SkyscraperCity banner
1 - 20 of 75 Posts

·
Registered
Joined
·
1,478 Posts
Discussion Starter · #1 ·
Kepulauan Banda

Kepulauan Banda terdiri dari sepuluh pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda, ±140 km sebelah selatan Pulau Seram dan 2.000 km sebelah timur Pulau Jawa. Kepulauan seluas 180 km² ini termasuk dalam wilayah Provinsi Maluku. Kota terbesarnya, Bandanaira, terletak di pulau dengan nama yang sama. Sekitar 15.000 jiwa tinggal di kepulauan ini. Hingga pertengahan abad ke-19, Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah pala. Kepulauan ini populer bagi penggemar selam scuba dan snorkeling.

Bagi yang punya foto atau berita mengenai kepulauan banda silahkan dipost di sini.
 

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts
Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kepulauan Banda

Letak geografis Kepulauan Banda pada 130 derajat Bujur Timur dan 4 derajat 30’ Lintang Selatan, terdiri atas Pulau Lontor, Pulau Gunung Api, Pulau Neira, Pulau Ay, Pulau Rhun, Pulau Hatta, Pulau Syahrir, Pulau Manukang, Pulau Kurukan, Pulau Nailoka dan Pulau Kapal. Termasuk Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Ibukota Kecamatan ini adalah Kota Banda Neira di Pulau Neira.

Kepulauan Banda dikenal sejak lama, disebut dalam Buku Nagarakertagama dengan nama Wanda sebagai penghasil rempah-rempah pala dan fuli (lapisan antara kulit dan biji pala). Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang menyinggahi Banda untuk membeli rempah-rempah tersebut pada awal tahun 1512. Mereka datang ke Banda dipandu oleh para mualim Melayu yang berlayar menyusuri Jawa, Sunda Kecil (NTB dan NTT sekarang) terus menuju Maluku. Mereka rupanya lebih tertarik pada cengkeh daripada pala dan fuli, sehingga mereka kemudian lebih memfokuskan perhatiannya di Maluku Utara. Maka tak mengherankan bahwa di Maluku Utara, khususnya di Ternate dan Tidore peninggalan mereka berupa benteng dan lain-lain masih dapat disaksikan.

Warisan Budaya
Lepas dari masa eksploitasi Belanda VOC dan NHM (Nederlandsch Handel Maatschappy) di Kepulauan Banda, kini kita mempunyai warisan budaya dari mereka. Bentuknya berupa bangunan benteng, rumah-rumah bekas para tuan lokal, maupun rumah yang pernah ditempati oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional selama enam tahun dalam pengasingannya. Beberapa peninggalan tersebut telah dipugar oleh pemerintah, yang telah siap dipasarkan sebagai objek pariwisata di kawasan Indonesia Bagian Timur (IBT).

Benteng Nassau
Didirikan di atas pondasi yang urung dibangun oleh Portugis tahun 1609. Oleh Belanda kemudian didirikan benteng pada 1617 yang diberi nama Benteng Nassau. Kini tinggal sisa-sisanya. Benteng dikelilingi parit sebagai pengaman. Dalam sejarahnya dalam benteng ini pernah dilakukan masakre 44 orang kaya (tuan-lokal) pada 8 Mei 1621 oleh Gubernur Jan Pieter Zoon Coen. Lukisan peristiwanya ini tersimpan pada Rumah Budaya Banda milik Des Alwi.

Benteng Belgica
Terletak di suatu bukit, mulai dibangun pada 1611 oleh Pieter Both, diperbesar tahun 1622 oleh J.P. Coen. Tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 oleh Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum diperintahkan agar benteng ini dipugar. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis dan untuk memasukinya harus dipergunakan tangga yang aslinya berupa tangga yang dapat diangkat (semacam tangga hidrolik). Tahun 1991 benteng ini dipugar secara keseluruhan dengan bantuan Dephankam yang menghabiskan dana hampir setengah miliar rupiah. Benteng Belgica kini siap untuk dikunjungi wisatawan. Menurut beberapa turis mancanegara, Benteng Belgica merupakan benteng yang paling indah di antara benteng-benteng lainnya yang dibuat oleh Belanda.

Istana Mini
Masyarakat Banda menyebut bangunan ini sebagai istana mini (mirip Istana Merdeka di Jakarta) walaupun yang terakhir ini dibangun belakangan. Dahulu kompleks bangunan ini merupakan tempat tinggal para pejabat VOC, NHM dan Kontrolir yang sekaligus sebagai gudang tempat penyimpanan rempah-rempah sebelum dikapalkan menuju Eropa dan didirikan tahun 1622. Para kontrolir yang pernah menempati bangunan tersebut antara lain Van Kotte, Kaufman, Wenterwert.

Gereja Kuno
Gereja ini tidak mempunyai nama khusus sebagai pelindungnya, merupakan tempat beribadat umat Kristen Protestan. Dibangun dari tanggal 20 April 1873 hingga 23 Meri 1875 oleh Mauritz Vantzius dan Johan Wilhelm Hoeke, pendeta di sana, dibangun di atas bekas pemakaman orang Belanda dan Inggris. Jirat-jirat mereka dari batu granit yang berukuran 1,5 x 2,5 m kini berfungsi sebagai lantai gereja. Nama-nama mereka masih dapat dibaca pada setiap jirat. Dalam gereja ini masih disimpan dua gelas perak yang dibuat tahun 1635 yang masih dipergunakan sebagai tempat anggur pada waktu kebaktian dan satu piring perak juga dibuat tahun 1635 yang berfungsi sebagai tempat roti perjamuan.

Rumah Pengasingan Bung Hatta
Rumah ini pada 11 Februari 1936 hingga 31 Januari 1942 ditempati Bung Hatta sewaktu pengasingan di Banda. Bekas rumah yang ditempati oleh Sutan Syahrir dan Dr. Cipto Mangunkusumo kini telah hancur. Tokoh lain yang pernah diasingkan ke Banda adalah Syarifudin Prawiranegara.

Peninggalan-peninggalan lain Benteng Hollandia di Pulau Lontor dan Benteng Revenge di Pulau Ay kini tinggal sisa-sisanya. Beberapa bangunan rumah yang sangat indah telah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk diambil kerangka besinya. Pohon-pohon kenari yang besar yang ditanam di sisi kiri-kanan jalan juga telah habis ditebang, sehingga terkesan Kota Banda Neira semakin gersang.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

http://www.lintas.me/go/wisata-kami...n_Sejarah_dan_Purbakala_di_Kepulauan_Banda/1/
 

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts
Kepulauan Banda

Wisata Alam – Kepulauan Banda – Provinsi Maluku


Kepulauan Banda terdiri dari sepuluh pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda, ±140 km sebelah selatan Pulau Seram dan 2.000 km sebelah timur Pulau Jawa. Kepulauan seluas 180 km² ini termasuk dalam wilayah Provinsi Maluku. Kota terbesarnya, Bandanaira, terletak di pulau dengan nama yang sama. . Hingga pertengahan abad ke-19, Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah pala. Kepulauan ini populer bagi penggemar selam scuba dan snorkeling.

Tepi dermaga laguna terlihat air laut sebening kaca memantulkan refleksi violet, biru dan magenta dari langit pagi ,Sementara di bibir puncak gunung , masih tampak terlihat bongkahan batu dan tanah tanah hitam sisa sisa erupsi . Benar benar sebuah pemandangan yang indah dan fantastis Sesekali melintas nelayan dengan perahu kecilnya sambil berdendang .

Berpetualang di kepulauan eksotik yang pernah didatangi para selebritis dunia seperti Princess of York, Sarah Ferguson sampai Mick Jagger. tidak begitu mudah Penerbangan dari Ambon dilanjutkan dengan kapal Pelni tidak menentu atau boat carteran

Dari Bandara menuju pelabuhan Tuluhatu di teluk Ambon, Bulan baik mengunjungi pulau Banda adalah bulan April – May atau September sampai November, dimana cuaca bersahabat dan laut sangat tenang. Di luar bulan bulan tersebut, musim barat membuat laut Banda menjadi sangat berbahaya untuk diarungi dengan kapal kapal kecil.

Setelah 7 jam mengarungi laut lepas, terlihat mulai ada burung burung berterbangan, dan itu artinya sudah dekat dengan daratan. Ternyata tak berapa lama terlihat dikejauhan sebuah sosok samar daratan. bersamaan dengan mulai terbenamnya matahari di ufuk barat. Tepatnya 9 jam perjalanan, kapal boat merapat di dermaga Maulana Hotel, Banda Neira

Pukul 6 pagi diringi, dengan suara suara burung tampak bangunan hotel lama bertingkat sederhana model spanyol, dengan sebuah pohon kenari raksasa di depan serambi hotel, tepat menghadap laguna teluk Banda dan diseberangnya berdiri kokoh sebuah gunung berapi setinggi 1000 meter, yang disebut Gunung Api.
Jarak dari teras hotel menuju tepi dermaga laguna hanya sekitar 6 meter, tampak air laut sebening kaca memantulkan refleksi violet, biru dan magenta dari langit pagi ini Sementara di bibir puncak gunung , masih tampak terlihat bongkahan batu dan tanah tanah hitam sisa sisa erupsi

Hotel Maulana terletak di Naira, di pulau Banda kecil yang pernah menjadi incaran pedagang seluruh dunia abad pertengahan. Kilas balik sejarah menjelaskan ketika armada, conquistador Alfonso de Alburqueque dari Portugis menaklukan Malaka tahun 1511 yang menjadi pusat perdagangan rempah rempah dunia. Ia sudah mempersiapkan ekspedisi besar ke Maluku dan Banda Neira, sebagai pusat produsen rempah rempah dunia. Dengan bantuan penunjuk jalan dari Malaka, armada Portugis bisa mencapai Banda Neira pada tahun 1512 – 1514, sampai akhirnya terusir oleh armada VOC. Berjalan jalan di Banda Neira membangkitkan kenangan akan situasi kehidupan kolonial jaman dahulu. Hampir seluruh rumah rumah atau gedung gedung berarsitektur kolonial terawat dengan baik, dan masih dipakai sampai sekarang

Sudut sudut kota, jalanan serta bangunan yang ada tetap merefleksikan kehidupan yang sama ratusan tahun yang lalu. Masjid yang dipakai oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di masa pembuangan mereka di pulau ini, masih terus dipakai oleh masyarakat sana. Demikian pula gedung atau rumah peninggalan kolonial yang kini dipakai menjadi kantor, sekolahan serta hotel hotel kecil disekitar Banda Neira.

Petualangan penyelaman di salah satu dive spot terbaik di dunia. Kepulauan Banda memang terkenal dengan keindahan hayati alam bawah lautnya serta terumbu karang yang mempesona. Memang, akibat letusan gunung Api telah merusak sebagian sisi terumbu karang Pulau Banda Besar. Namun menurut penilitian dari UNESCO, akibat fenomena ini justru pertumbuhan terumbu karang di tempat ini paling cepat didunia. Jika di tempat lain, terumbu karang bisa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh dewasa. Di Pulau Banda Besar hanya membutuhkan waktu tidak sampai sepuluh tahun. Menyelam di kepulauan Banda memang menakjubkan, clear visibility bisa sampai mencapai 40 meter saat itu membuat pemandangan alam bawah laut bisa terlihat dengan jelas

Hampir seluruh area penyelaman di Pulau Banda Besar,Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Hatta dan Pulau Sjarir sampai di dermaga Banda Neira memiliki pesona dan keanekaragaman alam bawah laut yang tak mungkin dilihat di tempat lain di dunia. Mata kami benar benar dimanjakan dengan warna warni terumbu karang dan soft coral yang sehat. Belum lagi dengan ikan ikan yang dengan eloknya berkeliling berdekatan tanpa menghiraukan kehadiran kami. Sesekali sekelompok lumba lumba menemani sambil melompat di sisi kapal boat yang membawa kami menuju titik titik penyelaman di kepulauan Banda.

Perjalanan antara titik penyelaman yang satu sama lain, tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh antara 30 menit sampai 1,5 jam dengan kapal boat. Istirahat makan siang biasanya kami mencari pantai pantai kosong yang tersebar diseluruh kepulauan, untuk menyantap hidangan rantangan yang kami bawa dari Hotel. Sungguh terasa nikmat duduk menikmati makan siang diatas pasir putih yang lembut sambil menghadap air laut yang jernih. Sesekali memtik buah kelapa dari atas kapal . Dalam penyelaman di sekitar Pulau Hatta, dapat ditemukan hutan sea fans ( seperti kipas cemara ) raksasa yang terhampar di kedalaman 20 meter. Jelly fish atau ubur ubur raksasa. dan iring iringan ratusan school of jack fish yang biasa disebut ikan kuwe, yang bergerak elok dalam satu rombongan menuju kedalaman

Berkunjung ke museum budaya . Disini kita bisa melihat catatan sejarah yang ada. Barang barang peninggalan VOC, serta yang menarik adalah lukisan lukisan mengenai situasi jaman tersebut. Tepat di tengah ruang utama museum, tergantung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian 44 orang terpandang dari Banda. Mereka biasa disebut dengan orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke benteng Fort Nassau. Kemudian di depan anak istri serta keluarganya, semua orang terkemuka di Banda tersebut dibantai secara kejam oleh algojo algojo Samurai yang disewa dari Jepang !.

Setelah VOC menancapkan kuku monopoli perdagangan, mereka membangun sebuah peradaban baru di Banda Neira yang nantinya akan merupakan blue print pembangunan kota Batavia kelak. Istana Merdeka di Jakarta yang menjadi tempat tinggal Gubernur Jendral Hindia Belanda,mencontoh replika gedung Istana mini yang masih berdiri di Banda Neira. Demikian pula gereja Immanuel di depan stasiun gambir memiliki arsitektur yang sama dengan gereja di sini yang sayangnya telah dirusak oleh massa pengungsi kerusuhan Ambon beberapa waktu yang lalu. Kalau kita memperhatikan sudut sudut kota tua di Jakarta, akan sama juga dengan komposisi sudut bangunan dan jalanan di sana. Saya membayangkan bahwa tempat ini sangat cocok untuk pembuatan syuting syuting film mengenai era kolonial, karena struktur bangunan dan kotanya yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang

Benteng VOC, Fort Belgica yang dibangun diatas sebuah bukit, dan bisa ditempuh hanya setengah jam berjalan kaki dari hotel Maulana. Mengagumkan sekali pemilihan letak posisi benteng tersebut, karena dari puncak benteng kita bisa melihat ke arah laut dari segala sisi pulau. Ini memudahkan VOC untuk mengawasi kapal kapal yang keluar masuk Banda pada masa itu. Rumah rumah yang dahulu ditempati Bung Hatta dan Sutan Sjahrir masih terawat dengan baik, berikut dengan barang barang peninggalan mereka. Dari mesin tik yang mereka pakai saat itu, sampai ruangan kelas di belakang rumah, tempat Bung Hatta mengajar terhadap anak anak Banda.

Menjelajah alam bawah airnya yang mempesona, serta menikmati sisa sisa kehidupan masa silamnya yang eksotis. Perkebunan pala dan kenari. Perjalanan masuk menembus hutan pala sangat mengasyikan, udara segar dan suara burung kakak tua terdengar di kejauhan. tampak pohon berusia ratusan tahun, yang menjadi saksi sejarah perdagangan rempah rempah.

Menyelam di dermaga pada sore hari yang dipenuhi oleh ikan ikan Mandarin berwarna corak kemerahan. diserta anak anak penduduk yang bermain dan berenang di tepian yang rutin sejak ratusan tahun lalu.

http://wisatamaluku.wordpress.com/wisata-provinsi-maluku/kepulauan-banda/
 

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts
Banda Island





The Banda group, about 160 kilometers southeast of Ambon, consists of three larger islands and seven smaller ones, perched on the rim of Indonesia’s deepest sea, the Banda Sea. Near Manuk Island, the water reaches more than 6,500 meters depth. Of the three biggest islands Banda, Banda-Neira and Mount Api, the first two are covered with nutmeg trees and other vegetation. The third however, is entirely bare and highly volcanic. The last eruption of Mt. Api occurred only a few years ago. The seas around Banda are the sites of the famous Maluku sea gardens with their bright corals and colorful fish darting through the crystal-clear waters. Facilities for sightseeing, snorkeling and skin-diving are available, as well as clean, comfortable cottages.

Banda saw some of the bloodiest episodes of Maluku’s past history during the 17th century. In 1609, the Dutch East Indies Company (VOC) dispatched Verhoeff to the islands to obtain the contested spice trade monopoly at any cost. Confronted by a superior power, people Banda were forced to allow the company to establish a fort, but in that same year Verhoeff was killed together with 45 of his men. The Company retaliated, but peace was not restored. In 1619, V.O.C. Governor-General Jan Pieterszoon Coen arrived at the head of a penal expedition and exterminated the entire population of Banda. The land was divided into lots, called “perken”, and given to former company employees, the “perkiniers”, who were obliged to grow nutmeg and sell them at predetermined prices to the company. Slaves did the actual work in the fields. The old “perkenier houses”, or what is left of them, and old churches still retain a peculiar colonial character to the port town of Bandaneira today. Two old forts Belgica and Nassau are inside the town limits. Others are found elsewhere on the islands. See also the former Dutch Governor’s mansion, the History Museum in Neira, and the huge nutmeg plantation nearby.

Sumber : http://touristspot.ruvenga.com/banda-island.html/#more-1444
 

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts
Banda Islands, the beauty of Eastern Indonesia
Posted by Eksi Romiasih on 12/01/2011 07:24:00 PM
Posted under : Excotic Island, Maluku

There have been many who know the beauty of the islands of Banda and I became ever 2 times creating a post on the island of Banda is about Sail Banda 2010. Banda Islands is one of the islands in Indonesia that is still natural but save a lot of the charm of an unspoiled natural beauty and culture so as if the world is like a hidden paradise.
Previously, in the Dutch colonial period in Indonesia, the island is also an island that was colonized by the Dutch and until the mid-19th century had become the only source of nutmeg spice in the world. As an island that once colonized by the Dutch, it would not be surprised if the houses are still found relics of the Dutch colonial era and because of the Banda Islands is one of the remote areas in Indonesia, then the houses are still preserved.










Sumber : http://www.anjieya.com/2011/12/banda-islands-beauty-of-eastern.html
 

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts
The Banda Islands - Maluku - Indonesia




The Banda Islands (Indonesian: Kepulauan Banda) are a volcanic group of ten small volcanic islands in the Banda Sea, about 140 km south of Seram island and about 2000 km east of Java, and are part of the Indonesian province of Maluku. The main town and administrative centre is Bandanaira, located on the island of the same name. They rise out of 4–6 km deep ocean and have a total land area of approximately 180 km². They have a population of about 15,000. Until the mid 19th century the Banda Islands were the world's only source of the spices nutmeg and mace, produced from the nutmeg tree. The islands are also popular destinations for scuba diving and snorkeling.

Banda Ecoworld :

The Old Naira Town

Naira town is very different from it was in the old 17th, 18th and 19th centuries. The offices of the controleur and the houses of the perkeniers are mostly in ruins today. These buildings have no longer the original huge paving slabs, polished marble, brightly glazed floor tiles, heavy beams, and large shuttered doors and windows. These marble tiles and other home and office furniture are brought from Holland and functioned as ballast on the ship sailing to Banda. These ships returned to Holland laden with spices (cloves, nutmeg, and mace) as trade commodities which also functioned as ballast. Once there was a proper gravel roadway shaded by trees which enriched the beauty of the town of Naira. The trees were cut down in the 1960s, leaving only the trees grew in the residential yards

The Perken

The Banda Archipelago was the original product center of the world-renowned spices, the nutmeg and mace. When the Dutch took it over by force from the Portuguese, they established their perken, the so-called nutmeg-plntations all over these islands. There are about 68 perkens on these islands: 3 are found on Naira Island, 34 on Lonthoir or Banda Besar, and 31 on Ay islet. Before, during and after the Banda massacre in 1621, the original inhabitants of the Banda Islands fled to Seram, Kei and other islands. The Dutch then brought in people from Java, South Sulawesi (Buton) and Central Maluku to work as farmers, picking and collecting, peeling and sorting, drying and loading the nutmeg and mace, under the supervisions of Dutch Perkeniers. Photo courtesy of Kai Muiier So the present day inhabitants of the Banda Islands are a mixture of Dutch, Javanese, Butonese and Central Malukan ancestry. There are still nutmeg trees of over two centuries old which are still producing. These nutmeg plantations on the Banda Islands are still to be seen, some are planted among the tall canary trees to shade and protect the nutmeg trees from the sunrays. Most of these nutmeg plantations are still productive and managed by P.T. Perkebunan Pala Banda. lonthoir Island or also known as Banda Besar, is the largest island in the Banda Islands (appr. 2.800 ha.). It looks like a great wall hiding and protecting the Naira and Gunung Api Islands from the south*eastern winds and waves. This island also has many attractions to offer to the visitor, among others:

Banda Island's Volcanoe

One can reach this islet only in 5 minutes by canoe, from Naira. The top of Banda's active volcano is appr. 600 meters above the sea level. Best for those, who like hiking. From the top, you'll have a very nice view of Naira and the surrounding islands. The last volcano eruption was on May 9, 1988. It forced the inhabitatnts of Naira and Lonthoir islands to evacuate. The ash covered the sky for about one week, and even the Ay Island was invisible.

Recreational & Leisure :

Ay Island

This is a tiny islet between the volcano and Run islets. You'll pass this islet if you travel to Run. Certain parts of the shoreline have beautiful white sandy beaches. Cup-shaped sponges, coral trees, ferns, etc are located off the drop*off. A nice spot for snorkeling and scuba diving.

Run Island

The underwater world of Run Islet is an ideal spot for snorkellers, professional as well as amateur divers or just hobbyists. A very exciting array of marine life on the ledge between the lagoon and the drop-off invites the divers to experience the natural underwater world of this spot. A lush carpet of living organisms not found anywhere else awaits the divers.
One may take a public boat from Ay. There is no public boat from Naira to Run, so one must hire a boat from Naira.

Nailaka Island

Nailaka is situated at the northern most tip of Run Islet. To get to this spot, you have to rent a boat from Naira. This Islet has a beautiful white sandy beach. This is the place in the Banda Islands for recreation, fin swimming, snorkeling and diving. The reef organisms cling to the steep wall and one can see the huge colourful gorgonia fans. An ideal spot for scenic divers and underwater photo*graphers.

Hatta Island

Hatta is situated just on the other side of Lonthoir Island. Lonthoir, Naira, and the Volcano islet are located between Ay and
Hatta islets. Around this islet there are living corals, and white sandy beaches.

Saaru (Hatta Islet)

Saaru is the Ambonese term for reef. This Saaru referred to the reef of Hatta Islet as one is heading south east from Banda Besar. There are various corals with exotic views of a steep underwater wall for scuba divers and snorkellers.

Source: disbudparmaluku.org

http://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?361-The-Banda-Islands-Maluku-Indonesia
 

·
Registered
Joined
·
3,590 Posts
Wah bgtu ya, sorry soalnya ol nya lewat hape. Kirain thread baru. Bener Banda memang indah. Pernah lihat ditv, keren bgt ya. Ayo posting lg pic2 Bandanya :)
 

·
Registered
Joined
·
1,478 Posts
Discussion Starter · #14 ·
Ane sengaja buat thread ini agar kepulauan banda makin terkenal. Dahulu kepulauan Banda sangat terkenal di dunia, bahkan artis macam Mick Jagger pun pernah ke Banda. Sekarang kepulauan Banda terkubur begitu saja. Berbeda halnya dengan Bali yang sangat tersohor di seluruh dunia. Semoga kepulauan Banda kembali menjadi primadona dunia bahkan pulau Bali generasi kedua.
 

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts
Ane sengaja buat thread ini agar kepulauan banda makin terkenal. Dahulu kepulauan Banda sangat terkenal di dunia, bahkan artis macam Mick Jagger pun pernah ke Banda. Sekarang kepulauan Banda terkubur begitu saja. Berbeda halnya dengan Bali yang sangat tersohor di seluruh dunia. Semoga kepulauan Banda kembali menjadi primadona dunia bahkan pulau Bali generasi kedua.
:eek:kay: Bro

Pulau Banda salah satu surga tropis...:)
 

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts

·
Registered
Joined
·
7,013 Posts
Surga di Banda Neira

Cantiknya pulau-pulau di Indonesia timur memang sangat terkenal hingga mancanegara. Sebuah pulau yang terletak di bagian tenggara pulau Ambon, yaitu pulau Neira adalah salah satunya. Kekayaan alamnya berupa buah pala membuat para penjajah mendatanginya.

Pulau ini termasuk dalam Kepulauan Banda dan hanya terdapat satu kota di kepulauan tersebut, yaitu Banda Neira. Untuk dapat mencapainya memang membutuhkan waktu cukup lama, tetapi itu semua akan terbayar saat melihat keindahan pulaunya.

Kota Banda Neira ini tidak terlalu luas. Anda bisa mengitari pulau dengan naik becak, perahu atau ojek. Sambil menikmati keindahan pulau, ada beberapa tempat sejarah yang wajib didatangi salah satunya adalah Istana Mini Banda Neira.



Istana tersebut merupakan tempat tinggal Gubernur Jendral VOC JP. Coen. Bentuk istana tersebut ternyata merupakan cikal bakal bentuk Istana Negara yang ada di Jakarta. Dilihat dari depan, memang sama dengan bentuk Istana Negara tetapi versi mini.

Berlanjut ke tempat bersejarah lainnya, yaitu rumah pengasingan Bung Hatta. Rumah ini masih dilengkapi meja, tempat tidur, mesin ketik dan barang-barang asli lainnya. Dari luar tampak kecil, tetapi di dalamnya cukup luas. Bahkan terdapat sekolah kecil di mana bung Hatta pernah mengajar anak-anak setempat. Salah satu muridnya adalah anak angkatnya yang merupakan sejarawan dan mantan diplomat Indonesia, Des Alwi.



Tidak jauh dari rumah tersebut, terdapat benteng Belgica. Hanya membutuhkan waktu 10 menit dengan berjalan kaki ke benteng tersebut. Benteng pertahanan peninggalan Belanda ini hanya memiliki satu pintu masuk yang menghadap selatan. Bagian dari benteng ini yang harus dikunjungi adalah bagian paling atas yang merupakan steling atau tempat peletakan meriam dan masih terdapat meriam tua di dalamnya.

Dari atas benteng, mata dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa. Sekeliling pulau bisa terlihat, termasuk gunung vulkanik di seberang pulau. Udara sejuk juga membuat betah berlama-lama di atas benteng.



Lalu, tempat selanjutnya yang wajib dikunjungi adalah Hotel Maulana yang pemandangannya paling indah sepulau Banda. Letaknya sangat pas, Anda bisa melihat gunung vulkanik dari dekat yang dibatasi laut sambil melihat kapal berlalu-lalang. Di pinggiran hotel yang langsung menghadap ke laut, dengan air laut sangat jernih, juga membuat mata bisa menikmati lincahnya gerakan ikan-ikan yang bersembunyi di balik karang-karang berwarna-warni.

Surga bawah laut itulah sebutan yang banyak dikatakan oleh para penyelam. Tidak heran jika spot penyelaman di laut sekitar pulau Banda menjadi impian dan incaran banyak penyelam dari seluruh dunia. Tanpa menyelam saja mata sudah bisa menikmati keindahan karang-karangnya. Airnya seperti kaca terang yang berfungsi ‘memamerkan’ keindahan di dalamnya.



Meskipun memiliki pemandangan yang luar biasa hotel milik Des Alwi ini jauh dari kesan mewah. Bangunannya sangat tua dan sederhana. Di sinilah Des Alwi tinggal menghabiskan masa tuanya. Tidak heran ia tampak sehat di usianya yang sudah 83 tahun karena tinggal di daerah ‘surga dunia’. Bahkan ia menyebutkan Banda adalah kepanjangan namanya.

“Banda itu adalah singkatan. Bantuan Des Alwi,” katanya sambil tertawa. “Tokoh-tokoh pendiri negara pernah dibuang ke sini. Seperti Hatta, Syahrir, Iwa Kusumasumantri dan masih banyak lagi. Bisa dikatakan Indonesia berawal dari Banda,” ujar beliau menceritakan.



Warga setempat juga sangat ramah terhadap wisatawan. Mereka sangat ingin pulau tempat mereka tinggal lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan bukan hanya asing tetapi juga dari Indonesia sendiri. Menurut mereka selama ini lebih banyak wisatawan asing yang datang daripada wisatawan lokal.

“Tolong ceritakan bagaimana keindahan pulau ini. Ajak teman-temannya kemari agar bisa melihat keindahan pulau Banda,” kata salah satu warga.

Transportasi memang masih menjadi kendala untuk dapat mengunjungi pulau Banda. Untuk mencapainya ada dua jalur yang dapat dipilih yaitu jalan laut atau udara. Membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari bandara Pattimura, Ambon, jika menggunakan pesawat perintis.

Lalu, jika menggunakan kapal laut menghabiskan waktu sekitar enam jam. Untuk menggunakannya pun harus mengecek dulu jadwal keberangkatan. Karena jadwal kapal laut dua minggu sekali dan pesawat perintis satu minggu sekali.

Meski cukup terpencil, tetapi pertimbangkanlah pulau Banda untuk menjadi tempat liburan Anda. Dijamin Anda pasti akan jatuh cinta dibuatnya. Surga di Banda Neira – VIVAnews
Sumber :http://mudahmenikah.wordpress.com/2010/07/29/surga-di-banda-neira/
 
1 - 20 of 75 Posts
Top