SkyscraperCity banner

1061 - 1068 of 1068 Posts

·
railav | railfans-avgeek
Joined
·
814 Posts
Yang saya tau peron Stesen Maguwo sisi selatan bisa menampung SF4, sedangkan sisi utara SF5. Panjangnya mirip-mirip/tidak beda jauh dengan panjang peron komuter Surabaya.
anyway peron Stasiun Maguwo memang sekarang hanya bisa nampung SF pendek. kalo datang dari timur, penumpang yang berada di kereta 4 dan 5 tidak dapat peron. kalo datang dari barat pun sama, ditambah posisi buntut kereta 5 masih sangat mepet sama spoor raya. namun untuk emplasemen sekarang sudah lebih panjang. posisi wesel barat yang dulunya sangat mepet dengan peron sudah digeser. jadi sebenarnya tinggal sedikit memperpanjang peron saja buat biar semua kebagian peron.
 

·
Your Shit Says
Joined
·
1,220 Posts
anyway peron Stasiun Maguwo memang sekarang hanya bisa nampung SF pendek. kalo datang dari timur, penumpang yang berada di kereta 4 dan 5 tidak dapat peron. kalo datang dari barat pun sama, ditambah posisi buntut kereta 5 masih sangat mepet sama spoor raya. namun untuk emplasemen sekarang sudah lebih panjang. posisi wesel barat yang dulunya sangat mepet dengan peron sudah digeser. jadi sebenarnya tinggal sedikit memperpanjang peron saja buat biar semua kebagian peron.
Payah banget sih kalau KRL udh operasional masih aja kek gini. Minimal bs nampung 6 SF, bisa aja sii dipanjangin ke barat untuk peronnya. Atau digedein bahkan digeser mendekati terminal B saja, mengingat terminal keberangkatan masih beroperasi.
 

·
Registered
Joined
·
104 Posts
berarti prosesnya kurang lebih begini ya

beli tiket di loket -> petugas tap kartu pelanggan -> tap in ke peron -> masuk kereta -> tap in di kereta

atau bagaimana? 😅 kalau memang metodenya seperti itu, termasuk masih mudah sih caranya. 🤔
Kalau yg saya tahu di Jepang tap in dulu masuk stasiun, baru beli tiket supplemen. Tiketnya direcord di IC, dan di-tap di kereta.
Tapi saya meragukan sistem tap di kereta bisa diimplementasikan di sini. Pasti butuh perubahan yg cukup signifikan di sistem.

Kalau saya pikir, di Indonesia lebih cocok beli tiket supplemen via apps saja. Toh selama ini juga sudah pesan tiket prameks via apps kan? Jadi nanti yg bisa dipesan via apps ya tiket supplemennya. Base farenya tetap tap kartu normal di gate biar gak perlu nyiapin gate terpisah buat pengguna 'green car'.
Atau kalau tiket khususnya sudah termasuk base fare, bisa tap masuk dan keluar gate pakai QR code juga sih. Jadinya pengguna 'green car' harus pakai apps dan QR.
 

·
Registered
Joined
·
23 Posts
Karena Permenhub yang mengatur kodifikasi sarana kereta api (Permenhub 54 tahun 2016) mewajibkan kode K untuk kereta dikategorikan ke K1 untuk eksekutif, K2 untuk bisnis, dan K3 untuk ekonomi. Tentunya hal ini semua sudah mengetahui.
Nah sekarang siapa yang mengkategorikan eksekutif, bisnis, dan ekonomi?

Menurut penjelasan UU 23 tahun 2007


Nah Standar Pelayanan Minimum sekarang diatur di Permenhub 48 tahun 2015. Ajaibnya, di sana tidak ada penjelasan mengenai perbedaan eksekutif, bisnis, atau ekonomi.
Kalau balik merefer ke penjelasan di UU 23 tahun 2007, kelas ekonomi adalah yang layanannya sesuai SPM. Di sana hanya terbagi menjadi dua kategori: KA Antar Kota dan KA Perkotaan. Sekarang kita coba tengok SPM dan cek ke bagian Fasilitas Pengatur sirkulasi udara baik untuk KA Antar Kota dan KA Perkotaan, keduanya memiliki persyaratan AC dan suhu max. 27 deg C. Sehingga sekarang kereta yang dilengkapi AC bukan berarti dia naik menjadi kelas eksekutif atau K1.

Nah menurut saya karena sarana perkeretaapian dipaksa dikategorikan menjadi K1, K2, atau K3; kemungkinan pembagian kelas sekarang hanya diatur di dalam peraturan PT Kereta Api (CMIIW).
Kalau bagi saya pengkategorian tersebut sudah tidak relevan lagi jaman sekarang dan sebaiknya direvisi lagi. Permenhub 54 tahun 2016 tersebut dibuat saat PTKA masih punya kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi sehingga dipaksakan untuk mengikuti kategori tersebut. Sekarang PTKA sudah punya kelas premium, kelas luxury, dsb. Apakah mau juga dikategorikan kelas sarananya? o_O
Makasih bang
 

·
Registered
Joined
·
1 Posts
Karena Permenhub yang mengatur kodifikasi sarana kereta api (Permenhub 54 tahun 2016) mewajibkan kode K untuk kereta dikategorikan ke K1 untuk eksekutif, K2 untuk bisnis, dan K3 untuk ekonomi. Tentunya hal ini semua sudah mengetahui.
Nah sekarang siapa yang mengkategorikan eksekutif, bisnis, dan ekonomi?

Menurut penjelasan UU 23 tahun 2007


Nah Standar Pelayanan Minimum sekarang diatur di Permenhub 48 tahun 2015. Ajaibnya, di sana tidak ada penjelasan mengenai perbedaan eksekutif, bisnis, atau ekonomi.
Kalau balik merefer ke penjelasan di UU 23 tahun 2007, kelas ekonomi adalah yang layanannya sesuai SPM. Di sana hanya terbagi menjadi dua kategori: KA Antar Kota dan KA Perkotaan. Sekarang kita coba tengok SPM dan cek ke bagian Fasilitas Pengatur sirkulasi udara baik untuk KA Antar Kota dan KA Perkotaan, keduanya memiliki persyaratan AC dan suhu max. 27 deg C. Sehingga sekarang kereta yang dilengkapi AC bukan berarti dia naik menjadi kelas eksekutif atau K1.

Nah menurut saya karena sarana perkeretaapian dipaksa dikategorikan menjadi K1, K2, atau K3; kemungkinan pembagian kelas sekarang hanya diatur di dalam peraturan PT Kereta Api (CMIIW).
Kalau bagi saya pengkategorian tersebut sudah tidak relevan lagi jaman sekarang dan sebaiknya direvisi lagi. Permenhub 54 tahun 2016 tersebut dibuat saat PTKA masih punya kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi sehingga dipaksakan untuk mengikuti kategori tersebut. Sekarang PTKA sudah punya kelas premium, kelas luxury, dsb. Apakah mau juga dikategorikan kelas sarananya? o_O
Pengkategorian K1, K2, dan K3 memang rancu untuk sekarang ini, apalagi kalau sudah masuk ke ranah kereta komuter. Ditambah lagi tidak adanya perbedaan seri/tipe kereta yang jelas, seperti K1 1 18 terbagi menjadi beberapa model yang berbeda, yaitu kereta MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan LRT Palembang.

Menurut saya alangkah baiknya kereta komuter (KRL, KRD, KRDE) dibuat klasifikasi seperti lokomotif, dibedakan berdasarkan jenis, bukan kelas. Mungkin bisa diterapkan klasifikasi seperti EA202, EA203, ME204 (ada yang tau dasar klasifikasi penomoran ini?). Supaya untuk penyebutan dan pembedaan seri kereta bisa lebih mudah. Termasuk kereta ex-Jepang harus punya penomoran seperti ini juga.

Contoh
K1 1 17 01 (TS1 Kereta Railink Soekarno-Hatta) -> EA203 17 01
K1 1 71 42 (KRL Tokyo Metro 6101F) -> EA204 98 01
di mana:
E = Jenis Tenaga (Elektrik)
A = Propulsi AC (VVVF)
2 = Inverter IGBT
03/04 = Seri kereta
17/98 = Tahun pembuatan atau peremajaan (untuk KRL ex-Jepang yang motor traksinya pernah diganti)
01 = Nomor urut

CMIIW
 

·
tukang ukur jalan
Joined
·
986 Posts
itu los bunder di timur LPN, apa tidak bisa dimanfaatkan buat depo lokomotif ya? itung itung bisa nambah lahan depo KRL di YK. 🤔
 
1061 - 1068 of 1068 Posts
Top