SkyscraperCity banner

17621 - 17640 of 17640 Posts

·
Registered
Joined
·
1,706 Posts
Wow
Documents seperti itu bisa tersebar di portal internet
Jaman sekarang semua peraturan perundangan emang harus diupload di JDIH, cuma masih ada beberapa peratuan yang lampirannya gak diupload serta, kebanyakan sih pergub terutama lampiran UDGL...
 

·
Registered
Joined
·
5,478 Posts
^^ salah kamar mod

btw silakan dicek kajian dari Sutan Ashari Mufti terkait region prioritas pembangunan transportasi Jakarta. Sutan Ashari Mufti posted on LinkedIn

ga tau mau ditaro mana View attachment 137105
Untuk hasil pemetaan tsb. menurut saya daerah Cilincing itu lebih ngarepnya Ekstensi Pink Line, atau kalau mau bikin branch line LRTJ boleh sih. untuk Cakung itukan sudah seharusnya nanti dibangun EW MRTJ Line. Diantara Pink Line Ekstensi dan EW Line lebih ngarep lagi Tangerang Brown Line ekstensi s.d. Kab. Bekasi (ujungnya nempel JORR2)


Setuju
Soalnya kalo liat perpres sebelumnya no 55 tahun 2018 udah dijabarkan begini
Dari perpres di atas bisa dibilang:
Mrt cuman north-south (ancol-pondok cabe) dan east-west (cikarang-balaraja)
Sisanya adalah lrt
Hehehe, kalau semuanya tanggung jawab Pemda, alamat gak ada yang dibangun itu di wilayah lain. HAHAHAH kecuali dapet pinjaman dari luar.... walau pasti belibet sangat...
Kalau dilihat di 2018 emang disebutkan LRT, kalau yang 2020 jadi AMC jadi ya bisa aja LRT/MRT/Monorail/dkk. dll. Kalaupun LRT-nya ala LRT JBDB juga gak masalah-masalah banget. Cuman agak disayangkan kalau mayoritasnya dijadikan/dipegang LRTJ. Setidaknya sih MRTJ dapet Circle Line (JORR) dan NS2 Line lah... selebihnya didukung oleh jaringan TJ, LRTJ, dan KCI boleh sih.

^^
jangankan tangsel, JICA aja ga mau biayain yang diluar DKI. makanya E-W cuma dari kembangan-ujung menteng. untuk di luar DKI? silahkan cari pinjaman sendiri :)
EW Lines MRTJ emang jadinya pasti sama JICA lagi? Ya berarti terserah MRTJ gak sih kalau kedepannya mau nambahin berapa line dengan pembiayaan darimanapun itu? Kalau pendanaan buat Pemda lain sih saya malah makin gak yakin akan bisa dibangun:unsure: Yaaa boleh kali ya untuk ekstensi Lebak Bulus - Parung (ujungnya ketemu Outer Circle Line KCI) dibiayaiin via Kemenhub/DJKA?
 

·
Registered
Joined
·
22 Posts
Hehehe, kalau semuanya tanggung jawab Pemda, alamat gak ada yang dibangun itu di wilayah lain. HAHAHAH kecuali dapet pinjaman dari luar.... walau pasti belibet sangat...
Kalau dilihat di 2018 emang disebutkan LRT, kalau yang 2020 jadi AMC jadi ya bisa aja LRT/MRT/Monorail/dkk. dll. Kalaupun LRT-nya ala LRT JBDB juga gak masalah-masalah banget. Cuman agak disayangkan kalau mayoritasnya dijadikan/dipegang LRTJ. Setidaknya sih MRTJ dapet Circle Line (JORR) dan NS2 Line lah... selebihnya didukung oleh jaringan TJ, LRTJ, dan KCI boleh sih.


EW Lines MRTJ emang jadinya pasti sama JICA lagi? Ya berarti terserah MRTJ gak sih kalau kedepannya mau nambahin berapa line dengan pembiayaan darimanapun itu? Kalau pendanaan buat Pemda lain sih saya malah makin gak yakin akan bisa dibangun:unsure: Yaaa boleh kali ya untuk ekstensi Lebak Bulus - Parung (ujungnya ketemu Outer Circle Line KCI) dibiayaiin via Kemenhub/DJKA?
Di trit sebelah (lrt) juga lagi bahas soal keuangan gan, coba di cek :D
 

·
Fiat Voluntas Tua
Joined
·
7,078 Posts
Tapi bagaimana menyambungkan jaringan LRT ke stasiun Lebak Bulus? sedangkan kita tau bahwa lebar rel LRT itu kebanyakan menggunakan tipe standar (1435mm), sedangkan MRT Jakarta menggunakan tipe narrow dengan lebar 1067mm. Selain itu juga MRT Jakarta menggunakan overhead catenary, berbeda dengan LRT yang menggunakan 3rd rail. akan sangat mubazir rasanya jika membangun stasiun baru di Lebak Bulus demi mengakomodasi jaringan LRT tersebut. Dengan ini saya memiliki dugaan kuat bahwa rute Lebak Bulus - Pamulang - Ciputat - Rawa Buntu adalah ekstension jalur MRT North-South Line. Argumen dan dugaan saya juga didukung oleh berita mengenai rencana pemkot tangsel yang merencanakan pembangunan MRT di wilayahnya.
Loh... memang LRT dan MRT harus berbagi rel apa? Kan bisa saja 2 moda co-exist dalam 1 stasiun (tinggal dibangun platform baru sesuai spec LRT), terpisah dari platform MRT.
 

·
Registered
Joined
·
22 Posts
Loh... memang LRT dan MRT harus berbagi rel apa? Kan bisa saja 2 moda co-exist dalam 1 stasiun (tinggal dibangun platform baru sesuai spec LRT), terpisah dari platform MRT.
sebenernya bisa saja seperti itu, tapi melihat adanya keterbatasan lahan sepertinya sangat sulit untuk membangun platform baru di stasiun lebak bulus
 

·
Fiat Voluntas Tua
Joined
·
7,078 Posts
Kalau berbagi platform, kayak KRL dong.... service harus gantian dan frekuensi layanan gak bisa ditambah. Say goodbye to interval 2-3mins untuk setiap line kalau gantian platform, karena harus diselang line lain yang masuk.
 

·
Registered
Joined
·
22 Posts
Kalau berbagi platform, kayak KRL dong.... service harus gantian dan frekuensi layanan gak bisa ditambah. Say goodbye to interval 2-3mins untuk setiap line kalau gantian platform, karena harus diselang line lain yang masuk.
Mungkin bukan linenya yang ditambah, tapi rute north-south yg diperpanjang, mungkin nanti jadi ancol-pondok cabe
 

·
Gundam in Disguise
Joined
·
1,340 Posts
Loh... memang LRT dan MRT harus berbagi rel apa? Kan bisa saja 2 moda co-exist dalam 1 stasiun (tinggal dibangun platform baru sesuai spec LRT), terpisah dari platform MRT.
lagipula perpres 2018 masih bisa diupdate lagi juga bentuk transportasinya jadi MRT kayak singapore, MRT line baru mereka, Jurong Region MRT Line, awal studinya sebagai LRT akhirnya dibuat jadi MRT, dan melihat respond positif warga ke MRT dibanding LRT kayaknya bisa ngebuat plan berubah ke MRT

untuk biaya dll? entah pinjaman darimana kalau bener JICA ga mau dari financing luar DKI Jakarta, China gpp deh kalau swasta ga ada yg mau bantu 😂😂😂😂, atau mau "akalin"nya setelah pindah ibu kota, Jakarta caplok daerah Tangerang, Bekasi, dan Bogor jadi greater Jakarta biar JICA nya mau biayain wkwkwkw
 

·
Registered
Joined
·
22 Posts
lagipula perpres 2018 masih bisa diupdate lagi juga bentuk transportasinya jadi MRT kayak singapore, MRT line baru mereka, Jurong Region MRT Line, awal studinya sebagai LRT akhirnya dibuat jadi MRT, dan melihat respond positif warga ke MRT dibanding LRT kayaknya bisa ngebuat plan berubah ke MRT

untuk biaya dll? entah pinjaman darimana kalau bener JICA ga mau dari financing luar DKI Jakarta, China gpp deh kalau swasta ga ada yg mau bantu 😂😂😂😂, atau mau "akalin"nya setelah pindah ibu kota, Jakarta caplok daerah Tangerang, Bekasi, dan Bogor jadi greater Jakarta biar JICA nya mau biayain wkwkwkw
kalo di jepang, malaysia, china itu dia sumber pembiayaannya dari obligasi gan, tapi yang ngeluarin obligasinya itu pemerintah pusat. Sebenernya daerah juga bisa ngeluarin obligasi, tapi tidak dijamin sama pemerintah pusat. Nah, yang anggaran daerahnya lumayan sehat itu adalah DKI Jakarta sehingga DKI Jakarta ini sangat berpeluang buat ngeluarin obligasi buat bangun LRT/MRT. Tinggal pemerintahnya aja serius apa engga buat nanganin masalah ini. Ane yakin pemerintah pusat juga mau diajak kerjasama buat bareng-bareng ngeluarin obligasi buat bangun MRT/LRT. Kaya misal 60% sumber obligasi daerah + 40% obligasi pemerintah pusat, ataupun sebaliknya. Nah, daerah yang diluar jakarta ini, Jabar dan Banten kayanya masih sulit buat ngeluarin obligasi CMIIW
 

·
Registered
Joined
·
671 Posts
kalo di jepang, malaysia, china itu dia sumber pembiayaannya dari obligasi gan, tapi yang ngeluarin obligasinya itu pemerintah pusat. Sebenernya daerah juga bisa ngeluarin obligasi, tapi tidak dijamin sama pemerintah pusat. Nah, yang anggaran daerahnya lumayan sehat itu adalah DKI Jakarta sehingga DKI Jakarta ini sangat berpeluang buat ngeluarin obligasi buat bangun LRT/MRT. Tinggal pemerintahnya aja serius apa engga buat nanganin masalah ini. Ane yakin pemerintah pusat juga mau diajak kerjasama buat bareng-bareng ngeluarin obligasi buat bangun MRT/LRT. Kaya misal 60% sumber obligasi daerah + 40% obligasi pemerintah pusat, ataupun sebaliknya. Nah, daerah yang diluar jakarta ini, Jabar dan Banten kayanya masih sulit buat ngeluarin obligasi CMIIW
Paling possible dan sudah ada presenden baik, ambil tied loan dari luar negeri

1-10 tahun grace period + 11-40 tahun cicilan pokok + bunga

Tidak pakai APBN dan APBD di awal, potensi mandek/tidak lanjut karena ganti rezim juga rendah, konflik dengan DPR/DPRD minim.

MRTJ sudah melampaui 2 Presiden dan 6 Gubernur Jakarta
 

·
Registered
Joined
·
22 Posts
Paling possible dan sudah ada presenden baik, ambil tied loan dari luar negeri

1-10 tahun grace period + 11-40 tahun cicilan pokok + bunga

Tidak pakai APBN dan APBD di awal, potensi mandek/tidak lanjut karena ganti rezim juga rendah, konflik dengan DPR/DPRD minim.

MRTJ sudah melampaui 2 Presiden dan 6 Gubernur Jakarta
Kita gabisa ngandelin utang luar negeri untuk mewujudkan semua line yang ada gan, mungkin line ew sama ns masih oke kalo didanakan dari utang luar negeri, tapi saya rasa kalo untuk line ke 3,4,5 dst akan sangat sulit, mengingat utang luar negeri harus dijamin oleh pemerintah pusat(kebijakan setiap kreditur berbeda tergantung skema yang diambil) selain itu ada batasan jumlah rasio utang terhadap pendapatan pemerintah. Belum lagi nilai mata uang yg fluktuatif akan menambah beban utang tersebut.

Sebenernya ane juga setuju sama poin agan bahwa untuk membangun infrastruktur yang menggunakan modal besar tidak cocok jika menggunakan APBD/APBN diawal karena yang paling utama adalah keterbatasan dari APBD/APBN tersebut, pemerintah harus cerdik menggandeng pihak swasta dan pihak lainnya untuk bekerjasama membangun infrastruktur besar. Just my opinion
 

·
Fiat Voluntas Tua
Joined
·
7,078 Posts
Paling possible dan sudah ada presenden baik, ambil tied loan dari luar negeri

1-10 tahun grace period + 11-40 tahun cicilan pokok + bunga

Tidak pakai APBN dan APBD di awal, potensi mandek/tidak lanjut karena ganti rezim juga rendah, konflik dengan DPR/DPRD minim.

MRTJ sudah melampaui 2 Presiden dan 6 Gubernur Jakarta
Kita gabisa ngandelin utang luar negeri untuk mewujudkan semua line yang ada gan, mungkin line ew sama ns masih oke kalo didanakan dari utang luar negeri, tapi saya rasa kalo untuk line ke 3,4,5 dst akan sangat sulit, mengingat utang luar negeri harus dijamin oleh pemerintah pusat(kebijakan setiap kreditur berbeda tergantung skema yang diambil) selain itu ada batasan jumlah rasio utang terhadap pendapatan pemerintah. Belum lagi nilai mata uang yg fluktuatif akan menambah beban utang tersebut.

Sebenernya ane juga setuju sama poin agan bahwa untuk membangun infrastruktur yang menggunakan modal besar tidak cocok jika menggunakan APBD/APBN diawal karena yang paling utama adalah keterbatasan dari APBD/APBN tersebut, pemerintah harus cerdik menggandeng pihak swasta dan pihak lainnya untuk bekerjasama membangun infrastruktur besar. Just my opinion
Susahnya obligasi daerah itu tergantung siapa yang berkuasa; ganti rezim daerah ganti proyek - gak beda sama pusat.
Gak enaknya loan ke JICA, ADB, AIIB, dll itu barangnya didikte pemberi hutang, gak ada kelonggaran dari penghutang untuk pilih supplier sehingga nilai loan bisa inflated (karena gak ada persaingan supplier; contoh... loan JICA, kontraktor Jepang adem ayem karena diadu dengan sesamanya sendiri, mereka gak berkepentingan menurunkan harga).
Beda jika halnya diadu antara konsorsium Jepang vs Korea vs Jerman vs Prancis vs Inggris vs dll.
 

·
Registered
Joined
·
671 Posts
Susahnya obligasi daerah itu tergantung siapa yang berkuasa; ganti rezim daerah ganti proyek - gak beda sama pusat.
Gak enaknya loan ke JICA, ADB, AIIB, dll itu barangnya didikte pemberi hutang, gak ada kelonggaran dari penghutang untuk pilih supplier sehingga nilai loan bisa inflated (karena gak ada persaingan supplier; contoh... loan JICA, kontraktor Jepang adem ayem karena diadu dengan sesamanya sendiri, mereka gak berkepentingan menurunkan harga).
Beda jika halnya diadu antara konsorsium Jepang vs Korea vs Jerman vs Prancis vs Inggris vs dll.
Ya, tied loan gak wajib sama Jepang kok, dan Jepang juga melayani kalau mau ambil untied loan (interest rate lebih mahal)

Mungkin berkiblat infra kereta api kepada Jepang adalah pilihan paling aman, karena sudah proven, walaupun pastinya harga mahal. Selain itu mereka pake komplet : dari kontraktor, material, hardware, SOP training operasional sudah berkelas dunia

Lebar rail 1067 juga bukan lebar pasaran umum, identikal dengan rail gauge JDM
 

·
SSC Indonesia
Joined
·
4,563 Posts
Ini berita tahun 2015

Ini berita tahun 2019

Secara ringkas, dari kondisi tahun 2015 ke 2019, OJK selaku regulator sudah banyak menyelesaikan perbaikan dan harmonisasi aturan2 yang secara teknis menjadi hambatan dalam penerbitan obligasi daerah. Tinggal sekarang bagaimana komitmen dari pemda bersama DPRD untuk kompak mendukung rencana dan programnya, termasuk dukungan dari penegak hukum.

Kutipan dari artikel pikiran rakyat:

Sementara di sisi teknis, semua hal yang berkaitan dengan penerbitan instrumen tersebut telah diselesaikan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat Ir. Hoesen, MM, mengatakan sejak beberapa waktu terakhir pihaknya berupaya meningkatkan pemahaman mengenai obligasi daerah sebagai alternative pembiayaan.Mengingat kebutuhan infrastruktur enam kali lipat lebih besar dibandingkan kemampuan daerah untuk meminjam.

Peningkatan pemahaman tersebut, diakuinya sangat penting karena kendala utamanya terletak di aspek tersebut.

“Kendalanya soal pemahaman mengenai hutang. Ini persoalan persepsi saja karena periode pejabat pemerintah ada waktunya, misalnya tiga tahun lagi akan selesai masa jabatannya namun akan menerbitkan hutang yang usianya lima tahun. Kemudian, karena belum pernah berhutang takut bertanggung jawab, takut salah. Kekhawatiran ini yang dipermasalahkan,” katanya saat Seminar Nasional Obligasi Daerah Provinsi Jawa Barat 2019 bertema “Inovasi Pembiayaan untuk Akselerasi Pembangunan di Jawa Barat”, di Bandung, Sabtu, 21 Desember 2019.

Meski kekhawatiran merupakan hal yang wajar, menurut Hoesen, ketimbang hanya tertahan pada tataran diskusi maka sebaiknya untuk menjawab kekhawatiran tersebut daerah dapat mencoba langsung dengan menerbitkan. Dengan demikian, akan banyak pelajaran yang bisa diperoleh.

Termasuk kekhawatiran tentang kualitas maupun kompetensi SDM di BUMD yang kerap menjadi Salah satu aspek yang dikhawatirkan.

“Orang tidak akan bisa belajar kecuali melakukan. Kalau sebelumnya tidak mahir maka akan menjadi mahir, bisa lihat bagaimana BJB dulu dikelola ketika sebelum dan bagaimana sekarang setelah IPO. Jabar ini sudah punya role model,” ujarnya.
 
17621 - 17640 of 17640 Posts
Top