@b1
April 20th, 2009, 05:10 PM
Let's talk about agliculture. If you want to post a news, post here.
|
View Full Version : Indonesian Agriculture @b1 April 20th, 2009, 05:10 PM Let's talk about agliculture. If you want to post a news, post here. @b1 April 20th, 2009, 05:13 PM Here i hope: Menuju Negara Pertanian Termaju di Dunia Kompas, Selasa, 9 Desember 2008 | 08:53 WIB Bagaimana membangun perekonomian yang pertumbuhannya terasa sampai ke sumsum tulang mayoritas rakyat Indonesia? Tidak ada cara lain kecuali membangun sektor pertanian yang berkualitas dan terintegrasi dengan sektor industri dan perdagangan sehingga mampu menumbuhkan pusat ekonomi baru. Keandalan sektor pertanian tidak diragukan lagi. Selama satu dasawarsa (1998-2008), sektor pertanian kembali menunjukkan daya tahan di tengah krisis ekonomi. Seperti yang dinyatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat krisis global mulai tampak pada triwulan III-2008. Sektor pertanian yang mencakup pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan turut berkontribusi 4,3 persen terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Masih lebih tinggi 0,1 persen dari industri pengolahan. Walau belum setinggi sektor usaha lain, seperti konstruksi (7,9 persen) atau pengangkutan dan komunikasi (19,0 persen), sektor pertanian menampung beban yang sangat besar. Sebanyak 42,5 juta orang dari 108,1 juta angkatan kerja nasional bekerja di sektor ini. Maka, sudah semestinya negara agraris dan maritim ini menjadikan sektor pertanian terintegrasi sebagai lokomotif penggerak ekonomi nasional. =NaNdA= April 20th, 2009, 06:00 PM agliculture apa agriculture? :) oweeyman April 20th, 2009, 08:23 PM ^^teliti banget dah ni orang:lol: @b1 April 21st, 2009, 05:37 PM agliculture itu bahasa Inggrisnya pertanian. =NaNdA= April 21st, 2009, 06:32 PM bedanya dengan agriculture? :? @b1 April 21st, 2009, 06:40 PM Sorry, I think is agliculture. Actually, the right word is agriculture. :lol: =NaNdA= April 21st, 2009, 06:48 PM :yes: :D @b1 April 23rd, 2009, 09:19 AM This forum makes to repair the old forum because the mispell of the title. Let's talk about agricultures in Indonesia. Here i post a news: Menuju Negara Pertanian Termaju di Dunia Selasa, 9 Desember 2008 | 08:53 WIB Oleh Hermas E Prabowo Bagaimana membangun perekonomian yang pertumbuhannya terasa sampai ke sumsum tulang mayoritas rakyat Indonesia? Tidak ada cara lain kecuali membangun sektor pertanian yang berkualitas dan terintegrasi dengan sektor industri dan perdagangan sehingga mampu menumbuhkan pusat ekonomi baru. Keandalan sektor pertanian tidak diragukan lagi. Selama satu dasawarsa (1998-2008), sektor pertanian kembali menunjukkan daya tahan di tengah krisis ekonomi. Seperti yang dinyatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat krisis global mulai tampak pada triwulan III-2008. Sektor pertanian yang mencakup pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan turut berkontribusi 4,3 persen terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Masih lebih tinggi 0,1 persen dari industri pengolahan. Walau belum setinggi sektor usaha lain, seperti konstruksi (7,9 persen) atau pengangkutan dan komunikasi (19,0 persen), sektor pertanian menampung beban yang sangat besar. Sebanyak 42,5 juta orang dari 108,1 juta angkatan kerja nasional bekerja di sektor ini. Maka, sudah semestinya negara agraris dan maritim ini menjadikan sektor pertanian terintegrasi sebagai lokomotif penggerak ekonomi nasional. Peta jalan pertanian Saat ini masih mantapnya pertumbuhan sektor pertanian tidak lain karena sumbangan subsektor pangan untuk konsumsi dalam negeri serta ekspor bahan mentah hasil perkebunan, perikanan, dan kehutanan. Sebanyak 24,8 juta keluarga petani hidup dari subsektor pangan dan sejahtera saat harga beras, jagung, dan kedelai membaik hingga September 2008. Petani benar-benar memanfaatkan momentum ini karena pada saat yang bersamaan volume produksi pun naik. Namun, kita patut menyayangkan. Meski kontribusi sektor pertanian sudah terbukti dalam perekonomian nasional, kebijakan pemerintah masih belum komprehensif. Sampai sekarang, pengembangan pertanian nasional masih belum terintegrasi dengan kebijakan perindustrian dan perdagangan. Peta jalan (roadmap) yang bisa diandalkan untuk mengembangkan agroindustri jangka panjang sampai kini tak kunjung muncul. Malah kebijakan yang bersifat ad hoc lebih sering muncul untuk meredakan kasus per kasus. Kondisi ini ironis karena saat kita lupa menciptakan nilai tambah dalam produk pertanian, pasar domestik negara kepulauan terbesar di dunia ini terus diserbu produk impor. Impor pangan Indonesia periode 1996-2005 berdasarkan catatan ahli peneliti utama dalam bidang kebijakan pertanian PSE-KP Departemen Pertanian, Husein Sawit, menyedot sedikitnya 1,6 miliar dollar AS atau setara Rp 14,7 triliun devisa. Sekarang jumlahnya tentu jauh lebih besar dari periode itu mengingat harga komoditas pangan dunia melonjak dua sampai tiga kali lipat. Kenaikan impor bahan baku setengah jadi—yang sebenarnya bisa diperoleh di dalam negeri—tak terbendung. Dari Indikator Perdagangan Dunia 2008 yang diterbitkan Bank Dunia, rata-rata tarif bea masuk Indonesia pada 2006 sebesar 4,5 persen, lebih rendah daripada rata-rata tarif di Asia Timur dan Pasifik yang berada pada kisaran 4,9 persen, yang berpendapatan tinggi. Negara-negara berkembang berpendapatan menengah dan rendah saja menerapkan tarif rata-rata 8,7 persen. Ironisnya lagi, tarif impor produk pertanian Indonesia tahun 2006-2007 6,5-7 persen. Paling rendah di Asia Pasifik. Ironis lagi, negara agraris seperti Indonesia memberikan tarif impor lebih murah untuk bahan baku produk pertanian ketimbang India, China, dan Brasil yang mampu mengekspor bahan jadi ke Eropa, Amerika Serikat, dan berbagai penjuru dunia. Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, tarif bea masuk yang rendah ditujukan untuk efisiensi industri dalam negeri, tanpa mengabaikan perlindungan terhadap pertanian sebagai sektor strategis. =NaNdA= April 23rd, 2009, 09:25 AM judul thread yang lama udah dibenerin bro.. :D sekarang ada dua thread agriculture.. :D tollfreak April 26th, 2009, 03:22 PM April 26, 2009 Indonesia-Vietnam rice deal JAKARTA - INDONESIA has an option to buy about 1 million tonnes of rice from Vietnam in the next three years if it needs to build up rice stocks and ensure domestic food security, Trade Minister Mari Pangestu said on Sunday. 'We don't have to import if it's not needed,' Mr Pangestu told reporters. 'The government's priority is to raise productivity and revitalise the agricultural sector,' she said, adding that the agreement would provide insurance for Indonesia in case it was not able to meet demand for rice, a staple food, because of natural disasters or other reasons. Indonesia produced a rice surplus of 1.6 million tonnes in 2008 thanks to bumper harvests. It was the first time in more than two decades that the country was self-sufficient for rice. Indonesia's statistics bureau has projected 2009 unmilled rice output to rise 1.13 percent to 60.93 million tonnes, or the equivalent of around 38 million tonnes of milled rice. The figure is below an earlier agriculture ministry forecast of 63.5 million tonnes. -- REUTERS hakz2007 March 18th, 2010, 08:39 AM N Sulawesi world's biggest nutmeg supplier MANADO, March 17 (PNA/ANTARA) -- North Sulawesi province is supplying 75 percent of global nutmeg needs, confirming its position as the world`s biggest supplier of the commodity, an official said. The province exported 1,000 to 2,000 tons of nutmeg every month while global demand for the commodity stood at around 20,000 tons per year, Head of the North Sulawesi Provincial Industry and Trade Office Sanny Parengkuan said here on Tuesday. "We export nutmeg every month in relatively stable quantities," he said. North Sulawesi`s nutmeg exports went to the four continents of Asia, Europe, America and Africa, he said. (PNA/Antara) http://www.pna.gov.ph/index.php?idn=4&sid=&nid=4&rid=264757 Mimihitam March 18th, 2010, 11:03 AM The Minister for Agriculture Suswono stated that Indonesia’s agriculture trade sector is 2 billion US dollars ahead compared to China’s. “We need not worry about the ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), because if compared (to China) we have a surplus,” stated the minister after closing the Agrinex 2010, Jakarta, Sunday. He stated that in certain sectors Indonesia is ahead, in agriculture this is thanks to crude palm oil, cacao, and rubber. China is still importing those commodities from Indonesia. For that reason, Indonesia’s agriculture trade still has a 2 billion US dollar surplus compared to China. “There are some Chinese products in Indonesia, but we are still on a surplus.” According to the minister, discussions on free trade between the two countries have been through a long proces, and that the Indonesian government isn’t forcing the ACFTA simply to fulfill an old agenda. “Because of the crisis we are quite burdened. But we’re fine with China.” For horticulture, though Indonesia’s trade is relatively low compared to China, but at least Indonesia is exporting snake fruit to China. “Trade between countries is something quite ordinary, we have strengths and they have some too, we need each other.” The minister still urges Indonesia to monitor Chinese horticulture and agriculture products coming into our country. “We have two tools or instruments, which are the SPS and Kotex. Both of which are international agreements for the standard of food.” He believes that monitoring is necessary to prevent any concern for viral transmission, diseases, or bioterrorism. fajarmuhasan March 18th, 2010, 12:08 PM Salah satu sudut pertanian di Jakarta: http://farm3.static.flickr.com/2765/4442240293_dfb85fa93b_o.jpg rilham2new March 19th, 2010, 11:40 AM GUys, please posting more news here.... Kelapa Sawit masuk Agriculture gak ya ??? Kalau masuk nanti kuposting berita2 perkembangan Sawit di Rantau Sumatra hehehe Mimihitam March 19th, 2010, 12:22 PM GUys, please posting more news here.... Kelapa Sawit masuk Agriculture gak ya ??? Kalau masuk nanti kuposting berita2 perkembangan Sawit di Rantau Sumatra hehehe Keknya masuk.. tapi bukannya sawit itu gak bagus buat moisture tanah ya? Mimihitam March 21st, 2010, 07:48 AM Aceh Berpotensi Ekspor Beras Sabtu, 20 Maret 2010 (Berita Daerah - Sumatera) - Provinsi Aceh berpotensi menjadi salah satu daerah lumbung padi di Indonesia, sehingga bisa mendukung pemerintah untuk mengekspor beras. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Aceh, Asrin, MP di Banda Aceh, menyatakan, daerah tersebut memiliki potensi untuk mendukung program ekspor beras pada 2010. "Aceh memiliki potensi untuk mendukung program tersebut, karena produksi padi tiap tahunnya terus mengalami peningkatan," katanya. Disebutkannya, produksi padi di Provinsi Aceh Januari-Desember 2009 naik 10,23 persen dari 1.402.288 ton gabah kering giling (GKG) menjadi 1.545.769 ton GKG dari tahun sebelumnya. "Kenaikan produksi tersebut antara lain disebabkan adanya perbaikan sarana irigasi dan penggunaan bibit unggul. Jumlah produksi itu melebihi sekitar 2,71 persen atau (40.787 ton GKG) dari target padi 2009 sebesar 1.504.982 ton GKG dengan luas panen 356.705 ha," jelasnya. Masing-masing kabupaten yang berkontribusi besar dalam peningkatan padi di Aceh antara lain Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Untuk mewujudkannya swasembada beras, lanjut Asrin, pihaknya menargetkan produksi padi pada 2010 mencapai 1,6 juta ton. "Insya Allah target tersebut akan kita bisa capai sebagaimana belajar dari tingkat keberhasilan pada 2009," jelasnya. Karena itu, pihaknya melakukan berbagai upaya dalam mewujudkan hal tersebut. Adapun strategi yang akan dilakukan yakni pembenahan irigasi dan penggunaan bibit unggul. "Tahun ini kita akan mengalokasikan sebesar 4.000 ha bibit unggul yang akan diberikan kepada petani sebagai upaya peningkatan produksi dan peningkatan mutu beras di masa mendatang," katanya. Asrin optimis, program peningkatan produksi dan upaya untuk ekspor beras pada 2010 akan tercapai. http://www.beritadaerah.com/news.php?pg=berita_sumatra&id=19639&sub=column&page=282 rilham2new March 21st, 2010, 03:50 PM Keknya masuk.. tapi bukannya sawit itu gak bagus buat moisture tanah ya? MEmang :D fajarmuhasan March 23rd, 2010, 07:43 AM MEmang :D di Riau selain sawit juga banyak karet....karet Riau itu lari (dijual) kemana ya? Mimihitam March 25th, 2010, 03:53 AM Melawan Dunia dengan Minyak Sawit Nyoman Brahmandita INILAH.COM, Jakarta - Gara-gara dua gajah beradu, rusa kecil pun mati terinjak-injak. Begitulah kira-kira nasib para petani sawit di wilayah Sumatera saat ini. Lantaran Sinar Mas Group berselisih paham dengan Unilever, Kraft, Nestle dan Cargill; para petani kecil yang jadi korbannya. Petani sawit itu menjadi korban persaingan dagang yang berkedok kampanye lingkungan hidup. Adalah organisasi non pemerintah internasional Greenpeace biang keroknya. Dalam laporannya bertajuk “Caught Red-Handed”, Greenpeace menuding Sinar Mas Group (SMG) melakukan pembabatan hutan alam dan lahan gambut secara ilegal. Padahal di dalam hutan itu terdapat habitat orangutan. Tentu saja laporan itu langsung dibantah. Melalui salah satu perusahaan afiliasinya, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) menegaskan pihaknya tidak melakukan seperti yang dituduhkan. Bahkan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan membenarkan, SMG memang menggunakan lahan hutan yang telah dilepas dan dikonversi menjadi kebun kelapa sawit. Sayangnya, bantahan SMG maupun SMART, serta klarifikasi Menhut itu tidak cukup ampuh. Laporan Greenpeace itu justru jauh lebih mujarab khasiatnya. Tidak lama setelah laporan itu dirilis, SMART pun langsung merasakan getahnya. Minyak sawit mentah (crude palm oil / CPO) yang diperas dari kebun-kebun sawit milik SMART maupun jutaan keluarga petani mitra SMG, diboikot berbagai perusahaan multinasional. Tidak tanggung-tanggung perusahaan yang membatalkan pesanan itu adalah Unilever, Kraft, Nestle, dan yang terakhir Cargill. Bisa jadi pula, akan ada perusahaan-perusahaan multinasional lain yang bakal terkena wabah latah aksi boikot itu. Dalam kondisi saat ini saja, para petani kecil mitra SMG/SMART langsung merasakan dampaknya. Harga tandan buah segar (TBS) yang saat ini sedang meningkat karena naiknya permintaan serta imbas naiknya harga minyak dunia, tidak dapat mereka nikmati. Pemboikotan CPO menyebabkan harga TBS di tingkat petani malah melorot. Tidak mengherankan bila para petani sawit melalui Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia balas mengancam memboikot produk empat perusahaan raksasa itu. Dengan anggota asosiasi yang diklaim mencapai 20 juta kepala keluarga, tentu boikot itu akan berdampak serius terhadap pemasaran produk-produk Unilever, Kraft, Nestle, dan Cargill di Indonesia. Nah aksi boikot berbalas boikot ini, tentulah suatu bentuk perang tanding yang tidak imbang. Mana mungkin rusa kecil bisa merobohkan gajah yang sedang mengamuk? Maklum, produk-produk empat perusahaan multinasional itu tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi hampir di seluruh belahan jagat bumi ini. Meski demikian, semangat perlawanan jutaan petani sawit itu patut dihormati, bahkan perlu didukung. Pemboikotan yang meluas dan berkepanjangan tentu akan berpengaruh buruk terhadap kinerja keuangan SMART dan prospek bisnisnya di masa depan. Nah, pada gilirannya, harga saham yang dikantongi pemodal publik bisa melorot, berarti pula merugikan investor pasar modal. Bisa jadi perusahaan-perusahaan lain sejenis tertular dilanda pemboikotan. Padahal perusahaan-perusahaan perkebunan sawit dan produsen CPO kelas kakap di Indonesia umumnya adalah perusahaan publik yang melantai di bursa saham, seperti halnya SMART. Kerugian juga bakal dialami perekonomian nasional. Maklum, Indonesia adalah pemilik kebun sawit terluas dan produsen maupun eksportir CPO terbesar di dunia. Indonesia bersama Malaysia, menguasai 85% pangsa pasar CPO seluruh dunia. Nah, bila semakin lama aksi boikot melanda CPO Indonesia, bisa berdampak turunnya nilai ekspor, yang berarti pula pendapatan devisa nasional juga terpangkas. Karena itulah, semangat perlawanan rakyat kecil yang direpresentasikan jutaan petani sawit itu tadi memiliki makna sangat penting. Sekaligus menjadi simbol perlawanan terhadap bentuk ketidakadilan tata niaga CPO dunia, maupun sistem perdagangan internasional. Negara berkembang, termasuk Indonesia seringkali berada pada posisi yang inferior. Untuk melemahkan Indonesia—dan Malaysia—dari posisinya sebagai penguasa pasar minyak nabati, maka negara-negara maju melancarkan bentuk-bentuk persaingan tidak sehat. Antara lain memanfaatkan keberadaan organisasi non pemerintah untuk menggembosi pasar CPO Indonesia melalui penggelembungan isu-isu lingkungan. Efek penggelembungan isu-isu lingkungan ini adalah, munculnya tekanan publik internasional kepada perusahaan-perusahaan raksasa multinasional untuk memboikot CPO dari Indonesia. Karena itu, langkah Menteri Pertanian Suswono yang mengajak koleganya dari Malaysia melakukan tindakan balasan berupa penghentian ekspor CPO ke negara maju patut diacungi jempol. Indonesia tidak boleh selalu tunduk dan takluk pada gertak sambal Eropa, AS, dan Jepang. Masih bisa dicari pasar ekspor lain yang tak kalah potensial. Atau sekalian saja tidak perlu ekspor. Toh CPO itu masih bisa dipasarkan di dalam negeri atau diolah menjadi BBM untuk listrik dan kendaraan. Sekalian mengurangi impor BBM dan gas. [mdr] http://inilah.com/news/read/galeri-opini/2010/03/25/418651/melawan-dunia-dengan-minyak-sawit/ bagak March 25th, 2010, 04:03 AM Berita udah lama, taun kemaren.... Gubernur Sumbar: Stop Investasi Asing di Kelapa Sawit http://regional.kompas.com/read/2009/06/30/18352039/Stop.Investasi.Asing.di.Kelapa.Sawit PADANG, KOMPAS.com — Pemprov Sumatera Barat menghentikan penambahan investasi asing di bidang kelapa sawit. Lahan yang masih tersedia dirancang untuk membangun kebun bagi masyarakat miskin di tiap kabupaten/kota. Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi, Selasa (30/6), mengatakan, penghentian masuknya investasi baru di bidang perkebunan kelapa sawit dilakukan karena jumlah lahan kosong yang dapat digunakan untuk perkebunan, semakin menipis. Sumatera Barat sudah tidak punya lahan yang luas lagi untuk perkebunan. Lahan yang potensial untuk perkebunan di Sumatera Barat tinggal sekitar 40.000 hektar, itu pun terpencar-pencar. Di sisi lain, ada kebutuhan lahan untuk permukiman warga, pertanian, serta pertambangan. "Karena itu, kami pertahankan investasi asing cukup segini saja dan mengarahkan lahan yang masih ada untuk kepentingan masyarakat," kata Gamawan. Pemikiran untuk menghentikan investasi asing di bidang perkebunan kelapa sawit ini, menurut Gamawan, muncul ketika ada investor asal Malaysia hendak berinvestasi di Sumatera Barat baru-baru ini. Investor hanya mengalokasikan tidak lebih dari 20 persen lahan pada petani plasma. Sedikitnya jumlah luas lahan yang dikelola petani plasma ini membuat Gamawan enggan untuk memberikan izin masuk bagi investor asing di sektor perkebunan sawit. Justru muncul gagasan penghentian investasi asing di perkebunan sawit dan merancang pengelolaan lahan kebun sawit untuk dikelola masyarakat. Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Barat Afriadi Laudin mengatakan, luas kebun sawit milik perusahaan asing di Sumatera Barat mencapai 54.166 hektar. Luas kebun itu dimiliki 12 perusahaan. Sementara itu, total luas kebun milik perusahaan 129.400 hektar yang dikelola 36 perusahaan. Luas kebun milik perusahaan ini masih di bawah jumlah kebun sawit yang dikelola perorangan. Seluruh kebun sawit di Sumatera Barat seluas 327.653 hektar. hakz2007 March 30th, 2010, 10:29 AM Roundup: Indonesia to limit imports of sugar JAKARTA, March 30 (PNA/Xinhua) -- The Indonesian government may limit imports of sugar in the near future as the domestic supply is predicted to raise this year as an effort to control the commodity price at the domestic market. Indonesia's sugar cane production is forecast to increase to 2.7 million tons this year from last year's 2.3 million tons, according to Senior Adviser of Indonesia's Sugar Association Celosewoko. The government would adjust the amount of the commodity to the supply gap, Secretary General of the Trade Minister Ardiansyah Farman said. "The amount of sugar to be imported will be adjusted with our need which can not be met from domestic supply," he said. A tight control on import would be carried out as the price of sugar at the international market is seen to continue falling this year due to over production. The control of the imports of sugar aimed at preventing price at the domestic market from falling which can hit the growers. Celosewoko said the government must manage the commodity price at domestic market at least at 8,500 rupiah (some 0.937 U.S. dollars) per one kilogram, which is considered favorable among the producers. According to the association, sugar price at the international market has decreased to less than 500 U.S. dollars per ton, lower than that of more than 700 U.S. dollars per ton several months ago. The decrease is due to the prediction that some sugar producer countries may produce sugar more than the initial targeted, said Celosewoko. India is forecast to produce over 19 million tons of sugar this year, higher than the initial forecast of 16 million tons, Brazil is also seen to be able to boost its sugar output more than target, and some other countries are also predicted to be able to increase their production, he said. There are over 3 million tons of sugar in India that had been delayed for crushing from last year to this year, said the adviser. Indonesia is to import over 500,000 tons of sugar this year. On concern over that the long drought, taking place at the beginning of the planting of sugar cane at the middle of last year, can decrease sugar cane production, Celosewoko said that the growers would address the problem by allowing the sugar plants to grow longer and delaying crushing period. "The growers would delay the harvest for a half month to allow the sugar-cane plants to form a good sucrose content. So it would not affect the quality and amount of the output," he said. Indonesia may produce more sugar in the future as the country plans to expand the land for the growing of the commodity to as large as 500,000 hectares in Merauke of Papua in easternmost of he country, Agriculture Minister Suswono has said. The new plantation is expected to produce more than 2.1 million tons of sugar, the minister has said. This would make the country self sufficient in sugar within three years, according to Suswono. (PNA/Xinhua) http://www.pna.gov.ph/index.php?idn=3&sid=&nid=3&rid=267227 hakz2007 April 5th, 2010, 05:33 AM Vietnamese investor eyeing corn in west Kalimantan PONTIANAK, April 5 (PNA/ANTARA) -- A Vietnamese investor said it was set to make an investment in the agriculture sector, especially corn, in Kubu Raya regency. "The Vietnamese investor has met with the local administration and hoped it could start investing this year," head of the West Kalimantan capital investment coordinating board M Zeet Hamdy Assovie said in Pontianak on Sunday. He added that actually Vietnam was only one of the countries whose investors were interested in food crops in Indonesia. "Investors from South Korea, Japan, and China were also interested in investment in West Kalimantan, because the province has vast plots of fertile land," he said. West Kalimantan, he added, ranks ninth of the big ten countries with an interest in investment in Indonesia. The West Kalimantan investment board is preparing a one-door integrated regional service, which is currently being introduced to Singkawang city, Bengkayang and Sambas regencies, M Zeet Hamdy Assovie said. Nationally, the national investment coordinating agency (BKPM) has projected 70 one-door integrated service centers in 2010. (PNA/Antara) http://www.pna.gov.ph/index.php?idn=&nid=11&rid=267880 Mimihitam November 14th, 2010, 08:19 AM The rise of agriculture and Indonesia’s future Johannes Simbolon, Jakarta | Sun, 11/14/2010 10:51 AM | Opinion Long regarded by many as one of the least profitable industries, the agricultural industry has been attracting greater attention from the global business community in recent days. This is good news for countries such as Indonesia, where most of the population still makes a living in the agricultural sector and there are still large tracts of land that can be developed into farmland. Agricultural commodities were among the first to recover from the impacts of the global financial meltdown. While other commodities, such as oil, coal and the majority of minerals are still struggling to reach pre-crisis levels, most agricultural commodities have seen their prices consistently increase since last year, and some have even hit prices not seen in decades. The price of rubber has hit its highest level in decades thanks to surging demand for tires in Asian markets such as India, China and Indonesia, where car sales have hit record highs. Meanwhile, the price of wheat has sharply increased, first triggered by heat waves in Russia and floods in Pakistan. The rise in price of wheat was followed by those of corn, soybean and rice. Since palm oil is a substitute for soy oil, the rise in the latter’s price has in effect pushed the price of palm oil higher. Analysts generally agree that the prices have increased due to strong fundamentals. They believe that the prices of agricultural commodities will still be strong or even stronger in the coming decades, thanks in the short term to the rising demand from rapidly growing economies such as China and India and, in the long term, to the growth of the world’s population and increased wealth in developing countries. As Indians and Chinese have become richer thanks to decades-long high economic growth in their countries, they now not only eat rice or wheat, but also more meat. To meet the growing demand for meat, the world needs to raise more poultry and cattle, which in turn requires more corn and soybean for feed. Agricultural commodities are consumed not only as food nowadays, but are also used to produce fuels. The growing demand for energy has and will add pressure on the production of agricultural commodities. Experts have projected the population of the world to rise from 6 billion to 9 billion over the next 40 years. This means the increasing trend in demands for agricultural commodities is a long-term one and, thus, promises huge profit for businesspeople. For the first time perhaps in decades, agriculture is seen now by many as a business that is as profitable as other industries. Companies from the Middle East, China and South Korea, India, Europe and the United States have been hunting for farmland around the globe for several years. According to a report, between 51 million and 63 million hectares of land (about the size of Sumatra and Java combined) in 27 African countries have been acquired or are in the process of being acquired by foreign investors. They have also acquired millions of hectares of land in South America (particularly Brazil) and Cambodia. The recent announcement by energy giant Royal Dutch Shell about its planned huge investment in the sugarcane business in Brazil has further underlined the rising value of agriculture. The Dutch-British firm will set up a US$12 billion joint venture with Brazilian biofuel giant Cosan to produce biofuels from sugarcane. Indonesia is one of the countries targeted by foreign investors. The Forestry Ministry recently announced that a group of South Korean investors have acquired more than 430,000 hectares of degraded forest areas where they plan to grow crops for bioenergy production. Investors from the Middle East and China have also launched study tours here to look for land for acquisition. A tropical country, Indonesia has abundant sunshine and rain, which are the basic needs of any agricultural business. Most internationally traded commodities grow well in Indonesia. In fact, it is now the world’s largest producer of palm oil, and the world’s leading producer of coffee, rubber and cocoa. Moreover, Indonesia still has vast tracts of lands that remain idle, including 40 million hectares of degraded forest areas that have turned into grasslands after being abandoned by logging concessionaires. One of the countries that has successfully developed its agricultural industry is Brazil, also a tropical country. Now called an agricultural superpower, Brazil is the world’s largest exporter of beef, poultry, sugarcane and ethanol and a leading producer of soybean, rice and corn. Agriculture is the main force behind the fast economic growth that has brought the nation into the BRIC (Brazil, Russia, India and China) elite club. Indonesia has the potential to emulate Brazil. What we need to do is learn from Brazil. The nation welcomes foreign investors into its agricultural sector as it realizes that land needs investment and application of technology in order to produce maximum yields. Millions of hectares of farmland in Brazil are now controlled by foreign investors. It is not easy to implement the Brazilian way here as populist politicians keep calling on the government to distribute degraded forestry areas to small farmers rather than to big investors. We have to keep in mind however that a 10,000-hectare plot of farmland will produce a greater yield, and thus provide more revenue to the government, if it is managed by an investor who has an efficient organization and is financially capable of procuring the best technology rather than 10,000 farmers who eke out a living cultivating their small plots of land. The challenge for Indonesia is how to strike a balance in which private investors can control huge tracts of land and develop them in partnership with small farmers. The author is a staff writer at The Jakarta Post. http://www.thejakartapost.com/news/2010/11/14/the-rise-agriculture-and-indonesia%E2%80%99s-future.html Mimihitam November 26th, 2010, 10:21 AM DUPONT Antara Singapura dan Indonesia KOMPAS.com - Kalimat itu terpampang di lobi Gedung DuPont Agriculture and Nutrition Platform di Johnston, Des Moines, Iowa, Amerika Serikat. Di sanalah inovasi bidang pertanian dan produk pangan perusahaan multinasional DuPont ditekuni dan menghasilkan. Salah satu produknya di Indonesia adalah benih jagung hibrida, Pioneer. Pioneer banyak ditanam petani jagung, khususnya di bagian Provinsi Jawa Timur. Sekadar menyebut, di antaranya di Kabupaten Ngawi, Nganjuk, Madiun, dan Kediri. DuPont, perusahaan rintisan keluarga imigran Perancis sejak tahun 1803 itu, terus berupaya mengukuhkan dirinya sebagai perusahaan berbasis riset dan inovasi. Mereka memiliki 28.000 peneliti dan staf di puluhan laboratorium di puluhan negara. Sebanyak 2.000 di antaranya (500 di antaranya bergelar PhD) bekerja di DuPont Experimental Station di Wilmington, Delaware. Di sanalah serat superkuat Kevlar dikembangkan. Perjalanan kultur riset DuPont sangat panjang. DuPont Experimental Station berdiri tahun 1903, yang termasuk salah satu laboratorium penelitian industrial paling awal di Amerika. Di sana, hingga saat ini dikembangkan penelitian berbasis ilmu fisika dan kimia, termasuk biomaterial. Tahun 2008, dibangun DuPont Innovation Center: tempat penelitian, pengembangan, dan penerapan berbagai produk biosains dengan hasil produk-produk yang diklaim ramah lingkungan. Memantapkan jejak sebagai perusahaan berbasis penelitian, DuPont menganggarkan dana 1,4 miliar dollar AS (hampir Rp 12 triliun) untuk pengembangan riset pada tahun 2009. Tahun 2010, sejumlah fasilitas penelitian dibangun di sejumlah negara, salah satunya laboratorium photovoltaic (PV) di Swiss. Sebagai gambaran fokus riset mereka, tahun 2009 DuPont meluncurkan 1.400 produk dan mencatatkan 2.086 paten. Adapun 39 persen (sekitar 10 miliar dollar AS) dari total pendapatan berasal dari penjualan produk yang mereka luncurkan tahun 2005-2009. ”Sebanyak 75 persen dana penelitian dan pengembangan tahun 2009 kami gunakan menjawab tantangan megatren,” kata Ketua sekaligus CEO DuPont Ellen Kulman pada DuPont Global Media Briefing di Iowa, September lalu. Pernyataan itu sekaligus menegaskan arah DuPont sebagai perusahaan berbasis riset. Megatren yang dimaksud mengarah pada kebutuhan pangan dunia yang tumbuh minimal dua kali lipat pada tahun 2050 mendatang. Tahun itu, jumlah penduduk dunia diperkirakan 9 miliar. Untuk itu, DuPont terus mengembangkan benih jagung dan kedelai hibrida, yang ditargetkan mendominasi pasar global. Mereka juga sedang mengembangkan benih padi hibrida di Filipina. Teknologi berikutnya yang dikembangkan adalah menjawab tantangan mengurangi ketergantungan dunia pada energi berbahan fosil. DuPont saat ini, di antaranya mengembangkan teknologi sel surya, biofuel, hingga material konstruksi berbahan khusus. Mereka juga terus menyempurnakan serat kain kuat Kevlar dan Nomex, yang melindungi individu dari tindak kriminalitas yang akan meningkat seiring tekanan sosial dan ekonomi yang tinggi. Mereka juga mengembangkan Tyvek, material khusus yang di antaranya diaplikasikan untuk jaket pelindung dari bahan-bahan kimia berbahaya. Menurut Kulman, yang Oktober ini dinobatkan Fortune pada urutan ke-7 perempuan paling berpengaruh di dunia bisnis, riset-riset yang mereka kembangkan disesuaikan kebutuhan penduduk dunia. Dengan kata lain, mendengarkan keinginan pasar, dikembangkan di laboratorium, lalu dikembalikan ke pasar. ”Itu yang kami sebut market driven R and D,” kata dia. Sekadar menyebut contoh, hadirlah material khusus yang disebut Nomex on demand, sebuah serat pintar yang bisa mengerut atau mengembang menyesuaikan kondisi suhu. Serat ini bisa diaplikasikan seperti kaus atau semacam kaus kaki (stocking). Ada pula Kevlar PX, serat superkuat jenis baru yang dapat melindungi tubuh dari trauma terjangan peluru, hanya dengan rompi lima lapis kain dengan berat kurang dari 5 kilogram. Ekonomi riset DuPont paham betul bahwa riset berkelas sangat mahal, tetapi menguntungkan. Dari segi pemasaran, pendapatan global mereka tahun 2009 sebesar 26,1 miliar dollar AS, yang banyak disumbang dari sektor pertanian dan nutrisi (8,3 miliar dollar AS) dan kimia (5 miliar dollar AS). Pemasukan itu diproyeksikan meningkat hingga dua digit seiring pulihnya perekonomian dunia dari krisis global. ”Kondisi keuangan perusahaan kami saat ini sangat baik,” kata Executive Vice President and Chief Financial Officer Nick Fanandakis. Nick menegaskan, penelitian dan pengembangan yang menjadi napas perusahaan diarahkan pada sektor-sektor yang menjanjikan kembali modal. Namun, tetap ada persentase penelitian jangka panjang. Dengan kata lain, riset dan hasil riset berupa keuntungan bisnis akan terus mengalir dari waktu ke waktu. Di bidang riset pangan, DuPont sedang mengembangkan benih jagung tahan kekeringan ekstrem. Setidaknya, ada dua jenis benih yang dikembangkan, yang salah satunya akan diluncurkan tahun 2011 untuk pasar Amerika Serikat saja. Di tengah perkembangan dunia yang sudah diprediksikan, DuPont memosisikan diri. Sejumlah negara, seperti Singapura, juga mengantisipasinya dengan menganggarkan 16 miliar dollar AS bagi pendanaan riset dan inovasi untuk lima tahun mendatang. Langkah itu merefleksikan cara pandang Singapura terhadap pentingnya riset dan pengembangan teknologi bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Sementara Indonesia, dengan sumber daya peneliti dan sumber daya alam yang melimpah ruah, masih saja terus-menerus terjebak pada persoalan jangka pendek, seperti persoalan politik yang jauh dari mencerdaskan, apalagi menyejahterakan. (GESIT ARIYANTO) http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/11/26/08034154/Antara.Singapura.dan.Indonesia Mimihitam December 2nd, 2010, 09:55 AM RI Akan Impor 250.000 Ton Beras NUSA DUA, KOMPAS.com - Indonesia akan menambah impor beras sebanyak 250.000 ton untuk menjaga ketahanan pangan di dalam negeri. Demikian Menko Perekonomian Hatta Rajasa, usai membuka "Indonesia Palm Oil Conference and Outlook 2011," di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/12/2010), menanggapi pertanyaaan wartawan tentang rencana pemerintah impor beras dari Thailand. "Ya ada tambahannya 250.000 ton lagi. Detailnya tanya ke Bulog," ujarnya. Impor tersebut merupakan tambahan dari impor sebelumnya sebanyak 600.000 ton. Ditambahkan, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Diah Maulida menyatakan beras untuk Bulog itu akan impor dari Thailand dengan jenis beras premium yang pecahnya (broken) lima persen. "Tidak tepat 250.000 ton, tapi dekat itu," katanya tidak memberi angka persis jumlah impor beras yang dilakukan Indonesia. Ia menegaskan impor tersebut merupakan tambahan dari impor beras sebelumnya sebesar 600.000 ton, yang sudah sudah masuk ke dalam negeri. Harga beras yang akan diimpor tersebut, diakuinya lebih mahal, karena termasuk kategori beras premium. Diah mengatakan jika terealisasi impor pada akhir tahun ini maka total beras impor mencapai 850.000 ton. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/12/02/14163422/RI.Akan.Impor.250.000.Ton.Beras David-80 December 29th, 2010, 03:42 PM Indonesia, China launch joint hybrid rice research program JAKARTA, Dec. 29 (Xinhua) -- A technical research program aimed at developing best hybrid rice variety for Indonesia jointly conducted by Indonesian and Chinese scientists was launched here on Wednesday with the effective research period set to due in 2013. The launching of the research, that was apparently a translation of improving relations between the two countries, was conducted by representatives of Indonesia's agricultural ministry and China's well-regarded crop varieties development firm, Long Ping Hi Tech, witnessed by Chinese Ambassador to Indonesia Zhang Qiyue at the ministry's premises. Through such a program, Indonesia will send its agricultural scientists and officials to be trained in China, developing best training programs for Indonesian farmers in selecting the best hybrid rice variety that fits with the country's soil and natural condition. The program was designed to be effective within three years starting from April this year, to last in 2013. China has sent its scientists to Indonesia since April this year as an advance, preparing the success of this program. "Indonesia has been well regarded to have the world's best hybrid rice. Such a cooperation is good to assure the food security for the future generation. The future's food security depends on the researches we are conducting now. Such a cooperation needs to be developed further," Haryono, Director General at the Indonesian Agricultural Ministry's Research and Development section told Xinhua on the sidelines of the launching ceremony. Meanwhile, citing two hybrid rice strains brought on the occasion, Long Ping President Director Chen Peng said that the two strains were developed in Long Ping research development, particularly designed for Indonesian natural terrain. "These two strains featured higher yield, much higher than most on the Indonesian market, and better quality. They are the achievement of our plan to develop particular stains of rice for Indonesia," he said. Indonesia and China are apparently two large countries most of whose populations consume rice. The joint cooperation in hybrid rice research program between scientists in both countries is highly expected to improve the average rice production in Indonesia, and will eventually help achieve a rice self-supplied level in Indonesia. Most importantly, such a cooperation would pave the way for more cooperation in the agriculture section and improve the relationship between the two countries in general. Editor: Mo Hong'e source http://news.xinhuanet.com/english2010/china/2010-12/29/c_13669637.htm cheers Mimihitam January 6th, 2011, 01:14 PM Agriculture Minister Campaigns for Indonesians to Grow Own Chili Armando Siahaan | January 06, 2011 Agriculture minister Suswono said on Thursday that his ministry is preparing a campaign that would encourage Indonesians to plant chili in their backyards as a short-term solution to the spice's shortage. In support of the campaign, the ministry would be distributing chili seeds for free to about 100,000 households in Lampung, Banten, West Java and possibly Jakarta. “Chili is a plant that could be easily grown in one's backyard,” Suswono said. “But now, even in the villages, they want everything instantly, so they buy it.” Suswono said that the chili production rate has declined by about 30 percent, causing a supply shortage, as well as increase in price. He said that one of the main factors of this decline was the constant rain in 2010. “We can say that there was only one season in 2010, which was rainy season,” he said. Suswono added that many people were traumatized by the failure in chili harvest, as the investment for growing chili is about Rp 60 million ($6,700) per hectare. But the country is expecting some harvests in January. “Hopefully, there will be more supplies so that the price will recover,” he said. The minister added that another way to prevent the spice's price increase was for people to reduce their chili consumption. http://www.thejakartaglobe.com/home/agriculture-minister-campaigns-for-indonesians-to-grow-own-chili/415414 Mimihitam January 7th, 2011, 07:51 AM HARGAI CABAI MAHAL Ayo Tanam Cabai di Rumah JAKARTA, KOMPAS.com — Saking susahnya menyelesaikan masalah kenaikan harga cabai, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengajak masyarakat menanam cabai di rumah masing-masing. Mari sudah menanam 200 pohon cabai di rumahnya. "Pengumuman, saya sudah menanam 200 pohon cabai di rumah, memakai pot-pot. Saya ajak konsumen untuk ikut menanam," ujar Mari seusai bertemu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Kamis (6/1/2011) di Jakarta. Menurut Mari, tingginya harga cabai, yang bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram di beberapa tempat, merupakan dampak dari masalah hama dan iklim. Jadi, masalah cabai bukan disebabkan masalah distribusi yang terhambat. "Jadi, mungkin sekali masalah cabai ini diarahkan pada usaha kita di sektor pertanian, di mana Kementerian Pertanian dapat mengusahakan bibit yang tahan penyakit dan tahan perubahan iklim yang ekstrem," ujarnya. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/01/06/13230456/Ayo.Tanam.Cabai.di.Rumah Mimihitam January 12th, 2011, 10:33 AM Produksi Beras Harus Naik 5 Persen JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah menargetkan produksi beras 2011 harus naik 5 persen atau minimal 4 persen dari produksi tahun 2010. Target produksi sekitar 70 juta ton gabah kering giling ini harus bisa dicapai oleh Kementerian Pertanian. Hal itu diungkapkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Selasa (11/1/2011) malam, saat memberi arahan dalam Workshop Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dalam Rangka Menghadapi Dampak Perubahan Iklim Tahun 2011. Workshop berlangsung tiga hari, 11-13 Januari, di Kantor Kementerian Pertanian. Hadir dalam acara itu Menteri Pertanian Suswono, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, dan Direktur Utama Perum Bulog, jajaran Kepala Divisi Regional Bulog dari 26 provinsi, dan seluruh kepala dinas pertanian dan yang terkait di Indonesia. Selain mengevaluasi kinerja produksi beras 2010 yang tidak mencapai target, workshop juga bakal merumuskan strategi produksi beras 2011 dan penyerapan beras oleh Bulog 2011 dalam rangka pemenuhan beras untuk cadangan pangan. "Saya tidak usah menceritakan risikonya kalau target produksi beras 2011 tidak tercapai. Tahun 2010 kita impor beras 1,3 juta ton. Kalau produksi 2011 tidak tercapai dan harus kembali impor, belum tentu ada beras di pasar dunia. Tidak bisa ditawar-tawar, masalah pangan adalah kemandirian. Produksi pangan harus sebanyak mungkin," katanya. Selain menetapkan target produksi beras, Hatta juga meminta para pemangku kepentingan terutama Kementerian Pertanian harus waspada dan tanggap terhadap iklim ekstrem serta merespons cepat atas setiap gangguan produksi. Pemerintah akan mengeluarkan Peraturan Presiden khusus untuk mengantisipasi perubahan iklim. Kalau tanaman padi terkena hama wereng, misalnya, harus cepat direspons. Reaksi harus cepat dan petani dilindungi. "Jangan kerja business as usual," katanya. Hatta juga meminta agar distribusi diperhatikan agar lonjakan harga tidak terjadi. "Inflasi dari beras harus dikendalikan. Pengadaan beras Bulog hingga Mei 2011 harus tercapai 2,5 juta ton. Lakukan penawaran dan fasilitasi stok. Bulog harus bereaksi cepat untuk memupuk stok beras," paparnya. "Terkait langkah pengendalian harga, penyaluran raskin sampai Maret 2011 jangan sampai terlambat. Raskin diberikan empat kali dalam kurun waktu tiga bulan. Jajaran kepala dinas pertanian di daerah atau yang terkait harus berkomunikasi dengan gubernurnya untuk melakukan persiapan penyaluran raskin agar lancar dan tepat waktu. Setiap masalah distribusi di daerah harus diselesaikan," lanjut Hatta. Menko juga mengmbau agar operasi pasar beras terus dilakukan sampai tercapai stabilitas harga. "Pendampingan kepada masyarakat dan petani harus dilakukan. Dukung masyarakat membangun ketahanan pangan keluarga, penganekaragaman konsumsi dan cadangan pangan keluarga," katanya. (Hermas Effendi Prabowo) http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/01/12/09471729/Produksi.Beras.Harus.Naik.5.Persen. Mimihitam January 31st, 2011, 12:16 PM Indonesia Set to Open More Farmland to Relieve Food Woes January 30, 2011 The government is ready to open an additional two million hectares of land for agriculture in anticipation of declining food production resulting from climate change and extreme weather, a top official said. Agriculture Minister Suswono said on Friday that the world’s major food-producing countries had recently seen a shortfall in production due to uncertain climatic conditions, leading to a steady decline in global food stocks. Given these pressures, he said, it was important that food-producing nations such as Indonesia put a hold on exporting their produce in order to safeguard stockpiles. “Looking ahead, the quantities of food commodities traded in the international market will get smaller, while at the same time food demand will continue to increase,” he said. “This will lead to higher prices for food commodities in the international market.” The Food and Agriculture Organization of the United Nations recently reminded countries of the need to strengthen their food stocks in the face of the current situation, he said. However, according to Suswono, Indonesia has no need to worry because it has a vast area of land with the potential to increase food production. He said Indonesia would take maximum advantage of its available land to support the country’s food self-sufficiency. “With the existing farmland potential, it is still possible to open new paddy fields to keep the rate of land conversion steady, particularly in Java,” he said. The government last week suspended import duties on a range of food-related commodities and imported 820,000 tons of rice from Thailand in an effort to ease rising food prices and plug domestic shortages. Antara http://www.thejakartaglobe.com/business/indonesia-set-to-open-more-farmland-to-relieve-food-woes/419892 v-sun February 4th, 2011, 08:32 AM 04/02/2011 13:28 Jangan Panik, 642.000 Ha Sawah Panen Bulan Ini Dery Fitriadi Ginanjar INILAH.COM, Bandung – Masyarakat Jabar diimbau tidak panik melihat kenaikan harga beras. Selain stok masih aman hingga Maret, sekitar 642.000 ha sawah di Jabar masuk masa panen Februari 2011. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Ferry Sofwan Arief menjelaskan pihaknya mendapat informasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jabar yang mencatat akan ada panen raya pada minggu kedua Februari ini sekitar 641.000 hektare sawah yang ditanam pada periode Oktober dan November 2010. “Hasilnya cukup besar untuk penguatan stok Jabar. Lahan padi di Jabar mendekati 1 juta hektare, artinya akan ada lagi panen lanjutan. Produksi padi memang harus dinaikkan. Pemerintah pusat sudah menekankan agar Jabar menaikan produksi padi hingga 5%,” ungkapnya di Bandung, Kamis (3/2/2011). Ferry mengaku, kenaikan harga beras terutama kelas medium jenis IR64 terjadi karena distribusi dan persediaan terbatas. Namun pemerintah telah bergerak cepat dengan menggelontorkan beras miskin (raskin). Diharapkan harga beras akan tertahan dan tidak terus bergerak naik. “Jika raskin sudah diterima tentu harga beras akan tertahan. Tetapi jangan panik karena sebentar lagi akan ada panen raya. Dipastikan gudang Divre Bulog akan penuh,” ujarnya. Saat ini harga beras medium jenis IR64 bergerak naik pada angka Rp7.500. Padahal biasanya harga beras jenis itu berkutat di sekitar Rp6.600-Rp6.800 per kg. [jul] http://www.inilah.com/read/detail/1205962/jangan-panik-642000-ha-sawah-panen-bulan-ini/ Mimihitam April 8th, 2011, 08:09 AM Farmers Fight Climate Change Without Govt Support Fidelis E. Satriastanti | April 08, 201 Lack of government support has forced Indonesian farming and fishing communities to come up with their own means of addressing their vulnerability to the impacts of climate change, activists said on Thursday. Said Abdullah, from the People’s Coalition for Food Sovereignty, said farmers and fishermen stood to suffer on the social, economic and cultural fronts as a result of erratic weather patterns, droughts and warming seas. “Climate change affects both groups … but no one has really touched on adaptation efforts for them,” he said. “There has never been any serious policy for climate change adaptation. Instead, the government keeps issuing policies that will only worsen the climate condition and these people’s survival. “For instance, to deal with decreasing harvests, the government always imports food. It’s good to ensure sufficient stocks, but they also need to think long term and start to embrace these farmers and fishermen in finding a way out of the problem.” He added that while the economic impact to the farmers and fishermen had been addressed to an extent, the “social and cultural issues are mostly neglected.” “For instance, nowadays because of a shift in culture where farmers who used to focus on planting now focus on harvesting, they’re just waiting for money instead of being creative in their planting methods.” “Nor is it uncommon for them to go abroad as migrant workers because that’s the only logical alternative [to having to wait for the harvest] in places like Brebes [in Central Java] and Indramayu [in West Java].” However, farming and fishing communities there have come up with their own ways to adapt to climate change effects. “In Indramayu, farmers call this movement ‘farmer’s autonomy’ because they’ve gotten so frustrated with measures by the authorities that haven’t been implemented properly,” Abdullah said. “They’ve built up their own organization to put themselves on the same footing as government agencies. They’re also experimenting with horticulture in planting their crops so that if there’s a crop failure, they still have enough food to subsist on.” Giorgio Budi Indarto, the forest and climate program director at the Indonesian Center for Environmental Law, agreed the government had not been supportive of the groups and had failed to issue strong policies on dealing with climate change effects. Giorgio added the government’s policies on adaptation so far extended only to evaluating the vulnerability of each region to global warming, with no concrete actions proposed. “In the National Communication [government report on climate change vulnerability], it states simply that Sumatra is vulnerable, Java is vulnerable and so on, but there are no significant actions,” he said. “So given that they’re vulnerable, what are you going to do about it?” http://www.thejakartaglobe.com/news/farmers-fight-climate-change-without-govt-support/434103 acoolguyfromnz April 8th, 2011, 10:50 AM gak tau apa yg salah dgn perrtanian Indonesia. Di NZ kita malah tambah berkibar dari hasil pertanian. typhoonbringer April 8th, 2011, 03:04 PM yg salah ya karena sistem pertanian masih jaman batu padahal iklim udah berubah acoolguyfromnz April 8th, 2011, 09:35 PM Payah memang pemerintah Indosia, over price, over maintenance but they are guy in job performance... Mimihitam April 14th, 2011, 01:32 PM Govt offers 3 million hectares for plantations The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 04/14/2011 6:10 PM | Business The government is offering three millions hectares of land for plantations after revoking 251 licenses from companies deemed to be failing in managing the land. “Especially for sugar cane, related to our sugar self-sufficiency program,” Forestry Minister Zulkifli Hasan said in Jakarta on Thursday as quoted by tempointeraktif.com. He added that rubber trees and oil palms were the next priorities. The ministry's director general for planology, Bambang Supijanto, said the land was part of forested areas ready for conversion into plantations. “Most of them are situated in Central Kalimantan,” Bambang said, adding that the rest were spread across other in Indonesia except Java Island. http://www.thejakartapost.com/news/2011/04/14/govt-offers-3-million-hectares-plantations.html mr_n_mrs_handaja December 27th, 2012, 05:36 PM http://m.bisnis.com/articles/komoditas-unggulan-pakai-cara-jepang-bali-unggulkan-sentra-jeruk-kintamani mr_n_mrs_handaja January 9th, 2013, 11:55 AM http://www.investor.co.id/agribusiness/2012-pencetakan-sawah-baru-terealisasi-3000-hektare/51720 mr_n_mrs_handaja January 10th, 2013, 06:51 PM http://m.bisnis.com/articles/mentan-suswono-jangan-ubah-sawah-produktif-jadi-sawit mr_n_mrs_handaja January 10th, 2013, 08:19 PM http://www.investor.co.id/agribusiness/ptpn-x-siapkan-enam-pg-produksi-gula-premium/52088 mr_n_mrs_handaja January 12th, 2013, 01:01 PM PERTANIAN: KEMBANGKAN MINAPOLITAN, PETANI TAMBAH PENDAPATAN Sabtu, 12 Januari 2013 | 15:48 WIB Heru Rahmad Kurnia SERDANG BERDAGAI: Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Pemkab Sergai) Provinsi Sumatra Utara terus mengembangkan pola pertanian untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat Serdang Bedagai yang sebagian besar adalah petani. Sistem pertanian yang dikembangkan Pemkab Sergai adalah dengan menerapkan metode minapolitan kepada para petani di Kabupaten Serdang Bedagai, karena 60% mata pencaharian masyarakat Serdang Bedagai adalah petani. "Metode minapolitan adalah budidaya pertanian yang diselaraskan dengan bidang lain, seperti pengembangan budidaya ikan disela-sela tanaman yang dikerjakan oleh para petani," kata Bupati Serdang Bedagai Tengku Erry Nurani, Sabtu (12/1). Apalagi sektor pertanian di Kabupaten Serdang Bedagai menjadi penyumbang terbesar Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Serdang Bedagai dalam 5 tahun terakhhir ini. "Karena 60% masyarakat Serdang Bedagai mata pencahariannya adalah bertani dan 40% bergerak dibidang perdagangan, jasa dan lain sebagainya," ujar tengku Erry. Dengan kerja keras dari seluruh lapisan masyarakat, ungkap Tengku Erry, Pemkab Sergai memperoleh penghargaan Ketahanan Pangan dari Pemerintah Pusat selama tiga tahun berturut-turut, 2008, 2009 dan 2010. Dalam menerapkan metode minapolitan kepada para petani, sebut Tengku Erry, Pemkab Serdang Bedagai memberikan dukungan penuh bagi warga dalam meningkatkan kesejahteraan keluarganya. "Ada yang menyelaraskan lahan pertanian dengan budidaya ikan lele atau sebagainya. Penyuluh pertanian aktif memberikan masukan kepada petani terkait tata cara tanam dan ternak," tuturnya. Tengku Erry mengakui bahwa Pemkab Serdang Bedagai masih belum menyentuh potensi perikanan dan kelautan secara signifikan. Kendala yang dihadapi diantaranya keterbatasan teknologi dan alat tangkap ikan yang dimiliki nelayan tradisional. "Pemerintah Provinsi Sumatra Utara saat ini mulai melirik potensi sektor perikanan dan kelautan. Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara memberikan asuransi kepada para nelayan tradisional," ujarnya. Program ini, kata Tengku Erry Nuradi, menjadi terobosan awal sebagai bentuk kepedulian terhadap nelayan tradisional di Provinsi Sumatra Utara. (arh) http://m.bisnis.com/articles/pertanian-kembangkan-minapolitan-petani-tambah-pendapatan mr_n_mrs_handaja January 20th, 2013, 08:15 AM Ketergantungan Pangan Jadi Ancaman Serius Jumat, 11 Januari 2013 | 8:41 PURWAKARTA-Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri menilai ketergantungan kebutuhan pangan Indonesia kepada asing akan menjadi ancaman serius. "Kapasitas produksi pangan Indonesia terus merosot tajam seiring dengan pertumbuhan penduduk dan menyusutnya lahan pertanian yang konsekuensinya mengimpor pangan dari negara lain," kata Megawati dalam pidato politiknya di Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (10/1) . Acara itu dihadiri pimpinan dan kader PDI Perjuangan serta tamu undangan, antara lain Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Assidhiqie, Ketua Komisi Yudisial Eman Suparman, serta Wakil Kepala Polri Komjen Pol Nanan Sukarna. Menurut Megawati, kondisi seperti ini menjerat Indonesia pada ketergantungan terhadap asing yang akan menjadi ancaman serius di masa mendatang. Megawati mensitir hasil kajian dari Institute for Development of Economic of Finance (Indef) yang menyimpulkan Indonesia akan kembali mengimpor beras sebanyak 1,75 juta ton. Selain mengimpor beras, menurut dia, hasil kajian tersebut juga menyimpulkan Indonesia mengimpor kedelasi hingga 70 persen, garam 50 persen, dan daging sapi 23 persen dari kebutuhan domestik. "Jika rencana impor beras dan pangan lainnya ini terjadi, maka Indonesia akan menjadi importir beras terbesar kedua di dunia. Ini akan menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia," katanya. Presiden kelima Republik Indonesia ini menambahkan, hal yang lebih menyedihkan ketergantungan pangan terhadap asing ini berlangsung pada saat harga pangan dunia terus bergerak naik. Menurut Mega, Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia-Pasifik (ESCAP) menyebutkan, cuaca buruk dan dampak pemanasan global di negara penghasil pangan mengakibatkan harga pangan dunia terus mengalami kenaikan. Hasil Kajian ESCAP tersebut, kata Mega, menunjukan harga pangan dunia yang tinggi telah memaksa sebanyak 19,4 juta orang di Asia Pasifik hidup miskin. "Bangsa Indonesia saat ini juga berhadapan dengan resiko ini," katanya. Putri proklamator Soekarno ini mengimbau agar pemerintah menerapkan kebijakan untuk kesejahteraan rakyat dengan berkaca pada keseluruhan sejarah perjalanan bangsa.(ant/ hrb) http://www.investor.co.id/agribusiness/ketergantungan-pangan-jadi-ancaman-serius/52247 mr_n_mrs_handaja January 30th, 2013, 10:19 AM Rabu, 30 Januari 2013 | 13:48 wib Kartel disinyalir ikut permainkan harga pangan JAKARTA, kabarbisnis.com : Selain terkendala cuaca, harga komoditas pangan di pasar yang fluktuatif selain tidak stabilnya pasokan di pasar diduga akibat praktik kartel yang cukup kuat. Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, Ngadiran, Rabu (30/1/2013). Menurut Ngadiran, kartel berperan memasukkan produk impor dan memainkan harga di pasaran. Beberapa produk yang menjadi 'permainan' kartel seperti bawang putih, bawang merah, dan cabai. Akibatnya, harga produk lokal terpukul. Sebelumnya, Komite Ekonomi Nasional (KEN) melapor pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait praktik kartel di sejumlah produk pangan lokal.(RRN). - kbc10- http://www.kabarbisnis.com/m/read/2836297 mr_n_mrs_handaja February 24th, 2013, 06:15 AM 2013, Momentum BUMN Pertanian Bersih- bersih TEMPO.CO , Jakarta - Bekas Sekretaris Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Said Didu, tak bisa banyak menduga bakal sebagus apa kinerja perusahaan pelat merah bidang pertanian pada 2013 ini. Penyebabnya, sudah sejak awal tahun ini, kinerja pengadaan sejumlah bahan pangan tengah disorot. "Prospek BUMN pertanian ke depan saya tidak bisa menduga, tapi saya rasa turun sedikit dibanding tahun sebelumnya, tidak masalah," kata Said saat dihubungi pada Senin, 11 Februari 2013. Penurunan tersebut akibat upaya perseroan untuk memperbaiki kualitas. Said berharap, dengan terbongkarnya sejumlah kasus penyelewengan pengadaan bahan pangan, bisa menjadi momentum perusahaan untuk bersih- bersih. "Semua (kasus korupsi dan dugaan penyelewengan) harus dibuka," ujarnya. "Saya geregetan dengan proyek-proyek pertanian yang ditengarai ada dugaan korupsi." Tahun ini Kementerian Pertanian juga berencana mengubah skema pengadaan benih yang sebelumnya berupa proses tender dengan penunjukan langsung menggunakan mekanisme public service obligation (PSO). Untuk pengadaan benih senilai Rp 388 miliar, pemerintah bakal menunjuk PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani. Said melihat selama ini kinerja kedua perseroan ini sudah bagus. Hanya saja, kinerja yang bagus itu tidak jelas apakah murni dari bisnis yang dilakukan oleh perusahaan atau merupakan alat pihak-pihak tertentu tersebut. "Jadi, perlu dicek lagi," kata dia. http://m.tempo.co/read/news/2013/02/11/090460507/2013-Momentum-BUMN-Pertanian-Bersih-bersih Harga Produk Pertanian di Petani dan Konsumen Timpang Terlalu! Demi Untung, Kartel Pangan Permainkan Panen dan Regulasi http://m.lensaindonesia.com/2013/02/10/terlalu-demi-untung-kartel-pangan-permainkan-panen-dan-regulasi.html mr_n_mrs_handaja February 25th, 2013, 03:58 PM KEDELAI: PERMINTAAN LAHAN BARU 500.000 HA BELUM DIPENUHI Senin, 25 Februari 2013 | 18:40 JAKARTA—Kurangnya area lahan produksi kedelai menjadi penyebab buruknya kinerja pencapaian target produksi kedelai dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)2010-2014. Menteri Pertanian Suswono pernah meminta penambahan area lahan sebesar 500.000 ha, tetapi sampai sekarang permintaan itu belum dipenuhi. Akibatnya, pencapaian target produksi kedelai RPJMN sebesar 20,05% per tahun per tahun akan sulit tercapai. “Sejak awal kami mengatakan perlu tambahan area untuk kedelai sebanyak 500.000 ha, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan tambahan lahan. Itu yang menjadikan kelihatannya [target RPJMN] sulit dicapai,” ujarnya, Senin (25/2). Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi kedelai 2012 (ARAM) turun 8,4% dibandingkan 2011 karena luas panen diperkirakan turun 8,93%. Adapun, produktivitas diperkirakan mengalami kenaikan 0,58% dibandingkan 2011. Dalam evaluasi paruh waktu [mid-term evaluation] RPJMN 2010-2014, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana mengungkapkan indikator pangan untuk kedelai dinilai sangat sulit dicapai [rapor merah]. Adapun, tiga indikator pangan yang lain, yaitu beras, jagung, dan gula dinilai perlu kerja kerja keras [rapor kuning] untuk memenuhi target RPJMN. Hanya indikator pangan daging sapi saja yang mendapatkan penilaian suda sesuai jalur [rapor hijau]. Walaupun indikator daging sapi mendapatkan rapor hijau, Armida mengungkapkan masalah kelangkaan pasokan masih menjadi perhatian pemerintah, walaupun tingkat produksinya sudah baik. “Mungkit tingkat produksi dalam negeri oke, tetapi masalah kelangkaan pasokan daging sapi juga jadi perhatian,” ujarnya. (bas) http://m.bisnis.com/articles/kedelai-permintaan-lahan-baru-500-dot-000-ha-belum-dipenuhi acoolguyfromnz February 25th, 2013, 08:20 PM @mr n mrs handaja, Karena kartel tau demand plus supplynya. Seandainya Indonesia punya BUMN yg khusus export produk2 pertanian spt Fonterra dimana sebagan besar kapasitas exportnya besar dan bisa menutupi demand dalam negeri, gak berani kartel mainin harga. Kalau swasta yg export, pemerintah gak bisa minta. mr_n_mrs_handaja February 26th, 2013, 02:48 PM RI Terus Cari Cara Kakao RI Tembus ke Eropa http://s14.directupload.net/images/130226/5jzyocz3.jpg (http://www.directupload.net) MAKASSAR - Indonesia menjadi produsen kakao ketiga terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Tapi produk kakao Indonesia sulit menembus pasar Uni Eropa. Kesulitan pengusaha kakao Indonesia menembus pasar Uni Eropa tersebut dikemukakan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan, Zulkarnaen Arief. Arief mengutarakan poin mengenai kakao tersebut dalam sosialisasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Forum sosialisasi CEPA dihadiri Ketua Umum DPN Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Brunei Darussalam dan ASEAN Julian Wilson. Sekira 200 pengusaha, akademisi, dan mahasiswa turut mengikuti sosialisasi yang dijadwalkan bersambung dengan diskusi hingga siang nanti. “Apindo mengambil bagian aktif dalam mempersiapkan dunia usaha Indonesia menghadapi CEPA antara Indonesia dengan Uni Eropa. Sebelum negosiasi resmi dimulai, Apindo berperan menyosialisasikan rencana kerjasama ini kepada para anggotanya di tingkat provinsi,” katanya. Ditambahkannya, Apindo juga ingin mengumpulkan masukan dari para pengusaha di daerah tentang kemungkinan yang perlu diantisipasi dalam menjajaki CEPA. Sosialisasi CEPA di Makassar diadakan Apindo melalui program Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment (ACTIVE). “Importir kakao terbesar di dunia itu Eropa. Bagaimana untuk masuk ke Eropa itu lebih gampang, kita bisa cari caranya,” jawab Sofjan atas poin yang diuraikan Ketua Kadin Sulsel. CEPA sendiri menjadi inisiatif baru dalam penyegaran kembali hubungan ekonomi Indonesia-Uni Eropa. Sosialisasinya telah diadakan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, dan Medan. “Visi kami mengatakan kemitraan Indonesia-Uni Eropa harus disegarkan, dalam mengejar tujuan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan,” urai Dubes Julian Wilson. ( ade ) http://www.bumn.go.id/ptpn12/publikasi/berita/ri-terus-cari-cara-kakao-ri-tembus-ke-eropa-2/ mr_n_mrs_handaja February 26th, 2013, 03:37 PM @coolguy, Jadi percuma saja Indo punya UU antimonopoli jika para penguasanya berkolusi dengan para mafia kartel tsb. Impor bebas pun hanya akan menguntungkan kartel pangan dan merugikan petani serta konsumen. Kartel2 ini pintar juga. Coba ada berapa BUMN yg ngurusi pertanian dan sub-subnya di negara ini tapi kok akurasi data tidak ada. Bagaimana bisa kontrol jika tidak mengetahui "barangnya" sendiri :bash::bash: sebagaimana terjadi dalam sensus cadangan sapi nasional yg ternyata datanya simpang siur tidak bisa dipertanggungjawabkan, baru juga terekspos karena kasus kuota daging impor kemarin. Simpang siur data pangan seperti ini seringkali dimainkan & dimanfaatkan kelompok kartel :ohno: BUMN spesialis import ide bagus juga. Memang harusnya banyak BUMN dengan orientasi & bidang overlap serta tidak produktif itu ditutup saja atau merger jadi 1 BUMN yg jelas spesialisasi & orientasinya G27 February 26th, 2013, 04:13 PM ^^ Kita tunggu aksi DI, DI udah minta jatah import daging tuh... :D mr_n_mrs_handaja February 27th, 2013, 07:57 AM Dahlan Kembali Cetak Sawah di Berau Wednesday, 27 February 2013 08:33 I-NEWS, Tanjung Redeb - Menteri Badan Usaha Milik Negara(BUMN) Dahlan Iskan akan membuat program pencetakan sawah di Kabupaten Berau karena sebelumnya program food estate untuk menjadikan Kaltim sebagai lumbung padi belum terealisasi. Di sela kunjungannya ke Kabupaten Berau, Selasa (26/2), Dahlan Iskan mengatakan, untuk merealisasikan program tersebut minimal harus melakukan survei akses jalan yang tersedia, termasuk jenis lahannya. "Di lahan PT Inhutani ada lahan yang bisa dimanfaatkan seluas 5.000 hektare, dan lahan tersebut akan kita coba mengimplementasikan program percetakan sawah. Mudah-mudahan berhasil," ungkapnya. Kendati begitu, Dahlan belum berani memastikan kapan pencetakan sawah itu bisa dilakukan. "Karena semua itu harus ada persyaratan yang harus dipenuhi. Makanya saya tidak bisa memutuskan sekarang," katanya. Ketika wartawan bertanya soal program food estate di Kaltim, Dahlan Iskan kembali menegaskan, program tersebut urung dilaksanakan karena lahannya tidak siap. "Jadi terpaksa program itu dipindahkan ke Kalbar, dan kita kerja keras di Kalbar untuk membangun food estate, agar bisa terealisasi sesuai harapan kita," ujarnya. Menurutnya, program food estate di Kalbar bisa menjadi percontohan untuk pencetakan sawah di Kabupaten Berau. "Kebetulan kami sudah ada pengalaman di Kalbar, dan pengalaman itu bisa kami diterapkan di sini," ucapnya. Terlebih lagi di Kabupaten Berau banyakl lahan yang bisa dimanfaatkan untuk percetakan sawah . "Program ini nantinya bisa lebih konkret kalau diterapkan di Berau karena PT Inhutani kan milik negara," jelasnya. Seperti diketahui, Dahlan Iskan menyatakan mundur dari rencana pencetakan sawah baru di Kaltim. Pasalnya, lahan yang dijanjikan seluas 100.000 hektare dinilai belum siap karena sebagian lahan dialihkan untuk perkebunan kelapa sawit. Tetapi khusus di Kabupaten Berau, tidak ada lahan yang dialihkan untuk perkebunan sawit, namun lahan yang berpotensi untuk dijadikan pencetakan sawah masuk dalam kawasan milik perusahaan, seperti PT Inhutani dan PT Berau Coal. Sementara untuk menggunakan lahan yang masuk dalam kawasan perusahaan-perusahaan itu, kata Bupati Berau, Makmur HAPK, harus seizin pemilik lahan. Persoalan status kepemilikan lahan itu, sudah pernah disampaikan oleh Pemkab Berau kepada Menteri BUMN. "Saya sudah menyampaikan ke Pak Dahlan, lahan di Berau banyak. Tapi masuk dalam kawasan Inhutani dan lainnya," kata Makmur. Menurut Makmur, Pemkab Berau serius ingin membuka lahan pencetakan sawah baru di Berau, hanya saja Pemkab Berau tidak memiliki kewenangan untuk mengalihkan lahan. "Karena itu bukan kewenangan saya, pemerintah pusat bisa alihkan kawasan itu untuk menjadi lahan pencetakan sawah," ucap Makmur. ( IN-25/Ant ) http://www.indonesiainfrastructurenews.com/index.php/4114-dahlan-kembali-cetak-sawah-di-berau acoolguyfromnz February 27th, 2013, 01:48 PM @mr n mrs handaja & G27, Makanya sistem setiap department perlu di audit oleh audit independent utk mencari titik lemah sistem yg berjalan. Menurut saya solusi pemerinta sekarang tdk tepat. Pertanian, peternakan dan perikanan jika bisa di kembangkan akan bisa jadi pilar ekonomi ke 2 setelah pertambangan. Pemerintah bisa meniru sealord atau Fontera NZ. Sekarang pemerintah punya niat baik utk mengangkat harkat para petani, nelayan dan peternak dgn cara memberi pintu seluasnya utk hasil produksi mereka dan mengetatkan pintu import. Dampaknya rakyat jadi beli produk mahal. Di samping itu pula karena kementrian dari partai, ya jelas2 gerbongnya (satu partai) yg di masukan dulu utk memainkan import. It is good idea tapi saya rasa pemerintah bisa mendorong BUMN punya devisi export spt sealord dan Fonterra. BUMN ini silahkan hire top skilled technician utk memperluas barang turunan dari hasil petani, peternak dan nelayan. Swasta, UKM dan koperasi juga di beri kesempatan yg sama. Jadi petani, peternak dan nelayan bisa meningkatkan ekonomi mereka plus devisa dari export tanpa memaksa rakyat utk membeli barang dgn harga tinggi. Kontrolnya bisa dari kuota dan audit independent. Dgn kuota, kita bisa punya sustain income tanpa mengurangi income generasi sebelumnya karena di warisi ekosistem yg rusak. Saya gak setuju DI minta jatah import karena cuma cari shortcut saja. BeWiseMan February 28th, 2013, 03:29 AM Investor Jepang Lirik Sektor Pertanian Sumut http://www.thepoliticanews.com/news/wp-content/uploads/2013/02/DSC05776.jpg MEDAN – Investor asal Jepang mulai tertarik menanamkan modal di sektor pertanian Sumatra Utara, selain sektor infrastruktur, industri manufaktur, dan jasa keuangan yang selama ini mendominasi investasi dari Negeri Sakura di provinsi ini. “Saat ini banyak investor Jepang yang melirik sektor agribisnis di Provinsi Sumatra Utara, mengingat Sumut memiliki potensi pertanian yang cukup besar,” ujar Konsul Jenderal Jepang Untuk Medan Yuji Hamada, kepada Bisnis, Selasa (26/2) malam. Dia menyebutkan potensi pertanian di Sumut didukung oleh iklim, kondisi tanah subur. Kawasan yang diincar investor asal Jepang untuk memperluas unit usaha dibidang agribisnis, antara lain Kabupaten Karo dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Selama ini, paparnya, pihaknya menampung produk ekspor dari Sumut, contohnya sekitar 100 ton lobak per bulan dari Kabuapten Tapanuli Utara. Ekspor Lobak dari Taput ke Jepang, lanjutnya, telah berlangsung selama 2 tahun. http://www.bisnis-sumatra.com/index.php/2013/02/investor-jepang-mulai-lirik-sektor-pertanian-sumut/ related news... Hibah 10 Juta Yen Untuk Pembangunan Agribusiness Center di P Siantar Medan – Tertarik berinvestasi di sektor agrobisnis di Sumatera Utara, pemerintah Jepang akan menghibahkan dana sebesar 10 juta Yen guna pembangunan Pusat Pelatihan Pertanian atau Agribusiness Training Center. Khususnya untuk pertanaian organik. Pusat pelatihan atau fram center tersebut akan didirikan di Pematang Siantar. Para petani kelak akan dilatih disana tentang cara pertanian yang baik demi mendapatkan hasil optimal Dalam bulan ini penandatanganan penyerahan hibah akan diselenggarakan. Konsul Jenderal Jepang untuk Kota Medan, Yuji Hamada, menjelaskan kepada ThePoliticaNews.Com seusai pembicaraan pengolahan limbah padat dan limbah kelapa sawit dengan Pemko Medan, Selasa (12/2). Kata Yuji Hamada, ketertarikan para pengusaha Jepang untuk berinvestasi di sektor pertanian di Sumut ditunjukkan melalui kunjungan yang sudah dilakukan berkali-kali. Koperasi petani di provinsi-provinsi di Jepang ada yang datang ke Tapanuli dan kabupaten lainnya. Diantaranya misalnya dari Provinsi Toyohashi. “Kerjasamanya bersifat people to people. Bermacam-macam jenis agrobisnis yang dibicarakan. Kerjasamanya baru dimulai. Sebelumnya sudah ada yang menanam ubi dan lobak, di Tapanuli dan Dairi,” kata Yuji Hamada. http://www.thepoliticanews.com/news/2013/02/12/hibah-10-juta-yen-untuk-pembangunan-agribusiness-center-di-p-siantar/ Jepang Bakal Investasi Penyediaan Bibit Unggul Sayur di Sumut TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Sejumlah pengusaha asal Jepang akan berinvestasi dalam bentuk penyediaan bibit unggul, penanaman atau perawatan, pasca panen serta bantuan peralatan untuk produk ekspor sayur-sayuran di Sumut. "Pengusaha Jepang ini melihat kalau potensi pasar sayur sangat besar. Bahkan, ke Jepang sendiri ada potensi ekspor sayur sekitar 59.000 ton per tahun," kata Fitra Kurnia, Kepala Seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Disperindag Sumut Subdis Perdagangan Luar Negeri di Medan, Selasa (5/2/2013). Tentu ini kesempatan emas, sangat sayang jika dilewatkan. Pengusaha asal Jepang ini bahkan akan melakukan kerjasama dengan petani di Sumut dan pemerintah kabupaten/kota yang akan menyediakan lahan. Kendati demikian menurut Fitra lahan yang disediakan 100 persen harus bebas dari masalah hukum. Sebab, investor asal Jepang ini tidak mau tersangkut hukum atau pun bermasalah ke depannya. Fitra mengatakan sepanjang tahun 2012, total ekspor sayur Sumut sebesar 62.000 ton, sehingga potensinya masih sangat besar untuk dikembangkan. ”Kalau kerjasama ini berhasil, tentu bukan hanya menambah nilai ekspor Sumut tapi juga memperbesar pangsa pasar. Apalagi, ekspor selama ini masih dilakukan dalam bentuk tradisional (non kontainer)." katanya. http://www.tribunnews.com/2013/02/06/jepang-bakal-investasi-penyediaan-bibit-unggul-sayur-di-sumut Good news. Jepang memang suka berinvestasi di Indonesia, Sumut khususnya. Ayo petani Indonesia semangat menanam. Mau sayur, lobak, ubi, pisang, ekspor dah semuanya ke Jepang :) mr_n_mrs_handaja March 7th, 2013, 08:45 AM Kementerian Pertanian revisi target produksi beras 2013 Rabu, 06 Maret 2013 | 16:40 JAKARTA, kabarbisnis.com : Target produksi padi tahun ini diturunkan dari 6,25% menjadi 4,51% atau 72,06 juta ton gabah kering giling (GKG). Penahapan sasaran itu sebagai bagian pencapaian surplus 10 juta ton pada 2014. .... .... http://www.kabarbisnis.com/m/read/2837317 mr_n_mrs_handaja March 7th, 2013, 08:46 AM Rp800 miliar digelontorkan untuk percepatan produksi kedelai Kamis, 07 Maret 2013 | 11:38 JAKARTA, kabarbisnis.com : Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan skenario khusus guna mempercepat sasaran produksi kedelai. Dukungan pendanaan lebih dari Rp 800 miliar digelontorkan untuk percepatan tanam tahun 2013 seluas 1,01 juta hektare (ha). Dirjen Tanaman Pangan Udhoro Kasih Anggoro mengatakan, penetapan skenario khusus itu untuk mencapai sasaran produksi kedelai tahun ini yang mencapai 1,5 juta ton atau meningkat 91,53% dibanding tahun 2012 sebesar 716.842 ton. Sementara produktivitas ditargetkan retata naik 12,5% menjadi 15,46 kuintal per ha. Adapun luas panen bertambah 399.505 ton, meningkat 70% dibandingkan tahun 2012 seluas 570.495 ha. Sementara luas panen kedelai di Jatim ditargetkan mencapai 345.090 ton. Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi- umbian Ditjen Tanaman Pangan Maman Suherman mengatakan, keseriusan pemerintah meningkatkan produksi kedelai tecermin dari alokasi APBN tahun ini yang sebesar lebih dari Rp 800 miliar. "Alokasi penganggaran itu meningkat lebih empat kali lipat dibandingkan tahun lalu berkisar Rp 200 miliar," ujar Maman kepada kabarbisnis.com . Maman menuturkan, umumnya budidaya kedelai dapat diupayakan melalui sistem sisipan pertanaman. Artinya, tanaman kedelai ditanam di lahan tanaman lain yang sedang tidak bisa dimanfaatkan. "Misalnya padi kan ada slot waktu kosong 2,5 bulan yang tidak terpakai untuk padi atau jagung, disitu masuklah kedelai yang tahan air," terang Maman. ·kbc11· http://www.kabarbisnis.com/m/read/2837342 mr_n_mrs_handaja March 7th, 2013, 11:53 AM PTPN VIII ekspansi ke kebun buah Kamis, 07 Maret 2013 | 11:39 WIB JAKARTA. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII menyiapkan dana investasi Rp 36,5 miliar pada tahun ini untuk mengembangkan perkebunan buah tropis. Dana ini akan digunakan untuk membangun kebun buah seluas 1.467,88 hektare (ha) di Jawa Barat. Gunara, Sekretaris Perusahaan PTPN VIII mengatakan, pengembangan kebun buah- buahan tropis sebesarnya sudah dilakukan perusahaan mulai tahun 2012. “Buah-buahan yang ditanam terdiri dari manggis, durian, alpukat, pisang cavendis dan pepaya,” katanya kepada KONTAN. Tahun lalu PTPN VIII telah menanam pisang cavendis dan pepaya di lahan seluas 99,58 ha. Perusahaannya, kata Gunara, pada awalnya mulai mengembangkan perkebunan buah- buahan tropis untuk optimalisasi lahan. Namun melihat peluang pasar buah-buahan tropis yang cukup bagus, PTPN VIII berencana secara serius melakukan ekspansi di buah- buahan tropis. “Peluang pasar ekspor buah tropis terutama ke China sangat terbuka terutama untuk manggis dan durian. Potensi pasar lokal juga sangat besar, hal ini bisa dilihat dari membanjirnya buah impor,” ujar Gunara. Tidak gantikan teh Walau mengaku akan serius mengembangkan kebuh buah tropis, namun Gunara bilang, komoditas buah-buahan tropis tidak akan menggantikan komoditas teh. PTPN VIII akan tetap mengandalkan teh sebagai komoditas utama perusahaan. Teh tetap dipertahankan terutama untuk lahan yang produktivitasnya tinggi. Perkebunan buah akan ditanam di areal cadangan dan areal yang sudah tidak produktif. Produk buah-buahan tropis yang dihasilkan nanti, diharapkan mampu menyumbang pendapatan sebesar 10% hingga 25% kepada pendapatan total perusahaan. Dadi Sunardi, Direktur Utama PTPN VIII menambahkan, perusahaan pelat merah ini menargetkan luas lahan 9.000 ha sampai 10.000 ha untuk produksi buah tropis. Target itu diharapkan bisa dipenuhi pada tahun 2015. “Untuk bibitnya buah tropisnya, kita akan kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB),” katanya. Dedi berharap, pihaknya bisa segera mengekspor manggis dan durian ke China. Diharapkan buah-buahan itu akan mampu bersaing denganbuah tropis di pasar China yang selama ini dipasok Thailand. Pengembangan perkebunan buah secara korporasi menjadi salah satu proyek ambisius Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Dahlan menunjuk PTPN VIII untuk memulai proyek tersebut karena melihat potensi tanah yang luas dari perusahaan yang memiliki wilayah kerja di Jawa Barat itu. Dengan luas lahan mencapai 118.510 ha yang tersebar di Jabar dan Banten, sebagian lahan teh PTPN VIII dianggap kurang produktif sehingga bisa disulap menjadi perkebunan buah-buahan tropis. Selain perkebunan teh, PTPN VIII juga memiliki perkebunan karet, sawit, kina, serta kakao. Pendapatan terbesar PTPN VIII disumbang oleh produksi karet, kemudian teh 34%, sawit 20%, dan sisanya kina dan kakao. Budidaya teh diusahakan pada areal seluas 25.981 ha, karet 27.245 ha, kina 4.305 ha, kakao 4.335 ha, sawit 5.056 ha dan gutta percha 713,95 ha. Tidak hanya mengembangkan perkebunan buah-buahan tropis, PTPN VIII juga berencana melakukan diversifikasi produk dengan mengembangkan agroindustri sorgum. Mulai melakukan pembibitan sorgum pada akhir tahun ini di Jawa Barat, sorgum diharapkan bisa menjadi alternatif bahan baku gandum. Untuk menanam dan pembibitan sorgum, PTPN VIII memilih lahan di dataran tinggi seperti Subang, Sukabumi, dan Bandung Barat. http://mobile.kontan.co.id/news/ptpn-viii-ekspansi-ke-kebun-buah/2013/03/07 mr_n_mrs_handaja March 9th, 2013, 11:59 AM Sapi-sapi se-Indonesia akan didata ulang Sabtu, 09 Maret 2013 | 08:46 JAKARTA, kabarbisnis.com : Data populasi ternak sapi ditata ulang kembali seiring pelaksanaan Sensus Pertanian pada Mei 2013 mendatang. Gonjang-ganjing harga daging sapi saat ini dianggap sementara kalangan disebabkan ketidakuratan data populasi sapi yang ada. Wakil Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan menegaskan, hasil dari Sensus Pertanian menjadi referensi pemerintah menyusun kebijakan pembangunan pertanian dalam arti luas. "Tidak hanya sektor pertanian, tapi kelautan juga perikanan," ujar Rusman di Jakarta,Jumat petang (8/3/2013). Merujuk sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011, populasi sapi potong mencapai 14.824.373 ekor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 14.523.164 ekor sapi diusahakan skala rumah tangga. Namun, Rusman yang juga mantan Kepala BPS itu meyakini hasil sensus berkenaan populasi sapi potong pada 2011 itu tidak diragukan validitasnya. Dari data BPS itu menjadi pijakan dasar penetapan program swasembada sapi berkelanjutan. Hanya saja, diakui Rusman, pihaknya tidak menyampaikan kepada publik sehubungan fenomena social barrier dalam budidaya ternak sapi di Indonesia. Mayoritas usaha budidaya sapi peternak masih bercorak tradisional. Alhasil, tidak dijalankan sesuai prinsip business bases. Dari segi pasokan, kata Rusman, jumlah sapinya memadai. Hanya saja, peternak tidak akan menjual apabila tidak memerlukan uang. Ini dikarenakan sapi bukan dianggap komoditas, tapi lebih dianggap sebagai tabungan. "Peternak justru menjual ketika usia sapinya sudah melewati masa mature. Kondisi ini yang menyebabkan suplai sapi ke pasar tidak dapat diprediksi," terang Rusman. Karena itu, sambung Rusman, hasil sensus pertanian ke depan akan memotret sebaran sapi di Indonesia. Kelemahan pasokan sapi ke daerah konsumen disebabkan persoalaan logistik dan transportasi dapat diantisipasi melalui revitalisasi 18 rumah potong hewan (RPH). "Terbesar RPH-nya berada di Jawa Timur. Tapi kita lakukan juga di Jawa Tengah. Sapinya tidak lagi dikirim dalam bentuk hidup tapi beku dan olahan," ujar Rusman. Sementara keuntungan bagi para peternak dapat mengambil nilai tambah dari bagian sapi lainnya untuk dijual. "Bahkan limbahnya dapat dijadikan kompos. Adapun Jakarta sebagai pasar dalam 2-3 tahun tidak perlu lagi direpotkan oleh persoalaan limbah dari RPH," paparnya. Sebagai informasi kembali,data stok sapi potong sebesar 14,8 juta ekor yang disodorkan pemerintah diragukan Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta. Kementan diminta menghitung ulang apakah dengan surplus daging sapi yang justru akan membahayakan populasi sapi pada masa mendatang. ·kbc11· http://www.kabarbisnis.com/m/read/2837401 mr_n_mrs_handaja March 11th, 2013, 06:31 AM ^^ Praktik kartel diduga bumbui importasi bawang putih Senin, 11 Maret 2013 | 08:43 JAKARTA, kabarbisnis.com : Terus melejitnya harga bawang putih di pasar diduga salah satunya akibat adanya praktik kartel yang membayangi rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) bawang putih yang baru diterbitkan Kementerian Pertanian. Hal itu diungkapkan Ketua Gabungan Importir Hasil Bumi Indonesia (Gisimindo) Bob Budiman dalam siaran persnya, akhir pekan lalu. Diakuinya, hal itu terjadi lantaran adanya asosiasi bermodal kuat yang memiliki 21 perusahaan dari 131 perusahaan yang mendapat RIPH bawang putih dan bawang merah. "Jumlah yang diterima 21 perusahaan itu kurang lebih 50% dari total jumlah RIPH bawang putih dan bawang merah," katanya. Kementerian Pertanian menerbitkan RIPH bawang putih sebanyak 160.000 ton dan bawang merah sebanyak 60.000 ton untuk enam bulan pertama 2013. .... "Usulannya adalah memakai formula berdasarkan nama importir bukan berdasarkan PT (perusahaan), dan nama importir itu bisa didapat dari petugas pelayanan balai karantina di setiap pintu pemasukan, karena mereka melayani PT-PT terkait dan biarpun berbeda PT, pengurusnya atau pengajunya adalah personel yang sama," ungkapnya. Menanggapi hal ini, Pelaksana Harian (Plh.) Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementerian Pertanian Yasid Taufik mengatakan, pihaknya menerbitkan RIPH berdasarkan pengajuan dari importir terdaftar. "Kalau sudah disetujui Kementerian Perdagangan sebagai importir terdaftar baru dapat mengajukan permohonan RIPH. Kami tinggal melanjutkan untuk memproses kaitannya dengan pengaturan volume impor komoditas. Kami tidak mendalami kartel atau bukan karena itu kewenangan Kementerian Perdagangan," ungkap Yasid saat dihubungi, Minggu (10/3). Yasid menuturkan, RIPH itu tidak dapat diajukan oleh perseorangan tapi oleh importir terdaftar yang merupakan perusahaan. "Karena, syarat menjadi importir terdaftar itu kan harus ada SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan). Saya tidak tahu perseorangan yang bukan perusahaan bisa mendapat SIUP atau tidak," tukasnya. Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen PPHP Kementerian Pertanian Haryono mengatakan, memang ada sebanyak 131 perusahaan mengajukan permohonan RIPH segar untuk konsumsi periode Januari hingga Juni 2013. Jumlah RIPH yang akan diterbitkan mencapai 3300 izin. .... Ke-131 perusahaan tersebut, lanjut Haryono, mengajukan permohonan untuk beberapa pos tarif yakni bawang bombay, bawang merah, bawang putih, jeruk siam, jeruk mandarin, lemon, grapefruit/pamelo, anggur, apel, dan lengkeng. .... http://www.kabarbisnis.com/m/read/2837432 :bash: tidak ada koordinasi yg baik antar deptan & depdag. Kalo kasus kartel udah jadi sorotan baru bahas solusi / pembenahan prosedur, terus saling lempar tanggung jawab kewenangan :nuts: mr_n_mrs_handaja March 11th, 2013, 06:44 AM Produksi terus menyusut, tahun depan RI impor kakao Senin, 11 Maret 2013 | 06:44 wib JAKARTA, kabarbisnis.com : Indonesia kini bukan lagi menjadi negara penghasil kakao yang patut diperhitungkan. Pasalnya, produksi kakao dalam negeri terus mengalami penyusutan seiring meluasnya konversi lahan. Kondisi itu membuat produksi kakao tak mampu memenuhi kebutuhan industri pengolah. Akibatnya, tahun depan Indonesia diproyeksi bakal melakukan impor kakao sekitar 100.000 ton ...Petani kakao semakin tergencet dalam 3 tahun terakhir, setelah pajak ekspor diterapkan. Kini harga di tingkat petani hanya Rp16.000 per kg, atau titik terendah dalam 5 tahun terakhir, ujarnya, Minggu (10/3/2013). Menurutnya, seharusnya harga biji kakao di tingkat petani minimal Rp17.500 per kg. Dengan harga Rp16.000 per kg, petani tidak bisa menikmati harga alias hanya berada di titik impas. Dia menjelaskan diskon harga biji kakao yang semakin besar menjadi disinsentif bagi petani. Dari luas tanaman kakao 1,5 juta ha, kini menyusut menjadi sekitar 1,3 juta ha. Banyak petani yang beralih ke komoditas agribisnis lainnya. .... Kini, ujar Zulhefi, terjadi oligopsoni dalam pasar kakao nasional. Industri pengolah biji kakao menjadi penentu harga di tingkat petani. Selain itu, sambungnya, harga komoditas biji kakao dunia terus turun, per Kamis (7/3) harga di Pasar New York US $2.035 per ton. Adapun diskon harga di tingkat petani mencapai US$350 per ton. Dia menjelaskan kebijakan penerapan pajak ekspor (PE) biji kakao benar-benar memukul petani. Sebaliknya, tujuan awal PE kakao, yakni membangkitkan industri pengolahan kakao lokal tidak terwujud. ---- Menurut Zulhefi, PE kakao memang terbukti menggairahkan investasi asing masuk, tetapi kini hanya tiga pabrik pengolah kakao domestic yang mampu bertahan. Investasi lima pabrik baru terjadi hingga tahun ini, antara lain Barry Callebaut, JB Cocoa, dan Cargill. Total pabrik yang eksis, sambungnya, tinggal 10 tetapi hanya satu yang tergolong besar yakni BT Cocoa (Bumi Tangerang Mesindotama) dan dua pabrik lainnya berkapasitas di bawah 5.000 ton per tahun. Kami harapkan Kementan serius memperhatikan kondisi kakao nasional. Jangan membuat kebijakan yang tidak efektif, seperti Gernas Kakao. Kementan harus memberikan penyuluhan yang riil guna meningkatkan produktivitas kakao, ujar Zulhefi. Cita-cita produktivitas 1 juta ton per ha, sambungnya, kini hanya kenangan. Jangankan mencapai 500.000 kg per ha, seperti yang diharapkan, kini produkvitas hanya 350.000 kg per ha. -kbc10- http://www.kabarbisnis.com/m/read/2837427 Kebijakan yg menumbuhkan investor asing tapi menghantam produsen lokal :bash: mr_n_mrs_handaja March 11th, 2013, 06:54 AM GPEI :Ubi Jalar Dairi Berpeluang Tarik Investor Saturday, 09 March 2013 19:41 I-NEWS, MEDAN - Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sumatera Utara Khairul Mahali mengatakan komoditi tanaman ubi jalar dan ubi kayu di Kabupaten Dairi Sumut, berpeluang besar untuk menarik investor. “Pasokan bahan baku ubi jalar dan ubi kayu sangat dibutuhkan hingga sekarang pasokan mendesak untuk produk keripik yang akan dikirim ke Korea senilai 4 Ton per hari, sehingga Kabupaten Dairi dapat membaca peluang itu berdasarkan potensi pemanfaatan lahan yang diuraikan kadis Pertanian,” ungkapnya, Sabtu (9/3/2013) Sebelumnya, Bupati Dairi KRA Johnny Sitohang Adinagoro mengaku ingin agar kabupaten Dairi dapat menjadi sebagai salah satu daerah yang mendapatkan prioritas untuk dikenalkan kepada investor. “Berbagai Usaha Kecil dan Menengah bahkan Industri besar seperti pengolahan bahan baku Jagung dan komoditi unggulan Dairi seperti kopi, sayur sayuran serta berbagai produk dari tanaman palawija serta perkebunan yang dihasilkan dari Kabupaten Dairi memiliki potensi dan nilai ekonomis yang cukup besar," kata dia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut produksi ubi jalar pada tahun 2012 sebesar 186.583 ton, turun sebesar 4.521 ton dibanding produksi tahun 2011. Penurunan produksi disebabkan oleh penurunan luas panen sebesar 871 hektar atau 5,63%, sedangkan hasil per hektar mengalami kenaikan sebesar 4,28 ku/ ha atau 3,46%. ( IN-75 ) http://www.indonesiainfrastructurenews.com/index.php/4262-gpei-ubi-jalar-dairi-berpeluang-tarik-investor ^^ ternyata cassava chip korean itu cassavanya ubi indonesia juga mr_n_mrs_handaja March 11th, 2013, 06:56 AM RI jadikan Jerman etalase ekspor pertanian organik Senin, 11 Maret 2013 | 04:51 JAKARTA, kabarbisnis.com : Indonesia ingin menjadikan Jerman sebagai etalase ekspor pertanian organik. Setidaknya, komoditas beras organik dan hortikultura berpeluang mengisi pasar. Demikian dikatakan Wakil Menteri Pertanian (Wamen) Rusman Heriawan di Jakarta, Minggu (10/3/2013), menjelaskan agenda kerja lawatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu ke beberapa negara di Uni Eropa (UE), termasuk di antaranya Jerman baru-baru ini. Dia mengatakan, pemerintah tengah membahas tawaran Presiden Federal Agency for Food and Agriculture Jerman, Dr. Hanns- Cristoph Eiden kepada Indonesia untuk mengisi produk pertanian organik ke negaranya. Misalnya, beras organik. Menurut Rusman, setidaknya terdapat dua alasan bagi Indonesia untuk menjadikan Jerman sebagai etalase produk pertanian organik. Pertama, kokohnya fundamendal perekonomian Jerman, meski sejumlah negara Uni Eropa masih didera krisis ekonomi. Kedua, tuntutan pasar masyarakat Jerman akan produk hasil pertanian yang aman bagi kesehatan. "Kita punya peluang memasukkan pertanian organik ke Jerman. Komoditas pala (perkebunan) asal Indonesia sangat dibutuhkan. Tapi hortikultura belum," ujar Rusman. Rusman menambahkan, apabila akses ke Jerman itu berhasil dilakukan, maka gilirannya akan diikuti negara-negara UE lainnya. UE akan beranggapan Indonesia sudah dapat menghasilkan bahan pangan yang dihasilkan oleh sistem produksi yang ramah lingkungan. Tentu saja, kata Rusman, harapan tersebut harus direaalisasikan dengan nota kesepahaman dua negara. Di antaranya penguatan sarana dan prasarana pendukung pertanian organik. "Atau kita akan sediakan karpet merah kepada investor UE yang berminat menanam investasi budidaya hortikultura di Indonesia. Harapannya, produknya dapat langsung ke UE," terang dia. Setidaknya, Indonesia dapat memperoleh manfaat yakni penerapan sistem budidaya pertanian modern atau Good Agriculture Practices (GAP). "Ini sudah dilakukan Jepang di Wonosobo. Bahkan mereka sendiri terjun langsung menanam bayam jepang dan dipanen untuk di ekspor ke Jepang,"tegasnya. Saat ini, pasar ekspor hortikultura dan buah-buahan Indonesia ke Singapura, Hongkong, Jepang, dan Dubai. Contoh produk hortikultura yang diminati adalah manggis, semangka, buncis, lobak, dan pokcoy (sawi Thailand). Selain itu, ada kentang, terung, paprika, kapri, kol, dan bawang merah. Catatan Kementerian Perdagangan menyebutkan, ekspor produk holtikultura baru mencapai 10% dari total ekspor Indonesia. ·kbc11· http://www.kabarbisnis.com/m/read/2837421 mr_n_mrs_handaja March 13th, 2013, 03:57 PM DPR Minta Kementan Atasi Gejolak Harga Bawang Rabu, 13 Maret 2013 17:37 WIB SURYA Online, JAKARTA - Kementerian Pertanian diminta untuk segera melakukan langkah-langkah cepat guna mengatasi kelangkaan bawang putih di pasaran. "Tingginya harga bawang putih diatas harga rata-rata ini sangat mengkhawatirkan. Ini harus ada langkah ekstra super sehingga harga kembali normal," kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (13/3/2013). Ia menduga, ada tiga faktor penyebab terjadinya kelangkaan bawang putih. Pertama, ada permainan sekelompok pengusaha yang memainkan bawang putih sehingga terjadi kelangkaan Kedua, karena faktor cuaca. Dimana bahan- bahan holtikultura seperti bawang tak akan tahan terhadap cuaca dingin sehingga bawang akan cepat membusuk. Ketiga, ada kemungkinan salah perhitungan dari Kementerian Pertanian dalam mengestimasi kebutuhan bawang putih di pasaran. "Seharusnya Kementan harus bisa mengestimasi kebutuhan bawang putih pada waktu-waktu tertentu, transportasi, harus dipersiapkan stok di pasaran," katanya. Untuk saat ini, kata politisi Partai Demokrat itu, hampir 90 persen kebutuhan bawang putih di Indonesia adalah impor. "Bawang putih yang ada itu diimpopr dari India, jumlahnya mencapai 445 ribu ton impor atau 90 persen kebutuhan pasar. Rata-rata harganya di pasaran mencapai Rp40-Rp60 ribu per kilogram," kata Herman. http://surabaya.tribunnews.com/m/index.php/2013/03/13/dpr-minta-kementan-atasi-gejolak-harga-bawang mr_n_mrs_handaja March 13th, 2013, 03:58 PM BPPT Terapkan Konsep "Sato Umi" di 4 Kabupaten Wednesday, 13 March 2013 14:37 I-NEWS, JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan menerapkan konsep pengelolaan sumberdaya perikanan pesisir dari Jepang yang disebut Sato Umi di empat kabupaten. "Konsep ini bukan hanya menggunakan pendekatan teknologi, tetapi juga dari sisi sosial, ekonomi dan lingkungan," kata Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT, Nenie Yustiningsih, pada International Workshop Sato Umi-Gempita SPL-Gapura di Jakarta, Rabu (13/3/2013). Konsep itu sudah berhasil diterapkan di Jepang, Filipina dan Guatermala itu diharapkan bisa memperbaiki daerah pesisir yang rusak akibat eksploitasi di Karawang (Jawa Barat), Bantaeng (Sulawesi Selatan), Anambas (Kepulauan Riau) dan Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan). Kepala Bidang Pengkajian Teknologi Produksi Perikanan dan Peternakan BPPT, Prof. Suhendar I Sachoemar, mengatakan, konsep yang diperkenalkan oleh Prof Tetsuo Yanagi itu mencakup Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) berbasis sistem bioresirkulasi untuk lahan tambak terbengkalai. "Teknologi IMTA ini meminimalkan limbah organik maupun anorganik berasal dari sisa pakan ikan dan kotoran hewan berupa nitrogen, fosfat, dan lainnya yang selama ini merusak lingkungan pesisir untuk dijadikan sebagai pupuk bagi algae, rumput laut, maupun bakau," katanya. Dengan demikian, pengelolaan tambak yang sebelumnya berbasis monospecies diubah menjadi berbasis policulture, dimana satu tambak dimanfaatkan untuk udang, kerang, kepiting atau ikan serta pengembangan algae, rumput laut, dan bakau untuk menetralkan limbah. Konsep itu sudah diuji di Kabupaten Karawang sejak 2011, dimana tambak digunakan untuk mengembangkan tiga ton per ha, ikan nila, juga rumput laut hingga 10 ton per ha, bahkan bakau yang buahnya bisa dijadikan minuman jus. "Ini adalah pengelolaan ekosistem yang zero- waste yang mengelola limbahnya sendiri sehingga mampu memperbaiki kerusakan lingkungan di lokasi itu," katanya. "Juga mengedepankan kearifan lokal, tergantung dari spesies yang hidup di daerah setempat, dan ditargetkan akan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal," katanya. ( IN-25/Ant ) http://www.indonesiainfrastructurenews.com/index.php/4296-bppt-terapkan-konsep-qsato-umiq-di-4-kabupaten G27 March 13th, 2013, 04:02 PM ^^ Bagus banget itu konsepnya :D mr_n_mrs_handaja March 13th, 2013, 04:19 PM ^^ benar.. kompleks Sektor2 lain yg kurang produktif harusnya juga demikian, dcarikan konsep & metode kreatif G27 March 14th, 2013, 06:35 PM ELPAF Siap Bantu Petani Pasarkan Sorgum http://regional.kompas.com/read/2013/03/14/22521512/ELPAF.Siap.Bantu.Petani.Pasarkan.Sorgum?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp KEFAMENANU, KOMPAS.com -- Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Agroforestry (ELPAF) Jakarta siap bantu memasarkan hasil panen sorgum warga Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya para petani yang akan membantu membudidayakan sorgum. ELPAF juga dalam sosialisasinya kepada 53 petani dari tujuh desa di Kecamatan Insana, TTU, juga memperkenalkan berbagai manfaat sorgum dari mulai biji, batang, daun, dan akarnya. "Biji sorgum bisa dibuat tepung, batang bisa dibuat bioetanol serta akar bisa untuk pembuatan jamu, sedangkan daun bisa untuk pakan ternak," kata Ivan Andy Darmawan, salah satu pengurus ELPAF. Menurut Ivan, apabila masyarakat mampu membudidayakan tanaman sorgum dengan hasil panen yang memuaskan, maka pihaknya akan siap membantu dalam pemasaran, sehingga masyarakat tidak ragu-ragu untuk menanam, dan tentunya kualitas produksi sorgum akan terus meningkat. "Tentunya kami dari ELPAF akan siap bantu nanti, dari sorgumnya kita bisa pasarkan ke Bogasari. Kalau batangnya, kita bisa pasarkan ke asosiasi ternak di Jawa Timur. Pokoknya pasar tebuka luas, asalkan hasil panen memuaskan," kata Ivan. :cheers: Namewee April 10th, 2013, 05:02 AM Stok Melimpah, Harga Garam Petani Rendah 10 April 2013 03:08 WIB http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/garam-garam-di-ladang.jpg Walaupun musim panen raya Garam telah berakhir pada akhir tahun lalu, hingga kini harga Garam petani tidak juga kunjung naik. Bahkan, harga Garam petani cenderung turun lantaran stok masih melimpah. Saat ini, harga Garam petani kualitas rendah atau KP III dibanderol Rp 300 per kilogram (kg). Sedangkan untuk kualitas KP II harganya Rp 500 per kg. Harga Garam yang terbentuk saat ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 400 per kg untuk KP III. Sedangkan harga Garam KP II dan KP I rata-rata Rp 600 dan Rp 850 per kg. Presidium Aliansi Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (A2PGRI) Jakfar Sodikin mengakui harga Garam rakyat masih rendah. "Penyerapan Garam sangat sedikit, padahal petani sudah banyak yang ingin melepas," katanya. Menurutnya, akibat sedikitnya serapan membuat stok Garam di gudang petani mencapai 600.000 ton. Dari jumlah itu stok Garam yang ada di gudang petani Madura sebanyak 250.000 ton. Oleh karena itulah Jakfar pesimis harga Garam akan terkerek, apalagi musim produksi Garam akan segera berlangsung. Produksi Garam dimulai pada Mei sedangkan panen raya jatuh pada Agustus-November. Sumber : http://www.tribunnews.com/2013/04/10/stok-melimpah-harga-garam-petani-rendah Saya yakin, walau stok terbatas dan harga naik, petani tidak akan begitu merasakan dampaknya Katanya Indonesia juga impor garam, benar gak?? embassyofaudrey April 24th, 2013, 08:33 PM http://sphotos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/404740_332003330236459_705851613_n.jpg sebuah foto yang penuh arti, SAPI: Kalo lo gak makan gw, lo gak boleh lewat. Presiden: ogaah..Anorexia. :omg: suka.baca.forum April 29th, 2013, 07:55 AM http://sphotos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/404740_332003330236459_705851613_n.jpg sebuah foto yang penuh arti, SAPI: Kalo lo gak makan gw, lo gak boleh lewat. Presiden: ogaah..Anorexia. :omg: ini beneran yang moto ibu Ani ...??? masak gak ada pengawalan di depan mobil nya ?.. |