View Full Version : TKW thread
tata April 8th, 2006, 07:47 PM Post all news about TKW here:
Lagi, TKW Diperkosa Majikan di Malaysia
Sabtu, 08 April 2006 | 15:56 WIB
TEMPO Interaktif, Johor:Johor – Seorang tenaga kerja wanita, Eni Ismawati binti Darno, 17 tahun, diperkosa majikannya, Lucky alias Cu. Kini, TKW malang itu dalam perlindungan pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia Johor Bahru. Sementara Lucky, dalam tahanan pihak kepolisian daerah Johor.
"Saya dipekerjakan sebagai pembantu rumah Lucky, tetapi pada waktu tertentu, saya juga dipekerjakan sebagai cleaning service dari rumah ke rumah, dan bahkan di beberapa perkantoran," ujar Eni, saat ditemui Tempo di Konsulat Jenderal RI Johor Bahru tadi pagi.
Anak sulung dari lima bersaudara yang berasal dari Sidorjo, Lampung Selatan itu, bekerja dengan seorang agen perkhidmatan jasa cleaning service di beberapa perkantoran di daerah Johor.
Pemerkosaan terjadi Selasa (21/3) tiga pekan silam, di kediaman Lucky di Pesiaran 45, Johor Bahru. Malam nahas itu, sang majikan menawarkan Eni sekaleng minuman yang sudah dibubuhi pil tidur. Karena menghormati majikan, Eni menerima tawaran itu, kemudian meneguknya. Eni sontak rasa pening, lalu pingsan. Dan terjadilah pemerkosaan itu.
T.H. Salengke
Blue_Sky April 8th, 2006, 08:12 PM wew...
what a thread :D:D
but im sure will be fill wih sad articles :(
rhz April 10th, 2006, 02:22 AM They call it NAKERWAN these days!
F-ian April 10th, 2006, 02:55 AM what's it stand for?^^
bahar April 10th, 2006, 05:17 AM teNAga KERja WANita ?
rhz April 10th, 2006, 09:38 AM Iya! Sama aja sama TKW, udah lama kok di galakan sama pemerintah, bbrp tahun yang lalu! soalnya TKW kesannya tuh rendah banget! Kalo gue bilang sih samimawon! TKW kek NAKERWAN kek! sama aja!
tata April 20th, 2006, 10:08 AM Berita dibawah diambil dari www.Gatra.com: http://www.gatra.com/artikel.php?id=93835
Pungli Berbalut Rekomendasi
SEBUT saja namanya Nur Ahmad. Ayah satu anak ini seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang baru usai menikmati cuti. Selama ini, Nur bekerja pada sebuah biro perjalanan di Arab Saudi. Tugasnya mengurus kebutuhan kamar hotel, transportasi, dan makanan-minuman bagi para jamaah umrah. Kerjanya mondar-mandir antara Mekkah dan Jeddah.
Dua bulan di rumah dirasa sudah cukup baginya untuk melepas rindu pada anak dan istri tercinta di Purwokerto, Jawa Tengah. Rabu pekan lalu, tiba saatnya bagi pria asal Bandung berumur 30 tahun itu kembali terbang ke Jeddah. Seperti TKI umumnya, menjelang berangkat, Nur harus mengurus segala kelengkapan, seperti tiket pesawat terbang dan surat rekomendasi keberangkatan kembali ke Arab Saudi dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans).
Seperti tahun lalu, sebelum berangkat, ia menghubungi perusahaan jasa pengerah tenaga kerja Indonesia (PJTKI), untuk mengurus rekomendasi keberangkatannya. Tapi ia terkejut saat disodori harga Rp 1,5 juta untuk secarik surat itu. Padahal, tahun lalu ia "hanya" kena Rp 500.000. ''Saya tak habis pikir," katanya kepada Gatra. Tanpa bekal surat itu, maskapai penerbangan tak mau mengeluarkan tiket untuknya. Imigrasi bandara pun pasti menolaknya.
Alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor itu merasa terusik. Ia tidak percaya dengan kenaikan tarif tiga kali lipat itu. Maka, Nur pun mengecek tarif "surat sakti" itu di kantor Depnakertrans. Ia disarankan mengurusnya di Balai Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP2TKI), Pengawasan Penempatan TKI (P2TKI), di Jalan Penganten Ali Nomor 17, Ciracas, Jakarta Timur.
Halaman dan tempat parkir kantor BP2TKI luas. Bentuk bangunan kantornya lebih menyerupai pendopo, aula terbuka. Memasuki kantor, ia kebingungan. Bagaimana tidak, di situ tak ada papan petunjuk prosedur pengurusan surat rekomendasi. Yang didapatinya orang-orang hilir mudik menenteng map dan para petugas Depnakertrans yang sibuk memberikan "pengabdian" pada TKI.
Nur tak harus lama menunggu. Seorang petugas berambut pendek berperawakan subur berbaju cokelat gelap, mirip baju seragam pegawai Depnakertrans tapi polos tanpa atribut, menghampirinya. "Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya sang "petugas". Nur mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa basa-basi lagi, "petugas" itu mengeluarkan lembaran formulir dari saku celananya dan mempersilakan Nur mengisinya. Saat itulah si oknum berbisik bahwa biaya pengurusannya ''hanya" Rp 750.000.
Sang petugas merincinya. ''Empat puluh dolar (sekitar Rp 360.000) untuk asuransi," katanya. Lima belas dolar (Rp 135.000) untuk administrasi. ''Lebihnya, ya, untuk uang rokok, Pak," ujarnya. Obrolan pun berlangsung. Dari perbincangan itu, Nur Ahmad tahu bahwa si "petugas berseragam" itu ternyata calo, yang biasa menghubungkan petugas PJTKI dengan pegawai kantor BP2TKI, untuk mengurus surat rekomendasi.
Dari cerita si "oknum berseragam" itu diketahui, memang banyak TKI yang tak mau repot mengurus surat rekomendasi. Mereka memakai jasa PJTKI, dan dipungut biaya Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta. ''Alamak, ini jelas pemalakan namanya,'' kata Nur, jengkel.
Berapa tarif resminya? ''Tak ada biaya mengurus surat rekomendasi keberangkatan bagi TKI yang masih terikat kontrak kerja di luar negeri,'' kata Ade Adam Noch, Direktur Promosi dan Penempatan, Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penempatan TKI, Depnakertrans. Kebijakan ini diterapkan sejak akhir tahun lalu. Ade menjamin, proses pengurusannya bisa dilakukan dengan cepat, dalam beberapa menit. Toh, prakteknya, masih saja terjadi pungutan liar (pungli) berkedok surat rekomendasi.
Karena itu, pihak Depnakertrans kemudian menerbitkan Surat Edaran Nomor 615 tentang Pedoman Pelayanan Cuti TKI, 27 Maret lalu. Isinya menegaskan lagi, tak ada biaya pengurusan surat rekomendasi bagi TKI yang cuti. Surat itu pun mengatur biaya untuk TKI yang habis masa kontraknya dan mau memperpanjang kerja di luar negeri. "Besarnya US$ 15. Uang itu masuk ke Departemen Keuangan sebagai pendapatan negara bukan pajak," katanya. Di luar itu, TKI membayar asuransi US$ 40 untuk TKI di Arab Saudi dan Rp 400.000 untuk TKI non-Arab Saudi. "Kalau ada penyimpangan, silakan lapor ke kami, tentu akan kami proses," ia menambahkan.
Dengan status sebagai TKI cuti kerja, seharusnya Nur tak perlu membayar "surat sakti" itu. Tapi, saat mengurus surat pada Senin dua pekan lalu, ia tetap harus membayar US$ 15. Lalu, masuk ke mana duit itu? Nur menerima bukti pembayarannya berupa slip Bank Rakyat Indonesia (BRI), dengan keterangan "biaya administrasi". Di kantor itu tak ada kantor cabang atau kas BRI. Uang US$ 15 itu setara Rp 135.000. Tapi coba Anda kalikan dengan jumlah pemohon surat rekomendasi yang tiap harinya di atas 100 orang.
Sudah begitu, mengurus sendiri surat rekomendasi ternyata tidak bisa cepat. Itulah yang dialami Muryati, TKW asal Malang, Jawa Timur. Ia harus menginap semalam di masjid BP2TKI, menunggu keluarnya surat. Apakah petugas di BP2TKI Ciracas lebih memprioritaskan calo dan petugas PJTKI yang membawa berkas permohonan dalam jumlah besar? ''Kami tidak melayani surat rekomendasi bagi TKI yang mau kembali ke luar negeri," kata Djupri Noor, Kelapa BP2TKI Ciracas. "Kami hanya melayani pemberian surat bebas fiskal bagi TKI," ia menambahkan.
Lho? Menurut Djupri Noor, surat rekomendasi bagi TKI memang pernah diterbitkan BP2TKI. Namun sejak enam bulan lalu dihapuskan. Toh, Djupri mengakui, kantornya masih ketempatan petugas dari Depnakertrans Pusat yang biasa menangani penerbitan surat rekomendasi. Mereka menumpang di salah satu ruangan berukuran 5 x 5 meter.
Turiman, petugas berseragam Depnakertrans yang menempati ruangan itu, menyatakan bahwa ia masih diberi kesempatan oleh Kepala BP2TKI Ciracas menempati ruangan hingga April ini. Sejak 14 Januari lalu, proses pembuatan rekomendasi cuti sudah dialihkan ke Terminal III Bandara Soekarno-Hatta. Tapi, menurut Turiman, masih saja ada TKI yang nyasar ke gedung BP2TKI (ruangan tempat pembuatan rekomendasi cuti) itu. "Kasihankan, daripada harus ke bandara lagi," katanya.
Walhasil, TKI cuti seperti Nur Ahmad kena palak Rp 135.000. Itu setara dengan ongkos taksi dari Ciracas ke Bandara Soekarno-Hatta, tak termasuk karcis tol.
Irwan Andri Atmanto, Astari Yanuarti, Deni Muliya Barus, dan Nordin Hidayat
[Ekonomi, Gatra Edisi 23 Beredar Senin, 17 April 2006]
tata April 27th, 2006, 08:50 AM dari www.gatra.com: http://www.gatra.com/artikel.php?id=94019
Pungli TKI
Yudhoyono: Kalau Perlu, Kirim SMS ke Saya
Riyadh, 27 April 2006 09:14
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Raja Abdullah bin Abdul Azis sepakat untuk meningkatkan perlindungan terhadap ratusan ribu TKI yang bekerja di sana untuk mencari nafkah.
"Kami sepakat bekerja sama untuk melindungi dan memberikan hak-hak para pekerja," kata Yudhoyoo di Riyadh, Rabu malam (26/4), ketika mengadakan pertemuan dengan warga Indonesia di KBRI Riyadh.
Pada acara yang dihadiri pula oleh Ibu Ani Yudhoyono, Menakertrans Erman Soeparno, dan Dubes RI untuk Arab Saudi Salim Segaf, Yudhoyono menegaskan baik pemerintah RI maupun Kedubes Arab Saudi di Jakarta harus meningkatkan pelayanan dan perlindungan terhadap sekitar 300.000 TKI di Arab Saudi.
"Pemerintah Arab Saudi diharapkan bisa meningkatkan pelayanan sehingga para TKI memperoleh hak-hak mereka," kata Presiden pada acara yang dihadiri ratuan warga Indonesia di Arab Saudi.
Presiden memanfaatkan acara itu untuk menyampaikan penghargaan kepada para TKI yang rela meninggalkan Tanah Air untuk mencari nafkah di Arab Saudi karena pemerintah belum mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup.
Presiden mengatakan pula, jika para TKI masih terkena pungutan liar maka tindakan jahat itu harus dilaporkan kepada pejabat yang berwenang.
"Kalau perlu kirim SMS ke 9949 kepada saya sehingga bisa ditangani secara cepat," katanya.
Presiden kemudian memberi contoh ketika mengunjungi Malaysia baru-baru ini dia menerima laporan dari Ibu Ani Yudhoyono yang menerima laporan dua wanita asal Medan yang dijadikan PSK padahal awalnya dijanjikan mendapat pekerjaan yang baik.
"Dan saya kemudian memerintah Kapolri untuk menyelesaikan kasus ini dan dua hari kemudian masalah dua wanita Indonesia itu diselesaikan," katanya.
Dengan nada prihatin, Presiden menyatakan, yang dijual adalah WNI sedangkan yang menjual adalah juga WNI yang bekerja sama dengan penjahat-penjahat di Malaysia.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga menjelaskan bahwa pemerintah Arab Saudi akan mendorong para pengusahanya untuk meningkatkan investasi di Indonesia dan membeli lebih banyak berbagai jenis barang dari Indonesia. [EL, Ant]
tata May 2nd, 2006, 09:32 AM Note: mustinya thread ini gue namain TKI bukan TKW.
Dari kompas.com: wah banyak harapan nih dari bapak kita SBY, kita tunggu ajah realisasinya..... Bukannya negatif tapi kita memang butuh tindakan nyata kok lebih dari sekedar rencana.
Selasa, 02 Mei 2006
Benahi Total TKI
Depnakertrans Banyak Dikeluhkan
Wisnu Nugroho
Qatar, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan akan melakukan pembenahan secara total terhadap sistem pelayanan ketenagakerjaan, khususnya untuk para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Pembenahan total itu akan dilakukan mulai dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) yang banyak dikeluhkan para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.
"Kita akan melakukan pembenahan total masalah ketenagakerjaan, mulai dari Depnakertransnya," ujar Presiden dalam dialog dengan warga negara Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Qatar, Senin (1/5). Pernyataan itu langsung direspons secara spontan dengan tepuk tangan meriah dari ratusan warga Indonesia di Qatar yang mengikuti dialog.
Sebelumnya, secara berturut-turut di Arab Saudi dan Kuwait, Presiden mendapat keluhan dari para tenaga kerja Indonesia di kedua negara tersebut.
Masalah yang selalu dikeluhkan di tiga negara Timur Tengah yang dikunjungi Presiden itu adalah masalah di Tanah Air, seperti buruknya pelayanan Depnakertrans, tidak memadainya persiapan yang dilakukan pengerah tenaga kerja, serta pungutan liar di kantor Imigrasi dan di bandar udara.
Selain pembenahan Depnakertrans, pemerintah juga akan membenahi pengerah jasa tenaga kerja Indonesia dan melibatkan peran pejabat di daerah. Presiden sadar bahwa di tengah ketidakmampuan negara untuk menyediakan lapangan kerja buat rakyatnya, mempersulit sejumlah rakyat yang akan bekerja dengan meninggalkan Tanah Air adalah tindakan yang kontraproduktif.
"Kita akan memulai era yang baru dengan memberi penghargaan yang tinggi kepada TKI yang telah membantu pemerintah menghasilkan devisa untuk negara. Semua bertanggung jawab dan harus berperan secara benar dengan harapan makin ke depan makin baik. Jangan sampai ada yang lalai. Mari bekerja lebih efisien dan efektif untuk membantu TKI," ujar Presiden.
Presiden mencontohkan, upaya besar pemerintah meningkatkan pelayanan kepada TKI adalah dengan pembenahan total di bidang keimigrasian, dengan melihat semua jenis pungutan dan menghapuskan yang tak perlu. "Yang bersalah kita proses secara hukum dan yang tidak cakap kita ganti," ujarnya.
Sejak di Riyadh, Arab Saudi, sampai Doha, Qatar, Presiden selalu mendapatkan keluhan mengenai kewajiban pengurusan surat rekomendasi untuk para TKI yang akan berangkat bekerja ke luar negeri, yang justru mempersulit dan menambah rantai pungutan liar dan kemungkinan penyimpangan. Saat ini jumlah TKI yang bekerja di seluruh dunia lebih dari 3,5 juta.
Mendapat keluhan tersebut, Presiden lantas memanggil Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, yang mendampingi kunjungannya di Riyadh, untuk mendapatkan penjelasan. Presiden memerintahkan rekomendasi yang memunculkan masalah baru itu dicabut. "Saya sudah memerintahkan agar rekomendasi dicabut," ujarnya.
tata November 18th, 2006, 09:56 PM Taiwan, Negeri Impian Para Buruh Migran
Ferry Yahya. [Pembaruan/Elly Burhaini Faizal]
Jarum jam nyaris menunjuk pukul 09.00 waktu setempat. Segerombolan perempuan muda berjalan bergegas menuju Pintu A9 Bandara Internasional Taoyuan, Taipei.
Pesawat China Airlines nomor penerbangan C-677 yang akan membawa mereka ke Jakarta, rencananya lepas landas tepat pukul 09.40 waktu setempat. Ransel dan tas jinjing entah berisi oleh-oleh atau barang-barang bawaan lainnya, tampak menggelayuti punggung serta tangan mereka.
Sembari berbisik, wanita-wanita muda usia 20-an tahun berwajah Melayu itu saling sapa dan bertanya. Beberapa dari mereka terdengar berbicara memakai logat daerah pesisir Jawa Tengah yang sangat kental. Sebagian lainnya berbicara berlogat Sunda. "Aku dipulangin," kata Wahyuningsih (bukan nama sebenarnya) dengan suara lirih. Lalu-lalang pekerja migran asal Indonesia adalah pemandangan yang biasa disaksikan sehari-hari di Bandara Taoyuan (dulu Chiang Kai Sek International Airport, Red).
Dalam keluh-kesahnya kepada Pembaruan di Bandara Taoyuan, Sabtu (11/11), Ningsih mengaku baru sebulan bekerja sebagai perawat orang jompo di Kaohsiung, Taiwan. Apa daya, baru sebulan bekerja, Ningsih, gadis asal Indramayu itu, tiba-tiba dipulangkan oleh majikannya. Nasib baik sebetulnya diharapkan bisa dia peroleh di Taiwan, sebuah "negeri impian" para buruh migran asal Indonesia.
Jika dibandingkan dengan Malaysia atau Arab Saudi, gaji per bulan buruh migran di Taiwan terbilang menggiurkan. "Gaji sebulan kerja di Taiwan bisa dua atau tiga kali lipat lebih besar dibandingkan gaji per bulan kalau kita bekerja di Malaysia, Singapura atau pun Timur Tengah," kata Ningsih.
Inilah mungkin yang menyebabkan jumlah pekerja migran asal Indonesia di Taiwan cenderung meningkat. Data dari Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei di Indonesia menyebutkan, saat puncak musim liburan, puluhan ribu buruh migran asal Indonesia direkrut untuk bekerja di Taiwan. Seiring ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU/Memorandum of Understanding) tentang Pengiriman Tenaga Kerja pada 17 Desember 2004, jumlah pekerja Indonesia di Taiwan semakin meningkat sangat signifikan.
Hingga bulan Agustus 2006, jumlah visa yang dikeluarkan untuk pekerja migran asal Indonesia mencapai 84.376, jumlah tertinggi untuk wilayah Asia Tenggara. "Inilah bukti bahwa Taiwan menjadi salah satu negara favorit tujuan para pekerja Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri," kata Kepala Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei untuk Indonesia, David Y Lin, saat diwawancarai Pembaruan usai Perayaan Double Tenth, pada 10 Oktober silam.
Menurut catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2004, pada dekade terakhir ini, Indonesia telah menjadi salah satu pengirim pekerja migran "tanpa keahlian", dan saat ini menjadi pengekspor terbesar kedua setelah Filipina. Sekitar 76 persen pekerja migran Indonesia adalah perempuan. Selain Taiwan, lebih dari 90 persen mereka bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, dan Timur Tengah. Dua negara sebagai tujuan utama pekerja migran Indonesia adalah Malaysia (40 persen) dan Arab Saudi (37 persen).
Pemasukan tahunan dari pergantian mata uang asing yang diperoleh dari pekerja migran Indonesia diperkirakan mencapai US$ 2,2 miliar. Sedangkan pengiriman uang dari pekerja migran yang hampir mencapai US$ 2 miliar tiap tahunnya, menjadikan mereka sebagai penyumbang terbesar devisa setelah minyak dan gas.
Ironisnya, banyak pekerja migran tidak terlindungi hak-haknya secara optimal. Kondisi rentan harus dihadapi, seperti penganiayaan, eksploitasi dan perampasan hak-hak. Pemulangan di luar kemauan, yakni keadaan-keadaan yang menyangkut pengakhiran kontrak kerja secara tidak sah atau pengakhiran kontrak kerja yang tiba-tiba dan tidak adil oleh majikan, adalah kondisi buruk yang juga biasa dialami pekerja migran Indonesia, termasuk di Taiwan.
Pengabaian Hak
"Pemulangan adalah hak majikan. Tetapi seringkali tidak ada alasan jelas dan kuat mengapa kami dipulangkan," kata Ningsih. Dicontohkan, Ningsih dipulangkan majikannya di Kaohsiung dengan alasan usianya masih terlampau muda. Ia juga dianggap terlalu kurus untuk sanggup mengurus orang jompo. "Tapi sepertinya semua yang aku lakukan di mata majikan sejak awal sudah serba salah," kata gadis lulusan sebuah SMP di Indramayu itu.
Wajar bila Ningsih berpikir, alasan pemulangannya oleh si majikan mengada-ada. Sebab, selain bertubuh tinggi dan cukup padat berisi, banyak pekerja migran asal Indonesia di Taiwan yang berusia lebih muda ketimbang Ningsih.
Impian indah menangguk gaji hingga NT$ 15.000-an per bulan atau sekitar Rp 4,2 juta pun buyar. Hanya uang gaji satu bulan pertama kerja sebesar NT$ 5.000 (sekitar Rp1,4 juta) saja yang kini terselip di dompetnya. Padahal, tak kurang Rp 15 juta uang tabungan hasil kerjanya selama tiga tahun di Arab Saudi sudah terkuras untuk memproses keberangkatan ke Taiwan.
Awalnya, ia berharap, pengeluaran jutaan rupiah tersebut bisa ditutup apabila nanti memperoleh pendapatan yang lebih besar lagi di Taiwan. Uang sebesar Rp 15 juta itu dipakainya untuk menutup tetek-bengek pembayaran yang dibutuhkan, mulai mengurus visa dan paspor, membeli tiket perjalanan, memperoleh izin kerja di negara tujuan, hingga membayar perusahaan jasa tenaga kerja untuk pelayanan perekrutan (agen).
Namun harapannya kini melayang entah ke mana. "Habis-habisan deh, Mbak," kata Ningsih sembari terkekeh. Untung saja, ia tidak berutang sebagai modalnya bermigrasi ke Taiwan, seperti kebanyakan pekerja migran asal Indonesia yang lain.
Untuk berganti majikan bukan hal gampang, karena Taiwan mensyaratkan seorang pekerja migran untuk pertama-tama kembali ke negara asalnya dulu sebelum diperbolehkan memperpanjang kontrak atau berganti majikan.
Nasib pahit juga dialami Yuyun (bukan nama sebenarnya), yang bekerja merawat sepasang suami istri jompo berusia 80-an tahun di Kaohsiung. Baru dua bulan bekerja, gadis asal Kebumen ini sudah dipulangkan ke Indonesia.
Yuyun nekat ke Taiwan untuk mencari kesempatan kerja dan pendapatan yang lebih besar. Sayang, harapan tak seindah impian. Ia sebenarnya telah memiliki pengalaman bertahun-tahun sebagai pekerja rumah tangga, seperti mengurus anak, membersihkan rumah, menyeterika hingga memasak. Namun, jadi buruh migran di Taiwan ternyata punya banyak kebutuhan lain.
Selain harus belajar bahasa dan kondisi-kondisi sosial budaya di sana, mereka juga tidak bisa dibebaskan sendiri memilih jenis pekerjaan, seperti perawat bayi, orang jompo, buruh pabrik ataukah pekerja rumah tangga. Tak jarang, perlakuan sewenang-wenang dari majikan seperti pemukulan dan caci-maki harus dihadapi. Tiada hari istirahat atau libur adalah kondisi yang sehari-hari harus pula dijalani Yuyun.
Bekerja lebih dari 15 jam sehari boleh dibilang situasi yang suka tidak suka harus dijalani Yuyun sebagai perawat sepasang orang jompo. Ia harus siap siaga, baik pagi, siang atau malam. Bagi migran perempuan yang disewa sebagai pekerja rumah tangga, sudah lazim apabila mereka juga dipekerjakan di tempat usaha majikan mereka. Usai mengurus pekerjaan rumah tangga, mereka sering kali disuruh membantu usaha atau bisnis sang majikan.
Harus diakui, selain kisah pahit dan menyedihkan, banyak pula kisah sukses para pekerja migran asal Indonesia di Taiwan. Tisna, pria asal Bandung yang bekerja di sebuah pabrik, sudah lebih enam tahun bekerja di Taiwan. Sesuai aturan di Taiwan, tiap dua tahun Tisna harus pulang dulu ke Indonesia sebelum memperpanjang lagi kontrak kerjanya.
"Saya nanti kembali lagi ke sini," kata Tisna mantap. Seperti rata-rata pekerja migran yang lain, bulan pertama bekerja Tisna hanya memperoleh sekitar NT$ 5.000-an. Tapi, peningkatan gaji terjadi pada bulan-bulan berikutnya mulai dari NT$ 6.000, NT$ 8.000, hingga akhirnya kini ia menerima gaji sedikitnya NT$ 15.000 (sekitar Rp 5 juta-an) tiap bulannya. Dari fakta ini, sulit dibantah mengapa Taiwan tetap saja dianggap "negeri impian kaum pekerja migran".
SMS Center
Bersama-sama Vietnam dan Filipina, Indonesia adalah negara asal pekerja migran terbesar di Taiwan. Ferry Yahya, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei, mengatakan bahwa dari sekitar 80.000 pekerja asal Indonesia itu, sebagian besar adalah pekerja di sektor informal, seperti pekerja rumah tangga (PRT), perawat bayi dan orang jompo.
Kebanyakan perawat orang jompo juga merangkap pekerjaan dalam urusan-urusan rumah tangga. Ferry mengakui, banyak masalah ketenagakerjaan dihadapi oleh para pekerja migran Indonesia di Taiwan. Untuk membantu penyelesaian masalah tersebut, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei menyediakan layanan SMS Center melalui internet.
"Seluruh komplain para pekerja kita juga ditembus-kan ke Depnaker di Jakarta," kata Ferry, saat ditemui Pembaruan di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia, di Rui Guang Road, Neihu, Taipei, Senin (6/11). Sejak SMS diaktifkan pada bulan Maret 2006, layanan ini sudah langsung dimanfaatkan oleh para pekerja migran Indonesia untuk mengadukan masalah-masalah mereka.
"Penyelesaiannya tentu diprioritaskan," kata Ferry yang berbicara didampingi oleh Marolop Nainggolan, Kepala Bagian Tata Usaha. Sejumlah masalah yang diprioritaskan ditangani antara lain penganiayaan fisik, pelecehan seksual, serta gaji yang terlampau banyak potongan, termasuk oleh si agen.
"Meski pun sudah ada MoU tentang pengiriman tenaga kerja, ternyata juga masih ada saja pekerja kita yang sampai empat bulan tidak terima gaji," kata Ferry.
Secara umum, pekerja migran asal Indonesia datang ke Taiwan secara legal. Tetapi status mereka menjadi ilegal karena nekat lari dari majikan. "Sedikitnya tercatat ada 3.000 kasus pekerja Indonesia yang lari dari majikan," ujarnya prihatin. Ia berharap perbaikan perekrutan dan iklim kerja di Taiwan bagi pekerja migran, termasuk asal Indonesia, bisa diwujudkan pada masa-masa ke depan. "Kerja sama di bidang ketenagakerjaan, termasuk untuk melindungi hak-hak para pekerja migran asal Indonesia, saya harap bisa terus digalang secara lebih intensif oleh dua belah pihak," kata Ferry.
Pembaruan/ Elly Burhaini Faizal
tata May 24th, 2007, 09:31 AM The victims MAY NOT be a TKW.
New York millionaire couple indicted on federal slavery charges
GARDEN CITY, New York (AP): A millionaire couple accused of keeping two Indonesian women as slaves in their luxurious New York home for years - viciously inflicting abuse for perceived offenses - have been indicted on federal slavery charges.
Varsha Mahender Sabhnani, 35, and her husband, Mahender Murlidhar Sabhnani, 51, who operate a worldwide perfume business out of their home in Long Island, New York, with factories in Singapore and Bahrain, were arrested last week after one of their servants was found wandering outside a doughnut shop.
The indictment, handed up Tuesday night, charges the couple with two counts of forced labor and two counts of harboring illegal residents. The Sabhnanis will be arraigned on the indictment Thursday.
The defendants, who are naturalized U.S. citizens from India, had their passports confiscated when they were arrested.
A magistrate judge in U.S. District Court in Central Islip set bail last week at $3.5 million. Friends and relatives of the couple indicated they would be willing to post bail on their behalf, but as of Wednesday morning, the pair remained in custody.
Authorities uncovered the abuse after one of the women was found by police wandering in Syosset, New York, on May 13, wearing only pants and a towel. The woman is believed to have escaped the Sabhnani home when she brought the trash out the night before.
Assistant U.S. Attorney Demitri Jones has called the allegations "truly a case of modern-day slavery."
The women, prosecutors said, were subjected to beatings, had scalding water thrown on them and were forced to repeatedly climb up stairs and take as many as 30 showers in three hours - all as punishment for perceived misdeeds. In one case, prosecutors said,one of the women was forced to eat 25 hot chili peppers at one time.
One of the women also told authorities she was cut behind her ears with a pocket knife and both were forced to sleep on mats in the kitchen. They were fed so little, they claimed, that they were forced to steal food and hide it from their captors.
Attorneys for the couple said they intend to fight the allegations. Charles A. Ross, who represents Varsha Sabhnani, said the couple traveled extensively and that the two Indonesian women were free to leave whenever they wished.
Identified in court papers as Samirah and Nona, the women arrived legally in the United States on B-1 visas in 2002. The Sabhnanis then confiscated their passports and refused to let them leave their home, authorities said.
The women were promised payments of $200 and $100 a month, but federal prosecutors said they were never given money directly. One of the victims' daughters living in Indonesia was sent $100 a month, prosecutors said.
They have since been cared for by Catholic Charities, according to a spokesman for Immigration and Customs Enforcement.(***)
OshHisham May 25th, 2007, 05:26 AM nenek saya punya TKW(orang gaji) baru sahaja melarikan diri tanpa sebab walaupun sudah dibayar gaji!!! mengapa tidak dilaporkan di mesia indonesia? mengapa diam!?
banyak lagi kes sebegini berlaku dan ada juga kes melarikan anak kecil majikan! tetapi sama sekali tidak akan dilaporkan media indonesia!!...mungkin bagi indonesia...semua yang buruk datang dari luar!?:ohno:
so, don't make one-side reports....that is so disgusting
sanhen May 25th, 2007, 05:49 AM I suggest you to report that to your local police and contact the appropriate Indonesian newspaper or Malaysian newspaper or other media. It will be good if you submit an article complete with police reports etc. One of the media should pickup your story, and you are welcome to post it somewhere in this forum. We do not support any sort of crime.
paw25694 May 25th, 2007, 05:57 AM gw juga pernah tuh kayak neneknya oshkosh.. kabur bgitu aja.. tpi di Indo sih.. ehhehehe ;p
OshHisham May 25th, 2007, 06:44 AM police report already been made. but what i wanna say here is, irresponsible medias don't do good for neighboring relations....always potraying other sides negatively.
sanhen May 25th, 2007, 06:56 AM unfortunately, those kind of story sells.. a sad fact of live *sigh*
Blue_Sky May 27th, 2007, 07:49 PM Jum'at, 25/05/2007
SEMARANG – Angka kematian Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri cukup tinggi. Selama bulan Januari sampai April 2007, tercatat angka kematian TKI di luar negeri telah mencapai 44 orang. Sementara, TKI yang meninggal di kawasan Asia Pasifik sampai dengan april 2007 tercatat 12 orang.
Anggota Komisi IX DPR RI Zuber Safawi mengungkapkan, Jawa Tengah merupakan daerah yang cukup besar dalam menyumbangkan pengiriman TKI ke luar negeri. Dari 3,7 juta TKI tahun 2006 yang lalu, Jawa Tengah menempatkan kurang lebih dari 20 persen. Oleh karena itu, dia meminta PJTKI di daerah memberikan perhatian terhadap nasib para TKI.
"Besarnya angka TKI di Jateng harus diiringi dengan pembekalan yang cukup dari awal pengiriman. Dengan pembekalan yang intensif oleh PJTKI diharapkan bisa menjadi bekal bagi para TKI," ungkapnya di Semarang, Jumat (25/5/2007).
Menurutnya, ada dua bekal yang wajib diberikan PJTKI kepada calon tenaga kerja, yakni pembekalan tentang keselamatan kerja dan pembekalan psikologis tenaga kerja. Sebab 30 persen kematian TKI diakibatkan karena kecelakaan kerja.
"Setidaknya ada semacam pemahaman tentang standart safety tentang ketenagakerjaan untuk meminimalisasi kejadian ini," tambahnya.
Dia berharap, masing-masing PJTKI melakukan tes psikotes untuk mengetahui kelayakan mental para calon TKI yang akan berangkat.
"Sekitar 10 persen kematian akibat bunuh diri atau meninggal akibat lari dari majikan. Sehingga perlu ada kesiapan mental yang baik untuk berangkat menjadi TKI," imbuhnya.
Zuber menambahkan, besarnya jumlah angkatan kerja mencapai 108,13 juta orang pada bulan Februari 2007 ini, sehingga pilihan bekerja di luar negeri menjadi semakin tinggi. Hal ini terkait dengan sulitnya lapangan kerja di dalam negeri.
Oleh karena itu, menurutnya perlu penanganan agar mereka yang keluar dapat dikategorikan menjadi tenaga kerja terdidik yang siap masuk sektor-sektor formal.
http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=23018&itemid=2
Blue_Sky June 10th, 2007, 03:58 AM http://i179.photobucket.com/albums/w319/ryvius27/DSCF5653_resize.jpg
http://i179.photobucket.com/albums/w319/ryvius27/DSCF5654_resize.jpg
http://i179.photobucket.com/albums/w319/ryvius27/DSCF5655_resize.jpg
sanhen June 10th, 2007, 04:52 AM astaga................... duduk di lantai semua pake kertas koran... dasar.....
bola June 10th, 2007, 06:57 AM budsseeeettt^^
speechless.....
JAG2 June 10th, 2007, 09:34 AM I don t want to be rude and offensive but this is ' typical Indonesian TKW 'way of blocking pedestrian/pavement/sidewalks , wherever they are.
rilham2new June 10th, 2007, 12:15 PM nenek saya punya TKW(orang gaji) baru sahaja melarikan diri tanpa sebab walaupun sudah dibayar gaji!!! mengapa tidak dilaporkan di mesia indonesia? mengapa diam!?
banyak lagi kes sebegini berlaku dan ada juga kes melarikan anak kecil majikan! tetapi sama sekali tidak akan dilaporkan media indonesia!!...mungkin bagi indonesia...semua yang buruk datang dari luar!?:ohno:
so, don't make one-side reports....that is so disgusting
at the same time, there are many workers that didnt get any salary after working hard almost 6 months ( gaji tak terbayar).
Then, so many ragging and violation done towards Indonesian TKW. There are way too many "maids" who got very disrespectful attitude at their working place mostly were directed to ragging things ...
It is not about the one-side report, we've talked here, there is only a few case of ragging and violation towards Indonesian TKW that revealed to local media. I believe there are way too many cases of it, most of them were ended with the murdership, or the maids gone handicapped (lost of hearings, visions, and another senses), commiting suicide ... :ohno: ...
There are about more than 4 millions Indonesian Immigrants who works at Informal sector... ANd, medias believed that only small amount case were finally processed to the courthouse.... ;) ... SOme of them were revealed right after the "sorry" maid came back to her home-village... (most of them went like this, only few that has been processed under courthouse in the country where they worked)
If we made more investigation about this ragging things, I'll going racist... btw, I'm not a racist-rat...
bozhart June 10th, 2007, 04:21 PM I don t want to be rude and offensive but this is ' typical Indonesian TKW 'way of blocking pedestrian/pavement/sidewalks , wherever they are.
It's what happens if country bumpkin goes to a metropolitan city :D It's called a culture shock, right?
sanhen June 17th, 2007, 08:54 AM http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/17/time/124036/idnews/794601/idkanal/10
Wah.. kaya di dongeng2 ya.. kasian banget.
Blue_Sky June 17th, 2007, 08:59 AM I was just about to post the same thing
Poor lady, I hope the suspect get punished for what he did
haze June 17th, 2007, 11:30 AM I was just about to post the same thing
Poor lady, I hope the suspect get punished for what he did
ya si majikan harus dihukum setimpal dengan perbuatannya.
glitz_boy June 23rd, 2007, 07:21 PM Yeah I dun like when it comes to sitting and blocking the way .... walao no other place to sit and gossiping meh ... i think anywhere also the same .. TKW always liddat... cannot change one ...
OshHisham June 25th, 2007, 02:23 AM so, before we heard negative side of malaysian employer. now, i present you the story that will never been published in indonesian newspaper..
from utusan.com.my (http://www.utusan.com.my/utusan/content.asp?y=2007&dt=0625&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_07.htm)
Penduduk pangsapuri bimbang terlalu ramai penyewa Indonesia, Vietnam
Oleh SOPI SAMAILE
JOHOR BAHRU 24 Jun – Para penduduk Pangsapuri Idaman Senibong, Permas Jaya di sini melahirkan rasa bimbang serta kurang selesa dengan kemasukan pekerja asing wanita yang tinggal menyewa di blok berkenaan sejak 16 Jun lalu.
Malah, penduduk di pangsapuri berkenaan berasa tertipu oleh pihak pemaju dan pengurusan yang memberi jaminan bahawa perkara seumpama itu tidak akan berlaku di pangsapuri tersebut sewaktu mereka membeli unit rumah di situ.
Pengerusi Sementara Jawatankuasa Bertindak Penduduk Pangsapuri Idaman Senibong, Anis Hassan berkata, kira-kira 500 pekerja asing wanita dari Indonesia dan Vietnam yang berkerja di kilang di Jalan Tebrau Empat dan Taman Perindustrian Tampoi ditempatkan di pangsapuri berkenaan.
Menurutnya, semua pekerja terbabit tinggal dari tingkat satu hingga tingkat lima dan perkara itu menyebabkan rasa kurang selesa penduduk terutamanya dari segi kebersihan dan keselamatan.
‘‘Mengenai kemasukan pekerja asing ini juga, para penduduk di sini langsung tidak diberi notis tentang perkara itu.
‘‘Apabila kita meminta penjelasan mengenai perkara itu daripada pengurusan, mereka memberi jawapan bahawa pihak terbabit (pengurusan) memerlukan kewangan tunai untuk menguruskan pangsapuri tersebut,” katanya kepada pemberita di sini hari ini.
Anis menambah, para penduduk telah sebulat suara untuk memanjangkan perkara itu kepada pihak pemaju bagi tindakan sewajarnya supaya tidak menempatkan para pekerja terbabit bersama-sama penduduk tempatan.
Sementara itu, seorang penduduk, Siow Wee Kiong, 36, memberitahu, sejak kemasukan para pekerja itu di pangsapuri berkenaan, kebersihan pangsapuri mula diabaikan malah keselamatan penduduk mula terancam.
Ini kerana, jelasnya, disebabkan kemasukan pekerja wanita terbabit, teman lelaki pekerja terbabit malah orang yang tidak dikenali mula memasuki perkarangan pangsapuri berkenaan dan ia menimbulkan rasa kurang selamat para penduduk.
‘‘Sebelum ini, semua perkara yang kurang elok tidak pernah berlaku tetapi kini pelbagai orang yang tidak dikenali sudah mula masuk ke sini.
‘‘Lagi pun, pekerja asing di sini tidak mengetahui budaya dan cara hidup orang Malaysia, maka akan timbul perkara tidak bermoral di sini hingga boleh mempengaruhi kehidupan anak-anak kecil,” ujarnya.
Seorang lagi penduduk, R. Rakesh, 35, memberitahu, perkara dibimbangi ialah pekerja wanita asing ini melakukan pekerjaan sambilan yang tidak senonoh.
Menurutnya, beliau sendiri pernah terserempak dengan kejadian wanita-wanita asing itu dibawa pergi oleh sebuah kereta oleh beberapa lelaki yang dipercayai untuk tujuan kegiatan tidak bermoral.
‘‘Kita tidak mahu kawasan pangsapuri ini digelar sebagai Geylang di Singapura yang diketahui ramai sebagai pusat pelacuran di negara republik itu.
‘‘Apabila perkara menjadi begitu, sudah pasti harga rumah di kawasan ini akan jatuh,” katanya
Blue_Sky June 25th, 2007, 06:09 PM The news you posted just showing us how racist Malaysian is because I dont see any ilegal activities shows in the news
sejak kemasukan para pekerja itu di pangsapuri berkenaan, kebersihan pangsapuri mula diabaikan malah keselamatan penduduk mula terancam
This is absolutely racist, how can living next to foreign worker can threatened their safety??????
disebabkan kemasukan pekerja wanita terbabit, teman lelaki pekerja terbabit malah orang yang tidak dikenali mula memasuki perkarangan pangsapuri berkenaan dan ia menimbulkan rasa kurang selamat para penduduk
So are you trying to tell me that a male in Malaysia is prohibited to enter perkarangan pangsapuri of a female??? and the guy must introduce himself first to all the neighbour???
beliau sendiri pernah terserempak dengan kejadian wanita-wanita asing itu dibawa pergi oleh sebuah kereta oleh beberapa lelaki yang dipercayai untuk tujuan kegiatan tidak bermoral
So when a women in Malaysia sitting in one car with a guy, they only can be end up in a hotel room???
OshHisham June 27th, 2007, 02:04 AM ^^haha....you are still not in the society yet....still studying, right?
Blue_Sky June 27th, 2007, 04:31 AM Still studying doesn't mean I can't enter the society ;)
I have a lot of Malaysian friend staying with their bf or gf right now, one in Tiara Ampang Condominium, one in North Point (opposite mid valley and this one is Malay girl with Arabic student) and one is right here in my condo somewhere near KLCC. Do they got any complain from the neighbour or management??? NO. And as long as I know living together is a common in big cities include KL
So why if lower society like FW do this and then everyone kecoh and say
pekerja asing di sini tidak mengetahui budaya dan cara hidup orang Malaysia
Gajah di depan mata tak nampak, debu diseberang sungai pun nampak :lol:
OshHisham June 27th, 2007, 12:24 PM are you a muslim? if you are a muslim, then...it's your responsiblilty to make a report about your friend living together to JAWI(jabatan agama islam wilayah persekutuan) or JAIS( jabatan agama islam selangor).
again, i've already made commend in 'what's wrong to jb' thread. it is a matter of showing a good behavior in foreign land(anywhere on earth)!
jaga maruah negara anda...itu pesanan saya kepada FW.
rilham2new June 27th, 2007, 12:44 PM Umm, one thing that may differs mr oshkosh and blue_sky is that Blue sky can see Indonesia from Malaysia and can see malaysia from Indonesia as well ... Hahaha, trust me I'm also in the same position :D.. While what oskhosh know is to see Indonesia from Malaysia (he simply cant see in a different way) .. So, what to trust ??? Both me and blue_sky, experienced and read Indonesian and Malaysian media. We experienced Malaysian and Indonesian society :D (it is not that hard for us to compare, and make such an investigation and so on)
I guess, this thread has been fair enough, It is posted under Indonesian Subforum (and of course, mostly looking from Indonesian perspective). If u want to post it from Malaysian perspective (or any other perspective)... it is okay, then do it in your forum.
rilham2new June 27th, 2007, 12:48 PM THe story of another Ceryati is only the fewww things came around the media. If I talked or had any chit-chat with immigrant worker in JB (geeezzzz, It was surprised me that so many sad things... but mostly adalah gaji tak terbayar. :( Of course, this small and weak worker will not admit that he/she just has been violated :( ) .... Most of the case were revealed just right after the worker came back to their homeland :( ... Sighhhh ...
kamski June 28th, 2007, 04:14 PM I'm really disgusted by xenophobia.
I used to live in Malaysia and Jeddah (Saudi Arabia), and since there are many TKW there, people could get racist sometimes toward Indonesians.
But the even sadder part about this is how the embassy doesn't care that much about their own people. I mean I'd understand why they can be of a little embarrassment to some people (like loitering and stuff), but come on... these people need help and they aren't treated fairly. Discussions about this are so common in within the Indonesian community (mostly in the Middle East).
Blue_Sky June 28th, 2007, 04:23 PM are you a muslim? if you are a muslim, then...it's your responsiblilty to make a report about your friend living together to JAWI(jabatan agama islam wilayah persekutuan) or JAIS( jabatan agama islam selangor).
again, i've already made commend in 'what's wrong to jb' thread. it is a matter of showing a good behavior in foreign land(anywhere on earth)!
jaga maruah negara anda...itu pesanan saya kepada FW.
Why would I bother to make any report??
Its their life, bad or good is not us to to get involved in it
Looks like you never really been in the society (execpt kampung society :ohno: )
And my message for you "jaga harga diri negara anda, menjelekkan negara lain hanya memberikan kesan buruk bagi negaramu"
Blue_Sky August 13th, 2007, 06:24 PM Insurance for foreign maids now mandatory in Malaysia
KUALA LUMPUR (ANN/The Star): Insurance protection is now mandatory for all foreign maids hired through member companies of the Malaysian Association of Foreign Housemaids (Papa).
Papa president Datuk Raja Zulkepley Dahalan said the protection would be implemented via a new scheme that was almost ready to roll out.
"All members will have to participate and all employers must buy the insurance. This is what was agreed under a Memorandum of Understanding signed between Malaysia and Indonesia last year," he said.
Employers will have to pay a premium of RM48 (US$14) (one year) or RM75 (two years) for the insurance scheme that would be underwritten by a consortium led by Jerneh Insurance Berhad.
Raja Zulkepley said an important and unique feature of the scheme was immediate coverage from the moment a maid touches down in Malaysia for 30 days.
"The coverage of maids would take effect the moment they obtain clearance from any immigration checkpoint," he said, adding that more than 90% of the 400,000 foreign maids in Malaysia were Indonesians.
"Their names do not need to be forwarded to the consortium and the maid can make claims should they encounter any accident. The maid agency, however, needs to register their names with the consortium online within 30 days," he said.
Other features of the scheme include RM10,000 term life coverage, RM50,000 personal accident coverage, RM750 medical expenses, RM5,000 repatriation expenses and RM7,500 hospitalisation and surgical expenses.
"The maids are also covered for third-party liability. Should their actions cause their employer to be legally liable for compensation, they are covered for up to RM5,000," Raja Zulkepley said.
He added that the association's initiative to introduce the scheme to its 160-odd members was aimed at addressing the social welfare of the maids.
"We believe that this policy will alleviate the financial burden of the Health Ministry as well as provide an incentive for maids to work here. "We might have the lowest pay for foreign maids (compared with some other countries) but when they realise that we look after their welfare, they might be attracted to work here," said Raja Zulkepley.
Papa vice-president Jeffrey Foo said about 100-odd foreign maid recruitment companies were still not registered with the association and that the association was in the midst of addressing this issue. (***)
Blue_Sky August 13th, 2007, 06:27 PM Two RI workers dead, two others hospitalized in Saudi Arabia
Ridwan Max Sijabat, The Jakarta Post, Jakarta
The bodies of two Indonesian migrant workers have been flown to Riyadh, Saudi Arabia, for autopsies, while two other women are in intensive care in Alfaj, after allegedly being tortured by their employers.
A facsimile sent to the Foreign Ministry here by the Indonesian Embassy in Jeddah over the weekend said the four had allegedly been tortured by seven members of a family in Alfaj on Aug. 3 and 4.
As the bodies of Siti Tarwiyah, a 32-year-old migrant worker from Ngawi, East Java, and 28-year-old Susmiyati from Pati, Central Java, are being flown to Riyadh for autopsy, Ruminih, 25, from Pandeglang, Banten, and 27-year-old Tari from Karawang, West Java, are being treated at the ICU of a hospital in Alfaj, Saudi Arabia, for serious injuries.
Director for labor protection at the National Labor Placement and Protection Agency (BNP2TKI) Mardjono confirmed the case Sunday and said that the agency had hired a lawyer in Riyadh to accompany Ruminih and Tari in the case.
"We have met with the families of the four here Friday to officially inform them of incident and asked the labor export companies to handle their insurance claims and protect their rights," he said, adding that the families were unlikely to forgive the suspects and would demand they be brought to justice.
According to the Indonesian consular and labor attach‚ who along with the chief of the Alfaj police precinct paid a visit to the hospital on Aug. 8, Ruminih and Tari were still in the ICU with serious injuries but both were recovering and were able to speak.
"Both are suffering from serious injuries after being caned to many times. They look traumatic and are in a weak condition. In several days, they are expected to be removed from the ICU," the facsimile read.
In an interview with Indonesian diplomatic staff and before a Saudi police officer, the two women said the seven family members had beaten them with ropes, power cables and handcuffs, as well as hitting and kicking their bodies.
According to the facsimile, the first round of torture was conducted at around 10 p.m. to 1 a.m. Riyadh time and was continued from 2 a.m. until early in the morning. The second round occurred from 7 a.m. until 1 p.m.
"The four victims were rushed to the hospital at 3 p.m. but two died before getting medical assistance."
The women said their employers had accused them of practising black magic on their 18-year-old son after he became ill.
The Alfaj police have detained the seven suspects for further investigation.
The two Indonesians were questioned by the police without the presence of interpreters and were asked to sign a document they were unable to read.
The victims' families, who have yet to receive official information from the government, were shocked by the incident, calling on the government and labor export companies to be held accountable.
"We ask the government to take responsibility for my daughter's case and we are now in Jakarta to get first-hand information from the government," Ruminih's father Surtim told The Jakarta Post on Sunday.
Siti's father Slamet Demyati asked the government to bring back his daughter's body and reveal the truth to the public as soon as possible.
"I would not have sent her to work overseas just to experience such inhumane treatment from uncivilized people," he said.
Wahyu Susilo, an advocacy consultant for Migrant Care, slammed the government, particularly the BNP2TKI, saying it had moved too slowly in handling such a sensitive case.
"Where are the director general for citizen protection (at the Foreign Affairs Ministry) and BNP2TKI? What are they doing? The government has spoken too much but done nothing," he told the Post.
Wahyu said Migrant Care would bring the case to the upcoming 71st session of the UN Committee on the Elimination of Racial Discrimination in Geneva and ask for the assignment of a special rapporteur to probe into the abuse of Indonesian migrant workers overseas.
Surakarta August 13th, 2007, 06:35 PM Pemerintah Indonesia kurang tegas & berani, gue lihat sering para pembantu di aniaya di negara-negara arab. Kenapa harus takut ?
Agama bukan alasan untuk menjadi majikan yang baik. Gue rasa justru jarang denger pembantu di negara eropa barat dianiaya, karena mereka sudah tingkat kesadaran menghargai manusia sudah tinggi.
Blue_Sky August 13th, 2007, 06:52 PM I agree with the part that religion shouldn't be excuses, in fact there should be no excuses at all. Indonesian government should be more proactive to defend our worker's right
Surakarta August 13th, 2007, 07:10 PM Dan anehnya, sudah dianiaya, diperkosa dsb, kalua di pengadilan pasti kalah:ohno: , karena pemerintah Indonesia itu kurang begitu care sama rakyatnya. Lihat negara eropa walau rakyat bersalah masalah drugs tetep coba bebaskan.Padahal menurut gue itu, pembantu itu pahlawan tanpa tanda jasa yang bawa masuk devisa negara.....
Sudah STOP kirim pembantu ke negara ( arab ) yang suka menganiaya. Ini khan terbukti.....agama bukan jaminan jadi majikan yang baik.
rilham2new August 14th, 2007, 07:11 AM Pemerintah Indonesia kurang tegas & berani, gue lihat sering para pembantu di aniaya di negara-negara arab. Kenapa harus takut ?
Agama bukan alasan untuk menjadi majikan yang baik. Gue rasa justru jarang denger pembantu di negara eropa barat dianiaya, karena mereka sudah tingkat kesadaran menghargai manusia sudah tinggi.
Lihat2 keadaan juga donk .... di NEGARA EROPA sana ... yang pake pembantu tuh yang tingkat ekonomi kayak apa :tongue2: .. Tingkat pendidikan mereka sperti apa ....
Apakah pekerja kantoran biasa akan tetap pake pembantu di Eropa sono ..... Bagaiamana dengan Indonesia (atau Malaysia,,, atau Singapura ...,, atau ARAB) PNSa atau pekerja kantoran biasa aja mau bayar pembantu (soalnya gajinya murah...)
rilham2new August 14th, 2007, 07:17 AM Sudah STOP kirim pembantu ke negara ( arab ) yang suka menganiaya. Ini khan terbukti.....agama bukan jaminan jadi majikan yang baik.
Dan orang yang mengamalkan agama juga bukan jaminan dia akan berperilaku buruk ..... (kecuali sebagian orang yang sudah tenggelam dengan stereotip bahwa "mengamalkan agama" berarti "EKSTREMIS" ... dan "tidak mengamalkan agama, sekulerisme, komunisme, agnotisme, atheisme" Berarti "BAIK ..." )
Kalo SURAKARTA bicara stereotip secara AGAMa (walaupun akhirnya rada2 rasis)... besok aq akan bicara stereotip secara RAS ... kita tahu sebagian besar penganiayaan pembantu di Malaysia berasal dari ras apa (TITIK) ...
So, pliss stop stereotyping ... :ohno:
Tolong ketika kita bicara baik atau buruk , jangan dikait-kaitkan dengan agama (dan juga ras)....
Surakarta August 14th, 2007, 01:21 PM Gue bukan bicara streotip, tapi berdasarkan fakta yang ada di negara-negara yang gue sebutkan banyak terjadi...:ohno: , dan gue lihat tidak ada perubahan dari pemerintah Indonesia untuk berani menindak TEGAS pelakunya, malah sebaliknya TKW kita yang disalahkan.....:ohno: :nuts:
Lain ceritanya dengan TKW asal filiphino di negara-negara : Italy, spanyol..mereka malah dianggap keluarga sendiri & betah. dan bebas untuk berkontak dengan families di negaranya. Makanya mereka selalu balik lagi ke Eropa...:banana:
Agama mereka juga sama-sama katholik !!!!
Surakarta August 14th, 2007, 03:35 PM Pemulangan Jenazah TKI Tunggu Otoritas Arab Saudi
Jakarta (ANTARA News) - Pemulangan jenazah dua orang TKI yang diduga menjadi korban pembunuhan di Arab Saudi akan dilakukan pada kesempatan pertama setelah seluruh proses selesai.
"Pemulangan jenazah akan dilakukan pada kesempatan pertama setelah semua proses selesai. Kita usahakan secepat mungkin tetapi penentunya adalah otoritas di sana (Arab Saudi)," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri RI Teguh Wardoyo di Jakarta, Jumat.
Menurut Teguh, pihak keluarga korban yang diterima Deplu pada Jumat sore meminta agar jenasah korban dipulangkan pada para pelaku memperoleh hukuman.
"Kami akan memfasilitasi," katanya.
Sementara itu, Jurubicara Deplu RI Kristiarto Soeryo Legowo mengatakan pihak KBRI Riyadh telah melakukan koordinasi dengan aparat Arab Saudi untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan guna menyelesaikan kasus tersebut.
"Pemerintah RI akan memastikan bahwa keadilan hukum dapat ditegakkan," katanya.
Menurut Kristiarto, `hearing` terakhir yang dilakukan pada 3 Agustus lalu telah menolak permohonan pengacara tersangka agar tersangka dapat memperoleh penahanan luar.
"Rencananya persidangan akan dimulai pada 10 Agustus mendatang," ujarnya.
Empat orang warga Indonesia mendapat penganiayaan oleh majikannya, dan dua di antaranya tewas yaitu Siti Tarwiyah Binti Slamet dan Susmiyati binti Abdul Fulan, sedangkan dua orang lainnya Ruminih binti Surtim dan Tari binti Tarsim, hingga kini mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Aflaaj Distrik Layla Provinsi Riyadh.
Menurut laporan KBRI Riyadh, tersangka yang melakukan pembunuhan adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara tempat para tenaga kerja tersebut bekerja.(*)
Copyright © 2007 ANTARA
Blue_Sky August 14th, 2007, 06:31 PM RI worker in Malaysia released from death sentence
MATARAM (Antara): An Indonesian worker from West Lombok, West Nusa Tenggara province, Adi bin Asnawi, who had earlier been sentenced to death in a murder case in Negeri Sembilan, Malaysia, has been acquitted by a higher court which had found him insane.
Information obtained from reliable sources in Mataram on Tuesday said Adi was freed from the death sentence after the Seremban High Court in Negeri Sembilan State, West Malaysia, issued a ruling affirming that he was insane.
As reported earlier, a local district court in Malaysia sentenced Adi bin Asnawi to death.
Although the Seremban high court had acquitted Adi , until now he is still being detained in a Malaysian jail, pending a pure release from the Negeri Sembilan Sultanate in West Malaysia which will take at least six months.
Adi's parents especially his mother Zakiyah and his father Asnawi were very happy with Adi's acquittal from the gallows.
Blue_Sky August 20th, 2007, 07:39 PM 08/20/07 00:18
RI asks Malaysia`s firmness in handling murder of its citizen
Jakarta (ANTARA News) - Indonesian Foreign Minister Hassan Wirajuda said Sunday Jakarta has pressed for Kuala Lumpur`s firmness in handling the alleged murder case of an Indonesian domestic helper last week.
"This kind of incident has happened frequently and we greatly regret it," the foreign minister said at his office here on Sunday.
He said that the Indonesian government had through diplomatic channels demanded that Malaysia take firm actions and bring the alleged murderer to court.
"Stern prosecution actions are needed to give a shock therapy to other Malaysian employers so that they would not abuse but treat Indonesian workers based on their rights," the minister said.
Wirajuda said that the question of Indonesian workers in Malaysia was not easy to handle because most of them worked in the informal sector.
He said that many of the Indonesian workers were employed as domestic helpers who were difficult to monitor.
"Only after there has been a case such as abuse and murder could the government reach them," he added.
The minister said that in a country whose legal system had been established, employers who committed violations of workers` rights should receive a sever punishment.
"Although there are difficulties being faced, such as distant place, we hope that the diplomatic approach and Indonesia`s demand would give a shock therapy to Malaysian employers," he said.
Kunarsih, domestic helper from Demak, Central Java, was killed at a house in Puchong Perdana, on Wednesday (Aug 15). Her mortal remains had been returned to Indonesia abroad a Garuda plane on Saturday.
She had been working for four months in Selangor and was suspected to have been killed by her employer Goo Engkeng who was now under investigation by Malaysian police.
It was reported earlier that Kunarsih had been sent to Malaysia by an Indonesian citizen Wahyu Hidayat Karno and an illegal Malaysian agency, HLZ Sdn, which managed to secure a work permit from the Malaysian immigration.
"It is now apparent that the Malaysian immigration had issued a work permit to a migrant worker who had been sent by an illegal Malaysian agency and an Indonesian citizen," Head of the Task Force for the Protetion and Service of Indonesian citizens at the Indonesian Embassy in Kuala Lumpur Tatang B Razak said Friday. (*)
Copyright © 2007 ANTARA
===============================
Way to go Mr. Minister :cheers
lombok August 20th, 2007, 07:59 PM Keliatan malayasia tidak menghargai Indonesia:ohno: , abis mereka berpikir rakyat Indonesia sendiri yang butuh:ohno: . Benar-benar kagak manusiawi, gue harap pemerintah harus tegas dalam hal ini serta melindungin warganegara....jangan dilihat dari tingkat sosial ekonomi tapi dilihat dari kemanusiannya.....
KEMANUSIAN YANG ADIL DAN BERADAB.....
Blue_Sky August 29th, 2007, 05:40 AM Govt to settle all RI migrant workers` cases abroad
Jakarta (ANTARA News) - Manpower and Transmigration Minister Erman Soeparno said his minidtry, in cooperation with the foregn affairs ministry, would thoroughly investigate and settle all Indonesian worker abuse and criminal cases in foreign countries.
The minister made the statement here Tuesday when receiving relatives of four Indonesian female workers who were maltreated -- two of them fatally -- in Saudi Arabia.
To the request of the relatives of the two dead workers to bring their bodies home before the start of the Ramadhan fasting month, Erman said he would do his best to meet it.
"In the next one or two days, I will send a ranking official to Saudi Arabia to take care of the bodies," he said.
According to Manpower and Transmigration Ministry data, a total of 30 Indonesian migrant workers overseas were facing the death penalty in courts of law, namely six in Saudi Arabia, seven in Singapore, 16 in Malaysia and one in China.
Four workers were physically maltreated in Saudia Arabia resulting in the death of two of them.
The four were Siti Tarwiyah binti Slamet (who was fatally abused) from Ngawi, Rusminih binti Surtim Suryadi from Pandeglang, Susmiyati binti Mat Rabu Abdul (fatally abused) from Pati and Tari binti Tarsim from Karawang.
The Indonesian ambassador to Saudi Arabia had met with Rusminih and Tari while they were being treated at Aflaj Hospital in Layla District but had in the meantime been transferred to Riyadh Medical Complex Hospital in Riyadh.
The two workers told the ambassador, at the beginning they were treated well by their employer but later four members of their employer`s family beat them up in another house on the ground they had been practising black magic.
The Indonesian Embassy in Riyadh had already coordinated with local authorities and a lawyer to defend the workers` interest and rights.
The embassy had also sent a diplomatic note to the Saudi Arabian foreign ministry demanding the prosecution of the perpetrators of the abuses and manslaughet based on existing laws, and requested an autopsy of the two dead workers` bodies and that the two other workers be brought home after they had received every thing they were entitled to as workers.(*)
Copyright © 2007 ANTARA
Ara September 1st, 2007, 02:46 AM Before we go abroad in defending TKW's rights, how about also defending the pembantu's right at home. Or the way TKW's is treated by immigration when they come home. (They get beaten abroad and their wallet get rape when they come home)
I think that's more doable in the short to medium time.
peseg5 September 1st, 2007, 03:52 PM Before we go abroad in defending TKW's rights, how about also defending the pembantu's right at home. Or the way TKW's is treated by immigration when they come home. (They get beaten abroad and their wallet get rape when they come home)
I think that's more doable in the short to medium time.
Bener bgt, ya paling parah udah disiksa diluar negeri, di dalam negeri diperas ma (k)aparat... Nah (k)aparat2 inilah seharusnya yang disweeping...menjajah bangsa sendiri... jeruk makan jeruk...
ulost16 September 2nd, 2007, 04:17 AM Hum,mm..this is Indonesia's forum right??
Ok, let me begin..
I've friend that do the internship in Consulate General Indonesia in Penang as consuler of TKI..
Berdasarkan pengalaman nya lah..She tried to interview some of the TKW there..
Banyak TKW yg di tampung ma KONJEN karena bermasalah seperti cerita diatas..ada yg Ilegal ada juga yg Korban perkosaan begituu..
But, what has indonesia goverment (read:KONJEN) do?? NOTHING!!!!!...
Emng dasar ga mau ngurusin..
yg parah nya ni yah mas2..tu kakak2 TKW dikasi makan seorang 5 ringgit sehari..(WTH!!!)..yah, menurut aku sih ga mungkin aja pemerintah pusat tu ngasi cuma segitu..(ALLAHUWALAM)..
lagi yg parah..tu ada kakak2 TKW jelas2 ada yg sakit TIPES, ga dibawa ke rumah sakit..dibilang kakak itu stress aja..karena korban perkosaan..
ah yg gila nya..
MAU nyalahin pemerintah malaysia karena ga tegas..tapi pemerintah kita sendiri kayak BANGKE..
Kadang klo denger cerita begitu yg ada cuma GONDOOOOKK..KESELLL..tp ga bisa buat apa2..
MAAP klo ada kata2 yg salah..
mudah2an bisa jadi pertimbangan kita semua..terutama yg BERWENANG DALAM BIDANG NYA!!!!
Blue_Sky September 7th, 2007, 07:57 AM Kamis, 6 September 2007
Lebih Percaya Changi Singapura daripada Soekarno-Hatta
Menikmati Secuil Indonesia di Hong Kong dan Macao (4-habis)
Bekerja di luar negeri, dapat penghasilan hingga lima kali lipat dari gaji di negeri sendiri, membuat tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong sejahtera dari sisi materi. Tapi, mereka sering trauma ketika harus pulang kampung. Kenapa?
HARI masih pagi. Kira-kira pukul 8 waktu Hong Kong. Senin itu, sepekan yang lalu, kantor perwakilan BCA Hong Kong di Dragon Rise Building, Causeway Bay, tampak lengang. Hanya ada dua atau tiga nasabah. Suasana serupa terlihat di kantor Bank Mandiri, di gedung yang sama.
“Memang sepi. Biasanya yang ramai sekali kalo hari Minggu,” kata Haryati, seorang TKW asal Blitar yang hari itu datang ke BCA untuk mengirim uang ke orangtuanya di kampung.
Bank-bank Indonesia yang membuka perwakilan di Hong Kong memang beroperasi lebih lama pada hari Minggu. Maklum, pada akhir pekan inilah TKW-TKW Indonesia libur dan berkesempatan melakukan transaksi perbankan. Kebanyakan mereka mengirimkan uang ke rekening keluarga. Setor dengan mata uang HKD (Hong Kong Dollar) dan bisa diterima hari itu juga oleh keluarga di Indonesia, sudah dalam mata uang rupiah.
Dengan lebih dari 100 ribu TKW Indonesia di Hong Kong saat ini, bank-bank nasional memang melirik pasar besar yang bukan main-main di negeri bekas koloni Inggris itu. BNI misalnya, berkantor di sebuah gedung mewah di Wanchai, kawasan premium yang menghadap Victoria Harbour, selat yang membelah Hong Kong Island dan Kowloon.
Bank-bank juga berebut pasar dengan membuat paket-paket dan program menarik. Bank Mandiri memasang sebuah spanduk besar di Causeway Bay, berisi tawaran bagi TKW untuk membuka rekening dengan iming-iming tiket gratis nonton konser Band Ungu dan Team Lo, yang akan digelar di Queen Elizabeth Stadium, 23 September ini. Cukup dengan membuka tabungan dengan saldo 1.000 HKD (lebih kurang Rp 1,2 juta) atau transfer ke Tanah Air sejumlah 2.000 HKD (2,4 juta), sudah dapat tempat duduk VIP, gratis.
Setiap hari, bank-bank ini juga mendisplay tingkat konversi atau kurs mata uang, baik antara HKD dengan USD maupun HKD dengan IDR (rupiah). Saat saya di Hong Kong, Bank Mandiri memasang kurs Rp 1.203 per 1 HKD, sementara BCA Rp 1.209 per 1 HKD. Selisih kurs ini tentu menarik bagi TKW yang hendak transfer dana ke Indonesia. Sementara untuk rekening tabungan, nasabah juga bisa memilih hendak menabung dalam mata uang HKD atau rupiah.
Bagi TKW di Hong Kong, pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga tidaklah terlalu jadi persoalan. Meski untuk ukuran Hong Kong ada beberapa di antara mereka yang sebenarnya masih underpaid (menerima gaji di bawah standar upah minimum setempat), bila dibandingkan Indonesia gaji di Hong Kong terbilang besar. Dengan 6 hari kerja seminggu, seorang TKW di Hong Kong minimal menerima 4.000 HKD (lebih kurang Rp 4,8 juta). Lima kali lipat standar UMR buruh pabrik di Indonesia.
Meski begitu, para TKW memulai hidup di Hong Kong dalam keadaan prihatin. Sebab ada aturan, 7 hingga 9 bulan pertama bekerja, seluruh gajinya harus disetor kepada agen PJTKI yang memfasilitasi keberangkatan ke Hong Kong. Setelah lewat masa itu, ada lagi hitung-hitungan fee untuk agen antara 20 hingga 40 persen dari gaji per bulan selama dua tahun. “Ya masih wajarlah, kalau nggak dibantu agen kan nggak bisa kerja di Hong Kong,” kata Sri Ningsih, seorang TKW yang bekerja di kawasan North Point.
Setelah bertahun-tahun bekerja, para TKW kebanyakan bisa punya tabungan yang lumayan dan ketika pulang kampung pasti dianggap orang kaya. Nah, uniknya, urusan pulang kampung itu sedikit merepotkan mereka, karena kerap harus berhadapan dengan calo-calo dan oknum di Bandara Soekarno-Hatta. “Banyak yang rese kalo di Cengkareng,” kata Sunarti, TKW asal Tegal Jawa Tengah.
Saat ditemui di dekat kantor KJRI Hong Kong di Keswick Street, Sunarti yang hendak pulang kampung itu menunjukkan tiket pesawat SQ Airlines dengan tujuan Hong Kong-Singapura. “Lebih enak ke Singapura dulu. Nanti dari Singapura naik pesawat lanjutan ke Solo. Repot di Cengkareng, banyak yang gangguin,” kata dia.
Cerita TKW diperas atau dipereteli perhiasannya ketika mendarat di Bandara Soekarno-Hatta memang kerap kali terdengar. Sebuah potret memalukan yang jadi momok bagi TKW kita, yang untuk memperoleh harta yang diperas itu, harus bekerja penuh keringat bertahun-tahun di negeri orang.
Maka, para TKW tak habis akal. Kalau pulang kebanyakan mereka memilih lewat bandara Changi Singapura atau Kuala Lumpur International Airport di Malaysia. Nanti, kembali ke Hong Kong baru lewat Soekarno-Hatta. “Kalau pas dari kampung kembali ke Hong Kong lagi kan sudah tidak bawa apa-apa. Mau diperas apanya,” kata Sunarti, lantas tertawa. (erwin d. nugroho)
kamski September 9th, 2007, 11:29 PM Sepertinya masalah TKI-TKW kita udah jadi rahasia umum bagi orang2 yg sudah tinggal di luar negeri.
Sebenernya gak masalah kita ngirim orang ke luar, TETAPI harus ada standard dari mereka (TKW-TKI) sendiri yg dinaikan. Contoh: bahasa inggris, atau bahasa negara yg dituju.
Juga itu ofisial2 jahat di bandara harus di beresin.
Ara September 13th, 2007, 02:43 PM Sepertinya masalah TKI-TKW kita udah jadi rahasia umum bagi orang2 yg sudah tinggal di luar negeri.
Sebenernya gak masalah kita ngirim orang ke luar, TETAPI harus ada standard dari mereka (TKW-TKI) sendiri yg dinaikan. Contoh: bahasa inggris, atau bahasa negara yg dituju.
Juga itu ofisial2 jahat di bandara harus di beresin.
Bandara emang perlu di beresin habis. kalau perlu, semua ofisial disana di keluarkan. Memang mereka benar benar jahat.
Tidak usah jauh jauh mikirkan orang Indonesia mistreated di luar negri. Bersihkan negara kita dulu. Sudah kena di luar negri, kena lagi di waktu mereka pulang. Apa lagi KBRI dan KJRI di negri sana tidak peduli.
lombok September 13th, 2007, 03:07 PM Maklumlah..orang tidak berperikemanusian:ohno: , seharusnya Indonesia punya mentri sendiri untuk orang Indonesia yang bekerja atau study di luar supaya dilindungi dari segala hal-hal yang tak berperikemanusian:banana:
lombok September 16th, 2007, 01:06 PM TKI Jadi Korban Kekerasan, Dirawat di Riyadh Medical Center
Minggu, 16 September 2007 | 17:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Analis Kebijakan Migrant Care, Wahyu Susilo mengatakan telah mendapatkan laporan adanya tindak kekerasan di Saudi Arabia. “Data yang kami dapat menyebutkan, TKI ini sudah dirawat di Riyadh Medical Center sejak dua hari yang lalu,” ujar Wahyu ketika dihubungi Tempo via telepon, Minggu (16/9).
Namun, hingga saat ini, pihaknya belum mendapatkan identitas TKI perempuan yang menjadi korban. Yang jelas, kata Wahyu, kondisi korban saat ini koma dan dalam keadaan kritis, kedua tangan dan satu kaki korban di amputasi karena luka-luka di tubuhnya yang membusuk.
Wahyu mengaku mendapat laporan dari aktivis Saudi National Human Rights bahwa TKI tersebut disiksa selama sebulan dengan dijemur di terik matahari, dipukul dengan batang besi, hingga giginya rontok semua dan bibirnya sobek. Ia juga mengatakan saat ini belum mendapatkan jawaban dari Saudi National Human Rights untuk mengetahui identitas lebih lanjut mengenai korban.
Amandra Mustika Megarani
lombok October 1st, 2007, 10:48 AM Families of slain workers want justice
Ridwan Max Sijabat, The Jakarta Post, Jakarta
Relatives of two migrant workers killed in Saudi Arabia and of two others seriously injured have demanded justice for the Saudi family allegedly involved in the torture and killings.
While waiting for the arrival of the bodies of Susmiyati binti Mat, 26, and Siti Tarwiyah, 31, at Soekarno-Hatta International Airport on Saturday, the women's families said they would not pardon the alleged killers.
"No pardon for the killers. For the sake of justice, the Saudi Arabian court should punish them as harshly as possible," Siti's husband, Hamid said as he wiped tears from his eyes.
Under Saudi law, convicted killers sentenced to death can escape execution if they are pardoned by the family of the victim.
Susmiyati's younger brother, Supomo, said the family had received an official pardon request from the killers, "but we have decided not to give it. Justice must be upheld in the case".
The two bodies arrived in Indonesia Saturday afternoon aboard a Saudi Arabian Airlines flight.
The bodies had been kept for 58 days in a Riyadh hospital, for autopsies and during the police investigation.
Siti's body was flown from Soekarno-Hatta airport to Surakarta, Central Java, aboard a Garuda Airlines flight. It was then transported overland to her hometown of Ngawi, East Java.
Susmiyati body was flown to Semarang before being transported overland to Pati, Central Java.
Families of Susmiyati and Siti received compensation of Rp 65 million (US$7,100) each from an insurance company that provides coverage for migrant workers, and Rp 10 million each from the labor export company that sent them to Saudi Arabia.
The two died in August after they, along with two other Indonesian migrant workers, Rumini and Tari, were tortured by seven members of the family employing them in Alfaj, a village south of Riyadh.
The Indonesians had been accused of practicing black magic on their employer's sick son.
Rumini and Tari, who are still recovering from their injuries, are still in Riyadh providing testimony for the lower court hearing the case.
Tari's husband, Deden, and Rumini's older brother, Ahmad, called on the government to expedite the return of the two women to Indonesia.
Director General for the Protection of Indonesian Citizens at the Foreign Ministry, Teguh Wardoyo, who was at Soekarno-Hatta airport on Saturday, said Tari and Rumini were being held as witnesses at Malaz Prison in Riyadh, and would return home as soon as they finished testifying.
Migrant Care executive director Anis Hidayah called on the government to reach a bilateral agreement with Saudi Arabia to ensure the protection of Indonesians working in the country.
"This case is no longer an individual case because numerous Indonesian workers have been abused, raped and killed in the Middle East," she said.
"The government should also revise labor export procedures to ensure that only trained workers are sent abroad. Many workers sent overseas are not educated or trained in language and job competence."
Kenapa sih pemerintah takut ama Saudi Arabia:ohno: , kalau demi kebenaran harus dijunjung tinggi tinggi martabat INDONESIA:banana:
OshHisham October 2nd, 2007, 05:39 AM jika dulu orang gaji (TKW) nenek gue sudah melarikan diri, sekarang giliran TKW tante gue juga sudah melarikan diri.
apakah ini sikap typical indonesian ya? suka melarikan dari visa...kamu ingat negara aku itu negara bapak kamu, fikir senang-senang mau masuk keluar?
lain kali, jangan hanya tau mencium bau najis orang lain! cium dulu lobang najis kamu, baru kamu tau betapa busuknya najis kamu itu!
Ebek21 October 2nd, 2007, 06:22 AM sebetulnya males ikutan thread ini..problem lama yang gak beres2 karena pemerintah emang gak becus dan gak ada kemauan buat beresin urusan ini..yg jadi korban ya saudara2 kita di tanah seberang..
tapi habis baca omongan badut malaysia barusan jadi panas juga..pembantu nenek dan tantenya kabur aja ribut !!! bayangin aja kalo nenek atau tantenya itu dipukuli atau diperkosa orang di negara lain !!! atau disiksa sampai stress dan terpaksa terjun dr lantai 20 ??
rilham2new October 2nd, 2007, 06:30 AM jika dulu orang gaji (TKW) nenek gue sudah melarikan diri, sekarang giliran TKW tante gue juga sudah melarikan diri.
apakah ini sikap typical indonesian ya? suka melarikan dari visa...kamu ingat negara aku itu negara bapak kamu, fikir senang-senang mau masuk keluar?
Kesiannya engko ni .... :onho: ....tak sanggup lagi ke gaji orang lain pulak .... Cuba awak cari Malaysian Malay yang nak jadi pekerja dengan bayaran lagi murah dari pekerja Indon tu ... Bayar mahal pun tak nak jugak ... dah ada PTPTN, alaun kerajaan ...tak payah lagi nak keje kan ;) ...
Kereta proton pun boleh berhutang pulak ...patutlah,takde orang Malaysia nak jadi pekerja kat Malaysia .... asik impor Immigrant worker je :D ... Malas betul ... padahal orang miskin dekat pantai timur semenanjung melambak-lambak ...
Saya duduk dekat dua2 negara.... baik buruk dua2 negara saya tahu .... Jangan paksa saya untuk reveal buruk2 Malaysia dekat sini ;)
lain kali, jangan hanya tau mencium bau najis orang lain! cium dulu lobang najis kamu, baru kamu tau betapa busuknya najis kamu itu!
Okay, my sense consider it as Blosomming language :|
MARINHO October 2nd, 2007, 06:36 AM Thank you very much for your comment ilham_rj
Saya seratus peratus setuju!
:applause:
rilham2new October 2nd, 2007, 06:47 AM ^^ Sebenarnya untuk EXPLAIN kasus2 penganiayaan TKI ... jawabannya sangat rasis .... :D .. Dan itu sebabnya kenapa Melayu Malaysia tidak pernah akan mengerti .... :D
So, I've EDITED my very RACIST STATEMENT :D
OshHisham October 2nd, 2007, 06:53 AM baik buruk dua2 negara saya tahu .... Jangan paksa saya untuk reveal buruk2 Malaysia dekat sini ;)
i tak perlu paksa, u all dah buat dah pun....
hah, apa dia? cakap lah..? everybody want to listen i guess
Blue_Sky April 1st, 2008, 09:53 AM This is a very good story
If only all bosses as good as her family :)
http://bonne-vie-de-moi.blogspot.com/2007/11/surabaya-indonesia-trip.html
hetfield85 April 4th, 2008, 05:28 AM Texas woman jailed for abusing Indonesian maid
A Texas woman was sentenced to a year and a day in jail Thursday after pleading guilty to paying her Indonesian domestic servant just 320 dollars over five years and refusing to allow her to leave.
Rozina Mohd Ali was sentenced in federal district court in Houston, Texas, and was ordered to pay her former maid more than 72,000 dollars in compensation.
Ali, 43, admitted she had withheld her maid's passport to prevent her fleeing to Indonesia, while forcing her to work for her family. She further threatened her with physical harm if she did not work, prosecutors said.
Ali first hired the woman in Malaysia in 2002, agreeing to pay her around 112 dollars per month. She then brought the maid to the United States on a temporary visitor's visa, where she worked until 2007.
According to prosecutors, Ali forced the maid to work long hours performing household chores and yard work but paid her only 320 dollars over five years.
The maid eventually escaped from Ali's house in 2007 and managed to contact Indonesian authorities in the United States.
|
|