|
|
| daily menu » rate the banner | guess the city | one on one |
|
|
#1 |
|
Registered User
Join Date: Jun 2005
Posts: 170
Likes (Received): 3
|
MIA will boost economics in West Sumatra's
|
|
|
|
|
|
#2 |
|
jakarta. jakarta
Join Date: Apr 2005
Location: Jakarta
Posts: 204
Likes (Received): 0
|
27/06/2005 14:32 WIB
Sabtu, 25/06/2005 11:06 WIB MIA harapan untuk pacu ekonomi Sumbar oleh : Tularji Pertengahan bulan depan Minangkabau International Airport (MIA) di Sumatra Barat mulai dioperasikan. Operasional bandara tersebut memberi harapan baru bagi daerah ini untuk segera memperkecil ketertinggalannya di bidang pembangunan perekonomian dengan daerah lainnya. Wilayah Provinsi Sumbar sebagian besar merupakan dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan yang membujur dari selatan ke utara, sedangkan sebagian kecil lainnya merupakan dataran rendah yang membujur dari selatan ke utara menghadap Samudra Hindia. Kondisi geografis itu tidak menguntungkan bagi pengembangan transportasi angkutan darat maupun laut dalam mendukung kegiatan perekonomian daerah ini sehingga angkutan udara menjadi alternatif dalam mengatasi hambatan pembangunan perekonomian Sumbar tersebut. Selama ini angkutan dari dan ke daerah ini melalui Bandara Tabing Padang banyak menghadapi masalah, terutama dalam memberi layanan penerbangan yang sesuai dengan standar penerbangan internasional. Bahkan berdasarkan persyaratan keselamatan penerbangan, Bandara Tabing Padang sulit dikembangkan untuk melayani penerbangan pesawat berbadan lebar atau pemasangan alat bantu pendaratan. Kondisi itu disebabkan pada daerah yang berdekatan dengan bandara tersebut terdapat dua bukit yang menghalangi pengembangan bandara itu yakni Bukit Sariak dan Pangilun, selain itu lahan yang tersedia pada Bandara Tabing juga terbatas. Untuk memacu perekonomian daerah ini, maka perlu disediakan bandara yang memadai, dan setelah dilakukan pengkajian, pemerintah pusat memutuskan membangun bandara baru di Ketaping, Padang Pariaman, sekitar 23 km dari Padang. MIA dibangun di areal seluas 482 ha. Bandara ini mulai dibangun pada 10 April 2002 dengan dana Rp800 miliar, yang merupakan bantuan pemerintah Jepang dengan kontraktor juga dari negara Sakura itu. Bandara itu direncanakan dioperasikan mulai 15 Juli 2005 dan diresmikan pada akhir Juli atau awal Agustus oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. MIA merupakan hasil perjuangan panjang masyarakat Sumbar. MIA memiliki landasan pacu sepanjang 2.750 meter, lebar 45 meter, memiliki ruang parkir pesawat dua pintu seluas 310 x 110 meter dan dapat menampung enam pesawat Boeing-737 dan satu pesawat berbadan lebar tipe MD-11 atau Airbus 330-300 atau tiga pesawat tipe Boeing-747 sekaligus. Pergerakan pesawat dan penumpang di Bandara Tabing No Tahun Pesawat domestik Pesawat asing Penumpang domestik Penumpang asing 1 2000 4.020 655 218.925 27.277 2 2001 4.540 590 274.125 24.585 3 2002 6.185 215 420.830 16.379 4 2003 9.788 393 815.928 18.664 5 2004 12.348 1.222 1.205.954 54.802 Sumber: PT Angkasa Pura II cabang Tabing Padang Realisasi investasi ke Sumbar No Tahun PMDN (Rp miliar) PMA (US$ juta) 1 2000 187 61 2 2001 183 107 3 2002 348 118 4 2003 204 29 5 2004 631 29 Sumber: BKPMD Sumbar Pembangunan bandara telah selesai dan pada pertengahan Juni lalu. Proyek ini telah diserahkan Dirjen Perhubungan Udara ke pihak PT Angkasa Pura II sebagai pengelola. Penyerahan tersebut merupakan petanda bahwa Bandara MIA benar-benar telah selesai 100% dan bisa didarati pesawat, namun pihak Angkasa Pura II meminta waktu selama satu bulan untuk mempersiapkan segala perlengkapan dan sekaligus uji coba landasan hingga sempurna. Optimalkan MIA Menhub Hatta Radjasa dalam pidatonya pada seminar Optimalisasi pemanfaatan Minangkabau International Airport (MIA) belum lama ini mengatakan kehadiran bandara tersebut akan memberi dampak ekonomi terhadap Sumbar. Paling tidak dampak ekonomi tersebut a.l kehadiran bandara tersebut akan memberi layanan transportasi udara yang optimal, sebab bandara ini akan menjadi pintu gerbang utama bagi orang di luar Sumbar untuk masuk ke daerah baik dalam rangka bisnis, belajar maupun berwisata. Kehadiran bandara tersebut juga akan memberi kesempatan kepada dunia usaha di daerah ini untuk berkembang karena peluang ekspor melalui bandara dengan layanan yang optimal makin terbuka. Jadi, masyarakat di daerah ini, menurut Menhub, dituntut untuk mengoptimalkan kehadiran MIA sebagai salah satu infrastruktur ekonomi, sosial budaya, dan pariwisata. Pernyataan Menhub itu merupakan pecut bagi Pemprov Sumbar, pengusaha, dan masyarakat daerah ini untuk memanfaatkan kehadiran MIA seoptimal mungkin dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi. Terlebih, MIA dibangun pada saat negara ini menghadapi kesulitan finansial akibat krisis ekonomi berkepanjangan. Jadi, Sumbar termasuk daerah yang beruntung karena di tengah kesulitan keuangan yang diderita bangsa, MIA justru hadir. Kepala Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sumbar, Sukri Lukman mengatakan kehadiran MIA memberi peluang besar bagi sektor jasa pariwisata dan industri untuk berkembang pesat. Dia menjelaskan Sumbar telah lama ditetapkan sebagai pintu gerbang pariwisata Indonesia bagian barat dan penetapan itu tidak terlepas dari hadirnya MIA serta tingginya arus penumpang domestik maupun asing ke daerah ini. Sebagai gambaran, dalam lima tahun terakhir, pergerakan pesawat dan arus penumpang pada rute domestik di Bandara Tabing terus meningkat secara signifikan. Pergerakan pesawat pada 2000 baru 4.020 dan naik 13% menjadi 4.540 pada 2001. Pada 2002 pergerakan pesawat pada rute domestik di Bandara Tabing naik hingga 36% menjadi 6.185 dan pada 2003 terjadi lonjakan secara signifikan hingga mencapai 58% menjadi 9.788 dan pada 2004 lalu, juga naik 26% menjadi 12.348. Seiring dengan naiknya pergerakan pesawat, arus penumpang domestik juga cenderung naik. Pada 2000, arus penumpang di Bandara Tabing Padang baru 218.925 orang meningkat 25% pada 2001 menjadi 274.125. Pada 2002 arus penumpang domestik meningkat hingga 54% menjadi 420.830. Ledakan penumpang terjadi pada 2003 di mana saat itu arus penumpang domestik naik hingga 94% menjadi 815.928 dan naik 48% menjadi 1.205.954 orang pada 2004. Permintaan layanan penerbangan asing ke Sumbar yang sebelumnya sempat turun, mulai naik sejak 2003 dan 2004. Pada 2003 arus penumpang asing mencapai 18.664 orang, naik 14% jika dibandingkan tahun sebelumnya yang 16.379 orang. Ledakan penumpang asing terjadi pada 2004 di mana pada tahun ini terjadi kenaikan arus penumpang asing secara signifikan hingga 194% dari 18.664 pada 2003 menjadi 54.802 orang pada 2004. Angka itu mengindikasikan bahwa minat turis dalam maupun luar negeri untuk berwisata ke daerah ini sangat besar, terlebih daerah ini termasuk daerah tujuan wisata yang relatif aman pascabom di Bali. Sementara itu, permintaan lalu lintas udara di daerah ini diperkirakan 559.300 penumpang pada 2010 dengan pertumbuhan rata-rata 9,5% atau 8,5% melalui studi ulang pada 2000. Kepala Subdin Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar Herry Zulman mengatakan dalam kenyatannya, permintaan lalu lintas udara di daerah ini melebihi dari hasil studi tersebut. Bahkan, lanjutnya, angka arus penumpang di Bandara Tabing Padang telah melebihi daya tampung penumpang bandara MIA sebanyak 559.000 orang per tahun, sebab arus penumpang di Bandara Tabing Padang pada 2004 sudah di atas 1 juta orang. Artinya, optimalisasi MIA kemungkinan dilanjutkan dengan pengembangan tahap II mengingat permintaan lalu lintas udara daerah ini melebihi dari perkiraan saat pembangunan MIA tahap I dimulai. "Yang selesai di bangun saat ini baru pembangunan tahap I, kalau target telah tercapai dan permintaan lalu lintas udara terus meningkat, pengembangan bandara MIA tahap II yang semula direncanakan pada 2020, bisa dipercepat," kata Herry. Genjot investasi Pemprov Sumbar optimis kehadiran MIA akan memacu pertumbuhan ekonomi Sumbar, sebab sebelum bandara itu hadir, ekonomi Sumbar terus tumbuh meski lambat jika dibandingkan dengan daerah di kawasan timur Sumatra. Laju pertumbuhan ekonomi Sumbar dalam tiga tahun terakhir terus membaik. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi itu salah satu penyebabnya adalah meningkatnya investasi ke daerah ini dan bergeraknya ekonomi kerakyatan. Pada 2001 ekonomi Sumbar tumbuh 3,63%, naik jadi 4,31% pada 2002 dan 4,48% pada 2003. Pada 2004 ekonomi Sumbar tercatat 4,9%. Pemprov Sumbar menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,0% pada tahun ini menyusul membaiknya kondisi investasi dan bergeraknya ekonomi kerakyatan di daerah ini pascaberoperasinya MIA. Sementara itu, investasi yang mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi daerah ini dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Sebagai gambaran, realisasai penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada lima tahun terakhir terus membaik. Pada 2000 realisasi PMDN di Sumbar Rp187 miliar, turun 2,1% pada 2001 menjadi Rp183 miliar. Tapi, pada 2002, terjadi kenaikan yang signifikan hingga 90,1% menjadi Rp348 miliar. Realisasi PMDN di daerah ini pada 2003 turun hingga 70,5% menjadi Rp204 miliar, akan tetapi pada 2004 terjadi lonjakan, bahkan tertinggi dalam lima tahun terakhir di mana realisasi PMDN pada tahun itu naik 209% menjadi Rp631 miliar. Realisasi penanaman modal asing (PMA) dalam lima tahun terakhir juga cenderung naik, kecuali dalam dua tahun terakhir. Pada 2000 realisasi PMA US$61 juta meningkat hingga melambung 75,4% pada 2001 menjadi US$107 juta. PMA ke Sumbar pada 2002 juga naik 10,2% menjadi US$118 juta. Tapi, pada 2003 realisasi PMA terjun bebas hingga 75% menjadi US$29 juta dan pada 2004 realisasi PMA stagnan, masih US$29 juta. Meski Sumbar aman, menurut Sukri, realisasi PMA masih dipengaruhi kondisi nasional di mana pada 2003 dan 2003 investor asing cenderung wait and see menyusul dilaksanakannya Pemilihan Umum. Sebaliknya, investor dalam negeri makin percaya dengan kondisi keamanan Sumbar dalam berinvestasi, terbukti investasi dalam negeri di daerah ini melonjak signifikan pada 2004. Sukri Lukman optimistis realisasi investasi meningkat pada tahun ini menyusul beroperasinya MIA, sebab kehadiran MIA akan menjadi salah satu jalur ekspor tercepat bagi komoditas asal daerah ini ke pasar utama dunia. Investasi di sektor industri dan jasa pariwisata pascaberoperasinya MIA diduga naik signifikan, bahkan berpeluang menggeser angka investasi perkebunan yang selama ini mendominasi realisasi penanaman modal. Tinggal bagaimana Pemprov Sumbar, pengusaha, dan masyarakat daerah ini bersinergi dalam menangkap peluang serta mengembangkan potensi unggulan Sumbar setelah MIA beroperasi. Selain itu, harus ada kemauan politik dari semua pihak untuk menjaga rasa aman dalam berinvestasi, di samping adanya kepastian hukum serta mempermudah jalur berinvestasi di daerah ini dengan memberikan layanan birokrasi yang efektif. [Close] © Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika |
|
|
|
|
|
#3 |
|
Le Nozze di Figaro...
Join Date: Oct 2003
Location: Planet Earth
Posts: 5,993
|
Guys, please be advise to always select and carefully put topics in the right subforum, this kind of thread should be in Warteg subforum, but thats fine for now because i will remove it there.
![]() cheers
__________________
Intel Inside, Idiot outside |
|
|
|
![]() |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|