View Full Version : Apartemen Cibubur Village


une
March 28th, 2008, 02:05 PM
Pemerintah membuka Apartemen baru bersubsidi di kawasan Cibubur.
Lokasi merupakan yang terdepan di Cibubur, dan msh bersertifikat Jakarta Timur.

Tepatnya di Jl, Radar Auri No. 1, sekitar 5 menit dr Cibubur Junction.
Jadi bagi yang berminat di Cibubur tapi tidak mau kena kemacetan, apartemen ini bisa menjadi alternatif.

une
March 28th, 2008, 02:11 PM
http://i71.photobucket.com/albums/i126/une0608/flyerfarmingREVISI.jpg

Trip2Java
March 28th, 2008, 02:16 PM
http://i71.photobucket.com/albums/i126/une0608/flyerfarmingREVISI.jpg

hubungin icha atau wahyu ahh...
mau nanyain harganya berapa. :cheers:

une
March 28th, 2008, 02:17 PM
http://i71.photobucket.com/albums/i126/une0608/building.jpg

une
March 28th, 2008, 02:17 PM
http://i71.photobucket.com/albums/i126/une0608/poolview.jpg

une
March 28th, 2008, 02:21 PM
hubungin icha atau wahyu ahh...
mau nanyain harganya berapa. :cheers:

Klw tdk salah harga yg 1kt Rp 93jt & yg 2 kt Rp 144jt

=NaNdA=
March 28th, 2008, 02:37 PM
http://i71.photobucket.com/albums/i126/une0608/building.jpg

nice n huge!

hmm.. harganya cukup masuk akal..
eh kalo harga itu belum ada interior ya?
he..

AceN
March 28th, 2008, 02:58 PM
Pemerintah membuka Apartemen baru bersubsidi di kawasan Cibubur.
Lokasi merupakan yang terdepan di Cibubur, dan msh bersertifikat Jakarta Timur.

Tepatnya di Jl, Radar Auri No. 1, sekitar 5 menit dr Cibubur Junction.
Jadi bagi yang berminat di Cibubur tapi tidak mau kena kemacetan, apartemen ini bisa menjadi alternatif.
Jalan Radar Auri kan kecil n macet kalo weekend... :nuts:

rilham2new
March 28th, 2008, 04:40 PM
Klw tdk salah harga yg 1kt Rp 93jt & yg 2 kt Rp 144jt

Wow,,, apartemen bersubsidi pemerintah ini tiap bulannya ada SERVICE CHARGE gak ??? SECURITY CHARGE ???/ ELECTRICITY CHARGE ???

Apartemen Jakarta harganya sih masih sekitar 200-400 juta.... Tapi setelah ditilik lebih lanjut, ada CHARGE-CHARGE bulanannya :nuts: ...

s_bawono
April 6th, 2008, 09:45 PM
Wow,,, apartemen bersubsidi pemerintah ini tiap bulannya ada SERVICE CHARGE gak ??? SECURITY CHARGE ???/ ELECTRICITY CHARGE ???

Apartemen Jakarta harganya sih masih sekitar 200-400 juta.... Tapi setelah ditilik lebih lanjut, ada CHARGE-CHARGE bulanannya :nuts: ...

yaa...anggap aja biaya RT-RW..biasanya cuma service charge+singking fund+ppn kok..diluar listrik dan air n fasilitas tamb lainnya yaa..:)

raygava
June 19th, 2008, 08:31 AM
ada yang tau no tlp developernya gak? buat rusunami yang di kebon jeruk (pt anggada development)? dan cibubur village(pt bina karya grahatama)?

ncon
June 19th, 2008, 06:17 PM
i'm a little bit confused here what they mean by Bersubsidi Pemerintah ? what did the government did ?
if they planning to use concept like HDB in Singapore, how can the small resident afford such as 93jt ? :eek:

AceN
June 19th, 2008, 06:42 PM
^^ kan bayarnya angsur con..angsurannya itu murah :)

ncon
June 19th, 2008, 10:59 PM
^^ sori bgt wat is angsuran ya :nuts: maklum gak skolah indo gini jdnya :D

r4d1ty4
June 20th, 2008, 05:46 PM
mudah2an ga salah sasaran..ntar orang2 berduit juga yg beli tuh apartemen..buat dijual lagih..

gliazzurra
June 20th, 2008, 07:30 PM
^^ sori bgt wat is angsuran ya :nuts: maklum gak skolah indo gini jdnya :D

installment

ncon
June 20th, 2008, 10:56 PM
^^ OH ICIC :D

anw if this 1000 towers project are meant to the "small resident" is there such a rule such as Middle-High income resident are forbid to purchase a unit in these apartment ?

If so how to ensure that there's enough space for Low income residents to live in these 1000 towers apartment?

henxs
December 4th, 2009, 04:18 AM
Proyek ini jalan apa nggak yah... btw gua lagi develop satu website khusus Cibubur, mgk rekan-rekan bisa check ke http://propertycibubur.blogspot.com

Kalau ada masukan/ kritikan, I will really really appreciate it.
Wensite ini bertujuan memberikan informasi sebanyak-banayaknya mengenai keadaan yg berhubungan dgn property di Cibubur area.

lombok
December 13th, 2009, 08:44 AM
Cibubur, Kota Tanpa Rencana
Minggu, 13 Desember 2009 | 12:07 WIB
Ilham Khoiri, Yulia Sapthiani, dan Lusiana Indriasari

KOMPAS.com - Jika ingin mengamati semrawutnya tata kota Jakarta dan sekitarnya, datanglah ke Cibubur. Kawasan yang mekar di wilayah pertemuan antara Jakarta Timur, Bekasi, Depok, dan Bogor itu kini dirundung berbagai soal: macet, sesak, kisruh, juga ancaman banjir. Bagaimana semua itu bermula?

Masyarakat Jakarta biasa mengunjungi Cibubur lewat Jalan Tol Jagorawi. Begitu keluar dari pintu tol (dengan tanda nama ”Cibubur, Cikeas, Cileungsi”), kita disergap berbagai bangunan yang seolah ditumplekkan begitu saja.

Di kiri Jalan Buperta berdiri patung tunas kelapa sebagai ikon Bumi Perkemahan Pramuka. Patung kusam itu tampak tenggelam disandingkan dengan label mentereng logo ”M” kuning McDonald’s dan logo merah-hitam Pizza Hut. Tak jauh dari situ berdiri stasiun pengisian bahan bakar Pertamina, Telaga Sea Food Restoran, dan toko 24 jam Circle K.

Kesemrawutan berlanjut di jalan alternatif Trans Yogie, jalan tembus Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cianjur hingga Bandung. Pada kiri jalan kita temukan Restoran Kabayan dan Hanamasa, Rumah Makan Khas Sunda Cibiuk, Gado-gado Boplo, dan Klinik Prodia. Di kanan jalan tampak bangunan Baby and Child Clinic 24 Hours dan Cibubur Point Automotif Center.

Memasuki wilayah Kota Depok lalu Bogor, kita bakal dikejutkan dengan belasan perumahan yang berjejer di kiri-kanan jalan. Sebagian nama menyematkan bermacam nama dalam bahasa asing. Sebut saja Mahogany Residence, Raffles Hills, Taman Laguna, Kranggan Permai, Nusa Dua Citra Gran, Legenda Wisata, Kota Wisata, Cibubur Residence, dan Citra Gran. Puluhan spanduk iklan perumahan riuh rendah melintang di atas jalan.

Tentu saja ada pusat perbelanjaan dan ruko di sana-sini. Ada Cibubur Point, Plaza Cibubur, Cibubur Times Square, dan Mal Ciputra Gran. Di seberang jalan tol ada mal Cibubur Junction yang nongkrong dengan gagah di tikungan dekat pertigaan Jalan Taman Bunga.

Daftar jejalan bangunan itu bisa diperpanjang. Kita bisa menyertakan rumah sakit, sekolah internasional, sarana olahraga seperti golf dan pusat kebugaran, atau rumah makan. Semuanya berkerumun di kawasan sekitar Tol Cibubur, kemudian melebar ke wilayah sekitar.

Macet

Apa yang dinikmati warga dari pemekaran kota yang menggerombol itu? ”Cibubur jadi ramai. Mencari apa-apa mudah,” kata Jajat Sudrajat (48), warga yang tinggal di Cibubur sejak tahun 1985.

Sayang keramaian itu harus dibayar dengan masalah lain. Pertumbuhan kota yang serampangan membuat Cibubur sesak. Situasi makin parah karena kepadatan itu tak diimbangi sarana transportasi. Akses utama ke Jakarta hanya lewat Jalan Tol Jagorawi atau tembusan Tol Jatiasih menuju Jalan Simatupang. Padahal, sebagian besar warga di sana bekerja di Jakarta. Populasinya juga terus membengkak seiring dengan pertambahan perumahan.

Menurut Pratomo Putro, pemilik media komunitas cibubur.com, kini ada 25-an kompleks perumahan dengan total penghuni 30.000-an keluarga. Dengan akses utama jalan tol, setiap keluarga didorong punya mobil pribadi. ”Jika setiap rumah punya satu mobil, jumlahnya bisa 30.000-an unit. Itu belum mencakup warga di perkampungan dan perusahaan,” katanya.

Akibatnya bisa diduga: kemacetan lalu lintas mendera setiap jam berangkat kerja pagi dan jam pulang sore hari. Titik macet menyebar di sekitar Jalan Buperta, Jalan Trans Yogie, Jalan Taman Bunga, bahkan hingga ke Jalan Raya Bogor.

Kemacetan menjadi-jadi pada akhir pekan. Setiap Sabtu dan Minggu jalanan disesaki kendaraan menuju tempat wisata dan mal. Bus-bus besar dari luar kota Jakarta juga sering memperparah situasi.

Gembong Arifin (35), pengurus peralatan studio personel God Bless Ian Antono, mengungkapkan, dia kerap terjebak macet pada Sabtu-Minggu. Ruas jalan dari rumahnya di Perumahan Villa Cibubur Indah ke pintu tol yang sepanjang 1,5-an kilometer harus ditempuh sampai satu jam. ”Itu siksaan luar biasa,” ujarnya.

Hingga kini para pengembang masih memburu lahan perumahan. Harga tanah melonjak. ”Cibubur masih dilirik pengembang dan konsumen. Muncul citra elite setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan jalan alternatif Cibubur menuju rumahnya di Cikeas,” kata Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.

Geliat kota ini menggerogoti kawasan hijau. Lahan serapan air dan penghijauan, seperti kebun, sawah, setu, atau empang, digasak demi menancapkan beton- beton mal, ruko, atau perumahan. Citra Cibubur tempo dulu yang asri dan sejuk berangsur menjadi sesak dan mulai panas. ”Dulu kami tidur pakai selimut. Sekarang malah harus pakai AC,” kata Arief Bagus (30), warga Cibubur.

Masalah lain, muncul ancaman banjir. Syarif (37), warga yang tinggal sejak kecil di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, bercerita, ”Kalau musim hujan, jalan di sini banjir sampai tidak bisa dilalui kendaraan. Gorong-gorong yang ada di depan pasar terlalu kecil.”

Berbagai persoalan itu memaksa sebagian warga berpikir ulang untuk menetap di sana. Andong Begawan dan orangtuanya yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak sejak tahun 1970-an, misalnya, menjual rumah dan pindah ke Sawangan, Depok. ”Kami tak tahan lagi dengan macet, debu, dan hiruk pikuk,” katanya.

Tanpa rencana

Apa akar dari semua masalah itu? ”Cibubur menggambarkan fenomena urban sprawl (pemekaran kota) tanpa rencana,” papar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.

Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005, menurut Yayat, memasukkan Cibubur dalam zona konservasi, pertanian, resapan air, dan sedikit hunian. Namun, ketika meletup booming ekonomi tahun 1990-an, muncul hasrat mengubah Cibubur menjadi kota baru. Itu selaras dengan pernah munculnya rencana pemindahan sebagian Ibu Kota ke Jonggol yang berbatasan dengan Cibubur.

Saat pembangunan menggeliat, tiba-tiba rencana umum tata ruang tahun 2000-2010 mengubah Cibubur menjadi permukiman dengan tingkat kepadatan rendah. Maksudnya, perumahan diizinkan, tetapi dalam sekala kecil dan berhalaman luas. Tujuannya agar tetap ada lahan terbuka hijau.

Sayang rencana itu kandas dilibas hasrat para pemilik modal membangun perumahan besar- besaran. Ini memicu munculnya berbagai kegiatan komersial lain. Pasar mengendalikan semuanya. Parahnya, tidak ada antisipasi transportasi massal ke Jakarta. ”Cibubur jadi acak-acakan. Mari kita nikmati bermacam masalahnya,” kata Yayat.

Adakah jalan keluar? ”Ada. Lakukan moratorium alias penghentian sementara, bikin dulu rencana tata kota yang jelas dan rinci, lalu semua perizinan pembangunan mengacu pada rencana itu. Jangan seenaknya pasar saja yang atur,” tandas Yayat.

hildalexander
December 14th, 2009, 10:47 AM
^^ aiiiihhhhh..... gw tiap hari lewat jalur Transyogi....kecuali Malam Takbiran dan Lebaran, butuh waktu 1,5 jam ke Pondok Indah apalagi kalo Sabtu-Minggu....

henxs
March 19th, 2010, 12:32 PM
Cibubur, Kota Tanpa Rencana
Minggu, 13 Desember 2009 | 12:07 WIB
Ilham Khoiri, Yulia Sapthiani, dan Lusiana Indriasari

KOMPAS.com - Jika ingin mengamati semrawutnya tata kota Jakarta dan sekitarnya, datanglah ke Cibubur. Kawasan yang mekar di wilayah pertemuan antara Jakarta Timur, Bekasi, Depok, dan Bogor itu kini dirundung berbagai soal: macet, sesak, kisruh, juga ancaman banjir. Bagaimana semua itu bermula?

Masyarakat Jakarta biasa mengunjungi Cibubur lewat Jalan Tol Jagorawi. Begitu keluar dari pintu tol (dengan tanda nama ”Cibubur, Cikeas, Cileungsi”), kita disergap berbagai bangunan yang seolah ditumplekkan begitu saja.

Di kiri Jalan Buperta berdiri patung tunas kelapa sebagai ikon Bumi Perkemahan Pramuka. Patung kusam itu tampak tenggelam disandingkan dengan label mentereng logo ”M” kuning McDonald’s dan logo merah-hitam Pizza Hut. Tak jauh dari situ berdiri stasiun pengisian bahan bakar Pertamina, Telaga Sea Food Restoran, dan toko 24 jam Circle K.

Kesemrawutan berlanjut di jalan alternatif Trans Yogie, jalan tembus Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cianjur hingga Bandung. Pada kiri jalan kita temukan Restoran Kabayan dan Hanamasa, Rumah Makan Khas Sunda Cibiuk, Gado-gado Boplo, dan Klinik Prodia. Di kanan jalan tampak bangunan Baby and Child Clinic 24 Hours dan Cibubur Point Automotif Center.

Memasuki wilayah Kota Depok lalu Bogor, kita bakal dikejutkan dengan belasan perumahan yang berjejer di kiri-kanan jalan. Sebagian nama menyematkan bermacam nama dalam bahasa asing. Sebut saja Mahogany Residence, Raffles Hills, Taman Laguna, Kranggan Permai, Nusa Dua Citra Gran, Legenda Wisata, Kota Wisata, Cibubur Residence, dan Citra Gran. Puluhan spanduk iklan perumahan riuh rendah melintang di atas jalan.

Tentu saja ada pusat perbelanjaan dan ruko di sana-sini. Ada Cibubur Point, Plaza Cibubur, Cibubur Times Square, dan Mal Ciputra Gran. Di seberang jalan tol ada mal Cibubur Junction yang nongkrong dengan gagah di tikungan dekat pertigaan Jalan Taman Bunga.

Daftar jejalan bangunan itu bisa diperpanjang. Kita bisa menyertakan rumah sakit, sekolah internasional, sarana olahraga seperti golf dan pusat kebugaran, atau rumah makan. Semuanya berkerumun di kawasan sekitar Tol Cibubur, kemudian melebar ke wilayah sekitar.

Macet

Apa yang dinikmati warga dari pemekaran kota yang menggerombol itu? ”Cibubur jadi ramai. Mencari apa-apa mudah,” kata Jajat Sudrajat (48), warga yang tinggal di Cibubur sejak tahun 1985.

Sayang keramaian itu harus dibayar dengan masalah lain. Pertumbuhan kota yang serampangan membuat Cibubur sesak. Situasi makin parah karena kepadatan itu tak diimbangi sarana transportasi. Akses utama ke Jakarta hanya lewat Jalan Tol Jagorawi atau tembusan Tol Jatiasih menuju Jalan Simatupang. Padahal, sebagian besar warga di sana bekerja di Jakarta. Populasinya juga terus membengkak seiring dengan pertambahan perumahan.

Menurut Pratomo Putro, pemilik media komunitas cibubur.com, kini ada 25-an kompleks perumahan dengan total penghuni 30.000-an keluarga. Dengan akses utama jalan tol, setiap keluarga didorong punya mobil pribadi. ”Jika setiap rumah punya satu mobil, jumlahnya bisa 30.000-an unit. Itu belum mencakup warga di perkampungan dan perusahaan,” katanya.

Akibatnya bisa diduga: kemacetan lalu lintas mendera setiap jam berangkat kerja pagi dan jam pulang sore hari. Titik macet menyebar di sekitar Jalan Buperta, Jalan Trans Yogie, Jalan Taman Bunga, bahkan hingga ke Jalan Raya Bogor.

Kemacetan menjadi-jadi pada akhir pekan. Setiap Sabtu dan Minggu jalanan disesaki kendaraan menuju tempat wisata dan mal. Bus-bus besar dari luar kota Jakarta juga sering memperparah situasi.

Gembong Arifin (35), pengurus peralatan studio personel God Bless Ian Antono, mengungkapkan, dia kerap terjebak macet pada Sabtu-Minggu. Ruas jalan dari rumahnya di Perumahan Villa Cibubur Indah ke pintu tol yang sepanjang 1,5-an kilometer harus ditempuh sampai satu jam. ”Itu siksaan luar biasa,” ujarnya.

Hingga kini para pengembang masih memburu lahan perumahan. Harga tanah melonjak. ”Cibubur masih dilirik pengembang dan konsumen. Muncul citra elite setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan jalan alternatif Cibubur menuju rumahnya di Cikeas,” kata Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.

Geliat kota ini menggerogoti kawasan hijau. Lahan serapan air dan penghijauan, seperti kebun, sawah, setu, atau empang, digasak demi menancapkan beton- beton mal, ruko, atau perumahan. Citra Cibubur tempo dulu yang asri dan sejuk berangsur menjadi sesak dan mulai panas. ”Dulu kami tidur pakai selimut. Sekarang malah harus pakai AC,” kata Arief Bagus (30), warga Cibubur.

Masalah lain, muncul ancaman banjir. Syarif (37), warga yang tinggal sejak kecil di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, bercerita, ”Kalau musim hujan, jalan di sini banjir sampai tidak bisa dilalui kendaraan. Gorong-gorong yang ada di depan pasar terlalu kecil.”

Berbagai persoalan itu memaksa sebagian warga berpikir ulang untuk menetap di sana. Andong Begawan dan orangtuanya yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak sejak tahun 1970-an, misalnya, menjual rumah dan pindah ke Sawangan, Depok. ”Kami tak tahan lagi dengan macet, debu, dan hiruk pikuk,” katanya.

Tanpa rencana

Apa akar dari semua masalah itu? ”Cibubur menggambarkan fenomena urban sprawl (pemekaran kota) tanpa rencana,” papar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.

Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005, menurut Yayat, memasukkan Cibubur dalam zona konservasi, pertanian, resapan air, dan sedikit hunian. Namun, ketika meletup booming ekonomi tahun 1990-an, muncul hasrat mengubah Cibubur menjadi kota baru. Itu selaras dengan pernah munculnya rencana pemindahan sebagian Ibu Kota ke Jonggol yang berbatasan dengan Cibubur.

Saat pembangunan menggeliat, tiba-tiba rencana umum tata ruang tahun 2000-2010 mengubah Cibubur menjadi permukiman dengan tingkat kepadatan rendah. Maksudnya, perumahan diizinkan, tetapi dalam sekala kecil dan berhalaman luas. Tujuannya agar tetap ada lahan terbuka hijau.

Sayang rencana itu kandas dilibas hasrat para pemilik modal membangun perumahan besar- besaran. Ini memicu munculnya berbagai kegiatan komersial lain. Pasar mengendalikan semuanya. Parahnya, tidak ada antisipasi transportasi massal ke Jakarta. ”Cibubur jadi acak-acakan. Mari kita nikmati bermacam masalahnya,” kata Yayat.

Adakah jalan keluar? ”Ada. Lakukan moratorium alias penghentian sementara, bikin dulu rencana tata kota yang jelas dan rinci, lalu semua perizinan pembangunan mengacu pada rencana itu. Jangan seenaknya pasar saja yang atur,” tandas Yayat.

Iya waktu aku baca articles ini...sangat menyedihkan...hope bahwa satu ahri semua keruwetan ini diperbaiki. Cibubur dalam benakku adalah daerah yg sangat kaya akan potensi...

http://propertycibubur.blogspot.com