SkyscraperCity banner

1301 - 1312 of 1312 Posts

·
Je me souviens
Joined
·
11,950 Posts
Iya sih, namanya juga media...

Turki pake CN235 patroli aja dibilang produk IPTN...
Bukannya memang produk IPTN hasil kerja sama dengan Casa Spanyol. Itu jika tidak keliru CN kan dari Casa Nurtanio? Memang bukan murni bikinan IPTN tapi dibilang bukan bikinan IPTN ya tidak bener juga...
 

·
Registered
Joined
·
3,194 Posts
Klo CN-235, iya itu patungan CASA-IPTN. Tapi yg dipake Turki itu made in CASA atau Turki sendiri, karena Turki lisensi 50 biji, bukan made in Bandung...
Miriplah kayak Toyota Fortuner. Merk Jepang made in Cikarang...
 

·
Registered
Joined
·
63 Posts
Gw sih mau menyampaikan opini gw terkait suara2 di masyarakat terkait adanya mobil atau motor made in Indonesia....Biasanya masyarakat akan berkomentar...Indonesia itu bisa kok buat sendiri mobil sendiri tapi dihalang2i oleh Produsen atau oleh pemerintahnya sendiri.....:):)...

Begini lho.....
Banyak opini di masyarakat kita, saat ini yang kadang belum bisa membedakan antara membuat (1 unit mobil) dengan memproduksi (banyak mobil). Seolah2 kalau sudah bisa membuat 1 unit mobil (let say contohnya kayak mobil listrik Selo) diatas trus langsung bisa dianggap capable untuk memproduksi mobil itu (selo).
Padahal itu dua hal yang berbeda jauh... dalam memproduksi (masal) banyak aspek yang harus dihitung dan direncanakan.seperti plant (pabrik), machine, cetakan, distribusi, spare part support, R&D, testing, dll....... dan ini butuh perencanaan yang matang (dari ahli diberbagai bidangnya masing2, dari ahli teknik sampai financial & marketing) supaya produksi bisa berjalan continue.... (siapa mau beli mobil, tapi gak tau sparepartnya ada yang jual atau gak? sudah lulus test pa belum? siapa mau beli kalau indentnya bertahun2? Harganya kompetitif gak?dll)
Lha, kalau cuma membuat ma'af 1 unit mobil trus pejabatnya atau masyarakatnya berkoar2 Indonesia bisa bla...bla...bla.... Ya, ma'af akan diketwain sama negara lain...... :):).

Memproduksi mobil itu prosesnya tidak hanya membuat 1 mobil & jadi (sudah selesai sampai disitu) tapi memproduksi dalam jumlah yang banyak dengan langkah2 yang sama sehingga menghasilkan kualitas yang sama untuk hasil akhirnya (& berkesinambungan supportnya).
Bukan merendahkan lho ya,...Kalau melihat foto Selo 2 diatas sih,......gak heran kalau ada orang yang bilang itu lagi buat mainan mobil listrik. Karena coba saja disuruh buat lagi mobil selo 2 yang sama persis...mungkin kualitasnya akan berbeda (baik radius lengkungan body, ketebalan body, instalasi kabel, dll). Kenapa bisa beda? Ya karena tidak adanya blue print yang detail dalam merancang mobil tersebut (terllihat dempulnya disana sini :):):)), Tidak adanya cetakan yang presisi, Belum adanya proses yang tersetruktur.... hanya gambar kasar diimplementasikan ke material yang ada....(secara kasarnya "ma'af" potong tempel sajalah)...

Belum lagi kalau ngomongin kapasitas produksi. setahun bisa bikin berapa mobil? Balik modal gak jumlah mobil yang di produksi dalam 1 tahun dengan ongkosnya pembuatannya?...(Karena kapasitas produksi akan berhubungan erat dengan berapa lama barang nyampai ketangan konsumen. Coba cek berapa lama Esemka indent-nya diberita2 lalu, kecuali loe pejabat mungkin bisa cepet dapetnya.... :) :) ).

Artinya Mobil itu sebenarnya masih jauh perjalanannya dari kata Produksi. Belum lagi kalau kita ngomongin masalah Testing (dulu sempat ribut kan dibilang waktu ada sepeda motor bikinan Indo yang gak lolos test dan dibilangnya pemerintah nya gak pro produk negara sendiri tapi pro produk luar....:):) ). Belum lagi masalah QC, serta ketersediaan sparepart-nya yang berkelanjutan.dan masalah2 lainnya.

Tapi dibalik semua itu, Gw tetap dukung kok kreativitas anak bangsa...(y)(y).... Semoga para pejabat lebih paham masalah begini ini serta bisa memberikan bantuan berupa dorongan atau kerjasama dengan pihak luar yang sudah paham dalam hal beginian (Dulu sewaktu ribut mobil Esemka,...seingat gw Germany menawarkan bantuan untuk memberikan assist dalam pembuatan mobil, tapi gak tau reaksi pejabat kita seperti apa).
Gw kadang cuma geleng2 kepala saja sama koar2 netizen kita ke negara tetangga masalah mobil listrik ini.:sneaky::sneaky:. Seolah udah paling jago kita....
Hei Dude, jangan bilang Selo 2 jelek banyak dempul, kualitas tidak sama, bla..bla..bla.. itu semua yang loe omongan adalah Industrialisasi otomotif dan proses produksi, yang pengen gw sampaikan adalah SDM kita ada dan melimpah, jangan disia-siakan. sebenarnya kuncinya di pemerintah, jangan cuma tarik2 investor saja bikin pabrik, produksi mobil disini tapi kita cuma sebagai tempat produksi, begitu ada masalah mereka hengkang dan kita cuma bisa melongo trus mengemis cari investor lagi.
Kuncinya ada di Pemerintah, karena regulasi dari pemerintah yang akan membuat industri dan kreatifitas masyarakat berkembang, saya masih ingat sekitar sepuluh tahun yang lalu ketika pengusaha otomotif nasional mulai menggeliat dan memproduksi mobil dengan kapasitas cc kecil seperti Tawon, Boneo, Gea, Fin Komodo, dst yang tergabung dalam Asianusa (Asosiasi pengusaha otomotif Nusantara) mengajukan usulan ke pemerintah agar memberikan regulasi untuk mobil 1200 cc ke bawah dikhususkan untuk mobil nasional dan tidak dimasuki pabrikan asing serta mendapat keringanan pajak. Namun apa yang terjadi, pemerintah membuat peraturan yang menguntungkan pabrikan besar yang saat ini kita kenal dengan program LCGC (Low Cost Green Car), yang memberikan keringanan pajak tanpa ada batasan pabrikan luar atau dalam negeri, akhirnya otomotif pabrikan besar yang makan pasar LCGC dan mematikan pengusaha Asianusa, yang mana itu semua tak lepas dari loby pabrikan besar yang kuat di pemerintah, dan mental pejabat kita yang gampang disuap, untuk itu saya harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, dan pemerintah bisa mendukung industri otomotif anak bangsa bangkit kembali.
 

·
Registered
Joined
·
788 Posts
Hei Dude, jangan bilang Selo 2 jelek banyak dempul, kualitas tidak sama, bla..bla..bla.. itu semua yang loe omongan adalah Industrialisasi otomotif dan proses produksi, yang pengen gw sampaikan adalah SDM kita ada dan melimpah, jangan disia-siakan. sebenarnya kuncinya di pemerintah, jangan cuma tarik2 investor saja bikin pabrik, produksi mobil disini tapi kita cuma sebagai tempat produksi, begitu ada masalah mereka hengkang dan kita cuma bisa melongo trus mengemis cari investor lagi.
Kuncinya ada di Pemerintah, karena regulasi dari pemerintah yang akan membuat industri dan kreatifitas masyarakat berkembang, saya masih ingat sekitar sepuluh tahun yang lalu ketika pengusaha otomotif nasional mulai menggeliat dan memproduksi mobil dengan kapasitas cc kecil seperti Tawon, Boneo, Gea, Fin Komodo, dst yang tergabung dalam Asianusa (Asosiasi pengusaha otomotif Nusantara) mengajukan usulan ke pemerintah agar memberikan regulasi untuk mobil 1200 cc ke bawah dikhususkan untuk mobil nasional dan tidak dimasuki pabrikan asing serta mendapat keringanan pajak. Namun apa yang terjadi, pemerintah membuat peraturan yang menguntungkan pabrikan besar yang saat ini kita kenal dengan program LCGC (Low Cost Green Car), yang memberikan keringanan pajak tanpa ada batasan pabrikan luar atau dalam negeri, akhirnya otomotif pabrikan besar yang makan pasar LCGC dan mematikan pengusaha Asianusa, yang mana itu semua tak lepas dari loby pabrikan besar yang kuat di pemerintah, dan mental pejabat kita yang gampang disuap, untuk itu saya harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, dan pemerintah bisa mendukung industri otomotif anak bangsa bangkit kembali.
Lho, gw kan cuma komenin orang yang selama ini terlalu "Euforia" atau over proud....... dan mengganggap diri mereka sudah bisa memproduksi mobil sendiri.

Coba baca lagi paragraf terakhir dari opini gw yang loe quote,..
 

·
a not very silent reader
Joined
·
593 Posts
Klo CN-235, iya itu patungan CASA-IPTN. Tapi yg dipake Turki itu made in CASA atau Turki sendiri, karena Turki lisensi 50 biji, bukan made in Bandung...
Miriplah kayak Toyota Fortuner. Merk Jepang made in Cikarang...
Kalau murni buatan casa gak akan ada "N" nya, semisal C212 atau C295. Setahu saya kedua pabrik memang punya hak untuk memproduksi masing-masing. Tapi meskipun dirakit disana ataupun disini, CN 235 tetap dikatakan buatan bersama Casa dan PTDI, dan pasti ada share profit antara keduanya

CASA/IPTN CN-235

The CASA/IPTN CN-235 is a medium-range twin-engined transport aircraft that was jointly developed by Construcciones Aeronáuticas SA (CASA) of Spain and Indonesian manufacturer IPTN, as a regional airliner and military transport. Its primary military roles include maritime patrol, surveillance, and air transport. Its largest user is Turkey, which has 59 aircraft.[5]

sumber : CASA/IPTN CN-235 - Wikipedia
 

·
Je me souviens
Joined
·
11,950 Posts
Klo CN-235, iya itu patungan CASA-IPTN. Tapi yg dipake Turki itu made in CASA atau Turki sendiri, karena Turki lisensi 50 biji, bukan made in Bandung...
Miriplah kayak Toyota Fortuner. Merk Jepang made in Cikarang...
Ya bedalah dgn Toyota Fortuner. Walaupun dibuat di Jepang, tetap saja itu adalah mobil merek Jepang. Tongkat komando tertinggi tetap Jepang.

Lain halnya dgn pesawat CN. Casa dan PTDI jelas berbagi komando/wewenang maupun duit di produk ini.
 

·
Registered
Joined
·
454 Posts


Ammdes Resmi Diekspor ke Nigeria


Jakarta, CNN Indonesia --
Alat Mekanis Multiguna Perdesaan (AMMDes) resmi diekspor untuk kali pertama ke Nigeria. Seremonial ekspor dilakukan pada Senin (24/8) di pabrik KMW-AMMDes di Citereup, Bogor.
Ekspor Ammdes dilakukan perusahaan Senantiasa Makmur (SM) melalui Repindo Jagad Raya (RJR). Sedangkan produksi dikerjakan Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI), selaku anak perusahaan Astra Internasional.
"Kami merasa bangga dengan diekspornya KMW-AMMDes ke Nigeria. Hal ini menjadi bukti bahwa produk dalam negeri hasil karya anak bangsa juga diminati di luar negeri," kata perwakilan RJR Ritha Ermuliana Manik mengutip keterangan tertulisnya, Minggu (30/8).


Ammdes yang dikapalkan merupakan AMMDes Paddy Husker menggunkan alat pengupas padi, AMMDes Cassava Grinder yang dilengkapi alat pembuat tepung singkong, dan AMMDes Garri Processor dengan alat pengolah garri.
Garri merupakan makanan pokok di Nigeria yang terbuat dari singkong.
Ritha tak merinci jumlah unit yang dikirim, namun diungkapkan ke depannya proses ekspor akan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
"KMW-AMMDes semakin dibutuhkan di sektor pertanian dan perkebunan berskala besar," kata Ritha.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebelumnya mengatakan unit Ammdes dilirik perusahaan multinasional Nigeria, Dangote Group, yang didirikan orang terkaya Afrika, Aliko Dangote.


Kemenperin juga memperkirakan 10 ribu unit AMMDes diekspor ke Nigeria dalam jangka waktu pengiriman lima tahun. Kemenperin selama ini berperan sebagai penggagas AMMDes untuk memenuhi kebutuhan transportasi dan alat bantu pertanian atau perkebunan di perdesaan.
Diluncurkan perdana pada 2018 oleh Presiden Joko Widodo, Ammdes disebut sebagai alat multiguna sebab baknya dirancang khusus dengan kelengkapan alat khusus yakni pemecah gabah, pemutih padi, pompa irigasi, generator, dan lain sebagainya.
Unit Ammdes juga ada yang dimodifikasi sebagai ambulans feeder dan pemadam kebakaran untuk kegiatan tanggap darurat.

sumber: Ammdes Resmi Diekspor ke Nigeria
 

·
Registered
Joined
·
2,910 Posts
Ini yg saya bilang di thread KCIC Jakarta-Bandung.

Jepang yg puluhan tahun makan habis2an kue besar di pasar otomotif kita ongkang2 kaki ogah kembangkan mobil listrik disini.

Padahal kalo mereka punya niat, mereka bisa saja lobi2 pembuat kebijakan sperti yg mereka lakukan di program LCGC.

Sekarang ketika pabrikan China dan Korea seperti Hyundai mulai bergerak dan terkesan "mesra" dgn pemerintah sekarang terkait EV, si Jepang mulai kebakaran jenglot. Kan setan namanya..
Indonesia’s Electric Vehicle Ambition Angers Japan: Minister
BY :HERU ANDRIYANTO
SEPTEMBER 07, 2020

Jakarta. Indonesia is taking a huge leap into electric vehicle industry and has appealed for technological support from China and South Korea in an ambitious industrial program that apparently makes Japan unhappy, the chief investment minister has said.
The EV technology is much simpler than combustion engines because it only needs battery and motor, which Indonesia can develop by its own, according to Luhut Binsar Pandjaitan, the coordinating minister for maritime affairs and investment.
“I’m one of the strongest supporters for the EV industry. Why? Because 96 percent of cars we are using now are made by Japan,” Luhut said in a recent webinar arranged the North Sumatran alumni of the Bandung Institute of Technology (ITB). The webinar on Friday was uploaded to the alumni’s YouTube account.

“Pardon me, but to be honest we are now under Japan’s ‘technology colonialism’,” Luhut said.

Indonesia is ready to build the EV industry because it has the key material for the making of lithium battery and is approaching China and South Korea to develop the technology, Luhut said.

“Japan is angry with us. They asked why we didn’t consider developing hybrid cars first. And I was accused of being pro-China,” the retired army general said.

“Why should we go hybrid while we can directly develop electric vehicles?” he added.


Lithium Battery

Indonesia has the potential to become key player in the global lithium battery industry and shouldn’t end up as merely a market for electric vehicles, the minister said.

“The key is lithium battery and we have the world’s largest nickel ore reserves. Several years ago, we began to develop the downstream industry [for nickel] but we couldn’t do that alone. We didn’t have the full technological application so we engaged with China,” Luhut said.

“We are now able to produce iron steel and carbon steel and by 2024 we will have the capability to build lithium battery because we can extract cobalt from low-grade nickel ore,” Luhut said.

“In Weda Bay industrial park, Central Halmahera [North Maluku], we are processing copper from Freeport mines to extract sulfuric acid, which will then go to Morowali [Central Sulawesi] or Karawang [West Java] -- where there will be a Hyundai electric car assembly plant and LG -- to produce lithium battery,” he said.

Luhut said Indonesia can become a key player in the global electric vehicle industry because all it needs is just “battery and motor”.

“We will become the second or third largest lithium battery producer in the world in 2027. Indonesia will become part of the global supply chain,” Luhut said.


Added Value

The government is making tremendous efforts to lift domestic industry to a new level, by sending young talents to foreign countries to learn, for instance, how to extract cobalt from nickel ore, Luhut said.

“Many don’t realize that during this challenging situation due to Covid-19, we enjoyed a surplus in international trade because of the iron steel export, which valued at $10 billion. Next year, the export value is targeted at $13 billion to 15 billion, and up to $35 billion by 2024,” he said.

“The current account deficit should no longer be an issue by 2024.”

Apart from nickel, Indonesia is also developing the downstream industry for bauxite in Bintan Island to begin production by January next year, he said.

Momentum

Satryo Soemantri Brodjonegoro, an advisor for Luhut, said Indonesia is gaining momentum in the EV industry and that President Joko Widodo has signed a decree on the acceleration of EV development.

“We shouldn’t let go of this momentum. EV technology is much simpler compared to combustion engine. In EV, it only needs battery, electric motor and computer,” Satryo said in the webinar.

“We must share a common vision here, that we will start producing EVs, otherwise we will be lagging behind other countries such as Vietnam.”

Satryo said there is no way the country can start the EV industry from scratch and South Korea’s Hyundai could likely become a partner as it plans to set up an assembly plant for electric vehicles in West Java.

“Hyundai will build a plant in Purwakarta. They can do that but there must be a scenario … that maybe within five years the entire components are built in Indonesia, including batteries,” he said.

“We cannot start from scratch, but we cannot let ourselves become merely an assembly plant or market either.”
 

·
Registered
Joined
·
454 Posts
Ternyata baru 3 unit yg diekspor pada tahap awal ini.
Moga sukses menarik minat pasar di sana.
menurut saya, AMMdes itu yang paling pesat perkembangannya untuk mobnas dibanding ESEMKA. apalagi sudah disupport sama USAID, ASTRA sama KEMENPERIN. yang terbaru saya dengar, mau pakai listrik.
 

·
Registered
Joined
·
3,718 Posts
^^
beda dong yang satu kendaraan politik yang satu kendaraan beneran :D coba kenapa pendiri AMMdes yang dulunya inisiator ESEMKA malah bikin perusahaan sendiri :)
 
1301 - 1312 of 1312 Posts
Top