daily menu » rate the banner | guess the city | one on one

Go Back   SkyscraperCity > Asian Forums > Indonesia Skyscrapers Forum > The Nationwide Fabric > Politics, Economics, Tourism and Business


Reply

 
Thread Tools Display Modes
Old April 7th, 2011, 10:56 AM   #221
FoxUlisse
Registered User
 
Join Date: May 2007
Posts: 17
Likes (Received): 0

Siberut: Travel agencies at Padang (Sumatera)?

Hi, I study the culture of native peoples and I'd like to know Siberut. Do you know a trustworthy local guide in Siberut who can help me and come with me?
Otherwise do you know some email of travel agencies at Padang? I have just contacted 2-3 travel agencies and they have asked me much much money. I don't like them.
thanks, Fox
FoxUlisse no está en línea   Reply With Quote

Sponsored Links
 
Old August 10th, 2011, 09:46 AM   #222
Mimihitam
Pengguna Jelata
 
Mimihitam's Avatar
 
Join Date: Jun 2008
Location: Jakarta
Posts: 2,629
Likes (Received): 2

Batavia Madrigal Singers Berjaya di Spanyol
OLEH GLORIA SAMANTHA | 09-08-2011 | http://ngi.cc/nsr | BUDAYA

Batavia Madrigal Singers (BMS) menyabet gelar juara umum pada 57th Certamen Internacional de Habaneras y Polifonía de Torrevieja yang berlangsung 23-30 Juli lalu.

"Ini bukti bahwa Indonesia mampu beradaptasi dengan komunitas internasional, bahkan memiliki prestasi yang membanggakan," ujar Adiyatwidi Adiwoso Asmady, Duta Besar RI di Madrid. Menurut KBRI di Madrid, paduan suara yang berada di bawah pimpinan konduktor Avip Priatna baru kali pertama mengambil bagian dalam kompetisi ini dan langsung menyabet lima buah piala.

BMS mendapatkan 4 gelar yakni Konduktor Terbaik, Paduan Suara Terbaik di Kategori Habaneras dan Polifonia, Paduan Suara Terbaik untuk Menyanyikan Habaneras, serta Paduan Suara Terbaik untuk Interpretasi Habaneras. BMS juga terpilih sebagai Paduan Suara Favorit.

BMS bernyanyi secara solid, suara terukur, dengan konduktor Avip yang ekspresif mampu mengatur harmoni secara keseluruhan. Metro TV melaporkan, "Lagu Yamko Rambe Yamko yang disajikan dengan koreografi yang menarik oleh Paduan Suara Batavia Madrigal Singers berhasil tampil memukau publik Spanyol." Sang konduktor menyatakan, rasa bangga dan terharu bahwa BMS mendapat apresiasi yang tinggi. "Bukan saja bagi BMS tetapi juga bagi Indonesia," katanya.

Certamen Internacional de Habaneras y Polifonía de Torrevieja diikuti 18 paduan suara dari 14 negara di Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Tim juri terdiri dari empat juri Spanyol dan dua juri dari Jerman dan Korea Selatan.

http://nationalgeographic.co.id/liha...aya-di-spanyol
__________________
Si Tou Timou Tumou Tou
—Sam Ratulangi, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain, human live for the people
Mimihitam no está en línea   Reply With Quote
Old August 10th, 2011, 07:40 PM   #223
acoolguyfromnz
Registered User
 
Join Date: Oct 2010
Posts: 2,910
Likes (Received): 75

@Fox,

You should have network with local people as they do have knowledge about their community and could give you better deal.

This is also things that need to be fixed by local goverment so tourists could feel convinient to come at any time and have a feeling to do repeating business.
acoolguyfromnz no está en línea   Reply With Quote
Old August 11th, 2011, 10:33 AM   #224
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Balaputradewa's Avatar
 
Join Date: Jul 2008
Location: Palembang
Posts: 6,420
Likes (Received): 34

Quote:
Originally Posted by FoxUlisse View Post
Hi, I study the culture of native peoples and I'd like to know Siberut. Do you know a trustworthy local guide in Siberut who can help me and come with me?
Otherwise do you know some email of travel agencies at Padang? I have just contacted 2-3 travel agencies and they have asked me much much money. I don't like them.
thanks, Fox
Hi fox, nice to know your planning. I have one travel agent link to reach Mentawai, check this one Klik or you could contact my friend ardi in Padang who was visited Mentawai n has alot local networks there. Well maybe another way, you can try to come to Cultural and Tourism Department of Sumatra Barat Province for got helping or some directions to reach Mentawai with easy. I believe they will help you.
__________________
Sabbesatta Bhavantu Sukhitata: Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia !!
Balaputradewa no está en línea   Reply With Quote
Old August 19th, 2011, 01:25 PM   #225
Alinghi
Pulis Kalawakan
 
Alinghi's Avatar
 
Join Date: Mar 2010
Location: 6200
Posts: 18
Likes (Received): 2

Hello, Indonesian friends.. just a trivia, did you know that 33 million people from the central part of the Philippines are actually descendants of the extinct Sri Vijaya (Sriwijaya) Kingdom based in Palembang, Sumatra?
Alinghi no está en línea   Reply With Quote
Old August 19th, 2011, 01:50 PM   #226
eurico
Yes they are
 
Join Date: Nov 2006
Posts: 14,007
Likes (Received): 174

Quote:
Originally Posted by Alinghi View Post
Hello, Indonesian friends.. just a trivia, did you know that 33 million people from the central part of the Philippines are actually descendants of the extinct Sri Vijaya (Sriwijaya) Kingdom based in Palembang, Sumatra?
oh really?? I didn't know it before, could add your source of your information?
eurico no está en línea   Reply With Quote
Old August 19th, 2011, 02:04 PM   #227
Alinghi
Pulis Kalawakan
 
Alinghi's Avatar
 
Join Date: Mar 2010
Location: 6200
Posts: 18
Likes (Received): 2

Quote:
Originally Posted by eurico View Post
oh really?? I didn't know it before, could add your source of your information?
i am a history teacher, so no need for sources, hehehe

story goes: there were 10 Datu's or Rajah's from the Sri Vijaya Kingdom who fled to the Philippines after the collapse of their empire. These Datu's later on settled permanently in the central islands of the Philippines and brought with them Hindu-Muslim beliefs and practices and the Old Javanese Language (common language of the Philippines, Indonesia, and Malaysia before, progenitor of Bahasa)

These people called themselves as the "Bisaya" and later on became Filipinos, while some Bisayans settled in Sabah/Sarawak to become Malaysians, and some went back to Kalimantan, Sumatra, Sulawesi and Java to become Indonesians later on.

This is just one of the blood links of the Filipinos, Indonesians, and Malaysians. That's why we look like each other, eat the same kinds of food, and speak a common language (Melayu).

I am a proud Bisaya

Last edited by Alinghi; August 19th, 2011 at 02:10 PM.
Alinghi no está en línea   Reply With Quote
Old August 21st, 2011, 06:33 AM   #228
drie
Registered User
 
drie's Avatar
 
Join Date: Feb 2010
Location: R I A U
Posts: 14,205

Melongok Aktivitas di Kampung Meskom
Takkan Zapin Hilang di Bumi

http://www.riaupos.co.id/berita.php?...id=1893&kat=12




Tari zapin tradisi yang ditampilkan para bujang dan dara pada pagelaran zapin nusantara di Provinsi Riau beberapa waktu lalu. (Foto: DOK. RIAU POS)


Nun, jauh di ceruk negeri ini, tercagak sebuah kampung kecil bernama Meskom. Kampung halaman seorang Maestro Yazid bin Tomel, di belahan Selatan Kota Bengkalis berjarak 13 Km itu, masih menjadi taman impian bagi penggiat tari Zapin Melayu. Salah satu cabang seni yang sudah tumbuh dan berkembang di kawasan Melayu sejak ratusan tahun silam. Meski berumur lama dengan catatan sejarah yang panjang, zapin diazamkan takkan hilang di bumi.

Laporan ALFIADI, Bengkalis
alfiadi@riaupos.com

DESA Meskom memiliki nama alias yang molek yakni; “Kampung Zapin”. Salah satu kampung yang dikenal ke seantero negeri. Nama nan molek itu diberikan karena setiap warganya mampu dan mahir dalam menyanyikan, memainkan musik, apatah lagi menarikan seni zapin Melayu.

Penamaan itu tentu tidak asal saja sebab, sejak dulu hingga hari ini, masyarakat tempatan masih bergairah mengembangkan tradisi nenek moyang mereka dengan dan tanpa pamrih. Bagi mereka, zapin bak makanan sehari-hari yang pas untuk melengkapi kehidupan.

Siang itu, langit desa Meskom berawan. Namun, tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan. Riau Pos berkesempatan bertandang dan menyapa warga kampung yang terbilang ramah serta murah senyum, layaknya masyarakat di kampung-kampung Melayu di seantero dunia. Tujuan utamanya, tentulah melihat langsung aktivitas masyarakat tempatan yang tak terpengaruh pada gempuran pengaruh luar. Mereka tetap bertahan pada cita-cita masa lalu. Apalagi, jika bukan memelihara tradisi secara turun-temurun.

Melihat rumah-rumah panggung kayu dengan halaman luas berumput rimbun menghijau sembari mengendarai sepeda motor di atas jalan semen, Riau Pos benar-benar disuguhi pemandangan yang memikat. Kampung ini, bernuansa Melayu pesisir yang kental. Ditambah pula, di sebuah pekarangan rumah berwarna serba coklat, beberapa empunya rumah asyik dengan aktivitas masing-masing.

Ditingkahi pula dengan gelak riang anak-anak seusia sekolah dasar (SD) yang sedang bermain guli (kelereng).

Saat Riau Pos singgah, langsung disambut dengan senyum keramahan. Selamat datang di kampung kami,” sapa tuan rumah bernama Dollah (55) sembari mempersilahkan bergabung dengan mereka. “Inilah Kampung Meskom alias Kampung Zapin yang masih asri dan sederhana,” tambahnya.

Perkenalan itu jelas menambah rasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang Meskom dan Zapin yang menjadi ciri khas kampung mereka. Meski tujuan utama berkunjung ke rumah almarhum Yazid bin Tomel, namun Dollah terus melanjutkan bual-bual beberapa saat dengan Riau Pos. Setelah mendapatkan sedikit informasi tentang Zapin, Riau Pos pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke rumah yang dituju.

Tak sulit mencari rumah almarhum, karena semua masyarakat kampung mengenalnya dengan baik. Kediaman Yazid bin Tomel tidak jauh dari jalan utama kampung di Desa Teluk Latak, jaraknya hanya 50 meter. Luas jalan semen itu hanya satu meter saja. Rumah panggung berwarna orange dengan les warna putih itu dilindungi berbagai tumbuh-tumbuhan seperti durian, kelapa dan pepohonan lainnya.

Di pekarangan rumah, di bagian depan terlihat kebun sayur-mayur dan bagian samping terdapat tanah lapang tempat berlatih tari Zapin. Di depan rumah, tepat di atas jendela tertulis sebuah nama M Jazid T. Bagian dalam rumah itu, berwarna hijau dan salah satu perabotan berupa lemari kaca warna coklat berisi berbagai penghargaan yang pernah diraih almarhum.

Setibanya di kediaman almarhum, Riau Pos disambut Ahmad bin Yazid, anak ketujuh Yazid bin Tomel. Ia mempersilahkan masuk dan perbualan pun dimulai di atas lantai kayu yang sejuk. Duda tiga orang anak ini, juga melakoni diri sebagai penari Zapin. Ia benar-benar menepati janjinya untuk menceritakan tentang zapin, sesuai dengan janjinya lewat telepon beberapa hari sebelumnya.

Menurut Ahmad, bagi warga Meskom, Zapin bukanlah hal yang baru. Warga di sini mengkombinasikan segala aktivitasnya zapin. Apa yang dilihat Riau Pos, semuanya adalah kegiatan berzapin. Tidak susah mencari orang berzapin di sini karena kampung ini menjadi salah satu tapak Zapin.

“Warga di Meskom tak semua paham dan memahami zapin secara mendalam tapi dalam satu keluarga tak ada yang tak bisa memainkan zapin,” kata Ahmad ringan yang siang itu mengenakan kaos merah dipadu celana pendek warna biru tua yag memudar.

Di kampungnya, perkembangan Zapin mengikuti musim. Ibarat buah, ada kalanya musim ada kalanya tidak. “Di bulan puase ne, aktivitas Zapin jeda sementara, namun tidak mati. Bagi kami zapin bukanlah hal yang baru. Seni ini telah menyatu dengan kami dari generasi ke generasi,” jelasnya dengan logat Melayu kental.

Lebih jauh dituturkan Ahmad, memainkan Zapin merupakan suatu kebanggan yang tak ternilai. Jauh sebelum Desa Meskom dijadikan perkampungan Zapin, masyarakat di sini, sudah mengenal dan memainkan sebagai permainan rakyat. Bahkan, aktivitas sehari-hari warga selalu dikombinasikan dengan zapin apakah itu bermain, memasak, mencuci dan lainnya. “Semuanya ini mengalir ibarat air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Sebagai generasi penerus, kami akan terus memelihara dan mengembangkan zapin. Takkan Zapin hilang di bumi,” ujarnya berfilosofi.

Seulas tentang Zapin
Seorang tokoh tari Indonesia Tom Ibnur yang juga telah puluhan tahun mengembangkan tari Zapin berujar, seni ini masuk ke nusantara sejalan dengan berkembangnya agama Islam sejak abad ke 13 Masehi. Para pedagang dari Arab dan Gujarat yang datang bersama para ulama dan senimannya, menelusuri pesisir nusantara. Di antara mereka ada yang tinggal menetap di tempat yang diminati, dan ada pula yang kembali ke negeri mereka setelah perdagangan mereka usai. Bagi yang menetap kemudian menikahi penduduk setempat dan berketurunan hingga kini.

Zapin, salah satu dari kesenian yang dibawa para pendatang tersebut kemudian berkembang di kalangan masyarakat pemeluk agama Islam. Sekarang zapin dapat ditemukan hampir di seluruh pesisir nusantara, seperti pesisir timur Sumatera Utara, Riau dan Kepulauannya, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jakarta, pesisir utara-timur dan selatan Jawa, Nagara, Mataram, Sumbawa, Maumere, seluruh pesisir Kalimantan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Ternate, dan Ambon. Sedangkan di negara tetangga terdapat di Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura.

Di nusantara, zapin dikenal dalam dua jenis, yaitu zapin Arab yang mengalami perubahan secara lamban, dan masih dipertahankan oleh masyarakat turunan Arab. Jenis kedua adalah zapin Melayu yang ditumbuhkan oleh para ahli lokal, dan disesuaikan dengan lingkungan masyarakatnya. Kalau zapin Arab hanya dikenal satu gaya saja, maka Zapin Melayu sangat beragam dalam gayanya. Begitu pula sebutan untuk tari tersebut tergantung dari bahasa atau dialek lokal di mana dia tumbuh dan berkembang.

“Inilah orang Melayu, ia mengambil zapin dengan pikiran yang cerdas sehingga zapin menjadi beragam dan lebih kaya dari aslinya,” aku Tom Ibnur.

Untuk itu, lanjutnya lagi, Zapin umumnya dijumpai di Sumatera Utara dan Riau, sedangkan di Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu menyebutnya dana. Julukan bedana terdapat di Lampung, sedangkan di Jawa umumnya menyebut zafin. Masyarakat Kalimantan cenderung memberi nama Jepin, di Sulawesi disebut Jippeng, dan di Maluku lebih akrab mengenal dengan nama Jepen. Sementara di Nusatenggara dikenal dengan julukan dana-dani. ( Bukti Takkan Melayu Hilang di Bumi )

Zapin dapat ditemui pada helat perkawinan, khitanan, syukuran, pesta desa, sampai peringatan hari besar Islam. Umumnya penari zapin hanya lelaki. Diringi musik ensemble yang terdiri dari pemain marwas, gendang, suling, biola, akordion, dumbuk, harmonium, dan vokal. Pola tarinya sangat sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang. Gerak tarinya mendapat inspirasi dari kegiatan manusia dan alam lingkungan. Misalnya: titi batang, anak ayam patah, siku keluang, sut patin, pusing tengah, alif, dan lainnya.

Senada juga diungkapkan Budayawan Riau Tennas Efendi. Disebutkannya, Zapin hanyalah salah satu cabang seni Melayu yang masih bertahan hingga hari ini. Awalnya, berkembang di kesultanan Melayu dan bertujuan sebagai syiar dakwah. Tarian satu ini, santun yang bertujuan untuk mengajak riang juga bertingkah laku santun kepada siapa saja. Setiap kawasan Melayu, terutama kawasan pesisir, dulunya Zapin hidup dan berkembang. Namun tidak semua kawasan itu mempertahankannya dan salah satu kawasan yang eksis mengembangkan Zapin adalah Bengkalis dengan menetapkan Desa Meskom sebagai Kampung Zapin.

“Baik di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai maupun Thailand, Zapin berkembang sesuai dengan kemampuan pelakunya di setiap negara. Ini menunjukkan bahwa Zapin perlu terus dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan zamannya,” ajak Tennas Efendi. Begitu pula, Koreografer (penari) Bengkalis Musrial al Hajj yang tak henti-hentinya menyerukan agar tari ini harus dikembangkan sesuai zamannya. Kini, di Bengkalis terutama desa Meskom dan sekitarnya telah memiliki lima-enam kelompok zapin. Orang-orang Meskom-lah yang menjadi leader-nya.

“Sekarang kita boleh bangga dengan zapin karena seni ini berkembang dengan pesat,” ( Lagi, bukti Takkan Melayu Hilang di Bumi ) katanya. Hal ini tak terlepas dari upaya pemerintah tempatan yang terus menggairahkan festival Zapin setiap tahunnya.

“Setiap tahun ada festival Zapin dan ini dinanti-nantikan pelaku dan masyarakat Bengkalis. Kami bersyukur, minimal festival telah memotivasi perkembangan seni ini. Bahkan 2010 lalu, PLT Laksemana-Pekanbaru asuhan SPN Iwan Irawan Permadi menggelar Festival Zapin Nasional dan setiap daerah menunjukkan zapin mereka dengan baik,” timpal Ahmad bin Yazid.

Menyapa Gerakan dengan Bungo
Ketua Grup Zapin Sayang Bengkalis yang tengah melatih Hapiz (13) yakni Zainuddin (46) menjelaskan, setiap gerakan (bunga) Zapin selalu memiliki makna tertentu sebagai wahana pembelajaran bagi masyarakat Melayu. Terdiri dari empat langkah yang melambangkan sifat rasulullah Muhammad SAW dari setiap gerakannya. Setiap langkah zapin memiliki bunga, terdiri dari alif sembah, pusing sekerat, ekor patin, pecah lapan, siku sekeluang, tukar kaki, ayam patah, pusing tak jadi, bunga depan, bungo bakau, dan tongkah arus. Beberapa gerakan diperagakan Hapiz, anak asuhnya dengan baik.

Bungo-bungo itu pada perkembangannya ini bukan hanya ciptakaan, hanya saja di antara bunga itu dipecahkan atau mungkin dulunya belum bisa diterapkan. Salah satu bungo yang dipecahkan adalah Cino Buto, yang ditarikan dua orang, tak bisa lakukan satu, tiga orang dalam jumlah yang ganjil. Ianya harus dilakukan berpasangan, yang satu buat bunga depan, yang satu melingkari atau pusing. Dari bungo Cino Buto satu bungo bisa dikembangkan satu bunga, yaitu bungo depan.

“Dalam Hitungan 3-8, gerakan bunga depan harus lurus. Kebanyakan sekarang ini diperagakan tak lurus. Begitu juga dengan Belah Mumbang adalah menyamping membentuk sudut 90 derajat. Jika ini tak diperhatikan maka akan timbul asal jadi. Begitu juga dengan Siku Keluang, sikunya harus pas betul,” jelasnya sambil memperagakan bungo Zapin itu.

Dalam filosofi gerakan memiliki arti, misalnya gerak menongkah berarti hidup harus tabah. Ayunan dayung harus mantap meskipun ombak datang. Cabaran hidup itu biasa. Sedangkan gerak meniti batang berarti hidup harus hati-hati jika tak hendak terjebak dalam kubangan masalah. Lalu ada gerak tukar kaki yang menirukan gelombang yang susul-menyusul. Artinya, hidup itu harus tekun, terus-menerus berusaha. Paling tidak, upaya masyarakat Desa Meskom alias Kampung Zapin perlu mendapat apresiasi yang tinggi, terutama oleh pemerintah daerah.

Apalagi pengembangan dimulai dari akar rumput yakni dari bawah, bukan seperti selama ini dari atas ke bawah yang bersifat seremonial belaka. Meskom menjadi contoh yang paling manjur untuk mewujudkan cita-cita Riau untuk menjadi pusat kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara.***
__________________
"Biarlah Badan Berkalang Tanah. Biarlah Mati Tak Tersebut Budi. Tak Akan Surut Langkah Memajukan Bumi Melayu Ini,"

-H.M. Rusli Zainal-
drie no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 01:55 AM   #229
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

Suku Bugis


dibawah ini akan saya tampilkan beberapa hal ttg SUKU BUGIS

A. AKSARA LONTARA

B. PERSEBARAN SUKU BUGIS DI LUAR SULAWESI SELATAN

Suku Bugis
Raja Ali Haji,
Jusuf Kalla, B.J. Habibie,
Najib Tun Razak,
Andi Mallarangeng,
Sophan Sophiaan. Jumlah

populasi 6,0 juta (sensus 2000)
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Indonesia (sensus 2000)
5.157.000 [1]
Sulawesi

Sulawesi Selatan 3.400.000
Sulawesi Tenggara 372.289
Sulawesi Tengah 314.008
Sulawesi Barat 103.207
Kalimantan

Kalimantan Timur 522.570
Kalimantan Selatan 366.495
Kalimantan Barat 135.490
Sumatera

Riau 120.508
Jambi 64.393
Bangka Belitung 33.200
Kepulauan Riau 26.400
Jawa

Jakarta 50.000
Malaysia 728.465
Singapura (sensus 1990) 15.374
Bahasa Bugis, Indonesia, Melayu, dan lain-lain Agama Islam Kelompok etnis terdekat Toraja, Mandar, Makassar
kalimantan
afrika selatan
malaysia
sumatera
papua
dll


C. KAPAL PHINISI

D. RUMAH ADAT

E. PAKAIAN ADAT

F. FILOSOFI, PRINSIP, PANDANGAN DAN AJARAN KEBUDAYAAN BUGIS





__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!


Last edited by TFM1; November 7th, 2011 at 03:08 AM.
TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:00 AM   #230
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

AKSARA LONTARA

Quote:
Aksara Lontara
Quote:

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Lontara)



Lontara
Informasi Jenis aksara Abugida Bahasa Bugis, Makassar, Mandar Periode sekitar abad ke-17 hingga sekarang Arah penulisan Kiri ke kanan Silsilah Menurut hipotesis hubungan antara abjad Aramea dengan Brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut:
Aksara kerabat Bali
Batak
Baybayin
Buhid
Hanunó'o
Jawa
Sunda Kuno
Rencong
Rejang
Tagbanwa Baris Unicode U+1A00–U+1A1F ISO 15924 Bugi, 367 Unicode alias Buginese Perhatian: Halaman ini mungkin memuat simbol-simbol fonetis AFI menggunakan Unicode.
Aksara Lontara di Museum Balla Lompoa, Sungguminasa, Gowa


Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).
Daftar isi

[sembunyikan]
[sunting] Huruf

[sunting] Konsonan


[sunting] Vokal


sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Lontara

lebih lengkapnya di
from http://en.wikipedia.org/wiki/Lontara_alphabet
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!


Last edited by TFM1; November 7th, 2011 at 03:06 AM.
TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:04 AM   #231
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

CODE GOOGLE
untuk menggunakan aksara lontara di Komputer

Quote:
Lontara Lontara/Buginese Updated Feb 4, 2010 by mohammad...@gmail.com


Pengantar/Introduction

Mari ditulis isinya
Spesifikasi

http://www.unicode.org/charts/PDF/U1A00.pdf
Rincian Status/Status details

Fonta/Font

  • Fonta standar selesai /The generic font is ready
Metoda input/Input methods

SCIM

  • Selesai/Done
Penampilan teks/Text rendering

Penampilan teks diperlukan untuk merubah urutan glif saat menggambar sebuah suku kata yang diikuti oleh vokal "E". Dalam kasus ini, tanpa adanya dukungan penggambaran teks yang benar, maka suku kata tersebut akan ditulis apa adanya, yaitu "SUKU-KATA + VOKAL-E", sedangkan penggambaran yang benar adalah "VOKAL-E + SUKU-KATA". Jadi vokal harus digambar terlebih dahulu. Silakan lihat ungkapan berikut untuk lebih jelasnya:

Masalah ini dapat diatasi dengan membuat fonta dengan jenis OpenType yang mendukung ligatura. Semua kombinasi "SUKU-KATA + VOKAL-E" dibuatkan glif tersendiri, dan bilamana dalam teks dijumpai kombinasi tersebut, mesin penggambar teks akan mengambil glif dari ligatura tersebut dan tidak berupaya menggambar sendiri kombinasi tersebut.
Selain masalah di atas, ternyata vokal "I" dan "AE" yang mengikuti suku kata yang memiliki lebar glif yang berukuran kecil tidak digambar dengan cukup baik. Untuk mengatasinya, kembali digunakan metode ligatura.
Metode ini memiliki kelemahan di sisi ukuran berkas fonta yang membengkak dan menambah kompleks isi fonta. Bila mesin penggambar teks dapat mengenal aksara Lontara tentu lebih baik lagi hingga tidak perlu bergantung pada fonta itu sendiri.


Comment by niario...@gmail.com, Aug 27, 2008 Saya telah ciptakan extension bagi tranliterator Alex Benenson untuk menyokong lontara. Saya juga telah menciptakan fontanya, namun mempunyai masalah dengan hinting.



Comment by campo...@gmail.com, Oct 2, 2008 Coba didownload font complete (ttf, otf) di WWW.PTANT.COM. (File name: OgieCappoCampotype?) font ini telah dihinting, ligature dan sebagainya. Encoding font ini menggunakan kombinasi Unicode Latin dan Buginese dengan tujuan kemudahan pengetikan melalui keyboard windows. Semoga bermanfaat.
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!

TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:08 AM   #232
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

BUGIS DI MALAYSIA

bebrapa orang penting malaysia saat ini adalah suku bugis
Perdana Menteri maaysia dan sultan juga beberapa raja di malaysia

bahsa malaysia nih, jd agak susah mencernanya
Quote:
SEJARAH BUGIS DI MALAYSIA

Salasilah Keturunan BUGIS di Malaysia
Salasilah Keturunan DAENG CHELAK Salasilah Kesultanan Selangor Sultan Salehuddin (Raja Lumu – 1742-1778) Sultan Ibrahim (1778-1826) Sultan Muhamad (1826-1857) dan kesultanan Selangor seterusnya.

Sebaik sahaja Raja Bugis menerima utusan dari Raja Sulaiman, angkatan tentera Bugis terus datang dengan 7 buah kapal perang menuju ke Riau. Raja Kechil telah ditumpaskan di Riau dan melarikan diri ke Lingga dalam tahun Hijrah 1134. Sebagai balasan, Raja Sulaiman telah bersetuju permintaan Raja Bugis dimana mereka mahukan supaya raja-raja Bugis dilantik sebagai Yamtuan Besar atau Yang Di-Pertuan Muda, bagi memerintah Johor, Riau and Lingga secara bersama jika semuanya dapat ditawan.
Setelah Bugis berjaya menawan Riau, Raja Sulaiman kemudiannya pulang ke Pahang, manakala raja Bugis pula pergi ke Selangor untuk mengumpulkan bala tentera dan senjata untuk terus menyerang Raja Kechil. Semasa peninggalan tersebut, Raja Kechil telah menawan semula Riau semasa raja Bugis masih berada di Selangor.
Setelah mendapat tahu Riau telah ditawan oleh Raja Kechil, Bugis terus kembali dengan 30 buah kapal perang untuk menebus semula Riau, semasa dalam perjalanan menuju ke Riau, mereka telah menawan Linggi (sebuah daerah di Negeri Sembilan) yang dikuasai oleh Raja Kechil. Setelah Raja Kechil mendapat tahu akan penawanan itu, baginda telah datang ke Linggi untuk menyerang balas.


Pehak Bugis telah berpecah dimana 20 buah dari kapal perangnya meneruskan perjalanan menuju ke Riau dan diketuai oleh 3 orang dari mereka. Raja Sulaiman telah datang dari Pahang dan turut serta memberi bantuan untuk menawan semula Riau. Dalam peperangan ini mereka telah berjaya menawan kembali Riau dimana kemudiannya Raja Sulaiman dan Bugis telah mendirikan kerajaan bersama.
Setelah mengetahui penawanan Riau tersebut, Raja Kechil kembali ke Siak kerana baginda juga telah gagal menawan semula Linggi dari tangan Bugis. Hingga kini Linggi telah didiami turun-temurun oleh keturunan Bugis dan bukan daerah Minangkabau.
Pada tahun 1729, Bugis sekali lagi menyerang Raja Kechil di Siak dimasa Raja Kechil ingin memindahkan alat kebesaran DiRaja Johor (Sebuah Meriam) ke Siak. Setelah mengambil semula kebesaran DiRaja tersebut, Raja Sulaiman kemudiannya ditabalkan sebagai Sultan Johor dengan membawa gelaran Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah yang memerintah Johor, Pahang, Riau, and Linggi.


Sultan Sulaiman telah melantik Daeng Marewah sebagai Yamtuan Muda Riau. Kemudian adik perempuannya Tengku Tengah pula dikahwinkan dengan Daeng Parani yang mana telah mangkat di Kedah semasa menyerang Raja Kechil disana. Seorang lagi adik Sultan Sulaiman Tengku Mandak dikahwinkan dengan Daeng Chelak ( 1722-1760) yang dilantik sebagai Yamtuan Muda II Riau 1730an. Kemudian anak Daeng Parani, Daeng Kemboja dilantik menjadi Yamtuan Muda III Riau (yang juga memerintah Linggi di Negeri Sembilan).

Anak Daeng Chelak, Raja Haji dilantik sebagai Yamtuan Muda IV Riau dimana baginda telah hampir dapat menawan Melaka dari tangan Belanda dalam tahun 1784 tetapi akhirnya baginda mangkat setelah ditembak dengan peluru Lela oleh Belanda di Telok Ketapang, Melaka. Baginda telah dikenali sebagai Al-Marhum Telok Ketapang.
Dalam tahun 1730an, seorang Bugis bernama Daeng Mateko yang berbaik dengan Raja Siak mengacau ketenteraman Selangor.


Ini menjadikan Daeng Chelak datang ke Kuala Selangor dengan angkatan perang dari Riau. Daeng Mateko dapat dikalahkan kemudiannya beliau lari ke Siak. Dari semenjak itulah daeng Chelak sentiasa berulang-alik dari Riau ke Kuala Selangor. Lalu berkahwin dengan Daeng Masik Arang Pala kemudian dibawa ke Riau.


Ketika Daeng Chelak berada di Kuala Selangor penduduk Kuala Selangor memohon kepada beliau supaya terus menetap di situ sahaja. Walau bagaimana pun Daeng Chelak telah menamakan salah seorang daripada puteranya iaitu Raja Lumu datang ke Kuala Selangor. Waktu inilah datang rombongan anak buahnya dari Riau memanggil Daeng Chelak pulang ke Riau dan mangkat dalam tahun 1745.


sumber http://portalbugis.wordpress.com/abo...s-di-malaysia/


Quote:
Bugis Sabah
KISAH AWAL KAUM BUGIS DI SABAH

Oleh : Nordin Bula

Suku kaum Bugis merupakan salah satu etnik yang terdapat di dalam kelompok ras berbilang bangsa di negeri Sabah. Kebanyakan suku kaum ini telah menetap di pantai Timur Sabah iaitu di daerah Tawau, Semporna, Kunak dan Lahad Datu.

Dari aspek sosial, suku kaum ini lebih terkenal dengan kerabat pangkat diraja (keturunan dara), mementingkan soal status individu dan persaudaraan sesama keluarga. Dari segi perkahwinan,suku kaum ini lebih suka menjalinkan perkahwinan dengan keluarga terdekat dan perceraian pula merupakan hubungan sosial yang amat tidak disukai oleh suku kaum ini kerana ia meruntuhkan hubungan kekeluargaan dan bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil “aksara” Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

Sejarah kedatangan suku kaum Bugis di Sabah (Tawau khususnya) berkaitan dengan sejarah penerokaan Tawau. Adalah dipercayai suku kaum ini telah meninggalkan Kepulauan Sulawesi menuju ke Pulau Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan dan Borneo sejak abad ke-16 lagi.

Tahun 1840 dijadikan sebagai fakta kukuh untuk menyatakan tempat permulaan penerokaan Tawau oleh suku kaum Bugis. Penempatan awal oleh suku kaum Bugis ini bermula di kawasan yang dikenali sebagai Ranggu. Ini bermakna suku kaum Bugis sudah pun menerokai kawasan Tawau dan menjadikan Ranggu sebagai salah satu destinasi untuk berulang-alik ke Indonesia menjadi pedagang dan membawa masuk pekerja buruh ke ladang-ladang milik kerajaan British ketika itu. Apapun, Ranggu diasaskan oleh nenek Penghulu K.K. Salim di Kampung Sungai Imam, Bombalai.

Kemudian seorang lagi bangsa Bugis dari kerabat diraja Bone bernama Petta Senong menetap di Sungai Imam, Bombalai. Usaha mereka ketika itu adalah sebagai orang upahan kepada Kerajaan Sulu untuk menghapuskan sebanyak mungkin lanun-lanun yang bergerak di perairan Laut Sulu, Borneo.

Kemudian, beberapa kawasan baru terus diterokai oleh suku kaum Bugis dan kawasan yang termasuk dalam tapak pembangunan Bandar Tawau. Antara suku kaum Bugis yang terlibat dalam penerokaan bandar Tawau ialah Puang Ado, Daeng Mappata, Wak Neke, Wak Gempe dan Haji Osman.

Konsep siri masiri (malu, menjaga maruah) yang dikaitkan dengan kata-kata suku kaum Bugis antara lainnya :

- “…aja mumaelo’ nabetta taue makkalla ricappa’na lete’ngnge”.

Maksud terjemahannya : Janganlah engkau mahu didahului orang menginjakkan kaki dihujung titian ( Janganlah engkau mahu didahului orang lain untuk mengambil rezeki ).

- “…naia riasengage’ to warrani maperengnge narekko moloio roppo-roppo ri laommu, rewekko paimeng sappa laleng molai”

Maksud terjemahannya : Yang disebut orang berani ialah yang kuat dan unggul bertahan, Jikalau engkau menghadapi rintangan berat yang engkau tak dapat lalui atau atasi, kembalilah memikirkan jalan atau cara untuk mengatasinya.

Sumber:
Dipetik dari Kertas Projek Penyelidikan “Penglibatan Politik Suku
Kaum Bugis Satu Kes Kajian di N.46 Merotai, Tawau” oleh Nordin Bula.
(Perpustakaan Wilayah Tawau, Peti Surat 775, 91008 Tawau, No.Tel /Faks : 089-760632)
http://portalbugis.wordpress.com/abo...a/bugis-sabah/
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!


Last edited by TFM1; November 7th, 2011 at 02:47 AM.
TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:10 AM   #233
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

BUGIS DI KALIMANTAN

Bugis di kalimantan hampir ada di tiap provinsi di kalimantan
nnti saya akan kumpulkan artikelnya, untuk saat ini akan dibahas dulu ttg bugis di SAMARINDA

Quote:
Suku Bugis Di Samarinda
Quote:

Sejarah Kota Samarinda



Berdirinya Kota Samarinda, bermula dari kedatangan sekelompok suku Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh La Mahong Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama), yang datang ke daerah Kerajaan Kutai karena menentang perjanjian Bongaja. Kerajaan Kutai menerima kelompok ini karena diperlukan untuk membantui kerajaan Kutai dalam menentang Belanda. Mereka diizinkan bermukim di hilir sungai yaitu di Samarinda Seberang.
Orang-orang Bugis Wajo ini mulai bermukim di Samarinda pada bulan Januari 1668. Pada kurun waktu itulah ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Samarinda, yaitu tanggal 21 Januari 1668.
Kerajinan Tenun Ikat Sarung Samarinda

Terletak di jalan Bung Tomo Samarinda Seberang. Obyek wisata ini merupakan proses pembuatan sarung tradisional Samarinda, yang berjarak 8 km dari pusat kota Samarinda. Obyek tersebut telah dilengakapi sarana dan prasarana wisata. Kerajian tenun sarung ini pada mulanya dibawa oleh pendatang suku Bugis dari Sulawesi yang berdiam di sisi kiri Mahakam (sekarang menjadi Samarinda Seberang). Hampir disetiap perkampungan suku Bugis (kelurahan masjid Baka) dapat ditemukan pengrajin sarung Samarinda. Alat tenun yang digunakan para pengrajin adalah alat tradisional disebut “Gedokan” atau menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Produk yang dihasilkan untuk 1 (satu) buah sarung memakan waktu tiga minggu.
Sumber: samarinda.go.id

sumber http://portalbugis.wordpress.com/abo...-di-samarinda/
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!


Last edited by TFM1; November 7th, 2011 at 02:49 AM.
TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:13 AM   #234
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

BUGIS DI AFRIKA SELATAN

Quote:
Bugis Afrika Selatan

Afrika Selatan Susuri Garis Keturunan Orang Bugis

Makam Syekh Yusuf di Kampung Macassar, Cape Town (kiri), menjadi tempat peziarahan warga Muslim Afrika Selatan. Konon Syekh Yusuf berasal dari Indonesia dan dibuang ke Sri Lanka, lalu ke Afrika Selatan oleh Belanda karena menentang penjajah. Tak jauh dari makam itu, berdiri masjid yang rencananya akan diresmikan Maret mendatang bersamaan dengan acara seminar Indonesia-Afrika Selatan


DARI manakah sebenarnya asal usul orang Bugis yang kini bermukim di Afrika Selatan? Dari Malaysia atau dari Makassar?
Pertanyaan itulah yang dibawa Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia Graffits Memela ketika bertemu Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dalam kunjungannya ke Sulsel, Senin (12/5) malam. Sebab, menurut Graffits, selama ini ada anggapan bahwa orang Bugis di negaranya berasal dari Male (Malaysia).



Sementara itu, pemerintah Sulsel menyatakan orang Bugis di Afrika itu berasal dari Sulsel.
“Mana yang benar?” Begitu kira-kira pertanyaan yang dilontarkan Graffits kepada Syahrul Limpo dalam pertemuan silaturahmi kedua pejabat di rumah jabatan Gubernur Syahrul.


Menjawab keraguan Graffits itu, Syahrul yang baru sebulan dilantik sebagai Gubernur Sulsel periode 2008-2013 menegaskan bahwa orang Bugis Makassar di Afrika adalah keturunan Syeh Yusuf, ulama dan pejuang yang berasal dari Sulawesi Selatan yang dibuang pemerintah Belanda ke negara itu pada abad ke-16.
“Syekh Yusuf adalah keturunan Raja Gowa (Sulsel) yang diasingkan pemerintah Belanda ke Afrika yang kemudian mengajarkan agama Islam sekaligus berjuang membela Afrika dari penindasan penjajah di negara tersebut,” katanya. Lalu, dari hasil perkawinan pengikut Syekh Yusuf inilah berkembang keturunan orang Bugis Makassar hingga saat ini di Afrika.


Bahkan, tambah Syahrul, kuburan ulama kharismatik dan pejuang dari Gowa itu ada di Afrika dan di kabupaten Gowa, Sulsel. Ini membuktikan bahwa hubungan darah antara rakyat Afrika dan Indonesia khususnya Gowa sudah menyatu sehingga perlu dijalin kerjasama budaya dan pendidikan di negara itu.

Kerja sama pembangunan
Pertemuan Syahrul-Graffis itu sendiri dilakukan dalam kaitan rencana pembangunan arsitektur rumah adat Balla Lompoa di Cape Town oleh Pemprov Sulsel pada tahun 2009 nanti. Graffits sendiri berharap agar pembangunan miniatur balla lompoa di negaranya termasuk bangunan perpustakaan serta duplikat benda-benda bersejarah dan budaya orang Bugis-Makassar itu segera direalisasikan.


Dalam pembicaraan singkat sebelum dijamu makan malam bersama isteri dan sejumlah rombongan yang menyertainya, Dubes Arfika Graffits menambahkan bahwa negaranya juga akan membangun pendidikan di Afrika Selatan supaya masyarakat bisa berbahasa Indonesia dan mengenal lebih dekat budaya Indonesia khususnya budaya Sulawesi Selatan.


“Pemerintah Afrika dan Indonesia sudah menandatangani kerja sama (MoU) bidang pendidikan dan kebudayaan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Afrika tahun lalu,” ungkapnya.
Syahrul didampingi Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo menambahkan bahwa rencana pembangunan Balla Lompoa dan perpustakaan di Cape Town akan direalisasikan tahun 2009 sebagai perwujudan sejarah antara pemerintah Indonesia (Sulsel) dan pemerintah Afrika.
“Bahan bangunan arsitek miniatur Balla Lompoa akan diangkut kapal laut yang dimasukkan dalam kontainer ke negara tersebut,” ungkapnya.
Sumber : Antara



http://portalbugis.wordpress.com/abo...frika-selatan/
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!


Last edited by TFM1; November 7th, 2011 at 02:50 AM.
TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:18 AM   #235
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

BUGIS DI SINGAPURA

wah singapura tuh maju diawali dari suku bugis

Quote:
Bugis Singapore

Local business results for bugis near Singapore

A. Hotel 81 Bugis

www.hotel81.com.sg – +65 6339 8181 - 15 reviews

B. Bugis Backpackers Hostel

www.bugisbackpackers.com – +65 6338 5581 - 45 reviews

C. Superb Hub @ Bugis City

www.superbhub.co.cc – +65 9669 9990 - 67 reviews

D. Ma Maison Restaurant (Bugis Junction)

– maps.google.com – +65 6338 4819 - 33 reviews

E. Siam Kitchen (Bugis Junction)

www.siamkitchen.com.sg – +65 6337 3777 - 12 reviews

F. POSB – Bugis Junction

www.bugisjunction-mall.com.sg – +65 6339 6635 - 17 reviews

G. Crystal Jade My Bread (Bugis) Pte. Ltd.

www.crystaljade.com – +65 6333 0198 - 1 review

H. Shaw – Bugis Cineplex

www.shaw.sg – +65 6738 0555 - 1 review

I. Sketches (Singapore) Pte Ltd

– yum.sg – +65 6334 5911 - 16 reviews

J. Swensen’s Cafe Restaurant (Parco Bugis Junction)

www.bugisjunction-mall.com.sg – +65 6336 9784 - 5 reviews


SEJARAH BUGIS DI SINGAPURA

Quote:
Quote:
Mungkin banyak sudah tidak mengerti bahwa ketika Kerajaan Malaka kalah perang dengan Portugis dan portugis mejadikan pelabuhan Melaka di bawah pengawasnya dan menerapkan pajak berlabuh yang tinggi bagi kapal-kapa dagang di melak, maka terdapat 80-bansawan atau konglomerat Bugis pemilik perahu pinis ketika itu sepakat untuk pindah ke sebuah pulau kecil (yang ketika itu dikenal sebagai pulau Bakau tak bepenghuni) yang saat ini bernama Singapura. 80 buah perahu pinisi inilah yang pertama-tama membuka pelabuhan di pulau bakau yang tak bertuan itu dan disitu mereka kembali nmenjalankan bisnisnya mebuka pelabuhan baru dan menerapkan namanya Free Trade zone (pelabuhan bebas pertama di Dunia). lama kelamaan pelabuhan tersebut lebih maju dari pada Malaka karena menerapkan sebagai pelabuhan bebas pajak, dan mulailah kapal-kapal eropa berlabuh tertuama kapal-kapal Belanda, yang membawa pekerja-pekerja Keturuna Tonghoa yang akan dipekerjakan Belanda di Kebun-Kebuha tebu di Batavia juga berdatangan sehingga ethnis cina, melayu dan bugis beranak pianak di Pulau bakau tersebut. Sampai Inggri masuk dan mengalahkan belanda di semenanjung malaka. maka Ketuka Indonesia Merdeka malaysia dan Pulau Bakau (Singapura) tidak masuk kedalam wilayah Indoensia karena dibawah kekuasaan Inggris, dan ketika Malaysia memproleh kemerdekaaanya dari Inggris sebagian besar Keturunan Tionghoa pindah ke pulau bakau dan akhiranya menjadi mayoritas dan kemudian mendirikan negara yg dinamakan Singapura. namun semestinya Sejarah Bugis sebagai pemilik awal pulau semestinya tetap dilestarikan, maka jangan heran jika nada masih bisa melihat bekas-bekas nama Bugis di bebeerapa tempat di kawasan Singapura karena memang pulau itu adalah pulau yang dibangung oleh orang Bugis.
http://portalbugis.wordpress.com/sho...gis-singapura/
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!


Last edited by TFM1; November 7th, 2011 at 02:52 AM.
TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:31 AM   #236
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

BUGIS DI PAPUA

Quote:
Bugis Papua

Pengaruh Ekonomi Bugis terhadap Papua
Resensi :
Amber dan Komin: Studi Perubahan Ekonomi di Papua, Akhmad, Bigraf Publishing, 2005




Tebal buku ini 157 halaman. Yang disoroti, peranan pedagang Bugis dalam proses transformasi ekonomi di Papua, khususnya mengenai perkembangan ekonomi pasar. Judulnya, Amber dan Komin: Studi Perubahan Ekonomi di Papua, yang ditulis oleh Akhmad, antropolog asal suku Bugis di Sulawesi Selatan.


Ia juga menceritakan jaringan sosial maupun pranata budaya yang dianut oleh orang Bugis di Papua. Termasuk, persaingan yang timpang sekali antara pedagang pendatang dan pribumi di pasar-pasar seputar Kota Jayapura.

Konflik, dominasi ekonomi, dan etnisitas menjadi perdebatan di Papua saat ini. Pergulatan identitas kesukuan memiliki dampak negatif sebab bisa memicu konflik. Kondisi itu memunculkan persaingan dalam memperoleh sumber daya ekonomi. Namun, nilai positifnya tak sedikit. Dominasi ekonomi suku Bugis dijadikan referensi bagi orang Papua dalam melakukan strategi baru untuk mengembangkan diri.


Buku dengan enam bab itu memuat hasil penelitian sebagai rintisan awal untuk memahami transformasi ekonomi di Papua atas keberadaan pendatang. Situasi sosial di Papua saat ini ditandai dengan munculnya wacana yang merujuk pada perbedaan etnis. Fenomena itu mempertegas batas orang Papua dengan non-Papua, yaitu antara suku Bugis dan warga Papua.


Di papua, gejala ini bukan gejala sosial budaya baru karena sudah ada sejak pascakolonial dengan munculnya kata ‘Amber’ bagi pendatang berambut lurus dan ‘Komin’ bagi orang Papua yang berambut keriting. Gejala itu mendominasi perekonomian di Papua. Tapi, pertemuan kelompok Amber dan Komin membawa perubahan ekonomi nyata di Papua.


Tiga faktor melatarbelakangi perubahan itu. Pertama, penetrasi pasar dalam kehidupan orang Papua dari kehadiran suku Bugis. Kedua, pertemuan mode produksi domestik dengan yang modern. Ketiga, tidak semua hasil produksi subsistem habis dikonsumsi, jadi ada sisa yang dijual di pasar. Meskipun ada integrasi ekonomi dalam kehidupan orang Papua, pedagang setempat belum mampu bersaing dengan pedagang Bugis.


Penulis menganalisis penyebab keberhasilan kelompok Bugis dan ketertinggalan orang Papua dalam setting ekonomi pasar. Suku Bugis sukses karena mereka melakukan hubungan personal dalam ekonomi pasar. Sedangkan ketertinggalan orang Papua, mereka mengabaikan prinsip personal seperti proses tawar-menawar, utang-piutang, dan kredit.


Di sisi lain, ketertinggalan orang Papua juga akibat faktor struktural yang tak memungkinkan mereka bersaing dengan pedagang pendatang. Saat peralihan kekuasaan dari kolonial Belanda ke Indonesia pada 1963, orang Papua bukan kelompok pedagang. Namun, posisi perdagangan di tangan orang China (Amber). Landasan ekonomi orang Papua bersifat barter untuk membangun solidaritas sosial.


Intinya, keterlibatan orang Papua dalam ekonomi pasar adalah ketika mereka bertemu dengan suku Bugis. Pertemuan itu melahirkan reproduksi perdagangan. Orang Papua, yang asalnya pemburu, peramu, dan peladang, menjadi kecil di pasar. Dengan cara ini, mereka merespons berbagai perubahan di sekeliling mereka.


Kenyataan ini memaksa warga Papua beradaptasi dengan perubahan baru. Keadaan itu melahirkan konflik orang Papua dengan perantau asal Bugis. Kasus mencolok dari konflik itu berupa pembakaran pasar-pasar yang didominasi suku Bugis, di antaranya Pasar Abepura pada 1996, Pasar Entrop (1999 dan 2000), dan Pasar Sentani (2000).
Nerma Ginting
(sumber: media indonesia)
http://portalbugis.wordpress.com/abo...a/bugis-papua/
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!


Last edited by TFM1; November 7th, 2011 at 02:52 AM.
TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 02:58 AM   #237
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

Quote:
Orang Bugis Memimpin Malaysia
Quote:

Abdullah Ahmad Badawi dan Najib Razak - istimewa

Oleh: Vina Ramitha

INILAH.COM, Jakarta Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi akan mundur, Maret tahun depan. Najib Razak bakal menggantikannya. Darah Bugis kembali memimpin semenanjung Malaysia. Sukseskah klan Razak ini?

http://www.inilah.com/read/detail/53...impin-malaysia


__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!

TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 03:18 AM   #238
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

Quote:
Diaspora Bugis Makassar di Negeri Rantau


Dari sekian suku di Nusantara, Bugis-Makassarlah yang selalu menjadi representasi suku perantau, tentu dengan mengandalkan kemampuannya dalam mengarungi samudera. Semboyan “sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai” begitu merasuk ke dalam jiwa masyarakat Bugis-Makassar (BM), sehingga mereka pun selalu dapat berhasil tiba di tujuan. Tak ada kata menyerah, rasa malu atau siriq’ meresap dan menjadi lokomotor penggerak jiwa Bugis Makassar (BM) untuk selalu berjuang hingga titik darah penghabisan.

Banyak alasan yang membuat masyarakat BM melakukan perantauan. Jika ditengok ke belakang, pelayaran dan penjelajahan ke negeri seberang sudah menjadi tradisi kuno, bahkan telah menjelma dalam prilaku asli Bugis-Makassar. Sebut saja kisah armada Sriwijaya pada abad ke-7 M yang dapat mengarungi samudra hingga ke Madagaskar dan negeri-negeri jauh untuk membawa emas dari Swarnadwipa (Sumatera). Atau kisah para pelaut asing yang membantu kekaisaran Cina masa lampau untuk menjajakan hasil bumi dan peradabannya tersebar ke seantaro bumi, serta kisah munculnya pelaut ulung di negeri Srilangka yang berbadan kekar. Ke semua kisah itu, tak lain dilakoni oleh para pelaut ulung Bugis dan Makassar.

Tradisi di atas pun menjadi salah satu faktor penunjang mentalitas masyarakat Bugis-Makassar, yang menekankan bahwa salah satu fase hidup manusia BM adalah merantau. Dengan merantau, laki-laki Bugis-Makassar dapat meresapi arti hidup yang sebenarnya. Ia pun mendapatkan kedewasaan dalam perantauannya. Selain itu, mereka juga selalu mengimpikan kebebasan dan kejayaan, serta hayalan tentang kesatriaan dan negeri baru yang menawarkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Alasan pendorong yang lain disebabkan oleh kekacauan di daerah asal akibat perang. Peperangan lokal yang terjadi pada abad ke-16 hingga ke-18 secara tidak langsung membuat sebagian dari warga BM membulatkan tekad untuk merantau demi menemukan kembali harga diri dengan melawan penindasan, ataupun memperoleh ketenangan dan kedamaian di negeri seberang.

Selain itu, rasa malu (siri’) akibat menderita kekalahan perang menyebabkan mereka meninggalkan negeri asal untuk mengambil kembali martabatnya dengan berbuat baik di negeri rantau. Kekalahan di daerah asal menyebabkan harga diri jatuh pada titik nadir, sehingga untuk memulihkan siri’ mereka terpaksa harus mengarungi samudra yang luas itu. Untuk orang Bugis-Makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga siri’ nya, sehingga kalau mereka merasa tersinggung atau ripakasiri’ atau dipermalukan, mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan siri’nya daripada hidup tanpa siri’. Meninggal untuk menjaga siri’ dalam alam berfikir orang Bugis Makassar bak mati yang diberi gula dan santan (mate rigollai, mate risantangi).

Setelah dikalahkan oleh VOC Belanda pada abad ke-17 silam itu, warga Bugis-Makassar tersebar ke berbagai tanah rantau dengan dipimpin oleh bangsawan-bangsawannya. Misalnya, Laksamana Karaeng Bontomarannu dan Laksamana Muda Karaeng Galesong melarikan diri ke Jawa untuk membantu pasukan Trunojoyo yang berperang melawan Belanda dan Mataram. Sementara adik Sultan Hasanuddin, Daeng Mangelle yang mulanya menyingkir ke Jawa lalu pada 1664 merantau dan menetap di Ayuthia, Siam dengan ditemani 60 keluarga Makassar. Hingga pada akhirnya pasukan Daeng Mangelle yang jumlahnya sekira 500-an harus menegakkan siri’ dengan melakukan pertempuran hingga titik darah penghabisan dengan pasukan Siam bergabung dengan Perancis, Inggris dan Portugis yang jumlah total pasukan hingga 10.000 tentara.

Orang-orang Bugis banyak menempati daerah rantau seperti Samarinda, Pegatan, Bima, Kalimantan Barat, Riau,Tumase’ (Singapura),Johor, mereka pun dipimpin oleh para Matoa dagang. Sementara orang Makassar diperkirakan ke daerah-daerah yang pernah ditaklukkan oleh Gowa pada permulaan abad ke-17, yaitu Bima, Sumbawa, Banggai, Timor, Sumba, Dompu, Sanggar, Kutai, Berau, Buton, Muna, Bungku, Solor, Tedak, Manggarai, Limboto, Gorontalo, Tondano dan Sangir, Buru, Tobea dan Bebe. Diperkirakan yang terbanyak dituju ialah Bima dan Sumbawa, karena sejak tahun 1618 terjadi kawin-mawin antara orang Makassar, Bugis dan orang-orang Sumbawa dan Bima.

Kiprah Bugis Makassar di Negeri Melayu
Bukti kesohoran masyarakat Bugis-Makassar terekam jelas dalam kisah-kisah kepahlawanan kerajaan Johor, serta kerajaan Melayu lainnya. Warga BM tidak hanya menjadi pelaut dan pedagang yang ulung, tapi juga selalu berhasil menarik hati penguasa daerah setempat untuk senantiasa bekerjasama dalam mempertahankan kedudukan kerajaan. Para perantau itu pun bak dewa penolong kerajaan yang sudah hampir runtuh, mereka menjelma menjadi kesatria gagah berani, yang selalu memenangkan peperangan. Dengan begitu, kerajaan-kerajaan Melayu kembali tegak, sedangkan warga BM mendapat posisi terhormat dan sangat dibanggakan oleh masyarakat setempat. Ya, jejak kegesitan, keuletan, atau pun kejujuran warga perantauan itu tampak jelas dalam khasanah sejarah bangsa Melayu.

Dalam buku Tuhfat Al-Nafis karya Raja Ali Al-Haji berkisah banyak tentang kekesatriaan pelaut-pelaut Bugis-Makassar dalam membantu membentuk kerajaan-kerajaan Riau pada akhir abad pertengahan. Disebut dalam karya itu bahwa pada masa pemerintahan pemerintahan Mansur Shah tahun 1440 M, Malaka diserang armada kuat yang datang dari Makassar. Setelah kedatangan armada Makassar kali itu, kontak antar kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka dengan Kerajaan Gowa kian erat. Sebagai tanda persahabatan, Raja Johor Sultan Mansur Shah mengirim ke Gowa beberapa bingkisan sebagai hadiah. Lalu dibalas oleh Raja Gowa dengan mengirim seorang bangsawan bernama Daeng Mampawa, yang kemudian hari dikenal sebagai panglima perang yang disegani, bergelar Laksamana Hang Tuah.

Pada abad ke-17 merupakan masa kedatangan orang Bugis 5 bersaudara; Upu Daeng Parani, Upu Daeng Manambong, Upu Daeng Marewa, Upu Daeng Cellaq, dan Upu Daeng Kemasi. Kelima bangsawan Bugis ini berhasil menghalau Raja Kecil dari Minang yang telah mengkudeta Sultan Riau. Lantaran kesuksesannya itu, para bangsawan Bugis digelari Raja Muda yang selanjutnya kawin-mawin di tanah Melayu.

Namun, kehidupan masyarakat Bugis Makassar di negeri rantau tidak selamanya mulus. Mereka tampaknya ditakdirkan untuk menjadi dewa penolong bagi Negara yang lagi kacau balau, namun segera dikucilkan setelah negeri tersebut aman. Pengusiran ini dipelopori oleh Belanda dan Britis. Dr. Hamid Abdullah dalam “Dinamika Bugis-Makassar”, menuturkan soal kedatangan imigran Bugis-Makassar ke Tanah Linggi, Malaka. Linggi berasal dari nama bahagian buritan kapal (perahu Bugis) dan nama itu dipakai seterusnya dalam upaya membuka lahan pemukiman yang baru. Daerah linggi ini pun dengan cepat dianggap sebagai pemukiman harapan, migrasi Bugis-Makassar ke Daerah Linggi sebagai akibat langsung dari terusirnya mereka dari kesultanan Riau. Pengusiran yang sistematis itu sebagai akibat masuknya pemerintah colonial Belanda yang berkalaborasi dengan Kesultanan Riau. Pada 10 November 1784 disusun perjanjian antara kerajaan Johor dengan pemerintah Belanda yang diberi nama “Tractaat van Altoos Durende, Getrouwe Vriend end Bondgenoctschap”. Perjanjian tersebut berisi aturan yang mewajibkan warga Riau asli memegang jabatan di Kesultanan, sehingga berakibat fatal bagi posisi Bugis-Makassar dalam dunia politik Kerajaan Johor.

Pengusiran itu bukan menjadi halangan bagi Bugis-Makassar untuk merebut kembali martabatnya. Mereka kembali mengarungi lautan, menerobos sungai, merambah dan membuka hutan untuk pemukiman baru. Semangat juang mereka tak surut, dan justru tambah bersemangat. Orang Bugis-Makassar menyulap kawasan hutan lebat menjadi tanah pertanian yang subur. Sungai Ujong di pinggir hutan Linggi dibersihkan dan dibuka untuk lalu lintas perdagangan. Kian lama pelayaran rakyat melewati alur Sungai Ujong kian ramai dan menjadikan Linggi sebagai salah satu kawasan penting. Sehingga pada awal abad ke-19 Linggi menjelma menjadi daerah otonomi yang luas sedangkan orang Bugis-Makassar pun telah memiliki struktur pemerintahan lokal tersendiri. Tentunya, perinsip siri’ dan pace lah yang terus membakar semangat mereka, sehingga tidak jatuh mental ketika terusir dari kesultanan Riau.

Keterlibatan masyarakat Bugis-Makassar dalam kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu tampak cukup pelik. Mereka dengan terpaksa ikut terlibat perang, hiruk pikuk dalam memperebutkan kekuasaan dan mahkota kerajaan Riau, Johor, Pahang, Kedah dan Selangor. Aktivitas berupa intrik politik, komplot, skandal adalah peristiwa yang berulang setiap saat, yang kadang mengambil korban keluarga sendiri. Seringkali pula mereka dijebak untuk memihak pada salah satu golongan, sehingga membuat kelompok mereka terpecah-pecah. Sehingga anak keturunan Bugis-Makassar saling bersitegang karena berbeda keberpihakan.

Kekesatrian masyarakat yang lahir dari keyakinan mendalam pada filosofi siri’ na pacce tampak pada kesetiaan dan loyalitas yang tinggi terhadap kepercayaan raja di negeri rantau. Mereka pun dengan lantang mengucapkan sumpah setia, seperti yang ditunjukkan Upu Kelana Jaya Putera yang saat itu hendak diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda yang akan memerintah Riau, Pahang dan Johor. Sumpah setia itu dikenal dengan tradisi Mangaruq (Bugis), angngaruq (Makassar) di hadapan Yang Dipertuan Besar Sultan Upu Kelana Jaya Putera sembari berteriak: “Yakinlah Sultan Badru’l Alam Shah, akulah Yang Dipertuan Muda yang memerintah kerajaanmu! Barang tiada suka membujur di hadapanmu, aku lentang! Dan barang yang tiada suka melintang di hadapanmu, kubujurkan! Barang yang semak berduri di hadapanmu aku cucikan”. Sumpah setia ini adalah bekal yang dibawa mereka dari tanah asalnya, Bugis dan Makassar.

Peranan Bugis dalam Politik Malaysia
Semenjak abad ke-18, pemerintahan negeri Johor banyak bergantung kepada kepahlawanan orang-orang Bugis, yang terkenal dengan keberaniannya dalam berperang. Meski negeri Johor pernah dibawahi oleh Raja dari Sumatera pada 1718-1722, tapi dengan dukungan masyarakat Bugis, Sultan Johor kembali menegakkan kedaulatannya. Sejak saat itu, pahlawan-pahlawan Bugis mempunyai pengaruh dan memainkan peranan yang penting di pemerintahan Negeri Johor.

Setelah kerajaan Makassar turun tahta, banyak keturunan Raja Gowa yang menetap di Pekan, Pahang, daerah kekuasaan Sultan Johor. Mereka kemudian melakukan asimilasi atau kawin-mawin dengan gadis setempat. Salah seorang cicit perempuan Raja Bugis menikah dengan bangsawan Melyu, lalu keturunan dari percampuran ini diperuntukkan baginya sebuah gelar kepemimpinan yang dikenal sebagai Orang Kaya Indera Syahbandar. Peranan mereka yaitu memungut cukai serta menyiapkan para tentara dengan persenjataan yang lengkap.

Pemegang gelar Datu Syahbandar dari generasi ke generasi selalu setia kepada raja, mereka pun selalu tidak enak hati terhadap manuver Inggris yang mulai memengaruhi Kesultanan Pahang. Sehingga dalam jangka waktu singkat intervensi Inggris pun mulai menggerogoti penamaan dan silsilah Datuk Syahbandar. Setelah Dato’ Syahbandar Ali meninggal dunia, gelar yang mesti diarahkan ke Awang Muhammad tiba-tiba dilucutkan selama satu generasi. Gelar itu baru tertitis lagi pada keturunan Awang, yaitu Hussein. Ia diberi gelar pada 1930.

Namun, dalam tempo 20 tahun (1880-2000) British mengambil peranan dalam kehidupan sosial, politik dan pemerintahan di negeri Pahang. Pengambil alihan itu diawali dengan pengenalan sistem Residen melalui Perjanjian Pangkor 1874 melibatkan banyak negeri, yakni Perak, Selangor, Negeri Sembilan dan Pahang. Namun, akibatnya sistem administrasi yang asing ini membuat Dato Syahbandar secara tak langsung dianggap tidak berperanan lagi. Sekolah modern yang didirikan Inggris pun mengeliminir kemugkinan model pemerintahan tradisional, yang diajarkan kepada mereka adalah bagaimana mempersiapkan tenaga kerja yang dapat mengisi pos dinas-dinas pemerintahan daerah.

Hussein merupakan anak aristokrat Malayu yang merupakan generasi pertama untuk belajar di Maktab Melayu Kuala Kangsar pada 1905. Pada umur 1920 ia menikahi Fatimah, gadis jelita dari Pulau Keladi yang nantinya dianugerahi anak bernama Abdul Razak. Nah, Tun Abdul Razak inilah Perdana Menteri Malaysia yang kedua (1970-1975) yang merupakan keturunan Makassar. Sedangkan anaknya yang bernama Dato’ Seri Najib mewarisi kepemimpinan Bugis, yang jika ditelusuri merupakan keturunan Sultan Abdul Jalil atau Abdul Jalil atau Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone, Raja ke-15 di Kerajaan Gowa. Tun Abdul Razak pun merasa bersyukur karena telah mewarisi kepemimpinan Bugis yang dengan semangat kepahlawan untuk memantapkan kekuatan dan perpaduan Rumpun Melayu.

Kepemimpinan setelah Tun Abdul Razak pun tetap menjalin hubungan diplomatik yang erat antar Indonesia-Malaysia. Baik sejak Tunku Abdul Rahman hingga kepemimpinan Dato’ Seri Abdullah Ahmad Badawi. Dan Dato’ Seri Najib Tun Razak, perdana menteri Malaysia saat ini yang juga merupakan keturunan Bugis juga menekankan hal tersebut dalam sebuah pantun beliau: “Menobatkan Raja di Negeri Linggi, Keturunan pula para wali, kita serumpun, walau tak senegeri; kekalnya ikatan simpul mati”.

Selain tokoh politik, terdapat pula beberapa tokoh berpengaruh di Malaysia yang merupakan keturunan Bugis-Makassar, seperti Arena Wati, Elang di Negeri Melayu. Sosok asal Sulsel dan bernama lengkap Muhammad Dahlan bin Abdul Biang ini merupakan salah seorang maestro sastra terbesar abad ini di negeri Jiran. Berbagai penghargaan telah ia peroleh, antara lain: anugerah SEA Write Award (Pemerintah Tailand, 1985), anugerah Sastrawan Negara (Malaysia, 1987), anugerah MASTERA 1 Brunei, dan Anugerah Doktor Persuratan (Universiti Kebangsaan Malaysia, 2003), serta beragam penghargaan lain yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Dengan demikian, pengaruh dan semangat Bugis-Makassar masih menghangat di negeri Jiran, semangat rindu akan kepahlawanan, keyakinan dan keteguhannya dalam menegakkan kebenaran.

Tulisan ini merupakan pengantar proposal untuk penelitian kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar di Tanah Melayu... semoga bermanfaat.. doakan semoga berhasil.

http://ila-galigo.blogspot.com/2010/...di-negeri.html
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!

TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 03:39 AM   #239
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

Quote:
Bangsawan Gowa Dikenang sebagai Pejuang Srilanka



Sigiriya
CATATAN sejarah kembali mengukir keberanian bangsawan Bugis-Makassar di luar negeri. Adalah Karaeng Sangunglo atau Karaeng Sanguanglo yang disebut sebagai bangsawan Kerajaan Gowa menjadi pejuang rakyat Srilanka dulu masih bernama Ceylon.

Nama tersebut bisa jadi terasa asing di Indonesia, termasuk di tanah asalnya, Gowa. Namun tidak bagi masyarakat Colombo atau Sri Lanka.

Demikian salah satu bagian diskusi Rumah Nusantara yang digelar di kantor Tribun, Senin (12/7). Diskusi menghadirkan sejumlah akademisi seperti antroplog Dr Halilintar Latief MPd, Ishak Ngeljaratan, KH Dahlan Yusuf, dan dosen/peneliti dari Leiden Institute for Area Studies/ School of Asian Studies, Suryadi.

Sejumlah tokoh lintas etnis dan budaya juga hadir dalam diskusi yang berlangsung hangat namun tetap diselingi dengan canda tawa dari peserta diskusi.

Karaeng Sangunglo disebutkan sebagai putra Raja Gowa Ke-26 (1753), Sultan Fakhruddin Abdul Khair al-Mansur Baginda Usman Batara Tangkana Gowa, yang memilih pindah ke tanah kelahiran ibunya di Bima karena kuatnya intimidasi Belanda di Gowa kala itu.

Pada 1767, tanpa alasan yang jelas, Sultan Fakhruddin ditangkap dan dibuang ke Ceylon. Di sanalah putranya Karaeng Sangunglo menjadi pahlawan Melayu dan menjadi legenda di Ceylon.

Awalnya, Karaeng Sangunglo adalah anggota dari Resimen Melayu Ceylon (semacam pasukan khusus bentukan Belanda) yang kemudian dilikuidasi oleh Inggris tahun 1796 hingga berubah nama menjadi The Ceylon Rifle Regiment.

Membelot
Saat VOC melakukan agresi besar-besaran di wilayah Kandy, Ceylon pada 1761, Karaeng Sangunglo memilih membelot karena jiwanya memberontak terhadap perlakuan keji Belanda kepada pribumi dan bergabung dengan pasukan Kandy.

Saat itu, Raja Kandy Nayakkar Kirthi Rajasinha (1747-1782) menganugerahkan posisi dan gelar muhandiram (semacam komandan pasukan pengawal kerajaan ).

Dalam catatan seorang anggota tentara Inggris yang melakukan agresi tahun 1803, keberanian sosok Karaeng Sangunglo digambarkan sebagai fat and tall Malay prince (tentara Melayu yang bertubuh besar dan tegap) di medan perang.

Dalam the first Anglo-Kandyan war, Karaeng Sangunglo menderita kekalahan. Jenazahnya dikebumikan dengan upacara yang khidmat oleh otoritas kerajaan Kandy dan masyarakat Kandyan Malays.

Ironis
Kisah heroisme Karaeng Sangunglo dirangkai dari serpihan data sejarah yang terserak dalam laporan orang Eropa, surat kabar, majalah, dan buku-buku tua, serta naskah bertulisan Jawi.

Riwayat “pahlawan” seberang lautan tersebut menurut Suryadi masih perlu mendapat penelitian ilmiah lebih lanjut.

Meski demikian, hal tersebut menurutnya sangat ironis. Jika di Srilanka nama mereka harum sebagai seorang pahlawan karena keberanian dan keteguhan perasaannya, maka di bumi Nusantara, tanah tumpah darah mereka tidak memperoleh tempat yang layak.

“Jangankan diakui sebagai pahlawan, tidak ada sebuah gang-pun di negeri ini yang mengabadikan namanya,”kata Suryadi.

Membelot karena Jiwanya Memberontak
Meski kebesaran kisah heroik Sultan Fakhruddin dan Karaeng Sangunglo tidak terlacak dalam rekaman pribumi, bahkan mungkin namanya tak tercatat dalam silsilah kerajaan Gowa saat ini, namun ada pelajaran besar yang terselip dan coba diajarkan olehnya.

Saat Sultan Fakhruddin mengajarkan kepada kita arti sebuah ketenangan jiwa, saat jiwa dan hatinya gundah akibat maraknya intrik yang dilakukan oleh keluarga dan tekanan kolonial Belanda.

Watak dan kebesaran hati Sultan Fakhruddin menjadi bahan perbincangan dalam diskusi Rumah Nusantara di Tribun, Senin (12/7), yang menghadirkan menghadirkan sejumlah akademisi seperti antroplog Dr Halilintar Latief MPd, Ishak Ngeljaratan, KH Dahlan Yusuf, dan dosen/peneliti dari Leiden Institute for Area Studies/ School of Asian Studies,Suryadi.

Sultan Fakhruddin memilih meninggalkan segala kebesaran dan kekuasaan yang dimilikinya dan memilih untuk tinggal di tanah seberang tempat kelahiran ibunda tercintaya, Bima. Apa yang dilakukannya mengajarkan kita bahwa ketenangan jiwa lebih berharga ketimbang harta bendanya.

Ayah Sultan Fakhruddin adalah Sultan Abdul Quddus (Sultan Gowa ke-25; 1742 - 1753) dan ibunya adalah Karaeng Ballasari, putri pasangan Sultan Bima, Alauddin Riayat Syah (1731 - 1748) dan Karaeng Tanasangka, putri Sultan Gowa ke-21, Sirajuddin Tumenanga ri Pasi alias I Mappaurrangi (1711 - 1713).

Pada suatu hari, di tahun 1767, Sultan Fakhruddin dan ibunya tiba-tiba ditangkap atas perintah Jacob Bikkes Bakker, Residen Belanda di Bima. Ia segera dibawa ke Batavia.

Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra memberi perintah: Sultan harus dibuang ke Ceylon. Pada tahun itu juga (1767) Sultan Fakhruddin sampai di tanah pembuangan yang jauh itu.

Di Ceylon, Saat VOC melakukan agresi besar-besaran di wilayah Kandy, Ceylon pada 1761, Putra sultan Fakhruddin, Karaeng Sangunglo memilih membelot karena jiwanya memberontak terhadap perlakuan keji Belanda kepada pribumi dan bergabung dengan pasukan Kandy.

Sekalipun harus meninggalkan jabatan dalam militer Belanda saat itu, Karaeng Sangunglo telah mengajarkan bahwa jabatan bukan satu-satunya jaminan untuk membuat manusia dikenang oleh generasi berikutnya.

Pembelotan yang dilakukan oleh Karaeng Sangunlo bukan berarti tidak patuh kepada `tuannya’, tapi karena hatinya tidak tega menyaksikan kesema-menaan yang dilakukan oleh Belanda terhadap bangsa pribumi Srilanka.

Istri kedua Sultan Fakhruddin, Sitti Hapipah, Ibu tiri Karaeng Sangunglo jelas sekali menggambarkan sosok perempuan cerdas nan terpelajar, mengetahui baca tulis, penanggalan, bahkan dengan struktur kalimat Arab Melayu.

Surat Cod.Or.2241-I 25 [Klt 21/no.526] yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Universiteitsbibliotheek Leiden), Belanda. Menurut Edwin Wieringa (1998 : 391) Cod.Or.2241-I 25 [Klt 21/no.526] adalah letter from Sitti Hapipa at Ceylon, widow of the exiled Sultan Fakhruddin of Go[w]a, to the Governor General and the Raad van Indië, dated Kolombo, 3 Januari 1807; received at Batavia 29 May 1807.” (syekhuddin/ adin)

Sumber: http://www.tribun-timur.com

http://ila-galigo.blogspot.com/2011/...i-pejuang.html
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!

TFM1 no está en línea   Reply With Quote
Old November 7th, 2011, 03:47 AM   #240
TFM1
Registered User
 
Join Date: Oct 2011
Location: makassar, bogor, tangerang selatan, jakarta
Posts: 9,029
Likes (Received): 184

Quote:
Orang Bugis dan Diasporanya di seluruh Indonesia
Quote:


Orang Bugis atau To Ugi dikenal sebagai suku yang suka bertualang, berdagang, beremigrasi, selain juga sangat dinamis dan berani ambil resiko. Orang Bugis berkerabat dekat dengan orang Mandar di Sulawesi Barat dan orang Makassar di ujung-ujung selatan Sulawesi, meskipun pada akhirnya ada istilah Bugis Mandar dan Bugis Makassar yang menimbulkan persepsi kalau Bugis, Makassar dan Mandar itu sama, padahal sebenarnya berbeda meski ada kemiripan dalam penulisan (sama-sama menggunakan aksara lontara) dan sebagian di busananya.
Sejak sekitar abad ke-16, orang Bugis memeluk Islam dan kerajaan Goa-Tallo mencapai puncak kejayaannya. Namun kemudian Belanda menguasai kawasan tersebut sehingga mengakibatkan banyak orang-orang Bugis kemudian menyebar ke berbagai penjuru Nusantara. Disamping itu, kerajaan Bone yang ada di bagian timur Sulawesi Selatan kemudian bertahan hingga abad ke-19 dan kembali diaspora orang Bugis terjadi.
Kemudian dalam perkembangannya, orang Bugis banyak mempengaruhi sejarah serta sistem pemerintahan diwilayah manapun mereka tinggal. Ada prinsip yang mereka pegang teguh ‘dimanapun bumi dipijak, disitu langit dijunjung’ maksudnya bila mereka datang ke suatu daerah dan dirasa nyaman, maka mereka menganggapnya sebagai kampung halamannya. Dapat disaksikan bahwa pada abad ke-17 dan 18 orang Bugis memperoleh pengaruh di Kerajaan Johor-Riau-Lingga hingga Semenanjung Melayu.
Selain itu juga peran orang Bugis di kawasan timur Indonesia juga sangat besar. Banyak sultan-sultan di kawasan itu yang setidaknya sebagian tubuhnya dialiri darah Bugis. Memang pada masa lalu, orang-orang Bugis dikenal sebagai penjelajah ulung yang ditakuti dimana-mana, dan banyak kelompok lanun Bugis yang kemudian menjadi penguasa, khususnya di kawasan Kepulauan Riau dan Semenanjung.
Selain itu, banyak kelompok perlawanan Bugis seperti Karaeng Galesong yang membantu Trunojoyo dalam melawan Belanda di sepanjang pantai utara Jawa dengan mendirikan markas di Pasuruan pada tahun 1675-1679. Orang Bugis juga banyak yang menjadi prajurit bayaran untuk melindungi kepentingan-kepentingan kerajaan yang mereka tempati. Seperti misalnya di Bali, bahkan sampai Jogjakarta dan Bima.
Diaspora orang Bugis sendiri sangatlah luas, hingga mencakup hampir seluruh wilayah Nusantara (termasuk Singapura dan Malaysia), baik di perkotaan maupun pedesaan. Mereka membangun pemukiman-pemukiman yang kemudian dalam sejarahnya melebur dengan penduduk sekitarnya. Pemukiman orang Bugis di berbagai wilayah sendiri juga sebagian besar penduduknya telah kehilangan bahasa Bugis dan budayanya, serta telah tergantikan oleh bahasa dan budaya penduduk tempat mereka bermukim, terutama sekali di pulau Sumatera, Jawa dan Madura.
Untuk Pulau Sumatera, mereka tersebar di kota-kota bagian timur, khususnya di Riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Sedangkan di Pulau Jawa, mereka tinggal di kota-kota utama seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Jogjakarta, Surabaya, Semarang, Malang dan sebagainya.
Di Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah, terdapat satu perkampungan Bugis yang ada di dusun Batulawang, desa Kemujan. Penduduk kampung Bugis ini hidup membaur dengan orang Jawa, Madura, Buton dan Bajo yang juga bermukim dikawasan itu.
Daerah Bugisan, Jogjakarta konon juga dulunya adalah pemukiman para prajurit Bugis yang direkrut Raja Jogjakarta dimasa lalu dan kini menjadi bagian kota Jogjakarta.
Sedangkan di Jawa Timur sendiri, banyak kerabat kerajaan Madura yang kawin mawin dengan orang Bugis. Keturunan Bugis ini banyak dijumpai di Sumenep, dan Kepulauan Kangean serta kepulauan Masalembu.
Pulau Bali juga menyimpan beberapa kampung Bugis. Mereka juga adalah keturunan pedagang dan prajurit yang kemudian menetap dan menikah dengan penduduk setempat. Kampung Islam yang banyak dihuni orang Bugis terdapat di Pulau Serangan, Tuban, Kepaon, Tanjung Benoa dan , Kampung Loloan (berbaur dengan keturunan Melayu dari Pahang, Trengganu dan Pontianak), kampung-kampung Islam di kawasan Nusa Penida dan beberapa komunitas kecil baik yang tergabung dalam banjar besar ataupun kampung tersendiri.
Di Nusa Tenggara, banyak pemukiman Bugis yang dijumpai utamanya di kawasan Sumbawa, Flores, Solor, Alor, dan Timor, khususnya di kawasan perkotaan. Bahkan dari segi busana, masyarakat Sumbawa dan Bima banyak terpengaruh oleh Bugis. Dan gelar Kraeng yang dipakai suku Manggarai di Flores juga berakar dari kata Karaeng.
Sedangkan di Pulau Kalimantan, orang Bugis (termasuk Mandar) banyak dijumpai di Kotabaru dan Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan) serta sepanjang pesisir Kalimantan Timur (Pasir sampai Pulau Sebatik) hingga Sabah, Malaysia. Orang Bugis juga bermukim di sepanjang Sungai Mahakam dari Melak di hulu hingga Samboja di hilir sungai. Sarung Tenun Samarinda yang populer itu juga dihasilkan orang-orang Bugis yang ternyata perintis berdirinya kota Samarinda, ibukota Kaltim ini, yang kebanyakan berkonsentrasi di Samarinda seberang.
Lebih besar lagi pengaruh Bugis di Sulawesi, Maluku Utara, Maluku dan Papua dimana di hampir seluruh penjuru pulau bisa dijumpai komunitas-komunitas Bugis, apalagi di pasar-pasar. Dimasa lalu juga, kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan juga setidaknya mendapat pengaruh dari Bugis. Bahkan orang Bugis berdagang sampai di perbatasan Indonesia-Papua Nugini atau kota Merauke, kota tertimur di Indonesia.
Itu hanya sebagian dari persebaran orang Bugis, baik yang sejak berabad-abad silam maupun pendatang-pendatang baru yang datang untuk bekerja atau belajar, utamanya di pulau Jawa.
Banyak sekali orang-orang Bugis yang menjadi orang berpengaruh diberbagai tempat, baik dibidang ekonomi maupun pemerintahan di Indonesia dan sudah dua orang Bugis yang menduduki posisi tertinggi didalam pemerintahan antara lain BJ Habibi dan Jusuf Kalla.
Pendek kata, pengaruh Bugis dalam pembentukan masyarakat Indonesia tidak bisa diabaikan sama sekali. Mereka juga turut berperan serta dalam melawan penjajahan serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, jadi tanpa peran serta mereka maka bangsa kita takkan terbentuk seperti sekarang ini.

Sekali lagi...keras, petualang ulung, pedagang ulet dan berani ambil resiko, itu yang saya sukai dari kelompok satu ini.


Bambang Priantono

Kredit kepada: http://bambangpriantono.multiply.com/

http://ila-galigo.blogspot.com/2010/...i-seluruh.html
__________________
selamanya Bangsa PENJAJAH akan selalu MENJAJAH...
Intifadhah jilid 3, itu yg Israel Minta!!!
Khaibar khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya'ud

#SavePALESTINE !!!

TFM1 no está en línea   Reply With Quote


Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +2. The time now is 06:55 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.7
Copyright ©2000 - 2013, vBulletin Solutions, Inc.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.1.2 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2013 DragonByte Technologies Ltd.
vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2013 DragonByte Technologies Ltd. (Resources saved on this page: MySQL 23.08%)

SkyscraperCity - In Urbanity We Trust

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu