View Full Version : [Indonesia] Goes to Election 2009: News & Issued
paradyto July 7th, 2009, 04:42 PM btw gw baru ketemu video tentang Pemilu Presiden dari program 101East nya Aljazeera nih...
dM0sxk8F2Jg
7UZTNmpTTUk
sekarang diulang lagi neh di Aljazeera:)
novian July 7th, 2009, 04:49 PM yg pasti...........LANJUTKAN!!!!
~MELVINDONESIA~ July 7th, 2009, 05:10 PM SBY !!!!
Lanjutkan!!!
Andai gw udh bs nyontreng...pasti nyontreng SBY...
Sayangnya umur gw blom mencukupi...haha~
paradyto July 8th, 2009, 01:56 PM Hasil Sementara Quick Count TVOne:
1. MEGA - PRABOWO = 27.36%
2. SBY - BUDIONO = 60.15%
3. JK - WIRANTO = 12.49%
gantengscool July 8th, 2009, 05:24 PM .
...apa juga gwe bilang....pertarungan sangat tidak seimbang.
yg hobby menyerang kena serangannya sendiri :)
.
gantengscool July 8th, 2009, 05:25 PM SBY !!!!
Lanjutkan!!!
Andai gw udh bs nyontreng...pasti nyontreng SBY...
Sayangnya umur gw blom mencukupi...haha~
iya...elu harus dukung SBY dong, partaimu kan ikut koalisi SBY...
.
novian July 8th, 2009, 06:44 PM http://i476.photobucket.com/albums/rr123/vians_rud/portal.jpg?t=1247069950
novian July 8th, 2009, 06:46 PM ternyata.........
http://i476.photobucket.com/albums/rr123/vians_rud/pertamaks.jpg?t=1247071578
fajarmuhasan July 9th, 2009, 03:47 AM Pelajaran bagi mega dan jk, bahwa jika kampanye itu harus menonjolkan diri sendiri dan jangan sekali kali menyinggung apalagi merendahkan calon lain...........terbuktikan anda kalah.
Pikir mega: apa yg perlu gw tonjolin wong selama jadi presiden gw diam aja
Pikir JK: gw juga pengin nonjolin keberhasilan gw tapi dah keduluan ama SBY secara gw kan cuma wapres, jadi semua keberhasilan presiden yg kelihatan
paradyto July 9th, 2009, 05:11 PM ternyata.........
http://i476.photobucket.com/albums/rr123/vians_rud/pertamaks.jpg?t=1247071578
he he he ramalan komik Jepang memang OKE:D:D
paradyto July 9th, 2009, 05:11 PM CONGRATULATION TO SBY - BOEDIONO!!^^
VRS July 10th, 2009, 03:41 AM yup congratulation SBY-Boediono....
situation at election place * puri indah area...
http://img216.imageshack.us/img216/7784/090708080035.jpg (http://img216.imageshack.us/i/090708080035.jpg/)
http://img216.imageshack.us/img216/2057/090708080454.jpg (http://img216.imageshack.us/i/090708080454.jpg/)
VRS July 10th, 2009, 03:43 AM sumpah harus disebutkan bersama-sama....
http://img509.imageshack.us/img509/8373/090708080050.jpg (http://img509.imageshack.us/i/090708080050.jpg/)
http://img5.imageshack.us/img5/6513/090708082426.jpg (http://img5.imageshack.us/i/090708082426.jpg/)
paradyto July 10th, 2009, 01:54 PM Jadi pilih siapa neh VRS? he he he... lumayan nyontrengnya lebih cepat, karena kertasnya nggak kayak baca koran!:D
paradyto July 10th, 2009, 04:42 PM Negara Sahabat Sampaikan Selamat kepada Indonesia
Jumat, 10 Juli 2009 20:22 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam |
Cikeas, Bogor (ANTARA News) - Sejumlah Kepala Negara/Pemerintahan negara-negara sahabat menyampaikan ucapan selamat kepada pemerintah Indonesia atas keberhasilan pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009.
Demikian disampaikan Jurubicara Kepresidenan Dino Patti Djalal usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima ucapan selamat dari Presiden Palestina Mahmud Abbas di Pendopo kediaman pribadi presiden di Puri Cikeas, Bogor, Jumat.
"Enam kepala negara telah mengucapkan selamat atas keberhasilan pelaksanaan Pemilu presiden, yaitu PM Malaysia, Presiden Timor Leste, PM Singapura, PM Australia, Presiden Korea Selatan, dan Presiden Filipina," katanya.
Sudah ada tujuh kepala negara/pemerintahan yang sudah mengucapkan selamat kepada Indonesia melalui telepon yakni PM Malaysia Najib Razak, Presiden Timor Leste Ramos Horta, PM Singapura Lee Hsien Loong, PM Australia Kevin Rudd, Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo dan Presiden Palestina Mahmud Abbas.
Menurut Dino, apresiasi itu menunjukkan pengakuan dan penghargaan dunia internasional terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
Dalam kesempatan itu Dino juga mengatakan bahwa saat ini sedang diatur pembicaraan dengan PM Thailand Abhisit Vejjajiva dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
"Kami dapat komunikasi Presiden AS Obama sedang berada di Italia. Kantor presiden Obama sedang mencari waktu untuk melakukan komunikasi," katanya.
Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima ucapan selamat dari Presiden Palestina mengenai keberhasilan Indonesia melaksanakan pemilu dengan baik.
Pembicaraan yang dilakukan sekitar pukul 18.35 WIB itu berlangsung melalui telefon sambungan langsung internasional selama lebih kurang dua menit.
Presiden Yudhoyono yang malam itu mengenakan kemeja lengan pendek bermotif tradisional mengucapkan terima kasih atas telefon tersebut dan menyampaikan harapannya untuk dapat bertemu dengan Presiden Abbas.
Kepala Negara juga mengatakan bahwa rakyat Indonesia akan selalu mendukung perjuangan rakyat Palestina memperoleh kemerdekaan.
Menurut Presiden, rakyat Palestina akan selalu ada di hati rakyat Indonesia.
Hasil Pilpres 8 Juli 2009 untuk sementara menempatkan pasangan capres-cawapres nomor urut dua, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono unggul atas dua pesaingnya menurut penghitungan cepat.
(*)
VRS July 11th, 2009, 06:43 AM padahal keputusan final tentang pemenang belum diputuskan oleh KPU...
paradyto July 11th, 2009, 02:48 PM http://img179.imageshack.us/img179/9067/pemilu.jpg (http://img179.imageshack.us/i/pemilu.jpg/)
from www.metrotvnews.com
paradyto July 11th, 2009, 02:58 PM Indonesia Teladan Pemberian Hak Politik Tahanan
Sabtu, 11 Juli 2009 19:23 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam |
Jakarta (ANTARA News) - Pemantau internasional Asian Network for Free Elections (ANFREL) menilai pemilihan umum di Indonesia dapat menjadi teladan bagi negara lain di dunia, khususnya dalam pemberian hak pilih bagi tahanan untuk berpartisipasi dalam pilpres 8 Juli lalu.
Direktur Eksekutif ANFREL Somsri Hanasuntasuk di Jakarta, Sabtu, mengatakan pengakuan hak politik seorang tahanan di Indonesia untuk menyalurkan aspirasi dalam Pilpres merupakan sebuah apresiasi yang tidak diberikan oleh negara lain, bahkan negara demokrasi Amerika Serikat.
"Indonesia menjadi contoh yang bagus, karena menghargai tahanan sebagai manusia yang memiliki hak suara dalam menentukan masa depan bangsa," katanya.
Ia mencontohkan negara-negara yang tidak memberikan hak politik kepada tahanan untuk menyalurkan aspirasinya dalam pemilu yaitu Thailand, Filipina, Malaysia dan Amerika Serikat.
Menurutnya, di Indonesia hak politik untuk memilih kandidat capres-cawapres bagi tahanan mengalami perbaikan dibandingkan dengan pemilu tahun 2004 lalu.
"Waktu itu tahanan yang diperbolehkan menyalurkan aspirasinya hanya yang masa tahanannya dibawah lima tahun, tapi sekarang sudah jauh lebih baik karena diberikan kesempatan lebih longgar," katanya.
Somsri menambahkan bahwa sudah seharusnya politisi memperhatikan tahanan, karena mereka juga berpengaruh pada perolehan suara kandidat calon legislatif maupun eksekutif.
"Bagaimanapun mereka pasti menyumbangkan suara untuk kemenangan bagi politisi-politisi tersebut," katanya.
Sementara itu, Somsri juga mengapresiasi proses pencontrengan di salah satu lembaga pemasyarakatan ketika petugas KPPS menunjukkan kertas suara yang masih bersih kepada calon pemilih sebelum dilakukan pencontrengan.
"Ini sebagai contoh tindakan transparan," katanya.
ANFREL pada pilpres 8 Juli lalu mengamati proses pencontrengan di Rumah Tahanan Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur dan Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat.(*)
~MELVINDONESIA~ July 11th, 2009, 03:16 PM http://img179.imageshack.us/img179/9067/pemilu.jpg (http://img179.imageshack.us/i/pemilu.jpg/)
from www.metrotvnews.com
Bukannya SumSel termasuk basis GolKar juga ya??
paradyto July 11th, 2009, 03:22 PM Bukannya SumSel termasuk basis GolKar juga ya??
Iya juga sih saat pemilihan umum legislatif, Golkar yang unggul..
Tapi, Eddy Yusuf (Wakil Gubernur) kan kadernya Demokrat:)
Lagian, sekarang orang dah nggak pilih partai pada saat Pilpres, but FIGURNYA... alasan untuk Partai sih nomor dua...
novian July 14th, 2009, 09:58 AM tanggapan kalian pada pemilu kali ini gmn seh???.....
gw heran ngeliat para pecundang2 PILPRES....slalu aja mempermasalahkan ini itu.....apa seh yg mereka pengen???.....terutama pasangan No.1....dari dulu slalu aja mengatasnamakan rakyat??? rakyat yg mana seh??? rakyat yg bisa mereka ditindas?? rakyat yg biasa menyembah kalian???
masalah DPT ganda...emg 2004 dulu ga' ada??? gw yakin lebih banyak dari ini, ngapa gw yakin spt itu karena dulu g terjun langsung menginput data DPT.....dan saat verifikasi jg banyak yg double.....
trus malah banyak org yg ga' bisa ikut nyontreng karena alasan ga' terdaftar di TPS2....iya itukan salah mereka kan KPU udh ngasih jangka waktu untuk pendaftaran kembali.....buktinya gw yg berKTP Kota BAtam bisa tuh nyontreng di Bandung!!, ya tentunya dengan cara mendaftar di RT/RW setempat......
fajarmuhasan July 14th, 2009, 10:33 AM JAdi pengin ngeluarin uneg uneg masalah DPT, koq ini mulu yg diributin.
Begitu pileg selesai, ketua RT atau RW pada sibuk bikin DPS untuk pilpres, kan aturannya DPT pileg dipakai sbg pedoman DPS pilpres tentu dengan banyak revisi. Petugas RT akan mendata lagi semua penduduk yg udah punya hak pilih, gw rasa gak ada RT yg pilih kasih dalam pendataan secara kan RT-nya kenal baik ama warga setempat. Selama masa pembuatan DPS ini warga diberi hak untuk mengecek apakah namanya tercantum apa belum. Ini sebenarnya menyalahi himbaun pemilu aktif.
[Dalam pemilu aktif penduduk yg harus ndaftar ke RT atau RW atau petugas pemilu. Jika tidak daftar ya gak bisa milih]
Berhubung ada kebijakan jemput bola, maka petugas yg melakukan pendataan dan warga dihimbau untuk ngecek. Jadi semua penduduk akan tercantum di DPT.
Sehingga jika pada akhirnya ada penduduk/warga yg protes karena namanya tak tercantum....ini gw bilang sich salah warga tsb, selama itu kemana dan ngapain ajah, kalo emang niat ikut pemilu kan kudu ngecek, kalo gak niat kayak gw ya gak perlu ngecek.
Itu pengalaman gw ketika bertamu ke rumah ketua RT di daerah kapuk (wilayah DKI) dan juga dg penjelasan yg sama ketika berkunjung ke rumah ketua RW di Cipadu Jaya (wilayah kota tangerang).
Bagaimana dg DPT gw sendiri?? ada petugas RT yg datang ke rumah dg bawa formulir dan gw disuruh ngisi...maka nama gw tercantum di DPT. Di tempat gw petugasnya boleh diacungin jempol karena gak kena protes sedikitpun dari warga.
Maka adalah gw heran dan muak jika DPT diributin...jawaban sebel gw adalah: salah warga sendiri gak ngurus DPT...warga yg salah koq timses yg sibuk....
paradyto July 15th, 2009, 03:58 PM Obama Ucapkan Selamat Atas Terpilihnya Kembali Presiden SBY
Rabu, 15 Juli 2009 12:54 WIB | Mancanegara | Asia/Pasifik |
Washington (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Selasa mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Indonesia dan menyatakan keinginan agar hubungan kedua negara bertambah kuat.
"Rakyat Indonesia mengadakan pemilihan yang berlangsung bebas dan jujur pada 8 Juli dan Presiden Yudhoyono telah menang dengan mengesankan," kata Obama dalama satu pernyataan yang disiarkan Gedung Putih dan dikutip AFP.
"Saya sampaikan ucapan selamat secara pribadi kepada Presiden Yudhoyono dan menjelaskan keinginan Amerika untuk bekerja sama dengannya pada tahun-tahun mendatang, membangun hubungan lebih kuat antara kedua negara," kata Obama yang menghabiskan masa kecilnya di Indonesia.
Menurut Obama, hasil pemilihan presiden, kampanye oleh seluruh partai dan liputan media, dan kegairahan berbagai organisasi merupakan bukti kekuatan dan dinamisnya demokrasi Indonesia yang masih baru.
"Indonesia telah memainkan peran besar di forum internasional dalam beberapa tahun terakhir dan kami menyambut peran ini. Indonesia telah memberi sumbangsih penting di Asia dan dunia dalam pemeliharaan perdamaian, perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup, pengembangan organisasi-organisasi multilateral di kawasan Asia Pasifik dan promosi demokrasi dan masyarakat madani.(*)
paradyto July 23rd, 2009, 05:22 PM Hasil Akhir Rekapitulasi Nasional
Kamis, 23 Juli 2009 18:28 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam |
Jakarta (ANTARA News) - Hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilu presiden dan wakil presiden 2009, di 33 provinsi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Kamis, menunjukkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono memperoleh suara tertinggi yakni 73.874.562 atau 60,80 persen.
Sedangkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto meraih 32.548.105 suara atau 26,79 persen dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto mendapatkan 15.081.814 suara atau 12,41 persen.
Total suara sah dalam pilpres 2009 tercatat 121.504.481 dan suara tidak sah sebanyak 6.479.174 suara.
KPU mencatat jumlah pemilih pilpres yaitu 177.195.786. Jumlah pemilih tersebut dihitung dari jumlah pemilih yang terdapat dalam daftar pemilih tetap di tempat pemungutan suara, ditambah jumlah pemilih dari tempat pemungutan suara lain dan pemilih yang menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) atau paspor.
Dari jumlah pemilih tersebut, jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya yaitu 127.999.965 atau 72,24 persen. Sedangkan jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya tercatat 49.212.158 atau 27,77 persen.
KPU telah menyelesaikan rekapitulasi di 33 provinsi lebih cepat dari jadwal seharusnya. Sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan KPU, rekapitulasi nasional dilaksanakan mulai Rabu 22 Juli hingga Jumat 24 Juli.
Rekapitulasi pada hari kedua ini, hanya dihadiri oleh saksi dari pasangan SBY-Boediono yaitu Didik Mukrianto dan Joko Widodo. Sementara saksi dari Megawati-Prabowo, Arif Wibowo dan Abdul Harris Bobihoe tidak hadir sejak rapat pleno hari kedua dimulai sekitar pukul 09.00 WIB.
Sedangkan saksi dari pasangan JK-Wiranto yakni Chairuman Harahap dan Edi Kusnadi hanya mengikuti rekapitulasi untuk Jawa Tengah saja, pada hari kedua ini. Mereka memutuskan tidak mengikuti rapat karena KPU tidak dapat menjelaskan DPT pilpres yang dianggap masih bermasalah.
Pada rekapitulasi hari pertama yaitu Rabu 22 Juli, ketiga saksi tampak hadir dari awal rapat hingga berakhir pada sekitar pukul 17.00 WIB.
Dengan tidak hadirnya saksi dari pasangan capres-cawapres nomor urut satu dan tiga, maka berita acara rekapitulasi dan sertifikat hasil penghitungan suara hanya ditandatangani oleh saksi dari pasangan nomor urut dua. (*)
fajarmuhasan July 24th, 2009, 03:07 AM Nampaknya dah final dan SBY menang satu putaran....
Tapi gw gak sreg dg protes protes DPT, gw masih heran kenapa bisa protes....padahal di tempat gw gaka ada tuch masalah DPT DPT-an, apalagi kemarin kan udah dimenangin ama MK yaitu cukup dg KTP....ini kan sudah closed masalah DPT, koq skrg protes lagi...kan aneh.
Kesalahan DPT bersumber dari administrasi kependudukan yang amburadul, contohnya teroris yg ngebom mariot kemarin dia pake ktp palsu, mungkin dia punya ktp 100 biji, berarti punya 100 DPT.
Gw juga punya KTP 2 biji semuanya asli, berarti gw juga punya DPT ganda tapi gw cuma pake 1 kali aja...gw berusaha tertib cuma sekali nyontreng meski punya DPT ganda. JAdi jangan salahin KPU tapi salahin tuch pegawe kelurahan yg bikin bikin KTP seenaknya.
Gw harap capres no.1 tahu masalah in, kalo no.3 sampe gak tahu ya kebangeten karena dia kan incumbent
paradyto July 27th, 2009, 05:18 PM Raja Arab Saudi Sampaikan Selamat Kepada SBY
Senin, 27 Juli 2009 20:22 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam
Jakarta (ANTARA News) - Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono atas kemenangannya dalam Pemilihan Presiden 2009.
Pernyataan tersebut disampaikan Penerangan Konjen RI di Jeddah, Senin, melalui surat elektronik yang diterima ANTARA News.
Menurut Konjen RI, ucapan selamat itu juga disiarkan kantor berita Saudi.
Raja dan Putra Mahkota, yang merangkap sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Pertahanan dan Penerbangan sekaligus Inspektorat Jenderal, juga menyampaikan selamat yang setinggi-tingginya atas nama pribadi, pemerintah, dan seluruh warga Saudi Arabia.
Pernyataan itu juga menyampaikan harapan agar Presiden RI selalu dalam keadaan sehat walafiat dan bahagia. Kemajuan dan kesejahteraan semoga tetap tercurahkan kepada rakyat Indonesia, demikian ucapan itu. (*)
paradyto July 27th, 2009, 05:19 PM Uni Eropa Ucapkan Selamat Pada Yudhoyono
Senin, 27 Juli 2009 20:13 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam
Jakarta (ANTARA News) - Uni Eropa (UE) mengucapkan selamat kepada presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas keberhasilannya memenangi Pemilu Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009, sebagaimana hasil rekapitulasi penghitungan suara akhir oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sabtu (25/7) lalu.
Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan oleh kepresidenan bergilir Uni Eropa, Swedia, yang diterima ANTARA News di Jakarta, Senin, UE menilai rakyat Indonesia telah menjalankan suatu pemilihan umum yang damai sebagai wujud komitmennya pada demokrasi.
Rakyat Indonesia juga telah mempercayai presiden Yudhoyono untuk kembali melanjutkan pemerintahannya dalam mewujudkan perubahan.
Uni Eropa dan Indonesia memiliki hubungan kerja sama yang baik. Uni Eropa menantikan untuk memperluas hubungan kerja sama kedua belah pihak berdasarkan atas Perjanjian Kemitraan dan Kerjasama yang akan segera ditandatangani.
Indonesia dan Uni Eropa menghadapi sejumlah tantangan yang sama pada masa depan sebagai dampak dari meluasnya krisis keuangan global, perubahan iklim dan terorisme.
Uni Eropa berada di pihak Indonesia dalam upayanya untuk mengatasi tantangan-tantangan itu dan menanti berlanjutnya hubungan baik kedua belah pihak dengan presiden terpilih dan jajaran pemerintahannya.
Rekapitulasi penghitungan suara akhir Pilpres 2009 di 33 provinsi oleh KPU, menunjukkan pasangan Megawati-Prabowo Subianto memperoleh 32.548.105 suara (26,79 persen), SBY-Boediono meraih 73.874.562 (60,80 persen), dan Jusuf Kalla-Wiranto mendapat 15.081.814 suara (12,41 persen). (*)
fajarmuhasan July 28th, 2009, 02:48 AM kembali ke pileg, sekarang lagi ribut masalah jatah kursi. Pas KPU ngumumin hasil pileg...ada yg protes dan maju ke MK, setelah putusan MK trus KPU melakukan revisi. Hasilnya diprotes lagi ama P'Zainal Maarif dan diluluskan oleh MA. Gw jadi bingung...koq mbulet gini.....
Secara sederhana, gw kasihan ama caleg yg udah kepilih versi KPU baik sebelum putusan MK maupun setelah MK. Tentu mereka telah syukuran dll. Koq skrg tiba2 gagal gara-gara protes dari zainal m.
Bingung mode ON
David-80 August 1st, 2009, 08:59 AM Good article by Desi Anwar and almost most Indonesian shares the same opinion with her....Our politican needs to learn one thing, to accept being a loser for the goodsake of our democracy.
source : http://thejakartaglobe.com/opinion/desi-anwar-wheres-the-party/321372
Desi Anwar
Desi Anwar: Where’s the Party?
Can somebody tell me what happened to the election? If I remember correctly, after we patiently put up with months of campaign overload, a surfeit of election debates and turgid promises, we all cheerfully went to the polling stations like responsible democratic citizens to cast our votes and choose our leader.
Then we waited for the results with bated breath.
Good thing we had the quick count. Not one, but several versions. As it happened every one of them pointed to Yudhoyono as the clear winner with more than 60 percent of the total vote. No great surprise, since previous surveys by bona fide survey institutions had all indicated more or less the same outcome.
Surely we had a winner by a landslide?
Not so fast, we were told. Hold the congratulations and celebrations. Only the General Elections Commission (KPU) could announce the final results and declare the winner. The quick-count results were not official. Could it be that the surveys and quick counts were just figments of the media’s imagination, fueled by some evil pollsters conspiring to manipulate the results for some shady end?
Even the president fell prey to the conspiracy paranoia, suggesting that the Jakarta hotel bombings could be related to the election results and the very strong possibility of him winning. Were there people out there willing to resort to desperate measures in order to prevent him from leading the country again? Yudhoyono could be forgiven for reacting rather tearfully. After all, the election went surprisingly smoothly and peacefully. The results were so obviously in his favor. So where was the love? Where were the smiles?
Instead a bunch of killjoy terrorists spoiled the party. Not to mention his long-faced political opponents eager for every opportunity to rub the incumbent’s snooty nose in the mud. No chance of any congratulations coming from their direction, especially when they still harbored the slim hope that come the official count, they might just garner enough votes to take the election to a second round.
As it turned out, to nobody’s surprise, the official results merely confirmed the results of the quick counts. Yudhoyono won the presidential election by a huge margin, receiving more than 60 percent of the vote.
A clear winner by any standard. US President Barack Obama didn’t achieve that percentage when he was elected, Yudhoyono’s campaign team boasted.
So, could we pop the corks on the Champagne? After all, we had just elected a legitimate president who would hopefully lead us to greater peace and prosperity over the next five years. Some congratulations were definitely in order, and perhaps even some flag-waving and shouts of “ lanjutkan ,” meaning “continue,” since this was no small achievement.
Yes, there had been plenty of irregularities in the election process that needed to be dealt with. But it was doubtful they would change the final results of the election. The winner had been officially declared and the losers would concede gracefully. That’s what competition is all about. Better luck next time.
Obviously, however, that was too much to expect from our politicians. Far from accepting defeat gracefully, one of the losing presidential candidates refused to attend the official announcement of the election results, and both of the losers rejected the results, believing them to be fraudulent and in need of a legal challenge for the sake of democracy.
I suppose it is too much to expect them to pen graceful concession speeches in the manner of losing US presidential candidate John McCain upon his defeat to Obama. Indonesia’s presidential election was a direct one and the people spoke clearly. And what’s that about the voice of the people being the voice of God?
This crude display of bad sportsmanship and statesmanship at the highest level is truly disheartening for the entire country to behold. Just how much longer do we have to endure these pouts, sulks and tiresome protests from the sore losers? It’s not as if it would make any difference to the election results or make them champions of democracy.
What’s rather sad about this whole election saga is, not only are the people deprived of their much-deserved pride for a job well done, but we also lose any appetite for rejoicing, wishing instead that this whole charade would end once and for all so we could all move on with our lives.
So, I’m afraid we’ll just have to put the Champagne away until our politicians learn how to lose gracefully.
Desi Anwar is a senior anchor and writer based in Jakarta. She can be reached at www.desianwar.com and www.dailyavocado.net.
typhoonbringer August 1st, 2009, 04:26 PM ya inilah wajah politik di indonesia, siap menang ga siap kalah :bash:
fajarmuhasan August 3rd, 2009, 03:28 AM Dengan alasan pembelajaran demokrasi, kalo belajar demokrasi apa cuma bisa dg protes hasil pemilu. Gw rasa banyak hal yg bisa dipelajri dliuar protes, paling susah mungkin belajar menerima kekalahan. Menerima kekalahan dg ikhlas adalah bagian demokrasi yg paling dalam (gw rasa), tapi pada gak sadar tentang hal ini karena pikir mereka protes kenceng adalah demokrasi yg benar, makin kenceng protesnya makin benar demokrasinya........
paradyto October 20th, 2009, 07:09 AM Yudhoyono envisions Indonesia's global leadership
The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 10/20/2009 11:20 AM | World
President Susilo Bambang Yudhoyono said Tuesday that Indonesia would play a more active role in the international arena, both at the regional and global levels.
Speaking during his inauguration at the People's Consultative Assembly building, President Yudhoyono said that Indonesia would continue its leadership in the current negotiation for a climate deal that would be completed in Copenhagen in December.
Yudhoyono also said that Indonesia would also be more active in pursuing global economic reforms through various international organizations that Indonesia is a part of, especially through the prestigious Group-20.
Indonesia, Yudhoyono said, would also continue to play its leadership role in Southeast Asia through the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) to create an "ASEAN community."
"We want to create an ASEAN community to make this Southeast Asian region a peaceful, prosperous and dynamic region," he told the plenary session, which was also attended by leaders of neighboring countries.
Australian Prime Minister Minister Kevin Rudd, Singaporean Prime Minister Lee Hsien Loong, Malaysian Prime Minister Najib Razak, Brunei Sultan Hassanal Bolkiah and East Timor Prime President Jose Ramos Horta attended Yudhoyono's inauguration.
Yudhoyono also said that Indonesia would continue to play its role in the United Nations, especially to help the world achieve Millennium Development Goals and create "harmony among civilization."
fajarmuhasan October 20th, 2009, 09:20 AM Ada yg ngikutin atau nonton sidang MPR gak? katanya TK blepotan sekali dalam pidato...hiksss bikin malu aja, acara resmi republik indonesia koq mirip acara tidak resmi republik mimpi....
David-80 October 20th, 2009, 04:57 PM Ok, karena pemilu sudah selesai dan presiden sudah dilantik. Kita bisa take conclusion...
dan conclusion nya adalah.....
Milih partai apa aja, tetep aja, kalah menang, jadi pemenang.....soalnya, semua partai 90% pasti jadi koalisi....
hanya hanura doang, walaupun hanura, kemungkinan besar pasti ngikut golkar...
cheers
gantengscool October 20th, 2009, 05:02 PM Ada yg ngikutin atau nonton sidang MPR gak? katanya TK blepotan sekali dalam pidato...hiksss bikin malu aja, acara resmi republik indonesia koq mirip acara tidak resmi republik mimpi....
yg paling konyol waktu dia memberi salam kepada para tamu negara asing, harusnya mengucapkan huruf "W" adalah "double yu" , tapi apa yg dia ucapkan ?
We Dobel !
Asli gwe ngakak sekenceng-kencengnya :lol::lol:
.
gantengscool October 20th, 2009, 05:06 PM .
Pengamat politik Sugeng Saryadi yg jadi komentator di Metro TV waktu siaran langsung, biasanya dia pro PDIP berkomentar (atau nyindir ) begini :
"Tadi saya sebenarnya pengen protes ke SBY apa gunanya tes kesehatan ke calon2 menterinya, tapi setelah melihat tayangan tadi...saya baru sadar ternyata tes kesehatan fisik dan jiwa untuk calon pejabat tinggi memang sangat diperlukan" :lol: :nuts:
David-80 October 20th, 2009, 11:45 PM yg paling konyol waktu dia memberi salam kepada para tamu negara asing, harusnya mengucapkan huruf "W" adalah "double yu" , tapi apa yg dia ucapkan ?
We Dobel !
Asli gwe ngakak sekenceng-kencengnya :lol::lol:
.
keliatan banget, kualitas partai yang satu itu....
mulai dari TK...trus kasus bendera malaysia, trus yang skrg...Gub jateng sama wakil nya malah diem2an....
cheers
paradyto October 21st, 2009, 01:41 AM Indonesia Melangkah Maju
Presiden Bertekad Kurangi Kemiskinan dan Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan rakyat Indonesia untuk terus melangkah maju, rukun, dan bersatu menghadapi tantangan pada masa mendatang. Bangsa Indonesia juga diminta tidak lemah, lalai, dan besar kepala menghadapi situasi dunia yang masih dilanda berbagai krisis.
”Ingat, pekerjaan besar kita masih belum selesai,” ujar Presiden Yudhoyono dalam pidatonya setelah dilantik bersama Wakil Presiden Boediono periode 2009-2014 dalam Sidang Paripurna MPR di Gedung MPR/ DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/10).
Sidang Paripurna MPR dipimpin Ketua MPR Taufik Kiemas dan dihadiri 640 anggota MPR yang terdiri dari anggota DPR dan anggota Dewan Perwakilan Daerah.
Acara itu dihadiri Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, yang saat itu mengakhiri masa jabatannya, mantan Presiden BJ Habibie, mantan Wapres Try Sutrisno, dan sejumlah tamu khusus, seperti Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, PM Timor Leste Jose Ramos Horta, PM Malaysia Tun Nadjib, dan utusan khusus negara sahabat lainnya.
Dalam pidatonya, Presiden Yudhoyono memuji mantan Wapres Kalla yang telah menjalankan tugasnya dengan baik sehingga namanya akan dicatat dan dikenang sepanjang masa.
”Pekerjaan yang masih menjadi tantangan pada masa mendatang di antaranya krisis ekonomi dunia yang masih belum selesai dengan ditandai volume perdagangan dan arus investasi dunia yang belum pulih, juga fluktuasi harga minyak dunia,” ujarnya.
Menurut Presiden, bangsa Indonesia patut bersyukur dan berbesar hati. Di tengah gejolak dan krisis politik di sejumlah wilayah dunia, Indonesia tetap tegak dan tegar sebagai negara demokrasi yang makin kuat dan stabil. ”Bahkan, di tengah badai finansial dunia yang terjadi, bangsa Indonesia masih dapat menikmati pertumbuhan ekonomi positif. Di tengah maraknya konflik dan disintegrasi di sejumlah wilayah dunia lain, bangsa Indonesia justru rukun dan bersatu,” ujarnya.
Oleh karena itu, lanjut Presiden, tidak mengherankan apabila akhir-akhir ini banyak liputan media internasional yang menjuluki Indonesia sebagai bangsa yang berhasil dalam mengatasi krisis dan tantangan berat selama 10 tahun terakhir.
Namun, semua itu jangan membuat bangsa Indonesia lemah, lalai, apalagi besar kepala. Kepala Negara mengingatkan, sendi-sendi perekonomian nasional harus diperkuat guna meminimalkan dampak krisis keuangan dunia. ”Dengan peningkatan ekonomi, kita akan mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, membangun pemerintahan yang baik, dan memberantas korupsi,” katanya.
Presiden juga mengajak para pemimpin bangsa untuk tetap kompak apa pun warna dan pilihan politiknya.
Kekompakan para pemimpin bangsa itu penting untuk menghadapi tantangan dunia yang kian berat.
Penegakan keadilan
Sejumlah pekerjaan rumah menunggu duet Yudhoyono-Boediono, di antaranya terkait penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM).
Usman Hamid, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, kepada Kompas, Selasa, berharap agenda Rencana Aksi Nasional (RAN) HAM 2004-2009 dapat dilanjutkan dengan prioritas pada penegakan keadilan dan martabat manusia.
”Pemerintah masih diwajibkan menyelesaikan soal ketidakadilan masa lalu sebab itu adalah akar dari tidak terhormatinya hak dan kebebasan fundamental,” kata Usman.
Presiden diharapkan bisa membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc demi keadilan legal dan merumuskan kebijakan-kebijakan pemulihan martabat korban pelanggaran HAM ad hoc. Jika hal itu dilakukan, akan menjadi catatan sejarah tersendiri dalam dekade kedua reformasi.
Menurut Usman, Presiden juga masih perlu menyiapkan prioritas kebijakan-kebijakan terhadap masalah HAM yang besar, seperti rehabilitasi mantan tahanan politik, penyelesaian tragedi Trisakti, peristiwa Semanggi, dan penculikan. Termasuk pembaruan reformasi agraria agar pelanggaran hak ekonomi sosial berkurang.
Febri Diansyah, peneliti Indonesian Corruption Watch, juga mendesak agar dalam 100 hari pertama pemerintahannya, Yudhoyono membenahi institusi penegak hukum. Untuk program lima tahun mendatang, proses penegakan hukum di kepolisian dan kejaksaan harus didorong. ”Harus ada reformasi lembaga negara yang bergerak di bidang penegakan hukum,” katanya.
Untuk mereformasi birokrasi, Febri menyarankan agar RAN-Pemberantasan Korupsi (PK) 2004-2009 dievaluasi terlebih dahulu. Penyusunan RAN-PK 2009-2014 kemudian mengacu kepada langkah-langkah yang telah dilakukan sehingga RAN-PK tidak sekadar agenda di atas kertas.
Timpang
Praktisi hukum senior Todung Mulya Lubis menilai susunan kabinet yang disusun Yudhoyono, terutama terkait tim hukum dan perekonomian, masih mencerminkan praktik bagi-bagi kekuasaan dan politik balas budi.
”Padahal, yang justru diperlukan saat ini adalah saling keterkaitan antara tim hukum dan ekonomi di dalam pemerintahan mendatang. Saya melihat kondisinya masih timpang. Di antara keduanya masih belum bisa saling menunjang,” katanya.
Todung mencontohkan, saat ini sudah muncul sejumlah kekhawatiran dan kebingungan dari banyak kalangan pengusaha asing, terutama terkait penerapan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Menurut Todung, UU itu mewajibkan setiap kontrak kerja sama, bahkan dengan perusahaan asing, menggunakan bahasa Indonesia. Kondisi itu, menurut dia, menunjukkan ada yang salah dalam proses legislasi penyusunan aturan perundang- undangan selama ini.
Pluralisme
Menanggapi ajakan Presiden Yudhoyono dalam pidatonya yang meminta masyarakat Indonesia tetap menjaga pluralisme sebagai upaya untuk menjaga jati diri bangsa, peneliti The Wahid Institute, Rumadi, Selasa, minta pemerintah bersikap tegas.
Pemerintah perlu bekerja serius mengawal pelaksanaan UUD 1945, khususnya terkait persoalan kebebasan beragama dan berkeyakinan. DPR dan DPRD juga perlu lebih sensitif dengan persoalan pluralisme dalam membuat berbagai aturan.
”Butuh keseriusan pemerintah dan DPR/DPRD untuk mengawal konstitusi dengan melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan,” ujarnya.
Isu-isu pluralitas masih akan berkutat dengan masalah-masalah yang sudah pernah terjadi, seperti keberadaan kelompok keagamaan yang dituding sesat, persoalan antarkelompok masyarakat, antaragama, serta persoalan pendirian tempat ibadah.
Rumadi berharap Yudhoyono dapat menepati janjinya selama kampanye untuk menertibkan peraturan-peraturan daerah yang diskriminatif dan bertentangan dengan konstitusi. (HAR/DWA/IDR/MZW)
fajarmuhasan October 21st, 2009, 05:04 AM keliatan banget, kualitas partai yang satu itu....
mulai dari TK...trus kasus bendera malaysia, trus yang skrg...Gub jateng sama wakil nya malah diem2an....
cheers
Gub Jateng (juga wagubnya) cuma numpang di pdip, aslinya mungkin milih PD, jadi ya santai ajah.....(maaf kalo salah pak /bu....)
peseg5 October 21st, 2009, 05:16 AM Ok, karena pemilu sudah selesai dan presiden sudah dilantik. Kita bisa take conclusion...
dan conclusion nya adalah.....
Milih partai apa aja, tetep aja, kalah menang, jadi pemenang.....soalnya, semua partai 90% pasti jadi koalisi....
hanya hanura doang, walaupun hanura, kemungkinan besar pasti ngikut golkar...
cheers
Tapi hebat juga ya SBY bisa ngacak2 PDIP, entah ini disengajakan atau tidak (saya sendiri jg gak mau ambil pusing). SBY setidaknya berhasil membuat PDIP menjadi terbelah dua kutub, kutub TK dan kutub MSP, yg dua2nya kebetulan suami istri dan sama2 ambisius dalam perpolitikan, dan keduanya sama2 juga mempunyai basis pendukung walaupun beda levelnya (elit dan akar rumput). Tentu sikap PDIP yg mencla mencle (koalisi/oposisi) ini sudah menjadi poin minus buat pemilih PDIP sekarang maupun di masa mendatang. Dan pada akhirnya partai PD dan koalisi loyalnya yg bs mengambil keuntungan dari kondisi ini..
just my analysis
fajarmuhasan October 21st, 2009, 05:31 AM Tapi hebat juga ya SBY bisa ngacak2 PDIP, entah ini disengajakan atau tidak (saya sendiri jg gak mau ambil pusing). SBY setidaknya berhasil membuat PDIP menjadi terbelah dua kutub, kutub TK dan kutub MSP, yg dua2nya kebetulan suami istri dan sama2 ambisius dalam perpolitikan, dan keduanya sama2 juga mempunyai basis pendukung walaupun beda levelnya (elit dan akar rumput). Tentu sikap PDIP yg mencla mencle (koalisi/oposisi) ini sudah menjadi poin minus buat pemilih PDIP sekarang maupun di masa mendatang. Dan pada akhirnya partai PD dan koalisi loyalnya yg bs mengambil keuntungan dari kondisi ini..
just my analysis
Parahnya sikap mencla mencle PDIP dilakukan oleh orang serumah. Si Ibu pengin ke kiri, si anak dan bapaknya pengin ke kanan....
Kemarin bapaknya yg sakit-sakitan, setelah dapat jabatan langsung sehat, kini gantian ibunya yg katanya lagi sakit.
Satu rumah satu keluarga udah gak kompak......gimana kalo jadi memimpin negri, bisa-bisa menterinya pada jalan sendiri-sendiri dg kebijakan masing2
Note: untung aja si anak wajahnya cantik (menurut gw) jadi lumayan untuk dipandang...lebih cantik anaknya dibanding ibunya..
gantengscool October 22nd, 2009, 02:00 PM .
ambisi sih boleh-boleh saja, asal bisa mengukur kemampuan diri.
Klo tidak kok malah jadi bahan ketawaan (maaf).
paradyto October 22nd, 2009, 03:27 PM President Yudhoyono announces new cabinet line-up
President Susilo Bambang Yudhoyono in Merdeka Palace on Wednesday night (Oct 21) announced the United Indonesia cabinet line-up for 2009-2014 term of office as follows:
Names: Posts:
1. Coordinating minister for political, legal and security affairs =
Joko Suyanto
2. Coordinating minister for economic affairs = Hatta Radjasa
3. Coordinating minister for people`s welfare = Agung Laksono
4. Minister/state secretary minister = Sudi Silalahi
5. Home Affairs minister = Gamawan Fauzi
6. Foreign Affairs minister = Marty Natalegawa
7. Defense minister = Purnomo Yusgiantoro
8. Law and Human Rights minister = Patrialis Akbar
9. Finance minister = Sri Mulyani Indrawati
10. Energy and mineral resources minister = Darwin Zehedy Saleh
11. Industry minister = M.S. Hidayat
12. Trade minister = Marie Elka Pangestu
13. Agriculture minister = Suswono
14. Forestry minister = Zulkifli Hasan
15. Transportation minister = Fredy Numberi
16. Maritime and Fishery minister = Fadel Muhammad
17. Manpower and transmigration minister = Muhaimin Iskandar
18. Public works minister = Djoko Kirmanto
19. Health minister = Endang Rahayu Setianingsih
20. National education minister = Muhammad Nuh
21. Social Affairs minister = Salim Segaf Aljufri
22. Religious affairs minister = Suryadharma Ali
23. National Development Planning minister = Armida Alisyahbana
24. Culture and Tourism minister = Jero Wacik
25. Research and Technology minister = Suharna Surapranata
26. Cooperatives and State Enterprises minister = Sarifuddin Hasan
27. State minister for environment = Gusti Muhammad Hatta
28. State minister for women`s empowerment = Linda Agum Gumelar
29. State administrative reforms minister = EE Mangindaan
30. Development of disadvantaged regions minister = Helmy Faisal Zaini
31. State Enterprises minister = Mustafa Abubakar
32. Communications and Information minister = Tifatul Sembiring
33. Youth and Sports affairs minister = Andi Mallarangeng
34. People`s housing minister = Suharso Monoarfa
Head of National Intelligence Agency (BIN) = Sutanto
Attorney General = Hendarman Supanji
TNI chief Gen Djoko Santoso
National Police Chief Bambang Hendarso Danuri
Yudhoyono also mentioned Kuntoro Mangkusubroto as Chairman of the President Work Monitoring Unit and Development Control.
Zorobabel September 4th, 2010, 05:58 PM As Indonesian President Falls in Polls, War of Words Begins
Anita Rachman & Markus Junianto Sihaloho | September 04, 2010 - The Jakarta Globe
Jakarta. In the face of what appears to be a public relations nightmare, the Democratic Party on Friday blamed the media and political experts for causing the decline in President Susilo Bambang Yudhoyono’s popularity.
The Democratic Party’s deputy chairman, Max Sopacua, said the party could accept the fact that the president’s popularity was indeed waning, as shown by the results of two surveys, but he questioned whether the public had an accurate understanding of the president’s achievements.
“We acknowledge the drop,” he said. “It’s public opinion that has been contaminated by political experts and media reports. They tend to show the negative sides only, while the president has achievements as well.”
On Thursday, an Indo Barometer poll showed Yudhoyono’s approval rating in August had dropped almost 40 percentage points, from 90 to 51, since August 2009. An Indonesian Survey Institute (LSI) poll revealed an almost 20 percent decline, from 85 to 66.
LSI’s poll reached 1,829 people while the Indo Barometer survey polled 1,200.
Max said public opinion was shaped by the media — since political experts talk to the media, the public takes its cues from the media. “The media tends to expose the bad news, because bad news is good news,” he said.
Max said the media should give a more balanced picture of today’s political situation, and not only cover select issues.
“However, we will use the results as part of our evaluation material,” he said.
Though the surveys might not paint a glowing picture of the government’s performance, Heru Lelono, a communications and information staff member for the president, said the administration appreciated the results and would use them as tools to improve its performance.
He said the administration would respond positively to the survey results by mapping out the problems currently faced by the country and enacting new pro-poor policies.
“It’s not about bad leadership by our president. I think the people would still vote for the president if an election were held today,” Heru said.
But he also said the survey results were not as bad as they seemed. He said Yudhoyono only began his second term in August 2009, and it was to be expected for the government to get off to a slow start in the first few months.
“If LSI’s survey only covered 10 months, a 60 percent approval is good,” Heru said, adding that government’s performance was improving each day.
LSI analyst Burhanuddin Muhtadi on Thursday also said a 66 percent approval rating was still relatively high.
Opposition parties, however, are already trying to take advantage of the survey results. House Deputy Speaker Pramono Anung, from the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P), on Thursday said the surveys should be seen as a “drastic decline.”
He also said the surveys were conducted before the Malaysia row erupted, which would have pushed the president’s approval figures even lower.
Syarifuddin Sudding, from the opposition People’s Conscience Party (Hanura), said he was confident the actual approval figures were even lower than in the surveys, and that the Democrats should accept that people no longer had the same level of trust in Yudhoyono.
“President Yudhoyono had been lulled by his popularity. But now he no longer has time just for shaping his image. He needs to take real action,” Syarifuddin said, adding that people in general are disappointed with Yudhoyono’s performance.
|
|