daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > The Nationwide Fabric > Politics, Economics, Tourism and Business



Reply

 
Thread Tools
Old March 10th, 2014, 09:01 AM   #241
ARTALENT_art
artalent_picture
 
ARTALENT_art's Avatar
 
Join Date: Oct 2013
Location: Padang - Jambi - Jakarta
Posts: 1,147
Likes (Received): 302

Tradisi "Mengirik" Padi Yang Nyaris Lenyap Di Minangkabau

Memanen padi dilakukan dengan banyak cara. Di beberapa daerah di Sumatera Barat dulunya padi yang sudah sabit untuk mendapatkan bulir-bulir padinya dilakukan dengan “mengirik” yaitu memelintir dengan telapak kaki bulir-bulir padi yang masih melekat pada tangkainya. Bila padi telah menguning biasa sipemilik sawah akan mempersiapkan segala sesuatu bagi makan dan minumum untuk orang-orang yang akan menyabit dan mengirik padi mereka. Dan anggota keluarga ketika musim menyabit dan mengirik itu tiba, sangatlah senang hati mereka karena kaum kerabat berkumpul bersama-sama ditengah sawah. Saat-saat itu sekaligus menjadi media berbagi suka duka diantara mereka.

Mengirik itu biasanya dilakukan setelah padi disabit dan ditumpuk selama dua atau tiga hari di tengah sawah dan kemudian baru di "iriak".. Padi yang sudah ditumpuk ditengah sawah itu disebut juga dengan "lungguak" yang tersusun dengan rapi dengan bulir padi saling menghadap ke dalam.. Namun saat ini luangguak padi itu hampir tidak terlihat lagi di sawah-sawah di Minangkabau. Padahal tradisi mengirik padi itu merupakan bagian dari rasa kekerabatan orang-orang di ranah Minangkabau. Tetapi cara itu sekarang nyaris sudah ditinggalkan dan kebanyakan dilakukan dengan cara “melambuik” seperti umumnya dilakukan para petani padi di Jawa dan dilakukan oleh orang-orang upahan..

Tradisi mangiriak yang sarat nilai itu sekarang sudah tidak terlihat lagi. Kini panen padi kebanyakan dilakukan oleh orang-orang upahan dan hal itu sekaligus memperlihatkan kian menipisnya budaya gotong royong di ranah Minangkabau.

Mengiriak padi dengan “menyarayo” atau dibantu kaum kerabat sepertinya telah menghilang. Selain itu mengirik ada fisofosinya sebagai memperlakukan padi dengan baik.. Padi dilambuik dipandang sebagai cara memperlakukan padi kurang baik. Disamping itu dengan panen dengan cara malambuik yang dilakukan oleh orang-orang upahan selain menunjukkan renggangnya rasa kekerabatan , sekaligus mengurangi pendapatan dari hasil bersawah.
# Tradisi "Mengirik" Padi Yang Nyaris Lenyap Di Minangkabau # Memanen padi dilakukan dengan banyak cara. Di beberapa daerah di Sumatera Barat dulunya padi yang sudah sabit untuk mendapatkan bulir-bulir padinya dilakukan dengan “mengirik” yaitu memelintir dengan telapak kaki bulir-bulir padi yang masih melekat pada tangkainya. Bila padi telah menguning biasa sipemilik sawah akan mempersiapkan segala sesuatu bagi makan dan minumum untuk orang-orang yang akan menyabit dan mengirik padi mereka. Dan anggota keluarga ketika musim menyabit dan mengirik itu tiba, sangatlah senang hati mereka karena kaum kerabat berkumpul bersama-sama ditengah sawah. Saat-saat itu sekaligus menjadi media berbagi suka duka diantara mereka. Mengirik itu biasanya dilakukan setelah padi disabit dan ditumpuk selama dua atau tiga hari di tengah sawah dan kemudian baru di "iriak".. Padi yang sudah ditumpuk ditengah sawah itu disebut juga dengan "lungguak" yang tersusun dengan rapi dengan bulir padi saling menghadap ke dalam.. Namun saat ini luangguak padi itu hampir tidak terlihat lagi di sawah-sawah di Minangkabau. Padahal tradisi mengirik padi itu merupakan bagian dari rasa kekerabatan orang-orang di ranah Minangkabau. Tetapi cara itu sekarang nyaris sudah ditinggalkan dan kebanyakan dilakukan dengan cara “melambuik” seperti umumnya dilakukan para petani padi di Jawa dan dilakukan oleh orang-orang upahan.. Tradisi mangiriak yang sarat nilai itu sekarang sudah tidak terlihat lagi. Kini panen padi kebanyakan dilakukan oleh orang-orang upahan dan hal itu sekaligus memperlihatkan kian menipisnya budaya gotong royong di ranah Minangkabau. Mengiriak padi dengan “menyarayo” atau dibantu kaum kerabat sepertinya telah menghilang. Selain itu mengirik ada fisofosinya sebagai memperlakukan padi dengan baik.. Padi dilambuik dipandang sebagai cara memperlakukan padi kurang baik. Disamping itu dengan panen dengan cara malambuik yang dilakukan oleh orang-orang upahan selain menunjukkan renggangnya rasa kekerabatan , sekaligus mengurangi pendapatan dari hasil bersawah.
Info Minang
https://www.facebook.com/pages/Info-...17799154948660
ARTALENT_art no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old March 12th, 2014, 05:24 PM   #242
sherif_claude
Registered User
 
sherif_claude's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: Padang Your Motherland
Posts: 4,540
Likes (Received): 355



Mahasiswa Oberlin College Ikuti Workshop Kesenian Minangkabau

Padangpanjang, - The Conservatory of Music at Oberlin College, Division of Musicology USA-Amerika mengikuti workshop Kesenian Tradisi Minangkabau di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Jennifer Fraser dosen Oberlin College, Rabu, mengatakan, kunjungan mahasiswa dan dosen salah satu perguuan tinggi di Amerika tersebut untuk mempelajari dan mendalami kesenian tradisi di Indonesia, salah satunya di Sumatera Barat.

"Kami sangat senang berkunjung ke ISI Padangpanjang, selain disambut dengan baik, kami dapat langsung melihat pertunjukan kesenian tradisi Minangkabau," kata Jennifer Fraser dosen talempong di Oberlin College Amerika yang telah lama belajar di Sumatera Barat beberapa tahun yang lalu. Kunjungan tersebut diisi dengan pemberian workshop Talempong dan Randai.

Selain itu, ISI Padangpanjang juga mempersembahkan beberapa pertunjukan tradisi Minangkabau seperti Talempong, Selawat Dulang dan pertunjukan Randai. Selain itu juga para mahasiswa Oberlin College dapat memainkan alat musik talempong dan belajar randai, para mahasiswa baru kali ini dapat memainkan talempong dan pertunjukan randai secara langsung.

"Kesenian ini nanti akan menjadi referensi dan akan dikembangkan di Oberlin College Amerika," ungkapnya. Workshop tersebut dipimpin oleh dosen karawitan ISI Padangpanjang yang didampingi oleh puluhan mahasiswa ISI Padangpanjang yang mengerti tentang alat musik yang dimainkan. Sebelumnya rombongan telah berkunjung ke Aceh belajar Saman dan Seudati. Kemudian di Sumatera Barat belajar Talempong dan Randai. Selanjutnya rombongan tersebut akan menuju UGM Yogyakarta dan ISI Surakarta belajar tentang kesenian Jawa. (antara/kominfo)
http://www.padangpanjangkota.go.id/i...aku&Itemid=627
__________________
Mencintai pekerjaan atau mengerjakan pekerjaan yang di cintai maka "every day is a holiday"

sherif_claude no está en línea   Reply With Quote
Old Yesterday, 06:57 PM   #243
ARTALENT_art
artalent_picture
 
ARTALENT_art's Avatar
 
Join Date: Oct 2013
Location: Padang - Jambi - Jakarta
Posts: 1,147
Likes (Received): 302

Musik Minang Diperkenalkan pada Masyarakat Tiongkok

dalam Budaya 17 April 201418:45 WIB 0 111 dikunjungi
RANAHBERITA- Atase Pendidikan KBRI Beijing bekerjasama dengan Departmen Ethnomusicology Central Conservatory of Music (CCOM) Beijing untuk menyelenggarakan Lokakarya Musik Tradisional Minangkabau pada 10 hingga 12 April lalu.
Acara tersebut menghadirkan nara sumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Demikian siaran pers KBRI Beijing sebagaimana dilansir situs resmi Kementerian Luar Negeri, Rabu (16/4/2014)
Lokakarya dibuka oleh Prof. Chen Zi Ming, President of World Music Society of China dan dipandu oleh Prof. An Ping, Vice Director of Ethnomusicology Department CCOM. Kegiatan lokakarya yang diikuti oleh 76 peserta ini, memperkenalkan dan mengkaji berbagai alat musik tradisional serta sejarah perkembangan musik Minangkabau.
http://ranahberita.com/10913/musik-m...rakat-tiongkok
ARTALENT_art no está en línea   Reply With Quote
Old Yesterday, 06:58 PM   #244
ARTALENT_art
artalent_picture
 
ARTALENT_art's Avatar
 
Join Date: Oct 2013
Location: Padang - Jambi - Jakarta
Posts: 1,147
Likes (Received): 302

Dari Sariak Menjadi Saluang

dalam Budaya 10 April 201413:08 WIB 0 12 dikunjungi

RANAHBERITA – Masyarakat tradisi di masa silam, berusaha memperkaya budaya dengan keterbatasannya. Misalnya Saluang. Memanfaatkan seruas bambu untuk menghasilkan nada yang memikat.
Saluang bisa berbunyi berkat lubang-lubangnya. Bibir meniup di bagian atas, lalu jemari tangan bermain dengan empat lubang di bawahnya.
Saluang memiliki ukuran yang berbeda-beda di setiap daerah Minangkabau. Namun rata-rata Saluang memiliki Panjang 40 hingga 60 Cm dengan diameter 3 sampai 6 centimeter dan tebal lebih kurang 1 mm.
Saluang hanya punya empat lubang. Agar dapat menghasilkan nada yang bagus, lubang dibuat bulat sempurna dengan ukuran garis tengah 0.5 cm.
Bagian atas dan bawah saluang dibiarkan berongga atau berlubang. Bagian atas berfungsi untuk meniup dan bagian bawah berfungsi untuk tempat keluarnya udara. Keempat lubang nada saluang itu berada di ujung bawah. Hal ini merupakan salah satu yang membedakan pembuatan Saluang dan seruling biasa.
http://ranahberita.com/9643/dari-sariak-menjadi-saluang
ARTALENT_art no está en línea   Reply With Quote
Old Yesterday, 06:59 PM   #245
ARTALENT_art
artalent_picture
 
ARTALENT_art's Avatar
 
Join Date: Oct 2013
Location: Padang - Jambi - Jakarta
Posts: 1,147
Likes (Received): 302

Saluang, Tidak Sebatas Ratapan

dalam Budaya 10 April 201412:36 WIB 0 12 dikunjungi

RANAHBERITA – Alat tradisional Minangkabau Saluang tidak sekedar untuk menghasilkan nada penghibur. Jauh dari itu, Saluang media untuk menyampaikan petuah adat dan pesan moral.
Hal itu disampaikan Dosen Sosiologi Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang Jamil kepada ranahberita.com.
“Saluang memiliki filosofi yang dalam, mulai dari lubang di saluang yang hanya ada 4 buah. Lalu Saluang yang ujung dan pangkalnya sama-sama memiliki lubang. Kekhasan garinyiak nya, nasehat dan petuah yang disampaikan, hingga pedendangnya yang rata-rata perempuan 30 tahunan ke atas,” katanya.
Selama ini, kata Jamil, Saluang identik dengan ratapan. Tapi menurut Jamil, Saluang bisa juga sebagai media penyampaian nasehat dan sindiran.

http://ranahberita.com/9640/saluang-...ebatas-ratapan
ARTALENT_art no está en línea   Reply With Quote
Old Yesterday, 07:01 PM   #246
ARTALENT_art
artalent_picture
 
ARTALENT_art's Avatar
 
Join Date: Oct 2013
Location: Padang - Jambi - Jakarta
Posts: 1,147
Likes (Received): 302

Bernafas Bersama Saluang

dalam Budaya 10 April 201412:32 WIB 0 16 dikunjungi

RANAHBERITA – Suara saluang meliuk-liuk bersama angin. Sayup sampai membawa pesan rindu dan kepedihan. Memisau.
Siapapun yang mengerti pesan musikal saluang, akan terbawa dengan suasana. Terhipnotis bunyi kerisauan dari akar rumput.
Tak semua orang bisa membunyikan nada dari alat musik tiup yang terbuat dari bambu itu. Butuh ketekunan belajar dan menguji kepekaan rasa.

http://ranahberita.com/9638/bernafas-bersama-saluang
ARTALENT_art no está en línea   Reply With Quote


Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 07:58 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu