SkyscraperCity banner

861 - 880 of 881 Posts

·
just DUIT !!!
Joined
·
3,238 Posts

·
Cis Indische (2011-2018)
Joined
·
1,492 Posts
RI-Korsel Garap Proyek Pembangkit Listrik Rp 10 Triliun di Jateng

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Maung berkapasitas 230 megawatt (MW) di Banjarnegara, Jawa Tengah, segera dimulai. Proyek ini melibatkan perusahaan Korea Selatan (Korsel), Korea Southern Power Co.Ltd (KOSPO)
...
Bahli meminta pembangunannya bisa dikerjakan dalam 4 tahun. PLTA ini nantinya diharapkan bisa mendongkrak peningkatan energi baru terbarukan (EBT) menuju 23% dari total ketersediaan listrik di Indonesia.
...
Lumayan gede, 230 MW, apalagi lokasinya di Jawa. Bisa menambah perbandingan EBT di Jawa.
 

·
******
Joined
·
11,803 Posts
@atas,
PLTA Maung, saya baca artikelnya gak ketemu lokasi tepatnya dimana
kalo Banjarnegara sudah ada PLTA mrican, sebelah barat banjarnegara kota
resikonya bikin waduk buatan dan menenggelamkan banyak desa
apakah PLTA maung ini juga sama yak...saya koq kurang setuju kalo di p Jawa harus nenggelamkan desa krn lahan pertanian dan tempat tinggal jadi berkurang
 

·
Cis Indische (2011-2018)
Joined
·
1,492 Posts
Klo liat di google map, Maung itu merujuk pada nama Gunung Maung, meski lebih mirip sebuah bukit.
Lokasi
Di sebelah utara bukit tsb terdapat lembah yg cukup luas. Meski ada bbrp perkampungan di situ. Klo aliran sungai yg melewati Gunung Maung dan Bukit Asmara Situk ini dibendung ya memang bs jd bendungan yg cukup luas dan dalam. Jika memang ini yg nanti jd lokasinya, maka letaknya akan berada di sebelah hulu PLTA Mrican, di sungai utama yg sama.



Bendungan memang bakal menimbun lahan yg bs dipakai utk pemukiman dan pertanian, namun harus diingat jg kalau irigasi yg terjamin dan teratur bs meningkatkan jumlah dan mutu hasil panen. Lahan yg luasnya 10 ha tp hanya bs 1x panen akan kalah produktivitasnya dg lahan 6 ha tp bs 2x panen dlm setaun. Jd ya ga rugi akhirnya. Belum lagi manfaat sampingan dari bendungan seperti PLTA dan obyek wisata baru (bonus bisa meningkatkan produktivitas masyarakat krn bs rekreasi).
 

·
just DUIT !!!
Joined
·
3,238 Posts
230 mw gede jugak ini plta. untuk pulau jawa, ini nanti bakal rangking 3 dibawah cirata (1008 mw) dan saguling (700 mw). malah melewati kapasitas daya dari bendungan2 legendaris kayak jatiluhur, mrica, karangkates. bahkan yang terbaru plta jatigede cuma 110 mw.
 

·
MP-44
Joined
·
1,724 Posts
Omnibus Law Atur Kebijakan Pemanfaatan Nuklir untuk Listrik
Jakarta - Pemerintah sepertinya berniat untuk mengembangkan pemanfaatan nuklir untuk listrik. Buktinya hal itu kini tercantum dalam RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja.

Dalam draft RUU Omnibus Law yang diterima detikcom, aturan tentang ketenaganukliran masuk dalam Subparagraf Kelima Ketenagalistrikan dan tertuang mulai dari Pasal 208.

"Pengusahaan ketenaganukliran diselenggarakan oleh Badan Pelaksana," bunyi Pasal 208 ayat 1 dilansir dari draft RUU Omnibus Law, Selasa (21/1/2020).

https://finance.detik.com/energi/d-4867359/omnibus-law-atur-kebijakan-pemanfaatan-nuklir-untuk-listrik?utm_content=detikfinance&utm_term=echobox&utm_medium=oa&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_source=Twitter#Echobox=1579588456
 

·
Registered
Joined
·
1,245 Posts
230 mw gede jugak ini plta. untuk pulau jawa, ini nanti bakal rangking 3 dibawah cirata (1008 mw) dan saguling (700 mw). malah melewati kapasitas daya dari bendungan2 legendaris kayak jatiluhur, mrica, karangkates. bahkan yang terbaru plta jatigede cuma 110 mw.
del
 

·
Obsolete User
Joined
·
35,062 Posts

·
Obsolete User
Joined
·
35,062 Posts
Nahh yang ini video dokumentasi pembangunan PLTA Cirata sebesar 1000 MW. Dimulai 1984, turbin pertama beroperasi 1988, sampai turbin keempat tahun 1997.

https://youtu.be/8alk0sN3GZo


Walaupun ga se-retro video nya Asahan... tp tetep klasik. Sy suka penggunaan bahasa Indonesia nya, Diversion Tunnel = Terowongan Pengelak, Spillway Tunnel = Terowongan Pelimpah :D
 

·
Cis Indische (2011-2018)
Joined
·
1,492 Posts
Entah berapa lama lagi waktu yg dibutuhkan utk bs ngalahin AS, mungkin 2030?

Indonesia confident to add another 140 MW in geothermal capacity in 2020

With ongoing construction work on geothermal projects, Indonesia is confident it will see the addition of 140 MW in geothermal power generation capacity in 2020. Three plants are expected to come online this year, Sorik Marapi Unit II, Sokoria, and Rantau Dedap.

Indonesia’s Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM) is optimistic that the installed geothermal power generation capacity could reach 2,270.7 MW by the end of 2020.

Ida Nuryatin, Director of Geothermal at the Ministry of Energy and Mineral Resources expects an addition of 140 MW this year. “Until the end of last year the geothermal (PLTP)’s operating capacity reached 2,130.8 MW,” she told in an interview with local press.
...
New renewable energy legislation, a chance for Indonesia to move away from coal

Indonesia has prioritized new renewable energy legislation that could be a chance for Indonesia to move away from coal with renewable energy resources. With its great potential in the country, geothermal could benefit from it, but only with the right framework and support.

The parliament of Indonesia for the first time prioritizes passing a new law on renewable energy. Currently depending largely on coal-fuelled power generation, the country also exports coal. At the same time the country has the largest geothermal energy resources in the world and great opportunities for solar generation due to lots of sunshine, as well as wind power generation with the longest coastlines of any country.
...
The current reliance on coal is challenging and problematic for the country both from an economic and ecological perspective. Rising costs, financial obligations and lower-than-expected electricity demand is creating challenges for state-owned power utility PLN.
...
Experts hope the new legislation will establish a renewable energy market, as well as schemes incentivizing feeding renewable energy into the grid.
...
 

·
just DUIT !!!
Joined
·
3,238 Posts
banyak hambatan juga ini geotermal. yang sering terjadi masalah lingkungan (kawasan hutan lindung) dan penolakan masyarakat setempat yang kuatir terjadi apa2 di kawasan pltp.
 

·
Registered
Joined
·
1,439 Posts
Yang terakhir itu agak susah sih dan ga semudah yang banyak orang pikirkan, intensitas sinar matahari di mayoritas daerah tropis itu sebetulnya benar-benar payah karena kelembaban udara yang tinggi sekali, ditambah tingkat ketutupan awan yang tinggi. Mungkin bisa lah untuk sistem off-grid seperti daerah-daerah terpencil atau pedesaan yang penggunaan listriknya ga perlu tinggi, atau solar panel skala rumahan. Yang terakhir cukup berguna untuk mengurangi efek mati listrik. Di perkotaan atau daerah industri sih cukup susah karena solar panel sendiri sangat memakan tempat, makanya ada wacana untuk bikin pembangkit surya di laut (walau ini juga ga ideal karena kadar garam tinggi di udara air laut bisa cepat sekali merusak panel).

Harus ada terobosan dalam hal yang terakhir ini, yang selama ini lebih banyak berkutat di pasaran solar panel untuk aplikasi di lokasi-lokasi berkelembaban udara rendah (terutama di daerah subtropik). Satu lagi yang mungkin bisa kita lihat setidaknya 10 tahun ke depan adalah solar panel multifungsi yang bisa menghasilkan listrik dari sinar matahari dan tetesan air hujan di permukaan panel tadi. Hal yang terakhir ketika sudah bisa masuk skala komersial, jadi membuka peluang di daerah-daerah tropis.

https://www.sciencealert.com/we-re-getting-closer-to-generating-electricity-from-raindrops

Artikel ilmiahnya, walau adanya di balik paywall :nuts:. BTW patut disayangkan juga ga ada orang Indonesia yang melakukan riset semacam ini di institusi top dunia seperti MIT atau Stanford.

https://www.nature.com/articles/s41586-020-1985-6


Tenaga angin lebih kacau lagi, karena untuk membangun turbin angin, intensitas angin harus relatif stabil dan kencang sepanjang tahun, kira-kira yang ideal itu seperti di Laut Utara Eropa. Biasanya musti di tepian/lepas pantai laut lepas (bukan inland sea seperti Laut Jawa yang biasanya anginnya ga stabil) atau di pegunungan tinggi. Di Indonesia dan mayoritas daerah tropis lainnya, hal ini susah sekali ditemukan karena intensitas anginnya benar-benar intermittent. Pembangkit tenaga angin kita di Sidrap itu juga pembangkitannya ga stabil karena intensitas anginnya kayak gitu juga. Mungkin terobosan teknologi yang tepat di sini adalah gimana kita bisa menemukan desain turbin yang efisien dalam mengambil energi dari kondisi angin kita yang demikian, terutama yang kecepatan anginnya nanggung.
 

·
Cis Indische (2011-2018)
Joined
·
1,492 Posts
Pembangkit listrik tenaga tetes hujan, ini benar2 out of the box sih. Saya saja ga kepikiran sebelum membaca post sblmnya.
 

·
******
Joined
·
11,803 Posts
Yang terakhir itu agak susah sih dan ga semudah yang banyak orang pikirkan, intensitas sinar matahari di mayoritas daerah tropis itu sebetulnya benar-benar payah karena kelembaban udara yang tinggi sekali, ditambah tingkat ketutupan awan yang tinggi. Mungkin bisa lah untuk sistem off-grid seperti daerah-daerah terpencil atau pedesaan yang penggunaan listriknya ga perlu tinggi, atau solar panel skala rumahan. Yang terakhir cukup berguna untuk mengurangi efek mati listrik. Di perkotaan atau daerah industri sih cukup susah karena solar panel sendiri sangat memakan tempat, makanya ada wacana untuk bikin pembangkit surya di laut (walau ini juga ga ideal karena kadar garam tinggi di udara air laut bisa cepat sekali merusak panel).

Harus ada terobosan dalam hal yang terakhir ini, yang selama ini lebih banyak berkutat di pasaran solar panel untuk aplikasi di lokasi-lokasi berkelembaban udara rendah (terutama di daerah subtropik). Satu lagi yang mungkin bisa kita lihat setidaknya 10 tahun ke depan adalah solar panel multifungsi yang bisa menghasilkan listrik dari sinar matahari dan tetesan air hujan di permukaan panel tadi. Hal yang terakhir ketika sudah bisa masuk skala komersial, jadi membuka peluang di daerah-daerah tropis.

https://www.sciencealert.com/we-re-getting-closer-to-generating-electricity-from-raindrops

Artikel ilmiahnya, walau adanya di balik paywall :nuts:. BTW patut disayangkan juga ga ada orang Indonesia yang melakukan riset semacam ini di institusi top dunia seperti MIT atau Stanford.

https://www.nature.com/articles/s41586-020-1985-6


Tenaga angin lebih kacau lagi, karena untuk membangun turbin angin, intensitas angin harus relatif stabil dan kencang sepanjang tahun, kira-kira yang ideal itu seperti di Laut Utara Eropa. Biasanya musti di tepian/lepas pantai laut lepas (bukan inland sea seperti Laut Jawa yang biasanya anginnya ga stabil) atau di pegunungan tinggi. Di Indonesia dan mayoritas daerah tropis lainnya, hal ini susah sekali ditemukan karena intensitas anginnya benar-benar intermittent. Pembangkit tenaga angin kita di Sidrap itu juga pembangkitannya ga stabil karena intensitas anginnya kayak gitu juga. Mungkin terobosan teknologi yang tepat di sini adalah gimana kita bisa menemukan desain turbin yang efisien dalam mengambil energi dari kondisi angin kita yang demikian, terutama yang kecepatan anginnya nanggung.
kalo angin, saya malah memperkirakan di NTT lebih stabil krn posisinya pulau di laut bebas. Sisi selatan samudra arah australia dan sisi utara juga masih jauh dari daratan
 

·
Registered
Joined
·
41 Posts
banyak hambatan juga ini geotermal. yang sering terjadi masalah lingkungan (kawasan hutan lindung) dan penolakan masyarakat setempat yang kuatir terjadi apa2 di kawasan pltp.
Masalah lingkungan sebenarnya tdk seberapa, krn area yg diambil utk PLTP sebenarnya kecil saja (bandingkan dgn wind farm, sollar cell farm, ato bahkan waduk PLTA). Masalah yg cukup berat justru di sosialnya, masyarakat yg tdk tahu "diisi" pikirannya oleh oknum2 tertentu, dan yg berwenang tdk berusaha memberi pengetahuan yg mencerahkan. Hasilnya bisa dilihat di (calon) PLTP Lawu yg sampe skrg bahkan utk ekplorasi pun ditolak warga..
 

·
Registered
Joined
·
41 Posts
Yang terakhir itu agak susah sih dan ga semudah yang banyak orang pikirkan, intensitas sinar matahari di mayoritas daerah tropis itu sebetulnya benar-benar payah karena kelembaban udara yang tinggi sekali, ditambah tingkat ketutupan awan yang tinggi. Mungkin bisa lah untuk sistem off-grid seperti daerah-daerah terpencil atau pedesaan yang penggunaan listriknya ga perlu tinggi, atau solar panel skala rumahan. Yang terakhir cukup berguna untuk mengurangi efek mati listrik. Di perkotaan atau daerah industri sih cukup susah karena solar panel sendiri sangat memakan tempat, makanya ada wacana untuk bikin pembangkit surya di laut (walau ini juga ga ideal karena kadar garam tinggi di udara air laut bisa cepat sekali merusak panel).

Harus ada terobosan dalam hal yang terakhir ini, yang selama ini lebih banyak berkutat di pasaran solar panel untuk aplikasi di lokasi-lokasi berkelembaban udara rendah (terutama di daerah subtropik). Satu lagi yang mungkin bisa kita lihat setidaknya 10 tahun ke depan adalah solar panel multifungsi yang bisa menghasilkan listrik dari sinar matahari dan tetesan air hujan di permukaan panel tadi. Hal yang terakhir ketika sudah bisa masuk skala komersial, jadi membuka peluang di daerah-daerah tropis.

https://www.sciencealert.com/we-re-getting-closer-to-generating-electricity-from-raindrops

Artikel ilmiahnya, walau adanya di balik paywall :nuts:. BTW patut disayangkan juga ga ada orang Indonesia yang melakukan riset semacam ini di institusi top dunia seperti MIT atau Stanford.

https://www.nature.com/articles/s41586-020-1985-6


Tenaga angin lebih kacau lagi, karena untuk membangun turbin angin, intensitas angin harus relatif stabil dan kencang sepanjang tahun, kira-kira yang ideal itu seperti di Laut Utara Eropa. Biasanya musti di tepian/lepas pantai laut lepas (bukan inland sea seperti Laut Jawa yang biasanya anginnya ga stabil) atau di pegunungan tinggi. Di Indonesia dan mayoritas daerah tropis lainnya, hal ini susah sekali ditemukan karena intensitas anginnya benar-benar intermittent. Pembangkit tenaga angin kita di Sidrap itu juga pembangkitannya ga stabil karena intensitas anginnya kayak gitu juga. Mungkin terobosan teknologi yang tepat di sini adalah gimana kita bisa menemukan desain turbin yang efisien dalam mengambil energi dari kondisi angin kita yang demikian, terutama yang kecepatan anginnya nanggung.
PLT Arus Laut dan PLT Gelombang Laut adalah salah dua PLT yg terbukti potensinya dan tanpa batas. PLT Arus Laut di Selat Alas sudah ada dalam skala study, Gelombang Laut sudah terbukti di Jepang dan AS. Tinggal kemauan yg berwenang utk eksploitasi lebih lanjut. Selat Sunda, Selat Bali, dan hampir seluruh selat yg ada di Kepulauan Sunda Kecil sangat besar potensinya utk PLT Arus Laut.
 
861 - 880 of 881 Posts
Top