View Full Version : Documentary Film: Economy Indonesia
Nidji April 20th, 2009, 12:54 PM Selamat siang,
Saya pelajar dan 'filmmaker' dari Belanda.
My Indonesian is not very good, so I will continue in English ;).
I'm preparing a documentary film about the Indonesian economic situation and economic growth. I also want to zoom in on different political and religious view on improving the country's wealth. I have visited Indonesia 3 times in total.
First of all, I'd like to learn more about the Indonesian economy.
Secondly, I want do some orientation about interesting subjects / locations / events to film concerning this subject.
Thirdly, I want to film as much as political rallies as possible in the Bandung region, relating to the elections in July.
My plan is to depart by the end of June. I am looking for more information and people who can give me information when these events (rallies, demonstrations, campaigns) take place in the Bandung region. I would like to see a veriety of groups and political parties.
Who can help me, please?
Thank you very much ;)
Mimihitam April 20th, 2009, 05:50 PM Selamat siang,
Saya pelajar dan 'filmmaker' dari Belanda.
My Indonesian is not very good, so I will continue in English ;).
I'm preparing a documentary film about the Indonesian economic situation and economic growth. I also want to zoom in on different political and religious view on improving the country's wealth. I have visited Indonesia 3 times in total.
First of all, I'd like to learn more about the Indonesian economy.
Secondly, I want do some orientation about interesting subjects / locations / events to film concerning this subject.
Thirdly, I want to film as much as political rallies as possible in the Bandung region, relating to the elections in July.
My plan is to depart by the end of June. I am looking for more information and people who can give me information when these events (rallies, demonstrations, campaigns) take place in the Bandung region. I would like to see a veriety of groups and political parties.
Who can help me, please?
Thank you very much ;)
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=852790
:)
F-ian April 20th, 2009, 06:28 PM what elections in July? do you mean the campaigns were held 9th of April when it was the legislative elections? and the other (Presidental Election) will be in October/November (but I could be wrong and its in July)? Also Bandung is not much of a rally/demonstration city.. Jakarta's more like it ;)
well hope that it won't be the typical "Indonesia = Poverty, Crime, Slum Prostitution, Child workers, Street beggar, Flooding, Disasters, Terrorists, Separatists, Full of Corruption, Full of Problems, Tsunami, most polluted, illegal Logging, illegal immigrants, tortured domestic maid etc." like documentary...
sure expose it but please not to the extent that makes people reluctant to visit Indonesia :) I want to see one positive for once in a while... :yes: but also make it realistic and balanced..
Nidji April 20th, 2009, 06:56 PM @ Mimihitam: Thanks, great thread... I will study it closely.
@ F-ian: Absolutely not! We all know about the ''Poverty, Crime, Slum Prostitution, Child workers, Street beggar, Flooding, Disasters, Terrorists, Separatists, Full of Corruption, Full of Problems, Tsunami, most polluted, illegal Logging, illegal immigrants, tortured domestic maid etc..'' Indonesia. No one is waiting for another documentary about this, and especially not me to shoot this.
I am half Indonesian myself, and simply love Indonesia. I want to make a film revolving about hope and change, because Indonesia is experiencing economic growth and might become a very wealthy nation. But the film will be objective, off course.
The elections will be held on 8 Julym with a run off on 8 septemer if needed.
Do you have knowledge about the rallies in Jakarta?
Thanks ;)
Ocean One November 16th, 2009, 08:00 PM Film Dokumenter Lumpur Sidoarjo Diluncurkan
Film ini dibuat dari hasil investigasi selama 27 bulan yang melibatkan para peneliti.
SENIN, 16 NOVEMBER 2009
VIVAnews - Hari ini, sebuah film dokumenter tentang bencana lumpur Sidoarjo diluncurkan di Scottsdale Arizona Amerika Serikat.
Peluncuran film bertajuk "Mud Max: Investigative Documentary - Sidoarjo Mud Volcano Disaster", itu bertepatan dengan acara simposium "Living with the Planet", yang digelar oleh Arizona State University, The School of Earth and Space Exploration.
Di ajang ini, beberapa pakar dan geologis terkemuka dari Eropa dan Amerika Serikat - termasuk USGS, turut hadir.
Film besutan perusahaan Inggris Immodicus dan Arizona State University, itu melibatkan sejumlah peneliti, pakar geologis, ahli pengeboran dan praktisi yang mendalami kasus ini.
"Proyek Mud Max ini merupakan hasil investigasi selama 27 bulan, yang dilakukan oleh Immodicus, bekerjasama dengan Arizona State University, School of Earth and Space Exploration," tulis rilis yang diterima VIVAnews, Senin 16 November 2009.
Lumpur Sidoarjo, pertama kali meletus pada 29 Mei 2006 sekitar pukul lima pagi, 150 m dari lokasi pengeboran Banjar Panji 1, di Desa Jatirejo, Porong, Sidoarjo. Lumpur panas ini muncul selang dua hari setelah terjadinya gempa 6,3 SR di Yogjakarta.
Musibah itu langsung menyedot perhatian dunia, karena dampaknya yang sangat luas. Sekitar 40 ribu penduduk yang bermukim di sekitar lokasi, kehilangan rumah, harta benda, bahkan kehilangan kerabat mereka.
Hingga kini lumpur masih terus merembes ke permukaan bumi dengan kecepatan 150 ribu per meter kubik setiap harinya.
Para ahli terbelah dua dalam memandang kasus ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa bencana disebabkan oleh adanya aktivitas pengeboran di daerah ini. Pendapat kedua mengatakan bahwa letusan mud volcano dipicu oleh aktifitas seismik gempa Yogyakarta, yang jaraknya 280 km dari lokasi.
Pada Oktober 2008, American Association of Petroleum Geologists (AAPG) menggelar sebuah konferensi internasional di Cape Town, Afrika Selatan, untuk membahas kasus. Dari 74 ilmuwan yang hadir, 42 di antaranya yakin bahwa bencana dipicu oleh pengeboran.
Sementara 16 ilmuwan berpendapat alasan musibah tidak bisa disimpulkan. 13 peneliti merasa bahwa bencana terjadi akibat kombinasi keduanya. Sementara tiga orang peneliti percaya bahwa peristiwa itu murni karena pengaruh gempa bumi.
Hingga kini silang pendapat masih terjadi. Produser film Gary Hayes mengatakan bahwa tujuan dari ‘Mud Max’ adalah menyodorkan fakta-fakta dan pandangan-pandangan dari semua sisi, agar publik bisa menyimpulkan sendiri penyebab bencana LUSI ini.
"Kami berharap film dokumenter ini bisa menjadi representasi dari isu mengerikan, yang dialami masyarakat Indonesia, yang tinggal di lokasi paling eruptif di bumi ini,” ujar Garry.
Ocean One December 7th, 2009, 07:48 PM Festival Film Dokumenter: Membingkai Politik dalam Kehidupan Sehari-Hari
SENIN, 7 DESEMBER 2009
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Festival Film Dokumenter kembali digelar di Yogyakarta, 6-12 Desember. Pada penyelenggaraan yang kedelapan ini, festival film tahunan itu mengangkat tema Politik: Up Close and Personal.
Berbagai peristiwa politik besar yang terjadi baik di Indonesia maupun di dunia selama kurun waktu 2009 akan menjadi latar belakang puluhan film yang akan diputar dalam Festival Film Dokumenter 2009.
Berbeda dengan pendekatan politik yang selama ini digunakan, film-film yang diputar di Taman Budaya Yogyakarta, Benteng Vrederburg, dan Rumah Budaya Tembi tersebut berupaya mengungkap dampak politik pada kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Kami ingin melihat politik secara dekat dan intim, dari kehidupan yang akrab dan kita alami setiap hari," ujar Programmer FFD 2009 Agus Nugroho.
Tema politik dipilih berkaitan dengan sejumlah peristiwa politik besar yang mempengaruhi kehidupan masyarakat banyak selama setahun terakhir. Di antaranya adalah kemenangan politisi berkulit berwarna Barrack Obama dalam pemilihan umum di Amerika Serikat serta pesta demokrasi Pemilu di Indonesia yang belum lama berlangsung.
Sudut pandang politik secara umum mereduksi keberadaan masyarakat sebagai kumpulan individu yang punya kebebasan untuk berusaha dalam rangka memenuhi tujuan hidupnya. "Dengan sudut pandang yang dekat dan intim, kami ingin melihat masyarakat terdiri dari individu-individu otonom yang bisa memilih sekaligus menciptakan pilihan," kata Agus.
FFD 2009 dibuka di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (6/12) malam, dengan film karya sutradara Anders Ostergaard Burma VJ: Reporting frim a Closed Country. Mengetengahkan momen saat ribuan biksu berunjukrasa dengan turun ke jalan, film yang direkam oleh wartawan video Joshua tersebut mengisahkan kenyataan hidup di bawah pemerintahan junta militer.
Sejumlah film lain dengan isu dan pesan politik kuat adalah film Israel My First War. Film dengan pendekatan humanis tersebut berisi tentang cerita-cerita kecil di balik perang Israel-Libanon. Menyusul film dari sejumlah negara lain seperti Kuba, Palestina, Afganist an, Rusia, dan Kanada. Tak ketinggalan pula film anak bangsa dengan latar belakang pemilihan umum di Indonesia.
Dalam Program Kompetisi, FFD 2009 diikuti 61 film yang terdiri dari 16 film kategori pelajar, 47 film kategori dokumenter pendek, dan delapan film kategori panjang. Jumlah ini meningkat dari FFD tahun lalu yang diikuti sekitar 54 film.
Gaya baru
Selain peningkatan kuantitas, Agus menyebutkan peningkatan signifikan dari sisi kualitas. Hal ini ditandai dengan beragamnya gaya penuturan film dan tema yang sangat bervariasi. Film karya Kisno Adi Kambing Cup, misalnya, berkisah dengan gaya one shot cinema atau pengambilan gambar tanpa pemotongan yang belum pernah ditemui pada FFD sebelumnya.
Meskipun dengan tema sederhana, film tentang pertandingan bola voli di pedesaan itu mampu mengungkap fenomena sosial urbanisasi dan kemiskinan di pedesaan. Film lain yang memperoleh apresiasi adalah Pabrik Dodol yang diambil tanpa dialog maupun wawancara. Memberi sentuhan unik, film dilatari dengan suara musik ketukan alat-alat pembuat jenang dodol.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, FFD terselenggara dengan anggaran sangat minim. Dukungan besar dari dunia internasional memungkinnya terselenggara setiap tahun. Tahun ini, panitia menerima sumbangan sebanyak 50 film dari pembuat film luar negeri.
Ocean One January 23rd, 2010, 02:23 PM Film Dokumenter Indonesia Banyak Digarap Asing
Sabtu, 23 Januari 2010
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/06/27/0629219p.jpg
Merebut harapan dari matahari di pagi hari
BANDA ACEH, KOMPAS.com--Film dokumenter yang mengisahkan sumber daya alam (SD) dan budaya Indonesia banyak digarap asing dan beredar luas di mancanegara, kata pakar ekoturisme Instititut Pertanian Bogor (IPB), Ricky Avenzora.
"Setiap tahunnya terdapat sekitar 20 judul film dokumenter Indonesia beredar di dunia internasional dan sebagian besar digarap warga asing," katanya saat dihubungi dari Banda Aceh, Jumat.
Jika film dokumenter digarap dan dibuat orang itu tentu sudut pandangnya akan berbeda dengan kenyataan yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
"Tentunya situasi tersebut akan merugikan Indonesia, terutama wilayah-wilayah tempat film dokumenter itu dibuat," tambah dosen fakultas kehutanan IPB tersebut.
Untuk itu, ia bersama aktris Christine Hakim mencoba menggarap film dokumeter, terutama yang menceritakan tentang potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan keunikan budaya di Aceh.
"Film dokumenter itu nilai jualnya rendah tidak sebanding film layar lebar lainnya. Tapi bagi kami itu adalah sebuah perjuangan yang harus diberikan kepada bangsa dan negara," katanya.
Membuat satu film dokumenter dengan standar minimal membutuhkan dana tidak kurang dari Rp400 juta. Sementara nilai jualnya berkisar antara Rp15-Rp20 juta.
Tujuan lain sebagai rangkaian pelestarian "heritage" yang dimiliki bangsa Indonesia. Di Aceh juga dibuat film dokumenter yang sedang digarap berjudul "Cahaya di Aceh".
Film itu mengisahkan empat cahaya. Pertama cahaya di alam yakni matahari terbit hingga tenggelam yang dibutuhkan semua makhluk dibumi.
Kedua cahaya insan, ketiga cahaya harapan, yaitu SDA yang menjadi sumber kehidupan manusia dan keempat cahaya nurani yang dimiliki oleh semua manusia.
"Melalui alur visual dan cerita itu kita menggambarkan kondisi Aceh kepada bangsa di dunia bahwa Aceh mempunyai potensi alam dan budaya yang luar biasa," kata Ricky.
Pembuatan film "Cahaya di Aceh" itu kini sudah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan akhir Maret 2010 bisa diluncurkan.
Ia berpendapat film dokumenter tersebut sangat bermanfaat untuk mempromosikan potensi daerah dan biayanya juga jauh lebih murah dibanding promosi melalui iklan televisi.
"Di samping biayanya murah, film dokumenter berdurasi lebih panjang. Kami juga ingin memperlihatkan bahwa Aceh pascakonflik dan tsunami sudah siap membangun," tambahnya.
ceudah February 19th, 2010, 05:37 AM ditunggu filem nya...kalao udah release bilang2 yah!
|
|