daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > The Skybazaar of Indonesia > Archive

Reply
 
Thread Tools
Old October 28th, 2004, 04:35 PM   #41
Fir3blaze
Fir3blaze
 
Join Date: Sep 2004
Location: Surabaya, Singapore
Posts: 899
Likes (Received): 4

**From Thejakartapost.com**

Govt to mull visa-on-arrival expansion


Muninggar Sri Saraswati, The Jakarta Post, Jakarta

Tourism and culture minister Jero Wacik has asked the Ministry of Justice and Human Rights to review the country's visa-on-arrival policy so more countries can enjoy the facility, a Cabinet member says.

Minister of Justice and Human Rights Hamid Alawuddin said on Wednesday he would raise the issue for discussion.

"We will bring the issue to a ministerial meeting on political, legal and security affairs in the near future," Hamid said at his office on Wednesday.

Currently, citizens from 22 countries enjoy visa on arrival, which was introduced on Feb. 1, 2004. The countries are the United States, Australia, South Africa, Argentina, Brazil, Denmark, United Arab Emirates, Hungary, Finland, UK, Italy, Canada, Norway, Japan, Germany, Poland, South Korea, France, Switzerland, New Zealand and Taiwan.

Visa on arrival is available at Jakarta's Soekarno-Hatta International Airport, Polonia Airport in Medan, North Sumatra, I Gusti Ngurah Rai Airport in Denpasar, Bali, and Juanda Airport in Surabaya, East Java. It is also available at Tanjung Priok Port in Jakarta, Tanjung Perak Port in Surabaya and Benoa Port in Bali.

The policy was part of the government's decision to revoke the visa-free facility for 48 countries. It later gave the visa-free facility to 12 countries on the basis of reciprocity.

The tourism and culture ministry has reportedly asked that several additional countries, including Egypt, be included on the list for visa on arrival.

"We will analyze the commercial potential and security aspects of each country," said Hamid.

Immigration chief Iman Santoso said the addition of countries eligible for visa on arrival would be aimed at improving the country's tourist industry.

"If the number of tourists from a certain country is large, why wouldn't we consider giving them the visa-on-arrival facility? It would be meant to improve our tourist industry," he said.

The imposition of the visa-on-arrival policy sparked controversy, particularly among tourism businesspeople who said it would prevent tourists from visiting the country.

Antara reported on Wednesday that during a meeting of the Bali Chamber of Commerce recently, some tourism businesspeople urged the government to cancel the policy and reintroduce the visa-free policy to encourage more tourists to visit the country.

Citizens of countries eligible for visa on arrival must pay US$10 for a 15-day visa or $25 for a 30-day visa.

Former justice and human rights minister Yusril Ihza Mahendra said earlier this year the visa-on-arrival policy would boost state revenue from visa fees.

He said foreign tourists would not object to paying $10 or $25 for a visa.

Bank BNI in Denpasar recorded $10.3 million in state revenue from visa on arrival fees from February to June at Denpasar's I Gusti Ngurah Rai Airport.

The number of foreign tourists arriving in Bali from January to June this year was 648,182, a 69 percent increase from the 283,408 foreign tourist arrivals for the same period in 2003, according to data from Bali tourism agency.
Fir3blaze no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old October 30th, 2004, 05:14 PM   #42
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Indonesia's new visa policy irks tourists: survey

www.chinaview.cn 2004-10-30 16:33:10

JAKARTA, Oct. 30 (Xinhuanet) --The visa-on-arrival policy has discouraged foreigners from traveling to Bali, Indonesia's main tourist destination, a recent survey revealed.

Having interviewed 10,000 people, the survey found that more than 50 percent of those respondents will not return to Bali due to the new policy.

The survey was conducted by the Bali Hotels Association (BHA) in cooperation with the Bali Tourism Board (BTB), in response to the government's request for the tourist industry to provide "realdata" on the impact of the new visa policy which took effect in February 2004.

The results of the survey were presented to State Minister of Culture and Tourism Jero Wacik during a meeting of all stakeholders of the Bali tourist industry at the office of Bali Governor I Dewa Made Beratha, the Jakarta Post daily reported Saturday.

"Bali is the first province in Indonesia to have conducted sucha survey," said BTB Chairman Putu Agus Antara.

The visa policy restricts visa-free entry to tourists from 21 countries, down from the previous list of 60 countries. It exemptsthose from nine countries and two regions: Brunei, Chile, Hong Kong, Macau, Malaysia, Morocco, Peru, the Philippines, Thailand, Singapore and Vietnam.

Bali was hit by terror attacks in October 2002, which left 202 people dead, at a time when the tourist industry was struggling toregain its footing following the economic crisis at the end of the1990s.

In its recommendations, the BHA pushed for a quick and easy visa processing, particularly for key markets, and the extension of visa-on-arrival facilities to countries that have historically supported Indonesian tourism, including The Netherlands, Belgium, Ireland, Finland, Spain, Sweden, Greece and Austria. Enditem
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old November 1st, 2004, 12:13 PM   #43
tata
there's no free lunch
 
tata's Avatar
 
Join Date: Jun 2004
Location: JAKARTA
Posts: 2,601
Likes (Received): 2

Wisnus "gajah" yang terabaikan di pelupuk mata

Good article on how much we ignore the potency of local tourist that so far contribute more than foreign tourist in this industry.

News in Bhs Indonesia, anyone volunteer to translate it?

Tata

Wisnus "gajah" yang terabaikan di pelupuk mata
oleh :
HIlda Sabri Sulistyo
Pemerhati Pariwisata
Bisnis Indonesia

Balairung Sapta Pesona di gedung Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada Jumat lalu dipenuhi oleh pejabat maupun ibu-ibu Dharma Wanita di lingkungan instansi itu. Sejumlah ketua asosiasi pariwisata, kalangan pers, para insan pariwisata dan mitra-mitra kerja instansi itu lainnya.

Siang itu, serah terima jabatan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika kepada penggantinya. Jero Wacik cukup banyak mendapat perhatian terutama oleh industri pariwisata dan pers.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akhirnya dikomandani lagi oleh seorang putra Bali, Jero Wacik yang masuk dalam jajaran anggota Kabinet Indonesia Bersatu dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

"Saya memang benar-benar wajah baru sehingga wartawan yang menulis berita tentang saya 50% salah menulis nama saya," katanya mengawali sambutannya pada kesempatan itu.

Sebagaimana menteri lainnya, sejuta harapan dipanggulkan di pundak Jero Wacik. Dia diharapkan membawa perubahan berarti dalam pengembangan pariwisata nasional. Setidaknya, melanjutkan serta menyempurnakan apa yang telah dirintis Menneg Budpar sebelumnya, I Gede Ardika.

Terlepas dari anggapan bahwa kehadiran Wacik di Kabinet Indonesia Bersatu atas dasar pertimbangan politis karena sebelumnya dia terlibat sebagai tim sukses dan salah satu pengurus DPP Partai Demokrat yang mengusung SBY ke Pilpres 2004 atau karena alasan profesional sebab dia ternyata pelaku bisnis jasa pariwisata juga. Tetapi , yang jelas selama hampir setengah jam Wacik dapat memaparkan komitmennya untuk mengembangkan pariwisata nasional dan pernyataannya cukup menenangkan sejumlah kalangan yang meragukan kehadirannya.

Bagi pria kelahiran Singaraja, Bali, 24 April 1949 ini, mendorong masyarakat untuk mengenal dan mencintai budayanya menjadi salah satu program prioritas yang akan dilakukannya. Dia juga menjamin pariwisata dan kebudayaan akan mendapatkan perhatian yang sama"

"Dalam pemanggilan sebagai calon menteri sebelumnya, Pak SBY sudah memberikan pengarahan kepada saya bahwa budaya sangat penting karena menyangkut identitas bangsa. Jadi masalah budaya justru lebih penting dari pariwisatanya," ujarnya.

Oleh karena itu Wacik mengaku segera akan membuat "kontrak" di kalangan internalnya (Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata) maupun dengan kalangan industri pariwisata berapa angka devisa yang diharapkan, berapa target kunjungan wisatawan mancanegara yang diinginkan dan bagaimana menggerakkan wisata nusantara dengan program seperti Kenali Negrimu, Cintai Negrimu dan lainnya.

Menarik memang membicarakan potensi wisatawan nusantara sebagai pidato diawal jabatan karena ibarat pepatah Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman d iseberang lautan keliatan, maka potensi wisata nusantara selama bertahun-tahun masih terus terabaikan karena pemerintah maupun industri pariwisatanya selalu terfokus untuk mengejar target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Untuk promosi pariwisata dalam negeri, misalnya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata hanya menganggarkan kurang dari 10% dari dana promosi yang ada karena selebihnya dipastikan untuk promosi luar negeri dan kegiatan lain. Padahal dari sisi penghasilan, devisa dari wisman kini hanya tercatat sekitar US$5 miliar (sekitar Rp 45 triliun) sementara dari kegiatan wisata nusantara atau pergerakkan wisatawan domestik mencapai Rp70 triliun.

Menneg Budpar Jero Wacik menyebutkan luasnya wilayah Indonesia dengan keindahan sumber daya alamnya yang berbeda-beda, merupakan potensi yang bisa dijual baik untuk wisatawan mancanegara, apalagi wisatawan dalam negeri.

"Banyak diantara kita yang sering ke luar negri tapi ternyata belum pernah berkunjung ke Ujung Pandang (Makassar), misalnya. Menggerakkan wisnus sebenarnya tak sulit asal konsisten," tegasnya. Dengan jumlah rakyat Indonesia yang cukup besar, potensi wisnus ini harus ditingkatkan persentase penyebarannya. Target Budpar sendiri, akan berupaya memperluas sebaran wisnus ini hingga menjadi 135,75 juta orang hingga akhir 2004

Perjalanan wisatawan nusantara atau lebih populer disingkat wisnus ini sejak 1991 menunjukkan kecendrungan yang terus meningkat. Meskipun sebenarnya data yang digunakan untuk melihat kinerja pertumbuhan wisnus ini terbatas pada data wisatawan yang menginap di akomodasi komersial (hotel bintang dan non bintang) namun dapat dicermati pengembangannya.

Tercatat pada tahun 1991 ada 72,1 juta pergerakan wisnus dengan jumlah pengeluaran Rp7,1 triliun. Tahun 1994 ada 83,6 juta pergerakan dengan frekuensi perjalanan 1,2 kali per tahun hingga menghasilkan pergerakan 100,4 juta orang. Jumlah tersebut meningkat pada 1996 menjadi 125,6 juta orang dengan pengeluaran Rp 123 triliun dan data Neraca pariwisata nasional (Nesparnas) menunjukkan tahun 2000 jumlah wisnus mencapai 109, 4 juta orang .

Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang mencapai 203 juta maka lebih separuh penduduk melakukan perjalanann wisata. Sementara batasan mengenai wisnus yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu perjalanan dilakukan minimun 100 km, menginap di akomodasi internasional dan tidak melakukan kegiatan yang terkait dengan pekerjaan.

Menarik mencermati angka-angka di atas. Apalagi bila mengingat masyarakat Indonesia juga masih mengandalkan untuk menginap di rumah saudara atau teman dalam melakukan perjalanan wisata sehingga angka-angka itu jumlahnya bisa lebih besar lagi.

Oleh karena itu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata perlu mengkaji data yang dimilikinya tentang lama tinggal wisnus, pilihan daerah tujuan wisata, pola pembelanjaannya dan berbagai karakteriktik lainnya yang selama ini belum digarap secara optimal. Di sisi lain, industri pariwisata sebagai ujung tombak pariwisata juga harus merubah paradigmanya untuk secara serius menggarap wisata nusantara dan melahirkan beragam produk wisata yang menarik.

Data Kementerian Budpar juga menyebutkan belum ada perubahan signifikan atas daerah yang paling banyak dikunjungi wisnus dari tahun ke tahun. Pada 2003 urutan daerah yang paling diminati wisnus adalah Jatim (20,52%), Jabar (18,03%), Sumatra kecuali Aceh (15,59%), dan Jateng (12,78%). Sedangkan daerah lainnya hanya mampu menyerap wisnus di bawah 10% dari total wisnus yang bergerak di Indonesia. Jakarta hanya mampu menyerap 6 persen wisnus, Bali dan Nusa Tenggara hanya 5,05%, dan Yogyakarta 2,43%.

Tentunya dibutuhkan kebijakan nasional untuk menggerakkan kunjungan wisman maupun wisnus apabila kabinet baru ingin mengandalkan pariwisata sebagai sumber pendapatan negara. Menurut Jero Wacik, banyak negara telah melakukan langkah dengan memberikan rangsangan bagi warganya agar terdorong berlibur di dalam negeri.

Tujuannya adalah jika ada gejolak yang sensitif bagi wisman seperti travel warning ke suatu negara tidak akan mempengaruhi proses perkembangan pariwisata di Indonesia. "Biaya perjalanan wisata di dalam negeri relatif terjangkau oleh semua kalangan masyarakat," katanya.

Agenda meningkatkan pontensi wisnus ini, diakui Jero Wacik, untuk melanjutkan program Budpar yang telah dirintis mantan menteri I Gede Ardika sebelumnya. Diakuinya, wisnus menjadi tulang punggung industri wisata nasional sehingga harus terus dipromosikan, baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Produk wisata yang dijual diutamakan daerah wisata yang memiliki nilai jual tinggi.

Wacik yang pada kesempatan pertamanya bertemu dengan berbagai insan pariwisata berjanji akan cepat belajar dari para senior dan kalangan industri pariwisata diharapkan tidak mengobral janji tapi segera mewujudkan program 100 harinya.

Karena itu rencana bertemu dengan kalangan industri pariwisata dan unsur-unsur lainnya hendaknya segera diwujudkan sebab seperti bidang pendidikan, kesehatan yang sudah muncul dengan gebrakan-gebrakan barunya maka masyarakat pariwisata Ibndonesia juga menantikan hal yang sama pada sosok pembaharu ini. Mudah-mudahan keinginan Jero Wacik yang disampaikan pada pidato awalnya untuk tancap gas mengejar ketertinggalan pariwisata Indonesia segera terwujud. Semoga!
__________________
JAKARTA Public Transportation:

Bus Rapid Transportation Database, BRT Part 1, BRT Part 2
tata no está en línea   Reply With Quote
Old November 1st, 2004, 02:42 PM   #44
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,003

I heard new countries will be added in Visa On arrival list....thats including those european nations mentioned above.

cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old November 1st, 2004, 03:45 PM   #45
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

but i've read news reports saying that the visa on arrival policy has in fact discouraged tourists from visiting Bali again..
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old November 1st, 2004, 04:32 PM   #46
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,003

The problem with the visa, 25 dollars only get you 30 days, NOT enough to go around in Indonesia for 30 days only. I am suggesting 25 bucks for 60 days.

cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old November 1st, 2004, 04:45 PM   #47
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

previously they get FREE 60-day visa, how good was that? I wonder why the govt. decided to make the max stay (w/o extension) to 30 days rather than 60 days...WHY?????? it just doesn't make sense.
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old November 1st, 2004, 05:36 PM   #48
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,003

I think the government (which were lead by the Justice minister) thinking that the foreign tourists are abusing their free VISA facility, therefore they work illegaly and doing suspicious thing (like supporting the separatist, etc). Its a mixed feeling I got though, Unless the money from the Visa can be used for it purpose, I dont really mind. But please make it 60 days and 15 dollars for 30 days.

cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old November 2nd, 2004, 02:29 PM   #49
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,003

I am surprised to see Jakarta is number four, overtaken Bali.

Jakarta, Bali in top ten destinations for Asia-Pacific online bookings: Survey

SINGAPORE (AFP): Bangkok remains the top destination for Asia-Pacific travellers who book flights and hotel rooms online, followed by Hong Kong and Singapore, a survey released on Tuesday showed.

The Indonesian resort island of Bali also kept its position as one of the top 10 destinations for the second consecutive quarter in the survey carried out by ZUJI, a leading online travel portal in the region.

The Indonesian capital Jakarta was in fourth place, followed by Kuala Lumpur and London.

Bali was the seventh most popular destination, trailed by Taipei, Los Angeles and Colombo, Sri Lanka, which rounded up the top 10 list.

Among Australians who booked their travel online, Bali was a "top five" destination", two years after the devastating terrorist bomb attack on the resort that killed 202 people, 88 of them Australian holiday-makers.

The survey on demographic and booking trends in the Asia-Pacific covered the three months to September.

It said 67 percent of those who booked online said they will take at least one business trip this year and an average 15 percent expect to travel for business six more times, partly due to the emergence of budget carriers.

"ZUJI predicts the current online user group will further differentiate during the next 12 months -- driven in part by the anticipated proliferation of low cost carrier airlines across the Asia Pacific region, bringing new consumer segments online," the survey said.

Among the survey's significant findings is the rise in the usage of electronic air tickets. In the September quarter survey, 30 percent of tickets issued were electronic, up from 15 percent during the first quarter.

Ninety-seven percent of travel transactions were paid using credit cards.

ZUJI is a joint venture between 15 major Asia Pacific airlines and Travelocity, an international web-based travel portal. (***)

--------------------------------------------------------------------------------
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old November 5th, 2004, 12:20 AM   #50
Yamauchi
Awesome User
 
Yamauchi's Avatar
 
Join Date: Mar 2004
Location: Emerald City
Posts: 548
Likes (Received): 32

JAKARTA - Tourism minister Jero Wacik predicted that Indonesia will earn US$5.3 billion from the tourism sector next year, up from this year's target of US$4.76 billion.

Wacik said 5.9 million foreign tourists are projected to visit the country in 2005, up from an estimated 5.3 million this year.
Yamauchi no está en línea   Reply With Quote
Old November 9th, 2004, 05:23 PM   #51
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,003

One VISA for ALL ASEAN countries.

Aseanta Ingin Satu Visa Untuk Asean

The Asean Tourism Association (Aseanta) tengah berupaya keras untuk menggolkan penggunaan satu visa untuk negara-negara di Asean guna menjadikan kawasan itu sebagai single destination. Menurut Elly Hutabarat, vice president Aseanta, dengan bisa dikeluarkannya satu visa untuk wisatawan asing yang mau mengunjungi 10 negara di Asean, merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai Aseanta.

"Kami [Aseanta] akan berusaha untuk mewujudkan bagaimana orang dari luar Asean bisa masuk ke negara Asean dengan satu visa untuk beberapa negara," katanya di sini pekan lalu.

Dengan bisa dikeluarkannya satu visa untuk memasuki 10 negara di kawasan Asean, ujarnya, diharapkan bisa mewujudkan Asean sebagai tujuan tunggal (single destination).

Dia mengatakan Aseanta mengharapkan negara-negara di Asean bisa mempunyai sikap dan memberikan perlakuan yang sama kepada wisatawan yang berkunjung, salah satunya dalam hal visa.

Menurut dia, penggunaan satu visa untuk mengunjungi semua negara di Asean pada dasarnya didukung semua negara di Asean, namun saat ini kebijakan dalam memberikan visa kepada wisatawan asing masih berbeda satu negara dengan negara lainnya.

Dia mengatakan Aseanta mematok 2009 diharapkan sudah bisa diterbitkannya satu visa untuk asing di luar orang Asean yang mau masuk ke negara-negera di Asean.

"Saat ini memang masih dalam pembicaraan yang dini. Tapi bisa juga besok lusa, mengingat Asean cepat bertindak, dan mungkin perkembangannya [visa satu untuk semua negara Asean] akan cepat juga berlaku," katanya.

Di samping penggunaan satu visa untuk seluruh negara di Asean, Elly juga mengatakan juga diharapkan untuk penduduk di Asean yang mau mengunjungi negara di Asean, tak perlu menggunakan paspor lagi.

Melainkan cukup dengan menggunakan smart card (semacam kartu Asean). "Dengan demikian [penduduk] antar Asean bebas ke luar masuk di kawasan Asean," ujarnya.

Mengenai kemungkinan penggunaan satu visa untuk semua negara di Asean serta penggunaan smart card sebagai pengganti paspor untuk lintas kawasan Asean bagi penduduknya, ujar Elly, merupakan salah satu bahasan yang akan dilemparkan dalam Asean Tourism Forum (ATF) yang rencananya akan diselenggarakan awal 2005.

Disambut baik
Keinginan Aseanta untuk mengeluarkan visa untuk seluruh negara Asean disambut baik oleh Yanti Sukamdani Hardjoprakoso, president Asean Hotel & Restaurant Association (AHRA).

"Menurut saya satu visa untuk semua negara di Asean sangat efisien. Hal ini memudahkan orang dari Eropa atau Amerika, misalnya, untuk datang ke wilayah Asean," ujarnya.

Jika bisa diberlakukan, katanya, maka akan memberikan kemajuan yang luar biasa. Karena kemudahan itu akan mendorong orang untuk datang ke Asean. "Karena orang yang ingin datang ke Asean tidak perlu menunggu ke luarnya visa, bahkan hingga dua minggu lamanya."

Yekti P. Suradji, sekjen Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) juga mendukung jika satu visa untuk negara-negara di Asean bisa terwujud. "Dampaknya akan sangat baik. Karena sekarang ini pun seperti orang China yang mau datang ke Indonesia, juga [seringkali terbentur dengan masalah] mendapatkan visa."

Sebagai gambaran dari dampak positif yang ditimbulkan dengan satu visa untuk bersama, adalah sechzen. Dengan sechzen, maka hanya membutuhkan satu visa untuk memasuki sepuluh negara, yaitu Belanda, Belgia, Luxemburg, Prancis, Jerman, Portugal, Italia, Spanyol, Austria, dan Yunani.

"Jika ada satu visa untuk beberapa negara, maka akan mempermudah. Sehingga kemudahan itu diharapkan akan menimbulkan keinginan orang untuk pergi [ke kawasan yang sepakat mengeluarkan satu visa]," ujarnya. (ltc)

Sumber: Bisnis Indonesia
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old November 11th, 2004, 08:56 AM   #52
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Visitors enter the dragon's lair as reptiles aid Indonesia's tourism revival

Wed Nov 10, 1:42 PM ET


KOMODO, Indonesia (AFP) - A monster lizard with fearsome claws, a flickering forked tongue and a killer bite is proving an unlikely ally in Indonesia's efforts to revive a tourism industry shattered by the October 2002 Bali bombing.


AFP/File Photo



Though many travellers have been put off visiting the Southeast Asian nation in the wake of the attacks in which 202 people died, on a nearby island, the giant Komodo dragon has proved an enduring attraction to curious holidaymakers.


Officials on the tiny island of Komodo, to the east of Bali, expect visitors to increase by one third in 2004 from a year earlier as crowds flock to quake before "varanus komodoensis", one of the world's largest carnivorous reptiles.


Named "dragon", probably because of its long, yellow tongue, this prehistoric-looking animal lives in freedom only on Komodo and a few neighbouring islands.


The creature can grow up to three metres long, kill a deer with a blow of its tail and devour a whole goat including skull and horns, but huge efforts are made to protect its dwindling numbers as Indonesia strives to safeguard a living heritage and one its major attractions.


Equipped with a long stick to fend-off possible attack, Mohammed Yoka Desthuraka works as a guide to hikers on the slopes of the Komodo National Park -- an area set up in 1980 to preserve the island and surrounding sea.


"They are unique animals, sometimes aggressive, sometimes lazy, sometimes they look friendly," Desthuraka says as he steps around the carcass of a buffalo attacked three days earlier by the giant monitor lizards.


Despite their cumbersome appearance, Komodos can run as fast as a dog in short bursts and jump onto their hind legs to unleash impressive front leg claws.


Most visitors keep a safe distance from dragons, particularly after hearing the cautionary tale of a Swiss tourist several years ago of whom nothing was found but a pair of spectacles and a camera.


"We have become more careful. Now tourists are accompanied by rangers," says park director Matheus Halim.


Some 70 rangers are deployed across the park's 60,000 hectares of vegetation and 120,000 hectares of ocean to ensure that no more people fall prey to the lizards and that the deer that feed the reptiles do not fall prey to hunters.


With poachers facing 10 years' jail, dragon numbers have now stabilised to about 2,500 reptiles says Halim, who keeps tabs on the powerful dragons using electronic chips embedded under their scaly skin.


"We try to keep them secure, to provide them enough food, to offer them good habitat, whatever they need."


The health of the reptiles is also supervised closely, in particular by researchers from Australia and the US city of San Diego.


In a further effort to protect Komodo's environment, the practice of fishing with dynamite has been outlawed to halt the widespread destruction of rich coral reef's off the island's shores.


The number of illegal explosions passed from 321 in 1993 to zero in 2002, according to Halim. Komodo's manta ray-filled seabeds, are today said to be among the most beautiful in Indonesia, if not the world.


As Komodo's park flourishes, it has become more of an attraction to those wishing to appropriate its valuable fauna and flora, which Halim guards jealously, even refusing to send dragons to zoos overseas.





Scientific research is also restricted, although the creature has yet to yield all its secrets -- in particular its bacteria-riddled saliva which infects the victims of its bites and an incredibly efficient digestive system.
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old November 11th, 2004, 02:40 PM   #53
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,003

Anyone ever been to Komodo Island? How is it?

cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old November 25th, 2004, 04:51 PM   #54
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

I saw another ad today in the Economist's "The World in 2005" annual publication as part of the 'Ultimate in Diversity' campaign.
It looks great...it had three pictures ..one of a natural hot spring/spa site somewhere in Java (I forgot),, another one a picture of Bali, and another one depicting Borobudur. Hope tourism recovers quickly..and not just Bali . I hope Indonesia realises its potential as a premiere tourist destination in Asia.
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old November 26th, 2004, 09:49 AM   #55
Ara
Registered User
 
Join Date: Sep 2004
Location: Djakarta
Posts: 651
Likes (Received): 0

Has anyone ever seen the advertisement of Indonesian tourism in CNN? I've seen it and it is pathetic. It's about 5 seconds long and it does not even show the buety of our country. The tourism board need to look at Malaysia's tourism drive. They are doing a fantastic job in promoting themselves. To the point that I'm actually humming to the Mayalsia Truly Asia theme song.
Ara no está en línea   Reply With Quote
Old November 26th, 2004, 02:14 PM   #56
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

well, I saw the ones on CNBC a few weeks ago...its quite good and substantial, about 30 second long. Yes I agree it doesn't compare to Malaysia or Thailand's, but you gotta take into consideration how much money we spend on tourism promotion compared to them, it DOES show...
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old November 26th, 2004, 02:15 PM   #57
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

Btw I must add to my comment above that it is better to have somewhat crappy ads compared to no ads at all..
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old November 26th, 2004, 03:37 PM   #58
Fir3blaze
Fir3blaze
 
Join Date: Sep 2004
Location: Surabaya, Singapore
Posts: 899
Likes (Received): 4

I agree, better some ads than no ads at all. Anyway, i think the 'ultimate in diversity' series ads (if i'm not wrong CNBC also plays them) are not too bad.
Fir3blaze no está en línea   Reply With Quote
Old November 26th, 2004, 04:07 PM   #59
Fir3blaze
Fir3blaze
 
Join Date: Sep 2004
Location: Surabaya, Singapore
Posts: 899
Likes (Received): 4

Enjoy Jakarta digelar Desember

Travel News: Thursday, 25 Nov 2004 9:31:55 WIB

Dinas Pariwisata DKI Jakarta akan menggelar Enjoy Jakarta Shopping & Fashion pada Desember hingga Januari sebagai salah satu upaya untuk menggalakkan wisata belanja. Aurora Tambunan, Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, mengakui salah satu daya tarik wisatawan lokal dan asing ke Jakarta adalah berbelanja karena begitu banyak fasilitas yang tersedia.

"Orang dari luar seperti dari Malaysia dan Singapura bisa datang ke Jakarta khusus untuk berbelanja. Mereka mendatangi Tanah Abang dan mal Mangga Dua," katanya di sini kemarin.

Dia mengatakakan jika dibandingkan Singapura, di Jakarta masih bisa ditemukan produk dengan harga lebih murah, sehingga Dinas Pariwisata DKI Jakarta ingin mengangkat kegiatan daya tarik berbelanja untuk menarik wisatawan mengunjungi Jakarta.

"Kami inginkan mereka [wisatawan] datang bukan hanya untuk bisnis. Tapi bisa menambah satu hari tinggal, misalnya, untuk keperluan berbelanja, main golf, atau melakukan perawatan tubuh dengan spa."

Dia mengakui fokus wisata belanja saat ini adalah wisatawan Asia seperti Singapura, Kuala Lumpur, Jepang, Taiwan, Hong Kong dan Korea.

Sebab, lanjutnya, turis AS dan Eropa masih khawatir mengunjungi Jakarta. "Jadi kami ambil target yang bisa dicapai." (ltc)
Fir3blaze no está en línea   Reply With Quote
Old November 26th, 2004, 04:18 PM   #60
Fir3blaze
Fir3blaze
 
Join Date: Sep 2004
Location: Surabaya, Singapore
Posts: 899
Likes (Received): 4

**from jawapos.co.id**

ITPC Bisa Lakukan Promosi Investasi dan Wisata

JAKARTA- Permintaan Kadin agar ada penggabungan badan promosi investasi, ekspor, dan pariwisata direspon positif oleh BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional). Dalam hal ini, Ketua BPEN, Diah Maulida mengatakan bahwa badan yang dipimpinnya siap sinergi bersama BKPM dan Kementrian Budpar untuk melaksanakan promosi bersama. Promosi secara terpadu tersebut bisa menggunakan fasilitas ITPC (Indonesia Trade Promotion Centre) di tujuh negara.

"Pada prinsipnya kami bisa melakukan kerjasama promosi investasi, wisata, dan ekspor secara sekaligus sehingga efisien biaya dan waktu. Untuk itu, kami sedang menjajaki kemungkinan itu melalui koordinasi lintas departemen," papar Ketua BPEN, Diah Maulida, kepada koran ini, di Jakarta, kemarin.

Hal ini dilakukan karena saat ini BPEN memiliki anggaran promosi dagang dan lembaga promosi khusus (ITPC) di 7 negara yang mewakili 4 benua. Pembangunan ITPC tersebut dilakukan untuk meningkatkan penerobosan pasar ke negara-negara non tradisional melalui pemantapan lembaga promosi di luar negeri dan peningkatan promosi. ITPC tersebut berada di Dubai-Uni Emirat Arab (UEA), Osaka-Jepang, Los Angeles-Amerika Serikat, Budapest-Hongaria, Johannesburg-Afrika Selatan, dan Sao Paolo-Brazil.

Setidaknya, keberadaan ITPC telah mampu mendongkrak capaian ekspor Indonesia. Tahun ini, ekspor non migas Indonesia hampir dipastikan mengalami pertumbuhan 7 persen atau mencapai USD 50 miliar. "Adanya ITPC di 7 negara telah mampu membuat nilai ekspor terus meningkat signifikan terutama di tujuan ekspor non tradisional," tutur Diah. Selain itu, lanjutnya, pameran dagang di luar negeri juga sangat efektif memperkenalkan keunggulan produk-produk Indonesia.

Pameran dagang di luar negeri yang setiap tahun dilakukan Indonesia adalah Indonesia Solo Exhibition (ISE) di Sharjah-Uni Emirat Arab dan Beijing-China. Selain itu, BPEN juga rutin menggelar PPEI (Pameran Produk Ekspor Indonesia) di Jakarta dengan mengundang ribuan buyers dari mancanegara. (faq)
Fir3blaze no está en línea   Reply With Quote
Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 05:38 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu