SkyscraperCity Forum banner
1 - 20 of 162 Posts

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Baru gabung karena penasaran dgn progress T3U. Kemarin pulang lebaran lewat CGK liat konstruksinya yg nggak (atau belum) kelihatan 2013. Soal desain fisik, mungkin gw nanti dulu komentarnya krn di sini banyak yg lebih paham.

Agak OOT, tp yg ngganggu banget buat gw di bandara-bandara Indonesia adalah recorded announcement dlm bahasa Inggris. Menurut gw, recorded announcement dlm bahasa asing sebaiknya pake native speakers. Gw lihat banyak penutur asli bahasa INggris di bandara Indonesia yg ga bisa nangkep aksen Inggris-nya orang Indonesia krn pengucapan dan tempat penekanannya salah, apalagi kalo logatnya dibuat2 ala ABG gitu. Yg bahasa Arab, Jepang, Mandarin, Korea sih kayaknya udah native speakers, tapi ga tau juga krn gw gatau bahasanya.

Kalo ada yg punya akses ke AP2 tolong disampaikan masukan ini buat T3U (T2/T1 juga). Pakai native speakers beraksen British atau Amerika ga masalah, walaupun mungkin aksen British bakal cover lebih banyak negara2 Eropa sedangkan akses Amerika mungkin hanya cover North American countries. Ga cuma bahasa INggris sih, yg lain juga sebaiknya pake native speakers.

Trus recorded announcement soal matikan HP sebelum boarding kenapa masih diputer sih di CGK? Kan ga relevan lagi. Banyak airlines yg udah bolehin nyalakan HP (ga cuma flight mode loh!) on board.
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Soal larangan pemakaian handphone dan alat elektronik harus tetap ada karena itu adalah sesuai dengan UU Indonesia. Pakai maskapai apapun mendarat di Indonesia, ketika mendarat pasti pengumumannya adalah handphone tidak boleh dinyalain sampai setelah tiba d gedung terminal. SQ pun demikian. Jadi ini bukan masalah apakah di luar negeri sudah ditiadakan atau belum.
I see
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Kalau sistemnya Soetta ga berubah, dimana area check in tertutup untuk umum, maka problem Transit internasional itu jadi berlaku ke transit domestik...

Mau transit domestik ganti terminal harus cek barang bawaan 3 kali (keluar are baggage terminal sblm, masuk check in terminal sesudah, dan masuk gate baru) apalagi pas lebaran ngantrinya lama... :)

Kalau APM nya bisa buat airside dari 3 kali bisa jadi 1 atau 0... Dan Soetta bisa jadi tempat transit ideal...
Ada untung ruginya di airside atau landside. Kl di airside, penumpang transit ga perlu bolak-balik ngurusin bagasi, terus siapa yg mau ngurusin? Transit ganti maskapai belum tentu maskapainya mau check in through to final destination, jadi penumpang yg harus ambil bagasi, pindah terminal, dan cek in bagasi lagi padahal ga ada shuttle train di landside. Kl ga salah T3U mau dipakai Garuda, jadi lebih masuk akal kl shuttle-nya di landside krn transfer antar-Garuda ga perlu pindah terminal dan bagasinya diurus Garuda. Kl penumpang transfer dari Garuda ke maskapai lain, toh mereka perlu ngurus bagasi mereka jadi ga perlu shuttle di airside untuk pindah terminal.

Tp masalahnya kl bener2 di landside, banyak orang 'yg ga berkepentingan' penuh-penuhin kereta, this is Indonesia after all (pengantar sekampung, penjaja parfum imitasi, atau malah2 jd wahana wisata keluarga). SOlusinya, pertahankan area check-in yg steril (cuma buat calon penumpang) spt sekarang, nah pintu ke shuttle-nya di area check in ini, jadi cuma calon penumpang yg bisa pakai.
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Iklannya ya ampun
Emang berkesan maksa banget di situ dan kayak gitu ala kadarnya asal nemplok. Keliatan kyk reklame barter, Changhong bayar pake bbrp biji tv.

Sama kyk recorded announcement bahasa Inggrisnya asal bunyi Dan asal ada ga peduli pengucapan, penekanan, Dan intonasi bener apa gak. Ga peduli penutur asli Inggrisnya bisa nangkep apa ga.

Sorry OOT rant
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Mimpi suatu saat bandara2 diprivatisasi...
Seragam AP2 yg pink norak itu masih dipakai?

Sbnrnya banyak reklame ga mslh asal penempatannya bener. Smg T3U dr awal udah punya desain lokasi2 billboard/reklame
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Aside from lantai HT apakah AP2 ini emang lagi familiar sama yang namanya signage capslock jebol kah? :nuts: sumpah signage di TNJ saja yang bandaranya jauhh lebih kecil masih lebih enak diliat
Lihat foto2 ini jadi gemes lagi sama pemakaian bahasa Inggrisnya. Hampir semuanya pakai singular. Ngerti sih maksudnya apa tapi kalo gw jadi penutur asli, mata gw bakal gatel karena kelihatan dan kedengeran ganjil.

Domestic Gate / International Gate (emang cuma satu gate?)
Toilet (emang cuma satu toilet?)

Yang paling parah Lift for Disable. Apa pula ini? Kalo memang mau diperjelas untuk penyandang cacat, Lift for the Disabled. Atau sebenernya cukup ditulis aja Lifts, toh orang pake kursi roda juga udah tau kalo ada lift mereka pasti akan pakai, toh penyandang cacat ga cuma orang pakai kursi roda jadi ga semua penyandang cacat perlu lift.

Duh, jadi inget recorded announcement yg bahasa Inggris belepotan si mbak-mbak di CGK itu masih terngiang terus di kuping. Pake suara native speaker dong! Pengen tahu kayak apa kualitas bahasa di DPS bulan depan.

Mana hasil studi bandingnya? mana hasil sewa konsultannya?

Bahasa Indonesianya juga pakai kata yang ga umum. Kenapa ga bilang aja Pertokoan daripada Perniagaan.
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Gw merasa tergantung dari facade dan design interior tokonya sih. Gramedia di GI (masih ada gak yah?) terlihat lebih wah daripada Gramedia di plaza-plaza kecil di daerah dan bisa menyesuaikan dengan ambiance mall-nya (pas GI baru buka dulu banget).

Masalahnya toko-toko mid-range gini mau investasi besar buat menyesuaikan dengan sekitarannya atau memilih menyeragamkan design dengan toko-toko lainnya?
Sepakat Oom tergantung desain di dlm msg2 toko. Selain itu juga pilihan brg2 yg dijual. Disini gw menyoroti toko2 souvenir di T2. Sayang bgt krg mampu menarik pungunjung krn barang2 dagangannya ga dikurasi. Shrsnya lebih selektif, ambil brg2 unggulan yg presentable, packaging menarik, range harga variasi. Ini jg buat memicu produsen buat memperbaiki kualitas dan packaging, "hey kl lo ga bikin brg lo presentable, gw ga ambil lo punya barang ga peduli seenak apa keripik pisang lo" misalnya. Sorry OOT keripik pisang.

Yg ada skrg, semua-muanya breg ditaruh di sana, mulai bungkusan plastik yg sekadar dijepret steples sampe kotak berlapis beludru. Lampu tokonya remang2 pula, halah!
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
TBH, I'm on the cons side of the new design of this T3. Big flat roof doesn't impress me at all. Can't even see the relations with T1 and T2. I would vote for the previous design with gable roofs instead which is very vernacular with Indonesian architecture.

So would I. This design is more superior by miles and would look more sophisticated in 3D perspectives: from the front, from the air and from the sides. The executed design wouldn't even have the wow effect from the front, let alone from the air. But heyho...
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
^^ I thought this is the planned T4. Terminal 3 does not do this kind of roofing work.
Mungkin sudah pernah dibahas di sini, tapi jauh sebelum gabung ke thread ini saya baca di Jakarta Post desain tradisional akan dipertahankan di kompleks CGK. Dulu saya kira T3U bakal ambil inspirasi rumah Toraja spt di gambar ini, karena di artikel itu tidak bahas T4.

http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/12/soekarno-hatta-keep-its-%E2%80%98traditional%E2%80%99-look.html


Aug 2011
Soekarno-Hatta to keep its ‘traditional’ look



The state-owned operator of Soekarno-Hatta International Airport, PT Angkasa Pura II (AP II), said the new design for the airport would retain the current traditional architecture.

AP II president director Tri S. Sunoko said the airport would retain its unique architectural style without compromising its objective of accommodating more passengers.

Ground breaking for the Rp 11.7 trillion (US$1.37 trillion) Soekarno-Hatta expansion project is expected to begin early next year and the design of the airport would include a roofs inspired by traditional Toraja houses and interiors featuring Balinese paintings and ornaments.

...
Ada angka 2.digambar ... Itu maksdnya apaa ya??
Ngarep Terminal 2 ya? Sama!
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
http://www.thejakartapost.com/news/2015/10/06/soekarno-hatta-airport-named-asias-largest-megahub.html

Soekarno-Hatta airport
named Asia's largest megahub


The Soekarno-Hatta International Airport (CGK) in Jakarta has been named the largest megahub in Asia, ranked the 17th most-connected airport in the world, just ahead of Haneda International Airport in Tokyo, Sydney Airport and Chhatrapati Shivaji International Airport in Mumbai.

To rank the connectivity of airports for the Megahubs Index 2015, air travel intelligence provider OAG calculated the total number of all possible connections between inbound and outbound flights within an eight hour window at each airport on 7 August 2015, the busiest day for global aviation this year.

In the top 50 megahubs list, CGK has a connectivity index of 652, which is measured by the ratio of scheduled connections to the number of destinations served by the airport. It is reportedly a very constrained airport, with a burgeoning domestic market and rising low-cost carriers (LCC). Lion Air is mentioned as CGK's largest LCC and contributes to its being ranked sixth in the study's top 25 low-cost megahubs.

...
Ada gunanya ga sih predikat beginian?
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Utk jadi hub dunia boss. Dubhai mandi uang setelah jadi hub penerbangan dunia. Hal yg sama terjadi di Singapura. Kita bisa mandi uang asal benar2 di plan tata kotanya secara wow dan seperti biasa gak mungkin kita bikin etalase kaki lima utk barang sekelas Gucci kan?

Bagkok setelah di modifikasi tata kotanya, bandaranya dan public transportnya jadi tempat tujuan utama investasi dunia. Makanya pembangungan gedungnya cepat sekali.
Paham yg ini. Tapi masak Changi kalah sama CGK dalam hal connectivity. Ini karena destinasi2 domestik masuk itungan jadi Indonesia menang di situ, makanya saya tanya guna ga peringkat ini. Perbandingannya ga apple to apple karena Indonesia negara gede punya banyak tujuan domestik sedangkan Singapura cuma segitu, jadi Changi (mungkin) ga punya tujuan domestik sama sekali.
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
CGK dapet penghargaan toilet terbersih

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinobatkan oleh Kementerian Pariwisata sebagai bandara dengan toilet terbersih di Indonesia.
Pada Penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Bersih di Bandara Internasional/Nasional Tahun 2015, Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) sukses berada di Peringkat I dengan perolehan nilai 85,18.
Bandara di bawah lingkungan PT Angkasa Pura II (Persero) lainnya yang juga berhasil meraih penghargaan di ajang tersebut adalah Kualanamu Medan di Peringkat III, lalu Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang di Peringkat IV, Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru di Peringkat V, Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang di Peringkat VI, Sultan Iskandar Muda Aceh di Peringkat VIII, Halim Perdana Kusuma Jakarta di Peringkat IX, Supadio Pontianak di Peringkat XIII, dan Minangkabau Padang di Peringkat XIV.
President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Budi Karya Sumadi, mengatakan penghargaan yang diraih bandara-bandara di bawah pengelolaan AP II ini menjadi pemacu untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada pemangku kepentingan termasuk pengguna jasa bandara khususnya dalam hal kebersihan toilet untuk mendukung terciptanya lingkungan sehat dan higienis.
“Kami meyakini dengan semakin baiknya pelayanan diantaranya dengan menyediakan toilet bersih di setiap bandara akan turut meningkatkan indeks daya saing pariwisata Indonesia,” tambah Budi Karya Sumadi, Kamis (8/10/2015).
Adapun penilaian pada ajang penghargaan ini dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari perwakilan Asosiasi Toilet Indonesia, Pemerhati Lingkungan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Peneliti Pariwisata, dan Forum Wartawan Pariwisata.
Peringkat bandara ditentukan berdasarkan salah satunya penilaian terhadap kondisi dan kelengkapan toilet di bandara yang mendukung faktor kesehatan dan higienis.

Sumber : tribunnews
Kl toilet (landside) CGK yg kayak gitu dpt penghargaan terbersih, gimana toilet di bandara2 lain ya?!
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
gilaaa imigrasi SHIA ...

share aja ya sini ... kali2 aja yg laen bawa temen/tamu dari luar negri

jadi ane tiba di Jakarta dari Beijing (transit Fuzhou) naek Xiamen airlines
pas mendarat di terminal lgsg balap ke imigrasi

cewe g (Chinese) ngantri pas dibelakang gw ... petugasnya nanya "itu siapanya ?", trus g bilang "temen" (asal aja , males ngomong uda jam 12 malem pengen cepet2 keluar aja)

trus petugasnya bilang : "itu orang luar lewat atas"

g mikirnya mungkin emang dipisahin ya sekarang biar cepet n gw ga ada liat2 papan petunjuk

gw jdnya tunggu di deket luar deket antrian taxi ,,,, tapi lamaaaaaaaaaaaa banget

trus dia akhirnya kluar , ngomong ke gw :
petugasnya jadi "maksa" bikin "visa" , cewe gw bilang ke petugas ke Indonesia sekarang bebas visa and free

d sana juga ada tour group dari China and guidenya bisikin "tips"

alhasil minjem 10Chinese Yuan dari tuh tour guide (Yang kalo dikurskan 20ribu)

lgsg deh di cap tanpa babibu ....

============================

jadi kesan pertama Indonesia : DIPALAKIN IMIGRASI

emang bukan berapa sih tapi yanamanya pungli ya ga bener
Ikut prihatin. Ada tips buat hindarin beginian?
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Emang kalo ngotot ga mau bayar, konsekuensinya apa? Deportasi? Pasti pihak maskapai bakal tanya alasan deportasi. Saran saya sih, bawa 2 salin fotokopi bukti reservasi hotel + return tiket. Jadi kalo pihak imigrasi bikin alasan palsu si WNA punya bukti ke maskapai. Kalau si WNI ikut lewat atas nemenin si WNA boleh tak?
 

·
Reg
Joined
·
444 Posts
Status bagus International, tapi menurut gw "international airport" ga perlu digembar-gemborkan di nama komersialnya. Menyebut "Soekarno-Hatta International Airport" sama dengan menyebut "Camelia Malik Artis Ibukota", meh... nggak banget! Pilih nama komersial yang mudah diingat, singkat, catchy, dan... ya tentu saja komersial. Sekadar ide nama untuk dikomersialkan/dipopulerkan tanpa embel2 "international airport": Soetta, SHIA, atau Soekarno-Hatta*

*sedikit curhat, sebenarnya mangkel waktu Cengkareng diubah jadi Soekarno-Hatta, semua-muanya dinamai Soekarno-Hatta (ingat Gelora Senayan jadi Gelora Bung Karno?). Udah bagus2 Cengkareng & Senayan! Untung Stasiun Gambir ga jadi Stasiun Bung Karno.
 
1 - 20 of 162 Posts
Top