daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine
Old September 13th, 2006, 11:22 AM   #1
Blue_Sky
Moderator
 
Blue_Sky's Avatar
 
Join Date: Jul 2005
Posts: 9,502
Likes (Received): 357

Suriname

Ada artikel menarik neh tentang Suriname
Lumayan buat nambah wawasan

=============================================

Rabu, 13 September 2006
“Perlu Diugemi Supoyo Ora Ilang Raine”
Di Republik Suriname, Bahasa dan Budaya Jawa Jadi Primadona (1)




Keberadaan bahasa dan budaya Jawa di Suriname kian menempati arti penting dalam kehidupan masyarakat di sana. Hingga kini, bahasa, adat, dan tata krama ala Jawa masih dijunjung tinggi di negara Eropa itu.
NAMA-NAMA seperti Salam Paul Somohardjo, Tatap Kliwon Pawirodinomo, Salimin Ardjooetomo, Johan J. Sarmo, dan Yules Amat Sardi, memang tak asing lagi di telinga orang Jawa. Tapi, jangan heran bila mereka bukan orang Indonesia, apalagi Jawa. Ya, mereka delegasi Suriname yang hadir dalam Kongres Bahasa Jawa (KBJ) IV di Patra Convention Hotel Semarang, 11-14 September ini.

Mereka datang ke kongres itu sebagai utusan negara. Suriname menganggap kongres ini amat penting bagi kelangsungan kehidupan warganya. Begitu penting kongres lima tahun sekali itu, sampai pemerintah Suriname mengutus secara khusus Speaker of The National Assembly of the Republic of Suriname (di sini ketua DPR RI, Red) Salam Paul Somohardjo untuk memimpin rombongan.

Anggota delegasi yang dibawa pun pilihan. Tatap Kliwon misalnya, adalah anggota parlemen dari Partai Pertjaya Luhur yang kini menguasai 29 kursi di parlemen (22 orang di fraksi oposisi, 7 orang di koalisi). Kemudian Salimin Ardjooetomo dikenal sebagai budayawan Jawa kondang di sana. Dia penyiar Radio Partjaya dan pembawa acara TV Garuda yang khusus menayangkan kesenian, adat istiadat, dan tetek bengek mengenai kebudayaan Jawa.

Juga ada Amat Sardi yang anggota parlemen dari Kerukunan Pernatan Inggil dan Johan Sarmo yang guru di sekolah yang kebanyakan muridnya keturunan orang Jawa.

’’Kulo lan konco-konco mriki nggowo misi ngangsu kawruh babagan basa lan budoyo Jawa teng negoro asale (Saya dan kawan-kawan ke sini membawa misi berguru mengenai bahasa dan kebudayaan Jawa di negara asalnya, Red),’’ ujar Paul yang selama wawancara menggunakan bahasa Jawa gado-gado ngoko dan kromo.

Menurut Paul, saat ini di Suriname terdapat sekitar 100 ribu warga keturunan Jawa, dari total 492.800 penduduk negara itu. Dari jumlah tersebut, separo di antaranya masih bisa menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. ’’Minimal mereka dunung (mengerti, Red) kalau ada pembicaraan dalam bahasa Jawa,’’ tutur Paul yang kini menjabat ketua Partai Pertjaya Luhur itu.

Dengan penduduk keturunan Jawa sebanyak itu, tak heran bila pemerintah Republik Suriname menganggap ’’bangsa’’ Jawa di sana layak mendapat perhatian khusus dibanding bangsa-bangsa pendatang lain seperti dari Afrika, Hindustan, Amerika Latin, Asia, dan Belanda.

’’Awak dewe saiki rosa. Duwe telu ministry ing kabinet. Iki bukti nek anane wong Jawa dipetungake (Kami sekarang kuat. Punya tiga menteri di kabinet. Ini bukti kalau keberadaan bangsa Jawa diperhitungkan, Red),’’ kata pejabat Suriname yang memiliki nenek moyang di Semarang dan Solo itu.

Tiga menteri Jawa itu adalah Menteri Pendidikan, Sport dan Kebudayaan Drs Edwin Wolf, Menteri Kesosialan dan Perumahan Hendrik Setyo Widjojo, serta Menteri Pernatan Tanah lan Pernatan Alas (Pertanahan dan Kehutanan, Red) M. Yong Tjin Fa.

Bahkan, kini Partai Pertjaya Luhur telah menjadi partai nasional yang konstituennya mulai menarik warga pendatang lain. ’’Wong Cino, wong Dayak (Indian AS), lan Afrika, wis melu mlebu Partai Pertjaya Luhur,’’ tambah Paul yang pernah memimpin Partai Pendowo Limo sebelum digulingkan kalangan muda pada 1980-an ini.

Laki-laki 63 tahun ini mengatakan, bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan Jawa perlu dipelihara di negaranya, selain karena warga keturunan Jawa termasuk paling banyak, ’’Awak dewe perlu ngugemi basa lan budoyo Jawa supoyo raine ora ilang. Mosok raine Jawa, nanging orang biso ngomong Jawa (Kami perlu memelihara bahasa dan budaya Jawa supaya tetap dikenal sebagai orang Jawa. Masak berwajah Jawa, tapi tidak bisa berbahasa Jawa, Red),’’ tutur bapak delapan anak dari tiga istri ini.

Wawancara sempat terpotong. Salimin dan Johan Sarmo bergabung. ’’Wis mangan, Pak? (Sudah makan, Pak?),’’ tanya Sarmo kepada Paul. ’’Ning Suriname biasa omong karo pejabat nganggo basa ngoko (Di Suraname biasa berbicara dengan pejabat menggunakan bahasa kasar, Red),’’ tambah guru SD menjelaskan kepada koran ini.

Ketiga orang itu lalu terlibat dalam pembicaraan dalam bahasa Jawa yang ’’lucu’’ diselingi bahasa Belanda. ’’Ojo kaget. Aku ngomong Pak Paul minggat, iku biasa. Ning Suriname, ora ana protokoler-protokoleran. Kabeh pada. Ning tetep nganggo tata karma (Jangan kaget. Saya bicara Pak Paul pergi, itu biasa. Di Suriname, tidak ada protokoler. Semua sama. Tapi tetap sopan, Red),’’ timpal Salimin.

Paul menambahkan, selain dalam bentuk bahasa, kesenian Jawa di Suriname juga tetap terpelihara dengan baik. Sampai saat ini kesenian jaran kepang, ludruk, ledhek, tayuban, wayang, dan sebagainya masih banyak yang mempertunjukkan. Di sana juga banyak desa yang menggunakan nama-nama Jawa. Misalnya, Purwodadi, Sukorejo, Taman Rejo, dan Sidodadi.

’’Desa-desa itu diberi nama Jawa karena dulu yang buka orang Jawa. Penduduknya kebanyakan juga orang keturunan Jawa,’’ jelas Paul yang istri ketiganya, Aminah Pardi, 32, kini menjadi Wakil Duta Besar Suriname di Belanda.

Bagaimana bahasa dan budaya Jawa di sana bisa terpelihara dengan baik? Menurut Paul, di negaranya bahasa dan budaya Jawa tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Bahasa Jawa juga bukan bahasa resmi negara. Mereka menggunakan bahasa Belanda.

’’Bahasa Jawa dipakai dan dipelihara oleh masyarakat keturunan Jawa di dalam keluarga maupun pergaulan sehari-hari. Lewat paguyuban-paguyuban dan perkumpulan-perkumpulan jemaah di gereja dan masjid,’’ tandas teman akrab Mus Mulyadi dan Didi Kempot itu.(bersambung/ARIEF SANTOSA --Semarang)
Blue_Sky no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old September 14th, 2006, 03:34 PM   #2
Blue_Sky
Moderator
 
Blue_Sky's Avatar
 
Join Date: Jul 2005
Posts: 9,502
Likes (Received): 357

Kamis, 14 September 2006
Kabaret Show di Sunatan, Salat Terpaksa Bokong-bokongan
Di Republik Suriname, Bahasa dan Budaya Jawa Jadi Primadona (2-Habis)


Salah satu kesenian Jawa paling top di Suriname adalah kabaret show. Tapi, kabaret di sana berbeda.

NAMA Captain Does di Suriname begitu sohor dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Terutama masyarakat keturunan Jawa yang gemar mendengarkan Radio Pertjaja atau menonton TV Garuda. Melalui acara-acara berbahasa Jawa yang dibawakan, Captain Does mampu mengobati kerinduan sekitar 100 ribu warga keturunan Jawa di Suriname tentang segala hal yang berbau tanah leluhur di Indonesia.

Siapa sih Captain Does? Dia adalah Salimin Ardjooetomo, salah seorang anggota delegasi Suriname dalam Kongres Bahasa Jawa (KBJ) IV di Semarang, 11-14 September. Pria 56 tahun itu jadi kawentar (ngetop) karena penampilannya yang selalu segar dan penuh banyolan. Celetukan-celetukannya di radio dan televisi selalu mengundang tawa penggemar.

’’Lewat acara-acara sing tak pamerke, basa Jawa iso terus dieling lan digawe omongan bangsa Jawa ning Suriname. Aku mung ngajak supoyo wong Jawa ora lali karo asal-usule (Melalui acara-acara yang saya bawakan, bahasa Jawa bisa terus diingat dan digunakan bangsa Jawa di Suriname. Saya hanya mengajak supaya orang Jawa tidak lupa dengan asal-usulnya, Red),’’ ujar Salimin.

Dia mengaku nenek moyangnya dari ibu berasal dari Banten, sedangkan nenek moyang dari ayahnya kelahiran Suriname. ’’Kulo niki generasi ketiga mbah-mbah kulo sing minggat saking tanah Jawa 116 tahun kepungkur (Saya generasi ketiga dari nenek moyang saya yang meninggalkan tanah Jawa 116 tahun silam, Red),’’ jelas Salimin yang hanya bisa bahasa Belanda dan Jawa kasar ini.

Di Radio Pertjaja, penyiar berkepala plontos ini hadir hampir tiap hari. Dia membawakan acara berita umum berbahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Juga pilpen (pilihan pendengar), yang melayani penggemar memesan lagu campursari yang kini lagi ngetren di Suriname.

’’Lagu-lagu Didi Kempot di Suriname ngetop sekali. CD-nya laris. Setiap saat lagu Stasiun Balapan disiarkan di empat radio berbahasa Jawa; Pertjaja, Garuda, Bersama, dan Mustika,’’ tuturnya.

Nah, dari acara pilpen itulah nama Captain Does disandang Salimin. Does adalah nama pemain bola legendaris yang pernah dimiliki kesebelasan nasional Suriname di era 70-an. Kebetulan Salimin memiliki postur, karakter, dan gaya permainan yang mirip Does bila bermain sepak bola.

’’Nom-nomanku disik seneng bal-balan. Nah, jare wong-wong aku memper karo Does. Yo kuwi aku terus diceluk Captain Does nganti dadi penyiar saiki (Waktu muda saya suka main bola. Nah, kata orang-orang saya mirip Does. Ya, saya terus dipanggil Captain Does sampai jadi penyiar sekarang, Red),’’ jelas bapak empat anak –Poniran, Warini, Legiran, dan Legini—dari istri Roosmie Tambeng ini.

Setelah profesi penyiar itu melambungkan namanya, Salimin kemudian mendirikan grup kesenian Kabaret ’’Captain Does’’ pada 2000. Tapi kabaret milik Salimin sangat berbeda dengan kabaret di Eropa yang pemainnya berkostum seksi-seksi. Kabaret Captain Does masih berhubungan dengan pemeliharaan bahasa Jawa di Suriname. Bentuknya juga bukan tari-tarian, melainkan dagelan ala Srimulat di Indonesia.

’’Kaya Srimulat utowo ludruk. Pemaine kabeh lanang, ning ono sing macak wedok. Kabeh pemain kudu iso dagel, nembang, lan jogetan (Persis Srimulat atau ludruk. Semua pemain laki-laki, tapi ada yang berdandan perempuan. Seluruh pemain harus bisa melawak, menyanyi, dan menari, Red),’’ papar mantan pegawai negeri yang 35 tahun mengabdi di Kementrian Kesosialan Suriname ini.

Pemunculan Kabaret Captain Does pun cepat mendapat respons dari penggemar setia Salimin. Pentas demi pentas memperoleh apresiasi yang menggembirakan. Tidak hanya di panggung-panggung formal, pentas juga dilakukan di hajatan warga. Misalnya acara sunatan, perkawinan, ulang tahun, peresmian gedung, dan sebagainya.

’’Nek pas rame, seminggu saget pamer ngantos ping tigo-sekawan (Kalau pas ramai, seminggu bisa pentas sampai tiga-empat kali, Red),’’ kata Salimin. ’’Nek rame lare-lare seneng. Saget damel panguripan (Kalau ramai anak-anak senang. Bisa untuk mencari nafkah, Red),’’ tambahnya.

Setiap show Kabaret Captain Does mendapat bayaran 1.000 SRD (Suriname Dolar) atau sekitar Rp 3 juta. Asumsinya, 1 USD = 2.8’ SRD. Sedangkan 1 USD = Rp 9.000 (kurs sekarang). Padahal, mereka hanya tampil sekitar 30 menit sampai satu jam. Penghasilan itu dibagi 12 pemain, plus untuk kas kelompok. Mereka memperoleh honor setiap akhir pekan. Tapi, Salimin tidak bisa menyebutkan berapa rata-rata honor yang diterima setiap pemain. ’’Iki bukti nek basa Jawa saiki iso dadi penguripan. Aku karo kanca-kanca wis ngrasaake (Ini bukti bila bahasa Jawa sekarang bisa menjadi pencaharian. Saya dan kawan-kawan sudah merasakannya, Red).’’

Tidak hanya pentas di panggung, sudah dua tahun ini Kabaret Captain Does juga memproduksi VCD lakon-lakon mereka. Di antaranya yang sudah beredar di pasaran berjudul Bobote Prawan Sunthi, Sopir Kembar, Sopir Taksi, Wong Seneng Orang Keno Dialang-alangi, Ojo Sujono, dan Keliru Pendelehe. Tapi, Salimin mengaku tidak mendapat apa-apa dari produksi VCD kabaretnya itu. Sebab, banyak yang membajak VCD-nya yang dijual lebih murah di pasaran.

’’Saking ngetope, diplagiat. Didol murah. Ya aku ora oleh opo-opo. Wis tak laporke parlemen (Begitu ngetop, dibajak. Dijual murah. Ya, saya tidak dapat apa-apa. Sudah saya laporkan ke DPR, Red),’’ tandas Salimin.

SALAT KE TIMUR

’’Kesuksesan’’ pemeliharaan bahasa dan budaya Jawa di Suriname ternyata menyisakan keyakinan yang kebablasan. Seperti dikisahkan Tatap Kliwon Pawirodinomo, anggota parlemen dari Partai Pertjaja Luhur. Lajang 36 tahun itu menceritakan peristiwa yang terjadi di desanya, Akarebo, Distrik Para. Kebetulan sebagian warga desa itu keturunan Jawa muslim. Keluarga Tatap termasuk dipandang dalam hal agama.

Nah, persoalannya, hingga tahun 2000 warga masih meyakini bila salat itu harus menghadap ke barat seperti yang dilakukan dan diajarkan nenek moyangnya di Jawa dulu kala. Mereka tidak bisa menerima ajaran bahwa salat itu harus menghadap ke kiblat (Kabah di Mekah).

’’Alhamdulillah, kulo angsal pepadangan ati seko Gusti Allah. Kulo dados ngertos, menawi kiblatipun tiyang Suriname meniko lerese ngadep ngetan. Sanes ngulon kados nenek moyang teng Jawi (Alhamdulillah, saya dapat penerangan hati dari Gusti Allah. Saya jadi mengerti, bila kiblat orang Suriname itu yang tepat mengarah ke timur. Bukan ke barat seperti waktu nenek moyang di Jawa, Red),’’ papar Tatap.

Maka, yang terjadi kemudian muncul perpecahan keyakinan di antara warga muslim di desa itu. Sebagian masih tetap yakin kiblat itu ke barat, sedangkan Tatap dan sebagian muslim lainnya mulai meyakini bahwa kiblat itu mengarah ke timur, berdasarkan posisi Suriname terhadap arah kiblat.

Yang lucu, setiap kali salat jamaah di masjid tersebut ada dua kelompok yang arah salatnya bertolak belakang. Satu jamaah ke barat, jamaah lainnya ke timur.

’’Sering salate bokong-bokongan. Jamaah ugo sering kecele. Soale mireng takbir imam jamaah wingkinge. Kulo ngantos mumet mikirke (Sering salatnya jadi saling membelakangi. Jamaah juga sering kecele. Soalnya mendengar suara takbir dari imam jamaah belakangnya. Saya sampai pusing memikirkan, Red),’’ cerita Tatap yang mendapat gaji 7.000 SRD sebulan sebagai anggota parlemen dari Distrik Para itu.

Tatap mengibaratkan konflik keyakinan dua jamaah itu seperti anjing dengan kucing. Sulit didamaikan. Padahal, kata ustad muda ini, menjalankan salat dengan salah, berarti mengerjakan ibadah dengan sia-sia. ’’Kita seperti kerja tanpa dibayar. Soalnya, ibadah kita tidak mendapat pahala dari Allah, Red).’’ katanya, masih dalam Bahasa Jawa.

Dari sekitar 100 muslim yang semula salat menghadap ke barat, satu per satu mulai mengikuti jejak Tatap: salat menghadap ke kiblat. Dari Suriname kiblat itu mengarah ke timur. Kini Tatap mempunyai 34 keluarga yang sudah mau menjalankan salat ke timur.

’’Alhamdulillah, sekarang saya dan warga sudah punya masjid sendiri yang dapat menampung 250 jamaah. Jadi, di desa saya sekarang ada dua masjid. Yang satu menghadap ke barat, satunya menghadap ke timur,’’ tandasnya.(*/ARIEF SANTOSA, Semarang)
Blue_Sky no está en línea   Reply With Quote
Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 09:36 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu