View Full Version : Flood problem and the solution
lombok October 26th, 2007, 07:35 PM Atasi Banjir Rp9,5 Trilyun
Jumat 26 Oktober 2007, Jam: 10:00:00
JAKARTA (Pos Kota) – Mengendalikan bencana banjir di DKI Jakarta dibutuhkan dana Rp 9,5 trilyun, di mana Rp 3,5 trilyun diantaranya berasal dari partisipasi swasta. Dana itu sudah termasuk untuk merehabilitasi 2 buah jembatan yang melintasi sungai di Kampung Melayu dan Kalibata.
Diakui Panitia Anggaran dan anggota Komisi V DPR-RI Enggartyasto Lukita, sulit membebaskan Jakarta dari masalah banjir. “Kami sudah memfasilitasi pejabat dan tenaga ahli yang berkompeten dibidangnya. Tapi untuk merealisasikan master plan yang telah disepakatinya tetap saja membuat kita sakit kepala,” kata wakil rakyat itu.
Menurut dia, upaya yang dilakukan Departemen Pekerjaan Umum dalam mengurangi masalah banjir di DKI Jakarta sudah maksimal. Dan bila saat ini hasilnya belum seperti yang diharapkan itu semata-mata karena keterbatasan dana. Sementara itu, pemerintah baru akan mengalokasikan dana yang cukup besar pada anggaran tahun jamak (multy years) dan dimulai 2008.
Pembebasan tanah di bantaran sungai untuk pekerjaan normalisasi sangat melelahkan. Disamping belum ada kesadaran dari penghuni bantaran sungai, mereka juga sulit diarahkan untuk direlokasi ke rumah susun.
Menurut Kasubdit Perencanaan Teknik Sungai Danau & Waduk Ditjen Sumber Daya Air Departemen PU Budi Santoso, perlunya singkronisasi antara penanggulangan banjir di DKI Jakarta dengan UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air (SDA).
Masalahnya, UU ini telah mengamanatkan kegiatan penanganan banjir disesuaikan dengan konservasi dan pendayagunaan SDA. Menurutnya, ada tiga faktor penyebab masalah banjir di DKI Jakarta yaitu tersendatanya aliran air ke laut akibat sedimentasi sungai, tumpukan sampah dan kerusakan lingkungan di daerah hulu.
SIAGA BANJIR
Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengimbau semua unsur masyarakat dan aparat Penanggulangan Bencana mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana menimpa ibukota.
"Bencana bisa saja terjadi di ibukota. Untuk itu, persiapan penanggulangan bencana mutlak harus dimulai dari sekarang," tegas Prijanto di sela-sela peninjauan Pekan Sadar Bencana, di Silang Monas Jakarta, Kamis (25/10).
Ia mengungkapkan sebanyak 3.400 aparat sudah disiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. “Mereka harus tetap siaga,”katanya.
Dalam kesempatan tersebut wagub juga menyempatkan diri mengunjungi pameran sarana dan prasarana penanggulangan bencana. Ikut memeriahkan pameran tersebut Kotamdya lima wilayah DKI, Kabupaten Kepulauan Seribu, TNI, Polri, PMI, ORARI, dan unsur lainnya.
Pada pameran tersebut terlihat masing-masing unsur tersebut memperagakan alat dan prasarana dalam penanggulangan bencana seperti perlengkapan evakuasi, dapur umum, hingga alat telekomunikasi.
Gue bikin thread baru abis kagak ketemu dimana thread masalah banjir ? boleh dipindahkan kalau memang udah ada...:banana:
asudarsono October 27th, 2007, 01:28 AM Ada ya hubungannya banjir dan jembatan?
Kalau ada yg tahu masterplan penanggulangan banjir, boleh donk aq dikasih tunjuk. Siapa tahu dgn banyaknya kepala yg berpikir, sakit kepalanya bisa berkurang.
kamski October 27th, 2007, 04:15 AM Bukannya penyebab banjir itu karena hilangnya endapan air? Perumahan Pantai Indah Kapuk berdiri diatas endapan air kan?
sanhen October 27th, 2007, 06:15 AM Judul thread nya ngga sesuai tradisi. Harusnya : "Welcome to the Annual Jakarta Flood Festival 2007"
AceN October 27th, 2007, 07:03 AM Judul thread nya ngga sesuai tradisi. Harusnya : "Welcome to the Annual Jakarta Flood Festival 2007"
Biar agak kerenan dikit..
Jakarta International Flood Festival 2008
"Save our water"
Jakarta, 21-31 Mei 2008
Bintang tamu :
Fauzi Bowo, pembicara utama
DPRD Jakarta, tersangka utama ( pembangunan BKT & BKB yg tak kunjung kelar :D )
Rakyat Jakarta, korban utama
:nocrook:
lombok October 27th, 2007, 10:49 AM Pembangunan Fisik BKT Awal 2008
Sabtu 27 Oktober 2007, Jam: 9:33:00
JAKARTA (Pos Kota) – Pemda DKI Jakarta mentargetkan, awal tahun 2008 mendatang, pembangunan fisik Banjir Kanal Timur (BKT) dimulai.
Menurut Gubernur DKI Jakarta H. Fauzi Bowo, pembangunan BKT tetap sesuai rencana. “Pemda tengah menyelesaikan masalah pembebasan yang diharapkan selesai tahun ini,”katanya, kemarin.
Menurut Fauzi, pembangunan BKT harus terlaksana. Sebab, BKT tersebut merupakan salah satu upaya pemda mengatasi masalah banjir. “Memang tidak akan terselesaikan seluruhnya. Tapi beberapa bagian harus dituntaskan,”katanya.
Ia menjelaskan, 40 persen dari luas Jakarta berada di bawah permukaan laut. Selain itu, sebanyak 13 sungai bermuara di Jakarta. Kondisi tersebut membuat Jakarta tetap rawan banjir. “Tapi pengentasan banjir di Jakarta tetap menjadi salah satu program utama pemda,”katanya.
TAHUN DEPAN
Pemda DKI Jakarta bertangungjawab dalam pembebasan lahan. Sedangkan pekerjaan fisik BKT dikerjakan Departemen Pekerjaan Umum (DPU).
“Pemda membebaskan lahan sedangkan penggalian dan pembangunan fisik oleh Departemen Pekerjaan Umum,”kata H. Wisnu A Soebagio, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
Ia menyebutkan, bila BKT selesai maka masalah banjir di kawasan industri dan pemukiman di Jakarta Timur dan Jakarta Utara bisa teratasi. Setidaknya sekitar 30 persen masalah banjir di kawasan itu bisa terselesaikan. Sebab, BKT akan menyedot air dari sejumlah kali yang membelah kawasan itu.
Sejak awal BKT diharapkan mampu menuntaskan masalah banjir di dua kawasan itu. Bila digabung dengan Banjir Kanal Barat (BKB) maka akan berbentuk tapal kuda sehingga penuntasan anjir di barat dan timur dapat dituntaskan pula.
Dana yang dikucurkan untuk BKT senilai Rp 5 trilyun. Separuh dana tersebut digunakan untuk membebaskan lahan sepanjang 23,7 KM dengan lebar 100 meter.
Saat ini, pemda masih terus melakukan pembebasan tanah. Namun masih ada yang belum terbebaskan. Dua walikota Jakut dan Jaktim tengah melakukan penuntasan pembayaran gantirugi.
Sementara itu, Pemda DKI Jakarta saat ini tengah melakukan perbaikan drenase atau saluran air.
Menurut Wisnu, perbaikan drenase tersebut dilakukan karena aliran air di kawasan tersebut tersendat.
Ia meminta kesadaran warga Jakarta agar tidak membuang sampah ke kali atau selokan. Sebab tidak sedikit selokan yang mampet akibat ditutupi sampah.
UMD October 27th, 2007, 05:17 PM Pake Pakar dari Belanda. Itu kota Amsterdam juga lebih dari separuh berada di bawah permukaan laut. Schiphol aja di bawah permukaan laut.
Bukankah ada proyek penentasan banjir yg di desain oleh Belanda pada zaman dulu yg sampe sekarang juga belum diselesaikan di Jakarta?
Dazon October 28th, 2007, 03:20 PM ^^
sebenernya project basenya udah dibuat dari jaman VOC tapi sekarang banyak disalah gunakan oleh pemkot jakarta tapi faktor dominan yg buat kesalahan ya itu daerah slum di jakarta.
lombok October 28th, 2007, 08:26 PM Awas Jakarta Kelelap
Minggu 28 Oktober 2007, Jam: 6:45:00
JAKARTA (Pos Kota) –“Awas banjir!” Sebagian warga Jakarta tidak akan terkejut dengan kalimat tersebut. Sebab banjir dianggap peristiwa alam yang lazim terjadi. Tiap tahun sebagian wilayah Jakarta dipastikan terendam air. Terutama warga di bantaran Kali Ciliwung dan Kali Cipinang.
Namun yang membuat was-was, hujan sedikit atau sebentar saja, air sudah menggenang dimana-mana. Di Ibukota Jakarta, curah hujan menurut prakiraan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) sebetulnya masih rendah kurang dari 50 milimeter.
Dalam kondisi ini saja hujan yang baru beberapa hari turun di Jakarta pasca kemarau panjang sudah membuat Ibukota nyaris lumpuh. Belum lagi jika curah hujan tinggi. Jakarta bisa kelelep lagi seperti Februari lalu.
Pemda DKI sendiri dituding kurang gerak cepat mengantisipasi banjir di Jakarta. “Perbaikan saluran air saja dilakukan saat hujan sudah mulai turun. Seharusnya itu dilakukan jauh-jauh hari. Sebagai bukti, hujan sedikit saja Jalan Thamrin-Sudirman sudah kebanjiran,” ujar H Torong SH, warga Cililitan.
Sejumlah saluran air yang tersebar diberbagai lokasi di lima wilayah Jakarta, menurut pantauan Pos Kota, banyak yang tersumbat sampah dan dipenuhi lumpur. Seperti di Koja, Semper, Warakas, Kelapa Gading Jakarta Utara, Cipinang, Cililitan, Pondok Kopi, Jaktim, Jl. Sudirman, Thamrin, Salemba Raya, Gunung Sahari Jakpus, Kebayoran Lama, Tebet, Manggarai, Jaksel dan Grogol, Jl. Daan Mogot, Joglo Jakbar.
Selain itu, perusakan lingkungan. Tata ruang yang tidak ditata dengan baik menambah parahnya kondisi itu. Tumbuhnya rumah mewah dan gedung bertingkat, tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan di Ibukota ditambah rusaknya kawasan hulu di Bogor dan Cianjur.
TITIK RAWAN BANJIR
Selama ini terdapat 79 titik kawasan yang selalu menjadi langganan banjir di Jakarta. Titik banjir tersebut tersebar di lima wilayah. Di kawasan Utara Jakarta sebagai muara sungai kini berkembang berbagai kawasan bisnis dan perumahan mewah. Muara sungai di Pantai Indah Kapuk diurug. Bahkan sekitar 800 hektar kawasan tersebut sudah ditinggikan.
Mereka yang tinggal di kawasan tersebut tidak tersentuh banjir. Sebab kawasan tersebut dipasang sistim polder atau pompa air. Namun, lingkungan sekitar yang sudah terhambat oleh tingginya dataran setelah menjadi langganan banjir.
Upaya pemeliharan saluran dan pengerukannya, seperti yang kini tengah dilaksanakan Sudin PU Tata Air Kodya Jakarta Utara di Jalan Bugis, Tanjung Priok, serta Jalan Semper Raya, sudah sangat terlambat. Mengingat pelaksanaannya sudah memasuki musim hujan, bukan pada waktu-waktu sebelumnya.
Sementara itu mengenai kesiapan logistik bagi warga bila terjadi bencana banjir, Kepala Bagian Bintal Kesos Jakarta Utara, Tri Kurniadi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan peralatan dapur umum dan tenda bila ada kejadian banjir di satu wilayah.
PERBAIKAN SALURAN MAKRO
Kepala Dinas PU DKI Jakarta Wishnu Subayo Yusuf mengatakan antisipasi banjir dengan perbaikan saluran mikro meliputi pembersihan saluran air atau drainase, normalisasi saluran primer. Perbaikan saluran mikro kini tengah dilakukan di Cikini, Jl RP Soeroso, Jl Teuku Umar, dan Jl Sam Ratulangi.
Untuk wilayah Jakarta Barat, kata Wishnu yaitu di sepanjang Jl Daan Mogot mulai dari perempatan Grogol sampai Kalideres.
perbaikan saluran makro dilakukan pemerintah pusat adalah normalisasi Kali Ciliwung mulai dari Jembatan Merah sampai stasiun Jakarta Kota.
“Kita juga membuka muara banjir kanal barat (BKB) di Muara Angke, pengerukan BKB, dan pengerukan Kali Cengkareng Drain,”katanya.
Sudin PU Tata Air Jakarta Selatan sudah siagakan 15 unit mesin pompa dan 6 rumah pompa yang tersebar di sepuluh kecamatan di Jaksel berikut sepuluh ribu karung pasir.
Walikota Jaksel Syahrul Effendi SH, MM, didampingi Kasudin PU Tata Air Ir Hj Endang Setiawati dan Amir Mudjahid, Kasi Pemeliharaan menjelaskan, pihaknya sudah rutin menyiapkan segala perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan .
PROYEK BKT
Pemda DKI Jakarta berupaya mengentaskan Jakarta dari banjir. Uang trilyunan rupiah dirogoh untuk pembuatan Banjir Kanal Timur (BKT). Mukhayar Wakil Komisi D DPRD DKI Jakarta mengatakan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) bukan berarti akan bebas banjir. Namun bisa mengurangi titik-titik banjir diwilayah Jakarta Timur. Sebab aliran Sungai Cipinang, Sungai Sunter maupun Sungai Bauran debitnya bisa berkurang.
Untuk itu dewan berharap anggaran dana untuk pembebasan tanah yang belum terserap sekitar Rp 850 milyar ini segera dibayarkan. “Pemda DKI hanya membebaskan lahan sedangkan biaya pembangunan dari anggaran pemerintah pusat,” ungkapnya.
Sedangkan untuk mengurangi genangan air di wilayah lainnya, lanjut Mukhayar pihaknya memintan Dinas Pekerjaan Umum Air harus bekerja lebih ekstra lagi. Karena saat ini musim hujan sudah mulai tiba sedangkan proses pengerukan dan perbaikan saluran masih banyak yang belum selesai.
“Kami minta Dinas PU Air untuk lebih mempercepat lagi proses perbaikan saluran air,” ucapnya. “Bila perlu beli alat canggih untuk nyedot lumpur utamanya untuk jembatan dibawah jalan raya yang sulit dibongkar.”
POLDA SIAPKAN BANTUAN
Guna mengantisipasi kemacetan akibat banjir di musim penghujan nanti, Polda Metro Jaya sudah menyiapkan jalur alternatif dadakan. Selain itu juga dipersiapkan pelayanan dan pemutakhiran informasi lebih lengkap melalui Traffic Management Center (TMC) dan pemasangan rambu peringatan jebakan banjir di sejumlah jalur rawan banjir, serta sistem buka tutup arus lalu lintas yang tergenang air, kata Wakil Dirlantas Polda Metro Jaya AKBP Firman Santyabudi.
LOKASI RAWAN BANJIR
JAKARTA PUSAT 41. Pesing
1. Matraman Dalam 42. Krendang, Duri Utara
2. Kalipasir Kwitang 43. Jelambar
3. Bunderan HI, Kebon Kacang, Teluk Betung 44. Tomang Rawa Kepa
4. Pejompongan/AL 45. Jati Pulo
5. Jatipinggir 46. Pinangsia
6. Mangga Dua 47. Mangga Besar
7. Karang Anyar 48. Tanjung Duren
8. Serdang 49. Grogol
9. Gunung Sahari 50 Sukabumi Utara
10. Cempaka Putih 51. Kelapa Dua
52. Duri Kepa
JAKARTA UTARA
11. Kapuk Kamal JAKARTA SELATAN
12. Kapuk Kamal Sediatmo 53. IKPN
13. Pantai Indah Kapuk 54. Pondok Pinang
14. Kapuk Muara, Teluk Gong, Muara Angke 55. Cireundeu Permai
15. Pluit 56. Kebalen, Mampang Prapatan
16. Pademangan Barat 57. Tegal Parang
17. Pademangan Timur 58. Petogogan
18. Sunter Agung 59. Pondok Karya
19. Sunter Jaya 60. Damai Jaya
20. Lagoa Buntu 61. Pulo Raya
21. Kebon Bawang 62. Setiabudi Barat
22. Warakas 63. Bukit Duri, Kebayoran Baru, Bidara Cina,Kampung Melayu
23. Sungai Bambu 64. Pengadegan, Kalibata, Rawa Jati, Gang Arus
24. Papanggo 65. Cipulir, Ciledug Raya
25. Yos Sudarso
26. Sunter Timur, Kodamar JAKARTA TIMUR
27. Perum Walikota Jakarta Utara 66. ASMI, Perintis
28. Kelapa Gading 67. Pulo Mas
29. Rawa Badak, Tugu, Lagoa 68. Pulo Nangka
30. Tugu Utara 69. Rawa Bunga
31. Semper 70. Kebon Nanas
32. Dewa Ruci, Dewa Kembar 71. Cipinang Jaya
33. Rorotan/Babek ABRI 72. Cipinang Indah, Cipinang Muara,Cipinang Melayu
73. Malaka Selatan, Pondok Kelapa
JAKARTA BARAT 74. Buluh Perindu, Tegal Amba
34. Rawa Buaya 75. Halim Perdanakusuma
35. Duri Kosambi 76. Kramat Jati
36. Tegal Alur 77. Kampung Rambutan, Ciracas, Cibubur
37. Kapuk Kedang/Poglar 78. Ujung Menteng
38. Cengkareng
39. Kembangan Green Garden
40. Meruya
SEDENGKUL KEMASI BARANG
Banjir bagi sebagian warga yang tinggal di DAS (daerah aliran sungai) Ciliwung merupakan kejadian biasa. Sebab setiap musim hujan wilayahnya tak luput dari genangan air.
“Di sini kebanjiran sudah biasa, namanya juga tinggal di bantaran kali. Itu tuh…rumah mewah aja kelelap banjir,” ucap Ratminah,60, yang sejak tahun 1970 dia tinggal di wilayah tersebut. Ibu empat orang anak ini sudah menganggap banjir sebagai hal biasa.
Ia mengatakan bila hujan tiba air masuk selutut kaki itu sudah merupakan hal yang masih wajar. Apalagi musibah banjir di Jakarta pada bulan Februari lalu air hingga menyentuh atap rumahnya.”Daerah lain gak banjir wilayah sini pasti kebanjiran bila musim hujan tiba. Kalau banjirnya sedengkul kemasi barang. Kalau air sudah seleher baru ngungsi,” ungkapnya.
Bila Pemda DKI akan melakukan relokasi, kata Ratminah akan menolaknya. Pasalnya sudah enak tinggal dibantaran kali, gak usah beli air terlalu banyak. Bila mau mandi cuci maupun kakus (MCK) tinggal di belakang rumah air sungai mengalir deras. ”Kami gak mau bila disuruh pindah di rumah susun karena biaya hidupnya lebih mahal,” papar Ratminah. Wanita ini mengaku mengandalkan hidupnya sehari-hari dari buruh cuci pakaian.
MENOLAK DIRELOKASI
Hal senada juga dikatakan, Ny.Wartini yang mengaku banjir merupakan kejadian biasa bagi dia sekeluarga. Banjir sudah menjadi langganan di lingkungannya setiap musim hujan tiba. Padahal rumah-rumah yang berada dibantaran kali sudah dibangunkan talud pembatas agar luapan air tidak meluber. Namun karena wilayahnya lebih rendah dengan sungai hujan ringanpun air masuk kerumahnya.
“Kami sudah anggap banjir kejadian wajar bila hujan turun,” jelas Wartini warga RW 03 Kelurahan Kebon Manggis Jaktim ini. Dia mengatakan perabotan rumah tangganya, bila banjir sering hanyut namun dirinya tetap bersyukur karena masih diberikan kesehatan dan keselamatan. ”Asal masih diberikan kesehatan barang-barang hanyut masih bisa dibeli lagi,” ujarnya enteng.
Wartini maupun keluarganya juga menolak bila warga yang ada di sekitar bantaran kali direlokasi. Keengganan warga untuk pindah membuat Pemda DKI kesulitan untuk menormalisasi Kali Ciliwung. Sebagaian warga menolak pindah karena penghidupan mereka tak jauh dari mereka tinggal. Di wilayah Kampung Melayu misalnya, warga di sana sebagain besar menjadi pedagang di Pasar Jatinegara. Setelah Perda Ketertiban Umum disahkan beberapa waktu lalu, Pemda DKI berharap warga akan dapat dipindah dan direlokasi.
(TIM PK)
Analisis Redaksi
Butuh Ketegasan Polisi
Kejahatan jalanan, terutama kasus-kasus perampokan, akhir-akhir ini banyak terjadi di Jakarta. Targetnya tergolong ‘naik kelas’. Bukan lagi rumah atau bangunan sekelas toko, melainkan bank yang sudah pasti ada penjaganya pun, mereka satroni.
Lihat Daftar...
Nah Ini Dia ... !
Korban Janda Kegatelan
Cinta bila telah melekat, biar embok-embok (baca: lebih tua) tetap saja teraca coklat. Bayangkan, usia Misdi kepala dua juga belum nyampe, tetapi bisa tergila-gila pada janda Murniati, 30, yang lebih pantas jadi ibunya. Kalau begini, siapa yang kebangetan? Si anak muda yang masih cemlolo (belia), atau si janda yang kadung kegatelan? Tetapi gara-gara jalinan asmara yang terlalu njomplang tersebut, Misdi, 17, harus berantem dengan Herman, 16, anak janda Murniati, yang tidak rela ibunya menikah lagi.
Lihat Daftar...
BauIng October 28th, 2007, 09:01 PM Nah Ini Dia ... !
Korban Janda Kegatelan
Cinta bila telah melekat, biar embok-embok (baca: lebih tua) tetap saja teraca coklat. Bayangkan, usia Misdi kepala dua juga belum nyampe, tetapi bisa tergila-gila pada janda Murniati, 30, yang lebih pantas jadi ibunya. Kalau begini, siapa yang kebangetan? Si anak muda yang masih cemlolo (belia), atau si janda yang kadung kegatelan? Tetapi gara-gara jalinan asmara yang terlalu njomplang tersebut, Misdi, 17, harus berantem dengan Herman, 16, anak janda Murniati, yang tidak rela ibunya menikah lagi.
Lihat Daftar...
ikut ke copy paste :lol:
rilham2new October 29th, 2007, 05:07 AM ^^ Hahaha, lombok kalo copas, hati2 donk,, bagian LIST BERITA di bawahnya gak perlu di COpY Paste juga :D
Balandra October 29th, 2007, 07:58 AM wakakak :rofl::rofl:
Dazon October 29th, 2007, 03:17 PM pssstt OOT tuh ^^
tapi g ikutan ngakak juga :lol:
Om Fauzi Bowo katanya masih pusing sama banjir yg ada... apa lagi ditambah masalah bus way yg bkin macet ibu kota
BauIng October 30th, 2007, 06:27 PM 30-10-2007
Antisipasi Banjir, Bangunan di Bantaran Kali Dibongkar
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat tengah gencar-gencarnya melakukan penertiban terhadap bangunan liar di bantaran kali. Upaya itu dimaksudkan untuk menimalisir bencana banjir yang kerap terjadi saat musim penghujan tiba. Setelah dilakukan pembongkaran, kemudian dilanjutkan dengan pengerukan kali.
Setelah berhasil membongkar ratusan bangunan liar yang berdiri di atas bantaran Kali Jilakeng, Kecamatan Tambora akhir bulan Oktober lalu, kini petugas gabungan di bawah komando Suku Dinas PU Tata Air kembali melanjutkan penertiban puluhan bangunan liar yang sempat tertunda di sisi selatan sampai ke Kali Opak.
Penertiban bangunan liar ini dilakukan untuk mempercepat dan memudahkan pengerukan sampah dan lumpur yang membuat kali dangkal. “Warga sudah lama mengusulkan agar Kali Jilakeng dikeruk. Kini, pemerintah akan menertibkan seluruh bangunan di bantaran kali agar pengerukan bisa dilakukan,” kata Wali Kota Jakarta Barat Fadjar Panjaitan, Selasa (30/10).
Pemkot Jakbar, kata Fadjar, tidak bisa lagi menunda pengerukan karena musim hujan telah tiba dan lumpur dari semua saluran air akan masuk ke kali. "Jika tidak segera dikeruk maka sampah dan lumpur semakin menumpuk," katanya. "Oleh karena itu saya meminta warga untuk tidak membuang sampah ke kali," tandasnya.
Pengerukan sampah dan lumpur yang dilakukan, kata dia, setidaknya akan meminimalkan dampak buruk akibat banjir "Kalau kalinya bersih aliran air akan lancar, dan kemungkinan banjir sangat kecil," katanya.
Untuk melakukan pengamanan terhadap bantaran kali yang telah dibebaskan dari bangunan liar tersebut, wali kota akan melakukan koordinasi instansi terkait seperti Sudin Pertamanan, Sudin Pertanian, dan Sudin PU Tata Air.
Selain Kali Jilakeng, Pemkot Jakarta Barat juga akan mengeruk sejumlah kali dan saluran penghubung lainnya diantaranya saluran penghubung Kedaung Kaliangke dan anak kali Ciliwung di kawasan Manggabesar.
“Saya juga menghargai kian meningkatnya kesadaran warga pemilik bangunan di bantaran kali,” lanjut Fadjar. "Pembongkaran bangunan di bantaran Kali Jilakeng, misalnya, dilakukan oleh pemiliknya. Aparat hanya datang untuk membantu." tambahnya.
Senada dengan wali kota, Kasudin PU Tata Air Heriyanto mengatakan setelah sampah dan lumpur kali dibersihkan maka diharapkan dapat mengurangi tingkat kerawanan banjir. "Sungai ini sudah sedemikian kotor sehingga mengakibatkan kawasan sering kebanjiran. Setelah kotoran dikeruk diharapkan dapat mengurangi tingkat kerawanan banjir," harapnya.
BauIng November 2nd, 2007, 05:55 PM 02-11-2007
Wagub Tinjau 13 Pintu Air
Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto hari ini meninjau 13 pintu air dan pompa pengendali banjir. Ke-13 pintu air dan pompa pengendali banjir tersebut yaitu Pintu Air Manggarai, Pompa Setiabudi Barat, Pompa Melati, Pintu Air Karet, Pompa Tomangbarat, Pompa Pluit, Pintu Air Pasarikan, Pompa Ancol, Pompa Sunterbarat, Pompa Suntertimur Kodamar, Saringan Perintis Kemerdekaan, Pompa Istana, dan Pompa Cideng.
Inpeksi tersebut dimaksudkan untuk mengecek kesiapan personel, sarana dan prasarana pengendali banjir yang dimiliki Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
“Kita dari Satkorlak ingin mengecek langsung tentang sarana pengendalian banjir di ibu kota. Apakah seluruh alat itu berfungsi dengan baik atau tidak?,” jelas Prijanto saat konferensi pers usai mengunjungi pompa dan pintu air, Jumat (2/11).
Mantan Aster KASAD ini menjelaskan, bahwa tanggung jawab pengendalian banjir itu dibagi menjadi dua yaitu menjadi kewenangan pemerintah pusat yaitu Departemen Pekerjaan Umum dan kewenangan pemerintah daerah.
Dia mencontohkan kondisi Banjir Kanal Barat (BKB) yang terbentang dari Pintu Air Manggarai hingga Muara Angke itu menjadi kewenangan Departemen PU, “Pendangkalan akibat sampah di BKB itu menjadi tanggung jawab pemerintah pusat,” jelasnya.
Begitu pula dengan PA Manggarai dan Karet, serta Kali Ciliwung dari Hulu (Bogor) hingga Manggarai juga menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Meski demikian, kata Prijanto, penanganan sampah di PA Manggarai dan Karet, saat ini ditangani oleh Pemprov DKI Jakarta.
Dia menuturkan, sarana dan prasarana banjir yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta saat ini dan yang tengah dibangun, tidak secara otomatis menjamin bahwa Jakarta tidak akan ada banjir sebab sarana dan prasarana tersebut memiliki batas kemampuan.
Prijanto mengungkapkan, untuk BKB memiliki kapasitas 370 m3/detik. “Banjir tahun 2002 dan 2007, volume air di BKB itu melebihi kapasitas normal yaitu lebih dari 370 m3/detik,” katanya.
Lantas apakah yang telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mencegah dan menanggulangi banjir? Kembali Prijanto mengatakan bahwa pemprov telah membuat 54 lokasi stasiun pengendali banjir dimana di tempat tersebut terdapat waduk dan pompa pengendali banjir. “Pompa-pompa tersebut ada yang sudah lama dan ada juga yang baru sehingga kemampuannya ada yang 70 persen, 80 persen, dan bahkan ada yang masih 100 persen,” ujarnya.
“Dan dari pengecekan tadi ternyata hanya ada satu pompa yang mati karena switch stater-nya rusak yaitu di Waduk Melati, namun itu dapat diperbaiki satu atau dua hari ini,” jelasnya.
Selain itu, pada tahun 2007 ini, pemprov juga melakukan pengadaan pompa baru yaitu dua unit di Cilincing yang berkapasitas 0,75 m3/detik, satu unit di bendungan Melayu yang berkapisitas 0,5 m3/detik, dua unit di Kedaung Kaliangke dengan kapasitas 1m3/detik, dua unit di Sindang Pindang berkapasitas 2,5 m3/detik, tiga unit di Yos Sudarso berkapasitas 1 m3/detik, satu unit di Muaraangke yang berkapasitas 0,5 m3/detik.
Secara teknis, kata dia, air dari kawasan yang tergenang air itu dengan drainase lokal akan dialirkan ke waduk-waduk dan setelah itu dinaikkan dengan pompa pengendali banjir dimasukkan ke BKB dan dialirkan ke laut.
Selain penyiapan pompa tersebut, lanjut Prijanto, pihaknya juga melakukan pengerukan kali seperti di Sungai Ciliwung Bawah antara jembatan Merah sampai Pasarikan, Muaraangke, Kali Krukut, Kali Cideng, dan Kali Grogol.
Sementara itu itu perbaikan drainase juga telah dilaksanakan di setiap kotamadya. “Di Jakarta Pusat ada 69 lokasi, Jakbar 35 lokasi, jakut 92 lokasi, Jaksel 50 lokasi, dan Jaktim 65 lokasi,” ucapnya.
Pihaknya, imbuh Prijanto juga terus menambah saringan sampah otomatis di setiap pintu air. “Pada tahun 2006 telah dibangun tujuh unit dan tahun ini dibangun tujuh unit lagi,” imbuhnya.
“Saringan sampah itu terdapat di Sungai Sunterkresek, Sunterselatan, Sunterutara, Sungai Tirem, Waduk Pulomas, Cengkareng Drain,’ tuturnya.
Sedangkan Kepala Dinas PU DKI Jakarta Wishnu Subagyo Yusuf mengatakan, untuk mengeruk lumpur dan sampah kali di ibu kota pada tahun 2007 ini dibutuhkan anggaran sebesar Rp 300 miliar. Namun pada kenyataannya, alokasi dana yang dimiliki hanya sebesar Rp 272 miliar. “Kita akan prioritaskan sungai mana yang rawan meluap saat musim penghujan,” ujarnya.
Wishnu juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke kali karena itu akan menjadi salah satu penyebab banjir di ibu kota. “Kesadaran masyarakat perlu terus ditumbuhkan bahwa pencegahan dan penanganan banjir itu menjadi tanggung jawab semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat,” terangnya.
rilham2new November 4th, 2007, 01:19 AM Medan *on Hari Raya Idul Fitri this year
Untungnya, banjir di Medan cuman banjir kilat yang akan segera menyusut dalam kurang dari 1-2 jam.
Banjir di persekitaran Jalan Zainul Arifin
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/banjir_medan_2.jpg
Masih di sekitaran depan SUN PLAZA
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/banjir_medan.jpg
Di sekitar MERDEKA WALK
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/banjir_medan_3.jpg
Idem ma yang di atas
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/banjir_medan_4.jpg
Courtesy of ME MYSELF
rilham2new November 4th, 2007, 01:21 AM Banjir di Kawasan RUMBAI *kawasan utara Pekanbaru
Banjir tidak menyurutkan minat anak-anak SDN 034 untuk bersekolah
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/Pekanbaru%20Lovely%20City/31-otb07.jpg
Dari RIAUTERKINI
BauIng November 10th, 2007, 11:40 AM 09-11-2007
Antisipasi Banjir, Sejumlah Sungai Dikeruk
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI terus berupaya untuk mengantisipasi bencana banjir yang diperkirakan melanda Ibu Kota November hingga Februari 2008 mendatang. Selain melakukan normalisasi saluran air dan menyiapkan bantuan logistik, Pemprov DKI juga tengah gencar-gencarnya melakukan pengerukan dan penurapan sejumlah kali di Jakarta. Namun revitalisasi sungai tersebut dilakukan berdasarkan skala prioritas karena terbatasnya anggaran yang ada.
Pemprov DKI melakukan pengerukan di beberapa titik kali yang dianggap krusial dan berpotensi menimbulkan banjir. Pengerukan kali Krukut, kali Mookervart, serta Muaraangke itu merupakan program jangka pendek yang ditujukan untuk mengurangi dampak banjir di ibu kota.
Gubernur DKI Fauzi Bowo mengatakan mengatakan pengerukan dan penurapan kali tersebut dilakukan secara prioritas. Sebab, anggaran yang dimiliki sangat terbatas. Betapa tidak, untuk pengerukan satu sungai saja diperkirakan menelan anggaran hampir Rp 1 miliar.
Untuk kali Krukut, pengerukan dilakukan di dua titik yakni di Pintu Air Pejompongan serta di Pondokkarya Jakarta Selatan. “Kali Krukut yang mengalir ke Banjir Kanal Barat (BKB), harus dikeruk untuk membebaskan sepanjang Bendungan Hilir dari genangan air yang berlebihan,” ungkap Fauzi Bowo, saat meninjau pengerjaan pengerukan Kali Krukut di Pejompongan, Jumat (9/11).
Dia mengungkapkan pengerukan di kali Krukut Pejompongan ini dilakukan sepanjang 400 meter dengan menelan biaya sebesar Rp 400 juta. Tidak hanya di Pejompongan, pengerukan aliran kali Krukut yang merupakan salah satu sungai yang berpotensi menimbulkan banjir besar di ibu kota ini juga dilakukan di Pondokkarya Jakarta Selatan. Di titik tersebut, pengerukan diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 577 juta.
Selain itu, pengerukan juga dilakukan di kali Mookervart yang merupakan aliran kali Cisadane. Kali Mookervart ini juga mempunyai beban lain yaitu tempat penampungan aliran kali Semanan. “Berangkat dari kondisi tersebut, pengerukan kali Mookervart haruslah dilakukan untuk mengoptimalkan fungsinya untuk mengalirkan air ke Muara,” papar mantan Kepala Dinas Pariwisata ini.
Pengerukan kali Mookervart ini dilakukan sepanjang 600 meter dengan total biaya 900 juta. Selain terjadi pendangkalan akibat lumpur, kali ini juga dipenuhi sampah dengan warna air kehitam-hitaman.
Gubernur mengungkapkan dengan dikeruknya kali Mookervart ini diharapkan aliran kali Cisadane dan kali Semanan dapat mengalir lancar ke Cengkareng Drain melewati Kapuk serta berujung di Muara Angke. ”Aliran ini sangatlah krusial dan perlu terus dijaga kondisinya karena nantinya aliran ini juga akan bertemu dengan aliran Banjir Kanal Barat,” tambah Fauzi Bowo.
Sementara itu untuk menjamin air yang mengalir dari Cengkareng Drain dan BKB dapat ditampung di Muara, saat ini di kawasan Muaraangke juga tengah dibangun turap-turap sepanjang 500 meter. “Pembangunan turap ini juga bertujuan untuk memastikan tidak adanya back water dari laut ke darat,” lanjutnya.
Gubernur yang diusung 19 parpol ini mengungkapkan pengerjaan pengerukan ini telah berjalan optimal. Untuk pengerukan kali Krukut telah rampung 60 persen, kali Mookervart 40 persen, dan pengerjaan Muara di atas 60 persen. “Semakin cepat semakin bagus, karena untuk pengerukan ini menjamin arus air dari kali mampu dialirkan ke Muara,” tukasnya.
Selain melakukan pengerukan skala makro, Pemprov DKI juga melakukan pengerukan saluran air di lima wilayah kotamadya. Untuk Jakarta Selatan pengerukan dilakukan di 35 titik, di Jakarta Barat di 55 saluran, Jakarta Timur 50 titik, Jakarta Utara 60 saluran, serta Jakarta Pusat 65 saluran.
Sementara total anggaran yang dialokasikan pada 2007 untuk mengantisipasi banjir terkait saluran air sebesar Rp 272 miliar. Rinciannya, 10 miliar untuk revitalisasi situ, Rp 182 miliar untuk perbaikan saluran, dan Rp 57 miliar untuk bidang lainnya.
Walaupun telah dilakukan pengerukan secara mikro dan makro di beberapa sungai, namun Fauzi Bowo tidak menjamin Jakarta akan terbebas dari banjir. “Pengerukan hanya dilakukan di titik-titik klasik banjir, jadi bukan berarti Jakarta akan terbebas dari banjir,” tukasnya.
asudarsono November 11th, 2007, 03:08 AM OK, thats all very good. Now what tipe of banjir will we expect in 2008?
paw25694 November 11th, 2007, 09:20 AM banjir di sekolah waktu februari 2007
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/736089854l.jpg
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/945660850l.jpg
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/148817451l.jpg
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/105871319l.jpg
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/587815442l.jpg
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/325869098l.jpg
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/646513288l.jpg
c/o friendster guru bk :D
peseg5 November 11th, 2007, 10:22 AM OK, thats all very good. Now what tipe of banjir will we expect in 2008?
Gw berharap sih Jakarta banjir duit... Tp kayaknya gak realistis yah?
peseg5 November 11th, 2007, 10:27 AM banjir di sekolah waktu februari 2007
http://photos-868.friendster.com/e1/photos/86/81/36431868/945660850l.jpg
c/o friendster guru bk :D
Jadi inget, waktu banjir 2002 ada orang nanya: Delapan (maksudnya SMA 8) banjirnya parah kagak?
Kata anak 8: Tahun ini cuman semata kaki doang.
Orang lain: Tumben, biasanya banjirnya semeter-dua meter.
Kata anak 8: Maksud gw itu semata kaki dari lantai 2...
Orang lain: ???!!!
hahahhaha.... SMA 8 selain sekolah unggulan, banjirnya jg gak kalah unggulan Jakarta... hahaha :lol::lol:
paw25694 November 11th, 2007, 10:38 AM lol :lol::lol:
rilham2new November 11th, 2007, 04:42 PM @paw,,, kesiannya kamu nak,,,, SD negeri yang terletak persis di pinggir sungai di Pekanbaru aja ... banjirnya cuman segini :p~
Banjir di Kawasan RUMBAI *kawasan utara Pekanbaru
Banjir tidak menyurutkan minat anak-anak SDN 034 untuk bersekolah
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/Pekanbaru%20Lovely%20City/31-otb07.jpg
Dari RIAUTERKINI
loki_almighty November 12th, 2007, 01:28 PM aack... bekas sekolah gw T_T
gila banjirnya parah yak ??!!!
gw dulu udah sempet berharap aja bakal dibuka ekskul baru... Polo Air :D
btw, gw denger2 katanya Jakarta itu sebenernya punya Blue Print tata ruang kota peninggalan jaman Belanda... tapi karena pertimbangan bahwa kalo pake itu gak akan menghasilkan duid instant, maka yah cuma disimpen aja sampe lapuk... doh...
oh iya mo nanya juga... Jakarta itu kalo misalnya dibikin fasilitas sewage gitu bisa gak sih ??
paw25694 November 12th, 2007, 01:56 PM ^^ wooow almamater! angkatan berapa?? hahaha
loki_almighty November 12th, 2007, 03:03 PM ^^ wooow almamater! angkatan berapa?? hahaha
Lulus 2000... itu disebutnya angkatan berapa yah ?? soalnya kalo kuliah kan nyebutnya dari angkatan masuk bukan pas lulus...
paw25694 November 12th, 2007, 03:22 PM ooh.. lulus 2000 ato 2003?
loki_almighty November 12th, 2007, 03:51 PM ooh.. lulus 2000 ato 2003?
kan udah ditulis, lulus 2000 :D gak kebaca kah ??
btw biar gak OOT
menurut gw, memang para pemukin di bantaran kali itu HARUS dipindahkah, mau gak mau... sembari disortir pelan2 yg gak punya proper job, ama KTP jakarta, yah dipulangin ke daerah asalnya... kan sembari operasi yustisi.. :D
kamski November 13th, 2007, 11:06 AM kan udah ditulis, lulus 2000 :D gak kebaca kah ??
btw biar gak OOT
menurut gw, memang para pemukin di bantaran kali itu HARUS dipindahkah, mau gak mau... sembari disortir pelan2 yg gak punya proper job, ama KTP jakarta, yah dipulangin ke daerah asalnya... kan sembari operasi yustisi.. :D
Memang pemukiman2 itu apa hubungannya dengan banjir?
rilham2new November 13th, 2007, 11:28 AM ^^ Maksudnya biar jmlah korban banjir nya berkurang ,, soalnya kalo banjir kan mereka yang paling jadi korban ...:)
loki_almighty November 13th, 2007, 11:45 AM Memang pemukiman2 itu apa hubungannya dengan banjir?
kalo mau jujur sih...
1. mereka itu sama skali gak berhak untuk tinggal di situ, karena bantaran kali bukan area residential dan bukan milik mereka.
2. kondisinya sama skali gak memungkinkan buat kesehatan anak, keluarga, dsb
3. limbah yg mereka keluarkan mengotori kali, dan dampaknya pasti ada terhadap kebersihan kali..
mungkin ada yg mau nambahin ??
ps: lucu juga denger mereka nolak gak mau direlokasi karena alasan lebih murah... ya iyalah lebih murah, orang gak bayar bills, tax, dsb.... saat mereka sadar bahwa tinggal dijakarta itu banyak kewajibannya maka banyak yg bakal sadar juga bahwa daripada jadi tukang cuci di jakarta, mending cari usaha laen di daerah..
kamski November 13th, 2007, 01:34 PM @ Ilham_rj
Kalo dipikir2, kalo banjir apa yg mereka korbankan? Secara material aja mereka gak punya. Sebenernya kalo dipikir2, orang2 yg punya property lah yg paling dirugikan dari banjir.
@loki_almighty
1. Kalo gitu hal yg sama seharusnya dipertanyakan ke pemerintahan Jakarta, kenapa mereka membiarkan pembangunan didaerah2 endapan air? Kenapa lemah terhadap konservasi lingkungan?
2. Kalo mereka gak tinggal disitu, dimana lagi? Siapa yg bisa menampung mereka?
3. "Limbah" apa yg dimaksud nih? Sampah? Ingat lho, pengotoran sampah (yg memang buruk) bukan hanya karena mereka yg tinggal dipinggir jalan. Satu, kesadaran masyarakat yg lemah. Dua, memang pemerintah tidak bisa ngurusin sampah (baru2 ini kan ada masalah penampungan sampah). Poin nya adalah inkompetensi pemerintah.
ps. mereka gak mau direlokasi karena mereka BERHAK, sebagai manusia, untuk bergerak secara bebas kemanapun mereka mau. Mereka pergi ke Jakarta "si kota pengadu nasib" karena ingin mencari kehidupan yg lebih baik. Kenapa? Karena Jakarta, selama berpuluh2 tahun, telah merampok hasil kekayaan tempat mereka dulu.
materialistus November 13th, 2007, 01:47 PM @ Ilham_rj
Kalo dipikir2, kalo banjir apa yg mereka korbankan? Secara material aja mereka gak punya. Sebenernya kalo dipikir2, orang2 yg punya property lah yg paling dirugikan dari banjir.
@loki_almighty
1. Kalo gitu hal yg sama seharusnya dipertanyakan ke pemerintahan Jakarta, kenapa mereka membiarkan pembangunan didaerah2 endapan air? Kenapa lemah terhadap konservasi lingkungan?
2. Kalo mereka gak tinggal disitu, dimana lagi? Siapa yg bisa menampung mereka?
3. "Limbah" apa yg dimaksud nih? Sampah? Ingat lho, pengotoran sampah (yg memang buruk) bukan hanya karena mereka yg tinggal dipinggir jalan. Satu, kesadaran masyarakat yg lemah. Dua, memang pemerintah tidak bisa ngurusin sampah (baru2 ini kan ada masalah penampungan sampah). Poin nya adalah inkompetensi pemerintah.
ps. mereka gak mau direlokasi karena mereka BERHAK, sebagai manusia, untuk bergerak secara bebas kemanapun mereka mau. Mereka pergi ke Jakarta "si kota pengadu nasib" karena ingin mencari kehidupan yg lebih baik. Kenapa? Karena Jakarta, selama berpuluh2 tahun, telah merampok hasil kekayaan tempat mereka dulu.
well said
peseg5 November 13th, 2007, 02:37 PM @ Ilham_rj
Kalo dipikir2, kalo banjir apa yg mereka korbankan? Secara material aja mereka gak punya. Sebenernya kalo dipikir2, orang2 yg punya property lah yg paling dirugikan dari banjir.
@loki_almighty
1. Kalo gitu hal yg sama seharusnya dipertanyakan ke pemerintahan Jakarta, kenapa mereka membiarkan pembangunan didaerah2 endapan air? Kenapa lemah terhadap konservasi lingkungan?
2. Kalo mereka gak tinggal disitu, dimana lagi? Siapa yg bisa menampung mereka?
3. "Limbah" apa yg dimaksud nih? Sampah? Ingat lho, pengotoran sampah (yg memang buruk) bukan hanya karena mereka yg tinggal dipinggir jalan. Satu, kesadaran masyarakat yg lemah. Dua, memang pemerintah tidak bisa ngurusin sampah (baru2 ini kan ada masalah penampungan sampah). Poin nya adalah inkompetensi pemerintah.
ps. mereka gak mau direlokasi karena mereka BERHAK, sebagai manusia, untuk bergerak secara bebas kemanapun mereka mau. Mereka pergi ke Jakarta "si kota pengadu nasib" karena ingin mencari kehidupan yg lebih baik. Kenapa? Karena Jakarta, selama berpuluh2 tahun, telah merampok hasil kekayaan tempat mereka dulu.
Yang jelas banjir bukan satu2nya disebabkan penghuni bantaran kali. Mereka jg penyebab banjir, tapi ada jg faktor2 lain seperti yg telah disebutkan diatas. Penertiban bantaran kali adalah salah satu upaya mereduksi dampak banjir, selain menertiban bangunan2 lain yg melanggar ruang hijau.
Kita memang tidak melarang orang2 pergi dan hidup di Jakarta, hanya hidup di kota itu semua ada aturannya. Tidak bisa karena mentang2 miskin atau mengaku miskin, mereka bisa mengabaikan semua aturan2 yg berlaku. Itulah kewajiban pemerintah sesuai UU untuk mensejahterakan mereka, pindah rusun adalah salah satu opsi, dan banyak opsi lain yg bisa dilakukan.
Janganlah terjebak antara si kaya dan si miskin. Semua orang mau itu kaya/miskin punya hak dan kewajiban yang harus disadari dan dipatuhi. Salah satunya yaitu hak untuk hidup sejahtera dan hak2 lain yg diamanatkan dalam UU dan hukum, dan kewajiban kita sebagai warga negara untuk mematuhi hukum dan UU tersebut.
BauIng November 13th, 2007, 02:49 PM ^^
Krn ini menyangkut masalah sosial jg, jd penanganan & solusinya hrs tepat. Opini gw sebaiknya kawasan bantaran kali memang hrs bebas dr pemukiman.
Kenapa ?
> Setuju dg point no 2 & 3 dr loki_almighty.
Tp point no 1 gw kurang setuju. Mereka bisa tgl di sana krn aparat, aturan & sangsi yg kurang tegas. Sebagian besar dr mrk bahkan sdh sejak lama membayar iuran secara rutin kpd "oknum" yg tdk bertanggung jawab. Shg mereka merasa "berhak" tgl di sana. Bahkan kl ga salah pd masa pemerintahan terdahulu sempat dilegalkan utk sementara.
> Mengurangi daerah hijau (resapan air) di sekitar sungai.
Bgm caranya ?
> Spt yg sdh direncanakan yaitu Rusunawa (dg benar2 memperhitungkan lokasinya) bagi yg punya keahlian & KTP DKI. Yg tdk punya terpaksa dipulangkan ke daerah masing2.
Memang mereka berhak dtg ke DKI utk mengadu nasib walaupun sebagian besar tdk punya keahlian apa2 & sdh tahu resiko terburuknya. Kl emang nasib mrk mujur (bisa punya kerjaan dll) okelah, just go ahead. Tp kl yg ga mujur ?? Trus akhirnya berbuat kriminal ?? Yg rugi akhirnya masyarakat DKI jg. Ini sekaligus menjawab point 2 & pesan dr kamski.
> Jika Rusunawa blm tercapai, ga mkgn kita maen gusur (sekali lg krn ini masalah sosial & kesalahan dr aparat jg). So alternatifnya adalah sosialisasi kpd warga di bantaran sup menjaga lingkungannya (yg ini gw agak2 ga yakin bs berhasil). Keruk kali2 yg penuh sampah & sdh semakin sempit & dangkal. Merpercepat pembangunan Rusunawa.
Bgm supaya tdk terjadi lagi ?
> Aturan, hukum & sangsi yg tegas bhw tdk ada warga yg tgl di bantaran kali.
> Penghijauan seluruh kawasan bantaran kali.
Dan mesti kita ingat, penyebab banjir bukan hanya pemukiman di bantaran kali (spt yg dibilang peseg5). Banyak faktor yg berperan, cthnya :
> Point 1 dr kamski. Ini sekali lg krn aturan, hukum & sangsi yg tdk tegas & melenceng dr Masterplan shg daerah resapan air berkurang.
> Curah hujan yg sangat tinggi (diluar keadaan normal). Ini bs jg terjadi di negara2 maju.
> Lahan hijau yg kurang (baik di DKI maupun di daerah diluar DKI).
> Limpahan air (melalui sungai) dari daerah diluar DKI.
> Kesadaran masyarakat DKI (dan jg luar DKI, krn sungai biasanya melalui bbrp kota) yg kurang menjaga kebersihan sungai & kali. Termasuk disini masalah buang sampah sembarangan di sungai shg kali & sungai menjadi dangkal & sempit.
> Kawasan penampung air (waduk) yg berkurang.
> dll.
Mohon maaf & koreksi kl ada salah. :)
asudarsono November 14th, 2007, 12:06 AM Merujuk film Dr Zhivago, waktu euforia revolusi Soviet dulu, yg punya rumah gede perlu membagi ruangan dalam rumahnya untuk orang lain, karena trenyata orang Rusia pun punya hak hidup yang sama. Kalau emang tanah ini milik Tuhan, ya berarti boleh donk pakai pekarangan depanku untk buang sampah. Khan sama di bantaran sungai dan di pekarangan rumahku sama2 tanah kosong.
Yang jelas di pekarangan rumahku nggak ganggu alam. Kalau pada buang sampah di sungai, kita tahu apa akibatnya. Kalau bangun rumah di daerah banjir kita tahu akibatnya. Yah gimana emang alam punya kelakuan begitu. Kalau bangun di pekarangan rumahku, khan nggak ganggu alam.
Yah begitulah, setelah nonton itu film, ada pendapat terlintas dalam benakku orang boleh membangun di sembarangan tempat. Khan orang punya hak untuk hidup bukan? Kalau perlu kita kapling aja sekalian itu kediaman Merdeka Utara, nanti kalau ada acara lulusan AKABRI, tinggal minggir aja sehari. Malah kita bisa jualan dawet ke undangan di sana nanti.
Yah, itu pendapat orang tentang hak tinggal. Tapi kemudian ada teman saya nyeletuk "Kalau tanah (kosong) milik Tuhan, perawan (yang belum punya suami tentunya) sebelah rumah milik siapa?". Ya, milik pacarnya kali.
kamski November 14th, 2007, 12:45 AM @ peseg5
Gw masih gak ngerti logikanya dimana orang2 yg tinggal di kolong jembatan, di samping kali itu berkontribusi ke buruknya banjir di Jakarta. Dari aspek apa? Bisa diperjelas? Kalo kita pakai argumen bahwa mereka "ditertibkan" supaya mengurangi efek banjir terhadap orang2; Lho, kenapa bukan sumber masalah banjirnya saja yg di tackle lebih dulu??? Kan logikanya gak perlu obat kalo gak ada penyakit :)
Terus ente bilang si kaya si miskin harus mematuhi hukum. Permasalahannya, selaluuuu saja si miskin yg di paksa untuk mematuhi hukum, tapi si kaya selalu dibebaskan. Si miskin terus2an di tekan, si kaya terus2an di kasih concession. Kalo melihat hitam diatas putih, memang "sepertinya" ada keadilan, tapi kenyataannya jauh daripada itu (yg gw yakin kita semua tau).
@ BauIng
Sayangnya, kalo kita merujuk ke sejarah Jakarta, kapan sih peraturan benar2 di tegaskan kepada semua orang? Di Indonesia (sedihnya), peraturan adalah sekedar peraturan, bisa di bypass dengan uang yg cukup.
Apakah rusun salah satu jawaban untuk menanggulangi banjir? Sayangnya tidak.
Kalo kita memaksa orang2 yg berhak untuk bergerak itu untuk pindah, coba liat ke Jakarta sonoan dikit, dan lihat pemukiman Pantai Indah Kapuk. Pemukiman itu berdiri diatas endapan air dan SANGAT, SANGAT menyalahi peraturan pembangunan. Kenapa pemukiman seperti gak dibongkar? Apakah karena mereka "bayar"? Sekali lagi, ini kembali ke argumen bahwa kalo seseorang ada uang, berarti mereka mempunyai kebebasan lebih.
Kalo gitu, "kesalahan" orang2 miskin ini untuk hidup lebih baik karena mereka gak punya uang dong?
:(
BauIng November 14th, 2007, 01:34 AM @ BauIng
Sayangnya, kalo kita merujuk ke sejarah Jakarta, kapan sih peraturan benar2 di tegaskan kepada semua orang? Di Indonesia (sedihnya), peraturan adalah sekedar peraturan, bisa di bypass dengan uang yg cukup.
^^ Pertanyaan "kapan peraturan benar2 ditegaskan" ini sdh sering ditanyakan oleh masyarakat indo tp kenyataannya sampe skrg blm ada yg bisa jawab (termasuk gw jg).
Apakah rusun salah satu jawaban untuk menanggulangi banjir? Sayangnya tidak.
^^ Memang bukan secara lsg menangani banjir, tp secara tidak langsung, yaitu sbg tempat pengganti penduduk disekitar bantaran kali yg nantinya pemukiman mereka akan dijadikan lahan hijau.
Kalo kita memaksa orang2 yg berhak untuk bergerak itu untuk pindah, coba liat ke Jakarta sonoan dikit, dan lihat pemukiman Pantai Indah Kapuk. Pemukiman itu berdiri diatas endapan air dan SANGAT, SANGAT menyalahi peraturan pembangunan. Kenapa pemukiman seperti gak dibongkar? Apakah karena mereka "bayar"? Sekali lagi, ini kembali ke argumen bahwa kalo seseorang ada uang, berarti mereka mempunyai kebebasan lebih.
Kalo gitu, "kesalahan" orang2 miskin ini untuk hidup lebih baik karena mereka gak punya uang dong?
:(
^^ Itulah makanya gw bilang aturan, hukum & sangsi harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Selama blm bisa begitu, argumen seperti itu akan terjadi terus. :)
rilham2new November 14th, 2007, 01:21 PM @ Ilham_rj
Kalo dipikir2, kalo banjir apa yg mereka korbankan? Secara material aja mereka gak punya. Sebenernya kalo dipikir2, orang2 yg punya property lah yg paling dirugikan dari banjir.
kata siapa mereka gak punya material??? Mereka punya kehidupan kok :) ... Banjir merugikan semua orang,, mulai dari yang hidup di rumah bertingkat Kelapa Gading, sampai yang tinggal di bawah tol layang Jelambar.
Bukan masalah siapa yang paling rugi atau siapa yang paling tidak rugi... tapi bagaimana meminimalisir kerugian itu,, sebisa mungkin :).
Kalau yang tinggal di bantaran sungai,, mau merelokasikan rumah mereka,, stidaknya beban pemerintah sudah berkurang dalam meminimalisir korban banjir. Yah, sembari menyadarkan mereka kalau mereka sudah tinggal di tempat itu secara ilegal, dan selayaknya mereka pindah ... :D ..
loki_almighty November 14th, 2007, 03:27 PM Well di indo itu kan legal karena udah biasa...
kalo mau dirunut2 lagi memang kesalahan utama adalah gak ada penegakkan hukum yg tegas.. kenapa gak tegas ?? well.. pas ORBA yg "tegas" aja masih banyak dipengaruhi oleh KKN, nah sekarang di era Bebas ini... pemerintah mo tegas dikid pasti selalu di protes oleh pihak yg merasa dirugikan, alasannya melanggar HAM..
terlepas dari perlakuan pemerintah kepada yg kaya atopun yg miskin.. gak bisa selalu menuding ke arah laen..
"wah kok saya aja ?? Itu mereka kok nggak ??!!"
well.. situ salah gak ?? :D :D kalo salah yah gak ada alasan buat menolak... masalah "yg laen" well itu langkahnya memang gak gampang, tapi pelan2 gw rasa ada langkah ke situ. Kalopun nggak apa itu jadi membenarkan buat penghuni bantaran itu untuk tinggal disitu ?? dua hal tersebut gak ada kaitannya.
gw yakin kalopun kere kalo misalnya mereka tinggal di tempat yg sah yah gadiutik2 banyak golongan menengah yg tinggal di deket rumah gw, dan mereka fine2 aja karena itu memang tanah mereka.. so..KERE gak membuat mereka jadi target, tapi MEMANG jauh lebih gampang ditertibkan daripada yg KAYA
dan gw gak bilang mereka penyebab utama banjir, cuma sama kaya pemerintah berusaha mengamankan orang2 yg tinggal di daerah gunung aktif, sama aja kaya mereka2 yg tinggal di daerah sekitar rawan bajir..
di runut lagi ke masalah otonomi daerah ?? well bisa panjang mas ngobrolnya :D
masih banyak kok yg masih berjuang di daerahnya masing2.. kerja keras jadi pemetik teh, bertani dll. Daripada jadi joki 3 in 1, pak ogah, pengamen, beggars, dsb.
Ngomong2 ttg beggars jadi mo nyinggung dikid... pernah ada kasus.. anak2 jalanan dikumpulin, dikasih pendidikan, skills... dan sesudah berakhir, apa mereka mo pake skill itu ?? well :D gak... mereka lebih milih jadi beggars, karena apa ?? duid yg mereka dapet lebih gede dan GAK PERLU CAPEK2... see..mentalitas instant dan gak mau lelah...
rada miris gw dengernya, soalnya di sisi laen gw ngeliat sendiri temen gw anak PATI yg dateng dari kampung, belajar ke bandung, saat temen2nya yg laen dugem, dsb, dia jadi guru les buat bayar uang kuliah.. well... kere gak berarti patah harapan dan jadi gak punya cita2 bukan ??
kamski November 15th, 2007, 01:23 AM Kayaknya semua reply itu fokusnya ke dua hal: penerapan hukum tanpa pandang bulu dan perelokasian orang2 miskin demi meminimalisir efek banjir.
OK.
Satu yg perlu ditegaskan, gw sama sekali gak menentang bahwa peraturan memang harus ditegaskan kesetiap orang, tanpa memandang kelas. Dua, Perelokasian orang2 miskin ini secara intention mungkin baik, demi meminimalisir dampak banjir.
Pemerintah bisa aja ngomong terus sampe cape dan didukung oleh orang2 yg memang sudah berkecukupan, bahwa peraturan harus buat semuanya. Tapi PADA KENYATAANNYA, hanya orang2 miskin lah yg terkena gusur, hanya orang miskin lah yg tidak dipedulikan, budget2 negara untuk social spending terus di potong sampe sangat tipis, dst dst. Kapan pemerintah benar2 memihak si miskin yg benar2 aksi, bukan hanya simbolis? Relokasi untuk banjir "demi" si miskin? Hohoho... itu masalah banjir lumpur Sidoarjo belum kelar2, perelokasian sangat lamban.
OK, kalo argumen yg dipake bahwa mereka tinggal dikolong jembatan atau dipinggir kali secara ilegal. Tapi itu semua beralasan panjang yg bersangkut paut terhadap sejarah perlakuan Jakarta kepada daerah provinsi, kepada orang2nya, dan ketidakpedulian pemerintah terhadap kehidupan si miskin. Kita bisa aja bilang "oooh tinggal di situ ilegal, berarti boleh digusur", padahal kalo kita tau bagaimana dan kenapa meraka ada disitu, kita akan mengerti bahwa mereka itu sama sekali gak ada pilihan lain.
Kalo kita benar2 serius bahwa peraturan benar2 harus diterapkan kesemua orang tanpa memandang bulu, kenapa kita HAMPIR TIDAK PERNAH menyerukan hal yg sama kepada orang2 yg mampu? Hampir tidak pernah ada demonstrasi yg menyerukan dekonstruksi pemukiman2 ilegal (legalitas itu apa sih memang? Apakah cap dan tanda tangan birokrat pemerintah memberikan legalitas untuk perusakan bumi?). Seperti orang2 oportunis, kita terlalu sering menyerukan keadilan pada saat itu tidak merugikan kita, dan diam pada saat sebaliknya. Tipikalnya "yaaa, gw kan gak tinggal di daerah yg merusak, jadi gw ok, tapi dasar tuh si miskin dia ngerusak aja!" Sayang beribu sayang, semangat yg sama gak di direksi kan ke arah yg lebih "mapan".
Kapan banjir bisa di tanggulangi kalo kita terus menutup mata pada masalah sebenarnya?
@Ilham_rj
Banjir memang merugikan semua orang, pasti. Tapi yg paling banyak rugi adalah mereka yg punya paling banyak.
rilham2new November 15th, 2007, 06:39 AM @Ilham_rj
Banjir memang merugikan semua orang, pasti. Tapi yg paling banyak rugi adalah mereka yg punya paling banyak.
Yup,, betul sekali 100% ... dan tugas pemerintah adalah meminimalisir kerugian itu tidak peduli sedikit atau banyak :)
loki_almighty November 15th, 2007, 12:16 PM Pemerintah bisa aja ngomong terus sampe cape dan didukung oleh orang2 yg memang sudah berkecukupan, bahwa peraturan harus buat semuanya. Tapi PADA KENYATAANNYA, hanya orang2 miskin lah yg terkena gusur, hanya orang miskin lah yg tidak dipedulikan, budget2 negara untuk social spending terus di potong sampe sangat tipis, dst dst. Kapan pemerintah benar2 memihak si miskin yg benar2 aksi, bukan hanya simbolis? Relokasi untuk banjir "demi" si miskin? Hohoho... itu masalah banjir lumpur Sidoarjo belum kelar2, perelokasian sangat lamban.
Well... ngurusin yg terjadi di jakarta itu kalo gak salah tanggung jawab pemkot jakarta... ketidak adilan dan pengerukan kekayaan daerah itu adalah tanggung jawab yg laen ?? kesalahan kita selama ini adalah menggeneralisir bahwa yg bertanggung jawab adalah satu.. PEMERINTAH.. well.. anda2 tentu sadar kalo yg namanya pemerintah itu ada bagian2nya dan disaat salah satu bagian berusaha memperbaiki kinerjanya, selalu di bantah dengan argumen bahwa kesalahan dari bagian laen adalah tanggung jawab bagian tersebut juga..
penegakkan hukum gak konsisten sih gw setuju banget... itulah sebenernya akar permasalahan kita... pemerintah korup dan terus2an mengeruk duid rakyat well... itulah indonesia... yg kere ditindas, yg kaya ketawa2... well.. itulah yg terjadi di mana2 gak cuma di indo...
OK, kalo argumen yg dipake bahwa mereka tinggal dikolong jembatan atau dipinggir kali secara ilegal. Tapi itu semua beralasan panjang yg bersangkut paut terhadap sejarah perlakuan Jakarta kepada daerah provinsi, kepada orang2nya, dan ketidakpedulian pemerintah terhadap kehidupan si miskin. Kita bisa aja bilang "oooh tinggal di situ ilegal, berarti boleh digusur", padahal kalo kita tau bagaimana dan kenapa meraka ada disitu, kita akan mengerti bahwa mereka itu sama sekali gak ada pilihan lain.
two wrongs don't make it right... seorang ayah dipecat dari kantornya, lalu ngerampok kantornya karena perlu duid buat idup... bisa dibenarkan ??
gak ada pilihan ?? ngomong apa sih ?? pilihan itu selalu ada... kalo emang gak ada pilihan, udah dari kapan tau luar jakarta kosong abis, dan smua numplek ke jakarta... pilihan itu selalu ada...
Kalo kita benar2 serius bahwa peraturan benar2 harus diterapkan kesemua orang tanpa memandang bulu, kenapa kita HAMPIR TIDAK PERNAH menyerukan hal yg sama kepada orang2 yg mampu? Hampir tidak pernah ada demonstrasi yg menyerukan dekonstruksi pemukiman2 ilegal (legalitas itu apa sih memang? Apakah cap dan tanda tangan birokrat pemerintah memberikan legalitas untuk perusakan bumi?). Seperti orang2 oportunis, kita terlalu sering menyerukan keadilan pada saat itu tidak merugikan kita, dan diam pada saat sebaliknya. Tipikalnya "yaaa, gw kan gak tinggal di daerah yg merusak, jadi gw ok, tapi dasar tuh si miskin dia ngerusak aja!" Sayang beribu sayang, semangat yg sama gak di direksi kan ke arah yg lebih "mapan".
masalah itu memang gak cuma dari mereka yg tinggal di daerah sekitar kali, orang2 yg bangun villa di daerah resapan, pemukiman di tempat yg salah itu juga memberikan dampak gede buat terjadinya banjir...
well.. dengan pemerintahan yg corrupt kaya gini... dengan pemkot yg segitu gampangnya ngasih IMB dan mengabaikan AMDAL, mau gak mau... secara hukum orang2 yg punya rumah di daerah yg terlarang itu memang sah secara hukum... dan orang2 yg tinggal di bantaran kali itu emang illegal secara hukum... itu fakta yg terjadi dilapangan...
mo jutaan orang demo... gak ngaruh... karena seperti dibilang... stempel dan cap itu udah sah...
BauIng November 15th, 2007, 03:18 PM 15/11/2007 18:35
Penanganan Banjir Diakui Belum Maksimal
Liputan6.com, Jakarta: Masalah banjir di Ibu Kota, tampaknya membuat gerah anggota Dewan di Senayan. Upaya pencegahan banjir di Jakarta, pascabanjir besar awal Februari silam dianggap belum maksimal. Buktinya, banjir masih terus mengancam di sebagian besar wilayah Jakarta [baca: Macet dan Banjir, Persoalan Klasik Jakarta].
Sehubungan dengan masalah itu, Komisi V DPR lantas mengadakan rapat dengar pendapat bersama ketiga pimpinan wilayah di DKI Jakarta, Banten serta Jawa Barat. Rapat ini turut dihadiri Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Dalam rapat ini, pemerintah daerah mengaku sudah mengupayakan beberapa langkah. Antara lain normalisasi sungai, pembangunan situ atau waduk, penghijauan di puncak. Walau demikian, mereka mengakui hasilnya memang kurang maksimal.
Upaya lain yang diharap mengurangi banjir di Ibu Kota adalah mempercepat pembangunan Banjir Kanal Timur dan Barat yang hingga kini terkendala dana serta pembebasan lahan. Pemerintah menargetkan awal Desember nanti, pengerjaan proyek lahan Banjir Kanal akan dilaksanakan secara besar-besaran dan dipercepat. Hingga bulan ini realisasi pembebasan tanahnya mencapai 168 hektare. Ini berarti 66 persen dari yang ditargetkan dengan biaya mencapai lebih Rp 1 triliun.
Penanganan banjir memang perlu. Namun, banyak warga Jakarta rela tinggal di tempat kumuh demi bisa terus bertahan berdiam di Ibu Kota. Potret buram itu bisa terlihat pada sebuah keluarga di Pejompongan, Jakarta Pusat.
Sebuah celah sempit di samping jembatan adalah gerbang menuju kediaman Nyonya Bona. Sudah 36 tahun, Bona dan keluarga tinggal dalam kondisi seadanya di kolong Jembatan Karet, Pejompongan, Jakpus, bersisian dengan Kali Ciliwung. Bona mandi dan mencuci segala keperluan sehari-hari di sungai berwarna keruh tersebut. Ibu 12 anak ini mencari nafkah dengan memungut aneka barang dari sungai.
Setiap tahun, kala Sungai Ciliwung meluap, rumah Bona hanyut dan rusak. Bona sekeluarga pun tinggal sementara di tepi jalan. Usai banjir, mereka memperbaiki rumah. Begitu seterusnya, berulang-ulang.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)
kamski November 15th, 2007, 03:51 PM Well... ngurusin yg terjadi di jakarta itu kalo gak salah tanggung jawab pemkot jakarta... ketidak adilan dan pengerukan kekayaan daerah itu adalah tanggung jawab yg laen ?? kesalahan kita selama ini adalah menggeneralisir bahwa yg bertanggung jawab adalah satu.. PEMERINTAH.. well.. anda2 tentu sadar kalo yg namanya pemerintah itu ada bagian2nya dan disaat salah satu bagian berusaha memperbaiki kinerjanya, selalu di bantah dengan argumen bahwa kesalahan dari bagian laen adalah tanggung jawab bagian tersebut juga..
Kalo dengan style ilham_jr... TIDAK BENAR SAMA SEKALI (lol), ngurusin Jakarta adalah kewajiban dan hak SETIAP penduduk Jakarta, tanpa pengecualian. Sayang sekali masih banyak yg berpikir bahwa "tanggung jawab" itu artinya adalah bayar pajak dan voting. Haduhhh... kapan kita mau maju??? Di negara2 maju, para penduduk banyak yg mengambil andil dalam progres kotanya sendiri.
Gak usah mikirin bagaimana pemerintah suka saling tuding dll, itu udah pasti (dan dengan pernyataan lo itu, berarti lo memang setuju bahwa pemerintah itu memang inkompeten dalam menanggulangi masalah sosial). Tapi ingat, pemerintah dipilih oleh siapa? Kalo mereka sudah gak bisa berfungsi dengan baik (sekali lagi, kalo lo masih percaya dengan kehebatan pemkot, coba angkat tiga bukti di 10 tahun terakhir yg berpihak ke orang2 miskin), sudah saatnya DAN SEHARUSNYA rakyat lah yg ambil alih dan mulai perubahan. 60 tahun rakyat menunggu terus (dengan occasional aksi yg konkret), udah saatnya kita lebih beraksi.
Sekali lagi, susah untuk tidak menyalahkan pemerintah kota (dan pusat) kalo kita merujuk ke sejarah dan kalo melihat policy mereka.
two wrongs don't make it right... seorang ayah dipecat dari kantornya, lalu ngerampok kantornya karena perlu duid buat idup... bisa dibenarkan ??
gak ada pilihan ?? ngomong apa sih ?? pilihan itu selalu ada... kalo emang gak ada pilihan, udah dari kapan tau luar jakarta kosong abis, dan smua numplek ke jakarta... pilihan itu selalu ada...
two wrongs don't make it right... seorang ayah dipecat dari kantornya, lalu ngerampok kantornya karena perlu duid buat idup... bisa dibenarkan ??
gak ada pilihan ?? ngomong apa sih ?? pilihan itu selalu ada... kalo emang gak ada pilihan, udah dari kapan tau luar jakarta kosong abis, dan smua numplek ke jakarta... pilihan itu selalu ada...
ARGH lol, pilihan apa!?!?!? Pilihan tetap di Jakarta dan digusur atau balik kampung dan hidup miskin??? Kerja banting tulang dengan bayaran yg sangat2 minim atau pulang kampung dan kerja dengan bayaran yg sangat2 minim juga? Pilihan macam apa itu??? Pada saat yg bersamaan, mereka terus2an ditekan dan dilupakan. Pilihan apa nih yg dimaksud?
Gak usah bermain dengan kata, sebaiknya kita lihat apa yg memang benar2 terjadi.
Lucu sekali lo ngomong "two wrongs don't make it right", dan pada saat bersamaan posisi lo seperti oblivious terhadap perlakuan pemerintah kepada yg mampu ("so what, that happens!").
masalah itu memang gak cuma dari mereka yg tinggal di daerah sekitar kali, orang2 yg bangun villa di daerah resapan, pemukiman di tempat yg salah itu juga memberikan dampak gede buat terjadinya banjir...
Hohoho... aduh, daripada menyalahkan terus, coba dong tulisin bukti kongkrit bahwa orang2 yg tinggal dipinggir kali itu berdampak besar (dibanding pembangunan di daerah penyerapan air dan perusakan lingkungan lainnya). Kayaknya dari tulisan lo tuh sepertinya semuanya itu sama besar dampaknya. SALAH BESAR. Setiap sumber masalah itu berbeda2 dampaknya (duh ini nih gw pikir semua orang juga pasti tau). Coba buktikan gw salah, dan gw akan mendengarkan. Posisi gw masih sama, gak ada yg lebih merusak daripada pemukiman2 "liar" (terlepas itu udah di cap atau nggak) dan policy pemerintahan yg pro-carbonmonoxide.
well.. dengan pemerintahan yg corrupt kaya gini... dengan pemkot yg segitu gampangnya ngasih IMB dan mengabaikan AMDAL, mau gak mau... secara hukum orang2 yg punya rumah di daerah yg terlarang itu memang sah secara hukum... dan orang2 yg tinggal di bantaran kali itu emang illegal secara hukum... itu fakta yg terjadi dilapangan...
Kontradiksi berkali2. Lo bilang orang2 yg punya rumah legal secara hukum, terus bilang bahwa pemerintah (birokrat) yg memberikan cap itu mengabaikan AMDAL. Lho, legalitas itu berdasarkan hukum atau orang sih? Kalo seorang birokrat boleh mencap "legal" suatu tindakan yg salah, bukan berarti secara hukum hal itu boleh. Justru itu makin menguatkan alasan untuk menegakkan hukum dengan membongkar perumahan itu Tapi kita tau (mudah2an lo juga tau) kenapa bangunan2 itu bisa berdiri, dan KAPAN mereka berdiri. Ini semua berdasarkan pengabaian hukum.
Pertanyaannya biar gw ulangin lagi: kenapa pemerintah2 terus2an menekankan peraturan bahwa si miskin gak boleh tinggal di kolong jembatan, dan pada saat yg bersamaan, sumber masalah banjir terbesar gak ditanggulangi?
mo jutaan orang demo... gak ngaruh... karena seperti dibilang... stempel dan cap itu udah sah...
Kalo setiap orang pesimis dan apatis, Soeharto gak akan turun.
peseg5 November 15th, 2007, 07:01 PM @ peseg5
Gw masih gak ngerti logikanya dimana orang2 yg tinggal di kolong jembatan, di samping kali itu berkontribusi ke buruknya banjir di Jakarta. Dari aspek apa? Bisa diperjelas? Kalo kita pakai argumen bahwa mereka "ditertibkan" supaya mengurangi efek banjir terhadap orang2; Lho, kenapa bukan sumber masalah banjirnya saja yg di tackle lebih dulu??? Kan logikanya gak perlu obat kalo gak ada penyakit :)
Terus ente bilang si kaya si miskin harus mematuhi hukum. Permasalahannya, selaluuuu saja si miskin yg di paksa untuk mematuhi hukum, tapi si kaya selalu dibebaskan. Si miskin terus2an di tekan, si kaya terus2an di kasih concession. Kalo melihat hitam diatas putih, memang "sepertinya" ada keadilan, tapi kenyataannya jauh daripada itu (yg gw yakin kita semua tau).
Kalau penghuni di kolong jembatan gw gak pernah bilang berkontribusi besar terhadap banjir. Coba ditunjukkan tulisannya.
Bagi penghuni bantaran kali, itu sudah jelas. Secara teknis, pertama, penghuni bantaran kali mempersempit ruang sungai karena pondasi bangunan gubuk mereka berada diatas badan sungai, ini tidak terlalu berarti jika hanya ada satu dua gubuk, tapi kalau ada ratusan gubuk sepanjang sungai, ini bisa mempengaruhi signifikan kapasitas sungai.
Kedua, penghuni bantaran kali tidak mempunyai sistem buangan limbah yang baik, jadi semua limbahnya dibuang ke kali. Ini tidak pengaruh signifikan jika hanya ada satu dua gubuk, tetapi jika ratusan gubuk melakukan pola yang sama, limbah2 tersebut akan membuat endapan kotoran yang menyebabkan sungai menjadi dangkal karena lumpur yg mengendap di dasar sungai. Ini mempengaruhi kapasitas air.
Secara hukum, tidak ada aturan yang membolehkan bangunan didalam garis sepadan sungai. Suatu aturan tidak mengecualikan segala SARA, jadi mau itu rumah gubuk atau rumah besar ala richie rich, selama melanggar aturan GSS ya jelas melanggar dan harus dihukum. Permasalahannya adalah implementasi hukum disini seringkali tidak adil, nah disitulah yang harus terus kita kritisi dan dorong utntuk diperbaiki, bukan malah terjebak dalam paradigma si miskin/kaya. Contohnya karena si miskin selalu tertindas sedangkan si kaya selalu diuntungkan, kita tidak perlu melakukan menerapkan hukum ini. Menurut saya itu kurang tepat, yg tepat si salah (mau itu miskin/kaya) yah harus dihukum seadil2nya.
Nah konsep hukum yg benar itu kan harusnya ditegakkan dan dipatuhi oleh semua pihak/ segala kalangan yg tidak terbatas oleh SARA, mau dia kaya/miskin. Kalau dalam implementasi di lapangan kurang sempurna misalnya si kaya selalu diuntungkan, ya harus didorong untuk disempurnakan agar lebih adil sesuai dengan tanggung jawab kesalahannya. Mematuhi aturan bukan paksaan, tapi itu kewajiban setiap warga negara.
BauIng November 17th, 2007, 11:35 AM 16-11-2007
Sudin PU Tata Air Jaksel Bersihkan Drainase
Untuk mengantisipasi terjadinya banjir akibat curah hujan yang semakin tinggi, Suku Dinas Pekerjaan Umum (PU) Tata Air Jakarta Selatan melakukan penyedotan dan pembersihan beberapa saluran air atau drainase.
”Kita lakukan penyedotan di 65 lokasi dari total 10 kecamatan yang ada di Jakarta Selatan. Dan yang paling banyak terjadi pengurasan adalah wilayah Kecamatan Kebayoranbaru,” jelas Rukmana, Kepala Seksi Pemeliharaan Bangunan Air Sudin PU Tata Air Jakarta Selatan, Jumat (16/11).
”Untuk wilayah kecamatan Kebayoranbaru memang yang paling banyak dilakukan penyedotan jika dibandingakan dengan wilayah lainnya. Sebab, wilayah tersebut adalah pusat perekonomian di Jakarta selatan,” katanya.
Oleh karena itu, kata Rukmana, pihaknya meminta kepada warga yang biasa melalui jalan-jalan di wilayah Kecamatan Kebayoranbaru agar memaklumi adanya kemacetan lalu lintas maupun jalan yang becek karena sedang dilakukan penyedotan saluran air.
Rukmana juga mengimbau kepada masyarakat yang ingin saluran air di lingkungannya disedot, mereka disarankan untuk datang langsung ke kantor Sudin PU Tata Air dengan membawa surat beserta foto lokasi yang ingin dikerjakan.
Sementara itu Rukmana pun menjelaskan beberapa titik rawan banjir dan perlu mendapat perhatian masyarakat dan petugas posko banjir. Yakni kawasan yang dilalui kali Pesanggrahan meliputi, Kompleks IKPN Deplu, Komp. IKPN Bintaro, Cipulir, Tanahkusir, Jl H. Muhi.
Kemudian di kawasan Kali Krukut meliputi kawasan Puloraya, Tarakanita, Komp. Widya Chandra, Jl Bank, Canadiyanti, Puri Mutiara. Sedangkan di kawasan Kali Grogol yaitu di Jl H. Ipin, Jl Gunungbalong, Jl H. Aom.
Sementara di Kali Mampang yang meliputi pasar Mampang, Kemang IX, Pondokkarya, PondokJaya, Jl Kemang IX. Sedangkan di kali Ciliwung yaitu Jl Binawarga, Pengadegan, Kampungmelayu Kecil, Kebonbaru, dan Manggarai.
Dan untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya telah menyediakan beberapa rumah pompa. Rumah pompa tersebut diantaranya terdapat di Komp. TVRI sebanyak dua unit berkekuatan 250 m3/detik, IKPN Bintaro tiga unit dimana salah satunya berkekuatan 500 m3/detik.
Sedangkan di terowongan Manggarai sebanyak enam unit yang berkekuatan 60 m3detik. Kebonbaru sebanyak dua unit berkekuatan 250 m3/detik.
Selain itu, lanjut Rukmana, pihaknya juga menyiapkan pompa mobile yang ada di setiap kecamatan berkekuatan 65 m3/detik.
”Kita juga siapkan 5000 karung pasir, yang masing-masing kecamatan memiliki 2000 buah dan satu buah pompa serta kendaraan operasional,” pungkasnya.
asudarsono November 17th, 2007, 05:13 PM Saya dengar bahwa waktu hujan "badai" minggu kemarin, kawasan Usakti yg di samping tol Cawang - Priok sempat "tergenang". Kenapa hujan angin dikit disebut "badai" sedangkan air yg masuk properti orang disebut "genangan" mohon tidak diperdebatkan krn ya emang begitulah gaya bahasa kita. Yg jadi pertanyaan saya apa betul kita sudah harus siap2 kebanjiran, mengingat rumah saya juga langganan banjir, ya banjir.
AceN November 17th, 2007, 06:32 PM ..untung daerah Kemanggisan kaga banjir.....
rilham2new November 17th, 2007, 08:30 PM ^^^^ KEmanggisan itu sebelah mananya Jakarta ????? Deket Jalan Arteri Panjang??? Atauu Kemanggisan yang deket Plaza Slipi Jaya :? ...
Kalau SMA78 tuh Kemanggisan, ya??? :p~
AceN November 17th, 2007, 09:44 PM Deket Jalan Arteri lah..Palmerah tuh... :D
kamski November 18th, 2007, 11:14 AM Kalau penghuni di kolong jembatan gw gak pernah bilang berkontribusi besar terhadap banjir. Coba ditunjukkan tulisannya.
Gw mengeneralisir pernyataan2 tentang orang2 yg tinggal di daerah "terlarang" (kolong jembatan, pinggir jalan, pinggir kali), yg menjadi out of topic karena kebawa kebiasaan pemerintah yg doyan menggusur. For that, I apologize.
Kedua, gw udah bilang:
Satu yg perlu ditegaskan, gw sama sekali gak menentang bahwa peraturan memang harus ditegaskan kesetiap orang, tanpa memandang kelas. Dua, Perelokasian orang2 miskin ini secara intention mungkin baik, demi meminimalisir dampak banjir.
Dan gw juga udah bilang bahwa orang2 yg tinggal dipinggir kali itu memang berkontribusi terhadap pemampetan kali yg ujung2nya penguapan air. Ya, gw setuju harus ada yg kita lakukan supaya orang2 miskin itu gak usah tinggal disitu lagi. Gw support setiap langkah untuk memperbaiki kehidupan orang2 miskin.
Permasalahannya adalah penerapan hukum yg berat sebelah. Bukan hanya dulu, sekarang pun masih. Gw ngerti bahwa hukum harus adil dan merata, cuman kenapa pada prakteknya hanya orang2 miksin lah yg terus dirugikan? Kenapa penggusuran hanya di lakukan ke orang2 miskin yg notabenenya, kalo rumah mereka dihancurkan, mereka akan hilang semuanya?
Alasan2 seperti "yaa hukum harus ditegakkan kesemua orang tanpa pandang bulu" itu udah bosan didengerin oleh orang2 yg tertindas, soalnya pada saat yg kaya melakukan perusakan, semuanya diam dan oke2 aja (mungkin karena cap "legalitas" dari birokrat?). Gw juga gak pengen membagi2 si kaya dengan si miskin, tapi memang itu lah kenyataan yg terjadi di lapangan.
Gw gak nyalahin siapa2 disini, gw hanya frustrasi aja ngeliat ketidak adilan pemerintah and the deafening silence by the citizens of Jakarta.
peseg5 November 18th, 2007, 03:54 PM Gw mengeneralisir pernyataan2 tentang orang2 yg tinggal di daerah "terlarang" (kolong jembatan, pinggir jalan, pinggir kali), yg menjadi out of topic karena kebawa kebiasaan pemerintah yg doyan menggusur. For that, I apologize.
Kedua, gw udah bilang:
Dan gw juga udah bilang bahwa orang2 yg tinggal dipinggir kali itu memang berkontribusi terhadap pemampetan kali yg ujung2nya penguapan air. Ya, gw setuju harus ada yg kita lakukan supaya orang2 miskin itu gak usah tinggal disitu lagi. Gw support setiap langkah untuk memperbaiki kehidupan orang2 miskin.
Permasalahannya adalah penerapan hukum yg berat sebelah. Bukan hanya dulu, sekarang pun masih. Gw ngerti bahwa hukum harus adil dan merata, cuman kenapa pada prakteknya hanya orang2 miksin lah yg terus dirugikan? Kenapa penggusuran hanya di lakukan ke orang2 miskin yg notabenenya, kalo rumah mereka dihancurkan, mereka akan hilang semuanya?
Alasan2 seperti "yaa hukum harus ditegakkan kesemua orang tanpa pandang bulu" itu udah bosan didengerin oleh orang2 yg tertindas, soalnya pada saat yg kaya melakukan perusakan, semuanya diam dan oke2 aja (mungkin karena cap "legalitas" dari birokrat?). Gw juga gak pengen membagi2 si kaya dengan si miskin, tapi memang itu lah kenyataan yg terjadi di lapangan.
Gw gak nyalahin siapa2 disini, gw hanya frustrasi aja ngeliat ketidak adilan pemerintah and the deafening silence by the citizens of Jakarta.
Jangankan ente.... gw jg frustasi kok ngeliat "wajah asli" negara ini. Tapi ya gimana lagi, ini negara kita. Gw lahir, tinggal, dan cari makan disini, sama seperti yg lain. Bagi gw, adalah WAJIB hukumnya kita merubah bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Ini tinggal masalah waktu saja...
Don't look back, but never forget past...
Do think forward, but always look present...
kamski November 18th, 2007, 04:00 PM OK, setuju, kita semua harus bertindak untuk memperbaiki kota kita masing2.
Ini ada artikel yg cukup menarik:
RIWAYAT BANJIR JAKARTA (http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=313986&kat_id=3)
dari republika.co.id
ALAM TIDAK BISA BOHONG (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0606/30/opi01.html)
dari sinarharapan.co.id
peseg5 November 18th, 2007, 06:59 PM @kamski: Thx artikelnya.
Btw, kalo Jakarta dibilang dari abad 15 aja sudah banjir, apalagi jaman sekarang yg daerah penyerapannya jauh lebih buruk dibanding jaman dulu. Secara teknis, bagaimana mengantisipasi air banjir di Jakarta?
Ada yg bisa kasih pendapat atau usulan?
Kalau saya bilang, normalisasi sungai, BKT, dan penambahan ruang terbuka hijau tidak akan bisa menghilangkan banjir 100% dari Jakarta. Karena abad 15 saja yg daerahnya penyerapan airnya masih banyak, hutannya masih banyak, buktinya masih banjir dan pernah banjir parah.
Jadi mungkin Jakarta memang perlu semacam kantong air yang sangat besar, yang mungkin akan tidak terpakai selain musim hujan saja. Alias kantongnya baru penuh air kalau saat puncak musim hujan.
BKT juga baik, tapi menurut saya itu masih belum cukup.
Ada pendapat lain?
BauIng November 19th, 2007, 11:06 AM 19-11-2007
Pemprov Akan Bentuk Tim Penasehat Pengendali Banjir
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI terus berupaya melakukan langkah antisipasi penanganan banjir di Ibu Kota. Selain melakukan pengerukan sungai dan normalisasi saluran air, Pemprov DKI juga berencana membentuk tim penasehat pengendalian banjir di Jakarta.
Tim ini nantinya beranggotakan tenaga ahli dan pakar yang berkompeten dalam mencarikan solusi terhadap ancaman bencana yang selalu menghantui warga ibu kota setiap tahunnya ini.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengungkapkan konsep tim penasehat pengendalian banjir ini menyerupai tim ahli di bidang lainnya yang telah lebih dahulu dibentuk seperti Dewan Transportasi Kota (DKT). "Tim ini akan diisi orang yang berkompeten dalam menangani banjir di ibu kota, bisa dari kalangan akamedisi, pakar, maupun tenaga ahli lainnya," tutur Prijanto di Balaikota, Senin (19/11).
Dalam tugasnya, tim penasehat pengendalian banjir ini akan membuat rancangan upaya pengendalian banjir di Ibu Kota dalam bentuk proposal. Jadi langkah-langkah yang akan diambil pemerintah dalam mengatasi banjir berasal dari rekomendasi tim penasehat pengendalian banjir tersebut.
Saat ini dalam mengatasi banjir di ibu kota, Pemprov DKI sendiri telah mengambil langkah-langkah seperti revitalisasi fungsi waduk dan normalisasi aliran sungai. Selain itu percepatan realisasi pembangunan BKT juga merupakan agenda yang akan diambil sehubungan dengan pengendalian banjir.
"Program yang telah ada ini akan disinergiskan dengan rekomendasi dari tim penasehat tersebut," lanjutnya.
Rencana pembentukan tim penasehat penanggulangan banjir ini. Menurut Prijanto, merupakan realisasi dari janjinya bersama Fauzi Bowo untuk memberikan ruang lebih bagi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mencarikan solusi terhadap permasalahan ibu kota.
Selain itu, ia menilai dengan adanya tim penasehat ini penanggulangan banjir di ibu kota tentu akan lebih terarah lagi karena tim tersebut ditempati oleh personil-personil yang benar-benar berkompeten dalam bidangnya.
Namun wacana pembentukan tim penasehat pengendalian banjir ini baru dapat terealisasi setelah mendapat persetujuan dari gubernur. "Kita akan usulkan secepatnya kepada gubernur. Apabila ia setuju tim tersebut segera dibentuk" tukasnya.
fyanardi November 19th, 2007, 11:46 AM @kamski: Thx artikelnya.
Btw, kalo Jakarta dibilang dari abad 15 aja sudah banjir, apalagi jaman sekarang yg daerah penyerapannya jauh lebih buruk dibanding jaman dulu. Secara teknis, bagaimana mengantisipasi air banjir di Jakarta?
Ada yg bisa kasih pendapat atau usulan?
Kalau saya bilang, normalisasi sungai, BKT, dan penambahan ruang terbuka hijau tidak akan bisa menghilangkan banjir 100% dari Jakarta. Karena abad 15 saja yg daerahnya penyerapan airnya masih banyak, hutannya masih banyak, buktinya masih banjir dan pernah banjir parah.
Jadi mungkin Jakarta memang perlu semacam kantong air yang sangat besar, yang mungkin akan tidak terpakai selain musim hujan saja. Alias kantongnya baru penuh air kalau saat puncak musim hujan.
BKT juga baik, tapi menurut saya itu masih belum cukup.
Ada pendapat lain?
Saya jg berpikir Jakarta perlu kantong air atau reservoir yg cukup, kalau bisa dikelilingi hutan / taman jd bisa sebagai daerah penyerapan air juga buat tempat rekreasi warga juga. Juga kalau musim kemarau jd sumber air buat masyarakat. Tapi ya pasti susah juga, lahannya dari mana :nuts:, wong danau2 yg ada aja udah pada ditimbun tanah buat dibangun. Oh iya juga kawasan bogor dan puncak jg harus ditata untuk lebih memperbanyak daerah resapan air. Tapi pastinya memang sulit untuk menghilangkan banjir 100% :bash:
Just 2 rupiahs from me yg blom pernah tinggal di jakarta, cuma sering numpang lewat :D
AceN November 19th, 2007, 12:38 PM Bikin underground tunnel system kaya di London... and River Barrier in Kali Ciliwung.... :D
rilham2new November 19th, 2007, 01:24 PM Jakarta banjir ??? Yahh rumahku sih gak pernah kebanjiran ... tapi jalan sekeliling rumah (yang mengarah ke rumah) pas banjir kemaren parah juga... air ampe sepinggang getoo hh :P
AceN November 19th, 2007, 02:54 PM London aja yang segitu hebatnya ngebangun pertahanan banjir, kalo angin - laut - cuaca udah bersatu, bakal kena MEGAFLOOD dah....... ;)
rilham2new November 19th, 2007, 03:35 PM ^^ DI Jakarta sih lebih parah gak perlu semua hal itu bersatu juga,, masih bisa banjir :p~ ... Sampe bikin macet :D ...
loki_almighty November 21st, 2007, 06:31 PM bikin gorong2 kaya new york ?? eh ga bisa yah... soalnya jakarta gak punya blue print yg bener...salah2 malah kena pipa gas ato kabel telpon..
rilham2new November 22nd, 2007, 04:44 AM GImana kalau perumahan padat itu direlokasi dalam satu kawasan rumah susun terpadu yang nantinya, perumahan padat itu akan diganti dengan Green Belt *ngayal mode: ON
AceN November 22nd, 2007, 09:43 AM DIsuruh pake Safety Belt aja susah...malah Green Belt....
rilham2new November 24th, 2007, 11:44 AM ^^ :rofl: :rofl: :rofl:
BauIng November 29th, 2007, 12:05 AM DKI Akan Bangun Polder Berlapis Dua
Rabu, 28 November 2007 | 14:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengkaji pembangunan polder dua lapis di Jakarta Utara untuk mengatasi kenaikan permukaan laut. "Dalam proses kajian dan harus melibatkan bantuan ahli dari asing,''kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo kepada wartawan di Balai Kota Rabu (28/11).
Menurut Fauzi, sebagian kawasan Jakarta ada di bawah permukaan laut. Meskipun sistem yang ada sekarang sudah benar, namun sistem penanganan masalah banjir yang ada harus segera di perbaharui (up to date). Karena sistem tersebut didasarkan pada tuntutan 10-15 tahun yang lalu.
Pembangunan polder sebagai pengendali banjir akan meniru negara Belanda. Negara Kincir angin itu permukaan tanahnya ada dibawah air laut. Sehingga sistem polder dibangun secara berlapis-lapis. "'Perlu dibangun sistem polder 2 lapis,"kata Fauzi.
Penanganan masalah banjir dan kenaikan air laut tidak bisa ditangani Pemerintah Daerah. Penanganannya harus ada kebijakan dari pemerintah pusat. Kenaikan air laut hampir terjadi di sepanjang pantai Utara. Solusinya adalah penanganan jangka panjang dengan cara pembangunan polder.
loki_almighty November 29th, 2007, 01:15 PM DKI Akan Bangun Polder Berlapis Dua
Rabu, 28 November 2007 | 14:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengkaji pembangunan polder dua lapis di Jakarta Utara untuk mengatasi kenaikan permukaan laut. "Dalam proses kajian dan harus melibatkan bantuan ahli dari asing,''kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo kepada wartawan di Balai Kota Rabu (28/11).
Menurut Fauzi, sebagian kawasan Jakarta ada di bawah permukaan laut. Meskipun sistem yang ada sekarang sudah benar, namun sistem penanganan masalah banjir yang ada harus segera di perbaharui (up to date). Karena sistem tersebut didasarkan pada tuntutan 10-15 tahun yang lalu.
Pembangunan polder sebagai pengendali banjir akan meniru negara Belanda. Negara Kincir angin itu permukaan tanahnya ada dibawah air laut. Sehingga sistem polder dibangun secara berlapis-lapis. "'Perlu dibangun sistem polder 2 lapis,"kata Fauzi.
Penanganan masalah banjir dan kenaikan air laut tidak bisa ditangani Pemerintah Daerah. Penanganannya harus ada kebijakan dari pemerintah pusat. Kenaikan air laut hampir terjadi di sepanjang pantai Utara. Solusinya adalah penanganan jangka panjang dengan cara pembangunan polder.
mengadopsi teknologi belanda kalo masih juga dikerjain ama insinyur2 indo yah akhirnya korup2 juga... so mending sekalian hire consultant dari sana juga...
btw waktu gw smp dulu (brarti udah lama banget) dikasih tau kalo intrusi air laut udah hampir sampe ke monas... well.. brarti sekarang udah sampe PIM ?? makanya udah banyak yg kesulitan air bersih
BauIng November 29th, 2007, 01:27 PM Hire consultant asing mah gw setuju aja kl emang perlu. Kita ga perlu gengsi.
Tapi ga semua insinyur indo korup. Masih banyak mereka2 yang bersih.
Semua tergantung kepribadian n mentalnya masing2.
kamski November 29th, 2007, 03:46 PM Gw punya usul:
1. Pindahkan Ibu Kota ke Bandung. Pusat bisnis ke Medan. Pusat wisata ke Bali. Boleh di atur2 lagi (atau di puter2), yg jelas lebih desentral dan tersebar (termasuk Papua dan Sulawesi)
2. Jakarta di jadiin kolam renang raksasa aja. Buat tembok pembatas yg tinggi setinggi2nya, biar makin asik buat diving.
3. Rumah2 dan kantor2 yg udah ada, dijadiin kaya Atlantis aja.
ATAU
1. Ganti pemerintah, hapus sistem birokrasi berlebihan, dirikan sistem federasi, gusur bangunan2 perusak lingkungan, hentikan perusahaan2 perusak lingkungan.
ATAU
1. Beli boat banyak2.
Selama kita masih membolehkan (apatis) perusakan lingkungan, segala macam "patching" terhadap banjir gak akan ada yg sukses.
ncon November 29th, 2007, 05:57 PM i read in newspaper forget which one
that Jakarta will be submerged in the year 2030 :eek: ! :cry:
BauIng November 29th, 2007, 06:59 PM Gw punya usul:
1. Pindahkan Ibu Kota ke Bandung. Pusat bisnis ke Medan. Pusat wisata ke Bali. Boleh di atur2 lagi (atau di puter2), yg jelas lebih desentral dan tersebar (termasuk Papua dan Sulawesi)
2. Jakarta di jadiin kolam renang raksasa aja. Buat tembok pembatas yg tinggi setinggi2nya, biar makin asik buat diving.
3. Rumah2 dan kantor2 yg udah ada, dijadiin kaya Atlantis aja.
ATAU
1. Ganti pemerintah, hapus sistem birokrasi berlebihan, dirikan sistem federasi, gusur bangunan2 perusak lingkungan, hentikan perusahaan2 perusak lingkungan.
ATAU
1. Beli boat banyak2.
Kalo ini langsung diforward ke pemerintah aja biar mereka bisa langsung baca sendiri.
Selama kita masih membolehkan (apatis) perusakan lingkungan, segala macam "patching" terhadap banjir gak akan ada yg sukses.
Kalo yang ini mah gw setuju.
Kailyas November 30th, 2007, 10:16 AM Kaya masalah banjir engga pernah bakal tuntas. karena:
1. pembalakan liar masih akan terus berlanjut.
2. Infrastruktur yang tidak memadai seperti sistem drainase dikota2 besar dan tidak ada upaya pembenahan yang komprehensive.
3. Tata ruang kota yang amburadul
4. Kesadaran akan kebersihan yang kurang disegala lapisan masyarakat
5. koordinasi antar departemen dan provinsi yang lemah
6. korupsi, suap, dan praktek KKN yang merajalela.
Kesimpulannya, harus siap kena banjir setiap tahunnya......apalagi di Jakarta.
reinhart87 November 30th, 2007, 11:03 PM Last Monday or Tuesday night I watched on CNN about the most recent flood in North Jakarta and the news anchor specifically said that the government/governor blamed global warming as the main cause... like seriously, did they really think people were that stupid? geezz :p that's a total BS and really disappointed me. Whereas global warming may play an important part in raising sea-level, we as human beings who live in Jakarta commit even bigger role. I personally think that whether we like it or not, we have to admit that Jakarta has been mismanaged for way too long, all those skyscrapers and mega malls can't hide the fact that Jakarta will be submerged even with just tinny drops of rain. I wonder when will the right people who really understand how to manage a city be the future government of Jakarta? Any wild guess peeps?? Maybe someone from Indo forumers in this website will be the next governor :))
ace4 December 1st, 2007, 04:15 AM apakah ada pengaruh juga dari reklamasi pantai Jakarta tanpa memperhatikan amdal (atau amdal tidak lolos tapi tetap dipaksakan)...?
reinhart87 December 2nd, 2007, 02:05 PM apakah ada pengaruh juga dari reklamasi pantai Jakarta tanpa memperhatikan amdal (atau amdal tidak lolos tapi tetap dipaksakan)...?
I guess reclamation in general will always have impact/side effect on the environment. How you manage that impact/side effect is the most important point:) A lot of countries in the world change their coast lines such as the UAE, the Netherlands, or even our neighbour Singapore. They are doing just fine now to the very least...Jadi kalau amdalnya bener-bener dilaksanakan dengan baik, lolos atau tidak lolos, pasti efek samping dari lingkungan sekitar bisa dikurangi:lol: that's my two cents of opinion
rilham2new December 2nd, 2007, 02:11 PM ^^ Kalau karena GLobal Warming cuaca menggila sehingga banjir itu mungkinsaja ;) .... Dan untuk kasus Jakarta "memang kenyataannya" diperparah dengan buruknya drainase ..
Johor Bahru aja yang jutaan kali lebih tertata dari Jakarta sistem drainasenya masih aja bisa banjir kok :D... Di dalam kotanya masih banyak Greenbelt,, hutan kota,, dan sebagainya ,,, masih aja bisa banjir ;) ... Banjirnya bahkan bukan hanya Banjir Kilat, tapi juga banjir yang airnya bahkan menggenang sampai berhari-hari ;) ..
Global warming memang salah satu penyebabnya !!! ... Dan jangan terkejut kalau beberapa cekungan hutan lindung di Riau, juga kebanjiran ;) ...
rilham2new December 2nd, 2007, 02:14 PM Gw punya usul:
1. Pindahkan Ibu Kota ke Bandung. Pusat bisnis ke Medan. Pusat wisata ke Bali. Boleh di atur2 lagi (atau di puter2), yg jelas lebih desentral dan tersebar (termasuk Papua dan Sulawesi)
2. Jakarta di jadiin kolam renang raksasa aja. Buat tembok pembatas yg tinggi setinggi2nya, biar makin asik buat diving.
3. Rumah2 dan kantor2 yg udah ada, dijadiin kaya Atlantis aja.
ATAU
1. Ganti pemerintah, hapus sistem birokrasi berlebihan, dirikan sistem federasi, gusur bangunan2 perusak lingkungan, hentikan perusahaan2 perusak lingkungan.
ATAU
1. Beli boat banyak2.
Selama kita masih membolehkan (apatis) perusakan lingkungan, segala macam "patching" terhadap banjir gak akan ada yg sukses.
Solusi ekstrem semua ya :D ... Kalau di Riau,, solusinya pemerintah mulai menggiatkan lagi konstruksi rumah panggung yang memang merakyat di kalangan Masyarakat Sumatra sebelah utara ;) ...
Konon katanya,, zman dahulu konstruksi rumah panggung digunakan untuk mencegah harimau... tapi sekarang bisa dijadikan dengan meminimalisir dampak banjir :D .. Mending daripada semua penduduk Jakarta nya mesti dimigrasikan :D
lombok December 5th, 2007, 09:41 AM .000 Vila Liar Rusak Puncak
Rabu 5 Desember 2007, Jam: 10:33:00
BOGOR (Pos Kota) - Pembangunan perumahan, vila , dan hotel di kawasan Bogor, Puncak, Cianjur (Bopuncur) sejak tiga tahun terakhir terus menggila dan tidak terkontrol lagi. Pemerintah Kabupaten Bogor dan Cianjur mencatat 7.328 vila kini menjamur di kawasan itu. Dari jumlah tadi, 60 persen atau sekitar 4.000 tidak memiliki IMB, alias liar. Belum lagi berdiri 96 kompleks perumahan memadati kawasan yang didengungkan sebagai resapan air ini.
Tidak heran, setiap banjir besar melanda Jabotabek, kawasan inilah yang pertama dituding sebagai biang kerok . Vila , perumahan dan hotel tidak hanya didirikan di lahan kosong, tapi menggusur kebun sayuran, sawah, atau kawasan pepohonan lain.Tak pelak lagi, hujan yang turun di kawasan Bopuncur, tidak bisa lagi diresap oleh hutan namun enam jam kemudian, tiba di Jakarta dan meluap membanjiri permukiman.
Pembangunan itu telah menghilangkan 30,6 persen areal vegetasi hutan dan 12,1 persen areal hutan campuran dari luas kawasan Bopuncur 121.095 hektar,” ujar Direktur Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) Institut Pertanian Bogor (IPB) Ernan Rustiadi belum lama ini.
Sebenarnya, kawasan ini sudah banyak dilindungi dengan UU dan peraturan. Misalnya, Keppres No 48/1983 tentang Jalur Puncak, Keppres No 79/1985 tentang RUTR Kawasan Puncak, dan Keppres No 114/ 1999. Masih ditambah lagi beberapa keputusan dan instruksi menteri serta Perda Kabupaten Bogor dan Cianjur. Betapa pun galaknya aturan ini, aparat birokrasi setempat tampaknya lebih suka tutup mata.
KAWASAN 7 JENDERAL
Beberapa bulan lalu, misalnya Badan Pertanahan Nasional (BPN) Cibinong memproses pengajuan izin. Bahkan mereka berani mengeluarkan izin di lahan garapan milik negara. “Untuk mengeluarkan izin dengan lahan seluas 500 meter persegi dibutuhkan uang pelicin Rp 20 juta-Rp 80 juta,” ujar salah seorang calo yang kerap membantu mendirikan vila di lokasi terlarang. Uang sebesar itu, dibagi mulai oknum perangkat desa, oknum Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, oknum BPN Kabupaten hingga pejabat di Pemkab Bogor .
Sedangkan modus mencaplok tanah negara, biasanya biong (makelar tanah-red) menggaet pejabat atau jenderal.
Kepala Subbidang Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Badan Perencanaan Pemkab Bogor Joko P memberi contoh penyerobotan tanah di PT Perkebunan Negara Nusantara VIII Gunung Mas. Awalnya, ada jenderal atau pejabat yang ingin memiliki vila ditawari lahan oleh biong. Lokasinya jauh dari keramaian di tengah lokasi perkebunan. Harga untuk 100 meter persegi biong minta Rp 20 – Rp 40 juta.
Biong sengaja "menjebak" si jenderal dengan memilih lokasi terpencil. Harapannya, supaya lahan di sekitarnya bisa mereka jarah tanpa ada sentuhan dari pihak berwajib. Setelah vila milik pejabat tersebut dibangun dan ditempati, baru penyerobotan lahan berikutnya di sekitar vila milik pejabat tersebut dimulai. Satu hingga dua tahun kemudian, orang-orang dari Jakarta berebut lokasi di sekitar jenderal tersebut.
Kondisinya mirip susunan "tata surya", di mana vila milik pejabat tersebut berperan sebagai pusat semesta, sementara vila milik orang-orang kaya yang tak memiliki jabatan mengitarinya. “Daerah ini dikenal bangunan vila tujuh jenderal atau di sebut ‘Kawasan 7 Jenderal’ yang nilai sebuah vilanya minimal Rp 1 milyar!” ujar Joko
Kepala Subbidang Tata Ruang dan Guna Tanah Badan Perencanaan Pemkab Bogor.
Seorang petugas Kecamatan Cisarua menyebutkan, kawasan itu pernah akan ditertibkan Bupati Bogor Eddy Yoso kala itu, dengan menggelar 'Operasi Wibawa Praja'. "Tapi ketika datang ke sana , ternyata ada beberapa orang bersenjata, petugas lari ketakutan," kenangnya
Modus seperti ini juga diakui Sekcam Megamendung, Renaldi Yushab. Dia mengatakan sebagian besar lahan di wilayahnya yang mencakup 11 desa, adalah tanah negara bekas perkebunan Star Buana, yang telah habis masa berlaku perizinannya dan lahan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). Namun, di atas lahan itu, kini telah berdiri 762 vila termasuk milik sejumlah kantor pemerintah.
"Semua bangunan itu tidak memiliki IMB sama sekali termasuk di antaranya bangunan milik pemerintah,'' tutur Renaldi. Salah satunya, 6 bangunan milik Badan Penelitian Tanga Nuklir (Bapeten) yang berdiri di lahan seluas 6 hektar . Bahkan beberapa pejabat Pemkab Bogor diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena adanya dugaan korupsi.
TAK BAYAR PPB
Pelanggaran bukan hanya sebatas IMB, tapi juga lokasi yang dilarang buat perumahan. Seperti di Desa Sukanagalih, yang terdapat irigasi teknis, kenyataannya di kawasan tersebut berdiri perumahan real estate. “Hingga awal 2007 tercatat 96 pengembang bertebaran di kawasan Bopuncur yang hampir 80 persen diantaranya tak memiliki Analisa Dampak Lingkungan,” ujar Ketua Tim Terpadu Pemantau dan Pengendali Pembangunan di Kawasan Puncak (TP3KP) Tjejep Muchtar Soleh
Kerakusan pemilik vila semakin menjadi-jadi karena hampir dipastikan mereka juga tidak membayar atau menunggak Pajak Bumi dan Bangunan. Akibatnya Pemkab Bogor hanya bisa gigit jari. Badan Pengawasan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupten Bogor, misalnya menargetkan total pajak untuk kawasan Puncak, terdiri Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, Rp 4,2 milyar, namun hanya teralisasi 40 persen.
“Kami kesulitan menagihnya karena saat datang ke lokasi vila , hanya menemukan penjaganya,” ujar Rahmat, Staf BPKAD.
BUTUH RP 2 TRILYUN
Rusaknya kawasan ini bukannya membuat Pemkab Bogor mengantisipasinya, tapi malah memikirkan dana buat mengatasi kawasan Puncak yang sudah amburadul. “Kita akan menata kembali kawasan Bopuncur dengan menganggarkan dana Rp 2 trilyun,” ujar Albert Pribadi, Wakil Bupati Bogor.
Dana sebesar itu akan diminta dari Provinsi Jawa Barat, DKI, dan pemerintah pusat. Dana itu digunakan untuk membangun beberapa daerah sebagai kawasan resapan, sekaligus lokasi penampungan air. "Selain itu buat bangun situ dan program reboisasi.”
Lalu dapatkah Kawasan Bopuncur kembali ke awal tahun 1980-an yang sejuk, segar, alami dengan dana sebesar itu? ''Tidak mungkin dan sangat sulit untuk bisa diperbaiki, tapi hanya bisa dikendalikan,'' kata Kepala UPTD Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan wilayah Ciawi Samsul Rizal
Selama 20 tahun bertugas di wilayah tersebut, Samsul Rizal mengatakan permasalahan itu sulit dipecahkan. Jadi, bisa dipastikan lahan hijau di kawasan Bopuncur lambat laun akan menjadi bom waktu yang siap untuk diledakkan. Artinya lahan hijau di kawasan pegunungan itu bakal jadi hutan beton dan siap menenggelamkan daerah sekitarnya termasuk Jakarta !
(iwan)
BauIng December 6th, 2007, 07:26 AM 05-12-2007 beritajakarta.com
DKI dan Depok Sepakat Atasi Banjir
Setelah mengintensifkan kerja sama dengan Pemkab dan Pemkot Bekasi dan Tangerang, hari ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menindaklanjuti kerja sama penanganan banjir dengan Pemkot Depok yang telah dirintis sebelumnya. Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Depok sepakat untuk merevitalisasi aliran sungai serta situ (waduk) yang ada di wilayah Depok.
“Untuk mengatasi banjir di Ibu kota, perlu ada kerja sama antara DKI dan Depok,” jelas Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat berkunjung ke kantor Wali Kota Depok, Rabu (5/12).
Kerja sama itu, kata Fauzi, yaitu dengan merevitalisasi aliran sungai dari wilayah Depok yang mengalir ke Jakarta seperti kali Pesanggrahan dan kali Ciliwung.
Selain itu, lanjut Fauzi, normalisasi situ yang ada di wilayah Depok juga harus segera dilakukan. “Beberapa situ yang menjadi perhatian, yakni Situ Pasir Putih dan Waduk Limo,” jelas Fauzi.
Pasalnya, ungkap Fauzi, fungsi kedua waduk itu saat ini kurang optimal. Padahal kedua waduk tersebut merupakan tandon air yang dapat menahan tekanan air yang masuk ke kali Pesanggrahan.
"Bila kedua waduk tersebut dapat berfungsi optimal, maka wilayah klasik banjir yang barasal dari Kali Pesanggrahan dapat dikurangi," tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail, mengungkapkan, saat ini di wilayahnya terdapat sekitar 30 situ yang luasnya mencapai 125 hektar. "Untuk merevitalisasi 30 situ tersebut, setidaknya dibutuhkan dana Rp 300 miliar," ujarnya.
Nur Mahmudi menambahkan, pihaknya juga berencana untuk membangun bendungan-bendungan kecil di sepanjang kali Ciliwung. "Bendungan itu nantinya dapat menahan tekanan air ke hilir, dan sekaligus menjadi sumber kebutuhan air bersih bagi warga Depok," terangnya.
Saat disinggung kapan pelaksanaan proyek revitalisasi ini, kedua kepala daerah tersebut mengungkapkan proses revitalisasi tidak mungkin dilakukan pada musim penghujan ini.
Selain itu, baik Pemprov DKI Jakarta maupun Pemkot Depok juga akan mendorong pemerintah pusat untuk ikut serta membantu kedua wilayah itu untuk melaksanakan proyek tersebut.
Pada kesempatan tersebut, kedua kepala daerah juga merintis kerja sama di berbagai bidang, seperti transportasi, pendidikan, dan kesehatan. "Kita akan bentuk pokja-pokja yang terdiri dari perwakilan masing-masing pemerintah daerah untuk mengkaji permasalahan tersebut," tukas Fauzi.
BauIng December 7th, 2007, 10:21 AM 06-12-2007
Fauzi Minta Seluruh Drainase Difungsikan
http://img135.imageshack.us/img135/3719/sidak20drainase07ql2.jpg (http://imageshack.us)
Foto: wawan/beritajakarta.com
Hujan yang mulai mengguyur Jakarta beberapa hari terakhir ini menyebabkan beberapa wilayah terendam banjir. Agar banjir besar awal Februari 2007 lalu tidak terulang kembali, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meminta sebelum tahun 2008 seluruh saluran air atau drainase di Ibu Kota bisa berfungsi dengan baik. Sehingga dapat mengurangi potensi banjir dan genangan saat hujan lebat.
Pasalnya, kata Fauzi, perbaikan drainase merupakan prioritas untuk menghadapi ancaman banjir. “Saya ingin semua drainase dapat berfungsi dengan baik saat musim hujan tiba nanti,” ujar Fauzi Bowo, di sela-sela peninjauan sejumlah proyek perbaikan drainase, Kamis (6/12).
Mantan Wakil Gubernur itu mengatakan pengerukan sungai dan pembuatan situ tidak akan banyak bermanfaat jika tidak dibarengi dengan perbaikan drainase. “Titik-titik pembuangan air itu saling terkait dengan pusatnya drainase kota sehingga menjadi salah satu prioritas saya,” ungkapnya.
Dalam peninjauan perbaikan drainase ini, Fauzi Bowo, juga meninjau pembangunan taman interaktif warga, saluran air atau drainase, dan infrastruktur jalan.
Gubernur yang didampingi Wali Kota Jakarta Pusat Muhayat, Kepala Dinas Pertamanan Sarwo Handayani, Kepala Dinas Kebersihan Eko Bahruna, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Wishnu Subagyo Yusuf, dan Kepala Dinas Perhubungan Nurachman mengawali sidak di Taman Kodok Jakarta Pusat pukul 08.00 WIB.
Di Taman Kodok tersebut tengah dilakukan pembangunan pedestrian. Fauzi meminta kepada Dinas Pertamanan untuk mengawasi pembangunan pedestrian tersebut agar sesuai dengan bestek yang telah ditetapkan. “Kepala Seksi Pertamanan kecamatan Menteng harus benar-benar mengawasi pembangunan pedestrian ini agar selesai sesuai target yang telah ditetapkan,” jelas Fauzi.
Kemudian gubernur melanjutkan sidak ke Jl Teuku Cik Ditiro, di mana di jalan tersebut tengah dilakukan perbaikan saluran air. Di tempat itu gubernur meminta Kepada Kepala Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Pusat, Budi Adi, untuk mempercepat perbaikan drainase agar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas di jalan tersebut.
“Pengawas proyek harus tanggap terhadap kondisi di lapangan saat pekerjaan drainase ini. Jangan sampai perbaikan drainase ini dikeluhkan warga karena banyaknya ceceran tanah yang menyebabkan jalanan licin dan macet,” pinta Fauzi.
Selanjutnya mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu melakukan sidak ke Jl Biak Jakarta Pusat, di mana di sepanjang jalan itu juga tengah dilakukan perbaikan drainase. Di tempat tersebut, gubernur sempat kesal dengan adanya pekerjaan saluran air dan pipa air yang terkesan lambat sehingga menyebabkan ruas Jl Biak menjadi menyempit dan menyebabkan kemacetan.
Tidak hanya itu akibat tidak adanya koordinasi antara kontraktor dengan instansi terkait pembangunan saluran air itu menyebabkan tanah menjadi longsor sehingga pekerjaan infrastruktur tersebut menjadi semakin molor. Lokasi terakhir yang disidak gubernur yakni drainase dan flyover Roxi.
Sementara itu Kepala Dinas PU DKI Jakarta Wishnu Subagyo Yusuf mengungkapkan, perbaikan drainase di seluruh wilayah Ibukota ditargetkan rampung akhir tahun 2007 ini.
BauIng December 7th, 2007, 10:28 AM 06-12-2007
Gelombang Pasang Setinggi 4 Meter Akan Hantam Jakarta
http://img340.imageshack.us/img340/6822/lautanvx3.jpg (http://imageshack.us)
Foto: Dok. beritajakarta.com
Warga Ibu Kota khususnya yang berada di pesisir pantai diminta waspada terhadap ancaman air laut pasang. Sebab, berdasarkan prediksi Ilmuwan asal Belanda, pada tanggal 4 Juni 2008 nanti akan ada gelombang pasang setinggi 2,7 meter hingga 4 meter yang akan melanda pesisir pantai utara Jakarta.
"Prediksi akan terjadi gelombang yang lebih dahsyat dibanding beberapa pekan lalu, dilihat berdasarkan siklus bulan dan matahari. Bukan karena perubahan iklim (Climate Change)," ujar Aart R Van Nes Insinyur asal Belanda, usai acara presentasi penanganan banjir ibukota bersama Jakarta Flood Team dan Wakil Gubernur DKI Prijanto, di Balaikota, Kamis (6/12).
Untuk menyikapi ancaman banjir besar tersebut, Pemprov DKI harus membangun tanggul lebih tinggi dari yang ada sekarang atau sekitar satu meter.
Selain mempersiapkan tanggul yang memadai, Nes juga menganjurkan Pemprov DKI untuk terus menyosialisasikan kemungkinan ancaman air pasang tersebut. Sehingga masyarakat dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman air pasang tersebut.
Menanggapi prediksi ilmuan Belanda itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto, menuturkan pihaknya terus memperingati masyarakat untuk terus siap-siap menghadapi ancaman air pasang. "Tidak hanya terkait prediksi air pasang, peringatan agar masyarakat terus waspada banjir terus kita lakukan," ungkapnya.
Selain itu dalam pertemuan tersebut, Jakarta Flood Team juga memberikan masukan mengenai revitalisasi aliran sungai serta sistem drainase kota.
"Seharusnya sepanjang aliran sungai tidak ada bangunan rumah. Di tempat tersebut seharusnya hanya ada jalur bagi para pejalan kaki," terang wagub.
Di samping itu pendidikan kepada masyarakat untuk menjaga drainase seperti sungai dengan tidak membuang sampah ke sungai. "Budaya masyarakat yang menjaga sungai dengan tidak membuang sampah sangatlah penting," paparnya.
Mantan Aster KSAD ini menuturkan pada dasarnya rekomendasi dari Jakarta Flood Team tersebut tidaklah asing dengan program-program yang telah dirintis DKI. Seperti normalisasi sungai, peningkatan kesadaran masyarakat agar peduli terhadap kondisi sungainya.
lombok December 10th, 2007, 09:33 AM Benahi Waduk Pluit Gusur Ribuan Bangunan
Senin 10 Desember 2007, Jam: 9:57:00
JAKARTA (Pos Kota) – Ribuan bangunan yang bertengger di areal sekitar Waduk Pluit, Jakut, dipastikan digusur Pemda DKI. Dana sebesar Rp 30 milyar sudah diusulkan untuk membenahi Waduk Pluit dan menertibkan sekitar delapan ribu bangunan yang ada.
Kepastian ini diungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Wisnu Soebagio Yusuf di sela-sela ikut Silaturahmi Minggu Pagi (SMP) bersama Gubernur Fauzi Bowo di Kel. Tangki, Jakbar, Minggu (9/12).
“Menghadapi gelombang pasang dan banjir, kita akan membenahi Waduk Pluit dan Tanggul Muara Baru. Program ini, kita usulkan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2008,” kata Wisnu.
Dana yang diusulkan Dinas PU untuk memperbaiki Waduk Pluit sekaligus menertibkan delapan ribu bangunan senilai Rp 30 milyar. “Penduduk yang ada di sana harus kita pindahkan,” ucap Wisnu.
Bukan itu saja, Wisnu juga akan memprogramkan meninggikan tanggul di Muara Baru. Langkah ini untuk mengantisipasi adanya gelombang pasang besar dan banjir.
“Tapi meninggikan tanggul di Muara Baru juga kita usulkan pada 2008,” sambungnya seraya memperkirakan dana yang harus disediakan sekitar Rp 15 milyar.
SAMBUT POSITIF
Diyakini Wisnu dengan dibenahi Waduk Pluit dan meninggikan Tanggul Muara Baru setidaknya bisa menaham gempuran gelombang pasang dan banjir di wilayah tersebut.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD DKI Ade Surapriatna menyambut positif program tersebut. Hanya saja, ia menilai usulan itu tergolong terlambat.
“Boleh saja program itu diwujudkan, tapi antisipasi gelombang besar dan banjir di tahun 2007 bagaimana? Kami minta mulai sekrang Dinas PU harus selalu mengantisipasi banjir dan gelombang pasang yang akan terjadi pada waktu dekat,” ucapnya.
Sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pada 22 – 25 Desember 2007 berpotensi terjadi gelombang besar di pantai utara.
MARINHO December 10th, 2007, 06:57 PM Wow up to 4 meters!
06-12-2007
Gelombang Pasang Setinggi 4 Meter Akan Hantam Jakarta
http://img340.imageshack.us/img340/6822/lautanvx3.jpg (http://imageshack.us)
Foto: Dok. beritajakarta.com
Warga Ibu Kota khususnya yang berada di pesisir pantai diminta waspada terhadap ancaman air laut pasang. Sebab, berdasarkan prediksi Ilmuwan asal Belanda, pada tanggal 4 Juni 2008 nanti akan ada gelombang pasang setinggi 2,7 meter hingga 4 meter yang akan melanda pesisir pantai utara Jakarta.
"Prediksi akan terjadi gelombang yang lebih dahsyat dibanding beberapa pekan lalu, dilihat berdasarkan siklus bulan dan matahari. Bukan karena perubahan iklim (Climate Change)," ujar Aart R Van Nes Insinyur asal Belanda, usai acara presentasi penanganan banjir ibukota bersama Jakarta Flood Team dan Wakil Gubernur DKI Prijanto, di Balaikota, Kamis (6/12).
Untuk menyikapi ancaman banjir besar tersebut, Pemprov DKI harus membangun tanggul lebih tinggi dari yang ada sekarang atau sekitar satu meter.
Selain mempersiapkan tanggul yang memadai, Nes juga menganjurkan Pemprov DKI untuk terus menyosialisasikan kemungkinan ancaman air pasang tersebut. Sehingga masyarakat dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman air pasang tersebut.
Menanggapi prediksi ilmuan Belanda itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto, menuturkan pihaknya terus memperingati masyarakat untuk terus siap-siap menghadapi ancaman air pasang. "Tidak hanya terkait prediksi air pasang, peringatan agar masyarakat terus waspada banjir terus kita lakukan," ungkapnya.
Selain itu dalam pertemuan tersebut, Jakarta Flood Team juga memberikan masukan mengenai revitalisasi aliran sungai serta sistem drainase kota.
"Seharusnya sepanjang aliran sungai tidak ada bangunan rumah. Di tempat tersebut seharusnya hanya ada jalur bagi para pejalan kaki," terang wagub.
Di samping itu pendidikan kepada masyarakat untuk menjaga drainase seperti sungai dengan tidak membuang sampah ke sungai. "Budaya masyarakat yang menjaga sungai dengan tidak membuang sampah sangatlah penting," paparnya.
Mantan Aster KSAD ini menuturkan pada dasarnya rekomendasi dari Jakarta Flood Team tersebut tidaklah asing dengan program-program yang telah dirintis DKI. Seperti normalisasi sungai, peningkatan kesadaran masyarakat agar peduli terhadap kondisi sungainya.
materialistus December 14th, 2007, 02:27 PM GOOD LUCK !
BauIng December 22nd, 2007, 12:09 PM Air Pasang Mulai Naik Drastis
Sabtu, 22 Desember 2007 | 08:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Limpasan air pasang dikawasan Muara Baru Jakarta Utara mulai memasuki daratan secara drastis sejak pukul 03.00, sabtu (22/12). Saat ini ketinggian air mencapai 1 meter di jalan dan permukiman.
Sartono, warga RW 17 Muara Baru, kelurahan Penjaringan Jakarta Utara menyebut air mulai masuk dari kawasan RT 20 RW 17 yang berbatasan dengan bibir pantai. Saat ini, beberapa titik di jalan Muara Baru Raya sudah tergenang sekitar 50 cm hingga 1 meter.
"Air sudah mulai masuk ke perumahan, warga saat ini sibuk memindahkan barang. Agaknya ini limpasan terbesar dibanding beberapa hari kemarin," kata dia.
Joko Tresno, operator di instalasi gedung pompa Waduk Pluit menyebut, air naik sekitar pukul 03.00 dinihari tadi. Saat itu, batas outlet instalasi pompa sudah terlampaui oleh air, yang berarti ketinggian limpasan mencapai hampir 2 meter.
"Kami terus berupaya memompa, saat ini 3 pompa kami masih berjalan. Tadi pagi, pompa sempat ngadat karena tersendat sampah," ujarnya. Di instalasi itu, ketinggian air mencapai minus 180 cm pada pukul 07.00 pagi atau lebih 10 cm dari batas normal setinggi minus 190 cm.
Informasi mengenai mulai naiknya air laut pun ditunjukkan pintu air Pasar Ikan. Data di pintu utama pesisir tersebut menunjuk angka 2 meter pada pukul 07.30. Sementara pada pukul 04.00 dinihari, air sudah mencapai 196 cm. "Air sudah melimpas kemana-mana, padahal tadi malam surut jauh dibawah normal, menjadi 75 cm (normal 160 cm)," kata Zaenal, petugas pintu air tersebut.
Kemarin, tanggul pembatas laut sepanangh 300 meter di pesisir Muara Baru mulai ditinggikan. Semula, tanggul tersebut hanya setinggi 50 cm hingga 150 cm. Akibatnya, air pasang yang mencapai 180 cm lebih bisa memasuki daratan. Tanggul sepanjang 300 meter itu pun ditambah ketinggiannya sebanyak 30 cm oleh 18 meter kubik karung pasir.
"Tanggul ini ditinggikan mengingat ada ancaman banjir mulai sabtu besok," kata Lurah Penjaringan Budi Santoso.
rilham2new December 22nd, 2007, 02:17 PM ^^ Yaaa,,, Air pasang diperkirakan akan terjadi pada tanggal 25-26 Desember tahun ini ....
Huaaa,, aq berangkat persis tanggal 28 Desember...
Pemerintah lagi menggesa,, untuk persiapaan Jalur Alternatif Bandara ... Sekarang di Jalur TOL ke Tangerang sudah disiapkan papan petunjuknya :)
BauIng December 22nd, 2007, 03:18 PM Iya lebih baik siapin rute alternatif. :)
peseg5 December 22nd, 2007, 09:01 PM ^^ Yaaa,,, Air pasang diperkirakan akan terjadi pada tanggal 25-26 Desember tahun ini ....
Huaaa,, aq berangkat persis tanggal 28 Desember...
Pemerintah lagi menggesa,, untuk persiapaan Jalur Alternatif Bandara ... Sekarang di Jalur TOL ke Tangerang sudah disiapkan papan petunjuknya :)
Tolong di scan disini dong petunjuknya... Biar kita2 tahu...
Thx
rilham2new December 23rd, 2007, 01:09 PM ^^ Sebenarnya sih udah bisa langsung keliatan kalau kita lewat Jalan Tol Dalam Kota .....
Tapi sepertinya sih dia cuman nunjukkin rute lewat Tol Tangerang,, trus keluar di Meruya .... Dan lewat Jalan samping Puri Indah Mal,, sampai tembus ke Pantai Indah Kapuk, baru masuk Tol Bandara dari situ :) ..
Kalau yang lewat Kota Tangerang nya kurang tahu :( ... tapi katanya di sana juga ada jalur alternatif :)
paw25694 December 24th, 2007, 07:28 AM ^^ Yaaa,,, Air pasang diperkirakan akan terjadi pada tanggal 25-26 Desember tahun ini ....
Huaaa,, aq berangkat persis tanggal 28 Desember...
Pemerintah lagi menggesa,, untuk persiapaan Jalur Alternatif Bandara ... Sekarang di Jalur TOL ke Tangerang sudah disiapkan papan petunjuknya :)
aku juga mau ke airport 28 :colgate:
rilham2new December 24th, 2007, 01:14 PM DIperkirakan akan ada banjir rob yang lebih parah sekitar tanggal 25-26 Desember ... Sebenarnya sekarang juga udah parah :p~
Tapi katanya "parahnya" kali ini akan menyebabkan Jalan Tol Bandara Soekarno-Hatta terputus .,.
Jadi disarankan semua kendaraan yang akan melaju ke Bandara bisa mengikuti papan petunjuk yang dipasang oleh JasaMarga seperti yang di bawah ini ..
Ini Papan Petunjuk "Jalur Alternatif Bandara" yang dipasang di Jalur EXIT Tangerang :)
1
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/alternatif_bandara.jpg
2
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/alternatif_bandara_2.jpg
=================
Sebenarnya jalur alternatif tidak mesti selalu nya melalui Tangerang .,... tapi bisa juga melalui Jalan Puri Indah (samping Mal Puri Indah tembus sampai ke Kapuk/Kamal) :) ... keluarnya lewat Jalur EXIT Meruya :)
=NaNdA= December 24th, 2007, 01:26 PM News Ekonomi & Bisnis
Jalan Tol Bandara Diperlebar
Jum'at, 30/11/2007
JAKARTA (SINDO) – PT Jasa Marga Tbk menyatakan segera melakukan pelebaran jalan tol Sedyatmo ke arah Bandara Soekarno- Hatta, dari dua jalur menjadi empat lajur. Penambahan lajur dilakukan dengan konstruksi elevated (layang) bagi dua lajur baru setinggi 2 meter dari tol lama.
”Kita akan lebarkan dua lajur ke arah bandara dan dua lajur dari arah bandara, rencana ini kita kaji terlebih dulu,”kata Direktur Utama Jasa Marga Frans Sunito saat memberikan penjelasan kepada Komisi V DPR di Jakarta kemarin. Langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi banjir itu, kata dia, direalisasikan dengan membangun jalan tol yang ditinggikan dengan akses langsung ke bandara. Sedangkan dua lajur yang ada selama ini, kata dia, masih berfungsi seperti yang lama.
Namun, Frans belum bisa memastikan anggaran untuk pembangunan dan pelebaran tersebut. ”Nilainya masih kita hitung semuanya, tapi desain sudah ada,” katanya. Bila prosesnya berjalan mulus, lanjut Frans, maka pada 2008 proyek itu sudah bisa dikerjakan, khusus untuk pelebaran jalannya. Sedangkan konstruksinya akan dilakukan secara bertahap. Di tempat yang sama, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan Dephut terkait dengan pelebaran jalan ke bandara tersebut. ”Kami sudah bertemu dengan Menhut dan Wapres untuk menyelesaikan tol ke arah bandara dan pada prinsipnya mereka setuju,” kata Djoko.
Terlepas dari itu, lanjut Djoko, dalam waktu dekat ini pihaknya juga sudah memberikan instruksi kepada Jasa Marga agar menutup tanggul yang jebol dan memperkuat tanggul. Frans menambahkan, dalam jangka pendek Jasa Marga telah memperkuat tanggul yang jebol dan memperkuat kembali penghalangnya. Saat ini, kata dia, Jasa Marga juga telah menyiapkan mesin penyedot air ekstra untuk mengantisipasi adanya banjir susulan yang mengancam jalan tol ke bandara.
Sementara itu,Ketua Komisi V DPR Ahmad Muqowam meminta Jasa Marga dan Departemen PU segera menyelesaikan pembangunan jalan tol bandara yang baru ini. Dia menegaskan, bandara membawa citra Indonesia ke dunia internasional sehingga perlu diprioritaskan. ”Jadi tolong masalah tol bandara ini diprioritaskan,” kata Muqowam. Komisi V DPR juga meminta koordinasi antara Jasa Marga, Departemen PU, dan Dephut dilakukan dengan baik agar proses pelebaran jalan ini segera terwujud. ”Bila perlu, Komisi V juga akan membantu,” tegasnya. (arif dwi cahyono)
^^ Apa ini tambah bikin banjir apa engga?? :bash:
rilham2new December 24th, 2007, 01:32 PM ^^ Justru bagus donk ....Kan kalau banjir ... Jalur Layang nya bisa diberdaya gunakan ... sementara Jalur yang GROUND nya bisa untuk musim kemarau ... Pas musim kemarau, bahkan jalan Tol nya bisa jadi 4 lajur per arah, kan :D
p_sasya December 24th, 2007, 08:37 PM ahahah..
msalahny skarang jkrta mau buat underpass subway..
ngra mna tu dh invest, cina klo g slh
trs trs klo banjir gmn ? :D
rilham2new December 25th, 2007, 06:58 PM ^^ Kalo banjir ya bisa jadi saluran pelimbahan anti-banjir atau jadi kolam retensi ;p~
lombok January 6th, 2008, 11:31 AM Rumah di bantaran kali segera dibongkar
Minggu 6 Januari 2008, Jam: 8:00:00
JAKARTA (Pos Kota) – Warga yang bermukim di bantaran sungai dan di atas saluran air di daerah rawan banjir, terancam kena bongkar. Pasalnya, Sudin PU Tata Air Jakarta Barat memprioritaskan pengerukan saluran air di sana dan membongkar bangunan yang ada di areal aliran air.
Menurut Kepala Sudin PU Jakarta Barat, R. Heryanto, pihaknya memprioritaskan pengerukan sungai dan saluran air yang berada di daerah rawan banjir guna mengantisipasi terjadinya banjir pada musim hujan ini.
“Warga yang mebangun rumah di bantaran kali dan di atas saluran air, bersiaplah membongkar. Sebelum petugas membongkar paksa bangunan mereka. Saya tidak akan kompromi dengan bangunan yang melanggar itu,”tegas Heryanto, Sabtu (5/1).
Menurutnya, keberadaan bangunan di bantaran sungai atau di atas saluran air, menjadi salah satu penyebab mampetnya aliran air, yang mengakibatkan banjir.
RAWAN BANJIR
Ia menjelaskan bahwa saat ini Sudin Tata Air telah menetapkan titik-titik lokasi di daerah rawan banjir yang akan dikeruk salurannya, termasuk menertibkan bangunan-bangunan yang ada di atasnya. “Setelah camat menyuluh pemiliknya, kita akan bongkar.”
Seperti yang dilaksanakan di RT 13/14 Kelurahan Kapuk, Kec. Cengkareng, dua hari lalu. Petugas membongkar bangunan yang berada di sisi dan di atas saluran air Jalan Isnpeksi Barat.
Total, hingga Jumat (4/1) lalu, 80 bangunan tempat tinggal sekaligus tempat usaha dibongkar petugas . Petugas PU Tata Air selanjutnya mengeruk lumpur dari dalam saluran air di sana, dan mengangkutnya.
(bambang/B)
lombok January 9th, 2008, 11:12 AM DKI Bahas Banjir dengan Kota dan Kabupaten Bogor
Jakarta, 9 Januari 2008 14:08
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Rabu, bertemu Wali Kota Bogor Diani Budiarto dan Bupati Bogor Agus Effendi Utara, untuk membicarakan kerjasama antar wilayah dalam berbagai bidang termasuk penanganan banjir di Jakarta.
Keterangan dari Biro Humas dan Protokol Pemprov DKI Jakarta menyebutkan, Fauzi Bowo bertemu dengan Diani Budiarto di ruang kerja Wali Kota di Balaikota Bogor, pukul 10.00 WIB, sedangkan pertemuan dengan Agus Effendi Utara akan dilangsungkan di Pendopo Bupati Bogor, Cibinong pukul 14.00 WIB.
Gubernur DKI Jakarta, dalam sebuah kesempatan, menyesalkan adanya beberapa program rehabilitasi waduk dan situ di sekitar Jakarta yang tidak berjalan, sehingga optimalisasi penampungan air dari hulu tidak berjalan dan mengakibatkan volume air berlebih yang melalui sungai di Jakarta.
"Sejauh ini saya melihat sejumlah program rehabilitasi situ dan waduk tidak berjalan, padahal kesepakatan semua pihak usai banjir besar di Jakarta awal 2007 lalu salah satunya adalah komitmen untuk melakukan rehabilitasi waduk dan situ," kata Fauzi Bowo.
Gubernur DKI menjelaskan selama ini dari beberapa sungai yang ada, hanya sungai Ciliwung yang kerap kelebihan volume air akibat tingginya curah hujan di daerah hulu seperti Bogor dan juga pengaruh pembangunan di kawasan hulu yang seharusnya menjadi daerah resapan air.
"Volume yang besar ini perlu adanya penampungan dan itu bisa dilakukan bila ada waduk atau situ yang berfungsi dengan baik. Kita sudah bicarakan ini dengan sejumlah daerah yang ada di sekitar Jakarta. Besok saya akan bertemu dengan Wali Kota dan Bupati Bogor untuk membicarakan hal ini," paparnya.
Pada kesempatan itu, Gubernur DKI kembali menegaskan perlunya realisasi pembangunan waduk di Ciawi, Bogor sebagai salah satu upaya untuk menampung kelebihan volume air dari hulu menuju ke Teluk Jakarta.
"Dari sekian banyak alternatif saya lebih memilih pembangunan waduk di Ciawi sehingga kelebihan air dapat ditampung disitu. Selain dapat sebagai salah satu sistem pencegahan banjir, dapat juga digunakan untuk saran rekreasi dan sumber air minum di Bogor dan Jakarta," tegasnya.
Pembangunan Waduk Ciawi sayangnya belum respons pemerintah pusat. Menurut Fauzi, pemerintah pusat beralasan waduk itu memiliki skala yang terlalu kecil. Sementara pembangunan waduk yang terlalu kecil membutuhkan biaya pembangunan yang besar.
Apabila Waduk Ciawi dengan luas 200 hektar selesai terbangun, air sebesar 30 juta meter kubik dapat tertampung. Manfaatnya bagi Jakarta adalah seluas 150 hingga 170 kilometer persegi lahan di daerah timur Jakarta terbebaskan dari banjir.
"Jangan berhenti pada pembangunan waduk saja, harus diikuti dengan keberlanjutan program rehabilitasi situ dan waduk di semua wilayah baik Jakarta maupun sekitarnya termasuk pembangunan bendung-bendung antara di Depok," katanya.
Sejak November hingga Januari, Gubernur DKI melakukan kunjungan dan pertemuan dengan kepala daerah yang bertetangga dengan DKI Jakarta.
Diawali dengan bertemu Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dan Gubernur Banten Atut Chosiyah kemudian berkunjung ke Kota dan Kabupaten Tangerang, Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kabupaten Cianjur dan diakhiri dengan kunjungan ke Kota dan Kabupaten Bogor. [TMA, Ant]
lombok January 19th, 2008, 12:55 PM Fauzi Bowo: Sebelum 2009, Proyek BKT Rampung
Oleh
Andreas Piatu
Jakarta - Kemajuan proyek Banjir Kanal Timur (BKT) cukup signifikan. Diharapkan sebelum tahun 2009, proyek yang menelan biaya triliunan rupiah sudah rampung dan sudah berfungsi dengan baik dalam mengendalikan banjir.
Gubernur Jakarta Fauzi Bowo dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Pitoyo Soebandrio, secara terpisah menegaskan hal ini usai paparan kemajuan proyek BKT oleh Wali Kota Jakarta Timur, Koesnan Abdul Halim dan Wali Kota Jakarta Utara, Effendi Anas, Jumat (18/1) siang, di Balai Kota.
Menurut Fauzi, kemajuan proyek BKT di wilayah Jakarta Timur cukup signifikan. Sekitar 81 persen sudah selesai dibebaskan dan sisanya sekitar 18 persen. Hanya saja, yang sisa itu banyak sengketanya, antara lain, 148 bidang tanah yang masih sengketa dan 115 persil yang masih merupakan fasos dan fasum dari delapan pengembang.
Sementara itu, di wilayah Jakarta Utara masih ada sekitar 30 persen atau sekitar 31 hektare dari 78,5 hektare yang tersebar di Kelurahan Marunda dan Rorotan. Tapi, untuk wilayah Jakarta Utara, kasusnya sedikit. Lahan yang belum tuntas, sebagian berhubungan dengan lahan Kawasan Berikat Nusantara (KBN) dan tanah Bulog serta sebagian kecil tanah milik warga.
Sementara itu, Piyoto mengharapkan sebelum tahun 2009 semuanya sudah rampung. Paling penting adalah soal pembebasan tanah yang menjadi tugas dan kewenangan Pemda Jakarta. Pemerintah pusat, kata Pitoyo, adalah menggali dan memperlebar atau pekerjaan fisik.
Menurut Pitoyo makin cepat pembebasan lahan akan semakin cepat pengerjaan fisik. Dia mengatakan, yang sudah digali 7,7 hektare dan kini kegiatan penggalian dan pelebaran terus dilakukan.
Memang, sesuai dengan ketentuan, bila kontrak kerja berakhir bisa diperpanjang. Tapi, alangkah lebih bagus kalau pengerjaan fisik BKT sudah selesai sebelum kontrak kerja berakhir tahun 2009. Pekerjaan fisik, pelebaran gampang dikerjakan, yang sering jadi masalah adalah pembebasan lahan.
Wali Kota Jakarta Timur Koesnan Abdul Halim yakin tahun 2008 semua sudah dibebaskan, sedangkan pembebasan untuk jalan inspeksi diharapkan selesai 2009. Sementara itu, Sekretaris Kota (Seko) Jakarta Timur, Burhanuddin secara terpisah mengatakan, masih ada sekitar 38 hektare lahan basa atau yang berada di sepanjang kali yang belum dibebaskan. Paling banyak di Kelurahan Pulo Gadung sekitar 400 keluarga, Cipinang, Pondok Kopi dan Duren Sawit.
Masih banyak yang belum dibebaskan karena sengketa, ada lahan fasos dan fasum tapi belum jelas alat bukti kepenyerahannya dan banyak pula warga yang meminta tanahnya diukur ulang.
Sementara itu, lahan untuk jalan inspeksi masih ada sekitar 112 hektare. n
rilham2new February 1st, 2008, 09:15 PM Mbok thread ini kok uPDATe nya kurang sekali dengar2 di Jakarta sekarang lagi banjir ya :D
rilham2new February 1st, 2008, 09:17 PM HOT NEWS
Istana Merdeka kebanjiran, SBY nggak bisa ngantor deh kena macet dan harus berhujan-hujanan.[dok:GlobalTV]
VIDEO NEWS btw:D *Uploaded by DANGDUTMANIA :D
Flood.! Istana Presiden kebanjiran.. [Feb 01,2008]
http://www.youtube.com/watch?v=JlpU7QkiNH0
JlpU7QkiNH0
Well, itu tadi berita dari GLOBAL TV .... sekarang yang SCTV nya :D
SBY nggak bisa ngantor -Flood disaster Jakarta (Feb 01,2008) *Uploaded by Bursaartis
http://www.youtube.com/watch?v=jKp-Uopozjc
jKp-Uopozjc
lombok February 1st, 2008, 09:33 PM Indonesia kagak bisa belajar dari kejadian yang lalu-lalu. Makanya yang kumuh-kumuh close to kali harus dibasmi tanpa ampun, biar ajah mereka menangis...harus digusur. Banjir malah merugikan lebih besar Jakarta dari rumah-rumah kumuh:bash::bash::bash:
rilham2new February 1st, 2008, 09:43 PM Ada lagi nih :naughty:
Airport TUTUP.! Flood strikes Jakarta again-2 (Feb 01,2008) *Uploaded by bursaartis
http://www.youtube.com/watch?v=5F2s0aXDJVg
5F2s0aXDJVg
Bumbu gosip: ... MAYANG SARI diusir dari CENDANA wAKtu melayat ... HOT NEWS juga tuh diluar banjir ,, baru beberapa hari videonya di yOUTUBE udah dilihat ribuan orang :D ... Cari yaaaa :D
JAG2 February 1st, 2008, 10:33 PM if you filled your rivers with garbage and cut all the trees / forest this is what you get.
ncon February 1st, 2008, 10:43 PM Welcome to the Annual Jakarta Flood Event !
:nocrook::nocrook::cucumber::cucumber: :D :D
ps: Kalo Thailand ada songkran festival, kita di Indo ata annual flood festival :lol: where most city celebrate the flood :D :naughty:
capeek deh dengerin yg sama tiap taun :sleepy: org JKT kok gak kapok2 yah :nuts: ?
BauIng February 1st, 2008, 11:30 PM Kita liat aja apa tindakan pemerintah selanjutnya. :D
peseg5 February 2nd, 2008, 03:46 AM Welcome to the Annual Jakarta Flood Event !
:nocrook::nocrook::cucumber::cucumber: :D :D
ps: Kalo Thailand ada songkran festival, kita di Indo ata annual flood festival :lol: where most city celebrate the flood :D :naughty:
capeek deh dengerin yg sama tiap taun :sleepy: org JKT kok gak kapok2 yah :nuts: ?
Pertama dalam 10 tahun terakhir, airport kebanjiran.... :D dan ditutup sementara.
Kemaren hujannya emang parah, steady (dari dini hari ampe sore), jadinya lamaaaaa..... + angin kencang!
Kayaknya selain BKT, Jakarta butuh terowongan kayak SMART yg di KL.
Venantio February 2nd, 2008, 04:58 AM Kemaren jam 12.30, saya pergi ke Jl Jend Sudirman dari Warung Buncit. Rutenya adalah dari Warung Buncit, ke Gatot Subroto, terus Semanggi kemudian ke Sudirman (Summitmas). Semua hanya makan waktu kurang dari setengah jam, perjalanan sangat lancar.
Demikian pula pulangnya menuju Bogor, jam 15.00 lewat Kemag. Macet hanya di Kemang, itu pun cuma 15 menit, selebihnya lancar sekali... Tampaknya kendaraan sedang terkunci di lokasi-lokasi banjir....
Lingkungan di Jakarta tidak pernah dirawat, sampah dibuang sembarangan, Bantaran Kali dipake sebagai rumah.... Ya jangan kaget dari tahun ke tahun banjir akan semakin parah.... Pemerintah memang harus tegas, kecuali kalau memang senang dapet kado banjir tiap tahun....
Venantio February 2nd, 2008, 05:00 AM Pertama dalam 10 tahun terakhir, airport kebanjiran.... :D dan ditutup sementara.
Kemaren hujannya emang parah, steady (dari dini hari ampe sore), jadinya lamaaaaa..... + angin kencang!
Kayaknya selain BKT, Jakarta butuh terowongan kayak SMART yg di KL.
Yang jelas dibutuhkan adalah KESADARAN SEMUA WARGA....
Kalau sudah banjir, semua teriak ke pemerintah, nyalahin pemerintah... Tapi kelakuannya tetep sama saja, buang sampah sembarangan....
BauIng February 2nd, 2008, 08:48 AM SBY aja sampe pindah mobil gara2 terjebak banjir.
Banjir emang ga pandang bulu. :D
BauIng February 2nd, 2008, 09:42 AM Drainase Buruk Bikin Kanal Banjir Tidak Berfungsi
Jum'at, 01 Pebruari 2008 | 19:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Penyebab banjir yang melanda DKI Jakarta bukan luapan sungai, melainkan sistem drainase buruk sehingga tidak lagi mampu menampung curah hujan yang memuncak hingga pertengahan Februari.
“Meskipun sudah dibangun Kanal Banjir, tetapi ada aliran sungai hilir yang tidak berfungsi secara maksimal karena banyaknya endapan sediment di aliran sungai itu,” ujar Kepala Balai Besar Aliran Sungai Ciliwung Cisadane, Pitoyo Subandrio, usai jumpa pers tentang koordinasi penanggulangan banjir , di kantor belakang gedung Departemen Komunikasi dan Informatika, Jumat sore (1/2).
Menurut Pitoyo, endapan sediment itu berkumpul di beberapa wilayah aliran sungai hilir yang hanya memiliki kapasitas daya tampung air 190 meter kubik per detik. Antara lain di sungai Ciliwung, Cakung, Buaran dan Cilincing.
Pitoyo menambahkan, endapan sediment diakibatkan penggunaan saluran air di luar perencanaan. Ia mencontohkan pembangunan pipa utilitas pada gedung perkantoran dan saluran galian yang menghambat laju air.
BauIng February 2nd, 2008, 09:47 AM Saatnya mencari sapa yg salah. :D
01-02-2008
Fauzi Bowo Salahkan Kontraktor Proyek Drainase
Hujan deras yang melanda Jakarta sejak Kamis (31/1) malam hingga Jumat (1/2) siang membuat beberapa wilayah Ibu Kota terendam banjir. Bahkan Jalan Thamrin-Sudirman yang merupakan jalan protokol tidak luput dari terjangan banjir.
Pantuan beritajakarta.com, genangan air terlihat dari Jl Sisingamangaraja, Jl Sudirman, Jl Thamrin, Jl Budi Kemuliaan, Jl Sabang, Jl Wahid Hasyim, dan Jl Merdeka Barat. Ketinggian air di ruas-ruas jalan tersebut rata-rata mencapai selutut orang dewasa.
Terendamnya ruas jalan tersebut membuat kemacetan tidak terelakkan akibat banyak kendaraan yang tidak dapat melewati genangan, dan tidak sedikit juga kendaraan yang mogok. Kemacetan panjang mulai terlihat dari Patung Pemuda Senayan, Semanggi, Bundaran Hotel Indonesia, Sarinah, hingga Patung Kuda Jalan Medan Merdeka Barat.
Genangan yang terjadi di beberapa ruas jalan Ibu Kota, khususnya di jalan protokol diyakini akibat buruknya sistem drainase di ruas jalan tersebut. Bahkan hal itu diakui Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. “Genangan ini terjadi karena buruknya sistem drainase. Padahal perbaikan drainase baru saja dilakukan di beberapa titik," ujar Fauzi Bowo, di Balaikota, Jumat (1/2).
Karena itu, Fauzi Bowo langsung memerintahkan jajarannnya untuk memanggil para kontraktor yang mengerjakan drainase dengan kualitas buruk itu "Saya sudah perintahkan kepala Dinas Pekerjaan Umum untuk memanggil para kontraktor. Suruh mereka lihat banjir di jalanan, kok hasil pengerjaan drainase begitu buruk," tegasnya.
Pria kelahiran Jakarta 10 April 2008 ini mengakui pengerjaan drainase yang buruk tersebut tidak hanya di Jalan Sudirman-Thamrin saja, melainkan juga terjadi di wilayah Kwitang, Cempakaputih, dan Sam Ratulangi.
Untuk itu, gubernur akan memerintahkan masing-masing wali kota untuk menginventarisir semua proyek-proyek pengerjaan drainase dan meminta para kontraktor untuk memperbaikinya. "Itu merupakan tanggung jawab mereka, jangan ditinggal begitu saja setelah dikerjakan," lanjut gubernur.
Ke depannya, untuk menjaga sistem drainase Ibu Kota agar dapat berfungsi dengan baik, Fauzi berencana menerapkan sistem perawatan drainase secara berkesinambungan. "Perawatan tidak dapat dilakukan hari ini saja," tukasnya.
Ia menganalogikan perawatan drainase tersebut seperti cleaning service, dimana perawatan akan dilakukan per wilayah dengan sistem kontrak. "Jadi apabila nanti tidak benar kita berikan sanksi bagi pihak diberikan tanggung jawab per wilayah tersebut," pungkasnya.
Sementara itu berdasarkan data Crisis Center DKI hingga pukul 14.00 WIB, ketinggian air di PA Katulampa Bogor mencapai 70 centimeter, sedangkan ketinggian air di PA Manggarai mencapai 800 centimeter. Ketinggian air tersebut masih dalam kategori normal.
Busway Berhenti Beroperasi
Hujan deras yang merendam sejumlah ruas jalan juga mengakibatkan bus Transjakarta koridor II-VII berhenti beroperasi. Kepala Operasional BLU Transjakarta, Rene Nunumete, mengungkapkan, tidak beroperasinya bus Transjakarta koridor II-VII karena jalur busway terendam banjir. "Bus Transjakarta koridor II, III, IV, dan V berhenti beroperasi sejak pukul 10.00 WIB, sedangkan bus Transjakarta koridor VI dan VII berhenti beroperasi sejak pukul 13.30 WIB," ungkapnya.
BauIng February 2nd, 2008, 09:48 AM 01-02-2008
Gubernur: Pintu Air Harus Dioptimalkan
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengingatkan pentingnya optimalisasi fungsi dan pengaturan pintu air (PA) Manggarai sebagai salah satu sarana untuk mengendalikan banjir di Ibu Kota. Sebab untuk mencegah terjadinya genangan beberapa kawasan khususnya di kawasan Thamrin-Sudirman adalah dengan mengalirkan air itu ke Banjir Kanal Barat (BKB) yang notabenenya berawal dari PA Manggarai tersebut.
Gubernur mengungkapkan genangan air yang terdapat di Jl Thamrin dan Sudirman tersebut dialirkan ke Kali Cideng Jakarta Pusat."Dari Kali Cideng tersebut baru dipompakan di BKB melalui PA Cideng yang terdapat di Tarakan," ungkap Fauzi Bowo saat melakukan pantuan terhadap titik-titik banjir di Jakarta, Jumat (1/2).
Mantan Wagub DKI Jakarta ini menuturkan apabila pengaturan PA Manggarai tidak benar atau ketinggian air di BKB lebih tinggi, maka air dari Kali Cideng tidak dapatkan dipompakan ke BKB.
"Inilah yang menjadi penyebab genangan di kawasan Thamrin-Sudirman dan sekitarnya. Sehingga diperlukan waktu cukup lama untuk mengalirkan genangan air tersebut ke Kali Cideng kemudian diteruskan ke BKB," tuturnya. "Jadi sistem pengendalian banjir tersebut saling terkait satu sama lain," imbuhnya.
Namun pemompaan air ke BKB tersebut dapat baru dapat dilakukan dengan catatan tidak ada air pasang laut, sehingga air dapat dipompakan ke laut."Apabila terjadi saat bersamaa, maka musibah banjir tahun 2002 dan tahun kemaren (2007-red) dapat terulang kembali," jelasnya.
Meski ketinggian air di PA Katulampa saat ini masih dalam kategori normal yakni 80 cm, namun saat ini yang perlu diwaspadai adalah ketinggian di PA Depok."Kita telah berikan warning dalam enam jam ke depan kemungkinan ketinggian air akan meningkat," ujar Fauzi.
Ia juga mengungkapkan saat ini dirinya telah memerintahkan ke wali kota di lima wilayah untuk waspada menghadapi kemungkinan naiknya ketinggian air Kali Ciliwung tersebut. Selain itu Pemprov DKI Jakarta juga telah menyediapkan tenda-tenda penampungan dan posko kesehatan.
"Tapi biasanya pada kondisi begini warga belum akan mengungsi. Mudah-mudahan saat diperlukan mereka akan memanfaatkan pos-pos tersebut," tukas pria kelahiran 10 April 1948 ini.
Saat ini beberapa titik pengungsian yang telah disiapkan diantaranya di kawasan Kampungmelayu dan Cawang yaitu di belakang Kantor Suratkabar Suara Pembaruan.
Dalam sidak banjir tersebut, gubernur mendatangi Jl Sabang yang sampai jam 17.30 WIB masih tergenang hingga satu meter. Kemudian rombongan gubernur menuju PA Cideng dan PA Manggarai.
VRS February 2nd, 2008, 04:55 PM at front Trisakti...
http://img507.imageshack.us/img507/1209/photo0002xg4.jpg (http://imageshack.us)
http://img507.imageshack.us/img507/1209/photo0002xg4.2511deeb45.jpg (http://g.imageshack.us/g.php?h=507&i=photo0002xg4.jpg)
BauIng February 3rd, 2008, 09:57 AM Banjir Lebih Besar Masih Mengancam Jakarta
Minggu, 03 Pebruari 2008 | 14:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Banjir lebih besar masih mengancam Jakarta hingga bulan depan. "Hujan yang turun nanti intensitasnya bisa lebih tinggi dari Jumat lalu," kata Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi BMG Kukuh Ribudiyanto saat dihubungi Tempo hari ini.
Dua hari lalu, BMG mencatat volume curah hujan mencapai 300 milimeter. Akibatnya Jakarta banjir di sekitar 410 titik. Peluang terjadinya hujan lebat, diprediksi berakhir pada Maret mendatang.
Menurut Kukuh, hujan lebat disebabkan pola angin barat yang kuat menuju Pulau Jawa. Angin ini membawa awan dari daratan Asia. Pada Januari lalu, angin ini hanya bertiup lemah. "Jadi awan yang membawa hujan akan terus melewati Jakarta," katanya.
Namun musim hujan kali ini tidak akan disertai angin puting beliung. Karena, di saat angin barat berhembus kencang, angin puting beliung justru melemah. Hujan kali ini juga tidak akan disertai petir. "Kalaupun ada puting beliung, hanya satu atau dua kali," ujar Kukuh.
BauIng February 3rd, 2008, 10:18 AM 03-02-2008
Gubernur Instruksikan Delapan Langkah Atasi Banjir
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menginstruksikan delapan langkah taktis persiapan dan penanganan banjir di ibukota. Instruksi gubernur itu disampaikan saat rapat koordinasi yang dihadiri oleh Wagub Prijanto, seluruh walikota dan kepala dinas terkait mulai Sabtu (2/3) malam pukul 21.00 WIB hingga Minggu (3/2) dinihari di Balai Kota.
Kedelapan instruksi itu, kata gubernur, yakni pertama mengefektifkan early warning system atau sistem peringatan dini. Kedua, pengerukan muara sungai sehingga aliran air lebih cepat.
Kemudian langkah ketiga yakni revitalisasi waduk-waduk yang ada di Jakarta seperti Waduk Sunter, Pluit, dan Riario. "Langkah keempat seluruh wali kota dan para kepala dinas diminta untuk melakukan pengawasan langsung atas kesiagaan petugas di lapangan terkait penanganan banjir," jelasnya.
Langkah kelima yaitu masyarakat diminta agar selalu waspada dan selalu mengikuti prosedur yang telah disiapkan untuk mengungsi yakni pada posko-posko yang telah ditentukan. "Itu harus diikuti karena di posko bantuan logistik dan kesehatan sudah terjamin," kata Fauzi.
Sementara langkah keenam, menurut gubernur, yakni seluruh aparat Pemprov DKI mesti berkoordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) khususnya unit distribusi Jabodetabek untuk dukungan aliran daya tujuh pompa air mobile di Tol Sedyatmo.
"Koordinasi tersebut penting karena bila terjadi banjir maka listrik di kawasan itu dimatikan sehingga pompa tidak berfungsi optimal, karenanya perlu ada solusi terkait dibuatnya gardu khusus," ucapnya. Adapun langkah ketujuh yaitu adanya perbaikan sejumlah lampu lalu-lintas yang mati paling lambat pada Senin (4/3) mendatang.
Sedangkan langkah kedelapan yakni Dinas Perhubungan DKI Jakarta agar berkoordinasi dengan Jasa Marga dan Polda Metro Jaya guna menyiapkan manajemen rute lalu-lintas darurat untuk wilayah-wilayah yang terkena banjir. "Selain itu perlu juga disiapkan shuttle bus untuk angkutan bandara bagi penumpang," tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, gubernur juga mengatakan, sebagai upaya jangka pendek penanganan banjir itu, pihaknya terus berupaya memberikan pertolongan kepada para warga yang menjadi korban, serta menjamin keselamatan mereka dengan mengevakuasi ke penampungan-penampungan yang telah dibangun maupun memberi makanan dan fasilitas kesehatan.
Pemprov DKI Jakarta juga akan melakukan inventarisasi terhadap sarana dan prasarana pencegah banjir yang dimiliki saat ini seperti pompa air, drainase, waduk penampungan dan mengecek sejauhmana kemampuannya dalam mencegah banjir, serta kembali memaksimalkan fungsinya.
Sedangkan upaya jangka panjang yang akan dilakukan diantaranya mempercepat pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) serta rencana pembangunan jalan tol Khusus ke Bandara Soekarno-Hatta.
Menurut gubernur, saat ini sarana dan prasarana yang telah dilakukan pengecekanya diantaranya adalah pompa-pompa yang dipasang di sepanjang jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Diketahui saat puncak banjir pada hari Jumat lalu perjalanan menuju bandara terbesar di Indonesia itu terputus akibat terendamnya jalan tol pada KM 27 sampai 29 hingga mencapai 50-80 cm.
"Setelah dicek, ternyata salah satu penyebab menggenangnya air hingga begitu tinggi itu adalah tidak berfungsinya Pompa Tanjungan yang terpasang di sekitar KM 24 sampai 27, padahal pompa tersebut adalah pompa terbesar diantara 10 pompa lainnya yang terpasang di tiap titik rawan genangan di sepanjang jalan menuju bandara," ungkapnya.
Tidak berfungsinya Pompa Tanjungan disebabkan karena suplai listrik menuju ke pompa tersebut ternyata bersamaan dengan suplai listrik ke pemukiman warga, sehingga daya listrik tidak mencukupi untuk menggerakan pompa.
"Setelah mengetahui salah satu penyebab banjir adalah karena kurangnya listrik untuk menggerakan pompa, selanjutnya Pemprov DKI akan bekerja sama dengan PLN supaya aliran listrik kepada pompa diberikan secara khusus, agar listrik yang dibutuhkan untuk menggerakan pompa tercukupi," katanya.
Selain pompa, gubernur juga mengatakan jika sarana peredam banjir yang ternyata tidak berfungsi maksimal adalah Waduk Pluit. Proses pendangkalan karena jarang dikeruk serta menyempitnya wilayah karena berdirinya pemukiman warga sekitar waduk menjadi daya tampung waduk berkurang sehingga air yang seharusnya mampu ditampung meluap dan menggenangi wilayah-wilayah Jakarta Pusat seperti Jl Medan Merdeka dan Jl Thamrin.
"Proses pendangkalan Waduk Pluit disebabkan karena jarang dikeruk, serta bermunculannya pemukiman di sekitar waduk juga berpengaruh terhadap berkurangnya daya serap air menjadi salah satu penyebab daya tampung waduk berkurang, oleh karena itu pengerukan dan penanganan terhadap pemukiman sekitar waduk akan segera dilakukan" kata Fauzi.
Selain itu gubernur juga mengungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam dengan jatuhnya korban jiwa akibat banjir di Jakarta Barat, yaitu hanyutnya seorang anak serta seorang warga lanjut usia yang terpeleset di dalam rumahnya. "Anak-anak dan orang tua harus menjadi prioritas utama untuk dievakuasi apabila banjir besar kembali datang," pungkasnya.
rilham2new February 3rd, 2008, 10:19 AM at front Trisakti...
http://img507.imageshack.us/img507/1209/photo0002xg4.jpg (http://imageshack.us)
http://img507.imageshack.us/img507/1209/photo0002xg4.2511deeb45.jpg (http://g.imageshack.us/g.php?h=507&i=photo0002xg4.jpg)
Ohh cumam segini airnya berarti rumah "aman-terkendali" nih :D..
Tapi kalau segini airnya, gimana Grenvil ma Tanjung Duren ya -_-"
lombok February 3rd, 2008, 10:50 AM Pos Pemantau Banjir akan Dibangun di Jakbar
JAKARTA--MI: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merencanakan pembangunan pos peringatan banjir di Jakarta Barat untuk menginformasikan peluang terjadinya banjir lebih awal sehingga warga dapat segera mengungsi.
"Seperti di sepanjang sungai Ciliwung ada beberapa pos yaitu Katulampa, Depok dan Bogor, kita perlu pos serupa di Jakarta Barat," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, ketika ditemui seusai Hari lahir NU ke-62 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (3/2).
Menurut dia, banjir yang melanda perumahan penduduk di Jakarta Barat kali ini tergolong yang terparah mengingat warga tidak mendapat peringatan akan potesi terjadinya banjir.
"Kemarin sudah dikoordinasikan, saya usul dibangun warning sistem seperti yang di Ciliwung. Di Jakarta Barat akan diperbanyak pos monitoring sehingga warga bisa diberitahu lebih awal (jika ada banjir)," tambahnya.
Ketika disinggung mengenai ganti rugi berupa uang pada korban banjir, Gubernur menyatakan tidak ada pembahasan mengenai hal itu. "Tidak-tidak," tegasnya.
Sementara ini, Fauzi menganjurkan warga agar mau menempati tempat pengungsian yang disediakan. "Susahnya mereka tidak mau menempati tempat pengungsian yang disediakan tapi mereka memilih untuk menempati pingir rel kereta api padahal itu digunakan untuk transportasi," ujarnya. (Ant/OL-06)
Selalu suka promise..& promise weer. Gue rasa mental penduduknya yang dibangun. Yang ilegal tinggal harus dihukum berat, karena yang selalu disalahkan pemerintahnya, bukan rakyat yang selalu kalau ada apa-apa merasa jadi korban..makanya jangan tinggal disekitar kali, selain kumuh & juga tidak sehat....!
Kalau gue jadi gubernur, hari ini juga gusur semua yang tinggal 500 meter dari kali kagak ada bla..bla.....:bash::bash:
kapan jakarta akan bebas banjir ? kalau penduduknya berkurang 10 juta kali...
ncon February 3rd, 2008, 11:12 PM Saatnya mencari sapa yg salah. :D
Fauzi Bowo Salahkan Kontraktor Proyek Drainase
masi inget gak campaign Fauzi :naughty:
Serahkan JKT ke pada ahlinya :naughty:!!
ncon February 3rd, 2008, 11:14 PM no offence ya
but JKT not counting the raining season (normal rain) some part already banjir apa lagi musim hujan
BauIng February 4th, 2008, 01:20 AM Foke Segera Terapkan Perpres 36 Bebaskan Lahan BKT
Penulis: Muhammad Fauzi
JAKARTA--MI: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menerapkan Perpres 36 untuk membebaskan lahan banjir kanal timur (BKT). Serta membebaskan situ/waduk dari pemukiman, agar banjir tidak terulang tiap tahun di Ibu Kota.
Penegasan ini dikatakan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, menjawab wartawan seusai meninjau banjir bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, di Jakarta, Minggu (3/2).
Foke demikian sapaan Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan, langkah yang dilakukan pihaknya pertama, secepatnya mengeringkan jalan tol ke bandara dengan memperbanyak pompa. Pihaknyak akan meningkatkan Cengkareng drainase dan Kali Tanjungan yang akan menjadi saluran air yang menggenangi Cengkareng untuk dialirkan ke laut.
Cengkareng Drain, BKT, Sungai Sunter dan Cakung Drain yang penuh hunian liar tidak berizin ini mengurangi kapasitas muara sampai 30%. Ini akan dikembalikan kepada fungsinya.
"BKT yang sampai akhir tahun 2007 baru 72% terbebaskan. Maka konsekuensinya diberlakukan Perpres No 36 dan mengkonsinyasikan dana pembebasannya itu di pengadilan. Kami memahami bahwa setiap kasus memerlukan putusan pengadilan, ini akan segera ditempuh dan menjadi mainstream atau aturan utama pembebasan lahan," tegas Foke.
Penyebab banjir Jakarta, lanjut Foke, ada penyempitan di banjir kanal barat yang alurnya harus diperbesar. Pihaknya mengaku sudah bicara dengan Menteri Lingkungan Hidup karena akan menyangkut pelebaran dikawasan hutan Muara Angke.
Diakui Foke, pihaknya sudah meninjau beberapa situ di luar Jakarta. Rehabilitasi Situ Cipondoh sudah dibicarakan dengan wagub Provinsi Banten.
"Pak Wapres mengingatkan Waduk Pluit ditempati yang tidak berhak, dan rencananya 2008 akan direhabilitasi. Pak Wapres minta dibangunkan rusun sebagai hunian bagi mereka yang terkena program ini," kata Foke.
rilham2new February 4th, 2008, 04:01 AM Kalau gue jadi gubernur, hari ini juga gusur semua yang tinggal 500 meter dari kali kagak ada bla..bla.....:bash::bash:
kapan jakarta akan bebas banjir ? kalau penduduknya berkurang 10 juta kali...
Mbok ..... Kalau Jakarta penduduknnya berkurang sampai 10 juta ..... Maka penduduk Jakarta akan minus 700 ribu jiwa .......
Memang gak bakalan ada yang ngerasain Banjir. Trus aja tenggelamin semuanya kayak ATLANTIS, gak ada yang rugi. Penduduknya aja gak ada.
AceN February 4th, 2008, 04:41 AM Mbok ..... Kalau Jakarta penduduknnya berkurang sampai 10 juta ..... Maka penduduk Jakarta akan minus 700 ribu jiwa .......
Memang gak bakalan ada yang ngerasain Banjir. Trus aja tenggelamin semuanya kayak ATLANTIS, gak ada yang rugi. Penduduknya aja gak ada.
^^ :rofl::rofl:
Ampelio February 4th, 2008, 07:11 AM jalur alternatif...
http://img86.imageshack.us/img86/8622/kompas2feb1nv8.jpg (http://imageshack.us)
Ampelio February 4th, 2008, 07:18 AM This e-mail story sent by a friend who commutes daily from workplace (Grand Indonesia) to his residence (Poris Estate Tangerang)
Dear all,
Sori aku hari Sabtu tidak masuk kerja, coz jalur transportasi Tangerang-Jakarta masih putus.
Saya mau sharing nih… Jakarta oh Jakarta …
Alkisah ,Jumat sore jam 17.30-an sy pulang kerja (beruntung hari itu saya gak bawa mobil, sbg gantinya bawa motor utk antisipasi macet), penuh perjuangan selama hampir 3 jam untuk sampai rumah.
Dari Bundaran HI sampai Harmoni sudah bisa dilewati, tetapi setelah itu lalulintas stagnan tak bergerak di sepanjang jalan Tomang Raya, akibat genangan air setinggi 40-5- cm.
Setelah berjuang sekitar 1 jam dengan jarak hanya sekitar 2-3 KM, saya berhasil sampai perempatan fly over Tomang-Taman Anggrek. Hari sudah menjadi malam, sementara jalan arah Grogol (depan Citra Land & Univ. Trisakti ) juga terputus air bah. Oleh petugas polisi motor di ijinkan masuk Tol Kebun Jeruk-Tangerang (Alhamdulillah dalam hatiku…)
Masuk tol naik motor..cihuy…..melewati padatnya mobil yang bergerak perlahan, saya keluar pintu Tol Kbn Jeruk, maksud hati mau lewat Puri Indah…ternyata….perjuangan belum berakhir. Seluruh jalan di sekitar perumahan elit itu juga penuh air, ditambah listrik padam dan macet cet…. (masih bersyukur knalpot motor agak tinggi… J)
Informasi yang saya peroleh, jalan ke arah Cengkareng tidak bisa dilalui…ampuun deh…akhirnya saya putuskan masuk jalan tol lagi, dari Pintu Tol Kembangan.
Masuk tol motor masih bisa bergerak, tetapi mobil-mobil kok berhenti ya?...ternyata di KM 16 Karang Tengah , ada genangan sepanjang 100 m dengan arus deras, dan hanya bisa dilalui 1 jalur….
(Alhamdulillah lagi..) akhirnya saya bisa lolos dari genangan air tinggi dan motor tidak mogok.
Akhirnya saya keluar tol Kbn. Nanas Tangerang di KM 21…duhh jauhnya….dan sampai rumah sekitar jam 20.30 malam.
Dari ribuan orang yang terjebak banjir kemarin, saya termasuk yang ‘beruntung’. Bisa dibayangkan ribuan pengemudi mobil yang terjebak di tengah kemacetan tanpa harapan, atau penumpang angkutan umum yang terlantar keleleran di jalanan..
Ongkos sosial dan ekonomi yang sangat tinggi harus dibayar penduduk kota raksasa ini akibat banjir.
Sebenarnya siapa yang salah sulit untuk menjawabnya. Dan sikap saling menyalahkan juga bukan sebuah solusi.
Tetapi kesimpulan saya memang Jakarta sudah over capacity, penduduk padat dan system transportasi dan drainase-nya buruk.
Tapi apa mau dikata, ‘kue’ memang banyak terpusat disini, yang membuat banyak orang bermigrasi ke Jakarta…maka bersyukurlah yang bisa mendapatkan ‘kue’ di luar Jakarta… J
Wassalam,
Sujagat Muda, ST.
lombok February 4th, 2008, 12:30 PM Senin, 04 Februari 2008 9:50:00
Tata Ruang Jakarta Sudah tak Terselamatkan
Jakarta-RoL-- Tata ruang Jakarta sudah tidak terselamatkan sehingga apapun upaya yang dilakukan untuk mengendalikan banjir tidak ada artinya kecuali mengembalikan seperti semula dengan biaya sangat mahal.
"Satu-satunya jalan keluar agar hubungan Indonesia dengan dunia internasional tetap terjalin dengan memindahkan ibukota," kata Ketua Umum Lembaga Konsumen Jasa Konstruksi, Bambang Pranoto di Jakarta, Senin.
Saat ini hujan baru berlangsung satu setengah hari, ibukota sudah lumpuh, bandara ditutup, akses jalan tol menuju bandara putus. Padahal kawasan-kawasan ini merupakan obyek vital yang harus dijaga kelangsungannya, katanya.
Volume banjir yang terjadi di Jakarta tidak akan teratasi dengan teknologi konstruksi apapun akibat penyimpangan tata ruang
yang sudah parah sehingga sulit diperbaiki.
"Tahun 2003 saya pernah hitung mencapai 23 juta meter kubik. Alokasi anggaran untuk mengatasi sudah tidak mungkin apalagi mental pejabat yang betanggungjawab soal izin masih rendah alias korup," kata Bambang.
"Saran saya satu-satunya cara ibukota pindah ke Kallimantan Tengah sesuai ide Bung Karno pada tahun 1953. Namun dalam perkembangan tata ruangnya tetap harus dikendalikan," ujarnya.
Penyimpangan itu berbentuk perubahan tata guna lahan, dilanggarnya ketentuan lingkup bangunan (building coverage) sehingga menghilangkan daya serap tanah terhadap air muka (hujan).
Kemudian muncul juga disorientasi tata ruang ego wilayah (akibatkan 'banjir' kiriman'), yang sulit diperhitungkan. Mengingat penyimpangan dan dampaknya bersifat akumulatif.
Di Jakarta dua per tiga luasan sudah menjadi obyek banjir, sementara laju pembangunan prasarana banjir sama sekali tak seimbang dengan usaha menghindari dan menanggulanginya. "Jakarta akan tenggelam itu bisa dihitung kapan terjadi," kata Bambang.
rilham2new February 4th, 2008, 02:22 PM ^^ Duhh,, ikut masterplan awal aja ... Katanya mau ke PalangkaRaya :D ...
=NaNdA= February 4th, 2008, 04:53 PM ^^ Bukannya katanya mau pindah ke Lampung? :D
AceN February 4th, 2008, 05:22 PM Somehow, g ada feeling kalo banjir awal tahun ini bakal terulang lagi di tahun ini... entah bulan apa, tapi kok ada feeling gitu...dan.....smoga ga ada aksi bom lagi taun ini, i'm afraid, really afraid.......... :ohno:
smoga feelingku salah.. ;)
Sorry OOT ;)
kamski February 5th, 2008, 04:23 AM Jakarta jadi Atlantis aja lah hahaha...
AceN February 5th, 2008, 04:45 AM ^^ Atlantis udah ada di Dufan... :D
rilham2new February 5th, 2008, 05:04 AM Jakarta jadi Atlantis aja lah hahaha...
Bakal jadi wisata baru kelas dunia tuh ATLANTIS Underwater City .... DuBAI aja kalau mau bikin yang kek gitu pasti bakal setengah mampus :D ... Kita udah alami , tinggal ngrusakin alam aja ... biarin kota kita tanpa sistem drainase yang baik ...dalam beberapa tahun ABRAKADABRA .... terciptalah UNDERWASTER CITY .... satu2nya jalan tol yang keliatan di permukaan cuman Cawang-Tj Priok ma Tol Pelabuhan aja :p~
Ampelio February 6th, 2008, 07:29 AM Headline Banjir tahunan di ibukota termasuk akses bandara SHIA sudah jadi berita2 klasik di koran2 negara tetangga, wah gawat & semakin malu kita kalau ibukota RI gak segera dipindahkan.
....bagus kita buat voting utk calon ibukota baru RI, syarat utama lokasi di kawasan tengah2 Indonesia, bebas banjir besar dan jauh dari titik rawan bencana alam (gunung berapi aktif, tsunami, gempa bumi):
Nominators :
1. Pangkaraya (or somewhere in Kalteng)
2. Karawaci
3. Majalengka (or somewhere between Cikampek-Cirebon)
4. Tenggarong (or somewhere in Kaltim)
5. Lombok (?)
F-ian February 6th, 2008, 07:55 AM ^^ Makassar tuh... katanya banjir-proof krn masih pake teknologi belanda jaman dulu :yes:
tp pikir aja deh bikin Ibukota baru aja pasti banyak Kontroversi (Pembebasan lahan susah,white Elephant, Petinggi makin lebih tinggi) kalo jaman Suharto pasti bisa krn gak ada yg lawan tp jaman skrg susah....
Krn Suharto udah "the late" bikin aja Taman Mini Indonesia Indah Jadi Ibu Kota Indo :D
- Lahan udah ada
- Bebas Banjir
- Museum2 ada buat pariwisata
- Bebas bencana
- Akses toll Langsung
- Terdapat Semua Architecture2 seluruh Indonesia :yes:
jangan kyk putrajaya jujur deh agak kyk ke Bagdad..gw gak liat ada yg bener2 indegenous....kalo kita bikin Ibu Kota baru harus ada unsur2 achitect2 Dayak,Batak,Bali,Ambon,Asmat,Jawa dll bener2 mencerminkan seluruh Indonesia dan neutral jgn menunjukan Achitect2 suku/agama Mayoritas :yes:
+ jangan bikin rumah2 org2 DPR yg baru...
+ Museum Purna Bakhti jadi gedung MPR/DPR :D
http://i30.photobucket.com/albums/c321/fahrianhs/utk%20indo/TMII.jpg
:yes:
BauIng February 6th, 2008, 09:48 AM 05-02-2008
Aliran Kali Ciliwung Akan Dihubungkan dengan BKT
Untuk mengurangi debit air di Sungai Ciliwung yang saat ini tersambung dengan Banjir Kanal Barat (BKB), pemerintah pusat mengusulkan agar dibangun terowongan air bawah tanah atau tunnel yang dihubungkan dengan Banjir Kanal Timur (BKT).
“Tadi Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono-red) mengusulkan agar aliran kali Ciliwung dihubungkan dengan BKT,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Selasa (5/2) di Balai Kota.
Lokasi tunnel yang diusulkan , kata Fauzi, ada dua opsi yakni di gang Pedati Jl Otista Raya Jakarta Timur ditarik ke Kali Cipinang yang merupakan ujung awal BKT. Opsi kedua yakni di dekat Rumah Susun Bidaracina.
Sementara itu, akibat masih adanya lahan proyek BKT yang belum dibebaskan karena masih dalam sengketa maka Fauzi menargetkan proses pembebasan lahan proyek Banjir Kanal Timur (BKT) akan selesai pada tahun 2009 mendatang.
“Sebenarnya saya berharap tahun 2008 ini pembebasan lahan BKT selesai tapi karena ada beberapa bidang tanah yang masih sengketa dan mesti diselesaikan dengan konsinyasi (pengadilan) maka kita memperkirakan pembebasannya rampung pada tahun 2009 mendatang,” ungkap Fauzi.
Fauzi menuturkan, hingga awal Februari ini di wilayah Jakarta Timur jumlah bidang tanah yang masih sengketa mencapai 114 kasus. “Sampai saat ini, lahan BKT yang sudah dibebaskan mencapai 72 persen. Jadi tinggal 28 persen yang belum dibebaskan dan buat yang tidak bisa diselesaikan maka dana pembebasannya akan kita titipkan di pengadilan atau konsinyasi,” ujar Fauzi. “Dan proses konsinyasi inipun sedang kita jalankan,” katanya.
Kemudian, kata Fauzi, Departemen Pekerjaan Umum akan membangun konstruksinya dan ditargetkan selesai pada tahun 2010.
lombok February 6th, 2008, 09:56 AM Selasa, 05 Februari 2008 21:53:00
Banjir di Jakarta Disebabkan Warganya
Bogor-RoL--Banjir yang terjadi di Jakarta pada akhir pekan lalu disebabkan oleh warga Jakarta sendiri, bukan oleh warga Bogor.
Asisten Daerah Bidang Sosial Ekonomi Pemerintah Kota Bogor, Indra M Rusli mengatakan, selama ini Bogor selalu dituding sebagai penyebab banjir Jakarta.
"Padahal penyebabnya adalah warga Jakarta itu sendiri. Kalaupun ada kontribusi Bogor itu sangat kecil dan itu akibat orang-orang Jakarta yang membangun vila mewah di hulu sungai di kawasan Puncak," kata Indra M Rusli pada Diskusi Mutipihak Perbaikan DAS, di Balaikota Bogor seperti dilaporkan Antara, Selasa.
Ditegaskan Indra, berdasarkan pengamatannya selama dua tahun terakhir, banjir di Jakarta disebabkan beberapa hal seperti luas tutupan di Jakarta yang sudah hampir 100 persen, sungai-sungai yang tidak berfungsi maksimal, dan saat ini terjadi peningkatan permukaan air laut.
"Dalam dua tahun terakhir, pada saat di Bogor tidak terjadi hujan besar, tapi di Jakarta sudah banjir. Itu bukti kongkrit bahwa penyebab banjir Jakarta bukan Bogor," katanya.
Koordinator Pengembangan Ekonomi Lokasl (PEL) Bappenas, Elan Masbulan mengatakan, di bebarapa ibukota negara lainnya yang dialiri sungai, tapi sungainya tetap jernih dan bisa dilalui speedboat.
"Bahkan sungai di Kota Bangkok menjadi obyek wisata kota. Tapi di Jakarta, sungainya justru rusak parah dan menjadi pusat limbah yang menjadi sumber malapetaka. Beberapa program yang dilakukan untuk menormalisasi sungai, selalu gagal. Saya sendiri sampai heran, kenapa selalu gagal," katanya.
Direktur Pengelolaan DAS Departemen Kehutanan, Nandang mengatakan, pada zaman Belanda ketika warga Jakarta belum ramai, pemerintah Hindia Belanda sudah melakukan pencegahan banjir dengan cara menghijaukan kawasan Puncak, membangun beberapa bendung pada aliran sungai yang mengalir ke Jakarta seperti Bandung Katulampa, Bendung Depok, dan Bendung Manggarai.
"Pemerintah Hindia Belanda juga membangun sekitar 200 situ penahan air di Jabodetabek," katanya.
Namun saat ini setelah penduduk Jakarta sangat padat, kata dia, kawasan terbukanya sudah semakin minim, bendungannya juga banyak yang diubah bentuk menjadi pemukiman elit, serta penghijauan di kawasan Puncak digunduli dan dibangun vila-vila mewah.
"Saat ini hanya tersisa sekitar 30 situ saja sebagai penahan air. Wajar saja, kalau setiap musim hujan selalu terjadi banjir di Jakarta," katanya.
Ia mencontohkan, hujan yang turun sepanjang hari Jumat (1/2) lalu, sudah membuat Jakarta menjadi banjir. pur
rilham2new February 6th, 2008, 12:59 PM Menurut DETIK.COm ...
Katanya FOKE mo ngutang 1.2 T ke WORLD BANK buat ngatesin banjir neh beritanya ....
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/06/time/171109/idnews/890188/idkanal/10
Ini komen yang paling sadis dari pembaca.... Cukup dalam dan menusuk :p~ (komen yang lain ada yang lebih kasar,,, tapi ini cukup dalam juga :D )
YouTha, Sang ahli rupanya dapat pelajaran dari Jerman, bahwa segala sesuatu bisa selesai dengan utang. Pilih yang longterm kalo bisa lebih dari masa jabatan 5 tahun, supaya bisa mewariskan utang ke gubernur berikutnya.
B(abi) 1, ketahuan deh kartunya....cuma AHLI NGEMIS untuk ngutang....lalu uangnya di KKN rame-rame??
rilham2new February 6th, 2008, 01:03 PM Saatnya mencari sapa yg salah. :D
01-02-2008
Fauzi Bowo Salahkan Kontraktor Proyek Drainase
Hujan deras yang melanda Jakarta sejak Kamis (31/1) malam hingga Jumat (1/2) siang membuat beberapa wilayah Ibu Kota terendam banjir. Bahkan Jalan Thamrin-Sudirman yang merupakan jalan protokol tidak luput dari terjangan banjir.
Pantuan beritajakarta.com, genangan air terlihat dari Jl Sisingamangaraja, Jl Sudirman, Jl Thamrin, Jl Budi Kemuliaan, Jl Sabang, Jl Wahid Hasyim, dan Jl Merdeka Barat. Ketinggian air di ruas-ruas jalan tersebut rata-rata mencapai selutut orang dewasa.
Terendamnya ruas jalan tersebut membuat kemacetan tidak terelakkan akibat banyak kendaraan yang tidak dapat melewati genangan, dan tidak sedikit juga kendaraan yang mogok. Kemacetan panjang mulai terlihat dari Patung Pemuda Senayan, Semanggi, Bundaran Hotel Indonesia, Sarinah, hingga Patung Kuda Jalan Medan Merdeka Barat.
Genangan yang terjadi di beberapa ruas jalan Ibu Kota, khususnya di jalan protokol diyakini akibat buruknya sistem drainase di ruas jalan tersebut. Bahkan hal itu diakui Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. “Genangan ini terjadi karena buruknya sistem drainase. Padahal perbaikan drainase baru saja dilakukan di beberapa titik," ujar Fauzi Bowo, di Balaikota, Jumat (1/2).
Karena itu, Fauzi Bowo langsung memerintahkan jajarannnya untuk memanggil para kontraktor yang mengerjakan drainase dengan kualitas buruk itu "Saya sudah perintahkan kepala Dinas Pekerjaan Umum untuk memanggil para kontraktor. Suruh mereka lihat banjir di jalanan, kok hasil pengerjaan drainase begitu buruk," tegasnya.
Pria kelahiran Jakarta 10 April 2008 ini mengakui pengerjaan drainase yang buruk tersebut tidak hanya di Jalan Sudirman-Thamrin saja, melainkan juga terjadi di wilayah Kwitang, Cempakaputih, dan Sam Ratulangi.
Untuk itu, gubernur akan memerintahkan masing-masing wali kota untuk menginventarisir semua proyek-proyek pengerjaan drainase dan meminta para kontraktor untuk memperbaikinya. "Itu merupakan tanggung jawab mereka, jangan ditinggal begitu saja setelah dikerjakan," lanjut gubernur.
Ke depannya, untuk menjaga sistem drainase Ibu Kota agar dapat berfungsi dengan baik, Fauzi berencana menerapkan sistem perawatan drainase secara berkesinambungan. "Perawatan tidak dapat dilakukan hari ini saja," tukasnya.
Ia menganalogikan perawatan drainase tersebut seperti cleaning service, dimana perawatan akan dilakukan per wilayah dengan sistem kontrak. "Jadi apabila nanti tidak benar kita berikan sanksi bagi pihak diberikan tanggung jawab per wilayah tersebut," pungkasnya.
Sementara itu berdasarkan data Crisis Center DKI hingga pukul 14.00 WIB, ketinggian air di PA Katulampa Bogor mencapai 70 centimeter, sedangkan ketinggian air di PA Manggarai mencapai 800 centimeter. Ketinggian air tersebut masih dalam kategori normal.
Busway Berhenti Beroperasi
Hujan deras yang merendam sejumlah ruas jalan juga mengakibatkan bus Transjakarta koridor II-VII berhenti beroperasi. Kepala Operasional BLU Transjakarta, Rene Nunumete, mengungkapkan, tidak beroperasinya bus Transjakarta koridor II-VII karena jalur busway terendam banjir. "Bus Transjakarta koridor II, III, IV, dan V berhenti beroperasi sejak pukul 10.00 WIB, sedangkan bus Transjakarta koridor VI dan VII berhenti beroperasi sejak pukul 13.30 WIB," ungkapnya.
Konon kabarnya ,,, (menurut DETIK.COM) Tim Banjirnya FOKE menyalahkan Pantai Indah Kapuk atas banjir di Tol Bandara... PIK itu udah bikin banjir dari tahun 1990-an ... Kok pemerintah di masa lalu, diam saja ???? Konspirasi ??? :naughty:
BauIng February 6th, 2008, 07:04 PM 06-02-2008
Pemerintah Pusat Diminta Bantu Perbaiki Sistem Drainase
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki sistem drainase yang diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp1,2 triliun. Perbaikan sistem drainase itu merupakan langkah jangka pendek dalam mengatasi banjir di Jakarta.
Salah satu cara yang ditempuh yakni meminta bantuan pemerintah pusat ikut membiayai perbaikan sistem drainase tersebut. Sebab sistem drainase yang ada di Jakarta itu terhubung dengan Sungai Ciliwung yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
“Untuk penanganan banjir di Jakarta memerlukan dana yang bersumber dari APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah) dan APBN (anggaran pendapatan dan belanja nasional),” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Rabu (6/2) di Balai Kota.
“Perbaikan drainase itu ada yang di hulu dan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Sedangkan yang di hilir menjadi tanggung jawab Pemda DKI,” ujar Fauzi.
Seperti diketahui, pada tahun 2007 lalu perbaikan sistem drainase di hulu yakni di Bogor dan Depok tidak berjalan optimal. “Dan dari hasil pembicaraan antara Pemda DKI dan daerah penyangga serta pemerintah pusat terbuka kemungkinan mendapatkan soft loan seperti dari Bank Dunia atau World Bank,” ujarnya.
Dan karena perbiakan sistem drainase itu merupakan salah satu proyek infrastruktur maka Pemprov DKI meminta pemerintah pusat agar pembiayaannya menggunakan soft loan (pinjaman lunak) sehingga proses pembiayaannya cukup panjang dan suku bunga relatif rendah yakni jauh di bawah suku bunga komersial.
Lantas yang menjadi kendala saat ini, kata Fauzi, apakah Pemda DKI Jakarta bisa mengakses sistem pinjaman seperti itu secara bersama-sama karena kalau hanya Pemda DKI tentunya Bank Dunia tidak akan mengabulkannya. “Bank dunia tentu akan memberikan pinjaman kalau ada jaminan d ari pemerintah pusat dan Pemda DKI,” ucapnya.
Pinjaman itu nantinya, lanjut Fauzi, akan digunakan untuk membiayai pengerukan dan merawat muara sungai yang ada di Ibu Kota. “Kalau kita hanya berdiam diri maka sungai-sungai di Jakarta akan semakin dangkal sehingga akan berpengaruh terhadap kemampuan Pemprov DKI dalam mengendalikan banjir,” tuturnya.
Saat ditanya berapa pinjaman Bank Dunia yang akan diusulkan kepada pemerintah pusat, Fauzi mengatakan, Indonesia kan menganut kebijakan moneter yang tersentralisir maka pihaknya hanya mengusulkan kepada pemerintah pusat.
“Saya sih tidak ingin memaksakan untuk meminjam ke World Bank. Jika ada dana dari APBN yang lebih murah tentu akan lebih efektif,” jelasnya. “Makanya kita (Pemprov DKI-red) minta Wapres (Jufuf Kall) untuk mengkoordinasi,” imbuhnya.
Sekadar mengingatkan, pengerukan di beberapa titik aliran sungai pernah dilakukan Pemprov DKI beberapa waktu lalu dengan menggunakan dana APBD 2007. Pengerukan itu sendiri menghabiskan dana sekitar Rp 240 miliar.
Namun untuk kondisi sekarang, menurut mantan Sekdaprov DKI Jakarta ini, pengerukan yang dilakukan di titik-titik tertentu saja tentu tidak relevan. "Pengerukan harus dilakukan pada semua saluran," ujarnya.
Perbaikan sistem drainase itu sendiri antara lain meliputi pelebaran Banjir Kanal Barat (BKB), pengerukan sedimentasi di Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, Kali Sunter, dan beberapa kali lainnya. "Selain itu aliran sungai ke muara dari Cakung Drain harus diperbaiki karena menghambat aliran air ke laut," jelas Fauzi.
Disamping pengerukan, normalisasi fungsi waduk juga harus dilakukan. Diantaranya Waduk Pluit seluas 80 hektar hanya dapat difungsikan sekitar 70 hektar karena banyaknya bangunan liar.
Pihaknya juga merencanakan pembangunan waduk di utara Jakarta yang dapat memarkir air Kali Sunter, sehingga diharapkan Kali sunter tersebut tidak meluap. "Waduk tersebut mungkin baru dapat difungsikan pada tahun 2010 nanti," tukas Fauzi.
rilham2new February 7th, 2008, 06:27 AM ^^ Kalau di detik katanya mau minta sama WORLDBANK ...
rilham2new February 7th, 2008, 06:56 AM Beberapa daerah di Indonesia juga banjir nih .... :naughty: ... Dapat report dari kawan2 di MULTIPLY ...
Palembang - Sumatra Selatan
*from INOEINOE Multiply, dalam ALbum photo yang berjudul "Palembang: Venesia Dari Timur"
Lokasi pengambilan gambar : Possibly Jalan Kapt. A. Rivai ... The avenue where most BANK open their main branch in Palembang.
Venesia Dari TImur
http://images.inoeinoe.multiply.com/image/4/photos/26/500x500/13/Venesia%20dari%20Timur.jpg?et=03AocMpV0owtCG6OmxwOBw&nmid=79629164
Jalan Basah vs Jalan Kering
http://images.inoeinoe.multiply.com/image/5/photos/26/orig/12/Jalan%20basah%20vs%20Jalan%20Kering.jpg?et=46SOtkkEUAz52Lm0bOIH8w&nmid=79629164
All Seasons Photographer
http://images.inoeinoe.multiply.com/image/4/photos/26/orig/2/All%20Seasons%20Photographer.jpg?et=haVUBCI1%2BuRLFa6jIeVeqw&nmid=79629164
Amphibia Wedding Car
http://images.inoeinoe.multiply.com/image/5/photos/26/orig/3/Amphibia%20Wedding%20Car.jpg?et=MZcZLACh3VQfsfUNgXZoGw&nmid=79629164
Taksi Air
http://images.inoeinoe.multiply.com/image/4/photos/26/orig/10/Taksi%20Air.jpg?et=lSZPeWUqGCll4Om4xZyc9Q&nmid=79629164
Pekanbaru - Riau
from KOTABERTUAH Multiply ... dalam ALBUM PHOTO yang berjudul "BANJIR DI PEKANBARU"
Lokasi: Jalan HR. Subrantas, Pekanbaru Southwest Suburb ..... 12 km from city centre.... In front of RS Jiwa Tampan....
Jalan HR. Subrantas sudah sering macet .... makin macet
http://images.dewacint4.multiply.com/image/4:kotabertuah/photos/8/orig/1/Air%2520hujan%2520mengenangi%2520jalan%2520ruas%2520jalan%2520HR%2520Subrantas%2520foto%2520cherry.jpg?et=cxAGY0YmC86TaBHIPXjjfA&nmid=80223324
Jalan HR. Subrantas sudah sering macet .... makin macet
http://images.dewacint4.multiply.com/image/2:kotabertuah/photos/8/orig/14/Ruas%2520jalanHR%2520Subrantas%2520digenagi%2520air%2520menyebabkan%2520macet%2520foto%2520cherry.jpg?et=kKV0K%2BAs53gTgQK6loM0vQ&nmid=80223324
Biarpun banjir cuman semata-kaki ... tapi gak afdhol kalau gak menurunkan tim perahu karet ...duhhh,, dah banjir masih cari proyek juga :p~
http://images.dewacint4.multiply.com/image/3:kotabertuah/photos/8/orig/3/BKS%2520Riau%2520turunkan%2520dua%2520perahu%2520karet%2520untuk%2520atasi%2520banjir%2520di%2520RSJ%2520Panam%2520foto%2520ch?et=MZV2wVDKk6PolHGRgr0UkA&nmid=80223324
Pasien Rumah Sakit Jiwa pun masih bisa tersenyum...surprisingly ,, keadaan rumah sakit jiwanya cukup bersih ....tidak seperti yang pernah digambarkan media internasional ttg buruknya kondisi RSJ di Indonesia ...
http://images.dewacint4.multiply.com/image/2:kotabertuah/photos/8/orig/7/Pasien%2520Rs%2520jiwa%2520panam%2520dlm%2520ruangan%2520yg%2520masih%2520digenagi%2520air%2520foto%2520cherry.jpg?et=1CD3B1GUbWyVq4QgjZgZoQ&nmid=80223324
Kondisi kamar perawatan RSJ ini sangat baik sekali, cuman minus genangan air banjir saja ... kasihan mereka ...
http://images.dewacint4.multiply.com/image/2:kotabertuah/photos/8/orig/12/Ruangan%2520pasien%2520RS%2520Jiwa%2520Panam%2520masih%2520digenangi%2520air%2520foto%2520cherry.jpg?et=1sC1bHOyMD9aPQ7KldPbOg&nmid=80223324
Wow, evakuasi pasien RSJ denga perahu karet ...padahal air cuman sebetis tidak lebih ..... PRoyek, proyek ...
http://images.dewacint4.multiply.com/image/3:kotabertuah/photos/8/orig/5/Badan%2520kesejahteraan%2520Sosial%2520Riau%2520menurunkan%2520dua%2520perahu%2520karet%2520di%2520kawasan%2520Rs%2520Jiwa?et=6MExmazdOQGNXDxDndqiwg&nmid=80223324
Yaaa, semoga cepat sembuh .... :p
http://images.dewacint4.multiply.com/image/3:kotabertuah/photos/8/orig/2/BKS%2520Riau%2520turunkan%2520dua%2520perahu%2520karet%2520untuk%2520atasi%2520banjir%2520di%2520RSJ%2520Panam%2520foto%2520ch?et=qS%2CQ5w8Phf7TzJAa7%2BTSDw&nmid=80223324
rilham2new February 7th, 2008, 06:59 AM Keliatannya di Jogja banjir juga .... Ada kabar atau gambar mengenai penanganan banjir di sana ????
rilham2new February 7th, 2008, 07:02 AM Pemerintah Kota Pekanbaru bukan diam saja menghadapi banjir ini ..... Duhh,,, masterplan banjir sampe pake konsultan ROYAL HASKONING dari Belanda ... weleh ...... PErlu, gak sih :p~ ....
Ada berita dari RIAUPOS ..
Pemko Kecewa Kinerja Konsultan Belanda
Selasa, 05 Pebruari 2008
”Masterplan’’ Banjir Tak Selesai
KOTA (RP) — Pemerintah Kota Pekanbaru mengaku kecewa dengan kinerja konsultan asal Belanda, Royal Haskoning yang berjanji akan membuat masterplan banjir tapi tidak kunjung selesai. Untuk itu, Pemko akan memprioritaskan pembuatan masterplan sendiri melalui APBD 2009.
Disebutkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Pekanbaru, Yusman Amin kepada wartawan, Senin (4/2) di ruang kerjanya, konsultan asal Belanda, Royal Haskoning memberikan hibah dana kepada Pemko Pekanbaru lebih kurang Rp4 miliar untuk program perbaikan sanitasi Kota Pekanbaru. Program sanitasi ini menyangkut limbah, sampah dan tata drainase. Maka dibentuklah Kelompok kerja (Pokja) bersama Satker terkait.
‘’Kita berharap banyak datangnya konsultan asal Belanda ini, terutama maksud mereka akan menyusun masterplan banjir. Tapi kita kecewa, hingga saat ini tak juga kunjung selesai. Apa yang tengah mereka kerjakan juga kita tidak tahu padahal sudah beberapa bulan diadakan. Kegiatan-kegiatan seremonial banyak dilangsungkan, tapi apa yang mereka janjikan tidak juga ada,’’ kata Yusman ketus.
Ditanyakan bagaimana koordinasi selama ini antara Pemko dengan Royal Haskoning tersebut, disebutkan Yusman, Pemko dan Satker diundang jika ada pertemuan, misalnya workshop atau seminar-seminar. Selain itu, sebut dia, tidak ada laporan apa yang dihasilkan.
‘’Kita rencanakan akan memanggil segera mereka terhadap apa yang sudah dikerjakan. Tapi kalau ditanya saat ini yang sudah dihasilkan, tidak bisa menjawabnya,’’ sebutnya.
Tidak ada masterplan sementara pembangunan untuk mengatasi banjir misalnya pembangunan drainase terus berjalan, Yusman Amin katakan tidak ada masalah dan memang membangun di tengah gelap, seolah-olah diterka-terka saja. Sebut dia, persoalan banjir kota memang rumit dan tidak hanya Pekanbaru saja yang mengalaminya.
‘’Bisa saja tebak-tebak saja pembangunan untuk mengatasi banjir. Tapi tidak demikianlah. Titik banjir yang ada dibangun drainase dan seterusnya seperti itu sampai masterplan benar-benar selesai dikerjakan,’’ tutur Yusman.
Tidak kunjung selesainya pembuatan masterplan banjir ini juga menjadi pertanyaan dari anggota DPRD Pekanbaru. Mereka mengaku sudah lama menunggu Pemko Pekanbaru menyerahkan draft masterplan banjir ke DPRD.
Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPRD Pekanbaru, H Abunawas didampingi Imanuel David MS, masterplan sangat diperlukan untuk menuntaskan masalah banjir dan genangan air di Pekanbaru. ‘’Data saja sulit kita dapatkan. Sedangkan untuk dibesarkan anggaran pencegahan genangan air dan banjir, alasanya anggaran minim,’’ tegas Abunawas kepada Riau Pos Senin (4/2) di Balai Payung Sekaki.
Imanuel David meminta Pemko Pekanbaru segera merampungkan masterplan yang dijanjikan, terkait pembangunan Kota Pekanbaru dan juga penanganan banjir.
‘’Jika tak juga diselesaikan masterplan-nya, bagaimana kita mau menganggarkan dalam APBD terkait pembangunan yang diinginkan. Kita minta master plan itu selesaikan cepat,’’ kata Imanuel David lagi.(esi/hpz)
==============
Dari RIAUTERKINI ... balasan dari Pihak ROYAL HASKONING ...
Selasa, 5 Pebruari 2008 20:30
Draft Masterplan Sanitasi Pekanbaru Selesai April
Draft Masterplan Sanitasi Pekanbaru yang dikerjakan konsultan dari Belanda, Royal Haskoning diperkirakan selesai April
Riauterkini-PEKANBARU-Kekecewaan Pemko Pekanbaru dengan belum selesainya masterplan sanitasi Pekanbaru oleh konsultan Royal Haskoning dijawab Manager Project, Ivo Bastings. Kepada riauterkini di ruang kerjanya, Ivo meluruskan pemberitaan yang terlanjut berkembang.
"Ini (masterplan sanitasi,red) proyek Pekanbaru. Haskoning hanya membantu," ujar Ivo dengan bahasa Indonesia terpatah-patah Selasa (5/2). Karena sifatnya membantu, Royal Haskoning bekerjasama dengan Pokja Sanitasi yang dibentuk Pemko. Nantinya, pokja inilah yang bakal meneruskan apa yang sudah dikerjakan Royal Haskoning.
"Peranan Pokja sanitasi sangat diharapkan. Begitu kita selesai Desember (2008,red), pokja bisa terus mengimplementasikan," lanjut Ivo. Pekerjaan yang sedang dalam tahap penyelesaian adalah draft masterplan sanitasi Pekanbaru.
"Mungkin draft masterplan sudah selesai April atau Mei," tambah Ivo. Inventarisasi terhadap sanitasi dan drainase sendiri sudah dilakukan Royal Haskoning. Butuh waktu 6 bulan bagi Royal untuk menginventarisir masalah sanitasi Pekanbaru.
"Usai pekerjaan kita disini, akan terlihat inventarisir masalah sanitasi Pekanbaru dan beberapa alternatif penyelesaiannya," lanjut Ivo. Namun data tersebut tidak akan berguna jika data tersebut tidak ditindaklanjuti.
Dari data yang dikumpulkan Royal Haskoning, terdapat 60-70 titik genangan. Permasalahan umum yang terlihat yakni belum berfungsinya jaringan dan drainase, topografi Pekanbaru yang relatif landai, kondisi tanah gambut sehingga agak sukar meresapkan air, kapasitas saluran tidak memadai, gorong-gorong dibangun tidak pas dan beberapa permasalahan lainnya.
"Butuh waktu lama untuk menyelesaikan permasalahan sanitasi di Pekanbaru. Paling tidak lima tahun," ujarnya mengakhiri.
Konsultan Royal Haskoning dari Negeri Belanda ini mulai bekerja pada Mei tahun lalu. Mereka menghibahkan dana Rp4,5 miliar untuk program sanitasi di Pekanbaru. Proyek Royal Haskoning antara lain pembuatan masterplan sanitasi dan membuat pilot project sanitasi di suatu kawasan Pekanbaru.***(sari)...
=================
Mengenai penanganan banjir di kawasan SUburb memang kurang sekali,,, tapi PEMKOT Pekanbaru menanggapinya dengan sangat serius .... Tahun 2003, beberapa pompa banjir untuk menyelesaikan masalah banjir di kawasan Rumbai Pesisir (suburb utara).... Dan, dikabarkan tahun ini juga turun bantuan dari pihak Jepang, yang akan membangun instalasi Pompa Banjir di Pekanbaru untuk 2nd Phase nya ...
Btw, Pembangunan Pekanbaru cukup spreaded out ..... Pusat kota di tengah2 kemudian dikelilingi lahan kosong ... baru lah kawasan suburb yang berfungsi sebagai kawasan perumahan .... Jadi dengan ukuran kota 630 sq km di mana pembangunan menyentuh kawasan sampai 9 km di utara ,.... dan 11 km di sebelah selatan ... dan juga, 10 km ke barat,,, serta 8 km ke timur. Silahkan bayangkan betapa beratnya tugas PEMKOT Pekanbaru mengembangkan sistem drainase yang terintegrasi. Plus, Penduduk PEkanbaru hanya 717 ribu. Betapa menyebar sekali, bukan ...
Untuk penanganan banjir di pusat kota memang cukup baik, tidak pernah banjir sampai menggenang di pusat kota ... KArena untuk Jalan Jendral Sudirman (jalan raya 6 lajur sepanjang 7.7 km) yang membelaH pusat kota, di kiri kanannya sudah ada kanal (semacam got tapi jauh lebih lebar) yang kondisinya terawat dan bersih ;) ...... Di beberapa titik Kanal ini terbuka. Di kawasan Pusat kota, kanal ini mengalir di bawah tanah. ;) ....
rilham2new February 7th, 2008, 07:30 AM Percaya tidak percaya di bawah Kota Pekanbaru berseliweran sistem drainase yang tertutup ...tapi I highly doubt, it is deep underground one, kayak di negara orang :D
Kawasan pengendalian banjir di pusat kota PEkanbaru , terletak di Kolam Retensi dan Hutan Kota .... Yang memang betul2 di tengah kota -_-" ....
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/Pekanbaru%20Lovely%20City/penanganan_banjir_pusat_kota.jpg
The good thing is, Kawasan Perumahan tidak mengotori Pinggiran sungai perhatikan aliran anak sungai siak berikut ...yang tidak tersentuh pembangunan ... I JUST HOPE THEY PLANT TREES THERE ... :D
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/Pekanbaru%20Lovely%20City/tepian_sail.jpg
^^ Bagi yang tertarik dengan sistem tata drainase dan kanalisasi kota yang konsisten bisa lihat pusat kota Pekanbaru melalui GOOGLE EARTH ;) ....
Bahkan di hampir setiap kawasan perumahan di PEkanbaru selalu ada tempat di mana air akan terlimpahkan, karena sistem tanah merupakan rawa-rawa atau hutan dikelilingi kawasan perumahan ....
Taukah anda, masih banyak sekali sudut seperti ini di dalam kota Pekanbaru .. :naughty:
http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/Pekanbaru%20Lovely%20City/masjidfixxo5.jpg
Untuk menjaga eksistensi kawasan seperti ini,,, dibutuhkan pemerintah yang berhati kuat dan idealis dalam menelurkan IMB. Dan aku harap spirit itu akan terus bertahan .... Januari, kemarin .. Pihak PEMKOT telah melarang pembangunan Mal di Pusat Kota....
Mungkin karena, banyak faktor "belum terlanjur" ini, lembaga keuangan internasional sering mampir ke Pekanbaru untuk menelorkan bantuan... Karena mereka merasa, bantuan di Pekanbaru dapat langsung diimplementasikan tanpa harus ada PERCANGGAHAN dengan elemen masyarakat sekitar :D ... ..
BauIng February 7th, 2008, 10:27 AM Pembangunan Jakarta Tak Terkendali
KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
http://img525.imageshack.us/img525/8463/231756pqe5.jpg (http://imageshack.us)
Daerah Cawang dan sekitarnya terendam air cukup parah seperti terlihat dari helikopter. Foto diambil saat banjir melanda Jakarta awal Februari 2007.
Rabu, 6 Februari 2008 | 20:51 WIB
JAKARTA, RABU - Kapasitas pengaliran sungai-sungai di DKI Jakarta hanya 17-80 persen saja dari debit yang dianggap aman dalam master plan Jakarta 1997 dan 2004.
"Ketidaksesuaian ini membuat masalah banjir di Jakarta tak pernah selesai," kata Ahli Hidrologi dari BPPT Sutopo Purwo Nugroho dalam Jumpa Pers Kementerian Ristek di Jakarta, Rabu.
Ia mencontohkan, Sungai Ciliwung yang jika mau aman dari banjir harus mampu mengalirkan 570 meter kubik air per detik, namun sekarang ini hanya mampu mengalirkan 100 m3/ detik.
Demikian pula Cengkareng Drain yang kapasitasnya hanya 390 m3/detik dari idealnya 620 m3/detik dan Banjir Kanal Barat yang kapasitasnya 400 m3/detik dari idealnya 670 m/detik, sedangkan Banjir Kanal Timur yang seharusnya bisa mengalirkan 370 m3/detik belum juga dibangun.
"Kapasitas yang minim tersebut terkait dengan pembangunan yang tak terkendali di Jakarta, dari yang dahulu lahan hijau menjadi perumahan, industri dan perdagangan, bahkan sampai menggusur sungai-sungai dan situ-situ yang ada," katanya.
Data memperlihatkan, pada 1970 lahan yang dimanfaatkan untuk perumahan hanya 38.280 ha, pada 2000 sudah mencapai 78.182 ha, demikian pula lahan bagi industri dari 1.496 ha (1970) menjadi 13.790 ha (2000), dan perdagangan 2.949 ha (1970) menjadi 11.594 ha.
Jika Jakarta mau mengurangi kemungkinan bencana banjir, menurut dia, perlu melakukan pembenahan drainase atau struktur tata air air yang ada, normalisasi sungai-sungai sesuai dengan Master Plan Pengendalian banjir, ditambah lagi dengan memanfaatkan teknologi konservasi tanah dan air dengan sumur resapan atau biopori.
Sementara itu, Kabid Info Klimatologi dan Kualitas Udara BMG Endro Santoso mengatakan, curah hujan pada 1 Februari 2008 memang tergolong sangat lebat khususnya di kawasan Cengkareng, setinggi 317 mm.
"Tetapi ini bukanlah penyebab satu-satunya tergenangnya Bandara Soekarno Hatta dan banyak lokasi di Jakarta, karena hujan lebat setinggi ini sudah pernah terjadi sebelumnya," katanya.
Ia mencontohkan kawasan Pasar Minggu pada 10 Februari 1996 mengalami curah hujan mencapai 300 mm, namun karena drainase baik, maka tidak terjadi banjir.
Ia juga mengingatkan, curah hujan yang perlu diwaspadai akan menyebabkan banjir adalah curah hujan sangat lebat di atas 20 mm/Jam atau di atas 100 mm/24 Jam.(Antara)
paradyto February 7th, 2008, 10:36 AM Project Kanal Timur-nya gimana ya?
BauIng February 7th, 2008, 10:38 AM Masih menyelesaikan masalah pembebasan lahan. :bash:
paradyto February 7th, 2008, 10:53 AM :ohno::ohno::ohno: harus cepat bergegas tuh.... Kayaknya cari rumah di Jakarta harus extra hati-hati neh he he he...
BauIng February 9th, 2008, 10:15 AM Tangani Banjir, Bank Dunia Pinjami DKI Rp1,2 Triliun
Penulis: Bagus BT Saragih
JAKARTA--MI: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bakal menerima bantuan pinjaman lunak (soft-loan) dari Bank Dunia sebesar Rp1,2 triliun. Dana itu akan digunakan untuk penanganan drainase di Jakarta.
Keputusan itu merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah pusat dan Pemprov DKI mencari sumber dana untuk mengeruk dan menormalisasi drainase dan saluran di Jakarta. Upaya mencari pinjaman lunak ditempuh karena APBD DKI Jakarta tidak sanggup membiayai kebutuhan sebesar Rp1,2 triliun.
"Dari pembicaraan yang kami lakukan dengan Bank Dunia, ada sinyal kami bisa pinjam dengan soft loan (pinjaman lunak), satu paket senilai Rp1,2 triliun," ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Balai Kota, Jumat (8/2).
Dari pembicaraan itu, kata dia, beberapa syarat yang diajukan Pemprov DKI direspon positif. "Seperti bunga yang relatif rendah dibanding bank komersial lainnya dan jangka pengembalian dengan rentang yang sangat panjang," imbuh Foke, panggilan Fauzi.
Foke menyontohkan pinjaman lunak dari Jepang yang dikucurkan untuk pembangunan subway. "Itu kan kita pakai skema STEP, Special Term for Economic Partnership. Jangka waktunya 30 tahun dengan bunga hanya 0,45%," jelasnya.
Dengan skema seperti ini, pinjaman sejumlah Rp1,2 triliun tidak terlalu membebani APBD dalam pengembaliannya. Prioritas penggunaan dana itu ditujukan untuk membiayai pengerukan sungai, khususnya di kawasan muara serta perbaikan saluran di seluruh simpul terutama yang belum sempat dikeruk oleh Pemprov DKI.
"Termasuk di dalamnya penyelesaian BKT (banjir kanal timur) dan perbaikan BKB (banjir kanal barat)," imbuhnya.
Meski demikian, kepastian menggunakan dana Bank Dunia belum menjadi harga mati. "Kami tetap menunggu komitmen dari (pemerintah) pusat. Apakah bisa ditalangi tanpa
meminjam Bank Dunia atau tidak. Jika pusat sanggup, kami tidak ingin memaksakan pinjam Bank Dunia," beber Foke.
Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya sumber dana dari lembaga keuangan internasional lain. "Kepastian yang World Bank ini sekarang dibawa ke Wapres (Wakil Presiden RI Jusuf Kalla)," tukas pria berkumis itu.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengatakan, pihak Bank Dunia sudah melakukan paparan terkait tawaran soft-loan itu. "Bank Dunia dan ahli-ahli dari Belanda sudah ekspose tentang penanganan banjir di Jakarta, dan akan ekspose lagi (Sabtu, 9/2)," katanya usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungannya ke Pemprov DKI , Selasa (5/2).
Namun ia enggan menyebutkan besarnya pinjaman yang ditawarkan. "Itu kan baru tawaran, belum pasti," tukasnya.
Pada kesempatan sebelumnya, Foke merinci, dana sebesar Rp1,2 triliun itu akan digunakan antara lain untuk menormalisasi saluran-saluran makro, peningkatan kapasitas BKB, perbaikan pintu-pintu air, dan pengerukan muara sungai.
Untuk peningkatan kapasitas BKB misalnya, dibutuhkan dana Rp238,65 miliar. "Pelebaran BKB perlu karena di beberapa titik terjadi bottle-neck (penyempitan)," kata Foke.
Sementara itu untuk perbaikan sejumlah pintu air (PA) seperti PA Karet, Manggarai, Pekapuran, Cideng-Setiabudi, Pasar Baru, Sewan, membutuhkan dana Rp55 miliar. Dari 13 PA di Jabodetabek, 5 di antaranya membutuhkan penggantian.
Sedangkan untuk pengerukan muara sungai di Cengkareng, Cakung, Sunter, Muara Karang, Ancol, dan Cisadane memakan dana Rp22,5 mliar. Untuk normalisasi 30 ruas saluran di Jakarta sendiri membutuhkan dana Rp635,5 miliar. (BT/Ssr/OL-03)
Venantio February 9th, 2008, 01:59 PM :ohno::ohno::ohno: harus cepat bergegas tuh.... Kayaknya cari rumah di Jakarta harus extra hati-hati neh he he he...
Mangkanya cari rumah di luar kota aja, misalnya di Bogor.... Ngomong-ngomong gue mau jual rumah nih di daerah Kabupaten Bogor.... Anti macet, anti banjir. Yang mau dan berminat segera PM gue ya...
BauIng February 14th, 2008, 09:13 AM 13-02-2008
Bank Dunia Tawarkan Pinjaman Dana Atasi Banjir
Penanganan banjir di Jakarta bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saja, tapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah pusat mengingat Jakarta merupakan Ibu Kota Negara.
Oleh karena itu, pemerintah pusat melalui Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan Departemen Pekerjaan Umum (PU) akan menggandeng pihak Bank Dunia (World Bank) dalam mengatasi banjir secara komprehensif.
“Salah satu yang tengah dibahas antara Pemda DKI, Bappenas, Departemen PU, dan World Bank yakni mempercepat kerja sama program penanggulangan dan penanganan banjir,” ujar Nurfakih Wirawan, Asisten Pembangunan (Asbang) Sekdaprov DKI Jakarta, Rabu (13/2) di Balai Kota usai menerima Mr Christian Delvoie, Director Sustainable Development Departement The World Bank.
Menurut Nurfakih, Bank Dunia akan membantu Pemprov DKI Jakarta dalam hal technical assistant terutama pembiayaan pengerukan sungai maupun drainase melalui pinjaman lunak. “Mereka akan membantu mempercepat pembangunan kanal banjir, perawatan sungai, dan pengerukan drainase secara signifikan,” kata Nurfakih. Namun untuk, tindak lanjut selanjutnya pemerintah pusat, yang akan mengatur mekanisme pinjaman lunak tersebut.
Saat ditanya berapa nilai pinjaman yang sudah diajukan Pemprov DKI atau yang Bank Dunia tawarkan? Nurfakih mengatakan, tidak menyebutkan angka pastinya. Dia hanya mengatakan, Bank Dunia meminta Pemprov DKI yang menentukan berapa besar pinjaman yang dibutuhkan.
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta meminta pemerintah pusat untuk ikut memperbaiki sistem drainase di Ibu Kota yang diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp1,2 triliun. Perbaikan sistem drainase itu merupakan langkah jangka pendek dalam mengatasi banjir di Jakarta.
Sebab sistem drainase yang ada di Jakarta itu terhubung dengan Sungai Ciliwung yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. “Untuk penanganan banjir di Jakarta memerlukan dana yang bersumber dari APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah) dan APBN (anggaran pendapatan dan belanja nasional),” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Perbaikan drainase yang di hulu, kata Fauzi, menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, sedangkan yang di hilir menjadi tanggung jawab Pemda DKI.
Fauzi mengatkaan, pada tahun 2007 lalu perbaikan sistem drainase di hulu yakni di Bogor dan Depok tidak berjalan optimal. “Dan dari hasil pembicaraan antara Pemda DKI dan daerah penyangga serta pemerintah pusat terbuka kemungkinan mendapatkan soft loan (pinjaman lunak) seperti dari Bank Dunia atau World Bank,” ujarnya.
Dan karena perbaikan sistem drainase itu merupakan salah satu proyek infrastruktur, maka Pemprov DKI meminta pemerintah pusat agar pembiayaannya menggunakan soft loan sehingga proses pembiayaannya cukup panjang dan suku bunga relatif rendah yakni jauh di bawah suku bunga komersial.
Lantas yang menjadi kendala saat ini, kata Fauzi, apakah Pemda DKI Jakarta bisa mengakses sistem pinjaman seperti itu secara bersama-sama karena kalau hanya Pemda DKI tentunya Bank Dunia tidak akan mengabulkannya. “Bank dunia tentu akan memberikan pinjaman kalau ada jaminan dari pemerintah pusat dan Pemda DKI,” ucapnya.
Sekadar mengingatkan, pengerukan di beberapa titik aliran sungai pernah dilakukan Pemprov DKI beberapa waktu lalu dengan menggunakan dana APBD 2007. Pengerukan itu sendiri menghabiskan dana sekitar Rp 240 miliar.
Namun untuk kondisi sekarang, menurut Fauzi, pengerukan yang dilakukan di titik-titik tertentu saja tentu tidak relevan. "Pengerukan harus dilakukan pada semua saluran," ujarnya.
Perbaikan sistem drainase itu sendiri antara lain meliputi pelebaran Banjir Kanal Barat (BKB), pengerukan sedimentasi di Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, Kali Sunter, dan beberapa kali lainnya. "Selain itu aliran sungai ke muara dari Cakung Drain harus diperbaiki karena menghambat aliran air ke laut," jelas Fauzi.
Disamping pengerukan, normalisasi fungsi waduk juga harus dilakukan. Diantaranya Waduk Pluit seluas 80 hektar hanya dapat difungsikan sekitar 70 hektar karena banyaknya bangunan liar.
Pihaknya, lanjut Fauzi, juga merencanakan pembangunan waduk di utara Jakarta yang dapat memarkir air Kali Sunter, sehingga diharapkan Kali sunter tersebut tidak meluap.
=NaNdA= February 14th, 2008, 09:49 AM Banjir oh Banjir..
Pak Presiden aja kejebak banjir..
sampe harus pindah mobil n pake payung... :D:D
( pic from kaskus )
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sbyberpayungmerah3.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sbyberpayungmerah2.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sbyberpayungmerah.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sby3.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sby2.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sby1.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sbyberpayungmerah4.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sby4.jpg
http://i69.photobucket.com/albums/i78/kikibagus/sby5.jpg
lombok February 14th, 2008, 11:53 AM Typisch... Indonesia, omong terus seharusnya langsung action, berantas semua yang jadi kern banjir:bash:. Tidak harus diskusi segala, tiap tahun berita banjir di Indonesia sampai eropa. Padahal JKT merupakan cermin dari Indonesia secara seluruh.....:banana:
Kalau gue jadi gubernur pasti JKT kagak akan kumuh & banjir...:banana:
BauIng March 20th, 2008, 09:50 AM 19-03-2008
Bank Dunia Kucurkan 150 Juta Dolar untuk Atasi Banjir
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya meminimalisir bencana banjir yang kerap melanda Ibukota. Melalui pinjaman Bank Dunia sebesar 150 juta dolar AS, perbaikan infrastruktur penanggulangan banjir mulai dilakukan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengungkapkan, dana pinjaman dari Bank Dunia tersebut nantinya akan digunakan untuk pengerukan kali, pembangunan pompa, dan pembangunan waduk. "Kita juga persiapan lahan untuk pembuangan lumpur hasil pengerukan kali," ujar Prijanto saat ditemui usai menghadiri rapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR RI, Rabu (19/3).
Pinjaman dari Bank Dunia itu, kata Prijanto, akan dimanfaatkan untuk perbaikan sarana dan prasarana penanggulangan banjir dalam jangka waktu 2008 hingga 2012. Pada tahun 2008 ini akan dilakukan pengurusan administrasi. Sedangkan pengerjaan fisik infrastruktur penanggulangan banjir akan dimulai pada tahun 2009. "Pada tahun 2010 nanti mungkin sudah selesai, sedangkan 2011 hingga 2012 akan dilakukan pemeliharaan infrastruktur dan pengembangan SDM," ujarnya.
Perbaikan infrastruktur itu sendiri meliputi perbaian drainase, pompa air, rehabilitasi tanggul, pengerukan sungai, waduk, dan pembangunan lokasi pembuangan lumpur.
Pinjaman tersebut, jelas Prijanto, proporsinya 60 persen merupakan kewajiban pemerintah pusat untuk membayarnya dan 40 persen merupakan tanggung jawab Pemprov DKI.
Selain pinjaman 150 juta dolar, Bank Dunia juga memberikan hibah sebesar 10 juta dolar AS untuk pengendalian banjir di Ibukota. "Dana hibah tersebut akan dialokasikan untuk pemberdayaan SDM untuk pengendalian banjir," ujar Prijanto.
Meski mendapatkan dana cukup besar, namun Prijanto belum bisa menjamin Ibukota akan terbebas dari banjir. "Perbaikan tersebut hanya untuk meminimalisir banjir, sebab segala upaya apapun akan percuma jika curah hujan tinggi. Akibatnya air tidak ditampung di sungai dan waduk, sehingga air meluber ke mana-mana," ungkapnya.
Di tempat yang sama, Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI, Budi Widiantoro, menuturkan, pinjaman dana tersebut, nantinya akan digunakan untuk pengerukan Kali Sunter Utara, Kali Selatan, Kali Ciliwung Gajah Mada, dan Kali Besar. "Ini merupakan tanggung jawab Pemprov DKI," jelasnya.
Sedangkan yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, lanjut Budi, adalah pengerukan Kali Cengkareng Drain, Banjir Kanal Barat, dan Kali Sunter.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sutan Bhatoegana, menuturkan, banjir di Ibukota tidak dapat diselesaikan tanpa koordinasi dengan Provinsi Jabar dan Provinsi Banten. "Caranya mensinergiskan infrastruktur di tiga wilayah provinsi. Selama ini mereka berjalan sendiri-sendiri," ketus Sutan. Karena itu Sutan pesimis upaya pengendalian banjir itu akan berhasil, meski telah mendapatkan pinjaman dana sekitar 150 juta dolar AS.
paradyto March 26th, 2008, 03:21 PM Belasan Desa di Aceh Selatan Terendam
Tapaktuan (ANTARA News) - Bencana banjir bandang akibat meluapnya beberapa sungai di Kabupaten Aceh Selatan dilaporkan terus meluas, akibatnya sekitar 13 desa di Dearah Aliran Sungai (DAS) Kluet terendam banjir hingga ketinggian satu meter.
"Hujan yang turun sejak kemari sore mengakibatkan meluapnya sungai Kluet dan sejak tadi pagi air sudah mengalir kepemukiman warga," kata Asisten II Setdakab Aceh Selatan H Tanius, di Tapaktuan, Rabu.
Meluapnya sungai terbesat di Aceh Selatan itu mengakibatkan ratusan rumah warga di Kecamatan Kluet Utara yakni Desa Ruwak, Kampung Tinggi, Kampung Paya, Pulo Kambing, Kuta Fajar, Simpang Empat, Simpang lhe dan desa Keude Padang.
Di kecamatan Kluet Selatan, tiga desa yang digenagi air yakni Desa Rantau Binuang, Pulo Ie dan Kampung Tengoh.
Camat Kluet Selatan menyebutkan 94 Kepala Keluarga di Dusun Mahkamah Desa Rantau Binuang terpaksa mengungsi kedataran yang lebih tinggi, ketinggian air di desa tersebut sudah mencapai satu meter lebih.
Selaian merendam perumahan warga, air yang terus meninggi itu juga mengakibatkan ruas jalan sepanjang 2 km yang menghubungkan Pulo Ie dengan Keude Rundeng digenangi air setinggi lutut oarng dewasa.
Keadaan cuaca di Aceh Selatan masih diselimuti awan hitam, menurut perkiraan apabila hujan kembali turun dipastikan ketinggian air akan terus bertambah.
"Jika sore ini hujan lagi, saya perkirakan warga yang mengungsi akan bertambah dan tidak menutup kemungkinan desa-desa lainnya juga akan terendam," katanya
Sementara itu, 35 KK warga Desa Kapa Sesak Kecamatan Trumon Timur yang mengungsi akibat bencana serupa yang terjadi Selasa (25/3) kini telah kembali dan membersihkan rumahnya dari sampah dan lumpur.
Camat Trumon Timur H Lahmuddin menyebutkan banjir kiriman dari gunung leuser yang sering terjadi di wilayahnya itu akibat pendangkalan sungai yang belum pernah di lakukan pengerukan oleh instansi berwenang, padahal pihaknya sudah berulang kali mengajukan usulan untuk pengerukan sungai.
"Warga yang mengungsi akibat meluapnya sungai Kapa Sesak, kini telah kembali, tapi warga masih khawatir sebab hujan masioh turun pada malam hari," kata Lahmuddin.
Sekda Kabupaten Aceh Selatan, H Harmaini kepada wartawan mengatakan untuk meringankan penderitaan korban banjir, Pemerintah Aceh Selatan akan menyalurkan bantuan masa panik yakni beras, makanan cepat saji, minyak goreng, air mineral dan kaos oblong di Desa Kapa Sesak.
"Sore kemarin bantuan masa panik untuk korban banjir di Desa Kapa Sesak sudah kita kirim, untuk Desa Rantau Binuang kita masih menunggu informasi dari Kecamatan," katanya.(*)
paradyto March 26th, 2008, 03:24 PM Ratusan Orang Mengungsi Ketika Banjir Riau Meluas
Pekanbaru (ANTARA News) - Banjir yang melanda wilayah Provinsi Riau meluas dan menggenangi tujuh kabupaten dan kota, bahkan lebih dari 100 orang di Kota Pekanbaru terpaksa mengungsi.
Kepala Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau, Humizri, menyebutkan tujuh wilayah administratif yang dilanda banjir itu adalah Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Kampar, Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Rokan Hulu, dan Kabupaten Pelelawan.
"Banjir di dua kabupaten yakni Kampar dan Inhu (Indragiri Hulu) sudah berkurang, namun banjir di wilayah Kota Pekanbaru ketinggian air mencapai satu hingga 1,5 meter," katanya di Pekanbaru, Selasa.
BKS Riau mengaku belum mengetahui jumlah rumah penduduk yang tergenang banjir.
"Belum ada laporan masuk, namun demikian hingga saat ini dipastikan belum ada korban jiwa akibat bencana banjir," kata Humizri.
Ia mengingatkan masyarakat yang tinggal di tepian sungai untuk mewaspadai kemungkinan meluapnya air sungai, terutama pada saat turunnya hujan.
BKS Riau juga telah mengirim bantuan bahan makanan dan tenda darurat ke kabupaten dan kota yang terkena banjir.
"Kami juga sudah berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan Palang Merah Indonesia untuk mempersiapkan tenaga medis dan obat-obatan," katanya seraya menambahkan, jika diperlukan BKS Riau akan mengirimkan air bersih dan dapur umum.
BKS juga telah memperkuat koordinasi antara Satkorlak dengan Satlak di tingkat kabupaten dan kota hingga kecamatan untuk penyaluran bantuan.
Hal itu dimaksudkan agar penyaluran bantuan dapat merata dan tepat sasaran sehingga tidak ada lagi warga korban banjir di daerah terisolir yang tidak mendapatkan bantuan.
(*)
paradyto March 26th, 2008, 03:28 PM Riau governor visits flood victims in Pekanbaru
Pekanbaru, Riaun Province (ANTARA News) - Riau Governor Rusli Zainal visited flood victims in Rumbai and Limapuluh sub districts, Pekanbaru city, on Wednesday.
Floodwaters inundated hundreds of houses in the Sri Meranti area, Rumbai sub district, following the overflowing of the Siak River during the past few days. The flooding forced Sri Meranti residents to flee their houses and stay in emergency tents.
In the Tanjung Rhu area, Limapuluh sub district, tens of houses were inundated, forcing local residents to evacuate to safer areas.
Riau Governor Rusli Zainal had dialogs with a number of flood victims and later handed over relief aid consisting of clothes, food and medicines.
Floods have affected seven districts/cities in Riau Province over the past three weeks.
The Riau Governor expressed his concern over the disaster and called for the cooperation of flood victims in case they needed to be relocated to safer areas.
"We hope residents will accept possible relocation," he said.
The seven districts/cities which have been flooded are Pekanbaru city, Dumai city, Kampar district, Kuantan Singingi district, Indragiri Hulu (Inhu) district, Rokan Hulu district, and Pelelawan district. (*)
ace4 March 27th, 2008, 08:44 AM Rabu, 26 Maret 2008 19:28 WIB
Minimalisasi Banjir, 5,1 hektare Lahan di Rawa Buaya Diusulkan Jadi Waduk
Reporter : Intan Juita
JAKARTA--MI: Lahan seluas 5,1 hektare di Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat diusulkan Pemerintah Kota Jakarta Barat kepada Pemprov DKI untuk dijadikan waduk atau tandon air sebagai upaya meminimalisasi banjir di kawasan tersebut.
Kepala Bagian Administrasi Sarana Perkotaan (ASP) Jakarta Barat, Bambang Djoko Susilo, Rabu (26/3) menjelaskan, dari sekitar 5,1 hektare aset pemda DKI yang diusulkan untuk dijadikan waduk itu, 2- 3 hektare diantaranya akan diusulkan untuk dibangun rumah susun (rusun) dan jalur hijau taman.
"Tandon air seluas tiga hektare dengan kedalaman sekitar tiga meter tersebut diperkirakan mampu menampung air sekitar 150 ribu meter kubik," papar Bambang.
Jumlah itu, lanjutnya, dinilai dapat meminimalisir banjir yang rutin terjadi di Rawa Buaya juga dapat difungsikan sebagai penampung air cadangan jika musim kemarau tiba.
Untuk lahan yang berada di bawah tegangan tinggi, Pemkot akan mengusulkan untuk dijadikan jalur hijau yang bebas dari hunian dan kegiatan lainnya. "Area di bawah tegangan tinggi harus bebas dari bangunan rumah tinggal, karena itu kami mengusulkan agar lahan tersebut dijadikan jalur hijau," imbuhnya.
Bambang mengatakan, usulan tersebut telah disampaikan ke Gubernur Fauzi Bowo, dan beberapa waktu lalu tim dari Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) sudah melakukan peninjauan lapangan. "Saat tim Bapeda melakukan peninjauan, mereka menilai usulan ini sangat bagus dan berjanji akan membawa usulan ini dalam rapim di tingkat provinsi," katanya.
Ia mengungkapkan, sebenarnya rencana ini telah diusulkan pada tahun 2006 lalu saat Fauzi Bowo masih menjabat sebagai Wakil Gubernur ketika meninjau ke wilayah Kelurahan Duri Kosambi. "Pada tahun 2006, kami sudah mengusulkan rencana ini. Mudah-mudahan usulan baik ini bisa diterima dan dapat terealisir," harapnya.
Bambang mengatakan, sebagai upaya meminimalisir banjir dan cadangan air saat musim kemarau, pihaknya juga mengusulkan kepada pimpinan proyek pembangunan Jakarta Outer Ringroad (JORR W1) Kebon Jeruk-Penjaringan untuk membuat saluran dengan kedalaman sekitar tiga meter sebagai tempat penampungan air.
Konsepnya dirancang sedemikian rupa, sehingga luapan air akan mengalir ke kali Mookervart. Tetapi jika kali Mookervart meluap tidak akan tumpah ke tandon air itu.
"Selain berfungsi meminimalisir banjir, tempat penampungan air ini juga berfungsi untuk mengamankan lahan dari penyerobotan bangunan liar dan pedagang kaki lima," tambah Bambang. (Jui/OL-03)
http://www.mediaindonesia.com/
paradyto March 27th, 2008, 03:33 PM Kasihan Fikr tuh yang lagi di Pekanbaru, di Indra Giri, juga di Pondok Mutiara dikepung air, listrik padam lagi he he he... Banjir memang sangat merepotkan:(
Untung Gw kemarin kesana nggak banjir...
lombok March 28th, 2008, 04:26 PM Ciliwung, ”Emangnya Gue Pikirin?”
Oleh
Victor Sihite
Masih ingat banjir hebat tahun 2002, banjir lima tahunan? Ibukota benar-benar lumpuh karena di mana-mana banjir. Ratusan miliar kerugian harta benda. Salah satu penyumbang terbesar banjir itu tentulah Sungai Ciliwung. Celakanya lagi, fenomena banjir besar seperti itu cenderung semakin sering, tidak lagi lima tahunan atau sepuluh tahunan seperti siklus yang dulu-dulu. Perubahan iklim memperparah keadaan.
Seperti kita tahu, ada 13 sungai utama yang melintasi Ibukota, Ciliwung di antaranya adalah yang paling besar. Maka tidak aneh kalau Departemen Pekerjaan Umum pernah membentuk Proyek Induk Pengembangan Ciliwung-Cisadane yang kemudian berubah menjadi Balai Pusat Pengembangan Ciliwung-Cisadane.
Untuk lebih mengetahui riwayat Ciliwung dari dulu, sekarang, dan boleh jadi nasibnya ke masa depan, penulis pernah berbincang-bincang dengan tiga pakar air masing-masing mantan Kepala Kopro Banjir DKI Ir. Martsanto Dirdjosoeprapto MEng, Dr. Ir. Indreswari Guritno (dosen Fakultas Teknik UI), dan Ir. Bambang Warsito, Dipl.HE mantan Kepala Staf Perencanaan Proyek Induk Pengembangan Ciliwung Cisadane. Dari hasil percakapan dengan ketiga pakar itu dalam kesempatan yang berbeda, tahulah kita bahwa sebenarnya proses perusakan terhadap daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung sudah terjadi sejak zaman Belanda
Pertama, mereka ternyata rakus lahan pegunungan untuk dijadikan perkebunan. Maka berubahlah daerah hulu di Pangrango-Gede dari hutan primer menjadi perkebunan teh. Akibatnya, hujan yang rata-rata turun antara 150-250 hari dalam setahun di kawasan itu seperti umumnya terjadi di Indonesia bagian barat, lebih banyak tumpah langsung ke sungai ketimbang meresap ke dalam tanah.
Ulah Belanda lainnya yang merusak Ciliwung adalah dengan membelok-belokkannya di daerah Kota mulai dari kawasan Istana Merdeka. Ada yang dibelokkan ke Pasar Ikan melalui Gajah Mada, ada yang ke Pasar Baru terus ke Ancol, dan ada yang ke Cideng. Itu dilakukan agar benteng-benteng mereka di Kota tidak kebanjiran sebagai akibat semakin tingginya air Ciliwung di kala musim hujan.
Harusnya Disyukuri dan Dimanfaatkan
Mereka juga membangun Banjir Kanal yang dimaksudkan mengalihkan sebagian air Ciliwung ke jurusan Jakarta Barat agar tidak membanjiri Menteng yang dulu menjadi tempat berburu ”tuan-tuan Belanda” itu, sekaligus sebagai tempat mereka membangun rumah-rumah gedong.
Sekarang pemerintah kita meneruskan ”rencana kuno” itu dengan membangun Banjir Kanal Timur, walau masih tersendat-sendat terbentur masalah ganti rugi.
Tokoh lingkungan hidup Prof. Emil Salim pernah mengatakan kepada penulis, sebenarnya proyek seperti itu tidak lagi pas di zaman krisis air sekarang. Adalah lebih arif katanya menahan air hujan selama mungkin di darat untuk dapat dimanfaatkan manusia yang semakin kekurangan air bersih, daripada langsung membuangnya sia-sia ke laut. Toh teknologi untuk itu sudah tersedia.
Seorang tenaga ahli ”bule” terharu saat menyaksikan hujan deras di Indonesia. Ia teringat akan beberapa negara di Afrika yang pernah didatanginya. Di sana hampir sepanjang tahun dilanda kekeringan, menyengsarakan penduduknya. Di sini, katanya, kita justru cenderung mengutuki air dan banjir kiriman, yang sebenarnya merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri, dikendalikan untuk dimanfaatkan secara maksimal demi kesejahteraan rakyat banyak.
Kembali ke masalah Ciliwung. Urbanisasi memang ikut ”bertanggung jawab”. Lapangan kerja di pedesaan makin langka, pendidikan dinomorbuntutkan sehingga mayoritas bangsa kita cenderung tidak cinta Tanah Air. Buktinya, apa saja dilemparkan ke Ciliwung. Dari mencemplungkan kotorannya sendiri, bangkai, benda-benda plastik hingga kursi, kasur dan entah apa lagi. Oh Ciliwung, nasibmu. Bantaran kali, mana ada lagi yang kosong? Sudah didaulat semua oleh kaum terpinggirkan yang kebanyakan datang dari desa karena lapangan kerja yang tidak ada.
”Emang gua pikirin?” Begitu kira-kira respons seorang ibu muda yang kedapatan baru melemparkan bungkusan plastik ke Ciliwung. Saat ditegur, ia melengos masuk ke gubuknya. Perbuatan itu memang salah. Tetapi lebih salah lagi para pengambil keputusan yang juga bersikap ”EGP” dengan membiarkan air Ciliwung hitam pekat diracuni pemilik pabrik ditambah limbah rumah tangga. Jadilah Ciliwung yang panjangnya sekitar 120 km itu sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) atau bahkan septic tank terpanjang di dunia.
Daya Dukung DAS Ciliwung
Daya dukung (sustainability) DAS Ciliwung pun sudah tiba pada kondisi kritis. Menurut Dr. Indreswari, hutan DAS dan sub-DAS Ciliwung kini tinggal antara 8 - 11%, padahal semestinya tidak boleh kurang dari 30%. Di bagian hulu Bogor, air Ciliwung masih oke. Masuk kota Bogor, kena racun limbah rumah tangga plus restoran, rumah sakit dan sebagainya. Keluar dari Bogor, sungai itu masih dapat memulihkan diri sendiri sehingga termasuk oke hingga Depok. Di Depok kembali kena limbah, tetapi masih bisa lagi secara alami memulihkan diri sendiri. Itu kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepada sungai-sungai. Tetapi mulai dari Manggarai hingga ke hilir, hitam pekat.
”Perkosaan” atas DAS Ciliwung juga berdampak hebat terhadap debit airnya. Asal tahu saja, debit tertinggi akhir-akhir ini mencapai 500 m3 per detik. Itu pada musim hujan. Tetapi pada musim kemarau, debit terendah mencapai 5 m3 per detik. Luar biasa, 100 kali lipat fluktuasinya. Ini antara lain yang menyebabkan PAM Jaya tidak ”mempercayai” Ciliwung lagi, maka sejak 1985 menyatakan ”good-bye” pada Ciliwung, lantas beralih ke Tarum Barat (Kali Malang) yang bersumber dari Waduk Jatiluhur.
Ciliwung, bagaimana pun perlu dipulihkan. Tentu tidak mungkin kembali ke aslinya seperti sebelum Belanda mengobok-obok hutan Pangrango-Gede dengan sejuta mata airnya menjadi perkebunan teh Gunung Mas dan sebagainya. Sungai Thames di London pun sebenarnya pernah mengalami kondisi seperti Ciliwung yang sekarang. Sampai-sampai gedung parlemen yang letaknya di tepi sungai itu pernah dipasangi gorden anti bau, agar wakil-wakil rakyat bisa bekerja dengan nyaman. Itu seabad yang lalu. Namun dengan sentuhan yang holistik, Thames dapat direhabilitasi, pemerintah tegas melarang warga membuang sampah ke sungai itu, termasuk juga limbah rumah tangga. Sungai itu pun jadi bersih, lantas kembali didatangi ratusan jenis biota air termasuk ikan salem yang enak itu.
Ciliwung kenapa tidak? Mesti bisa kalau ada komitmen dari para pembuat kebijakan. Alangkah indahnya kalau kita bisa kembali menyaksikan aneka jenis ikan berkembang biak di Ciliwung. Dan bagaimana nasibnya rencana pembangunan Waduk Ciawi berkapasitas 36 juta m3 itu? Waduk itu direncanakan sebagai tempat parkir agar di musim hujan tidak seluruhnya tumpah ke Ciliwung membanjiri Jakarta. Di musim kemarau, airnya dapat dikeluarkan perlahan-lahan untuk keperluan penduduk kota-kota di hilirnya. Semoga diwujudkan secepatnya.
Penulis adalah wartawan
senior. Tulisan ini menyambut Hari Air Dunia 22 Maret.
rilham2new March 29th, 2008, 01:38 PM Detik2 mengharukan Banjir masuk ke kawasan Pasar Bawah Kota Pekanbaru .... ternyata terpantau oleh Kamera CCTV no. 045 milik Dinas Perhubungan Kota Pekanbaru (Pekanbaru CCTV Project just finished in November 2007, yang pada awalnya untuk mengontrol lalu lintas dan menjaga keamanan di tempat2 umum ...ternyata bisa digunakan untuk memantau banjir ) :naughty:
Link : http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=578637&page=11
Dan seperti biasa,,, di pusat kota tidak ikutan baniir, dan kembali seperti biasa ... Rumbai Pesisir kembali banjir :( ... Soalnya ini kawasan rawa-rawa .... Kawasan ini memang ibarat delta sungai nil ....
Tapi yang tidak biasa, banjir kali ini terparah dalam 10 tahun terakhir ,... Dan menyebabkan sekolah diliburkan (di beberapa Kelurahan di kecamatan Rumbai Pesisir) ... Dan yang mengungsi hampir 1 kelurahan .... Dan beruntungnya mereka .... karena tahun 2008 ini gubernur Riau mau PILKADa ... jadi bantuan yang mengalir kencang banget ... (sering kejadian kan di Indonesia, bantuan kurang lah .... Kalau di PEkanbaru, bahkan yang gak jadi korban banjir juga dapat bantuan :nuts: ) ....
kamski May 8th, 2008, 12:55 AM http://www.strenkali.org/
Paguyuban Warga Stern Kali Surabaya
Banyak contoh2 perbaikan lingkungan tanpa harus melalui penggusuran penduduk miskin yg tinggal di pinggir kali.
paradyto May 9th, 2008, 08:01 AM http://www.sripo-online.com/upload/TOLBAND.JPG
TERJEBAK BANJIR --- Satu unit kendaraan terjebak banjir yang menggenangi Jalan Tol Sedyatmo, Jakarta, Kamis (8/5). Jalan tol akses utama menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta tersebut tergenang banjir akibat air pasang yang menjebol tanggul di sekitar jalan tol. (ANTARA/Ismar Patrizki)
VRS May 10th, 2008, 03:38 PM gila=itu terlihat air setinggi paha,koq truc itu nekat..
dia tak akan mampu tembus genangan air tsb,kec dia pakai .......
=NaNdA= May 10th, 2008, 03:39 PM snorkel..? :D
kamski May 11th, 2008, 11:04 PM snorkel..? :D
Hahahah!! Tae lo ah
BauIng May 22nd, 2008, 09:51 AM 22-05-2008
Pinjaman Bank Dunia Segera Cair
Pemerintah Provinsi DKI terus berupaya mengatasi bencana banjir yang kerap melanda Ibukota. Upaya yang dilakukan diantaranya perbaikan infrastruktur dan pengerukan 13 sungai yang mengalir ke Jakarta. Rencana Pemprov DKI untuk mengeruk 13 sungai itu sepertinya akan berjalan mulus. Sebab, pinjaman lunak dari Bank Dunia sekitar US$ 150 juta akan segera cair.
"Dalam waktu dekat, pemprov akan mendapatkan fund support (dukungan dana) sehingga bisa memulai pengerukan sungai," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, usai bertemu dengan Vincenzo La Via, Chief Financial Officer of the World Bank Group, di Balaikota, Kamis (22/5).
Mantan wakil gubernur ini memperkirakan, dana tersebut akan cair dalam tempo dua atau tiga bulan ke depan. Bila dana tersebut cair, kata Fauzi, pengerjaan pengerukan sungai langsung dilakukan. Sesuai dengan target pemprov, pengerukan 13 sungai di Jakarta dilakukan sebelum musim hujan datang setelah melalui proses tender. “Pengerukan akan lebih mudah jika dilakukan sebelum musim hujan tiba karena ketinggian air masih sedang,” ujar Fauzi Bowo.
Jika pengerukan sungai dan proyek Banjir Kanal Timur (BKT) terealisasi, pria kelahiran Jakarta 10 April 1948 itu optimis bisa meminimalisir banjir yang kerap melanda Jakarta. Bang Fauzi—sapaan akrab Fauzi Bowo—mencontohkan Kali Sunter yang belum pernah dikeruk selama 40 tahun sehingga terjadi pendangkalan menjadi prioritas untuk dikeruk. "Kali Sunter, depan Bogasari aliran airnya terhambat karena tak dikeruk 40 tahun. Jika BKT rampung, kombinasi (BKT dan pengerukan sungai-red) ini mampu meminimalisir banjir," harapnya.
Untuk mendapatkan dana segar, Pemprov DKI kerap menemui jalan berliku. Apalagi untuk pengerukan sungai di Jakarta membutuhkan dana yang sangat besar, yaitu sekitar Rp1,2 triliun. Sedangkan pemerintah pusat tidak merespon. Akhirnya, pemprov mencari sumber dana lain melalui pinjaman Bank Dunia.
Rencananya, pinjaman dari Bank Dunia dimanfaatkan untuk perbaikan sarana dan prasarana penanggulangan banjir dalam jangka waktu 2008-2012. Sedangkan pengerjaan fisik infrastruktur penanggulangan banjir akan dimulai pada tahun 2009.
Perbaikan infrastruktur meliputi perbaikan drainase, pompa air, rehabilitasi tanggul, pengerukan sungai, waduk, dan pembangunan lokasi pembuangan lumpur. Untuk pengembalian pinjaman, proporsinya 60 persen merupakan kewajiban pemerintah pusat untuk membayarnya dan 40 persen merupakan tanggung jawab Pemprov DKI.
=NaNdA= May 22nd, 2008, 11:20 AM Hahahah!! Tae lo ah
:?
BauIng May 22nd, 2008, 11:35 AM @ NaNdA, santai aja gpp.
Abis baca postingannya dia, trus baca signature nya.
ace4 May 23rd, 2008, 05:33 AM Didiamkan 34 Tahun, Sungai di Jakarta Akan Dikeruk
Kamis, 22 Mei 2008 | 15:50 WIB
Laporan wartawan Kompas Emilius Caesar Alexey
JAKARTA, KAMIS - Pemprov DKI Jakarta berencana mengeruk ke-13 sungai yang mengalir di Jakarta sebelum musim hujan tiba. Pengerukan sungai-sungai itu akan dibiayai Bank Dunia dengan dana 150 juta dollar AS.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kamis (22/5) di Jakarta Pusat, mengatakan, perundingan dengan Bank Dunia sudah mencapai tahap lanjut. Perundingan tinggal menyepakati besaran bunga dan masa pinjaman.
Pengerukan ke-13 sungai itu dibiayai oleh Bank Dunia karena pemerintah pusat tidak mau menyediakan dana Rp1,2 triliun untuk pengerukan itu. Sungai-sungai itu sudah tidak dikeruk secara total selama 34 tahun sehingga mudah meluap saat hujan deras. (ECA)
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/22/15505750/didiamkan.34.tahun.sungai.di.jakarta.akan.dikeruk.
kamski May 24th, 2008, 01:19 PM :?
Nanda, maksud saya becanda. Masa snorkeling di banjir. Kan kocak tuh, kalo kocak kan biasanya orang bilang "anjir kocak banget" atau "haha tae lo ah" dengan santai :)
=NaNdA= May 24th, 2008, 04:12 PM yah, Snorkeling yang gw maksud bukan snorkeling yang nyelem gitu, tapi alat pernafasan mobil supaya survive di Banjir dan aliran udara ga kmasukan air, seperti yang mas VRS bilang..gt loh.. :)
kaya gini nih..pipa itu namanya snorkel juga.. :D
http://farm1.static.flickr.com/84/262705808_46acce9b5a.jpg?v=0
lombok June 12th, 2008, 07:16 PM Belanda Bantu Atasi Banjir Jakarta
Kamis 12 Juni 2008, Jam: 19:17:00
JAKARTA (Pos Kota) – Pemerintah Rotterdam, Belanda, sepakat membantu Pemda DKI Jakarta mengatasi masalah banjir. Belanda akan mengirimkan tenaga ahli di bidang pengelolaan air pada akhir tahun 2008 ini.
Hal tersebut dikemukakan Gubernur H. Fauzi Bowo usai menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Kota Rotterdam, Belanda, di Balaikota Pemda DKI Jakarta, Kamis (12/6).
Kerja sama sister city Jakarta-Rotterdam akan berlanjut hingga 2010 mendatang. “Di Belanda sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Oleh karena itu Belanda memiliki pengalaman dan memang ahlinya ketika menghadapi banjir dan badai,” katanya.
BENCANA BANJIR
Fauzi berharap kedatangan ahli manajemen air dari Rotterdam bisa memberikan pendapat mengenai strategi dan kebijakan manajemen air. “Apalagi Pemda DKI Jakarta tengah menghadapi berbagai permasalahan di antaranya bencana banjir, mengingat 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut dan dikelilingi 13 sungai serta adanya penurunan permukaan tanah,” tandasnya.
Sebenarnya Jakarta dan Rotterdam telah menjalin kerja sama sejak tahun 1986. Namun kerja sama yang dijalin baru sebatas pelayanan administrasi kota dan manajemen. Kemudian selama tahun 2005-2007 dilakukan kerja sama sister city (kota kembar). ”Dalam kurun waktu itu, kerja sama sister city meliputi manajemen informasi, manajemen museum, dan konservasi wayang revolusi,” sambung Fauzi.
Dari kerja sama yang dijalin selama periode 2005-2007 itu, kata Fauzi, banyak keuntungan yang diperoleh kota Jakarta. Salah satunya mendapat rekomendasi dari para ahli Rotterdam dalam hal manajemen sistem informasi termasuk di dalamnya struktur, tugas-tugas, fungsi-fungsi dari komite sistem informasi regional.
Sony Sjklw June 13th, 2008, 09:08 AM Banjir Sulsel
MAKASSAR, KOMPAS JUMAT - Bencana banjir yang melanda wilayah Sulawesi Selatan Bagian Utara terus melebar. Setelah luapan air dari Danau Sidenreng dan Sungai Bila, di Kabupaten Sidrap, mulai menyusut, Kamis (12/6), giliran Kabupaten Luwu Utara yang dilanda banjir.
Tujuh dari 11 kecamatan di kabupaten yang terletak 400 km utara Kota Makassar tersebut, dilaporkan terendam akibat luapan Sungai Masamba, Baliase, Lampuawa, dan Rongkong. Luapan air setinggi 2-3 meter mengenangi 4.140 rumah penduduk, merendam 1.665 hektar ladang kakao, dan 466 hektar persawahan. Luapan air yang diakibatkan oleh guyuran hujan enam hari berturut-turut sejak pecan lalu tersebut membobol tanggul-tanggul yang dibangun pemerintah secara bertahap beberapa tahun terakhir.
Tim Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Pengungsi (PBP) baik tingkat kabupaten hingga ke desa telah menevakuasi ratusan warga desa yang terendam banjir. Mereka diungsikan ke desa-desa tetangga yang relativf aman dari jangkauan luapan air sungai. “Para korban juga telah diberi bantuan bahan pokok,” kata Kepala Bidang Bantuan Sosial Dinas Sosial Luwu Utara Jasrum.
Sementara itu, dari Sidrap dilaporkan, luapan air dari Danau Sidenreng dan Sungai Bila sudah mulai surut. Genangan air setinggi 2-3 meter di kecamatan Sidenreng, Dua Pitue, Panca Lautang, Tellulimpoe, dan Maritengngae, kemarin tinggal separuhnya. Namun, lebih 1.000 hektar areal persawahan di Kecamatan Dua Pitue, terendam banjir. Demikian pula di Tellulimpoe. “Tanaman padi penduduk yang berumur sebulan mulai mulai membusuk,” ujar Alfian, aktivis pemantau banjir, kemarin setelah berdialog dengan petani setempat.
Mimihitam February 1st, 2009, 09:37 AM Tahun ini, DKI Lebih Siap Hadapi Banjir
BERITAJAKARTA.COM — 16-01-2009 23:22
Banjir seakan tidak pernah lekang dari kota Jakarta. Setiap tahun bencana ini selalu menghantui warga Jakarta. Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak menyerah begitu saja. Untuk meminimalisir dampak banjir, sederet upaya penanggulangan banjir telah disiapkan. Bahkan, persiapan penanggulangan banjir tahun ini dipastikan jauh lebih lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Selain memperketat koordinasi musyawarah pimpinan daerah (Muspida) hingga ke kelurahan, Pemprov DKI juga melibatkan peran serta masyarakat. Selain itu, gladi lapang penanggulangan banjir juga telah digelar di lima wilayah, sistem early warning telah disiagakan, dan perlengkapan antisipasi banjir seperti perahu karet, logistik dan posko kesehatan juga telah siap.
Selain itu, sejak tampuk kepemimpinan Provinsi DKI Jakarta dipegang pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto, berbagai program pembangunan infrastruktur penanggulangan banjir terus dilakukan dan dipercepat. Seperti mempercepat pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT), merawat Kanal Banjir Barat (KBB), penambalan tanggul, pengerukan 13 sungai bahkan sampai mendapatkan bantuan alat pengeruk dari Belanda. Keseriusan Pemprov untuk menanggulangi banjir telah membuah hasil yang menggembirakan. Titik-titik banjir dari tahun ke tahun mulai berkurang. Data Crisis Center Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsian (CC Satkorlak PBP) DKI menyebutkan, jika tahun 2007 ada 76 titik banjir, maka tahun 2008 berkurang menjadi 41 titik.
Dengan persiapan tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, sangat yakin pada tahun ini, Pemprov DKI Jakarta lebih siap menghadapi banjir daripada tahun-tahun sebelumnya. “Persiapan Pemprov DKI, aparat dan warga lebih baik di tahun ini dibandingkan tahun lalu,” kata Fauzi Bowo saat mengunjungi Jembatan Pelangi, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (16/1). Bahkan, menurut Fauzi Bowo, saat ini warga Jakarta jauh lebih tanggap dalam menyikapi banjir, misalnya warga jauh lebih bisa memahami perkiraan waktu datangnya banjir di wilayah masing-masing. Warga sudah memahami jika terjadi hujan deras di Puncak dan peningkatan air di Pintu Air Katulampa, maka dalam waktu 9 jam air akan sampai ke Manggarai dan terjadi banjir. “Sekarang, warga sudah tahu informasi dini ini tepat pada waktunya,” tambah dia.
Kemudian, masyarakat juga telah memiliki sikap tanggap darurat yang lebih baik, misalnya lebih dini melakukan persiapan mengungsi ketika air sudah mulai menggenangi wilayahnya. Dalam persiapan itu, masyarakat juga bekerja sama dengan stakeholder sehingga tidak terburu-buru untuk mengungsi. Di tempat penampungan pun, warga juga terlihat lebih tenang tidak panik. Sebab, segala kebutuhan mulai dari persediaan makanan hingga layanan kesehatan telah disiagakan. Ditambah lagi, distribusi logistik dan layanan kesehatan juga berjalan lancar.
Kepala Dinas Kesehatan DKI, Dien Emawati, menuturkan, dalam upaya penanggulangan dampak banjir tahun ini, Dinas Kesehatan DKI telah menyiapkan posko kesehatan di 123 titik se-DKI Jakarta. Setiap posko ada tiga paramedis yang terdiri dari seorang dokter, perawat, dan paramedis. Selain itu, petugas posko kesehatan juga akan membantu memberikan rujukan jika ada warga yang membutuhkan rawat inap. Namun sejauh ini, 90 persen penyakit yang diderita masyarakat hanya penyakit batuk, pilek, dan gatal-gatal. Sedangkan 10 persen lagi adalah diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit lainnya. “Tidak ada yang parah penyakitnya. Sebagian besar penyakit musim banjir saja,” kata Dien yang turut mendampingi gubernur meninjau Jembatan Pelangi.
Kendati demikian, menurut Fauzi Bowo, upaya keras tersebut tidak akan berhasil dengan baik, jika tidak didukung dengan perubahan perilaku masyarakat dalam membuang sampah. “Sampah masalah utama penyebab banjir. Seperti kejadian di Jembatan Pelangi ini. Berarti masih banyak yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Akhirnya sampah menumpuk di sungai dan memadati saluran air,” terang Fauzi. Karenanya Fauzi mengimbau warga Jakarta mulai membudayakan membuang sampah pada tempatnya.
Hal yang senada juga diungkapkan Ketua Kelompok Keahlian Sumber Daya Air Institut Teknologi Bandung yang juga pakar perkotaan, Indratmo Soekarno. Dia menyatakan seluruh upaya yang dilakukan Pemprov DKI untuk menanggulangi banjir patut diacungi jempol. Sayangnya, upaya keras itu tidak diiringi dengan perubahan perilaku dan pola pikir warga Jakarta. Misalnya, masyarakat belum membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, warga Jakarta juga belum seluruhnya membuat lubang resapan biopori. “Semuanya itu tergantung kemauan warga Jakarta. Kalau tidak mau banjir ya jangan tergantung dari Pemprov saja dong. Tapi ubah juga perilaku dan pola pikir bahwa banjir masalah bersama,” kata Indratmo kepada beritajakarta.com, Jumat (16/1). Indratmo juga mengatakan seharusnya Pemprov Jawa Barat juga harus mendukung program yang telah dilaksanakan oleh Pemprov DKI. Salah satunya dengan melakukan reboisasi kawasan hulu dan perbaikan situ-situ yang bisa menjadi tempat parkir air sebelum ke Jakarta.
Selain itu, jika kita menengok progres pembangunan kanal banjir timur, target pembayaran tahun 2008 terdapat 544 berkas, dan yang sudah terealisasi sebanyak 391 berkas dan sisanya 153 berkas. Untuk total 315 berkas yang tanahnya bermasalah baru terealisasi 174 berkas, sisanya 141 berkas masih pendataan dan 143 berkas sudah dikirim ke Dinas Pekerjaan Umum (PU). Luas tanah yang sudah dibayarkan ada 80.490 meter persegi dengan luas bangunan 46.397 meter persegi dan anggaran sebesar Rp 149,8 miliar. Sementara untuk berkas fasos fasum terdata sebanyak 115 berkas. Dalam penanganan banjir, DKI sudah membuat saluran KBB untuk mengalihkan air agar tidak melalui Jakarta. Karena, Jakarta dilintasi 13 sungai dan memiliki 199 titik daerah rawan banjir. Volume air kiriman yang banyak tentu dapat memperbesar potensi banjir di daerah rawan banjir. Antisipasi dini yang dilakukan pemerintah selain penanggulangan bencana juga difokuskan terhadap perbaikan dan pembersihan drainase.
Kemudian untuk mengangkat lumpur yang menyebabkan pendangkalan di Kali Mati dan Kali Pademangan, Jakarta Utara, dua alat keruk yang didatangkan dari Belanda sudah dioperasikan sejak 21 November 2008. Proyek pengerukan yang disebut Pilot Dredging Project itu dianggarkan dalam APBD 2008 sebesar Rp 1,5 miliar.
Lalu dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No 54 tahun 2008 tentang Tata Ruang Jabodetabekpunjur, maka rencana reklamasi pantai utara (pantura) Jakarta dilanjutkan kembali. Ditargetkan, seluruh kajian ulang masterplan reklamasi Pantura rampung tahun ini. Jika seluruh masterplan telah rampung, maka reklamasi Pantura bisa dilakukan 2010. Dalam rancangannya, Pantura Jakarta yang terbentang sepanjang 32 kilometer, akan direklamasi dengan mengambil lebar dari bibir pantai ke arah laut sejauh 1,5 Km dan kedalaman maksimal delapan meter. Artinya, seluruh luas reklamasi akan menghabiskan lahan 2.500 hektar. Di atas lahan reklamasi, selain untuk pembangunan kegiatan industri, juga untuk fasilitas kegiatan pariwisata, perkantoran, pusat bisnis, sarana transportasi, dan perumahan penduduk untuk 750. 000 jiwa. Kawasan ini meliputi Kabupaten Bekasi di Timur hingga Kabupaten Tangerang di sebelah barat.
Kemudian upaya lain yang tengah dilakukan adalah pengerukan sungai, pembangunan polder, normalisasi sungai, waduk dan reboisasi di hulu, sumur resapan, lubang biopori serta program green dan clean. Pemprov pun telah menyiapkan dana cukup besar untuk penanggulangan banjir ini, antara lain untuk kebutuhan anggaran pembangunan 17 polder Rp 4,1 triliun, kebutuhan anggaran normalisasi saluran sub makro yaitu 19 kali sebesar Rp 2,6 triliun dan kebutuhan anggaran normalisasi saluran makro Rp 13,5 triliun. Anggaran normalisasi saluran antara lain terdiri atas KBB Rp 613 miliar, KBT Rp 3,45 triliun dan selebihnya untuk pengerukan 13 sungai serta dua drainase.
Reporter: lenn
http://beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=32142
Venantio February 2nd, 2009, 02:42 PM Hahahah!! Tae lo ah
Bad Word!!!
No bad word guys...!! Walaupun cuma bercanda...
oweeyman February 2nd, 2009, 03:29 PM sedia boot sebelum banjir:D:D:D:D
http://www.radishworks.com/ModelLib/images/Ap03RubberBoots.jpg
zxczx86 October 15th, 2009, 04:18 PM I'm not sure if this has been posted before, but you should look at this:
http://www.youtube.com/watch?v=f1iAA0uIpBs
http://www.youtube.com/watch?v=v8tT8araw4Y
there are info abt kemang village too
VRS October 16th, 2009, 02:29 AM yah, Snorkeling yang gw maksud bukan snorkeling yang nyelem gitu, tapi alat pernafasan mobil supaya survive di Banjir dan aliran udara ga kmasukan air, seperti yang mas VRS bilang..gt loh.. :)
kaya gini nih..pipa itu namanya snorkel juga.. :D
http://farm1.static.flickr.com/84/262705808_46acce9b5a.jpg?v=0
Ferrari & Lamborgini jg bisa memakai snorkel utk mengatasi banjir di jakarta..??
bonekNET November 6th, 2009, 09:16 PM local government have to be aware that high tide caused by moon can also trigger the flood. It means they have to make well collaboration with BMKG and LAPAN and anyother research institution.
Ocean One November 19th, 2009, 08:17 AM Hadapi Banjir, Jakarta Siapkan Rp 790 Miliar
KAMIS, 19 NOVEMBER 2009
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta siap mengamankan wilayahnya dari ancaman banjir. Pemprov Jakarta telah menyiapkan dana hampir Rp 1 triliun untuk mengantisipasi kerugian akibat air bah.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Muhayat seusai membina apel siaga dalam rangka antisipasi banjir di Monumen Nasional, Kamis (19/11) pagi.
Dalam pidatonya, Muhayat menekankan agar semua perangkat daerah siap mengantisipasi kemacetan lalu lintas akibat hujan di jalan-jalan utama. Muhayat mengharapkan, kemacetan parah seperti yang terjadi pada Jumat minggu lalu tidak terjadi lagi.
"Jangan sampai pada saat hujan, lampu-lampu lalu lintas mati, tidak ada petugas di perempatan-perempatan," kata Muhayat di depan ratusan pasukan dari kepolisian, satuan polisi pamong praja, camat, lurah, dan wali kota di lima wilayah di Jakarta.
Kepada wartawan, Muhayat mengatakan bahwa pemprov telah menyiapkan dana Rp 790 miliar untuk penanganan banjir tahun ini. Jumlah itu berasal dari dana cadangan APBD sebesar Rp 650 miliar dan dana tak terduga sebesar Rp 140 miliar.
"Dana ini digunakan jika sewaktu-waktu diperlukan. Dana utama tergantung dari masing-masing SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang besarnya bervariasi," kata Muhayat.
Selain menyoroti kemacetan akibat hujan, Muhayat juga meminta para wali kota untuk mengevaluasi kembali tempat-tempat evakuasi banjir bagi para korban banjir. Jika kondisinya tidak layak, tempat-tempat tersebut harus segera dipindahkan.
Ocean One November 19th, 2009, 08:18 AM WASPADA BANJIR
Puncak Banjir Jakarta Bulan Januari 2010
KAMIS, 19 NOVEMBER 2009
JAKARTA, KOMPAS.com — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia memprediksi bencana banjir di Jakarta akan datang lebih cepat, yaitu Januari 2010. Dengan kondisi Proyek Banjir Kanal Timur yang belum selesai, buruknya saluran drainase, masalah kerusakan di 13 aliran sungai, dan musim hujan yang mencapai puncaknya pada bulan itu, banjir diperkirakan lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
”Banjir diperkirakan makin besar karena berbarengan dengan datangnya banjir air pasang laut atau rob. Banjir terus terjadi karena negara salah urus dalam mengelola sumber daya dan penataan ruang,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Ubaidillah, Rabu (18/11).
Walhi secara spesifik mengkritik kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di bawah kepemimpinan Fauzi Bowo, tidak juga ada kebijakan yang mampu mempercepat akselerasi program penanggulangan banjir.
Banjir kian menghantui warga Jakarta, setelah Fauzi Bowo sendiri, Selasa, mengingatkan warga yang tinggal di dekat Kali Pesanggrahan agar waspada.
Dengan banyak fakta yang mengkhawatirkan itu, Walhi mendesak pemerintah bertindak cepat dan tepat. Walhi juga meminta masyarakat Jakarta kembali bersiap menghadapi banjir.
Secara terpisah, Pemerintah Kota Jakarta Timur mengimbau pelaksana Proyek BKT menjaga kebersihan jalan yang dilewati truk-truk proyek yang mengangkut tanah galian. ”Saya sudah menerima banyak keluhan warga tentang tanah yang berceceran di jalan itu,” ujarnya.
rizalhakim November 19th, 2009, 08:20 AM Jakarta predicted to sink in 2030
Flood disaster hit a part of Jakarta. (ANTARA)Jakarta (ANTARA News) - Executive Director of the Indonesian Environmental Forum (Wahli) Ubaidillah has predicted that Jakarta will sink in 2030.
"If the Jakarta city government does not take anticipatory steps, the prediction can really become true," Ubaidillah said here on Wednesday.
He said Jakarta`s open green spaces now continued to be reduced. Of the 661.52 sq kilometers of space, now only about 9.6 percent had remained.
"The remainder has been transformed into building sites," Ubaidillah said adding that after all some of the land surface in Jakarta had subsided as a result of floods and water inundations.
He said that, in fact, some of Jakarta`s land surface had always been lower than the sea surface.
Therefore, he said, the government should take into account the construction of building structures which were not complemented with ecological balance studies.
"If all this is not handled properly, Jakarta will really sink," he said.
http://www.antaranews.com/en/news/1258562549/jakarta-predicted-to-sink-in-2030
..
Ocean One November 21st, 2009, 03:21 PM 78 Wilayah Banjir Akibat 'Kutukan' 13 Sungai
Jumat, 20 November 2009
Banjir di Cengkareng, Jakarta Barat
VIVAnews - Data Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane mencatat terdapat sekitar 78 daerah rawan genangan di wilayah DKI Jakarta saat musim penghujan tiba.
Daerah rawan banjir ini merupakan lokasi yang dilintasi 13 sungai yang bermuara di Jakarta. Jumlah tersebut berdasarkan data saat terjadi banjir besar pada tahun 2007. Pada tahun ini jumlahnya diperkirakan akan bertambah lagi.
Wilayah tersebut yaitu:
1. Kapuk Kamal Muara.
2. Kapuk Kamal.
3. Tegal Alur.
4. Kapuk Muara Teluk Gong.
5. Kapuk Kedaung.
6. Cengkareng.
7. Rawa Buaya.
8. Kembangan, Green Garden.
9. Pesing.
10. Kompleks IKPN Bintaro.
11. Pondok Pinang.
12. Cireunde.
13. Pluit.
14. Kerendang Duri Utara.
15. Tomang Rawa Kepa.
16. Jati Pulo.
17. Jati Pinggir.
18. Teluk Betung; Kb Kacang, Budaran HI.
19. Pejompongan
20. Kebalen Mampang Prapatan.
21. Petogogan.
22. Pondok Karya.
23. Darma Jaya.
24. Pulo Raya.
25. Setia Budi Barat.
26. Pinangsia.
27. Mangga Besar.
28. Mangga Dua.
29. Karang Anyar.
30. Pademangan Barat.
31. Pademangan Timur.
32. Kali Pasir, Kwitang.
33. Matraman Dalam.
34. Bukit Duri; Kb Baru, Bidara Cina, Kampung Melayu.
35. Pengadengan; Gg Arus, Rawa Jati, Kalibata.
36. Sunter Agung.
37. Sunter Jaya.
38. Serdang.
39. Cempaka Putih.
40. Lagoa.
41. Kebon Bawang.
42. Warakas.
43. Sungai Bambu.
44. Papanggo.
45. Yoes Sudarso.
46. Sunter Timur.
47. Ami, Asmi, Perintis.
48. Pulo Mas.
49. Pulo Nangka.
50. Rawa Badak; Tugu, Lagoa.
51. Tugu Utara.
52. Perum Walokota Jakut.
53. Kelapa Gading.
54. Rawa Bunga.
55. Cipinang Jaya.
56. Cipinang Indah; Cipinang Muara, Cipinang Melayu.
57. Kebon Nanas.
58. Halim.
59. Kramat Jati.
60. Kampung Rambutan, Ciracas, Cibiur.
61. Tanjung Duren.
62. Sukam Bumi Utara.
63. Kelapa Dua Kebon Jeruk.
64. Grogol.
65. Jelambar.
66. Duri Kosambi.
67. Meruya.
68. Kapuk Kamal Sediyatmo.
69. Gunung Sahari.
70. Dewa Ruci, Dewa Kembar.
71. Yon Aang Mor / Semper.
72. Rorotan, Babek ABRI
73. Ujung Menteng.
74. Malaka Selatan, Pondok Kelapa.
75. Buluh Perindu, Tegal Amba.
76. Cipulir, Cileduk Raya.
77. Tegal Parang.
78. Duri Kepa.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane, Pitoyo Subandrio, berharap warga Jakarta yang tinggal di sekitar aliran sungai selalu waspada.
"Warga harus hati-hati. 13 sungai semuanya berbahaya, tidak ada yang bisa dibilang aman," ujar Pitoyo.
Ocean One November 25th, 2009, 06:32 PM Katulampa Siaga Empat, Jakarta Siap-siap Terima Banjir Kiriman
Rabu, 25 November 2009
http://image.tempointeraktif.com/?id=21768
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pintu Air Katulampa, Bogor dalam status siaga empat. Hujan semalaman di wilayah Bogor menyebabkan ketinggian pintu air naik dari 60 centimeter menjadi 90 centimeter pada pukul 09.00 WIB. Ketinggian air ini sudah di atas ambang normal, yaitu 80 cm. Namun, sekitar satu jam kemudian ketinggian air sudah turun menjadi 80 cm karena air mengalir turun ke Depok dan Jakarta.
Di Pintu Air Katulampa, petugas memantau ketinggian air dari aliran Sungai Ciliwung. Jika ketinggian berada di atas normal, kemungkinan besar Ciliwung akan meluap dan menggenangi daerah-daerah bantaran sungai di hulu, yaitu Jakarta. Daerah yang rawan terkena banjir karena luapan Ciliwung biasanya adalah kawasan Gang Arus dan Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur dan Bukit Duri, Jakarta Selatan.
Ketinggian air di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan masih normal, yaitu 700 cm. "Tapi siap-siap menerima kiriman air dari Bogor soalnya di Katulampa sudah naik," kata Muhammad Ibnu, petugas pemantau Pintu Air Manggarai, Rabu (25/11). Menurut dia, air dari Bogor diperkirakan akan mencapai Jakarta dalam waktu 10 jam. Namun ia tak bisa memperkirakan berapa besar air yang akan sampai ke Manggarai.
Ocean One November 26th, 2009, 06:10 PM PMI Jakarta Siapkan Enam Ribu Lebih Relawan Siaga Banjir
Kamis, 26 November 2009
TEMPO Interaktif, Jakarta -Palang Merah Indonesia Daerah Khusus Ibukota Jakarta telah menyiapkan ribuan tenaga relawan siaga banjir untuk menghadapi musim penghujan yang mulai melanda.
Menurut data Posko PMI Jakarta, Kamis (26/11), terdapat 6.838 orang relawan Tenaga Sukarela ditambah sekitar 300 orang anggota Siaga Bencana Berbasis Masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.
Selain itu, Posko PMI Jakarta juga mencatat terdapatnya 793 relawan Korps Sukarela dan 255 anggota Satuan Penanggulangan Bencana.
PMI menargetkan 8.186 orang relawan yang siaga membantu masyarakat menanggulangi banjir, yang kerap "menghantui" warga ibukota setiap musim hujan.
Menurut Sekretaris Pengurus PMI Jakarta, Irwan Hidayat jumlah tersebut memang merupakan kapasitas yang terdapat se-Jakarta, dan penugasan mereka dalam hal tanggap darurat banjir diserahkan pada kebijakan masing-masing wilayah di Jakarta.
Posko PMI Jakarta juga mendata beberapa titik lokasi banjir di Jakarta yang harus menjadi perhatian, yaitu wilayah Bukit Duri (Jakarta Selatan), Kampung Melayu (Jakarta Timur), Rawa Buaya (Jakarta Barat), dan Muara Baru (Jakarta Utara).
Di setiap wilayah Jakarta, PMI telah mempersiapkan anggota siaga banjir untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang upaya pengurangan risiko bencana (mitigasi) kepada warga di lingkungannya, termasuk jalur evakuasi saat banjir.
Khusus untuk anggota siaga di wilayah Kepulauan Seribu, terutama di Pulau Pramuka, Pulau Harapan, dan Pulau Untung Jawa, mereka siap siaga menanggulangi serangan gelombang besar, air pasang, dan angin besar dari laut.
Selain menyiagakan personil, PMI juga telah mempersiapkan perlengkapan pendukung penanggulangan bencana banjir.
Sejumlah fasilitas yang disiapkan adalah 23 unit perahu karet, sembilan unit pompa air untuk memproduksi air bersih di lokasi yang terkena banjir, dan 16 genset.
Perlengkapan PMI tersebut juga didukung dengan delapan unit ambulans, 12 unit layanan dapur umum, 53 tenda peleton, 16 kendaraan operasional, dan enam unit mobil pikap yang disiagakan dalam penanggulangan banjir.
Ocean One November 26th, 2009, 06:33 PM Ini Dia Titik Genangan Air di DKI
KAMIS, 26 NOVEMBER 2009
http://www.kompas.com/data/photo/2008/02/01/131735p.jpg
Genangan air akibat hujan deras menyebabkan beberapa kendaraan mogok.
JAKARTA, KOMPAS.com — Hujan dengan intensitas ringan yang mengguyur Ibu Kota sejak semalam menimbulkan genangan air di beberapa lokasi. Akibatnya, kemacetan pun terjadi karena kendaraan harus mengurangi kecepatan saat melintasi genangan tersebut. Namun, belum ada laporan mengenai kendaraan yang mogok akibat genangan tersebut.
Berdasarkan data dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, tercatat ada tiga titik genangan air di Jakarta. Lokasi genangan air tersebut adalah di wilayah Jakarta Timur Kawasan Industri Pulogadung dengan ketinggian air mencapai 25 sentimeter.
Di wilayah Jakarta Selatan, yaitu di Jalan Pangeran Antasari (tikungan Sajam) dengan ketinggian air mencapai 20 sentimeter, dan terowongan Fatmawati dengan ketinggian air 30 sentimeter.
"Hingga saat ini, baru dilaporkan genangan air di tiga titik tersebut. Namun, kami masih memantau lokasi lain yang mengalami genangan air," kata Bripda Indra, petugas operator TMC Polda Metro Jaya, Kamis (26/11).
Selain dari pantauan TMC, masyarakat yang mengetahui adanya genangan air juga diimbau agar menginformasikan ke TMC Polda Metro Jaya. "Bagi pengguna jalan yang mengetahui adanya genangan air, harap menginformasikan melalui pesan singkat ke 1717 atau telepon ke 021-5276001," kata Indra.
Ocean One December 5th, 2009, 11:37 AM Warga Jakarta Diminta Waspadai Angin Kencang dan Banjir
Sabtu, 05 Desember 2009
http://image.tempointeraktif.com/?id=22268
TEMPO Interaktif, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta warga Jakarta mewaspadai angin kencang, hujan deras, dan banjir mulai hari ini (5/12) hingga sepekan ke depan.
"Dua hari ini hujan agak telaten. Intensitas sedang dengan durasi tiga hingga enam jam," kata Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG, Mulyono Prabowo, melalui telepon.
Pada hari Senin hujan diperkirakan sedikit mereda dibanding Sabtu dan Minggu. "Namun Selasa kemungkinan membesar lagi," ujar dia.
Menurut Mulyono, hujan memang turun lebih deras disertai petir dengan durasi lebih panjang dari pekan-pekan sebelumnya. Ia juga meminta agar warga mewaspadai genangan air dan banjir yang bakal lebih parah dari sebelumnya. "Hari-hari ini habis bulan purnama, air laut sedang pasang," katanya.
Karena air laut pasang, maka air hujan yang biasanya menggalir ke laut, bisa menggenang lebih lama karena terhalang untuk masuk ke sana. "Air laut pasang jadi genangan lebih lama dan lebih tinggi dari biasa," ujar dia.
Sejumlah wilayah di pesisir Jakarta Utara sudah terkena banjir rob sejak dua hari lalu. Kawasan yang menjadi langganan rob misalnya di RW 17, Muara Baru, Penjaringan. Menurut Yatno, warga RT 20/RW 17, ketinggian air di RT 15 hingga RT 21 di RW 17 berkisar 30 hingga 50 sentimeter. "Sudah tiga hari belum surut," katanya.
Selain hujan deras, menurut Mulyono, masyarakat juga mesti mewaspadai angin kencang. "Kalau pagi cerah, matahari bersinar terik, hati-hati dengan angin kencang pada sore hari," ujarnya.
Kecepatan angin diperkirakan bisa mencapai 10 hingga 15 knot atau 20 hingga 30 kilometer per jam. Kecepatan angin seperti ini sudah sanggup untuk mematahkan dahan-dahan pohon dan menumbangkan pohon yang berakar rapuh.
Ocean One December 7th, 2009, 06:23 PM Depok Siaga IV
Senin, 7 Desember 2009
BOGOR, KOMPAS.com — Hujan lebat sekitar satu jam di Kota Bogor, Senin (7/12) sore, membuat ketinggian air di Pintu Air Depok mencapai 170 cm, atau menjadi Siaga IV untuk kemungkinan banjir di hilir (Jakarta). "Di Depok Siaga IV sejak satu jam lalu, karena ketinggian air mencapai 170 cm. Normalnya di sana 150 cm," kata Andi Sudirmal, penjaga Bendung Ciliwung Katulampa (BCK), yang juga memonitor perkembangan ketinggian air di Pintu Air Depok sekitar pukul 21.00.
"Untuk ketinggian air di BCK, tetap di bawah normal, yakni 40 cm. Ketinggian segitu sudah bertahan sejak Minggu pagi. Di hulu Ciliwung, hujan hanya gerimis. Itu juga enggak lama. Jadi, enggak usah heran. Normalnya kan 50 cm," kata Andir.
Di Kota Bogor sendiri, yang siang harinya panas, mulai mendung sekitar pukul 14.00. Hujan turun deras sekitar pukul 16.00 dibarengi halilintar yang menggelegar. "Kami mah pasrah. Kalau hujan dan geledek begini, kita banyakin doa saja. Mudah-mudahan enggak ada yang celaka kesambar petir," kata Junadi (23), warga Sukaraja, Bogor, yang sedang berteduh di emperan toko di Jambu Dua.
Ocean One December 7th, 2009, 06:25 PM Banjir Bandang Meningkat karena Gempa Bumi
Senin, 7 Desember 2009
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Banjir bandang diperkirakan akan makin sering terjadi dalam 5-10 tahun mendatang. Potensi banjir bandang ini meningkat seiring dengan meningkatnya potensi terjadinya gempa bumi di Indonesia.
Peneliti Banjir dan Daerah Aliran Sungai dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Maryono di Yogyakarta, Senin (7/12), mengatakan, penelitian menunjukkan bahwa gempa bumi hampir selalu diikuti oleh banjir bandang. "Di Yogyakarta, banjir bandang di Sungai Code terjadi setelah gempa, begitu pula di Aceh. Banjir bandang setelah gempa bumi bisa dirunut hingga kejadian tahun 1918," ujarnya.
Hal ini terjadi karena gempa bumi membuat tebing sungai menjadi rentan longsor. Ciri khas banjir bandang karena gempa bumi adalah banjir berupa lumpur dan mengandung banyak serpihan kayu.
Lebih lanjut, Agus yang baru saja mendapat penghargaan dari Departemen Pekerjaan Umum sebagai penulis artikel terbaik bidang PU tahun 2009 itu mengatakan, paradigma pencegahan banjir dengan pembangunan talut alias penahan banjir di bagian hilir harus diubah menjadi pencegahan banjir dengan pengelolaan dan penyerapan air di bagian hulu sungai.
Pembangunan talut seharusnya dihentikan karena hanya membuat air dialirkan dan dibuang percuma. Padahal, kebutuhan air saat ini semakin meningkat. Pembangunan talut juga berpotensi mengakibatkan banjir dengan intensitas lebih besar karena pembangunan talut membuat perumahan semakin turun ke bantaran. Akibatnya, potensi sungai meluap semakin besar.
"Pembangunan talut akan juga mematikan ekosistem pinggir sungai yang kaya dengan berbagai organisme unik," katanya.
Menurutnya, pencegahan banjir seharusnya difokuskan pada daerah pedesaan di bagian hulu sungai. Hal ini bisa dilakukan dengan memperbanyak daerah tangkapan air, yaitu dengan konservasi lahan pertanian dan perkebunan, membangun lumbung desa, tanggul pekarangan, dan sumur resapan di daerah pedesaan yang terdapat di hulu sungai. Langkah ini juga perlu dilakukan masyarakat di daerah perkotaan untuk mencegah krisis air bersih.
Rock Star December 10th, 2009, 10:21 AM http://i891.photobucket.com/albums/ac111/bintangrock/banjir.jpg
BUTUH DRAINASE: Para pengendara sepeda motor dan mobil menghindari genangan air di Jl Panjang, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu. Pemkot DKI akan membuat drainase bawah tanah untuk menghindari banjir yang sudah melanda hingga tengah kota. (photo/mediaindonesia)
sayaka February 14th, 2010, 11:13 AM Arus Air Jadi Tanda Ciliwung akan Banjir
detikcom - 14 Februari 2010
http://d.yimg.com/hb/xp/dtik/20100214/16/2820068150-arus-air-jadi-tanda-ciliwung-akan-banjir.jpg?x=200&y=200&sig=VIUWNPG7uj92AbYD3tB.AA--
Warga bantaran Ciliwung paham betul ancaman banjir selalu mengintai mereka. Salah satu tanda datangnya banjir adalah arus sungai yang lebih deras dari biasanya.
"Kalau arusnya deras bisanya akan terjadi banjir," kata seorang warga bantaran Sungai Ciliwung yang ditemui detikcom di sela-sela menyusuri Sungai itu, Minggu (14/2/2010).
Saat kondisi normal aliran sungai yang bermuara di Laut Jawa itu arusnya tidak deras. Karena itu warga masih berani beraktifitas di bantaran sungai seperti mencuci pakaian, perabotan, bahkan untuk mandi sekalipun. Air sungai yang kecoklatan dan sampah yang terbawa air tidak mereka hiraukan selama arus tidak deras.
Namun jika arus mulai deras, itu tandanya banjir akan segera tiba. Warga pun biasanya sudah paham dengan tanda alam ini dan langsung mengungsi.
Derasnya aliran sungai itu disebabkan banjir kiriman dari Bogor yang mengalir melalui sungai itu. Banjir kiriman itu biasanya disebabkan hujan deras di Bogor.
Jumat, 12 Februari, lalu warga benar-benar melihat tanda itu. Malam hari aliran sungai lebih deras daripada biasanya. Dan benar saja, Sabtu, 14 Februari, sungai meluap hingga 1 meter.
Saat ini banjir sudah surut dan warga mulai membersihkan rumahnya. Namun aliran Sungai Ciliwung masih terlihat deras. Artinya, warga masih harus waspada ancaman banjir.
Mimihitam February 14th, 2010, 04:21 PM Ciliwung Normal, tapi Warga Diminta Waspada
JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Jakarta yang tinggal di kawasan rawan banjir, terutama di sepanjang bantaran kali Ciliwung, diimbau untuk tetap waspada. Meski sejak Minggu (14/2/2010) pagi ini debit ketinggian air Ciliwung sudah normal kembali, tidak menutup kemungkinan air kembali meluap.
"Sampai saat ini, mulai dari Katulampa sampai laut, normal. Tapi harus tetap waspada karena ini tergantung cuaca," kata Direktur Tanggap Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Slamet Sugiono kepada Kompas.com.
Ia mengatakan, kewaspadaan masih perlu dilakukan setidaknya hingga akhir Februari. Cuaca diperkirakan masih akan sering hujan. "Ini masih akan sering hujan. BMKG mengatakan, setidaknya masih akan hujan hingga akhir Februari," ucapnya.
Sebelumnya, sejak pagi hingga siang tadi, BNPB melalui Tim Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana bersama Tagana, Basarnas, dan TNI AD melakukan pengawasan sungai Ciliwung sekaligus latihan gabungan penanggulangan bencana banjir. Kompas.com ikut bersama tim melakukan penyusuran dari Bukit Duri hingga Pintu Air Manggarai.
Pantauan di sepanjang Bukit Duri hingga Manggarai menunjukkan ketinggian air di Ciliwung memang relatif normal. Slamet berharap kondisi ini akan tetap normal dan terjaga. "Mudah-mudahan terkendali. Mudah-mudahan hujan tidak terlalu besar," tuntasnya.
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/14/13073870/Ciliwung.Normal..tapi.Warga.Diminta.Waspada
sayaka February 16th, 2010, 03:52 AM Banjir-Longsor Landa Karawang
Kompas - 16 Februari 2010
http://d.yimg.com/hb/xp/kmps/20100216/09/3720521488-banjir-longsor-landa-karawang.jpg?x=360&y=218&sig=aNlS7Hv2RocLwUyddDbHjA—
KARAWANG, KOMPAS.com — Longsor dan banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Senin (15/2/2010) malam. Peristiwa ini mengakibatkan dua rumah rusak parah, sekitar 300 meter jalan ambles, dan sekitar 500 meter jalan tergenang air.
Peristiwa longsor dan banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur daerah itu sejak Senin sore hingga malam. Hal ini mengakibatkan Sungai Cibeet yang berada di dua daerah itu meluap hingga masuk ke permukiman warga dan memutus beberapa titik akses jalan raya di Desa Taman Mekar, Kecamatan Pangkalan.
Sementara itu, longsor yang terjadi di Desa Cintalanggeng dan Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, mengakibatkan dua rumah rusak parah, puluhan rumah retak-retak, dan jalan sepanjang sekitar 300 meter ambles. Akibatnya, masyarakat yang berada di dua desa itu mengungsi ke tempat yang disediakan aparat kecamatan setempat.
"Kami sudah mengimbau masyarakat agar segera mengungsi ke tempat aman setelah terjadi longsor karena, jika turun hujan lagi, maka dikhawatirkan akan terjadi longsor susulan," kata Camat Tegalwaru Asep Wahyu Suherman di Karawang, Selasa dini hari.
Dia mengatakan, lokasi yang disediakan sebagai tempat pengungsian adalah masing-masing kantor desa dan beberapa ruangan sekolah yang dinilai aman dari longsor.
Imbauan agar warga setempat segera mengungsi itu untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan karena, jika pada Senin malam turun hujan, maka longsor kemungkinan besar bisa terjadi.
Sementara itu, warga setempat yang menjadi korban longsor, Idris (34), mengaku, bahwa kejadian longsor cukup mengerikan karena banyak batu-batu ukuran besar yang berjatuhan dari atas Gunung Sanggabuana yang berdekatan dengan Desa Cintalanggeng ke arah pemukiman warga.
"Tiba-tiba bebatuan jatuh dari atas gunung setelah turun hujan deras. Saya seperti dikejar-kejar batu yang bergelinding disertai dengan lumpur. Jadi, saya dan keluarga tidak sempat menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumah," katanya.
Sementara itu, warga Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang, Komar (28), mengaku, setelah hujan deras yang berlangsung cukup lama, sejak Senin sore hingga malam, tiba-tiba air dari sungai Cibeet naik ke jalan raya, kemudian masuk ke rumah.
"Air sungai yang meluap ke jalan raya hingga masuk ke rumah itu cukup deras sehingga menghanyutkan sejumlah barang yang ada di dalam rumah. Bahkan, ada salah seorang warga yang traktornya terbawa arus luapan air sungai itu," katanya.
sayaka February 16th, 2010, 04:00 AM Kerusakan DAS Penyebab Banjir
Kompas - 16 Februari 2010
CILACAP, KOMPAS.com - Banjir yang merendam 2.554 rumah di Sidareja, Cilacap, salah satunya disebabkan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), saluran air, infrastruktur pengendali banjir dan irigasi di wilayah tersebut. Pemerintah didesak segera menormalisasi aliran-aliran sungai di sekitar Sidareja, dan memperbaiki kembali infrastruktur yang ada.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap, Dangir Mulyadi mengatakan, ada sekitar lima anak sungai Ciberem yang mengalir di daerah ini yang sekarang mengalami pendangkalan, dipenuhi enceng gondok, dan tanggulnya rusak.
Selain itu, lanjut dia, beberapa pintu air juga rusak akibat akumulasi pendangkalan oleh lumpur yang terus menerus tiap tahun. Kondisi tersebut memperparah potensi banjir wilayah ini yang memang dikenal mudah tergenang saat hujan tiba.
"Sidareja itu memang daerah genangan. Ketinggiannya hanya setengah meter dari permukaan laut. Banyak anak sungai yang mengalir. Kalau anak-anak sungainya itu rusak dan kian dangkal, serta pintu air tak berfungsi, jelas akan mudah terjadi banjir," kata dia.
Banjir di Sidareja nyaris selalu berulang tiap tahun. Banjir terbesar sebelum hari Minggu lalu pernah terjadi pada tahun 1950, 1973, 2000, dan 2005. Ironisnya, fenomena banjir itu tak membangkitkan kesadaran pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur pengendalian b anjir. Sarana yang ada dibiarkan begitu saja.
"Kami akan merekomendasikan masalah anak-anak sungai ini ke Dinas Pekerjaan Umum atau pun Balai Besar Serayu-Citanduy agar segera dilakukan normalisasi," tandas Dangir.
sbyctzn February 17th, 2010, 02:20 PM mending judul threadnya diganti "BANJIR JAKARTA" aja...
hehehehehehe :lol::lol::lol::lol:
sory bercanda!!!!:nuts::nuts::nuts::nuts:
sayaka February 18th, 2010, 02:23 AM Banjir Mulai Genangi Kampung Pulo
detikcom - 18 Februari 2010
http://d.yimg.com/hb/xp/dtik/20100217/21/2441959958-banjir-mulai-genangi-kampung-pulo.jpg?x=214&y=200&sig=LTzWCIXPYHI1qoQrctzKlQ—
Banjir kiriman dari Bogor telah menggenangi rumah warga di Kampung Pulo, Jakarta Timur. Warga pun mulai mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
"Air semakin naik, sudah banyak laporan dari warga dan sudah banyak yang mulai mengungsi," ujar petugas penjaga Pintu Air Manggarai, Dian, saat dihubungi detikcom, Kamis (18/2/2010).
Di pintu air Manggarai sendiri saat ini ketinggian air sudah mencapai 750 cm, namun ketinggian tersebut dipastikan akan terus meningkat. "Kemungkinan akan terus meningkat tapi tidak akan lebih dari 850 cm," tambah Dian.
Laporan yang diterima petugas pintu air Manggarai, daerah seperti Kampung Melayu, Bidara Cina dan Rawajati, air sudah mulai masuk ke rumah warga.
"Air mulai naik pukul 03.30 WIB tadi dan terus bertambah tinggi," pungkas Dian.
sayaka February 18th, 2010, 04:31 AM Banjir di Bandung Meluas
17 February 2010 | 19:32
Warga melintas di depan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Desa Mekarsari, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/2/2010). Banjir yang terjadi di Bandung Selatan ini semakin tak terbendung lagi dan puluhan perkampungan penduduk terisolir karena banjir. Beberapa ruas jalan raya pun putus karena tingginya genangan air. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
http://static.ki.kidsklik.com/image/preview/mpphoto30918_20102-17-72704p.JPG
http://static.ki.kidsklik.com/image/preview/mpphoto30921_20102-17-72701p.JPG
Mimihitam February 19th, 2010, 12:57 PM Foke Kunjungi Korban Banjir Jakarta
Kamis, 18 February 2010 19:41 WIB
Jakarta, (tvOne)
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengunjungi korban banjir yang berada di Kelurahan Bidara Cina dan ex Bioskop Nusantara, Jakarta Timur, Kamis (18/2) sore. Di RW 11 Kelurahan Bidara Cina, Fauzi mengunjungi warga yang rumahnya terendam dengan menggunakan perahu kecil.
Fauzi mengatakan, ia merasa gembira warga setempat telah bisa mengembangkan "early warning system" atau sistem peringatan dini banjir. Sehingga bisa bersiap-siap menghadapi banjir tersebut. "Jadi begitu pintu air di Katulampa sudah di ketinggian berapa, warga sudah bisa ngasih tahu sendiri," katanya.
Di RW 11, sebanyak 220 orang mengungsi berada di tiga tempat yaitu di Majelis Taklim setempat, Karang Taruna dan SD 05 Bidara Cina. Wakil Lurah Bidara Cina, Ria Kristina mengatakan, air mulai menggenangi kawasan tersebut sejak pukul 03.00 WIB dan sempat mengalami surut. Namun dikhawatirkan, akan kembali mengalami kenaikan karena di Bogor kembali terjadi hujan.
Sementara itu, Gubernur mengatakan, untuk mengurangi banjir di masa yang akan datang, aliran kali Ciliwung dan bekas alur Ciliwung lama akan dikeruk dan untuk rencana kedepannya akan disodet ke Kali Cipinang. "Ada rencana, tapi ini masih harus didalami lagi, bahwa bekas alur sungai Ciliwung ini akan tembus ke Kali Cipinang. Hingga kalau alur sungai itu volumenya tinggi, kita bisa alihkan melalui jalur ini dan sungai Cipinang, kemudian masuk ke BKT (Banjir Kanal Timur)," kata Fauzi.
Selain itu, warga yang tinggal di alur basah kali juga akan dipindahkan sehingga dapat dilakukan normalisasi yang akan menambah volume air yang bisa ditampung. "Untuk mereka yang tinggal di badan kali, alur basahnya kali, tidak ada pilihan lain lagi, kita harus merelokasi," ujar Gubernur.
Masyarakat di Jatinegara, Jakarta Timur yang juga menjadi langganan korban banjir disebutnya, telah setuju dengan relokasi. Namun masih terdapat hambatan, dengan lokasi relokasi tersebut. "Banyak warga sekitar yang bekerja di pasar Jatinegara, jadi gak mungkin dipindahkan ke rusun Marunda misalnya," kata Fauzi. (Ant)
http://www.tvone.co.id/berita/view/33356/2010/02/18/foke_kunjungi_korban_banjir_jakarta/
Ocean One February 19th, 2010, 05:57 PM Polisi Siagakan 1.500 Personil Amankan Banjir Jakarta
Jum'at, 19 Februari 2010
TEMPO Interaktif, Jakarta -Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya menyiagakan 1.500 personil atau lima detasemen satuan Brigade Mobil guna menghadapi ancaman banjir di Jakarta.
Kepala Polda Metro Jaya, Inspektur Jendral Wahyono mengatakan pihaknya selalu berkoordinasi dengan Badan Klimatologi Meteorologi dan Geofisika guna memantau ketinggian air di aliran sungai Ciliwung.
"Kami menyiagakan satuan Brimob yang memiliki kemampuan penyelamatan dan pencarian orang atau SAR. Koordinasinya sampai level walikota," ujarnya ditemui usai salat Jumat di Polda Metro Jaya, Jumat (19/2).
Apabila ketinggian di pintu air Manggarai dalam status siaga satu dimana ketinggian mencapai 3,5 hingga 4 meter, personil Kepolisian Sektor setempat bekerja sama dengan kecamatan wilayah langsung mengevakuasi warga yang tinggal di bantaran kali.
"Petugas langsung diterjunkan mendekati sasaran genangan air. Perangkat ambulans dan perahu karet juga disiapkan," tambahnya.
tiwulbakul February 19th, 2010, 08:52 PM Banjir Bandung Terparah dalam Dua Dekade.
BANDUNG--Banjir yang melanda Kabupaten Bandung, Jawa Barat saat ini merupakan banjir terparah dalam kurun waktu lebih dari dua dekade setelah banjir besar terjadi tahun 1986. Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Bandung, Obar Sobarna, Jumat terkait banjir besar yang melanda kawasan Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Banjaran.
"Dari ketinggian permukaan air yang mencapai empat meter, luasan wilayah dan korban banjir mengalami kenaikan beberapa kali lipat akibat curah hujan yang cukup tinggi, kerusakan alam dan letak wilayah yang berada di cekungan Bandung," ujarnya saat mendampingi kunjungan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Jusuf Kalla.
Ketinggian permukaan air di wilayah Baleendah, Banjaran dan Dayeuhkolot mencapai empat meter hingga menutupi atap rumah warga. "Ketinggian air di wilayah Baleendah yang berada di bantaran Sungai Citarum biasanya mencapai dua meter dan terjadi di beberapa desa saja," ujarnya. "Warga yang rumahnya berada agak jauh dengan sungai Citarum mengalami genangan air hingga setinggi 1.5 meter sehingga jumlah pemukiman penduduk yang terkena banjir mencapai lebih dari sepuluh ribu unit," katanya.
Hal ini akibat curah hujan yang tinggi dalam tiga minggu terakhir sehingga volume genangan air semakin besar dan meluas ke berbagai wilayah kecamatan yang berdekatan dengan sungai ataupun anak Sungai Citarum. "Baleendah dan Dayeuhkolot berada di cekungan Bandung yang merupakan area paling rendah dibandingkan Kota Bandung dan sekitarnya sehingga air dari anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Citarum tertampung di titik ini dan luber," ujarnya.
Ketika ditanyakan kabar adanya tanggul Situ Cileunca yang jebol, BUpati yang masa jabatannya akan berakhir di tahun ini membantahnya. "Tanggul situ tidak jebol maupun retak namun karena volume air besar maka luber ke luar situ," tegasnya. Mengenai solusi dari permasalahan banjir yang setiap tahunnya "memakan" korban Baleendah dan sekitarnya, Obar menjelaskan telah membuat usulan untuk membangun tiga buah rumah singgah di wilayah Cieunteung, membangun sekolah bertingkat di wilayah banjir dan membuat bendungan kecil," tutunya.
"Untuk merelokasi pemukiman di wilayah bantaran Sungai Citarum sangatlah tidak mungkin karena adanya penolakan warga dan keterbatasan anggaran sehingga yang dapat kita lakukan adalah meminimalisisasi kerugian warga," katanya. Ia menjelaskan hal ini telah dibahas dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono beberapa waktu lalu jika merelokasi pemukiman penduduk. "Menkokesra juga sependapat jika dibangun rumah susun (rusun) jika warga yang telah biasa tinggal dan mencari uang di wilayah rawan banjir menolak relokasi.
Bupati menjelaskan juga pengerukan sungai yang dilakukan pemerintah pusat sesungguhnya telah berhasil dilaksanakan meski banjir masih terjadi. "Di wilayah yang berdekatan dengan sungai yang telah dikeruk seringkali tidak mengalami banjir meski saat ini menjadi korban," ujarnya. Namun ia mengakui adanya perubahan wilayah yang terkena banjir setelah pengerukan. "Dulu Bojongsoang merupakan wilayah terparah saat ini bergeser menjadi Cieunteung yang merupakan lokasi paling parah akibat normalisasi dan belum tuntasnya pengerukan yang telah dilakukan selama tujuh tahun terakhir," katanya.
Sejak tiga minggu terakhir warga Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang terkena banjir namun Kamis malam lalu (18/2) wilayah lainnya seperti Banjaran, Rancaekek, Soreang dan dua kecamatan lainnya mengalami hal serupa akibat meluapnya Sungai Citarum.
sayaka February 22nd, 2010, 10:26 AM Daftar Genangan Air di Jakarta
detikcom - 22 Februari 2010 - 15.20wib
Hujan deras baru saja usai membasahi Jakarta. Seperti biasa, genangan air muncul di mana-mana dan memacetkan arus lalu lintas.
Menurut TMC Ditlantas Polda Metro Jaya, Senin (22/2/2010) genangan air terdapat di:
Jl Jenderal Sudirman, depan Univ Atma Jaya, 30 cm
Jl Jenderal Sudirman, bawah Kolong Semanggi, 10 cm
Jl Tentara Pelajar, depan SPBU arah Permata Hijau, 30 cm
Jl Jenderal Sudirman, depan Kedubes Jerman, 30-35 cm
Jl Lapangan Tembak, belakang gedung DPR/MPR, 30 cm
Jl Pemuda, depan Taman Ria Senayan, 40 cm
Jl Tentara Pelajar, tikungan Manggala Wanabhakti, 30 cm
Samping Apartemen Permata Hijau, 30 cm
Depan GKBI arah ke BUndaran HI, 20-25 cm
sayaka March 24th, 2010, 03:47 AM Genangan Banjir Itu Ada di Sembilan Titik
Rabu, 24 Maret 2010 | 04:42 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/20/3696729p.jpg
BANDUNG SELATAN - Banjir di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. Ribuan warga dari empat kecamatan mengungsi, mulai dari Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang hingga Banjaran.
BANDUNG, KOMPAS.com — Jalur Bandung-Baleendah-Majalaya, Kabupaten Bandung bagian selatan, tergenang banjir di sembilan titik lokasi akibat luapan air dari beberapa selokan dan anak Sungai Citarum sejak Selasa (23/3/2010) malam.
Genangan banjir di jalur selatan Bandung itu terjadi di kawasan Baleendah, Jelekong, Manggahang, Ciparay, Manggung Harja, dan di kawasan Majalaya. Bahkan, banjir di Jelekong memaksa arus lalu lintas ke jurusan Majalaya terpaksa berhenti dan mengantre untuk melintas.
Genangan banjir juga terjadi di kawasan Cikawung, tempat aliran irigasi yang pekat dengan lumpur meluber ke jalan raya. Bahkan, di Ciheulang, Kecamatan Ciparay, banjir bandang menggenangi puluhan rumah di sana.
Sementara itu, banjir di Baleendah dan Dayeuhkolot kembali membesar, bahkan genangan luapan Citarum kembali menggenang jalan raya Baleendah-Bojongsoang, satu-satunya jalan alternatif yang mengakses ke Kota Bandung dari kawasan Baleendah itu. "Banjir kembali meninggi sejak pukul 19.00 WIB, bahkan naik sampai ke jalan raya. Kemungkinan jalur alternatif itu kembali terputus malam ini karena air terus meningkat," kata Soma, salah seorang warga Kelurahan Baleendah.
Ia menyebutkan, banjir Baleendah dan Dayeuhkolot sebenarnya sudah mulai surut pada Senin dan Selasa ini, tetapi hujan deras di Bandung kembali menaikkan aliran sungai di sana dan meluber di dataran paling rendah di cekungan Bandung itu.
Warga mengungsi di rumah penduduk, tenda darurat, dan di emper toko yang belum terendam banjir. Hanya berbekal selimut, bahkan kain sarung, mereka menggelar tikar dan tidur di sana.
Namun, sebagian besar warga memilih begadang sambil ngobrol di pengungsian, sebagian menenteng ember atau kardus di jalan raya Baleendah-Bojongsoang untuk meminta sumbangan kepada para pengguna jalan pada malam hari itu. "Daripada nongkrong kedinginan, kami kumpulkan sumbangan, lumayan untuk membeli kebutuhan karena tak bekerja. Minimal untuk rokok," kata Dede, seorang pengungsi yang tengah mengumpulkan sumbangan di dekat Jembatan Citarum.
Sementara itu, hujan deras yang disertai petir dengan intensitas sambaran tingkat tinggi mengakibatkan sebuah trafo listrik di Jelekong, Kecamatan Baleendah, meledak. Kejadian itu mengakibatkan kawasan Jelekong gelap gulita.
Suasana gelap gulita juga terjadi di sejumlah lokasi genangan banjir Baleendah dan Dayeuhkolot. PLN memadamkan 10 gardu distribusi di sana sehingga suasana di lokasi banjir gelap gulita.
Warga yang mengungsi terpaksa membuat penerangan dari lilin atau membakar ban bekas untuk penerangan. "Listrik memang dipadamkan karena ketinggian air di rumah kami mencapai daun pintu atas, bahkan ada yang terendam seatap, seperti di Cieunteung Baleendah," kata salah seorang pengungsi yang berteduh di emper toko di Jalan Bojongsoang-Baleendah.
Banjir di Baleendah dan Dayeuhkolot hingga Selasa belum ada tanda-tanda surut. Jumlah pengungsi terus bertambah. Hingga Selasa siang, jumlah rumah yang tergenang mencapai 7.000 rumah di Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang.
sayaka March 24th, 2010, 05:51 AM Banjir Luapan Citarum Rendam 9.561 Rumah
Rabu, 24 Maret 2010 | 08:14 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/03/24/3742887p.jpg
KARAWANG, KOMPAS.com - Banjir akibat luapan air Sungai Citarum pada sepekan terakhir merendam 9.561 rumah di 27 desa/kelurahan di sembilan kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Banjir juga merendam 817 hektar tanaman padi usia 1-100 hari.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karawang Banuara Nadeak, Selasa (23/3/2010), menyatakan, areal genangan sepanjang Selasa cenderung surut dibandingkan pada Minggu dan Senin. Namun, sebanyak 10.059 keluarga diperkirakan masih mengungsi karena rumahnya masih terendam air setinggi 0,5-3 meter.
Kecamatan yang terendam adalah Karawang Barat, Karawang Timur, Teluk Jambe Barat, Teluk Jambe Timur, Ciampel, Batujaya, Pakisjaya, Rengasdengklok, dan Klari.
Di Kabupaten Purwakarta, sekitar 560 keluarga di Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, masih mengungsi. Menurut Koordinator Posko I Cikaobandung Jamaludin, jumlah pengungsi bertambah selama 2 hari terakhir seiring naiknya genangan air.
Bantuan pangan, obat-obatan, dan relawan terus berdatangan dari pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga sosial.
Selasa pagi, permukaan air bendungan utama Waduk Ir H Djuanda, Jatiluhur, menurun dibandingkan dengan dua hari sebelumnya yang mencapai 108,41 meter di atas permukaan laut. Namun, debit yang menuju hilir Sungai Citarum diperkirakan masih lebih dari 600 meter kubik per detik sehingga memicu banjir di sebagian wilayah.
Seusai meninjau kondisi bendungan, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyatakan, debit air keluar dari Waduk Ir H Djuanda masih jauh dari kapasitas maksimal, 3.000 meter kubik per detik. Meski dengan debit sekarang telah memicu banjir di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, bendungan relatif aman.
Djoko menambahkan, tingginya curah hujan dan kerusakan daerah resapan di sepanjang DAS Citarum memicu naiknya debit air. Dengan adanya tiga waduk, yakni Saguling, Cirata, dan Ir H Djuanda, banjir akibat luapan air Sungai Citarum lebih terkendali.
Tanggul jebol
Banjir akibat luapan Sungai Citarum di Kabupaten Bekasi meluas. Penyebabnya, tanggul sungai ambrol sepanjang lebih dari 50 meter di Desa Pantaibakti, Kecamatan Muaragembong, Senin malam.
Sampai Selasa, lima kecamatan di Kabupaten Bekasi, Cikarang Timur, Kedungwaringin, Pebayuran, Cabangbungin, dan Muaragembong terkena dampak.
Di Muaragembong, air menggenangi Desa Pantaibakti, Pantaibahagia, Pantaisederhana, Pantaimekar, dan Jayasakti. Rumah yang dihuni 4.698 keluarga terendam. Banjir juga menenggelamkan 4.600 hektar tambak udang dan ikan serta menggenangi 1.300 hektar sawah. Tinggi banjir
0,5-1,5 meter. ”Kami sudah mendistribusikan karung pasir untuk memperkuat tanggul dan menahan limpasan air sungai ke rumah penduduk,” kata Camat Muaragembong Herman Susilo.
Di Cikarang Timur, banjir merendam tiga dusun di Desa Labansari. Di Kedungwaringin, luapan air Sungai Citarum menggenangi dua dusun di Desa Bojongsari.
Bantuan berupa bahan makanan didatangkan ke Kantor Camat Muaragembong dan pos pengungsian setempat. Selasa, Kepolisian Resor Metropolitan Kabupaten Bekasi mendistribusikan bantuan sembako kepada sejumlah korban banjir di Muaragembong. (MKN/COK)
sayaka March 25th, 2010, 07:41 PM http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs483.snc3/26446_380257182490_121994582490_3619867_6540665_n.jpg
Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf meninjau lokasi banjir di Perumahan Karaba, Karawang. Wagub Jabar Dede Yusuf meninjau lokasi banjir dengan menggunakan perahu karet, Rabu (24/3). Sementara itu beberapa warga mengevakuasi barang-barang miliknya. Sementara beberapa perahu karet yang didatangkan digunakan untuk mengevakuasi warga, terutama anak-anak. (KF/v/detik/Husna Mubarok).
Mimihitam September 16th, 2010, 10:04 AM Situ Gintung Bukan Solusi Atasi Banjir
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/09/15/1513185620X310.jpg
Petugas mengevakuasi warga dari banjir yang melanda kawasan perumahan Ikatan Keluarga Besar Pegawai Negeri (IKPN) Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Rabu (15/9/2010). Sebanyak 165 rumah terendam luapan sungai Pesanggrahan. Banjir diakibatkan tanggul sungai jebol sepanjang 21 meter.
JAKARTA, KOMPAS.com — Rehabilitasi Situ Gintung di Tangerang Selatan tidak akan banyak membantu menanggulangi banjir di Kali Pesanggrahan. Banjir di wilayah ini lebih banyak disebabkan masalah sosial dari penduduk di sekitar sungai.
Direktur Irigasi, Sungai, Rawa, dan Danau Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio mengatakan, banjir di sepanjang Kali Pesanggrahan terjadi karena akumulasi dari beragam permasalahan.
Selain karena perubahan iklim yang menyebabkan cuaca tak menentu dan naiknya permukaan air laut, banjir tersebut juga diakibatkan oleh perilaku masyarakat yang menghambat resapan air.
Pitoyo menuturkan, meningkatnya intensitas banjir di sekitar Kali Pesanggrahan dan Kali Krukut, Jakarta Selatan, tak lepas dari perubahan lahan di lokasi tersebut dalam lima tahun terakhir. Daerah hulu yang semestinya menjadi area resapan, seperti di Sawangan, telah berubah menjadi permukiman padat. Pola hidup warga yang tak memanfaatkan air hujan menjadi air resapan pada akhirnya juga menyebabkan melonjaknya volume air yang harus ditampung di kedua sungai tersebut.
"Tuhan itu memberi kita cukup air, 2,5 meter selama satu tahun seluas catchment area. Tapi, manusia menjadikannya (air) comberan, langsung dibuang ke laut," kata Pitoyo kepada Kompas.com, Kamis (15/9/20010) siang.
Terkait dengan rencana penyelesaian rehabilitasi Situ Gintung pada akhir Desember 2010, Pitoyo menegaskan, "(Situ Gintung) itu tidak banyak urusan dengan banjir. Itu hanya anak Kali Pesanggrahan untuk resapan air supaya sumur-sumur warga di sana tidak dalam lagi."
Sejak bobolnya tanggul Situ Gintung pada awal tahun lalu, beberapa wilayah di sekitar Kali Pesanggrahan menjadi langganan banjir, seperti di Kompleks Ikatan Keluarga Pegawai Negeri (IKPN), Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Dalam dua hari terakhir, ratusan rumah di kompleks tersebut tergenang air hingga setinggi 1,5 meter. Warga terpaksa mengungsi ke masjid ataupun gedung sekolah terdekat.
Berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Situ Gintung dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1932-1933 dengan luas 31 hektar dan kapasitas penyimpanan air 2,1 juta meter kubik. Namun, pada tahun 2008, luas situ tinggal 21,4 hektar. Kapasitas penyimpanan air pun berkurang menjadi hanya 1,5 juta meter kubik.
Untuk menanggulangi banjir di wilayah ini, kata Pitoyo, tidak hanya bisa dilakukan secara struktural melalui pembangunan tanggul ataupun pelebaran sungai hingga 60 meter. Pembangunan struktural ini juga harus dibarengi dengan perubahan pola pikir masyarakat mengenai pentingnya resapan air dan kebersihan saluran air.
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/16/1408334/Situ.Gintung.Bukan.Solusi.Atasi.Banjir
Mimihitam September 16th, 2010, 12:00 PM Banjir Menggenangi IKPN Bintaro
Banjir akibat jebolnya tanggul Kali Pesanggrahan, Selasa (14/9) lalu masih menggenangi kompleks perumahan Ikatan Keluarga Pegawai Negeri di Bintaro Jakarta Selatan. Jika kemarin banjir mencapai 2,5 meter, hari ini ketinggian air sudah surut hingga 1,5 meter.
Banjir merendam RW 04 dan RW 12 di Kelurahan Bintaro. "Di RW 04 ini ada lima RT dengan 165 rumah tergenang," kata Ketua RW 4, Kumala Siregar, hari ini.
Kawasan ini langganan banjir. Pada 17 Agustus lalu, wilayah ini juga digenangi banjir akibat jebolnya tanggul Kali Pesanggrahan. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meninjau lokasi banjir dan berjanji akan membangun tanggul yang jebol secara permanen. "Tapi kenyataannya karung pasir yang dipasang dari dulu itu belum diapa-apakan," ujar Kumala.
Padahal, tanggul Kali Pesanggrahan yang jebol menurut Kumala hanya sepanjang 25 meter. "Tidak mungkin pemerintah tidak punya uang, tapi kenapa lambat sekali," ujarnya. Ia menambahkan, "Ini sudah banjir ketiga, belum diapa-apakan tanggulnya."
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2010/09/16/brk,20100916-278457,id.html
Hadi September 18th, 2010, 04:01 AM kayaknya masalah banjir perlu belajar dari Surabaya. Dalam kurun 5 tahun terakhir Surabaya bebas dari banjir. Step by Step akan segera semua wilayah aman dari banjir.
Mimihitam October 26th, 2010, 04:07 PM Atasi Banjir, 53 Drainase di Jakut Dinormalisasi
Hujan yang menguyur Jakarta, dan mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah DKI Jakarta, disebabkan akibat buruknya Drainase.
Wilayah Jakarta Utara, ada 27 titik lokasi yang rawan banjir.
Upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi masalah buruknya Drainase, menurut Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono Jumat (22/10/2010) siang, perlu diperbaikinya dan menormalisasi drainase di wilayah Jakarta Utara.
Diakuinya, setiap musim hujan yang menjadi langganan banjir wilayah Kecamatan Kelapa Gading, Koja dan Cilincing.
Untuk itu, pihaknya sedang melakukan pemeliharaan dan normalisasi 53 drainase di Jakarta Utara.
"Kami sedang melakukan pengerjaan, meliputi pembuatan drainase di 31 kelurahan wilayah Jakarta Utara," ujar Kasudin PU Tata Air Irvan Amtha.
Selain itu pun, pihak PU Tata Air juga sedang melakukan normalisasi dan membangun saluran gorong-gorong mikro dan submikro.||bdl
http://www.fauzibowo.com/berita.php?id=2422\
Mimihitam October 26th, 2010, 04:11 PM Warga: Segera Bangun Tanggul Permanen!
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/10/26/1550074620X310.jpg
JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Kompleks Ikatan Koperasi Pegawai Negeri atau IKPN, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta, meminta agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera membangun tanggul permanen di ruas Kali Pesanggrahan yang melintas di sekitar kompleks tersebut. Pasalnya, tanggul sementara yang dibangun di sana tidak mampu menahan air sehingga kembali jebol pada Senin (25/10/2010) sore dan mengakibatkan banjir satu meter.
"Si DKI 1 (Gubernur Fauzi Bowo) waktu itu mengatakan akan bangun tanggul permanen, tapi mana? Waktu dia kampanye dia bilang dia ahlinya. Kenyataannya mana?" ujar Kumala, Ketua RW 04 yang wilayahnya terendam banjir, kepada Kompas.com, Selasa (26/10/2010).
Dikatakan Kumala, tanggul sementara di Kali Pesanggrahan tersebut sudah dua kali jebol sejak tanggul utama di sana jebol pada 17 Agustus. "Jebol pertama 17 Agustus (tanggul permanen), kedua 14 September, ketiga 25 Oktober kemarin," katanya.
Atas jebolnya tanggul utama pada 17 Agustus itu, pihak Wali Kota Jakarta Selatan, kata Kumala, telah bertemu warga dan berjanji akan segera membangun tanggul permanen.
"Tapi, sampai sekarang banjir, belum ada (pemerintah provinsi) yang datang. Masa iya DKI enggak punya dana?" kata Kumala.
Pada kemarin sore tanggul sementara Kali Pesanggrahan jebol. Akibatnya, air setinggi dua meter menggenangi kompleks yang letaknya lebih rendah dari tanggul. Hingga berita ini diturunkan, air masih menggenang. Hanya saja, ketinggian air berkurang menjadi satu meter.
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/10/26/15501744/Warga:.Segera.Bangun.Tanggul.Permanen.
Mimihitam October 26th, 2010, 04:12 PM Banjir di Jakarta karena Cuaca Ekstrem
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/10/26/1955449620X310.jpg
JAKARTA, KOMPAS.com — Banjir disertai kemacetan yang melanda Jakarta, Senin (25/10/2010) kemarin, dinilai karena perubahan cuaca yang sangat ekstrem. Pemprov DKI Jakarta sendiri telah melakukan sejumlah upaya penanganan banjir secara maksimal, mulai dari menyelesaikan proyek Kanal Banjir Timur (KBT) hingga normalisasi saluran air. Selain itu, peralatan pengendali banjir seperti pompa air juga telah disiagakan.
Kondisi cuaca yang ekstrem mengakibatkan curah hujan yang terjadi mencapai 111 milimeter hanya dalam waktu 2 jam. Padahal, dalam kondisi normal curah hujan dalam satu bulan hanya mencapai 300 milimeter. Keadaan ini membuat drainase tidak mampu menampung dan menyalurkan air ke sungai dengan baik. Akibatnya, air meluap hingga ke jalan-jalan.
"Kita tidak menyalahkan cuaca, tetapi kenyataannya curah hujan yang terjadi Senin kemarin memang di luar normal," kata Muhammad Tauchid, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Sekdaprov DKI Jakarta, saat jumpa pers di Balaikota DKI, Selasa (26/10/2010).
Dijelaskan Tauchid, kekacauan lalu lintas yang terjadi kemarin juga disebabkan kurang sabarnya pengguna jalan menunggu hujan reda. Mereka nekat menerobos hujan dan genangan. Akibatnya, banyak kendaraan yang mogok dan menimbulkan kemacetan di mana-mana. Terlebih, hujan turun bersamaan dengan jam pulang kantor atau jam sibuk.
"Ke depan saya mengimbau, warga yang ingin berkendara bersabar menunggu hujan reda daripada nekat menerobos," ujar Tauchid.
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/10/26/19564423/Banjir.di.Jakarta.karena.Cuaca.Ekstrem
Kopassus October 28th, 2010, 04:31 PM Kamis, 28/10/2010 19:45 WIB
JK Terjebak Macet 4 Jam Akibat Hujan dan Banjir Jakarta
Lia Harahap - detikNews
Jakarta - Hujan deras pada Senin (25/10) mengakibatkan hampir seluruh Jakarta dikepung genangan air. Macet panjang pun menjadi pemandangan malam itu.
Keadaan ini semakin parah, ketika masuk jam pulang kantor. Alhasil para pengendara menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk sampai ke rumah.
Hal ini pula yang dirasakan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pria yang akrab disapa JK ini menghabiskan waktu 4 jam lebih untuk sampai ke kediamannya.
"Wuah kalau itu saya kejebak 4 jam, 4 jam 10 menit," ujar JK ketika ditemui di Kantor PMI Pusat, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (28/10/2010).
JK pun bercerita tentang pengalaman pertamanya di tengah kemacetan panjang itu. Saat hujan deras turun, JK sedang melintasi kawasan Jl Rasuna Said, Kuningan.
"Padahal saya itu dari Kuningan mau ke rumah saya di Kebayoran," cerita JK.
Kejadian malam ini, menurut JK cukup menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak tidak hanya pemerintah daerah DKI Jakarta. Pemerintah Pusat juga perlu memberikan solusi agar setiap hujan turun, masyarakat tidak harus trauma karena genangan air yang berujung pada kemacetasn panjang.
"Ya marilah kita bantu masing-masing pihak yang mempunyai kemampuan membantu, Pemda harus segera memperbaiki selokan. Dan pemerintah pusat juga harus bantu, apalagi untuk yang porsi besar. Seperti saat saya dulu BKT siap dalam dua tahun," jelas pria berkumis ini.
JK juga menuturkan, peran masyarakat juga sangat penting dalam menanggulangi kemacetan ibu kota yang sudah tidak tergambarkan lagi.
"Masyarakat juga harus membantu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, dan kalau bisa naik kendaraan umum saja, dan bagi yang punya real estate harus didirikan dengan perencanaan yang baik. Semua harus bantu, dan turun tanga," pesan politisi senior Partai Golkar ini.
Kepada Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, JK berpesan agar terus semangat bekerja dan jangan berkecil hati menanggapi segala kritikan dari masyarakat. JK ingin ke depan Foke lebih berani melakukan terobosan demi Jakarta yang lebih baik.
"Ya bekerjalah sebaik-baiknya, menjawabnya (setiap pertanyaan publik) dengan baik. Kita sudah bekerja dengan baik tapi tentu harus lebih baik lagi," imbuhnya.
"Pemerintah harus sudah ambil tindakan dari resiko yang tertinggi. Dan jangan selalu salahkan alam," tegas JK
peseg5 October 29th, 2010, 05:04 AM ^^ JK for Gubernur DKI 2012 !!!
Mimihitam November 25th, 2010, 01:16 PM Floods strike N. Jakarta once again
Residents in North Jakarta are dealing yet again with floods, which they say are getting worse every year.
“This is the fourth day [of flooding],” resident of Kali Baru subdistrict Fhylis Sudiyanto said on Thursday, as quoted by tempointeraktif.com.
Fhylis said tidal water levels began swelling at 9 a.m., peaking an hour later. Usually the water recedes in the afternoon, he said.
Hundreds of residents in Cilincing subdistrict were also affected by the flooding. In some areas water levels reached one meter high.
Rosini, a Cilincing resident, said even though the area has been flooding for years, it has worsened in the last three years.
http://www.thejakartapost.com/node/290691
Mimihitam February 7th, 2011, 04:03 PM Jakarta sinking fast in wake of construction boom
Hans David Tampubolon, The Jakarta Post, Jakarta | Mon, 02/07/2011 11:48 AM | City
A recent study concluded that land subsidence in Jakarta accelerated at an alarming pace in the past four decades, and if no remedial measures were taken, the northern part of the city could sink below sea level in the next decade.
Bandung Institute of Technology (ITB) researcher Heri Andreas said the persistent inundation of North Jakarta would only get worse in the future.
“Several areas in the northern coastal region of Jakarta will subside by 60 centimeters by 2020. In 2050, the area could sit 2.2 meters lower than in 2008,” said Heri, who is also a member of the Jakarta Coast Defense Strategy (JCDS).
Heri predicted that if no action was taken to mitigate land subsidence, flooding and high tides would contribute to 5,100 hectares of land in North Jakarta being submerged in 2020 and another 6,000 hectares in 2050.
A worst-case scenario, however, put the figures at 16,200 hectares in 2020 and 18,100 hectares in 2050.
“In this scenario, the northern coast of Jakarta could be 2 meters under water by 2020 and 6.9 meters under water by 2050,” Heri said.
Global sea levels have risen at a rate of about 1 to 2 millimeters per year on average, and this rate is expected to increase to 5 millimeters per year by 2050.
A recent study by ITB showed that the sea level in the Jakarta northern coastal region rose at a rate of 5.7 millimeters per year.
The most recent finding by the JCDS showed that around 40 percent of land in Jakarta was already below sea level.
Given the finding, the JCDS predicted that within between the next 10 to 20 years, 50 percent of the city would lie below sea level.
The JCDS data also showed that between 1974 and 2010, the Muara Karang area in North Jakarta had sunk 4.1 meters. West Cengkareng in Tangerang had sunk 2.5 meters in the same period.
The Daan Mogot area in West Jakarta and Ancol in North Jakarta sank 1.97 meters and 1.88 meters respectively in the same period.
Between 1974 and 1982, land subsidence rates were not as significant as today. The problem became worse after the region saw a construction boom in property and industry.
A number of dikes constructed by the city, including in Muara Angke, Muara Karang, Pluit, Cilincing and Marunda, are no longer capable of holding back the water that has increased rates of land subsidence.
Jakarta Governor Fauzi Bowo recently admitted that the city was sinking at an alarming rate.
“We have no other choice but to construct a new embankment in Jakarta Bay,” Fauzi said.
He said the city needed a giant seawall to protect the capital from flooding, but added that construction could only begin in 2025.
The construction of the seawall is a joint project run by the city administration and the JCDS, which is funded by the Dutch government.
http://www.thejakartapost.com/news/2011/02/07/jakarta-sinking-fast-wake-construction-boom.html
titus15 February 24th, 2011, 11:10 PM CITY IN FLOOD/UNDERWATER CITY
Perubahan Cuaca Ekstrem beberapa tahun belakangan, kurangnya perhatian dan konservasi lahan ruang resapan air, menurunnya kualitas lingkungan, turunnya permukaan tanah dibawah permukaan laut, rusaknya infrastruktur , membuat banyak kota-kota terendam air alias banjir. Tidak hanya berasal dari kiriman dari atas, ada juga kiriman dari bawah alias rob, hingga banjir bandang akibat jebolnya infrastruktur bendungan maupun tanggul.
Trit ini untuk share tentang banjir di perkotaan, upaya yang ditempuh pemerintah untuk mengatasinya, mulai dari bersih2 selokan, normalisasi kali, pembuatan kolam retensi dan polder, pembangunan dam atau waduk atau siti. hingga pembuatan wacana pembuatan Dam lepas pantai.
titus15 February 24th, 2011, 11:11 PM Kita mulai dari sini: Foto-foto banjir menurut mbah Google::
Semarang kaline banjir, memang itu sudah terkenal dari lagunya Jangkrik Genggongnya Waljinah...
Dan memang banjir masih selalu menggenangi Semarang dan mungkin Banjir Semarang mungkin lebih parah dari jamannya Waljinah, tapi... menurut mbah Google... ternyata kota-kota lain, terutama kota besarnya, banjirnya banyak yang lebih ugal-ugalan daripada Semarang.
Foto-foto ini adalah capture halaman pertama dengan key word 'nama kota- banjir'. Ternyata Semarang menurut Mbah Google masih lumayan, ada banjir tapi rata-rata kendaraan masih bisa melintas (Sebatas lutut saja), orang masih bisa berjalan, dan belum sampai harus mengerahkan perahu karet, dan jarang air merendam berhari-hari. Memang ada rob itupun akan surut dalam beberapa ja, walaupun akan muncul lagi beberapa jam berikutnya dalam beberapa hari. (Tapi setidaknya tak seperti Jakarta yang bisa sebulan penuh terendam air...)
Bandingkan dengan foto kota lain, yang kebanyakan knalpot tertutup air, banjir sebatas pinggang atau setengah pintu rumah bahkan sampai atap rumah, arus deras menuju sungai bahkan ada mobil nyungsep gara-gara banjir.
Walau begitu... sebagai orang Semarang, ya saya berharap masalah banjir harus diperjuangkan hingga tuntas. Semoga proyek Jatibarang, normalisasi banjir kanal, polder dan kolam retensi bahkan jika jadi dam lepas pantai jadi dibangun dan mampu mengusir banjir dari Semarang... sekalipun lagu Jangkrik Genggong tetap boleh mengalun sebagai prasasti pengingat masa kelam Semarang.
http://img41.imageshack.us/img41/9710/semarangbanjir.jpg
Banjir Semarang
http://img443.imageshack.us/img443/8331/bandungbanjir.jpg
Banjir Bandung
http://img199.imageshack.us/img199/6779/makasarbanjir.jpg
Banjir Makasar
http://img155.imageshack.us/img155/8568/balikpapanbanjir.jpg
Banjir Balikpapan
http://img69.imageshack.us/img69/1122/surabayabanjir.jpg
Banjir Surabaya
http://img534.imageshack.us/img534/985/medanbanjir.jpg
Banjir Medan[/QUOTE]
titus15 February 24th, 2011, 11:12 PM -edited-
titus15 February 24th, 2011, 11:35 PM http://img602.imageshack.us/img602/2267/solobanjir.jpg
Banjir Solo
http://img38.imageshack.us/img38/5898/jogjabanjir.jpg
Banjir Jogja
http://img339.imageshack.us/img339/3420/malangbanjir.jpg
Banjir malang
DAN IBUKOTA BANJIR SAAT INI ADALAH
http://img163.imageshack.us/img163/1229/jakartabanjir.jpg
JAKARTA!!!
Sizter85 February 25th, 2011, 10:26 AM ^^Bro titus15, sepertinya penempatan thread ini di WARTEG (Urban transportation, sports facilities, Infrastructures) kurang tepat.
cheers :cheers:
titus15 February 25th, 2011, 10:43 AM Terus yang tepat dimana ya? Jika postingan nantinya diarahkan pada pembangunan project-project infrastruktur pengendali Banjir pasti masih ada korelasinya. Ditaruh di gado2 juga nggak tepat, di The Biz apalagi... masak mau jualan Banjir...
So Infrastruktur pengendali Banjir....
eurico February 25th, 2011, 10:43 AM ^^ tergantung mw bahas dari segi apanya dulu, kalo cuman artikel n foto2nya bagusnya di Nusantara deh tapi kalo juga membahas penanggulangan infrastrukturnya bisa juga masuk di sini
titus15 February 25th, 2011, 10:50 AM Ya banjir adalah problem yang makin hari makin merata di banyak kota dan butuh solusi, makanya saya pikir juga lebih tepat dibahas disini. Mohon pencerahannya. Starter diatas cuma gambaran, betapa banjir menjadi masalah hampir semua kota-kota besar di Indonesia...
Sizter85 February 25th, 2011, 10:51 AM Terus yang tepat dimana ya? Jika postingan nantinya diarahkan pada pembangunan project-project infrastruktur pengendali Banjir pasti masih ada korelasinya. Ditaruh di gado2 juga nggak tepat, di The Biz apalagi... masak mau jualan Banjir...
So Infrastruktur pengendali Banjir....
^^Bila nanti kemungkinan pengarahan topik diskusi ke arah sana(bold), ya memang sdh sesuai jalur seh :okay:
keep watch dulu aja deh.
eurico February 25th, 2011, 10:54 AM ntar minta pertimbangan dari moderator saja
Sizter85 February 25th, 2011, 10:55 AM Ya banjir adalah problem yang makin hari makin merata di banyak kota dan butuh solusi, makanya saya pikir juga lebih tepat dibahas disini. Mohon pencerahannya. Starter diatas cuma gambaran, betapa banjir menjadi masalah hampir semua kota-kota besar di Indonesia...
^^Sebenarnya bila sistem pola drainesse nya mendukung dg volume kapasitas yang besar di bawah tanah mungkin bisa menjadi salah satu solusinya, kebanyakan sebagian kota2 di Indonesia yg masih menggunakan pola drainesse seperi itu juga karena "warisan" dari pola pembangunan pendahulunya, dari bangsa Belanda CMIIW
paradyto February 25th, 2011, 10:58 AM ^^bisa saja ke http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=539852, malah thread ini kalau disimak including juga project-project infrastruktur pengendali Banjir dan ada korelasinya:)
Mod, advicenya..
cheers
David-80 February 25th, 2011, 05:42 PM merged and changed topic to Flood problem and the solution.
cheers
paradyto February 26th, 2011, 01:33 AM merged and changed topic to Flood problem and the solution.
cheers
^^lebih baik, thanx David:)
:cheers:
titus15 February 26th, 2011, 04:27 AM Tq om David... saya setuju jika tread ini dimerger, tapi mungkin lebih tepat kalo peletakannya di di urban transsport, sport facilities n infrastruktur. Soalnya di trit biz, eco dan tourism, lebih tepat untuk hal2 yang mempromote indoneia (isinya yang bagus2), kalo tranport dalam banyak hal kan masih problem dan sedang diupayakan solusinya, seperti juga banjir yang maih jadi problem dan edang diusahakan solusinya... hanya ekedar usulan sih...
Mimihitam March 12th, 2011, 01:53 PM 21 bodies uncovered after flash flood in Aceh
A search and rescue (SAR) team accompanied by local volunteers in Aceh have uncovered 21 bodies who fell victim to a flash flood affecting Tangse district, Pidie regency on Thursday night.
A volunteer identified as Zulfikar told kompas.com Saturday that the bodies were found scattered in four villages. He said the search was still being carried out while waiting for additional support from the government.
The biggest obstacle for the search, Zulfikar said, was access to villages, particularly to Rantau Panjang village, because a bridge that serves as the main access point had been cut off due to heavy damage to its construction foundation.
Makmur Ibrahim, a spokesperson for the Aceh government, said Governor Irwandi Yusuf and related government departments, accompanied by more volunteers, were on their way to the affected areas to distribute resources.
“We have deployed help and medicine to areas affected by the flood,” Makmur said.
http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/12/21-bodies-uncovered-after-flash-flood-aceh.html
v-sun November 27th, 2012, 02:28 PM Pemerintah Fokus Tangani Banjir di Jabodetabek, Solo & Bandung
Zulfi Suhendra - detikfinance
Selasa, 27/11/2012 17:20 WIB
Jakarta - Pemerintah menganggarkan dana Rp 6 triliun untuk penanganan banjir di seluruh Indonesia tahun depan. Dana itu mayoritas dipusatkan di tiga titik, yaitu Sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, Sungai Citarum di Jawa Barat dan Jabodetabek.
Demikian diungkapkan Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Mohammad Hasan di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Selasa (27/11/12).
"Untuk tahun depan anggaran secara keseluruhan Rp 6 triliun. Diprioritaskan di tiga wilayah," ungkap Hasan.
Dia menambahkan, setiap daerah tersebut mendapatkan dana masing-masing sekitar Rp 1 triliun untuk menangani masalah banjir. Sementara sisanya, lanjut Hasan diperuntukkan bagi daerah-daerah lain.
"Pokoknya yang yang paling banyak di 3 daerah itu," tegas Hasan.
Lebih lanjut Hasan beralasan, tiga wilayah tersebut mengalami dampak paling besar akibat banjir jika dibanding daerah-daerah lain. Dana itu akan digunakan untuk menormalisasi sungai-sungai yang mengalir di tiga daerah tersebut.
"Kita melihat bagaimana dampak kerugian terhadap banjir itu. Kita lihat losses-nya, kerugiannya itu tinggi sekali," pungkasnya.
http://finance.detik.com/read/2012/11/27/172018/2103025/4/pemerintah-fokus-tangani-banjir-di-jabodetabek-solo-bandung?f9911033
mr_n_mrs_handaja December 27th, 2012, 02:36 PM JOKOWI BERAKSI: Atasi Banjir, Akan
Dibangun Deep Tunel Rp16 Triliun
Pemprov DKI Jakarta tengah
menyiapkan pembangunan terowongan atau
waduk air bawah (deep tunel) tanah mulai
dari MT Haryono-Pluit yang diprediksi bisa
memakan biaya mencapai Rp16 triliun sebagai
terobosan mengatasi masalah banjir.
Kita masih bahas terus pembangunan
deep tunnel. Belum saya putuskan. Nanti
setelah kajian selesai, saya akan putuskan
Januari nanti,� ungkap Jokowi di sela-
sela pemantauan kondisi gorong-gorong di
Bundaran HI, Jakarta, Rabu (26/12).
Dia mengungkapkan rencana pembangunan
terowongan tersebut akan dibuat dengan
diameter mencapai 16 meter. Permasalah
banjir yang terus terjadi, menurut Jokowi
membutuhkan sebuah terobosan...
Selengkapnya:
http://www.indonesiaheadlines.com/news/jokowi-beraksi-atasi-banjir-akan-dibangun-deep-tunel-rp16-triliun
mr_n_mrs_handaja January 20th, 2013, 08:11 AM Jakarta Rawan Banjir Hingga 2013
Sabtu, 19 Januari 2013 | 15:14
Banjir disinyalir masih akan melanda
Ibu Kota DKI Jakarta dalam kurun waktu 10
tahun mendatang jika pembangunan
infrastruktur tidak diimbangi dengan perbaikan
pertumbuhan alam, kata pakar politik
perkotaan Irwansyah, Sabtu.
"Banjir tidak akan hilang dalam 10 tahun ke
depan, melihat begitu parahnya
ketidakseimbangan antara pertumbuhan
bangunan infrastruktur dan faktor-faktor
yang sifatnya memperbaiki pertumbuhan
alam," kata dosen politik perkotaan Ilmu
Politik Universitas Indonesia itu di Jakarta,
Sabtu.
Pertumbuhan pembangunan kota yang
mengabaikan risiko penataan kota secara
ekologis, kata dia, dapat berdampak pada
semakin rentannya Ibu Kota terhadap bencana
banjir.
"Kalau kanal saja sudah tidak cukup, kemudian
penyerapan air dan ruang terbuka hijau minim,
sudah pasti Jakarta menyatakan diri sebagai
'Kota Banjir', mengkondisikan diri sebagai kota
yang rentan banjir," katanya.
Oleh karena itu, pemerintah pusat dan Pemprov
DKI Jakarta, bersama dengan masyarakat,
katanya, harus segera membentuk mekanisme
penanganan banjir.
Penanganan banjir tersebut dapat dilakukan
dengan menerapkan sejumlah perkembangan
teknis dan sosialisasi terus menerus kepada
masyarakat.
"Misalnya penggunaan teknologi informasi
dengan menyosialisasikan peta banjir
Jabodetabek supaya warga waspada terhadap
banjir dan kemacetan. Itu bisa menjadi
paradigma ke depan bagi pemerintah kota,"
jelasnya.
Selain itu, dia menambahkan, pemerintah bisa
memaksialkan penyampaian informasi kepada
masyarakat untuk mengatasi berbagai masalah
ketika banjir menyerang.
"Ketika ada mobil terjebak genangan air,
mayoritas warga tidak tahu bagaimana
menggunakan kendaraan, karena ada cara
khusus yang harus dilakukan ketika melintasi
genangan air," tambahnya.
Masyarakat Jakarta lebih memerlukan sistem
penanganan bencana banjir, di samping juga
pembenahan terhadap infrastruktur perkotaan.
Selain itu, kata Irwansyah, yang perlu
diperhatikan adalah peningkatan penanganan
pascabencana, agar kemungkinan masyarakat
terjangkit penyakit dan sebagainya dapat
diminimalisir.
Hujan deras yang melanda Jakarta dan
sekitarnya selama beberapa membuat saluran
banjir Kanal Banjir Barat tidak kuat
menampung debit air. Akibatnya, pada Kamis
(17/1) air meluap hingga mebanjiri kawasan
jantung Ibukota, seperti Bundarah Hotel
Indonesia, Dukuh Atas, Thamrin, Tanah Abang,
Grogol dan terakhir di Pluit pada Jumat
(18/1).
Saluran banjir Kanal Barat, yang dibangun
mulai 1922, berawal dari daerah Manggarai ke
arah barat melewati Pasar Rumput, Dukuh
Atas, lalu membelok ke arah barat laut di
daerah Karet Kubur.
Selanjutnya ke arah Tanah Abang, Tomang,
Grogol, Pademangan, dan berakhir di sebuah
"reservoar" di muara, di daerah Pluit.
http://www.investor.co.id/home/jakarta-rawan-banjir-hingga-2013/52827
lombok January 20th, 2013, 12:02 PM Very easylah.....untuk lawan flood ::dance2::dance2::dance2::dance2::dance2::dance2:
1. No villa bangun lagi di Puncak & arounds.
2. No illegal hutan ditebang.
3. Tidak buang sampah sembarang ke kali inclusief buang air besar di kali:bash:
4. No kumuh-kumuh rumah di pinggir kali.
5. No malls enough is enough more parks
6. Dicipline Indonesian people:bash::bash::bash:
7. No GOD will but orang-orang yang buat sendiri banjir.
G27 January 20th, 2013, 12:36 PM SBY : Rp 2 Triliun untuk Solusi Banjir Jakarta
http://nasional.kompas.com/read/2013/01/20/16420989/SBY.Rp.2.Triliun.untuk.Solusi.Banjir.Jakarta?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
"Untuk prioritas, solusi banjir di Jakarta, jangka pendek dan jangka menengah, pemerintah menyiapkan Rp 2 triliun," kata Presiden.
Dana sebesar Rp 2 triliun itu rencananya dipakai untuk menyokong rencana jangka pendek dan jangka menengah. Untuk jangka pendek, Rp 300 miliar akan digunakan menambah 50 unit MCK mobile dan pompa. Sedangkan sisanya untuk membuat sodetan dari Sungai Ciliwung menuju kanal banjir timur (KBT) sebesar Rp 500 miliar, dan normalisasi sungai sebesar Rp 1,2 triliun.
Presiden menyampaikan, sinergi yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah itu didasari posisi Jakarta yang bukan hanya sebagai salah satu provinsi di Indonesia, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, dan pusat hubungan internasional. Alasan lainnya, skala banjir Jakarta tak akan mampu hanya diatasi oleh Pemerintah Provinsi DKI sendiri, oleh sebab itu, Pemerintah Pusat mengambil alih hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh DKI.
"Semua tahu, telah terjadi perubahan iklim di dunia ini, banjir ini bisa terjadi lagi, dan sekarang belum aman betul. Diperkirakan curah hujan masih terjadi sampai Maret, maka kita berjaga-jaga, masyarakat siap, dan dampak banjir bisa dikurangi," ujar Presiden.
Semua keputusan Presiden itu merupakan hasil rapat koordinasi bersama sejumlah pejabat terkait. Di antaranya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, perwakilan DPR RI, dan perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Rapat tersebut digelar pada Minggu siang tadi, di pos pengungsian, di GOR Otista, Jakarta Timur.
anugrah84 January 20th, 2013, 12:49 PM merekayasa Alam dan habitnya adalah kesalahan terbesar manusia, sepinter pinternya enginer merancang dam dan canal resiko kerusakan masih tetap ada, mending pemerintah memulai mengambil kebijakan mengembalikan fungsi lingkungan seperti sediakala. Imo
G27 January 20th, 2013, 01:15 PM ^^
Itu masuk normalisasi sungai mungkin, termasuk pindahin warga2 yang tinggal di pinggir kali.
Disiplin warga juga penting, percuma aja keluarin 2000000000000 T sekalipun tapi warganya masih buang sampah sembarangan dll. :lol:
anugrah84 January 20th, 2013, 01:48 PM kayaknya alih fungsi lahan terjadi dimana-mana dan akibatnya itu-itu aja
tapi tindakan dari pemerintah gitu-gitu aja :lol:
G27 January 20th, 2013, 02:28 PM Tenang, Gubernurnya khan jokowi, satrio piningit dari solo :lol:
Giant Sea Wall itu gimana kabarnya ya?
mr_n_mrs_handaja January 21st, 2013, 12:49 PM Ada 2 trit yg mendadak hidup lagi ketika jakarta banjir: trit ini & trit isu pemindahan ibukota :lol: :D
mr_n_mrs_handaja January 21st, 2013, 12:52 PM PARODI BANJIR: BEREDAR GUYONAN FOKE
LEDEK JOKOWI
Kamis, 17 Januari 2013 | 16:39 WIB
http://s14.directupload.net/images/130121/m4m6yagv.jpg (http://www.directupload.net)
JAKARTA— Banjir yang menerjang Jakarta
hingga hari ini ternyata menimbulkan ulah
iseng dari warga Jakarta.
Pada Kamis (17/1) beredar lawakan banjir
yang menyerupai sosok mantan Gubernur DKI
Jakarta Fauzi Bowo (Foke) dan Gubernur DKI
Jakarta sekarang Joko Widodo alias Jokowi.
Sama seperti masa kampanye Pilkada DKI
Jakarta pada tahun 2012, cukup banyak
parodi atau lawakan yang beredar di antara
kedua kontestan ini.
Bahkan parodi klinik Tong Fang yang pernah
kontroversial pun memakai wajah keduanya.
Kini melalui pesan BlackBerry muncul lawakan
soal banjir.
Wajah Foke ditampilkan tertawa, sedangkan
wajah Jokowi puyeng dengan tangan di dahi.
Tulisan di gambar keduanya itu adalah :
“Gimana Mas Joko.. Puyeeng Ra Koweee..”
Mungkin parodi ini bisa bikin Anda tersenyum
di tengah pusing menghadapi banjir.
(Kabar24/Nancy Junita/yus)
m.bisnis.com/articles/parodi-banjir-beredar-guyonan-foke-ledek-jokowi
lombok January 21st, 2013, 06:35 PM :rock::rock::rock::rock::rock::dance2::dance2::dance2::dance2::dance2:
JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan akan membabat habis bangunan liar di tempat terlarang seperti area genangan waduk dan bantaran sungai. Pemerintah daerah memfasilitasi tempat tinggal warga dengan membangun rumah susun.
"Jika sudah ada rumah susun tetap tak mau pindah, jangan salahkan jika pemerintah membabat habis bangunan-bangunan liar," kata Basuki saat menjawab pertanyaan pengungsi korban banjir Pluit di Rumah Susun Marunda, Senin (21/1/2013) sore.
Basuki meminta warga untuk tak kembali menempati rumah-rumah yang berada di daerah genangan Waduk Pluit dan wilayah-wilayah terlarang lain, apalagi Waduk Pluit merupakan fasilitas vital yang berfungsi untuk menampung air dan mencegah banjir. Basuki juga mencontohkan penghunian di tanggul penahan gelombang di Muara Baru Penjaringan.
"Bangunan-bangunan itu (hunian warga korban banjir) rusak karena tersapu air. Pemerintah memfasilitasi dengan menyediakan rumah susun berikut isinya, termasuk kasur, handuk, dan sajadah, silakan pindah," ujarnya.
Beberapa warga menanyakan akses transportasi dari dan menuju ke lokasi kerja. Menurut Basuki, pada tahap awal dua bus disediakan untuk membantu transportasi warga dari rusun ke tempat kerja dan sebaliknya.
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/21/19190837/Wagub.DKI.Bangunan.Liar.di.Bantaran.Sungai.Dibabat.Habis?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp
CrazyForID January 22nd, 2013, 12:12 AM Very easylah.....untuk lawan flood ::dance2::dance2::dance2::dance2::dance2::dance2:
1. No villa bangun lagi di Puncak & arounds.
2. No illegal hutan ditebang.
3. Tidak buang sampah sembarang ke kali inclusief buang air besar di kali:bash:
4. No kumuh-kumuh rumah di pinggir kali.
5. No malls enough is enough more parks
6. Dicipline Indonesian people:bash::bash::bash:
7. No GOD will but orang-orang yang buat sendiri banjir.
easy, indeed :lol:
http://img820.imageshack.us/img820/8986/jakartajoke.png
mr_n_mrs_handaja January 22nd, 2013, 09:07 AM easy, indeed :lol:
:lol::lol:
http://www.investor.co.id/infrastructure/sudetan-ciliwung-telan-rp500-miliar-lebih/52918
Namewee January 22nd, 2013, 09:08 AM BANJIR 2013: Jangan Hanya Perhatikan Jakarta, di Karawang Banjir 2 Meter
22 January 2013 13:34
http://www.kabar24.com/wp-content/uploads/2013/01/Banjir-Pluit-Evakuasi-Jibiphoto-Rahmatullah.jpg
Kementerian Sosial mengharapkan semua pihak jangan hanya memfokuskan perhatian pada penanganan bencana di Jakarta sebab masih banyak daerah lain yang menghadapi bencana dan belum tersentuh bantuan.
“Penanganan banjir di Jakarta sudah cukup banyak yang memberikan perhatian dan bantuan tapi daerah lain belum mendapat perhatian,” kata Kepala Biro Humas Kementerian Sosial Benny Satria Nugraha di Jakarta, Selasa (22/1).
Benny mengatakan, selain Jakarta, masih banyak daerah lain yang juga mengalami bencana alam bahkan daerah yang terdekat dengan Jakarta misalnya Bekasi, Karawang dan Tangerang.
Begitu juga dengan daerah lain misalnya ada potensi angin kencang di beberapa daerah, juga sangat memerlukan bantuan.
Sementara untuk penanganan banjir Jakarta, Pemerintah DKI Jakarta, Pemerintah Pusat serta berbagai pihak cepat meresposn dengan memberikan bantuan tanggap darurat.
Saat ini banjir masih terjadi di tiga desa di kecamatan Batujaya yaitu desa Telukbango, Telukambulu dan Karyamulya di Karawang Provinsi Jawa Barat.
Hampir 20.000 orang mengungsi di pinggir jalan raya Batujaya, banjir di desa Mulyajaya, kecamatan Telukjambe barat, Karawang, jumlah korban banjir mencapai 1.250 kepala keluarga.
Ketinggian air masih 1-2 meter, sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah pusat dan kondisi warga sangat memprihatinkan.
Warga membutuhkan bantuan berupa makanan, minuman, makanan bayi/anak-anak, pakaian, alat mandi dan obat-obatan.
Sumber :
http://www.kabar24.com/index.php/banjir-pluit-ahok-tawari-korban-tinggali-rusun-berperabot-lengkap/banjir-pluit-evakuasi-jibiphoto-rahmatullah/
mr_n_mrs_handaja January 22nd, 2013, 04:38 PM http://m.bisnis.com/articles/banjir-jakarta-isu-megapolitan-terangkat-lagi
lombok January 22nd, 2013, 05:08 PM :storm::storm::storm::storm::storm:
Always..Indonesian way, after few months lupa semuanya:bash::bash:
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum akan mempercepat pengerjaan empat proyek infrastrukstur penanggulangan banjir Jakarta. Keempat proyek tersebut adalah pembangunan sodetan Sungai Ciliwung-Kanal Banjir Timur, pengerjaan normalisasi Sungai Ciliwung, pembangunan Waduk Ciawi, dan normaliasasi Sungai Pesanggrahan, Angke, dan Sunter.
"Seluruh program tersebut menjadi program jangka pendek, menengah, dan panjang yang kami prioritaskan untuk penanggulangan banjir," kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Muhammad Hasan, saat ditemui di kantornya Selasa, 22 Januari 2013.
Sesuai instruksi Presiden SBY, lanjut Hasan, pemerintah memprioritaskan program sodetan Sungai Ciliwung-Kanal Banjir Timur, pengerjaan normalisasi Sungai Ciliwung, dan pembangunan Waduk Ciawi. Namun rencana tersebut akan menemui jalan terjal yaitu belum dianggarkan pada APBN 2013. Namun, seolah tak mau salah, Hasan mengatakan ada jalan keluar yaitu, "Kementerian akan berkoordinasi dengan Pemerintah DKI Jakarta."
Adapun proyek normalisasi Sungai Pesanggrahan, Angke, dan Sunter, menurut Hasan, dapat dipastikan terealisasi karena mendapatkan anggaran. “Ada dalam pagu anggaran kami,” ujarnya. Kementerian, lanjut dia, meminta kontraktor mengubah titik pengerajaan yang tadinya titik-titik yang sudah dibebaskan diubah menjadi titik yang rentan terhadap banjir. “Prioritas pengerjaan dilakukan di daerah yang dianggap rawan.”
http://www.tempo.co/read/news/2013/01/22/083456357/Kapok-Banjir-Pemerintah-Bidik-4-Sungai-1-Waduk
VRS January 23rd, 2013, 03:07 AM http://www.merdeka.com/peristiwa/istana-tak-mau-tanggapi-soal-patung-bugil-penyebab-banjir.html
Istana tak mau tanggapi soal patung bugil penyebab banjir
Forum Umat Islam (FUI) menilai kemaksiatan menjadi sumber bencana di Jakarta dan Indonesia. Apalagi ada karya seni berupa patung wanita setengah bugil di Istana Negara, hal ini dianggap penyebab Indonesia selalu dirundung bencana.
Ketika merdeka.com mencoba mengkonfirmasi mengenai pernyataan yang disampaikan salah satu koordinator FUI Ber
fajarmuhasan January 23rd, 2013, 03:12 AM http://www.merdeka.com/peristiwa/istana-tak-mau-tanggapi-soal-patung-bugil-penyebab-banjir.html
Istana tak mau tanggapi soal patung bugil penyebab banjir
Forum Umat Islam (FUI) menilai kemaksiatan menjadi sumber bencana di Jakarta dan Indonesia. Apalagi ada karya seni berupa patung wanita setengah bugil di Istana Negara, hal ini dianggap penyebab Indonesia selalu dirundung bencana.
Ketika merdeka.com mencoba mengkonfirmasi mengenai pernyataan yang disampaikan salah satu koordinator FUI Ber
entah lah yg jelas gw tersenyum baca kalimat awal beritanya
|
|