daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy | DMCA | news magazine | posting guidelines

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > The Pictures of Indonesia > Sumatra Island



Global Announcement

As a general reminder, please respect others and respect copyrights. Go here to familiarize yourself with our posting policy.


Reply

 
Thread Tools
Old April 19th, 2011, 03:33 PM   #1
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Kesultanan Lampung ~ Kepaksian Sekala Brak

PROVINSI LAMPUNG




Ibukota:
Bandar Lampung (Populasi 879.651 Jiwa)

Luas wilayah:
35.376,50 km²

Populasi:
7.596.177 Jiwa (kepadatan 210 jiwa/km2)


Tabik Pun Nabik Tabik Sai Bumi Ruwa Jurai



Sukubangsa:
Pribumi: Lampung Pepadun (Abung) dan Lampung Pesisir (Saibatin)
Pendatang: Jawa, Bali, Tionghoa, Sunda, Semendo, Batak, Minangkabau, Komering dan Bugis.







Kabupaten/Kota:
1. Kabupaten Lampung Utara ibukota Kotabumi
2. Kabupaten Lampung Tengah ibukota Gunungsugih
3. Kabupaten Lampung Selatan ibukota Kalianda
4. Kabupaten Lampung Barat ibukota Liwa
5. Kabupaten Lampung Timur ibukota Sukadana
6. Kabupaten Way Kanan ibukota Blambanganumpu
7. Kabupaten Tanggamus ibukota Kotaagung
8. Kabupaten Pesawaran ibukota Gedongtataan
9. Kabupaten Pringsewu ibukota Pringsewu
10. Kabupaten Tulang Bawang ibukota Menggala
11. Kabupaten Tulang Bawang Barat ibukota Panaragan Jaya
12. Kabupaten Mesuji ibukota Wiralagamulya
13. Kota Metro
14. Kota Bandar Lampung
__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old April 19th, 2011, 03:37 PM   #2
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Lambang Kesultanan Lampung



Kijang Melipit Tebing



Kerajaan Melayu di Lampung: Kerajaan Skala Brak



http://buaypernong.blogspot.com/

1. Sejarah

Kerajaan Skala Brak (Sekala Beghak) berdiri di Lampung pada sekitar abad ke-3 Masehi dengan pemimpinnya bernama Raja Buay Tumi (William Marsden, 2008). Nama Raja Buay Tumi diyakini sebagai pemimpin Suku Tumi, yakni salah satu bangsa pertama yang menempati tanah Lampung dan kemudian membangun peradaban di Skala Brak. Lokasi Kerajaan Skala Brak terletak di lereng Gunung Pesagi, Belalau, di sebelah selatan Danau Ranau, sekarang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Keberadaan Kerajaan Skala Brak dianggap sebagai simbol peradaban, kebudayaan, dan eksistensi orang Lampung. Penyebutan Lampung sendiri berasal dari kata “Anjak Lambung” yang artinya menunjukkan tempat yang tinggi, yakni lereng Gunung Pesagi, gunung tertinggi di Lampung (Diandra Natakembahang, 2005). Keterangan ini merujuk bahwa sejarah orang Lampung sangat berkaitan dengan Skala Brak yang terletak di lereng Gunung Pesagi.

A. Skala Brak, Cikal-Bakal Orang Lampung

Terdapat sejumlah teori tentang etimologi Skala Brak. Pertama, Sakala Bhra, yang berarti titisan dewa, ini terkait dengan Kerajaan Skala Brak Hindu. Kedua, Segara Brak, yang berarti genangan air yang luas, yaitu Danau Ranau yang letaknya tidak jauh dari Kerajaan Skala Brak. Ketiga, Sekala Brak, yang berarti tumbuhan sekala (kemungkinan Ketembang Sekala atau Amomum Blumeanum Valeton, tanaman sejenis jahe-jahean) yang banyak terdapat di dataran tinggi Pesagi (Natakembahang, 2005). Selain itu, ada pula yang menyebut Skala Brak atau Sekala Beghak dengan arti “tetesan yang mulia”.

Kajian oleh sejumlah sejarawan Belanda, antara lain Groenevelt, L.C. Westernenk, dan Hellfich, umumnya mengarah pada persamaan persepsi bahwa Skala Brak adalah daerah asal orang Lampung. Pengelana dari Cina, I Tsing (635-713), pernah berada di Jambi dan konon sempat menetap di Sriwijaya selama 10 tahun (685-695). Dalam perjalanan itu, I Tsing menyebut “To Lang Pohwang” yang diduga berasal dari bahasa Hokian yang berarti “orang atas” atau “orang-orang yang berada di atas”. I Tsing mungkin menunjukkan keberadaan orang-orang yang tinggal di lereng Gunung Pesagi yang tidak lain adalah Suku Tumi.

Udo Z. Karzi, mengutip dari penelitian yang dilakukan Universitas Lampung, menyebutkan bahwa istilah “To Lang Pohwang” diambil dari bahasa Toraja. “To” berarti orang, sedangkan “Lang Pohwang” dibahasakan sebagai “Lampung”. Dengan demikian, “To Lang Pohwang” dapat diartikan sebagai “orang Lampung” (Udo Z. Karzi, 2007). Selain itu, ada juga yang menyebut bahwa “To Lang Pohwang” merupakan pelafalan dari “Tulang Bawang”, nama yang lekat dengan nama sungai, daerah, dan sebuah kerajaan yang juga terdapat di Lampung.

William Marsden melalui Sejarah Sumatra (terbit pertama kali pada 1779 dengan judul The History of Sumatra, beberapa kali diterbitkan ulang dan pada 2008 terbit dalam versi bahasa Indonesia), menulis bahwa apabila orang Lampung ditanya tentang dari mana mereka berasal, maka mereka akan menjawab: dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah gunung yang tinggi serta sebuah danau yang luas (Marsden, 2008). Gunung dan danau yang dimaksud adalah Gunung Pesagi dan Danau Ranau.

Suku Tumi menganut agama Hindu Bairawa. Mereka mengagungkan Belasa Kepampang, sebuah pohon keramat dengan dua cabang, yaitu cabang nangka dan cabang sebukau (sejenis kayu bergetah). Konon, jika menyentuh cabang sebukau, orang bisa terkena penyakit kulit, namun dapat segera disembuhkan dengan getah cabang nangka yang juga terdapat di pohon itu. Kepercayaan ini diterima tidak hanya di Skala Brak saja tapi hingga ke daerah-daerah lain di sepanjang aliran Way Komering, Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Tulangbawang, Way Umpu, Way Rarem, dan Way Besai (Teguh Prasetyo, 2005).

Ketika pemerintahan Islam menguasai Skala Brak, Belasa Kepampang ditebang dan kayunya dipergunakan untuk membuat pepadun. Pepadun adalah singgasana raja yang hanya boleh digunakan atau diduduki pada saat penobatan Sultan Skala Brak beserta keturunannya. Tumbangnya pohon Belasa Kepampang juga menjadi pertanda jatuhnya kekuasaan Suku Tumi sekaligus punahnya aliran animisme di Skala Brak.



Danau Ranau dengan Latar Belakang Gunung Pesagi,
Lokasi Berdirinya Kerajaan Skala Brak

http://members.lycos.nl/

b. Skala Brak pada Zaman Hindu (Masa Kerajaan)

Riwayat leluhur bangsa Lampung dan Skala Brak dapat ditelusuri, antara lain dari warahan (cerita turun-temurun), warisan adat, serta peninggalan lainnya. Salah satu benda peninggalan Skala Brak adalah menhir yang merupakan peninggalan masa Megalitikum dan ini menjadi bukti bahwa leluhur orang Lampung telah memiliki peradaban sejak masa pra-sejarah.

Riwayat Kerajaan Skala Brak juga dapat diketahui dari tambo-tambo yang di masyarakat. Tambo adalah salah satu bentuk ekspresi atas kesadaran masyarakat terhadap masa lalu yang berisi seluk-beluk kebudayaan, adat, dan asal-usul masyarakat. Di dalam tambo terkandung narasi kesejarahan yang ditujukan untuk berbagai kepentingan sebagai ekspresi atas kondisi sosial pada waktu di mana tambo itu dibuat (Irhash A. Shamad, 2009). Tambo-tambo tentang Skala Brak yang ditemukan sebagian besar ditulis pada kulit kayu atau kulit kerbau.

Di lereng Gunung Pesagi, ditemukan sejumlah peninggalan lainnya, seperti batu-batu bekas kuno, tapak bekas kaki, altar, dan tempat eksekusi. Menurut penafsiran Prof. Dr. Louis-Charles Damais, prasasti Hujung Langit (Hara Kuning) yang ditemukan di Bunuk Tenuar Liwa, merupakan bukti peninggalan Skala Brak pada zaman Suku Tumi. Dalam prasasti bertarikh 9 Margasira 919 Saka itu terpahat nama seorang raja yang diduga pernah berkuasa di Skala Brak, bernama Baginda Sri Haridewa (Louis-Charles Damais, 1995).

Sedangkan dari sebuah batu berangka tahun 966 Saka atau 1074 Masehi yang juga ditemukan di Bunuk Tenuar Liwa diperoleh keterangan bahwa Lampung telah dihuni sekelompok masyarakat beragama Hindu. Diperkirakan, batu yang bertuliskan huruf Pallawa ini merupakan perangkat untuk mengeksekusi orang yang melanggar hukum kerajaan. Unsur Hindu dalam kebudayaan Kerajaan Skala Brak semakin kuat dengan ditemukannya parit-parit, jalan-jalan setapak, batu persegi, batuan berukir, serta puing-puing candi khas Hindu.

Sejumlah sejarawan Belanda, seperti Dr. Fn. Fune, Groenevelt, Rampanggilay, Van Vollenhoven, L.C Westenenk, dan Hellfich, menyimpulkan, warga Skala Brak pernah melakukan perpindahan bertahap dari waktu ke waktu. Migrasi itu terjadi karena beberapa peristiwa penting. Pertama adalah ketika Suku Tumi terusir dari kampung halamannya akibat masuknya agama Islam. Kedua, adanya perselisihan internal di antara keluarga kerajaan sehingga pihak yang tidak menerima keadaan memutuskan untuk pindah ke daerah lain. Ketiga, adanya gempa bumi yang menyebabkan sebagian besar penduduk Skala Brak mencari perlindungan ke daerah lain. Keempat, adanya aturan adat yang menetapkan bahwa yang paling berhak memperoleh hak waris keluarga adalah anak tertua sehingga banyak anak-anak muda Skala Brak memilih pindah ke daerah lain dengan harapan akan mendapat kedudukan dan status sosial yang lebih baik.

Akibat gelombang migrasi itu, terjadilah penyebaran kebudayaan Suku Tumi. Sebagian besar dari mereka mengikuti aliran way (sungai) untuk bermukim dan mempertahankan hidup. Beberapa aliran sungai yang menjadi tempat tujuan migrasi Suku Tumi antara lain Way Koming, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung, dan Way Tulang Bawang, beserta anak-anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung, Palembang (Sungai Komering), bahkan hingga ke Pantai Banten (Ahmad Yani, 2007).

Kerajaan Skala Brak pada masa Hindu juga diindikasikan sebagai peradaban yang kelak berpengaruh terhadap berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang karena terdapat sebagian Suku Tumi yang menuju Palembang. Selain itu, ada keturunan dari Kerajaan Skala Brak Hindu yang diduga menjadi pendiri Dinasti Sriwijaya, yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Dapunta Hyang Sri Jayanaga inilah yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri di Minanga Komering (Arlan Ismail, 2003).



Menhir, Peninggalan Suku Tumi di Skala Brak
http://buaypernong.blogspot.com/

c. Skala Brak pada Zaman Islam (Masa Kepaksian)


Seperti yang diriwayatkan dalam tambo, masuknya Islam ke Skala Brak dibawa oleh empat putra Sultan Maulana Umpu Ngegalang Paksi, Raja Pagaruyung. Para pangeran itu dibantu oleh seorang pemudi berjuluk Si Bulan (Putri Bulan), diperkirakan bernama asli Indarwati, dan merupakan leluhur Orang Tulangbawang (Karzi, 2007). Berikut nama empat pangeran dari Minangkabau yang bermaksud menyiarkan agama Islam di Skala Brak tersebut:

1. Umpu Bejalan Di Way, bernama asli Inder Gajah, menurunkan Orang Abung.
2. Umpu Belunguh, nama aslinya diperkirakan sama dengan nama gelarnya, yakni Belunguh, menurunkan Orang Peminggir.
3. Umpu Nyerupa, bernama asli Sikin, menurunkan Orang Jelma Daya.
4. Umpu Pernong, bernama asli Pak Lang, menurunkan Orang Pubian.

Kata “Umpu” berasal dari kata “Ampu”, sebutan bagi anak raja Kerajaan Pagaruyung-Minangkabau. Kerajaan yang didirikan oleh Adityawarman pada tahun 1347 itu merupakan kerajaan Hindu sebelum beralih ke Islam sejak pertengahan abad ke-16. Kisaran waktu tersebut merujuk pada data yang menyebutkan, Sultan Alif Khalifatullah dinobatkan sebagai pemimpin Kerajaan Pagaruyung pada sekitar tahun 1560 (Mardjamni Martamin, et.al., 2002:122). Setelah menganut Islam, nama kerajaan pun diganti dengan kesultanan. Dengan demikian, masuknya Islam ke Skala Brak yang dibawa keempat pangeran dari Pagaruyung terjadi pada tahun-tahun setelah Sultan Alif Khalifatullah berkuasa.

Naskah kuno Kuntara Raja Niti menyebut Umpu Bejalan Di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong dengan nama yang berbeda, yakni masing-masing Inder Gajah, Belunguh, Sikin, dan Pak Lang (Ali Imron, 1991). Oleh keempat penguasa baru tersebut, wilayah Skala Brak dibagi rata dan masing-masing memiliki wilayah, rakyat, dan adat-istiadatnya sendiri, serta mempunyai kedudukan yang sama.

Penguasa terakhir Kerajaan Skala Brak pada masa Hindu adalah seorang perempuan bernama Umpu Sekekhummong (Ratu Sekerumong). Meskipun sempat melakukan perlawanan, namun Skala Brak tidak mampu menahan serangan dari Pagaruyung yang lebih kuat. Segera setelah berhasil menguasai Skala Brak, keempat pangeran Pagaruyung mendirikan suatu perserikatan bernama Paksi Pak, yang berarti “Empat Serangkai” atau “Empat Sepakat”. Dimulailah babak baru dengan hadirnya Islam di Skala Brak yang mewujud menjadi Paksi Pak atau Kepaksian Skala Brak.

Berkuasanya Kepaksian Skala Brak, berarti juga berakhirnya kekuasaan Suku Tumi. Orang-orang yang tidak mau masuk Islam melarikan diri ke Pesisir Krui dan banyak yang menyeberang ke Jawa. Sebagian yang lain mengungsi ke Palembang untuk mencari perlindungan. Belakangan diketahui bahwa ada seorang keturunan Kerajaan Skala Brak Hindu, bernama Kekuk Suik, yang masih mengibarkan sisa-sisa eksistensi Kerajaan Skala Brak di Pesisir Selatan Krui – Tanjung Cina.

Suku Tumi yang menyelamatkan diri ke Pesisir Krui menempati beberapa wilayah atau marga, meliputi Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai, dan Marga Way Sindi. Namun, di tempat yang baru ini, pelarian Suku Tumi tidak luput dari kejaran Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan mendapat bantuan dari lima orang punggawa Kepaksian Skala Brak. Setelah upaya penaklukkan berhasil, daerah tersebut dikenal dengan nama Marga Punggawa Lima karena kelima punggawa dari Kepaksian Skala Brak kemudian menetap di wilayah tersebut.

Sebagian warga Skala Brak yang lain, dipimpin Pangeran Tongkok Podang, mengikuti aliran Way Komring dan mendirikan pekon (negeri). Kesatuan dari beberapa pekon ini kemudian menjadi marga atau buay yang diperintah oleh seorang raja atau saibatin di daerah Komering, Palembang. Sebagian kelompok lagi pergi ke arah Muara Dua, kemudian ke selatan menyusuri aliran Way Umpu hingga di Bumi Agung. Kelompok ini terus berkembang dan dikenal sebagai Lampung Daya atau Lampung Komering yang menempati daerah Marta Pura dan Muara Dua di Komering Ulu, serta Kayu Agung dan Tanjung Raja atau Komering Ilir.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Suku Tumi sangat menghormati pohon Belasa Kepampang. Ketika Kerajaan Skala Brak berganti rupa menjadi Kepaksian Skala Brak, pohon keramat ini ditebang dan kayunya digunakan untuk membuat pepadun, yakni singgasana yang hanya boleh diduduki pada hari ketika Sultan Kepaksian Skala Brak dinobatkan. Terdapat dua makna filosofis yang terkandung dalam kata pepadun, yaitu:

1. Pepadun dimaknai sebagai papadun, yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan sebagai legitimasi bahwa yang duduk di atasnya adalah resmi menjadi seorang raja.
2. Pepadun dimaknai sebagai paaduan, yang berarti tempat mengadukan segala persoalan, maka orang yang duduk di atas pepadun adalah orang yang berhak memberikan keputusan atas perkara-perkara yang diadukan.

Dengan demikian, pepadun menempati posisi tertinggi dalam tradisi Kepaksian Skala Brak. Untuk menghindari perselisihan di antara keturunan keempat Kepaksian yang berkuasa, maka atas kesepakatan keempat Paksi, pepadun dititipkan kepada orang kepercayaan, yakni Buay Benyata yang berkedudukan di Pekon Luas. Ketika salah seorang dari keempat pemimpin Kepaksian membutuhkan pepadun untuk keperluan penobatan, maka pepadun itu dapat diambil namun harus dikembalikan lagi kepada Buay Benyata setelah digunakan.

Perselisihan yang muncul justru terjadi di antara keturunan Benyata. Pada 1939, sejumlah keturunan Benyata memperebutkan siapa yang berhak menyimpan pepadun. Sebelumnya memang belum ada kesepakatan tentang hal itu. Atas keputusan Kerapatan Adat dengan persetujuan Kepaksian Skala Brak dan Karesidenan (wakil pemerintah kolonial Hindia Belanda), diputuskan bahwa pepadun disimpan di kediaman keturunan langsung dari Umpu Belunguh (salah seorang dari keempat pemimpin Kepaksian Skala Brak), hingga sekarang.

Di bawah pemerintahan empat Kepaksian, peradaban Skala Brak berkembang cukup pesat, baik kemajuan eksternal maupun internal. Skala Brak menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lain di nusantara, bahkan dengan India dan Cina. Pada abad ke-5 dan ke-6, terdapat dua kerajaan di nusantara yang bekerjasama dengan Kekaisaran Cina, yaitu Kerajaan Kendali di Andalas dan Ho-lo-tan di Jawa (Olivier W. Wolters, 1967:160).

Kerajaan Kendali di Andalas yang dimaksud kemungkinan besar adalah Skala Brak karena dalam catatan Dinasti Liang (502-556 M) disebutkan letak Kerajaan Skala Brak berada di selatan Andalas dan menghadap ke arah Samudera Hindia. Adat-istiadatnya kerajaan itu, menurut catatan yang sama, hampir serupa dengan Bangsa Kamboja dan Siam (Thailand), serta menjadi negeri penghasil pakaian berbunga, kapas, pinang, kapur barus, dan damar.

Selain itu, dalam Kitab Tiongkok kuno yang disalin ulang Groenevelt disebutkan bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi terdapat kisah Kerajaan Kendali yang terletak di antara Jawa dan Kamboja. Sementara menurut L.C. Westenenk, nama Kendali ini dapat dihubungkan dengan Kenali, ibu negeri Paksi Buay Belunguh, salah satu dari empat Kepaksian Skala Brak (Diandra Taurussiawan Putra Natakembahang [a], 2009).

Kemajuan juga diperoleh dalam lingkup internal Skala Brak. Pada awal abad ke-9 Masehi, para pemuka Kepaksian Skala Brak sudah menciptakan aksara dan angka tersendiri yang dikenal sebagai Had Lampung. Bentuk tulisan Had Lampung dipengaruhi aksara Pallawa dari India Selatan dan huruf Arab (Diandra Taurussiawan Putra Natakembahang [b], 2009).

Kepaksian Skala Brak mengalami kemunduran pada era penjajahan Belanda. Pada tahun 1810 dan 1820, Istana Skala Brak hancur oleh serangan Belanda. Pada tahun 1830, dibangunlah Gedung Dalom sebagai pengganti istana. Luas lahan Gedung Dalom yang sekarang adalah 3.000 meter persegi, dikelilingi rumah kepala suku. Sementara Belalau kini menjadi tempat pertapaan yang ramai dikunjungi (Shanty Sibarani, 2008).



Paksi Buay Pernong, Salah Satu dari Empat Kepaksian Skala Brak
http://sultanskalabrak23.blogspot.com/

2. Silsilah Raja-Raja

Kerajaan Skala Brak termasuk salah satu kerajaan tertua di Sumatra yang telah melalui pergeseran kekuasaan dari masa Hindu ke masa Islam. Dari buku Sejarah Sumatra, terdapat nama Raja Buay Tumi sebagai penguasa Kerajaan Skala Brak yang pertama sekaligus pemimpin Suku Tumi (Marsden, 2008). Selain itu, ditemukan juga nama Umpu Sekekhummong (Ratu Sekerumong) yang merupakan pemimpin terakhir Kerajaan Skala Brak pada masa Hindu. Sedangkan pada batu yang ditemukan di Skala Brak, terpahat nama seorang raja, yakni Baginda Sri Haridewa (Louis-Charles Damais, 1995).

Pada masa pemerintahan Islam, Skala Brak terbagi menjadi empat kekuasaan yang disebut Paksi Buay atau Kepaksian (Bejalan Di Way, Belunguh, Nyerupa, dan Pernong). Empat Kepaksian ini masih eksis hingga kini dan mewariskan banyak keturunan sehingga silsilah yang mencakup pemimpin seluruh Kepaksian Skala Brak belum ditemukan secara lengkap.

Dalam catatan Darwis H.A disebutkan bahwa orang-orang yang pernah menjabat sebagai Sultan atau Pasirah (semacam perdana menteri) Paksi Buay Bejalan Di Way antara lain: Umpu Bejalan Diway (Pendiri Paksi Buay Bejalan Di Way), Ratu Tunggal, Kun Tunggal Simbang Negara, Ratu Mengkuda Pahawang, Puyang Rakian, Puyang Raja Paksi, Dalom Sangun Raja, Raja Junjungan (memindahkan pusat pemerintahan dari Puncak Sukarami Liwa ke Negeri Ratu Kembahang), Ratu Menjengau, Pangeran Siralaga, Dalom Suluh Irung, Pangeran Nata Marga (pernah mengadakan perjanjian dengan Inggris pada 13 Maret 1799), dan Pangeran Raja di Lampung (Darwis H.A., 1984).

Selanjutnya adalah Raden Intan Gelar Pangeran Jaya Kesuma I yang diangkat menjadi Pasirah dengan surat keputusan pemerintah kolonial tanggal 21 Desember 1834, Kasim Gelar Pangeran Paku Alam (1 Agustus 1871), Dalom Raja Kalipah Gelar Pangeran Puspa Negara I (5 Mei 1881), Ahmad Siradj Gelar Pangeran Jaya Kesuma II (27 Oktober 1914), Siti Asma Dewi Gelar Ratu Kemala Jagat (yang menjadi Sultan/Pasirah adalah suaminya, Abdul Madjid Gelar Suntan Jaya Indra, tanggal 12 Juli 1939), Suntan Jaya, Azrim Puspa Negara Gelar Pangeran Jaya Kesuma III, dan Selayar Akbar (Darwis H.A., 1984).

Kepaksian kedua adalah Paksi Buay Belunguh yang beribukota di Kenali. Umpu Belunguh sebagai Sultan Paksi Buay Belunguh tidak mempunyai istri dan anak sehingga kemudian mengangkat anak sebanyak 7 orang. Ketujuh anak angkat Umpu Belunguh tersebut memiliki surat-surat keterangan sebagai legitimasi garis keturunan mereka. Umpu Belunguh menunjuk salah satu anak angkatnya yang bernama Kuning, sebagai penggantinya untuk memimpin Kepaksian Belunguh. Umpu Kuning mempunyai empat anak, yakni Pemuka Raja Anum, Pangeran Mangkubumi, Kimas Menjaga Batin, dan Raden Mengunang (Basis Syarif, 2007).

Seorang keturunan Kepaksian Belunguh, bernama Batin Paksi, menyusun sebuah tambo yang menerangkan tentang “Asal Keturunan Marga Belunguh” tertanggal 20 Februari 1939. Pada 28 Maret 2000, Ikhwan Siraj Belunguh yang merupakan keturunan ke-17 dari Sultan Pangeran Iro Belunguh, berinisiatif menyalin ulang tambo tersebut. Nama-nama Sultan yang pernah memerintah Paksi Buay Belunguh Skala Brak tercantum dalam tambo tersebut.

Disebutkan dalam tambo bahwa Sultan Pemuka Raja Anum, berkunjung ke Kesultanan Banten dan memperoleh anugerah dari Sultan Banten berupa barang-barang kebesaran. Hingga kini, keturunan Pemuka Raja Anum masih ada yang tinggal di Cikuning, Banten, dan masih menggunakan bahasa Lampung. Sultan Kepaksian Belunguh selanjutnya adalah Sang Hiang Raja Nukah dan berturut-turut dilanjutkan oleh Pangeran Jaya Kesuma, Depati Bangsa Raja, Pangeran Iro Belunguh, Raja Mahkota Alam, Batin Singa, Raden Ngaih, Keria Natar Kesuma (diangkat tanggal 8 Juni 1784), dan Depati Pasirah yang dinobatkan tanggal 6 November 1871 (Ikhwan Siraj, 2000).

Dari Kepaksian Nyerupa, menurut sumber yang ditemukan, diperoleh informasi bahwa Paksi Buay Nyerupa memiliki pemuka-pemuka agung sebagai berikut: Ratu Buay Nyerupa (wafat tahun 1420), Si Gajah Gelar Ratu Pikulun Siba di Mesir, Tjerana Gelar Dalom Pikulun Siba di Room, Tjerana Gelar Dalom Pikulun Siba di Randak, Si Gajah Gelar Ratu Pikulun Siba di Mataram, Pangeran Ratu Pikulun Siba di Mataram, Si Rasan Pikulun Ratu di Lampung Siba di Banten (1727), Batin Junjungan Pikulun Ratu di Lampung, Si Rasan Dalom Purbajagat Pikulun, Si Gajah Dalom Ratoe Pikulun, dan Tjerana Gelar Ratu Pikulun (1808).

Kemudian Si Gajah Batin Mengoenang Pikulun Bala Seriboe, Si Pikok Gelar Dalom Pikulun (1849), Si Gajah Batin Pikulun, Merah Hakum Gelar Sultan Ali Akbar/Ratu Bantar Muli Batin (1860), Merah Hasan Gelar Sultan Ratu Pikulun, Merah Hadis Gelar Dalom Baginda Raja, Saifullah Hakim Gelar Sultan Pikulun Jayaningrat, dan Dwi Tjakrawati Gelar Ratu Pikulun Permata Alam. Sultan Kepaksian Nyerupa sekarang adalah Salman Parsi Gelar Sultan Pikulun Jayadiningrat (www.buaynyerupa.blogspot.com).



Silsilah Pemuka Paksi Buay Nyerupa Skala Brak
http://buaynyerupa.blogspot.com/

Terakhir, dari Paksi Buay Pernong Skala Brak diperoleh keterangan, Pangeran Ringgau Gelar Pangeran Batin Pasirah Purba Jaya sebagai Sultan Kepaksian Pernong. Selanjutnya adalah Pangeran Suhaimi Gelar Sultan Lela Muda Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi yang bertahta hingga menjelang berakhirnya kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Penggantinya adalah Pangeran Maulana Balyan gelar Sultan Sempurna Jaya yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia (www.buaypernong.blogspot.com).

Sejak 19 Mei 1989, dinobatkanlah anak lelaki Pangeran Maulana Balyan yang bernama Pangeran Edward Syah Pernong sebagai Sultan Kepaksian Pernong Skala Brak yang ke-23 dengan gelar Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi (Febrie Hastiyanto, 2009). Sultan Edward Syah Pernong juga terpilih sebagai Ketua Forum Masyarakat Skala Brak (FMSB) yang diharapkan berperan sebagai alat komunikasi bagi seluruh warga Skala Brak (Lampung Post, 13 Januari 2009).

3. Sistem Pemerintahan

Sultan Kepaksian Skala Brak berasal dari kalangan bangsawan sebagai pemegang tahta kerajaan dan adat beserta rakyatnya. Kedudukan Sultan sebagai kepala kerajaan diwariskan turun-temurun. Dalam menjalankan pemerintahan, Sultan dibantu oleh Pemapah Dalom (semacam perdana menteri) yang diberi gelar Raja. Pemapah Dalom biasanya diangkat dari salah seorang paman atau adik Sultan.

Dalam perkembangannya, terdapat jabatan Pasirah dalam pemerintahan Kepaksian Skala Brak. Pasirah bertugas mengatur jalannya pemerintahan tradisional, acara ritual-ritual, pesta-pesta, dan upacara-upacara adat lainnya (Siti Rohanah, et.al., 2004). Konsep yang menempatkan Pasirah sebagai kepala pemerintahan mulai berlaku sejak 25 Desember 1862 melalui surat keputusan pemerintah kolonial Belanda. Pasirah bertindak sebagai pemimpin suatu marga dan merupakan wakil dari pemerintah kolonial. Di samping sebagai kepala pemerintahan, Pasirah juga memiliki fungsi sebagai hakim tertinggi dalam memutuskan segala permasalahan baik yang menyangkut adat-istiadat maupun masalah perkawinan, perceraian, dan aturan jual beli (Abdullah Sidik, 1980).

Kepaksian Skala Brak juga memiliki Permufakatan Sidang Adat sebagai forum resmi untuk menangani perkara-perkara tertentu, misalnya dalam pertimbangan menaikkan atau menurunkan pangkat adat. Tingkatan tertinggi yang berlaku di masyarakat adat Kepaksian Skala Brak adalah Suntan. Urutan gelar adat dalam Kepaksian Skala Brak dari yang tertinggi hingga yang terendah adalah Suntan, Raja, Batin, Radin, Minak, Kemas, dan Mas (www.paksipernong.com).

4. Wilayah Kekuasaan

Jika merunut pada peta geografis dan administratif Provinsi Lampung pada masa sekarang, perkiraan luas wilayah kekuasaan Kerajaan Skala Brak mencakup hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat. Bahkan, sebagian daerah kekuasaan Skala Brak ditaksir hingga Kecamatan Banding Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. Pusat kerajaan terdapat di lereng Gunung Pesagi yang terletak di Liwa. Liwa sendiri berlokasi di antara Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit, yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Barat. Ketika Kepaksian Skala Brak didirikan oleh empat pangeran dari Pagaruyung, wilayah Skala Brak dibagi menjadi empat wilayah kekuasaan, yaitu antara lain:

1. Umpu Bejalan Di Way, memiliki daerah kekuasaan meliputi Kembahang dan Balik Bukit. Pusat pemerintahannya adalah Puncak Dalom. Kepaksian ini dikenal dengan nama Paksi Buay Bejalan Di Way.
2. Umpu Belunguh, berhak atas wilayah Belalau dengan ibu kotanya di Kenali. Kepaksian ini disebut sebagai Paksi Buay Belunguh.
3. Umpu Nyerupa, memperoleh bagian daerah Sukau dengan pusat pemerintahan di Tampak Siring. Kepaksian ini disebut dengan nama Paksi Buay Nyerupa.
4. Umpu Pernong, memerintah daerah Batu Brak dengan ibu negeri di Hanibung. Kepaksian ini bernama Paksi Buay Pernong (Natakembahang, 2005).

Putri Bulan, yang membantu para pangeran Kesultanan Pagaruyung menaklukkan Suku Tumi, mendapat bagian wilayah di daerah Cenggiring. Namun, karena Putri Bulan memutuskan untuk tidak menetap di Skala Brak, maka willayah Cenggiring digabungkan dengan wilayah kekuasaan Paksi Buay Pernong karena letaknya berdekatan.

Sementara itu, dari situs Wikipedia diperoleh data bahwa wilayah inti kekuasaan Kepaksian Skala Brak mencakup daerah-daerah di sepanjang sungai yang terdapat di Lampung Barat. Wilayah kekuasaan Kepaksian Skala Brak secara keseluruhan meliputi: Way Selalau, Way Belunguh, Way Kenali, Way Kamal, Way Kandang Besi, Way Semuong, Way Sukau, Way Ranau, Way Liwa, Way Krui, Way Semaka, Way Tutung, Way Jelai, Way Benawang, Way Ngarip, Way Wonosobo, Way Ilahan, Way Kawor Gading, Way Haru, Way Tanjung Kejang, dan Way Tanjung Setia (www.id.wikipedia.org).

Wilayah yang dikuasai keempat pemimpin Kepaksian Skala Brak dan Putri Bulan pada akhirnya melahirkan lima buay atau marga teritorial, yang kemudian berkembang menjadi sembilan kebuayan. Sejak tahun 1928, pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah ini meluas lagi menjadi 84 marga dan tumbuh menjadi ratusan jurai atau tiyuh (Hastiyanto, 2009).
__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung

Last edited by DJ_Archuleta; April 19th, 2011 at 03:57 PM.
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote
Old April 19th, 2011, 03:45 PM   #3
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Profil: Edward Syah Pernong

KESULTANAN Lampung mungkin saja tidak akan menyandang nama yang cukup dihormati, terutama di kalangan masyarakat adat Nusantara, tanpa peran Sultan Edward Syah Pernong. Berkat kiprah dan usaha keras dari sosok yang berkomitmen tinggi melestarikan beragam seni tradisi dan adat istiadat tersebut, sejumlah warisan tradisi Kesultanan Lampung masa silam yang pernah terancam pudar kini tetap bertahan karena terjaga dengan baik.

Edward Syah Pernong (ONI)



Ketika ditemui di sela-sela Kirab Agung atau pawai budaya yang menandai dibukanya kegiatan Festival Keraton Nusantara VII di kawasan Benteng Kuto Besak, Kota Palembang, Sabtu (27/11), Sultan Edward terlihat sibuk berbincang dengan para hulubalang, prajurit, dan sejumlah punggawa Kesultanan Lampung yang saat itu sedang bersiap-siap untuk memulai Kirab Agung.

”Sebelum giliran kita, saya hendak menyampaikan satu hal tentang pentingnya makna Kirab Agung. Kirab ini jangan hanya dimaknai sebagai prosesi jalan kaki atau pawai, tetapi kirab ini menjadi bukti bahwa Kesultanan Lampung masih berdiri sampai sekarang. Jadi, saya minta jangan mencoreng citra Kesultanan kita sendiri,” ucap pria kelahiran Bandar Lampung, 27 Februari 1958, itu.

Meski terlahir sebagai putra mahkota kesultanan, Edward Syah Pernong, yang kerap disapa Paksi Pernong ini, tidak serta-merta menjadi orang yang tinggi hati. Sebaliknya, dia memiliki banyak kawan yang berasal dari beragam profesi, mulai dari wartawan, guru, pejabat, bahkan anak yatim-piatu.

Melestarikan adat

Ketika memasuki masa persiapan sebagai Sultan, Edward mempelajari beragam hal, mulai dari ilmu pasti, komik fiksi, ilmu sejarah dan budaya, serta ilmu bela diri. Bagi Edward, setelah memasuki era abad ke-20, jabatan sebagai Sultan tak hanya disimbolkan sebagai penguasa adat dan budaya saja, tetapi juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

”Prinsip ini ternyata ada gunanya. Karena saya selalu menekankan pentingnya membuka diri dan mata bagi masyarakat Indonesia dan mancanegara, ternyata banyak orang yang bersimpati. Dampaknya, Kesultanan banyak menerima bantuan yang bisa digunakan untuk melestarikan peninggalan masa lalu,” kata Sultan Lampung yang ternyata juga berprofesi sebagai polisi berpangkat Komisaris Besar sekaligus menjabat sebagai Kepala Polresta Semarang ini.

Selama memimpin Kesultanan Lampung, Edward menyelamatkan sejumlah aset penting masa lalu yang nyaris tak terurus, seperti payung agung, lalamak, titi kuya, dan jamban agung. Selain itu, Edward juga merumuskan tatanan kirab pergantian takhta dan melestarikan tarian kuno. (ONI)

http://ulunlampung.blogspot.com/2010...n-tradisi.html
__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung

Last edited by DJ_Archuleta; April 20th, 2011 at 11:35 AM.
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote
Old April 19th, 2011, 03:53 PM   #4
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Skala Brak, Asal Muasal Orang Lampung

Sekala Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa Lampung.

Pengelana Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.


Gelar Dalam Kepaksian Pernong



Sumber lisan di Kapaksian Pernong dan juga keterangan tertulis serba ringkas mengenai gelar kebangsawanan dan gelar dalam fungsi adat telah diuraikan Sai Batin, pucuk pimpinan adat Paksi Pak Sekala Beghak.

Dalam adat Paksi Pak Buay Pernong, ada beberapa tingkatan gelar atau adok. Seluruh adok adalah mutlak anugerah dari Sai Batin. Anugerah diberikan atas dasar keturunan (nasab-silsilah) maupun karena jasa besarnya kepada Sai Batin atau Kepaksian Pernong.
Dalam adat Paksi Buay Pernong, gelar adat dalam berbagai tingkatan tidak “diperjualbelikan” melalui cara dan dengan alasan apapun. Kalaupun ada gelar yang dianugerahkan, merupakan mutlak hak prerogatif Sai Batin.

Meski demikian, sebenarnya Sai Batin mengambil keputusan bukan tanpa dasar dan menutup diri dari aspirasi bawah. Para Kepala Jukku berkewajiban menyusun akkat tindih (tingkatan) status anak buah yang akan diberi gelar. Akkat tindih itu kemudian dimusyawarahkan dengan Raja-raja Kappung Batin. Pengusulan pakkal ni adok ini harus menimbang gelar dari ayahnya (lulus kawai); cakak adok (naik tingkatan gelar) dan adanya pemekaran Jukkuan.

Hasil musyawarah diserahkan kepada Sai Batin melalui Pemapah Dalom /Pemapah Paksi untuk dimintakan persetujuan.
Apapun keputusan Sai Batin itulah yang harus diterima. Dalam adat Kepaksian Pernong, gelar terdiri dari dua atau lebih suku kata yang berpedoman pada Pakkal Ni Adok dan pada Uccuk Ni Adok. Pakkal (pangkal) dari gelar merupakan kata inti dari gelar yang menunjukkan status atau tingkat kedudukan seseorang dalam Tatanan Adat Kepaksian Pernong. Contohnya, gelar-gelar : Raja, Batin, Radin dan seterusnya. Sedangkan Uccuk (ujung) dari gelar menunjukkan identitas keturunan atau Jukkuan yang bersangkutan. Misalnya : Raja Batin II, artinya berasal dari Jukkuan Lamban Bandung.

Gelar Sultan hanya untuk Sai Batin. Melekat pula pada gelar Sultan adalah Pangeran dan Dalom. Permaisuri Sai Batin, bergelar Ratu. Dalam stratifikasi gelar yang berkait dengan jabatan (struktur) adat dalam masyarakat berturut-turut sebagai berikut :


SULTAN

RAJA

BATIN

RADIN

MINAK

KEMAS

MAS

Gelar tersebut berkaitan dengan status dan kedudukan yang bersangkutan dalam strata kehidupan masyarakat adat Paksi Buay Pernong. Gelar dapat memperlihatkan kedudukannya dalam masyarakat adat dimana ia tinggal. Seorang bergelar Raja, dia mempunyai anak buah yang tertata dalam suatu kelompok masyarakat adat yang disebut Jukku. Raja membawahi beberapa Batin, Radin, Minak, Kimas, Mas, dan seterusnya. Pada jalur perempuan, gelar itu setelah Ratu, adalah Batin-Radin-Minak-Mas-Itton.

Hanya, ada sedikit perbedaan gelar Raja dan gelar-gelar lain yang diberikan kepada keluarga Sai Batin yang tertata dalam Papateh Lamban Gedung, semacam “Sekretariat Negara”. Mereka ini memperoleh gelar karena adanya hubungan darah dengan Sai Batin. Karenanya, tidak membawahi langsung gelar-gelar dibawahnya. Sultan dalam menjalankan fungsinya dibantu oleh Pemapah Dalom, semacam perdana menteri, yang biasanya diangkat dari salah seorang paman atau adik Sultan. Para Pemapah Dalom/Pemapah Paksi bergelar Raja.

Gelar Raja oleh Sai Batin juga dianugerahkan kepada, Kepala Jukku; Putera Kedua Sai Batin; dan Menantu Tertua Laki-laki dari Sai Batin. Kepada menantu perempuan tertua memperoleh gelar Tidak Tudau atau Matudau (anak puteri mengikuti suaminya).
Masyarakat adat terkelompok dalam struktur sebagai berikut:
Jukku dipimpin Kepala Jukku bergelar Raja
Sumbai dipimpin Kepala Sumbai bergelar Batin
Kebu dipimpin Kepala Kebu bergelar Radin
Lamban (Keluarga) dipimpin Kepala Keluarga
atau Ghagah.
__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote
Old April 19th, 2011, 04:16 PM   #5
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Yang Dipertuan Skala Brak XXIII - Edward Syah Pernong


__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote
Old April 19th, 2011, 06:46 PM   #6
ardindonesia
ardindonesia
 
ardindonesia's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: nusantara
Posts: 1,421
Likes (Received): 0

thread ini yg dibahas apa saja bang? apa hanya masalah budaya lampung?
ardindonesia no está en línea   Reply With Quote
Old April 20th, 2011, 05:00 AM   #7
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Quote:
Originally Posted by ardindonesia View Post
thread ini yg dibahas apa saja bang? apa hanya masalah budaya lampung?
Seputar semua yg terkait dgn kerajaan, adat isitiadat dan budaya lampung...
__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote
Old April 20th, 2011, 09:57 AM   #8
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Balaputradewa's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: PALEMBANG
Posts: 7,544
Likes (Received): 1002

Setau Bala, di Lampung tidak ada Kesultanan Lampung, begitupun Sultan Lampung.
Kalo yg dimaksud Skala Brak, itu hanyalah sebuah kepaksian/kebuaian/kedatuan di sekitar Gunung Pesagi, Lampung Barat. Kepaksian ini memanggil ketua mereka dengan sebutan Raja bukan Sultan.

Kepaksian Skala Brak hanya berlaku di wilayah sekitar Gunung Pesagi, Balik Bukit, Liwa dan sekitarnya saja, tidak keseluruhan wilayah Lampung. Misalnya untuk masyarakat Lampung Abung, seperti di Kotabumi dan Tulang Bawang tidak bertunduk pada adat dan kekuasaan Paksi Skala Brak. Pada masyarakat Abung, mereka cenderung demokratis, pucuk pimpinan disebut Raja dan tidak bersifat tunggal alias banyak Raja. Raja-raja ini dipilih berdasarkan musyawarah adat dari masyarakat dan pemangku adat, siapapun bisa menjadi raja asalkan sesuai dengan kriteria tertentu.


Quote:
Originally Posted by DJ_Archuleta View Post
Pengelana Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.
Yang dimaksud I Tsing "To Lang Pohwang" adalah Kerajaan Tulang Bawang (dibawah Sriwijaya) yang berada di sekitar aliran Sungai Mesuji, pantai timur Sumatera bukan Skala Brak yang berada di Perbukitan Barat Sumatera. I Tsing ini memang menjelajahi pantai timur Sumatera, sebelum ke Tulang Bawang, Ia telah menyinggahi Melayu (Jambi) dan Sriwijaya (Palembang), tidak pernah ke perbukitan Sumatera. Di wilayah Tulang Bawang inilah ditemukan Prasasti Kutukan Palas Pasemah dari Sriwijaya.

Jadi:
Di Lampung tidak ada Kesultanan Lampung.
Skala Brak bukan Kesultanan Lampung.
Edward Syah Pernong bukan Sultan Lampung.
Edward Syah Pernong adalah Raja Kepaksian Skala Brak Buay Pernong.
Secara Budaya dan Adat, Lampung tidak tergolong sebagai Melayu. Sama halnya dengan Suku Batak di Sumatera Utara.

Sumber:
Kerajaan Sriwijaya: Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya
Pengarang, Kurnia Sholihat Irfan
Penerbit, Girimukti Pusaka, 1983.
__________________
Sabbesatta Bhavantu Sukhitata: Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia !!

Last edited by Balaputradewa; April 20th, 2011 at 10:18 AM.
Balaputradewa no está en línea   Reply With Quote
Old April 20th, 2011, 11:25 AM   #9
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Suku Lampung


Etnis Lampung yang biasa disebut Ulun Lampung [Orang Lampung] secara tradisional geografis adalah suku yang menempati seluruh provinsi Lampung dan sebagian provinsi Sumatera Selatan bagian selatan dan tengah yang menempati daerah Martapura, Muaradua di Komering Ulu, Kayu Agung, Tanjung Raja di Komering Ilir, Merpas di sebelah selatan Bengkulu serta Cikoneng di pantai barat Banten.

Asal Usul

Asal-usul Ulun Lampung erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata "anjak lambung" yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung.

Prof Hilman Hadikusuma di dalam bukunya (Adat Istiadat Lampung:1983) menyatakan bahwa generasi awal Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. Penduduknya dihuni oleh Buay Tumi yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekerummong. Negeri ini menganut kepercayaan dinamisme, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.

Buay Tumi kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam yang berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Bejalan diWay, Umpu Nyerupa, Umpu Pernong dan Umpu Belunguh. Keempat Umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak Sekala Brak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama puyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati. Berdasarkan Kuntara Raja Niti, Prof Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan Ulun Lampung sebagai berikut:

* Inder Gajah

Gelar: Umpu Lapah di Way
Kedudukan: Puncak Dalom, Balik Bukit
Keturunan: Orang Abung

* Pak Lang

Gelar: Umpu Pernong
Kedudukan: Hanibung, Batu Brak
Keturunan: Orang Pubian

* Sikin

Gelar: Umpu Nyerupa
Kedudukan: Tampak Siring, Sukau
Keturunan: Jelma Daya

* Belunguh

Gelar: Umpu Belunguh
Kedudukan: Kenali, Belalau
Keturunan: Peminggir

* Indarwati

Gelar: Puteri Bulan
Kedudukan: Cenggiring, Batu Brak
Keturunan: Tulang Bawang

Adat-istiadat

Pada dasarnya jurai Ulun Lampung adalah berasal dari Sekala Brak, namun dalam perkembangannya, secara umum masyarakat adat Lampung terbagi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin dan masyarakat adat Lampung Pepadun. Masyarakat Adat Saibatin kental dengan nilai aristokrasinya, sedangkan Masyarakat adat Pepadun yang baru berkembang belakangan kemudian setelah seba yang dilakukan oleh orang abung ke banten lebih berkembang dengan nilai nilai demokrasinya yang berbeda dengan nilai nilai Aristokrasi yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Saibatin.


Masyarakat adat Lampung Saibatin

Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah adat: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Propinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di Pantai Banten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:

* Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)
* Keratuan Melinting (Lampung Timur)
* Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)
* Keratuan Semaka (Tanggamus)
* Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)
* Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)


Masyarakat adat Lampung Pepadun

Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:

* Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.
* Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.
* Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.

* Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

Falsafah Hidup Ulun Lampung

Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:

* Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)
* Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)
* Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)
* Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)
* Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya)

Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung.

Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):

Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi
Juluk-adok gham pegung, nemui-nyimah muaghi
Nengah-nyampugh mak ngungkung, sakai-Sambaian gawi.


Bahasa Lampung

Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Propinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten.

Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Melayu dan sebagainya.

Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek. Pertama, dialek A (api) yang dipakai oleh ulun Sekala Brak, Melinting Maringgai, Darah Putih Rajabasa, Balau Telukbetung, Semaka Kota Agung, Pesisir Krui, Ranau, Komering dan Daya (yang beradat Lampung Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek O (nyo) yang dipakai oleh ulun Abung dan Tulangbawang (yang beradat Lampung Pepadun).

Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.


Aksara Lampung

Aksara lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks. Sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.


Tokoh Tokoh Suku Lampung

Negarawan dan Politisi:

* Pangeran Edward Syah Pernong
* Alamsjah Ratoe Perwiranegara
* Aburizal Bakrie
* Ryamizard Ryacudu
* Alzier Dianis Tabranie
* Bagir Manan
* Tursandi Alwi

Praktisi dan Profesional:

* Henry Yosodiningrat
* Andi Arief

Seniman dan Budayawan:

* Andi Ahmad Sampoerna Jaya
* Hila Hambala

Akademisi dan Tokoh Pendidikan:

* A. Effendi Sanusi
* Irfan Anshori
* Hilman Hadikusuma

Wartawan dan Jurnalis:

* Sazeli Rais
* Herman Zuhdi
* Yasir Denhas
* Udo Z. Karzi

Pahlawan Pejuang Kemerdekaan:

* Radin Inten II
__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung

Last edited by DJ_Archuleta; April 20th, 2011 at 11:33 AM.
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote
Old April 20th, 2011, 11:33 AM   #10
DJ_Archuleta
Registered User
 
DJ_Archuleta's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: ~Sumatera~
Posts: 3,058
Likes (Received): 16

Sejarah Kain Tapis Lampung




Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat. Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad II masehi. Motif kain ini ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh. Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia. Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini. Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan. Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan jaman bahari sudah mulai berkembang sejak jaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 1700.

Bermula dari latar belakang sejarah ini, imajinasi dan kreasi seniman pencipta jelas mempengaruhi hasil ciptaan yang mengambil ide-ide pada kehidupan sehari-hari yang berlangsung disekitar lingkungan seniman dimana ia tinggal. Penggunaan transportasi pelayaran saat itu dan alam lingkungan laut telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan. Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup. Diketahui suku Lampung yang umum memproduksi dan mengembangkan tenun Tapis adalah suku Lampung yang beradat Pepadun.

Bahan dan Peralatan Tenun Tapis Lampung

Bahan Dasar Tapis Lampung : Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam. Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.

Bahan-bahan baku itu antara lain : • Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang. • Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera. • Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang. • Akar serai wangi untuk pengawet benang. • Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur. • Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah. • Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam. • Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat. • Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru. • Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.

Pada saat ini bahan-bahan tersebut diatas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan diatas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan Tenun kain Tapis : Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut : • Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. • Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian

Alat-alat : • Terikan (alat menggulung benang) • Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh) • Belida (alat untuk merapatkan benang) • Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) • Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan) • Guyun (alat untuk mengatur benang) • Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun) • Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang) • Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan) • Amben (alat penahan punggung penenun) • Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.
__________________
Sumatera Photo Gallery - Click Here for Sumatera Buildings
Architectures - | Medan | Batam | Pekanbaru | Palembang | Padang | Bangka-Belitung
DJ_Archuleta no está en línea   Reply With Quote
Old April 20th, 2011, 12:25 PM   #11
Mehome
Moved
 
Mehome's Avatar
 
Join Date: Dec 2010
Location: uaceland
Posts: 4,184
Likes (Received): 979

Quote:
Originally Posted by Balaputradewa View Post
Setau Bala, di Lampung tidak ada Kesultanan Lampung, begitupun Sultan Lampung.
Kalo yg dimaksud Skala Brak, itu hanyalah sebuah kepaksian/kebuaian/kedatuan di sekitar Gunung Pesagi, Lampung Barat. Kepaksian ini memanggil ketua mereka dengan sebutan Raja bukan Sultan.

Kepaksian Skala Brak hanya berlaku di wilayah sekitar Gunung Pesagi, Balik Bukit, Liwa dan sekitarnya saja, tidak keseluruhan wilayah Lampung. Misalnya untuk masyarakat Lampung Abung, seperti di Kotabumi dan Tulang Bawang tidak bertunduk pada adat dan kekuasaan Paksi Skala Brak. Pada masyarakat Abung, mereka cenderung demokratis, pucuk pimpinan disebut Raja dan tidak bersifat tunggal alias banyak Raja. Raja-raja ini dipilih berdasarkan musyawarah adat dari masyarakat dan pemangku adat, siapapun bisa menjadi raja asalkan sesuai dengan kriteria tertentu.




Yang dimaksud I Tsing "To Lang Pohwang" adalah Kerajaan Tulang Bawang (dibawah Sriwijaya) yang berada di sekitar aliran Sungai Mesuji, pantai timur Sumatera bukan Skala Brak yang berada di Perbukitan Barat Sumatera. I Tsing ini memang menjelajahi pantai timur Sumatera, sebelum ke Tulang Bawang, Ia telah menyinggahi Melayu (Jambi) dan Sriwijaya (Palembang), tidak pernah ke perbukitan Sumatera. Di wilayah Tulang Bawang inilah ditemukan Prasasti Kutukan Palas Pasemah dari Sriwijaya.

Jadi:
Di Lampung tidak ada Kesultanan Lampung.
Skala Brak bukan Kesultanan Lampung.
Edward Syah Pernong bukan Sultan Lampung.
Edward Syah Pernong adalah Raja Kepaksian Skala Brak Buay Pernong.
Secara Budaya dan Adat, Lampung tidak tergolong sebagai Melayu. Sama halnya dengan Suku Batak di Sumatera Utara.

Sumber:
Kerajaan Sriwijaya: Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya
Pengarang, Kurnia Sholihat Irfan
Penerbit, Girimukti Pusaka, 1983.
tuan Bala, saya mau tanya. tetapi maaf ya agak kurang nyambung dan sedikit OOT

saya pernah dengar cerita dari teman yang katanya suku Batak berasal dari Lampung, tetapi saya lupa-lupa ingat apa alasannya. Saya yakin Balaputradewa pasti ahlinya nih dibidang yang kayak-kayak gini. He he he..

Makasih sebelumnya Bala
__________________
Rotary Club D3400 Indonesia
Mehome no está en línea   Reply With Quote
Old April 24th, 2011, 07:32 PM   #12
ardindonesia
ardindonesia
 
ardindonesia's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: nusantara
Posts: 1,421
Likes (Received): 0

dari "pencerahan" postingan Balaputra dan realita yg ada sekarang dilapangan sepertinya thread ini terlalu kecil/sempit kalau hanya membahas kepasian Sekala Brak. Event2 kebudayaan Lampung sendiri secara kasat mata jg susah ditemui kecuali pesta perkawinan (itupun hanya simbol doang, yg benar2 secara adat sangat jarang)
Kalau saya boleh usul mending thread ini dimerger ke thread Lampung yg sudah ada agar kontinyuitas dr thread ini konsisten. Atau diperbesar cakupannya Budaya & wisata provinsi Lampung. Karena secara fakta potensi wisata di provinsi Lampung jauh lebih banyak yg bisa dieksplore dari pada kita mengeksplore "satu kepaksian" yg hanya berada di Lampung Barat...
ardindonesia no está en línea   Reply With Quote
Old August 28th, 2014, 06:31 AM   #13
cibicibi
Registered User
 
cibicibi's Avatar
 
Join Date: Aug 2014
Location: jakarta
Posts: 1
Likes (Received): 0

mohon infonya, saya lagi butuh utk tulisan saya. gelar2 dalam kesultanan atau kerajaan lampung tempo dulu apa saja ya? mulai dari raja, penasehat raja, hulubalang dll. makasih banyak
cibicibi no está en línea   Reply With Quote
Old August 28th, 2014, 11:03 AM   #14
tjokro_ragazzo
sup!
 
tjokro_ragazzo's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Location: KB - AB - B
Posts: 6,712
Likes (Received): 357

"Kesultanan"?
__________________
stay awesome, still amazing
tjokro_ragazzo no está en línea   Reply With Quote


Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 07:12 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu