daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > The Skybazaar of Indonesia > Archive

Reply
 
Thread Tools
Old January 1st, 2011, 04:51 AM   #81
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,005

BI launches pro-poor policy to help eradicate poverty

The Jakarta Post | Thu, 12/30/2010 11:30 AM | Headlines

Bank Indonesia (BI) launched Wednesday a pro-poor policy to give the poor easier access to banking, insurance and other financial services.

BI Governor Darmin Nasution said the new policy would support the central bank’s financial inclusion program, which was expected to eventually eradicate poverty in Southeast Asia’s largest economy.

“The policy includes a holistic approach that aims at eliminating barriers — both in terms of prices and non-prices — for people to have access to financial services that cover savings, credit, payment system, insurance and other things,” he told a press briefing at BI offices in Jakarta.

The program, according to Darmin, will be implemented through financial education, financial eligibility, supportive regulation, facilitating intermediary and policy reform that covers customer protection, agent banking and mobile phone banking.

“[It] is designated for people who have never had access to the financial services sector,” he added.

Raising people’s ability to manage their money, Darmin said, is the main method to reduce the number of poor people as they will become aware of how to make the most of their possessions.

The program’s goal is not only to enable people to manage their money but also to increase the use of banking services (lending and savings) and insurance so that it will help eradicate poverty, he added.

“It is also aimed at widening financial access to the people, especially micro, small and medium enterprises as well as microfinance. And also to provide easier financial services to society,” Darmin explained.


Micro, small and medium entrepreneurs (UMKMs) account for 99.91 percent of the overall businesspeople in the country. “Despite the significant contribution of UMKMs to the country’s economy, the sector still has problems in obtaining financing from the banking industry,” Darmin added.

In 2009, about 52.76 million poor people in Indonesia worked at micro, small and medium enterprises and up to 70 percent of them still had no access to banks, Central Statistics Agency (BPS) data show.

Meanwhile, a World Bank survey in the same year also revealed that about 32 percent of Indonesians are still “financially excluded”.

“If the financial services sector could function well, financial markets and institutions would be expected to give a chance to all people to take advantage of the best investment opportunities.

“Their money would be channeled to productive uses that could support economic growth, increase distribution of income and reduce poverty,” Darmin said.

BI’s new policy is in line with President Susilo Bambang Yudhoyono and his administration’s pro growth, pro job and pro poor agenda during their 2009-2014 term.

The pro-poor policy is one of 23 regulations announced by the central bank Wednesday, most of which are aimed at coping with the impact of the influx of foreign capital into the country’s debt and equity markets. (est)

source http://www.thejakartapost.com/news/2...e-poverty.html

cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old January 1st, 2011, 09:08 AM   #82
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,701
Likes (Received): 37

PENDUDUK
Ekonomi Tumbuh, tapi Kesejahteraan "Nol"
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Boleh jadi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai lebih dari 6,5 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tergolong tinggi ini tidak diikuti dengan kenaikan tingkat kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi tak berdampak apa-apa pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, tidak ada korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat pada tahun 2010. Peneliti senior LIPI, Wijaya Adi, mengatakan bahwa kesimpulan ini dicapai dari beberapa indikator, seperti jumlah pengangguran dan tren penduduk miskin sepanjang tahun 2010.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tak berdampak apa-apa pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia mengacu pada angka pengangguran di Indonesia pada tahun 2010. Jumlah pengangguran terbuka memang menurun dari tahun 2009, yaitu dari angka 9.259 orang menjadi 8.592 orang.

Namun, jumlah pengangguran yang digolongkan sebagai setengah pengangguran atau pekerja dengan jam kerja rata-rata 2-5 jam saja per hari justru meningkat signifikan, yaitu dari 31.363 orang ke angka 32.803 orang.

"Artinya, tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi korelasinya enggak sejalan. Pertumbuhan ekonomi tidak terkait erat dengan kesejahteraan masyarakat," katanya dalam keterangan pers di Gedung LIPI, Rabu (22/12/2010).

Menurutnya, orang kaya di Indonesia semakin banyak. Namun, jumlah orang miskin juga tak kunjung berkurang secara signifikan. Wijaya dan rekan-rekannya menduga, angka pengangguran ditekan dengan semacam bantuan langsung tunai kepada masyarakat. Dengan demikian, batas bawah garis kemiskinan bisa terlampaui.

"Kalau batas bawah disebut miskin saja Rp 250.000, nah pemerintah memberi Rp 300.000 saja setiap bulannya untuk setiap mereka yang enggak bekerja. Tentu mereka enggak miskin lagi kan setelah itu," katanya.

Oleh karena itu, lanjut Wijaya, tak ada jaminan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi berpengaruh langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk tahun mendatang, Wijaya berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi semata. Justru, pemerintah harus kembali pada visi awal yang diamanatkan Preambule UUD 1945, yaitu negara bertanggung jawab untuk menyejahterakan rakyatnya.

http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...ejahteraan.Nol
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old January 4th, 2011, 12:53 AM   #83
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,005

Indonesia Bourse May Start Trading 30 Minutes Earlier (Update1)

By Widya Utami

Jan. 3 (Bloomberg) -- Indonesia may start stock trading 30 minutes earlier to extend daily trading hours and align the session with regional markets.

Trading may start at 9 a.m. Jakarta time, compared with 9:30 a.m. now, exchange President Director Ito Warsito said by telephone today. Discussions are at an early stage, he said. The start of trading currently trails behind opening hours in markets such as in Malaysia, Singapore, and Hong Kong.

“Indonesian investors have a habit of looking at regional markets for clues for the start of trade,” said Syafrien Anwar, a senior sales manager at PT Nusantara Capital Securities. “If our market opens at about the same hour, trading may better reflect stock valuations and fundamentals.”

A lengthened trading day may also help the bourse to attract overseas investors after the Jakarta Composite index rallied 46 percent last year, the best performer among Asia’s 10 biggest markets. Foreign investors own about 63 percent of Indonesia’s stocks worth some 1,715 trillion rupiah ($191 billion), according to data from the nation’s securities depository and settlement institution.

To contact the reporter on this story: Widya Utami in Jakarta at wutami@bloomberg.net

To contact the editor responsible for this story: Reinie Booysen at rbooysen@bloomberg.net

source : http://noir.bloomberg.com/apps/news?...d=ajihdlVyqR_s
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old January 4th, 2011, 12:55 AM   #84
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,005

Nilai Perdagangan Indonesia Catatkan Rekor

Senin, 03 Januari 2011 | 18:01 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Badan Pusat Statistik mencatatkan nilai ekspor nasional sepanjang November 2010 mencatatkan rekor baru senilai US$ 15,34 miliar. Angka ini meningkat 6,52 persen dibanding ekspor Oktober. Peningkatan ini setara dengan 42,34 persen dibandingkan bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan pencapaian ini mengalahkan rekor sebelumnya pada Oktober tahun yang sama sebesar US$ 14,4 miliar. "Ini sinyal bagus bagi kemampuan ekonomi Indonesia," ujarnya di Jakarta, Senin (3/1).

Naiknya angka ekspor ini lebih banyak didukung oleh ekspor sumber daya alam yaitu batu bara dan minyak sawit. Peningkatan nilai ekspor dari dua komoditas ini juga lebih banyak didorong oleh kenaikan harga sepanjang tahun.

Rusman berharap, Indonesia mulai menggeser pangsa ekspor bagi komoditas industri manufaktur jika ingin perekonomian bertumbuh secara berkesinambungan. Nilai impor juga mencatatkan rekor tertinggi sepanjang Desember dengan menorehkan angka US$ 13,07 miliar atau meningkat 7,85 persen dibandingkan impor Oktober. Angka ini naik dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya yaitu senilai 48,29 persen.

Menurut Rusman, Indonesia memiliki kondisi impor yang sehat, ditunjukkan dengan minimnya impor barang jadi yaitu sebesar 7,32 persen. "Tekstil dan elektronik impor dari Cina sangat kecil dibandingkan impor bahan lainnya," ujar dia.

Sebanyak 72,8 persen bahan baku berasal dari pangsa impor nasional sementara 19,9 persen merupakan impor barang modal. Menurut dia, impor barang modal dan barang baku yang besar menunjukkan gairah yang baik terhadap industri dalam negeri. Dia menyebut ada jeda sekitar tiga bulan sebelum bahan baku bisa diolah menjadi bahan jadi oleh industri.


Secara kumulatif, ekspor Indonesia hingga November telah mencapai US$ 140,65 sementara impor mencapai US$ 122,58 miliar sehingga menghasilkan surplus sebesar US$ 18,07 miliar. Rusman sendiri optimistis surplus perdagangan tahun ini bisa mencapai US$ 20 miliar.

ANTON WILLIAM

source http://www.tempointeraktif.com/hg/pe...303431,id.html
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old January 4th, 2011, 11:48 AM   #85
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,701
Likes (Received): 37

2025
Target "Income" Per Kapita RI 10.000 Dollar

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai 10.000 dollar AS pada 2025.

"Kita perjuangkan supaya income per kapita mencapai 10.000 (dollar AS)," kata Presiden saat berpidato dalam pembukaan perdagangan perdana di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (3/1/2011).

Presiden Yudhoyono menjelaskan, target itu dibuat dengan perhitungan yang rasional. Dia optimistis bisa mencapai target karena pendapatan per kapita penduduk Indonesia naik dua kali dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Menurut Kepala Negara, perjuangan untuk meningkatkan pendapatan per kapita adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia dari berbagai kalangan. "Itu akan kita perjuangkan secara adil untuk semua," kata Presiden.

Presiden mengatakan, target pencapaian pendapatan per kapita sebesar 10.000 dollar AS itu selaras dengan target Indonesia untuk menjadi kekuatan baru di dunia. "Visi Indonesia 2025, kita ingin menjadi emerging nation," kata Presiden Yudhoyono.

Presiden meminta semua warga negara Indonesia saling bekerja sama sehingga Indonesia bisa mencapai target dalam waktu 15 tahun. "Dalam waktu 15 tahun, kita berharap bisa mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang jauh lebih baik daripada sekarang," katanya.

Presiden berharap, usaha untuk mencapai target 15 tahun itu dilakukan dengan berbuat yang terbaik setiap tahunnya.

Untuk itu, Yudhoyono berharap semua elemen masyarakat bersama-sama mewujudkan target untuk 2011, antara lain, pertumbuhan ekonomi 6,4 persen, penurunan pengangguran hingga 7 persen, dan pengurangan kemiskinan hingga 11,5 persen.

Menurut Yudhoyono, Indonesia adalah negara besar. Oleh karena itu, pembangunan Indonesia juga harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

http://bisniskeuangan.kompas.com/rea....10.000.Dollar
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old January 4th, 2011, 11:49 AM   #86
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,701
Likes (Received): 37

ANCAMAN KRISIS AIR 2015
Ayo, Ekspor Air ke Singapura

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia berpeluang mengekspor air dan listrik langsung ke Singapura. Pasalnya, negara ini akan menghadapi krisis air dan listrik setidaknya mulai 2015. Terkait dengan hal itu, Indonesia meminta Singapura serius dalam berinvestasi, terutama untuk mengembangkan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinator Perekonomian Lucky Eko Wuryanto mengungkapkan hal tersebut di Jakarta,Selasa (4/1/2011), saat rehat dari pertemuan bilateral antara Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa serta Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Lim Hng Kiang.

Menurut Lucky, Singapura hingga saat ini belum menunjukkan minat serius untuk investasi di kawasan BBK. Padahal banyak peluang yang dapat dikembangkan Singapura di BBK. "Singapura belum memberikan sinyal tentang apa yang mereka inginkan di BBK. Selama ini Singapura baru mempromosikan KEK BBK. Kami ingin mereka langsung investasi di BBK," ungkapnya.

http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...r.ke.Singapura
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old January 4th, 2011, 12:07 PM   #87
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,701
Likes (Received): 37

Indonesians, South Africans and Chinese The Keenest on Resolutions

A brighter consumer outlook for 2011 marks the end of a year marred by recession and economic crises, according to a poll on Friday. More than three-quarters (77 percent) of 18,000 people in a global survey by Reuters/Ipsos said next year will be better than 2010.

Nearly half the respondents (48 percent) polled across 24 countries said that 2010 was “a bad year for me and my family”. But just over half (51 percent) believe the “world will be a better place in 2011” and those who planned to make 2011 resolutions were focused on finances.
?
“Against this backdrop, the top resolutions dealing with money and an outlook favoring optimism bodes well for the outset of 2011,” said John Wright, senior vice president of market research firm Ipsos.

Despite the optimism and at a time when European governments are slashing budgets to avoid falling victim to a debt and deficit crisis, only 36 percent of respondents agreed “very much” that they would make personal resolutions for 2011 and 45 percent “somewhat” agreed they would make a resolution.

Indonesians, South Africans and Chinese were the keenest on resolutions, while respondents in Hungary, Japan and Germany were the least interested. Nearly seven in 10 resolutions made this year involve money, reflecting a year of economic crisis that has been felt keenly in Europe where a leading British think tank said on Friday that it gave the euro currency a one-in-five chance of surviving in its current form over the next 10 years.

Earning more money was the most popular resolution at 21 percent, followed by saving more money (16 percent) and better budget control of personal or family finances (16 percent). Having a healthier lifestyle was the next most popular resolution after earnings, finances and budgets.

The people most likely to make resolutions in 2011 were in the high income bracket, had a high level of education, were less than 35 years old, not married and had a job. The bottom of the heap for resolutions included getting divorced, cutting down on or quitting drinking alcohol, resolving outstanding conflicts, going back to school, having children and getting married.

Fewer than 30 percent of resolutions will be about strengthening relationships with spending more family time top of the pile at 11 percent, followed by more time with friends. Wright said monthly polling on the assessment of national economies witnessed a positive turning point at mid year in 2010.

“After being savaged by the recession, consumer citizens were seeing hopeful signs of recovery,” he said.

http://www.indonesiaberprestasi.web....n-resolutions/
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old January 4th, 2011, 04:23 PM   #88
kaki_langit
BANNED
 
Join Date: Oct 2006
Posts: 177
Likes (Received): 0

Quote:
Originally Posted by Mimihitam View Post
2025
Target "Income" Per Kapita RI 10.000 Dollar

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai 10.000 dollar AS pada 2025.

"Kita perjuangkan supaya income per kapita mencapai 10.000 (dollar AS)," kata Presiden saat berpidato dalam pembukaan perdagangan perdana di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (3/1/2011).

Presiden Yudhoyono menjelaskan, target itu dibuat dengan perhitungan yang rasional. Dia optimistis bisa mencapai target karena pendapatan per kapita penduduk Indonesia naik dua kali dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Menurut Kepala Negara, perjuangan untuk meningkatkan pendapatan per kapita adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia dari berbagai kalangan. "Itu akan kita perjuangkan secara adil untuk semua," kata Presiden.

Presiden mengatakan, target pencapaian pendapatan per kapita sebesar 10.000 dollar AS itu selaras dengan target Indonesia untuk menjadi kekuatan baru di dunia. "Visi Indonesia 2025, kita ingin menjadi emerging nation," kata Presiden Yudhoyono.

Presiden meminta semua warga negara Indonesia saling bekerja sama sehingga Indonesia bisa mencapai target dalam waktu 15 tahun. "Dalam waktu 15 tahun, kita berharap bisa mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang jauh lebih baik daripada sekarang," katanya.

Presiden berharap, usaha untuk mencapai target 15 tahun itu dilakukan dengan berbuat yang terbaik setiap tahunnya.

Untuk itu, Yudhoyono berharap semua elemen masyarakat bersama-sama mewujudkan target untuk 2011, antara lain, pertumbuhan ekonomi 6,4 persen, penurunan pengangguran hingga 7 persen, dan pengurangan kemiskinan hingga 11,5 persen.

Menurut Yudhoyono, Indonesia adalah negara besar. Oleh karena itu, pembangunan Indonesia juga harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

http://bisniskeuangan.kompas.com/rea....10.000.Dollar
Hahahaha .... Kok hanya melihat dari angka pertumbuhan doang ... bagaimana bisa tambah makmur ...tahun 2010... ekonomi tumbuh 6% tapi inflasi 7% dan 2011 gw yakin inflasi akan lebih tinggi dari 7% karena ada pembatasan BBM berrsubsidi ....

Last edited by kaki_langit; January 4th, 2011 at 04:51 PM.
kaki_langit no está en línea   Reply With Quote
Old January 5th, 2011, 12:03 AM   #89
nick_1212
sobat padi
 
nick_1212's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: depan wartel
Posts: 660
Likes (Received): 33

Target dan Kebijakan Perekonomian Indonesia
Tuesday, 04 January 2011
PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan perekonomian Indonesia tumbuh antara 7–8% per tahun dalam periode 2010–2020. Hal yang dimaksud Presiden adalah bahwa pendapatan nasional akan tumbuh rata-rata 7–8% per tahun selama periode tersebut.

Mungkinkah target itu tercapai? Atau,target itu terlalu rendah untuk dapat mengurangi kemiskinan dan pengangguran? Atau, target itu justru terlalu tinggi? Ada yang mengatakan target itu sudah optimal. Jika targetnya lebih tinggi, perekonomian Indonesia akan terlalu ”panas”. Artinya, inflasi akan makin tinggi. Sekarang pun sudah ada kekhawatiran bahwa inflasi akan makin tinggi.

China yang pernah mengalami pertumbuhan amat tinggi,di atas 10%, akhirnya mengalami ”kepanasan”, walau inflasi mereka masih di bawah 6%. Sekarang, China menurunkan target pertumbuhan ekonomi mereka. Di sisi lain, jika target lebih rendah,menurut pendapat ini, bagaimana kita akan mempunyai dana untuk berbagai macam kegiatan ”bukan ekonomi” seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan,dan keamanan?

Asumsi dari pendapat ini adalah bahwa pertumbuhan ekonomi mutlak diperlukan untuk melakukan berbagai kegiatan ”bukanekonomi”. Initermasuk untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan dalam pendapatan dan kekayaan. Makin tinggi pertumbuhan ekonomi, makin mudah untuk melakukan berbagai hal ”bukan ekonomi”. Ini seperti mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, menaikkan pendidikan dan kesehatan, serta meningkatkan mutu lingkungan.

Karena itu, biasanya perdebatan mengenai prospek perekonomian sering berkisar pada berapa perekonomian harus tumbuh dan beberapa variabel ekonomi makro. Hal-hal lain yang tidak dilihat sebagai bagian dari analisis para ekonom. Semuanya akan baik, menurut pendapat ini, bila pertumbuhan ekonomi tinggi. Dalam kaitan ini,mungkin ada gunanya memperhatikan Human Development Report 2010 yang diterbitkan PBB. Hal penting dalam laporan ini salah satunya adalah penemuan tidak adanya korelasi kuat antara pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesehatan dan pendidikan.

Adanya teknologi maju dan inovasi sosial telah memungkinkan banyak negara miskin mengalami kemajuan pesat dalam kesehatan dan pendidikan,walau pertumbuhan ekonomi mereka tidak tinggi. Meski demikian,dalam laporan tersebut PBB juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap penting.Tanpa pertumbuhan ekonomi, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pendidikan, kesehatan, dan banyak hal ”bukan ekonomi”lainnya.

Pesan utama laporan ini adalah bahwa pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi bukan satu satunya. Selain itu, bahwa banyak hal ”bukan ekonomi” dapat dicapai dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Pesan yang lebih utama dalam laporan ini dan laporan mengenai Human Development Report sejak 1990 adalah pada dasarnya pembangunan diperuntukkan untuk manusia. Pembangunan haruslah dilihat sebagai pembangunan manusia (human development).

Sejak 1990, PBB menciptakan dan menggunakan statistik untuk mengukur pembangunan. Statistik ini, yang disebut Human Development Index (HDI), sebagai pengganti statistik pendapatan nasional untuk mengukur pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional merupakan salah satu dari tiga komponen dalam statistik tersebut. Dua komponen lainnya adalah pendidikan dan kesehatan.

Berita yang bagus adalah bahwa diukur dari HDI selama 30 tahun terakhir, Indonesia telah mengalami kemajuan pesat. Peringkat Indonesia di dunia juga naik dari 111 di dalam laporan pada 2009 menjadi 108 di 2010. Pesan lain, yang tidak kalah penting dalam laporan kali ini adalah PBB juga menekankan bahwa kita harus sudah mulai go beyondHDI. Pembangunan manusia jauh lebih luas daripada yang diukur HDI. Pembangunan haruslah merupakan perluasan kebebasan dan kemampuan manusia untuk menikmati hidup mereka.

Karena itu, pada 1990, PBB memasukkan kesehatan dan pendidikan. Sebab, dua hal ini, selain pendapatan, merupakan dua faktor yang amat membantu meningkatkan kebebasan dan kemampuan masyarakat dalam menentukan mutu kehidupan mereka. Lebih lanjut, kini PBB juga menyarankan agar pengukuran pembangunan mengikutsertakan pengukuran di bidang politik dan sosial.

Masalah perubahan iklim juga harus mendapatkan perhatian yang serius. Pasalnya, hal ini dapat memorak-porandakan yang kita capai dalam pembangunan. Dengan demikian, kalau kita mengikuti hasil dalam laporan ini, penentuan target pembangunan haruslah dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada pertumbuhan ekonomi.

Minimal, penentuan target harus dilakukan bersama target di bidang kesehatan dan pendidikan.Kalau pertumbuhan ekonomi berhasil seperti ditargetkan, tetapi target pendidikan dan kesehatan tak tercapai, pembangunan ekonomi kita telah berjalan tidak seperti yang diharapkan. Bagaimana melakukannya? Apakah harus membuat suatu indeks yang baru, yang membuat banyak variabel menjadi hanya satu statistik? Mungkin tidak perlu melakukan hal ini.

Kita dapat sekadar menggunakan berbagai statistik secara bersama-sama ketika kita menilai dan merencanakan pembangunan. Kita jangan lagi mengatakan ”pembangunan ekonomi”. Sebab,pembangunan pada dasarnya adalah pembangunan manusia, untuk manusia. Sementara pendapatan nasional hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang menentukan kesejahteraan masyarakat. Kita pun tidak perlu risau dengan statistik yang diperlukan untuk mengukur pembangunan.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah memiliki banyak statistik yang kita perlukan dan kita dapat memulai perencanaan pembangunan yang menyeluruh dengan statistik tersebut. Kita dapat membuat target untuk semua statistik yang kita pilih.Target ini kita gunakan untuk evaluasi pembangunan. Kalau perlu, kita dapat meminta BPS mengumpulkan data yang baru untuk melengkapi pembuatan target dan evaluasi pembangunan.

Singkatnya, diskusi mengenai prospek dan target perekonomian Indonesia seyogianya dilakukan secara menyeluruh.Artinya, tidak hanya terfokus pada target pendapatan nasional atau hanya ditambah dengan target variabel ekonomi makro. Kesimpulan yang dilaporkan dalam Human Development Report 2010sebenarnya tidaklah terlalu baru.

Banyak pemikir Indonesia juga sudah berpendapat semacam itu,walau cara penyampaiannya berbeda.Hal yang signifikan adalah bahwa lembaga internasional seperti PBB kini telah makin lantang menyuarakan hal tersebut. Bagaimana dengan kita dan pemerintah Indonesia?(*)

ARIS ANANTA
Ekonom

http://www.seputar-indonesia.com/edi...t/view/373650/
nick_1212 no está en línea   Reply With Quote
Old January 5th, 2011, 12:43 AM   #90
nick_1212
sobat padi
 
nick_1212's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: depan wartel
Posts: 660
Likes (Received): 33

Quote:
Originally Posted by kaki_langit View Post
Hahahaha .... Kok hanya melihat dari angka pertumbuhan doang ... bagaimana bisa tambah makmur ...tahun 2010... ekonomi tumbuh 6% tapi inflasi 7% dan 2011 gw yakin inflasi akan lebih tinggi dari 7% karena ada pembatasan BBM berrsubsidi ....
gw setuju, pertumbuhan ga ada korelasinya dengan tingkat kemakmuran, semakin tinggi kekayaan semakin tinggi beban hidupnya.. (pendapat pribadi gw bukan studi empiris )


Penerimaan Pajak 2010 Tak Capai Target Karena Tingginya Restitusi
Ramdhania El Hida - detikFinance


Jakarta - Total penerimaan pajak di tahun 2010 lalu tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Dari target Rp 661,4 triliun, realisasi penerimaan pajak mencapai 98,1% atau Rp 649,042 triliun.

Kepala Pusat Kebijakan APBN Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, penerimaan Direktorat Jenderal Pajak tidak mencapai target karena besarnya restitusi atau pengembalian penerimaan perpajakan.

"Restitusi ini cukup tinggi angkanya dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 31,3 triliun. Sehingga ini yang menghambat realisasi penerimaannya. Seharusnya memang naik dibanding 2009," ujarnya di kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (4/1/2011).

Memang hampir seluruh jenis penerimaan pajak di 2010 realisasinya mencapai target kecuali untuk pajak pertambahan nilai (PPN), pajak penjualan barang mewah (PPnBM), dan pajak penghasilan (PPh) non migas.

Realisasi penerimaan PPN dan PPnBM mencapai Rp 251,9 triliun atau 95,8% dari sasaran APBN-P 2010 sebesar Rp 263 triliun.

Jika dibandingkan dengan realisasi di 2009 yang sebesar Rp 193,1 triliun, kinerja penerimaan PPN dan PPnBM di 2010 lebih tinggi sebesar Rp 58,8 triliun atau 30,5%.

Sementara realisasi penerimaan PPh non migas mencapai Rp 297,7 triliun atau 97% dari target APBN-P 2010 sebesar Rp 306,8 triliun. Jika dibandingkan dengan realisasinya di 2009 yang sebesar Rp 267,6 triliun, kinerja penerimaa PPh non migas di 2010 lebih tinggi Rp 30,2 triliun atau 11,3%.

"Kinerja perpajakan kita sangat bagus, hampir semua sesuai target keculi PPh non migas dan PPN," ujar Askolani.

Selain itu, lanjut Askolani, tidak tercapainya target penerimaan pajak ini karena adanya dampak peraturan perundang-undangan perpajakan yang memperbolehkan wajib pajak untuk dapat menunda kewajiban pembayaran pajaknya pada saat mengajukan keberatan dan banding.

"PPN bisa berpotensi tidak optimal, kalau ada keberatan dengan UU baru tidak membayar. Kalau UU lama dia tetap bayar. Pada UU baru dia bisa meng-hold dulu kemungkinan bayarannya, dengan mengajukan keberatan dia bisa meng-hold dulu sampai dapat kepastian angka," ujarnya.

Sedangkan realisasi penerimaan cukai di 2010 mencapai Rp 66,2 triliun untuk 111,6% dari target, pajak perdagangan internasional Rp 28,9 triliun atau 127,9% dari target, PBB Rp 28,6 triliun atau 112,9% dari target, BPHTB Rp 8 triliun atau 112% dari target, dan pajak lainnya Rp 4 triliun atau 103,3% dari target. Pelampauan realisasi penerimaan cukai tersebut berkaitan dengan penyesuaian tarif cukai tembakau.

"Sedangkan terlampauinya sasaran penerimaan pajak perdagangan internasional berkaitan dengan meningkatnya volumen impor sejalan dengan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan naiknya harga rata-rata CPO di pasar internasional menjadi sekitar US$ 1.000/metrik ton pada empat bulan terakhir," ujarnya.

Askolani menyebutkan realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 267,5 triliun atau 108,2% dari sasaran APBN-P 2010 sebesar Rp 247,2 triliun atau naik Rp 40,3 triliun 17,8% dari realisasi PNBP tahun 2009 sebesar Rp 227,2 triliun.

Sementara penerimaan hibah mencapai Rp 2,4 triliun yang berarti 127,4% dari sasaran APBN-P 2010 sebesar Rp 1,9 triliun atau naik 45% dari realisasi hibah tahun 2009 sebesar Rp 1,7 triliun.

Secara keseluruhan, realisasi pendapatan negara dan hibah negara di 2010 mencapai Rp 1.014 triliun atau 16% dari PDB. Pencapaian ini lebih tinggi Rp 21,6 triliun atau 2,2% dari sasaran APBN-P 2010 yang sebesar Rp 992,4 triliun.

Pendapatan dan hibah di 2010 mengalami kenaikan Rp 165,2 triliun atau sebesar 19,5% dari realisasi di 2009 yang sebesar Rp 848,8 triliun. Dari APBN-P 2010 sebesar Rp 743,3 triliun atau naik sebesar Rp 124,1 triliun atau 20% dari realisasi sebesar Rp 619,9 triliun.
(nia/dnl)

source: http://www.detikfinance.com/kanal/4/ekonomi
nick_1212 no está en línea   Reply With Quote
Old January 5th, 2011, 02:34 AM   #91
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,005

GDP perkapita sebenernya ada hubungan nya ama tingkat kemakmuran karena setiap 1% kenaikan GDP berarti 100,000 angkatan kerja baru, tapi masalahnya, inflasi juga semakin tinggi, paling ujung2nya, pembatasan subsidi di delay lagi. karena sekarang harga minyak udah semakin tinggi atau paling interest rate dinaikin.....well see.


anyway..


Garuda and Bank Mandiri start marketing for share sales

By Anette Jönsson | 5 January 2011


Investor education starts for the IPO of state-owned airline Garuda Indonesia, which could fetch about $500 million, while Bank Mandiri kicks off the domestic roadshow for its rights issue of up to $1.6 billion.

investors looking to increase their exposure to Indonesia will have at least two potential targets to choose from early in the year as the government continues to reduce its stake in the country’s flagship assets. Yesterday, bankers started investor education for Garuda Indonesia’s upcoming initial public offering, which is expected to raise about $500 million, while Bank Mandiri kicked off the domestic roadshow for its rights issue that could raise as much as $1.6 billion.

Like the Bank Negara Indonesia rights issue in November, the government will not take up its 66.7% entitlement in the Mandiri rights issue but will sell the shares through a capital markets placement. This means that at least two-thirds of the issue will be open to institutional investors who are not currently shareholders of the bank, and hence the offering is attracting a lot of attention in the market. Minority shareholders can also sell their rights in the market if they don’t want to buy more shares.

The Garuda IPO too is attracting a lot of initial interest, according to sources. The part-privatisation of the country’s flagship airline has been talked about for years, and comes after a drawn-out five-year debt restructuring that was finally completed in December, leaving the airline in significantly better shape both to expand its operations and to approach equity investors for capital. Garuda was also named the world’s most improved airline by Skytrax in 2010 – an important award since it is based on passenger surveys. Skytrax is an independent London-based research firm focusing on the air transport industry.

The IPO hits the market at a time when the Indonesian economy is doing very well on the back of increased consumer spending and exports to China. In early December, Moody’s placed the country’s foreign and local currency bond ratings of Ba2 (two notches below investment grade) on review for a potential upgrade, citing economic resilience accompanied by sustained macroeconomic balance, improving government debt and foreign currency reserves, and an economic policy framework that is increasingly well positioned to deal with evolving macroeconomic challenges and potential shocks.

Indonesia was also the best performing among the major markets in Asia last year with a 46.1% gain (ahead of Thailand with 40.6% and the Philippines with 37.6%) supported by the strong economic growth, as well as a strengthening currency and the return of investor risk appetite. This prompted a lot of interest from international investors. According to Reuters, Indonesia attracted $2.18 billion of foreign portfolio inflows in 2010, which was more than double the level in 2009. Some of that money found its way into the market through primary issues like the IPOs of Indofood CBP, Harum Energy, Berau Coal Energy, Bumi Resources Minerals and state-owned Krakatau Steel, the re-IPO of mobile phone operator XL Axiata and several sizeable block trades.

In all, $10.1 billion was raised through the Indonesian equity capital markets in 2010, almost four times the $2.6 billion raised in 2009, according to preliminary data published by Dealogic. This made Indonesia the second most active market in Southeast Asia after Singapore, where the value of equity issuance fell 15% from 2009 to $10.5 billion.

The largest equity deal in Indonesia last year was Bank Negara’s $1.2 billion rights issue, which included a $930 million placement of the government’s entitlement. The government owned 73.3% of Bank Negara before the rights issue, but was diluted to 60% as a result of the sale.

Similarly, the government’s 66.7% stake in Bank Mandiri will be diluted to 60% following the pending rights issue. The bank, Indonesia’s largest lender by assets, announced on December 28 that it will offer up to 2.37 billion class B common shares at a ratio of 1 new share for every 8.985 existing shares. It also set an indicated price range of Rp4,000 to Rp6,150 per rights share, which will allow it to raise between Rp9.4 trillion and Rp14.4 trillion ($1 billion to $1.6 billion).

The price represents a discount of 3.1% to 37% versus the December 23 close of Rp6,350 – the last close before the announcement. Depending on the final price, the theoretical ex-rights price (Terp) will range between Rp6,115 and Rp6,330, indicating a discount to Terp of between 2.8% and 34.6%. The Bank Negara rights issue was priced at a 16.5% discount to Terp, and the placement of the government’s portion was priced at a 9.7% premium to the rights issue price, reflecting the fact that the placement was multiple times covered.

The Mandiri placement, which will be marketed to investors through a separate roadshow and bookbuilding on January 19-21, will raise between $667 million and $1.01 billion based on the indicated price range. The deal will be priced and allocated by January 24.

The remaining 33.3% of the rights issue will be fully underwritten by the four global coordinators: Bank of America Merrill Lynch, Deutsche Bank, Danareksa Sekuritas and Mandiri Sekuritas. These four will also act as joint bookrunners for the placement and rights issue together with Citi and CLSA.

The domestic roadshow for the rights issue will last until Friday and will be followed by an international roadshow from January 10 to 18. Assuming shareholders approve the rights issue at the extraordinary general meeting on January 28, the Mandiri shares will go ex-rights on February 8. The subscription period, which also corresponds with the time investors can trade the rights in the market, will run from February 14 to 21.

Like other banks that have completed capital raisings in the past year, Mandiri will use the proceeds from the rights issue to strengthen its capital structure in order to support its loan growth and general business expansion.

Garuda, meanwhile, will use part of the capital raised from its IPO for pre-delivery payments for new aircraft while part of it will go towards the repayment of debt as per the restructuring agreed with its creditors.

According to sources, the airline will offer 36.5% of its enlarged share capital in the form of 9.36 billion shares. Of the total, 79% will be new shares, resulting in fresh capital for the company, while the remaining 21% will be existing shares sold by the government. A price range will be set before the start of the domestic roadshow on January 11. The international roadshow will kick off on January 14 and the pricing is expected to take place on January 25. The trading debut is currently scheduled for early February, sources said.

Citi and UBS are acting as international bookrunners, while Bahana Securities, Danareksa Sekuritas and Mandiri Sekuritas will handle the marketing to domestic investors.

But it isn’t just in Indonesia that the market is getting busy again. Across firms bankers are working on a variety of deals that are expected to hit the market over the next week or two, taking advantage of the short window before the Lunar New Year holiday that starts on February 4. In India there was a report yesterday that Tata Steel is looking to raise as much as $1 billion through a sale of global depositary receipts. The report wasn’t confirmed, although it seems all but certain that the company is looking to hit the market soon, whether it be through a GDR issue or some other means.

Philippine conglomerate Filinvest Development Corp will start a two-week roadshow today for a follow-on equity offering that due to a current free-float of just 7.7% will be marketed much like an IPO. The company said in a statement filed with the Philippine Stock Exchange last night that it will offer up to 2.5 billion shares, which based on yesterday’s closing price indicates a potential deal size of up to $290 million. UBS is the global coordinator for the deal and joint bookrunner together with J.P. Morgan.

And while many market participants were still on holiday, The Carlyle Group sold a portion of its shareholding in China Pacific Insurance (Group) Co last week. A deal had been widely expected on the back of the expiry on December 23 of a 12-month lockup following CIPC’s IPO, although the fact that the private equity firm chose to approach the market at a time when many investors hadn’t yet returned from their Christmas break was somewhat surprising – especially given the size of the deal.

However, the HK$6.7 billion ($864 million) transaction was conducted largely as a private placement, according to sources. Few details were available about who bought the shares, but they were said to have been distributed to a group of investors with a broad geographic spread and a fundamental view on the company. Carlyle sold 215.8 million H-shares at a fixed price of HK$31.15, which represented a modest 0.6% discount to the closing price of HK$31.35 on December 29 – the day the shares were offered to investors.

The share price gained in the two days immediately following the deal but has since retreated slightly. Yesterday it closed at HK$31.70. The sale, which was handled by UBS, saw Carlyle’s stake in CIPC fall to 12.9% from 15.4%.

© Haymarket Media Limited. All rights reserved.

source http://www.financeasia.com/News/2432...are-sales.aspx
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old January 5th, 2011, 04:35 PM   #92
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,701
Likes (Received): 37

Puas?

SBY: Terima Kasih, Ekonomi 2010 Sesuai Harapan

INILAH.COM, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku puas dengan peningkatan perekonomian di tahun 2010 kemarin.

Presiden menyampaikan itu saat bertanya-jawab dengan para pelaku bisnis di Bursa Efek Indonesia. Menurutnya kemajuan perekonomian Indonesia selama 2010 tidak lepas dari kinerja para pelaku bisnis di bursa.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pelaku bisnis Indonesia atas capaian perekonomian kita di 2010 sesuai dengan harapan kita semua tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya," ujar Presiden SBY, di Gedung BEI, Senin (3/1/2011).

Presiden sendiri mengaku puas dengan kinerja BEI sehingga tercatat sebagai bursa terbaik se-Asia Pasifik. "Saya juga mengucapkan terima kasih pada BEI dan juga tentunya para pelaku pasar modal atas partisipasi dan kontribusinya memajukan pasar modal di negeri kita. Alhmdulillah pasar modal di negeri kita memiliki prestasi yang lebih impresif. Sangat membanggakan karena menjadi pasar modal terbaik di 2010 di seluruh asia Pasifik," imbuh Presiden.

Menurut Presiden, parameter untuk mengukur kemajuan ekonomi Indonesia di 2010 itu ada pada rencana kerja pemerintah (RKP) dan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). "Dari kacamata pemerintah apakah kinerja pemerintah sesuai dengan rencana APBN 2010 itu dapat dicapai. Di situ mengukurnya. Jangan mengukur dengan sesuatau yang tidak menjadi rencana yang dijalankan pemerintah kemarin termasuk untuk menjalankan RKP itu yaitu APBN-P kita tahun 2010," tandas Presiden. [hid]

http://ekonomi.inilah.com/read/detai...sesuai-harapan
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old January 5th, 2011, 05:55 PM   #93
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,701
Likes (Received): 37

BI: Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia meyakini prospek ekonomi Indonesia akan tetap kuat dengan pertumbuhan PDB pada tahun 2011 dan 2012 diprakirakan lebih tinggi, masing-masing 6,3 persen. Hal ini terutama didorong permintaan domestik, khususnya investasi yang mengalami akselerasi.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Rabu (5/1/2011), mengatakan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun 2011 diprakirakan masih akan mencatat surplus yang relatif besar meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada tahun 2010. Ekspor tetap tumbuh tinggi, tetapi impor tumbuh lebih cepat sejalan dengan kuatnya permintaan domestik sehingga surplus Neraca Transaksi Berjalan diprakirakan lebih rendah.

Di sisi lain, Neraca Transaksi Modal dan Finansial (TMF) diprakirakan masih akan mencatat surplus cukup tinggi. Ini didorong besarnya aliran modal masuk, baik dalam bentuk investasi portofolio maupun investasi langsung (PMA).

Ia mengatakan, momentum pemulihan ekonomi global kembali meningkat meskipun masih dibayangi risiko krisis utang di Eropa. Meski begitu, di tengah masih lemahnya pemulihan ekonomi di negara maju, kinerja ekonomi negara emerging markets tetap menunjukkan peningkatan.

Selain itu, harga komoditas global juga terus menunjukkan peningkatan, tidak hanya dipengaruhi faktor supply-demand, tetapi juga didorong oleh beralihnya investasi ke pasar komoditas akibat pelemahan dollar AS dan rendahnya imbal hasil di negara maju.
Sejauh ini, respons kebijakan bank sentral negara-negara maju masih cenderung mempertahankan suku bunga pada level yang relatif rendah. Sementara itu, beberapa negara emerging markets telah meningkatkan suku bunga kebijakannya yang disertai kebijakan untuk mengelola capital inflows dan menstabilkan pergerakan nilai tukar.
Di tengah kondisi ekonomi dan keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian tersebut, Dewan Gubernur Bank Indonesia meyakini perekonomian Indonesia pada 2010 dapat tumbuh sekitar enam persen.

Capaian ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 yang diperkirakan mencapai 6,1 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi. Peningkatan ekonomi Indonesia juga didukung oleh kinerja sisi eksternal yang cukup solid.

Untuk keseluruhan 2010, NPI mengalami surplus yang cukup besar, didukung oleh masih kuatnya aliran masuk modal asing, khususnya investasi langsung dan investasi portofolio.
"Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa sampai dengan akhir Desember 2010 tercatat sebesar 96,2 miliar dollar AS atau setara dengan 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," katanya.

Sejalan dengan kuatnya kinerja eksternal ekonomi Indonesia tersebut, nilai tukar rupiah mencatat apresiasi disertai tingkat volatilitas yang cukup rendah. Secara point-to-point rupiah menguat 4,4 persen (YTD) menjadi Rp 9.010 per dollar AS disertai volatilitas yang menurun.

Kebijakan pengelolaan capital inflows dan stabilitas nilai tukar yang ditempuh Bank Indonesia melalui intervensi valas dan akumulasi cadangan devisa mendorong ekspektasi positif terhadap perekonomian domestik.

Secara relatif, penguatan rupiah lebih rendah dari apresiasi nilai tukar negara di kawasan sehingga daya saing Indonesia masih cukup kompetitif.

http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...sia.Tetap.Kuat
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old January 5th, 2011, 10:50 PM   #94
nick_1212
sobat padi
 
nick_1212's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: depan wartel
Posts: 660
Likes (Received): 33

Quote:
Originally Posted by Mimihitam View Post
Puas?


"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pelaku bisnis Indonesia atas capaian perekonomian kita di 2010 sesuai dengan harapan kita semua tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya," ujar Presiden SBY, di Gedung BEI, Senin (3/1/2011).

Presiden sendiri mengaku puas dengan kinerja BEI sehingga tercatat sebagai bursa terbaik se-Asia Pasifik. "Saya juga mengucapkan terima kasih pada BEI dan juga tentunya para pelaku pasar modal atas partisipasi dan kontribusinya memajukan pasar modal di negeri kita. Alhmdulillah pasar modal di negeri kita memiliki prestasi yang lebih impresif. Sangat membanggakan karena menjadi pasar modal terbaik di 2010 di seluruh asia Pasifik," imbuh Presiden.


http://ekonomi.inilah.com/read/detai...sesuai-harapan
klo boleh tau rekan2 disini bisa tau ga berapa persen modal yang mengalir ke investasi langsung (FDI) dan yang masuk ke pasar sekunder (modal panas jangka pendek)? (bingung mau cari dimana )
gw koq punya feeling prestasi ini tercipta gara2 aliran asing yang masuk ke indonesia dan masuknya hanya sementara (modal panas jangka pendek), mereka investor luar hanya "pelarian saja karena bursa dinegara mereka masih down akibat krisis..
klo ini memang benar terjadi, percuma saja pasar modal kita terbaik se asia pasifik karena memang tak ada nilai tambah ekonomi yang dihasilkan dari transaksi jangka pendek ini yang penuh spekulasi pelaku pasar dan bahkan berpotensi bisa menimbulkan bubble ekonomi yang bisa bikin kacau..
gw ngarep modal yang masuk ini bisa jatuh ke pasar perdana IPO atau obligasi, ORI atau rukuk (lebih bagus lagi sukuk syariah berbasis proyek )
nick_1212 no está en línea   Reply With Quote
Old January 6th, 2011, 12:56 AM   #95
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,005

ada di Halaman belakang sebenernya

tapi nih saya postingin lagi, ini data untuk 2009. yang 2010 belom keluar

Quote:
Originally Posted by David-80 View Post
bener kok, itu kan sama equity juga

http://cdis.imf.org/

itu dari IMF coba di check, kalo ga salah Equity + FDI investment

cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old January 6th, 2011, 02:55 AM   #96
nick_1212
sobat padi
 
nick_1212's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: depan wartel
Posts: 660
Likes (Received): 33

Quote:
Originally Posted by David-80 View Post
ada di Halaman belakang sebenernya

tapi nih saya postingin lagi, ini data untuk 2009. yang 2010 belom keluar
th'x for the link mod, sory kurang menyimak halaman sebelumnya
tapi sayang cuma data 2009, padahal saya penasaran sama "prestasi" 2010 ini..

sory gw koreksi dikit, jumlah itu bukan equity + FDI investment tapi FDI= equity + debt (cb liat di link dibawahnya)

artinya dana asing yang masuk melalui jalur modal/equity (saham/portofolio saham)+pendanaan utang (ORI,obligasi atau sukuk) CMIIW
jumlahnya sekitar 108 juta US dollar

tapi masalahnya, yang gw pengen tahu itu angka berapa persen dari total investasi yang masuk baik direct atau indirect? ga ada datanya disana..

btw, gw baca jawapos 21 desember 2010 (http://www.jpnn.com/index.php?mib=be...etail&id=80107), katanya foreign investment selama 2010 mencapai 200 T yang masuk ke indonesia,, angka yang besar itu, tapi gw ga tau berpa persen dari 200 T itu yang benar2 masuk ke sektor riil (direct investment)

percuma saja klo kebanyakan 200 T itu cuman maen2 di bursa, tidak ada nilai tambah ekonomi apapun untuk negara, angka yang besar hanya di atas kertas tapi tanpa kontribusi ekonomi riil,. bahkan bisa saja dana itu ditarik lagi ke luar dengan jumlah besar dan tiba2 dalam tempo yang singkat (karena emang maen di pasar sekunder).. krisis lagi dah..
semoga saja ga terjadi deh..

cepet2 aja pemerintah nahan dana itu selama mungkin dengan kebijkan2 moneter maupun fiskal..
nick_1212 no está en línea   Reply With Quote
Old January 6th, 2011, 10:22 AM   #97
David-80
Le Nozze di Figaro...
 
David-80's Avatar
 
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 7,005

wot? 21 billion USD FDI? saya juga berharap sama, stocks is not economy.

Here bro, dapet another source, data nya ga ada yang sama semua, tapi inilah yang sepertinya official lol

Quote:
Meanwhile, Bank Indonesia (BI) forecasts foreign direct investment will increase 14.4 percent this year to $14.3 billion from about $12.5 billion in 2010.
http://www.thejakartapost.com/news/2...%E2%80%99.html

ini yang IDX

Quote:
Indonesia, the region's best, enjoyed $2.18 billion of
inflows,
http://www.reuters.com/article/idUSSGE6BT01920101230

ini total nya kira2..

Quote:
Total foreign investment, including portfolio investment, could exceed $22 billion.
http://www.thejakartaglobe.com/busin...ospects/414630

berarti yang dikasih JPNN, 200 trilliun kira2 segitu... berarti 30% ke portfolio sisanya direct. hopefully.

tambahan, Bonds

Quote:
Twenty-three companies listed their shares on the Indonesia Stock Exchange (IDX), while rights issues and bond sales generated more than Rp 220 trillion. Government bonds were also hotly sought after, drawing Rp 130 trillion in fresh funds, Fuad said.
http://www.thejakartaglobe.com/busin...in-2011/414628


cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside

Last edited by David-80; January 6th, 2011 at 10:30 AM.
David-80 no está en línea   Reply With Quote
Old January 6th, 2011, 03:51 PM   #98
nick_1212
sobat padi
 
nick_1212's Avatar
 
Join Date: Jan 2011
Location: depan wartel
Posts: 660
Likes (Received): 33


tq a lot mod..
datanya licin kaya'nya

yeah, stocks is not economy... lebih tepatnya judi, tapi ini judi yang legal dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi, high risk...bahkan sistematic risk


ane juga harap 70% lebih lah capital inflow yang masuk sektor riil,.
ane harap pemerintah lebih memagari lagi investasi luar ini,. eman2 kalau terlepas, this is a big moment for moving faster..
pernah dengar pemerintah bakal menstimulus FDI ini dengan kebijakan fiscal, tapi sempat ditolak/didelay, katanya masih belum "berbahaya" dan belum perlu
(sapa ya? bapepam atau sapa gitu dulu lupa)

btw good news dah 2010 kalau emang porsinya lebih besar FDI.. boleh diakui prestasi bursa.. gede banget tu dana yang msk
__________________
The Spirit Carries On partisi ruangan kursi rotan
pembatas ruangan
nick_1212 no está en línea   Reply With Quote
Old January 7th, 2011, 01:33 PM   #99
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,701
Likes (Received): 37

Tambang Belum Sejahterakan Warga Lokal

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Industri pertambangan di Indonesia belum mampu menyejahterakan masyarakat lokal. Daerah-daerah industri pertambangan merupakan daerah dengan angka kemiskinan tertinggi.

Ahli Geografi Ekonomi Kependudukan Abdur Rofi mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, daerah-daerah yang kaya dengan sumber daya alam justru merupakan daerah termiskin di Indonesia. Daerah-daerah tersebut di antaranya Papua, Papua Barat, Aceh, dan Riau .

"Ini merupakan paradoks industrialisasi pertambangan yang terjadi di Indonesia," tuturnya di sela-sela rangkaian diskusi dan pameran Peran Industri dalam Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan yang diselenggarakan Enviromental Geography Student Association (EGSA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (7/1/2011).

Provinsi Riau, misalnya, menyumbang lebih dari 50 persen total produksi dan devisa minyak bumi. Namun, Dewan Ketahanan Pangan Riau mendata 663 desa di Riau berstatus rawan pangan. Tingkat kemiskinan Riau pun tergolong tinggi, mencapai 22,19 persen dari total penduduk Riau. Di Papua Barat, angka kemiskinan mencapai 36,8 persen, di Papua 34,88 persen , dan di Aceh mencapai 20,98 persen.

Menurut Abdur, tingginya angka kemiskinan di daerah industri pertambangan ini mengindikasikan adanya ketimpangan pengelolaan hasil. Di industri pertambangan yang dikelola asing, pendapatan warga asing yang bekerja di pertambangan tersebut mencapai hampir satu juta kali lipat lebih tinggi dari pendapatan rata-rata masyarakat lokal.
Ketimpangan ini, kata Abdur, tak lepas dari rendahnya penguasaan teknologi masyarakat lokal pada umumnya. Hal ini menguntungkan pihak asing yang telah mempunyai kemampuan dan daya beli terhadap teknologi tinggi sebab industri pertambangan sangat tergantung dari penguasaan teknologi.

Di berbagai daerah, aktivitas industri pertambangan juga mengakibatkan dampak negatif sosial, seperti hilangnya mata pencaharian penduduk yang bergantung pada alam, meningkatnya potensi konflik, mau pun kelompok masyarakat yang terpaksa tersingkir dari tanah adatnya.

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah perlu menata industri pertambangan dengan lebih bijak. Penataan pertambangan ini terkait dengan kebijakan sosial, politik, dan ekonomi.
Peneliti Geografi Lingkungan Muh Aris Marfai mengatakan, komunitas-komunitas sekitar industr i juga harus menghadapi dampak buruk yang disebabkan industri pada lingkungan, seperti pencemaran air, udara, tanah, dan pembuangan limbah bahan berbaya dan beracun. Pencemaran oleh industri pertambangan ini telah menyebabkan sejumlah kasus kesehatan dan jatuhnya korban.

Untuk menghindarinya , kata Aris, peraturan perizinan industri ke depan harus dibenahi diikuti pengawasan berkelanjutan di lapangan . Audit lingkungan perlu dilakukan secara transparan dan berkala . Kegiatan pertambangan juga seharusnya dilakukan dengan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan serta pengefektifan rehabilitasi dan reklamasi areal bekas penambangan.

http://bisniskeuangan.kompas.com/rea...an.Warga.Lokal
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old January 7th, 2011, 03:48 PM   #100
@b1
Registered User
 
@b1's Avatar
 
Join Date: Feb 2009
Posts: 1,388
Likes (Received): 62

The Economist puts out an annual forecast of major world economies in a special edition December issue. US Dollar GDPs are calculated using 2011 forecasts for dollar exchange rates. I've reproduced the top 25 below.

Top 25 Largest Economies in the World for 2011 in Billions of USD (Nominal)

01. United States $14,996
02. China $6,680 *
03. Japan $5,621
04. Germany $3,127
05. France $2,490

06. United Kingdom $2,403
07. Brazil $2,052
08. Italy $1,888
09. India $1,832
10. Russia $1,737

11. Canada $1,616
12. Spain $1,337
13. Australia $1,190
14. Mexico $1,119
15. South Korea $1,094

16. Indonesia $806
17. Turkey $760
18. Netherlands $743
19. Switzerland $513
20. Iran $488

21. Saudi Arabia $481
22. Poland $469
23. Taiwan $466
24. Sweden $449
25. Belgium $444

* The Economist Magazine separates Hong Kong from China. The individual numbers were $220 and $6,460 respectively.

- Taiwan joins the top 25
- Norway gets bumped from the top 25
- Canada drops from 9th to 11th as both India and Russia move ahead
__________________
You either die a hero, or live long enough to see yourself become the villain.
@b1 no está en línea   Reply With Quote
Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 07:35 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu