daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine
Old April 20th, 2009, 05:10 PM   #1
@b1
Registered User
 
@b1's Avatar
 
Join Date: Feb 2009
Posts: 1,388
Likes (Received): 61

Indonesian Agriculture

Let's talk about agliculture. If you want to post a news, post here.
@b1 no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old April 20th, 2009, 05:13 PM   #2
@b1
Registered User
 
@b1's Avatar
 
Join Date: Feb 2009
Posts: 1,388
Likes (Received): 61

Here i hope:

Menuju Negara Pertanian Termaju di Dunia
Kompas, Selasa, 9 Desember 2008 | 08:53 WIB

Bagaimana membangun perekonomian yang pertumbuhannya terasa sampai ke sumsum tulang mayoritas rakyat Indonesia? Tidak ada cara lain kecuali membangun sektor pertanian yang berkualitas dan terintegrasi dengan sektor industri dan perdagangan sehingga mampu menumbuhkan pusat ekonomi baru.

Keandalan sektor pertanian tidak diragukan lagi. Selama satu dasawarsa (1998-2008), sektor pertanian kembali menunjukkan daya tahan di tengah krisis ekonomi.

Seperti yang dinyatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat krisis global mulai tampak pada triwulan III-2008.

Sektor pertanian yang mencakup pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan turut berkontribusi 4,3 persen terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Masih lebih tinggi 0,1 persen dari industri pengolahan. Walau belum setinggi sektor usaha lain, seperti konstruksi (7,9 persen) atau pengangkutan dan komunikasi (19,0 persen), sektor pertanian menampung beban yang sangat besar. Sebanyak 42,5 juta orang dari 108,1 juta angkatan kerja nasional bekerja di sektor ini.

Maka, sudah semestinya negara agraris dan maritim ini menjadikan sektor pertanian terintegrasi sebagai lokomotif penggerak ekonomi nasional.
@b1 no está en línea   Reply With Quote
Old April 20th, 2009, 06:00 PM   #3
=NaNdA=
Liverpool holic
 
=NaNdA='s Avatar
 
Join Date: Dec 2007
Location: Anfield Stadium
Posts: 8,535
Likes (Received): 32

agliculture apa agriculture?
__________________
a new comer in Palembang City..
=NaNdA= no está en línea   Reply With Quote
Old April 20th, 2009, 08:23 PM   #4
oweeyman
B-)
 
oweeyman's Avatar
 
Join Date: Sep 2008
Location: Interlaken
Posts: 1,493
Likes (Received): 18

teliti banget dah ni orang
oweeyman no está en línea   Reply With Quote
Old April 21st, 2009, 05:37 PM   #5
@b1
Registered User
 
@b1's Avatar
 
Join Date: Feb 2009
Posts: 1,388
Likes (Received): 61

agliculture itu bahasa Inggrisnya pertanian.
@b1 no está en línea   Reply With Quote
Old April 21st, 2009, 06:32 PM   #6
=NaNdA=
Liverpool holic
 
=NaNdA='s Avatar
 
Join Date: Dec 2007
Location: Anfield Stadium
Posts: 8,535
Likes (Received): 32

bedanya dengan agriculture?
__________________
a new comer in Palembang City..
=NaNdA= no está en línea   Reply With Quote
Old April 21st, 2009, 06:40 PM   #7
@b1
Registered User
 
@b1's Avatar
 
Join Date: Feb 2009
Posts: 1,388
Likes (Received): 61

Sorry, I think is agliculture. Actually, the right word is agriculture.

@b1 no está en línea   Reply With Quote
Old April 21st, 2009, 06:48 PM   #8
=NaNdA=
Liverpool holic
 
=NaNdA='s Avatar
 
Join Date: Dec 2007
Location: Anfield Stadium
Posts: 8,535
Likes (Received): 32

__________________
a new comer in Palembang City..
=NaNdA= no está en línea   Reply With Quote
Old April 23rd, 2009, 09:19 AM   #9
@b1
Registered User
 
@b1's Avatar
 
Join Date: Feb 2009
Posts: 1,388
Likes (Received): 61

Agriculture Thread

This forum makes to repair the old forum because the mispell of the title.

Let's talk about agricultures in Indonesia.
Here i post a news:

Menuju Negara Pertanian Termaju di Dunia
Selasa, 9 Desember 2008 | 08:53 WIB



Oleh Hermas E Prabowo

Bagaimana membangun perekonomian yang pertumbuhannya terasa sampai ke sumsum tulang mayoritas rakyat Indonesia? Tidak ada cara lain kecuali membangun sektor pertanian yang berkualitas dan terintegrasi dengan sektor industri dan perdagangan sehingga mampu menumbuhkan pusat ekonomi baru.

Keandalan sektor pertanian tidak diragukan lagi. Selama satu dasawarsa (1998-2008), sektor pertanian kembali menunjukkan daya tahan di tengah krisis ekonomi.

Seperti yang dinyatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat krisis global mulai tampak pada triwulan III-2008.

Sektor pertanian yang mencakup pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan turut berkontribusi 4,3 persen terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Masih lebih tinggi 0,1 persen dari industri pengolahan. Walau belum setinggi sektor usaha lain, seperti konstruksi (7,9 persen) atau pengangkutan dan komunikasi (19,0 persen), sektor pertanian menampung beban yang sangat besar. Sebanyak 42,5 juta orang dari 108,1 juta angkatan kerja nasional bekerja di sektor ini.

Maka, sudah semestinya negara agraris dan maritim ini menjadikan sektor pertanian terintegrasi sebagai lokomotif penggerak ekonomi nasional.

Peta jalan pertanian

Saat ini masih mantapnya pertumbuhan sektor pertanian tidak lain karena sumbangan subsektor pangan untuk konsumsi dalam negeri serta ekspor bahan mentah hasil perkebunan, perikanan, dan kehutanan.

Sebanyak 24,8 juta keluarga petani hidup dari subsektor pangan dan sejahtera saat harga beras, jagung, dan kedelai membaik hingga September 2008. Petani benar-benar memanfaatkan momentum ini karena pada saat yang bersamaan volume produksi pun naik.

Namun, kita patut menyayangkan. Meski kontribusi sektor pertanian sudah terbukti dalam perekonomian nasional, kebijakan pemerintah masih belum komprehensif. Sampai sekarang, pengembangan pertanian nasional masih belum terintegrasi dengan kebijakan perindustrian dan perdagangan.

Peta jalan (roadmap) yang bisa diandalkan untuk mengembangkan agroindustri jangka panjang sampai kini tak kunjung muncul. Malah kebijakan yang bersifat ad hoc lebih sering muncul untuk meredakan kasus per kasus. Kondisi ini ironis karena saat kita lupa menciptakan nilai tambah dalam produk pertanian, pasar domestik negara kepulauan terbesar di dunia ini terus diserbu produk impor.

Impor pangan Indonesia periode 1996-2005 berdasarkan catatan ahli peneliti utama dalam bidang kebijakan pertanian PSE-KP Departemen Pertanian, Husein Sawit, menyedot sedikitnya 1,6 miliar dollar AS atau setara Rp 14,7 triliun devisa. Sekarang jumlahnya tentu jauh lebih besar dari periode itu mengingat harga komoditas pangan dunia melonjak dua sampai tiga kali lipat.

Kenaikan impor bahan baku setengah jadi—yang sebenarnya bisa diperoleh di dalam negeri—tak terbendung. Dari Indikator Perdagangan Dunia 2008 yang diterbitkan Bank Dunia, rata-rata tarif bea masuk Indonesia pada 2006 sebesar 4,5 persen, lebih rendah daripada rata-rata tarif di Asia Timur dan Pasifik yang berada pada kisaran 4,9 persen, yang berpendapatan tinggi. Negara-negara berkembang berpendapatan menengah dan rendah saja menerapkan tarif rata-rata 8,7 persen.

Ironisnya lagi, tarif impor produk pertanian Indonesia tahun 2006-2007 6,5-7 persen. Paling rendah di Asia Pasifik. Ironis lagi, negara agraris seperti Indonesia memberikan tarif impor lebih murah untuk bahan baku produk pertanian ketimbang India, China, dan Brasil yang mampu mengekspor bahan jadi ke Eropa, Amerika Serikat, dan berbagai penjuru dunia.

Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, tarif bea masuk yang rendah ditujukan untuk efisiensi industri dalam negeri, tanpa mengabaikan perlindungan terhadap pertanian sebagai sektor strategis.
@b1 no está en línea   Reply With Quote
Old April 23rd, 2009, 09:25 AM   #10
=NaNdA=
Liverpool holic
 
=NaNdA='s Avatar
 
Join Date: Dec 2007
Location: Anfield Stadium
Posts: 8,535
Likes (Received): 32

judul thread yang lama udah dibenerin bro.. sekarang ada dua thread agriculture..
__________________
a new comer in Palembang City..
=NaNdA= no está en línea   Reply With Quote
Old April 26th, 2009, 03:22 PM   #11
tollfreak
Valid User
 
tollfreak's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: Jakarta
Posts: 1,845
Likes (Received): 6

April 26, 2009
Indonesia-Vietnam rice deal
JAKARTA - INDONESIA has an option to buy about 1 million tonnes of rice from Vietnam in the next three years if it needs to build up rice stocks and ensure domestic food security, Trade Minister Mari Pangestu said on Sunday.
'We don't have to import if it's not needed,' Mr Pangestu told reporters.

'The government's priority is to raise productivity and revitalise the agricultural sector,' she said, adding that the agreement would provide insurance for Indonesia in case it was not able to meet demand for rice, a staple food, because of natural disasters or other reasons.

Indonesia produced a rice surplus of 1.6 million tonnes in 2008 thanks to bumper harvests. It was the first time in more than two decades that the country was self-sufficient for rice.

Indonesia's statistics bureau has projected 2009 unmilled rice output to rise 1.13 percent to 60.93 million tonnes, or the equivalent of around 38 million tonnes of milled rice.

The figure is below an earlier agriculture ministry forecast of 63.5 million tonnes. -- REUTERS
tollfreak no está en línea   Reply With Quote
Old March 18th, 2010, 08:39 AM   #12
hakz2007
Moderador
 
hakz2007's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Location: Riŋkonāda
Posts: 9,082
Likes (Received): 2997

N Sulawesi world's biggest nutmeg supplier
Quote:
MANADO, March 17 (PNA/ANTARA) -- North Sulawesi province is supplying 75 percent of global nutmeg needs, confirming its position as the world`s biggest supplier of the commodity, an official said.

The province exported 1,000 to 2,000 tons of nutmeg every month while global demand for the commodity stood at around 20,000 tons per year, Head of the North Sulawesi Provincial Industry and Trade Office Sanny Parengkuan said here on Tuesday.

"We export nutmeg every month in relatively stable quantities," he said.

North Sulawesi`s nutmeg exports went to the four continents of Asia, Europe, America and Africa, he said. (PNA/Antara)
http://www.pna.gov.ph/index.php?idn=...d=4&rid=264757
__________________
CAMARINES SUR: SSC CAMSUR | PROJECTS AND CONSTRUCTION | PORTS AND SHIPPING
ASIA'S BEST THREAD: ASEAN REGIONAL NEWS THREAD
VISIT: CAMARINES SUR
hakz2007 no está en línea   Reply With Quote
Old March 18th, 2010, 11:03 AM   #13
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,675
Likes (Received): 31

The Minister for Agriculture Suswono stated that Indonesia’s agriculture trade sector is 2 billion US dollars ahead compared to China’s. “We need not worry about the ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), because if compared (to China) we have a surplus,” stated the minister after closing the Agrinex 2010, Jakarta, Sunday.
He stated that in certain sectors Indonesia is ahead, in agriculture this is thanks to crude palm oil, cacao, and rubber. China is still importing those commodities from Indonesia.
For that reason, Indonesia’s agriculture trade still has a 2 billion US dollar surplus compared to China. “There are some Chinese products in Indonesia, but we are still on a surplus.”
According to the minister, discussions on free trade between the two countries have been through a long proces, and that the Indonesian government isn’t forcing the ACFTA simply to fulfill an old agenda. “Because of the crisis we are quite burdened. But we’re fine with China.”
For horticulture, though Indonesia’s trade is relatively low compared to China, but at least Indonesia is exporting snake fruit to China. “Trade between countries is something quite ordinary, we have strengths and they have some too, we need each other.”
The minister still urges Indonesia to monitor Chinese horticulture and agriculture products coming into our country. “We have two tools or instruments, which are the SPS and Kotex. Both of which are international agreements for the standard of food.” He believes that monitoring is necessary to prevent any concern for viral transmission, diseases, or bioterrorism.
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old March 18th, 2010, 12:08 PM   #14
fajarmuhasan
Final Fantasy Mania
 
fajarmuhasan's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 7,512
Likes (Received): 228

Salah satu sudut pertanian di Jakarta:
image hosted on flickr
fajarmuhasan no está en línea   Reply With Quote
Old March 19th, 2010, 11:40 AM   #15
rilham2new
Obsolete User
 
Join Date: Oct 2006
Location: Riau, Jakarta Barat, Brunswick West (VIC)
Posts: 29,378
Likes (Received): 281

GUys, please posting more news here.... Kelapa Sawit masuk Agriculture gak ya ??? Kalau masuk nanti kuposting berita2 perkembangan Sawit di Rantau Sumatra hehehe
__________________
"2 + 2 = 5". By George Orwell
rilham2new no está en línea   Reply With Quote
Old March 19th, 2010, 12:22 PM   #16
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,675
Likes (Received): 31

Quote:
Originally Posted by rilham2new View Post
GUys, please posting more news here.... Kelapa Sawit masuk Agriculture gak ya ??? Kalau masuk nanti kuposting berita2 perkembangan Sawit di Rantau Sumatra hehehe
Keknya masuk.. tapi bukannya sawit itu gak bagus buat moisture tanah ya?
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old March 21st, 2010, 07:48 AM   #17
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,675
Likes (Received): 31

Aceh Berpotensi Ekspor Beras
Sabtu, 20 Maret 2010

(Berita Daerah - Sumatera) - Provinsi Aceh berpotensi menjadi salah satu daerah lumbung padi di Indonesia, sehingga bisa mendukung pemerintah untuk mengekspor beras.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Aceh, Asrin, MP di Banda Aceh, menyatakan, daerah tersebut memiliki potensi untuk mendukung program ekspor beras pada 2010.

"Aceh memiliki potensi untuk mendukung program tersebut, karena produksi padi tiap tahunnya terus mengalami peningkatan," katanya.

Disebutkannya, produksi padi di Provinsi Aceh Januari-Desember 2009 naik 10,23 persen dari 1.402.288 ton gabah kering giling (GKG) menjadi 1.545.769 ton GKG dari tahun sebelumnya.

"Kenaikan produksi tersebut antara lain disebabkan adanya perbaikan sarana irigasi dan penggunaan bibit unggul. Jumlah produksi itu melebihi sekitar 2,71 persen atau (40.787 ton GKG) dari target padi 2009 sebesar 1.504.982 ton GKG dengan luas panen 356.705 ha," jelasnya.

Masing-masing kabupaten yang berkontribusi besar dalam peningkatan padi di Aceh antara lain Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Aceh Timur.

Untuk mewujudkannya swasembada beras, lanjut Asrin, pihaknya menargetkan produksi padi pada 2010 mencapai 1,6 juta ton.

"Insya Allah target tersebut akan kita bisa capai sebagaimana belajar dari tingkat keberhasilan pada 2009," jelasnya.

Karena itu, pihaknya melakukan berbagai upaya dalam mewujudkan hal tersebut. Adapun strategi yang akan dilakukan yakni pembenahan irigasi dan penggunaan bibit unggul.

"Tahun ini kita akan mengalokasikan sebesar 4.000 ha bibit unggul yang akan diberikan kepada petani sebagai upaya peningkatan produksi dan peningkatan mutu beras di masa mendatang," katanya.

Asrin optimis, program peningkatan produksi dan upaya untuk ekspor beras pada 2010 akan tercapai.

http://www.beritadaerah.com/news.php...olumn&page=282
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old March 21st, 2010, 03:50 PM   #18
rilham2new
Obsolete User
 
Join Date: Oct 2006
Location: Riau, Jakarta Barat, Brunswick West (VIC)
Posts: 29,378
Likes (Received): 281

Quote:
Originally Posted by Mimihitam View Post
Keknya masuk.. tapi bukannya sawit itu gak bagus buat moisture tanah ya?
MEmang
__________________
"2 + 2 = 5". By George Orwell
rilham2new no está en línea   Reply With Quote
Old March 23rd, 2010, 07:43 AM   #19
fajarmuhasan
Final Fantasy Mania
 
fajarmuhasan's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Posts: 7,512
Likes (Received): 228

Quote:
Originally Posted by rilham2new View Post
MEmang
di Riau selain sawit juga banyak karet....karet Riau itu lari (dijual) kemana ya?
fajarmuhasan no está en línea   Reply With Quote
Old March 25th, 2010, 03:53 AM   #20
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,675
Likes (Received): 31

Melawan Dunia dengan Minyak Sawit
Nyoman Brahmandita

INILAH.COM, Jakarta - Gara-gara dua gajah beradu, rusa kecil pun mati terinjak-injak. Begitulah kira-kira nasib para petani sawit di wilayah Sumatera saat ini. Lantaran Sinar Mas Group berselisih paham dengan Unilever, Kraft, Nestle dan Cargill; para petani kecil yang jadi korbannya. Petani sawit itu menjadi korban persaingan dagang yang berkedok kampanye lingkungan hidup.

Adalah organisasi non pemerintah internasional Greenpeace biang keroknya. Dalam laporannya bertajuk “Caught Red-Handed”, Greenpeace menuding Sinar Mas Group (SMG) melakukan pembabatan hutan alam dan lahan gambut secara ilegal. Padahal di dalam hutan itu terdapat habitat orangutan.

Tentu saja laporan itu langsung dibantah. Melalui salah satu perusahaan afiliasinya, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) menegaskan pihaknya tidak melakukan seperti yang dituduhkan.

Bahkan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan membenarkan, SMG memang menggunakan lahan hutan yang telah dilepas dan dikonversi menjadi kebun kelapa sawit. Sayangnya, bantahan SMG maupun SMART, serta klarifikasi Menhut itu tidak cukup ampuh. Laporan Greenpeace itu justru jauh lebih mujarab khasiatnya. Tidak lama setelah laporan itu dirilis, SMART pun langsung merasakan getahnya.

Minyak sawit mentah (crude palm oil / CPO) yang diperas dari kebun-kebun sawit milik SMART maupun jutaan keluarga petani mitra SMG, diboikot berbagai perusahaan multinasional.

Tidak tanggung-tanggung perusahaan yang membatalkan pesanan itu adalah Unilever, Kraft, Nestle, dan yang terakhir Cargill. Bisa jadi pula, akan ada perusahaan-perusahaan multinasional lain yang bakal terkena wabah latah aksi boikot itu.

Dalam kondisi saat ini saja, para petani kecil mitra SMG/SMART langsung merasakan dampaknya. Harga tandan buah segar (TBS) yang saat ini sedang meningkat karena naiknya permintaan serta imbas naiknya harga minyak dunia, tidak dapat mereka nikmati. Pemboikotan CPO menyebabkan harga TBS di tingkat petani malah melorot.

Tidak mengherankan bila para petani sawit melalui Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia balas mengancam memboikot produk empat perusahaan raksasa itu. Dengan anggota asosiasi yang diklaim mencapai 20 juta kepala keluarga, tentu boikot itu akan berdampak serius terhadap pemasaran produk-produk Unilever, Kraft, Nestle, dan Cargill di Indonesia.

Nah aksi boikot berbalas boikot ini, tentulah suatu bentuk perang tanding yang tidak imbang. Mana mungkin rusa kecil bisa merobohkan gajah yang sedang mengamuk?

Maklum, produk-produk empat perusahaan multinasional itu tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi hampir di seluruh belahan jagat bumi ini. Meski demikian, semangat perlawanan jutaan petani sawit itu patut dihormati, bahkan perlu didukung.

Pemboikotan yang meluas dan berkepanjangan tentu akan berpengaruh buruk terhadap kinerja keuangan SMART dan prospek bisnisnya di masa depan. Nah, pada gilirannya, harga saham yang dikantongi pemodal publik bisa melorot, berarti pula merugikan investor pasar modal.

Bisa jadi perusahaan-perusahaan lain sejenis tertular dilanda pemboikotan. Padahal perusahaan-perusahaan perkebunan sawit dan produsen CPO kelas kakap di Indonesia umumnya adalah perusahaan publik yang melantai di bursa saham, seperti halnya SMART.

Kerugian juga bakal dialami perekonomian nasional. Maklum, Indonesia adalah pemilik kebun sawit terluas dan produsen maupun eksportir CPO terbesar di dunia. Indonesia bersama Malaysia, menguasai 85% pangsa pasar CPO seluruh dunia.

Nah, bila semakin lama aksi boikot melanda CPO Indonesia, bisa berdampak turunnya nilai ekspor, yang berarti pula pendapatan devisa nasional juga terpangkas.

Karena itulah, semangat perlawanan rakyat kecil yang direpresentasikan jutaan petani sawit itu tadi memiliki makna sangat penting. Sekaligus menjadi simbol perlawanan terhadap bentuk ketidakadilan tata niaga CPO dunia, maupun sistem perdagangan internasional. Negara berkembang, termasuk Indonesia seringkali berada pada posisi yang inferior.

Untuk melemahkan Indonesia—dan Malaysia—dari posisinya sebagai penguasa pasar minyak nabati, maka negara-negara maju melancarkan bentuk-bentuk persaingan tidak sehat. Antara lain memanfaatkan keberadaan organisasi non pemerintah untuk menggembosi pasar CPO Indonesia melalui penggelembungan isu-isu lingkungan.

Efek penggelembungan isu-isu lingkungan ini adalah, munculnya tekanan publik internasional kepada perusahaan-perusahaan raksasa multinasional untuk memboikot CPO dari Indonesia.

Karena itu, langkah Menteri Pertanian Suswono yang mengajak koleganya dari Malaysia melakukan tindakan balasan berupa penghentian ekspor CPO ke negara maju patut diacungi jempol.

Indonesia tidak boleh selalu tunduk dan takluk pada gertak sambal Eropa, AS, dan Jepang. Masih bisa dicari pasar ekspor lain yang tak kalah potensial. Atau sekalian saja tidak perlu ekspor.

Toh CPO itu masih bisa dipasarkan di dalam negeri atau diolah menjadi BBM untuk listrik dan kendaraan. Sekalian mengurangi impor BBM dan gas. [mdr]

http://inilah.com/news/read/galeri-o...-minyak-sawit/
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 09:19 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu