daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine
Old August 25th, 2011, 08:51 PM   #101
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42

Bicara ttg Arsitektur di Semarang,tidak lepas dari seorang arsitek Belanda yang unik, lain dari pada yang lain yaitu Herman Thomas Karsten.Karyanya yang monumental untuk kota Semarang adalah Pasar Johar,Tata kota kawasan Candi Baru,RS Elisabeth.
Untuk kota Solo adalah Pasar Gede.Karsten juga terlibat dalam Rencana Tata Kota Bandung juga desain tata pemukiman Kebayoran Baru di Jakarta.

Orang banyak mengira juga Herman Thomas Karsten adalah arsitek Lawang Sewu ( Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij (NIS) ),tetapi sebetulnya arsitek Lawang Sewu adalah C Citroen dari Firma JF Klinkhamer dan BJ Quendag dari Belanda.
( Sumber : http://m.1asphost.com/dailyreasons/berita-artikel.shtml ).
Lawang Sewu mulai dibangun th 1904 dan selesai 1907,Thomas Karsten tidak terlibat diawal, karena baru datang dari Belanda th 1914.
Tetapi kemudian Thomas Karsten terlibat di desain perkeretaapian dengan mendesain stasion Balapan Solo dan Kantor Joana Stoomtram Mij (sekarang kantor PT Kereta Api Indonesia Daops IV) (1930), setelah Lawang Sewu dibangun, mungkin karena hal tsb orang banyak mengira Lawang Sewu adalah desain Karsten,karena dia arsitek Belanda yang spektakuler dan unik yg tinggal di Hindia Belanda pada saat itu.Karsten sendiri kurang disukai oleh Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu karena sifat humanis terhadap orang-orang In donesia.

Berikut kisah unik ttg seorang Arsitek Humanis Herman Thomas Karsten.
Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/i...123359.id.html

Kisah Seorang'Max Havelaar' Arsitek
Laki-laki asal Belanda itu diam mematung di depan pintu gerbang Pasar Gede Harjonagara, Solo. Dia seperti mencari sesuatu di antara tembok-tembok yang bercat kuning gading. Penampilannya necis, membuat para pedagang heran. Dia pun sesekali tersenyum kepada mbok-mbok penjual.

Mata cokelatnya menyiratkan ada sesuatu kala memandang bangunan itu. Mungkin rasa bangga. Charles Karsten, 40 tahun, laki-laki itu, Sabtu pertengahan Januari lalu, sedang menziarahi salah satu "warisan" mendiang kakeknya, Herman Thomas Karsten (1884�1945). Meski sudah bukan bangunan asli karena dua kali terbakar, dua kali dibangun lagi, Pasar Gede yang terletak di jantung Kota Solo itu masih tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Kehadiran Charles di Solo untuk menghadiri hari ulang tahun Pasar Gede ke-77. Pasar ini dibangun pada 12 Januari 1930 oleh kakeknya atas pesanan Pakubuwono X (1893�1939). Berdiri di depan Pasar Gede yang arsitekturnya merupakan perpaduan unsur Eropa dengan lokal Jawa membuat ia merenung: bagaimana sang kakek dahulu dikenal sebagai arsitek yang suka mengkritik keras pemindahan corak bangunan Nederland ke negeri Hindia Belanda.

Pintu masuk pasar itu memiliki kanopi cukup lebar bertulisan Pasar Gede. Hurufnya bergaya art nouveau. Masuk ke pasar, kemudian tersaji sebuah ruang terbuka. Los pasar membujur dari utara dan ke timur. Atap pasar berbentuk limas. Untuk kantor pasar, Karsten memilih jendela pipih vertikal. Tapi pada bagian atas bentuknya menjadi setengah lingkaran neoklasik dengan atap berbentuk joglo.

"Pasar Gede merupakan kelanjutan pasar yang dulunya sudah ada jauh sebelum Keraton Kartasura pindah ke Surakarta. Dulu disebut pasar candi karena memang ada bangunan candinya di tempat itu," tutur Sudarmono, se-jarawan Universitas Negeri Sebelas Maret. Sebelum dibangun seperti sekarang ini, Pasar Gede memiliki latar depan rel kereta api. Kini rel tersebut tak berbekas.

Widya Wijayanti, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Tengah, melihat ciri khas karya Karsten adalah nilai kemanusiaannya yang kental. "Dia tidak pernah melupakan kepentingan orang-orang kecil, sesuatu yang jarang ditemui pada orang Belanda totok masa itu," katanya. Mengetahui bagaimana beratnya pekerjaan buruh gendong, Karsten misalnya membuat lantai los pasar cukup tinggi agar si buruh tak perlu jongkok untuk mengangkat barang. Kini meski Pasar Gede sudah dua kali direnovasi, kuli gendong masih bisa merasakan kenyamanan desain tersebut.

Udara juga dapat mengalir dengan leluasa. Sirkulasi dan ventilasi membuat cahaya masuk di dalam ruangan secara tidak langsung, membuat udara tak panas. "Bahkan Karsten juga memperhatikan perilaku burung kecil yang suka membuat sarang di bagian atap bangunan, agar nantinya bisa terhindar dari kotoran burung," tutur Widya.

l l l
Sumbangsih Karsten dalam menata dan memberikan bangunan-bangunan "penanda" bagi kota-kota kita sering dilupakan. Padahal perjalanan kearsitekannya tersebar di 19 kota besar di Jawa, dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, hingga Malang, Jawa Timur. Sedangkan di luar Jawa, dari Palembang hingga Banjarmasin.

Karsten datang dari keluarga terpelajar. Ayahnya adalah seorang profesor sejarah Romawi. Karsten menempuh studi di Technische Hoogeschool Delf. Sejak di awal perkuliahannya ia sudah aktif di Social Technische Vereeniging Democratische Ingenieur en Architecten, sebuah organisasi mahasiswa beraliran sosialis. Atas undangan Henry Maclaine Pont (pendiri Institut Teknologi Bandung), kakak kelas dua tingkatnya di Technische Hoogeschool, yang mendirikan biro arsitek di Semarang pada 1914, Karsten datang ke Semarang. Kepergiannya dianggap aneh oleh keluarganya karena kesempatan untuk hidup mapan di Belanda terbuka baginya.

Karsten langsung menjadi kepala kantor biro pembangunan Mclaine Point (meskipun kemudian berpisah). Setiap hari dia berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Pada 1921, Karsten mengawini Soembinah Mangoendirejo, seorang gadis desa yang berasal dari Pegunungan Dieng. Tidak biasa bagi seorang Belanda totok menjadikan gadis pribumi sebagai istri sah, karena pada saat itu perempuan inlander hanya akan menjadi seorang gundik, laiknya Nyi Ontosoroh dalam tetralogi Pramoedya. Karsten juga memilih menjadi seorang Islam dengan menikahi Soembinah di sebuah masjid di daerah Ungaran, Semarang.

"Ada sifat pemberontakan pada diri Karsten. Menikahi perempuan inlander salah satu bukti kalau dia tidak memiliki sifat-sifat kolonial. Bahkan di kemudian hari dia pernah membela para buruh bangunan di Batavia," kata William A.J. Vroegop, seorang pengamat arsitek di Belanda. Karsten dikenal sebagai penentang arus. Ia, syahdan, tak pernah mengenakan dasi atau penutup leher tinggi seperti umumnya kalangan elite Belanda waktu itu. Ia juga tak pernah berpesta ke Societeit, tempat elite masyarakat Eropa bersenang-senang.

Karsten memiliki empat anak, dua laki-laki, dua perempuan. Simon, 81 tahun, anak keduanya, pensiunan arsitek, hidup di Belanda, mengenang masa kecilnya di Jawa. Meski tergolong orang kaya, mereka hidup sederhana. Ia ingat sehari-hari berkaki telanjang dan harus mencopot sepatunya bila tiba di rumah. Tiap minggu ia ingat ayahnya mengajak main badminton. Di samping mendengarkan Bach, ayahnya mewajibkan belajar gamelan.

"Kami sehari-hari berbicara Krama Inggil dan bila liburan kami pergi ke tempat si mbah di Dieng," kenang Simon. Dieng baginya sampai sekarang masih sebuah lembah sakral. Seluruh keluarga dari garis ibunya dikuburkan di puncak bukit; dari sana ia dapat memandang seluruh Dieng. Pada 1992, Simon mengunjungi Indonesia. Dengan backpack ia naik bus umum serta Colt angkutan pedesaan menyusuri Bandung, Yogya, Solo, Semarang untuk menjenguk bangunan-bangunan karya bapaknya. Ia menyempatkan diri nyekar makam keluarganya di Dieng. "Saya sangat kangen masa kecil saya. Bapak saya menginginkan kami dahulu menjadi orang Indonesia...."

Menurut Romo Adolph Heuken, SJ, pemerhati masalah pusaka budaya, Karsten yakin, Indonesia akan menjadi negara merdeka. "Karena itu ia mempersiapkan keempat anaknya untuk bisa tinggal dan berbaur dengan orang pribumi," kata Heuken kepada Faisal Assegaf dari Tempo. Menurut Charles, dari cerita ayahnya, Joris Karsten, anak ketiga Karsten-Soebimah, sang eyang putri (meninggal 1959) adalah inspirasi terbesar dari karya-karya kakeknya. Charles mengatakan, keluhan Soembinah mengenai keadaan para tetangganyalah yang dijadikan dasar kakeknya dalam membuat desain pasar. "Maka dari itu, pasar selalu dibuat nyaman untuk rakyat kecil," katanya.

l l l
"Penjual daging di Pasar Johar ditempatkan Karsten di lantai dua. Rupanya Karsten mempelajari kalau lalat tidak dapat terbang terlalu tinggi. Hingga kini bagian itu aman dari lalat," ujar Widya.

Pasar Johar di Semarang adalah karya lain Karsten yang merakyat. Pasar dua lantai yang mampu menampung ribuan pedagang ini sampai sekarang masih dipertahankan sebagai pasar induk tradisional terbesar di Semarang. Lokasinya berhadapan dengan Masjid Agung Kauman.

Ciri khusus arsitektur Pasar Johar, menurut Andi Siswanto, arsitek dari Universitas Diponegoro, adalah atapnya yang berbentuk kolom-kolom yang menyerupai cendawan/jamur. Atap yang satu dan yang lain tidak menyatu, melainkan saling menaungi. Atap cendawan memungkinkan sirkulasi udara masuk dari segala penjuru. Meski tanpa mesin penyejuk ruangan, udara sepoi-sepoi bisa dinikmati pengunjung.

Kelebihan lainnya adalah, meski terdiri atas dua lantai, di tengah-tengah bangunan terdapat void (ruang kosong), sehingga ada komunikasi visual antara lantai satu dan lantai dua. Karsten sangat memperhatikan bahwa pasar dalam tradisi orang Asia tidak seperti tradisi orang Eropa. Bagi orang Asia, pasar tidak hanya terdiri atas sekatan-sekatan toko belaka, tapi juga terdapat ruang terbuka yang lebar, tempat menampung para pedagang nonpermanen yang berjualan pada acara tertentu. Misalnya, hanya pada hari pasaran atau pada saat digelar acara garebeg, sekatenan, dan dugderan.

Di Pasar Johar, Karsten memilih marmer berkualitas sebagai bahan pelapis permukaan dinding, meja utama serta sebagian lantainya. Akan halnya anak tangga, dengan batu andesit. Tampak bahwa pemilihan bahan bangunan pun dipilih dengan saksama untuk membuat pasar itu bertahan melintasi zaman. Menurut Widya, karya-karya Karsten dapat bertahan karena desainnya yang baik, dengan memaksimalkan apa yang disediakan oleh alam.

Menurut Widya, jejak Karsten di Semarang, selain di Pasar Johar, juga Pasar Jatingaleh. Pasar Jatingaleh disebut Widya kala itu menjadi semacam proyek percontohan pasar modern. Karsten membutuhkan waktu delapan tahun untuk membangunnya. Widya mencatat, kini nyaris tidak ada masalah dengan bangunan Pasar Johar dan Jatingaleh kecuali dengan atapnya. Namun, sumber masalahnya adalah pengelola kini hampir tidak pernah melakukan pembersihan atap. "Hampir semua pasar Karsten, meski dibiarkan dalam kondisi minim perawatan, proses kerusakannya masih tergolong dapat diatasi," ujar Widya.

Ancaman terhadap karya Karsten justru datang dari penggusuran. Widya mencatat, misalnya, Pasar 16 Ilir Palembang karya Karsten telah tergusur oleh bangunan baru. Di Palembang masih ada bangunan pasar buatan Karsten yang berdiri kukuh, meski kondisinya tak terawat, yakni Pasar Cinde Palembang.

l l l
Meski tak pernah ingin menjadi ambtenar atau pegawai pemerintah kolonial, Karsten tak bisa menampik saat pemerintah kota praja memintanya menjadi adviseur gemeente atau penasihat perencana kota. Selain menjabat sebagai penasihat tata kota pemerintah lokal Semarang, ia belakangan menangani tata kota sembilan kota praja: Palembang, Medan, Padang, Banjarmasin, Batavia, Bogor, Malang, Solo, kemudian Yogyakarta.

Di Solo, Karsten, misalnya, mendesain tata ruang Villa Park Banjarsari, yang menempatkan jalan-jalan diagonal dalam ruang terbuka, Stasiun Kereta Api Balapan, dan Lapangan Manahan yang memiliki bentuk oval. Di Magelang bahkan Karsten merancang perumahan murah Desa Kwarasan, sebuah desa kecil di barat daya Kota Magelang.

Akan halnya Kota Malang didesainnya sebagai kota taman. Sampai sekarang bila Anda menyusuri Jalan Ijen di Malang yang memiliki boulevard panjang dengan pohon-pohon palem di tepinya, terasa suasana masih elok. Akan halnya kawasan elite di Semarang yang ditangani Karsten adalah kawasan Candi Baru. Menurut Andy Sis-wanto, arsitek Universitas Diponegoro, dalam menyusun rencana induk Candi Baru, Karsten sangat mempertahankan kontur tanah, pepohonan, dan ruang publik. Jalan dibiarkan berkelok-kelok serta ada jarak yang longgar antara rumah satu dan rumah lainnya.

Berada pada perbatasan antara Semarang bawah dan Semarang atas menjadikan semua rumah di Candi Baru mempunyai panorama sangat indah: ke selatan menghadap ke Gunung Ungaran, ke utara menghadap birunya Laut Jawa. Konsep tersebut, menurut Andy, bertolak belakang dengan rencana induk kebanyakan perumahan modern, yang kawasan huniannya dibikin tak ubahnya seperti papan catur: tanah diratakan, dipetak-petak, berhadap-hadapan, serta tidak ada jarak antara bangunan satu dan lainnya. "Pada konsep perumahan modern, nuansa asri yang alami hilang sama sekali."

Menurut Andy, dalam membuat rencana induk kawasan hunian, aspek sosial juga menjadi pertimbangan utama Karsten. Dialah arsitek yang berhasil mengubah konsep hunian berdasarkan ras. Sebagaimana di kota-kota besar lainnya, di Semarang terdapat permukiman yang pengelompokannya berdasarkan ras, misalnya kawasan Pecinan yang dihuni etnis Cina, dan Pekojan tempat etnis Arab. Karsten melawan konsep rasisme tersebut dengan menciptakan kawasan hunian yang pengelompokannya berdasarkan kemampuan ekonomi. "Apa pun suku dan rasnya, siapa pun boleh tinggal di Candi Baru," tutur Andy.

Karsten, di samping itu, menciptakan gradasi jalan yang menghubungkan Candi Baru dengan perkampungan warga biasa. Jalan dari Candi Baru yang menuju Kampung Lasipin-perkampungan di sebelah selatan Candi Baru-dibuat perlahan-lahan menyempit. "Tujuannya, meski terpisah dengan Candi Baru, tetap saja ada komunikasi serta perbedaannya tidak kontras."

Candi Baru hanyalah satu di antara beberapa permukiman yang rencana induknya dirancang Karsten. Permukiman lainnya adalah Pekunden, Peterongan, Batan, dan Wonodri (1919), Sompok (1919), daerah Semarang Timur (1919), dan daerah Mlaten (1924). Semua kawasan itu pengelompokannya berdasarkan basis ekonomi, bukan ras, seraya memperhatikan keseimbangan alam seperti drainase dan taman kota yang juga berfungsi sebagai resapan air. Sayang, dari beberapa kawasan permukiman yang rencana induknya ditangani Karsten, hanya Candi Baru yang masih tersisa bagus.

Selain membuat rencana induk permukiman, Karsten juga merancang puluhan bangunan di Kota Semarang, di antaranya kompleks bangunan Van Deventer School (sekarang SMK Kartini di l Sultan Agung) (1923); Rumah Pemotongan Hewan Pandean Lamper Kabluk (1925); Kantor Joana Stoomtram Mij (sekarang kantor PT Kereta Api Indonesia Daops IV) (1930), dan seterusnya.

Minatnya pada kesenian Jawa membuatnya tergerak untuk membangun gedung Sobokarti. Pada gedung kesenian rakyat yang terletak di Jalan Dr Cipto ini kita bisa melihat betapa Karsten sangat menghormati arsitektur Jawa. Bangunan Sobokarti bergaya Joglo-Limasan dengan serambi yang luas. Satu-satunya sentuhan Barat hanya ada pada bentuk kursi di ruang pertunjukan yang melingkar dan bersaf-saf. "Model kursi penonton yang melingkar seperti dalam gedung teater adalah gaya Eropa. Dulu orang Jawa kalau melihat pertunjukan dengan lesehan atau berdiri," papar Andy.

Bangunan lain yang masih bisa dinikmati adalah Rumah Sakit Santo Elisabeth. Ciri kuat pada bangunan rumah sakit di atas lahan lima hektare itu adalah sebuah ruang kosong berupa courtyard. Jika kita masuk ke rumah sakit itu, kesan pertama justru tertuju pada ruang kosongnya. Taman tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan kebersihan udara. Hal itu penting karena bisa membantu kesembuhan pasien. Ruang kosong yang bisa dinikmati dari berbagai sudut bangunan menurut Andy memang ciri-ciri arsitektur Karsten yang beraliran pascamodernisme.

Di Jakarta, peninggalan Karsten adalah Kebayoran Lama. Ia mendirikan daerah permukiman bagi golongan pejabat tinggi, kalangan menengah ke atas, dan orang menengah ke bawah. Di Jakarta Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka, dua hal yang tampaknya saat ini mulai terabaikan. Di Bandung, Karsten pernah membuat rencana tata kota Bandung, termasuk membangun Gedung Sate, yang menjadi ciri Kota Kembang. "Tapi semuanya tidak bisa dilaksanakan dengan baik lantaran perang," kata Harastoeti, Ketua Bandung Heritage. Gedung Sate yang ada sekarang jauh berbeda dari hasil rancangan Karsten.

Orientasi kerakyatan Karsten membuat ia tak begitu disukai pemerintah Belanda. Menurut Simon, ayahnya saat itu bagai seorang dissident. Posisinya dipandang beberapa orang seperti Max Havelaar. "Karsten ditolak menjadi guru besar ITB oleh pemerintah kolonial," kata arsitek Hans Awal.

Hidup Karsten berakhir tragis. Dia ditangkap Jepang dan dimasukkan ke kamp interniran di Cimahi. Selama tiga tahun sejak 1942 dia hidup menderita. Menurut Hans Awal, di penjara Karsten bertemu dengan seorang arsitek muda Belanda bernama Thomas Nix. Karsten sering membicarakan prinsip-prinsip arsitekturnya kepada Thomas. Setelah Thomas bebas, ia membuat disertasi mengenai tata kota di Indonesia. Adapun Karsten, akibat kurang gizi, ia meninggal. Karsten dimakamkan di tempat pemakaman orang-orang Belanda di Cimahi.

Soembinah kemudian membawa empat anaknya ke Belanda dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya pada 1959. Simon ingat ayahnya sering mengutip kata-kata religius sejumlah tokoh di buku notesnya. Salah satunya adalah seorang Quaker (gerakan kebebasan religius yang tidak terikat gereja Anglikan atau Roma) Amerika bernama Stephen Genet yang pada 1830 menulis demikian: "Saya kini berada pada babakan terakhir hidup saya, tapi saya tetap berusaha setiap hari untuk mengerjakan yang terbaik sebab hidup ini demikian indah...."

Agaknya itu diresapi betul oleh Karsten sehingga dalam penderitaan pun ia ingin memberikan yang terbaik. Tentang perjuangan ayahnya, Simon dan adik-adiknya rajin menceritakannya kepada keluarga besar Karsten. Maka, ketika Charles berkesempatan ke Indonesia, ia nyekar ke kuburan Karsten di Cimahi. "Saya berdoa untuknya," katanya kepada Andi Dewanto dari Tempo. Ia bercerita bagaimana di depan makam sang kakek ia tercenung, terpekur, merenungkan jalan hidup sang kakek.

"Saya hanya bisa membayangkan bagaimana ia hidup di Indonesia dan memberikan sumbangan yang sangat berarti...."

Seno Joko Suyono, Imron Rosyid, Sohirin
edytoah no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old August 26th, 2011, 06:57 AM   #102
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

-Nice info mas... ada link pdfnya juga: http://www.ziddu.com/download/142481...as_Karsten.pdf.
ada foto2nya juga
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old August 26th, 2011, 07:00 AM   #103
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

karya2 thomas Karsten di Semarang antara lain:
Pasar Johar, Jatingaleh dan Randusari. Pasar Bulu juga digarap dengan desain yang sama.
Kemudian ada juga gedung PT KAI di Thamrin, sekolah Van Deventer di Kagok dan Gedung Pertunjukan Sobokartti. Yang terakhir ini komunitasnya lagi hidup2nya, membangun dan memugar kembali gedung kesenian yang diprakarsai Meneer Karsten dan Mangkunegoro VII.

ini link group fb: Volkstheater (teater Rakyat) Sobokartti (di sebelah pasar DArgo Semarang): http://www.facebook.com/group.php?gid=51173188642

Meskipun diarsiteki orang Belanda, tapi langgam JAwanya kental habis...
__________________
40k...

Last edited by titus15; August 28th, 2011 at 12:34 AM.
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old August 27th, 2011, 10:07 PM   #104
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42

Ini ada yang menarik ttg Maestro Pelukis Dunia aliran Romatisme kelahiran Semarang th 1807 yaitu Raden Saleh Sjarief Boestaman.Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).
Mungkin apa ada hubungannya nama Boestaman dengan tempat tinggal Ibunya di Kp. Boestaman yg ada di jalan Raya Kaligawe,sebelum Terboyo yang dahulu terkenal dahulu ada kuliner gule Boestaman juga (ngak tau sekarang dimana ya kalau mau cari Gule Boestaman .. )
Pamannya adalah Bupati Semarang Kyai Adipati Suryomenggolo (Suraadimanggala), yang berjuang bersama Pangeran Diponegoro) pada saat Raden Saleh masih berumur 10th.Ya mungkin sekitar th 1817-an.sedangkan Perang Diponegoro atau Perang Jawa sekitar th 1825-1830.
Perang yang melelahkan bagi Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu,dan berakhir karena Diponegoro dikhianati sahabatnya sendiri Sentot karena tipu daya Belanda pada saat itu.

Lukisannya yang patriotik adalah Diponegoro I dan II.Dilukis secara supranatural lewat Keris Pangeran Diponegoro Kyai Nogo Siloeman yang ada dibawa De Kock ke Belanda.Saat itu Raden Saleh masih kuliah di Belanda.

Ttg Jendral De Kock yang menangkap Pangeran Diponegoro, sebetulnya De Kock bukan orang yang bengis,De Kock adalah seorang humanis freemasons.Kemungkinan besar De Kock yang pada saat itu tinggal di Magelang,De Kock beribadah di kelompok Fremason Semarang di Gedong Setan Loge La Constante et Fidele (1801) karena di Magelang baru ada Loge Tidar di Magelang (1891)‎.Pernah disinggung Mas Titus di hal sebelumnya ttg kelompok Freemasons dan Gedong Setan di Semarang ini (ada sumber yang mengatakan posisinya di daerah Pindrikan ).Dari sumber dibawah th 1960 loge di Semarang ini masih berdiri,mungkin sekarang sudah tidak ada gedungnya.Freemasons dilarang th 1962 di Indonesia,bahkan di Semarang ada satu lagi loji Bhakti Semarang (ngak tahu posisinya dimana sekarang), Nederlands Oost-Indië yg didirikan lagi th 1955 dan ditutup th 1962.
Sumber ttg freemasons jaman Pemerintahan Hindia Belanda : http://dean81.wordpress.com/2011/03/...-di-indonesia/

Konon lukisan lainnya juga punya efek magis,sangking Maestronya beliau.Lukisannya sekarang diburu kolektor Internasional dan harganya yang bisa mencapai jutaan dollar di Balai Lelang internasional.

Sumber gambar dari Google.





Lebih lanjut cuplikan di atas yang menarik ttg Raden Saleh dan Semarang di http://www.bkpm.org/radensalehba.htm ,selain yang ada di Wikimedia.http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Saleh .
edytoah no está en línea   Reply With Quote
Old August 28th, 2011, 12:33 AM   #105
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

Dulu konon pusat pemerintahan Semarang sempat berpindah di kawasan Terboyo setelah sebelumnya berada di daerah Sekayu.

Tambahan buat mas Edytoah, Lukisan pertama betul merupakan karya Raden Saleh. Sedangkan lukisan kedua adalah karya pelukis belanda bernama Pineman. Menurut catatan sejarah, sebetulnya yang lebih mirip kondisinya adalah lukisan kedua. Di situ digambarkan suasana penangkapan tanpa perlawanan dari pangeran Diponegoro, karena dalam suasana bulan Ramadhan.

Sedangkan karya Raden Saleh lebih bernuansa kritik terhadap lukisan kedua (lukisan kedua dlukis lebih dulu, dan lukisan Radensaleh -bukan memplagiat- merupakan respon dari lukisan yang menurutnya tidak logis). Nampak pada lukisan Raden Saleh, karakter Diponegoro sangat tampak. Suasana lebih dramatis, dan menurut saya seperti merupakan adegan yang filmis daripada lukisan Pineman yang nampak sekedar dokumentaris saja. catatan tentang ini ada di buku: Raden Saleh - Anak Belanda, Mooi Indie & Nasionalisme, terbitan Komunitas Bambu...

Tq mas Edytoah, saya baru tahu kalo jend De Kock ada hubungannya dengan aliran Freemason. Ternyata aliran ini sangat berpengaruh dan lintas golongan ya... karena Raden Saleh sendiri termasuk Pribumi yang masus aliran ini juga.

Sayang sepulang dari Eropa beliau lebih memilih tinggal di Batavia dan Bogor. Beliau juga sering main ke Solo, dan istrinya juga merupakan putri kraton. Rumahnya sekarang jadi RS Kristen Cikini (yayasannya punya papanya Charles Bonar Sirait), dan halaman belakang rumahnya menjadi kawasan Taman Ismail Marjuki (dulu merupakan kebun binatang pribadi). Meninggal (dicurigai karena di racun) beliau dimakamkan di Bogor.

Sebagai seniman Jawa, R Saleh mungkin satu-satunya orang Jawa yang paling eksentrik yang mampu menembus istana-istana Eropa dengan keahlian diplomasi seninya yang tinggi. Itu sebabnya dia dianggap sebagai bapak seni rupa modern indonesia (bumiputera).
__________________
40k...

Last edited by titus15; August 28th, 2011 at 12:40 AM.
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old August 28th, 2011, 02:23 AM   #106
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42


Tks jg Mas Titus koreksi dan tambahannya,Biar tamb gayeng Trit ini.
Sy jg dapetnya dari Google,sumber2 tsb kdg ada yg berhubungan.

Menarik juga pusat pemerintahan Bupati Semarang yg konon ada di Terboyo bahkan di Sekayu.Khususnya Sekayu yg issuenya akan hilang jd Apartement,jg kaitannya dengan Masjid di Sekayu yang jadi Cagar Budaya tsb.Mesti nanya Mbak NH Dini ki Mas Titus yang leluhurnya dulu ktnya tinggal di Sekayu dulu ...
Kenapa koq pindah2 ya terakhir di Kanjengan,apa karena mengikuti kampung kelahiran Bupati tsb ? Atau bs jg karena ada rob/banjir besar atau krn kebijaksanaan Hinda Belanda pada waktu itu ? Itu beberapa hipotesa yg bisa dikembangkan dan digali.
edytoah no está en línea   Reply With Quote
Old August 28th, 2011, 03:04 AM   #107
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

Kurang tau mas... ada beberapa artikel yang bisa menjelaskan, tapi harus saya cari dulu. Khusus yang kanjengan, karena Kanjengan itu kantor BUpati Semarang, sedangkan wilayahnya kemudian beribukota di Ungaran. Kalo kotapraja Semarang atau Gemeentee kantornya ya di balaikota sekarang ini...

Ada yang bilang Gementee ini kemudian diplesetkan jadi Kemlinti... karena orang2 Gementee itu sok-sokan alias Kemlinti... ada juga yang bilang Gementhuis (gedung pemerintahan) jadi Kementus...
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old August 30th, 2011, 07:31 AM   #108
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42



Sudah 200 tahun lamanya bubur india menjadi perekat antaretnis di Kampung Pekojan, kawasan Pecinan, Semarang, Jawa Tengah. Etnis tersebut sedikitnya ada empat, yaitu Jawa, China, India, dan Arab berbaur menyediakan takjil (hidangan buka puasa) di Masjid Jami’ Pekojan.

BUBUR india. Begitu nama sebuah menu buka puasa yang sangat identik dengan masjid tertua di Kota Semarang, Masjid Jami’, di Jalan Petolongan, Pekojan, yang berdekatan dengan kawasan pecinan. Ya, saat Ramadan tiba, menjadi sebuah kesibukan tersendiri bagi para takmir masjid tersebut untuk menyediakan makanan khas dari India itu.

Ratusan mangkuk disediakan untuk dibagikan kepada semua orang yang ingin berbuka puasa di masjid tersebut. Sejumlah orang dari berbagai etnis, mulai dari Jawa, China, India, hingga Arab terlihat berbaur di masjid tersebut untuk berbuka bersama sambil menjalankan ibadah shalat magrib dan tentu dilanjutkan dengan tarawih.

Yang membuat kita tercengang, tradisi menyediakan menu buka puasa bubur india, yang diikuti warga antaretnis itu, sudah berlangsung sekitar 200 tahun tanpa terdegradasi oleh evolusi zaman. Kerukunan antaretnis ternyata sudah ada sejak dulu dan kini masih ada meskipun ada kikisan-kikisan yang tak bisa ditolak zaman.

Bubur india menjadi salah satu media perekat kerukunan yang masih terjalin dan dibuktikan oleh pengelola Masjid Jami’ di Kampung Pekojan, Semarang.

Sekitar 200 tahun lalu, bubur india dikenalkan oleh orangorang Koja yang berasal dari India. Saat itu, orang-orang Koja membentuk suatu komunitas muslim di Semarang hingga tempat tinggal mereka disebut Pekojan. Saat bulan puasa, komunitas tersebut sepakat membuat hidangan menu bubur yang diberikan kepada siapa saja yang ingin berbuka puasa di masjid tersebut. (Iyan DS)

Sumber : http://warisanindonesia.com/2011/08/...k-bubur-india/
edytoah no está en línea   Reply With Quote
Old August 30th, 2011, 08:00 AM   #109
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42


Lokasi : Gg. Menyanan Kecil, Jl Beteng, Semarang.
Sumber gambar : http://infotempat.com/?content=1&category=3&act=8796

Thomas Joko [ okezone.com Kamis, 28 Mei 2009 - 08:18 wib] SEMARANG – Memasuki Kawasan Pecinan Semarang, Jawa Tengah suasana Oriental terasa kuat. Bangunan-bangunan berarsitektur Tionghoa tampak berdiri di sejumlah tempat. Sementara seperti biasa aktivitas perdagangan menjadi urat nadi utama di kawasan ini.

Namun siapa sangka di sebuah sudut kompleks Pecinan Semarang ini terdapat sebuah masjid. Bukan sembarang masjid, karena konon merupakan peninggalan Pangeran Diponegoro semasa menjadi pelarian saat diburu tentara kolonial Hindia Belanda.

Untuk menemukan masjid ini agak sulit karena jauh dari ruas jalan utama. Kita harus menelusur dulu sebuah gang sempit yang bernama Menyanan Kecil. Petunjuk paling mudah adalah sebuah papan bertuliskan Masjid Annur di Jalan Beteng.

Ya, nama yang disematkan pada masjid kuno ini adalah Annur. Sekilas dari luar terlihat tak sedikitpun nuansa tua memancar dari Masjid Annur. Jika hanya melihat sepintas, tak bakalan orang percaya jika masjid ini merupakan peninggalan Pangeran Diponegoro. Untuk itu okezone berupaya menelisik kebenaran cerita dibalik masjid ini.

Takmir Masjid Annur Imam Syafei yang berhasil ditemui okezone mengatakan bahwa dia tak mengetahui secara jelas kebenaran tentang kabar yang mengatakan masjid ini peninggalan Diponegoro. Bukti-bukti otentik yang menjadi alasannya hampir tak ada. Namun dia menunjukkan satu-satunya saksi mata yang masih tersisa.

Orang lain yang paling tahu tentang sejarah masjid ini adalah Pak Masjkur Ridwan yang sekarang tinggal di Kampung Suburan. Dua orang lainnya yaitu Masjhud Ridwan dan Masrur Ridwan telah meninggal dunia. “Mereka bertiga yang dulu menemukan reruntuhan masjid ini,” jelas Imam Syafei.

Pernah jadi reruntuhan? Rasa ingin tahu pun semakin muncul yang akhirnya memutuskan untuk mencari info lebih banyak dari Pak Masjkur Ridwan di Kampung Suburan Semarang. Ditemui di rumahnya, Masjkur mengatakan memang benar jika Masjid Annur pernah hilang dan ditemukan lagi dalam kondisi reruntuhan.

Awalnya pada tahun 1967 saat kakak saya yang bernama Masjhud, merasa mendapatkan petunjuk bahwa di Menyanan Kecil ada sebuah masjid. “Petunjuk itu didapat saat almarhum sedang shalat pribadi di rumah H Muhammad Ridwan (alm),” kata Masikur.

Setelah mendapat petunjuk, tiga bersaudara Masjhud Ridwan, Masrur Ridwan dan Masjkur Ridwan, langsung mencari keberadaan masjid yang dimaksud. Setelah berupaya keras mencari di sepanjang gang Menyanan Kecil, akhirnya ditemukanlah sebuah bangunan di balik tembok tinggi.

Di tengah-tengah kampung, berada di balik tembok yang tinggi ada sebuah bangunan berukuran 3×3 meter. Atapnya berbentuk cungkup terbuat dari genteng. “Ada dua pintu masuk dan satu pintu menuju kamar mandi yang menguatkan bahwa bangunan itu masjid adalah adanya ruang imam,” paparnya.

Masjkur menambahkan untuk menemukan masjid itu cukup sulit karena dikelilingi tembok yang sangat tinggi dan tebalnya satu bata. Mereka harus bersusah payah memanjat dengan tangga bambu untuk dapat melihat secara jelas masjid itu.

Saat ditemukan kembali, tembok masjid itu hanya separuh. Maka saat itu seluruh warga berupaya untuk membangun kembali masjid tersebut. Dananya kala itu dikumpulkan dari kalangan umat.

Kemungkinan masjid itu memang peninggalan Pangeran Diponegoro. Itu berdasarkan bukti ditemukannya sebilah keris di masjid tersebut. “Sayang kini keberadaan keris itu tak lagi diketahui,” ucap Masjkur.

Cerita yang berkembang di masyarakat Semarang, Pangeran Diponegoro pernah singgah di masjid ini ketika menghindari kejaran tentara Belanda. Saat itu beliau juga sempat belajar agama dari imam masjid yang bernama H Thoyib.

Fakta ini kemungkinan benar juga. Tentara Belanda pasti tidak menyangka bahwa Diponegoro bersembunyi di kawasan Pecinan yang banyak dihuni warga nonmuslim.

Takmir Masjid Annur Imam Syafe’i memiliki cerita lain yang mungkin bisa menguatkan bahwa masjid Annur ini merupakan peninggalan Diponegoro. Dia mendasarkan pada pengalaman spiritual dari orang-orang yang pernah beribadah di Masjid Annur.

Dahulu ada tiga orang yang berasal dari Manyaran Semarang datang pada saya. “Mereka mengatakan secara gaib didatangi seseorang yang mengenakan jubah mirip Pangeran Diponegoro saat menjalani mujahadaz di Masjid Wonolopo Manyaran. Sosok itu lalu menunjuk pada Masjid Annur Menyanan Kecil,” jelas Imam Syafei.

Mereka lalu minta izin pada Imam Syafei untuk melakukan itikaf di Masjid Annur. Imam Syafei sendiri mengaku banyak orang yang didatangi sosok mirip Pangeran Diponegoro ketika ibadah di Masjid Annur.

Masjid tua ini pada tahun 1993 dirombak total menjadi bangunan bertingkat dan megah. Satu-satunya bagian masjid tua yang masih dipertahankan adalah enam pilar setinggi 2,5 meter. Bagian bawah pilar tua itu telah ditutup dengan keramik sementara bagian atasnya nampak sudah terkelupas temboknya.

Lantas mengapa bisa muncul bangunan masjid dikawasan Pecinan? Imam Syafei mengatakan kemungkinan masjid ini sengaja dibangun oleh segelintir umat Muslim Tionghoa.

Mungkin muslim Tionghoa itu takut beribadah di masjid umum. Dahulu orang Tionghoa dilarang menganut agama Islam. “Makanya mereka membangun masjid khusus secara tersembunyi untuk menunaikan salat jamaah,” kata Imam Syafei.

Sementara itu ditinjau dari sejarah Dra. Rika Widjayanti dari Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah menyatakan keraguannya bahwa Masjid Annur merupakan peninggalan Pangeran Diponegoro. Dia menjelaskan perlu dibedakan antara mitos, legenda, dan fakta sejarah.

Satu bangunan dapat dikategorikan sebagai peninggalan sejarah kalau ada pembuktian dari berbagai sumber sejarah. Melalui sumber-sumber tadi maka akan bisa dimunculkan fakta sejarah. Kalau hanya sekadar diyakini oleh masyarakat berdasarkan cerita turun menurun, hal itu tak menjamin kebenaran sejarah. Makanya perlu dipertanyakan lagi kebenaran Masjid Annur Menyanan Kecil merupakan peninggalan Diponegoro, papar Dra Rika Widjayanti yang merupakan pemerhati sejarah komunitas Tionghoa Semarang.

Kalau dari sejarah perang Diponegoro, dapat dikatakan sangat tidak mungkin jika pangeran tersebut melarikan diri atau singgah di Semarang. Diponegoro hanya melakukan perjuangan di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan sebelum dibuang ke Sulawesi.

Namun jika ternyata kemudian dilakukan kajian dari segi arkeologi sehingga dapat disimpulkan masjid itu dibangun pada tahun 1825 bersamaan masanya dengan perang Diponegoro. Hanya saja timbul pertanyaan lagi masjid itu dibangun Diponegoro atau dibangun pada masa Diponegoro. “Apalagi saat itu pemerintah Hindia Belanda masih mempertahankan devide et impera yang membuat sangat sulit orang jawa seperti Diponegoro tinggal di kawasan Pecinan,” ucapnya.

Kemungkinan yang paling bisa diterima adalah Masjid Annur tersebut sengaja dibangun oleh orang-orang Tionghoa yang telah menganut Islam. Yang perlu diingat bahwa kebebasan menganut agama saat itu berbeda dengan masa kini.

Orang Tionghoa yang beragama Islam tidak mau terang-terangan menjalankan ibadahnya. Akhirnya mereka membangun tempat ibadah tersendiri. Dengan seperti itu artinya mereka juga tak ingin kehilangan hak-hak istimewa yang diberikan pemerintah Hindia Belanda sebagai warga negara middle class.

“Jika ketahuan mereka memeluk Islam bisa-bisa mereka bakal kehilangan hak istimewa dan disamakan dengan orang-orang Pribumi,” pungkasnya. (lsi)
Sumber : http://relawandesa.wordpress.com/200...ah-di-pecinan/
edytoah no está en línea   Reply With Quote
Old August 31st, 2011, 02:25 PM   #110
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Balaputradewa's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: PALEMBANG
Posts: 7,544
Likes (Received): 1008

thread bagus nih
Bala seneng baca2 sejarah kayak gini, salut utk Semarang yg punya referensi dan dokumentasi kota lengkap. Setelah baca2, jadi punya kesan emosional tersendiri mengenai Semarang.
__________________
Sabbesatta Bhavantu Sukhitata: Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia !!
Balaputradewa no está en línea   Reply With Quote
Old August 31st, 2011, 02:54 PM   #111
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

terima kasih mas Bala,saya berharap kota-kota lain juga bisa membanguntrit seperti ini, supaya bisa jadi sub trit tersendiri yang tidak tercampur di warteg. Saya kira in penting karena jika kita selalu bicara Indonesia masa depan hanya dengan belajar dari nagara yang sudah maju tapi tak pernah berkaca dari sejarah masa lalu, maka rasanya kurang komplit. Seperti halnya manusia sukses itu pasti ukurannya dari masa lalunya, jika kita tidak tahu masa lalu kita, bagaimana kita mengukur bahwa kita sudah maju atau belum...

Apalagi Semarang adalah kota yang jarang disebut dalam sejarah nasional. Trit ini bisa jadi merememoris kita atas sejarah tercatat maupun yang tertutur...
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old August 31st, 2011, 02:56 PM   #112
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

mas Edytoah... yang masjid diponegoro ini unik sekali ceritanya. Kapan waktu bisa kunjungan langsung? Juga kapan ada waktu ke istana Kullitan punya meneer Tasripin? Sekitar tanggal 9 saya ke Semarang. Mungkin bisa bertemu...
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old August 31st, 2011, 08:15 PM   #113
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42

Quote:
Originally Posted by titus15 View Post
mas Edytoah... yang masjid diponegoro ini unik sekali ceritanya. Kapan waktu bisa kunjungan langsung? Juga kapan ada waktu ke istana Kullitan punya meneer Tasripin? Sekitar tanggal 9 saya ke Semarang. Mungkin bisa bertemu...
Siap Anytime Mas Titus ... Kebetulan sy punya waktu luang agak banyak maklum sy setengah pensiunan .

Mengenai kerajaan Tasripin ini ada posisinya koordinat GPS Kp Kulitan di jl. Mataram tsb .. Maju sedikit sebelah kanan dkt Kp. Suburan ada gule Bustaman Mas Titus ..
Ini posisi dari : http://wikimapia.org/14337761/id/Kerajaan-Tasripin
Kalau menurut posisi koordinat tsb kerajaan Tasripin ini mulai dari Gandekan sampai Kulitan tsb,ada masjid Gandekan yang dibangun Tuan Tanah Tasripin.
Ini ada link ttg Masjid Gandekan tsb. http://hariansemarangbanget.blogspot...-tasripin.html
Kuliner maneh Mas Titus di Gandekan ini masih ada cikal bakal Warung Pecel Mbok Sador juga yang sekarang dipegang anaknya.Sego Pecel Mbok Sador ini punya cabang di Simpang Lima dan Bojong.
Ingat Tuan Tanah Tasripin ini jadi ingat kisah sedih kampung tua Jayenggaten yang hilang jadi sebuah hotel mewah di jl. Gajahmada,karena tanah seluruh kampung tsb dijual oleh ahli waris Tasripin tsb.Tidak dapat dipungkiri orang-2 yang menempati kampung tersebut dulunya adalah penyewa dan memang tidak punya hak untuk memiliki,tetapi mereka menempati sejak jaman kakek bahkan kakek buyut mereka mungkin,sedangkan kesempatan membeli mungkin juga tidak diberikan oleh ahli warisnya kalau dalam luas yang kecil,mungkin ahli waris lebih memilih pembeli keseluruhan kampung tsb.
http://www.suaramerdeka.com/harian/0502/18/kot01.htm

Tempat tinggal Tasripin (Kp Kulitan 315) sekarang jadi kantor Radio Gajah Mada.
Bangunan tunggal setangkup tunggal dengan jumlah trafe 3 buah dan tidak bertingkat. Orientasi menghadap ke selatan. Pondasi dari batu dengan sistem struktur bata, dinding dari bata berplester dan dinding bagian bawah berlapis tegel. Lantai bangunan dinaikan setinggi kurang lebih 80cm dari permukaan jalan. Bentuk atap adalah limasan ganda 2 tingkat, dengan bahan penutup dari genteng.
Kampung Kulitan dahulu daapat disebut sebagai "kerajaan Tasripin" karena ia beserta segenap kerabatnya pernah tinggal disana. Tasripin adalah seorang pribumi yang kaya raya, ia adalah pengusaha kopra, kapuk dan juga real estate. Tasripin juga memiliki bisnis kulit yang dijalankan dikampung Kulitan. Bisnis ini mulai ramai pada permulaan abad ke-19. Bisnis ini yang menyebabkan kampung ini terkenal dengan nama Kampung Kulitan hingga sekarang. Tasripin sebagai orang yang sangat terpandang dikawasan ini menempati rumah bernomoer 315 ini. Rumah ini tampil lebih menyolok dibandingkan dengan rymah lainnya. Pernah diadakan pemotongan teritisan yang semula menaungi jalan didepannya. Rumah ini dulu penuh dengan hiasan wayang karena kegemaran Tasripin akan wayang. Selain itu atap sosoran serambi dulu juga menerus sampai ke seberang jalan.
Sumber : http://www.semarang.go.id/cms/pemeri...0tinggal40.php

Tanahnya banyak di Peterongan juga yang sekarang jadi GKI Peterongan.
http://www.gki.or.id/jemaat/peterongan

Disini juga ada cerita menarik tentang sengketa tanah Tasripin yang diselesaikan Pemkot : http://www.suaramerdeka.com/harian/0210/02/kot7.htm

Yang menarik Tuan Tanah Tasripin ini mungkin adalah satu-satunya Tuan Tanah Pribumi pada awal abad ke 19,disamping pada waktu itu banyak tuan tanah dari golongan Tionghoa seperti Oei Tiong Ham,Mayor Bhe Biauw Tjoan (ada peninggalan gapura Cina di jl. Mataram jl masuk ke SMA Sultan Agung).

Konon menurut cerita orang-orang Tuan Tanah Tasripin ini tidak punya anak,mungkin kekayaannya jatuh ketangan saudara-saudaranya.
Tidak menemukan biografi yang lengkap di Wikimedia,yang ada ada sepenggal-sepenggal seperti di link ini http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/04/kot17.htm
edytoah no está en línea   Reply With Quote
Old September 2nd, 2011, 08:57 PM   #114
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

wah komplet ni cerita Mr Tasripin. Sayang nggak ada catatan yang lebih komplet. Oh ya katanya sejarawan otodidak Semarangan (alm) Amen Budiman itu salah satu keturunan Mr Tasripin ya mas??

Kalo di Solo Jogja dikenal kawasan Sultan Ground, di Semarang ada juga Tasripien Groound ya?? seru juga nih...
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old September 3rd, 2011, 04:09 AM   #115
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42


Kelihatannya Alm. Amen Budiman sejarahwan bukan kerabat Mr. Tasripin .. krn kebetulan Amen warga keturunan Tionghoa sdgkan Mr. Tasripin pribumi .. tp ngak tahu ya Mas Titus .. bisa juga mungkin kalau terjadi pembauran ... atau kerabat dari cabang lain.
Yg unik dari Amen Budiman ini pernah punya group Gambang Semarang yang sudah hampir punah dengan nama th 1986 dengan nama "Kembang Goyang".Menjelang Amen Budiman wafat (1995), peralatan musiknya dijual kepada Hotel Graha Santika Semarang. Pada hari-hari tertentu hotel tersebut menyajikan Gambang Semarang untuk menghibur tamu-tamunya.
Sumber : http://staff.undip.ac.id/sastra/dewi...uncategorized/

Di link-2 diatas agak membingungkan ahli waris Mr. Tasripin tsb juga cerita dr orang-2 wedangan bahwa Tasripin ngak punya anak, tp ada saudara perempuan di Kp Pompa Kranggan.
Di salah satu link tsb ada anak lakinya bernama Tas'an, ini ada group FB-nya di http://www.facebook.com/group.php?gi...0501358&v=wall
Di link lain ada anaknya perempuan namanya Tasripah,terus ada juga 6 ahli warisnya lain di kasus Kampung Jayenggaten.

Ini sy ambil photo Mr. Tasripin dgn Istana Kulitan dari facebook AMAT TAS'AN BIN TASRIPIN di atas :



[/URL]
__________________
Semarang ... The purely Asia ... Let's Go to Semarang ...
edytoah no está en línea   Reply With Quote
Old September 3rd, 2011, 05:05 AM   #116
edytoah
Registered User
 
edytoah's Avatar
 
Join Date: Oct 2008
Location: Semarang
Posts: 1,217
Likes (Received): 42

Sekalian ini ttg Gambang Semarang ... yg unik juga dari kota Semarang ...


Sumber Gambar : Google http://putra-semarang.blogspot.com/search/label/Adat

Sumber : http://staff.undip.ac.id/sastra/dewi...uncategorized/

Sampai saat ini asal-usul kesenian Gambang Semarang masih diperdebatkan. Banyak orang mengatakan bahwa Gambang Semarang adalah kesenian “import” dari Betawi, karena memang dulu alat-alat musiknya pernah dibeli dari Jakarta dan tidak berbeda dengan alat-alat musik Gambang Kromong yang terdiri atas: gambang, bonang (kromong), suling, kendang, gong, kecrek, alat gesek (sukong dan kongahian atau tehian), dan terompet. Akan tetapi, sebaliknya, ada suatu pernyataan bahwa kesenian Gambang Kromong justru berasal dari Semarang. Kesenian ini dibawa oleh para imigran Cina yang langsung menuju Semarang. Di sini mereka mengembangkan kesenian yang dikenal dengan Gambang Semarang.Masing-masing pernyataan tersebut dapat dijelaskan dengan dasar-dasar historis sebagai berikut.

Pernyataan pertama didasari oleh kenyataan bahwa pada saat kesenian Gambang Semarang dibentuk secara melembaga, alat-alat musik dan juga pelatihnya memang didatangkan dari Jakarta. Pembentukan kesenian ini tidak dapat terlepas dari peranan Lie Hoo Soen, yang pernah menjadi anggota volksraad (Dewan Rakyat) Semarang. Ia dilahirkan pada tanggal 5 April 1898 di Semarang, dan meninggal pada tahun 1986. Pada sekitar tahun 1930, ketika ia masih menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat), ia pernah membicarakan dalam Dewan tentang kebutuhan Kota Semarang akan kesenian. Sebagai penggemar musik keroncong dan pengurus organisasi kesenian “Krido Hartojo”, Lie Hoo Soen mempunyai gagasan untuk menciptakan kesenian khas Semarang. Gagasannya ini disampaikannya kepada walikota Semarang saat itu, Boissevain. Walikota menyetujui usulan Lie Hoo Soen, dan memerintahkannya untuk membeli alat-alat musik Gambang Kromong di Jakarta. Setelah alat-alat musik tersedia, latihan-latihan segera diadakan dan kesenian Gambang Aemarang telah dapat dipentaskan pada tahun 1932.

Akar historis pernyataan kedua dapat dijelaskan dengan mempelajari berbagai sumber. Pada sekitar tahun 1416 orang-orang Cina mendarat di Semarang. Mula-mula mereka mendarat di Banten, kemudian berpencar ke tempat-tempat lain seperti Jepara, Lasem, Rembang, Demak, Buyaran, dan Semarang. Orang Cina yang datang pertama kali di Semarang ialah Sam Po Tay Djin. Di sini ia meninggalkan suatu monumen terkenal “Klenteng Gedong Batu”. Daerah di sekitar “Klenteng Gedong Batu” ini merupakan tempat pemukiman orang-orang Cina yang pertama di Semarang.Sam Po adalah seorang pelaut, yang diperintahkan oleh kaisar dinasti Ming, Bing Sing Tjouw, untuk mengunjungi dan menaklukkan berbagai negeri di daerah Pasific sampai ke Arabia. Ketika mereka berlayar di sepanjang pantai utara pulau Jawa, seorang pembantu Sam Po, Ong King Hong, menderita sakit. Oleh karena itu, Sam Po memerintahkan agar kapalnya berlabuh dulu di sebuah tanjung, yang kini menjadi pelabuhan Semarang. Setelah itu mereka berlayar ke pedalaman dengan menyelusuri Kali Garang. Dalam pelayaran itu, tidak jauh dari pantai, mereka menemukan sebuah gua yang kemudian dijadikan persinggahan oleh Sam Po. Para pengikut Sam Po membangun sebuah rumah kecil untuk si sakit Ong King Hong. Sam Po memberikan obat-obatan kepada Ong King Hong. Setelah Ong King Hong sembuh, Sam Po melanjutkan perjalanannya, sedangkan Ong King Hong memilih untuk tinggal di daerah itu bersama dengan 10 orang pengikut, sebuah kapal, dan dengan perbekalan yang cukup banyak.

Setelah merasa sehat dan kuat, Ong King Hong menyuruh para pengikutnya untuk membersihkan lingkungan, menanam tanaman-tanaman, dan membangun rumah. Ong King Hong tidak kembali ke negeri Cina, tetapi ia dan para pengikutnya melakukan pelayaran perdagangan di sepanjang pantai utara Jawa. Para pengikutnya mengambil istri orang-orang Indonesia, dan daerah itu berkembang menjadi tempat yang ramai dan subur.

Seperti Sam Po, Ong King Hong adalah seorang Muslim yang taat, dan ia pun mengajarkan moral, kebenaran, serta praktik-praktik agama Islam kepada para pengikutnya. Ia juga mendorong para pengikutnya untuk mencapai prestasi tinggi seperti Sam Po. Ia memiliki patung kecil Sam Po yang diletakkannya dalam gua, dan ia menyuruh para pengikutnya untuk memujanya pada hari-hari tertentu. Ong King Hong meninggal pada usia 87 tahun, dan dimakamkan secara muslim. Di kalangan orang Jawa, Ong King Hong dikenal dengan sebutan Kiai Juru Mudi Dampo Awang, dan makamnya diziarahi baik oleh orang Jawa maupun Cina pada hari-hari tertentu dalam tahun Jawa. Sam Po juga mendapat nama penghormatan, yaitu Sam Po Tay Jin, yang berarti Sam Po yang besar. Pada hari-hari tertentu dalam tahun Cina, patung Sam Po juga diziarahi oleh orang-orang Cina.7 Dalam perkembangan, petilasan Sam Po dan makam Ong King Hong ini terkenal dengan sebutan klenteng Gedong Batu. Setelah berakhirnya perang antara Cina dan kompeni Belanda di Semarang yang berlangsung pada tanggal 14 Juni – 13 Nopember 1741, atas perintah kompeni, masyarakat Cina di daerah Gedong Batu harus pindah ke tempat yang sudah ditentukan yakni Kampung Pecinan.

Menurut sumber lain, sebelum itu ternyata sudah ada masyarakat Cina di Semarang. Hal ini dapat dilihat pada Catatan Tahunan Semarang dan Cirebon yang memberitakan bahwa pada tahun 1413 armada Tiongkok Dinasti Ming singgah di Semarang selama satu bulan untuk perbaikan kapal. Laksmana Haji Sam Po Bo, Haji Ma Hwang, dan Haji Feh Tsin sering melakukan sholat di masjid Tionghoa Hanafi di Semarang.
Dimana ya sekarang Masjid Tionghoa Hanafi ini ? Apa Masjid tua di Jl. Layur yang ada bekas Mercusuarnya itu ya? Tp kelihatannya masjid di Layur tsb tidak nampak unsur etnis Tionghoanya,lbh banyak unsur Arab krn ktnya didirikan orang-orang Koja / pedagang-2 gujarat.


Pada akhir abad ke-17 Semarang menjadi salah satu tujuan para imigran Cina, di samping Batavia dan Surabaya. Kehadiran orang-orang Cina di wilayah Indonesia pada akhir abad ke-17 didorong oleh dua faktor penting yaitu jatuhnya dinasti Ming (1368-1644) serta dibukanya kembali perdagangan antara Cina dan wilayah Asia Tenggara pada tahun 1683. Para imigran tersebut berasal dari daerah-daerah pantai bagian Selatan daratan Cina yaitu Amoy, Kanton, dan Makao, dan banyak di antara mereka menemukan jalan ke Semarang. Ong Tae-Hae, seorang Cina yang berasal dari Fukien, yang pernah tinggal di Indonesia (1783-1791), mengatakan bahwa di Batavia terdapat sebuah gedung yang dikenal sebagai “Loji Semarang”. Para pendatang Cina, yang ingin meneruskan perjalanan mereka ke Jawa Tengah, akan menginap di gedung itu sampai mereka mendapatkan perahu-perahu yang dapat mengangkut mereka ke Semarang.10 Sebagian besar masyarakat Cina di Semarang menghuni daerah perkotaan dan mereka membaurkan diri dalam kebudayaan Jawa.

Ong Tae-hae juga memberikan gambaran tentang keinginan orang-orang Cina untuk membaur dalam masyarakat Jawa sebagai berikut. Orang-orang Cina yang menetap di perantauan selama beberapa keturunan dan tanpa pernah kembali ke negeri asal mereka, sering mencontoh bahasa, makanan, dan pakaian penduduk asli dan belajar Al Qur’an. Mereka tidak merasa enggan untuk menjadi orang Jawa, ketika mereka telah menjadi pemeluk agama Islam. Mereka tidak memakan daging babi, dan berasimilasi dengan adat-istiadat penduduk asli. Dalam perjalanan waktu, pemerintah kolonial Belanda menempatkan mereka di bawah pengawasan seorang kapten (seorang Kapitan Cina Peranakan).

Suatu saluran pembauran yang penting adalah perkawinan antara para pedagang Cina dan kalangan bangsawan Jawa, karena dengan perkawinan itu, mereka dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan. Perkawinan antara pendatang Cina dan perempuan Jawa sangat mungkin terjadi, karena pada umumnya mereka yang pergi merantau adalah orang laki-laki saja. Hal Ini dapat terjadi, sebab adat Cina pada saat itu melarang kaum wanita keluar dari halaman rumah, apalagi pergi jauh. Dengan demikian banyak imigran Cina menikah dengan wanita pribumi, yang kemudian dapat memasukkan kebiasaan-kebiasaan pribumi dalam keluarganya seperti memakai kain dan baju kurung panjang, memotong gigi, memakan sirih, jongkok-menyembah dan sebagainya.

Dalam hal berkesenian, juga terjadi asimilasi. Kondisi ini dapat dilihat antara lain pada saat masyarakat Cina di Semarang merayakan terbentuknya Republik Cina pada tahun 1911. Perayaan diselenggarakan di pemukiman Cina, yang tidak hanya dimeriahkan dengan orkes, tetapi juga dengan gamelan. Dulu masyarakat Cina di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai kesenian tersendiri yang dinamakan orkes “pat-iem”. Kesenian ini dimainkan terutama di pemakaman Cina. Anehnya, seluruh pemain orkes tersebut adalah orang Jawa. Kwa Tong Hay, seorang Cina Semarang, menuturkan bahwa alat-alat musik “pat-iem” terdiri alat alat petik, gesek, dan alat tiup yang berupa terompet kecil.

Jika diamati, dalam kesenian Gambang Semarang juga terdapat perpaduan antara unsur budaya Cina dan Jawa. Alat-alat musiknya terdiri atas instrumen Cina (kongahian , shu kong, kecrek, dan suling) dan instrumen Jawa (bonang, gambang, dan gong). Dulu para penari dan penyanyi wanita (kebanyakan orang Cina) memakai kain sarung batik “Semarangan”, kebaya “encim” (terbuat dari kain polos yang dibordir pada bagian pergelangan tangan dan sudut-sudut bagian depan), serta gelung konde. Pada mulanya para pemain musiknya terdiri dari orang-orang Jawa dan Cina. Banyak lagu yang didendangkan berirama mandarin, di samping lagu-lagu keroncong.

Sebelum Gambang Semarang dilembagakan sebagai suatu perkumpulan kesenian di Semarang, ada kemungkinan bahwa kesenian tersebut merupakan kesenian “kelilingan” (dalam bahasa Jawa “mbarang”). Hal ini dapat disimak dari penuturan Soengkono (berusia 74 tahun, tinggal di Jalan Menteri Supeno Selatan 1115 D Semarang). Pada sekitar tahun 1930 Soengkono pernah menyaksikan pentas kesenian yang alat-alat musiknya terdiri atas gambang, terompet kecil, kencreng, dan alat musik gesek. Pentas yang paling mengesankan baginya adalah pentas di taman Balai Kambang, milik pribadi seorang pengusaha kaya Oei Tiong Ham, yang terletak di Gergaji. Setahun sekali, dalam rangka menyambut hari lebaran, Oei Tiong Ham membuka taman Balai Kambang untuk dikunjungi segenap lapisan masyarakat. Kesenian tersebut pernah pentas di Balai Kambang untuk merayakan hari lebaran. Selain di Balai Kambang, kesenian ini juga pernah pentas di makam Cina “Bong Bunder” (di belakang SMU Negeri I Semarang) dan di klenteng-klenteng. Ternyata, pentas kesenian tersebut dapat menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah lain seperti: Cirebon, Betawi, Surabaya, Kudus, Rembang, Pekalongan dan sebagainya. Soengkono menggambarkan kesenian itu bernuansa Cina dan Jawa. Suara gambang dan tiupan terompet serta bunyi kencreng merupakan perpaduan suara musik Jawa dan Cina. Nuansa Cina dan Jawa dalam kesenian tersebut juga dapat dilihat pada busana yang dipakai oleh penyanyi dan penari yaitu kebaya bordir dan sarung pesisiran. Soengkono mengatakan bahwa kesenian itu dikenal dengan Gambang Semarang.18 Sumber-sumber tersebut di atas dapat memperkuat dugaan bahwa Gambang Semarang yang dikoordinasi oleh Lie Hoo Soen merupakan suatu bentuk pengembangan kesenian yang pernah ada sebelumnya di kota Semarang.

Perpaduan antara unsur-unsur seni Cina dan Jawa dalam Gambang Semarang merupakan salah satu gambaran bahwa di kalangan masyarakat Semarang telah terjadi proses asimilasi atau integrasi antara unsur-unsur budaya pribumi dan budaya Cina. Terlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri dan sampai kini juga masih dibutuhkan serta diperhatikan oleh banyuak pihak di Semarang. Lagi pula, Gambang Semarang terus mengalami pengembangan sesuai dengan selera masyarakat Semarang. Sebagai contoh, lagu-lagu yang disajikan tidak hanya lagu-lagu Betawi, tetapi juga lagu-lagu khas Gambang Semarang seperti “Gambang Semarang”, “Impian Semalam”, “Aksi Kucing”. Di samping itu juga ditampilkan lagu-lagu khas Jawa Tengah: “Jangkrik Genggong”, “Walang Kekek”, dan lagu-lagu kroncong.

Prakarsa Lie Hoo Soen untuk mengembangkan Gambang Semarang pada tahun 1930-an , yang mengikutsertakan baik orang Cina maupun pribumi merupakan suatu gejala, bahwa ketika itu telah tumbuh semangat integratif, dan kesenian ini dapat menampung semangat itu secara baik. Dalam berkesenian harus selalu ada kerjasama dan komunikasi yang bagus agar dapat dihasilkan produk yang baik pula. Kesenian ini terus dikembangkan dalam suasana integratif, dan pengembangannya dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat di Kota Semarang yang meliputi perorangan, pemerintah, perhotelan, dan juga kalangan perguruan tinggi.

Pada saat Lie Hoe Soen ingin membentuk perkumpulan kesenian di Semarang, di kota ini memang sudah ada orang-orang yang potensial untuk menyelenggarakan kesenian tersebut yakni Mak Irah dan Mak Royom (kakak Mak Irah). Mereka adalah orang-orang pribumi yang berasal dari Ciputat, Jakarta. Sebelum pindah ke Semarang, di Jakarta mereka berkarya sebagai seniwati Gambang Kromong. Sebagaimana dikisahkan oleh Jayadi (keponakan Mak Irah) , Mak Irah memutuskan untuk merantau ke kota lain bersama Mak Royom, karena ia mengalami kekecewaan dalam hidup perkawinannya. Oleh orang tuanya Mak Irah dijodohkan dengan seorang Cina yang telah lanjut usia. Dari perkawinannya itu Mak Irah memperoleh nama Cina “Oei Cing Moi”. Pada saat itu di Jakarta, khususnya di kalangan seniman Gambang Kromong, para penyanyi (Tjio Kek) pribumi diberi nama Cina yang diambil dari nama-nama bunga indah seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Bouw Tan dan sebagainya.19 Setelah mempunyai seorang anak, ternyata Mak Irah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan rumahtangganya, dan akhirnya ia meninggalkan suaminya. Ada kemungkinan bahwa pada saat itu di Semarang sudah berkembang suatu kesenian yang serupa dengan Gambang Kromong di Jakarta, sehingga Mak Irah dan Mak Royom dapat bergabung dalam kesenian itu. Setelah menyaksikan kemahiran Mak Irah dalam menari, pada suatu hari Lie Hoo Soen menjumpai Mak Irah untuk membicarakan kemungkinan mengadakan pertunjukan Gambang Kromong di Semarang. Pertunjukan ini dimaksudkan terutama untuk merayakan hari besar di klenteng- klenteng. Mengingat pada waktu itu di Semarang belum ada pemain musik Gambang Kromong, Mak Irah pergi kembali ke Ciputat Jakarta untuk menemui adiknya, Subadi, seorang seniman Gambang Kromong. Bagi Mak Irah, kesempatan yang ditawarkan oleh Lie Hoo Soen merupakan keberuntungan, karena di Ciputat yang merupakan basis Islam Muhammadiyah masyarakatnya kurang menyukai kesenian Gambang Kromong. Atas dasar pertimbangan bahwa Semarang lebih memungkinkan untuk hidup dengan bekal keahlian kesenian Gambang Kromong, Mak Irah mengajak Subadi untuk pindah ke Semarang. Subadi adalah pemain Gambang Kromong yang serba bisa. Selain dapat memainkan seluruh alat musik dalam kesenian itu, khususnya alat gesek (sukong, kongahian, tehian dan yana), Subadi juga bisa menyanyi dan melawak. Akhirnya, tiga bersaudara itu memutuskan untuk tinggal di Semarang dan berkarya sebagai seniman dalam grup kesenian yang dibina oleh Lie Hoo Soen.20 Oleh karena pada saat itu di Semarang belum banyak orang yang mahir dalam kesenian Gambang Kromong, Subadi diminta oleh Lie Hoo Soen untuk melatih para pemain musik dalam kesenian yang dipimpinnya yaitu: Tan Hok Gie (pemain kromong), Nyo Ping Liong (pemain kendang), Liem Han Hing (pemain Gong), Mintoni ( pemain sukong), Oei Tek Bie (pemain gim), Oei Tiong Oen (pemain biola), Untung (pemain suling), Lim Tik No (pemain samhian), Poei Tjo Dwan (pemain kongahyan), Tjiam Bok Swie (pelatih, pemain gambang). Dalam perkembangan, kesenian yang diorganisasi oleh Lie Hoo Soen ini dikenal dengan Gambang Semarang. Kesenian ini tidak hanya tersohor di Semarang, tetapi juga di kota-kota lain, terutama pada saat diselenggarakan pasar malam. Beberapa kota yang pernah mengundang kesenian Gambang Semarang untuk meramaikan pasar malam adalah Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Betapa terkenal kesenian ini, sehingga pada tahun 1940 tercipta suatu lagu dengan judul “Empat Penari”. Lagu tersebut tercipta atas kerja sama antara Oei Yok Siang, pembuat lagu, dan Sidik Pramono, penulis syair lagu. Kedua seniman ini bertempat-tinggal di Magelang. Sidik Pramono adalah pemain orkes Perindu di Magelang. Pada tahun yang sama lagu “Gambang Semarang” telah disiarkan pertama kali oleh orkes Perindu di studio Laskar Rakyat Magelang dengan biduanita Nyi Ertinah.21 Berikut ini ditampilkan syair lagu tersebut secara lengkap:


Empat penari, kian kemari

jalan berlenggang, aduh ………..

sungguh jenaka menurut suara

Irama Gambang

Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang

Bersuka ria, gelak tertawa

Semua orang, karena ……………

Hati tertarik grak grik

si tukang kendang


Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang.

Syair lagu tersebut dapat dipahami sebagai suatu kesaksian dan ekspresi perasaan terkesan akan nilai estetis yang ditampilkan oleh kesenian Gambang Semarang. Di samping lagu “Empat Penari”, Oei Yok Siang juga menciptakan lagu-lagu lain yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang seperti “Aksi Kucing” dan “Impian Semalam”.

Penari-penari tempo dulu yang sangat terkenal adalah Mak Irah (periode tahun 1930-an sampai dengan tahun 1940-an) dan nyonya Sam (periode tahun 1950-an sampai dengan tahun 1970-an). Jika Mak Irah terkenal dengan kecantikannya, nyonya Sam sangat dikagumi karena berpinggul besar dengan gerakan-gerakan pinggulnya ngondek, dan ngeyek. Dengan wajah yang cantik, tubuh yang bagus, dan suara yang merdu, Nyonya Sam terkenal sebagai primadona Gambang Semarang. Jika nyonya Sam pentas, pengunjung berdatangan dari berbagai tempat untuk menyaksikan sang primadona itu.

Suatu kenangan akan keindahan Gambang Semarang juga dinyatakan oleh Hartono, seorang seniman lukis kelahiran Surakarta. Ketika masih remaja, pada tahun 1940 Hartono pernah menyaksikan pertunjukan Gambang Semarang di Taman Sriwedari Surakarta untuk merayakan Idul Fitri. Penampilan empat penari yang diiringi lagu Gambang Semarang merupakan puncak pertunjukan tersebut. Ternyata para penari dengan gerakan goyang pinggul mampu mengundang tepuk tangan masyarakat Surakarta yang berselera halus. Lagu Gambang Semarang yang bernuansa Jawa-Mandarin, sejak saat itu, dinyanyikan juga oleh para seniman di Surakarta. Lebih lanjut Hartono menceriterakan bahwa pada tahun 1949 ia juga pernah menonton Gambang Semarang di Kampung Senjoyo Semarang dalam suatu pesta perkawinan. Menurutnya ada suatu atraksi yang sangat lucu dalam pertunjukan tersebut. Pelawak laki-laki, yang mengenakan sarung batik “semarangan”, mencengkal bagian depan sarungnya, sehingga ketika ia bergoyang bersama penari, “cengkal” tersebut menggambarkan alat vitalnya.

Dengan memperhatikan kisah Hartono ini muncul suatu dugaan bahwa dulu penciptaan gerak-gerak tari dalam kesenian Gambang Semarang telah diilhami oleh suatu sense erotis yang tersirat dalam suatu nyanyian Cina yang populer pada saat itu yaitu “Sipatmo”. Nyanyian ini juga merupakan salah satu lagu dalam kesenian Gambang Kromong di Jakarta. “Sipatmo” berarti delapanbelas rabaan yang merupakan gerakan-gerakan manusia ketika melakukan persetubuhan. Makna “Sipatmo” ini dapat diduga mempengaruhi gerak-gerak tari dalam kesenian Gambang Semarang. Gan Kok Hwi, seorang Cina Semarang yang pernah menyaksikan Gambang Semarang pada tahun 1960-an, menuturkan bahwa dalam pertunjukan tersebut ditampilkan sebuah lagu Cina yang dinyanyikan dengan gerak-gerak erotis. Gerakan dari jongkok sampai berdiri dengan gerak tangan yang “usap-mengusap” sering dapat mengundang penonton naik panggung untuk ikut menari. Gerakan erotis ini menjadi ciri primadona Gambang Semarang periode tahun 1950-an Nyonya Ong Sam Nio (Nyonya Sam) . Masyarakat penikmat Gambang Semarang masa itu sangat terkesan akan gerakan erotis nyonya Sam, sehingga muncul suatu sebutan untuknya “egolane serrr, kayak lele”. Menurut Tutik, mantan penari Gambang Semarang, penari-penari lain yang sejaman dengan nyonya Sam yaitu Cik Swan, Cik Ling, dan Sus Mi. Tutik mengaku bahwa ia tertarik ikut menjadi penari dalam kesenian itu karena ia pernah menonton nyonya Sam menari. Menurutnya gerak tari nyonya Sam terasa enak untuk dipraktikkan.

Pada tahun 1942, ketika Gambang Semarang pentas di arena Pasar Malam Magelang, terjadi pertempuran dengan Jepang. Para pemain Gambang Semarang menyelamatkan diri dan peralatan musiknya ditinggalkan begitu saja, sehingga hilang. Mak Royom pun tidak diketahui nasibnya. Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal, tidak seorang pun mengetahuinya. Dengan terjadinya peristiwa itu Gambang Semarang bubar, dan selama beberapa tahun tidak ada pentas. Walaupun telah terjadi peristiwa yang menyeraiberaikan para pemain Gambang Semarang serta memusnahkan peralatan musiknya, ternyata kecintaan orang Semarang terhadap kesenian tersebut tidak pernah hilang. Hal ini terbukti pada tahun 1949 muncul lagi seorang pemerhati Gambang Semarang yang bernama The Lian Kian, bertempat tinggal di Kampung Seong Semarang. Karena alat-alat musik Gambang Semarang sudah hilang, ia membeli instrumen Gambang Kromong di Betawi. Subadi masih tetap diminta untuk melatih para pemain musik kesenian ini. Akan tetapi, The Lian Kian tidak bertahan lama dalam mengelola Gambang Semarang, karena ia kalah judi. Pengelolaan Gambang Semarang dilanjutkan oleh Yauw Tia Boen (lebih dikenal dengan panggilan “Cik Boen”), yang juga bertempat tinggal di Kampung Seong. Di samping Gambang Semarang, Cik Boen juga mengkoordinasi perkumpulan musik “Irama Indonesia” yang menyajikan berbagai warna musik seperti jaz, keroncong, dangdut, dan lagu Barat. Ketika dikelola oleh Cik Boen, Gambang Semarang mengalami inovasi dalam berbagai unsur seninya. Alat-alat musiknya dilengkapi dengan bass, saxofon, klarinet, orkes keroncong, alat musik tiup, dan drum. Dengan demikian nyanyiannya juga ikut berkembang. Pada saat itu dalam kesenian Gambang Semarang dinyanyikan juga lagu-lagu Barat.28 (wawancara dengan Jayadi, tanggal 13 Maret 1998). Cik Boen juga merekrut para seniman waria yang pandai menyanyi dan menari seperti: Heny, Emy, Farida, dan Wiwik. Penyanyi dan penari yang lain adalah Nungki, Tutik, Mulyati, Sus Min, dan Rukmini. Cik Boen tidak hanya berperan sebagai pengelola kesenian ini, tetapi ternyata ia juga dapat memainkan alat musik kromong. Bahkan ia juga pandai melawak dan menari. Lawakan dan tariannya disampaikan secara spontan. Pemain musik lainnya adalah antara lain Noto dan Pahing. Para penari Gambang Semarang pada saat itu sering menari dan berkostum dengan gaya India, karena pada saat itu film-film India sedang populer, sehingga mempengaruhi penampilan mereka. Pada saat itu Gambang Semarang sering dipentaskan di klenteng-klenteng: Gang Lombok, Gang Baru, Bon Lancung dan lain-lain. Di samping itu kesenian ini juga sering dipentaskan untuk memeriahkan pasar malam di Tegal Wareng Semarang. Kepemimpinan Cik Boen dalam kesenian Gambang Semarang harus berakhir, ketika ia menjadi melarat karena hampir seluruh hartanya digunakan untuk mengurusi kesenian ini. Bahkan pada awal tahun 1960-an ia meninggal.30 Setelah Cik Boen meninggal, Gambang Semarang juga mengalami masa suram selama lebih kurang 10 tahun.

Pada tahun 1972 Noto, seniman Gambang Semarang dari masa Cik Boen, ingin menghidupkan kembali kesenian ini. Dengan dana yang relatif kecil ia dapat mengadakan peralatan musik. Tentu saja dengan dana yang relatif kecil itu, kualitas bahan-bahannya juga kurang bagus . Gambang dibuat dari kayu sengon sehingga tidak berbunyi keras. Walaupun begitu Noto dan grupnya pernah diminta untuk pentas di hotel Patra Jasa Semarang pada tahun 1974. Penari dan penyanyi yang terkenal pada saat itu adalah Tuti Yuliati dan Istinah Amin.

Pada sekitar tahun 1970-an dan 1980-an perhatian terhadap kesenian Gambang Semarang muncul dari berbagai kalangan, baik secara individual maupun kelompok. Pada tahun 1972 mulai muncul perhatian yang bukan berasal dari masyarakat umum, tetapi dari pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang. Pada saat itu Walikota Semarang, Hadijanto, menugaskan kepada Iman Prakoso, Kabin. Kebudayaan Kotamadya Semarang, untuk menghidupkan kembali kesenian Gambang Semarang. Iman Prakoso menolak tugas tersebut, dengan alasan bahwa Gambang Semarang bukan kesenian asli Semarang. Karena Iman Prakoso tidak bersedia menjalankan tugas tersebut, kemudian Walikota menugaskan Thukul, Kepala Bidang Sarparlu. Pelaksanaan tugas ini dilimpahkan kepada Sekolah Dasar “Kartini”. Pengelolaannya dipimpin oleh Soesman, guru sekolah dasar tersebut. Para pesertanya direkrut dari guru-guru sekolah dasar di Kotamadya Semarang. Namun ternyata setelah kesenian tersebut dipentaskan, justru menjadi bahan perdebatan yang ramai di DPRD Semarang. Pada saat itu suasana masih sangat sensitif terhadap kebebasan pergaulan antara pria dan wanita. Padahal, ketika itu tarian Gambang Semarang diciptakan berpasangan dan bergandengan tangan antara pria dan wanita. Oleh sebab itu DPRD menolaknya, dan Gambang Semarang sekolah dasar “Kartini” bubar. Peralatannya masih disimpan di sekolah dasar tersebut.

Salah seorang anggota masyarakat Semarang yang lain, Bah Kalud, juga berpartisipasi dalam kancah pelestarian kesenian Gambang Semarang. Pada tahun 1976 Bah Kalud meminta Jayadi, seniman Gambang Semarang, untuk membeli peralatan musik di Ciputat Jakarta. Akan tetapi kemudian peralatan musik tersebut dibeli oleh Jayadi sendiri, dan Bah Kalud membuat instrument musik lagi yang kemudian dijual kepada Thio Tiong Gie (pengurus Klenteng Gang Lombok). Setelah memiliki peralatan musik, Thio Tiong Gie mendirikan Paguyuban “Gambang Semarang”. Organisasi ini mendapat pengesahan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah tertanggal 26 Juli 1979 dengan kategori kesenian rakyat. Beberapa pemain musik dalam kelompok kesenian ini yaitu Subadi, Jayadi, Noto, Min, Yatin, dan Yuri. Upaya Tio Thiong Gie dalam mengembangan Gambang Semarang telah membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Paguyuban kesenian yang dipimpinnya itu telah memperoleh beberapa tanda penghargaan. Penghargaan pertama diperoleh dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Jawa Tengah dalam rangka Festival Pertunjukan Rakyat Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 18 Nopember 1980. Penghargaan yang lain didapatkan dari Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam rangka penyelenggaraan Karnaval Dugderan pada tahun 1992.

Pada tahun 1985 Grup “Aktifitas Seniman Remaja” (ASR), di bawah pimpinan Burhanuddin, membentuk “Gambang Remaja”. Pelatihnya adalah seniman Gambang Semarang “kawakan” Jayadi (pemain kromong) dan Juri (pemain suling). Dalam grup ini peralatan musik Gambang Semarang ditambah dengan siter, dan juga dilengkapi dengan organ. “Gambang Remaja” sering dipentaskan untuk menyambut turis di pelabuhan Semarang. Selain itu ASR juga pernah mementaskan opera “Ande-ande Lumut” dengan iringan musik Gambang Semarang di Gedung Olah Raga Simpang Lima Semarang. Penonton pertunjukan ini harus membayar dengan membeli tiket, dan jumlah penontonnya cukup banyak. Pengemasan tari dan busana “Gambang Remaja” ditangani oleh Asri Meiati, pimpinan Sanggar “Asri Budaya”. Pengemasan tersebut dibuat atas persetujuan Iman Prakoso, Kepala Bidang Kebudayaan Kotamadya Semarang pada saat itu.

Tidak lama setelah “Gambang Remaja” terbentuk, pada tahun 1986 seorang budayawan Semarang, Amen Budiman, juga mendirikan perkumpulan Gambang Semarang “Kembang Goyang”. Pelatih dan pemainnya diambil dari paguyuban “Gambang Semarang” di Klenteng Gang Lombok. Menurut Sayekti, penyanyi dalam perkumpulan “Kembang Goyang”, kesenian yang dipimpin oleh Amen Budiman ini dipentaskan untuk berbagai acara yaitu pameran masakan Semarang, pesta perkawinan, pesta ulang tahun, dan acara menyambut tahun baru.33 Menjelang Amen Budiman wafat (1995), peralatan musiknya dijual kepada Hotel Graha Santika Semarang. Pada hari-hari tertentu hotel tersebut menyajikan Gambang Semarang untuk menghibur tamu-tamunya.

Pada tahun 1990-an kalangan pemerhati kesenian Gambang Semarang menjadi semakin luas. Masalah yang menjadi pusat perhatian dan pemikiran tidak saja mengenai masalah pengembangannya, tetapi juga menyangkut soal pencarian kesepakatan untuk mengakuinya sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Usaha-usaha dan diskusi tentang hal ini muncul dari berbagai lembaga yang terkait seperti Dinas Pariwisata, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan beberapa Perguruan Tinggi. Usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang untuk mengembangkan Gambang Semarang terus berlanjut sampai dengan dekade 1990-an. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat karya Agus Supriyanto, seorang staf Seksi Kebudayaan di instansi tersebut. Atas dorongan Iman Prakoso, yang ketika itu masih menjabat sebagai Kasi Kebudayaan, Agus Supriyanto mencipta tari Gado-gado Semarang dengan iringan musik Gambang Semarang. Lagu “Gado-gado Semarang” dicipta oleh Kelly Puspita atas permintaan Hadiyanto, walikota Semarang periode tahun 1970-an.34 Menurut Agus Supriyanto lagu “Gado-gado Semarang” dipilih sebagai dasar penciptaan dan iringan tari yang diciptakannya karena syair lagu tersebut mencerminkan identitas Semarang. Semula tari ini hanya dilakukan oleh wanita, tetapi kemudian dikembangkan menjadi tari pasangan antara pria dan wanita, yang dimaksudkan sebagai tari pergaulan. Tari tersebut menampakkan gerak-gerak erotis yang menonjolkan gerakan payudara dan pantat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang telah memasyarakatkan tari Gado-gado Semarang melalui jalur pendidikan formal. Di sekolah-sekolah SMP dan SMU di Kotamadya Semarang diajarkan tarian tersebut. Sebelum itu guru-guru tari di Kotamadya Semarang mendapat penataran dengan materi tarian tersebut. Kemudian juga diadakan lomba tari Semarangan antarsiswa SMP dan SMU di Kotamadya Semarang. Tarian ini juga pernah diikutsertakan dalam festival kesenian tingkat Jawa Tengah dan dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah untuk mewakili Kotamadya Semarang.

Pada awal tahun 1990 IKIP Negeri Semarang juga muncul dalam wacana pengembangan Gambang Semarang. Bintang, seorang sarjana seni tari yang mengajar di Institut tersebut, telah menciptakan tari yang diiringi dengan musik serta lagu Gambang Semarang dan diberi nama tari “Denok”. Penciptaan tari ini berdasar pada unsur-unsur gerak tari “jalan ngondek”, “jalan ngeyek”, dan “jalan tepak”. Di samping itu juga dimasukkan unsur-unsur gerak tari Jawa. Busananya juga dibuat seperti busana yang dipakai dalam Gambang Semarang yaitu kebaya encim dan kain pesisiran. Denok adalah suatu panggilan untuk anak gadis Semarang. Tarian ini menggambarkan kelincahan gadis-gadis Semarang, dan dapat ditarikan secara masal atau tunggal.

Fakultas Sastra Universitas Diponegoro adalah salah satu lembaga yang ikut berperanan dalam pengembangan kesenian ini. Langkah awal yang dilakukannya adalah mengadakan pameran budaya “Semarangan” dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro pada tahun 1993. Dalam event tersebut dipamerkan antara lain peralatan musik Gambang Semarang dan masakan “Semarangan”. Upaya pengembangan terus dilanjutkan dengan mengadakan sarasehan tentang “Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Gambang Semarang” pada tanggal 20 Januari 1994. Dari sarasehan tersebut diperoleh kesepakatan bahwa Gambang Semarang perlu dilestarikan dan dikembangkan karena kesenian tersebut mempunyai nilai penting sebagai aset wisata, aset ekonomi, dan juga sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Masalah yang muncul adalah apakah masyarakat Semarang masih menggemari kesenian ini, dan apakah mereka dapat menerima kesenian tersebut sebagai salah satu identitas kota Semarang. Hasil sarasehan ini terus menjadi bahan pemikiran Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, sehingga akhirnya diputuskan untuk dibawa ke forum lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 1994. Pada intinya lokakarya tersebut membicarakan langkah-langkah untuk mengembangkan seluruh aspek seni Gambang Semarang yang meliputi seni tari, musik, nyanyian, lawak, busana, dan dialek.

Usaha pengembangan Gambang Semarang terus dilanjutkan dengan cara menerapkan hasil lokakarya tersebut dalam kegiatan pelatihan Gambang Semarang bagi mahasiswa, dosen, dan karyawan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Instansi ini telah memiliki peralatan musik sendiri yang dibeli dari Jayadi, dan seniman ini bersama rekannya Yuri diminta untuk melatih. Dalam pelatihan itu semua aspek seni digarap dan dikembangkan berdasarkan unsur-unsur seni yang telah dimiliki oleh kesenian ini.

Pengembangan tari didasarkan pada gerak-gerak khasnya yaitu genjot, lambeyan, ngondek, dan ngeyek, serta diperkaya dengan unsur-unsur gerak tari Jawa, Sunda, dan Bali. Hal itu mengingat kenyataan bahwa masyarakat Semarang memang bersifat heterogen, terdiri dari berbagai suku bangsa. Selain itu, penggarapan tari juga didasarkan pada kondisi geografis Semarang yang merupakan daerah pantai, sehingga dibuat gerak-gerak tari yang menggambarkan deburan ombak dengan ditandai suara kendang yang bertalu-talu. Musiknya juga dikembangkan dengan cara menambahkan alat musik siter serta diciptakan lagu-lagu baru seperti “Goyang Semarang”, “Lenggang Semarang”, dan “Tigapuluh Tahun Fakultas Sastra”. Lagu “Goyang Semarang” dapat dinyanyikan dalam rangka lawak, karena lagu tersebut dapat dibawakan secara bersahutan dan dibuka dengan irama “rap” yang syairnya dapat disesuaikan dengan kondisi aktual pada saat pertunjukan. Selain itu juga disajikan lagu-lagu Barat, Dang- Dut, keroncong, dan tembang-tembang Jawa.

Busana penari mendapat penggarapan dan pengembangan selaras dengan model busana pesisiran. Kebaya dibuat dari bahan polos dengan hiasan bordir pada seluruh bagian tepinya, dan ujung depan kebaya dibuat meruncing ke bawah. Kain yang digunakan adalah kain batik pesisiran dan dilengkapi dengan “sonder” sebagai pemanis busana tari. Sanggul penari digarap dengan cara memadukan unsur-unsur sanggul Jawa, Eropa, dan Cina.

Seni lawak juga mendapat penggarapan yang cukup penting dalam rangka pengembangan Gambang Semarang sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Salah satu unsur budaya Semarang yang dapat diidentifikasi secara mudah adalah dialek. Oleh karena itu, dalam bagian lawak dimasukkan dialek Semarang dengan harapan bahwa hal tersebut dapat menampilkan identitas Semarang.

Gambang Semarang Fakultas Sastra UNDIP ini telah dipentaskan dalam berbagai acara: perayaan lustrum Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Dies Natalis Universitas Diponegoro, penyambutan turis dari Amerika di Kota Lama, pembukaan pameran pembangunan di Taman Budaya Raden Saleh, penyambutan Duta Besar Australi di Hotel Patra Jasa, “Talkshow” Kepariwisataan di Hotel Grand Candi, penyuluhan guru-guru SMP di kotamadya Semarang dan lain-lain.

Untuk mengembangkan kesenian Gambang Semarang, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro telah menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga lain yaitu Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, harian Suara Merdeka, Akademi Pariwisata, dan Hotel Graha Santika.

Kepedulian masyarakat Semarang untuk mengembangkan Gambang Semarang merupakan suatu bukti bahwa kesenian tersebut tetap memiliki masyarakat pendukung. Oleh karena itu, suatu hal yang perlu dipikirkan dan direalisasikan adalah penyediaan cultural apparatus, yaitu organisasi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan budaya.
__________________
Semarang ... The purely Asia ... Let's Go to Semarang ...
edytoah no está en línea   Reply With Quote
Old September 3rd, 2011, 06:21 AM   #117
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

Wah panjang banget artikelnya... jadi belom bisa komen banyak terutama Gambang Semarangnya... nanti dilanjut lagi setelah baca cermat.
Tentang Masjid Hanafi jika yang dirujuk tahun 1400an, kemungkinan sitenya adalah di daerah Sam Po Kong, karena pada tahun tersebut, sebagian besar daratan Semarang masih berupa lautan. Sampokong merupakan daratatan dari teluk kali garang.

Ada yang bilang kalo di kompleks tersebut di bagian belakang ada bangunan yang berfungsi sebagai Masjid.

Kawasan lain yang tidak berupa lautan konon kabarnya adalah kawasan Pulau Tirang di sekitar utara Mangkang. Tidak tahu persis dimana posisi sebenarnya pulau tirang ini. Yang jelas di sekitar kawasan Mangkang utara ini ada situs Watu Tugu, sebuah candi perbatasan antara Majapahit dan Pajajaran. Jika merujuk Majapahit, kemungkinan sekitar 700 tahun yang lalu. nanti kita onceki bagian ini... maaf sekarang belum sempat...
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old September 3rd, 2011, 08:11 AM   #118
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

Gambang Semarang di Stasiun Tawang:
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old September 3rd, 2011, 08:14 AM   #119
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

Mungkin mas edytoah bisa bergabung dengan rekan2 di Sobokartti yang sekarang sedang bangkit2nya menghidupkan atmosfer kesenian di Semarang dari bangunan cagar budaya yang sempat dilupakan.

Oh ya, instrumen yang unik juga dari Semarang konon ada juga Gamelan Supra yang dimainkan oleh anak Loyola. Konon kabarnya gamelan ini hasil kreasi romo Londo buat menyambut kedatangan Bung Karno. nama Supra singkatan dar Soegija Pranata ini konon pemberian Bung Karno... apakah bisa dicek kebenarannya mas Edytoah??
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Old September 3rd, 2011, 10:17 AM   #120
titus15
Registered User
 
titus15's Avatar
 
Join Date: Jul 2007
Posts: 9,786
Likes (Received): 666

yang menarik dari tulisan mas edytoah untuk ditelusiri adalah; loji semarang di Jakarta, Bong Bunder belakang SMA 1. pernah saya posting di nusantara, dan pentas di pasar malem di magelang ketika perang yang membuat pemain gambang semarang kocar-kacir. Ini sangat tipikal sama adegan di film Merahputih, ketika malam2 para kadet sedang dalam acara keroncongan lalu diserang belanda. kebetulan dalam film itu lagu yang diputar adalah lagu Empat penari kalo tidak salah...

Tentang perdebatan asli atau tidak asli, menurut saya, setelah melalui proses asimilasi yang panjang, hingga (ini yang penting) kemudian menemukan ciri khas yang baru, maka ini sudah bisa disebut asli. Banayk kok kesenian yang katanya udah jaman nenek moyang, ternyata baru dikembangkan diawal abad 20. seperti reog, yang selama ini kita kenal hanya dari ponorogo, ternyata di gunungkidul juga ada, yang dikembangkan pada awal abad 20. Itupun sudah sangat berbeda pertunjukannya dari reog di Ponorogo.
__________________
40k...
titus15 no está en línea   Reply With Quote
Reply

Tags
history, semarang

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 04:27 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu