daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > The Skybazaar of Indonesia > Archive

Closed Thread
 
Thread Tools
Old October 1st, 2004, 06:25 PM   #321
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 6,941

Yeap, tata.

Also, why in Jakarta, most people doesnt obey the law when it comes to seat belt? When I was in East Java and Central Java, The drivers there are using seat belt and following the rules. Only in Main Jakarta street we will see drivers with seat belt. especially during 3-IN-1, Even I only saw 2 or 3 drivers with seat belt.

Me and My friend was caught by the Police in near Pasar Baru, I was using seat belt but my friend didnt, I thought the cops was stopping us because of the seat belt, however it turned out because we were passing Forbidden street.

cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea  

Sponsored Links
 
Old October 1st, 2004, 09:12 PM   #322
sanhen
Urban Monk
 
sanhen's Avatar
 
Join Date: Jun 2004
Location: Tokyo, Japan
Posts: 2,437
Likes (Received): 2

Actually.. the further away you are from Jakarta.. the better the law is (police etc).. from what I heard.. buses in other island than Java run on time with schedule!
sanhen no está en línea  
Old October 3rd, 2004, 05:17 AM   #323
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Koridor II dan III, Beroperasi Oktober 2005
27 September 2004 13:06:08
TransJakarta-Memenuhi permintaan warga Jakarta akan pembukaan koridor transjakarta berikutnya, Pemprov DKI menjadwalkan akan mengoperasikan program angkutan masal ini pada Juni dan Oktober 2005. kedua koridor itu antara lain, Pulo Gadung-Monas (II) dan Monas-Terminal Kalideres (III).

Bahkan, untuk mendukung operasional, Pemprov Jakarta juga berencana membangun jalan layang yang menghubungkan Harmoni-Roxy. Targetnya, flyover ini untuk mengurai kemacetan di Jalan KH Hasyim Ashari setelah transjakarta-busway koridor III (Monas-Kalideres) beroperasi. Menurut Asisten Pembangunan Pemprov Jakarta, IGKG Suena, rencana pembangunan jalan layang sepanjang 2,2 kilometer akan diusulkan dalam APBD DKI 2005. Suena beralasan, flyover harus dipersiapkan karena itu daerah yang paling padat.

”Memang, pembangunan ini akan menelan banyak dana,” ujarnya. Keputusan membangun flyover ini dilakukan sesuai dengan janji Pemprov Jakarta untuk tidak mengurangi jalur jalan yang dilewati koridor busway. Pembuatan jalan layang ini memang harus dilakukan karena jalan KH Hasyim Ashari terlalu sempit untuk dibuat jalur khusus busway.

"Nanti kalau jalan layang ini sudah jadi, akan digunakan untuk jalur busway dan umum," ujarnya. Untuk itu, Jalan KH Hasyim Ashari terpaksa harus dinaikkan untuk menambah lajur baru karena jalan itu tidak mungkin diperlebar seperti Jalan Letjen Suprapto yang dilalui busway koridor II (Pulogadung-Monas).

Bila rencana ini akhirnya, disepakati, maka Pemprov Jakarta telah menyiapkan rute alternatif melalui Jalan Suryo Pranoto selama pembangunan konstruksi jalan layang (flyover) Harmoni-Roxy di Jalan Hasyim Ashari. “Selain itu, kita juga akan menyiapkan rute alternatif bila pekerjaan konstruksi proyek masih berlangsung saat busway III beroperasi,” tegas Suena.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemprov Jakarta Fodly Misbach, jalur busway koridor III (Monas-Kalideres) pun terpaksa dipindah ke Jalan Suryo Pranoto. "Bila usul flyover Harmoni-Roxy yang menghubungkan Jalan Gajah Mada sampai ke Jalan Kiai Tapa itu disetujui, berarti jalur busnya pindah ke Jalan Suryo Pranoto," jelasnya.

Namun, bila usul ini tidak disetujui, Dinas PU tetap akan membangun flyover di Roxy, dekat lintasan kereta api. Alasannya, rel kereta api yang melintang di Jalan Hasyim Ashari itu adalah sumber kemacetan. Diperkirakan, flyover itu hanya sepanjang 200 meter.

Alasan pengalihan jalur busway dari Jalan Hasyim Ashari ke Jalan Suryo Pranoto itu, harus dilakukan karena pembangunan konstruksi jalan layang akan menambah kemacetan yang ada di jalan itu. "Pelaksanaannya memang agak repot. Macet sekali pasti, karena lebar badan jalan cuma 30 meter mestinya sekitar 43 meter," paparnya.

Jalan Suryo Pranoto dipilih karena posisi kedua jalan itu hampir sejajar. Apalagi jalan bawah tanah underpass Tomang sudah selesai sehingga bisa digunakan. Kalau jalan layang Harmoni ini sudah jadi, tentu jalur akan dikembalikan lagi ke tempat semula.

Rencana pembuatan jalan layang Harmoni-Roxy ini hingga kini masih menjadi perbincangan antar dinas dalam membahas rute busway koridor III. Sebelumnya, menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Rustam E. Sidabutar, ada rencana membangun jalur mix di Jalan KH Hasyim Ashari berupa karpet merah seperti pada koridor I (Blok M-Kota), karena di koridor II dan III ada beberapa titik yang diindikasikan rawan macet.

Antara lain, di Jalan Pejambon, Atrium Senen, Gambir, dan perpotongan jalan di depan Masjid Istiqlal serta satu titik di koridor III, yaitu sepanjang Jalan Hasyim Ashari. Lajur jalan sepanjang daerah Roxy inilah yang paling dikhawatirkan rawan macet karena merupakan kawasan bisnis.

Menurut Rustam, karpet merah jadi alternatif paling murah dibandingkan membuat jalan layang di sepanjang Jalan Hasyim Ashari. Pasalnya, untuk membuat jalan layang diperlukan paling sedikit Rp 100 miliar sehingga Gubernur DKI Sutiyoso minta hal ini dikaji lebih dalam lagi apakah ada alternatif lain. (*)
Alvin no está en línea  
Old October 4th, 2004, 07:06 PM   #324
Fir3blaze
Fir3blaze
 
Join Date: Sep 2004
Location: Surabaya, Singapore
Posts: 899
Likes (Received): 4

Pinjaman Monorail Cair (from jawapos.co.id)


Pembangunan Dimulai Lagi
KUNINGAN - Setelah terhenti sejak pemancangan tiang pertama Agustus lalu, PT Jakarta Monorail optimistis, dalam pertengahan bulan Oktober atau November pembangunan infrastruktur dan prasarana pendukungnya dapat segera dimulai lagi.

Pinjaman luar negeri senilai sekitar USD 500 juta dikabarkan segera terpenuhi.

Ketidaksepahaman antara Gubernur DKI dan Presiden Megawati mengenai jalur monorail yang melewati Gelora Bung Karno pun akan segera diambil jalan keluarnya.

"Investor asing sempat tertunda datang ke Indonesia karena ledakan bom Kuningan lalu, namun dipastikan Oktober-November ini pinjaman dari mereka akan segera cair. Mudah-mudahan segera setelah pinjaman cair pembangunan jalur hijau dan stasiun-stasiunnya dapat dimulai," ungkap Sukmawaty Syukur, direktur PT Jakarta Monorail ketika ditemui koran ini di kantornya.

Dia menambahkan, pinjaman tersebut akan cair setelah pihak konsorsium PT Jakarta Monorail berhasil mengumpulkan dana senilai USD 150 juta.

"Dalam waktu dekat, dana tersebut segera terkumpul. Sebab, ada satu bank pemerintah yang tertarik memberikan pinjaman senilai USD 50 juta. Selain itu ada beberapa perusahaan lokal yang juga segera bergabung dengan konsorsium kita," tambah Sukma.

Hal tersebut, lanjut Sukma, berarti pengumpulan dana syarat pinjaman semakin visibel untuk diwujudkan dan pembangunan jalur hijau yang sempat terhenti beberapa bulan dapat segera dilanjutkan.

"Kita baru akan membangun lagi setelah pinjaman keluar dan kendala-kendala teknis teratasi," ujarnya. Kendala teknis yang dia maksud adalah belum ada kesepakatan mengenai jalur yang melintas di Gelora Bung Karno, rumitnya jalur-jalur utilitas bawah tanah dan lokasi pembangunan depo di atas BKB yang masih menunggu jawaban dari Kimpraswil.

"Tetapi warga Jakarta tidak perlu khawatir tim engineering kita pasti mampu mengatasi rumitnya jalur utilitas bawah tanah, dan tiang pancang dapat dipancang dengan baik. Izin dari Kimpraswil pun akan segera keluar setelah kita menyerahkan Amdal-nya. Semua sedang dalam proses dan tidak akan memakan waktu lama," tegasnya.

Sekadar informasi, berkenaan dengan permintaan pemkab Tangerang untuk membangun monorail di sana, pihaknya akan mengubah pemberhentian akhir jalur biru.

"Jalur biru yang tadinya berhenti di Roxi akan kita alihkan ke Taman Anggrek. Hal tersebut akan lebih memudahkan integrasi jalur monorail Jakarta dengan Tangerang," terangnya.

Jalur biru sendiri akan dibangun setelah jalur hijau selesai pada akhir tahun 2006. (ety)
Fir3blaze no está en línea  
Old October 5th, 2004, 05:05 AM   #325
Mahaputra
Jakarta : Home sweet Home
 
Mahaputra's Avatar
 
Join Date: May 2003
Location: Jakarta and Adelaide
Posts: 770
Likes (Received): 0

Gubernur Sutiyoso Setujui Perubahan Jalur Monorel


Jakarta, Kompas - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menyatakan, secara prinsip empat perubahan jalur kereta rel tunggal (monorel) yang diusulkan PT Jakarta Monorel sudah disetujui. Kalaupun ada kendala yang harus dicari solusinya, seperti soal jalur di kawasan Gelanggang Olahraga Bung Karno, Pemprov DKI siap berupaya memberikan bantuan. Yang penting, target waktu penyelesaiannya harus tetap diperhatikan.

"Yang terpenting, tanpa harus menunggu-nunggu keputusan, pembangunan jalur monorel berupa penanaman tiang pancang harus segera dilanjutkan," kata Gubernur Sutiyoso kepada Kompas di Jakarta, Senin (4/10) sore. Ia dimintai penjelasannya tentang kelanjutan pembangunan jalur monorel dengan investasi senilai 600 juta dollar Amerika Serikat.

Sebagaimana diketahui, setelah mempertimbangkan perkembangan di lapangan dan tingkat kesulitan mendesain kembali kedua jalur monorel, konsorsium PT Jakarta Monorel mengusulkan empat perubahan jalur (Kompas, 1/9).

Perubahan pertama adalah jalur yang semula masuk ke Pintu Satu Gelora Bung Karno diubah menelusuri tepi Jalan Sudirman-Ratu Plaza dan berbelok ke Senayan Trade Center (STC)-Plaza Senayan, serta Jalan Asia Afrika.

Kedua, jalur yang semula melintas dari Jalan Asia Afrika menuju Jalan Gerbang Pemuda (Stasiun Pemancar TVRI) diubah melalui belakang Gedung MPR/DPR dan berhenti sejenak di Stasiun Palmerah.

Ketiga, jalur monorel dari arah Kampung Melayu-Casablanca-Karet yang semula diarahkan ke Jalan Lontar Raya diubah ke Jalan KH Mansyur (depan Pasar Tanah Abang), bukan Stasiun Tanah Abang.

Keempat, jalur yang semula diarahkan dari kawasan Cideng menuju pusat perdagangan elektronik dan telepon seluler ITC Roxy Mas diubah ke Jalan Suryopranoto-Tomang Raya dan berhenti di Stasiun Mal Taman Anggrek.

Sutiyoso mengatakan, sejauh ini, laporan perkembangan mega proyek monorel tampaknya lancar-lancar saja, tidak ada keluhan dari pihak investor maupun pengembang.

"Saya sudah janjian dengan pengembang. Kalau memang ada masalah dalam pembangunan jalur monorel, mereka bisa sewaktu-waktu bertemu dengan saya," ujar Sutiyoso.

Selama ini, katanya, pihak pengembang belum meminta waktu khusus untuk membahas kendala-kendala di lapangan. Karena itulah, Sutiyoso menilai segala sesuatu yang terkait dengan pembangunan jalur monorel itu masih baik-baik saja. Apalagi, target penyelesaiannya akhir tahun 2006.

Sudah disetujui

Asisten Pembangunan Provinsi DKI IGK Suena di ruang kerjanya mengatakan, "Secara prinsip, tiga jalur alternatif yang diusulkan PT JM, yakni berhenti di Stasiun Palmerah, KH Mansyur (depan Pasar Tanah Abang), dan perhentian di Mal Taman Anggrek sudah disetujui Gubernur Sutiyoso."

Sekarang ini, kata Suena, kendala yang masih ditemui di lapangan justru terjadi di sekitar Pintu Satu Gelora Bung Karno. Alasannya, jalur itu akan diubah sedikit lagi, yakni melalui Pintu Satu Gelora Bung Karno (pusat perdagangan Sudirman Place), lalu masuk ke pintu masuk Plaza Senayan, dilanjutkan ke Jalan Asia Afrika.

Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta harus membahas kendala itu bersama pengelola Gelora Bung Karno. Selain itu, dalam waktu dekat, pengelola Plaza Senayan juga akan dipanggil untuk dimintai kesediaannya, supaya monorel dapat melintas di Plaza Senayan.

Suena menegaskan, "PT JM harus bekerja cepat. Tanpa harus menunggu keputusan-keputusan, seperti soal melintas di kawasan Gelora Bung Karno atau tidak, tiang-tiang pancang jalur monorel harusnya segera diteruskan demi mencapai target operasional."

Sementara itu, Direktur PT Jakarta Monorel (JM) Sukmawaty Syukur mengatakan, pihaknya tidak ingin gegabah dalam membangun fondasi jalur monorel. Perhitungan anggaran pembangunan jalur maupun pembuatan monorel haruslah cermat.(OSA)
__________________
Jakarta - Indonesia
&
Adelaide - Australia
Mahaputra no está en línea  
Old October 5th, 2004, 06:13 AM   #326
Mahaputra
Jakarta : Home sweet Home
 
Mahaputra's Avatar
 
Join Date: May 2003
Location: Jakarta and Adelaide
Posts: 770
Likes (Received): 0

4 OKT 2004

Dinas Pertamanan Segera Tuntaskan Program Pedestrian Jalan Thamrin


Dinas Pertamanan Propinsi DKI Jakarta akan segera menuntaskan program pedestrianisasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Demikian dikemukakan Kepala Biro Humas dan Protokol Propinsi DKI Jakarta, Drs. H. Muhayat kepada pers termasuk beritajakarta.com di Balai Kota, Senin (4/10). “Gubernur Sutiyoso sudah menginstruksikan agar pagar di kapling-kapling yang sudah setuju dan masih menunggu penyelesaian masalah administratif segera saja dibongkar dan pelebaran mulai dikerjakan,” ujarnya.

Dari 32 kapling lahan pedestrianisasi itu, kini sudah 12 kapling yang sudah dilaksanakan. Sebanyak 6 kavling lainnya sedang dinegosiasikan dengan pemiliknya. Sisanya, 14 kapling pengerjaannya tinggal menunggu penyelesaian masalah-masalah administratif.

Untuk diketahui, pengerjaan pelebaran trotoar tersebut telah dimulai sejak Mei lalu. Akhir tahun ini pedestrianisasi itu dijadwalkan sudah tuntas. Tahun depan, rencananya, giliran trotoar di sepanjang Jalan Sudirman yang akan dilebarkan.

Menurut Muhayat, selain dikerjakan dan dibiayai Pemprop DKI Jakarta, pelebaran dan penataan trotoar di sepanjang Jalan MH Thamrin juga dilakukan oleh pemilik gedung, seperti yang terjadi di depan Hotel Nikko dan Wisma Nusantara, Kedubes Jepang dan Plaza Indonesia. “Bank Indonesia juga akan mengerjakan sendiri pelebaran trotoar di depan gedungnya,” paparnya.

Trotoar di sepanjang jalan protokol itu dilebarkan sampai 8 meter. Namun, di sejumlah titik karena keterbatasan lahan, pelebaran tidak sampai 8 meter. Pemprop DKI Jakarta pada tahun anggaran 2004 mengalokasikan Rp10 miliar untuk pelebaran trotoar di sepanjang Jalam MH Thamrin.
__________________
Jakarta - Indonesia
&
Adelaide - Australia
Mahaputra no está en línea  
Old October 6th, 2004, 04:05 AM   #327
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

More fund needed to widen sidewalk on Jl. Thamrin
Damar Harsanto, The Jakarta Post, Jakarta

The sidewalk along Jl. Thamrin is being widened step-by-step, while 12 of 32 sections are finished, the city administration says the project will not be completed until the year's end.

In addition, it says that Rp 10 billion (US$1.10 million), which was allocated for the project, is not enough money to see it through.

"When we designed the project we had counted on financial support from private parties. But, the reality is that the administration has been left with financing most of the work," Assistant to the City Secretary for Development Affairs IGKG Suena, said on Tuesday.

He did not say how much extra money was required.

"Although we are facing a budget deficit, we still aim to complete the project by the end of this year," he said.

City spokesman Muhayat said that the City Planning Agency was calculating the deficit and would use emergency funds to make it up.

According to him, Sutiyoso had asked City Parks Agency head Sarwo Handhayani to speed up the process, by prioritizing sections of the sidewalk in front of buildings whose owners were supportive.

"The governor said the parks agency should put aside all administrative work in order to finish the project, since it is related to public interests," he said.

Muhayat said the sidewalk in front of the Bank Indonesia (BI) complex would not be widened until state budget funds had been disbursed.

Only 37.5 percent of the project has been completed, with the sidewalk in front of the Japanese Embassy, Hotel Nikko, Plaza Indonesia and Plaza eX (PT Nusantara Plaza Realti) among sections that have not been widened.

Six other building owners are still negotiating with the administration, while 14 building owners have agreed to back the project.

The embassies of France, Germany and England, as well as the United Nations office, have objected to the plan, due to security concerns.

Once the sidewalk along Jl. Thamrin has been widened, the administration will focus on Jl. Sudirman.

"In the next three years, we also plan to widen the sidewalk along Jl. Rasuna Said," Suena said.

Most of the sidewalk will look the same, with brick-red concrete slabs bordered by basalt stonework.

Sidewalk widening along Jl. Thamrin

Locations/ Land taken for the project Financial Participation Company's names

Hotel Indonesia 6 meters city

Plaza Indonesia 6 meters city

Japanese embassy 8 meters private/city

PT Nusantara Plaza 8 meters private/city

Wisma Kosgoro 1 meter city

Oil Center 6 meters private/city

Plaza Permata 1.5 meter private/city

British Embassy none city

PT Mandarin Hotel 4.5 meters city

Nikko Hotel 8 meters private/city

German embassy none city

PT Panji Ratu JKT none city

PT Asia Troica 6 meters city

Chandra building 1 meter city

Surya building 0.6 meter city

UNDP building none city

Jaya building 7.10 meters city

Thamrin Tower 0.74 meter city

BPPT building 8.22 meters city

Ministry of 6 meters city Religious Affairs

Bank Indonesia between 2 and 9 meters state/city

BII Tower between 0.65 and 1.05 meters city

French embassy none city

PT Sarinah 1.66 meters city

Cakrawala Tower 1.25 meter city

Sari Pan Pacific 6 meters city

BDN 3.35 meters city

Bangkok Bank none city

Ministry of Energy 1.84 meter city and Natural Resources

Bank DKI 6 meters city

Former site of none city

Bank Rama


Source: City Parks Agency

wide sidewalks = worldclass city and then, all we need is greater public presence on the streets by opening shops, cafes etc. at street level like in other great cities of the world.
Alvin no está en línea  
Old October 7th, 2004, 03:41 AM   #328
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Jakarta as an international conference destination

International surveyors optimistic over Indonesia


Dadan Wijaksana, The Jakarta Post, Jakarta

Jakarta's status as an international conference destination may not be on par as yet with Singapore or Hong Kong.

And with a string of deadly bombings in recent years -- which exposes security problems and further hurt the already dwindling confidence on security after the massive riots in 1998 -- it's hard to argue otherwise.

But, to some people, the situation here is not so bad.

Just ask Markku Villikka, director at the Kopenhagen-based International Federation of Surveyors (FIG) -- which just completed its third Asia-Pacific regional conference in Jakarta, grouping together nearly 400 participants from 35 countries.

"The problem with Indonesia is that, the country is not fully known. When we get news about Indonesia, they are bad ones.

"But when people do get here, the reality is quite different and I think people who have come here, or have better knowledge about Indonesia, are confident they can organize good events here. It's pretty much about image and about knowing the country," he said on Wednesday, the last day of the conference held at the JW Marriott hotel.

Villikka recalled debates among members over whether to go on with the plan to hold the conference in Jakarta, after a series of bombs attacks -- from the Bali bombing in 2002, the Marriot bomb in the following year, and to the bombing in front of the Australian Embassy last month.

Even at that time, he urged other members to proceed with the plan. "We cannot condemn the whole nation based on individual incidents and that things like these can happen anywhere in the world."

"We only had problems with cancellations the Canadian, Australian, U.S. and UK chapters -- that's mainly because of the travel (advisories). The rest decided to go on and today we can say that we have made the right decision."

Communication and publicity about the country should then be key to get Jakarta back on the international radar when it comes to holding a global convention, because facilities and costs-wise, Jakarta remains competitive.

"For the good technical facilities, and how well the local organizing committee and people have treated us and how they organized the conference -- Jakarta, and Indonesia, is of excellent value of money.

"The quality of the conference, the services and professional quality, is absolutely among the best we've had," Villikka added.

Indra Sukirno, executive director at the Jakarta Convention Bureau (JCB) -- a state-appointed marketing consultant in charge of promoting the city as a global convention destination, was hopeful that things would get better for Jakarta in the future.

"The FIG's convention here should serve as an indicator that more international associations can hold their conventions here," she said, adding that FIG's convention was the first that JCB had won via a bidding process since the crisis.

The global conference industry is seen as lucrative, not only because it has plenty of multiplier-effects on the economy, but because it also provides a chance for a transfer of knowledge between foreigners and Indonesians.

By comparison, in 1998, the riots in Jakarta prompted massive cancellations of conferences. "It was worth some US$20 million in potential revenue. You can imagine how lucrative this industry can be," Indra said.

For Villikka however, things should get better for Jakarta in the future. "If people ask me, I would certainly say that we've had a conference in Jakarta, and despite the earlier problems, it was a great success.

"I'm more than happy to recommend Jakarta for a conference destination."
Alvin no está en línea  
Old October 7th, 2004, 07:58 AM   #329
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

wide sidewalks planned for Jl S Parman, Hayam Wuruk for 2005

6 OKT 2004

Sudin Pertamanan akan Bangun Pedestrian Sepanjang Jalan S.Parman


Sudin Pertamanan Pemkodya Jakarta Barat rencananya pada tahun 2005 mendatang akan membuat taman jalan dan pedestrian di sepanjang Jalan S. Parman Jakarta Barat. Hal ini diungkapkan Kasudin Pertamanan Jakarta Barat Ir. Sri Budisetiati beberapa waktu lalu.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, pihaknya telah mengajak para pemilik gedung untuk bekerjasama dalam pembangunan taman jalan dan pedestrian dengan biaya masing-masing pemilik gedung, "Anggaran kami sangat terbatas, untuk itu kami meminta kepada pemilik gedung untuk membangun taman dan pedestrian yang pendanaannya masing-masing,"

Usulan tersebut membuahkan hasil yang sangat baik, pemilik gedung dan perkantoran sangat setuju dengan usulan yang diajukan tersebut. Sri Budisetiati mencontohkan, misalnya beberapa gedung dan perkantoran, hotel bahkan rumah sakit di sepanjang Jalan S. Parman, Jakarta Barat, yang telah ikut serta menata taman. Misalnya Hotel Boutique, Lembaga Indonesia Amerika dan Rumah Sakit Harapan Kita.

"Perhotelan dan pertokoan yang ada di sepanjang jalan S. Parman nantinya tidak ada pagar yang menutupi taman, seperti pedestrian di sepanjang Jalan Sudirman Jakarta Pusat" kata Sri.

Rencananya juga, Sudin Pertamanan Jakbar akan membangun pedestrian di Jalan Hayam Wuruk, yang akan ditata oleh pemilik toko di sepanjang jalan tesebut. "Konsep disainnya nanti dari ahli pertamanan Universitas Trisakti," kata Sri menjelaskan bahwa nantinya taman sepanjang pedestrian ini akan dinilai oleh Bangun Praja.

Selain itu, Ia juga meminta agar masyarakat lebih aktif merawat taman untuk mengantisipasi banjir. Ia menjelaskan, Sudin Pertamanan memang rutin melakukan pemangkasan terhadap pohon-pohon besar yang rimbun. "Agar ketika musim hujan nanti pohon-pohon tersebut tidak roboh karena tertiup angin atau tersambar petir," kata Sri.
Alvin no está en línea  
Old October 8th, 2004, 06:41 AM   #330
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

8 OKT 2004

Sutiyoso:Maksimalkan Fungsi Pedestrian di Kawasan Sudirman-Thamrin


Pelaksanaan pembangunan pedestrian di kawasan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH. Thamrin, harus mengacu kepada aspek budaya dan manusiawi sehingga dapat memuaskan para penggunanya, khususnya para pejalan kaki dan pemilik serta pengelola gedung di sepanjang kawasan bergengsi di Ibukota tersebut.

Disamping itu budaya keluar masuknya kendaraan dari gedung yang satu ke gedung yang lain mulai sekarang ini harus sudah dikurangi. Demikian dikemukakan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso kepada wartawan termasuk beritajakarta.com disela-sela acara jalan kaki bersama warga dan pengelola dan pemilik gedung di kawasan Jalan Thamrin-Sudirman, Jumat (8/10).

Dijelaskannya, selama ini pedestrian yang ada di kawasan yang termasuk Segitiga Emas bisnis di Tanah Air tersebut dinilai oleh Pemprop DKI sudah tidak memadai dan manusiawi lagi. Untuk itulah maka Pemprop DKI bersama para pengelola dan pemilik gedung melakukan inventarisir dan survei. Kegiatan tersebut telah berlangsung sejak dari Hotel Sari Pan Pacific hingga Plaza Indonesia di kawasan Thamrin, menyusul gedung lainnya di kawasan Sudirman.

Rencananya pedestrian yang lantainya diberi warna merah tersebut mempunyai lebar maksimal 6 meter serta diselingi dengan tanaman peneduh. Saat ini sebagian dari bentuk pedestrian tersebut sudah mulai terlihat seperti pantauan beritajakarta.com sejak depan Kedubes Perancis hingga depan Hotel Nikko di kawasan Thamrin serta depan Gedung Jaya hingga Plaza Indonesia. Demikian juga yang terlihat sejak di depan gedung Jaya hingga Plaza Indonesia masih di kawasan sama.

Direncanakan pedestrian yang akan dibangun selebar 6 meter, yang layak dan manusiawi sehingga orang beralih ke budaya jalan kaki. Dengan pembangunan pedestrian yang manusiawi ini gubernur mengharapkan agar warga bisa beralih ke budaya berjalan kaki untuk menuju kantor di kawasan dengan harga tanah paling mahal di Indonesia ini.

Gubernur juga mengingatkan bahwa kawasan ini adalah kawasan andalan DKI Jakarta apalagi pihaknya sudah membangun beberapa taman, selain sudah ada patung Sudirman di kawasan Dukuh Atas. Sutiyoso mengingatkan anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan pedestrian itu harus dipertanggungjawabkan.

"Ini program yang harus dilanjutkan dan awal 2005 saya harap sudah selesai. Mari kita ubah budaya dari setiap hari naik mobil dan motor menjadi berjalan kaki. Dengan begitu kendaraan bermotor berkurang," ujarnya. Sementara itu Kepala Dinas Pertamanan dan Keindahan Kota DKI Jakarta Sarwo Handayani mengatakan ada sejumlah pemilik gedung yang ingin membiayai sendiri lokasi pedestriannya. Diantaranya pengelola dan pemilik gedung Plaza Permata, Bank Indonesia, Plaza Indonesia dan EX Cafe (Plaza Indonesia II).

Sarwo mengatakan bahwa APBD yang dikeluarkan hanya untuk membiayai pedestrian yang dibangun oleh Pemprop DKI saja. Kepala Dinas PU DKI Jakarta Fodli Misbach menambahkan pedestrian yang akan dibangun hanya untuk meningkatkan kondisi dari tanah yang ada menjadi lantai ataupun blok. "Untuk lantai yang rusak akan kita perbaiki. Jadi tidak ada yang signifikan. Seperti taman kalau biasanya 1,5 meter yang direhab, ya berarti hanya sebesar itu saja," jelasnya.

Fodli mengatakan total anggaran 2004 berkisar Rp 250-300 miliar untuk membangun pedestrian di lima wilayah. "Diluar kawasan Thmarin-Sudirman, pelaksananya adalah DPU DKI, tetapi untuk kawasan Sudrman-Thamrin dikelola langsung Dinas Pertamanan DKI," ujarnya.
Alvin no está en línea  
Old October 9th, 2004, 03:00 AM   #331
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Busway feeder to use Japanese buses
Damar Harsanto, The Jakarta Post/Jakarta

Jakarta bus operators proposed on Thursday that the city administration use imported secondhand buses from Japan to help improve existing busway feeder services.

"We cannot afford new buses of the same quality as the busway. But, we can replace the existing buses with better ones," said Aip Syarifuddin of Jakarta chapter of Organization of Land Transportation Owners (Organda).

Organda have prepared around 300 secondhand buses to provide feeder service for the 12.9 kilometer busway corridor from Blok M in South Jakarta to Kota in West Jakarta.

"Those buses will connect several points along the corridor, like the Semanggi cloverleaf, Hotel Indonesia traffic circle, and Harmoni intersections, to other areas across the city," Aip said on the sidelines of a seminar titled: In search of plan for busway feeder services.

The TransJakarta Busway Management had terminated the contracts of two busway feeder system operators, namely Kopami Jaya and PT Metromini, due to their failure to comply with regulations.

The management said passengers had complained that bus conductors on the feeder buses refused to accept feeder bus tickets and instead demanded cash.

With the contract termination, only six operators have been providing feeder services since Feb. 1. They are PPD, Steady Safe, Kopaja, Bianglala, Pahala Kencana and Mayasari Bhakti.

Data from the management shows the 383 non air-conditioned feeder buses owned by the eight operators accommodate only a few hundred passengers a day, far from the average number of busway passengers of about 62,000 per day.

Governor Sutiyoso even asserted that the feeder buses should be as comfortable as the busway. "At least, the buses should be air-conditioned".

Aside from the first busway corridor, the administration also plans new busway corridors from Pulo Gebang in East Jakarta, to Kalideres in West Jakarta, via the National Monument Park (Monas).

The Pulo Gebang-Monas corridor is slated to be operational next June, while the Monas-Kalideres route in October 2005.
Alvin no está en línea  
Old October 9th, 2004, 03:01 AM   #332
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Karet Semanggi traffic rerouted
JAKARTA: The City Transportation Agency on Friday rerouted traffic in the Karet Semanggi area in South Jakarta due to roadwork.

All traffic between Jl. Prof.Dr.Satrio and the Semanggi clover-leaf intersection were directed to pass the Kali Krukut bridge via Jl. Garnisun. Meanwhile, all traffic on Jl. Prof.Dr.Satrio, Jl. Sudirman and Jl. Karet Sawah were also directed to pass the bridge.

The agency urged motorists to avoid the area for the meantime and take the alternative routes. -- JP

Question: Anyone know what roadwork this is???
Alvin no está en línea  
Old October 10th, 2004, 05:55 AM   #333
Mahaputra
Jakarta : Home sweet Home
 
Mahaputra's Avatar
 
Join Date: May 2003
Location: Jakarta and Adelaide
Posts: 770
Likes (Received): 0

check this out guys.. I didnt know that the bus stops in Jakarta are so nice.. well mainly along sudirman-thamrin.. ehehhe
it sure looks nice.. and with the wide pedestrian as well.. doesnt look like Jakarta at all

__________________
Jakarta - Indonesia
&
Adelaide - Australia
Mahaputra no está en línea  
Old October 10th, 2004, 09:32 AM   #334
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Quote:
Originally Posted by Mahaputra
check this out guys.. I didnt know that the bus stops in Jakarta are so nice.. well mainly along sudirman-thamrin.. ehehhe
it sure looks nice.. and with the wide pedestrian as well.. doesnt look like Jakarta at all

Wow, this is new! Last time I was in Jkt there was no such nice bus stops..
Alvin no está en línea  
Old October 10th, 2004, 04:10 PM   #335
tata
there's no free lunch
 
tata's Avatar
 
Join Date: Jun 2004
Location: JAKARTA
Posts: 2,597
Likes (Received): 2

nice! I think this one is just in front of Senayan right? Any pic from Thamrin?
__________________
JAKARTA Public Transportation:

Bus Rapid Transportation Database, BRT Part 1, BRT Part 2
tata no está en línea  
Old October 10th, 2004, 11:39 PM   #336
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 6,941

Looking good, similar with in Melbourne with the advertisement board beside it.

The one at SCBD looks pretty cool, its huge and looking futuristic at night.


cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea  
Old October 11th, 2004, 02:11 AM   #337
Mahaputra
Jakarta : Home sweet Home
 
Mahaputra's Avatar
 
Join Date: May 2003
Location: Jakarta and Adelaide
Posts: 770
Likes (Received): 0

any pic of others? Jakarta is sure looking better... ehehhe
well.. at least some parts of it.
__________________
Jakarta - Indonesia
&
Adelaide - Australia
Mahaputra no está en línea  
Old October 11th, 2004, 02:17 AM   #338
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

even more pedestrian avenues

Di Jalan S Parman Akan Dibangun Pedestrian


Jakarta, Kompas - Menindaklanjuti kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menata kawawasan pejalan kaki (pedestrian), Pemerintah Kota Jakarta Barat akan segera membangun pedestrian dan taman kota di Jalan S Parman. Saat ini, Suku Dinas Pertamanan Jakarta Barat sudah menyosialisasikan rencana pembangunan pedestrian yang akan mulai dibangun tahun 2005.

Selain di S Parman, kata Kepala Sudin Pertamanan Jakarta Barat Sri Budisetiati, Minggu (10/10), pedestrian juga akan dibangun di Jalan Latumeten dan Jalan Kyai Tapa.

Pembangunan pedestrian di wilayah Jakarta Barat ini sudah mulai dilakukan di penggal Jalan S Parman, tepatnya di depan Ukrida. Pembangunan pedestrian dan taman kota ini nantinya akan melibatkan para pemilik gedung untuk bekerja sama dengan biaya masing-masing pemilik gedung.

"Anggaran kami sangat terbatas, jadi kami meminta pemilik gedung untuk ikut membangun taman dan pedestrian," kata Sri Budisetiati.

Konsep pembangunan pedestrian dan taman kota di Jalan S Parman tidak jauh berbeda dengan Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman. Gedung-gedung di sepanjang Jalan S Parman nantinya tidak berpagar dan menyatu dengan pedestrian.

Beberapa gedung perkantoran, hotel, dan rumah sakit di Jalan S Parman, kata Sri Budisetiati, sudah ada yang mulai membangun pedestrian dan menata taman, seperti Hotel Boutique, Lembaga Indonesia Amerika, dan Rumah Sakit Harapan Kita.

Selain di Jalan S Parman, Sudin Pertamanan Jakbar juga akan membangun pedestrian di Jalan Hayam Wuruk, yang akan ditata oleh pemilik toko di sepanjang jalan tesebut.

Di Jalan Latumeten, pembangunan taman di jalur tengah jalan tersebut sudah selesai dilakukan. Tahun ini dana yang digunakan untuk membuat taman di jalur tengah Jalan Latumeten telah menghabiskan dan sekitar Rp 300 juta. Sedangkan dana untuk membangun pedestrian di Jalan S Parman baru ada Rp 270 juta.

Sri Budisetiati mengatakan, karena anggaran di Sudin Pertamanan sangat terbatas, tahun depan pihaknya akan mengajukan pembangunan pedestrian yang anggarannya digabungkan dengan Sudin Pekerjaan Umum. (IND)
Alvin no está en línea  
Old October 11th, 2004, 02:18 AM   #339
Mahaputra
Jakarta : Home sweet Home
 
Mahaputra's Avatar
 
Join Date: May 2003
Location: Jakarta and Adelaide
Posts: 770
Likes (Received): 0

Bus Transjakarta
Tak Mampu Tarik Pengendara Mobil Pribadi


Darmaningtyas

PENGOPERASIAN bus transjakarta di Jakarta sudah berlangsung hampir sembilan bulan. Dalam perjalanan sepanjang itu masyarakat ingin mengetahui seperti apa profil pengguna bus transjakarta. Apakah bus transjakarta sungguh-sungguh mampu menarik pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke bus transjakarta atau tidak? Berikut ini disampaikan hasil survei terhadap penumpang busway yang dilakukan INSTRAN-ITDP pada minggu III-IV Juli 2004 (saat bus transjakarta tepat beroperasi enam bulan).

TUJUAN survei ini adalah untuk melihat sejauh mana profil para pengguna bus transjakarta di koridor Blok M-Kota, sekaligus sebagai penjajakan mengenai kebutuhan jalur ataupun fasilitas parkir sepeda sebagai moda transportasi tidak bermotor yang sekaligus dapat dijadikan sebagai angkutan pengumpan (feeder service) bagi para penumpang bus transjakarta. Hal ini mengingat masalah angkutan pengumpan bagi para penumpang bus transjakarta Koridor I (Blok M-Kota) sampai sekarang belum ada kejelasannya. Pengalaman di Bogota menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan busway salah satunya karena terintegrasi dengan pembangunan jalur sepeda yang cukup panjang dan dapat dijadikan sebagai salah satu angkutan pengumpan.

Profil penumpang

Survei yang berlangsung selama dua minggu itu mencakup 833 responden, terdiri atas laki-laki 495 responden (59,4 persen) dan perempuan 338 responden (40,6 persen). Survei dilakukan secara acak terhadap setiap penumpang yang turun dari bus transjakarta di Terminal Blok M, Kota, dan beberapa halte bus transjakarta yang dinilai cukup potensial penumpang, seperti Bendungan Hilir (Benhil), Sarinah, Plaza Gadjah Mada, serta Glodok.

Meskipun awalnya direncanakan komposisinya 50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan, tetapi karena kesulitan di lapangan, kami menyerah pada kondisi obyektif saja bahwa responden laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

Dilihat dari segi usia, penumpang bus transjakarta didominasi golongan usia muda, terutama yang sangat produktif, yaitu usia 21-30 tahun mencapai 435 responden (52,2 persen) dan usia 31-40 tahun mencapai 225 responden (27 persen). Kelompok usia di bawah 20 tahun hanya sebanyak 77 responden (9,2 persen), kelompok usia 41-50 tahun mencapai 56 responden (6,7 persen), dan sisanya, kelompok usia 51 tahun ke atas, 40 responden (4,8 persen).

Apabila dilihat dari tingkat pendidikan, terbanyak adalah pendidikan S1 yang mencapai 280 responden (33,6 persen), SMA 246 responden (29,5 persen), diploma (I, II, III) sebanyak 101 responden (12,1 persen), mahasiswa 63 responden (7,6 persen), SLTP 59 responden (7,1 persen), SMK 48 responden (5,8 persen), S2 24 responden (2,9 persen), dan lulus SD serta S3 masing-masing enam responden (0,7 persen).

Apabila dilihat dari aktivitasnya, komposisi responden adalah sebagai berikut: sebagai pekerja mencapai 634 responden (76,1 persen), mahasiswa dan pelajar 99 responden (11,9 persen), ibu rumah tangga 61 responden (7,3 persen), pedagang 20 responden (2,4 persen), selebihnya tidak bekerja serta pensiunan.

Sesuai dengan profil penumpang bus transjakarta yang didominasi usia produktif dan berpendidikan, jelas bahwa sebagian besar atau 558 responden (67 persen) penumpang bus transjakarta bertujuan untuk pergi/pulang kerja, pergi sekolah/kuliah 77 responden (9,2 persen), pergi belanja, terutama dilakukan kaum ibu, mencapai 57 responden (6.8 persen), urusan bisnis 39 persen (4,7 persen), selebihnya untuk urusan pribadi seperti menengok kawan atau jalan-jalan saja.

Para penumpang bus transjakarta itu pada umumnya, sebelum adanya jalur bus transjakarta, untuk sampai pada tujuan yang sama menggunakan bus non-AC mencapai 453 responden (54,4 persen), bus patas AC 202 responden (24,2 persen), mobil pribadi 63 responden (7,6 persen), kereta api 33 responden (4,0 persen), taksi 23 responden (2,8 persen), sepeda motor pribadi 18 responden (2,2 persen), dan selebihnya menggunakan omprengan, ojek sepeda motor, dan lainnya.

Kepemilikan kendaraan

Jawaban para responden mengenai moda angkutan yang digunakan untuk pergi ke tujuan yang sama sebelum ada bus transjakarta, yang ternyata lebih dari 90 persen menggunakan angkutan umum dan hanya 7,6 persen saja yang menggunakan mobil pribadi serta 2,2 persen menggunakan sepeda motor pribadi itu, konsisten dengan kepemilikan surat izin mengemudi (SIM).

Sebanyak 422 responden (50,7 persen) menyatakan tidak mempunyai SIM, memiliki SIM A 225 responden (27 persen), SIM B 25 responden (3 persen), dan SIM C 161 responden (19,3 persen).

Dilihat dari tingkat kepemilikan kendaraan bermotor, sebagian besar responden tidak memiliki kendaraan bermotor. Responden yang menyatakan bahwa di rumahnya selalu tersedia sepeda motor hanya 276 responden (33,1 persen), kadang-kadang tersedia karena sepeda motor dipakai secara beramai-ramai mencapai 169 responden (20,3 persen). Sedangkan terbanyak adalah responden yang menyatakan tidak tersedia sepeda motor di rumah/tempat kosnya, yakni sebanyak 388 responden (46,6 persen).

Adapun responden yang menyatakan bahwa di rumah selalu tersedia mobil setiap saat hanya 139 (16,7 persen), kadang-kadang saja tersedia karena mobil dipakai anggota keluarga yang lain mencapai 98 (11,8 persen), dan terbanyak adalah tidak tersedia mobil sama sekali, yaitu mencapai 596 responden (71,5 persen).

Semua angka di atas memperlihatkan bahwa pembangunan jalur bus transjakarta itu memang mampu meningkatkan pelayanan bagi pengguna angkutan umum, tetapi belum mampu menarik para pengendara mobil pribadi untuk beralih ke busway.

Terbukti, dari 833 responden, hanya 63 responden (7,6 persen) saja yang semula naik kendaraan pribadi dan kemudian beralih naik bus transjakarta. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yaitu bagaimana membangun jaringan bus transjakarta yang mampu menarik para pengendara mobil pribadi untuk beralih ke busway.

Apabila dilihat dari tingkat pendidikan, tujuan naik bus transjakarta, serta kepemilikan kendaraan bermotor, dapat diperkirakan bahwa pengguna bus transjakarta sebagian besar adalah mereka yang tinggal di Jakarta dengan cara kos atau kontrak. Mereka adalah para pekerja kantoran yang lokasi kerjanya berada di sekitar jalan Blok M-Kota.

Tiket bus transjakarta

Sesuai dengan profil penumpang bus transjakarta yang terdiri atas kalangan muda dan bekerja sebagai karyawan, tarif bus transjakarta sebesar Rp 2.500 dinilai sebagai tarif yang cukup moderat. Ada 624 responden (74,9 persen) menilai tarif tersebut sedang, 137 responden (16,4 persen) menilai mahal, tetapi hanya 18 responden (2,2 persen) yang menilai sangat mahal. Sedangkan yang menilai ringan sebanyak 54 responden (6,5 persen).

Responden akan berpindah moda transportasi bila ongkos dinaikkan menjadi Rp 3.000 sebanyak 356 responden (42,7 persen), Rp 3.500 sebanyak 152 responden (18,2 persen), Rp 5.000 sebanyak 135 responden (16,2 persen), Rp 4.000 sebanyak 78 responden (9,4 persen), 22 responden (2,6 persen) menyatakan akan pindah kalau tarif bus transjakarta naik menjadi Rp 4.500.

Mereka yang menyatakan akan meninggalkan bus transjakarta apabila tarif naik menjadi Rp 7.000 sebanyak 19 responden (2,3 persen). Namun, terdapat 17 responden (2 persen) yang menyatakan dirinya akan meninggalkan bus transjakarta jika tarifnya sudah di atas Rp 7.500.

Sikap mereka terhadap tarif yang cukup hati-hati itu memang dapat dipahami. Dilihat dari besaran pengeluaran mereka pada waktu makan siang, 303 responden (36,4 persen) besaran pengeluaran untuk makan siang berkisar Rp 5.100-Rp 7.500. Sebanyak 224 responden (26 persen) responden berkisar Rp 7.600-Rp 10.000, 197 responden (23,6 persen) di bawah Rp 5.000. Sebanyak 52 responden (6,2 persen) berkisar Rp 10.100-Rp 15.000, 42 responden (5 persen) berkisar Rp 15.100-Rp 20.000, dan hanya 15 responden (1,8 persen) yang pengeluaran untuk makannya di atas Rp 20.000.

Berdasarkan data di atas, memang pernyataan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada saat proyek busway ini belum dimulai, yang menyatakan bahwa bus transjakarta justru diperuntukkan bagi golongan menengah ke bawah, tidak salah sasaran. Data menunjukkan bahwa penumpang bus transjakarta adalah golongan kelas menengah yang bekerja sebagai karyawan kantoran dan mereka pada umumnya tinggal di Jakarta secara indekos. Atau juga para pedagang kecil yang lokasi usahanya ada di sekitar kota.

Salah besar anggapan masyarakat bahwa bus transjakarta untuk golongan menengah ke atas. Dilihat dari segi pendidikannya, penumpang bus transjakarta memang kaum terdidik. Namun, dilihat dari segi ekonominya, penumpang bus transjakarta adalah menengah bawah, bukan menengah atas.

Hal yang menarik dari survei ini adalah ketika responden ditanyakan mengenai kemungkinan mengendarai sepeda ke terminal bus transjakarta jika ada tempat parkir sepeda yang aman dan terjamin di terminal busway. Mereka yang menyatakan "ya, akan naik sepeda" mencapai 191 responden (22,9 persen), menyatakan "mungkin akan naik sepeda" mencapai 154 responden (18,5 persen), sedangkan yang secara tegas menyatakan "tidak" mencapai 488 responden (58,6 persen).

Mereka yang secara tegas menyatakan tidak akan naik sepeda itu memberikan alasan, panas/berkeringat 167 responden (20 persen), tidak ada jalan yang aman untuk bersepeda 156 responden (18,7 persen). Lainnya (jarak terlalu jauh) 113 responden (13,6 persen), tidak suka mengendarai sepeda 105 responden (12,6 persen), tidak punya sepeda 68 responden (8,2 persen), dan tidak bisa mengendarai sepeda 33 (4,0 persen).

Munculnya jawaban responden yang menyatakan akan naik sepeda dan atau mungkin akan naik sepeda jika tersedia tempat parkir dan jalur sepeda yang aman dan nyaman itu merupakan cerminan adanya kebutuhan untuk membangun jalur sepeda maupun membangun tempat parkir sepeda di sekitar terminal bus transjakarta. Sangat mungkin kebutuhan ituakan meningkat seiring dengan tersedianya prasarana pengendara sepeda yang memadai.

Angkutan penumpang

Kebutuhan angkutan penumpang atau feeder transport dapat dilihat dari beragamnya moda angkutan yang digunakan untuk sampai ke halte bus transjakarta dan atau untuk sampai tujuan akhir setelah turun dari bus transjakarta.

Secara rinci dapat digambarkan bahwa kendaraan yang digunakan sampai ke halte busway adalah sebagai berikut: bus non-AC/metromini/kopaja/mikrolet mencapai 310 responden (37,2 persen), bus patas AC 37 responden (4,4 persen), omprengan 34 responden (4,1 persen), berjalan (50-100 meter) 188 (22,6 persen), ojek 63 (7,6 persen), diantar mobil pribadi hanya 51 responden (6,1 persen), dan diantar sepeda motor pribadi 17 responden (2 persen). Selebihnya cukup bervariasi: taksi, bajaj, ojek sepeda motor, atau ojek sepeda.

Pola yang hampir sama digunakan responden untuk sampai pada tujuan akhir setelah turun dari bus transjakarta. Perbedaannya adalah responden yang berjalan kaki sekitar 100 meter setelah turun dari bus transjakarta mencapai 331 responden (39,7 persen). Adapun yang masih naik bus non-AC atau metromini/kopaja/mikrolet untuk sampai ke tujuan akhir mencapai 219 responden (26,3 persen).

Beragamnya moda angkutan yang digunakan penumpang bus transjakarta untuk sampai ke terminal/halte bus transjakarta dan atau setelah turun dari bus transjakarta ke tujuan akhir menuntut perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar secepatnya menyediakan angkutan penumpang yang memiliki kualifikasi tingkat keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu mirip dengan busway. Hal itu apabila mengharapkan para pengendara mobil pribadi bersedia pindah dari mobil pribadinya ke naik bus transjakarta. Rasanya sulit sekali mengharapkan para pengendara mobil pribadi mau beralih ke bus transjakarta apabila tanpa penyediaan angkutan pengumpan yang aman, nyaman, dan tepat waktu itu.

Sebab, betul di bus transjakarta aman, nyaman, dan tepat waktu, tetapi untuk sampai dan atau setelah turun dari bus transjakarta, keadaannya sangat tidak aman, tidak nyaman, dan tidak tepat waktu. Apabila bus transjakarta tidak mampu menarik pengendara mobil pribadi pindah ke busway, kehadiran busway untuk mengurangi kemacetan di Jakarta menjadi kurang maksimal.

Namun, ironisnya, persoalan angkutan pengumpan itu sampai sekarang belum terpecahkan. Penumpang kesulitan memperoleh angkutan pengumpan. Bahkan, apabila memperoleh angkutan pengumpan pun, tidak jarang harus bersitegang dengan awak angkutan pengumpan yang tidak mau menerima pembayaran yang menggunakan tiket gabungan dengan bus transjakarta. Inilah masalah busway di Koridor I (Blok M-Kota) yang sampai sekarang belum terpecahkan. Akan lebih baik lagi sebelum dimulai pembangunan Koridor II (Pulo Gadung-Harmoni-Kalideres), masalah angkutan pengumpan di Koridor I itu diselesaikan terlebih dahulu.

Berdasarkan deskripsi di atas jelas bahwa pengoperasian bus transjakarta Koridor I (Blok M-Kota) memang sesuai dengan rencana, yaitu menyediakan sarana transportasi massal yang aman, nyaman, dan tepat waktu, serta terjangkau oleh golongan ekonomi menengah ke bawah.

Tarif bus transjakarta sebesar Rp 2.500 yang ada sekarang telah sesuai dengan daya beli mayoritas penumpang bus transjakarta. Oleh sebab itu, kenaikan tarif perlu selalu memperhitungkan daya beli masyarakat. Sedangkan masalah feeder service transport atau angkutan pengumpan yang sampai sekarang belum terpecahkan memerlukan perhatian serius untuk segera dipecahkan agar memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu kepada pengguna busway. Lebih baik memberesi feeder transport di Koridor I (Blok M-Kota) lebih dahulu sebelum memulai Koridor II (Pulo Gadung-Harmoni-Kalideres).

Darmaningtyas Direktur Eksekutif INSTRAN
__________________
Jakarta - Indonesia
&
Adelaide - Australia
Mahaputra no está en línea  
Old October 11th, 2004, 02:21 AM   #340
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Sunda Kelapa plan criticized
Leony Aurora, The Jakarta Post/Jakarta

The Jakarta administration should revise its grand plan of Sunda Kelapa revitalization project, as the current one is obsolete and not based on the real condition, and therefore, will be difficult to realize, an expert says.

Speaking at a seminar on the revitalization project of the Sunda Kelapa harbor on Saturday, architect Djauhari Sumintardja questioned whether the administration had asked what the community wanted in making the plan.

"Kampong Luar Batang at present is a slum area, but in the model it disappears," said Djauhari. "Is it to be removed?"

The restoration of Sunda Kelapa, which has passed four historical periods from the Hindu (the Sunda kingdom), Muslim (Fatahillah rule), the colonial and the independence, has been planned since 1990 with gubernatorial decree No. 1072/1990.

A grand plan was drafted by the Sunda Kelapa Maritime Tourism Body and Dutch consultant DHV/Cuiper Compagnon in 1995. The 81.6-hectare area will be divided into six parts, each with its own landmark and architectural specifications.

Luar Batang, which was the first fishermen settlement in Jakarta, for example, is planned to become the Bugis village, the center of food and traditional maritime souvenirs.

"There's no more fisherman in Luar Batang and the area is filled with sidewalk vendors and garbage," said Djauhari, who is a member of the National Heritage Trust.

He asserted that any intention of change in an urban area should be introduced with a proper campaign, lest residents would feel threatened.

Djauhari also said that although the restoration plan has many supporting laws and decrees, the implementation by the different agencies varied.

Head of City Planning Agency Nurfakih Wirawan, another panelist in the seminar, said that buildings in Chinatown, Kota, should be kept to their original design.

Djauhari, however, showed pictures that old-style buildings had to make way for modern ones.

"If you see the models, only certain buildings remain as landmarks. I admire the consistency of the design, but who will pay for that (such grandiose project)?" he said.

The city administration in May announced its plan to revitalize the Sunda Kelapa port as the first step in a major project to develop a 12-kilometer tourist corridor from Muara Baru in North Jakarta to Glodok in West Jakarta, following several years of standstill due to the monetary crisis.

The project includes improving infrastructure like pedestrian bridges, sidewalks, and roads, as well as to clean up the rivers and the sea at the harbor.

Private investors are expected to invest in tourist facilities like restaurants, hotels, and souvenir centers.

Head of Sunda Kelapa Maritime Tourism Body Martono Yuwono, however, remains adamant that the project should be prioritized.

Many other grand projects, like the urban revival of Baltimore's Inner Harbor in the United States, the revitalization of London Dockland and Albert Dock in Liverpool, both in the United Kingdom, or Singapore's Clarke Quay, have managed to attract economic activity, he said.

"We're working on something that will boost the city," said Martono.

However, he declined to say how much funds from the 2005 budget would be allocated to stimulate the development of the historic area. "Let's just say it's proportionate to the size of the project."
Alvin no está en línea  
Closed Thread

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 08:35 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu