View Full Version : Economy, Trade and Business - thread V
rilham2new
May 17th, 2008, 09:07 AM
Previous thread already reached its 500th post. So, let me open the new thread.
LINK FOR THE THREAD IV
Economy, Trade and Business - thread IV (http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=480917)
rilham2new
May 17th, 2008, 09:20 AM
cek the wikipedia situs=America merupakan penghasil minyak no 3...
but mereka tidak ada dalam 20 negara pengexsport minyak...
jd selama ini mereka selalu import...cadangan minyak mereka dipakai utk cadangan bila dalam keadaan bahaya perang...
kita memang sudah seharusnya keluar dari OPEC...
dgn kemampuan (berita koran SINDO=produksi nasional 600.000 barel perhari) dari kapasitan 1,1jt barel sdgkan kebutuhan dalam negri meningkat=adalah lebih baik kita jangan ekxport minyak lagi...pentingkan dalam negri terlebih dahulu...
pertamina harus jangan koruspsi lagi...
Amerika Serikat bukan penghasil tapi PEMILIK CADANGAN MINYAK (salah satu yang) terbesar di dunia.
Betul, mereka lebih cenderung meng-impor minyak. Ada kecurigaan dari negara penghasil minyak, kenapa Amerika cenderung meng-impor minyak Timur Tengah, ketimbang meng-Utilisasi minyak dalam negeri (duhhh,, ALASKA itu besar sekali cadangan minyaknya ... :nuts: )
Dulu waktu negara2 penghasil minyak membuat OPEC, kalau gak salah alasan pembentukan OPEC adalah kecurigaan pada Amerika Serikat, akan menjual minyak pada dunia ketika cadangan minyak Timur Tengah habis (diperkirakan 2050, kalau tidak ditemukan sumur baru) dengan harga SANGAT MAHAL. Inilah licik-licik yang kurang disukai negara penghasil minyak. :ohno:
Penyerangan Amerika Serikat terhadap Irak dan (mungkin saja, suatu hari nanti) Iran. Akan berakibat fatal pada harga minyak dunia. Tapi, kelihatannya negara yang merdeka tanggal 4 Juli 1776 ini sama sekali tidak peduli dengan eksistensi negara dunia ketiga.
^^ Lucunya Amerika Serikat (pemerintahnya) resah kalau-kalau negara seperti Venezuela dan Rusia sengaja menjual minyak dengan harga suka2 Venezuela dan Russia (tidak ikut harga dunia). Dan semakin resah, karena minyak tadi dijual ke Kuba dan negara2 Eropa Timur yang lagi booming ekonominya :p ....
Indonesia yang aku tahu, itu produksinya sekitar 900 ribu barrel per hari (dan 500 ribu barrel nya diproduksi oleh sebuah perusahaan asing yang beroperasi di Provinsi Riau (baca keras-keras: PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA)) ...
Aku juga pernah baca di koran Kompas, katanya kalau produksi minyak sudah di bawah 1 juta barrel per hari, sepertinya kita sudah tidak layak lagi berada dalam keanggotaan OPEC. SOalnya , biaya tahunan keanggotaannya lumayan besar, sampe jutaan dollar kalau gak salah. Ini sudah dipertimbangkan sejak zaman Megawati malah :tongue2:
Indonesia memang sekarang cenderung meng-impor minyak bumi. Karena minyak bumi di Asia Tenggara (Malaysia & Indonesia), itu adalah minyak dangkal. Yang kualitasnya sangat baik, dan harganya sangat mahal. Oleh karena itu minyak kita diekspor ke Jepang & Singapura (negara kecil ini bahkan memproses ulang produk2 & derivat2 dari Minyak Bumi kita, untuk diekspor kembali ke negara2 maju).
Kelangkaan BBM = masalah DISTRIBUSI .... Jarang banget karena masalah produksi, apalagi masalah konsumsi .... Siapa yang menipu kita ???? Dialah sang pemegang jalur DISTRIBUSI BBM (baca keras2: PT. PERTAMINA).
=NaNdA=
May 17th, 2008, 09:53 AM
buat apa biaya keanggotaan???? jutaan dollar setahun???
ada brita di kaskus, lagi eror sekarang jadi gw ga bisa forward beritanya
harga2 bahan bakar di dunia dari paling mahal ke paling murah
Indonesia masih masuk TOP 10 termahal..
negara2 penghasil minyak masih murah banget..
malah ada yang cuma Rp 325 / liter
Iran kl ga salah cuma sekitar seribu / liter
apa yang salah ama Indonesia ya?
gw masih agak kurang ngerti ampe sekarang.. :lol:
katanya dulu sblum krismon produksi bisa sampai 1,5 juta barrel per hari
kl sekarang 1 juta barrel aja ga nyampe.. :ohno:
kl kata Purnomo cadangannya yang udah mulai tipis..
tp smua itu dibantah ama orang2 DPR n minta presiden mecat Purnomo.. :)
AceN
May 17th, 2008, 09:56 AM
Indonesia will overtake British Economy
MEXICO and Indonesia will both have bigger economies than the UK by 2050, according to a report out today which outlines the massive potential of the world’s emerging nations.
The report examines long-term demographic trends to suggest that countries such as Mexico, Indonesia, Brazil and Turkey all have young and fast-growing populations compared with the UK and continental Europe, putting them in line for significantly higher long-term growth rates.
India is forecast to have the fastest growth rate in its working-age population of any major economy in the next 50 years, while China is projected to become the world’s biggest economy in that time.
The report collectively identifies all these countries, together with Russia, as the “E7” group of emerging economies which it estimates will grow to become 75 per cent larger than the G7 group by 2050.
These seven countries hold between them nearly half the world’s population.
John Hawksworth, the head of macroeconomics for PricewaterhouseCoopers (PwC), who wrote the report, said that India had the potential be the fastest-growing economy in the world, overtaking China.
In US dollar terms, he forecast that India would grow by an average of 7.6 per cent a year between now and 2050, with Indonesia on 7.3 per cent and China at 6.3 per cent.
Mexico would see growth of 4.8 per cent a year, far ahead of the US on 2.4 per cent or the UK on just 1.9 per cent, his report predicted.
On a purchasing power parity measure, which adjusts GDP by the cost of living in each country, China will be 43 per cent larger than the US by 2050 and India will be the same size, PwC forecasts.
The fourth-biggest economy would be Brazil, followed by Japan, and then Indonesia and Mexico. Germany and the UK would drop to joint eighth place, down from third and fifth today.
However, Mr Hawksworth said that Britain should see being overtaken by these economies as an opportunity, and not a threat. He said: “UK companies need to factor these projections into their future planning to ensure they are best placed to take advantage of these opportunities.”
With investment in education, Britain could successfully specialise to its advantage while enjoying the benefits of low-cost imports from emerging markets, he said.
Figures from the Office for National Statistics highlight the size of the opportunity for UK companies.
The figures show that the share of Britain’s exports going to the “E7” economies was just 5 per cent in 2004. This compared with about 44 per cent going to the other six G7 countries.
kamski
May 18th, 2008, 01:19 PM
Kelangkaan BBM = masalah DISTRIBUSI .... Jarang banget karena masalah produksi, apalagi masalah konsumsi .... Siapa yang menipu kita ???? Dialah sang pemegang jalur DISTRIBUSI BBM (baca keras2: PT. PERTAMINA).
Ilham, thanks for telling the truth. Sebenernya hal yg diatas itu juga terjadi ke barang2 komoditas yg lain (seperti makanan, obat2an, dll). Kelangkaan dan mahalnya barang bukan lah karena kurangnya produksi, tapi karena distribusi di sistem kapitalisme memang membolehkan kelangkaan untuk terjadi (selama profit terbesar terus masuk ke yg "punya").
peseg5
May 20th, 2008, 07:02 AM
buat apa biaya keanggotaan???? jutaan dollar setahun???
ada brita di kaskus, lagi eror sekarang jadi gw ga bisa forward beritanya
harga2 bahan bakar di dunia dari paling mahal ke paling murah
Indonesia masih masuk TOP 10 termahal..
negara2 penghasil minyak masih murah banget..
malah ada yang cuma Rp 325 / liter
Iran kl ga salah cuma sekitar seribu / liter
apa yang salah ama Indonesia ya?
gw masih agak kurang ngerti ampe sekarang.. :lol:
katanya dulu sblum krismon produksi bisa sampai 1,5 juta barrel per hari
kl sekarang 1 juta barrel aja ga nyampe.. :ohno:
kl kata Purnomo cadangannya yang udah mulai tipis..
tp smua itu dibantah ama orang2 DPR n minta presiden mecat Purnomo.. :)
Gw juga heran, kenapa si PY ini kok dari dulu ngurusin ESDM. Biar presiden ganti2, si ESDM ini die yg pegang. Seharusnya dari dulu dia sudah diganti, sudah banyak masalahnya, dari krisis listrik, distribusi, sampe PLTD yg masih mencakup 40% sumber energi di Indonesia, dll. Kagak ada stok lain yah?
AceN
May 20th, 2008, 12:56 PM
Coba dibaca, and beri komentar :
Dulu rata rata kita menduga kalau alasan Amerika berperang ke Iraq ini
karena:
01. Amerika ingin menghancurkan Islam;
02. Amerika ingin melibas terorisme;
03. Amerika itu memang bandit
04. Bush mau dendam secara pribadi kepada Saddam yang dulu gagal
dihancurkan Bapaknya Bush Senior.
05. Ini ulahnya Yahudi [intelektual kriminal Perle & Wolfowitz ] yang
saat itu jadi penasehat utamanya Bush.
06. Ini perang buat menguasai minyaknya Iraq ...
07. Dan variasi variasi lainnya.
Kini terbukti semua pandangan itu tidak 100% salah tapi juga "salah"
karena itu semuanya cuma masalah kecilnya saja. Semua dugaan kita Itu
semuanya tidak menjelaskan alasan utamanya perang Iraq ini dari sudut
pandang si Amerika sendiri.
Karena, tujuan paling utama dari perang Iraq ini adalah:
1. Menyelamatkan dollar dari Euro.
Di mata Amerika yang dulu menghadiahkan rezim Suharto ke Indonesia,
dosa Iraq yang terbesar adalah ketika Iraq [Saddam] tahun 2000 lalu
minta ke PBB supaya semua minyaknya dibayar menggunakan euro; plus
semua uang milik Irak [$10 bilyun] dikonversikan ke euro dari dollar.
Dulu semua orang bilang kalau itu ide Saddam ini tindakan bodoh
karena euro waktu itu masih 90% dari nilai dollar dan euro pun dari
sejak dikeluarkan [Januari 1999] terus menerus terdepresiasi lawan
dollar yang waktu itu demand (permintaan) nya memang kuat sekali
karena penipuan akuntasi besar besaran sedang terjadi di bursa efeknya
-- dan investor asing juga perlu dollar untuk main di bursanya.
Tapi, sekarang ini euro ternyata sudah terapresiasi sebesar hampir
100% dari harga sebelumnya ! Berarti apa, langkah "gilanya" Saddam
tahun 2000 dulu itu ternyata sangat menguntungkan dan bahkan jenius !
Langkah ini pula yang sekarang sedang dikaji oleh Iran yang cuma mau
menerima transaksi minyak dengan euro dan menolak dollar. Dan di dunia
ini, kartel perdagangan yang terkuat ya cuma minyak saja.
Kartel mobil, atau komputer, atau produk produk lain praktis tidak
eksis. Minyak -- siapapun harus beli minyak.
Terus perhatikan lagi, anggota OPEC itu rata rata isinya adalah
musuh-musuh Amerika yang nyata nyata memang benci kepada Amerika,
karena rata rata negara Islam, yang bukan Islam pun seperti Venezuela
yang dipimpin sama presiden Chavez malah lebih parah lagi anti Amerikanya.
Kalau saja semua anggota kartel minyak ini memang mau "jahat" dan main
"evil" terhadap Amerika, maka caranya gampang sekali: mereka cukup
bilang, kita sekarang cuman mau transaksi pake euro dan selesailah
dollarnya Amerika! Bangkrut serta kiamat jugalah si kapitalis Amerika
ini !
Kita yang tidak punya background ekonomi mungkin bingung. Koq bisa
bangkrut ?
Orang yang bisa hitung hitungan ekonomi bisa menjelaskan begini, Kalau
kita punya uang tunai $1, di tangan, maka secara ekonomi itu artinya
adalah Anda memberi hutang ke Bank Federalnya Amerika dan Bank
Federalnya Amerika itu "berjanji" akan membayar hutangnya sebesar $1
itu ! .
Sekarang, karena kita tinggal di Indonesia yang rupiahnya sangat parah
itu; maka jelas secara rasional kita berusaha terus memegang $1
ditangan itu dari pada ditukar ke rupiah. bukan begitu !
Jadi, secara ekonomi itu artinya Bank Federal Amerika tidak perlu
menebus hutangnya karena hutangnya yang $1 itu tidak kita minta untuk
dibayar.
Artinya: Amerika itu bisa berhutang tanpa perlu bayar sama sekali --
[sepanjang ekonominya memang masih kuat !] sepanjang greenback atau
dollar itu masih jadi standard pengganti emas.
Dengan alasan inilah makanya Amerika itu berani main defisit
gila gilaan selama ini karena toh mereka MEMANG tidak perlu membayar
defisitnya sebab orang sedunialah yang harus membayar defisitnya
Amerika itu !
Supaya jelas mari kita lihat rupiah; kalau budget RI itu defisit maka
negara Republik Indonesia ini harus nombok dengan cara menjual barang
[eksport] atau mencari utangan [CGI]. jadi, defisitnya negara seperti
Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini betul-betul adalah "defisit"
yang harus dibayar, yang kalau tidak bisa bayar ya seperti yang kita
alami pada tahun 1997 yang sampai sekarang juga belum pulih yaitu
KRISMON !
Tapi Amerika lain! Defisit buat Amerika berarti justru malah positif
karena defisit Amerika itu cara bayarnya adalah dengan cara memotong
nilai $1 yang kita pegang itu secara intristik. Berarti . . kalau
Amerika defisit maka yang rugi adalah kita orang non-Amerika yang
pegang dollar !
Cara kerja sistem ekonomi kapitalis yang imperialistik ini berlaku
sepanjang orang seperti kita dan negara Republik Indonesia itu masih
"percaya" dengan dollar dan menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk
dollar !
Eropa tahu persis tentang strategi makan gratis dan utang tidak perlu
bayar ini. Karena itulah Eropa sekarang punya euro. Tujuannya Euro
sebetulnya ya cuma satu itu: ikut menikmati utang gratisan dari orang
orang seperti kita tadi.
Dan saudara saudara sekalian yang paling mengerikan buat amerika yang
diambang kiamat itu apa ? itu adalah kenyataan bahwa 80% US $ itu ada
diluar negeri ya ditangan negara negara seperti Indonesia ini, Cina,
Jepang , India dan negara negara asia lainnya .
Apa arti situasi begini bagi AMERIKA ? ya seperti saya tadi bilang...,
KALAU mendadak saja semua negara penghasil minyak bilang " sekarang
kita transaksi cuman pake euro" ! Dan ini mungkin sekali terjadi
karena semua negara perlu beli minyak ! Sehingga tekanan dari negara
penghasil minyak itu bakal membuat negara-negara seperti Cina atau
Jepang menjual dollarnya dan beli euro.
Semuanya HEGEMONI Amerika dalam sekejap akan berantakan dan ini
artinya apa ?...KIAMAT
Sebab kalau ini terjadi ini artinya sama saja dengan semua negara
negara pemegang US $ itu bilang...Amerika sekarang kamu harus
bayar utang ! Dan tentu saja: kalau dalam sekejap Amerika pun harus
membayar hutangnya dan mendongkrak Euro tadi, dalam sekejap pula
ekonomi Amerika bangkrut berantakan persis seperti waktu bank dalam
negeri di rush nasabahnya jaman krismon dulu. Dan lebih mengerikan
lagi, ekonomi Amerika pun bisa dalam sedetik bakal inflasi ribuan
persen [karena semua orang menjual dollar dan membeli euro],
perusahaan Amerika menjadi tidak ada harganya [persis seperti krismon
di Indonesia tahun 1998 dulu] dan ajaibnya lagi -- orang Amerika pun
tiba tiba jadi persis sama dengan orang orang miskin dari Afrika sana
karena mendadak saja semua kekayaan mereka itu cuma kertas tidak ada
harganya. dan lebih sial lagi..., dengan bangkrutnya dollar praktis
cuma Amerika bakal bangkrut sendirian, negara negara lain tidak ikut
bangkrut karena ada Euro yang bisa menjadi penyelamatnya !
========= ========= ========= ========= ========= ==
Bila anda menentang invasi AS ke iraq , dan anda belum bisa ikut
terjun perang membela rakyat Iraq , atau anda belum punya cukup donasi
untuk membantu rakyat iraq , cukup anda segera lepas simpanan US $
anda atau ditukar dng Euro, atau anda sebarkan email ini seluas luasnya !!
rilham2new
May 20th, 2008, 11:59 PM
EDITED
VRS
May 21st, 2008, 02:59 AM
itu ide utk menentang America ?? or lebih baik kita ikut berfikir bagaimana kita hidup lebih baik di masa mendatang utk Indonesia...
atmada
May 21st, 2008, 07:38 AM
Indonesia will overtake British Economy
karena populasi yang gedhe pasti ni, jadi ekonominya booming
AceN
May 21st, 2008, 08:02 PM
Indonesia's economic woes overshadow anniversary of Suharto's fall
Posted: 21 May 2008 1747 hrs
Related Videos
Indonesia's economic woes overshadow anniversary of Suharto's fall
JAKARTA: Indonesians took to the streets in angry protests over the soaring cost of food and a planned fuel price hike on Wednesday as economic concerns overshadowed the 10th anniversary of Suharto's fall.
Several demonstrations were under way across the country against the government's plans to raise the subsidised price of fuel by as much as 30 percent to protect the budget from record world oil prices.
Indonesia has seen almost daily protests against the fuel price plans and the rising cost of food in recent weeks, but tensions were higher on Wednesday on the 10th anniversary of the collapse of the Suharto regime.
The former dictator, who died in January, resigned amid mass protests triggered by a fuel price rise, ending 32 years of his so-called "New Order" military-led rule.
His iron rule brought economic progress and stability, but at the expense of democracy and human rights.
The Jakarta Post, one of only a few newspapers to publish an editorial on Suharto, said the government had failed to lift Indonesia's economy from the chaos caused by the political turmoil and the 1997 Asian financial crisis.
But the English-language daily said democracy had flourished in Indonesia despite the gloomy economic picture.
"Ten years have passed. Suharto died in January. We are still unable to recover from the economic disaster. But we need to remember that we deserve to take pride in our democracy," it said.
It was an "amazing achievement that Indonesia has been able to transform itself after five decades of dictatorship into the world's third-largest democracy after India and the United States," it said.
But it said corruption, violence, intolerance, weak law enforcement and unemployment continued to undermine democracy and governance in the world's most populous Muslim country.
"When the people's living conditions continue to get worse, more and more people will ask, 'is democracy a blessing or a curse?'" it said.
Suharto died without facing justice over billions of dollars he allegedly stole from government coffers during his 32-year rule, or for widespread human rights violations committed by his generals.
The government, facing elections next year, has said it must slash fuel subsidies by raising the price of fuel after crude oil prices crashed through a series of all-time highs.
But analysts have warned that this will add to the economic pain already being felt by poor Indonesians facing soaring food prices.
- AFP/so
AceN
May 22nd, 2008, 01:38 PM
Hatta: Pengumuman pengganti Boediono oleh Presiden
Kamis, 22/05/2008 11:39 WIB
JAKARTA (bisnis.com): Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa mengatakan pengumuman nama pengganti Boediono sebagai Menko Perekonomian akan langsung disampaikan Presiden.
"Nanti Presiden yang akan menyampaikannya," kata Hatta seusai membuka acara dialog peradaban di Jakarta, hari ini.
Namun begitu, Hatta enggan menyebutkan kapan Presiden akan mengumumkannya mengingat hari ini Boediono resmi dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia.
"Insya Allah," jawabnya singkat ketika ditanya apakah hari ini Presiden akan mengumumkan pengganti Boediono.
Hatta juga menolak menyebutkan calon pengganti Boediono. Bahkan ketika wartawan menanyakan apakah pengganti itu Purnomo Yusgiantoro yang saat ini menjabat sebagai menteri ESDM, Hatta hanya tersenyum.(er)
AceN
May 22nd, 2008, 01:40 PM
http://www.antaraphoto.com/dom/prevw/grab.php?id=1211440655
http://www.antaraphoto.com/dom/prevw/grab.php?id=1211430155
JAKARTA, 22/5- SERTIJAB GUBERNUR BI. Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru Boediono (kanan) dan pejabat lama Burhanuddin Abdullah (kiri) berjabat tangan usai serah terima jabatan (sertijab) di Jakarta, Kamis (22/5). Boediono menggantikan Burhanuddin Abdullah yang sedang ditahan oleh KPK terkait kasus aliran dana BI ke DPR. FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo/hp/08.
=NaNdA=
May 22nd, 2008, 02:03 PM
hehe.. keluar tahanan, sertijab trus masuk lagi.. :D
rilham2new
May 23rd, 2008, 06:10 PM
RESMI DIUMUMKAN di STASIUN TV tadi, kalau PREMIUM naik menjadi Rp 6000,- per liter , resmi berlaku pukul 00.00 WIB :D ... ENjoy the hot new price anyway :nocrook:
=NaNdA=
May 23rd, 2008, 06:12 PM
beli bensin dolo ah... :D
rilham2new
May 23rd, 2008, 06:13 PM
Yaa buruan masih ada 48 menit lagi nih :D
XxRyoChanxX
May 23rd, 2008, 07:44 PM
in Southern california Gas is almost $5.00 per galllon.
=NaNdA=
May 23rd, 2008, 07:53 PM
per liter apa per US Gallon maksudnya?
F-ian
May 23rd, 2008, 07:59 PM
huhh nanti harga Mie Ayam seporsi berapa ya? :ohno: masih inget dulu taun 2004-5 masih Rp 3,000
XxRyoChanxX
May 23rd, 2008, 08:00 PM
per US Gallon
=NaNdA=
May 23rd, 2008, 08:14 PM
1 US gallon = 3.785 litres
$5 = sekitar IDR 45.000
brarti 1 liternya di USA udah lebih dari 11 ribu ya?
J`Town
May 24th, 2008, 01:26 AM
^ yes :( :(
=NaNdA=
May 25th, 2008, 09:40 AM
kutipan dari artikel Kwik Kian Gie
sumber http://www.koraninternet.com/web/index.php?pilih=lihat&id=4565
Istilah Subsidi BBM Menyesatkan. Mengapa Dipakai Untuk Menaikkan Harga Lagi?? (Artikel 1)
Kamis, 15 Mei 08
Dalam tulisan ini saya membuat beberapa kalkulasi tentang jumlah uang yang masuk karena penjualan BBM dan uang yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan mengadakannya. Hasilnya pemerintah kelebihan uang. Mengapa dikatakan pemerintah harus mengeluarkan uang untuk memberi subsidi, sehingga APBN-nya jebol. Dan karena itu harus menaikkan harga BBM yang sudah pasti akan lebih menyengsarakan rakyat lagi setelah kenaikan luar biasa di tahun 2005 sebesar 126%.
Mari kita segera saja melakukan kalkulasinya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menteri Ani) memberi keterangan kepada Rakyat Merdeka yang dimuat pada tanggal 24 April 2008.
Angka-angka yang dikemukakannya adalah angka-angka yang terakhir disepakati antara Pemerintah dan DPR, yang sekarang tentunya sudah ketinggalan lagi.
Maka dalam perhitungan yang saya tuangkan ke dalam tiga buah Tabel Kalkulasi saya menggunakan angka-angkanya Menteri Ani yang diperlukan untuk mengetahui berapa persen bagian bangsa Indonesia dari minyak mentah yang dikeluarkan dari perut bumi Indonesia. Berapa jumlah penerimaan Pemerintah dari Migas di luar pajak. Jadi yang saya ambil angka-angka yang masih dapat dipakai walaupun banyak angka yang sudah ketinggalan oleh perkembangan, seperti harga minyak mentahnya sendiri. Angka kesepakatan antara Pemerintah dan Panitia Anggaran harga minyak masih US$ 95 per barrel. Sekarang sudah di atas US$ 120. Saya mengambil US$ 120 per barrel.
Keseluruhan data dan angka yang menjadi landasan kalkulasi saya tercantum dalam tabel-tabel kalkulasi yang bersangkutan.
Setiap Tabel kalkulasi sudah cukup jelas. Untuk memudahkan memahaminya, saya jelaskan sebagai berikut.
Menteri Ani antara lain mengemukakan bahwa lifting (minyak mentah yang disedot dari dalam perut bumi Indonesia) sebanyak 339,28 juta barrel per tahun. Dikatakan bahwa angka ini tidak seluruhnya menjadi bagian Pemerintah. (baca : bagian milik bangsa Indonesia). Kita mengetahui bahwa 90% dari minyak kita dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Maka mereka berhak atas sebagian minyak mentah yang digali. Berapa bagian mereka? Menteri Ani tidak mengatakannya. Tetapi kita bisa menghitungnya sendiri berdasarkan angka-angka lain yang dikemukakannya, yaitu sebagai berikut.
Menteri Ani memberi angka-angka sebagai berikut.
Lifting : 339,28 juta barrel per tahun
Harga minyak mentah : US$ 95 per barrel
Nilai tukar rupiah : Rp. 9.100 per US$
Penerimaan Migas diluar pajak : Rp. 203,54 trilyun.
Dari angka-angka tersebut dapat dihitung berapa hak bangsa Indonesia dari lifting dan berapa persen haknya perusahaan asing. Perhitungannya sebagai berikut.
Hasil Lifting dalam rupiah : (339.280.000 x 95) x Rp. 9.100 = Rp. 293,31 trilyun.
Penerimaan Migas Indonesia : Rp. 203,54 trilyun. Ini sama dengan (203,54 : 293,31) x 100 % = 69,39%. Untuk mudahnya dalam perhitungan selanjutnya, kita bulatkan menjadi 70% yang menjadi hak bangsa Indonesia.
Jadi dari sini dapat diketahui bahwa hasil lifting yang miliknya bangsa Indonesia sebesar 70%. Kalau lifting seluruhnya 339,28 juta barrel per tahunnya, milik bangsa Indonesia 70% dari 339,28 juta barrel atau 237,5 juta barrel per tahun.
Berapa kebutuhan konsumsi BBM bangsa Indonesia? Banyak yang mengatakan 35,5 juta kiloliter per tahun. Tetapi ada yang mengatakan 60 juta kiloliter. Saya akan mengambil yang paling jelek, yaitu yang 60 juta kiloliter, sehingga konsumsi minyak mentah Indonesia lebih besar dibandingkan dengan produksinya.
Produksi yang haknya bangsa Indonesia : 237,5 juta kiloliter.
Konsumsinya 60 juta kiloliter. 1 barrel = 159 liter. Maka 60 juta kiloliter sama dengan 60.000.000.000 :159 = 377,36 juta barrel.
Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang dikatakan Menteri Ani tentang harga minyak mentah US$ 95 per barrel, saya ambil US$ 120 per barrel.
Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang diungkapkan Menteri Ani tentang nilai tukar adalah Rp. 9.100 per US$, saya ambil Rp. 10.000 per US$.
http://www.koraninternet.com/web/images/tabel3c.jpg
Hasilnya seperti yang tertera dalam Tabel III, yaitu Pemerintah kelebihan uang tunai sebesar Rp. 35,71 trilyun, walaupun dihadapkan pada keharusan mengimpor dalam memenuhi kebutuhan konsumsi rakyatnya. Produksi minyak mentah yang menjadi haknya bangsa Indonesia 237,5 juta barrel. Konsumsinya 60 juta kiloliter yang sama dengan 377,36 juta barrel. Terjadi kekurangan sebesar 139,86 juta barrel yang harus dibeli dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrelnya dan nilai tukar diambil Rp. 10.000 per US$. Toh masih kelebihan uang tunai.
http://www.koraninternet.com/web/images/tabel1a.jpg
Apalagi kalau kita merangkaikan semua data kesepakatan terakhir antara Pemerintah dengan Panitia Anggaran DPR. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Ani kepada Rakyat Merdeka tanggal 24 April yang lalu kesepakatannya adalah sebagai berikut.
Lifting : 339,28 juta barrel per tahun
Harga : US$ 95 per barrel
Nilai tukar : Rp. 9.100 per US$
Penerimaan Migas di luar pajak : Rp. 203,54 trilyun.
Kalkulasi tentang uang yang harus dikeluarkan dan uang yang masuk seperti dalam Tabel I.
Kita lihat dalam Tabel I tersebut bahwa kelebihan uang tunainya sebesar Rp. 82,63 trilyun. Ketika itu Pemerintah sudah teriak bahwa kekurangan uang dalam APBN dan minta mandat dari DPR supaya diperbolehkan menggunakan uang APBN sebesar lebih dari Rp. 100 trilyun, yang disetujui oleh DPR.
http://www.koraninternet.com/web/images/tabel2b.jpg
Dalam Tabel II saya mengakomodir pikiran teoretis dari Pemerintah yang mengatakan bahwa Pertamina harus membeli minyak mentahnya dari Menteri Keuangan dengan harga internasional yang dalam kesepakatan antara Pemerintah dan Panitia Anggaran US$ 95 per barrel dan nilai tukar ditetapkan Rp. 9.100 per US$.
Seperti dapat kita lihat, hasilnya memang Defisit sebesar Rp. 122,69 trilyun. Tetapi uang yang harus dibayar oleh Pertamina kepada Menteri Keuangan yang sebesar Rp. 205,32 trilyun kan milik rakyat Indonesia juga? Maka kalau ini ditambahkan menjadi surplus, kelebihan uang yang jumlahnya Rp. 82,63 trilyun, persis sama dengan angka surplus yang ada dalam Tabel I.
MENGAPA?
Mengapa Pemerintah mempunyai pikiran bahwa subsidi sama dengan pengeluaran uang tunai? Mengapa DPR menyetujuinya? Itulah yang menjadi pertanyaan terbesar buat saya yang sudah saya kemukakan selama 10 tahun dalam bentuk puluhan tulisan di berbagai media massa. Dibantah tidak, digubris tidak.
Sekarang saya mengulanginya lagi, karena masalahnya sudah menjadi kritis dalam dua aspek. Yang pertama, kesengsaraan rakyat sudah sangat parah. Kedua, kenaikan harga BBM lagi bisa memicu kerusuhan sosial. Kali ini jangan main-main. Semoga saya salah.
PIKIRAN BINGUNG YANG ZIG-ZAG
Ketika harga BBM di tahun 2005 dinaikkan dengan 126%, bensin premium menjadi Rp. 4.500 per liter. Ketika itu, harga bensin ini ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 61,5 per barrel.
Pemerintah mengatakan bahwa mulai saat itu sudah tidak ada istilah subsidi lagi, karena harga BBM di dalam negeri sudah sama dengan harga minyak mentah yang setiap beberapa kali sehari ditentukan oleh New York Mercantile Exchange. Memang betul, bahkan lebih tinggi sedikit, karena ketika itu harga minyak mentah US$ 60 per barrel.
Ketika harga minyak mentah turun sampai sekitar US$ 57 dan Wapres JK ditanya wartawan apakah harga BBM akan diturunkan, beliau menjawab “tidak”. Lantas harga minyak meningkat sampai US$ 80. Wartawan bertanya lagi kepadanya, apakah harga BBM akan dinaikkan? Dijawab : “Tidak, dan tidak akan dinaikkan walaupun harga minyak mentah meningkat sampai US$ 100 per barrel.”
Lantas Presiden mengumumkan bahwa kalau harga minyak sudah US$ 120 pemerintah akan kekurangan uang untuk memberikan subsidi kepada rakyatnya dalam jumlah besar, sehingga APBN akan jebol. Maka terpaksa menaikkan harga BBM pada akhir Mei dengan sekitar 30 %. Jadi sangatlah jelas bahwa Presiden menganggap subsidi BBM sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah.
Pada tanggal 13 Mei jam 22.05 Metro TV menayangkan Today’s Dialogue, di mana Wapres Jusuf Kalla mengakui bahwa pemerintah akan kelebihan uang, yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur.
Jadi dalam pengadaan BBM pemerintah kekurangan uang karena harus memberikan subsidi, atau kelebihan uang yang akan dipakai untuk membangun infrastruktur?
Penutup
Tulisan ini baru awal dari sebuah perdebatan publik. Ayo, saya mohon dibantah. Wahai media televisi, selenggarakanlah debat publik tanpa batas waktu siapa yang benar dan siapa yang salah? Buat urusan perut rakyat yang termiskin yang notabene pemilik minyak, janganlah lebih mementingkan iklan – iklan.
Tunggu artikel-artikel berikutnya di KoranInternet ini. Artikel-artikel berikutnya akan membahas masalah penentuan harga BBM untuk rakyatnya ini dari segi disiplin ilmu cost accounting beserta landasan falsafahnya yang nampaknya tidak dikuasai dan tidak dipahami oleh para teknokrat, tetapi selalu bersikap gebrak dulu dengan sikap ”biar bodoh asal sombong”. Pokoknya gebrak dan gertak. Boleh – boleh saja, tetapi kalau lantas menyengsarakan rakyat ya ayolah berdebat keras!
=NaNdA=
May 25th, 2008, 09:43 AM
sumber http://www.koraninternet.com/web/index.php?pilih=lihat&id=4760
Kebijakan Harga BBM Bertentangan Dengan Konstitusi Dan Sarat Dengan Penyesatan (Artikel2)
Minggu, 25 Mei 08
Mahkamah Konstitusi RI (MK) telah menguji Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, apakah isinya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar kita.
Vonisnya ditetapkan dalam Rapat Permusyawaratan 9 (sembilan) Hakim Konstitusi pada hari Rabu, tanggal 15 Desember 2004, dan dituangkan dalam PUTUSAN Perkara Nomor 002/PUU-I/2003.
Putusan MK tersebut yang tentang kebijakan harga BBM berbunyi sebagai berikut : “Pasal 28 ayat (2) dan (3) yang berbunyi (2) Harga Bahan Bakar Minyak dan Harga Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar; (3) Pelaksanaan kebijaksanaan harga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak mengurangi tanggung jawab sosial Pemerintah terhadap golongan masyarakat tertentu”; Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.”
Jadi menentukan harga BBM yang diserahkan pada mekanisme persaingan usaha dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi kita, walaupun persaingan usahanya dikategorikan sehat dan wajar.
Setelah vonis tersebut, terbit sebuah ”pedoman” oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM. Isinya mengatakan bahwa sebagai implikasi dari vonis MK “dilakukan
perubahan atas Pasal 72 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Migas yang berkaitan dengan harga BBM dan Gas Bumi.
Harga jual BBM ditetapkan oleh Pemerintah dengan Peraturan Presiden.”
Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi pasal 72 ayat (1) berbunyi sebagai berikut.
(1) Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi kecuali Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil, diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan.
Jadi sangat jelas bahwa Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2004 tersebut tetap mengatakan bahwa harga BBM diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan”, walaupun oleh MK dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. Yang dikecualikan Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil.
Dalam berbagai penjelasannya, dalam menentukan harga BBM pemerintah memang mendasarkan diri pada persaingan usaha, bahkan persaingan usaha yang tidak sehat dan tidak fair.
Bagaimana penjelasannya? Kita ambil bensin jenis premium sebagai contoh. Ketika harga minyak mentah yang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar atau mekanisme persaingan yang diselenggarakan oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX) mencapai US$ 60 per barrel, harga bensin premium yang Rp. 2.700 per liter dinaikkan menjadi Rp. 4.500 per liter. Angka ini memang ekivalen dengan US$ 61,50 per barrelnya. Seperti kita ketahui, biaya lifting, refining dan transporting secara keseluruhan rata-ratanya US$ 10 per barrel. Kalau kita ambil US$ = Rp. 10.000, keseluruhan biaya ini adalah (10 : 159) x 10.000 = Rp. 628,9 atau dibulatkan menjadi Rp. 630 per liter. Jadi kalau harga bensin premium per liter dikonversi menjadi harga minyak mentah per barrel dalam US$, jadinya sebagai berikut : (4.500 – 630) x 159 : 10.000 = US$ 61,53. Ketika itu harga minyak di New York US$ 60 per barrel. Maka Wapres JK mengatakan bahwa mulai saat itu tidak ada istilah “subsdi” lagi untuk bensin premium, karena harga bensin premium sudah ekivalen dengan harga minyak mentah di New York.
Ini adalah bukti bahwa harga bensin di Indonesia ditentukan atas dasar mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX.
Artinya, ketika itu pemerintah tetap saja mendasarkan diri sepenuhnya pada mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha, bahkan yang berlangsung di NYMEX.
BAGAIMANA SEKARANG?
Tindakan pemerintah menaikkan harga BBM yang berlaku mulai tanggal 24 Mei 2008 jam 00 jelas melanggar Konstitusi. Bagaimana penjelasannya?
Kompas tanggal 24 Mei 2008 memberitakan keterangan Menteri ESDM yang mengatakan bahwa “dengan tingkat harga baru itu, pemerintah masih mensubsidi harga premium sebesar Rp. 3.000 per liter karena ada perbedaan harga antara harga baru Rp. 6.000 per liter dan harga di pasar dunia sebesar Rp. 9.000 per liter.
Dari mana angka Rp. 9.000 per liter yang disebut harga dunia itu? Harga BBM Rp. 9.000 per liter dikurangi dengan biaya lifting, refining dan transporting sebesar Rp. 630 per liter, sehingga harga minyak mentahnya Rp. 9.000 – Rp. 630 = Rp. 8.370. Per barrelnya = Rp. 8.370 x 159 = Rp. 1.330.830. Kalau nilai rupiah kita ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah di pasar dunia sama dengan 1.330.830 : 10.000 = UD$ 133,08.
Sangat-sangat jelas isi pikirannya bahwa harga BBM untuk rakyatnya harus diserahkan sepenuhnya pada “mekanisme persaingan usaha” yang berlangsung di NYMEX, yang oleh MK dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi.
Sekarang memang dinaikkan menjadi Rp. 6.000 per liter. Tetapi ini untuk sementara. Dalam pemberitaan yang sama di Kompas tanggal 24 Mei 2008 tersebut Menteri Keuangan menyatakan bahwa pada harga ini masih belum final. Sebenarnya secara implisit dikatakan bahwa akan diupayakan terus sampai harga persis sama dengan harga di pasar dunia, atau sepenuhnya diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX.
Sebelumnya, yaitu seperti yang dimuat di Kompas tanggal 17 Mei 2008 Menko Boediono mengatakan “Pemerintah tidak ragu memberlakukan harga pasar dunia di dalam negeri karena langkah ini sudah dilakukan di banyak negara dan berhasil menekan subsidi BBM”. Apakah masih perlu penjelasan bahwa yang dimaksud Menko Boediono adalah harga BBM di Indonesia diserahkan sepenuhnya pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX? Dan apakah masih perlu penjelasan lagi bahwa Pemerintah jelas-jelas bertindak melawan vonis MK yang dengan sendirinya juga melawan Konstitusi?
PERSAINGAN YANG SEHAT DAN WAJAR?
Lebih gila lagi. Persaingan usaha yang dijadikan landasan mutlak bagi penentuan harga BBM di Indonesia sama sekali tidak sehat dan tidak wajar. Bagaimana penjelasannya?
1. Volume minyak yang diperdagangkan di sana hanya 30% dari volume minyak di seluruh dunia. Sisanya yang 70% diperoleh perusahaan-perusahaan minyak raksasa atas dasar kontrak-kontrak langsung dengan negara-negara produsen minyak mentah. Di Indonesia melalui apa yang dinamakan Kontrak Bagi Hasil atau production sharing.
2. Bagian terbesar minyak dunia diproduksi oleh negara-negara yang tergabung dalam sebuah kartel yang bernama OPEC. Kalau mekanisme persaingan dirusuhi oleh kartel, apa masih bisa disebut sehat dan wajar? Toh para menteri ekonomi kita secara membabi buta menerapkan dalil bahwa harga minyak yalah yang ditentukan di NYMEX itu, walaupun ditentang keras oleh MK.
3. Harga yang terbentuk di NYMEX sangat dipengaruhi oleh perdagangan derivatif dan perdagangan oil future trading yang juga berlangsung di NYMEX. Sekarang ini para akhli mempertanyakan apakah betul bahwa permintaan minyak demikian drastis melonjaknya dan terus menerus seperti grafik harga minyak mentah di NYMEX? Banyak yang dengan argumentasi sangat kuat menuding spekulasi oleh hedge funds melalui future trading sebagai penyebabnya. Kok Indonesia terus ikut-ikutan lotre buntut ini secara membabi buta tanpa peduli apakah rakyatnya akan mati kelaparan atau tidak.
DUA KALKULASI HARGA POKOK BBM. MANA YANG BENAR DAN MANA YANG MENYESATKAN?
Berikut ini saya menyajikan dua buah kalkulasi. Tabel I atas dasar cash basis. Artinya harga pokok adalah uang yang dikeluarkan untuk memproduksi BBM. Tabel II kalkulasi atas dasar replacement value, yaitu yang disebut harga pokok minyak mentah adalah harga yang sedang berlaku di pasar dunia, ketika minyak mentah yang terkandung di dalam BBM dijual dengan penjualan BBM. Harga ini identik dengan harga yang beberapa kali per harinya ditentukan oleh NYMEX, dan sama sekali tidak dibayarkan oleh pemerintah Indonesia, karena minyaknya tinggal menyedot saja dari perut buminya sendiri.
http://www.koraninternet.com/web/images/bbm.jpg
http://www.koraninternet.com/web/images/penjelasan_bbm.jpg
Kita lihat bahwa dalam Tabel I yang menganut faham harga pokok sama dengan uang yang dikeluarkan, pemerintah memperoleh laba atau kelebihan uang tunai sebesar Rp. 3.870 setiap liternya.
Dalam Tabel II, harga pokoknya harus sama dengan harga yang berlaku di NYMEX, yang dalam tabel tersebut diambil US$ 120 per barrel, walaupun Pemerintah tidak mengeluarkan uang ini, karena minyak mentahnya tinggal disedot saja dari perut buminya sendiri. Hasilnya rugi sebesar Rp. 3.677. Angka yang fiktif ini oleh pemerintah disajikan kepada rakyatnya seolah-olah identik dengan pengeluaran uang dari APBN. Maka dikatakan APBN-nya akan jebol, padahal uang tunai yang ada di APBN kelebihan Rp. 3.870 per liternya.
Untuk lebih memperjelas, lihat Tabel II. Harga pokok yang Rp. 7.547 itu kan uang yang oleh Pertamina (milik rakyat) dibayarkan kepada pemerintah (milik rakyat). Kalau jumlah yang Rp. 7.547 ini ditambahkan pada yang dinamakan RUGI atau DEFISIT atau SUBSIDI, jadinya adalah surplus Rp. 3.870, persis sama dengan surplus yang ada di Tabel I.
Kiranya jelas bahwa caranya pemerintah menjelaskan kepada rakyatnya menyesatkan. Penyesatannya terletak di Tabel II, ketika dicantumkan bahwa minyak mentah itu seolah-olah dibeli betulan dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrel, padahal minyak mentahnya tidak dibeli, melainkan disedot dari perut buminya sendiri.
APAKAH MINYAK MENTAH MILIK RAKYAT DIBERIKAN KEPADA RAKYATNYA DENGAN CUMA-CUMA DI TABEL I?
Sama sekali tidak. Rakyat disuruh membeli minyak mentahnya dengan harga Rp. 3.870. Harga ini dihitung dari harga bensin premium yang Rp. 4.500 dikurangi dengan biaya-biaya out of pocket expenses sebesar Rp. 630 per liternya. Seperti kita masih ingat, harga bensin premium di bulan April tahun 2005 Rp. 2.700 per liter yang dinaikkan menjadi Rp. 4.500 per liter untuk dijadikan ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 60 per barrelnya.
Jadi ketika itu, pemerintah sudah tidak terima atau tidak rela membebani rakyat yang pemilik minyak itu dengan harga (Rp. 2.700 – Rp. 630) = Rp. 2.070. Dengan mencuci otak rakyatnya sendiri seolah-olah minyak mentahnya harus dibeli tunai dengan harga US$ 60 per barrel, maka harga dinaikkan menjadi Rp. 4.500. Sekarang karena harga minyak mentah sudah lebih dari US$ 130 per barrel, pemerintah tidak rela dan tidak terima lagi. Ingin menaikkannya dengan 30% dahulu, tetapi sudah buka suara akan menaikkan lagi di bulan September – Oktober sampai sama dengan harga minyak dunia, seperti yang dinyatakan oleh Menko Boediono di Kompas tanggal 17 Mei 2008. Edan!!
SEKEDAR TEORI TENTANG HARGA POKOK DAN RUGI/LABA
Apakah ada teorinya yang mengatakan bahwa harga pokok barang dagangan yang baru dijual harus sama dengan harga beli dari barang dagangan yang bersangkutan pada saat barang dagangannya dijual, yang dinamakan replacement value?
Penjelasannya begini : ada dua orang pedagang paku (A dan B) yang modalnya masing-masing Rp. 100.000. Harga beli paku Rp. 10.000 per kg. Pakunya dijual habis dengan harga Rp. 15.000 per kg. atau hasil penjualan seluruhnya Rp. 150.000. Harga pokoknya berapa, dan karena itu labanya berapa?
A mengatakan harga pokoknya Rp. 100.000 dan labanya Rp. 50.000. Ketika ditanya mengapa begitu? Dia menjawab : “karena laba yang Rp. 50.000 bisa saya habiskan untuk konsumsi, dan modal uang saya tetap utuh sebesar Rp. 100.000
B mengatakan : “laba saya hanya Rp. 30.000, karena ketika saya mau membeli lagi mengisi stok paku sebanyak 10 kg. harganya sudah naik menjadi Rp. 12.000, sehingga untuk mempertahankan stok yang 10 kg. itu saya harus mengeluarkan uang Rp. 120.000. Maka yang bisa saya konsumsi habis tanpa mengurangi stok paku saya hanyalah Rp. 30.000, bukan Rp. 50.000.
A ingin mempertahankan modal uangnya sebesar Rp. 100.000. B ingin mempertahankan modal barangnya berupa 10 kg. paku dalam alam inflasi.
Pemerintah menganut faham si B. Apakah benar pemerintah harus berpikir dan berperilaku demikian kepada rakyatnya sendiri? Dan apakah benar kalau diterapkan pada minyak mentah yang tidak dapat diperbaraui (non renewable commodity).
Bagaimana menjelaskannya dan di mana terletak tipuan atau penyesatan pemerintah kepada bangsanya sendiri? Ikuti artikel berikutnya.
AceN
May 25th, 2008, 03:23 PM
^^ artikelnya kok kayanya ga valid...... 1 barrel kan 117 liter, kok disebut 159 liter..udah salah itung tuh..
MARINHO
May 25th, 2008, 07:39 PM
Monday, May 26, 2008 12:30
The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 05/24/2008 12:23 PM | Business
The government will set up a parent holding company for state-owned banks to comply with a regulation prohibiting any one party from owning a majority stake in more than one bank.
"We decided to establish a holding company for state banks. However, the details are still being discussed," State Minister for State Enterprises Sofyan A. Djalil said Friday as reported by Antara news agency.
Bank Indonesia, the country's central bank, has laid out a set of regulations aimed at strengthening the banking industry by increasing capital and improving risk management, transparency and accountability.
A regulation called the Single Presence Policy (SPP) bans any one party, whether private or government, from having majority ownership in more than one bank.
The SPP is expected to help create a healthier and more dynamic banking industry -- the sector hit hardest by the 1997-1998 financial crisis.
The regulation will officially take effect in 2010, but the central bank requires parties accountable under the ruling, including the government, to present a plan for compliance by June.
Such parties have the option to reduce their number of stakes, force a merger, or set up a parent holding company for their banks.
The government currently holds majority stakes in Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI) and Bank Tabungan Negara (BTN).
Sofyan said his office had consulted the Coordinating Minister for the Economy and the Finance Minister in making the decision to form a holding company.
This year, Malaysian-based Khazanah Nasional Berhad decided to merge its two banks in Indonesia, Bank Niaga and Bank Lippo, to comply with the policy.
Khazanah has an indirect equity interest of some 93 percent in Lippo and 64 percent in Niaga. (rff)
MARINHO
May 25th, 2008, 07:43 PM
A scholar has urged the government to use local banks instead of foreign financial institutions to buy weapons for the armed forces.
"The government does not allow us to use our national banks to buy weapons," said Makmur Keliat of the Parahyangan Catholic University in a seminar here Saturday.
"I don't know why this is the case. Some regulations are very strange," he said.
Using foreign financial institutions has been costly for the country.
"Foreign bank interest rates are definitely higher," he said.
He said suspected money laundering was behind the strange regulation.
"The foreign financial institutions might be taking money transferred from Indonesia," he said.
The one-day seminar on The Irony of the World: The Poor Subsidizing the Rich featured seven other speakers.
Bambang Ismawan of Bina Swadaya non-governmental organization said we should "cease to see the poor as the have not but as the have little".
Put together, this "little" can be enormous.
Bambang said the poor's money amounted to Rp 1,500 trillion (US$163.5 billion) in government and private banks.
Asked if part of that money could be used to further help the poor, he said it was possible with the right attitude.
"In Bangladesh they say 'I want to do it and I do it'," he said, referring to Mohammad Junus's Grameen Bank that uplifted the lives of millions of poor Bangladeshis through micro lending.
The Bangladeshi government set up some funds to finance institutions like the Grameen Bank and others in the country. The Nobel laureate visited Indonesia recently and met with the President and his ministers, but nothing has come out of the meeting.
"It was not a question of funds. The government considers working for millions of poor people a tedious job," he said.
Almost half of Indonesia's population of 235 million live below the poverty line, according to the World Bank. Indonesians make up 5 percent of the world's poor.
The government has provided numerous subsidies to alleviate poverty in Indonesia.
But Donatus Marut of the International NGO Forum on Indonesian Development said the term "subsidy" was a misnomer, since it was the government's obligation to protect its citizens.
"It is not the right term. Subsidies given by the government are usually to help the market," he said.
Aleksius Jemadu of Parahyangan University said there had been no fundamental change in the global economy since the colonial era in the sense the poor are still subsidizing the rich.
Developing countries transferred $178 billion to the developed world between 1984 and 1990, he said.
"But we can't blame donor countries or creditors," he said.
Citing Johan Galtung, he said self-reliance couldn't be built from the outside.
"Indonesian people themselves should make it happen within their country," he told an audience of 400, most of them university students.
MARINHO
May 26th, 2008, 09:57 PM
oleh : John Andhi Oktaveri
JAKARTA (Bisnis): Wapres Jusuf Kalla menantang pengusaha nasional untuk menanamkan modal di PT Krakatau Steel, bukan hanya mengkritik rencana privatisasi perusahaan baja nasional ini dengan mitra strategis asing.
"Saya tidak akan diskriminasi, silakan pengusaha nasional yang mau investasi di Krakatau Steel untuk masuk, saya terima terima itu," ujar Kalla saat membuka Rakernas II Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) hari ini.
Tetapi, kata dia, setiap investor yang mau masuk harus mampu meningkatkan kapasitas produksi pabrik baja nasional itu dari 2,5 juta ton menjadi 7 juta ton per tahun. Selain itu, ketika masuk sistemnya juga harus adil tanpa ada keberpihakan.
"Dengan peningkatan kapasitas ini bisa menimbulkan efek untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru," ujar Kalla.
Dia meminta semua pihak melihat privatisasi saat ini secara proporsional karena berbeda dengan model privatisasi pada zaman Presiden Megawati. "Dulu privatisasi untuk menutup anggaran negara yang defisit, saat ini tujuannya meningkatkan kinerja perusahaan."
Menurut Wapres, pemerintah di zaman dulu dulu menerima langsung dana privatisasi, sedangkan saat ini dana privatisasi masuk langsung ke perusahaan. Pemerintah saat ini hanya dapat dividen, jadi jangan pakai asumsi sekarang untuk masa lalu dan sebaliknya. (tw)
RonnieR
May 27th, 2008, 06:09 AM
RESMI DIUMUMKAN di STASIUN TV tadi, kalau PREMIUM naik menjadi Rp 6000,- per liter , resmi berlaku pukul 00.00 WIB :D ... ENjoy the hot new price anyway :nocrook:
Hi, di Manila, per liter premium is 52 Pesos atau Rp11,000 per liter, diesel is P43/liter or Rp9,100 per liter.... it's very expensive, kami impor semua. :ohno: waaaah...
DJ_Archuleta
May 27th, 2008, 06:46 AM
Hi, di Manila, per liter premium is 52 Pesos atau Rp11,000 per liter, diesel is P43/liter or Rp9,100 per liter.... it's very expensive, kami impor semua. :ohno: waaaah...
So the fuel price in philippines is double than that of Indonesia ??
Gosh i couldn't imagine if that's happening in my country too.. so are you a filipino or indonesian who's living in manila??
RonnieR
May 27th, 2008, 07:22 AM
So the fuel price in philippines is double than that of Indonesia ??
Gosh i couldn't imagine if that's happening in my country too.. so are you a filipino or indonesian who's living in manila??
Hi yes, very expensive here. Other people resort to using MRT/LRT in going to work and school and leave their cars at home.
I'm a Filipino but lots of INdonesian friends. Just now, 2 orang Indo disini datang tadi malam, jalan jalan ke Mall of Asia then to Boracay.
rilham2new
May 27th, 2008, 06:14 PM
Hi, di Manila, per liter premium is 52 Pesos atau Rp11,000 per liter, diesel is P43/liter or Rp9,100 per liter.... it's very expensive, kami impor semua. :ohno: waaaah...
Indonesia produces 900 thousand barrels oil per day.
Malaysia (27 million populated country) produces 700 thousand barrels oil per day. The fuel price (PREMIUM) is still lower than Indonesia. It is around Rp 5500 per liter
rilham2new
May 27th, 2008, 06:17 PM
Sekarang harga tabung gas elpiji 14 liter naik jadi Rp 60 ribu, itu harga standar Jakarta Barat yaa .... Dan keluarga aku ngerasain 2 hari masak pake minyak tanah, gara2 Elpiji langka (baca: khusus Kelurahan Tomang, HABIS ....)
Waktu kemaren pagi ( itu juga setelah ditelepon agen/tokonya), bahkan sebelum tokonya buka, orang2 udah antre di depan toko gas itu :ohno:
Gak pernah seumur hidup, ngantri gas :nuts: .... Dalam 2 jam, semua persediaan di toko itu langsung ludes des des ....
DJ_Archuleta
May 27th, 2008, 06:17 PM
It's only cheaper Rp 500 than ours ..
MARINHO
May 27th, 2008, 08:55 PM
Aditya Suharmoko , The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 05/27/2008 4:45PM
President Susilo Bambang Yudhoyono kicked off an Indonesian investment forum on Monday, seeking billions of dollars in foreign direct investment (FDI) to the country's regions to spur economic growth and job creation.
At the second Indonesian Regional Investment Forum (IRIF), 35 regions are offering about 200 projects worth US$18.9 billion in the agribusiness, mining and energy, infrastructure and property and tourism sectors.
Indonesia secured about $6 billion in FDI in the first IRIF, held in November 2006.
"Local governments are becoming more innovative and savvy; they know that in order to draw investors, they must offer incentives. Sragen and Sidoarjo in East Java, for example, have enacted a one-door investment policy .... Investors do not have to deal with some 20 government offices like in other districts," Yudhoyono said in his opening speech.
Banten province has offered the largest project by value, the development of the Bojonegara oil refinery worth $4 billion. It is also offering the construction of an agribusiness terminal worth $4.37 million, the Cilegon-Bojonegara tollway worth $212 million and Bojonegara international port worth Rp 792.16 million.
"Our investment policy is also very attractive. We have signed the investment protection agreement with 60 countries; we have signed no-double-taxation agreements with 56 countries.
"And if you are worried about our anti-corruption policies ... we have a no-tolerance policy when it comes to graft," Yudhoyono told investors.
Indonesia is working to improve its investment climate, with the government set to issue its final package of economic policies this month to attract investment.
A copy of the draft package -- Focus of Economic Programs 2008-2009 -- comprises a series of regulations by economic ministers, including policies seeking to improve the country's investment climate and revise government decree No. 1/2007 on income tax facilities for investment in certain sectors and regions.
Former coordinating minister for the economy Boediono told investors that the issuance of the economic package "would be insurance for the public on the country's economy in 2009 when political activities are on the rise".
Boediono, who is now the central bank governor, said the package would be one of the government's main tasks until 2009, when Yudhoyono's government will end its term.
"The government will improve competitiveness to attract foreign investment," he said.
Investment Coordinating Board (BKPM) chairman Muhammad Lutfi said Indonesia had secured $9.94 billion in FDI between January and April this year, a 104 percent increase from the same period last year.
According to the BKPM, FDI in Indonesia rose from $5.97 billion in 2006 to $10.3 billion in 2007 on the back of political stability and an improving economy. The country's economy grew by 6.32 percent last year.
The government has said the economy may grow only by 6 percent this year, slower than the initially targeted 6.4 percent, due to soaring global oil prices that will burden the state budget.
MARINHO
May 27th, 2008, 09:05 PM
Vincent Lingga , The Jakarta Post , Jakarta | Mon, 05/26/2008 10:13 AM | Headlines
Provincial, regency and municipal administrations are competing with each other to offer multibillion dollar development projects to domestic and foreign investors at the Regional Investment Forum opening here today.
They are promoting a wide variety of projects in agribusiness, mining, infrastructure, property and tourism worth between about US$145,000 and $780 million.
They include a railway project in Riau, tree-crop plantations in various provinces, a toll road and an international seaport in Banten province, industrial estates and integrated farming in Central Java.
What an encouraging development.
This is strikingly different from the mind-set of regional administrations during the first two years of regional autonomy from 2001 when regional chiefs and legislators, excited by their newly acquired authority, rushed to enact bylaws aimed mostly at collecting additional rents from businesses.
Many regional administrations, euphoric about their newly gained power, flexed their muscles to grab a larger share of the wealth from natural resources. They resorted to the easy, unsustainable ways of raising revenue by squeezing companies with additional taxes and levies. They did not realize that this rent-seeking attitude would sooner or later kill the goose that laid the golden eggs.
The Home and Finance Ministries were forced to revoke almost 1,000 regional bylaws contravening national laws.
Nevertheless, the mind-set of most regional administrations has changed over the past three to four years, especially after the introduction of direct elections for regional chiefs.
As provincial governors, regents and mayors compete in direct elections, economic performance directly benefiting the people becomes the most effective means of gaining voter support.
Thus, job creation has become an important performance measure of a regional chief executive.
Hence, regional chiefs must be friendly to the business community, but not corrupt, and establish sound business partnerships.
This new paradigm requires regional chiefs to put pro-business policies at the top of their economic agendas because it is investors who generate jobs. This in turn fuels purchasing power and spurs consumer demand for various goods and services from which local administrations can raise levies.
The virtuous circle generated by investment goes on and on, raising the value of property and consequently increasing property tax receipts, of which 90 percent goes directly to regional administrations.
Within the national context, business-friendly local administrations can contribute greatly to economic growth because most of the country's abundant natural resources, such as forests, agriculture, fisheries, mining and tourist attractions, are located in the provinces and regencies.
Certainly, the enthusiasm and aggressiveness with which regional administrations woo investment are not the same. Several provincial administrations, for example, send teams on investment missions in nearby countries such as Singapore, where most global investors set up their regional offices.
Several regencies have hired professional consultants to help them plan, design and implement investment promotion programs. Many others woo investment by expediting business licenses.
Others have not been as aggressively implementing pro-business policies due to inadequate institutional capacities and a lack of financial and natural resources.
However, provinces or regencies with poor natural endowments should not be put off as investors often see policy variables as the main factors influencing their decisions to set up business in a particular area.
Policy variables -- including legal certainty, policy consistency and predictability, public services and local regulations -- often weigh heavier for investors than physical infrastructure, labor supply and productivity.
The second regional investment forum is a good opportunity for regional administrations to learn how to promote investment projects, what investors really want and how to attract more businesses to their areas.
The success of this forum should not be calculated by the value of investment deals closed but, more importantly, seen through the ongoing attitudinal changes of regional administrations toward the private sector, not only as taxpayers, but also as the driver of economic growth.
Furthermore, business-friendly local administrations will be greatly conducive to the development of small enterprises and cooperatives in rural areas across the country.
MARINHO
May 27th, 2008, 09:08 PM
Indonesia's future - less national more regional
DJ_Archuleta
May 28th, 2008, 10:15 AM
Indonesia to withdraw from OPEC at the end of the year
JAKARTA, Indonesia (CNN) -- Indonesia will withdraw from the Organization of Petroleum Exporting Countries at the end of the year, the country's energy minister told foreign journalists Wednesday.
"We are more of an oil consuming country" said Purnomo Yusgiantoro, the energy and mineral resources minister. "If in the future, if our production comes to a status of a net oil exporter then we can always go back to OPEC."
Indonesia is the only southeast Asian country in the 13-nation oil cartel. It joined in 1962, but has had periods when it shifted from being a net exporter to an importer because of declining oil production levels, Yusgiantoro said.
http://edition.cnn.com/2008/BUSINESS/05/28/indonesia.oil/index.html?iref=topnews
MARINHO
May 28th, 2008, 02:16 PM
^^
What?! the barrel prices will probably hike
Indonesian oil reserves but also many other natural resources are managed inefficiently and the addition of institutional weaknesses do create a difficult situation.
I hope that the government will now see that natural resources will have to be managed properly. Otherwise the nation will be left with costs and not with the benefits of the natural resources.
rilham2new
May 28th, 2008, 02:21 PM
^^ That's right, Indonesia only produce 900 thousand barrels per day right now. The membership do takes us some fee anyway. We had ever produced more than 1 million barrels per day several years ago.
So that seems rational :) ..
AceN
May 28th, 2008, 03:49 PM
http://www.presidensby.info/imageD.php/3107.jpg
Thaksin tertarik investasi infrastruktur pelabuhan
Rabu, 28/05/2008 12:56 WIB
JAKARTA (Bisnis): Mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra tertarik untuk menanamkan modal dalam pengerjaan infrastruktur pelabuhan.
Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan rencana tersebut disampaikan Thaksin saat diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Kepresidenan. Thaksin tidak menjelaskan lebih rinci mengenai rencana investasi tersebut. Thaksin juga terkesan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan stabilitas politik.
"Thaksin menyatakan salah satu alasan ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi yang baik dan terus tumbuh adalah karena kita berhasil menjaga stabilitas politik di Indonesia," tutur Dino seusai Puncak acara Hari Bakti Dokter Indonesia dalam rangka Seabad Kebangkitan Nasional dan Seabad Kiprah Dokter Indonesia, di Istana Negara.
Thaksin, lanjutnya, menghargai posisi dan dukungan Presiden Yudhoyono terhadap demokrasi di Thailand. Dalam pertemuan tersebut juga sempat dibicarakan mengenai krisis pangan dan energi. (tw)
=NaNdA=
May 28th, 2008, 03:56 PM
eh Om Bozhart salaman ama pak SBY! :D:D:D
VRS
May 28th, 2008, 04:06 PM
n Bozhart jg tertarik investasi di pelabuhan negara kita...
AceN
May 28th, 2008, 04:17 PM
Peringkat daya saing RI naik jadi ke-51
Selasa, 27/05/2008 22:00 WIB
JAKARTA (bisnis.com): Peringkat daya saing Indonesia di dunia (competiveness index) pada tahun ini mengalami peningkatan sebanyak empat level dibandingkan tahun lalu, dari posisi ke-54 menjadi ke-51.
Hal tersebut terungkap berdasarkan hasil survei World Competitiveness Index 2008 oleh International Institute for Management Development (IIMD) terhadap 55 negara di dunia yang dirilis baru-baru ini.
Peningkatan peringkat ini merupakan pertama kali setelah sempat mengalami penurunan selama lima tahun berturut-turut sejak 2002 hingga 2007. Seperti dilansir dari situs resmi IIMD, posisi Indonesia pada tahun ini berada satu level di atas Argentina dan di bawah Meksiko.
Meski demikian, peringkat ke-51 yang disandang Tanah Air masih terbawah dibandingkan negara Asean lainnya.
Faktor yang dinilai dalam survei tahunan itu mencakup pertumbuhan ekonomi, efisiensi bisnis, efisiensi birokrasi, dan infrastruktur. (02)
AceN
May 28th, 2008, 04:28 PM
Banten awaits results from investment forum
Aditya Suharmoko , The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 05/28/2008 12:56 PM | Business
Domestic and foreign investors have expressed interest in the development of several projects in Banten province valued at US$5 billion, an official says.
Of 35 participating regions at the Indonesian Regional Investment Forum (IRIF), Banten province offered projects with the highest investment value, a fact not missed by investors, said Banten Investment Coordinating Board head Eneng Nurcahyati.
She told The Jakarta Post on Tuesday that International Enterprise Singapore was interested in financing the development of a $4 billion Bojonegara oil refinery, a $792.2 million Bojonegara international port and an agribusiness terminal costing $4.37 million.
The two-day forum concluded Tuesday in Jakarta.
Another Singaporean company, Ramky International Singapore, expressed interest in establishing a waste management industry in the area as "Banten has many chemical and heavy industries", said Eneng.
"The Singaporean companies will visit the sites tomorrow (Wednesday) for further negotiation."
She also said local companies PT Tirta Cisadane and PT BaratJaya Sentosa Perkasa were looking to be involved in the construction of the Karian dam and water supply project costing $319,000.
The 2008 IRIF offered regions a chance to meet investors in an aim to spur economic growth and job creation here. At least 200 projects valued at $18.9 billion in the agribusiness, infrastructure, mining and energy, property and tourism sector were offered.
The Regional Representatives Council (DPD), which initiated the forum, said investors were following up on at least 62 projects offered.
The forum aimed to attract between $6 billion and $8 billion in investment deals, up from $6 billion secured in the first IRIF held in 2006.
Australian-based Consolidated Rutile Limited has explored the possibility of investing in bauxite and zircon mines in Kalimantan, said DPD Secretary-General Siti Nurbaya Bakar.
She did not mention the cost of the projects.
Indonesia-India Investment Federation chairman Fakir Chand Dhillon said that through the forum foreign investors could learn about business prospects in the regions.
However, Fakir said the language difference between foreign investors and local government officials had been a barrier.
A director of Chinese investment bank SinoNova Holdings Limited, John Barbera, complained he could not meet local government officials "who really know about the projects" at the forum.
"After two days, it is a little frustrating to go back and not have any opportunity to invest your money," Barbera said.
Siti said she was aware of the problem -- investors having a hard time with public relations and marketing representatives who did not understand the projects well -- and would address it in the next IRIF.
"Many regions did not send their top officials, making it hard for investors to learn about the projects," said Siti, adding that regions should have been proactive if they wanted to attract investment.
Leading business and corporate strategist Kenichi Ohmae said regional marketing was a crucial factor for Indonesia to attract investment.
Ohmae said Indonesia could be as successful as Brazil, India, China and Russia if it developed the regions' potential.
DJ_Archuleta
May 28th, 2008, 05:23 PM
^^ Do the Indonesian Free Trade Zone (BBK) also got shared of those billion dollar investments ??
AceN
May 28th, 2008, 05:32 PM
^^ yes they got, but i dunno the exact number :)
DJ_Archuleta
May 28th, 2008, 07:16 PM
I hope the billion dollar investment in BBK would be used to build skyscrappers/highrises around the CBD .. :)
DJ_Archuleta
May 28th, 2008, 07:17 PM
Philippine President awards prestigious star to Indonesian Foreign Minister
Jakarta (ANTARA News) - Philippine President Gloria Macapagal Arroyo awarded the prestigiousw `Order of Sikatuna` star to Indonesian Foreign Minister Hassan Wirajuda.
"Minister Hassan Wirajuda received the star for his contribution to bridging and promoting peace in South Phillipines with the Moro National Liberation Front (MNLF) in 1993 to 1996," spokesman of the Foreign Ministry, Kristiarto Soeryo Legowo told ANTARA here on Wednesday.
The Indonesian government in mid-1990 was actively involved in settling the conflict between the Philippine government and the Moro National Liberation Front in South Philippines.
Indonesia along with the Organization of Islamic Conference (OIC) effectively acted as mediator to put an end to the two-decade separatist conflict in the South Phillippines.
On May 26-28, 2008 the government of Philippines, MNLF and OIC held a tripartite meeting in Manila in a bid to restore peace, security and stability in Mindanao, the South Philippines.
In the meantime, earlier this week the Philippine Government decided to free Nur Misuari, MNLF Chairman, on bail after several years of imprisonment.
The decision to free Nur Misuary was hailed by the OIC calling on both parties to continue the implementation of the 1996 peace agreement, meet their obligation and commitment set forth in the historic deal.(*)
DJ_Archuleta
May 29th, 2008, 09:54 AM
IRIF 2008 to offer 200 projects worth US$19 billion
Jakarta (ANTARA News) - The Indonesian Regional Investment Forum (IRIF) will offer some 200 projects worth US$19 billion to foreign investors in the oil and gas, mining, agribusiness, infrastructure and tourism sectors, a spokesman said.
"The amount and value of the projects will be higher than the previous IRIF in 2006 which only offered 60 projects," CEO of Global Initiatives Tony Gourlay said here Wednesday.
In 2008, Global Initiatives was cooperating with the Regional Representatives Council (DPD) and some state-run companies to conduct the forum scheduled to be held from May 26 through 27.
President Susilo Bambang Yudhoyono was scheduled to open the forum.
Tony said the forum would offer investment potentials in 35 districts to some 300 investors from 20 countries among others from Malaysia, Singapore, Japan, South Korea, China, India, the Middle East, the United States and some European countries.
"It is time for local governments to play wider roles in attracting investors. Before offering investment cooperation, it would need local government`s preparedness in business as well as legal aspects," he added.
The largest project offered in the forum is the construction of oil refinery in Banten Province worth US$4 billion while the smallest project is development of cattle farm in Central Sulawesi Province worth US$81,000.
"But the most important thing is that the projects could open job opportunities and improve people`s welfare," he said.
Most of the projects offered in the forum are in infrastructure sector among others construction of Penajam bridge in Balikpapan, Batam-Bintan bridge, agribusiness terminal in Balaraja, Karian dam, Cilegon-Bojonegoro toll road, Bojonegoro international port, Kaliwungu port in Kendal, Maloy port and Sangkimah airport in East Kutai, and international container port in Kutai Kartanegara, East Kalimantan.
Other projects are geothermal power plant in Cisukarame, Cisolok and Tampomas, West Java, Lati Berau steam-generated power plant in Berau district of East Kalimantan and in Bau-bau district of Southeast Sulawesi.
More than 1,000 investors would attend the forum, including former Thai prime minister and founder of Shin Corp, Thaksin Shinawatra, President Commissioner of Sima Darby, Tun Musa Hitam, and CEO Khazanah Nasional Dato, Azman bin Mokhtar.
They would also shared their tips to get success to other participants including local government leaders and executives of national companies.
Two economists would share the strategy to invest, namely Kenneth S Courtis, former vice president of Goldman Sachs and Chief Economist & Strategist, Managing Director Deutsche Bank, and Kenichi Ohmae, founder and managing director of Ohmae and Associates.
Deputy chief of DPD, Irman Gusman said, IRIF is expected to inspire Indonesian businessmen to expand their business thus it could support the country`s economic growth.
"This is in line with the aim of DPD, to increase economic growth through empowerment of regional projects," he said.
While former minister of state enterprises, Tanri Abeng said, local governments should take the benefit from IRIF 2008 to increase its economic growth.
"Investors, especially foreign investors, are keen to directly invest in regions. But local government must have clear information on its potential and cut short bureaucracy," Tanri said.(*)
bozhart
May 29th, 2008, 01:14 PM
eh Om Bozhart salaman ama pak SBY! :D:D:D
n Bozhart jg tertarik investasi di pelabuhan negara kita...
Wow gw salaman dgn Presiden SBY? Hehehe ....
Muka Thaksin itu jauh lebih bulat dari gw :nuts: dan juga tidak berkacamata :cool:
AceN
May 30th, 2008, 05:03 AM
Krakatau Steel prefers IPO; Q1 profit soars
The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 05/29/2008 10:35 AM | Business
PT Krakatau Steel, the nation's largest steel producer, rejected suggestions Wednesday it would benefit from partnerships with larger international steel producers.
The company cited its massive first quarter profit this year, which almost equaled its full-year profit target, as evidence for its self-sustainability.
Krakatau Steel has recently attracted a host of bids from big players following the government's plan to privatize the company, a decision company employees and leaders have publicly criticized.
"Steel plants all around the world are already overloaded in capacity. It would be very difficult for us to raise output with or without a strategic partner," president Fazwar Bujang said in a press conference.
So far, global steel giants Arcellor Mittal and Tata Steel of India, BlueScope of Australia, Essar Ltd. of Japan and Posco Steel of South Korea have declared interest in Krakatau Steel.
"The decision to have either an initial public offering (IPO) or a strategic partnership is completely in the government's hands. We can only give suggestions. But we believe an IPO is better because it will give the public a chance to own shares in Krakatau Steel," Fazwar said, adding that an IPO would also increase transparency and market capitalization.
"Besides, the government has stated the most important thing to gain from a strategic sale is technological advancement, but none of the (four potential) investors has proposed any new technological contribution," Fazwar said.
According to company data, the company's net profit reached Rp 411 billion (US$43.9 million) in the first quarter of this year, Rp 19 billion shy of its full-year profit target of Rp 430 billion.
Fazwar said in response the company was revising up its 2008 target to Rp 850 billion, more than double last year's Rp 367 billion.
"The healthy quarterly profit is due to the rising price of steel products in line with increasing demand and significant improvements in our operations," Fazwar said.
Director of marketing Irvan K. Hakim said the company might raise domestic prices by up to 10 percent to keep up with recent fuel price increases, which have boosted production costs.
"The prices will remain the same for deliveries in June and July, but in August and September we may have to raise them by 10 percent," Irvan said.
The company has set forth a number of projects to increase output capacity to 5 million tons per year by 2011, double its current annual capacity of 2.5 million tons.
In April, the company signed a joint venture deal with state-owned mining company PT Aneka Tambang to build an iron ore processing plant in Batu Licin, South Kalimantan, which is scheduled to start operations in 2010.
In May, the company signed an agreement with German metal company SMS Demag to increase production capacity of its hot strip mill from 2 million to 2.4 million tons per annum. (anw)
rilham2new
May 30th, 2008, 09:59 AM
Gak ada yang posting berita kalau Indonesia resmi keluar dari keanggotaan OPEC ??? :)
AceN
May 30th, 2008, 10:46 AM
^^ ya di thread energy donk..masa di economy..
DJ_Archuleta
May 31st, 2008, 08:19 AM
Energy minister to normalize gas supply to PLN in Batam
Batam (ANTARA News) - Power supply in Batam city which in the past month had undergone alternate power cuts would be restored to normal as the Energy and Mineral Resources Minister promised to supply 40.7 million metric British thermal units (MMBTU) of gas to the state electricity company PT PLN in Batam.
The remark was made by Ade Sulistiyanti, a spokesperson for the Batam PLN office on Friday evening after joining a team of Riau islands provincial administration high ranking officials at a meeting with Energy and Mineral Resources Minister Purnomo Yusgianttoro in Jakarta.
The Riau team members include Governor Ismeth Abdullah, Batam Mayor Mustofa Wijaya, Chairman of the Batam Authority Soerya Respationo and General Chairman Batam PLN Office Zainuddin.
"We were received at 17:30 and the minister promised that as of Saturday the gas supplies to PLN in Batam will return to normal, namely 40.7 MMBTU," he said.
This means that PLN could restore the normal operations of its power plants and alternate power cuts would no longer be necessary.
Enhancing the contract was still under discussion, because it involved natural gas supply availability in Sumatra and the capacity of the Grissik-Batam-Singapore gas pipeline, Adek said. (*)
AceN
June 1st, 2008, 05:17 PM
RI, Japan put economic partnership agreement into effect
Antara , Tokyo | Sun, 06/01/2008 4:10 PM | Business
Representatives of Indonesia and Japan said Monday that an economic partnership agreement (EPA) signed by both countries in Jakarta last year will go into effect this month.
"With this exchange, the Economic Partnership Agreement between Indonesia and Japan will be effectively imposed by July," the chairman of economic cooperation at the Japanese Foreign Ministry Takahiro Wakabayashi said after a diplomatic note exchange in Tokyo on Sunday.
The diplomatic note exchange between representatives of the two countries took place after the Japanese parliament ratified the EPA.
Trade attache at the Indonesian Embassy in Japan Tulus Budhianto, said the EPA was a comprehensive economic agreement that involves the cutting or elimination of various import tariffs, increased Japanese investment in Indonesia and capacity-building programs for Indonesian industry and manpower.
"The strategic advantages for Indonesia is that our products will receive international recognition, because Japan is a developed country imposing a high standard of quality," said Tulus.
The EPA was signed in Jakarta on Aug. 20, 2007, by then prime minister Shinzo Abe and President Susilo Bambang Yudhoyono before Abe's resignation in September.(**)
AceN
June 2nd, 2008, 10:45 AM
Indonesia inflation rises 10.38 pct in May on fuel price hike
06/02/08 14:36
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia's annual inflation accelerated in May to its fastest pace in 20 months after the government raised fuel prices to deal with a ballooning subsidy bill amid high global crude oil prices, raising worry the central bank may raise interest rates for the second time this year.
The consumer price index rose 10.38 percent in May from a year ago and by 1.41 percent from April, said Rusman Heriawan, chairman of the Central Bureau of Statistics.
The inflation figures were within market expectations. Nine economists polled by Thomson Financial had expected consumer prices to rise between 0.5 percent and 2.24 percent for the month and between 9.4 percent and 11.29 percent on year.
On May 24 the government raised fuel prices by an average 28.7 percent and Heriawan said the effect of the fuel price hike will still be felt in June, "but the magnitude may be smaller". (*)
--------------------------------------------------------------------------
Laju inflasi tahunan capai 10,38%
Senin, 02/06/2008 14:03 WIB
JAKARTA (Bisnis): Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi tahunan (year on year) 10,38% terpengaruh oleh kenaikan harga pangan.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengungkapkan laju inflasi kalender (Januari-Mei) mencapai 5,47%, sedangkan Inflasi pada Mei mencapai 1,41%.
"Untuk pertama kali inflasi terjadi di semua kota. Tertinggi di Aceh 3,87% dan terendah di Palangkaraya 0,19%," katanya dalam jumpa pers hari ini.
Sebelumnya, Menkeu Sri Mulyani menyatakan inflasi Mei (year on year) telah mencapai 8,9% atau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan asumsi APBN-P 2008.
Menkeu memaparkan hingga Mei, beberapa asumsi makroekonomi telah mengalami pergeseran dari target APBN-P2008, termasuk inflasi yang merangka naik dari patokan APBN yang hanya 6,5%. (tw)
=========================================================
Inflasi Selama Mei 2008 Tercatat 1,41 Persen
02/06/08 13:36
Jakarta, 2/6 (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi pada Mei 2008 tercatat 1,41 persen akibat kenaikan harga bahan bakar minyak.
Kepala BPS, Rusman Heriawan, di Jakarta, Senin, mengatakan inflasi tahun kalender berada pada 5,47 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 10,38 persen. (*)
AceN
June 2nd, 2008, 10:47 AM
Bank Indonesia agrees on Bank Niaga, Bank Lippo merger
06/02/08 14:47
Jakarta (ANTARA News/Asia Pulse) - Bank Indonesia (the central bank/BI) has issued an in-principle permit to Bank Niaga (JSX:BNGA) and Bank Lippo (JSX:LPBN) to merge their businesses. "They have applied for a permit.
In principle, we have no objection to the planned merger," Director of the Banking Research and Regulation Directorate at Bank Indonesia Halim Alamsyah said on Friday.
Given the BI's approval, the merger of the two banks whose shares are owned by Malaysia's Khazanah Nasional Berhad can be realized soon, he said.
============================================================
Presiden sambut merger Bank Lippo & Niaga
Senin, 02/06/2008 14:46 WIB
JAKARTA (bisnis.com): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut baik merger Bank Lippo dengan Bank Niaga.
Hal tersebut terungkap saat Presiden Yudhoyono menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Sri Mohammad Najib Tun Razak di Kantor Kepresidenan, hari ini.
Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan merger merupakan perkembangan yang baik sekaligus menandai peningkatan investasi Malaysia di Indonesia.
Dino menambahkan merger tersebut juga merupakan pelaksanaan dari peraturan single presence policy. Berdasarkan peraturan tersebut pemegang saham tidak dapat mengendalikan lebih dari satu bank.
Pada kesempatan itu, Wakil Perdana Menteri Malaysia didampingi oleh Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Zain.
Dino menambahkan Presiden dan Wakil Perdana Menteri Malaysia juga membahas mengenai masalah subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Presiden menjelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah Indonesia a.l. menurunkan subsidi, memberikan bantuan langsung tunai, mengaktifkan dan menggalakkan kredit usaha rakyat (KUR), serta bantuan lainnya.
"Presiden menegaskan bahwa yang terpenting bukan mengurangi subsidi BBM saja tapi menyediakan social safety net bagi golongan masyarakat yang mengalami kesulitan," tutur Dino.
Krisis pangan juga menjadi pokok pembicaraan di dalam pertemuan tersebut.(er)
AceN
June 2nd, 2008, 10:47 AM
BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi RI 6.0-6.2 Persen
02/06/08 13:33
Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi selama 2008 hanya akan mencapai 6,0 - 6,2 persen dibandingkan dengan perkiraan pemerintah sebesar 6,0 hingga 6,4 persen.
"Angka perkiraan ini setelah mempertimbangkan kondisi terakhir, yaitu adanya kenaikan harga BBM dan risiko global," kata Gubernur BI, Boediono, dalam rapat kerja Panitia Anggaran DPR di Jakarta, Senin.
Dalam APBNP 2008, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 persen atau turun dibanding target APBN 2008 sebesar 6,8 persen.
Dalam rapat yang dipimpin Ketua Panitia Anggaran, Emis Moeis, hadir pula Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta.
Menurut Boediono, kenaikan harga BBM dan harga pangan diperkirakan akan mendorong kenaikan tingkat inflasi yang semula diperkirakan hanya 6,5 persen menjadi sekitar 11,5 persen hingga 12,5 persen.
Berdasarkan pengalaman 2005, kenaikan harga BBM akan menimbulkan "shock" pada bulan pertama dan baru akan kembali normal setelah 3 - 4 bulan berikutnya.
Sementara untuk 2009, BI memperkirakan kondisi ekonomi Indonesia akan lebih baik, di mana pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,3 persen. Hal itu didasarkan pada pertimbangan bahwa daya beli masyarakat dan investasi sudah mulai meningkat kembali.
"Sementara untuk inflasi, BI memperkirakan akan mencapai 6,5 plus minus 1 persen," kata Boediono.
Dalam kesempatan yang sama Menkeu menyebutkan perkiraan pemerintah terhadap berbagai asumsi makro ekonomi berdasar perkembangan terakhir.
Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2008 akan mencapai 6,0 hingga 6,4 persen, laju inflasi sebesar 10,9 hingga 11,2 persen, nilai tukar rupaih Rp9.000 hingga Rp9.200 per dolar AS, suku bunga SBI tiga bulan 8,5 hingga 9,5 persen, dan harga minyak 110 hingga 115 dolar AS per barel.
Pemerintah memperkirakan tingkat inflasi pada 2009 akan kembali ke single digit, yaitu mencapai sekitar 5,2 hingga 6,2 persen. "Sementara untuk nilai tukar, pemerintah memperkirakan akan mencapai sekitar Rp8.950 hingga Rp9.050 per dolar AS, dan suku bunga SBI tiga bulan mencapai 7,25 hingga 7,75 persen," kata Menkeu. (*)
AceN
June 2nd, 2008, 10:49 AM
BPS: Ekspor Indonesia April melonjak 23,09%
Senin, 02/06/2008 14:23 WIB
JAKARTA (bisnis.com): Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor Indonesia pada April 2008 mencapai US$10,97 miliar atau melonjak 23,09% dibandingkan dengan bulan yang sama 2007.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengungkapkan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau Maret, kenaikan ekspor tidak terlalu besar yaitu hanya 7,78%.
Secara kumulatif, ekspor pada Januari-April mencapai US$44,61 miliar atau 29% lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Ekspor migas kita jauh lebih tinggi karena harga minyak dunia yang naik terus," ujarnya.(er)
AceN
June 3rd, 2008, 04:37 AM
Anggaran Belanja Negara Tembus Rp 1.000 Triliun
Selasa, 3 Juni 2008 | 08:24 WIB
JAKARTA,SELASA - Anggaran belanja negara dalam revisi APBN Perubahan 2008 yang diusulkan pemerintah kepada Panitia Anggaran DPR untuk pertama kalinya melebihi Rp 1.000 triliun. Ini dimungkinkan karena adanya peningkatan subsidi energi di atas perkiraan semula dari Rp 187,1 triliun menjadi Rp 204 triliun. ”Di sisi penerimaan, untuk pertama kalinya dalam sejarah akan menembus Rp 1.000 triliun pada tahun 2009 (naik dari Rp 937,8 triliun pada 2008 menjadi Rp 1.024,5 triliun pada 2009). Sementara untuk anggaran belanja sudah menembus angka Rp 1.000 triliun tahun ini,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Senin (2/6), dalam rapat kerja dengan Panitia Anggaran DPR.
Anggaran belanja negara diperkirakan akan mencapai Rp 1.020,1 triliun dalam revisi APBN Perubahan (APBN-P) 2008 atau meningkat di atas target awal 2008, yakni Rp 989,5 triliun. Faktor pendorong kenaikan anggaran belanja itu adalah anggaran belanja pemerintah pusat, yakni dari target semula Rp 697,1 triliun menjadi Rp 727,7 triliun.
Di dalam anggaran belanja pemerintah pusat itu terdapat unsur anggaran belanja subsidi energi, yang terdiri atas subsidi bahan bakar minyak dan listrik. Target awal anggaran subsidi BBM ditetapkan Rp 126,8 triliun, kemudian membengkak menjadi Rp 132,1 triliun. Adapun subsidi listrik akan melonjak dari target awal Rp 60,3 triliun menjadi Rp 68,5 triliun.
Lonjakan anggaran subsidi itu masih menjadi ancaman karena besarnya risiko kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia dan membengkaknya volume konsumsi BBM bersubsidi. "Bahkan pimpinan OPEC pernah mengutarakan bahwa harga minyak mentah dunia bisa menyentuh 200 dollar AS per barrel," ujar Sri Mulyani.
Adapun volume konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan bisa melonjak ke 39 juta kiloliter pada akhir 2008. Ini melampaui target semula yakni 37 juta kl. Jika volume konsumsi BBM bersubsidi itu membengkak ke 39 juta kl, subsidi BBM dikhawatirkan akan terus meninggi. "Saat ini, pemerintah menaikkan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) dari 95 dollar AS per barrel menjadi 110 dollar AS per barrel. Namun, jika harga minyak di pasar dunia terus di posisi 130 dollar AS per barrel, ICP bisa saja melonjak ke 115-122 dollar AS per barrel. Sementara ini kami sudah memperhitungkan daya tahan APBN hingga posisi harga minyak 135 dollar AS per barrel," ujar Sri Mulyani.
Kepala ekonom BNI, A Tony Prasetiantono, menegaskan, peningkatan anggaran belanja negara tidak berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Hal itu, kata Tony, disebabkan pembengkakan anggaran belanja tersebut digunakan untuk membayar subsidi. (OIN)
DJ_Archuleta
June 3rd, 2008, 08:41 AM
Bank Indonesia agrees on Bank Niaga, Bank Lippo merger
Jakarta (ANTARA News/Asia Pulse) - Bank Indonesia (the central bank/BI) has issued an in-principle permit to Bank Niaga (JSX:BNGA) and Bank Lippo (JSX:LPBN) to merge their businesses. "They have applied for a permit.
In principle, we have no objection to the planned merger," Director of the Banking Research and Regulation Directorate at Bank Indonesia Halim Alamsyah said on Friday.
Given the BI's approval, the merger of the two banks whose shares are owned by Malaysia's Khazanah Nasional Berhad can be realized soon, he said.
DJ_Archuleta
June 3rd, 2008, 08:59 AM
Indonesia Harus Mulai Serius Melirik Ekonomi Syariah
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Achjar Iljas mengatakan Indonesia sudah seharusnya menggunakan sistem ekonomi yang berakar dari dalam negeri sendiri, yakni sistem ekonomi syariah yang berbasis kerakyatan dan berkeadilan.
Pernyataan itu disampaikan oleh Achjat Iljas saat berbicara dalam diskusi umum "Muhammadiyah, Ekonomi Rakyat, dan Penanggulangan Dampak Kenaikan Harga BBM", yang digelar di Jakarta, Selasa.
"Seharusnya kita tidak perlu lagi mencari-cari sistem ekonomi lain dari luar negeri, sementara kita secara tidak sadar sudah memiliki sistem itu dan lebih baik daripada sistem dari luar negeri," katanya.
Achjar menegaskan sistem ekonomi syariah akan otomatis menjadikan rakyat sebagai prioritas, dan pemerintah berkewajiban memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya.
Dalam kesempatan itu Achjar mengatakan kondisi fundamental ekonomi Indonesia menghadapi masalah yang sangat serius, karena berbagai indikator ekonomi tidak juga membaik ketika hampir semua negara menunjukkan perbaikan kondisi makro ekonomi.
"Kalau keadaan fundamental ekonomi kita kuat, seharusnya kenaikan harga BBM rata-rata 28 persen tidak akan terlalu berdampak serius di dalam negeri," katanya.
Sementara itu Wakil Ketua DPD Irman Gusm,n , mengatakan seharusnya pemerintah fokus saja menerapkan sistem ekonomi yang berkeadilan dan pemerataan.
"Kalau nanti efek dari sistem ekonomi berkeadilan dan pemerataan ini adalah kenaikan GDP, ya ... biarkan saja. Tapi prioritasnya tetap di sistem ekonomi yang berkeadilan dan merata," katanya. (*)
lombok
June 3rd, 2008, 08:58 PM
Investasi Properti Pada 2009
Rabu, 04 Jun 2008 | 00:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat properti Panangian Simanungkalit memprediksi investasi properti akan kembali booming pada 2009. Sebab pada
tahun itu kondisi ekonomi Indonesia akan lebih baik, apalagi Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI) mempercepat rancangan kepemilikan properti asing.
Kondisi perekonomian tahun depan, kata dia, akan sama seperti pada 2004. Kala itu pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen dengan tingkat inflasi turun menjadi 6 persen. "Tahun depan tahun yang bagus karena inflasi bisa turun menjadi 6 persen," kata Panangian dalam peluncuran Tower The Tiffany Kemang Village, di Jakarta, Selasa (3/6).
Dia menyarankan, konsumen sebaiknya membeli investasi tahun ini. Sebab pengembang tak bisa mengambil untung besar seiring naiknya harga bahan bangunan akibat imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah dunia. "Konsumen untung," kata dia.
Menurut Panangian, pasar properti yang belum tergarap secara optimal yakni di kelas premium yang memiliki potensi Rp 5 triliun per tahun. Pertumbuhan kelas itu bisa mencapai 20-30 persen. "Dalam 25 tahun terakhir suplainya hanya 3 ribu unit," ujarnya. Akibatnya, lanjut dia, peminat kelas premium memilih membeli properti di Singapura. Menurut dia, jumlah belanja properti warga Indonesia di negeri Singa itu mencapai Rp 10 triliun per tahun. Rieka Rahardian
Minta penjelasan dunk, apa ditahun 2009 nanti, buat warga negara asing bisa beli langsung proverty di Indonesia ? maklum gua bukan WNA:ohno:
DJ_Archuleta
June 4th, 2008, 09:36 AM
PIRAC: Kesadaran Berzakat di Indonesia Meningkat
Jakarta (ANTARA News) - Hasil survei PIRAC ("Public Interest Research and Advocacy Center") di 10 kota besar di Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam membayat zakat meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Sekitar 55 persen masyarakat Muslim yang menjadi responden survei PIRAC mengakui dirinya sebagai wajib zakat (muzakki). Angka ini naik 5,2 persen dibanding survei pada tahun 2004 yang hanya 49,8 persen," kata Hamid Abidin, koordinator program PIRAC, di Jakarta, Rabu.
Kenaikan taraf kesadaran masyarakat akan kewajibannya membayar zakat, kata Hamid Abidin, juga terlihat dari kepatuhan wajib zakat membayar zakat.
Survei menunjukkan 95,5 program responden yang mengaku sebagai muzakki telah menunaikan kewajibannya membayar zakat. Jumlah ini juga sedikit naik dibanding kondisi tahun 2004 yang 94,5 persen.
PIRAC mencatat peningkatan kesadaran berzakat diiringi dengan meningkatnya jumlah rata-rata zakat yang dibayarkan oleh para wajib zakat.
Survei mengungkapkan jumlah rata-rata zakat yang dbayarkan oleh para muzakki meningkat dari Rp416.000/orang/tahun pada tahun 2004 menjadi Rp684.550/orang/tahun pada tahun 2007.
PIRAC melakukan survei rutin tiap tiga tahun sejak 2001. Survei berbasis rumah tangga ini bertujuan mendeteksi perilaku dan pola perubahan potensi ibadah zakat di Indonesia.
Survei ini melibatkan 2.000 orang responden yang tersebar di 10 kota besar, yakni Medan, Padang, DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Pontianak, Balikpapan, Makassar, dan Manado.
Responden yang disurvei adalah Muslim perkotaan yang dianggap memiliki kapasitas dalam berzakat, "Yang punya pekerjaan dan pendapatan tetap serta memiliki barang-barang mewah seperti kulkas, TV, parabola, dan kendaraan bermotor," kata Hamid.
"Kami melakukan wawancara tatap muka untuk mengetahui tingkat kesadaran dan pola penyaluran zakat pada akhir tahun 2007," ujarnya.
Selama 10 tahun terakhir volume pengalangan zakat yang dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) terus bertumbuh pesat.
"Kemajuan ini didukung oleh masifnya pola penggalangan zakat oleh LAZ dan BAZ, terutama lewat berbagai kemudahan membayar zakat seperi lewat SMS dan Internet sehingga muzakki merasa mudah menunaikan kewajibannya," kata Hamid menambahkan.(*)
AceN
June 4th, 2008, 02:46 PM
apa ditahun 2009 nanti, buat warga negara asing bisa beli langsung proverty di Indonesia ? maklum gua bukan WNA:ohno:
Oh.. i just know that poverty can be bought :D
rilham2new
June 4th, 2008, 03:32 PM
Selamat kepada WARGA INDONESIA,,, Harga BBM kita kembali menjadi YANG TERMURAH di ASIA TENGGARA ... Malaysia resmi mengumumkan kenaikan Tarif BBM ...
PENYELUNDUPAN BBM akan kembali MENJADI HANTU bagi distribusi BBM :cheers:
AceN
June 4th, 2008, 03:55 PM
Mendag Tetap Yakin Ekspor Sesuai Target
Rabu, 4 Juni 2008 | 15:44 WIB
JAKARTA,RABU - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengaku, tetap optimistis pertumbuhan ekspor nonmigas 2008 akan sesuai target (12-14,5 persen) meski Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya defisit neraca perdagangan pada April 2008.
"Itu (defisitnya) kan baru satu bulan, kita juga mengukur begitu. Kalau kita lihat perdagangan jangan cuma satu bulan, harus lihat trennya yang masih menunjukkan ada pertumbuhan," katanya di sela-sela acara Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) di Jakarta, Rabu (4/6).
Sebelumnya, BPS melaporkan Indonesia mengalami defisit perdagangan internasional pada April 2008 sebesar 530 juta dollar AS, karena nilai ekspor hanya mencapai 10,97 miliar dollar AS, sedangkan impor mencapai 11,50 miliar dollar AS.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan, nilai ekspor April tersebut turun 7,78 persen dibanding ekspor Maret. Meskipun demikian naik 23,09 persen dibandingkan April 2007.
Penurunan nilai ekspor terjadi akibat turunnya nilai ekspor non migas sebesar 7,08 persen menjadi 8,49 miliar dollar AS dan turunnya ekspor migas sebesar 10,11 persen menjadi 2,48 miliar dollar AS.
Penurunan ekspor non migas terbesar terjadi pada ekspor CPO sebesar 1,133 miliar dollar AS. Sedangkan penurunan ekspor migas terbesar terjadi pada ekspor minyak mentah yang turun sebesar 105,2 juta dollar AS.
Menurutnya, penurunan ekspor CPO dikarenakan penurunan harga CPO di pasar internasional pada April, dari 1.249 dolar AS menjadi 1.174 dolar AS per metriks ton, serta penurunan volume ekspor akibat naiknya pungutan ekspor (PE) menjadi 20 persen.
Impor naik
Nilai impor selama April 2008 dilaporkan mencapai 11,50 miliar dollar AS atau meningkat sekitar 14,86 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan impor terjadi pada barang konsumsi dan barang modal yang masing-masing naik sebesar 7,51 persen dan 14,34 persen. Sedangkan impor bahan baku dan penolong turun tipis dari 78,54 persen bulan lalu menjadi hanya 78,15 persen.
Menurut Mendag, kenaikan impor belum tentu berakibat negatif jika terjadi pada golongan barang modal dan bahan baku. "Kalau kita lihat pertumbuhannya, itu memang digunakan untuk impor barang modal maupun impor barang yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Berarti itu investasi meningkat, pada akhirnya ekspor akan meningkat. Jadi itu hanya masalah waktu saja, umumnya kita selalu punya surplus dalam neraca perdagangan," jelas Mendag.
Berdasarkan data BPS, selama Januari-April 2008 nilai impor Indonesia mencapai 40,95 miliar dollar AS , yang terdiri dari impor migas sebesar 9,73 miliar dollar AS atau naik 23,76 persen dan impor nonmigas sebesar 31,22 miliar dollar AS atau naik 76,24 persen.
Nilai ekspor pada Januari-April mencapai 44,61 miliar dollar AS atau naik 29,31 persen dibanding periode yang sama 2007, dan ekspor non migas mencapai 34,74 miliar dollar AS atau naik 22,35 persen.
Ekspor hasil pertanian serta ekspor hasil industri selama periode Januari-April 2008 meningkat 48,88 persen dan 26,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara hasil tambang dan lainnya turun sebesar 4,29 persen.
RonnieR
June 4th, 2008, 05:21 PM
Selamat kepada WARGA INDONESIA,,, Harga BBM kita kembali menjadi YANG TERMURAH di ASIA TENGGARA ... Malaysia resmi mengumumkan kenaikan Tarif BBM ...
PENYELUNDUPAN BBM akan kembali MENJADI HANTU bagi distribusi BBM :cheers:
Yes, it is true. Di Manila sekarang, premium harga per liter is Pesos 55 or Rp 12,500. Last week, P52/liter for premium. The price for Diesel is P48/liter or Rp10,000. No end in sight. :ohno:
peseg5
June 5th, 2008, 12:16 AM
Selamat kepada WARGA INDONESIA,,, Harga BBM kita kembali menjadi YANG TERMURAH di ASIA TENGGARA ... Malaysia resmi mengumumkan kenaikan Tarif BBM ...
PENYELUNDUPAN BBM akan kembali MENJADI HANTU bagi distribusi BBM :cheers:
Pengen tau, disana demonya "semarak" di Indonesia kagak?
DJ_Archuleta
June 5th, 2008, 07:35 AM
Subsidi BBM Rp198,7 Triliun Jika Harga Minyak 150 Dolar
Jakarta, (ANTARA News) - Subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam APBN akan membengkak menjadi Rp198,7 triliun jika harga minyak mencapai 150 dolar AS per barel.
"Kami melakukan beberapa 'exercise' jika harga minyak mencapai 135 dan 150 dolar AS per barel, untuk melihat bagaimana postur APBN bergerak," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu malam.
Menurut Menkeu, 'exercise' resmi yang sudah disampaikan kepada DPR adalah asumsi harga minyak mencapai 110 dolar AS per barel selama 2008.
"Asumsi harga minyak sebesar 110 dolar AS per barel itu merupakan asumsi harga rata-rata selama 2008, di mana rata-rata harga minyak dari saat ini hingga akhir tahun mencapai 120 dolar AS per barel," kata Menkeu.
Namun jika rata-rata realisasi dari saat ini hingga akhir tahun mencapai 135 dolar AS per barel maka rata-rata harga minyak selama 2008 adalah 122 dolar. Sementara jika harga minyak mencapai 150 dolar AS per barel maka rata-rata selama 2008 akan mencapai 134 dolar per barel.
Menurut Menkeu, pergerakan harga minyak akan berpengaruh kepada postur APBN terutama subsidi BBM. "Kalau rata-rata harga minyak saat ini hingga akhir tahun mencapai 150 dolar AS per barel maka subsidi BBM akan mencapai Rp198,7 triliun. Jumlah itu jauh lebih besar dari skenario yang sudah resmi diajukan ke DPR Rp132 triliun," kata Menkeu.
Ia menyebutkan, pemerintah akan tetap menjaga agar defisit APBN tidak lebih dari 2,1 persen dari PDB meskipun dengan skenario harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel.
Sebelumnya dalam rapat kerja di Panitia Anggaran DPR pada Senin (2/6), pemerintah memperkirakan bahwa berdasar pertimbangan kondisi terakhir hingga Mei 2008, realisasi defisit selama tahun anggaran 2008 akan mencapai Rp82,3 triliun atau 1,8 persen dari PDB.(*)
Sony Sjklw
June 5th, 2008, 07:47 AM
^^
kekhawatiran pemerintah atas kenaikan harga minyak memang sangat beralasan karena dengan harga minyak yang masih fluktuatif kemungkinan seperti diatas bisa saja terjadi
AceN
June 5th, 2008, 03:42 PM
Albaraka Buka Perwakilan di Indonesia
Kamis, 5 Juni 2008 | 20:02 WIB
JAKARTA, KAMIS - Albaraka Banking Group (ABG) yang berbasis di Bahrain resmi membuka perwakilannya di Indonesia hari ini (Kamis, 5/6). Peresmian itu dihadiri oleh President & Chief Executive ABG Adnan Ahmed Yousif, utusan khusus Presiden RI untuk Timteng Alwi Shihab, dan CEO Grup Bosowa Erwin Aksa.
ABG sebagai bank Islam internasional yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam operasionalisasinya. Grup perbankan dengan modal dasar 1,5 miliar dollar AS serta total ekuitas 1,57 miliar dollar AS memiliki 250 cabang di negara-negara antara lain Yordania, Lebanon, Pakistan, Aljazair, Sudan dan Mesir.
Sementara itu Erwin Aksa menjawab pertanyaan Kompas.com mengatakan pihaknya lah yang mengajak ABG untuk berinvestasi di Indonesia.
ABG, menurut pengakuan Erwin, tertarik untuk berinvestasi di bidang agribisnis seperti beras dan kelapa sawit, infrastruktur, dan semen. "Lokasi investasinya ada di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi," demikian Erwin Aksa.
rilham2new
June 6th, 2008, 01:33 AM
Pengen tau, disana demonya "semarak" di Indonesia kagak?
kayaknya gak ada tuhh ,,, ;p~
Tapi ANTRI BBM di SPBU juga ada tuh semalam sebelum kenaikan harga.
Dan mereka gak pake cerita2 dua minggu sebelumnya kalau mau naikin harga ... Diumumkan pagi hari ini, tengah malamnya harganya naik rata2 78 sen (= hampir Rp 2400)
DJ_Archuleta
June 6th, 2008, 06:35 AM
RI to record highest economic growth in Asia by 2011, says chief minister
Bandarlampung (ANTARA News) - People`s Welfare Coordinating Minister Aburizal Bakrie said the highest economic growth in Asia in 2011 may prevail in Indonesia.
"In his meeting with Vice President Yusuf Kalla, Bakrie said Indonesia may reach the highest economic growth in Asia in 2011 by implementing various programs including economic retrenchments," he said here on Thursday.
The minister said that with the retrenchment programs, fuel oil price hikes, and the kerosene to gas conversion scheme, at least Rp 240 trillion could be saved.
"The money could be used to build a better Indonesia. But, it should be supported by a firm intention and togetherness to develop Indonesia into an advanced country," he said.
With regard to the direct cash assistance (BLT) which has now covered 19.1 million poor families, he said that the number may eventually twice as poor families.
"Therefore, the distribution of cash assistance fails in meeting expectations, it is still within the corridor," he said.
However, the seriousness of many parties in handling and supervising the distribution of the direct cash aid should reach the target.
"If a rich person receives it, it is the task of the local government to make the necessary correction,," Bakrie said.
Speaking of scholarships which had been granted to university students, the program was discontinued due to lack of fund.
"But now the government again provides such scholarships following the fuel oil price hikes," he said.
At present, he added, about 10 percent of the total number of university students in Indonesia are in need of the assistance. (*)
AceN
June 6th, 2008, 10:12 AM
^^ yeah..i need the assistance :D:D
=============================================
Stocks Composite Index will rebound to hit 3,000 points: Analysts
The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 06/06/2008 9:46 AM | Business
The Indonesian stock market, which has dropped 12 percent since the start of the year, will bounce back and reach 3,000 points within the next 12 months, analysts predict.
Backed by an estimated strong performance by firms operating in sectors including energy, infrastructure and agricultural commodities, the index will recover and continue its five-year upward trend, Heriyanto Irawan of Deutsche Bank Indonesia, and Budi Hikmat of Bahana TCW Investment Management said.
"Deutsche Bank Group remains positive on the Indonesian stock market. Despite some headwinds, we believe corporate and country growth prospects remain exciting," said Heriyanto, an equity strategist from Deutsche Bank.
Due to a lack of domestic investment and a global economic slowdown, the Stock market index has fallen over the past few months, to a close of 2,399.67 on Thursday from 2,731.50 at the beginning of the year.
It is feared recent fuel price increases will push up inflation and interest rates and undermine economic growth.
However, Heriyanto said Indonesia's stock market had grown by an average of 40 percent each year since 2001.
"We believe the concerns over global macro economics are cyclical in nature and, besides, the underlying dynamics affecting our economy are similar to other countries in the region, anyway."
Indonesia's stock market is predicted to strongly rebound in the early fourth quarter of the year when inflation and interest rates are close to their peak, especially on the back of growth in companies operating in specific sectors, including bio-resources and heavy equipment.
"Investors of heavy equipments will enjoy Indonesia's high number of mining and infrastructure projects, while demand for alternative fuel will continue to drive demand for the country's rich resources," Heriyanto said.
In the short term, however, he said the banking and telecommunication industries would be hurt.
Budi, director of Bahana TCW Investment Management, said, while although possible, an index increase to 3,000 points was not certain.
"I see our stock market's performance as still being dependent on regional markets. If most of the regional market stocks drop, so will ours," Budi said.
"On the other hand, it's very possible for their stocks to rise, with ours following after them."
-------------------------------
Chief economic minister caretaker to be announced soon: Hatta
Antara , Jakarta | Thu, 06/05/2008 7:43 PM | Business
The government will soon announce the caretaker for the coordinating minister for the economy, State Secretary Hatta Rajasa said Thursday.
"The post will not be empty. Soon there will be a caretaker immediately," he said.
The position became vacant after Boediono was elected by the House of Representatives to become the Bank Indonesia governor, replacing Syahril Sabirin who ended his term.
"It is not a problem if the position is held by a caretaker because there have been caretakers in the previous administration," said Hatta.
Hatta said President Megawati Soekarnoputri appointed caretakers after the then coordinating minister for political, legal and security affairs, Susilo Bambang Yudhoyono, and the coordinating minister for people's welfare, Jusuf Kalla, resigned ahead of the 2004 presidential election.
Both Yudhoyono and Kalla defeated Megawati in the election to become Indonesia's first directly elected president and vice president. (****)
DJ_Archuleta
June 6th, 2008, 07:00 PM
Cadangan Devisa RI Capai US$69,02 Miliar
YOGYAKARTA--MI: Bank Indonesia (BI) memperkirakan jumlah cadanagan devisa hingga akhir tahun ini akan mencapai US$69,02 miliar. Tingginya harga komoditas masih menjadi pendorong tingginya cadangan devisa yang dikelola BI.
Bahkan pada akhir tahun depan, cadangan devisa akan naik menjadi US$81,11 miliar.
"Kalau kemarin itu terjadi penurunan cadangan devisa,penyebabnya adalah adanya pembayaran utang," kata Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwana dalam pelatihan wartawan di Yogyakarta, Jumat (6/6).
Intervensi yang dilakukan BI selama ini tidak menjadikan cadangan devisa yang dimiliki menurun. Pasalnya BI menggunakan mekanisme recycle
dari hasil penerimaan migas yang disimpan pemerintah di BI.
"Kita sudah lakukan recycle US$7 miliar.Tapi cadangan devisa tidak turun. Karena sebenarnya yang kita lakukan adalah penukaran aset," ujarnya.
Sementara itu BI memperkirakan laju inflasi yang tinggi pada tahun 2008 ini bisa diturunkan menjadi 6,5% - 7,5%. "Pada tahun 2009 kalau semua berjalan lancar, lajui menurut BI berada di kisaran 6,5 - 7,5%, meski pada 2008 inflasi sekitar 11,5 - 12,5%,"jelasnya
Dijelaskannya, tingginya laju inflasi pada 2008 disebabkan dampak kenaikan harga BBM, namun karena pengaruh BBM terhadap inflasi bersifat one shot (pengaruhnya langsung) maka inflasi tahun berikutnya kembali turun.
Untuk menyeret turun inflasi, lanjutnya BI akan terus mengeluarkan sinyal kebijakan moneter seperti dengan menaikkan suku bunga acuan moneter atau BI rate. Dalam RDG terakhir BI rate naik sebesar 25 basis poin menjadi 8,5%.
DJ_Archuleta
June 7th, 2008, 02:54 PM
Jumlah Penganggur 9 Juta Orang
SUKOHARJO--MI: Jumlah penganggur saat ini tercatat sebanyak 9 juta. Mereka tidak terserap di dunia usaha lantaran tidak memiliki kompetensi yang sesuai.
"Kompetensinya belum link and match dengan industri," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno saat melakukan kunjungan kerja ke PT Danliris, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (6/6).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ujarnya, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) berencana menjalankan program subsidi peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Aturan mainnya, menurut Erman, sekarang masih dalam tahap pembahasan.
Jika program ini dapat dilakukan, ia optimistis angka pengangguran berangsur bisa dikurangi.
Penyelesaian masalah pengangguran, lanjutnya, bukan semata-mata tugas pemerintah pusat. Tetapi juga pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah (pemda). Besarnya angka pencari kerja yang belum terserap itu merupakan rapor merah bagi pemda.
Sebab, ujar Erman, sebagian besar penganggur justru terdapat di daerah. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika masalah itu menjadi catatan tersendiri bagi pemda. Jika tidak, persoalan ini tidak akan kunjung teratasi.
"Di era otonomi, ini tanggung jawab pemda. Pemerintah pusat hanya sebagai perbantuan, regulator, dan fasilitator saja", ujar dia.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan pemda adalah dengan memperbanyak sekolah-sekolah kejuruan. Dengan kurikulum yang disesuaikan dengan permintaan industri di masing-masing daerah. Seperti halnya yang selama ini dilakukan di negara-negara maju.
Kurangnya kompetensi memadai calon pencari kerja ini juga diakui Direktur Umum PT Danliris Joko Santoso. Dari pengalaman selama ini, meski jumlah pelamar mencapai ribuan, namun yang bisa diterima hanya ratusan orang saja.
"Tahun ini sebetulnya kami membutuhkan tambahan 4.000 tenaga kerja lagi. Tapi baru ada 3.000 orang, sehingga masih kurang 1.000 lagi. Tapi ini tidak mudah, karena yang memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan cuma sedikit", kata Menakertrans.(FR/OL-01)
MARINHO
June 8th, 2008, 11:59 AM
Antara , Jakarta | Sun, 06/08/2008 1:47 PM | National
Indonesia's natural gas production has continued to increase from year to year and is now replacing the position of natural oil production which is now declining, a legislator said.
Chairman of Commission VII of the House of Representatives (DPR) which deals with energy affairs, Airlangga Hartarto said Sunday that natural gas whose production was increasing would continue to become a strategic commodity in the future.
"The increasing volumes of gas and coal production will make these commodities to continue to be strategic in the future and to replace the position of oil which is declining," he said.
A hearing between Commission VII of the House and Energy and Mineral Resources Minister Purnomo Yusgiantoro on Wednesday agreed to include gas and coal production into the assumption of the 2009 state budget.
Airlangga said both sides agreed to include gas and coal into the assumption of the 2009 state budget because the state revenues from these two commodities were significantly big.
Minister Purnomo said in the past oil was a primary commodity but now its production was declining and its role had been replaced by gas and coals whose production was significantly increasing.
Data available at the Energy and Mineral Resources Ministry revenues from these two commodities were significantly big.
Minister Purnomo said in the past oil was a primary commodity but now its production was declining and its role had been replaced by gas and coals whose production was significantly increasing.
Data available at the Energy and Mineral Resources Ministry indicated that gas production in 2009 is estimated at over 10,000 million metric standard cubic feet per day (MMSCFD).
This year's gas production is estimated at 9,946 MMSCFD.
Data show that gas production in 2007 was 8,901 MMSCFD and in 2006 it was recorded at 8,280 MMSCFD.
Gas domestic consumption also continues to increase where in 2006 gas exports were recorded at 64.97 percent while domestic consumption was 35.03 percent. In 2007, the portion of domestic consumption gas increased to 37.02 percent while that of exports dropped to 62.98 percent.
Purnomo said that the composition of gas exports and gas domestic consumption would be balanced at 50 percent this year. (*)
DJ_Archuleta
June 8th, 2008, 02:51 PM
Indonesian govt to launch 2nd crash program to generate power
Jakarta (ANTARA News/Asia Pulse) - The Indonesian government plans to launch another crash program to build power plants with a total investment of Rp100 trillion (US$11 billion) after the completion of the first program.
The second program will build power plants with a capacity of 10,000 megawatts, the same as the first program, but instead of coal fired energy it will utilize more geothermal, hydroelectric and renewable energy to generate power, an official said.
The concept for the second program is expected to be completed this month, Energy and Mineral Resources Minister Purnomo Yusgiantoro said after a cabinet meeting.
DJ_Archuleta
June 9th, 2008, 03:21 PM
RI`s Q1 balance of payments up to $59 B
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia`s balance of payments (NPI) in the first quarter of 2008 recorded a surplus of US$1 billion with the total amount of payments recorded at US$59 billion, Bank Indonesia (BI) said.
The figure was more or less equivalent to five months of imports and state foreign debt repayments, the central bank`s public relations bureau said in a press statement on Monday.
It said the country`s foreign exchange reserves stood at US$57.464 billion in the month ended on May 30, 2008.
The NPI surplus originated from a US$2.8 billion surplus in current account transactions fueled by an excess of exports over imports and remittances from migrant Indonesian workers aboard.
The growth of current account transactions indicated that the external sector still gave positive contributions to the domestic economy`s performance, it said.
Exports in the first quarter of 2008 were valued at US$34.4 billion (f.o.b), up 29.2 percent from the same period last year.
Oil and gas exports recorded the highest growth at 61.7 percent, followed by non-oil/non-gas exports which grew 21.8 percent, it said.
A surge in the prices of oil and several key non-oil/non-gas commodities such as palm oil, rubber and tin coupled with rising demand in the export market contributed to the increase in the export value.
In the meantime, imports reached US$26.8 billion (f.o.b), up 41.9 percent, suggesting that there were still robust economic activities at home.
The surplus in current account transactions offset a US$1.4 billion deficit in capital and financial transactions partly caused by a drop in foreign portfolio capital inflows to the country.
The drop was triggered by the global financial market which had not yet recovered from the US subprime mortgage crisis, coupled with investors` negative perception of the state budget`s resistance to the pressure of global crude price spiral.(*)
MARINHO
June 10th, 2008, 01:09 AM
RI firms' position in Asia
Marleen Dieleman , Singapore | Mon, 06/09/2008 10:29 AM | Opinion
Asian companies are quickly becoming global players. The UNCTAD recently compiled a list of the hundred largest multinationals from developing economies, and firms from most of the larger Southeast Asian nations were represented, including Malaysia, Thailand, Singapore and the Philippines -- but not Indonesia. Indonesian companies are lagging behind in the globalization trend.
One reason is the peculiar public opinion in the domestic market. When firms from the U.S., Europe, or Japan invest abroad, people are proud of "their" multinationals, which are reaping successes globally. However, if Indonesian firms invest abroad, their actions are quickly labeled as capital flight, in particular if the company is run by a family of Chinese descent (many large domestic firms fall in this category) -- whose loyalties tend to be questioned when they invest abroad.
The Indonesian government does little to stimulate firms to go abroad. This is in contrast to the Chinese government, which actively supports its home-bred multinationals to be successful in global markets.
Some Indonesian conglomerates do have extensive investments abroad, but these are "hidden" in other jurisdictions to avoid public scrutiny, and for tax reasons. If anyone criticizes these investments, the groups are quick to point out that the money for these investments did not come from Indonesia.
Often, Indonesian businessmen use nominees or complex legal structures to obscure ownership. This is the second reason why Indonesian firms did not make it into the top-100: Their overseas investments are hard to track.
Labeling investments abroad as capital flight is not correct. First, capital flight is normally associated with investments in monetary instruments (shares, securities) which can be liquidated and withdrawn from a country easily. However, when an Indonesian firm builds a factory abroad, it is a long term investment which cannot easily be liquidated, and therefore using the term capital flight is confusing.
Second, capital flight implies that the phenomenon is negative. The logic is: whatever funds are invested abroad cannot be invested at home, and therefore it is a flight of money. This argument assumes that it is "either -- or". Either you invest abroad or locally. Either you create jobs at home or abroad.
Although this line of thinking used to be popular, few experts agree with it any more. In most countries, outward investment has multiple effects, some of them indirect. Experts now think that the net effect tends to be positive.
What are the positive effects of local firms investing abroad? The main advantages lie in the profits, capabilities and knowledge that local firms gain abroad, some of which are brought back to the home market.
A Canadian professor, Donald Lecraw, did research in the early 1990s and concluded that Indonesian firms that had invested overseas had improved their performance after investing abroad, in terms of management expertise, exports, quality and cost structure.
Improving firms' competitiveness evidently benefits consumers if the cost improvements translate into lower prices. Usually, improvements in one firm may affect other firms operating in the same industry, and the level of the whole industry may be raised if firms bring back better practices learnt abroad.
If more Indonesian managers become expatriates, and bring back and spread their knowledge at home, this will translate in improvements of the labor market. The benefits of higher quality products, services, and governance through exposure to more advanced global markets also seem clear, especially if these better practices also affect surrounding stakeholders such as universities, laboratories, banks, etc.
The increased profitability of firms that have an international outlook directly translates into more tax revenues for the government. All the effects mentioned are positive spill-over effects of outward investments to the home economy.
In the face of all these advantages, why would one not stimulate Indonesian companies to invest abroad? As mentioned, there are also downside risks to outflows of investment. If local firms become more competitive, but do not bring back their knowledge to the local market, and instead run their foreign operations without links with the home market, then positive spill-over effects likely will not spread to employees, industries, suppliers and the government budget.
This is exactly what seems to be happening. Several conglomerates coordinate their international businesses out of Singapore or Hong Kong, with limited connections to activities in Indonesia. Given the negative publicity of being called unpatriotic, it is not surprising that Indonesia's conglomerates tend to separate their local and international investments.
The question is not whether or not we want local firms to invest abroad. The trend is already happening, and there is little the government can do to stop global investment flows, especially in an open economy. The question should instead be: what can we do to reap the maximum benefit from outward investments for the country?
Politicians are advised to stimulate local firms to invest abroad, as the net effect on the local economy is positive, as long as the government creates the conditions for firms to repatriate their money, knowledge and capabilities.
Business leaders should be free to invest abroad, but should also bring back and spread what they have learned to Indonesia, in order to raise the level of competitiveness of people, companies, industries and surrounding players. Businessmen and women investing abroad and bringing home increased competitiveness are the real patriots.
=NaNdA=
June 10th, 2008, 12:21 PM
Rupiah Makin Joss!
Selasa, 10 Juni 2008 - 16:41 wib
Rani Hardjanti - Okezone
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus menunjukan performa yang menawan. Namun, penguatan ini lebih dikarenakan penjagaan Bank Indonesia (BI) agar rupiah tidak ambruk.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (10/6/2008) ini ditutup menguat 11 poin ke posisi Rp9.313 per USD. Sejak awal perdagangan pada pekan ini rupiah terus tancap gas.
Penjagaan BI terhadap rupiah dapat terlihat antara lain dari penguatan rupiah di tengah pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sore ini.
Harga minyak yang kembali melambung ke posisi USD134,36 per barel. Kebutuhan pasar domestik untuk membeli minyak yang berdenominasi USD ini menjadi meningkat. Alasan itulah yang juga BI untuk menjaga kestabilan rupiah.
VRS
June 10th, 2008, 12:39 PM
but still di atas 9000 right??
several people hope rupiah should stabil at 9000...
AceN
June 10th, 2008, 06:00 PM
^^ beritanya heboh amat yakkk............ :nuts: seakan-akan Rp tembus 8.000 gitu.. :D
paradyto
June 11th, 2008, 01:25 AM
Indonesian economy still performing well
Jakarta (ANTARA News) - Despite a persistent steep rise in global crude oil and food prices, the Indonesian economy is still performing better than the rest of the world, an economist said.
"The Indonesian government can actually manage the good condition by means of financial policies. When it comes to Indonesia, I think it is not bad because its exports still continue and domestic consumption is still good," MISI Global President Michael Ivanovich said in a seminar on Outlook for Indonesian Economy here on Tuesday.
The surge in global crude oil and food prices had raised inflation, leading to a drop in people`s purchasing power, he said.
Director of the Indonesia Stock Exchange (BEI) Guntur Pasaribu meanwhile said the stock exchange`s index is moving in a stable direction. "Although it fluctuates it is still within a reasonable range."
He added the Indonesian condition is still good. "In Indonesia there is nothing to worry about".(*)
peseg5
June 11th, 2008, 12:41 PM
but still di atas 9000 right??
several people hope rupiah should stabil at 9000...
yup consistency is better... i mean to be consistently stable.... not consistently getting weak..
DJ_Archuleta
June 11th, 2008, 04:08 PM
RI to propose inclusion of poverty prevention in APA`s agenda
Jakarta (ANTARA News) - The Indonesian delegation to a meeting of the Asian Parliamentary Assembly (APA) Sub-Commision on Poverty Eradication in Jakarta later this month will propose the inclusion of prevention of poverty in APA`s agenda, a legislator said.
The sub-commission would meet in Jakarta on June 12-13 ahead of the third plenary APA conference to be held in the Indonesian capital in November 2008, Abdillah Toha, chairman of the House of Representatives (DPR)`s Inter-parliamentary Cooperation Board (BKSAP), said.
Speaking to newsmen at the parliament building here on Wednesday, Toha said poverty should be reduced not only by helping the existent poor but also by measures to prevent poverty.
Therefore, he said, the DPR would encourage other Asian countries to start thinking about various programs to prevent poverty so that their peoples could come out of their poverty traps.
Citing an example, Toha said the Indonesian government`s recent decision to raise domestic fuel oil prices could cause people who had previously been living just above the poverty level to fall below the poverty line.
He said the issue of poverty prevention was important because most of the world`s poor people proved to be living in Asia. Of Asia`s 4 billion people, 1.4 billion to 2 billion were poor.
"There is now a new trend: as a reslt of urbanization, there are now more poor people in the cities than in rural villages," he said.
Therefore, the PAN (People`s Mandate Party) politician added, economic growth should be pursued in parallel with more equitable distribution of income.
The results of the APA Sub-Commission on Poverty Eradication`s meeting would serve as recommendations to the third APA plenary conference in November and form the basis for the adoption of a resolution for the formation of a Poverty Alleviation Body, he said.
"With the formation of this body, the recomendations will take more concrete form and be of permanent consequence," Toha said.
The sub-commission meeting would be attended by 30 delegates from 12 countries, namely Afghanistan, Bahrain, Cyprus, Iran, Iraq, Kuwait, Laos, the Philippines, Saudi Arabia, Singapore, Turkey and host Indonesia. (*)
DJ_Archuleta
June 11th, 2008, 04:19 PM
Menpan Setuju Gaji Pejabat Negara Dipotong untuk Subsidi Rakyat
JAKARTA--MI: Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Taufiq Effendi menyatakan setuju adanya pemotongan gaji pejabat, mengikuti kebijakan pemerintah Malaysia setelah kenaikan harga bahan baker minyak (BBM).
"Boleh saja, saya setuju saja pemotongan gaji pejabat, tapi itu harus secara bersama-sama. Ada keputusan bersama dari pemerintah dan DPR," katanya usai mengikuti seminar Peta Jalan Mewujudkan Cita-cita Kemerdekaan, yang digelar LSM Gerakan Jalan Lurus, di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (11/6).
Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi membuat terobosan kebijakan untuk meredam gejolak pasca kenaikan harga BBM, dengan mengumumkan pemotongan gaji seluruh menteri dan pejabat tinggi sebesar 10 persen, sebagai wujud kepedulian Negara terhadap penderitaan rakyat.
Menurut Taufiq, untuk melakukan pemotongan gaji itu harus dilakukan bersama-sama atau diputuskan secara bersama-sama. "Itu tidak bisa diputuskan saya sendiri, karena kita punya mekanisme dengan DPR yang mengusulkan," katanya.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, yang menyatakan, dirinya setuju adanya pemotongan gaji pejabat, karena merupakan salah satu bentuk kepedulian atau berbagi rasa atas kenaikkan harga BBM. "Jangankan 10 persen, 30 persen gaji pejabat juga layak untuk dipotong," katanya.
Anas mengatakan ide pemotongan gaji pejabat itu akan dibawa ke dalam rapat internal partai. "Mudah-mudahan bisa diterima," katanya.
Sekjen DPP PDIP, Pramono Anung, menyatakan, sebenarnya pemotongan gaji pejabat itu, nilainya tidak terlalu besar. Tapi di Indonesia dengan kenaikan BBM malah gaji pegawainya dinaikkan. "Ini jadi kontradiktif, hingga masyarakat mempertanyakan kenapa harus PNS yang dinaikkan gajinya, kenapa tidak pada kelompok lain dengan menaikkan tingkat daya belinya," katanya.
AceN
June 11th, 2008, 05:11 PM
^^ nanti diturunin malah jadi timbul niat buat korup..........
David-80
June 12th, 2008, 06:23 AM
^^ ga diturunin aja udah korup....
cheers
VRS
June 12th, 2008, 07:12 AM
sebelum ada BBM naik saja sudah korup....
DJ_Archuleta
June 12th, 2008, 08:12 AM
ya begitulah yg namanya pejabat di Indonesia mana ada yg gak korup :ohno:
DJ_Archuleta
June 12th, 2008, 08:13 AM
Menkeu Akan Umumkan Paket Kebijakan Ekonomi Baru
Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, akan mengumumkan paket kebijakan ekonomi yang baru sebagai kelanjutan dari paket-paket kebijakan ekonomi sebelumnya.
"Tentang paket kebijakan, nanti saja akan kami sampaikan secara komplit," kata Sri Mulyani usai berbicara pada Indonesia Regional Investment Forum (IRIF) di Jakarta, Selasa.
Menkeu menyebutkan, paket kebijakan ekonomi yang baru itu terdiri dari berbagai langkah dan rencana tindak yang akan dilakukan oleh pemerintah.
"Langkahnya terdiri dari berbagai hal, terutama di bidang keuangan, itu cukup banyak. Nanti saya sampaikan secara detil lagi," kata Menkeu.
Menurut dia, inti dari paket kebijakan ekonomi itu adalah meneruskan apa yang sudah digariskan dalam paket sebelumnya.
Ia menyebutkan, di Depkeu, ada kebijakan yang menyangkut bidang perpajakan termasuk revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 tahun 2007 tentang fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) untuk investasi tertentu di daerah tertentu.
"Juga banyak yang berhubungan dengan pasar modal dan lembaga keuangan seperti dana asuransi. Inpresnya sudah selesai, nanti deh kami sampaikan," kata Sri Mulyani menambahkan. (*)
gliazzurra
June 12th, 2008, 08:14 AM
^^ wah jgn gitu donk bung dj.. gua yakin pasti ada lah beberapa pejabat di indonesia yg bersih dari korupsi.. mudah2an ke depan bisa semuanya bebas korupsi, walaupun susah, tp kalo mau maju itu harus diupayakan..
DJ_Archuleta
June 12th, 2008, 08:19 AM
^^ maksud saya rata2 pejabat indonesia pasti korupsi dan perbandingan ratio dgn yg gak korupsi bagaikan bumi dengan langit :)
AceN
June 16th, 2008, 08:05 AM
16/06/08 12:28
Realisasi PMDN Anjlok 68,3 Persen Dalam Lima Bulan Pertama 2008
Jakarta (ANTARA News) - Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) selama Januari-Mei 2008 anjlok 68,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dari Rp18,62 triliun menjadi Rp5,91 triliun.
"Diperkirakan dalam 6-9 bulan ke depan akan terjadi penundaan realisasi untuk komitmen investasi 2007. Calon investor dan investor menghitung ulang rencana investasinya berkenaan dengan kenaikan harga BBM," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M. Lutfi, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, di Jakarta, Senin.
Menurut dia, penurunan itu tidak perlu dikhawatirkan sepanjang nilai koreksinya terkendali dan tidak signifikan.
"Hal tersebut sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena kecenderungan nilai investasi dan ekonomi yang terkoreksi itu merupakan gejala global," ujarnya.
Lutfi menambahkan pengalaman serupa pernah dialami saat pemerintah menaikkan harga BBM pada 2005, nilai investasi turun hingga 30 persen, namun pada 2007 melonjak tiga kali lipat dibanding 2005.
Menurut Lutfi, nilai realisasi investasi asing (PMA) tumbuh 164,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu dari Rp33,30 triliun (3,7 miliar dolar AS) menjadi Rp88,02 triliun (9,78 miliar dolar AS)
Secara total, nilai realisasi investasi lima bulan pertama 2008 tumbuh 80,9 persen, dari Rp51,92 triliun menjadi Rp93.93 triliun atau dari 5,77 miliar dolar AS menjadi 10,44 miliar dolar AS.
"Meski realisasi investasi Januari-Mei 2008 naik dari Rp51,7 triliun menjadi Rp93,9 triliun atau tumbuh 80,9 persen, namun minat investasi turun sebesar 59,9 persen jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya," tuturnya, tanpa merinci data persetujuan investasi yang turun itu.
Berdasarkan data BKPM, realisasi PMDN tertinggi terjadi pada industri makanan senilai Rp1,439 triliun (16 proyek), industri logam, mesin dan elektronik senilai Rp1,493 triliun (16 proyek), sektor tanaman pangan dan perkebunan senilai Rp383,7 miliar (satu proyek), sektor listrik, gas dan air senilai Rp305 miliar (dua proyek) dan industri tekstil senilai Rp211,1 (tujuh proyek).
Nilai realisasi PMA selama Januari-Mei 2008 tertinggi terjadi pada sektor transportasi, gudang dan komunikasi 6,549 miliar dolar AS (13 proyek), industri logam, mesin dan elektronik 499,4 juta dolar AS (47 proyek), industri kendaraan bermotor dan transportasi lainnya 431,9 juta dolar AS (18 proyek) sektor perdagangan dan reparasi 357,5 juta dolar (135 proyek), industri kertas dan percetakan 292,2 juta dolar (11 proyek).
Realisasi PMDN terbanyak terjadi di propinsi Banten Rp1,411 triliun (16 proyek), Jawa Barat Rp1,109 triliun (18 proyek), Jawa Timur Rp663,9 miliar (13 proyek), Lampung Rp650 miliar (satu proyek), dan DKI Jakarta Rp531,5 miliar (18 proyek).
Realisasi PMA terbanyak terjadi di propinsi DKI Jakarta 7,026 miliar dolar (159 proyek), Jawa Barat 1,549 miliar dolar (136 proyek), Banten 278,2 juta dolar AS (44 proyek), Riau 245,1 juta dolar (6 proyek), Jawa Timur 186,2 juta dolar AS (25 proyek).
Negara yang paling banyak menanamkan modalnya di Indonesia adalah Mauritius 6,477 miliar dolar AS (3 proyek), Jepang 827,9 juta dolar AS (57 proyek), Singapura 600,9 juta dolar AS (64 proyek), Malaysia 228,5 juta dolar AS (30 proyek), dan Jerman 151,4 juta dolar AS (8 proyek). (*)
-------------------------
Mauritius ??....ga pernah denger kabar, tiba2 jadi PMA gede gitu... :eek:
=NaNdA=
June 16th, 2008, 09:04 AM
Mauritius negara mana tuh?
duh gw jarang lihat atlas neh... :lol:
DJ_Archuleta
June 16th, 2008, 11:19 AM
Subsidi Minyak Goreng Dihapus
Senin, 16 Juni 2008 | 09:58:10
Jakarta (BCZ) Tahun depan pemerintah berencana menghapus subsidi yang diberikan kepada beberapa komoditas kebutuhan pokok, seperti minyak goreng (migor) dan kedelai. Tapi, pemerintah berkomitmen tetap akan menyediakan subsidi pembelian beras bagi rakyat miskin (raskin).
''Program subsidi minyak goreng kemungkinan besar tidak akan diteruskan karena sudah ada BLT (bantuan langsung tunai). Sebetulnya program itu kan diluncurkan untuk sementara,'' ujar Mendag Mari Elka Pangestu Sabtu (14/6).
Menurut dia, pemberian subsidi minyak goreng itu pada mulanya dikeluarkan untuk mengatasi lonjakan harga minyak mentah dunia yang ikut mengerek harga minyak goreng di dalam negeri. Pemerintah tidak akan melanjutkan program subsidi minyak goreng dan kedelai pada 2009 karena BLT untuk kompensasi kenaikan harga BBM masih diberikan hingga tahun depan.
Sejak Oktober tahun lalu pemerintah memberikan subsidi pembelian minyak goreng sebesar Rp 2.500 per liter dengan total alokasi dana Rp 25 miliar. Program itu dilanjutkan kembali pada 2008 dengan pola serupa. ''Kemungkinan tahun depan tercapai (harga) keseimbangan baru,'' tuturnya.
Selain itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menanggung pajak pertambahan nilai (PPN) produksi minyak goreng curah maupun kemasan yang dijual di dalam negeri. Ini dilaksanakan untuk mengurangi beban produsen dalam negeri sehingga kenaikan biaya produksi tidak dibebankan kepada konsumen. ''Soal PPN belum dibahas kelanjutannya, tapi mungkin diteruskan. Belum ada kesimpulan kebijakan 2009,'' terangnya.
Mari mengatakan, program pemberian subsidi kedelai kepada para produsen tahu dan tempe sebesar Rp 1.000 per kg juga tidak akan dilanjutkan tahun depan. Program itu hanya dilaksanakan selama 2008 untuk menahan tingginya harga kedelai impor. Tahun depan dia memperkirakan harga kedelai tidak akan tinggi lagi. Pemerintah juga telah membebaskan bea masuk kedelai impor. ''Bea masuk tidak berubah. Hanya subsidi harga yang diperkirakan tidak akan dilanjutkan tahun depan,'' ungkapnya.
Dia mengatakan, pemerintah akan mengurangi subsidi pada produk yang dibutuhkan masyarakat. Tapi, subsidi beras untuk rakyat miskin (raskin) tetap akan diberikan. ''Raskin tetap akan kita teruskan. Program berbasis komoditas itu (minyak goreng dan kedelai) kan hanya kebijakan jangka pendek.''
Terkait subsidi pupuk, Mari menyebut pemerintah sedang membahas pemberian subsidi langsung bagi petani. Selama ini subsidi pupuk diberikan tidak langsung melalui subsidi harga gas yang digunakan untuk memproduksi pupuk. ''Subsidi langsung bagi petani lebih tepat dan dibahas cukup lama. Tapi, masalah utamanya adalah bagaimana melaksanakan subsidi itu.
AceN
June 16th, 2008, 12:02 PM
Senin, 16/06/2008 13:50 WIB
Investasi PMA Januari - Mei melonjak 164,1%
JAKARTA (bisnis.com): Realisasi penanaman modal pada Januari - Mei 2008 naik 80,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu karena terdorong oleh melonjaknya penanaman modal asing (PMA).
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan berdasarkan penerbitan izin usaha tetap (IUT) , total penanaman modal pada lima bulan pertama tahun ini mencapai Rp93,9 triliun, sedangkan pada Januari - Mei 2007 hanya Rp51,9 triliun.
Kapala BKPM M Lutfi menuturkan total penanaman modal asing (PMA) pada Januari - Mei sebesar Rp88,02 triliun atau setara dengan US$9,78 miliar. Dengan angka ini berarti terjadi lonjakan realisasi sebesar 164,1% dibandingkan periode� yang sama tahun lalu yang hanya Rp33,30 triliun atau US$3,70 miliar.
Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) dilaporkan merosot 68,3% dari Rp18,62 triliun (US$2,07 miliar) pada Januari - Mei 2007 menjadi hanya Rp5,91 triliun (US$0,66 miliar) pada periode yang sama tahun ini.(er)
rilham2new
June 16th, 2008, 05:58 PM
Mauritius negara mana tuh?
duh gw jarang lihat atlas neh... :lol:
Negara nya di Samudra Hindia, sebelah timur nya Madagaskar ... NEgara Kepulauan, jauh lebih makmur dari Indonesia lah pokoknya :D
AceN
June 19th, 2008, 03:26 AM
Meneg BUMN: Laba BUMN Tahun Ini Meningkat Rp 70 Triliun
Rabu, 18 Juni 2008 | 22:34 WIB
JAKARTA, RABU - Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan laba bersih semua BUMN tahun ini mencapai Rp 70 triliun. Sektor BUMN yang mengalami peningkatan laba di antaranya pertambangan, perkebunan, perbankan dan energi. Hal itu dikatakan Meneg BUMN saat Raker dengan anggota DPD dan direksi PT Krakatau Steel membahas privatisasi perusahaan baja nasional itu, Selasa (18/6).
"Tahun ini hampir semua BUMN untung, hanya PLN yang merugi, itu pun disebabkan kebijakan harga yang ditetapkan dan hal-hal yang ada di luar kontrol Meneg BUMN," ujar Sofyan. Sedangkan laba BUMN sebelum pajak, dikatakan Sofyan, sebesar Rp 105 triliun. Target peningkatan laba diperkirakan 22,5 persen tapi kenyataannya hanya mencapai 23 persen.
Sekretaris Meneg BUMN Said Didu juga menambahkan perkiraan target laba tahun ini mencapai 13 persen dari tahun sebelumnya.Sofyan juga menjelaskan deviden tahun 2007 mencapai Rp 31,5 triliun. Tetapi Said Didu mengatakan target tahun 2008 akan berkurang karena ada interim. Saat ditanya berapa besaran interim, dia belum menyebutkan angka. [C6-08]
-------------------------------------------------------------------------
Dorong Investasi, Central Java Invest Dibentuk
Rabu, 18 Juni 2008 | 17:53 WIB
SEMARANG, RABU - Untuk mendorong investasi, Provinsi Jawa Tengah akan membentuk Central Java Invest (CJI). Lembaga tersebut akan fokus untuk mempromosikan potensi bisnis di Jateng sehingga bisa menarik investor untuk menanamkan modalnya.
Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Jateng Agus Suryono mengatakan, selama ini Jateng kurang agresif dalam mempromosikan potensi yang ada. Akibatnya, belum banyak investor yang melirik Jateng.
Padahal Jateng punya banyak potensi, namun promosinya masih kalah jika dibandingkan dengan Ma laysia dan Singapura yang sangat agresif, kata Agus, dalam acara penandatanganan kesepakatan kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jateng, International Finance Corporation (IFC) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng di bidang investasi, Rabu (18/6) di Kota Semarang.
Kesepakatan dengan IFC ini akan berlaku dalam jangka waktu tiga tahun. Dari kesepakatan ini, diharapkan agar investasi di Jateng bisa tumbuh secara signifikan.
Di negara lain, kata Agus, kegiatan promosi bisa lebih aktif karena memiliki Investmen Promotion Agency (IPA) yang khusus menangani persoalan tersebut. Karena itu, Jateng juga akan membentuk CJI yang fungsinya mirip dengan IPA.
Agus menambahkan, pembentukan CJI merupakan salah satu program jangka pendek yang masuk dalam kesepakatan dengan IFC. Rencananya, CJI akan mulai bekerja Agustus mendatang.
Program Manager Business Enabling Environtment IFC Hans C Shrader mengatakan, IFC akan memfasilitasi pembentukan CJI dengan mengadakan pelatihan mengenai metode pemasaran daerah yang tepat, cara me masarkan potensi daerah agar lebih menarik, serta cara menarik investasi. Kami akan membagi pengalaman kami dalam menumbuhkan investasi di berbagai daerah, ujarnya.
Ia menambahkan, IFC memilih bekerjasama dengan Jateng karena melihat komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Sebagian besar kabupaten/kota kini sangat mengutamakan pelayanan publik, serta berupaya mempermudah proses perijinan bagi investor.
Menurut dia, reformasi di bidang regulasi m erupakan salah satu kunci untuk menarik investasi. Si stem one stop service adalah contoh yang baik untuk manarik i nvestasi, katanya.
Cah_Bagus97
June 19th, 2008, 11:57 AM
Meneg BUMN: Laba BUMN Tahun Ini Meningkat Rp 70 Triliun
Rabu, 18 Juni 2008 | 22:34 WIB
JAKARTA, RABU - Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan laba bersih semua BUMN tahun ini mencapai Rp 70 triliun. Sektor BUMN yang mengalami peningkatan laba di antaranya pertambangan, perkebunan, perbankan dan energi. Hal itu dikatakan Meneg BUMN saat Raker dengan anggota DPD dan direksi PT Krakatau Steel membahas privatisasi perusahaan baja nasional itu, Selasa (18/6).
"Tahun ini hampir semua BUMN untung, hanya PLN yang merugi, itu pun disebabkan kebijakan harga yang ditetapkan dan hal-hal yang ada di luar kontrol Meneg BUMN," ujar Sofyan. Sedangkan laba BUMN sebelum pajak, dikatakan Sofyan, sebesar Rp 105 triliun. Target peningkatan laba diperkirakan 22,5 persen tapi kenyataannya hanya mencapai 23 persen.
Sekretaris Meneg BUMN Said Didu juga menambahkan perkiraan target laba tahun ini mencapai 13 persen dari tahun sebelumnya.Sofyan juga menjelaskan deviden tahun 2007 mencapai Rp 31,5 triliun. Tetapi Said Didu mengatakan target tahun 2008 akan berkurang karena ada interim. Saat ditanya berapa besaran interim, dia belum menyebutkan angka. [C6-08]
-------------------------------------------------------------------------
Dorong Investasi, Central Java Invest Dibentuk
Rabu, 18 Juni 2008 | 17:53 WIB
SEMARANG, RABU - Untuk mendorong investasi, Provinsi Jawa Tengah akan membentuk Central Java Invest (CJI). Lembaga tersebut akan fokus untuk mempromosikan potensi bisnis di Jateng sehingga bisa menarik investor untuk menanamkan modalnya.
Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Jateng Agus Suryono mengatakan, selama ini Jateng kurang agresif dalam mempromosikan potensi yang ada. Akibatnya, belum banyak investor yang melirik Jateng.
Padahal Jateng punya banyak potensi, namun promosinya masih kalah jika dibandingkan dengan Ma laysia dan Singapura yang sangat agresif, kata Agus, dalam acara penandatanganan kesepakatan kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jateng, International Finance Corporation (IFC) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng di bidang investasi, Rabu (18/6) di Kota Semarang.
Kesepakatan dengan IFC ini akan berlaku dalam jangka waktu tiga tahun. Dari kesepakatan ini, diharapkan agar investasi di Jateng bisa tumbuh secara signifikan.
Di negara lain, kata Agus, kegiatan promosi bisa lebih aktif karena memiliki Investmen Promotion Agency (IPA) yang khusus menangani persoalan tersebut. Karena itu, Jateng juga akan membentuk CJI yang fungsinya mirip dengan IPA.
Agus menambahkan, pembentukan CJI merupakan salah satu program jangka pendek yang masuk dalam kesepakatan dengan IFC. Rencananya, CJI akan mulai bekerja Agustus mendatang.
Program Manager Business Enabling Environtment IFC Hans C Shrader mengatakan, IFC akan memfasilitasi pembentukan CJI dengan mengadakan pelatihan mengenai metode pemasaran daerah yang tepat, cara me masarkan potensi daerah agar lebih menarik, serta cara menarik investasi. Kami akan membagi pengalaman kami dalam menumbuhkan investasi di berbagai daerah, ujarnya.
Ia menambahkan, IFC memilih bekerjasama dengan Jateng karena melihat komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Sebagian besar kabupaten/kota kini sangat mengutamakan pelayanan publik, serta berupaya mempermudah proses perijinan bagi investor.
Menurut dia, reformasi di bidang regulasi m erupakan salah satu kunci untuk menarik investasi. Si stem one stop service adalah contoh yang baik untuk manarik i nvestasi, katanya.
SEkiranya jateng harus segera bertindak nyata dalam menata perekonomiannya yang terseok seok mengejar propinsi tetangga(DKI,Jabar,Jatim).
Dari dulu saya hanya mendengar/melihat bahwa usaha peningkatan investasi dalam rangka menggerakkan investasi di jateng belum nyata dilakukan(kalau gaka boleh dikatakan mandeg). Setiap tahun banyak even 2 digelar gak ada juntrungnya,Semarang pesona Asia, Central Java BIF di SOLO 2006&2007 yang sempat menghasilkan angka investasi trilyunan, sampai sekarang berapa yang baru terealiasi. Masih banyak Pr yang harus dikerjakan para stakholder untuk mengejar ketertinggalan dengan Tetangga. SEmoga terbentuknya badan/wadah baru ini bisa cepat tanggap dan berbuat nyata.
Mungkin beberapa hal mendesak yang harus dilakukan dijateng biar perkembangan ekonomi agak lebih cepat :
1. Perbaiki SEktor infrastruktur baik yang ada maupun baru. karena tanpa didukung infrastruktur memadai Investor akan kurang tertarik melirik jateng.(Jalan Toll,Bandara,pelabuhan) SEbagai langkah real Pelabuhan Tanjung Emas di tingkatkan kapasitasnya,biar Exportir/Importir gak lari Ke Tj Perak/Priok.
2. Birokrasi yang medukung/memudahkan investor,pembenahan semua lini.SEhinggga high cost economy bisa ditekan.
3. melakukan promosi keluar negeri.
4. Membuka askses penerbangan langsung dari/ke Asia Timur/Australia baik dari Solo ato SEmarang.
DJ_Archuleta
June 22nd, 2008, 03:54 PM
Indonesia Jan-May foreign direct investment rises 164%
JAKARTA, June 16 (Reuters) - Foreign direct investment (FDI) in Indonesia rose 164 percent in the January-May period from a year ago, helped by strong investment in telecoms and transport, the state investment agency said on Monday.
The agency, also known as BKPM, said FDI rose to $9.78 billion in the first five months from $3.70 billion in the same period a year ago.
The telecommunications and transport sectors accounted for investments worth $6.55 billion. Comparative investment figures for the sectors for last year were not available.
"They are really promising industries," Muhammad Lutfi, the agency's chief, told reporters on the sidelines of a parliamentary hearing.
"(But) in the next six to nine months investors may delay their investment, which were approved in 2007, as they have to recalculate the impact of the fuel price hike."
The government hiked subsidised fuel prices by about 30 percent on May 24, which analysts said may put more pressure on inflation and hurt growth due to weaker consumer spending.
The agency said domestic direct investment fell by 68 percent to 5.91 trillion rupiah ($634.1 million), which Lutfi said was due to the government's plan to hike fuel prices.
The BKPM data does not cover industries such as oil and gas, banking and insurance.
FDI rose 73 percent to $10.3 billion last year while domestic investment climbed almost 70 percent to 34.9 trillion rupiah on the back of political stability and strong economic growth. ($1 = 9,320 rupiah) (Reporting by Muhamad Al Azhari, editing by Sugita Katyal)
DJ_Archuleta
June 24th, 2008, 06:39 PM
Indonesia GDP likely to grow 6.9 percent next year
(Asia Pulse Data Source via COMTEX) -- -- Indonesia's economic growth is likely to reach up to 6.9 percent in 2009, newly sworn Bank Indonesia Governor Boediono said on May 26.
The economy is moving to a higher level with a better investment climate, infrastructure development and conducive political situation in the country, Boediono was quoted by foreign media as saying on the sidelines of an investment forum.
Boediono, a former coordinating minister for economic affairs, said the Indonesian government was upbeat that economic growth will reach between 6.0 percent and 6.2 percent this year.
Overall, the economy is improving this year with stable currency and higher foreign exchange reserve, he added.
DJ_Archuleta
June 24th, 2008, 07:21 PM
Indonesia GDP per capita may reach US$2,700 by 2009
Jakarta (ANTARA News) - The government and the House of Representatives (DPR) are looking into the possibility of raising the country`s gross domestic product (GDP) to Rp5,275.9 trillion by relying on exports and investments.
"With the GDP reaching that amount, our per capita GDP has actually exceeded US$2,700. But it seems that we were still at the level of middle income countries," Syahrial Loetan, secretary of the state minister for national development planning/chief secretary of the National Development Planning Agency (Bappenas), said on Monday.
Hopefully, non-oil/non-gas exports would be the main foreign exchange earner while natural resources would be the main factor to attract investments next year, he said.
"But we must keep in mind that the improving economy will make the people`s consumption stronger," he said.
The Rp5,275.9 trillion GDP could be achieved if the economy grew by 6.2 percent and the inflation rate reached 6.5 percent, he said.
After all, being at the level of middle income countries would make it difficult for Indonesia to obtain very soft loans, he said.
"Today, almost all loans are available only under commercial schemes," he said.
According to official data, the country`s macro assumptions in the year up to May 2008 show the economic growth rate was recorded at 6.3 percent, the inflation rate at 10.4 percent, the interest rate on Bank Indonesia Certificates (SBI) for three-month deposits at 8.1 percent, the rupiah`s exchange rate at Rp9,254 per dollar, Indonesian crude prices (ICP) at US$104.8 a barrel, oil production at 922,500 barrels per day, fuel consumption at 16.4 million kiloliters.
In the the revised 2008 state budget, the target of economic growth rate for 2008 has been set at 6.4 percent, inflation rate 6.5 percent, interest rate on SBI for three-month deposits 7.5 percent, the rupiah`s exchange rate Rp9,100 per dollar, ICP US$95 a barrel, oil production 927,000 barrels per day, and oil consumption 35.5 million kiloliters.(*)
AceN
June 25th, 2008, 12:51 PM
JULI, RUU LPEI RAMPUNG, Ekspor Berpotensi Tembus US$ 150 Miliar
24/06/2008 23:59:01 WIB
JAKARTA, Investor Daily
Nilai ekspor Indonesia berpotensi menembus US$ 150 miliar hingga akhir tahun ini jika seluruh program diversifikasi komoditas dan pasar ekspor yang digulirkan pemerintah berjalan lancar.
Meski pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat melambat, ekspor diyakini tetap meningkat tajam seiring lonjakan harga sejumlah komoditas unggulan, antara lain minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), batubara, kertas, karet, dan kakao. Apalagi jika Indonesia mampu mengolah komoditas primer (mentah) tersebut menjadi produk turunan yang bernilai tambah tinggi.
Hal tersebut diungkapkan Sekjen Departemen Perindustrian (Depperin) Agus Tjahajana, ekonom LPEM UI Chatib Basri, ekonom Cides Umar Juoro, ekonom UGM Mudrajad Kuncoro, dan Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo secara terpisah kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (23/6).
Mereka berpendapat, ekspor RI masih digenjot dengan mengoptimalkan pasar Timur Tengah, Eropa Timur, Afrika Selatan, dan Asia. Menurut catatan Investor Daily, nilai ekspor ekspor Indonesia pada akhir 2007 tercatat US$ 113,9 miliar, jauh di bawah Singapura (US$ 311,2 miliar), Malaysia (US$ 176,9 miliar), dan Thailand (US$ 151,1 miliar). Tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor sekitar 13-14%.
Agus mengatakan, potensi sumber daya alam yang melimpah dan lonjakan harga komoditas semestinya menjadikan ekspor RI mampu menyaingi Thailand. “Strategi eskpor harus diubah, antara lain dengan mengubah ekspor produk primer menjadi produk olahan, memperkuat basis industri, dan perluas jaringan pasar,” tandas dia.
Menurut Agus, untuk meningkatkan ekspor produk olahan, pemerintah harus memberi insentif investasi industri yang bergerak di sektor hilir. Selama ini, investasi di sektor hilir terkendala oleh minimnya infrastruktur, ekonomi biaya tinggi, dan tumpang tindihnya peraturan.
Berdasarkan cetak biru Kebijakan Pengembangan Industri Nasional (KPIN) yang disusun Depperin, ekspor sejumlah komoditas unggulan masih didominasi dalam bentuk mentah. Produksi CPO nasional 2007 mencapai 16,8 juta dan sekitar 70% diekspor tanpa diolah. Padahal, CPO dapat diolah menjadi 30 produk turunan yang bernilai tambah tinggi, antara lain stearin, margarine, dan shortening.
Diversifikasi Produk
Chatib Basri mengatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi AS yang berpotensi menurunkan permintaan komoditas perlu dicermati. Solusinya, Indonesia harus mendiversifikasikan produk dan pasar ekspor dengan mengubah ekspor produk primer menjadi produk olahan dan menggarap pasar yang selama ini belum disentuh.
Ia memprediksi Indonesia mampu menyaingi Thailand sekitar 2-3 tahun mendatang. Sedangkan untuk menyalip Malaysia, Indonesia butuh waktu yang relatif lebih lama daripada Thailand.
Menurut Mudrajad, rendahnya nilai ekspor RI dibandingkan negeri tetangga, karena produksi nasional cenderung turun, menyusul tidak adanya insentif yang diberikan bagi pelaku bisnis. “Thailand dan Malaysia memberikan insentif bagi eksportirnya, termasuk suku bunga rendah. Kalau di Indonesia, eksportir justru dibebani suku bunga tinggi, tanpa insentif lagi,” papar dia. Ia optimistis nilai ekspor RI dapat melampaui US$ 150 miliar tahun ini jika iklim usahanya dibuat seperti kedua negara tersebut.
Sementara itu, Bambang mengatakan, dengan pertumbuhan ekspor nonmigas 13%, penerimaan ekspor nonmigas tahun ini diperkirakan mencapai US$ 105,6 miliar. Jika digabung dengan ekspor migas, total ekspor sampai akhir 2008 diperkirakan menembus sekitar US$ 145 miliar. "Saya optimistis, target ekspor nonmigas akan tercapai, karena kenaikan ekspor nonmigas dalam empat bulan pertama 2008 tumbuh 22,4%," ungkap dia.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sebelumnya mengatakan, ekspor tahun 2008 diyakini bisa tumbuh minimal 13%. Secara kumulatif, kinerja ekspor nasional per Januari-April 2008 mencapai US$ 44,6 miliar, tumbuh 29,3% dibandingkan periode sama tahun lalu. Salah satu penyebab kenaikan itu dipicu oleh lonjakan harga sejumlah komoditas.
Namun, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) MS Hidayat pesimistis nilai ekspor tahun ini bisa tembus US$ 150 miliar. “Mungkin sedikit di atas US$ 100 miliar,” ujarnya.
Pembiayaan Ekspor
Umar Juoro mengatakan, rendahnya kinerja ekspor antara lain karena kurangnya pembiayaan jangka panjang, seperti produk industri manufaktur atau industri strategis yang butuh lembaga pembiayaan khusus. Untuk itu kehadiran export credit agency atau lembaga pembiayaan ekspor Indonesia (LPEI) sangat dibutuhkan.
Sumber Investor Daily mengatakan, kehadiran LPEI tinggal menunggu waktu, sebab RUU tentang LPEI segera dibahas DPR. LPEI kelak menjadi lembaga pembiayaan yang otonom, menyediakan pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa-jasa lainnya untuk meningkatkan ekspor barang dan jasa nasional.
Anggota Pansus RUU LPEI Ade Komaruddin mengatakan, RUU LPEI akan memberikan kepastian berinvestasi bagi investor asing dan mendorong peningkatan ekspor, termasuk pengusaha kecil dan menengah di daerah. Bila RUU LPEI disahkan, lanjut dia, peranan BEI berubah menjadi LPEI yang memiliki fungsi strategis guna membantu eksportir yang kesulitan mendapatkan kredit, asuransi, dan jasa konsultan. Menurut rencana, RUU LPEI akan rampung akhir Juli 2008
Sejak 2001 hingga sekarang, penyaluran kredit ekspor kurang maksimal karena terkendala persyaratan perbankan. Pasalnya, keberadaan BEI yang dibentuk berdasarkan PP No 37/1999 masih berbentuk bank umum yang mempunyai keterbatasan. Bank ini harus tunduk terhadap aturan perbankan.
Anggota Pansus RUU LPEI dari FPDIP Hasto Kristyanto menambahkan, LPEI nantinya menjadi lembaga superbody dan sangat spesialis untuk meningkatkan ekspor, khususnya produk-produk unggulan atau komoditas yang mampu bersaing di pasar internasional.
Ketua Pansus RUU LPEI DPR Lili Asdjuredja menjelaskan, RUU LPEI diharapkan menjadi dasar hukum pembentukan lembaga pembiayaan ekspor nasional yang mampu memberikan kepastian hukum bagi eksportir.
Hal sama juga diungkapkan oleh Ketua Komite Tetap Moneter dan Fiskal Kadin Indonesia Bambang Soesatyo. “Prinsipnya, Kadin menyambut positif pendirian lembaga pembiayaan ekspor, apalagi RUU-nya sedang dibahas di DPR,” ujar dia.
Direktur Bisnis Umum PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sudargo Sudaryanto mengatakan, permintaan kredit ekpsor perseroan justru meningkat, kendati pertumbuhan ekonomi sejumlah negara tujuan ekspor turun. Peningkatan dipicu oleh permintaan kredit ekspor komoditas, seperti CPO, pertambangan, dan pangan.
PT Bank Mandiri Tbk juga mengalami hal serupa. Sektor ekspor yang tumbuh paling tinggi dalam satu tahun terakhir adalah perkebunan dan karet. Menurut Chief Financial Officer Bank Mandiri Pahala Mansyuri, tahun ini kredit korporasi naik di atas 40%, salah satunya didorong peningkatan kredit ekspor.
Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Djoko Retnadi menjelaskan, pemerintah harus fokus pada riset sektor agribisnis guna menggenjot ekspor. Sebab, Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Thailand, karena tidak memprioritaskan riset, sehingga produk tidak berkembang. (c118/naf/idi/raj/rav/ref/kp)
-----------------------------------------------------------------
WNI di Luar Negeri Terkena Pajak
24/06/2008 23:57:47 WIB
Oleh Raja Hendrik Napitupulu
JAKARTA, Investor Daily
Pemerintah akhirnya memperluas objek pajak penghasilan (PPh) bagi warga negara Indonesia (WNI) yang memiliki perusahaan di luar negeri (world wide income/WWI). Aturan itu juga berlaku bagi tenaga kerja asing (ekspatriat) yang telah bekerja di Indonesia lebih dari 183 hari.
Berdasarkan rancangan undang-undang pajak penghasilan (RUU PPh) yang sedang dibahas panitia khusus (pansus) DPR disebutkan bahwa pemerintah akan mengutip pajak dari WNI yang memiliki usaha di negara lain sebesar 30%. “Pemerintah dan pansus DPR sepakat mengenakan pajak bagi ekspatriat dan WNI yang mempunyai usaha di luar negeri," kata Melchias Markus Mekeng, ketua Pansus Paket RUU Perpajakan, kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (23/6).
Dia mengakui, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta pemerintah untuk menghapuskan WWI karena pengawasannya sangat sulit. Namun, pemerintah menolak permintaan itu karena berpotensi mengurangi penerimaan negara.
Wakil Ketua Umum Kadin Cris Kanter menilai, WWI hanya memberikan sinyal negatif bagi para ekspatriat yang akan bekerja di Indonesia. Pemerintah pun bakal kesulitan menerapkannya karena tidak memiliki akses ke negara lain untuk mengetahui kekayaan pengusaha Indonesia di luar negeri.
Menurut Cris, masih wajar bila pemerintah hanya mengenakan pajak atas penghasilan mereka di Indonesia. Penerapan WWI menjadi tak menarik bila semua aset mereka menjadi objek pajak. Jadi, enforce-nya kurang tepat," tandas dia.
Anggota Pansus RUU PPh Dradjad Wibowo menuturkan, WWI tidak jadi dihapuskan karena fraksi yang mengusulkan penghapusan membatalkan usulannya. "Ini lebih pada masalah teknis pembahasan RUU," jelas dia.
Pengamat Perpajakan Ronny Bako mengatakan, potensi penerimaan pajak dari PPh Masa baik dari WNI maupun warga asing yang berusaha di Indonesia sangat besar. "Hanya, perlu aturan yang benar dan sederhana," ujarnya.
Menurut Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat, subjek pajak dalam negeri menjadi wajib pajak jika telah menerima atau memperoleh penghasilan.
Sementara itu, subjek pajak luar negeri sekaligus menjadi wajib pajak sehubungan dengan penghasilan yang diterima dari sumber penghasilan di Indonesia atau diperoleh melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, serta tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan.
Artinya, penghasilan warga asing yang telah bekerja lebih dari 183 hari berikut asetnya menjadi objek pajak "Semua itu akan dikenai pajak PPh Masa yang besarnya akan diatur pemerintah," ujar Melchias.
PPh Masa juga berlaku bagi WNI yang memiliki usaha di luar negeri. Mereka tetap menjadi objek pajak sepanjang masih berstatus WNI. “Besaran PPh Masa ini disesuaikan setelah dikurangi beban pajak yang harus ia bayarkan kepada negara tempat usahanya,” jelas Melchias.
Dia mencontohkan, pengusaha WNI sudah membayar pajak sebesar 20% di negara tempat usahanya, dan pajak PPh di Indonesia sebesar 28%. “Artinya, pengusaha tersebut harus membayar selisihnya sebesar 8% ke Indonesia. Namun, bila pajak yang telah dibayarkan lebih tinggi ketimbang aturan di Indonesia, mereka tidak dikenakan pajak lagi,” ujar dia.
Menurut Melchias, pemerintah bisa menghitung secara jelas potensi PPh Masa. Semangat dari ketentuan ini adalah pemerintah tidak ingin melepaskan potensi penerimaan pajak yang bisa menambah penerimaan negara sekaligus membebankan pajak kepada wajib pajak secara proporsional. Aturan mainnya pun tidak lagi melalui Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) tetapi masuk dalam UU PPh Pasal 26, sebagai salah satu turunannya.
lombok
June 26th, 2008, 04:05 PM
Indonesia - Jepang Fokus di 13 Sektor Industri
Kamis, 26 Jun 2008 | 20:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia – Jepang atau Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) akan memfokuskan pada peningkatan kapasitas di 13 sektor industri penunjang investasi Jepang di Indonesia.
13 sektor itu adalah pengerjaan logam, percetakan alat mesin, promosi ekspor dan investasi, usaha kecil dan menegah (UKM), komponen otomotif, elektronik, baja, tekstil, petrokimia/oleokimia, logam non besi, dan makanan dan minuman.
Menteri Perdagangan, Mari Pangestu, mengatakan 13 sektor itu masuk program pengembangan kapasitas industri melalui Manufacturing Industry Development Centre (MIDEC). MIDEC adalah bagian dari pilar pengembangan kapasitas untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Sementara perjanjian IJ-EPA sendiri akan berlaku efektif 1 Juli 2008 yang memuat tiga pilar, yaitu liberalisasi perdagangan dan investasi, fasilitasi perdagangan dan investasi, dan pengembangan kapasitas untuk mengangkat daya saing
Sielo
June 29th, 2008, 07:16 AM
Fiscal Tax to End January 1, 2009
Registered Tax Payers to Be Exempted from Rp. 1 Million Fiscal Tax Paymen for Traveling Abroad.
(6/28/2008) The Indonesian Director General of Taxation has announced its intention to exempt Indonesian residents who possess an official tax number (NPWP) from paying the unpopular Rp. 1 million (US$107) fiscal charge each time they depart on a foreign trip, effective January 1, 2009.
The fiscal charge, which is settled at special tax kiosks at Indonesian airports and seaports, is technically reimbursable and can be credited against final payroll tax liabilities.
The new move designed to enhance bureaucratic efficiency and encourage Indonesian's to register and pay taxes, will only be available to the estimated 4.9 million individuals who have registered and obtained an official NPWP registration from their local tax office.
Tax officials are hinting that the "fiscal free" facility may only be a temporary measure, with the entire policy up for review on January 1, 2009, two years after the introduction of the trial "fiscal free" period.
Government officials have been quoted in the national press as saying they are confident that any loss in revenues from the fiscal fees will be more than offset by increases in the national taxpayers' base. In 2007, the government collected Rp. 2.5 trillion (US$268.8 million) in fiscal fees. The total fiscal payments collected in 2006 totaled Rp.1.2 trillion (US$129 million).
Under the new facility to take effect on January 1, 2009, travelers need only show the NPWP of the family head to be exempted from paying the fiscal charge. Dependents under the age of 21 can also be exempted under their parent's NPWP, while children under the age of 12 are not required to pay the fiscal fee.
David-80
June 30th, 2008, 10:57 AM
With no Fiscal tax, expect overseas flights to get booming next year....airasia and other LCC will benefits from these...
cheers
AceN
June 30th, 2008, 12:12 PM
^^ by then, going to SG will be as often as taking medicine :cheers1:
DJ_Archuleta
July 1st, 2008, 08:37 AM
World Bank: Indonesian govt more efficient, less corrupt
A REFORM push by leaders in Indonesia has substantially improved the performance of government and cut into corruption in South-east Asia's largest economy, the World Bank said on Wednesday.
The bank's Worldwide Governance Indicators (WGI) report found governance had improved significantly in Indonesia in the 10 years of 'reformasi' since the 1998 ouster of dictator Suharto, a statement said.
'The progress is a reflection of a country whose political leaders, policymakers, civil society and private sector view good governance and corruption control as crucial for sustained and shared growth,' report co-author Daniel Kaufmann said in the statement. But, Indonesia is still lower compare to the other SEA countries such as Singapore and Malaysia in their effort to control of corruption.
DJ_Archuleta
July 2nd, 2008, 06:28 AM
Number of poor people down 15.41 pct in March 2008: BPS
Jakarta, (ANTARA News) - The number of poor people in Indonesia in March 2008 was 34.96 million or 15.42 percent less than a year earlier when the figure was 37.17 million, according to a social-economic survey done by the Central Bureau of Statistics (BPS).
But the bureau had yet to measure the effect of the 28.7-percent increase in the fuel oil prices announced in late May, BPS Deputy Head for Social Statistics Arizal Ahnaf said here Tueday.
"If these figures are to be cited in the President`s state-of-nation address on August 16, he should explain they were collected in March," he said.
Most of 63.47 percent of the poor people lived in rural areas and the decline in their number also mainly happened in rural areas, namely by 1.42 million compared to a decrease by 0.79 million in urban areas.
Among the possible causes of the fall in the number of poor people were relatively stable infation rates in the March 2007-March 2008 period, a decline in the average prices of rice by 3.01 percent, an increase in the nominal wages of landless peasants since March 2007 whereas 70 percent of them lived in rural areas, and a decrease in the open unemployment rate in the February 2007-February 2008 period.
Province-wise, the highest numbers of poor people were found in two provinces, namely Papua (37.08 percent) and West Papua (35.12percent). The provinces with the smallest number of poor people were Jakarta (4.29 percent), Bali (6.17 percent), and South Kalimantan (6.48 percent).
Ahnaf also said there had been a raise in the poverty line from Rp166,697 per capita per month to Rp182,636 per capita per month.
Meanwhile, asked to comment on the BPS report, the dean of the University of Indonesia`s Economic Faculty, Bambang Brodjonegoro, said, if the BPS survey had also taken account of the impact of the fuel oil price hikes in May, the number of poor people would have been somewhat higher.
DJ_Archuleta
July 2nd, 2008, 09:34 AM
Indonesia ranked 47th in WEF's trade index
Jakarta, 2008 - Indonesia is good at attracting international trade with its relatively competitive tariff barriers, but border controls and distribution channels continue to create obstacles, the World Economic Forum (WEF) says, according to a report in The Jakarta Post.
The Enabling Trade Index in the 2008 Global Trade Report published Wednesday by the WEF compares 118 countries' openness and international trade capabilities.
Overall, Indonesia ranked 47th among the 118 countries. Hong Kong topped the list, followed by Singapore, Sweden, Norway and Canada. Malaysia ranked 29th.
In the report, Indonesia ranked better than last year and is ahead of China (48) Thailand (52) Philippines (82) and Vietnam (91).
Indonesia scored well on trade policies, in which it was ranked in the top 22 countries, ahead of Britain, Australia, Italy, Singapore and Malaysia. It was ranked 34th for good regulatory environment, a sector that included ease of hire of foreign labor, ease of foreign ownership and regulations encouraging foreign investment.
Overall, trade was well supported by regulatory openness and a competitive business environment, but poor infrastructure and difficult processes at borders lost the country points, the report stated. It also ranked Indonesia at 34th in this category.
Indonesia’s low non-tariff barriers and moderate tariff barriers allowed relatively open market access for foreign goods, although customs and domestic transport were complicated.
Indonesia has competitive trade connectivity, due to its location, competitive shipping costs and logistics companies, the report added.
The continuing improvement of Indonesia’s overseas image also received a boost from a successful bond sale on Wednesday. It sold $2.2 billion in bonds, a new record, on the international market, above the planned $1.5 billion float, with the issue three times over-subscribed, Reuters reported.
The government offered premiums of up to 8.154%, with analysts stating that the rates represented the higher cost of money globally because of high oil price.
Bank Indonesia Senior Deputy Governor Miranda Goeltom said that while policy makers will probably keep raising interest rates to slow inflation led by energy costs, they won't move at a faster pace, Bloomberg reported.
The central bank increased its key rate by a quarter percentage point in May and again on June 5 to the current rate of 8.5%. Year-end inflation is forecast at around 10%.
“There is certainly some indication that we have to respond to the inflation expectations toward the end of the year, although we don't think it's going to accelerate from what we have done,” Goeltom said in an interview in Canada.
“There are quite strong indications that we still have to move a little bit more as the inflationary pressures keep building up,'' Goeltom said in a speech.
Muhammad Lutfi, head of the Indonesian Investment Coordinating Board, said PT Krakatau Steel was in talks with AcelorMittal and Tata Steel Ltd. on a new plant expected to cost around $3 billion in which the foreign investor would have the majority of shares.
Krakatau, owned by the government, plans to form a joint venture to build a 2.5 million metric ton-capacity plant next to its existing facility,
There was also a commitment to major investment in two nickel mines in a deal signed between BHP Billiton and state-owned PT Aneka Tambang.
One of the mines is located on Gag Island off the western tip of Papua, and the other in Halmahera in North Maluku province. While BHP declined to comment on the value of the projects, estimates ran as high as $4.5 billion.
Australian-based Orica, the world’s largest explosive manufacturer, said it was going ahead with a plant valued at $550 million in East Kalimantan.
The rupiah had its biggest weekly gain in more than two months as measures to cool inflation helped restore investor confidence, Bloomberg said.
The agency noted that the currency is the second-best performer in June behind China's yuan after the government sold the new record amount of dollar-denominated bonds.
DJ_Archuleta
July 2nd, 2008, 01:46 PM
Indonesia end-June forex reserves up 3.5 pct at $59.45 bln vs May
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia's foreign exchange reserves grew 3.5 percent to $59.45 billion at the end of June from a month earlier, Bank Indonesia was quoted by Thomson Financial as saying in a report published on its website on Wednesday.
The government sold $2.2 billion worth of global bonds in New York last month.
In a forecast made earlier, the central bank said forex reserves will increase to $69.03 billion at the end of this year from $56.92 billion at end-2007, supported by stronger exports.
AceN
July 31st, 2008, 02:12 PM
Kinerja Bursa Efek Indonesia Menggembirakan
31/07/2008 14:02:53 WIB
SURABAYA, investorindonesia.com
Meski indeks transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat terkoreksi dampak kasus kredit perumahan (subprime mortgage) di AS dan naiknya harga minyak dunia, tapi kinerja BEI selama semester I/2008 cukup menggembirakan.
"Performansi selama semester I/2008 bagus. Bahkan transaksi harian pada Selasa (29/7) mencapai Rp 5,4 triliun", Dirut BEI, Erry Firmansyah disela Diklat Pasar Modal untuk Notaris, di Surabaya, Kamis, seperti dilansir Antara.
Ia menjelaskan, transaksi itu meningkat sekitar 25 persen dibandingkan rata-rata transaksi tahun lalu yang sebesar Rp 4,2 triliun per hari.
Target emiten yang tercatat sebanyak 30 hingga akhir tahun, saat ini sudah 16 emiten yang listing, sembilan emiten dalam proses dan lima lainnya diharapkan bisa dicatatkan pada akhir tahun ini.
Meski tanpa merinci, Erry mengakui bahwa untuk obligasi terjadi penurunan. Penurunan itu diduga dampak tingginya tingkat suku bunga perbankan, sehingga investor memanfaatkan media investasi lain.
"Target mungkin tidak terpenuhi. Karena itu, kemungkinan akan ada perubahan target, dari 52 emiten yang ditargetkan, sekarang baru 20 issuer. Hal itu karena tingkat suku bunga yang cukup tinggi", katanya menambahkan.
Namun demikian, ia mengatakan bahwa untuk obligasi pemerintah baik itu Surat Utang negara (SUN) maupun ORI masih bagus. Respon masyarakat baik karena tidak ada resiko.
Karena itu, ia optimistis surat utang berbasis syariah (SUKUK) yang akan diluncurkan Agustus dan ORI-5 pada September mendatang akan diminati masyarakat.
Sementra itu, saat memberi sambutan dihadapan 70 notaris peserta Diklat, ia mengakui bahwa pergerakan transaksi di bursa sejak terjadinya kasus kredit perumahan di AS (subprime mortgage) dan kenaikan harga minyak dunia, cukup dinamis (volatile).
"Volatile" adalah istilah yang umum digunakan dalam perdagangan untuk merujuk pada suatu perubahan, utamanya perusahan harga, yang cukup cepat. Secara statistika biasanya derajat volatilitas terefleksi pada perubahan yang menjauhi angka rata-ratanya dalam periode tertentu.
Akibat dampak subprime mortgage dan naiknya harga minyak dunia, indeks saham di BEI sempat rekoreski 17-18 %.
Tingkat volatilitas yang tinggi diperkirakan akan masih berlanjut seiring dengan naiknya harga pangan dunia. "Harga pangan perlu diwaspadai, karena bisa berdampak pula terhadap bursa", kata Erry menambahkan.
AceN
July 31st, 2008, 02:26 PM
Telekom Malaysia Lepas Saham XL
31/07/2008 14:08:39 WIB
Oleh Nerisa Pitrasari
JAKARTA, Investor Daily
Telekom Malaysia (TM) International Bhd setuju melepas sebagian saham PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) kepada publik, seiring rencana penawaran umum kedua (secondary public offering/SPO) saham operator seluler terbesar ketiga di Indonesia itu.
TM International kini menguasai 83,83% saham Excelcomindo (XL) melalui Indocel Holding Sdn Bhd. Sisa saham dimiliki Emirates Telecommunication Corp (Etisalat) 15,97% dan publik 0,2%.
Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan, perseroan akan melepas lebih dari 10% saham ke publik pada tahun ini. Sebagian saham itu dimiliki TM International melalui Indocel. “Jadi, bukan berarti semua saham yang akan dilepas ke publik itu berasal dari Indocel,” kata dia kepada Investor Daily, usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, Selasa (29/7).
Hasnul menambahkan, manajemen XL akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 3 September 2008. Seperti diberitakan sebelumnya, XL telah menunjuk PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi (lead underwriter) SPO saham perseroan. Target dananya sekitar US$ 400-500 juta. Perseroan juga menunjuk JP Morgan dan Merrill Lynch untuk penjualan saham SPO di luar negeri.
Sementara itu, dalam RUPSLB Selasa (29/7), XL telah mengubah jajaran komisaris yakni Datuk Nur Jazlan, Rosli, Tjahyono Soerjodibroto, Dato Mohamad Norza, dan Datuk Bazlan. Posisi komisaris kini ditempati Datuk Jamaludin Ibrahim, Gita I Wiryawan (mantan eksekutif JP Morgan), Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia Giri Suseno dan Direktur Strategi dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan.
XL kini juga tengah menjajaki pinjaman dari dua bank senilai US$ 250 juta atau sekitar Rp 2,3 triliun untuk memenuhi kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini yang sebesar US$ 1,25 miliar atau Rp 11,5 triliun.
Senior Vice President Corporate Finance and Treasury XL Johnson Chan mengatakan, perusahaan juga mengkaji opsi penerbitan surat utang (obligasi). “Tapi, pinjaman bank lebih diminati karena bunga obligasi lebih tinggi,” tandasnya.
Naik 59%
Hingga semester I-2008, total pelanggan XL mencapai 22,9 juta atau naik 124%. Pertumbuhan pelanggan itu mendorong kenaikan pendapatan usaha perseroan menjadi Rp 5,8 triliun atau meningkat 59% dibandingkan periode yang sama 2007. Sedangkan laba bersihnya naik 38% menjadi Rp 459 miliar.
“Pelanggan kami memberikan appresiasi yang positif untuk layanan XL yang memadukan antara kualitas layanan dengan tarif yang terjangkau,” kata Hasnul.
Sielo
August 1st, 2008, 09:17 AM
Indonesia July car sales seen at record high-Toyota
JAKARTA, Aug 1 - Total Indonesian vehicle sales are expected to show a 55 percent jump to 59,500 units in July, a new record monthly high, a senior official at automotive distributor Toyota Astra Motor said on Friday.
Jodjana Jody, head of sales at Toyota Astra Motor, told Reuters that Toyota sold 20,498 vehicles in Indonesia last month, a 59.6 percent jump and its highest ever monthly volume, and said that he was optimistic that overall sales can top 550,000 units this year, breaking a previous historic high in 2005.
Toyota Astra is jointly owned by Toyota Motor Corp <7203.T> and Indonesia's largest automotive distributor, PT Astra International Tbk <ASII.JK>. The company distributes vehicles made by Toyota and its luxury arm Lexus.
The data is seen by analysts as a gauge of overall activity in Southeast Asia's largest economy.
"If the government does not introduce any new policy such as higher vehicle tax, which could slow the pace down, I personally believe that we can exceed 550,000 units (of total sales) this year," Jody said by telephone.
Indonesia raised the subsidised fuel prices in May by around 30 percent to shield the budget from the impact of rising international oil prices.
The move sent inflation rate up to around 11 percent in June and prompted the central bank to raise the benchmark interest rate further, taking the BI rate <BIPG> to 8.75 percent.
Indonesia's car sector was severely hit the last time the government raised fuel prices in October 2005, but the sector has started recovering from that slowdown.
Sales in the first half of 2008 rose by nearly 48 percent, helped by lower interest rates and despite the country's consumer confidence being dented by building inflation.
However, analysts say the central bank's decision to hike its benchmark rate by a total of 50 basis points in the past two months, could hurt sales in the future.
They say high inflation from rising food prices and energy costs could also weigh on the automotive industry.
But some analysts and industry experts have said they still expect vehicle sales to top 500,000 units this year, compared to 434,449 units in 2007, even after the hike in subsidised fuel prices.
Most vehicle purchases in Indonesia are financed by loans, making sales sensitive to interest rates.
peseg5
August 1st, 2008, 12:55 PM
[B]Indonesia July car sales seen at record high-Toyota
^^Wah wah wah.... katanya konsumsi BBM mau ditekan demi penghematan subsidi. Kalau begini, gimana dong?
Mimihitam
August 1st, 2008, 01:17 PM
Perlu diketahui bahwa Visi 2030 akan terwujud. Bisa dilihat artikel berikut. Sekarang ini fakta sudah mendukung lho :D
Commodity Bubble:
Di hari kenaikan harga komoditas, rakyat bertanya dalam leguh, "apakah kita bisa selamat dalam krisis tersebut?". Tentunya, bagi perekonomian business, kenaikan harga komoditas menyebabkan prospek yang sangat tidak bagus. Tetapi dalam sebuah evaluasi kita perlu melihat pro dan contra masalah.
Demikian rupa, kenaikan harga komoditas, terutama di bidang industri makanan telah membikin market dunia menjadi panik. Statistik membuktikan bahwa ada kenaikan harga beras per ton dari $619 jadi $771. Seluruh dunia berbalik muka untuk menunggu datangnya krisis dunia yang akan merubah total ekonomi dunia. Tentu dibalik kegelapan selalu ada kontrast.
Apa penyebab kenaikan harga komoditas?
Ada dua faktor, yaitu prospek ekonomi Amerika Serikat buruk yang menyebabkan "market panic" dan investasi di bidang Biofuel. Tentunya kalian sudah mendengar tentang teknologi Biofuel, dimana beberapa korporasi ternama ingin mencegah "Global Warming" dengan menaikan konsumsi Biofuel, yaitu minyak tanpa buangan karbon. Produk Biofuel ini menggunakan material tertentu yaitu "palm oil", bahan yang dipakai juga untuk kebutuhan masakan. Dengan menggunakan material "palm oil" untuk kegunaan Biofuel tech, cost opportunitas produksi minyak gorenk buat bahan baku masakan akan naik, sehinga output produksi makanan mengurang. Dalam hal ini, harga akan naik karena turunya produktivitas. Hal ini terjadi di seluruh dunia terutama di Amerika Serikat, ekonomi terbesar yang dapat mempengaruh ekonomi dunia.
Membicarakan soal ekonomi Amerika Serikat, di dunia ini ada satu hal yang saya sebut "Calm the fuck Down!". Dengar berita bahwa prospek ekonomi Amerika menurun, dengan jatuhnya nilai U.S Dollar, para investor dunia menjadi panik. Dengan kepanikan mereka, supaya uang mereka selamat, para investor dunia memindahkan uang panas "stock market" (bursa effek) ke tempat perputaran duit laen, tentunya market komoditas. Karena pindahnya perputaran uang panas ke dalam market komoditas, harga-harga komoditas menjadi naik, ini yang disebut effek "commodity bubble". Melihat situasi tersebut, tidak ada yang salah di ekonomi dunia, hanya manusia nya yang salah, "Baru gitu aja koq dah kayak cacing kepanasan...".
Prospek terhadap Indonesia:
Mendengarkan diskusi tentang kenaikan harga komoditas di Good Morning METRO TV, saya sangat terkejut atas komentar yang sinis dari pengamat ekonomi yang sedang diwawancarai.
Tentunya ada kerugian bagi ekonomi Indonesia karena kenaikan harga komoditas ini. Tetapi, orang tua saya selalu menanamkan jalan pikir entrepreneur, yaitu disuatu masalah bisa dijadikan opportunitas.
Ketika harga komoditas dunia naik, kita harus lihat faktor ekonomi yang akan terpengaruh. Tentunya net export kita akan turun, karena Indonesia termaksud pengimpor beras dunia yang paling banyak. Dengan naiknya harga impor beras pasti harga beras yang kita lihat di pasar supermarket akan juga naik, merugikan konsumen negri ini. Tetapi mari kita lihat opportunitas apa yang menyembunyi dibalik epidemik ini.
Sebagai jawaban dari kenaikan harga komoditas international, akan mempengaruhi konsumsi makanan dan lantas konsumer negri Indonesia akan mengalihkan konsumsi bahan pokok mereka terhadap bahan lokal. Tentunya dengan peristiwa ini akan ada kekurangan supply, sehingga banyak rakyat yang kelaparaan. Kelaparaan, bagi orang mereka sebut masalah, bagi saya, kelaparaan adalah, oportunitas.
Mari kita analysis, apabila ada kelaparaan apa yang orang akan lakukan? Terutama di tempat terpencil negri ini, penduduk-penduduk petani akan menaikan produksi pertanian mereka. Investor yang tadinya tidak suka menginvest di industri agrikltur akan berbalik pikiran dengan adanya shortage ini, karena mereka memikirkan untung dan apabila ada demand shortage, ada oportunitas buat membuka business makanan baru. Lebih penting lagi, negri ini tidak perlu menghawatirkan pergantian cuaca untuk menanam padi laen kata di Amerika mereka hanya bisa produksi padi dalam 4 bulan.
Sebelumnya banyak investor yang tidak mau menginvest di industri agrikultur karena kompetisi nya sangat besar terutama kompetisi harga komoditas import yang sangat rendah. Tetapi harga komoditas import telah naik, sehingga apa? Investor akan berubah pikiran untuk menginvest di industri agrikultur karena opportunitas besar dan kompetisi harga sangat inelastik.
Solusi di balik masalah "Commodity Bubble"
Dengan adanya opportunitas tersembunyi dibalik persitiwa krisis dunia ini, kita bisa membuat konklusi bahwa diwaktu krisis dunia adalah waktu yang tepat bagi negri Indonesia untuk meningkatkan produtivitas dalam mengunakan sumber penghasilan yang tersedia di tanah dan air Indonesia.
Tetapi perlu diketahui bahwa masalah cuaca buruk di negri ini perlu diatasi dengan adanya bantuan dari negara republik. Ekonomi market tidak bisa jalan sendiri tanpa bantuan negara. Hal cuaca buruk, terutama kebanjiran yang melanda beberapa kabupaten di propinsi Jawa mengingatkan saya kepada kasus kekurangan air yang terjadi empat tahun yang lalu, dimana kekeringan melanda produktivitas perkebunan. Please deh... Kalo kekurangan air enjoy aja kale, giliran triak-triak minta air dapet nya kelebihan... BANJIRRRRR.
http://static.flickr.com/50/109139708_79b5b5d6eb.jpg
Kenaikan
http://static.flickr.com/38/109139710_e785454a74.jpg
Kalau anda lihat, metko memprediksi tahun 2015 kita akan merasakan perubahan kenaikan pertumbuhan GDP dr 6% jadi 8%. Kenaikan ini sungguh besar, karena 2% bisa dibayangkan berapa milyar orang yang mendapatkan pekerjaan.
Dengan masuk nya uang ke perputaran duit di pasar domestic kita, akan membikin lapangan kerja yang lebih banyak juga. Jadinya hal yang saya utarakan benefit us all.
http://www.indogamers.com/f144/politik_debat_economic_watch_orlando_ocean-68623/
Mimihitam
August 11th, 2008, 02:43 PM
Menebak Angka Pertumbuhan Ekonomi
PADA 15 Agustus mendatang,Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal II sekaligus semester I 2008.
Seperti apa angka PDB selama kuartal II? Apakah pertumbuhan ekonomi kuartal II lebih tinggi atau justru lebih rendah dibandingkan kuartal I? Hal ini merupakan bahan tebak-tebakan yang menarik untuk para ekonom.
Berbagai informasi yang muncul selama Juli 2008 merupakan input menarik yang bisa digunakan untuk memprediksi angka PDB. Berbagai perusahaan yang tercatat di lantai bursa (emiten) melaporkan kinerjanya dan sebagian besar menunjukkan kinerja fenomenal. Selain manufaktur, agroindustri, dan pertambangan, kinerja yang bagus juga dilaporkan oleh industri perbankan.
Pertumbuhan kredit yang melonjak selama semester I ini membuat laba perbankan meningkat. Bank Central Asia (BCA) bahkan melaporkan pertumbuhan kredit tahunan yang hampir mencapai 50%. Dari berbagai laporan ini, kita terbawa pada suatu sentimen bahwa perekonomian Indonesia di kuartal II tampaknya menunjukkan kinerja jauh lebih baik dibanding yang terpikirkan oleh banyak pihak.
Dalam suatu percakapan, AW Sudhamek, seorang chief executive officer (CEO) perusahaan barangbarang konsumsi yang namanya terkenal di Indonesia, menyatakan keheranannya mengapa berbagai berita yang ada tidak terefleksi pada hasil penjualan perusahaannya. Berbagai berita dan analisis di media sering menunjukkan suasana muram, bahkan keterpurukan dalam perekonomian kita.
Tetapi mengapa kinerja perusahaannya jauh lebih baik dari itu? CEO tersebut mengatakan, target penjualan pada bulan-bulan pertama 2008 yang mereka siapkan akhir tahun lalu sudah jauh terlampaui dengan jarak cukup besar. Selain perusahaan itu, Indofood melaporkan pertumbuhan penjualan sampai sekitar 25% pada semester I 2008 ini.
Unilever, perusahaan konsumen multinasional yang produknya menjangkau pelosok-pelosok desa, juga mendapatkan pengalaman yang sama.Penjualannya meningkat sampai lebih dari 23%, meskipun sebagian dipicu oleh kenaikan harga. Kendati demikian, di tengah kenaikan harga produk mereka, yang menjadi suatu kejutan adalah volume penjualan pun tetap meningkat. Penjualan sepeda motor secara nasional selama Semester I 2008 meningkat pesat, yaitu 45%.
Berdasarkan kinerja semester I itu,maka sepanjang 2008 penjualan sepeda motor diperkirakan mencapai enam juta unit.Demikian pula penjualan mobil. Selama semester I 2008 telah mencapai 292.589 unit atau 67% dari seluruh penjualan pada 2007 lalu, sehingga target penjualan sepanjang tahun sebanyak 520.000 unit tampaknya akan terlampaui. Penjualan mobil selama semester I naik 48,2% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Yang menarik,pertumbuhan penjualan sepeda motor dan mobil ternyata ditopang tingginya pertumbuhan penjualan di luar Jawa. Untuk penjualan sepeda motor bahkan bisa dikatakan proporsinya 50% untukluarJawa dan 50% untuk Jawa. Ini menunjukkan pergeseran peranan yang cukup besar antara pasar di Jawa dan luar Jawa.
Angka PDB
Baru-baru ini Bank Indonesia (BI) merilis prediksi perekonomian Indonesia pada kuartal II dan mengatakan bahwa perekonomian akan tumbuh sekitar 6%. Angka ini berarti lebih rendah dibandingkan kuartal I. Prediksi ini mirip dengan yang dikemukakan BI saat memperkirakan pertumbuhan pada kuartal I.
Saat itu BI menebak pertumbuhan ekonomi 6%, namun kemudian realisasi yang diumumkan BPS ternyata mencapai 6,3%. Karena itu,menjadi menarik untuk melihat berapakah angka pertumbuhan PDB yang akan diumumkan BPS? Saya sering menulis mengenai fenomena underreporting yang terjadi dalam statistik kita.
Dari berbagai tulisan itu, dapat disimpulkan empat alasan yang membuat saya yakin terjadinya fenomena tersebut. Pertama, terdapat perbedaan yang sangat tajam antara pertumbuhan PDB nominal dengan PDB riil. Pada 2005,PDB nominal tumbuh 22,5%,sedangkan riilnya sebesar 5,6%.Pada 2006,PDB nominal tumbuh 19,8%, sedangkan riil tumbuh 5,5%. Tahun 2007, PDB nominal tumbuh 18,5%, sedangkan PDB riil 6,3%.
Khusus untuk 2005, selisih antara pertumbuhan nominal dan riil tersebut sangat jauh melampaui inflasi yang diukur oleh indeks harga konsumen.Ini berarti ada ruang yang mungkin pertumbuhan ekonomi riilnya lebih tinggi dibandingkan yang terlaporkan. Kedua, ada beberapa sektor tertentu yang memiliki indikasi adanya pelaporan lebih rendah, bahkan untuk PDB nominalnya.
Sebagai contoh, kontribusi PDB dari subsektor perkebunan jauh lebih rendah dibandingkan kinerja ekspornya. Apalagi kalau ditambah konsumsi sektor perkebunan untuk pasar domestik, maka selisihnya semakin melebar. Demikian juga sektor pertambangan, terutama batu bara dan produk mineral lain yang tampaknya jauh lebih rendah.
Bahkan sektor industri manufaktur juga tidak mencerminkan kinerja dari berbagai perusahaan publik yang mewakili perusahaan manufaktur secara keseluruhan. Saya bahkan yakin bahwa dugaan terjadinya deindustrialisasi beberapa waktu lalu sungguh tidak berdasar. Ketiga, terdapat anomali antara pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) di luar Jawa dibandingkan cerita kebangkitan perekonomian luar Jawa.
PDRB Sumatera pada 2007, misalnya, sebesar 4,8%. Itu jauh lebih rendah dibandingkan PDRB Pulau Jawa yang tumbuh 6,1%.Sementara itu, berbagai cerita dari dunia usaha menunjukkan pertumbuhan permintaan yang tinggi di luar Jawa.Demikian juga pertumbuhan dana perbankan di luar Jawa yang juga mencapai jumlah lebih tinggi dibandingkan di Jawa.
Keempat, terjadinya krisis listrik dan infrastruktur lain yang mencerminkan adanya pertumbuhan permintaan yang jauh melebihi kemampuan suplai. Hal ini lagi-lagi menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding dugaan sebelumnya.
Dari berbagai alasan tersebut, sebetulnya saya menduga bahwa perekonomian Indonesia telah tumbuh di atas apa yang terlaporkan saat ini, yaitu sekitar 6,3%. Dugaan saya, pertumbuhan ekonomi lebih dari 7%, bahkan bukan tidak mungkin telah mencapai sekitar 8% per tahun.
Kendati demikian, dengan melihat kebiasaan BPS dalam mengeluarkan statistik makroekonomi,saya memprediksi angka pertumbuhan ekonomi yang akan dikeluarkan oleh BPS untuk kuartal II 2008 akan mencapai 6,2–6,6%. Namun, saya sungguh yakin bahwa pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya berada pada level di atas 7%.(*)
*)Rektor ABFII Perbanas
source:http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/menebak-angka-pertumbuhan-ekonomi-3.html
Pertumbuhan kita bahkan bakal loncat ke 10-12% karena sesuai dengan teori http://www.indogamers.com/f144/politik_debat_economic_watch_orlando_ocean-68623/ :D
paradyto
August 13th, 2008, 12:57 PM
Hutchinson invests one billion US Dollars in Indonesia
Jakarta, (ANTARA News) - PT.Hutchinson CP Telecom Indonesia, as operator 3 (Three`), has invested US $ 1 billion, the equivalent of Rp 9.1 trillion, in the development of its telecommunications facilities in Indonesia.
"We plan to become the biggest operator 4 in Indonesia next year," marketing director of Hutchinson Suresh Reddy said in Jakarta Tuesday.
He said Indonesia is an important market for Hutchinson, especially with its population now reaching more than 200 million.
"The telecommunications sector here has been growing very rapidly. We need to meet their wishes," he said.
ICGR director of Hutchinson Indonesia Sidik said that operator 3 has controlled the company`s networks in Sumatra, Java, Bali, and West Nusa Tenggara. Priority of this year`s infrastructure expansion will be on Kalimantan and Sulawesi.
"We will aggressively expand our networks in Kalimantan and Sulawesi until the end of 2008. We will also enter other islands in Indonesia," Sidik said.
The company`s subscribers have now reached 2.3 million, and the increase in the number subscribers of operator 3 is thanks to network expansion in the last 18 months.
Sidik said that to support all the service areas his side operated 6,000 base transceiver stations.(*)
Mimihitam
August 13th, 2008, 02:38 PM
Rekonsiliasi Kebenaran
[I]. Pembuka:
Kebenaran, adalah kata yang menggarap perhatian kita semua. Apakah kebenaran yang kita ketahui sebenarnya benar atau salah. Tidak ada yang pasti kecuali satu, negara Indonesia dilumuti kebodohan.
Mengenang peristiwa krisis moneter 1997, sudah 11 tahun berlanjut dan pantas apabila kita bertanya, apa sebetulnya kebenaran dibalik krismon'97. Tentunya ada yang mengatakan bahwa itu semua terjadi karena kelicikan mafia Berkeley, betul atau salah tetapi tidak pasti. Ada yang mengatakan itu semua keahlian George Soross, seorang venture capitalist yang menggoda kestabilan tukar/menukar keuangan rupiah di currency exchange market, betul atau salah tetapi tidak pasti penyebab nya hilang seluruh budget moneter. Kemudian ada yang mengatakan, semua terjadi karena IMF, betul atau salah tetapi tidak pasti kejadian sebetulnya. Semua konsep yang dikatakan oleh para konspiran bisa saja betul tetapi tidak pasti, hanya satu yang pasti, kebodohan nepotisme.
[II]. Sistem moneter korup:
Pada era kepemimpinan presiden Soeharto, banyak sekali kemajuan ekonomi, membuktikan hal-hal yang positif terjadi di masa lalu, tetapi ada sisi negatif dibalik masa lalu kepemimpinan presiden Soeharto. Banyak orang sudah mengetahui tentang nepotisme yang dibuahi oleh kepemimpinan presiden Soeharto, tetapi apakah mereka semua mengenal nepotisme tersebut? Mari kita pelajari nepotisme era masa lalu yang telah melukai pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai dengan detik ini.
Sistem moneter adalah sistem keuangan negara, mempunyai dua tugas terhadap rakyat yaitu, memberi pelayanan nabung dana dan memberi pelayanan meminjamkan dana. Yang standar, seorang konsumen yang menabung dana ke bank akan mendapatkan bunga setiap bulan. Yang standar, seorang peminjam akan mendapatkan modal dari bank tetapi juga harus mengembalikan jumlah modal yang sama tambah bunga. Bunga tersebut ditentukan oleh benchmark rate, keputusan direktorat Bank Indonesia.
Tetapi abominal apa yang terjadi di era jaman nepotisme 1997? Jawaban nya adalah exklusif nepotism. Layanan peminjaman dana kepada rakyat hanya diberikan kepada kelas atas tertentu dan terutama keluarga besar Soeharto. Rakyat kecil yang berkeinginan untuk membangun usaha susah dapat modal karena tidak punya akses, sedangkan kaum superkaya yang mempunyai akses meminjam modal ke bank makin menjadi kaya. Dan kebodohan menghancurkan semuanya. Keputusan peminjamaan modal pun ditentukan oleh keluarga besar Soeharto. Sistem menjadi tidak jelas karena peminjamaan dana bukan sesuai analisa usaha pembangunan tetapi lebih kepada teori kepentingan. Sehingga, yang punya nama pasti dapat modal. Sayang sekali orang Indonesia terutama kelas atas konon dalam sejarah sering sekali tertipu. Modal yang dipinjam berupa 100 milyar, 1 trilliun, dll oleh kaum-kaum superkaya tidak dibalikan, mereka semua tertawa akan kebodohan ini sementara mereka kabur ke negara luar seperti Singapore, Australia, dan Amerika. Hasilnya, dana moneter Indonesia habis diserap oleh para pejabat dan superkaya nakal. Lebih memalukan lagi dana tersebut membuahi negara baru, yaitu Singapore sementara Indonesia jatuh kepada resesi ekonomi, semua menjadi miskin, uang2 tabungan di bank hilang, yang tadinya berharap jadi merunduk.
[IV]. Effek Sampingan terhadap masa depan:
Trauma, adalah kata yang tepat untuk dipakai sebagai alesan kelemahan kita. Saat ini harapan banyak sekali, oportunitas didepan mata, banyak sekali jalur pembangunan, tetapi tidak optimal. Karena semua dicegah oleh sistem moneter pelit.
Saat ini sistem moneter Indonesia sangat pelit dan menggarap keuntungan. Rakyat diberikan bunga 4% untuk penabungan sedangkan untuk meminjam modal Rakyat diberikan interest rate 14%, jadi bank untung 10% dari keuangan yang masuk karena penabungan atau keluar karena peminjaman. Sedangkan ekonomi Indonesia berjalan tidak optimal, World Bank berkomentar bahwa optimal production Indonesia berada di 9-11% tetapi mengapa kita berpoduksi dibawah 6%. Semuanya karena sistem moneter tidak membantu. Investasi sangat relatif kepada interest rate yang ditentukan oleh Bank Indonesia. Bila interest rate 14%, maka investasi akan menjadi disinsentif karena cost buat membaliki interest sangat mahal sedangkan di luar negri, mereka mendapatkan interest rate hanya 2-5%, sangat menguntungkan.
Industrial production (paling penting)
16.0% - China | interest rate: 4.35%
10.5% - Thailand | interest rate: 3.80%
4.4% - Indonesia | interest rate: 9.78%
3.8% - India | NA
2.6% - Malaysia | interest rate: 3.70%
Lihatlah perhubungan antara produksi dan interest rate dari kebijakan policy moneter setiap negara. Indonesia paling tinggi maka itu pertumbuhan belom optimal. Padahal Indonesia mempunyai opportunitas buat pembangunan industrial (industrial production) yang bagus, berhubungan kita negara agrari, labor intensif, dan banyak keuntungan yll. Tetapi mengapa?
Trade Balance Indonesia (Net Trade Account)
38%
Current Account Indonesia (Export/Import barang2 + services)
10%
38 - 10 = 28%
28% dari trade balance adalah capital inflow, tandanya banyak dana investasi dari luar masuk ke indonesia. Ini menunjukan bahwa mayoritas wiraswasta yang sudah/sedang membangun usaha mendapatkan modal/dana dari investor luar. Sehingga apa? Investasi di Indonesia terhambat dana macat, susah cari dana, berkompetisi mencari dana kepada investor luar yang sama, dan proses waktu captal inflow masuk ke Indonesia membutuhkan waktu 1 tahun. Sehingga bisa dibilang pembangunan di Indonesia bergantung kepada modal luar yang seharusnya bisa independen dari bantuan sistem moneter negri sendiri.
Investasi lambat, pembangunan lambat, kemajuan Indonesia tidak optimal.
Solusi nya adalah untuk merubah kebijakaan moneter sistem tetapi banyak sekali ahli ekonomist dan direktorat bank yang berkata, "tidak mungkin". Mengapa?
Dijawab saja, "karena takut", mereka akan tutup mulut tidak membalas.
[V]. Solusi, selalu ada solusi!!!!
Tentunya selalu ada optimisme dan jalur keluar untuk menyelesaikan masalah. Solusinya adalah untuk mempelajari kesalahan dan memperbaiki nya dengan analisa yang tajam.
Sebelumnya mari kita samakan kejadian krismon'97 terhadap kejadian The Great Depression 1930, di USA. Dua kejadian tersebut sama parahnya, rakyat kehilangan uang yang mereka tabung di bank dan dana moneter habis, pembangunan terpaksa berhenti. Tetapi ada perbedaan. Di USA, kejadian krismon terjadi karena bank mempunyai insentif untuk meminjamkan rakyat uang untuk bermain di stock market (Bursa Effek, seperti IDX di Jakarta). Lalu pada saat buyout terlalu banyak, stock market melemah, sehingga semua orang kehilangan uang dan juga bank. Ini adalah kegagalan analisa peminjamaan, beda dengan kejadian krismon'97 di Indonesia. Kejadian tersebut terjadi karena kebodohan nepotisme. Keluarga yang berkuasa mengatur peminjamaan keuangan dari bank, mereka meminjamkan dengan teori kepentingan, dan begitu saja dikasih tanpa menanya usaha apa yang dibangun, tujuan, profile income flow, status kriminal, dll. Secara singkat, uang hanya diberikan begitu saja seperti anak diberikan uang jajan oleh ibunya. Hal ini bisa dibilang, dicopet karena bodoh.
Mengapa takut apabila masa lalu sudah telak? Alesan kejadian subprime mortage crisis di Amerika dipakai sebagai alibi untuk menetapkan kebijakaan pelit Bank Indonesia. Sebetulnya kejadian subprime mortage crisis sangat berbeda karena apa yang terjadi adalah bank memberikan credit pinjaman buat konsumsi terutama konsumsi rumah buat keluarga-keluarga baru. Karena mereka melewati batas hitungan, pada saat keluarga-keluarga tersebut tidak dapat membayar kembali credit pinjaman tersebut, akhirnya bank jadi kehilangan uang, sama saja seperti krismon'97. Tetapi harus diingant, bahwa ini adalah pinjaman konsumtif, bukan produktif. Di Amerika, pinjaman produktif alias credit buat investasi lancar. Bila uang tidak balik, mereka sita usaha tersebut lalu di jual ke merger. Sistem produksi mereka berjalan lancar.
Solusi...
1). Mayoritas bank Indonesia perlu merekruit ahli-ahli ekonom dan MBA yang mengerti banyak hal tentang membangun usaha. Rekruit tersebut dijadikan tim analisa pengisuan usaha oleh peminjam dana. Bila mempunyai profesionalisme untuk menganalisa karakteristik usaha dan masa depan nya, bank dapat menilai apabila usaha yang diisukan oleh peminjam dana itu aman, produktif, menjaminkan, dll.
2). Sistem kolateral dengan digital profiling adalah alternatif yang bagus. Untuk mencegah kecurangan peminjam dana, bank harus dapat menganalisa sejarah peminjam tersebut, mempelajari latar belakang keluarga nya, pekerjaan sebelumnya, catatan kriminal, dan aktifitas kredit selama 10 tahun. Apabila mencurigakan, akan ditolak dan peminjam dana harus mengasih bukti kuat bahwa dia akan memakai dana tersebut untuk membangun usaha.
3). Membangun perusahaan yang menjual/beli perusahaan gagal. Pertama, mereka membeli usaha yang telah di sita oleh bank. Kedua, mereka membenarkan kesalahaan dari kegagalan perusahaan tersebut. Ketiga, dijual ke korporasi besar yang ingin mempunyai banyak cabang bisnis. (Seperti di film Preety Woman).
Alasan untuk tidak takut:
1). Krismon'97 terjadi karena kebodohan nepotisme, sekarang ini sistem berjalan.
2). Takut akan terjadinya credit crunch seperti Mortage Crisis di Amerika tidak akan terjadi di sektor pembangunan, karena penyebab Mortage Crisis di Amerika adalah peminjaman credit konsumtif berlebihan.
3). Negri Indonesia mempunyai banyak oportunitas pembangunan, untuk keamaanan liquiditas credit, dapat dijaga apabila mempunyai statistik dan data setiap usaha yang beroperasi, jumlah kapastias setiap sektor industri, prediksi jumlah sumber daya alam, inventory seluruh sumber daya alam di Indonesia.
Penutup:
Sekian artikel yang saya tulis buat kalian semua. Semoga dengan membaca tulisan ini kalian jadi mengerti sejarah Indonesia yang membentuk kondisi ekonomi Indonesia saat ini.
Referensi:
* http://en.wikipedia.org/wiki/Main_Page
* http://www.1ndonesia.info/
* http://www.indogamers.com/f144/politik_debat_economic_watch_orlando_ocean-68623/
"Abandon fear, embrace hope". ~Nelson Mandela
Mimihitam
August 14th, 2008, 10:44 AM
Kuartal II-2008 Ekonomi RI Tumbuh 6,39%
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2008 secara year on year (YoY) sebesar 6,39 persen.
"Secara quartal to quartal (Q to Q) tercatat 2,44 persen," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisisi Statistik Slamet Sutomo, di Gedung Badan Pusat Statistik, Jalan Ruang Abdul Madjid, Jalan Dr Sutomo, Kamis (14/8/2008).
Menurutnya, baik perhitungan Q to Q atau YoY tercatat lebih tinggi dari pencapaian kuartal pertama tahun ini. "Pada kuartal I-2008, pertumbuhan Q to Q sebesar 2,19 persen dan YoY 6,32 persen," imbuhnya. (Muhammad Ma'ruf/Sindo/rhs)
http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/08/14/20/136748/bps-kuartal-ii-2008-ekonomi-ri-tumbuh-6-39
Maju terus!
Mimihitam
August 14th, 2008, 03:33 PM
Indonesia GDP Growth Unexpectedly Accelerates to 6.4%
Aug. 14 (Bloomberg) -- Indonesia's economic growth unexpectedly accelerated in the second quarter as rising prices and demand for the nation's coal, palm oil and rubber pushed exports to a record.
Southeast Asia's largest economy expanded 6.4 percent from a year earlier, after growing 6.3 percent in the previous three months, the Central Statistics Bureau said in Jakarta today. Economists expected a 6.1 percent gain.
Indonesia's exports reached an unprecedented $12.9 billion in June as rising shipments to India and China offset weaker demand from the U.S., Asia's biggest market. Stronger overseas sales may allow the central bank to raise interest rates from an 18-month high to tame inflation.
``Growth has been above potential and has been fanning inflationary pressures,'' said Prakriti Sofat, an economist at HSBC Holdings Plc in Singapore. ``We are penciling in a fair amount of tightening from the central bank, which at the end of the day will feed back into slowing domestic demand.''
Sofat expects Bank Indonesia to increase its policy rate to 10.5 percent in 2009, slowing economic growth to 4.9 percent. That would be the weakest pace of expansion since 2003 and below the government's 6.2 percent forecast.
Indonesia's benchmark index rose 1.2 percent at 3:03 p.m. in Jakarta, while the rupiah was unchanged at 9,185 per dollar.
The central bank raised its benchmark rate for a fourth month on Aug. 5, to 9 percent. Consumer prices jumped 11.9 percent in July from a year earlier and bank loans increased 32 percent. Wholesale-price inflation accelerated to 34.7 percent in June, the fastest pace in nine years.
`A Bit Lucky'
``We are a bit lucky that we don't have to worry about growth,'' central bank Deputy Governor Hartadi Sarwono said in an interview on Aug. 8. ``We can live with 6 percent growth, but we can't live with inflation more than 10 percent.''
Exports grew 16.1 percent in the second quarter, the fastest pace in three years. India and China bought 15 percent of Indonesia's exports in May, compared with 13 percent for the whole of 2006, according to the July data. The U.S. accounted for 11 percent of the nation's exports in May.
``Indonesia has been zooming along, but for some of its neighbors, even for Japan, numbers were very soft,'' said Lim Su Sian, an economist with DBS Group Holdings Ltd. in Singapore. ``Real demand for Indonesia's commodities will have to cool.''
Japan Contracts
Japan's economy, the world's second biggest, contracted last quarter as exports fell and consumers spent less, bringing the country to the brink of its first recession in six years.
In Indonesia, cheap credit till May and rising sales of coal, palm oil and rubber boosted rural incomes and spending, particularly in provinces in Sumatra and the Indonesian part of Borneo island, which produce most of the nation's palm oil. Sumatra and Borneo also produce the biggest share of the country's rubber, with Sulawesi producing most of its cocoa.
``Consumers in those islands are benefiting,'' said Daniel Budirahayu, a director with PT Bank Mega in Jakarta. ``That translates into higher loan demand especially for working capital from consumers and business.''
Car sales surged to a record 54,631 units in June, helping PT Astra International, the nation's biggest car retailer, post a record quarterly profit in the second quarter. Bank Mega forecasts a 35 percent credit expansion this year.
Indonesia's gross domestic product expanded 2.4 percent in the second quarter from the previous three months, according to today's report. Economists were expecting a 2.2 percent gain.
Growth Target
``It was surprisingly good,'' said Ryan Kiryanto, an economist at PT Bank Negara Indonesia in Jakarta. ``Even if we expand a bit slower in the next quarters,'' the government may be able to meet its growth target. The government expects the economy to expand 6.3 percent this year.
Still, a decline in commodity prices since the end of June may reduce farmer incomes and damp consumption, which accounts for about 70 percent of the $365 billion economy.
Consumption growth slowed to 5.3 percent in the second quarter from a year earlier, compared with a 5.5 percent gain in the previous three months, according to today's report. Government spending grew 2.2 percent after rising 3.6 percent in the first quarter.
``Downside risks are associated with a less favorable external environment, a possible slump in commodity prices, and remaining vulnerability to spikes in global risk aversion and contagion from other emerging markets,'' the International Monetary Fund said in a report published on Aug. 12.
Palm oil in Malaysia has declined 42 percent from its March 4 record. Coal prices at Australia's Newcastle port, a benchmark for Asia, fell 2.6 percent last week to $156.16 a ton, according to the globalCOAL NEWC Index.
``The key is how the negative impact of lower commodity exports can be offset,'' said Fauzi Ichsan, chief economist at Standard Chartered Plc in Jakarta. ``Infrastructure development'' can help.
Link : http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601110&sid=abzGWN3GG5xQ
Sep.. 2030 milik kita!
AceN
August 14th, 2008, 06:25 PM
IDX among worst performers in Asia
Ika Krismantari , The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 08/12/2008 10:23 AM | Business
http://www.thejakartapost.com/files/images/IDX.img_assist_custom.jpg
The Indonesia Stock Exchange (IDX) was the sixth worst performing stock market in Asia during the first seven months of the year, a period that saw sharp global economic declines, a regulator says.
The Capital Market and Financial Institution Supervisory Agency (Bapepam-LK) announced Monday the Indonesia Composite Index dropped 19.6 percent to 2.195,93 in the period after ranking as the third best performer in Asia Pacific last year.
"But the data shows us that even though our index declined, we are not the worst one," said Bapepam-LK chairman Fuad Rahmani on the sidelines of the IDX's anniversary ceremony.
Fuad said the U.S. mortgage crisis had been the main cause for the global economic downturn in the period.
Based on the report, China's Shanghai Stock Exchange suffered the most, followed by China's Shenzen, the Philippines' PSE, Malaysia's KLCI and Hong Kong's Hangseng.
In market capitalization growth, the IDX ranked seven on the list of worst performers, declining 14.23 percent between January and July this year to US$175.1 billion.
However, daily transactions on the bourse over the period increased to an average of Rp 5.4 trillion ($596 million) from Rp 3.3 trillion in the full year of 2007.
Inflow of money from oil-rich countries in the Middle East contributed to the increase as investors were drawn to the market's competitive short-term proceeds.
Fuad also said Bepepam had given permission to 14 companies to go public as of Aug. 8 with a combined share value of Rp 22.78 trillion.
The agency also authorized 16 companies to perform rights issuances, with a combined value of Rp 48.08 trillion of shares, and authorized 19 companies to issue bonds worth total Rp 11.9 trillion.
IDX president director Erry Firmansyah originally targeted a total of 30 new companies to go public this year, 17 of which have successfully held initial public offerings, while another is currently being assessed by Bapepam.
Due to higher bank borrowing costs, many companies have preferred to sell their shares on the stock market to raise funds, especially as the government has passed new tax cuts favoring publicly listed companies, analysts have said.
Companies are also reluctant to issue bonds as investors now expect high interest rates of between 14 and 15 percent as a result of the central bank's decision to raise its benchmark interest rate to 9 percent.
Erry said between January and July this year, 21 companies had issued bonds worth a net Rp 12.85 trillion, and that the IDX was targeting 40 companies to conduct bonds issuances this year.
Last year, 45 companies issued bonds worth net Rp 31.27 trillion.
The Bapepam revealed that during the first seven months of the year it had slapped penalties worth total Rp 6.75 billion on 240 institutions, including 98 publicly listed firms, 83 securities houses and 53 investment managers.
The watchdog also temporarily abstained from issuing licenses to new investment managers, citing that the market had become saturated, especially the mutual funds management business.
Despite losses on the stock market, the country's net asset value of mutual funds grew slightly to Rp 95.2 trillion as of Aug. 7 from Rp 92.3 trillion in early January.
=========================================================
It such a really landslide.. :nuts: Btw, i just realise that PSE market cap is so small... :tongue2:
=NaNdA=
August 14th, 2008, 06:35 PM
@ all..
ada yang bisa merangkum to the point?
apa yang sedang dan akan terjadi..? :?
pusing bacanya..:D
DJ_Archuleta
August 15th, 2008, 08:39 AM
Govt continuing efforts to achieve poverty reduction target
Jakarta (ANTARA News) - The government continues to make efforts to lower the poverty rate in Indonesia as lts target in the matter has yet to be achieved, a spokesman said.
"The poverty graph or trend in Indonesia has steadily decreased. The poverty rate in 2008, both in percentage and absolute numbers, is the lowest in the last 10 years," said presidential spokesman Andi Mallarangeng here on Thursday.
Mallarangeng was commenting on a book published on August 14 by Bappenas (National Development Planning Board) on three years of RJPM (Medium-term Development Plan) 2004-2009.
He said the government was continuing to strive for the attaimment of its target to lower the poverty rate to 8 percent by 2009.
According to the Bappenas report, the poverty rate in Indonesia currently still stood at 9 percent of the population.
The Central Bureau of Statistics (BPS) recently released a report that economic growth in Indonesia during the first semester of 2008 reached a rate of 6.36 percent.
Meanwhile, during the launching of the report, Minister for National Development Planning/Chairman of the National Development Planning Board (Bappenas) Paskah Suzetta said of the three development agendas in RJPM, namely making Indonesia a safe place to live in, creating a just and democratic society, and improving social welfare, the last one was the most difficult to achieve.
"The main obstacle is related with the fuel oil price hikes and natural disasters such as tsunamis and earthquakes. These situations hampered economic growth ," he said.
Suzetta also said the world food crisis caused by the oil price surges had made it more difficult to create social welfare for all Indonesians. (*)
DJ_Archuleta
August 15th, 2008, 08:44 AM
State budget reaches over Rp 1,000 trillion for first time
Jakarta (ANTARA) - The government has decided to set the state revenues and grants in the state budget at over Rp1,000 trillion for the first time since Indonesia`s independence.
"It is for the very first time since Indonesia`s independence that the state revenues and expenditures in the state budget have reached above the Rp1,000 trillion figure," President Susilo Bambang Yudhoyono said in his State-of-the-Nation Address on the Draft 2009 State Budget and Financial Notes before the House of Representatives (DPR)`s Plenary Session here on Friday.
In the Draft 2009 State Budget (RAPBN), the state revenues and grants are envisaged to be Rp1,022.6 trillion or an increase by Rp127.6 trillion (14.3 percent) from the 2008 Revised State Budget.
The state expenditures were set at Rp1,222.2 trillion, or an increase by Rp132.7 trillion (13.4 percent) from the 2008 Revised State Budget.
"Hence, the budget deficit in 2009 is predicted to reach Rp99.6 trillion or 1.9 percent of the gross domestic products,"the President said.
The president the draft state budget demonstrated that the volume of state budget had grown increasingly bigger compared to 2005, which was still around Rp 500 trillion.
"This also illustrates the growing importance of the state budget in our national economy and development," the president said.
He said that to improve basic services in the health, education and rural development sectors, a budget of Rp142.8 trillion was set aside.
"The poverty alleviation program receives a budget allocation of Rp66.2 trillion. Specifically for rural development, the budget reaches Rp17 trillion," he added.
In the efforts to reach the targets of accelerated growth and strengthened economic resilience, supported by agricultural, infrastructure, and energy development, the government allocated a budget amounting to Rp77.7 trillion.
Besides, the president said, the efforts to eradicate corruption, promote bureaucracy reform and holding the 2009 General Elections in a fair, impartial and peaceful fashion, the government is allocating a budget of Rp16.7 trillion.
DJ_Archuleta
August 15th, 2008, 08:53 AM
Minister says Indonesia`s economic growth encouraging
Banda Aceh (ANTARA News) - Indonesia`s economy over the past four years generally grew in an encouraging way, namely at an average of six percent per year, Information Minister Muhammad Nuh said.
"Besides, the unemployment rate has also been reduced from 9.9 percent in 2004 to 8.5 percent in 2008. likewise, the poverty rate was cut down from 16.7 percent to 15.4 percent," the minister said here on Tuesday.
The minister spoke about figures usually made public by the government of President Susil Bambang Yudhoyono over the last four years.
"What is interesting to observe each time the government is delivering its financial notes is the figures pertaining to, among others, poverty, unemployment and economic growth," he said.
He said that the other interesting thing was data issued by the Organization of Economic Cooperation and Development (OECD)in 2008 which indicated Indonesia`s improved business climate as all means and infrastructures had relatively been handled well, including the transportation sector.
"All sectors have been undergoing proper improvement and now they are relatively good and so is the case of the economic stability," the minister added.
He said that state revenues increased from Rp400 trillion in 2004 to Rp1,200 trillion in 2008. This was proof of the fact that the state business was also running well so that external debts were cut by about 60 percent, including the debts to the IMF which had been paid up in 2005.
Mimihitam
August 15th, 2008, 11:46 AM
@ all..
ada yang bisa merangkum to the point?
apa yang sedang dan akan terjadi..? :?
pusing bacanya..:D
Yg jelas visi 2030 pasti terwujud :banana:
gliazzurra
August 15th, 2008, 01:21 PM
Jumat, 15/08/2008 17:00 WIB
Anggaran infrastruktur di PU naik 8,7%
oleh : A. Dadan Muhanda
JAKARTA (bisnis.com): Anggaran infrastruktur pada Departemen Pekerjaan Umum pada 2009 naik 8,7% mencapai Rp35,7 triliun.
Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah berkomitmen untuk memberikan porsi anggaran infrastruktur yang besar di Departemen PU dan Departemen Perhubungan.
"Pembangunan infrastruktur dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja sehingga mendapat porsi yang cukup signifikan," katanya dalam jumpa pers bersama mengenai penjelasan nota keuangan yang disampaikan Presiden di DPR hari ini.
Anggaran di Dephub pada 2009 ditetapkan sebesar Rp16,1 triliun atau naik 5,1% dari anggaran tahun ini. Pemerintah menilai pondasi utama untuk meningkatkan laju ekonomi dapat terjadi jika ada perbaikan kualitas infrastruktur dan penambahan volume infrastruktur.
Sebagian besar anggaran itu dialokasikan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur seperti jalan, jembatan, sarana pelabuhan dan bandara, jaringan kereta api dan jaringan distribusi listrik. (tw)
------------------------------------------------------------------------------
moga2 makin banyak proyek yg bisa selesai yg pada akhirnya membawa manfaat bagi masyarakat amin..
rilham2new
August 22nd, 2008, 06:15 PM
Walaupun menghasilkan 60% produksi Minyak Nasional ....
Namun, bukan berarti Riau ketergantungan dengan minyak.
Bukti nyata adalah, turunnya produksi minyak ... tidak menyebabkan turunnya pertumbuhan ekonomi Riau .,.. Bahkan, booming hebat di pertumbuhan ekonomi pada level 8.35 %, pada tahun lalu.
Secara faktawi, di lapangan tidak banyak proyek2 swasta ... Hal ini bisa ditarik kesimpulan, kegiatan RIau dalam pengembangan infrastruktur lah yang paling berdampak dalam pertumbuhan ekonomi tersebut ...
--------------------------- Dari RIAUTERKINI ------------------
Jum’at, 22 Agustus 2008 20:35
2008, Net Ekspor Non Migas Riau Naik 126,91%
Hingga Mei 2008 Kantor Bank Indonesia Pekanbaru mencatat perkembangan ekspor non migas Riau yang menggembirakan. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, naik 126,91%.
Riauterkini-PEKANBARU-Kantor Bank Indonesia (KBI) Pekanbaru, mencatat perkembangan yang menggembirakan pada ekspor non migas Riau. Net ekspor yang terjadi mencapai 2.720,82 juta USD. Jumlah tersebut naik sebesar 126,91% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Net ekspor menurut Peneliti Ekonomi Madya KBI Pekanbaru, M Nur kepada Riauterkini Jum'at (22/8) merupakan akumulasi dari nilai ekspor dan nilai impor. Nilai ekspor Riau pada January-Mei 2008 tercatat 3,556,65 juta USD. Sedangkan nilai impor Riau tercatat sebesar 835,83 juta USD.
"Secara struktural, komoditi utama ekspor non migas Riau didominasi oleh minyak dan lemak nabati. Nilai ekspornya mencapai 2,295,52 Juta USD (64,54%). Untuk ekspor pulp and paper mencapai 405,97 juta USD (11,41%). Kertas, kertas karton dan olahannya sebesar 427,39 juta USD (12,02)," terangnya.
Katanya melanjutkan, untuk olahan minyak dan lemak nabati dan hewani sebesar 276,61 juta USD (7,78%). Sedangkan komoditi utama impor adalah mesin industri dan perlengkapannya sebesar 96,97 juta USD (11,60%).
Bukan hanya itu, mesin pembangkit tenaga besar 62,97 juta USD (7,53%), pupuk kimia buatan pabrik sebesar 111,16 juta USD (13,3%). Serta impor bahan plastik sebesar 33,35 juta USD.***(H-we)
paradyto
August 23rd, 2008, 02:03 AM
Indonesia now out of economic crisis
By Eliswan Azly
Jakarta, (ANTARA News) - Indonesia which over the past 10 years has been struggling hard to recover from a multi-dimensional crisis, is now considered by President Susilo Bambang Yudhoyono to have come out of at least its economic crisis.
The President made the assessment in his address on the government`s regional development policies at a plenary session of the Regional Representatives Council (DPD) here on Friday.
But Yudhoyno also said, although the country had recovered from its economic crisis, it was still facing many challenges in its efforts to be assured of a better future.
One of the indicators that Indonesia had come out of its economic crisis, he said, was the level of its present income per capita.
Indonesia`s per capita income had increased from year to year. In 2004, the figure was US$1,186 but it rose to US$1,946 in 2007, or an increase of 64 percent in just three years` time.
The 2007 per capita income had surpassed its pre-crisis level, the president said.
Indonesia`s GDP reached Rp3,957 trillion in 2007, making it one of the world`s 20 largest countries in terms of GDP. " Of course, these achievements do encourage us to make further steps forward in pursuit of a better future," he said.
Another indicator Indonesia had overcome its economic crisis was the level of its average economic growth rate. It so happened that 12 of the country`s 33 provinces in the first half of 2008 recorded an economic growth rate that was higher then the national figure of 6.4 percent.
"Regional economic growth is one of the yardsticks of success in national economic development," the president noted.
A few provinces, including Riau Islands, Central Kalimantan, South Kalimantan and Central Sulawesi, had even reached an economic growth rate of more than 8.5 percent. "This achievement is worthy of praise. I hope the provinces concerned can maintain their achievements," he said.
In terms of distribution, regional economic growth in the past four years was also encouraging. In 2002, the even distribution index stood at 0.72 and fell to 0.56 in 2007, he said.
The drop in the index suggested that economic activities in the provinces in the country had become more and more balanced.
"It is our common responsibility, at central and regional level, to maintain synergy in national development in order to be able to achieve equitability in economic conditions," he said.
Speaking about efforts to increase the country`s income, the president stressed the importance of continuing the efforts to eradicate corruption. The government would never tolerate misappropriation of state budget (APBN) and regional budget (APBD) funds, he said, as the funds belonged to the public and must be used optimally to serve the people`s interests and welfare.
"We must ensure that our huge state budget does not just lead to an increase in funds misappropriation and mismanagement cases, much less to corruption in the regions," he said, adding that the amount of state budget funds transferred to the regions in the revised 2008 state budget was Rp292.4 trillion or more than double the Rp129.7 trillion in 2004.
The amount of budget funds transferred and allocated by the central government to the regions accounted for 65 percent of the 2008 state budget.
The government was committed to allocating a considerable portion of the state budget to the regions as a manifestation of its resolve to implement decentralization and autonomy in a consistent and responsible way, he said.
"Indeed, the amounts of state budget allocations (for the regions) are determined in accordance with the scope of the respective regions` functions and responsibilities. The greater the responsibilities delegated to a region, the greater the amount of the budget allocation it receives," he said.
The head of state said the state budget allocations for the regions should be used to finance programs and activities that are the domain of the regional administrations concerned.
Part of the huge state budget would also be used to assist low-income people and finance poverty eradication programs. Therefore, the government needed to remind the regions that they were now expected to be spearheads of development.
Now regional admnistrations stand in the frontline to improve the people`s standards of living. The huge amounts allocated to the regions required the regional administrations concerned to be competent and bear full responsibility for the proper and transparent management of the funds to improve the people`s prosperity and welfare.
However, challenges were still facing Indonesia in the distribution of development funds to the regions. Development in underdeveloped areas in Indonesia needed to be accelerated in order to eliminate the disparities existing in regional conditions.
"The government has all along been aware of these disparities as there are still several underdeveloped areas in our country," he said.
The disparities had resulted in low productivity and high poverty rates in the underdeveloped areas.
"Thus, development in the underdeveloped areas must be accelerated in an effort to reduce poverty," he said.
In the National Medium-term Development Plan and the National Strategy on Acceleration of Development in Underdeveloped Areas, a total of 199 districts had been categorized as underdeveloped.
The 199 district had been declared underdeveloped based on their local economic conditions, human resources, infrastructures, financial conditions and geographic accessibility as well as characteristics.
They consisted of 179 districts in non-border areas and 20 in border areas. Of the number, 62 percent were located in the eastern parts of Indonesia, 29 percent in Sumatra island and 9 percent in Java and Bali.
Meanwhile, there were 28 regions which a few years ago were underdeveloped but were now no longer in that status. In addition, conditions in 30 other underdeveloped districts were now improving so fast that they were expected to rise above that status in 2009. (*)
Sizter85
August 23rd, 2008, 04:26 AM
@ all..
ada yang bisa merangkum to the point?
apa yang sedang dan akan terjadi..? :?
pusing bacanya..:D
****************************
Jumat, 22 Agustus 2008 13:39 WIB
Indonesia Telah Lepas dari Krisis
http://i35.tinypic.com/2cdjzmv.jpg
JAKARTA--MI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan Indonesia telah lepas dari krisis ekonomi, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi demi menuju masa depan yang lebih baik.
Demikian petikan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat membacakan keterangan pemerintah tentang Kebijakan Pembangunan Daerah pada Sidang Paripurna DPD-RI di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (22/8).
Menurut Kepala Negara, Indonesia lepas dari krisis, tercermin dari pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat dan Produk Domestik Bruto (PDB) yang kian melonjak.
"Kita patut bersyukur, bahwa pendapatan per kapita meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 pendapatan per kapita baru mencapai US$1.186, namun pada 2007 telah menjadi US$1.946 atau meningkat dengan 64% dalam tiga tahun," tegas Presiden.
Angka ini diutarakannya, juga merupakan capaian pendapatan per kapita yang lebih tinggi dari masa sebelum krisis ekonomi 1998. Sementara itu, PDB Indonesia pada 2007 telah mencapai nilai sebesar Rp3.957 triliun.
Dengan PDB sebesar itu, Indonesia termasuk dalam 20 negara dengan PDB terbesar di dunia. "Kemajuan-kemajuan ini tentu membangkitkan semangat kita untuk terus melangkah maju untuk masa depan yang lebih baik," kata Presiden.
:banana:
rilham2new
August 23rd, 2008, 04:48 AM
Pendapatan per kapita memang lebih tinggi (dari sebelum krisis) ... tapi, jangan lupa kalau harga barang-barang juga lebih tinggi (dari sebelum krisis).
Semoga data pendapatan per kapita itu menggunakan sistem tetapan harga konstan, dan bukan tetapan harga berlaku.
=NaNdA=
August 23rd, 2008, 05:36 AM
gw ngerasa belum keluar dari krisis...
( belum punya gaji diatas 5 juta/bln sih.. :tongue2: :D )
Sony Sjklw
August 23rd, 2008, 05:53 PM
gw ngerasa belum keluar dari krisis...
( belum punya gaji diatas 5 juta/bln sih.. :tongue2: :D )
^^
tergantung kebutuhan.
peseg5
August 24th, 2008, 05:06 AM
gw ngerasa belum keluar dari krisis...
( belum punya gaji diatas 5 juta/bln sih.. :tongue2: :D )
Hehe...nan, kalau nanti dikasih 10 juta/bulan, kita bakal merasa itu belum cukup, dikasih 15 juta/bulan, tetap merasa belum cukup...Dikasih 50 juta/bulan, tetap saja merasa belum cukup.
Peningkatan gaji paralel dengan peningkatan pengeluaran.
Pada dasarnya itulah sifat alamiah manusia.
=NaNdA=
August 24th, 2008, 10:34 AM
^^ berarti gw masih manusia normal ya? syukur deh.. :D
ace4
August 27th, 2008, 08:28 AM
^^
selamat atas statusnya yang masih manusia normal...:banana:...:nocrook:
ace4
August 27th, 2008, 08:29 AM
Indonesia raises 500 mln dlrs with Islamic bonds: ministry
Indonesia raised 4.7 trillion rupiah (506.9 million dollars) through its maiden rupiah-denominated Islamic bond, or sukuk, sale last week, the finance ministry said Tuesday.
The government sold 2.7 trillion rupiah worth of seven-year sukuk and almost two trillion of 10-year sukuk in issuance of sovereign Islamic debt, director general for government debt Rahmat Waluyanto said.
Investors bought the government's seven-year sukuk at yields of 11.80 percent and its 10-year notes at 11.95 percent, he said.
The government is looking to tap strong demand for Islamic debt to finance its budget deficit -- forecast at 1.8 percent or more of gross domestic product this year -- and to boost the local shariah financing market.
Sukuk conform to Islamic Shariah law, under which charging interest is forbidden. They generate returns via profit-sharing agreements or from the lease of securitized assets owned by the seller.
Indonesia's sukuk carry the latter structure, known as ijarah, and are backed by government land and buildings.
Indonesia has the largest Muslim population in the world, but its local shariah financing market lags far behind nations like Malaysia in terms of size and sophistication.
Without a benchmark government sukuk, companies are hesitant about issuing corporate Islamic debt. Corporate sukuk totaled only about five percent of the local debt market as of July 31.
The government had allotted the sukuk last Thursday and Friday but had not disclosed the amount sold or how much the bonds had yielded.
Waluyanto said only 3.7 percent of the seven-year bonds were allotted to foreign buyers, although foreign investment had accounted for 16.5 percent of the total bids.
Foreign investors accounted for 6.19 percent of the total bids for the 10-year bonds but were not allotted any debt from this issue, he said without elaborating.
The government had nearly reached its issuance target despite only selling a small portion to foreigners, highlighting strong domestic demand.
"The response from the (domestic) market was good," Waluyanto said.
Indonesia plans to follow the rupiah Islamic debt issuance with a global US-dollar denominated sukuk in October or November, which may be up to 1.48 billion dollars in size, bankers said.
Indonesian stock exchange figures showed government bonds yielded an average 11.8 percent Tuesday.
http://news.id.msn.com/regional/article.aspx?cp-documentid=1646911
Zorobabel
August 27th, 2008, 12:54 PM
Garuda finally going public.
---
Govt approves Garuda 2009 IPO
The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 08/27/2008 4:53 PM | Business
The government has given the green light for the privatization of the state airline company PT Garuda Indonesia through an initial public offering (IPO) to be carried out next year.
"Garuda's IPO will be included in the company's work program and budget plan for 2009," said Garuda operations director, Ari Sapari, after a meeting with State Minister for State Enterprises Sofyan Djalil on Wednesday.
Previously, Sofyan named Garuda as one of the state enterprises nominated for privatization in 2009 and that the IPO was a part of efforts to restructure the company.
Garuda's has been improving its financial performance, recording Rp 258 billion (US$28.38 million) in net profit last year.
During the previous three years, however, Garuda suffered annual deficits of Rp 197 billion in 2006, Rp 688.4 billion in 2005 and Rp 811.3 billion in 2004.
Garuda president director Emirsyah Satar said the government was likely to maintain its control over the company by selling less than 49 percent of its shares.
DJ_Archuleta
August 28th, 2008, 11:23 AM
Indonesian president says poverty rate decreased
JAKARTA, Aug. 15 (Xinhua) -- Indonesian President Susilo Bambng Yudhoyono said on Friday that the country's poverty rate has decreased from 17.7 percent in 2006 to 15.4 percent in March 2008.
The president made the statement in his annual address at parliament ahead of Indonesia's Independence Day on Aug. 17.
"The poverty figure in 2008 is the lowest," he told parliament.
The reduction was resulted by the government move of alleviating poverty recently, said Susilo.
Among the move was supporting small and medium enterprises, he said. "Among the move is the improving of the business climate and providing loans for small business."
The government had also raised by three folds budget for poverty alleviation, he said.
Mimihitam
August 31st, 2008, 01:21 PM
Semoga gak salah tempat
#23 Sri Mulyani Indrawati
08.27.08, 6:00 PM ET
Coordinating minister for economic affairs and finance minister
Indonesia
http://images.forbes.com/media/lists/11/2008/VW20.jpg
Since Indrawati's 2005 appointment as Indonesia's finance minister, the country's foreign exchange reserves reached an all-time high of $50 billion, and foreign investment skyrocketed. She has fought against government corruption, created tax incentives and simplified investment laws. Her performance earned her a promotion. In June Indrawati was named to run the country's economic affairs. — Kate Macmillan
http://www.forbes.com/lists/2008/11/biz_powerwomen08_Sri-Mulyani-Indrawati_VW20.html
Kalahkan Hillary, Sri Mulyani Masuk 100 Wanita Paling Berpengaruh
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/6/60/Kabinet_srimulyani.jpg
Menko Perekonomian dan Menkeu Sri Mulyani masuk dalam jajaran 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes. Berada di peringkat ke-23, Sri Mulyani mengalahkan nama-nama beken lainnya seperti Hillary Rodham Clinton, Aung San Suu Kyi dan Oprah Winfrey.
Sri Mulyani dianggap cukup berpengaruh karena setelah ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, cadangan devisa Indonesia terus meningkat menembus level tertingginya US$ 50 miliar. Kini bahkan cadangan devisa Indonesia sudah menembus US$ 60 miliar.
Forbes juga menilai, investasi asing terus menanjak setelah kepemimpinan Sri Mulyani di Departemen Keuangan. Wanita yang baru saja berulang tahun ke-46 ini juga dinilai gigih memberantas korupsi di birokrasi, menciptakan insentif pajak dan mempermudah UU Investasi.
Gelar dari Forbes ini sekaligus melengkapi berbagai gelar yang diperoleh ibu tiga anak ini sebelumnya. Sri Mulyani pada Maret lalu juga telah dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh di Asia oleh Singapore Institute of International Affair (SIIA).
Peringkat pertama masih diduduki oleh kanselir Jerman Angela Merkel yang sudah tiga tahun berturut-turut berada di peringkat pertama.
Sheila Bair, pimpinan Federal Deposit Insurance Corporation berada di peringkat kedua. Ia dinilai cukup berpengaruh karena terus bekerja keras mengatasi krisis finansial parah yang sedang melanda AS.
Posisi ketiga ditempati oleh CEO Pepsi, Indra Nooyi. Wanita kelahiran India ini dinilai sukses membawa Pepsi menjadi sebuah perusahaan makanan dan minuman yang mendunia.
Berikut 30 besar wanita paling berpengaruh di dunia seperti dikutip detikFinance dari Forbes, Kamis (28/8/2008):
1. Angela Merkel, Kanselir Jerman
2. Sheila C Bair, Chairman Federal Deposit Insurance Corp
3. Indra K Nooyi, Chairman PepsiCo
4. Angela Braly, CEO, President WellPoint
5. Cynthia Carroll, Chief Executive Anglo American
6. Irene B Rosenfled, Chairman Kraft Foods
7. Condoleezza Rice, Menlu AS
8. Ho Ching, Chief Executive Temasek
9. Anne Lauvergeon, Chief Executive Areva
10. Anne Mulcahy, Chairman Xerix Corp
11. Gail Kelly, Chief Executive Westpac Bank
12. Patricia A Woertx, Chairman Archer Daniels Midland
13. Christina Fernandez, Presiden Argentina
14. Christine Lagarde, Menkeu Perancis
15. Safra A Catz, President Orecle
16. Carol B Tome, CFO Home Depot
17. Yulia Tymoshenko, PM Ukraina
18. Mary Sammons, Chairman Rite Aid
19. Andrea Jung, Chairman Avon
20. Marjorie Scardino, Chief Executive Pearson PLC
21. Sonia Gandhi, Pemimpin Partai India
22. Riza Lavizzo-Mourey, Chief Executive Robert Wood Johnson Foundation
23. Sri Mulyani Indrawati, Menkeu RI
24. Julie Gerberding, Direktur Pencegahan dan Kontrol penyakit AS
25. Michele Bachelet, Presiden Chili
26. Ellen Alemany, Chief Executive Royal Bank of Scotland Americas
27. Carol Meyrowitz, Chief Executive TJX Cos
28. Hillary Rodham Clinton, Senator AS
29. Hynd Bouhia, Dirjen Casablanca Stock Exchange
30. Anne Sweeney, President Disney-ABC Television Group
Sementara Oprah perada di peringkat 36, Aung San Suu Kyu berada di peringkat 38, Gloria Arroyo berada di peringkat 41.
http://www.detikfinance.com/read/2008/08/28/120531/996160/68/kalahkan-hillary-sri-mulyani-masuk-100-wanita-paling-berpengaruh
Selain itu, beliau juga pernah terpilih sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia 2006
Sri Mulyani, Menteri Keuangan Terbaik se-Asia
Jum'at, 15 September 2006 | 19:03 WIB
TEMPO Interaktif, SINGAPURA:Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani terpilih sebagai Menteri Keuangan Terbaik di kawasan Asia pada tahun ini. Penghargaan ini akan diberikan oleh harian Emerging Markets pada Senin (18/9) pekan depan.
Kepala Editor Emerging Markets Taimur Ahmad mengatakan, lembaganya setiap tahun mengadakan pemilihan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral terbaik berdasarkan komposisi kawasan benua. Penghargaan ini selalu diberikan bertepatan dengan sidang tahunan IMF dan Bank Dunia.
Menurut Taimur, Sri Mulyani dipilih sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia berdasarkan kriteria seperti peningkatan ekonomi, pertumbuhan, kepercayaan investor, rating, dan penilaian investor asing. "Sumber penilaian kami bankir, analis, dan investor," kata Taimur kepada Tempo di Singapura, Jumat (15/9).
Hal ini, lanjut dia, punya korelasi langsung dengan kondisi perekonomian Indonesia yang menunjukkan perbaikan. Selain Sri Mulyani, Menteri Keuangan Mesir Youssef Boutros Ghali Terbaik untuk kawasan Timur Tengah, Menteri Keuangan Kamerun Polycarpe Abah Abah di Afrika, Menteri Keuangan Rusia Aleksei Kudrin di Eropa, dan Menteri Keuangan Kolombia Alberto Carrasquilla di Amerika Latin. Gubernur Bank Cina, Zhou, terpilih sebagai Gubernur Bank Sentral terbaik di Asia. Yura Syahrul
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/09/15/brk,20060915-84154,id.html
gliazzurra
September 1st, 2008, 11:43 AM
^^ kok ga ada meganil yah di daftar itu??
yudz83
September 1st, 2008, 12:25 PM
meganiL?? huahaha... megaTonTonk kalee.. astaghfirullah.. bulan puasa.. :D
rilham2new
September 1st, 2008, 12:44 PM
Sri Mulyani itu orang yang hebat dan pintar. Dulu pada era pra-SBY. Dia hobby sekali menentang segala kebijakan pemerintah. Kritik sana-sini. MErasa sok pintar. Sekarang pas udah di dalam, jadi pendiam gak berkutik. Baru sadar dia, kalau masalah negara ini begitu kompleks.
Memang melihat dari luar begitu mudah. Ketimbang kita yang merasakan langsung di dalam. :lol:
Yaa,, at least dia pintar bahasa Inggris dan lulusan Luar negeri lah :)
Sizter85
September 1st, 2008, 02:11 PM
Thx Mimihitam, Nice info !
Sizter85
September 2nd, 2008, 08:14 AM
Maybank Mungkin Lepas BII
Senin, 01 September 2008
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: Malayan Banking Bhd (Maybank) akan melepas keinginannya mengakuisisi PT Bank Internasional Indonesia (BII), bila peraturan penawaran tender (tender offer) yang baru saja direvisi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) Indonesia tetap diberlakukan.
"Kami masih berniat melanjutkan transaksi, tapi tentunya tidak dengan aturan yang baru, kami tidak bisa melanjutkan bila kondisinya tidak kondusif" kata Kepala Eksekutif Maybank Abdul Wahid Omar, seperti dikutip Reuters akhir pekan kemarin.
Omar keberatan bila aturan penawaran tender hasil revisi yang baru ditetapkan Bapepam pada akhir Juni 2008, juga dikenakan atas transaksi Maybank mengakuisisi 55 persen saham BII dari Temasek Holdings dan Kookmin. "Harusnya peraturan itu tidak berlaku surut, karena transaksi ini sudah direncanakan sejak Maret," kata Omar.
Ia mengatakan, menggantungnya proses akuisisi BII ini adalah peraturan penawaran tender baru yang berlaku surut, yang mengharuskan Maybank membeli seluruh saham yang ada di publik, sehingga kepemilikan menjadi 100 persen. Namun, dalam jangka waktu dua tahun Maybank harus menjual kembali 20 persen saham miliknya kepada publik. "Jadi tidak adil menyalahkan kami atau Bank Negara (Bank Negara Malaysia)" katanya.
Akhir pekan kemarin, Ketua Bapepam Fuad Rahmany menyatakan peraturan penawaran tender didak akan berubah dan tidak ada pengecualian bagi Maybank. "Kami sudah meminta supaya Maybank tegas dalam hal ini, sekarang bola ada di tangan mereka" kata Fuad.
Pada kesempatan terpisah, Omar menyatakan, masih berminat berinvestasi di Indonesia, hanya saja belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. "Sekarang hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk kembali masuk" kata Omar.
Sebelumnya beredar kabar kalau Maybank akan kehilangan 480 juta ringgit atau US$ 141,5 juta bila masalah akuisisi ini tidak bisa diselesaikan sesuai tenggat waktu yang ditetapkan Temasek dan Kookmin yaitu 26 September 2008. Namun, Omar mengatakan potensi kerugian hanya sekitar 290 juta ringgit, angka tersebut, lanjutnya telah memperhitungkan keuntungan nilai tukar terhadap dolar Singapura sebesar 193 juta ringgit.
peseg5
September 2nd, 2008, 10:51 AM
Sri Mulyani itu orang yang hebat dan pintar. Dulu pada era pra-SBY. Dia hobby sekali menentang segala kebijakan pemerintah. Kritik sana-sini. MErasa sok pintar. Sekarang pas udah di dalam, jadi pendiam gak berkutik. Baru sadar dia, kalau masalah negara ini begitu kompleks.
Memang melihat dari luar begitu mudah. Ketimbang kita yang merasakan langsung di dalam. :lol:
Yaa,, at least dia pintar bahasa Inggris dan lulusan Luar negeri lah :)
Ya, memang banyak pengamat2 kebijakan yg dulu berkoar2 diluar lingkaran pemerintah dan mengkritik pemerintah, sekarang giliran duduk di pemerintah baru MERASAKAN khasiatnya bahwa ternyata bekerja didalam pemerintah itu tidak semudah ketika dulu berkoar2 diluar.
Seingat saya selain Sri Mulyani ada banyak yg dulu jadi pengamat masuk ke pemerintahan SBY, ada yg bs kasih info?
yudz83
September 2nd, 2008, 12:42 PM
Dulu waktu pemerintahan si megaloman ada nama Kwik Kian Gie.. dulu waktu jadi pengamat dahsyat bgt tuh.. ampek nerangin detil2 teknis.. kaya dosen ekonomi aja.. tapi kebagian jadi menteri.. yah.. bukannya tambah bagus...
mengatur Indonesia gk semudah yg dibayangkan... bayangin penduduk 220 juta,,, ras beda2... banyak pulau,,, ragam budaya... tanah yg luaaass....
yakin deh bisa bawa indonesia ke arah yg lebih baik bakalan dihormatin dunia.. gimana ngga... dulu mantan pres. Soeharto sangat dihormatin n dicontoh Mahathir Muhammad n Lee Kwan Yew.. bahkan ampe sekarang sistem orba masih diterapin di Malaysia meskipun mulai digoyang Anwar Ibrahim...
Sizter85
September 2nd, 2008, 10:47 PM
Selasa, 02/09/2008 22:21 WIB
Pertamina Turunkan Harga Avtur
Jakarta - Setelah menurunkan harga BBM non subsidi, PT Pertamina (persero) terhitung 1 September juga menurunkan harga avtur hingga 15%.
"Harga BBM penerbangan turun rata-rata 15% mulai 1 September di seluruh Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina," jelas Vice Presiden Komunikasi Pertamina Wisnuntoro dalam siaran persnya, Selasa (2/9/2008).
Harga avtur yang pada Agustus mencapai Rp 12.069 per liter diturunkan menjadi Rp 10.281 per liter, dimana harga sudah ditambah PPN.
"Harga avtur sudah turun sehingga tidak seyogyanya harga tiket pesawat naik," tambah Wisnuntoro tampa memberi perincian lagi.
Pertamina saat ini merupakan pemain tunggal dalam penyedia avtur. Harga avtur selalu naik turun mengikuti tren harga minyak mentah dunia. Dan selama Agustus, harga minyak mentah dunia sudah turun dan kini stabil di kisaran US$ 105 per barel.
David-80
September 3rd, 2008, 09:54 AM
yang paling lucu tuh si Amien Rais...dulu gua pernah denger dia interview...katanya kenapa kok Indosat dijual ke STmedia (temasek singapore) daripada ke salah satu pengusaha lokal di suatu daerah (yg katanya duit 3 sampe 6 trilliun ga masalah).....
ya iyalah...secara temasek lebih punya banyak backup financial daripada si pengusaha....yang ga jelas duit darimana...trus..temasek punya tim manajemen yg bagus...jaringan network bagus....
gua heran, tuh si amien rais kok masih aja berkoar2 ya....he doesnt talk any sense...
he drove all the students to aspire him...so he can be elected as a president in 1998....dengan agenda reformasi.....
stupid him
cheers
yudz83
September 3rd, 2008, 12:58 PM
Lagu Indonesia Bakal Dibatasi di Radio Malaysia :nuts:
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Para pendengar radio di Malaysia bakal kesulitan untuk mendengar lagu-lagu Indonesia kalau saja pemerintah setempat mengabulkan permintaan pembatasan penyiaran lagu Indonesia.
Adalah Persatuan karyawan industri musik Malaysia (Karyawan) yang mengusulkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di radio. Rencananya usulan tersebut akan disampaikan kepada Menteri Tenaga, Air, dan Komunikasi Malaysia Shaziman Abu Mansor.
"Kami akan menghadap menteri Shaziman besok untuk menyampaikan tuntutan kuota 90 persen siaran lagu-lagu Malaysia, sisanya baru lagu Indonesia 10 persen," kata ketua Karyawan Ahmad Abdullah kepada Malaysiakini.com, Rabu.
Menurut Karyawan, jika tuntutan kuota itu tidak diterima, perbandingan 80:20 masih bisa diterima.
Tuntutan itu didukung sekitar 700 karyawan yang bekerja di industri musik. Dalam pertemuan itu, Presiden Karyawan Freddie Fernandez, komposer dan penyanyi terkenal M Nasir dan Nan Saturnie akan hadir dalam pertemuan dengan menteri.
Para karyawan industri rekaman Malaysia sudah lama memprotes dan menuntut agar radio di Malaysia tidak terlalu banyak menyiarkan lagu Indonesia karena akan menambah penjualan album penyanyi Indonesia di Malaysia, dan menurunkan pangsa pasar album penyanyi Malaysia.
Para penyiar dan pengelola stasiun radio Malaysia beralasan seringnya memutar lagu Indonesia disebabkan banyaknya permintaan dari pendengar.
Bahkan, tiga stasiun radio swasta yang saling berlomba menduduki posisi teratas di Malaysia, Era FM, Hot FM, dan Suria FM memiliki program pemutaran lagu Indonesia setiap hari Minggu, antara jam 10-12 siang.
Penyanyi rock terkenal Malaysia Amy Search mengatakan kepada pers, jika jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari.
Karena banyak penggemarnya, banyak perusahaan telekomunikasi seperti Maxis, DIGI dan Celcom serta Telekom Malaysia (TM) yang mensponsori konser musik group band Indonesia di Malaysia.
yudz83
September 3rd, 2008, 01:43 PM
yang ini mantap neh... :okay:
Proyek Bakrieland Gunakan Sistem Solar Energi
JAKARTA - Proyek-proyek PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), pada masa mendatang dipastikan akan menggunakan solar energi sistem dan panel-panel listrik tenaga surya.
Pasalnya, perusahaan pengembang kawasan terintegrasi itu telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Suntech Power, terkait penyediaan solar energy sistem dan tenaga listrik tenaga matahari.
"Dengan ditandatanganinya kerja sama ini, maka setiap proyek Bakrieland akan menggunakan solar energy dan panel listrik tenaga surya," ucap Presiden Direktur sekaligus CEO PT Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib, saat penandatangan Mou di Rasuna Epicentrum Kuningan, Jakarta, Rabu (3/9/2008).
Lebih lanjut, Hiramsyah menambahkan, penyediaan solar energy system berikut semua tekonologi pendukungnya termasuk infrastruktur ini sejalan dengan kebijakan kunci Bakrieland, yakni, Bakrie Goes Green. Di mana kebijakan ini merupakan program pengembangan proyek properti yang hijau dan sehat.
Ketika ditanya lebih lanjut mengapa memilih Suntech Power sebagai mitra untuk penyediaan solar energy system, Hiramsyah menegaskan bahwa perusahaan asal China itu adalah yang terbesar dalam urusan solar energy sistem.
Adapun salah satu proyek masterpiece-nya terpasang pada stadion 'bird nest' di Beijing. "Untuk tahap pertama, Suntech akan menyediakan solar energy sistem dan tenaga listrik tenaga matahati sebesar 250 KW hingga 2010," ucapnya.
lombok
September 3rd, 2008, 03:19 PM
Rabu, 03/09/2008 20:01 WIB
'Investor hindari bursa Malaysia dan Thailand'
oleh : M. Yunan Hilmi
KUALA LUMPUR (Bloomberg): Credit Suisse Group menyarankan agar investor menghindari bursa Malaysia dan Thailand seiring dengan gejolak politis di dua negara di Asia Tenggara itu yang makin meningkat.
Thailand, yang menerapkan keadaan darurat kemarin, belum memberikan kesempatan aksi beli lantaran kekerasan masih berlanjut dan terancam tidak mempunyai pemerintahan. Analis Credit Suisse juga mempertahankan rating 'underweight' terhadap bursa Malaysia, di tengah perlawanan antara pemerintah dan oposisi pimpinan Anwar Ibrahim yang bisa meningkatkan risiko terhadap perekonomian.
"Kejadian seperti ini bakal berdampak negatif dalam jangka panjang. Bagi investor long-term, mereka tidak melihat adanya kesempatan. Lebih baik menjauhi pasar," kata Scott Lim, chief investment officer CMS Dresdner Asset Management Sdn, Kuala Lumpur.
Indeks SET Thailand anjlok 24% selama 2008 dan sempat menyentuh posisi terendah sejak Februari 2007 kemarin setelah PM Samak Sundaravej umumkan keadaan darurat. Kuala Lumpur Composite Index juga tertahan sampai 25% setelah pihak koalisi mengalami kinerja pemilihan terburuk dalam lima dekade pada Maret. Bursa di kedua negara itu merupakan yang terburuk di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun ini, setelah Vietnam.(yn)
Sizter85
September 3rd, 2008, 08:15 PM
Rabu, 03 September 2008 22:34 WIB
Laba Bakrie and Brothers Naik 586 Persen
Penulis : Dwi Tupani
JAKARTA--MI: PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selama semester I 2008 mencatatkan lonjakan laba naik 586% dibanding tahun lalu. Hal tersebut setelah akuisisi internal tiga anak perusahaan dengan right issue senilai Rp48 triliun April lalu.
Kenaikan laba banyak ditunjang tingginya kinerja anak perusahaan antara lain PT Bumi Resources Tbk, PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk, PT Bakrie Telecom tbk. Perseroan meraih laba bersih Rp590 miliar atau 6,8 kali lipat dari semester pertama tahun lalu yang tercatat Rp85,8 miliar.
Sementara itu pendapatan bersih naik 95% dari Rp2 triliun menjadi Rp3,9 triliun. Sehingga pendapatan bersih per saham Rp10,77 per lembar, hampir dua kali lipat dari tahun lalu Rp5,4.
"Walaupun kondisi pasar global sedang bergejolak, namun kami masih bisa menunjukkan kinerja yang baik. kinerja ini sejalan dengan transformasi BNBR menjadi holding perusahaan investasi strategis," kata Presiden Direktur BNBR, Nalinkant Amratal Rathod di Jakarta, Rabu (3/9).
Seperti diketahui, April lalu BNBR mengakuisisi perusahaan terafiliasi yaitu 35% saham PT Bumi Resources Tbk senilai Rp36,9 triliun, 40% saham PT Energi Mega Persada Tbk Rp7,2 triliun, dan 40% saham PT Bakrieland Development Tbk senilai Rp4,36 triliun.
"Total akuisisi mencapai Rp 48,46 triliun. Saat ini kapitalisasi pasar BNBR di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 30 triliun. Kontribusi positif dari semua anak perusahaan telah menyumbang pada kinerja yang baik BNBR dengan pertumbuhan positif di semua sektor," kata Rathod.
Ia memaparkan, Bumi Resources, di luar perhitungan akuisisi 30% saham tambang Kaltim Prima Coal dan Arutmin oleh Tata Steel tahun lalu, Bumi mencatat kenaikan laba bersih 30% dari US$173 juta menjadi US$301 juta. Sementara produsen CPO PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), juga mencatat kenaikan laba 4,5 kali lipat dari Rp75 miliar menjadi Rp326 miliar.
PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juga mencatat kenaikan laba bersih 59,5% dari Rp39,1 miliar menjadi Rp62,4 miliar, walaupun persaingan tarif telekomunikasi sangat ketat. Serta, PT Bakrieland Development Tbk, yang bergerak di bidang properti, juga mencatat kenaikan laba bersih 50% dari Rp48 miliar menjadi Rp71,18 miliar.
Sementara itu PT Energi Mega Persada Tbk, walau mencatat kenaikan pendapatan 100% menjadi Rp889,7 miliar, namun kinerjanya melorot. Laba bersih perusahaan minyak ini anjlok 40,97% dari Rp130 miliar menjadi Rp77 miliar akibat kenaikan beban usaha.
"Selain anak perusahaan yang terbuka, anak perusahaan non listed juga menunjukkan kinerja bagus. PT Bakrie Metal Industries, yang sebelumnya mendukung proyek infrastruktur, mencatat pertumbuhan pendapatan dari Rp755 miliar menjadi Rp1,23 triliun," tandasnya. (DW/OL-03)
yudz83
September 4th, 2008, 05:40 AM
Toyota Resmikan Pusat Komponen Terbesar di Indonesia
:banana:
JAKARTA - PT Toyota Astra Motor (TAM) meresmikan New Toyota Spare Parts Center (pusat komponen) terbesar di Indonesia seluas 10 hektar berlokasi di Kawasan Industri Cikarang Barat, Bekasi.
Pembangunan fasilitas terbaru Toyota Ini menghabiskan dana investasi sebesar Rp249 miliar.
Presiden Direktur PT TAM Johnny Darmawan mengatakan, peresmian fasilitas ini terbilang penting untuk memenuhi kebutuhan komponen dalam negeri dan internasional. Spare Parts Center ini, kata dia, memiliki kapasitas sebesar 100.000 suku cadang.
"Fasilitas ini penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi Toyota di dunia di masa depan," ujar Johnny pada peresmian Spare Parts Center Toyota di Cibitung, Bekasi Kamis (4/9/2008).
Dengan peresmian ini, lanjut Johnny, Toyota akan mampu malakukan kegiatan efisiensi pelayanan Toyota bagi konsumen dalam negeri. Selain itu, lanjut dia, kehadirannya akan memperkuat 193 cabang dan 166 bengkel resmi Toyota yang tersebar di Indonesia termasuk pasar ekspor di 30 negara.
peseg5
September 4th, 2008, 06:35 AM
yang paling lucu tuh si Amien Rais...dulu gua pernah denger dia interview...katanya kenapa kok Indosat dijual ke STmedia (temasek singapore) daripada ke salah satu pengusaha lokal di suatu daerah (yg katanya duit 3 sampe 6 trilliun ga masalah).....
ya iyalah...secara temasek lebih punya banyak backup financial daripada si pengusaha....yang ga jelas duit darimana...trus..temasek punya tim manajemen yg bagus...jaringan network bagus....
gua heran, tuh si amien rais kok masih aja berkoar2 ya....he doesnt talk any sense...
he drove all the students to aspire him...so he can be elected as a president in 1998....dengan agenda reformasi.....
stupid him
cheers
Hehe... yg sekarang lagi rame kontrak LNG Tangguh... Liat aja tuh banyak yg tiba2 jadi praktisi kontrak Migas dadakan... Seolah2 paling benar.
Itu sih Purnomo sampai sekarang kenapa masih jadi menteri ESDM sih? Sudah banyak kisruh masalah energi di departemen dia dari dulu.
Mimihitam
September 4th, 2008, 12:30 PM
Indonesia’s promising economic outlook 2009
Cyrillus Harinowo , Jakarta | Tue, 09/02/2008 10:20 AM | Opinion
Jakarta Post
In the coming weeks, most corporate businesses will start preparing their budgets. Some with more extensive operations and networks have in fact started the drafting process directly after the President’s Aug. 16 speech before Parliament.
During this process much time is devoted to predicting the direction of the economy. Will next year be bullish, as we are now experiencing, or will it be affected by the global downturn?
In his presidential address, President has outlined the government’s predictions about next year’s economic prospects. The most important number is the 2009 economic growth target: 6.2 percent. The nominal gross domestic product (GDP) has also been specified at Rp. 5,000 trillion (US$547 billion).
To compare with 2008 figures, first quarter GDP rate of growth was 6.3 percent, second quarter, 6.4 percent. The nominal GDP was Rp. 1,126.8 trillion in the first quarter and Rp. 1,230.9 trillion in the second. Will the uptrend continue until next year, or are there specific reasons to predict otherwise?
Many people are skeptical about our economy. Some of their convictions are justified, especially if we look at the pockets of poverty, especially in urban areas. However, to harp on that issue is unfair to others who are looking for a better estimation of opportunities for their business activities. Aside from being sympathetic to the poor, we have to be more balanced by assessing the situation objectively.
Predicting an economic prospect means judging the movement of the economy, a dynamic process. Successful predictions also account for which economic sectors may have better prospects than others.
Judging from previous performance, the Indonesian economy so far seems to be decoupled from world trends. Despite the economic slowdown in the US and Europe, our economy continues to show resilience.
Indonesia’s previous economic performance reflects the strength of the two drivers of our growth: the population-based economy and the resource-based economy. In the population-based economy, we noted strong growth in manufacturing, such as in automotive and consumer products; property development and construction; and many others.
Apparently the rising domestic fuel prices in May did not significantly erode the increasing income of the population as a whole. Our business entrepreneurs note their expansion plans continue to yield a comfortable return. On a radio talk show I tuned in yesterday, a new and growing company, Bengawan Solo Cafe, has been able to set up 27 outlets in just four years.
Similarly Solaria, a fast-growing local restaurant chain, has expanded to more than one hundred outlets in just a few years. These are just anecdotal examples of such dynamism. The population-based economy is largely a domestic economy.
This palpable growth is not just taking place in urban areas. Many rural areas are enjoy faster development than urban centers.
Meliau, for instance, a village in Sanggau regency, West Kalimantan, used to be a backwater. With the rapid rise in the price of palm oil and increased production, the village now boasts nine motorcycle dealers.
I also believe, once the Pontianak-Tayan highway is completed, the West Kalimantan hinterland will see much faster growth and better living standards for its people. This last example reflects the strength of the second driver of the economic growth: the resource-based economy.
Taking the motorcycle dealers as an example, they will eventually drive demand at the factories in Java, thus promoting manufacturing sector growth. This shows how a sector which has received a strong pull from the population-based economy at the same time enjoyed another pull from the multiplier effects of the resource-based economy. I am sure this trend will continue.
In forecasting the 2009 outlook, I am fully aware many institutions will make conservative predictions. Unsurprisingly, the President himself predicted a growth rate of just 6.2 percent. Since the growth rate will most probably reach 6.4 or 6.5 percent for all of 2008, can we infer the President is predicting a downturn in our economy?
It’s always good to hear we can boast about our performance if we attain a growth rate higher than the target. However, setting the bar too low can also be self-fulfilling. Businesspeople will use the government’s figure as their reference, which means they may set their companies’ targets too low.
Based on my observations visiting companies in Java and elsewhere, I can infer optimism in the field still abounds. In fact, many business owners were puzzled this year when their companies’ performance far exceeded their targets. Therefore, it will be interesting to see whether these same people will repeat that mistake another year running.
From these observations, and also my own rough sectoral calculations, I am optimistic the outlook for 2009 may be slightly better than predicted by the government. Though the government-predicted growth rate for 2009 is 6.2 percent, there is a strong possibility the growth rate will attain between 6.4 and 6.7 percent.
Moreover, the nominal GDP will deviate significantly. The first and second quarters of 2008 already produced a nominal GDP of Rp. 2,357.7 trillion. Based on previous experience, the nominal GDP will continue to grow in the third and fourth quarters.
Thus, a nominal GDP of Rp. 4,800 trillion is within reach for the economy this year. This figure is 21 percent higher than in 2007. Still, judging from the rate of nominal growth in first and second quarters at 22.5 percent and 27.9 percent respectively, a rate of growth for the whole year of 21 percent remains a conservative prediction.
Therefore, the government’s forecast of a nominal GDP of Rp. 5,000 trillion in 2009 will be far too low compared to what can be achieved for 2008. My own prediction for 2009 is the Indonesian nominal GDP may reach Rp. 5,500-5,700 trillion.
Thatnumber will ensure a much lower debt-to-GDP ratio, an important number for the government.
I am optimistic about the Indonesian economy going forward. Such a sizable nominal GDP would translate into about US$610 billion, far higher than the $419 billion which Goldman Sachs predicted Indonesia ought to have by 2010, to be well on its way to ranking seventh among world economic powers by 2050.
The writer is rector at Asian Banking Finance and Informatics (ABFI) Institute Perbanas.
http://www.1ndonesia.info/2008/09/indonesias-promising-economic-outlook-2009/
Sizter85
September 4th, 2008, 05:40 PM
Manado (2005-2008), US$ 174.6 was invested by foreign investment
To increase the economic growth, the local government of North Sulawesi provincial (Manado) was approved almost 42 foreign investment projects since 2005 till 2008.
According to Ridwan Zees as a Head of the Program Development Unit at the North Sulawesi Regional Investment and Cooperation Coordination Board (BKPMKR), currently the foreign investment was interest to invest the projects were mostly engaged in the fishery and tourism sectors.
From the total around 55 foreign investment proposal worht US$ 272.4 million since 2005 till 2008, the government of North Sulawesi was approved only 42 of them.
The amount of foreign investment in the province of North Sulawesi was reached US$ 174.6, there are consist of US$ 54.6 million with 18 projects in 2005, US$ 46.3 million with 13 projects in 2006, US$ 65.9 million with 8 projects in 2007 and US$ 7.8 million with 3 projects in 2008 (www.antara.co.id).
Zorobabel
September 5th, 2008, 07:00 AM
Can Alvin or anyone else explain to me why the rupiah weakens when BI raises the benchmark interest rate? I ask because in almost every other country in the world, when interest rates increase the local currency strengthens.
David-80
September 5th, 2008, 09:12 AM
Thats because the world stocks markets in heavy sellings and on top of that, The US dollar keep strengthen because the oil markets decline.
I heard today from one the fund analyst that this is because a reflection of the panic global investors to the recent data of US jobless stats.
They're trying to avoid the emerging markets and play it safe, hence the asian currencies selling.
cheers
AceN
September 5th, 2008, 08:27 PM
Ya, memang banyak pengamat2 kebijakan yg dulu berkoar2 diluar lingkaran pemerintah dan mengkritik pemerintah, sekarang giliran duduk di pemerintah baru MERASAKAN khasiatnya bahwa ternyata bekerja didalam pemerintah itu tidak semudah ketika dulu berkoar2 diluar.
Seingat saya selain Sri Mulyani ada banyak yg dulu jadi pengamat masuk ke pemerintahan SBY, ada yg bs kasih info?
Banyak kan yang sekarang ada di lingkaran istana mas. Yang terbaru si Deny masuk jadi Staf Khusus Bidang Hukum.
Dulu waktu pemerintahan si megaloman ada nama Kwik Kian Gie.. dulu waktu jadi pengamat dahsyat bgt tuh.. ampek nerangin detil2 teknis.. kaya dosen ekonomi aja.. tapi kebagian jadi menteri.. yah.. bukannya tambah bagus...
Jadi inget waktu itu ada debat yang ada JK & Kwik Kian Gie pas abis pemerintah naekin BBM kmaren. Kwik Kian Gie jelasin panjang lebar itung-itungan dia bahwa mestinya BBM ga naek.
Trus si JK dengan santainya jawab : " Dulu waktu jaman bapak kenapa BBM dinaikan harganya juga ? "
Ha ha ha ha ha ha :hilarious
yang paling lucu tuh si Amien Rais...dulu gua pernah denger dia interview...katanya kenapa kok Indosat dijual ke STmedia (temasek singapore) daripada ke salah satu pengusaha lokal di suatu daerah (yg katanya duit 3 sampe 6 trilliun ga masalah).....
ya iyalah...secara temasek lebih punya banyak backup financial daripada si pengusaha....yang ga jelas duit darimana...trus..temasek punya tim manajemen yg bagus...jaringan network bagus....
gua heran, tuh si amien rais kok masih aja berkoar2 ya....he doesnt talk any sense...
he drove all the students to aspire him...so he can be elected as a president in 1998....dengan agenda reformasi.....
stupid him
cheers
Agree with mas david :yes:
Dari luar tampak pintar, belum tentu dalemnya sama. Nentang Exxon, dl, cuihh....kaya dia bisa nyelesain sendiri.
Ada cerita, waktu sehari setelah tsunami taon 2004, Amien Rais yang langsung terbang ke NAD bikin konf.press bahwa dia kecewa dengan penanganan bantuan yang kurang ini kurang itu. Terlalu lelet lah, dsb.
Eh, waktu diajak diskusi dengan SBY di pendopo gubernur Aceh. SBY nanya : " Apakah ada tambahan atau masukan dari Pak Amien ? "
Amien hanya jawab : " Tidak pak "
Salah satu bukti orang yang banyak omong doank...
--------------------------------------------------------------------
Jangan sampe salah pilih deh...jangan sampe MegaNtropus kepilih lagi.
G berani terang-terangan bilang TIDAK terhadap Megawati! Bahkan ke opa g yang notabene pengurus PDIP juga.
rilham2new
September 6th, 2008, 12:02 AM
^^ Hi hi hi,, kalau di Bali ... berani ngomong kek gitu, aplagi gak pake atribut kemerahan di mobil pas masa pemilu ... Bisa gawat, loh Cen :D , kok ada yaa orang bisa nge-fans sebegitunya ma partai merah ini :tongue2: ..
yudz83
September 6th, 2008, 12:52 AM
^^
lo pengen tahu kenapa?? kita harus sadar banyak rakyat kita yg masih berprndidikan rendah alias gampang dikibuli oleh kharisma, janji2 n air mata buaya.. :ohno:
Hasil Survei Nasional
JAKARTA - Meski banyak nama capres beredar, survei beberapa lembaga masih menempatkan figur SBY dan Megawati Soekarnoputri menjadi dua kandidat capres yang menonjol dalam Pemilu 2009 mendatang. ‘Perang' keduanya makin nyata.
Tidak hanya sekadar perebutan popularitas antar dua tokoh semata, namun kini masing-masing memperebutkan segmen pemilih secara spesifik, dari sisi umur, tingkat pendidikan, domisili, serta profesi. Survei Indonesian Research and Development Institute (IRDI) pada 5-12 Juli lalu, jelas menunjukkan ‘perang' antar keduanya.
Dari sisi distribusi pemilih antar dua tokoh tersebut terungkap Megawati menguasai wilayah Jawa-Bali mencapai 50%. Sedangkan SBY, menguasai Pulau Sumatera dan pulau lainnya di kisaran 40,85-48,55%.
Dalam pandangan pengamat politik UI Andrinof Chaniago, besaran suara Megawati di Jawa-Bali menunjukkan basis ideologi PDIP yang dominan di dua pulau tersebut. "Jawa-Bali lebih dekat dengan pendukung Soekarno, meski juga harus ditelaah antara Jawa Timur dan Jawa Tengah," cetusnya dalam peluncuran hasil survei IRDI, Senin (1/9) di Jakarta.
Sementara untuk distribusi dukungan berdasarkan latar belakang pendidikan, antar kedua tokoh tersebut juga semakin nyata. Megawati didominasi pemilih yang berlatarbelakang pendidikan rendah yaitu sebesar 46,99%. Sedangkan latarbelakang pendidikan menengah 34,67%, dan hanya 14,40% pemilih yang berpendidikan tinggi.
Kondisi tersebut bertolakbelakang yang dialami SBY. Pemilih SBY didominasi latar belakang pendidikan tinggi sebesar 44,80%. Sedangkan pemilih berpendidikan rendah hanya 29,92% dan 36,09% berpendidikan sedang.
Menariknya, di tengah upaya partai politik dan capres mendekati pemilih pemula, terungkap dalam hasil survei IRDI, sebanyak 42,27% (17-24 tahun) mendukung Megawati. Selain itu Megawati juga mendapat dukungan dari pemilih kalangan tua yaitu 52,46% di usia 55 lebih.
Penelitian IRDI membagi lima kategori usia pemilih yaitu 17-24 tahun, 25-34 tahun, 35-44 tahun, 45-54 tahun, dan 55 tahun atau lebih. SBY mendapat dukungan merata di empat kategori usia pemilih di kisaran 32-33%. Sedangkan Megawati dari empat kategori tersebut mendapat dukungan di kisaran 32-52%.
Sedangkan dari distribusi pemilih dengan latar belakang profesi, sebanyak 45,57% petani dan nelayan memilih Megawati. Selain itu, sebanyak 46,81% penganggur juga memilih Megawati. Kondisi tersebut berbeda dengan SBY yang mendapat dukungan dari PNS sebanyak 50% serta 54,84% pensiunan.
Menurut Andrinof Chaniago, survei tersebut menyiratkan bahwa kebijakan SBY belum berhasil meyakinkan kalangan petani dan nelayan. "Ini menunjukkan SBY gagal membuat kebijakan yang pro kepada petani dan nelayan," tegasnya.
Menurut dia, dengan kondisi demikian, Megawati menjadi harapan baru bagi pemilih yang berprofesi petani/nelayan. "Justru itu, PDIP dan Megawati harus membuat program riil yang menyentuh ke petani/nelayan," cetusnya.
Sementara dalam pandangan Direktur Eksekutif IRDI Notrida Mandica, hasil survei tersebut harus menjadi guidance untuk strategi politik masing-masing kandidat. "Dengan mengetahui karakteristik pemilih, capres harus menghadirkan kampanye yang cerdas," tegasnya.
Menurut Notrida, sudah saatnya, kampanye capres harus bersinggungan dengan persoalan konstituennya. "Setiap kandidat harus fokus pada konstituennya dengan program-program yang akan dilakukan," tandasnya.
Lebih lanjut Notrida menegaskan, kandidat yang maju tidak hanya harus berupaya meningkatkan popularitas tetapi harus mengubah dan memperbaharui pola kampanye. "Harus diperhatikan bahwa popularitas tidak berkorelasi dengan pilihan publik," tegasnya. Ia mencontohkan Soetrisno Bachir yang populer karena iklan, tapi tidak menjamin pilihan publik terhadap dirinya.
SBY dan Mega sebagai figur capres yang paling diunggulkan hingga saat ini harus mampu menawarkan hal yang baru bagi publik. Pengungkapan data-data di atas tak lebih sebagai petunjuk bagi para calon untuk menggarap konstituennya secara benar dengan memberikan program konkret bagi rakyat.
AceN
September 6th, 2008, 06:12 AM
^^ Hi hi hi,, kalau di Bali ... berani ngomong kek gitu, aplagi gak pake atribut kemerahan di mobil pas masa pemilu ... Bisa gawat, loh Cen :D , kok ada yaa orang bisa nge-fans sebegitunya ma partai merah ini :tongue2: ..
Haha, bisa ancur g ham. Secara basis PDIP getohh..... :p~
G juga bingung tuh sama Tjahjo Kumolo, apanya PDIP gitu g lupa..ngajak debat soal gas tangguh. Ntar dibeberin smua baru tau rasa :nuts:
hildalexander
September 6th, 2008, 09:52 AM
Betul Cen
Gak ada tuh (struktur pemerintahan) yang kerjanya beres ngurusin Tsunami NAD..... yang paling riil kerjanya adalah para mahasiswa, brimob, mapala, oxfam, org aceh sendiri dan beberapa relawan dari yayasan budha (gw lupa namanya).... kalo yang laen mah cuma wisata tsunami doang, termasuk MegaNtropus Erectus itu, begitupula dengan SP, anggota DPR, Bakornas, de el el.... mereka sibuk bikin press conf mulu, heran deeeeh.....
Hadi
September 6th, 2008, 03:38 PM
Lagu Indonesia Bakal Dibatasi di Radio Malaysia :nuts:
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Para pendengar radio di Malaysia bakal kesulitan untuk mendengar lagu-lagu Indonesia kalau saja pemerintah setempat mengabulkan permintaan pembatasan penyiaran lagu Indonesia.
Adalah Persatuan karyawan industri musik Malaysia (Karyawan) yang mengusulkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di radio. Rencananya usulan tersebut akan disampaikan kepada Menteri Tenaga, Air, dan Komunikasi Malaysia Shaziman Abu Mansor.
"Kami akan menghadap menteri Shaziman besok untuk menyampaikan tuntutan kuota 90 persen siaran lagu-lagu Malaysia, sisanya baru lagu Indonesia 10 persen," kata ketua Karyawan Ahmad Abdullah kepada Malaysiakini.com, Rabu.
Menurut Karyawan, jika tuntutan kuota itu tidak diterima, perbandingan 80:20 masih bisa diterima.
Tuntutan itu didukung sekitar 700 karyawan yang bekerja di industri musik. Dalam pertemuan itu, Presiden Karyawan Freddie Fernandez, komposer dan penyanyi terkenal M Nasir dan Nan Saturnie akan hadir dalam pertemuan dengan menteri.
Para karyawan industri rekaman Malaysia sudah lama memprotes dan menuntut agar radio di Malaysia tidak terlalu banyak menyiarkan lagu Indonesia karena akan menambah penjualan album penyanyi Indonesia di Malaysia, dan menurunkan pangsa pasar album penyanyi Malaysia.
Para penyiar dan pengelola stasiun radio Malaysia beralasan seringnya memutar lagu Indonesia disebabkan banyaknya permintaan dari pendengar.
Bahkan, tiga stasiun radio swasta yang saling berlomba menduduki posisi teratas di Malaysia, Era FM, Hot FM, dan Suria FM memiliki program pemutaran lagu Indonesia setiap hari Minggu, antara jam 10-12 siang.
Penyanyi rock terkenal Malaysia Amy Search mengatakan kepada pers, jika jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari.
Karena banyak penggemarnya, banyak perusahaan telekomunikasi seperti Maxis, DIGI dan Celcom serta Telekom Malaysia (TM) yang mensponsori konser musik group band Indonesia di Malaysia.
HUAHUAHUHAUHUAHUA...... Emang Lagu Indonesia bagus-bagus sekarang. Good Indonesia, Jangan Cuman bisa eksport TKI, Tapi Lagu2 bagus .... HEBAT. I am Proud of it
Mimihitam
September 7th, 2008, 05:58 AM
Indonesia at a Crossroad
Posted by: admin in General
Indonesia at a Crossroad!
It is rather difficult to counter that Indonesia sooner or later will reclaim the economic reputation which it enjoyed in the 1980s and early 1990s as one of the Asian Miracles or the Asian Tigers. Yes we want to reach that but how… that is the pending question that Indonesia as a nation should decide together! we have passed many streets and avenues but now more than ever we are asked to decide whether we will believe in the current way where we are guided by market forces, or we guide or even become the market force itself!?
A country of 250 million population and growing middle class should count for something. Unfortunately, most people, sadly Indonesians, rather dismiss Indonesia’s economic potential and opportunities. People tend to stop at criticizing but not moving on to deal with the problems.
The problems are actually challenges, and even more, opportunities. For example, in the recent years, Indonesia was faced with rising food price and even rarety … what happened then many people turned to agriculture business. Now we are beginning to see that food supply is becoming more stable due to this enterprenurship. So the key for Indonesia is to foster entrepreneurship! Facilitate Indonesians to become enterpreneurs and not employees!! To do this, I can point to some core sector of development: education, finance, legal certainty, and security.
We have to reduce our people’s burden coming from public sector: government, parliamentary, and state-owned companies. Bureacuratic reform for example has to be seriously taken by reducing the number of civil servants and increasing their quality of service (I mean to serve and not to be served).
We need to see Indonesia as a huge market and potentially can survive on its own. Only by appreciating this fact, can we be firm to deal with international players (MNCs, and so on) on an equal footing. let us stop being a beggar and put ourselve so lowly! If they do not want to put some parts of their R&D in our country, let them leave the country and miss a great MARKET & OPPPORTUNITY (not country). This is what the China did and I think we have potentials to adopt this policy in our own way and in our interests!
In my line of diplomatic duty, I am heavily involved with the international community. Through verbal communications, market research, and other means, I can say to you that they are drooling to take advantage of our market! Some of them are actually making it especially the big players in heavy industry, energy, and mining.They want us even they say Indonesia is blah blah blah… Well in negotiation, such can be seen in local markets, it is an old technique used by buyers to force the sellers reduce their price by saying the products are not good or of certain defects (when actually the buyers are wanting it so badly!)… do we still want to be fooled?
Let us, Indonesians start to love products by our entrepreneurs. Hey the Japanese did that, the Indians surely did that (with Bajaj and Tata), the Chinese did that… and look what they have gotten! Only then, we will be respected by others! By saying this, I mean a two-way relationship between Indonesian producers and consumers that they have to respect each other… so producers make as good products as you can to make your customers happy or at least not disappointed.
So, in conclusion, our crucial focus is to generate a productive interaction between local markets and locally owned industries. We need to reduce as much as possible dependency on foreign products and foreign markets! Why do we have to sell gas to overseas at a lower rate than domestic market??? it just does not make sense! The Government should stop prioritizing export orientation and instead focus on domestic market. When our producers are strong enough in domestic markets we can compete in international! Some Indonesians are now aware of this crucial point! A good example is a local company that produce local motorbikes for domestic market that has been dominated by the Japanese. Why are we not working on our own growing & huge markets: mobile phones, cars, internet, energy, pharmaceuticals, and many others. So the future is mostly ours (Indonesians) to make.
We have to respect ourselves and make ourselves respectable in order for us to fulfill our potentials as the next economic giant! May the people of Indonesia prosper!
Pangeran Ibrani Situmorang
http://www.1ndonesia.info/2008/09/indonesia-at-a-crossroad/
rilham2new
September 7th, 2008, 06:25 AM
^^ Indonesia reach that "TIGER" status back in 1980's was because Oil Booming (We were highly depended on our natural resources) ... Our Industry was also nothing to be compared with 1990's. TOday, we are experiencing energy crisis. I hope, when we're wanting economic boom or what-so-ever,, please fix this energy crisis first. Make a better Gas and Diessel distribution linking to prospective factories and industrial sectors. And also preparing our Human Resources well.
I cant believe, we're hoping for economic boom, under current critical energy crisis. Fix this (not only for Java, but also all part of Indonesia). And please, do decentrialize .... the investment sector for core-infrastructure to be settled under Local Government's decision.
Sizter85
September 7th, 2008, 02:23 PM
Industri Penerbangan Kehilangan Pendapatan US$5,2 Miliar
JAKARTA--MI: Asosiasi penerbangan internasional atau International Air Transport Association (IATA) mencatat industri penerbangan internasional telah kehilangan pendapatan hingga US$5,2 miliar sepanjang tahun ini.
Hal itu terutama disebabkan tingginya kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir. Di samping itu menurunnya jumlah permintaan penumpang pesawat juga menjadi faktor utama kehilangan pendapatan tersebut. "Kombinasi dari kedua faktor ini benar-benar menghantam pendapatan industri penerbangan," ujar CEO/Director General IATA Giovanni Bisignani dalam siaran persnya, Kamis (4/9).
Harga avtur sejak melambungnya minyak dunia, menurut catatannya, bahkan melampaui US$140 per barel. Akibat kenaikan ini, lanjutnya, industri penerbangan mesti membayar sebesar US$186 miliar untuk avtur tahun ini.
"Kebutuhan untuk bahan bakar menjadi 36% dari total biaya operasional, naik sebesar 13% dari 2002," tambahnya.
Berdasarkan data IATA, permintaan penumpang turun sekitar 1,9% dibandingkan tahun lalu. Penurunan jumlah penumpang ini merupakan angka paling rendah dalam lima tahun terakhir. Dengan bertambahnya kapasitas hingga 3,8%, load factor atau tingkat isian penumpang justru turun lebih dari 1% menjadi hanya 79,9% dibanding 2007.
Hal yang sama juga terjadi pada industri penerbangan kargo yang mengalami penurunan pendapatan. PErusahaan kargo terbesar, Asia-Pacific, bahkan mengalami penurunan permintaan hingga 6,5%.
Di Indonesia, perusahaan penerbangan yang merupakan anggota adalah Garuda Indonesia. AKibat tingginya harga avtur, sejumlah maskapai menaikkan harga fuel surcharge sehingga harga tikat yeng dibebankan kepada penumpang pun makin tinggi dari sebelumnya.
Di kesempatan terpisah, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal kembali mengingatkan agar maskapai segera menurunkan fuel surcharge jika Pertamina telah menurunkan harga jual avturnya. "Kalau memang dari Pertamina harganya turun, fuel surcharge maskapai juga harus segera turun," tegasnya. (Slv/OL-02)
yudz83
September 8th, 2008, 09:44 AM
Bank Muamalat Rambah Negeri Jiran :cheers:
JAKARTA, SENIN - Bank Muamalat mendirikan perusahaan investasi bernama First Islamic Investment Bank Ltd., dengan modal awal 10 juta dollar AS di Malaysia.
"Kami telah mendapatkan izin dari LOFSA (Labuan Offshore Financial Services Authority) di Malaysia dan telah mendapatkan letter of content dari Bank Indonesia," kata Direktur Bank Muamalat Andi Buchori dihubungi, Senin (8/9).
Ia mengatakan perusahaan tersebut akan mulai diluncurkan pada Oktober 2008 dan Bank Muamalat akan menambah modal hingga 100 juta dollar AS. Sementara, investasi untuk pembangunan infrastruktur perusahaan berupa IT diperkirakan sekitar 1 juta dollar AS.
First Islamic Investment Bank Ltd., menurut dia, akan berkantor pusat di Kuala Lumpur dan kantor sekretariat di Labuan, Malaysia. Selain itu, juga membuka kantor di Jakarta.
Menurut dia, didaftarkannya perusahaan tersebut di Malaysia karena membidik investor internasional, terutama investor timur tengah dan Afrika bagian Utara (Nothern Africa/MENA). "Labuan telah dikenal oleh investor internasional dan terbuka juga untuk investor dari timur tengah yang menggunakan SVP asing," katanya.
Andi mengatakan pendirian investment bank tersebut untuk menarik dana dari investor yang menanamkan modalnya di pembiayaan modal (equity financing) berjangka waktu menengah dan panjang, 5-10 tahun.
Menurut dia, nantinya dana tersebut akan dinvestasikan untuk penyertaan modal pada proyek (private equity fund) dan investasi langsung (direct investment). "Jadi nantinya proyek-proyek yang dibiayai adalah proyek infrastruktur di Indonesia dengan jangka waktu lebih lama daripada investasi di pasar modal," tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga berbisnis dalam pembiayaan melalui surat utang (debt financing) dan menjadi penasihat keuangan (financial advisory).
Sementara itu, Direktur Bank Muamalat U Saefudin Noer yang dihubungi secara terpisah mengatakan pendirian anak perusahaan di Malaysia karena perpajakan yang lebih menarik. "Pajak lebih nyaman di Malaysia," katanya.
yudz83
September 9th, 2008, 07:02 AM
Pesawat AS Direparasi di Indonesia :cheers:
JAKARTA, SELASA - PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia mendapat kepercayaan untuk merawat dan mereparasi pesawat-pesawat jet milik perusahaan penerbangan kargo asal Amerika Serikat, Southern Air. Mutu dan biaya masih murah menjadi alasan Southern Air menunjuk GMF. Kontrak kerjasama berdurasi tiga tahun telah diteken antara Dirut GMF Richard Budihadianto dengan Direktur Operasi Southern Air, Tom Gilles di kawasan Bandara Soekarno Hatta, Banten, Selasa (9/9).
Kepercayaan ini menjadi prestasi tersendiri bagi GMF, karena selama ini Southern Air yang adalah salah satu maskapai kargo terbesar dunia selalu
memilih bengkel-bengkel pesawat di luar negeri yang dianggap lebih mumpuni. Dengan MoU dengan nilai kontrak 30 juta dollar AS tersebut, maka GMF bakal merawat pesawat-pesawat jet milik Southern Air yaitu Boeing 747 series dan Boeing 777 Cargo yang akan beroperasi tahun depan. "Seluruh pesawat Southern Air akan menjalani major inspection (C Check dan D Check) di GMF selama tiga tahun," kata Richard.
Adapun saat ini perusahaan penerbangan kargo yang bermarkas di Norwalk AS itu mengoperasikan 13 unit pesawat Boeing 747 Series. Sebelumnya GMF juga telah merawat empat unit Boeing 747, yang saat ini pesawatnya telah selesai pengerjaannya.
Bagi GMF, Southern adalah maskapai ke lima terbesar yang menjadi "pasiennya". Empat maskapai besar yang telah menjadi langganan bengkel
pesawat milik Garuda Indonesia ini adalah KLM, Air France, Phuket Air dan Martin Air.
Richard mengungkapkan, alasan Southern Air memilih GMF antara lain adalah karena biaya tenaga kerjanya lebih murah dibandingkan dengan bengkel pesawat lain di dunia. Meski demikian, mutunya tetap terjaga. "Dibanding dengan Singapura, biaya kita lebih murah sekitar 10 persen hingga 20 persen," ujarnya.
Mimihitam
September 9th, 2008, 01:06 PM
JAKARTA - Ekspor Indonesia ke Jepang selama bulan Juli mengalami peningkatan 45,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2007.
Staf khusus Menteri Perdagangan Bidang Kerjasama Internasional Halida Miljani mengatakan, peningkatan ekspor itu disebabkan perjanjian Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA).
"Ekspor yang terus meningkat ini menunjukkan bahwa IJ-EPA memiliki peran yang sangat penting," katanya dalam seminar IJ-EPA di Departemen Perdagangan, di Jakarta, Selasa (9/9/2008).
Di sisi lain, menurut Ketua Komite Anti Dumping (KADI) Departemen Perdagangan ini, produk unggulan Indoensia ke Jepang antara lain nikel senilai USD1,33 miliar, karet dengan nilai USD1,01 miliar, pertanian dan perikanan yang mencapai USD923 juta.
Selain itu, sejumlah produk seperti alas kaki dan alumunium juga memberikan kontribusi dalam peningkatan ekspor. "Jepang masih menjadi tujuan utama ekspor kita, yakni sekira 20 persen dan menjadi sumber utama penanaman modal asing," ungkapnya.
Dia menyatakan, ekspor buah-buahan diharapkan juga meningkat dengan IJEPA tersebut. (Eko Budiono /Sindo/ade)
http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/09/09/19/144356/ekspor-indonesia-meningkat-45-9
K14N
September 10th, 2008, 06:36 AM
Ini ada lanjutannya:
Kamis, 11/09/2008 15:21 WIB
RI Nilai Survei IFC Ganjil
Dadan Kuswaraharja - detikFinance
Jakarta - Pemerintah bersuara soal turunnya peringkat kemudahan berusaha dalam Doing Business 2009 yang dikeluarkan oleh International Finance Corporation (IFC). Pemerintah menilai survei itu ganjil.
Kantor Kementerian Perekonomian dalam situsnya, Kamis (11/9/2008) mempertanyakan survei itu. Apa sebabnya?
Doing Business 2009 menunjukkan bahwa untuk Indonesia telah terjadi perbaikan dalam 3 indikator utama yaitu jumlah prosedur yang harus dilampaui oleh setiap pengusaha yang ingin mendirikan usahanya di Indonesia, jumlah hari serta biaya yang diperlukan untuk pengurusan itu.
"Namun demikian, laporan Doing Business 2009 oleh IFC justru menunjukkan suatu keganjilan karena perbaikan 3 indikator utama itu tidak mengakibatkan peringkat Indonesia membaik, bahkan justru turun dari posisi 127 menjadi 129," tulis kantor Kementerian Perekonomian dalam pernyataannya.
Alasan penurunan peringkat itu didasarkan karena 1 indikator lain, yaitu besarnya modal minimal yang diperlukan untuk mendirikan perusahaan, meningkat sesuai dengan ketetapan dalam Undang Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Undang-undang itu mensyaratkan jumlah modal minimum yang disetor oleh pemilik perusahaan adalah Rp 50 juta, naik dari Rp 20 juta. Padahal pertimbangannya adalah untuk meningkatkan kepastian berusaha di Indonesia, karena menyaring bonafiditas kemampuan pemilik perusahaan .
Pemerintah mengakui sudah melakukan langkah-langkah penyederhanaan proses memulai usaha dengan pengurangan jumlah prosedur dan waktu pengurusan dokumen, serta pengurangan biaya yang harus dikeluarkan.
Berbagai penyederhanaan ini tertuang dalam peraturan-peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, diantaranya adalah :
Penyempurnaan ketentuan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), melalui PERMENDAG No. 36/M-DAG/PER/09/2007, kepengurusan SIUP yang semula membutuhkan waktu 5 hari menjadi 3 hari, dan tidak dipungut biaya
Penyempurnaan ketentuan Tanda Daftar Perusahaan (TDP), melalui PERMENDAG No. 37/M-DAG/PER/09/2007, kepengurusan TDP yang semula membutuhkan waktu 10 hari menjadi 3 hari, dan tidak dipungut biaya.
Penerbitan PERMENHUKAM No. M-1450-KP.04.11 Tahun 2007 tentang Pencabutan PERMENHUKAM No. M.837.KP.04.11 Tahun 2006 Tentang Pendelegasian Wewenangan Menteri Hukum dan HAM RI Dalam Memberikan Pengesahan Badan Hukum Perseroan Terbatas Kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM di Seluruh Indonesia.
Pemerintah juga memiliki komitmen untuk mempermudah pengurusan pendaftaran tanah. Untuk itu telah dikeluarkan Peraturan Kepala BPN No.6/2008 tanggal 11 Juli 2008 tentang Penyederhanaan dan Percepatan Standar Prosedur Operasi Pengaturan dan Pelayanan Pertanahan untuk Jenis Pelayanan Pertanahan Tertentu.
Berbagai kemudahan dalam pengurusan tanah dan bangunan ini diharapkan akan segera efektif dalam pelaksanaannya, sehingga akan terlihat hasilnya pada survey tahun mendatang.
Perbaikan iklim investasi di Indonesia itu juga telah disampaikan oleh World Economic Forum (WEF) belum lama ini yang menempatkan Indonesia pada posisi ke 54 dari 131 negara di dunia.
"Hal ini menandakan bahwa Indonesia merupakan tempat yang kompetitif bagi masuknya Investasi. Posisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih baik dari beberapa negara, seperti misalnya, Rusia, Yunani, Bangladesh, Uganda dan Nigeria," imbuh laporan dari kantor Menko Perekonomian itu.
(ddn/qom)
Rabu, 10/09/2008 10:40 WIB
RI Turun 2 Peringkat dalam Kemudahan Berusaha
Wahyu Daniel - detikFinance
Jakarta - Niat pemerintah untuk memperbaiki peringkat dalam kemudahan berusaha belum tercapai. Indonesia malah turun 2 peringkat menjadi urutan 129 dalam Doing Business 2009 yang dibuat oleh IFC (International Finance Corporation) di 181 negara.
Country Manager IFC Indonesia Adam Sack mengatakan meskipun di tahun ini sudah banyak sejumlah perbaikan iklim usaha yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, namun kesepatan perbaikan kebijakan tersebut masih lambat dari negara-negara lain.
"Kami memahami bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memperbaiki iklim usaha. Namun Indonesia harus berbuat jauh lagi untuk dapat bersaing secara Internasional," ujarnya.
Meskipun demikian Indonesia menduduki peringkat yang lebih baik dari Filipina yang menempati posisi 140. Namun peringkat tersebut masih di bawah China (83), Malaysia (20) dan Vietnam (92).
"Indonesia berhasil melakukan sejumlah perbaikan dalam iklim usaha, namun perekonomian negara lain juga melakukan reformasi yang lebih cepat dan mendalam. Pemerintah harus mempercepat proses reformasi iklim investasi untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja baru dan menghapuskan kemiskinan," tuturnya.
Dalam laporannya IFC bahkan mencatatkan terjadi perubahan negatif pada reformasi kebijakan untuk memulai usaha baru di Indonesia. Dengan begitu memang sedikit perubahan yang dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha di Indonesia.
Sementara itu di urutan awal, 3 negara masih mempertahankan peringkatnya. Singapura masih menduduki urutan pertama dalam kemudahan berusaha, disusul Selandia Baru dan AS pada posisi ke-2 dan ke-3.
(dnl/ddn)
Sony Sjklw
September 10th, 2008, 09:10 AM
Penerimaan Pajak 2008 Rp 367,63 T
Jakarta, Tribun - Realisasi penerimaan netto Ditjen Pajak tanpa PPh Migas periode Januari-Agustus 2008 melesat ke angka Rp 318,74 triliun. Penerimaan ini mengalami pertumbuhan 45,99 persen dibandingkan realisasi penerimaan periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 218,33 triliun.
"Realisasi penerimaan netto ditjen pajak termasuk PPh migas periode Januari-Agustus 2008 sebesar Rp 367,63 triliun. Angka ini mengalami pertumbuhan 49,57 persen dibandingkan realisasi penerimaan periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 245,8 triliun," jelas Dirjen Pajak Darmin Nasution dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (9/9).
Proporsi realisasi penerimaan pajak periode Januari-Agustus 2008 terhadap total rencana setahun (APBNP 2008) adalah 66,28 persen untuk penerimaan netto Ditjen Pajak tanpa PPh Migas dan 68,78 persen untuk penerimaan netto termasuk PPh Migas.
Sedangkan pencapaian periode yang sama tahun 2007 untuk penerimaan neto Ditjen Pajak tanpa PPh Migas sebesar 55,24 persen dan untuk penerimaan netto termasuk PPh Migas 56,83 persen. ''Jadi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pencapaian 2008 ini jauh lebih tinggi,'' jelasnya.
Apabila dibandingkan dengan rencana penerimaan bulanan yang didasarkan pada rencana APBNP 2008 dan pola penerimaan bulanan, realisasi penerimaan neto ditjen pajak tanpa PPh migas mencapai 110,69 persen, sedangkan penerimaan neto Ditjen Pajak termasuk PPh migas mencapai 114,72 persen. Pencapaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2007 yang masing-masing sebesar 90,7 persen dan 93,13 persen.
Pertumbuhan penerimaan neto ditjen pajak tanpa PPh migas periode Januari-Agustus 2008 sebesar 45,99 persen jauh di atas rata-rata pertumbuhan penerimaan periode yang sama selama lima tahun terakhir sebesar 17,30 persen.
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=96285
yudz83
September 10th, 2008, 11:21 AM
Ayo siapa mau berperan serta membangun ekonomi bangsa?? Indonesia masih sangat kurang pengusaha padahal itu pemain krusial di negeri ini.. :)
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan Indonesia masih kekurangan pengusaha. "Jumlah pengusaha hanya sekitar 400 ribu atau tidak sampai 0,5 persen dari jumlah penduduk. Idealnya jumlah pengusaha 2 persen disuatu negara. Jadi kalau penduduk kita diatas 200 juta, minimal kita harus punya sekitar 4 juta pengusaha," tandas Erwin pada acara buka puasa bersama 20 organisasi kepemudaan di Jakarta, Selasa (9/9) kemarin.
.
Menurut Erwin karena itulah Hipmi akan berjuang untuk mengubah mindset dan budaya yang belum berpihak pada kewirausahaan. Hipmi akan terus mendorong munculnya pengusaha baru dan berkualitas. Dia mengatakan Hipmi telah menelorkan banyak tokoh- tokoh nasional. "Hipmi akan
terus menelorkan pemimpin-pemimpin yang mampu mengangkat Indonesia ke tingkat dunia, utamanya dalam bidang ekonomi," kata Erwin.
.
Menurutnya Indonesia tengah menikmati stabilitas politik dibandingkan beberapa negara Asean lainnya. Kesempatan ini dapat digunakan oleh Indonesia untuk membangun ekonominya dengan menumbuhkan jiwa wirausaha. "Kita lihat sekarang terjadi goncangan politik secara regional di Thailand dan Malaysia. Di Filipina juga ancaman kudeta dapat terjadi setiap saat," katanya.
.
Erwin mengatakan, Indonesia seharusnya bersyukur sistim politiknya sudah berjalan dengan baik sehingga memungkinkan semua elemen bangsa berdemokrasi dengan tenang. "Apa yang terjadi di Thailand dan Malaysia sudah kita alami 10 tahun lalu dan kini kita menikmati stabilitas politik itu," kata dia.
.
Untuk itu tandas Erwin, stablitas itu sebaiknya dipakai oleh semua elemen bangsa termasuk organisasi kepemudaan untuk berkonsentrasi menata perekonomian nasional agar Indonesia menjadi negara terkuat dari sisi ekonomi di Asean. "Oleh karena itu semua elemen bangsa utamanya organisasi kepemudaan mulai menata tatanan ekonomi bangsa," imbuh dia.
.
Hal yang sama diutarakan oleh mantan Ketua Hipmi Sandiaga Uno. Dia mengatakan, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar dibandingkan beberapa negara Asean lainnya. "Tahun ini ada sekitar 80 juta orang yang pendapatannya menjadi 5.000 juta dollar AS dari 1.000 juta dollar AS atau dari tidak mampu menjadi mampu," kata Sandiaga. Bila para pemuda bersatu membangun ekonomi bangsa, Indonesia akan disegani didunia luar.
.
Hipmi menurut Erwin akan mengambil porsinya untuk memajukan kewirausahaan dikalangan para pemuda. "Semua kelompok organisasi kepemudaan harus bahu membahu meningkatkan produktifitas nasional agar Indonesia sekali waktu dapat bersaing dengan negara-negara besar lainnya," ungkap CEO Bosowa Group itu.
.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Idrus Marham menambahkan, sejak dulu organisasi kepemudaan seperti KNPI telah dikebiri kreatifitasnya oleh fasilitas dan dukungan dana dari pemerintah. Sejak reformasi bergulir, KNPI harus berjalan dengan idealisme dan pertarungan intelektual. "Hanya dengan cara begini, pemuda Indonesia dapat bersaing secara sehat dan dapat menelorkan pemimpin bangsa yang tanggu. Bukan karena intrik-intrik politik belaka," kata dia.
K14N
September 10th, 2008, 11:45 AM
Bagaimana ini?? Pasar saham Indonesia babak belur, bonyok nihh.... (Om VRS mungkin bs bantu kasih info, kerja di stock exchange kan?)
Rabu, 10/09/2008 16:10 WIB
IHSG Terjun Bebas ke 1.885
Dadan Kuswaraharja - detikFinance
Jakarta - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tak tertahan, sentimen negatif dari bursa regional terus menekan pasar saham Indonesia.
Pada perdagangan Rabu (10/9/2008), IHSG ditutup merosot hingga 73,709 poin (3,76%) ke level 1.885,043. Level ini terus mendekati level terendah IHSG sejak Agustus 2007. Indeks LQ 45 melemah 18,373 poin (4,62%) ke level 379,413, JII turun 16,704 poin (5,39%) ke level 292,974.
Perdagangan di seluruh pasar mencatat 69.465 kali transaksi pada volume 5.889 juta lembar saham senilai Rp 9,693 triliun. Sebanyak 29 saham naik, 186 saham turun dan 42 saham stagnan.
Analis saham Alfiansyah ketika dihubungi detikFinance mengatakan pelemahan indeks selain karena regional dan pelemahan ekonomi AS juga terjadi karena melemahnya nilai tukar rupiah.
"Banyak faktor yang mempengaruhi, termasuk melemahnya nilai tukar, masalah ketidakpastian bursa regional, akumulasi sentimen negatif masih membayangi kondisi pasar modal. Sejauh ini pada pasar masih banyaknya sentimen negatif sehingga indeks masih tertekan, " ujarnya.
Saham-saham yang turun harganya di top losers antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun Rp 450 menjadi Rp 3.500, Astra International (ASII) turun Rp 300 menjadi Rp 19.250, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 1.350 menjadi Rp 12.900, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.000 menjadi Rp 10.350, Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 7.350.
Sedangkan saham-saham yang mencatat penguatan harga antara lain PT Trada Maritime naik Rp 35 menjadi Rp 159, Indofood naik Rp 50 menjadi Rp 2.200, Bank Mandiri naik Rp 25 menjadi Rp 2.675(ddn/qom)
paradyto
September 10th, 2008, 12:27 PM
Bank Saudara posts 400% increase in profit
Jakarta (ANTARA News/Asia Pulse) - PT Bank Saudara, which is owned by the Medco Group, posted a 400 per cent increase in profit in the first half of this year compared to the same period last year.
The bank's profit rose to Rp28 billion (US$3.1 million) in the first six months from Rp7 billion on success in credit expansion, corporate communications officer Dedi Santka said.
Santka added the bank disbursed Rp1.3 trillion in the first half of this year up from Rp849 billion in the same period last year.
Source:
Business in Asia Today - Sept. 10, 2008
published by Asia Pulse
Dazon
September 10th, 2008, 01:47 PM
IHSG kok bisa anjok begitu... parah bgt dah. padahal ada beberapa orang mempredisksi IHSG akan tembus 3.000 di akhir tahun. walah BUMI kok bisa begitu? ada apa dengan BUMI?
David-80
September 10th, 2008, 04:54 PM
Anjlok semua, global selling, investor pada ngejauhin emergin market, apalagi yg maen di margin trading, karena margin trading adalah trader pinjam uang dari securitas untuk transaksi...jadi begitu down, para margin trader jual semua saham nya....daripada rugi
kalo mau beli saham, mending skrg...mumpung murah bgt...tapi saran agak ngejauh dulu, coba maen di bonds, masih bisa dapet yield
cheers
AceN
September 10th, 2008, 05:31 PM
^^ betul kata bung david. Justru orang2 kaya Warren Buffet malah seneng dengan kondisi kaya gini. Mumpung bisa beli dalam kondisi murah :D
Btw, Shanghai lebih terjun bebas lagi. Kalo ga salah udah terjun 62 % lebih dari sekitar 6.000 an taun lalu, skarang tinggal 2.000 an..
Mimihitam
September 11th, 2008, 10:51 AM
^^ Indonesia reach that "TIGER" status back in 1980's was because Oil Booming (We were highly depended on our natural resources) ... Our Industry was also nothing to be compared with 1990's. TOday, we are experiencing energy crisis. I hope, when we're wanting economic boom or what-so-ever,, please fix this energy crisis first. Make a better Gas and Diessel distribution linking to prospective factories and industrial sectors. And also preparing our Human Resources well.
I cant believe, we're hoping for economic boom, under current critical energy crisis. Fix this (not only for Java, but also all part of Indonesia). And please, do decentrialize .... the investment sector for core-infrastructure to be settled under Local Government's decision.
Well, sebenernya kita akan jadi maju karena adanya wirausaha
K14N
September 12th, 2008, 12:02 PM
IHSG semakin tak terkendali...
Jumat, 12/09/2008 16:21 WIB
IHSG Anjlok Tajam ke 1.804
Nurul Qomariyah - detikFinance
Jakarta - Bursa Saham Indonesia (BEI) mencatat kinerja paling muram di akhir pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat tercatat merosot hingga 100 poin lebih atau 5,5%.
Dan pada perdagangan Jumat (12/9/2008), IHSG akhirnya ditutup melorot 66,071 poin (3,53%) ke level 1.804,062. Indeks LQ 45 turun 15,59 poin (4,1%) ke level 360,414.
IHSG sempat menyentuh level terendahnya di 1767,249. Posisi ini berarti yang dibandingkan posisi per akhir Maret 2007 saat IHSG menyentuh 1.818.
Perdagangan di seluruh pasar mencatat 56.564 kali transaksi pada volume 2,666 miliar lembar saham senilai Rp 3,839 triliun. Sebanyak 40 saham naik, 156 saham turun dan 46 saham stagnan.
Saham-saham grup Astra masih terkulai, seperti Astra International (ASII) turun Rp 1750 menjadi Rp 15.600, United Tractor (UNTR) turun Rp 450 menjadi Rp 8.950, Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 50 menjadi Rp 12.750.
Sementara saham Bumi Resources (BUMI) yang sempat perkasa dengan mencatat kenaikan di awal perdagangan, akhirnya ditutup turun Rp 75 menjadi Rp 3.600.
Saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 350 menjadi Rp 5.050, PGN (PGAS) turun Rp 25 menjadi Rp 2.025, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 175 menjadi Rp 2.450, Timah (TINS) turun Rp 20 menjadi Rp 1.530.
Sedangkan saham-saham yang berhasil naik antara lain Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 200 menjadi Rp 20.750, Trada Maritime (TRAM) naik Rp 41 menjadi Rp 255, Semen Gresik (SMGR) naik Rp 25 menjadi Rp 3.525.
Bursa-bursa Asia cukup variatif. Indeks Hang Seng turun 0,2%, Nikkei-225 turun 1,25%, KOSPI naik 2,4%.
Analis saham Edwin Sinaga mengatakan, kemerosotan IHSG kali ini merupakan emosi para spekulan semata. IHSG belum memiliki arah pergerakan yang pasti.
"Siklusnya belum jelas arahnya mau kemana. Kemarin saham telekomunikasi dan perbankan normal, sekarang malah tidak normal. Jadi belum ketahuan maunya kemana," katanya ketika dihubungi detikFinance.
=NaNdA=
September 12th, 2008, 05:38 PM
^^ walah.. :nuts: yang turun malah BUMN.. :sleepy:
AceN
September 12th, 2008, 06:18 PM
heran..kok ga di suspend ya ? lagi itu Sensex drop lebih dari 2% langsung di suspend beberapa jam sama otoritas bursa.
rilham2new
September 13th, 2008, 02:48 PM
Global market memang lagi gak bagus tuh :) ..... Nanti juga (moga2) aja ekonominya naik lagi,, kalau gak sekarang... yaa mungkin habis Pemilu AS 2008. Ini cuman karang-karangan ku aja loh yaa ....
------------------------------------------------------------
Dari RIAUTERKINI ...
Bank Riau tahun lalu mendapat tekanan kuat dari Masyarakat karena menyimpan dana yang dia miliki dalam bentuk SBI. Bank Indonesia Cabang Pekanbaru mengkritik keras usaha Bank Riau ini. Alasannya, hal tersebut dapat membawa preseden tidak baik dalam arus lalu lintas keuangan di Provinsi Riau. Menurut Kepala Cabang BI Pekanbaru, alangkah baiknya kalau dana itu disetorkan pada bidang yang lebih menyentuh sektor riil (whatever sektor riil is ...).
Yaa, itu dulu waktu DIRUT BANK RIAU masih yang lama, dan ini dia DIRUT Bank Riau yang baru. Mencatat prestasi Sebagai Bank Pembangunan Daerah dengan aset terbesar ke-4 di Indonesia (dan terbesar nomor 1 di luar Pulau Jawa). Dulunya, beliau adalah petinggi Bank Internasional Indonesia (BII), sekarang penyaluran kreditnya kencang, mengakibatkan Riau semakin kebanjiran pendatang ....
Syukur sekali, dana Bank Riau yang di-SBI-kan tahun ini gak setinggi tahun kemaren..... Lepas dananya ke Publik, donk pak :D .... Tapi hati-hati,, Riau ini raja inflasi ... tar harga pada naek lagi :tongue2: ..oppss, kalau gitu lepas dalam bentuk kredit usaha rakyat saja pak :D
===
Jum’at, 12 September 2008 20:31
Bank Riau Optimis Salurkan Kredit Sesuai Target
Dari Rp 2,5 triliun target penyaluran kredit, hingga Agustus 2008, Bank Riau sudah salurkan kredit hingga Rp 1,6 triliun. Sisanya sebesar Rp 900 miliar optimis akan disalurkan hingga akhir tahun 2008 nanti.
Riauterkini-PEKANBARU-Direktur Utama Bank Riau, Erzon kepada Riauterkini Jum'at (12/9) mengatakan bahwa hingga perhitungan Agustus 2008 lalu, Bank Riau sudah mengucurkan kredit sebesar Rp 1,6 triliun dari jumlah yang ditargetkan sebesar Rp 2,5 triliun. Artinya masih ada dana sekitar Rp 900 miliar yang 'kudu' disalurkan Bank Riau untuk kredit guna pencapaian target kredit.
"Dari jumlah yang ditargetkan, Bank Riau dengan mengusung sistem manajemen SBU hingga Agustus lalu sudah mampu mengucurkan kredit hingga Rp 1,6 triliun. Atau mencapai 65% dari jumlah total target pengucuran kredit Bank Riau yang mencapai Rp 2,5 triliun. Sisanya, Bank Riau optimis akan mampu mengucurkan kredit sejumlah Rp 900 miliar hingga akhir tahun nanti," katanya di sela kegiatan buka bersama BMPD di Gedung Bank Indonesia Pekanbaru.
Menurutnya, Tim Komite Kredit adalah tim bentukan intern Bank Riau yang berfungsi membahas pengajuan kredit di atas Rp 5 miliar. Tim terbentuk beranggotakan pejabat tinggi (unsur pimpinan) bank Riau. Seperti direktur kepatuhan, direktur Keuangan, Kepala Devisi hingga Direktur Utama. Tim ini berhak memutuskan apakah pengajuan kredit perbankan yang nilainya di atas Rp 5 miliar di setujui atau tidak.
Tim Komite Kredit menurut Erzon akan membahas pengajuan kredit dari personalnya, prospek kredit hingga prediksi NPLnya. Dengan dilakukan pembahasan oleh tim bentukan intern Bank Riau, diharapkan akan dapat mengeliminir dan meminimalisasi resiko kredit dengan jumlah yang tinggi.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Madya Kantor Bank Indonesia Pekanbaru, Muhammad Nur mengakui, komposisi kredit bank Riau saat ini sangat bagus. Karena dari 2 skim kredit Bank Riau yaitu kredit proyek non pemda dan kredit proyek pemda didominasi oleh kredit proyek non pemda. Artinya adalah, jika sebelumnya kredit Bank Riau didominasi oleh kredit proyek pemda yang didominasi oleh proyek pembangunan fisik, kini kucuran kredit Bank Riau sudah merambah ke sektor perkebunan non K2I alias swasta.
"Kita sangat mendukung komposisi kredit bank Riau yang didominasi proyek non pemda. Karena dengan demikian, menjadi gambaran bahwa perubahan yang dibuat oleh manajemen Bank Riau sangat signifikan untuk sektor kredit. Ke depan diharapkan Bank Riau akan semakin meminimalisasi dananya yang di SBI-Kan," terangnya.
Data Bank Indonesia menyebutkan bahwa jumlah dana Bank Riau yang di SBI-kan terjadi trend penurunan sejak 2006 lalu. Dana Bank Riau yang di SBI-Kan pada tahun 2006 tercatat sebesar Rp 8,3 triliun. Tahun 2007 dana bank Riau yang di SBIkan menurun Rp 2,7 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,6 triliun. Tahun 2008 ini, hingga Juli 2008 tercatat dana Bank Riau yang di SBIkan mencapai Rp 3,7 triliun.***(H-we)
Dazon
September 14th, 2008, 12:24 PM
kalo mau beli saham, mending skrg...mumpung murah bgt...tapi saran agak ngejauh dulu, coba maen di bonds, masih bisa dapet yield
cheers
kalo menurut g sendiri jangan di beli sekarang, masih dalam tahap kritis. dibutuhkan beberapa minggu2 untuk melihat perkembangan. Jika sudah ada pertanda pertumbuhan Positif ada baiknya jgn berspekulasi dolo bahwa saham itu akan melejit keatas.
Gilee bener... BUMI naeknya SKYROCKET turunnya METEOR JATOH
novian
September 14th, 2008, 05:01 PM
Indonesia Turun di Peringkat 129
JAKARTA, TRIBUN - Hasil survei Bank Dunia (World Bank) dan International Finance Corporation (IFC) dalam “Doing Business 2009” menempatkan Indonesia pada urutan ke-127 tahun 2008 untuk kategori negara yang bersahabat untuk berbisnis sementara untuk 2009 peringkat RI turun menjadi ke-129 dari 181 negara yang disurvei. Bahkan Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam pada urutan 29 dan Malaysia urutan 20.
“Kami akui Indonesia melakukan sejumlah kebijakan dan perbaikan dalam iklim usaha namun negara lain juga melakukan reformasi perekonomian yang lebih cepat. Karena itu Pemerintah Indonesia harus mempercepat proses reformasi iklim investasi dengan menciptakan pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, dan menghapuskan kemiskinan,” kata Kepala Perwakilan IFC Indonesia Adam Sack di Jakarta, Rabu (10/9).
Singapura, menurut survei tersebut, untuk kesekian kalinya kembali menjadi idola pengusaha yang ingin membuka usaha baru atau mengembangkan bisnis mereka dengan menduduki peringkat pertama secara tiga kali berturut-turut, diikuti oleh Selandia Baru pada peringkat kedua, dan AS di peringkat tiga besar negara paling mudah dalam membuka bisnis baru.
Pemeringkatan negara ini merupakan indeks berbisnis yang dikalkulasi dari rata-rata sample setiap negara yang menyangkut perihal memulai bisnis, perjanjian lisensi, ketenagakerjaan, registrasi properti, akses mendapat kredit, perlindungan investor, pembayaran pajak, transaksi antar negara, pelaksanaan kontrak perjanjian bisnis, dan pengakhiran perjanjian bisnis.
“Semakin mudah semua hal yang menjadi syarat tersebut, maka semakin bersahabatlah negara itu untuk dijadikan negara tujuan berbisnis,” kata Adam.
Ranking terendah dari 181 negara yang di survei Bank Dunia dicapai oleh Republik Demokrasi Kongo, baik untuk tahun 2008 juga 2009. Terendah kedua diraih Afrika Tengah, selanjutnya berturut-turut untuk 2009 dan 2008 yakni Guinea Bissau, Republik Kongo, Burundi, Sao Tome dan Principe, Chad, Venezuela, Eritrea, Nigeria, Guinea, Timor Leste peringkat 170 pada 2008 dan 2009, Benin, Angola, Equatorial Guinea, Lao PDR, dan Kamreun peringkat ke 164 pada 2009 dan 158 pada 2008. Jepang menempati peringkat ke-12 pada 2009 dan 2008 setelah Iceland.
Thailand menempati urutan ke-13 pada 2009 dan 19 pada 2008, Finlandia ke-14 dan ke-13, Georgia ke-15 dan 21, Arab Saudi ke-16 dan 24, Swedia 17 dan 14. Bahrain ke-18 dan 17 serta Malaysia ke-20 dan 25. Israel, meski negaranya masih penuh konflik, menempati peringkat ke-30 pada 2009 dan 2008 mengalahkan Perancis 31 dan 31, Afrika Selatan 32 dan 35. Qatar yang upah pekerja dengan jabatan senior manajer tertinggi di dunia, hanya menempati peringkat ke-37 dan 38. Cina menempati urutan tertinggi ke-83 dan 90, Vietnam ke-92 dan 87, Serbia 94 dan 91 serta Papua New Guinea ke-95 pada 2009 dan 89 pada 2008. (persda network/aco)
peseg5
September 15th, 2008, 05:48 AM
Indonesia Turun di Peringkat 129
Gak heran dengan hasil survey ini. Sewaktu perjalanan ke Pantura akhir2 ini, masih ditemukan kok arisan DLLAJ untuk mengutip pungli, yg biasanya ditemui disetiap pintu masuk kota.
Bahkan recehan2 yg dilempar dari truk2 dan berserakan di jalan terlihat jelas masih saja mau dipungut oleh oknum2 DLLAJ tsb. Aparat tapi kayak pengemis saja, memalukan.:ohno:
Gimana nih memperbaikinya? Mulai darimana?
Zorobabel
September 15th, 2008, 11:04 AM
On the bright side, the Indonesian government may be able to reduce gasoline prices soon. The government is currently selling gas at $2.46 a gallon, while NYMEX reformulated gas prices are at $2.60.
AceN
September 15th, 2008, 11:36 AM
Bahkan recehan2 yg dilempar dari truk2 dan berserakan di jalan terlihat jelas masih saja mau dipungut oleh oknum2 DLLAJ tsb. Aparat tapi kayak pengemis saja, memalukan.:ohno:
di Tol Jagorawi aja masih sering nemuin. Di exit ramp yang mestinya ga boleh dilewatin bus, tinggal lemparin duit 10rb an. beres deh.. :(
---------------------------------------------------------------------
good news nih....smoga :colgate:
PPA Jadi Superholding BUMN
15/09/2008 11:03:48 WIB
JAKARTA, Investor Daily
Pemerintah menyiapkan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) untuk menjadi superholding bagi seluruh BUMN. Tahun depan, superholding BUMN tersebut diharapkan sudah terbentuk.
”Tahun depan mudah-mudahan sudah dapat izin dari DPR. Kami juga akan menambah lagi dana restrukturisasi yang akan dikelola PT PPA. Dengan demikian, PT PPA akan menjadi seperti Temasek di Singapura,” ujar Menneg BUMN Sofyan Djalil di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Sofyan, jika PPA memiliki banyak dana, restrukturisasi BUMN-BUMN bermasalah bisa dipercepat serta dapat menangani BUMN yang melakukan penawaran perdanan saham (IPO). ”Dengan demikian, PT PPA akan menjadi perusahaan besar bersakala internasional,” tutur dia.
Pemerintah tahun ini menyuntikkan Rp 1,5 triliun kepada PT PPA untuk menangani BUMN-BUMN bermasalah, termasuk dialokasikan guna merestrukturisasi PT Merpati Nusantara Rp 300 miliar.
”Pokoknya begitu PT PPA dapat menangani satu pasien, pasti yang lainnya akan antre. Saat ini, kan banyak BUMN yang butuh kenaikan kredit. Jadi, PT PPA hanya menjadi jembatan saja untuk menyehatkan BUMN bermasalah,” tutur dia.
Masa tuga PT PPA rencananya berakhir pada Februari 2009. Namun, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang masa tugas perusahaan itu dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 61/2008 pada 4 September 2008. PP tersebut menjadi dasar perpanjangan dan perluasan tugas PPA untuk merestrukturisasi dan merevitalisasi aset-aset BUMN.
PT PPA dibentuk pada 2004 berdasarkan PP No 10/2004 dengan modal dasar Rp 1 triliun dan modal disetor tunai dari APBN sebesar Rp 300 miliar. (c117)
K14N
September 16th, 2008, 05:16 AM
Akhirnya... Pelemahan IHSG TERBURUK di ASIA :bash:
Selasa, 16/09/2008 10:01 WIB
Kisruh Pasar Global, Pelemahan IHSG Terburuk di Asia
Indro Bagus SU - detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjungkal 113 poin pada 10 menit pembukaan perdagangan Selasa (16/9/2008). IHSG mencatat penurunan terburuk di Asia.
Pada perdagangan saham pukul 09.40 JATS, IHSG anjlok 113,112 poin atau 6,58% menjadi 1.606,142 yang merupakan posisi terendah sejak 2 November 2006 di posisi 1.607,696.
Bursa saham Asia yang ikut anjlok di perdagangan Selasa pagi adalah Hang Seng turun 6,19%, Seoul turun 5,61%, KOSPI turun 5,47%, Nikkei turun 5,06%, Shanghai turun 3,84%, STI Singapura turun 2,58% dan Taiwan turun 5,12%.
Pailitnya Lehman Brothers dan anjloknya harga komoditas mulai dari minyak, timah, nikel dan CPO menimbulkan spekulasi bahwa krisis kredit dan perlambatan ekonomi global masih akan memburuk.
"IHSG telah bergerak di bawah asumsi teoritis fundamental. Faktor-faktor sentimen negatif di pasar mendorong penurunan negatif ini. Jika mengacu pada faktor-faktor fundamental emiten, asumsi teoritis IHSG yang wajar ada di kisaran 2.000," ujar Analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali saat dihubungi detikFinance, Selasa (16/9/2008).
Pergerakan IHSG yang terus menurun diperkirakan didorong oleh sentimen negatif seperti kebangkrutan Lehman Brothers, akuisisi Meryll Lynch oleh Bank of America dan faktor-faktor lainnya seperti penurunan harga komoditas, minyak mentah hingga penurunan asumsi makro ekonomi yang mendorong beberapa negara melakukan revisi pada target-target pertumbuhan ekonominya.
"Sejauh ini sentimen positif di pasar modal dunia belum terlihat tanda-tanda kemunculannya. Mungkin jika The Fed hari ini memutuskan memangkas suku bunganya sebanyak 25 basis poin, akan memberikan pengaruh positif terhadap pasar modal," kata Mastono.
Namun Mastono mengakui bahwa sentimen positif dari penurunan suku bunga The Fed (FFR), hanya akan memberikan pengaruh jangka pendek terhadap pasar modal. Masih ada faktor-faktor makro ekonomi lainnya yang harus diintervensi agar kondisi pasar modal dapat kembali kondusif.
"Jika asumsi-asumsi makro telah terdapat kepastian, baru kondisi pasar modal dapat kembali kondusif," ujarnya.(ir/qom)
peseg5
September 16th, 2008, 05:54 AM
buat investor jangka panjang, bukannya ini waktunya yg paling pas untuk borong saham2?
AceN
September 16th, 2008, 06:22 AM
^^ iya, tapi saat ini nentuin bottom price nya itu yang susah :sleepy:
Anw, ngeri liat IHSG anjlok-anjlokan begini....:cry:
=NaNdA=
September 16th, 2008, 07:16 AM
gw baca di berita, bank2 investasi ternama di US bangkrut,,
tadi pagi di TV gw liat orang2 pada ngangkut box2 file..
kaya pegawai habis dipecat gitu... :D
btw, efek buat Indonesia buruk ya..? :?
akhyaree
September 16th, 2008, 09:25 AM
Indonesia Economic Growth Q2 2008
www.myindonesia.co.nr
:banana:
http://www.tdigrp.com/images/pic_export_pack.jpg
Indonesia's economic growth unexpectedly accelerated in the second quarter as rising prices and demand for the nation's coal, palm oil and rubber pushed exports to a record. Southeast Asia's largest economy expanded 6.4 percent from a year earlier, after growing 6.3 percent in the previous three months, according to the latest data from the Central Statistics Bureau
Indonesia's exports reached an unprecedented $12.9 billion in June as rising shipments to India and China offset weaker demand from the U.S., Asia's biggest market. Stronger overseas sales may allow the central bank to raise interest rates from an 18-month high to tame inflation. Indonesia's benchmark index rose 1.2 percent on the news in Jakarta, while the rupiah was unchanged at 9,185 per dollar.
The central bank raised its benchmark rate for a fourth month on Aug. 5, to 9 percent. Consumer prices jumped 11.9 percent in July from a year earlier and bank loans increased 32 percent. Wholesale-price inflation accelerated to 34.7 percent in June, the fastest pace in nine years.
Exports grew 16.1 percent in the second quarter, the fastest pace in three years. India and China bought 15 percent of Indonesia's exports in May, compared with 13 percent for the whole of 2006, according to the July data. The U.S. accounted for 11 percent of the nation's exports in May.
In Indonesia, cheap credit till May and rising sales of coal, palm oil and rubber boosted rural incomes and spending, particularly in provinces in Sumatra and the Indonesian part of Borneo island, which produce most of the nation's palm oil. Sumatra and Borneo also produce the biggest share of the country's rubber, with Sulawesi producing most of its cocoa.
Car sales surged to a record 54,631 units in June.
Still, a decline in commodity prices since the end of June may reduce farmer incomes and damp consumption, which accounts for about 70 percent of the $365 billion economy. Consumption growth slowed to 5.3 percent in the second quarter from a year earlier, compared with a 5.5 percent gain in the previous three months, according to today's report. Government spending grew 2.2 percent after rising 3.6 percent in the first quarter.
Palm oil in Malaysia has declined 42 percent from its March 4 record. Coal prices at Australia's Newcastle port, a benchmark for Asia, fell 2.6 percent last week to $156.16 a ton, according to the globalCOAL NEWC Index.
The International Monetary Fund, in its annual assessment of Indomesia this week, “welcomed the resilience of the Indonesian economy to the global slowdown and financial market turmoil, underpinned by strong macroeconomic fundamentals and the highly liquid and well-capitalised banking system”. It forecast growth would reach 6.3 per cent next year.
Exports accounted for 30 per cent of growth in the second quarter, far lower than in neighbouring countries, while consumer spending represented 60.3 per cent. Quarter-on-quarter growth was 2.44 per cent, compared with 2.19 per cent in the first quarter. Indonesia’s business confidence index rose to 114.55, its highest level for four years, indicating a strongly positive outlook, the national statistics agency said. A figure of 100 is considered neutral. Consumer confidence, however, fell to 93.84, its lowest level in three years, on the back of a 30 per cent fuel price increase in May and rising inflation.
A fall in commodity prices over the past two months will slow growth, but this will be partly compensated for by increased government spending on infrastructure, especially power. The finance ministry said this week the government had spent only 36.7 per cent of its 2008 budget in the first half of the year.
The budget deficit is now expected to be about 1.9 per cent of GDP this year up from the originally intended 1.5 percent in order to fund an additional education budget. This week the constitutional court ruled that, in line with the constitution, education spending must be 20 per cent of the government’s budget, a figure it has never reached in the last decade.
David-80
September 16th, 2008, 11:14 AM
This is usual guys, skrg penutupan udah naek lagi tuh... naek 0.95%
besok gua rasa udah pada normal...semalem emang banyak selling off di US, tapi ga seperti perkiraan gua...tadinya gua mikir bakal panic selling di Wall St, ternyata cuman 200-300 points doang...
hari ini malah kita satu2nya yg closing positive, yg laen negative semua
http://www.bloomberg.com/markets/stocks/wei_region3.html
cheers
AceN
September 16th, 2008, 12:08 PM
^^ iya vid, sesi II tadi rebound.
Sensex juga ijo kok hari ini, cuma berdua yang ijo sama IHSG :D
gw baca di berita, bank2 investasi ternama di US bangkrut,,
tadi pagi di TV gw liat orang2 pada ngangkut box2 file..
kaya pegawai habis dipecat gitu... :D
G juga liat tuh. Itu di Lehman Brothers London :D
K14N
September 16th, 2008, 12:24 PM
^^ Keren juga yah, akhirnya bisa naik 16 poin, padahal tadi pagi sempet turun 120 poin... :banana:
lombok
September 16th, 2008, 06:51 PM
REI: HGB warga asing diupayakan 70 tahun
oleh : A. Dadan Muhanda
JAKARTA (Bisnis.com): DPP REI tetap akan mencari celah agar jangka waktu hak pakai properti oleh warga asing bisa mencapai 70 tahun guna menarik lebih banyak penjualan.
Ketua Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria mengatakan batas hak guna bangunan yang berlaku sekarang yang 25 tahun untuk izin pertama diperkirakan tidak akan menarik lebih banyak warga asing untuk membeli hunian atau kantor di Indonesia.
Berdasarkan Perpres No.41/1996 tentang Pemilikan Rumah Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing di Indonesia, warga dari luar negeri memang bisa tinggal selama 25 tahun, kemudian dapat diperpanjang 20 tahun dan setelah itu bisa ditambah lagi 25 tahun.
“Kami akan coba mengusulkan pengurusan kepemilikan atau hak guna bangunan dapat sekaligus selama 70 tahun, meskipun formatnya tetap, 25 tahun pertama, perpanjang 20 tahun dan perpanjang lagi 25 tahun,” kata Teguh di sela acara buka puasa bersama anggota Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Rakyat Indonesia (Apersi), Senin malam.
Teguh mengatakan pengurusan izin hak pakai itu membutuhkan waktu lama dengan prosedur rumit, sehingga dikhawatirkan jika sudah memperoleh izin tinggal 25 tahun pertama, sulit mendapat perpanjangan. Oleh karena itu, kata dia, REI akan mengusahakan ada jaminan pengurusan izin sekaligus selama 70 tahun.(er)
rilham2new
September 17th, 2008, 07:59 AM
^^ Salah kamar gak tuh, beritanya ??
Sony Sjklw
September 17th, 2008, 09:31 AM
APBN 2009, Kontribusi BUMN Ditarget Rp 148 T
Dividen Pertamina Bakal Dikoreksi
JAKARTA -- Karena kinerjanya terus membaik, kontribusi BUMN ke penerimaan negara meningkat. Tahun depan, seluruh perusahaan pelat merah bakal ditarget memberikan kontribusi Rp 148 triliun.Menurut Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, target Rp 148 triliun diproyeksikan dicapai dari pos dividen sebesar Rp 33 triliun dan pos pajak Rp 115 triliun.
"Intinya, kontribusinya harus naik," ujarnya dalam paparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta Selasa 16 September. Berdasar data di Kementerian BUMN, target kontribusi BUMN Rp 148 triliun tersebut berarti naik 14,72 persen dibandingkan target 2008 sebesar Rp 129,1 triliun.
Meski begitu, kata Sofyan, salah satu yang mesti menjadi perhatian pemerintah dan DPR adalah kondisi ekonomi global, termasuk harga komoditas di pasar internasional. "Sebab, hal ini akan sangat memengaruhi kinerja BUMN dan berdampak pada proyeksi dividen," katanya.
Dia mencontohkan tren penurunan harga minyak akan memengaruhi kinerja keuangan PT Pertamina yang mengandalkan sektor hulu atau produksi migas dalam perolehan laba. "Kontribusi Pertamina cukup signifikan memengaruhi total setoran dividen," terangnya.
Dalam usulan terbarunya, Kementerian BUMN menargetkan Pertamina menyetor dividen Rp 14,9 triliun ditambah keuntungan akibat lonjakan harga minyak (windfall profit) sebesar Rp 3,3 triliun. Jadi, total target setoran Pertamina sebesar Rp 18,2 triliun.
Untuk target dividen sebesar Rp 33 triliun, BUMN perbankan ditarget menyetor sebesar Rp 4,1 triliun, dan BUMN nonperbankan di luar Pertamina ditarget Rp 7,7 triliun. Sedangkan tambahan target setoran BUMN non-Pertamina sebesar Rp 3 triliun.
Tapi, berkaca pada kondisi terkini, target setoran dividen Pertamina hampir pasti dikoreksi. Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengatakan, target setoran Rp 18,2 triliun dihitung dengan asumsi harga minyak di kisaran USD 140 per barel. Padahal, saat ini harga minyak turun di bawah USD 100 per barel. "Jadi, pasti akan dikoreksi. Mungkin 20 persen," ujarnya. (owi/sof/dwi)
http://cetak.fajar.co.id/news.php?newsid=75632
Sony Sjklw
September 17th, 2008, 09:34 AM
BI Turunkan Bunga Repo
Kiat Menjaga Likuiditas Perbankan
JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memenuhi janji mengoptimalkan repo surat berharga dan pasar uang antarbank untuk mengatasi kesulitan likuiditas.Mulai kemarin, bank sentral mengubah koridor suku bunga overnight menjadi simetris BI Rate plus minus 100 bps.
Dengan koridor tersebut, O/N Repo Rate diturunkan dari semula BI Rate plus 300 bps menjadi BI Rate plus 100 bps. Sedangan FASBI Rate disesuaikan dari semula BI rate minus 200 bps menjadi BI Rate minus 100 bps. Dengan BI Rate 9,25 persen saat ini, O/N Repo Rate turun menjadi 10,25 persen. Sedangkan FASBI Rate naik dari 7,25 persen menjadi 8,25 persen.
Direktur Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dyah N.K. Makhijani mengatakan kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kecukupan likuiditas di industri perbankan. Ini juga dilakukan setelah mencermati perkembangan pasar keuangan global.
"Untuk menjaga kecukupan likuiditas di industri perbankan dengan tetap menjaga efektifitas kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi, BI memutuskan menurunkan O/N Repo Rate dari semula BI Rate dan menyesuaikan FASBI Rate," kata Dyah di Jakarta, Selasa 16 September.
Chief Economist PT BNI Tbk Tony Prasentiantiono mengatakan, pelonggaran likuiditas di pasar lewat jalan optimalisasi repo (penjualan surat berharga yang nanti harus dibeli kembali) patut diapresiasi. "Bank bisa meminjam likuiditas dari BI dengan jaminan surat berharga," ujarnya.
Surat berharga dimaksud adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI) maupun Surat Utang Negara (SUN). Langkah ini dinilai lebih efektif bagi industri perbankan ketimbang melirik pinjaman lewat pasar uang antarbank (PUAB) yang bunganya terus terkerek dan jangka waktunya cukup pendek.
Dengan besaran bunga BI Rate plus 100 basis poin alias 1 persen, dia menilai cukup murah. "Patokannya, jika bunganya 2 persen di atas BI Rate (11,25 persen), berarti itu murah," jelasnya. Artinya, keputusan bank sentral cukup tepat karena bank-bank pasti tidak akan melirik repo untuk mendapatkan likuiditas jika bunganya menembus 12 persen.
Secara terpisah, Dirut PT Bank NISP Tbk Pramukti Surjaudaja mengatakan, industri jasa keuangan kini tengah menghadapi likuiditas yang sangat ketat. Pertumbuhan penghimpunan DPK dan pengucuran kredit timpang sangat lebar.
Untuk mengatasinya, bank melakukan banyak cara. Bagaimana dengan repo SBI? "Repo SBI memang dilakukan, tapi jauh lebih jarang," terangnya kemarin.
Dia mengatakan, mayoritas bank masih mengandalkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) karena itu yang paling aman. Namun, sambung dia, untuk kebutuhan jangka pendek bank memilih menggunakan dana pasar uang antarbank (PUAB). "Sebab, umumnya berbiaya bunga lebih rendah," ujarnya.
Wakil Ketua Umum Perbanas Jahja Setiaatmadja mengatakan, PUAB memang dipilih bank hanya untuk kepentingan jangka pendek karena jangka waktunya yang memang pendek.
Janji BI untuk mengoptimalkan repo window SBI memang mulai diwujudkan. Hanya saja, jalan tersebut hanya bisa dilakukan oleh bank-bank yang masih punya surat berharga tersebut. "Repo SBI bisa kalau bank punya SBI yang belum jatuh tempo," tutur Wapresdir PT BCA Tbk itu.
Karena itu, dia berpandangan bahwa dana masyarakat merupakan sumber DPK yang paling aman untuk memperkuat likuiditas. Terutama untuk dana-dana masyarakat bertenor jangka panjang.
Saat ini, dari data BI, komposisi deposito jangka pendek (tenor satu bulan) di industri perbankan masih sangat besar, mencapai Rp 486,25 triliun per bulan. Hal itu sangat berpotensi menimbulkan ketidaksinkronan antara penghimpunan DPK dan outstanding kredit.
Tony mengatakan, pasar uang antarbank (interbank call money) memang bisa menjadi jalan bagi bank-bank yang krisis likuiditas. Hanya saja, menurut dia, sekarang ini bunganya sebenarnya juga tinggi. Jika bank masih melirik pinjaman lewat PUAB ini, otomatis likuiditas di PUAB juga semakin kering. Alhasil, bunga PUAB ikut mendaki.
"Jadi, saya pikir itu bukan solusi yang baik," kata Tony. Sejak Juni, suku bunga overnight dalam PUAB memang terus naik. Bank sentral juga berupaya memperketat pinjaman lewat PUAB ini dengan mengerek FASBI. (sof/eri/fan)
http://cetak.fajar.co.id/news.php?newsid=75637
DJ_Archuleta
September 17th, 2008, 02:38 PM
Miracle economic growth: The rise of the Indonesian middle class
Cyrillus Harinowo , Jakarta | Tue, 09/16/2008 10:23 AM
The Grand Indonesia Shopping Town is likely to be the latest addition to the string of Indonesian shopping malls. But this is not just an ordinary addition. The Grand Indonesia is currently the largest and most luxurious shopping mall in the country, if not in Southeast Asia.
The complex, which includes the BCA Tower, named after Indonesia's second largest bank, Kempinsky Hotel and high rise Kempinsky Residence occupies a total space of 650,000 square meters.
The mall itself boasts a leasable space of 250,000 square meters. By comparison, Mall of America, the largest shopping mall in the United States located in Minneapolis, occupies a gross space of 405,000 square meters and leasable space of 225,000 square meters.
Shortly before that, another luxurious shopping mall also opened. Pacific Place Mall sits strategically across from the Jakarta Stock Exchange and has also become another shopping destination as well as a place to stop for coffee or meet friends. Not very long ago, two luxurious shopping malls, Senayan City and Pondok Indah Mall II, were also added to the list of high-end malls.
This phenomenon takes place alongside the sharp increase in domestic automotive sales. By the first semester 2008, domestic car sales increased by about half to almost 300,000.
Motorcycle sales also jumped by 44 percents. In fact, Indonesia in the month of June and July already ranked number one in ASEAN for monthly domestic car sales, overtaking Thailand and Malaysia.
This news contrasts sharply with the media's continual barrage that Indonesia is still economically depressed due to crises, slow growth and other negative sentiments. What phenomenon can explain that?
We can see a phenomenon of a very dynamic growth. The Central Bureau of Statistics recently issued the second quarter's macro indicators which showed a real economic growth of 6.4 percent.
This is a slight increase from the previous quarter, in fact also the previous year, which posted a growth rate of 6.3 percent.
However, people seem to overlook that beside the number, there was also a sharp increase in the nominal GDP (GDP at the current value). The first quarter's nominal GDP growth reached 22.5 percent while the second quarter of 2008 reached a growth rate of 27.8 percent.
This performance was significantly higher than the previous years; in 2005 the nominal growth was 22.5 percent, 19.8 percent in 2006 and 18.5 percent in 2007.
In the first semester of 2008, Indonesia posted a nominal GDP of Rp. 2,357 trillion. This performance seems to ensure the achievement of around Rp. 4,800 trillion GDP for the whole of 2008.
At the current U.S. dollar rate to Rupiah (assumed to be Rp. 9,200 for each U.S. dollar), the Current U.S. dollar GDP translates to around US$520 billion for the whole year, compared to around $432 billion in 2007.
Therefore, this number will exceed the prediction of the Economist Magazine which forecasted Indonesian GDP would be around $460 billion for the whole of 2008.
The dynamic growth is a result of two active drivers of growth, which is a population-based economy and a resource-based economy. The first driver pushed forward the Javanese economy, while the second has mostly taken place outside of Java. Food crop agriculture, retail sector, manufacturing, transportation and telecommunication, hotels and restaurants as well as other services contribute largely to the population-based economy, while estate crop agriculture and mining represents the resource-based economy.
The fast growth of the economy in the past few years has driven the income of all segments of the population. The average income per capita rose to $1,946 in 2007 from less than $1,000 five years ago. This year, the income per capita may rise to around $2,300 -- $2,400.
How do we define the Indonesian middle class? A.C.Nielsen, the authority in the market survey industry, defines the middle class as that which belongs to groups A and B of their consumer segment. The A class consumers spend more than Rp. 3.45 million every month. That translates to around Rp. 41 million or around $4,450. The B class spends less than Rp. 3 million every month. To be conservative, I would only classify the A class as the appropriate Indonesian middle class. With this definition, how many people fall under the category of middle class?
In 2008, with the average income per capita between $2,300 and $2,400, the top 10 percent of the population, which is 22.5 million in all, will earn around $7,000 per capita. These people certainly fall under the category of middle class.
The second 10 percent will receive an income of around $3,500. For this second group, the average income is less than $4,450 as required by the definition of a middle class.
However, the distribution of income within this group will ensure that at least half of the population in this group will receive an income which falls under the middle class category. Thus, the whole population of the middle class will amount to around 35 million people. That number is significantly larger than the whole population of Malaysia.
What are the prospects for going forward? In 2010, just two years away, Indonesian average income per capita is predicted to reach over $3,000. If this prediction is correct, there will be more than 45 million people who can be called middle class. This is certainly a significant addition to the current legions of the middle class.
If we currently see the success penetration of Starbucks, Coffee Bean, Pizza Hut and McDonald's, we can predict that businesses which cater to the high-end earners will be populated even more in the coming years.
From a quiet place two or three years ago, now Starbucks counter in Puri Indah Mall is always packed especially on the week ends. This phenomenon will continue over time with the continued increase in the number of middle class people.
For those business people with a sharp nose, they struck gold in this market. Aside from the foreign "branded" chain restaurants, we can also witness the rise of local branded ones which include Solaria, Tamani Kafe, Satay House Senayan, Gado-gado Boplo, Bengawan Solo Cafi and others. We can also see the rise of fitness clubs, cosmetic medicine (RH Clinics, for examples), Jakarta Eye Centers and many others. The list will be endless.
The Indonesian middle class is really rising. And it will rise faster.
AceN
September 17th, 2008, 06:25 PM
^^ although there are a lot of mistyping :nuts: the article is :okay:
peseg5
September 18th, 2008, 04:05 AM
^^ Sebenarnya yg kurang diberitakan adalah exposure kemajuan2 daerah oleh koran2 harian nasional... Pertumbuhan ekonomi di luar jawa kalau tidak salah mengalami peningkatan yang lebih baik dibanding pulau jawa sendiri. Dan ini kurang ter-expose oleh media nasional yg basisnya di P. Jawa...
AceN
September 18th, 2008, 07:53 AM
^^ untungnya hal itu lebih terexpose di SSC dengan adanya forumer2 dari luar jawa :cheers:
paradyto
September 20th, 2008, 12:50 AM
Indonesia textile product exports up 6.16 %
Pacitan, E Java (ANTARA News) - Indonesia`s textile and textile product exports in the first seven months of 2008 rose 6.17 percent to US$6.06 billion from US$5.71 billion in the same period last year, an Industry Ministry official said.
Textile and textile product exports contributed 22.38 percent of the country`s non-oil/non-gas exports and 14.45 percent of industrial product exports over the period, the ministry`s director of industrial and mining product exports, Hartojo Agus Tjahjono said here on Friday.
In the past five years, textile and textile product exports contributed 12.45 percent of the non-oil/non-gas exports and 14.81 percent of the industrial product exports annually, he said.
He said improving productivity, efficiency and competitiveness was a key to penetrating the increasingly competitive global market for textiles and textile products.
Hartojo Agus was here to present 75 sewing and embroidering machines worth Rp250 million from the ministry to small and medium enterpreneurs at Gayuhan village.
"This assistance is aimed at supporting SMEs to produce textile products of high quality," he said.
The aid was symbolically handed over to Pacitan district head H Sujono.
"Making an efficient and optimum use of sewing and embroidering machines will help improve the quality of SMEs` products, increase their capacity and production which will eventually boost the nearby people`s economy," he said.
DJ_Archuleta
September 20th, 2008, 03:21 PM
Military purpose, influence in Indonesia
Juwono Sudarsono , Jakarta | Fri, 08/29/2008 10:43 AM |
The Indonesian Defense Force was established from a myriad group of student brigades, guerrilla militias and irregulars representing ethnic, religious and provincial identities preceding proclamation of Indonesian independence in Aug. 1945.
These guerrilla forces and student brigades were imbued with the guiding ethos that defined latter-day Indonesian defense policy: "Total people's warfare", and later on, "total defense and security".
All services of the Indonesian Military (TNI) are at once a fighting force (tentara kejuangan), a people's force (tentara rakyat), a national force (tentara nasional) and a professional force (tentara profesional). Professionalism is deliberately subsumed under the preceding three guiding elements. Every single Indonesian soldier, sailor, airman and marine is honor-bound to think and act first and foremost as an Indonesian, to be "first in war, first in peace and first in emergency response".
My Indonesian Army colleagues who went through their formative years at the National Military Academy in Magelang continue this important political commitment to serve as first and foremost as Indonesians. Like their colleagues who graduated from the Naval Academy in Surabaya and from the Air Force Academy in Yogyakarta they have sworn to defend the tenets of our national ideology -- Pancasila.
Defending Pancasila is an indispensable basis of our sense of national identity as well as a reinforcement of our sense of national purpose. But it has its practical applications as well, not least in two critical areas in contemporary Indonesia, which the TNI is currently engaged in.
First, the TNI is committed to graduated political democratization to support governance and capacity building. At all levels of government, the role of the Indonesian soldier has shifted from leading and dominating to one presenting itself more in support of the four pillars of democratic government and the rule of law: The police, the prosecutor's office, the court system and civil society.
Every regent and district officer in our 380 second tiers of governance recognizes the need to emulate the Indonesian soldier's code of ethics. Every Indonesian remains proud of one's ethnic, provincial or religious origin. But once a person is enlisted or commissioned into the profession of arms, the national interest transcends the interests of one's particular primordial proclivities.
Thus, Javanese, Sundanese, Sumatranese or Kalimantan junior officers hailing from a particular place of birth are expected to serve in at least four or five different areas of command throughout eastern, central and western Indonesia before he receives his first star. Likewise, provincial, district and sub-district bureaucracies are now expected to put in place similar tour-of-duty practices. It is all-important for capacity building and for concrete "ground-level democratization".
Second, the Indonesian military is committed to help accelerate sustainable economic growth. Not just growth with equity, but more critically growth through equity. Only robust underpinnings of social and economic growth at the lowest level can secure political democratization over the medium and long term.
Measured military presence and security governance at each local cultural context are key elements of measured transformation in the political and economic realms. Security governance defines the success rate of governmental delivery in providing basic economic needs and essential services.
Indonesia's political and economical national transformation requires that the military commit itself to enabling growth through equity. Our society cannot realize sustained growth without adequate provisions which deliver basic human needs (potable water, electricity, affordable public housing, primary health care and quality education) to the 35 million Indonesians who live on less than US$2 a day.
We are in a constant process of nation-building and nation-replenishing. From Aceh to Papua, soldiers teach arithmetic, help rebuild villages, devise irrigation systems and provide primary health care. Each deed reinforces the local's sense of actively partaking in replenishing a more confident and vibrant Indonesian nation.
Security governance applying "soft power presence" is imperative. Religious, cultural, ethnic and provincial diversity imply that levels of thresholds of tolerance regarding what constitutes equity and fairness can be both tenuous and fickle at the ground level.
Our affirmation of national state identity is not based on a single religion. Islam in Indonesia co-exists and is enriched by day-to-day interaction with the precepts, rituals and symbols of other faiths: Catholicism, Protestantism, Hinduism, Buddhism and Confucianism. Neither is it based on a single ethnic-cultural stream such as the Malay heritage, though large areas of western Indonesia find affinity with Malay culture. There are more Melanesians in eastern Indonesia than in all of Melanesia.
Military presence and security governance is linked to graduated social justice in order to narrow the vertical "rich-poor gap", as well as Indonesia's west-east divide where differentiated knowledge and skills' opportunities may result in the rupturing of the nation's sense of unity and cohesion.
Security governance provides that degree of political stability which facilitates efforts to quadruple our GDP per capita from currently US$2,000 to $8,000, and to quadruple the size of our middle class from 12 percent to 46 percent of the population.
In addressing domestic terrorism, interdicting terrorist financial networks, disrupting their organizational capacity and arresting suspected perpetrators must be conducted on the terms of Indonesian authorities, not on the insistence of foreign countries. Discreet and timely foreign security assistance rendered "on tap" are much more legitimate and enduring than assistance implemented through "on top" pressure.
Each generation of Indonesian military leaders is committed to "nation replenishing" and indeed "nation-recreating". An Indonesian officer corps that is based on an outward-looking and self-confident nationalism in this globalized world can learn much from their colleagues represented in this distinguished gathering.
For reasons of history, culture, tradition and geography we may differ in the way we prepare for war. But in matters of human security, we must retain our universal humility.
David-80
September 20th, 2008, 05:31 PM
^^ Good article, some of the soldiers are now transforming to be in a social group of people doing humanitarian jobs in remote province, but some of them are taking part time job, in securing private companies assets nationwide. Therefore, dont be surprise when you see a lot of soldiers in a company like freeport, Chevron, etc.
I dont blame them, their wages are minimum in the military, they need to find more jobs so they can feeds the family, i think in someway, it is good for them.
cheers
rilham2new
September 21st, 2008, 07:00 AM
^^ Sebenarnya yg kurang diberitakan adalah exposure kemajuan2 daerah oleh koran2 harian nasional... Pertumbuhan ekonomi di luar jawa kalau tidak salah mengalami peningkatan yang lebih baik dibanding pulau jawa sendiri. Dan ini kurang ter-expose oleh media nasional yg basisnya di P. Jawa...
Riau pertumbuhan ekonomi 2007, kemaren 8.35% .... Pekanbaru berada pada level 8.8% .... Riau sih udah 3-4 tahun belakangan memang 8% ..
Kepulauan Riau itu lebih hebring lagi 8.5% lebih ....
Sumatra Utara kayaknya tinggi juga tuh. Tahun 2005, mereka sempet 10% kalau gak salah ...
NAD juga lumayan :cheers: ...
Tapi emang gak seGILA VIetNam :tongue2:
DJ_Archuleta
September 21st, 2008, 07:54 PM
Global liquidity crisis having small impact on Indonesia
Jakarta (ANTARA News) - Vice President Jusuf Kalla said Friday the current global liquidity crisis has only led to a 0.1 percent drop in Indonesia`s gross domestic product (GDP).
"Indonesia is one of the Asian countries recording the lowest declines in GDP," he told the press after Friday prayers at his office here.
The decline in Indonesia`s GDP to 6.3 percent from 6.4 percent previously was not sharp compared to the economic setbacks in the United States, European countries, Japan, China, India and Thailand which were all directly affected by the liquidity crisis, he said.
"As the largest exporting country, China saw a 2 percent drop in its GDP," he said.
The global liquidity crisis was having a small impact on Indonesia`s GDP because, unlike many developed nations, Indonesia had not placed capital in US financial institutions such as Lehman Brothers and AIG, he said.
He added, however, the liquidity crisis would reduce US investment in Indonesia and depress the prices of Indonesia`s exports to the US.
Commenting on the fall in global crude prices, the vice president said he could as yet not say whether it would have an impact on the fuel subsidy provided for in the 2008 state budget.
"The global crude prices are still fluctuating above US$100 per barrel. Last night they fell to US$97 a barrel. Meanwhile, the assumed oil price in the state budget is based on the average crude price. In addition, the amount of oil subsidy set in the state budget is Rp150 trillion," he said.
(*)
DJ_Archuleta
September 25th, 2008, 07:01 PM
Indonesia to attract $20 billion of FDI in 2009
Foreign direct investment (FDI) in Indonesia rose more than 160 percent in the January-June period from a year ago, helped by strong interest in telecomunications, the head of the state investment agency said on Monday. Reporting by Muhamad Al Azhari, writing by Andreas Ismar, Editing by Ed Davies for Reuters (07/14/08).
Muhammad Lutfi said total investment, which includes domestic investment, rose by more than 80 percent in the first half this year compared with the same period in 2007.
The agency, also known as BKPM, said FDI rose to $9.78 billion in the first five months from $3.70 billion in the same period a year ago.
"The telecom sector is still dominating (investment)," he told reporters on the sidelines of a parliamentary hearing.
The telecoms sector has attracted foreign investors because of the relatively low mobile phone penetration of Indonesia's large population of about 226 million.
"It's a sign that foreign investors trust us," he added.
Lutfi said that he was optimistic that total investment would rise 15 percent to nearly $16 billion in 2008, and reach $20 billion in 2009 on the back of political stability and an improving economic outlook. ($1 = 9,145 rupiah).
DJ_Archuleta
September 27th, 2008, 08:38 AM
Hasil Pembahasan Awal RAPBN 2009
Jakarta, 26/9 (ANTARA) - Sejak tanggal 3 s/d 18 September 2008, Pemerintah bersama-sama dengan Panitia Kerja DPR RI telah membahas Asumsi Dasar, Pendapatan, Defisit dan Pembiayaan dalam RAPBN 2009. Pembahasan telah dilakukan secara intensif, melibatkan berbagai kementerian/lembaga terkait. Akhirnya dalam rapat pleno Panitia Anggaran DPR RI pada tanggal 22 September 2008 telah disepakati beberapa besaran pokok RAPBN 2009 sebagai berikut.
ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO ;
Pada saat pembahasan RAPBN 2009, khususnya mengenai asumsi ekonomi makro tahun 2009, situasi perekonomian dunia dalam kondisi ketidakstabilan yang berasal dari gejolak di pasar keuangan Amerika Serikat yang berimbas pada gejolak di pasar global. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut dan dampaknya pada perekonomian Indonesia, serta upaya-upaya yang akan ditempuh Pemerintah, Pemerintah dan DPR sepakat untuk menetapkan besaran pertumbuhan ekonomi tahun 2009 sebesar 6,3%. Pertumbuhan tersebut akan didukung oleh peningkatan pertumbuhan investasi yang terus dioptimalkan, serta konsumsi rumah tangga dan ekspor barang dan jasa yang masih kuat. Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tahun 2009 akan didukung dari sector pertanian, pertambangan, manufaktur, serta jasa lainnya seperti transportasi dan telekomunikasi.
Tingkat inflasi tahun 2009 ditetapkan sebesar 6,2%. Perkiraan tingkat inflasi tersebut didukung oleh kebijakan administered price yang minimal, dan terjaganya pasokan dan arus distribusi barang. Sedangkan, rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (US$) ditetapkan rata-rata Rp.9.150,0/US$. Perkiraan tersebut disebabkan karena pilihan kebijakan moneter dan suku bunga untuk mencapai inflasi rendah dan mendorong sector riil. Suku bunga SBI-3 bulan diperkirakan berada pada tingkat rata-rata 8,0%, sejalan dengan menurunnya ekspektasi inflasi dan upaya mendorong sector riil.
Selanjutnya, harga ICP diperkirakan sebesar US$95,0 per barel mengikuti kecenderungan fluktuasi harga minyak dunia akhir-akhir ini serta prospek ke depan. Sedangkan, lifting minyak sebesar 960 ribu barel per hari, dengan telah memperhitungkan swap gas antara PT Conoco Philips dan PT Chevron Pacifik Indonesia serta tambahan potensi lifting minyak sebesar 10 ribu barel per hari.
BESARAN APBN 2009 ;
Pendapatan Negara dan hibah dalam tahun 2009 ditetapkan sebesar Rp.1.027,4 triliun, yang berasal dari penerimaan perpajakan Rp.734,2 triliun, PNBP Rp.292,3 triliun, dan hibah Rp.0,9 triliun. Target penerimaan perpajakan tersebut telah memperhitungkan potential loss akibat kebijakan penurunan tarif PPh, peningkatan PTKP dan perluasan basis pajak pada amandemen UU PPh dan UU PPN. Namun demikian, penerimaan perpajakan tersebut masih tetap tumbuh 20,4% dibandingkan APBN-P tahun 2008 sejalan dengan pemberian insentif fiscal kepada dunia usaha dan perorangan berpendapatan menengah ke bawah.
Dalam rangka pencapaian penerimaan sector migas, pemerintah dan DPR sepakat untuk membuat regulasi yang mengatur tentang standar atau norma universal yang diberlakukan terhadap kewajaran unsur biaya dalam perhitungan beban pajak dan cost recovery. Berdasarkan tingkat harga ICP US495/barel dan lifting minyak 960 ribu barel per hari, serta cost recovery sebesar US411,7 miliar maka penerimaan migas pada tahun 2009 ditetapkan sebesar Rp.269,3 triliun.
Dalam tahun 2009 subsidi BBM disepakati sebesar Rp.89,4 triliun, dengan memperhitungkan tingkat harga ICP US495/barel dan nilai tukar rupiah rata-rata Rp.9.150/US$, serta penurunan besaran alpha BBM dari 8,36% menjadi 8,0%. Sedangkan, subsidi Lisrik ditetapkan sebesar Rp.52,2 triliun dengan mengupayakan peningkatan pasokan gas dan batu bara untuk kebutuhan PLN serta langkah-langkah penghematan dan korporasi. Untuk mengamankan target subsidi listrik tersebut akan dicadangkan dana risiko fiscal sebesar Rp.5,3 triliun untuk kepastian penyediaan DMO ketersediaan inkind batubara 30 persen.
Berdasarkan perhitungan Pendapatan Negara dan Hibah sebesar Rp.1.027,4 triliun dan Belanja Negara sebesar Rp.1.119,2 triliun, maka defisit anggaran dalam tahun 2009 diperkirakan menjadi Rp.91,8 triliun atau 1,7% dari PDB. Hal ini berarti dapat diturunkan dari target defisit anggaran dalam RAPBN 2009 sebesar 1,9% dari PDB. Penurunan target defisit RAPBN 2009 tersebut berdampak pada pengurangan rencana penerbitan SBN sebesar Rp.9,0 triliun.
Dalam rangka menutup defisit anggaran 1,7% dari PDB tersebut, pembiayaan defisit tahun 2009 akan bersumber dari pembiayaan non utang sebesar negative Rp.1,2 triliun dan pembiayaan utang (neto) sebesar Rp.93,0 triliun. Namun dalam pembahasan, DPR meminta Pemerintah dan Bank Indonesia membatalkan SU 007 dan merestrukturisasi SU 002 dan SU 004 dengan tingkat bungan 0,1% atau dengan benchmark dan term and condition seperti SRBI 001. Bank Indonesia dan Pemerintah sepakat menyampaikan proposal penyelesaian restrukturisasi SU tersebut pada pembahasan bungan utang RAPBN 2009 dalam Pnitia Kerja Belanja Pemerintah Pusat dengan mengundang BPK RI.
POKOK-POKOK KEBIJAKAN APBN 2009 ;
- Ditengah gejolak di pasar keuangan dunia yang belum lama
Terjadi, Pemerintah akan berupaya maksimal untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% pada tahun 2009.
- Peningkatan penerimaan perpajakan yang cukup signifikan dalam tahun 2009 tetap akan memperhatikan kemampuan dunia usaha dan masyarakat, serta pemberian insentif untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
- Untuk mengamankan pelaksanaan APBN 2009, telah dicadangkan dana risiko fiscal sebesar Rp.17,3 triliun untuk mengatisipasi perubahan asumsi dasar ekonimi makro, fluktuasi harga minyak dan pencapaian lifting minyak, serta penyediaan DMO batubara sebesar 30 persen untuk pasokan listrik.
- Anggaran pendidikan dapat dipertahankan pada tingkat 20% dari APBN.
- Penurunan degisit anggaran menjadi 1,7% dari PDB memberikan signal positif bagi pasar keuangan dan dunia usaha, untuk mengantisipasi gejolak di pasar keuagnan dunia.
DJ_Archuleta
September 27th, 2008, 09:18 AM
Govt to help empower micro, small businesses
Wahyoe Boediwardhana , The Jakarta Post , Surabaya | Sat, 09/27/2008 11:58 AM | Business
Indonesia is working toward initiating a new program to empower micro and small businesses, earmarking up to Rp 381 billion (around US$40.4 million) to finance the project.
State Minister for Cooperatives and Small and Medium Enterprises Suryadharma Ali said in Surabaya recently that the program was subject to approval by the Finance Ministry and would be used to help more than 2,000 businesses across Indonesia. Suryadharma's ministry would oversee the initiative.
"The fund is to help them to get over hurdles that SMEs face in getting sources of capital," Suryadharma said.
"As you know, their biggest obstacle is access to finance."
The ministry's data shows that less than 5 percent of more than 40 million micro, small and medium enterprises in Indonesia did not have secure access to bank lending, making it harder for them to compete with their bigger rivals.
The fund would target 2,038 creditors nationwide, with the management and supervision to be handled by the ministry's Revolving Fund Management Agency (LPDB).
LPDB director LPDB Fadjar Sofyan said he was upbeat about the program, "because there would be a verification from the receiving parties about their usage of funds".
"There would be no excuses for unreported funds," Fadjar said.
"If the funds are used, the businesses will need to report what they were used for. Unused funds that are not returned and can not be verified would be categorized as a state loss due to corruption."
K14N
September 29th, 2008, 05:12 AM
Senin, 29/09/2008 09:05 WIB
RI Tujuan Investasi dan Bisnis Utama di Asia
Dadan Kuswaraharja - detikFinance
Tianjin - Indonesia kini sudah berkembang menjadi emerging market. Indonesia kini merupakan tujuan investasi dan tujuan bisnis utama di Asia.
"Indonesia kini semakin sejajar dengan negara-negara berkembang utama seperti China, Brazil, Rusia dan India," ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi dalam pertemuan Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) yang dihadiri para pengusaha terkemuka dunia di Tianjin China Minggu 28 September.
Seperti disebutkan siaran pers dari BKPM, Senin (29/9/2008), dalam diskusi tersebut Indonesia diakui sebagai salah satu contoh frontier market yang paling potensial di Asia 15 – 20 tahun yang lalu, dan sekarang sudah dikategorikan sebagai emerging market.
Frontier market adalah istilah untuk negara-negara berkembang yang sebelumnya
kurang dilirik investor karena berisiko tinggi namun mulai menunjukkan pertumbuhan tinggi setelah melakukan reformasi di berbagai bidang.
Menurut Harish Manwani, frontier market memiliki karakter atau segmentasi yang sangat
spesifik dan unik dimana investor dapat membangun pangsa pasar yang besar sekaligus
mendapatkan pengalaman dan pengetahuan berharga untuk dijadikan Global Best Practices.
"Frontier market menurut saya adalah term baru yang dapat membantu para investor untuk mengerti dan mengkaji suatu negara dengan lebih mudah dan lebih cepat sebagai tujuan investasi. Walaupun selama ini Indonesia sudah dikenal sebagai emerging market, masih banyak sektor dan segmen pasar di Indonesia yang dapat dikategorikan frontier market khususnya di sektor energi, agrikultur dan barang konsumen," kata Lutfi.(ddn/ddn)
K14N
September 29th, 2008, 09:51 AM
INA berada di peringkat 4 Asia Tenggara dari 131 negara yg disurvei dalam hal tingkat daya saing negara.
Sumber: http://www.gcr.weforum.org/
Global Competitiveness Index 2007-2008
Country/Economy Rank Score
United States 1 5.67
Switzerland 2 5.62
Denmark 3 5.55
Sweden 4 5.54
Germany 5 5.51
Finland 6 5.49
Singapore 7 5.45
Japan 8 5.43
United Kingdom 9 5.41
Netherlands 10 5.40
Korea, Rep. 11 5.40
Hong Kong SAR 12 5.37
Canada 13 5.34
Taiwan, China 14 5.25
Austria 15 5.23
Norway 16 5.20
Israel 17 5.20
France 18 5.18
Australia 19 5.17
Belgium 20 5.10
Malaysia 21 5.10
Ireland 22 5.03
Iceland 23 5.02
New Zealand 24 4.98
Luxembourg 25 4.88
Chile 26 4.77
Estonia 27 4.74
Thailand 28 4.70
Spain 29 4.66
Kuwait 30 4.66
Qatar 31 4.63
Tunisia 32 4.59
Czech Republic 33 4.58
China 34 4.57
Saudi Arabia 35 4.55
Puerto Rico 36 4.50
United Arab Emirates 37 4.50
Lithuania 38 4.49
Slovenia 39 4.48
Portugal 40 4.48
Slovak Republic 41 4.45
Oman 42 4.43
Bahrain 43 4.42
South Africa 44 4.42
Latvia 45 4.41
Italy 46 4.36
Hungary 47 4.35
India 48 4.33
Jordan 49 4.32
Barbados 50 4.32
Poland 51 4.28
Mexico 52 4.26
Turkey 53 4.25
Indonesia 54 4.24
Cyprus 55 4.23
Malta 56 4.21
Croatia 57 4.20
Russian Federation 58 4.19
Panama 59 4.18
Mauritius 60 4.16
Kazakhstan 61 4.14
Uzbekistan 62 4.13
Costa Rica 63 4.11
Morocco 64 4.08
Greece 65 4.08
Azerbaijan 66 4.07
El Salvador 67 4.05
Vietnam 68 4.04
Colombia 69 4.04
Sri Lanka 70 3.99
Philippines 71 3.99
Brazil 72 3.99
Ukraine 73 3.98
Romania 74 3.97
Uruguay 75 3.97
Botswana 76 3.96
Egypt 77 3.96
Jamaica 78 3.95
Bulgaria 79 3.93
Syria 80 3.91
Algeria 81 3.91
Montenegro 82 3.91
Honduras 83 3.89
Trinidad and Tobago 84 3.88
Argentina 85 3.87
Peru 86 3.87
Guatemala 87 3.86
Libya 88 3.85
Namibia 89 3.85
Georgia 90 3.83
Serbia 91 3.78
Pakistan 92 3.77
Armenia 93 3.76
Macedonia, FYR 94 3.73
Nigeria 95 3.69
Dominican Republic 96 3.65
Moldova 97 3.64
Venezuela 98 3.63
Kenya 99 3.61
Senegal 100 3.61
Mongolia 101 3.60
Gambia, The 102 3.59
Ecuador 103 3.57
Tanzania 104 3.56
Bolivia 105 3.55
Bosnia and Herzegovina 106 3.55
Bangladesh 107 3.55
Benin 108 3.49
Albania 109 3.48
Cambodia 110 3.48
Nicaragua 111 3.45
Burkina Faso 112 3.43
Suriname 113 3.40
Nepal 114 3.38
Mali 115 3.37
Cameroon 116 3.37
Tajikistan 117 3.37
Madagascar 118 3.36
Kyrgyz Republic 119 3.34
Uganda 120 3.33
Paraguay 121 3.30
Zambia 122 3.29
Ethiopia 123 3.28
Lesotho 124 3.27
Mauritania 125 3.26
Guyana 126 3.25
Timor-Leste 127 3.20
Mozambique 128 3.02
Zimbabwe 129 2.88
Burundi 130 2.84
Chad 131 2.78
DJ_Archuleta
September 29th, 2008, 03:05 PM
^^ It's quite good that we were only behind those 3 countries since they are richer and got higher gdp per capita than us..
DJ_Archuleta
September 29th, 2008, 03:06 PM
Perlu Pembenahan Untuk Jadi Emerging Market
Penulis : Jajang
JAKARTA--MI: Proses Indonesia untuk menjadi negara tujuan utama investasi dan turut menjadi penggerak roda perekonomian Asia masih membutuhkan pembenahan.
Meski pernah diakui sebagai salah satu contoh frontier market yang paling potensial di Asia 20 tahun silam, Indonesia masih tertahan untuk masuk kategori pasar investasi dan bisnis paling berkembang, (emerging market) sejajar dengan China, India, Rusia dan Brasil.
"Kalau untuk sejajar dengan mereka belum. Kita tertinggal 1 tahun-3 tahun. Meski demikian kita sudah masuk ke dalam radar investment di Asean, bersaing ketat dengan Vietnam, Malaysia dan Thailand. Ada beberapa hal yang harus dibenahi di setiap lini terkait masalah regulasi perpajakan, perburuhan dan birokrasi untuk bisa mensejajarkan diri dengan negara-negara tersebut. Semua ini akan bermuara pada faktor efisiensi yang menjadi hirauan dunia usaha," ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), MS Hidayat Hidayat, Senin (29/9).
Sebelumnya, saat menjadi panelis dalam pertemuan World Economic Forum di Tianjin, China, Minggu (28/9), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M. Lutfi menyebut Indonesia kini telah menjadi emerging market. Sebagai negara tujuan utama investasi dan bisnis, Indonesia siap untuk bersaing dengan keempat negara tersebut.
"China dan India adalah dua negara yang mampu memadukan potensi nasional sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan kebijakan ekonomi yang terbuka namun tetap memberi peluang kepada pengusaha nasional untuk seiring berkembang," papar Hidayat.
Ia menyarankan Indonesia mencontoh India yang mengembangkan daya saing melalui sumber daya manusia dan China yang mengembangkan industri manufaktur yang mempu menyerap banyak tenaga kerja. Meski demikian, proses demokratisasi yang tengah dibangun merupakan modal utama masa depan iknvestasi dan bisnis di Indonesia.
"Indonesia memiliki stabilitas politik dan keamanan yang relatif stabil dengan makro ekonomi yang lumayan baik dan aturan-aturan yang kompetitif yang terus dibuat. Apabila hal ini tersu berlangsung, hal ini akan menjadi faktor pendukung utama masuknya investasi," pungkas Hidayat.
DJ_Archuleta
September 29th, 2008, 08:25 PM
Tahun 2009, Nominal PDB Ditetapkan Rp 5.309 Triliun
Sabtu, 28 September 2008 | 01:06 WIB
Jakarta, Kompas - Panitia Kerja Asumsi Dasar Ekonomi Rancangan APBN 2009 menetapkan nominal produk domestik bruto atau PDB sebesar Rp 5.309 triliun atau meningkat Rp 627 triliun di atas perkiraan nominal PDB 2008, yakni Rp 4.682 triliun.
Peningkatan nominal PDB tersebut diiringi dengan catatan, pemerintah harus mendorong aliran dana yang membesar itu ke arah penguatan program padat karya, terutama melalui belanja negara.
”Penetapan anggaran belanja negara yang akan diarahkan pada penguatan program padat karya tersebut ditetapkan kemudian oleh Panitia Anggaran DPR setelah Lebaran nanti,” ujar Koordinator Panitia Kerja Asumsi Dasar Ekonomi RAPBN 2009 DPR Harry Azhar Azis, Jumat (19/9) di Jakarta, seusai memimpin rapat panitia kerja dengan wakil pemerintah.
Dalam rapat itu, pertumbuhan ekonomi nasional ditargetkan di level 6,3 persen. Adapun laju inflasi ditetapkan 6,2 persen. Sementara itu, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ditetapkan di posisi 8 persen, nilai tukar rupiah dipatok di posisi Rp 9.150 per dollar AS.
Adapun target produksi minyak siap jual (lifting) tahun 2009 ditetapkan sebanyak 960.000 barrel per hari. Sementara harga jual rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) ditetapkan di level 100 dollar AS per barrel.
Tidak progresif
Ketua Komite Tetap Moneter dan Fiskal Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan, nominal PDB memang bertambah besar, tetapi dana yang digunakan untuk stimulus ekonomi masih kecil.
Itulah sebabnya target pertumbuhan ekonomi ditargetkan hanya 6,3 persen dan inflasi yang lebih rendah 6,2 persen, atau hampir sama dengan 2008.
Asumsi ekonomi makro yang ditetapkan itu menunjukkan bahwa DPR dan pemerintah tidak mau bersikap progresif terhadap arah perekonomian tahun 2009 dan cenderung bersikap moderat. Itu terjadi karena pemerintah dan DPR menyadari tahun depan merupakan tahun pelaksanaan pemilu, saat perhatian elite politik diarahkan pada konsolidasi posisinya masing-masing.
”Apalagi tahun 2009 sudah muncul kepanikan akibat krisis finansial di Amerika Serikat. Jadi, harapan perbaikan memang ada walaupun kecil. Oleh karena itu, pemerintah perlu bekerja keras untuk mengubah tantangan menjadi peluang,” papar Bambang Soesatyo.
DJ_Archuleta
October 1st, 2008, 09:52 AM
Indonesia's GDP per capita to reach US$2,700 in 2009
Jakarta (ANTARA News) - The government and the House of Representatives (DPR) are looking into the possibility of raising the country`s gross domestic product (GDP) to Rp5,275.9 trillion by relying on exports and investments.
"With the GDP reaching that amount, our per capita GDP has actually exceeded US$2,700. But it seems that we were still at the level of middle income countries," Syahrial Loetan, secretary of the state minister for national development planning/chief secretary of the National Development Planning Agency (Bappenas), said on Monday.
Hopefully, non-oil/non-gas exports would be the main foreign exchange earner while natural resources would be the main factor to attract investments next year, he said.
"But we must keep in mind that the improving economy will make the people`s consumption stronger," he said.
The Rp5,275.9 trillion GDP could be achieved if the economy grew by 6.2 percent and the inflation rate reached 6.5 percent, he said.
After all, being at the level of middle income countries would make it difficult for Indonesia to obtain very soft loans, he said.
"Today, almost all loans are available only under commercial schemes," he said.
According to official data, the country`s macro assumptions in the year up to May 2008 show the economic growth rate was recorded at 6.3 percent, the inflation rate at 10.4 percent, the interest rate on Bank Indonesia Certificates (SBI) for three-month deposits at 8.1 percent, the rupiah`s exchange rate at Rp9,254 per dollar, Indonesian crude prices (ICP) at US$104.8 a barrel, oil production at 922,500 barrels per day, fuel consumption at 16.4 million kiloliters.
In the the revised 2008 state budget, the target of economic growth rate for 2008 has been set at 6.4 percent, inflation rate 6.5 percent, interest rate on SBI for three-month deposits 7.5 percent, the rupiah`s exchange rate Rp9,100 per dollar, ICP US$95 a barrel, oil production 927,000 barrels per day, and oil consumption 35.5 million kiloliters.(*)
David-80
October 1st, 2008, 10:41 AM
I thought this year we reached 2,700 already? and next year on $3000 dollar level?
the article is about 2008 growth but the topic is about 2009...lol..i think its mistyped, because i am sure we already at 2,700 percapita.
cheers
DJ_Archuleta
October 1st, 2008, 11:47 AM
I thought this year we reached 2,700 already? and next year on $3000 dollar level?
the article is about 2008 growth but the topic is about 2009...lol..i think its mistyped, because i am sure we already at 2,700 percapita.
cheers
hmm i'm not really sure about that..but by looking at the previous topic, "the rise of indonesian middle class" it said this year gdp per capita is about
2,300-2,400, next year would be around 2,700-2800 and the year 2010 will surpass 3,000..
besides, our per capita on 2007 was only 1,900-2,000, the wikipedia provide us with our gdp last year
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_GDP_(nominal)_per_capita
if the prediction is true that per capita will be $3000 on 2010 then the data would be somehow like the table below :)
Indonesia GDP per capita year on year
2007 2008 2009 2010
1,925 2,300 2,700 3,100
David-80
October 1st, 2008, 11:50 AM
Hmm, the data is keep going inaccurate from the newspaper, because if i remember correctly, there is a report about Indonesia's GDP reached 2,000 level in 2007. so if its indeed true, then i think you're right we are now in 2,400, so by the time SBY-JK finished their term, the GDP will reach 2,900. Ok now i think im figured out those data thing.
btw, lets not using wikipedia for data, they are not the best for source, i keep using BPS website for those data.
cheers
DJ_Archuleta
October 1st, 2008, 11:55 AM
^^ that's true and by that time, indonesia would be definitely considered as an upper middle income country :banana:
DJ_Archuleta
October 3rd, 2008, 08:17 AM
RI economy to remain robust in third quarter
Aditya Suharmoko , The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 10/03/2008 11:37 AM | Business
The Indonesian economy is estimated to grow by more than 6 percent during the year's third quarter on the back of robust private consumption, investment and export, the Finance Ministry says.
Private consumption, especially in consumer goods, between July and September "remained strong", the Finance Ministry head of fiscal policy, Anggito Abimanyu, said Wednesday.
"Growth in consumer goods was relatively high. Exports were also on track although imports were relatively high," Anggito said.
The Finance Ministry will provide an exact figure Monday, he said.
Southeast Asia's biggest economy has seen car and motorcycle sales grow at the fastest pace since the 1997 Asian financial crisis, as commodity boom makes people living in plantation and mining areas wealthier.
The number of motorcycle sales is often used to gauge the purchasing power of middle to lower-income people, while car sales gauge that of the middle to upper-income bracket.
Cement consumption, also a standard of living indicator, remained resilient despite higher construction costs, showing 16 percent growth to 25.6 million tons in the first eight months of 2008 compared to the same period last year.
During the first half of the year, the economy unexpectedly grew 6.4 percent due to strong exports, particularly commodities, according to the Central Statistics Agency (BPS).
Analysts, however, warned that the decline in global oil prices might undermine export growth in the coming months and affect the country's economy in general because mining and agricultural commodity prices are tailing oil prices.
Crude oil fell US$2.51, or 2.6 percent, Thursday to $96.02 per barrel in New York, while it was at $96.60 per barrel in London, Bloomberg reported.
Oil has fallen 35 percent after reaching a record $147.27 in July because of fear the global financial crisis will spread through the economy, weakening energy demand.
Analysts have predicted that the Indonesian economy will grow by slightly less than 6 percent by the year's end, below the government's expectation of 6.2 percent.
BPS chairman Rusman Heriawan said the country's economy in the third quarter of 2008 was likely be a bit below the 6.4 percent growth recorded in the second quarter of the year.
"During the fasting month (September), growth in trade sector was up," Rusman said. "However, inflation might soar too."
Rusman said inflation in September might accelerate between 0.4 percent and 1 percent as demand jumped during the Islamic fasting month of Ramadhan and Idul Fitri holidays.
The government has expected September inflation to reach below 0.8 percent as recorded in the same period last year.
"If in the last three months (of 2008), the inflation is similar to that in September, the 11.4 percent inflation target could be achieved," he said.
The government has worked hard to ensure inflation, as the main culprit undermining the economy, be kept below 11.4 percent.
Between January and August, inflation reached 9.4 percent, BPS reported. Year-on-year inflation, meanwhile, stood at 11.85 percent.
Higher inflation will prompt higher interest rates, leading to increased borrowing costs for the corporate sector wanting to expand or for new investors starting up new businesses.
Rusman said the government should ensure food supply went accordingly if it wanted to maintain inflation according to its target.
lombok
October 3rd, 2008, 12:46 PM
Jumat, 03/10/2008 17:38 WIB
Laporan dari Den Haag
Veni, Vici, Vidi, Mengantar Investor Belanda ke Indonesia
Eddi Santosa - detikFinance
Den Haag - Situasi politik, keamanan dan iklim ekonomi Indonesia saat ini sudah sangat kondusif untuk menanamkan modal. Para investor silakan datang untuk menanamkan modal.
Hal itu disampaikan Dubes RI untuk Kerajaan Belanda J.E Habibie, Jumat (3/10/2008), dalam sambutan pengantar keberangkatan 42 investor Belanda yang akan berangkat ke Indonesia.
Pada rentang 21-25 Oktober 2008 Indonesia akan menggelar Trade Expo di Jakarta International Expo, Kemayoran, dan para investor Belanda akan melakukan kunjungan penjajagan mitra.
"Kalau soal keamanan, di sini di Belanda pun kita bisa dirampok, dijambret. Saya tidak mengatakan bahwa situasi di Indonesia sudah sempurna, tetapi memang sudah jauh lebih baik," ujar J.E Habibie yang di kalangan akrab biasa disapa Fanny.
Mengenai korupsi, menurut Fanny dirinya juga tidak mengatakan bahwa sudah tidak ada korupsi di Indonesia.
"Tetapi saya terbuka mengatakan bahwa sudah jauh lebih berkurang dan akan terus diberantas. Anda lihat, setiap hari media massa menyiarkan pejabat parlemen dan pemerintah level tinggi sampai rendah dijebloskan ke penjara," tandasnya.
Fanny meminta supaya para calon investor Belanda itu memercayai Indonesia dan Indonesia akan membalas dengan kepercayaan yang sama.
Ditekankan bahwa bukan berarti mereka harus datang sebagai filantrop. Mereka tentu harus mencari keuntungan, tapi negeri dan rakyat Indonesia juga akan mendapat keuntungan dari penanaman modal mereka.
"Jadi, mari silakan datang dan menanamkan modal di Indonesia. Veni vici vidi, saya datang, saya melihat dan saya teken kontrak. Bagi saya ucapan Julius Cesar itu artinya demikian," kelakar Fanny seraya mengucapakan selamat jalan ke Jakarta dan sampai jumpa.
DCM Djauhari Oratmangun secara terpisah menambahkan bahwa Trade Expo di Jakarta International Expo, Kemayoran, adalah salah satu pameran perdagangan terbesar di Asia Tenggara.
"Lebih dari 5.000 pengusaha dari seluruh dunia akan ke sana," terang Djauhari.
Dikatakan bahwa Menteri Ekonomi Belanda Maria van der Hoeven juga akan melakukan kunjungan kerja bersama delegasi bisnis pada awal November setelah keberangkatan para investor tersebut.
"Harapan kita untuk Trade Expo kali ini delegasi dari Belanda dapat lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya dengan volume kontrak yang meningkat pula. Dan ini adalah delegasi ekonomi perdagangan terbesar yang menandai hubungan bilateral kedua negara yang semakin baik," demikian Djauhari.(es/es)
DJ_Archuleta
October 4th, 2008, 06:13 PM
The main problems for Indonesia are "corruption" and ineffective law enforcement ... eventhough indonesia had improved it's ranked quite significantly in the latest corruption perception index, corruption remain to be a big problem in our country.. coz our good governance is not as good as singapore or malaysia ... If Indonesia want to be more developed, the govt have to focus to improve four main elements in the "Good Governance".. acountability, public participation, rule of law and tranparancy ..
Refer to study led by Daniel Kaufman, Director of Global Governance, World Bank Institute, the tangible income of indonesian people will increase significantly from only USD2,000 in 2007 to USD6,000 in 2015 if Indonesia succeed to apply the principle of "Good Governance" in Indonesia ...
With the "Good Governance" .. many economist believe that Indonesia can achieve an annual GDP growth of min. 8% in 2010 to 2015 because of (1). new investments (from local and FDI) and (2). more efficiency in the allocation of public funds, natural resources and also human resources....
paradyto
October 6th, 2008, 01:41 AM
News Focus: RI must brace itself for world economic recession
By Andi Abdussalam
Jakarta, (ANTARA News) - As the current global economic turmoil can no longer be responded to with conventional ways, Indonesia must face it by taking concrete and substantial steps such as diversification of export destinations, strengthening the domestic market and reinforcing the agricultural bases in rural areas.
"The US$700 billion bailout fund for the collapsed financial institutions will not automatically overcome the global economic turbulence. To take an example, one can see a sharp fall in the United States stock market eventhough US President George W Bush has signed the bailout bill," economic analyst Sutrisno Iwantono said on Sunday.
Thus, the government needs to take immediate steps to salvage the national economy. Indonesia`s exports, particularly agricultural products which depend largely on the United States and Japanese markets, will be hard hit.
Besides, the global economic turbulence will also affect Indonesia`s economic growth.
State Minister for National Development Planning / Chairman of National Development Planning Board (Bappenas) predicted that the U.S. financial crisis would affect economic growth in Asia, including Indonesia.
"It will weaken economic growth, particularly in Asia. We have to keep an eye on it because we will be forced to re-direct our exports to other destinations, possibly the Middle East," Paskah said.
He said that Indonesia had to keep an eye on the crisis particularly its impact on Indonesia`s exports to the United States.
It was expected that Indonesia`s exports to the United States would drop in the wake of the financial crisis.
"We have to be watchful of what is going on there despite the fact that our exports to that country account for only about 30 percent," Paskah said.
Therefore, according to Iwantono, the government must hear suggestions on the need to diversify export destinations so that dependence on the two countries could be reduced. The government should seek markets in the Middle East, West and Eastern Europe, China and India.
"China and India are two increasingly important countries but the Middle East and Europe are equally important," Iwantono who is also chairman of the Indonesian Farmers Association (HKTI) and the Farmers Advocacy Center, said.
He said that the trade minister should soon formulate steps to find market breakthroughs in these potential countries.
Besides, Indonesia should not also fully depend on the global market because it could collapse any time. Exports must be balanced with domestic orientation. "Thus, efforts to strengthen the domestic market are crucial," Iwantono said.
Indonesia is different from Singapore and Taiwan whose size is much smaller and who fully depend on global markets for their exports.
"With a population of approximately 210 million, Indonesia has highly domestic market potentials. Unluckily, the people`s purchasing power is low," he said.
The breakthrough that should therefore be made is to increase the people`s purchasing power, particularly that in rural areas and the agricultural sector.
The development of agricultural-based rural industries should be given priorities. The steps that could be taken immediately include that the developing industries which provide the needs of their people, downsizing the volumes of competitive imported goods (against local products such as goods from China) providing product-processing facilities and ample access to credit facilities.
Besides, the government should provide simplified licensing procedures for small-scale businesses/cooperatives, provide pro-the-poor allocation of development funds and slacken banking liquidity.
According to Iwantono, several industrial sectors such as food, food processing, fisheries and fish-processed products, animal husbandry products and their processing facilities, timber and its processing as well as plantation products should be given special attention.
Iwantono said that investment flow would be very tight this year so that the investment climate must be improved. "Global investment will decline by 10 percent from US$1.8 trillion last year to US$1.6 trillion in 2008," he said.
He said that as an investment destination country in Asia, Indonesia was a less interesting place than China, India and Vietnam.
Though it has improved its investment climate, investors still complained about several factors such as the lack of infrastructure, non-transparent legal process, complicated taxation rules, equity restriction, complicated administrative and bureaucratic procedures, difficulties in obtaining sub-contract businesses, labor disputes and shortage of skilled personnel.
"The government needs to take comprehensive steps in these aspects," he said.
In the meantime, Finance Minister Sri Mulyani Indrawati said the government would take necessary steps to improve various regulations which hampered the development of the industrial sector.
"We should continue making safeguarding efforts," Sri Mulyani who is also coordinator minister for economic affairs, said.
The government is keeping a watchful eye on the possible flow into Indonesia of goods failing to enter the United States as it has the potential to disrupt their industry, she said.
"We have warned the Customs and Excise Authorities of the possibility of goods which are diverted to Indonesia because they failed to enter the United States. We have to anticipate that," Finance Minister Sri Mulyani said here on Sunday.
The declining demand for imported commodities from the United States as a result of the financial crisis in that country would surely affect the export performance of other countries, including Indonesia.
Therefore, the government would take anticipatory steps on the possibility of the decline in national productivity as a result of the decline in demands for export goods.(*)
paradyto
October 6th, 2008, 01:42 AM
Govt, Bank Indonesia to strengthen coordination in face of US crisis
Jakarta (ANTARA News) - The government and the central bank (Bank Indonesia) will continue to strengthen coordination in line with the worsening economic crisis in the US, Bank Indonesia (BI) governor Boediono said here on Sunday.
"On several occasions we and the coordinating minister for the economy have often established coordination and communication. Now in the current economic turmoil coordination will be very important and needs to be strengthened," he said at a press conference.
He said BI and the government were united to protect the country from the impact of the US crisis.
"Our task is protecting our house by setting up our own hedges, by not fighting among ourselves because if we are not united our house will be affected more badly," he said.
Finance minister Sri Mulyani shared her view saying coordination would not only be established among the relevant ministers but also among officials below them.
Boediono said although the impact of the US crisis was still a minimum now, caution must be taken because the crisis would likely last quite long and to make the country ready in case the impact grows.
He said the country`s economic fundamentals were now good and the banking sector was also quite strong.
He said until August 2008, credits grew 16 percent with capital adequacy ratio (CAR) 16 percent higher than the minimum requirement of eight percent while the non-performing loan (NPL) is 3.95 percent.
He said however that he would continue strengthening the banking sector by adjusting its credit growth which was considered too fast.
"This is probably what has to be adjusted because the credit growth is rapid," he said.
He said Indonesia now is in a phase different from that of the European countries and the US. He said Europe and the US are now facing credit distribution problems due to liquidity freeze as a result of the financial crisis.
Indonesia, he said, is in the reverse situation. Ita banks have been too fast in distributing credits so that they grew very high. In view of that he said he would keep the growth from going too fast by supporting sustainable economic growth. (*)
K14N
October 6th, 2008, 05:48 AM
detikFinance » Bursa dan Valas
Senin, 06/10/2008 10:21 WIB
Tembus 9.500/US$, Rupiah Mengkhawatirkan
Irna Gustia - detikFinance
Jakarta - Nilai tukar rupiah langsung meloncat ke level 9.500-an per dolar AS pasca libur lebaran. Pelemahan rupiah di level ini dinilai sudah mengkhawatirkan dan perlu tindakan tegas Bank Indonesia (BI).
Pada perdagangan valas pukul 10.00 WIB, Senin (6/10/2008) rupiah melemah hingga 265 poin ke level 9.550 per dolar AS.
Pengamat valas Farial Anwar menilai, unsur spekulasi lebih dominan pada pelemahan rupiah kali ini.
"Ini sudah level yang mengkhawatirkan, pasar panik dengan krisis di AS dan imbasnya menjalar kesini," ujar Farial ketika dihubungi detikFinance, Senin (6/10/2008).
Farial menilai pelemahan rupiah di awal pekan ini adalah info yang paling menyedihkan. Krisis di AS telah membuat pelaku pasar panik dan berburu dolar AS karena khawatir dolar AS bisa tembus ke level 10.000 per dolar AS.
Investor asing diduga mencairkan investasinya di Indonesia karena krisis di AS telah membuat investor tersebut kesulitan likuiditas.
"Orang butuh dolar AS, salah satu cara mereka menjual aset terutama finansial seperti SBI, SUN, saham untuk mendapatkan likuiditas," katanya.
Gejolak yang sangat tajam di pasar valas dan pasar modal, menurut Farial adalah bukti tidak adanya ketahanan pasar finansial. "Pasar kita lebih banyak didikte asing," cetusnya.
Farial mengatakan, BI harus melakukan gerak cepat untuk menahan pelemahan rupiah. "Kalau perlu BI harus menempatkan orang-orangnya di bank-bank yang sering melakukan spekulasi," ujarnya.
Upaya itu menurut Farial, untuk mengendalikan perlikau pasar selain juga melakukan intervensi.
Gubernur BI Boediono sebelumnya mengatakan, dana-dana panas alias hot money memang sudah banyak yang keluar dari Indonesia. Sementara dana-dana 'setengah panas' yang tidak bersifat jangka pendek masih berada di Indonesia karena keyakinan akan stabilitas kondisi ekonomi Indonesia.
(ir/qom)
AceN
October 6th, 2008, 07:02 AM
it's getting crazy rite now............i watched the entire vote on bailout till bush' press conference. but i pessimistic that the bailout will prevent US from recession...
Let's see then...what's next after WaMu collapsed.......... :D
DJ_Archuleta
October 6th, 2008, 08:32 AM
let's see what JK thought about the current US crisis
VP upbeat Indonesia able to withstand impact of US financial crisis
Makassar, South Sulawesi (ANTARA News) - Vice President Jusuf Kalla said he was very confident Indonesia will be able to withstand the impact of the financial crisis in the United States.
"We will also see an economic slowdown at home but I am sure it will not be as bad as in other countries," Kalla said at a grand reunion of Hasanuddin University alumni here Monday.
He admitted the financial crisis in the US would depress Indonesia`s exports but he was sure, through its domestic economic strength and market, the country would be able to overcome the setback.
"I am optimistic, with 240 million domestic consumers, we can save our economy," he said.
According to Kalla, the US economic crisis began with the Iraq war which led the US government to incur huge expenditures. As a result, the US suffered a budget deficit and to cover the deficit, the interest rate was raised.
The increased interest rate, however, caused many home owning mortgages to turn bad causing a crisis in this sector.
In the 1998 crisis, Kalla said, it was Indonesia that suffered a deficit in its budget and failed to pay its debts but now the situation was different.
"With our stronger economy now, we can handle the situation," he said. (*)
DJ_Archuleta
October 6th, 2008, 08:36 AM
Govt. prepares incentives to maintain export growth
The government is preparing special incentives to maintain growth of exports amid a weakening global demand that is primarily caused by the liqudity crisis in the U.S.
"We will follow up the incentive suggestions along with the industry minister. We will hold a meeting this week to find the right incentives that will promote exports," trade minister Mari Pangestu said in Jakarta on Sunday as quoted by state news agency Antara.
Mari said a direct negative impact of the US crisis on exports would be felt next year instead of this year as the amount of exports to the U.S. only amount to 11.6 percent of the global market share.
Indonesia's main export destinations are predominantly Asian countries, she said.
However, she said, caution had to be taken especially on the second round effect of the crisis on Asian countries such as China, Korea, Taiwan and Japan.
"If they are affected, so will we," she said.
Industry minister Fahmi Idris said the government would gather inputs from the business community on what would be the best incentives for promoting exports, which hopefully would be ready by the end of this year.
In the mean time, Fami said, the government would soon revise a regulation on tax incentives for certain business sectors and regions.
"There are many sectors that will be added to the list of incentive recipients such as fishery, plantations and others," he said.
K14N
October 6th, 2008, 08:49 AM
Pas gw post artikel ini, IHSG 1717.83 atau minus 114.68 (6.26%), worst in Asia Pacific so far...
Senin, 06/10/2008 12:12 WIB
Sesi Siang
Rupiah dan IHSG Jatuh
Indro Bagus SU - detikFinance
(Foto: Indro-detikFinance) Jakarta - Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berjatuhan karena baru merespons negatif krisis finansial di AS setelah sebelumnya libur panjang lebaran.
Pada penutupan perdagangan saham sesi I, Senin (6/10/2008) IHSG turun tajam 99,846 poin (5,45%) menjadi 1.732,661.
Sedangkan rupiah pada perdagangan valas pukul 12.00 WIB anjlok poin ke posisi 9.565 per dolar AS. Pengamat valas Farial Anwar menilai, unsur spekulasi lebih dominan pada pelemahan rupiah kali ini karena penurunannya yang sangat tajam.
"Ini sudah level yang mengkhawatirkan, pasar panik dengan krisis di AS dan imbasnya menjalar kesini," ujar Farial ketika dihubungi detikFinance, Senin (6/10/2008).
Farial menilai pelemahan rupiah di awal pekan ini adalah info yang paling menyedihkan. Krisis di AS telah membuat pelaku pasar panik dan berburu dolar AS karena khawatir dolar bisa tembus ke level 10.000 per dolar AS.
Investor asing diduga mencairkan investasinya di Indonesia karena krisis di AS telah membuat investor tersebut kesulitan likuidtas.
"Orang butuh dolar AS, salah satu cara mereka menjual aset terutama finnasial seperti SBI, SUN, saham untuk mendapatkan likuiditas," katanya.
Sementara itu, IHSG mengikuti kejatuhan bursa saham Asia seperti Hang Seng turun 3,35%, Seoul turun 4,43%, KOSPI turun 4,36%, Nikkei turun 4,54%, Shanghai turun 3,52%, STI Singapura turun 3,27%.
Perdagangan saham sesi siang di Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi sebanyak 28.217 kali, dengan volume 2,183 miliar unit saham, senilai Rp 2,238 triliun. Sebanyak 9 saham naik, 167 saham turun dan 7 saham stagnan.
Saham-saham yang anjlok harganya antara lain, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 700 menjadi Rp 2.500, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 150 menjadi Rp 2.500, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 190 menjadi Rp 1.270, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 400 menjadi Rp 5.000 dan Timah (TINS) turun Rp 310 menjadi Rp 1.350.
"Kelihatannya penurunan IHSG masih digerakkan isu seputar bailout," ujar analis PT Sarijaya Securities, Trisin Ismail saat dihubungi detikFinance, Senin (6/10/2008).
Menurut Trisin, pasar kurang merespon disetujuinya rencana bailout US$ 700 miliar lantaran banyak pelaku pasar menilai bahwa kucuran dana tersebut bukan suatu solusi jangka panjang terhadap krisis finansial belakangan ini.
Pendapat Trisin sekaligus menyanggah isu yang mengatakan bahwa pelaku pasar masih menunggu kucuran dana US$ 700 miliar tersebut benar-benar terlaksana baru kondisi pasar modal akan kembali normal.
"Kalau kita lihat sebenarnya dengan ditandatanganinya bailout, itu sudah merupakan kepastian bahwa dana tersebut pasti akan dikucurkan. Jadi seharusnya memberikan sentimen positif ke pasar. Artinya pelaku pasar melihat pada isu lain untuk masuk ke pasar," jelas Trisin.
Trisin mengungkapkan, pelaku pasar menilai kucuran US$ 700 miliar tersebut hanya akan memberikan solusi bagi bankir-bankir AS saja, bukan solusi bagi masalah kredit yang nyata di masyarakat.
"Sepertinya untuk di Indonesia, pelaku pasar masih menunggu pengumuman inflasi untuk masuk ke pasar, serta kebijakan pemerintah ke depan mengenai ekonomi makro dan sektor riil," jelas Trisin.
Sembari menunggu inflasi dan kebijakan pemerintah, Trisin memperkirakan pelaku pasar di Indonesia akan cenderung bermain aman sepanjang Oktober ini. Investor diperkirakan akan mengincar saham-saham yang bisa memberikan keuntungan bukan dari gain.
"Sepertinya investor disini akan mengincar saham-saham yang akan membagikan deviden dalam waktu dekat seperti TLKM dan ASII, paling tidak sampai Oktober ini. Mereka cenderung main aman," ujar Trisin.(ir/qom)
K14N
October 6th, 2008, 08:53 AM
Senin, 06/10/2008 13:47 WIB
Inflasi September 0,97 persen
Wahyu Daniel - detikFinance
Jakarta - Inflasi bulan September 2008 tercatat sebesar 0,97 persen. Inflasi September ini lebih tinggi dibanding Agustus 2008 yang sebesar 0,51 persen.
Harga bahan-bahan pangan meningkat sepanjang bulan Ramadan hingga Hari Raya Lebaran meningkatkan inflasi di bulan September 2008.
Demikian disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ali Rosidi dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jalan Sutomo, Jakarta, Senin (1/9/2008).
Kepala BPS Rusman Heriawan sebelumnya memperkirakan inflasi bulan September berada pada kisaran 0,5-1 persen. Untuk laju inflasi tahun kalender dari Januari-September 2008 sebesar 10,47%, sementara year on year sebesar 12,14%.
Seperti diumumkan BPS pukul 13.45 WIB, kenaikan inflasi terjadi di seluruh kota yakni 66 kota. Tertinggi di Tarakan 2,8 persen, terendah di Manado 0,03 persen
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks barang dan jasa di semua kelompok yang mengalami inflasi antara lain sektor makanan yang paling tinggi 1,9 persen, makanan jadi, minuman rokok 0,9 persen, perumahan, air listrik, gas dan bahan bakar 1,22 persen.
Sektor yang menyumbang inflasi antara lain kelompok sandang 0,5 persen, kesehatan 0,3 persen, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,22 persen.
K14N
October 6th, 2008, 11:46 AM
Once again, we create a history...
Senin, 06/10/2008 16:13 WIB
IHSG Turun Paling Parah se-Asia
Irna Gustia - detikFinance
Jakarta - Pasar saham dalam negeri benar-benar mengalami pukulan hebat dengan rontoknya hampir semua saham-saham di Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat penurunan paling parah se-Asia.
Pada penutupan perdagangan saham sesi Senin (6/10/2008), IHSG ambles hingga 183,768 poin atau 10,03% ke level 1.648,739.
Indeks LQ-45 anjlok 42,170 poin (11,42%) menjadi 326,970 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 37,058 poin (12,94%) menjadi 249,333.
Penurunan IHSG ini merupakan yang terburuk di bursa Asia. Bursa kawasan pada Senin ini rata-rata hanya turun 4-5% seperti Hang Seng turun 4,97%, Seoul turun 4,29%, Nikkei turun 4,25%, Shanghai turun 5,23%, STI Singapura turun 5,26%, Taiwan turun 4,12%.
Yang hampir menyerupai kemerosotan IHSG adalah bursa saham Rusia yang turun hingga 11,55%, dan Arab Saudi turun 9,7%.
IHSG mengalami penurunan tajam karena imbas dari krisis AS yang baru terefleksi hari ini karena pekan lalu BEI libur. Selain itu juga karena sentimen negatif pelemahan rupiah yang tidak terbendung ke level 9.575 per dolar AS dan naiknya angka inflasi September menjadi 0,97% dibanding Agustus 0,51%.
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Fuad Rahmany mengatakan penurunan IHSG yang lebih dari 5% ini karena pasar merefleksikan penurunan yang harusnya terjadi pada saat libur lebaran.
"Karena kita kan selama hampir seminggu nggak ada trading. Jadi biasa lah market akan mendiskon awal sesi pertama ini. Tapi mereka melakukan adjusment karena market itu kan sangat rasional. Ini karena kita sudah lima hari, yang lain kan sudah turun-turun," jelasnya.
Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi sebanyak 65.212 kali, dengan volume 4,578 miliar unit saham, senilai Rp 4,588 triliun. Sebanyak 10 saham naik, 209 saham turun dan 9 saham stagnan.
Saham-saham yang anjlok harganya antara lain, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 1.025 menjadi Rp 2.175, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 150 menjadi Rp 2.500, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 400 menjadi Rp 1.060, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 450 menjadi Rp 4.950, Timah (TINS) turun Rp 520 menjadi Rp 1.140, Telkom (TLKM) turun Rp 50 menjadi Rp 7.100.
Sedangkan saham yang naik harganya antara lain Bank Internasional Indonesia (BNII) naik Rp 125 menjadi Rp 435.
"Kelihatannya penurunan IHSG masih digerakkan isu seputar bailout," ujar analis PT Sarijaya Securities, Trisin Ismail saat dihubungi detikFinance, Senin (6/10/2008).
Menurut Trisin, pasar kurang merespons disetujuinya rencana bailout US$ 700 miliar lantaran banyak pelaku pasar menilai bahwa kucuran dana tersebut bukan suatu solusi jangka panjang terhadap krisis finansial belakangan ini.
Pendapat Trisin sekaligus menyanggah isu yang mengatakan bahwa pelaku pasar masih menunggu kucuran dana US$ 700 miliar tersebut benar-benar terlaksana baru kondisi pasar modal akan kembali normal.
"Kalau kita lihat sebenarnya dengan ditandatanganinya bailout, itu sudah merupakan kepastian bahwa dana tersebut pasti akan dikucurkan. Jadi seharusnya memberikan sentimen positif ke pasar. Artinya pelaku pasar melihat pada isu lain untuk masuk ke pasar," jelas Trisin.
Trisin mengungkapkan, pelaku pasar menilai kucuran US$ 700 miliar tersebut hanya akan memberikan solusi bagi bankir-bankir AS saja, bukan solusi bagi masalah kredit yang nyata di masyarakat.
"Sepertinya untuk di Indonesia, pelaku pasar masih menunggu pengumuman inflasi untuk masuk ke pasar, serta kebijakan pemerintah ke depan mengenai ekonomi makro dan sektor riil," jelas Trisin.
(ir/qom)
DJ_Archuleta
October 6th, 2008, 03:03 PM
Gov't officials: Indonesian economy can absorb impact of U.S. bailout failure
:banana::banana:
JAKARTA, Oct. 3 (Xinhua) -- The Indonesian officials have said the possible failure of the U.S. bailout bill may not pose a threat to Indonesia's economic fundamentals, Antara news agency quoted Indonesia government officials as reporting on Friday.
Government officials here have said that strong banking performance, robust commodity exports and less developed capital market products are key reasons for optimism in keeping the country's economic pillars sturdier than in the days of the late 1997 Asian financial crisis.
Indonesian vice president Jusuf Kalla said on Wednesday that Indonesia could well absorb the impact of the U.S. woes on the back of strong exports of commodities in high global demand, regardless of any shakeup in the global economy.
"Regardless of the degree of the crisis in the U.S., the world still needs oil, coal, textiles and palm oil," Kalla was quoted as saying by Antara news agency.
Indonesian Finance Minister Sri Mulyani Indrawati also echoed Kalla's optimism, saying the country's banking sector was in a healthier state than it was prior to the Asian financial crisis.
"Economic growth, as well as monetary and banking stability are relatively stronger since our recovery (from the crisis)," she said.
Key indicators in Indonesian domestic banking sector showed, as of the first half of this year, accumulated gross nonperforming loans (NPL) of domestic banks stood at 4.1 percent, or around 5.28billion U.S. dollars, compared to 4.6 percent at the end of last year.
The central bank requires an NPL for banks of below 5 percent.
The capital adequacy ratio (CAR) of local banks stands at 16.4 percent as of June, much higher than the minimum limit of 8 percent. CAR is the capacity of a bank in terms of meeting liabilities and risks, such as credit and operational risks.
Raden Pardede, chairman of the Indonesian Financial System Stability Forum, said the financial turmoil would not extend far into the Indonesian financial system because of the relative unavailability of complicated securities products in Indonesia.
DJ_Archuleta
October 6th, 2008, 05:20 PM
Kadin Beri 20 Rekomendasi Atasi Krisis Global
Foto: dok detikcom Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) memberikan 20 rekomendasi kepada pemerintah sebagai tindakan preventif dan antisipatif menyikapi gejolak pasar keuangan global.
20 rekomendasi itu terbagi dalam 7 rekomendasi di bidang moneter, 9 rekomendasi di bidang sektor riil dan 4 rekomendasi untuk memperkuat resiliensi ekonomi domestik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Kadin MS Hidayat dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Senin (6/10/2008).
"Kadin, sebagai satu-satunya wadah dunia usaha nasional, memandang penting upaya preventif agar krisis keuangan global tidak melanda Indonesia," ujarnya.
Berikut rekomendasi Kadin di bidang moneter:
1) Bank Indonesia perlu merelaksasi kebijakan uang ketat melalui perubahan kebijakan terkait likuditas seperti penurunan tingkat Giro Wajib Minimum (GWM) yang dikaitkan dengan LDR, perluasan repo SUN untuk jangka waktu yang lebih panjang
2) Pemerintah perlu untuk mempercepat pembelanja APBN agar mengembalikan likuiditas di sektor keuangan yang sebelumnya ditarik melalui SUN
3) Bank Indonesia dan pemerintah perlu untuk memperkuat protokol implementasi Financial Safety Net dan peran sebagai lender of the last resort dengan tetap memperhatikan aspek governance yang berlaku.
4) Meningkatkan kepercayaan pada sektor keuangan dengan meningkatkan jumlah dana yang ditanggung oleh LPS.
5) Pemerintah perlu mendorong penempatan dana valuta asing di perbankan besar melalui himbauan atas penempatan dana BUMN yang mempunyai akses valuta asing maupun himbauan kepada eksportir besar untuk membawa masuk proceed ekspornya. Kebijakan ini penting sebagai safety line bagi BUMN ataupun korporasi apabila mengalami kesulitan cash flow valuta asing agar dapat dibiayai oleh perbankan dalam negeri.
6) Perlu dibentuknya financial pool secara khusus guna membiayai proyek-proyek yang bersifat prioritas misalnya infrastruktur.
7) BI diharapkan dapat berkoordinasi dengan bank sentral negara ASEAN lainnya untuk memperoleh cadangan devisa pasar tambahan serta melakukan operasi pasar.
Di sektor riil, guna menjaga ekspor dan produksi nasional, Kadin memberikan 9 rekomendasi:
1) Penurunan biaya logistik di pelabuhan
2) Peninjauan ulang mengenai kebijakan biaya listrik pada beban puncak (peak hours cost)
3) Kenaikan UMR seyogyianya dapat diserahkan kepada kesepakatan masing-masing perusahaan dengan serikat pekerjanya.
4)Perlunya dukungan khusus untuk komoditas ekspor andalan
5) Peningkatan kemudahan dan percepatan waktu restitusi perpajakan
6) Rasionalisasi terhadap berbagai iuran dan retribusi baik di pusat dan daerah
7) Perkuatan perlindungan pasar dalam negeri sesuai mekanisme WTO
8) Upaya intensif untuk penurunan bea masuk ke negara tujuan ekspor
9) Meningkatkan diversifikasi perekonomian sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi Amerika dan Eropa
Untuk memperkuat resiliensi ekonomi domestik Kadin memberikan rekomendasi:
1) Menjaga tingkat kepercayaan konsumen
2) Meningkatkan efektivitas pola penyerapan APBN
3) Penurunan atau pembebasan pajak, seperti PPN dan PPnBM
4) Percepatan pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang masih menghadapi kendala.
"Kadin berharap bahwa pemerintah juga sudah mengambil langkah-langkah yang penting untuk mencegah dampak negatif krisis finansial global," ujarnya.
DJ_Archuleta
October 6th, 2008, 05:33 PM
SBY: Mimpi Buruk Krisis 1998 Takkan Terjadi
http://i144.photobucket.com/albums/r197/daryl_dav/sby.jpg
Jakarta - Krisis keuangan di AS sudah pasti akan membawa dampak bagi Indonesia, tapi tidak sampai menyeret Indonesia kembali ke krisis 1997-1998 lalu.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis bangsa Indonesia dapat melalui kondisi sulit dan tidak perlu mengoreksi target pertumbuhan ekonomi nasional.
Demikian salah satu arahannya dalam sesi penutup sidang kabinet di Kantor Setneg, Jalan Veteran, Jakarta.
Sejumlah pengusaha nasional dan pimpinan BUMN mengikuti rapat yang berlangsung empat jam sejak dimulai pukul 14.00 WIB, Senin (6/10/2008).
"Dengan kebijakan tepat dan upaya maksimal, mari pertahankan pertumbuhan 6%. Saya tahu banyak negara yang koreksi pertumbuhannya jadi lebih rendah, tapi mari kita pertahankan pertumbuhan kita 6%. Mari kita manfaatkan perekonomian domestik," tegas SBY.
Presiden menegaskan, berkat kerja keras semua pihak selama bertahun-tahun maka fundamental ekonomi, politik dan sosial dalam negeri saat ini jauh lebih baik dibanding 10 tahun lalu.
Karenanya semua pihak harus optimis dan rasional mengambil langkah sambil terus menjaga kepercayaan masyarakat. "Bukan berarti kondisi akan aman-aman saja, tapi Insya Allah nightmare 98 tidak akan terjadi," imbuhnya.
Penggunaan APBN 2009 harus lebih dioptimalkan untuk memacu pertumbuhan dan membangun jaring pengaman sosial. Misalnya untuk membangun sarana infrastruktur, penanggulangan kemiskinan dan stimulasi pertumbuhan lainnya dengan alokasi penggunaan yang cukup.
Kepada para pelaku usaha, presiden mewanti agar tetap bergerak meski dapat dimaklumi bila ekspansi berkurang. Hal ini demi menjaga pemasukan negara dari sektor pajak dan mencegah bertambahnya jumlah pengangguran akibat terjadinya PHK massal.
Untuk itu Bank Indonesia dan perbankan dimintanya mengembangkan kebijakan agar kredit tersedia dan menjamin likuiditas. Pada saat bersamaan pihak swasta harus terus mempertahankan kinerja, tetap mencari peluang dan berbagi peran dengan pemerintah dalam menanggulangi situasi sulit.
"Cerdas tangkap peluang dagang dan kerja sama ekonomi dengan negara lain. Meski pertumbuhan ekonomi Asia turun dari 11% ke 9%, tapi saya pikir tetap oke. Pasar Eropa dan AS akan lebih tertutup terhadap ekspor, maka produk kita harus kompetitif. Awasi dumping, saya dapat info barang yang mau masuk AS belok ke Indonesia. Bea cukai dan imigrasi harus waspada agar tidak tembus dan lumpuhkan industri nasional," sambung SBY.
Pada jajaran pemerintah, presiden menyerukan lagi efisiensi dalam pengadaan angggaran dan utamakan produk dalam negeri. Demi menghemat anggaran, impor barang mewah haris dikurangi dan pada saat bersamaan menggalakkan kembali kampanye penggunaan buatan dalam negeri dengan kebijakan insentif dan disinsentif.
Mereka juga diminta melakukan konsultasi insentif dengan berbagai kalangan usaha untuk mencari jalan keluar terbaik mengatasi krisis. Berkomunikasi secara jujur dan tepat tentang masalah yang terjadi, tapi tetap optimis dan tidak menimbulkan kepanikan.
"Jangan angin surga, 'semua baik-baik saja, don’t worry'. Cegah pernyataan yang tidak perlu dan bukan menjadi kewenangannya," tandas SBY.
Terkait tahun politik dan pemilu, presiden mengingatkan para politisi untuk tidak lagi melakukan praktek politik partisan. Sebaliknya harus lebih kompromis demi kebaikan bersama dan masa depan bangsa secara keseluruhan, bukan sekedar kepentingan kelompok.
AceN
October 6th, 2008, 05:41 PM
Once again, we create a history...
Senin, 06/10/2008 16:13 WIB
IHSG Turun Paling Parah se-Asia
Ahh, kalah sama Sao Paulo.. hari ini BVSP turun 15%..nah loo.....
DJ_Archuleta
October 7th, 2008, 03:39 PM
Govt seeks economic equilibrium
The U.S.-triggered global credit crisis will not bring Indonesia to a financial crisis similar to that of the late 1990s, although the government will remain on high alert, President Susilo Bambang Yudhoyono said Monday.
In a meeting with Cabinet ministers and businesspeople to discuss the impact of the global crisis on Indonesia, Yudhoyono said the country’s economy was now in better shape than it was in the 1997-1998 period.
"The financial crisis we had ten years ago will not happen again because the conditions were much more different back then. We have managed to improve on the factors that caused the crisis. I'm not saying that our condition is secure; we should always be alert," he said.
In 1998, the economy contracted by over 13 percent.
"We should use this moment to maintain our economic growth at 6 percent and safeguard our country from this global crisis."
The statement came as the local stock index plunged by more than 10 percent, the biggest drop since the 2002 Bali bombings, followed by the rupiah depreciating against the U.S. dollar.
The rupiah fell 1.5 percent on Monday to Rp 9,575, as stock market investors sold their local holdings and converted gains to the dollar. The index dropped 10.03 percent to close at 1,648.74 points.
However, acting Coordinating Minister for the Economy Sri Mulyani Indrawati said the local market should not overreact in times of crisis.
"The government will continue to maintain the equilibrium of all financial indicators to be as rational and consistent as possible," she said.
She added the government would continue to maintain both economic growth and the inflation rate at stable levels, but with some adjustments.
"We might have to find a more rational equilibrium between the two indicators, from a combination of between 6.4 percent growth and 6 percent inflation, to higher inflation of around 7 percent with a lessening of growth to 6 percent."
The economy accelerated by 6.4 percent in the second quarter of 2008. The government foresees growth slowing to 6.2 percent this year from 6.3 percent in 2007.
To increase market liquidity, the central bank will, among other measures, simplify the minimum reserve requirement scheme, Bank Indonesia governor Boediono said.
Other strategies will be discussed by the central bank Tuesday.
On exports, Trade Minister Mari Elka Pangestu remained upbeat despite the turbulence in the U.S. economy, the world's largest importer.
"We will continue to diversify our export market to Middle East countries, Russia and Central Europe, while strengthening our market in Asia," she said.
K14N
October 8th, 2008, 06:22 AM
@ AceN, kemarin judulnya IHSG terburuk se-Asia en bisa u bantah.. sekarang detik.com keluarin berita lebih heboh neh... :lol:
Rabu, 08/10/2008 11:01 WIB
IHSG Terjelek Sedunia :bash:
Irna Gustia - detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencatat penurunan tertajam di banding bursa-bursa lain di dunia. Sementara rupiah relatif terjaga di posisi 9.596 per dolar AS atau turun 36 poin.
Pada perdagangan saham pukul 10.50 JATS, Rabu (8/10/2008) IHSG anjlok hingga 148,988 poin atau 9,2 persen ke posisi 1.470,733. Posisi IHSG ini terendah sejak September 2006.
IHSG juga mencatat penurunan terburuk dibanding bursa-bursa dunia lain yang hanya turun 4-5%.
Indeks Hang Seng turun 5,44%, Seoul turun 3,54%, KOSPI turun 3,42%, Nikkei turun 4,54%, STI Singapura turun 3,84% dan Taiwan turun 4,34%.
Saham di Australia turun 4,04% dan dibelahan Eropa FTSE pada 7 Oktober malah rebound 0,35%, Xetra Dax turun 1,12%.
Sementara saham-saham di Eropa masih belum buka, sedangkan Dow Jones pada penutupan 7 Oktober 2008 hanya turun 5,11%. Arab Saudi turun 7% pada 7 Oktober 2008.
Kekacauan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia ini karena aksi jual investor asing yang terus berlanjut. Investor asing berburu likuiditas karena di negara asalnya sedang kekeringan likuiditas.
Adanya pernyataan dari JP Morgan Chase untuk menghindari surat utang di Indonesia makin membuat investor menjauhi IHSG.
Sementara kasus gagal bayar Danatama dan disuspensinya 6 saham kelompok Bakrie makin menambah rentetan sentimen negatif di pasar.
Perdagangan saham sesi satu ini juga berlangsung tipis dengan transaksi hanya senilai Rp 863 miliar. Hanya 5 saham naik, 168 saham turun dan 7 saham stagnan.
Saham-saham yang jeblok harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 600 menjadi Rp 6.5550, Indosat (ISAT) turun Rp 1.200 menjadi Rp 3.950, Antam (ANTM) turun Rp 90 menjadi Rp 1.070 dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.700 menjadi Rp 5.300.(ir/ddn)
K14N
October 8th, 2008, 06:43 AM
Info lanjutan... :ohno:
Rabu, 08/10/2008 11:15 WIB
IHSG Hancur, Perdagangan Saham BEI Ditutup
Indro Bagus SU - detikFinance
Jakarta - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk menutup perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 10,38%.
Ketika perdagangan saham ditutup pukul 11.08 JATS, Rabu (8/10/2008) IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006.
Transaksi saham yang dicatatkan sebelum bursa disuspensi, sebanyak 27.494 kali dengan volume 1,129 miliar unit saham senilai Rp 988 miliar. Hanya 6 saham yang naik harga, selebihnya 171 saham anjlok dan 9 saham stagnan.
"Penutupan pasar ini untuk mencegah kejatuhan saham lebih lanjut dan menenangkan pelaku pasar," kata Direktur Perdagangan BEI MS Sembiring, Rabu (8/10/2008).
IHSG juga mencatat penurunan terburuk dibanding bursa-bursa dunia lain yang hanya turun 4-5%.
Indeks Hang Seng turun 5,44%, Seoul turun 3,54%, KOSPI turun 3,42%, Nikkei turun 4,54%, STI Singapura turun 3,84% dan Taiwan turun 4,34%.
Saham di Australia turun 4,04% dan dibelahan Eropa FTSE pada 7 Oktober malah rebound 0,35%, Xetra Dax turun 1,12%.
Sementara saham-saham di Eropa masih belum buka, sedangkan Dow Jones pada penutupan 7 Oktober 2008 hanya turun 5,11%. Arab Saudi turun 7% pada 7 Oktober 2008.
Kekacauan yang terjadi di Bursa Efek Indonesia ini karena aksi jual investor asing yang terus berlanjut. Investor asing berburu likuiditas karena di negara asalnya sedang kekeringan likuiditas.
Adanya pernyataan dari JP Morgan Chase untuk menghindari surat utang di Indonesia makin membuat investor menjauhi IHSG.
Sementara kasus gagal bayar Danatama dan disuspensinya 6 saham kelompok Bakrie makin menambah rentetan sentimen negatif di pasar.
Saham-saham yang jeblok harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 700 menjadi Rp 6.450, Indosat (ISAT) turun Rp 1.200 menjadi Rp 3.950, Antam (ANTM) turun Rp 110 menjadi Rp 1.050 dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 1.750 menjadi Rp 5.250.(ir/ddn)
AceN
October 8th, 2008, 07:28 AM
@ AceN, kemarin judulnya IHSG terburuk se-Asia en bisa u bantah.. sekarang detik.com keluarin berita lebih heboh neh... :lol:
kata siapa g ga bisa bantah lagi...neh...
Rabu, 08/10/2008 11:01 WIB
IHSG Terjelek Sedunia :bash:
Irna Gustia - detikFinance
Jakarta - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk menutup perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 10,38%
Egypt
INDEX VALUE CHANGE %CHANGE TIME
EGYPT HERMES INDEX -15.79% 10/08
CASE 30 INDEX -16.47% 10/08
source : Bloomberg
-----------------------------
Bro, itu berita dari DETIK.....u know laa, gaya berita detik gimana. Itulah mengapa g ga suka baca detik.com..
K14N
October 8th, 2008, 07:35 AM
:lol:kata siapa g ga bisa bantah lagi...neh...
Egypt
INDEX VALUE CHANGE %CHANGE TIME
EGYPT HERMES INDEX -15.79% 10/08
CASE 30 INDEX -16.47% 10/08
source : Bloomberg
-----------------------------
Bro, itu berita dari DETIK.....u know laa, gaya berita detik gimana. Itulah mengapa g ga suka baca detik.com..
Hahahaha, sampe dicari getho..... Klo ga di-suspend berapa yah minusnya, penasaran juga...
Btw, data Mesir itu 07 October Cen, idx kemarin.. Mesir kan belum buka stock exchange-nya
vBulletin® v3.8.3, Copyright ©2000-2010, Jelsoft Enterprises Ltd.