View Full Version : Jakarta ERP System- (Expected to Start Trial Operations in 2010)


tollfreak
August 6th, 2009, 11:31 AM
Agency upbeat ERP operational in 2010

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/06/2009 1:40 PM | City

After a series of schemes and tricks aimed at easing the city's notoriously crazy traffic, the administration is planning to trial a new project next year involving surveillance cameras and microchips, called the electronic road pricing (ERP) system.

"This system will replace the three-in-one system currently in use," land transportation agency head Hendah Sunugroho said Wednesday at a seminar on public transportation.

The city authorities introduced the three-in-one system more than 15 years ago, on several of Jakarta's main roads.

For the past 10 years, authorities have also been considering introducing a system in which cars with odd and even license plate numbers would take turns using the roads, but the idea has never been implemented.

Now, however, authorities seem optimistic about the ERP plan.

The ERP system will force drivers carrying less than three passengers to pay extra fees for using certain roads, Hendah said.

"We have not established the system yet, but the mechanism would probably involve higher fees for less passengers," he said.

"It would probably adapt a lot of technical aspects from the Singapore ERP system."

Using an ERP system, Singapore has been charging its residents to use its roads since 1998. Car owners there are obliged to install special units on their windscreens that automatically send signals to automatic gates located above expressways and roads with heavy traffic.

These signals prompt the payment of road usage charges, which are drawn automatically from cash cards implanted inside the units.

Surveillance cameras can detect vehicles attempting to use roads without paying tolls, or those carrying less than three passengers but stating otherwise, Hendah said.

"Those who break the law may not be arrested immediately, but may be charged extra when renewing their vehicle ownership documents (STNK)," he said.

However, Muhammad Akbar, the head of the office's traffic scheme management who manages the project directly, was not as certain as Hendah that Jakarta could have the ERP system up and running by next year.

"This system will have to wait until the city has adequate public transportation facilities to support those residents shifting from private vehicles to public transport," Akbar told The Jakarta Post. "and I am not sure such facilities will be available by next year."

Jakarta Transportation Council head Tubagus Haryo Karbyanto said authorities must take into account the importance of informing the public of any new systems long before putting them into place.

"Residents must be notified well before a new system is introduced, and must be given a trial period, because all previous failures of traffic solutions have stemmed from a lack of transparency, information and law enforcement," Tubagus said. (dis)

joki2 3 in 1 bisa bangkrut kalau ada ini....sekalian terapin ETC a la SmartTag aja :D

sorry mods if there are any threads about this/linked to this already

AceN
August 6th, 2009, 06:36 PM
Lha..gimana soal RFID yang di mobil nya ?

F-ian
August 6th, 2009, 10:25 PM
joki2 3 in 1 bisa bangkrut kalau ada ini....sekalian terapin ETC a la SmartTag aja :D



bukannya malah nambah? kalo di terapin mah gw pake deh..:tongue2:

paling sistemnya manual :| mobil dari kota2 ama daerah2 lainnya di Indonesia gimana masuknya tuh?

typhoonbringer
August 7th, 2009, 12:40 AM
hmm bakalan bejamur modchipnya ga nih di mangdu? :P

peseg5
August 7th, 2009, 04:40 AM
hmm bakalan bejamur modchipnya ga nih di mangdu? :P

Hahahaha.... iya nih u/ org Indonesia apa sih yg gak bisa di akalin...


ERP --> duit masuk kantong pemerintah

3-in-1 --> duit masuk kantong rakyat kecil

typhoonbringer
August 7th, 2009, 10:49 PM
3 in 1 aja yg di senayan dah kegemukan lol

sekilas gw kira ERP tuh enterprise resource planning :D

farhadowen
August 14th, 2009, 09:22 AM
bukannya malah nambah? kalo di terapin mah gw pake deh..:tongue2:

paling sistemnya manual :| mobil dari kota2 ama daerah2 lainnya di Indonesia gimana masuknya tuh?

Kalau ERP mau diterapkan di Jakarta, seharusnya Kota Jakarta di bentengi oleh checkpoint, Setiap orang atau kenderaan dari dan keluar Jakarta harus melewati checkpoint tersebut. kalau kenderaan tanpa ERP masuk ke Jakarta, di checkpoint nanti akan dipinjamkan alatnya atau harus mendaftar di imigrasi Jakarta :-) jadi ketika terjepret plat nomor kendaraan yang tanpa ERP, otomatis sistem akan membatalkan tilangnya. Kalau Jakarta dirasa terlalu sulit, boleh lah Area Jakarta diperluas menjadi JABODETABEKJUR. jadi sistem ini mengernalkan ada nya perbatasan atau titik cek imigrasi dalam suatu negara. sistem ini juga diterapkan di Sarawak dimana WN Malaysia semenanjung harus menggunakan passport ketika memasuki wilayah Sarawak.

F-ian
August 14th, 2009, 03:44 PM
^^ Wew kyk masuk negara lain ajah...:ohno:

netaholics13
August 16th, 2009, 05:17 AM
Kalau ERP mau diterapkan di Jakarta, seharusnya Kota Jakarta di bentengi oleh checkpoint, Setiap orang atau kenderaan dari dan keluar Jakarta harus melewati checkpoint tersebut. kalau kenderaan tanpa ERP masuk ke Jakarta, di checkpoint nanti akan dipinjamkan alatnya atau harus mendaftar di imigrasi Jakarta :-) jadi ketika terjepret plat nomor kendaraan yang tanpa ERP, otomatis sistem akan membatalkan tilangnya. Kalau Jakarta dirasa terlalu sulit, boleh lah Area Jakarta diperluas menjadi JABODETABEKJUR. jadi sistem ini mengernalkan ada nya perbatasan atau titik cek imigrasi dalam suatu negara. sistem ini juga diterapkan di Sarawak dimana WN Malaysia semenanjung harus menggunakan passport ketika memasuki wilayah Sarawak.

fyi negara bagian sarawak memang punya perjanjian khusus dengan pemerintahan federal malaysia. kan ini beda banget sama pemerintahan kita yang NKRI. otonominya kan berkesan setengah2, cuman di level kabupaten itupun jadinya amburadul.

back 2 the topic. yang gue penasaran gimana mobil2 dari johor bahru masuk singapore yah? apa mungkin mereka juga diwajibkan untuk install alat ini??

untuk diterapin di jakarta kayanya masih jauh deh stagesnya. kenapa ga fokus bangun sistem transportasi massal yang terintegrasi dulu including MRT. gue yakin ga perlu pake ERP, masyarakat jakarta dengan sendirinya akan mengurangi penggunaan mobilnya.

tollfreak
August 16th, 2009, 11:31 AM
fyi negara bagian sarawak memang punya perjanjian khusus dengan pemerintahan federal malaysia. kan ini beda banget sama pemerintahan kita yang NKRI. otonominya kan berkesan setengah2, cuman di level kabupaten itupun jadinya amburadul.

back 2 the topic. yang gue penasaran gimana mobil2 dari johor bahru masuk singapore yah? apa mungkin mereka juga diwajibkan untuk install alat ini??

untuk diterapin di jakarta kayanya masih jauh deh stagesnya. kenapa ga fokus bangun sistem transportasi massal yang terintegrasi dulu including MRT. gue yakin ga perlu pake ERP, masyarakat jakarta dengan sendirinya akan mengurangi penggunaan mobilnya.

mobil2 JB ke singapore harus beli semacam AutoPass Card dulu yang bisa di isi ulang

dari website Land Transport Authority :

you are required to top up your Autopass Card in Singapore with sufficient cash value to pay your VEP fees, toll charges (where applicable) and ERP fees (if applicable) at Woodlands or Tuas Checkpoint.
You can top up your Autopass Card at the following locations in Singapore:

Any 7-Eleven convenience outlets (open 24 hours)
Selected petrol stations (open 24 hours)
Automated Teller Machines (ATMs) of UOB, OCBC, POSBank/DBS (if you have a bank account with these banks in Singapore)

Autopass top-up booths at:
(i) Woodlands Centre Road (open 24 hours)
(ii) Jalan Ahmad Ibrahim (open 24 hours)
(iii) Turf Club Avenue (8 am to 8 pm daily)

A service fee is charged by the service provider for each top-up.

There will be an administrative fee of S$10 imposed if you pay VEP fees, toll charges and/or ERP charges in cash at any Woodlands and Tuas checkpoints.

=NaNdA=
August 18th, 2009, 06:21 AM
akankah seperti ini sensornya? :?

http://www.chasingcleanair.com/photos/uncategorized/2008/07/20/singapore_sze_li_3.jpg

http://farm4.static.flickr.com/3098/2692686421_56b354e3d2.jpg

http://2.bp.blogspot.com/_W-6nPuCuKBY/SW8mF-0l6gI/AAAAAAAAAMo/_EXbsKQ-zco/s400/erp_iu_unit1.jpg

kalo voucher duitnya abis gimana ya?
jadi di sistemnya minus? apa ditilang? :?

Kopassus
August 22nd, 2009, 04:48 AM
Agency upbeat ERP operational in 2010

The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 08/06/2009 1:40 PM | City



The ERP system will force drivers carrying less than three passengers to pay extra fees for using certain roads, Hendah said.

"It would probably adapt a lot of technical aspects from the Singapore ERP system."

Using an ERP system, Singapore has been charging its residents to use its roads since 1998. Car owners there are obliged to install special units on their windscreens that automatically send signals to automatic gates located above expressways and roads with heavy traffic.

These signals prompt the payment of road usage charges, which are drawn automatically from cash cards implanted inside the units.

Surveillance cameras can detect vehicles attempting to use roads without paying tolls, or those carrying less than three passengers but stating otherwise, Hendah said.

sorry mods if there are any threads about this/linked to this already
CCTV? Masih sih bisa deteksi berapa orang di mobil, bgmn kalau camera kena refleksi matahari di jendela, dark windscreen, terlalu banyak barang, penumpang tidak kelihatan krn tidur dsb? Bgmn kalau bawa truk, biasanya hanya supir aja dan bgmn kalau bawa lebih dari 3 penumpang, dapat bonus, atau bole masuk jl tol gratis?:nuts:

tollfreak
August 24th, 2009, 12:22 PM
Mungkin ini tanda keseriusan pemda untuk membatasi kendaraan yang ada di jakarta selain ERP

August 23, 2009
Arientha Primanita- The Jakarta Globe


The Jakarta city administration announced plans on Sunday to impose higher taxes for each additional car an owner purchases.

Jakarta Eyes 2011 Start for New Tax On Extra Vehicles

The city administration says it plans to implement a progressive tax on private vehicles beginning in 2011.

Under such schemes, higher taxes are imposed for each additional car an owner purchases.

The tax is in line with a law surrounding regional taxes that was endorsed by the House of Representatives on August 18.

Reyanalda Madjid, head of the city’s revenue agency, said Jakarta is still waiting for word from the central government before making the scheme a bylaw.

It would take time for that process to wind its way through bureaucratic channels, “so the rational time to start implementing the law is in 2011, not next year,” he said.

Reynalda said the central government needed to issue a regulation and the Minister of Finance must issue a decree. The two steps would set the amount of the progressive tax on an owner’s second or third car or motorcycle.

He said the tax still could not be directly implemented once those two moves were completed. Reynalda said each regional administration must then pass its own bylaw.

Governor Fauzi Bowo said the city was not in a rush to implement the new tax. He said officials must study whether the law would be implemented in Jakarta only or in other provinces.

“If it is only in Jakarta it won’t be effective because people could register their second or third car in other regions,” he said, adding that vehicles could be registered in Bekasi, Tangerang or other outlying districts that might not implement the additional vehicle tax, or impose a smaller percentage than Jakarta.

He said the administration had sent a letter to the Ministry of Home Affairs to find answers to those questions and to ensure implementation would work.

“The city can’t resolve the problems itself, and it has to involve the Home Affairs Ministry,” he said, adding that ultimately only the ministry had the power to determine the percentage of the extra tax.

The law covering regional taxes outlined parameters for how the tax on extra vehicles could be distributed. The law said for the first ownership, the tariff would be 2 percent of the vehicle price. For the second and the third, the tariff could be up to 10 percent.

Each province must set the additional tax percentage because each region employs different regulations that affect vehicle owners, such as fuel taxes.

State news agency Antara reported that the Association of Indonesian Automotive Manufacturers (Gaikindo) had been rejecting the tax scheme since it was still a draft.

The association said the law would hamper the development of the automotive industry in the country.

gliazzurra
August 24th, 2009, 02:58 PM
akankah seperti ini sensornya? :?

kalo voucher duitnya abis gimana ya?
jadi di sistemnya minus? apa ditilang? :?
tilang, kalo ga salah $10 tuh..

rilham2new
September 8th, 2009, 03:20 AM
fyi negara bagian sarawak memang punya perjanjian khusus dengan pemerintahan federal malaysia. kan ini beda banget sama pemerintahan kita yang NKRI. otonominya kan berkesan setengah2, cuman di level kabupaten itupun jadinya amburadul.

back 2 the topic. yang gue penasaran gimana mobil2 dari johor bahru masuk singapore yah? apa mungkin mereka juga diwajibkan untuk install alat ini??

untuk diterapin di jakarta kayanya masih jauh deh stagesnya. kenapa ga fokus bangun sistem transportasi massal yang terintegrasi dulu including MRT. gue yakin ga perlu pake ERP, masyarakat jakarta dengan sendirinya akan mengurangi penggunaan mobilnya.

Mobil dari JB bisa masuk Singapura HARUS dengan ERP apparatus!!! TIDAK BOLEH TIDAK!!!

Alat itu dipinjamkan, dan CHECKPOINT di Woodlands kita bisa beli TOP-UP nya.... Kalau gak ikut itu, palingan ntar kena tangkap... Terrus di-deportasi, dan gak boleh masuk Singapura dalam jangka waktu tertentu sebagai penalty :tongue2:

rilham2new
September 8th, 2009, 03:23 AM
akankah seperti ini sensornya? :?

http://www.chasingcleanair.com/photos/uncategorized/2008/07/20/singapore_sze_li_3.jpg

http://farm4.static.flickr.com/3098/2692686421_56b354e3d2.jpg

http://2.bp.blogspot.com/_W-6nPuCuKBY/SW8mF-0l6gI/AAAAAAAAAMo/_EXbsKQ-zco/s400/erp_iu_unit1.jpg

kalo voucher duitnya abis gimana ya?
jadi di sistemnya minus? apa ditilang? :?

Biasanya sih, nyantai aja dan tetap lakukan urusan/bisnis seperti biasa. Tapi, nanti jangan kaget ... kalau dapat notifikasi di KOTAK POS rumah dan mesti bayar denda yang mahal... Pembayarannya agak canggih soalnya bisa dilakukan di beberapa tempat.

tollfreak
September 24th, 2009, 05:18 AM
Jakarta Keen On Road Pricing to Ease Jams
The Jakarta Globe

The Jakarta city administration is determined to proceed with a plan to implement an electronic road-pricing system even though it has been rejected by a key House of the Representatives committee, a city official said.

City Secretary Muhayat said the Jakarta administration had learned that the House’s special committee for the regional tax and retribution law had deleted from the draft bill a provision enabling the Singapore-style solution to congested roads.

“The [system] is stipulated in the Traffic Law [passed earlier this year]. So the Finance Ministry has promised to find a way for it to be implemented,” Muhayat said.

The city administration had hoped the electronic road-pricing system, which aims to charge private vehicles for the use of certain roads, would ease the traffic woes that have haunted the capital for years. The regional tax and retribution law was intended to provide the city with a legal basis to collect such fees from motorists.

“We will look for another legal basis to implement it,” Muhayat said. “Just wait.”

Harry Azhar Azis, head of the special House committee, told the Jakarta Globe on Wednesday that the committee dropped the system from the draft bill because the administration did not seem ready to implement it effectively.

“Regional administrations, especially in Jakarta, are unprepared to provide the infrastructure needed to implement [such systems],” he said.

Harry cited toll roads that had failed to solve traffic jams as examples. “If people are charged to drive on certain roads they will look for other routes, and that also causes traffic jams,” he said.

Harry said the committee questioned whether the city could be ready to implement the road-pricing system within the next five years.

“Unless it’s done properly it will be a hindrance to the city’s residents,” he said.

He said it was acceptable for the city administration to look for a new legal basis for implementing the system, but suggested it do its homework to ensure the system was a success.

Darmaningtyas, chairman of the Institute of Transportation Studies, said on Wednesday that the electronic road-pricing system could be used successfully in Jakarta.

“However, public transport needs to be improved before considering it,” he said.

Darmaningtyas noted that the objective of the system was to limit the number of private vehicles by-passing the main roads to avoid traffic jams. He said the city should not focus on the electronic-pricing system, but on building alternative transport, noting that poor public transport led to increased use of private vehicles.

“The city must operate all 15 bus way corridors so mass transportation will reach every corner of the city,” he said.

fcaesarn
September 24th, 2009, 10:37 AM
akankah seperti ini sensornya? :?

http://www.chasingcleanair.com/photos/uncategorized/2008/07/20/singapore_sze_li_3.jpg

http://farm4.static.flickr.com/3098/2692686421_56b354e3d2.jpg

http://2.bp.blogspot.com/_W-6nPuCuKBY/SW8mF-0l6gI/AAAAAAAAAMo/_EXbsKQ-zco/s400/erp_iu_unit1.jpg

kalo voucher duitnya abis gimana ya?
jadi di sistemnya minus? apa ditilang? :?

Singaporean: "This is our Natural Resources"

Big money from it...

peseg5
September 24th, 2009, 07:27 PM
Singaporean: "This is our Natural Resources"

Big money from it...

Yg jelas kita tidak akan menemukan kesemrawutan kemacetan Jakarta disana, walaupun luasnya Singapura (dari segi penduduk dan kota) mungkin nanti menyamai Jakarta, karena pemerintah disana mempunyai program yang JELAS untuk membatasi dan menjaga jumlah kendaraan bermotor.......

National car license tender, car quota, ERP, MRT, dsb.

tollfreak
December 9th, 2009, 12:23 PM
Penerapan ERP Tunggu Peraturan Pemerintah


BERITAJAKARTA.COM — 07-12-2009 20:29
Rencana Pemprov DKI menerapkan program elektronic road pricing (ERP) atau retribusi jalan raya nampaknya akan tertunda hingga akhir 2010 mendatang. Sebab hingga kini peraturan pemerintah yang merupakan turunan dari Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) belum terbit. Sejatinya program ini adalah salah satu upaya untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di ibu kota.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, M Tauchid Tjakra Amidjaja mengatakan, saat ini surat gubernur telah dikirim langsung ke Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan RI agar segera diterbitkan peraturan pemerintah mengenai penerapan ERP yang merupakan turunan dari Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Sebelumnya, penerapan kebijakan ERP telah ditolak DPR karena Pemprov DKI dinilai belum mampu mengatasi kemacetan dan akan menggantinya dengan pajak progresif. Namun Tauchid menilai, ERP masih dapat dilakukan di Jakarta karena dalam UU 22/2009 ada salah satu pasal yang menyebut bisa menerapkan retribusi jalan raya di jalanan ibu kota. Kemudian, pada UU 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) juga menyebut secara tersirat kalau retribusi jalan raya itu bisa dipungut tanpa melanggar peraturan hukum. “Dalam UU tersebut ada pasal yang menyatakan segala jenis retribusi yang belum tertuang dalam UU maka bisa diatur dalam peraturan pemerintah,” kata Tauchid, dalam acara Temu Wicara antara Gubernur DKI dengan wartawan Balaikota di Hotel Boutique, Senin (7/12).

Pelaksanaan ERP di lapangan bisa diterapkan setelah peraturan turunan dari pemerintah pusat diterbitkan. Sayangnya, peraturan pemerintah ini diprediksikan baru turun dalam jangka waktu satu tahun setelah UU dikeluarkan yaitu pada 22 Juni lalu. "Kita harap PP itu terbit secepatnya," harapnya. Sedangkan, untuk pengadaan fasilitas untuk ERP ini akan dikoordinasikan dengan Departemen Perhubungan.

Penerapan ERP ini dinilai mendesak karena pertumbuhan jalan dengan kendaraan sudah tidak seimbang. Penambahan kendaraan 9-10 persen per tahun sementara pertumbuhan jalan hanya kurang lebih 0,01 persen per tahun. Ia juga menilai, ERP akan efektif untuk memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum. Sebab, pengguna kendaraan pribadi akan dikenakan biaya tambahan untuk melintasi jalan tertentu. Akibatnya mereka akan memilih untuk pindah ke angkutan umum yang lebih murah. Pendapatan dari ERP ini juga akan dikembalikan kembali untuk perbaikan angkutan umum.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, selain dengan ERP juga muncul wacana pembatasan kendaraan pribadi dengan penerapan nomor ganjil dan genap. Pembahasan mesti dilakukan multi sektor karena tidak boleh ada celah yang memungkinkan penggunaan kendaraan melanggar peraturan pembatasan tersebut. "Sekarang kan warga Jakarta pintar-pintar banyak yang bisa memanipulasi peraturan dengan berbagai cara," kata Fauzi Bowo.

Disebutkan, dalam Pola Transportasi Makro (PTM) yang digabungkan Pemprov DKI Jakarta sendiri telah memprogramkan pembatasan jumlah kendaraan pribadi dengan beberapa program seperti 3 in 1, ERP (electronic road pricing), pembatasan parkir dan penerapan nomor ganjil genap. Sementara peningkatan kapasitas jaringan jalan akan mencakup pelebaran jalan, pembangunan flyover dan underpass, pedestrianisasi, dan jalur non-motorised vehicle (non sepeda motor).

Sedangkan pembangunan angkutan umum massal akan mencakup empat hal yaitu pembangunan MRT (mass rapid transit) dalam bentuk subway atau kereta bawah tanah, LRT (ligth rail transit) dalam bentuk monorail atau kereta layang, BRT (bus rapid transit) dalam bentuk busway atau jalur khusus bus serta warterways atau angkutan sungai dalam bentuk kapal motor.

jono
December 9th, 2009, 06:10 PM
kenapa permerintah gila itu selalu blablabla:
erp, 3 in 1, busway, mrt, subway, monorail, waterway, airport express, etc...
proyeknya gak ada yang 100% efficient.
stop blabla and do one thing professionally!

Ocean One
January 9th, 2010, 07:16 PM
Jumat, 08/01/2010
3 in 1 Tak Efektif Pemprov Kaji Sistem ERP

DetikNews, Jakarta - Berbagai cara ditempuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan di Ibukota. Sistem Elektronik Road Pricing (ERP) dan sistem ganjil genap nomor polisi pun dikaji kembali.

"Sampai saat ini keduanya masih dalam tahap kajian, mana yang lebih dulu diterapkan sistem ganjil genap atau ERP," Kepala Bidang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) DKI M Akbar, di Balaikota Jl Medan Merdeka Selatan, Jumat (8/1/2010).

Menurut Akbar, sistem lawas 3 in 1 yang digunakan Pemprov untuk mengatasi kemacetan dinilai sudah tidak efektif lagi sehingga perlu dicarikan solusi lain.

"3 in 1 yang diberlakukan di beberapa titik lokasi belum efektif lantaran maraknya pratek joki," tambahnya.

Perlu diketahu ERP merupakan pembatasan lalu lintas dengan mengenakan tarif seperti jalan tol.

"Semakin ramai yang lewat bayarnya semakin mahal. Ini untuk menekan jumlah
kendaraan," tambah Akbar.

Gagasan ERP sendiri sebenarnya sudah muncul ketika Sutiyoso masih memimpin DKI, namun hingga kini hal tersebut belum terealisasi.

Sedangkan sistem ganjil genap nomor polisi nantinya yang akan menjadi dasar kendaraan boleh beroperasi atau tidak.

"Misalnya dua digit terakhir kalau dijumlah hasilnya genap maka tidak boleh keluar hari Senin. Nanti bergantian," jelas Akbar.

Meski demikian kini pihaknya terus melakukan kajian seputar dua kebijakan yang diharapkan mampu mengendalikan kemacetan Ibukota. "Kita kaji dulu baik buruknya," pungkasnya.

tollfreak
February 27th, 2010, 02:40 PM
ERP project stalled at Finance Ministry

Sat, 02/27/2010 12:36 PM | City

JAKARTA: Deputy Governor Prijanto said the application of the electronic road pricing (ERP) system was delayed because the city had not secured permission from the Finance Ministry.

"We sent a letter to the finance minister, but we haven't received an answer," he said Thursday.

Prijanto added that certain important programs in the city, including the ERP and a river dredging project, were related to the central government, which resulted in longer bureaucratic processes.

ERP is a new project involving surveillance cameras and microchips, which will force drivers carrying less than three passengers to pay extra fees when using certain high-occupancy roads.

In a bid to ease worsening traffic congestion, the city is also considering using a system in which cars with odd and even numbered license plates would take turns using the roads. The idea has never been implemented. - JP

blablanonsense
February 28th, 2010, 12:27 PM
Mobil dari JB bisa masuk Singapura HARUS dengan ERP apparatus!!! TIDAK BOLEH TIDAK!!!

Alat itu dipinjamkan, dan CHECKPOINT di Woodlands kita bisa beli TOP-UP nya.... Kalau gak ikut itu, palingan ntar kena tangkap... Terrus di-deportasi, dan gak boleh masuk Singapura dalam jangka waktu tertentu sebagai penalty :tongue2:
bukannya bisa beli voucher di checkpoint atau sewa IU devicenya ya?

tollfreak
March 2nd, 2010, 04:32 PM
Polda Metro Minta Sistem ERP Gantikan 3 In 1

SELASA, 2 MARET 2010, 10:15 WIB

VIVAnews - Mengatasi kemacetan yang semakin parah di Jakarta, Polda Metro Jaya terus melakukan kajian untuk segera mengganti sistem three in one dengan Electronic Road Pricing atau ERP di jalur-jalur protokol seperti Sudirman dan Thamrin.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Condro Kirono mengatakan, sistem Electronic Road Pricing atau ERP dinilai sangat penting untuk mengganti sistem three in one ke depannya.

Sistem ERP dirasa lebih efektif ketimbang sistem three in one yang digunakan saat ini, pasalnya sistem three in one membawa dampak sosial di masyarakat, yakni munculnya joki sehingga kemacetan tetap saja terjadi di jalan-jalan protokol.

Nantinya jalur-jalur three in one saat seperti Sudirman dan Thamrin akan segera digantikan dengan sistem ERP. Alasannya, jalan-jalan protokol itu telah memenuhi syarat ketersediaan angkutan umum yang memadai yaitu Bus Transjakarta Koridor I.

Sebab, setiap kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan harus dibarengi penyediaan sarana transportasi umum yang nyaman dan memadai.

Rencananya, untuk tarif ERP yang digunakan akan disesuaikan dengan volume kendaraan di jalan-jalan tersebut.

"Semakin banyak volume kendaraan, semakin mahal tarif ERPnya. Namun jika volume kendaraan sedikit, tarifnya juga semakin murah. Jadi tarifnya akan disesuaikan dengan situasional volume kendaraan di jalur-jalur ERP," jelas Condro Kirono, Selasa 2 Maret 2010.

Ia melanjutkan, hasil pendapat dari ERP inilah yang kemudian digunakan pemerintah untuk membangun atau melengkapi transpotasi massal seperti Subway, MRT, dan Bus Way.

"Tentunya ini akan menjadi entry gate untuk membangun transportasi massal yang layak, aman, dan nyaman. Sehingga mampu mengatasi kemacetan yang semakin parah," ujarnya.

Sistem ini hanyalah salah satu untuk mengatasi solusi kemacetan, namun pada intinya pembangunan transportasi massal merupakan solusi utama.

"Untuk membangun transportasi massal tentunya diperlukan dana yang cukup besar, maka dari itu hasil pendapatan ERP bisa digunakan, ketimbang sistem three in one," ujarnya. Diharapkan semua stake holde segera menanggapai rencana ini agar kemacetan di Jakarta mampu diatasi.

ERP merupakan sistem jalan berbayar yang diterapkan untuk menekan volume kendaraan di kawasan tertentu. Kendaraan yang melintasi kawasan tertentu diwajibkan membayar atau semacam pajak. ERP menjadi salah satu opsi pembatasan penggunaan kendaraan pribadi.

Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9 persen per tahun.

Sementara pertumbuhan luas jalan relatif tetap, sekitar 0,01 persen per tahun. Jika tak segera ada pembenahan pola transportasi, pada tahun 2014 Jakarta diperkirakan akan mengalami kemacetan total.

Blue_Sky
March 3rd, 2010, 01:22 AM
Wew.... tambah mahal aja biaya jalan2 di jkt

VRS
March 3rd, 2010, 09:50 AM
Polda Metro Minta Sistem ERP Gantikan 3 In 1

SELASA, 2 MARET 2010, 10:15 WIB

VIVAnews - Mengatasi kemacetan yang semakin parah di Jakarta, Polda Metro Jaya terus melakukan kajian untuk segera mengganti sistem three in one dengan Electronic Road Pricing atau ERP di jalur-jalur protokol seperti Sudirman dan Thamrin.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Condro Kirono mengatakan, sistem Electronic Road Pricing atau ERP dinilai sangat penting untuk mengganti sistem three in one ke depannya.

Sistem ERP dirasa lebih efektif ketimbang sistem three in one yang digunakan saat ini, pasalnya sistem three in one membawa dampak sosial di masyarakat, yakni munculnya joki sehingga kemacetan tetap saja terjadi di jalan-jalan protokol.

Nantinya jalur-jalur three in one saat seperti Sudirman dan Thamrin akan segera digantikan dengan sistem ERP. Alasannya, jalan-jalan protokol itu telah memenuhi syarat ketersediaan angkutan umum yang memadai yaitu Bus Transjakarta Koridor I.

Sebab, setiap kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan harus dibarengi penyediaan sarana transportasi umum yang nyaman dan memadai.

Rencananya, untuk tarif ERP yang digunakan akan disesuaikan dengan volume kendaraan di jalan-jalan tersebut.

"Semakin banyak volume kendaraan, semakin mahal tarif ERPnya. Namun jika volume kendaraan sedikit, tarifnya juga semakin murah. Jadi tarifnya akan disesuaikan dengan situasional volume kendaraan di jalur-jalur ERP," jelas Condro Kirono, Selasa 2 Maret 2010.

Ia melanjutkan, hasil pendapat dari ERP inilah yang kemudian digunakan pemerintah untuk membangun atau melengkapi transpotasi massal seperti Subway, MRT, dan Bus Way.

"Tentunya ini akan menjadi entry gate untuk membangun transportasi massal yang layak, aman, dan nyaman. Sehingga mampu mengatasi kemacetan yang semakin parah," ujarnya.

Sistem ini hanyalah salah satu untuk mengatasi solusi kemacetan, namun pada intinya pembangunan transportasi massal merupakan solusi utama.

"Untuk membangun transportasi massal tentunya diperlukan dana yang cukup besar, maka dari itu hasil pendapatan ERP bisa digunakan, ketimbang sistem three in one," ujarnya. Diharapkan semua stake holde segera menanggapai rencana ini agar kemacetan di Jakarta mampu diatasi.

ERP merupakan sistem jalan berbayar yang diterapkan untuk menekan volume kendaraan di kawasan tertentu. Kendaraan yang melintasi kawasan tertentu diwajibkan membayar atau semacam pajak. ERP menjadi salah satu opsi pembatasan penggunaan kendaraan pribadi.

Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9 persen per tahun.

Sementara pertumbuhan luas jalan relatif tetap, sekitar 0,01 persen per tahun. Jika tak segera ada pembenahan pola transportasi, pada tahun 2014 Jakarta diperkirakan akan mengalami kemacetan total.

seharusnya sudah ada 10 tahun yg lampau sistem ini dapat dilaksanakan..
jk ada demo or bus bawa pendukung sepakbola akan berfikir ulang utk melewati jalan2x business yg dipasang alat ERP...

bagak
March 4th, 2010, 09:06 AM
seharusnya sudah ada 10 tahun yg lampau sistem ini dapat dilaksanakan..
jk ada demo or bus bawa pendukung sepakbola akan berfikir ulang utk melewati jalan2x business yg dipasang alat ERP...


Beuuhhh....kalo dah ngomongin demo ama suporter bola mah jangankan sistem ERP polisi aja kagak sanggup berentiin....


BTW ini sistemnya mau kayak gimana ya? apa masing2 mobil mo dipasangin semacam chip or device? trus tiap kali lewat designated roadnya jumlah balance di chip/device itu dipotong? ato kayak tol? dihadang di awal jalanan?:nuts:

Ocean One
May 10th, 2010, 05:25 PM
3 in 1 Dihapus
Aturan ERP Selesai Juni 2010
Senin, 10 Mei 2010

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/05/10/1357571620X310.JPG

Peraturan three in one di jalan-jalan tertentu di Jakarta memberi ladang penghasilan bagi para joki. Anak-anak pun menjadi joki.


JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Perhubungan segera mengubah strategi pengendalian lalu lintas dari kebijakan three in one, yang dinilai tidak efektif mengurangi kepadatan lalu lintas, menjadi kawasan berbayar. Nantinya, setiap pengendara kendaraan pribadi yang hendak melintasi kawasan berpenumpang tiga orang atau lebih akan dikenakan retribusi.

"Kami hitung, untuk mobil dikenakan Rp 20.000. Tapi ini belum ditentukan secara pasti. Angka ini merupakan batas atas," kata Direktur Bina Sistem Transportasi Perkotaan Direktorat Jenderal Angkutan Darat Kementerian Perhubungan Elly Sinaga kepada Kompas.com, Senin (10/5/2010) di Jakarta.

Saat ini, jalan yang dikenai kebijakan kawasan berpenumpang tiga orang atau lebih adalah Jalan Sisingamangaraja, Jenderal Sudirman, Thamrin, Medan Merdeka Barat, Majapahit, Gajah Mada, Pintu Besar Selatan, Pintu Besar Utara, Hayam Wuruk, sebagian wilayah Gatot Subroto, dan Rasuna Said.

Nantinya, pemerintah akan membangun pintu gerbang di setiap mulut jalan-jalan di atas. Pintu gerbang ini akan dilengkapi teknologi on board unit (OBU). "Setiap kendaraan yang masuk harus memiliki smart card. Smart card ini nantinya bisa dibeli di mana-mana," kata Elly.

Soal dasar hukumnya, Elly mengatakan, Kementerian Perhubungan menargetkan akan menyelesaikannya pada Juni 2010. Soal teknologi, Elly mengatakan, hal itu bukan hal sulit. "Itu gampang. Sistem ini sudah diterapkan di mana-mana, seperti Singapura. Kami pun sudah selesai melakukan studinya," kata Elly.

Ia mengatakan, pemerintah akan melakukan sosialisasi ini sehingga tidak mendapat tentangan dari masyarakat. Pemerintah akan memberikan pemahaman bahwa hal ini bertujuan untuk memperlancar arus lalu lintas.

asudarsono
May 11th, 2010, 02:35 AM
Tanggung amat wilayahnya. Kenapa gak seluruh Jakarta aja dipasangin.

Atau semua wilayah yang dilingkari jalan tol dalam kota. Secara, persilangan2nya sudah lebih tertib dan kalau mau bisa nyantolin gerbangnya ke struktur jalan layangnya. Asalkan jangan sampai kita lagi di atas jalan tol, tiap ada gerbang dibawahnya kena debit ...... wah, dari Priok sampai TMII kena berapa gerbang tuh.

VRS
May 11th, 2010, 06:00 AM
semakin banyak volume cars yg lewat di kawasan ERP semakin bayar mahal, = office day
semakin sedikit volume cars yg lewat di kawasan ERP semakin bayar murah, = weekend / holiday,

why not use busway if like that..?? the ticket price still flat use busway....

Ocean One
May 14th, 2010, 04:52 PM
Wakil Menteri Perhubungan Bantah ERP Hanya Pindahkan Kemacetan
Jum'at, 14 Mei 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta -Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono yakin penerapan sistem Electronic Road Pricing (ERP), yang wacananya akan diterapkan sebagai pengganti sistem 3 in 1, dapat menjadi solusi bagi kemacetan di berbagai ruas jalan di kota-kota besar. "Saya tidak yakin jika ERP hanya akan memindahkan kemacetan," kata Bambang kepada Tempo pada hari ini di kantornya.

Menurutnya, jika sistem ERP diterapkan, secara logika akan ada tiga hal yang dilakukan oleh pengguna jalan. Pertama, mengubah waktu keberangkatan menjadi lebih pagi atau lebih malam. "Karena ERP hanya berlaku di waktu-waktu tertentu saja," kata Bambang. Kedua, pengguna jalan akan beralih menggunakan angkutan umum yang tersedia. Ketiga, pengguna jalan akan menggunakan rute lain.

Sebagian kalangan beranggapan bahwa efek penerapan sistem ERP tidak akan berbeda dengan 3 in 1. Pengguna jalan akan beralih menggunakan jalur lain dan akan menyebabkan kemacetan di tempat lain. Bambang membantah. Menurutnya, sebagian pengguna jalan akan memperhatikan efektifitas waktu. Daripada memutar menggunakan jalur lain yang lebih jauh dan berpotensi kemacetan, lebih baik menggunakan jalur yang menerapkan ERP.

Ocean One
May 14th, 2010, 04:57 PM
Wakil Menteri Perhubungan Bantah ERP Hanya Pindahkan Kemacetan
Jum'at, 14 Mei 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta -Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono yakin penerapan sistem Electronic Road Pricing (ERP), yang wacananya akan diterapkan sebagai pengganti sistem 3 in 1, dapat menjadi solusi bagi kemacetan di berbagai ruas jalan di kota-kota besar. "Saya tidak yakin jika ERP hanya akan memindahkan kemacetan," kata Bambang kepada Tempo pada hari ini di kantornya.

Menurutnya, jika sistem ERP diterapkan, secara logika akan ada tiga hal yang dilakukan oleh pengguna jalan. Pertama, mengubah waktu keberangkatan menjadi lebih pagi atau lebih malam. "Karena ERP hanya berlaku di waktu-waktu tertentu saja," kata Bambang. Kedua, pengguna jalan akan beralih menggunakan angkutan umum yang tersedia. Ketiga, pengguna jalan akan menggunakan rute lain.

Sebagian kalangan beranggapan bahwa efek penerapan sistem ERP tidak akan berbeda dengan 3 in 1. Pengguna jalan akan beralih menggunakan jalur lain dan akan menyebabkan kemacetan di tempat lain. Bambang membantah. Menurutnya, sebagian pengguna jalan akan memperhatikan efektifitas waktu. Daripada memutar menggunakan jalur lain yang lebih jauh dan berpotensi kemacetan, lebih baik menggunakan jalur yang menerapkan ERP.

reydi
May 17th, 2010, 04:56 PM
lagi-lagi terkonsentrasi sama private vehicles.

penduduknya udah mau 10 juta nih mondar-mandir di ibukota, public transport yang nggak kondusif membuat orang akan tetap lari ke ERP bukan malah menghindarinya, kantong pemerintah semakin tebal, kalo buat bayar utang negara atau bangun trotoar selebar 8 meter di semua ruas jalan jakarta sih nggak papa.

Ocean One
July 30th, 2010, 02:39 PM
Atasi Macet, DKI Minta PP ERP Dikebut
Tanpa ada peraturan pemerintah, ERP tidak akan bisa diterapkan.
Jum'at, 30 Juli 2010

http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/12/04/81105_jalan_di__singapura_memakai_sistem_erp_300_225.jpg

Jalan di Singapura memakai sistem ERP


VIVAnews - Kementerian Perhubungan diminta untuk segera menyelesaikan Peraturan Pemerintah terkait electronic road pricing (ERP) untuk membenahi lalu lintas Jakarta yang makin krodit.

Penerapan ERP diyakini menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan. Tanpa ada peraturan pemerintah, ERP tidak akan bisa diterapkan.

Wakil Gubenur DKI Jakarta, Prijanto berharap pemerintah pusat untuk segera mengeluarkan kebijakan tentang transportasi yang menjadi wewenang mereka. Payung hukum untuk electronic road pricing.

Pemerintah DKI menurut Prijanto, menyambut baik ajakan Kemenhub untuk membicarakan kemacetan. Apalagi Dirjen Perkeretaapian juga turut dilibatkan dalam pertemuan itu.

"Tidak bisa kerja sendiri. Dirjen Perkeretaapian juga harus ikut membahas masalah kereta api Jabodetabek," ujar Prijanto, Jumat 30 Juli 2010.

Pembangunan mass rapid transit (MRT), loop line, dan memaksimalkan pelayanan bus Transjakarta, merupakan cara lain untuk mengatasi macet yang akan dimaksimalkan Pemerintah DKI.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menjelaskan, pengembangan sistem transportasi di Jakarta telah ditetapkan dalam pola transportasi makro, di mana terdapat porsi kewenangan pemerintah pusat dan Pemprov DKI.

Integrasi kewenangan pemerintah pusat dan Pemprov DKI dalam pola transportasi makro Jakarta seringkali belum utuh, seperti pengembangan Transjakarta.

Pemprov DKI juga berkoordinasi dengan pemprov daerah penyangga seperti Jawa Barat dan Banten untuk sistem transportasi makro. Sebab pengguna kendaraan pribadi juga datang dari luar kota Jakarta. (adi)

asudarsono
July 31st, 2010, 10:37 AM
Perda aja cukup om. Kalau jadi PP, artinya duitnya masuk kas pusat.

star2dusts
July 31st, 2010, 12:30 PM
this is not solution! We should move people not car! Provide best mass transportation and Jakarta will be so much better. Busway aja way-nya udah siap, bus-nya mana??? padahal busway satu2nya yg bisa diharepin. ckckckckk

F-ian
July 31st, 2010, 02:43 PM
^^ yup bener...males banget gw kalo mau lewat sudirman harus bayar 2.500-5000 buat lewat sana :tongue:

AceN
August 1st, 2010, 02:34 AM
Wakil Menteri Perhubungan Bantah ERP Hanya Pindahkan Kemacetan
Jum'at, 14 Mei 2010

Menurutnya, jika sistem ERP diterapkan, secara logika akan ada tiga hal yang dilakukan oleh pengguna jalan. Pertama, mengubah waktu keberangkatan menjadi lebih pagi atau lebih malam. "Karena ERP hanya berlaku di waktu-waktu tertentu saja," kata Bambang. Kedua, pengguna jalan akan beralih menggunakan angkutan umum yang tersedia. Ketiga, pengguna jalan akan menggunakan rute lain.


Lha ya itu sama aja memindahkan kemacetan tho pakdeee...kok keblinger :nuts:


BTW ini sistemnya mau kayak gimana ya? apa masing2 mobil mo dipasangin semacam chip or device? trus tiap kali lewat designated roadnya jumlah balance di chip/device itu dipotong? ato kayak tol? dihadang di awal jalanan?:nuts:

pertanyaan bagak belum dijawab nih, ini nantinya sistemnya kaya gimana ya ? pasangin chip di mobil-mobil ? gimana caranya masangin chip ke 2 juta lebih mobil dan belum lagi mobil-mobil dari luar kota ?

pake portal dicegat kaya jalan tol ? sama aja bikin macet di gerbang

F-ian
August 1st, 2010, 03:46 AM
^^ mungkin chipnya di taro ke mobil dgn no polisi "B" aja hmm

AceN
August 1st, 2010, 09:19 AM
^^ lalu pendaftaran untuk dipasang chipnya ? sistem tilang kalo misalnya saldo ga cukup ? mesti terintegrasi semua bukan ?

F-ian
August 1st, 2010, 02:01 PM
^^ gk tau cen...paling nanti diwajibkan gitu kyk orang wajib pindah ke helm SNI...tp gw juga gk tau..cuma guessing doang :crazy: makannya gw gak dukung nih//

sasamakan
August 1st, 2010, 03:28 PM
^^ Percuma ERP diterapin disini, malah mindahin macet. Urus dulu aja transportasi massal yang bagus, baru urus ini. Ga cocok lah kalo diterapin di Jakarta saat ini

peseg5
August 1st, 2010, 05:04 PM
^^ Namanya juga ERP = Emang Repot Pastinya

AceN
August 2nd, 2010, 08:38 AM
^^ hahahaha :lol:

Ocean One
September 21st, 2010, 02:00 PM
Penerapan ERP terkendala perizinan
Selasa, 21/09/2010

http://www.bisnis.com/data/images/news/news_20100921171433_209270_0.jpg

JAKARTA: Pemprov DKI Jakarta belum dapat memberlakukan pembatasan volume kendaraan dengan menggunakan sistem Electronic Price Road (ERP) atau pembayaran jalan secara elektronik dalam waktu dekat ini karena belum mendapatkan izin dari Kementerian Perhubungan.

Secara teknis sistem ini sudah dapat dilakukan di Jakarta, tetapi belum dapat diterapkan karena belum mendapatkan perizinan dari Kementrian Perhubungan yang memiliki kewenangan atas ruas-ruas jalan negara di Ibu Kota.

"Dinas Perhubungan DKI Jakarta secara teknis sudah siap dan sudah melakukan kajian juga, tetapi kami masih menunggu keputusan Kementrian Perhubungan," ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono di Balai Kota pada hari ini.

Di beberapa negara di Asia, ERP dinilai sebagai alat efektif membatasi jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalanan kota-kota besar sehingga mengurangi kemacetan. Menurut Pristono, jika sistem ini dapat segera diterapkan di Jakarta, Kemenhub harus menyediakan payung hukum penerapan sistem ini.

Selain itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta juga menunggu proses legalitas dari Kementrian Keuangan mengenai beban pajak yang akan dikenakan pada kendaraan yang melintasi ruas jalan yang menerapkan sistim ERP.

Sementara itu Asisten Perekonomian dan Administrasi Setda DKI Jakarta Hasan Basri mengatakan pemberlakuan ERP di ruas-ruas jalan Jakarta harus segera diberlakukan seiring dengan realisasi pelayanan transportasi massa untuk memenuhi lonjakan penumpang yang hijrah dari kendaraan pribadi.

"Tidak bisa kami berlakukan ERP, jika angkutan umumnya masih tidak bagus. Itu sudah satu paket program yang namanya transport demand management," ujar Hasan.

ERP adalah bentuk program pembatasan kendaraan pengganti sistem 3 in 1 untuk mengurangi kemacetan. Mekanismenya adalah setiap kendaraan yang melintasi suatu ruas jalan diminta untuk membayar dengan harga tertentu.

Di dunia, ERP sudah diterapkan di beberapa ruas jalan di Singapura, Hongkong, Australia, bahkan beberapa negara metropolitan di Eropa dan Kanada. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo juga mendukung diterapkannya ERP di beberapa ruas jalan yang berpotensi macet di Jakarta.

http://www.bisnis.com/umum/indonesiahariini/1id209270.html

sasamakan
September 21st, 2010, 04:03 PM
^^ Semoga aja ga direalisasiin sekarang, karena transportasi massal juga belom bener

Blue_Sky
September 22nd, 2010, 02:20 AM
^^

Klo nunggu transportasi masal dulu bisa jadi cerita telur ato ayam
Selama ini yg menghalangi monorel adl kemungkinan susahnya BEP
Lalu utk busway jika diperbanyak, subsidi nya akan membengkak sedangkan masy menolak jika harga nya dinaikkan. Susah memang tinggal di Jakarta :tongue2:

tollfreak
September 23rd, 2010, 02:54 PM
ERP system to be applied on three-in-one thoroughfares
The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 09/23/2010 10:03 AM |

The Jakarta Transportation Agency has planned to apply the Electronic Road Price (ERP) system in a number of major thoroughfares in the capital city of Jakarta in a bid to help ease acute problems of traffic jams.
For the start of the application of the ERP system, the transportation agency is waiting for legal certainty from the Ministries of Finance and Transportation as well as for an approval from the Jakarta governor.
“In line with our plan, the ERP system will be applied in major thoroughfares which currently use the three-in-one system,” head of the transportation agency Udar Pristono said on Thursday as quoted by tempointeraktif.com.
Restriction of vehicles through the application of the three-in-one system has thus far been conducted along Jl. Sisingamangaraja, Jl. Jendral Sudirman, Jl. MH Thamrin, Jl. Merdeka Barat, Jl. Majapahit, Jl. Gajah Mada, Jl. Hayam Wuruk, Jl. Pintu Besar Selatan and Jl. Pintu Besar Utara.
Pristono said that the application of the ERP system was designed partly to eliminate the operation of jockeys, namely people offering a ride for a fee to enable motorists to pass through the three-in-one roads with three passengers in each car.
One of the preparations for the application of the ERP system, he said, is the manufacturing of sensor equipment to be installed in each car. The equipment will automatically cut deposited money owned by each motorist every time he or she passes through the gates applying the ERP system.
“The equipment can be refilled by the owners of the cars every time its content runs out,” Pristono added.

asudarsono
September 24th, 2010, 02:05 AM
Ada abonemen nggak? Bayar mingguan atau bulanan?

Ocean One
September 24th, 2010, 03:50 PM
^^ Coba pemerintah masang ERPnya di tempat2 yang sering macet, jadi kan mobil2 pada menghindari tuh area tersebut n jadinya kan kemacetan bisa berkurang. Sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah s'pore n alhasil mereka bisa meredam terjadinya kemacetan. cmiiw :cheers:

kolak
September 25th, 2010, 07:48 AM
apakah ERP tidak akan hanya memindah kan kemacetan?

sorry kalo oot.

Ocean One
September 26th, 2010, 06:37 PM
apakah ERP tidak akan hanya memindah kan kemacetan?

sorry kalo oot.

Kalau misalnya di tempat2 yang sering macet or berpotesi menimbulkan kemacetan di pasang ERP, saya rasa lama2 para pemilik kendaraan bakalan berpikir lagi kalau mau pake mobil keluar rumah. Maju kena mundur kena deh, disini ERP, di sana juga ERP....:lol::lol::lol:

Dan bukti ini resep ini jadi manjur kok di terapkan di s'pore. Tadi aja jalan di sekitar bugis, dah mulai jadi tuh ERP yang baru di sana. Tentunya sih harus didukung dengan instrument yang lain seperti angkutan massal yang layak dan nyaman serta memadai, trus peraturan yang semakin mempersempit ruang gerak pemilik kendaraan seperti pajak yang mahal, parkir mahal, dan lain2... cmiiw :cheers:

kolak
September 27th, 2010, 01:20 PM
Kalau misalnya di tempat2 yang sering macet or berpotesi menimbulkan kemacetan di pasang ERP, saya rasa lama2 para pemilik kendaraan bakalan berpikir lagi kalau mau pake mobil keluar rumah. Maju kena mundur kena deh, disini ERP, di sana juga ERP....:lol::lol::lol:

Dan bukti ini resep ini jadi manjur kok di terapkan di s'pore. Tadi aja jalan di sekitar bugis, dah mulai jadi tuh ERP yang baru di sana. Tentunya sih harus didukung dengan instrument yang lain seperti angkutan massal yang layak dan nyaman serta memadai, trus peraturan yang semakin mempersempit ruang gerak pemilik kendaraan seperti pajak yang mahal, parkir mahal, dan lain2... cmiiw :cheers:

oooo, begitu ya... Terima kasih atas pencerahannya (maklum masih newbie). :)

asudarsono
September 28th, 2010, 02:15 AM
Kayaknya masih lama, sosialisasi tarifnya aja belum.

AceN
September 28th, 2010, 06:15 AM
Kalau misalnya di tempat2 yang sering macet or berpotesi menimbulkan kemacetan di pasang ERP, saya rasa lama2 para pemilik kendaraan bakalan berpikir lagi kalau mau pake mobil keluar rumah. Maju kena mundur kena deh, disini ERP, di sana juga ERP....:lol::lol::lol:


lah...di sini keluar rumah pake public transport, kena juga. ga ada solusi kan ? hehe..

sasamakan
September 28th, 2010, 04:06 PM
^^ Saya sih lebih setuju ERP diterapkan setelah sarana transportasi umum bener2 baik dan memadai serta nyaman, kalo kaya begini, sama aja boong, ga ada pengaruhnya

Ocean One
September 28th, 2010, 06:03 PM
lah...di sini keluar rumah pake public transport, kena juga. ga ada solusi kan ? hehe..

^^ Kan blum ada ERPnya om dipasang dekat rumahmu, makanya masih kena juga!!! heheheh:nuts::nuts::nuts:

^^ Saya sih lebih setuju ERP diterapkan setelah sarana transportasi umum bener2 baik dan memadai serta nyaman, kalo kaya begini, sama aja boong, ga ada pengaruhnya

Agree with u bro.. :cheers:

tollfreak
March 2nd, 2011, 04:19 PM
Drivers in Jakarta May Pay up to Rp 21,000 a Day
Dofa Fasila | March 02, 2011
http://www.thejakartaglobe.com/home/drivers-in-jakarta-may-pay-up-to-rp-21000-a-day/426234

It will cost motorists Rp 21,000 ($2.40) to enter central Jakarta if transportation officials have their way.

Udar Pristiono, head of the Jakarta Transportation Office, said three zones had been established for the proposed Electronic Road Pricing scheme intended to reduce traffic in the heavily congested capital.

“We are proposing an average tariff for the ERP ranging from Rp 6,579 to Rp 21,072,” Udar said. “These figures are computed based on the basic [price] assumptions for 2009.”

He said, however, that the office would in fact propose a more precise minimum charge of Rp 12,500.

Under the ERP scheme, road users are charged an automatic toll for using certain roads.

The system uses sensors to detect when cars pass through gates, picking up a signal from an in-vehicle transmitter. Tolls are automatically deducted from a card that is used to store credit.

Udar said the first, most expensive, zone would comprise the following areas or streets, primarily in northern South Jakarta and Central Jakarta: Blok M, Gatot Subroto, Tendean, Kota Station, Kuningan, Senayan, Rasuna Said, Asia Afrika and Pejompongan.

He said zone 2 would cover Dukuh Atas, Manggarai, Matraman, Gunung Sahari, Jatinegara, Kampung Melayu, Casablanca, Satrio and Tanah Abang.

Zone 3 included Grogol, Roxi, Harmoni, Tomang, Harmoni, Pasar Baru, Cempaka Putih, Senen, Gambir, Cawang, Pluit, Tanjung Priok, Cawang, Sunter and Kemayoran, he said.

The proposal is in its infancy, with an overall master plan governing such things as the technology to be used and oversight of the scheme yet to be worked out.

The House of Representatives also needed to amend legislation to allow the proposal to proceed.

peseg5
March 3rd, 2011, 05:25 AM
Kalau benar terwujud, perjalanan rumah-kantor-kampus gw tercover ERP !!! :lol:

Memang saya sendiri sudah semakin malas bawa mobil di hari kerja (weekdays) di Jakarta, apalagi rush hour dan Jumat malam! Beuuh.

Kayaknya bisa lebih giat lagi nih, nebengnya. :D

Ocean One
March 23rd, 2011, 04:08 PM
ERP Hanya pada Kawasan Tertentu
Rabu, 23 Maret 2011

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/03/23/1044164p.jpg

Dialog publik mengenai rencana penerapan ERP (Electronic Road Pricing) di Kota Jakarta di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (23/3/2011).


JAKARTA, KOMPAS.com - Electronic Road Pricing (ERP) hanya akan diterapkan pada beberapa ruas jalan tertentu dan pada waktu tertentu. Sekretaris Dinas Perhubungan DKI Jakarta Hasbi Hasibuan yakin sistem ini dapat diimplementasikan di ibu kota.

"ERP bisa diterapkan di Jakarta. Tidak di semua wilayah tetapi hanya di kawasan-kawasan yang rawan macet," kata Hasbi dalam dialog publik mengenai Rencana Penerapan ERP di Jakarta, Rabu (23/3/2011).

Dialog publik ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Triwisaksana, Koordinator untuk ERP, Ari Muhammad dan Wakil Direktur Transportasi Bappenas, Petrus Sumarsono dan Kepala Sub Bidang Penegakan Hukum, AKBP Yakub D.K.

Hasbi mengungkapkan, kawasan yang akan diberlakukan ERP meliputi kawasan Sudirman, Thamrin, Kuningan, dan Gatot Soebroto. Kemacetan di wilayah itu kerap terjadi pada jam-jam tertentu seperti jam berangkat dan pulang kantor.

"Kendaraan pribadi seperti mobil dan motor yang melewati kawasan ERP akan ditarik biaya retribusi. Pemberlakuan ERP juga disesuaikan dengan kondisi lalu lintas kawasan tersebut," tutur Hasbi.

Ia berharap jika ERP berhasil diberlakukan maka kemacetan akan berkurang. Oleh karena itu, Dinas Perhubungan sebagai institusi yang bertanggung jawab atas pengelolaan ERP juga berusaha memperbaiki sarana angkutan umum.

"Kunci dari sukses ERP adalah moda angkutan umum yang nyaman, aman, dan memadai, sehingga siapapun tidak akan ragu lagi naik angkutan umum," ujar Hasbi.

ERP adalah Retribusi Lalu Lintas Elektronik yang diperuntukkan bagi pengguna kendaraan pribadi yang melalui kawasan rawan macet. Kota-kota besar seperti London, Stockholm, dan Singapura merupakan contoh kota yang berhasil mengurai masalah kemacetan dengan ERP.

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/03/23/20210975/ERP.Hanya.pada.Kawasan.Tertentu

retroisme
March 23rd, 2011, 07:26 PM
btw, judul thread nya (expected to trial in 2010). *ehem* 2011 nih.. emang udah pernah trial nya?

nowan
May 6th, 2011, 02:59 PM
Beberapa bacaan menarik sehubungan dengan Retribusi Lalu-lintas Elektronik (ERP) dan sistem perparkiran Jakarta.
ERP Facsheet (http://www.itdp-indonesia.org/images/stories/Publication/Factsheets/tdm-erp-factsheet-280111-screen%5B1%5D.pdf)
Naskah Akademik ERP (http://www.itdp-indonesia.org/images/stories/TDM/April%202010/TDM_Final_Naskah_Akademik_ERP_11_Des_2010.pdf)
Raperda Parkir (http://www.itdp-indonesia.org/images/stories/TDM/April%202010/TDM_RAPERDA_Revisi_Perda_Parkir_Koalisi_TDM_Desember_ver._0.3-1.pdf)
Naskah Akademik Parkir (http://www.itdp-indonesia.org/images/stories/TDM/April%202010/TDM_Naskah_Akademik_Perda_Perparkiran_jakarta_versi_nov_2010.pdf)

Diambil dari situs ITDP
(http://www.itdp-indonesia.org)

TDM Coallition Activities
Friday, 22 April 2011

Jakarta congestion problems have become concern of the Indonesia President, Susilo Bambang Yudhoyono, who has instructed the Vice President to take necessary actions. One of the national commitments is providing the Government Regulation regarding Road Pricing. In parallel, the Government of DKI Jakarta is preparing a Local Regulation on Road Pricing & Parking Policy which is supported by a Coalition of Transport Demand Management (TDM)
Selengkapnya di http://www.itdp-indonesia.org//index.php?option=com_content&task=view&id=570&Itemid=1

yudibali2008
July 7th, 2011, 01:41 AM
Berapa pun Tarif ERP Tak Akan Kurangi Macet Jakarta

Jakarta - Besaran tarif berlaku untuk kawasan Electronic Road Pricing (ERP) belum ditentukan. Diperkirakan, berapa pun tarif yang dibebankan tidak akan membuat warga takut membawa kendaraan pribadi. Artinya Jakarta akan tetap macet.

"Mau berapa pun nilainya, mau Rp 100 ribu, mau Rp 25 ribu, kalau kendaraan alternatifnya yaitu angkutan massal belum juga memadai ya sama saja, nggak ngaruh. Jakarta bakal tetap macet," ujar pengamat kebijakan publik dan transportasi, Agus Pambagio, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (7/7/2011).

Agus mengatakan, tidak ada alasan masyarakat Jakarta bisa meninggalklan kendaraan pribadi mereka jika angkutan massal yang tersedia saat ini tidak aman dan nyaman. Justru dia khawatir, masyarakat akan lebih cerdik agar tidak terkena beban tarif tersebut.

"Jadi apapun alasannya kalau angkutan massal yang menjadi alternatif itu belum maksimal jangan coba-coba buat kebijakan lain, yang malah terkesan maksa. Nanti yang ada diakal-akalin lagi sama masyarakat," katanya.

Sebelumnya, Ditlantas Polda Metro Jaya mengusulkan tarif untuk Electronic Road Pricing (ERP) berkisar pada angka Rp 50-100 ribu. Sementara itu, kajian sementara dari DKI Jakarta sendiri, tarif ERP berkisar antara Rp 6.500 hingga Rp 21.000.

Namun kedua usulan ini belum disepakati mengingat PP Keuangan yang mengatur tentang jenis tarif yang akan dibebankan masih diproses di Kementerian Keuangan. Yang jelas, besaran nilai yang akan dibebankan pada masyarakat harus mempertimbangkan tiga komponen yaitu kemampuan dan keinginan orang membayar, tarif tol yang berlaku dan tarif ERP di negara lain.

(lia/ape)

DetikNews (http://www.detiknews.com/read/2011/07/07/054123/1676279/10/berapa-pun-tarif-erp-tak-akan-kurangi-macet-jakarta?9911012)

mr_n_mrs_handaja
March 6th, 2013, 10:07 AM
Dahlan Usul Jokowi Hapus 3 In 1
Wednesday, 06 March 2013 11:23

http://s14.directupload.net/images/130306/95n5ecu7.jpg (http://www.directupload.net)
I-NEWS, JAKARTA – Menteri BUMN Dahlan Iskan
mengusulkan penghapusan jalur “3 In 1” sebagai
solusi kemacetan di Jakarta.
Selanjutnya, dia mengusulkan penerapan sistem
Electronic Road Price (ERP) seperti yang sudah
diterapkan di Singapura.
Menurut dia, ERP lebih tepat dibanding 3 in 1
karena sering diakali oleh para pengguna
kendaraan sehingga tidak berdampak pada
pengurangan kemacetan.
"Saya akan usul ke Pak Jokowi. Misalnya di
pintu keluar tol Bank Bukopin, semuanya keluar
di sana karena takut 3 in 1 dan nanti akan
kita usulkan IRT dan bisa dilaksanakan," ungkap
dia dalam acara peluncuran e-toll pass di tol
Kapuk, Jakarta, Rabu (6/3/2013).
Untuk mendukung rencana itu, Dahlan
menyatakan akan menutup pintu tol keluar
depan Bank Bukopin yang biasa digunakan untuk
menghindari 3 in 1. (IN-25)

http://www.indonesiainfrastructurenews.com/index.php/4220-dahlan-usul-jokowi-hapus-3-in-1

fajarmuhasan
March 7th, 2013, 06:29 AM
trit 2009 sampai 2013 masih belum di trial trial ERP-nya

blablanonsense
March 7th, 2013, 07:03 AM
sebenarnya dengan ERP system, ga perlu lagi gardu tol. Di Singapore, sistem bayaran jalan tol disatukan dengan ERP. Selama ini kan macet di jalan tol karena antrian gardu tol. Dengan ditiadakannya gardu tol, semoga jalan tol bisa lebih lancar terutama di pintu masuk/keluar toll.

aan_mustafa
March 8th, 2013, 07:36 AM
btw, judul thread nya (expected to trial in 2010). *ehem* 2011 nih.. emang udah pernah trial nya?

2012....


dan saat ini 2013,
:cheers:

>> hasil dana dari ERP ini bisa dialokasikan khusus untuk infrastruktur jalan ataupun pengembangan transportasi public.

blablanonsense
March 8th, 2013, 12:13 PM
^^ Uang ERP buat subsidi tiket busway dan penambahan koridor baru. Bisa juga buat subsidi MRT/Monorel/CommuterLine (kalau MRT dan Monorel jadi dibangun, kalau)

Jo199
March 8th, 2013, 03:51 PM
Ahok bimbang, pilih ERP tapi ngotot uji coba ganjil genap

http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2013/03/08/160923/540x270/ahok-bimbang-pilih-erp-tapi-ngotot-uji-coba-ganjil-genap.jpg

Polres Jakarta Selatan dan Polres Jakarta Barat sudah membuka pelayanan pergantian pelat nomor kendaraan sehubungan dengan rencana penerapan sistem ganjil genap, sejak Selasa lalu. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyambut baik langkah pihak kepolisian.

"Itu tidak masalah juga. Nanti kan tetap berkurang kendaraan. Pastinya akan berkurang. Itu yang akan dikaji nanti," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Kamis (7/3).

Sebenarnya, kata Ahok, penerapan Electronic Road Pricing (ERP) paling tepat untuk mengurai kemacetan. Tapi hal itu baru bisa dilakukan jika transportasi berbasis rel seperti monorail, MRT maupun Bus Rapid Transit (BRT) sudah sukses.

"Ini kalau ngomong jujur, intinya memang yang paling ideal itu kan ERP," katanya.

Meski demikian, Ahok berjanji pihaknya tetap akan melakukan ujicoba genap ganjil. Sekaligus pihaknya terus membenahi transportasi umum yang nyaman dan memadai.

"Ya kita coba dulu kan yang genap ganjil itu. Kalau gagal kan ya kita batalin tidak masalah," tandas Ahok.

http://www.merdeka.com/jakarta/ahok-bimbang-pilih-erp-tapi-ngotot-uji-coba-ganjil-genap.html
(http://www.merdeka.com/jakarta/ahok-bimbang-pilih-erp-tapi-ngotot-uji-coba-ganjil-genap.html)

HotnCool
March 28th, 2013, 04:42 PM
klo menurut gw... ERP harus diadakan tapi hanya di jalan-jalan tertentu saja

cuma klo bisa penerapan harga ERP hanya berlaku dari jam 07.00-21.00 dari hari Senin-Jumat

klo menurut gw harga ERP yg cocok sebenernya sie antara Rp. 50.000 - Rp. 100.000

fajarmuhasan
March 30th, 2013, 02:38 AM
klo menurut gw... ERP harus diadakan tapi hanya di jalan-jalan tertentu saja

cuma klo bisa penerapan harga ERP hanya berlaku dari jam 07.00-21.00 dari hari Senin-Jumat

klo menurut gw harga ERP yg cocok sebenernya sie antara Rp. 50.000 - Rp. 100.000

ERP ini system tarifnya gimana?
missal satu mobil melintas di jalan tersebut di pagi hari lalu keluar lagi, dan siangnya masuk lagi ke jalan tsb? kalo gitu apakah kena tariff dua kali dalam sehari?

Losbp
March 30th, 2013, 03:32 AM
^^ Iya, sistem ERP itu mirip2 Jalan Tol. Kalo ngelintas gerbangnya 2 kali ya bayarnya 2 kali

fajarmuhasan
March 30th, 2013, 04:00 AM
^^ Iya, sistem ERP itu mirip2 Jalan Tol. Kalo ngelintas gerbangnya 2 kali ya bayarnya 2 kali

pertanyaan lanjutan:
katakanlah ERP di jalan sudirman
masuk ke jalan tsb jam 8 (udah waktunya ERP) dan masuk ke gedung graha niaga di jalan sudirman,,,keluar gedung tsb jam 12 dan otomatis melintas jalan sudirman lagi. Itu berarti satu kali bayar atau 2 kali bayar?

peseg5
March 30th, 2013, 05:08 AM
Ahok ga perlu bimbang sebenarnya. Kalau saya jadi Jokowi saya akan menerapkan 3in1, ERP, ganjil genap sekaligus. Karena tiga2nya adalah bagian dari TDM.

Prinsip 3in1 adalah seperti jalur HOV lane (high occupancy vehicle lane), jadi idealnya diterapkan pada koridor yang ada jalur cepat dan jalur lambat. Kalau di US misalnya HOV lane disediakan 1 lajur paling kiri (right of way), atau di Jakarta cukup diberlakukan di jalur cepat saja.

@fajar: ERP nya, mungkin adopsi dari Singapura. Jadi pendebetan saldo ketika mobil melewati gerbang. Berapa kali pendebetan tergantung posisi gerbangnya. Bisa juga diterapkan maksimal 1 kali pendebetan pada ruas yg sama selama kurang dari waktu tertentu. Misal di Sudirman ada 2 gerbang ERP, kalau mobil melewati 2 gerbang tersebut, didebetnya bisa hanya 1 kali selama mobil tersebut melewati 2 gerbang dalam waktu kurang dari 1 jam. Lebih dari 1 jam didebet 2 kali.

=======

Ganjil genap perlu diterapkan karena asumsinya populasi kendaraan ganjil genap adalah 50:50, artinya kalau pada jam tetentu diberlakukan ganjil genap setidaknya bisa mengurangi populasi kendaraan yang beredar pada jam tersebut.

Tentunya ketiga aturan ini hanya diterapkan pada kawasan yang minimal tersedia jalur busway/KRL dan terhitung jalur padat.

fajarmuhasan
March 30th, 2013, 05:22 AM
Ahok ga perlu bimbang sebenarnya. Kalau saya jadi Jokowi saya akan menerapkan 3in1, ERP, ganjil genap sekaligus. Karena tiga2nya adalah bagian dari TDM.

Prinsip 3in1 adalah seperti jalur HOV lane (high occupancy vehicle lane), jadi idealnya diterapkan pada koridor yang ada jalur cepat dan jalur lambat. Kalau di US misalnya HOV lane disediakan 1 lajur paling kiri (right of way), atau di Jakarta cukup diberlakukan di jalur cepat saja.

@fajar: ERP nya, mungkin adopsi dari Singapura. Jadi pendebetan saldo ketika mobil melewati gerbang. Berapa kali pendebetan tergantung posisi gerbangnya. Bisa juga diterapkan maksimal 1 kali pendebetan pada ruas yg sama selama kurang dari waktu tertentu. Misal di Sudirman ada 2 gerbang ERP, kalau mobil melewati 2 gerbang tersebut, didebetnya bisa hanya 1 kali selama mobil tersebut melewati 2 gerbang dalam waktu kurang dari 1 jam. Lebih dari 1 jam didebet 2 kali.

=======

Ganjil genap perlu diterapkan karena asumsinya populasi kendaraan ganjil genap adalah 50:50, artinya kalau pada jam tetentu diberlakukan ganjil genap setidaknya bisa mengurangi populasi kendaraan yang beredar pada jam tersebut.

Tentunya ketiga aturan ini hanya diterapkan pada kawasan yang minimal tersedia jalur busway/KRL dan terhitung jalur padat.

OK terimakasih penjelasannya

biar tidak bimbang maka Ahok perlu belajar ke jokowi
'besok ERP mulai ngecor'

Losbp
March 30th, 2013, 05:28 AM
Ganjil genap perlu diterapkan karena asumsinya populasi kendaraan ganjil genap adalah 50:50, artinya kalau pada jam tetentu diberlakukan ganjil genap setidaknya bisa mengurangi populasi kendaraan yang beredar pada jam tersebut.

Tentunya ketiga aturan ini hanya diterapkan pada kawasan yang minimal tersedia jalur busway/KRL dan terhitung jalur padat.

Kalau mau ekstrim kayak metro Manila aja, plat 1, 2 hari senin. Plat 3, 4 hari selasa dst :lol:

VRS
April 1st, 2013, 06:15 AM
http://jakarta.tribunnews.com/2013/04/01/alat-sensor-erp-akan-diletakkan-di-dashboard-mobil

Alat Sensor ERP akan Diletakkan di Dashboard Mobil

Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Sambodo Purnomo mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan konsep untuk memaksimalkan pemberlakukan ERP, menggunakan alat khusus yang nantinya diletakkan di dashboard mobil.


============================
almost same like Singapore.

kimi1977
April 1st, 2013, 06:16 AM
thamrin sudirman itu banyak jalan tikusnya, contoh wisma dharmala bisa masuk dari samping (casablanca) keluar di sudirman, menara BCA bisa masuk dari belakang keluar di sudirman, wisma nusantara masuk dari belakang keluar di thamrin. nah apakah di setiap pintu keluar gedung2 tersebut dipasang ERP juga? berarti berapa uang yang dibutuhkan untuk bikin sensornya?

kimi1977
April 1st, 2013, 06:17 AM
edit, double post

VRS
April 1st, 2013, 06:27 AM
i think motor should install ERP sensor too, except public transportation...
how police supervise which car has install or not install ERP sensor on dashboard, when enter ERP area??

Losbp
April 1st, 2013, 03:11 PM
^^ Well kalo melihat contoh Singapura, kalo engga salah semua kendaraan disana wajib punya dan disediakan OBU buat ERPnya, sementara kendaraan pendatang seperti mobil Malaysia wajib juga menyewa mesin OBU di perbatasan atau alternatifnya harus bayar tarif rata $5 setiap lewat gantry ERP.

Untuk penjagaannya saya sendiri kurang tahu, ada semacam sensor atau cctv license plate recognition mungkin?

lizia.
April 28th, 2013, 05:38 AM
ini ada video pembahasan erp dengan bank sepertinya ini sudah pertemuan kedua.

_l_hIl6xG6A

blablanonsense
April 28th, 2013, 09:26 AM
^^ Well kalo melihat contoh Singapura, kalo engga salah semua kendaraan disana wajib punya dan disediakan OBU buat ERPnya, sementara kendaraan pendatang seperti mobil Malaysia wajib juga menyewa mesin OBU di perbatasan atau alternatifnya harus bayar tarif rata $5 setiap lewat gantry ERP.

Untuk penjagaannya saya sendiri kurang tahu, ada semacam sensor atau cctv license plate recognition mungkin?

OBU-nya kan punya kode sendiri. Jadi ketahuan mobil mana yang saldo cash-cardnya kurang. Untuk cross-check, pakai CCTV di setiap gantry ERP.

Kalau mobil asing dikasih pilihan 2; nyewa OBU atau bayar flat-fee per hari yang dihabiskan di Singapore.

Susahnya kalau diterapkan di Jakarta, bagaimana memastikan semua mobil yang berlalu lalang di jalanan ibukota menggunakan OBU ini? Selain jalan tol, pintu masuk Jakarta bisa lewat jalan raya bahkan gang-gang kecil di perkampungan perbatasan daerah. Selain itu, semua truk2 yang mau ke pelabuhan melewati Jakarta.

ERP bakalan susah diterapkan selama tidak ada solusi untuk memastikan semua kendaraan di DKI memiliki OBU. Selain itu, mestinya digiatkan lagi kereta barang dari kawasan industri ke Priok supaya gak usah ada truk lalu lalang di Jakarta.