daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > Regional Construction and Development > Kalimantan, Sulawesi and Papua



Reply

 
Thread Tools
Old May 2nd, 2010, 03:02 PM   #1
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,628
Likes (Received): 7

[MAMUJU] Projects and Development

Masterplan kota Mamuju

Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Beberapa gambar dan maket masterplan kota Mamuju

image hosted on flickr


ini adalah maket Kota Baru Mamuju, kota ini diproyeksikan sebagai pusat Pemerintahan Propinsi Sulawesi Barat

image hosted on flickr


image hosted on flickr
Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Nah yang sekarang sedang dikerjakan adalah gedung Kantor Gubernur Sulawesi Barat, posisinya yang di tengah itu yang gentengnya merah

image hosted on flickr


Apabila melihat maket ini dan dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya maka bagian yang ini akan dibangun diatas tanah reklamasi

image hosted on flickr
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old May 2nd, 2010, 03:03 PM   #2
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,628
Likes (Received): 7

Pembangunan Bandara Sumarorong Dimulai 2010

03 Jan 2010 11:20:49

Mamuju, (tvOne)*

Pembangunan Bandara Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), akan dimulai pada 2010.

Menurut Gubernur Provinsi Sulbar H Anwar Adnan Saleh di Mamuju, Minggu (3/12), pembangunan bandara di wilayah pegunungan Mamasa itu telah mendapat respons positif dari Menteri Perhubungan Freddy Numberi, saat menghadiri acara pembukaan Sidang Raya Gereja yang dilaksanakan di wilayah Mamasa waktu lalu. "Pak Fredy sudah menjanjikan untuk mengucurkan dana pembangunan bandara yang akan ditempatkan di daerah kecamatan Sumarorong," kata dia.

Ia menuturkan, kegiatan sidang raya di Mamasa waktu itu memiliki makna yang tak ternilai, lantaran pesawat yang ditumpangi rombongan Fredy salah mendarat akibat tak ada bandara yang representatif, sehingga saat itu juga langsung direspons untuk segera dibangun bandara. "Gara-gara salah mendarat di Mamasa, Pak Fredy langsung terobsesi untuk segera membangun bandara udara tahun ini," ucapnya.

Dikatakannya, pembangunan bandara di wilayah itu juga dimaksudkan untuk mempermudah para calon investor masuk ke wilayah itu, mengingat potensi wilayah daerah Mamasa cukup melimpah namun belum tergarap dengan memadai. "Saya yakin hadirnya bandara itu akan berdampak positip bagi pembangunan di Kabupaten Mamasa, apalagi dengan akan rampungnya pembangunan akses jalan transportasi darat yang menghubungkan daerah Toraja (Sulsel)," tuturnya. (Ant)

http://nusantara.tvone.co.id/berita/..._dimulai_2010/
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old May 2nd, 2010, 03:05 PM   #3
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,628
Likes (Received): 7

De Maleo Hotel


Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Update hotel De Maleo

Tampak dari belakang



Sedang dilakukan pemasangan kaca, gak terlalu glassy sih, tapi nanti view dari situ ke lautan pasti keren banget





Di samping bangunan hotelnya sedang dibangun bangunan ini. Tapi belum tahu apa peruntukannya, sepertinya sih semacam convention center, atau mungkin pusat perbelanjaan



Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Hotel dan ekstensi nya



Close up on Lobby drop off



Halaman dan coast line nya



View ke arah laut dan pulau Karampuang

Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Dari depan





Lebih bagus view yang menghadap ke laut ya...



Enjoy it guys, more picts to come...
Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Update D'Maleo Hotel

Dari depan, udah ada namanya







Dari belakang




Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Eh ada yang ketinggalan,

Hotel d'Maleo

Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Hotel d'Maleo, baru diambil kemarin pagi





Sudah nampak progress nya, catnya sudah tambah warna coklat di samping dan warna abu2 di depan. Tulisan d'Maleo nya juga ditutupin.

Dari kejauhan.
Sisi yg ini belum digarap semua

Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old May 2nd, 2010, 03:05 PM   #4
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,628
Likes (Received): 7

Another Hotel underconstruction.

Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Another Hotel underconstruction.







Gw belum tahu nama n berapa lantai nantinya hotel ini. Hotel ini letaknya jauh dari kota mamuju tetapi nantinya akan dekat dengan kompleks gubernur dan kota baru mamuju, di daerah simboro namanya, sepanjang jalan daerah ini dibangun banyak kantor pemerintahan dan dinas2 dati 1. I'll update it again soon.
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old May 2nd, 2010, 03:07 PM   #5
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,628
Likes (Received): 7

Masjid Agung Mamuju

Quote:
Originally Posted by eurico View Post
Masjid Agung Mamuju



Minaret masjidnya keren juga ya.
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old May 2nd, 2010, 03:09 PM   #6
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,628
Likes (Received): 7

Alokasi Pembangunan Jalan Tani 5,25 M [ 18 Hit ]

Sumber :Hal. 9 & 15, Selasa 20 April 2010, Radar Sulbar
Sesuai hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Mamuju beberapa waktu lalu, Pemkab semakin giat mengusung program fisik untuk petani dan warga pedesaan. Salah satunya adalah alokasi Rp 2,25 miliar untuk pembangunan dan revitalisasi jalan tani pada APBD Mamuju tahun 2011.

Dibandingkan usulan lain, proyek pembanguan jalan tani merupakan salah satu program beranggaran besar. Program lain yang cukup menyedot anggaran diantaranya pembangunan jembatan dan proyek penanggulangan bencana.
Proyek pembangunan jalan tani terbesar terdapat di Kelurahan Belang-belang Kecamatan Kalukku. Luas jalan yang dibangun di dua dusun yaitu dusun Belang-belang Utara dan dusun Telaga mencapai 11 kilometer.
Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Mamuju, Ir. H.Idham Hasib,Msi, pembangunan jalan tani sangat penting bagi keberlangsungan ekonomi pertanian. Jalan tani befungsi menyambungkan areal produksi pertanian dan jalan utama menuju pasar keberadaan jalan tani dinilai mempengaruhi harga produksi pertanian.
“Banyak daerah yang kaya akan sumber pertanian, tetapi tidak dapat berkembang karena minimnya akses jalan tani. Petani kesulitan memasarkan produksinya,” sambung Kepala Dinas Pekerjaan Umum Mamuju.

Selain mempersulit pemasaran belum adanya jalan tani juga mempengaruhi harga produksi pertanian. Harga jual barang cenderung melonjak untuk menutupi membengkakknya biaya transportasi.

Hingga saat ini, akses jalan tani masih menjadi kebutuhan mendesak. Sejumlah wilayah pertanian di Mamuju belum dilengkapi sarana jalan tani. Kondisi tersebut dapat ditemukan di sejumlah wilayah pertanian seperti Kecamatan Tommo dan Pangale. Hal itu merupakan tugas berat yang wajib dituntaskan Pemkab Mamuju.

“Saya akan mengawal usulan Musrembang agar dapat terlaksanakan pada tahun 2011. Saya imbau masyarakat juga mengawasi realisasinya di lapangan.” Sambungnya.

http://www.mamujukab.go.id/document/..._view=1&id=314
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old May 3rd, 2010, 04:38 AM   #7
Ocean One
Live On The Ocean
 
Ocean One's Avatar
 
Join Date: Oct 2009
Location: Stuttgart, Jakarta, Makassar n Palopo
Posts: 9,487
Likes (Received): 391


Selamat ya untuk pembukaan thread baru dari mamuju and thx a lot to mimihitam

Hotelnya strategis banget ya lokasinya dengan view sunset ke arah selat makassar
Ocean One no está en línea   Reply With Quote
Old May 3rd, 2010, 06:36 AM   #8
anno_malay
Nomaden
 
anno_malay's Avatar
 
Join Date: Feb 2006
Location: Jakarta .. Bandung .. Padang .. Palangkaraya .. Balikpapan(now)
Posts: 5,027
Likes (Received): 1035

wowwww..kota barunya Mamuju keren...
diam2 mamuju ini bikin gebrakan
anno_malay está en línea ahora   Reply With Quote
Old May 3rd, 2010, 03:23 PM   #9
eurico
Registered User
 
Join Date: Nov 2006
Posts: 19,946
Likes (Received): 1600

lho dibikinken thread disini ya..... doh saya sendiri masih sangsi sebenarnya, tapi gak papa deh mari kita dukung thread pembangunan Mamuju ini, sebentar akan saya pindahin beberapa gambar dari thread yang ada di Nusantara
eurico no está en línea   Reply With Quote
Old May 3rd, 2010, 03:32 PM   #10
eurico
Registered User
 
Join Date: Nov 2006
Posts: 19,946
Likes (Received): 1600

Karena sudah threadnya tersendiri ini beberapa gambar yang sudah diposting di thread Mamuju di Nusantara saya repost di sini juga

update on Hotel Mutiara 3 star







eurico no está en línea   Reply With Quote
Old May 3rd, 2010, 06:42 PM   #11
arif doank
Major General
 
arif doank's Avatar
 
Join Date: Jun 2009
Location: Berlin & Antartika
Posts: 527
Likes (Received): 84

yes waterfront city..
mudah2an mamuju cepat2 mengejar kota2 lainnya di sulawesi!
__________________
My inspiration is >>them<<
arif doank no está en línea   Reply With Quote
Old May 4th, 2010, 04:12 AM   #12
PrinceArchibald
Lari Pagi >> Down 2 Earth
 
PrinceArchibald's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: SOC
Posts: 1,504
Likes (Received): 61

Selamat buat Mamuju, moga2 pembangunannya lancar dan cepat, g pake acara mangkrak dan tersendat2.
__________________
I'm kind of an evil genius.
PrinceArchibald no está en línea   Reply With Quote
Old May 7th, 2010, 05:36 PM   #13
Comeliness
Registered User
 
Join Date: Mar 2010
Posts: 5,245

JUMAT, 07 MEI 2010 | 02:09 WITA |
Euforia Pemekaran Wilayah Membuka Keterisolasian (1)
Menghapus Stigma Daerah Pembuangan Pejabat "Nakal"



MENDARAT. Pesawat Wings Air yang mendarat di Bandara Tampa Padang, Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu. (Foto Mahbub Amiruddin/Fajar Media Center)

WACANA pemekaran daerah akhir-akhir ini makin gencar terpublikasi di media. Penilaian negatif terhadap daerah pemekaran, membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memoratorium (penghentian sementara) pemekaran daerah. Tapi benarkah daerah pemekaran hanya menimbulkan masalah baru?

Suara merdu pramugari dari pesawat Lion Air memecah suasana, yang sejak dua jam terakhir itu didominasi deru mesin pesawat yang membawa kami dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang Banten. Pramugari itu pun mengumumkan kabar gembira. "Dalam beberapa saat lagi, pesawat Lion Air akan tiba di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar."

Informasi menenangkan, sekaligus membuat perasaan tak sabar tiba di Mamuju, ibukota Sulawesi Barat (Sulbar), makin tak tertahankan. Pesawat mengitari Kota Makassar beberapa saat untuk kemudian landing di landasan pacu Bandara Hasanuddin, setelah berjalan di atas awan selama kurang lebih 2 jam 10 menit.

Tanpa membuang waktu, kami langsung menyambar tas di atas tempat duduk untuk kemudian turun bersama penumpang lainnya. Belum sempat masuk ke waiting room, seorang petugas dari Lion Air berteriak sambil memperlihatkan beberapa boarding pass. "Transit-transit, Mamuju-Mamuju," kata lelaki berseragam putih itu.

Penulis sempat kebingungan karena tak menemukan tiket boarding pass. Namun lagi-lagi petugas Lion Air itu memberi kabar menyejukkan. "Bapak tak perlu cek in ulang, silakan langsung naik ke pesawat," kata petugas tersebut sambil menunjuk pesawat Wings Air berjenis ATR 72-500.

Pesawat berkapasitas 80 seat ini kemudian membawa kami ke Bandara Tampa Padang Mamuju. Hanya dalam tempo kurang lebih 50 menit pesawat yang setiap hari menjalani rute Makassar-Mamuju ini tiba dengan selamat di Bandara Tampa Padang Mamuju.

Bila diakumulasikan, perjalanan Jakarta-Makassar-Mamuju lewat udara hanya memakan waktu tiga jam. Sebuah pencapaian waktu yang amat cepat, dan mungkin tak terbayangkan beberapa tahun lalu, sebelum Sulbar mekar dari induknya, Sulsel.

Sekadar gambaran, sebelum Bandara Tampa Padang didarati maskapai penerbangan nasional, masyarakat yang ingin ke Sulbar harus melewati perjalanan darat dari Makassar selama sekira 10 jam. Dengan kondisi jalan yang makin rusak di sekitar wilayah Pinrang Sulsel, waktu tempuh bisa mencapai 12 jam.

Bandara Tampa Padang yang memperdekat jarak baru dalam perencanaan Dephub baru bisa didarati Boeing pada 2020 nanti. Namun dengan keaktifan Pemprov Sulbar mencari dana di pusat, tahun ini Bandara Tampa Padang sudah layak didarati Boeing 737. "Ini adalah buah dari pemekaran daerah.

Hubungan dengan pusat menjadi lebih cepat, utamanya terkait pendanaan," kata Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dalam sebuah kesempatan.

Stigma sebagai tempat pembuangan juga mulai terkikis seiring makin banyaknya orang berinvestasi di Sulbar. Dulu, sebelum Mamuju berubah status menjadi ibukota provinsi, senantiasa dijadikan tempat "pembuangan" pejabat Pemprov asal Sulsel.

Pejabat-pejabat "nakal" di Sulsel selalu dipindah ke Mamuju yang merupakan daerah sangat terisolasi saat itu. Saking terisolasinya, hampir tidak ada pejabat di Pemrov Sulsel yang bersedia ditempatkan di Mamuju. Dulu sering juga ada sebutan bahwa Mamuju adalah akronim "Maju-Mundur-Jurang". Sekarang akronim pun itu berubah menjadi "Maju-Mundur-Juta."

Tahun 2005, atau setahun setelah provinsi ini mekar, angka kemiskinan di Sulbar berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 20,74 persen. Tapi di akhir tahun 2009, tingkat kemiskinan di Sulbar sisa 15,29 persen.

Penurunan angka kemiskinan ini berbanding lurus dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sulbar yang melampaui angka rata-rata nasional sekira 6,06 persen. Di akhir 2009 angka pertumbuhan ekonomi Sulbar mencapai 8,54 persen.

Pendapatan per kapita Sulbar dari tahun ke tahun juga menunjukkan grafik yang naik. Tahun 2008 misalnya, pendapatan per kapita masyarakat Sulbar adalah Rp 4,5 juta dan di akhir tahun 2009 mencapai Rp 7,5 juta. "Tren positif ini akan terus kami jaga. Saya yakin dengan terus sehatnya iklim investasi, saya yakin perekonomian akan semakin meningkat pula," harap Anwar.

Semangat pemekaran daerah di wilayah Indonesia Timur masih sangat besar. Bila dibandingkan wilayah tengah, dan barat, keinginan memekarkan daerah di Indonesia bagian Timur jauh lebih tinggi.

Data yang dihimpun Fajar Media Center (FMC) di Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dari 60 usulan daerah pemekaran baru, yang paling banyak berasal dari Papua dan Papua Barat. Dua provinsi ini menyumbang 21 daerah pemekaran baru.

Di Pulau Sulawesi terdapat 13 usulan pemekaran baru. Di antaranya Toraja Barat, dan Luwu Tengah di Sulawesi Selatan, dan Mamuju Tengah di Sulawesi Barat (Sulbar). Sementara Maluku dan Nusa Tenggara ada tiga daerah otonom baru yang diusulkan.

Total usulan pemekaran daerah baru di Intim mencapai 37 wilayah otonom. "Ini (usulan pemekaran lebih tinggi) terjadi karena ada ketidakpuasan yang relatif lebih tinggi, dari masyarakat di wilayah Indonesia Timur," jelas Siti Zuhro, peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Pulau Jawa merupakan daerah yang paling sedikit dimekarkan, tercatat hanya empat daerah pemekaran di pulau terpadat di Indonesia, yang semuanya berada di Jawa Barat. (fmc)

Source: http://news.fajar.co.id/read/91572/1...-pejabat-nakal
Comeliness no está en línea   Reply With Quote
Old May 8th, 2010, 05:36 PM   #14
Comeliness
Registered User
 
Join Date: Mar 2010
Posts: 5,245

SABTU, 08 MEI 2010 | 00:45 WITA |
Euforia Pemekaran Wilayah Membuka Keterisolasian (2-Selesai)
Diwarnai Konflik Lahan, RTRW Belum Rampung


IKON BARU. Hotel d'Maleo di Pantai Manakarra Mamuju, kini menjadi ikon baru Sulawesi Barat. (FOTO MAHBUB AMIRUDDIN/FAJAR MEDIA CENTRE)

SEBAGAI daerah baru, wilayah pemekaran tentu saja mendapat hadangan. Tidak hanya dari luar, hadangan justru lebih sering datang dari interal, entah itu masyarakat, atau dari pejabatnya sendiri.

Malam itu, langit di atas Kota Mamuju atau sering disebut Bumi Manakarra tak berbintang. Meski demikian, lalu lalang pengunjung Pantai Manakarra tetap ramai, padahal malam itu bukanlah hari libur.

Suasana malam itu cukup bising. Dari tenda kafe yang kami singgahi menengguk kopi, terdengar lagu Yellow milik band Coldplay mendengung deras dari sebuah speaker aktif. Di sampingnya, beberapa anak muda sambil mengayunkan kaki, tampak sangat menikmati lagu lawas itu.

Belum sempat lagu itu terhenti, dari arah kiri tenda, kami dikejutkan tingkah sekelompok anak muda pengendara motor matik yang tiba-tiba mengangkat ban dengan membonceng rekan dalam posisi berdiri.

Namun pandangan penulis dan beberapa pengunjung di malam itu lebih tertuju pada atraksi para matic lovers. Penulis justru lebih terkesima oleh bangunan megah mengarah ke luar pantai. Ya, itulah ikon baru Kota Mamuju saat ini, Hotel d'Maleo.

Hotel yang didirikan grup Clarion Makassar ini seperti memiliki magnet tersendiri. Maklum, hotel yang meminjam nama burung langka dan hanya hidup di Sulbar itu merupakan hotel bintang pertama di provinsi yang bergelar Malaqbi tersebut.


Tak mudah membangun hotel ini. Di awal pembangunannya sekitar dua tahun lalu, hotel ini mengundang reaksi keras dari LSM penggiat lingkungan di Mamuju. Penyebabnya, untuk membangun hotel tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju harus mereklamasi Pantai Manakarra hingga beberapa meter ke depan.

Jadilah, reklamasi pantai tersebut menjadi arena perseteruan antara pemkab, DPRD, LSM, dan pengusaha yang ramai di media massa.

Konflik lahan di Mamuju juga terjadi di beberapa tempat, utamanya di wilayah yang menjadi titik pembangunan infrastruktur. Contoh lain adalah konflik lahan di Bandara Tampa Padang, Kecamatan Kalukku Mamuju.

Konflik ini berawal dari tidak terdata dengan baiknya pembayaran ganti rugi lahan yang kemudian memunculkan ketidakpuasan masyarakat setempat. Hal ini dimanfaatkan masyarakat untuk menaikkan harga jual lahan jauh dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

Konflik lahan di Sulbar juga tidak lepas dari komposisi masyarakat yang heterogen, yakni Mandar 49,15 persen, Toraja 13,95 persen, Bugis 10,79 persen, Jawa 5,38 persen, Makassar 1,59 persen dan lainnya 19,15 persen (berdasarkan data Susenas 2006).

Terbukanya keterisolasian juga membuat harga tanah di Mamuju kian meroket. Misalnya, harga lahan di Kelurahan Rangas Kecamatan Simboro Kepulauan (Simkep) Kabupaten Mamuju. Dulu jangankan mau dibeli, untuk melewati daerah ini saja masyarakat enggan karena lebih mengenalnya sebagai wilayah mistis.

Kini setelah kompleks perkantoran Pemprov Sulbar mulai berdiri di kawasan tersebut harga jual lahan di kawasan itu meroket. Bayangkan untuk semeter persegi, kita harus rela mengeluarkan budget antara Rp 30 ribu hingga Rp 75 ribu.

Dari segi lapangan usaha, sebagian besar penduduk Sulbar bekerja pada sektor pertanian yang berjumlah 276.299 orang atau 70,64 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Sektor lainnya yang juga menyerap tenaga kerja cukup besar adalah sektor perdagangan dan jasa-jasa.

Permasalahan utama lain yang kini menyeruak adalah belum selesainya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Padahal sejatinya, RTRW sebagai perencanaan induk harus ada sebelum provinsi termuda ini lahir.

Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh mengakui tidak adanya RTRW Sulbar akan sangat menghambat investasi di daerah ini. "Investor selalu mempertanyakan RTRW, karena jangan sampai sudah membangun namun dituntut oleh masyarakat," kata dia.

Untuk menyelesaikan RTRW ini, Menteri Kehutanan sudah merencanakan pembentukan tim kecil. Anggotanya tidak hanya dari Kemenhut, tapi dari Pemprov Sulbar, DPRD Sulbar, dan Universitas Hasanuddin.

Hal yang akan dilakukan tim teknis tersebut adalah menyusun RTRW sesuai kondisi riil yang ada sekarang. "Misalnya ada wilayah hutan produksi yang kini beralih fungsi, itu yang akan dicari oleh tim teknis," jelas Anwar.

Anwar menjamin tidak akan ada wilayah hutan lindung yang dicaplok menjadi hutan produksi. "Memang ada kawasan hutan yang akan dialihfungsikan, tapi itu tidak melanggar undang-undang," katanya. (fmc)

Source: http://news.fajar.co.id/read/91695/1...-belum-rampung
Comeliness no está en línea   Reply With Quote
Old May 9th, 2010, 08:20 PM   #15
Comeliness
Registered User
 
Join Date: Mar 2010
Posts: 5,245

SABTU, 10 APRIL 2010 | 21:50 WITA |
Kepala Bappeda Sulbar, Muhammad Hatta Latief
Sulbar Terus Menggenjot Infrastruktur

SEBAGAI salah satu provinsi muda, Sulawesi Barat terus melakukan pembenahan. Titik fokusnya adalah infrastruktur. Bagaimana provinsi yang baru berusia lebih kurang lebih lima tahun ini berbenah? Berikut wawancara Wartawan Harian Fajar, Aswad Syam dengan Kepala Bappeda Sulbar, Muhammad Hatta Latief, Selasa, 6 April malam di Clarion Hotel and Convention Makassar.

Bisa diceritakan perkembangan pembangunan di Sulbar saat ini?

Intinya sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada kami dari Pak Gubernur, memang titik berat pembangunan ke infrastruktur. Sulbar kan infrastrukturnya banyak yang masih perlu dibenahi dan dipacu. Selama ini yang kelihatan adalah infrastruktur bidang jalan. Saya terlibat dalam pembangunan jalan Sulbar sejak 1999.

Waktu itu masih menjadi pemimpin proyek. Sebagian besar objek kami di Sulbar, di poros Polman sampai Mamuju. Hasilnya memang signifikan, kami baru saja melakukan kongres PU di Manado dan program kita yang sementara jalan adalah bagaimana jalan yang sebagian besar lebarnya masih 4,5 meter, kita kembangkan menjadi lebar 6 meter. Ini standar nasional. Dan, sekarang sudah berjalan dari kilometer 228 Paku Polman ke Surumana yang menjadi batas Sulteng.

Kapan pelebaran jalan tersebut ditargetkan rampung?

Harapan kita untuk yang 6 meter ini bisa selesai sampai 2013. Ini mulai dikerja pada 2009. Panjangnya sampai kira-kira 400 kilometer. Kita juga sekarang sementara mengembangkan Mamuju Multi-Mood Acces Road. Konsepnya, dari Mamuju hingga Tampapadang terus ke Port Belang-belang.

Itu empat lajur. Seperti konsep Maros-Parepare lah. Lebarnya untuk aspal 14 meter, bahu jalan 2x2 meter dan mediannya dua meter. Totalnya antara 22-26 meter, bergantung pada lokasinya.

Kita usulkan melalui loan China, dan kemarin ada usulan dari Menteri PU ke Bappenas sekitar akhir Maret sudah dimasukkan dan namanya diubah menjadi Arterial Road to Support International Port Belang-belang. Akses ini sangat bagus, karena dari jalan manapun bisa masuk. Juga lebih terbuka karena bisa dua arah.

Untuk tahap awal ini bagaimana?

Target awal kita 100 kilometer dulu, dan berikutnya bisa bertahap. Kemajuan jalan sangat pesat dan kelihatan sekali bila dibandingkan awal pembentukan dulu, jalanan rata-rata masih jalan tanah. Jalan aspal juga banyak rusak. Sekarang ini, panjang jalan yang bagus, mulai dari kilometer 228 sampai ke kilometer 772.

Jadi, kira-kira 500 kilometer lebih. Kalau mau dipersentasekan, jalan yang sudah bagus kira-kira 90 persen. Itu jalan nasional yang didanai APBN dan dibantu APBD. Kalau APBN kita tidak pacu, biasanya hasilnya kecil, karena kita bersaing dengan provinsi lain.

Biasanya kita mengeluarkan APBD untuk pembangunan jalan dengan maksud agar ekonomi berkembang, sejauh mana akses jalan ini bisa menunjang perkembangan ekonomi Sulbar?

Dilihat dari perkembangannya dan multiplayer effectnya kelihatan sangat mencolok. Arus barang sekarang kelihatannya juga melalui lintas barat. Dulu kan polanya dari Sulsel, jalurnya lintas tengah, dari Mangkutana ke Poso, baru ke Palu.

Sekarang polanya dari Sulsel ke Mamuju sampai ke Sulteng. Jadi, ada perubahan pola distribusi arus barang. Produk-produk hasil bumi kita juga semakin mudah dipasarkan. Sekarang pertumbuhan cukup signifikan tertinggi. Volume kendaraan juga sangat tinggi, pertumbuhannya sampai 2000 persen, sejak Sulbar berdiri pada 2005.

Proyek lain yang menjadi fokus Anda?

Sesuai dengan rencana kita, long timenya adalah PLTA Karama. Ini diharapkan bisa menghasilkan 3.000 megawatt (MW). Bukan hanya Sulbar, melainkan untuk pulau Sulawesi. Syukur-syukur kalau ada lebihnya bisa disalurkan ke Kalimantan walaupun melalui kabel bawah laut.

Kemarin, secara interim, kita bahas dengan pihak PLN, diharapkan dalam waktu dekat ada yang disebut PLTU skala kecil berkapasitas 5 MW. Ini hanya sasaran antara saja yang akan dibangun swasta supaya defisit sekarang ini bisa diperkecil.

Sekarang defisit listrik rumah tangga berkisar 3 MW. Diharapkan dari interim itu pembangunannya bisa satu tahun. Untuk swasta kita sangat terbuka, mungkin kontrak mereka ada bussiness to bussiness dengan PLN, mungkin memakai batu bara saja dulu. Karena kalau kita menunggu lima tahun, imej Sulbar akan negatif dari sisi investasi.

Kalau perkembangan PLTA Karama bagaimana?

Untuk Karama ini sesuai penyampaian Pak Gubernur, beliau sudah menyampaikan ke Menko Ekuin Pak Hatta Rajasa, juga sudah dilaporkan ke Menteri Perdagangan. Kenapa ke Menteri Perdagangan? Karena ternyata yang punya kuasa di China untuk memberikan fasilitas keuangan adalah menteri perdagangan China.

Sebelum ketemu menteri perdagangan China, Pak Gubernur sudah bertemu dengan Menteri Perdagangan RI melaporkan tentang Karama. Dari sisi Karama juga, kita sudah membentuk tim dan izin studi kelayakan juga sudah dikeluarkan Pak Gubernur.

Termasuk surat mengenai inisiator atau pemrakarsa PLTA Karama, yang ditujukan kepada PLN. Artinya memberi tahu kalau pemrakarsa PLTA Karama adalah CGGC. Karena sesuai Kepres 13, berarti dia nanti punya kesempatan mendapatkan preferensi. Nanti kan sistemnya lelang. Sesuai Kepres 13 dalam lelang walaupun peminat cuma satu tetap dilelang. Nanti juga akan dilelang ulang, kalau masih satu juga itu baru akan direnegoisasi.

Kenapa ini perlu dilelang?

Ini perlu dilelang karena siapa tahu ada yang berminat. Cuma nanti misalnya dalam proses lelangnya, CGGC kalah, harganya lebih tinggi misalnya, tapi dia masih memiliki hak preferensi. Bisa menyesuaikan harga penawaran dia kepada yang terendah tadi. Aturan mainnya begitu.

Kalau hak pengelolaannya, itu nanti akan muncul dalam studi kelayakannya. Tim akan menghitung besaran investasi, dan itu muncul setelah visibility study. Misalnya investasi dia sekian triliun dan akan kembali dalam 15 tahun kemudian, seperti itu, dan itu nanti pasti ada detailnya.

Kalau bentuknya sarana pelayanan, apa yang mendesak?

Yang kita kejar adalah bagaimana mempercepat rumah sakit vertikal Sulawesi Barat. Ini adalah rumah sakit tipe B seperti Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo di sini, berkapasitas 300 tempat tidur. Kami sudah laporkan ke Menteri Kesehatan melalui Pak Gubernur dan diharapkan dananya bisa ke luar melalui APBNP.

Kita usulkan paket multiyears, karena pembangunan rumah sakit ini membutuhkan dana Rp 299 miliar, belum termasuk peralatan. Rumah sakit ini juga menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyiapkan dalam rangka Standar Operasional (SOP) minyak. Bagian dari SOP minyak, mereka baru bisa beroperasi kalau ada fasilitas termasuk rumah sakit, juga bandara yang memadai.

Bagaimana dengan bandara, berapa kapasitasnya sekarang?

Kalau kita lihat trend Wings yang masuk, loan factornya rata-rata di atas 70 persen. Ini menunjukkan antusias penumpang cukup tinggi, juga terlihat dari harga tiketnya yang sudah kompetitif yakni, Rp 370 ribu per orang. Ini semakin membuka informasi ke luar, sehingga banyak pihak yang ingin mencoba melakukan kegiatan di Sulbar.

Saya juga sudah sampaikan ke Pak Dirjen PU, kalau ke Sulbar cukup tiga jam, naik pesawat pagi jam enam pagi, transit di Makassar kira-kira setengah jam, baru ke Sulbar bisa sampai Mamuju jam 11.00 Wita. Saat saya sampaikan, mereka antusias untuk mencoba melakukan kegiatan di Sulbar. Apalagi bulan Mei ini, ada soft opening hotel berbintang tiga D'Maleo, yang terletak di kota di pinggiran pantai.

Tahun ini bandara juga akan dikembangkan, menjadi 2500 meter, sekarang kan 2400 meter, lebar akan ditambah dari 35 meter menjadi 45 meter. Apron juga akan ditambah 12.000 meter persegi. Akibat perluasan ini jalan nasional kita di depan bandara akan direlokasi lima kilometer ke kawasan barat.

Kita sudah sampaikan ke Kementerian PU. Dirjen Bina Marga menyetujui kalau kita lakukan relokasi lima kilometer, dan itu dibutuhkan Rp 45 miliar untuk empat lajur. Disingkronkan dengan Mamuju Multy Mood Acces Road.

Apakah di Sulbar ini ada grand desain untuk perencanaan kota ke depan?

Kita harusnya ke situ, tapi kita ada perbedaan dengan negara lain seperti China. Kalau di sana, tanah kan menjadi milik negara dan meski ditempati warga, kalau negara membutuhkan mereka akan rela menyerahkan. Kalau di sini agak susah. Kita memang bisa membuat kota baru, tapi kita harus hati-hati.

Waktu pembentukan Sulbar juga ada pro kontra terkait ibu kota. Kalau kita mau membuat daerah baru, misalnya Kaluku, ini merupakan hamparan bisa dijadikan daerah industri, atau kawasan Belang-belang. Kalau perekonomian, sudah direncanakan di daerah Rangas. Kita rencana tata bangunan dan penggunaannya akan kita bagi, perkantoran di mana, dan industri mana.

Kita harus membuat rencana tata ruang yang sudah disepakati pada saat pembentukan Sulbar. Mau tidak mau harus begitu. Sekarang misalnya kota pendidikan sudah ditetapkan di Majene, tapi itu sifatnya untuk perguruan tinggi negeri, kalau swasta misalnya mau membangun bisa juga di Mamuju. Kita nantinya akan ke situ, karena mengembangkan Kota Mamuju agak sulit. Kita perlu membuat daerah baru yang lebih terencana.

Masih terkait perencanaan ke depan, bagaimana perencanaan pembangunan kawasan bandara?

Kita sudah rencanakan pengembangan bandara 2.500 meter, kalau seperti ini Garuda bisa masuk. Selama ini perminyakan berkantor di Balikpapan, mereka tidak mau ke Sulbar kalau bukan dengan Garuda, itu sudah sesuai SOP-nya.

Makanya, kalau Garuda bisa masuk, para pekerja tambang akan bisa ke sini, dan memang biaya operasionalnya akan lebih murah kalau mereka di Sulbar karena dekat dengan lokasi eksplorasinya. Kita target pengembangan bandara 2.500 meter tahun ini selesai.

Tapi kita sudah sampaikan ke Kementerian Perhubungan sampai 2020, pengembangan sudah final. Kan seluruhnya ada 207 hektare, karena nanti ada depot BBM, ada hanggar, dan sarana lainnya. Tahun ini baru kita kembangkan 72 hektare.

Bagaimana dengan pengembangan pelabuhan?

Demikian pula pembangunan pelabuhan. Untuk pelabuhan, di sebelah utara Belang-belang kita akan buat kawasan ekonomi khusus (KEK). Kita akan buat studi dulu, yang jelas ini akan memacu ekonomi. Karena KEK itu free trade zoom artinya, tanpa biaya masuk tapi akan menggairahkan ekspor. Kalau ada KEK, ini akan mempercepat industri bisa terbangun, listriknya dari Karama, air bakunya dari Karama.

Ini singkron dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), karena dalam RTRW sudah ada kita cantumankan tentang itu, di mana daerah industri. Kita juga akan membuat planning yang lebih luas lagi terkait pelabuhan ini, sehingga bisa menjadi acuan bagi mereka yang ingin melakukan investasi.

Ini untuk kemaslahatan rakyat Sulbar. Juga ada kontainer. Desain kita harus bisa menuju taraf internasional. Kita juga masih punya pekerjaan rumah, bagaimana membuka ruas penghubung Kaluku ke Bonehau, Kolaka Utara.

Ruas jalan itu kan bisa dari APBN juga APBD. Nanti kita keroyok, harapan kita kedua ruas itu bisa selesai 2015 sampai pengaspalan. Kalau tidak diselesaikan, nanti mereka merasa dianaktirikan dengan warga yang ada di lintas barat.

Untuk menunjang perminyakan, kita juga akan membangun bandara perintis, satu di Polman, dan satu di Mamuju Utara. Kita hanya menyiapkan 500 meter, karena kan palingan hanya pesawat kecil atau helikopter. Juga bagaimana menggalakkan industri, seperti kakao. Kita juga akan membuat pelabuhan perikanan nusantara di Palipi Majene. Selama ini potensi perikanan kita cukup besar. Hanya saja banyak yang lari ke Balikpapan, termasuk ikan tuna. (aswadfajar@gmail.com)

Source: http://lifestyle.fajar.co.id/read/88...-infrastruktur
Comeliness no está en línea   Reply With Quote
Old May 12th, 2010, 08:12 PM   #16
Comeliness
Registered User
 
Join Date: Mar 2010
Posts: 5,245

RABU, 12 MEI 2010 | 01:23 WITA |
Mengejar Investor Sampai ke China (1)
Gubernur Sulbar, Satu-satunya Gubernur yang Diundang


BAHAS INVESTASI. Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Saleh (tengah), terlibat pembicaraan serius dengan Ketua Asosiasi Kontraktor China Diao Chunhe (kanan), di sela-sela Forum Internasional Infrastruktur Investasi dan Konstruksi di Beijing, Selasa 11 Mei. (FOTO FAISAL SYAM/FAJAR)

Untuk menjadikan provinsi yang dipimpinnya sebagai daerah terkemuka, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh gencar melakukan road show. Salah satunya ke negeri tirai bambu, China. Hasilnya, China Gezhouba Group International Engineering Co, LTD (CGGC), salah satu BUMN asal China, siap mengerjakan tiga proyek raksasa di Bumi Manakarra.

Pemerintah dan rakyat Provinsi Sulbar saat ini boleh berbangga. Gubernur Anwar Adnan Saleh menjadi satu-satunya gubernur di antara 33 gubernur yang ada di Indonesia, yang diutus oleh negara untuk ke China, tepatnya ke Beijing, guna membicarakan rencana pembangunan proyek besar Indonesia. Tentu saja juga proyek besar yang akan dibangun di Bumi Manakarra, pasca penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Maret lalu.

Keberangkatan Anwar Adnan Saleh beserta rombongan yang tergabung dalam West Sulawesi State Province Delegates International Investment Infrastructure Construction Forum ke China, menegaskan bahwa isi MoU yang ditandatangani antara Anwar Adnan dengan Chief Accountant of CGGC International, Lin Xiaodan, dan Vice President of CGGC International, Yang Yisheng, di Gemdale Plaza Jian Guo Road, Chaoyang District, Beijing, China, Senin 8 Maret 2010 lalu, harus segera direalisasikan. Ikut dalam rombongan ini adalah Dirut Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sulbar Harry Warganegara, Asisten I Akhsan Djalaluddin, Ketua Bappeda Hatta Latief.

Sementara pada Forum Internasional Infrastruktur Investasi dan Konstruksi (International Infrastructure Investment & Construction Forum/IIICF) yang berlangsung di Beijing, dan diikuti delegasi dari 42 negara, tampak pula Ketua DPRD Hamzah Hapati Hasan, Ketua Komisi III DPRD Andi Usman, anggota DPRD Tashan Burhanuddin, Kasman dari Istaka Karya, Willianto Tanta dan Sunneng Jamal Loe dari PT Passokorang.

Masyarakat di Sulbar sudah geregetan untuk bisa sejajar atau bahkan lebih maju dan mapan dibandingkan daerah lainnya yang terlebih dahulu terbentuk. Untuk mewujudkan harapan itu, amat bergantung pada sukses tidaknya tiga proyek strategis yang berskala raksasa; Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Karama, pembangunan jalan arteri Mamuju Multi Mode Access Road (MMMAR), dan pembangunan Pelabuhan Kontainer Belangbelang.

Proyek-proyek tersebut telah dimasukkan dalam buku biru (blue book) sebagai proyek yang akan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah Indonesia. Dengan demikian, pemerintah akan melakukan upaya untuk mempercepat penyelesaian proses pembangunan ini.

PLTA Karama nantinya dapat menghasilkan listrik sebesar 1.800 Megawatt (MW), dan diharapkan menjadi jawaban atas krisis listrik di Pulau Sulawesi, khususnya Sulbar. Untuk pembangunan PLTA itu, perusahaan dari China tidak menggunakan dana dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN), melainkan melalui investasi murni sekira USD 1,5 miliar. Dalam perencanaannya, PLTA ini akan dibangun di tiga titik bendungan yang bersumber dari tiga sungai, yakni Sungai Karama, Karatuan, dan Bonehau yang melintasi Kecamatan Kalumpang dan Bonehau di Mamuju.

Sebelum menandatangani nota kesepahaman dengan CGGC, proyek PLTA Karama sempat menjadi "rebutan" antara BUMN China itu dengan BUMN asal Korea Selatan, Korea Rural Company (KRC). Hanya saja, BUMN asal China lebih gesit dengan perencanaan paling lambat awal 2011 sudah melakukan pembangunan.

Selain PLTA, proyek raksasa lainnya yakni pembangunan infrastruktur MMMAR senilai USD 250 juta. Jalan arteri itu nantinya akan menyusuri pinggiran pantai Mamuju, dengan lebar 30 meter, terdiri atas dua jalur dan empat lajur. Setiap 2,5 km jalan ini, akan terdapat bundaran.

Menurut pakar dari Fakultas Teknik Unhas, Prof Lawalenna, salah satu bundaran akan menyerupai Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta. Bila jalan arteri ini sudah selesai maka untuk mencapai bandara yang dulunya membutuhkan waktu sekira 60 menit, akan ditempuh hanya dalam waktu sekira 15 menit.

Jalan arteri itu akan menjadi jalur alternatif dari dan ke Mamuju. Tanpa jalan arteri maka masyarakat dari kabupaten lain di Sulbar dan Sulsel harus melewati jalur yang berkelok-kelok di antara gunung dan jurang.

Sementara itu, pembangunan Pelabuhan Kontainer Belangbelang diperkirakan akan menelan biaya sekira USD 69 juta. Pelabuhan itu merupakan pintu gerbang ekonomi di Sulbar. Pembangunan pelabuhan itu akan menjadi solusi untuk percepatan pembangunan di Sulbar. Letaknya strategis jika dibandingkan dua pelabuhan di Sulawesi, yakni Pelabuhan Pantoloan (Sulteng) dan Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar (Sulsel). Salah satu nilai tambah pelabuhan alam ini adalah kedalamannya yang mencapai 12 meter, sehingga memungkinkan semua jenis kapal dapat menyinggahinya.

Investor China menyatakan sanggup untuk membangun ketiganya sekaligus. PLTA dengan investasi murni (IPP), sementara jalan arteri dan pelabuhan kontainer dengan pinjaman lunak. Yang menarik, meski ketiga proyek itu akan dikerjakan investor China, namun pemerintah tetap mengupayakan keterlibatan perusahaan daerah, dan pengusaha setempat untuk berperan serta secara langsung dalam mengerjakan proyek yang membutuhkan keahlian khusus tersebut.

Kalau ketiga proyek strategis itu terwujud, maka tidak menutup kemungkinan Sulbar, daerah yang disebut oleh investor China itu sebagai daerah potensial dan masih "perawan", akan menjadi provinsi termuda dan termaju di tanah air. (**)

Source: http://news.fajar.co.id/read/92119/1...-yang-diundang
Comeliness no está en línea   Reply With Quote
Old May 12th, 2010, 08:22 PM   #17
Comeliness
Registered User
 
Join Date: Mar 2010
Posts: 5,245

Rabu, 12 Mei 2010, 04:18
Biaya Pembangunan VIP Room Bandara Rp3,5 Miliar

Mamuju (ANTARA News) - Biaya pembangunan VIP Room Bandara Tampa Padang di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, dianggarkan Rp3,5 miliar dari APBN 2010.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Sulawesi Barat (Sulbar) Thamrin Syakur di Mamuju, Selasa, mengatakan pada 2010 pemerintah provinsi akan membangun gedung VIP Room Bandara Tampa Padang Mamuju.

Menurut dia, gedung VIP Room tersebut akan digunakan sebagai ruang istirahat dan terminal penumpang.

Ia mengatakan lokasi gedung itu berada di samping gedung VIP Room lama.

Syakur mengatakan sebelumnya pemerintah telah membangun gedung VIP Room Bandara Tampa Padang Mamuju pada 2009 dengan menggunakan anggaran dari APBN yang besarnya juga Rp3,5 miliar.

"Gedung VIP Room tersebut telah digunakan untuk ruang penjemputan tamu pemerintah," katanya.

Menurut dia, dengan pembangunan gedung VIP Room baru tersebut akan melengkapi sarana pelayanan di Bandara Tampa Padang Mamuju," katanya. (T.KR-MFH/M008)

Source: http://www.antara-sulawesiselatan.co...omic&Itemid=62
Comeliness no está en línea   Reply With Quote
Old May 13th, 2010, 06:05 PM   #18
Comeliness
Registered User
 
Join Date: Mar 2010
Posts: 5,245

KAMIS, 13 MEI 2010 | 00:54 WITA |
Mengejar Investor Sampai ke China (2)
Jadi Bintang di Forum, Kartu Nama pun Habis

Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh sangat lihai memanfaatkan peluang. Saat tampil berbicara di International Infrastructure Investment & Construction Forum (IIICF), China, dia tampil sangat meyakinkan. Para kontraktor dan investor dari 42 negara peserta IIICF pun jadi terpukau.

Waktu telah menunjukkan pukul 16.30 waktu Beijing, China. Tidak ada perbedaan waktu antara kota di negeri maju ini dengan Mamuju, Ibukota Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Saat itu, sang gubernur, Anwar Adnan Saleh, baru saja memaparkan potensi dan peluang investasi di daerah yang dipimpinnya.

Kemarin, Anwar memang tampil membawakan materi dalam acara bertajuk Potential Project Presentation di IIICF. Di hadapan sejumlah pengusaha dari mancanegara yang ikut IIICF, Anwar menyatakan dirinya sangat terbuka untuk investor yang mau masuk membangun daerahnya.

Sebagai contoh, sebutnya, pihaknya memberikan kelonggaran pada investor asal China untuk mengelola tiga megaproyek untuk rakyat Sulbar. Ketiga megaproyek yang masih dalam tahap kesepahaman dengan perusahaan dari China itu adalah Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Karama, Pembangunan Jalan Arteri sepanjang 101 KM, dan pembangunan dermaga kontainer Pelabuhan Internasional Belangbelang.

"Sepanjang tidak berbenturan dengan aturan yang ada di negara dan daerah kami, maka kami akan membantu dan membuka peluang sebesar-besarnya," papar Anwar saat menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta IIICF asal China.

Ia mengakui bahwa Sulbar memang daerah kecil, namun potensinya sangat besar. Di Sulbar terdapat sembilan blok minyak dan gas, yakni Blok Surumana, Blok Kuma, Karama, Malunda, Mandar, Pasangkayu, Karana, South Mandar, dan Blok Budongbudong. Juga ada tambang emas, tambang bijih besi yang banyaknya seperti lima gunung, potensi pertanian dan perkebunan.

"Khusus untuk kakao, selama ini 70 persen produksi asal Indonesia berasal dari Sulbar. Ke depan, kami akan berupaya meningkatkan produksi dan menjadikan Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar dunia menggeser posisi Pantai Gading," tegas Anwar.

Obsesi Anwar untuk mewujudkan Sulbar sebagai daerah masa depan Indonesia sangat besar. Hal itu disambut baik oleh sejumlah investor maupun kontraktor nasional maupun asing.

Sebelum acara presentasi yang diadakan di lantai 3 gedung China National Convention Center (CNCC) berakhir, Anwar menyerahkan surat dukungan untuk pelaksanaan investasi di Sulbar kepada investor yang berencana masuk membangun Sulbar.

Sejumlah pejabat kedua negara menyaksikan penyerahan naskah itu. Antara lain Diao Chunhe, Chairman China International Contractors Association (Chinca), Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Dedy Supriadi Priatna (Bappenas), Bowo Setiadji (Kadiv Eng dan Teknologi PT PLN).

Juga ada Tunjung Inderawan (Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan), Ketua DPRD Sulbar Hamzah Hapati Hasan, Ketua Komisi III DPRD Sulbar Andi Usman, Anggota DPRD Tashan Burhanuddin, serta pengusaha nasional dari Sulbar, Willianto Tanta dan Sunneng Jamal Loe.

Usai memberikan pemaparan pada acara yang diikuti peserta dari 42 negara itu, sejumlah pengusaha serentak mendekati Anwar untuk menindaklanjuti upaya menanamkan modalnya di Sulbar. Dengan sabar, Anwar yang didampingi Asisten I Akhsan, Ketua Bappeda Hatta Latief, Dirut Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Harry Warganegara, melayani setiap pertanyaan yang ditujukan kepadanya di luar forum.

Saking banyaknya investor yang bertemu dengannya, kartu nama Anwar sampai habis dan terpaksa minta kepada asisten I dan Dirut BUMD. Itupun juga langsung ludes.

Lepas dari acara IIICF, Gubernur Sulbar diundang untuk jamuan makan malam oleh kedutaan besar China, serta dari China Railway Group Limited, kantor kementerian yang membidangi transportasi kereta api di China. Kalau sudah demikian, tidak menutup kemungkinan jalur kereta api pun bakal dibangun di Sulbar. (**)

Source: http://news.fajar.co.id/read/92208/1...nama-pun-habis
Comeliness no está en línea   Reply With Quote
Old May 14th, 2010, 06:14 PM   #19
Comeliness
Registered User
 
Join Date: Mar 2010
Posts: 5,245

JUMAT, 14 MEI 2010 | 01:36 WITA |
Mengejar Investor Sampai ke China (3-Selesai)
Kesibukan dan Jadwal Padat yang Berbuah Gembira


MONUMENTAL. Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh (tengah) bersama rombongan dari Sulbar, Kamis 14 Mei mengunjungi bangunan monumental "Tembok China" yang merupakan salah satu dari sejumlah keajaiban dunia. (FOTO FAISAL SYAM/FAJAR)

Suhu di Kota Beijing, China, menunjukkan angka 15 derajat Celcius. Tetapi di salah satu ruangan restoran di kawasan kota ini, berlangsung pertemuan yang hangat antara Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Saleh bersama Ketua DPRD Sulbar, Hamzah Hapati Hasan, dengan pejabat dan investor China berlangsung hangat. Hasilnya, investor China menyatakan berminat mengolah tambang batu bara dan bijih besi di pecahan Sulsel itu.

Forum International Infrastructure Investment and Construction Forum (IIICF) yang diikuti peserta dari 42 negara, memang telah berakhir Rabu malam 13 Mei lalu. Namun, Gubernur Anwar beserta rombongan dari Bumi Manakarra belum bisa beristirahat dengan baik.

Pasalnya, serentetan pertemuan lanjutan yang menyita perhatian, harus diikuti. Baik dengan pejabat, maupun kontraktor serta investor setempat.

Pertemuan dengan perusahaan Shenhua Group, misalnya, berlangsung hingga Kamis dinihari 14 Mei. Padahal pada pukul 06.00 paginya, waktu Beijing sama dengan Sulsel dan Sulbar, ada jadwal lain yang juga telah diagendakan.

Sedemikian padatnya jadwal selama di Beijing, jadwal main golf yang telah direncanakan sejak masih di Mamuju, terpaksa harus dibatalkan. "Demi untuk kemajuan rakyat Sulbar, tidak ada kamus sibuk dalam hidup saya. Semuanya harus dibuat dan memang saya enjoy," ucapnya kepada penulis.

Betul saja, jadwal yang sangat padat itu telah membuahkan hasil yang menggembirakan. Sebelum meninggalkan Beijing Jumat 15 Mei pagi ini, investor asal negeri Tirai Bambu, China Shenhua Group Corporation merencanakan akan menanamkan modalnya di daerah yang dikenal sebagai kawasan masa depan Indonesia ini. Shenhua adalah produsen batu bara terbesar China.

Perusahaan yang dikenal sebagai kontraktor yang mengerjakan megaproyek Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) itu menyatakan berminat mengolah potensi batu bara dan bijih besi yang potensinya sangat besar di Sulbar. Akhir Mei ini, tim peneliti dari Shenhua Group akan mendatangkan tim geologinya ke Sulbar.

Meski demikian, Gubernur Anwar menekankan pada investor yang mau masuk itu bahwa sebelum melakukan pengolahan hasil tambang batu bara dan bijih besi di Sulbar, Shenhua harus terlebih dahulu membangun infrastruktur jalan maupun jembatan, serta rel kereta api. "Ternyata, Shenhua menyanggupi hal tersebut," terang Anwar mantap.

Dengan masuknya Shenhua ke Sulbar, obsesi Pemprov Sulbar untuk menjadikan Bumi Manakarra sebagai daerah yang maju, tidak lama lagi bakal terwujud. Rencana Shenhua juga semakin melengkapi rencana investor China lainnya yang akan membangun Sulbar.

Seperti diketahui, China Gezhouba Group Company (CGGC), salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China merencanakan untuk berinvestasi di Sulbar. Mereka akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Karama, Pelabuhan Internasional di Belangbelang, dan proyek jalan arteri sepanjang 101 km di Mamuju.

Anwar dan Direktur Utama PT Istaka Karya Muhammad Kasman, Ketua DPRD Hamzah Hapati Hasan, Ketua Komisi III DPRD Sulbar Andi Usman, Anggota DPRD Tashan Burhanuddin, Asisten I Akhsan, Ketua Bappeda Hatta Latief, Dirut Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Harry Warganegara, pengusaha nasional Willianto Tanta dan Sunneng Jamal Loe selama sehari penuh kemarin keliling kota untuk melihat perkembangan kota Beijing untuk melihat fasilitas yang kemungkinan dapat dikembangkan di Sulbar.

Mereka antara lain melihat-lihat jalan arteri, pembangunan kawasan perumahan, penghijauan kota, dll. Tentu saja, rombongan juga menyempatkan diri mengunjungi tembok China.

"Kami berharap, ke depan akan membangun jalan seperti yang ada di Beijing, di mana jalan tembus lewat terowongan bawah tanah," ujar Adnan. Dia lalu menanyakan prinsip teknis pembangunan jalan tembus itu kepada Kasman, Hatta dan Willy serta Sunneng. Kasman yang Dirut PT Istaka Karya menyatakan bahwa hal itu memungkinkan di Sulbar.

Pagi ini rombongan meninggalkan China menuju Mamuju, setelah sebelumnya transit di Jakarta. Bila tak ada aral yang melintang, berdasarkan jadwal, sebagian besar rombongan akan tiba di Mamuju pada malam nanti. "Kita bersyukur, dengan adanya bandara dan penerbangan di Mamuju. Kita berangkat dari China pada pagi hari, tiba di Mamuju pada malam harinya," ujar Andi Usman dengan nada gembira. (**)

Source: http://news.fajar.co.id/read/92327/1...erbuah-gembira
Comeliness no está en línea   Reply With Quote
Old May 17th, 2010, 04:58 PM   #20
Sony Sjklw
Registered User
 
Sony Sjklw's Avatar
 
Join Date: Apr 2008
Posts: 9,777

Hotel d'Maleo







Uploaded with :http://tinypic.com/
Sony Sjklw no está en línea   Reply With Quote


Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 03:36 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu