SkyscraperCity banner
1 - 7 of 7 Posts

·
Registered
Joined
·
369 Posts
Discussion Starter · #1 ·
This thread is to improve and trade the idea, information and advice for people who want to start small business or already in business.
Hopefully we will have so many good advice, and the rhythm of our talk is focused in the spirit of entrepreneurship.
Don't go too far to talk about macro economy that will lose the focus.
Guys, bring up your idea to improve and build ourself and community.
 

·
Registered
Joined
·
369 Posts
Discussion Starter · #2 ·
Jika kita punya tekad besar, tak mustahil hal itu akan terwujud.

Banyak di antara kita, yang ingin bekerja pada perusahaan orang lain, sebagai karyawan. Apakah itu karyawan perusahaan swasta maupun pegawai negeri. saya kira alasannya, kita tentu sudah tahu semua, yaitu sebagai karyawan yang dibutuhkan adalah keamanan. Setiap bulan ada kepastian terima gaji. Setelah tua dapat pensiun.

Mengapa tidak tertarik untuk menjadi entrepreneur. Saya kira, hal itu karena di antara kita banyak yang tidak siap menghadapi risiko atau lebih tepat disebut suka menjauh dari risiko. Sehingga, tidak mengherankan, banyak di antara kita yang kemudian takut untuk menjadi entrepreneur.

Karena inginnya aman-aman saja, saya kira itu sebabnya mengapa yang sudah jadi karyawan pun sulit untuk berubah menjadi entrepreneur. Oleh karena itu, saya mengajak bagaimana kalau kita menjadi entrepreneur. Menurut saya, jika kita punya tekad besar, tak mustahil hal itu akan terwujud. Saya yakin, kita akan lebih bangga, karena kita akhirnya punya banyak karyawan, dan bisa menggaji mereka, cobalah kita jalani.

Pemikiran saya ini memang beda dengan saat kita sekolah dulu. Dimana setelah kita lulus nanti, mencari kerja, lalu bekerja keras, dan terus mendapatkan uang. Setelah uang itu kita raih, uang itu kita tabung. Jadinya, kita tak pernah belajar bagaimana untuk berani mengambil risiko. Kita tak pernah belajar bagaimana untuk berani membuka usaha. Tapi sebaliknya, kita justru lebih diajarkan bagaimana kita bisa mencari pekerjaan pada perusahaan orang lain atau istilah lain, menggantungkan nasib kita pada orang lain. Akhirnya apa yang terjadi, kalau dia terkena PHK. Akibatnya, mereka pun menganggur.

Saya justru berpendapat, bahwa sistem pendidikan kita semestinya tidak seperti itu. Tapi sebaliknya, sistem pendidikan kita seharusnya mengajarkan bagaimana kita bisa mandiri. Oleh karena itulah, menurut saya, di era otonomi sekarang ini tak ada salahnya kalau kita mau membangun mental dan emosi kita. Kita harus pula selalu punya keberanian mengambil risiko. Kita tidak seharusnya takut membuat kesalahan, dan kita tidak seharusnya takut untuk gagal. Saya yakin, dengan begitu kita akan lebih punya keberanian membuka usaha.

Bahkan, menurut Robert Kiyosaki, penulis best seller "Rich Dad Poor Dad", agar kita bisa menjadi pengusaha, maka kita harus punya mimpi. Kita harus punya tekad besar, kemauan untuk belajar, dan punya kemampuan menggunakan dengan benar aset kita yang tak lain merupakan pemberian Tuhan.

Itu sebabnya, mengapa banyak orang di sekitar kita yang tidak tertarik untuk memiliki bisnis sendiri. Jawabannya, dapat disimpulkan dalam satu kata: Resiko. Yah, takut menghadapi risiko. Sehingga, mental dan emosi kita hanya ingin aman-aman saja.

Oleh karena itu, kenapa kita tidak mau mencoba menjadi pengusaha. Kalau kita punya mimpi dan tekad besal, saya berkeyakinan, kita bisa menjadi entrepreneur. Apalagi, kalau kita mau merubah mental dan emosi kita yang selama ini inginnya selalu menjadi karyawan. Mental dan emosi untuk selalu aman menerima gaji, seharusnya kita ubah menjadi mental dan emosi untuk bisa memberi gaji. Anda berani mencoba?
 

·
Registered
Joined
·
369 Posts
Discussion Starter · #3 · (Edited)
Bisnis punya modal itu lumrah, tapi bisnis tanpa modal bukan mustahil

Mungkinkah kita mulai bisnis tanpa memiliki uang tunai? Saya kira itu mungkin saja. Mengapa tidak! Jika kita mampu mengoptimalkan pemikiran kita, maka akan banyak jalan yang bisa ditempuh dalam menghadapi masalah permodalan untuk kita bisa memulai bisnis. Cuma masalah permodalan untuk kita bisa memulai bisnis. Cuma masalahnya, darimana duit itu berasal? Logikanya, semua bisnis itu membutuhkan modal uang.

Memang, kebanyakan kita selalu mengeluh ketiadaan modal uang sebagai alasan mengapa kita "enggan" berwirausaha. Padahal, modal yang paling vital sebenarnya bukanlah uang, tetapi modal non-fisik, yakni berupa motivasi dan keberanian memulai yang mengebu-gebu.

Saya yakin, jika hal itu sudah bisa dipenuhi, maka mencari modal uang bukanlah persoalan yang tidak mungkin, meski secara pribadi kita tidak memiliki uang. Sementara kita telah tahu, bahwa peluang bisnis telah ada di depan mata. Tentu, alangkah baiknya jika kita tidak menundanya untuk memulai berbisnis.

Toh kita tahu, bahwa sebenarnya banyak sumber permodalan. Seperti uang tabungan, uang pesangon, pinjam di bank dan di koperasi atau dari lembaga keuangan atau dari pihak lainnya. Namun, jika kita ternyata tidak memiliki uang tabungan, uang pesangon atau katakanlah belum ada keberanian untuk meminjam uang di bank atau koperasi, saya kira kita juga tidak perlu risau. Karena ada cara untuk memulai bisnis, meski kita tidak memiliki uang tunai sekalipun.

Contohnya, kita bisa menjadi seorang perantara. Misalnya, menjadi perantara jual beli rumah, jual beli motor dan lain-lain. Keuntungan yang kita dapat bisa dari komisi penjualan atau cara lain atas kesepakatan kita dengan pemilik produk. Saya yakin, kita pasti bisa melakukannya.

Kita bisa juga membuat usaha dengan cara konsumen melakukan pembayaran di muka. Dalam hal ini, kita bisa mencari bisnis dimana konsumen yang jadi sasaran bisnis kita itu mau membayar atau mengeluarkan uang dulu sebelum proses bisnis, baik jasa maupun produk, itu terjadi. Misalnya bisa dilakukan pada bisnis jasa, seperti industri jasa pendidikan. Dimana, siswa diwajibkan membayar dulu didepan sebelum proses pendidikan itu terjadi.

Bisa juga misalnya, ada orang yang memesan barang pada kita, namun sebelum barang yang dipesan itu jadi, pihak konsumen sudah memberikan uang muka dulu. Artinya, itu sama saja kita telah diberi modal oleh konsumen.

Masih ada cara lain memulai bisnis tanpa kita memiliki uang tunai. Contohnya, menggunakan sistem bagi hasil. Biasanya, cara bisnis model ini banyak diterapkan pada Rumah Makan Padang. Dimana kita sebagai orang yang memiliki keahlian memasak, sementara patner bisnis kita sebagai pemilik modal uang.

Kita bekerjasama dan keuntungan yang didapat pun dibagi sesuai kesepakatan bersama. Atau kita mungkin ingin cara lain? Tentu masih ada. Contohnya, kita bisa melakukannya dengan sistem barter dengan pemasok, dan kita pun jika memiliki keahlian tertentu, mengapa tidak saja menjadi seorang konsultan. Selain itu, bisa saja denagn cara kita mengambil dulu produk yang akan diperdagangkan, hanya untuk pembayarannya bisa kita lakukan setelah produk tersebut terjual pada konsumen. Tentu, masih banyak cara lain untuk kita memulai bisnis tanpa uang tunai.

Oleh karena itu, menurut saya, sebaiknya kita tidak perlu berkecil hati atau takut dipandang rendah, bila ternyata kita memang tidak memiliki uang tunai namun berhasrat untuk memulai bisnis. Saya yakin, dengan kita memiliki uang tunai namun berhasrat untuk memulai bisnis. Saya yakin, dengan kita memiliki kemauan besar menjadi seorang wirausahawan atau entrepreneur, maka setidaknya akan selalu ada jalan untuk memulai bisnis. Nyatanya, tidak sedikit pengusaha yang telah meraih keberhasilan meski saat memulai bisnisnya dulu tanpa memiliki uang tunai.

Itu menunjukkan bahwa tidak benar kalau ada yang mengatakan "Tak mungkin kita memulai bisnis tanpa memiliki uang tunai." Kuncinya sebetulnya terletak pada motivasi dan keberanian kita memulai bisnis yang mengebu-ngebu. Hanya saja, untuk cepat meraih sukses - apalagi tanpa memiliki uang tunai - itu tidak semudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Semuanya membutuhkan perjuangan.
 

·
Registered
Joined
·
1,312 Posts
Airport Retail

Is anybody aware of airport retail (Duty Free Shops) in Indonesia.

Is it owned by certain business groups?

Is it open for foreign investments?

Can small/medium enterprises join?
 

·
House Targaryen
Joined
·
7,692 Posts
indonesia sekarang ini butuh seorang entrepreneur yang memiliki jiwa statemanship... karena kita butuh banget pengusaha yg bisa bikin program2 padat karya yg bisa nyedot tenaga kerja banyak(inget jaman pak Harto dulu...) biar angka pengangguran bisa ditekan...
 

·
Registered
Joined
·
369 Posts
Discussion Starter · #6 ·
MARINHO said:
Airport Retail

Is anybody aware of airport retail (Duty Free Shops) in Indonesia.

Is it owned by certain business groups?

Is it open for foreign investments?

Can small/medium enterprises join?
I just read an article that Asian airports offer great selections of duty-free shopping and most offer low prices compared to local retail. However in places like Thailand, Malaysia, Indonesia and Hong Kong for example, where bargaining while shopping is part of the cultural norm, you'll find that prices of alcohol and cigarettes will be lower in city retail stores than at the airport, whereas higher priced luxury goods, like designer handbags and watches will be well-priced at the airport. Also you can usually be assured that alcohol prices in Muslim countries' duty-free stores such as Malaysia and Indonesia will be comparatively high, possibly to discourage consumption.
That's just a part of the article, and an idea, you better call PT (Persero) Angkasa Pura II
Jakarta International Airport Soekarno-Hatta
Building 600, PO Box 1001/BUSH
Jakarta 19120, Indonesia
Tel. : (62-21) 550 5074, 550 5002
Fax. : (62-21) 550 2141
www.angkasapura2.co.id
 

·
Registered
Joined
·
369 Posts
Discussion Starter · #7 ·
Toko bebas bea alami stagnasi bisnis

JAKARTA (Bisnis): Kalangan peritel produk bebas bea (duty free) mengalami stagnasi bisnis pascaperistiwa bom Bali 1 Oktober 2005 yang menyurutkan kunjungan wisatawan.

Tri Harsono, Ketua Kompartemen Bina UKM dan Koperasi Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi), mengatakan toko-toko bebas bea yang hampir seluruhnya berada di kawasan bandara kini sepi pembeli.

"Saat ini posisi kami hanya bertahan. Semoga saja dua, tiga bulan ke depan bisa kembali menggeliat", ujar Tri Harsono yang juga pemilik PT Bali Dufree Indonesia.

Tidak hanya toko miliknya, pemilik gerai bebas bea juga mengalami hal yang sama. Sebelumnya Ketua Asosiasi Toko Bebas Bea Indonesia (ATBI) Karsono mengatakan penjualan toko bebas bea merosot hingga 30% pasca-bom Bali 1 Oktober tahun lalu.

Jumlah toko bebas bea di Indonesia saat ini tercatat 22 unit, namun tujuh diantaranya tidak aktif. Separuh dari jumlah toko itu berada di bandara, sedangkan setengahnya lagi ada di kota besar, seperti Jakarta, Bali, dan Balikpapan.
 
1 - 7 of 7 Posts
Top