daily menu » rate the banner | guess the city | one on oneforums map | privacy policy (aug.2, 2013) | DMCA policy | flipboard magazine
Antiguo 20-10-2009, 18:33:42   #61
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Avatar de Balaputradewa
 
Fecha de Ingreso: Jul 2008
Ubicación: BUKITTINGGI
Mensajes: 7.385
Likes (Received): 901

Betawi People
Jakarta Capital City Province


Betawi Girl used Traditional Costume

The Betawi are considered the original inhabitants of Jakarta. They are often called "Jakarta People, Batavi, Batawi, or Jakarte." They originated from the mixture of peoples who arrived in Batavia (Jakarta's historical name), and they have occupied the port city since the 15th century. The authentic Betawi people can be found in the outlying areas of Jakarta, such as in Pasar Minggu in South Jakarta, in Condet in East Jakarta, and the area of Kampung Sawah in Bekasi, West Jawa.


Topeng Dance


Topeng Dance


Betawi culture is a treasure trove of color, tradition, song, dance, clothing, cuisine, language and dialect. The culture thrives today due to government policy to enhance the cultural identity of the original inhabitants of the city, and prevent their traditions being buried beneath a tide of modernization. There are annual parades and other celebrations in which three-meter tall Betawi mascots (ondel ondel) - are seen delighting the crowds with their large masks and tinsel-sprinkled headdresses.

The language of the Betawi has been adopted by the fashionable younger generation of Jakartans from all ethnic origins, whereas the more formal Betawi Malay is only spoken by the more conservative older generation Orang Betawi.


Betawi Culinary: Soto Betawi


Betawi People

In the inner city, the Betawi live as traders, civil servants, laborers, craftsmen or private employees. In the outskirts of the city (such as Jagakarsa, Cirasas, Cilangkap) most Betawi have agricultural occupations as fruit growers, rice farmers, or fishermen. Their farmland is gradually decreasing because much of it is sold for housing developments, industry, and other modern uses. Consequently, the farmers are changing jobs for more urban work such as laborers, traders, and motorcycle taxi drivers. It is difficult for the Betawi to be separated from their family. If they are in their hometown and experiencing difficulty, they can request financial assistance from their family members. This situation sometimes gives the impression that they are less industrious in seeking a livelihood compared with outsiders.


Betawi couple in wedding party

The formal educational level of this indigenous Jakarta population is usually rather low. Possibly, they have connected "school" with the Chinese or Dutch Colonists' lifestyles, which they have rejected. This antipathy to public education is reinforced when Islamic teachers urge them to avoid government schools and instead study in Islamic schools (pesantren) and seminaries (madrasah).


Betawi Children

The Betawi also have special arts such as folk theatre (lenong), giant parade puppets parades (ondel-ondel), traditional brass music (tanjidor), masks (topeng), and puppet theatre (wayang golek). However, today the Betawi are rarely involved in the presentation of their own traditional arts.

Many Betawi orient their daily personal and communal lives toward Islamic ethics. An example of Islam's influence is the following four principles that are followed by most Betawi. First, at every encounter they will use the Islamic greeting, Assalamualaikum, which is answered, Walaikumsalam. Second, they must perform the five daily compulsory prayer times. Third, a daughter must be married when she reaches the eligible age. Fourth, a guest must be served according to the full capability of the host. Their foundational philosophy is, "Blessings are for today. Tomorrow is tomorrow's matter." They believe that God will give blessings, but they also believe in the presence of spirits in places like trees, bridges, and graves.


Betawi Puppet "Ondel-ondel"


Ondel-ondel parade
Balaputradewa no está en línea   Responder Con Cita

Sponsored Links
 
Antiguo 20-10-2009, 19:15:53   #62
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Avatar de Balaputradewa
 
Fecha de Ingreso: Jul 2008
Ubicación: BUKITTINGGI
Mensajes: 7.385
Likes (Received): 901

Sekilas Orang Betawi

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Cina, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.

Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.


Betawi Girl 1890

Seorang budak belian perempuan dari Bali. Diawali oleh orang Sunda, sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.


Betawi Traditional House "Rumah kebaya"

Waktu Fatahillah dengan tentara Demak menyerang Sunda Kelapa (1526/27), orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon. Sampai JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).


Abang None Jakarta

Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628/29) yang tidak mau pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya.


Batik Betawi

Orang Tiong Hoa senang main kartu. Lukisan A van Pers dari tahun 40-an abad yang lalu, yang diterbitkan pada tahun 1856 di Den Haag. Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.


Betawi Culinary: "Karedok"


Betawi Culinary: "Rujak Juhi"


Betawi Culinary: "Kerak Telor"

Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka.

Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia.


Betawi Children in Primary School

Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Gereja Immanuel di Gambir pada pertengahan abad ke 18

Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.

Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893.

Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Rumah Bugis di bagian utara Jl Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang imulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota
Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester. Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkanjalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah selatan. Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.


Betawi Traditional Orchestra, "Tanjidor"

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.





Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun juga - tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.**Bapeda
Balaputradewa no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 08:47:53   #63
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Riau Malay
Riau Province and Riau Islands Province




Bumi Melayu Lancang Kuning, Bumi Segantang Lada, Bumi Gurindam dan Negeri Pantun

image hosted on flickr




Serentak menyusun jemari
Salah dan khilaf maaf diberi
Kain songket melayu berseri
Tenunan asli karya anak negeri


Langkahnya rentak bermawah
sepuluh jari menjunjung marwah
Bagai tersirat banyak faedah
Punya sejarah Negeri Bertuah


Negeri bertuah rajut bertingkah
Adat dan resam berdiri megah
Langkah melayu junjung berarah
Lantunan budaya mengukir sejarah


Tuah Sakti Hamba Negeri
Esa Hilang Dua Terbilang
Patah Tumbuh Hilang kan Berganti
Takkan Melayu Hilang di Bumi


Sri Bintan menyeluruh ke Payung Sekaki
Rokan Kampar bergema hingga Inderagiri
Dari Hulu Kuantan hingga Hilir Natuna
Terbentang Riau Gegap Gempita



image hosted on flickr





Riau was in front guard in maintaining cultural traditions and Malays in Indonesia. Language of instruction in this province are Malays. Developing customs and living in this province are Malays customs, which regulates all the activities and behavior of residents Islamic Sharia. The population was composed of Riau Malays and various other tribes, ranging from Bugis, Banjar, Mandahiling, Batak, Javanese, Minangkabau, and China.

Uniquely, in this province there are still groups of people who know the community in isolation, among others:

1. Interest Sakai: ethnic groups who live in several districts such as Kampar, Bengkalis, Dumai:


2. Talang Mamak tribe: living in Indragiri Hulu regency with the regional distribution covers three districts: Sand Turtle, Siberida, and Rengat:
[IMG]http://t3.************/images?q=tbn:a8lbcPm74HgoeM:http://www.bukit30.org/gambar/kawintm.jpg[/IMG]

3. Interest Akit: social groups living in forest areas Rupat Long District, Bengkalis District:


4. Tribal Forest: native tribes inhabiting the New Straits area and Jangkang in Bengkalis, and also makes the village on the island Stimulation Sokap District High Ridge Merbau and inhabit the rivers and the Kuala Kampar Apit.


5. Tribal Sea in Natuna Islands, Riau Islands.



From historical sources note that in the past, in the Riau (Riau Province now) has come a wave of migration of the ancestors of Indonesia. The first wave of migration shows Weddoid racial characteristics who came after the last ice age. Race is the first race that inhabited the archipelago. The remains of the ancestors of the first wave of this race still exist today and are a separate group in Riau. They called People Sakai, The Forest, and The Citadel. The remnants of the ancestors is often called the native people now are not great numbers again. People inhabiting Sakai Kunto Darussalam District, Kampar District and Mandau, Bengkalis District numbered only 2160 inhabitants. People who inhabit the forest Penyalai Island, District of Kuala Kampar, Kampar regency numbered 1494 souls (in 198



Muara Takus Temple

The temple is a national heritage of Indonesia. This temple is the site that witnessed the growth of Melayu culture, traditional customs and the community embraced the culture process, innate-Buddhist Hinduism and Islam in the region of Central Sumatra




In the period 2500-1500 BC, came a wave of migration with the characteristics of the first race of Malays, called Proto-Malays. These groups are supporting the spread of the New Stone age cultures to the island of Sumatra, through the Peninsula Malays. Time they were still there in Riau until now, called the Orang Talang Mamak and Orang Laut. Talang Mamak people who now inhabit the district and subdistrict Sand Turtle Rengat, Indragiri Hulu District numbered 3276 souls (in 1980). People who inhabit the sea and Sub Sub RETEH MANDAH in Indragiri Hilir and Sub Tambelan in Riau Islands regency numbered 2894 souls. In addition there are other aboriginal groups, namely people who inhabit the district Akit Rupat, Bengkalis, Mandau, and Cliff High in the Bengkalis District, all of which amounted to 11,625 souls.




Traces of human life from the time of the ancient homo sapiens or Pithecanthropus, about 10 thousand to 40 thousand years ago, was found in Kuantan, Riau province. Impressions of life as evidenced by the findings of an ax and fossil wood.


A wave of migration Malays second race came after the year 1500 BC and called the group Deutro-Malays. Their arrival caused the Proto-Malays were off to the hinterland and the rest mixed in with the new arrivals. The next process makes people Deutro-Malays mixed with other pendatangpendatang come from all around the country. The results of this mixing of ethnic groups gave birth Melayu Riau. They are the majority population in Riau Province covering an area 94,568 km2. *)






The development of these ethnic groups grow Melayu Riau several sub-nationalities, such as sub-nationalities Siak Malays, Malays Bintan, Malays Rokan, Kampar Malays, Malays Kuantan, Indragiri and Malays. Although there are sub-ethnic groups, Malays language remains the main language in Riau. Even its use extends to the entire archipelago. Bahasa Melayu Riau dialect can be distinguished into Melayu Islands, Coastal Malays dialects, and dialects of mainland Riau Malays. The first dialect of subdialek Tambelan, Tarempa, Bunguran, Singkep, Jaafar, and others. Second dialect of subdialek Kampar, Rokan, Kuantan, Batu Rijal, Peranap, and others. In addition there are the languages indigenous people, such as language Sakai, Orang Laut language, Akit language, and language Talang Mamak.



image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr
image hosted on flickr




Riau is not just a name. There is some interpretation about the origin of the name riau. First, toponomi riau naming comes from the Portuguese words meaning river rio. Second, leaders may come from Sindbad Al-Bahar in the book Alfu Laila Wa Laila (Arabian Nights) who called riahi, which means water or sea. Third, the word comes from the narrative riau local community, namely from the words or boisterous rioh, which means busy, noisy people work.


Riau Malay girl

image hosted on flickr

photo by : Yulnofrins Napilus



Based on some information on the likely riau name is derived from the naming of the local people, namely the Malays who live in Bintan. The name was most likely have been known since the King began to move the center of the kingdom kecik Malays of Johor to the Ulu Riau in 1719. After that, the name is used as one of the country from 4 major countries that make up the kingdom of Riau, Linga, Johor and Pahang.
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !

Última edición por Kris18 fecha: 22-10-2009 a las 01:27:01
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 08:49:11   #64
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Sekilas Sejarah dari Riau

Raja Ali Haji

image hosted on flickr



Bapak Bahasa Indonesia, Sastra Melayu dan Pahlawan Nasional


Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca. 1808- Riau, ca. 1873) adalah ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.
Kompleks makam keluarga Haji Ahmad di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang

Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis ("Bingkisan Berharga" tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan.

Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5 November tahun 2004.


Film MATA PENA MATA HATI RAJA ALI HAJI





Gurindam Dua Belas

Raja Ali Haji


Ini gurindam pasal yang pertama

Barang siapa tiada memegang agama,sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat,maka ia itulah orang ma'rifat Barang siapa mengenal Allah,suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri,maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari. Barang siapa mengenal dunia,tahulah ia barang yang terpedaya. Barang siapa mengenal akhirat,tahulah ia dunia melarat.


Ini gurindam pasal yang kedua

Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut. Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang. Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya. Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat. Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.


Ini gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.


selengkapnya di : www.rajaalihaji.com

Masjid Sulthan Riau di Pulau Penyengat
image hosted on flickr




www.suarakarya-online.com
Wisata Pulau Penyengat
Mengenang Kejayaan Sastra Melayu

Minggu, 30 April 2006

Tepat di gerbang Pulau Bintan, sekitar 10 menit penyeberangan dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, terhampar sebuah pulau yang menyimpan sejuta khazanah kebesaran sejarah Melayu. Namanya Pulau Penyengat. Sebuah hamparan daratan eksotis yang menyimpan aneka situs dan taman perhelatan bagi penulis Melayu di era kejayaan Kerajaan Riau Lingga.

Dari kejauhan, pulau seluas sekitar 240 hektar ini memancarkan kemegahan Masjid Raya Penyengat, yang dibangun tahun 1832 Masehi (1 Syawal 1248 Hijriah). Masjid Raya berarsitektur rancangan konstruksi Turki dan Eropa ini tetap terjaga keasriannya meski dipugar beberapa kali. Masjid bersejarah ini tetap berdiri kokoh dan menjadi situs kebanggaan masyarakat Kepulauan Riau kendati beton-betonnya hanya direkat dengan bahan kuning telur.

Menelisik lebih jauh catatan bersejarah Pulau Penyengat, sekitar abad ke-19 para Pujangga Melayu Riau Lingga telah menjadikan pulau ini sebagai taman perhelatan untuk melahirkan karya-karya besar. Pada era itu, ketika Kepulauan Nusantara belum mengenal kegiatan baca-tulis, di pulau ini telah berdiri percetakan yang menerbitkan ratusan buku ilmiah dan keagamaan.

Salah seorang penulis besar yang lahir dan berkarya di pulau ini adalah Raja Ali Haji (1809-1873 M). Karya Raja Ali Haji tentang Silsilah Melayu dan Bugis serta Tuhfat al-Nafis telah melambungkan namanya menjadi sejarawan penting bangsa Melayu.

Para Pujangga Riau Lingga seolah menemukan arwana untuk melahirkan karya-karya gemilang di zamannya. Karya-karya besar itu sungguh variatif, tidak hanya mewakili karya sastra di bidang kebahasaan, namun juga memiliki muatan religius, filsafat, kenegaraan hingga ke soal seksualitas. Karya-karya besar itu, antara lain Syair Siti Shianah, Syair Awai dan Gurindam Dua Belas.

Karya-karya emas ini tidak hanya lahir dari tangan dingin kaum bangsawan, tapi juga dari seorang perempuan jelata bernama Khatijah Terung. Melalui karyanya berjudul Kumpulan Gunawan, Khatijah menceritakan tentang hubungan seksual suami isteri. Seorang nelayan bernama Encik Abdullah pada 1902 juga menulis tentang Buku Perkawinan Penduduk Penyengat.

Simbol Intelektualitas

Melalui Kitab Bustan Al-Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa, Raja Ali Haji dinobatkan sebagai bahasawan yang pertama kali menjelaskan secara ilmiah tata bahasa Melayu. Ini menjadi dasar penempatan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (lingua franca) di Nusantara.

Raja Ali Haji juga seorang filosof dan ulama besar. Hal ini tersurat dalam karyanya yang menempatkan substansi ke-Islaman sebagai rujukan. Atas jasa-jasanya yang besar bagi Melayu dan bangsa Indonesia, Raja Ali Haji dicatat sebagai pahlawan nasional.

Pulau Penyengat di masa lalui dapat dikatakan sebagai simbol intelektualitas. Berbagai buah pikiran konstruktif yang dimaktubkan secara mutidimensi terlahir dari pulau yang kini tampak lusuh. Pesatnya penerbitan karya sastra pada abad ke-19 didorong oleh adanya lembaga percetakan bernama Matba'atul Riauwiyah yang beroperasi sejak 1890. Pada masa itu, kesadaran intelektual para penghuni Penyengat telah terorganisasi melalui perkumpulan bernama Rusyidah Club.

Pulau Penyengat pada abad ke-19 juga dikenal sebagai basis perlawanan terhadap kolonial. Pulau ini dijadikan kubu penting selama berkecamuknya perang antara Kerajaan Riau dan Belanda (1782-1794 M). Dari sini kemudian dikenal nama Raja Haji Fisabilillah sebagai Marhum Teluk Ketapang. Ia adalah salah seorang putra Kerajaan Riau Lingga yang dinobatkan menjadi pahlawan nasional dan meraih gelar Bintang Mahaputera Adipradana.

Sayangnya, waktu tidak berpihak pada kegemilangan itu. Sejarah kemasyuran Pulau Penyengat hanya terdengar lamat-lamat. Jika kita berkunjung ke pulau ini, simbol kejayaan masa lalu hanya dapat diwakili oleh beberapa potret buram. Bekas percetakan Mathba'atul Riauwiyah dan Gedung Rasyidah tinggal puing yang ditumbuhi semak belukar. Namun 250 karya sastra putera-puteri Pulau Penyengat yang berumur ratusan tahun masih tersimpan rapi di Balai Maklumat Pulau Penyengat.

Dari catatan sejarah, kemunduran intelektualitas sastra di Pulau Penyengat terjadi setelah Raja Riau Lingga terakhir, Sultan Abdurrahman Muzamsah memutuskan untuk meninggalkan Penyengat menuju Singapura pada 1911. Sultan Abdurrahman menolak menandatangani kontrak politik yang dibuat Belanda. Kepergiannya diikuti oleh sebagian besar penduduk Penyengat termasuk para bangsawan dan penulis-penulis pulau ini. (Muhammad Nasir)



Bahasa Melayu Riau Bunda Bahasa Indonesia


Sejarah dan Perkembangan Bahasa Melayu
Bahasa Melayu, sebagai bahasa yang besar, memiliki sejarah panjang hingga menjadi bahasa Melayu seperti yang wujud sekarang ini. Ahli sejarah bahasa Melayu mencatat bahwa bahasa Melayu telah melewati lima fase hingga saat ini. Fase awal diwakili oleh bahasa Melayu Purba, yang kemudian diikuti oleh fase Melayu Kuno atau Melayu Induk. Pada fase selanjutnya bahasa Melayu menginjak fase klasik, sebuah fase yang penuh dengan nilai sastra tinggi. Fase Melayu Klasik diikuti dan digantikan oleh fase Melayu Modern. Sedangkan fase terakhir adalah fase Melayu Pascakolonial.

Bahasa Melayu Riau mempunyai sejarah yang cukup panjang, karena pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada Zaman Kerajaan Sriwijaya, Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa internasional Lingua franca di kepulauan Nusantara, atau sekurang-kurangnya sebagai bahasa perdagangan di Kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu, semenjak pusat kerajaan berada di Malaka kemudian pindah ke Johor, akhirnya pindah ke Riau mendapat predikat pula sesuai dengan nama pusat kerajaan Melayu itu. Karena itu bahasa Melayu zaman Melaka terkenal dengan Melayu Melaka, bahasa Melayu zaman Johor terkenal dengan Melayu Johor dan bahasa Melayu zaman Riau terkenal dengan bahasa Melayu Riau.

Pada zaman dahulu ada beberapa alasan yang menyebabkan Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi digunakan, yaitu:
(1) Bahasa Melayu Riau secara historis berasal dari perkembangan Bahasa Melayu semenjak berabad-abad yang lalu. Bahasa Melayu sudah tersebar keseluruh Nusantara, sehingga sudah dipahami oleh masyarakat, bahasa ini sudah lama menjadi bahasa antar suku di Nusantara,
(2) Bahasa Melayu Riau sudah dibina sedemikian rupa oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya, sehingga bahasa ini sudah menjadi standar,
(3) Bahasa Melayu Riau sudah banyak publikasi, berupa buku-buku sastra, buku-buku sejarah dan agama baik dari zaman Melayu klasik maupun dari yang baru.

Di Indonesia, bahasa Melayu telah diakui secara tidak langsung sebagai bahasa nasional sejak peristiwa sumpah pemuda pada tahun 1928. Sementara itu di Malaysia, bahasa Melayu menjadi bahasa nasional satu-satunya semenjak negara itu merdeka pada tahun 1957. Singapura, kendati memisahkan diri dari Malaysia pada tahun 1965, tetap mengakui bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Begitu pula dengan Brunei yang merdeka pada tahun 1984. Bahasa Melayu selalu saja dikaitkan dengan kemerdekaan nasional dan menjadi salah satu faktor pemersatu antar penduduk di bumi Melayu yang tidak semua penuturnya bertutur dan berkomunikasi dalam bahasa Melayu.

Kongres Bahasa Indonesia pertama telah menetapkan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau, begitu pula dengan negara serumpun lain seperti Malaysia mengakui bahwa bahasa Melayu standar adalah bahasa Melayu Riau-Johor. Hampir tidak ada perdebatan soal ini.
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 08:49:49   #65
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Sekilas Sejarah dari Riau

Lancang Kuning

Sebait lagu Lancang Kuning yang populer dimasyarakat Riau

Lancang Kuning Berlayar Malam
Haluan Menuju Ke Laut Dalam
Kalau Nakhoda Kuranglah Faham
Alamat Kapal Akan Tenggelam





Perahu Lancang Kuning berasal dari rumpun dan daerah Melayu.
Lancang Kuning merupakan Armada Kerajaan Melayu Riau.
Pada Zaman dahulu, Perahu Lancang Kuning merupakan lambang kekuasaan kerajaan dan digunakan sebagai perahu resmi kerajaan Siak Sri Indra Pura begitu pula pada masa-masa kerajaan Riau-Lingga dan kerajaan Johor-Riau.





Menurut legenda, pemilik Perahu Lancang Kuning adalah seorang Putri dari kerajaan Melayu. Setiap perahu Lancang Kuning berlayar maka akan selalu didampingi oleh pengawal dan pengayuh dengan pakaian berwarna kuning. Dan menurut sejarahnya, konon Lancang Kuning yang legendaris itu karam di perairan Tanjung Jati, Bengkalis, Riau. Saat ini Perahu Lancang Kuning hanyalah tinggal legenda dan diabadikan menjadi Mascot Pemerintah Daerah Propinsi Riau.



Kenapa melayu identik dengan warna kuning?
Warna kuning keemasan oleh masyarakat melayu melambangkan kemegahan dan kejayaan bangsa melayu di zaman dahulu khususnya pada zaman Raja-raja, dimana pada saat itu rumpun melayu nusantara bersatu, makmur sejahtera dan pada saat itu terukir sejarah gemilang peradaban melayu.
Oleh kerajaan/kesultanan memilih warna kuning keemasan sebagai pengganti lambang emas (pada saat itu belum ada kain yang berasal dari emas) untuk menglambangkan daripada kejayaan melayu tersebut.
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:05:25   #66
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Malay Culture and the People

Balai Adat Melayu Riau
image hosted on flickr







Festival Budaya Melayu Dunia
image hosted on flickr
image hosted on flickr






Melay culture is also heavily influenced by Islam. So no wonder, when the Malays are also highly identical to Islam

Malay tradition from Kampar
image hosted on flickr






Malay clothes



image hosted on flickr



Melayu clothes for men commonly called teluk belanga (teluk belange) and for women is baju kurung kebaya labuh

in malay wedding , traditional clothing is usually worn with a bright color with gold ornaments. Bridegroom with tanjak and keris and the bride wore a gold crown and sunting ornament on her head.



Malay modern costume
image hosted on flickr





Riau Malay Wedding

image hosted on flickr
image hosted on flickr

image hosted on flickr
image hosted on flickr



image hosted on flickr
image hosted on flickr

image hosted on flickr



Songket Melayu Riau


image hosted on flickr


To Weaving Siak, the first to introduce this Masjid is a craftsman who was imported from the Kingdom of Terengganu Malaysia in the Siak Kingdom was ruled by Sultan Sayyid Ali. A woman named Wan Wan Siti Binti Karim was taken to the Siak Sri Indrapura, he is a competent and skilled in weaving and he taught me how to weave songket.

image hosted on flickr
image hosted on flickr



Initially taught weaving is a weaving planted and then exchanged a change by using a tool called a "kick", and the resulting fabric is called Woven fabrics of Siak. At first this Siak woven fabric is made limited to the aristocracy alone, especially the Sultan and his family and the authorities in the kingdom of Siak Palace. Loom is a loom that is simple enough from the wood material is about 1 x 2 meters. In accordance with the size of the device, the width of the resulting fabric is not wide enough so as not to a sarong, then the two must be in connection with the fabric called "Berkampuh".

image hosted on flickr
image hosted on flickr


As a result to get a piece of cloth, would have to be woven twice and then connect the results to the top and bottom which of course take a long time. In the raw materials needed to weave the threads, either colored silk or cotton yarn combined with gold as ornaments (motive) or ornaments. Benag because silk is hard to come by, then over time people just use a cotton yarn.


image hosted on flickr

minister of culture and tourism,Jero Wacik, Dedi Mizwar, and Riau governor wear teluk belanga with malay songket



image hosted on flickr



Tengku Maharatu. Tengku is empress Maharatu Sultan Lingga the second, after the first empress, Tengku Great died. He continued his brother's struggle to improve women's position in Siak and its surroundings, namely by teaching how to weave that became known as the weaving of Siak. Siak weaving which is a result of women's work has become Melayu Riau costumes used in traditional wedding clothes and other ceremonies. Thanks to the struggle that followed the first empress by empress second, women who graduated from the school can be Madrasatun Nisak give mubalighat and propaganda, especially to women.





Batik Riau

image hosted on flickr



Batik began there in the kingdom Daik Lingga and Siak, when it was known among the nobles of the court craft in the form of craft "Batik Cap". Where the material is made of bronze cap containing motifs. Each stamp has a different motive from each other. To get this printed batik print material first to dicecahkan dye and then stamped to the base cloth material so that the existing pattern dye will move to the fabric. Yellow dyes or silver, while the basic fabric material used is silk or other fine materials are usually black (dark). Motif in use are not much different motifs on embroidery craft.


image hosted on flickr

Teuku Wisnu wears Batik Riau at the event FFI 2007

Some time later printed batik is changed to "Telepuk", materials for the cap made of soft wood in accordance carved motifs. For certain things can also seal material is made from fruits such as potatoes hard. This is of course only for single-use and no permanent existence, and the motives that made limited to the size of the material in use. In line with the end of the reign of the kings, so also the existence of an end or printed batik telepuk until several days later.
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:08:01   #67
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Malay Atributes

Tepak sirih




image hosted on flickr



Tanjak Datuk Laksamana Hang Tuah, dan beberapa tanjak khas melayu Riau

image hosted on flickr




Sunting dan mahkota/gelaran emas

image hosted on flickr



Keris

image hosted on flickr



Pedang Jenawi

image hosted on flickr



Selembayung





Bidai untuk rumah orang biasa




Bidai untuk rumah bangsawan





Bidai untuk rumah keluarga istana kerajaan





Ragam motif melayu


Awan Larat Kuntum Berangkai Lengkap :
Senyum indah dalam cakap bicara



Awan Larat Kembang Teratur :
Pelekat hidup, Se-ia sekata, Sehidup semati



Pucuk Rebung



from: attayaya.com



Bunga Bale

image hosted on flickr


image hosted on flickr


image hosted on flickr
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:10:19   #68
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Malay Arts

Riau Malay dance

image hosted on flickr


Tari Zapin
image hosted on flickr



Zapin derived from the Arabic "Zafn" which means quick feet movements followed tramp blows. Zapin a grove dance hasanah Malays who have been influenced by Arabic. This traditional dance is educational and entertaining, is used as a propaganda medium Islamiyah through poetry Zapin songs that sing.



Tari Laskar Encik Puan , Riau Malay woman's soldier against colonizer in 18th century
image hosted on flickr



image hosted on flickr




Music entourage consists of two main tools of stringed lute instrument and three percussion instruments small drum called marwas. Before the year 1960, Zapin only danced by male dancers but now familiar female dancers danced by dancers even mix of men to women.

image hosted on flickr



Tari Madah Gurindam from Bintan
image hosted on flickr


Dance wither in the Riau and Riau Islands is growing in districts and cities, among others: Zapin Dance, Lancang Kuning Dance, Pembubung Dance, Serampang 12 Dance, Lambak Dance, Madah Gurindam Dance, Dance Dance Dangong, Jogi Dance, Dance Melemang, Makyong Dance, Dance supportive, henna Dance, Dance Rowing boat, Mask Dance, Dance lang-Lang Buana, Dance pestle,udur Chicken Dance, Dance Boria, Dance West Remembrance, Rokana Dance, Dance Dance heap, Damnah Dance, Dance Semah Kajang, Dangkong Dendang Dance, Dance Box Lelat, Redeem Fan Dance, Dance Foreword, Puteri Hang Dance, Dance Mustika Kencana , Marhaban Dance, Dance uphold care, Compassionate Tandak Dance, Dance Fish chortle, Tarek Rawai Dance, Dance Place cigarettes, Dance Masri, Betabik Dance, Dance Lenggang lizard, Bebtan Dance, Dance Dance of the Moro Kak Long, Dance Dance Mak Dare, Dance Dance Makcik normah Long Batam island.




Theater


Riau Art Theater "Anjung Seni Idrus Tintin" in Bandar Seni Raja Ali Haji complex

image hosted on flickr



Theater Tun Teja

image hosted on flickr
image hosted on flickr



image hosted on flickr
image hosted on flickr


Malays theater that developed in Riau Province: Theater District Makyong in precisely on the island of Bintan Mantang, Long Island in Batam; Theater District voted in exactly the Sub Ranai Sedanau and Ranai; Theater-lang Lang Buana in Natuna regency precisely in Ranai; Theater Royal in Daik Lingga, Dabo Singkep, Penyengat Island.

Makyong Theater from Riau Islands



Randai Kuantan from Kuantan Singingi - Riau




Gambus Melayu Riau


Gambus Riau Malayan is one of much traditional music influence by Islam, which became traditional music among Malayan community in Riau especially in Pekanbaru. In addition, it was also developed in other Malayan communities in Jambi, Deli, Malaysia, Brunie, and Singapore. From its historical point of view, Gambus Malayan was supposed to be an acculturation of Arabian and Persian culture that was first brought by Arabian and Persian traders when they traded and introduced Islam to the Archipelago/Indonesia.





Kompang





Berdah






Calempong Kampar
image hosted on flickr




Silat





Malay Traditional Games

kite from Bengkalis
image hosted on flickr



Congkak
image hosted on flickr



Gasing



Kelereng/gunduh
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:14:12   #69
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Tourism Event

Ritual Bakar Tongkang ( Burn Tongkang procession) in Bagansiapi-api, Rokan Hilir.



Ritual Bakar tongkang is the only cultural traditions and ethnic customs in Bagansiapi. This tradition originated from earlier ancestors, where there are 3 large ships (in the words melayu called "Tongkang") who sailed from China to mainland Nusantara. But in the journey, two ships sunk in the sea, so that the remains of a ship that eventually landed coastal area of Riau, precisely in Bagansiapi-api, Rokan Hilir.



Sampan Kotak Bagansiapi api


According to belief, the god ordered the people to settle down in Bagansiapiapi and as a community to Tionghoa live with prosperous new area and did not return to homelands. And the tradition that symbolizes harmony between the ethnic life melayu and this tionghoa annually.



Pacu Jalur Teluk Kuantan, Kuantan Singingi




Pacu Jalur activity is a fairly popular party very festive. For tourists who visit the show can see the richness of the festival which is the work of this Kuantan Singingi's people. According to local belief, Runway Line is the culmination of all activities, every effort, and all the sweat that they spend to make a living for a year. In short, Pacu Jalur always eagerly awaited by the community. Kuantan Singingi's people and surrounding areas poured witnessed an event that is eagerly awaited.



image hosted on flickr



Perahu Beganduang
image hosted on flickr



Dragon Boat Race in Tanjung Pinang






Petang Megang in Pekanbaru





image hosted on flickr
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:15:40   #70
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Malay Culiner Food

Gulai dan Asam Pedas Patin - Baung

image hosted on flickr




image hosted on flickr




Otak-Otak khas Kepulauan Riau



Sambal Nenas Riau

image hosted on flickr



Rujak Maharaja
image hosted on flickr



Soto Pekanbaru
image hosted on flickr



Sate Bandar Senapelan
image hosted on flickr



Es Laksamana Mengamuk

image hosted on flickr



Roti Jala Es Durian

image hosted on flickr



Lemang/Pulut




Wajik

image hosted on flickr




Bolu Kemojo (Bolu Kemboja)

image hosted on flickr



Kue Bangkit dan Lempuk Durian

image hosted on flickr
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:18:59   #71
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

when the president visited the Riau

Coronation Malay Riau title to president Susilo Bambang Yudhoyono as Datuk Paduka Yang Mulia Sri Indra Amanah Wangsa Negara

image hosted on flickr
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:23:45   #72
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Riau Traditional House


Selaso Jatuh Kembar
image hosted on flickr



Lancang/Pencalang/Lontiok, Kampar Traditional House
image hosted on flickr



Pekanbaru Traditional House
image hosted on flickr




Bintan, Riau Islands
image hosted on flickr



Batam Traditional House
image hosted on flickr
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:31:29   #73
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Riau Zaman Dahulu

Kerajaan Riau Lingga


image hosted on flickr


Kesultanan Riau-Lingga adalah kerajaan Islam di Kepulauan Lingga, Kabupaten Lingga, Riau, Indonesia yang merupakan pecahan dari Kesultanan Johor.

Kesultanan ini memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa Indonesia. Pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah Raja Ali Haji, seorang pujangga dan sejarawan keturunan Melayu-Bugis.


image hosted on flickr



Riau-Lingga pada awalnya merupakan bagian dari Kesultanan Malaka, dan kemudian Kesultanan Johor-Riau. Pada 1811 Sultan Mahmud Syah III mangkat. Ketika itu, putra tertua, Tengku Hussien sedang melangsungkan pernikahan di Pahang. Menurut adat Istana, seseorang pangeran raja hanya bisa menjadi Sultan sekiranya dia berada di samping Sultan ketika mangkat. Dalam sengketa yang timbul Britania mendukung putra tertua, Husain, sedangkan Belanda mendukung adik tirinya, Abdul Rahman. Traktat London pada 1824 membagi Kesultanan Johor menjadi dua: Johor berada di bawah pengaruh Britania sedangkan Riau-Lingga berada di dalam pengaruh Belanda. Abdul Rahman ditabalkan menjadi raja Riau-Lingga dengan gelar Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah.


image hosted on flickr



Pada tanggal 7 Oktober 1857 pemerintah Hindia-Belanda memakzulkan Sultan Mahmud IV dari tahtanya. Pada saat itu Sultan sedang berada di Singapura. Sebagai penggantinya diangkat pamannya, yang menjadi raja dengan gelar Sultan Sulaiman II Badarul Alam Syah. Jabatan raja muda (Yang Dipertuan Muda) yang biasanya dipegang oleh bangsawan keturunan Bugis disatukan dengan jabatan raja oleh Sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah pada 1899. Karena tidak ingin menandatangani kontrak yang membatasi kekuasaannya Sultan Abdul Rahman II meninggalkan Pulau Penyengat dan hijrah ke Singapura. Pemerintah Hindia Belanda memakzulkan Sultan Abdul Rahman II in absentia 3 Februari 1911, dan resmi memerintah langsung pada tahun 1913.


Masyarakat Riau (Kerajaan)

image hosted on flickr


image hosted on flickr


image hosted on flickr
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 09:55:10   #74
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37

Riau Zaman Dahulu (Zaman Keemasan)

Kesulthanan Siak



image hosted on flickr
image hosted on flickr

Istana Asherayah Hasyimiyah pada zaman dahulu dan sekarang



Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ.


image hosted on flickr

Lambang Kerajaan

Sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak berada dibawah kekuasaan Johor. Yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan di angkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut.

Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II mangkat dibunuh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik Pong pada waktu itu sedang hamil dilarikan ke Singapura, terus ke Jambi. Dalam perjalanan itu lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau.

Sementara itu pucuk pimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendahara tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Dalam merebut Kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang, dan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan seterusnya mendirikan negeri baru di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak). Demikianlah awal berdirinya kerajaan Siak di Buantan.


image hosted on flickr




Namun, pusat Kerajaan Siak tidak menetap di Buantan. Pusat kerajaan kemudian selalu berpindah-pindah dari kota Buantan pindah ke Mempura, pindah kemudian ke Senapelan Pekanbaru dan kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864) pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap disana sampai akhirnya masa pemerintahan Sultan Siak terakhir.




Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889 ? 1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Dan oleh bangsa Eropa menyebutnya sebagai The Sun Palace From East (Istana Matahari Timur).


Sulthan Syarif Hasyim
image hosted on flickr



Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda.


Sultan Siak attending the day Princess of Netherland's become a Queen
image hosted on flickr



Commissioner of the Republik of Indonesia
image hosted on flickr



Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II).


image hosted on flickr

Nukilan Babul Quwaid, Kitab Pedoman Kerajaan Siak

Sultan As-Sayyidi Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin II atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim.


image hosted on flickr

Sultan Syarif Kasim II with his sword and crown

Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim Sani (Sani=dua). Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan: berdiri sendiri sperti dulu?, bergabung dg Belanda? atau bergabung dg Republik? Sultan sebagai sosok yg wara' dan keramat melakukan istikharah. Saya kuat menduga Allah memberitahu SSK agar bergabung dg Republik karena kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan kalau sekedar dikuasai sendiri.Maka Sultan menentukan pilihan bergabung dg Rep. Mendukung NKRI. BERGABUNG, bukan menyerahkan diri.


Sultan Syarif Kashim II, the 12th Sultan of the Siak with his wife and his employee (a dutch man) on Kapal Kato

image hosted on flickr



Sultan menurunkan modal 13 juta Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung), bersama2 dg para komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo, Kutai kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa-daerah-daerah yg termasuk Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pd jaman pendudukan Belanda di nusantara).


Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden.


Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968.


Senapelan, Pekanbaru abad ke-19
image hosted on flickr
image hosted on flickr


Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu.
Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.


image hosted on flickr
image hosted on flickr

Sulthan Syarif Kasim II dan Permaisuri, Tengku Agung Sulthanah Latifah


image hosted on flickr

Tengku Maharatu, permaisuri kedua Sulthan sekaligus tokoh kebangkitan wanita di Riau beserta para puteri kerajaan yang menimba ilmu di Latifah School


Honouring the death of Sulthan Syarif Kasim II
image hosted on flickr



Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.

from : www.krishadiawan.co.cc
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !

Última edición por Kris18 fecha: 21-10-2009 a las 10:02:27
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 12:22:57   #75
rilham2new
Obsolete User
 
Fecha de Ingreso: Oct 2006
Ubicación: Riau, Jakarta Barat, Brunswick West (VIC)
Mensajes: 29.378
Likes (Received): 282

Wah, Kris ... kalau datanya selengkap itu ... untuk budaya melayu saja, kayaknya kita perlu thread sendiri hehehe,
Good job
__________________
"2 + 2 = 5". By George Orwell
rilham2new no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 13:57:55   #76
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37


Haha,, kebetulan karena threadnya menarik, dan aku punya lumayan banyak koleksi gambar daripada nganggur mending diekspos juga .. hehe..
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 21-10-2009, 16:34:59   #77
Balaputradewa
SUMSEL GEMILANG
 
Avatar de Balaputradewa
 
Fecha de Ingreso: Jul 2008
Ubicación: BUKITTINGGI
Mensajes: 7.385
Likes (Received): 901

Thanx Kris for showing Riau Malay People...nice info n picts Awesome..u explicate it with full..complete.. Hopefully u help me to show another Indonesian ethnics/tribes yah.. with ur high spirit like this
Balaputradewa no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 22-10-2009, 04:53:24   #78
rilham2new
Obsolete User
 
Fecha de Ingreso: Oct 2006
Ubicación: Riau, Jakarta Barat, Brunswick West (VIC)
Mensajes: 29.378
Likes (Received): 282

AKu sampai salut sama Kris...

Untuk data2 mengenai MELAYU RIAU sebenarnya tersimpan cukup rapi, jelas, dan expansif di website

http://melayuonline.com
http://www.wisatamelayu.com/

Keren banget websitenya, padahal basis pusat pengembangan website itu ada di Jogja... tapi berbanding Melayu dari daerah lain. Yang dari Riau datanya paling banyak ....

Banyak gambar2nya. Cuman yang KRIS dapatkan, benar2 banyak banget. Sampe2 koleksi pribadiku untuk "Festival Budaya Melayu Sedunia" tahun 2003 yang diselenggarakan di Pekanbaru jg ada di situ, aku sampe heran dia bisa dapat gambar itu dari mana, coba hehehe.

Gambarnya masih banyak banget loh, Kris ... Bahkan pas parade2 dari beberapa negara bagian di Malaysia dan Provinsi/Kabupaten di Indonesia jg ada. Saking besarnya perhelatan waktu itu, sampai dibuka oleh mantan Presiden kita Ibu Megawati....
__________________
"2 + 2 = 5". By George Orwell

Última edición por rilham2new fecha: 22-10-2009 a las 04:58:46
rilham2new no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 22-10-2009, 05:22:18   #79
Kris18
Registered User
 
Avatar de Kris18
 
Fecha de Ingreso: Dec 2008
Ubicación: Jakarta & RIAU
Mensajes: 3.800
Likes (Received): 37



@Balaputeradewa : Thank you , sure I will try .. we will expose about all our culture in Indonesia . I love Indonesia

@bang Ilham :haha,,, jadi malu neh aku gak bilang-bilang sama bang Ilham kalau aku koleksi 1 foto festival budaya melayunya ...
oya bang, kirim-kirim jugalah foto-foto festival budaya melayunya yang lain


iya kebetulan aku ada foto tentang Riau gitu dan ada sedikit pertolongan dari bujang-dara Riau , ditambah lagi ini thread bagus kalilah untuk ekspos budaya Indonesia. Sebenarnya aku juga ada foto-foto budaya dari daerah lain, tapi seputaran gebyar budaya nusantara di JCC kemarin ada dari Sumsel, Kalimantan Barat, Maluku, itupun juga kurang lengkap datanya . Mohon bantuannya juga dari kawan-kawan
__________________
Bekerja keras akan menghasilkan pencapaian. Sedangkan berkata-kata dan berdalil sana sini akan menghasilkan alasan.

mari lanjutkan pembangunan !

Última edición por Kris18 fecha: 22-10-2009 a las 05:29:13
Kris18 no está en línea   Responder Con Cita
Antiguo 22-10-2009, 20:22:41   #80
Zorobabel
Awesomeness
 
Avatar de Zorobabel
 
Fecha de Ingreso: May 2005
Ubicación: Jakarta
Mensajes: 1.209
Likes (Received): 2

Anyone have other pictures of Candi Muara Takus? High resolution would be nice. As far as I know, it's the only major surviving Sriwijaya temple in Indonesia.
Zorobabel no está en línea   Responder Con Cita
Respuesta

Herramientas

Normas de Publicación
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is habilitado
Las caritas están habilitado
Código [IMG] está habilitado
Código HTML está deshabilitado



La franja horaria es GMT +2. Ahora son las 20:00:01.


Powered by: vBulletin, Versión 3.8.8 Beta 1
Derechos de Autor ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.
Feedback Buttons provided by Advanced Post Thanks / Like v3.2.5 (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

vBulletin Optimisation provided by vB Optimise (Pro) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.

SkyscraperCity ☆ In Urbanity We trust ☆ about us | privacy policy | DMCA policy

Hosted by Blacksun, dedicated to this site too!
Forum server management by DaiTengu