daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine
Old May 15th, 2006, 02:53 PM   #141
F-ian
Registered User
 
Join Date: Oct 2005
Location: Kingdom of Banten, the Dynasty of Queen Atut
Posts: 4,339
Likes (Received): 40

Oya in an Advertisement Telkom said that their Putting Internet on 70.000 schools in the Pedesaan! Good Job Telkom! I wish that they promote DSL Connection more so Indonesians can Go online rather than using Telkom Net Instan.
__________________
"Nggak usah sinis, kalau nggak setuju diam saja. Apa sih yang sudah Anda lakukan buat negeri ini?"
F-ian no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old June 6th, 2006, 07:03 PM   #142
tata
there's no free lunch
 
tata's Avatar
 
Join Date: Jun 2004
Location: JAKARTA
Posts: 2,597
Likes (Received): 2

Uang yang ada jgn dikorupsi yah.... ntar kualat luh!



SUARA PEMBARUAN DAILY
Pemerintah Sulit Penuhi Anggaran Pendidikan 20 Persen

[JAKARTA] Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui, sangat sulit memenuhi amanat undang-undang untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN 2007. Kendati demikian, anggaran pendidikan dalam APBN-Perubahan 2006 akan dinaikkan.

"Tetapi besaran kenaikan akan kita lihat," tambah Menkeu, Selasa pagi.

Seperti diketahui, Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan keputusan agar amanat pengalokasian 20 persen bagi pendidikan dipenuhi.

Dalam perhitungan sementara Panitia Kerja RAPBN 2007, alokasi anggaran untuk Departemen Pendidikan Nasional sekitar Rp 42 triliun. Jumlah itu belum memasukkan anggaran pendidikan yang ada di beberapa departemen seperti Departemen Agama. Namun demikian tetap saja jumlahnya belum mencapai 20 persen.

Dari data yang diperoleh Pembaruan, bila anggaran pendidikan 20 persen dipenuhi pada 2007, maka dibutuhkan alokasi sebesar Rp 94,74 triliun.

Menurut Ketua Panja B Panitia Anggaran DPR Hafiz Zawawi, Senin (5/6), pemerintah dan DPR sulit memenuhi alokasi 20 persen karena keterbatasan kemampuan keuangan negara. "Kita dihadapkan pada kepentingan lain yang sangat mendesak antara lain infrastruktur dan subsidi," ujar Hafiz.

Bila pemerintah tidak membayar cicilan pokok utang luar negeri pada 2007, barulah anggaran tersebut dapat dipenuhi. Dalam perhitungan sementara RAPBN 2007, penarikan pinjaman luar negeri diperkirakan sebesar Rp 31 triliun dengan jumlah cicilan pokok utang luar negeri yang harus dibayar tahun depan sebesar Rp 55,7 triliun.

Dalam pagu sementara RAPBN 2007, penerimaan dalam negeri diperkirakan sebesar Rp 678,2 triliun dengan rincian penerimaan perpajakan sebesar Rp 499,8 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 178,3 triliun.

Sementara untuk belanja pemerintah pusat sebesar Rp 240,2 triliun dengan rincian belanja pegawai sebesar Rp 94,9 triliun, belanja barang Rp 62 triliun dan belanja modal sebesar Rp 83,3 triliun.

Sedangkan alokasi sementara untuk subsidi sebesar Rp 89 triliun dengan rincian subsidi nonbahan bakar minyak senilai Rp 35,8 triliun dan subsidi BBM sebesar Rp 53,2 triliun. Untuk alokasi bantuan sosial pada 2007 direncanakan sebesar Rp 44 triliun dan belanja lainnya sebesar Rp 13,5 triliun.

Pergeseran

Menkeu menjelaskan, terjadi pergeseran asumsi makro ekonomi dari yang diusulkan semula dalam RAPBN 2007. Pertumbuhan ekonomi yang semula ditargetkan 6,2-6,4 persen, diasumsikan menjadi 6-6,5 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sebelumnya Rp 9.000-9.200/US$1, diubah menjadi Rp 9.000-9.500/US$1.

"Inflasi yang semula diasumsikan lima hingga tujuh persen, menjadi enam hingga delapan persen," ujar Sri Mulyani.

Sedangkan Sertifikat Bank Indonesia tiga bulan yang semula 8-9 persen menjadi 8,5-9,5 persen, harga minyak dalam negeri diubah dari perkiraan semula yakni US$ 55-58 per barel menjadi US$ 57-65 per barel.

[L-10]

Last modified: 6/6/06
__________________
JAKARTA Public Transportation:

Bus Rapid Transportation Database, BRT Part 1, BRT Part 2
tata no está en línea   Reply With Quote
Old June 12th, 2006, 10:58 AM   #143
Cat Woman
Registered User
 
Join Date: Apr 2006
Location: Jakarta
Posts: 21
Likes (Received): 0

So sad, the "fat cat" using money where it supposed to be for education, for our next generation, the most important thing to make life better, Pak Pejabat...tolong dong, lihat rakyat yg gak "kebagian" pendidikan, give them change!
Cat Woman no está en línea   Reply With Quote
Old June 12th, 2006, 12:27 PM   #144
macgyver
Registered User
 
Join Date: Apr 2004
Posts: 1,070
Likes (Received): 2

Cari Beasiswa ajah .. di http://www.duniabeasiswa.com
macgyver no está en línea   Reply With Quote
Old July 17th, 2006, 06:50 AM   #145
bahar
Registered User
 
bahar's Avatar
 
Join Date: Nov 2004
Location: Jakarta, Singapore
Posts: 274
Likes (Received): 0

Indonesia shines at Physics Olympiad

The Jakarta Post, Jakarta

President Susilo Bambang Yudhoyono is scheduled to meet Monday with five bright Indonesian students who bagged four golds and one silver for the country at the 37th International Physics Olympiad.

Education Ministry spokesman Bambang Wasito Adi told the detik.com newsportal that Yudhoyono would meet the five students Monday afternoon at the presidential office.

The five are Pangus Ho from BPK Penabur 3 Christian High School in Jakarta; Irwan Ade Putra from State High School 1 in Pekanbaru; Jonathan Pradana Mailoa from BPK Penabur 1 Christian High School in Jakarta; Andy Octavian Latief from State High School 1 in Pamekasan, East Java; and Muhammad Firmansyah from Atthira Islamic Junior High in Makassar, South Sulawesi.

Jonathan was also named the "Absolute Winner" at the Olympiad by scoring the highest points for his experiment, beating out 386 participants from 84 countries in the July 8-16 competition in Singapore.

Junior high student Firmansyah's silver medal was equally impressive, team officials said, because he had been competing against more senior high students.

The prestigious event was officially closed Sunday morning in a ceremony at the Nanyang Institute of Technology, Singapore.

Although achieving below China, the country that took home the most gold medals -- at five -- in the senior level event, Indonesian team trainer Yohanes Surya said the medal tally was the country's best-ever result after winning two golds in 2005 and two in the 2004 Olympiad.

"We aim to beat China as the defending champion the next time, especially as China will play host and formulate the competition tests," he told Antara.

To compete at the event, members of the team left regular schooling for about a year to follow a tightly scheduled training program where they solve a range of tough physics problems.

Umar Hadi, the director of public diplomacy at the Foreign Ministry, said he was proud of the results achieved by the team.

"I am very proud of their achievements. One of them is still at junior high but managed to win a silver," he said from Singapore.

The Olympiad is part of the ministry's Duta Belia program, which helps bright youngsters compete overseas.

The program previously picked students for the Paskibraka -- the student flag-raising team for Independence Day commemorations at the State Palace.

========================================================
Based on the official website, Muhammad Firmansyah received bronze medal instead of silver.

The following is the official results, ordered based on highest overall mark.


Gold Medallists
1;Mailoa Jonathan Pradana ;Indonesia
2;Yang Shuolong ;China
3;Halász Gábor ;Hungary
4;Wang Xingze ;China
5;Lee Men Young ;United States
6;Zhu Li ;China
7;Ho Pangus ;Indonesia
8;Kim Seong Min ;Korea, South
9;Braverman Boris ;Canada
10;Lee Byung Kun ;Korea, South
11;Chang Hsueh-Wen ;Chinese Taipei
12;Tung Henry ;United States
13;Throwe William ;United States
14;Zhang Hongkai ;China
15;Smolenski Tomasz ;Poland
16;Pei Dongfei ;China
17;Kim Min Gyu ;Korea, South
18;Wang Chun-Kai ;Chinese Taipei
19;Lin Yu-Wei ;Chinese Taipei
20;Panzer Erik ;Germany
21;Putra Irwan Ade ;Indonesia
22;Zorkin Sergey ;Russian Federation
23;Hwang Sung Soon ;Korea, South
24;Low Guang How ;Singapore
25;Tikekar Mehul ;India
26;Nazaroglu Caner ;Turkey
27;Eyvazov Azar ;Azerbaijan Republic
28;Jaroensri Ronnachai ;Thailand
29;Anghel Andrei ;Romania
30;Chodosh Otis ;United States
31;Kiselev Alexander ;Russian Federation
32;Asoudegi Nima ;Iran, Islamic Republic Of
33;Zorin Pavel ;Germany
34;Mahajan Raghu ;India
35;Fei Lin ;Canada
36;Latief Andy Octavian ;Indonesia
37;Zhang Alexander ;Australia


Silver Medallists
38;Lanery Suzanne ;France
39;Yu Su-Peng ;Chinese Taipei
40;Hofstadler Christian ;Austria
41;Gong Sherry ;United States
42;Demir Ahmet ;Turkey
43;Gholami Ehsan ;Iran, Islamic Republic Of
44;Popovic Marko ;Croatia, Republic of
45;Boger Evgeny ;Russian Federation
46;Pechal Marek ;Czech Republic
47;Najafov Najmaddin ;Azerbaijan Republic
48;Kónya Gábor ;Hungary
49;Chen Ming Xuan ;Australia
50;So Kin Ming ;Hong Kong
51;Pogorelyuk Leonid ;Israel
52;Hasanov Namiq ;Azerbaijan Republic
53;Tavafoghi Jahromi Hamid Reza ;Iran, Islamic Republic Of
54;Toprasertpong Kasidit ;Thailand


Bronze Medallists
55;Hajiyev Parviz ;Azerbaijan Republic
56;Hikita Tatsuyuki ;Japan
57;Kohani Shahab ;Iran, Islamic Republic Of
58;Stoica Bogdan ;Romania
59;Széchenyi Gábor ;Hungary
60;Firmansyah Muhammad ;Indonesia
61;Gerganov Georgi ;Bulgaria
62;Popov Anton ;Russian Federation
63;Hacker Bastian ;Germany
64;Imriska Jakub ;Slovakia
65;Vanovchi Eugeniu ;Moldova
66;Yoo Jee Soo ;Korea, South
67;Turcu Alexandru ;Romania
68;Bychkov Vladimir ;Kazakhstan
69;Shapourian Seyed Mohammad Hassan ;Iran, Islamic Republic Of
70;Sangtawesin Sorawis ;Thailand
71;Mostovykh Pavel ;Russian Federation
72;Meszéna Balázs ;Hungary
73;Ng Kwong Hei ;Hong Kong
74;Ponsukcharoen Umnouy ;Thailand
75;Otgonbaatar Myagmar ;Mongolia
76;Kortchemski Igor ;France
77;Petrashyk Andriy ;Ukraine
78;Phaiboonpalayoi Chonpatin ;Thailand
79;Klymko Yaroslav ;Ukraine
80;Batkilin Itshac ;Israel
81;Molnár András ;Hungary
82;Tomalak Oleksandr ;Ukraine
83;Lykhachov Vitaliy ;Ukraine
84;Radicevic Djordje ;Serbia, Republic of
85;Chan Ching King ;Hong Kong
86;Lee Arthur ;Singapore
87;Hajiyev Elnur ;Azerbaijan Republic
88;Ford Peter ;United Kingdom
89;Wahl Thorsten ;Germany
90;Nguyen Dang Phuong ;Vietnam
91;Motloch Pavel ;Czech Republic
92;Cheng Justin ;Singapore
93;Tanaka Yoshiki ;Japan
94;Zhuhrou Aliaksandr ;Belarus
95;Genc Hakan Ahmet ;Turkey
96;Ravi Harish ;India
97;Peruzzi Marco ;Italy
98;Sitaram Krithin ;Singapore
99;Huang Po-Hao ;Chinese Taipei
100;Tanizaki Yuya ;Japan
101;Rees Jonathan ;United Kingdom
102;Pham Tuan Hiep ;Vietnam
103;Jha Divyanshu ;India
104;De Sousa Coelho Flavio ;Portugal
105;Tanttu Tuomo ;Finland
106;Kaifosh Patrick ;Canada
107;Nidaiev Iurii ;Ukraine
108;Tran Xuan Quy ;Vietnam
109;Ho Wen Wei ;Singapore
110;Zlebcik Radek ;Czech Republic
111;Madzhunkov Yordan ;Bulgaria
112;Marziali Bermudez Mariano ;Argentina
113;Hrda Marcela ;Slovakia
114;Sakovich Uladzimir ;Belarus
115;Zaleskas Vladas ;Lithuania
116;Komar Dzmitry ;Belarus
117;Kaliada Dzianis ;Belarus
118;Dafinca Alexandru ;Germany
119;Stril Arthur ;France
120;Georgescu Alexandru Bogdan ;Romania
121;Uusitalo Jaakko ;Finland
122;Gruslys Audrunas ;Lithuania
123;Hochberg Gal ;Israel
124;Mihailescu Ion Gabriel ;Romania
125;Lee Tak Man Desmond ;Hong Kong
126;Ipsen Asger Cronberg ;Denmark
127;Rambhia Neha ;India
128;Yin Albert ;Australia
129;Liu Jinyang ;United Kingdom
130;Brell Jordan ;Australia
131;Piatecki Swann ;France
132;Petri Andrea ;Italy
133;Subashki Georgi ;Bulgaria
134;Musegaas Paul ;Netherlands
135;Pierazzo Nicola ;Italy
136;Uuganbayar Otgonbaatar ;Mongolia
137;Shayari Amir ;Israel
138;Smital Petr ;Czech Republic
139;Aleksandrov Veselin ;Bulgaria
140;Vidmar Matija ;Slovenia
141;Lanthaler Simon ;Switzerland
142;Sousa Martins Soares Barbosa Rui Miguel ;Portugal
143;Imenov Sultan ;Kyrgyzstan
144;Sulaev Azat ;Kyrgyzstan
145;Pfeifer Lucy ;Australia
146;Nozoe Takashi ;Japan
147;Nenning Andreas ;Austria
148;Faeber Raphael ;Switzerland
149;Dajac Carlo Vincienzo ;Philippines
150;Kostanyan Aram ;Armenia
151;Badowski Tomasz ;Poland
152;Farace Alessandro ;Italy
153;Pham Huu Thanh ;Vietnam
154;Kaipov Yermek ;Kazakhstan
155;Hydyrov Islam ;Turkmenistan
156;Stucki Kaspar ;Switzerland
157;Low Ching Hwa ;Malaysia
158;Khureltulga Dashdavaa ;Mongolia
159;Delic Uros ;Serbia, Republic of
160;Kam Chon Fai ;Macau
161;Kahn Florian ;France
162;Castillo Hernandez Juan Camilo ;Colombia
163;Arazmedov Mekan ;Turkmenistan
164;Sabanskis Andrejs ;Latvia
165;Buffing Maarten ;Netherlands
166;Norris Matthew ;United Kingdom
167;Kanev Svilen ;Bulgaria
168;Mackay Michael ;United Kingdom


Honourable Mentions
167;Mazeliauskas Aleksas ;Lithuania
168;Murashita Yuto ;Japan
169;Mahmood Fahad ;Pakistan
170;Tushaj Ersilio ;Albania
171;Michal Gawronski ;Poland
172;Krasauskas Lukas ;Lithuania
173;Okan Melih ;Turkey
174;Susic( Vasja ;Slovenia
175;Stucki Ramon ;Switzerland
176;Wong Wa Kit ;Hong Kong
177;Ivanovskis Glebs ;Latvia
178;Konczer Jozef ;Slovakia
179;Levchenko Pavel ;Kazakhstan
180;Bzdusek Tomas ;Slovakia
181;Zadnik Gašper ;Slovenia
182;Busoni Giorgio ;Italy
183;Sobczyk Marcin ;Poland
184;Peresini Peter ;Slovakia
185;Vesterinen Visa ;Finland
186;Scholle Marek ;Czech Republic
187;Reboulgas De Medeiros Renato ;Brazil
188;Štikonas Andrius ;Lithuania
189;Gritschacher Simon Philipp ;Austria
190;Gomilšek Matjaž- ;Slovenia
191;Irwin Karl ;Ireland
192;Frisk Kockum Anton ;Sweden
193;Goh Boon Chong ;Malaysia
194;Alcain Pablo Nicolas ;Argentina
195;Karaiskos Efthymios ;Greece
196;Margaryan Arman ;Armenia
197;Pavlovic Marko ;Serbia, Republic of
198;Larsen Rasmus Normann ;Denmark
199;Pavlin ŽIga ;Slovenia
200;Polaz Andrei ;Belarus
201;Trudeau Devin ;Canada
202;Van Abswoude Jasper ;Netherlands
203;Barbed Martin Iqigo ;Spain
204;Legner Markus ;Austria
205;Plamadeala Eugeniu ;Moldova
206;Bandaragoda Tharidu ;Sri Lanka
207;Ghioldi Esteban Agustin ;Argentina
208;Ortega Neil John ;Philippines
209;Esakia Andria ;Georgia
210;Timnat Erez ;Israel
211;Trawinski Arkadiusz ;Poland
212;Vlassov Aleksei ;Estonia
213;Efthymiou Marinos ;Cyprus
214;Stepanenko Maksim ;Kyrgyzstan
215;Heidelberg Mihkel ;Estonia
216;Aliaj Ilirjan ;Albania
217;Alencar Sobreira Fernando Wellysson ;Brazil
218;Kuusela Mikael ;Finland
219;Verhovtsov Mihhail ;Estonia
220;Katus Jaan ;Estonia
221;Haas Holger ;Estonia
222;Greljo Admir ;Bosnia and Herzegovina
223;Bogfjellmo Geir ;Norway
224;Rehn Casierra Jorge Armando ;Brazil
225;Rakusch Christian ;Austria
226;Khoo Kent Loong ;Malaysia
227;Charlene Bong Yin Siet ;Brunei Darussalam
228;Guimerans Medraqo Miguel ;Spain
229;Masset Paul ;Belgium
230;O'Driscoll Clare ;Ireland
231;Burovenco Igor ;Moldova
232;Helsen Mathias ;Belgium
233;Tshitoyan Vahe ;Armenia
234;Poma Chambi Oliver Marcio ;Bolivia
235;Zenlander Robin ;Sweden
236;Ntagkas Ioannis ;Greece
237;De Franga Andri Felipe ;Portugal
238;Saevarsson Freyr ;Iceland
239;Wong Wan Chap ;Macau
240;Andreasson Martin ;Sweden
241;Gonzalez De Buitrago Burgoa Alvaro ;Spain
242;Kitenbergs Guntars ;Latvia
243;Solea Anastasia ;Cyprus
244;Muy Sokseiha ;Cambodia
245;Coban Belemir ;Turkey
246;Fernandez Gaspar Francisco ;Spain
247;Mikkel Plagborg-Moeller ;Denmark
248;Rodriguez Nayeli ;Mexico
bahar no está en línea   Reply With Quote
Old July 20th, 2006, 10:15 AM   #146
heartbreaker
Registered User
 
Join Date: Jan 2006
Location: jakarta
Posts: 107
Likes (Received): 8

IPHO 2006

Berikut ini sedikit cerita yang berkesan dari hasil IPHO 2006, Singapore.

1. Waktu upacara pembagian medali, Dutabesar kita duduk disamping para dutabesar dari berbagai negara seperti filipina, thailand, dsb. Waktu honorable mention disebutkan, ternyata tidak ada siswa Indonesia.
Dubes-dubes
bertanya pada dubes kita (kalau diterjemahkan) "kok nggak ada siswa Indonesia". Dubes kita tersenyum saja. Kemudian setelah itu dipanggil satu persatu peraih medali perunggu. Ada yang maju dari filipina, thailand, kazakhtan dsb. Lagi-lagi dubes negara sahabat bertanya "kok nggak ada siswa Indonesia?" Kembali dubes kita tersenyum. Dubes kita menyalami dubes yang siswanya dapat medali perunggu.
Kemudian ketika medali perak disebut, muncul seorang anak kecil (masih SMP) dengan peci dengan mengibarkan bendera kecil, dan namanya diumumkan Muhammad Firmansyah Kasim...dari Indonesia... Saat itu dubes negara sahabat kelihatan bingung, mungkin mereka berpikir "nggak salah nih...". Ketika mereka sadar, mereka langsung mengucapkan selamat pada dubes kita. Tidak lama kemudian dipanggil mereka yang dapat medali emas. Saat itu dubes negara sahabat kaget luar biasa, 4 anak Indonesia maju ke panggung berpeci hitam dengan jas hitam, gagah sekali. Satu persatu maju sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih . Mengesankan dan mengharukan. Semua dubes langsung mengucapkan selamat pada dubes kita sambil berkata bahwa Indonesia hebat.
Tidak stop sampai disitu. ketika diumumkan "the champion of the International
physics olympiade XXXVII is......."
"Jonathan Pradhana Mailoa". Semua orang Indonesia bersorak. Bulu kuduk merinding.... Semua orang mulai berdiri, tepuk tangan menggema cukup lama...
Standing Ovation....Hampir semua orang Indonesia yang hadir dalam upacara itu tidak kuasa menahan air mata turun. Air mata kebahagiaan, air mata keharuan.... Air mata kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar.....Segala rasa capai dan lelah langsung hilang seketika... sangat mengharukan....

2. Selesai upacara, semua orang menyalami. Orang Kazakhtan memeluk erat-erat sambil berkata "wonderful job..." Orang Malaysia menyalami berkata "You did a great job..." Orang Taiwan bilang :"Now is your turn..." Orang filipina:"amazing..." Orang Israel "excellent work..." Orang Portugal:"
portugal is great in soccer but has to learn physics from Indonesia", Orang Nigeria :"could you come to Nigeria to train our students too?" Orang Australia :"great...." Orang belanda: "you did it!!!" Orang Rusia mengacungkan kedua jempolnya.. Orang Iran memeluk sambil berkata "great wonderful..." 86 negara mengucapkan selamat... Suasananya sangat mengharukan... saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata...
3. Gaung kemenangan Indonesia menggema cukup keras. Seorang prof dari Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo of Indonesian Victory has reached Europe!
Congratulations to the champions and their coach for these amazing successes!
The future looks bright....
Marc Deschamps.
Ya benar kata Prof. Deschamps, kita punya harapan....
Salam
Yohanes
(Silahkan diforward)
heartbreaker no está en línea   Reply With Quote
Old July 22nd, 2006, 05:07 AM   #147
Ara
Registered User
 
Join Date: Sep 2004
Location: Djakarta
Posts: 651
Likes (Received): 0

Quote:
Originally Posted by GluTTony
IMO its better to kuliah in Indonesia rather than Pakistan
Yeah, our education is much much better then Pakistan. India I could understand, since they have a great business and IT programs.
__________________
Gue laper banget nih.
Ara no está en línea   Reply With Quote
Old August 3rd, 2006, 01:47 PM   #148
Alvin
Registered User
 
Alvin's Avatar
 
Join Date: Jun 2003
Location: London - Sydney - Jakarta
Posts: 6,024
Likes (Received): 26

August 03, 2006 17:20 PM

Freer Flow Of Books Between M'sia, Indonesia, Brunei


PUTRAJAYA, Aug 3 (Bernama) -- Malaysia, Indonesia and Brunei have agreed to look into the possibility of facilitating a freer movement of books among them.

Education Minister Datuk Seri Hishammuddin Tun Hussein said this was decided last Monday when he was in Indonesia for a ministerial-level meeting involving the three countries.

The meeting was aimed at strengthening the Malay language at the international stage.

"In the borderless world, it is quite impossible to restrict the traffic of books especially among the three countries, namely Malaysia, Indonesia and Brunei," Hishammuddin said.

He said Indonesia's Education Minister Prof Dr Bambang Sudibyo had agreed to look into this and so did Brunei's communications minister who represented their education minister at the meeting.

Hishammuddin said Dewan Bahasa dan Pustaka had long fought for the freer movement of books and Indonesia's willingness to look into this would boost the republic's book industry.

If implemented, Malaysian publishers would also be able to penetrate the Indonesian market of about 200 million people, he said.

The three countries would have to amend their laws that currently prohibit free movement of books into their countries, he told reporters after receiving a courtesy call by Eritrean Development Minister Dr Woldai Fultur at his office here today.

At the same press conference, Dr Woldai said the main reason for the visit was to establish a collaboration on human capital development between the Ministry of Education here and the Ministry of Education in Eritrea.

"We have discussed a broad area of development and in the area of education, I hope that will iniatiate a collaboration in curriculum development and teachers' education.

"As you all know, teachers' education is critical for quality education and Malaysia in my view, is advanced in that area and Eritrea can learn from Malaysia," he said.

-- BERNAMA
Alvin no está en línea   Reply With Quote
Old August 16th, 2006, 11:48 AM   #149
tata
there's no free lunch
 
tata's Avatar
 
Join Date: Jun 2004
Location: JAKARTA
Posts: 2,597
Likes (Received): 2

Government increased the budget for education in year 2007. I don't know the exact number yet and the increase compared with year 2006, suarapembaruan.com is still loading the news

BTW, anyone knows how much budget for education in other ASEAN countries --in percentage from total anual budget?
__________________
JAKARTA Public Transportation:

Bus Rapid Transportation Database, BRT Part 1, BRT Part 2
tata no está en línea   Reply With Quote
Old September 2nd, 2006, 10:30 AM   #150
Cah SMG
Registered User
 
Cah SMG's Avatar
 
Join Date: May 2006
Location: South Jakarta
Posts: 844
Likes (Received): 5

Indonesia behind the learning curve
By Bill Guerin

JAKARTA - Indonesia is arguably Asia's least well-educated country, and the
government is largely to blame. With 30% of its 242 million population
school-aged, the world's largest Muslim country ranks lowest among its Asian
neighbors in terms of public education expenditure.

A minuscule 0.03% of the Indonesian workforce has earned a university
degree,
according to government statistics. Only 39%

of 12-to-15-year-olds ever make it to secondary school. Addressing a major
world conference this month on training and development in Kuala Lumpur,
Telkom Indonesia chairman Tanri Abeng lamented that more than 80% of
Indonesians have only a primary-school education.

With a record 40 million people unemployed, the education system's failure
means that Indonesia's pool of unskilled and increasingly unemployable labor
is growing exponentially. That's bad economic and social news for a country
that nearly a decade after the 1997-98 Asian financial crisis is still
straining to recover from the economic adversity and displacement.

Indonesia has in recent years witnessed a worrying process of
de-industrialization, with massive foreign divestment in many of the
export-oriented industries that drove the country's spectacular economic
growth throughout the 1980s and into the 1990s. In 2003, foreign investors
pulled US$597 million out of the country, according to a recent report by
the
United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD).

Nowadays, the availability of low-cost labor has only a limited bearing on a
country's ability to attract foreign capital, particularly in
knowledge-based
Western industries. The UNCTAD report notes that future foreign-investment
flows to top developing countries in Asia will increasingly go toward
so-called human-capital-intensive industries. The likely high-growth
industries of the future, such as information technology and biotechnology,
require an increasingly skilled labor force.

Moreover, Southeast Asia's fragmented markets are a tougher sell nowadays
with
foreign investors in light of China's and India's growth potential, where
untapped unified markets present huge economies-of-scale benefits for
multinational manufacturers. In human-capital terms, Indonesia is now viewed
less favorably as a foreign-investment destination than Thailand, Singapore
and arguably even Vietnam.

Part of that perception, no doubt, can also be chalked up to Indonesia's
aging
infrastructure, its unpredictable legal system and the lingering threat of
terrorist attacks against Western targets. At the same time, Indonesia's
decrepit education system and its woefully unskilled labor force are
emerging
as the largest deterrent to desperately needed new foreign investments.

Poverty of learning
In 2003, Indonesia's education spending stood at about 1.5% of gross
domestic
product (GDP), compared with 5.3% in South Korea and 2.8% in comparatively
underdeveloped Vietnam, according to World Bank data. Thailand, which spends
3.7% of GDP on education, announced this week plans to increase that to
4.5%-5% beginning next year to improve Thai students' analytical abilities.

This year China will spend 13% of its total national budget on education,
India 12%, the Philippines 17%, Malaysia 20%, Hong Kong 23% and Thailand
27%.
Indonesia's education budget this year, in comparison, represents less than
10% of the government's budget, while the draft budget for 2007 proposes a
tiny upgrade to 10.2% of total national spending.

Those meager allocations are in effect bankrupting Indonesia's public
education system. For instance, in 2005 the cost of education was Rp71
trillion (US$7 billion), well above the Rp21.38 trillion allocated by the
state budget, according to official statistics. A constitutional amendment
in
2002 decreed that the government must spend 20% of the annual budget on
education - but politicians have been slow to follow up.

Officials say they plan to increase education spending to 14.7% in 2007, as
part of a phased plan to achieve the constitutionally mandated 20% by 2009.
But as with previous governments, spending on roads, bridges and power
stations has once again taken precedence over education under President
Susilo
Bambang Yudhoyono's administration.

Indonesia's education failures are grounded deep in history. National
founder
president Sukarno favored a system of mass political education, aimed at
unifying the population rather than empowering them with employable skills.
Under president Suharto, a compulsory nine-year education program was
implemented, but the education system still completely failed to meet the
needs of a modern workforce.

Now government funding is concentrated at the primary-school level, where
enrollment rates have jumped from 62% in the early 1970s to about 95% today.
Yet the lack of a modern curriculum and capable teachers is holding back
Indonesia's most ambitious students and in turn the country's future
economic
prospects.

Across the board, rote learning is emphasized over the development of
critical
thinking skills. Sector specialists say less than half the country's
primary-school teachers and two-thirds of secondary-school teachers possess
even the minimum qualifications required to teach effectively. Instructor
absenteeism on any given day is reportedly about 20%.

Most of the country's 3 million teachers and university lecturers moonlight
to
supplement their income. That's because pay scales, set by the government,
start at a low Rp1.5 million ($165) a month for schoolteachers and Rp3
million
($330) for college lecturers. According to a recent Ministry of Education
survey, about 80% of schoolteachers take on outside jobs to bolster their
incomes - to the detriment of their commitment to public-school students.

This inattentiveness was recently exemplified in the failing results of a
basic placement examination taken by thousands of graduating high-school
students who had already been accepted for university places. Of the
privileged few who do make it to university, graduates are criticized by
employers for their lack of analytical skills and inability to solve
problems
- hardly surprising given the political emphasis of the national curriculum.

Worryingly, it appears the situation is set to deteriorate. In Indonesia,
families are free to send their children to state, private or Islamic
schools,
yet the spiraling costs of education and related expenses have recently
caused
a growing number of dropouts.

Last year the government tried to cushion the effect of fuel-price increases
on education enrollment through the so-called Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) program, which was designed to help cover the cost of tuition,
registration, books and exams for needy children aged between six and 15
years. Yet according to Indonesian Corruption Watch (ICW), schools still
charged most parents for these items, and in any case, the increased costs
of
transport for schoolchildren after the abolition of fuel-price subsidies has
largely negated any of the BOS benefits for parents.

Indonesia is widely ranked as one of the most corrupt countries in Asia, and
state schools are badly plagued by embezzlement and bribery. The Indonesian
Coalition for Education claims that corruption permeates the national
education system, where budgets earmarked for educational purposes are
seldom
fully used for school purposes and instead end up in the pockets of
institutions' administrators, it contends.

For instance, it notes that textbooks and uniforms are marked up for sale to
pupils, and teachers often give low marks in examinations to make students
sit
for repeats, which, of course, the students have to pay for. Contractor fees
for school-building repairs and improvements are chronically inflated.

Islam fills the gap
Significantly, the state's education failure has opened the way for cheaper
Islamic-oriented education. Recent estimates suggest that as many as 20% of
Indonesia's school-aged children are enrolled in Islamic schools. And
enrollment rates are increasing by about 7% every year, though education
experts say the quality of instruction and emphasis on religious studies
mean
most Islamic-school graduates will lack the skills needed to participate in
a
competitive job market.

The government funds 10% of the secular Islamic day schools, or madrasahs,
and
an even larger portion of the traditional Islamic boarding schools, known
locally as pesantrens. Pesantrens played a key role in national education
before and during the early years of independence in the 1950s, but six
decades later the standards, curricula and instruction methods are widely
considered even lower than at state schools.

Attended by an estimated 2 million pupils, most pesantrens are in rural
areas
and under the direction of Muslim scholars. The standard pesantren syllabus
includes teaching blocks for an understanding of the Koran, the Arabic
language and Islamic law, as well as Muslim traditions and history.

Indonesia's 38,500 madrasahs enroll 21% of all students at the
junior-secondary level, according to statistics compiled by the Asian
Development Bank (ADB). In general, madrasahs serve the rural poor and are
most active in isolated areas that offer few other educational
opportunities.

These are often in areas of the country affected by chronic unemployment and
poverty, a desperate mix that radical Islamic groups have been known to
exploit for recruits to their sometimes violent causes. Madrasahs provide
schooling for an estimated 5.7 million students nationwide, or 13% of all
school-age students and more than half of madrasah students are children of
farmers and laborers.

Foreign donors, for their part, are trying to help fill Indonesia's learning
gap. The ADB has worked with madrasahs since the mid-1990s, aimed mainly at
integrating their curriculum with the secular national education system. So,
too, has the United States Agency for International Development (USAID)
through a $157 million program aimed at modernizing Islamic schools through
teacher training and updating curriculum to include lessons relevant to the
workplace. Those efforts, however, have so far met with only limited
success.

Notably, USAID in 1997 had prepared to close down its Indonesia-based
operations on expectations that the then rapidly growing country no longer
needed foreign aid. Now, Indonesia desperately needs to attract new foreign
investments to rejuvenate growth and employ its vast, underemployed
population. But without substantial domestic investment in human capital,
those foreign investments likely won't arrive, and Southeast Asia's largest
economy's prospects just grow dimmer and dimmer.

Bill Guerin, a Jakarta correspondent for Asia Times Online since 2000,
Cah SMG no está en línea   Reply With Quote
Old September 10th, 2006, 11:40 AM   #151
tata
there's no free lunch
 
tata's Avatar
 
Join Date: Jun 2004
Location: JAKARTA
Posts: 2,597
Likes (Received): 2

Inilah wajah pendidikan kita. Catat baik2 dua nama ini, orang yang ada dibelakang semua ini:
H.L. Said Ruphina: Rektor IKIP Mataram,
H.L. Azhar: Ketua Yayasan Pembina IKIP Mataram


Penyerangan
Ketika Preman Masuk Kampus

Muhammad Ridwan; Saat Dievakuasi dari Lokasi Penganiayaan (GATRA/Chintia Ayu)Kalau preman dijadikan tenaga keamanan kampus, ya, alamat bakal runyam. Itulah yang terjadi di kampus IKIP Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tengok saja, aksi demo mahasiswa dihadapi dengan badik, pentungan, dan rantai motor. Buntutnya, satu mahasiswa tewas, tiga terluka. Lainnya kocar-kacir ketakutan.

Aksi demo itu memang berbenturan langsung dengan "preman kampus". Selasa sore pekan lalu itu, 30-an mahasiswa berorasi di tengah lapangan IKIP Mataram. Mereka menolak keberadaan preman yang bercokol di kampusnya dengan label sebagai tenaga pengamanan.

"Kampus ini milik mahasiswa, tetapi kenapa ada preman? Kami menuntut pencabutan SK pengamanan kampus!" seru Suratman, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IKIP Mataram, melalui megafon. Para mahasiwa menimpali: "Kami minta rektor tidak menggunakan tenaga pengaman di luar aparat keamanan resmi!"

Sudah beberapa pekan ini, tenaga pengamanan non-satpam itu ditempatkan di lingkungan kampus yang terletak di Jalan Pendidikan, Mataram, tersebut. Yang punya gawe, pihak Yayasan Pembina IKIP itu sendiri, dengan menerbitkan SK pengangkatan. Entah, kenapa pihak yayasan tak menggunakan tenaga satpam resmi.

Keruan saja, mahasiswa gerah. Apalagi, mereka melihat tenaga pengaman berpakaian preman itu kelakuannya menyebalkan. "Di tengah kampus, mereka main remi dan domino. Siapa yang nggak kesel," ujar seorang mahasiswa kepada Gatra. Mahasiswa juga menilai tenaga pengamanan itu bersikap sangat tak bersahabat pada mereka.

Bermula dari menggereneng, kemudian mahasiswa melampiaskan kekesalannya melalui aksi demo. Sore itu, sebetulnya Rektor IKIP Mataram, H.L. Said Ruphina, baru saja meninggalkan kampus. Rektor yang baru dinas aktif pada akhir Juli lalu ini berencana menengok lokasi KKN mahasiswa di Lombok Barat.

Toh, mahasiswa tak mengurungkan niatnya berorasi. Tuntutan mereka lantang terdengar di seantero kampus. Panaslah hati para tenaga pengaman kampus. Lima orang di antaranya mendekat dan melontarkan kata-kata kotor kepada mahasiswa yang berunjuk rasa.

Dari lapangan, mahasiswa kemudian berusaha masuk ke gedung rektorat. Tapi dihadang lima tenaga pengaman tadi. Maki-makian kembali terlontar. Suasana kian panas. Beberapa menit berselang, sejumlah tenaga pengaman lainnya berdatangan dengan sepeda motor meraung-raung.

Menyadari gelagat buruk, para pengunjuk rasa membubarkan diri. Tapi agaknya para tenaga pengaman kampus kadung emosional. Dengan motor meraung keras, mereka memburu para pengunjuk rasa. Rekan mereka yang tak bermotor juga ikut memburu. Mereka mengacungkan pentungan, rantai motor, dan senjata tajam.

Seorang pengunjuk rasa, Zainal Mutakim, mengalami apes pertama kali. Lelaki yang baru dua hari diwisuda ini dihajar tanpa ampun saat berusaha menyelamatkan diri ke belakang kampus. Serangan empat lelaki --menggunakan badik dan rantai motor-- membuat paha kanan dan tangan kirinya luka parah, kelingking nyaris putus.

Tak ayal, serangan brutal ini membuat mahasiswa kocar-kacir menyelamatkan diri ke luar kampus. Para mahasiswi menjerit histeris, ada pula yang pingsan. Toh, serangan tak berhenti. Pengunjuk rasa diuber sampai ke rumah penduduk di gang sempit sekalipun.

Muhammad Ridwan, yang kedapatan bersembunyi di rumah warga, diseret ke luar gang. Dalam takutnya, menurut warga, Ridwan mencoba mengaku sebagai polisi. Namun usahanya ini sia-sia. Mahasiswa semester V fakultas MIPA jurusan kimia ini babak belur mendapat bogem mentah.

Pada saat bersamaan, kawanan tenaga pengaman lain berdatangan, ikut menghajar Ridwan. Tanpa ampun, menit berikutnya, Ridwan tersungkur dengan tiga luka tusukan di tubuhnya. Ia tewas setelah dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Mataram.

Melihat korban terkapar, para pengeroyok menghentikan serangannya. Tapi kawanan mereka yang lain masih terus menguber-uber mahasiswa. Dua mahasiswa, Heru dan Asmani, digebuki di depan Instalasi Gawat Darurat RSU Mataram. "Untung lukanya tak parah," tutur mahasiswa bernama Erwan.

Seorang warga juga tak luput dari serangan, meski hanya luka ringan. Mungkin ia dikira salah satu mahasiswa. Aksi penyerangan brutal itu baru berhenti setelah pasukan polisi turun tangan. Besoknya, polisi meringkus empat tersangka, semuanya anggota satuan pengamanan swakarsa di Mataram.

Mereka adalah Hiznadi, 19 tahun, Marzuki, 25 tahun, Marhan, 30 tahun, dan Nyoman Widiana, 40 tahun. Yang disebut terakhir adalah mantan anggota DPRD Kota Mataram (1999-2004). Para tersangka dijerat dengan Pasal 351 KUHP (penganiayaan berat) dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

"Mereka masih diperiksa intensif. Tidak tertutup kemungkinan jumlah tersangka bertambah," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, Ajun Komisaris Besar H.M. Basri, Jumat pekan lalu.

***
Aksi demo mahasiswa IKIP Mataram berlangsung sejak dua bulan silam. Penyebab awalnya adalah pencopotan Rektor Fathurrahim dan unsur pimpinan kampus oleh pihak Yayasan Pembina IKIP Mataram, pertengahan Juni lalu. Mahasiswa menolak keputusan itu. Begitu pun Fathurrahim.

Alasannya, pemecatan tidak sesuai dengan Statuta IKIP Mataram bahwa pengangkatan dan pemberhentian rektor harus melalui rapat yang melibatkan senat. "Kami akan bertahan dan mengajukan upaya hukum," kata Fathurrahim, didampingi kuasa hukumnya, Fathur Rozie.

Tak sekadar omong, Fathurrahim pun mengajukan gugatan terhadap SK pemberhentian yang ditandatangani H.L. Azhar, Ketua Yayasan Pembina IKIP, tersebut ke Pengadilan Negeri Mataram. Sembari menunggu proses hukum, Fathurrahim mempertahankan posisinya sebagai rektor.

Tapi pihak yayasan juga berkeras dengan keputusannya. Pihak yayasan kemudian melantik H.L. Said Ruphina sebagai rektor pengganti Fathurrahim. Aksi demo mahasiswa pun mulai berlangsung.

Akhir Juli lalu, rektor baru mengambil alih IKIP Mataram dari "pendudukan" rektor lama. Uniknya, dalam proses pengambilalihan itu, Rektor Said Ruphina dikawal oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mataram.

Sejak itu, unjuk rasa mahasiswa semakin kencang. Beberapa kali mahasiswa sempat bentrok dengan petugas Satpol PP. Dua pekan setelah rektor baru berdinas aktif, ratusan mahasiswa kembali berunjuk rasa menentang kehadiran rektor baru.

Kali ini mereka tak cuma berorasi, juga melakukan penyegelan kampus. Beberapa ruang utama, seperti ruang rektor dan biro administrasi umum, disegel dengan kayu yang dipantek paku.

"IKIP Mataram saat ini dalam status quo. Tidak ada yang berkuasa di kampus ini, kecuali mahasiswa," koordinator lapangan, Hariyadi, menegaskan. Ketegangan sempat terjadi ketika petugas Satpol PP mencoba membubarkan mahasiswa. Namun tak sampai bentrok fisik.

Para pengunjuk rasa menegaskan, kampus IKIP dikuasai mahasiswa hingga adanya putusan dari Pengadilan Negeri Mataram menyangkut gugatan rektor lama Fathurrahim. Namun penyegelan ini tak berlangsung lama. Unjuk rasa dibubarkan, segel dilepas. Aktivitas perkuliahan kembali normal.

Mengingat maraknya unjuk rasa, pihak kepolisian sebetulnya sudah berkali-kali mengingatkan agar pengamanan kampus diserahkan pada polisi saja. Tetapi pihak kampus menolak. Alasannya, itu masalah internal kampus.

"Kondisi IKIP sudah membaik dan semua lancar," kata Rektor Said Ruphina dalam sebuah keterangan pers sebelum bentrokan berdarah itu meletup. Belakangan, pihak Yayasan Pembina IKIP malah merekrut sekelompok orang sebagai tenaga pengamanan kampus.

Kebijakan ini menambah jengkel mahasiswa. Mereka terperangah: sejak kapan kampus dikawal tenaga preman? Para mahasiswa pun kembali menggelar unjuk rasa, yang berakibat tewasnya Muhammad Ridwan.

Said Ruphina menyatakan keprihatinannya. Ia mengimbau masyarakat untuk tenang dalam menyikapi persoalan tersebut. "Kejadian ini di luar keinginan dan dugaan kita. Mari kita serahkan kasus ini ke penegak hukum," kata Said Ruphina.

Kematian mahasiswa asal Bima itu menimbulkan reaksi keras dari sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam BEM Mataram. Usai pemakaman Ridwan di pemakaman Karang Medain, Mataram, ratusan mahasiswa dari perguruan tinggi di kota itu melakukan long march ke kantor gubernur.

Mereka menggelar orasi, meminta perhatian pemda sekaligus menuntut polisi mengusut tuntas kasus itu. Termasuk dari kemungkinan keterlibatan aktor intelektual. Dan mereka juga menuntut tanggung jawab pihak rektorat serta Yayasan IKIP Mataram.
__________________
JAKARTA Public Transportation:

Bus Rapid Transportation Database, BRT Part 1, BRT Part 2
tata no está en línea   Reply With Quote
Old November 6th, 2006, 11:11 AM   #152
Blue_Sky
Moderator
 
Blue_Sky's Avatar
 
Join Date: Jul 2005
Posts: 9,566
Likes (Received): 427

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mencatat prestasi menggembirakan. Tiga kategori bidang keilmuan di universitas negeri tertua di Indonesia ini masuk jajaran 100 terbaik dunia berdasarkan survey Times Higher Education Suplement yang diterbitkan Times, 26 Oktober 2006.

Tiga kategori bidang keilmuan itu, bidang ilmu-lmu sosial peringkat ke-47 dari 100 universitas, kategori ilmu-ilmu biomedis peringkat ke-73 dan kategori ilmu-ilmu budaya dan humaniora masuk peringkat ke-70.

Untuk kategori bidang ilmu sosial UGM yang menempati urutan ke-47 memperoleh score 41,1, dua tingkat di atas Malaya University Malaysia dengan score 40,6 yang menempati peringkat ke-49. Sedang dalam bidang biomedicine UGM memiliki score 34,5, jauh di atas Utrecht University Nedherlands dengan score 31,2 di peringkat 91.

"UGM satu-satunya universitas di Indonesia yang masuk peringkat 100 besar. Ini sangat membanggakan karena perguruan tinggi yang disuervey mencapai 11.000," kata Rektor UGM Sofian Effendi, Selasa (31/10).

Survey menggunakan enam kriteria yaitu wawancara oleh kelompok bidang studi, persentase mahasiswa internasional, review oleh pewancara kerja, persentase staf pengajar internasional, rasio dosen dan mahasiswa serta indeks sitasi dosen. Bidang studi yang disurvey, ada enam bidang keilmuan yakni, science, technology, biomedicines, art and humanities, social science.

Menurut Sofian tahun depan pihaknya akan mengikutkan dua kategori untuk masuk kategori yang disurvey yaitu technology dan science. "Saya kira kita berpotensi karena bidang technology dan science UGM sudah banyak diakui dunia. Salah satunya teknologi geologi Geo hazard (study tentang gempa) yang saat ini dijadikan acuan dunia."

Daftar Ranking
_http://www.ugm.ac.id/downloads/top%20100%20in%20social%20sciences.pdf
_http://www.ugm.ac.id/downloads/top%20100%20in%20biomedicine.pdf

Rank Institution Country Score Citations per paper
1 Oxford University UK 100.0 2.6
2 Harvard University US 98.5 4.0
3 London School of Economics UK 94.9 –
4 Cambridge University UK 90.8 2.4
5 University of California, Berkeley US 89.2 3.1
6 Australian National University Australia 85.0 1.6
7= Stanford University US 81.2 3.2
7= Yale University US 81.2 3.5
9 University of Chicago US 75.3 3.5
10 Melbourne University Australia 73.0 1.7
11 National University of Singapore Singapore 72.2 1.5
12 Massachusetts Institute of Technology US 71.5 4.0
13 Princeton University US 69.2 3.4
14 Columbia University US 66.2 2.8
15 Tokyo University Japan 65.9 –
16 Monash University Australia 64.9 1.2
17= Peking University China 62.6 –
17= University of Toronto Canada 62.6 2.0
19 Sydney University Australia 62.2 2.3
20 McGill University Canada 58.6 1.9
21 University of New South Wales Australia 58.4 2.0
22 Cornell University US 56.7 2.6
23 University of California, Los Angeles US 55.7 3.3
24 University of Pennsylvania US 55.3 3.5
25 University of British Columbia Canada 53.7 1.9
26 Indian Institutes of Management India 53.3 –
27 Queensland University Australia 52.1 1.6
28 University of Michigan US 51.1 3.3
29 New York University US 50.7 2.9
30= Amsterdam University Netherlands 49.9 1.7
30= Hong Kong University Hong Kong 49.9 1.5
30= Warwick University UK 49.9 1.8
33 Auckland University New Zealand 49.5 1.5
34 Vienna University Austria 49.2 –
35 Carnegie Mellon University US 49.0 3.6
36 Kyoto University Japan 48.0 –
37 Erasmus University Rotterdam Netherlands 47.0 2.1
38= Catholic University Louvain (French) Belgium 46.7 1.4
38= Edinburgh University UK 46.7 1.8
40 Copenhagen University Denmark 45.2 –
41 Northwestern University US 45.0 3.0
42 Duke University US 44.1 3.1
43 Chinese University of Hong Kong Hong Kong 43.9 1.4
44 Hebrew University of Jerusalem Israel 43.4 1.8
45 University College London UK 42.7 2.5
46 RMIT University Australia 42.4 –
[b]47 Gadjah Mada University Indonesia 41.1 –[/b]
48 University of Wisconsin US 41.0 2.3
49 Malaya University Malaysia 40.6 –
50 Paris I — Panthéon Sorbonne France 40.5 –
51 Tel Aviv University Israel 40.2 1.6
52 Hong Kong University Sci & Technol Hong Kong 40.1 2.2
53= City University Hong Kong Hong Kong 39.6 1.5
53= University of Paris-Sorbonne (Paris IV) France 39.6 –
53= Stockholm School of Economics Sweden 39.6 –
56 Seoul National University South Korea 39.1 –
57 Jawaharlal Nehru University India 38.7 –
58 National Taiwan University Taiwan 38.3 –
59= Bologna University Italy 38.2 –
59= Fudan University China 38.2 –
61= Nanyang Technological University Singapore 38.1 –
61= Sussex University UK 38.1 1.9
63= Helsinki University Finland 37.6 1.8
63= Victoria University New Zealand 37.6 1.5
65 Imperial College London UK 37.5 –
66= Georgetown University US 37.4 2.2
66= Manchester University & Umist UK 37.4 2.0
68= Macquarie University Australia 37.2 –
68= Oslo University Norway 37.2 2.1
70 Heidelberg University Germany 37.1 –
71 Catholic University Leuven (Flemish) Belgium 37.0 1.8
72 Boston University US 36.8 3.0
73 Chulalongkorn University Thailand 36.6 –
74 Munich University Germany 36.5 1.9
75 Keio University Japan 36.3 –
76= University of Adelaide Australia 36.1 –
76= Free University Berlin Germany 36.1 –
76= Utrecht University Netherlands 36.1 2.2
79 La Sapienza University, Rome Italy 36.0 –
80 King’s College London UK 35.6 2.2
81 Nottingham University UK 35.5 1.9
82 Maastricht University Netherlands 35.4 1.8
83 Pennsylvannia State University US 35.3 2.4
84= Bonn University Germany 35.0 –
84= Leiden University Netherlands 35.0 2.1
86 Delhi University India 34.9 –
87 University of Illinois US 34.7 2.2
88 Kobe University Japan 34.5 –
89 Johns Hopkins University US 34.2 2.9
90 HEC Paris France 33.9 –
91 Bristol University UK 33.8 2.8
92 Lancaster University UK 33.7 2.2
93= Trinity College Dublin Ireland 33.4 –
93= Massachusetts University US 33.4 2.1
95 School of Oriental and African Studies UK 33.3 –
96= Bocconi Italy 33.1 –
96= Glasgow University UK 33.1 2.2
98= La Trobe University Australia 32.8 2.0
98= University of Western Australia Australia 32.8 2.2
100 University of Texas at Austin US 32.5 2.4

Source: QS Ltd, Evidence Ltd
TOP100 IN SOCIAL SCIENCES

Blue_Sky no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2006, 04:28 AM   #153
XxRyoChanxX
holla holla hey!
 
Join Date: Jul 2005
Location: California/Indonesia
Posts: 3,303
Likes (Received): 8

that's nice
__________________
*****EXQUISITE INDONESIA*****
XxRyoChanxX no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2006, 05:04 PM   #154
arirangboy
Registered User
 
Join Date: Oct 2004
Posts: 197
Likes (Received): 1

Wow, I am very glad and proud as alumni of Gadjah Mada Uni (graduated from economic faculty, which is social science) He..he
arirangboy no está en línea   Reply With Quote
Old November 10th, 2006, 08:07 AM   #155
Blue_Sky
Moderator
 
Blue_Sky's Avatar
 
Join Date: Jul 2005
Posts: 9,566
Likes (Received): 427

Jakarta, Sebanyak 20 Sekolah Menengah Kejuruan di Malang, Jawa Timur, siap menjajal kehebatan WiMax untuk berselancar internet kecepatan tinggi dalam waktu dekat ini. Hal itu diungkap Country Manager Intel Indonesia Budi Wahyu Jati.

"Alat sudah datang. Kita tinggal menunggu keluarnya izin stasiun radio (ISR) yang sedang diurus untuk BTS di sekolah-sekolah itu. Harusnya sudah bisa jalan setelah Lebaran kemarin," ungkap Budi pada detikINET di Cilantro Lounge Wisma BNI 46, Jakarta, Rabu (8/11/2006).

WiMax merupakan teknologi transmisi data internet tanpa kabel yang memiliki jangkauan hingga 50 km, atau sekitar 17 kali lipat dibandingkan Wi-fi sehingga bisa menghemat infrastruktur base station secara signifikan.

Intel sebagai penyedia perangkat, tak sendirian dalam pilot project ujicoba teknologi last mile tersebut. Vendor prosesor itu pun bahu membahu bersama Indosat Mega Media (IM2), penyedia perangkat Airspan Network, serta Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), demi menyukseskan program ini.

Budi mengatakan, untuk bisa mengujicoba teknologi WiMax pada 20 sekolah kejuruan pilihan Diknas di Malang itu diperlukan dua izin, yakni izin penggunaan frekuensi dan izin pemancar radio. Untuk izin penggunaan frekuensi, menurutnya, menggunakan frekuensi 2,3 GHz milik IM2 di daerah tersebut.

Dari segi peralatan, sudah disiapkan sebanyak 3 menara base transceiver station (BTS) WiMax yang menyebar di Malang dan 20 perangkat CPE (Customer Premise Equipment) di tiap sekolah sebagai penerima sinyal dari BTS tersebut (hotspot WiMax).

Untuk jalur internet di lingkup internal, menurut Budi, akan disediakan oleh Airspan. Sedangkan untuk jalur internet ke luar atau eksternal, fasilitas itu akan dipenuhi oleh IM2. "Saya rasa Desember tahun ini ujicobanya sudah bisa berjalan," tutur Budi penuh harap. (rou)
(rou/rou)
Blue_Sky no está en línea   Reply With Quote
Old November 12th, 2006, 04:04 AM   #156
paradyto
entendre privilege
 
paradyto's Avatar
 
Join Date: Aug 2005
Location: 雅加达 - 巨港
Posts: 29,402

:) 4 Indonesian University on top 500 World!!!!

4 PTN Masuk 500 Besar Dunia, Undip Pecah Telor
Nograhany Widhi K - detikcom


Jakarta - Prestasi membanggakan kembali dicatat dunia pendidikan nasional. 4 Perguruan tinggi negeri (PTN) berhasil masuk peringkat 500 kampus terbaik dunia.

4 PTN itu adalah Universitas Indonesia (UI-Depok) yang menduduki peringkat 250, Institut Teknologi Bandung (ITB-Bandung) meraih peringkat 258, Universitas Gadjah Mada (UGM-Yogyakarta) berhasil menduduki posisi 270, dan Universitas Diponegoro (Undip-Semarang) pada peringkat 495.

"Saya bangga tahun ini 3 PT BHMN ternyata bisa menyodok papan tengah peringkat 500 dunia, dan Undip sudah pecah telor bisa masuk peringkat 500 besar dunia walaupun berada di peringkat 495," ujar Mendiknas Bambang Sudibyo di kantor Depdiknas, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (9/11/2006).

Untuk UGM, meski menduduki peringkat 270, untuk bidang studi ilmu sosialnya seperti Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan Fakultas Psikologi masuk peringkat 47 dunia.

Sementara untuk fakultas-fakultas biomedicine, seperti Fakultas Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Fakultas Farmasi, masuk peringkat 74 dunia. Selanjutnya Fakultas Filsafat dan Fakultas Sastra masuk peringkat 70 dunia.

Mendiknas juga mengharapkan universitas negeri lain setingkat Undip bisa menyusul. Kampus-kampus tersebut yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB-Bogor), Universitas Sebelas Maret (UNS-Surakarta) , Institut Teknologi Sepuluh November (ITS-Surabaya) , Universitas Airlangga (Unair-Surabaya) , Universitas Hasanuddin (Unhas-Makassar) , Universitas Andalas (Unand-Padang) , dan Universitas Sumatera Utara (USU-Medan).

"Apalagi IPB yang kelasnya setara dengan UI dan UGM," tandas Bambang yang juga guru besar UGM ini.

Mendiknas juga mengharapkan PTN yang belum mencapai 500 besar dunia lebih agresif dalam memperkenalkan dirinya dalam skala internasional.

"Kalau mereka mampu menjalin silaturahmi akademik dan memperkenalkan diri, saya yakin mereka juga mampu masuk peringkat 500 besar dunia," harapnya.

Selain merasa bangga, Mendiknas mereview, pada saat krisis melanda negeri ini, PTN di Indonesia sempat hilang dari 100 besar perguruan tinggi Asia .
(fjr/nrl)
__________________
welcome you participants the 7th meeting of IMT-GT working group on agriculture agro-based industry & environment 2014
The Green & Cleanest Metropolitan (since 2007) Sumsel Gemilang 雅加达 - 巨港 Jakabaring Sport City
ASEAN University Games 2014 Palembang Emas 2018
paradyto no está en línea   Reply With Quote
Old January 9th, 2007, 04:39 PM   #157
tata
there's no free lunch
 
tata's Avatar
 
Join Date: Jun 2004
Location: JAKARTA
Posts: 2,597
Likes (Received): 2

Tangerang city successfuly renovated all school.


SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Peningkatan Pendidikan Dipuji, Pemberantasan Kemiskinan Diuji

Anak-anak jalanan di Kota Tangerang sebagian terhimpun dalam Anak Langit, mendapat pelajaran membaca dan menulis dari sejumlah pemuda yang peduli terhadap keberadaan mereka. [Foto-foto Pembaruan/Dewi Gustiana]



edatangan seorang kepala negara ke sebuah kota, tentu bukan tanpa alasan. Demikian pula kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Kota Tangerang di awal tahun 2007 ini, tepatnya pada Rabu (3/1) lalu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang ke Kota Tangerang untuk meresmikan mega proyek yang menelan biaya sekitar Rp 216 miliar, pada Rabu (3/1) lalu.

Kota Tangerang layak bangga, sebab pada saat itu, Presiden berterima kasih kepada Wali Kota dan DPRD Kota Tangerang. Presiden berharap, apa yang dilakukan Kota Tangerang bisa dicontoh daerah lainnya.

Yang patut dicontoh itu adalah pembangunan kembali 220 sekolah dari semua tingkatan di Kota Tangerang, sehingga sangat layak digunakan untuk menimba ilmu.

Pemkot Tangerang diacungi jempol sebab dalam pembiayaan pembangunan 220 sekolah tersebut, pemda tidak mencari utang kepada bank, semuanya diambil dari APBD.

Bahkan, pemerintah pusat menjadikan pembangunan 220 sekolah itu sebagai percontohan secara nasional, terutama dalam kaitan standarisasi bangunannya.

Itulah buah manis program Pemkot Tangerang, yang sejak tahun 2005 memrioritaskan pembangunan sekolah-sekolah. Kini, di daerah itu, tidak ada lagi sekolah, dari SD hingga SMA, yang bangunannya jelek atau terancam roboh. Semua bangunan sekolah sudah cantik, rapi, dan nyaman untuk belajar.

Tak hanya anak-anak yang merasa senang di sekolah. Para orangtua pun menjadi lega karena mereka tidak perlu khawatir anak mereka tertimpa bangunan sekolah jika hujan tiba atau angin kencang melanda.

Maklum, pada umumnya tempat anak-anak mereka menuntut ilmu merupakan warisan dari bangunan Program Inpres di era Presiden Soeharto, tahun 1980-an dan belum pernah direnovasi sekalipun. Kini, bangunan sekolah di Tangerang berubah drastis. Bangunan yang kokoh terdiri dua lantai, kerangka atap baja dan ventilasi aluminium, lantainya pun dari keramik dan halamannya di konblok.

Semua ini memang tidak terlepas dari tekad kuat Wali Kota Tangerang, Wahidin Halim, yang awalnya prihatin atas laporan banyaknya sekolah roboh. Tahun 2004, rencana ini digulirkan.

Setelah mendapat persetujuan dan dukungan DPRD setempat, pembangunan dimulai tahun 2005 dan dilanjutkan hingga tahun 2006. Bahkan, untuk mendukung program ini, Pemkot menganggarkan lebih dari 50 persen APBD-nya untuk pendidikan serta kesehatan.

"Kalau bangunan saja sudah tak beres, bagaimana kita mau meningkatkan mutu pendidikan," kata Wali Kota kepada Pembaruan, ketika melontarkan rencana pembangunan sekolah-sekolah beberapa waktu lalu.

Kini, kerja keras dan keinginan untuk menyejahterakan rakyat lewat dunia pendidikan di Kota Tangerang tinggal memetik hasil.

Tak berlebihan jika Wali Kota Tangerang bersama aparatnya pantas mendapat bintang, seperti Citra Bhakti Abdi Negara, yang merupakan penghargaan atas pelaksanaan pelayanan publik, yang diserahkan Presiden pada Desember lalu.

Tentunya, penghargaan ini tidak membuat aparat Pemkot Tangerang lupa diri. Justru sebaliknya, menjadi pemicu untuk lebih baik karena sederet pekerjaan rumah sudah menanti.

Pemberdayaan masyarakat miskin, peningkatan pendapatan daerah, penyediaan sarana transportasi harus terus dipacu.


Masyarakat Miskin

Tahun anggaran 2007 ini, prioratis pembangunan di wilayah Kota Tangerang akan ditujukan kepada pemberdayaan masyarakat miskin, termasuk pemberian modal untuk pengembangan usaha.

Wali Kota Tangerang, Wahidin Halim mengatakan, strategi pembangunan Kota Tangerang tidak muluk-muluk. "Yang terpenting, pembangunan itu bisa menyentuh masyarakat banyak, sehingga kesejahteraan mereka meningkat," katanya.

Sejak tahun 2005 hingga 2006, lebih dari 50 persen APBD Kota Tangerang dihabiskan untuk sekolah dan program kesehatan. Kini, Wali Kota bersama DPRD setempat akan lebih memfokuskan pada masyarakat miskin.

Bagaimanapun, keberadaan Kota Tangerang, yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, membawa dampak tersendiri pada lingkungan dan kehidupan masyarakatnya. Kota Tangerang jadi penuh sesak karena jumlah penduduk makin banyak.

Di sana, tumbuh berbagai perumahan mewah hingga sederhana. Tumbuh pula banyak pemukiman liar.

Lahan pertanian juga menyempit karena beralih fungsi menjadi lahan komersial. Kondisi jalan tidak seimbang dengan volume kendaraan, sehingga timbul kemacetan di berbagai titik.

Di beberapa wilayah di Kota Tangerang, kemiskinan penduduk terlihat cukup mencolok. Masyarakat urban yang hidup di pinggiran Kota Tangerang, tidak mampu mengikuti derasnya pembangunan.

Sementara untuk berusaha, mereka tidak mempunyai modal. Pada umumnya, mereka adalah pekerja nonformal, yang tidak mempunyai penghasilan tetap, bahkan banyak yang menjadi pengangguran.


Bandara

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang mencatat, dua kecamatan di Kota Tangerang yang berada sekitar kawasan Bandara Soekarno-Hatta, yakni Kecamatan Neglasari dan Benda sebagai kecamatan yang penduduknya terbanyak masuk dalam kategori miskin.

Sebanyak 16.000 lebih warga miskin tinggal di Kecamatan Neglasari. Sementara jumlah penduduk di kecamatan itu sebanyak 92.552 jiwa, terdiri dari 21.960 rumah tangga. Kecamatan Benda juga pada kondisi yang nyaris sama. Jumlah penduduk miskin di daerah ini mencapai 8.000 jiwa.

Padahal, Neglasari dan Benda adalah dua kecamatan yang berbatasan langsung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang merupakan gerbang Indonesia.

Wali Kota Wahidin mengakui, pihaknya belum bisa sepenuhnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Namun, dia menyayangkan pihak pengelola bandara, yang kurang memberikan perhatian kepada masyarakat sekitar lingkungannya.

Koordinator Bidang Diklat LSM Pattiro, Wawanudin meminta agar Pemkot Tangerang serius mengatasi kemiskinan secara sistematis di daerah sekitar Bandara Soekarno-Hatta. "Kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan itu harus diberantas bersama antara pemerintah dan pengelola bandara," jelasnya.

Namun, PT Angkasa Pura (AP) II selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta menolak bila pihaknya dituding memiliki andil dan ikut bertanggung jawab atas ketepurukan ekonomi yang dialami warga sekitar bandara. "Itu sepenuhnya tanggung jawab Pemkot Tangerang. Kami hanya sekadar membantu lewat berbagai program, seperti Program Community Development (Comdep), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), dan Program Yayasan Amal Zakat (PYAZ)," kata Kepala Cabang PT AP II, Kasmin Kamil, didampingi Sekretaris Perusahaan, Sudaryanto beberapa waktu lalu.

Menurut Kasmin, melalui Comdep, sarana dan prasarana pendidikan, tempat ibadah, serta kesehatan menjadi perhatian serius, terutama di 17 desa dan kelurahan dari lima kecamatan di sekitar kawasan bandara.

Tahun 2005 lalu, dana PKBL disediakan Rp 2,5 miliar. Sedangkan dana pinjaman lunak berjalan sejak tahun 2001 hingga sekarang, jumlahnya sudah mencapai Rp 11 miliar lebih.

Menurut Sudaryanto, hingga kini sedikitnya 320 warga sekitar bandara yang bekerja di sejumlah perusahaan, yang menjadi mitra usaha PT AP II.

Sementara itu, Jhon Alfred Nikijulu, Ketua Fraksi Partai Demokrat, yang juga anggota Komisi B DPRD Kota Tangerang mengatakan, tinginya angka kemiskinan di kawasan itu, menandakan program bina lingkungan yang diusung PT AP II belum berjalan sebagaimana mestinya. "Sejauh ini, kami belum melihat adanya gebrakan signifikan dari program Comdep. Jadi untuk apa sebenarnya program itu dibuat?" tandasnya.

Sementara, Yati Rohayati, Sekretaris Komisi DPRD Kota Tangerang menyatakan, selama ini sudah ada citra buruk bahwa kawasan sekitar bandara merupakan wilayah pinggiran dan terisolasi. "Pemkot harus berupaya menghilangkan citra negatif itu," katanya.

Oleh Koresponden "Pembaruan" Dewi Gustiana




--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 9/1/07
__________________
JAKARTA Public Transportation:

Bus Rapid Transportation Database, BRT Part 1, BRT Part 2
tata no está en línea   Reply With Quote
Old January 9th, 2007, 05:42 PM   #158
F-ian
Registered User
 
Join Date: Oct 2005
Location: Kingdom of Banten, the Dynasty of Queen Atut
Posts: 4,339
Likes (Received): 40

we need more people to be like Mr. Wahidin Halim
F-ian no está en línea   Reply With Quote
Old April 9th, 2007, 08:02 AM   #159
rilham2new
Obsolete User
 
Join Date: Oct 2006
Location: Riau, Jakarta Barat, Brunswick West (VIC)
Posts: 29,373
Likes (Received): 280

Do you know, beberapa hari yang lalu tragedi yang sama terulang lagi ??? IPDN (yang dulu namanya STPDN, terletak di JATINANGOR, Jawa Barat) kembali menimbulkan masalah....... Satu orang lagi telah TEWAS akibat dari kekerasan dan ke-"ego"-an, ke-"senior"itasan di dalamnya.... Masih inget, tragedi 2003 ketika beberapa praja STPDN tewas?????? Pernah ada liputan khusus SCTV nya " DI BALIK TEMBOK STPDN "

Ini beritanya ... SOURCE :JPNN

==================cut=================cut==============cut======================cut=============

IPDN Dirombak Total
09 April 2007 Pukul 08:43

Hari Ini SBY Panggil Rektor

JAKARTA (RP)- Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan akan merombak total Institut Pemerintah Dalam Negeri (IPDN). Langkah SBY ini didukung sepenuhnya oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Hidayat Nurwahid.

Namun, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono yang pernah melakukan penelitian untuk memperbaiki sistem pendidikan di IPDN mengeluarkan pernyataan lebih keras. Dia memberi dua obsi untuk SBY, perlu atau tidak lembaga IPDN itu.

Sedangkan Wakil Ketua Komisi I DPR Tosari Wijaja mendesak Komisi II segera mengagendakan forum khusus pertanggungjawaban Rektor IPDN dan segera memproses kasus ini kepada kepolisian.

Menurut Presiden, kematian praja asal Manado Cliff Muntu pekan lalu patut disesalkan. ‘’Hal ini tidak bisa ditoleransi lagi. Besok (hari ini, red) selain Mendagri ad interim memberikan laporan kepada saya, Rektor IPDN juga saya minta datang memberikan pertanggungjawaban atas kejadian itu dan sebelumnya,’’ kata SBY setelah doa bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (8/4).

Dikatakan lembaga pendidikan seperti IPDN, seharusnya memberikan contoh yang baik tentang kehidupan senior dan yunior. ‘’Dua kali saya melantik praja di IPDN Jatinangor. Setiap kali pula saya pesankan agar kehidupan senior-yunior dibangun dengan konstruktif. Yunior menghormati senior dan senior mengayomi yunior,’’ kata SBY.

Dengan demikian, lanjut SBY, hubungan senior dengan yunior bukanlah hubungan kekerasan, kecemasan, dan kekuasaan seperti yang terjadi selama ini. Ini penting karena praja-paraja tersebut adalah calon pemimpin yang harus memberi tauladan yang baik pula.

SBY berjanji akan melakukan perubahan yang fundamental terhadap lembaga tersebut. Tentu setelah mendengar laporan dari Mendagri ad interim Widodo AS serta laporan lengkap tim investigasi. ‘’Kalau perlu kita set up baru dari lembaga pendidikan itu. Terlalu dini kalau hari ini saya katakana IPDN harus diapakan,’’ katanya.

Meski demikian, SBY belum berpikir untuk membubarkan IPDN. Meski desakan sangat kuat, SBY memahaminya sebagai bentuk kemarahan masyarakat yang harus dihargai. ‘’Saya paham amarah rakyat, tapi mari kita pikirkan secara jernih,’’ jelasnya seraya menambahkan bahwa sanksi bagi mereka yang lalai dan melakukan kejahatan harus ditegakkan.

SBY juga telah menelepon Noldy Muntu, ayah Cliff Muntu, melalui telepon Sabtu malam lalu. Selain menyampaikan belasungkawa, SBY juga mendengarkan saran dan masukan dari Noldy. ‘’Saya kagum atas ketabahan keluarga itu. Saya hormati sikapnya yang bisa menerima keadaan seraya meminta agar putra-putri bangsa yang sedang ikut pendidikan diselamatkan,’’ katanya lagi.

Sementara itu Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono, selaku orang yang ikut merencang reformasi STPDN-nama sebelum IPDN, pesimistis tradisi kekerasan di kampus tersebut bisa dihilangkan. '’Di kampus itu sistemnya adalah sistem militer. Tapi tidak ada pengawas militernya,’’ kata Sarlito.

Saat STPDN dipimpin sementera oleh Siti Nurbaya, pascakematian Wahyu Hidayat, September 2003 lalu, Sarlito yang saat itu menjabat sebagai Dekan Psikologi UI melakukan penelitian untuk memperbaiki sistem pendidikan di institusi tersebut. ‘’Yang saya rancang adalah cut off. Memisahkan angkatan baru dari seniornya,’’ kata Sarlito.

Dengan kejadian itu, Sarlito menilai cut off tidak dijalankan dengan baik. Selain itu, sistem pendidikan di IPDN susah dibenahi lagi. Sarlito berpendapat, kalau SBY ingin melakukan perubahan fundamental, sebaiknya dimulai dari mempertimbangkan masih perlu atau tidaknya lembaga IPDN.

Kalaupun pengawasan ditingkatkan, seperti misalnya usul Wapres Jusuf Kalla memasang 100 kamera CCTV, menurut Sarlito, juga tidak banyak membantu.

Sarlito melihat untuk menjadi camat atau PNS lainnya, tidak memerlukan kualifikasi seperti yang dibentuk IPDN. ‘’Berlebihan kalau akan menjadi camat saja harus belajar di kampus IPDN,’’ kata Sarlito. ‘’Untuk menjadi PNS unggulan, bisa melakukan sistem lain. Di Deplu saja tidak seperti itu kan,’’ kata Sarlito.

Jika Tak Berubah, Bubarkan Saja
Sementara itu Ketua MPR Hidayat Nurwahid sangat prihatin atas tewasnya mahasiswa IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) Cliff Muntu yang diduga akibat tindak kekerasan seniornya di kampus pekan lalu. Itu diungkapkan Hidayat usai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Bangkalan, Madura, Sabtu malam lalu

‘’Saya tidak habis pikir mengapa korban jiwa masih saja terjadi di IPDN,’’ tegas Hidayat.

Nurwahid mendesak agar ada perubahan total di IPDN. ‘’Kalau tetap tidak bisa mencetak pemimpin sipil yang bermartabat, sebaiknya IPDN dibubarkan saja. Kejadian serupa kan sudah berkali-kali, mengapa masih saja terulang,’’ katanya.

Seperti diberitakan, praja IPDN Cliff Muntu meninggal dunia diduga akibat penganiayaan beberapa seniornya. Polres Sumedang telah menetapkan tujuh praja senior tingkat III kini sebagai tersangka. Mereka langsung dipecat tidak hormat dari IPDN.

Menurut Hidayat, terulangnya peristiwa kekerasan itu sama sekali tidak menggambarkan sebuah lembaga pendidikan yang mempersiapkan pimpinan pada masa mendatang. Apalagi, level pimpinan yang akan dicetak adalah tataran seorang camat. Sebab, camat merupakan level yang harus bertemu dengan masyarakat.

’Kalau terbiasa tindak kekerasan seperti itu, bagaimana mereka akan bisa mengelola kepemimpinan di tingkat kecamatan?’’ tanya mantan Presiden PKS itu dengan mimik serius.

Mestinya, kata dia, IPDN harus malu terhadap lembaga pendidikan Akabri dan Akpol. Justru di lembaga kemiliteran itu pendidikannya tidak ada tindak kekerasan. ‘’Masak lembaga yang mencetak pimpinan sipil ada tindak kekerasan,’’ kritiknya.

Kejadian di IPDN, sambung dia, harus dikoreksi secara mendasar dan total. Mulai kurikulum, cara berpakaian, potongan, hingga rambutnya. Tujuannya, mereka menjadi pimpinan rakyat yang mampu mencerminkan demokratisasi, bukan kekerasan.

Mengenai kasus meninggalnya Cliff Muntu, Hidayat meminta tidak hanya praja yang terlibat diberi sanksi. Pimpinan lembaga tersebut, mulai tingkat rektor, harus bertanggung jawab.

Bagaimana dia (pimpinan IPDN, red) tidak tahu atas kejadian yang seperti ini? Mengapa sampai kecolongan? Itu suatu yang tidak masuk akal. ‘’Bangsa kita tidak boleh dihadirkan calon pemimpin yang ditempa dengan pola-pola kekerasan seperti itu,’’ tuturnya.

DPR Cepat Bertindak
Sementara itu Wakil Ketua Komisi I DPR Tosari Wijaja mendesak agar seluruh komponen Komisi II DPR yang fokus dalam bidang pemerintahan dan Komisi X yang bertanggung jawab dalam ranah pendidikan secepatnya mengambil langkah strategis guna mencari solusi tepat bagi penyelesaian kasus tersebut.

Mantan Wakil Ketua DPR itu meminta agar komisi II segera mengagendakan forum khusus pertanggungjawaban Rektor IPDN. ‘’Keterangan dia sangat penting. Rektor itu juga harus ikut bertanggung jawab,’’ tegasnya kemarin.

Tosari juga meminta peran aktif kepolisian untuk memeriksa rektor IPDN, mahasiswa, alumni, serta seluruh komponen lain di IPDN. ‘’Tidak mungkin rektor sama sekali tidak tahu perilaku kekerasan di kampus yang dipimpinnya, apalagi kekerasan itu terjadi di kampus,’’ ujarnya.

Mantan Ketua DPP PPP tersebut berharap agar komponen IPDN yang terdiri atas alumni, baik yang lulus maupun drop-out, mau bekerja sama secara jujur mengemukakan pengalaman buruk kepada kepolisian selama masa pendidikan.

Selain itu, dia kembali meminta agar pimpinan komisi X secepatnya memutuskan sikap pembatalan dan penghentian persetujuan DPR atas biaya pendidikan IPDN yang dibebankan kepada APBN. ‘’Bila DPR diam, berarti ikut merestui berlangsungnya kekerasan di kampus drakula berseragam yang dibiayai uang rakyat itu,’’ tegasnya.(tom/tra/aku/jpnn)
__________________
"2 + 2 = 5". By George Orwell

Last edited by rilham2new; April 9th, 2007 at 08:11 AM.
rilham2new no está en línea   Reply With Quote
Old April 9th, 2007, 05:18 PM   #160
F-ian
Registered User
 
Join Date: Oct 2005
Location: Kingdom of Banten, the Dynasty of Queen Atut
Posts: 4,339
Likes (Received): 40

what about STPDN?
F-ian no está en línea   Reply With Quote
Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 06:26 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu