasura pada 30 Juni 1742.
http://img600.imageshack.us/img600/6264/makamsunankuningsuarame.jpg
Photo by : Suara Merdeka Cybernews
Sunan Kuning sebenarnya adalah Raden Mas Garendi, a.k.a Sunan Amangkurat III, salah satu raja dalam trah Kerajaan Mataram dan pecahan-pecahannya. Sunan Kuning termasuk murid Sunan Kalijaga, satu angkatan dengan Sultan Hadiwijaya (Pajang), Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Penjawi, dan Ki Juru Martani.
Raden Mas Garendi, juga disebut Sunan Kuning, adalah seorang cucu raja Amangkurat III dari Mataram. Tahun 1742, saat dia berumur 12 tahun, dia diangkat sebagai raja Mataram oleh pemberontak yang menantang kekuasaan Susuhunan Pakubuwana II (bertahta 1729-1746).
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Mas_Garendi
Makam Sunan Kuning Raden Mas Garendi, a.k.a Sunan Amangkurat III ada di Ds. Macanbang, Kabupaten Tulungagung. Makamnya ada di belakang masjid yang dikenal orang sebagai Masjid Tiban. Namun demikian — tanpa bermaksud berprasangka buruk — seperti halnya makam-makam tua, tempat ini lebih banyak digunakan sebagai kegiatan syirik seperti pencarian nomor togel, wangsit, pusaka, dll.
Sumber : http://blog.galihsatria.com/2007/11/07/masjid-tiban-makam-aulia-sunan-kuning/
Sutomo (57), juru kunci, mengaku tak bisa menjelaskan sosok Sunan Kuning yang bermakam di Kalibanteng Kulon itu. Namun ketika diminta bercerita ikhwal penemuan makam oleh buyutnya yang bernama Mbah Saribin, ia teteh menuturkan.
Arkian Mbah Saribin yang punya kecakapan spiritual tinggi kehilangan lima ekor kerbau piaraannya. Tujuh hari tujuh malam ia mencari, menyisir desa-desa, keluar masuk hutan belantara. Tapi hewan-hewan itu tak ditemukan juga.
Sebagai guru spiritual yang dikenal sakti, Mbah Saribin merasa malu dan terpukul lantaran tak mampu menemukan kerbau-kerbaunya. Dalam keputusasaan, ia nekat menyepi di Gunung Pekayangan yang dikenal wingit dan tak pernah dijamah manusia.
Demikian wingit hingga dilekati sesorah jalma mara jalma mati (siapa yang datang akan mati).
''Dalam pikirannya, lebih baik mati dari pada menanggung malu kepada masyarakat, terutama para muridnya,'' papar Sutomo.
Saat bersemedi, Mbah Saribin merasa didatangi seseorang yang datang menunggang kereta kencana. Kepadanya ia memberi tahu keberadaan kerbau-kerbaunya. Benar saja, hewan-hewan piaraan itu terikat di bawah pohon kecil, tak jauh dari pertapaannya.
Mbah Saribin amat gembira, dan bisa pulang dengan mendongakkan kepala. Keesokan harinya, ia mengajak keluarga dan murid-muridnya membersihkan Gunung Pekayangan. Saat semak-semak dibabat, tampaklah enam punthukan batu, menyerupai nisan.
Mbah Saribin kembali bersemedi untuk mencari tahu, siapa yang dimakamkan di tempat itu. Sosok penunggang kereta kencana kembali muncul dan memperkenalkan diri sebagai Kanjeng Sunan Kuning. Bersamanya Kanjeng Sunan Kali, Sunan Ambarawa, serta para abdi: Mbah Kiai Sekabat, Kiai Jimat, dan Kiai Majapahit. Sejak itu, Gunung Pekayangan dikenal sebagai tempat ngalap berkah.
Siek Sing Kang
Suatu ketika, seorang warga keturunan asal Klaten bernama Ny Siek Sing Kang datang ke kompleks makam Sunan Kuning. Dia meminta tolong untuk menemukan emas berliannya yang hilang di kereta api. Tiga hari menyepi, dia mendapat wisik, harta yang ia cari telah berada di kantor polisi.
Sebagai ungkapan syukur, Siek Sing Kang membangun nisan serta cungkup permanen di kompleks makam Sunan Kuning. Dia mengkonstruksi kompleks itu dengan gaya akulturasi China-Jawa.
Kini, makam Sunan Kuning berada di wilayah administratif Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat. Letaknya di puncak bukit kecil, di sebelah utara Jalan Muradi Raya.
Untuk mencapai tempat itu, harus melewati pemakaman umum warga. Sebuah gapura berlanggam China terdapat di pintu masuk. Pohon-pohon tua seperti kecacil dan jangkang yang tumbuh merimbun membuat kompleks makam Sunan Kuning menjadi teduh.
Pengunjung makam berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa Timur. Mereka datang dengan aneka maksud dan tujuan, mulai dari mencari jodoh, penglaris, kemuliaan hidup, dan kesembuhan. Makam Sunan Kuning ramai pada Bulan Besar atau malam Jumat Kliwon di Bulan Sura.
Paro kedua tahun 1970-an, muncul kompleks lokalisasi di Kalibanteng. Karena letaknya di Jalan Sri Kuncoro, orang sering menyebut lokalisasi itu dengan singkatan SK.
Nah, di sinilah kerancuan itu terjadi. Mereka yang tidak tahu mengira SK kependekan dari Sunan Kuning, yang lokasi makamnya tak jauh dari tempat itu. Celakanya, identifikasi itu dari waktu ke waktu kian terlembagakan.(18)
NpF October 18th, 2011, 10:29 AM Udah pernah Gath kecil disini, yang datang saya, pak YB Murty, om SSphila dsama bidadari kecilnya yang asyik main game hehe, om NpF sama om Momod. Castle mau gabung eh malah nyasar... ayo kapan Gath lagi??
oalah....kok sampai aku blas rak nglegewo ono thread iki barang lho, sepurane ingkang kathah om titus :( :(
anyway, ayo aku melu meneh nek arep ono gath, the previous one was emejingggggg lho:banana::banana:, revealed many things :D
do ngomong semarangan neng kene, seneng ik...:banana::banana:
RAGIL77 October 19th, 2011, 05:57 AM SEMARANG METRO
19 Oktober 2011
Suara Merdeka, Selasa 10 Agustus 1971
Kereta Api Semarang - Sala 110 Menit Segera Dibuka
Tiap Hari 5 Kali Perdjalanan : Mulai Tg. 18 Agustus Dibuka Lintas KA Barang Tjepat Semarang - Djakarta Dalam Waktu Kurang Dari 24 Djam
M SHOEKIRLAN, humas PNKA Explotasi Djateng, dalam keterangannja pada “Suara Merdeka” menjatakan, bahwa pada tg. 28 September jad. untuk djurusan Semarang - Sala pp., akan dibuka lintas kereta-api penumpang tjepat terbatas (Patas). Djarak Semarang - Sala akan ditempuh dlm waktu 110 menit, hanja berhenti sebentar di Gundi. Lintas KA djurusan tsb. tiap harinya diselenggarakan 5 kali perjalanan pulang pergi.
Kereta2 penumpang jang akan digunakan merupakan kereta bekas seri 9000 jang sudah di up grade mendjadi CW. Dalam kereta ini tidak ada restorasi wagon, tetapi bagi para penumpang dalam perdjalanan dapat memesan makanan/minuman ringan. KA “Patas” dari stasium Semarang Tawang berangkat terpagi djam 06.11 sampai di Sala djam 08.01. Terachir berangkat dari Semarang Tawang djam 17.30 sampai di Sala djam 19.12. Untuk KA “Patas” jang berangkat pertama dan terachir dari stasiun Semarang Tawang semuanja sampai di Jogjakarta. Maksud diselenggarakan KA “Patas” ini untuk meningkatkan service PNKA terhadap masjarakat.
KA Tjepat barang Semarang - Djakarta
Sementara itu oleh M Soekirlan lebih landjut diterangkan pula bahwa pada tanggal 18 Agustus jad. oleh PNKA Explotasi Djateng akan dibuka lintas kereta api barang tjepat djurusan Semarang - Djakarta. Ketera barang tsb berangkat dari stasiun Semarang Gudang djam 15.41 sampai di Djakarta djam 13.11. Djadi dengan demikian djarak tsb ditempuh kurang dari 24 djam. Keamanan barang jang diangkut didjamin oleh pihak PNKA.
Maksud diselenggarakannja perdjalanan kereta api barang tjepat ini untuk menampung barang2 jang dikirim dari daerah2 misalnja dari Kudus Purwodadi dllnja untuk tudjuan ke Djakarta. Barang jg akan dikirim siang dimuat sore ditarik dan dalam djangka waktu relatip pendek sudah sampai ditempat tudjuan. Keuntungan jang akan diperoleh dari kereta api barang tjepat ini barang2 jang dimuat bisa banjak (tiap kereta bisa muat 10 - 15 ton). Demikian antara lain M. Soekirlan Humas PNKA Explotasi Djateng dalam keterangannja pada “Suara Merdeka”.
“Kotak Pengaduan” kepada PNKA
Achirnja dalam keterangannja pada “Antara” Soekirlan menjatakan bahwa PNKA Eksplotasi Jawa Tengah di Semarang dewasa ini telah mengadakan “Kotak2 Pengaduan” diseluruh stasiun2 di Djawa Tengah. Kotak tersebut dimaksud untuk menampung dan menjalurkan social control dari seluruh masjarakat dan petugas2 PNKA jang dulunja disalurkan melalui organisasi2 buruh PNKA. Surat2 jang masuk jang berisi kritikan2 jang sifatnja membangun akan dilajani dan ditangani dengan sewadjar2nja dan penuh objektif. Laporan2 dan surat2 pengaduan tersebut diambil pada tiap2 achir bulan. Diharapkan masjarakat maklum dan mengerti, demikian al Soekirlan.(Depo Arsip-Pusda SM)
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/19/163182/Kereta-Api-Semarang-Sala-110-Menit-Segera-Dibuka
titus15 October 19th, 2011, 06:30 AM ^^Ironis, sekarang pandanwangi Semarang Solo yang waktu tempuhnya 3 jam, harga mahal (20000) cuma jalan 2 kali malah mau ditutup jalurnya.
Bandingkan saja, dulu cuma 2 jam kurang, ada kafetarianya, jalan 5 kali sehari sampai jogja pula... wah...
Mas NpF tak tunggu ya... arep Gath kie...
NpF October 19th, 2011, 06:39 AM ^^Ironis, sekarang pandanwangi Semarang Solo yang waktu tempuhnya 3 jam, harga mahal (20000) cuma jalan 2 kali malah mau ditutup jalurnya.
Bandingkan saja, dulu cuma 2 jam kurang, ada kafetarianya, jalan 5 kali sehari sampai jogja pula... wah...
Mas NpF tak tunggu ya... arep Gath kie...
sip, kapan mas? kabar kabar yah,
sembilanbelas October 19th, 2011, 09:52 AM mari kita gath seluruh forumer semarang....mas sembilanbelas & mas NPF dapet undangan special...:lol:
om bozhart jg spertinya sedang gak disemarang...:nuts:
Jarang mampir disini, mo ada gath to? Wingi gek wae pulkam. Mesti gayeng tenan ki...
titus15 October 19th, 2011, 04:55 PM Nonton video Semarang tempo doeloe, jaman Londo
kVfGECAeUhA#!
titus15 October 19th, 2011, 04:58 PM cNG-YoTfeOw&feature=related
ini lebih seru lagi
edytoah October 21st, 2011, 04:48 AM ^^
Ciamik :okay: ... Mas Titius ..
Video I sy terkesan dengan kerja Bengkel Kereta Api tsb jaman doeloe ...
Video II .. Ada Tugu kayak Apollo ..sebelahnya ada Gedung ..dimana tuh ya Mas .. kelihatannya kok kayak di Hotel Du Pavilion ..Dibya Puri Sekarang ya ...
Ada kantor pos,Gedung Papak,jaman dulu juga .. Tremnya juga kesannya romantis banget kota Semarang jaman dulu ...
detwis October 21st, 2011, 05:51 AM http://2.bp.blogspot.com/-hpFnV2Y9b_0/TkVEI_3rEzI/AAAAAAAAANM/4zvppNByFMc/s1600/semarang-stadswapen.gif
titus15 October 21st, 2011, 02:52 PM ^^
Ciamik :okay: ... Mas Titius ..
Video I sy terkesan dengan kerja Bengkel Kereta Api tsb jaman doeloe ...
Video II .. Ada Tugu kayak Apollo ..sebelahnya ada Gedung ..dimana tuh ya Mas .. kelihatannya kok kayak di Hotel Du Pavilion ..Dibya Puri Sekarang ya ...
Ada kantor pos,Gedung Papak,jaman dulu juga .. Tremnya juga kesannya romantis banget kota Semarang jaman dulu ...
Tugu kayak apolo itu di seputar tugumuda sekarang. Perhatikan sekali lagi deh...
edytoah October 21st, 2011, 09:30 PM ^^
Heeh yo Mas Titus .. tugu Apollonya didepan Musium AD sekarang.Ya Tugu Muda itu dulunya Taman Juliana kok ya namanya.
Lawang sewunya koq ngak kelihatan ya,mgkn apa krn sy belum mat lihatnya krn jaringan internet sy rended trs,ora kanti ngentenine.
Penasaran ama video I di awal-2.Itu gedung apa ya Mas, apa itu Susteran Gedangan ?.Banyak pilar-2nya ..ada mobil VW apa Dodge masuk (mungkin Boss gedung tsb khali ) trs terakhir koq ada priyayi lenggah di lobby depan ..jadi ragu mgkn bukan Susteran Gedangan. Apa itu Ktr Balaikota atau Gedung PJKA di Thamrin ya ?
Bagus banget Gedungnya .. halamannya juga luas ada pohon besar-2.
Seru videonya .. bisa main dibuat main tebak-2an .. gedung kuno ama jalan kunonya, .. Cuma sy pernah diceritain kalau Trem memang dari Bojong spi Jomblang ktnya.Rutenya lwt mana ya itu .. Tugu Muda-Pemuda-Johar - Dr Cipto - Mataram - Peterongan - Jomblang khali ya ...
titus15 October 21st, 2011, 10:28 PM ada peta th 1920an, rute tram tergambar disiti dari Bulu (banjir kanal barat jl Soehiyopranoto), lewat tugumuda, Bojong, Jurnatan terus ke jl MAtaram sampai Jomblang Java Mall mas... simpang lima masih mbulak.
Karena file itu tentang kereta api, maka gedung itu ya gedung PT KAI di Thamrin (belakang PErtamina). Waktu itu lapangan tugumuda masih Wilhelmina Plein mas bukan Juliana...
titus15 October 21st, 2011, 11:07 PM ini ada situs sejarah kereta api yang bagus mas... http://tjahjonorailway.blogspot.com/2008_07_01_archive.html
edytoah October 28th, 2011, 08:30 AM Ketika Teater Lingkar pentas di SK
"Mbake sebelah bikin gelisah ..."
http://img3.imageshack.us/img3/9562/tunasm.jpg
Resosialisasi Argorejo atau Sunan Kuning (SK) dikenal sebagai kawasan yang lekat dengan para perempuan penghibur.
Tapi malam itu, sebagian dari mereka libur dan justru dihibur dengan pertunjukan teater.
S U A S A N A lengang terasa di Gang VI Sunan Kuning, Rabu (26/10) petang. Hingar bingar ndang dutan tak terdengar. Justru gang itu ditutup dengan kain hitam membentang. Beberapa orang nampak menata lampu, mengangkat kursi panjang dan memperbaiki sumur yang dibangun di tengah jalan.
Suasana tak biasa itu membuat beberapa orang yang lewat penasaran.
Sebagian berhenti, melihat sebentar lalu jalan lagi. Tapi tak sedikit yang bertanya pada beberapa warga yang sedari tadi memperhatikan. ”Iki ono opo to lek?” Malam harinya, barulah kepenasaranan orang-orang terjawab. Kain hitam, sumur, dan kursi panjang itu adalah panggung pertunjukan teater yang sebentar lagi tergelar.
Tepat pukul 19.30, hentakan musik rancak terdengar. Satu persatu warga mulai keluar rumah, kemudian merapat ke lokasi pementasan yang terletak tepat di depan Sekretariat PKBI Griya Asa. Di antara mereka, nampak Ketua Resosialisasi Argorejo, Soewandi dan tokoh setempat berada di tengah-tengah warga.
Begitu pentas dibuka dan aktoraktor bermunculan, penonton langsung ger-geran. Sebuah pemandangan yang sudah biasa sebetulnya dalam pertunjukan-pertunjukan Teater Lingkar.
Tapi jika mengalihkan pandangan ke penonton, jelas ada sesuatu yang tak biasa. Penggemar teater Semarang yang malam itu hadir, dibuat tak jenak karena duduk satu tikar dengan puluhan wanita muda yang berdandan seksi nan mengundang.
Tingkah para gadis yang hanya mengenakan tank top dan hot pant itu malah tak jarang menjadi pertunjukan yang lebih hot daripada Lingkar yang sudah sering mereka saksikan. “Wah, mbak'e sebelah bikin gelisah,“ bisik Khotibul Umam, teaterawan muda Semarang.
Tanpa Beban Bagaimana tidak. Selain ranum dan segar, mbak-mbak yang nonton berombongan itu nampak ringan sekali menimpali dialog pemain yang memang dikonsep sampak'an. Dari sekadar nyeletuk ringan, nggembor, misuh hingga tertawa lepas tanpa beban. ”Modar rak we ditinggal bojomu wakakaka,” teriak salah satunya ketika mengomentari sebuah adegan.
Selain ”budaya” setempat yang sudah mengakar kuat, lepasnya penonton juga berkat penyutradaraan Mas Ton. Ia mengadaptasi beberapa poin penting dari naskah asli untuk mendekatkan penonton pada lakon yang dibawakan. Misalnya setting tempat Kampung Magersaren diubah menjadi Kampung Argorejo. Improvisasi pemain juga sangat mengena dengan menyebut beberapa nama yang akrab di telinga warga Sunan Kuning.
Namun di atas semuanya, sebenarnya lakon ”Tuk” sendiri cukup senafas dengan realita Sunan Kuning. Lakon yang ditulis tahun 1989 ini menceritakan sebuah masyarakat di daerah pinggiran yang tak dianggap penting warga kebanyakan.
Penghuninya dari berbagai profesi yang disatukan oleh nasib sebagai orang kecil dan marginal, menghadapi kekuasaan pemilik tanah. Daerah yang penuh sengkarut masalah dan dicap sampah
itu konon hendak digusur untuk dijadikan kawasan yang lebih beradab dan modern.
Menurut Mas Ton, pentas ini merupakan rangkaian program “Roadshow de Kampoeng“ yang digelar sejak akhir September lalu.
Sebelumnya, pada 1 Oktober lalu, Mas Ton Cs telah blusukan ke Desa Genting, Jambu, Kabupaten Semarang dan Kampung Genuk Baru, Kelurahan Tegalsari, Candisari pada 8 Oktober.
Setelah di SK, roadshow akan berlanjut di Balai Serba Guna Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal pada 12 Nopember mendatang.
“Malam ini kami sengaja ke tempat yang berbeda untuk mengajak warga di sini (SK) merenungi kehidupan. Bahwa, ternyata masalah tidak hanya kita yang punya, bahwa ternyata kebahagiaan bisa didapat dari mana saja. Karena itu dimanapun dan kapanpun, semangat untuk hidup lebih baik itu harus terus diperjuangkan,“ katanya. (Anton Sudibyo-72)
Sumber : http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2011/10/28/ArticleHtmls/Ketika-Teater-Lingkar-Pentas-di-SK-Mbake-Sebelah-28102011101032.shtml?Mode=1
detwis October 28th, 2011, 08:53 AM ini sesuai postingan om titus dan castle92 di thread lama
dulu sy jg sempet bc artikelnya
bagaimanapun jg ini merupakan sejarah kota semarang
SEMARANG & SEKITARNYA
27 Mei 2009
Fondasi Benteng Kota Lama Ditemukan
SEMARANG UTARA- Hasil penggalian kegiatan penelitian mengenai keberadaan benteng Kota Lama, Selasa (26/5), berhasil menemukan fondasi batu bata. Benteng yang mengelilingi Kota Lama tersebut selama ini hanya ditemukan dalam peta buatan tahun 1800.
Ketua Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Sugeng Riyanto, mengatakan dinding benteng bagian bawah tersebut setebal 60 cm dan ketinggiannya tersisa 50 cm.
Dinding tersebut bertumpu pada sloof dan dondasi yang kokoh. Lokasi penggalian di pool Damri Jl Mpu Tantular. Ada dua lubang yang dibuat, masing-masing berukuran 1X3 meter dan 1X2 meter dengan kedalaman 1,5-2 meter.
Satu lubang untuk menemukan bekas dinding yang ada antara tahun 1756-1824. Adapun lubang lainnya untuk menemukan artefak atau barang-barang yang ada di masa adanya dinding tersebut.
’’Di lubang yang lain kami menemukan pecahan botol, barang-barang keramik, hingga genteng tanah liat,’’ katanya.
Sesuai dengan Peta
Sugeng menjelaskan lokasi pool Damri dipilih karena sesuai dengan peta, salah satu bastion atau sudut benteng terdapat di lahan tersebut. Sementara tiga bastion lainnya sulit untuk dilakukan penggalian karena sudah terdapat bangunan di atasnya. Berdasar peta kuno, ketiga bastion itu kini sudah ada bangunan dealer Isuzu Tawang, Taman Bubakan, dan Gudang PN Gas Sleko.
Ia menambahkan, penelitian selanjutnya akan diarahkan pada penelusuran penyebab dinding itu dihancurkan. Hipotesis awal yang ia kantongi, dinding dirobohkan sendiri oleh Belanda karena untuk perluasan jaringan rel kereta api.
Selain itu juga ada alasan politis, yakni kekuasaan VOC di nusantara telah hancur, yang selanjutnya diambil alih oleh kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda. Fungsi benteng untuk melindungi aset-aset VOC.
’’Pada saat dinding benteng ada, gedung yang sudah berdiri yaitu Gereja Blenduk, Gedung Pengadilan (kini menjadi Rumah Makan Cianjur), dan Parade Plein (kini Taman Srigunting). Bangunan tersebut menjadi patokan penelitian kami, selain jaringan jalan dan kanal,’’ katanya.
Bekas dinding benteng secara keseluruhan sudah terpendam. Terlebih kondisi wilayah tersebut rawan rob, sehingga pemilik lahan di kawasan itu telah menguruk berkali-kali.
D Joko Hargono, pegawai Damri mengatakan, selama ia bekerja di pool Jl Mpu Tantular mengetahui telah dilakukan pengurukan dua kali. Terakhir kali, pada 2008 diIakukan pengurukan setinggi 75 cm. Ia pun tidak mengetahui apabila di lokasi tersebut terdapat artefak pertumbuhan Kota Semarang, khususnya masa kastil.
’’Wah saya belum tahu kalau dulu Kota Lama ini dikelilingi tembok benteng. Dengan penemuan ini saya baru tahu gambaran kehidupan kota masa dulu,’’ katanya.
Kabid Perencanaan Pembangunan III Bappeda Kota Semarang, M Farchan mengatakan, penelitian ini bisa bermanfaat bagi pengetahuan mengenai proses pertumbuhan Kota Semarang. Nantinya bisa menjadi acuan arah pengembangan Kota Semarang, terutama pariwisata.
’’Hasil penelitian ini menarik, bagaimana tahapan-tahapan perkembangan Semarang, masa lalu dan masa kini,’’ paparnya. (H22,H9-41)
SEMARANG & SEKITARNYA
29 Mei 2009
Bisa Jadi Momentum
BALAI KOTA - Pembentukan Pusat Informasi Kota Lama dinilai mendesak, sebagai bagian dari upaya merevitalisasi kawasan heritage tersebut.
Temuan benteng kastil yang mengelilingi Kota Lama bisa menjadi momentum untuk pembentukan pusat informasi tersebut. Pada pusat informasi itu, bisa ditempatkan hasil-hasil penelitian yang berkait dengan Kota Lama, yang bisa diakses oleh semua kalangan.
Hal itu merupakan salah satu butir rekomendasi tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta, yang baru saja merampungkan penelitian tentang benteng kastil Kota Lama. Sejauh ini, informasi mengenai kawasan berjuluk The Little Netherlands itu dinilai masih minim, terlebih yang berada di kawasan itu.
’’Dengan adanya pusat informasi itu, ibaratnya orang masuk ke Kota Lama dalam keadaan tidak tahu, keluar sudah punya informasi komplet,’’ kata Sugeng Riyanto, ketua tim peneliti.
Pusat informasi ini bisa menjadi rujukan untuk pengembangan penelitian, pendidikan formal/informal, hingga dalam batas-batas tertentu bermanfaat untuk pengembangan kepariwisataan. Keberadaan pusat informasi itu juga memberikan kontribusi pada penumbuhan apresiasi publik terhadap Kota Lama.
Di sisi lain, tim juga merekomendasikan perlunya pencantuman nama-nama lama, pada papan penunjuk jalan yang ada di Kota Semarang. Misalnya papan nama Jl Letjen Suprapto, perlu dilengkapi dengan tulisan Heeren Straat, yang merupakan nama lama ruas jalan yang membelah Kota Lama tersebut.
’’Pencantuman nama-nama lama, menyertai nama jalan yang ada sekarang, akan memberikan tambahan informasi kepada warga Kota Semarang, khususnya dari kalangan generasi muda,’’ ujarnya.
Papan Penanda
Terkait benteng kastil, tim peneliti merekomendasikan, perlunya penandaan beberapa bagian benteng yang mengelilingi Kota Lama tersebut. Papan-papan petunjuk bisa dipasang pada titik-titik yang masih memungkinkan, serta mudah diakses masyarakat.
’’Misalnya, pada lokasi-lokasi bastion (semacam menara pengintai—Red) benteng kastil, yang saat ini telah berubah peruntukan,’’ kata Sugeng.
Sejumlah kota yang memiliki pusaka budaya seperti Semarang, kata dia, sudah memasang papan penanda semacam itu. Di kota-kota seperti Surakarta atau Surabaya, papan penanda itu cukup efektif dan informatif bagi masyarakat yang melihatnya.
’’Lebih jauh lagi, benteng kastil Kota Lama bisa dieksplorasi untuk pengembangan kepariwisataan di Kota Semarang. Namun, untuk sampai pada tahap itu, perlu studi lebih mendalam yang melibatkan banyak pihak.’’ (H9,H22-18)
Sabtu, 30 Mei 2009
KOMPAS.com - Penggalian tim penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada 18-27 Mei lalu, yang membuahkan penemuan bekas struktur bangunan Benteng Kota Lama menuai secercah harapan. Nilai kesejarahan mengenai benteng tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata di Kawasan Kota Lama.
Dalam ekskavasi yang dilakukan di dua titik, tim penelitian menemukan bekas pondasi, sekitar 500 artefak perkakas rumah tangga, dan bekas tatanan batu bata. Hasil temuan itu mengindikasikan bahwa benteng dengan lima sisi tersebut pernah berdiri mengelilingi kawasan Kota Lama pada rentang waktu 1756-1824.
Meskipun masih terdapat pro-kontra terhadap dugaan waktu berdirinya, banyak pihak menyambut positif terhadap asumsi keberadaan benteng itu sendiri.
Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BP2KL) Surahman, Jumat (29/5), menyatakan, keberadaan Benteng Kota Lama dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata Kota Semarang. Nilai kesejarahan dapat digunakan sebagai alat promosi untuk pengembangan kawasan Kota Lama secara komprehensif.
"Keberadaan benteng tersebut menjadi nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada pihak swasta untuk berinvestasi di Kota Lama. Selain itu, juga menjadi daya tarik wisata bagi turis yang berkunjung," katanya.
Perancang dan perencana bangunan Widya Wijayanti menuturkan, Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang M Farchan mengatakan, penemuan arkeologis Benteng Kota Lama dapat memperkaya data kesejarahan. Hasilnya dapat untuk mengetahui morfologi perkembangan kota dari masa ke masa.
Ketua tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengakui, masih terdapat kemungkinan lain dari hasil penggalian yang dilakukan timnya. Namun, asumsi terkuat berdasarkan hasil temuan itu merujuk pada keberadaan Benteng Kota Lama.
Penggalian tersebut didasarkan pada garis imajiner (deliniasi) Benteng Kota Lama yang terdapat pada peta tahun 1800. Temuan itu mempertegas keberadaan benteng yang sudah pernah diterbitkan di peta, katanya.
Sugeng menambahkan, hasil penemuan tersebut diharapkan dapat bermanfaat untuk kepentingan riset lebih lanjut, pendidikan formal dan non formal, serta untuk pengembangan kepariwisataan. Pemkot Semarang dapat menayangkan papan informasi mengenai Benteng Kota Lama yang dapat menarik pengunjung, ucapnya.
Ahli sejarah dari Universitas Diponegoro Dewi Yuliati mengungkapkan, penemuan pondasi dan artefak tersebut belum sepenuhnya membuktikan sebagai peninggalan Benteng Kota Lama.
Berdasarkan literatur dengan judul Oud en Nieuw Oost Indie yang berisi tentang perjalanan pengelana Belanda Francois Valentijn, keberadaan Benteng Kota Lama telah ada sejak 1724. "Yang lebih meragukan, benteng tersebut diduga dirubuhkan untuk pembangunan rel kereta api, padahal rentang waktunya terlalu jauh," ucap Dewi. (ILO/UTI)
http://i712.photobucket.com/albums/ww123/java_89/IMG_0024.jpg
titus15 October 28th, 2011, 12:23 PM Nuwun mas... cerita2 lamanya diboyong disini...:)
Ketika Teater Lingkar pentas di SK
"Mbake sebelah bikin gelisah ..."
http://img3.imageshack.us/img3/9562/tunasm.jpg
[B]Resosialisasi Argorejo atau Sunan Kuning (SK) dikenal sebagai kawasan yang lekat dengan para perempuan penghibur.
Ini teater jos tenan (padahal semboyannya teteg tekun teken tekan po ya haha... lali) sejak tahun 81 masih bertahan sampai sekarang. Salah satu pemainnya kembang sekolah se SMA ku pas di Teater SMA, sampai sekarang masih setia berteater.
Eksis juga dengan wayangannya sebulan sekalidi TBRS. Malah anaknya Mas Ton ini (si Sindu) sekarang juga jadi dalang...padahal masih SMA kelas 1...
detwis November 6th, 2011, 04:12 AM deleted
slim_shady0052 November 6th, 2011, 05:16 AM hi everyone in Indonesia forum.
i dont know where to post this one but please dont complain
i see those one in an Indonesia restaurant, that's so awesome, could you guys teach me what is that, the name and style of those statue
http://img535.imageshack.us/img535/6347/img8284a.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/535/img8284a.jpg/)
Uploaded with ImageShack.us (http://imageshack.us)
http://img705.imageshack.us/img705/958/img8285m.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/705/img8285m.jpg/)
Uploaded with ImageShack.us (http://imageshack.us)
http://img600.imageshack.us/img600/6306/img8289v.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/600/img8289v.jpg/)
Uploaded with ImageShack.us (http://imageshack.us)
http://img337.imageshack.us/img337/4089/img8290s.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/337/img8290s.jpg/)
Uploaded with ImageShack.us (http://imageshack.us)
i took just 4 photos but i see so many more statue...i'll be happy if u can post some more pic of this. thanks you very much !
btw, i try this, that's hot and i love hot!
http://img577.imageshack.us/img577/287/dsc7620.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/577/dsc7620.jpg/)
Uploaded with ImageShack.us (http://imageshack.us)
sr my bad bad English
ssphila November 7th, 2011, 03:48 AM edited
edytoah November 7th, 2011, 12:46 PM ^^
Picture 1 was Java Lantern.Usually hang on at living room of ancient old Javanese house (Joglo)..
Picture 2 was Garuda Wisnu Carving,The vechicle of Wisnu.Wisnu is one of The Hindushm Gods.You can see more this figure in Bali.
Picture 3 was Ganesha statue.In Hindushm Ganesha known as The God of Knowledges.
Picture 4 was Statue symbol of Yoni (Man's reproduction organ).The opposite called Lingga (Woman reproduction organ).Both in Hindushm known as The Gods of Fertility.These statues can be seen in the Relief of Borobudur Temple too.
Picture 5 was The Java spicy soup.That was made from Goat innards.Usually eat with rice.The local name of that soup was Gule.
ssphila November 9th, 2011, 11:49 AM Disini ada cerita planning (perkembangan) Kota Semarang 1900-1970, panjang banget, sy quote sedikit, silakan cek di link ini utk selanjutnya : http://www.art-in-society.de/AS6/Pratiwo/Pratiwo(1a).shtml
Sejarah perencanaan kota di Indonesia sudah dimulai sejak beberapa abad yang lalumulai dari perencanaan ibukota kerajaan hindu Majapahit sampai dengan kesultanan Yogyakarta. Diluar perencanaan kota secara tradisional yang didasari padakepercayaan kosmologis, Belanda juga merencanakan kota-kota pantai utara jawasebagai kota pertahanan dari serangan bangsa Eropa lain. Bahkan Daendels secara ekstrem merencanakan pertahanan seluruh pulau jawa dengan menghubungkan kota-kota penting melalui jalan post yang sangat terkenal. Tetapi, perencanaan kota secaramodern dimulai pada awal abad 20 mengikuti pola perencanaan kota-kota di Eropa. Salah satu kota yang menjadi eksperimen perencanaan kota modern yakni kotaSemarang. Sejarah Perencanaan kota Semarang kurun waktu 1900 – 1970 merupakan bagian penting sejarah perencanaan kota Indonesia yang sangat menarik untuk dibahas bila dihubungkan dengan sejarah sosial yang terjadi di saat itu. Kurun waktu tujuh puluh tahun tadi perlu disoroti dalam empat periode yakni periode awal dari tahun 1900-1942 dan kemudian diamati pada tahun 1942-1945, tahap 1945-1965 dan diakhiri dengan membahas tahapan pada periode 1965-1970 yang sebetulnya merupakan periode awal orde baru yang tidak akan tuntas untuk dibahas. Dari periodisasi ini tulisan ini akan menyoroti lahirnya perencanaan kota modern yang diawali dengan proses desentralisasi ditahun 1906 yang mana setiap kota semarang mendapat kebebasan untuk menyusun anggaran belanjanya serta mencari dana bagi pengembangan kotanya tanpa persetujuan dari pemerintah pusat di Jakarta. Pada periode awal perencanaan modern kota semarang, untuk pengembangan kearah selatan, pihak pemerintah kota mengadakan pameran pembangunan yang sangat terkenal dengan nama koloniale tentoonsteling. Perencanaan pengembangan kota kearah selatan ini baru bisa direalisasi setelah datangnya Thomas kartsten 1916 yang meninggalkan pola pembagian masyarakat menurut etnis menjadi kelas ekonomi. Pada periode 1945-1965, akan disoroti proses urbanisasi yang terjadi dikota denganberkembangnya perkampungan dan masuknya masyarakat perdesaan ke Semarang.Pada periode ini akan diulas peran Bung Karno dalam pengembangan kota semarangbagian tengah dengan dibangunnya simpang lima. Bagaimanakah implementasiperencanaan kota pada era pasca Kolonial?.Periode terakhir yang akan dibahas adalah periode 1965-1970. Jatuhnya Bungkarno dan naiknya Soeharto adalah pudarnya sosialisme. Pada periode ini akan dibahas bagaimana modal menguasai kota dan perencanaan kota yang dikendalikan oleh pemilik modal. Tentu saja akan diulas mengenai perencanaan perumahan Tanah Mas dan penghancuran berbagai bangunan kuna di kota Semarang.
titus15 November 9th, 2011, 01:41 PM Nice mas... membaca artikel itu membuat kita jadi tau bagaimana metamorfosa semarang dari jaman dulu sampai sekarang....
ssphila November 13th, 2011, 07:26 AM Jongkie Tio: Pendongeng Kota Semarang Tempo Doeloe
http://suaramerdeka.com/foto_layar/65ced5932998782dab4dc9f0f2ff8a35.jpg
.......................................
"Saya ini bukan sejarawan ataupun budayawan kota Semarang, saya hanya story-teller," tuturnya saat ditemui di restoran miliknya, Semarang International Family & Garden di jalan Gadjahmada yang menyajikan aneka masakan khas dan jajan pasar khas Semarang tempo doeloe sebagai salah satu menu utamanya, disamping cantonese chinese food dan steak house.
Dirinya enggan disebut sebagai sejarawan kota Semarang, karena ia hanya sekedar menyampaikan tentang apa yang diketahuinya tentang kota Semarang.
Mendengar cerita dari berbagai sumber membuatnya semakin tahu dan cinta akan kota Semarang. Begitu juga akan foto-foto yang menjadi koleksinya sampai sekarang, ia dapatkan dari berbagai sumber, hasil bidikannya sendiri, juga ia kumpulkan dari majalah, koran, teman, atau kolektor lainnya. Terkadang Jongkie juga harus merogoh banyak kocek untuk mendapatkan sebuah foto yang ia inginkan.
Jongkie sendiri mengatakan sangat banyak orang berkewarganegaraan Belanda yang pada masa penjajahanannya dulu menempati kota Semarang datang kembali ke Semarang untuk sekedar bernostalgia akan tempat tinggalnya pada masa mudanya dahulu.
.........................................
Source : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/11/10/878/Jongkie-Tio-Pendongeng-Kota-Semarang-Tempo-Doeloe
Wah, sangat low profile sekali beliau ini. Smakin berisi smakin merunduk :okay: :okay: kalo bisa gathering sambil bertemu beliau ini pasti asik juga ya ??
cyberprince November 13th, 2011, 07:52 AM ^^ gw pernah baca buku yang dipegangnya itu.. menarik sekali. serasa kembali ke Semarang tempo doeloe :okay:
ssphila November 13th, 2011, 09:55 AM saya malah belum pernah... satupun :bash:
detwis November 13th, 2011, 10:06 AM ^^
di gramed pandanaran dulu ada satu dibuka utk display / sample sampe lecek..
detwis November 13th, 2011, 12:51 PM http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/302377_2566088161072_1520195124_2692482_1504179922_n.jpg
http://dwipram.files.wordpress.com/2010/06/tentoonstellingsmunt-a.jpg
http://dwipram.files.wordpress.com/2010/06/prangko-kt-1914.jpg
http://dwipram.files.wordpress.com/2010/06/koin.jpg
http://dwipram.files.wordpress.com/2010/06/stamp.jpg
titus15 November 13th, 2011, 01:07 PM url]
Wah, sangat low profile sekali beliau ini. Smakin berisi smakin merunduk :okay: :okay: kalo bisa gathering sambil bertemu beliau ini pasti asik juga ya ??
Dulu pernah mau gath sama mas Ssphila, M YB Murty, NpF sama Castle di restoran beliau, tapi rupanya kegasikan, resto beliau masih tutup, karena jam 14-17 tutup seperti kebanyakan toko resto tempo dulu...jadinya malaj ngumpul di Oen....
damarsinyo November 19th, 2011, 04:12 PM http://img51.imageshack.us/img51/8633/dscn0023xl.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/51/dscn0023xl.jpg/)
^^ayo siapa yg mau dateng....:D
edytoah November 20th, 2011, 05:21 AM Tugu Suharto, Antara Mitos, Mistik dan Lelaku Kungkum
http://img707.imageshack.us/img707/8766/tugusuharto.jpg
Tugu Suharto terletak di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, di tempat yang ditandai dengan monumen setinggi sekitar 8 meter ini merupakan pertemuan antara Kaligarang dan Kali Kreo. Di sini, pada pergantian tahun baru Jawa, 1 Sura,orang-orang melakukan ritual kungkum atau ngalap berkah, mereka percaya, dengan ritual kungkum di malam 1 Sura ini senantiasa mendapatkan berkah dan keselamatan ke depannya serta akan dikabulkan keinginannya. Kepercayaan ini dinilai sebagai nilai spiritual yang terdapat di Tugu Suharto, meski sekarang banyak pula yang iku ikutan melakukan prosesi ritual kungkum tanpa mengerti manfaat yang sesungguhnya. Mereka yang datang kemari tak hanya warga Semarang saja, tetapi juga warga luar kota.
Dulu waktu Almarhum Presiden Soeharto masih hidup upacara ritual dilakukan bersama Almarhum Romo Diyat (guru spritual Soeharto).
Nama Tugu Suharto konon bermula saat Presiden RI ke-dua Soeharto yang kala itu berpangkat mayor bertugas di Semarang dalam perang melawan Belanda. Saat itu beliau lari ke arah selatan kota yang saat itu masih berupa hutan, beliau melompat ke sungai yang merupakan pertemuan dua arus sungai, dan kemudian menancapkan tongkat dan berendam di sana. Di titik inilah kemudian dibangun monumen yang bernama TUGU Suharto dan masyarakat yang ikut percaya pada aliran kejawen Soeharto ikut melanjutkan tradisi berendam atau kungkum tersebut.
Dekat wilayah Tugu tsb terdapat jembatan goyang yang terkenal dengan nama Jembatan Tugu Suharto.Jembatan ini cukup menegangkan tp merupakan satu2nya alternatif akses dari wilayah ini menuju ke Aldas (ujung Banjir Kanal Barat), dan hanya bisa dilewati kendaraan roda 2 sepeda atau sepeda motor.Cukup sempit untuk berpapasan.
Hati-hati untuk waktu hujan alas kayu jembatan ini licin,berbahaya apalagi bagi yang tidak terbiasa,pernah terjadi kecelakan tunggal disitu.Harusnya pemerintah mengganti jembatan ini dengan jembatan wisata yang menarik.Dengan sarana yang memadai akan meningkatkan pariwisata di daerah tsb dan memudahkan transportasi penduduk daerah tsb,kemudian secara tidak langsung meningkatkan pendapatan penduduk sekitar.
http://img593.imageshack.us/img593/6895/tgshtjem.jpg
Bagaimana menuju lokasi Tugu Suharto ini? Banyak angkutan umum yang melalui jalur ini, dari Lawang Sewu atau Tugu Muda kurang lebih berjarak 5 KM, sebelum kretek wesi (jembatan besi) ada SPBU silakan turun di sana, kemudian berjalan kearah kanan kurang lebih 200 meter. Percaya dengan tradisi tersebut? Mau ikut kungkum atau ngalap berkah agar usaha lancar? Silakan ke sini untuk kungkum atau berendam pada malam Jumat Kliwon atau 1 Suro*. Di mana letak kekuatan Tugu Suharto ini? Tidak ada yang pasti, namun konon karena di titik ini ada pertemuan dua arus sungai yang memberikan aliran energi yang bisa memberikan harmoni dan kemudahan kemudahan hidup.
Ini bukanlah ajakan atau anjuran, segala tindakan, hasil dan resiko menjadi tanggung jawab yang melakukan ritual.
Sumber : http://seputarsemarang.com/tugu-suharto-antara-mitos-mistik-ritual-kungkum-10968
http://www.panoramio.com/photo/21662162
Video : http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=rpO8A_HZnM8
Geo location tag : http://wikimapia.org/2823521/Tugu-Suharto
damarsinyo November 20th, 2011, 01:55 PM ^^pernah buat uji nyali juga....:D
titus15 November 20th, 2011, 02:10 PM ^^waktu uji nyali, didatengi Pak Harto nggak ya???
damarsinyo November 20th, 2011, 02:37 PM ^^wkwkwkwk...waktu itu pak harto belum almarhum...:lol::lol:
edytoah November 20th, 2011, 04:16 PM ^^
Yang jadi pertanyaan saya,mestinya waktu Pak Harto dikejar Belanda saat itu terus melompat ke areal Tugu Suharto sekarang (pertemuan 2 sungai tsb) mestinya dengan pasukannya atau sendiri ya waktu itu ?
Atau itu cerita tambahan yang berkembang di masyarakat mungkin,tp jadi menarik dan heroik ttg cerita Tugu Suharto tsb.
edytoah November 20th, 2011, 07:53 PM Pendekar Tiongkok di Tanah Jawa ...
Semarang kota aktualisasi diri jagoan Kungfu Tempo Doeloe
Sebarkan Sikap Rendah Hati kepada Semua Orang Pada masa lalu, pendekar-pendekar asal Tiongkok pernah berkiprah di Tanah Jawa. Bagaimana sepak terjang mereka? Berikut laporannya. BONG bundar di puncak bukit Menden, Parakan, Temanggung, itu terlihat renta. Beberapa bagiannya rusak dan berlumut. Setumpuk batu-bata tertata rapi di depan epitaf. Bagi awam, makam yang menghadap ke Gunung Sindoro-Sumbing itu tak punya nilai apa-apa. Tapi warga Tionghoa Parakan amat memuliakannya.
Itulah makam Louw Djing Tie, tokoh yang dipercaya sebagai pendekar yang pernah malang-melintang dalam rimba persilatan di Tanah Jawa. Konon, semasa hidup dia disegani, baik oleh kawan maupun lawan-lawannya. Meski memiliki kemampuan bela diri kunthauw (kungfu) yang tinggi, dia dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Djing Tie disebut-sebut sebagai wu lin meng zhu, atau yang teragung di rimba persilatan. Sejauh ini tidak ada catatan sahih mengenai kehidupan Louw Djing Tie.
Kisah-kisah mengenai dirinya lebih banyak bersumber dari cerita tutur. Terkadang kisah itu dibumbui mitos. Pemerhati budaya Pecinan Parakan, Sutrisno Murtiyoso memaparkan, Louw Djing Tie seorang singkek kelahiran Haiting pada 1855. Dia terlahir dengan perangai keras dan pemberani. Hampir setiap hari ia terlibat perkelahian dengan anak-anak sebayanya. Sebuah peristiwa kecil membawanya mengenal lebih jauh ilmu bela diri kungfu.
Alkisah, Djing Tie kecil yang geram dengan ulah seorang bikhu pengemis melemparnya dengan batu. Bikhu yang kerap menggunakan kekerasan saat meminta-minta itu marah dan mengejarnya. Djing Tie lari dan terdesak ke sebuah kedai di jalan buntu. Untung dia diselamatkan seorang juru masak tua dari kedai itu. ”Sejak peristiwa itu, Louw Djing Tie jadi lebih dewasa. Dia mulai berlatih kungfu di salah satu perguruan di desanya. Tak merasa puas, Djing Tie melanjutkan belajar ke kuil shaolin, kepada bikhu Biauw Tjin dan suhu Kang Too Seng,” kisah Sutrisno. Suatu ketika, pemerintah setempat mengadakan seleksi guru kungfu untuk menjadi pelatih tentara. Louw Djing Tie bersama adik seperguruannya, Lie Wan turut serta. Lie Wan mendapat giliran menantang seorang guru kungfu dari Shan Dong yang telah mengalahkan empat penantang. Pertarungan berjalan seru dan seimbang. Namun pada sebuah kesempatan, Lie Wan terancam. Tak ingin adik seperguruannya celaka, Djing Tie spontan naik ke panggung dan melancarkan serangan telak ke bagian terlarang lawan. Akibatnya fatal, guru kungfu dari Shan Dong itu cidera parah, sebelum akhirnya meninggal.
Sadar telah melakukan kesalahan besar, Djing Tie disertai Lie Wan melarikan diri. Tak tanggung-tanggung, mereka hijrah ke Singapura. Hanya beberapa bulan, Djing Tie memutuskan berlayar ke Jawa. Mula-mula dia tinggal dan berdagang di Batavia, namun karena tak beroleh keuntungan, Djing Tie pindah ke Semarang. ”Sepanjang hidupnya, Louw Djing Tie menyesali perbuatannya yang tak kesatria itu,” ujar Sutrisno. Di Semarang, Djing Tie berdagang sambil tetap berlatih kungfu. Beberapa warga yang melihat dia berlatih terpukau sebelum akhirnya berguru kepadanya. Perlahan-lahan kepiawaiannya berkungfu menjadi buah bibir masyarakat. Be Khang Pien, pendekar yang bekerja sebagai keamanan di kediaman Kapten China Semarang Be Ing Tjoe di Kebondalem, pun merasa penasaran. Be Khang Pien ingin menjajal kemampuan ilmu bela diri Djing Tie. Dia mengajukan tantangan. Mula-mula Djing Tie enggan melayani. Namun karena terus dipaksa, dia terpaksa menerima tantangan itu. Dengan disaksikan sejumlah orang, mereka bertarung. Setelah sekian lama, Djing Tie memiliki kesempatan menghantam lawan. Namun, pendekar yang rendah hati itu enggan melakukannya. Dari sana Be Khang Pien tahu Djing Tie bukan orang sembarangan. Tak hanya hebat, dia juga rendah hati. Menyadari hal itu, Be Khang Pin kemudian menjalin persahabatan dengan Djing Tie.Pindah ke Parakan,suatu hari seorang kenalan mengajak Djing Tie mengajar kungfu di Ambarawa. Setelah itu dia juga melakukan hal sama di Wonosobo. Saat berada di kota berhawa sejuk itu, Djing Tie beroleh tawaran untuk bertarung dengan harimau di Parakan. Awalnya enggan, namun atas desakan seorang kawan, dia menyanggupi tantangan itu. Terlebih dengan iming-iming bayaran tinggi.
”Tapi acara gila itu tak pernah terlaksana. Sebab aparat keamanan Belanda keburu melarangnya,” kata Sutrisno. Djing Tie selanjutnya memilih bermukim di Parakan. Dia mengajar ilmu bela diri kepada sebuah keluarga juragan tembakau di kota itu. Warga menyambutnya dengan baik. Namun The Soei, seorang guru kungfu di daerah itu merasa ingin menguji kehebatan Djing tie. Tantangan itu dilayani. Maka waktu yang telah ditentukan, mereka mengadu kehebatan. Menurut Sutrisno, untuk menghindari jatuhnya korban, mereka mengganti senjata tajam dengan sebatang kuas yang ujungnya dicelup tinta cina. Kedua jagoan itu saling menyerang, tusuk-menusuk secara bergantian. Djing dapat mendesak The Soei. Berkali-kali dia berhasil menorehkan ujung kuasnya ke daerah berbahaya di bagian tubuh The Soei.
Kalau mau, barangkali Tubuh The Soei sudah penuh bercak-bercak tinta. Namun seperti halnya saat bertarung melawan Be Khang Pien, Djing Tie enggan banyak-banyak menusukkan ujung kuasnya. Pertarungan itu dinyatakan seri, namun The soei yang tahu keadaan sebenarnya menjadi sangat hormat pada Djing Tie dan menjadi sahabat baik. Diusia tuanya dia memiliki banyak murid dan tak pernah bosan menularkan ilmu beladirinya. Salah satu murid terakhir sekaligus kesayangan Djing Tie adalah Hoo Tik Tjay alias Bah Suthur. Dialah yang merawat Djing Tie di usia tua hingga meninggal dunia. (Rukardi-46) sepeninggal Louw Djing Tie, muncul pendekar-pendekar muda kungfu dengan penguasaan ilmu yang cukup tinggi. Mereka kebanyakan para singkek dan pernah menimba ilmu pada perguruan-perguruan kungfu di daratan China, antara lain Lo Ban Teng, Djie Siauw Foe, dan Khong A Djong.
Lo Ban Teng lahir di Cio bee, Hokkian pada 1886. Dia murid Yoe Tjoen Gan yang beraliran siauw lim ho yang pay. Saat remaja, Ban Teng pernah berlayar ke Semarang dan tinggal di Kampung Selan. Namun, lantaran tak punya pekerjaan jelas, dia pulang ke negeri asalnya. Pada 1927, lelaki dengan bekas luka di dahi itu kembali datang ke Semarang. Terpikat gadis bernama Go Bin Nio, Ban Teng memutuskan tinggal menetap. Pada 1931 Ban Teng pernah menyelenggarakan tjing pie say atau demo untuk mencari jawara kungfu. Acara itu digelar di tiga kota, yakni Semarang, Solo, dan Yogyakarta.
Di panggung, dia menempelkan poster-poster provokatif bertuliskan, "bwee pa, tju li lay" (kalau mau coba, silakan muncul), "kia sia em tang lay" (kalau takut mati, tidak usah datang), dan "pa sie ka tie tay" (kalau kena serangan maut, urus sendiri kuburan anda). Namun, perhelatan itu tak beroleh respons dari para pendekar di Tanah Jawa.
Putrinya ada yang buka pengobatan khusus tulang dan urut di Pluit Jakarta.
Djie Siauw Foe seorang pendekar asal Shan Dong. Dia mendapat tempat terhormat di kalangan pendekar-pendekar dari utara. Atas undangan sahabatnya Wang Zhi Jiu, Siauw Foe bersama sejumlah pendekar dari utara lainnya datang ke Batavia pada sekitar 1925. Dia kemudian memutuskan diri menetap di Semarang, tepatnya di Kampung Pederesan Kecil. Di tempat itu Siauw Foe mengajarkan ilmu bela diri yang dimilikinya. Pada tahun 1970-an, dia meninggal dunia.
http://img845.imageshack.us/img845/7098/adjong.jpg
Khong A Djong lahir di Kampung Gabahan Lengkong Buntu, kawasan Pecinan Semarang pada 10 Oktober 1896. Pada usia enam tahun, A Djong dititipkan orang tuanya kepada seorang paman yang tinggal di Kota Nam Hai, Kwang Tung. Di negeri besar itu, dia belajar kungfu di Siao Liem Sie, perguruan masyhur tempat para pendekar kungfu terbaik Tiongkok menuntut ilmu. Gurunya Siong Mao, murid pendekar legendaris Wong Fei Hung.Di perguruan yang menelurkan Bruce Lee itu, A Djong mempelajari dua aliran kungfu, yakni siau liem dan nggo mbie paei. Siau liem adalah aliran kungfu dari Tiongkok Selatan yang mengutamakan pertarungan tangan kosong jarak jauh, sedangkan nggo mbie paei berasal dari Tiongkok Utara yang mengedepankan pertarungan tangan kosong jarak pendek.
Konon, A Djong pernah memenangi kejuaraan kungfu gaya bebas di daratan Tiongkok (baligay) tujuh kali berturut-turut. Sebagai hadiah, dia menerima rompi yang terbuat dari kulit macan asli (fu bei sam). Setelah 27 tahun belajar kungfu di Tiongkok, A Djong dipanggil orang tuanya pulang ke Semarang untuk menikah dengan seorang gadis tetangga dari Kampung Gabahan Lengkong Buntu, Auw Yang Ien Nio. Punya tanggungan keluarga, A Djong bekerja apa saja. Dia juga memanfaatkan kemampuan bela dirinya untuk melatih dan menggelar pertunjukan kungfu di tempat umum.
A Djong pernah memproduksi minuman beralkohol dengan merk A Djong juga yang terkenal di Semarang sampai ada istilah Ndoyong Ajong,bersaing dengan minuman Cong Yang.
Nampaknya Cong Yang lebih bertahan sampai sekarang dan dikelola secara profesional penerusnya secara fabrikasi.Cong Yang terdaftar dgn merk dagang "cap tiga orang" diproduksi PT Tirto Waluyo,di LIK Kaligawe Semarang.minuman ini termasuk minuman beralkohol golongan B dan mengandung alkohol 19,5 %.
Dua minuman beralkohol "kelas bawah" ini kerap dihubungkan dengan perilaku mabuk yang kadang berujung tindakan kriminal di kota Semarang.
Salah satu muridnya adalah anggota keluarga Mayor Gedonggulo.Mayor ini saat mendapat kesempatan meneruskan studi di Jerman, dia mengembangkan ilmu kung funya. Dari sanalah, Siao Liem Cen Cung Pay tersebar di seantero daratan Eropa.Khong A Djong diangkat sebagai guru besar perguruan yang dikembangkan muridnya tsb.
Sebelum sakit dan meninggal pada 22 September 2008 dalam usia 92 tahun, Khong A Djong masih bekerja. Dia membuka praktik penyembuhan patah tulang di rumahnya Jl MT Haryono.
Beliau juga terkenal sebagai sesepuh perkumpulan Hoo Hap Semarang, sesepuh perkumpulan suku Kong Hu.
Berebut Pengaruh rimba persilatan adalah dunia yang keras. Para pendekar itu acap terlibat perselisihan untuk memperebutkan pengaruh. Selain antarpendekar kungfu, perselisihan juga kerap terjadi dengan pendekar-pendekar silat lokal.
Tak jarang perselisihan diselesaikan melalui pertarungan.
Dalam tradisi persilatan, mereka bertarung di sebuah arena yang telah disiapkan. Siapa yang menang, dialah yang mendapat pengaruh. Namun seringkali pertarungan terbuka itu terendus aparat hingga urung dilaksanakan. Di luar perselisihan, dunia persilatan juga diwarnai saling pengaruh ilmu beladiri. Umumnya yang terjadi adalah pengaruh kungfu terhadap silat. Satu contoh paling tipikal mengenai hal itu adalah pengaruh aliran siauw liem sie dalam perguruan silat Perisai Diri.
Alkisah, dalam salah satu periode hidupnya, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo— guru besar sekaligus pendiri perguruan silat Perisai Diri—pernah berguru kepada Yap Kie San di Parakan, Temanggung. Perlu diketahui, Yap Kie San adalah salah seorang cucu murid Louw Djing Tie, dari Hoo Tik Tjay alias Bah Suthur. Tak tanggung-tanggung, proses merguru itu dilakukan selama kurang lebih 14 tahun.
Menurut Lauw Tjing How, salah seorang keturunan Louw Djing Tie, Soebandiman alias Pak Dirdjo termasuk satu dari enam murid yang sanggup menamatkan pelajaran Yap Kie San. (Rukardi-65)
Bagi anda yang mendownload/copy artikel harap menyertakan sumber http://perisaidiripekanbaru.com/. Sesuai dengan UU yang berlaku.
Sumber : http://perisaidiripekanbaru.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20:support-and-documentation&catid=25:the-project&Itemid=37
http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=165845&page=2
http://www.indospiritual.com/artikel_khong-a-djong-sang-pewaris-ilmu-kungfu-wong-fei-hong-dari-semarang.html
titus15 November 20th, 2011, 08:41 PM ^^
Yang jadi pertanyaan saya,mestinya waktu Pak Harto dikejar Belanda saat itu terus melompat ke areal Tugu Suharto sekarang (pertemuan 2 sungai tsb) mestinya dengan pasukannya atau sendiri ya waktu itu ?
Atau itu cerita tambahan yang berkembang di masyarakat mungkin,tp jadi menarik dan heroik ttg cerita Tugu Suharto tsb.
masih mayorwaktu itu, berarti sebelum serangan umum 1 maret, karena saat SO 1 mar, udah Letkol...
titus15 November 21st, 2011, 07:16 AM Wah mas Edytiah membawa para pendekar kungfu turun gunung... bagaimana juga ceritanya dengan Eyang Asmaraman S Kho Ping Ho mas??
edytoah November 21st, 2011, 11:06 AM ^^
Alm. Asmaraman S. Kho Ping Ho termasuk pengarang fenomenal. Konon beliau dianggap menyadur buku2 kuno Mandarin,tetapi Kho Ping Ho adalah pengarang yg cukup detil dgn sejarah,termasuk tahun2 background cerita di Tiongkok sana.Dulu sehari2 beliau mengarang di villanya Tawangmangu,sedangkan percetakan Gema dikelola anaknya di Solo.Kemudian karya mengarangnya diteruskan oleh mantunya Sri Widodo,tetapi Kho Ping Ho tetap tidak tergantikan sebagai pengarang cersil Tionghoa sampai sekarang.Mungkin nama depan Asmaraman merupakan "branding name" beliau sebagai pengarang cersil berbau asmara yg membuat pembaca kecanduan menunggu jilid per jilid,jaman dulu pembaca kebanyakan meminjam di persewaan buku.
Sekarang bundel2 karyanya tetap ada di toko buku Gramedia dll.
Ada cerita sedih masa2 jaman susah sebelum Kho Ping Ho menulis cersil dan menerbitkan sendiri karyanya,Kho Ping Ho naik becak ternyata tukang becaknya adalah Papahnya sendiri.
Kalau tidak salah saya pernah membaca di majalah Liberty,terbitan Surabaya 30th lalu mgkn.
Di Semarang pernah ada pengarang seperti Kho Ping Ho namanya GAN KL,kalau tdk salah Gan KL ini dulu tinggal Purwosari Raya atau Rejosari.Tp GAN KL kelihatannya menyadur cerita silat China dan karyanya tidak sefenomenal karya Kho Ping Ho spt serial Pendekar Pulau Es,karya pertama Asmaraman S Kho Ping Ho.
edytoah November 23rd, 2011, 05:36 PM Membangun,menggali peradaban,menemukan Alpha Omega
Cikal Bakal Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alpha Omega Semarang dimulai dari Ibadah Perdana di Seteran Selatan (Skrg Jl. Mayjend Panjaitan dri arah Jl. Thamrin) th 1968 oleh Pdt. Ir. Timotius Subekti,mantan manajer PT USI IBM Jakarta,kemudian mengembangkan sayap ke Tanah Mas.
Waktu bergulir, jemaat GBT Kristus Alfa Omega baik yang di Tanah Mas dan Seteran Selatan terus berkembang sampai 900 orang.Th 1983 sempat menyewa gedung Wisma Pandanaran di Jalan Gajahmada (sekarang dealer mobil Honda).
Dengan makin bertambahnya jemaat ini, gereja makin tidak mampu menampung. Pengurus yang diprakarsai Willy kemudian mencari lokasi baru yang dekat Jalan Seteran. Maka salah satu tempat yang dituju adalah di Jalan Gajah Mada 114-118 seluas 2.400 meter persegi. Namun, untuk mendapatkan tanah yang sekarang menjadi kantor pusat GBT. Kritus Alfa Omega ini, harus melalui jalan yang berliku karena harga yang ditawarkan terlalu tinggi.
Th 1987 memulai Pembangunan Tahap I di Jl. Gajah Mada 114-118 seluas 2400m2 pada tahun 1987 dan dilanjutkan Pembangunan Tahap II Gajah Mada.
Beberapa kejadian unik dimulai dari Penandatanganan akta jual beli dihadapan notaris dilakukan tanggal 15 November pagi dengan jangka waktu pembayaran 20 bulan, tetapi malam harinya, tanggal 15 November 1986, pemerintah mengeluarkan kebijakan devaluasi itu. Sehingga rencana cicilan 20 bulan ditolak pemilik tanah dan setelah dilakukan negosiasi dengan Bapak Djunaidi (pemilik tanah) dan dengan pertolongan Tuhan pembayaran disetujui menjadi 10 bulan saja. Itupun dengan pertolongan Keluarga Haryoseno yang rela meminjamkan uang tanpa bunga, akhirnya semua berjalan lancar.
Pembangunan gereja tahap pertama di Jalan Gajah Mada ini dimulai pada tanggal 31 Maret 1987. Hal unik kembali terjadi saat dilakukan penggalian untuk fondasi. Setelah digali kira-kira 3 meter, ditemukan 14 meriam buatan tahun 1700-an atau merupakan produk VOC. Anehnya lagi, beberapa meriam tersebut berlabel “AΩ“ (Alfa Omega) padahal Gereja Bethel Tabernakel di Tanah Mas yang dipimpin Pendeta Subekti ini sebelumnya sudah memakai nama Gereja Bethel Tabernakel “Kristus Alfa Omega”.Nama Kristus Alfa Omega diambil dari kitab Wahyu yg menyatakan Kristus Yang Awal dan Yang Akhir sesuai kepercayaan Kristiani.
Meriam-meriam tersebut diantaranya kini dipajang di halaman Balaikota Semarang, Museum Ronggowarsito Semarang serta yang lain ditempatkan di markas TNI. Dari penemuan ini, gereja mendapat dana kompensasi sebesar Rp. 4 juta. Pembangunan akhirnya bisa diselesaikan dengan memakan biaya sebesar Rp. 1,35 miliar. Dan pada 1 Mei 1989, GBT. Kristus Alfa Omega Gajah Mada ditahbiskan.
Huruf AΩ merupakan huruf awal dan akhir Yunani.Pada meriam2 yg ditemukan saat penggalian tsb huruf A ada dibagian tengah dan huruf Ω berada di belakang didekat lubang penyulut.
Memang dari sumber orang militer meriam kuno ada beberapa yang menandakan mana bagian depan dan penyulut dibelakang dengan huruf A dan Ω tsb.
Terimakasih kepada Ibu Ninik Kabag Koleksi Musium Rangga Warsita Semarang atas ijin photo dan keterangan ttg 9 meriam dari temuan di Jl. Gajahmada tsb yg berada di Musium Rangga Warsita.Dari 9 meriam yg menghiasi papan nama Musium tsb terdiri 8 meriam sejenis dan hanya satu meriam agak kecil msih lengkap ada "pangkonnya" yg nampak tulisan 1787.Pangkon sebagai untuk mangatur sudut elevasi tembak dengan mendongakkan moncong meriam.Tidak semua ada huruf AΩ,saya hanya melihat 3 meriam saja yg nampak ada 2 huruf tsb.
Ibu Ninik juga menyebutkan meriam tsb gabungan meriam VOC dan meriam Portugis.
Apakah meriam yang ada tanda AΩ merupakan meriam Portugis yg dirampas kapal perang VOC itu juga tidak ada penelitian lebih lanjut.
Terima kasih juga kepada Pak Jaidul staff Musium Rangga Warsita menunjukkan satu meriam yang nampak samar2 simbol VOC,tetapi menurut Pak Jaidul karena terbuat dari besi jd mungkin terkikis karena usia 3 ratus tahunan.
Pak Jaidul juga mengatakan senjata meriam termasuk senjata pemusnah massa yang kejam.Seperti mortir dan granat akan menghancurkan tubuh manusia menjadi serpihan daging.
Peluru bola besi dan mesiu yang dimasukkan dari depan kemudian dikocok dan ditembakkan dgn sudut elevasi tertentu akan pecah menjadi kecil2 saat bertumbukan dengan tanah atau medan sasaran misal benteng/tembok.
Kami sempat berdiskusi juga dengan beliau,diperkirakan dulu di lokasi yg sekarang GBT KAO Gajah Mada tsb bisa jadi adalah lokasi gudang amnunisi senjata VOC.
Mengingat benteng VOC ada diwilayah kota lama,tetapi kemungkinan justru gudang amunisi senjata berdiri dulu.
Tidak tahu apakah ini merupakan suatu teknik benteng VOC,gudang amunisi senjata berada diluar benteng untuk mengelabuhi musuh.
Sayang di musium tsb tidak ada catatan atau gambar ttg gudang senjata VOC yg diperkirakan dulu ada di tempat temuan di jl. Gajahmada tsb.
Sumber : http://gbtkao.com/index.php?option=com_content&view=article&id=92&Itemid=97&limitstart=10
http://img26.imageshack.us/img26/8251/alpha1c.jpg
http://img171.imageshack.us/img171/913/alpha8.jpg
http://img810.imageshack.us/img810/9449/alpha4.jpg
http://img546.imageshack.us/img546/2580/alpha21.jpg
http://img84.imageshack.us/img84/104/alpha6.jpg
ssphila November 30th, 2011, 02:02 PM Nih ta' fotoke... permisi ya...
http://i953.photobucket.com/albums/ae16/ssphila/Semarang/DSC03082.jpg
http://i953.photobucket.com/albums/ae16/ssphila/Semarang/DSC03080.jpg
maaf ga keliatan tulisannya
http://i953.photobucket.com/albums/ae16/ssphila/Semarang/DSC03083.jpg
detwis November 30th, 2011, 03:25 PM ^^
serem ah...
:runaway:
detwis November 30th, 2011, 03:33 PM sejarah kopi asal semarang
Kafe Kopi Luwak: Brand Lokal yang Mengglobal, Pesaing Starbucks & Coffee Bean
Siapa bilang produk dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk luar? Kafe Kopi Luwak bisa jadi salah satu contoh betapa tempat ngopi ini bisa bersaing dengan tempat ngopi global, seperti Starbucks ataupun Coffee Bean. Kopi Luwak kini menjadi brand Indonesia yang disegani, yang mampu bersaing dengan dua brand tersebut.
Lihatlah, kini di mal-mal terkemuka di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia, Kafe Kopi Luwak hadir di tengah-tengah brand lainnya seperti Starbucks. Sampai Mei 2011, ada 10 gerai Kopi Luwak di Jakarta dan 10 gerai lainnya di luar Jakarta.
Kopi Luwak awalnya nama merek kopi milik pengusaha asal Semarang, Tan Hak See, yang dimulai tahun 1965 silam. Kopi ini dijual di Pasar Peterongan, Semarang, dengan alat sederhana. Sejak tahun 1999, Kopi Luwak menjadi brand premium. Kini Kopi Luwak makin dikenal dan digemari. Ketenaran Kopi Luwak bahkan pernah dibahas oleh Oprah Winfrey, host televisi terkenal dari Amerika Serikat.
....................................................
Keberhasilan Kopi Luwak “melawan” waralaba asing semacam Starbucks dan Coffee Bean membuat mereka makin yakin mengembangkan usaha kopi ini. Mereka berencana mengembangkan bisnis ini di mancanegara. Tahun 2012, mereka akan membuka gerai Kopi Luwak di Orchard (Singapura), Tsim Tsa Tsui (Hong Kong), Pudong (Shanghai), dan Guangzhou di China. Di negeri China, dulu trennya minum teh, tapi sekarang pun orang sudah suka ngopi. Selain itu, mereka juga punya rencana membuka gerai di Korea Selatan.
.......................................................................
Sambutan konsumen pada Kopi Luwak di Jakarta ternyata sangat tinggi. Banyak ekspatriat yang melihat keunikan Kopi Luwak, jadi pelanggan tetap. Mereka merasa ngopi di Kopi Luwak juga punya prestise. Kafe lokal yang memiliki brand. Kafe Kopi Luwak tidak menyajikan makanan seperti croissant dan sandwich yang banyak dijual di toko roti. Kafe Kopi Luwak menyajikan menu yang berbeda dan khusus. Ini menjadi suatu kelebihan ciri khas Kopi Luwak. Mereka mendatangkan Lumpia langsung dari Semarang.
Sumber: Kompas
http://indonesiaproud.wordpress.com/2011/05/26/kafe-kopi-luwak-brand-lokal-yang-mengglobal-pesaing-starbucks-coffee-bean/
edytoah November 30th, 2011, 06:56 PM ^^
Menarik lho Mas detwis kalau dicermati ttg Kopi Luwak Semarang tsb.
Anehnya Kopi Luwak yang mendunia tsb sebetulnya adalah keberanian Agus Susanto mem-brandingkan merk Luwak ke pasar Global.
Sebetulnya kopi luwak sendiri berkaitan dengan kotoran binatang luwak/musang berasal dari Sumatra (Aceh dan Lampung),jg dari Jawa Barat.
Biji kopi yang msh muda dimakan luwak dan kemudian luwak tsb lari ke hutan,terjadi proses di perut luwak dan akhirnya biji kopi tsb keluar di kotoran luwak.Orang-orang mengambil biji kopi tsb dikotoran luwak,kemudian dicuci dan diolah lagi jadi biji kopi luwak.Seleksi biji kopi muda terbaik sudah dilakukan luwak-luwak tsb.
Binatang luwak sendiri aneh,kalau binatang ini meninggal bangkainya akan sangat cepat berbau busuk,tetapi saat hidup maaf alat kelaminnya yang betina sangat wangi,oleh pemburu-pemburu biasanya dipotong alat kelaminnya setelah ditembak untuk wewangian ruangan dan anehnya bertahan lama bau wangi tsb.Dagingnya sendiri luwak ini katanya tidak enak,maka jarang dimakan.
Pemikiran praktis kemudian luwak-luwak tsb ditangkap dan dipelihara di kandang,tetapi ternyata rasanya kopi yang dari kotoran tsb berbeda,biji kopi dari kotoran luwak di hutan ternyata yang paling enak dan paling mahal.Mungkin karena proses di perut luwak lebih pas ditunjang luwak yang gerak dari pada luwak yang diam dikandang.Sama seperti telur di Brebes,beda rasa antara bebek yang digembalakan dengan bebek yang dikandang,analog dengan ayam kampung dan ayam yang dikandang.
Alm. Ayah Agus Susanto awalnya hanya menggiling kopi saja di Peterongan,yang bahannya dari kopi Luwak yang sesungguhnya dari Aceh,Lampung atau Jawa Barat tsb.
Branding pertama sebetulnya adalah Tugu Luwak (Tugu diambil dari nama Tugu Muda karena pabriknya di Semarang),yang kemudian diakuisisi oleh Indofood.Akhirnya nama Tugu Luwak menghilang/bangkrut.
Agus Susanto memberanikan diri melakukan branding sendiri dgn nama Kopi Luwak ke pasar global.
Kopi Luwak oleh Agus kemudian dikemas dengan nilai tambah dengan jalur distribusi yang akhirnya jadi Kopi Luwak Caffe.
Tidak tanggung-2 Agus mengajukan sample Kopi Luwak untuk dinikmati Oprah Winfrey diacara talk shownya.
Produk lokal Semarang lain yang menarik yang mengalami nasib sama seperti kopi Tugu Luwak adalah kecap merk Piring Lombok.
Setelah kecap merk Piring Lombok tsb diakuisisi Indofood,agaknya pemilik awal tidak puas,mereka menjual keseluruhan saham minoritasnya dan membuat kecap dan saus yang cukup terkenal juga di Semarang dengan nama Sukasari.
Hal serupa akan terjadi juga pada produk sirop framboze Fresh yang berwarna merah muda,produk kebanggaan masyarakat Semarang.Sirop Fresh ini juga diakuisisi perusahaan makanan olahan dari Jakarta.
Apakah pemilik Fresh tsb akan menemukan jati dirinya lagi seperti pemilik Kopi Luwak dan Sukasari,waktu yang akan menjawab.
Kadangkala penemu produk awal semula senang karena produknya akan semakin besar kapasitas produksi dan jalur distribusinya,tetapi mungkin mereka tidak puas karena pada akhirnya mereka hanya punya saham minoritas yang tidak punya kebebasan inovasi dan kendali.
Ibaratnya usaha dari kecil ingin besar,setelah jadi besar krn diakuisisi pemodal besar,ada sesuatu berharga yamg lebih dari materi, yang hilang dari penemu awal produk tsb.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kopi_luwak
Pengalaman kurang sedap penjual merk http://202.59.162.82/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=6926&pageNum=1
edytoah December 1st, 2011, 04:51 AM ^^
serem ah...
:runaway:
wani piro Mas detwis .. tak potretne tulisanne ... :lol: .. tp serem ah :runaway: ...
Nuwun Mas ssphila, wis ora penasaran maneh saiki .. karoTugu Gombel setelah Jalur penyelamat pojokan dgn Gombel Lama tsb ..khudune nganggo tele khetok kali yo Mas tulisanne ..:)
detwis December 1st, 2011, 07:11 AM wani piro Mas detwis .. tak potretne tulisanne ... :lol: .. tp serem ah :runaway: ...
Nuwun Mas ssphila, wis ora penasaran maneh saiki .. karoTugu Gombel setelah Jalur penyelamat pojokan dgn Gombel Lama tsb ..khudune nganggo tele khetok kali yo Mas tulisanne ..:)
wah ternyata bnyk jg ya om.. selaen kopi luwak ada kecap piring lombok sirup fresh... cen joss tenan semarang
kalo yg nisan itu coba deh artinya apa om.. monggo om..
:cheers:
Ngisor Asem - Sejarah Kampung Pendrikan
Dari Frederick Land Menjadi Pendrikan
Pada 1800-an, kawasan di sepanjang Jalan Imam Bonjol dan Jalan Indraprasta merupakan tanah milik warga
berkebangsaan Belanda bernama Frederick, ada pula yang menyebutnya Van Hendrick maupun Prins Hendriklaan.
Kini, kawasan pemukiman dan perkantoran yang ada di wilayah itu lebih dikenal dengan nama Pendrikan atau Pindrikan.
LALU lalang sepeda motor dan mobil melintas setiap hari di Jalan Indraprasta. Jalur searah itu, sekitar 1960-an merupakan jalan setapak dan menjadi batas antara Kelurahan Celengan dan Kelurahan Bulu Lor.
Dari penuturan beberapa warga, tanah yang kini berdiri Wisma Perdamaian, pertokoan, kampus Udinus hingga Rumah Setan di seberang SPBU Jalan Imam Bonjol merupakan tanah milik warga berkebangsaan Belanda bernama Frederick, ada pula yang menyebutnya Van Hendrick dan Prins Hendriklaan.
Bahkan ada yang berpendapat kawasan itu diambil dari nama Prince Hendrik Lan, nama suami Ratu Wilhelmina. Karena susah untuk menyebut nama itu, lidah orang Jawa menyebutnya dengan Pindrikan atau Pendrikan.
Risyanto (62) warga RT 2 RW 6 Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah menuturkan, sejarah nama Pendrikan sendiri hingga saat ini masih beragam versi.
Ketua RW 6 yang juga bapak dari tiga anak itu menyebutkan, sebelum penataan kawasan Kota Semarang pada masa Wali Kota Soetrisno Soeharto atau sekitar 1970-an, Pendrikan Lor dan Bulu Lor adalah lahan persawahan.
Adapun kawasan pemukiman yang dihuni warga hanya di Kelurahan Pendrikan Kidul.
”Berubahnya Pendrikan Lor dan Bulu Lor menjadi permukiman karena warga yang sebagian bekerja di perusahaan kereta api menimbun areal persawahan dengan tanah dan mendirikan rumah di kawasan itu,” tuturnya, Rabu (30/11).
Pada 1993, kata Risyanto, Kelurahan Celengan dipecah menjadi dua, yakni Bulu Lor (sebelah utara) dan Pendrikan Lor (sebelah selatan rel). Terkait nama Pendrikan Lurah Pendrikan Lor, Sukamto SH pun tidak mengerti banyak.
”Warga yang tentunya mengerti sejarah, kini sudah meninggal. Beberapa waktu lalu ada lima warga Belanda yang mencari saudara keturunan Tuan Frederick.
Mereka tidak menemukaannya, karena paska serangan lima hari di Semarang, warga Belanda termasuk keturunan dan keluarga Frederick boyongan, ke Belanda,” papar Sukamto.
Menurut dia, mayoritas di Pendrikan Lor maupun Pendrikan Kidul merupakan warga pendatang dari kawasan sekitar Kota Semarang. Untuk Kelurahan Pendrikan Lor yang memiliki luas wilayah sekitar 36,7 hektare itu, kini terbagi menjadi 6 RW, 43 RT dengan 1.619 kepala keluarga atau 7.400 jiwa.
Lurah Pendrikan Kidul Wisnugroho menuturkan, sejarah Pendrikan hingga kini masih digali. Dari beberapa sumber, ia memperoleh cerita, nama Pendrikan diambil dari rumah Gubernur Jenderal Van Frederick.
”Warga pribumi yang tinggal di sekitar rumah Van Frederick yang kini menjadi Wisma Perdamaian itu, disebut sebagai Frederick Land. Lidah orang pribumi menyebutnya Pendrikan,” ujarnya.
Kawasan ”pendrikan” saat itu hanya meliputi Jalan Yudistira, Jalan Indraprasta, dan Jalan Bima Raya. Seiring waktu berjalan, kawasan Pendrikan kini telah berkembang. Untuk Kelurahan Pendrikan Kidul yang memiliki luas wilayah sekitar 33 hektare itu terbagi menjadi lima RW dan 34 RT dengan 1.200 kepala keluarga atau sekitar 4.500 jiwa.
”Sampai saat ini, saya masih berusaha menggali sejarah kawasan Pendrikan ini, karena untuk nguri-uri budaya dan sisi lainnya, perlu ada kejelasan sejarah,” ungkapnya. (Muhammad Syukron-39)
http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=168330
cen ilat jowo :lol: :lol: :lol:
ssphila December 1st, 2011, 07:54 AM Masih ada sejarahnya moto tjap mobil, anggur orang tua bapak djenggot, sepatu famous, rokok gentong gotri, rokok pompa praoe lajar, dll
wani piro Mas detwis .. tak potretne tulisanne ... :lol: .. tp serem ah :runaway: ...
Nuwun Mas ssphila, wis ora penasaran maneh saiki .. karoTugu Gombel setelah Jalur penyelamat pojokan dgn Gombel Lama tsb ..khudune nganggo tele khetok kali yo Mas tulisanne ..:)
Agak susah motretnya krn jalurnya ruame & banter2, itu yg lebih serem buat saya :P Mungkin pas subuh (agak sepi) jadi bisa motret, paling memungkinkan ya jalan kaki. Itu cuma tugu peringatan saja koq.
titus15 December 1st, 2011, 08:34 AM bicara tentang Jl Tendean, saya pernah baca komen di salah satu blog, bahwa di daerah pindrikan ada Gedong Setan (sekarang ruko di pojokan jalan Indraprasta dengan Imam Bonjol). Si bapak yang nulis komen itu pernah bilang dulu ketika bangunan itu masih ada sering main kesitu, dan bilang kalo didekat situ ada rumahnya Piere Tendean. Mungkin sekarang nama jalan Kapten Tendean karena di jalan itu dulu Piere Tendean kecil pernah tinggal. Ada yang bilang ketika SMP Piere Tendean bersekolah di SMP negeri 1 yang kalo nggak salah jalan Ronggolawe, deket bandara...
apa betul om Edytoah??
titus15 December 1st, 2011, 08:38 AM Suara Merdeka beberapa waktu lalu juga memuat lagi berita tentang pembukaan Jalan Indraprasta sekitar tahun 60an. Berita lama itu dimunculkan menanggapi wacana jl Indraprasta kembali jadi 1 arah. Ternyata dulu dibukanya jalan indraprasta ini semacam Ringroad atau kalo sekarang semacam jalan arteri untuk memecah arus yang dulu ke arah tugumuda semua.
titus15 December 1st, 2011, 08:41 AM hari ini depo arsip Suara Merdeka menurunkan berita tentang jl Gajahmada tahun 70an...
Arsip Suara Merdeka - Rabu, 28 Djanuari 1970
Dj. Gadjah Mada Semarang Mulai Diperlebar
Persimpangan Djalan Gris Dihias Lambang Pemerintah Daerah ~ Untuk Atasi Bandjir Dlm Kota Dimuara Sungai Semarang Perlu Dipasang Pompa Guna Memperlantjar Aliran
KEPESATAN PERKEMBANGAN lalu lintas achir2 ini menjebabkan djalan2 dikota Semarang mendjadi terlalu sempit. Oleh karena itu dibeberapa tempat telah diadakan pelebaran djalan. Banjak halaman dan rumah2 terpotong akibat pelebaran djalan tsb. Djalan2 jang sudah selesai diperlebar dan diaspal antara lain dj. Pemuda dan dj. Pahlawan. Sebagai kelandjutan dari usaha pelebaran djalan itu, kini sedang dilakukan pula pelebaran djalan Gadjah Mada.
Pelebaran djalan dilakukan kearah timur dan pohon2 asam sudah mulai ditebang. Pekerdjaan tsb. dilakukan tahap demi tahap disesuikan dengan beaja jg ada. Kapan selesainja pelebaran djalan Gadjah Mada itu, belum diketahui. Tetapi jang terang pekerdjaan masih terus berdjalan.
Ketjuali pelebaran djalan, fihak Pemerintah Daerah Kotamadya Semarang dalam rangka keindahan telah membuat taman2 dan mengadakan perubahan cirkel verkeer, misalnja dipersimpangan Gris. Ditempat ini tidak hanja lalu lintasnja sadja jang diatur tetapi djuga telah dibuat sebuah taman jang ditengah2nja dihias lambang Pemerintah Daerah. Begitu pula cirkel verkeer di Tugu Muda, beberapa hari jl. pernah ditjoba hendak dirobah, tetapi entah karena apa pertjobaan itu tidak djadi dilaksanakan.
Usaha lain jang kini belum berhasil, jalah mengatasi masalah bandjir dalam kota jang terdjadi tiap djatuh hudjan lebat sehingga banjak kampung2 jang tergenang air. Salah satu sebab bandjir dalam kota ini ketjuali sudah dangkalnja slokan, djuga meluaspnja kali Semarang jang tak mampu lagi menampung air jang datang dari berbagai djurusan itu.
Dalam hubungan ini Ir. Kartono Direktur Biro Tehnik ìAIKAî Semarang jg mempunjai keahlian chusus dibidang pengairan atas pertanjaan ìSuara Merdekaî menjatakan, bahwa untuk mengatasi bandjir dalam kota Semarang ini, ketjuali perlu diadakan pengerukan lumpur pada slokan2 dan kali Semarang, djuga dimuara sungai perlu dipasang pompa air. Pompa tsb berfungsi untuk mempertjepat pembuangan air kelaut.
Dikatakan, bahwa tanpa usaha mempertjepat aliran sungai Semarang kelaut, sekalipun sudah ada pengerukan lumpur akan pertjuma sadja. Ia berpendapat, bahwa lambatnja aliran sungai akan menimbulkan endapan lumpur jang sendiri akan menjebabkan sungai itu mendjadi dangkal. Demikian antara lain Ir. Kartono mendjawab pertanjaan kita. (Depo Arsip-Pusda SM)
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/12/01/168326/Dj.-Gadjah-Mada-Semarang-Mulai-Diperlebar
titus15 December 1st, 2011, 08:57 AM ini yang Indraprasta:
Suara Merdeka, Kamis 1 Djuli 1971
Walikota Resmikan Djalan Indraprasta Dan Pasar Karangaju
Semg. Akan Bangun Beberapa Hotel Internas.
HARI Rabu 30 Djuni jl. Walikota/KDH Kotamadya Semarang telah meresmikan projek Pemda berupa pembangunan Pasar Karang Aju dan Djalan Indraprasta. Hadir dalam upatjara tsb.
Ketua DPRD GR/Kodya Semarang beserta Muspida dan undangan lainnja, penjerahan pasar itu dilakukan oleh pemborongnja R. Wiloso Puspojudo pimpinan CV Hastananta kepada Walikota.
Projek jang luasnja 112 M2 itu diserahkan pembangunannja oleh Projek Officernja Srijanto, BE kepada R. Wiloso Puspojudo. Pembangunan tsb diselesaikan dalam waktu 90 hari dan menelan biaja Rp. 1.100.000,- Dalam sambutannja Walikota menjatakan bahwa kios jg dibangun itu akan didjual se-murah2nja kepada para pedagang dan diharap dapat memberi pelajanan kebutuhan masjarakat sekitarnja. Dalam waktu dekat djalan didepan pasar Karang Aju itu akan diperlebar sampai simpang tiga Kali Banteng. Nantinja akan dibuat djalan dua djalur untuk lalu lintas tjepat dan pelan dengan pemborong PN Nindya Karja. Kota Semarang nantinja akan memakai sistim lalu lintas tjepat dan pelan untuk mendjamin keamanan djalan.
Telan biaja Rp. 8 djuta Djalan Indraprasta jang diresmikan hari itu djuga memakai sistem lalu lintas pelan dan tjepat. Djalan jang pandjangnja 1185 M dibangun oleh PT “Benteng Tudjuh” dengan biaja Rp. 8.486.110,-.
Disamping itu masih dibutuhkan tambahan biaja untuk perbaikan saluran air dll. Djalan ini nantinja akan digunakan sebagai djalan masuk Semarang dari arah barat dan diharapkan akan mengurangi kepadatan lalu lintas di Djl. Mgr. Soegijapranata Sj.
Oleh Walikota selandjutnja dikatakan bahwa Djl. Pemuda akan dibuat trottoir dari tegel jang agak tinggi agar tidak digunakan untuk parkir kendaraan. Dikatakan pula bahwa akibat hudjan bulan Pebruari djalan2 di Semarang jang rusak 23.000 M2. Untuk memperbaikinja telah mendapat bantuan aspal dari Gubernur Djateng 500 ton dan 2000 ton dari Bina Marga.
Semarang akan djadi kota megah.
Oleh Walikota achirnja dikatakan bahwa Semarang akan djadi kota megah karena akan dibangun hotel2 turis di Gombel oleh CV HMS, di Simpang Lima oleh Stone Hill dan Jajasan Polri sedang di Siranda akan dibangun Guest House. Diharapkan th. 1972 tiap bulan 2 kali datang turis dari Nederland sebanjak 500 orang.
Sedang bagi Semarang jang masih perlu diperhatikan adalah listrik dimana voltagenya hanja 60 sampai 70 volt hingga lampu sering mati sehingga perlu adanja rehabilitasi. (Depo Arsip-Pusda SM-53)
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/30/141627/Walikota-Resmikan-Djalan-Indraprasta-Dan-Pasar-Karangaju
yang saya bold, sejalan dengan kondisi saat ini. Pasar karangayu akan jadi lepstelmol, CPW jalan Pemuda, dan banyak hotel dibangun...
edytoah December 1st, 2011, 12:55 PM bicara tentang Jl Tendean, saya pernah baca komen di salah satu blog, bahwa di daerah pindrikan ada Gedong Setan (sekarang ruko di pojokan jalan Indraprasta dengan Imam Bonjol). Si bapak yang nulis komen itu pernah bilang dulu ketika bangunan itu masih ada sering main kesitu, dan bilang kalo didekat situ ada rumahnya Piere Tendean. Mungkin sekarang nama jalan Kapten Tendean karena di jalan itu dulu Piere Tendean kecil pernah tinggal. Ada yang bilang ketika SMP Piere Tendean bersekolah di SMP negeri 1 yang kalo nggak salah jalan Ronggolawe, deket bandara...
apa betul om Edytoah??
Sy malah baru tahu dari Mas Titus nich .. :) kalau pojokan itu rumahnya Piere Tendean.Ada keturunan bule sih rumah di pojokan itu sekarang,yg dibuat toko tsb.
Sy googling memang Beliau pernah tinggal di Semarang dan sekolah di SMP bagian B (skrg SMPN I Ronggolawe ?) dan SMA bagian B Semarang (SMA I sekarang).Lettu Piere Tendean adalah ajudan Jend. AH. Nasution yang meninggal saat peristiwa G30S PKI 1965.Meninggal disiksa di Lubang Buaya menjadi tameng mengaku sebagai Jendral AH. Nasution.
Beliau meninggal pada usia 26th dan dinaikkan pangkatnya menjadi Kapten Anumerta.Anak-2 SMP paling ingat Kapten Piere Tendean di buku sejarahnya,krena photonya paling ganteng. :)
JAS MERAH = Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah....istilah Bung Karno ya Mas Titus ...
Sejak itu nama-2 Pahlawan Revolusi dipakai sebagai nama-nama jalan di berbagai kota.Di Taman Beringin dinamakan juga Taman Ade Irma Suryani deket Jl Piere Tendean ini,masuk dari Jl. KS. Tubun sebelah Hotel Whizz.
Ade Irma Suryani Nasution,anak Jend. AH. Nasution ke II yang berusia 5th ikut terbunuh saat terjadi penyerbuan rumah Jend. AH. Nasution oleh PKI di Teuku Umar 40 Jakarta,yang sekarang jadi musium Jendral Nasution.
Ada yang unik Mas Titus walau ini di Jakarta,tetapi ngak papa ya sekalian diceritaan disini.
Ada kemungkinan Pak Nas meloncati tembok masuk ke rumah Teuku Umar 42 saat tragedi penculikan G30SPKI tsb,tetapi ironisnya saat ini rumah di Teuku Umar 42-44 telah dijual jadi milik swasta perorangan.
Beberapa saat lalu jadi kasus pengadilan karena bangunan cagar budaya tsb di Teuku Umar 42-44 dirubah bentuknya.
Bahkan rumah Teuku Umar 42 pernah menjadi kantor bea siswa luar negeri VAN DEVENTER MAAS INDONESIA yang diketuai Ibu Ny. Johana Sunarti Nasution (Ibu Nas).
Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3106905
http://metro.vivanews.com/news/read/73983-pemilik_rumah_mewah_di_teuku_umar_disidang
http://septiak.wordpress.com/2010/03/29/link-beasiswa-dalam-negeri/
titus15 December 1st, 2011, 01:47 PM ^^ Saya hanya mengira-ngira saja om Edytoah. Tapi bisa jadi kebetulan juga, karena memang Piere Tendean pernah punya masa kecil di Semarang. Mungkin suatu saat nanti salah satu jalan di daerah Peterongan bisa dikasih nama daniel Sahuleka, karena dulu katanya saat kecil Daniell Sahuleka dilahirkan, ortunya tinggal di daerah peterongan, dan Daniel Sahuleka dilahirkan di RS Elisabeth.
Venantio December 1st, 2011, 04:37 PM ^^ Saya hanya mengira-ngira saja om Edytoah. Tapi bisa jadi kebetulan juga, karena memang Piere Tendean pernah punya masa kecil di Semarang. Mungkin suatu saat nanti salah satu jalan di daerah Peterongan bisa dikasih nama daniel Sahuleka, karena dulu katanya saat kecil Daniell Sahuleka dilahirkan, ortunya tinggal di daerah peterongan, dan Daniel Sahuleka dilahirkan di RS Elisabeth.
Saya dulu tinggal di daerah Lampersari... wkwkwkwk
titus15 December 1st, 2011, 04:53 PM Ya nanti di Lampersari bisa bikin Jl Venantio...wkwkwk....
edytoah December 2nd, 2011, 01:51 PM Suara Merdeka beberapa waktu lalu juga memuat lagi berita tentang pembukaan Jalan Indraprasta sekitar tahun 60an. Berita lama itu dimunculkan menanggapi wacana jl Indraprasta kembali jadi 1 arah. Ternyata dulu dibukanya jalan indraprasta ini semacam Ringroad atau kalo sekarang semacam jalan arteri untuk memecah arus yang dulu ke arah tugumuda semua.
Wacana Indraprasta 1 arah tsb akhirnya kejadian juga akhirnya setelah beberapa puluh tahun ya Mas Titus. Tp kelihatannya belum benar-2 diterapkan permanen karena median di lampu merah perempatan belum dibongkar.
Kendaraan roda 2 masih banyak yang melanggar arus 1 arah tersebut terutama untuk penghuni sekitar Indraprasta tsb.
Menurut saya kalau untuk memecah arus ke Tugu Muda mgkn malah menambah arus lalu lintas ke bundaran Tugu Muda lewat Imam Bonjol, karena untuk menuju ke Barat ke Jl Siliwangi harus putar ke Tugu Muda dahulu.
Kalau untuk mengurangi kepadatan bundaran Banjir Kanal memang agak berdampak.
Pilihan sulit memang,mungkin suatu saaat ada fly over dari Indraprasta tsb melintasi di atas bundaranan Banjir Kanal terus ke Jl. Siliwangi.
Dampak Indraprasta satu arah ini terasa kepada pelaku ekonomi di jalan Indraprasta.Pompa bensin,warung,toko,mengalami penurunan pendapatan,bahkan ada ruko dihentikan pembangunannya karena merasa salah keputusan membangun ruko tsb.
Yang saya bingung adalah Jl. Tanjung yang 1 arah berpuluh-puluh tahun juga.
Harusnya jalan tersebut kalau dibuat 2 arah akan menambah kantung-kantung ekonomi di dalam kota juga,apa mungkin karena disitu ada kantor PLN,instansi pemerintah yang vital,takut terjadi kemacetan.Tetapi siang hari cukup macet,apalagi kalau bubaran anak sekolah di SD YSKI Tanjung.
edytoah December 2nd, 2011, 01:59 PM Masih ada sejarahnya moto tjap mobil, anggur orang tua bapak djenggot, sepatu famous, rokok gentong gotri, rokok pompa praoe lajar, dll
Heeh yo Mas ssphila .. trs kira-2 label produk yang menembus pasar Global dari Semarang kira2 apa ya Mas .. dulu ada bola tennis Tens .. cuma sekarang sudah bangkrut ...
Kalau ada yg punya image label-label produk Semarang tempo doeloe diupload aja kesini ... :)
mbahTonno December 3rd, 2011, 04:15 AM Wacana Indraprasta 1 arah tsb akhirnya kejadian juga akhirnya setelah beberapa puluh tahun ya Mas Titus. Tp kelihatannya belum benar-2 diterapkan permanen karena median di lampu merah perempatan belum dibongkar.
Kendaraan roda 2 masih banyak yang melanggar arus 1 arah tersebut terutama untuk penghuni sekitar Indraprasta tsb.
Menurut saya kalau untuk memecah arus ke Tugu Muda mgkn malah menambah arus lalu lintas ke bundaran Tugu Muda lewat Imam Bonjol, karena untuk menuju ke Barat ke Jl Siliwangi harus putar ke Tugu Muda dahulu.
Kalau untuk mengurangi kepadatan bundaran Banjir Kanal memang agak berdampak.
Pilihan sulit memang,mungkin suatu saaat ada fly over dari Indraprasta tsb melintasi di atas bundaranan Banjir Kanal terus ke Jl. Siliwangi.
Dampak Indraprasta satu arah ini terasa kepada pelaku ekonomi di jalan Indraprasta.Pompa bensin,warung,toko,mengalami penurunan pendapatan,bahkan ada ruko dihentikan pembangunannya karena merasa salah keputusan membangun ruko tsb.
Yang saya bingung adalah Jl. Tanjung yang 1 arah berpuluh-puluh tahun juga.
Harusnya jalan tersebut kalau dibuat 2 arah akan menambah kantung-kantung ekonomi di dalam kota juga,apa mungkin karena disitu ada kantor PLN,instansi pemerintah yang vital,takut terjadi kemacetan.Tetapi siang hari cukup macet,apalagi kalau bubaran anak sekolah di SD YSKI Tanjung.
Banyak jalan satu arah yg pudar perekonomiannya, selain tanjung, juga Raden Patah, dr Cipto. dll. mungkin perlu dipikirkan ulang semuanya.
edytoah December 3rd, 2011, 04:25 AM Banyak jalan satu arah yg pudar perekonomiannya, selain tanjung, juga Raden Patah, dr Cipto. dll. mungkin perlu dipikirkan ulang semuanya.
Betul betul betul (saingannya Unyil Ucrit mode on) ... mbah Tonno ... :) .. Nuwun udah mampir disini ...
Dulu mas Murty juga pernah kasih paparan ttg Kota Lama (depan gereja Blenduk) di trit Smg P&D harusnya ngak satu arah .. andaikan 1 arahpun putaran arus lalu lintasnya tdk sesuai arah jarum jam apa bagaimana menurut fungshui ...
Piye sin mathuk sak janne Mas Murty ... apa jaman dulu lalu lintas di kota lama 1 arah juga ?
titus15 December 3rd, 2011, 12:25 PM Jangankan jalan2 itu, jalan mataram aja menurutku jadi kurang optimal karena 1 arah...
ternyata kalo diinventaris banyak juga jalan di semarang yang 1 arah. Jalan Pandanaran jangan sampai jadi 1 arah dong...
http://img31.imageshack.us/img31/4957/30032011103035010.jpg
Ini nfoto peresmian jalan Indraprasta tahun 70an...
titus15 December 3rd, 2011, 12:31 PM Kalo ini kecape wong semarang
http://img525.imageshack.us/img525/1843/headerkecappiringlombok.jpg
Ada satu lagi yang juga klasik
Kecap MIRAMA...
http://img535.imageshack.us/img535/1629/kecapmirama1.jpg
damarsinyo December 3rd, 2011, 01:08 PM Saya dulu tinggal di daerah Lampersari... wkwkwkwk
^^#gubraakkkk...:lol::lol::lol:
titus15 December 3rd, 2011, 01:26 PM ini yang anggur kolesom cap orang tua, asli diboeat di Semarang:
http://img836.imageshack.us/img836/4219/caporangtua.jpg
titus15 December 3rd, 2011, 01:30 PM Ada yang tau, ini minuman apa??
http://img440.imageshack.us/img440/9854/congyang3.jpg
edytoah December 3rd, 2011, 02:06 PM ^^ Weh Mas Titus .. adem-2 persediaanne nganti telung gendul ...wkkwkkwkkwkk .:lol:... just kidding ..
BTW ni minuman cap Tiga Orang ini atau lebih sering disebut Cong Yang ... ini yang bikin tingkat krimilitas di kota Semarang tinggi ... :) ...Harga juga ngak murah lho .. satu botol sekarang Rp. 45.000,- .. hampir sama harga satu botol beer.
Baunya itu yang nguati ... aku ngadoh wae nek ono ngombe Cong Yang iki ..xixixixi ..
titus15 December 3rd, 2011, 02:09 PM ^^ hehe... biarkan yang berpengalaman yang bercerita...wkwkwk...
Btw kalo satu gendul harganya segitu berarti gali2 semarang sugeh-sugeh yo mas?? biasane yang tren sekarang oplosan murah meriah yang tidak mengandung alkohol, melainkan ethanol hehehe...
Btw dulu pernah baca berita ada orang daerah Semarang (lupa2 ingat berita tahun 90an awal), yang mati gara2 tarohan banyak2an minum kecap. Hayoh opo tumun mati mabok ngombe kecap...????
edytoah December 3rd, 2011, 02:13 PM Ada satu lagi yang juga klasik
Kecap MIRAMA...
http://img535.imageshack.us/img535/1629/kecapmirama1.jpg
Kecap Mirama ini termasuk legandaris,ada cerita sedikit ttg kecap ini dari 2 tokoh wanita yang cukup beken di kota Semarang ... sy cupilik ambil dari http://kulinerkita.multiply.com/reviews/item/262?&show_interstitial=1&u=/reviews/item
Kecap Mirama
Lihat, misalnya, sekelumit cerita mengenai Kecap Mirama—produk yang sangat diakrabi oleh masyarakat Semarang. ”Anakku yang sekolah di Singapura atau siapa saja kenalan dari Semarang yang tinggal di luar negeri selalu akan meminta oleh-oleh Kecap Mirama. Makan nasi dengan kecap ini saja cukup,” kata Benita Eka Arijani. Dia termasuk penggerak kegiatan ini. Di seputar Pecinan, semua pedagang akan menyapanya. Di situ perempuan asal Salatiga ini seperti selebriti.
”Untuk membeli Kecap Mirama, diberlakukan kuota. Satu orang tak boleh membeli lebih dari dua botol,” kata Widya Wijayanti, arsitek yang juga punya peran dalam pelaksanaan acara ini. Widya menyunting buku Pasar Imlek Semawis 2006, yang di dalamnya tercatat riwayat kegiatan ini, termasuk riwayat beberapa usaha makanan legendaris di Semarang. Di salah satu kios penjual makanan, petang itu tampak Widya menikmati sate ayam, sampai berkeringat. ”Kecapnya Mirama,” katanya menunjuk saus untuk satenya.
Kecap memang terkait erat dengan kelokalan atau tradisi lokal. Tiap daerah punya unggulan kecap masing-masing. Itulah makanya ada sebutan, kecap selalu nomor satu—paling tidak untuk lidah daerah masing-masing. Untuk lidah Semarang, makanan baru afdal kalau dimasak dengan Kecap Mirama.
Lihat saja. Jalan-jalan petang hari di Pasar Imlek yang sangat hidup ini, pertama-tama menikmati apa yang disebut bakmi jowo. Dimasak dengan arang, bakmi goreng dengan ditambah kekian ini luar biasa sedap. Rasanya mau menggasak lebih dari satu porsi kalau tidak mengingat bahwa makanan-makanan lain perlu diberi tempat. Nasi goreng dan soto ayam di dekat situ menunjukkan lagi kualitasnya yang prima—juga dengan andalan kecapnya. Mengapa selalu Kecap Mirama? ”Wis kulino... (sudah terbiasa),” kata si pedagang. (Bukankah ada istilah bahasa Jawa juga, ”Tresno jalaran soko kulino”?)
Makanan/jajanan di situ betapapun sederhananya, umumnya berakar pada tradisi yang panjang—ditumbuhkan dari kecintaan yang terpelihara dari generasi ke generasi. Kalau mau sedikit membandingkan dengan semangat zaman sekarang, itulah kelebihan mereka. Mereka tekun dan setia pada satu hal yang mereka cintai, yakni membuat makanan sampai roh pembuatnya seperti memanifestasi pada kelezatannya.
Kecap Mirama, misalnya, dibuat oleh nyonya yang katanya sangat hobi memasak, yakni Nyonya Kwik Sik Giem, pada sekitar tahun 1935. Yang meneruskan usahanya kini adalah pewaris kesekian. Tempat makan lain, Rumah Makan Air Mancur, sudah eksis sejak tahun 1940-an dan kini dilanjutkan oleh generasi ketiga. Meski namanya ”rumah makan”, jangan bayangkan satu tempat yang mewah. Tempatnya sederhana, menempati ruko dua lantai, dengan sajian nasi langgi, nasi berkat, lontong cap go meh, dan lain-lain. Dalam hal cita rasa, dia terasa lebih sedap dibandingkan dengan beberapa restoran peranakan yang sedang menghiasi kekenesan Jakarta.
damarsinyo December 3rd, 2011, 02:37 PM Ada yang tau, ini minuman apa??
http://img440.imageshack.us/img440/9854/congyang3.jpg
^^ Weh Mas Titus .. adem-2 persediaanne nganti telung gendul ...wkkwkkwkkwkk .:lol:... just kidding ..
BTW ni minuman cap Tiga Orang ini atau lebih sering disebut Cong Yang ... ini yang bikin tingkat krimilitas di kota Semarang tinggi ... :) ...Harga juga ngak murah lho .. satu botol sekarang Rp. 45.000,- .. hampir sama harga satu botol beer.
Baunya itu yang nguati ... aku ngadoh wae nek ono ngombe Cong Yang iki ..xixixixi ..
^^wkwkwkwkwk:lol::lol::lol:
itu ukuran tolik(botol cilik) harganya sekitar 21rb...:lol::lol::lol:
edytoah December 3rd, 2011, 04:51 PM ^^wkwkwkwkwk :lol::lol::lol:
itu toldi(botol gedhi) sak botol beer harganya sekitar 45rb...
Lha mgkn nek kelarangan .. ono gali2 sin ora dhuwe duit ... ngombe jamu oplosan (ciu arak bekonang ) "axtxn" barang ...nganti ono sin mati barang ... Terwelu ..
Oplosan sin rodhok larang ono sin ngaggo rxdxxxn (vit c) barang omonge ... :lol::lol::lol: ... ono ono wae ... ngono yo ngono tp yo ojo ngono tho ...
detwis December 3rd, 2011, 05:27 PM Ada satu lagi yang juga klasik
Kecap MIRAMA...
http://img535.imageshack.us/img535/1629/kecapmirama1.jpg
wah kecap khas mi jowo !!!
sedep rasane
:cheers:
Ada yang tau, ini minuman apa??
http://img440.imageshack.us/img440/9854/congyang3.jpg
CONG YANG... minuman khas sambutan utk tamu luar kota yg maen ke semarang
#jaman ijik band2nan.. wkwkwkwkwkkwkwkwk :lol: :lol: :lol:
titus15 December 3rd, 2011, 11:32 PM ^^wkwkwkwkwk :lol::lol::lol:
itu toldi(botol gedhi) sak botol beer harganya sekitar 45rb...
Lha mgkn nek kelarangan .. ono gali2 sin ora dhuwe duit ... ngombe jamu oplosan (ciu arak bekonang ) "axtxn" barang ...nganti ono sin mati barang ... Terwelu ..
Oplosan sin rodhok larang ono sin ngaggo rxdxxxn (vit c) barang omonge ... :lol::lol::lol: ... ono ono wae ... ngono yo ngono tp yo ojo ngono tho ...
Haha Toldi dan Tolik... kosa kata lama yang jarang saya denegr lagi. Dulu deket sekolah ada Grafiti gede tulisana Toldi Cafe.... hehe... harus tak update entri boso semaranganku om... tur nuwun mas Editoah & Damarsinyo...
detwis December 4th, 2011, 03:23 PM http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/6/6a/Raden_saleh.jpg
Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).
Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan.
Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.
Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826), setelah ia melihat karya Raden Saleh.
Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
ssphila December 4th, 2011, 05:53 PM Kalo ini kecape wong semarang
http://img525.imageshack.us/img525/1843/headerkecappiringlombok.jpg
Ada satu lagi yang juga klasik
Kecap MIRAMA...
http://img535.imageshack.us/img535/1629/kecapmirama1.jpg
Kecap enak masih pake gambar piring lombok ?
Kecap mirama-ne masih segel koq wes ndlewer ? :lol:
ini yang anggur kolesom cap orang tua, asli diboeat di Semarang:
http://img836.imageshack.us/img836/4219/caporangtua.jpg
^^ itu ditulisan bawah tertulis diproduksi di Tangerang mas.
:doh: ada congyang masuk ssc :lol:
Dulu coca cola semarang juga pernah bikin minuman kaleng, sy sempet koleksi khusus yg produksi smg.
edytoah December 5th, 2011, 03:40 PM ^^ itu ditulisan bawah tertulis diproduksi di Tangerang mas.
Anggur Cap Orang Tua ini dulunya memang diproduksi di Semarang,tepatnya di jalan Kakap.Anggur orang tua ini banyak orang menyebut juga KTI (Ketan Ireng).
Sekarang sudah menggurita jadi grup besar ABC (Artha Boga Cemerlang) di Daan Mogot,Tangerang.
Tapi cikal bakalnya di Semarang masih dipertahankan.
Sebetulnya Grup Orang Tua ini bisa jadi jaringan ritel besar menyaingi Alphamart dan Indomart, tp ngak tahu kenapa mereka kok tidak membuat jaringan ritel sendiri,mgkn mereka juga sayang produknya (Food and Berverage dan Toiletary) sudah membanjiri di dua ritel besar tsb.
Ini ada tautan ttg Perjalanan Gurita Bisnisnya di : http://swa.co.id/2003/07/perjalanan-gurita-bisnis-grup-abc/
titus15 December 5th, 2011, 11:28 PM Anggur Cap Orang Tua ini dulunya memang diproduksi di Semarang,tepatnya di jalan Kakap.Anggur orang tua ini banyak orang menyebut juga KTI (Ketan Ireng).
Sekarang sudah menggurita jadi grup besar ABC (Artha Boga Cemerlang) di Daan Mogot,Tangerang.
Tapi cikal bakalnya di Semarang masih dipertahankan.
Sebetulnya Grup Orang Tua ini bisa jadi jaringan ritel besar menyaingi Alphamart dan Indomart, tp ngak tahu kenapa mereka kok tidak membuat jaringan ritel sendiri,mgkn mereka juga sayang produknya (Food and Berverage dan Toiletary) sudah membanjiri di dua ritel besar tsb.
Ini ada tautan ttg Perjalanan Gurita Bisnisnya di : http://swa.co.id/2003/07/perjalanan-gurita-bisnis-grup-abc/
Dulu ada Sasana Tinju Orang Tua, apakah ada hubungannya dengan group orang tua ini, Salah satu pelatihnya yang terkenal Sutan Rambing, Chris John kalo nggak salah pernah bernaung di Sasana inisebelum pindah latihan di Ausi.
edytoah December 6th, 2011, 02:13 AM ^^Betul Mas Titus ... Grup Orang tua yang yang menyeponsori Sasana Tinju milik Sutan Rambing pada th 80an maka dinamakan Sasana Tinju Orang Tua.
Sutan Rambing adalah mantan petinju th 70an yang kemudian menjadi pelatih,sasana tinju milik Sutan Rambing ini terletak di Kp. Lasipin Dr. Cipto.
Beberapa lama kemudian berganti sponsor menjadi Sasana Tinju Bank Buana.
Karya fenomemal Sutan Rambing adalah anak asuhnya Christ John yang dijuluki "The Dragon" menjadi juara kelas bulu versi WBA th 2003.
http://img707.imageshack.us/img707/8326/john343.jpg
Selain itu di Semarang juga pernah ada Sasana Tinju Jamu Jago.
Agaknya dari dulu Semarang cukup disegani,menelurkan petinju amatir maupun profesional,nasional maupun internasional.
titus15 December 6th, 2011, 02:44 AM Sekarang apa kabar Sutan Rambing. Dulu katanya mau ngorbitin anaknya namanya Soni Rambing apa ya??? Lama tak terdengar kabarnya??
Tentang Chris John sendiri, karena seolah udah nggak punya lawan lagi kenapa nggak dibikin pertandingan penggabungan gelar ya?? Kan masih ada juara WBC, IBF, WBF dan WBO??
dengan karir gemilang 40an kali bertanding tanpa kalah, hanya satu prestasi yang belum ditorehkan Chris John adalah mempertahankan gelar di Semarang sebagai Hometown nya. Piye apa temen2 SSCers mau urunan mensponsori dan mempromotori laga ini? selak tuwo nanti...
titus15 December 6th, 2011, 02:47 AM masih Ingat Ribut Waidi, legenda sepakbola Indonesia dari PSIS, yang sukses membawa PSSI menjuarai Sea Games 1987 dan Piala kemerdekaan dengan gol2 yang diciptakan dari kakinya. Ini beberapa video tentang sang legenda:
nxO-2oKSOWQ
xSjlz938Ipw
_Wu7jTfk4SA
beliau sekarang masih kerja di Pertamina, berharap setelah pensiun bisa serius jadi pelatih bola lagi...
edytoah December 6th, 2011, 12:28 PM Sekarang apa kabar Sutan Rambing. Dulu katanya mau ngorbitin anaknya namanya Soni Rambing apa ya??? Lama tak terdengar kabarnya??
Tentang Chris John sendiri, karena seolah udah nggak punya lawan lagi kenapa nggak dibikin pertandingan penggabungan gelar ya?? Kan masih ada juara WBC, IBF, WBF dan WBO??
dengan karir gemilang 40an kali bertanding tanpa kalah, hanya satu prestasi yang belum ditorehkan Chris John adalah mempertahankan gelar di Semarang sebagai Hometown nya. Piye apa temen2 SSCers mau urunan mensponsori dan mempromotori laga ini? selak tuwo nanti...
Sutan Rambing mgkn sdh cukup tua dan sudah mulai pensiun.Dalam mengelola sasananya dibantu oleh asisten.
Sony dan Akasa Rambing yg mengikuti jejak jadi petinju walau tidak secemerlang anak didiknya Christ John.Ironisnya bbrp waktu lalu Sutan Rambing ada masalah ketidakcocokan yang berujung dgn gugatan perdata.Mgkn skrg sdh selesai urusannya.
Tahun lalu putranya ke empat meninggal Alm. Temuzin Rambing adalah seorang promotor dan Manajer Sasana Kuku Bima
Dari 10 putra-putri Sutan Rambing yg menonjol ketiga nama tsb.
Harusnya Christ John memang harus pernah naik ring di Semarang ya Mas Titus.Kalau digelar di Paragon piye Mas Titus ? ..wkkwkkwkk :lol: :lol: :lol: . Mestinya Sidomuncul perusahaan besar Semarang mau nyeponsori harusnya,krn Christ jg pernah jd bintang iklannya.
titus15 December 6th, 2011, 02:37 PM BAgaimana caranya mengontak dan manas-manasin Sido muncul?? kan bisa jadi iklan Kuku Bima juga?? hehe... Show di Paragon... hmmm... sesuatu banget kayaknya...
ssphila December 6th, 2011, 06:08 PM Berhub. Mas Silver Raleigh nanya ttg Gunungpati & ada artikelnya, sekalian sy post disini :
Hikmah dari Sejarah Gunungpati
* Oleh Agust Moeljono
SEJARAH Gunungpati, salah satu kecamatan di Kota Semarang, tak bisa dipisahkan dari peperangan antara prajurit Tuban dan Pati. Saat itu, banyak peng duduk Pati yang mengungsi demi keselamatan jiwanya.
Salah seorang diantaranya adalah Kiai Pati. Dengan mengendarai seekor sapi bernama Pragolapati, dia mengungsi bersama para pengikutnya.
Tibalah rombongan ini di sebuah tempat yang dianggapnya aman dan nyaman. ’’Daerah ini rasanya cukup aman untuk berlindung,’’ kata Kiai Pati, yang diiyakan para pengikutnya.
’’Selain aman, tanahnya juga subur dan indah,’’ kata salah seorang pengikutnya.
’’Bagaimana kalau kita menetap di daerah ini saja?’’ tanya Kiai Pati, yang dijawab ’’setuju’’ oleh semua pengikutnya.
Kemudian Kiai Pati berkata, ’’Saudara-saudaraku, saksikanlah, daerah ini saya beri nama Gunungpati. Artinya, daerah bergunung-gunung, dan (digabungkan dengan) nama saya, Kiai Pati’’.
Dalam perkembangannya, Gunungpati pernah menjadi sebuah kabupaten tersendiri. Hal itu dapat dibuktikan dari masih adanya dua pohon asam di tengah Alun-alun, sekitar 50 tahun lalu.
Bahkan sampai sekarang, kita masih bisa menjumpai Kampung Ngaban, Pasar Kliwonan, Jagalan, dan Kauman di sekitar masjid, serta sebuah penjara bernama Sikrangkreng.
Hingga 1919, Gunungpati masih dipimpin seorang lurah bernama Jafar, yang masih keturunan langsung dari Kiai Pati. Makam Kiai Pati maupun Lurah Jafar masih bisa kita lihat dari depan jalan menuju pasar sekarang.
Ikut Bergerilya
Di masa revolusi, Gunungpati adalah wilayah setenan dari asisten wedana wilayah Kawedanan Ungaran. Julukan bagi kepala pemerintahan Gunungpati adalah Pak Seten. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1947, wilayah Gunungpati menjadi bagian integral dari NKRI.
Penduduk setempat ikut bergerilya melawan tentara penjajahan. Mereka membangun dapur umum secara sukarela, di sebuah rumah dekat makam Kiai Pati. Beberapa petugas dapur umum yang saya kenal antara lain Duryat (almarhum), Suprat, Suwadi, Muharjo, Ngadikin, dan Muso.
Dapur umum ini amat berjasa dalam membantu perjuangan anak bangsa. Banyak juga anak sekolah yang bergabung menjadi Tentara Pelajar (TP), termasuk dua bersaudara Soeparto (mantan wagub Jateng) dan Sutiyoso (mantan gubernur DKI Jakarta).
Status Gunungpati kemudian berubah dari kawedanan menjadi kecamatan di Kabupaten Semarang, tetapi pada pertengahan 1980-an diminta bergabung dengan Kota Semarang.
Dulu, kecamatan ini hanya memiliki satu sekolah dasar (SD), yaitu di Sabrangan. Beberapa teman mengajak mendirikan SMP. Meski terlaksana, tetapi tidak memiliki ruang sekolah sendiri, sehingga harus meminjam pendapa Kelurahan Gunungpati. Muridnya pun kian menyusut.
Soal honor, jangan ditanya lagi. Bahkan para guru, yang hampir semuanya tinggal di luar Gunungpati, kerap bermalam di rumah Pak Carik. Penulis dan beberapa teman lalu mengambil kebijakan menitipkan murid-murid kelas tiga ke SMP lain saat ujian berlangsung. Hebatnya, semua siswa lulus SMP.
Kini, dunia pendidikan di Gunungpati sudah jauh lebih maju. Sudah ada dua SMP negeri, satu SMA negeri, serta beberapa SMP/SMA swasta. Gunungpati bukan lagi wilayah desa, melainkan sudah menjelma menjadi ’’desa kota’’ yang gemerlap di malam hari.
Kawasan Wisata
Sebagai wilayah pegunungan, Gunungpati memiliki potensi alam yang indah. Jika dikelola dengan baik bisa dijadikan kawasan wisata alam potensial di Kota Semarang. Ketika keluar dari Semarang sampai di Kampung Sadeng, pada jalan menurun, kita bisa menoleh ke kanan. Di sana ada objek wisata Gua Kreo. Ada juga Sendang Abimanyu, yaitu sebuah mata air yang dilegendakan sebagai hasil bidikan anak panah Raden Abimanyu.
Di Gunungpati, kita juga bisa menjumpai beberapa tempat rehat yang sangat menyenangkan. Misalnya, warung makan dengan menu khas ikan, yang mana bahan bakunya berasal dari kolam-kolam di daerah Ngrembel.
Ada pula kolam pemancingan Sekopek, di mana banyak warga Kota Semarang yang pernah berkunjung ke sana. Kolam pemancingan ini berada di jalur strategis Gunungpati-Boja.
Kalau mau wisata agro juga bisa. Sebab Gunungpati sejak dulu dikenal sebagai sentra durian petruk. Buahnya besar dan panjang. Selain durian petruk, ada juga durian ngangkrang yang bulat dan besar. Durian ngangkrang bisa dijumpai di Desa Mblabag, atau kini dikenal sebagai Jatireja.
Gunungpati juga termasuk daerah penghasil rambutan gading yang berambut kuning, serta rambutan gemblong yang berwarna merah dan berukuran besar-memanjang.
Perkebunan ini banyak dijumpai di Desa Mundingan. Produk perkebunan lain yang cukup menonjol adalah jambu lumut di Desa Kandri, serta jambu mete kuning dan merah di Desa Sadeng.
Kita bisa memetik hikmah dari sejarah kelahiran Gunungpati, beserta potensi alam yang dimilikinya. Jika Pemerintah Kota Semarang, dan terutama masyarakat setempat, mau mengoptimalkan segala potensi tersebut, bukan mustahil Gunungpati bisa menjadi kawasan wisata alam, wisata agro, wisata ziarah, dan wisata pemancingan yang sangat menarik di masa datang. Kehadiran investor amatlah diharapkan, untuk mempercepat terwujudnya cita-cita mulia tersebut. (32)
—Agust Moeljono, warga Desa Kandri, Gunungpati; pensiunan guru SMA Negeri 5 Semarang; penulis Sastra Jawa.
Source : http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=44522
ssphila December 6th, 2011, 06:19 PM Bank Indonesia Semarang
Kantor Bank Indonesia Semarang pertama kali dibuka pada tanggal 1 Maret 1829 sebagai Kantor Cabang De Javasche Bank N.V yang pertama di seluruh Hindia Belanda, setelah mendapat persetujuan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pembukaan kantor tersebut didasari atas pertimbangan bahwa pada saat itu Kota Semarang merupakan kota pelabuhan besar di pulau Jawa dengan prospek perekonomian dan perdagangan yang sangat baik. De Javasche Bank Semarang Branch dibangun berdasarkan sistem profit sharing antara pihak De Javasche Bank dengan pihak pengusaha lokal di Semarang pada saat itu. Ketika Kantor Cabang Semarang dibuka, P.C.W. Hipp, seorang pengusaha lokal di Semarang terpilih sebagai Pemimpin Cabang dengan 3 (tiga) orang asistennya yaitu T. Schuurman, J. Bremner, dan J. Mac Neil.
Pada masa pendudukan tentara Jepang di Indonesia (1942-1945) atau selama berlangsungnya Perang Dunia II, bank-bank milik Belanda, Inggris, dan China yang ada di Indonesia (Hindia Belanda) banyak yang dilikuidasi atau ditutup oleh pemerintah pendudukan Jepang yang berkuasa sejak tahun 1942 hingga 10 Oktober 1945. Peran De Javasche Bank pada saat itu diambil alih oleh bank milik pemerintah pendudukan Jepang yang berkantor pusat di Tokyo, yaitu Nampo Kaihatsu Ginko. Seluruh kantor De Javasche Bank baik pusat maupun cabang-cabangnya yang berada di Hindia Belanda ditutup, termasuk Kantor Cabang Semarang.
.............
Sumber & Selanjutnya : http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Data+dan+Informasi+Bisnis/Info+Bisnis+Regional/Publikasi/Profil/Jateng/KBI.htm
silver railegh December 6th, 2011, 06:54 PM makasi infonya om..trnyta benran ad unsur org pati.hehe
titus15 December 7th, 2011, 08:43 AM Wah nambah lagi pengetahuan sejarah wilayah kota Semarang, tidak sekedar data saja, tapi juga oral historynya juga. tq om Ssphila.
Omong2 tentang semarang tempo dulu, saya jadi ingat dulu ada novel serial Noni. serialini berceria tentang Prita, gadis tomboy yang dipanggil Noni. Kisahnya lebih ke tema petualangan. Perkenalannya dengan penjahat bernama Godek (penjahat/ residivis tapi baik sama Noni) membuat cerita mengharu biru. Dalam petualangannya, nama2 seperti Wonodri, Karangayu, Krapyak, Peterongan, simpanglima jatingaleh hingga semarang Fair (semarang Fair ini seperti PRPP tapi tahun 70an tempatnya di Tegalwareng) banyak disebut dan dideskripsikan. Ternyata buku2nya yang dulu diterbitkan Gramedia sekarang diterbitkan lagi oleh Mizan, tapi saya kurang yakin apakah setong tempo dulunya dipertahankan atau disesuaikan.
Berikut cuplikan sinopsis salah satu serial noni karya Bung Smas, versi Mizan"Lawan Paling Berat":
Sinopsis: Kecemasan Eli terbukti juga. Meskipun agak dongkol pada Noni, Eli tetap meminta anak-anak Gombak dan Karangayu menjaga keselamatan Noni. Gombak segera berangkat ke Jatingaleh, sementara Dito mengumpulkan teman-temannya untuk bergabung dengan Godek. Namun, anak-anak itu bukanlah tandingan sekawanan penjahat yang punya hubungan dengan penjahat-penjahat besar di luar negeri. Godek sendiri merasa sedang berhadapan dengan lawan paling berat. Dan, Godek tidak mengada-ada! Bagaimana petulangan Noni dalam serial ini? Yuk, ikuti dan nikmati!
http://img846.imageshack.us/img846/1130/noni.jpg
Ini nemu juga sinopsis Pelukis Misterius:
Pelukis Misterius (Serial Noni)
by Bung Smas
3.58 · rating details · 26 ratings · 2 reviews
Noni sangat merindukan Godek, buron polisi yang menjadi sahabatnya. Ia berkenalan dengan Pak Samuel Pamungkas, seorang pelukis sketsa yang disangkanya Godek dalam penyamaran.
Belakangan diketahui, Pak Samuel diculik di depan mata Noni. Noni mencari pelukis sketsa itu, karena ia merasa masih punya hutang. Ia terlibat dalam petualangan yang penuh mara-bahaya. Siapa Pak Samuel sebenarnya, betapa sulitnya menebak. Dia bandit atau korban penculikan?
Kelompok Gombak (Godek Mati Bangkit Kembali) dan kelompok Karangayu membantunya. Tapi mereka tak berdaya melawan komplotan penjahat yang sangat lihai. Hanya Godek yang bisa membantunya. Sayang Godek tidak pernah muncul. Noni merasa Godek ada di dekatnya, tetapi di mana? Godek bisa berada di mana-mana, seperti angin yang menggetarkan daun-daun bunga sanggalangit di halaman rumah Noni. Di sanalah dulu Noni pertama kali berkenalan dengan Godek.
Noni, gadis kecil yang manis tetapi kelaki-lakian ini, bisakah dia selamat dari bahaya yang menghadangnya di mana-mana?(less) http://www.goodreads.com/book/show/6506659-pelukis-misterius
http://img684.imageshack.us/img684/1534/noni2.jpg
http://img221.imageshack.us/img221/3778/noni5ar.jpg
http://img828.imageshack.us/img828/9107/noni3.jpg
http://img52.imageshack.us/img52/8176/noni4.jpg
edytoah December 7th, 2011, 04:15 PM ^^ Weh novel ya Mas Titus .. sy kira komik manga buatan Semarang ...
Anak muda tidak hanya keranjingan komik Jepang,ternyata ada ternyata ada guru besar Ninjutsu asal Semarang di Cibinong Bogor.
Ninjutsu adalah kombinasi beladiri dan intelijen dari Jepang yang banyak dipakai oleh para Ninja.Dahulu ilmu Ninjutsu ini diajarkan secara tertutup dan terbatas.Sekarang ninja-ninja modern diajarkan bahkan untuk anak-anak.
Uniknya didalam ninjutsu ini ada bela diri menggunakan Katana (Samurai).
Toyama Nakamura Kenjutsu adalah beladiri samurai menggunakan pedang panjang jenis katana dan sangat tajam yaitu shinken, aliran ini lahir di era perang dunia ke 1 dan 2 yang diajarkan oleh tentara jepang untuk masuk di kancah perang dunia dan pernah masuk di indonesia th 1940-th 1943 dan kini dari aliran tersebut kembali di gali dan mulai tumbuh di indonesia terutama di jakarta dan bogor.
Adalah SAN MOON,dilahirkan di kota Semarang tahun 1969, lulusan SMA Kesatrian th 1988.Sejak remaja San Moon suka sekali belajar bermacam-macam bela diri juga kebatinan dan bela diri kejawen.Selepas SMA sempat bekerja di Kalimantan sambil berguru ilmu silat dan pengobatan Dayak.
Th 1991 San Moon melanjutkan studi ke Australia tepatnya di Melbourne.
Di Sela-sela kesibukan kampus, San berkenalan dengan seorang gadis kebangsaan Chili yang bernama Carolina,pertemuan diawali dengan menolong gadis tsb dari perkelahian yang tidak seimbang,gadis tsb dikeroyok 4 orang.Ternyata gadis tsb adalah ahli bela diri juga yang disebut Ninjutsu.
Perkenalan dgn Carolina membuat San tertarik untuk belajar ilmu diri Ninja.
Atas referensi Carolina San pergi ke pinggiran kota Victoria,disana di dekat sebuah SMA,San menunggu kontak yang sudah dihubungi Carolina untuk belajar Ninjutsu.Karena lapar maka San makan bekal yang dibawa disebuah kursi taman dekat box telp umum dekat SMA tsb.
Ada hal yang aneh proses San menjadi murid Ninjutsu ini,San yang saat sdg makan sambil menunggu kontak,tiba-tiba datang 4 orang (2 pria dan 2 wanita ) yang ditangannya seperti terbebat kain hitam,dengan cepat meringkus San Moon dgn totokan di tengkuk, setelah bertanya "Are You San Moon ?".
Singkat cerita San Moon seperti diculik,dalam keadaan tidak sadar,matanya ditutup,San Moon dibawa disebuah dojo (tempat latihan),ada kain putih bertuliskan huruf Jepang dan ada rak berisi banyak samurai,ada kira-2 sekitar 30 orang sedang berlatih ilmu beladiri dengan pakaian hitam-hitam,dan salah satu adalah temannya Carolina.
Setelah San Moon sadar,diinterview latar belakang bela diri sebelumnya oleh seorang guru spt dari India,kemudian San disodori formulir pendaftaram Ninjutsu.Tentu saja San yang keranjingan ilmu beladiri menerima,dan sejak itu San Moon belajar serius Ninjutsu ini.
Th 1994 San Moon pulang ke Indonesia dan mendirikan Ninjutsu Indonesia di Cibinong Bogor.
http://img88.imageshack.us/img88/3695/sanmoon1.jpg
Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5105546&page=4
- http://www.facebook.com/sanmoon.nakamura?sk=wall (http://www.facebook.com/sanmoon.nakamura?
sk=wall)
- http://www.ninjutsu-indonesia.com/
- http://www.arthazone.com/article_detail.php?nid=946&catid=7
edytoah December 7th, 2011, 04:38 PM Sirup Fres,sirup framboze sirup legenda kota Semarang.
http://img35.imageshack.us/img35/6522/fresp.jpg
Bekas pabrik sirup Fres di Taman Srigunting 5-6,yang sekarang jadi Galery..
Pabrik sudah lama pindah ke Jl. Tapak, Taman Lele,Mangkang.
http://img534.imageshack.us/img534/527/srigunting561.jpg
Bekas kantor sirup Fres di Taman Srigunting 10,sekarang jd kantor Yayasan Soegiopranoto.
http://img823.imageshack.us/img823/6908/srigunting101.jpg
Lingkungan sekitar Taman Srigunting 7-8-9,bangunan tua yang terpelihara apik ...
http://img24.imageshack.us/img24/5162/srigunting789.jpg
detwis December 7th, 2011, 04:41 PM Kelompok Gombak (Godek Mati Bangkit Kembali) dan kelompok Karangayu membantunya. Tapi mereka tak berdaya melawan komplotan penjahat yang sangat lihai. Hanya Godek yang bisa membantunya. Sayang Godek tidak pernah muncul. Noni merasa Godek ada di dekatnya, tetapi di mana? Godek bisa berada di mana-mana, seperti angin yang menggetarkan daun-daun bunga sanggalangit di halaman rumah Noni. Di sanalah dulu Noni pertama kali berkenalan dengan Godek.
jiaaah godek mati bangkit kembali... ahhahahahahaa :lol: :lol:
btw cr ni novel dmn ya om?
detwis December 7th, 2011, 04:42 PM Sirup Fres,sirup framboze sirup legenda kota Semarang.
http://img35.imageshack.us/img35/6522/fresp.jpg
Bekas pabrik sirup Fres di Taman Srigunting 5-6,yang sekarang jadi Galery..
Pabrik sudah lama pindah ke Jl. Tapak, Taman Lele,Mangkang.
http://img534.imageshack.us/img534/527/srigunting561.jpg
Bekas kantor sirup Fres di Taman Srigunting 10,sekarang jd kantor Yayasan Soegiopranoto.
http://img823.imageshack.us/img823/6908/srigunting101.jpg
Lingkungan sekitar Taman Srigunting 7-8-9,bangunan tua yang terpelihara apik ...
http://img24.imageshack.us/img24/5162/srigunting789.jpg
bangunannya keren keren !
:cheers:
titus15 December 8th, 2011, 12:14 AM Sekarang pabrik dan kantornya pindah mana om??
titus15 December 8th, 2011, 12:15 AM jiaaah godek mati bangkit kembali... ahhahahahahaa :lol: :lol:
btw cr ni novel dmn ya om?
Cari aslinya pasti tinggal di loakan. Tapi beberapa loakan online juga masih menawarkan novel ini kok, silakan googling.
Grup Mizan juga menerbitkan kembali novel anak2 ini. Saya belum cek di toko buku....
Baca novel ini serasa membaca Lima Sekawan (Enid Bylton) dalam setting yang sangat Semarang sekali...
karena sekarang lagi musim Harry Potter, gimana kalo ada Harry Potter Semarangan ya??
edytoah December 8th, 2011, 03:35 PM Sekarang pabrik dan kantornya pindah mana om??
Sekarang kantor dan pabrik sirup Fres pindah ke Jl Tapak 1A,Tugu. Di toko dan mini market jg sdh jarang dijual sirup Fres tsb.Denger2 mau diakuisisi pabrik daging olahan dari Jakarta.
Venantio December 8th, 2011, 05:16 PM Cari aslinya pasti tinggal di loakan. Tapi beberapa loakan online juga masih menawarkan novel ini kok, silakan googling.
Grup Mizan juga menerbitkan kembali novel anak2 ini. Saya belum cek di toko buku....
Baca novel ini serasa membaca Lima Sekawan (Enid Bylton) dalam setting yang sangat Semarang sekali...
karena sekarang lagi musim Harry Potter, gimana kalo ada Harry Potter Semarangan ya??
Ari Puter... Ahahahaahaha :lol: :lol:
edytoah December 8th, 2011, 07:23 PM Semarang .. sebetulnya dahulu banyak istal kuda .. tetapi sampai sekarang tidak dijumpai istal yang utuh dan masih dipakai untuk memelihara kuda.
Istal-istal itu dulu antara lain ada di Gedung Dhuwur rumah bekas Oei Tje Sin papa Oei Tiong Ham,Istana Kebon Rejo rumah Oei Tiong Ham,di rumah tua Jl. Diponegoro sebelum rumah dinas Pangdam,di SMP 40 Suyudono kelas IIE dan IIF,di halaman belakang samping kanan Lawang Sewu,di jl. Muradi istal Kuda Pak Harto yang sudah rata dengan tanah.
Ternyata di Pakintelan Gunung Pati masih ada peternakan kuda pacuan yang berharga sampai ratusan juta rupiah.
Sebuah peternakan kuda terletak di Kelurahan Pakintelan. Nama Pakintelan mungkin kurang familiar, bahkan bagi warga Semarang sekalipun. Salah satu kelurahan di Kecamatan Gunungpati ini memang agak jauh dari pusat kota. Dari jalan Raya Mangunsari, jaraknya sekitar 2 kilometer. Dari pusat Kota Semarang Pakintelan dapat dicapai dengan 30 menit perjalanan.
http://img33.imageshack.us/img33/7438/kuda300x188.jpg
Adalah Rahman, pria paruh baya, yang dua tahun terakhir menjaga kandang itu. Ia mengaku merawat kuda sejak masih SMP. Karena itu, meski pernah menjajal berbagai pekerjaan, akhirnya ia kembali menjadi perawat kuda.
Tidak sekadar mengawasi, ia menjaga kuda-kuda itu 24 jam. “Kuda itu gampang kembung. Kalau tidak segera ditangani bisa mati. Karena itu saya jaga 24 jam,” katanya.
Selasa (4/1) sore kemarin, hanya ada dua kuda yang saat itu di kandang. Beberapa kuda yang dulu menghuni kandang Pakintelan katanya sedang berlatih di Blitar dan Jakarta. Di kebun seluas 1 hektar itu pula sebuah track pacuan sedang dibangun. Ada puluhan balok yang sedang dipersiapkan menjadi perintang untuk latihan kuda jumping.
Menurut Rahman, secara garis besar, kuda dikategorikan menjadi dua, yakni jumping dan pacu. Jumping menuntut kekompakan kuda dan penunggang. Sebab, pada kelas ini, kuda harus melintasi berbagai rintangan. Karena itu biasanya dipilih kuda yang punya stamina bagus sekaligus cerdas. “Latihannya juga rumit. Harus sering,” kata Rahman.
Beda dengan kuda pacu. Menurut pria asal Ungaran ini, kuda pacu hanya harus bisa lari kencang. Karena itu, setiap pagi dan sore kuda pacu harus jalan setidaknya 2 kilometer.
Suatu hari di lapangan pacu Tegalwaton Salatiga, Rahman dan rekan-rekannya pernah iseng. Mereka ingin membandingkan kecepatan kuda dengan sepeda motor. Lima kuda dijejerkan dengan sebuah RX King. Kebetulan, lintasan di Tegalwaton berdampingan dengan jalan aspal. Ternyata, motor yang terkenal bisa lari kencang itu kalah. “Kuda akselerasinya cepat. Di langkah pertama bisa 40 kilometer per jam, nambah terus hingga kecepatan 150,” katanya.
Salah satu kuda pacu di kandang itu bernama Faradifa. Meski betina, postur tubuhnya tinggi besar. Tinggi punggungnya lebih dari 160 sentimeter. Padahal usianya baru lima tahun. Rahman menaksir, berat Faradifa lebih dari 3 kuintal. Sekitar tahun 2008, kuda yang lahir dan dibesarkan di kandang Pakintelan itu menjalani debutnya di lintasan pacu Pulomas. Tapi sayang, saat itu kaki kanan belakangnya terkilir sehingga sampai sekarang belum bisa berlomba lagi.
Merawat kuda, menurut Rahman sebenarnya tidak terlalu sulit. Selain makanan yang sehat, kuda harus diajak terus bergerak. Supaya aliran darahnya lancar, kuda juga harus sering-sering dikerok. Menurut Rahman, itu karena 60 persen tubuh kuda adalah jalan darah. “Supaya lancar harus sering dikerok. Biasanya dengan karet,” ungkapnya. Untuk urusan kebersihan, mamalia dari genus Equus ini juga tidak terlalu ketat. “Tidak perlu dimandikan setiap hari. Yang penting kaki selalu dibersihkan,” lanjutnya.
Hanya saja, merawat kuda perlu biaya besar. Untuk memenuhi kebutuhan makan Faradifa saja comtohnya, perlu biaya sekitar satu juta per bulan. Biaya itu digunakan untuk membeli pakan. Sebab, selain rumput kuda juga perlu makanan tambahan seperti ampas gandum dan pelet. Untuk memperoleh itu Rahman biasanya membeli dari sebuah pabrik roti.
Alat yang digunakan untuk berkuda juga termasuk mahal. Sebuah pelana harganya sampai Rp 40 juta. Akan lebih mahal karena sebagian besar peralatan itu diimpor.
Maka tidak mengherenkan jika kuda juga menjadi hewan tunggangan paling mahal. Rahman bercerita, dulu Faradifa pernah ditawar Rp 350 juta. Bukannya diberikan, pemilik justru menertawakan tawaran itu. “Faradifa mungkin memang tidak dijual karena dia lahir dan besar di sini,” katanya. Bahkan, sebuah kuda bernama Matador yang kini sedang berlatih di Blitar ditaksir mencapai harga 1,3 M. Selain fisik yang bagus, matador pernah meriah perak saat beraksi pada PON XVII di Kutai Kertanegara.
Selain Faradifa Rahman juga memeilihara kuda mungil bernama Cynthia. Ukurannya lebih menyerupai keledai. Namun Chyntia memiliki rambut bagus. Rambut punggungnya pirang tumbuh memanjang. Ketika berlari, rambut-rambut Cyntia terurai indah. Meskipun kecil, Chyntia ternyata bisa mengangkat beban hingga 90 kilogram. “Karena dia cari makan rumput liar, jadi nutrisinya lebih bagus,” kata Rahman.
Untuk melatih kuda hingga siap berlaga juga diperlukan keterampilan khusus. Rahman, meski sudah mengenal kuda sejak belia pun tidak bisa melakukannya. Karena itu, pemilik kuda berencana mendatangkan pelatih asing. Dalam waktu dekat sang pemilik bahan akan mendatangkan pelatih dari Belanda “Namanya Nick, tapi saya tidak tahu nama lengkapnya,” lanjut Rahman.
Ketika berlomba, kuda juga harus diperlakukan istimewa. Rahman menceritakan, ketika kuda-kuda yang dipeliharnya berlomba di Blitar, pemilik mengangkutnya dengan kendaraan khusus. Ketika menjadi joki di Manado ia bahkan mendapati sebuah kuda diangkut dengan pesawat Hercules. “Saya dengar harga sewa sekali jalan saja Rp 250 juta,” katanya.
Sumber :
-http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/28/kot17.htm
- http://portalsemarang.com/objek-wisata/melihat-peternakan-kuda-di-pakintelan/
titus15 December 10th, 2011, 05:34 PM Yang di SMP 40 itu karena banyak istal kudanya makanya membuat kawasan itu namanya jadi Bulu Stalan ya mas??
detwis December 10th, 2011, 05:47 PM Yang di SMP 40 itu karena banyak istal kudanya makanya membuat kawasan itu namanya jadi Bulu Stalan ya mas??
lha ini .. bisa jadi ya om..
saya jg ga tau bulu stalan - lemah gempal itu asalnya dr apa dan kenapa?
cyberprince December 10th, 2011, 06:42 PM terus kira2 apa ya arti tempat2 berikut? atau cuma nama tanpa arti ya...
- pedurungan
- mrican
- peterongan
- kedung mundu
- jatingaleh
- banyumanik
- pudak payung
- sekaran
- dll masih banyak :D
edytoah December 10th, 2011, 07:37 PM lha ini .. bisa jadi ya om..
saya jg ga tau bulu stalan - lemah gempal itu asalnya dr apa dan kenapa?
Yang di SMP 40 itu karena banyak istal kudanya makanya membuat kawasan itu namanya jadi Bulu Stalan ya mas??
Kok bisa ngepasi yo Mas Titus .. Bulu maksudnya banyak bulu kuda khali ya ...
Lemah gempal yo Mas detwis ...apa karena tanahnya subur atau bongkahannya besar-2 .. khali dulunya daerah situ ..tetapi mungkin tanahnya subur,krn disitu khan termasuk pinggiran DAS (daerah arus sungai)
edytoah December 10th, 2011, 07:44 PM terus kira2 apa ya arti tempat2 berikut? atau cuma nama tanpa arti ya...
- pedurungan
- mrican
- peterongan
- kedung mundu
- jatingaleh
- banyumanik
- pudak payung
- sekaran
- dll masih banyak :D
Kalau Jatingaleh dulu Mas Titus pernah cerita di trit lain kelihatanya,kalau ngak salah ada hubungannya dengan cerita legenda Sunan Kalijogo dan Gua Kreo.Jatingaleh maksudnya "jatine ngaleh" (jatinya pindah).Piye tho ceritane lali aku Mas Titus, pas itu Sunan Kalijogo lagi ngapain ya ?
Yang lain-2 belum ketemu ceritanya ...
edytoah December 10th, 2011, 08:08 PM Gundul-gundul Pacul ...
Masih ingat lagu "Gundul-gundul Pacul" ? Sebuah makna filosofi sederhana jawa:
Gundul gundul pacul-cul, gembelengan.
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan.
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar...
Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.
Kalau ada yg belum tau ini kira-kira artinya :
Gundul: adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.
Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul: adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.
Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).
Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.
1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.
Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.:)
GUNDUL2 PACUL CUL artinya orang yang dikepalanya sdh kehilangan 4 indera tersebut yang mengakibatkan sikap berubah jadi GEMBELENGAN (= congkak).
NYUNGGI2 WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN (= sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia2, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat).
cyberprince December 10th, 2011, 09:04 PM ^^ menarik juga :)
btw, thanks mas edy.. jangan2 apa waktu itu sunan Kalijaga mau cari kayu jati buat tiang masjid Demak kali ya...
titus15 December 11th, 2011, 03:20 AM ya bener... ceritanya nanti ya... lagi nanggung...
ssphila December 11th, 2011, 07:44 AM trit ini kl dipilah2 nanti bisa jadi buku Semarangan :lol: banyak ceritanya. Sy pernah nemu critanya yg Banyumanik, ntar sy cari lagi.
titus15 December 11th, 2011, 08:57 AM Menurut teman2 nama2 daerah di semarang yang sangat khas dan nggak ada di daerah lain apa ya???
edytoah December 11th, 2011, 11:27 AM ^^
Kalau pecinan Semarang dan Yogya ada nama derah/jalan yang sama Mas Titus seperti Kranggan,Gandekan juga Kauman ...
Kalau nama jalan-2 pecinan di Semarang/Yogya dan Solo ada beberapa yang sama, karena dahulu pecinan di Jawa Tengah dan DIY dibentuk VOC awalnya dari Semarang sebagai kota pelabuhan ke II setelah Batavia.Mungkin pengalaman sebelumnya ada pemberontakan orang Tionghoa di Batavia ,kemudiaan muncul jabatan Kapiten,Mayor,Letnan untuk orang Cina (yg terkenal sebutan Kapitan Cina Batavia I Souw Beng Kong (1580-1644),di Semarang yang terkenal ada Mayor Bhe Biauw Tjoan (1826-1904) ).
Kalau di jl. Mataram dan Dr. Cipto ada beberapa nama daerah yang unik spt. Kp.Lasipin,Kp. Yusuf,Kp Subuh,Kp Krese,Kp. Demes,Jl.Karang lo,Kp Tiber,Karang Geneng,Karang Laban,Petelan,Kp Bubutan,Gebang Anom,Boncino(kebon cino,mungkin dulu banyak kebun orang Tionghoa khali), Pederesan,Brondongan,Wotprau,Suburan,Kulitan (kampungnya Tuan Tanah Tasripin karena dulu banyak yang kerja menyamak kulit kambing/sapi),Petolongan,Petudungan,Bugangan,Kp. Jaksa,Kp Batik (dulu sentra Batik Semarang).
Di Kauman ada daerah unik juga namanya Kp. Pompa. (dulu di kampung itu cuma ada 1 pompa air tempat orang mengambil air katanya).
Ada yang unik juga di pecinan di Gg. Baru ada Gg. Mangkok,ktnya dulu tempat jual pecah belah atau jual kue mangkok mungkin,wotgandul (apa dulu ada oyot (ranting pohon yang jadi tali) yang bisa buat gandulan khali),Sebandaran (apa dulu tempat kumpul syahbandar-2).Trs sy juga ngak tahu apa artinnya Gg. Besen atau dari kata Besan (orang tua dari mantu) khali ya.Ada daerah Damaran, dulu katanya tempat orang berjualan lampu kapal,untuk perahu-2 dagang yang berlabuh di pelabuhan Kampung Melayu Semarang.
edytoah December 11th, 2011, 11:36 AM Menurut teman2 nama2 daerah di semarang yang sangat khas dan nggak ada di daerah lain apa ya???
Kelihatannya ada Mas Titus .. ntar coba kita gali lagi yaitu . Kampung Melayu Semarang.Dahulu pelabuhan lama kota Semarang Boom Lama (1743) dan Kanal Baru (1875).,tempat bertemunya pendatang multi etnik yang berpadu akrab dalam perdagangan.Di kampung melayu ini ada juga Kampung Arab.
http://melayusemarang.blogspot.com/
damarsinyo December 11th, 2011, 11:39 AM ini pecinan tadi malam...
http://img194.imageshack.us/img194/9726/dscn0082i.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/194/dscn0082i.jpg/)
http://img696.imageshack.us/img696/3921/dscn0079n.jpg (http://imageshack.us/photo/my-images/696/dscn0079n.jpg/)
ssphila December 11th, 2011, 11:48 AM Paling khas & paling besar yg bisa sy pikirkan saat ini : Jl. Pandanaran :D
cyberprince December 12th, 2011, 02:47 PM Menurut teman2 nama2 daerah di semarang yang sangat khas dan nggak ada di daerah lain apa ya???
Gombel, Mangkang, Bulu, Pudak Payung, Mrican, Klipang, Kedung Mundu, bener ga ya? :D
dochan December 12th, 2011, 02:56 PM Menurut teman2 nama2 daerah di semarang yang sangat khas dan nggak ada di daerah lain apa ya???
ga tau kenapa nama Srondol Wetan & Gombel selalu terngiang di kepala :lol::lol::lol: btw Srondol itu apa ya?
dochan December 12th, 2011, 02:58 PM Sirup Fres,sirup framboze sirup legenda kota Semarang.
http://img35.imageshack.us/img35/6522/fresp.jpg
Sirup FRES..... Yg ini enak banget, selalu berkesan :cheers::cheers:
silver railegh December 12th, 2011, 03:31 PM ^^^^ emg enak bgt tu sirup.seger tenen..:cheers:
kalo biskuit khong guan asli semarg jg gag y??
andalan kalo lebaran mesti ad it biskuit..
edytoah December 12th, 2011, 05:31 PM ^^
Pabrik Khong Guan aslinya dari Surabaya,tetapi sekarang sudah diakuisisi oleh Nissin yang pabriknya di Ungaran.
Kalau lebaran ngak afdol kalau ngak ada biskuit itu .. tp pernah ketipu juga waktu mertamu sungkem lebaran .. kaleng Khong Guan dibuka isinya Rengginan :lol::lol::lol:
edytoah December 12th, 2011, 05:45 PM TOPONIM BLOK - BLOK PERMUKIMAN DI KAMPUNG MELAYU
http://img39.imageshack.us/img39/9156/toponim.jpg
Blok - blok permukiman di Kampung Melayu terjadi karena adanya proses pengelompokan sosial, berdasarkan pada kekerabatan dan identitas etnik penghuninya.
Dalam perkembangannya muncul toponim blok - blok permukiman untuk menunjukkan tempat bermukim mereka secara spesifik, dan juga menunjukkan keberadaan tempat (space)tersebut pada suatu lingkungan binaan tertentu.
Munculnya toponim (nama) blok permukiman di Kampung Melayu berdasarkan fenomena pada waktu itu. Misalnya muncul sebutan "spesifik" karena kondisi topografinya (pohon, rawa, sungai, daratan), asal - usul penduduknya (Banjar, Pecinan, Cirebonan), dan adanya peristiwa penting pada kawasan tersebut (Kampung Geni, Kampung Baru).
Pola tatanan permukiman menunjukkan adanya toponim dan pengelompokan blok permukiman, menunjukkan fenomena historis pada waktu itu, yaitu antara lain :
* Darat
Arti : tempat ( daratan ) orang pertama kali menapakan kakinya setelah melakukan pelayaran di laut
Penduduknya : perantau dan pedagang dari berbagai etnik, setelah dipindahnya pelabuhan Mangkang ke boom Lama.
* Ngilir
Arti : hilir atau tempat sungai mengalir
Penduduk : kebanyakan orang Madura dan Bugis
* Kampung Kali Cilik
Asal usul nama : di daerah tersebut terdapat sungai kecil (Kali Cilik), salah satu anak sungai Kali Semarang.
Penduduk : kebanyakan orang Melayu dan Banjar
Keterangan : dulu Kali Cilik dapat dilalui oleh perahu kecil. dan sampai dengan tahun 1955 kapal keruk (sarana untuk membersihkan sungai) masih bisa masuk Kali Cilik.
* Kampung Pencikan
Asal usul nama : Encik adalah sebutan perempuan dari Malaka
Penduduk : kebanyakan orang Melayu
* Kampung Geni
Asal usul nama : geni adalah api ( bahasa Jawa )
Penduduk : kebanyakan orang pribumi pedalaman
Keterangan : pada awalnya kawasan ini dikenal dengan sebutan "deni". Tahun 1975 daerah ini terbakar, kira - kira 200 meter persegi lahan permukiman terbakar. Sejak itu daerah ini lebih dikenal dengan sebutan Kampung Geni.
* Kampung Cerbonan
Arti : kota Cirebon
Penduduk : mayoritas orang perantau dari Cirebon
* Kampung Banjar
Arti : etnik Banjar (Kalimantan)
Penduduk : mayoritas orang Banjar
* Kampung Baru
Penduduk : mayoritas orang Banjar dan orang Arab
Keterangan : diperkirakan blok ini muncul belakangan, sehingga disebut dengan Kampung Baru.
* Kampung Pranakan
Asal usul kata : peranakan atau campuran
Arti : hasil dari perkawinan dua budaya yang berbeda
Penduduk : mayoritas keturunan peranakan antara Arab dengan koja dan Banjar
* Kampung Pulo Patekan
Arti : Pulau
Penduduk : mayoritas orang pribumi dari pedalaman
Keterangan : blok permukiman ini dikelilingi oleh jalan, menyerupai pulau di tengah lautan.
* Kampung Bedas
Arti : tidak diketahui secara pasti
Penduduk : Orang Arab Hadramaut
Keterangan : daerah ini termasuk kawasan Pesantren Darat
* Kampung Darat Nipah
Asal usul nama : tidak diketahui pasti
Penduduk : kebanyakan orang Cina dan Arab Hadramaut
Keterangan : kawasan ini terbagi menjadi tiga segmen (zona), yaitu Belanda (pergudangan dan kantor dagang), Cina (Pasar Regang) dan Arab (permukiman).
Sumber : http://melayusemarang.blogspot.com/
Ada yang pernah main di daerah-2 tsb ? Terus terang saya yang asli Semarang belum pernah njajah milang kori daerah-2 tsb, kalau namanya yang pernah denger cuma Kp. Bedas dan Kp. Darat Nipah. :)
Venantio December 12th, 2011, 05:53 PM Bingun dengan Khong Guan biskuit, itu kue ngetopnya awet ya.. sejak jaman baheula sudah ada... Tapi ngomong-ngomong kok di sini aku nemuin juga merek Khong Guan ya? Sebenarnya itu merek mana sih? Indonesia (Semarang) atau memang aslinya merek asing?
edytoah December 12th, 2011, 07:37 PM ^^
Kalau aslinya Khong Guan Ltd berdiri di Singapore th 1947,lha ngak tahu biskuit Khong Guan yang di Canada yang dibeli Mas Venantio yang disana bisa dari Singapore,Malaysia,China,Thailand,Filipina bahkan pabrik di Amerika atau dari Indonesia khususnya dari pabrik Nissin di Ungaran ,soalnya Khong Guan Indonesia juga eksport ke Amerika,walau volumenya kecil.
Hebat ya product global Khong Guan khususnya kemasan kaleng kotak yang kuno tsb, yang ada gambarnya Nyonya Belanda ama anaknya lagi sarapan.
Khong Guan Indonesia didirikan sejak tahun 1970 mulai diproduksi tahun 1971 di Surabaya,ada tugu Khong Guan di Wonokromo dekat Kebun Binatang Surabaya. Pendirinya Bapak Hidajat Darmono(Kwee Boen Thwie) Product pertama Khong Guan Assorted Biscuits 1700g ( Kaleng Merah) Product Khong Guan yang disukai orang sejak tahun 1970 adalah Khong Guan Wafer Pita Merah.
Khong Guan Indonesia yang kini perusahaannya sudah dipimpin generasi kedua, telah memiliki tak kurang dari lima pabrik yang berdiri di Jakarta, Cibinong, Semarang dan Surabaya. Produk yang juga telah mengembangkan berbagai jenis produk dan kemasan modern ini telah berhasil merambah pasar dunia dengan mengekspor produknya ke Singapura, Vietnam, Thailad, Korea, Brunai bahkan Amerika.
Visi untuk terus berjuang dan berusaha menjadi pemimpin pasar biskuit di Indonesia dan Asia Tenggara kini telah mereka capai. Demikian, tertulis dalam sejarah perusahaan ini, seperti dilangsir oleh website resminya.
Sumber :
- http://www.khongguan.co.id
- http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/03/23/sekotak-khong-guan-aroma-konservatif/
- http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1670_2010-06-16.html
edytoah December 13th, 2011, 02:11 PM KAMPUNG ARAB DI KOTA SEMARANG
Sebuah penelitian yang didasari oleh adanya isu, bahwa di beberepa kota di Jawa Tengah terdapat kelompok etnis Arab atau keturunan bangsa Arab yang tinggal di beberapa kota yang kemudian terbentuklah suatu perkampungan yang dikenal dengan Kampung Arab.
Dari hasil pengamatan melalui survei dilapangan, menunjukkan bahwa di Kota Semarang secara administratif tidak terdapat Kampung Arab, tetapi terdapat suatu komunitas etnis Arab yang sebagian besar berada di jalan Petek dan jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Berdasarkan data kependudukan tahun 2008 lalu jumlah penduduk yang beretnis Arab di Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara berjumlah 312 jiwa. Akan tetapi bukan berarti bahwa etnis Arab hanya ada di Kelurahan Dadapsari saja, secara parsial etnis arab berada di beberapa wilayah di kota Semarang, seperti di Kauman, Pekojan dan Petolongan. Komunitas etnis Arab tersebut sejak dulu telah bergabung dengan beberapa etnis lain, seperti Banjar Bugis, melayu di sebuah perkampungan yang sejak jaman dulu dikenal sebagai kampung Melayu. Meskipun demikian keberadaan etnis Arab di Semarang telah me*****lkan budaya materi (tinggalan- tinggalan arkeologis), berupa Masjid, makam, rumah tinggal dan naskan-naskah kuna.
Masjid kuna di kampung tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Menara yang terdiri dari dua bangunan inti yaitu bangunan masjid dan menara. Masjid Menara dibangun oleh masyarakat etnis Arab yang tinggal di wilayah tersebut dan terletak di sebelah barat kali Semarang pada jarak sekitar 2 meter. Bangunan masjid terdiri dari dua lantai yang terbuat dari bahan lepa dan kayu. Lantai bawah berfungsi sebagai tempat wudhu dan lantai atas berfungsi untuk pelaksanaan ibadah shalat. Atap masjid dibuat dengan bentuk atap tumpang, dan di bagian bawah atap ditutup dengan papan kayu. Arah hadap masjid menghadap ke selatan dengan satu pintu sedangkan di sebelah timur terdapat satu pintu untuk keluar masuk dari ruang inti masjid ke serambi dan sebaliknya. Tidak diketahui secara pasti, berapa kali masjid Menara tersebut dipugar. Berdasarkan informasi dari narasumber bahwa bangunan masjid terakhir kali dipugar pada tahun 1986. Di dalam masjid tersebut dulu pernah ditemukan sebuah inskripsi yang terbuat dari bahan kayu jati yang memuat angka tahun 1802 M. Akan tetapi inskripsi tersebut saat ini keberadaannya tidak jelas.
http://img823.imageshack.us/img823/2073/kampungislam1.jpg
Sejak awal berdirinya bangunan masjid hingga sekarang belum pernah digunakan untuk shalat jum,’at, tetapi dipakai untuk pelaksanaan jama’ah shalat lima waktu , shalat tarawih , shalat idul-Fiti dan shalat Idul-Adha. Di bagian atap yang tertutup dengan papan kayu jati setebal 3 sentimeter ditemukan sejumlah naskah kuna berupa naskah Al-Qur’an dan naskah agama. Naskah tersebut merupakan naskah asli tulisan tangan yang ditulis di atas kertas buatan Eropa sekitar abad XIX Masehi dengan menggunakan tinta warna hitam dan merah.
http://img444.imageshack.us/img444/1940/kampungislam2.jpg
Bangunan kuna yang berfungsi sebagai rumah tinggal etnis Arab di Semarang secara arsitektural tidak memiliki ciri khusus. Bangunan yang ada terdiri dari bangunan dengan konsep dua buah ruang tamu yang terpisah antara tamu laki-laki dan perempuan serta kamarkecil yang terdapat di bagian depan bangunan atau dekat dengan ruang tamu laki-laki. Sedangkan ruang tamu perempuan terdapat di bagian belakang beserta kamar kecil untuk keluarga.
Khusus untuk etnis Arab yang memiliki keluarga besar, selain komponen-komponen bangunan tersebut di atas juga telah dibangun beberapa rumah secara berjajar , bergandengan tanpa jarak. Di bagian belakang rumah (dapur) dibuat pintu-pintu yang menembus antara satu rumah ke rumah yang lain. Pintu-pintu tersebut berfungsi sebagai tempat lewat para wanita yang hendak berbelanja (kepentingan keluarga).
Bagi warga etnis Arab di Semarang yang meninggal mayoritas dimakamkan di kompleks pemakaman umum kota Semarang, yaitu dikompleks makam Bergota. Di kompleks makam ini ini tidak begitu nampak adanya eksklusivitas bagi etnis Arab, meskipun ada beberapa makam yang ditata secara berkelompok. Akan tetapi hal itu masih dalam batas satu keluarga. Bahkan dalam hal pemberian tanda pada kubur tidak terdapat perbedaan yang mencolok dengan tanda kubur bagi makam pribumi ataupun etnis yang lain. Hal demikian menunjukkan adanya upaya bagi etnis Arab untuk membaur dengan masyarakat setempat .
Sumber : http://arkeologijawa.com/index.php?action=news.detail&id_news=60&judul=KAMPUNG%20ARAB%20DI%20KOTA%20SEMARANG%20DAN%20SURAKARTA
edytoah December 22nd, 2011, 03:31 PM Wayang Orang Ngesti Pandowo adalah Ikon Semarang
http://img38.imageshack.us/img38/3490/mangkoro.jpg
Mangkoro - logo Ngesti Pandowo
Kalau anda pernah berkunjung ke sebuah "Life Style Mal" Paragon di Semarang,mungkin dalam rangka Semarang Great Sale, maka anda akan terkagum dengan bangunan Paragon terutama fasadnya yang seperti pesawat Siluman.Ya Paragon juga sudah menjadi salah satu ikon Semarang.
Ditempat yang sama,tetapi dulu namanya Gedung GRIS sekitar lima puluh tahun lalu juga ada suatu seni pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo yang jadi ikon Semarang pada waktu itu.
Sekarang pementasan kesenian wayang orang Ngesti Pandawa ditampilkan setiap Sabtu malam, pukul 20.30 yang bertempat di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya 29 Semarang.Beberapa saat lalu sempat vacum karena gedung sedang direnovasi,dan tersendat karena masalah beaya.
Para budayawan,pemkot,pengusaha,organisasi masyarakat masa ikut membantu mengumpulkan dana untuk kelestarian Wayang Orang Ngesti Pandowo ini.
18 Mei 2011 lalu ada petunjukan "Semar Mbangun Khayangan" kerja bareng seluruh "stakeholder" kota Semarang untuk membantu Ngesti Pandowo.
Dalam rangka Semarang Great Sale, hari Sabtu (17/12/2011), WO Ngesti Pandowo kembali pentas dengan lakon Karno Tanding. Diberikan harga istimewa, yakni beli tiga tiket dapat bonus satu tiket.
Berdirinya Wayang Orang Ngesti Pandowo
Ngesti Pandowo dibentuk pada 1 Juli 1937 atas gagasan lima tokoh pendirinya yaitu Sastro Sabdo,Darso Sabdo,Narto Sabdo,Sastrosoedirjo dan Kusni.Berangkat dari niat untuk menyediakan ruang bagi publik dalam menikmati kesenian wayang orang, kemudian didirikanlah Ngesti Pandowo yang merupakan suatu wadah apresiasi para penggiat kesenian asli Jawa timur ini.Berawal dari niat itu pula,maka dimulailah perjalanan Ngesti dari satu panggung ke panggung lain.Dengan ukuran tonil (panggung-red) yang masih kecil dan kelir 7 ban per meter,Ngesti pentas dari pasar ke pasar.Dalam setiap pertunjukkan Ngesti Pandowo mengisahkan tentang cerita pewayangan seperti Hanoman,Baratayhuda,dan lain lain.Waktu itu,alat yang digunakan pun masih terbilang sederhana.Hanya ada beberapa busana dan gamelan sewaan.
Namun semangat Ngesti dalam memperkenalkan budaya wayang orang kepada masyarakat luas tidaklah sia-sia.Masyarakat yang tadinya awam soal kesenian ini menjadi tertarik untuk menonton dan mempelajarinya lebih dalam.Bahkan muncul istilah pandhemen,sebutan bagi orang orang yang menggemari dan mencintai pertunjukkan wayang. Para Pandhemen ini tidak hanya berasal dari daerah Jawa Timur saja. Dalam hitungan tahun,Ngesti Pandowo menjadi kelompok wayang orang yang digemari masyarakat dan cukup terkenal di berbagai daerah.
Puncak kejayaaan Ngesti terjadi pada era 60-an.Ketika itu,Ngesti hijrah ke Semarang dan melakukan pertunjukkan tetap disana.Uniknya Ngesti Pandowo justru dibentuk di Madiun,bukan di Semarang,kota yang menjadi tempat bernaungnya Ngesti Pandowo hingga saat ini.”Memang kami asli dari Madiun.Pada awal didirikan, kami pentas menggunakan sistem tobong,yaitu sistem pertunjukkan keliling dari satu daerah ke daerah lain.Jadi tidak seperti sekarang,kami tidak pernah menetap di satu daerah” jelas pak Cicuk.
Cicuk Sastro Sudirjo merupakan salah satu pelestari kebudayaan wayang orang ini.
Generasi ke-6 "Dinasti" Ngesti Pandawa, Cicuk Sastro Sudirdjo yang lahir di Solo 18 Juli 1956 ini, sudah hampir 17 tahun memimpin seni pertunjukan wayang orang Ngesti Pandawa. Lelaki yang sering dipanggil Cicuk ini merupakan ahli waris dari kesenian wayang orang Ngesti Pandawa yang telah berdiri hampir 75 tahu
Tentang alasan mengapa akhirnya Ngesti Pandowo memutuskan untuk menetap di Semarang,pak Cicuk menjelaskan bahwa walikota Semarang sendiri yang meminta Ngesti Pandowo untuk menetap di Semarang.”Ada permintaan langsung dari pak Hadisoebeno (walikota Semarang pada masa itu-red)”.Permintaan itu lalu disetujui oleh Ngesti Pandowo dengan syarat,pemerintah kota harus menyediakan tempat untuk latihan dan pementasan untuk keperluan pertunjukkan.Maka diberikanlah GRIS (Gedung Rakyat Indonesia Semarang) kepada Ngesti Pandowo.Sejak saat itu,Ngesti Pandowo menggelar pertunjukkan tetap di GRIS.Sebuah pertunjukkan yang ternyata mampu melambungkan nama Ngesti Pandowo dan menghantarkannya menjadi ikon kota Semarang.
http://img20.imageshack.us/img20/3849/ngesti2.jpg
Perjalanan Panjang Menuju Istana Negara
Seiring dengan kepindahannya ke Semarang,Ngesti Pandowo berubah dari sebuah kelompok wayang tobong ke kelompok wayang yang sangat digemari oleh berbagai kalangan.Bahkan para penggemar rela datang dari tempat yang jauh meski cuaca tidak bersahabat sekalipun .“Dulu meski hujan,penggemar tetap datang untuk menonton.Gedung belum dibuka,penonton sudah antri.Kalau tidak antri,tidak kebagian tempat”,ujar Pak Cicuk yang merupakan generasi ketiga penerus Ngesti Pandowo.
Kala itu,nama Ngesti Pandowo begitu terkenal sehingga sering muncul ungkapan yang mengatakan bahwa berkunjung ke Semarang belum lengkap rasanya jika tidak menonton pertunjukkan wayang ini.Penggemar Ngesti tidak hanya datang dari penduduk lokal,turis mancanegara juga ikut menikmati pentas yang disuguhkan,padahal cerita-cerita yang dikisahkan dalam pertunjukkan disampaikan menggunakan bahasa jawa.Namun kepiawaan Ngesti Pandowo dalam menyampaikan pesan yang terkandung dalam cerita melalui gerak dan tari yang indah dapat memukau siapa saja yang melihatnya.
Tak heran bila Presiden Soekarno juga menggemari pertunjukkan Ngesti Pandowo.Ngesti sempat beberapa kali diundang untuk bermain di istana.”Ya,itu adalah suatu pengalaman yang sangat berarti bagi kami.Bermain di istana merupakan penghargaan yang tidak ternilai,khususnya bagi para penari yang sempat diundang untuk makan bersama dengan pak Soekarno”,jelas pak Cicuk.Kegemaran Soekarno atas Ngesti Pandowo ditunjukkan dengan diberikannya piagam Wijaya Kusuma kepada Ngesti Pandowo pada tahun 1962.Bahkan piagam itu langsung ditulis sendiri oleh Presiden Soekarno,”itu merupakan apresiasi yang sungguh besar bagi kami”.
Kesulitan Ngesti Pandowo Menjawab Tantangan Zaman
Zaman berubah,kejayaan Ngesti Pandowo pun mulai memudar.Selera masyarakat mulai bergeser dari pertunjukan wayang ke film-film yang diputar di bioskop.Ekspansi budaya modern yang terus menggempur budaya tradisional menyebabkan antrian tidak lagi ramai,kursi penonton tidak lagi penuh seperti biasanya.Lambat namun pasti,Ngesti mulai ditinggalkan.Apalagi semenjak meninggalnya tokoh-tokoh pendiri Ngesti Pandowo seperti Sastrosoedirdjo dan Narto Sabdo pada tahun 1980-an,Ngesti seperti kehilangan ‘ruh’ dari pertunjukkannya.Kelompok wayang orang ini bak kehilangan panutan.
”Yang terjadi sejak meninggalnya para tokoh pendiri itu adalah ketimpangan dalam tubuh Ngesti,yang berdampak pada kegagalan mereka dalam menangkap selera pasar”,ujar Haryono Rinanardi.Haryono Rinardi adalah dosen Fakultas Sejarah Universitas Diponegoro Semarang yang sempat mengadakan penelitian tentang manajemen seni pertunjukkan Ngesti Pandowo.Haryono berpendapat bahwa kemunduran Ngesti Pandowo diperparah dengan munculnya gaya hidup baru di masyarakat yang serba cepat dan instan.Globalisasi membuat masyarakat cenderung menyukai gaya hidup yang praktis dengan mobilitas yang cepat dan mudah.”Inilah yang membuat Ngesti kalah populer dibanding televisi atau bioskop.Untuk menonton televisi,masyarakat hanya perlu menekanremote tanpa perlu berpakaian rapi dan sebagainya.Tapi untuk menikmati pertunjukkan wayang yang disuguhkan Ngesti Pandowo,mereka harus keluar rumah,berdandan dan lain lain”.
Masalah kepraktisan sering kali menjadi hambatan bagi hampir seluruh kesenian tradisional yang ada.”Bukan hanya Ngesti Pandowo,hampir seluruh kesenian tradisional yang ada mengalami nasib yang sama jika tidak bisa menjawab tantangan ini”,tambah Haryono.
Masalah biaya memang menjadi kendala yang paling besar yang dihadapi Ngesti Pandowo saat ini.Apalagi semenjak mereka digusur dari GRIS pada tahun 1996,mereka tidak lagi memiliki tempat permanen untuk latihan dan pementasan sehingga biaya operasional pertunjukkan meningkat.Sementara ini mereka hanya dipinjami sebuah gedung di kompleks Taman Budaya Raden Saleh Semarang.Itupun hanya bisa dipakai 3 kali dalam seminggu yaitu hari Kamis, Jum’at dan Sabtu.
Hal tersebut tentu makin mempersulit posisi Ngesti Pandowo.Soal penggusuran itu sendiri,pak Cicuk hanya mengatakan “Kami berusaha ikhlas.Walaupun sebenarnya teman teman merasa sangat sedih dan kecewa.Tapi insya Allah kami ikhlas”.
Maka sebenarnya disinilah pemerintah harus berperan.”Pemerintah harus bisa menjembatani kepentingan Ngesti Pandowo dan selera masyarakat yang tak lagi sama”,ujar Haryono.Pemerintah juga harus bisa memberikan solusi dari permasalahan keuangan yang dialami manajemen Ngesti Pandowo.Selama ini biaya operasional ditutup dari bunga yang didapat dari dana abadi sebesar500 juta rupiah yang mereka depositokan di bank.Jumlah itu tentu tidak cukup untuk menutupi biaya operasional sebesar 13 juta rupiah per bulan, “Apalagi harga karcis masuk hanya 10 ribu rupiah per orang dengan kursi penonton yang tidak selalu penuh.Mungkin jika ada anggaran dari APBD ceritanya akan lain” tambah Haryono.
Di singgung soal anggaran APBD,pak Cicuk menjawab bahwa hal yang paling dibutuhkan saat ini oleh Ngesti Pandowo adalah gedung untuk pementasan dan latihan,”Soal APBD kami tidak terlalu mempermasalahkan.Kebutuhan yang mendesak saat ini adalah gedung.Ketiadaan gedung membuat keadaan jadi serba sulit.Apalagi gedung yang kami tempati sekarang kondisinya sudah tua dan rapuh” harap Cicuk.
Sri Boga,sebuah lembaga kebudayaan yang berpusat di Jakarta,sempat menawarkan untuk merenovasi gedung Ki Narto Sabdo yang menjadi tempat bernaung Ngesti saat ini.Namun hal itu tidak bisa dilakukan karena status kepemilikan gedung yang secara sah dimiliki oleh pemerintah kota.Maka lagi-lagi,Ngesti Pandowo hanya bisa pasrah menunggu,”Kami sudah cukup disibukkan dengan urusan pertunjukkan.Urusan gedung dan lainnnya tetap kami pikirkan,tapi fokusnya tidak kesana”.
Mengingat promosi adalah salah satu hal yang cukup berpengaruh dalam usaha usaha untuk mengenalkan Ngesti Pandowo kepada masyarakat. Pak Cicuk mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan kegiatan promosi,namun memang promosi hanya dilakukan seadanya karena terbentur masalah biaya.Padahal menurut Haryono,promosi menjadi indikator penting untuk mendongkrak popularitas Ngesti Pandowo ditengah banyaknya alternatif alternatif hiburan yang ada.”Saat ini mereka tidak hanya bersaing dengan televisi dan bioskop.Mereka juga dihadapkan pada pentas pentas seni yang lebih modern seperti acara musik dan lain sebagainya “.
Membangun Gerakan Sadar Budaya
Lalu melihat keadaan yang terjadi sekarang,siapa yang patut disalahkan?.Pemerintah kah?.Ngesti Pandowo kah?. Atau masyarakat yang seringkali dianggap tidak peduli terhadap masalah budaya dan lingkungan di sekitarnya?.
Rasanya sangat tidak relevan jika kita membicarakan siapa yang patut dipersalahkan atas kondisi yang terjadi saat ini.Menurut Haryono,semua harus diawali dari diri masing masing,”Harus timbul gerakan sadar budaya dari setiap individu baik itu dari pemerintah,masyarakat,Ngesti Pandowo atau bahkan saya sendiri sebagai orang yang berlatar belakang budaya Jawa” tegas Haryono.Haryono mengatakan bahwa jika akar budaya sudah melekat pada diri masing masing individu maka usahauntuk melestarikan budaya akan terlaksana dengan sendirinya.Masyarakat secara tidak sadar akan mengapresiasi setiap bentuk budaya yang ada di sekitar mereka.”Akan ada dorongan dari dalam diri masing-masing untuk menjaga dan melestarikan karena kesadaran budaya membuat mereka berpikir bahwa sayang sekali jika hal semacam ini harus punah“ Tambahnya.
Maka dalam kasus ini,semua pihak patut bercemin.Masyarakat,dengan segala bentuk budaya yang ada,harus menyisakan sedikit ruang apresiasi bagi Ngesti Pandowo agar dapat terus berkarya.Di lain pihak Ngesti Pandowo juga dituntut melakukan inovasi yang segar sehingga dapat menarik minat penonton.”Masyarakat cenderung menyukai hal hal yang dekat dengan kebiasaan dan latar belakangnya.Di tengah budaya pop yang sedang berkembang saat ini,Ngesti Pandowo mungkin saja ditinggalkan jika mereka tidak berinovasi untuk menangkap selera pasar”,jelas Haryono.
Kesenian jawa kurang diminati oleh kalangan anak muda, jadi untuk mempromosikannya ke kalangan anak muda, Cicuk mempunyai cara sendiri, yaitu dengan mengikuti dulu alur mereka. Cicuk pernah bekerjasama dengan KCS (Komunitas Cah Semarang) untuk mementaskan kesenian, tetapi bukan dalam bentuk wayang orang dengan adat jawa melainkan dengan menampilkan cerita-cerita hero dari tokok-tokok fiktif seperti kesatria baja hitam. " Untuk menumbuhkan kesenian kepada anak muda kita harus pelan-pelan, ikuti alur mereka seperti yang mereka kehendaki lalu akan kita arahkan ke kesenian jawa".
Menurut pak Cicuk,pihaknya sudah pernah melakukan inovasi.Hanya saja inovasi-inovasi tersebut hanya dapat dilakukan dalam kesempatan tertentu seperti perayaan HUT atau pentas gabungan dengan kelompok kesenian lain.”Biaya untuk melakukan inovasi cukup besar,sementara untuk pentas biasa saja kami sudah cukup kerepotan”,ujar pak Cicuk.
Menurut Haryono selain mempertimbangkan pemberian gedung bagi Ngesti,pemerintah juga dapat mensubsidi sejumlah dana sehingga mungkin karcis menonton bisa gratis.
http://img215.imageshack.us/img215/3482/ngestipandowo1.jpg
Ngesti Pandowo adalah bukti dari sejarah dan budaya yang tak habis di makan zaman.Mereka telah berjuang selama 74 tahun untuk terus menghidupkan kesenian wayang yang memperkaya khasanah kebudayaan bangsa.Maka sudah menjadi tugas bersama bagi kita untuk menjaga dan memelihara keberadaannya.Jangan lagi menggantungkan harapan pada pemerintah atau mengutuk para pemuda yang hanyut akan arus budaya pop.Mulailah dari diri sendiri.Sebelum negara lain yang memulainya.“Kami hanya ingin sekedar melestarikan.Tidak ada motif lain di balik itu,sungguh”.
Sumber :
http://wongestipandowo.wordpress.com/2011/12/20/wayang-orang-ngesti-pandowo-adalah-ikon-semarang/
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/11/01/872/Cicuk-Sang-Penunggu-Ngesti-Pandawa
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/12/17/170333/Djarum-Bantu-WO-Ngesti-Pandowo
- photo2 dari Google
edytoah December 23rd, 2011, 05:32 AM Masih Ada Sisa Tonil di Sobokarti
http://img62.imageshack.us/img62/4409/sobokarti300x85.jpg
Foto di atas adalah Sobokarti jaman dulu, sekarang sudah dipugar.Beberapa tahun lalu sempat ada isiu Sobokarti akan dijual ke sebuah konglomerat pabrik rokok Kediri,namun dibantah oleh Yayasan dan ternyata Sobokarti malah direvitalisasi.Bahkan kegiatan kesenian sekarang semakin semarak,tidak hanya kalangan generasi tua tetapi juga generasi muda.
Berikut sekilas tentang Sobokarti.
ANDAI sekarang Henry Thomas Karsten masih hidup, ia pasti akan tersenyum bangga melihat gedung teater Sobokarti buah rancangannya masih berdiri kokoh dan bahkan dirawat.
Lihat saja, kisi-kisi kayu masih utuh seperti hampir seratus tahun lalu. Atau pilar-pilar di ruang utama, jendela-jendela kecil tempat membeli karcis, panggung pertunjukan tonil, wayang orang atau wayang kulit, juga kursi-kursi penonton masih tersusun rapi di tempatnya.
Generasi sekarang, boleh saja tidak mengerti apa itu Sobokarti. Namun Sobokarti pernah menoreh perjalanan sejarah kesenian tradisional di Jawa Tengah. Sobokarti adalah sebuah gedung perkumpulan seni budaya yang pernah berjaya sekitar hampir satu abad lalu.
Sobokarti yang berada di jalan Dr Cipto Semarang ini dirancang oleh Henry Thomas Karsten, arkitek yang merancang Pasar Johar dan beberapa gedung bersejarah lain di Semarang.
Bangunan yang menyerupai bangunan pendopo, merupakan bangunan tunggal yang menghadap ke Selatan, bukan ke timur di mana terdapat jalan protokol. Bangunan ini dilengkapi dengan serambi pada bagian depan.
Dalam rancangan untuk gedung Sobokarti, Karsten memadukan konsep pertunjukan Jawa yang biasa digelar di pendapa dengan konsep gedung teater barat. Karena atensinya pada kebudayaan dan kesenian lokal Jawa, Thomas Karsten mengusulkan agar rancangan gedung itu untuk pertunjukan kesenian setempat, baik wayang orang, wayang kulit atau tonil.
http://img69.imageshack.us/img69/3430/sobokarti2.jpg
SERAMBI utama Gedung Sobokarti masih seperti sediakala. (Foto CyberNews / Isti)
Dibiarkan asli
Karena tua, Gedung Sobokarti oleh pemerintah kota Semarang dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang harus dilestarikan dan dirawat. Kini gedung itu sebagian besar masih dibiarkan asli seperti sedia kala.
Ruang depan Sobokarti, kisi-kisi kayu yang khas masih tetap ada. Pintu, jendela, pilar-pilar, panggung, balkon penonton, bahkan lubang-lubang proyektor film masih tetap ada. Itu menandakan Sobokarti juga pernah digunakan sebagai gedung bioskop pada zamannya.
Tahun 2011 ini Sobokarti mendapat bantuan dana untuk membangun areal parkir. hampir satu miliar rupiah digelontor untuk menata kembali Sobokarti. Hal itu seiring dengan semakin banyaknya kegiatan kesenian di gedung tua ini.
Setidaknya, pada setiap hari Sabtu Legi dalam sebulan, gedung Sobokarti digunakan untuk pentas wayang kulit, dengan nama "Pentas Setu Legen", yang menampilan wayang kulit yang menampilkan banyak dalang.
Tidak itu saja, hampir setiap hari Sobokarti digunakan untuk latihan karawitan, tari, dan pranatacara, terutama diikuti oleh anak-anak dan mahasiswa.
Beratap sirap
Menurut D. Soetrisno, pengelola gedung itu, fondasi bangunan Sobokarti berasal dari batu kali dengan konstruksi kayu. Terdapat empat kolom utama yang disebut soko guru. "Dulunya atap pendapa terbuat dari sirap, tapi sekarang karena sirapnya sudah hilang dan rusak diganti dengan genteng biasa," kata Soetrisno.
Yang unik lagi, kayu usuknya tidak diberi penutup. Dinding batu bata terdapat di sekeliling bangunan utama yang dilapisi dengan plesteran. Serambi depan bangunan ini memiliki atap yang terpisah dan berbentuk limasan. Merupakan balai kecil tempat orang membeli tiket.
Mungkin hanya dimiliki oleh Sobokarti, bahwa pada gedung ini tidak ada pemisahan ruang yang jelas antara penonton dan pemain. Panggung di sisi selatan dengan lantai yang sedikit lebih tinggi, diperluas sampai ke tengah ruangan.
Penonton ditempatkan di sisi barat dan timur dengan kursi kayu panjang yang bertrap seperti layaknya teater. Sungguh sebuah penataan yang klasik.
Maka dengan adanya Soboakarti, kesenian tradisional Jawa Tengah tak akan pernah punah. Ketika muncul rasa khawatir akan punahnya kesenian seperti wayang kulit, karawitan, dan beksan (tarian), ternyata sampai sekarang beberapa kantung kesenian masih memberi ruang untuk kesenian tradisi itu.
(Bambang Isti/CN 25)
Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/09/23/853/Masih-Ada-Sisa-Tonil-di-Sobokarti-
edytoah December 23rd, 2011, 06:04 AM Bangunan Bersejarah Di Kota Semarang
NO NAMA ALAMAT
Budaya
1 Gedung Kesenian Sobokarti Jl. dr. Cipto
2 Marabunta EMKL (d/h Schouwburg) Jl. Cendrawasih 23
3 Museum Mandala Bhakti Jl. Mgr. Soegijopranoto
Ibadah
4 Gereja Immanuel ( Blenduk ) Jl. Letjen. Suprapto 32
5 Gereja Isa Al Masih Jl. dr. Cipto 240
6 Gereja Katedral Jl. dr. Sutomo
7 Gereja Aloysius Jl. dr. Wahidin
8 Gereja Atmodirono Jl. Admodirono
9 Gereja Katholik St.Joseph dan Pastoran Jl.Ronggowarsito 9 - 11
10 Gereja Kristen Jawa Jl. dr. Cipto 240
11 Gereja Protestan Ngaglik Jl. Jl. dr. Sutomo 24
12 Klenteng Kwee Lak Kwa Jl.Gang Pinggir 107
13 Klenteng Liong Hok Bio Jl. Gang Pinggir 110
14 Klenteng Ma Tjouw Kiong Jl. Sebandaran I/32
15 Klenteng Moa Phay Kee Jl. Gang Cilik 7
16. Klenteng Sam Poo Kong Jl. Simongan
17 Klenteng Gang Tang Kee Jl. Gang Pinggir 70
18 Klenteng Tay Kak Sie Jl. gang Lombok
19 Klenteng Cap Kauw King Jl. Wotgandul Timur 38
20 Klenteng Tan Sing Ong Jl. Sebandaran I/26
21 Klenteng Kong Tik Soe Jl. Gang Lombok
22 Masjid Besar Kauman Jl. Alun-Alun Barat
23 Masjid Jamik Pekojan Jl. Petolongan 1
24 Masjid Kulitan Jl. Kulitan
25 Masjid Layur Jl. Layur
26 Masjid Menyanan Jl. Menyanan Kecil
27 Masjid Sekayu Kp. Sekayu
Kesehatan
28 R.S. St. Elizabeth Jl. Kawi 1
29 R.S. Mata William Both Jl. Letjen. S. Parman 5
30 R.S.U.D dr. Kariyadi Jl. dr. Sutomo 16
31 PT. Mega Eltra Jl. Bandarharjo Selatan 8
32 Perusda Aneka Jasa dan Niaga Jl. Bandarharjo Selatan 9
Kantor
33 Kantor Jl. Gelatik 11
34 Kantor PT.Unilever Jl. Gelatik 13
35 PT. Panca Niaga Jl. Gelatik 15
36 KantorCitra Biru Jl. Gelatik 64
37 Bank Niaga Jl. Kepodang 2-4
38 Bank Dagang Negara Jl. Kepodang 6-8
39 Kantor PT. Borsummijwehri Indonesia Jl. Kepodang 15-17-19
40 PT.Sun Aliance Jl. Kepodang 21
41 Kantor PT. Maskapi Asuransi Indonesia Jl. Kepodang 24
42 Kantor Rajawali Nusindo Export - Import Jl. Kepodang 25-27
43 Bank Bumi Daya Jl. Kepodang 34
44 Kantor Advokad Jl. Kepodang 38
45 Kantor PT. Panca Niaga Jl. Letjen. Suprapto 22
46 Gedung Jiwasraya Jl. Letjen. Suprapto 23-25
47 PT.Perum Kerta Niaga Jl. Letjen. Suprapto 30
48 Gedung Marba ( De Ziekel ) Jl. Letjen. Suprapto 33
49 Kantor CV Gadung Ragam Jl. Letjen. Suprapto 35
50 Kantor (ex der Spiegel ) sebr. Marba Jl.Letjen. Suprapto
51 Kantor Percetakan Saka Aksara Jl. Letjen. Suprapto 43
52 Kantor PT. Masscom Graphy Jl. Merak 11-15
53 Kantor PTP XV Jl. Mpu Tantular
54 Rajawali Nusindo (ex Koloniale Belanda ) Jl. Mpu Tantular 11-15
55 Bank Exim Jl. Mpu Tantular 19-21
56 Kantor Jakarta Lloyd Jl. Mpu Tantular 23
57 Kantor PT. Pelni Jl. Mpu Tantular 27
58 Koperasi GKBI Jl. Mpu Tantular 29
59 Kantor Jl. Taman Srigunting 5-6
60 Kantor Perusahaan Sirup Fresh Jl. Taman Srigunting 10
61 Kantor N.V. HMS & Co. Import-Export Jl. Taman Srigunting 12 A
62 Bank Indonesia Jl. Pemuda
63 Hotel Dibyapuri Jl. Pemuda 11
64 Pertokoan Jl. Pemuda 43
65 Pertokoan Jl. Pemuda 45
66 Toko Cendrawasih Jl. Pemuda 66
67 Restoran Oen Jl. Pemuda 77
68 Kantor PT. Permorin Jl. Pemuda 96 (Tnh spg BCA)
68 Pacific Motor Coy (PMC) Jl. Pemuda
69 Kantor PLN Jl. Pemuda 94
70 Kantor Pertamina Jl. Pemuda
71 Lawang Sewu Jl. Pemuda
72 Balai Yasa ( Kantor Wilayah Usaha Jawa ) Jl. Pengapon 2
73 Kantor Perumka Jl. Thamrin 1-3
74 Pasar Johar Jl. Agus Salim
75 Pasar Jatingaleh Jl. Teuku Umar 49
76 Depot Pertamina Jl. dr. Cipto
77 Hotel Candi Baru Jl. Rinjani 21
Pemerintahan Umum
78 Balai Prajurit (Eks rmh Oey Tiong Ha Jl. Kyai Saleh 12 A
79 DPRD Tingkat II Jl. Pemuda 146
80 Kantor Keuangan Daerah (Gedung Papak) Jl. Pemuda 2
81 Kantor Pos Candis Jl. Argopuro
82 Kantor Pos Besar Jl. Pemuda 4
83 Kantor Pos dan Giro Karangturi Jl. Brigjen. Katamso 862
84 Kantor Pos dan Giro Jl. dr. Wahidin
85 Kantor Pelayanan Jasa Komunikasi Jl. Letjen. Suprapto 7
86 Kantor Telepon Daerah Jl. Alun-Alun Timur 2
87 Kantor Wilayah Koperasi Jateng Jl. Kepodang
88 Lembaga Pemasyarakatan Bulu Jl.Soegiyopranoto
89 Ex. Pengadilan negeri Jl. Letjen. Suprapto 19
90 Kantor Taspen Jl. Pemuda no.1B
Pendidikan
91 AKK & SMA Ibu Kartini Jl. Sultan Agung 77
92 Komplek Susteran Fransiskan Jl. Ronggowarsito
93 SMA 1 Jl. Taman Menteri Supeno
94 SMA 3 Jl. Pemuda
95 SMA 5 Jl. Pemuda
96 SMA Sedes Sapientiae (komplek) Jl. Mataram 908
97 STM 1 Jl. dr. Cipto 93
98 STN Jl. dr. Cipto 121
99 STN 6-7 Jl. Suyudono 130
100 Unika Soegijopranoto Jl. pandanaran 100
101 yayasan Pendidikan kanisius Jl. dr. Wahidin
Perangkutan
102 Primer Koperasi Jl.Komp. Pelabuhan Tanjung Emas
103 Stasiun Poncol Jl. Imam Bonjol
104 Stasiun Tawang Jl. Tawang
Rumah Tinggal
105 Puri Gedeh
106 Rumah Dinas Gubernur Jateng Jl. Imam Bonjol
107 Rumah Dinas Wakil Gubernur Jateng Jl. Rinjani No.1
108 ex. Rumah Dinas Walikota Semarang Jl. Brigjen. Sudiarto
109 Rumah Kel. Flatterman Jl. Kyai Saleh No.15
110 Rumah Kel. Mr. Han Beng Hoo Jl. Tumpang No.3
111 Rumah Tinggal Jl. Beteng No.65
112 Rumah Tinggal Jl. Mrican No.64
113 Rumah Tinggal Jl. Wotgandul Barat 12
114 Rumah Tinggal Jl. Wotgandul Barat 35
115 Rumah Tinggal Jl. S.Parman No. 25
116 Rumah Tinggal Direktur BI Jl. S.Parman No. 27
117 Rumah Tinggal Jl. S.Parman No. 76
118 Rumah Tinggal Jl. S.Parman No. 78
119 Rumah Tinggal Jl. MT. haryono 856
120 Rumah Tinggal Jl. dr. Cipto No.157
121 Rumah Tinggal Jl. dr. Cipto No.159
122 Rumah Tinggal Jl. dr. Cipto No.173
123 Rumah Tinggal ( Art. Deco ) Jl. dr. Cipto No.248
124 Rumah Tinggal Jl. Kompol Maksum 203
125 Rumah Tinggal AMS Darmawan Jl. Gajah Mungkur Selatan 11A
126 Rumah Tinggal Kel. Thio Jl. Mataram 825
127 Rumah Tinggal Jl. Sompok No. 8
128 Rumah Tinggal Jl. Sompok 21
129 Rumah Tinggal Jl. Gajahmada No.57
130 Rumah Tinggal Jl. Layur
131 Rumah Tinggal Gg. Sekayu No.340
132 Rumah Tinggal Gg. Sekayu Kepatihan 269
133 Rumah Tinggal Gg. Sekayu Kepatihan 270
134 Rumah Tinggal Pak Manto Jl. Sekayu No.311
135 Rumah Tinggal kopel (Catharine) Jl. Kompol Maksum 213-215
136 Rumah Tinggal ( Sadana ) Jl. Kompol Maksum 219
137 Rumah Tinggal ( Bus Perak ) Jl. Kompol Maksum 221
138 Rumah Tinggal ( Perusahaan bus ) Jl. Kompol Maksum 223
139 Rumah Tinggal Jl. Kompol Maksum 225
140 Rumah Tinggal Kel. Sutiman ( Crecendo ) Jl. Tabanan 12
141 Rumah Tinggal Jl. A. Yani No.138
142 Rumah Tinggal Abdoel Aziz / Djalil Kp. Kulitan No. 195
143 Rumah Tinggal Ka.Rt.03 (ex Gudang Kulit) Kp. Kulitan No. 196
144 Rumah Tinggal (d/h Tasliman ) Kp. Kulitan No. 197
145 Rumah Tinggal A.T Ng.Moeljo Kp. Kulitan No. 198
146 Rumah Tinggal Kp. Kulitan No. 202
147 Rumah Tinggal Moenawar Chalil Kp. Kulitan No. 313
148 Rumah Tinggal (d/h Tasripin ) Kp. Kulitan No. 315
149 Rumah Tinggal ( ex. Taslamet ) Kp. Kulitan No. 318
150 Rumah Tinggal Kp. Kulitan No. 319
151 Rumah Tinggal Kp. Kulitan No. 320
152 Rumah Tinggal Kp. Kulitan No. 321
153 Rumah Tinggal ( gudang ) Kp. Petolongan 3
154 Rumah Tinggal Abdul Gani ( valia Optic ) Kp. Petolongan 41
155 Rumah Tinggal (dr. Wijaya ) Kp. Petudungan 76
156 Rumah Tinggal Kp. Petudungan 78
157 Rumah Tinggal ( toko / grosir mainan ) Kp. Petudungan 80-82
158 Rumah Tinggal Kp. Petudungan 84-86
159 Rumah Tinggal Kp. Petudungan 88-90
160 Rumah Tinggal Kp. Petudungan 92-94
161 Rumah Tinggal Jl. Teuku Umar 54
Lain - lain
162 Gerbang Jawatan Kodam VII Jl. Pemuda
163 Jembatan Berok Jl. Pemuda
164 Makam Thio Sing Liang Jl. Sriwijaya
165 Mercu Suar Pelabuhan Komp. Pelabuhan tanjung Emas
166 Pelkris Jl. dr. Cipto 132
167 Reservoir Air Jl. Diponegoro
168 Taman Diponegoro Taman Diponegoro
169 Tugu Muda Bunderan Tugu Muda
170 Wisma Driyarkara Jl. dr. Cipto No. 238
Sumber : http://semarangkota.go.id/cms/pemerintahan/dinas/pariwisata/gedung/gd-kuno.htm
damarsinyo December 23rd, 2011, 06:18 AM ^^banyak bener om...:nuts:
edytoah December 24th, 2011, 02:20 AM ^^
Kelihatannya msh banyak BCB yg belum masuk Mas damarsinyo.Seperti Gedung Dhuwur,di Pamularsih III,rmh Oey Tje Sin,yg dipakai asrama pegawai eks PNS Kodam IV,rumah tua di jl Diponegoro,rumah tua di jl S Parman,rumah tua di jl. Pierre Tendean,dll.
Katakan jumlah BCB ada 200 bangunan,kemudian masing diberi beaya perawatan minimal 10jt pertahun,maka Pemkot hrsnya menyediakan 2M untuk pelestarian BCB.Jumlah yg sedikit sebetulnya dari APBD,tp kalau terjadi kerusakan BCB pemerintah bisa menuntut krn sudah melaksanakan kewajibannya. Tp kelihatannya blm ada,msh blm dianggarkan,msh baru himbauan bagi pemilik BCB.
detwis December 24th, 2011, 02:58 AM ^^
Kelihatannya msh banyak BCB yg belum masuk Mas damarsinyo.Seperti Gedung Dhuwur,di Pamularsih III,rmh Oey Tje Sin,yg dipakai asrama pegawai eks PNS Kodam IV,rumah tua di jl Diponegoro,rumah tua di jl S Parman,rumah tua di jl. Pierre Tendean,dll.
Katakan jumlah BCB ada 200 bangunan,kemudian masing diberi beaya perawatan minimal 10jt pertahun,maka Pemkot hrsnya menyediakan 2M untuk pelestarian BCB.Jumlah yg sedikit sebetulnya dari APBD,tp kalau terjadi kerusakan BCB pemerintah bisa menuntut krn sudah melaksanakan kewajibannya. Tp kelihatannya blm ada,msh blm dianggarkan,msh baru himbauan bagi pemilik BCB.
kalo ga salah ada uu bcb yg pemiliknya dpt diberi dana perawatan gitu..
CMIIW
edytoah December 24th, 2011, 05:03 AM kalo ga salah ada uu bcb yg pemiliknya dpt diberi dana perawatan gitu..
CMIIW
UU No 5/1992 ttg BCB memang mencantumkan begitu Mas detwis .. tetapi pelaksanaannya belum .. bahkan minta pengurangan PBB saja pemilik harus mengajukan dan belum tentu disetujui ... masalahnya belum tentu pemilik BCB adalah orang yang mampu ... tp kalau roboh pemilik di sertifikat yang dicari oleh polisi terlebih dahulu .. :bash:
Permasalahan kalau ingin masyarakat ikut berpartisipasi dalam pemeliharaan BCB,pemilik harus diberi dana santunan pemeliharaan,karena yang bisa mempertanggung jawabkan dana santuan tsb adalah pemilik bcb tsb,jadi masyarakat dalam hal ini lebih khusus ke pemilik bcb.
Setelah diberi dana santuan kalau masih roboh/rusak lha pemilik bcb tsb jd lbh fair kalau dituntut.
Mungkin penjabaran UU tsb msih rancu dalam meminta anggaran.Ada yang bilang BCB diurusi melalui Peraturan Walikota No.12 Tahun 2007 dikukuhkanlah kelembagaan tersebut dengan nama Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L),Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala BP3 Jateng juga ikut ngurusi BCB,Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang juga masih untung cawe2 ngrusi BCB,tapi ya belum ada aksi yang significant ttg BCB.
Dana BP3 sebagian besar untuk menemukan situs2 purbakala baru,jadi juga pasti minim untuk dialokasikan ke BCB.Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tentu saja punya prioritas sendiri bukan BCB.
Kalau ngak salah belum lama ada berita BPK2L ada dana cukup besar untuk Revitalisasi Kota Lama secara masal,itu yang cukup lama bahkan lama sekali kita tunggu realisasinya.
http://wwijayanti.multiply.com/journal/item/1?&show_interstitial=1&u=/journal/item
Kalau ada bcb yang direnovasi oleh Pemerintah mis Lawang Sewu itu lain,karena dana memang ada dari donatur LN.
Ini ada berita lama,belum ada berita baru tentang pemilik BCB diberi bantuan rutin pemeliharaan,adanya bangunan BCB yang rubuh dan pemilik dicari pemerintah ... atau BCB tsb diambil alih oleh pemerintah tanpa kompensasi .. atau sengaja dibiarkan roboh :lol::lol::lol:
http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/25/kot04.htm
- http://www.apeksi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1487:pemkotambilalihbcbtelantar&catid=106:wisata&Itemid=145
- (http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2011/04/13/48547/Bangunan-Cagar-Budaya-Roboh-Menimpa-Mobil)http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2011/04/13/48547/Bangunan-Cagar-Budaya-Roboh-Menimpa-Mobil
damarsinyo December 24th, 2011, 05:06 AM ^^
Kelihatannya msh banyak BCB yg belum masuk Mas damarsinyo.Seperti Gedung Dhuwur,di Pamularsih III,rmh Oey Tje Sin,yg dipakai asrama pegawai eks PNS Kodam IV,rumah tua di jl Diponegoro,rumah tua di jl S Parman,rumah tua di jl. Pierre Tendean,dll.
Katakan jumlah BCB ada 200 bangunan,kemudian masing diberi beaya perawatan minimal 10jt pertahun,maka Pemkot hrsnya menyediakan 2M untuk pelestarian BCB.Jumlah yg sedikit sebetulnya dari APBD,tp kalau terjadi kerusakan BCB pemerintah bisa menuntut krn sudah melaksanakan kewajibannya. Tp kelihatannya blm ada,msh blm dianggarkan,msh baru himbauan bagi pemilik BCB.
^^haduh dana segitu kalo dibuat BCB rasa nya berat banget...tapi kalo buat kunker anggota dewan ya ringan2 saja...:bash:
titus15 December 27th, 2011, 05:50 AM Buat yang pernah sekolah di SMA N 1 Semarang, beginilah suasana persemian gedung sekolah kita tahun 1939, di ruang Aula Besar....
http://img718.imageshack.us/img718/8789/aulasma1semarang.jpg
edytoah December 27th, 2011, 01:30 PM ^^^^
Orang jaman dulu khususnya Meneer en Mevrov rapi-2 ya pakaianannya .. pake jas yg Mevrov pake topi ... Apa ngak kepanasan ya di ruang Aula itu .. khan blm ada AC jaman th 30an itu ... Paling kipas angin di atas plafon khali ... Apa Semarang dulu belum panas ya masih sedikit penduduknya ... :lol: .. Tp Bangunan tua biasanya plafon paling tidak tinggi sekitar 4 m lebih,cukup dingin jadinya ...
Tp Salut Orang jaman dulu kalau pakai pakaian rapi-2 ..udah tau panas masih pake jas ...:lol::lol:
edytoah December 27th, 2011, 01:47 PM Heran di jaman sudah modern begini masih ada di warung deket rumah .. Serbat bentuk tablet tebal .. cap Jangkrik Mas ... Lumayan hujan-2 dicelupin air 1 gelas trs diaduk tambah gula secukupnya ..... Srup . anget di badan .. :cheers:
Isi 10 tablet .. murah cuma Rp.1.800,- ...
http://img824.imageshack.us/img824/3551/serbat.jpg
detwis December 27th, 2011, 01:54 PM ^^
aula besar itu yg deket lapangan bola itukah?
#ora alumni sma siji
:nuts:
silver railegh December 27th, 2011, 02:05 PM ^^bener om..
tepatny aula ini diapit lapangan basket ma lap sepak bola
#alumni smansa:D:D
detwis December 27th, 2011, 02:25 PM ^^bener om..
tepatny aula ini diapit lapangan basket ma lap sepak bola
#alumni smansa:D:D
kenalke cewe2 e sik tho bos
:runaway:
damarsinyo January 2nd, 2012, 11:16 AM ^^lha situ kan udah ada nyonya ne...:nuts:
detwis January 2nd, 2012, 11:19 AM ^^lha situ kan udah ada nyonya ne...:nuts:
mumpung blom nikah.. ehuehuehuheu :D :D
:lol: :lol: :lol:
reita.ryo2011 January 3rd, 2012, 02:50 AM mumpung blom nikah.. ehuehuehuheu :D :D
:lol: :lol: :lol:
ati2 lho mas. sopo ngerti nyonyah'e sampeyan silent reader ning kene. :D
:runaway::nocrook::nocrook::nocrook:
damarsinyo January 3rd, 2012, 12:04 PM ^^wkwkwkwkk:lol:
eh udah pada nyobain linds cafe & ice cream yg dipapandayan belom??itu ice cream nya salah satu yg aku sukai disemarang.....recomended:D
castle_92 January 3rd, 2012, 05:15 PM ^^ Blm pnh ksn mas..... Mw kalo dibayari mas damar :nocrook:
reita.ryo2011 January 4th, 2012, 05:51 AM ^^ Blm pnh ksn mas..... Mw kalo dibayari mas damar :nocrook:
sama mas. belum, tapi nek mas damar arep ngejak sukur mbayari yo monggo. nderekake. :nocrook: :nocrook: :nocrook:
silver railegh January 4th, 2012, 05:53 AM ^^wkwkwkwkk:lol:
eh udah pada nyobain linds cafe & ice cream yg dipapandayan belom??itu ice cream nya salah satu yg aku sukai disemarang.....recomended:D
lum nyoba mas .larang gag mas.??
kalo es krim ak recommeny floriant jl mt haryono mas.ad lunpiane jg .enak:lol::lol:
foto gathny mana mas??
damarsinyo January 4th, 2012, 06:08 AM ^^gubrakkkkk:gaah: wkwkwkwk:lol::lol:
sedikit mahal tapi terbayar impas ama view dan suasana nya...:cheers:
saya jangan disuruh mbayari....saya yg dibayari aja, kan saya yg recomend tempatnya....:D
floriant mt haryono juga lumayan....:eat:
Coca.Colak January 5th, 2012, 01:44 PM oiya ada yg tau ga nama hotel yg ada di hutan bukit gombel itu :D
kata bapak gw dulu katanya hotel bagus cuma sekarang dah bangkrut :bash:
gw juga pernah liat di google earth, gedungnya nyempil ditengah" hutan, horror, apalagi pas malem" gelap :bash:
thx :D
ssphila January 5th, 2012, 02:21 PM ^^ Sky Garden
edytoah January 6th, 2012, 01:23 PM MELACAK NAMA KAMPUNG PEDAMARAN DARI SEJARAH KYAI DAMAR, SEMARANG
Mungkin kita pernah menonton sebuah video dokumenter yang dibuat oleh 2 mahasiswa Undip Bambang Rahmanto dan Rio Hadindra Permana, yang memenangkan "Eagle Award" yang diselenggarakan oleh Metro TV dalam acara Kick Andy 2 tahun lalu.
Video itu berjudul Gorilla dari Gang Buntu,yang diambil dari sebuah gym/fitness sederhana yang bernama Gorilla Power Barbel Club yang berlokasi di Gang Buntu Jl. Pedamaran Johar Pecinan Semarang.
http://img39.imageshack.us/img39/5097/gorila.jpg
Video di link sumber :
http://www.suaramerdeka.tv/view/video/30991/sehat-murah-fitness-di-emperan-garasi
Salah seorang penggagas tempat fitness ini, yaitu Kardi mengungkapkan, Gorilla Power Barbel Club ini memasang tarif sukarela. Biaya operasional untuk perbaikan alat dan air minum diperoleh dari sebuah kotak kayu kecil yang menampung uang recehan dan pecahan seribuan. Dia menambahkan, mayoritas anggota tempat fitness ini adalah mereka dengan ekonomi menengah kebawah seperti para kuli angkut, pengemudi becak, pedagang dan pekerja kasar.
Masih di Jalan Pedamaran,masuk dari samping Pasar Johar Semarang ini,sejak dulu kawasan ini terkenal dengan pusat perdagangan lampu kapal saat Kampung Melayu masih merupakan pelabuhan.Kata Damar dari bahasa jawa yang berarti lampu.Setelah masa kejayaan Pelabuhan Kampung Melayu punah,Kampung Pedamaran juga berubah menjadi pusat penjual lampu petromaks,pada th 60-70an.Sejak dulu Pedamaran menjadi bagian dari Pasar Johar,pasar yang didirikan Thomas Karsten,tempat berkumpulnya kuli panggul,tukang-becak,dan pedagang-pedagang sayur.
Tetapi ternyata nama kampung Pedamaran bukan karena dulu pusat perdagangan lampu tetapi berasal dari nama Kyai Damar,sesepuh pendiri Kampung Pedamaran tersebut.
Jika kita masuk ke jalan Pedamaran akan dijumpai situs makam Kyai Damar terletak di Pedamaran, Sumeneban, Kauman, Semarang Tengah, Semarang, Jawa tengah. Makam ini tepatnya berada di belakang kompleks Pasar Johar Semarang.
Makam Kyai Damar terletak dalam sebuah cungkup berukuran sekitar 4,5 m x 7 m. Keletakannya berimpitan dengan rumah penduduk setempat. Kondisi ini tidak terhindarkan karena perkembangan jaman Jl. Pedamaran tsb akhirnya berdekatan dengan Pasar Johar,dan penduduk sebagian besar merupakan pelaku ekonomi Pasar Johar dari pedagang dan kuli panggul,tukang becak,dan pekerja kasar lainnya.
Kompleks makam ini hanya terdiri atas tiga buah batu nisan, yakni batu nisan dari Kyai Damar dan Nyai Damar beserta nisan makam dari keponakannya. Sayangnya, nama dari keponakan Kyai Damar ini tidak pernah diketahui.
Nisan Kyai dan Nyai Damar memiliki ukuran panjang sekitar 170 Cm, lebar 60 Cm, dan tinggi sampai kepala jirat sekitar 65 Cm.Sedangkan nisan makam keponakan Kyai Damar berukuran relatif lebih kecil. Cungkup di kompleks makam ini juga dilengkapi dengan sebuah pintu besi dengan ukuran lebar sekitar 1 meter, dan tinggi sekitar 170 Cm. Pintu besi ini berbentuk jeruji.
Pemugaran atas makam ini pernah diresmikan oleh Walikota Madya Dati II Semarang, Kolonel Infanteri Soetrisno Soeharto pada 26 Februari 1998.
http://img716.imageshack.us/img716/8375/pedamaran.jpg
Silsilah Kyai Damar hingga sekarang memang tidak jelas. Sekalipun demikian, menurut Kyai Masruh Budiono Abdul Kholib (75) yang menjadi sesepuh desa setempat dikatakan bahwa Kyai Damar adalah salah satu abdi punakawan dari Kerajaan Demak Bintara. Tokoh ini mempunyai nama lain yakni Raden Dipa Pamulya. Ia dipercaya masih merupakan keturunan raja-raja Demak.
Sumber setempat juga menyatakan bahwa Kyai Damar pernah menyiarkan agama Islam berbarengan dengan Syeh Jangkung. Akan tetapi Kyai Damar kemudian menetap di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Sumeneban ini. Di tempat inilah agama Islam kemudian secara lambat laun berkembang. Apa yang dilakukan oleh Kyai Damar ini menurut sumber setempat merupakan amanah dari Keraton Demak untuk mengembangkan agama Islam, melanjutkan kinerja para Walisanga.
Versi lain menyebutkan bahwa Kyai Damar adalah salah satu pengikut Pangeran Dipanegara dengan tugas sebagai telik sandi atau mata-mata. Perlu diketahui bahwa di kala itu Sumeneban merupakan sebuah perkampungan yang berada di pinggiran sungai besar yang dapat dilayari kapal atau perahu berukuran sedang. Bahkan kapal-kapal tersebut bisa sampai ke pusat pemerintahan Belanda yang sekarang berada di Kawasan Kota Lama Semarang. Dengan begitulah Kyai Damar dapat mengamati lalu lalang kapal-kapal Belanda.
Nama Damar yang disandang Kyai Damar menurut sumber setempat bukan hanya berdiri sebagai nama tanpa arti. Damar dalam bahasa Jawa berarti lampu, lentera, atau dian. Jadi, ia adalah tokoh yang memiliki tugas untuk memberikan pepadhang atau penerangan.
Semula Kampung Sumeneban merupakan kampung tempat pemukiman orang-orang Madura yang berasal dari Sumenep. Berdasarkan hal itu, maka warga di luar kampung itu mengatakan bahwa tempat itu adalah Sumeneban. Artinya, tempat atau pemukiman orang-orang Sumenep. Akan tetapi ada pendapat yang menyatakan bahwa tempat itu dulunya merupakan penjara bagi orang-orang Madura yang ditangkap oleh Belanda. Orang-orang setempat pada zaman dulu mengatakan bahwa Madura tidak beda dengan Sumenep. Oleh karena itulah tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Kampung Sumeneban.
Kampung Sumeneban juga tidak jauh dari Kampung Sedogan/Sedokan/Sodogan. Nama kampung itu cukup menarik bila dilihat secara etimologis karena mungkin bagi telinga awam tidak begitu lazim. Menurut sumber setempat nama kampung ini lahir dari sebuah peristiwa dibunuhnya orang-orang Bugis oleh Belanda. Pembunuhan itu dilakukan dengan cara disodok (ditombak). Berdasarkan peristiwa itu tempat tersebut lantas diberi nama Kampung Sodogan.
Masing-masing kampung ini sekarang kelihatan begitu padat dan apabila dilihat dengan mata telanjang akan sulit ditentukan batas-batasnya. Keberadaan Kampung Sumeneban dan Sodogan ini tidak jauh dari aliran Kali Semarang yang juga disebut sebagai Kali Banger karena kandungan limbahnya yang luar biasa padat sehingga menimbulkan bau banger ‘tidak sedap’.
Sumber :
- http://www.antaranews.com/berita/1257167675/gorilla-gang-buntu-undi..
- http://www.tembi.org/situs-prev/kyai_damar.htm
reita.ryo2011 January 7th, 2012, 04:37 AM Inilah Asal Muasal Nama Kecamatan Banyumanik
BANYUMANIK adalah salah satu dari 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang. Terletak di Selatan Semarang dan terdiri atas 11 kelurahan. Yakni Pudakpayung, Gedawang, Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon, Tinjomoyo dan Ngesrep.
Asal mula nama Banyumanik konon berhubungan dengan perjalanan Ki Ageng Pandanaran menuju Tembayat. Saat itu Ki Ageng bersama istrinya yang masih sarat dengan urusan keduniawian melewati sebuah daerah yang cantik pemandangannya.
Istrinya yang melihat dari kejauhan daun-daun talas yang berkilau kemudian berseru dalam bahasa jawa, “Duhai Kanjeng, lihatlah di sana begitu banyak manik-manik di atas daun-daun talas itu, sungguh kayanya daerah ini,” katanya.
Menjawab hal itu, Ki Ageng pun berkata, “Jangan salah dinda, itu hanyalah air (jawa: banyu) tetesan embun pagi di atas daun-daun talas yang terkena cahaya matahari pagi.”
Istri Ki Ageng pun termangu. “Oh jadi manik-manik itu hanya air? Ya sudahlah, kalau sampai “rejoning zaman”, daerah ini akan dinamakan Banyu Manik”.
sumber halosemarang.com (http://halosemarang.com/inilah-asal-muasal-nama-kecamatan-banyumanik/)
edytoah January 8th, 2012, 05:18 AM ^^
Nice feature Mas reita.ryo2011 ..
Ada yg punya buku cerita rakyat Semarang ngak ya ? Ada 2 jilid diterbitkan PT Grasindo kalau ngak salah,dulu ada yang makai buat muatan lokal kurikulum SD kalau ngak salah.
Kumplit ..kelihatannya cerita2 kayak Banyumanik tsb . Pls upload kalau punya .. Nuwun ..
reita.ryo2011 January 8th, 2012, 06:48 AM Bener pak. Coba saya carikan dulu. Soalnya kayaknya pernah nyimpen. Mudah2an ndak dirosokne ibuku. Hehehe. :nocrook:
edytoah January 9th, 2012, 02:30 PM Ini lokasi film "Beranak Dalam Kubur",yang dibintangi Alm. Suzana,th 1971,di Jl. Teuku Umar 18 (masih dihuni ).
Sebetulnya kalau dirawat harusnya bagus ...skrg kelihatan serem ... dari depan tidak kelihatan,ada jual jamu Pasak Bumi,sblm BRI Teuku Umar.
http://suaramerdeka.com/v1/index.php...t-Pembuat-Film (http://suaramerdeka.com/v1/index.php...t-Pembuat-Film)
1. Sebelah kiri dipakai buat pool pemulung sampah plastik.
http://img846.imageshack.us/img846/8131/bdk1.jpg
2.
http://img812.imageshack.us/img812/7457/bdk2.jpg
3.
http://img585.imageshack.us/img585/9265/bdk3.jpg
riadylicious January 9th, 2012, 02:43 PM haunted house sepertinya.. #merinding
edytoah January 9th, 2012, 05:52 PM JAMU JUN ,Dimanakah Mbok-mbok penjual jamu jun sekarang ? ...
http://img4.imageshack.us/img4/7604/jamujun1.jpg
KALAU jamu tradisional identik dengan rasa pahit, tidak demikian dengan jamu jun. Jamu ini berasa manis rempah sehingga lebih menyerupai wedang. Dengan minum jamu jun dua manfaat dapat diperoleh sekaligus, yakni badan sehat, dan perut nyaman.
Dinamakan jamu jun, lantaran saat dijajakan, minuman itu ditaruh dalam jun ( semacam gentong kecil berleher sempit untuk tempat air wadah air dari gerabah/tanah liat). Tapi jun bukan tempat jin ya ..:lol: Agar senantiasa hangat, bagian luar jun dibungkus dengan daun jati. Jamu jun disajikan menggunakan mangkuk.
Jamu jun tidak seperti jamu pada umumnya, karena rasanya manis dan berempah. Jamu jun terbuat dari campuran air, tepung beras, tepung ketan, santan, gula jawa, gula pasir, daun pandan, serta 18 jenis rempah yang disebut sariwangi batanget. Bahan rempah antara lain jahe, serai, merica, dan kayu manis. Biasanya ketika disajikan, jamu jun ditambah bubuk merica, selo (bubuk putih dari bahan herbal), serta bola-bola kecil berwarna coklat yang dinamakan krasikan. Bola-bola ini dibuat dari parutan kelapa, jahe, gula merah, dan tepung ketan. Jamu jun ini katanya asli Demak, tapi malah sepertinya menjadi minuman khas Semarang.
http://img692.imageshack.us/img692/1273/jamujun3.jpg
Sekarang ini jamu jun sudah cukup sulit ditemui. Waktu saya kecil, ada beberapa mbok-mbok penjual jamu jun dengan tampilan khasnya, berkebaya dan jarik batik, memakai caping, menggendong bakul dagangan serta menenteng ember kecil berisi air untuk mencuci mangkok. Sekarang penjual jamu jun jarang ditemui. Setidaknya di kampung saya, masih ada satu penjual yang masih eksis dan itu pun jarang lewat. Dulu anak-anak kecil suka jajan jamu jun sambil berjongkok mengelilingi penjualnya, menikmati jamu jun. Kecil-kecil sudah hobi wedangan, hehe. Ternyata sampai sekarang juga masih seperti itu. Pembeli yang masih anak-anak suka jongkok mengitari si penjual sambil mengobrol (obrolan anak kecil tentunya). Yang paling saya ingat, kebanyakan anak suka minta tetesan jamu yang ada di ciduk jamunya itu, yang ditaruh di mangkok tersendiri, lalu mangkok yang berisi sisa jamu yang menempel di ciduk itu di-tus (istilah jawa, semacam diteteskan) di mangkoknya sendiri. “Lik imbohi jamune lik!”
http://img818.imageshack.us/img818/7530/jamujun2.jpg
Salah satu penjual jamu jun yang masih eksis adalah Karsipah (45). Setiap hari dia mangkal di Pasar Gangbaru, kawasan Pecinan Semarang. Perempuan asal Desa Poncoharjo, Kecamatan Bonang, Demak ini sudah menjajakan jamu jun sejak 15 tahun lalu. Dia mewarisi pekerjaan itu secara turun temurun dari nenek moyangnya dulu.
Menurut Karsipah, jamu jun produk asli Poncoharjo, Bonang. Bertahun-tahun sebagian warga desa itu membuat dan menjualnya sebagai mata pencaharian. Selain di Demak, mereka juga menjajakan jamu jun di Semarang. Bahkan dalam perkembangannya, minuman penghangat itu lebih dikenal sebagai khas Semarang.
”Sekarang, warga Poncoharjo yang membuat dan menjual jamu jun tinggal sekitar 10 orang. Lebih dari separonya ider di Semarang. Tapi saya ndak tahu, di mana persisnya mereka jualan,” katanya.
Relatif Murah
Karsipah sendiri baru tiga tahun mangkal di Pasar Gangbaru. Dia menempati dasaran milik Jatmi, ibunya, yang sudah tak lagi berjualan. Sebelum itu, Karsipah membuka dasaran di Pasar Johar. Dia memilih pindah karena di Gangbaru jumlah pembelinya relatif lebih banyak.
”Pagi sampai siang saya jualan di Gangbaru. Agak sore keliling ke kampung-kampung di sekitar Kauman. Sehari saya bisa habis dua jun. Selain jual eceran, saya juga sering dapat pesanan untuk acara resepsi,” ujar Karsipah yang mengontrak rumah di Kampung Sukolilo.
Harga jamu jun relatif murah, semangkuk cuma Rp 2.000. Jika satu jun berisi 50 mangkuk jamu, omzet Karsipah dalam sehari rata-rata Rp 200.000.
Tetapi kadang anak hanya membeli cuma Rp.1000,- ya tetap dilayani,kasihan anak-anak katanya.
Sebagian hasil penjualan dipakai kembali untuk membeli bahan baku.
Beberapa bahan cukup dibeli di Semarang, namun khusus ramuan sariwangi batanget hanya bisa diperoleh di Pasar Bintoro, Demak.
Sumber :
- http://loenpia.net/blog/umum/jamu-jun-apa-kabar.html
- http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/02/06/50564/Jamu-Jun-Nikmat-dan-Berkhasiat
edytoah January 9th, 2012, 06:28 PM GILO-GILO ? ...
http://img46.imageshack.us/img46/6425/gilo1.jpg
Menyebut nama gilo-gilo, semua orang Semarang pasti tahu. Gerobak dorong yang berisi aneka penganan tradisional ini,dulu masih mudah dijumpai mangkal di kawasan Simpanglima,sekarang sudah pindah masuk ke kampung-2 setelah Simpang Lima dikeramik.
Gilo-gilo memang sudah menjadi ‘trade mark’ Kota Semarang. Meski dijajakan di pinggir jalan, bukan berarti gilo-gilo hanya diperuntukkan bagi warga kelas pinggiran. Hampir semua kalangan bisa larut dalam kesederhanaan aneka penganan yang disajikan pedagang gilo-gilo. Mulai tukang becak, buruh bangunan, mahasiswa, maupun pekerja kantoran.Selain lengkap, harganya juga merakyat.
Agak berbeda dengan sego/nasi kucing (nasi dengan porsi kecil,maaf seperti porsi untuk kucing) yang mendirikan tenda,gilo-gilo ini lebih muncul saat malam hari,berkeliling ke kampung-kampung.Juga gilo-gilo tidak menyediakan nasi dan minuman.
Keberadaan gilo-gilo sendiri tak bisa dipisahkan dari Kampung Kulitan dan Gandhekan. Di dua kampung inilah cikal bakal gilo-gilo tumbuh dan berkembang sejak 1960 silam. Saat itu pedagang gilo-gilo masih didominasi pendatang dari Klaten dan Sukoharjo yang bermukim di Kulitan dan Gandhekan. Dalam perkembangannya, orang asli Semarang juga ikut melebur menjadi pedagang gilo-gilo.
http://img854.imageshack.us/img854/9674/gilo2.jpg
Kurang tahu artinya sebenarnya apa, tapi sepertinya (hanya asumsi saya jadi CMIIW) berasal dari kata “gi lho” yang merupakan transformasi dari “iki lho” yang artinye “ini lho”. Jadi penjualnya ingin membuktikan eksistensi diri bahwa “ini lho makanan dan jajanan yang anda cari”.
Apa saja yang dijual di gerobak gilo-gilo tsb ?
http://img707.imageshack.us/img707/594/gilo3.jpg
Seperti terlihat dari foto di atas, isi gerobak Gilo-gilo terdiri dari kue-kue tradisional dan buah-buahan.
Buahnya diantaranya : nanas, pepaya, bengkoang, melon, semangkan dan pisang.
Sedangkan makanan-makanannya : pisang goreng, singkong goreng, jadah goreng, bakwan, martabak pasar, bakwan, onde-onde, molen pisang, bolang-baling, tahu goreng, tahu isi, tahu petis, nagasari, sate kerang, sate telur puyuh, beberapa macam kerupuk dan masih ada yang lain.
Sumber :
- http://halosemarang.com/kuliner/gilo-gilo-aneka-penganan-untuk-semua-kalangan/
- http://maskurblog.wordpress.com/2010/10/24/pedagang-gilo-gilo-semarang/
reita.ryo2011 January 10th, 2012, 02:07 AM Kanjeng Sunan Kuning
Konon, di suatu tempat, hidup seorang petani kaya bernama Saribin. Dia memiliki ratusan kerbau dengan kandang yang amat luas.
Pada suatu malam, seluruh kerbaunya hilang, tidak ada seorangpun yang bisa dimintai keterangan. Saribin berusaha mencari kerbau2nya ber hari2 bahkan ber minggu2. Tidak terasa, perjalanan Saribin sampai di perbukitan kembar yang dikenal dengan nama Widoro Kandang dan Widoro Kayangan. Pepohonan di kedua perbukitan tersebut tumbuh subur sehingga udara terasa sejuk dan nyaman.
Saribin melepaskan lelah, dia duduk di bawah sebatang pohon. Karena kelelahan dia pun tertidur. Dalam tidurnya, Saribin bermimpi didatangi seorang tua, berambut dan berjenggot putih serta berpakaian serba putih. Dengan suara ketuaannya dan ter patah2, orang tua itu berkata kepada Saribin,
"Le, Saribin, kamu tidak usah bersedih. Kerbau2mu tidak hilang. Sayalah yang mengambilnya. Sengaja saya pinjam untuk membersihkan rumput2 di tempat ini. Saya minta maaf. Apa yang saya lakukan itu menyusahkanmu. Sekarang bangunlah. Bawalah kerbau2 muitu!".
Begitu selesai berucap, orang tua itu pun lenyap, namun pada saat bersamaan datang angin cukup kencang dengan membawa aroma yang sangat harum.
Saribin terkejut, dan terbangun. Dia hampir tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Seluruh Kerbau miliknya ada di depan matanya sekarang. Yang lebih mengherankannya lagi, udara di sekitarnya masih bearoma yang sangat harum seperti di mimpinya.
Digiringnya kerbau2 miliknya kembali pulang ke kandang. Tidak seperti saat dia berangkat, perjalanan pulangnya kini dirasakan sangat ringan dan cepat, terlebih lagi aroma harum itu masih saja menyertainya sampai Saribin masuk ke dalam rumahnya.
Sambil melepaskan lelah, Saribin merenungkan seluruh kejadian yang dialaminya. Ia berkeyakinan bahwa perbukitan tempat dia beristirahat itu ditempati makhluk ghoib.
Saribin akhirnya mengambil keputusan hendak bertapa di tempat itu. Ia pun kembali ke tempat itu dan di situlah kemuduan dia duduk bersila melepaskan semua keinginan keduniawiannya. Makan, minum dan tidur pun dia tinggalkan.
Saribin bertekad tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum mendapatkan sesuatu yang melegakan hatinya. Hingga pada suatu malam, antara sadar dan tidak, datanglah di hadapannya orang tua yang dulu pernah menemuinya dalam mimpi. Wajahnya amat bersih, berjenggot putih dan berpakaian serba putih pula.
"Hai, Saribin, kerbau2 mu sudah kau temukan bukan?"
"Sudah, Mbah,"
"Nah, karena kerbau2mu sudah saya kembalikan, sekarang saya ingin meminta sesuatu kepadamu. Bagaimna? Sanggup kamu memenuhinya?"
"Akan saya usahakan untuk memenuhinya, Mbah."
"Bagus. Tempat yang kau gunakan untuk bertapa ini, dahulu pernah digunakan untuk beristirahat dan berunding tiga sunan yang terkenal di Pulau Jawa ini."
"Aduh, kalau begitu saya minta maaf, Mbah. Saya tidak tahu," kata Saribin dengan gemetar.
"Tidak apa-apa, Le. Ke tiga Sunan itu pertama Kanjeng Sunan Kuning atau Mangkurat Mas. Kedua, Kanjeng Sunan Kali atau Mangkurat Man. Ketiga, Kanjeng Sunan Ambarawa atau Syekh Maulana Maghribi Kendil Wesi.
Setiap sunan dikawal oleh seorang penasihat. Sunan Kuning dikawal oleh Kyai Sekabad. Sunan Kali dikawal oleh Kyai Jimat. Sunan Ambarawa dikawal oleh Kyai Majapahit.
Pada saat berunding itu, ketiga sunan duduk berjajar dari barat ke timur. Yang duduk paling barat adalah Sunan Kuning. Di tengah Sunan Kali dan yang timur Sunan Ambarawa. Merka duduk di atas batu.
Pesan saya, rawatlah baik2 tempat ini. Mudah2an Allah akan memberi kemudahan kepada engkau dan anak keturunanmu dalam mencari rezeki, le. Tetapi ingat, setelah cukup uangmu, bergegaslah engkau ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji."
Begitu selesai kalimat itu, hilang pulalah orang tua itu.
Sejak saat itu, Saribin merawat tempat tersebut dengan baik. Kehidupan Saribin semakin membaik, hasil pertaniannya melimpah, kerbau2 nya beranak pinak. Sesuai amanat yang diterimanya, Saribin pergi ke Tanah Suci.
Akhirnya, ke tiga petilasan itu dibuatkan pelindung (berupa rumah kecil) oleh Saribin. Pada hari2 tertentu, khusunya malam Jum'at kliwon, banyak penduduk sekitar yang datang berziarah ke tempat itu. Saribin kemudian dikenal sebagai juru kunci petilasan tersebut.
Sampai sekarang, ketiga petilasan itu masih ada. Tempat itu kini lebih dikenal dengan Sunan Kuning dan terletak di Wilayah Kecamatan Semarang Barat, Kelurahan Kalibanteng Kulon, lebih satu setengah kilometer dari Bandara Ahmad Yani.
sumber http://welcometosemarang.blogspot.com/2011/03/etilasan-kanjeng-sunan-kuning.html
reita.ryo2011 January 10th, 2012, 02:09 AM KISAH NYAI BANTENG WARENG (ASAL USUL KALI BANTENG)
Tersebutlah seorang janda sakti Nyai Banteng Wareng namanya. Dia bertempat tinggal di sebuah tepi sungai tidak jauh dari Laut Jawa. Tidak seorang pun tahu asal usul janda tersebut dan mengapa dia disebut Nyai Banteng Wareng.
Nyai Banteng Wareng tinggal di sebuah gubug yang amat sederhana bersama anak laki-laki satu-satunya. Tidak heran Nyai Banteng Wareng sangat menyayangi anaknya itu. Kemana dia pergi selalu di bawa serta.
Mata pencaharian utama Nyai Banteng Wareng adalah bertani. Semula, tanah di daerah itu tidak dapat di tanami karena terlalu banyak mengandung air garam. Tumbuhan apapun yang di tanam selalu mati.
Akan tetapi, berkat kesaktian Nyai Banteng Wareng, tanah di daerah itu menjadi sangat subur. Sekarang, justru sebaliknya apa pun yang ditanam di daerah itu pasti hidup. Oleh karena itulah, Nyai Banteng Wareng bersma anaknya tidak pernah kekurangan makan. Hasil kebunya berlimpah, baik yang berupa umbi-umbian maupun sayur-sayuran.
Sesekali, Nyai Banteng Wareng pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Tidak terlalu sulit mendapatkan tangkapan ikan yang banyak. Berbekal kesaktiannya, Nyai Banteng Wareng dapat mendapatkan ikan apa dan berapa banyak yang diinginkanya.
Anak laiki-laki Nyai Banteng Wareng tumbuh dengan sehat dan makin besar meskipun kulitnya tampak hitam, wajahnya sangat tampan, kasih sayang Nyai Banteng Wareng semakin bertambah.
Untuk menyenang-nyenangkan hati anaknya, sering pada pagi dan sore hari Nyai Banteng Wareng membawanya ke pantai. Di sana mereka menyaksikan indahnya pemandangan alam pagi dan sore ketika matahari terbit dan tenggelam. Sesekali, di biarkan pula oleh Nyai Banteng Wareng anak laki-lakinya mandi di laut. Nyai Banteng Wareng amat bahagia menyaksikan anak kesayangannya tampak gembira. Namun, di balik kegembiraannya itu timbul pula rasa khawatirnya. Oleh karena itu, Nyai Banteng Wareng tidak bosan-bosannya selalu berpesan agar anaknya berhati-hati.
Di sisi lain, kecintaan anaknya laki-laki Nyai Banteng Wareng terhadap laut makin hari makin bertambah. Hampir setiap hari dia pergi ke laut dan mandi-mandi di sana kadang-kadang sampai menjelang matahari terbenam dia baru pulang,
“ Kenapa sampai demikian sore, kamu baru pulang, Nak?” Tanya Nyai Banteng Wareng pada suatu ketika. “maaf ibu! Kebetulan ketika syaya akan pulang tadi, saya bertemu dengan seseorang.”
“Bertemu dengan seseorang ?” Tanya Nyai Banteng Wareng penuh keheranan.
“Betul ibu! Seorang laki-laki tua,berambut dan berjenggot putih. Dia mengajak saya ikut dengannya ?”
“Mengajakmu ikut dengannya ?” Tanya Nyai Banteng Wareng dengan penuh terkejut.
Malam itu, Nyai Banteng Wareng tidak dapat memejamkan mata sedikitpun. Dia bertanya-tanya, siapa gerangan orang tua yang di ceritakan anaknya itu. Seingat Nyai Banteng Wareng, selama ini dia tidak berhubungan atau berkenalan dengan siapa pun.
Sementara itu, anak laki-laki Nyai Banteng Wareng makin sering pergi ke laut dan selalu pulang menjelang matahari terbenam. Sudah lebih dari tiga kali dia ditemui kakek berambut dan bejenggot putih. Selalu si kakek mengajaknya ikut setiap kali mereka akan berpisah.
Nyai Banteng Wareng sangat khawatir akan keselamatan anak laki-lakinya. Pikirannya selalu di hantui oleh keajaiban-keajaiban yang diinginkannya .Oleh karena itu, dia selalu mengingatkan anak laki-lakinya setiap kali anak itu berangkat ke laut. “Ibu tidak usah khwatir, Bu. Saya sudah pandai berenang. Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa atas diri saya.”
Demikianlah selalu jawaban anak laki-laki Nyai Banteng Wareng setiap kali diingatkan oleh ibunya . Semakin hari kekhawatiran Nyai Banteng Wareng makin memuncak.. Lebih-lebih setelah anak laki-lakinya bercerita bahwa si kakek berambut dan berjenggot putih itu selalu menemuinya dan mengajak serta.
Nyai Banteng Wareng akhirnya memutuskan untuk bersemedi , memohon pertolongan kepada Sang Maha kuasa agar tidak terjadi apa-apa atas diri anak laki-lakinya. Nyai Banteng Wareng sangat heran karena samapi pada hari kelima ia bersemedi tidak ada tanda-tanda permohonannya akan dikabulkan. Dia hampir putus asa. Namun, demi keselamatan anak laki-laki satu-satunya dia bertekat akan melanjutkan semedinya sampai yang diinginkan terkabul.
barulah pada hari ketujuh, jawaban itu di perlolehnya.
“Nyai Banteng Wareng,aku puji keteguhanmu dalam upaya mencapai cita-citamu.” Demikian suara itu tiba-tiba didengarnya tanpa diketahui sosok yang mengucapkanmya.
Belum hilang rasa heran dan takut Nyai Banteng Wareng, suara itu kembali terdengar.
Keluarlah kamu dari tempat tinggalmu ini. Pada sudut kiri gubugmu ini telah aku sediakan jangkar bertali untuk kau pakaikan pada anak laki-lakimu jika dia akan mandi di laut.
Menyertai hilangnya suara itu, terdengar di luar suara kepak burung yang besar meninggalkan gubug Nyai Banteng Wareng.
Dengan tergesa-gesa Nyai Banteng Wareng keluar memenuhi perintah yang di dengarnya tadi. Benar! Di tempat yang di sebutkan oleh suara tadi didapatinya sebuah jangkar yang bertalikan amat panjang. Tak terkirakan gembira hati Nyai Banteng Wareng. Dia bersyukur kepada yang Maha Kuasa karena telah di beri alat penyelamat untuk anak laki-lakinya.
Keesokan paginya, ketika Nyai Banteng Wareng hendak ke ladang dia temui anak laki-lakinya. Sambil menunjukan jangkar yang ada di tangannya, dia pun berkata kepada anak laki-lakinya.
http://img811.imageshack.us/img811/72/4copybh.jpg
“Nak, jika kau mau mandi nanti, ikatkanlah tali ini pada tubuhmu. Kemudian, letakkanlah jangkar ini di tanah.”
“Ah… mengapa harus susah-susah begitu, ibu ?”
“Untuk menjaga keselamatanmu, agar kau tidak terbawa arus.”
“Ibu tidak usah khawatir. Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa atas diri saya. Saya sudah pandai berenang. Kemarin saya telah mencoba lebih ke tengah. Nyatanya, saya dapat kembali bukan ?”
Nyai Banteng Wareng tidak mau berdebat lebih panjang lagi dengan anak laki-lakinya. Sambil mengingatkan kembali agar anak laki-lakinya mau memakai jangkar yang disiapkannya, Nyai Banteng Wareng pergi ke lading.
Sepeninggalnya Nyai Banteng Wareng, anak laki-laki Nyai Banteng Wareng pun bersiap-siap ke laut. Jangkar yang di siapkan Nyai Banteng Wareng tidak di bawanya. Dia menggagap hal itu hanya merepotkannya. Dia yakin kemampuannya berenang mengatasi apapun yang akan terjadi.
Belum beberapa lama anak laki-laki Nyai Banteng Wareng berenang, mendadak terdengar suara gemuruh. Hujan datang amat derasnya. Ditingkahinya suara guntur menggelegar. Angin pun bertiup amat kencang. Air laut naik dan bergulung-gulung. Semua benda terseret tanpa sisa. Tidak terkecuali anak laki-laki Nyai Banteng Wareng.
Nyai Banteng Wareng berlari menuju pantai, tempat anak laki-lakinya biasa mandi-mandi. Malang, anak laki-lakinya tidak ditemukannya. Hanya, dari arah jauh terdengar suara, “ ibu…. maafkan saya. Saya melanggar nasihatmu ibu. Maafkan saya”
Nyai Banteng Wareng tercenung, sedih. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Dengan langkah guntai dan hati pilu , dia pun kembali ke gubugnya.
Kesedihan Nyai Banteng Wareng semakin hari semakin memuncak. Akhirnya, dia jatuh sakit dan meninggal di gubugnya yang sederhana di tepi sungai dekat laut jawa tersebut. Konon , tempat itulah yang sekarang di kenal bengan nama KALI BANTENG.
KALI BANTENG ( KALI = SUNGAI ), terletak di wilayah semarang barat. Di wilayah itulah lapangan udara Ahmad Yani kini berada.
SUMBER http://gamesmudah.blogspot.com/2009/05/kisah-nyai-banteng-wareng.html
edytoah January 10th, 2012, 04:55 AM sumber http://welcometosemarang.blogspot.com/2011/03/etilasan-kanjeng-sunan-kuning.html
Ada hubungannya dgn petilasan Sunan Kuning di http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1431947&page=15 ,ktnya petilasan ini ada di jalan Muradi.Ada juga orang-orang menyebut Sunan Kuning plesetan dari Sun Kun Eng :),dari orang Tionghoa yang mendirikan petilasan tsb .. ngak tahu bener apa ngak ..:)
SUMBER http://gamesmudah.blogspot.com/2009/05/kisah-nyai-banteng-wareng.html
Nuwun Mas Ryo ... Ya Asal usul Kali Banteng ini sebagian Cerita Rakyat Semarang dari Buku Muatan lokal SD dulu terbitan Grasindo yang 2 jilid tsb.
reita.ryo2011 January 10th, 2012, 05:15 AM Ada hubungannya dgn petilasan Sunan Kuning di http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1431947&page=15 ,ktnya petilasan ini ada di jalan Muradi.Ada juga orang-orang menyebut Sunan Kuning plesetan dari Sun Kun Eng :),dari orang Tionghoa yang mendirikan petilasan tsb .. ngak tahu bener apa ngak ..:)
Nuwun Mas Ryo ... Ya Asal usul Kali Banteng ini sebagian Cerita Rakyat Semarang dari Buku Muatan lokal SD dulu terbitan Grasindo yang 2 jilid tsb.
Kalau tentang kanjeng Sunan Kuning memang ada yang menyebut dari plesetan Sun Kun Eng / Sun Kun Ing. Tapi sampai saat ini belum terpecahkan. Masih simpang siur pak.
Asal usul kali banteng di buku Cerita Rakyat dari Semarang Jilid 2 pak. Yang jilid 1 susah carinya. saya punya hasil scan beberapa halaman dari buku jilid 2.
hal cover, 1, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 11, 12, 13, 14, 15, hal belakang.
edytoah January 10th, 2012, 04:00 PM KUE Sentiling dari Koloniale Tentoonstelling ...
Apa sih Sentiling? Dari blog ini, Mlandhing mendapatkan gambaran bahwa jaman dahulu kala tahun 1914, Semarang pernah bikin expo tingkat dunia. Expo ini tercatat dalam list world expo, yang terbesar, yang pernah dilaksanakan pada dekade 1910-1920.
Expo itu bernama Koloniale Tentoonstelling atau dalam lidah jawa jadi Pasar Malem Sentiling. Halah, dasar lidah Jawa, nggampangke. Sejak saat itulah dikenal istilah Sentiling.
Expo ini konon menuai kontroversi, karena pernah disentil oleh Ki Hajar Dewantara dalam surat terbukanya Als Ik Netherlaand was.
Lepas dari kontroversi yang meliputinya, penyelenggaraan expo pada saat itu menunjukkan betapa pentingnya posisi kota Semarang sehingga ditunjuk sebagai tempat berlangsungnya pameran terbesar saat itu. Dan hingga saat ini event sebesar itu belum pernah terulang kembali di Indonesia… hhmm, hebat juga ya.
Lantas apa hubungannya dengan Sentiling sebagai kudapan? Rupanya pada saat itu kudapan berbahan baku singkong ini jadi salah satu buah tangan wajib, oleh-oleh dari Pasar Malam Sentiling. Jadilah makanan ini pun disebut Sentiling juga. Mau coba?
http://img824.imageshack.us/img824/3009/sentiling.jpg
Ini resep kiriman Menik.
BAHAN:
1 kg singkong, parut, peras airnya
100 gr gula pasir
100 ml air kelapa
1/2 bks jeli merah (biasa rasa strawberry)
1/2 bks jeli kuning (biasa rasa jeruk/mangga)
1/2 bh kelapa agak muda, parut
1 sdt garam
CARA MEMBUAT:
Campur parutan kelapa dengan garam, kukus. Sisihkan.
Campur singkong parut yang telah diperas airnya dengan air kelapa dan gula pasir. Remas-remas hingga gula larut.
Bagi dua adonan singkong. Beri masing-masing dengan 1/2 bungkus jeli. Aduk hingga rata.
Siapkan loyang, alasi dengan daun pisang, padatkan adonan singkong di loyang terpisah. Kukus sekitar 30 menit.
Potong-potong sentiling sesuai selera. Gulingkan ke kelapa parut. Sajikan.
TIPS & TRIK:
Singkong biasa diperas dengan bantuan kain. Siapkan kain bersih, letakkan singkong parut dan peras.
Biasa, kelapa sebelum diparut dibersihkan dulu dari kulit arinya.
Kalau tidak menemukan jeli, gunakan saja agar-agar. Tapi gulanya ditambah 100 gr ya.
Penyajian Sentiling bisa saja sekedar ditaruh di piring. Tapi kalau mau, ditusuk dengan tusukan sate juga oke. Selang-seling saja warnanya. Seru.
Sumber : http://dapurmlandhing.dagdigdug.com/?s=expo
ssphila January 10th, 2012, 04:27 PM Super mantabbbbb ni tritnya.... kontribusi Om Edy & Mas Ryo :okay: :okay: ternyata sy org Semarang yg tdk banyak tau tentang Semarang :bash:
reita.ryo2011 January 11th, 2012, 01:54 AM @Pak Edy : gethuk pelangi pak nek ibukku ngarani :D. kerep nggawe soale, rasane enak, mengenyangkan, bahan bakune murah :)
@Om ssphila : hanya merefresh aja om, dulu kan pelajaran muatan lokal SD, pernah ada pelajaran tentang cerita rakyat semarang. :)
titus15 January 11th, 2012, 02:56 AM Ada banyak juga sumber cerita rakyat Semarang. Menariknya setiap tempat seolah ada legendanya. ini agak beda dengan kota-kota kerajaan yang nama tempat kebanyakan berasal dari fungsi daerahnya atau penguasa daerah perdikan setempat, seperti di jogja ada daerah bernama bugisan, bausasran, kadipaten, magangan dll.
Dulu saya pernah punya buku karikatur Prof Totok Rusmanto, guru besar arsitektur Undip. Gambar2 kartunnya mewakili kondisi Semarang tahun 80an... seperti pernah ada reklame besar produk pasat gigi Signal di atas pasar Bulu. Katanya gara2 itu pasar bulu pernah disebut pasar Signal? Apa benar?? Ada juga WC umum Helikopter di sepanjang kaligarang. Bentuk bukunya lanskap, ukuran A5 seperti buku kartun Panji Koming atau Beni Mice...Ada yang masih punya bukunya?? Di rumah saya cari-cari bukunya nggak ketemu...
reita.ryo2011 January 11th, 2012, 03:18 AM wah. ndak punya pak. :D
edytoah January 11th, 2012, 05:41 AM Cerita dan Makam Ki Ageng Pandanaran di Mugas Semarang dan di Bayat,Klaten.
Ada 2 makam Ki Ageng Pandanaran,satu di Mugas Semarang,ada masjid juga yang dibangun oleh Almarhum Presiden Soeharto, satunya di Bukit Jabalkat,Desa Paseban,Kecamatan Bayat,Kabupaten Klaten.
Mana yang bener ya ? Anyway,mungkin agak susah menemukan mana yang benar tetapi semua menunjuk Ki Ageng Pandanaran yang sama yg merupakan Pendiri Kota Semarang.Memang yang di Klaten lebih bersifat cerita rakyat,yg di Semarang ada catatan silsilah trah dari Ki Ageng Pandanaran.
Sumber 1 : http://seputarsemarang.com/makam-ki-ageng-pandanaran-10340
Makam Ki Ageng Pandanaran
http://img585.imageshack.us/img585/4672/mkmagengmgs.jpg
Sumber foto : http://foto.detik.com/readfoto/2009/05/31/160929/1140191/708/3/
Ki Ageng Pandanaran (Ki Ageng Pandan Arang) adalah Adipati pertama Semarang dan tanggal diangkatnya beliau sebagai adipati dijadikan hari jadi Kota Semarang. Ki Ageng Pandanaran lantas dianggap sebagai pelopor berdirinya kota Semarang. Kota Semarang waktu itu merupakan salah satu pusat penyiaran agama Islam dan menjadi bagian dari Kerajaan Demak. Dengan adanya penyiaran agama Islam menarik orang untuk juga berdatangan baik untuk bermukim maupun berdagang di Semarang sehingga wilayah ini menjadi ramai.
Meskipun Ki ageng Pandanaran hidup dalam masa yang sama dengan para Wali Sanga, namun beliau tidak termasuk ke dalamnya. Beliau mendirikan Pesantren dan menyiarkan agama Islam di wilayan yang semakin subur itu. Disela-sela kesuburan itu terdapat pohon asam yang jarang ( bahasa Jawa : asem arang ) yang lantas wilayah itu diberi nama Semarang. Ki Ageng Pandanaran meninggal pada tahun 1496. Tempat ini banyak dikunjungi oleh peziarah terutama pada acara khol meninggalnya beliau. Makam Ki Ageng Pandanaran berada di Jl. Mugas Dalam II / 4 kelurahan Randusari Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Yayasan Sosial Pandanaran Semarang:
Pengelola Masjid dan Makam Ki Ageng Pandanaran
Alamat Jalan Mugas Dalam II No 4 Semarang
Nomor telepon: 024 831 1915
-6.990952,110.416175
Sumber 2 : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/211-Ki-Ageng-Pandanaran
Ki Ageng Pandanaran
Kabupaten Klaten - Jawa Tengah – Indonesia
http://img803.imageshack.us/img803/4451/pandanarankla.jpg
Makam Ki Ageng Pandanaran di Bukit Jabalkat,Desa Paseban,Kecamatan Bayat,Kabupaten Klaten,Jawa Tengah
Diceritakan kembali oleh Samsuni.
Ki Ageng Pandanaran atau bernama asli Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sunan Bayat atau Sunan Tembayat adalah Bupati Kedua Semarang (kini Kota Semarang), Jawa, Tengah Indonesia. Selain sebagai kepala pemerintahan, ia juga dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang sakti. Bagaimana sepak terjang Ki Ageng Pandanaran menjalankan tugas-tugas pemerintahan sekaligus menyebarkan agama Islam ke masyarakat Jawa Tengah? Ikuti kisahnya dalam cerita Ki Ageng Pandanaran berikut!
****
Alkisah, sekitar abad ke-16 M., hiduplah seorang bupati yang bernama Pangeran Mangkubumi yang memerintah di daerah Semarang. Ia adalah putra dari Bupati Pertama Semarang Harya Madya Pandan. Sepeninggal ayahandanya, Pangeran Mangkubumi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai Bupati Kedua Semarang dengan gelar Ki Ageng Pandanaran. Ia diangkat menjadi kepala pemerintahan Semarang pada tanggal 2 Mei 1547 M. atas hasil perundingan antara Sutan Hadiwijaya (penasehat Istana Demak) dengan Sunan Kalijaga.
Sebagai kepala pemerintahan, Ki Ageng Pandanaran melanjutkan usaha yang telah dirintis oleh sang ayah. Di sela-sela kesibukannya mengurus tugas-tugas pemerintahan, ia juga giat mengembangkan kegiatan-kegiatan keagamaan untuk membina rakyatnya. Kegiatan tersebut di antaranya mengadakan pengajian secara rutin, menyampaikan ceramah-ceramah melalui khotbah Jumat, serta mengembangkan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah. Dengan demikian, ia dianggap telah berhasil menjalankan tugas-tugas pemerintahan dengan baik dan patuh kepada ajaran-ajaran Islam seperti mendiang ayahnya, sehingga rakyatnya pun hidup makmur dan damai.
Namun, sifat manusia dapat saja berubah setiap saat. Demikian pula Ki Ageng Pandanaran sebagai seorang manusia. Keberhasilan yang telah dicapai membuatnya lupa diri. Sifatnya yang dulu baik tiba-tiba berubah menjadi congkak, sombong, dan kikir. Ia senang mengumpulkan harta untuk kemewahan. Kehidupan mewah itu pun membuatnya lalai terhadap tugas-tugasnya, baik sebagai kepala pemerintahan maupun pengembang agama Islam. Ia tidak pernah lagi memberikan pengajian dan ceramah kepada rakyatnya. Demikian pula, ia tidak pernah merawat pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.
Mengetahui sikap dan perilaku Ki Ageng Pandanaran tersebut, Sunan Kalijaga segera memperingatkannya dengan cara menyamar sebagai penjual rumput. Dengan kecerdikannya, sang sunan menyisipkan nasehat-nasehat kepada sang bupati pada saat menawarkan rumputnya.
Suatu hari, datanglah Sunan Kalijaga ke kediaman Ki Ageng Pandanaran dengan mengenakan pakaian compang-camping layaknya seorang tukang rumput. Di sela-sela menawarkan rumputnya, sang sunan menasehati Ki Ageng Pandanaran agar tidak terbius oleh kemewahan dunia
“Maaf, Tuan! Sebaiknya Tuan segera kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT!” ujar Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai penjual rumput.
“Hai, tukang rumput! Apa maksudmu menyuruhku kembali ke jalan yang benar? Memang kamu siapa, sudah berani menceramahiku?” tanya Ki Ageng Pandanaran dengan nada menggertak.
“Maaf, Tuan! Saya hanyalah penjual rumput yang miskin. Hamba melihat Tuan sudah terlalu jauh terlena dalam kebahagiaan dunia. Saya hanya ingin memperingatkan Tuan agar tidak melupakan kebahagiaan akhirat. Sebab, kebahagiaan yang abadi adalah kebahagiaan akhirat” ujar si penjual rumput.
Mendengar nasehat itu, Ki Ageng Pandanaran bukannya sadar, melainkan marah dan mengusir si penjual rumput itu. Meski demikian, si penjual rumput tidak bosan-bosannya selalu datang menasehatinya. Namun, setiap kali dinasehati, Ki Ageng Pandanaran tetap saja tidak menghiraukan nasehat itu. Khawatir perilaku penguasa daerah Semarang itu semakin menjadi-jadi, Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya.
“Wahai Bupati yang angkuh dan sombong! Ketahuilah, harta yang kamu miliki tidak ada artinya dibandingkan dengan harta yang aku miliki,” kata penjual rumput itu.
“Hai, tukang rumput! Kamu jangan mengada-ada! Buktikan kepadaku jika kamu memang orang kaya!” seru Ki Ageng Pandanaran.
Akhirnya, Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya dengan mencangkul sebidang tanah. Setiap bongkahan tanah yang dicangkulnya berubah menjadi emas. Ki Ageng Pandanaran sungguh heran menyaksikan kesaktian penjual rumput itu. Dalam hatinya berkata bahwa penjual rumput itu bukanlah orang sembarangan.
“Hai, penjual rumput! Siapa kamu sebenarnya” tanya Ki Ageng Pandanaran penasaran bercampur rasa cemas.
Akhirnya, penjual rumput itu menghapus penyamarannya. Betapa terkejutnya Ki Ageng Ki Ageng Pandanaran ketika mengetahui bahwa orang yang di hadapannya adalah Sunan Kalijaga. Ia pun segera bersujud seraya bertaubat.
“Maafkan, saya Sunan! Saya sangat menyesal atas semua kekhilafan saya selama ini. Jika Sunan tidak keberatan, izinkanlah saya berguru kepada Sunan!” pinta Ki Ageng Pandanaran.
“Baiklah, Ki Ageng! Jika kamu benar-benar mau bertaubat, saya bersedia menerimamu menjadi murdiku. Besok pagi-pagi, datanglah ke Gunung Jabalkat! Saya akan menunggumu di sana. Tapi ingat, jangan sekali-kali membawa harta benda sedikit pun!” ujar Sunan Kalijogo mengingatkan.
Dengan tekad kuat ingin belajar agama, Ki Ageng Pandanaran akhirnya menyerahkan jabatannya sebagai Bupati Semarang kepada adiknya. Setelah itu, ia bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat. Namun, ia lupa mengingatkan istrinya untuk tidak membawa harta benda sedikit pun. Naluri sebagai seorang wanita, sang istri memasukkan seluruh perhiasan dan uang dinarnya ke dalam tongkat yang akan di bawanya.
Dalam perjalanan, sang istri selalu tertinggal jauh di belakang suaminya karena keberatan membawa tongkatnya yang berisi harta benda. Ki Ageng Pandanaran pun baru menyadari hal tersebut setelah mendengar istrinya berteriak meminta pertolongan.
“Kangmas, tulung! Wonten Tyang salah tiga” artinya “Kangmas, tolong! Ada tiga orang penyamun!”.
Mendengar teriakan itu, Ki Ageng Pandanaran segera berlari menolong istrinya. Begitu tiba di dekat istrinya, ia mendapati tiga orang penyamun sedang berusaha merebut tongkat istrinya. Dengan perasaan marah, ia menegur ketiga penyamun itu.
“Hai, manusia! Mengapa kamu nekad seperti kambing domba!” seru Ki Ageng Pandanaran melihat sikap kasar penyamun itu.
Seketika itu pula, wajah pemimpin penyamun yang bernama Sambangdalan berubah menjadi wajah domba. Rupanya, sejak direstui menjadi murid Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran memiliki kesaktian yang tinggi. Ucapan yang keluar dari mulutnya menjadi sakti mandraguna. Melihat kesaktian itu, para penyamun tersebut menjadi ketakutan. Sambangdalan pun bertaubat dan meminta agar wajahnya dikembalikan seperti semula. Akhirnya, Ki Ageng Pandanaran pun memaafkan mereka. Meski demikian, wajah pemimpin penyamun itu tetap seperti domba dan kemudian menjadi pengikut Ki Ageng Pandanaran yang dikenal dengan nama Syekh Domba.
Setelah itu, Ki Ageng Pandanaran bersama sang istri melanjutkan perjalanan. Tak beberapa lama kemudian, tibalah mereka di Gunung Jabalkat. Kedatangan mereka disambut baik oleh Sunan Kalijaga. Sejak itulah, Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga.
Ki Ageng Pandanaran seorang murid yang cerdas dan rajin. Berkat kecerdesannya, ia ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut. Ia pun mendirikan sebuah perguruan di Gunung Jabalkat. Ajaran Ki Ageng Pandanaran yang paling menonjol dikenal dengan istilah Patembayatan, yaitu kerukunan dan kegotongroyongan. Setiap orang yang datang untuk memeluk agama Islam harus mengucapkan Sahadat Tembayat. Berkat ajaran Patembayatan, ia juga berhasil mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala.
Selain pengetahuan agama, Ki Ageng Pandanaran juga mengajarkan cara bercocok tanam dan cara bergaul dengan baik kepada penduduk sekitarnya. Setelah itu, ia pun menetap di Jabalkat hingga akhir hayatnya. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal dengan nama Tembayat atau Bayat. Itulah sebabnya ia diberi gelar Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Hingga kini, makam Ki Ageng Pandanaran dapat ditemukan di atas Bukit Cakrakembang di sebelah selatan bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
***
Demikian cerita Ki Ageng Pandanaran dari daerah Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori cerita sejarah yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satunya adalah bahwa jangan sampai kemewahan duniawi membuat kita lupa diri seperti Ki Ageng Penandaran. Oleh karena sibuk mengejar kemewahan duniawi, akhirnya ia lupa pada kehidupan akhirat yang kekal. Namun, sejelek-jelek perbuatan seeorang, jika ia segera bertaubat, maka Tuhan akan mengampuni dan manusia pun akan memaafkannya. Berkat kesadarannya ingin cepat bertaubat, Ki Ageng Pandanaran direstui menjadi murid Sunan Kalijaga hingga akhirnya menjadi seorang sunan penyebar agama Islam di Jawa Tengah pada masa lalu dan terus dikenang hingga saat ini.
(Samsuni/sas/200/09-10)
------
Kredit Foto : http://www.promojateng-pemprovjateng.com
edytoah January 11th, 2012, 05:45 AM @Pak Edy : gethuk pelangi pak nek ibukku ngarani :D. kerep nggawe soale, rasane enak, mengenyangkan, bahan bakune murah :)
@Om ssphila : hanya merefresh aja om, dulu kan pelajaran muatan lokal SD, pernah ada pelajaran tentang cerita rakyat semarang. :)
@ryo .. ada yang dibuat model sate sentiling juga Mas .. hehehe
Kalau ngak salah di halaman sebelumnya ada Mas Dochan apa siapa ya yang tanya tentang asal mula Srondol .. kira2 ada ngak Mas Ryo di buku cerita rakyat tsb tentang Srondol ?
Artinya apa ya Srondol apa maksudnya sama dengan srundul/serobot ..:lol:
@ssphila .. yang leb ya Om Google nich Mas ssphlla ...:)
Venantio January 11th, 2012, 08:43 AM Cerita dan Makam Ki Ageng Pandanaran di Mugas Semarang dan di Bayat,Klaten.
Ada 2 makam Ki Ageng Pandanaran,satu di Mugas Semarang,ada masjid juga yang dibangun oleh Almarhum Presiden Soeharto, satunya di Bukit Jabalkat,Desa Paseban,Kecamatan Bayat,Kabupaten Klaten.
Mana yang bener ya ? Anyway,mungkin agak susah menemukan mana yang benar tetapi semua menunjuk Ki Ageng Pandanaran yang sama yg merupakan Pendiri Kota Semarang.Memang yang di Klaten lebih bersifat cerita rakyat,yg di Semarang ada catatan silsilah trah dari Ki Ageng Pandanaran.
Sumber 1 : http://seputarsemarang.com/makam-ki-ageng-pandanaran-10340
Makam Ki Ageng Pandanaran
http://img585.imageshack.us/img585/4672/mkmagengmgs.jpg
Sumber foto : http://foto.detik.com/readfoto/2009/05/31/160929/1140191/708/3/
Ki Ageng Pandanaran (Ki Ageng Pandan Arang) adalah Adipati pertama Semarang dan tanggal diangkatnya beliau sebagai adipati dijadikan hari jadi Kota Semarang. Ki Ageng Pandanaran lantas dianggap sebagai pelopor berdirinya kota Semarang. Kota Semarang waktu itu merupakan salah satu pusat penyiaran agama Islam dan menjadi bagian dari Kerajaan Demak. Dengan adanya penyiaran agama Islam menarik orang untuk juga berdatangan baik untuk bermukim maupun berdagang di Semarang sehingga wilayah ini menjadi ramai.
Meskipun Ki ageng Pandanaran hidup dalam masa yang sama dengan para Wali Sanga, namun beliau tidak termasuk ke dalamnya. Beliau mendirikan Pesantren dan menyiarkan agama Islam di wilayan yang semakin subur itu. Disela-sela kesuburan itu terdapat pohon asam yang jarang ( bahasa Jawa : asem arang ) yang lantas wilayah itu diberi nama Semarang. Ki Ageng Pandanaran meninggal pada tahun 1496. Tempat ini banyak dikunjungi oleh peziarah terutama pada acara khol meninggalnya beliau. Makam Ki Ageng Pandanaran berada di Jl. Mugas Dalam II / 4 kelurahan Randusari Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Yayasan Sosial Pandanaran Semarang:
Pengelola Masjid dan Makam Ki Ageng Pandanaran
Alamat Jalan Mugas Dalam II No 4 Semarang
Nomor telepon: 024 831 1915
-6.990952,110.416175
Sumber 2 : http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/211-Ki-Ageng-Pandanaran
Ki Ageng Pandanaran
Kabupaten Klaten - Jawa Tengah – Indonesia
http://img803.imageshack.us/img803/4451/pandanarankla.jpg
Makam Ki Ageng Pandanaran di Bukit Jabalkat,Desa Paseban,Kecamatan Bayat,Kabupaten Klaten,Jawa Tengah
Diceritakan kembali oleh Samsuni.
Ki Ageng Pandanaran atau bernama asli Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sunan Bayat atau Sunan Tembayat adalah Bupati Kedua Semarang (kini Kota Semarang), Jawa, Tengah Indonesia. Selain sebagai kepala pemerintahan, ia juga dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang sakti. Bagaimana sepak terjang Ki Ageng Pandanaran menjalankan tugas-tugas pemerintahan sekaligus menyebarkan agama Islam ke masyarakat Jawa Tengah? Ikuti kisahnya dalam cerita Ki Ageng Pandanaran berikut!
****
Alkisah, sekitar abad ke-16 M., hiduplah seorang bupati yang bernama Pangeran Mangkubumi yang memerintah di daerah Semarang. Ia adalah putra dari Bupati Pertama Semarang Harya Madya Pandan. Sepeninggal ayahandanya, Pangeran Mangkubumi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai Bupati Kedua Semarang dengan gelar Ki Ageng Pandanaran. Ia diangkat menjadi kepala pemerintahan Semarang pada tanggal 2 Mei 1547 M. atas hasil perundingan antara Sutan Hadiwijaya (penasehat Istana Demak) dengan Sunan Kalijaga.
Sebagai kepala pemerintahan, Ki Ageng Pandanaran melanjutkan usaha yang telah dirintis oleh sang ayah. Di sela-sela kesibukannya mengurus tugas-tugas pemerintahan, ia juga giat mengembangkan kegiatan-kegiatan keagamaan untuk membina rakyatnya. Kegiatan tersebut di antaranya mengadakan pengajian secara rutin, menyampaikan ceramah-ceramah melalui khotbah Jumat, serta mengembangkan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah. Dengan demikian, ia dianggap telah berhasil menjalankan tugas-tugas pemerintahan dengan baik dan patuh kepada ajaran-ajaran Islam seperti mendiang ayahnya, sehingga rakyatnya pun hidup makmur dan damai.
Namun, sifat manusia dapat saja berubah setiap saat. Demikian pula Ki Ageng Pandanaran sebagai seorang manusia. Keberhasilan yang telah dicapai membuatnya lupa diri. Sifatnya yang dulu baik tiba-tiba berubah menjadi congkak, sombong, dan kikir. Ia senang mengumpulkan harta untuk kemewahan. Kehidupan mewah itu pun membuatnya lalai terhadap tugas-tugasnya, baik sebagai kepala pemerintahan maupun pengembang agama Islam. Ia tidak pernah lagi memberikan pengajian dan ceramah kepada rakyatnya. Demikian pula, ia tidak pernah merawat pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.
Mengetahui sikap dan perilaku Ki Ageng Pandanaran tersebut, Sunan Kalijaga segera memperingatkannya dengan cara menyamar sebagai penjual rumput. Dengan kecerdikannya, sang sunan menyisipkan nasehat-nasehat kepada sang bupati pada saat menawarkan rumputnya.
Suatu hari, datanglah Sunan Kalijaga ke kediaman Ki Ageng Pandanaran dengan mengenakan pakaian compang-camping layaknya seorang tukang rumput. Di sela-sela menawarkan rumputnya, sang sunan menasehati Ki Ageng Pandanaran agar tidak terbius oleh kemewahan dunia
“Maaf, Tuan! Sebaiknya Tuan segera kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT!” ujar Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai penjual rumput.
“Hai, tukang rumput! Apa maksudmu menyuruhku kembali ke jalan yang benar? Memang kamu siapa, sudah berani menceramahiku?” tanya Ki Ageng Pandanaran dengan nada menggertak.
“Maaf, Tuan! Saya hanyalah penjual rumput yang miskin. Hamba melihat Tuan sudah terlalu jauh terlena dalam kebahagiaan dunia. Saya hanya ingin memperingatkan Tuan agar tidak melupakan kebahagiaan akhirat. Sebab, kebahagiaan yang abadi adalah kebahagiaan akhirat” ujar si penjual rumput.
Mendengar nasehat itu, Ki Ageng Pandanaran bukannya sadar, melainkan marah dan mengusir si penjual rumput itu. Meski demikian, si penjual rumput tidak bosan-bosannya selalu datang menasehatinya. Namun, setiap kali dinasehati, Ki Ageng Pandanaran tetap saja tidak menghiraukan nasehat itu. Khawatir perilaku penguasa daerah Semarang itu semakin menjadi-jadi, Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya.
“Wahai Bupati yang angkuh dan sombong! Ketahuilah, harta yang kamu miliki tidak ada artinya dibandingkan dengan harta yang aku miliki,” kata penjual rumput itu.
“Hai, tukang rumput! Kamu jangan mengada-ada! Buktikan kepadaku jika kamu memang orang kaya!” seru Ki Ageng Pandanaran.
Akhirnya, Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya dengan mencangkul sebidang tanah. Setiap bongkahan tanah yang dicangkulnya berubah menjadi emas. Ki Ageng Pandanaran sungguh heran menyaksikan kesaktian penjual rumput itu. Dalam hatinya berkata bahwa penjual rumput itu bukanlah orang sembarangan.
“Hai, penjual rumput! Siapa kamu sebenarnya” tanya Ki Ageng Pandanaran penasaran bercampur rasa cemas.
Akhirnya, penjual rumput itu menghapus penyamarannya. Betapa terkejutnya Ki Ageng Ki Ageng Pandanaran ketika mengetahui bahwa orang yang di hadapannya adalah Sunan Kalijaga. Ia pun segera bersujud seraya bertaubat.
“Maafkan, saya Sunan! Saya sangat menyesal atas semua kekhilafan saya selama ini. Jika Sunan tidak keberatan, izinkanlah saya berguru kepada Sunan!” pinta Ki Ageng Pandanaran.
“Baiklah, Ki Ageng! Jika kamu benar-benar mau bertaubat, saya bersedia menerimamu menjadi murdiku. Besok pagi-pagi, datanglah ke Gunung Jabalkat! Saya akan menunggumu di sana. Tapi ingat, jangan sekali-kali membawa harta benda sedikit pun!” ujar Sunan Kalijogo mengingatkan.
Dengan tekad kuat ingin belajar agama, Ki Ageng Pandanaran akhirnya menyerahkan jabatannya sebagai Bupati Semarang kepada adiknya. Setelah itu, ia bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat. Namun, ia lupa mengingatkan istrinya untuk tidak membawa harta benda sedikit pun. Naluri sebagai seorang wanita, sang istri memasukkan seluruh perhiasan dan uang dinarnya ke dalam tongkat yang akan di bawanya.
Dalam perjalanan, sang istri selalu tertinggal jauh di belakang suaminya karena keberatan membawa tongkatnya yang berisi harta benda. Ki Ageng Pandanaran pun baru menyadari hal tersebut setelah mendengar istrinya berteriak meminta pertolongan.
“Kangmas, tulung! Wonten Tyang salah tiga” artinya “Kangmas, tolong! Ada tiga orang penyamun!”.
Mendengar teriakan itu, Ki Ageng Pandanaran segera berlari menolong istrinya. Begitu tiba di dekat istrinya, ia mendapati tiga orang penyamun sedang berusaha merebut tongkat istrinya. Dengan perasaan marah, ia menegur ketiga penyamun itu.
“Hai, manusia! Mengapa kamu nekad seperti kambing domba!” seru Ki Ageng Pandanaran melihat sikap kasar penyamun itu.
Seketika itu pula, wajah pemimpin penyamun yang bernama Sambangdalan berubah menjadi wajah domba. Rupanya, sejak direstui menjadi murid Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran memiliki kesaktian yang tinggi. Ucapan yang keluar dari mulutnya menjadi sakti mandraguna. Melihat kesaktian itu, para penyamun tersebut menjadi ketakutan. Sambangdalan pun bertaubat dan meminta agar wajahnya dikembalikan seperti semula. Akhirnya, Ki Ageng Pandanaran pun memaafkan mereka. Meski demikian, wajah pemimpin penyamun itu tetap seperti domba dan kemudian menjadi pengikut Ki Ageng Pandanaran yang dikenal dengan nama Syekh Domba.
Setelah itu, Ki Ageng Pandanaran bersama sang istri melanjutkan perjalanan. Tak beberapa lama kemudian, tibalah mereka di Gunung Jabalkat. Kedatangan mereka disambut baik oleh Sunan Kalijaga. Sejak itulah, Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga.
Ki Ageng Pandanaran seorang murid yang cerdas dan rajin. Berkat kecerdesannya, ia ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut. Ia pun mendirikan sebuah perguruan di Gunung Jabalkat. Ajaran Ki Ageng Pandanaran yang paling menonjol dikenal dengan istilah Patembayatan, yaitu kerukunan dan kegotongroyongan. Setiap orang yang datang untuk memeluk agama Islam harus mengucapkan Sahadat Tembayat. Berkat ajaran Patembayatan, ia juga berhasil mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala.
Selain pengetahuan agama, Ki Ageng Pandanaran juga mengajarkan cara bercocok tanam dan cara bergaul dengan baik kepada penduduk sekitarnya. Setelah itu, ia pun menetap di Jabalkat hingga akhir hayatnya. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal dengan nama Tembayat atau Bayat. Itulah sebabnya ia diberi gelar Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Hingga kini, makam Ki Ageng Pandanaran dapat ditemukan di atas Bukit Cakrakembang di sebelah selatan bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
***
Demikian cerita Ki Ageng Pandanaran dari daerah Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori cerita sejarah yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satunya adalah bahwa jangan sampai kemewahan duniawi membuat kita lupa diri seperti Ki Ageng Penandaran. Oleh karena sibuk mengejar kemewahan duniawi, akhirnya ia lupa pada kehidupan akhirat yang kekal. Namun, sejelek-jelek perbuatan seeorang, jika ia segera bertaubat, maka Tuhan akan mengampuni dan manusia pun akan memaafkannya. Berkat kesadarannya ingin cepat bertaubat, Ki Ageng Pandanaran direstui menjadi murid Sunan Kalijaga hingga akhirnya menjadi seorang sunan penyebar agama Islam di Jawa Tengah pada masa lalu dan terus dikenang hingga saat ini.
(Samsuni/sas/200/09-10)
------
Kredit Foto : http://www.promojateng-pemprovjateng.com
Asyik juga ya ceritanya... Tapi menurut saya sih, kisah itu kisah sejarah yang untuk keperluan penyampaian pesan moral sudah banyak disisipi kisah yang mistis...
edytoah January 11th, 2012, 05:35 PM ^^
Ya cerita rakyat (folk tales) memang dari pembicaraan rakyat setempat turun temurun,cuma dalam siar agama/moral hal-hal mistis (diluar logika) kita menyebut sebagai Mujijat dari Sang Maha Kuasa.
Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pandan_Arang ,ternyata makam Ki Ageng Pandanaran I memang ada di Mugas Semarang.Ki Ageng Pandanaran I sebetulnya bernama Ki Pandan Arang merupakan Bupati I Semarang dan pendiri Semarang.
Sedangkan makam di Bayat Klaten adalah makam Ki Ageng Pandanaran II atau disebut Sunan Bayat adalah anak Ki Ageng Pandanaran I yang pernah menjadi Bupati II di Semarang setelah Ki Ageng Pandanaran I.
Venantio January 11th, 2012, 05:56 PM ^^
Ya cerita rakyat (folk tales) memang dari pembicaraan rakyat setempat turun temurun,cuma dalam siar agama/moral hal-hal mistis (diluar logika) kita menyebut sebagai Mujijat dari Sang Maha Kuasa.
Betul, tapi maksud saya kisah mistis yang kebenarannya bisa diragukan atau dengan kata lain, mungkin saja tidak terjadi demikian... Kemungkinan besar itu hanya kiasan, bukan kejadian sebenarnya..
Tapi baca-baca kisah sepeti ini memang "nyenengke ati.." dan bikin adem... Thank you mas edy...
damarsinyo January 11th, 2012, 06:13 PM GILO-GILO ? ...
http://img46.imageshack.us/img46/6425/gilo1.jpg
Menyebut nama gilo-gilo, semua orang Semarang pasti tahu. Gerobak dorong yang berisi aneka penganan tradisional ini,dulu masih mudah dijumpai mangkal di kawasan Simpanglima,sekarang sudah pindah masuk ke kampung-2 setelah Simpang Lima dikeramik.
Gilo-gilo memang sudah menjadi ‘trade mark’ Kota Semarang. Meski dijajakan di pinggir jalan, bukan berarti gilo-gilo hanya diperuntukkan bagi warga kelas pinggiran. Hampir semua kalangan bisa larut dalam kesederhanaan aneka penganan yang disajikan pedagang gilo-gilo. Mulai tukang becak, buruh bangunan, mahasiswa, maupun pekerja kantoran.Selain lengkap, harganya juga merakyat.
Agak berbeda dengan sego/nasi kucing (nasi dengan porsi kecil,maaf seperti porsi untuk kucing) yang mendirikan tenda,gilo-gilo ini lebih muncul saat malam hari,berkeliling ke kampung-kampung.Juga gilo-gilo tidak menyediakan nasi dan minuman.
Keberadaan gilo-gilo sendiri tak bisa dipisahkan dari Kampung Kulitan dan Gandhekan. Di dua kampung inilah cikal bakal gilo-gilo tumbuh dan berkembang sejak 1960 silam. Saat itu pedagang gilo-gilo masih didominasi pendatang dari Klaten dan Sukoharjo yang bermukim di Kulitan dan Gandhekan. Dalam perkembangannya, orang asli Semarang juga ikut melebur menjadi pedagang gilo-gilo.
http://img854.imageshack.us/img854/9674/gilo2.jpg
Kurang tahu artinya sebenarnya apa, tapi sepertinya (hanya asumsi saya jadi CMIIW) berasal dari kata “gi lho” yang merupakan transformasi dari “iki lho” yang artinye “ini lho”. Jadi penjualnya ingin membuktikan eksistensi diri bahwa “ini lho makanan dan jajanan yang anda cari”.
Apa saja yang dijual di gerobak gilo-gilo tsb ?
http://img707.imageshack.us/img707/594/gilo3.jpg
Seperti terlihat dari foto di atas, isi gerobak Gilo-gilo terdiri dari kue-kue tradisional dan buah-buahan.
Buahnya diantaranya : nanas, pepaya, bengkoang, melon, semangkan dan pisang.
Sedangkan makanan-makanannya : pisang goreng, singkong goreng, jadah goreng, bakwan, martabak pasar, bakwan, onde-onde, molen pisang, bolang-baling, tahu goreng, tahu isi, tahu petis, nagasari, sate kerang, sate telur puyuh, beberapa macam kerupuk dan masih ada yang lain.
Sumber :
- http://halosemarang.com/kuliner/gilo-gilo-aneka-penganan-untuk-semua-kalangan/
- http://maskurblog.wordpress.com/2010/10/24/pedagang-gilo-gilo-semarang/
^^baca artikel ini jadi kangen jajan gilo2 pas jamane kuliah........:cheers:
malem2 tongkrongan dipertigaan rame2 ngadep gilo2.....:lol:
edytoah January 11th, 2012, 07:11 PM Ada hubungannya dgn petilasan Sunan Kuning di http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1431947&page=15 ,ktnya petilasan ini ada di jalan Muradi.Ada juga orang-orang menyebut Sunan Kuning plesetan dari Sun Kun Eng :),dari orang Tionghoa yang mendirikan petilasan tsb .. ngak tahu bener apa ngak ..:)
Nuwun Mas Ryo ... Ya Asal usul Kali Banteng ini sebagian Cerita Rakyat Semarang dari Buku Muatan lokal SD dulu terbitan Grasindo yang 2 jilid tsb.
Tambahan tentang Petilasan Sunan Kuning di Semarang tsb,untuk pelurusan dan supaya jelas bahwa petilasan tsb ternyata bukan makam Sunan Kuning sesungguhnya.
Sunan Kuning sebetulnya adalah Mas Gerandi atau Amangkurat V (cucu dari Amangkurat III).Disebut Sunan Kuning karena beliau memimpin pemberontakan orang Tionghoa Kartasura (Istana Mataram saat itu ada di Kartasuro) yang puncaknya terjadi pada tanggal 30 Juni 1742 untuk menuntut keadilan dan kebenaran atas harkat dan martabat orang orang Tionghoa dan rakyat Mataram, yang ketika itu tertindas oleh Kumpeni Belanda (VOC) dan Rajanya sendiri Pakubuwono II di Kartasura.
Ikut berjuang pada saat itu bersama Sunan Kuning adalah Mangkunegara I atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said.RM Said saat itu baru berumur 19 tahun.
RM Said sebagai panglima perang Sunan Kuning .Sejak Pasukan Cina mengepung kartasura pada awal 1741, para bangsawan mulai meninggalkan Kraton Kartasura. RM Said membangun pertahanan di Randulawang, sebelah utara Surakarta, Ia bergabung dengan laskar Sunan Kuning melawan VOC. RM Said diangkat sebagai panglima perang bergelar Pangeran Perang Wedana Pamot Besur.
Paska Pakubuwono II kembali berkuasa lagi,kemudian RM Said atau Mangkunegoro ini kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I ) untuk melawan VOC. Pangeran Mangkubumi merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati.
RM Said atau Mangkunegara dalam usia 22 tahun, dinikahkan u dengan Raden Ayu Inten, Puteri Mangkubumi. Sejak saat itulah RM Said memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegara Senopati Panoto Baris Lelono Adikareng Noto.
Paku Buwono II saat pemberontakan tsb lari ke Ponorogo,dan Mas Garendi dinobatkan oleh rakyat sebagai Amangkurat V.
Namun akhirnya Paku Buwono II, meminta bantuan kepada VOC agar dapat kembali berkuasa, dengan dalih bantuan ini VOC dapat memperluas kekuasaannya hampir seluruh wilayah Jawa.Berkat bantuan Belanda, pasukan Cina diusir dari Istana Kartasura, enam bulan kemudian, Paku Buwono II kembali ke Kartasura mendapatkan istananya rusak. Ia memindahkan Istana Mataram ke Solo (Surakarta).
Kebijakan raja Pakubuwono II ini meminta bantuan asing itu, ternyata harus dibayar mahal. Wilayah pantai utara mulai Rembang, Jawa Tengah termasuk Semarang yang waktu itu sudah jadi Benteng VOC, hingga Pasuruan, Surabaya dan Madura di Jawa Timur harus diserahkan kepada VOC secara penuh.
Sebelumnya Kartasura pada masa pemerintahan Amangkurat II sudah berhutang kepada VOC 2,5juta Gulden untuk biaya perang membasmi Trunajaya.Kesalahan Amangkurat II diulang oleh Pakubuwono II.
Dengan pasukan yang cukup besar, Paku Buwono II dibantu oleh VOC dan Madura, melawan pasukan Sunan Kuning atau Amangkurat V yang didukung orang-orang Tionghoa di Kartasura akhirnya dapat dikalahkan dan kemudian Sunan Kuning ditangkap dan dibuang ke Sri Langka oleh VOC.Jadi makam Sunan Kuning pastinya di Srilangka bukan di Semarang di jl Muradi tsb.Juga makam Sunan Kuning ada di Tulung Agung seperti dari sumber lainnya di cerita petilasan Sunan Kuning sebelumnya.Karena asumsi Amangkurat V dibuang ke Srilangka, dan tidak ada catatan lagi beliau kembali.
Dalam cerita petilasan Sunan Kuning di Semarang tersebut,terjadinya karena makam tersebut ditemukan dari seseorang yang kehilangan ternak yaitu Mbah Saribin.Dalam mimpinya ditemui Sunan Kuning dan akan menemukan ternaknya di sebuah makam.Akhirnya menyimpulkan dan terjadi cerita bahwa makam tsb adalah makam Sunan Kuning.
Dalam hal ini cerita rakyat tentang Sunan Kuning sangat berbau mistis sampai ada seorang Nyonya Tionghoa Ny. Siek Sing Kang dari Klaten kehilangan emas berliannya,setelah melakukan tirakat di makam tsb, terkabul doanya, pencuri emas berliannya ditangkap oleh polisi.Kemudian petilasan tsb dibangun bagus dengan model tugu ornamen Tionghoa dan masyarakat sudah menganggap bahwa petilasan tersebut adalah makan Sunan Kuning.
Sumber :
- http://mataramislam.wordpress.com/2009/11/25/amangkurat/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Mangkunegara_I
- http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_I
- http://id.wikipedia.org/wiki/Amangkurat_II
reita.ryo2011 January 12th, 2012, 01:51 AM bener pak edy. dulu pernah dikasih tahu , kata almarhum mbah saya juga itu bukan makam sunan kuning.
semarangcitizen January 17th, 2012, 07:48 AM http://1.bp.blogspot.com/_87kOxpPvNiE/TMzmijfcUQI/AAAAAAAAADI/v47ygbBIY_o/s1600/simpang+lima+tempoe+doeloe.jpg
sumber http://1.bp.blogspot.com/_87kOxpPvNiE/TMzmijfcUQI/AAAAAAAAADI/v47ygbBIY_o/s1600/simpang+lima+tempoe+doeloe.jpg
http://1.bp.blogspot.com/_Y8-VHmBOJRg/SSi_2jG0CWI/AAAAAAAAAEA/Pc3BJA0ZSS0/s320/PANDANARAN+THN+1980.jpg
Jl. Pandanaran tahun 1980
sumber http://1.bp.blogspot.com/_Y8-VHmBOJRg/SSi_2jG0CWI/AAAAAAAAAEA/Pc3BJA0ZSS0/s320/PANDANARAN+THN+1980.jpg
Venantio January 17th, 2012, 04:05 PM Walikota Semarang sejak 1945 (repost nggak ya.. kalau repost mohon maaf ya?)
Sejak 1945
Sejak tahun 1945 para walikota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut:
* Mr. Moch.lchsan
* Mr. Koesoebiyono (1949 - 1 Juli 1951)
* RM. Hadisoebeno Sosrowardoyo (1 Juli 1951 - 1 Januari 1958)
* Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat (7 Januari 1958 - 1 Januari 1960)
* RM Soebagyono Tjondrokoesoemo (1 Januari 1961 - 26 April 1964)
* Mr. Wuryanto (25 April 1964 - 1 September 1966)
* Letkol. Soeparno (1 September 1966 - 6 Maret 1967)
* Letkol. R.Warsito Soegiarto (6 Maret 1967 - 2 Januari 1973)
* Kolonel Hadijanto (2 Januari 1973 - 15 Januari 1980)
* Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH (15 Januari 1980 - 19 Januari 1990)
* Kolonel H. Soetrisno Suharto (19 Januari 1990 - 19 Januari 2000)
* H. Sukawi Sutarip SH. (19 Januari 2000 - 2010 (?))
* H. Sumarmo (2010 - sekarang)
Kalau ada yang salah, mohon diperbaiki, terutama dua terakhir... Saya kurang ngerti waktu menjabatnya...
ssphila January 17th, 2012, 06:48 PM ^^ Saya mulai ngeh soal walikota Semarang ya mulai Pak Imam Soeparto, kl 2 yg terakhir spertinya benar. cmiiw
================
Ini bagian dari sejarah Indonesia pd umumnya, Semarang khususnya :
Mobil Pertama Di Indonesia Dari Semarang
Suara Merdeka - Rabu 6 Maret 1974
Kalau Semarang sudah mencatat sejarah sebagai kota kelahiran jalan kereta api yang pertama di Indonesia, (tahun 1867), tidak kurang-kurangnya pula dalam soal kendaraan mobil Semarang juga meninggalkan sejarah.
Sebab, memang nyata-nyatanya mobil-mobil pertama di Indonesia ini justru munculnya merasa di Semarang.
Yang demikian itu disebabkan karena banyaknya ’’tuan-tuan besar’’ dari industri gula yang tinggal di Semarang, yang merasa untuk standingnya perlu harus mempunyai mobil yang waktu itu baru ’’envogue’’. Entah apa artinya ’’en vogue’’ ini; tetapi katanya berarti lk. ’’baru mode-modenya’’ di kalangan ’’tuan-tuan besar’’ yang kaya.
Tidak kurang-kurangnya pula kegetolan para ’’tuan-tuan besar’’ gula tadi untuk memiliki mobil2 adalah disebabkan karena mereka ingin memperlihatkan ’’kelebihan’’ mereka dari pada orang2 Belanda yang menjadi pegawai pemerentah yang biasanya memang selalu bersaing dalam segala hal dengan para golongan swasta Belanda yg kaya tetapi tidak berkuasa.
Jadi maksudnya : yang kuasa memang banyak wewenang, tetapi tidak mampu beli mobil. Tetapi yang kaya, biar tidak berkuasa, toh bisa bikin iri yang berkuasa karena mempunyai mobil.
Pada gambar yang tercantum ini, bisa dilihat ’’tuan besar’’ pabrik gula Tjepiring dengan isterunya, dgn bangga menongolkan diri di atas mobilnya yang baru. Mobil yang pertama-tama di Indonesia, tahun 1901. Mobil ini merek ’’Oldsmobile’’. Perhatikan ban-nya. Belum ada ban radial dsb, ban masih ’’ban mati’’. Velg roda dari kayu. Lampunya pakai lentera minyak biasa atau lilin. Kalau mobil jalan, suaranya seperti orang sakit bengek. Maka itu Belanda menamakan mobil zaman itu tadi ’’tuf tuf’’...Presis seperti orang astma yang haus hawa. Tuf tuf (Baca : tef tef, tetapi ’’e’’-nya diucapkan tebal).
Mobil pertama-tama di Indonesia tadi di-impor oleh kantor dagang ’’Verwey eu Lugard’’, yang juga menjadi perusahaan persewaan mobil. Di tahun 1907, beberapa iring-iringan mobil Semarang, kebanyakan dari merek ’’FIAT’’ dan ’’SPIJKER’’ yang juga di-impor oleh ’’Verwey eu Lugard’’ me
Gadakan perjalanan ketangkasan keliling pulau Jawa yang berakhir di ’’Betawi’’ (Jakarta). Melihat iring-iringan mobil yang berasal dari Semarang ini, gubernur jenderal Belanda waktu itu, van Hentz, terus menjadi kepingin mempunyai mobil juga. Ia terus pesan beli mobil merek ’’SPIJKER’’ bikinan Belanda. (Depo Arsip-Pusda SM)
Source : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/18/174065/Mobil-Pertama-Di-Indonesia-Dari-Semarang
Maaf yg sejarah gini rasanya sayang kl cuma dikutip sebagian.
damarsinyo January 18th, 2012, 06:04 AM http://1.bp.blogspot.com/_87kOxpPvNiE/TMzmijfcUQI/AAAAAAAAADI/v47ygbBIY_o/s1600/simpang+lima+tempoe+doeloe.jpg
sumber http://1.bp.blogspot.com/_87kOxpPvNiE/TMzmijfcUQI/AAAAAAAAADI/v47ygbBIY_o/s1600/simpang+lima+tempoe+doeloe.jpg
http://1.bp.blogspot.com/_Y8-VHmBOJRg/SSi_2jG0CWI/AAAAAAAAAEA/Pc3BJA0ZSS0/s320/PANDANARAN+THN+1980.jpg
Jl. Pandanaran tahun 1980
sumber http://1.bp.blogspot.com/_Y8-VHmBOJRg/SSi_2jG0CWI/AAAAAAAAAEA/Pc3BJA0ZSS0/s320/PANDANARAN+THN+1980.jpg
^^OMG.........semarang masih ndeso banget....:nuts:
ssphila January 18th, 2012, 06:45 AM ^^ menurutku itu tahun 80an bukan 80 tepat
edytoah January 18th, 2012, 12:39 PM ^^ Udah ada lampu highmast yo hehehehe :)
titus15 January 18th, 2012, 02:21 PM ^^ itu foto simpanglima yang atas sebetulnya 4 seri diambil dari 1 titik GOR Simpanglima (sekarang CL)...dari wisma pancasila sampai baiturahman...
ini versi lengkapnya: http://loenpia.net/blog/semarangan/simpang-lima-tempo-doeloe.html
ini setelah digabung
http://img857.imageshack.us/img857/7295/spg5okbgt.jpg
titus15 January 18th, 2012, 04:21 PM Mobil Pertama Di Indonesia Dari Semarang
Pada gambar yang tercantum ini, bisa dilihat ’’tuan besar’’ pabrik gula Tjepiring dengan isterunya, dgn bangga menongolkan diri di atas mobilnya yang baru. Mobil yang pertama-tama di Indonesia, tahun 1901. Mobil ini merek ’’Oldsmobile’’. Perhatikan ban-nya. Belum ada ban radial dsb, ban masih ’’ban mati’’. Velg roda dari kayu. Lampunya pakai lentera minyak biasa atau lilin. Kalau mobil jalan, suaranya seperti orang sakit bengek. Maka itu Belanda menamakan mobil zaman itu tadi ’’tuf tuf’’...Presis seperti orang astma yang haus hawa. Tuf tuf (Baca : tef tef, tetapi ’’e’’-nya diucapkan tebal).
(Depo Arsip-Pusda SM)
Source : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/18/174065/Mobil-Pertama-Di-Indonesia-Dari-Semarang
ini fotonya: http://img690.imageshack.us/img690/5528/mobilpertamasemarang.jpg
edytoah January 19th, 2012, 03:53 PM Art Nouveau Hanging Lamp (Lampu Gantung Semarangan).
http://img845.imageshack.us/img845/6123/lampugantungsemarangans.jpg
Art Nouveau Hanging Lamp size 28cm
Ternyata ada lampu gantung antik yang sering disebut Lampu Gantung Semarangan.Mungkin karena dulu banyak menghiasi rumah-2 orang kaya Semarang jaman dulu.
Berikut cerita sedikit yang saya ambil dari blog kolektor barang antik.
Untuk koleksi saya yang satu ini agak sedikit susah dan lama loh untuk saya bisa mendapatkannya karena motif Art Nouveau (biasa disebut motif Semarangan) memang langka tetapi justru karena kelangkaannya ini yang membuat saya semakin tertarik untuk memilikinya ditambah lagi dengan kondisinya yang masih full orisinil.
Sama seperti koleksi lampu saya yang lainnya Art Nouveau Hanging Lamp ini pun saya buat menjadi lampu listrik, namun untuk tetap mempertahankan keasliannya maka kenir yang saya gunakan bukan yang aslinya (asli kenir bawaannya saya simpan karena kalau diganti menjadi lampu listrik sayang kenirnya harus dilubangi untuk dilewati kabel).
Ukiran meliuk-liuk yang indah dan sederhana pada rangka lampu gantung ini dipadu dengan rantainya yang juga memiliki ukiran senada yang menjadi ciri khas motif Art Nouveau semakin membuat lampu gantung ini sangat indah dan menawan.
Saya mendapatkan Art Nouveau Hanging Lamp ini dari salah seorang pedagang barang antik di daerah Semarang.
Sumber : http://koltemdoelku.blogspot.com/2011_04_01_archive.html
edytoah January 19th, 2012, 04:02 PM Pemukul batu di ujung Banjir Kanal Barat ... Sekitar jl Mayangsari ...
http://img535.imageshack.us/img535/1130/pakbk.jpg
Galau memikirkan nasib, apakah suatu saat akan hilang sentra batu di sekitar ujung Banjir Kanal Barat Semarang .. paska revitalisasi .
detwis January 20th, 2012, 03:15 AM Art Nouveau Hanging Lamp (Lampu Gantung Semarangan).
http://img845.imageshack.us/img845/6123/lampugantungsemarangans.jpg
Art Nouveau Hanging Lamp size 28cm
Ternyata ada lampu gantung antik yang sering disebut Lampu Gantung Semarangan.Mungkin karena dulu banyak menghiasi rumah-2 orang kaya Semarang jaman dulu.
Berikut cerita sedikit yang saya ambil dari blog kolektor barang antik.
Untuk koleksi saya yang satu ini agak sedikit susah dan lama loh untuk saya bisa mendapatkannya karena motif Art Nouveau (biasa disebut motif Semarangan) memang langka tetapi justru karena kelangkaannya ini yang membuat saya semakin tertarik untuk memilikinya ditambah lagi dengan kondisinya yang masih full orisinil.
Sama seperti koleksi lampu saya yang lainnya Art Nouveau Hanging Lamp ini pun saya buat menjadi lampu listrik, namun untuk tetap mempertahankan keasliannya maka kenir yang saya gunakan bukan yang aslinya (asli kenir bawaannya saya simpan karena kalau diganti menjadi lampu listrik sayang kenirnya harus dilubangi untuk dilewati kabel).
Ukiran meliuk-liuk yang indah dan sederhana pada rangka lampu gantung ini dipadu dengan rantainya yang juga memiliki ukiran senada yang menjadi ciri khas motif Art Nouveau semakin membuat lampu gantung ini sangat indah dan menawan.
Saya mendapatkan Art Nouveau Hanging Lamp ini dari salah seorang pedagang barang antik di daerah Semarang.
Sumber : http://koltemdoelku.blogspot.com/2011_04_01_archive.html
ini asli semarang apa jawa pada umumnya om?
butuh pencerahan
edytoah January 20th, 2012, 06:15 PM ini asli semarang apa jawa pada umumnya om?
butuh pencerahan
Saya tidak tahu persis ya Mas detwis,yang model Semarang yang bagaimana atau model kraton Solo atau Yogya yang bagaimana.
Saya gogling mungkin yang membedakan adalah makara/hiasan/ukirannya,ada yang menyatakan hiasan yang dari Jawa Timur berbentuk burung.jawatengah berbentuk bunga,betawi berbentuk binatang/ikan,dll.
Juga ada lampu gantung model Betawi,Jawa Barat,bahkan model Aceh.Dijumpai juga ada lampu gantung masjid kuno di Mesir,walau model tentu saja tidak seperti di atas.
Tetapi memang lampu gantung Jawa banyak dipengaruhi oleh budaya Eropa pada masa kolonial Belanda sekitar abad 17 dan abad 18.
Dan memang Semarang adalah benteng VOC pada saat abad ke 17 jadi mungkin banyak lampu-lampu gantung yang menghiasi rumah-rumah para pembesar VOC dan istana Kanjengan pada waktu itu,jadi kemudian mungkin muncul lampu gantung model Semarangan .. :) .. khali. (hipotesa ngawur-ngawuran).
Kebanyakan hiasan dari material perunggu/kuningan dan lampu kap warna putih dari keramik/porselen atau marmer.Ukuran lampu biasanya diukur dari diameter kap.Mungkin hiasan disesuaikan dari unsur ukiran jawa,karena ada sumber yang menyatakan abad 17 dan 18 hiasan lampu gantung Eropa banyak berbentuk seperti ikan lumba-2 (kenapa pakai simbol lumba2 ya itu yang ngak diterangkan ).
Kalau kita ke Istana Mangkunegaran lebih kelihatan unsur ornamen Eropa dari lampu gantung candelair dari Belanda di pendopo,selain ada 4 patung singa dari Jerman dan ornamen teras pendopo yang bergaya Yunani dan Perancis (ada 2 malaikat yang membawa lambang Mangkunegaran).
Bahkan dari kata art nouveau hanging lamp diatas,art nouveau dari kamus bahasa perancis online artinya kira2 adalah sekolah seni dan arsitek yang populer th 1890 konsentrasi di bentuk dari alam ( a French school of art and architecture popular in the 1890s; characterized by stylized natural forms and
sinuous outlines of such objects as leaves and vines and
flowers.)
Saya gogling ada juga orang mempunyai lampu gantung dari abad 10 dengan tulisan huruf jawa kuno di musium Tengah Kebun Kemang Timur milik Bapak Sjahrial Djalil .Lha ngak tahu ini abad 10 jaman kerajaan apa ya di Jawa ? Mungkin jaman kerajaan2 di Jawa Timur Singosari.
Ada 4 tulisan jawa kuno di 4 sisi makara/hiasan di setiap sisinya, memiliki empat makna berbeda. Sisi pertama terdapat kata persembahanku, kedua terutama, ketiga perjalanan yang menakutkan dan sisi terakhir berarti bercahaya. Jadi bila keseluruhan kata digabung maka akan bermakna pembuatnya menciptakan lampu ini untuk perjalanan atasan (raja) demi keselamatannnya. Artinya : Inilah persembahanku, terutama untuk perjalanan di malam hari agar jalan menjadi terang.
Sumber :
- http://www.scribd.com/doc/70753288/Asal-Mula-Ornamaen-Eropa-Dalam-Kraton-Mangkunegaran
- http://www.homelivingindonesia.com/home-interior/design-solution/item/117-lampu-gantung-antik-inspirasi-masa-lampau.html?tmpl=component&print=1
edytoah January 23rd, 2012, 05:12 PM Jamu ... Jamu ... (Jamu Semarang) ..
ADALAH seorang nonik cantik bernama Meneer. Suatu hari Meneer dilamar seorang pria yang dikenal sering berganti istri. Semua orang meramalkan Meneer akan segera jadi janda karena Tuan akan segera terpikat wanita muda lain. Tetapi orang-orang menjadi heran karena Nyonya Meneer berhasil mempertahankan rumah tangganya. Orang-orang pun heran, karena Tuan yang suka keluyuran ternyata sekarang betah di rumah. Rahasianya? Rahasia itu adalah jamu racikan sang nyonya yang berkhasiat menambah "kebahagiaan suami-istri". Ketika Tuan sakit, Nyonya Meneer pun berhasil menyembuhkannya dengan racikan jamunya. Sejak itu mau tak mau Nyonya Meneer jadi bakul jamu. Soalnya. semua orang tentu menginginkan kebahagiaan suami-istri juga. Dimulai dengan botekan kecil dari kayu ukiran, Nyonya Meneer menjual jamu di teras rumah Jalan Raden Patah Semarang. Botekan itu, lengkap dengan gelas-gelas doeloe yang tebal dan berat, kini masih tersimpan di Museum Jamu Nyonya Meneer di Semarang.
"Tetapi banyak dokter-dokter di departemen kesehatan mengatakan jamu itu obat tradisional. Lha itu sangat salah. Definisi itu tidak tepat karena sampai sekarang kita beium boleh mengatakan jamu itu obat." Dr. Charles Ong, direktur pemasaran PT Nyonya Meneer Semarang, mengatakan minum jamu adalah suatu proses untuk memperoleh kesehatan. "Manfaatnya tidak langsung cespleng. Sekarang minum jamu, sekarang langsung sehat, itu tidak bisa!" katanya. Ia memberi contoh Jamu Majun, dan sebaiknya orang jangan punya ilusi bahwa setelah minum secangkir Jamu Majun maka penampilan seks-nya mendadak sontak jadi hebat. "Ada satu contoh lagi," kata Charles. "Banyak orang menganggap jamu peluntur kami punya khasiat untuk menggugurkan kandungan. Padahal itu hanya bermanfaat untuk melancarkan haid. Ya betul-betul tidak jalan. Itu kan sama seperti orang sakit gigi yang makan selusin aspirin. Bukan giginya yang sembuh, tetapi perutnya yang rusak.
Suatu hari Poa Tjong Kwan di Wonogiri melihat usaha istri nya meracik bahan jamu itu adalah sebuah pekerjaan yang tak praktis. Ia lalu mempunyai gagasan untuk meracik bahan jamu dalam jumlah besar, kemudian ditumbuk sampai halus, sehingga pembeli yang datang tak perlu menunggu 3 jamu diracik. Lahirlah jamu serbuk. Penemuan jamu serbuk itu lalu melahirkan sebuah industri baru: Djamoe Industrie Poa Tjong Kwan (namanya kemudian diganti secara post mortem menjadi TK Suprana setelah anak-anaknya mendapat izin ganti nama dari Presiden Soekarno pada tahun 1955). Pada tahun 1930 jamu ini mulai memasuki era branded product, kemudian diberi nama dan merek Tjap Ajem Djago & Babon (ajem = ayam). Jago dipilih karena melambangkan terbitnya cita-cita bangsa Indonesia setelah pencanangan kebangkitan pemuda waktu itu. Jamu inilah yang sekarang dikenal dengan nama Jamu Jago. Jamu serbuk itu dijual dalam kemasan yang isinya 7 gram.
Dan sejak saat itu hampir semua jamu dijual dengan dosis ini. Angka 7 inipun kelihatannya dipetik begitu saja dari langit. Jaya Suprana, salah seorang cucu TK Suprana yang sekarang menjadi presiden direktur Jamu Jago, juga mengatakan tidak tahu-menahu tentang asal-usul angka ini. "Karena kakek sudah meninggal, kami tidak bisa tanya mengapa 7 gram," katanya membanyol. "Yang jelas Departemen Kesehatan pun memakai standar angka 7 gram ini." TK Suprana, ketika mencapai usia 50 tiba-tiba mengundurkan diri dan usahanya yang sedang berangkat sukses. Diserahkannya usaha itu kepada anak-anaknya. Lalu, seperti kata Jaya, ia masuk "ke dalam": melakukan tapabrata dan menyepi. Mungkin ia sudah merasa umurnya tak akan panjang lagi. Beberapa tahun kemudian ia meninggal. Fotonya yang kini dipajang menunjukkan ketika ia sedang bertapa dengan jubah kuning.
Jaya Suprana melihat pertumbuhan industri jamu ini tidak menciptakan persaingan frontal. "Seperti rokok yang mempunyai penggemar sendiri." katanya, "jamu 'kan juga punya cita rasa dan bumbu sendiri."
Situasi pasar jamu yang menggembirakan ini tentunya bukan tanpa sebab. "Ibu Negara percaya akan jamu, dan ini tentu membangkitkan gairah." kata Charles. Ia juga menyebut tentang bantuan yang cukup besar dari pemerintah. "Padahal pada masa peralihan ke Orde Baru industri jamu Indonesia sudah hampir punah," katanya. Jaya Suprana pun membenarkan situasi itu, sekalipun ia melihatnya dari segi lain. "Waktu itu kita bukannya repot jual jamu, tetapi repot menyesuaikan harga. Inflasi yang terjadi tahun 1962-1963 membuat kami hampir putus asa," katanya.
Sukses jamu tidak dapat dipisahkan dari promosi. Dan bukan hanya promosi modern. TK Suprana, misalnya, membeli mobil pada akhir 1920-an karena ia memang gemar bepergian. Sadar ia tukang jamu, mobil itupun dirombaknya menjadi mobil promosi. Ke mana pun ia berpesiar, merek jamunya pun ikut. "Tahun 1930 itu mungkin merupakan awal revolusi promosi," kata Jaya Suprana. Jamu Jago mulai menambah mobil-mobil untuk promosi. Mobil-mobil mereka ketika itu selalu menarik perhatian karena catnya yang menyolok berwarna-warni. Juga karena adanya orang-orang kerdil yang dalam jargon Jamu Jago disebut sebagai seniman mini. "Dan jangan menuduh kami menyalahgunakan kekerdilan mereka," kata Jaya. "Mereka sendiri yang datang. Kini jumlah mereka 32 orang. Habis, mereka mau kerja apa di kampung? Mau mencangkul sawah pun diperlukan cangkul khusus yang lebih kecil sehingga kerja mereka tak kunjung selesai. Dari kami mereka memperoleh kehidupan yang lebih baik. Malah ada yang beristri tiga. Yang wanita pun diuber-uber kaum pria."
Bagi dunia kedokteran, kesulitan untuk menerima jamu adalah terutama karena tak adanya standar fito.Juga karena begitu berbedanya komposisi antara jamu yang satu dengan yang lain. "Padahal sebetulnya kami semua membuat jamu yang kurang lebih sama," kata Irwan Hidayat, direktur Jamu Sido Muncul, Semarang. "Kami punya Pegal Linu, Air Mancur punya Pegalin. Kami punya Radmosari, Nyonya Meneer punya Awet Ayu. Kami punya Tolak Angin, Jago punya Sri Angin. Jenis produksi jamu memang sangat banyak ragamnya. Rata-rata satu pabrik memproduksi 75 jenis jamu. Air Mancur mempunyai 120 macam. Tetapi rata-rata menggunakan 250 jenis bahan, hampir semuanya bahan lokal. "Tentu saja Pegal Linu Sido Muncul lain isinya dari jamu sejenis keluaran pabrik-lain," tambah Irwan. Masing-masing perusahaan pun mempunyai satu jenis jamu yang menjadi tulang punggung. Pada Sido Muncul. misalnya, Tolak Angin- merupakan 50% dari bisnisnya. "Ada jamu, seperti Sambetan, yang cuma laku 100 bungkus sebulan." kata Irwan, "tetapi kami harus membuatnya untuk melayani masyarakat.
" Sido Muncul juga meng-klaim sebagai yang pertama memasarkan jamu Tolak Angin untuk menyembuhkan masuk angin. Dan sekarang jenis jamu untuk menyembuhkan masuk angin ini merupakan yang paling banyak dicari. Sido Muncul bahkan sempat memperkarakan sebuah pabrik jamu lain yang persis meniru Tolak Angin-nya itu.
Tetapi arus modernisasi ini ternyata tak sepenuhnya dapat diserap. "Kami menghadapi dilema." kata Charles Ong. "Kalau ingin semuanya bersih. kita harus pakai mesin vakum. Dan itu berarti banyak buruh harus minggir. Nah, apakah kami bisa memilih untuk melakukan itu?" Dengan modernisasi secara terbatas itu memang tercapai peningkatan besar dalam kebersihan. Karyawan memakai sarung tangan dan tutup muka. Tetapi, tentu saja bakteri alam masih ada. Dan inilah yang sering dipersoalkan oleh para dokter. Bentuk modernisasi juga muncul dalam sajian produk. Jamu tak lagi sekadar serbuk. tetapi sudah mulai berbentuk kapsul dan tablet. Depkes sendiri menganggap masih banyak cara pembuatan yang belum rasional dari sediaan kapsul atau tablet dari bahan alami.
Karena itu Depkes akhir Oktober lalu mengeluarkan peraturan tentang tata cara produksi. Salah satu aturan itu adalah ditetapkannya keharusan mencantumkan tanggal kadaluwarsa. Konsumen sendiri tampaknya belum banyak yang dapat menerima jamu dalam bentuk kapsul atau tablet. Bahkan sebuah importir jamu di Malaysia menolak perubahan jamu dari bentuk serbuk ke bentuk ekstraksi. "Itu sama dengan bunuh diri," katanya. "Sekalipun mungkin 3 bentuk ekstraksi itu lebih manjur. tetapi belum tentu konsumen dapat menerimanya karena secara tradisi mereka mengenal jamu hanya dalam bentuk serbuk.
Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/05/04/SUP/mbm.19850504.SUP38796.id.html
edytoah January 30th, 2012, 06:21 PM Cap Go Meh di Pecinan Semarang
Kemeriahan Tahun Baru Imlek yang dirayakan masyarakat China biasanya ditutup dengan perayaan Cap Go Meh. Perayaan itu digelar di hari ke-15 tahun baru,tahun ini yang jatuh pada Senin, 6 Februari nanti.
Cap Go Meh berarti ‘malam ke-15’. Perayaan ini ditujukan untuk merayakan bulan purnama pertama di tahun baru. Sejatinya, perayaan Cap Go Meh lebih meriah daripada Imleknya sendiri.
Orang-orang biasanya menandai berharap hujan yang turun sejak imlek akan berhenti.
Masyarakat di pecinan biasanya turun ke jalanan dan mengadakan karnaval di wilayahnya untuk menikmati sinar bulan purnama (logikanya kalau bulan purnama cuaca cerah tidak turun hujan).Kemudian para keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan yang meriah.
Masakan yang umum disajikan saat perayaan Cap Go Meh di China adalah mi. Hidangan itu merupakan simbol panjang umur. Tapi di Indonesia, tradisi Cap Go Meh sangat lekat dengan hidangan lontong cap go meh. Menu khas Jawa itu telah menjadi masakan peranakan yang lahir akibat akulturasi budaya Jawa dan China.
Semua referensi baik buku kuno, sejarah Semarang, situs-situs kuliner, Google dibolak-balik, Wikipedia ditelusuri, tapi tidak ada satu pun yang menceritakan sejarah atau asal usul lontong cap go meh. Semua website hanya menampilkan sajian lontong cap go meh dan pernik-perniknya. Saya mencoba untuk menebak dan mengira-ngira latar belakang asal usul lontong cap go meh.
Jejak langkah imigran pertama dari China diperkirakan hampir sama tuanya di Nusantara ini, tapi jejak langkah aktifitas dan peninggalan orang Tionghoa di Indonesia, diperkirakan di kisaran tahun 1400’an. Laksamana Cheng Ho yang membawa pasukan perdamaian menurut catatan sejarah singgah ke berbagai kota di Indonesia ada sebanyak 7 kali. Referensi mulai dari yang ilmiah oleh Gevin Menziez: 1421 The Year China Discovered The World, sampai yang fiksi sejarah Remy Sylado: Sam Po Kong, menunjukkan bahwa asimilasi pendatang dan penduduk asli sudah berjalan dengan mulus tanpa adanya paksaan, tanpa adanya ‘program pembauran’, tanpa adanya politik dsb.
Sinkretisme budaya dalam lontong cap go meh di Jawa ini terlihat dalam penggunaan daging halal/ayam.
Menu lontong cap go meh biasanya terdiri atas lontong yang dinikmati bersama opor ayam, sambal goreng hati ampela, sayur lodeh, telur pindang, dan sebagainya. Tapi masyarakat China yang tinggal di Indonesia punya resep masing-masing saat merayakan Cap Go Meh.
Di Jawa Tengah, terutama Semarang, satai dan serundeng menjadi ciri khas lontong cap go meh.
Pembuat lontong cap go meh yang terkenal adalah pasangan Kurmin (39) dan Mardiyah (33), di Jl Tirtoyoso.
Memakai Tungku
Memasak lontong butuh keterampilan khusus dan kesabaran. Selain butuh waktu lama yaitu delapan jam untuk menanak ratusan lontong, harus dipastikan pula agar air untuk menanak tak habis dan selalu penuh. "Kalau hanya ditanak selama 4 jam, lontong tidak akan tahan lama," terangnya.
Kompor yang digunakan pun bukan kompor minyak tanah atau kompor gas, tapi menggunakan tungku kayu. "Pernah menggunakan gas elpiji untuk menanak. Besoknya banyak pelanggan yang mengembalikan lontong karena rasanya tidak alami lagi," imbuhnya.
Kekhasan lain lontong Tirtoyoso ini adalah selongsong lontong yang dibuat dengan cara terbalik. Bagian luar daun yang berwarna hijau tua justru berada di dalam. Daun yang dipakai juga khusus, yaitu daun pisang kluthuk dari daerah Bangetayu. Alasannya, daun pisang kluthuk lebih kuat sehingga tidak mudah robek.
"Saya tidak tahu kenapa daun pisang harus dibalik. Karena sejak dulu, ibu saya membuat lontong dengan cara seperti ini," katanya.
Mardiyah menuturkan, usaha membuat lontong dirintis oleh sang ibu, Sutiah, pada tahun 1967 di rumah yang hingga kini masih dihuninya. Sejak Sutiah meninggal pada tahun 1980, Mardiyah yang masih duduk di bangku SMP harus meneruskan usaha membuat lontong untuk menyambung hidup.
"Kata orang, lontong buatan kami enak. Warna lontong bisa hijau luar dan dalam. Rasanya juga khas karena dimasak dengan kayu bakar," ujar Mardiyah.
Ayam Abing & Kelapa Sangrai
http://farm8.staticflickr.com/7148/6790377865_bca27de060.jpg (http://www.flickr.com/photos/60878980@N07/6790377865/)
capgo1 (http://www.flickr.com/photos/60878980@N07/6790377865/) oleh Edy Toah's fflickr (http://www.flickr.com/people/60878980@N07/), di Flickr
Ini sangat spesifik dan khas hanya ada di Semarang, ada juga yang menyebutnya ‘sate abing’. Abing sendiri dari bahasa Jawa yang menggambarkan warna merah yang sangat merah, warna merah dalam bahasa Jawa disebut ‘abang’, dan sangat merah disebut ‘abing’. Masakan ini kalau boleh saya sebut nama lainnya bisa juga disebut ‘opor merah’ (ini istilah saya saja lho). Pembuatan yang lebih rumit dari opor biasa, karena harus menggunakan kelapa parut yang disangrai sampai kering dan kecoklatan yang kemudian digiling sehingga menghasilkan cairan kental warna merah tua kecoklatan. Cairan kental merah kecoklatan ini sebagai pengganti santan dalam memasak ‘opor merah’ ini, sementara semua bumbunya sama persis seperti bumbu opor (minus kunyit, supaya warna merah tua terjaga). Rasanya bagaimana? Hanya orang Semarang yang mungkin bisa menggambarkannya.
Sesuai namanya yang ‘sangat merah’ menyimbolkan makna yang sama dengan sambel goreng ati tadi di atas, warna khas perayaan Imlek, dan masakan ini merupakan kemewahan tersendiri di saat menyambut Tahun Baru Imlek. Terlebih lagi tidak banyak orang yang bisa membuat ayam abing dengan benar dan menghasilkan masakan yang sedap. Sementara nama lain ‘sate abing’ adalah warna kecoklatan yang diasosiasikan dengan bumbu sate.
Bawang merah goreng dan bubuk dokcang, sebagai pelengkap dan penyedap dari hidangan khas ini. Bubuk dokcang terbuat dari kedelai yang disangrai dicampur dengan sedikit kaldu (Maggi atau merek lain) dan kemudian digiling halus sampai jadi bubuk kecoklatan.
Untuk teman menyantap lontong cap go meh yang lezat itu, Anda bisa menikmati minuman tradisional wedang ronde yang hangat. Rasa jahenya sangat terasa dan menghangatkan tenggorokan.
Wedangan Cap Go
ADA kegiatan menarik yang berlangsung di kawasan pecinan Kota Semarang,biasanya setiap tahun diadakan di gedung Perkumpulan Rasa Dharma yang berada di Gang Pinggir 31, Semarang dinamakan Wedangan Cap Go.
Menurut penuturan para orangtua, pada zaman dahulu di Tiongkok memang ada kebiasaan begadang setiap malam menjelang hari ke-15 tiap bulan penanggalan Imlek. Mereka begadang sendirian atau berkelompok untuk menikmati indahnya bulan purnama sambil meneguk minuman teh hangat atau minuman arak.
Wedang Cap Go biasanya menampilkan gamelan Rasa Dharma bersama perkumpulan seni karawitan lain seperti dari Sobokarti dan musik Yang Kiem. Juga musik Gambang Semarang tidak ketinggalan dengan empat penarinya,pernah jg penari Gambang Semarang ada penari dari Undip.
Sumber :
- http://kosmo.vivanews.com/news/read/27760-sajian_lezat_cap_go_meh
- http://baltyra.com/2009/01/31/asal-usul-lontong-cap-go-meh/
- http://suaramerdeka.com/v1/index.php/imlek/imlek_news/2011/02/16/40/Perayaan-Cap-Go-Meh-Lontong-Tirtoyoso-Kebanjiran-Order
- http://www.indochinatown.com/?link=news&value=635
semarangcitizen January 31st, 2012, 01:25 AM Wah, enak tuh lontongnya. Saya ndak diundang pak?
Hehehe :D
edytoah January 31st, 2012, 02:35 AM ^^
Monggo Mas Riyo .. Tak ajak ning warung sebelah rumah ...hehehehe .. Ora usah ning pecinan ngak pas capgomeh jg banyak lontong sambel goreng ati tsb .. :)
semarangcitizen January 31st, 2012, 11:24 AM Bercanda lho pak. Hehehe. Btw, Sebelumnya terima kasih pak edy. :)
kapan2 saya silaturahmi kerumah bapak.
ssphila February 1st, 2012, 06:08 PM ^^ Weehhh bentar lagi nih.... cap go meh... lontong opor... yum..yum :okay:
Mumpung lagi hot... Dibya Puri
.....................
Menginjakkan langkah pertama di ruang lobi, sentuhan arsitektur bangunan khas zaman pendudukan Belanda begitu terasa. Dindingnya masih terlihat kokoh dengan cat warna krem yang redup.
Beberapa bagian dinding dan langit-langit tampak mengelupas. Tebal dinding itu lebih dari tiga puluh sentimeter. Pilar-pilar besar dan tinggi menyangga bangunan ini. Masing-masing dilapisi kayu berwarna cokelat gelap. Di ruang lobi ini beberapa meja tertata rapi lengkap dengan kursi-kursi yang melingkarinya.
Di ujung dinding ruang itu terpampang nukilan sejarah bangunan hotel pada masa lalu. Di sana tertulis hotel Du Pavilloon dibangun pada 1847.
Sebuah vila bergaya Eropa didirikan di daerah Bojong. Seperti bangunan-bangunan Belanda pada umumnya, vila berlantai dua ini dibuat dengan sentuhan klasik khas Eropa.
Hotel Dibya Puri semula merupakan sebuah vila berlantai dua, yang kemudian disewakan sebagai losmen. Pada saat itu di Kota Semarang hanya terdapat satu hotel, yakni Hotel Jansen yang sekarang juga sudah tak ada lagi.
Source : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/01/175594/Pesan-Makan-Bisa-Langsung-ke-Dapur
ssphila February 1st, 2012, 06:15 PM Dibya Puri Harus Diselamatkan
...............................
”Hotel yang betul-betul kuno di Semarang sudah tidak ada lagi. Kami minta agar ada upaya penyelamatan dari PT Hotel Indonesia Natour,” ujar Dosen Konservasi Bangunan dan Situs Pascasarjana Arsitek Unika Soegijapranata tersebut.
.....................................
Kayu plafon di beberapa kamar juga sudah keropos. Patut disayangkan, karena hotel yang pernah menjadi markas tentara pelajar pada masa penjajahan Belanda ini merupakan salah satu karya agung bersejarah tinggi. Konon selain pembesar dari Belanda, Presiden Soekarno bersama anaknya, Megawati pernah menginap di hotel tersebut.
Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, ada instruksi setiap PNS yang bertugas di Semarang diharuskan menginap di hotel tersebut. Hingga menjelang tutup, hotel itu menyisakan 49 kamar yang masih bisa dipakai. Dua kamar family, enam puri suite, 17 kamar moderate, sembilan kamar standard, lima kamar ekonomi ber-AC, serta 10 kamar ekonomi non AC.
Banyak faktor yang menyebabkan bangkrutnya hotel ini. Salah satunya terkait pengelolaan. Manajemen hotel dinilai tidak mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki hotel peninggalan Belanda itu.
Dengan demikian, pada saat hotel-hotel baru bermunculan di Semarang, Dibya Puri tertinggal di belakang. Pada 19 Maret 2001, PT Natour merger dengan PT Hotel Internasional Indonesia (PT HII) yang juga milik BUMN, menjadi PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN). Sejak itu, pengelolaan Hotel Dibya Puri, bersama 15 hotel kuno lain di Indonesia berada di tangan perseroan baru itu. (J9,H37-72)
Source : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/31/175509/Dibya-Puri-Harus-Diselamatkan
ssphila February 1st, 2012, 06:18 PM Ternyata jaman dulu juga sdh pernah ada bagian yg roboh ya
Serambi Depan Hotel ”Dibya Puri” Ambruk
Suara Merdeka- Selasa 23 Djanuari 1962
http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2012/02/01/photographs/101/01_02_2012_101_020_004.jpg
http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2012/02/01/photographs/101/01_02_2012_101_020_006.jpg
Serambi depan Hotel ”Dibya Puri” Dj. Pemuda Semarang, Senin tengah malam kemarin mendjelang djam 24.00 telah ambruk dan reruntuhannja menimpa sebuah mobil De Soto H. 2888 milik seorang bernama Jusuf jang parkir dibawahnja.
Menurut keterangan, serambi tsb, sebelum runtuh paginja sudah diketahui bahwa dibeberapa bagian telah retak dan sudah diadakan pentjegahan agar tidak terdjadi korban.
Sebab2 serambi itu sudah ambruk berdasarkan keterangan jang kita peroleh karena merupakan bangunan susulan.
Sampai berita ini ditulis mobil tsb. masih ìterpendamî dalam reruntuhan hingga tidak kelihatan dari luar. (/)
Source : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/01/175595/Serambi-Depan-Hotel-Dibya-Puri-Ambruk
titus15 February 2nd, 2012, 02:52 AM ^^ berarti teras yang sekarang itu sudah nggak asli ya?? Kemaren baca berita ini (belum keluar e-papernya) bingung, kirain ambruk lagi, Tapi kok pake ejaan lama, tapi kok nggak ada tanggalnya... hehe ternyata kejadian tahun 62... mobil de Soto itu kayak apa ya? di foto kurang jelas...
titus15 February 2nd, 2012, 03:00 AM http://img830.imageshack.us/img830/1132/a1955desotofireflite.jpg
kayak ini ternyata mobil desoto itu...
ssphila February 2nd, 2012, 09:32 AM ^^ Mobil keren pada zamannya :okay: nopol-nya sdh pilihan H 2888 siapa gerangan P. Jusuf ?
bozhart February 2nd, 2012, 04:59 PM http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2012/02/01/photographs/101/01_02_2012_101_020_006.jpg
reruntuhannja menimpa sebuah mobil De Soto H. 2888 milik seorang bernama Jusuf jang parkir dibawahnja.
@ Titus, mungkin ini mobil De Soto yg tertimpa itu. Lebih mirip, bentuk jendelanya sama.
http://www.motorbase.com/uploads/pictures.ubh/2007/03/07/fs_1934_DeSoto_Airflow_4_Door_Sedan_Grey_fvr__H_Ford_Museum__F.jpg
bozhart February 2nd, 2012, 05:13 PM Ada banyak peta Semarang bagus2 dari jaman Belanda, detilnya tinggi, ini salah satu contohnya, ada nama bukit2 dgn ukuran tinggi puncaknya:
Peta Semarang th 1909
http://img163.imageshack.us/img163/504/topo1909.jpg
Dulu Titus pernah minta peta Semarang kuno, mungkin suka ini, silakan buka2 puluhan peta di link ini:
http://maps.kit.nl/cgi-bin/iipview?krtid=9651&marklat=-6.9681&marklon=110.423&sid=3g36bh1857684&svid=103245&lang=1
Setelah buka link itu, perhatikan di Tanah Putih ada kotak merah itu hotel pertama di Semarang atas?
Venantio February 2nd, 2012, 06:00 PM Ada banyak peta Semarang bagus2 dari jaman Belanda, detilnya tinggi, ini salah satu contohnya, ada nama bukit2 dgn ukuran tinggi puncaknya:
Peta Semarang th 1909
http://img163.imageshack.us/img163/504/topo1909.jpg
Dulu Titus pernah minta peta Semarang kuno, mungkin suka ini, silakan buka2 puluhan peta di link ini:
http://maps.kit.nl/cgi-bin/iipview?krtid=9651&marklat=-6.9681&marklon=110.423&sid=3g36bh1857684&svid=103245&lang=1
Setelah buka link itu, perhatikan di Tanah Putih ada kotak merah itu hotel pertama di Semarang atas?
:applause::applause: Waaaa... Hebat, thanks Bozhart.. I like it so much
ssphila February 2nd, 2012, 06:44 PM ^^ Super mantab & detail peta kunonya :okay:
Btw, kenapa kalau nama Gunung pake Bahasa Indonesia 'G' jadi G. Gebjog, dll kalo Kali/Sungai pake bahasa Inggris 'R' jadi R. Garang ?
bozhart February 3rd, 2012, 02:36 AM :applause::applause: Waaaa... Hebat, thanks Bozhart.. I like it so much
Sama-sama :cheers:
-----------------------------------
^^ Super mantab & detail peta kunonya :okay:
Btw, kenapa kalau nama Gunung pake Bahasa Indonesia 'G' jadi G. Gebjog, dll kalo Kali/Sungai pake bahasa Inggris 'R' jadi R. Garang ?
Nama sungai itu bukan pakai R (river) tapi K (kali), coba geser slider zoom ke atas sampai mentok, baru kelihatan "K.Garang" :)
edytoah February 3rd, 2012, 05:04 AM ^^
Wow .. keren petanya Om Bhoz .. :okay: ..Yang paling tinggi di peta diatas tsb G Gebjog ya .84m .sekitar jl. Rinjani - Sumbing ya sekarang ..
Apa ya nama hotel di Tanah Putih tsb ? ..Memang ada 2 bangunan tua didepan Vihara ... mgkn yg itu ..
Kalau di peta tsb di Penggiling (skrg Jl Pamularsih III,jalan besar di peta jl Simongan menuju ke Gedong Batu sekarang jl Pamularsih
),ada beberapa kotak merah .. itu adalah Gedong Dhuwur (bekas rumah Oei Tjie Sien,papanya Oei Tiong Ham,tepat berhadapan dengan Gedong Batu,sekarang dalam kondisi tidak terawat,dihuni beberapa keluarga pensiunan PNS Kodam VII Diponegoro).
Yg di Gergaji nampak kotak2 merah adalah Istana Bale Kambang ...pernah jadi milik Raja Gula Asteng Oei Tiong Ham pada saat itu .. sekarang cuma tersisa STIMIK Provisi di jln Kyai Saleh (skrg mau dijual ..ada yg minat :) ..)
edytoah February 3rd, 2012, 05:13 AM Du Pavillon Riwayatmu dulu .. hingga ke Hotel Dibya Puri
Du Pavillon th 1875 saat banjir.
http://img62.imageshack.us/img62/4187/dupavillon1875flaw.jpg
---------------------
Du Pavillon th 1900.
http://img72.imageshack.us/img72/4842/dupavilon1900.jpg
---------------------
Du Pavillon th 1915 – 1920 (1).
http://img835.imageshack.us/img835/8541/dupavillon1915201.jpg
---------------------
Du Pavillon th 1915 – 1920 (2).
http://img593.imageshack.us/img593/917/dupavillon1915202.jpg
---------------------
Du Pavillon th 1915 – 1920 (3).
http://img220.imageshack.us/img220/2933/dupavillon1915203.jpg
---------------------
Du Pavillon th 1915 – 1920 (4).
http://img716.imageshack.us/img716/3972/dupavillon1915204.jpg
---------------------
Du Pavillon th 1915 – 1920 (5).
http://img515.imageshack.us/img515/7129/dupavillon1915205.jpg
---------------------
Hotel Dibya Puri th 2001.
http://img338.imageshack.us/img338/9819/dupavillon2001.jpg
---------------------
Sumber photo : credited to www.semarang.nl
edytoah February 3rd, 2012, 05:18 AM Hotel di Semarang .. Tempo Doeloe ...
Du Pavillon th 1875.
http://img716.imageshack.us/img716/6553/dupavillon1875.jpg
Hotel Jensen th 1900 sekarang sudah dirobohkan ... jl. Letjen suprapto sekarang .
http://img843.imageshack.us/img843/3103/jensen1900.jpg
Hotel Belleveu ( Candi Baru ) th 1972.
http://img338.imageshack.us/img338/4743/belleveu1972.jpg
Sumber photo : Credited to www.semarang.nl
bozhart February 5th, 2012, 05:17 PM ^^
Wow .. keren petanya Om Bhoz .. :okay: ..Yang paling tinggi di peta diatas tsb G Gebjog ya .84m .sekitar jl. Rinjani - Sumbing ya sekarang ..
Kalau di peta tsb di Penggiling (skrg Jl Pamularsih III,jalan besar di peta jl Simongan menuju ke Gedong Batu sekarang jl Pamularsih
),ada beberapa kotak merah .. itu adalah Gedong Dhuwur (bekas rumah Oei Tjie Sien,papanya Oei Tiong Ham,tepat berhadapan dengan Gedong Batu,sekarang dalam kondisi tidak terawat,dihuni beberapa keluarga pensiunan PNS Kodam VII Diponegoro).
Yg di Gergaji nampak kotak2 merah adalah Istana Bale Kambang ...pernah jadi milik Raja Gula Asteng Oei Tiong Ham pada saat itu .. sekarang cuma tersisa STIMIK Provisi di jln Kyai Saleh (skrg mau dijual ..ada yg minat :) ..)
Thanks, Om EdyToah. G.Gebjog itu tertulis 64m, bukan 84m :)
Ya betul, itu kelihatan Gedong Dhuwur dan Istana Bale Kambang.
----------------------------------------
Apa ya nama hotel di Tanah Putih tsb ? ..Memang ada 2 bangunan tua didepan Vihara ... mgkn yg itu ..
Ini kotak merah yg dimaksud, tertulis Hotel Tjandi, sekarang gedungnya sudah tidak ada lagi, di foto GoogleEarth tanahnya kosong. Ada yg tahu foto gedung hotel Tjandi th 1909 itu seperti apa?
1) Peta th 1909
http://img716.imageshack.us/img716/7240/tanahputih1.jpg
2) GoogleEarth
http://img407.imageshack.us/img407/3764/tanahputih2.jpg
----------------------------------------
Di foto th 1931 ini mungkin hotel Tjandi di tengah paling atas itu?
Foto th 1931:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Autoweg_en_villa%27_s_op_Tjandi_Semarang_TMnr_10014757.jpg
Sumber (http://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Autoweg_en_villa%27_s_op_Tjandi_Semarang_TMnr_10014757.jpg)
edytoah February 5th, 2012, 07:09 PM ^^
kalau tanah kosong disitu kalau tdk salah punya Metro ..
Susah khali cari photo yg 1909 .. Om Bozhart ..kalau cari barang antik vintage dan piring Hotel Tjandi yang asli malah ada yg jual .. :)
Ini ada photo Hotel Tjandi 1930 dan 1936 dari semarang.nl,tp fokusnya di lapangan tennis (kelihatan belakangnya mgkn Hotel Tjandinya ) dan di kolam renang.
Lapangan Tennis Hotel Tjandi 1930
http://img252.imageshack.us/img252/975/htlcd1930tenis.jpg
Kolam renang Hotel Tjandi 1936
http://img13.imageshack.us/img13/5403/htlcd1936swim.jpg
edytoah February 6th, 2012, 05:47 AM Di foto th 1931 ini mungkin hotel Tjandi di tengah paling atas itu?
Foto th 1931:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Autoweg_en_villa%27_s_op_Tjandi_Semarang_TMnr_10014757.jpg
Sumber (http://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Autoweg_en_villa%27_s_op_Tjandi_Semarang_TMnr_10014757.jpg)
Lapangan Tennis Hotel Tjandi 1930
http://img252.imageshack.us/img252/975/htlcd1930tenis.jpg
Kalau ngelihat referensi photo lapangan tennis Hotel Tjandi di atas mgkn yg lingkaran merah di bawah ini ..
http://img859.imageshack.us/img859/5583/htltjandi31.jpg
bozhart February 6th, 2012, 12:30 PM Om EdyToah, hotel Tjandi ada dua yaitu hotel Tjandi Lama di Tanah Putih (Jl Wahidin) dan hotel Tjandi Baru di Gajahmungkur (Jl Rinjani). Hotel Tjandi Lama lebih dulu dibangun, kemudian hotel Tjandi Baru yg sebelumnya bernama hotel Bellevue baru dibangun pd 1919. Sampai sekarang gedung hotel Tjandi Baru masih ada sedangkan gedung hotel Tjandi Lama sudah tidak ada lagi.
Foto2 dari Om EdyToah itu adalah hotel Tjandi Baru. Foto2 yg kucari bukan hotel Tjandi Baru tapi hotel Tjandi Lama (tidak harus foto th 1909), gw sudah cari2 di Google tapi tidak ketemu, penasaran gedungnya seperti apa :dunno:
Foto di bawah ini gw tidak kenal jalannya tepat di mana di Candi. Gunung di latar belakang itu jelas Gunung Ungaran :D
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Autoweg_en_villa%27_s_op_Tjandi_Semarang_TMnr_10014757.jpg
edytoah February 6th, 2012, 03:58 PM ^^
Ooops sorry ..Om Bozhart ..sy kira photo yg semarang.nl itu sama dgn Hotel Tjandi yg di Tanah Putih itu .. ya diphoto ada tulisan Tjandi Baroe ..
titus15 February 7th, 2012, 06:31 AM ^^
kalau tanah kosong disitu kalau tdk salah punya Metro ..
Susah khali cari photo yg 1909 .. Om Bozhart ..kalau cari barang antik vintage dan piring Hotel Tjandi yang asli malah ada yg jual .. :)
Metro ini gak asyik juga ya? Banyak hotel tua tanahnya dikuasai terus dibongkar, sekarang lahannya dibiarin Mangkrak. Hotel Candi dan Hotel Jansen ini misalnya... sekarang mangkrak dua-duanya...
Konon katanya plasa metro peterongan dulu katanya dulu Teater Luna, gedung bioskop tua kolonial jadul.... nanti saya cari fotonya... (pernah jadi gereja juga)
titus15 February 7th, 2012, 06:33 AM http://img233.imageshack.us/img233/7237/27853622031017266381520.jpg
sitenya sekarang Ruko Metro Peterongan. Dulu sempat jadi gereja, danpernah jadi pertokoan dan bioskop Palace (lalu diganti Istana).
bhayangkara February 10th, 2012, 02:49 AM ^^
Ooops sorry ..Om Bozhart ..sy kira photo yg semarang.nl itu sama dgn Hotel Tjandi yg di Tanah Putih itu .. ya diphoto ada tulisan Tjandi Baroe ..
gan silent reader ikutan nyumbang ya...
ini ane dapat foto dengan tulisan hotel tjandi, apa ini ya yang dimaksud..
hotel tjandi lama:
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001100016.jpg
sumber :
KITLV (http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result)
bhayangkara February 10th, 2012, 03:11 AM ikutan nyumbang foto2 Istana Balekambang nya Oei Tiong Ham
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001127880.jpg
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001127877.jpg
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001115197.jpg
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001115104.jpg
tambahan:
apakah ini yang sekarang jadi restoran Pesta Keboen?
bentuknya hampir mirip dan berlokasi di gergaji
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001124897.jpg
sumber:
KITLV (http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&cp=1)
edytoah February 10th, 2012, 04:44 AM gan silent reader ikutan nyumbang ya...
ini ane dapat foto dengan tulisan hotel tjandi, apa ini ya yang dimaksud..
hotel tjandi lama:
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001100016.jpg
sumber :
KITLV (http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result)
Tks Mas bhayangkara ... Selamat bergabung..
Kalau melihat th photnya 1910 di KITLV ... juga ada photo kolam renang di website tsb.(sy tanya lisan ke orang-tua kuno ...memang ada kolam renang juga di Hotel Tjandi wahidin tsb .. bekas runtuhannya masih ada ktnya ... menurut saya kemungkinan besar memang photo tsb Hotel Tjandi Wahidin ..
Mungkin Mas bozhart yang berkompeten checking kebenaran photo tsb ...
edytoah February 10th, 2012, 04:53 AM tambahan:
apakah ini yang sekarang jadi restoran Pesta Keboen?
bentuknya hampir mirip dan berlokasi di gergaji
http://i190.photobucket.com/albums/z145/akta_photo/KLV001124897.jpg
sumber:
KITLV (http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result&cp=1)
Kalau photo itu bagian dari photo-2 Istana Bale Kambang Gergaji mungkin juga photo tsb merupakan salah satu bangunan dari bagian Istana Balekambang Gergaji.
Harus di crosscheck dulu dengan photo-2 tua yang ada di restoran Pesta Kebun yang di Veteran tsb juga riwayat kepemilikan restoran tsb.
Memang bentuk depan yang bulat tsb mirip memang dengan Pesta Kebun sekarang tetapi banyak bangunan tua yang bentuk ruang tamu depan mirip dengan photo tsb.
Istana di gergaji mempunyai luas areal sekitar 200 acre atau sekitar 81 hektar. Membentang dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Randusari, Mugas, Jalan Pahlawan termasuk kompleks Gubernuran dan Polda Jateng, wilayah Gergaji hingga Jalan Kyai Saleh.Wilayah Veteran tempat Pesta Keboen sekarang sy rasa termasuk juga.
Gedung intinya seluas 9,2 hektar, memiliki 200 ruangan, dapur, vila pribadi, 2 paviliun besar dan kebun binatang pribadi.
Sekarang yang tersisa hanya yang di jl Kyai Saleh, yaitu STMIK Provisi seluas 8000 m2.Ditempat ini merupakan pusat Istana Gergaji kediaman Oei Tiong Ham.Sekarang dimiliki oleh seorang pengusaha plastik.
|
|