View Full Version : Part VI | Economy, Trade, and Business


Pages : 1 2 3 4 [5]

paradyto
November 18th, 2010, 02:53 AM
Stanchart: RI Masuk 10 Raksasa Ekonomi, 2020
Kekuatan Cina menggeser Amerika Serikat yang pada 2010 menjadi negara terbesar.
Rabu, 17 November 2010

VIVAnews - China akan menjadi negara adidaya ekonomi dunia pada 2020. Kekuatan Cina bakal menggeser Amerika Serikat yang pada 2010 masih menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Dalam laporan terbaru Standard Chartered Research yang berjudul "The Super-Cycle Report" pada 15 November 2010, bank terkemuka internasional itu menilai dunia tengah berada dalam sebuah kelanjutan periode waktu dari pertumbuhan ekonomi tinggi.

Negara-negara berkembang akan menjadi pendorong utama pertumbuhan. Bahkan, negara-negara berkembang akan dapat melampaui negara maju dengan lebih baik. Akibatnya, keseimbangan kekuatan global ekonomi akan bergeser tegas dari Barat ke Timur. "Asia akan mendorong sebagian besar dari pertumbuhan global selama 20 tahun ke depan," kata Stanchart.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi China akan menjadi 6,9 persen selama dua dekade mendatang, China menyalip Amerika Serikat untuk sebagai negara adidaya ekonomi dunia pada 2020.

Total PDB China saat itu sekitar US$ 24,6 triliun, meningkat dibanding 2010 sebesar US$ 5,9 triliun. Sedangkan, PDB Amerika sendiri diperkirakan mencapai US$ 23,3 triliun meningkat dibanding 2010 sebesar US$ 14,6 triliun.

Pertumbuhan ekonomi India naik 9,3 persen dalam periode yang sama dan mengekori Amerika Serikat sebagai perekonomian terbesar ketiga pada 2030. PDB India akan mencapai US$9,6 triliun. Posisi India langsung melesat, karena pada 2010 negara ini tidak masuk dalam daftar negara terbesar.

Selain China dan India, kekuatan baru yang bakal melesat adalah Brazil dan Rusia. Dalam satu dekade lagi, Brazil akan menempati posisi kelima dengan PDB US$5,1 triliun. Sedangkan, Rusia akan menempati posisi kedelapan dengan PDB US$ 3,5 triliun.

Kejutan lainnya adalah masuknya Indonesia - seperti halnya India - yang tahun ini tak masuk 10 negara terbesar ekonomi dunia. Namun, pada sepuluh tahun lagi, Indonesia akan masuk urutan kesepuluh dengan total PDB US$3,2 triliun.

Sementara, negara-negara Eropa yang sekarang dikenal sebagai negara industri maju justru turun dari posisi saat ini. Bahkan, Italia dan Kanada justru terpental dari sepuluh besar.

10 Besar Ekonomi Dunia 2010 dan 2020 2010 PDB (US$ triliun) 2020 PDB (US$ triliun)
1. Amerika Serikat 14,6 (2010) to China 24,6 (2020)
2. China 5,9 (2010) to Amerika Serikat 23,3 (2020)
3. Jepang 5,6 (2010) to India 9,6 (2020)
4. Jerman 3,3 (2010) to Jepang 6,0 (2020)
5. Perancis 2,6 (2010) to Brazil 5,1 (2020)
6. Inggris 2,3 (2010) to Jerman 5,0 (2020)
7. Italia 2,0 (2010) to Perancis 3,9 (2020)
8. Brazil 2,0 (2010) to Rusia 3,5 (2020)
9. Kanada 1,6 (2010) to Inggris 3,4 (2020)
10. Rusia 1,5 (2010) to Indonesia 3,2 (2020)

Sumber: IMF dan Stanchart

Menurut laporan Stanchart, peta negara maju dunia selalu berubah tiap dekade. Pada abad 19, awalnya Inggris sebagai negara produktif memimpin secara ekonomi, lalu disusul oleh Amerika Serikat menjelang akhir abad 19.

Namun, pasca era perang dunia, Jepang menjadi negara maju di bidang ekonomi. Sekarang, China menjadi negara yang ekonominya paling dinamis, sedangkan India akan menyusul secepatnya.

Kemajuan tersebut membuat standar hidup yang diukur dengan pendapatan per kapita akan meningkat sembilan kali lipat di China dan India dalam kurun waktu antara tahun 2000 hingga 2030.

Sedangkan pada 2030, kekuatan ekonomi akan bergeser dari negara Barat ke negara Timur. Sedangkan AS, Uni Eropa dan Jepang yang mewakili 72 persen ekonomi global harus menyusut hanya 29 persen pada 2030. Saat itu, kekuatan ekonomi telah pindah ke kekuatan baru, seperti China, India, Brazil dan Indonesia. (hs)

source:http://bisnis.vivanews.com/news/read/189139-indonesia-masuk-10-besar-ekonomi-2020
http://img541.imageshack.us/img541/4261/seagames2011.jpg (http://img541.imageshack.us/i/seagames2011.jpg/)

paradyto
November 18th, 2010, 02:57 AM
Stanchart: 2030, Ekonomi RI Kalahkan Jepang
Pada 2030, ekonomi Indonesia bukan sekedar menggeser Jerman, Prancis, Rusia dan Inggris.
Selasa, 16 November 2010

VIVAnews - Optimisme Indonesia sebagai calon kekuatan ekonomi dunia baru kian merebak. Kali ini, keyakinan itu datang dari bank nomor satu di Inggris, Standard Chartered Bank yang memperkirakan kekuatan ekonomi Indonesia akan mengalahkan Jepang pada 2030.

Dalam laporan khusus Stanchart berjudul "The Super-Cycle Report" yang baru saja dipublikasikan 15 November ini, bank terkemuka internasional itu menilai dunia tengah berada dalam sebuah kelanjutan periode waktu dari pertumbuhan ekonomi tinggi yang mereka sebut dengan istilah super-cycle.

Menurut Dr. Gerard Lyons, Chief Economist and Group Head of Global Research Stanchart, sebuah super-cycle berarti akan terjadi potensi terbalik dalam hal pertumbuhan global yang kuat. Ini juga tak terlepas dari fakta bahwa negara-negara berkembang akan menjadi pendorong utama pertumbuhan, sedangkan negara barat memiliki kemampuan untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan ekonomi global dengan beradaptasi dan berubah.”

Pertumbuhan kuat dimulai sejak tahun 2000 dan akan berlangsung hingga beberapa dekade mendatang. "Pada 2030, volume perekonomian global akan mencapai lebih dari US$300 triliun," demikian laporan tersebut. Volume ini naik dibandingkan posisi saat ini sebesar US$62 triliun.

Yang lebih menarik, kata laporan itu, negara-negara berkembang akan dapat melampaui negara maju dengan lebih baik. Akibatnya, keseimbangan kekuatan global ekonomi akan bergeser tegas dari Barat ke Timur. Pemicunya adalah peningkatan perdagangan, terutama pada pasar-pasar dari negara berkembang, industrialisasi yang pesat, urbanisasi dan meningkatnya masyarakat kelas menengah di negara berkembang.

"Asia akan mendorong sebagian besar dari pertumbuhan global selama 20 tahun ke depan," kata Stanchart. Asia yang kerap disebut adalah China, India dan Indonesia.

Pada saat itu, taraf hidup yang diukur dengan pendapatan per kapita riil, akan meningkat sembilan kali lipat di China dan India antara tahun 2000 dan 2030. Peningkatan penghasilan pribadi akan mendorong miliaran orang masuk kelas menengah dan meningkatnya konsumsi akan memacu pertumbuhan ekonomi domestik.

Tingkat pertumbuhan ekonomi China akan menjadi 6,9 persen selama dua dekade mendatang, bahkan menyalip Amerika Serikat untuk sebagai negara adidaya ekonomi dunia dalam satu dekade, yakni pada 2020. Pertumbuhan ekonomi India naik 9,3 persen dalam periode yang sama dan mengekori Amerika Serikat sebagai perekonomian terbesar ketiga pada 2030.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut laporan tersebut, dalam satu dekade mendatang, Indonesia akan menempati posisi kesepuluh sebagai kekuatan ekonomi dunia. Indonesia berada di bawah Jerman, Prancis, Rusia dan Inggris yang berada di urutan keenam hingga kesembilan.

Namun, pada satu dekade berikutnya atau 2030, Indonesia bukan hanya mengalahkan empat negara tersebut. Indonesia bahkan akan mengalahkan Jepang yang sekarang merupakan kekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia setelah Amerika dan China.

Pada saat itu, Indonesia berada di posisi kelima dunia dengan produk domestik bruto US$9,3 triliun sedangkan Jepang di urutan keenam dengan PDB US$8,4 triliun.

source:http://bisnis.vivanews.com/news/read/189101-stanchart--2030--ekonomi-ri-kalahkan-jepang
http://img541.imageshack.us/img541/4261/seagames2011.jpg (http://img541.imageshack.us/i/seagames2011.jpg/)

typhoonbringer
November 18th, 2010, 03:51 AM
hearing good news since 1990, asal jangan terlena dan kepeleset kaya 98 aja, bisa "reset" lagi growth kita

Mimihitam
November 22nd, 2010, 12:19 PM
Indonesia Stocks Buck Trend as Asian Stocks Rise on Ireland Bailout News


Bangkok. Asian stock markets were mostly higher Monday after debt-hobbled Ireland applied for a massive European Union emergency loan to bailout its banking sector, easing fears Europe’s debt woes will escalate.

Japan’s Nikkei stock index was up 1 percent, or 101.65 points, to 10,124.04 and South Korea’s Kospi rose 0.1 percent to 1,942.66. China’s Shanghai Composite Index advanced 0.4 percent to 2,901.07 and Australia’s S&P/ASX200 added 0.4 percent to 4,648.20.

Hong Kong’s Hang Seng index fell 0.3 percent to 23,536.86. Benchmarks in Singapore and Indonesia were also down.

Asia’s gains came after weekend talks to bail out Ireland’s financial sector, which was decimated after the country nationalized three of its six banks following the collapse of a real estate boom.
European Union finance ministers quickly agreed in principle to the bailout, saying it “is warranted to safeguard financial stability in the EU and euro area.” All sides said Sunday that further negotiations loomed.

Irish Finance Minister Brian Lenihan said Ireland needed less than $140 billion to use as a credit line for its state-backed banks, which are losing deposits and struggling to borrow funds on open markets. He said the loan facility could last anywhere from three to nine years. The International Monetary Fund also said it was prepared to offer loan assistance.

Ireland has been brought to the brink of bankruptcy by its fateful 2008 decision to insure its banks against all losses — a bill that is swelling beyond $69 billion and driving Ireland’s deficit into uncharted territory.

On Friday in New York, stocks posted slight gains after China took more steps to curb inflation, which traders fear could slow the country’s growth.

China ordered its banks to hold more reserves, the second time it has done so in the past two weeks. The goal is to curb lending and avoid speculative bubbles. Inflation in China shot to a more than two-year high last month. Investors also expect China to raise key interest rates as part of its effort to control inflation.

The Dow Jones industrial average rose 22.32, or 0.2 percent, to 11,203.55 on Friday. The broader Standard & Poor’s 500 index rose 3.04, or 0.3 percent, to 1,199.73.

In currencies, the euro rose to $1.3761 from $1.3673 late Friday in New York. The dollar fell to 83.41 yen from 83.56 yen.

Benchmark crude for January delivery was up 61 cents at $82.59 a barrel in electronic trading on the New York Mercantile Exchange.


Associated Press


http://www.thejakartaglobe.com/business/indonesia-stocks-buck-trend-as-asian-stocks-rise-on-ireland-bailout-news/407847

Mimihitam
November 23rd, 2010, 10:07 AM
Presiden: Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia 31 Juta Jiwa


Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersyukur jumlah penduduk miskin dari tahun ke tahun di Indonesia terus berkurang. 6 Tahun terakhir, persentase penduduk miskin terus menurun.

"Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin 16,66 persen atau sekitar 30 juta jiwa," kata SBY.

Hal tersebut dia sampaikan dalam sambutannya di acara Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara 2010 di Gedung Manggala Wanabakti Departemen Kehutanan, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (23/11/2010).

Pada tahun 2005 menurut SBY angka kemiskinan berkurang menjadi 16 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Namun pada 2007 seiring dengan naiknya harga minyak dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia melonjak menjadi 39 juta orang.

"Karena krisis minyak, jumlah penduduk miskin mencapai 17,75 persen atau 39
jutaan," sebut SBY.

Sementara pada tahun 2010 ini, persentase jumlah penduduk miskin berkurang jadi 13,33 persen saja atau sekitar 31 juta jiwa.

"Dengan catatan jumlah penduduk terus bertambah," ujarnya sambil menambahkan jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus 2009 sebanyak 237 juta jiwa.

Di Amerika Serikat yang notabene adalah negara maju saja, menurut SBY jumlah penduduk miskin mencapai 35 juta.

"Tapi kan income mereka lebih tinggi? Benar, tapi biaya hidup mereka jauh lebih tinggi," imbuhnya.

SBY menjelaskan, definisi kemiskinan seperti yang selama ini dikatakan PBB bukan hanya soal pendapatan per kapita saja. Melainkan banyak faktor lain.

"Tapi ada lapar, tak ada tempat berteduh, sakit dan tak bisa sekolah," papar SBY.

Atas dasar itulah, pemerintah mengupayakan berbagai program agar masyarakat bisa tetap sekolah, berobat ke dokter meski tidak mampu melalui program Jamkesmas, serta program-program lainnya yang pro terhadap orang miskin. SBY mengajak kepada para perempuan untuk bersama pemerintah membantu mengentaskan kemiskinan.

(anw/gun)

http://www.detiknews.com/read/2010/11/23/131736/1500202/10/presiden-jumlah-penduduk-miskin-di-indonesia-31-juta-jiwa?991102605

David-80
November 24th, 2010, 05:02 PM
Coca Cola Amatil meets with SBY, pledges to up investment

Erwida Maulia, The Jakarta Post, Jakarta | Wed, 11/24/2010 1:57 PM | Business
A | A | A |

Australia-based Coca Cola Amatil will increase its investment in Indonesia by A$100 million per year, it was announced when the company’s managing director Terry Davis met Wednesday with Indonesia’s President Susilo Bambang Yudhoyono.

Davis told reporters after the meeting at the Presidential Office that his company would continue to increase its investment in the country every year for at least the next three years.

“Tomorrow we’ll be announcing [that] we’ll be increasing our investment in Indonesia by a hundred million dollars per year for at least the next three years,” he said.

“So we’re gladful [sic] to be able to talk to the President today and share with him our plans for Indonesia.”

Davis said the President explained to him that Indonesia was continually improving power access and infrastructure, something his company had been hoping to hear.

He added that Coca Cola Amatil, which bottles non-alcoholic beverages, employed 10,000 Indonesians and was planning to expand the business through, among others, increasing warehousing and distribution.

source http://www.thejakartapost.com/news/2010/11/24/coca-cola-amatil-meets-with-sby-pledges-investment.html

cheers

David-80
November 24th, 2010, 05:05 PM
Indonesia Regional Infrastructure Budget Gets 35% Boost

Faisal Maliki Baskoro | November 24, 2010

Jakarta. Recognizing the growth potential of Indonesia’s far-flung reaches, the government has increased its infrastructure budget by 35 percent for regional administrations.

The Public Works Ministry increased the regional development allocation for 2011 to Rp 6.05 trillion ($677.6 million) to help local administrations spur economic growth.

As of November, the ministry had allocated only Rp 25 trillion of its of its total Rp 37 trillion budget. Realization of infrastructure projects is only at 71.5 percent.

The ministry is responsible for the development of roads, bridges and ports.

The ministry had also made it a priority to speed up budget spending, aiming to allocate 93 percent of its funding by the end of the year.

In order to meet the target, the ministry has formulated technical criteria and implementation guidelines for infrastructure projects, based on existing government regulations on infrastructure development spending.

The ministry is focusing the budget on four aspects: road development, water irrigation, water treatment, and sanitation.

Juniman, an economist from Bank International Indonesia, said that significant regional development could not be possibly be achieved without addressing problems like bureaucracy, land reform, and centralized policy coordination.

“Even though the government increased it by 35 percent, the budget alone is not enough to boost regional development.

“The government has been increasing the budget each year, but growth in other regions is still lagging behind Java.”

Juniman said the main stumbling blocks to regional development were slow budget spending caused by poor policy coordination, government red tape and land acquisition hurdles.

“Land acquisition issues are vital to boost infrastructure development. Investors need legal certainty before they decide to invest. Increasing the budget without proper implementation and legal certainty will not do much good,” he said.

“Infrastructure planning and implementation must be improved if the government wants to achieve 7 to 10 percent growth next year,” Juniman added.

Even with legal certainty in limbo and budget allocation problems, private companies are starting to tap into outlying regions.

Optimistic about the future of regional development, Lippo Karawaci, the nation’s biggest property developer, has shifted its focus to Eastern Indonesia by expanding its health care business.

The company acquired two hospitals this month in Jambi and East Kalimantan, with plans to upgrade them to accommodate growing demand for modern medical facilities. The Jakarta Globe is affiliated with Lippo.

Retailer Midi Utama, which owns the Alfa Midi chain stores, said it would use proceeds from its initial public offering to open 100 more supermarkets in the regions.

source http://www.thejakartaglobe.com/business/indonesia-regional-infrastructure-budget-gets-35-boost/408352

cheers

Mimihitam
November 25th, 2010, 02:01 PM
Nice video from CNN :D

http://edition.cnn.com/video/#/video/world/2010/11/23/ilist.indonesia.young.rich.cnn

Mimihitam
November 25th, 2010, 02:03 PM
Santiaga Uno: Indonesia's inspirational entrepreneur

Jakarta, Indonesia (CNN) -- Santiaga Uno is without doubt one of Indonesia's richest men.
With an estimated personal wealth of $400 million dollars and assets valued in the billions, the 41-year-old's climb to the top is an inspiration to many budding entrepreneurs.
Yet this father of two, from humble beginnings is not interested in promoting his own story but rather that of his country and its enormous potential.
Dressed in a green batik shirt, a patriotic gesture to the rich cultural heritage of Indonesia, the businessman knows how lucky he is. From his high-rise office building in downtown Jakarta, Uno speaks of the sacrifices his parents made to send him to university in the United States. It was there he discovered an interest in business that led him to a job in Canada.
I see all these paradoxical situations. Things don't gel and it really ticks me off. We in Indonesia should do better.
--Sandiaga Uno, businessman

But his dream of working overseas came to an abrupt end when the company he was working for collapsed, putting Uno out of a job. He was forced to return home, but the timing couldn't have been worse with Asia in economic meltdown from the 1997 financial crisis.
Struggling to provide for his family, Uno decided against the odds to set up his own business and with four staff in a tiny office, Saratoga Capital was born.
Twelve years later it is one of Indonesia's largest investment firms employing more than 20,000 people.
Uno believes failure is just as important as success and while he admits there were plenty of hard knocks he was confident his gamble would pay off in the long term.

"I knew when Asia came out of the crisis energy would be in high demand. So we started getting serious looking at those opportunities," he said.
And now it is energy that is his primary focus; investing in coal, oil, gas, toll roads, plantations and shipping ports.
Indonesia is going through an enormous economic boom thanks partly to its valuable natural resources. Indonesia's stock market is outperforming its neighbors and the region. Growth is expected to reach 6 percent this year and an emerging middle class is fueling domestic demand.
Despite all this success, Uno believes the country's wealth is not being evenly distributed. Around 40 million of the country's 242 million people still live below the poverty line and Uno describes this as a recipe for disaster.
"Basically if we are not careful the rich will get richer and the poor will get poorer and the gap will be the next embryo of the next unrest. So we as businessmen need to make sure the wealth is spread more equally," he said.
Uno is extremely passionate about the future of Indonesia and while he will talk up the country as the next place to invest along side China and India, he's acutely aware and critical of its pitfalls.
He says corruption is the number one problem holding his country back, a view shared by many in the international community. He says to have sustainable growth Indonesia must be attractive to foreign investors.
"I think the government is on the right track in stamping out corruption; it's moving in the right direction. But the speed and pace is not satisfactory, I think people want to see more," he said.
Another major problem is infrastructure and for Uno this has become his "personal crusade". He says anyone who visits the nation's capital Jakarta is greeted by a dilapidated international airport followed by gridlocked roads. His companies have $20 billion to invest in infrastructure projects.
"The money is there, we just need the government to sort out the land acquisition problem among other things which will require changes in the law and then we can start building the infrastructure Indonesia so desperately needs," he said.
Earlier this year, Uno was invited by U.S. President Barak Obama to attend an Entrepreneur's Summit in Washington DC. He describes how impressed he was with the U.S. President who spoke to him in Bahasa and believes the leader of the free world knows just how important Indonesia has become.
Uno says his wealth brings power -- he regularly has the ear of his president Susilo Bambang Yudhoyono -- but insists it's not about money or the people you brush shoulders with. His motivation to succeed is much greater than that.
"I see all these paradoxical situations. Indonesia has the 18th largest economy but we're ranked 122 in the world for ease of doing business. It doesn't gel and it really ticks me off. We should do better," he said.
"We are so rich in resources but we can't even produce. For example we produce coca but don't have chocolate factories. We produce crude palm oil but we don't have perfume or soap industries. So we're just exporting our raw materials without being able to process it. I think in the next four to five years Indonesia must be able to generate that expertise."

http://edition.cnn.com/2010/BUSINESS/11/24/indonesia.uno.wealth/index.html

Mimihitam
November 25th, 2010, 02:06 PM
http://edition.cnn.com/video/#/video/world/2010/11/21/sidner.indonesia.biz.cnn

Mimihitam
November 26th, 2010, 01:08 AM
Pertumbuhan Ekonomi 2011 Diprediksi Lebih Tinggi dari 2010


Laporan Wartawan Tribunnnews.com, Andri Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 akan lebih tinggi dibandingkan tahun 2010.

Hal ini akan ditopang sisi eksternal yang kondusif dan permintaan domestik yang tetap kuat.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution, dalam sambutannya, yang dibacakan Kepala Direktorat Riset dan Pengembangan BI, Sugeng, dalam "Seminar Market Outlook 2011", mengatakan bahwa prospek perekonomian global yang melambat pada 2011 berdampak bagi prospek pertumbuhan ekonomi domestik di 2011.

Terutama, imbuhnya, melalui net ekspor yang menurun sejalan dengan impor yang diperkirakan mengalami peningkatan cukup tinggi.

"Diperkirakan, perekonomian masih akan bertumpu pada permintaan domestik yang bersumber dari masih kuatnya konsumsi rumah tangga, karena kuatnya keyakinan konsumen dan berlanjutnya perbaikan investasi yang didukung oleh iklim investasi yang lebih kondusif serta perbaikan soverign credit rating Indonesia menuju investment grade," jelasnya, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (25/11/2010).

Lebih lanjut, Sugeng menyatakan, mempertimbangkan berbagai hal tersebut, kata dia, ekonomi Indonesia di 2011 diperkirakan dapat tumbuh dalam kisaran enam hingga 6,5 persen.

Sementara itu, tekanan inflasi tahun 2011 mendatang diperkirakan dapat dijaga pada kisaran target yang ditetapkan 5 persen ± 1 persen.

http://www.tribunnews.com/2010/11/25/pertumbuhan-ekonomi-2011-diprediksi-lebih-tinggi-dari-2010

Mimihitam
November 26th, 2010, 09:16 AM
Growing Indonesia set to 'outperform'

BY VANCOUVER SUN OCTOBER 15, 2010 BE THE FIRST TO POST A COMMENT

Indonesia is rarely mentioned in the same breath as the so-called BRIC economies that investors and exporters eye with envy. Yet the country is home to the world's fourth-largest population, at 237 million, trailing only two of the BRIC countries, China and India, and the United States. Its economy grew 4.5% last year, the third-highest among the Group of 20 economies, and the momentum carried over into 2010, with first-quarter growth of 5.1% annualized followed by a 6.5% expansion for the April-to-June period. And, according to the International Monetary Fund, Indonesia was the only G20 country to lower its ratio of debt to gross domestic product during the financial crisis. "It certainly has the size that you would think it should be among the BRICs," said Robert Simmons, chief representative for Export Development Canada in southeast Asia. "But it has never quite lived up to its potential."

That may be about to change in the coming years. In its recent forecast on the Far East, CLSA Asia-Pacific Markets said Indonesia would be the region's "outperformer" over the next two years when the global economy is expected to cool down in the post-stimulus era. It anticipates Indonesian GDP to expand 5.6% next year and 5.4% in 2012.

"Indonesia has a large domestic economy and favourable demographics with an expanding young and middle-class population," said Anthony Nafte, CLSA senior economist. Foreign capital has flowed into the economy, with net foreign direct investment estimated at US$2.9-billion for the first six months of 2010-- on track, Mr. Nafte said, to beating the previous annual high of US$5.3-billion in 2005. The main stock market in Jakarta has reached myriad highs in recent weeks, and investors hold a record amount of Indonesian bonds.

Long term, observers say, the $617-billion economy is going to be a place Canadian businesses want to tap as it looks to diversify from its historical reliance on the United States, which is undergoing a wrenching multi-year restructuring. Traditionally, commodities such as potash, used in fertilizer, were the leading Canadian exports to Indonesia. But Mr. Simmons said there's an evolution afoot that Canadian firms could capitalize on. Engineering firms such as SNC-Lavalin and Stantec could tap into the myriad infrastructure projects likely to pop up, while technology companies can provide products required to get the country "wired," so to speak.

Plus, analysts add, wage pressures in China and political risk in Thailand provide Indonesia a chance to expand its manufacturing sector.

Policymakers in the largely Muslim country have worked hard to position Indonesia for growth, especially given how far it fell just over a decade ago. Indonesia's economy contracted more than 13% in 1998, making it the country that bore the biggest brunt of the Asian currency crisis. Banks collapsed, and millions were thrown into poverty. Exacerbating matters was the political instability, sparked by the fall of the Suharto dictatorship.

Indonesia's transition to full-fledged democracy has taken time, but is bearing fruit. President Susilo Bambang Yudhoyono, or SBY, was re-elected for a second term in 2009, and is credited with implementing key economic reforms that make the country more attractive to foreign investors. Devolution of power and revenue sources from Jakarta to the regions has allowed for a more equitable transfer of wealth through the country, as opposed to being concentrated in the capital.

The country's finance minister has said he wants Indonesia to obtain an investment grade rating, in an effort to attract even more capital -- capital that is desperately needed to upgrade the country's feeble infrastructure. "Attracting investment for infrastructure has been problematic in the past," said Mr. Simmons of EDC.

In a recent report, the Asian Development Bank said "inadequate and poor" quality of infrastructure was holding the country's economy back. Among the drawbacks: one of the lowest road densities in southeast Asia; overstretched ports; and fragile electricity distribution. This is why Indonesia's manufacturing sector has yet to take off with vigour, and the economy relies on commodities and agriculture.

CLSA noted, as well, that restrictive labour regulations, lack of confidence in the legal system and perceptions that corruption remains rife are issues SBY has yet to fully address -- and doing so would further entice businesses looking to expand in Indonesia and broaden their revenue base.

pvieira@nationalpost.com

http://media.canada.com/idl/vasn/20101015/VASN_20101015_C004_growingindonesi_275935_MI0001.jpg

Mimihitam
November 26th, 2010, 09:22 AM
Wah, Sekitar 10 BUMN Bakal 'Dilepas'

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar mengatakan, setidaknya ada sekitar tujuh sampai 10 BUMN lagi yang akan disetujui untuk go public, selain PT Krakatau Steel dan Garuda Indonesia.

Pemerintah akan melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) dari perusahaan-perusahaan milik negara tersebut dalam tahun 2011. "Yang akan datang sedang diseleksi sekitar 7-10 buah lagi BUMN yang akan di-IPO-kan," ungkap Menteri BUMN Mustafa Abubakar di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jumat (26/11/2010).
Mustafa membantah tudingan bahwa pemerintah ingin menjual perusahaan-perusahaan ini tanpa alasan. Menurutnya, pemerintah membutuhkan biaya untuk pembangunan di mana sekitar 80 persen dananya harus dipenuhi dari pihak swasta. "Lagipula, itu kecil sekali dibandingkan dengan 141 perusahaan BUMN yang kita punya," ungkapnya.

Mustafa mencontohkan keberhasilan PT Telkom Tbk dan Bank Mandiri yang maju pesat setelah go public. Mengenai perusahaan mana yang sedang dievaluasi, Mustafa enggan berkomentar. Namun, jika penilaian cukup baik, Mustafa mengatakan PT Pelindo dan PT Angkasa Pura bisa menjadi salah satu pilihan.

"Tetapi, kami sudah nge-list evaluasi untuk kita bawa ke rapat Menko Perekonomian sebagai Ketua Komite Privatisasi. Mungkin minggu depan, atau paling lambat dua minggu akan ada pertemuan untuk mengarahkan perusahaan-perusahaan mana yang layak go public lagi," tambahnya.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/11/26/14064540/Wah.Sekitar.10.BUMN.Bakal.Dilepas

Mimihitam
November 26th, 2010, 11:24 AM
New Kadin Board Urging Indonesian Government Incentives for Growth
Faisal Maliki Baskoro & Fransiska Nangoy | November 25, 2010


Jakarta. With economic opportunity knocking on Indonesia’s doors, the freshly formed board of the country’s chamber of commerce has called on the government to provide greater incentives for businesses and a stimulus package to help the nation achieve double-digit growth by 2014.

Suryo Bambang Sulisto, the new chairman of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin), said on Thursday that business-friendly policies were needed to boost Indonesian companies, which were facing stiff competition from foreign firms.

“Next year’s economic challenge will be tough,” Suryo said. “The new executive board will discuss with the government the stimulus package that the business world needs in order to reach double-digit growth by 2014.”

Comprising some of the country’s most powerful businessmen, Kadin’s newly inaugurated executive board also said it was keen to work closely with the government to boost growth.

Suryo added that in the next five to 10 years, the Western economies that had powered the world economy and served as the main export destinations for Indonesia would suffer more economic slowdowns.

Indonesia therefore needed to find new markets for its goods if the economy was to continue to expand.

The country, he added, should focus on its competitive advantages, including its big population, rich natural resources and ample agricultural land.

“Indonesia’s economy is gridlocked. This means that if we experience an economic decline, the impact would be severe,” he said. “But the economy cannot grow faster because it is lagging in infrastructure.”

Indonesia has been one of the fastest growing economies in the region this year and escaped relatively unscathed from the global economic downturn in 2008, but lack of infrastructure and excessive red tape has stunted growth.

The economy is expected to achieve 6 percent growth in gross domestic product this year.

Kadin’s call has been heeded by the government, with the coordinating minister for the economy, Hatta Rajasa, saying the chamber will play an important role in helping boost per capita income to $5,500, from $3,300 now, over the next few years.

“The government sees Kadin as a strategic partner,” he said. “We will facilitate a quarterly meeting to improve policy coordination and formulation.”

James Riady, Kadin’s deputy chairman for manpower, education and health, said that over the next five years, significant investment should go into improving education and health so that they meet international standards and be affordable at the same time.

“Only 2 percent of the population can afford to study at university,” he said, “so building more universities, especially in eastern Indonesia, will be crucial.”

Riady is deputy chairman of the Lippo Group, which is affiliated with the Jakarta Globe.

Zulkarnain Arief, Kadin’s deputy chairman for infrastructure, construction and property, also called for the government to spend more on infrastructure, which would help create jobs.

“Construction companies are struggling with stiff competition and soaring raw material prices,” he said. “The government must provide us with stimuli, even if it means increasing its budget deficit — as long as the industry grows.”

Kadin on Thursday also announced its new board members, including prominent businessmen like Emirsyah Satar, president director of flag carrier Garuda Indonesia; Rosan P. Roeslani, president director of Recapital Advisers; and Peter F. Gontha, president commissioner at First Media.

A surprise addition to the committee was Edhie Baskoro, also known as Ibas, the 28-year-old lawmaker son of President Susilo Bambang Yudhoyono. Edhie was elected as Kadin’s deputy chairman for international promotion, tourism and culture.

“Ibas was elected based on his experience at the House of Representative’s Commission I, overseeing defense and foreign affairs,” Suryo said.

“He may be young, but Kadin needs to start regenerating.”

http://www.thejakartaglobe.com/business/new-kadin-board-urging-indonesian-government-incentives-for-growth/408562

Mimihitam
November 26th, 2010, 11:27 AM
Orang Miskin RI 8 Kali Warga Singapura

BANDUNG, KOMPAS.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengakui, jumlah penduduk miskin Indonesia masih besar. Angka itu sekitar 31 juta orang atau sebesar 13,3 persen dari penduduk Indonesia, lebih kurang 230 juta orang.

"Itu jumlah yang besar. Kira-kira sama dengan delapan kali jumlah penduduk Singapura," ujar Rusman di Bandung, Jumat (26/11/2010).

Penduduk miskin yakni mereka yang tak bisa mencukupi kebutuhan dasarnya. Berbagai kebutuhan itu seperti makanan dengan acuan antara lain sebesar 2.100 kalori per hari. Kebutuhan lain yakni nonpangan seperti sekolah, mobilitas, dan kesehatan. Penduduk miskin bisa dibantu dengan subsidi.

"Dukungan lain misalnya beras untuk rakyat miskin (raskin). Akan tetapi, langkah-langkah itu tetap tak membuat pendapatan mereka naik," katanya.

Rusman juga menyebutkan angka pengangguran terbuka sekitar 7,41 persen. Mereka dianggap tidak bekerja sama sekali. Kondisi yang terjadi yakni tumbuhnya sektor informal. "Dulu, sektor itu dianggap kecelakaan ekonomi tapi sekarang sudah sejajar," kata Rusman.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/11/26/16041230/Orang.Miskin.RI.8.Kali.Warga.Singapura

Mimihitam
November 26th, 2010, 01:08 PM
Jakarta minimum wage rises by 15.38% next year

The Jakarta Administration has increased the provincial minimum wage (UMP) for 2011 to Rp 1,290,000, (US$120) or an increase by 15.38 percent from the 2010 minimum wage of Rp 1,118,009.

Jakarta Manpower and Transmigration Agency head Deded Sukandar claimed that the increase was much higher than the demand of Rp 1,197,000, or 7.15 percent, proposed earlier by workers unions.

The 2011 minimum wage, which applies for a single-status worker with under one year's work experience, however, is still below the surveyed cost of living, which stands at Rp 1,401,829.

Deded said that some sectors would enjoy a higher increase. The sectoral minimum wage will be decided by the administration by the end of this year.

"The sectoral minimum wage is 5 percent higher than the UMP minimum, especially lucrative sectors such as automotive industries, “ Deded said. Friday.

Meanwhile, head of the Jakarta Workers Union (Aspek), Mas Muanam, said that the 2011 minimum wage referred to the economic growth forecast by 7 percent and the inflation rate of between 6 and 6.5 percent next year.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/11/26/jakarta-minimum-wage-rises-1538-next-year.html

lombok
November 29th, 2010, 08:41 AM
Charles Brookfield: Aston Bangun Hotel di Setiap Kota

Senin, 29 November 2010 | 09:26 WIB


“Aston International merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang mendefinisi ulang konsep serviced apartment menjadi konsep hotel harian dan memberikan fasilitas long stay,” kata President dan CEO Aston International.

Stretagi yang meredefinisi industri serviced apartment ini membuat Aston tidak hanya bermain, tapi juga ingin mengubah cara bermain.

Melalui kerja keras, Aston akhirnya memindahkan kantor pusatnya dari Hawaii ke Jakarta pada tahun 2000, dengan konsentrasi penuh pada pengembangan di Indonesia dan Asia Tenggara.

Brand hotel-hotel di bawah manajemen Aston International adalah Grand Aston, hotel bintang lima dengan standar internasional tertinggi, sedangkan Royal Kamuela untuk resort mewah bintang lima.

Aston adalah brand hotel bintang empat, termasuk serviced apartment, dan resort, sementara Kamuela Villas adalah brand villa bintang empat. Aston memiliki tiga brand di kelas bintang tiga, yaitu Aston City, Aston Inn, dan Quest. Sementara di kelas bintang dua, brandnya Fave.

Berikut ini wawancara Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Charles Brookfield, President dan CEO Aston International di kedai kopi Starbucks di kawasan Kuningan, Jakarta, belum lama ini.

Charles, Anda lahir di Amerika. Bagaimana masa kecil Anda di sana?
Saya lahir di sebuah pulau kecil, Key West di Florida, Amerika Serikat. Saya tumbuh di Boston dan beberapa kota lainnya di berbagai negara bagian. Orangtua saya sudah lama meninggal dunia. Saya tak mau bicara tentang mereka.

Saya lahir pada 13 Juni 1953 sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Namun saya jarang bertemu dengan adik saya.

Masa muda saya dihabiskan di Boston, Massachussets, Amerika Serikat. Waktu itu saya merasa saya harus belajar lebih keras untuk menjadi murid yang top. Saya belajar di Boston College, sekolah yang dikelola pater Jesuit.

Dulu Anda memang bercita-cita jadi pengusaha hotel?
Ketika saya masih kecil, saya bercita-cita ingin menjadi profesor dan mengajar sejarah dan bahasa inggris di universitas.

Tapi ketika saya di college, saya berpikir harus mencari uang. Jadi saya mengganti cita-cita saya dari menjadi profesor ke pebisnis. Saya ambil mata kuliah bisnis. Dan setelah lulus, saya sempat bekerja di perusahaan konsultan bisnis di Boston selama lima tahun.

Kapan Anda bergabung dengan Aston?
Tahun 1976 saya bergabung dengan Aston, yang waktu itu masih merupakan perusahaan kecil di Hawaii, Amerika. Saya 18 tahun bekerja di sana, sempat menjadi GM hotel kecil dan kemudian Vice President Aston di Hawaii.

Setelah dipromosikan menjadi President Aston International, saya mulai mencari peluang baru. Negara mana yang perlu didatangi untuk mengembangkan Aston.

Kapan Anda mengembangkan Aston di Indonesia dan apa fokus Anda?
Saya melirik Asia. Saya melihat Indonesia yang memiliki jumlah penduduk hingga 200-an juta. Saya pikir saya mendapat tantangan untuk membangun, mengelola Aston di Indonesia.

Tahun 1997 saya datang ke Indonesia. Namun tak berapa lama, terjadi krisis ekonomi dan Presiden Soeharto jatuh. Saat itu bisnis hotel di Indonesia tidak berkembang karena tak ada yang mau datang ke hotel pada masa krisis ekonomi.

Saya ingin sekali berkompetisi dengan hotel yang memiliki brand-brand besar seperti Hyatt, Shangri-La yang punya banyak kamar dan restoran. Tapi saya lebih mencari pasar menengah dan di bawahnya.

Jakarta punya banyak hotel bintang lima, namun bintang lima di Jakarta beda dengan di Singapura. Saya lalu berpendapat Aston sebaiknya membangun hotel bintang empat dengan pangsa pasar domestik. Dan banyak kota lainnya butuh hotel bintang tiga dan bintang dua.

Mengapa Anda memutuskan masuk pasar Indonesia?
Tentu saja saya membuat riset terlebih dahulu tentang Indonesia, Filipina, Maldives dan negara lainnya. China dan India negara dengan jumlah penduduk sangat banyak. Di China, Aston butuh hubungan yang sangat kuat dengan pemerintah di sana.


Aston International merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang mendefinisi ulang konsep serviced apartment menjadi konsep hotel harian dan memberikan fasilitas long stay.
-- Charles Brookfield

Tapi di Indonesia, demokrasi mulai tumbuh setelah rezim Soeharto jatuh tahun 1998. Jadi saya pikir saya mengambil risiko besar, gambling, dengan menanamkan uang di Indonesia.

Saat ini banyak orang berpikir wow Aston makin sukses. Tapi jangan lupa, kami memulainya sejak tahun 1997 lalu.

Apa proyek pertama Aston di Indonesia?
Proyek Aston pertama di Tanjung Benoa Bali dan Sudirman Jakarta. Aston Tanjung Benoa sempat mengalami konflik antara pemilik lama dan pemilik baru, namun Aston masih mengelola hotel itu. Sedangkan Aston Sudirman kontrak dengan Grup Lippo hanya 10 tahun. Setelah itu, karena Lippo mengembangkan bisnis hotel sendiri, Aston Sudirman tidak dikelola Aston lagi.

Kunci mengembangkan bisnis hotel di Indonesia memang harus sabar. Dan setelah Aston mulai berkembang, saya memutuskan untuk menciptakan brand baru untuk kelas hotel bintang dua, yaitu favehotel.

Mengapa Aston ikut bermain di budget hotel?
Saya melihat peluang budget hotel di Indonesia sangat besar mengingat masih sangat sedikit yang masuk pasar ini. Favehotel cocok untuk business travelers dengan small budget.

Aston sudah menandatangani 12 sampai 15 kontrak untuk favehotel. Saat ini baru dua favehotel yang beroperasi, yaitu di Denpasar dan Surabaya.

Setiap tahun kami akan buka 10 favehotel, dan dalam lima tahun ke depan dibuka 50-an favehotel baru. Favehotel juga akan dibuka di Filipina.

Aston juga merambah Langkawi, Malaysia. Bulan Juni atau Juli 2011, Aston sudah beroperasi di Malaysia.

Aston saat ini termasuk yang leading dalam industri hospitality...
Kami membuat riset pasar, kota mana saja yang perlu dibangun hotel. Kami melihat kebutuhan pasar. Dan ternyata yang dibutuhkan pasar domestik adalah hotel bintang dua dan bintang tiga. Hampir setiap kota di Indonesia butuh hotel bintang dua dan bintang tiga. Dan beberapa kota lainnya butuh hotel bintang empat.

Banyak ibu kota di dunia yang memiliki hotel butik dengan desain unik. Tapi saya melihat Jakarta belum banyak punya hotel butik bintang empat dan bintang lima. Ini tantangan dan peluang.

Saya pikir konsumen harus punya pilihan, hotel mana yang baik. Bukan hanya business travelers, tapi juga termasuk student travelers dan family travelers. Mereka butuh hotel bintang dua dengan brand global karena lebih hemat dan lebih aman.

Menurut Anda, mengapa investor memilih Aston sebagai mitra?
Alasan utama, mereka tahu kami di Aston bekerja keras. Tell me your dream, tell me your vision. Kami akan mewujudkannya. Dan rahasia ada pada service. Saya percaya ini.

Bagaimana masa depan industri hospitality di Indonesia?
Indonesia memiliki masa depan yang fantastis! Sepuluh tahun ke depan, setiap kota di daerah tingkat dua di Indonesia akan punya hotel bintang dua dan tiga. Ini ada di setiap kota.

Di Jakarta, kami melihat konsep kondominium mulai tumbuh. Dan perkembangan pesat tidak hanya ada di Bali, tapi juga di daerah lainnya, antara lain Lombok.

Saya juga melihat serviced residence dan hotel butik berkembang. Jadi 10 tahun ke depan, industri hospitality berkembang, meningkatkan pajak dan membuat konsumen punya banyak pilihan.

Bagaimana Aston menghadapi persaingan di hotel bintang dua?
Kami menghadapi kompetisi ini karena dalam industri hosipitality, kuncinya ada pada pelayanan terbaik, the best service. Jika makin banyak hotel yang bersaing, artinya pelayanan kepada konsumen akan makin baik. Ini bagus untuk konsumen.

Putra dan putri Anda, Jules Brookfield dan Tenaiya Brookfield sudah dilibatkan dalam perusahaan ini. Ke depan, Jules dan Tenaiya akan memegang kendali Aston International?
Saat ini, di bawah saya selaku President, adalah John Flood, Vice President. Tapi di masa depan, kalau saya promosikan diri saya menjadi Chairman, dan John Flood menjadi President Aston International, maka Jules akan menjadi President setelah John pensiun.

Saat ini Jules, Direktur Teknologi, mendalami bidang teknologi untuk mengembangkan Aston. Jules juga belajar Bahasa Indonesia, untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat Indonesia.

Bulan Desember 2010, Jules berusia 29 tahun. Jules punya adik perempuan, Tenaiya, yang usianya dua tahun lebih muda. Sekarang Tenaiya menjadi E-commerce Manager dan tinggal di Bali. Saya beruntung kedua anak saya ada di Indonesia dan bekerja di perusahaan yang saya kembangkan.

Anda tadi mengatakan akan mempromosikan diri menjadi Chairman Aston International. Kapan itu terjadi?
Lima sampai sepuluh tahun ke depan. Saya sekarang owner Aston International. Kami punya tim yang kuat. Kami berinvestasi pada sumber daya manusia yang bagus untuk mengembangkan perusahaan ini.

Aston berencana mengoperasikan 50 hotel dalam lima tahun ke depan?
Saya harap lebih dari 50 hotel, mungkin seratus hotel. Sampai tahun 2010, Aston mengoperasikan 30-an hotel untuk semua brand.

Memang Aston kelihatan agresif, namun setelah itu kami melakukan konsolidasi, lalu melaju kencang lagi. Yang pasti, kami akan membuka hotel di mana kota itu didatangi Garuda Indonesia. Jadi Garuda menjadi indikatornya.

Tapi bagi saya, indikator lainnya adalah Starbucks. Di mana Starbucks buka, di sana ekonomi bergerak.

Saya percaya dalam 10 tahun ke depan, ekonomi Indonesia sangat kuat. Makin banyak rakyat Indonesia yang berpendidikan. Kelas menengah terus tumbuh. Dan Indonesia makin demokratis. Demokrasi merupakan hal penting bagi masyarakat dan negara Indonesia.

Anda menilai kehidupan demokrasi sangat penting di Indonesia?
Demokrasi sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Kita lihat masyarakat Amerika sangat kuat. Rakyat punya hak untuk marah pada pemerintah, punya hak untuk bicara. Ini dasar yang penting bagi negara dan pemerintah yang demokratis.

Apa saran Anda untuk Pemerintah Indonesia, bagaimana memajukan industri hospitality?
Ketika saya berkeliling dunia dan melihat sektor pariwisata sebuah negara sukses, artinya negara itu sukses. Saya percaya hal ini.

Yang penting diperhatikan adalah bagaimana pemerintah membangun infrastruktur jalan, jembatan, bandara yang bagus di setiap kota. Jika infrastruktur dibangun dengan baik, otomatis wisatawan akan terkesan dan akan kembali lagi. Indonesia butuh banyak bandara yang dinamis dan enerjik, demikian pula pelabuhan yang bagus.

Indonesia juga perlu membangun kawasan wisata seperti Disneyland dan Seaworld di banyak kota. Coba Anda lihat Singapura. Mengapa banyak wisatawan datang ke Singapura? Karena mereka sangat dinamis dan kreatif. Hotel dan resort baru dibangun. Atraksi baru dikembangkan.

Indonesia punya keindahan alam yang luar biasa. Banyak pulau yang bagus. Indonesia harus punya rencana yang matang aagr industri hospitality berkembang pesat.

Indonesia juag butuh lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya manusia yang bagus dalam industri hospitalty. (Robert Adhi Ksp)

Mimihitam
November 29th, 2010, 12:43 PM
Kadin: Ekonomi RI Bisa Setara China dan India

VIVAnews - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo B Sulisto menilai kekuatan ekonomi dunia telah bergeser ke Asia dengan China dan India sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.

"China dan India menjadi kekuatan ekonomi terdepan dan terkemuka," ujar Suryo di Jakarta, Kamis, 25 November 2010. "Kami berharap ke depan, Indonesia akan berada di posisi sejajar dengan China dan India."

Untuk menggapainya, pengurus Kadin yang baru siap menjadi mitra pemerintah guna mencapai target pertumbuhan perekonomian nasional, sekaligus memantapkan posisi Indonesia di tingkat dunia. "Tantangan ekonomi ke depan cukup kompleks dan berat. Kita harus bekerja keras. Kadin dan pemerintah harus kompak dan efektif menghadapi tantangan tersebut."

Dia mengatakan dengan kerja keras bersama pemerintah, tidak mustahil Indonesia bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang sekarang mencapai 6 persen tumbuh lebih pesat hingga dua digit.

Menurut dia, itu bisa dicapai dengan kebijakan probisnis, menghilangkan hambatan-hambatan berupa peraturan-peraturan dan keamanan. Di sisi lain, perlu ada insentif baik fiskal dan moneter, serta stimulus yang bisa menggairahkan sektor-sektor tertentu yang memiliki potensi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Organisasi, Keanggotaan, Pemberdayaan Daerah dan Tata Kelola Perusahaan, Anindya N Bakrie mengatakan Kadin akan menjadi motor pertumbuhan dan daya saing sekaligus jembatan antara pemerintah dan dunia usaha dalam proses pembangunan guna memantapkan posisi Indonesia sebagai pemimpin pemain regional.

"Tidak akan ada pertumbuhan tanpa pembangunan. Tidak ada pembangunan tanpa investasi baru, dan tidak akan ada investasi tanpa adanya daya saing. Daya saing juga tak akan bertambah tanpa pembangunan merata dan wawasan lingkungan," ujar Anindya.

Siklus ini digerakkan oleh swasta dan diarahkan oleh pemerintah sesuai dengan komitmen Indonesia pada dunia internasional. Menurut dia, Kadin harus mampu merespons perkembangan jaman secara cepat dan tepat untuk memperkuat daya saing, kapasitas produksi dan daya beli perekonomian domestik.

Anindya menekankan 65 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia berasal dari domestik dan menjadi alasan utama Indonesia dapat bertahan dari krisis dunia. Untuk mencapai PDB sebesar US$1-1,2 triliun, Indonesia harus memperbaiki tiga hal penting.

Pertama, pembenahan infrastruktur yang menjadi penghambat agar ekonomi dapat lebih cepat tumbuh. Kedua, PDB perkapita harus cepat tumbuh di pusat dan juga daerah. Ketiga, dari sisi laporan kerja baru dari pengusaha-pengusaha baru terutama pengusaha UMKM. Karena UMKM banyak menyerap tenaga kerja baru. (hs)

http://wap.vivanews.com/news/read/190625-kadin--ekonomi-ri-bisa-setara-china-dan-india

Mimihitam
November 29th, 2010, 01:18 PM
CT: Ekonomi RI Bakal Lima Besar Dunia

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang sangat diperhitungkan oleh negara lain dalam jangka menengah dan panjang.

Bahkan pemilik CT Transcorp ini memprediksi, pada 2030 mendatang ekonomi Indonesia akan berada pada urutan kelima negara dengan perekonomian terbesar dunia.

Pada 2010 masih berada diperingkat 13 dunia dan pada 2020 pada urutan ke-9 dengan catatan, negara-negara di Eropa digabung jadi satu kawasan sebab kalau dipecah Indonesia menjadi urutan ke-18.

"Saat ini saja prospek usaha di Indonesia sangat bagus dengan outlook yang bagus dengan pemerintahan yang konservatif," kata Chairul dalam seminar BNI Economic Outlook 2011 di Hotel JW Marriot Jakarta, Senin (29/11/2010).

Kondisi perekonomian yang terus membaik, menurut Chairul, membuat perekonomian Indonesia terus diperhitungkan. Tanda-tanda itu misalnya terlihat pada pertumbuhan GDP yang awalnya diperkirakan nomor dua.

"Tapi dikoreksi dan Oktober 2010 ternyata kita berada di nomor satu dengan mengalahkan Rusia dan diperkirakan GDP growth 12,8 persen dari IMF (Dana Moneter Internasional)," kata Chairul.

Dikatakan, saat ini Indonesia memasuki bonus demografi di mana jumlah orang berpenghasilan lebih besar dibandingkan orang yang tak berpenghasilan.

Puncak bonus demografi diperkirakan akan terjadi pada 2018 di mana setiap 100 orang berpenghasilan hanya menanggung beban ekonomi dari 55 orang yang tidak punya penghasilan.

Untuk 2010 ini, lanjut Chairul, pendapatan per kapita penduduk 3.000 dollar AS dengan purchasing priority 4.380 dollar AS sehingga dikategorikan ke dalam lower-middle income dari pasar negara berkembang (emerging market).

"Pada 2015 Indonesia akan masuk dalam upper middle income seiring meningkatnya konsumsi yang luar biasa dari penduduknya yang usia produktif dengan potensi bisnis yang diperhitungan negara lain," kata Chairul.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/11/29/16124393/CT:.Ekonomi.RI.Bakal.Lima.Besar.Dunia

David-80
November 29th, 2010, 01:32 PM
untuk thread starter or sapa aja, please make Part VII soalnya udah 1000 post.

Cheers