daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > The Skybazaar of Indonesia > Archive

Closed Thread
 
Thread Tools
Old September 7th, 2008, 06:56 AM   #421
paradyto
entendre privilege
 
paradyto's Avatar
 
Join Date: Aug 2005
Location: 雅加达 - 巨港
Posts: 29,398

South Sumatra's Election!

Gubernur Quick Count
Sunday, 07 September 2008
Prof Amzulian Rifai PhD Ketua Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Unsri


Secara teori, quick count, perhitungan cepat, memiliki akurasi tinggi. Namun bukan bebas dari masalah. Apalagi lembaga survei pelaksana quick count bekerja atas bayaran para kandidat. Terlebih jika kandidat kepala daerah hanya dua pasang saja dengan perbedaan suara tipis. Pasti rawan masalah. Hal inilah yang saat ini terjadi dalam pilgub Sumatera Selatan. Munculnya dua gubernur dengan persentase suara berbeda versi lembaga survei.

SEDARI awal saya tergolong waswas dengan pemilihan gubernur Sumatera Selatan. Kekhawatiran ini terjadi karena pemilihan tersebut hanya diikuti oleh dua pasang calon. Pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf (ALDY) dan pasangan Syahrial Oesman-Helmi Yahya (SOHE). Sementara di daerah-daerah lain belum pernah terjadi dalam pemilihan kepala daerah langsung hanya diikuti oleh dua pasang calon. Bandingkan dengan pemilihan Gubernur Lampung 3 September 2008 yang diikuti oleh tujuh pasang calon.

Ada beberapa efek negatif dengan hanya dua pasang kandidat ini. Atmosphere paling terasa kedua kubu berhadap-hadapan secara head to head. Para pendukung juga berhadap-hadapan secara terang-terangan. Tidak ada alternatif. Mereka harus mendukung salah satu dari dua calon ini. Jika ada pernyataan-pernyataan yang ditujukan kepada pesaing, pastilah jelas siapa yang dimaksud. Berbeda jika seandainya ada lebih dari dua pasang kandidat, aura ”peperangan” itu tidak terlalu terasa.

Saya juga khawatir ketika muncul sebuah lembaga survei yang sejak lebih dari setahun terakhir gencar membentuk dan menggiring opini publik. Lembaga survei itu secara aktif setiap hari memuat advetorial berbentuk tulisan tentang sisi positif dari salah satu pasang calon. Jika itu advetorial pastilah membayar. Jika itu membayar pasti ada yang mensponsorinya. Sponsor pastilah memiliki target tertentu. Masalahnya lembaga survei ini menggunakan metode yang kelihatannya ilmiah. Padahal tujuannya mengarahkan publik kepada kandidat tertentu. Walaupun kita yakin kandidat yang lain tidak tinggal diam. Pasti juga menggunakan lembaga survei sejenis. Cuma beda bungkusnya saja tapi sama-sama menggunakan slogan in the name of science.

Perang hasil survei makin menjadi ketika beberapa hari menjelang pencoblosan kedua kandidat menggunakan jasa lembaga survei untuk membentuk opini publik. ”Hasil survei” itu dipublikasi luas. Sehari sebelum pencoblosan Lembaga Survei Independen Indonesia (LSII) merilis angka 46% dari 1.650 responden memilih paasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf. Sedangkan pemilih pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya hanya 33% saja. Terdapat 21% responden yang belum menentukan pilihan. Tidak mau kalah saingan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mempublikasikan hasil survei mereka terhadap 1.500 responden. Hasilnya hanya 42,64% saja yang memilih pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf. Sedangkan 49,77% responden memilih pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya. Terdapat 7,59% responden belum menentukan pilihan. Sebagian kita sudah dapat menduga-duga ”cantelan” masing-masing lembaga survei ini.

Perang lembaga survei mencapai puncaknya ketika masyarakat Sumatera Selatan memberikan suara mereka pada 4 September 2008. Diantara lembaga-lembaga survei yang ada ternyata mempertontonkan hasil yang berbeda. Menurut hasil Quick count LSI (Lembaga Survei Indonesia) untuk pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf (ALDY), mendapatkan 52,12% suara. Sedangkan pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya (SOHE), mendapatkan 47,88% suara. Hasil ini berdasarkan jumlah suara 394 TPS dari sampel sebanyak 400 TPS. Metode yang dipakai adalah Stratified-Cluster Random Sampling dengan margin error 1% dan derajat kepercayaan 99%. Menurut LSI, adanya efek cluster, perbedaan jumlah pemilih dari masing-masing TPS dan variasi angka partisipasi memungkinkan tingkat error menjadi lebih besar. Artinya perolehan suara kandidat dari hasil quick count ini bisa bergeser ke atas atau bergeser ke bawah sekitar 1-2%.

Tidak jauh berbeda adalah quick count yang dilakukan oleh LSI (Lingkaran Survei Indonesia) bekerjasama dengan JIP (Jaringan Isu Publik). Menurut lembaga ini, pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf mendapatkan 51,22%, sementara Syahrial Oesman-Helmy Yahya mendapatkan 48,78% suara. Margin error sekitar 2%. Artinya, lembaga ini juga menunjukkan pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf sebagai pasangan yang mendapat suara terbanyak.
Sedangkan hasil quick count dari Puskaptis (Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis), pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf mendapatkan 48.89%, sementara Syahrial Oesman-Helmy Yahya mendapatkan 51,11% suara. Survei dilakukan dengan metode multistages random sampling pada 600 TPS di 15 kabupaten/kota, 60 kecamatan. Margin error 1-2%. Puskaptis pun mengklaim bahwa derajat kepercayaan 98-99%.

Di sinilah terjadi kerunyaman. Ternyata kedua pasang calon, baik pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf dan pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya, dinyatakan mendapatkan suara terbanyak. Memang lembaga-lembaga survei ini berkelit bahwa hasil yang mereka umumkan bukanlah menentukan siapa yang menjadi gubernur Sumsel terpilih, hanya menampilkan angka-angka saja. Namun implikasinya tentulah tidak sesederhana yang dikemukakan. Implikasi dan efek yang ditimbulkan akan sangat luas. Masing-masing calon pastilah ingin mempertahankan hasil quick count yang menguntungkan mereka.
Minimal ada dua implikasi dari quick count yang dilakukan oleh lembaga survei tersebut. Pertama, implikasi terhadap pasangan calon. Sudah dapat dipastikan pasangan calon akan tetap mempertahankan hasil survei yang menguntungkan. Apalagi jika hasil survei itu telah diumumkan secara luas secara nasional. Tidak kurang Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, telah mengucapkan selamat atas berhasilnya pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf memperoleh suara terbanyak. Maklum kedua pasangan ini diusung oleh Partai Golkar dimana Jusuf Kalla juga sebagai ketua umum Partai Golkar. Ini sebagai akibat, perhitungan cepat tersebut disiarkan oleh dua televisi nasional disertai dengan informasi dari running text.

Pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya yang mendapat ucapan para purn jenderal, tentunya juga tidak bersedia menerima begitu saja hasil quick count versi LSI dan JIP. Pasangan ini secara tegas menyatakan memegang teguh hasil quick count yang dilakukan oleh Puskaptis. Menurut perhitungan cepat lembaga ini bahwa pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya yang mendapatkan suara terbanyak. Bukan pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf. Sayangnya, hasil survei Puskaptis yang memenangkan pasangan Syahrial Oesman dan Helmy Yahya justru tidak muncul secara nasional.

Implikasi hasil quick count ini juga menyeret partai politik pengusung kedua pasang calon gubernur tersebut. Garda terdepan dari peperangan itu adalah Partai Golkar dan PDIP. Kedua partai tidak tinggal diam. Itu sebabnya, kedua partai segera keesokan harinya “bergerak cepat” mengklaim kemenangan masing-masing calon mereka. Semua media digunakan. Partai-partai pengusung Alex Noerdin-Eddy Yusuf mengucapkan selamat atas kemenangan yang dicapai. Tapi dalam waktu bersamaan, PDI-P Cs juga mengucapkan selamat atas keberhasilan pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya mendapatkan suara terbanyak.

Konflik antar kandidat, antar partai politik dikarenakan hasil quick count yang berbeda ini jelas berimbas dengan para pendukung masing-masing. Di sinilah kerawanan itu makin menjadi. Alasannya sederhana saja karena biasanya para penonton lebih gaduh dibandingkan dengan para pemain. Para suporter cenderung lebih cepat bertindak ketimbang para kandidat yang mungkin lebih banyak pertimbangan. Ada istilah bahwa orang-orang lapangan “sumbunya pendek”. Ini untuk menggambarkan betapa mudahnya para pendukung tersulut untuk melakukan tindakan-tindakan yang di luar perhitungan banyak orang. Walaupun di antara mereka dengan motif berbeda. Ada yang memang benar-benar karena pendukung fanatik. Ada juga yang sekedar penggembira. Tidak juga tertinggal mereka yang terancam masa depannya jika jagonya kalah.

Gubernur Sumatera Selatan hasil quick count jelas menyisakan masalah. Padahal sebenarnya kehadiran lembaga quick count diharapkan mampu meredam gejolak yang mungkin timbul karena lamanya masa jedah antara waktu pencoblosan dengan hasil pengumuman resmi dari KPUD. Menunggu hasil resmi dari KPUD jelas lama. Sekitar 10 hari setelah pencoblosan. Artinya, pemilihan gubernur Sumsel baru akan diketahui hasilnya secara resmi pada 14 September 2008. Namun idealnya, hasil quick count jangan justru penyulut kebingungan masyarakat dan seolah-olah menjadi dasar yang sah, final and binding.

Pascapemilihan gubernur Sumatera Selatan yang kondusif pastilah menjadi harapan setiap orang. Gubernur terpilih diharapkan mampu menepati janji-janji yang pernah diucapkan dalam berbagai kesempatan. Itu sebabnya pasca pengumuman pemenang gubernur versi quick count ada beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian dan memerlukan tindak lanjut.
Pertama, KPU Sumatera Selatan harus bersikap proaktif. Sikap proaktif paling urgent adalah dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa hasil quick count yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei yang ada bukanlah bersifat final. Lembaga-lembaga survei tidak memiliki jastifikasi yuridis untuk menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang pemilihan gubernur Sumatera Selatan. Sejauh ini, KPUD sebagai penyelenggara pemilukada ”ketilep” dari lembaga-lembaga survei yang bukan hanya swasta tetapi juga sangat dekat dengan kepentingan para kandidat. Walaupun kita juga percaya bahwa tingkat akurasi lembaga-lembaga survei ini juga tinggi. Namun jangan sampai terjadi hasil resmi KPU belum dipublikasikan, tetapi masyarakat telah membentuk opininya sendiri. Jika saja pasangan calon gubernur lebih dari dua pasang, mungkin sikap proaktif KPU tidak terlalu dibutuhkan. Peran KPU Sumatera Selatan guna menjaga stabilitas hingga 14 September 2008 sangatlah penting.

KPU Sumatera Selatan harus berani mengambil sikap tegas, independen dalam menentukan siapa sesungguhnya pemenang pemilihan gubernur Sumatera Selatan pada 14 September 2008. KPU tidak boleh ragu sedikitpun dalam menentukan pasangan yang keluar sebagai pemenang. Tidak terpengaruh oleh arak-arakan massa atau ancaman sekalipun. Ketegasan ini penting karena berbagai kemungkinan yang menjadi penghalang KPU dalam mengumumkan hasil tesebut. Penghalang pertama karena masing-masing lembaga survei mengakui ada kemungkinan margin error hingga 2%. Ini artinya masing-masing pasangan calon mungkin memperoleh suara naik atau turun sebanyak-banyaknya 2%. Terjemahannya, boleh jadi hasil sesungguhnya memperkuat kemenangan pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf atau justru kebalikannya. KPU Sumatera Selatan harus ”memejamkan mata” terhadap hasil yang disajikan oleh lembaga-lembaga survei yang ada.

Memang tantangannya KPU Sumatera Selatan harus berhadapan dengan opini publik yang telanjur terbentuk bahwa telah ada yang keluar sebagai pemenang pada pemilihan gubernur Sumatera Selatan. Media lokal, regional, dan nasional telah secara jelas mengumumkannya. Gubernur terpilih versi opini publik tergantung pihak mana yang paling kuat dan paling luas mempublikasikan versi masing-masing tersebut. Riskan sekali jika seandainya hasil akhir yang diumumkan oleh KPU Sumatera Selatan ternyata bertentangan dengan hasil yang telah terbentuk dan mengkristal pada opini publik.

Catatan kedua kepada aparat keamanan. Kita bersyukur sejauh ini Polda Sumsel dengan jajarannya hingga ke tingkatan polsek telah menunjukkan kinerja baik. Ada protap yang mereka jalankan secara ketat. Bahkan para panelis debat publik di TV-One juga mendapat pengawalan hingga kerumah setelah debat publik tersebut. Itulah protap mereka. Terhadap pilgub, mestinya, sejak dari TPS polisi secara berjenjang memastikan bahwa pengumpulan, perhitungan dan pengiriman kertas suara dan hasil perhitungan benar-benar aman. Bebas dari kecurangan. Kapolda harus mampu menjamin bahwa proses hasil perhitungan benar-benar aman sampai ke meja KPU Sumatera Selatan di Jakabaring Palembang.

Lebih penting lagi, aparat keamanan harus memberikan jaminan rasa aman kepada semua anggota KPU Sumatera Selatan. Jangan ada perasaan terancam, perasaan takut dari para penyelenggara pemilihan. Pastikan bahwa mereka dapat mengambil keputusan apapun tanpa rasa takut dan terancam sepanjang keputusan yang diambil benar-benar dilakukan secara objektif. Patut diduga akan ada pihak yang berusaha mempengaruhi para anggota KPU dengan berbagai cara dalam penentuan akhir pemenang pilgubpada 14 September 2008. Namun pada saat bersamaan cara kerja anggota KPU juga harus diawasi. Bukan mustahil KPU juga disusupi bagi kepentingan salah satu kandidat.

Catatan ketiga terhadap para kandidat. Kita cuma berharap kedua pasang kandidat untuk memutar ulang, membaca kembali pernyataan-pernyataan yang pernah mereka ucapkan. Juga deklarasi yang pernah mereka tanda tangani. Intinya kedua pasangan kepala daerah ”siap menang dan siap kalah. ”Esensinya ada sikap sportif dari kedua pasangan itu. Memang pahit, harus ada satu pasang calon yang tidak terpilih. Sebabnya gubernur Sumatera Selatan periode 2008-2013 hanya ada satu pasang saja. Perolehan suara yang hampir 50-50 menunjukkan bahwa rakyat percaya dengan kedua pasang kandidat itu. Seandainya saja gubernur Sumsel boleh dua pasang dalam periode bersamaan. Seandainya saja periode gubernur Sumsel boleh dibagi dua. Artinya, 2,5 tahun untuk masing-masing, pastilah rakyat tidak berkeberatan. Sayangnya, gubernur itu hanya satu saja dengan masa bakti 5 tahun. Tidak boleh dibagi dua.

Selanjutnya panitia pengawas pemilukada gubernur seharusnya melipatgandakan fungsi pengawasannya. Peran ini sangat krusial untuk memastikan ada upaya pencegahan kecurangan dan ada tindakan nyata terhadap laporan kecurangan. Jangan sampai panwas dinilai ”macan ompong” yang hanya menampung keluhan dan pengaduan. Hanya berfungsi sebagai kantor pos yang meneruskan pelanggaran administrasi ke KPU dan pelanggaran pidana ke pihak kepolisian. Cegah, tangkal, tindak lanjuti dan publikasikan terhadap pelanggaran mungkin ada efeknya. Peran panwas sangat dibutuhkan untuk mengawal kertas suara dari TPS hingga ke KPU Sumatera Selatan.

Catatan kelima kepada mereka yang berencana berbuat sesuatu untuk menunjukkan dukungan fanatiknya kepada salah satu calon. Kita mengetuk pintu hati mereka bahwa dua pasang calon yang didukung ini adalah putra-putra terbaik Sumatera Selatan. Fanatisme dan rasa sayang kepada keduanya justru haram jika ditunjukkan dengan cara-cara salah. Termasuk perayaan kemenangan berlebihan yang belum pasti. Apalagi jika berupaya menciptakan chaos. Negeri ini telah berubah. Dulu memang hukum tak tegak. Ada diskriminasi penegakan hukum. Sekarang, siapa yang dinilai melanggar hukum pasti ditindak. Bukan mustahil akan juga menyeret salah satu pasang calon.

Catatan keenam, bahwa pasti hasil akhir yang ditetapkan KPU Sumatera Selatan pada 14 September 2008 menuai protes dan kekecewaan. Akan ada pihak yang tidak puas. Siapapun yang akhirnya diumumkan sebagai pemenangnya. Kekecewaan ini atau bahkan perlawanan atas putusan KPU tersebut harus melalui mekanisme hukum. Bukan dengan cara-cara anarkis. Aturan hukum tersedia untuk melakukan perlawanan.

Namun sebelum melakukan langkah hukum terhadap hasil final yang dikeluarkan oleh KPU Sumatera Selatan, harus diperhatikan beberapa hal. Bahwa sengketa hasil pemilihan kepala daerah masih diselesaikan Mahkamah Agung (MA). Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2007, pilkada tercakup dalam pemilu. Memang jika mengacu pada UUD 1945, penyelesaian pilkada pada waktunya juga akan menjadi wewenang MK yang diprediksi pada sengketa pilkada sejak 2009 nanti.

Berpatokan pada UU No 32/2003, khusus untuk menyelesaikan sengketa pilkada kabupaten/kota, MA dapat mendelegasikan kepada Pengadilan Tinggi. Merujuk pada Peraturan MA (Perma) No 2/2005, MA menyelesaikan sengketa pemilihan gubernur, sedangkan pengadilan tinggi (PT) menyelesaikan sengketa pemilihan bupati/wali kota.

Sengketa hasil pilkada dapat dibagi menjadi dua. Pertama, sengketa dalam proses pemilu/pilkada yang selama ini merupakan wewenang dari panitia pengawas pemilu. Kedua, sengketa atau perselisihan hasil pemilu/pilkada. Penyelesaian sengketa hasil pilkada diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan, yaitu UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2005 jo PP No 17/2005, serta Perma No 02/2005. Hal yang menjadi dasar gugatan (ground of petition) pilkada sesuai UU No 32/2004, PP No 6/2005, dan Perma No 2/2005 hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon (Pasal 106 UU No 32/2004).

Sengketa yang diselesaikan MA (atau PT) sebagaimana diatur dalam Pasal 106 ayat (2) UU No 32 Tahun 2004 hanya yang berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang memengaruhi terpilihnya pasangan calon. Jika diperhatikan semua putusan PT dan MA dalam kasus sengketa pilkada –termasuk sengketa hasil pemilu yang diputus oleh MK– hal-hal yang menjadi dasar terjadinya selisih penghitungan suara dalam sengketa pemilu/pilkada hanyalah karena ada kesalahan penghitungan (rekapitulasi) oleh KPU/ KPUD.
Memang quick count tidak selalu benar. Terbuka kemungkinan kekeliruan dalam metodologi sampling dan penghitungan. Apalagi jika disertai misi keuntungan materi. Bila terjadi hasil penghitungan cepat berbeda dari hasil penghitungan KPU, terbuka untuk diuji siapa yang bersalah. Bisa lembaga survei yang salah, bisa juga KPU.

Jika ternyata lembaga survei yang salah, harusnya tamatlah riwayat lembaga itu karena tidak lagi memperoleh kepercayaan publik. Pengelola yang profesional tidak mau melacurkan diri untuk kepentingan para kontestan dengan cara mengarahkan angka kepada kandidat tertentu. Sebaliknya jika KPU yang terbukti salah. Mereka dapat dituntut secara hukum dan mungkin dikenai sanksi pidana. Biasanya hasil quick count tidak jauh berbeda dari hasil sesungguhnya. Keunggulan metodologi itulah yang menyebabkan quick count dipercaya dan ampuh sebagai alat kontrol. Hanya yang menjadi soal quick count mana yang benar-benar akurat?

Rakyat Sumatera Selatan telah menunjukkan iklim yang kondusif pada saat pencoblosan. Semua daerah menunjukkan suasana aman, tanpa ada gejolak yang berarti. Namun harus diwaspadai bahwa kerawanan puncak adalah 14 September 2008 ketika KPU mengumumkan siapa gubernur terpilih. Segala kemungkinan dapat terjadi sampai dengan pelantikan. Itu sebabnya semua pihak harus siap dengan beberapa skenario. Untuk sementara, sampai dengan keputusan final KPU tentang pemenang sesungguhnya, kita nikmati saja gubernur sementara versi lembaga survei. gubernur quick count.(*)
__________________
welcome you participants the 7th meeting of IMT-GT working group on agriculture agro-based industry & environment 2014
The Green & Cleanest Metropolitan (since 2007) Sumsel Gemilang 雅加达 - 巨港 Jakabaring Sport City
ASEAN University Games 2014 Palembang Emas 2018
paradyto no está en línea  

Sponsored Links
 
Old September 7th, 2008, 09:00 AM   #422
Fikr
fikr
 
Fikr's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Plg, Jmb, Jkt, Pku, Mdn
Posts: 3,291
Likes (Received): 16

Quote:
Originally Posted by paradyto View Post
Lembaga Survei Indonesia mencatat pasangan Aldy 52,12 persen dan Sohe 47,88 persen. Lingkaran Survei Indonesia mencatat pasangan Aldy 51,22 persen dan Sohe 48,78 persen. Sedangkan Pusat Kajian Pembangunan Strategis mencatat pasangan Aldy 48,89 persen dan sohe 51,11 persen.

Kita tunggu tanggal 14
Lembaga Survei Indonesia dan Lingkaran Survei Indonesia mengumumkan secara Nasional hasil Survei mereka melalui media Metro TV dan TVOne
sedangkan Puskaptis

Ada Apa dengan PUSKAPTIS
Fikr no está en línea  
Old September 7th, 2008, 09:14 AM   #423
Fikr
fikr
 
Fikr's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Plg, Jmb, Jkt, Pku, Mdn
Posts: 3,291
Likes (Received): 16

Hsil hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dikomandani Denny JA bekerja sama dengan Jaringan Isu Publik (JIP) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Saiful Mujani menyebutkan pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf unggul pada Pilgub Sumsel.LSI-JIP mencatat Alex-Eddy meraih 51,22% suara. Sedangkan pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya memperoleh 48,78%.
LSI-JIP tak sendirian. Hasil akhir perhitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia berdasarkan 98,5% data yang berhasil diamati (394 TPS dari 400 TPS) menunjukkan pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf meraih 52,12 % suara pemilih. Sedangkan Syahrial Oesman-Helmy Yahya harus puas dengan perolehan suara 47,88%.
“Hasil penghitungan cepat di atas menunjukkan bahwa pasangan Alex Noerdin – Eddy Yusuf mendapat suara terbanyak, dan secara statistik unggul signifikan dari pasangan Syahrial Oesman – Helmi Yahya. Dengan demikian, diprediksi pasangan Alex Noerdin – Eddy Yusuf akan memenangkan Pemilukada Propinsi Sumatera Selatan,” kata Staf Peneliti Lembaga Survey Indonesia, Adam Kamil.
Ia mengakui hasil pemilihan Gubernur Sumsel kali ini sangat ketat. Hal itu dapat dilihat dari perbedaan tipis suara yang diperoleh masing-masing calon dari hasil quick count. Namun, dia menegaskan selisih yang tipis ini cukup signifikan, untuk bisa melihat banyangan hasil perhitungan suara.
“Quick count ini merupakan kegiatan ilmiah, jadi kegiatan ini dilakukan bukan untuk bermaksud menggiring opini masyarakat,” ujar Adam, Jumat (5/9).
Sedangkan Setia Dharma, staf peneliti LSI dan JIP kepada wartawan usai pengumuman hasil hitung cepat Pilgub Sumsel, (4/9) mengatakan, perbedaan hasil quick count yang telah dilakukan LSI-JIP dengan hasil penghitungan manual yang dilakukan KPU, selama ini tidak jauh berbeda.Lingkaran Survei Indonesia sendiri telah beberapa kali melakukan hitung cepat di Sumsel dan hasilnya sangat layak dipercaya. Pemilukada Lubuklinggau, Prabumulih, Kota Palembang, Kabupaten Muaraenim, dan Kabupaten Musi Banyuasin, menjadi contoh akurasi data hasil hitung cepat LSI.
Di Pemilukada Lubuklinggau misalnya, hasil hitung cepat LSI menunjukkan kemenangan pasangan Riduan Effendi-Prana Putra Sohe dengan perolehan 27,87% suara pemilih. Ternyata, perhitungan manual yang dilakukan KPU Lubuklinggau tidak jauh berbeda dengan menunjukkan kemenangan pasangan Riduan-Prana dengan 27,30% suara pemilih.
LSI adalah lembaga yang paling banyak melakukan quick count di Indonesia. Ketika melakukan hitung cepat Pemilukada Kota Palembang Juni lalu, untuk ke-43 kalinya LSI dengan akurat menyatakan kemenangan pasangan Eddy Santana dan Romi Herton. Seluruh publik Kota Palembang, termasuk para elit dan para calon walikota ketika itu, sangat meyakini akurasi data LSI.
Berdasarkan pengalaman hitung cepat LSI, tidak ada satupun wilayah baik kabupaten, kota maupun provinsi yang keluar dari batasan margin error dan tidak ada satupun yang salah (terbalik urutannya).
Bahkan, Quick Count LSI di Pilkada Tanjung Jabung Timur – Jambi (Koran Jambi Independen, 10 Maret 2006), paling presisi dalam sejarah quick count di Indonesia. Hanya berbeda 0.05% di banding hasil resmi KPUD.
Cuma Sedikit Yang Layak Dipercaya
Banyak lembaga survey yang berlomba menggelar quick count dalam memprediksi hasil pemilukada di sejumlah daerah. Namun hanya beberapa gelintir saja lembaga survey yang bisa dipercaya keakuratannya. Terutama hasilnya mendekati sama persis dengan hasil penghitungan KPU.
Bagaimana dengan kaakuratan LSI Deny JA, LSI Saiful Mujani. "Dua LSI tersebut sudah berpengalaman dalam berbagai pemilukada, bahkan hasilnya mendekati keakuratan," kata Direktur Eksekutif Pusat Pelatihan dan Pengkajian Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik (P3ISIP) Universitas Indonesia, Dwi Urip Premono.
Menurut Dwi, sekarang ini banyak orang latah mendirikan lembaga survey, padahal sekali saja lembaga tersebut salah dalam mengumumkan quick count maka tidak akan dipercaya. "Apalagi lembaga trsebut tidak independen, maka sulit publik untuk memprcyai'

Sumber: Dendi's Bulettin
Fikr no está en línea  
Old September 7th, 2008, 09:15 AM   #424
Fikr
fikr
 
Fikr's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Plg, Jmb, Jkt, Pku, Mdn
Posts: 3,291
Likes (Received): 16

Alex-Eddy Makin Tak Terbendung
Message: Walaupun KPU belum sampai tahap penetapan pemenang pilgub Sumsel, pasangan cagub nomor 1, Alex Noerdin-Eddy Yusuf sudah makin tak terbendung. Dari rekap perolehan suara di 15 kota kabupaten, Alex-Eddy mengalahkan pasangan Syahrial-Helmy (Sohe).
Pasangan H Alex Noerdin-H Eddy Yusuf (Aldy) dipastikan memenangkan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Sumsel. Perolehan suara menunjukkan grafik yang terus meningkat dibanding pasangan Sohe.
Rekap sementara dari penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan panitia pemilihan kecamatan (PPK), di 15 kabupaten/kota hingga pukul 21.00, Jumat (5/9), Alex-Eddy menang di delapan kabupaten/kota.
Alex-Eddy menang di Banyuasin, Muaraenim, Musi Banyuasin (Muba), Musirawas (Mura), Empat Lawang, Pagaralam, Lahat, dan OKU Selatan. Sementara Sohe unggul di tujuh kabupaten/kota yaitu Palembang, OKI, OI, OKU Timur, OKU, Lubuklinggau, dan Prabumulih.
Kantung suara yang paling mendongkrak perolehan Aldy yaitu Muba. Sebelas kecamatan yang ada, disapu bersih Aldy. Hasil rekapitulasi PPK ke KPU Muba, Kamis (4/9), Aldy meraup sekitar 202.397 suara, 79,53% unggul dibanding Sohe yang memperoleh 52.090 suara atau 20,47%.
Sedangkan kantung suara yang mendongkrak Sohe yaitu daerah OKU Timur (OKUT), meraih 223.625 suara atau sekitar 67% unggul dibanding Aldy yang meraih 111.558 suara atau 33%. Dari 20 kecamatan yang ada, 19 kecamatan dimenangkan Sohe. Hanya satu kecamatan yaitu Kecamatan BP Bangsa Raja yang berhasil disapu Aldy.
Meskipun demikian Aldy tetap memimpin perolehan suara secara keseluruhan di 15 kabupaten dan kota di Sumsel. Karena kekalahan di tujuh kabupaten/kota mampu ditutupi oleh delapan kabupaten dan kota yang dimenangkannya.
Kemenangan Di Banyuasin, contohnya pasangan Aldy meraih total suara 188.229 suara (51,17%) dan Sohe 179.603 (48,83%). Sementara di Muaraenim yang notabenenya basis PDI-P, partai pendukung Sohe, pasangan Aldy yang didukung Partai Golkar, PBB, PAN, PBR, PNBK, dan Partai Demokrat meraup 182.700 suara atau 54,25 persen, sementara rivalnya 154.117 suara atau 45,75 persen.
Di Lahat, hasil rekapitulasi seluruh PPK posisi Aldy masih tetap unggul dengan perolehan suara 10.5231 atau 56,26 persen, sedangkan Sohe hanya meraih 81.388 suara atau 43.74 persen.
Sementara di Kabupaten Empat Lawang juga tidah jauh berbeda, hasil penghitungan suara di tingkat PPK, Jumat, pasangan Aldy memimpin dengan perolehan suara sebesar 78.523 dan untuk pasangan Sohe 23.418
Kemenangan Aldy terlihat juga di Kota Pagaralam. Sebagaimana hasil penghitungan pada tingkat PPK di lima kecamatan di Pagaralam, pasangan Aldy tetap unggul. Sementara pasangan Sohe makin terpuruk.
Adapun rincian hasil perhitungan pada tingkat PPK di lima kecamatan se-Kota Pagaralam adalah Kecamatan Pagaralam Selatan Aldy berhasil meraup 15.065 suara atau 65,35 %, sedangkan Sohe hanya memperoleh 7.988 suara atau 34,65 persen.
Di Kecamatan Dempo Selatan Aldy meraup 3.703 suara atau 56,42 %, Sohe 2.860 suara atau 43,58%, Kecamatan Pagaralam Utara dan Dempo Tengah Aldy meraih 3.951 suara atau 55,56%, sementara Sohe 3.160 suara atau 44,44 %.
Dan, Kecamatan Pagaralam Utara, pasangan Aldy meraih 11,857 suara atau 64,01 %, sedangkan Sohe hanya berhasil meraih 6.668 suara atau 35,99 % suara.
Untuk Mura, berdasarklan hasil penghitungan cepat desk pemilukada Pemkab Mura, pasangan Aldy tetap unggul dengan raihan 121.116 suara. Sedangkan pasangan Sohe meraup suara 112.813 suara.Raihan angka bombastis didapatkan Aldy di Kecamatan Muara Lakitan dan Karang Jaya. Dua kecamatan ini saja sudah menyumbang 17.918 suara. Dari perhitungan sementara sampai kemarin, secara keseluruhan di 15 kabupaten/kota Aldy menang sekitar 51,37 persen dan Sohe 48,63%.

sumber: Dendi's bulettin

Last edited by Fikr; September 7th, 2008 at 09:20 AM.
Fikr no está en línea  
Old September 7th, 2008, 12:29 PM   #425
paradyto
entendre privilege
 
paradyto's Avatar
 
Join Date: Aug 2005
Location: 雅加达 - 巨港
Posts: 29,398

Lihat hasilnya saja deh

Quick counts confuse S. Sumatra voters
Khairul Saleh , The Jakarta Post , Palembang | Mon, 09/08/2008 10:56 AM | Headlines

South Sumatrans have been left confused by different quick count results, with each institution claiming victory for its own candidate and the public having limited access to reliable information.

A full-page advertisement in the local print media congratulated the team of Syahrial Oesman and Helmi Yahya (SOHE) for winning 51.11 percent of votes over Alex Noerdin and Eddy Yusuf (ALDY), with only 49.13 percent of votes.

The advertisement was quoting the quick count result from the Policy and Strategic Development Research Center (Puskaptis), SOHE's campaign adviser.

Another one-page, full-color advertisement printed the quick count results from the Indonesian Survey Institute (LSI) and the Indonesian Survey Circle, which both claimed the victory of ALDY over SOHE.

ALDY, according to the advertisement, won 51.22 percent of votes, while SOHE won only 48.78 percent of votes.

The conflicting claims had members of the public turning to whatever information sources were available in an attempt to work out what was really going on with the tallies.

Newspaper vendor Hamdani in Palembang said his 30 copies of newspapers had sold out quickly everyday since the election on Thursday.

"Most of my customers buy the papers for the count results," said the 24-year-old, adding that whatever paper he had for sale always sold out.

"I really wonder about who has exactly won the election. Is it Alex Noerdin or Syahrial Oesman? All have claimed victory," a confused Ujang, 36, of KM 5, Palembang, said Sunday.

Meanwhile, congratulatory bouquets to celebrate victory have been arriving at the residences of both Syahrial and Alex since Thursday evening.

In response to the conflicting counts, Alex asked his constituents to stay calm while waiting for the South Sumatra Regional Election Committee's (KPUD) official tally. He also reminded his supporters not to parade on the streets.

"It's really unnecessary," Alex said.

The KPUD plans to accelerate the central vote recount, moving it forward from its previously scheduled date of September 12-16 to September 8-12. It thus hopes to be able to announce the final election result this Friday.

"We have faxed the letter to the 15 regency/municipal KPUD offices across South Sumatra regarding the accelerated vote counting," Helmi Ibrahim of the South Sumatra KPUD legal division said.
__________________
welcome you participants the 7th meeting of IMT-GT working group on agriculture agro-based industry & environment 2014
The Green & Cleanest Metropolitan (since 2007) Sumsel Gemilang 雅加达 - 巨港 Jakabaring Sport City
ASEAN University Games 2014 Palembang Emas 2018

Last edited by paradyto; September 8th, 2008 at 02:57 PM.
paradyto no está en línea  
Old September 9th, 2008, 11:53 AM   #426
Fikr
fikr
 
Fikr's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Plg, Jmb, Jkt, Pku, Mdn
Posts: 3,291
Likes (Received): 16







Siap Menang dan Tidak Siap Kalah
Fikr no está en línea  
Old September 9th, 2008, 11:56 AM   #427
Fikr
fikr
 
Fikr's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Plg, Jmb, Jkt, Pku, Mdn
Posts: 3,291
Likes (Received): 16

Hari ini tindak kekerasan mulai menodai citra Pilkada Sumsel yang telah berlangsung damai sejak masa awal tahapan hingga masa perhitungan suara lalu. Bahkan tekanan massa yang mulai brutal telah mampu memaksa KPU Sumsel yang dikawal ketat polisi untuk bersikap lemah dan menurut. Akibatnya pengumuman rakapitulasi hasil Pilgub Sumsel oleh KPUD Sumsel yang dijadwalkan hari ini terpaksa ditunda. KPUD memutuskan pengumuman akan dilakukan pada 14 September 2008 sesuai jadwal semula.

Padahal, penundaan tersebut sama sekali tidak akan merubah hasil apapun dari perolehan suara yang sudah dicapai kedua pasangan, namun justru akan menambah panjang peluang terjadinya konflik yang dilakukan massa pendukung Sohe.

“Seharusnya KPUD tetap menuntaskan rekapitulasi dan mengumumkannya hari ini dan jangan takut pada tekanan”, ungkap Imam warga Palembang yang sejak pagi telah menanti putusan KPUD tentang siapa yang jadi pemenang secara resmi.

Sebab, sekalipun diundur toh tidak akan mengubah hasil yang sudah ada. Selain itu tuntutan pihak Sohe sebelum diumumkannya hasil akhir merupakan tindakan yang berlebihan. “Kan belum tahu siapa yang menangnya, kenapa mesti ribut duluan”, ungkap Imam.

Dengan dilakukan penundaan berarti akan semakin memberikan kesempatan bagi massa Sohe untuk terus melakukan tekanan dengan pengerahan massa yang semakin besar dan brutal lagi.

“Walau pengumuman ditunda jadi tanggal 14, tetap saja pihak Sohe akan kembali melakukan demo dan tekanan massa pada saatnya nanti”, ujar warga tersebut. Tetapi yang harus dilakukan adalah sikap tegas dari KPU dan jaminan dari polisi sehingga pengumuman hasil rekapitulasi tidak diundur kembali.

“Jangan jadi penakut. KPUD harus tegas agar Pilgub bisa berjalan sesuai tahapan”, ungkapnya lagi.

Pendukung Aldy Tetap Tenang

Kendati pihak Sohe terus-menerus melakukan manuver untuk menggagalkan hasil akhir Pilgub Sumatera Selatan, namun pihak pendukung Aldy tetap memilih diam dan tidak terpancing dengan manuver lawan. Justru pihak Aldy memilih menyerahkan sepenuhnya segala keputusan kepada KPUD Sumsel sebagai lembaga otoritas Pilgub yang adil dan profesional.

“Memang, penundaan ini jelas sangat merugikan, tetapi kita tetap patuh dengan keputusan KPUD Sumsel dan sabar menunggu sesuai tahapan dan jadwal yang telah ditetapkan”, ujar Ketua Timses Aldy kepada wartawan.

Tuntutan Sohe Tak Masuk Akal

Selain meminta pengumuman hasil rekap KPUD Sumsel ditunda, masa pendukung Sohe juga meminta Pilgub di wilayah Muba diulang kembali karena mereka menduga terjadinya penggelembungan suara. Tuntutan ini jelas merupakan tuntutan yang mengada-ada.

Pihak KPUD Muba sebagai penyelenggara Pilgub di wilayah Muba dengan tegas menolak tuduhan kubu Sohe yang tidak memiliki dasar sama sekali.

“Tidak mungkin terjadi apa yang dituduhkan itu karena semua tahapan sudah sangat ketat diawasi. Bahkan polisi pun ikut melakukan penghitungan”, ujar seorang pengurus KPU Muba menegaskan.

Sedangkan Cik Kawairus, seorang warga Lais, Muba, menegaskan bahwa tuduhan penggelembungan suara adalah tuduhan yang tak masuk akal.

“Justru perolehan suara 75 persen untuk Aldy adalah sangat kecil bagi warga Muba karena targetnya harus minimal 90 persen mengingat warga Muba sangat loyal dengan Alex Noerdin”, ujarnya. Kalau sampai dilakukan pemilihan ulang bisa-bisa Aldy malah memperoleh 90 persen lebih, tambah pria tersebut.

Kini warga Sumsel kembali harus bersabar menunggu keputusan KPUD hingga 14 September mendatang. Tetapi mereka berharap jika KPUD mampu bersikap tegas dan tidak lagi menunda mengikuti keinginan pihak Sohe yang telah merasa kalah sendiri.

“Yang menang dan yang kalah saja belum diputuskan, kok kenapa pihak Sohe sudah kebakaran jenggot? Seharusnya umumkan dulu siapa pemenangnya, barulah yang kalah bisa bereaksi dengan melakukan gugatan ke Pengadilan sebagai langkah yang profesional”, ujar Sutarjo warga perumnas.

“Ini namanya Sohe telah mengingkari kesepakatan Siap Kalah Siap Menang yang telah ia tanda-tangani sendiri”, ujar Surtarjo lagi.

Ya, kita tunggu saja.

Sumber: Sumsel Word Press
Fikr no está en línea  
Old September 9th, 2008, 12:23 PM   #428
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Balaputradewa's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: PALEMBANG
Posts: 7,365
Likes (Received): 889

Pengumuman Pilkada Sumsel 9 September 2008

Palembang - Tim pemenangan pasangan Syahrial Oesman dan Helmy Yahya (Sohe) menolak tindakan KPUD Sumsel yang akan mempercepat pengumuman rekapitulasi hasil penghitungan suara pada Selasa, 9 September 2008. Berdasarkan jadwal, pengumuman seharusnya dilakukan 14 September 2008.

"Sesuai jadwal semula tanggal 14 September 2008. Namun entah apa sedang dikejar harimau sehingga KPUD mempercepat menjadi tanggal 9 September pukul 08.00 WIB pagi. Padahal tidak ada sesuatu yang penting atau bersifat darurat. Ada apa denganmu KPUD Sumsel?" kata Ketua Tim Sukses Sohe, Ibnu Hajjar Dewantara, saat menggelar jumpa pers di Posko Tim Sohe, Bukitbesar, Palembang, Senin (08/09/2008).
---------
Nah loh katanya udah diumumin ari ni. Ada infonya??
Balaputradewa no está en línea  
Old September 9th, 2008, 02:04 PM   #429
paradyto
entendre privilege
 
paradyto's Avatar
 
Join Date: Aug 2005
Location: 雅加达 - 巨港
Posts: 29,398

Wah, ketakutan Amzulian bisa saja terjadi neh...
__________________
welcome you participants the 7th meeting of IMT-GT working group on agriculture agro-based industry & environment 2014
The Green & Cleanest Metropolitan (since 2007) Sumsel Gemilang 雅加达 - 巨港 Jakabaring Sport City
ASEAN University Games 2014 Palembang Emas 2018
paradyto no está en línea  
Old September 10th, 2008, 05:10 AM   #430
Fikr
fikr
 
Fikr's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Plg, Jmb, Jkt, Pku, Mdn
Posts: 3,291
Likes (Received): 16

Quote:
Originally Posted by Balaputradewa View Post
Pengumuman Pilkada Sumsel 9 September 2008

Palembang - Tim pemenangan pasangan Syahrial Oesman dan Helmy Yahya (Sohe) menolak tindakan KPUD Sumsel yang akan mempercepat pengumuman rekapitulasi hasil penghitungan suara pada Selasa, 9 September 2008. Berdasarkan jadwal, pengumuman seharusnya dilakukan 14 September 2008.

"Sesuai jadwal semula tanggal 14 September 2008. Namun entah apa sedang dikejar harimau sehingga KPUD mempercepat menjadi tanggal 9 September pukul 08.00 WIB pagi. Padahal tidak ada sesuatu yang penting atau bersifat darurat. Ada apa denganmu KPUD Sumsel?" kata Ketua Tim Sukses Sohe, Ibnu Hajjar Dewantara, saat menggelar jumpa pers di Posko Tim Sohe, Bukitbesar, Palembang, Senin (08/09/2008).
---------
Nah loh katanya udah diumumin ari ni. Ada infonya??

kalo seandainya hasil survei PUSKAPTIS jadi pegangan Tim SOHE justru tanggal 9/9/2008 bisa dikatakan hari kemengan Kubu ini.

Jadi KPU berbalik nanya Ada Apa dengan SOHE?

seandainya diumumkan tanggal 9 ataupun tanggal 14 tidak akan merubah apapun.
kecuali ada konspirasi lain
Fikr no está en línea  
Old September 11th, 2008, 06:23 AM   #431
Fikr
fikr
 
Fikr's Avatar
 
Join Date: Jun 2006
Location: Plg, Jmb, Jkt, Pku, Mdn
Posts: 3,291
Likes (Received): 16

Finally

Kamis, 11 September 2008 | 10:04 WIB
Laporan wartawan Kompas Bonivasius Dwi P

PALEMBANG, KAMIS - Komisi Pemilihan Umum Sumsel akhirnya selesai melakukan rapat pleno terbuka penghitungan suara Pilkada Gubernur Sumsel, Kamis (11/9) menjelang siang ini.

Hasilnya, Alex Noerdin memenangi Pilkada Sumsel dengan meraih total suara 1.866.390 suara, sedangkan Syahrial Oesman meraih 1.764.373 suara.

Dengan demikian, Alex Noerdin dan Eddy Yusuf tinggal menunggu penetapan resmi dan pelantikan sebagai gubernur-wakil gubernur Sumatera Selatan 2008-2013. Namun, situasi sidang pleno ini masih sangat tegang karena saat ini ribuan massa Syahrial Oesman-Helmy Yahya sedang mengepung Kantor KPU Sumsel.

Sidang pleno ini dijaga 2.500 personel polisi dari jajaran gabungan Polda Sumsel. Berikut hasil detil Pilkada Sumsel, pasangan Aldy menang di Kabupaten Banyuasin, Muba, OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam, dan Empat Lawang. Sementara itu, pasangan Sohe menang di Kota Palembang, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, OKU Selatan, OKU Timur, dan Lubuk Linggau.

Persentase kemenangan belum dihitung oleh KPU Sumsel. Suara tidak sah mencapai 73.828 suara, sedangkan total pemilih di Sumsel mencapai 3.630.763 orang. (ONI)
Fikr no está en línea  
Old September 11th, 2008, 11:23 AM   #432
sindrom
Registered User
 
sindrom's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: Jakarta
Posts: 74
Likes (Received): 0

I miss my birth place...muda-mudahan kedepan nya akan lebih Maju lagi.

GO sumsel !!!
__________________
dumb if you 're read this !
sindrom no está en línea  
Old September 11th, 2008, 11:37 AM   #433
paradyto
entendre privilege
 
paradyto's Avatar
 
Join Date: Aug 2005
Location: 雅加达 - 巨港
Posts: 29,398

Selamat Buat Alex Noerdin !!!
__________________
welcome you participants the 7th meeting of IMT-GT working group on agriculture agro-based industry & environment 2014
The Green & Cleanest Metropolitan (since 2007) Sumsel Gemilang 雅加达 - 巨港 Jakabaring Sport City
ASEAN University Games 2014 Palembang Emas 2018
paradyto no está en línea  
Old September 11th, 2008, 11:46 AM   #434
paradyto
entendre privilege
 
paradyto's Avatar
 
Join Date: Aug 2005
Location: 雅加达 - 巨港
Posts: 29,398

He he he kok jadi perang pendukung SOHE dengan Polisi ya?

Kerahkan Tim Tindak-Sniper



PALEMBANG - Rapat pleno rekapitulasi perhitungan suara penetapan hasil pemilukada gubernur dan wakil gubernur Sumsel periode 2008-2013, pukul 10.00 WIB, hari ini (11/9), dipastikan mendapat pengamanan superketat dari aparat kepolisian dan TNI. Sedikitnya, 2.300 personel bakal dikerahkan menjaga sejumlah titik yang dianggap rawan.Pemandangan ketatnya penjagaan terlihat saat show of force (unjuk kekuatan) aparat keamanan dalam apel besar di halaman Mapoltabes Palembang yang diteruskan dengan konvoi besar-besaran di sejumlah jalan protokol, kemarin (10/9). “Kami ingin masyarakat tahu kalau kita siap mengamankan jalannya pleno. Mereka tidak perlu khawatir dengan kondisi keamanan. Kali ini, kami tidak main-main lagi dalam menangani pengunjuk rasa. Kalau ada yang berani anarkis seperti kemarin (9 September) akan ditindak tegas. Yang jelas, perhitungan suara di KPUD besok (hari ini, red) kita jamin berjalan lancar,” kata Kapoltabes Palembang Kombes Pol Drs Lucky Hermawan usai memimpin Apel Kesiapan Pengamanan Pleno KPUD yang diikuti ribuan personel, kemarin.Menurut Kapoltabes, sekitar 2.300 personel yang dikerahkan berasal dari Polres Ogan Ilir (OI), Ogan Komering Ilir (OKI), dan Banyuasin masing-masing 60 personel. Kemudian, 760 personel Poltabes Palembang, ditambah aparat dari berbagai satuan. Kodim 0418 Palembang 500 personel dan sisanya Polda Sumsel.Pengamanan KPUD Sumsel, lanjut Kapoltabes, ada dua setting. Pertama, jelang Pleno KPUD, dimana pengamanan dilakukan mulai Rabu malam (10/9) sejak pukul 19.00 WIB. Setting kedua, saat rapat pleno penghitungan suara pukul 08.00 WIB. Khusus pengamanan jelang pleno, hanya melibatkan 125 personel. Antara lain, 30 personel dari Polres OI dan Banyuasin. Ditambah 15 personel dari Polres OI plus 20 personel dari Pleton Kerangka Poltabes Palembang. Juga di-back up Brimob Polda Sumsel sebanyak dua SST dan dari Polda Sumsel satu SST. Mereka ini stand by menjaga gedung KPUD Sumsel.
“Kepolisian betul-betul all out. Hampir seluruh kekuatan dikerahkan untuk menjaga jalannya Pleno KPUD,” tegas Kapoltabes lagi.

Tak hanya personel. Jajaran Poltabes juga mengerahkan sejumlah kendaraan seperti truk dalmas, dua buah tank water canon, dan beberapa kendaraan tahanan yang siap siaga untuk menampung sekaligus mengamankan para perusuh. Ada juga helikopter yang memantau situasi dari udara dan sebagai transportasi darurat.

Personel TNI sendiri, rencananya mengawal objek vital. Di antaranya, sepanjang jalan protokol yang dijejeri berbagai pertokoan, PLN, gedung perkantoran, DPRD, bank-bank, Pasar 16 Ilir, Pasar Retail Jakabaring, rumah sakit, mal-mal, pertamina, dan Mapoltabes sendiri.

Yang menarik dari berbagai setting yang disiapkan oleh aparat adalah keberadaan 100 tim tindak. Menurut Kapoltabes, tim yang tidak diketahui tempatnya ini khusus mengamankan para provokator dan perusuh. “Tim tindak bertugas memecah konsentrasi massa. Seandainya rusuh, begitu komandannya diamankan, kita harap konsentrasi massa buyar dan dapat membubarkan diri. Kita juga menyebar para sniper,” bebernya.

Terpisah, Dandim 0418 Palembang Letkol Inf Yuswandi menegaskan keterlibatan TNI sebatas permintaan dari pihak kepolisian. “Kita hanya menjalankan prosedur yang sudah dirancang oleh kepolisian,” ujarnya.
Sebetulnya, lanjut Yuswandi, aparat kepolisian mampu mengatasi situasi yang ada. Hanya saja, perhitungan terburuk tetap digunakan, sehingga pengamanan dilakukan dengan kekuatan penuh. “Intinya, kita siap untuk semua kemungkinan yang terjadi. Kendalinya tetap pada kepolisian dan satu komando.”

Berbeda kalau kondisinya tidak dapat dikendalikan lagi. Kata Yuswandi, TNI dapat mengambil alih komandonya. “Tapi ‘kan sejauh ini situasi masih aman dan bisa dikendalikan. Oleh sebab itu, dalam prosedur dari kepolisian kita akan menjaga pusat-pusat perekonomian, perbankan, pasar-pasar dan gedung pemerintahan. Kalau KPUD cukup kepolisian.”

Sementara itu, Kapolda Sumsel Irjen Pol Drs Ito Sumardi DS menegaskan, pengamanan pleno KPUD Sumsel hari ini dilakukan secara represif. Pendek kata, kalau ada oknum yang berupaya menggagalkan atau melakukan kerusuhan, maka akan ditindak secara hukum. “Saya sekarang masih cek lapangan. Informasi yang masuk akan ada demo di empat titik, Panwaslu Sumsel, KPUD Jakabaring, Bundaran Air Mancur dan Polda Sumsel. Korlap (koordinator lapangan)-nya berjanji tidak anarkis, ya kita bersyukur. Dulur galo ‘kan,” ungkap Kapolda dihubungi pukul 22.00 WIB tadi malam.

Dikatakan, ia juga mendapat kabar ada organisasi dari Jakarta yang ikut demo ke Palembang. “Begini. Jangan sampai orang dari Jakarta dan daerah lain diadu dengan orang Palembang. Kalau sampai terjadi anarkis, tindakan hukum akan dilakukan. Kita sudah ada konpi tindak, sniper dan siap melakukan upaya pelumpuhan.”

Kata Kapolda, kalau ada orang yang membuat Palembang menjadi chaos (kacau), maka dia akan dianggap sebagai teroris. “Organisasi apapun yang berdiri di belakangnya akan saya kejar dan ditindak secara hukum. Sebab, tanggal 9 September itu, kita sudah sangat toleransi.”
Kapolda mengingatkan apa yang dilakukan oleh kepolisian adalah mengamankan amanat undang-undang tentang perhitungan suara pemilukada. “Jadi, semua pihak harus bisa menerima apapun hasil keputusan KPUD. Kalau tidak puas, silakan tempuh jalur hukum. Jangan mengacau Kota Palembang yang sudah kondusif,” tandasnya.

Korban Bentrok Melapor

Sebelumnya, sekitar pukul 14.00 WIB korban kerusuhan dari pihak kepolisian pada bentrok yang terjadi Selasa (9/9), kemarin melaporkan kasusnya ke Poltabes Palembang. Dalam kondisi masih dibalut perban Bripda Asril Lumatap (21) anggota Dit Polair Polda Sumsel, mengadukan penyerangnya Yunandi alias Miun (35) perusuh asal Kabupaten OKU Timur dengan nomor pengaduan LP: 2674-B/IX/2008/Tabes.

Kapoltabes menyatakan pihaknya akan segera memprosesnya. “Ini bukan terkait politik lagi, sudah pidana murni karena merupakan penganiayaan. Melapornya Asril guna membantu proses hukum. Tidak mungkin ‘kan kita proses kalau tidak ada korbannya. Kalau buktinya sudah ada, korban ada, tersangkanya ada, berikutnya saksi tentunya proses hukum atas kasus ini akan terus berlangsung,” tandas Kapoltabes.

Sejauh ini dari tiga tersangka yang diamankan hanya satu yang ditahan, yakni Yunandi alias Miun. Sedangkan, dua rekannya Syaiful dilepas karena sebatas tukang ojek yang kebetulan lewat. Lalu, Ridho hanya ikut-ikutan demo dan dibayar Rp20 ribu.

Bambang Hariyanto, tim advokasi Sohe sempat mendatangi Poltabes Palembang. “Kita menjenguk tiga orang yang diamankan Poltabes. Kalau bisa kita usahakan untuk dilepas, tapi kemungkinan hanya dua yang dilepas sedang yang satunya ditahan,” pungkas Bambang.(mg18)
__________________
welcome you participants the 7th meeting of IMT-GT working group on agriculture agro-based industry & environment 2014
The Green & Cleanest Metropolitan (since 2007) Sumsel Gemilang 雅加达 - 巨港 Jakabaring Sport City
ASEAN University Games 2014 Palembang Emas 2018
paradyto no está en línea  
Old September 12th, 2008, 06:14 AM   #435
paradyto
entendre privilege
 
paradyto's Avatar
 
Join Date: Aug 2005
Location: 雅加达 - 巨港
Posts: 29,398

Rp1 Miliar Disiapkan Untuk Pelantikan Gubernur Terpilih

Friday, 12 September 2008

PALEMBANG – Setidaknya anggran Rp1 Miliar (M) telah dialokasikan DPRD Sumsel untuk melantik Gubernur sumsel dan wakil gubernur Sumsel terpilih. Sesuai tahapan pemilukada Sumsel yang ditetepkan Komisi Pemilihan Umum Sumsel pelantikan tersebut direncanakan digelar pada 7 November mendatang.
Wakil Ketua DPRD Sumsel Elianuddin HB mengungkapkan, DPRD telah mengalokasikan dana sebesar Rp1 M, dari anggaran pergeseran dalam APBD Perubahan 2008. Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan segala kelengkapan, konsumsi, maupun akomodasi penyelenggaraan upacara pelantikan gubernur-wakil gubernur terpilih Sumsel periode 2008-2013 yang berdasarkan ketetapan pleno KPUD Sumsel kemarin, dimenangkan pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf (ALDY).

“Kemarin kita alokasikan dana sebesar Rp1 M, untuk pelantikan gubernur-wakil gubernur Sumsel periode 2008-2013 terpilih, sesuai jadwal pelantikan dilakukan 7 November, nanti,” ujar Elianuddin di ruang kerjanya, kemarin (11/9).
Menurut Ellianuddin, pelantikan yang rencananya langsung dilakukan Mendagri. Elianuddin mengatakan dalam prosesi itu diundang sejumlah gubernur provinsi lain, selain anggota DPR dari daerah pemilihan (dapil) Sumsel, anggota DPD, dan sejumlah pejabat penting negara lainnya.

“Pakaian yang dikenakan anggota DPRD Sumsel yang semula diajukan Sekretariat Dewan (Sekwan) berupa pakaian adat Sumsel, menurut Elianuddin, batal dialokasikan, sehingga jelas dia dewan nantinya akan mengenakan pakaian sipil lengkap (PSL),” katanya.

Sebagaimana diketahui dalam pembahasan pengajuan APBD 2008 lalu, terdapat tiga item pengajuan anggaran dari Sekwan yang ditolak Komisi I DPRD Sumsel termasuk salah satunya pengajuan pakaian adat baru bagi 65 anggota dewan untuk pelantikan gubernur-wakil gubernur periode 2008-2013 terpilih yang menelan dana Rp541.500 juta.

Ketuanya Komisi I DPRD Sumsel, Muslimi BIE saat itu berpendapat lain, Muslimi, menilai anggaran pembelian pakaian adat bagi anggota DPRD Sumsel untuk pelantikan Gubernur Sumsel bukan hal yang mensesak sehingga belum perlu.
Alasannya saat ini anggota dewan masih memiliki baju adat yang pernah digunakan bagi pelantikan gubernur Sumsel periode sebelumnya, 2003-2008 silam, dan pakaian tersebut, menurut dia, hanya dipakai satu kali sehingga, saat ini rasanya masih layak, digunakan. ”Kenapa tidak itu saja, yang dipakai. Jadi anggaran pembelian pakaian adat itu, kita tunda,” tegas Muslimi.

Selain itu DPRD Sumsel, belum lama ini juga sempat menolak usulan anggaran tambahan untuk resepsi pelantikan gubernur terpilih, nantinya. Ketua DPRD Sumsel Zamzami Achmad mengatakan, penyelenggaraan pelantikan gubernur terpilih merupakan tanggung jawab dan kewenangan DPRD Sumsel, sehingga bukan menjadi alasan dari pihak pemprov untuk mengajukan anggaran tambahan pelantikan gubernur.

“Pelantikan gubernur itu urusan Dewan dan dilakukan di gedung DPRD,”kata Zamzami di DPRD Sumsel.

Penolakan tersebut, kata dia, lantaran di dalam mata anggaran tambahan tersebut dianggarkan biaya ucapan selamat kepada gubernur terpilih yang menurut dia, sebenarnya, tak layak dianggarkan.

“Pada dasarnya, siapa pun yang menyampaikan ucapan selamat baik secara langsung maupun melalui media, kepada pasangan gubernur-wakil gubernur Sumsel terpilih nantinya, tentu yang bersangkutan sendirilh yang menanggung beban biayanya,” katanya.

Zamzami menambahkan, kebutuhan anggaran untuk resepsi di Griya Agung dengan mengundang berbagai pihak juga tidak memerlukan anggaran yang besar. Apalagi, mengingat pelantikan telah di lakukan di Gedung DPRD Sumsel.
__________________
welcome you participants the 7th meeting of IMT-GT working group on agriculture agro-based industry & environment 2014
The Green & Cleanest Metropolitan (since 2007) Sumsel Gemilang 雅加达 - 巨港 Jakabaring Sport City
ASEAN University Games 2014 Palembang Emas 2018
paradyto no está en línea  
Old September 12th, 2008, 10:27 AM   #436
sindrom
Registered User
 
sindrom's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: Jakarta
Posts: 74
Likes (Received): 0

Awasss Provokator..!!!

Kelanjutan berita dari kerusuhan pilkada Gubernur ....

PALEMBANG
Massa Sohe Kepung Tiga KPUD
Friday, 12 September 2008






Kapoltabes Nyaris Dilindas, Tiga Provokator Diamankan


Gelombang protes pendukung pasangan Syahrial Oesman-Helmy Yahya (Sohe) berlanjut hingga pleno terbuka rekapitulasi suara Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel periode 2008-2013 di KPUD Sumsel, Jakabaring, kemarin (11/9). Dalam waktu hampir bersamaan, pendukung lainnya mendatangi kantor KPUD Prabumulih dan OKU Timur.Tuntutan yang disampaikan sama. Mereka minta pleno penetapan ditunda dan dilakukan pemilukada ulang di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) karena ada indikasi penggelembungan suara.Demo di KPUD Sumsel misalnya. Konsentrasi massa pertama ada di jalur masuk dari arah Pasar Induk Jakabaring pukul 08.30 WIB. Saat itu, ratusan pendukung Sohe mencoba masuk ke gedung KPUD, namun mereka terhalang kawat berduri dan pasukan anti huru-hara berpakaian lengkap.Kelompok ini mencoba mendobrak pintu samping KPUD, namun tidak berhasil. Mereka kemudian bergabung dengan massa lain di jalur pintu utama masuk gedung KPUD Sumsel.


Aparat kepolisian yang menerjunkan 2.300 personel meningkatkan eskalasi keamanan. Ini ditandai dengan bunyi sirene yang meraung-raung dari helikopter yang memberi tanda seluruh personel untuk bersiap.
Seolah tidak takut dengan pengamanan berlapis, sembari meneriakkan tuntutan pemilukada ulang di Muba, massa terus meringsek hingga mendekati pintu masuk jalur sebelah kiri kantor KPUD.
Bahkan, massa yang berasal dari perwakilan paguyuban dan partai politik pendukung pasangan Sohe nekat mendobrak barikade kawat berduri yang dipasang dengan sebuah truk Mercedes Benz BG 1964 AH berukuran besar layaknya mobil panser.
Kapoltabes Palembang Kombes Pol Drs Lucky Hermawan mencoba menghadang laju mobil tersebut. Ia berdiri persis di balik barikade dan hampir saja terlindas. Untung, ajudannya buru-buru mendorong tubuh Kapoltabes.
Tim tindak gabungan Poltabes dan Polda Sumsel langsung bergerak. Mereka mengejar orang-orang yang berada di dalam mobil tersebut, termasuk provokator massa.
Dibantu dengan tembakan dari water canon, puluhan anggota tim tindak mengejar para demonstran dan orang yang berada dalam mobil. Sempat terjadi baku hantam dan saling lempar.
Seorang pendemo yang belakangan diketahui bernama Panji menjadi bulan-bulanan aparat. Petugas juga mengamankan tiga orang, satu di antaranya berada di atas truk Marcedes, dua lainnya diduga provokator.
Ketiganya adalah Gerbana Setiawan (39), warga Jl Balayudha No 6210, RT 16, Kel Ario Kemuning, Palembang, yang mengaku sebagai wakil ketua DPK PKPI Palembang; Otong (34), warga Jl Cempaka Dalam Gang Masjid, RT 18, RW 05, Kel 26 Ilir, Palembang. Dan terakhir adalah Panji Kresna Suharjo (33), warga Jl Teratai Puncak V BK 10, RT 5, RW 4, No 725 Desa Gumawang, Kab OKU Timur. Mereka diamankan di Poltabes Palembang.
“Kedatangan saya ke Palembang bersama ketua kami Edi Kumayanto. Ini hanya bentuk solidaritas dari partai pendukung Sohe,” ujar Gerbana, ayah tiga anak itu lugas.
Menurut Gerbana, saat kejadian dirinya mengelak dari tembakan water canon. “Ketika disemprot, saya lihat Panji diinjak-injak. Saya lantas menolong dan memisahkan, tapi malah ikut dibawa petugas.”
Panji, yang saat aksi begitu vokal tidak berani bicara banyak ketika berhadapan dengan aparat. ”Saya tidak dibayar sama sekali dalam demo ini. Sebatas solidaritas pada pasangan Sohe,” cetusnya.
Aksi demo mereda setelah tim kampanye Sohe, Ahmad Natar, Suparman Romans yang ingin mengajukan naskah tentang keberatan dilakukannya rapat pleno diterima oleh Sekretaris KPUD Sumsel Sayuti Hadim. Turut mendampingi Kapoltabes Palembang Kombes Pol Drs Lucky Hermawan. Para pengunjuk rasa sendiri akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 10.45 WIB.
Selain di kantor KPUD Sumsel, demo juga berlangsung di Polda Sumsel. Sekitar pukul 08.00 WIB, Forum Masyarakat Cinta Sumsel (FMCS) mendesak kepada Kapolda Sumsel untuk bertindak secara objektif, mengayomi dan menjaga kenetralan dalam proses Pemilukada Gubernur Sumsel.
Selain mengawal aksi, aparat keamanan juga menjaga ketat kantor Panwaslu, di Jl Jend A Yani, seputar Bundaran Air Mancur dan seluruh pusat perbelanjaan yang ada di Kota Palembang. Seharian kemarin, masyarakat tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa.
Sementara itu, sumber kepolisian menyebutkan truk Mercedes Benz bernopol BG 1964 AH buatan tahun 1960 dengan nomor rangka 4042529 dan nomor mesin 180943000364 tersebut setelah dicek di Samsat ternyata atas nama Syahrial Oesman. “Betul, mobil itu atas nama Pak Syahrial. Yang jelas, tiga orang yang ditangkap akan kita jerat dengan Pasal 160 dan 170 KUHP. Mereka sudah merusak barikade dan mencoba menabrak saya,” kata Kapoltabes Lucky, kesal.
Menurut Kapoltabes, pihaknya juga akan mengejar beberapa tersangka dalam kerusuhan tersebut. Termasuk, orang yang menyetir mobil karena sudah diketahui identitasnya. “Saya juga akan panggil pemilik mobilnya. Apakah dia tahu tentang penggunaan mobil tersebut dan juga siapa yang memerintahkannya,” kata Kapoltabes geram.
Bambang Heriyanto, kuasa hukum Syahrial Oesman ketika dikonfirmasi penggunaan truk atas nama kliennya mengaku tidak tahu tentang hal itu. ”Saya juga tidak tahu apakah itu memang mobil milik Pak Syahrial atau bukan. Saya juga tidak tahu apakah Pak Syahrial tahu tantang penggunaan mobil tersebut pada aksi demo yang dilakukan pendukungnya,” bebernya.
Yang jelas, kata Bambang, ia tidak dapat memastikan penggunaan mobil tersebut. “Itu juga kalau benar-benar pendukung kita yang gunakan,” pungkasnya.
Datangi KPUD Prabumulih dan OKUT
Di tempat terpisah, sekitar 50 orang, pukul 10.30 WIB, kemarin mendatangi kantor KPUD Prabumulih. Menurut koordinator aksi, Lutfianto, ada tiga tuntutan yang mereka sampaikan. Pertama, mengecam keras terjadinya penggelembungan suara di Kabupaten Muba. Kedua, menuntut pemilihan ulang Pemilukada Gubernur di Muba, dan ketiga minta aparat Polda Sumsel bersikap netral.
Usai membacakan pernyataan sikap, peserta aksi bubar dengan tertib. “Kita berkomitmen ikut menjaga dan menciptakan kondisi kondusif di Prabumulih. Kita akan berada di barisan paling depan untuk itu,” tegas Lutfianto.
Kabag Ops Polres Prabumulih, AKP Subandrio didampingi Kasat Intel, AKP Budiman mengatakan, untuk mengamankan jalannya aksi damai itu, pihaknya menyiapkan lebih kurang 50 orang anggota polisi berpakaian dinas dan sipil. “Seperti yang kita lihat, aksinya berjalan tertib dan tidak ada kerusuhan,” pungkasnya.
Tuntutan serupa juga disampaikan pendukung Sohe di Kabupaten OKU Timur. Sekitar pukul 11.00 WIB puluhan orang datang ke kantor KPUD OKU Timur.
Penjagaan ketat pun terlihat di sekitar kantor KPUD. Sejumlah personel polisi dan anggota Polisi Pamong Praja (Pol-PP) OKUT berjaga-jaga. Para perwira Polres OKUT tampak hadir, di antaranya Wakapolres OKUT Kompol P Harianja, Kasat Reskrim AKP Surachman, Kasat Intel AKP Sukarminto, Kasat Samapta Yuzar Haris, KBO Intel Iptu Ruslan, Kapolsek Martapura AKP M Adil dan Kepala Pol-PP OKUT Mulyanto SH. ”Kita lakukan pengamanan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk itu, kami terjunkan petugas,” ujar Kompol P Harianja.
Sutupo, koordinator aksi menegaskan kedatangan mereka merupakan bentuk aksi damai. “Saya akui jika KPUD OKUT dan Polres OKUT benar-benar netral dalam pemilukada ini. Perlu dicontoh daerah lain,” tukasnya. Aksi ini diterima oleh dua anggota KPUD OKUT, Hamdi SAg dan Eko Purniawan SPdI.


Menurut saya emang sudah seharusnya diganti supaya ada Pembahruan juga buat provinsi Sumsel...
__________________
dumb if you 're read this !

Last edited by sindrom; September 12th, 2008 at 10:35 AM.
sindrom no está en línea  
Old September 12th, 2008, 10:44 AM   #437
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Balaputradewa's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: PALEMBANG
Posts: 7,365
Likes (Received): 889

Waduh, memalukan bangetz. Wong dia yang mencanangkan Visit Musi, lah dia pula yang memadamkannya melalui aksi2 para pendukungnya. Ibarat lagu dangdut 'Kau yang mulaii, kau yang mengakhrii..(lupa lanjutannya)'
Kalo begini terus, bisa2 beberapa bulan kedepan Sumsel dikalungi travel warning. Alhasil tamat sudah angan2 Visit Musi 2008 yg konon belum mencapai klimaksnya
Balaputradewa no está en línea  
Old September 12th, 2008, 12:52 PM   #438
KISSYBITES
Registered User
 
KISSYBITES's Avatar
 
Join Date: Oct 2007
Posts: 40
Likes (Received): 0

Disatu sisi saya seneng bgt ALDY terpilih, tp disisi yg lain gimana ya nanti
hubungan antara ALDY(Alex khususnya) dengan Edy Santana?
secara kayaknya mereka berseberangan tuh...
KISSYBITES no está en línea  
Old September 14th, 2008, 08:42 AM   #439
magali
Registered User
 
Join Date: Nov 2007
Location: surabaya
Posts: 1,156
Likes (Received): 10

Quote:
Originally Posted by KISSYBITES View Post
Disatu sisi saya seneng bgt ALDY terpilih, tp disisi yg lain gimana ya nanti
hubungan antara ALDY(Alex khususnya) dengan Edy Santana?
secara kayaknya mereka berseberangan tuh...
------------
seharusnya tidak ada masalah, karna cakupan wewenangnya berbeda cuma mungkin ada semacam resistensi sementara sifatnya.

pilkada di sumsel sudah 2 kali incumbent kalah, saya lebih setuju sebaikanya kepala daerah "cuma" satu periode saja menjabat. dengan cuma satu periode, mereka masih punya ambisi untuk membangun dan membuat prestasi selama masa jabatannnya. kalau sudah jabatan untuk periode ke dua ditakutkan yang ada cuma mencari kekayaan saja

alex harus pegang janji, programnya tidak tercapai satu tahun harus turun
magali no está en línea  
Old September 16th, 2008, 01:54 PM   #440
magali
Registered User
 
Join Date: Nov 2007
Location: surabaya
Posts: 1,156
Likes (Received): 10

PALEMBANG – Kondisi jalan lintas timur (Jalintim) Provinsi Sumatera Selatan boleh dibilang 95 persen mulus. Kalaupun ada kerusakan seperti jalan berlubang, persentasenya sekitar 1 hingga 5 persen.Demikian diungkap Gubernur Sumsel, Prof dr H Mahyuddin NS SpOG (K), di sela-sela kunjungannya meninjau pasar tradisional dan Jalintim di OKI, kemarin (15/9). Salah satu kawasan yang ditinjau gubernur dan rombongan adalah kondisi jalan Pematang Panggang (Mesuji) OKI.“Saat ini, kondisi Jalintim lebih bagus dan mulus dari tahun-tahun sebelumnya. Persentase kerusakan 1-5 persen dari keseluruhan Jalintim di OKI,” kata Mahyuddin.Ia berharap arus balik Lebaran kendaraan bermotor melalui Jalintim berjalan lancar. “Dari Kota Palembang berangkat dan sampai ke Kecamatan Mesuji yang berjarak sekitar 175 Km bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Ini saya bilang lancar,” katanya.Dalam rombongan tampak sejumlah Kepala Dinas (Kadis) Provinsi Sumsel. Di antaranya, Kadis Departemen Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Ir H Sarimuda MT, Kasat Polisi Pamong Praja (Pol PP) Asnawi HD, Kadisperindag Drs H Eppy Mirza. Ada Asisten II Ir Budi Raharjo dan sejumlah staf Pemprov Sumsel lainnya. Total rombongan sekitar 15 mobil.
magali no está en línea  
Closed Thread

Tags
palembang, south sumatra

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 05:54 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.8 Beta 1
Copyright ©2000 - 2014, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu